LITERASI POLITIK JELANG PEMILIHAN

advertisement
LITERASI POLITIK JELANG PEMILIHAN PRESIDEN (PILPRES) 2014
dI MEDIA SOSIAL KOMPASIANA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Komunikasi Islam
(S.Kom.I)
Oleh :
Tri Isniarti Putri
NIM. 1110051000053
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA/ 2014
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penelitian ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 29 Agustus 2014
Tri Isniarti Putri
ABSTRAK
Tri Isniarti Putri
Literasi Politik Jelang Pemilihan Presiden (PILPRES) 2014 di Media Sosial
Kompasiana
Perkembangan internet yang mulai bermetamorfosa dari media generasi 1.0
(read-only-web) dimana publik hanya bisa mengakses informasi tanpa komunikasi
2 arah (cenderung one way communication), menjadi generasi 2.0 (participatory
web) dimana publik sendiri yang menciptakan dan memublikasikan informasi.
Web 2.0 meniscayakan lahirnya media sosial (social media) dan webblog
interaktif, yang dimana hampir semua kegiatan publik bermigrasi dari ruang
publik konvensional ke ruang publik kontemporer. Di sinilah, peluang dan
fenomena literasi politik mulai beradaptasi, berkembang, dan menjadi tren di lini
masa (publik virtual)
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana literasi politik
jelang pemilihan presiden (PILPRES) 2014 di media sosial Kompasiana? dan apa
saja pesan literasi politik yang ada di kanal Kotak Suara 2014?
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Konvergensi Simbolik
yang dipopulerkan oleh Ernest Bormann. Dengan teori ini, peneliti mencoba
menelaah dan menguji kesesuaian praktik literasi politik yang ada di Kompasiana
dengan teori yang sudah ada. Pada prinsipnya, konvergensi simbolik yang digagas
Ernest Bormann merupakan usaha untuk memunculkan kesadaran umum untuk
menghasilkan motif, emosi dan perasaan bersama .
Metodologi penelitian ini adalah metodologi kualitatif deskriptif dengan
jenis studi kasus intrinsik (intrinsic case study). Pengumpulan data yang
dilakukakan melalui wawancara mendalam dengan pihak terkait, observasi
langsung dan teks kemudian dokumentasi berupa buku, media cetak, internet, dan
data resmi
Berdasarkan pengamatan dan analisis peneliti, bahwa literasi politik di
Kompasiana ada tiga yaitu pengetahuan yang diberikan Kompasiana terkait
seputar politik melalui online dan offline seperti LIPSUS dan MODIS, kemudian
biasanya Kompasianer menulis (skill) dari apa yang didapat dari kegiatan yang
diberikan Kompasiana selanjutnya sikap politik Kompasianer yang secara umum
sudah difasilitaskan pihak Kompasiana pada kanal Kotak Suara 2014 seperti Pro
Kontra dan polling. Pesan-pesan literasi politik dalam kanal Kotak Suara 2014
mengacu pada tipologi netizen yaitu disseminator banyak melahirkan gagasan dan
ideologi seputar pemilu seperti akun Hazmi Srondol, publisist Kompasiana
merupakan salah satu alat untuk melakukan publisitas elit politik atau lembaga
yang mempunyai kepentingan seperti caleg, capres, timses dan partai,
propagandist tipologi yang sensitif seperti pada akun Terumbu dan hactivist yang
biasanya datang pada acara-acara tertentu seperti akun yang tergolong cyber army.
Selanjutnya dari lima sample tulisan Kompasianer peneliti meneliti, menelaah,
mengolaborasikan dan menganalisis bahwa adanya proses konvergensi simbolik
sehingga memunculkan motif dan kesadaran para Kompasianer seputar PILPRES
2014.
(Kata Kunci : Literasi Politik, PILPRES dan Kompasianer)
i
KATA PENGANTAR
Demi Dia yang bersumpah dengan waktu, alam semesta dan segala
keindahannya, saya sematkan puja dan puji untukNya. Dengan setetes cinta yang
tak berbanding, Dia kuatkan sendi-sendi perjuangan dan kesabaran dalam
mendayuh hidup ini. Semoga rasa syukur yang kurang ini, Engkau terima ya
Allah. BersamaMu, saya bulatkan tekad, luruskan niat dan sempurnahkan ikhtiar
untuk sebuah episode yang lebih bermakna.
Bagimu baginda Islam, saya haturkan shalawat untuk kemuliaan dan
ketangguhanmu. Risalah kenabianmu kini menjadi dambaan setiap ummat yang
menginginkan kedamaian dan ketenteraman hidup di dunia dan akhirat. Semoga
dengan bimbingan dan nasihatmu, saya menjadi muslim yang tangguh dan
bermanfaat bagi agama, bangsa dan sesama manusia. Engkaulah Muhammad
Rasulullah, saya bersaksi.
Terimakasih yang teristimewa saya persembahkan pada semua pihak yang
telah membantu kelancaran penelitian skripsi ini, baik berupa dorongan moril
maupun materil. Tanpa bantuan dan dukungan tersebut, sulit rasanya untuk dapat
menyelesaikan skripsi ini tepat waktu. Pada kesempatan ini,
peneliti
menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si, dosen pembimbing yang senantiasa
meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan masukan tentang
penyusunan skripsi ini.
2. Orangtua tercinta Ayanda Imam Syafe’i dan Bunda Suparni, yang
senantiasa men-support secara moril juga materil demi kelancaran skripsi
ii
ini. Keikhlas, kesabaran, dan kegigihan mereka dalam mewujudkan
kesetaraan pendidikan pada keluarga, menjadi cermin terbaik bagi peneliti
untuk lebih serius belajar hingga menuntaskan skripsi ini. Cinta dan doa
mereka yang tak pernah putus, juga menjadi suplemen terkuat bagi peneliti
agar terus memelihara dan mewujudkan cita-cita.
3. Kakak-kakakku tersayang, Denny Aryanto Putro SE, Andika Dwi Putro,
dan Shulhan Rumaru S.Sos.I, yang tak henti menunjukkan rasa sayang dan
panutan peneliti, serta menjadi alasan terbaik bagi peneliti agar terus
berusaha maksimal dalam meraih cita-cita. Untuk kakak-kakakku, “be the
best you can be”.
4. Dr. Arif Subhan, M.A, Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
Suparto Ph.D, M.Ed, Wakil Dekan Bidang Akademik. Drs. Jumroni M.Si,
Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum. Drs. Wahidin Saputra M.A,
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama.
5. Rachmat Baihaky M.A, Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu komunikasi, dan Fita Faturrohmah, M.A,
Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
6. Seluruh dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah
mendidik dan memberikan ilmu yang bermanfaat kepada peneliti selama
menempuh pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semoga peneliti
dapat mengamalkan ilmu yang telah Bapak dan Ibu berikan.
7. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
yang telah membantu peneliti dalam urusan administrasi selama perkuliahan
dan penelitian skripsi ini.
iii
8. Seluruh staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah
dan Ilmu Komunikasi yang telah melayani peminjaman buku-buku literatur
sebagai referensi dalam penyusunan skripsi ini.
9. Seluruh pejabat dan staf admin Kompasiana yang dengan ramah telah
menyilahkan peneliti untuk melakukan penelitian terkait skripsi. Secara
khusus terimakasih dihaturkan pada Kang Pepih Nugraha dan Mas Iskandar
Zulkarnaen yang selalu meluangkan waktu untuk wawancara, juga Mba
Resya dan Mba Nissa yang sangat rajin dan cekatan dalam menanggapi
semua
keperluan
adminisntrasi
peneliti,
serta
seluruh
informan
kompasianer.
10. Sahabat sekaligus saudara terkasih Nurfajria dan Nurul Mutmainah seatap,
seperjuangan yang tak henti memberi canda tawa serta masukan atas keluh
kesah peneliti dalam penyusunan skripsi ini. Welcome to the real life guys,
Allah bless us.
11. Keluarga besar DEMA FIDKOM, Bimo Wahyu, Eki, Habib, Tanto, Jehan,
Vivih, Fiqih, Gadis, Amini, Muis, Ridho dan lainnya yang tidak bisa
peneliti sebutkan satu persatu. Untuk mereka, teruskanlah dedikasimu untuk
bangsa, agama dan negara kawan
12. Keluarga besar Lembaga Pers Mahasiswa (LAPMI), Akmal, Khuluq,
Nuna, Melqi, Deni, Agita, Ma’ruf, Rahma, Tina Agustina, Haen, Destri,
Choir, Thoha, Firdaus, Faiz, Chachan, Ajeng Eka dll. Tetap semangat untuk
tetap berkarya ya kawan-kawan “Karya Kita Informasi Mereka”
13. Keluarga besar KMLA Garuda, Bang Yudi ”Djenggot”, Fahdi Fahlevi,
Abdul Rohman, Adit, Hairul Saleh, Virga Agesta, Manggala, Gardika Kay
iv
Rizka, Fathur Rahman, Ahmad Ghazali, Nurfajria, Budi Rahman S, Rifki
Hamdani, Monic, Budi Setiawan, Abit, Lilis, Ane dan semua anggota muda.
Untuk mereka, teruskan perjuangan para pioneermu dan lanjutkan
penjelajahanmu untuk Bumi yang lebih baik. Salam Rimba ”Terbang
Tinggi Tak Lupa Bumi.”
14. Teman-teman KPI B angkatan 2010, Midah, Dwi, Iin, Ulfa dll yang
senantiasa saling berbagi dalam suka dan duka selama menjalani
perkuliahan, serta selalu memberikan dukungan dan nasihat positif. Semoga
kesuksesan selalu menjadi takdir kalian.
15. Teman-teman KKN ANJAS: Nurfajria, Alfa, Indah, Zikri, Tanto, Bimo,
Ijal, Iqbal, Maria, Asri Wiwit, Uswah, Andika, Gega, Zizah dan Surya.
Tetap istiqomah berkontribusi untuk masyarakat.
16. Untuk semua pihak yang telah membantu dalam penelitian skripsi ini,
yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Tanpa mengurangi rasa hormat,
peneliti ucapkan terima kasih yang begitu besar. Semoga apa yang telah
dilakukan adalah hal yang terbaik dan hanya Allah yang dapat membalas
segala kebaikan dengan balasan terbaik-Nya. Amin.
v
Akhir kata, penelitian skripsi ini tentunya masih jauh dari sempurna, namun
diharapkan semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan segenap keluarga
besar civitas akademika Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Jakarta, 29 Agustus 2014
Tri Isniarti Putri
vi
DAFTAR ISI
ABSTRAK ............................................................................................
i
KATA PENGANTAR ............................................................................
ii
DAFTAR ISI ..........................................................................................
vi
DAFTAR TABEL ..................................................................................
ix
BAB
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...............................................
1
B. Batasan dan Rumusan Masalah ....................................
7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ......................................
8
D. Tinjauan Pustaka ..........................................................
9
E. Metodologi Penelitian ..................................................
10
F. Sistematika Penulisan ..................................................
15
II KAJIAN TEORI
A. Teori Konvergensi Simbolik .......................................
17
a. Elemen-elemen Konvergensi Simbolik ...................
21
B. Konseptualisasi Literasi Politik ...................................
26
1. Definisi Literasi Politik ..........................................
26
2. Muatan Pokok Literasi Politik .................................
28
a. Partisipasi Politik ...............................................
28
b. Jenis-jenis Partisipasi Politik ..............................
31
c. Pemahaman Kritis Warga Atas Hal-hal Pokok Terkait
Tentang Politik ..................................................
34
C. Konseptualisasi New Media ........................................
37
1. Definisi New Media .................................................
37
a. Dunia Maya (Cyberspace) ..................................
39
b. Netizen ...............................................................
40
c. Cyberdemocracy ................................................
42
2. Karakteristik New Media ........................................
47
3. Internet Sebagai New Media ...................................
49
vii
BAB
4. Internet Sebagai Saluran Komunikasi Politik ..........
53
D. Konseptualisasi Sosial Media (Social Media)...............
55
1. Pengertian Sosial Media .........................................
55
2. Karakteristik Sosial Media .....................................
57
3. Jenis-jenis Sosial Media .........................................
59
III GAMBARAN UMUM KOMPASIANA
A. Profil Kompasiana ......................................................
63
1. Sejarah Berdirinya Kompasiana .............................
63
2. Struktur Organisasi Kompasiana ............................
66
3. Logo Kompasiana ..................................................
67
B. Produk Kompasiana ....................................................
68
1. Citizen Journalism .................................................
68
2. Freez ......................................................................
71
3. Kanal Jakarta Lebih Baik .......................................
72
4. Kanal Fiksiana .......................................................
73
5. Kanal Kotak Suara 2014 .........................................
74
6. Gempita Brasil 2014 ..............................................
75
C. Aktivitas Kompasiana .................................................
76
1. Kompasianival .......................................................
76
2. Monthly Discussion (MODIS) ................................
77
3. Kompasiana Nangkring ..........................................
78
4. Kompasiana Blogshop ...........................................
79
5. Kompasiana Blog Competition ...............................
79
D. Kanal Kotak Suara 2014 .............................................
80
1. Topik Pilihan Kawal Pemilu dan Pilpres ................
80
2. Pileg .......................................................................
82
3. Pilpres ....................................................................
82
4. Serba Serbi Pemilu .................................................
82
5. Polling ...................................................................
82
6. Pro Kontra .............................................................
83
7. Kandidat ................................................................
84
viii
BAB
IV ANALISIS DAN HASIL TEMUAN
A. Literasi Politik di Kompasiana ....................................
81
1. Pengetahuan ............................................................
86
2. Kemampuan Menulis (Skill) ...................................
91
3. Sikap ......................................................................
94
B. Pesan-pesan Literasi Politik Kotak Suara 2014 ........... 106
1. Disseminator ..........................................................
107
2. Publisist ................................................................. 110
3. Propagandis............................................................
112
4. Hactivist ................................................................. 117
C. Interpretasi Analisis Teks ............................................ 123
1. Analisis Tulisan 1 ................................................... 125
2. Analisis Tulisan 2 ................................................... 128
3. Analisis Tulisan 3 ................................................... 130
4. Analisis Tulisan 4 ................................................... 133
5. Analisis Tulisan 5 ................................................... 135
BAB
6. Visi Retoris 1 ..........................................................
139
7. Visi Retoris 2 ..........................................................
145
V PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................... 153
B. Saran ............................................................................ 154
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 155
LAMPIRAN .........................................................................................
ix
160
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR
BAB I
1.
Tabel 1
Perbedaan Antara 1.0 Web dan 2.0 Web ...................
3
BAB II
1.
Tabel 1
Jenis-jenis Partisipasi Politik ....................................
32
2.
Gambar 2
Alur Kerangka Penelitian .........................................
60
BAB III
1.
Tabel 1
Struktur Organisasi Kompasiana ...............................
66
2.
Gambar 1
Logo Kompasiana ....................................................
67
3.
Gambar 2
Produk Kompasiana Topik Pilihan ............................
69
4.
Gambar 3
Produk Kompasiana Headline ..................................
69
5.
Gambar 4
Produk Kompasiana Highlight ..................................
70
6.
Gambar 5
Produk Kompasiana Trending articles .......................
70
7.
Gambar 6
Produk Kompasiana Featured article .......................
71
8.
Gambar 7
Logo Freez ................................................................
71
9.
Gambar 8
Kompasiana Freez Cetak ...........................................
72
10. Gambar 9
Tampilan Home Page Kanal Jakarta Lebih Baik ........
73
11. Gambar 10
Logo Fiksiana ...........................................................
73
12. Gambar 11
Kegiatan Menulis di Fiksiana ....................................
74
13. Gambar 12
Kegiatan Menulis Seputar Pemilu di Kotak Suara .....
75
14. Gambar 13
Headline Kotak Suara 2014 .......................................
75
15. Gambar 14
Kompasiana Semarakan Piala Dunia Brazil ...............
76
16. Gambar 15
Kegiatan Kompasianival 2013 ...................................
77
17. Gambar 16
Reportase Acara Modis Bersama Tri Rismaharani .....
78
18. Gambar 17
Kegiatan Nangkring ..................................................
79
19. Gambar 18
Kompasiana Blog Competition ..................................
80
20. Gambar 19
Topik Pilihan di Kotak Suara 2014 ...........................
81
21. Gambar 20
Info Admin Tentang Kompasianer Mengawal Pemilu
81
22. Gambar 21
Info Admin Kompasiana Tentang Polling ..................
83
23. Gambar 22
Info Admin Kompasiana Tentang Pro Kontra ............
84
x
24. Gambar 23
Info Admin Kompasiana Tentang Sosok Calegmu di
Rubrik Kandidat ..............................................................................
85
BAB IV
1.
Gambar 1
Lipsus Kompasianer Kawal Pemilu ...........................
88
2.
Gambar 2
Lipsus Kompasianer Kawal PILPRES .......................
88
3.
Gambar 3
Kegiatan Modis Bersama Jokowi ..............................
90
4.
Gambar 4
Kegiatan Modis Bersama Wiranto ............................
91
5.
Gambar 5
Tulisan Kompasianer Perihal Politik .........................
94
6.
Gambar 6
Hasil Polling Tahap Awal .........................................
96
7.
Gambar 7
Hasil Polling Tahap Ke-2 ..........................................
97
8.
Gambar 8
Rubrik Diskusi Pro Kontra .......................................
99
9.
Gambar 9
Sikap Para Kompasianer Menyoalkan Ambang Batas
Pencalonan Presiden (Presidential Threshold) ................................. 100
10. Gambar 10
Proses Literasi Politik di Kompasiana ...................... 102
11. Gambar 11
Moderasi Admin Kompasiana .................................. 105
12. Gambar 12
Hasil Moderasi Admin ............................................. 106
13. Tabel 1
Tipologi Netizen Dalam Kepentingan Politik ............ 107
14. Tabel 2
Top Sites in Indonesia .............................................. 110
15. Gambar 13
Akun Bersifat Diseminator ....................................... 111
16. Gambar 14
Akun Bersifat Publisist ............................................. 112
17. Gambar 15
Akun Partai Gerindra dan Hanura .............................
18. Gambar 16
Akun Bersifat Propagandis Name Calling ................. 114
19. Gambar 17
Akun Bersifat Propagandis Glittering Generallites ... 115
20. Gambar 18
Akun Bersifat Propagandis Card Stacking ................ 116
21. Gambar 19
Akun Bersifat Propagandis Plain Folks ..................... 117
22. Gambar 20
Akun Bersifat Propagandis Band Wagon .................. 118
23. Gambar 21
Akun Bersifat Hactivist ............................................ 119
24. Gambar 22
Akun Cyber Army ..................................................... 120
25. Tabel 3
Contoh Penggunaan Internet di Kompasiana.............. 120
26. Tabel 4
Respon Kompasianer Terhadap Kanal Kotak Suara .. 123
27. Gambar 24
Model Initial Basic Concept ..................................... 125
28. Tabel 5
5 Sample Tulisan Kompasianer ................................
xi
113
125
29. Tabel 6
Hasil Analisis Konvergensi Simbolik ....................... 139
30. Gambar 25
Hasil Perolehaan Suara Legistlatif ............................
31. Gambar 26
Media Survey Politicawave ...................................... 147
32. Gambar 27
Media Trend Politicawave ........................................ 148
33. Gambar 27
Media Trend Politicawave ......................................... 148
34. Gambar 26
Analisis Visi Retoris di Kanal Kotak Suara 2014 ....... 152
xii
144
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Setiap lima tahunan, Indonesia mengadakan hajatan besar yaitu pemilihan
umum presiden dan legislatif, dimana hal itu menjadi momentum pergantian
kekuasaan yang meniscayakan kontestasi selama periode kampanye. Kontestasi
semakin panas sejalan dengan manuver politik pada tahapan sosialisasi dan
kampanye pemilu.
Hingar-bingar pilpres semakin muncul di permukaan, dengan ditandai
berbagai macam manuver politik yang dilakukan oleh setiap pasangan calon.
Seperti banyaknya spanduk dari pasangan kandidat yang bertebaran, membeli
segmentasi di media massa, blusukan ke kantung-kantung pemilih dengan tujuan
meraup simpati dan dukungan politik dari warga.
Kontestasi bukan cuma panas dan ramai di kalangan elit politik saja tetapi
kalangan masyarakat juga asyik membincangkan strategi dari tiap-tiap parpol
maupun kontestan perorangan, yang pada sisi lain dapat dilihat sebagai sebuah
proses literasi politik yang tengah berlangsung. Menurut pendapat Bernard Crick
dalam tulisannya Essay on Citizenship yang saya kutip dari tulisan Gun Gun
Heryanto, definisi literasi politik adalah pemahaman praktis tentang konsepkonsep yang diambil dari kehidupan sehari-hari dan bahasa. Merupakan upaya
memahami seputar isu utama politik.1
1
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, (Ciputat, Churia,
2012), h. 117.
1
2
Singkatnya, literasi politik merupakan senyawa dari pengetahuan,
keterampilan dan sikap. Crick menegaskan literasi politik lebih luas dari hanya
sekedar pengetahuan politik melainkan cara membuat diri menjadi efektif dalam
kehidupan publik dan dorongan untuk menjadi aktif, partisipastif dalam
melaksanakan hak dan kewajiban baik dalam keadaan resmi maupun area publik
yang sifatnya suka rela.2
Literasi politik dalam konteks pemilu dipahami sebagai kemampuan warga
masyarakat untuk mendefinisikan kebutuhan mereka akan substansi politik
terutama perihal pemilu. Mengetahui strategi pencarian informasi apa, siapa, dan
mengapa mereka harus memilih? Memiliki kemampuan untuk mengakses
informasi seputar kandidat yang akan mewakili mereka nantinya. Mampu
membandingkan dan mengevaluasi berbagai tawaran politik yang disodorkan
kepada mereka. Terakhir, mampu mengorganisasikan, membuat sintesis, serta
membentuk jejaring pemilih rasional dalam proses transaksional dengan
pemimpin yang akan diberi mandat kekuasaan oleh mereka.
Masa kampanye merupakan momentum yang tepat untuk melakukan
gerakan literasi politik. Dengan demikian, semestinya kampanye tidak sematamata mengemas citra melainkan juga mentransformasikan kesadaran dan
kemampuan untuk menjadi rational voter.
Substansi kekuatan literasi politik ada pada partisipasi politik warga negara
yang kritis dan memberdayakan terkait dengan konsep konsep pokok politik yang
akan berdampak pada kehidupan warga negara. Literasi politik bukanlah semata
konsep normatif, melainkan bauran antara pengetahuan, skil dan sikap politik.
2
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, (Ciputat, Churia,
2012), h. 117.
3
Media baru adalah salah satu alat untuk melakukan praktik literasi politik
yang cukup efesien dimana saat ini negara-negara dunia khususnya Indonesia
semakin marak dalam melakukan kegiatan politik di internet tentu ini melahirkan
ruang publik seperti yang sudah digagas oleh Habermas.
Perkembangan internet saat ini pun sudah memasuki web generasi 2.0,
dimana antar user sudah memungkinkan berinteraksi secara real time, interaktif,
dan multimedia. Situs jejaring sosial dengan segala aplikasinya yang tersedia telah
menumbuhkan minat sekaligus keinginan masyarakat untuk saling berbagi
informasi, kritik, himbuan, bahkan gerakan aktual (bertemu secara fisik) melalui
interaksi di dunia maya ini. Tesis the world is plat pun seolah mendapatkan
pembenaran sosial, dimana masyarakat semakin massif menggunakan media
online sebagai kegiatan berbincang-bincang dengan bebas. Kebebasan yang
dimaksud adalah dari dominasi Negara dan intervensi pasar.3
Tabel 1
Perbedaan Antara Web 1.0 dan 2.04
Web 1.0
Tersentral (dari satu sumber ke
banyak khalayak
cenderung one way communication
Terbuka peluang sumber atau media
untuk dikuasai
Media merupakan instrumen yang
melanggengkan
strata
dan
ketidaksetaraan kelas sosial
Terfragmentasinya khalayak dan
dianggap sebagai massa
3
Web 2.0
Tersebar (dari banyak sumber ke
banyak khalayk)
Many to many
Tertutupnya penguassan media dan
bebasnya kontrol terhadap sumber
Media memfaslitasi setiap khalayak
(warga negara)
Khalayak bisa terlihat sesuai dengan
karakter dan tanpa meninggalkan
keragamaan
identitasnya
masingmasing
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, (Jakarta: PT. Lasswell Visitama,
2011), h. 142
4
Rulli Nasrullah, Cyber Media, (Yogjakarta:CV. Idea Sejahtera, 2013), h. 17-18
4
Media dianggap dapat atau sebagai Media
melibatkan
pengalaman
alat memengaruhi kesadaran
khalayak baik secara ruang aupun
waktu
Masyarakat bisa berekspresi meluangkan pengetahuan, sikap dan skill yang
mereka punyai dengan sebebas-bebasnya tanpa ada rasa canggung dengan
meliputi pemahaman terkait demokrasi partisipatif, dimana warga negara
mengetahui bagaimana pemerintahan bekerja secara seharusnya, mengetahui dan
berlaku kritis terkait isu-isu krusial kemasyarakatan.
Tentu ini sendiri memunculkan ruang publik baru (new public sphere)
dalam proses penguatan demokrasi di dunia maya cyber. Internet termasuk
komunitas virtual di dalamnya, dapat menjadi perantara terbentuknya strukutur
masyarakat emansipatif dan bebas dari dominasi.
Hal ini menjadi fenomena komunikasi politik yang menarik dan merupakan
perkembangan kontemporer. Para aktor politik baik politisi (wakil maupun
ideologi), figur politik, birokrat, aktivis kelompok kepentingan (interest group),
kelompok penekan (pressure group) maupun jurnalis media massa, saat ini
semakin adaptif dengan penggunaan internet baik sifat statis maupun dinamis.5
Sebagaimana para pejabat, politisi atau tokoh nasional yang aktif menggunakan
media sosial di Twitter per April 2013 beserta jumlah pengikutnya berturut-turut
adalah Joko Widodo dengan 482.288 orang pengikut, Dahlan Iskan 348.140, Anis
Baswedan 209.923, Mahmud MD 122.188, Yusril Ihza Mahendra 136.986 dll. 6
5
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, (Jakarta: PT. Lasswell Visitama,
2011), h. 152.
6
Deddy Mulyana, Komunikasi Politik Politik Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2013), h. 22.
5
Medium internet memiliki potensi besar untuk mempersatukan dunia dan
menyalurkan upaya-upaya manusia untuk mempersatukan solusi bagi berbagai
problem kritis yang mengancam masa depan manusia. 7
Saat ini menurut data terakhir yang dilansir pada 30 September oleh
www.internetworstat.com menyebutkan data jumlah pengguna (user) internet di
dunia adalah 1,733,993,741. Pengguna internet di Asia yang berjumlah
738,257,230 merupakan jumlah yang terbesar jika dibanding kawasan dunia lain.
42,6 persen dari pengguna internet di dunia ada di Asia sementara 57,8 persen
lainnya tersebar di kawasan lain yakni: di Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin,
Afrika, Timur Tengah, dan Australia.8
Media kontemporer seperti internet dan khususnya media sosial semakin
penting dalam komunikasi politik, mulai dari tingkat lokal hingga global.
Sebagaimana
ditegaskan
Gates,
gagasan-gagasan
tentang
jejaring
dan
interaktivitas telah mendominasi wacana politik kontemporer dan iklan politik
terkini ditandai antara lain oleh obsesi terhadap serangkain problem teknologi atau
keasyikan teknologi mulai dari produktivitas riset, persaingan teknologi, dan
perlindungan kepemilikan intelektual, hingga ke pemahaman publik atas sains,
efek teknologi yang tak terduga, dan kebutuhan akan pelatihan teknik yang
berkelanjutan untuk mengantisipasi perubahan teknologi yang pesat. 9
Situs jejaring sosial (sosial network site) maupun web blog interaktif, kini
sama-sama menunjukan perannya untuk menjadi ruang publik bagi komunitas
virtual melalui proses konvergensi simbolik. Ide, informasi dan berita politik
7
Roger Fidler, Mediamorfosis, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2003), h. 394.
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, (Jakarta: PT. Lasswell Visitama,
2011), h. 155.
9
Deddy Mulyana, Komunikasi Politik Politik Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2013), h. 24.
8
6
dapat disebar melalui internet. Media online ini telah menjadi ruang publik virtual
dimana
orang-orang
dapat
menggunakannya
untuk
membaca
dan
mengekspresikan berbagai opini dan sikap politik mereka.
Tak ada lagi zona prosemik seperti pernah digagas Edward Hall, yang
membagi antara jarak intim (0-18 inci/ 46 cm), jarak personal (46 cm- 1,2 m),
jarak sosial (1,2 m- 3,6 m) jarak publik (melampaui 3,7 m). Dengan adanya situs
jejaring sosial dan Weblog interaktif, nampak bahwa komunikasi bisa
mengekspresikan emosi masing-masing individu lebih terakomodasi dibanding
hanya membaca hasil reportase jurnalis media massa tradisional10.
Kompasiana merupakan salah satu web blog interaktif dengan alamat
kompasiana.com, berbagai topik sosial politik hangat dibincangkan di antara para
partisipan dari berbagai kalangan, mulai dari jurnalis, politisi, mahasiswa, aktivis
LSM, akademisi, pensiunan jenderal dll.
Di bawah naungan unit usaha kompas Cyber Media (KCM) yang dipunyai
oleh Jakob Oetama ini dilahirkan pada tahun 2008. Kehadiran Kompasiana di
dunia maya cukup mumpuni, terbukti user Kompasiana pada saat ini berjumlah
170.000. Setiap hari, Kompasiana dibanjiri 800-1.000 artikel atau tulisan
masyarakat luas dari seluruh nusantara.
Kanal politik merupakan kanal favorit para user sebab mayoritas postingan
di Kompasiana didominasi tulisan bergenre politik dengan tulisan yang masuk
sekitar 300-500 tulisan perhari. Jelang Pilpres 2014 ini, Kompasiana
menghadirkan kanal khusus dengan alamat kotaksuara.kompasiana.com yang
bertujuan menampung semua tulisan terkait politik. Kanal ini dikelola layaknya
10
Gun Gun Heryanto dan Shulhan Rumaru,
(Jakarta: PT Ghalia Indonesia, 2013), h. 175.
Komunikasi Politik Sebuah Pengantar,
7
Kompasiana dengan model headline sebagai tulisan update dan tulisan yang
mengalir ke balong highlight.
Dengan format ini, Kompasiana menarik lebih banyak usernya yang suka
menulis politik untuk melaporkan lebih banyak isu-isu politik yang terjadi di
sekitar mereka. Kanal Kotak Suara 2014 menyaring lebih banyak peristiwa politik
yang terjadi di sekitar para pewarta warga Kompasiana atau yang lebih dikenal
sebagai Kompasianer.
Oleh karena itu, internet modern ini bisa menjadi salah satu saluran pokok
dalam literasi politik pada kajian komunikasi politik dimana para netizen dapat
leluasa mengaktualisasikan eksperesi sikap dan pandangan politiknya di dunia
maya.
Karena beberapa alasan diatas maka saya ingin meneliti dengan tema
“Literasi Politik Jelang Pemilihan Presiden (PILPRES) 2014 Di Media Sosial
Kompasiana”.
B.
Batasan dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:
a.
Berkaitan dengan Proses literasi politik jelang Pilpres 2014
b.
Media Sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah web
interaktif Kompasina
c.
Fokus pada kanal Kotak Suara 2014 dan struktur yang dianalisis
hanya struktur dasar
8
2. Rumusan Masalah
Mengacu pada pembatasan masalah di atas, maka peneliti membuat
perumusan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana cara literasi politik jelang Pilpres 2014 di Media Sosial
Kompasiana?
b. Apa saja pesan literasi politik yang ada di kanal Kotak Suara 2014?
C.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.
Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui bagaimana proses literasi politik jelang Pilpres
2014 di media sosial Kompasiana
b. Untuk mengetahui sejauh mana pesan-pesan literasi politik jelang
Pilpres 2014 di kanal Kotak Suara 2014
2.
Manfaat Penelitian
a.
Manfaat Akademis: Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan
memperkuat
khasanah
keilmuan
komunikasi
politik
dengan
pendekatan literasi politik bagi civitas akademika Fakultas Ilmu
Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
b.
Manfaat Praktis: Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan
gambaran mengenai proses literasi politik jelang pemilihan presiden
(pilpres) 2014 di Kompasiana, dan apa saja pesan-pesan literasi
politik yang terdapat di kanal Kotak Suara 2014, serta menjadi
masukan mengenai manfaat dan pentingnya literasi politik.
9
D.
Tinjauan Pustaka
Dalam melakukan penyusunan, penulis melakukan tinjauan pustaka yang
merujuk pada displin ilmu Komunikasi Politik yaitu:
1.
Penelitian skripsi tahun 2013 dari Akmal Fauzi, Jurusan Komunikasi
Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta yang diberi judul : Pemanfaatan Media
Sosial Dalam Survei Politicawave Pada Pilkada DKI jakarta 2012
Persamaan penelitian ini dengan peneliti sebelumnya sama-sama
meneliti tentang media sosial atau peran media sosial dalam
penyelenggaraan politik. Akmal Fauzi lebih fokus meneliti tentang
survei online yang dilakukan oleh politicawave.com terkait elektabilitas
kandidat cagub dan cawagub dalam Pilkada DKI Jakarta 2012.
Sedangkan saya meneliti tentang konvergensi simbolik politik di media
baru, dimana proses literasi politik beralih ruang dari ruang publik
konvesional ke ruang publik baru (new public sphere). Dalam hal ini,
saya meneliti aktivitas literasi politik di media sosial Kompasiana
terkait Pilpres 2014.
2.
Penelitian disertasi tahun 2013 dari Gun Gun Heryanto, Jurusan
Komunikasi Politik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran
Bandung yang diberi judul: Konvergensi Simbolik di Komunitas
Virtual: Studi Pada Ruang Publik Baru Dalam Komunitas Politik
di Situs Jejaring Sosial dan Weblog Interaktif Era Pemerintahan
SBY Boediono Dalam Kasus Century Tahun 2013
Persamaan penelitian ini dengan peneliti sebelumnya sama-sama
10
meneliti tentang konvergensi simbolik dalam komunitas politik di situs
jejaring sosial. Gun Gun Heryanto lebih fokus pada konvergensi
simbolik di era pemerintahan SBY Boediono terkait dalam kasus
century tahun 2013. Sedangkan saya meneliti tentang konvergensi
simbolik politik di media baru, dimana proses literasi politik beralih
ruang dari ruang publik konvesional ke ruang publik baru (new public
sphere). Dalam hal ini, saya meneliti aktivitas literasi politik di media
sosial Kompasiana terkait Pilpres 2014.
E.
Metodologi Penelitian
1.
Metode Penelitian
Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas
dunia nyata. Sebagaimana dikatakan Patton, paradigma tertanam kuat dalam
sosialisasi para penganut dan praktisinya. Paradigma menunjukkan pada
mereka apa yang penting, absah, dan masuk akal. Paradigma juga bersifat
normatif, menunjukkan kepada praktisinya apa yang harus dilakukan tanpa
perlu melakukan pertimbangan eksistensial atau epistimologis yang
panjang. 11
Penelitian
ini
menggunakan
paradigma
konstruktivis.
Secara
epistimologi paradigma konstruktivis memandang suatu realitas atau temuan
suatu penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang
diteliti. Secara metodologis paradigma konstruktivis lebih menekankan
11
Dedi Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2007), h. 9.
11
kepada empati, dan interaksi dialektis antara peneliti-responden untuk
merekonstruksi realitas yang diteliti melalui metode-metode kualitatif.12
Pendekatan yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah
kualitatif, bertujuan menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya
melalui pengumpulan data. Pendekatan kualitatif menurut Kirk dan Miller
bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan
sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia,
baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya. 13
Bogdan dan Taylor mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. 14
Jenis metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah
studi kasus intrinsik (intrinsic case studies). Menurut John W. Creswell,
studi kasus merupakan strategi penyelidikan, dimana peneliti mengekplorasi
dan memahami secara mendalam terhadap sebagian atau keseluruhan dari
program, acara, aktivitas, maupun proses. Peneliti mengumpulkan informasi
secara rinci dengan menggunakan berbagai proses pengumpulan data
selama periode waktu yang berkelanjutan.15
Dalam penelitian ini, peneliti mengeksplorasi terkait tentang literasi
politik jelang pemilihan presiden 2014 di media sosial kompasiana serta
12
Rachmat Kriyantono, Tehnik Praktis Riset Komunikasi. (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2010), h. 52.
13
Nurul Hidayati, Metodologi Penelitian Dakwah dengan Pendekatan Kualitatif (Jakarta:
UIN Jakarta Press, 2006), Cet ke 1, h. 7.
14
Lexy J. Moeleng, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
1993), Cet ke 10, h. 3.
15
John W. Creswell, Reserach Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods
Approaches-3rd ed (California, SAGE Publications Inc, 2009), h. 13.
12
pesan-pesan literasi politik yang terdapat di kanal kotaksuara.com dengan
Teknik Pengumpulan Data:
1.
Wawancara: Untuk mendapatkan informasi yang akurat dan
memperkuat data, maka peneliti melakukan wawancara bebas
terpimpin (Semi Structured Interview) yaitu wawancara dengan
menggunakan interview guide atau pedoman wawancara yang dibuat
berupa daftar pertanyaan. 16 Peneliti mewawancarai Pepih Nugraha
selaku pendiri Kompasiana sekaligus sebagai Redaktur Pelaksana
Kompas.com, kemudian mewawancarai Iskandar Zulkarnaen selaku
Editor Kompasiana dan Shulhan Rumaru selaku Staf Admin
Kompasiana. Selanjutnya peneliti mewawancarai tiga informan yang
relevan dengan substansi masalah penelitian. Adapun wawancara akan
dilakukan dengan informan yang terlibat aktif seputar politik 2014 di
Kompasiana.
2.
Observasi: dimana peneliti mengamati langsung objek yang diteliti.
Peneliti menggunakan jenis observasi partisipan-membership,17
dimana peneliti juga aktif sebagai anggota atau bagian dari komunitas
bloger Kompasiana atau yang biasa disebut kompasianer.
3.
Dokumentasi:
Peneliti
melakukan
dokumentasi
dengan
mengumpulkan data yang berasal dari buku-buku sebagai referensi
yang berkaitan dengan objek penelitian. Mempelajari, menelaah dan
mengkaji dokumen-dokumen tertulis, foto dan video yang terkait
16
Denzin, Norman K, Lincoln, Yvonna S, Handbook of Qualitative Research, Dariyanto
dkk (edisi terjemahan Indonesia.), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009).
17
Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2006), h. 64.
13
dengan literasi politik jelang pilpres 2014 di media sosial
Kompasiana. Selain itu, ada pula penggunaan data-data yang
bersumber dari internet berupa artikel-artikel media massa, dan
laporan hasil penelitian lainnya.
2.
Teknik Olah Data
Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, peneliti
mengolahnya dengan melakukan editing atau memeriksa kejelasan dan
kelengkapan data, kemudian data dipelajari dan ditelaah. Dalam penelitian
ini, peneliti menampilkan data dalam bentuk tabel dan foto terkait literasi
politik jelang pilpres 2014 di Kompasiana, kemudian dideskripsikan sesuai
dengan rumusan masalah.
3.
Teknik Analisis Data
Peneliti melakukan analisis data dengan analisis deskriptif, yaitu
dengan menganalisis setiap data atau fakta yang ditemukan melalui hasil
pengumpulan data, kemudian di deskripsikan secara konkret terkait literasi
politik jelang pilpres 2014 di Kompasiana.
Kemudian data tersebut diperoleh dan dianalisis melalui model Milles
dan Hubermas yaitu tiga alur kegiatan yang akan dilakukan secara
bersamaan yakni melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan serta verifikasi.18
Reduksi data merupakan sebuah proses pemilihan, pemusatan
perhatian pada penyederhanaan, pengabstraksian dan transformasi data
kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Data kualitatif
18
Milles, Matthew dan Huberman, Qualitative Data Analysis (London: Sage Publication,
1984) diterjemahkan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi, Jakarta, Universitas Indonesia Press.
14
disederhanakan ditransformasikan dalam aneka ragam cara, seperti seleksi
dan penyortiran ketat ringkasan. Data yang diperoleh dari lapangan secara
bertahap direduksi dalam pengertian dirangkum, dipilih dan difokuskan
padahal-hal yang terkait dengan literasi politik dan membuang data-data
yang tidak ada kaitannya dengan fokus penelitian. Di dalam reduksi data
ada dua proses, yaitu living in yang berarti memilih data yang dipandang
penting dan mempunyai potensi dalam rangka analisis data dan proses living
out yang berarti membuang data yang dipandang kurang penting dan kurang
memiliki potensi untuk analisis data. Peneliti melakukan reduksi terkait
tentang penyortiran data yang ditemukan pada tahap wawancara.
Penyajian data merupakan susunan sekumpulan informasi yang
memungkinkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Peneliti
berupaya menggunakan matriks teks, grafiks, gambar, bagan dan tabel,
disamping teks naratif untuk memperkokoh data yang telah diperoleh seperti
peneliti menyajikan data teks narasi yang berkaitan langsung dengan proses
konvergensi simbolik
Selanjutnya peneliti akan menarik kesimpulan-kesimpulan secara
longgar, tetap terbuka dan skeptis namun kemudian meningkat menjadi
lebih rinci dan mengakar dengan kokoh. Kesimpulan tersebut diverifikasi
selama proses penelitian melalui tinjauan atau pemikiran kembali pada
catatan-catatan lama secara terperinci dan seksama.
Selain alur teknik analisis tadi, penelitian ini juga memasukan teknik
analisis data yang mengikuti alur FTA (Fantasy Theme Analysis) yakni
dimulai dari Initial basic Concept. Istilah ini merupakan bagian komunikasi
15
primer yang mewakilkan keseluruhan konsep dasar dalam teks dan
perbincangan. Terdapat empat istilah yang masuk dalam konsep dasar yakni
Tema Fantasi, Tipe Fantasi, Symbolic cue dan Saga. menurut Jhon F
Cragan ada tiga tahap menjadi fokus dalam FTA yakni: stylistic, substantive
dan struktural qualities. Stilistik merupakan sesuatu yang langsung bisa
diobservasi. Substansi fantasi adalah isi pesannya itu sendiri. Terakhir,
adalah kualitas struktural. Ini merupakan bagian kerangka struktural dari
visi retoris yang dipertunjukan oleh para Kompasianer yang berdiskusi di
Kompasiana.
4.
Pedoman Penulisan
Dalam penulisan penelitian ini, peneliti mengacu pada Pedoman
Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) yang berlaku di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta yang disusun oleh Hamid Nasuhi dkk,
diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality Development and Assurance)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
F. Sistematika Penulisan
Untuk lebih mudah memahami pembahasan pada penelitian skripsi ini,
maka klasifikasi permasalahan dibagi dalam lima bab, pada masing-masing bab
terdiri dari sub bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I
PENDAHULUAN yang mengabstraksi keseluruhan bahasan. Bab
ini memuat: latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi
penelitian dan sistematika penulisan.
16
BAB II
KAJIAN TEORI pada bab ini, membahas tentang kajian teoritis
dan konseptual yang memuat tentang: Teori konvergensi simbolik,
Konseptualisasi literasi politik yang di dalamnya termasuk definisi,
muatan pokok, konseptualisasi new media yang di dalamnya
termasuk definisi, dunia maya, cyberdemocracy, karakteristik, dan
new media dalam komunikasi politik, konseptualisasi media sosial
yang di dalamnya termasuk definisi, karakteristik dan jenis-jenis.
BAB III
PROFIL
Kompasiana,
KOMPASIANA
Struktur
meliputi
Organisasi
Sejarah
Kompasiana,
berdirinya
Produk
Kompasiana, Aktifitas Kompasiana.
BAB IV
TEMUAN DAN HASIL ANALISIS adalah penyajian dan
analisis data yang diperoleh dari Kompasiana terkait tentang
literasi politik di dalamnya.
BAB V
PENUTUP adalah bagian yang berusaha menarik kesimpulan dan
saran dari seluruh masalah yang telah dibahas pada penulisan skripsi ini
17
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A.
Teori Konvergensi Simbolik
Sejak 1990-an kata konvergensi dipakai dalam perkembangan teknologi
digital, integrasi teks, angka, bayangan dan suara. Unsur yang berbeda-beda
dalam media yang umumnya ditelaah secara terpisah dalam bab-bab terdahulu.
Tetapi pada tahun 1970, kata konvergensi selanjutnya digunakan baik untuk
organisasi maupun untuk proses, terutama sekali bersatunya industri media dan
telekomunikasi. 19
Teori konvergensi simbolik pertama kali muncul oleh Bales kemudiam teori
tersebut dipopulerkan dan dikembangkan oleh Ernest Bormann dengan kelompok
mahasiswa dari universitas Minnesota (1960-1970) menemukan proses sharing
fantasi. Konsep teori kovergensi simbolik yaitu tentang proses pertukaran pesan
yang menimbulkan kesadaran kelompok yang menghasilkan hadirnya makna,
motif dan juga persamaan bersama.20
Gun Gun Heryanto juga menambahkan bahwa teori konvergensi simbolik
kekuatan komunikasi di balik penciptaan kesadaraan umum (realitas simbolik)
yang disebut sebagai visi retoris. Visi retoris ini menyediakan sebuah bentuk
drama dalam bentuk cara pandang, ideologi dan paradigma berpikir.21
19
Asa Briggs& Petter Burke, Sejarah Sosial Media Dari Gutenberg Sampai Internet,
(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2000), h. 326.
