asuhan kebidanan pada ibu menopause di klinik pratama mutiara

advertisement
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU MENOPAUSE
DI KLINIK PRATAMA MUTIARA BUNDA
KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2016
LAPORAN TUGAS AKHIR
Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Mencapai
Gelar Ahli Madya Kebidanan
Oleh :
RISYE TRIANA PUTRI
NIM. 12DB277160
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH CIAMIS
2016
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU MENOPAUSE
DI KLINIK PRATAMA MUTIARA BUNDA
KOTA TASIKMALAYA
TAHUN 20161
Risye Triana Putri2 Resna Litasari3 Neli Sunarni4
INTISARI
Menopause merupakan proses penuaan yang alamiah dan normal pada
setiap wanita, menopause terjadi pada akhir siklus menstruasi yang terakhir yang
dialami oleh seorang wanita yang sudah tidak mengalami siklus haid selama
minimal 12 bulan. Gejala- gejala yang umum terjadi pada masa menopause
secara fisik di antaranya hot flush atau rasa panas pada wajah, leher, dada dan
punggung. Kulit menjadi merah dan hangat di sertai keringat yang berlebihan
(keringat terutama pada malam hari) dan jantung berdebar - debar.
Tujuan penyusunan taporan tugas akhir ini untuk memperoleh
pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu menopause
di Klinik Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya Tahun 2016 menggunakan
pendekatan proses manajemen kebidanan. Asuhan kebidanan pada ibu
menopause ini selama 8 hari dimulai pada tanggal 14-22 April 2016 di Klinik
Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya.
Dari hasil penyusunan laporan tugas akhir ini mendapatkan gambaran
dan pengalaman nyata dalam pembuatan asuhan kebidanan pada ibu
menopause. Kesimpulan dari hasil pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu
menopause di Klinik Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya dilaksanakan
sesuai dengan prosedur manajemen kebidanan.
Kata Kunci
Kepustakaan
Halaman
: Ibu Menopausen, Hot Flush
: 24 buku (2007-2012)
: i-x, 41 halaman, 7 Lampiran
1 Judul Penulisan Ilmiah; 2 Mahasiswa STIKes Muhammadiyah Ciamis; 3 Dosen
STIKes Muhammadiyah Ciamis; 4 Dosen STIKes Muhammadiyah Ciamis.
vii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring
dengan
peningkatan
usia,
banyak
terjadi
proses
perkembangan dan pertumbuhan pada manusia. Namun pada suatu saat
perkembangan dan pertumbuhan itu akan terhenti pada suatu tahapan,
sehingga berikutnya akan terjadi banyak perubahan fisik maupun psikolagis.
Perubahan tersebut paling banyak terjadi pada wanita karena pada proses
menua terjadi suatu fase yaitu fase menopause (Proverawati, 2010).
Menurut Proverawati (2010), sebelum terjadi fase menopause
biasanya didahului dengan fase pramenopause dimana pada fase
pramenopause ini terjadi peralihan dari masa subur menuju masa tidak
adanya pembuahan (anovulatoir). Sebagian besar wanita mulai mengalami
gejala pramenopause pada usia 40-an dan puncaknya tercapai pada usia 50
tahun yaitu terjadinya masa menopause dimana pada masa menopause in!
wanita sudah tidak mengalami haid lagi. Menopause merupakan suatu masa
ketika persediaan sel telur habis, indung telur muiai menghentikan produksi
estrogen yang mengakibatkan haid tidak muncul lagi. Hal ini dapat diartikan
sebagai berhentinya kesuburan.
Menurut World Health Organization (WHO), setiap tahunnya sekitar 25
juta wanita di seluruh dunia diperkirakan mengalami menopause. WHO juga
mengatakan pada tahun 2010, sekitar 467 juta wanita berusia 50 tahun
keatas menghabiskan hidupnya dalam keadaan pasca menopause, dan
40% dari wanita pasca menopause tersebut tinggal di negara berkembang
dengan usia rata-rata mengalami menopause pada usia 51 tahun. WHO
memperkirakan jumiah wanita usia 50 tahun ke atas diperkirakan akan
meningkat dari 500 juta pada saat ini menjadi lebih dari 1 milyar pada tahun
2030. Di Asia, masih menurut data WHO, pada tahun 2025 jumlah wanita
yang menopause akan melonjak dari 107 juta jiwa akan menjadi 373 juta
jiwa. Prakiraan kasar menunjukkan akan terdapat sekitar 30-40 juta wanita
dari seluruh jumlah penduduk Indonesia yang sebesar 240-250 juta jiwa
pada tahun 2020, dalam kurun waktu tersebut {usia lebih dari 60 tahun}
1
2
hampir 100% telah mengalami menopause dengan segala akibat serta
dampak yang menyertainya (WHO, 2015).
Data dari BPS pada tahun 2015 bahwa 5.320.000 wanita Indonesia
telah memasuki masa menopause per tahunnya. Depkes R1 (2015),
memperkirakan penduduk Indonesia pada tahun 2020 akan mencapai 262,6
juta jiwa dengan jumlah wanita yang hidup dalam usia menopause sekitar
30,3 juta jiwa dengan usia rata-rata menopause 49 tahun. Bappenas
memperkirakan pada tahun 2025 jumlah penclucluk Indonesia ada 273,65
juta jiwa dan angka harapan hidup pada tahun 2025 adalah 73,7 tahun.
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014 jumlah penduduk
di Provinsi Jawa Barat tahun 2014 dari 46.300.543 jiwa penduduk, wanita
yang berusia di atas 45 tahun berjumlah 17.429.111 jiwa. Jumlah penduduk
Kota Tasikmalaya pada tahun 2014 bequmlah 5.152.355 jiwa dengan wanita
yang berusia 50 tahun ke atas sebanyak 982.754 jiwa (Kemenkes, 2015).
Dalam Islam, dipahami bahwa kehidupan manusia akan mengalami
tiga fase, yaitu masa bayi, masa muda dan masa tua, sehingga menopause
juga harus dipahami sebagai ketentuan Allah. Didalam Al Qur'an, Allah SWT
telah berfirman :
Artinya : "Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian
(dengan berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan dan diantara
kamu ada yang diwafafkan dan ada pula di anfara kamu yang dipanjangkan
umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang
dulunya diketahuinya." (QS.Al Hajj: 5).
