BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Organisasi keagamaan adalah organisasi yang bermula dari pengalaman
keagamaan yang dialami oleh pendiri organisasi itu dan para pengikutnya. Dari
pengalaman demikian lahir suatu bentuk perkumpulan keagamaan yang kemudian
menjadi organisasi keagamaan yang sangat terlembaga (Weber dalam O’Dea,
1996). Dengan kata lain, organisasi keagamaan adalah organisasi yang memiliki
nilai dasar perjuangan berlandaskan pada dogma atau ajaran suatu agama. Dalam
memperjuangkan terwujudnya tujuan organisasi, tentunya organisasi keagamaan
memiliki budaya organisasi yang juga berlandaskan pada ajaran agama.
Budaya organisasi merupakan sebuah identitas yang dapat membedakan
organisasi satu dengan organisasi yang lain. Budaya organisasi tidak mengacu
pada hal-hal seperti suku, etnis atau latar belakang seseorang namun budaya
organisasi adalah cara hidup dari organisasi. Budaya organisasi bukan sekadar
sebuah potongan puzzle melainkan puzzle itu sendiri (Pacanowsky dan Trijulo
dalam West dan Turner, 2009: 298-299).
Budaya organisasi adalah pesan yang disampaikan oleh komunikator
kepada komunikan demi terwujudnya tujuan organsiasi. Setiap pesan yang dikirim
dalam suatu organisasi mempunyai alasan tertentu mengapa dikirimkan dan
diterima oleh orang tertentu. Greenbaum (dalam Goldhaber, 1986) mengatakan
salah satu fungsi pesan dalam organsiasi adalah untuk mengatur dimana pesan
yang berkenaan dengan kebijaksanaan dan peraturan organisasi. Pesan ini
membantu organisasi untuk tetap hidup kekal. Pesan ini mencakup perintah,
ketentuan, prosedur, aturan dan kontrol yang diberlakukan untuk mempermudah
untuk mencapai tujuan organisasi.
1
Adanya pesan, komunikator, dan komunikan menunjukan adanya
dinamika komunikasi organisasi yang terjadi dalam organisasi. Pace dan Faules
(2010) mengatakan, dalam komunikasi organisasi kita berbicara tentang informasi
yang berpindah secara formal dari seseorang yang otoritasnya lebih tinggi kepada
orang lain yang otoritasnya lebih rendah – komunikasi ke bawah; informasi yang
bergerak dari suatu jabatan yang otoritasnya lebih rendah kepada yang otoritasnya
lebih tinggi- komunikasi ke atas; informasi yang bergerak di antara orang-orang
dan jabatan-jabatan yang sama tingkat otoritasnya; komunikasi horisontal; atau
informasi yang bergerak di antara bawahan satu dengan yang lainnya dan mereka
menempati bagian dan fungsional berbeda- komunikasi lintas saluran. Selain
komunikasi yang dilakukan secara formal, Pace dan Faules juga mengkatakan
bahwa dalam komunikasi organisasi terdapat komunikasi informal. Faktor-faktor
yang mengarahkan aliran informasi dalam organisasi lebih bersifat pribadi. Arah
komunikasi kurang stabil. Informasi mengalir ke atas, ke bawah, horisontal dan
melintasi saluran hanya dengan sedikit –kalau ada- perhatian pada hubunganhubungan posisional.
Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) adalah bagian dari
lembaga pendidikan Muhammadiyah yang setara perguruan tinggi menerima
lulusan dari Madrasah Aliyah atau SMA sederajat yang secara khusus mendidik
dan mempersiapkan ulama tarjih Muhammadiyah yang memiliki kompetensi
utama dalam mengembangkan keilmuan pada bidang tafaqquh fi ad-din
(pendalaman ilmu agama), keulamaan, da’wah, pendidikan dan kepemimpinan
Islami, yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu dan amal. Para thalabah
(mahasiswa)
akan
diberikan
berbagai
macam
keahlian
yang
bersifat
multidisipliner dan interdisipliner. Sebenarnya lembaga pendidikan ini tidak
memperkenalkan dirinya sebagai pondok pesantren secara eksplisit, namun
kehidupan dan aturan yang ada di dalamnya sangat tidak jauh berbeda dengan
yang terdapat di pondok-pondok pesantren.
Sebagai organisasi yang berlandaskan pada agama, tentunya PUTM
memiliki budaya yang menjadi ciri khasnya. Budaya di PUTM yang sangat kental
2
antara lain wajib bangun setiap malam (kecuali malam Jum’at) untuk melakukan
salat tahajud, setiap Senin dan Kamis wajib puasa sunah, memakai peci setiap
salat, memakai baju lengan panjang ketika salat, dan beberapa nilai yang lain yang
sudah menjadi kebiasaan PUTM semenjak dahulu. Kebiasaan tersebut pada
hakikatnya adalah budaya yang baik, namun dalam mengkomunikasikan
budayanya itu terkadang PUTM menggunakan pendekatan koersif. Thalabah mau
tidak mau harus mentaati peraturan dengan apa adanya1.
Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi di Seminari Tinggi Santo Paulus
adalah lembaga pendidikan calon imam berasrama. Lembaga ini menerima
lulusan SMA, sarjana dan atau mereka yang sudah bekerja -lulusan dua terakhir
ini sedikit sekali atau jarang-. Semua mahasiswa harus tinggal di asrama. Mereka
adalah calon-calon imam atau pastor. Awalnya Seminari Tinggi Santo Paulus
didirikan untuk memenuhi kebutuan imam di Indonesia, mereka berasal dari
Sabang sampai Merauke. Dalam perkembangannya, banyak daerah mendirikan
seminari tinggi -Malang, Bandung, regio Sumatra, Indonesia Timur, Makasar,
Papua, dsb-, sehingga pada saat ini paling tidak Seminari Tinggi Santo Paulus
Yogyakarta mendidik calon-calon imam untuk Kesukupan Agung Semarang,
Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Agung Jakarta, beberapa Keuskupan
Surabaya dan Bandung (Kristanto, 2006).
