epidemilogi kehamilan remaja di kota bandung tahun 2008 35

advertisement
EPIDEMILOGI KEHAMILAN REMAJA DI KOTA BANDUNG TAHUN 2008
Desi Trisiani
STIKES Bhakti Kencana Bandung
[email protected]
ABSTRAK
Kehamilan remaja adalah kehamilan yang terjadi pada umur 10-19 tahun, kehamilan remaja
merupakan masalah yang besar baik secara global, nasional maupun lokal. Penyebabnya multifaktor,
antara lain karakteristik sosial ekonomi budaya dan cara pendekatan dari pelayanan kesehatan
yang masih bersifat kuratif. Kehamilan pada remaja meningkatkan risiko morbiditas dan morbilitas
pada remaja maupun bayinya dibandingkan dengan kehamilan pada umur reproduktif optimal.
Berdasarkan data yang ada, 24% remaja di Kecamatan Ujungberung Kota Bandung menikah pada
usia di bawah 20 tahun, konsekuensinya tanpa menggunakan KB maka angka kejadian kehamilan
pada remaja akan meningkat. Tujuan dari penelitian ini mengetahui epidemiologi klinik kehamilan
remaja di kecamatan Ujungberung dibandingkan dengan kehamilan pada umur reproduktif optimal.
Penelitian ini menggunakan jenis desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional.
Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh kehamilan remaja dan reproduktif optimal
selama tahun 2008 yang menggunakan fasilitas pelayanan milik Pemerintah Kota Bandung di
Ujungberung yaitu RSUD Kota Bandung dan Puskesmas Ujungberung Indah serta memenuhi
criteria inklusi, total sampling kehamilan remaja adalah 276 dan 386 kehamilan reproduktif
optimal. Analisis data dilakukan dengan uji chi square. Diketahui proporsi kehamilan remaja di
Kecamatan Ujungberung Kota Bandung sebanyak 15,9%. Terdapat (39,5%) remaja hamil dengan
pendidikan dasar dan (24,1%) pada kehamilan reproduktif optimal. Ada perbedaan yang bermakna
secara statistik dalam keteraturan kunjungan PNC, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan
dan jenis persalinan serta luaran perinatal meliputi umur kehamilan, berat bayi lahir dan Apgar
Score dengan (P < 0,05) antara kehamilan remaja dengan kehamilan pada umur reproduktif optimal.
Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan epidemiologi klinik kehamilan remaja di Kecamatan
Ujungberung Kota Bandung tahun 2008, baik dalam proses kehamilan maupun luaran persalinan
dan perinatalnya, dibandingkan dengan kehamilan pada umur reproduktif optimal.
Kata Kunci : Kehamilan remaja, Komplikasi, Luaran klinis ibu dan perinatal
ABSTRACT
Teenage pregnancy defined as pregnancy between 10-19 years, it was a big problem for international and regional, because of high incidence, unsafe process and poor outcome. Its prognosis,
maternal/perinatal morbidility/mortality. It has many factors which causes, such as socialeconomi,
culture characteristic and approaching reproductive health care system and performance services
that still serve curative action. Current data showed that 24% of teenage girls in Ujung Berung
married before they were 20 years old. Consequently, without proper family planning program, the
prevalence of teenage pregnancy will be high. Objective of this thesis to know the clinic epidemiological features of teenage pregnancy in Ujung Berung compared to those with optimal reproductive
age. This research uses observational analytic design with cross sectional approach. Populate and
sample in this research is all Teenage pregnancy during 2008 that uses government services health
facilities services, namely Bandung District Hospital and Ujung Berung Primary Health Center
Indah The total samples were 276. Data were analysed with Chi Square. The proportion of teenage
pregnancy in Ujung Berung is 15.9 %, which is higher than national as well as local data. There
were (39,5%) had elementary education and (65,3%) had a job. Maternal data were as follows :
58.3 % had an irregurel antenatal visit, 31.5 % and 39.7 % had complication during pregnancy and
delivery, respectively, and 37.7 % were ended with operative delivery. Due to time constraint, maternal mortality could not be analyzed. As for perinatal outcome, 32.9 % were underweight (< 2500
gram), 33.6 % premature, and 27.4 % with asphyxia. All of presentation data higher than pregnancy
at optimal reproductive age and there were statistical significant differences (p<0,05).Conclusion of
this thesis there are varies between Teenage Pregnancy Clinical epidemiological in Ujung Berung
at 2008, include of pregnancy process outcome delivery and perinatal compared by pregnancy in
optimal reproductive ages.
