perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user 7 BAB II

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Hakikat Belajar
a. Pengertian Belajar
Dalam aktivitas kehidupan manusia sehari–hari hampir tidak pernah
terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melaksanakan aktivitas
sendiri, maupun di dalam suatu kelompok tertentu. Dipahami ataupun tidak,
sesungguhnya sebagian besar aktivitas di dalam kehidupan sehari–hari
merupakan aktivitas belajar. Dengan demikian dapat dikatakan, tidak ada ruang
dan waktu dimana manusia dapat melepaskan dirinya dari kegiatan belajar,
belajar tidak pernah dibatasi usia, tempat maupun waktu, karena perubahan
yang menuntut terjadinya aktivitas belajar juga tidak pernah berhenti.
(Aunurrahman, 2009: 33)
Heri Rahyubi (2012: 3) menyatakan bahwa: “Belajar memiliki
pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui
pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi
atau menemukan., Belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan
dan penguasaan tentang sesuatu”. Belajar adalah proses transformasi ilmu guna
memperoleh kompetensi, ketrampilan, dan sikap untuk membawa perubahan
yang lebih baik. Sedangkan kegiatan pembelajaran merupakan suatu sistem dan
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar.
Sumadi Suryabrata, (2004: 233–234) mengutip beberapa definisi
belajar oleh beberapa ahli di bidang Pendidikan, di antaranya:
1) Menurut Hergenhahn dan Olson, belajar adalah perubahan yang
relative permanen dalam perilaku atau potensi perilaku yang
merupakan hasil dari pengalaman dan tidak dicirikan oleh kondisi
diri yang sifatnya sementara seperti yang disebabkan oleh sakit,
kelelahan, atau obat–obatan.
commit to user
7
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
8
2) Menurut Mayer, belajar adalah perubahan yang relative permanen
dalam pengetahuan dan perilaku seseorang yang disebabkan oleh
pengalaman. Begitu juga menurut Singer, belajar diindikasikan
oleh suatu perubahan yang relative permanen dalam penampilan
atau potensi perilaku yang disebabkan latihan atau pengalaman
masa lalu dalam suatu situasi tertentu.
3) Menurut Biggs, belajar dicirikan oleh suatu perubahan yang
bertahan lama dalam kehidupan individu dan tidak dilahirkan atau
didahului oleh warisan keturunan. Justru karena diindikasikan oleh
suatu perubahan yang bertahan lama, maka belajar bukanlah suatu
proses yang instan melainkan suatu proses pergulatan dan
internalisasi nilai–nilai dan pengalaman yang matang dan
memerlukan cukup waktu. Sesuatu yang begitu mudah dan instan
hanya ada pada “iklan” dan “citraan”, tak pernah ada dalam
kenyataan.
4) Menurut Higrad dan Bower, belajar memiliki pengertian
memperoleh pengetahuan atau menguasi pengetahuan melalui
pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan
informasi atau menemukan. Dengan demikian, belajar memiliki arti
dasar adanya aktivitas dan penguasaan tentang sesuatu.
Belajar selalu melibatkan adanya perubahan di dalam diri orang yang
belajar. Perubahan bisa terjadi dengan sengaja bisa juga tidak, bisa lebih baik
bisa pula lebih buruk. Agar berkualitas sebagai belajar, perubahan harus
dilahirkan oleh pengalaman, oleh interaksi antara orang dengan lingkungan
Perubahan yang semata–mata terjadi karena kematangan, seperti anak kecil
mulai dapat berjalan, tidaklah termasuk berkualitas sebagai belajar. Jadi belajar
adalah suatu perubahan dalam diri seseorang yang terjadi karena pengalaman.
(M. Dimyati Mahmud, 2009: 121)
b. Tujuan Belajar
Dimyati & Mudjiono, (2002: 26-29) menyatakan bahwa “Pencapaian
tujuan belajar akan menghasilkan hasil belajar yang meliputi ranah kognitif,
afektif, dan psikomotorik”. Ketiga hasil belajar (ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik) merupakan tiga hal yang secara perencanaan terpisah tetapi
setelah proses internalisasi, terbentuk suatu kepribadian utuh dalam diri siswa.