3
Artinya : "Allah-lah yang mencipatkan kamu dari keadaan lemah,
kemudian menjadikan kamu sesudah temah menjadi kuat, setelah kuat
lemah lagi dan benrban.° (QS.Ar Ruum: 54)
Menurut pendekatan kognitif, daiam ilmu psikoiogi, pada dasamya
gangguan emosi (takut, cemas, stres) yang dialami manusia, sangat
ditentukan
oleh
bagaimana
individu
menilai,
menginterpretasi,
atau
mempersepsikan peristiwa yang dialaminya. Jadi, bagaimana individu
mempersepsikan atau menilai menopause akan berpengaruh pada kondisi
emosi-psikologisnya. Bila wanita memandang menopause sebagai hal yang
"mengerikan’ maka ia pun akan menghadapi menopause dengan penuh
kecemasan, ketakutan, stres bahkan depresi.
Peningkatan jumlah wanita usia tua ini tentunya akan menimbulkan
problema tersendiri, apalagi ditambah dengan munculnya keluhan-keluhan
pada
masa
menopause.
Waiaupun
tidak
menyebabkan
kematian,
menopause dapat menimbutkan rasa tidak nyaman dan dapat menyebabkan
gangguan dalam pekerjaaan sehari-had yang dapat menurunkan kwalitas
hidup. Kondisi yang demikian tentunya memerlukan suatu penanganan yang
tepat supaya siap untuk menghadapi keluhan menopause, serta penyakit
kardiovaskuler, osteoporosis, cancer dan dimensia tipe Alzheimer. Padaha!
pada kurun waktu usia 40-65 tahun (masa klimakterium) banyak wanita yang
mencapai puncak prestasi karirnya.
Menurut Proverawati (2010) bahwa rata-rata wanita menga(ami
menopause berada pada usia sekitar 45-50 tahun dan hal itu tidak jauh
berbeda dengan penelitian Safitri (2009) di Kelurahan Titi Papan Kota
Medan rata-rata usia menopause adalah 45,2 tahun, Wanita usia
menopause akan banyak mengalami risiko kesehatan karena berkurangnya
estrogen, maka sudah sepantasnya perhatian besar diberikan. Hal-hal yang
perlu diperhatikan diantaranya adalah mengatur gaya hidup yang lebih sehat
dengan memperhatikan gizi seimbang, menghindarkan stress, mengawasi
4
tekanan darah dan olahraga teratur. Menopause merupakan proses
penuaan yang alamiah dan normal pada setiap wanita, menopause terjadi
pada akhir siklus menstnaasi yang terakhir yang dialami oleh seorang wanita
yang sudah tidak mengalami siklus haid selama minimal 12 bulan. Hal ini di
sebabkan karena pembentukan hormone estrogen dan progesterone dari
ovarium wanita berkurang, ovarium berhenti melepaskan sel telur sehingga
aktivitas menstruasi berkurang dan berhenti, pada masa ini terjadi
penurunan jumlah hormone estrogen (Proverawati, 2010).
Gejala- gejafa yang umum terjadi pada masa menopause secara fisik
di antaranya hot flush atau rasa panas pada wajah, leher, daria dan
punggung. Kulit menjadi merah dan hangat di sertai keringat yang berlebihan
(keringat terutama pada malam had) dan jantung berdebar - debar
(Proverawati, 2010).
Hot flush akan mengakibatkan pada penderita yang mengalami
gangguan tersebut biasa terjadi atau mengakibatkan gelisah insomnia.
Sesuai dengan keadaan yang di alami tersebut, penderita merasakan
kekhawatiran tentang cara istirahat atau tidumya. Penderita sulit ticlur dan
merasakan kekhawatiran karena tidak biasa beristirahat (Proverawati 2010).
Hot flush (rasa panas) pada daria, wajah, kepala dialami oleh sekitar
75% wanita pre menopause sampai menopause terjadi. Kebanyakan hot
flush dialami selama lebih dari 1 tahun dari 25-50% wanita mengalaminya
sampai lebih dari 5 tahun. Hot flush berlangsung selama 30 detik sampai 5
menit. (Proverawaati, 2010).
Rasa panas merupakan masalah yang paling tidak nyaman yang
sering di keluhkan wan'rta. Walaupun kebanyakan wanita mengalami rasa
panas ini selama dua atau tiga menit, beberapaa yang lain mengatami iebih
lama, bahkan sampai 1 jam. Kira- kira 80% wanita yang mengalami
menopause mengalami rasa panas, dan bagi kira- kira 40% wanita tersebut
gejalanya yaitu merasa gelisah, insomnia (suiit tidur), bahkan merasa tidak
nyaman pada dirinya sehingga mereka mencari pertolongan medis
(Bandiyah, 2009).
5
Berdasarkan penelitian Triana (2009) dalam jurnalnya yang bertujuan
menganalisis kecemasan pada wanita yang menghadapi menopause dan
faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan
wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek sulit
menghadapi masa menopause karena befum siap untuk menghadapinya
dan kurangnya informasi yang didapatnya. Hal ini dapat terlihat dari gejala
gangguan tidur, lebih mudah letih, cemas dan gelisah.
Berdasarkan studi pendahuluan di Kfinik Pratama Mutiara Bunda pada
bufan Januari-April 2016 jumlah ibu menopause yang berobat sebanyak 20
orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 3 orang ibu mengalarni hot flush,
sebanyak 7 orang mengalarni pegal dan nyeri sendi, sebanyak 6 orang
mengalarni vagina gatal dan sebanyak 4 orang mengalarni gatal vagina.
Mengingat angka kejadian dari hot flush sendiri masih belum
berkurang dan akan mengakibatkan pada penderita yang mengalarni
gangguan tersebut biasa terjadi atau mengakibatkan gelisah insomnia.
Sesuai dengan keadaan yang di alami tersebut, penderita merasakan
kekhawatiran tentang cara istirahat atau tidumya. Maka penulis tertarik
mengambil judut laporan kasus komprehensif "Asuhan Kebidanan pada Ibu
Menopause di Kiinik Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmaiaya Tahun
2016".
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut rumusan masalahnya adalah
sebagai berikut "Bagaimana Asuhan Kebidanan pada Ibu Menopause di
Klinik Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya Tahun 2016"?
C. Tujuan Studl Kasus
1. Tujuan Umum
Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu menopause di Klinik
Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya Tahun 2016, secara mandiri
dan berkolaborasi dengan pendekatan management kebidanan dan
didokumentasikan dalam bentuk SOAP.