Keywords: Teenage pregnancy, complication, mother clinical outcome and prenatal
35
Desi Trisiani, Epidemologi Kehamilan Remaja....
PENDAHULUAN
Remaja adalah istilah yang sering digunakan untuk
menggambarkan individu yang berada di antara masa
anak-anak dan dewasa. Batasan usia remaja yang ada selama ini bervariasi dan selalu mengacu pada usia kronologis. Pada tahun 1970, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
menetapkan batas usia remaja adalah 10-19 tahun, tetapi
pada tahun 1980 batasan bergeser menjadi 10-24 tahun.
Pandangan umum di Indonesia tentang remaja adalah individu yang berusia antara 10-19 tahun.
Masa remaja merupakan masa transisi yang ditandai
oleh berbagai perubahan fisik dan psikis. Pada periode
ini terjadi pematangan organ reproduksi manusia dan sering disebut sebagai masa pubertas. Perubahan secara fisik
khususnya pada sistem hormon seksual yang sudah berfungsi secara aktif, menyebabkan remaja membutuhkan
penyaluran dorongan seksualnya, jika tidak diberikan pengarahan yang tepat maka penyaluran seksual yang dipilih
dapat berisiko. Selain itu perubahan nilai yang berkembang dimasyarakat akibat kemajuan zaman dan arus globalisasi, menyebabkan pengertian dan penilaian tentang
definisi seks menjadi berubah sebagai bagian dari gaya
hidup remaja.
Permasalahan prioritas kesehatan reproduksi remaja
terdiri atas kehamilan tidak dikehendaki yang seringkali
menjurus pada aborsi yang tidak aman dan komplikasinya,
kehamilan dan persalinan pada usia muda yang menambah
risiko kesakitan dan kematian pada ibu dan bayi, masalah
PMS termasuk HIV-AIDS, serta tindak kekerasan seksual,
seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, dan transaksi seks
komersil.
Usia aman untuk kehamilan dan persalinan dalam reproduksi sehat adalah 20-30 tahun. Kematian maternal
pada wanita hamil dan melahirkan di bawah usia 20 tahun
ternyata 2-5 kali lebih tinggi dari kematian maternal pada
usia 20-29 tahun. Kehamilan dan persalinan yang terjadi
di luar kurun reproduksi sehat, pada suatu waktu dapat
menyebabkan ketidaknyamanan, kesakitan, atau bahkan
kematian.
Remaja yang hamil pada usia 15-19 tahun cenderung
tidak pernah mengunjungi klinik bersalin untuk memantau kesehatan diri dan bayinya selama kehamilan, terutama
mereka yang tidak menghendaki kehamilan. Sebagian besar remaja baru minta pertolongan dokter ketika masalah
timbul. Itu merupakan suatu langkah yang terlambat. Sementara akses kelompok remaja khususnya yang tidak menikah terhadap pelayanan kontrasepsi masih sangat sulit.
Menurut Sarwono kunjungan ante natal care secara teratur
merupakan salah satu usaha yang tepat untuk mendeteksi
dini adanya risiko tinggi, kelainan, dan komplikasi pada
ibu hamil.
Kehamilan remaja di Negara berkembang banyak
dikaitkan dengan pergaulan bebas, faktor sosial budaya,
ekonomi, dan adanya adat istiadat yang merasa malu kawin
tua. Masalah yang timbul akibat kehamilan remaja terlepas
apakah mereka dalam status menikah ataupun tidak mencakup sosial ekonomi, pendidikan, psikologis, kehidupan
keluarga, dan kesehatan. Dari sudut kesehatan hamil pada
usia muda berarti hamil dengan risiko tinggi, komplikasi
yang mungkin terjadi diantaranya anemia, pre eklampsi,
eklampsi, partus lama, partus prematurus, berat bayi lahir
rendah, perdarahan, kematian perinatal, bahkan kematian
maternal.
Van Winter & Simmons melaporkan, dari 1 juta remaja
hamil di Amerika Serikat setiap tahunnya, setengahnya
berakhir dengan kelahiran hidup, 400.000 memilih aborsi
dan 100.000 lainnya aborsi spontan. Hampir 85% dari kehamilan ini tidak diinginkan. Menurut para peneliti, biaya tahunan untuk pelayanan bayi dari 97% remaja yang
mempertahankan kehamilannya disubsidi oleh masyarakat
sebesar 20 trilyun.