Sebagai organisasi keagamaan, Seminari Tinggi Santo Paulus sangat
memegang teguh nilai-nilai spiritual yang ada pada ajaran Katolik yang kemudian
menjadi landasan dalam menciptakan budaya organisasi. Karena merupakan
organisasi dogmatis, para mahasiswa Seminari Tinggi Santo Paulus atau yang
biasa disebut Seminaris mau tidak mau harus menerima nilai budaya organisasi
yang ada. Diakui oleh Kris2, dalam menanamkan budaya organisasi, pengelola
menggunakan cara paksaan kepada anak didiknya. Namun ia melakukan itu
1
Wawancara personal dengan Alma Febriana F. Thalabah PUTM. 25 April 2013. Dengan gayanya
yang sedikit urakan, Alma menceritakan pengalamannya selama tiga tahun tinggal di PUTM,.
Wawancara dilakukan di Warung Kopi Blandongan, Banguntapan.
2
Joseph Kristanto. Rektor Seminari Tinggi Santo Paulus. 27 April 2013. Berbalut Polo Shirt dan
celana Jeans, sesekali mengecek ponsel Blackberrynya, Kris menceritakan pengalamannya selama
memimpin Seminari Tinggi Santo Paulus.
3
semua bukan tanpa sebab, Kris melakukannya demi tercapainya tujuan Seminari
Tinggi Santo Paulus yang salah satunya adalah tersedianya Imam Diosesan yang
taat kepada keutamaan-keutamaan Krisitiani.
PUTM yang merupakan lembaga pencetak kader ulama Muhammadiyah
yang dikenal dengan Islam modern, sementara Seminari Tinggi Santo Paulus
adalah tempat dilahirkannya para pemimpin agama Katolik yang memegang teguh
nilai-nilai Kristiani, tentunya terjadi sebuah dinamika komunikasi organisasi
dalam penguatan budaya organisasi demi mencapai tujuan di kedua organisasi
tersebut. Berangkat dari teori dan fakta diatas, dalam penelitian ini akan
mendeskripsikan dan menganalisis secara komprehensif dinamika komunikasi
organisasi yang terjadi pada dua organisasi tersebut dalam penguatan budaya
organiasasi.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan pokok
permasalahan penelitian sebagai berikut: bagaimana dinamika komunikasi
organisasi dalam penguatan budaya organisasi di PUTM dan Seminari Tinggi
Santo Paulus?
C.
Tujuan Penelitian
Secara mikro penelitian ini ditujukan untuk melihat bagaimana dinamika
komunikasi organisasi yang terjadi dalam penguatan budaya organisasi di PUTM
dan Seminari Tinggi Santo Paulus demi mencapai tujuan organiasasi.
Secara makro, penelitian ini ditujukan untuk mengetahui metode PUTM
dan Seminari Santo Paulus mengelola komunikasi organisasi dalam penguatan
budaya organisasi, serta tinjauan secara filosofis mengenai budaya organisasi di
kedua organisasi tersebut.
4
D.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara akademis
maupun manfaat praktis bagi kajian ilmu komunikasi dan penelitian tentang
dinamika komunikasi organisasi dalam penguatan nilai budaya organisasi.
1. Memperkaya kajian komunikasi khususnya studi tentang komunikasi
organisasi dalam penguatan budaya organisasi.
2. Secara praktis penelitian ini dapat menggambarkan tentang penguatan
budaya organsasi yang ditanamkan melalui komunikasi organisasi.
E.
Kerangka Teoritik
E.1.
Organisasi Keagamaan
Organisasi keagamaan tumbuh berkembang secara khusus semula berasal
dari pengalaman keagamaan yang dialami oleh pendiri organisasi itu dan para
pangikutnya. Dari pengalaman demikian lahir suatu bentuk perkumpulan
keagamaan yang kemudian menjadi organisasi keagamaan yang sangat
terlembaga. Pengalaman keagamaan, sebagaimana yang diketahui merupakan
suatu terobosan pengalaman sehari-hari, dengan begitu ia merupakan pengalaman
kharismatik.
Evolusi
bentuk-bentuk
stabil
yang berasal
dari
“moment
kharismatik” ini merupakan contoh penting dari apa yang dinamakan Weber
sebagai “Rutinitas Kharisma” (Weber dalam O’Dea, 1996:70).
Dalam masyarakat primitif, agama telah meluas secara merata keberbagai
kegiatan dan hubungan sosial masyarakat. Ada dua faktor yang cenderung untuk
memacukan perubahan dari situasi agama yang primitif dan kuno serta berciri
kelompok baik agama maupun sosial kearah agama yang terorganisasi secara
khusus. Faktor pertama adalah meningkatnya secara total “perubahan batin” atau
kedalaman beragama (inner differentiation). Karena pembagian kerja dalam
masyarakat kian berkembang dan kemudian melahirkan alokasi fungsi, alokasi
fasilitas serta sistem imbal jasa yang semakit rumit, maka masyarakat cenderung
mengembangkan suatu tingkat spesifikasi fungsi yang lebih tinggi. Kemudian
5
tampillah kelompok-kelompok dengan tujuan yang lebih jelas dan terperinci
untuk melaksanakan berbagai kegiatan seperti produksi, pendidikan dan
sejenisnya, yang sebelumnya ditangani oleh kelompok-kelompok yang lebih
kabur, seperti keluarga. Agama yang teroganisasi secara khusus ini lahir akibat
dari kecenderungan umum ke arah pengkhususan fungsional, yang kedua
meningkatnya pengalaman keagamaan yang mengambil bentuk dalam berbagai
corak organisasi agama baru (Wach dalam O’Dea, 1996: 90). Dengan demikian
perkembangan organisasi keagamaan yang khusus menjunjukkan pengaruh umum
ke proses kemasyarakatan dan perubahan kedalaman beragama.
Pelembagaan agama berlangsung pada tiga tingkat yang saling
mempengaruhi; yaitu antara ibadah, doktrin dan organisasi, ini
sebenarnya
beranjak dari kebutuhan akan stabilitas dan kesinambungan. Kharisma yang ada
diubah bentuknya ke dalam kharisma instansi dan spontanitas relatif yang ada
pada periode yang lebih awal digantikan dengan bentuk-bentuk yang terlembaga
pada tiga tingkat. Proses penentuan selanjutnya sering bergalau dengan konflik
yang tajam, keras dan berlangsung sepanjang abad. Proses mana yang ditampilkan
oleh kebutuhan menjawab permasalahan yang timbul dari implikasi doktrin itu
sendiri, kebutuhan untuk menafsirkan kembali implikasi ajaran-ajaran tradisional
agar isinya tetap relevan dengan situasi baru, dan kebutuhan untuk mengatasi
pengaruh eksentrik (O’Dea. 1996: 96).
