Asmawi Mahfudz1

advertisement
Asmawi Mahfudz: Geneologi Negara Islam
Geneologi Negara Islam
(Studi Terhadap Konstitusi Madinah Masa Kepemimpinan Rasulullah Saw)
Asmawi Mahfudz1
Abstrak: Belum cukup dua tahun dari kedatangan
Nabi di Madinah, beliau mempermaklumkan satu
piagam yang mengatur kehidupan dan hubungan antara
komunitas-komunitas yang merupakan komponen
masyarakat yang plural di Madinah. Piagam tersebut
lebih dikenal sebagai Piagam Madinah. Banyak di
antara pemimpin dan pakar ilmu politik Islam
beranggapan bahwa Piagam Madinah adalah konstitusi
atau undang-undang dasar bagi negara Islam pertama
yang didirikan oleh Nabi saw. di Madinah. Oleh
karenanya, telaah yang seksama atas piagam tersebut
menjadi sangat urgen dalam rangka kajian ulang
tentang hubungan antara Islam dan ketatanegaraan.
Kata Kunci: Negara Islam, Konstitusi Madinah.
A. Pendahuluan
Islam, sebagaimana dikatakan Edward Mortimer, bukan hanya
sekedar agama. Lebih dari itu, ia berarti cara hidup suatu model
masyarakat, suatu kebudayaan, dan suatu peradaban.2 Hal ini bisa
dipahami dengan sebuah pengertian bahwa Islam adalah pola hidup
yang harus diikuti oleh orang-orang muslim dalam seluruh aktifitas
hidupnya.
Lahirnya Islam membawa perubahan cepat (revolusi) dalam
alam pikiran arab pada khususnya dan alam pikiran dunia pada
umumnya. Timbulnya revolusi dalam dunia pikir berarti juga terjadi
revolusi dalam segala bidang kehidupan manusia, baik bidang agama,
bidang politik, bidang ekonomi, dan bidang sosial budaya.3 Revolusi
ini telah mengkonstruksi peradaban baru di atas puing-puing jahiliyah.
1
Mahasiswa Program Doktor IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengajar di IAI
Tribakti Kediri dan STAIN Tulungagung
2
Edward Mortimer, Islam dan Kekuasaan, terj. Enna Hadi dan Rahmani
Astuti (Bandung: Mizan,1984), 14.
3
A. Hasjimy, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: PT Karya UI Press,
1993), 1.
132 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Asmawi Mahfudz: Geneologi Negara Islam
Islam adalah agama yang lengkap. Di dalamnya terdapat
sistem tata negara atau politik.4 Oleh karena itu, dalam bernegara umat
Islam hendaknya kembali kepada sistem ketatanegaraan Islam yang
telah dicontohkan Nabi.
Tulisan ini akan mencoba mengulas tentang lahirnya negara
Madinah di bawah kepemimpian Nabi Muhammad yang terdiri dari;
kehidupan Nabi, dakwah dan perjuangannya baik sebelum maupun
sesudah diangkat menjadi rasul. Kemudian lahirnya negara Madinah
yang meliputi kehidupan Nabi di Madinah dan munculnya Piagam
Madinah.
B. Latar Belakang Kehidupan Muhamad
1. Sebelum diangkat menjadi rasul
Nabi Muhammad adalah anggota Bani Hasyim. Suatu kabilah
dalam suku Quraisy. Beliau lahir dari keluarga terhormat yang relatif
miskin.
Suku Quraisy ini merupakan suku yang terhormat dan
disegani. Suku inilah yang memberikan jamuan, baik makanan
maupun minuman bagi para peziarah Ka’bah sejak sebelum Islam
datang. Sehingga suku ini menjadi terhormat dan dikenal di seluruh
jazirah Arab. Suku Quraisy menempati wilayah tanah haram, yakni
suatu tempat yang memiliki peran yang sangat vital bagi sosial
ekonomi dan juga pengaruh politik.5
Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muththalib. Seorang
kepala suku Quraisy yang besar pengikutnya.