Kajian terbaru dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (CDC) menunjukkan angka kehamilan remaja
melonjak tajam selama 15 tahun terakhir. Tahun ini meningkat 3% dibanding tahun sebelumnya meski­pun angka
mutlaknya tidak disebutkan. Sebanyak 435 ribu bayi telah
dilahirkan dari wanita 15-19 tahun. Sementara pada tahun
2005 tingkat kehamilan pada remaja mencapai 40,5% untuk setiap 1000 remaja wanita, tahun 2006 naik menjadi
41,9. Angka statistik tersebut terjadi di tengah gencarnya
pendidikan kontrasepsi, penggunaan kondom, pencegahan
HIV-AIDS, dan penyakit kelamin.
METODE DAN HASIL PENELITIAN
Penelitian ini merupakan desain studi analitik dengan
pendekatan potong silang (cross sectional). Penelitian
bersifat observasional untuk mengetahui perbedaan keteraturan kunjungan PNC serta luaran proses kehamilan,
persalinan dan perinatal pada kehamilan remaja dengan
kehamilan reproduktif optimal dalam satu waktu. Dalam
penelitian ini data mengenai proses kehamilan diikuti sampai dengan terjadinya persalinan atau sebaliknya untuk
mengetahui adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil atau persalinan baik pada ibu maupun bayi­nya.
Subjek pada penelitian ini adalah remaja usia 10 – 19
tahun dan wanita usia 20 – 30 tahun yang sedang hamil,
tercatat dalam register RSUD Kota Bandung dan Puskesmas Ujungberung Indah. Objek penelitian adalah luaran
klinik kehamilan dan persalinan pada kehamilan remaja
dan kehamilan reproduktif optimal di wilayah Kecamatan
Ujungberung sebagai variabelnya. Populasi dan sampel
penelitian ini adalah seluruh kasus kehamilan remaja dan
kehamilan pada umur reproduktif optimal yang memanfaatkan fasilitas RSUD Kota Bandung dan Puskesmas
Ujungberung Indah untuk memperoleh pelayanan kesehatan serta memenuhi kriteria inklusi. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan banyaknya kunjungan kehamilan remaja
dan reproduktif optimal selama 1 Januari - 31 Desember
2008.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan disebut
juga total sampling dengan jumlah 276 kehamilan remaja
dan 386 kehamilan primi pada umur reproduktif optimal.
Cara pengambilan data menggunakan data primer dan data
sekunder. Data sekunder diperoleh dari catatan rekam me-
Bhakti Kencana Medika, Volume 1, No. 2, Juli 2011, hal 35 - 39
dis atau register mencakup umur dan pendidikan, sedangkan data primer diperoleh pada saat data langsung didapat dari responden atau catatan yang ada untuk mengisi
kelengkapan lembar observasi meliputi kunjungan PNC,
adanya komplikasi selama kehamilan, luaran persalinan,
dan perinatalnya.
Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan epidemiologi kehamilan remaja berdasakan proporsi kehamilan remaja dengan kehamilan reproduktif optimal. Analisis
bivariat digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan
frekuensi kunjungan kehamilan antara kehamilan remaja dan
kehamilan pada umur reproduktif optimal dan perbedaan luaran proses kehamilan dan persalinan antara kehamilan remaja dengan kehamilan pada umur reproduktif optimal.
Ho = Tidak terdapat perbedaan dalam proses kehami-
lan, luaran persalinan dan perinatal antaran kehamilan
remaja dengan kehamilan pada umur reproduktif optimal di Kecamatan Ujungberung tahun 2008.
Ha = Terdapat perbedaan dalam proses kehamilan,
luaran persalinan dan perinatal antara kehamilan remaja dengan kehamilan pada umur reproduktif optimal di
Kecamatan Ujungberung tahun 2008.
Uji perbedaan menggunakan Chi Square dengan
hasil perhitungan hipotesis sebagai berikut, terdapat
perbedaan jika nilai p-value < nilai α (0.05) dan sebaliknya jika nilai p-value > nilai α (0.05), maka tidak
terdapat perbedaan.