Uraian teori diatas dapat ditarik garis merah bahwa organisasi keagamaan
berawal dari pengalaman kharisma sang pendiri organisasi menjadi rutinitas
kharisma yang dilakukan oleh para pengikutnya, kemudian berubah menjadi
kharisma instansi ketika sudah menjadi organisasi keagamaan. Dalam konteks
penelitian ini, berdirinya PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus berasal dari
pengalaman kharisma para pendirinya kemudian menjadi rutinitas kharisma yang
dilakukan olah para pengikutnya. Rutinitas kharisma inilah yang menjadi
kharisma instansi PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus ketika menjadi
sebuah organisasi keagamaan.
6
Dalam penelitian ini, peneliti hanya melakukan observasi di PUTM Putra,
karena data yang diperoleh dalam penelitian ini menyandingkan PUTM dengan
Seminari Tinggi Santo Paulus yang semua mahasiswanya adalah laki-laki. Dalam
kepercayaan Katolik, imam atau pemimpin agama hanya boleh dilakukan oleh
seorang laki-laki. Bukan karena Gereja Katolik memandang wanita lebih rendah
dari pria, namun karena sudah menjadi kodrat seorang imam adalah pria
(Stefanus, 2009). Sementara itu, dalam ajaran Islam tidak ada larangan bagi
perempuan untuk melakukan kegiatan keulamaan. Sebut saa, Nyai Ahmad Dahlan
yang merupakan penggerak perempuan Muhammadiyah, Sholihah A. Wahid
Hasyim yang merupakan teladan kaum Nahdiyin, Lutfiyah Sungkar yang
merupakan mubaligah keluarga muslim dan beberapa ulama perempuan lainnya
(Burhanudin, 2002).
E.2.
Budaya Organisasi
Budaya organisasi merupakan suatu budaya yang dimiliki suatu
organisasi. Namun budaya bukan sekedar kebiasaan atau perilaku yang relatif atau
perilaku rata-rata (moderate behaviour) melainkan sebagai suatu karateristik yang
unik dari suatu organisasi. Budaya dalam hal ini merupakan faktor yang
memberikan spirit bagi organisasi dan membedakan dengan organisasi lain.
Budaya organisasi merupakan metafora untuk menggambarkan norma, perasaan,
dan pola-pola aktivitas suatu kelompok. Budaya organisasi merupakan iklim
komunikasi yang berakar pada seperangkat norma yang sama. Budaya organisasi
meliputi pemikiran kelompok, cara mengintepretasikan dan mengorganisasikan
tindakan anggota organisasi (Liliweri, 2004: 326).
Dalam budaya organsiasi terdapat nilai-nilai yang harus ditanamkan
kepada anggota organisasi demi terwujudnya tujuan organisasi. Budaya organisasi
adalah pesan yang disampaikan dari komunikator kepada komunikan. Setiap
pesan yang dikirim dalam suatu organisasi mempunyai alasan tertentu mengapa
dikirimkan dan diterima oleh orang tertentu. Greenbaum (dalam Goldhaber, 1986)
mengatakan salah satu fungsi pesan dalam organsiasi adalah untuk mengatur
7
dimana pesan yang berkenaan dengan kebijaksanaan dan peraturan organisasi.
Pesan ini membantu organisasi untuk tetap hidup kekal. Pesan ini mencakup
perintah, ketentuan, prosedur, aturan dan kontrol yang diberlakukan untuk
mempermudah untuk mencapai tujuan organisasi.
Selain itu Greenbaum mengatakan fungsi lain dari pesan dalam
komunikasi organisasi adalah untuk memberikan informasi dan instruksi. Pesanpesan ini adalah yang berkenaan dengan pelaksanaan tugas-tugas organisasi oleh
anggota organisasi. Pesan ini mencakup pemberian informasi kepada anggota
untuk melakukan tugas mereka secara efisien. Dengan kata lain fungsi pesan ini
dapat hal yang berhubungan dengan output yang diinginkan oleh organisasi.
Begitu juga di PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus, budaya
organisasi yang ada mempunyai tujuan mengapa pesan tersebut dikirimkan
tentunya pesan budaya organisasi bertujuan untuk mengarahkan para anggotanya
agar dapat mewujudkan tujuan organisasi. Budaya tersebut adalah ciri khas yang
dimiliki oleh PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus dan merupakan cara
mengintepretasikan dan mengorganisasikan tindakan anggota organisasi.
Menurut Robbins (2003) salah satu kekuatan dalam memainkan peranan
yang penting dalam mempertahankan suatu budaya adalah sosialisasi. Sosialisasi
adalah suatu proses yang mangadaptasikan anggota organisasi pada budaya
organisasi tersebut. Sementara menurut Kreitner dan Kinicki (2003: 96) sosialisasi
didefinisikan sebagai proses seseorang mempelajari nilai, norma, dan perilaku
yang dituntut, yang memungkinkan ia untuk berpartisipasi sebagai anggota
organisasi. Secara singkat sosialisasi organisasi mengubah orang baru menjadi
orang yang berfungsi penuh dalam mempromosikan dan mendukkung nilai dan
keyakinan dasar organisasi. Begitu pula dalam organisasi PUTM dan Seminari
Tinggi Santo Pulus, dalam menguatkan budaya organisasi pada anggota terutama
anggota baru, perlu dilakukan sosialisasi budaya organisasi demi terwujudnya
tujuan organisasi, maka dari itu peneliti akan menganalisis tahap-tahap sosialisasi
budaya organisasi di PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus.
8
Menurut Daniel Feldman (dalam Kreitner dan Kinicki, 2003: 97-100)
terdapat tiga tahap dalam sosialisasi budaya organisasi yang mengembangkan
pemahaman
yang lebih mengenai proses penting ini. Setiap tahap memiliki
proses sosial dan persepsi hubungan dengannya. Model Feldman merinci proses
prilaku dan afeksi yang timbul yang dapat digunakan untuk menilai seberapa baik
individu bersosialisasi. Tahap tersebut adalah:
1. Tahap 1: Anticipatory Socializations (Sosialisasi Antisipasi).
Sosialisasi organisasi dimulai sebelum individu benar-benar
bergabung dengan organisasi. Informasi sosialisasi lebih dulu
datang dari berbagai sumber. Semua informasi yang datang, baik
formal ataupun informal, akurat ataupun tidak akurat membantu
para individu mengantisipasi kenyataan organisasi.