Ibunya Aminah binti Wahab dari Bani Zuhrah.6 Tahun
kelahiran Nabi dikenal dengan nama Tahun gajah.7 Dinamakan
demikian karena tahun itu Abrahah, raja Habsyi dengan pasukan yang
besar datang ke Makkah untuk menghancurkan Ka’bah dengan naik
gajah.
Dalam usia muda Muhammad hidup sebagai penggembala
kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah pada waktu itu.
Untuk pertama kalinya Muhammad ikut dalam kabilah dagang ke
Syiria pada usia 12 tahun di bawah pimpinan pamannya, Abu Thalib.
4
Munawir Sjadzali, Islam Dan Tata Negara; Ajaran, Sejarah Dan
Pemikiran (Jakarta: UI Press, 1990), 1.
5
Lebih jelasnya tentang konsep haram ini, lihat Hugh Kennedy, The Propet
and the Age of Caliphates. The Islamic Near East from the Six to the Eleventh
Century (Singapore: Longman Singapore Publishers (Pte) Ltd 1986), 27.
6
Sayyid Husein Nashr, Muhammad Kekasih Allah, ter. Bahtiar Efendi
(Bandung: Mizan, 1993), 12.
7
W. Montgomery Watt, Muhammad Propet and Statesman (London:
Oxford University Press, 1969), 7.
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 133
Asmawi Mahfudz: Geneologi Negara Islam
Kemudian pada usia 25 tahun Muhammad berangkat ke Syiria
membawa barang dagangan saudagar wanita kaya raya, Khadijah.
Dalam perdagangan ini mendapat laba yang besar. Saudagar wanita
inilah yang akhirnya menjadi istrinya. Dalam perkembangan
selanjutnya Khadijah adalah wanita pertama yang masuk Islam dan
banyak membantu Nabi dalam memperjuangkan Islam.
Peristiwa penting yang memperlihatkan kebijaksanaan
Muhammad terjadi pada usia 35 tahun. Waktu itu bangunan Ka’bah
rusak berat. Perbaikannya dilakukan secara gotong royong. Tetapi
pada saat terakhir ketika pekerjaan tinggal meletakkan hajar aswad,
timbul perselisihan antar suku. Masing-masing merasa lebih berhak
meletakkannya ke tempat semula. Peristiwa makin memuncak yang
hampir menyebabkan pertikaian. Namun akhirnya para pemimpin
Quraisy sepakat bahwa orang yang pertama masuk Ka’bah akan
berhak memutuskan perkara ini. Ternyata orang yang masuk itu
adalah Muhammad. Sehingga dialah orang yang berhak
mengembalikan hajar aswad pada tempatnya semula. Kemudian
Muhammad membentangkan kain dan meletakkan hajar aswad di
tengahnya serta meminta kepada seorang kepala suku memegang
ujung kain dan mengangkatnya bersama.8
Dari kejadian ini menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan
Muhammad dalam menyelesaikan masalah, sehingga pertikaian antar
suku bisa dihindari dan bisa memuaskan semua pihak.
2. Masa kerasulan
Menjelang usia 40 tahun Muhammad sudah terbiasa
bertahannuts di gua Hira. Nabi tinggal di gua ini mula-mula hanya
beberapa saat saja. Namun akhirnya berlangsung berhari-hari bahkan
berlangsung satu bulan.9
Pada tanggal 17 Ramadlan 611 H malaikat Jibril
menyampaikan wahyu Allah yang pertama yakni surat al-‘Alaq 1-5.10
Dengan turunnya wahyu pertama ini berarti Muhammad telah dipilih
oleh Tuhan sebagai Nabi. Namun dia belum diperintahkan untuk
menyeru manusia kepada suatu agama. Selang beberapa waktu, Jibril
datang lagi kepada Nabi untuk menyampaikan wahyu Allah yang
tercantum dalam surat al-Muddatsir 1-7.
Dengan turunnya perintah itu, mulailah Rasulullah berdakwah.
