perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user BAB II

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Pengetahuan
a. Definisi
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2007a).
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Mubarak (2007) berpendapat bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi pengetahuan adalah :
1) Pendidikan
Tingkat pendidikan remaja mempengaruhi bagaimana
seorang remaja itu menyikapi keadaan dirinya, termasuk dalam
menghadapi
perubahan
kondisi
tubuhnya
memasuki
masa
kematangan reproduksi. Semakin tinggi pendidikan maka ia akan
mudah menerima hal- hal baru dan mudah menyesuaikan dengan
hal yang baru tersebut (Notoatmodjo, 2007b).
2) Informasi
Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih
banyak akan mempunyai banyak akal dan mempunyai pengetahuan
yang lebih luas.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
3) Budaya
Lingkungan yanga ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari
sikap dalam menerima informasi (Wawan, 2010).
4) Pengalaman
Dalam hal ini, umur dan pendidikan merupakan wujud dari
pengalaman yang nantinya akan menambah wawasan pengetahuan
menjadi lebih banyak. Semakin cukup umur tingkat kematangan
dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan
bekerja (Wawan, 2010).
5) Sosial ekonomi
Tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan
hidup berbeda- beda. Tingkat sosial ekonomi yang rendah
menyebabkan keterbatasan biaya untuk menempuh pendidikan,
sehingga pengetahuannya pun rendah. Sebaliknya bila ekonominya
baik sehingga pendidikannya tinggi, tingkat pengetahuan akan
tinggi juga (Notoatmodjo, 2007a)
c. Tingkat Pengetahuan dalam Domain Kognitif
Yaumi
(2013)
membagi
pengetahuan
dalam
beberapa
tingkatan, sesuai dengan tingkatan pada taksonomi Bloom, sebagai
berikut:
1) Mengingat (Remember)
Tingkatan ini merupakan tingkatan yang paling rendah.
Seseorang dapat dikatakan berada dalam tingkatan ini, bila
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
orang tersebut mampu mengingat data atau informasi dari
ingatan jangka panjang.
2) Memahami (Umderstand)
Seseorang
dikatakan
mampu
memahano
sesuatu
apabila ia mampu mengkonstruksi pemahaman dari pesanpesan pembelajaran yang bersifat lisan, tulisan, gambar.
3) Mengaplikasi (Apply)
Tingkatan aplikasi dicirikan dengan seseorang mampu
menyelesaikan
atau
menggunakan
prosedur
untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan
4) Menganalisis (Analyze)
Menganalisis adalah memisahkan materi atau konsep
menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagianbagian tersebut saling berhubungan satu sama lain sehingga
menjadi satu struktur atau tujuan.
5) Mengevaluasi (Evaluate)
Mengevaluasi adalah mampu membuat keputusan
berdasarkan kriteria dan standar-standar.
6) Menciptakan (Create)
Tingkatan ini merupakan tingkatan tertinggi dalam
domain kognitif, dimana seseorang mampu meletakkan
berbagai elemen ke dalam suatu bentuk yang koheren atau
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
fungsional, atau menyusun elemen-elemen ke dalam satu
bentuk atau struktur baru.
d. Penilaian pengetahuan
Dalam hal ini pengetahuan yang dimaksud ditekankan pada aspek
kognitif. Pengukuran aspek kignitif menggunakan tes, khusunya tes
yang mengukur performansi maksimal. Stimulus yang disajikan harus
jelas struktur dan tujuannya sehingga subjek tahu betul arah jawaban
yang dikehendaki (Azwar, 2013). Menurut Nursalam (2003), penilaian
pengetahuan dapat dilihat dari setiap item pertanyaan yang akan
diberikan peneliti kepada responden. Kategori pengetahuan dapat
ditentukan dengan kriteria :
1) Baik : pertanyaan dijawab dengan benar 76-100%.
2) Cukup : pertanyaan dijawab dengan benar 56-75%.
3) Kurang : pertanyaan dijawab dengan benar < 56%.
2. Seksualitas
a. Definisi
Seks adalah perbedaan sifat pada kebanyakan species hewan dan
tumbuhan, berdasarkan tipe gamet yang dihasilkan oleh gonad, ova
(mikrogamet) yang khas pada betina, dan sperma (mikrogamet) pada
jantan, atau kategori dimana individu ditempatkan berdasarkan sifat
tersebut. Seks adalah menentukan jenis kelamin, yaitu ciri khas unsur
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
reproduktif jantan dan betina, keadaan jasmani individu dalam
kaitannya dengan sikap atau aktivitas seksual (Nuswantari, 2003).
Menurut Yuliadi (2010), seksualitas memiliki arti yang lebih
luas karena meliputi bagaimana seseorang merasakan tentang diri
mereka dan bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut
terhadap orang lain melalui tindakan yang dilakukannya seperti
sentuhan, ciuman, pelukan, senggama, atau melalui perilaku yang lebih
halus seperti isyarat gerak tubuh, etiket, berpakaian dan perbendaharaan
kata.
b. Nilai seksual pada pria dan wanita
Menurut Sarwono (2011) remaja pria lebih awal melakukan
berbagai perilaku seksual dari pada remaja putri. Namun di berbagai
kebudayaan termasuk Indonesia sendiri, sikap pria memang pada
umumnya lebih permisif dari pada wanita, yang pada hakikatnya
mencerminkan perbedaan nilai seksual antara remaja pria dan wanita
yaitu :
1) Laki- laki lebih cenderung terbuka daripada wanita untuk
menyatakan bahwa mereka sudah berhubungan seks dan sudah
aktif berperilaku seksual.
2) Remaja putri menghubungkan seks dengan cinta. Alasan mereka
untuk berhubungan seks adalah cinta, sementara itu pada remaja
pria kecenderungan ini jauh lebih kecil.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
c. Orientasi seksual
Seksualitas memiliki beberapa komponen, salah satunya adalah
orientasi seksual. Orientasi seksual adalah ketertarikan yang bersifat
abadi (enduring) secara emosional, romantis, dan afeksional kepada
manusia lain (Majid, 2007).