1) Ranah Kognitif (Blomm, dkk), terdiri dari enam jenis perilaku:
a) Pengetahuan, mencangkup kemampuan ingatan tentang hal-hal yang
commit to di
user
telah dipelajari dan tersimpan
dalam ingatan. Pengetahuan dapat
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
9
berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip,
atau metode.
b) Pemahaman, mencangkup kemampuan menangkap sari dan makna
hal-hal yang dipelajari.
c) Penerapan, mencangkup kemampuan menerapkan metode, kaidah
untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru.
d) Analisis, mencangkup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam
bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan
baik.
e) Sintesis, mencangkup kemampuan membentuk suatu pola baru,
misalnya tampak di dalam kemampuan menyusun suatu progam kerja.
f)
Evaluasi, mencangkup kemampuan membentuk pendapat tentang
beberapa hal berdasarkan suatu kriteria.
Keenam jenis perilaku dalam ranah kognitif bersifat hirarkis, artinya
perilaku menggambarkan tingkatan kemampuan yang dimiliki seseorang.
Perilaku terendah sebaiknya dimiliki terlebih dahulu sebelum mempelajari atau
memiliki perilaku yang lebih tinggi.
2) Ranah Afektif menurut Krathwohl & Blomm dkk, terdiri lima jenis
perilaku, yaitu:
a) Penerimaan, merupakan kesadaran atau kepekaan yang disertai
keinginan untuk bertoleransi terhadap suatu gagasan, benda, atau
gejala.
b) Partisipasi, yang mencangkup kerelaan, kesediaan memperhatikan dan
berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
c) Penilaian dan penetuan sikap, yang mencangkup penerimaan terhadap
suatu nilai, menghargai, mengakui, dan menentukan sikap.
d) Organisasi, yang mencangkup kemampuan membentuk suatu sistem
nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.
e) Pembentukan pola hidup, yang mencangkup kemampuan menghayati
nilai, dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
10
3) Ranah Psikomotor (Simpson), terdiri dari tujuh perilaku atau kemampuan
motorik, yaitu:
a) Persepsi, mencangkup kemampuan (mendeskripsikan) sesuatu secara
khusus dan menyadari adanya perbedaan terhadap sesuatu yang
didiskripsikan.
b) Kesiapan, yang mencangkup kemampuan menempatkan diri dalam
suatu keadaan dimana akan terjadi suatu rangkaian gerakan,
kemampuan kesiapan mencangkup aktivitas jasmani dan rohani.
c) Gerakan terbimbing, mencangkup kemampuan melakukan gerakan
sesuai contoh atau gerakan penipuan.
d) Gerakan terbiasa, mencangkup kemampuan melakukan gerakangerakan tanpa contoh.
e) Gerakan kompleks, yang mencangkup kemampuan melakukan
gerakan atau ketrampilan yang terdiri dari banyak tahap secara lancar,
efesien dan tepat.
f)
Penyesuaian
pola
gerakan,
yang
mencangkup
kemampuan
mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak gerik dengan
persyaratan yang berlaku.
g) Kreativitas, mencangkup kemampuan melahirkan pola-pola gerak
gerik yang baru atas dasar prakarsa sendiri.
2. Pembelajaran IPA (Fisika) di SMP
IPA merupakan singkatan dari Ilmu Pengetahuan Alam, dalam bahasa
Inggrisnya, science. Menurut Academic Press Dictionary of Science &
Technology, IPA merupakan pengamatan sistematis terhadap gejala alam dan
kondisinya, kemudian mengembangkannya menjadi teori, hukum, prinsip, dan
konsep berdasarkan fakta. IPA merupakan organisasi pengetahuan berdasarkan
pengamatan yang selanjutnya dapat dibuktikan berdasarkan penelitian.
Fisika merupakan salah satu cabang dari IPA, maka ciri-ciri Fisika
tidak jauh berbeda dari IPA, yang mana hasil-hasil Fisika juga meliputi fakta,
konsep, hukum, dan teori. Sedangkan
commit tomenurut
user Brockhous yang dikutip oleh
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
11
Herbert Druxes mengemukakan bahwa, “Fisika adalah pelajaran tentang
kejadian alam, yang memungkinkan dengan pengukuran atau percobaan,
pengujian secara matematis dan berdasarkan aturan umum” (Herbert Druxes,
1986: 3).
Fisika berhubungan dengan materi dan energi, hukum-hukum yang
mengatur gerakan partikel dan gelombang, interaksi antar partikel, sifat-sifat
molekul, atom dan inti atom, serta sistem-sistem yang berskala lebih besar
seperti gas, zat cair, dan zat padat (Tipler, 1998: 1).