6
2. Tujuan Khusus
a.
Melakukan pengkajian data dasar pada ibu menopause di Ktinik
Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya Tahun 2016.
b.
Menginterprestasi data pada ibu menopause di Kiinik Pratama
Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya Tahun 2016.
c.
Mengidentirikasi
diagnosa
atau
masalah
potensial
pada
ibu
menopause di Kiinik Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya
Tahun 2016.
d.
Menetapkan kebutuhan tindakan segera atau kolaborasi pada ibu
menopause di Klinik Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya
Tahun 2016.
e.
Merencanakan tindakan asuhan kebidanan pada ibu menopause di
Ktinik Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya Tahun 2016.
f.
Melaksanakan tindakan asuhan kebidanan secara tepat dan rasional
berdasarkan perencanaan yang dibuat pada ibu menopause di Klinik
Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya Tahun 2016.
g.
Melaksanakan evaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan pada
ibu menopause di Klinik Pratama Mutiara Bunda Kota Tasikmalaya
Tahun 2016.
D. Manfaat Stud! Khusus
1. Manfaat Teoritis
Hasil penutisan studi kasus ini dapat dijadikan sebagai referensi
bagi ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan ibu menopause
dengan hot flush.
2. Manfaat Praktis
a.
Bagi Peneliti
Sebagai bahan masukan dan pengalaman untuk menambah
ilmu pengetahuan bagi penulis serta mampu memberikan asuhan
kebidanan pada khusus menopause dengan hot flush serta
rnenambah
ketrampilan
penufis
dalam
penanganan
menopause dengan hot flush di masa yang akan datang.
khusus
7
b.
Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan untuk menambah sumber refrensi untuk
profesi pendidikan terutama tentang asuhan kebidanan pada
menopause dengan hot flush.
c.
Bagi Lahan Praktik
Diharapkan
dapat
digunakan
sebagai
masukan
untuk
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terutama pada menopause
dengan hot flush.
d.
Bagi Pasien
Membantu dalam hal memberikan pendidikan kesehatan
terutama pada ibu menopause dengan hot flush.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar
1.
Gangguan Reproduksi
a. Pengertian
Gangguan
reproduksi
adalah
kegagalan
wanita
dalam
manajemen kesehatan reproduksi (Manuaba, 2008). Permasalahan
dalam bidang kesehatan reproduksi salah satunya adalah masalah
reproduksi yang berhubungan dengan gangguan sistem reproduksi.
Hal ini mencakup infeksi, gangguan menstruasi, masalah struktur,
keganasan pada alat reproduksi wanita, infertilitas, dan lain-lain
(Baradero, dkk., 2007).
b. Sebab-sebab gangguan reproduksi
Gangguan reproduksi disebabkan oleh ketidakseimbangan
hormon, cacat anatomi saiuran reproduksi (defek kongenital),
gangguan fungsional, kesalahaan manajemen atau infeksi organ
reproduksi. Gangguan reproduksi yang biasa terjadi, misai kista
endometriosis yang banyak dialami wanita yang memiliki kadar
follicle stimulating hormone (FSH) dan hormon luteinizing (LH) tinggi
(Nugroho, 2012).
2. Menopause
a. Pengertian
Menopause berasal dari dua kata yunani yang berarti bulan,
yang lebih tepat di sebut "menocease" yang berarti berhentinya masa
menstruasi. Hal ini dikarenakan keluamya hormon dari ovarium
(indung telur) sudah mulai berkurang, sehingga mengakibatkan haid
tidak keluar (Lestary, 2010). Menopause adalah berhenti menstruasi
secara permanen, pada umumnya menopause teladi pada usia
sekitar 45-55 tahun. Kadar estrogen jenis estron adalah yang banyak
berada - dafam sirkulasi dibandingkan estrogen lainnya (Smart,
2010).
8
9
b. Etiologi
Sejak usia 40 tahun, ovarium menjadi kurang responsive
terhadap hormone yang mengendalikannya. Efek keadaan ini
membuat wanita kurang subur, mengurangi jumlah hormone ovarium
yang dihasilkan, dan mengubah jumlah relative dari estrogen dan
progresterone yang dihasilkan. Sefain itu juga terjadi perubahan
dalam perbandingan dari bermacam- macam estrogen yang di
hasilkan (Purwoastuti, 2008). Penurunanan sekresi estrogen dan
progesterone menyebabkan perubahan endokrin yang terjadi selama
masa klimakterium dan pasca menopause. Kadar FSH dan LH yang
bersikulasi (beredar melalui peredaran darah) mulai meningkat
beberapa tahun sebelum penghentian produksi estrogen oleh
ovariuim, kadar FSH dan LH meningkat terdapat pada wanita
pramenopause, dengan FSH yang biasanya lebih tinggi dari pada LH
(Purwoastuti, 2008).
c. Fase - Fase Menopause
Menurut Smart (2010), menopause terdiri dari beberapa fase,
yaitu .
1) Klimakterium
Adalah masa peralihan antara masa produksi dan masa
senium, biasanya periode ini disebut dengan pramenopause.
2) Menopause
Adalah saat haid terakhir dan bila sesudah menopause
disebut dengan pasca menopause.
3) Pasca-menopause
Adalah suatu masa yang terjadi 3 hingga 5 tahun setelah
menopause.
4) Senium
Adalah periode sesudah pasca menopause, yaitu ketika
individu telah mampu menyesuaikan dengan kondisinya sehingga
tidak mengalami gangguan fisik.
10
d. Tanda dan Gejala menopause
Menurut Smart (2010), tanda dan Gejaia menopause
dibedakan menjadi dua yaitu, secara fisiologis dan secara
psikologis.
1) Secara fisiologis
Gejala secara fisiologis akan dapat di amati berdasarkan
perubahan-perubahan
yang
terjadi
pada
organ
organ
reproduksi, anggota tubuh lainnya, susunan ekstragenital, dan
adanya gejala klinis.
a)
Perubahan pada organ reproduksi
(1) Perdarahan
Perdarahan yang terjadi pada saat menopause
tidak seperti menstruasi, sikfus menstruasi yang keluar
dari vagina tidak teratur. Pendarahan ini terjadi di awaf
menopause.