Pertama-tama
beliau
menyampaikan
secara
diam-diam
8
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1995), 18.
9
M. Sa’id Ramadan, Fiqh al-Sirah (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), 79.
10
Ibid., 82.
134 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Asmawi Mahfudz: Geneologi Negara Islam
dilingkungannya sendiri. Karena itulah orang yang pertama kali
menerima dakwahnya adalah kalangan keluarga sahabat-sahabatnya
sendiri.
Inti dakwah Rasul pada fase ini adalah mengajak manusia
untuk mengesakan Allah, mensucikan dan membersihkan jiwa dan
hati, menguatkan barisan, dan melebarkan kepentingan pribadi ke
dalam kepentingan jamaah.11
Dari sini dapat dipahami bahwa dakwah Nabi pada tahap awal
ini adalah menanamkan jiwa tauhid pada diri setiap muslim dan
menimbulkan rasa persaudaran di antara mereka.
Setelah Nabi berdakwah secara diam-diam dan juga sudah
mulai menunjukkan hasilnya terutama dari kalangan keluarga dan
sahabat-sahabatnya, meliau berdakwah untuk masyarakat umum. Nabi
mulai menyeru kepada segenap lapisan masyarakat kepada Islam
secara terang-terangan, baik dari golongan bangsawan maupun hamba
sahaya. Mula-mula ia menyeru penduduk Mekah kemudian penduduk
negeri lain. Di samping itu, ia juga menyeru orang-orang yang datang
ke Mekah dari berbagai penjuru negeri untuk beribadah haji. Dengan
usahanya yang gigih, jumlah pengikut Nabi yang tadinya hanya
belasan orang semakin banyak. Meskipun kebanyakan dari mereka
adalah orang-orang lemah namun semangatnya sangat membaja.
Nabi Muhammad berdakwah secara diam-diam ini
berlangsung lebih kurang 3 tahun.12 Namun orang Quraisy
memandang rendah kepadanya dan kepada sahabat-sahabatnya.
Setelah dakwah terang-terangan ini, para pemimpin Quraisy mulai
berusaha menghalangi dakwah Nabi. Semakin bertambahnya pengikut
Nabi, semakin keraslah tantangan dan gangguan yang dilancarkan
oleh orang Quraisy.
Ahmad Syalabi menjelaskan lima faktor yang menyebabkan
kaum Quraisy menentang seruan Nabi tersebut:
1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan.
Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Muhammad berarti
tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muththalib. Yang
terakhir ini tidak mereka inginkan;
2. Nabi Muhammad menyeru persamaan hak antara bangsawan dan
hamba sahaya. Hal ini tidak disukai oleh kelas bangsawan
Quraisy;
3. Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang
kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat;
11
A. Hasjmy, Sejarah, 47.
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, ter. Djahdan
Humam (Yogyakarta: Kota Kembang, 1989), 23.
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 135
12
Asmawi Mahfudz: Geneologi Negara Islam
4. Taqlid kepada nenek moyang merupakan kebiasaan yang berakar
pada bangsa arab;
5. Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai
penghalang rizki.13
Beberapa alasan di atas mengillustrasikan bahwa orang-orang
Quraisy tidak mau menerima seruan Islam karena ‘ashabiyah (fanatik)
golongan yang sangat kuat yang tidak mau menerima ajaran kecuali
yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Juga apa yang dibawa
oleh Muhammad sangat tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan
keadaan mereka.
Banyak cara yang ditempuh orang Quraisy untuk mencegah
dakwah Nabi, baik dengan cara diplomatik maupun dengan cara
kekerasan. Cara diplomatik mereka berusaha melarang dakwah Nabi
lewat Abu Thalib, paman Nabi yang sangat disegani orang Quraisy,
bahkan mereka berusaha untuk memisahkan Nabi dengan Abu Thalib.
Cara kekerasan yaitu dengan cara pemboikotan terhadap Bani Hasyim
secara keseluruhan dengan memutuskan segala hubungan dengan suku
ini. Pemboikotan ini baru berhenti setelah beberapa pemimpin Quraisy
meyakini bahwa apa yang mereka lakukan sungguh suatu hal yang
keterlaluan.