2. Tahap 2: Encounter (Pertemuan). Tahap dua dimulai saat kontrak
pekerjaan telah ditandatangani. Inilah saatnya membuat kejutan
saat pendatang baru memasukki teritorial yang tidak dikenal. Para
ilmuan perilaku bahwa kejutan realitas dapat terjadi selama fase
pertemuan ini. Selama tahap encounter, individu ditantang untuk
menyelesaikan konflik apa pun antra pekerjaan dan kepentingan di
luar.
3. Tahap 3: Acquistion (Perubahan dan pemahaman yang bertambah).
Penguasaan tugas-tugas penting dalam pemecahan konflik peranan
menandai mulainya tahap akhir dari proses sosialisasi ini. Mereka
tidak mengalami transisi ke tahap tiga secara sukarela atau tidak
akan terisolasi dari jaringan sosial di dalam organisasi. Eksekutif
senior sering memainkan peranan langsung dalam tahap perubahan
dan pemahaman yang bertambah.
Sementara hal yang hampir sama mengenai proses sosialisasi budaya
organisasi juga disampaikan
oleh Robbins (2003). Sosialisasi dikonsepkan
sebagai seuatu proses yang terdiri dari tiga tahap, yaitu:
9
1. Tahap pertama yang disebut dengan tahap prakedatangan,
merupakan waktu pembelajaran dalam proses sosialisasi yang
terjadi sebelum seorang anggota baru bergabung dalam organisasi.
2. Tahap kedua adalah perjumpaan suatu proses sosialisasi. Di
organisasi ini seorang anggota baru melihat seperti apa sebenarnya
organisasi
yang
dimasukinya.
Pada
proses
ini
individu
kemungkinan akan menghadapi perbedaan antara harapan dengan
kenyataan.
3. Tahap ketiga yaitu metamorfosis, pada tahap ini anggota baru
menyesuaikan diri pada nilai-nilai dan norma kelompok kerjanya.
Ketiga proses sosialisasi seperti di atas, akan berpengaruh pada
produktivitas kerja, komitmen organisasi dan tingkat keluar masuknya anggota
organisasi. Robbins (2003) mengatakan suatu usaha individu dalam suatu
organisasi dalam proses sosialisasi yang dilakukan secara bertahap yang dimulai
dengan prakedatangan yang kemudian dilanjutkan dengan proses perjumpaan
dimana setiap individu akan dihadapkan proses untuk dapat menyesuaikan diri
pada nilai-nilai yang ada di organisasi. Dengan proses sosialisasi yang dilakukan
oleh setiap anggota PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus diharapkan setiap
anggota dapat menyesuaikan diri dengan budaya organisasi yang baru sehingga
setiap anggota organisasi dapat melihat dampak dari proses sosialisasi yang
dilakukan apakah akan semakin meningkatkan komitmen dan produktifitas
anggota organisasi atau justru akan membuat anggota organisasi keluar dari
organisasi karena nilai-nilai yang tidak sesuai dengan norma kelompok atau nilainilai organisasi.
E.3.
Dinamika Komunikasi Organisasi
Kata dinamika berasal dari kata dynamics (Yunani) yang bermakna
“Kekuatan” (force). “Dynamics is facts or concepts which refer to conditions of
change, expecially to forces”. Dinamika berarti tingkah laku warga yang satu
secara langsung mempengaruhi warga yang lain secara timbal balik. Dinamika
10
berarti adanya interaksi dan interdependensi antara anggota kelompok yang satu
dengan anggota kelompok secara keseluruhan (Santoso, 2009: 5).
Sementara itu Harold D. Laswell menjelaskan komunikasi sebagai
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan: Who, Say what, In wich chanel, to whom,
with what effet?? Kalimat ini kemudian dikenal dengan formula Laswell
(Effendy, 1993: 256). Dari apa yang dikemukaan Laswell tadi pada intinya
mencakup
unsur-unsur
komunikasi,
yaitu
adanya
komunikator
(yang
menyampaikan pesan), pesan yang disampaikan, media yang digunakan (media,
metode
atau
alat
yang
digunakan
untuk
menyampaikan
pesan),
komunikan/audience dan efek yang diharapkan. Secara sederhana dapatlah
diartikan bahwa komunikasi merupakan kegiatan penyampaian pesan dengan
tujuan menyamakan makna dari seseorang atau lembaga (komunikator) kepada
audience (komunikan).
Organisasi merupakan bagian dari masyarakat, Scein mengatakan
organisasi merupakan satuan kegiatan rasional kegiatan sejumlah orang untuk
mencapai beberapa tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fungsi melalui
hirarki otoritas dan tanggungjawab (Muhammad, 2002: 23). Setiap organisasi
berada dalam keadaan fisik tertentu, teknologi, kebudayaan dan lingkungan sosial
yang dimana organisasi tersebut harus menyesuaikan diri.
Dari ketiga definisi diatas, dapat dielaborasikan bahwa dinamika
komunikasi organisasi adalah interaksi dan interdependensi yang melibatkan dari
komunikator, pesan, media, komunikan dan dampak komunikasi dalam mencapai
tujuan organisasi melalui pembagian pekerjaan dan fungsi hirarki otoritas dan
tanggungjawab. Dengan kata lain, dinamika komunikasi organisasi adalah sebuah
interaksi yang terjadi didalam organisasi untuk mewujudkan tujuan organisasi.
Begitu juga dalam penelitian ini, peneliti menemukan dinamika komunikasi
organisasi yang menarik di PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus dalam
menguatkan budaya organisasi kepada Thalabah dan Seminaris.
11
Titik awal dalam interaksi penguatan nilai budaya organisasi adalah dari
kekuatan sang komunikator. Berinteraksi dalam setiap hubungan memberikan
kesempatan kepada komunikator untuk memaksimalkan fungsi berbagai macam
saluran (penglihatan, pendengara, sentuhan dan pencuiman) digunakan dalam
sebuah interaksi (West dan Turner, 2008:36). Dalam penelitian ini, komunikator
merupakan orang yang menyampaikan pesan budaya organsiasi yaitu para
pendamping yang merupakan representasi dari pengelola PUTM dan Seminari
Tinggi Santo Paulus.
