Kontrak Karya Freeport, Kontrak Publik atau Privat?

advertisement
2
WACANA
MedanBisnis
Penanggung Ja
wab RRubrik
ubrik ::YYs RRat
at
Jaw
Selasa, 21 Maret 2017
MedanBisnis
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
PEMIMPIN UMUM: Paulus M Tjukrono,WAKIL PEMIMPIN UMUM:
Paul Kusuma, PEMIMPIN PERUSAHAAN: Johan, PENANGGUNG
JAWAB / PEMIMPIN REDAKSI: Bersihar Lubis, WAKIL PEMIMPIN
REDAKSI: Sarsin Siregar, REDAKTUR SENIOR: Bambang Sulaksono,
REDAKTUR PELAKSANA: Nurhalim Tanjung, REDAKTUR PELAKSANA KOMPARTEMEN: Diurnanta Qelanaputra, REDAKTUR: Selamat
Riady, YS. Rat, Sasli Pranoto Simarmata, Rizanul, Junita Sianturi SP,
Umry Effendy, Yayuk Masitoh, Anang Anas Azhar, Mulyadi
Hutahaean, Jones Gultom, Tarwiyah AR, Hisar Hasibuan, Zainul
Abdi, Iwan Guntara, Hermy Edwison, Eko Hendro, Herman Saleh,
Hendrik Hutabarat, Tonggo Simangungsong, Chairul Anwar
SEKRETARIS REDAKSI: Sri Wahyuni. REDAKTUR FOTO: Ariandi STAF
REDAKSI: David Siagian, Benny Pasaribu, Zahendra, Sri Wahyuni
Naibaho, Ramita Harja, Sulaiman Achmad, Irvan Sugito, Khairunnas,
Elvidaris Simamora,Daniel Pekuwali,Zulfadli Siregar, Iskandar
Zulkarnain Siahaan, Dewantoro, Wina Vahluvi, Ledi H. Munthe,
Edward F. Bangun, Prawira Setia Budi, M Rozie Winata,Rizky Abi
Manyu, Dewi Syaruni Lubis, Auda Zaschkya KO RESPONDEN:
Wismar Simanjuntak (Belawan), Misno (Langkat), Ilyas Effendy
(Pangkalan Brandan), Arma Delisa Budi, Meila Astuti (Binjai), Rinaldi
Samosir (Deliserdang), Sujarwedi (Tanjung Morawa), Ali Yustono
(Tebing Tinggi), Jhonni Sitompul (Sergai), Fajar Dame Harahap (Labuhanbatu), Indra Sikoembang (Kisaran), Arsyad Yus (Tanjung Balai),
Tumpal Sijabat (Samosir), Juniwan (Sibolga), Fadli Putra Hutagalung
(Tapteng), Zamharir Rangkuti, Henri (Penyabungan), Samsudin
Harahap (Simalungun), Jannes Silaban (Pematang Siantar), Bistok
Siagian (Batubara/Perdagangan), Tumbur Samuel Tumanggor
(Balige), Rudi H Sitanggang (Dairi), Maulana Syafii (Palas), Ikhwan
Nasution (Tapsel/P Sidimpuan), Ht Anwar Ibr Riwat, Dedi irawan
(Banda Aceh), Sugito Tassan (Lhokseumawe), Hidayat (Kuta
Cane),Riandi Armi (Sabang),M Syafrizal (Langsa), Wen Y. Rahman
(Aceh Tengah), Hendri Z (Aceh Selatan), Indra (Aceh Tamiang).
FOTOGRAFER: Hermansyah KARTUNIS: Gom Tobing DESAINER:
Rizal, M Salim, Fahmi Nurdin Koto, Dodi Isbandi, Fitriadi, Sahat
Simorangkir, Efendi Syahputra. KANTOR REDAKSI/TATA USAHA:
Jl. S. Parman Kompleks MedanBisnis Centre Blok A No. 5 - 6 Medan
20112, Kotak Pos 1818 Medan 20000, Telepon (061) 4521133 (hunting), Fax (061) 4522885, e-mail redaksi : [email protected], e-mail iklan : [email protected], . PENERBIT:
PT Kasih Karunia MedanBisnis. PERWAKILAN: Prijana Gunawan
(Rantau Parapat), Hendra Sahputra (Sibolga). PERCETAKAN: PT.