Menurut Sagala (2006: 61), “Pembelajaran adalah membelajarkan
siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar. Pembelajaran
merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru
sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik.”
Menurut Sutrisno (2009: 15-16), penumbuhan sikap-sikap positif
melalui pembelajaran Fisika dapat diringkas sebagai berikut: belajar Fisika
berarti usaha memahami alam, berlatih berpikir logis, menyelesaikan persoalan
fisis berarti berlatih berpikir logis dan analitis, menyelesaikan soal Fisika
dengan perhitungan berarti melatih ketelitian dan berpikir kritis, dan melakukan
eksperimen berarti melatih sikap hati-hati, teratur, dan jujur.
3. Kesulitan Belajar Siswa
a. Hakikat Kesulitan Belajar Siswa
Kesulitan belajar merupakan suatu gangguan dalam satu atau lebih
dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan
bahasa ujaran dan tulisan (Abdurrahman, 2009: 6). Kesulitan belajar adalah
suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatanhambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar.
Muhibbin Syah, (2006: 165) mendiskripsikan mengenai kesulitan
belajar siswa berkaitan dengan kondisi pribadi siswa yaitu:
“Pada dasarnya setiap orang memiliki perbedaan dalam hal intelektual,
kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan
dalam pelajaran. Ada yang merasa bahwa belajar merupakan hal yang
mudah, ada yang biasacommit
saja bahkan
ada yang merasa sulit. Hal tersebut
to user
dapat dilihat dari nilai atau prestasi yang mereka peroleh. Siswa yang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
12
mengalami kesulitan dalam belajar akan memperoleh nilai yang
kurang memuaskan dibandingkan siswa lainnya”.
Kesulitan belajar siswa atau masalah belajar siswa dapat terjadi karena
beberapa faktor, dari dimensi siswa, masalah-masalah belajar yang muncul
sebelum kegiatan belajar dapat berhubungan dengan karateristik/ ciri siswa,
baik berkenaan dengan minat, kecakapan, maupun pengalaman-pengalaman.
Selama proses belajar, masalah belajar berkaitan dengan sikap terhadap belajar,
motivasi, konsentrasi, pengolahan pesan pembelajaran, menyimpan pesan,
menggali kembali pesan yang telah tersimpan. Sesudah belajar, masalah belajar
dimungkinkan berkaitan dengan penerapan prestasi atau ketrampilan yang
sudah diperoleh melalui proses belajar sebelumnya.
Sedangkan dari dimensi guru, masalah belajar dapat terjadi sebelum
kegiatan belajar, selama proses belajar dan evaluasi hasil belajar. Sebelum
belajar masalah belajar terjadi berkaitan dengan pengorganisasian belajar.
Selama proses belajar, masalah muncul berkenaan dengan bahan ajar dan
sumber belajar. Sedangkan sesudah kegiatan belajar, masalah belajar yang
dihadapi guru kebanyakan berkaitan dengan evaluasi hasil belajar.
( Aunurrahman,2009:178-196)
b. Cara Mengatasi Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar
Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam mengatasi kesulitan
belajar siswa ialah melihat kemungkinan penyebab dari ketidakberhasilan siswa
belajar. Objek yang dapat diperiksa yang mungkin menjadi penyebab
kesukaran anak belajar ialah materi yang diajarkan, pengajarannya, dan siswa.
(Russefendi, 1998: 465).
Muhibbin Syah, (2006 :175–178) mengungkapkan, banyak alternatif
yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa. Akan tetapi,
sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu
melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut:
1) Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian–bagian masalah dan
menganalisis hubungan antar bagian, untuk memperoleh pengertian yang
commityang
to user
benar mengenai kesulitan belajar
dihadapi siswa.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
13
2) Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang
memerlukan perbaikan.
3) Menyusun progam perbaikan. Khususnya progam remidial teaching
(pengajaran perbaikan)
4. Kesulitan Siswa Belajar Fisika
Fisika (IPA) dipandang sebagai mata pelajaran yang penuh dengan
rumus–rumus dan angka menurut sebagian siswa, sehingga siswa enggan
tertarik pada mata pelajaran Fisika. Masalah yang sering dijumpai dalam
pembelajaran Fisika (IPA) di sekolah adalah pembelajaran Fisika yang sukar
dimengerti sehingga menyebabkan siswa mendapatkan kesulitan untuk belajar.
Siswa mendapat kesulitan belajar karena tidak paham rumus, kurang mengerti
materi, dan cara menggunakan rumus untuk menyelesaikan masalah.