Terdapat 3 jenis orientasi seksual, yaitu :
1) Heteroseksual
Heteroseksual ditujukan untuk seseorang yang tertarik
secara seksual hanya kepada lawan jenis. Laki- laki tertarik pada
perempuan, sebaliknya perempuan tertarik pada laki-laki. Sebagian
besar orang digolongkan kategori ini. Orientasi heteroseksual
adalah yang dianggap paling normal dan paling diterima (Majid,
2007).
2) Biseksual
Istilah untuk perempuan maupun laki-laki yang tertarik
secara seksual baik kepada perempuan dan laki-laki sekaligus.
Perempuan tertarik pada perempuan dan laki-laki. Sebaliknya lakilaki juga tertarik secara seksual pada perempuan dan laki-laki
sekaligus. Dalam kondisi ini, laki-laki tetap merasa dirinya sebagai
laki-laki. Perempuan tetap merasa dirinya sebagai perempuan
(Majid, 2007).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
3) Homoseksual
Istilah untuk seseorang yang tertarik seksual pada sesama
jenis. Istilah homoseksualitas dipakai untuk hubungan seksual
antara dua orang pria. Dalam arti yang luas istilah ini berlaku pula
bagi pasangan wanita-wanita yang lazim disebut lesbianisme
(Wiknjosastro, 2005).
3. Penerapan Norma Sosial
a. Definisi
Norma merupakan aplikasi atau perwujudan dari nilai-nilai
yang dianut oleh masyarakat. Norma menjadi panduan, tatanan, dan
pengendali tingkah laku warga. Norma juga menjadi kriteria bagi
masyarakat untuk mendukung atau menolak perilaku seseorang. Oleh
karena itu, setiap pola kelakuan yang telah sesuai dengan norma selalu
mengandung unsur pembenaran. Artinya, tindakan yang dilakukan
dengan cara seperti disebutkan dalam norma itu dapat dibenarkan atau
diterima oleh banyak orang; diluar itu dinilai sebagai kesalahan atau
tindakan yang kurang baik (Maryati, 2007).
Perbedaan nilai dan norma adalah, secara umum norma
mengandung sanksi yang lebih tegas terhadap pelanggarnya. Norma
lebih banyak penekanannya sebagai peraturan-peraturan yng selalu
disertai oleh sanksi-sanksi yang merupakan faktor pendorong bagi
individu ataupun kelompok masyarakat untuk mencapai ukuran nilaicommit to user
perpustakaan.uns.ac.id
nilai
digilib.uns.ac.id
sosial
tertentu
yang
dianggap
baik
untuk
dilakukan
(Muzdalisihaq, 2005).
Norma sosial dimasukkan kedalam teori yang dikaji dengan
cara sebagai berikut: norma sosial menentukan tindakan apa saja yang
dianggap tepat atau benar, atau tidak tepat, atau tidak benar, oleh
sekelompok orang. Norma-norma sosial diciptakan secara sengaja,
dalam pengertian bahwa orang-orang yang memprakarsai atau ikut
mempertahankan suatu norma merasa diuntungkan oleh kepatuhannya
pada norma dan merugi karena melanggar norma. Norma biasanya
ditegakkan melalui sanksi, yang berupa imbalan karena melakukan
tindakan-tindakan yang dipandang benar atau hukuman karena
melakukan tindakan-tindakan yang tidak benar. Orang-orang yang
berpegang pada sebuah norma, menyatakan haknya untuk menerapkan
sanksi dan mengakui hak orang lain yang berpegang pada norma
tersebut untuk menerapkan sanksi. Orang-orang yang tindakannya
berpegang pada norma tentunya mempertimbangkan norma-norma
tersebut dalam setiap perilakunya, dan imbalan ataupun hukuman
potensial yang menyertainya, bukan sebagai faktor penentu mutlak
tindakannya, tetapi sebagai elemen yang mempengaruhi keputusannya
tentang tindakan apa saja yang akan dilakukan demi kepentingannya
(Coleman, 2008).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
b. Sifat Norma
1) Norma formal
Bersumber dari lembaga masyarakat (institusi) yang formal atau
resmi. Norma ini biasanya tertulis.
Contoh: aturan-aturan yang berasal atau bersumber dari negara,
seperti konstitusi, surat keputusan, dan peraturan daerah.
2) Norma non formal
Biasanya tidak tertulis dan jumlahnya lebih banyak dari norma
formal.
Contoh: kaidah atau aturan yang terdapat di masyrakat, seperti
pantangan-pantangan aturan dalam keluarga, dan adat istiadat.
(Maryati, 2007)
c. Tingkatan Norma
Dilihat dari kekuatan mengikat terhadap anggota masyarakat,
norma dibedakan menjadi beberapa tingkatan, yaitu:
1) Cara (Usage)
Norma yang disebut „cara‟ hanya mempunyai kekuatan
yang dapat diaktakan sangat lemah dibandingkan norma yang
lainnya. Cara lebih banyak terjadi pada hubungan-hubungannya
antarindividu dengan individu dalam kehidupan bermasyarakat.
Jika terjadi pelanggaran terhadapnya (norma), seseorang hanya
mendapatkan sanksi-sanksi yang ringan, seperti berupa cemoohan
atau celaan dari individu
Perbuatan seseorang yang melanggar
commitlain.
to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
norma (dalam tingkat cara) tersebut dianggap orang lain sebagai
perbuatan yang tidak sopan, misalnya makan berdecak, makan
sambil berdiri, dan sebagainya (Muzdalisihaq, 2005).
2) Kebiasaan (Folkways)
Kebiasaan diartikan sebagai suatu aturan dengan kekuatan
mengikat yang lebih kuat daripada usage karena kebiasaan
merupakan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang sehingga
menjadi bukti bahwa orang yang melakukannya menyukai dan
menyadari perbuatannya. Kebiasaan ini apabila dilakukan oleh
sebagian besar anggota masyarakat disebut dengan tradisi dan
menjadi identitas atau ciri masyarakat yang bersangkutan.