Surya Mas Abadi Makmur Jl. Pulau Solor KIM II Mabar Medan (Isi
di luar tanggung jawab percetakan). TARIF IKLAN: Umum/hitam
putih Rp 11.000,-/kolom/mm, berwarna Rp 33.000,-/kolom/mm
SUARA HATI
Syarat Saldo
Rp 25 Juta Dicabut
Persyaratan harus ada saldo Rp 25 juta bagi pemohon paspor baru
dengan dalih untuk menyasar TKI ilegal akhirnya urung dilaksanakan.
Setelah menuai reaksi keras dari masyarakat, Direktorat Jenderal (Dirjen)
Imigrasi akhirnya mencabut persyaratan saldo Rp 25 juta tersebut, Senin
(20/3). Kabag Humas dan Umum Ditjen Imigrasi Agung Sampurno dalam
jumpa pers di gedung Ditjen Imigrasi, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta
Selatan, kemarin mengatakan, pencabutan persyaratan itu karena
banyaknya respon dari masyarakat.
Dari hasil analisa media, masyarakat menurut Agung, memberikan respons
negatif atas persyaratan menunjukkan rekening koran Rp 25 juta. Syarat ini
sebelumnya diberlakukan kepada pemohon paspor baru yang bertujuan
wisata namun tak punya pekerjaan tetap. Penentuan diminta tidaknya syarat
tambahan ini sebelumnya diserahkan kepada penilaian petugas imigrasi.
Sebelumnya keputusan ini memang terasa kontroversi dengan kondisi
kekinian di jajaran kementerian era Presiden Jokowi. Alih-alih semua
urusan dipermudah –termasuk di Imigrasi dengan sistem pengurusan
paspor online - eh tiba-tiba `nyelonong` peraturan yang mengesankan
mempersulit masyarakat. Jika melihat pada Surat Edaran Nomor IMI0277.GR.02.06 Tahun 2017 tentang Pencegahan TKI Nonprosedural
sebelum akhirnya dinyatakan dicabut itu memang terasa urusannya
bertele-tele bahkan terkesan hanya memunculkan peluang korup dan
pungli jenis baru bagi oknum terkait.
Menurut hemat kita, kebijakan ini terburu-buru diambil. Pertanyaan
paling sederhana adalah, apakah semua orang yang mengurus paspor
niatnya untuk jadi TKI nonprosedural? Bagaimana halnya dengan
pengusaha yang memang tidak berpenghasilan tetap (tidak terima gaji
bulanan) tapi mau ke luar negeri untuk urusan bisnis ataupun berwisata?
Begitu juga dengan backpacker yang akan jalan-jalan ke luar negeri yang
duitnya terbatas?
Salah satu klausul yang terasa tidak tepat dalam surat edaran itu adalah
untuk memperoleh keyakinan, petugas imigrasi diberi kewenangan untuk
meminta persyaratan tambahan seperti kalau akan wisata meminta bukti
jaminan hidup, buku tabungan dengan nominal minimal Rp 25 juta. Lah,
untuk apa? Masa orang mau jalan-jalan tiga hari misalnya ke Malaysia
harus punya tabungan Rp 25 juta sementara harga tiket malah Rp 500an PP? Mengurus visa ke China saja tidak sampai harus menunjuknunjukkan buku tabungan. Lagi pula, adakalanya seorang TKI juga tidak
serta-merta mendapat pekerjaan di luar negeri. Bisa saja tadinya baru
sebatas survei, bagaimana mungkin ia harus mengumpulkan uang
sebesar Rp25 juta sebagai deposit?
Yang harus dilakukan pemerintah sebenarnya membuka lapangan
kerja yang luas kepada masyarakat dan membayar upah yang lebih dari
cukup supaya tidak lagi mencari kerja ke luar negeri. Kalau tidak mampu
memberikan lapangan kerja, mbok urusan cari kerja di luar negeri yang
dipermudah. Bukan malah dipersulit.