20
Jhon F Cragan, Understanding Communication Theory: the Communicative Forces for
Human Actions, (Needham Heights: a Viacom Company, 1998), h. 97.
21
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, (Jakarta: PT. Lasswell Visitama,
2011), h. 158.
17
18
Dalam bukunya yang populer The Force of Fantasy Restoring the American
Dream, Ernest Bormann menyatakan bahwa tujuan teori ini adalah menjelaskan
bagaimana para individu berbincang antar satu dengan yang lainnya sehingga
mereka berbagi kesadaran umum dan menciptakan rasa memiliki identitas dan
komunitas.
“ Theory of symbolic convergence provided a critical key to open
up the way of communication under study worked to create a
shared consciousness”22
Menurut Ernest Bormann kata lain dari proses konvergensi simbolik adalah
tema fantasi. Tema fantasi adalah pesan yang didramatisi seperti permainan katakata, cerita, analogi, dan pidato yang menghidupkan interaksi dalam kelompok.
Artinya Dalam konvergensi simbolik mengalir dari communicators (fantasizers),
communicating (fantasizing) melalui pengungkapan tema fantasi di sebuah
organisasi kelompok atau publik.23
Oleh karena itu setiap individu akan saling berbagi fantasi karena kesamaan
pengalaman atau karena orang yang mendramatisi pesan memiliki kemampuan
retoris yang baik. Sekumpulan individu ini dapat berasal dari orang-orang yang
sudah lama saling kenal, kemudian saling berinteraksi dan bertukar dan
bertukaran pengalaman yang sama sehingga menimbulkan proses konvergensi
simbolik.
Symbolic Convergence Theory (SCT) menjelaskan bahwa makna, emosi,
nilai dan motif untuk tindakan di retorika yang dibuat bersama oleh orang yang
mencoba untuk memahami dari pengalaman yang umum seperti keragaman
22
23
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, h. 159.
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, h. 159.
19
kehidupan. Teori ni mengupas tentang fenomena pertukaran pesan yang
memunculkan kesadaran kelompok yang berimplikasi pada hadirnya makna,
motif dan perasaan bersama. Artinya teori ini berusaha menerangkan bagaimana
orang-orang secara kolektif membangun kesadaran simbolik bersama melalui
suatu proses pertukaran pesan untuk bertindak bagi orang-orang atau kumpulan
orang yang terlibat di dalamnya.24
Tentu dalam membangun kesadaran simbolik dibutuhkan komunikasi yang
efektif dan teliti. Menurut Onong Uchjana Effendy dalam proses pertukaran pesan
atau sedang melakukan komunikasi tentu ada beberapa hambatan yang bisa
merusak komunikasi. Berikut ini hal yang merupakan hambatan komunikasi yang
harus menjadi perhatian bagi komunikator yaitu diklarifikasikan menjadi dua
gangguan.25
1. Gangguan Mekanik (mechanical, channel noise)
Gangguan mekanik ialah gangguan yang disebabkan saluran komunikasi
atau kegaduhan yang bersifat fisik seperti gangguan suara ganda
(interfensi) pada pesawat radio disebabkan dua pemancar yang
berdempetan gelombangnya dll.
2. Gangguan Semantik (semantic noise)
Gangguan jenis ini bersangkutan dengan pesan komunikasi yang
pengertiannya menjadi rusak. Gangguan semantik tersaring ke dalam
pesan melalui penggunaan bahasa. Lebih banyak kekacauan mengenai
pengertian suatu istilah atau konsep yang terdapat pada komunikator,
24
Jhon F Cragan, Understanding Communication Theory: the Communicative Forces for
Human Actions, (Needham Heights: a Viacom Company, 1998), h. 97.
25
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti, 2003), Cetakan Ketiga, h. 45
20
akan lebih banyak gangguan mekanik dalam pesannya. Gangguan
semantik terjadi dalam salah pengertian. Semantik adalah pengetahuan
mengenai pengertian kata-kata. Lambang kata yang sama mempunyai
pengertian yang berbeda untuk orang-orang yang berlainan. Ini
disebabkan dua jenis pengertian mengenai kata-kata, ada yang
mempunyai pengertian denonatif dan pengertian konotatif.
Selanjutnya konvergensi simbolik menjelaskan bagaimana cara manusia
berbagi realitas simbolik yang umum seperti “ Perang Dingin” atau “American
Dream”. Para ilmuan telah menggunakan kovergensi simbolik untuk menjelaskan
komunikasi dalam kampanye politik, pidato, retorika, advertising, small group
discussion, budaya organisasi, program kartun, marketing dan aktivitas relations26
Menurut Cragan ada 5 asumsi teori konvergensi simbolik yaitu:27
a. Isi pesan langsung untuk menghadirkan makna, emosi dan motif : ini
merupakan asumsi yang menekankan bahwa pemaknaan merupakan
pesan yang didramatisasikan
b. Realitas diciptakan secara simbolik: asumsi ini menekankan bahwa
anggota komunitas retoris berpartisipasi untuk memperoleh tema fantasi
c. Sharing fantasi menciptkan konvergensi: asumsi ini mengidentifikasikan
bahwa fakta simbolik, ditandai oleh satu orang lantas dibentuk lagi oleh
yang lain sehingga menjadi kesadaran umum
26
Lihat Disertasi Gun Gun Heryanto, Doktor lulusan Universitas Padjajaran (UNPAD)
Bandung, Jurusan Ilmu Komunikasi Prodi Komunikasi Politik, dengan judul Konvergensi Simbolik
di Komunitas Virtual: Studi pada Ruang Publik Baru dalam Komunikasi Politik di Situs Jejaring
Sosial dan Weblog Interaktif Era Pemerintahan SBY-Boediono dalam Kasus Century, Disertasi ini
disahkan tahun 2013. h. 45.
27
Jhon F Cragan, Understanding Communication Theory: the Communicative Forces for
Human Actions, h. 98.
21
d. Tema fantasi dapat muncul dalam seluruh bentuk diskursus; asumsi ini
mengidentikan tema fantasi dapat muncul baik dalam bahasa rasional
maupun maupun bahasa imaginative
e. Dalam beberapa subyek, sekurang-kurangnya terdapat tiga struktur yang
mendalam yakni: kepatutan, sosial, dan analogimaster pragamatik
1. Elemen-elemen Konvergensi Simbolik
Elemen-elemen dalam anatomi konvergensi simbolik terdiri dari struktur
dasar (basic structure), struktur pesan (message structure), struktur dinamis
(dynamic structure), struktur komunikator (communicator structure), struktur
medium (medium structure) dan struktur evaluatif (evaluative structure).28
Unit analisis utama dalam struktur dasar adalah tema fantasi. Sementara
kategori-kategori khusus yang merupakan kelanjutan dari unit utama tema fantasi
adalah : tipe fantasi, inisial simbolik dan saga29
a. Tema Fantasi, merupakan penanda mengenai sesuatu yang harus
ditemukan dalam komunikasi. Hal ini adalah bagian dari pesan dramadrama besar yang panjang dan rumit dari sebuah cerita yang dipaparkan
melalui visi retorik
b. Isyarat Simbolik (symbolic cue) merupakan indikator retorik ata kode
yang mendukung tema fantasi. Biasanya berwujud kata, frase atau
simbol
28
Lihat Disertasi Gun Gun Heryanto, Doktor lulusan Universitas Padjajaran (UNPAD)
Bandung, Jurusan Ilmu Komunikasi Prodi Komunikasi Politik, dengan judul Konvergensi Simbolik
di Komunitas Virtual: Studi pada Ruang Publik Baru dalam Komunikasi Politik di Situs Jejaring
Sosial dan Weblog Interaktif Era Pemerintahan SBY-Boediono dalam Kasus Century, Disertasi ini
disahkan tahun 2013, h. 47.
29
Ibid, h. 47.
22
c. Tipe Fantasi, muncul saat anggota komunitas retorik berbagi kesamaan
di antara garis peran dalam drama-drama berbeda atau kualitas karakter
dalam drama dan tipe fantasi merupakan stok skenario yang digunakan
untuk menjelaskan kejadian-kejadian baru dalam bentuk dramatik yang
dikenal khalayak
d. Saga, ucapan yang senantiasa diulang-ulang dalam pencapaian
kehidupan seseorang, kelompok, komunitas, organisasi dan negara atau
bisa juga kaum puritan
Selanjutnya ada beberapa unsur penting membangun struktur pesan yakni
dramatis personae, scene, plotline dan sanksi agen. Dalam pandangan Bormann
yang dikutip dalam disertasi Gun Gun Heryanto yaitu:
1.
Visi retoris merupakan drama yang menghadirkan sebuah realitas
simbolik umum
2.
Dramatis Personae adalah penggambaran karakter dari visi retoris yang
diceritakan
3.
Scene merupakan detail lokasi dari tindakan
4.
Plotline menggambarkan tindakan atau plot visi
5.
Sanctioning Agent membenarkan penerimaan biasaanya melalui power
tertinggi
Struktur dinamis bisa dipahami sebagai struktur mendalam dari visi retoris
dalam proses konvergensi simbolik yang secara dominan terdiri dari righteous
master analogue, social master analogue dan pragmatic master analogue.30
30
Lihat Disertasi Gun Gun Heryanto, Doktor lulusan Universitas Padjajaran (UNPAD)
Bandung, Jurusan Ilmu Komunikasi Prodi Komunikasi Politik, dengan judul Konvergensi Simbolik
di Komunitas Virtual: Studi pada Ruang Publik Baru dalam Komunikasi Politik di Situs Jejaring
23
1.
Righteous Master Analogue, menggambarkan cara yang benar
melakukan sesuatu
2.
Social Master Analogue, menggambarkan hubungan manusiawi atau
interpersonal
3.
Pragmatic Master Analogue, menghadirkan efisiensi atau cara yang
dilakukan agar memiliki ongkos efektif dalam melakukan sesuatu
apapun sebaliknya
Struktur komunikator, ini menyangkut siapa saja yang membagi tema
fantasi untuk menciptakan rasa memilki realitas (sense of reality). Dalam konteks
ini, ada beberapa konsep fantasizers, retorical community dan communication
style.31
1.
Fantasizer sejumlah individu yang memosisikan diri lebih siap
dibanding yang lain
2.
Rhetorical Community, merupakan partisipan dalam sebuah visi retoris
yang membagi kesadaran bersama
3.
Communication Style, menggambarkan penggunaan bahasa yang luas
dari komunitas yang menciptakan diskurusus
Struktur medium, terdiri dari dua kategori yakni kategori group-sharing dan
public sharing. Sifar public sharing melibatkan banyak orang dalam jumlah besar
sementara group sharing melibatkan kelompok yang lebih terbatas.
Sosial dan Weblog Interaktif Era Pemerintahan SBY-Boediono dalam Kasus Century, Disertasi ini
disahkan tahun 2013, h. 49.
31
Ibid, h. 50.
24
Struktur evaluatif, terdiri dari kesadaran kelompok bersama (shared group
consciousness), reality link, fantasy theme artistry.32 Istilah shared group
conciousness ini merupakan sebuah evaluasi yang mengingatkan kita memeriksa
ulang proses konvergensi simbolik. Biasanya dalam konteks ini kita melihat
kolektivitas masyarakat yang telah berbagi tema fantasi atau memberi semacam
interpretasi terhadap realitas yang berlangsung.
Evaluasi
reality
link
sebenarnya
kontekstual
atau
keterhubungan
pembicaraan dengan realitas. Sementara theme artistry yakni penilaian kita
terhadap kreativitas retoris, kebaruan nilai kompetitif dari tema fantasi, symbolic
cue, fantasy types, saga dan visi retoris.
Menurut Walter Fisher manusia adalah seorang pencerita dan bahwa
pertimbangan akan nilai, emosi dan estetika menjadi dasar keyakinan dari
perilaku kita. Fisher juga mendefinsikan narasi sebagai tindakan simbolik katakata atau tindakan yang memilki rangkaian serta makna bagi siapapun yang hidup,
mencipta atau memberi interpretasi.33
Pernyatan Fisher pun didukung oleh Robert Rowland bahwa orang pada
dasarnya adalah seorang pencerita telah diadopsi oleh banyak displin ilmu
berbeda termasuk sejarah, biologi, antropologi, sosiologi, filsafat, psikologi dan
teknologi.34
32
Lihat Disertasi Gun Gun Heryanto, Doktor lulusan Universitas Padjajaran (UNPAD)
Bandung, Jurusan Ilmu Komunikasi Prodi Komunikasi Politik, dengan judul Konvergensi Simbolik
di Komunitas Virtual: Studi pada Ruang Publik Baru dalam Komunikasi Politik di Situs Jejaring
Sosial dan Weblog Interaktif Era Pemerintahan SBY-Boediono dalam Kasus Century, Disertasi ini
disahkan tahun 2013, h. 51.
33
Richard West & Lynn H. Turner, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi,
(Jakarta: Salemba Humanika, 2008), Edisi ke-3, h. 51.
34
Richard West & Lynn H. Turner, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, h.
44.
25
Pemikiran Fisher juga berupaya menggambarkan dan menjelaskan
komunikasi sebagai storytelling. Dalam pandangannya, storytelling bukanlah
aktivitas sesaat, melainkan proses yang terus-menerus dimana kita merasakan
dunia dan berkomunikasi satu sama lainnya, keuniversalan naratif ini mendorong
Fisher untuk mengemukakan istilah homo narrans (mahluk pencerita) sebagai
metafora untuk mendefinisikan kemanusiaan.35 Fisher juga berargumen bahwa
semua komunikasi adalah naratif dan naratif bukan genre khusus, melainkan
sebuah bentuk pengaruh sosial bahkan semua kehidupan disusun dari cerita-cerita
atau naratif.36
Menurut Fisher ada lima asumsi dasar yang dikemukakan Fisher yaitu: 37
a.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk pencerita
b.
Keputusan mengenai harga diri sebuah cerita didasarkan pada
“pertimbangan sehat” (good reasons)
c.
Pertimbangan yang sehat ditentukan oleh sejarah, biografi, budaya dan
karakter
d.
Rasionalitas didasarkan pada penilaian orang mengenai konstitensi dan
kebenaran sebuah cerita
e.
Kita mengalami dunia sebagai dunia yang diisi dengan cerita dan kita
harus memilih dari cerita yang ada
Ditambahkan juga bahwa narasi menurut Gorys Keraf dalam bukunya
Argumentasi
dan
Narasi
yaitu
suatu
bentuk
wacana
yang
berusaha
menggambarkan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang terjadi. 38
35
36
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, h. 159.
Richard West & Lynn H. Turner, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, h.
51.
37
46-50.
Richard West & Lynn H. Turner, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, h.
26
Unsur-unsur narasi bukan hanya sekedar tulisan semata tetapi ada hal-hal
lain yang kita sering jumpai yaitu argumentasi, eksposisi, dan deskripsi.
B. Konseptualisasi Literasi Politik
1. Definisi Literasi Politik
Sebagiamana yang dikutip pada tulisan Gun Gun Heryanto pada bukunya
Andi Faisal Bakti Dkk, awalnya term literasi ini populer digunakan di bidang
studi dokumen (perpustakaan) dan informasi. Information Literacy pertama kali
digunakan oleh Paul Zurkowski, President of The International Industry
Association pada tahun 1974 dalam proposalnya kepada The US National
Commission on Libraries and Information Science. Saat itu literasi informasi
dipahami sebagai seperangkat keterampilan dalam pencarian informasi dan
penggunaan hak. 39
Menurut pendapat Bernard Crick dalam tulisannya Essays on Citizenship,
definisi dasar tentang literasi politik adalah pemahaman praktis tentang konsepkonsep yang diambil dari kehidupan sehari-hari dan bahasa. Jika diartikan upaya
memahami seputar isu utama politik, apa keyakinan utama para kontestan,
bagaimana kecenderungan mereka mempengaruhi diri anda dan saya 40.
Singkatnya
literasi politik merupakan
senyawa
dari pengetahuan,
keterampilan dan sikap. Crick menegaskan literasi politik lebih luas dari hanya
sekedar pengetahuan politik, melainkan cara “membuat diri menjadi efektif dalam
kehidupan publik” dan dorongan untuk “menjadi aktif, partisipatif dalam
38
Gorys Keraf, Argumen dan Narasi, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004), h.
136.
39
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, (Ciputat, Churia,
2012), h. 117.
40
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, h. 117.
27
melaksanakan hak dan kewajiban baik dalam keadaan resmi maupun di arena
publik yang sifatnya suka rela”. 41
Dalam laporan “Workshop on Political Literacy”(2002) dengan topik
Political Literacy within ITT Citizenship Education menyimpulkan agar literasi
politik menjadi kenyataan, maka harus didefinisikan dan dibuat sebagai keahlian
berbagi sehingga aktivitas ini sarat dengan konten dan disampaikan melalui
transmisi
model.
Literasi
politik
ini
memiliki
potensi
memberikan
kewarganegaraan dengan dasar pengetahuan, ketelitian, sisi “keras” dan basis
intelektual.42
Merujuk pada Catherine Macrae dkk dalam Political Literacy Resource
Park43, literasi adalah bauran kompleks dari praktek-praktek sosial yang
memungkinkan orang untuk menjadi warga negara yang aktif dan efektif. Warga
komunitas dilengkapi pengetahuan dan tindakan dalam kehidupan mereka dalam
kaitannya dengan politik lokal, nasional, dan internasional. Literasi politik
mengacu kepada seperangkat keterampilan yang diperlukan bagi warga untuk
berpartisipasi dalam pemerintahan masyarakat. Singkatnya, ada kemampuan
untuk mandiri di depan pemerintah. Ini tidak berarti bertujuan untuk menjadi
seorang politisi karir, tetapi untuk berpikir dan bertindak sebagai konstituen
informasi sehingga para pejabat pemerintah tidak bisa menjadi siapa mereka tanpa
kita44
41
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, h. 117.
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, h. 118.
43
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, h. 118.
44
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, h. 118.
42
28
Report of Proceedings workshop ini pun menyimpulkan bahwa literasi
politik terutama bagi kelompok muda melibatkan sejumlah hal:45
ï‚·
Mengetahui di mana dan bagaimana keputusan dibuat dalam
masyarakat lokal, nasional dan internasional mengakui hak seseorang
untuk terlibat
ï‚·
Menjadi akrab dengan berbagai ide-ide politik, bahasa dan bentukbentuk argumen
ï‚·
Mengembangkan seperangkat pribadi yang memiliki nilai-nilai politik
dan memiliki keterampilan serta kepercayaan diri menerapkannya
dalam praktek
ï‚·
Kemampuan untuk terlibat secara efektif dalam dialog dengan orang
lain tentang isu politik bersama yang menjadi perhatian
2. Muatan Pokok Literasi Politik
a. Partisipasi politik.
Dalam analisis politik modern partisipasi politik merupakan suatu masalah
yang penting, dan akhir-akhir ini banyak dipelajari terutama dalam hubunganya
dengan negara-negara berkembang serta praktik politik di sebuah negara. Dalam
studi partisipasi politik, partisipasi politik bukanlah sejenis kepercayaan atau
keimanan, tapi juga bukanlah sikap seseorang terhadap sesuatu. Partisipasi politik
membutuhkan tindakan individu yang telah mendarat pada level psikomotorik
45
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, h. 117-118.
29
seseorang yang diwujudkan dengan perbuatan, bukan lagi pada level kognitif dan
afektif.46
Definisi umum dapat dikatakan bahwa partisipasi politik adalah kegiatan
seseorang atau kelompok untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik,
antara lain dengan jalan memilih pemimpin negara secara langsung atau tidak
langsung, memengaruhi kebijakan pemerintah (public policy). Kegiatan ini
mencakup tindakan seperti memberikan suara dalam pemilihan umum,
menghadiri rapat umum, menjadi anggota suatu partai atau kelompok
kepentingan, mengadakan hubungan (contacting) atau (lobbying) dengan pejabat
pemerintah atau anggota parlemen dan sebagainya. 47
Namun menurut TB Ace Hasan Syadzily dan Burhanudin, dalam literatur
tentang partisipasi politik paling tidak mencakup beberapa dimensi: ikut dalam
pemilihan umum (voting), kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kampanye
dan partai politik (kegiatan kampanye), kegiatan-kegiatan sosial
di tingkat
masyarakat (kegiatan sosial), kegiatan-kegiatan yang terkait dengan protes atau
demontrasi. 48
Menurut
Antiroiko,
Partisipasi
adalah
upaya
merancang
sekelompok prosedur yang melibatkan, dan menginformasikan publik sehingga
masyarakat dan tuntutannya dapat dijadikan sebagai input pembuatan keputusan. 49
Menurut Kaid bahwa partisipasi politik diartikan sebagai aktivitas warga
neragar yang bertujuan untuk memengaruhi kebijakan politik, menurutnya
46
Tb Ace Hasan Syadzily Burhanuddin, Civil Society& Demokrasi Survey Tentang
Partisipasi Sosial-Politik Warga Jakarta, (Ciputat: Incis, 2003), h. 16.
47
Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Edisi Revisi (Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2008), h. 367.
48
Tb Ace Hasan Syadzily Burhanuddin, Civil Society& Demokrasi Survey Tentang
Partisipasi Sosial-Politik Warga Jakarta, h. 70.
49
Ari Veikko Anttiroiko& Mati Malkia, Encylopedia of Digital Government, (USA: Idea
Group Reference), h. 151.
30
aktivitas prilaku warga yang dimaksud yaitu perilaku eksternal yang ditampakan
oleh warga negara melalui tindakan-tindakan votin, petisi dll.50
Dikutip dalam bukunya Miriam Budiardjo, Herbert McClosky seorang
tokoh masalah partisipasi berpendapat dalam Internarnational Encyclopedia of
the social Sciences, partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari
warga masyarakat melalui dimana mereka mengambil bagian dalam proses
pemilihan penguasa, dan secara langsung atau tidak langsung, dalam proses
pembentukan kebijakan umum (The term Political Participation Will ever to those
Voluntary activities by which members of a society share in the selection of rulers
and, directly or indirectly, in the Formation of public policy)51.
Maka penulis memberi kesimpulan bahwa dalam partisipasi politik
merupakan usaha-usaha masyarakat untuk menjadi diri lebih efektif dalam
kegiatan politik, tindakan yang diteropong yaitu untuk memengaruhi keputusankeputusan pemerintahan dan ini sangat berkaitan erat dengan kesadaran politik
masyarakat karena semakin sadar bahwa dirinya diperintah maka semakin
menjadi diri menjadi lebih efektif dan proposisi terbesar dalam masyarakat dalam
berpartisipasi secara politik adalah melalu pemilu.
Partisipasi politik berkenaan dengan tujuan suatu masyarakat, kebijakan
untuk mencapai suatu tujuan, serta sistem kekuasaan yang memungkinkan adanya
suatu otoritas untuk mengatur kehidupan masyarakat ke arah pencapaian tujuan
tersebut.
50
Henry Subiakto & Rachmah Ida, Komunikasi Politik, Media & Demokrasi, (Jakarta:
Kencana, 2012), h. 64.
51
Herbert McClosky, Political Participation International Encyclopedia of The Sosial
Sciences, Edisi ke-2, (New York: The Macmilan Company, 1972), XII, h. 252.
31
Menurut Myron Weiner terdapat lima hal yang menyebabkan timbulnya
gerakan ke arah partisispasi lebih luas dalam proses politik. 52
1.
Modernisasi: Komersialisasi pertanian, industrialisasi, urbanisasi yang
meningkatkan penyebaran kepandaian baca tulis, perbaikan pendidikan
dan pengembangan media massa
2.
Perubahan-perubahan struktur kelas sosial
3.
Pengaruh kaum intelektual dan komunikasi massa modern seperti
wartawan, ilmuwan, pengarang dll
4.
Konflik di antara kelompok-kelompok pemimpin politik
5.
Keterlibatan pemerintah yang meluas dalam urusan sosial, ekonomi dan
kebudayaan
b. Jenis-jenis Partisipasi Politik
Ada dua bentuk partisipasi politik. Pertama, partisipasi secara konvensional
dimana prosedur dan waktu partisipasinya diketahui publik secara pasti oleh
warga,
contohnya
pemilu
dan
kampanye.
Kedua,
partisipasi
secara
nonkonvensional dimana partisipasi politik tidak pernah mengindahkan etika
berpolitik, contohnya anarkis. 53
52
Mohtar Mas’oed & Colin MacAndrews, Perbandingan Sistem Politik, (Yogjakarta:
Gajah Mada University Press, 1995), h. 45-46.
53
Tb Ace Hasan Syadzily Burhanuddin, Civil Society& Demokrasi Survey Tentang
Partisipasi Sosial-Politik Warga Jakarta, h. 70.
32
Tabel 2.1
Perbandingan dari bentuk konvensional dan nonkonvensional.54
Konvensional
Nonkonvensional
Pemberian suara (voting)
Pengajuan petisi
Pemberian suara
Berdemonstrasi
Diskusi kelompok
Konfrontasi
Debat publik
Mogok
Kegiatan kampanye
Tindak kekerasan politik terhadap
harta benda, perusakan, pembakaran
Membentuk dan bergabung
Tindak kekerasan politik terhadap
dalam
manusia, penculikan, pembunuhan
kelompok kepentingan
Komunikasi individual dengan
Perang gerilya/revolusi, terror dan
pejabat politik/administrasi
fitnah
Partisipasi politik dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, dilihat dari
kegiatannya, tingkatannya, partisipasi politiknya dan tinggi rendahnya partisipasi
politik. yakni :55
a.
Dilihat dari kegiatannya, partisipasi politik dapat dibedakan menjadi
partisipasi politik aktif dan partisipasi politik pasif. Partisipasi aktif
dapat dilakukan melalui mengajuan alternatif kebijakan umum,
mengajukan petisi, membayar pajak dsb. Sementara partisipasi politik
pasif ditunjukkan melalui kegiatan yang mencerminkan ketaatan dan
penerimaan atas hal-hal yang menjadi keputusan pemerintah. Partisipasi
aktif berorientasi pada segi masukan dan keluaran dari suatu sistem
politik, sementara orientasi partisipasi pasif hanya apa aspek keluaran
dari sisten politik.
54
55
Mohtar Mas’oed & Colin MacAndrews, Perbandingan Sistem Politik, h. 45-46.
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, h. 190.
33
b.
Dilihat dari tingkatannya dapat dibedakan menjadi apatis, spektator dan
gladiator. Apatis artinya tidak menaruh perhatian sama sekali pada
kegiatan politik dan bersikap masa bodoh. Spektator berarti bahwa
orang yang bersangkutan setidak-tidaknya ikut menggunakan hak
pilihnya dalam pemilihan umum. Gladiator adalah tingkatan partisipasi
politik sampai pada keikutsertaan secara aktif dalam proses politik. Ada
yang membagi partisipan politik menjadi enam lapisan yakni :
pemimpin politik, aktivis politik, komunikator politik, warga negara
marginal dan orang yang terisolasi.
c.
Partisipasi politik dapat pula digolongkan sesuai dengan jumlah pelaku
yang terlibat di dalamnya. Atas dasar itu, partisipasi politik dapat
digolongkan menjadi partisipasi individual dan partisipasi kolektif.
d.
Di lihat dari tinggi rendahnya partisipasi politik dapat dibedakan
menjadi partisipasi aktif, partsipasi yang pasif tertekan (apatis),
partisipasi militan radikal, dan partisipasi yang tidak aktif. Aktif jika
masyarakat memiliki tingkat kesadaran politik yang tinggi dan percaya
pada sistem yang ada. Pasif tertekan apabila kesadaran politik ada dan
kepercayaan terhadap sistem politik sangat rendah. Militan radikal
apabila kesadaran politik masyarakat tinggi, sedangkan kepercayaan
terhadap sistem politik sangat rendah. Tidak aktif, jika kesadaran politik
masyarakat sangat rendah, tepi kepercayaan terhadap sistem politik
sangat sangat tinggi.
34
c. Pemahaman Kritis Warga Atas Hal-hal Pokok Terkait dengan Politik.
Pengertian politik sebagai usaha untuk mencapai suatu masyarakat yang
lebih baik dari pada yang dihadapinya atau yang disebut Peter Merkl yaitu politik
dalam bentuk yang pailng baik adalah usaha mencapai suatu tatanan sosial yang
baik dan keadilan (politics at its best is a noble quest for a good order and justice)
betapa samar-samar pun tetap
hadir sebagai latar belakang serta tujuan kegiatan politik.56
Dan Nimmo pun juga mendefinisikan politik adalah siapa memperoleh apa,
kapan, dan bagaimana, pembagian nilai-nilai orang yang berwenang, kekuasaan,
pengaruh, tindakan yang diarahkan untuk mempertahankan dan memperluas
tindakan lainnya.57
Gun Gun Heryanto menambahkan tentang politik (politics) bahwa adalah
bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau negara) yang
menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan sekaligus cara melaksanakan
tujuan-tujuan sistem itu. pengambilan keputusan (decision making) mengenai
apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik menyangkut seleksi antara
beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang telah
dipilih.58
Dengan demikian bahwa politik pada kesimpulannya bahwa politik dalam
suatu negara (state) berkaitan dengan masalah kekuasaan (power) pengambilan
56
Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, h. 15.
Dan Nimmo, Komunikasi Politik Komunikator, Pesan, dan Media, (Bandung: Remaja
RosdaKarya), h. 8.
58
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, h. 191.
57
35
keputusan (decision making), kebijakan publik (public policy), dan alokasi atu
distribusi (allocation or distribution).59
Dan tidak lupa untuk melaksanakan tujuan-tujuan ini perlu ditentukan
kebijakan-kebijakan umum (public policies) yang menyangkut pengaturan dan
pembagian (distribution) atau alokasi (allocation) dari sumber-sumber yang ada.
Untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan itu, perlu dimiliki kekuasaan (power)
dan kewenangan (authority), yang akan dipakai baik untuk membina kerjasama
maupun untuk menyelsaikan konflik yang mungkin timbul dari proses in. Caracara yang dipakainya dapat bersifat persuasi (meyakinkan) dan jika perlu bersifat
paksaan (coercion).60
Joyce M Mitchell dalam buku klasiknya Political Analysis and Public
Policy yang saya kutip dalam bukunya Gun Gun Heryanto, mendefinisikan politik
sebagai pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijaksanaan umum
untuk masyarakat seluruhnya.
Namun demikian terdapat sejumlah konsep-konsep pokok terkait politik
yang ditulis oleh Miriam Budiardjo.61
a. Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai
kekuasaan tertinggi yang sah dan yang ditaati oleh rakyatnya
b. Kekuasaan merupakan kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk
mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan
keinginan dari pelaku
c. Pengambilan keputusan (decision) adalah proses membuat pilihan diantara
beberapa alternatif sehingga keputusan itu tercapai. Pengambilan
59
Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, h. 14.
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, h. 191.
61
Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, h. 9-13.
60
36
keputusan sebagai konsep pokok dalam politik menyangkut keputusankeputusan yang diambil secara kolektif dan yang mengikat seluruh
masyarakat.
d. Kebijakan umum (public policy), merupakan kumpulan keputusan yang
diambil oleh seorang pelaku atau oleh kelompok politik dalam usaha
memilih tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan itu.
Pada prinsipnya pihak-pihak yang membuat kebijakan itu mempunyai
kekuasaan untuk melaksanakannya
e. Pembagian (distribution) dan alokasi (allocation) yakni pembagian dan
penjatahan dari nilai-nilai (values) dalam masyarakat. Dalam konteks ini
politik kerap dipahami sebagai upaya membagikan dan mengalokasikan
nilai-nilai secara mengikat. Pembagian ini sering tidak merata oleh
karenanya kerapkali menyebabkan konflik.
Sementara itu, menurut Ramlan Surbakti terdapat lima pandangan mengenai
politik:62
a. Politik adalah usaha bersama-sama yang ditempuh warga negara untuk
membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama
b. Politik adalah segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara
dan pemerintahan
c. Politik adalah segala kegiatan yang diarahkan untuk mencari dan
mempertahankan kekuasaan.
d. Politik sebagai kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan
pelaksanaan kebijakan umum
62
Ramlan Subakti, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia,
1992), h. 2.
37
e. Politik sebagai konflik dalam rangka mencari dan atau mempertahankan
sumber-sumber yang dianggap penting
Dalam bukunya The Repotition of Communication in the Dynamic of
Convergence bahwa internet merupakan dianggap simpul meningkatkan
partisipasi politik warga.63
Anwar Abugaza juga menambahkan bahwa politik berbasis kekuatan
elektoral dari internet menjadi ruang baru yang sangat menarik dalam kancah
politik indonesia. Masyarakat yang telah berinteraksi dengan internet khususnya
social media dalam keseharian mereka cepat atau lambat ketergantungan
komunikasi dengan sosial media akan terjadi dan akan memperbesar golongan
masyarakat kritis dan tentu perubahan dalam pola hubungan masyarakat turut
mendorong perubahan negara.64
Tentu dari pembahasan diatas maka konsen utama berbasis sosial media
adalah memperbesar kelompok masyarakat kritis guna mengetahui pokok-pokok
terkait tentang politik.
C. Konseptualisasi New Media
1. Definisi New Media
Media baru datang dan menonjol pada pertengahan tahun 1990, merebut
tempat multimedia di bidang bisnis dan seni, tidak seperti pendahulunya media
baru dulu tidak menampung semua interaksi dan digambarkan oleh media lain
sebagai media yang tua atau mati dan sangat kecil jangkauannya, media baru juga
63
Diah Wardhani& Afdal Makkuraga Putra, Repotition of Communication in the Dynamic
of Convergence Reposisi Komunikasi dalam Dinamika Konvergensi, (Jakarta: Krncana Prenada
Media Group, 2012), h. 187.
64
Anwar Abugaza, Social Media Gerak Massa Tanpa Lembaga, (Jakarta: PT. Tali
Writing& Publishing House, 2013), h. 11.
38
dahulu dianggap tidak menghapuskan diri dalam mendukung senang jika
pluralitas berlebihan. Tentu pluralitas tunggal frase adalah media baru saat itu.
Diarti pula sebagai kata benda jamak diperlakukan sebagai subjek tunggal.65
Saat ini, New media merupakan media baru atau media online yang
memungkinkan masyarakat berinteraksi satu dengan yang lain tanpa harus
bertemu secara fisik, seiring dengan perkembangan teknologi yang juga
memengaruhi perkembangan media saat ini, hadirnya media online ditengahtengah masyarakat global sangat menguntungkan dari segi kemanfaatannya, hal
ini dikarenakan media online telah menjadi ruang puplik virtual di mana orangorang dapat menggunakannya untuk mengekspresikan berbagai opini dan sikap
mereka atau hanya sekedar untuk berkomunikasi dan berinteraksi.
Roger Fidler mengenalkan istilah “metamorfosis” dalam perkembangan
teknologi media massa. Dalam hal ini media baru dipahami sebagai media yang
muncul dari inovasi-inovasi media lama yang kurang relevan dengan
perkembangan teknologi komunikasi sekarang. 66 Ditambahkan juga oleh Bolter
dan Grusin bahwa konten new meda, seperti world wide web (situs internet)
merupakan sebuah kombinasi dari konten-konten media yang sudah eksis dengan
format yang berbeda.67
Dijelaskan pula oleh A. Muis bahwa di awal milenium III ini kalangan
pakar teknologi komunikasi umumnya berpendapat, bahwa akan terjadi
pemekaran jenis-jenis media komunikasi massa yaitu akan muncul jenis-jenis
media baru. Sifatnya semakin canggih, volume pesan-pesannya semakin besar dan
65
Wendy Hui Kyong Chun & Thomas Keenan. New Media Old Media A History and
Theory Reader, (NewYork: Routledge, 2006), h. 1.
66
Roger Fidler, Mediamorfosis, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2003), h. 387.
67
Gun Gun Heryanto & Shulhan Rumaru ,Komunikasi Politik Sebuah Pengantar, h. 162.
39
kecepataannya kian tinggi tentu hal ini menyebabkan sifat aktualitas dan
kedekatan pesan-pesannya dengan pihak penerima di seluruh dunia (proximity)
yang juga tinggi. Ini akan terjadi semacam global proximity yaitu menyatukan
antara kedekatan geografis, kedekatan sosiologis, kedekatan kultural, dan
kedekatan psikologis di satu pihak dan khalayak (audience) di lain pihak.68
Dari fenomena diatas, satu hal yang tak bisa diabaikan, media baru ini
melahirkan komunitasnya sendiri karena sifatnya menyediakan, dan menciptakan
informasi dalam jumlah yang besar dan banyak sehingga akhirnya terbentuk
komunitas pengguna yang sesuai dengan minta dan kebutuhan.
Menurut Rheinggold melihat bahwa internet dan ruang siber (cyberspace)
memunculkan apa yang dinamakan sebagai komunitas virtual atau virtual
community yang terbentuk tidak dari elemen-elemen yang ada di dunia nyata.
Ruang siber pada dasarnya merupakan ruang konseptual dimana semua kata-kata,
hubungan antar manusia, data, kesejahteraan, dan juga kekuatan dimanifestasikan
oleh
setiap
orang
melalui
teknologi
CMC
atau
Computer
Mediated
Communication.69
a. Dunia Maya (Cyberspace)
Istilah “dunia maya” memiliki beberapa makna berbeda. Wood dan Smith
dalam bukunya Online Communication, Lingking Technology, Identitym
mengakui bahwa keberadaan kata cyberspace yang ditawarkan oleh keduanya
bukanlah sekedar halusinasi semata, melainkan lebih dekat kepada “consensual,
conceptual space”.70
68
Andi Abdul Muis, Indonesia di Era Dunia Maya, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2001, h.4.
69
Rulli Nasrullah, Cyber Media, (Yogjakarta: Idea Sejahtera, 2013), h. 191.
70
Rulli Nasrullah, Cyber Media, h. 25.
40
Dalam novel William Gibson (1984/1994). Neuromancer, istilah dunia
maya muncul pertama kalinya untuk merujuk pada jaringan informasi luas yang
oleh para penggunanya disebut dengan console cowboys akan “muncul”atau
koneksi langsung dengan sistem-sistem syaraf mereka.71
Dari konsep Gibson dunia maya adalah sekumpulan data, representasi grafik
demi grafik, dan hanya bisa diakses melalui komputer. Cyberspace digambarkan
oleh Gibson jauh sebelum teknologi internet berkembang dan untuk menjelaskan
gambaran “consensual hallucination” atau seolah-olah ruang atau sesuatu itu ada.
Menurut Miller dan Slater Cyberspace bermakna sebagai medium yang
digunakan untuk meningkatkan hubungan atau relasi ke arah yang lebih baru
dengan mengirim e-gifts atau e-card menggantikan kartu pos, memainkan
komputer dan melakukan simulasi terhadap kendaraan atau peralatan yang tidak
mungkin dilakukan secara nyata.72
b. Netizen
Istilah netizen bisa kita temukan dalam tulisan akademisi dari Columbia
Universuty Michael Hauben yang mendefinisikannya sebagai orang atau warga
internet (a net citizen) yang terkoneksi secara global. Secara fisik hidup di suatu
negara tetapi satu sama lain terhubung melalui komputer berjaringan global.
Pemisahan geografis digantikan oleh eksistensi di ruang virtual yang sama. 73
71
Werner J, Severin& Janes W. Tankard, Jr, Teori Komunikasi Sejarah, Metode, dan
Terapan di dalam Media Massa, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), Edisi Kelima, h.
446.
72
Rulli Nasrullah, Cyber Media, h. 25.
73
David Hill& Krishna Sen, Media, Culture and Politics in Indonesia, (South Melbourne:
Oxford University Press, 2007).
41
Licklider dan Tylor (1990) mendefinisikan empat prinsip komputer untuk
memberikan kontribusi terhadap komunikasi manusia” 74
ï‚· Komunikasi didefinisikan sebgai proses interaktif yang kreatif
ï‚· Waktu merespon harus cepat dan membuat percakapan gratis serta
mudah
ï‚· Jaringan yang lebih besar akan terbentuk dari daerah yang lebih kecil
jaringannya
ï‚· Masyarakat akan terbentuk berdasarkan kepentingan umum
Sementara dalam tulisan Mossberger, netizen juga kerap dipadankan dengan
istilah a digital citizen umumnya mengacu pada orang yang memanfaatkan
teknologi informasi (TI) dalam rangka keterlibatan di masyarakat, politik dan
partisipasi pemerintah. Dia mendefinisikan warga digital sebagai orang-orang
yang menggunakan internet secara teratur dan efektif. Dalam kualifikasi sebagai
warga digital, seseorang umumnya harus memiliki kemampuan, pengetahuan, dan
akses menggunakan internet melalui komputer, ponsel dan peangkat web untuk
berinteraksi dengan pribadi maupun publik.75
Oleh karena netizen merupakan warga digital yang menggunakan internet
atau penduduk virtual yang layaknya penduduk di dunia fisik tentu para netizen
harus beretika dalam menggunakan internet meski kita ketahui bahwa dunia
virtual merupakan dunia yang bebas tanpa dominasi.
74
Lihat Disertasi Gun Gun Heryanto, Doktor lulusan Universitas Padjajaran (UNPAD)
Bandung, Jurusan Ilmu Komunikasi Prodi Komunikasi Politik, dengan judul Konvergensi Simbolik
di Komunitas Virtual: Studi pada Ruang Publik Baru dalam Komunikasi Politik di Situs Jejaring
Sosial dan Weblog Interaktif Era Pemerintahan SBY-Boediono dalam Kasus Century, Disertasi ini
disahkan tahun 2013, h. 72.
75
Lihat Disertasi Gun Gun Heryanto, Doktor lulusan Universitas Padjajaran (UNPAD)
Bandung, Jurusan Ilmu Komunikasi Prodi Komunikasi Politik, dengan judul Konvergensi Simbolik
di Komunitas Virtual: Studi pada Ruang Publik Baru dalam Komunikasi Politik di Situs Jejaring
Sosial dan Weblog Interaktif Era Pemerintahan SBY-Boediono dalam Kasus Century, Disertasi ini
disahkan tahun 2013, h. 73.
42
Seperti yang dijelaskan oleh Pepih Nugraha bahwa pelaku netizen harus
mempunyai etika berinteraksi yang disebut netiquette, disebut netiquette karena
ada dua kata yang dijadikan satu yakni networks dan etiquette maka jadilah
netiquette. Dalam bahasa Indonesianya yaitu netiket. Netiket adalah etika
berinternet yakni berperilaku sesuai etiket saat tersambung ke jaringan internet. 76
Menurut Richard Craig dalam bukunya Online Journalism: Reporting,
Writing and Editing for New Media (2005), ada sepuluh netiket yang dijadikan
semacam ten commandments yaitu:77
1. Ingatlah orang
2. Taat kepada standar perilaku online yang sama yang kita jalani dalam
kehidupan nyata
3. Sadar keberadaan di ruang cyber
4. Hormati waktu dan bandwidth orang lain
5. Buatlah diri terlihat baik ber-online
6. Bagilah ilmu dan keahlian
7. Menolong agar api peperangan tetap terkontrol
8. Hormati privasi orang lain
9. Jangan menyalahkan kekuasaan
10. Memaafkan dengan mudah jika orang lain berbuat kesalahan
c. Cyberdemocracy
Cyberdemocracy merupakan konsep optimis yang muncul ke permukaan di
awal munculnya internet. Hal ini terkait dengan konsepsi awal ‘demokrasi
76
Pepih Nugraha, Ctizen Journalism Pandangan, Pemahaman dan Pengalaman, h. 116-
77
Pepih Nugraha, Ctizen Journalism Pandangan, Pemahaman dan Pengalaman, h. 116-
117
117
43
elektronik’. Pada 1970, Robert Paul Wollf menyatakan bahwa ‘tantangan untuk
menegakkan demokrasi adalah masalah teknis’ dan mengusulkan bahwa mesin
pemilihan suara elektronik di tempatkan di setiap rumah, melekat pada satu set
peralatan televisi. Cyberdemocracy sangat menekankan prinsip pada kebebasan
mengakses dan bertukar informasi. Sifat keterjangkauan dan partisipatif dari
Internet dilihat bisa membuat ruang demokrasi yang ideal dimana orang dapat
berkomunikasi dengan bebas dan berpartisipasi dalam forum yang dibentuk untuk
pengambilan keputusan kolektif. 78
Ketika kita kembali membahas pilar keempat kebebasan pers yang dianggap
superbody sekaligus mengawasi dan mengkritik konsep “trias politica” dari
pemikir politik Prancis Charles Louis de Secondat Baron de Montesquieu (16891755) yaitu tiga pilar demokrasi, yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif yang
mempunyai tugas dan wewenang masing-masing.79
Maka dengan perkembangan internet yang sudah memasuki 2.0 web maka
sebagai mana yang ditulis oleh Pepih Nugraha bahwa Cyberdemokrasi media
sosial merupakan pilar kelima demokrasi karena sangat menekankan prinsip pada
kebebasan mengakses dan bertukar informasi.