Setelah melakukan fungsi komunikator dalam memaksimalkan fungsi di
berbagai macam saluran, langkah selanjutnya adalah mengetahui arah pesan yang
dituju dalam komunikasi organisasi yang terjadi di kedua organisasi. Secara
umum komunikasi organisasi dapat dibedakan atas komunikasi formal dan
komunikasi informal. Komunikasi formal salurannya ditentukan oleh struktur
yang telah direncanakan dan tidak dapat dipungkiri oleh organisasi. Bila pesan
mengalir melaui jalur resmi yang ditentukan oleh hierarki resmi organisasi atau
oleh fungsi pekerjaan maka pesan itu berada dalam jalur komunikasi formal.
Adapun fungsi penting sistem komunikasi formal menurut Liliweri (1997: 284)
adalah sebagai berikut:
1) Komunikasi
formal
terbentuk
sebagai
fasilitas
untuk
mengkoordinir kegiatan pembagian kerja dalam organisasi.
2) Hubungan formal secara langsung hanya meliputi hubungan
antara atasan dengan bawahan. Komunikasi langsung seperti ini
memungkinkan dua pihak untuk berpartisipasi umpan balik secara
cepat.
3) Komunikasi formal memungkinkan anggota dapat mengurangi
atau menekankan waktu yang akan terbuang, atau kejenuhan
produksi, mengeliminir ketidak pastian operasi pekerjaan,
termasuk tumpang tindih tugas dan fungsi, serta pembaharuan
menyeluruh yang berdampak pada efektivitas dan efisiensi.
12
4) Komunikasi formal menekankan terutama pada dukungan yang
penuh dan kuat dari kekuasaan maelalui struktur dan hierarkis.
Bertinghaus (1968) menyebutkan paling tidak ada tiga bentuk komunikasi
formal, yaitu berdasarkan: (1) arah yang dituju: vertikal, horisontal/lateral (2)
sifat, tipe jaringan komunikasi disesuaikan dengan tugas, misalnya pelaporan,
perintah, pengarah atau perlindungan dan kepenasihatan dan (3) keformalan (sisi
formal), sejauh mana alur komunikasi dibatasi oleh kewenangan. Dalam
penelitian ini, peneliti akan melihat komunikasi dari arah yang dituju, yaitu pesan
dalam komunikasi formal vertikal baik atas ke bawah, dari bawah ke atas dan juga
komunikasi formal secara horisontal atau tingkat yang sama.
Bentuk jaringan komunikasi vertikal terdiri atas vertikal dari atas dan dari
bawah. Dalam komunikasi vertikal, pesan bergerak sepanjang saluran vertikal
melalui dua arah, dari atas dan dari bawah. Komunikasi ke bawah (top down)
dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari jabatan
berorientasi lebih tinggi kepada mereka yang berotoritas lebih rendah. Biasanya,
kita beranggapan bahwa informasi bergerak dari manajemen kepada para pegawai
yang dalam penelitian ini adalah para pemimpin organisasi kepada anggota
organisasi, namum dalam organisasi kebanyakan, hubungan ada pada kelompok
manajemen (Davis dalam Pace, 1988: 184). Kebanyakan komunkasi ke bawah
digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkenaan dengan tugas-tugas
dan pemeliharaan. Pesan tersebut biasanya berhubungan dengan pengarahan,
tujuan, disiplin, perintah, pertanyaan dan kebijaksanaan umum. Menurut Lewis
(dalam Muhammad 2007:
108), komunikasi
ke
bawah adalah
untuk
menyampaikan tujuan, untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi
ketakutan dan kecurigaan yang timbul karena salah informasi, mencegah
kesalahpahaman karena kurang informasi dan mempersiapkan anggota organisasi
untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.
Sementara itu komunikasi dari bawah ke atas (bottom up) adalah pesan
yang mengalir daru bawahan kepada atasan atau dengan kata lain komunikasi
13
yang terjadi dari tingkat yang lebih rendah kepada tingkat yang lebih tinggi.
Tujuan komunikasi ini adalah untuk memberikan balikan, memberikan saran dan
mengajukan pertanyaan. Komunikasi ini mempunyai efek pada penyempurnaan
moral dan sikap bawahan, tipe pesan adalah integrasi dan pembauran
(Muhammad, 2007: 116-117).
Pendapat lain mengatakan, komunikasi ke atas berfungsi sebagai balikan
bagi pemimpin memberikan petunjuk tentang keberhasilan suatu pesan yang
disampaikan kepada bahawan dan dapat memberikan stimulus kepada anggotanya
untuk berpartisipasi dalam merumuskan kebijakan bagi organisasinya (Goldhaber,
1986). Namun komunikasi ke atas memiliki kendala yang salah satunya yaitu
perasaan para bawahan bahwa sang pemimpin tidak dapat menerima dan
merespons terhadap apa yang dikatakan oleh bawahan (Sharma, 1979).
Betuk komunikasi formal yang selanjutnya adalah komunikasi horizontal
adalah pertukaran pesan di antara orang-orang yang sama tingkat otoritasnya di
dalam organisasi (Muhammad, 2007). Pace dan Faules (2010: 95) mengatakan
bahwa fungsi dari komunikasi horisontal adalah untuk saling memberikan
informasi dalam perencanaan dan berbagai aktifitas. Ide dari banyak orang
biasanya akan lebih baik dari pada ide satu orang. Oleh karena itu komunikasi
horisontal sangat diperlukan untuk mecari ide yang lebih baik.
Selain untuk saling memberikan informasi, komunikasi horisontal juga
berfungsi untuk mengembangkan dukungan interpersonal. Karena sebagaian besar
waktu dari anggota organisasi berinteraksi dengan teman sesamanya, maka
mereka memperoleh dukungan interpersonal dari temannya. Hal ini memperkuat
hubungan di antara sesama anggota dan akan membantu kekompakan dalam kerja
kelompok sehingga dapat membantu pengelola dalam mewujudkan tujuan
organisasi. Interaksi interpersonal ini akan mengembangakan rasa sosial dan
emosional sesama anggota (Pace dan Faules, 2010: 95).