Kebijakan saldo rekening seseorang biasanya diberlakukan oleh pihak
kedutaan beberapa negara maju terhadap pemohon visa. Misalnya visa
ke negara Jepang, Korea, negara Australia, negara negara Eropa dan
AS. Kebijakan itupun variatif dan fleksibel. Tujuan dari mengetahui berapa
jumlah uang di rekening bertujuan untuk kebaikan si pengurus visa jangan
sampai telantar di negara mereka. Maka itu, kebijakannya kerap terkait
dengan biaya hidup sehari dikali berapa lama si pemohon visa menetap.
Syukurlah bahwa kebijakan ini akhirnya dicabut sebelum menimbulkan
keresahan dari masyarakat. Wajarlah resah, selain memberatkan juga
banyak pihak menilai kebijakan ini hanya membuka peluang untuk pungli
gaya baru. Kita sadari, banyak sekali peraturan di negeri ini tapi hanya
jadi alat untuk pungli dan korupsi oleh oknum aparat. +
Kontrak Karya Freeport,
Kontrak Publik atau Privat?
OLEH MARDIANA SH MH
AKHIR-akhir ini berkembang diskursus menarik mengenai status
hukum kontrak karya (KK) antara Pemerintah RI dengan PT Freeport
Indonesia (PT FI) yang ditandatangani pada 1991 untuk masa waktu 30
tahun atau sampai 2021.
Seiring dengan adanya keinginan Pemerintah Indonesia untuk menerapkan
legislasi dan regulasi di bidang mineral kepada
PT FI, terdapat penolakan dari PT FI. Alasan
utamanya, KK tidak dapat serta merta diubah
tanpa ada kesepakatan kedua belah pihak.
Padahal, pemerintah telah berupaya
mengakomodir segala kepentingan PT FI
meski memiliki potensi melanggar peraturan perundang-undangan yang ada.
Seolah bekeras pada sikapnya, PT FI
berencana mengajukan gugatan arbitrase
dengan dugaan wanprestasi pemerintah
atas KK. Dalam peraturan hukum perjanjian, benarkah sikap pemerintah dan PT FI
mendudukkan secara hukum posisi KK?
Dalam hukum perjanjian, dikenal asas
pacta sunt servanda. Pacta sunt servanda
pertama kali diperkenalkan oleh Grotius,
yang menjadi dasar hukum perikatan
dengan mengambil prinsip-prinsip dalam
hukum alam. Bahwa seseorang yang mengikatkan diri pada sebuah janji, mutlak
untuk memenuhi janji tersebut (promissorum implendorum obligati).
Pacta sunt servanda atau aggrements
must be kept merupakan asas hukum yang
menyatakan; "Setiap perjanjian menjadi
hukum yang mengikat bagi para pihak yang
melakukan perjanjian".
Asas ini menjadi juga dasar hukum
internasional karena termaktub dalam
pasal 26 Konvensi Wina 1969 yang menyatakan; "Every treaty in force is binding
upon the parties to it and must be performed by them in good faith".
Dalam hukum nasional Indonesia, asas
ini tertuang pada pasal 1338 Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUHPer) yang
menyatakan; "Semua persetujuan yang
dibuat secara sah sesuai dengan undangundang berlaku sebagai undang-undang
bagi mereka yang membuatnya".
Itulah mengapa, perjanjian yang dibuat
oleh para pihak harus dianggap suci. Ada
sanctity of contract yang berlaku dalam
sebuah kontrak.
Kesucian kontrak ini menyangkut pula
relasi pembentukan kontrak dengan syarat
sah perjanjian yang diatur dalam pasal
1320 KUHPer. Salah satu syarat sah
perjanjian yaitu adanya suatu sebab yang
halal (lebih tepat disebut sebab yang
diperbolehkan).
Sebab yang diperbolehkan tersebut,
ditegaskan dalam pasal 1337 KUHPer yaitu
suatu sebab adalah terlarang jika sebab itu
dilarang oleh undang-undang atau bila
sebab itu bertentangan dengan kesusilaan
baik atau dengan ketertiban umum.
Artinya, ketika kontrak sudah ditandatangani maka kontrak mengikat kedua
belah pihak, kecuali bila kontrak batal demi
hukum atau dibatalkan karena tidak memenuhi syarat objektif atau subjektif
sahnya sebuah perjanjian sebagaimana
diatur dalam pasal 1320 KUHPer.