(2) Vagina menjadi kering dan kurang efastis
Gejala pada vagina muncui akibat perubahan
yang terjadi pada iapisan dinding vagina. Vagina ini
menjadi kering dan kurang elastis. Ini di sebabkan
karena penurunan kadar estrogen.
(3) Saluran uretra mengering, menipis, dan kurang elastis
Uletra merupakan saluran yang menyalurkan air seni
dari
kandung
kemih
ke
luar
tubuh.
Pada
saat
menopause saluran uretra juga akan mongering,
menipis, dan kurang keelastisannya akibat penurunan
kadar estrogen. Perubahan ini akan menyebabkan
wanita rentan terinfeksi saluran kencing.
(4) Uterus atau Rahim
Uterus
mengecil,
selain
disebabkan
oleh
menciutnya selaput lendir rahim juga disebabkan oleh
hilangnya cairan dan perubahan bentuk jaringan ikat
antar sel.
11
(5) Tuba falopi atau saluran telur
Lipatan-lipatan
tuba
menjadi
lebih
pendek,
menipis, dan mengerut, setra rambut getar dalam tuba
menghilang.
(6) Ovarium
Perubahan dalam sistem peredaran darah indung
telur sebagai akibat proses penuaan yang selektif dan
terjadinya kekakuan dini pada system pembuluh darah
indung telur diperkirakan sebagai penyebab utama
gangguan peredaran darah ovarium.
(7) Cervix atau Leher Rahim
Cervix akan mengerut sampai terselubung oleh
dinding vagina, kripta servikal menjadi atropik, kanalis
servikalis (lumen leher Rahim) memendek, sehingga
menyenupai ukuran cervix fundus saat masa adolesen.
(8) Vagina atau Liang Senggama
Terjadi
penipisan
dinding
vagina
yang
menyebabkan menghilangnya lipatan-lipatan vagina,
berkurangnya pembuluh darah, menurunnya elastis,
secret vagina menjadi encer.
(9) Vulva atau Mulut Kemaluan
Jaringan vulva menipis karena berkurangnya dan
hilangnya jaringan lemak serta jaringan elastic. Kulit
menipis
dan
pembuluh
darah
berkurang
yang
menyebabkan pengerutan lipatan vulva. Sering timbu!
rasa gatal vulva yang disebabkan atrofi dan hilangnya
sekret kulit. Hal ini berhubungan dengan nyeri wraktu
senggama,
mengerutnya
introitus
(lubang
masuk
kemaluan), serta rambut pubis berkurang ketebalanya.
12
b)
Perubahan pada susunan ekstragenital
Terjadinya perubahan susunan ekstragenital dapat
diamati pada beberapa hal berikut :
(1) Penimbulan Lemak
Penyebaran lemak ditentukan pada tungkai atas,
pinggul, perut bawah dan tengan atas. ini disebabkan
karena menurunya estrogen dan ganguan pertukaran
zat dasar metabolisme lemak.
(2) Hipertensi (darah tinggi)
Menurunya
fungsi
hormone
estrogen
dan
progesterone menyebabkan timbulnya panas, pada
kondisi ini terjadi peningkatan darah balk systole
maupun diastole. Diketahui bahwa 2/3 penderita
hipertensi essential primer adalah wanita antara 4570
tahun yang diketahui peningkatan tensi paling banyak
terjadi selama masa menopause. Peningkatan tekanan
darah pada usia menopause terjadi secara bertahap,
kemudian
menetap
dan
lebih
tinggi
dari
tensi
sebelumnya.
(3) Kolestrol Tinggi
Penurunan
menyebabkan
atau
hilangnya
peningkatan
kadar
koiestrol.
estrogen
Peningkatan
kolestrol pada wanita terjadi 10-15 tahun lebih iambat
pada laki-laki. Peningkatan kadar kolestrol yang
merupakan faktor utama dalam penyebab pengapuran
pada dinding pembuluh dara.
(4) Perkapuran dinding pembuiuh darah
Adanya
hipertensi
dan
kadar
kolesterol
menyebabkan meningkatnya faktor resiko terhadap
terjadinya resiko pengkapuran dinding
pembuluh
darah.
(5) Pertumbuhan rambut-rambut halus
Produksi hormone estrogen pada wanita pasca
menopause berkurang, tetapi tidak hilang sama sekali.
13
(6) Osteoporosis (keropos tulang)
Penurunan
pada
mengakibatkan
membentuk
proses
tulang
baru
kadar
esterogen
osteoblast
berfungsi
terlambat
dan
fungsi
osteoblast merusak tulang meningkat. Akibat tulang
tua diserap dan dirusak osteoblast tetapi tidak dibentuk
tulang baru oleh osteoblast, sehingga tulang menjadi
osteoporosis.
c)
Gejala klinis
Gejala fisiologis yang terjadi pada masa menopause
sebagai akibat turunya fungsi ovatium, yaitu kurangnya
kadar hormone estrogen dan progestoren dalam tubuh
wanita. Kekuranagn hormone estrogen ini menyebabkan
ke)uhan-keluhan sebagai berikut:
(1) Rasa panas (hot flush) dan kekeringan di malam hari
Pada
saat
masa
menopause
wanita
akan
mengalami rasa panas yang menyebar dari wajah
menyebar keseluruh tubuh, rasa panas ini terutama
terjadi pada daria, wajah, dan kepala. Rasa panas ini
sering diikuti dengan timbuinya wama kemerahan pada
kuiit dan berkeringat.
(2) Insomnia (sulit tidur)
Insomnia merupakan hal yang wajar terjadi pada
masa menopause, kemungkinan ini sejalan dengan
rasa tegang yang di alami wanita akibat berkeringat di
malam hari, rasa panas, wajah memerah.
(3) Perubahan pada indra perasa
Wanita menopause biasanya akan mengalami
penurunan kepekaan pada indra pengecapannya.
(4) Muncul
gangguan
penyempitan
atau
vasomotorik
pelebaran
yang
berupa
pembuluh-pembuluh
darah.
(5) Pusing dan sakit kepala terus-menerus.
14
(6) Gangguan sembelit.
(7) Neuralgia, yaitu gangguan atau sakit saraf.
(8) Perubahan payudara, bentuknya dan mulai kendur, ini
merupakan akibat kadar esterogen yang menurun.