Contohnya, kebiasaan menghormati dan mematuhi orang yang
lebih tua, kebiasaan menggunakan tangan kanan apabila hendak
memberikan sesuatu kepada orang lain (Maryati, 2007).
3) Tata kelakuan (Mores)
Tata kelakuan adalah suatu kebiasaan yang diakui oleh
masyarakat sebagai norma pengatur dalam setiap berperilaku. Tata
kelakuan lebih menunjukkan fungsi sebagai pengawas kelakuan
oleh kelompok terhadap anggota-anggotanya. Tata kelakuan
mempunyai kekuatan pemaksa untuk berbuat atau tidak berbuat
sesuatu; jika terjaid pelanggaran, maka dapat mengakibatkan
jatuhnya sanksi, berupa pemaksaan terhadap pelanggarnya untuk
kembali
menyesuaikan diri dengan
commit to user
tata
kelakuan
umum
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
sebagaimana telah digariskan. Bentuk hukumannya biasanya
dikucilkan oleh masyarakat dari pergaulan, bahkan mungkin terjadi
pengusiran dari tempat tinggalnya (Muzdalisihaq, 2005). Contoh
norma pada tingkat tata kelakuan adalah larangan berzina (Maryati,
2007).
4) Adat-Istiadat (Custom)
Adat istiadat adalah tata kelakuan yang berupa aturanaturan yang mempunyai sanksi lebih keras. Anggota masyarakat
yang melanggar norma adat akan mendapatkan sanksi hukum, baik
formal maupun informal. Sanksi
hukum formal biasanya
melibatkan alat negara berdasarkan undang-undang yang berlaku
dalam memaksa pelanggarnya untuk menerima sanksi hukum,
misalnya pemerkosaan, menjual kehormatan orang lain dengan
dalih usaha mencari kerja, dan sebagainya. Sedangkan sanksi
hukum informal biasanya diterapkan dengan kurang atau bahkan
tidak rasional, yaitu lebih ditekankan pada kepentingan masyarakat
(Muzdalisihaq, 2005).
d. Macam-Macam Norma Sosial
Norma yang berlaku di masyarakat dapat diklasifikasikan dalam 5
jenis, yaitu norma agama, kesusilaan, kesopanan, kebiasaan dan
hukum.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
1) Norma Agama
Norma agama adalah suatu norma yang berdasarkan
ajaran atau kaidah suatu agama. Norma ini bersifat mutlak dan
mengharuskan ketaatan bagi para pemeluk atau penganutnya.
Pemeluk yang taat akan diberikan keselamatan di akhirat,
sedangkan yang melanggar akan mendapat hukuman di akhirat.
Norma agama mampu membentuk masyarakat yang hidup penuh
keseimbangan jasmani dan rohani (Maryati, 2007). Norma agama
tergolong norma descriptive yaitu norma yang menginformasikan
perilaku melalui contoh (Cialdini, et al, 2006).
2) Norma Kesusilaan
Norma ini didasarkan pada hati nurani dan akhlak
manusia. Norma kesusilaan bersifat universal. Artinya, setiap
orang di dunia ini memilikinya, hanya bentuk dan perwujudannya
saja yang berbeda. Misalnya, perilaku yang menyangkut nilai
kemanusiaan
seperti
pembunuhan,
pemerkosaan,
dan
pengkhianatan, pada umumnya ditolak oleh masyarakat manapun
(Maryati, 2007). Norma kesusilaan tergolong dalam norma
injunctives, yaitu norma yang umumnya disetujui atau ditolak
oleh masyarakat. Norma kesusilaan bersandar pada suatu nilai
kebudayaan. Pelanggaran terhadap norma ini berakibat sanksi
pengucilan secara fisik (diusir) ataupun batin (dijauhi) (Cialdini,
et al, 2006).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
3) Norma Kesopanan
Norma kesopanan mengarah pada tingkah laku yang dianggap
wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Contoh norma kesopanan
ialah mengucapkan salam saat memasuki rumah orang lain,
menyapa kenalan yang kita temui di jalan, atau makan dengan
menggunakan tangan kanan. Pelanggaran terhadap norma ini akan
dikenai celaan, kritik, dan lain-lain. Norma kesopanan tergolong
norma injunctives, yang dalam penerapannya melalui sanksi sosial
(Sukardi, 2009; Cialdini, et al, 2006).
4) Norma Kebiasaan (habit)
Norma kebiasaan merupakan hasil dari perbuatan yang dilakukan
secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi
kebiasaan. Orang yang tidak melakukan norma ini biasanya
dianggap aneh oleh lingkungan sekitarnya. Contoh norma
kebiasaan adalah kebiasaan melakukan „selamatan‟ atau doa bagi
anak yang baru dilahirkan. Norma kebiasaan tergolong dalam
norma descriptive (Maryati, 2007; Cialdini, et al, 2006).
5) Norma Hukum
Norma hukum berupa rangkaian aturan yang berisi perintah dan
larangan yang dibuat oleh lembaga formal, seperti pemerintah.
Contohnya, perintah memakai helm standar bagi pengendara
motor. Pelanggaran terhadap norma hukum akan dikenai denda,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
penjara, bahkan hukuman mati. Norma hukum tergolong dalam
norma injunctives (Sukardi, 2009; Cialdini, et al, 2006).
e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerapan Norma Sosial
Berikut ini faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penerapan norma
sosial:
1) Sanksi sosial
2) Aturan dari lembaga formal atau pemerintah
3) Kebiasaan
4) Adat istiadat
5) Kaidah agama
6) Hati nurani dan akhlak
7) Perilaku masyarakat
(Coleman, 2008; Muzdalisihaq, 2005; Maryati, 2007; Sukardi, 2009).
f. Pengukuran Penerapan Norma Sosial
Penerapan norma sosial merupakan suatu bentuk sikap.