Memaknai hal di atas, KK PT FI sebagai
sebuah kontrak tunduk pada ketentuan di
atas. KK PT FI pun harus dianggap memiliki sanctity of contract dan atasnya
berlaku asas pacta sunt servanda.
ak P
ublik vs Kontr
ak P
riv
at
Kontr
Kontrak
Priv
riva
Kontrak
Publik
Negara sebagai sebuah badan hukum,
terpersonifikasi ke dalam dua bentuk
badan hukum yaitu sebagai badan hukum
publik dan badan hukum privat (perdata).
Pemerintah sebagai legal entity dapat
berada dalam kedudukan badan hukum
sebagaimana diatur dalam pasal 1653
KUHPer yaitu dalam keadaan tiga macam,
yakni manakala: (1) badan hukum yang
diadakan oleh kekuasaan umum; (2) badan
hukum yang diakui oleh kekuasaan umum;
dan (3) badan hukum yang diperkenankan
dan yang didirikan dengan tujuan tertentu
yang tidak bertentangan dengan undangundang atau kesusilaan (badan hukum
dengan konstruksi keperdataan).
Selain sebagai badan hukum publik,
pemerintah pun dapat bertransformasi
menjadi badan hukum privat sebagaimana
dipertegas dalam pasal 1654 KUHPer, yang
menyatakan: "Semua badan hukum yang
berdiri dengan sah, begitu pula orang-orang swasta, berkuasa untuk melakukan
perbuatan-perbuatan perdata, tanpa mengurangi perundang-undangan yang mengubah kekuasaan itu, membatasi atau
menundukkannya kepada tata cara tertentu".
Sebagai badan hukum privat, pemerintah
dapat melakukan tindakan dalam pergaulan hukum privat antara lain tindakan
menjual dan membeli, menyewa dan menyewakan, menggadai dan menggadaikan,
serta membuat perjanjian.
Pada saat pemerintah bertindak sebagai
badan hukum privat maka pemerintah
tunduk pada peraturan hukum perdata.
Pemerintah pun bertindak sebagai wakil
dari badan hukum, bukan wakil dari
jabatan.
Begitu pula posisi pemerintah sebagai
pihak dalam KK. Pemerintah menjadi
badan hukum privat yang memiliki posisi
setara dengan PT FI sebagai pihak di sisi
lain. Pemerintah menjadi wakil dari badan
hukum, bukan wakil dari jabatan.
Aturan-aturan mengenai hukum kontrak
berlaku bagi pemerintah. Hal ini terbukti
dalam pasal 169 huruf a UU No. 4 Tahun
2009 tentang Pertambangan Minerba yang
mengatur bahwa KK tetap diakui sampai
berakhirnya KK.
Dalam pasal 169 huruf b UU No. 4 Tahun
2009 pun diatur bahwa pemegang KK
harus menyesuaikan isi KK dengan UU
Minerba. Ketentuan pasal 169 huruf b UU
No. 4 Tahun 2009 ini ditindaklanjuti
dengan adanya renegosiasi KK yang hingga
saat ini, telah lebih delapan tahun, belum
menemui kesepakatan antara pemerintah
dengan PT FI.
KK: N
egar
aT
adasi
Negar
egara
Terdegr
erdegradasi
erdegr
Praktik transformasi negara sebagai
badan hukum privat, cenderung merugikan. KK mendegradasikan kedaulatan
negara, kedaulatan ekonomi, dan kedaulatan hukum sehingga menjadikan KK
bersikap tidak adil terhadap bangsa Indonesia sendiri.
Mineral yang merupakan salah satu
sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui yang sejak dahulu diharapkan
untuk dapat memberikan kesejahteraan
umum dan dipergunakan untuk kemak-
muran rakyat dalam kehidupan berbangsa
menjadi dikerdilkan dengan dogma pacta
sunt survanda.
Negara seharusnya berdaulat atas kekayaan mineral dalam perut bumi Indonesia, ternyata harus tersandera dan terdikte
oleh tamu yang seharusnya patuh dengan
aturan tuan rumah. Kontrak yang dilakukan oleh pemerintah dengan korporasikorporasi internasional tak ubahnya seperti
membentuk konstitusi di atas UUD.
Hal demikian, dipertegas oleh Mahkamah Konstitusi dalam Putusan No.36/
PUU-X/2012, dalam putusan pengujian
UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas.