Proporsi kehamilan remaja di Indonesia cenderung
meningkat karena remaja wanita saat ini mencapai menars
lebih awal sehingga cukup banyak kelompok seksual aktif
Tabel1. Distribusi Kehamilan Remaja dan Kehamilan Reproduktif Optimal Berdasarkan Keteraturan Kunjungan
PNC dan Komplikasi Kehamilan di Kecamatan Ujungberung Tahun 2008
Kehamilan
Komplikasi Kehamilan
Teratur
Tidak Teratur
Total
Ada Komplikasi
Tidak Ada Komplikasi
Total
Tabel 2
Remaja
F
115
161
276
87
189
276
%
41.7
58.3
100
31.5
68.5
100
Total
Reproduktif
F
%
200
51.8
186
48.2
386
100
94
24.3
292
75.7
386
100
F
315
347
662
181
481
662
Nilai P
%
47.6
52.4
100
27.3
72.7
100
p = 0,010
p = 0,041
Distribusi Kehamilan Remaja dan Kehamilan Reproduktif Optimal Berdasarkan Komplikasi Persalinan dan
Jenis Persalinan di Kecamatan Ujungberung Tahun 2008
Remaja
Ada Komplikasi
Tidak Ada
Total
Ada Komplikasi
Tidak Ada Komplikasi
Total
n
58
88
146
55
91
146
%
39,7
60.3
100
37,7
62,3
100
Reproduktif
n
%
64
23,2
212
76,8
276
100
76
27,5
200
72,5
276
100
n
122
300
422
131
291
422
%
28,9
71,1
100
31,1
68,9
100
p = 0,000
p = 0,032
Tabel 3 Distribusi Kehamilan Remaja dan Kehamilan Reproduktif Optimal Berdasarkan Luaran Janin di Kecamat­
an Ujungberung Tahun 2008.
Remaja
Umur Kehamilan
Tidak Aterm
Aterm
Total
Berat Janin Lahirt
<2500 gram
>2500 gram
Total
APGAR Score
Asfiksia
Tidak Asfiksia
Total
Reproduktif
Nilai p
n
%
n
%
49
97
146
33,6
66,4
100
67
209
276
24,3
75,7
100
p = 0,042
48
98
146
32,9
67,1
100
55
221
276
19,9
80,1
100
p = 0,003
40
106
146
27,4
72,6
100
52
224
276
18,8
81,2
100
p = 0,043
Desi Trisiani, Epidemologi Kehamilan Remaja....
yang mampu hamil.12 Di sisi lain semakin awal dimulainya pubertas, semakin cepat pula kesiapan fungsi reproduksinya. Percepatan awal masa reproduksi dalam masyarakat
tradisional berarti pula percepatan usia perkawinan, berarti pula percepatan usia hamil dan melahirkan. Hal ini
didukung oleh Undang Undang di banyak negara yang
membatasi usia termuda pada wanita untuk menikah minimal usia 16 tahun.
Kehamilan yang terjadi pada usia 15-19 tahun, cenderung menyebabkan remaja tidak pernah mengunjungi
klinik bersalin untuk melakukan pemantauan atas kesehatan dirinya dan bayinya selama kehamilan, sebagian
besar remaja baru minta pertolongan dokter ketika
masalah timbul. Gortzak dan Chabra mengatakan, presentase kunjungan asuhan antenatal terendah terdapat
pada kelompok kehamilan remaja. Beberapa peneliti
mengungkapkan rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja, hal tersebut memperlihatkan bahwa selama ini kelompok remaja mempunyai akses yang
rendah terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi dari tenaga profesional.
Kehamilan merupakan proses fisiologis yang didambakan oleh semua wanita normal, akan tetapi perubahan
fisik akibat dari kehamilan kadang meningkatkan risiko
kesakitan dan kematian pada wanita. Selama seorang
wanita tidak berada dalam kehamilan ia tidak mempunyai risiko kematian ibu. Kehamilan dapat berkembang
menjadi masalah atau komplikasi yang dapat mengancam
jiwa. Kebanyakan komplikasi obstetri tidak dapat dicegah
atau diperkirakan sebelumnya. Sulit diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan menjadi masalah, karena itu
anggaplah semua kehamilan itu berisiko sehingga setiap
ibu hamil harus mempunyai akses pertolongan persalinan
yang aman dan pelayanan obstetrik. Kehamilan pada masa
remaja berhubungan dengan meningkatnya risiko terhadap
komplikasi kehamilan
Persalinan pada usia remaja lebih memungkinkan untuk
terjadinya partus lama yang dapat mengakibatkan komplikasi jangka panjang baik terhadap ibu maupun janinnya.