Ditambahkan pula oleh Michael Hauben, bapak netizen dunia mengatakan
bahwa kehadiran jaringan internet akan semakin memperkuat alam demokrasi di
dunia. Internet telah membuka mata masyarakat dunia tentang kejadian-kejadian
di berbagai belahan dunia tanpa batas teritori oleh sebab itu tidak salah bila media
sosial cyberdemokrasi adalah pilar demokrasi. 80
78
Jhon Hartley, Communcation Cultural, & Media Studies, (Yogjakarta: Jalasutra, 2010),
79
Pepih Nugraha, Citizen Journalism Pandangan, Pemahaman dan Pengalaman, h. 168.
Anwar Abugaza, Social Media Politicia Gerak Massa Tanpa Lembaga, h. 102-103.
h. 44.
80
44
Nicholas Negroponte pada 1995 menulis ‘akses, mobilitas, dan kemampuan
untuk menyebabkan perbedaan adalah yang akan membuat masa depan begitu
berbeda dari masa kini dan informasi digital akan menjadi kekuatan ‘hebat’
melebihi ekspektasi orang. Cyberdemocracy mendorong adopsi teknologi Internet
dan mempromosikan etos pertukaran bebas atas informasi yang tampaknya
berlanjut paling tidak pada proporsi aktivitas internet.
Sebagai alternatif, ketika Internet dilihat sebagai ruang publik, ia merupakan
forum dimana interaksi antarmanusia diukur dan dimana kuasa dari relasi
dikonfigurasikan, bagi Poster, secara potensial merupakan sesuatu yang lain
daripada demokrasi dalam bentuk apapun yang dapat kita bayangkan ada di masa
sekarang.81
Salah satu pertanyaan tentang cyberdemocracy ini adalah apakah ia
merupakan hasil jadi dari perkembangan teknologi atau apakah ia memerlukan
komitmen untuk mengembangkan jenis tertentu dari forum dan jaringan inklusif
dan terkonstruksi dengan prinsip demokrasi dalam pikiran. Banyak penulis
menunjukkan bahwa mayoritas forum online lebih menyerupai anarki atau
diktator
yang
totaliter
alih-alih
demokrasi.
Usaha
untuk
membangun
cyberdemocracy termasuk gerakan jaringan sipil, yang hendak menetapkan
infrastruktur dan aplikasi yang didesain untuk menghubungkan orang-orang
melalui kota digital.
Kesuksesan dari proyek seperti ini bergantung pada apakah cukup banyak
warganegara memiliki akses pada teknologi dan kemampuan untuk berpartisipasi
dalam proses demokrasi yang coba mereka hasut. Di sini, cyberdemocracy lebih
81
Jhon Hartley, Communcation Cultural, & Media Studies, h. 44.
45
tepat dikatakan sebagai sesuatu yang tertinggal dibandingkan dengan demokrasi
politik, yang membutuhkan warganegara yang melek huruf, dan selama beberapa
abad, telah masuk ke dalam infrastruktur (pendidikan dasar) untuk menghasilkan
warga negara yang melek huruf.82
Seperti yang sudah diungkapkan oleh Calbrese dan Borchert dalam buku
John Hartley, Communications, Cultural, & Media Studies, Yogyakarta: Jalasutra,
2010, jenis-jenis cyberdemocracy ini hidup dan akan tetap bertahan. Kenyataan
bahwa demokrasi jenis ini bersifat random, dilembagakan, dan ada di tempat
umum mungkin ‘bukan hal yang paling penting tentang demokrasi’. Dari sudut
ini, cyberdemocracy bukanlah mengenai penegasan bahwa cyberdemocracy itu
demokratis secara inheren, tetapi bahwa cyberdemocracy dapat bertahan hidup
dan ada ketika orang memilih untuk mewujudkannya. 83
Terjadinya pemekaran jenis-jenis media sebagai akibat kemajuan teknologi
komunikasi dan informasi yang luar biasa, globalisasi media pun meningkat
dalam kualitas. Jaringan internet global (cybercommunication) telah menciptakan
sebuah jalan raya yang sarat informasi yang amat luas dan seakan-akan tidak
berujung. Fenomena budaya komunikasi umat manusia itu merebak setelah tulisan
itu diturunkan di majalah CSIS-Analisis (1991). Tetapi gejalanya memang sudah
terasa sejak 1996. Peranan komunikasi internet cenderung menjadi sebuah jenis
media massa baru karena pengguna internet sudah massal. Intenet diibaratkan
sebuah “dunia maya” (dunia mimpi), atau planet yang sarat dengan rimba raya
informasi.84
82
Jhon Hartley, Communcation Cultural, & Media Studies, h. 44.
John Hartley, Communications, Cultural, & Media Studies, h 45.
84
Andi Abdul Muis, Indonesia di Era Dunia Maya, h. 62.
83
46
Tatkala TV telah menjadi bagian penting dalam budaya komunikasi umat
manusia saat itu telah dapat melihat dunia, dan TV pun dianggap sebagai “jendela
dunia” bagi umat manusia. Namun seiring perkembangan teknologi hadirnya
media baru yaitu Internet yang membentuk jaringan komunikasi dan informasi
sejagat (global) maka manusia tidak lagi hanya dapat melihat dunia tetapi lebih
dari itu dengan adanya teknologi internet umat manusia dapat seakan-akan
menjelajahi isi di seluruh dunia, berkomunikasi dan bertukar informasi dengan
masyarakat lain tanpa terhalang oleh batasan jarak dan waktu.85
Fenomena di atas merupakan suatu ciri akhir gelombang ketiga dalam
peradaban kita atau ciri abad 21 dan ciri awal millenium muncul dusun global
atau global village, atau cybercommunication system. Rambu-rambu tradisional
atau hukum media tradisional di masing-masing negara tidak lagi efektif. SIUPP
pasal 65-63 dan pasal 483-484 KUH-Pidana yang mengatur tanggung jawab
hukum penerbit, pencetak, dan pengedar media cetak tanpa SIUPP dan yang
isinya melanggar hukum juga sensor dan pembredelan tidak lagi efektif. Karena
kebebasan media di negara-negara yang menganut teori otoriter atau teori media
pembangunan dan sejenisnya, seperti konsep pers Indonesia di zaman Orde Baru
akan di ambil alih oleh cybercommunication (jaringan internet).86 fenomena ini
juga masuk dalam Cyborg perpaduan antara manusia dan mesin, organik dan
teknologis, dalam semua teknologi ini pembagiaan antara tubuh dan mesin sulit
untuk dipisahkan.
85
86
Roger Fidler, Mediamorfosis Memahami Media Baru, h. 146-156.
Andi Abdul Muis, Indonesia di Era Dunia Maya, h. 63.
47
2. Karakteristik New Media
Karakteristik yang membedakan internet dengan bentuk-bentuk komunikasi
lainnya menurut Newhagen dan Rafaeli yaitu multimedia dan interactivity.
Karakteristik multimedia dapat kita pahami sebagai medium dengan beragam
bentuk konten yang meliputi perpaduan teks, audio, animasi, image, video dan
bentuk konten interaktif. Sementara interactivity memungkinkan seseorang untuk
membuat pesan mereka sendiri, membulikasikan konten mereka, atau terlibat
dalam interaksi online yaitu cenderung komunikasi dua arah atau saling
berinteraksi.87
Rogers
juga
menambahkan tentang
karakteristik media
baru,
ia
menyebutkan ada tiga karakteristik yang menandai kehadiran teknologi
komunikasi baru yaitu : interactivity, de-massification, dan asynchronous.88
Karakteristik pertama, interactivity merupakan sistem komunikasi baru (berupa
sebuah komputer sebagai salah salah satu komponennya) dalam member talk back
bagi penggunannya. Interactivity bagi Graham juga merupakan salah satu cara
yang berjalan di antara pengguna dan mesin (teknologi).89
Karekteristik Interactivity, merupakan salah satu fitur media baru yang
paling banyak dibicarakan, artinya mendapat tempat khusus di internet seperti
halnya berbagai istilah dalam dunia cyber baru. Misalnya menurut William, Rice,
dan Rogers (1998) mendefinisikan interaktivitas sebagai tindakan dimana pada
proses komunikasi para partisipan memiliki kontrol terhadap peran, dan dapat
87
Gun Gun Heryanto & Shulhan Rumaru ,Komunikasi Politik Sebuah Pengantar,
(Jakarta:Ghalia Indonesia, 2013), h. 162.
88
Lihat skripsi Akmal Fauzi, mahasiswa UIN Jakarta, Jurusan Komunikasi Penyiaran
Islam, dengan judul Pemanfaatan Media Sosial Dalam Survei Politicawave Pada Pilkada DKI
jakarta 2012, skripsi ini disahkan tahun 2013.
89
Rulli Nasrullah, Komunikasi AntarBudaya di Era Budaya Siber, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2012), h. 82.
48
bertukar pesan dalam dialog mutual mereka, artinya interaktivitas sebagai sebuah
konsep multidimensi.90
Karakteristik kedua dari komunikasi baru adalah de-massification, suatu
pesan yang dapat diubah setiap individu dalam audience yang besar. Demassification ini juga berarti sebagai kontrol sistem komunikasi yang berubah dari
produsen pesan ke konsumen media. Pengindividualisasian ini menyamakan new
media dengan komunikasi antar pribadi.
Karakteristik tiga adalah asynchronous, yang mempunyai pengertian bahwa
teknologi komunikasi baru mempunyai kemampuan mengirim dan menerima
pesan dalam waktu yang dikehendaki individu. Sifat in juga memperlihatkan
partsipan komunikasi tidak perlu memakan waktu bersamaan dengan mengirim
dan menerima pesan. Penggesaran waktu (time shifting) ini merupakan salah satu
kemampuan teknologi komunikasi baru seperti web blog, micro blog dll.
Menurut Flew, media baru memiliki lima karakteristik:91
1. Manipulable
Informasi digital mudah dubahdan diadaptasi dalam berbagai bentuk
penyimpanan, pengiriman, dan penggunaan
2. Networkable
Informasi digital dapat dibagi dan dipertukarkan secara teres-menerus
oleh sejunlah besar pengguna di seluruh media
3. Dense
90
Werner J, Severin& Janes W. Tankard, Jr, Teori Komunikasi Sejarah, Metode, dan
Terapan di dalam Media Massa, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), Edisi Kelima, h.
448.
91
Lihat skripsi Akmal Fauzi, mahasiswa UIN Jakarta, Jurusan Komunikasi Penyiaran
Islam, dengan judul Pemanfaatan Media Sosial Dalam Survei Politicawave Pada Pilkada DKI
jakarta 2012, skripsi ini disahkan tahun 2013.
49
Informasi digital berukuran besar dapat disimpan di ruang penyimpanan
kecil seperti USB flash disc atau penyedia layanan jaringan
4. Compressible
Ukuran informasi digital yang diperoleh dari jaringan maupun dapat
diperkcil melalui proses kompres dan didekompres kembalisaat
dibutuhkan
5. Impartial
Informasi digital yang disebarkan melalui jaringan bentuknya sam
dengan yang direpresentasikan dan digunakan oleh pemilik atau
penciptanya
Jadi kesimpulannya bahwa kehadiran new media baru memudahkan segala
aktivitas manusia untuk bisa berinteraksi tanpa batasan, istilah yang Graham sebut
yaitu remediated. Dalam hal ini tentu new media berbeda dengan media terutama
dalam hal penyebaran pesan secara luas, aspek ketersediaan untuk semua
komunikasi dan setidaknya new media dapat diakses secara gratis.
Dengan kata lain juga, New media sebagai era globalisasi informasi yang
modern ini berputar secara global dalam bentuk informasi virtual tanpa pernah
bersentuhan dengan dunia nyata atau realitas, artinya, informasi tidak lagi
merefelesikan realitas atau cermin. Oleh karena bentuknya yang bersifat virtual. 92
3. Internet Sebagai New Media
Awalnya internet merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh
Departemen Pertahanan Amerika Serikat tahun 1969, melalui proyek ARPA yang
92
Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan,
(Yogjakarta: Jalasutra, 2004), h. 133.
50
disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network), dimana
mereka mendemonstrasikan bagaimana dengan hardware dan software komputer
yang berbasis UNIX, ARPANET diperkenalkan tahun Oktober 1972, tidak lama
kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah dan semua universitas di
negara tersebut ingin bergabung sehingga ARPANET kesulitan. Oleh sebab itu
ARPANET dipecah menjadi dua, yaitu “MILNET” untuk keperluan militer dan
“ARPANET” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti,
universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama
DARPA Internet, yan kemudian disederhanakan menjadi Internet. 93
Menurut Marshall McLuhan, di era modern penemuan teknologi informasi
berkembang dalam skala massal. Teknologi itu telah mengubah bentuk
masyarakat manusia dari masyarakat dunia lokal menjadi masyarakat dunia
global, sebuah dunia yang sangat transparan terhadap perkembangan informasi,
transportasi serta teknologi yang begitu cepat dan begitu besar memengaruhi
peradaban umat manusia, sehingga dunia juga dijuluki sebagai the big village,
yaitu sebuah desa yang besar, dimana masyarakat saling kenal dan saling
menyapa satu dengan yang lain. Masyarakat global itu juga dimaksud sebagai
sebuah kehidupan yang memungkinkan komunitas manusia menghasilkan
budaya-budaya dan tradisi-tradisi bersama.94
Menurut David T. Hill dan Khrisna Sen, internet sebagai medium baru yang
telah dirasakan di Barat sejak 1980 an dan di Asia termasuk di Indonesia pada
93
94
Anwar Abugaza, Social Media Politica Gerak Massa Tanpa Lembaga, h. 19-20.
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, Jakarta: Prenada Media Group, 2011, h. 163.
51
tahun 1990 an95. Sekarang internet seolah menjadi yang telah menyatu dengan
keseharian masyarakat Indonesia terutama masyarakat perkotaan. Akses informasi
semakin mudah dan menyebabkan pengetahuan berubah cepat. Interaksi antara
manusia pun tak lagi bertemu secara fisik melainkan juga secara virtual maka
muncullah komunitas yang karena kesamaan minat kerap terbangun dan
berinteraksi, meskipun mereka belum atau sama sekali tidak saling kenal. 96
Ada tiga bentuk pengembangan dari internet yakni World Wide Web yang
dikembangkan pada tahun 1990 oleh para ahli di Switzerland. Pertama mereka
menciptakan rangkaian komputer yang saling terhubung dengan internet dengan
menggunakan
program
komunikasi
yang
sama.
Pengembangan
kedua,
memudahkan penggunanya untuk menemukan apa yang mereka cari di web. Hal
ini terjadi pada tahun 1993 dengan diciptakannya browser. Lima tahun kemudian,
Microsoft memperkenalkan browser mereka yang dinamakan internet eksplorer.
Perkembangan ketiga, yakni search engine yang paling dikenal pengguna adalah
Google dan Yahoo. Inovasi dalam dunia web semakin hari semakin mengalami
perkembangan yang berarti, ini dibuktikan dengan adanya transformasi dari
teknologi web 1.0 yang hanya menempatkan user sebagai konsumen konten
internet ke web 2.0. Internet generasi kedua ini, telah memungkinkan
penggunanya berinteraksi dengan yang lain dan memungkinkan terbentuknya
suatu hubungan, sharing bahkan tak jarang membentuk konvergensi simbolik dan
komunitas virtual aktif. 97
95
David T. Hill & Krishan Sen, The Internet in Indonesia New Democracy, (London:
Routlegde, 2005), h. 10.
96
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, h. 155.
97
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, h. 269-270.
52
Teknologi web 2.0 sebuah istilah yang dicetuskan pertama kali Dale
Doughery dari O’Reily Media yang melakukan brainstroming dengn Craig Clibe
dari Media Live untuk menghasilkan ide konferensi dimana mereka menjadi host.
Akhirnya pada bulan Oktober 2004 O’Reilly Media, Battele dan Media Live
melakukan konferensi web 2.0 pertama dan kedua pada bulan Okrober 2005.
Sebelum istilah web 2.0 muncul yang sering digunakan adalah istilah semantic
web.98
Jaringan Internet yang menyediakan kemungkinan untuk meningkatnya
konektivitas antar manusia. Komunikasi melalui forum Internet (seperti e-mail,
chat rooms, dunia grafis, dan daftar diskusi) memungkinkan orang untuk
berpartisipasi dalam jaringan sosial luas, yang disebut sebagai ‘komunitas virtual’.
Interaksi dalam lingkungan virtual dimediasi melalui teknologi daripada
pertemuan tatap muka. Beertemu dengan orang dapat dilakukan dengan mudah,
meski terpisah oleh jarak. Perbedaan bahasa dapat diatasi melalui aplikasi
perangkat lunak yang didesain sedemikian rupa untuk untuk menerjemahkan
pesan. Sebagai hasilnya, komunitas tertentu dapat dibentuk dalam dunia virtual
yang mungkin tidak eksis.99
Fenomena
dalam
perkembangan
tersebut,
internet
tanpa
disadari
menimbulkan ruang publik baru (new public sphere) di komunikasi virtual
terutama berkenaan dengan demokrasi melaui proses konvergensi simbolik di
situs jejaring sosial (social network sites) dan web blog interaktif.100
98
Anwar Abugaza, Social Media Politicia Gerak Massa Tanpa Lembaga, h. 17.
John Hartley, Communications, Cultural, & Media Studies, h. 165.
100
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, h. 154.
99
53
Medium internet memiliki potensi besar untuk mempersatukan dunia dan
menyalurkan upaya-upaya manusia untuk mempersatukan solusi bagi berbagai
problem kritis yang mengancam masa depan manusia. 101
4. Internet Sebagai Saluran Komunikasi Politik
Internet modern bisa menjadi salah satu saluran pokok dalam komunikasi
politik. Denton dan Woodward, mendefinisikan komunikasi politik sebagai
diskusi
yang
murni
membicarakan
tentang
pengalokasian
sumberdaya-
sumberdaya (resources), kewenangan resmi seseorang yang diberi kekuasaan
(untuk membuat peraturan, keputusan legistlatif dan eksekutif) dan sangsi-sangsi
(dari apa yang negara berikan berbentuk reward atau hukuman).
Menurut Blumler dan kavanagh yang saya kutip dalam tulisan Gun Gun
Heryanto dan Shulhan Rumaru, menyadari suatu kemunculan “third age of
political communication” dimana media cetak dan penyiaran akan kehilangan
tempatnya sebagai saluran utama komunikasi politik pada era baru melimpahnya
informasi serta ide, informasi dan berita politik dapat disebar melalui komputer.102
Ada tiga generasi
komunikasi politik jika merujuk pada dinamikanya,
antara lain seperti berikut:103
 Generasi pertama : retorika politik. hampir seluruh pesan komunikasi
politik diarahkan oleh kemampuan seni berbicara (art of speech)
 Generasi kedua ditanda dengan dominannya peran media massa yang
belakangan kerap disebut sebagai media mainstream
101
Roger Fidler, Mediamorfosis, h. 394.
Gun Gun Heryanto & Shulhan Rumaru ,Komunikasi Politik Sebuah Pengantar, h. 161.
103
Gun Gun Heryanto & Shulhan Rumaru ,Komunikasi Politik Sebuah Pengantar, h. 161.
102
54
 Generasi ketiga ditandai dengan perkembangan new media. hal ini
seiring dengan menguatnya sosial media, seperti situs jearing sosial
(social ntework site) dan webblog interaktif.
Tentu internet bagian dari generasi ketiga dimana, Penggunaan internet
untuk kegiatan politik kini semaikin marak. Hal ini terkait dengan beberapa
faktor.104
Pertama, sistem politik berjalan kian demokratis. Kondisi yang diperoleh
pasca gerakan reformasi ini memungkinkan tumbuh kembangnya kebebasan pers,
kebebasan berkumpul dan menyatakan pandangan baik lisan maupun tulisan.
Kebebasan itu pula yang telah menyebabkan setiap orang dapat mengakses dan
menggunakan internet guna mengartikulasikan ide, gagasan, pemikiran ajakan,
protes
himbauanbahkan
juga
tekanan
pada
kekuasaan.
Fenomena
ini
memunculkan ruang publik baru (new public sphere).
Kedua, kian majunya ICT (information and Communication Technlogy) dan
media massa. Era konvergensi media memudahkan bangsa indonesia untuk
mengakses informasi. Melalui berbagai layanan penyedia atau mesin pecari
informasi mengenai lingkungan kita.
Dilansir data Sosialbakers.com bulan Maret 2013, penggunaan facebook di
Indonesia mengalami peningkatan yang cukup besar selama 6 bulan terakhir,
Indonesia secara peringkat menempati posisi ke-4 penggunaan facebook dengan
jumlah 47.165.080, peringkat pertama masaih diduduki oleh Amerika Serikat
104
Gun Gun Heryanto & Shulhan Rumaru ,Komunikasi Politik Sebuah Pengantar, h. 173
55
163.071.460 pengguna, menyusul Brazil dengan 66.552.420 pengguna dan india
di posisi ke-3 dengan 62.963.440.105
Sebagai contoh internet sebagai saluran komunikasi politik yaitu bagaimana
kemenangan yang diperoleh Joko Widodo yang sering kita kenal Jokowi,
memanfaatkan internet sebagai strategi kampanye. Tentu internet memberi
sumbangsih lebih dalam hal tersebut tersebut.
Selanjutnya, media kontemporer seperti internet dan khusunya media sosial
akan semakin penting dalam komunikasi politik, mulai dari tingkat lokal hingga
tingkat global. Sejalan dengan itu konsep-konsep baru sperti e-democracy dan egovernment di negara kita akan terus berkembang, meskipun kita kekurangan
sumber daya manusia dan peralatan yang dibutuhkan belum lengkap.106
Oleh karenanya pemanfaat internet dalam komunikasi politik menjadi
penting terutama dalam konteks artikulasi, agregasi kepentingan politik baik dari
kelompok masyarakat biasa, kelompok berperhatian (attentive public) maupun
kelompok elit.
D. Konseptualisasi Sosial Media (Social Media)
1. Pengertian Sosial Media
Istilah Social Media pertama muncul dan diperkenalkan oleh profesor J.A.
Barnes tahun 1954, namun baru tahun 1995 sosial media sebagai satu kesatuan
yang utuh muncul dengan tampilan classmates.com yang berfokus pada hubungan
antar mantan teman sekolah, dan SixDegrees.com tahun 1997 yang membuat
105
Sumber data tersebut diakses dari www.socialbakers.com, pada hari Kamis, 27 Maret
2014, pukul 22:47 WIB
106
Dedy Mulyana, Komunikasi Politik Politik Komunikasi, (Bandung: Rosdakarya, 2013),
h. 24
56
ikatan tidak langsung dalam sebuah pertemanan. Kemudian dua model social
media berbeda lahir sekitar tahun 1999 berbasiskan kepercayaan yang
dikembangkan oleh epinions.com, dan yang berbasikan pertemanan seperti yang
dikembangkan oleh Uskup Jonathan yang kemudian dipaka pada beberapa situs
UK regional di antara 1999 dan 2000.107
Salah satunya dikemukakan oleh Brian Solis praktisi Public Relation PR
dan penggagasan penggunaan social media asal Amerika Serikat
ini
mendefinisikan sosial media sebagai demokratisasi isi serta perubahan peran
publik dalam membaca serta menyebarkan informasi. Social media mewakili
perubahan dari satu buah mekanisme penyiaran menjadi banyak model yang
bermula dari format percakapan antara penulis dan rekan-rekannya di dalam
kanal-kanal sosial mereka.108
Untuk mendefinsikan social media salah satu cara yang paling tepat adalah
membandingkan dengan generasi sebelumnya yang berbasis web 1.0. social
media dapat melakukan berbagai aktivitas dua arah dalam berbagai bentuk
pertukaran, kolaborasi, saling berkenalan dan menciptakan satu informasi dan halhal seperti ini tidak dapat dilakukan di era generasi web 1.0.109 Sosial Media
menurut Kaplan dan Haenlein adalah sebuah kelompok aplikasi berbasis internet
yang membangun di atas dasar deologi dan teknologi web 2.0 yang
memungkinkan penciptaan dan pertukaran user genereted content.110
107
Anwar Abugaza, Social Media Gerak Massa Tanpa Lembaga, h. 16.
Sols & Breakendridge, Putting the Public Back in Public Relations: How Social Media
is Reinventing teh Agging Business of PR. (New Jersey: Pearson Education, 2009), h. 3.
109
Danis Puntoadi, Menciptakan Penjualan Melalu Social Media, (Jakarta: PT. Elex Media
Komputindo, 2011), h. 1.
110
Kaplan, Andreans M dan Michael Haenlein, User of the Word, Unite! The
Challengesand Opportunities of Social Media, (Business Horizons: 2010), h. 59.
108
57
Namun Anwar Abugaza menambahkan bahwa social media adalah struktur
sosial yang terdiri dari elemen-elemen individu, kelompok atau organisasi yang
terhubung dan terjadi interaksi satu sama lain dengan menggunakan perantara
teknologi informasi.111
Dari paparan tersebut maka, sosial media merupakan medium atau alat yang
berbasis internet yang dinamis. Setiap pengguna dapat berbagi pesan dalam
bentuk apapun seperti gambar, tulisan, suara dan video kepada siapa saja di
belahan dunia yang tersambung dalam koneksi internet.
2. Karakteristik Sosial Media
Untuk memahami social media adalah dengan cara memperhatikan
karakteristik dari jenis-jenis yang ada, yaitu:112
a.
Participation
Media sosial mendukung penuh kontrbusi dan feedback dari setiap
orang tertarik. Dukungan ini membuat atas antar media dan audiens
menjad kabur.
b.
Openess
Sebagai dasar media sosal terbuka untuk feedback dan partisipasi. Hal
ini memungkinkan dilakukan votting, pemberian komentar dan berbagi
informasi. Jarang sekali ada halangan dalam mengakses dan membuat
konten di dalam media sosial.
c.
Conversation
111
Anwar Abugaza, Social Media Gerak Massa Tanpa Lembaga, (Jakarta: PT. Tali Writing
Publishing House, 2013), h. 16.
112
Anthony Mayfield dan Michael A stelzner, What is Social Media Includes Annual
Marketing Report, (T. Tp: Penerbit iCrossing, 2008), h. 5.
58
Ketika media tradisional mengedepankan brocast (transmisi dan
distribus pesan kepada audiens) media sosial justru melihat komunikasi
sebaga percakapan dua arah
d.
Community
Media sosial memungkinkan komunitas untuk berkomunikasi secara
tepat dan efektif. Komunitas juga dapat berbagi common interest,
seperti kesukaannya terhadap fotografi, politik dan TV show
e.
Connectedness
Sebgaian besar media sosial memungkinkan penggunanya untuk
berhubungan dengan siapapun
Dari karakteristik tersebut, media sosial mempunyai peranan penting dalam
kehdupan masyarakat, peranan tersebut tidak lepas dari pertukaran informasi dan
pada akhirnya memberikan fungsi-fungsi bagi penggunannya, dimana fungsi
tersebut antara lain113:
1.
Memberikan informasi tentang peristiwa dan kondisi dalam masyarakat
2.
Memberi informasi tentang korelasi yang bersifat menjelaskan,
mengomentari makna peristiwa dan informasi
3.
Dapat memberikan hiburan untuk meredakan ketegangan sosial,
mengalihkan perhatian dan sarana relaksasi.
4.
Mobilisasi untuk mengkampanyekan tujuan masyarakat dalam bidang
politik, pembangunan pekerjaan dan agama
113
McQuail, Mass Communication Theory: 16 Edition (Sage Publication: 2010), h. 123
59
3. Jenis-jenis Sosial Media
Social media secara umum dapat digolongkan menjadi beberapa jenis
publikasi sebagai berikut114:
1.
Publikasi Personal
Salah satu jenis publikasi personal berbasis internet adalah Blog.
Meskipun saat ini Blog dapat dimilki dan dikelola oleh bukan haya satu
orang namun blog masih dikategorikan sebagai medium publikas
personal. Melalui blog individu ataupun sekelompok individu dapat
menulis artikel, mengunggah gambar, foto hingga video dan
mengundang orang untuk berinteraksi dengan mereka.
2.
Publikasi kelompok
Wikis merupakan bentuk publikasi kelompok yang paling umum diama
sekelompok orang bersama-sama menerbitkan artikel dan membangun
situs yang lengkap dalam kurun waktu tertentu
3.
Publikasi Berbasis Jaringan Sosial
Publikasi yang berbasis jaringan sosial memberikan kemudahan bagi
penggunannya untuk membangun hubungan dengan individu lain serta
memanfaatkan hubungan tersebut. Beberapa situs jejaring sosial
menawarkan fitur-fitur yang memudahkan user untuk merubah status
dan profil yang berisi identitas mereka, membagun jaringan pertemanan
dan juga berkomunikasi dengan jaringan pertemanan mereka tersebut
contohnya Facebook, Linkedin, Orkut Twitter dan Myspace
114
Jhon Blossom, Content Nation: Survivng and Thriving as Social Media Changes Our
Work, Our Lives and Our Future, (USA: Wiley Publishing, 2009), h. 32.
60
Berikut alur kerangka penelitian peneliti.
Gambar 2.2
Alur Kerangka Penelitian115
Pengetahuan
Noise
Dinamika
PILPRES
2014
Menulis
Shared
Group
Proses
Konvergesi
Simbolik
Sikap
Perkembangan internet yang mulai bermetamorfosa dari media generasi 1.0
(read-only-web) dimana publik hanya bisa mengakses informasi tanpa komunikasi
2 arah (cenderung one way communication), menjadi generasi 2.0 (participatory
web) dimana publik sendiri yang menciptakan dan memublikasikan informasi
(user-generated-content).
Dan tentu perkembangan web 2.0 meniscayakan lahirnya media sosial
(social media) dan webblog interaktif, yang dimana hampir semua kegiatan publik
bermigrasi dari ruang publik konvensional (public sphere: Habermas) seperti
mencari informasi melalui televisi, koran dan radio kini beralih ke ruang publik
kontemporer (news public sphere: Mark Poster). Di sinilah, peluang dan
fenomena literasi politik mulai beradaptasi, berkembang, dan menjadi tren di lini
masa (publik virtual). Oleh karena itu sosial media dimanfaatkan sebagai saluran
115
Hasil temuan peneliti terkait tentang Literasi Politik Jelang Pemilihan Presiden
(PILPRES) 2014 di Media Sosial Kompasiana.
61
komunikasi politik begitu juga dengan dinamika pemilihan presiden 2014 yang
begitu lekat dengan media sosial.
Untuk alur kerangka penelitian ini peneliti mengacu pada tiga yaitu
pengetahuan, menulis dan sikap. Pengetahuan sangat dipercaya sebagai tanduk
dalam mengetahui isu politik yang berkembang seperti mengakses informasi
seputar politik selanjutnya kegiatan menulis ini juga tidak kalah penting karena
dengan menulis aspirasi-aspirasi masyarakat yang tertuang bisa menjadi acuan
suprastruktur dan negara lebih baik dan dapat menjadi diri lebih efektif.
Kemudian dari pengetahuan dan menulis, sikap menentukan dalam proses literasi
politiik
Menurut Bernard
Crick
literasi politik
merupakan
senyawa dari
pengetahuan, keterampilan dan sikap. Crick juga menegaskan literasi politik lebih
luas hanya sekedar pengetahuan politik melainkan cara membuat diri menjadi
efektif dalam kehidupan publik dan dorongan untuk menjadi aktif, partisipastif
dalam melaksanakan hak dan kewajiban baik dalam keadaan resmi maupun area
publik dan sifat suka rela.116
Dari fenomena tersebut tentu memunculkan sharing group, artinya para
netizen bisa menyuarakan pendapat, berbagai informasi, saling mengkritik pada
masing-masing netizen tentu hal tersebut sangat berkenaan dengan literasi politik
dan cara membuat diri lebih efektif seputar politik, dimana para netizen
membangun kesadaran simbolik bersama melalui suatu proses pertukaran pesan
seperti saling berbagi pengalaman, dan saling berinteraksi untuk bertindak bagi
orang-orang atau kumpulan yang terlibat di dalamnya.
116
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, h. 117
62
Berikut penuturan Ernest Bormann Symbolic Convergence Theory (SCT)
menjelaskan bahwa makna, emosi, nilai dan motif untuk tindakan di retorika yang
dibuat bersama oleh orang yang mencoba untuk memahami dari pengalaman yang
umum seperti keragaman kehidupan. Teori ni mengupas tentang fenomena
pertukaran pesan yang memunculkan kesadaran kelompok yang berimplikasi pada
hadirnya makna, motif dan perasaan bersama. Artinya teori ini berusaha
menerangkan bagaimana orang-orang secara kolektif membangun kesadaran
simbolik bersama melalui suatu proses pertukaran pesan untuk bertindak bagi
orang-orang atau kumpulan orang yang terlibat di dalamnya.117
Dalam proses konvergensi simbolik atau membangun kesadaran bersama,
noise tentu memungkinkan sejumlah faktor penghambat (noise factor) yang
membuat proses komunikasi menjadi bias dan tidak efektif. Hal ini juga menurut
Onong Uchjana Effendy dalam proses pertukaran pesan atau sedang melakukan
komunikasi tentu ada beberapa hambatan yang dapat merusak komunikasi yaitu
gangguan mekanik dan semantik. 118
117
Jhon F Cragan, Understanding Communication Theory: the Communicative Forces for
Human Actions, (Needham Heights: a Viacom Company, 1998), h. 97.
118
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti, 2003), Cetakan Ketiga, h. 45
63
BAB III
GAMBARAN UMUM KOMPASIANA
A. Profil Kompasiana
1. Sejarah Berdirinya Kompasiana
Nama Kompasiana diusulkan oleh Budiarto Shambazy, wartawan senior
Kompas yang biasa menulis kolom "Politika". Nama ini pernah digunakan untuk
kolom khusus yang dibuat salah satu pendiri Harian Kompas di tahun 1960-1970
yaitu Petrus Kanisius Ojong yang lebih akrab di singkat PK Ojong, berisi tulisan
tajam mengenai situasi mutahir pada masanya. Kumpulan rubrik Kompasiana
yang ditulis PK Ojong itu sendiri sudah dibukukan.119
Awal munculnya Kompasiana merupakan era dimana semua jurnalis
khususnya jurnalis Harian Kompas tidak akrab dengan blog, dan tentu ide
pendirian Kompasiana berangkat dari salah satu jurnalis yang sudah akrab dengan
blog pada tahun 2005 yaitu Pepih Nugraha. Maka Pepih Nugraha pun dipindah
tugaskan dari Kompas Print ke bagian Kompas.com. Jadi, ide tersebut merupakan
langkah maju dan terobosan tak terduga manakala sejumlah jurnalis Kompas
menyatakan diri ingin menjadi bagian dari Kompasiana dan bahkan sudah
langsung mencurahkan pandangan dan gagasannya.120
Pada saat wawancara, Pepih Nugraha menjelaskan:
“Sejak awal memang bikin blog itu dalam hal ini Kompas
(Kompas.com), bikin blog ini untuk menampung tulisan-tulisan
wartawan, Ya kan. Jurnalis Net, Jurnalis Blog lah istilahnya, jadi
yang saya bayangkan waktu itu adalah sebuah blog bersama isinya
itu adalah selain wartawan yang menulis juga ada orang yang
119
Pepih Nugraha, Kompasiana Etalase Warga Biasa, h. 42.
Wawancara Peneliti dengan Pepih Nugraha (Redaktur Pelaksana Kompas.com) dan
selaku Pendiri Kompasiana.
120
63
64
diundang untuk menulis yang disebut blogger tamu ya guest blog
dan satu lagi sebenarnya platform untuk seleb blog. Saya ini
wartawan profesional tetapi saya tidak ada lah salahnya sebagai
pribadi saya juga bisa ngeblog menulis gitu kan, tidak semua apa
yang ingin saya tulis bisa muncul di Kompas tapi bisa juga kalo
saya punya angan-angan, punya opini, puisi, boleh juga dong saya
tulis suatu tempat yang tentu namanya blog lalu dari situ saya
mengembangkannya sebagai blog sosial.121
Sebelum Kompasiana terbuka untuk umum pada tanggal 1 September 2008,
Kompasiana mulai online sebagai blog jurnalis. Pada perjalanannya, Kompasiana
berkembang menjadi Social Blog atau blog terbuka bersama para jurnalis harian
Kompas dan Kompas Gramedia (KG) serta beberapa orang penulis tamu dan artis
seperti Enda Nasution, Faisal Basri, Jusuf Kalla, Antyo Rentjoko, Budi Putra,
Chappy Hakim, Prayitno Ramlan dan Sandra Dewi. Antusiasme para blogger dan
netizen untuk ikut ngeblog di Kompasiana sangat besar namun lambat laun tulisan
semakin jarang sehingga membuat pengelola Kompasiana mengambil langkah
lain untuk membuka lebih luas atau umum.122
Pada 22 Oktober 2008, Kompasiana sebagai Social Blog resmi diluncurkan
dan baru satu tahun berjalan, Kompasiana telah mengalami perubahan besar-baik
dari segi tampilan maupun format dan konsep keseluruhan. Dari sebatas jaringan
blog jurnalis menjadi sebuah bentuk Social Media baru yang bisa diakses dan
dikelola oleh semua orang. 123
Kompasiana adalah sebuah Media Warga (Citizen Media). Di sini, setiap
orang dapat mewartakan peristiwa, menyampaikan pendapat dan gagasan serta
121
Wawancara Peneliti dengan Pepih Nugraha selaku Pendiri Kompasiana sekaligus
Redaktur Pelaksana Kompas.com.
122
Pepih Nugraha, Kompasiana Etalase Warga Biasa, h. 21-22.
123
Artikel diakses pada tanggal 15 April 2014 dari http://www.kompasiana.com/about.
65
menyalurkan aspirasi dalam bentuk tulisan, gambar ataupun rekaman audio dan
video.
Kompasiana menampung beragam konten yang menarik, bermanfaat dan
dapat dipertanggungjawabkan dari semua lapisan masyarakat dengan beragam
latar belakang budaya, hobi, profesi dan kompetensi. Keterlibatan warga secara
masif ini diharapkan dapat mempercepat arus informasi dan memperkuat pondasi
demokratisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kompasiana juga melibatkan kalangan jurnalis Kompas Gramedia dan para
tokoh masyarakat, pengamat serta pakar dari berbagai bidang, keahlian dan
disiplin ilmu untuk ikut berbagi informasi, pendapat dan gagasan.
Di Kompasiana, setiap orang didorong menjadi seorang pewarta warga
yang, atas nama dirinya sendiri, melaporkan peristiwa yang dialami atau terjadi di
sekitarnya. Tren Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) seperti ini sudah
mewabah di banyak negara maju sebagai konsekuensi dari lahirnya web 2.0 yang
memungkinkan masyarakat pengguna internet (netizen) menempatkan dan
menayangkan konten dalam bentuk teks, foto dan video.
Kompasianer (sebutan orang-orang yang beraktifitas di Kompasiana) juga
diberi kebebasan menyampaikan gagasan, pendapat, ulasan maupun tanggapan
sepanjang tidak melanggar ketentuan yang berlaku.Setiap konten yang tayang di
Kompasiana menjadi tanggungjawab Kompasianer yang menempatkannya.
Selain itu, Kompasiana menyediakan ruang interaksi dan komunikasi antaranggota. Setiap Kompasianer bisa menjalin pertemanan dengan Kompasianer lain.
Mereka juga dapat berkomunikasi lewat email, komentar dan fitur interaktif
lainnya.
66
Fasilitas dan fitur Kompasiana hanya bisa digunakan oleh pengguna internet
yang telah melakukan registrasi di www.kompasiana.com/registrasi. Begitu proses
registrasi selesai, pengguna akan mendapatkan blog pribadi dengan alamat
http://kompasiana.com/namapengguna. Tanpa registrasi, pengguna hanya bisa
membaca konten Kompasiana.
Dengan beragam fitur dan fasilitas interaktif tersebut, Kompasiana yang
mengusung semangat berbagi dan saling terhubung (sharing. connecting.) telah
berwujud menjadi sebuah Social Media yang informatif, interaktif, komunikatif
dan mencerahkan bagi setiap orang.
Dalam
perjalanannya,
Kompasiana
sudah
mendapatkan
beberapa
penghargaan dalam negeri dan luar negeri seperti Asian Digital Media Award
(ADMA) 2010 yang diberikan oleh asosiasi surat kabar dan penerbit dunia WANIFRA di Singapura, menang untuk kategori Best in Digital Content Award User
Generated Content.124 Penghargaan selanjutnya yakni The Best Improvement &
Innovation Kompas Gramedia, lomba ini rutin diselenggarakan Kompas
Gramedia (KG) selaku induk perusahaan untuk mencari produk-produk yang
paling inovatif dari tiap unit bisnisnya selama 2 tahun.
2. Struktur Organisasi
Gambar 3.1
Struktur Organisasi Kompasiana
Managing Director
124
Taufik H Mihardja
Jubile Enterprise, Panduan Praktis Ngeblog di Kompasiana, (Jakarta: PT Elex Media
Komputindo, 2011), hal. 2-3
67
Edi Taslim
Editor in Chief
Pepih Nugraha
Editor
Iskandar Zulkarnaen
Web Engineer
Airlangga Tirta Wardana
Web Designer
Maulana Mickael
Marketing Communication
Okky Brahma Arimurti
Admin Staff
Nurulloh
Roberto Januar Setyabudi
Siti Khoirunnisa
Sumber: http://www.kompasiana.com/about
3. Logo Kompasiana
Gambar 3.2
Logo Kompasiana
68
B. Produk Kompasiana
1. Citizen Journalism (Topik Pilihan, Headline, highlight, Trending
Articles, Featured Article,)
Sejak awal platform Kompasiana adalah menulis. Menulis pada media
sosial yang memungkinkan para Kompasianer tersambung satu dengan yang
lainnya serta berbagi ide atau gagasan melalui tulisan. Karena platform
Kompasiana menulis maka ada tiga kegiatan utama menulis, yakni laporan versi
warga, menulis opini versi warga dan fiksi yang dibuat warga sehingga
Kompasiana termasuk dalam media citizen journalism. Dari hasil tulisan para
Kompasianer, Kompasiana melakukan proses menulis seperti layaknya media
massa lainnya seperti adanya Topik Pilihan, Headline, Highlight, Trending
Articles, Featured Article.
ï‚·
Topik Pilihan merupakan produk Kompasiana yang bertujuan
mengajak Kompasianer untuk memberi pandangan berupa opini atau
reportase terkait dengan peristiwa terkini. Tulisan yang terjaring
dalam Topik Pilihan menggunakan sistem taging. Tiap tulisan yang
ditayangkan di Kompasiana akan diberi tag pada kolom khusus sesuai
topik yang diangkat
69
Gambar 3.2
Topik Pilihan
ï‚·
Headline merupakan berita utama yang diangkat oleh Kompasiana
dari hasil reportase atau opini warga
Gambar 3.3
Headline
ï‚·
Highlight merupakan artikel yang dianggap menarik, aktual, inspiratif
dan bermanfaat, dari hasil proses highlight maka akan disaring
kembali untuk diseleksi menjadi headline
70
Gambar 3.3
Highlight
ï‚·
Trending articles merupakan tulisan yang membahas soal isu terkini
atau unik dengan jumlah pembaca yang mencapai ratusan bahkan
ribuan dan hasil tulisan tersebut akan diletakan di balong trending
articles
Gambar 3.4
Trending Articles
ï‚·
Featured article merupakan tulisan yang sudah ditayangkan di
Kompasiana sekitar 2 bulan sampai 2 tahun lalu yang diangkat atau
71
dipublikasikan kembali karena ada keterkaitan atau kesamaan topik
dengan peristiwa terkini
Gambar 3.5
Featured Articles
2. Freez
Freez merupakan produk jurnalisme hibrida yang diterapkan Kompasiana
sejak tahun 2011. Kompasiana Freez pertama kali terbit atas kerjasama
Kompasiana dengan Kompas Print atau Harian Kompas. Hingga saat ini
Kompasiana Freez terbit setiap rabu dan sudah lebih dari 100 kali. Pada tahun
2014, Kompasiana Freez dialihkan menjadi majalah digital, namun saat ini
perubahan tersebut masih dalam proses rancangan.
Gambar 3.6
Logo Freez
72
Gambar 3.7
Kompasiana Freez Cetak
3. Kanal Jakarta Lebih Baik
Kanal Jakarta lebih baik merupakan kanal yang bersifat lokal. Biasanya
kanal ini
mengangkat satu tema besar yang bersifat continue sehingga
Kompasianer bisa memberi pandangan dan menulis terkait persoalan tersebut.
Tulisan tersebut berupa sumbangsih, keluhan, kritik, saran dan pelayan publik
untuk Jakarta menjadi lebih baik. Pada kanal tersebut Kompasiana sudah
menyediakan rubrik seperti transportasi, sosial budaya, potensi wisata dan pelayan
publik untuk memetakan pembaca terkait apa yang ditulis Kompasianer.
73
Gambar 3.8
Tampilan Home Page Kanal Jakarta Lebih Baik
4. Kanal Fiksiana
Kanal Fiksiana merupakan kanal yang menampung tulisan berbentuk fiksi.