Mahkamah berpendapat bahwa kontrak
keperdataan akan mendegradasi kedaulatan negara atas sumber daya alam.
Tentang kemungkinan negara dapat
mengontrol sepenuhnya memang menjadi
persoalan sendiri kalau hanya mungkin
dengan hukum publik berupa konsesi dan
perizinan. Konsesi telah lama ditinggalkan
karena justru konsesi sangat merugikan
negara dan dapat menciptakan penguasaan
wilayah secara de facto.
Sedangkan perizinan memungkinkan
negara untuk mengontrol sepenuhnya
namun tetap "terbatas", karena Negara Indonesia adalah negara hukum, maka demi
adanya kepastian hukum dan perlindungan
hukum perbuatan negara yang dilakukan
oleh administrasi negara pun dapat dipersengketakan secara hukum melalui peradilan tata usaha negara, sehingga negara
tidak dapat sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya termasuk dalam
hal perizinan.
Akhirnya, KK PT FI sebaiknya disudahi
pasca 2021, sesuai UU Minerba dengan
skema izin usaha. Pemerintah pun sebaiknya mengevaluasi cost and benefit atas
keberadaan PT FI di Indonesia mengingat
sumber kekayaan di negeri ini berasaskan
kemerataan secara berkelanjutan.
Sebaiknya, potensi Indonesialah (BUMN) yang meneruskan operasi bekas PT FI
pasca 2021. Semoga! z dtc
Penulis dosen F
akultas H
ukum
Fakultas
Hukum
engurus
Pengurus
Universitas Sriwijaya, P
Bidang K
ajian Str
ategis DPP Ikatan
Kajian
Strategis
Alumni F
akultas H
ukum U
niversitas
Fakultas
Hukum
Universitas
Diponegoro
Penyaluran KUR Jangan Hanya di Pulau Jawa
OLEH
DALAM rapat kerja Komisi XI DPR RI dan
pemerintah, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution memberikan laporan
mengejutkan. Penyaluran kredit usaha rakyat
(KUR) yang mencapai Rp 94,4 triliun hingga
akhir 2016 sekitar 54,6% tersebar hanya di
Pulau Jawa. Dia mengatakan, hal tersebut terjadi
karena 54% orang miskin berada di Pulau Jawa.
KUR idealnya disalurkan merata, bukan
menumpuk di wilayah tertentu, karena KUR
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Ke depan pemerintah harus lebih
intensif melakukan pengawasan terhadap
penyaluran KUR, sehingga bisa dinikmati
merata oleh masyarakat Indonesia yang memang membutuhkan.
Berdasarkan data Kementerian Perekonomian, total realisasi KUR Rp 94,4 triliun pada
2016, meliputi Jawa Tengah Rp 16,9 triliun
(17,9%), Jawa Timur Rp 14,6 triliun (15,5%) dan
Jawa Barat Rp 11,9 triliun (12,6%). Kemudian,
Sulawesi Selatan Rp 5,1 triliun (5,4%), Sumatera
Selatan Rp 4,3 triliun (4,6%), Bali sekitar 7,4%,
Kalimantan 6,1%, Papua 1,6% dan Maluku
0,7%.
Data tersebut jelas memperlihatkan ketidakmerataan penyaluran KUR, padahal
pemerintah mengatakan akan mendukung
munculnya penggerak-penggerak usaha baru.
Bagaimana bisa muncul, jika penyaluran dana
bantuan tidak merata? Dalam hal ini pemerintah melalui Kementerian Perekonomian
harus membuat strategi-strategi, sehingga
KUR disalurkan merata dan tepat sasaran.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi,
Usaha Kecil dan Menengah (Kompas, 13/1/
2017), penyaluran KUR masih didominasi
sektor perdagangan yang mencapai 66%.
Sedangkan sektor pertanian hanya 17%, industri jasa 10%, industri pengolahan 4% dan
perikanan 1,5%.
Idealnya semua sektor mendapatkan bagian
yang sama. Jika ditelusuri, bisa saja karena ada
ketidaktahuan terkait program KUR. Apabila hal
tersebut yang menjadi masalah, maka salah satu
strategi yang bisa dilakukan sosialisasi.