Pada tahun kesepuluh kenabian, Abu Thalib yang merupakan
pelindung utama Muhammad meninggal dunia pada usia 87 tahun.
Tiga hari setelah itu Khadijah, istri Nabi meninggal dunia pula.14
Untuk menghibur Nabi yang sedang ditimpa duka, Allah meng
isra’ mi’raj kannya pada tahun kesepuluh kenabian. Berita tentang
isra’ mi’raj ini menggemparkan masyarakat Mekah. Bagi orang kafir
peristiwa ini dijadikan propaganda untuk mendustakan Nabi.
Sedangkan bagi orang yang beriman, ia merupakan ujian keimanan.
Pada tahun kesebelas kenabian, setelah terjadinya peristiwa
isra’ mi’raj terjadilah suatu peristiwa yang tampaknya sederhana
tetapi kemudian ternyata merupakan titik awal lahirnya era baru bagi
Islam dan juga bagi dunia. Yakni perjumpaan Nabi di Aqabah, Mina,
dengan enam orang Khajraj Yatsrib yang datang ke Mekkah untu
ibadah haji. Sebagai hasilnya enam orang tersebut masuk Islam dan ia
berjanji kepada Nabi akan mengajak penduduk Yatsrib untuk masuk
Islam.15
Pada tahun dua belas kenabian, datang lagi sekelompok orang
Yatsrib yang terdiri sepuluh orang suku Khajraj dan dua orang suku
13
Ahmad Syalabi, Sejarah Dan kebudayaan Islam (Jakarta: Pustaka alHusna, 1983), 87-90.
14
Yatim, Sejarah, 23.
15
Sjadzali, Islam, 8.
136 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Asmawi Mahfudz: Geneologi Negara Islam
Aus di Aqabah. Orang ini menyatakan masuk Islam dan menyatakan
ikrar kesetiaan kepada Nabi. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan
baiat aqabah pertama.16
Pada musim haji berikutnya jamaah haji yang datang dari
Yatsrib berjumlah tujuh puluh tiga orang. Atas nama penduduk
Yatsrib, mereka meminta Nabi agar berkenan pindah ke Yatsrib.
Mereka berjanji akan membela Nabi dari segala ancaman. Hal inipun
diterima oleh Nabi. Peristiwa ini akhirnya dikenal dengan baiat
aqabah kedua.17 Oleh banyak pemikir politik Islam dua baiat tersebut
dianggap sebagai batu-batu pertama dari konstruksi negara Islam.
Setelah orang-orang Quraisy mengetahui perjanjian Nabi
dengan orang-orang Yatsrib tersebut, semakin keraslah intimidasi
yang dilakukan orang-orang Quraisy terhadap kaum muslimin.
Bahkan mereka berkumpul di Dar al-Nadwah untuk merekayasa
pembunuhan terhadap Nabi.18 Di antara mereka ada yang berpendapat
untuk membunuh Nabi hendaklah masing-masing kabilah mengutus
satu pemuda yang membawa pedang untuk menghabisi Nabi.19
Dengan cara ini akan sulitlah apabila ada yang akan menuntut atas
kematian Muhammad.
Hal ini menjadikan Nabi segera memerintahkan para
sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib.20 Nabi memerintahkan para
sahabat untuk hijrah ke Yatsrib lebih dahulu, sedangkan Nabi masih
tetap tinggal di Mekkah untuk sementara waktu.21
Dalam waktu dua bulan, hampir semua kaum muslimin kurang
lebih 150 orang telah meninggalkan kota Mekkah. Hanya tinggal Ali
dan Abu Bakar yang tinggal di Mekkah bersama Nabi. Keduanya
menemani dan membela Nabi sampai iapun berhijrah ke Yatsrib.