Dengan adanya kanal ini para Kompasianer bisa mengekspresikan hal-hal yang
menarik seputar pengalaman, keinginan, imajinasi dan hal-hal yang bersifat non
formal. Dalam kanal tersebut Kompasiana sudah membuat rubrik terkait seputar
fiksi seperti cerpen, cermin, dongeng, puisi dan drama yang memudahkan para
Kompasianer memetakan apa saja yang mereka ingin tulis dan baca seputar dunia
fiksi.
Gambar 3.9
Logo Fiksiana
74
Gambar 3.10
Kegiatan Menulis di Fiksiana
5. Kanal Kotak Suara 2014
Kanal Kotak Suara merupakan produk Kompasiana untuk menampung
tulisan para Kompasianer seputar pemilu 2014. Hadirnya kanal ini merupakan
gebrakan baru karena bentuk perwujudan Kompasiana dalam merayakan pesta
demokrasi lima tahunan. Dimana para Kompasianer bebas menulis apa saja yang
mereka ketahui, pahami, dan laporkan seputar pemilu. Berbagai perbincangan
ramai karena dalam kanal Kotak Suara tersebut Kompasiana sudah membuat
berbagai rubrik seputar pemilu seperti Pileg, Pilpres, Serba-serbi, Polling,
Kandidat dan Pro-Kontra sehingga memudahkan para Kompasianer untuk
memetakan apa yang ingin ditulis dan baca terkait seputar pemilu 2014.
75
Gambar 3.11
Kegiatan Menulis Seputar Pemilu di Kotak Suara
Gambar 3.12
Headline Kotak Suara
6. Kanal Gempita Brasil
Kanal Gempita Brasil merupakan kanal untuk menampung tulisan para
Kompasianer seputar piala dunia 2014 yang dilakukan setiap empat tahun sekali.
76
Hadirnya kanal ini merupakan bentuk Kompasiana dalam menyemarakkan piala
dunia 2014. Dimana para Kompasianer bisa menulis apa saja seputar piala dunia
2014.
Gambar 3.13
Kompasiana Semarakan Piala Dunia Brazil
C. Aktivitas Kompasiana
1. Kompasianival
Kompasianival merupakan ajang tahunan Kompasiana yang terbesar yang
dirancang sebagai perayaan ulang tahun Kompasiana berupa festival guna
mempertemukan para Kompasianer di pelosok daerah dengan berbagai kiprahnya
untuk saling bertemu dan berinteraksi di dunia nyata.
Sebelum Kompasianival menjadi acara rutin tahunan, terlebih dulu pada
tahun 2009 Kompasina mengadakan Kopdar akbar Kompasianer di Bentara
Budaya Jakarta di Komplek perkantoran Kompas Group di Palmerah Selatan
dengan dihadiri sejumlah tokoh seperti Chappy Hakim dan Prayitno Ramlan.
Berawal dari Kopdar tersebut, Kompasiana akhirnya merencang acara Kopdar
tahunan yang disebut Kompasianival.
77
Kompasianival
pertama
diadakan
tahun
2010
di
FX
Senayan.
Kompasianival ke-2 tahun 2011 diadakan di Cafe MU di Mall Sarinah,
Kompasianival ke-3 tahun 2012 diadakan di Hall Gandaria City, Kompasianival
ke-4 tahun 2013 diadakan di Fontain Atrium di Grand Indonesia.
Gambar 3.14
Kegiatan Kompasianival 2013
2. Monthly Discussion (MODIS)
Kompasiana Monthly Discussion yang sering disingkat Modis merupakan
salah satu aktivitas Kompasiana yang dirancang sebagai diskusi rutinan dilakukan
tiap bulan dengan menghadirkam narasumber tunggal yang punya kapasitas.
beberapa pembicara Kompasiana Modis antara lain mantan Wapres Jusuf Kalla,
Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Noeh, Ketua DPR Marzuki Alie,
Pemimpin Umum dan pendiri Harian Kompas Jakob Oetama, Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo (Jokowi), dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani.
78
Gambar. 3.15
Reportase Warga terkait Modis bersama Walikota Surabaya Tri Rismaharani
di Gedung Kompas Surabaya
3. Kompasiana Nangkring
Kompasiana Nangkring merupakan kegiatan Kopdar atau kopi darat
sederhana bersifat cair di antara Kompasianer dan Kompasiana yang mengambil
satu topik ringan sebagai bahan untuk berbincang serta menghadirkan
narasumber-narasumber untuk dibahas kemudian para Kompasianer bisa bertanya
terkait tema yang dibahas.
79
Gambar 3.16
Kegiatan Nangkring
4. Kompasiana Blogshop
Kompasiana Blogshop merupakan salah satu produk Kompasiana yang
pertama kali dilakukan pada bulan Mei 2009. Produk tersebut berupa Workshop
yaitu semacam seminar atau pelatihan untuk berbagi ilmu tentang materi dunia
menulis, blogging dan jurnalistik kepada para Kompasianer atau calon
Kompasianer serta sudah masuk ke sekolah-sekolah dan universitas. Sampai saat
ini aktivitas yang rutin dilakukan Kompasiana ini sudah berkembang dan sudah
dilakukan di daerah-daerah dengan sponsor iB Syariah Bank Indonesia.
5. Kompasiana Blog Competition
Kompasiana Blog Competition merupakan aktivitas online Kompasiana
yang sengaja didesain dalam bentuk perlombaan menulis khusus bagi para
Kompasianer. Dalam Kompasiana Blog Competition biasanya Kompasiana
bekerja sama dengan sponsor untuk memberikan tema perlombaan yang
80
berkenaan langsung dengan sponsor terkait untuk menyeleksi tulisan-tulisan
terbaik.
Gambar 3.17
Kompasiana Blog Competition
D.
Kanal Kotak Suara
1. Topik Pilihan Kawal Pemilu dan Pilpres
Topik Pilihan merupakan produk Kompasiana yang bertujuan mengajak
Kompasiner untuk memberi pandangan berupa opini atau reportase terkait dengan
peristiwa seputar Pemilu dan Pilpres. Tulisan yang terjaring dalam Topik Pilihan
menggunakan sistem taging. Tiap tulisan yang ditayangkan di Kompasiana akan
diberi tag pada kolom khusus sesuai topik yang diangkat.
81
Gambar 3.18
Topik Pilihan
Khusus untuk Topik Pilihan Kompasianer Kawal Pemilu, merupakan
program Kompasiana untuk menjaring tulisan reportase warga selama Pemilu
2014 berlangsung. Tulisan opini warga yang masuk pada topik pilihan ini akan ditake out atau dikeluarkan dari balong topik pilihan.
Gambar 3. 19
Info Admin Kompasiana tentang Kompasianer Mengawal Pemilu 2014
2. Pileg
82
Rubrik khusus di kanal Kotak Suara yang menampung tulisan berupa
reportase dan opini khas warga seputar Pemilu Legislatif 2014. Tulisan yang
diposting pada rubrik ini harus menggunakan tag “pileg2014” karena apabila
tidak menggunakan tag maka tulisan yang diposting tidak masuk ke rubrik Pileg
di kanal Kotak Suara tapi masuk pada Rubrik Politik di Kompasiana.
3. Pilpres
Rubrik pilpres merupakan rubrik untuk menampung tulisan khas warga
berupa reportase dan opini seputar pemilihan presiden. Tulisan yang ingin
dimasukkan dalam kategori rubrik Pilpres harus menggunakan tag “pilpres2014”.
Tulisan yang tidak menggunakan tag tersebut, secara otomatis akan masuk dalam
kategori tulisan politik pada Rubrik Politik di Kompasiana.
4. Serba Serbi Pemilu
Setiap tulisan reportase dan opini khas warga yang membahas seputar
pemilu 2014 yang di luar kategori pileg dan pilpres tertampung di rubrik ini.
Tulisan yang masuk pada rubrik ini harus menggunakan tag “serbaserbipemilu”.
5. Polling
Polling merupakan rubrik yang khusus untuk mempresentasikan pilihan
warga Kompasianer terkait pasangan Capres dan Cawapres yang mereka
inginkan. Dalam polling tersebut, Kompasiana sudah menyediakan sejumlah
nama tokoh politik yang tengah digadang-gadang menjadi Capres dan Cawapres
berdasarkan survei yang dilakukan Harian Kompas. Setiap kontestan yang masuk
di balong Polling Capres dan Cawapres juga dilengkapi dengan foto diri, alamat
akun sosial media dan akun Kompasiana milik sang Capres bila ada. Sejauh ini,
sejumlah nama yang digadang-gadang menjadi capres sudah mempunyai akun di
83
Kompasiana seperti Wiranto, Anies Baswedan, Jusuf Kalla, dan Yusril Ihza
Mahendra.
Gambar 3.20
Info Admin Kompasiana tentang Polling
6. Pro Kontra
Rubrik pro kontra yaitu Kompasiana mengangkat satu isu seputar pemilu
dalam bentuk pertanyaan kemudian para Kompasianer bisa memberi pandangan
atau argumen terkait isu tersebut. Dalam rubrik juga disediakan balong pro dan
kontra.
Gambar 3.21
Info Admin Kompasiana tentang Pro Kontra
84
7. Kandidat
Rubrik Kandidat dikhususkan untuk informasi seputar profil para caleg yang
tengah berkontestasi pada Pileg 2014 ini berdasarkan ulasan para Kompasianer.
Tulisan yang membahas kampanye sang caleg atau implementasi agenda
kegiatan selama kampanye tidak masuk dalam kategori ini, juga tidak
dibolehkan untuk melakukan ajakan kampanye. Jadi, tulisan pada rubrik ini
murni hanya membahas profil para caleg.
Tiap
tulisan
yang
masuk
pada
rubrik
ini
menggunakan
tag
“sosokcaleg2014”. Apabila ada tulisan masuk di luar kategori yang ditentukan
admin Kompasiana, maka tulisan tersebut akan dicabut dari rubrik atau
dialihkan ke rubrik lainnya. Tidak jauh berbeda dengan tulisan seputar
pemilihan presiden 2014, dimana ulasan Kompasianer seputar sosok pemimpin
yang dinginkan. Tiap tulisan menggunkan tag “sosokpemimpin2014”.
85
Gambar 3.22
Info Admin Kompasiana tentang Ceritakan Sosok Calegmu di Rubrik Kandidat
86
BAB IV
Hasil Temuan dan Analisis
A.
Literasi Politik di Kompasiana
Pemilu merupakan hajatan besar bagi masyarakat karena hal tersebut
menjadi momentum yang sakral dalam masa depan negara, tak terkecuali negara
Indonesia yang saat ini sedang menjalankan ritual tersebut. Menjelang Pemilihan
Presiden (PILPRES) 2014 yang akan berlangsung Juli ini, banyak dinamika yang
terjadi mulai dari proses kampanye dari kalangan elit politik, media yang terus
membombardir berita seputar pemilu, diskusi yang secara terus-menerus
dilakukan oleh anttentive public sampai ke ranah media sosial.
Dalam konteks politik terkini, media sosial sudah dimanfaatkan sebagai
salah satu alat diseminasi politik sekaligus menjadi ruang diskursus politik bagi
publik. Begitupun Kompasiana, kita mudah menemukan banyak warga biasa
hingga pejabat publik yang menulis gagasan dan kritik politiknya di sana. Bukan
hanya sekedar menulis, tetapi mereka juga secara kesadaran kolektif membentuk
kelompok-kelompok diskusi kecil, membicarakan perihal politik terkini, hingga
sosialisasi dan kampanye politik.
Riuhnya aktifitas diskursus politik di lini masa Kompasiana, difasilitasi lagi
secara khusus oleh pengelola dengan membuat kanal seputar politik dan pemilu
yang disebut Kotak Suara 2014. Kanal ini sudah mulai online pada Januari 2014
dengan alamat www.kotaksuara.kompasiana.com. Pengguna (user) yang terdaftar
sudah mencapai 241890 akun dengan total akun terverifikasi sebanyak 6426.125
125
Hasil jumlah pengguna Kompasianer pertanggal 08 April 2014.
86
87
Berikut pemaparan Shulhan Rumaru:126
Sejak kanal Kotak suara online pada bulan--- dengan microsite
sendiri namun masih dalam domain Kompasiana, saya langsung
membuat pengumuman atau berita admin yang diujukan kepada
para Kompasianer. Tujuannya untuk mengajak sebanyak
mungkin Kompasianer agar berpartisipasi aktif menulis seputar
peristiwa pemilu berupa reportase maupun opini. Pada hari
pertama, Kotak Suara langsung diserbu sekitar 100 tulisan yang
dibagi sesuai dengan kategori tagging yang digunakan di Kotak
Suara. Masing-masing tulisan langsung masuk ke rubrik yang
ada, seperti rubrik Pilpres, Pileg dan Serbaserbi Pemilu.
Belakangan, Admin menambahkan beberapa rubrik baru yaitu
Polling dan Pro Kontra.
Dinamika diskursus politik di Kompasiana inilah yang bisa kita tangkap
sebagai bagian dari proses literasi politik yang dilakukan secara sadar oleh
pengelola Kompasiana maupun penggunanya (Kompasianer).
Menurut pendapat Bernard Crick sebagaimana yang dikutip oleh Gun Gun
Heryanto dalam tulisannya Essay on Citizenship bahwa literasi politik adalah
pemahaman praktis tentang konsep-konsep yang diambil dari kehidupan seharihari dan bahasa. Merupakan upaya memahami seputar isu utama politik, apa
keyakinan
utama
para
kontestan,
bagaimana
kecenderungan
mereka
mempengaruhi diri anda dan saya 127.
1. Pengetahuan
Jika dianalisa ada beberapa proses literasi politik, dilihat bahwa Kompasiana
memberi edukasi politik melalui program-program yang dilakukan secara berkala
lewat kanal Kotak Suara, seperti program liputan khusus (Lipsus) Kawal Pemilu
126
Wawancara peneliti dengan Shulhan Rumaru (Staf Admin) pada Senin, 5 Mei 2014 di
Ciputat, Tangerang Selatan.
127
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, h. 117.
88
dan Kawal Pilpres yang mengajak para Kompasianer untuk menulis reportase
seputar Pemilu 2014.
Untuk menambah riuhnya suasana di Kotak Suara, Admin juga
mendongkraknya dengan Topik Pilihan khusus seperti Kawal
Pilpres dan Kawal Pemilu yang semua berupa reportase.
Alhamdulillah, ratusan tulisan mengenai peristiwa pemilu
berhasil dijaring di Kotak Suara. Hal ini menunjukkan bahwa
Kompasianer aktif dalam mengabarkan peristiwa pemilu juga
menyumbang opini seputar pemilu.128
Gambar 4.1
Lipsus Kompasianer Kawal Pemilu
Gambar 4.2
Lipsus Kompasianer Kawal PILPRES
128
Wawancara peneliti dengan Shulhan Rumaru (Staf Admin) pada Senin, 5 Mei 2014 di
Ciputat, Tangerang Selatan.
89
Selain lipsus, Kompasiana juga mempunyai aktivitas offline yang disebut
MODIS (monthly discussion). Dalam program ini, Kompasiana mengundang para
tokoh politik atau tokoh yang mempunyai kapasitas untuk berdiskusi langsung
bersama Kompasianer menyoal politik. Maka sudah tentu jika dianalisa,
Kompasiana telah melakukan literasi politik karena berkenaan bagaimana upaya
Kompasianer memahami seputar isu politik. Mekanisme MODIS hampir sama
dengan forum diskusi pada umumnya, ada sesi panelis menyampaikan materi dan
ada kesempatan dialog dalam sesi tanya jawab. Bedanya, dalam Modis
diperbolehkan bertanya apa saja, berdiskusi secara natural dan mencair.
Oleh sebab ini memunculkan proses sharing fantasi, artinya menghidupkan
interaksi kelompok yang terjadi selama acara berlangsung. Proses tersebut dalam
konsepnya yaitu kovergensi simbolik tentang proses pertukaran pesan yang
menimbulkan kesadaran kelompok yang menghasilkan hadirnya makna, motif dan
juga persamaan bersama.129
Iskandar Zulkarnaen menjelaskan:130
Kalau aktivitasnya sekarang baru sebatas kita minta mereka untuk
menulis soal politik, tapi selain itu kita juga pernah bikin Monthly
Discussion untuk tema-tema politik kayak kemarin kita diskusi
bareng Wiranto, dalam kapasitas dia sebagai capres dari Hanura,
kita juga pernah diskusi dengan oh gak gak waktu itu sih tahun
kemarin Ahok, paling baru dengan Wiranto diskusi. Tapi kita
memang ingin nanti ketika udah masuk pilpres ini menggiatkan
acara-acara yang bisa mempertemukan Kompasianer dengan
orang yang ada di lingkaran politik bukan hanya politikus, atau
calon presiden tapi juga tim sukses juga politisi ya mungkin seperti
itu.
129
Jhon F Cragan, Understanding Communication Theory: the Communicative Forces for
Human Actions, (Needham Heights: a Viacom Company, 1998), h. 97.
130
Wawancara peneliti dengan Iskandar Zulkarnaen (Editor Kompasiana) pada Rabu, 30
April 2014 di kantor Kompas.com, Jakarta.
90
Informasi dari admin Kompasiana bahwa selama dua tahun ini Kompasiana
sudah melakukan beberapa diskusi dengan elit politik (MODIS) yaitu dengan
mengundang Wiranto sebagai calon presiden dari Hanura, Jokowi sebagai
Gubernur DKI Jakarta sekaligus calon presiden dari PDIP, dan Tri Rismaharani
sebagai Walikota Surabaya. Disamping itu, dengan semakin dekatnya pemilihan
presiden, Kompasiana sudah merencanakan program yang namanya OPTIK
(Obrolan Politik) dimana program tersebut diarahkan sebagai ruang diskusi
Kompasianer dengan para tim sukses dari berbagai partai atau capres guna men
jadi bagian dari edukasi politik yang dilakukan Kompasiana.
Kita ada rencana membuat obrolan politiklah untuk Kompasianer.
Yah... persis persis, memang kita punya media ini maka kita
gunakan untuk sebisa mungkin bermanfaat buat masyarakat. Itu
akan sekali banyak temanya, bicara politik berarti ke situ arahnya,
makanya kita akan buatkan offline activity, gathering-gathering
para Kompasianer, menambah wawasan mereka terkait politik
dengan ngobrol langsung dengan orangnya dengan orangnya yang
langsung in ke politik itu, tidak hanya mereka baca dari sumber
kedua.131
Gambar 4.3
Modis Bersama Jokowi
131
Wawancara peneliti dengan Iskandar Zulkarnaen (Editor Kompasiana) pada Rabu, 30
April 2014 di kantor Kompas.com, Jakarta.
91
Gambar 4.4
Modis Bersama Wiranto
Di sisi lain, Kompasianer yang memang beragam latar belakang baik
pendidikan, ekonomi, profesi dan kondisi demografis, membuat proses interaksi
di Kompasiana maupun forum offline semakin kaya. Tak ada lagi zona proksemik
yang digagas Edward Hall, yang membagi antara jarak intim (0-18 inci/46 cm),
jarak personal (46 cm-1,2 m), jarak sosial (1,2 m- 33,6 m), jarak publik
(melampaui 3,7 m).132
Uniknya lagi di Kompasiana seputar kabar berita yang tidak tertangani oleh
media mainstream bisa dengan mudah didapatkan dan tentu ini menjadi bahan
pengetahuan Kompasianer itu sendiri terkait seputar pemilu 2014.
Uniknya lagi, berita seputar pemilu yang tidak berhasil dicover
oleh media mainstream bisa kita dapatkan di Kompasiana.
Misalkan, berita seputar surat perintah menghadiri kampanye
salah satu partai yang ditujukkan kepada seluruh karyawan dari si
pemilik media yang memang beraviliasi secara politis di partai
tersebut.133
132
Richard West & Lynn H. Turner, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, h.
155-157.
133
Wawancara peneliti dengan Shulhan Rumaru (Staf Admin) pada Senin, 5 Mei 2014 di
Ciputat, Tangerang Selatan.
92
Ditambah lagi dengan kecenderungan para Kompasianer yang tak hanya
menyerap informasi dari satu sumber mainstream, menjadi berefek pada konten
yang mereka sajikan, yakni semakin beragam, multiperspektif, dan lintas disiplin
keilmuan.
Berikut penuturan Shulhan Rumaru:134
Untuk Kompasianer sendiri, saya melihat mereka banyak menggali
berita dari sumber mainstream, lalu mereka meng-create opini dan
membuat berita sendiri. Terkadang, mereka juga aktif dalam
diskusi publik yang diadakan Kompasiana dan kopdar yang
dilakukan sendiri oleh kompasianer.
Salah satu Kompasianer Daniel HT, mengaku:135
Saya sejak kecil suka membaca. Jadi, pengetahuan politik yang saya
peroleh, ya, dari membaca. Sumbernya bisa di media berita di
internet, maupun media cetak, seperti Harian Kompas, dan Majalah
Tempo.
2. Kemampuan Menulis (Skill)
Dengan mengikuti tren web 2.0 dimana sebuah proses pertukaran data dan
penciptaan konten berdasarkan partisipasi pengguna (user generated content),
maka Kompasiana membuka ruang untuk warga berekspresi lewat tulisan dengan
sebebas-bebasnya dan tetap bersandar pada netiket (etika berinternet) dan netitud
(perilaku berinternet) yang berlaku di Kompasiana.
Abugaza dalam bukunya Social Media Politica memaparkan, teknologi
internet berbasis web 2.0 merupakan satu klarifikasi wajah baru dari web dimana
134
Wawancara peneliti dengan Shulhan Rumaru (Staf Admin) pada Senin, 5 Mei 2014 di
Ciputat, Tangerang Selatan.
135
Wawancara peneliti dengan Daniel HT selaku Kompasianer Surabaya yang aktif
menulis politik sekaligus bekerja sebagai Wiraswasta melaui email.
93
karakteristik pertukaran data adalah many-to-many atau istilahnya pembaca bisa
berinteraksi langsung dengan pembuat berita dan pembaca lainnya.136
Dari paparan tersebut, kita bisa simpulkan bahwa menulis di Kompasiana
merupakan salah satu cara berkontribusi untuk menyampaikan ide, gagasan dan
opini kepada pembaca, khususnya seputar konten Pemilihan Presiden 2014. Hal
ini sangat berkaitan dengan jargon Kompasiana yang mengusung semangat
berbagi dan saling terhubung (sharing.connecting).
Lewat tulisan, Kompasianer membangun dialog. Mereka saling berbalas
tulisan, mengomentari tulisan satu sama lain, mengkritisi dan tak lupa juga saling
memuji. Dalam beberapa kasus, beberapa Kompasianer yang membela salah satu
capres saling berbalas tulisan, baik berupa pembelaan maupun membantah tulisan.
Bukan hanya dalam politik, beberapa perusahaan bahkan instansi negara sering
memuat hak jawabnya di Kompasiana untuk mengklarifikasi tulisan di
Kompasiana yang dianggap merugikan atau membuat citra buruk bagi instansi
tersebut.
Pada tahun 2010, Ketua DPR RI periode 2009-2014 Marzuki Alie pernah
melontarkan pernyataan kurang simpatik kepada korban tsunami di pulau
Mentawai, Aceh, di media massa yang disambut protes besar-besaran lewat
tulisan di Kompasiana. Bahkan, seorang wartawan senior Tempo Linda Djalil
menuliskan protes kerasnya di Kompasiana yang akhirnya membuat Marzuki Alie
memuat hak jawabnya di Kompasiana, menulis sendiri hak jawab tersebut
menggunakan akun Marzuki Alie. Sejak saat itu, ramai para tokoh politik dan
tokoh publik berdatangan dan membuat akun di Kompasiana untuk saling berbagi,
136
Anwar Abugaza, Social Media Politica Gerak Massa Tanpa Lembaga, h. 17.
94
sebut saja Yusril Ihza Mahendra, Musni Umar, Wiranto, Jusuf Kalla, Anies
Baswedan, AM Fatwa dan sederet nama profesional lainnya.
Belakangan, selama masa pemilu legislatif, juga bermunculan akun para
calon anggota legislatif yang berkampanye melalui tulisan. Akun- akun tersebut
juga menuai banyak komentar dari Kompasianer. Pada masa kampanye pilpres,
cukup terlihat adanya dua kubu antara Kompasianer Pro Jokowi dan Kompasianer
Pro Prabowo. Kedua kubu tersebut, aktif melakukan kampanye, mulai dari
menggeret isu hingga kampanye negatif dan kampanye hitam. Di Kompasiana,
kampanye negatif dan kampanye hitam tidak diperbolehkan, sehingga admin
langsung menghapus tulisan yang mengarah ke sana. Fenomena di atas dalam
pengamatan penulis, sudah menunjukkan betapa proses literasi politik di
Kompasiana berjalan dua arah, antara penulis dan pembaca.
Gambar 4.5
Tulisan Kompasianer Perihal Politik
Mengacu pada perkataan Crick dalam tulisan bahwa literasi politik lebih
luas dari hanya sekedar pengetahuan politik, melainkan cara “membuat diri
menjadi efektif dalam kehidupan publik” dan dorongan untuk “menjadi aktif,
95
partisipatif dalam melaksanakan hak dan kewajiban baik dalam keadaan resmi
maupun di arena publik yang sifatnya suka rela.”137
Berikut penuturan Iskandar Zulkarnaen selaku editor Kompasiana:138
Gimana sih menerapkan ini di Kompasiana, akhirnya dibuatkan
lah sebuah tempat yang khusus buat Kompasianer itu ngomongin
soal politik. Yaudah namanya gampang aja, ya Kotak Suara gitu
kan, itu sudah sangat Kompasiana, udah sangat warga gitu kan, ini
kotak, isinya suara yang siapa pun bisa naro suara itu gitu kan itu
udah sangat pemilu gitu kan. Yah... sehingga yang kita hadirkan di
kotak suara ini adalah tulisan-tulisan tentang berita atau pun opini
mereka terkait tentang pemilu, macam-macam dari pemilihan
presiden sampe pemilihan legistlaitif dan kita tambahkan fiturefiture seperti polling dan segala macam dan ini memang kita buat
agar pemilihan itu tidak berlalu tanpa ada pengawasan dari
warga.
3. Sikap
Dinamika yang terjadi pun turut hadir dalam Kompasiana. Dimana
Kompasiana menyediakan rubrik untuk bisa mengekspresikan para Kompasianer
dalam berbagai sikap seperti keinginan Kompasianer untuk mengusung siapa
yang pantas menduduki jabatan presiden serta berupa gagasan atau ide yaitu
Polling dan Pro Kontra. Tentu hal tersebut menjadi proses literasi politik yang
masif yang bisa berimbas pada proses demokrasi yang baik.
Menjelang pemilihan presiden pada rubrik polling berbagai tahapan muncul
yaitu tahap pertama kontennya hanya menyediakan nama-nama yang digadanggadang sebagai Capres dan Cawapres, kemudian para Kompasianer bisa
menciptakan Capres dan Cawapres yang mereka inginkan (user generated
content).
137
Andi Faisal Bakti, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, h. 117.
Wawancara peneliti dengan Iskandar Zulkarnaen (Editor Kompasiana) pada Rabu, 30
April 2014 di kantor Kompas.com, Jakarta.
138
96
Gambar 4.6
Hasil Polling Konten Tahap Awal
Tahap polling selanjutnya yaitu konten sudah berubah karena terkait tentang
keputusan resmi KPU terkait dua pasangan capres dan cawapres seperti PrabowoHatta dan Jokowi-JK yang akan berkontestasi dalam Pilpres 2014. Dalam polling
ini tidak ada unsur membela karena Kompasiana tidak menerima sponsor
sehingga hasil yang diperoleh sangat natural.
Polling tidak menerima sponsor, itu untuk mengantisipasi dan
untuk menegaskan bahwa ini polling kita mau bikin aja, ga ada
urusannya ama partai manapun itu berarti politik praktis.139
139
Wawancara peneliti dengan Iskandar Zulkarnaen (Editor Kompasiana) pada Rabu, 30
April 2014 di kantor Kompas.com, Jakarta.
97
Gambar 4.7
Hasil Polling Konten Tahap ke-2
Bisa dilihat, pergerakan hasil polling di Kompasiana cukup menarik, dimana
sempat terjadi saling kejar antara kedua capres selama kurang lebih sepekan. Pada
13 Juni, pasangan Jokowi-JK memimpin dengan perolehan suara mencapai 50
persen, sedangkan Prabowo-Hatta menguntit dengan perolehan 35 persen suara.
Dalam kurun waktu lima hari, Prabowo-Hatta menyalip perolehan suara dengan
prosentase 59.11 persen, sedangkan Jokowi-JK melorot ke angka 38.26 persen.
Berdasarkan pantauan saya di kanal Kotak Suara, hingga memasuki masa
pencoblosan Pilpres 9 Juli, suara Jokowi-JK merangsek menjadi 43.81 persen
suara, dan Prabowo-Hatta tetap memimpin dengan perolehan 54.7 persen suara.
Namun perlu diketahui juga bahwa hasil polling Kompasiana ini bersifat
non-scientific karena polling tersebut tidak ada standar ilmiah yang bisa dijadikan
bahan acuan dan diukur kebenaraannya. Sebagaimana artikel yang ditulis Gun
Gun Heryanto pada SindoNews bahwa survey terbagi dua. Pertama, nonscientific survey seperti SMS survey (call in survey) dan internet survey. Kedua,
98
scientific survey yang ketat pada standar-standar ilmiah untuk mengetahui,
mengukur, memprediksi kehendak publik yang berkembang. 140
Beda halnya dengan lembaga survey yang digadang-gadang masuk dalam
kategori scientific survey salah satunya Lembaga Survey Indonesia (LSI) yang
ketat dan mempunyai standar ilmiah yang jelas. Seperti hasil survey sejak Januari
2014- Juni 2014, dukungan kepada Jokowi di segmen pemilih itu merosot di atas
50 persen menjadi di bawah 40 persen. Padahal jika dilihat jumlah pemilih
tradisioanl sekitar 60-70 persen populasi. Tak heran, terjadi pergeseran dukungan
dari Jokowi ke Prabowo. Kemudian awal Juni 2014, selisih kemenangan Jokowi
hanya 6.3 persen. Namun di akhir Juni 2014, merosot lagi kemenangan Jokowi
hanya 0.5 persen saja, di bawah margin of error. Selanjutnya hasil Quick Count
LSI menyatakan Jokowi-JK unggul pada presentase 53,37% dan Prabowo-Hatta
46,63%, presentase tersebut dengan menggunakan sampel diambil secara acak di
2000 TPS di 33 propinsi, tersebar secara Proporsional berdasarkan Jumlah
Pemilih. Dan dipilih secara acak di seluruh Wilayah di Kabupaten dan Kota,
dengan tingkat kesalahan ± 1%.141
Dari fenomena tersebut tentu hasil polling Kompasiana tidak bisa diukur
kebenarannya tetapi bisa menjadi tolak ukur bagaimana Kompasianer bisa
mengekspresikan sikap mereka dan siapa saja yang ada dibalik akun-akun
tersebut.
140
Artikel Gun Gun Heryanto pada Sindo News
http://nasional.sindonews.com/read/657437/18/etika-lembaga-survei. Artikel ini diakses tanggal
15 Agustus 2014 pukul 23:00 WIB.
141
Sumber ini langsung dari Lembaga Survey Indonesia dengan alamat
http://lsi.co.id/lsi/2014/07/10/jokowi-jk-pemenang-pemilu-presiden-versi-quick-count/ diakses
tanggal 15 Agustus 2014 pukul 22:30 WIB.
99
Rubrik selanjutnya yaitu Pro Kontra, dimana Kompasiana mengangkat satu
topik yang setiap minggunya selalu berganti dengan topik-topik yang hangat serta
mengajak para Kompasianer untuk menentukan sikap. Pada rubrik Pro Kontra
disediakan balong terpisah bersebelahan, sehingga nampak seperti saling
bersahutan pendapat sesuai pilihannya dan menjadi arena diskursus terbuka tanpa
intervensi. Program Pro Kontra ini bisa dibilang sebagai jajak pendapat yang
sengaja dilakukan Kompasiana untuk menjaring pendapat bloggernya alias
Kompasianer terkait suatu persoalan atau polemik kebijakan yang tengah terjadi.
Gambar 4.8
Diskusi Rubrik Pro Kontra
100
Gambar 4.9
Sikap Para Kompasianer Menyoal Ambang Batas Pencalonan Presiden
(Presidential Threshold)
Dari data pada gambar di atas menunjukan gambaran partisipasi aktif dari
Kompasiana mengenai topik yang disugguhkan admin salah satunya seputar
Presidential Threshold (PT). Admin membuka arena diskursus mengenai setuju
atau tidak setuju terkait pemberlakuan PT. Kompasiana yang setuju terhadap PT
dan yang menolak pemberlakukan PT berimbang. Salah satu komentar yang
diungkapkan seorang Kompasianer dalam topik ini yaitu Patrick S. Hutapea
Jelas, supaya aspek keterwakilan diutamakan. Kalau parpol gurem
bisa mencalonkan presiden sendirian, berapa banyak capres yang
akan dipilih nantinya?
Sedangkan yang kontra menurut Dudi Rustandi, 25% PT terlalu sedikit. Dia
berharap prosentase PT lebih ditinggikan lagi diangka 35% sebab menurutnya hal
tersebut akan merampingkan kekuatan di parlemen.
25 % itu terlalu sedikit, jika bisa dinaikan lagi menjadi 35 persen
untuk menutup kemungkinan adanya capres lebih dari dua. jika 25
% akan terjadi kemungkinan capres lebih dari dua, bahkan bisa
sampe empat. jika capres terlalu banyak bisa-bisa ada putaran
kedua, habis2in duit negara aja bos.
101
Topik yang disuguhkan oleh admin di atas merupakan salah satu topik dari
sekian banyak topik yang disuguhkan terkait tentang pemilihan presiden saat ini.
Seperti topik calon presiden independen dan golput rusak sistem politik.
Jelang pemilihan presiden dan semakin jelasnya siapa calon yang nantinya
bakal berebut kursi RI-1, maka kanal Kotak Suara 2014 dimasuki oleh kelompok
kepentingan (interest group), kelompok penekan (pressure group), dan juga tim
sukses masing-masing capres, hingga pasukam siber (cyber army) yang
disiagakan untuk menyanggah isu yang berkembang di Kompasiana, bahkan
memainkan isu tertentu.
Iskandar Zulkarnaen menjelaskan:142
Kita sengaja menampilkan presentasikan dalam jumlah suara biar
keliatan oh ternyata sedikit, gitu, tapi bisa di nilai sendiri lah
masyarakat, silahkan masyarakat diliat lagi hasil polling itu. Tapi
paling tidak akan keliatan polanya siapa yang paling banyak ada di
Kompasiana tim mana tapi akan menariknya di situ. Oh... ada
Jokowi semua berarti konsen di Kompasiana Jokowi, dan kita sama
sekali tidak ada tendensi untuk menunjukan bahwa Jokowi dari ada
Kompasiana nggak. Itu murni apapun yang ada di Kompasiana
tidak ada agenda setting, tidak ada rekayasa, tidak ada arahan dari
kita sebagai pengelola bahkan menariknya setiap kali kita bikin
event, modis atau pun nangkring, modislah mungkin, kan
pertanyaan semua dari audiens dari Kompasianer.
142
Wawancara peneliti dengan Iskandar Zulkarnaen (Editor Kompasiana) pada Rabu, 30
April 2014 di kantor Kompas.com, Jakarta.
102
Gambar 4.10
Proses Literasi Politik di Kompasiana143
Pengetahuan
ï‚· Aktifitas
Online
(LIPSUS)
ï‚· Aktifitas
Offline
(MODIS)
Menulis
ï‚· Kompasianer
menulis dari
acara yang
diberikan dan
difasilitaskan
pihak
Kompasina
seperti acara
Dinamika
PILPRES
2014
Noise
Shared
Group
Proses
Konvergesi
Simbolik
Sikap
ï‚· Pro Kontra
Dari hasil penemuan peneliti bahwa proses literasi politik di Kompasiana
berawal dari dinamika PILPRES 2014 yang sedang ramai diperbincangkan di
media online atau Kompasiana kemudian merujuk pada program-program online
yang dilakukan secara berkala lewat kanal Kotak Suara 2014 yaitu program
143
Hasil temuan peneliti terkait tentang Literasi Politik Jelang Pemilihan Presiden
(PILPRES) 2014 di Media Sosial Kompasiana.
103
liputan khusus Kawal Pemilu dan Kawal Pilpres dan offline yang dilakukan
Kompasiana seperti monthly discussion (MODIS) sehingga tentu memunculkan
pengetahuan baru untuk Kompasianer kemudian dari hal tersebut biasanya
Kompasianer menulis dari berbagai aktifitas yang dilakukan dan difasilitasi
Kompasiana selanjutnya timbulah sikap para Kompasianer memberikan penilaian
terhadap PILPRES 2014 ini seperti yang ada di rubrik Pro Kontra.
Dari paparan tersebut tentu ini memunculkan sharing group, artinya para
Kompasianer bisa menyuarakan pendapat, berbagai informasi dan kritikan pada
masing-masing tulisan Kompasianer hal tersebut sangat berkenaan dengan literasi
politik yang merupakan upaya memahami seputar isu politik dan cara membuat
diri lebih efektif seputar politk sehingga dari hal tersebut menghadirkan adanya
proses konvergensi, dimana para Kompasianer membangun kesadaran simbolik
bersama melalui suatu proses pertukaran pesan seperti saling berbagi pengalaman
dan saling berinteraksi untuk bertindak bagi orang-orang atau kumpulan orang
yang terlibat di dalamnya.
Jika ditelaah lagi, noise dalam proses konvergensi simbolik di Kompasiana
masuk dalam gangguan semantik dimana berkaitan langsung dengan pesan
komunikasi yang pengertiannya menjadi rusak atau tersaring ke dalam pesan
melalui penggunaan bahasa seperti tidak memahami seputar isu politik dan
kurangnya memahami isi tulisan yang ditulis Kompasianer.
Literasi Media
Seperti yang ditulis Potter untuk membangun struktur ilmu pengetahuan kita
memerlukan alat dan bahan baku. Alat yang dimaksud adalah kemampuan literasi
104
media, sedangkan bahan bakunya adalah informasi dari media dan informasi dari
dunia yang sesungguhnya. 144
Begitupun Kompasiana, mekanisme yang diterapkan Kompasiana pun
terlihat terstruktur karena ada sistem moderasi, artinya setiap tulisan yang masuk
akan disaring ulang terkait dengan aturan dan tata cara yang sudah diberlakukan.
Dari ulasan tersebut tentu Kompasiana sebagai media sosial sudah melakukan
literasi media. Meski begitu, proses moderasi bukanlah menyortir tulisan
melainkan lebih ke arah kurasi atau mengelola tulisan bila ada kesalahan teknis
seperti typo (salah ketik dll). Kompasiana dengan model blog rembuk (user
generated content) sudah menyediakan alatnya yaitu format blog dan netizen yang
bergabung tinggal daftar, membuat akun secara gratis dan menulis.
Dalam Konferensi Kepemimpinan Nasional Literasi Media (Nasional
Leadership Conference of Media Literacy) di AS tahun 1992, literasi media
didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi
dan mengomunikasikan pesan.145
“Kita dulu melakukan moderasi jadi semua tulisan yang masuk
tidak kita tayangkan dulu kita tahan dulu baru setelah tidak
menyinggung SARA kita munculkan, sekarang kan liat di Facebook
atau di twitter menulis bisa langsung ditayangkan gitu, tapi ini
bisa menyimpan bahaya juga, nyimpan bahayanya adalah orang
masuk lewat postingan SARA, atau orang yang judi, yang ngeseks,
dan kalo tidak di filter maka akan terjadi kecolongan gitu seperti
kasus kemarin. Sehingga ke depan orang yang masuk Kompasiana
kita akan lakukan moderasi, orang yang baru mah harus diperiksa
dulu sebelum ditayangkan”146
144
Potter, W. James, Media Literacy, (Thousand Oaks: Sage Publications), h. 4.
Komisi Penyiaran Indonesia, Panduan Sosialisasi Lietasi Media Televisi, 2011.
146
Wawancara peneliti dengan Pepih Nugraha (Redaktur Pelaksana Kompas.com) dan
selaku Pendiri Kompasiana pada Selasa, 08 April 2014 di kantor Kompas.com, Jakarta.
145
105
Ditambahkan juga oleh Iskandar Zulkarnaen :
“Yang kita lakukan mulai dari menolak adanya copy paste, kita
menolak adanya tulisan-tulisan dalam udang-undang dilarang kita
tidak cuma menerapkan undang-undang IT tetapi lebih dari itu.
Yah termasuk huruf kapital kita tidak bolehin trus data yang kita
terapkan kayak gitu yang sangat teknis sekali, memang kita
pastikan bahwa user itu loh kalau mau memposting di Kompasiana
itu ada aturannya, kita bikin aturan bukan hanya Kompasianer
yang nulis, misalnya Putri ya nulis, ini memang aturan bukan untuk
Putri tapi kepada buat pembaca biar membaca nyaman. Kita bikinbikin aturan dari sisi konten, dari sisi penulisan sampe sisi
ketentuan macem-macem ya, kemudian sanksinya kita terapkan
juga mulai dari artikel dihapus, komentar dihapus, akun dihapus
itu buat pembaca biar mereka nyaman kalau gak ada yang baca
buat apa kita nulis kan kayak ya”147
Gambar 4.11
Moderasi Admin Kompasiana
Jika dilihat pada gambar, berikut hasil laporan moderasi konten Kompasiana
2013 yang diunggah di berita admin, saat itu yang menggungguli berupa tulisan
COPAS 44% disusul dengan tulisan yang mengandung Iklan 24%, Artikel pendek
21% dan selanjutnya Reposting 9% presentase yang lebih rendah.
Di samping itu juga jika kita lihat, walaupun Kompasiana di bawah naungan
media mainstream tetapi Kompasiana sangat fleksibel dan terbuka sekali pada
147
Wawancara peneliti dengan Iskandar Zulkarnaen (Editor Kompasiana) pada Rabu, 30
April 2014 di kantor Kompas.com, Jakarta.
106
warga. Keterbukaan Kompasiana bukan hanya menampung tulisan di berbagai
rubrik
tetapi
Kompasiana
membuat
transparansi
report
sehingga
para
Kompasianer bisa melihat aktivitas apa saja yang dilakukan Kompasiana dalam
pengelolaan konten setiap tahunnya.
Kalau ngomongin konten di berita admin tahun Desember lalu, kita
bikin laporan transparansi Kompasiana 2013 itu akan kelihatan
berapa banyak konten yang dihapus, berapa banyak akun yang kita
blokir, dan itu bagian dari pekerjaan kita mengedukasi blogger
untuk kita yuk kita nulis dengan baik dan bermanfaat untuk
masyarakat gitu. Dan di sisi lain bisnis kita mengedukasi brand
juga klien untuk bisa masuk ke Kompasiana148
Gambar 4.12
Hasil Moderasi Admin
Berikut juga konten berita admin yang melaporkan pemblokiran akun. Pada
peringkat pertama dapat terlihat yang unggul yaitu tulisan yang berbau iklan
dengan presentase mencapai setengahnya adalah 55%, tulisan COPAS dengan
presentase 18% kemudian tidak jauh berbeda hasil presentase dari tulisan yang
mengandung vulgar 14% selanjutnya presentase pendiskredit hanya 3%. Dari
148
Wawancara peneliti dengan Iskandar Zulkarnaen (Editor Kompasiana) pada Rabu, 30
April 2014 di kantor Kompas.com, Jakarta.
107
hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Kompasiana bukan hanya
melakukan literasi media tetapi telah menerapkan etika berinternet.
Seperti yang dijelaskan Pepih Nugraha bahwa pelaku netizen harus
mempunyai etika berinteraksi yang disebut netiquette, disebut netiquette karena
ada dua kata yang dijadikan satu yakni networks dan etiquette maka jadilah
netiquette. Dalam bahasa Indonesianya yaitu netiket. Netiket adalah etika
berinternet yakni berperilaku sesuai etiket saat tersambung ke jaringan internet. 149
B.
Pesan-Pesan Literasi Politik Kotak Suara 2014
Migrasinya web 1.0 cenderung pasif (one way communication) ke web 2.0
yang begitu cair dapat saling berinteraksi dan user genereted content. Maka
memunculkan tipologi pada pengguna internet atau netizen tidak terkecuali
Kompasiana yang berbentuk media sosial. Ada empat tipologi netizen di media
baru yaitu diseminator, publisist, propagandis dan hactivist.
Tabel 4.13
Tipologi Netizen dalam Kepentingan Politik150
Diseminator
ï‚· Isu harian
ï‚· Isu strategis
ï‚· Isu jangka
panjang
Sharing and
connecting
Diseminasi dan
literasi
Publisist
Propagandis
Hactivist
Isu
personal/lembaga
Isu strategis
Isu sensitive
Eksistensi diri
Delegitimasi atau
legitimasi
Mengkonstruksi
citra
Membuat
partisipasi aktif
Perlawanan
terhadap rezim
kekuasaan politik
dan ekonomi
Meretas atau
membobol
149
Pepih Nugraha, Ctizen Journalism Pandangan, Pemahaman dan Pengalaman, h. 116-
150
Gun Gun Heryanto& Shulhan Rumaru, Komunikasi Politik Sebuah Pengantar, h. 176.
117.