Pengukuran kecenderungan perilaku dapat dilakukan secara langsung
maupun tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana
pendapat dan pernyataan responden terhadap suatu obyek. Secara
tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan
hipotesis kemudian dinyatakan pendapat responden melalui kuesioner
(Notoatmodjo, 2007a).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
4. Paparan Pornografi
a. Definisi Pornografi
Menurut asal katanya, pornografi berasal dari kata porno yang
berasal dari kata porne berarti cabul. Sedangkan kata pornografi
berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau
tulisan untuk membangkitkan nasfu birahi (Alwi, 2003).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008
mendefinisikan pornografi sebagai gambar, sketsa, ilustrasi, foto,
tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan,
gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media
komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat
kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan
dalam masyarakat.
Adapun definisi pornografi menurut ahli adalah materi yang
secara eksplisit dirancang untuk membangkitkan gairah. Didalamnya
dapat berupa gambaran orang-orang yang sedang melakukan
hubungan seksual, baik berwujud gambar maupun suara, ataupun
tindakan yang melibatkan alat kelamin (misalnya vagina atau anal,
oral sex dan masturbasi), sehingga memunculkan perasaan atau
pikiran seksual. Banyak orang tua yang yakin bahwa pornografi tidak
pantas bagi remaja (Miron, 2006; Courville dan Rojas, 2009; Reid,
2011).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, pornografi dapat
didefinisikan sebagai gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara,
bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh,
atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi
dan/atau pertunjukan di muka umum, yang mencerminkan adanya
perilaku seksual dan dapat menimbulkan perasaan atau pikiran seksual
bagi yang melihatnya.
b. Paparan Pornografi
Banyak penelitain tentang berfokus pada televisi, tetapi minat
yang muncul melibatkan internet. Kita tahu bahwa internet mampu
menyediakan berbagai pengalaman (Escobar-Chaves, 2005). Sebagian
remaja menggunakan komputer dan internet sebagai dua sarana, yaitu
sebagai sarana mencari nformasi (mengerjakan tugas) dan sebagai
sarana hiburan (Borzekowski, 2006).
Remaja konsisten mengutip media massa sebagai sumber
penting informasi kesehatan seksual. Meskipun media yang dapat
memberikan pesan-pesan positif, beberapa materi mungkin terdistorsi
dan berpotensi berbahaya, gagal untuk menunjukkan konsekuensikonsekuensi negatif tentang seks (Escobar-Chaves, 2005).
Bahkan, ada bukti yang menunjukkan bahwa referensi seksual
di televisi dan film dapat menjadi kunci kontributor coitus awal, sikap
negatif terhadap kondom dan kontrasepsi, memiliki beberapa mitra
seksual, dan kehamilan remaja (Collins, 2004). Sebuah studi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
longitudinal terbaru oleh Chandra (2008), menemukan bahwa remaja
yang mendapat paparan pornografi tinggi memiliki resiko dua kali
lipat mengalami kehamilan remaja dibanding dengan remaja dengan
paparan pornografi yang rendah.
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Paparan Pornografi pada Remaja
1. Jenis Kelamin
Remaja laki-laki cenderung lebih mudah terpapar materi
pornografi daripada remaja perempuan. Menurut Stock (2004),
hampir 100% remaja laki-laki dan lebih dari 90% remaja
perempuan pernah terpapar materi pornografi melalui majalah.
2. Kemajuan Teknologi
Pornografi marak beredar dalam berbagai bentuk yang dapat
dengan mudah dan murah diperoleh anak-anak dan remaja. seperti
dalam bentuk video di telepon selular, pesan singkat (SMS), situssitus porno di internet atau gambar-gambar seronok di koran atau
majalah. Belum lagi bila disebutkan VCD-VCD porno atau
tayangan televisi yang cenderung mengumbar sensualitas dan
seksualitas.
3. Kebutuhan akan Informasi dan Hiburan
Dalam upaya pemenuhan kebutuhan informasi dan rekreasi,
seringkali remaja menggunakan layanan internet, yang kadangkala
tanpa disadari atau tidak mengandung unsur-unsur pornografi.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
4. Kecanduan
Pengguna internet yang terlalu sering mengakses website yang
bermuatan pornografi dapat menyebabkan kecanduan. Pengguna
yang telah mengalami kecanduan akan sulit melepaskan diri dari
tidak melihat pornografi di internet.
5. Pengawasan Orang Tua
Kurangnya pengawasan yang ketat dari orang tua menyebabkan
anak atau remaja mengkonsumsi materi-materi pornografi dengan
leluasa.
(Barzekowski, 2006; Zakaria, 2011; Stock, 2004; Deliana, 2013)
d. Akibat Paparan Pornografi
Djubaedah (2003), menyatakan beberapa akibat dari paparan
pornografi antara lain:
1) Perzinaan dan Perkosaan
2) Hubungan seksual dengan binatang
3) Hubungan seksual dengan mayat
4) Hubungan sesama jenis (homoseksual, lesbian)
e. Pengukuran Paparan Pornografi
Guna melihat apakah seseorang terpapar materi pornografi
ataupun
tidak,
perlu
diketahui
perilaku
seseorang
tersebut.
Pengukuran atau cara mengamati perilaku dapat dilakukan melalui
dua cara, secara langsung, yakni dengan pengamatan (obsevasi), yaitu
mengamati
tindakan dari subyek
commit to user
dalam
rangka
memelihara
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
kesehatannya. Sedangkan secara tidak langsung menggunakan metode
mengingat kembali (recall). Metode ini dilakukan melalui pertanyaanpertanyaan terhadap subyek tentang apa yang telah dilakukan
berhubungan dengan obyek tertentu (Notoatmodjo, 2005).
5. Remaja
a. Pengertian
Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut adolesence, berasal
dari bahasa Latin adolescere yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk
mencapai kematangan”(Ali dan Asrori, 2004). Sedangkan dalam
bahasa Inggris, adolescence megandung makna “berangsur-angsur”.
Yang artinya adalah berangsur-angsur menuju kematangan secara
fisik, akal kejiwaan dan sosial serta emosional (Al-Mighwar, 2006).