Nabi memasuki kota Yatsrib dan penduduk kota itu mengeluelukan kedatangannya dengan penuh kegembiraan.22 Sejak itu sebagai
penghormatan kepada Nabi, nama kota Yatsrib dirubah menjadi
Madinatun Nabi (kota Nabi) atau sering pula disebut Madinatul
munawawarah (kota yang bercahaya) karena dari sinilah cahaya Islam
memancar keseluruh dunia.
16
Yatim, Sejarah, 24.
Ibid.
18
Untuk lebih jelasnya, lihat Ibn Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, vol. 2 (Beirut:
Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1987), 3-7.
19
Ibn al-Jauzi, Al-Muntadzam fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, vol. 3
(Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), 47.
20
S.D. Goitein, Studies in Islamic History and Institution (Leiden: E.J. Brill,
1968), 3.
21
Al-Jauzi, Al-Muntadzam, 47.
22
Ibid., 64.
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 137
17
Asmawi Mahfudz: Geneologi Negara Islam
C. Berdirinya Negara Madinah
1. Kehidupan Nabi di Madinah
Setelah tiba dan diterima penduduk Yatsrib (Madinah),
Nabi resmi menjadi pemimpin kota ini. Babak baru dalam dunia
Islam pun dimulai. Di Madinah lah pertama kali lahir satu
komunitas muslim yang bebas dan merdeka di bawah
kepemimpinan Nabi.
Penduduk Madinah ketika itu terdiri dari para pengikut
Nabi yang datang dari Mekkah (muhajirin) serta orang-orang
Madinah yang mengundang Nabi dan menerimanya di kota ini
(anshar). Namun di samping itu, ada juga komunitas-komunitas
lain yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan orang-orang arab
lain yang belum mau menerima Islam dan masih tetap memuja
berhala.23 Orang-orang tersebut berasal dari suku Aus dan
Khajraj.24 Jadi dengan kata lain umat Islam di Madinah bukanlah
satu-satunya komunitas tersendiri namun merupakan satu bagian
dari masyarakat yang plural.
Hijrah yang dilakukan Nabi dari Mekkah ke Madinah
merupakan starting point dari misinya. Di kota yang baru ini Nabi
memulai misinya dengan apa yang dikenal dengan politicoreligius career. Sebab jauh sebelumnya, Islam hanyalah murni
agama saja. Namun setelah hijrah, Islam menjadi kesatuan agama
dan politik.25 Dengan kata lain, dalam diri Nabi terkumpul dua
kekuasaan yaitu kekuasaan spiritual dan kekuasaan politik yang
diwujudkan dengan pembentukan negara Madinah.
Negara, menurut para ahli politik, didefinisikan sebagai
sekumpulan orang yang menempati suatu wilayah tertentu yang
diorganisasikan oleh pemerintah negara yang sah yang
mempunyai kedaulatan baik keluar maupun kedalam. Dari
pengertian tersebut dapat dikemukakan bahwa ada empat unsur
yang mutlaq yang harus dipenuhi dalam setiap negara, yakni:
1. Rakyat atau penduduk (people)
2. Wilayah (place)
3. Pemerintah (goverment)
4. Kedaulatan (sovereighty)26
23
Sjadzali, Islam, 10.
Syed Mahmudunnasir, Islam Its Concepts and History (New Delhi: Kitab
Bavan, t.t.), 11.
25
Ibid.
26
Cheppy Haricahyono, Ilmu Politik dan Perspektifnya (Yogyakarta: Tiara
Wacana, 1986), 25-6.
138 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
24
Asmawi Mahfudz: Geneologi Negara Islam
Keberadaan Madinah ketika itu bila dikaitkan dengan
empat unsur negara di atas dapatlah dikatakan sebagai negara.
Karena sudah memiliki keempat unsur di atas. Namun tentunya
negara Madinah yang ada pada waktu itu tidaklah bisa disamakan
dengan negara-negara modern saat ini yang semuanya sudah
tertata rapi.
Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru
itu
Nabi
segera
meletakkan
dasar-dasar
kehidupan
bermasyarakat.27
Dasar pertama, adalah membangun masjid. Selain untuk
tempat shalat juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan
kaum muslimin, juga sebagai tempat bermusyawarah mengenai
masalah-masalah yang dihadapi. Masjid kala itu bahkan berfungsi
sebagai pusat pemerintahan.
Dasar kedua adalah ukhuwah islamiyah (persaudaraan
sesama muslim). Nabi mempersatukan golongan Muhajirin dan
golongan Anshar. Apa yang dilakukan Nabi ini berarti
menciptakan suatu bentuk persaudaran baru, yaitu persaudaraan
berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan
darah.
Dasar ketiga adalah hubungan persahabatan dengan
pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam. Sebagaimana
penjelasan di atas, di Madinah di samping orang-orang Islam juga
hidup masyarakat Yahudi dan orang-orang yang masih menganut
ajaran nenek moyang mereka (paganis).
Agar stabilitas dapat terwujud, Nabi mengadakan
perjanjian dengan masyarakat Madinah. Perjanjian ini dalam
pandangan ketatanegaraan sering disebut “Piagam Madinah”.
2. Piagam Madinah
Nabi Muhammad mempermaklumkan satu perjanjian yang
mengatur kehidupan dan hubungan antar komunitas-komunitas
yang merupakan komponen-komponen masyarakat yang plural di
Madinah. Perjanjian ini lebih dikenal dengan nama Piagam
Madinah atau Konstitusi Madinah.
Pakar ilmu politik Islam menganggap bahwa Piagam
Madinah yang terdiri dari 47 pasal ini merupakan konstitusi atau
undang-undang dasar bagi negara Islam pertama yang didirikan
oleh Nabi di Madinah. W. Montgomery Watt mengatakan,
sebagaimana dikutip Abdul Kadir Jaelani,: Bahwa pembukaan
27
Yatim, Sejarah, 25-6.
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 139
Asmawi Mahfudz: Geneologi Negara Islam
Piagam Madinah merupakan proklamasi berdirinya negara
Madinah yang kemudian menjadi negara Islam.28
Prinsip-prinsip dasar yang telah diletakkan Nabi lewat
Piagam Madinah sebagai landasan bagi kehidupan bernegara
untuk masyarakat majemuk di Madinah adalah:
1. Semua pemeluk Islam, meskipun berasal dari banyak suku,
tetapi satu komunitas;
2. Hubungan antara sesama komunitas Islam dan antara anggota
komunitas Islam dengan komunitas lain berdasarkan atas
prinsip-prinsip: (a) Bertetangga dengan baik; (b) Saling
membantu dalam menghadapi musuh bersama; (c) Membela
mereka yang teraniaya; (d) Saling menasehati; dan (e)
Menghargai kebebasan beragama.29
Satu hal yang perlu dicatat bahwa dalam Piagam Madinah
tidak menyebut agama negara.
Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam bertambah
kuat. Perkembangan yang pesat ini membuat orang-orang Mekkah
dan musuh Islam lainnya menjadi risau. Kerisauan ini mendorong
orang Quraisy berbuat apa saja. Untuk menhadapi kemungkinankemungkinan musuh, Nabi sebagai kepala negara mengatur siasat
dan membentuk pasukan tentara.
Umat Islam diizinkan berperang dengan dua alasan: (a)
Mempertahankan diri dan melindungi hak miliknya; (b) Menjaga
keselamatan
dalam
penyebaran
kepercayaan
dan
mempertahankannya dari orang-orang yang menghalanginya.30
Dalam sejarah negara Madinah banyak terjadi peperangan
sebagai upaya kaum muslimin mempertahankan diri dari serangan
musuh. Perang pertama yang sangat menetukan masa depan
negara Islam ini adalah perang Badar. Perang antara kaum
muslimin dan musyrikin Quraisy. Perang ini terjadi pada tanggal
17 Ramadlan 2 H.31 Pasukan muslim terdiri dari 305 orang dan
orang-orang Quraisy sejumlah 900 sampai 1000 orang. Perang ini
dipimpin sendiri oleh Nabi. Dalam peperangan ini kaum muslimin
keluar sebagai pemenang.