2) Secara Psikologis
Menurut
Smart
(2010),
selain
tanda-
tanda
fisik,
menopause juga mempunyai berbagai macam gejala psikologis
sebagai berikut:
a) Ingatan menurun
Sebelum menopause seorang wanita akan mengingat
dengan mudah, tetapi setelah mengalami menopause
kecepatan mengingatnya menurun, sehingga sering lupa
dalam hal- hal sederhana.
b) Perubahan emosianal
Wanita menopause biasanya mengalami perubahan
emosional, gejala ini bervariasi pada setiap individu
diantaranya keleiahan mental, masafah daya ingat, lekas
marah, dan perubahan mood yang beriangsung cepat.
c} Depresi
Beberapa wanita yang mengalami menopause tidak
sekedar mengalami perubahan mood yang sangat drastis
bahkan ada yang mengalami depresi.
3. Hot flush
a. Definisi
Not flush adalah rasa panas yang menyebar dari wajah
menyebar ke seluruh tubuh. Rasa panas ini terutama terjadi pada
wajah, daria, dan kepala. Rasa panas ini sering di ikuti dengan
timbulnya wama kemerahan pada kulit dan berkeringat. Rasa ini
sering terjadi se(ama 30 detik sampai dengan beberapa menit Rasa
panas
terkadang
terjadi
bahkan
sebelum
seseorang
wanita
memasuki masa menopause. Gejala ini biasanya akan menghilang
dalam 5 tahun, tetapi di antaranya akan terus mengalami hingga 10
tahun. Panas yang di derita ini biasanya berhubungan dengan cuaca
panas dan lembap (Smart, 2010).
15
Rasa panas atau hot flush adalah perasaan panas secara tibatiba yang di rasakan pada leher, wajah dan bagian atas daria.
Biasanya
berlangsung
selama
15
detik
sampai
1
menit
(Wirakusumah, 2008).
b. Gejala
Menurut Wirakusumah (2008), gejala hot flush adalah :
1) Rasa mengelitik pada jari - jari dan tangan yang merayap ke
kepala.
2) Berkeringat begitu saja, tidak di iringi dengan wajah yang
memerah.
3) Suhu
tubuh
meningkat
begitu
saja
secara
tiba-tiba
dan
menyebabkan tubuh kemerahan keringat mengucur di seluruh
tubuh.
4) Ada kalanya di ikuti dengan kedinginan dan berkeringat pada
waktu malam.
c. Etiologi
Arus panas terjadi karena berubahnya kadar hormone. Diduga,
perubahan kadar estrogen menyebabkan pembuluh darah membesar
secara mendariak sehingga terjadi arus dan hilang secara cepat
sehingga tubuh merasakan panas. Selain itu dapat disebabkan oleh
perubahan fungsi hipotalamus yang mengatur suhu tubuh kita
(Wirakusumah, 2008).
d. Penatalaksanaan
1) Penatalaksanaan Asuhan:
Menurut Wirakusumah (2008), untuk mengatasi hot flush
(rasa panas) pada diri pasien, dapat dilakukan beberapa cara
antara lain :
a) Berfikir pasitif dan jangan panik, menerima menopause sebaga
salah satu bagian dari perjalanan kehidupan normal seorang
perempuan.
b) Menerapkan pola hidup sehat sejak dini, Pala hidup sehat
meliputi pola makan yang teratur dan mengandung gizi yang
seimbang. Asupan vitamin dan mineral juga harus terjaga.
16
c) Melakukan olah raga teratur, misalnya dengan jalan kaki rutin
dan
memanfaatkan
sinar
matahad
untuk
mencegah
osteoporosis.
d) Konsumsi makanan yang mengandung zat makanan yang
bersifat menyerupai esterogen per had diperlukan sekitar 30-50
mg.
e) Hindari konsumsi rokok dan aikohoi.
f) Membatasi konsumsi kopi karena dapat meningkatkan potensi
hot flush.
g) Menghindari mengonsumsi garam berlebihan, karena dapat
mengakibatkan
sekresi
kalsium
dari
tulang
sehingga
mengakibatkan resiko osteoporosis.
h) Jangan ragu konsukasi ke dokter atau tenaga kesehatan jika
mengaiami gejala menopause.
i) Pilih asupan makanan yang mengandung omega 3 tinggi yang
terdapat pada ikan laut dalam serta Wan salem.
j) Anjurkan pada ibu untuk mengunakan pakaian tipis dan
penutup alas tidur dari bahan katun.
2) Penatalaksanaan medis :
Menurut Purwoastuti (2008), obat-obat mengurangi hot flush
(rasa panas) dan keringat pada malam hari :
a) Clonidine (dixarit®, Catapres®) 2 x 1 perhari
b) Selective Serotinin, Aceptor inhibitor (SSPI) 2 x 1 perhari
Hormon terapi paling efektif untuk mengobati adanya hot
flush (muka kemerahan), keringat pada maiam hari, atau
kekeringan vagina. Tetapi ada beberapa resiko yang menyertai
pengobatan HRT ini, apabila digunakan dalam jangka waktu yang
lama (Purwoastuti, 2008).
Menurut penelitian Sawitri dkk., (2009) dalam jurnalnya
gejala seperti hot flush menghilang pada beberapa wanita dengan
supiemen yang mengandung phytoestrogen. Beberapa jenis
bahan yang mengandung phyfoestragen antara lain kacang
kedelai, tempe, tahu, susu kedelai, sawi putih, tomat, bengkoang,
anggur merah, apel, green tea dan asparagus.
17
B. Teori Manajemen kebidanan
1.
Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah
yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan
tindakan dengan urutan logis dan pertlaku yang diharapkan dari pemberi
asuhan yang berdasarkan ilmiah, penemuan, dan ketrampilan dalam
tahapan yang logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada
klien (Vamey, 2008).
2.
Manajemen Kebidanaan Langkah 7 Varney
Menurut Purwoastuti dan Walyani (2075) ketujuh langkah
manajemen kebidanan menurut vamey adaiah sebagai berikut :
a.
Langkah I : Identifikasi Data Dasar
1) Pada
langkah
pertama
ini
dilakukan
pengkajan
dengan
mengumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari
semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien,
2) Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan
tanda-tanda vital.
3) Pemeriskaan penunjang (Iaboratorium).
b.
Langkah II : identifiikasi Diagnosis atau Masalah Aktual
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap
diagnosa
atau
masalah
dan
kebutuhan
klien
berdasarkan
interpretasi yang benar atas data-data yang dikumpulkan. Data
dasar
yang
sudah
dikumpulkan
diinterpretasikan
sehingga
ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik.
c.