Sedangkan komunikasi informal tidaklah direncanakan dan biasanya
tidaklah mengikuti struktur formal organisasi, tetapi timbul dari interaksi sosial
14
yang wajar di antara anggota organisasi (everyday talk). Seperti yang disampaikan
oleh Pace dan Faules (2010:199) komunikasi informal terjadi ketika anggota
organisasi berinteraksi dengan yang lainnya tanpa memperhatikan posisi mereka
dalam organisasi dan pengarahan arus informasi bersifat pribadi. Hubungan paling
intim yang individu miliki dengan anggota yang lain dalam tingkat pribadi, antara
teman dan juga dengan hirarki yang ada di atasnya. Jaringan komunikasi lebih
dikenal sebagai desas-desus (grapvine) atau kabar angin. Informasi yang mengalir
dalam jaringan grapvine ini, kelihatannya berubah-ubah dan tersembunyi. Dalam
istilah komunikasi, grapvine dikatakan sebagai metode untuk menyampaikan
rahasia dari orang ke orang yang tidak dapat diperoleh melalui jaringan-jaringan
komunikasi formal. Komunikasi informal cenderung berisi laporan rahasia
mengenai kejadian-kejadian yang tidak mengalir resmi. Informasi yang diperoleh
dari desas-desus adalah yang berkenaan dengan apa yang didengar atau apa yang
dikatakan orang dan bukan apa yang diumumkan oleh yang berkuasa.
Walaupun grapvine itu membawa informasi yang informal tetapi ada
manfaatnya bagi organisasi. Grapvine memberikan balikan kepada pimpinan
mengenai sentimen bawahan. Dengan adanya jaringan komunikasi informal
bawahan dapat menyalurkan ekspresi emosional dari pesan-pesan yang dapat
mempercepat permusuhan dan rasa marah bila ditekan, grapvine dapat membantu
menerjemahkan pengarahan pimpinan ke dalam bahasa yang lebih mudah
dipahami oleh anggota organisasi (Muhammad, 2007).
Sementara itu efek dari grapvine yang negatif dapat dikontrol oleh
pimpinan dengan menjaga jaringan komunikasi formal yang bersifat terbuka,
jujur, teliti dan sensitif terhadap komunikasi ke atas, ke bawah dan mendatar.
Hubungan yang efektif antara atasan dan bawahan kelihatannya sangat krusial
untuk mengontrol informasi informal. Supervisor dan manajer hendaklah
membiarkan bawahan mengetahui bahwan mereka menerima dan memahami
informasi grapvine, khususnya yang berkenaan dengan pernyataan perasaan
karyawan walaupun informasi itu tidak lengkap dan tidak benar.
15
Begitu juga dalam penelitian ini, akan mengupas tentang pola komunikasi
baik formal maupun informal dalam menguatkan budaya organisasi kepada para
anggota organisasi di PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus. Komunikasi
organisasi secara formal meliputi tentang bagaimana komunikasi dari atas ke
bawah, bawah ke atas dan horisontal di kedua organisasi ini. Selain komunikasi
formal, dalam penelitian ini juga menghadirkan temuan komunikasi informal yang
merupakan desas-desus atau grapvine yang ada di PUTM dan Seminari Tinggi
Santo Paulus.
Salah satu komunikasi organisasi yang paling nyata adalah konsep
hubungan. Goldhaber mendefinisikan organisasi “sebuah hubungan yang saling
bergantung (Pace dan Faules 2010:202). Bila satu dengan yang lain saling
bergantung, ini berarti satu dengan yang lain saling mempengaruhi. Pola dan sifat
dalam suatu organsiasi dapat ditentuka oleh stuktur atau hubungan posisional dan
hubungan antar personal dimana individu-individu dalam organisasi bertindak di
luar struktur peran sehingga menciptakan jariangn komunikasi informal.
Keintiman hubungan yang kita miliki dengan orang lain dalam tingkat
pribadi, antara teman, rekan sebaya biasanya disebut sebagai hubungan antar
persona. Teman dekat cenderung memperhatikan dari pada yang lainya. “Dengan
mereka kita mendapatkan hubungan antar persona yang saling memuaskan.
Dengan mereka kita beresonansi, bergetar, dan sesuai, membuktikan bahwa
mereka memperhatikan kita” (Pace dan Faules, 2010:202).
Analisis khusus tentang efektifitas hubungan antar persona (Pace dan
Boren, 1973) :
1) Menjaga kontak pribadi yang akrab, tanpa menimbulkan peransaan
permusuhan.
2) Menetapkan dan menegaskan identitasantara individu dengan yang
lain tanpa membesar-besarkan ketidaksepakatan.
16
3) Menyampaikan pesan kepada individu lain tanpa menimbulkan
kebingungan, kesalahpahaman, penyimpangan atau perubahan
lainnya yang disengaja.
4) Terlibat dalam pemecahan masalah yang lain dengan terbuka tanpa
bersikap bertahan atau menghentikan proses.
5) Membantu untuk mengembangkan hubungan persona dan antara
persona yang efektif.
6) Ikut serta dalam interaksi sosial informal tanpa terlibat dalam
muslihat atau gurauan atau hal-hal lainnya yang mengganggu
komunikasi yang menyenangkan.
Tidak kita bisa lupa dalam proses komunikasi termasuk komunikasi
organisasi adalah bagaimana caranya agar suatu pesan yang disampaikan
komunikator itu menimbulkan dampak atau efek tertentu pada komunikan.
Dampak yang ditumbulkan dapat diklasifikasikan menurut kadarnya sebagai
berikut (Effendy, 2008: 7)
1) Dampak
kognitif
adalah
timbul
pada
komunikan
yang
menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya.
Di sini pesan yang disampaikan komunikator ditujukan kepada
pemikiran si koumunikan. Dengan kata lain, tujuan komunikator
hanyalah berkisar pada upaya mengubah pikiran diri komunikan.
2) Dampak afektif lebih tinggi kadarnya daripada dampak kognitif. Di
sini tujuan komunikator bukan hanya sekedar supaya komunikan
tahu, tetapi tergerak hatinya; menimbulkan perasaan tertentu,
misalnya perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan
sebagainya.
3) Yang paling tinggi kadarnya adalah dampak behavioural, yakni
dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku,
tindakan, atau kegiatan.