Setelah terjadinya perang Badar disusul dengan perangperang lainnya. Dalam tulisan ini tidak disebutkan perang-perang
28
Abdul Kadir Jaelani, Negara Ideal Menurut Konsepsi Islam (Surabaya:
Bina Ilmu, 1995), 37.
29
Sjadzali, Islam, 15-6.
30
Hasan, Sejarah, 28-9.
31
Al-Jauzi, Al-Muntadzam, 97.
140 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Asmawi Mahfudz: Geneologi Negara Islam
tersebut karena hal itu sudah banyak dijelaskan dalam literaturliteratur sejarah.
Pada tahun 10 H Nabi menunaikan ibadah haji yang
terakhir yang dikenal dengan haji Wada’. Pada kesempatan ini
Nabi menyampaikan khutbah yang bersejarah yang berisi:
Larangan menumpahkan darah kecuali dengan haq, larangan
mengambil harta dengan batal, larangan riba, larangan
menganiaya, perintah memperlakukan istri dengan baik, dan
perintah menjauhi dosa, serta perintah untuk selalu berpegang
pada al-Quran dan Hadits.32 Isi khutbah inilah yang merupakan
prinsip-prinsip yang mendasari gerakan Islam.
Setelah selesai ibadah haji, Nabi segera pulang ke
Madinah. Dua bulan setelahnya Nabi menderita sakit demam. Dan
akhirnya pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal 11 H.
bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 M Nabi wafat di rumah
istrinya ‘Aisyah ra.
D. Penutup
Dalam sejarah perjalan Nabi di atas dapat ditarik benang
merah bahwa Nabi saw. di samping sebagai pemimpin agama, juga
seorang negarawan dan pemimpin politik yang tiada bandingnya.
Hanya dalam waktu 11 tahun menjadi pemimpin politik, beliau
berhasil menundukkan jazirah arab dalam kekuasaanya.
32
Atsir, Al-Kamil,170-1.
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 141
Asmawi Mahfudz: Geneologi Negara Islam
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Kadir Jaelani, Negara Ideal Menurut Konsepsi Islam,
Surabaya: Bina Ilmu, 1995.
A. Hasjimy, Sejarah Kebudayaan Islam Jakarta: PT Karya UI Press,
1993
Ahmad Syalabi, Sejarah Dan kebudayaan Islam Jakarta: Pustaka alHusna, 1983
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1995
Cheppy Haricahyono, Ilmu Politik dan Perspektifnya (Yogyakarta:
Tiara Wacana, 1986
______, Islam Dan Kekuasaan, ter. Enna Hadi dan Rahmani Astuti
Bandung: Mizan,1984
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, ter. Djahdan
Humam Yogyakarta: Kota Kembang, 1989
Hugh Kennedy, The Propet and the Age of Caliphates. The Islamic
Near East from the Six to the Eleventh Century Singapore:
Longman Singapore Publishers (Pte) Ltd 1986
Ibn Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, vol. 2 Beirut: Dar al-Kutub al‘Ilmiyah, 1987
Ibn al-Jauzi, Al-Muntadzam fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, vol. 3
Beirut: Dar al-Fikr, t.t..
M. Sa’id Ramadan, Fiqh al-Sirah Beirut: Dar al-Fikr, t.t.
Munawir Sjadzali, Islam Dan Tata Negara; Ajaran, Sejarah Dan
Pemikiran Jakarta: UI Press, 1990
Sayyid Husein Nashr, Muhammad Kekasih Allah, ter. Bahtiar Efendi
Bandung: Mizan, 1993
S.D. Goitein, Studies in Islamic History and Institution Leiden: E.J.
Brill, 1968
Syed Mahmudunnasir, Islam Its Concepts and History (New Delhi:
Kitab Bavan, t.t.), 11.
W. Montgomery Watt, Muhammad Propet and Statesman London:
Oxford University Press, 1969
142 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Download