Kondisi ini mengakibatkan persalinan pada remaja dalam
penelitian ini lebih banyak berakhir dengan tindakan daripada persalinan spontan. Partus dengan tindakan atau partus buatan dalam penelitian ini adalah induksi persalinan
dengan drip oxytocin, vaccum ekstraksi, forcep, dan seksio
cesare.
Jenis komplikasi persalinan yang banyak ditemukan
dalam penelitian ini pada kehamilan remaja adalah pre
eklampsi sebesar 31,1% dan partus lama 29,3%. Sementara jenis persalinan buatan yang paling banyak dialami oleh
kasus kehamilan remaja dalam penelitian ini adalah sectio
sessarea sebanyak 41,8% dan drip oxytocin 38,2%. Perlu
diketahui juga bahwa dari seluruh kasus persalinan yang
ada masih terdapat ibu hamil yang persalinannya ditolong
oleh paraji sebanyak 2 orang dan sisanya oleh tenaga kese­
hatan (dokter dan bidan).­
Kehamilan pada masa remaja berhubungan dengan
meningkatnya risiko terhadap komplikasi dan luaran perinatal yang buruk.8 Beberapa penulis melaporkan terjadi­
nya peningkatan angka kematian perinatal dan kejadian
prematuritas pada bayi yang dilahirkan dari ibu remaja.
Umur ibu yang muda, status gizi ibu yang buruk,
kemiskinan, asuhan antenatal yang tidak adekuat menyebabkan bayi lahir prematur dan atau BBLR. Komplikasi umum yang dapat terjadi pada bayi prematur adalah asfiksia berkaitan dengan fungsi organ atau paru-paru
yang belum berfungsi secara maksimal. Penyebab asfiksia
tidak berhubungan langsung dengan kehamilan remaja
tetapi merupakan komplikasi medis dan obstetri dalam kehamilan, meskipun dalam penelitian ini didapatkan hasil
kehamilan pada remaja berpotensi untuk terjadinya aspiksia pada bayi yang dilahirkan. Dalam penelitian ini tidak
ditemukan adanya kematian ibu baik pada kehamilan remaja maupun reproduktif optimal. Semua sampel bisa dikatakan dalam kondisi sehat sesuai dengan batasan definisi
operasional yang diharapkan. Karena keterbatasan waktu
maka data mengenai kematian ibu tidak diobservasi sampai dengan 42 hari setelah berakhirnya kehamilan sesuai
dengan definisi di atas.
Batasan kematian Perinatal adalah kematian yang terjadi pada 28 minggu usia kehamilan sampai dengan 7 hari
setelah lahir. Dalam penelitian ditemukan kematian perinatal sebanyak 6 kasus pada kehamilan remaja dan 2 kasus pada kehamilan reproduktif optimal dengan penyebab
IUFD dan aspiksia sebagai komplikasi dari keadaan ibu.
Penyebab tingginya angka kematian ibui (AKI) di Indonesia di antaranya komplikasi kehamilan dan persalinan
yang dipicu oleh status kesehatannya, status reproduksi,
perilaku sehat bahkan termasuk faktor lain yang tidak
terduga sebelumnya bahwa wanita yang hamil memiliki
risiko untuk terjadinya komplikasi sedangkan wanita yang
tidak hamil tidak. Faktor lain adalah berkaitan dengan
masalah sosial, ekonomi, budaya dan akses terhadap pelayanan kesehatan.
Strategi untuk menurunkan angka kematian ibu di­mul­
ai dari mencegah atau memperkecil remaja hamil­se­hingga
tidak mempunyai risiko kematian akibat kehamil­an/persalinan caranya yaitu dengan ber-KB. Selanjutnya adalah
mencegah atau memperkecil kemungkinan wanita hamil
mengalami komplikasi saat kehamilan dan persalin­annya
yaitu dengan cara kunjungan asuhan antenal dan pertolongan persalinan yang bersih dan aman oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan professional. Tentunya hal tersebut
didukung oleh pelayanan kesehatan yang mudah serta kesadaran, kemauan, dan kemampuan seseorang untuk tetap
sehat.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
di Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung Tahun 2008,
terdapat perbedaan epidemiologi klinik kehamilan remaja
dibandingkan dengan kehamilan pada umur reproduktif
optimal. Perbedan itu terjadi pada proses kehamilan, kunjungan PNC dan luaran persalinan, serta perinatalnya.