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu yang terkait (seperti
Biologi dan ilmu faal) remaja dikenal sebagai suatu tahap
perkembangan fisik ketika alat-alat kelamin manusia mencapai
kematangannya. Secara anatomis berarti alat-alat kelamin khususnya
dan keadaan tubuh pada umumnya memperoleh bentuk yang
sempurna. Secara faali, alat-alat kelamin tersebut sudah berfungsi
secara sempurna pula. Pada akhir dari peran perkembangan fisik ini
seorang
pria
berotot
dan
berkumis/berjanggut
dan
mampu
menghasilkan beberapa ratus juta sel mani (spermatozoa) setiap kali ia
berejakulasi (memancarkan air mani). Di lain pihak, seorang wanita
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
berpayudara dan berpinggul besar dan setiap bulannya mengeluarkan
sebuah sel telur dari indung telurnya (Sarwono, 2011).
b. Tahap Perkembangan Remaja
Menurut Yusuf (2004) dalam tumbuh kembangnya menuju
dewasa, berdasarkan kematangan psikoseksual dan seksual, semua
remaja akan melewati tahapan berikut :
1) Remaja awal : 12-15 tahun.
Pada tahap ini, remaja akan mulai berfokus pada pengambilan
keputusan,
menggunakan
cara
berpikir
logis
dan
mulai
menggunakan istilah-istilahnya sendiri. Perubahan fisik mulai
terlihat pada diri remaja, dan mereka mulai mencoba melakukan
onani. (Aryani, 2010; Soetjiningsih, 2007).
2) Remaja madya : 15-18 tahun.
Pada tahap ini, remaja akan meningkatkan interaksinya terhadap
kelompok dan tidak lagi bergantung pada keluarga, sudah terjadi
eksplorasi
seksual, serta mulai
dapat
mempertimbangkan
kemungkinan masa depan. Pematangan fisik secara penuh dalam
diri remaja (laki-laki mengalami mimpi basah, dan perempuan
mengalami menarche). Gairah seksual telah mencapai puncak dan
cenderung melakukan sentuhan fisik dengan lawan jenis. (Aryani,
2010; Soetjiningsih, 2007).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
3) Remaja akhir : 19-22 tahun.
Pada tahap ini, remaja lebih berkonsentrasi pada rencana yang
akan datang dan meningkatkan pergaulan. Mereka juga memulai
untuk berpikir secara kompleks untuk memfokuskan diri terhadap
masalah-masalah idealisme, toleransi, keputusan untuk karier dan
pekerjaan. Remaja telah mempunyai perilaku seksual yang lebih
banyak dan mulai berpacaran. (Aryani, 2010; Soetjiningsih,
2007).
c. Tugas-Tugas Perkembangan Masa Remaja
Tugas-tugas perkembangan masa remaja, menurut Hurlock
(1991) dalam Ali dan Asrori (2004), adalah berusaha:
1) Mampu menerima keadaan fisiknya
2) Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa
3) Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang
berlainan jenis
4) Mencapai kemandirian emosional
5) Mencapai kemandirian ekonomi
6) Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang
sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota
masyarakat
7) Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan
orang tua
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
8) Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan
untuk memasuki dunia dewasa
9) Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan
10) Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab
kehidupan keluarga.
6. Perilaku Seksual Pra Nikah
a. Definisi
Perilaku seksual pranikah adalah segala tingkah laku yang
didorong oleh hasrat seksual baik yang dilakukan sendiri, dengan
lawan jenis maupun sesama jenis tanpa adanya ikatan pernikahan
menurut agama (Sarwono, 2011).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seksual
pada remaja diantaranya adalah karena adanya perubahan hormon
pada diri remaja yang dapat meningkatkan libido pada remaja
tersebut, media informasi, adanya pergaulan bebas, kurangnya
pemahaman remaja mengenai kematangan seksual dan kurangnya
informasi tentang seks, baik dari lingkungan keluarga maupun
lingkungan sekolah (Sarwono, 2011). Lingkungan pergaulan yang
salah, justru kadang memberikan informasi yang salah dan
menjerumuskan remaja ke dalam perilaku seks pra nikah.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
b. Tahapan
Yuliadi (2010), merinci perilaku seksual dalam beberapa
tahapan seperti dibawah ini :
1) Berfantasi
Perilaku membayangkan dan mengimajinasikan aktivitas seksual
yang menimbulkan perasaan erotisme.
2) Berpegangan tangan
Saat berpegangan tangan, tidak terlalu menimbulkan rangsangan
seksual yang kuat, namun dapat menimbulkan keinginan untuk
mencoba aktivitas seksual yang lain.
3) Cium kering
Cium kering berupa sentuhan pipi dengan pipi atau pipi dengan
bibir.
4) Cium basah
Berupa sentuhan bibir ke bibir. Biasanya dapat menimbulkan
rangsangan seksual yang cukup kuat.
5) Meraba
Meraba dilakukan pada bagian-bagian sensitif rangsang seksual,
seperti leher, payudara, paha, alat kelamin, dan lain-lain.
6) Berpelukan
Berpelukan menimbulkan perasaan tenang, aman, nyaman disertai
rangsangan seksual (terutama bila mengenai daerah erogen atau
sensitif).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
7) Masturbasi
Perilaku merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan
seksual.
8) Oral seks
Aktivitas seksual pada tahap ini adalah dengan cara memasukkan
alat kelamin ke dalam mulut lawan jenis.
9) Petting
Petting merupakan seluruh aktivitas non intercourse (hingga
menempelkan alat kelamin, tetapi masih menggunakan celana
dalam).
10) Intercourse (senggama)
Intercouse merupakan aktivitas seksual dengan cara memasukkan
alat kelamin laki- laki ke dalam alat kelamin wanita.
c. Kecenderungan Perilaku Seksual Pra Nikah
Kecenderungan perilaku dapat bersifat positif dan dapat pula
bersifat negatif (Azwar, 2011):
1) Positif apabila kecenderungan tindakan adalah mendekati,
menyenangi, mengharapkan obyek tertentu.