108
(pemikiran,
ideologi, sikap dll)
atau pasif
informasi rahasia
1. Disseminator
Merupakan kegiatan netizen dalam dunia virtual berupa tipologi yang
menyampaikan isu harian, isu strategis dan isu jangka panjang. Prosesnya pun
bersifat sharing and connecting sehingga memunculkan diseminasi dan literasi
berupa pemikiran, ideologi dan sikap.
Jika dianalisa Kotak Suara 2014 sudah banyak melahirkan gagasan,
pemikiran, ideologi dan sikap karena Kompasiana membuat kanal tersebut salah
tujuannya yaitu membuat wadah seputar politik untuk warga.
Pepih Nugraha:151
Ya, kita menampung tulisan warga berkaitan dengan kegiatan
pesta demokrasi lima tahunan ini misalnya kita secara sengaja dan
secara setting kita bikin yang namanya Kotaksuara di Kompasiana
itu adalah microsite boleh dibilang anak dari sebuah situs gitu
memang dia punya subdom sendiri, halaman sendiri apa namanya
Kotak Suara. lalu disana setiap orang kalo mau menulis tentang
Pileg, Pilpres dan Serba Serbi, Pemilu ada di situ. Disitu artinya
apa? artinya kita bisa mewadahi mereka dan memang ingin
melaporkan kegiatan-kegiatan seputar pemilu begitu, mereka mau
mempromosikan calegnya, atau jagoan presiden silahkan tetapi
tidak menjelek-jelekkan orang lain itu kita jaga.
Ditambahkan juga dari penjelasan Iskandar Zulkarnaen:152
Gimana sih menerapkan ini di Kompasiana, akhirnya dibuatkan
lah sebuah tempat yang khusus buat Kompasianer itu ngomongin
soal politik. Yaudah namanya gampang aja, ya Kotak Suara gitu
kan, itu sudah sangat Kompasiana, udah sangat warga gitu kan, ini
kotak, isinya suara yang siapa pun bisa naro suara itu gitu kan itu
udah sangat pemilu gitu kan. Yah... sehingga yang kita hadirkan di
151
Wawancara peneliti dengan Pepih Nugraha (Redaktur Pelaksana Kompas.com) dan
selaku Pendiri Kompasiana pada Selasa, 08 April 2014 di kantor Kompas.com, Jakarta.
152
Wawancara peneliti dengan Iskandar Zulkarnaen (Editor Kompasiana) pada Rabu, 30
April 2014 di kantor Kompas.com, Jakarta.
109
kotak suara ini adalah tulisan-tulisan tentang berita atau pun opini
mereka terkait tentang pemilu, macam-macam dari pemilihan
presiden sampe pemilihan legistlaitif dan kita tambahkan fiturefiture seperti polling dan segala macam dan ini memang kita buat
agar pemilihan itu tidak berlalu tanpa ada pengawasan dari warga
walaupun juga belum tentu kotak suara ini dibaca tapi sebagai
sebuah arsip dia akan menjadi penting, ketika kita akan membuat
suatu yang lebih baik.
Oleh karenanya Kotak Suara 2014 menjadi proses sharing and connecting
seperti jargon Kompasiana yang mengusung semangat berbagi dan saling
terhubung. Akun-akun yang bertipologi diseminator banyak sekali seperti
pengamat politik, akademisi, praktisi dan berbagai profesi lainnya.
Beberapa bulan penulis mengamati menjelang pemilihan presiden,
Kompasiana mengalami peningkatan sites ranking. Tahun 2009 pun Kompasiana
yang masih berumur sangat muda mampu melonjak ke peringkat atas. Dari hal
tersebut tentu kanal Kotak Suara 2014 mempunyai pengaruh besar terhadap
fenomena yang terjadi.
Berikut penjelasan Pepih Nugraha: 153
Buktinya tidak pernah sepi kan alurnya masih jalan lalu kemudian
banyak hal-hal yang baru di sana dan mereka punya kepentingan
seperti lazimnya pada tahun 2009, kita punya, dapet momentum
dari PILEG dan PILPRES itu sehingga Kompasiana naik menjadi
luar biasa ya... peringkatnya waktu itu mungkin dari 400-an
menjadi langsung 250-anlah peringkat, sekarang sih berharap dari
30 sampe menjadi 25-an peringkatnya setelah PILEG dan
PILPRES selalu ada harapan untuk pesta demokrasi lima tahunan
ini.
153
Wawancara peneliti dengan Pepih Nugraha (Redaktur Pelaksana Kompas.com) dan
selaku Pendiri Kompasiana pada Selasa, 08 April 2014 di kantor Kompas.com, Jakarta
110
Tabel 4.14
Top Sites in Indonesia154
1
Google.com
19
Ask.com
2
Facebook.com
20
Adf.ly
3
Google.co.id
21
Bp.blogspot.com
4
Youtube.com
22
Berniaga.com
5
Blogspot.com
23
Histats.com
6
Yahoo.com
24
Liputan6.com
7
Kaskus.co.id
25
Bankmandiri.co.id
8
Detik.com
26
Kompasiana.com
9
Wordpress.com
27
Tokopedia.com
10
Twitter.com
28
Lazada.co.id
11
Kompas.com
29
4shared.com
12
Blogger.com
30
Canadaaltax.com
13
Wikipedia.org
31
Bola.net
14
Klikbca.com
32
Adcash.com
15
Olx.do.id
33
Tempo.com
16
Tribunnews.com
34
Kapanlagi.com
17
Merdeka.com
35
Okezone.com
18
Viva.co.id
36
Instagram.com
154
Sumber ini dilansir Alexa.com di alamat http://www.alexa.com/topsites/countries;1/ID
pada Minggu, 22 Juni 2014 pukul 22:30 WIB
111
Gambar 4.15
Akun Bersifat Diseminator (Taryadi Sum)
2. Publisist
Merupakan netizen yang mempunyai kepentingan personal atau lembaga,
tipologi tersebut biasanya menyampaikan isu personal atau lembaga untuk
eksistensi diri dalam mengkonstruksi citra atau mendapatkan popularitas dan
meningkatkan elektabiltas.
Dengan dibuatnya kanal Kotak Suara 2014 memanfaatkan kesempatan
lembaga atau personal (elit politk) untuk dapat melakukan publisitas. Penulis
mengamati karena hadirnya web 2.0 telah membuat perkembangan politik di
Indonesia menjadi semakin maju beragam aktivitas marketing politik dilakukan di
sosial media khususnya Kotak Suara 2014.
Sejarah mencatat bahwa salah satu kemenangan Barrack Obama sebagai
Presiden Amerika yaitu pemaksimalan sosial media untuk menarik dukungan dan
simpati pemilih pemula sangat serius dilakukan oleh Obama dan kemenangan
Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta seperti yang diungkapkan Jokowi
112
setelah kemenangan pada putaran pertama Rabu, 11 Juli 2012 di markas JokowiBasuki, Tugu Proklamasi Jakarta Pusat “Twitter, Facebook dan Blackberry
sangat membantu kememangan mereka.
Gambar. 4.16
Akun Bersifat Publisist (Jusuf Kalla)
Dari contoh tersebut tentu sosial media menjadi sasaran empuk untuk para
elit politik dan lembaga melakukan marketing politik. Kotak Suara 2014 salah
satu kanal yang dilirik oleh elit politik dan lembaga politik dalam menyalurkan
kepentingan mereka seperti AM. Fatma, Wiranto, Marzuki Alie, Anis Baswedan,
Yusril Ihza Mahendra, Jusuf Kalla. Beragam tulisan terkait politik memenuhi
Kotak Suara 2014. Menariknya lembaga pun ikut turut aktif dalam melakukan
publisitas seperti Partai Gerindra dan Partai Hanura.
Masifnya marketing politik di media sosial saat ini, penulis mengamati
bahwa tidak adanya aturan yang membatasi waktu da konten sehingga begitu
113
mencair dan memberi ruang yang tidak terbatas untuk menggunakan sosial media
khususnya Kotak Suara 2014.
Gambar 4.17
Akun Partai Gerindra dan Partai Hanura
3. Propagandis
Dalam praktik komunikasi politik, ada enam beberapa teknik propaganda
yang biasa digunakan bahkan diandalkan dalam upaya mengubah cara pandang
seseorang atau user.155
a.
Name Calling
Memberi label buruk kepada gagasan, orang, objek atau tujuan agar
orang menolak sesuatu tanpa menguji kenyataannya. Salah satu ciri
yang melekat pada teknik ini adalah propagandis menggunakan
sebutan-sebutan yang buruk pada lawan yang dituju. Contoh Akun
Terumbu, jika diperhatikan, akun tersebut menggunakan salah satu
155
Nurudin, Komunikasi Propaganda, (Bandung: PT Rosdakarya, 2002), h. 31.
114
teknik propaganda yaitu Name Calling dan bertipologi propagandis
karena peneliti mengamati, tulisan tersebut bersifat menyudutkan satu
pihak atau memberi label buruk pada lawan. Seperti contoh tulisannya
yang mengandung propaganda dalam tulisannya yaitu: PDIP Mau
Dirikan Sekolah Aneh, Capres Dodol Bulukutut, Waspadai Antek
Asing Mengacaukan PILPRES 2014 serta Korupsi Century dan
Korupsi Transjakarta dll.
Gambar 4.18
Akun Tipologi Propagandist dengan nama Terumbu
b.
Glittering Generallites
Menggunakan “kata baik” untuk melukiskan sesuatu agar mendapat
dukungan, lagi-lagi tanpa menyelidiki ketepatan asosiasinya. Salah
satu Kompasianer satu ini Ervipi, tulisan dengan judul Waduh Capres
Satu Ini Dipuji, Ganteng. Jika diteliti tulisan tersebut menggambarkan
115
Prabowo tampan sehingga patut dipuji dan didukung tanpa ada alasan
krediebel yang jelas.
Gambar 4.19
Akun Tipologi Propagandist dengan nama Ervipi
c.
Card Stacking
Memilih dengan teliti pernyataan yang akurat dan tidak akurat, logis
dan tak logis dan sebagainya untuk membangun suatu kasus. Salah
satu Kompasianer ini Esther Lima. Jika diperhatikan, melalui tulisan
tersebut, Esther Lima membangun suatu kasus antara akurat dan tidak
akurat sehingga timbul pernyataan dari pembaca. Seperti contohnya
116
tulisannya
Prabowo
Keturunan
Yahudi,
Prabowo
Memiliki
Kewarganegaraan Jordan.
Gambar 4.20
Tipologi Propagandist dengan Nama Akun Esther Lima
d.
Plain Folks
Imbauan yang mengatakan bahwa pembicara berpihak kepada
khalayaknya dalam usaha bermakna kolaboratif. Teknik ini biasanya
selalu berupaya menyerap empati publik. Kompasianer yang berakun
Slamet Riyadi ini menulis artikel berjudul: Lagi SBY Kritik Capres
Obrol Janji. Tulisan tersebut jika peneliti perhatikan bersifat promosi
seakan SBY sebagai presiden turut peduli atas PILPRES 2014.
117
Gambar 4. 21
Akun Tipologi Propagandist dengan Nama Akun Slamet Riyadi
e.
Band Wagon
Usaha untuk meyakinkan khalayak agar gagasan besarnya bisa
diterima dan banyak orang akan turut serta ke dalam gagasan tersebut.
Salah satu Kompasianer yang berakun Raden Nuh. Jika diperhatikan
tulisan tersebut seperti meyakinkan pada khalayak bahwa gagasan
tersebut bisa diterima. Seperti contoh tulisannya Otoritas Jasa
Keuangan Harus Dibubarkan.
118
Gambar 4. 22
Akun Tipologi Propagandist dengan Nama Akun Raden Nuh
f.
Testimonial
Berisi perkataan manusia yang dihormati atau dibenci bahwa ide atau
program/produk adalah baik
dan
buruk.
Testimonial adalah
memperoleh ucapan orang yang dihormati atau dibenci untuk
mempromosikan atau meremehkan suatu maksud. Kompasianer yang
berakun Slamet Riyadi juga menulis dengan judul SBY Politisir UU
Desa.
4. Hactivist
Merupakan tipologi netizen yang biasanya menyebar isu sensitif. Thrill
Seeker (mencari sensasi) salah satu kategori hactivist yang sangat cocok untuk
Kompasiana. Salah satu Kompasianer yang berakun Susi Avivah yang menulis
119
Ardi Bakrie Murka Iklan Jokowi Muncul di Viva.co.id. tulisan tersebut
mengundang banyak pembaca dengan kisaran 14058 kemudian dengan 32
komentar. Redaktur Pelaksana Kompas.com sekaligus pendiri Kompasiana
menjelaskan tipologi hactivist. Dalam artikelnya Pepih Nugraha menyampaikan
bagaimana tipologi tersebut begitu berpengaruh di Kompasiana.
Gambar 4.23
Akun Bersifat Hactivist (Susi Avivah)
Diamati juga kemunculan Kompasianer sebut saja cyber army biasanya
hadir sewaktu-waktu saja, identitas akun yang digunakan oleh user belum
terverifikasi dan bersifat terselubung. Seperti salah satu akun Kompasianer yang
bernama Maryam Haryani dan Amanda Rachel yang jika ditelaah tulisan mereka
mempunyai kesamaan yang mencolok seperti tulisan Maryam Haryani dengan
judul Ini Settingan Wiranto untuk Hary Tanoe dan Amanda Rachel dengan judul
tulisan Lupakan Jasa-jasa Hary Tanoe Wiranto Sangat Pragmatis. Tulisan tersebut
sama-sama membahas tentang subyek dan obyek yang diperbincangkan.
120
Berikut penuturan Shulhan Rumaru: 156
Jelas ada cyber army. Biasanya mereka hadir untuk membela
kelompok tertentu atau tokoh tertentu dan menyerang kelompok
lain yang berseberangan ideologi politiknya. Biasanya mereka
juga enggan memverifikasi akunnya, sehingga identitas mereka
tetap saja tersembunyi atau anonym.
Gambar 4.24
Akun Cyber Army
Berikut peneliti mencoba menguraikan beberapa contoh penguna internet
dengan macam-macam tipologi yang diuraikan pada pembahasan sebelumnya
melalui tabel di bawah ini.
Tabel 4.21
Contoh Penggunaan Internet di Kompasiana
Tipologi
Diseminator
156
Contoh
Akun:
ï‚· Hazmi Srondol:
http://www.kompasiana.com/sro
ndol
Aktivitas
Kampanye
Capres dan
sharing and
connecting
Hasil
Perhatian publik
Kompasianer
terhadap caprescawapres dan
Wawancara peneliti dengan Shulhan Rumaru (Staf Admin) pada Senin, 5 Mei 2014 di
Ciputat, Tangerang Selatan.
121
ï‚·
Publisist
Thamrin Dahlan:
http://www.kompasiana.com/tha
mrindahlan
ï‚· Pecel Tempe:
http://www.kompasiana.com/ken
-arok
ï‚· Luciana Budiman:
http://www.kompasiana.com/Ini
dia
ï‚· Taryadi Sum:
http://www.kompasiana.com/Ka
ng_Yadi
ï‚· Syamril:
http://www.kompasiana.com/sya
mril
ï‚· Hengky Hamilton:
http://www.kompasiana.com/hen
gky_hamilton
ï‚· Ninoy N Karundeng:
http://www.kompasiana.com/nin
oy
ï‚· RevaputraSugito:
http://www.kompasiana.com/rev
as
ï‚· SlametRiyadi:
http://www.kompasiana.com/riy
adis2014
ï‚· SintongSilaban:
http://www.kompasiana.com/Sin
tong_Original
Marketing
Akun Politisi
Politik
ï‚· Jusuf Kalla:
http://www.kompasiana.com/jusuf
kalla
ï‚· Wiranto:
http://www.kompasiana.com/wiran
to
ï‚· Yusri Ihza Mahendra:
http://www.kompasiana.com/Yusri
lihza_Mahendra
ï‚· Anis Baswedan:
http://www.kompasiana.com/anies
baswedan2014
ï‚· Marzuki Alie:
http://www.kompasiana.com/marz
ukialie
ï‚· A.M Fatwa:
diskusi seputar
Pemilu 2014
Popularitas/elekt
abilitas
122
http://www.kompasiana.com/amfat
wa
Akun Partai
ï‚· Gerindra:
http://www.kompasiana.com/Partai
Gerindra
ï‚· Hanura:
http://www.kompasiana.com/pacpr
iok
Propagandist
Akun:
ï‚· Terumbu:
http://www.kompasiana.com/Teru
mbu
ï‚· Esther Lima:
http://www.kompasiana.com/Esth
erLima
Psyco Game
Bubble Politic
Cyber army
kelompok
politik
tertentu atau
membongkar
skandal di
instansi dan
partai politik
Artikel dari
Admin
Kompasiana
Pepih Nugraha
yang
menjelaskan
kelompok
hactivist di
Kompasiana:
http://media.kom
pasiana.com/new
Akun Cyber army:
ï‚· Jefri Hidayat:
http://www.kompasiana.com/www
.jefrihidayat.com
ï‚· Amanda Rachel:
http://www.kompasiana.com/am
andarachel
ï‚· Jimmy Goevedi:
http://www.kompasiana.com/Jim
myGeovedi
ï‚· MiryamHaryani:
http://www.kompasiana.com/mir
yams
ï‚· RiniMaly:
http://www.kompasiana.com/Rin
iMaly
Hactivist
Akun Hactivist:
ï‚· Putra Angkasa:
http://www.kompasiana.com/putraangkasa
ï‚· Susi Avivah:
http://www.kompasiana.com/susia
vivah
ï‚· Penulis UGM:
http://www.kompasiana.com/penul
isugm
ï‚· Tuty Handayani:
123
http://www.kompasiana.com/tutiha
nd
ï‚· Jilbab Hitam:
http://www.kompasiana.com/jilbab
hitam
media/2014/05/2
0/kompasianasebagai-mediawhistle-blowerpalingberpengaruh658244.html
Selanjutnya peneliti melihat respon dan mewawancarai Kompasianer
dengan beberapa kriteria yaitu Kompasianer turut aktif dalam menulis seputar
politik 2014 dengan berbagai pekerjaan yang bermacam-macam mulai dari
pekerja seni, akademisi dan wiraswasta. Oleh karena hal itu dinamikanya
cenderung menarik.
Tabel 4.23
Respon Kompasianer Terhadap Kotak Suara 2014
Penilaian
Komentar
Informan
Positif
Dilihat dari lingkup
sosial media, kanal kotak
suara cukup effektif.
Paling tidak merupakan
kanal untuk menampung
aspirasi hak politik
citizen journalis.157
TD
Efektif
Sangat
bermanfaat..nyatanya
tulisan kompasianer yang
ada dikanal tersebut,
khususnyà yang
mengulas tentang Pilpres
2014 banyak di share di
media social
Sangat membantu warga
biasa untuk menyalurkan
aspirasinya, berbagi
informasi, pengetahuan
AJ
Positif
157
DT
Wawancara tertulis peneliti dengan Thamrin Dahlan selaku Kompasianer sekaligus
dosen di Universitas Paramadina melalui email
124
dan sebagainya mengenai
Pemilu 2014 ini. Kanal
ini, seperti juga
Kompasiana pada
umumnya, pasti dibaca
oleh sangat banyak
orang, termasuk para
politisi dan pengambil
kebijakan di pemerintah.
Salah satu tulisan Kompasianer AGA menulis tentang bagaimana media
online saat ini semakin masif dalam melakukan pemberitaan dan informasi.
Terhitung sejak kedua pasangan capres/cawapres resmi
mendaftarkan diri di KPU, berbagai serangan yang ditujukan
kepada keduanya kian hari kian meningkat intensitasnya baik di
media offline maupun online, bahkan di media online intensitasnya
jauh lebih tinggi dan lebih cepat, karena bisa di-upload setiap saat
semisal di medsos sekelas facebook, tweeter, bahkan di blog
sekelas Kompasiana sekalipun.
C.
Interprestasi Analisis Teks
Untuk memudahkan analisis, tulisan-tulisan tersebut peneliti bedah
mengikuti alur FTA yakni dimulai dari Initial basic concept. Istilah ini merupakan
bagian komunikasi primer yang mewakilkan keseluruhan konsep dalam teks dan
perbincangan. Hal tersebut tentu sangat berkaitan denagn elemen konvergensi
simbolik tentang struktur pesan. Dimana peneliti melihat dinamika yang ada
melalui teks dan perbincangan di Kompasiana. Ada terdapat empat istilah yang
masuk ke dalam konsep dasar yakni Tema Fantasi, Tipe Fantasi, Symbolic cue
dan Saga. ini yang menjadi konsep dasar dari teori konvergensi simbolik. 158
158
Lihat Disertasi Gun Gun Heryanto, Doktor lulusan Universitas Padjajaran (UNPAD)
Bandung, Jurusan Ilmu Komunikasi Prodi Komunikasi Politik, dengan judul Konvergensi Simbolik
di Komunitas Virtual: Studi pada Ruang Publik Baru dalam Komunikasi Politik di Situs Jejaring
125
Gambar 4.25
Model Initial Basic Concept
Fantasy
Theme
Symbolic
Cue
Fantasy Type
Saga
Tabel 4.24
5 Sampel Tulisan Kompasianer
Seputar PILPRES 2014
No
Nama
Judul Tulisan
1
DT
(19 Komentar)
Ternyata Prabowo
pemain sinetron
2
SP
(26 Komentar)
Dahsyatnya Gerakan
Sayang Jokowi Stop
Bicara Capres Sebelah
3
SR
(32 Komentar)
Peluang Pencapresan
Jokowi
Bahasan
Tulisan ini membahas
tentang sikap
Prabowo yang suka
berakting
Tulisan ini
membicarakan untuk
tidak memojokan
Capres lawan dan
fokus untuk Jokowi.
Hadirnya gerakan
sayang Jokowi
mampu menaiki
elektabilitas Jokowi
yang sempat turun
Tulisan ini
mengisyaratkan
gelagat peluang
Sosial dan Weblog Interaktif Era Pemerintahan SBY-Boediono dalam Kasus Century, Disertasi ini
disahkan tahun 2013. h. 327.
126
4
DR
(6 Komentar)
Analisis Media,
Siapakah Presiden
Berikutnya?
5
THM
(29 Komentar)
Nuansa Bermusuhan di
Kampanye Kotor
1.
pencapresan Jokowi
dengan
menyugguhkan fakta
dan data
Tulisan ini mencoba
membaca peluang
pemenang capres
lewat analisis media
seperti lembaga
survey
Tulisan ini
menggambarkan
dinamika kampanye
Capres 2014 dengan
berbagai kejadian dan
istilah
Analisis Tulisan 1: Ternyata Prabowo Pemain Sinetron159
Tulisan yang dibuat Kompasianer berinisial DT ini telah dibaca oleh 1841
hiter, direspon 19 komentar dan 17 rating . Tulisan ini menarik dikaji dalam
kaitan persepsi penulis terkait Pilpres 2014.
a. Tema Fantasi
Tema fantasi mewujudkan sebuah pesan dramatis yang menggambarkan
sebuah karakter pada sebuah seting/kasus yang menjelaskan keadaannya. Tema
Fantasi juga merupakan penanda mengenal sesuatu yang harus ditemukan dalam
komunikasi. Hal ini adalah bagian dari pesan drama-drama besar yang panjang
dan rumit dari sebuah cerita yang dipaparkan melalui sebuah visi retorik. 160
Biasanya berkaitan dengan tema besar yang diangkat.
159
http://politik.kompasiana.com/2014/06/16/ternyata-prabowo-pemain-pemain-sinetronjuga-658993.html
160
Disertasi Gun Gun Heryanto, Konvergensi Simbolik di Komunitas Virtual: Studi pada
Ruang Publik Baru dalam Komunikasi Politik di Situs Jejaring Sosial dan Weblog Interaktif Era
Pemerintahan SBY-Boediono dalam Kasus Century, h. 327
127
Dalam konteks tulisan ini tema fantasi yang diangkat adalah: Prabowo
Pemain Sinetron. Bisa dilihat dari tulisan berikut:
“Ah, pantasan, ternyata Prabowo Subianto pemain sinetron
juga!” Bathin saya ketika tadi sore (Senin, 9/6/2014) menonton
tayangan berita di Metro TV, mengenai sikap Prabowo di balik
panggung acara debat antarcapres, di Hotel Gren Melia, Jakarta,
Minggu, 8 Juni 2014 itu. Sebenarnya, sebelumnya…
Tema fantasi Prabowo Pemain Sinetron ini, kata-kata tersebut diulang
berkali-kali menjadikan seakan-akan penulis memberi karakter bahwa Prabowo
hanya melakukan akting dalam layar kaca ketika jabat tangan pada acara debat
tersebut. Tulisan ini juga diawali dengan pernyataan disebuah TV swasta terkait
masalah tersebut.
b. Symbolic Cue
Adalah stenografi yang mengindikasi atau membuat kode untuk tema fantasi
jadi yang umum disepakati, sandi, isyarat dan simbolisasi yang memicu
pembagian ulang dari tema fantasi. Symbolic cue bisa dilihat dalam tulisan
berikut:
Sikapnya di atas panggung di acara debat kedua itu terasa ada
“sesuatunya”. Dia kelihatannya berubah, menjadi sangat ramah
dengan Jokowi, tetapi pancaran wajah dan bahasa tubuhnya
mengatakan yang sebaliknya.
Penulis memberi karakter melalui simbol sesuatunya, pancaran wajah
dan bahasa tubuhnya yaitu mencoba membuka tabir dari apa yang dilakukan
Prabowo dengan meneliti dari pancaran wajah dan bahasa tubuh.
c. Tipe Fantasi
Tipe fantasi sering berfungsi sebagai rumah sosial dari visi retoris yang
muncul karena yaitu kecenderungan untuk memunculkan makna, emosi dan motif
128
tindakan untuk setiap anggota dari komunitas retoris lebih mudah dari fantasi
aslinya. Dalam tulisan ini tipe fantasi yang menonjol adalah :
Ternyata sikap manisnya Prabowo terhadap Jokowi di atas
panggung itu hanyalah sebuah sandiwara belaka. Rupanya,
Prabowo “bermain sinetron” selama acara debat itu disiarkan
langsung di televisi, dan disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Sikap aslinya terlihat di balik panggung, sesaat sebelum acara debat
dimulai.
Kata Rupanya Prabowo “bermain sinetron” menujukan pilihan makna
dan motif yang dicoba untuk dibagikan penulis kepada pembaca bahwa, seluruh
rakyat Indonesia menyaksikan dan mendapatkan pesan yang tersirat dalam sikap
yang ditunjukan oleh Prabowo.
d. Saga
Semua organisasi menunjukan realitas simbolik yang berisi pengertian,
emosi dan motif bertindak untuk setiap anggota. Dalam konteks tulisan Saga
nampak pada kalimat: Waktu itu saya pikir, pasti ini hasil arahan tim
penasihatnya, agar bisa menunjukkan sikap humanisnya agar bisa menarik
simpatik banyak orang.
Berikut tulisan Kompasianer ini:
Waktu itu saya pikir, Pasti ini hasil arahan tim penasihatnya,
agar bisa menunjukkan sikap humanisnya agar bisa menarik
simpatik banyak orang.
129
2.
Analisis Tulisan 2: Dahsyatnya Gerakan Sayang Jokowi Stop Bicara
Capres Sebelah161
Tulisan yang ditulis oleh Kompasianer berinisial SP, dilihat oleh 2678 hiter
dan dikomentari oleh 26 Kompasianer lainnya serta 41 rating. Tulisan ini menarik
dikaji dalam kaitan dengan pemilihan presdin 2014.
a. Tema Fantasi
Dalam tulisan ini tema fantasi ada di kalimat dengan mengusung tema besar
yaitu: Gerakan Sayang Jokowi Stop Bicara Capres Sebelah. Berikut ini tulisan
Kompasianer SP:
Angka-angka ini merupakan efek dari gerakan “Sayang
Jokowi Stop Bicara Capres Sebelah”. Artinya dugaan selama ini
bahwa naiknya popularitas dan elektabilitas capres sebelah justru
karena sering diangkat oleh pendukung Jokowi sendiri semakin
terbukti.
Kompasianer SP mengekspresikan pemikiran utamanya, bahwa menurunnya
elektabilitas Jokowi dikarenakan pendukung Jokowi yang
sering memojokan
Capres lawan. Tema fantasi yang dibangun SP diperkuat dengan merujuk hasil
survey PoliticalWave terhadap elektabilitas Jokowi.
b. Symbolic Cue
Dalam tulisan ini symbolic cue ada pada kalimat “ Habitat Lama”. Berikut
tulisan Kompasianer SP:
Kini dengan data dan fakta yang diangkat oleh Survey
PoliticaWave tersebut maka sudah saatnya kita Stop berbicara
tentang capres sebelah dan kembali kepada habitat lama menulis
tentang kesuksesan, kebaikan dan kehebatan programprogram Jokowi untuk mewujudkan Indonesia HEBAT. Jika ada
kampanye hitam dan negatif cukup ditanggapi dan lebih fokus
161
http://politik.kompasiana.com/2014/06/22/dahsyatnya-gerakan-sayang-jokowi-stopbicara-capres-sebelah-660060.html
130
untuk mengangkat Jokowi. Tidak perlu lagi menyinggung capres
sebelah. Toh polarisasi pemilih di Kompasiana sudah tidak bisa
berubah lagi, yang baik berkumpul dengan yang baik dan yang
bermasalah bersatu dengan yang bermasalah
Kompasiner ini seakan mengajak para pembaca untuk kembali menjalani
rutinitas yang hampir punah seperti fokus untuk menulis kesuksesan, kebaikan
dan kehebatan program-program Jokowi untuk mengubah masa depan Indonesia
menjadi baik tanpa menyinggung Capres lawan.
c. Tipe Fantasi
Dalam tulisan ini tipe fantasi yang menonjol adalah maka sudah saatnya kita
Stop berbicara tentang capres sebelah. Penulis ini berbagi fantasi untuk focus
dan menekankan untuk tetap fokus pada sang calon presiden yang diinginkan.
Berikut unggahan kalimat Kompasianer yang berinsial SP :
Kini dengan data dan fakta yang diangkat oleh Survey
PoliticaWave tersebut maka sudah saatnya kita Stop berbicara
tentang capres sebelah Maka sudah saatnya kita Stop berbicara
tentang capres sebelah
d. Saga
Kalimat saga yang ada dalam tulisan SP ini adalah: perubahan angka-angka
menjadi menarik karena sebelumnya kecenderungan capres sebelah selalu naik
sementara Jokowi terus menurun. Tentu hal ini sangat berdampak pada
elektabilitas Jokowi yang sempat menurun menjadi meningkat kembali.
Berikut kalimat lengkapnya tulisan ini SP adalah:
Grafik Trend of Awareness terhadap Jokowi langsung naik tajam
sementara capres tetangga sebelah stagnan dan cenderung semakin
menurun. Hal ini menunjukkan para netizens mulai fokus hanya
membicarakan Jokowi dan mulai meninggalkan capres sebelah.
Begitu
juga
dengan grafik
Candidate
Electability, net
sentiment (berita positif) tentang Jokowi terus menanjak dan
131
membesar lingkarannya sementara net sentiment capres sebelah
(berita positif) mengalami stagnasi. Grafik Share of
Awareness Jokowi juga mulai membesar kembali setelah
sebelumnya hampir mendekati 50% atau berimbang dengan capres
sebelah, kini angka Share of Awareness Jokowi sudah mulai
melebihi angka 60%. Begitu juga dengan grafik Share of
Citizens yang merupakan representasi dari jumlah pengguna
layanan di dunia maya mulai mendekati angka 60% setelah
sebelumnya hampir berbagi angka 50%-50% dengan capres
tetangga. Begitu juga dengan Media Trend khususnya di twitter,
pembicaraan tentang Jokowi terus mengalami lonjakan. Tentu saja
perubahan angka-angka tersebut menjadi menarik karena
sebelumnya kecenderungan capres sebelah selalu naik
sementara Jokowi terus menurun.
3.
Analisis Tulisan 3: Peluang Pencapresan Jokowi162
Dalam tulisan ini, Kompasianer berinsial SR, menyodorkan pemikirannya
terkait pencapresan Jokowi. Tulisan dibaca oleh 1533 hiter dan dikomentari oleh
32 orang Kompasianer lainnya serta 6 rating. Termasuk salah satu tulisan yang
dibaca lebih dari 1000 orang di Kompasiana, dalam tulisan ini bagaimana penulis
mencoba menganalisa dan memaparkan peluang calon kandidat presiden 2014.
a. Tema Fantasi
Tema fantasi dalam tulisan Kompasianer SR ini bisa kita baca pada tema
besar yang dilayangkan penulis. Berikut ini kalimatnya: banyak suara
berseliwueran Menyoal masuknya Jokowi dalam bursa capres 2014
banyak suara berseliweran menyoal masuknya Jokowi dalam
bursa capres 2014, baik melalui sejumlah simulasi pemilu atau
survei elektabilitas maupun pembicaraan para netizen di jagat
virtual. Hal ini terbukti, di hampir semua survei elektabilitas,
Jokowi selalu unggul. Bahkan, saat Jokowi dipasangkan dengan
calon lain pun, pasangan Jokowi tetap diunggulkan.
162
http://politik.kompasiana.com/2013/10/09/peluang-pencapresan-jokowi-599944.html
132
Dalam tulisannya walaupun penulis bukan termasuk lingkaran partai namun
mampu mengisyaratkan adanya peluang pencapresan Jokwi disertai data, fakta
dan hasil survey elektabilitas. Menurutnya, faktor yang menadi peluang
pencapresan Jokowi ada pada keinginan publik, retorika Jokowi dan restu partai.
b. Symbolic Cue
Symbolic cue dalam tulisan ini adalah : Jokowi sadar betul bahwa politik
adalah Seni Kemungkinan. Penggalan kalimat tersebut dapat kita lihat dibawah
ini:
Tapi, sebagai figur politik, kita semua paham bahwa Jokowi bukan
tokoh politik sembarangan. Semua tindak-tanduknya selalu
membuka kemungkinan-kemungkinan, termasuk jawabannya pada
awak media terkait bursa capres beberapa waktu lalu. Jokowi
nampak sadar betul bahwa politik adalah seni kemungkinan,
karena itu dia sangat berhati-hati memainkan retorika politiknya di
hadapan media. Jawaban Jokowi pada penggalan wawancara di
atas jelas masih membuka ruang atas pencapresan dirinya.
Kata seni kemungkinan ini kompasianer SR seperti hendak menafsirkan
bahwa Jokowi bisa saja menjadi calon Presiden, ditambah lagi penulis menyajikan
data terkait wawancara langsung pihak media dengan Jokowi sehingga bisa
membuka ruang penafsiran akan kemungkinan pencapresan Jokowi.
Dibagian lain SR juga menggunakan simbol “Retorika Bersayap ” dengan
maksud menunjukan apa yang menjadi peluang pencapresan Jokowi memang
sudah terlihat dengan jawaban-jawaban Jokowi yang mengambang ketika ditanya
seputar isu pencapresannya.
Simak pernyataan Jokowi ini “Kalau wilayah politik, masalah
politik, tanyakan ke DPP, tanyakan ke Ibu Mega.” Pernyataan ini
bisa kita sebut sebagai retorika bersayap, yang membuak sejumlah
kemungkinan politis. Kemungkinan pertama, Jokowi tak ingin
disebut sebagai tokoh politik yang doyan loncat jabatan, ambisius
akan jabatan tertentu, dan tak ingin membuat jawaban eksplisit atas
133
wacana pencapresan dirinya karena jawabannya berpotensi
dipolitisasi lawan politik. Jawaban retoris, diplomatis, yang
disuguhkan Jokowi memang sekilas menyiratkan apa adanya,
namun sebenarnya mengandung makna bersayap dan multitafsir.
Makanya, jangan heran, banyak rival politik yang mati-matian
meminta Jokowi fokus pada Jakarta dan menyatakan secara
eksplisit untuk tetap di tampuk DKI 1. Amin Rais yang berulang
kali melakukan propaganda verbalistik, itu sebagai bukti
ketidakpuasan atas sikap Jokowi yang masih 2 kaki, alias membuka
peluang pencapresan dan menjaga lajunya di rel DKI.
c. Tipe Fantasi
Dalam tulisan ini tipe fantasi yang menonjol yaitu “Performa Impresif”
penulis mengekspresikan bahwa Jokowi menuai banyak dukungan publik karena
citra dirinya baik. Ini bisa kita temukan dalam kalimat berikut:
Performa impresif yang ditunjukkan Jokowi selama ini, membuat
citra dirinya terawat baik dan menuai dukungan publik. Tak jarang,
publik yang semula kontra Jokowi, kini berbalik menyanjung
ketulusan kinerjanya. Jokowi disukai publik karena dua hal:
Pertama, kerja nyata. Kedua, taat konstitusi bukan taat konstituent.
Tak heran, di tengah eskalatifnya isu bursa capres 2014, nama
Jokowi sering digadang-gadang sebagai capres potensial.
d. Saga
Dalam tulisan ini, saga nampak pada kalimat berikut: pertimbangan penting,
terutama di masa Jokowi yang banyak menyumbang insentif elektoral. Saga ini
dimunculkan sebagai pergeseran partai PDIP yang cenderung sebagai opisisi
pasca pemerintahan Megawati Soekarnoputri, kini bergerak masuk ke parlemen
karena fakta elektabilitas parpol dan sosok Jokowi yang terus naik.
Tradisi PDI-P selama ini selalu jadi oposisi di pemerintahan pasca
masa presiden Megawati Soekarnoputri , namun tahun ini peta
politik dan kalkulasi politik PDI-P bergeser. Melihat tren positif
beberapa kadernya dalam dua tahun belakang, tentu matematika
politik partai pun mulai dihitung. Salah satunya, berhitung peluang
calon presiden 2014 yang akan diusung. Rakernas PDI-P pada 6-9
September kemarin, sudah memberi sinyal tersebut. Pencapresan
134
bukan hanya persoalan sosok yang bakal diusung namun
momentum juga jadi pertimbangan penting, terutama di masa
Jokowi yang banyak menyumbang insentif elektoral pada PDI-P.
Tahun depan adalah waktunya PDI-P berhenti menjadi partai
oposisi. Kenapa, karena kalau kita lihat sekarang, survei buat
Pilpres, ya dengan rendah hati kita katakan, Mas Jokowi, Mbak
Mega, surveinya sangat tinggi sekali. Sepanjang sejarah survei,
baru sekarang ada dua calon presiden yang dari satu partai tinggi
sekali surveinya,” uangkap politisi muda PDI-P Maruarar Sirait
saat diwawancarai SCTV
4.
Analisis
Tulisan
4:
Analisis
Media,
Siapakah
Presiden
Kita
Berikutnya?163
Dalam tulisan ini yang diunggah 20 Juni 2014, Kompasianer berinsial DR,
menyodorkan pemikirannya terkait tentang pemilihan presiden 2014. Tulisan
dibaca 351 hiter dan dikomentari oleh 6 orang Kompasianer lainnya serta 2 rating.
a. Tema Fantasi
Tema fantasi dalam tulisan Kompasianer ini bisa kita baca pada kaliamt:
Siapakah Presiden Kita Berikutnya? Kalimat tersebut dapat kita lihat dalam
judul tulisan. Ide besar yang yang hendak didorong penulis adalah gambaran
terhadap presiden berikutnya dengan menguatkan analisis media. Bagian ini pun
mengajak para pembaca seakan analisis media kuat dalam meramalkan presiden
berikutnya.
b. Symbolic Cue
Dalam tulisan DR, symbolic cue dapat kita amati dalam kalimat: Tsunami
Pemberitaan. Bagian ini dapat kita baca dalam penggalan kalimat berikut ini:
Nama Jokowi semakin melambung ketika Megawati sebagai Ketua
Umum PDIP pada akhirnya memberikan mandat pencalonan
Jokowi sebagai calon Presiden RI. Mandat ini menyebabkan
terjadinya tsunami pemberitaan dan pembicaraan Jokowi sebagai
163
http://politik.kompasiana.com/2014/06/20/analisis-media-siapakah-presiden-kitaberikutnya-668011.html
135
presiden RI sangat kuat. Bahkan mengalahkan topik Jokowi
lainnya seperti Banjir Jakarta, Blusukan, Pasar Tanah Abang,
Monorail, dan segudang pemberitaan lainnya.
Kata tsunami pemberitaan mempertegas bahwa media berduyun-duyun
ramai memperbincangan soal pencapresan Jokowi yang dberi mandat oleh
Megawati. Dibagian lain pun sepenggal kalimat berbentuk symbolic cue yaitu:
Primadona Kampanye
Setidaknya Surya Paloh, Win-HT dan ARB yang menjadi
primadona kampanye dimasing-masing TV yang dimiliki sudah
terbukti perolehan suaranya di Pemilu Legislatif lalu.
c. Tipe Fantasi
Dalam tulisan DR ini tipe fantasi yang digunakan adalah: Pemberitaan di
Media Online terhadap masing-masing kandidat. Hal ini bisa kita temukan
dalam kalimat:
Jokowi dan Prabowo adalah contoh dimana efek berlanjut
kampanye di media kerap dilakukan. Pemberitaan di Media
Online terhadap masing-masing kandidat, membuka ruang
diskusi terbuka yang berlanjut ke Facebook dan menjadi
perdebatan hangat di Twitter. Hasilnya? Kubu Prabowo Hatta
sukses meningkatkan tren popularitasnya, yang walaupun belum
dapat mengalahkan, tetapi sudah dapat mendekati Joko Widodo
dan Jusuf Kalla.
d. Saga
Dalam tulisan ini, saga bisa kita temukan dalam kalimat berikut:
mengkerucut pada hanya pada dua poros pasangan Calon Presiden dan
Wakil Presiden. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebelum keputusam KPU
dalam penetapan calon presiden dan wakil presiden, pengamat politik sempat
menafsirkan hanya akan ada dua poros yang akan maju.
136
Perjalanan waktu pada akhirnya mengkerucut pada hanya pada
dua poros pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden.
Banyak pengamat menyakini sejak awal, bahwa pemilihan umum
Presiden 2014 hanya akan diwakili oleh Joko Widodo dan Prabowo
Subianto. Proses mencari pendamping Presiden pun mengarahkan
Muhammad Jusuf Kalla sebagai Calon Wakil Presiden Joko
Widodo dan Muhammad Hatta Rajasa sebagai Calon Wakil
Presiden Prabowo Subianto. Pandangan beberapa pengamat politik
yang menyatakan bahwa pemilihan umum Presiden 2014-2019
lebih merupakan pertarungan antara Jokowi dan Prabowo agaknya
memang tepat.
5.
Analisis Tulisan 5: Nuansa Bermusuhan di Kampanye Kotor164
Tulisan yang dibuat Kompasianer THM ini telah dibaca oleh 1390
Kompasianer dan 29 komentar serta 16 rating. Tulisan ini pun salah satu pembaca
melebih 1000 kompasianer. Penulis memberi gambaran terkait pilpres 2014,
dinama dinamika kampanye kotor yang terjadi pada masa kampanye.
a. Tema Fantasi
Tema fantasi yang ada pada tulisan THM ini yaitu: melihat lawan sebagai
musuh bukan sebagai mitra tanding. Penggalan kalimat yang lengkap adalah:
Pada sisi yang ekstrem, satu pihak lalu melakukan apa yang harihari ini terkenal dengan istilah kampanye hitam. (Saya sendiri lebih
cenderung menyebut kampanye kotor atau kampanye tak beradab,
karena istilah kampanye hitam bisa diartikan positif, yakni sebagai
aksi membela hak-hak kaum berkulit hitam). Melihat lawan
sebagai musuh, bukan sebagai mitra tanding, menyebabkan orang
cenderung menggunakan kata-kata yang (maaf) kotor, menusuk
hati, nggak pakai perasaan, dan bahkan - seperti saya tadi katakan tidak sopan dan tidak beradab.
b. Symbolic Cue
Dalam tulisan THM, banyak Symbolic cue dapat kita temukan antra lain
kalimat: Capres boneka, penculik, pembunuh, kedoknya terbuka, tukan
164
659731.html
http://politik.kompasiana.com/2014/06/20/nuansa-bermusuhan-di-kampanye-kotor--
137
pencitraan dan jenderal stroke. Secara lengkap tulisan tersebut dapat kita baca
dalam kutipan berikut ini:
Sebut saja, istilah-istilah berikut: capres boneka, penculik,
pembunuh, ‘kedoknya terbuka’, tukang pencitraan dll. Terakhir
muncul istilah jenderal stroke! Semuanya menunjukkan suatu
suasana hati dan pikiran yang cenderung ingin membunuh karakter
lawan
Pada pemilihan presiden 2014 ini banyak sekali istilah-istilah hadir terkait
kampanye yang sedang berlangsung. Maka kompasianer ini mengungkapkan
istilah tersebut dalam tulisannya.
Di bagian lain, THM juga menggunakan beberapa simbol yang sama artinya
dua sumbu, sumbu kiri, sumbu kanan, dua kubu.