Sosialisasi bisa dilakukan langsung ke lapangan
atau melalui berbagai media. Dengan demikian,
semakin banyak pihak yang menyetahui program KUR dan segera bisa mengajukan penambahan modal untuk lebih meningkatkan
usahanya.
Pemerintah harus mendorong penyaluran
KUR pada sektor-sektor yang masih minim
RAMEN ANTONOV PURBA
dibiayai, atpi juga harus memperhatikan faktor
risiko. Ibarat menanam padi, jangan di padang
pasir, karena padi tersebut tidak akan tumbuh
dan biaya yang dipergunakan juga tidak akan
kembali.
Memang ada beberapa sektor usaha yang
potensial memiliki risiko, seperti sektor pertanian,
perkebunan dan perikanan. Sektor-sektor ini
potensial risiko karena tergantung ragam kondisi
seperti musim, alam, cuaca, iklim dan beberapa
faktor lainnya. Terhadap ini pemerintah juga
harus memiliki strategi, sehingga potensi risiko
dapat diminimalkan. Misalnya, memberikan
pinjaman sesuai dengan produksi atau
memberikan suntikan dana, sekaligus
memberikan penyuluhan terkait dengan strategistrategi untuk meminimalkan risiko.
Harus Fleksibel
Mulai 2017, KUR harus fleksibel, dengan
menjangkau segala jenis usaha. Memang hal ini
cukup berat dilakukan, namun diyakini pemerintah mampu menjadikan hal tersebut kenyataan. Semisal mendorong agar para petani
tergabung ke dalam satu kelompok dan bisa
menggunakan alat-alat pertanian bersama di
dalam kelompok. Dengan demikian risiko
potensial terkait pengembalian pinjaman dapat
diatasi.
Selain itu, pemerintah dapat mendorong
koperasi unit desa (KUD) yang sehat untuk bisa
terlibat langsung dalam penyaluran KUR.
Dengan demikian para petani yang menjadi
anggota KUD bisa mendapatkan pinjaman
dengan mudah.
Ada banyak lagi strategi yang dapat menjadikan hakikat KUR fleksibel dan dapat memfasilitasi semua sektor yang digerakkan masyarakat. Jika sudah fleksibel dan dapat menyasar
seluruh sektor, diyakini usaha-usaha baru akan
semakin banyak muncul. Keterkaitannya,
lapangan pekerjaan diharapkan semakin banyak
terbuka. Hasil utamanya, kesejahteraan
masyarakat akan terjamin dan masyarakat
semakin makmur. Karenanya, pemerintah harus
serius agar sektor produktif terutama di luar
Pulau Jawa yang selama ini belum secara
maksimal tersentuh pembiayaan oleh
perbankan ke depan bisa merasakan KUR.
Banyak juga pihak yang ingin mengajukan
KUR, namun urung melakukannya, karena
beberapa persyaratan dirasa berat untuk
dipenuhi. Dengan demikian ke depan harus ada
kemudahan pengurusan. Jangan lagi ada syaratsyarat yang memberatkan, tapi bukan pula
terlalu dimudahkan sehingga rawan
disalahgunakan.
Rencana pemerintah meluncurkan kartu yang
merekam secara lengkap identitas dan
penyaluran kredit sesuai kebutuhan debitur
patut diapresiasi. Kartu ini akan memudahkan
penyalur mengetahui lebih jelas kebutuhan
debitur, misalnya debitur bisa mengajukan
pinjaman dengan batas waktu sesuai kebutuhan.
Ini merupakan salah satu solusi yang
memberikan kemudahan.
Diharapkan ke depan penyaluran KUR akan
semakin merata, juga tak hanya bisa disalurkan
melalui perbankan, namun ada badan lain yang
diberikan wewenang mengucurkannya, sehingga
cakupan penyalurannya juga akan semakin luas
dan menyasar semakin banyak sektor. Masyarakat
harus mendukung KUR, dengan menjadi
peminjam yang baik. KUR yang sudah disalurkan
jangan dimanipulasi dan disalahgunakan.
Semuanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran yang semakin baik ke depan. Untuk
menjadikan Indonesia lebih maju. z
Penulis staf UPT Lembaga P
enelitian
Penelitian
dan P
engabdian K
epada M
asyar
akat
Pengabdian
Kepada
Masyar
asyarakat
Politeknik U
nggul LP3M M
edan
Unggul
Medan
Download