2) Negatif
apabila
terdapat
kecenderungan
untuk
menjauhi,
menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu.
d. Pengukuran Kecenderungan Perilaku Seksual Pra Nikah
Pengukuran atau cara mengamati perilaku dapat dilakukan
melalui dua cara, secara langsung, yakni dengan pengamatan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
(obsevasi), yaitu mengamati tindakan dari subyek dalam rangka
memelihara
kesehatannya.
Sedangkan
secara
tidak
langsung
menggunakan metode mengingat kembali (recall). Metode ini
dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan terhadap subyek tentang apa
yang
telah
dilakukan
berhubungan
dengan
obyek
tertentu
(Notoatmodjo, 2005).
Kuesioner mengacu pada skala Likert dengan bentuk jawaban
pertanyaan atau pernyataan terdiri dari jawaban sangat setuju, setuju,
agak setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju (Hidayat, 2009).
7. Kaitan Pengetahuan tentang Seksualitas, Penerapan Norma Sosial,
Paparan Pornografi dan Kecenderungan Perilaku Seks Pra Nikah
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seksual pada
remaja adalah adanya pengaruh media informasi dan kurangnya
informasi tentang seks, baik dari lingkungan keluarga maupun
lingkungan sekolah (Sarwono, 2011). Banyaknya materi pornografi yang
disajikan bebas dalam media informasi, tentu dapat mendorong perilaku
seks pra nikah pada remaja (Escobar-Chaves, 2005; Borzekowski, 2006).
Selain faktor pendukung, terciptanya perilaku dapat dipengaruhi
oleh faktor lain. Komponen perilaku dapat diketahui melalui respons
subjek yang berkenaan dengan objek sikap. Respon yang dimaksud dapat
berupa tindakan atau perbuatan yang dapat diamati dan dapat berupa
intensi atau niat untuk melakukan perbuatan tertentu. Jika orang memiliki
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
pengetahuan yang luas tentang objek tertentu yang disertai dengan
perasaan positif mengenai kognisinya, maka ia akan cenderung
mendekatinya. Sebaliknya, bila orang memiliki anggapan, pengetahuan,
dan keyakinan negatif yang disertai dengan perasaan tidak senang
terhadap objek sikap, maka ia cenderung menjauhinya (Sarwono dan
Meinarno, 2009). Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa
pengetahuan dapat menjadi filter dari perilaku.
Selain berdasarkan pengetahuan, manusia bertingkah laku
cenderung mengikuti aturan-aturan yang ada dalam lingkungannya.
Aturan-aturan yang mengatur tentang bagaimana sebaiknya sebaiknya
kita bertingkah laku, disebut norma sosial (social norms). Manusia
mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan agar dapat bertahan hidup
(Sarwono dan Meinarno, 2009). Hal tersebut menunjukkan bahwa norma
sosial juga dapat berperan sebagai filter bagi manusia dalam berperilaku.
B. Penelitian yang Relevan
1. Ybarra dan Mitchell. 2005. Exposure to Internet Pornography among
Children and Adolescent: A National Survey
Tujuan penelitian tersebut untuk mengetahui aksestabilitas
pornografi pada anak-anak yang dapat berdampak serius pada
perkembangan seksual anak dan remaja. Populasi yang digunakan adalah
seluruh warga di kota New Hampshire yang memiliki akses internet
(6.594 orang). Besar sampel yang digunakan sebanyak 1.501 sampel
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
(usia 10-17 tahun) beserta walinya yang mengawasi penggunaan internet.
Teknik sampling yang digunakan adalah probability sampling. Adapun
metode pengumpulan data menggunakan Computer Assisted Telephone
Interviewing (CATI). Penelitian yang dilaksanakan pada bulan AgustusOktober tahun1999 dan bulan Maret-Mei 2000 ini menyajikan hasil
penelitian dalam analisi univariat dengan memaparkan data secara
deskriptif dalam bentuk presentase. Hasil yang diperoleh pada penelitian
ini adalah: secara garis besar, responden digolongkan dalam 3 kelompok
yaitu: 1) non-seekers (kelompok yang tidak mencari materi pornografi
baik secara online maupun offline), 2) online seekers (mencari materi
pornografi dengan sengaja secara online), 3) offline-only seekers (hanya
mencari materi pornografi secara offline/tradisional, misal majalah dan
sebagainya).
Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian ini
adalah bahwa pada penelitian ini hanya bertujuan untuk melihat
gambaran paparan pornografi pada remaja. Sedangkan pada penelitian
yang akan dilakukan, dikaitkan dengan faktor lain seperti pengetahuan
tentang seksualitas, serta penerapan norma sosial, serta perilaku seks
pranikah.
2. Supriati dan Fikawati. 2008. Efek Paparan Pornografi pada Remaja
SMP Negeri Kota Pontianak Tahun 2008
Tujuan penelitian tersebut untuk mengetahui jenis paparan
pornografi, efek yang terjadi serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
efek paparan pornografi pada remaja. Populasi pada penelitian ini adalah
seluruh siswa SMP di Kota Pontianak, sedangkan sampel yang digunakan
sejumlah 395 responden remaja SMP Negeri dari lima kecamatan di Kota
Pontianak, dengan teknik sampling multistage proportionate to size
sampling. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2007-Januari 2008 ini
menggunakan analisis data meliputi analisis univariat, uji chi square dan
uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 83,3%
remaja SMPN di Kota Pontianak telah terpapar pornografi dan 79,5%
sudah mengalami efek paparan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa
faktor paling dominan yang berhubungan dengan efek paparan adalah
frekuensi paparan (sering) dengan Odds Ratio 5,02 (95 % CI: 1,39-18,09).
Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian
sebelumnya adalah pada penelitian sebelumnya, difokuskan untuk
mengetahui jenis paparan pornografi yang diterima oleh responden, serta
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi paparan tersebut.
Sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan ini akan meneliti
apakah paparan pornografi memiliki hubungan terhadap kecenderungan
perilaku seks pranikah. Sehingga, karakteristik respondennya pun akan
berbeda. Pada penelitian sebelumnya, responden merupakan orang-orang
yang telah terpapar materi pornografi, sedangkan responden yang
digunakan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang sudah terpapar
maupun tidak terpapar materi pornografi.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
3. Mariani dan Bachtiar. 2009. Keterpaparan Materi Pornografi dan
Perilaku Seksual Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri
Tujuannya adalah mendapatkan gambaran secara kuantitatif
tentang pemaparan siswa SMP terhadap materi pornografi dan melihat
keterkaitannya pada perilaku seksual. Penelitian dilakukan di Kota
Mataram dipilih empat sekolah negeri: SMPN 1, SMPN 5, SMPN 6 dan
SMPN 7. Pengambilan data dilakukan dalam dua periode, yaitu di SMPN
7 pada bulan November-Desember 2008, dan di tiga sekolah lainnya
(SMPN 1, SMPN 5, SMPN 6) pada bulan Maret-April 2009. Populasi
penelitian ini adalah seluruh siswa SMP di Kota Mataram. Adapun
sampel yang digunakan diambil tiga buah kelas paralel dari masingmasing kelas 7, 8 dan 9. Jumlah sampel penelitian adalah 36 kelas yang
meliputi 1415 siswa, terdiri dari 693 siswa laki-laki dan 722 siswa
perempuan dengan teknik sampling multi-stage sampling. Analisis data
yang digunakan adalah statistik non-parametrik Kruskal-Wallis untuk
mendeteksi perbedaan antar sekolah, jenis kelamin, dan kelas. Disamping
itu, Chi square analysis (χ2) juga digunakan untuk mendeteksi perbedaan
frekuensi pada data usia dan intensitas keterpaparan. Data perilaku
seksual, perbedaan proporsi siswa yang menunjukkan suatu perilaku
seksual antar kelas dan antar jenis kelamin dilakukan dengan analisis
parametric (ANOVA dan uji t) karena data memenuhi. Kesimpulannya
tidak ditemukannya keterkaitan antara pronografi dengan perilaku seksual
pada siswa SMP di Mataram.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Perbedaan mendasar penelitian yang akan dilakukan dengan
penelitian ini adalah terletak pada jumlah variabelnya. Penelitian yang
akan dilakukan, selain mengaitkan keterpaparan pornografi dengan
kecenderungan perilaku seks pranikah, juga mengaitkannya dengan
pengetahuan mengenai seksualitas dan penerapan norma sosial pada
responden.
4. Kohler, et al. 2008. Abstinence-Only and Comprehensive Sex Education
and the Initiation of Sexual Activity and Teen Pregnancy.
Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan risiko
kesehatan seksual remaja yang hanya menerima larangan melakukan
aktivitas seksual dengan yang mendapatkan pendidikan seks secara
komprehensif untuk remaja yang tidak menerima pendidikan seks secara
formal. Penelitian dilakukan di Amerika Serikat, dengan jumlah sampel
sebanyak 2.271 yang diambil secara probability sampling. Sampel yang
digunakan adalah remaja berusia 15-19 tahun. Pengambilan data
dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Adapun
analisis data yang digunakan adalah analisis regresi logistik. Kesimpulan
yang didapatkan dari penelitian ini adalah: Pengajaran tentang
kontrasepsi tidak berhubungan dengan peningkatan risiko remaja dalam
melakukan aktivitas seksual ataupun mengalami Penyakit Menular
Seksual. Remaja yang menerima pendidikan seks komprehensif memiliki
risiko lebih rendah untuk mengalami kehamilan dibandingkan remaja
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
yang hanya mendapat larangan untuk beraktivitas seksual atau tidak
mendapat pendidikan seks.
Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian ini
adalah penelitian yang akan dilakukan, selain mengaitkan pengetahuan
tentang seksualitas dengan kecenderungan perilaku seks pranikah, juga
mengaitkannya dengan penerapan norma sosial dan paparan pornografi
pada responden.
5. Samino. 2012. Analisis Perilaku Sex Remaja SMAN 14 Bandarlampung
2012.
Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan
kesehatan reproduksi remaja, keterpaparan media, status pacaran, sikap
menjaga keperawanan, gaya hidup, dan ketaatan beribadah
dengan
perilaku seksual siwa SMAN 14 Bandarlampung. Penelitian dilakukan di
SMAN 14 Bandarlampung pada tahun 2011. Jenis penelitian yang
dilakukan adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi
terdiri 12 kelas dan sampel 3 kelas dengan jumlah 102 remaja. Cara
pengambilan sampel dengan simple random sampling (untuk pemilihan
kelas). Analisa data menggunakan uji chi square dan Regresi Logistik.
Hasil Uji Chi Square tidak ada hubungan pengetahuan kesehatan
reproduksi
(p=1,000), ada hubungan keterpaparan media pornografi
(p=0,000), ada hubungan status pacaran (p=0,015), tidak ada hubungan
sikap menjaga keperawanan (p=0,485), tidak ada hubungan gaya hidup
(p=0,149), ada hubungan pemahaman agama (p=0,000), dengan perilaku
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
sex remaja. Sedangkan keterpaparan media merupakan variabel yang
paling dominan (p=0,003 dengan OR=5,523). Tidak terdapat interaksi
diantara variabel (p=0,241) setelah dikontrol variabel status pacaran dan
pemahaman agama. Kesimpulan, variabel keterpaparan media penyebab
utama seorang siswa untuk berperilaku sex pranikah.
Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian ini
adalah selain mengetahui hubungan variabel independen dengan variabel
dependen secara parsial, dalam penelitian yang akan dilakukan
cenderung bertujuan untuk mengetahui hubunagn antara variabel
independen dengan variabel dependen secara bersama-sama.