Pemilu presiden dengan mengonteskan dua calon ini adalah
pengalaman baru, bagi banyak pihak. Dan, karena pada akhirnya
harus ada yang menang dan kalah, maka upaya untuk
memenangkan kontes tersebut menjadi sangat menegangkan karena
semua energi ditarik hanya ke dua sumbu. Tidak ada sumbu
alternatif. Sumbu kiri atau sumbu kanan. Atau dalam istilah yang
sering dipakai jurnalis, ada dua kubu. Kubu No 1 dan Kubu No 2.
c. Tipe Fantasi
Dalam tulisan ini tipe fantasi yang menonjol adalah upaya penulis untuk
mengekspresikan pesan: “kampanye kotor atau kampanye tak beradab” ini
bisa kita temukan dalam kalimat berikut:
Pada sisi yang ekstrem, satu pihak lalu melakukan apa yang harihari ini terkenal dengan istilah kampanye hitam. (Saya sendiri lebih
cenderung menyebut kampanye kotor atau kampanye tak
beradab, karena istilah kampanye hitam bisa diartikan positif,
yakni sebagai aksi membela hak-hak kaum berkulit hitam).
Terlihat dalam kalimat tersebut penulis cenderung low context artinya
langsung menjadikan kalimat kampanye kotor atau kampanye tak beradab sebagai
138
penegasan dinamika kontestasi 2014 ini sudah diliputi rasa saling menghujat dan
tak beradab. Penulis juga memberikan makna ganda bahwa kampanye hitam yang
biasa kita tahu bisa menjadi makna positif
d. Saga
Yang menjadi tulisan saga, ada pada kalimat: harus menjadi bagian dari
pembelajaran dan konsentrasi membangun negeri ini. Kita tahu bahwasannya
dinamika kontestasi PILPRES 2014 sangat panas sehingga Kompasianer ini
membuka wawasan dan mengajak para pembaca untuk membuka lebar-lebar
demokrasi secara beradab dengan menjadi bagian dari pembelajaran.
Pengalaman pertama dengan dua kontestan ini, dengan segala
ketegangannya, bagaimanapun harus menjadi bagian dari
pembelajaran. Sebagaimana carut-marut dalam mengembangkan
demokrasi pada 10 tahun pertama alam reformasi juga menjadi
bagian dari pembelajaran kita berdemokrasi secara beradab, rapi
dan konstitusional. Kita tentu juga berharap bahwa nanti setelah 9
Juli, semua pihak kembali ke konsentrasi membangun negeri ini.
Masing-masing memerankan peran pentingnya sesuai dengan
kapasitasnya. Jangan malah membangun potensi permusuhan
karena tidak menerima kekalahan.
Kata konsentrasi
membangun negeri. Artinya pesta demokrasi yang
diselenggarakan 9 Juli 2014, THM mengisyaratkan dalam pelaksanaannya untuk
tetap aman terkendali.
Fenomena pertukaran pesan yang memunculkan kesadaran kelompok yang
berimplikasi pada hadirnya makna, motif dan perasaan bersama. Artinya teori ini
berusaha menerangkan bagaimana orang-orang secara kolektif membangun
kesadaran simbolik bersama melalui suatu proses pertukaran pesan untuk
bertindak bagi orang-orang atau kumpulan orang yang terlibat di dalamnya.
139
Karena interaksi terus menerus dilakukan maka ini berkaitan dengan
Pemikiran Fisher juga berupaya menggambarkan dan menjelaskan komunikasi
sebagai storytelling. Dalam pandangannya, storytelling bukanlah aktivitas sesaat,
melainkan proses yang terus-menerus dimana kita merasakan dunia dan
berkomunikasi satu sama lainnya, keuniversalan naratif ini mendorong Fisher
untuk mengemukakan istilah homo narrans (mahluk pencerita) sebagai metafora
untuk mendefinisikan kemanusiaan.165
Tabel 4. 26
Analisis Tulisan Konvergensi Simbolik di Kanal Kotak Suara 2014
Tema Fantasi
Symbolic Cue
Prabowo
pemain sinetron
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
Gerakan sayang
Jokowi stop
bicara capres
sebelah
ï‚· Habitat lama
Pelu menyoal
masuknya
Jokowi dalam
bursa capres
ï‚· Seni
kemungkinan
ï‚· Retorika
bersayap
165
Sesuatu
Pancaran wajah
Bahasa tubuh
keramahannya
Tipe Fantasi
Saga
ï‚· Bermain
Sinetron
Pasti ini hasil
arahan tim
penasihatnya,
agar bisa
menunjukkan
sikap
humanisnya
agar bisa
menarik
simpatik
banyak
orang.
ï‚· Stop
berbica
ra
tentang
capres
sebelah
ï‚· Performa
impresif
ï‚· Capres
pontensial
kecenderungan capres
sebelah selalu naik
sementara Jokowi teru
s menurun
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, h. 159
Menyumbang insentif
elektoral
140
2014
Siapakah
presiden
berikutnya?
Melihat lawan
sebagai musuh
ï‚· Tsunami
pemberitaan
ï‚· Primadona
kampanye
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
Capres boneka
Dua sumbu
Dua kubu
Sumbu kanan
dan kiri
ï‚· Tukang
pencitraan
ï‚· Jendral stroke
ï‚· Pemberitaan di
Media Online
terhadap
masing-masing
kandidat
ï‚· kampanye kotor
atau kampanye
tak beradab
Mengkerucut hanya
pada dua poros
pasangan Calon
Presiden dan Wakil
Presiden
Harus menjadi bagian
dari pembelajaran dan
konsentrasi
membangun negeri ini
Dalam konteks pembahasan tentang konvergensi simbolik tentunya narasi
memiliki peranan penting dalam mengurai kecenderungan dinamika perbincangan
yang ada di kanal Kotak Suara 2014. Visi retoris Kompasianer dapat kita bagi
menjadi 2 visi retoris yaitu:
a) Masa kampanye CAPRES 2014
b) Hasil Lembaga Survey
6.
Analisis Visi Retoris: Masa Kampanye CAPRES 2014
Pesan yang banyak digunakan dalam mengartikulasi visi retoris “masa
kampanye CAPRES 2014” bisa kita identifikasi sebagai berikut:
a. Dramatis Personae
Yang banyak digunakan sebagai dramatis personae dalam perbincangan
Kompasianer adalah:
1. Pencitraan
2. Kampanye kotor
141
Misalnya dramatis personae ini bisa kita temukan dalam kalimat yang
diposting Kompasianer berinsial THM berikut:
Pada sisi yang ekstrem, satu pihak lalu melakukan apa yang harihari ini terkenal dengan istilah kampanye hitam. (Saya sendiri lebih
cenderung menyebut kampanye kotor atau kampanye tak
beradab, karena istilah kampanye hitam bisa diartikan positif,
yakni sebagai aksi membela hak-hak kaum berkulit hitam).
Semua kalimat dramatise personae menjadi pemberian karakter para
penulis atas dinamika pemilihan presiden 2014. Menjelang kontestasi kandidat
dalam berbagai kesempatan para calon presiden melakukan kunjungan ke
berbagai kawasan yang diharapkan menjadi basis massanya kelak. Tidak hanya
permukiman penduduk, para Capres juga berkunjung ke sejumlah fasilitas umum
yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat. Seperti, pasar-pasar tradisional,
masjid dan tempat peribadatan lainnya, serta tempat-tempat lain yang terkadang
sudah dipersiapkan oleh para tim pendukung.
Berbagai aktifitas yang dilakukan para Capres di lapangan antara lain,
menghadiri berbagai acara seremoni yang kebetulan secara bersamaan
dilaksanakan, atau sengaja digelar dalam rangka kunjungan para Capres ini.
Dalam kesempatan itu, tidak jarang para Capres mencoba menawarkan berbagai
program kerja yang pro-rakyat dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Mereka juga mencoba untuk mendengarkan setiap keluhan dan
permasalahan yang banyak dihadapi oleh warga masyarakat.
Disamping kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat pemilih,
para Capres juga aktif menjaga hubungan baik dengan berbagai lembaga terkait.
Misalnya, organisasi kemasyarakatan (Ormas), lembaga swadaya masyarakat
142
(LSM), dan berbagai lembaga/insitusi lain, termasuk lembaga survei dan juga
media massa, cetak, elektronik, dan media online.
Di bulan Ramadhan tentu ini momentum untuk bersosialisasi dalam
mendongkrak suara seperti dilansir media Republika online, Capres nomor urut 1
ini di akhir pekan masa kampanye mendatangi daerah Pekanbaru guna untuk
kegiatan relegius seperti buka bersama, santunan anak yatim dan berkumpul
dengan elit agama.166
Bahkan untuk tetap menjaga “citra positifnya” kandidat Capres ini sering
pula mengajak awak media untuk melakukan peliputan. Tentunya, media yang
bisa diajak kerjasama untuk membangun citranya di mata masyarakat, melalui
publikasi dan pemberitaan yang positif. Dan bisa ditebak, alur pemberitaan yang
ditulis media terhadap figur sang tokoh (Capres), menggambarkan kesemarakan
acara dan penyambutan terhadap sang tokoh yang luar biasa
Soal kampanye kotor sebagaimana kita tahu belum lama ini telah hadir
Tabloid Obor Rakyat yang digadang-gadang sebagai produk jurnalistik, beragam
kontroversi hadir karena memang Konten yang ditampilkan sangat tak beradab
karena isinya menyudutkan calon presiden lain tentu ini dianggap sebagai
kampanye kotor. Tak hanya itu, tabloid yang hampir sama sudah tersebar di
Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.167
166
Redaktur Mansyur Faqih, http://www.republika.co.id/berita/pemilu/menuju-ri1/14/07/03/n84q6c-ini-kegiatan-tim-prabowohatta-pada-pekan-terakhir-masa-kampanye diakses
tanggal 03 Juli 2014 pukul 19:30 WIB
167
Redaktur Firman Hidayat
http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/07/02/269589770/Mirip-Obor-Rakyat-Martabat-Disebardi-Kaltim diakses tanggal 03 Juli 2014 pukul 19:30 WIB
143
b. Scene
Scene merupakan detail lokasi simbolik dari tindakan. Setelah memberi
karakter pada Kompasianer banyak menyebut seting lokasi simbolik antara lain:
1. Koalisi partai
2. Poros Prabowo
3. Kubu Jokowi
Pernyatan ini bisa kita baca dari postingan tulisan Kompasianer
berinisial DR:
Pandangan beberapa pengamat politik yang menyatakan bahwa
pemilihan umum Presiden 2014-2019 lebih merupakan pertarungan
antara Jokowi dan Prabowo agaknya memang tepat. Pemantauan
melalui sistem Evello memperlihatkan bahwa bergabungnya
JK ke kubu Jokowi dan Hatta ke kubu Prabowo memang tidak
terlalu berdampak signifikan memicu lonjakan pemberitaan
dan pembicaraan di media online dan media sosial.
Keberadaan JK dan Hatta Rajasa mulai berdampak terhadap
popularitas masing-masing kandidat sering dengan mulai
masifnya kedua kubu berkampanye.
Sebagaimana kita ketahui pada pemilihan presiden 2014 memunculkan dua
poros untuk berkontestasi menduduki kursi RI 1 yaitu poros Prabowo berasal dari
partai Gerindra diikuti dengan partai yang lainnya PAN, PKS, PPP, PBB, Golkar
dan Partai Demokrat dan Poros Jokowi berasal dari PDIP yang diikuti oleh PKB,
Hanura dan Nasdem. Poros tersebut hadir lantaran keputusan penetapan
Mahkamah Konstitusi tentang Presidential Threshold (Ambang Batas Pencalonan
Presiden) memutuskan persyaratan untuk yang berhak mencapreskan seseorang
yaitu 25 persen suara sah nasional atau 20 persen kursi DPR tentu ini memaksa
144
partai yang tidak memenuhi syarat tersebut harus mengambil langkah gabungan
partai atau yang sering kita kenal koalisi partai
Perolehan suara pada pemilihan legislatif yang diumumkan KPU pada bulan
mei yang diikuti 15 partai dan 3 partai lokal maka menghasilkan tidak adanya
partai yang mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan MK yaitu 25 persen
suara sah nasioanal. Berikut perolehan suara dari KPU.
Gambar 4.27
Hasil Perolehan Suara Legistlatif
18%
16%
14%
Partai
Nasdem
PKB
12%
10%
8%
6%
4%
2%
0%
PKS
PDIP
Golkar
Gerindra
PKPI
PBB
Hanura
PPP
PD
PAN
Gerindra
Golkar
PDIP
PKS
PKB
Partai Nasdem
PD
PAN
PPP
Sumber: Peneliti mengelola data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi diagram
Rekapitulasi dalam perolehan suara yang bersumber dari KPU yaitu Partai
Nasdem 6.72 persen, PKB 9.04 persen, PKS 6.79 persen, PDIP 18.95 persen,
Golkar 14.75 persen, Gerindra 11.81 persen, Partai Demokrat 10.19 persen, PAN
145
7.59 persen, PPP 6.53 persen, Hanura 5.26 persen, PBB 1.46 persen dan PKPI
0.91 persen.168
c. Plot Line
Menggambarkan tindakan atau plot visi. Sebagaimana telah dipaparkan,
bahwa ada dua penggambaran tindakan atau plot yang banyak digunakan oleh
Kompasianer:
1. Membangun potensi permusuhan
2. Cenderung ingin membunuh karakter lawan
Kalimat seperti ini bisa kita temukan dalam postingan Kompasianer
berinsial THM sebagai berikut:
Sebut saja, istilah-istilah berikut: capres boneka, penculik,
pembunuh, ‘kedoknya terbuka’, tukang pencitraan dll. Terakhir
muncul istilah jenderal stroke! Semuanya menunjukkan suatu
suasana hati dan pikiran yang cenderung ingin membunuh
karakter lawan
Seperti yang dibahas sebelumnya bahwa dinamika kontestasi pemilihan
presiden 2014 merupakan hal yang sangat berbeda dibandingkan sebelumnya.
Pada kemunculan tabloid Obor Rakyat
d. Sanctioning Agent
Membenarkan penerimaan atas visi retoris, maksudnya dinamika yang
terjadi pada pemilihan presiden antar kontestasi 2014 ini muncul penerimaan
semacam apa yang ada dipersepsi khalayak. Ternyata secara umum sari sampel
visi retoris ini ada dua yakni:
1. Konsentrasi membangun negeri
2. Harus menjadi bagian dari pembelajaran
168
Sumber ini langsung dari Komisi Pemilihan Umumn (KPU) yang diumumkan pada
bulan Mei, http://www.kpu.go.id/index.php/persentasepartai diakses tanggal 03 Juli 2014 pukul
22:40 WIB
146
Contoh sancitioning agent ini bisa kita temukan dalam tulisan Kompasianer
berinisial THM:
Pengalaman pertama dengan dua kontestan ini, dengan segala
ketegangannya, bagaimanapun harus menjadi bagian dari
pembelajaran. Sebagaimana carut-marut dalam mengembangkan
demokrasi pada 10 tahun pertama alam reformasi juga menjadi
bagian dari pembelajaran kita berdemokrasi secara beradab, rapi
dan konstitusional. Kita tentu juga berharap bahwa nanti setelah 9
Juli, semua pihak kembali ke konsentrasi membangun negeri ini.
Masing-masing memerankan peran pentingnya sesuai dengan
kapasitasnya. Jangan malah membangun potensi permusuhan
karena tidak menerima kekalahan.
Dinamika pemilihan presiden 2014 ini agak berbeda dengan pilpres
sebelumnya karena terlihat kontestasi yang dua kubu ini semakin menegang
sehingga terlihat bukan untuk membenah Indonesia
lebih baik tetapi
memfokuskan untuk menang pada kontestasi ini. Dinamika tersebut menjadi
pembelajaaran untuk publik.
7.
Analisis Visi Retoris 2: Hasil Lembaga Survey Terkait Pemilihan
Presiden 2014
Pesan yang banyak digunakan dalam mengartikulasi visi retoris “Hasil
Lembaga Survey Terkait Pemilihan Presiden 2014” bisa kita identifikasi sebagai
berikut:
a. Dramatis Personae
Dalam hasil survey terkait pemilihan presiden 2014 Kompasianer cenderung
memberi gambaran terkait lembaga survey adalah:
1. Popularitas
2. Elektabilitas
147
Jurang Prosentase yang tinggi, dalam tempo lima bulan, terutama
menjelang akhir maret 2014 mulai tipis dengan turunnya
popularitas pemberitaan dan pembicaraan mengenai Joko Widodo
dan meningkatnya popularitas Prabowo Subianto. Kerja keras tim
sukses masing-masing kandidat akan sangat menentukan di bulan
Juni 2014 untuk merebut hati pemilih.
Turun naiknya elektabilitas dan popularitas pada pilpres kali ini begitu
menarik dikaji, pasalnya tercatat. Soal popularitas dan elektabilitas seperti
PoliticalWave yang fokus memantau secara sistematis percakapan di media sosial
berkiatan dengan pemilu .
Gambar 4.31
Hasil Survey Politicalwave
Sumber: Politicawave169
Dari
data
yang
ditampilkan politicawave.com ini,
terlihat share
of
awaraness Jokowi-Jusuf Kalla berada di posisi pertama dengan memperoleh
61,4% suara dari 15 ribu sampai 60 ribu total buzz. Di posisi kedua, PrabowoHata Rajasa 38,6%. Dilihat dari media trend pun begitu, Jokowi banyak
dibincangkan publik twitter, ketimbang di facebook, blog atau forum.
169
Sumber ini diambil dari www.politicawave.com Senin, 07 Juli 2014 pukul 16:28 WIB
148
Gambar 4.32
Media Trend Politicawave
Data yang diambil saat ini tanggal 4 Juli 2014 bahwa terlihat bahwa sekilas
survey ini menampilkan dikehendak publik akan sosok Jokowi pada presdien
2014 mendatang. Soal popularitas dan elektabilitas hasil lembaga survey tidak
luput dari pantauan KPU karena semua sudah diatur dalam undang-undang
peraturan KPU nomor 32 tahun 2013 seperti yang dilansir di Viva News
menyatakan survei atau jajak pendapat dan penghitungan cepat (quick count)
merupakan salah satu bentuk partisipasi masyarakat.
Gambar 4.33
Media Trend Politicawave
149
Oleh karena itu para lembaga survey wajib mentaati peraturan dengan
mendaftrakan diri ke KPU dan memenuhi beberapa syarat agar terdaftar dan
diakui olek KPU antara lain memiliki akte pendiri/badan hukum lembaga,
susunanan kepengurusan, surat keterangan domisili dari kelurahan/pemerintahan
setempat, pas foto berwarna lembaga 4X6 empat dan harus menandatangin surat
pernyataan seperti para lembaga survey tidak melakukan keberpihakan yang
mengutungan atau merugikan peserta pemilu, tidak mengganggu proses
penyelenggaraan tahapan pemilu guna untuk meningkatan partisipasi masyarakat
secara luas, juga mendorong terwujudnya suasana kondusif bagi penyelenggaraan
pemilu yang aman damai tertib dan lancar .170
KPU juga mengatur Lembaga survey menggunakan metode penelitian
ilmiah dan melaporkan metodologi pencuplikan data (sampling), sumber dana,
jumlah responden, tanggal dan tempat pelaksaanan survet atau jajak pendapat dan
hitung cepat. Selanjutnya KPU juga mengatur kegiatan riset lembaga survey
terkait pemilu yaitu surevy tentang perilaku pemilih, tentang hasil pemilu, survey
tentang kelmbagaan pemilu seperti partai politik, parlemen/legislatif dan
pemerintahan selanjutnya survey tentang calon anggota DPR, DPD, DPRD
Pronvinsi/kabupaten dll.
b. Scene
Misalnya kalimat Scene dapat kita temukan dalam tulisan Kompasianer
yang berinisial SR sebagai berikut:
1. Bursa Capres
Tapi, sebagai figur politik, kita semua paham bahwa Jokowi bukan
tokoh politik sembarangan. Semua tindak-tanduknya selalu
170
Reporter Muhammad Adam, Syahrul Ansyari M.news.viva.co.id/news/read/475792-inisyarat-pendaftaran-lembaga-surevi-ke-kpu diakses tanggal 07 Juli 2014 pukul 12:52 WIB
150
membuka kemungkinan-kemungkinan, termasuk jawabannya pada
awak media terkait bursa capres beberapa waktu lalu. Jokowi
nampak sadar betul bahwa politik adalah seni kemungkinan, karena
itu dia sangat berhati-hati memainkan retorika politiknya di
hadapan media. Jawaban Jokowi pada penggalan wawancara di
atas jelas masih membuka ruang atas pencapresan dirinya.
Pada fase bursa capres, banyak nama bermunculan dari hasil survey. Namun
tidak setiap nama kemudian direstui partai atau disukai public secara meluas.
Hanya Jokowi yang konsisten dan sering digadang-gadang masuk dalam bursa
capres 2014 oleh media dan lembaga survei.
c. Plot Line
Menggambarkan tindakan atau plot visi. Sebagaimana telah dipaparkan,
bahwa ada penggambaran tindakan atau plot yang banyak digunakan oleh
Kompasianer:
1. Mulai Fokus
Berikut Plot Line yang bisa kita temukan dalam tulisan Kompasianer
berinisial SP:
Hal ini menunjukkan para netizens mulai fokus hanya
membicarakan Jokowi dan mulai meninggalkan capres sebelah.
Saat elektabilitas Jokowi menurun para penggemarnya pun semakin fokus dalam
menyuarakan tentang Jokowi. Data yang dilansir Kompasiana pertanggal 18 Juni
2014, suara jokowi menurun drastis dalam polling capres di Kompasiana dari 50
persen suara menjadi 38.26 persen. Selanjutnya, berangsur sampai tanggal 8 Juli,
elektabilitas Jokowi merangkak naik menjadi 43.81 persen suara.
151
d. Sanctioning Agent
Membenarkan penerimaan atas visi retoris, maksudnya hasil lembaga
survey pada pemilihan presiden 2014 ini muncul penerimaan semacam apa yang
ada dipersepsi khalayak. Ternyata secara umum sari sampel visi retoris ini ada
yakni:
1. Memperlihatkan kecenderungan peningkatan popularitas
Contoh sancitioning agent ini bisa kita temukan dalam tulisan Kompasianer
berinisial DR:
Grafik Tren memperlihatkan kecenderungan peningkatan
popularitas Prabowo Subianto dari bulan Januari sampai dengan
Mei 2014. Sementara Joko Widodo memiliki kecenderungan
turun.Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin sampai dengan
akhir Juni 2014 Prabowo Subianto dapat mengungguli Joko
Widodo menjelang dilakukan putaran Pemilihan Presiden, 9 Juli
2014.
Diakui memang bahwa para Kompasianer menyetujui pengingkatan
popularitas sang Prabowo di berbagai hasil lembaga survey. Di Kompasiana
sendiri, elektabilitas Prabowo juga meningkat dari 35 persen menjadi 59.11 persen
dari tanggal 13 Juni-18 Juni 2014. Meski menjelang persentase suara Jokowi
meningkat di Kompasiana namun tidak melebihi elektabilitas Prabowo yang
bertahan di angka 54.7 persen suara.
152
Tabel 4.35
5 Sample Visi Retoris
Visi Retoris
Dramatis Personae
Scene
Plot Line
Sanctioning Agent
Masa Kampanye
ï‚· Pencitraan
ï‚· Koalisi Partai
CAPRES 2014
ï‚· Kampanye Kotor
ï‚· Koalisi Prabowo
potensi
membangun
ï‚· Poros Jokowi
pembangunan
negeri
ï‚· Membangun
ï‚· Cenderung ingin
Hasil lembaga survey
ï‚· Popularitas
ï‚· Bursa Capres
ï‚·
ï‚·
Konsentrasi
Harus Menjadi
membunuh
bagian
karakter lawan
pembelajaran
ï‚· Mulai Fokus
ï‚·
Memperlihatkan
kecenderungan
ï‚· elektabilitas
peningkatan
popularitas
1
153
Jika peneliti kaji dari tabel tersebut bisa dilihat jelas bahwa gambaran
keseluruhan dalam perbincangan dan kegiatan di kanal Kotak Suara 2014 tidak
lepas dari hal-hal di atas dan tentu narasi memiliki peran penting dalam mengurai
atau membangun kecenderungan dinamika perbincangan yang ada di kanal Kotak
Suara 2014. Bisa dilihat seperti visi retoris, dramatis persoane, scene, plotline dan
sanksi agen hal tersebut merupakan unsur-unsur penting membangun struktur
pesan.
1
154
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Kompasiana adalah media sosial berbasis citizen journalism sudah
menunjukan identitas yang signifikan yaitu sebagai komunitas
pengontrol terhadap hiruk pikuk menjelang pemilihan presiden 2014,
interaksinya pun begitu cair karena tidak ada zona prosemik yang
digagas oleh Edward Hall. Tulisan yang masuk perhari dalam kanal
Kotak Suara 2014 mencapai 300-500 tulisan dan secara umum tulisan
yang masuk di Kompasiana mencapai 800-1000 tulisan perhari, tidak
lupa juga Kompasiana melakukan literasi media. Literasi politik ada tiga
tahapan yaitu: Pertama, Kompasianer memberikan edukasi dengan
aktivitas online dan aktivitas offline seperti Modis (monthly Discussion).
Kedua, dari pengetahuan yang didapat biasanya Kompasianer menulis
dengan seputar pemilu yang diadakan oleh Kompasiana. Ketiga, sikap
yang ditunjukan oleh Kompasianer tertuang didalam rubrik yang
disediakan dalam kanal Kotak Suara 2014 seperti rubrik Polling dan Pro
Kontra
2. Pesan-pesan literasi politik dalam kanal Kotak Suara 2014 mengacu
pada tipologi netizen yaitu disseminator banyak melahirkan gagasan dan
ideologi seputar pemilu, publisist Kompasiana merupakan salah satu alat
untuk melakukan publisitas elit politik atau lembaga yang mempunyai
kepentingan seperti caleg, capres, timses dan partai, propagandist
154
155
tipologi yang sensitif dan hactivist yang biasanya datang pada acaraacara tertentu. Selanjutnya dari lima sample tulisan Kompasianer
peneliti meneliti, menelaah, mengolaborasikan dan menganalisis bahwa
adanya proses konvergensi simbolik, dimana Kompasianer berbagai
interaksi, visi retoris dan saling berdiskusi sehingga memunculkan
kesadaran Kompasianer pada pemilihan presiden 2014
B.
Saran
a. Saran Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memperkuat khasanah
keilmuan komunikasi politik dengan pendekatan literasi politik bagi civitas
akademika Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif
Hidayatullah, Jakarta
b. Saran Praktisi
Dalam pengelolaan, konten Kompasiana harusnya lebih masif membahas
secara terus-menerus dan memberikan wacana seputar isu-isu politik agar
proses literasi politik makin efektif. Seperti konten wacana untuk diskusi di
dunia virtual
156
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku
Abugaza, Anwar. Social Media Gerak Massa Tanpa Lembaga, Jakarta: PT. Tali
Writing& Publishing House, 2013
Anttiroiko, Ari Veikko Anttiroiko & Mati Malkia. Encylopedia of Digital
Government, USA: Idea Group Reference.
Bakti, Andi Faisal, dkk, Literasi Politik dan Konsolidasi Demokrasi, 2012
Briggs, Asa, & Petter Burke, Sejarah Sosial Media Dari Gutenberg Sampai
Internet, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2000
Bungin, Burhan. Sosiologi Komunikasi, Jakarta: Prenada Media Group, 2011.
Burhanuddin, Tb Ace Hasan Syadzily, Civil Society& Demokrasi Survey Tentang
Partisipasi Sosial-Politik Warga Jakarta, Ciputat: Incis, 2003.
Budiarjo, Miriam, Dasar-dasar Ilmu Politik, Edisi Revisi Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2008.
Blossom, Jhon, Content Nation: Survivng and Thriving as Social Media Changes
Our Work, Our Lives and Our Future, USA: Wiley Publishing, 2009.
Cragan, Jhon F, Understanding Communication Theory: the Communicative
Forces for Human Actions, (Needham Heights: a Viacom Company, 1998
Denzin, Norman K, Lincoln, Yvonna S, Handbook of Qualitative Research,
Dariyanto dkk.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009
Fidler, Roger, Mediamorfosis, Yogyakarta: Bentang Budaya, 2003
Hill, David & Krishna Sen. Media, Culture and Politics in Indonesia, (South
Melbourne: Oxford University Press, 2007.
Hill, David T & Krishan Sen. The Internet in Indonesia New Democracy, London:
Routlegde, 2005
Hartley, Jhon. Communcation Cultural, & Media Studies, Yogjakarta: Jalasutra,
2010.
Heryanto, Gun Gun & Shulhan Rumaru. Komunikasi Politik Sebuah Pengantar,
Jakarta: Ghalia, 2013.
156
157
Heryanto, Gun Gun, Dinamika Komunikasi Politik, Jakarta: PT. Lasswell
Visitama, 2011
Hidayati, Nurul, Metodologi Penelitian Dakwah dengan Pendekatan Kualitatif,
Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006.
Kyong Chun, Wendy Hui & Thomas Keenan. New Media Old Media A History
and Theory Reader, NewYork: Routledge, 2006.
Keraf, Gorys, Argumen dan Narasi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Kriyantono, Rachmat, Tekhnik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2010.
Komisi Penyiaran Indonesia, Panduan Sosialisasi Lietasi Media Televisi, 2011
McQuail. Mass Communication Theory: 16 Edition, Sage Publication: 2010.
Milles, Matthew dan Huberman, Qualitative Data Analysis, London: Sage
Publication, diterjemahkan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi, Jakarta, Universitas
Indonesia Press. 1984
Muis, Andi Abdul. Indonesia di Era Dunia Maya, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2001.
M Andreans, Kaplan, dan Michael Haenlein. User of the Word, Unite! The
Challengesand Opportunities of Social Media, Business Horizons: 2010
Mayfield, Anthony, dan Michael A stelzner. What is Social Media Includes
Annual Marketing Report, T. Tp: Penerbit iCrossing, 2008
Mulyana, Deddy, Komunikasi Politik Politik Komunikasi, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2013
Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar,
Rosdakarya, 2007
Bandung: PT. Remaja
McClosky, Herber. Political Participation International Encyclopedia of The
Sosial Sciences, Edisi ke-2, New York: The Macmilan Company, 1972.
Moeleng, Lexy J, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1993.
John W. Creswell, Reserach Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed
Methods Approaches-3 rd ed, California: SAGE Publications Inc, 2009.
Mas’oed, Mohtar & Colin MacAndrews. Perbandingan Sistem Politik,
Yogjakarta: Gajah Mada University Press, 1995.
158
Nurudin, Komunikasi Propaganda, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002
Nimmo, Dan. Komunikasi Politik Komunikator, Pesan, dan Media, Bandung:
Remaja Rosda Karya,
Nasrullah, Rulli, Cyber Media, Yogjakarta: CV. Idea Sejahtera, 2013
Nasrullah, Rulli. Komunikasi AntarBudaya di Era Budaya Siber, Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2012.
Nugraha, Pepih. Ctizen Journalism Pandangan, Pemahaman dan Pengalaman,
Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012.
Puntoadi, Danis. Menciptakan Penjualan Melalu Social Media, Jakarta: PT Elex
Media Komputindo, 2011.
Potter, W. James, Media Literacy, Thousand Oaks: Sage Publications,
Pilliang, Yasraf Amir. Dunia yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-batas
Kebudayaan, Yogjakarta: Jalasutra, 2004.
Richard West & Lynn H. Turner, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan
Aplikasi, Jakarta: Salemba Humanika, 2008.
Sols & Breakendridge. Putting the Public Back in Public Relations: How Social
Media is Reinventing teh Agging Business of PR. New Jersey: Pearson
Education, 2009.
Subiakto, Henry & Rachmah Ida, Komunikasi Politik, Media & Demokrasi,
Jakarta: Kencana, 2012.
Subakti, Ramlan. Memahami Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia, 1992.
Severin, Werner J, Severin & Janes W. Tankard, Jr, Teori Komunikasi Sejarah,
Metode, dan Terapan di dalam Media Massa, Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2009.
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung:
PT. Citra Aditya Bakti, Cetakan Ketiga, 2003.
Wardhani, Diah & Afdal Makkuraga Putra, Repotition of Communication in the
Dynamic of Convergence Reposisi Komunikasi dalam Dinamika
Konvergensi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012.
Sumber Internet
159
Artikel
Gun
Gun
Heryanto
pada
Sindo
News
http://nasional.sindonews.com/read/657437/18/etika-lembaga-survei.
Artikel ini diakses tanggal 15 Agustus 2014 pukul 23:00 WIB
Artikel Kompasianer berinsial DT “Ternyata Prabowo Pemain Sinetron”
http://politik.kompasiana.com/2014/06/16/ternyata-prabowo-pemainpemain-sinetron-juga-658993.html
Artikel Kompasianer berinisial SP “Dahsyatnya Gerakan Sayang Jokowi Stop
Bicara
Capres
Sebelah”
http://politik.kompasiana.com/2014/06/22/dahsyatnya-gerakan-sayangjokowi-stop-bicara-capres-sebelah-660060.html
Artikel Kompasianer berinisial SR “Peluang Pencapresan Jokowi”
http://politik.kompasiana.com/2013/10/09/peluang-pencapresan-jokowi599944.html
Artikel Kompasianer berinsial DR “Analisis Media, Siapakah Presiden Kita
Berikutnya”
http://politik.kompasiana.com/2014/06/20/analisis-mediasiapakah-presiden-kita-berikutnya-668011.html
Artikel Kompasianer berinsial THM “Nuansa Bermusuhan di Kampanye Kotor”
http://politik.kompasiana.com/2014/06/20/nuansa-bermusuhan-dikampanye-kotor--659731.html
Berita Online di Republika Online “Kegiatan Tim Prabowo Pada Pekan Teakhir
Masa Kampanye” dengan Redaktur Mansyur Faqih diakses tanggal 03 Juli
2014 pukul 19:30 WIB http://www.republika.co.id/berita/pemilu/menuju-ri1/14/07/03/n84q6c-ini-kegiatan-tim-prabowohatta-pada-pekan-terakhirmasa-kampanye
Berita Online di Viva News, Ini Persyaratan Pendaftaran Lembaga Survei ke
KPU dengan Reporter Muhammad Adam, Syahrul Ansyari yang diakses
tanggal
07
Juli
2014
pukul
12:52
WIB
M.news.viva.co.id/news/read/475792-ini-syarat-pendaftaran-lembagasurevi-ke-kpu
Berita Online di Tempo Online “Mirip Obor Rakyat Martabat Disebar di Kaltim”
yang Redaktur Firman Hidayat yang diakses tanggal 03 Juli 2014 pukul
19:30
WIB,
http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/07/02/269589770/Mirip-OborRakyat-Martabat-Disebar-di-Kaltim
Hasil survey terkait Pilpres 2014, www.politicawave.com Senin, 07 Juli 2014
pukul 16:28 WIB
160
Hasil survey menjelang pemilihan presiden (PILPRES) 2014 dan hasil quick
count
Lembaga
Survey
Indonesia
dengan
alamat
http://lsi.co.id/lsi/2014/07/10/jokowi-jk-pemenang-pemilu-presiden-versiquick-count/ diakses tanggal 15 Agustus 2014 pukul 22:30 WIB
Keputusan KPU yang diumumkan pada bulan 22 Mei 2014, diakses tanggal 03
Juli
2014
pukul
22:40
WIB
http://www.kpu.go.id/index.php/persentasepartai
Peringkat Top Sites http://www.alexa.com/topsites/countries;1/ID
Minggu, 22 Juni 2014 pukul 22:30 WIB
diakse pada
Sumber data tersebut diakses dari www.socialbakers.com, pada hari Kamis, 27
Maret 2014, pukul 22:47 WIB
Sumber Dokumen
Disertasi Gun Gun Heryanto, Doktor lulusan Universitas Padjajaran (UNPAD)
Bandung, Jurusan Ilmu Komunikasi Prodi Komunikasi Politik, dengan judul
Konvergensi Simbolik di Komunitas Virtual: Studi pada Ruang Publik Baru
dalam Komunikasi Politik di Situs Jejaring Sosial dan Weblog Interaktif
Era Pemerintahan SBY-Boediono dalam Kasus Century, Disertasi ini
disahkan tahun 2013.
Skripsi Akmal Fauzi, mahasiswa UIN Jakarta, Jurusan Komunikasi Penyiaran
Islam, dengan judul Pemanfaatan Media Sosial Dalam Survei Politicawave
Pada Pilkada DKI jakarta 2012, skripsi ini disahkan tahun 2013.
Lampiran-lampiran Foto
I
Peneliti dengan Narasumber Pepih Nugraha Selaku Redaktur Kompas.com
II
Peneliti dengan Narasumber Iskandar Zulkarnaen selaku Editor Kompasiana
III
Peneliti dengan Narasumber Shulhan Rumaru Selaku Staf Admin Kompasiana
Transkip Wawancara Tahap 1
Judul Skripsi : Literasi Politik Jelang Pemilhan Presiden (PILPRES) 2014 di
Media Sosial Kompasiana
Nama
: Pepih Nugraha
Jabatan
: Redaktur Pelaksana Kompas.com sekaligus Pendiri Kompasiana
Tempat
: Gedung Kompas Gramedia, Unit II Lt. 6
Jl. Palmerah Barat No. 22-28, Jakarta 10270
Waktu
: Selasa, 08 April 2014/ 14:00-14:30 WIB
T: Saya baca di buku Kompasiana Etalase Warga Biasa, disebutkan
kompasiana itu awalnya dari blog internal wartawan kompas. Bisa
diceritakan sejarahnya, mungkin ada info menarik lain yang tak sempat
diulas dalam buku?
J: Yah.. info pentingnya bahwa sejak awal memang bikin blog itu dalam hal ini
Kompas (Kompas.com), bikin blog ini untuk menampung tulisan-tulisan
wartawan, wartawan Kompas khususnya, makanya kita sebut Jurnalis Blog. Ya
kan, Jurnalis Net, Jurnalis Blog lah istilahnya, jadi yang saya bayangkan waktu itu
adalah sebuah blog bersama isinya itu adalah selain wartawan yang menulis juga
ada orang yang diundang untuk menulis yang disebut blogger tamu ya guest blog
dan satu lagi sebenarnya platform untuk seleb blog gitu ya. Artinya saya
beranggapan waktu itu wah...mungkin kalo artis, selebritis ngblog bakal banyak
orang yang masuk ke kita, ya ternyata semua itu tidak kemudian ikut menarik
perhatian kalo mau dibilang begitu tapi hustru yang disini menarik perhatian
warga masyarakat pembaca karena Kompasiana itu milik Kompas. Kepemilikan
atau nama itu sangat berpengaruh mungkin juga, saya boleh mengatakan bahwa
Kompasiana tidak akan sebesar ini kalo dibelakangnya tidak ada nama Kompas
gitu. Memang pada kenyataanya yang saya temukan dilapangan adalah bahwa
semangatnya wartawan Kompas paling hanya sekedar tiga bulan aja. Ya kan...
hangat hangat tai ayam, jadi saya juga tidak menyalahkan mereka karena saya
juga adalah bagian dari mereka. Kita bisa merasakan penatnya mereka dan
mungkin fashion mereka tidak seperti itu, mereka nulisnya nulis resmi sementara
mungkin mereka jarang menulis catatan harian atau bahkan ngblog gitu ya,
sementara saya berpikir jangan-jangan mereka ikut menjadi Kompasiana dulu dan
mau menulis mungkin juga karena kasihan aja ama saya. Saya bekerja sendiri
dari pada tidak ada yang menemani gitu, akhirnya mereka menyatakan meniatkan
diri untuk nulis dan memang ada beberapa diantara mereka
menulis lalu
kemudian mendapatkan respon positif di mata pembaca. Tetapi itu tadi ketika
mereka sudah tidak menulis lagi lalu guest blogger juga jarang-jarang hanya
beberapa aja. Saya menyebut beberapa contoh misalnya hmm...pak Cecep Hakim
sudah mulai lalu kemudian di sisi lain orang-orang terkenal seperti mas Budi
Putra yang saya masukan sebagai guest Blog dan Pamantio juga saya masukan
sebagai guest blog itu, mereka tidak menulis lagi lalu pada akhirnya di timeline itu
cuma muncul nama Pepih Nugraha jadi sehingga saya diledek ini jangan-jangan
Pepihsana, lalu kan saya ditugaskan oleh Kompas Print
untuk bekerja di
Kompas.com dan itu sudah biasa ditempat kami tuh dan lalu di Kompas.com itu
saya ditantang untuk bikin sebuah sosial media dan yang kepikir adalah membuat
sebuah blog. Tadinya betul-betul blog karena adalah saya ini adalah juga blogger
yang saya sudah mulai sejak tahun 2005-2006an gitu, ketika para wartawan belum
tahu caranya ngeblog saya sudah lebih dulu tahu ngeblog maksudnya wartawan
Kompas. Mungkin saya adalah wartawan Kompas pertama kali ngeblog di situ
dan saya baca buku di luar we media itu kira-kira tahun 2005 ya, habis itu saya
terinsipirasi oh ya saya harus coba, ini barang baru ngeblog itu lah. Saya ini
wartawan profesional tetapi saya tidak ada lah salahnya sebagai pribadi saya juga
bisa ngeblog menulis gitu kan, tidak semua apa yang ingin saya tulis bisa muncul
di Kompas tapi bisa juga kalo saya punya angan-angan, punya opini, punya puisi,
boleh juga dong saya tulis suatu tempat yang tentu namanya blog. Lalu dari situ
saya mengembangkannya sebagai blog sosial. Nah...ketika pada saat muncul
Pepihsiana itu saya tidak mau dong Kompasiana yang saya bangun mati ditengah
jalan artinya layu sebelum berkembang, atau mati sebelum dewasa bahkan
sebelum jadi anak-anak. Lalu karena saya berjejaring ada yang beberapa
mengusulkan antara lain Prayitno Ramlan itu saya sebut ya “kang coba dibuka
saja gitu untuk umum” di saat saya memang kelimpungan waktu itu dan saya
bilang waktu itu saya sudah punya pikiran untuk itu bahkan agentnya pun sudah
kami siapkan, cuma tinggal nunggu dari pimpinan aja gitu untuk membuka kran
Kompasiana ini sebagai blog publik gitu ya. Hmm...lalu dari situ juga sebelumnya
pernah coba, uji coba sebelumnya yang apa yang saya sebut sebagai gelar
komentar. Gelar komentar itu adalah komentar warga yang mengomentari tulisan
saya misalnya, tulisan wartawan atau tulisan Kompasianer yang wartawan yang
muncul di Kompasiana, itu sebenarnya, satu komentar tuh bisa panjang gitu ya.
Saya pikir ini kan satu tulisan gitu ya, bisa jadi satu tulisan terbit dan beda dengan
apa yang dikomentari atau dengan sisi lain yang dia komentari dari sudut yang
berbeda gitu, itu satu hal yang sama. Lalu saya kemudian coba bikin akun hm,,
akun waktu itu Opini Publik, akunnya Opini Publik namanya, maksud saya ingin
menampung gelar komentar ini jadi setiap komentar yang panjang, bagus,
ekslusif, lalu kemudian mencerahkan, dan menambah wawasan, serta memperkuat
tulisan yang dia komentari. Saya coba untuk kemudian bikin kan akunnya yang
namanya Opini Publik dan saya taro di situ, saya kasih judul lalu kemudian
penulisnya adalah saya tulis dibagian atasnya, misalnya oleh Prayitno Ramlan tapi
akunnya adalah Opini Publik karena itu belum dibuka, sebenarnya sudah dicoba
sejak awal dan yang saya liat ternyata tulisan mereka tidak kalah menarik dari sisi
pembaca gitu loh, ternyata pembaca juga banyak yang menulis dan bahkan
mengomentari komentar panjang itu gitu. Saya bilang, ini kan satu hal yang saya
pikir menarik yah...itu. Sejak awal, saya sudah berpikiran untuk membuka kran
itu. Kran itu dibuka ketika ada kasus dimana yang nulis cuma saya doang kan “ga
lucu dong ini blogger keroyokan masa yang nulis cuma saya aja gitu.” Kalau saya
tetap menulis karena saya harus
menjaga Kompasiana jangan sampai layu
sebelum berkembang atau mati sebelum jadi anak-anak. Ya...akhirnya pada
tanggal eh...satu tahun kemudianlah atau sorry...sorry 6 bulan kemudian ya, gak
sampe 1 tahun, Kompasiana mulai membuka kran ke publik. Jadi inget betul mei
itu kita baru uji coba untuk mengonlinekan Kompasiana mei 2008 gitu ya. Baru
pada tanggal 22 Oktober itu peresmian dimana Kompasiana itu lepas dari versi
betanya dan sudah betul-betul merupakan Kompasiana, tapi waktu itu masih
belum dibuka kran dan tidak lama setelah itu kita sudah buka kran jadi bebas buat
siapapun. Bahkan pada kopdar (kopi darat) pertama itu pada bulan April sekitar
tanggal pertengahan April 2009 itu masih pada kopdar pertama itu masih apa
namanya orang-orang itu masih merasakan Kompasiana baru dibukanya sebagai
publik jadi rame, kalo gak gitu gak kan banyak orang masuk seperti itu lah.