Bhakti Kencana Medika, Volume 1, No. 2, Juli 2011, hal 35 - 39
Saran
1. Pembekalan atau pendidikan kesehatan reproduksi perlu
diberikan sedini mungkin sesuai dengan perkembangan seksualnya sebagai upaya pencegahan kehamilan
pada remaja dan pemahaman tentang pendewasaan
usia perkawinan.
2. Pembinaan dilakukan di institusi pendidikan, mulai
tingkat SD, SMP, dan SMA, serta lingkungan keluarga
yang berada di tingkat dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Anna Glasier, Alisa Gebbie. Keluarga Berencana dan
Kesehatan Reproduksi Edisi 4, Buku Kedokteran EGC, Jakarta 2005.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Materi Ajar Modul Safemotherhood. Kerjasama
WHO–Depkes RI–FKMUI Jakarta 2000.
Departemen Kesehatan. Buku Asuhan Antenatal.
PUSDIKNAKES–WHO–JHPIEGO
Jakarta,
2003.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia bekerja sama dengan WHO, Program Kesehatan
Reproduksi dan Pelayanan Integratif. Jakarta
2001.
Djamhoer Martaadisoebrata. Perkembangan Obstetri
dan Ginekologi Sosial, Bunga Rampai Obstetri
dan Ginekologi Sosial, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 2005.
Irene M Boback et al, Buku Ajar Keperawatan Maternitas (Maternity Nursing) Edisi 4, Alih bahasa
Maria Rini W dan Peter I. Penerbit Buku Kedokteran EGC Jakarta 2004.
Kartono Mohamad. Kontradiksi Dalam Kesehatan Reproduksi. Pustaka Sinar Harapan bekerja sama
dengan PT Citra Putra Bangsa dan The Ford
Foundation Jakarta 1998.
Lentera Sahaja, Panduan Konseling Seksualitas. PKBI
Yogyakarta 2000.
Lisdia Hastuti, Kesehatan Reproduksi Remaja Analisis Permasalahan dan Solusinya. KIA–KESPRO
Arsip Blog 2007 (Home page on internet) http://
www.google.com diakses 2 Mei 2008 pada pukul
1230 WIB.
3. Rumah sakit dan puskesmas sudah saatnya membentuk klinik kesehatan reproduksi remaja sesuai dengan
program pemerintah baik itu berupa pelayanan, komunikasi, informasi, maupun edukasi, khususnya dalam
pelayanan kehamilan remaja.
4. Tenaga kesehatan yang berwenang perlu ditingkatkan
upaya penapisan risiko tinggi pada kehamilan remaja
dan pelayanan KB bagi remaja yang sudah menikah sebagai upaya penundaan kehamilan anak pertama pada
umur remaja.**
Markum, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid I.
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada
Oktaviana I, Pentingnya Pendidikan Seks Dikalangan
Remaja. 2000.
Paul V Trad, Menilai Pola yang dapat Mencegah Kehamilan Pada Remaja. Remaja Kesrepro dot Info
– Komunitas KRR, Jakarta 2008.
Rusdi Mathari, Bush dan Kehamilan Remaja di Amerika.
Jurnal Blog (Home page on internet) http://www.
google.com diakses 3 Februari 2008 pada pukul
1855 WIB.
Sarwono Prawirohardjo, Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo YBP-SP Jakarta 1998.
Siswanto Agus Wilopo, Kebijakan dan Program Kesehatan Reproduksi Remaja Dikutip dari http://
hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/pengelolaan
ceria/pk7kebijakan/pdf, diakses pada tanggal 09
April 2008 pada pukul 1845 WIB.
Soetjiningsih. Buku Ajar Tumbuh Kembang Remaja
dan Permasalahannya cetakan kedua. Segung
Seto Jakarta, 2007.
Syafrudin, Remaja dan Hubungan Seksual Pranikah
(Home page on internet) http://www.google.
com diakses 3 April 2008 pada pukul 1940
WIB.
Ucke Sastrawinata. Tesis: Gambaran Epidemiologi
Klinik Kehamilan Remaja di RS Immanuel
Bandung. Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran UNPAD RS. Hasan
Sadikin Bandung, 2006.
Download