6. Bankole, et al. 2007. Sexual Behavior, Knowledge and Information
Sources of Very Young Adolescents in Four Sub-Saharan African
Countries
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran aktivitas
seksual remaja, pengetahuan tentang HIV, IMS dan pencegahan
kehamilan, dan sumber informasi kesehatan seksual dan reproduksi,
termasuk pendidikan seks di sekolah. Penelitian dilakukan di sebagian
besar negara di Sub-Sahara Afrika dan dimulai pada tahun2004. Jenis
penelitian yang dilakukan adalah survey. Sampel yang digunakan adaah
remaja usia 12-19 tahun. survey ini bekerjasama dengan beberapa
universitas, yang kemudian datanya dilengkapi dengan 2605 remaja
berusia 12-14 tahun di Burkina Faso, 1903 remaja di Ghana, 1849 remaja
di Malawi dan 2480 remaja di Uganda. Hasil penelitian menunjukkan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
bahwa remaja yang masih sangat muda pun telah mulai untuk aktif secara
seksual. Mereka percaya bahwa teman-teman mereka pun juga telah aktif
melakukan aktivitas seksual. Mereka memiliki tingkat kesadaran yang
tinggi mengenai kehamilan dan pencegahan HIV, namun mereka masih
memiliki sumber informasi yang sangat terbatas. Mengingat kebutuhan
mereka untuk HIV, IMS dan informasi pencegahan kehamilan yang
bersifat spesifik dan praktis dan mengingat bahwa sebagian besar
bersekolah di sebagian besar negara di Sub-Sahara Afrika, pendidikan
seks berbasis sekolah adalah jalan utma yang menjanjikan untuk
peningkatan informasi bagi mereka.
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan
dilakukan adalah jika penelitian sebelumnya hanya berfokus pada sumber
informasi dan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi, maka
penelitian yang akan dilakukan mengaitkannya dengan variabl-variabel
lain seperti penerapan norma sosial dan paparan pornografi pada remaja.
7. Young dan Jordan. 2013. The Influence of Social Networking Photos on
Social Norms and Sexual Health Behaviors.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
media sosial online terhadap norma-norma sosial, sekaligus untuk
melihat perilaku seksual pada remaja. Penelitian ini dilakukan pada tahun
2013 dengan sampel sebanyak 203 mahasiswa dan dilakukan di Amerika
(Universitas California di Los Angeles (UCLA), Universitas California di
Barkeley, dan Universitas Stanford). Metode yang digunakan dalam
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
penelitian ini adalah survei. Penelitian ini mendapatkan kesimpulan
bahwa jariangan sosial online dapat mempengaruhi persepsi seseorang
terhadap temannya mengenai perilaku seksual yang beresiko (perilaku
seksual yang tidak aman terhadap penyakit menular seksual) dan dapat
mempengaruhi niat dari pengguna jaringan sosial online itu sendiri
terhadap perilaku seksual beresiko. Penelitian ini menunjukkan potensi
kekuatan jaringan sosial online untuk mempengaruhi perilaku hidup
sehat untuk menjadi kebiasaan dengan mengubah persepsi norma sebaya.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan
adalah bahwa dalam penelitian ini lebih menekakankan pada peran media
sosial online sebagai sarana untuk mempengaruhi persepsi, namun dalam
penelitian yang akan dilakukan, akan melihat apakah media yang
mengandung
unsur-unsur
pornografi
memiliki
andil
terhadap
kecenderungan perilaku seks pranikah pada remaja.
8. Lo dan Wei. 2005. Exposure to Internet Pornography and Taiwanese
Adolescents’Sexual Attitudes and Behavior
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan
internet yang mengandung unsur pornografi oleh remaja Taiwan dan
hubungan antara paparan pornografi dengan sikap dan perilaku seksual
remaja. Penelitian yang dimulai pada tahun 2001 ini dilakukan di Taipei,
Taiwan ini menggunakan sampel sebanyak 2.001 sampel yang diambil
dari 67 Sekolah Menengah Atas dan 62 Sekolah Menengah Pertama yang
ada di Taipei. Teknik sampling yang digunakan adalah multistage cluster
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
sampling, sedangkan analisis data yang digunakan adalah korelasi
Pearson, analisis regresi dan uji Chi-Square. Penelitian ini menunjukkan
hasil bahwa paparan pornografi berkaitan dengan penerimaan yang lebih
besar mengenai perilaku seks bebas dan memiliki kemungkinan yang
lebih besar pula dalam menarik remaja untuk memiliki kebiasaan
melakukan aktivitas seksual. Salah satu hal terpenting dari hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa paparan pornografi di internet
mendukung sikap dan kebiasaan perilaku seks bebas ketika hal tersebut
diuji sekaligus dengan paparan pornografi secara tradisional, penggunaan
media lain, dan faktor demografi.
Perbedaan penelitian ini dan penelitian yang akan dilakukan
adalah bahwa dalam penelitian ini hanya mengaitkan paparan pornografi
dengan perilaku seks bebas pada remaja, sedangkan dalam penelitian
yang akan dilakukan mengaitkannya juga dengan faktor lain seperti
pengetahuan tentang pornografi dan penerapan norma sosial.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
9.
digilib.uns.ac.id
Kerangka Pikir
sanksi
sosial
budaya/adat
istiadat
peraturan
pemerintah
pendidikan
informasi
Pengetahuan
tentang
seksualitas
Penerapan
norma
sosial
kebiasaan
kaidah
agama
umur
akhlak dan
hati nurani
jenis
kelamin
perilaku
masyarakat
kemajuan
teknologi
kebutuhan
informasi
Paparan
media
pornografi
Mekanisme
kontrol diri
(filter)
kecanduan
Keterangan
:
: Diteliti
pengawasan
orang tua
: Tidak
diteliti
Kecenderungan
perilaku seks
pranikah
perubahan
hormon
lingkungan
pergaulan
Gambar 2.1 Kerangka Pikir
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
10. Hipotesis
1. Ada
hubungan
antara
pengetahuan
tentang
seksualitas
dengan
kecenderungan perilaku seks pranikah pada remaja.
2. Ada hubungan antara penerapan norma sosial dengan kecenderungan
perilaku seks pranikah pada remaja.
3. Ada hubungan antara paparan pornografi dengan kecenderungan perilaku
seks pra nikah pada remaja.
4. Ada interaksi antara pengetahuan tentang seksualitas, penerapan norma
sosial, dan paparan pornografi dengan perilaku seks pra nikah pada
remaja.
commit to user
Download