Setelah dibuka malah tidak bisa terbendung. Alhasil, minat warga untuk menulis
tuh luar biasa banyak bahkan melebihi wartawan sendiri dari ibu-ibu, mahasiswa,
anak-anak sekolah, itu ternyata mereka demen nulis gitu karena mereka punya
wadahnya yaitu Kompasiana. Dan usia Kompasiana 6 tahun. Kita dulu melakukan
moderasi jadi semua tulisan yang masuk tidak kita tayangkan dulu kita tahan dulu
baru setelah tidak menyinggung SARA kita munculkan, sekarang kan liat di
Facebook atau di twitter menulis bisa langsung ditayangkan gitu, tapi ini bisa
menyimpan bahaya juga, nyimpan bahayanya adalah orang masuk lewat postingan
SARA, atau orang yang judi, yang ngeseks, dan kalo tidak di filter maka akan
terjadi kecolongan gitu seperti kasus kemarin. Sehingga ke depan orang yang
masuk Kompasiana kita akan lakukan moderasi, orang yang baru mah harus
diperiksa dulu sebelum ditayangkan, coba kalo orang-orang yang lama yang
dibiarkan status seperti sekarang ini gitu.
T: Bagaimana Kompasiana bisa eraih beberapa penghargaan bergengsi
tingkat Asia di usia yang masih balita (penghargaan Asian Digital Media
Awards (ADMA) 2010?
J: Itu kan tahun 2010, berarti baru 2 tahun, kan sebenarnya pada saat itu dibilang
saingan kita banyak ada Ocnis dari Thailand, Stomer dari Singapore, ada juga
Ohmynews dari Korea, ada No Public dari Kanada, dan masih banyak lagi
sebenaranya. Mereka yang mengirimkan, dammy, mengirimkan linknya dan
mengirimkan tentang propose kompasianif tuh apa tapi kan yang menjadikan
kejutan bagi kita bahwa Kompasiana di usianya yang ke-2 tuh udah langsung
meraih penghargaan perak se-Asia gitu ya, dan itu sampe sekarang pun
Kompasiana belum lagi meraih gelar apapun tetapi kendati kita tetap ikut, apa
namanya lomba-lomba tersebut artinya itu kan penghargaan yang bergengsi di
tingkat Asia Pasifik.
T: Tapi menurut saya sih emang luar biasa sekali Kompasiana, di umurnya
yang masih balita baru 2 tahun langsung mendapatkan penghargaan
bergensi.
J: Waktu itu ada Marketirs juga dapet, ada pesta blogger apalagi beberapa kali
gitu bahwa kita ini dianggap sebagai pelopor gitu. karena memang melihat lawanlawan pesaing-pesaing kita lah bahwa saya tuh pernah be smart artian dalam
meniru bukan meniru sih, melihat kelebihan dan kekurangan blog lain seperti
misalnya Panying Blog. Panying Blog tuh sama seperti Kompasiana tapi dia lokal
di Makassar, kelebihannya apa kekurangannya apa saya pelajari sehingga pada
saat itu Panying tuh pada tahun 2008 saat Kompasiana berdiri itu masih ada eksis.
Beliau berdiri
tahun 2006, 2 tahun lebih awal artinya sebagai pelopor di
Indonesia ya dari tapi kemudian mati lalu kenapa mati kan saya pelajari, ada juga
Ohmynews kenapa dia tumbuh lalu kemudian menjadi turun saya pelajari juga.
Justru sekarang yang lagi gonjang-ganjing di Singapore. Di Singapore ada Stom
orangnya disebut Stomer, ada keinginan warga disana untuk menutup Stom,
karena sering membuat Hoks tulisan-tulisan yang tidak bisa dipercaya terutama
foto-foto gitu kan, mereka bikin petisi yang kemudian didukung oleh ribuan
warga Singapura yang menghendaki Stom ditutup. Nah,, Kita kan tidak mau dong
seperti itu ya kan, kita terus dan marsing. Gimana caranya oh, berarti itu kan
persoalan konten, masyarakat ingin konten yang kredibel, jadi kita memang harus
urus konten itu, tidak kasar bahwa mungkin nanti tidak ada orang yang rame
disitu, ya,, ga papa, kalo mau yang cari keramean, cari keramean aja mungkin
kaskus lebih rame mungkin platformnya bukan menulis tapi dia kan forum tukar
menukar link, dapet informasi dari media mana cemplungin aja kesana banyak
dikomentari tapi kalo Kompasiana memang ketat memang harus untuk menulis
platform kita menulis.
T: Di tahun politik ini, apa yang sudah dilakukan Kompasiana dalam
merayakan pesta demokrasi Pemilu 2014? Tentu yang sesuai dengan model
media Kompasiana.
J: Ya, kita menampung tulisan warga berkaitan dengan kegiatan pesta demokrasi
lima tahunan ini misalnya kita secara sengaja dan secara setting kita bikin yang
namanya Kotaksuara di Kompasiana itu adalah microsite boleh dibilang anak dari
sebuah situs gitu memang dia punya subdom sendiri, halaman sendiri apa
namanya Kotaksuara. lalu disana setiap orang kalo mau menulis tentang Pileg,
Pilpres dan Serba Serbi, Pemilu ada di situ. Di situ artinya apa? artinya kita bisa
mewadahi mereka dan memang ingin melaporkan kegiatan-kegiatan seputar
pemilu begitu, mereka mau mempromosikan calegnya, atau jagoan presiden
silahkan tetapi tidak menjelek-jelekkan orang lain itu kita jaga.
T: Bagaimana respon kompasianer sendiri terhadap kanal ini/ kotaksuara?
J: Buktinya tidak pernah sepi kan alurnya masih jalan lalu kemudian banyak halhal yang baru di sana dan mereka punya kepentingan seperti lazimnya pada tahun
2009, kita punya, dapet momentum dari PILEG dan PILPRES itu sehingga
Kompasiana naik menjadi luar biasa ya... peringkatnya waktu itu mungkin dari
400-an menjadi langsung 250-anlah peringkat, sekarang sih berharap dari 30
sampe menjadi 25-an peringkatnya setelah PILEG dan PILPRES selalu ada
harapan untuk pesta demokrasi lima tahunan ini.
T: Sebenarnya apa tujuan dibuatnya kanal Kotasuara tersebut?
J: Pertama, karena memang kita a wear dan menyambut pesta lima tahunan ini
kenapa tidak gitu , kalo kita tidak menyambut atau menyatakan bisnis gitu, pesta
demokrasi tidak akan kita buatkan microsite, tidak akan kita buatkan Kotaksuara,
yah...cukup berita yang mengalir biasa-biasa saja. Justru karena europia
masyarakat untuk menulis mengenai kegiatan pemilu itu, maka kita bikinkanlah
sebuah wadah gitu ya,, wadah dimana di situ kan ada sub rubrik yang namanya
Pilpres, orang cerita tentang sebuah Pilpres, ada juga Pileg dan Serba-serbi begitu
ya. Nah,, di situ boleh menulis apapun kegiatan, kejadian mengenai
sekitar
Pemilu tahun 2014 ini gitu.
T: Biasanya Kompasianer melakukan aktivitas apa saja di kanal
Kotaksuara?
J: Mereka terutama yang mereka ini ada yang Caleg, ada juga yang aktivis Parpol,
ada juga yang masyarakat biasa, mereka menulis postingan dan juga mereka
mengomentari postingan. Itu lumrah saja si, bagi saya si ga masalah selagi dia
tetap berpegang kepada aturan yang dibikin Kompasiana gitu, antara lain tidak
berbau SARA, tidak menyerang lawan gitu ya, menyerang lawan boleh si bolehboleh aja asal purposional artinya kalo membandingkan boleh tapi dengan
tangkap gitu dengan fakta membandingkannya silahkan.
T: Pasca pemilu, apakah kanal kotaksuara ini akan dibekukan? Mengingat
kanal ini terlihat khusus hadir pada saat Pemilu 2014.
J: Toh nanti seperti biasa microsite ini akan dicabut setelah usai pemilu mungkin
setelah presiden terpilih gitu ya karena dia akan disembunyikan sebagai microsite
sublemen tapi masih bisa diakses tapi tidak ditampilkan di depan muka gitu, di
halaman muka gitu seperti biasa karena itu menjadi kekayaan kita. The next
Pemilu tahun 2019 mungkin kita akan bikin lagi, kalo Kompasiana masih ada dan
republik ini masih berdiri.
T: Apa saja program yang sudah direalisasikan dalam kanal Kotaksuara ini?
J: Kita pernah memanggungkan Pak Wiranto sebagai bakal Capres dari
HANURA ya itu dalam bentuk monthly discussion, kita tadinya ingin
mengundang para CAPRES juga untuk hadir di Kompasiana tapi itu ga keburu
karena memang kita khawatir Kompasiana dikira sebagai sebuah ajang untuk
promosi atau untuk kampanye gitu karena memang kita ingin di kantor ini. Jadi
itu yang program-program itu yang dilaksanakan. Sekarang program katakanlah
untuk mengarahkan atau untuk memberitahu mengenai tentang pemilihan
Kotaksuara pergi ke TPS itu mereka bikin sendiri jadi tidak harus kita arah-
arahkan sebenarnya karena memang kita bukan media mainstream kalo
Kompas.com atau Kompas Print mungkin harus bikin apa tata caranya, harus
bikin apa namanya grafisnya. Kalo kita grafis yah kalo ada yang bikin, bikin yah
silahkan aja tapi itu adalah program-program yang kita laksanakan, kalo kita
sudah membuat microsite di sini sudah merupakan program kita menyambut
pemilu ini.
T: Dapatkah kanal Kotaksuara dipercaya sebagai informasi seputar politik
yang kredibel bagi masyarakat?
J: Yah selama ini sih masyarakat terbelah ya. Bagi mereka yang tidak percaya
sama sekali juga ada tapi mereka tetep memerlukan bacaan yang sifatnya
alternatif gitu ya, karena di Kompasiana orang berani, lebih berani, lebih cair
mengemukakan pendapat atau kalo mengkritik lebih terasa vulgar dan to the point
kritikannya maka kadang-kadang gaya warga untuk mengkritik ini lebih disukai
buktinya apa keterbacaan dari postingan-postingan di Kotaksuara itu tinggi
ternyata, itu bisa dihitung site metter, site metter itu pengukur situs, ya bisa kita
lihat misalnya jumlah pembacanya berapa, lalu kemudian berapa artikel itu
dishare orang ke Facebook, ke Twitter, maupun ke Jimblas gitu ya. Karena kan
kita punya tiga tool untuk di sharing Facebook, Twitter dan Jimblas.
T: Apakah ini bagian dari perhatian Kompasiana terhadap proses literasi
politik atau melek politik di kalangan warga?
J: Untuk menyediakan wadah untuk berinteraksi berarti kita turut memberikan
peluang mereka mengekspresikan warna-warna demokrasi seperti apa. Karena
saya si berkeyakinan demokrasi tuh ga bisa ditumbukan seperti orang
menanamkan tiang listrik gitu ya, dia harus dibibiti harus dicari, harus disirami,
disiangin, harus ditumbuhkan ketika sudah gede, harus dikokohkan, harus tetap
dirawat seperti itu, itulah demokrasi. Saya tidak percaya demokrasi dibangun
dalam sehari itu, seperti membangun tiang listrik langsung jadi. Tapi dibangun
karena waktu gitu lalu kemudian juga kedewasaan orang-orang berdemokratis
juga ditempa karena waktu juga saya kira. Makin lama orang makin
berdemokratis karena mereka pemahamannya lebih dapat dari apa yang mereka
baca secara langsung lewat media massa atau media sosial selama ini gitu. Dan
saya kira yang namanya media sosial seperti hanya Kompasiana turut
mempercepat proses demokratisasi itu maka kita sediakan ruang-ruang menuju
demoktratisasi itu.
T: Pada pemilu sebelumnya, sudah ada kah kanal Kotaksuara serupa ini?
J: ga ada, karena dulu kita belum tertata, orangnya juga masih sedikit gitu ya,
masih beberapa orang paling ya karena selama setahun saya sendiri saja. Jadi
setelah satu tahun baru ada beberapa orang gabung mungkin ada tiga atau empat
orang. Yah itu belum ada mungkin berpikir untuk kesana tapi terasa banget tahun
2009 kita dapet limpahan orang yang yang dateng ke Kompasiana begitu banyak.
Karena ini hidup mati soal bagaimana mengurus media sosial di Indonesia jadi
tidak bohong. Saya bisa mempertanggung jawab kan.
T: Bisa dijelaskan rubrik kanal Kotaksuara seperti PILEG, PILPRES,
Serba-serbi, Kandidat dan Poling?
J:
Kalo PILEG itu cerita tentang tulisan-tulisan atau berita-berita warga
mengenai kegiatan para CALEG bukan hanya para CALEG namanya PILEG,
legistlatif berarti dia kan diusung partai jadi dia kan bercerita tentang partainya,
kegiatan partai. Kalo PILPRES udah jelas jadi siapa pun presidennya, siapa pun
yang diajukan sebagai presiden misalnya saya memilih atau referensi saya
terhadap si A maka dia akan menulis tentang A itu yang paling bagus,
meninggikan dia gak papa, yang penting jangan kemudian menjelekan-jelekkan
B, C dan seterusnya seperti itu ya, itu dari sisi orang yang ingin menulis mengenai
sosok pilihannya . Tapi bagi orang yang betul-betul terlibat (orang partai) dia akan
menulis dari sisi bahwa dia ini adalah orang partai, sehingga dia merinci programprogram yang akan dia kemukakan dari PILEG untuk legistlatif untuk anggota
dewan. Kalo PILPRES untuk pemilihan tanggal 9 juni nanti, kalo PILEG untuk
tanggal 9 April besok mereka silahkan menulis Serba-serbi itu. Kalo Serba-serbi
itu diluar PILEG PILPRES karena misalnya suka ada aja yang misalnya yang
lucu-lucu biasanya, orang tiba-tiba koq mau saja misalnya meredem di air untuk
cari wangsit, dikuburan itu Serba-serbi, perilaku di luar mainstream orang
seharusnya berpolitik. Kalo berpolitik itu kan mereka ketemu muka, ketemu
konstituen, lalu mengajak mereka untuk bergabung ke partai, mengemukakan
program-program bukan kemudian masuk ke sebuah sungai yang berair dingin
lalu mengadakan pemujaan di situ lah bagian Seba-serbi gitu. Nah...kalo
Kandidiat itu hanya bercerita tentang calon legistlatif secara sosok ya, apa
kiprahnya, siapa orangnya, dimana berada gitu kan, apa yang dilakukan, mengapa
dia lakukan itu. Dan satu lagi adalah Poling, Polling itu sebenernya untuk
mengukur referensi dari Kompasianer terhadap kombinasi beberapa orang ya,
mereka disuruh memilih tapi kita sediakan CAPRES yang sering disebut-sebut
ini adalah A B C ya untuk sekian lama persennya berapa, silahkan anda gabunggabungkan hasilnya yah itu pilihan dari warga Kompasiana, mungkin ada yang
tidak senang, mungkin ada yang keberatan dengan Poliing itu, yah namanya
Polling itu kan warga Kompasiana kalo menurut warga Kompasiana presiden si A
wakil presiden si B begitu, silahkan aja bikin Polling yang lain, kita tidak pakai
metode-metodean siapa aja namanya juga Polling gitu ya, bukan survey yang
harus ketat dengan sample, berapa margin error dan seterusnya.
T: Untuk rubrik polling, apakah sejauh ini sudah bisa dijadikan alat ukur
untuk meraba keinginan publik tentang paket Capres-Cawapres?
J: Saya bayangkan kalo seandainya Kompasiner ini diisi orang-orang yang
beragam yah kan, maksudnya dari sisi prefensif politik, dari sisi pekerjaan, dari
sisi usia, dari sisi gender itu malah Refresentatif banget, gitu loh. Cuma kan kita
gak punya data-data. Kalo penelitian aslinya kan responnya sudah ditentukan,
respondennya mau berapa gitu, katakanlah mau 500, ditentukanlah 500 lalu
kemudian bagaimana perbandingannya gitu kan, berapa margin erornya,
samplingnya berapa, klaster berapa, itu ditentukan. Kalo kita kan terbuka
siapapun dateng gitu kecuali ada aja orang partisipan dari partai tertentu
misalnya, mengerahkan orangnya ayo milih si ini, si ini, si ini, yah silakan aja,
namanya juga usaha warga gitu untuk mempengaruhi orang, tapi ya itu adalah
cara yang kita lakukan dan kita adalah, tidak bisa satu komputer itu kemudian
memilih berulang-ulang karena kita sudah menditek berdasarkan IP addres gitu,
kalo IP addres yang sama hanya berhak memilih calon satu kali aja, gitu. Itu apa
namanya cara kita untuk jangan sampe ada orang dalam komputer yang sama
udah aja, ketik ini ini terus berulang kali, seribu kali, itu bisa merubah itu, kan
bisa jadi kalo misalnya pengerahan cyber argum tuh, udah dikerahkan aja bisa
seribu orang mengetik misalnya10 kali, bisa berubah tuh ini nya hasilnya seperti
itu.
T: Adakah tekanan politik dari pihak luar terhadap kompasiana menyoal
rubrik polling?
J: Ga ada, ga ada. Aman aman.
T: Dalam pengelolaan kompasiana dan kotaksuara, apakah admin terbuka
mendengar masukan dari user?
J: Sangat, contohnya misalnya ada kita mengerahkan admin tuh tidak hanya
bersosialisasi di Kompasiana tapi kita kerahkan juga media sosial lain seperti
Twitter terutama Facebook ya, jadi kita minta admin melototi pesan-pesan yang
ada di Facebook mengenai Kompasiner. Di situ kita bisa menakar keinginan,
protes, atau hasrat dari pengguna Kompasianer sesungguhnya. Misalnya
sesungguhnya, kata-kata lah Kompasiana terlalu Jokowi banget ni, apa-apa muat
Jokowi
gitu kan sementara dari Gerindra gak, itu harus didengar, kita
mengarahkan temen-temen
membuka mata dan telinga untuk mendengar
kelurahan orang, itu sudah kita lakukan.
T: Tapi apakah memang Kompasiner kebanyakan Jokowi ?
J: Tidak terhindarkan, ya karena mungkin pencinta Jokowi lebih banyak gitu ya,
sebenarnya gampang aja tinggal diimbangi aja sama yang lainnya persoalannya
yang lain mencintai orang itu gak, gitu loh ya kan. Misalnya kalo saya orang
Prabowo, saya bisa mengerahkan orang-orang ayo bang untuk menulis tentang
Prabowo, kan bisa begitu.
T: Apa harapan Apa harapan kang pepih/ Mas Is kedepan terkait
kompasiana dan Kotaksuara?
J: Kalo Kotaksuara pasti akan berhenti setelah pemilihan presiden, kita bisa lihat
lagi nanti kapan-kapan Kotaksuara yang lain tahun 2019. Kalo harapan tentang
Kompasiana ya hidup terus ya bahkan terus meningkat gitu. Tidak hanya sekedar
dia sebagai tambang uang tapi saya punya misi disini juga. Karena untuk
bertepatan sebuah oase atau taman dimana orang saling bertemu, saling bagi ilmu,
saling berpidato di podium, pidatonya itu sebuah tulisan yang dihasilkan gitu ya,
berkumpul dengan menghormati apa yang dilontarkan gitu ya, saya ingin
demokrasi itu justru jalan dan sopan santun berinternet itu justru terbangun di
Kompasiana ini gitu. Maka tidak henti-hentinya saya punya program Peptalk di
Kompas.com khusus untuk mengabarkan berinternet yang sehat, bercerita tentang
di sosial media seperti ancaman kepala negara di sosial media, jangan rasis di
Internet dalam bentuk video. Kayak gini gini saya tetep saya melakukannya demi
untuk sebuah apa kebudayan, demi sebuah peradaban yang saya sebut peradaban
literasi. Dimana orang melek tulisan, melek bacaan kayak gitu gitu. Kepengen
saya, lewat Kompasiana ini yang saya bangun, lalu kemudian mengkhendaki
adanya sebuah peradaban baru yang intelek lah, yang di situ terbebas dari orang
itu S1, S2, S3 atau mungkin lulusan SD atau segala macem, mereka itu terlepas
dari sukunya apa, agama apa, tapi yang jelas mereka ini adalah orang-orangnya
berkumpul dan seperti sharing connecting adalah jargon mereka, mereka
membagikan sesuatu sharing dan kemudian tersambung satu sama lain, itu yang
sama mau. Satu lagi sebenarnnya yang ingin saya kemukakan di jargon
Kompasiana tuh selain sharing connecting juga mungkin controling. Karena
ternyata Kompasiana sudah menjadi pengontrol empat pilar demokrasi itu, jadi
dia bisa mengontrol pemerintah, bisa mengontrol DPR, bisa mengontrol yudikatif,
lembaga-lembaga yudikatif, bisa mengontrol media massa mainstream gitu, jadi
empat pilar dia kontrol sekaligus. Jadi termasuk literasi media itu. Saya kira udah
ada di sini juga ( buku Kompasiana Etalase Warga Biasa) ketemu di lima pilar itu
ya. Kompasiana sebagai lima pilar itu ya. Harapan saya Kompasiana menjadi lima
pilar itu.
T: Sebagai pendiri Kompasiana apa harapan ke kompasianer sendiri?
J: Selain mereka bisa melakukan personal branding bahwa di Kompasiana orang
ga bisa nyari duit sekaligus misalnya kita dengan satu tulisan kemudian kita dapet
uang karena Kompasiana tidak membayar para penulisnya kan gitu. Tapi mereka
bisa melakukan personal branding. Personal branding itu adalah dengan kita
menulis konsisten seperti judul buku yang saya tulis ini (Kompasiana Etalase
Warga Biasa) dengan sendirinya orang punya cap masing-masing orang punya
cap sendiri dan itu branding itu diterapkan oleh para pengguna bukan oleh kita.
Kalo saya nulis tentang blog atau tentang sosial media gitu loh orang akan
gampang mengindetifikasi oh... wartawan Kompas yang suka nulis sosial media
ya pasti ke saya, itu personal branding. Oh..nulisnya itu tentang dunia intelegent
melulu dan itu dapat personal branding nya di situ. Pada akhirnya dia di dapuk
sebagai pakar intelegent, menjadi dosen pembimbing intelegent gitu karena
konsistensi dia. Di Kompasiana banyak orang sekarang menjadi editor buku,
karena apa dia konsisten menulis bagaimana cara menulis gitu, ada yang menjadi
dosen juga, ada bahkan yang membuka khursus penulis coba hanya karena
konsisten menulis dan banyak orang tertarik dengan apa yang dia tulis lalu
kemudian dia sendiri merasa oke saya membuka khursus menulis maka jadilah
bisnis gitu itu lah personal branding. Saya sendiri menjadi saya seperti ini dengan
menulis lima buku gitu, karena dia juga karena Kompasianer juga. Sehingga saya
kalo menawarkan satu naskah kepada penerbit mereka tahu oh ya yang
mendirikan Kompasiana ya itu personal branding seperti itu lah.
Narasumber
Peneliti
Transkip Wawancara Tahap 2
Judul Skripsi : Literasi Politik Jelang Pemilihan Presiden (PILPRES) 2014 di
Media Sosial Kompasiana
Narasumber
: Iskandar Zulkarnaen
Jabatan
: Editor Kompasiana
Tempat
: Gedung Kompas Gramedia, Unit II Lt. 6
Jl. Palmerah Barat No. 22-28, Jakarta 10270
Waktu
: Rabu, 30 April 2014/ 10:00- 11:30 WIB
T: Kenapa Kompasiana mengambil model bisnis citizen journalism?
J: Karena belum ada yang serius mengambil bukan posisi maksudnya model
media sih mungkin kita bicara medianya dulu ya, karena kan kalau itu berarti
ngomongin produk jadi kalau saya melihat selama kemarin 2008 kebelakang
berarti kan ya, waktu itu memang belum ada satu pun media yang fokus atau
serius masuk ke citizen journalism dalam arti mengingcorrect, memberdayakan
masyarakat untuk terlibat aktif dalam proses journalism. Journalism itu kan
mencari, meliput, mengumpulkan teorinya kan gitu. Jadi yang selama ini yang
terjadi hanya ada blog, blog itu sebagai personal me media udah pernah denger,
jadi itu sangat personal sekali, setiap orang mengelola blognya masukin widget,
desagin, segala macem, ada yang serius di konten, ada yang serius jualan, ada
yang serius di google exsains kan gitu macem-macem. Tapi belum ada nih yang
satu pihak yang memang dalam tanda petik mengurusi konten-konten itu dan
mengajak orang untuk yuk rame-rame kita menjadi bagian dari journalism ini, itu
belum belum saya lihat bahkan ketika Kompasiana terlahir pertama kali di 2008
pun tidak kesitu arahnya, pasti udah tahu ceritanya. Nampaknya ketika saya
masuk, saya di 2008 udah aktif cuma saya baru masuk terlibat dalam tim di 2009,
dia udah fokusnya yang saya arahkan adalah bagaimana agar produk ini betul-
betul menjadi sosial blog menjadi webiste seeze yang nasional white gitu kan, dan
ternyata lebih lebih dari itu sekedar skala nasional tetapi skala dunia karena ya
walaupun kita Indonesia wife tetapi usernya itu kan menyebar kemana-kemana.
Bukan cuma pembaca usernya berarti kan orang yang mengakses website kita
dengan loginlah katakanlah bukan cuma pembaca yang kemudian berkomentar
tapi juga kontributor dalam arti orang yang mengposting artikel, memposting
berita, opini atau pun fiksi dari semua dari penjuru dunia ada gitu, terverifikasi
dengan jelas. Dan ini muatan yang ada di Kompasiana kemudian menjadi sangat
unik karena memang dari awal kita mempertahankan bahwa kita tidak sedang
membuat website ini menjadi versi Indonesia-nya wordpress atau versi Indonesianya blogspot seperti yang dibikin oleh media-media lain tapi kita bikin sosial
media berbazis citizen journalism menurut kita sendiri gitu, jadi memang udah
banyak sekali di dunia sana apa namanya contoh-contoh suksesnya seperti ada No
Public di Kanada, ada OhMyNews dulu ya dulu OhMyNews bagus di Korea
Selatan tapi sekarang kontennya konon sudah gak bagus, ada Stom dari Singapura
gitu kan, Nah... kemudian di Indonesia gak ada gitu akhirnya kita buat itu. Nah
fokusnya sama kalau mau mengelola media kontennya is the King kita harus
betul-betul mengutamakan mendudukan konten sebagai raja di website kita. Yang
kita lakukan mulai dari menolak adanya copy paste, kita menolak adanya tulisantulisan dalam udang-undang dilarang kita tidak cuma menerapkan undang-undang
IT tetapi lebih dari itu. Yah termasuk huruf kapital kita tidak bolehin trus data
yang kita terapkan kayak gitu yang sangat teknis sekali, memang kita pastikan
bahwa user itu loh kalau mau memposting di Kompasiana itu ada aturannya, kita
bikin aturan bukan hanya Kompasianer yang nulis, misalnya Putri ya nulis, ini
memang aturan bukan untuk Putri tapi kepada buat pembaca biar membaca
nyaman. Kita bikin-bikin aturan dari sisi konten, dari sisi penulisan sampe sisi
ketentuan macem-macem ya, kemudian sanksinya kita terapkan juga mulai dari
artikel dihapus, komentar dihapus, akun dihapus itu buat pembaca biar mereka
nyaman kalau gak ada yang baca buat apa kita nulis kan kayak ya. Kita pun
menyiapkan media ini dengan promix dengan janji atau dibaca banyak orang dan
orang pun melihatnya seperti itu. Dia nulisnya di blognya yang baca dalam kita
hitung dalam hitungan perhari ya, kalau di blog dalam satu hari tulisan copas yang
lucu yang berbau-bau seks gitu ya itu dalam sehari ramainya hitungan ramainya
itu 50 pembaca 50 hits, itu kalau yang sepi yang serius atau yang sangat personal
atau yang gak penting banget, katakanlah dia punya teman 100 di Facebook 100
di Twitter dia sebar sama atau bareng-bareng paling 5, 10 yang baca gitu kan tapi
kalau di Kompasiana bisa lebih dari situ karena memang pertama ada yang
sebagian mantengin Kompasiana untuk menemukan tulisan-tulisan yang menarik
di situ, ada sebagian matengin di Twitter di Facebook, ada sebagian orang baca
langsung di share langsung di share karena dilihat oh ini dari Kompasiana gitu.
Apa namanya dari sisi medianya juga kita sudah bersatu ya, kalau dalam islam
Aljama’ah Barokah. Jadi karena kita kumpul dalam sebuah media yang kemudian
menggunakan konsep we media media kami, media bersama maka tingkat
terbacaannya jauh lebih tinggi. Kalau di Kompasiana tulisan di biasa itu di angka
40, 50 hits, kita ya menghitungnya sebagai pembaca, kalau yang bagus gitu 100,
200, kalau yang apa nomenal dalam arti dia bisa membuat artikel yang menarik
judul yang seksi itu bisa 1000, 2000 dalam sehari, belum kalau dalam seminggu,
dalam perbulan, untuk lebih dalam coba teliti blog-blog yang lain sebagai
pembanding Kompasiana dengan platform blog yang lain itu seperti apa. Kalau di
Blog Detik saya liat sama lah cuma versi yang lainnya blogspot aja cuma
namanya Blog detik tapi agentnya dan sistemnya sama pake widget segala macem.
Tapi kalau di Kompasiana piur kita untuk tampilan kita mungkin bisa dibilang
kayak Facebook, kayak Twitter gitu ya, gak peduli beda-beda tampilan untuk
sekarang sama karena memang fokus kita yaudah nulis nulis dan nulis gitu kan.
Jadi karena kita serius mengelolanya ini sehingga akhirnya berhasil gitu dan
sekarang ya kita kalau tadi kan pertanyaan kenapa, kan udah kejawab ya karena
memang belum ada yang masuk dan kita udah mengisi ruang kosong itu, mungkin
karena memang kita melihat belum ada yang bermain ke citizen jornalism secara
serius di lingkup nasional terus kita masuk dengan pakem yang standar yang
tinggi dan mengelola konten sehingga kita cepat naiknya. Kalau bicara lokal sih
udah ada, mungkin udah tahu ada yang namanya Payingpo, udah ada komunitas
PPWI, yang kayak-kayak gitu.
T: Kalau untuk saat ini ada gak yang menyerupai bisnis seperti Kompasiana
atau citizen journalism?
J: Kalau untuk saingan sih gak ada tapi kalau yang baru muncul mungkin ada
yang namanya Indonesiana punyanya Tempo itu baru banget seperti apa coba di
cek aja formatnya tapi sepanjang yang saya tahu, yang saya baca dan lihat itu
sama ama Kompasiana konsepnya. Ada yang Viva punya namanya Viva Lock
tahu, kalau Viva Lock itu lebih sebagai provider, dia cuma yuk kita bikin sent up,
begini kalau Viva itu konsepnya sebenarnya bagus menarik dia mengkurasi,
memfit, mengumpulkan konten-konten bagus dari masing-masing blognya orang
gitu loh. Jadi kalau seandainya punya blog silahkan daftarkan punya ada di Viva
lalu nanti Viva akan mengambil konten-konten yang dari blog-blog kita itu dari
Wordpress, yang di Blogspot gitu kan, dipilih yang bagus ditaro di Viva, baca
selengkapnya di tempat saya gitu, modelnya gitu. Sebenarnya itu bagus cuma itu
sangat bagus cuma dia gak dapet apa-apa akhirnya, kadang-kadang page view
tersebar ada di halaman artikel kan, kebayang gak. Jadi kalau seandainya saya
bikin Kompasiana.com orang buka Kompasiana.com paling cuma satu orang
paling cuma buka satu tapi kemudian kalau Kompasiana.com dia membaca satu
artikel, dua artikel, tiga artikel bisa sampe 10 artikel sekali dia visit gitu kan. Jadi
yang paling banyak yah artikel karena bisa 10 kelipatanyan kan yang kayak gitu
makanya kalo kayak Viva dia cuma dapet satunya aja sementara artikelnya masuk
ke masing-masing blognya orang, masuk ke blog saya pribadi bukan ke Viva, di
IskandarJet.blogspot.com misalnya atau Putri.blogspot.com gitu jadi itu. Kalau
Detik saya sudah cerita tadi, Detik itu versi lainnya, dia blog provider menurut
saya ya tapi kalau mau di konfirmasi silahkan tanya ke pihak terkait karena
mereka yang paling tahu sebagai pembanding. Apa lagi yang lain?
T: Apa saja Produk Kompasiana?
J: Yang pasti Kompasiana itu satu produk yang pengembangannya masih banyak
banget yang bisa dikembangi dari Kompasiana, tapi kalau untuk yang lain-lainnya
ini bisa produk website atau produk bisnis?
T: Produk Bisnis dulu aja mas
J: Kalau bisnis kita mengtrik klien itu dengan dua jenis produk pertama, online
activity lalu offline activity. Kalau online activity itu aktivitas yang ada di online
yang semua orang bisa ikut disitu dengan syarat di harus login dulu Kompasiana
kan gitu, kalau yang offline gak semua orang bisa ikut karena berbatas dengan
waktu, lokasi, jadi orang yang punya waktu, dan dekat dengan lokasi yang bisa
ikut tapi tetep dia harus login di Kompasiana, dua besaran itu sih yang mungkin
memang kita sekarang dijalankan selama 2010 kesini tapi belakangan kita ada
model bisnis lain yang memang mau dikembangkan cuma masih dalam proses ya.
T: Kalau untuk bisnis online activity dengan offline activity apa aja ya mas?
J: Kalau online activity lebih fokusnya kebagaimana sebuah brand bisa membuat
suatu kegiatan yang orang-orang itu kemudian menulis sesuatu terkait dengan
brand itu. Jadi hmm... modelnya macam-macam bisa cuma sekedar ajakan yuk
nulis soal hutan misalnya atau yuk nulis soal hidup sehat dari Lifeboy misalnya
atau dia minta, saya punya produk baru hmm... yuk tulis tentang produk baru saya
gitu kan, karena lebih ke produk ekperiens. Kalau yang tadi tuh yang pertama,
lebih ke tulisan umumlah tapi di sponsori oleh sponsor tertentu, misalnya Nokia
bikin apa namanya kampanye hijau lalu mengajak Kompasinaer menulis soal
lingkungan hidup disponsori oleh Nokia. Tapi kalau yang kedua tadi lebih kepada
produk review, ini ada produk baru atau saya ada produk baru, silahkan
bagaimana pengalaman anda menggunakan produk ini misalnya Promaag, apa
Caring atau kecantikan macem-macem atau atau Garuda Indonesia bagaimana
anda terbang bersama Garuda Indonesia itu kan produk eksperiens atau satu lagi
lebih ke lifestyle, lifestyle itu misalnya Garuda bikin campaign soal terbang
nyaman di udara tapi dia tidak minta Kompasianer atau ormas masyarakat atau
tulis pengalaman terbang ke Garuda, apapun maskapaianya silahkan yang penting
tuliskan pengalaman anda selama ada di udara, jadi itu lebih lifestyle terkait
dengan produk tapi tidak produk review gitu. Jadi dan nanti macem-macem ada
sih produknya ini nyiapin hadiahnya, ada yang gak tergantung campagin-nya.
T: Berarti yang saya amati itu
J: Iya betul
T: Nah.. kalau untuk Freeze, topik pilihan itu bisnis seperti apa ya?
J: Nah... itu beda lagi, topik pilihan, freez nah itu sebetulnya produk konten sih
ya, awalnya dia sebagai konten, kita mengembangkan kan kalau artikel aja kan
artikel-artikel terbaru, alinia-alinia baru kurang variatif jadi kita buatkan topik
pilihan tuh biar lebih menarik, mengangkat tema-tema tertentu yang menurut kita,
ini kayaknya kalo Kompasiana bakal banyak yang nulis nih jadi kita buatkan itu
topik pilihan. Nanti kalau ada klien yang mau ambil itu mensponsori satu topik
tertentu yah kita akan sebut sebagai sponsor topik gitu kan, jadi topik yang
disponsori oleh klien tertentu. Kalau yang Freez juga dia pengembangan konten
biar si Kompasianer semangat nulis kita buatkan cetak, kita pilih lima artikel
dalam seminggu untuk kita masukan ke Kompas. Jadi itu memang bagian dari
campaign agar masyarakat menulis gitu kan, macem-macem kan mulai dari tadi
kita angkat tulisan sebagai headline, kita sebarkan tulisan di sosial media biar
banyak yang baca, lalu cara lainnya kita sponsorin, kita angkat juga dicetak, dan
kita angkat juga di Kompas.com dan seperti itu yang bagain dari habbit
journalsim ada bagian dari apa namanya, nih kalau yang Freez habbit journaslim
juga sih jadi wartawan, warga menulis artikel lalu kita olah lagi oleh wartawan,
oleh mainstream, oleh kita sebagai pengelola lalu jadilah sesuatu yang baru gitu
loh. Jadi yang ada kolaborasi yang ada di Freez atau Freez cetak atau pun yang
ada di Kompas.com itu sesuatu yang baru yang memang dihasilkan oleh warga
tetapi kita olah lagi, jadi ada dua keterlibatan jadi hybrit gitu.
T: Tadi ada 2 produk ya mas produk bisnis dengan produk konten seperti
contoh kanal Jakarta lebih baik, Fiksiana, Gempita Brazil, Kotak Suara
seperti apa mas?
J: Itu semua produk konten atau produk website, kalau kanal Jakarta lebih baik itu
lebih bagaimana kita membuat sebuah tema besar yang ini bisa continue
kemudian kita fokus pada satu isu yang memang, kita ngebayanginnya kalau
orang akan terus menulis soal itu, kalau model Jakarta lebih baik itu sebenarnya
payled project untuk masuk ke ever local dalam arti kita masuk sebuah ulasan
yang lebih sempit lagi, lebih tipis lagi dan lebih lokal atau lebih dekat dengan
pembaca atau nanti audiensinya gak akan banyak memang. Ngomong Jakarta
lebih baik berarti yang berkepentingan orang-orang Jakarta aja dong, pembaca di
Jakarta, penulis di Jakarta dan konsepnya itu kita minta pada Kompasianer untuk
nulis sesuatu buat Jakarta, buat tulisan yang sumbangsih saran, ide, keluhan,
apapun makanya rubrik-rubriknya beda transportasi, wisata, sosial budaya. Jadi
apa yang menurut kita pelayan publik, lebih ke pelayanan publik public service,
apa yang menurut kita kurang bagus atau sangat bagus perlu di support perlu
dipromosikan buat terkait dengan adanya di Jakarta. Freez juga gitu tadi habbit
journalism kita. Kalau Fiksiana sebetulnya mungkin karena dia, dia sebenarnya
bagian dari Kompasiana tapi memang kemudian jadi produk luar karena
kontennya itu sangat beda dibanding dengan porsi Kompasiana secara umum kan
gitu.
T: Kalau ke konten lain untuk Fiksiana maksudnya apa ya mas?
J: Kan kalau Fiksiana lebih ke karay fiksi tapi kan Kompasiana secara umum kan,
maksudnya gini sebetulnya awalnya fiksiana gak perlu dibedai tapi karena
memang dia adalah karya fiksi dan kita ingin agar orang bisa dengan gampang
membedakan ini fiksi dan ini bukan fiksi karena itu kan 2 untuk di jurnalistik itu
sangat benang merahnya kan harus jelas kan gitu ya. Kalau yang fiksi lo mau
ngomong apa silahkan di fiksi, tapi kalau di luar fiksi yah ini juga harus ada
faktanya, harus ada landasannya, ada argumennya makanya kalau di non fiksi kan
ada news ada opini. Di berita juga kan di koran juga kan ada opini, ada berita gitu.
Jadi kalau yang fiksi di khusus lembar-lembar tertentu, kalo misalnya koran
Kompas cuma ada di hari minggu gitu kan. Jadi emang kita bedakan, yah
akhirnya bisalah di anggap menjadi produk ya tapi sebetulnya kalau fiksiana ini
satu produk yang khusus isinya karya fiksi gitu
T: Apa saja aktivitas Kompasiana sebagai citizen journalism?
J: Yah itu tadi, banyak yang tadi itu. Mulai dari kalau yang untuk bisnis kan
offline dan online gitu kan, yah kadang juga offline dan online tidak harus bisnis,
tidak harus ada klien, kita juga ngadain juga karena kita nangkring, kita ngundang
tokoh atau ngundang pakar untuk nambah inside Kompasianer, kita bikin lomba
yang memang menjadi kepedulian bersama seperti kartini atau hari ibu gitu atau
kemerdekaan itu, tidak harus melulu menunggu brand. Makanya kalau ditanya
aktivitas Kompasiana apa, yah banyak banget, kalau online-nya kan Kompasiana
blogshop competition, saya sudah jelaskan yang online karena kan tadi seperti itu
tadi kegiatannya, tapi kan
kalau yang offline itu tadi modis, nangkring,
kompasiananival.
T: Lantas apa bedanya dengan modis dan nangkring karena yang saya baca,
kalau nangkring itu non formal dan modis formal?
J: Yah Karena memang nangkring dan modis, kalau saya di buku itu gak jelas di
buku itu disebut karena memang kalau event segala macam, konten itu banyak ke
saya yang ngehendel. Kalau secara keseluruhan mulai dengan
konsep dan
eksekusi. Jadi kalau modis itu disebut sebuah pertemuan antara Kompasianer
dengan tokoh yang karena ketokohannya inilah dia kita undang, misalnya karena
dia ketua DPR, karena dia ketua PMI, dia adalah menteri kependidikan itu yang
pernah ya, dia adalah gubernur Jakarta. Jadi kita undang karena dia tokoh lalu
setelah kita hadirkan Kompasianer silahkan lu kalo mau nanya aja ke tokoh ini
monggo, jadi memang ini ajang pertemuan antara tokoh dengan Kompasianer
sebagian masyarakat termasuk dia sebagai walikota Surabaya atau dia sebagai
waktu itu abita Anggita Abdi Mayu sebagai dosen UGM sih cuma karena
memang ketokohannya udah lumayan tinggi gitu. Jadi yang dia si tokoh ini kita
hadirkan untuk di ibaratnya di pretelin oleh Kompasianer, jadi itu adalah sebuah
ajang yang memang mirip dengan konsferensi pers tapi yang hadir tuh bukan pers
atau orang blogger gitu, sehingga moderatornyo cuma sebagai pengatur lalu lintas
pertanyaan aja, sebagai pemandu acara diskusi aja. Beda kalau nangkring,
nangkring itu memnbahas tema gitu, tema membahas satu tema, kita hadirkan satu
narasumber atau satu atau tiga nanti dari moderatornya yang akan memandu lebih
mempersilahkan kepada narasumber untuk presentasi menjelaskan masalah apa
gitu kan, kan produknya apa kalau memang ada brand-nya. Lalu si moderator
akan bertanya membedah apa yang tema itu dibahas lalu ada sesi tanya jawab
cuma beberapa aja di akhir penguat event jadi sangat berbeda sekali konsepnya
termasuk kalau blogshop udah tahu kan blogshop itu seperti apa. Nah... aktivitas
online yang tadi, yang saya sebutkan tadi berarti blog competition itu blog online
activity yang memang ada hadiahnya dan memang lebih mose likely online
activity kita formatnya blog competition, jadi orang nulis ada reward-nya, ada
hadiahnya. Ada yang kita jalani sendiri tapi lebih banyak dari sponsor karena kan
itu bisnis kita seperti itu, brand ingin para blogger menulis brand dia, yaudah apa
ini daya tariknya, daya tariknya temanya harus menarik, dan hadiahnya juga harus
bagus, kalau gak ada hadiah orang gak mau nulis juga
T: Apa kendala yang dihadapkan Kompasiana terkait tentang produk dan
aktivitas?
J: Kalau untuk yang konten memang kita masih punya masalah bagaimana bisa
mengelola ini secara zero erorr mungkingitu ya, dalam arti gak ada kesalahan
untuk pengelolaan konten tapi memang agak susah karena itu juga masih ada
keterbatasan dalam arti kalau mau, kita kan sekarang paling baru ada 10 orang
yang bertugas dilapangan menjaga konten, mengelola konten itu, jadi akan ada
yang konten itu lolos dari pantauan atau tidak termoderasi, sehingga dari
Kompasianer kemudian melaporkan gitu¸ ya walaupun kalau kita di sisi kita
ngaggapnya sistem pelaporan itu sebagian dari pengawasan konten tapi pada
Kompasianernya mengganggap dengan lolosnya konten-konten yang harus
dihapusnya Kompasiana belum dijaga secara ideal gitu ya¸ dan itu memang
kendala di kita. Artinya kita punya tanggung jawab untuk menjaga semua kontenkonten terawasi dan itu memang konflik internal kita. Kalau dari segi bisnis lebih
kemana bagaiamana kendala itu, kita bisa menyakinkan klien bahwa apa yang kita
tawarin itu, bisa bermanfaat buat dia. Jadi kita selalu melakukan soialisasi,
edukasi, pelayan gitu karena itu, kan model bisnisnya baru di Kompasiana juga
karena mungkin kalau blog udah banyak ya, kalau biasanya blog yang mencar-
mencar grounted community itu grounted community itu harus datang itu satusatulah. Kalau di Kompasiananya semuanya udah ngumpul di Kompasiana. Tapi
walaupun begitu banyak juga brand belum yakin bahwa beraktivitas di
Kompasiana bisa memberikan benefit kepada dia, itu satu. Kendala kedua
keinginan yang ingin dicapai oleh brand itu kadang beda-beda jadi kita mesti
mengedukasi mereka memberi satu pemahaman oh blogger tuh seperti ini,
targetnya harusnya begini. Kita tidak dalam rangka memberi SIO yang bagus,
kita bukan prouduk SIO jadi macem-macem mereka punya ekspetasi macammacam sehingga kadang kita turuti tetapi lebih banyak kita memberikan mereka
bahwa oh kita gak kan bisa seperti itu, kita bukan produk seperti itu. Jadi sambil
jalan kita di dua sisi nih , satu tadi disisi konten kita mengedukasi blogger untuk
bisa menulis sesuai aturan main yang kita buat, yaitu kan kita bisa melihat masih
banyak sekali konten-konten yang melanggar nanti buka aja sebagai kalau
ngomongin konten di berita admin tahun Desember lalu, kita bikin laporan
transparansi Kompasiana 2013 itu akan kelihatan berapa banyak konten yang
dihapus, berapa banyak akun yang kita blokir, dan itu bagian dari pekerjaan kita
mengedukasi blogger untuk kita yuk kita nulis dengan baik dan bermanfaat untuk
masyarakat gitu. Dan di sisi lain bisnis kita mengedukasi brand juga klien untuk
bisa masuk ke Kompasiana
T: Untuk transparansi report apakah rutin dilakukan setiap tahun?