Langkah III : Antisipasi Diagnosis atau Masalah Potensial.
Pada langkah ini dilakukan identifikasi diagnosis atau masalah
potensia! dan mengantisipasi penanganannya. Pada langkah ini kita
mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial yang
berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosia yang sudah
diidentifikasikan.
Langkah
ini
membutuhkan
antisipasi
bifa
memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien,
bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosis atau masalah
potensiai ini benar-benar terjadi. Langkah ini sangat penting
didaiam melakukan asuhan yang aman.
18
d.
Langkah IV: Tindakan Segera dan Kolaborasi.
Pada langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses
manajemen kebidanan. Bidan menetapkan kebutuhan terhadap
tindakan segera, melakukan konsultasi, dan kolaborasi dengan
tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien, pada langkah ini
bidan
juga
harus
merumuskan
tindakan
emergency
untuk
menyelamatkan ibu dan bayi, yang mampu dilakukan secara
mandiri dan bersifat rujukan.
e.
Langkah V : Rencana Tindakan Asuhan.
Kebidanan pada langkah ini direncanakan asuhan yang
menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya dan
merupakan lanjutan manajemen tefiadap diagnosis atau masalah
yang telah diidentifikasikan atau diantisipasi. Rencana tindakan
komprehensif
bukan
hanya
meliputi
kondisi
klien
serta
hubungannya dengan masalah yang dialami oleh klien, tetapi juga
dari kerangka pedoman antisipasi terhadap klien, serta penyuluhan,
konseling dan apakah pedu merujuk klien bila ada masalahmasalah
yang berkaitan dengan sosial ekonomi, agama, kultur atau masalah
psikologis. Setiap rencana asuhan harus disertai oleh klien dan
bidan agar dapat dilaksanakan dengan efektif. Sebab itu, harus
berdasarkan rasional yang relevan dan kebenarannya serta situasi
dan kondisi tindakan harus secara teodtis.
f.
Langkah Vl : lmplementasi Tindakan.
Asuhan kebidanan melaksanakan rencana tindakan serta
efisiensi dan menjamin rasa aman kiien. lmplementasi dapat
dikerjakan keseiuruhan oleh bidan ataupun bekerja sama dengan
kesehatan lain. Bidan harus melakukan impiementasi yang efisien
dan akan mengurangi waktu perawatan serta akan meningkatkan
kualitas pelayanan kebidanan.
g.
Langkah VII: Evaiuasi.
Tindakan asuhan kebidanan mengetahui sejauh mana tingkat
keberhasilan asuhan yang diberikan kepada klien. Pada tahap
evaluasi ini bidan harus melakukan pengamatan dan observasi
terhadap masalah yang dihadapi kfien, apakah masalah diatasi
19
seluruhnya, sebagian telah dipecahkan atau mungkin timbul
masalah
baru.
Pada
pdnsipnya
tahapan
evaluasi
adalah
pengakajian kembali terhadap klisn untuk menjawab pertanyaan
seberapa jauh tercapainya rencana yang dilakukan.
3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)
Menurut Helen Vamey, alur befikir bidan saat menghadapi klien
meliputi tujuh langkah, agar diketahui orang lain apa yang telah dilakukan
oleh seorang bidan metalui proses berfkir sistemafis, maka dilakukan
pendokumentasian dalam bentuk SOAP yaitu:
a. Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data
klien dan keluarga mefalui anamnese sebagai langkah I Vamey.
b. Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik
klien, hasil laboratorium dan diagnostik lain yang dintmuskan dalam
data fokus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney.
c. Analisa data
Menggambarkan
pendokumentasian
hasil
analisa
dan
interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi:
diagnosa/ masalah, antisipasi diagnosal masalah potensial, perlunya
tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultanl kotaborasi dan atau
rujukan sebagai langkah 2, 3 dan 4 Varney.
d. Penatalaksanaan
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan, tindakan
implementasi (I) dan evaluasi (E) berdasarkan assesment sebagai
langkah 5, 6, 7 vamey.
(Salmah, 2006).
20
C. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan pada Menopause
1. Identifikasi Data Dasar
a.
Data Subjektif
1) Identitas
a)
Nama : nama pasien dan suami untuk mengetahui identitas
pasien dan suami sebagai orang yang bertanggung jawab.
b)
Umur : untuk mengetahui batasan usia menopause.
c)
Agama : untuk memudahkan pemberian dukungan spiritual.
d)
Pendidikan : Untuk memudahkan memberi KIE sesuai dengan
tingkat pendidikan.
e)
Pekerjaan : Untuk mengetahui aktivitas dan tingkat sasial
ekonomi keluarga
f)
Alamat ; ditanyakan karena mungkin memiliki nama yang
sama dengan alamat yang berbeda.
2) Keluhan utama
Dikaji untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang
berkaitan dengan ibu menopause dengan hot flash atau pun yang
dikeluhkan pasien. Keluhan hot flush (rasa panas) yang sering
terjadi pada wajah, daria, kepala, insomnia (sulit tidur), gelisah
(Ambarwati, 2008).
3) Riwayat menstruasi
Kapan perfama kali haid, lamanya haid, siklus haid,
banyaknya ganti pembalut per had (normalnya 2-5 kali gantilhari),
jenis dan warna darah haid yang kemudian dibandingkan dengan
perdarahan saat ini yakni kapan perdarahan dimulai, lama dan
jumlah perdarahan, ciri khas darah yang hilang (misalnya warna,
konsistensi, gumpalan) dan kapan pola abnormal tersebut mulai
terjadi (Manuaba, 2010).
4) Riwayat obstetri
Kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu perlu untuk
ditanyakan guna mengetahui apakah pasien seksua! aktif atau
masih virgin sehingga dapat penatalaksanaannya (Manuaba,
2010).
21
5) Riwayat kesehatan
Perlu diperhatikan adanya penyakit metabolik, penyakit
endokrin, dan penyakit menahun yang dicurigai sebagai penyebab
dari perdarahan (Wiknjosastro, 2007).