17
Fungsi teori dampak komunikasi dalam penelitian ini sebagai landasan
peneliti dalam memberikan saran kepada pengelola PUTM dan Seminari Tinggi
Santo Paulus dalam memetakan dampak dari berbagai macam pola komunikasi
organisasi yang dilakukan dalam penguatan organisasi kepada para anggota.
E.4.
Kerangka Konsep
Seperti yang telah dijabarkan dalam kerangka teori di atas, PUTM dan
Seminari Tinggi Santo Paulus merupakan organisasi keagamaan dibidang
pendidikan yang memiliki budaya organisasi masing-masing yang akan
ditanamkan dan dikuatkan kepada thalabah dan seminaris. Untuk melihat logika
komunikasi organisasi, serta menjawab dari rumusan masalah yang diajukan –
yaitu bagaimana dinamika komunikasi organisasi yang terjadi di kedua organisasi
tersebut- peneliti akan menggunakan kerangka konsep piramida terbalik dengan
sejumlah variabel sebagai parameter, yang diantaranya adalah:
1. Variabel PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus sebagai organsiasi
keagamaan. Melalui variabel ini peneliti mengetahui sebab musabab
PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus sebagai organisasi keagamaan.
2. Variabel budaya organisasi. Melalui variabel ini peneliti mengetahui
budaya organisasi yang ditanamkan di kedua organisasi.
3. Variabel dinamika komunikasi organisasi. Variabel ini dapat mengungkap
bagaimana dinamika komunikasi organisasi yang terjadi selama proses
pendalaman nilai budaya organisasi. Selain, itu variabel ini juga dapat
mengungkap permasalahan komunikasi organisasi yang terjadi selama
proses penguatan budaya organisasi.
F.
Metode Penelitian
F.1
Desain penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian diskripstif kualitatif. Peneliti ingin
menggambarkan secara alami tentang keadaan dengan tidak menggunakan
hipotesis. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang dinamika
18
komunikasi dalam penguatan nilai budaya organisasi keagamaan di PUTM dan
Seminari Tinggi Santo Paulus secara deskriptif. Melalui metode diskriptif akan
mampu memaparkan fenomena secara rinci serta menghadirkan analisis yang
lebih mendalam yang tidak mampu diungkapkan dengan metode kuantitatif.
Penelitian ini menggunakan studi kasus karena mengangkat masalah
empiris mengenai suatu kasus. Hal ini dimaksudkan agar lebih terfokus kepada
objek kajian serta mampu menjelaskan objek-objek di sekitar kajian. Studi kasus
merupakan
suatu
pendekatan
untuk
mempelajari,
menerangkan
atau
mengintepretasi suatu “kasus” dalam konteksnya yang alamiah tanpa ada
intervensi dari pihak luar ( Baedowi dalam agus Salim, 2006: 118) ). Studi kasus
ini dapat dilakukan ketika peneliti ingin memahami atau menjelaskan suatu
fenomena tertentu (Wimmer dan Dominick, 2006: 136).
Studi kasus adalah pendekatan yang bisa secara detail memberikan
gambaran mengenai latar belakang sifat dan suatu peristiwa. Dalam penelitian ini,
bentuk pertanyaan utama yang diajukan adalah “bagaimana”, yang sangat cocok
dengan pendekatan studi kasus. Wimmer dan Dominick (2006: 138) menjelaskan:
the case study is most appropriate for quoestions that begin with “how” or
“why”. Yin (2004: 13) menjelaskan bahwa pertanyaan “bagaimana” akan
diarahkan pada serangkaian peristiwa kontemporer di mana hanya memiliki
sedikit peluang untuk melakukan kontrol terhadap peristiwa tersebut.
Studi kasus sangat tepat karena peneliti tidak dapat melakukan intervensi
atau kontrol terhadap dinamika komunikasi organisasi dalam penguatan budaya
organisasi di PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus. Peneliti hanya dapat
melakukan pengamatan dengan seksama secara utuh dan menyeluruh mengenai
segala unsur dan faktor yang menjadi bagian dari dinamika komunikasi organisasi
dalam penguatan budaya organisasi di kedua organisasi tersebut secara deskriptif
ekplanatoris.
19
F.2.
Lokasi penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di PUTM Putra yang tepatnya di Desa
Ngipiksari Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman Yogyakarta dan Seminari
Tinggi Santo Paulus yang berlokasi di Jalan Kaliurang KM 7 Kentungan Sleman
Yogyakarta.
F.3
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga cara sesuai
dengan jangkauan penelitian yang hendak dicapai dan relevansinya dengan
rumusan masalah. Tiga cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data guna
kepentingan penelitian ini yaitu wawancara, observasi partisipasi dan penelusuran
dokumen.
Sementara itu untuk kriteria informan, peneliti memilih beberapa informan
yang sesuai dengan kebutuhan penelitian ini. Infoman yang pertama adalah
informan faham tentang desain dari budaya organisasi. Informan yang kedua
adalah informan yang menyampaikan pesan budaya organisasi, dari informan ini
dapat diketahui bagaimana cara kedua organisasi tersebut menguatkan budaya
organisasi. Informan ketiga adalah informan yang menerima pesan budaya
organisasi, dari informan ini dapat peneliti dapat menggali lebih dalam tentang
bagaimana pesan diterima, difahami dan dijalankan.
Penelitian dimulai dengan observasi awal pada bulan Februari 2013 di
Seminari Tinggi Santo Paulus dengan mengikuti Perayaan Ekaristi Tahbisan
Diakon. Peneliti mengikuti juga jamuan makan yang disediakan oleh Seminari
Tinggi Santo Paulus. Peneliti sempat melakukan sounding kepada Rektor
Seminari Tinggi Santo Paulus Romo Joseph Kristanto bahwa akan melaksanakan
kegiatan penelitian di Seminari Tinggi Santo Paulus. Wawancara mendalam
dilakukan oleh peneliti dengan key informan Rektor Seminari Tinggi Santo Paulus
Romo Joseph Kristanto yang mendesain dan mengetahui mendalam tentang
budaya organisasi yang ada di Seminari Tinggi Santo Paulus.