J: Itu baru di mulai tahun kemarin kebetulan, tapi memang komitmen untuk tiap
tahun akhir tahun untuk kita laporkan, apa yang kita lakukan sepanjang tahun ini
terkait tentang pengelelolan konten.
T: berarti sangat terbuka sekali ya mas?
J: Iya donk, karena kan kontennya bukan cuma kita seperti user geneted content
T: Untuk tulisan yang melanggar aturan bisa lolos itu kenapa ya mas?
J: Mungkin yang paling gampang karena memang banyak artikel yang harus
dibaca dan kita tidak baca detail, kalau baca detail itu gak ada waktu, kita kan
pass reading, kedua bisa jadi juga ada kecurigaan walaupun juga perlu
dibuktikan, di hari pertama di nulis begini, hari ke-2 dirubah total isinya, jadi ada
kemungkian begitu karena kan masih ada fiture editnya kan. Jadi cuma kita
kebetulan belum bisa mengideteksi itu, kalau memang itu ada indikasi kesana kita
akan siapkan fiture untuk bisa mengideteksi, mempelajari historynya tapi yang
pasti kalau menurut saya sih kalau di sosial media yang seperti itu akan selalu
terjadi, apalagi kalau bicara bahkan baca tulisan saya Kompasiana di antara dua
kutub. Kita selalu berada di apa namanya dua persepsi yang berbeda ada orang
yang melihat Kompasiana terlalu ketat sehingga dia gak mau masuk Kompasiana,
gak mau nulis di Kompasiana, ada yang melihat Kompasiana telalu liberal teralu
bebas sehingga dia tidak mau Kompasiana gitu, jadi dua kutub ini yang selalu
berusaha menekan Kompasiana mengikuti kemauan mereka masing-masing kan.
Dan saya yakin saya liat ya wajar gitu karena sosial media tidak akan menjadi
media yang sempuran buat semua orang karena yah bagaimana kita bisa membuat
ini sebagai konten yang bagus dan sempurnya ya nulisnya banyak orang tanpa ada
prsyarat, tidak ada kalau di guru itu istilahnya persamaan, kualitas, mutu, ya tidak
ada persamaan kualitas artinya kalau mau yang sama semua yang nulis
Kompasiana harus jurusan komunikasi misalnya, harus bisa nulis, ada testnya
gitu, itu bukan sosial media namanya. Yah anak SD, anak SMP, tukang sampah,
tukang sayur semuanya bisa menulis, tidak ada aturan main dulu, harus bisa nulis
dulu, harus melalui jenjang-jenjang yang begini. Yah walaupun ada aja orang
berpikiran seperti itu, kenapa lu gak nulis karena ah saya gak bisa nulis, kenapa
gak bisa nulis, saya kirain gak semua orang bisa nulis gitu jadi ada macam-macam
itu persepsi dia. Jadi karena kita jaga kontennya dengan bagus sehingga
kontennya yang muncul adalah yang bagus-bagus, jadi orang yang merasa gak
bisa nulis gak berani nulis padahal semua yang aja di situ juga sebagai proses
belajar gitu kan.
T: Apa yang melatarbelakngi kanal Kotak Suara 2014?
J: Yah... Kotak Suara itu dikelurakan sebetulnya bagian dari, dulu kan saya 2012
itu ke Amerika, ikut IVLP International Visiter Leardership Program temanya
tuh elektoral mekanik mesin pemilu, jadi disana saya ditunjukin bagaimana
pemilu presiden berlangsung, karena kan bulan Agustus menjelang pemilu masih
di Amerika 2012 mulai dari KPU-nya bertemu dengan KPU, apa namanya
kongresmen, segala macem lah semuanya ditemukan. Dan kemudian gimana sih
menerapkan ini di Kompasiana, akhirnya dibuatkan lah sebuah tempat yang
khusus buat Kompasianer itu ngomongin soal politik. Yaudah namanya gampang
aja, ya Kotak Suara gitu kan, itu sudah sangat Kompasiana, udah sangat warga
gitu kan, ini kotak, isinya suara yang siapa pun bisa naro suara itu gitu kan itu
udah sangat pemilu gitu kan. Yah... sehingga yang kita hadirkan di kotak suara ini
adalah tulisan-tulisan tentang berita atau pun opini mereka terkait tentang pemilu,
macam-macam dari pemilihan presiden sampe pemilihan legistlaitif dan kita
tambahkan fiture-fiture seperti polling dan segala macam dan ini memang kita
buat agar pemilihan itu tidak berlalu tanpa ada pengawasan dari warga walaupun
juga belum tentu kotak suara ini dibaca tapi sebagai sebuah arsip dia akan menjadi
penting, ketika kita akan membuat suatu yang lebih baik dikemudian hari karena
kan berproses ya dan pemilu tidak akan berhenti di tahun ini tentunya. Jadi kita
berharap biar nanti pemilu-pemilu berikutnya khususnya pemilu-pemilu pilkada
itu bisa terus jalan di kotak suara ini, bagaimana mana caranya biar itu menjadi
pengawasan dan kita terus memikirkan pengembangannya, nah itu satu. Yang
kedua lebih ke antusiasme Kompasianer, pembaca kita, tiap kali pemilu itu selalu
berlimpah jadi dalam sejarahnya Kompasiana sejak 2009 sampe sekarang setiap
kali ada pemilu skala nasional posisi kita di Alexa itu semakin meningkat, traffic
kita semakin berlipat dari sebelumnya cuma di 300 ratus, naik ke 100 waktu ke
pemilu presdien, kita masuk ke 300 dulu presiden 2009, lalu ketika pemilu Jokowi
dari urutan ke 50-an tahun 2012 kita langsung melesat ke 30-an sekarang juga
seperti itu, kita udah di 30 terus gak pernah berkembang sekarang kita udah di 26an gitu, sangat tinggi sekali dan memang selalu seperti itu polanya makanya kita
tahun pemilu, moment pemilu kita langsung ambil dengan kita buatkan kotak
suara ini karena kita yakin makin meningkatkan apa namanya hits kita dan tarffic
kita semakin bagus dan sekarang ini kan posisi Kompasiana di Alexa, kita ada di
urutan ke 6 untuk kategori website news, jadi ada nomor pertama ada Detik.com,
ada Kompas.com, ada Tribbun, ada Merdeka kalau gak salah, setalah itu Viva
baru Kompasiana. Dibawahnya itu masih ada Kapanlagi, masih ada Okezone,
Tempo, Republika gitu kan, Inilah, yah makanya kalau biacara Indonesiana
karena mereka masih baru ya kalau apalagi blog detik itu masih jauh ya, dia di
posisi 89-70-an. Makanya kita lagi naik daun dan ini sudah terjadi sejak 2010 atau
2011 ya untuk amannya 2011 itu udah terus-terus menjadi traffic kita selalu bagus
gitu ya. Dulu kita sempet di posisi ke-empat untuk kategori news, waktu itu cuma
ada Detik, Kompas, Viva ama Kompasiana, Tribbun dan Merdeka itu masih
dibawah kita jauh karena masih baru , dia kanI, baru bergeliyat gitu, dia pasang
ikan jor-joran di Facebook gitu ya, iklannya gak pernah berhenti sekali, sebulan 3
milyar dan habis gitu, Detik juga gitu, Kompas.com juga rajin beriklan, Tribbun
apalagi sehingga hits-nya naik langsung traffic-nya naik masuk ke Alexa. Beda
dengan Kompasiana, dari dulu Kompasiana gak pernah beriklan jadi kita sangat
organik, kalau kita dari managemennya berani beriklan mengelurakan uang untuk
pasang iklan konten wah itu lebih dahsyat lagi. Sekarang aja secara organik dan
hasilnya udah bisa dilihat.
T: Bagaimana respon atau komentar para Kompasianer terhadap kanal
Kotak Suara 2014 yang telah hadir ini?
J: Saya liat respon mereka bagus, bisa liat ditanya juga beberapa Kompasianer
karena untuk penguat data tapi itu terlihat dari sudah sangat banyak sekali aliran
konten di Kompasiana. Coba diperhatikan saja nanti yang terbaru itu beberapa
menit, beberapa menit yang lalu, kalau misalnya dua menit yang lalu di trus di
refresh masih dua menit atau satu menit yang lalu berarti tiap menit yang masuk.
Jadi alirannya sudah sangat cepat sekali.
T: Kalau untuk kanal-kanal yang lain mas?
J: Kalau saya bagaimana dengan konten itu mengalir ya kan itu sebuah berarti
fakta, bahwa yang kita buat laku kan mereka suka. Kalau yang lain kalau fiksiana
pasti udah rame, kalau sekarang kita bikin Gempita Brazil itu masih belum karena
mungkin bulan mei baru mulai rame ya, makanya kita belum masih banyak
konten disana, apalagi Jakarta lebih baik show show tapi dia gak rame banget gak
sepi banget karena memang dia harusnya sepi tapi karena memang banyak orang
Jakarta yang memblog di Kompasiana udah lumayanlah untuk sebagai sebuah
icon lokal dia udah lumayan.
T: Apa saja aktivitas yang dilakukan Kompasiana dalam Kanal Kotak Suara
2014?
J: Kalau aktivitasnya sekarang baru sebatas kita minta mereka untuk menulis soal
politik, tapi selain itu kita juga pernah bikin Monthly Discussion untuk tema-tema
politik kayak kemarin kita diskusi bareng Wiranto, dalam kapasitas dia sebagai
capres dari Hanura, kita juga pernah diskusi dengan oh gak gak waktu itu sih
tahun kemarin Ahok, paling baru dengan Wiranto diskusi. Tapi kita memang
ingin nanti ketika udah masuk pilpres ini menggiatkan acara-acara yang bisa
mempertemukan Kompasianer dengan orang yang ada di lingkaran politik bukan
hanya politikus, atau calon presiden tapi juga tim sukses juga politisi ya mungkin
seperti itu. Kita ada rencana membuat obrolan politiklah untuk Kompasianer,
kalau yang di online-nya di Kotak Suara Paling sekarang tambahannya ada
Polling, poliing itu mereka bebas bikin pasangan lu mau ambil capresnya ini,
cawapresnya ini yah silahkan saja, mereka yang menciptakan sendiri, kita cuma
ngasih tokohnya aja, ini tokohnya silahkan diciptakan pasangan yag menurut
anda layak gitu kan, mungkin nanti kalau udah ada defenitifnya nanti kita baru
kita ganti dengan yang ada definitifnya. Serba-serbi, serba-serbi sebenarnya sama
itu konten aja, serba-serbi ngomongin soal pemilu secara umum, kalau pilpres
ngomongin pilpres, kalau pileg ngmongin pileg. Ada satu lagi prokontra tapi koq
kayaknya belum keluar, prokontar ini yah kita lempar satu isu lalu mereka akan
setuju atau tidak setuju terhadap isu yang kita lempar apa alasannya, itu lebih ke
adu mulutlah ya, harusnya udah keluar mungkin coming soon sebentar lagi.
T: Rencana terdekat untuk merealisasikan program kanal Kotak Suara ini
seperti apa?
J: Kedepan itu tadi tim sukses, tim nya pasukan nasi buku mungkin yang kayakkayak gitu, satria bergitar yang gitu-gitu kita hadirkan.
T: Dapatkah kanal Kotak Suara 2014 dipercaya sebagai informasi seputar
politik yang kredibel?
J: Saya tidak bisa bilang iya atau pun tidak, karena itu ada di persepsi
pembacanya, kita belum juga membuat survey atau pun menanyakan kepada
pembaca seperti yang dilanjutkan cuma paling tidak ketika kita bicara di sosial
media, kita tidak akan bisa bicara soal ini kredibel atau tidak kredibel, kalau
bicara kredibel atau tidak kredibel kita bicaranya di mainstream. Mainstream
dibuat media massa pers dan jurnalistik, dia dibuat sebagai dia yang harus
kredibel nanti baru masyarakat yang menilai baru kita bisa mengambil
penilaiannya mana yang kredibel point atas, mana yang kurang, mana yang tidak
kredibel kan gitu. karena memang dia ad di porsinya lu bikin media kontennya
harus kredibel harus betul kalau tidak betul maka anda tidak bisa bikin media
massa. Tapi kalau sosial media kita penilaiannya beda bagaimana kita membuat
media yang semua orang bisa masuk ke situ, jadi kita lebih ke open space, kita
buat sebuah ruang terbuka jadi nanti masalah kredibel, gak kredibelnya bagaimana
kita menciptakan agent-nya itu, sekarang kan kita baru bicara kita baru ada
verifikasi sistem akun nanti saya akan mengembangkan yang namanya verifikasi
yang lebih lagi yang lebih tinggi lagi tingkatannya terkait tentang kredibilitas
konten. Jadi kalau sekarang akun terverifikasi belum tentu kontennya
terverifikasi, nanti kita akan membuat sebuah sistem agar kontennya juga bisa
terverifikasi dengan adanya sebuah lencana khusus yang orang akan selalu
melihat oh ini kalau yang nulis Putri pasti kontennya terverifikasi atau pasti
kredibel karena kita memberikan dia sebuah lencana khsusus yang sedang saya
kembangkan.
T: Kalau menurut mas sendiri terkait tentang artikel-artikel yang ada di
kanal Kotak Suara 2014 seperti apa?
J: Menurut saya, yang ditulis oleh para Kompasianer itu kan latar belakangnya
sangat macam-macam, motivasinya sangat beragam, mulai dari bagian kampanye,
ada yang masyarakat murni, tidak ada kepentingannya dengan kampanye ,atau ada
yang menulis karena dia bagian dari politik praktis, ada yang tidak dan latar
belakang pendidikannya akan berpengaruh. Tapi sejauh yang saya baca
Kompasianer memilih untuk membuat suatu tulisan yang tidak mudah diserang
orang lain mungkin gitu. Sehingga yang akan mereka buat mereka akan membuat
regulasi sendiri terutama jangan hoax, jangan menyebarkan berita bohong apalagi
fitnah, jangan membuat sebuah berita tidak ada isinya tanpa argumen mungkin
jadi dia kalau mau bikin sebuah tulisan katakanlah tendensius dengan maksud
menyerang, menjatuhkan lawan, itu akan dia akan buat dengan fakta, dengan
argumen kalau emang faktanya kurang gitu ya dengan menyakinkan sehingga
ketika saya baca walaupun ada banyak sekali saling serang segala macem tapi
dialognya itu panjang. Kalau sebuah tulisan tidak ada isinya, isinya hoax maka
dialognya pun umurnya pendek, orang udah akan ninggalin aja ach gak penting.
Jadi Kompasiana ketika karena dia tahu saya sedang perang ya, perang opini gitu,
ini ini kita berbicara berpolitik praktis, maka isinya pun sedikit banyak mau gak
mau akan masuk dalam wilayah mutu tertentu ya ada bobotnya lah walaupun pasti
akan ada dipilah-pilah lagi, itu perlu di analisa lagi kontennya dan itu perlu waktu
dan itu disertasi, silhakan aja
kalau ada waktu. Tapi secara umum saya
menilainya seperti itu jadi termasuk yang orang-orang yang tidak masuk ke politik
parktis, itu lebih enak lebih bermutu lagi bisa saya bilang, karena dia akan
berpikir bagaimana membuat tulisan yang edukatif, yang orang bisa mendapatkan
sesuatu tercerahkan terkait politik tidak terbawa emosi, tidak tercekoki oleh timtim kampanye yang bermain di Kompasiana jadi lebih murni dia bermainnya,
lebih kepada bagaimana informasi bisa mencerahkan, bisa merubah pikiran para
pembaca.
T: Kapan kanal Kotak Suara 2014 hadir?
J: Saya bikinnya sejak akhir 2013, mulai on-nya banget Januari 2014 akhir ya
gitu.
T: Apakah ini bagian dari perhatian Kompasiana terhadap proses literasi
politik atau melek politik di kalangan warga?
J: Yah... persis persis, memang kita punya media ini maka kita gunakan untuk
sebisa mungkin bermanfaat buat masyarakat. Itu akan sekali banyak temanya,
bicara politik berarti ke situ arahnya, makanya kita akan buatkan offline activity,
gathering-gathering para Kompasianer, menambah wawasan mereka terkait
politik dengan ngobrol langsung dengan orangnya dengan orangnya yang
langsung in ke politik itu, tidak hanya mereka baca dari sumber ke-2 katakanlah
yang mereka menulis di media massa, dia bisa bertemu langsung dengan
berinteraksi langsung. Yah... kalau bicara tema-tema lain yah sama, tema sosial
budaya, tema public service itu pasti dengan adanya media ini namanya fungsi
media kan katakanlah disebut pilar ke-empat dalam demokrasi dalam masyarakat.
Maka ketika dimiliki oleh masyarakat sendiri itu hasilnya akan lebih bombastis
dan itu yang kita harus lakukan.
T: Pada pemilu sebelumnya, sudah adakah kanal serupa seperti ini?
J: Belum persis, karena kan pemilu Kompasiana baru ada di dua pemilu aja,
2009,2014 baru ini aja. Ini skripsi yang sangat akan aktual sekali.
T: Untuk polling, Apakah sejauh ini sudah bisa dijadikan alat ukur untuk
meraba keinginan publik terkait paket capres-cawapres?
J: Mungkin karena memang kita belakangan ya telat jadi agak kurang banyak juga
yang masuk, kita sengaja menampilkan presentasikan dalam jumlah suara biar
keliatan oh ternyata sedikit gitu gitu tapi bisa di nilai sendiri lah masyarakat,
silahkan masyarakat diliat lagi hasil polling itu. Tapi paling tidak akan keliatan
polanya siapa yang paling banyak ada di Kompasiana tim mana tp akan
menariknya di situ. Oh... ada Jokowi semua berarti konsen di Kompasiana
Jokowi, dan kita sama sekali tidak ada tendensi untuk menunjukan bahwa Jokowi
dari ada Kompasiana nggak. Itu murni apapun yang ada di Kompasiana tidak ada
agenda setting, tidak ada rekayasa, tidak ada arahan dari kita sebagai pengelola
bahkan menariknya setiap kali kita bikin event, modis atau pun nangkring,
modislah mungkin, kan pertanyaan semua dari audiens dari Kompasianer. Kita
nggak ada yang namanya nunjuk orang, eh lu nanti nanya ini ya, atau kita atur,
natural sekali karena itu yang kita jaga citizen media.
T: Adakah tekanan politik dari pihak luar terhadap Kompasiana menyoal
rubrik Polling?
J: Nggak ada, aman. Gak ada urusannya makanya kan saya berani bilang, polling
tidak menerima sponsor, itu untuk mengantisipasi dan untuk menegaskan bahwa
ini polling kita mau bikin aja, ga ada urusannya ama partai manapun itu berarti
politik praktis.
T: Pasca pemilu, apakah kanal Kotak Suara 2014 ini akan dibekukan?
Mengingat kanal ini terlihat khusus hadir pada saat pemilu 2014.
J: gak dong, kan pemilu running terus. Pilkada makanya tadi saya bilang kita akan
coba memikirkan bagaimana dia nanti Kotak Suara bisa terus jalan tidak matinya
mungkin tampletnya yang ada sekarang, kita pikirkan menu-menunya gitu kan. Itu
juga tugas saya sih karena saya yang bikin jadi saya harus biar hidup terus gimana
caranya karena pilkada selalu ada, tidak akan pernah mati walaupun kalau yang
pileg itu selesai ya lima tahun sekali tapi kalau pilkada terus running dan itu
Indonesia ini, kalau kita mau menjadikan politik suatu yang serius, ingin
mengembangkannya secara betul-betul dengan hati nurani dia buat, artinya oke
berpolitik praktis silahkan tapi ada orang yang fokus menjadikan ini sebagai suatu
yang politik yang bermutu, yang berisi, kalau kita melakukan itu dengan pemilu
lima tahunan langsung, pemilu pilkada setiap sepanjang masa karena kita bisa
menjadi kiblat demokrasi ke2 di dunia setelah Amerika. Tapi kalau mau nyamain
Amerika jangan dulu deh karena saya baru belajar dari sana dan itu kayaknya
imajinasinya terlalu tinggi tapi kalau ke-2 mungkin, kita bisa loh menjadikan
rujukan negara-negara bahwa ini adalah negara terbaik untuk anda belajar
bagaimana untuk berdemokrasi dan bagaimana berpemilu. Karena ketika saya ke
Amerika pun, mereka banyak pertanyaan bagaimana mereka pemilu langsung di
Indonesia karena di Amerika pun gak langsung pemilu.
T: Dalam pengelolaannya Kompasiana dan Kotak Suara, apakah admin
terbuka mendengar masukan dari useri?
J: Sangat terbuka sekali mulai dari urusan fiture produk ya mulai dari masalah
produk, masalah konten, masalah bisnis ya. Kemarin kan kita bikin gathering
nangkirng itu khusus ngomongin masalah Kompasiana, kita bikin continue udah 2
kali kita gelar, terakhir bulan Mei kemarin, mungkin yah gak tiap bulan tapi 2
bulan atau 3 bulan sekali undang Kompasianer khusus buat ngomongin
Kompasiana masukan-masukannya apa. Tapi memang kita masukan itu tidak
semuanya kita bisa wujudkan, yah karena kita itu tadi kita kan yang saya bilang
gak punya kepentingan, tidak punya keberpihakkan, kepada satu komponen, satu
komunitas, atau satu bagian masyarakat manapun. Sehingga Ketika si a
mengusulkan ini dengan membawa bukan membawa sih mempresetasikan
kepentingan yang bagian tertentu, kelompok tertentu, makanya itu akan tidak bisa
diterapkan karena hanya bagian ini aja terakomodir, makanya kita selalu
memikirkan bagaimana Kompasiana bisa diterima semua orang tapi untuk hal-hal
teknis, krtikan, protes, itu kita udah selalu selalu, ini kurang, ini kurang kita
perbaiki. Kemarin banyak yang lolos-lolos kita tambah adminnya paling gitu, kita
buatkan sebuah mekanisme kerja yang bisa lebih mengakomodir di malam hari,
menangani bagaimana selalu melakukan perbaikan-perbaikan berdasarkan
masukan-masukan dari Kompasianer. Mungkin kan fiture-fiture kita itu harus
membuat fiture betul-betul produk dengan memperbanyak, kita memperbanyak
produk dengan menyediakan sebanyak mungkin fiture yang memungkinkan
masyarakat untuk terlibat dalam memberikan masukan ke Kompasiana karena
pengembangan.
T: Apa rencana kedepan untuk perkembangan Kompasiana khususnya
untuk Kotak Suara 2014?
J: Kalau Kotak Suara itu tadi ya, tetap namanya Kotak Suara, kita akan
menjadikan ini sebagai media literasi politik untuk semua kegiatan pilkada di
Indonesia. Mimpi saya sih menjadikan isu pilkada menjadi isu nasional tidak lagi
bermain di lokal karena kalau bermain di lokal itu hanya menciptakan raja-raja
lokal yang tidak terpantau secara keseluruhan. Jadi kita tidak bisa mengambil
pelajaran dari apa yang terjadi di masing-masing daerah gitu ya, lalu juga kita
mau bikin kegiatan obrolan politik itu saya sebutnya sebagai Optik itu akan yah
kita-kita itu akan memang perlu sebuah komitmen biar teman-teman bisa masuk
kesini karena kalau memang biacara politik berarti tidak bicara bisnis, lu kalau
udah ngomongin politik, konsep di politik gak bakalan dapet iklan kan gitu, iya
gak sih, karena udah semakin serius ngomongin politik semakin alergi bisnis
masuk ke situ. Jadi nanti perlu strategi baru untuk bisa mengembangin Kotak
Suara ini. Tapi kalau Kompasiana secara keseluruhan, saya melihatnya
Kompasiana ini yang tadi saya bilang di awal masih perlu banyak sekali
pengembangan karena dari sisi produk sendiri, kita masih menggunakan teknologi
katakanlah teknologi dua tiga tahun yang lalu jadi kita harusnya sudah
bertransformasi menjadi yang lebih canggih lagi sekarang, dari sisi konten juga
kadang kita pengen saya pengen biar Kompasiana ini menjadi sebuah tempat
banyak orang yang menggunakan konten dari Kompasiana, secara lebih pire,
secara lebih adil, secara lebih transfran, artinya mungkin ilustrasi kasarnya ya jadi
ini saya baru kepikiran tadi, kalau sekarang koran-koran tidak mampu menerima
tulisan yang sudah pernah ditulis di blog mungkin nanti akan ada satu masa ketika
koran-koran itu menjadi blog untuk dibuat di koran mereka. Karena saatnya orang
berpikir ngapain gua nulis di Koram mendingan gua nulis di blog gua aja sendiri.
Jadi semakin orang punya pikiran gitu semakin bagus nantinya isi blog itu
khususnya di Kompasiana yang memang kita kelola, yah begitu kita memang dulu
untuk freez sendiri saya sudah punya konsep untuk mengembangkan freez
sekarang kan lagi gak terbit nih di Kompas cetak, yaudah biarin aja, saya cuma
bilang ini yang rugi Kompas cetak karena kita ada rencana nanti freez ini kita taro
di koran-koran yang lain gitu aja itu lebih gampang. Kita pernah rencana kemarin
majalah cuma saya masih belum yakin majalah ini bisa lebih bagus dari versi
korannya karena yang paling pas memang koran tiap minggu tiap minggu, isunya
siap running bisa hot gitu, kalau majalah dari sisi konten belum mungkin harus
dicoba tapi belumlah nanti kita coba berusaha.
T: Seperti apa harapan untuk Kompasianer sendiri?
J: Yah... Let’s mix Indonesia better true Writing, itu aja sih alasan saya,
Kampanye saya kan selalu menulis yuk nulis yuk nulis jangankan ke masyarakat
ke instansi, ke humas, ke pejabat-pejabat, mengajak nulis aja udah artinya kita
gak punya tendensi untuk menjadikan warga itu sebagai jurnalis. Warga yah
warga dengan profesi dia masing-masing siswa, dokter, karyawan, sekretaris,
wirausaha apapun be your self but read is your self.
Transkip Wawancara Tahap 3
Judul Skripsi : Literasi Politik Jelang Pemilhan Presiden (PILPRES) 2014 di
Media Sosial Kompasiana
Nama
: Shulhan Rumaru
Jabatan
: Staf Admin Kompasiana
Tempat
: Ciputat, Tangerang Selatan
Waktu
: Senin, 05 Mei 2014/ 14:00-14:30 WIB
T: Sebagai yang dipercaya dalam mengelola Kotak Suara 2014, Bagaimana
dinamika yang terjadi?
J: Sejak kanal Kotak suara online pada bulan Januari 2014 dengan microsite
sendiri namun masih dalam domain Kompasiana, saya langsung membuat
pengumuman atau berita
admin yang diujukan kepada para Kompasianer.
Tujuannya untuk mengajak sebanyak mungkin Kompasianer agar berpartisipasi
aktif menulis seputar peristiwa pemilu berupa reportase maupun opini. Pada hari
pertama, Kotak Suara langsung diserbu sekitar 100 tulisan yang dibagi sesuai
dengan kategori tagging yang digunakan di Kotak Suara. Masing-masing tulisan
langsung masuk ke rubrik yang ada, seperti rubrik Pilpres, Pileg dan Serbaserbi
Pemilu. Belakangan, Admin menambahkan beberapa rubrik baru yaitu Polling
dan Pro Kontra. Untuk menambah riuhnya suasana di Kotak Suara, Admin juga
mendongkraknya dengan Topik Pilihan khusus seperti Kawal Pilpres dan Kawal
Pemilu yang semua berupa reportase. Alhamdulillah, ratusan tulisan mengenai
peristiwa pemilu berhasil dijaring di Kotak Suara. Hal ini menunjukkan bahwa
Kompasianer aktif dalam mengabarkan peristiwa pemilu juga menyumbang opini
seputar pemilu.
T: Sebagai Media sosial bagi warga apakah kanal tersebut efektif sebagai
suara rakyat?
J: Sebenarnya untuk melihat efektivitas kanal ini, kita perlu minta tanggapan dari
Kompasianer. Meski begitu, menurut saya, kanal ini cukup efektif karena mampu
merangsang warga atau netizen untuk lebih aktif terlibat dalam prosesi pemilu.
Seagai contoh, ada laporan warga tentang money politics yang dilakukan beberapa
caleg yang tengah berkontestasi, juga reportase lainnya. Kesadaran mengabarkan
peristiwa kecurangan dalam pemilu ini lahir karena kesadaran akan pentingnya
pemilu bersih oleh Kompasianer. Dengan saling berbagi berita dan opini seputar
pemilu, sesungguhnya Kompasianer sudah menyadari pentingnya menjaga mutu
pemilu itu sendiri. Berhubung publik Kompasiana bisa kita golongkan sebagai
attentive public alias publik yang berperhatian, maka mereka juga bisa memilah
dan memilih berita mana yang akan mereka bagi dengan yang lain atau berita apa
yang mereka tulis terkait pemilu. Kompasiana juga jadi ruang diskusi yang
terbuka di antara netizen untuk membahas seputar pemilu.
T: Apakah informasi seputar politik khususnya pemilu sudah cukup baik
dan memadai?
J: Sebenarnya informasi seputar pemilu yang bersifat teknis memang tidak
disajikan oleh admin, seperti tulisan yang membahas seputar tatacara pencoblosan
dll. Namun dari Kompasianer sendiri, mereka berinisiatif menuliskan informasi
tersebut, bahkan berbagi tips seputar kegiatan pemilu. Selebihnya, berita dan opini
politik terkait pemilu secara kuantitas tumpah ruah di Kompasiana. Mulai dari
tulisan yang bersifat propaganda, opini, sampai kampanye negatif pun ada.
Bedanya, di Kompasiana tidak menolelir kampanye hitam dan masih mentoleransi
kampanye negative yang bisa diverivikasi kebenarannya. Uniknya lagi, berita
seputar pemilu yang tidak berhasil dicover oleh media mainstream bisa kita
dapatkan di Kompasiana. Misalkan, berita seputar surat perintah menghadiri
kampanye salah satu partai yang ditujukkan kepada seluruh karyawan dari si
pemilik media yang memang beraviliasi secara politis di partai tersebut.
T: Menurut Anda, Apakah tulisan yang ditulis oleh Kompasianer sudah
kredibel?
J: Kompasiana menyediakan sistem verifikasi akun bagi setiap kompasianer
untuk membedakan mana akun terpercaya dan mana akun abal-abal atau anonym.
Sistem verifikasi ini juga sebagai tanda bahwa penulisnya terdaftar secara riil di
data base admin, dan mereka yang terverifikasi akan mendapat banyak akses
ekslusif
untuk mengikuti berbagai
kegiatan
di Kompasiana,
termasuk
diprioritaskan untuk masuk klom headline. Hal ini untuk memacu kompasianer
agar memberitakan sesuatu yang positif dengan akun terverifikasi. Jadi, ukuran
kredibel ini bisa kita lihat dari konten yang disajikan sekaligus status verifikasi
akun tersebut. Tapi tidak dimungkiri, ada saja akun yang membandel yang kadang
mengambil posisi sebagai nitizen bertipologi propagandis yang tentu tulisannya
bisa diragukan kualitas dan akurasi faktanya.
T: Sebagai pengelola Kotak Suara 2014 menyoalkan politik, dari mana saja
pengetahuan politik yang didapat selain Kompasiana?
J: Saya pribadi selalu mengikuti berita seputar politik dari mainstream media,
karena bisa menjadi tolak ukur kebenaran dan verifikasi beritanya bisa dibilang
akurat. Hanya saja, dalam suasana pemilu, memang tidak mudah mencari media
yang nonpartisan. Sebab itu, diakali dengan membaca berita dari berita dari
berbagai sumber terpercaya. Untuk Kompasianer sendiri, saya melihat mereka
banyak menggali berita dari sumber mainstream, lalu mereka meng-create opini
dan membuat berita sendiri. Terkadang, mereka juga aktif dalam diskusi publik
yang diadakan Kompasiana dan kopdar yang dilakukan sendiri oleh kompasianer.
T: Apakah hadirnya kanal Kotak Suara 2014 sudah cukup mewadahi
masyarakat dalam proses literasi politik?
J: Kompasiana menjadi ruang alternative dalam proses literasi politik sebab di
Kompasiana, setiap netizen yang sudah terdaftar sebagai kompasianer, bebas
menuliskan pemikirannya seputar politik dan berdiskusi langsung lewat kolom
komentar. Terkadang, tulisan dibalas tulisan atau dari diskusi di kolom komentar
bisa melahirkan tulisan baru. Sedangkan dari admin, kita membuka wacana
seputar isu politik terhangat dalam bentuk pro-kontra yang tersedia di kanal kotak
suara, juga berbagai kegiatan offline seperti monthly discussion (Modis) menyoal
politik dengan tokoh-tokoh politik nasional.
T: Biasanya menjelang pilpres 2014 ini apakah ada Kompasianer yang tibatiba hadir untuk menulis dengan tujuan kepentingan seperti cyber army?
J: Jelas ada cyber army. Biasanya mereka hadir untuk membela kelompok
tertentu atau tokoh tertentu dan menyerang kelompok lain yang berseberangan
ideologi politiknya. Biasanya mereka juga enggan memverifikasi akunnya,
sehingga identitas mereka tetap saja tersembunyi atau anonym.
T: Untuk mengatasi hal-hal seperti cyber army atau propaganda. Apakah
pihak Kompasiana menindak tegas hal seperti itu?
J: Kompasiana sudah punya warning sistem yang dilakukan oleh admin untuk
menegur setiap Kompasianer yang berperilaku di luar term on conditions (TaC)
yang sudah baku di Kompasiana. Kalau ada tulisan yang bersifat tendensius,
memfitnah atau menyerang siapapun, maka tulisan tersebut akan dihapus admin.
Kemudian, admin mengirimkan pesan peringatan kepada Kompasianer tersebut
agar tidak mengulangi kesalahannya. Jika tetap membandel lebih dari tiga kali
sesuai ketentuan, maka akunnya terancam dibekukan admin.
T: Sebagai Admin, Apa harapan untuk Kompasiana?
J: Harapan saya, Kompasiana tetap membuka ruang-ruang diskusi yang lebih luas
lagi dan inovatif bagi Kompasianer. Semoga Kompasiana ke depannya makin
dicintai netizen dan menjadi media warga yang terdepan dalam mengabarkan
peristiwa di sekitar warga.
Transkip Wawancara Tahap 4
Judul Skripsi : Literasi Politik Jelang Pemilhan Presiden (PILPRES) 2014 di
Media Sosial Kompasiana
Nama
: Thamrin Dahlan
Jabatan
: Kompasianer/ Dosen Universitas Gunadarma
Tempat
: Via Email ([email protected])
Waktu
: Senin, 26 Mei 2014/ 09:34 WIB
T: Bagaimana respon bapak dengan hadirnya kanal Kotak Suara 2014?
Respon saya terhadap hadirnya Kotak Suara 2014?
J: POSITIF
T: Sebagai Media sosial bagi warga apakah kanal tersebut efektif sebagai
suara rakyat?
J: Dilihat dari lingkup social media kanal kotak suara cukup effektif, paling tidak
merupakan kanal untuk menampung aspirasi hak politik citizen jurnalis
T: Apakah infomasi seputar politik khussunya pemilu sudah cukup baik dan
memadahi?
J: Tulisan kompasianer lebih banyak berbentuk opini, sehingga pendapat yang
disampaikan berdasarkan informasi politik yang berkembang sesuai dengan kubu
yang diusung pada pilpres 2014. Sejauh ini informasi lebih banyak bersifat
subjketif.
T: Apakah tulisan yang ditulis oleh Kompasianer sudah kredibel?
J: Kompasianer sangat beragam dilihat dari latar belakang pendidikan, profesi
dan niat menyampaikan pendapat tetang pilpres. Kualitas tulisan berbanding
lurus dengan seberapa lama kompasianer telah bergabung di soail media dan
dilihat juga apakah akun ybs ter verifikasi.
T: Sebagai yang aktif menulis tentang politik, dari mana saja pengetahuan
politik yang didapat selain Kompasiana?
J: Ilmu pengetahuan politik yang didapat lebih banyak otodidak, banyak
membaca ulasan ulasan pengamat politik seperti Bapak Gun Gun Heryanto serta
dikaitkan dengan pengalaman selama bekerja di birokrasi dan organisai profesi
serta masyarakat.
T: Biasaanya selain menulis, Apakah aktivitas kompasianer dlm seputar
politik?
J: Saya tergabung sebagai Kader Partai Gerindra namun berusaha dalam
menyampaikan opini berpijak kepada objektivitas serta motto menulis : penasehat,
penakawan penasaran.
T: Apakah hadirnya kanal Kotak Suara 2014 sudah cukup mewadahi
masyarakat dalam proses literasi politik?
J: Kotak suara cukup mewadahi masyarakat tertentu seperti komunitas penulis
dan berdampak kepada pembaca (silent rider) . Literasi politik mungkin tidak
seberapa, artinya kompasianer yang akhirnya menerbitkan buku politik sangat
sedikit. Dari kompasiana baru ada buku Jokowi bukan untuk Presiden, Ahok
untuk Indonesia dan Prabowo Presidenku.
T: Sebagai Kompasianer, Apa harapan untuk Kompasiana?
J: Harapan saya sebagai kompasianer, Admin kompasiana tetap netral dan
objektif menilai setiap tulisan yang masuk terutama dalam “membesarkan”
posting ke kanal HL. TA dan ter ter ter.
Semoga jawaban saya menlengkapi Penelitian Putri
Terima kasih
Salam Indonesia Raya
TD
Transkip Wawancara Tahap 5
Judul Skripsi : Literasi Politik Jelang Pemilhan Presiden (PILPRES) 2014 di
Media Sosial Kompasiana
Nama
: A. Najiullah Thaib
Jabatan
: Kompasianer/ Pekerja Seni
Tempat
: Via Email ([email protected])
Waktu
: Kamis, 26 Juni 2014/ 11:44 WIB
T: Bagaimana respon dan penilaian bapak dengan hadirnya kanal Kotak Suara
2014?
J: Sangat bermanfaat..nyatanya tulisan kompasianer yang ada dikanal tersebut,
khususnyà yang mengulas tentang Pilpres 2014 banyak di share di media sosial.
T: Sebagai Media sosial bagi warga apakah kanal tersebut efektif sebagai suara
rakyat dalam membincangkan Pemilu 2014?
J: Menjadi sangat efektif kalau apa yang disampaikan berimbang dan mampu
memberikan pencerahan bagi para pembaca..apalagi kalau sampai bisa dijadikan
referensi.
T: Apakah infomasi seputar politik khususnya pemilu, sudah cukup baik dan
memadai?
J: Saya sudah lama tidak membuka Kompasiana, jadi kuràng mengamati konten
tulisan yang ada.
T: Apakah tulisan yang ditulis oleh Kompasianer seputar politik dan pemilu
2014 sudah bisa dinilai kredibel?
J: Beberapa yang sempat saya baca karena dishare di Facebook memang isinya masih
kurang berimbang, masih terlalu berpihak kepada salah satu capres yang diidolakan,
itulah yang membuat saya berhenti sejenak menulis dikanal politik Kompasiana
karena takut tidak bisa menyampaikan imformasi secara objektif.
T: Sebagai Kompasianer yang aktif menulis tentang politik, dari mana saja
pengetahuan politik yang didapat selain Kompasiana?
J: Dari mengamati berbagai peristiwa politik dari berbagai media, baik media cetak,
elektronik maupun media online..dan kebetulan juga atmosfir dilingkungan keluarga
adalah atmosfir politik.
T: Biasanya selain menulis, Apakah aktivitas bapak seputar politik atau Pemilu
2014?
J: Seputar Pemilu 2014 saya hanya menulis politik di status facebook..selebihnya
aktivitas saya dikesenian, khususnya film..
T: Apakah hadirnya kanal Kotak Suara 2014 sudah cukup mewadahi
masyarakat dalam proses literasi politik, khususnya Kompasianer?
J: Sangat mewadahi..khususnya bagi masyarakat yang ingin mengamati dan berminat
untuk menyampaikan aspirasi politik.
T: Sebagai Kompasianer, Apa harapan untuk Kompasiana?
J: Saya sangat berharapa Kompasiana tetap bisa dijadikan bahan referensi dan
inspirasi bagi masyarakat pembacanya, tetap konsisten sebagai media sosial yang
memberikan imformasi yang objektif.
Transkip Wawancara Tahap 6
Judul Skripsi : Literasi Politik Jelang Pemilhan Presiden (PILPRES) 2014 di
Media Sosial Kompasiana
Nama
: Daniel H.T
Jabatan
: Kompasianer Surabaya/ Wiraswasta
Tempat
: Via Email ([email protected])
Waktu
: Senin, 14 Juli 2014/ 09:45 WIB
T: Bagaimana respon dan penilaian bapak dengan hadirnya kanal Kotak
Suara 2014?
J: Sangat membantu warga biasa untuk menyalurkan aspirasinya, berbagi
informasi, pengetahuan dan sebagainya mengenai Pemilu 2014 ini. Kanal ini,
seperti juga Kompasiana pada umumnya, pasti dibaca oleh sangat banyak orang,
termasuk para politisi dan pengambil kebijakan di pemerintah.
T: Sebagai Media sosial bagi warga apakah kanal tersebut efektif sebagai
suara rakyat dalam membincangkan Pemilu 2014?
J: Sangat efektif. Mengingat Kompasiana juga sudah merupakan media sosial
yang paling diperhitungkan. Kotak Suara menjadi saluran paling efesien dan
efektif bagi warga biasa untuk menyalurkan aspirasi, informasi, dll. Jika tidak ada
kanal ini, entah ke mana sekian banyak aspirasi yang selama ini ditulis di kanal
tersebut bisa disalurkan. Saya yakin artikel-artikel tersebut juga dibaca oleh
orang-orang penting, termasuk mereka yang terlibat langsung di Pemilu (Pileg
dan Pilpres) ini.
T: Apakah infomasi seputar politik khususnya pemilu, sudah cukup baik dan
memadai?
J: Ya. Sangat banyak informasi yang bisa didapat di kanal ini, karena yang
menulisnya juga dari berbagai profesi dan latar belakang. Mereka semua saling
berbagi informasi, pengetahuan, dan opini. Ini sangat bagus untuk Kompasianer
untuk menambah wawasan.
T: Apakah tulisan yang ditulis oleh Kompasianer seputar politik dan pemilu
2014 sudah bisa dinilai kredibel?
J: Sepengetahuan saya, sebagian besar bisa dipercaya (kredibel). Kompasinaer
juga terdiri dari orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berwawasan luas,
sehingga jika ada artikel yang “abai-abai”, SARA, dan lain-lain, pasti akan
mendapat kritikan dan kecaman keras.
T: Sebagai Kompasianer yang aktif menulis tentang politik, dari mana saja
pengetahuan politik yang didapat selain Kompasiana?
J: Saya sejak kecil suka membaca. Jadi, pengetahuan politik yang saya peroleh,
ya, dari membaca. Sumbernya bisa di media berita di internet, maupun media
cetak, seperti Harian Kompas, dan Majalah Tempo.
T: Biasanya selain menulis, Apakah aktivitas bapak seputar politik atau
Pemilu 2014?
J: Tidak ada.
T: Apakah hadirnya kanal Kotak Suara 2014 sudah cukup mewadahi
masyarakat dalam proses literasi politik, khususnya Kompasianer?
J: Sangat cukup. Alasan-alasannya sudah saya kemukakan di atas.
T: Sebagai Kompasianer, Apa harapan untuk Kompasiana?
J: Saya mengharapkan Kompasiana akan semakin berperan penting dalam
pembangunan bangsa dan negara, yaitu melalui aspirasi-aspirasi, opini, informasi,
dan ilmu pengetahuan yang ditulis para Kompasiner. Kompasiana akan semakin
diperhitungkan oleh para pengambil keputusan di negeri ini, bahkan termasuk
Presiden. Saya mengharapkan Kompasiana kelak dijadikan salah satu rujukan
penting bagi politisi dan pejabat pemerintah tingkat daerah sampai pusat dalam
mengambil kebijakan-kebijakan mereka.
Download