6) Pola kebiasaan sehari-hari
a) Nutrisi
Mengetahui seberapa banyak asupan nutrisi pada pasien
dengan mengamati adakah penurunan berat badan atau tidak
pada pasien (Wiknjosastro, 2007),
b) Pola istirahat
Untuk mengetahui berapa lama ibu tidur siang dan berapa lama
ibu tidur pada malam hari (Wiknjosastro, 2007).
c) Pola kebersihan
Mengkaji frekuensi mandi, gosok gigi, kebersihan perawatan
tubuh terutama genetalia berapa kali dalam sehari. Karena
dengan kebiasaan pola hygiene akan berpengaruh pada
ketidaknyamanan perawatan tubuh terutama pada genetalia
(Wiknjosastra, 2007).
d) Pola eliminasi
Untuk mengetahui adakah gangguan pada BAB dan BAK.
b. Data Objektif
Tujuan dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
adalah untuk mendeteksi komplikasi-komplikasi
(Mufdillah, 2009) :
1)
Keadaan umum
Keadaan umum pada ibu menopause dengan hot flush adalah
cukup (Mufdlilah, 2009).
2)
Kesadaran
Kesadaran pada ibu menopause adalah composmentis
(Mufdlilah, 2009).
22
3)
Pemeriksaan tanda-tanda vital
a)
Tekanan
darah
(Vital
sign):
Mengetahui
faktor
resiko
hipertensi atau hipotensidengan nilai satuannya mmHg.
Keadaan normal antara 120180 mm/Hg sampai 130/90 mmHg
atau peningkatan sistolik tidak lebih dari 30 mmHg dan
peningkatan diastolik tidak lebih dari 15 mmHg dari keadaan
pasien normal, keadaan pada ibu menopause dengan hot
flush yaitu antara 140/90 mmHg (Wknjosastro, 2007).
b)
Pengukuran Suhu : Mengetahui suhu badan pasien, suhu
badan normal adalah 36° C sampai 37°C. Pada
ibu
menopause dengan hot flush yaitu antara 38°C (Wknjo sastro,
2007).
c)
Nadi : Memberi gambaran kardiovaskuler. Denyut nadi normal
70 xlmenit sampai 88 x/menit. Pada ibu menopause dengan
hot
flush
yaitu
90
x/menit
(Wiknjosastro,
2007).
d)
Pernafasan : Mengetahui sifat pernafasan dan bunyi nafas
dalam satu menit. Pemafasan normal 22 x/menit sampai 24
x/menit dan pemafasan pada ibu menopause dengan hot flush
yaitu 20 xdmenit (Wiknjosastro, 2007).
4.
Pemeriksaan fisik
a)
Rambut : Untuk menilai warna, kelebatan dan karakteristik
seperti ikal, lurus, keriting (Alimul, 2009),
b)
Muka : Keadaan muka pucat atau tidak ada kelainan, adakah
oedema (Alimul, 2009).
c)
Mata : Conjungtiva berwarna merah muda atau tidak, sklera
berwarna putih atau tidak (Alimul, 2009).
d)
Hidung : untuk mengetahui apakah ada polip atau tidak
(Alimul, 2009).
e)
Telinga : Bagaimana keadaan daun telinga, liang telinga dan
ada serumen atau tidak (Alimul, 2009).
f)
Mulut : Untuk mengetahui mulut bersih apa tidak ada caries
atau tidak dan ada karang gigi atau tidak (Alimul, 2009).
23
g)
Leher : Apakah ada pembesaran kelenjar gondok atau thyroid,
tumor dan pembesaran getah bening (Afimul, 2009).
h)
Daria : Apakah ada kelainan pada daria. Apakah bentuk
simetris atau tidak (Alimul, 2009).
i)
Payudara : Apakah ada benjolan tumor dan apakah
ukurannya simetris kanan dan kiri (Alimul, 2009)
j)
Abdomen : Apakah ada jaringan parut atau bekas operasi,
adakah nyeri tekan (Alimul, 2009).
k)
Anogenital : Untuk mengetahui apakah ad avarices, ada luka
atau tidak (Alimul, 2009).
l)
Ekstremitas : Apakah ada kelainan, lengkap atau tidak fungsi
biasa atau tidak ada oedema reflek pathella (Alimul, 2oas).
5.
Data Penunjang
Pemeriksaan penunjang adalah data atau fakta yang
diperoteh dari hasil pemeriksaan laboratorium pemeriksaan
rontgen, ultrasonografi (USG) dan lain-lain (Vamey, 2008). Pada
kasus Menopause dengan hot flush ini dilakukan pemeriksaan
laboratorium meliputi pemeriksaan HB. Bila diketahui HB < 8 g%
segera beri tablet FE.
2. ldentifikasi Diagnosis atau Masalah Aktual
a. Diagnosis kebidanan
Diagnosis kebidanan yang dapat ditegakkan pada kasus pasien
dengan ganguan reproduksi pada ibu menopause dengan hot flush
adalah Ny. X P... A... umur X tahun dengan hot flush, dengan dasar
data subjektif dan data objektif.
1)
Data subjektif: berasal dari keluhan klien, pada kasus ibu
menopause dengan hot flush adalah ibu mengalami rasa panas
yang dialami akibat berkeringat di malam hari, rasa panas, wajah
memerah serta ibu sulit untuk tidur pada malam hari (Smart,
2010).
24
2) Data objektif
a) Keadaan umum : baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) Vital sign : Tekanan darah : 140/90 mmHg Suhu 38° nadi
90xlmenit, respirasi 20x/menit
d) BB : 51 kg. TB : 158 cm
e) Kulit : Kemerahan (Vamey, 2008).
b. Masalah
Masalah yang sering ditemukan pada menopause dengan hot
flush adalah ibu merasakan cemas dengan keadaannya (Purwoastuti,
2008).
c. Kebutuhan
Kebutuhan yang diperlukan oleh ibu menopause dengan hot
flush adalah memberikan konseling mengenai perubahan yang terjadi
selama menopause den masalah yang sering muncul pada mesa
menopause (Purvuoastuti, 2008).
3. Antisipasi Diagnosis atau Masalah Potensiat
Pada langkah ini, bidan mengidentigikasi masalah atau diagnose
potensial berdasarkan diagnose masalah yang sudah diidentifikasi
(Ambarwati, 2008). Pada kasus ibu menopause dengan hot flush
diagnose
potensialnya
terjadi
gangguan
psikologis
(Depresi)
(Purwoastuti, 2008).