20
Wawancara penelitian selanjutnya di Seminari Tinggi Santo Paulus
dilakukan dengan pendamping yang diberi kepercayaan untuk menguatkan
budaya organisasi. Namun informan dengan kriteria ini susah ditemui karena
alasan kesibukan dan padatnya kegiatan. Peneliti pun mengalihkan pada informan
lain yang mempunyai kriteria yang hampir sama. Akhirnya peneliti menemui
Boni Nugroho yang merupakan seminaris angkatan paling senior yang juga diberi
tugas untuk mendapingi adik kelasnya dalam menguatkan budaya organisanisi.
Informan yang ketiga di Seminari Tinggi Santo Paulus adalah Wegig Hari
Nugroho yang merupakan Seminaris tingkat lima yang baru saja menyelesaikan
masa pengabdian selama satu tahun di paroki atau yang disebuat sebagai toper.
Alasan peneliti memilih informan ini karena Wegig adalah termasuk seminaris
yang telah mengalami banyak pengalaman dalam menerima pesan budaya
organisasi dan mengetahui bagaimana dinamika komunikasi organisasi.
Peneliti mengalami kendala dalam obeservasi sebagai partisipan. Karena
di Seminari Tinggi Santo Paulus para informan penelitian cukup berhati-hati
dalam memberikan informasi yang peneliti ingin dalami. Peneliti hanya bisa
melakukan wawancara informal walau masih terkesan kaku. Hal ini disebabkan
karena peneliti dianggap orang asing dilingkungan tersebut. Selain itu kendala
yang peneliti alami adalah padatnya jadwal para seminaris dan Romo dalam
melaksanakan kegiatan Pastoral didalam atau di luar asrama, susahnya akses
komunikasi kepada seminaris untuk melakukan janjian wawancara juga menjadi
kendala dalam penelitian ini. Peneliti menggunakan sosial media facebook untuk
membuat janji wawancara dengan seminaris, itupun harus menunggu balasan
yang cukup lama karena penggunaan fasilitas internet di Seminari Tinggi Santo
Paulus juga dibatasi.
Selain menggunakan wawancara dan observasi partisipasi, peneliti juga
menggunakan penelusuran dokumen sebagai pendukung data yang didapat dari
wawancara dan observasi. Peneliti mendapat Buku Pedoman Calon Imam
Diosesan langsung dari Romo Kris yang merupakan rektor Seminari Tinggi Santo
21
Paulus. Buku ini merupakan pernyataan resmi dari pengelola seminari tentang
sejarah, visi, misi, tujuan dan cara hidup komunitas di Seminari Tinggi Santo
Paulus.
Sementara itu di Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah, penelitian
diawali dengan observasi partisipasi pada Februari 2013. Wawancara mendalam
dilakukan peneliti dengan Key Informan Ahmad Muhajir selaku wakil mudir
(wakil direktur) PUTM yang ikut mendesain dan mengetahui mendalam tentang
budaya organisasi.
Wawancara
penelitian
selanjutnya
di
PUTM
dilakukan
dengan
pendamping yang diberi kepercayaan untuk menguatkan budaya organisasi.
Peneliti melakukan wawancara dengan Hudzaifaturahman sebagai musyrif
PUTM, Rohmasyah dan Endi yang merupakan staf Tata Usaha PUTM dan juga
membantu musyrif menjalankan tugas untuk menguatkan nilai budaya
organisanisi kepada para thalabah.
Informan yang ketiga di PUTM adalah para thalabah
dari berbagai
angkatan yang ada. Peneliti melakukan wawancara lebih mendalam dengan
thalabah yang berada pada tingkat akhir yaitu Niki Alma Febriana dan Ahmad
Syarif karena telah mengalami banyak pengalaman dalam menerima pesan budaya
organisasi dan mengetahui bagaimana dinamika komunikasi organisasi.
Observasi dan wawancara berlangsung pada berbagai kegiatan seperti
ketika thalabah sedang melakukan aktifitas perkuliahan dan berdiskusi. Peneliti
juga beberapa kali mengajak para thalabah mimun kopi bersama di luar asrama.
Dengan kondisi seperti ini peneliti bisa mendapatkan informasi yang lebih alami.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan terkait dengan bagaimana
pengelola PUTM dalam menguatankan nilai budaya organisasi dengan
komunikasi.
Selain menggunakan wawancara dan observasi partisipasi, peneliti juga
menggunakan penelusuran dokumen sebagai data pendukung. Di PUTM peneliti
menggunakan buku panduan yang dikeluarkan oleh pengelola. Dalam buku
22
panduan tersebut terdapat sejarah, visi, misi dan berbagai pernyataan resmi dari
pengelola.
F.4.
Teknik Analisis Data
Setelah mengumpulkan data, langkah selanjutnya yang peneliti tempuh
adalah menganalisis data. Data ini akan dianalisis secara kualitatif dengan
memilah data secara cermat dari berbagai informasi yang didapatkan. Sehingga
hasilnya dapat memberikan pemahaman secara mendalam terhadap konsep yang
diteliti serta menjawab rumusan masalah penelitian. Wawancara yang digunakan
adalah wawancara tidak terstruktur yang memungkinkan peneliti untuk
mengembangkan pertanyaan. Hal ini dilakukan agar data yang didapatkan lebih
bervariasi tetapi tetap dalam koridor dinamika komunikasi organisasi dalam
penguatan budaya organisasi di PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus.
Langkah-langkah analisis data yang digunakan adalah dengan terlebih
dahulu mengolah data primer yang didapat melalui wawancara dan observasi
langsung. Data diolah dengan cara mengklasifikasikan data-data tersebut untuk
disederhanakan menjadi bagian-bagian kecil yang akan dihimpun atau disusun
menjadi sebuah teks naratif untuk kemudian diambil kesimpulan dari data
tersebut. Pengklasifikasian data sesuai dengan kebutuhan peneliti. Setelah data
primer diolah, kemudian disingkronkan dengan data sekunder yang didapat dari
penelusuran dokumen. Dengan melakukan singkronisasi data primer dan
sekunder, diharapkan akan memperoleh informasi dan gambaran yang jelas
mengenai masalah yang diteliti. Selanjutnya data tersebut disajikan dan dianalisis
sesuai dengan kerangka konsep yang ada.
F.5.
Limitasi Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, limitasi atau pembatasan
penelitian masalah pada penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dinamika
komunikasi organisasi yang terjadi di PUTM dan Seminari Tinggi Santo Paulus
dalam penguatan nilai budaya organisasi demi tercapainya tujuan organisasi.
23
Download