4. Tindakan Segera den Kolaborasi
Pada langkah ini, mengidentifikasi perlunya melakukan konsultasi
atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan lain sesuai
dengan kondisi klien (Soepardan, 2007). Pada kasus ibu menopause
dengan hot flush tindakan segera di berikan clonidine 0,1 mg 2x sehari
sebanyak 3 tablet (Purwoastuti, 2008)
5. Rencana Tindakan Asuhan
Menurut Purwoastuti (2008), rencana tindakan yang dapat
dilakukan untuk asuhan kebidanan pada ibu menopause dengan hot flush
adalah :
a.
Beritahu ibu tentang menopause.
25
b.
Beritahu ibu tentang gejala serta masalah yang muncul pada
menopause
c.
Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung
vitamin dan kalsium.
d.
Anjurkan pada ibu untuk mengurangi konsumsi minum kopi atau teh
serta menghindari asap rokok.
e.
Anjurkan pada ibu untuk menjaga kebersihan dirinya.
f.
Anjurkan pada ibu untuk olah raga teratur.
g.
Anjurkan pada ibu untuk menggunakan pakaian tipis dan penutup
alas tidur dari bahan katun.
h.
Beri ibu vitamin E dan vitamin B Kompleks.
6. Implementasi Tindakan
Implementasi pada menopause dengan hot flush sesuai dengan
rencana tindakan asuhan yang telah dibuat (Purwoastuti, 2008).
7. Langkah VII evaluasi
Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa yang
telah dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang
diberikan, ulangi kembali proses manajemen dengan benar terhadap
setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tapi belum efektif atau
merencanakan kembali yang belum terlaksana (Ambarwati, 2008).
Evaluasi setelah dilakukan tindakan yaitu:
a. Keadaan umum ibu baik
b. Ibu dapat mengatasi sendiri keluhan rasa panas yaitu dengan berfikir
positif dan tidak panic
c. Ibu mampu menerapkan pola hidup sehat dengan olah raga teratur
dan mengkonsumsi makanan yang bergizi
d. Rasa panas pada wajah dan leher semakin berkurang
e. Ibu merasa istirahat malamnya sekarang tidak terganggu
f. Ibu sudah tidak merasakan cemas
D. Kewenangan Bidan Berdasarkan Landasan Hukum
Kewenangan bidan dalam melakukan asuhan diatur dalam Permenkes
Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktek
26
bidan. Bidan memiliki kewenangan memberikan pelayanan sesuai dengan
pasal 9 yang isi nya :
Pasal 19
Bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan pelayanan
yang meliputi :
1. Pelayanan kesehatan ibu;
2. Pelayanan kesehatan anak;
3. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.
Kewenangan bidan dalam pengelolaan kasus gangguan reproduksi
pada ibu menopause, bidan memiliki kemandirian untuk melakukan
asuhannya sesuai dengan pasai 12, yang isinya :
Pasal 12
Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. dan
keluarga berencana sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 9 huruf c,
berwenang untuk :
1. Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan
dan keluarga berencana.
2. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom.
Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan
dan keluarga berencana berwenang untuk memberikan penyuluhan dan
konseling kesehatan reproduksi khususnya pada ibu menopause. Sehingga
bidan harus memiliki pengetahuan dasar tentang tanda, gejala, dan
penatalaksanaan pada gangguan reproduksi pada ibu menopause.
40
DAFTAR PUSTAKA
Alimiul Hidayat, Aziz A. (2009). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi
dan Proses Keperawatan. Jakarta :Salemba Media.
Ambarwati, dkk. (2008). Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta : Mitra Cendika.
Bandiyah. (2009). Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Baradero, dkk., (2007). Seri Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan Sistem
Reproduksi & Seksualitas. Jakarta: EGC.
Lestary, D. (2010). Seluk 8eluk Menopause.Yogyakarta : Garailmu.
Manuaba IBG. (2008). llmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
__________. (2010). Ilmu Kebidanan, penyakit Kandungan dan KB untuk
Pendidikan Bidan Edisi 2. Jakarta: EGC.
Mufdillah. (2009). Catatan Kuliah Konsep Kebidanan Plus Materi Bidan Delima.
Yogyakarta : Mitra Cendika.
Notoamodja, (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta :
Rineka Cipta.
Nugroho, Taufan. (2012). Obsgyn : Obstetri dan Gynekologi. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Permenkes No. 1464/Menkes/PER/X/2010 tentang izin dan penyelenggaraan
praktik.
Proverawati, A. (2010). Menopause dan Sindrom Pre Menopause. Yogyakarta :
Muha Medika.
Purwoastuti Endang & Wafyani Elisabeth. (2015). Asuhan Kebidanan
Kegawatdaruratan Matemal dan Neonatal. Yogyakarta : Pustaka Baru
Press.
Purwoastuti, E. (2008). Menopause, Siapa Takut?. Yogyakarta : Kanisius.
Riyanto, Agus. (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta:
Nuha Medika.
41
Safitri,(2009). Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Menopause pada Wanita di
Kelurahan Titi Papan Kota Medan Tahun 2009. Jumal USU Repository.
[intemet]
tersedia
dalam
http://repository.usu.ac.id/
bitstream/
123456789/14625/1/09E01078.pdf. [diakses 05 Mei 2016].
Sawitri dkk., (2009). Kulit dan Menopause Manifestasi dan Penatalaksanaan.
Jurnal. [ntemet] tersedia datam http:Journal.unair.ac.id/downloadfullpapers-Menopause°1o20Vol%2021 %20No%201.pdf. [d iakses 15
Mei 2016].
Salmah. (2006). Asuhan Kebidanan Anfenatal. Jakarta: EGC.
Smart, A. (2010). Bahagia di Usia Menopause. Yogyakarta : A Plus Books.
Soepardan, S. (2007). Konsep Kebidanan, Jakarta: EGC.
Triana, R. (2009). Kecemasan pada Wanita yang Menghadapi Menopause.
Jurnal Psikologi Volume 3, No. 1, Desember 2009. [internet] tersedia
dalam
http://ejournal.gunadarma.ac.id/
files/Journals/7/artictes/
260/submission/original/260-771-1-SM.pdf [diakses 15 Mei 2016].
Varney, H. (2008). Buku Ajar Asuhan Kebidanan (edisi 4, vol 2). Jakarta: EGC.
Wiknjosastro, (2007). Ilmu Kebidanan.Jakarta : YBP-SP.
Wirakusumah. (2008). Menopause. Yogyakarta. Nuha Medika.
Download