Herbert Druxes (1986: 27-30) juga mengungkapkan beberapa masalah
pelajaran Fisika di sekolah, sebagai berikut:
a. Fisika Tidak Disukai
Orang beranggapan Fisika kurang bermanfaat dalam kehidupan
sehari-hari, sehingga orang tidak tertarik dan tidak suka untuk mempelajari
konsep Fisika, dan juga kebanyakan berpendapat bahwa Fisika sama dengan
Matematika, karena kebanyakan soal-soal diselesaikan dengan hitungan.
b. Fisika merupakan Mata Pelajaran yang Berat
Fisika dianggap sebagai pelajaran yang sangat kompleks dan di
dalam konsep Fisika terdapat banyak simbol.
c. Pelajaran Fisika Tidak Aktual
Pembelajaran Fisika di sekolah tidak mengaktualkan peristiwaperistiwa Fisika yang sedang terjadi.
d. Pelajaran Fisika Eksperimental
Pelajaran Fisika eksperimental, yaitu pelajaran Fisika oleh guru
harus dibarengi dengan percobaan di kelas dan di laboratorium oleh siswa,
dalam proses memudahkan siswa dalam memahami materi yang diajarkan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
14
Menurut Sriati (1994: 8) dalam penelitian yang dilakukannya
mengenai kesulitan belajar Matematika, menyatakan terdapat 9 jenis kesalahan
yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal Matematika, diantaranya
sebagai berikut:
a. Kesalahan strategi
Kesalahan strategi terjadi jika siswa memilih jalan yang tidak tepat
yang mengarahkan ke jalan buntu. Misalnya menentukan akar-akar (x+p)2 =
q2 dengan menjabarkan ruas kiri. Peneliti mengambil contoh untuk Fisika,
misalnya pada materi pokok Tekanan, jika diberikan soal menghitung
besanya gaya apung, siswa keliru dalam menentukan rumus yang digunakan,
siswa menjawab soal dengan menggunakan rumus P   g h , sehingga
siswa salah dalam menyelesaikan soal (siswa salah dalam langkah
penyelesaian soal).
b. Kesalahan terjemahan
Kesalahan terjemahan merupakan kesalahan mengubah informasi
ke dalam ungkapan Matematika. Menurut peneliti, jika diberikan soal untuk
mencari kondisi benda dalam zat cair (terapung, melayang, tenggelam),
siswa menjawab dengan mencari besarnya gaya apung benda, sehingga
jawaban siswa belum bisa menjelaskan maksud soal.
c. Kesalahan konsep
Kesalahan konsep merupakan kesalahan dalam memahami gagasan
abstrak. Misalnya siswa menganggap perbandingan sudut segitiga sama
dengan perbandingan sisi. Pada mata pelajaran Fisika, peneliti mengambil
contoh, siswa salah dalam mengartikan simbol h , sebagai ketinggian
(seharusnya kedalaman) dari persamaan Tekanan Hidrostatik P   g h )
d. Kesalahan sistematik
Kesalahan sistematik merupakan kesalahan yang berkenaan dengan
pilihan yang salah atas teknik ekstrapolasi dan pengetahuan dasar yang
kurang. Kesalahan sistematis merupakan kesalahan umum, dalam penelitian
siswa menganggap (x+a)(x+b) = x2 + ab.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
15
e. Kesalahan tanda
f. Kesalahan tanpa pola
g. Kesalahan menentukan sudut di luar kuadran I
h. Kesalahan menentukan nilai fungsi trigonometri sudut-sudut istimewa
i. Kesalahan hitung
Kesalahan hitung merupakan kesalahan dalam menghitung, seperti
menjumlahkan, mengurangi, mengalikan, dan membagi. Contohnya dalam
matei pokok Tekanan (Fisika), jika diberikan soal untuk mencari volume
akhir suatu gas, jika diketahui tekanan awal sebesar 2 atm dan volume awal
2 m3, gas dimampatkan tekanan gas menjadi 5,5 atm, siswa menjawab
V2 
22
4
4

  0,5  0,4m3 , seharusnya V2 = 4/ 5,5 = 0,72 m3
5,5 5,5 5
Seorang guru dalam membantu anak berkesulitan belajar matematika
perlu mengenal berbagai kesalahan umum yang dilakukan oleh anak dalam
menyelesaikan tugas-tugas dalam bidang studi matematika. Beberapa
kekeliruan umum menurut Lerner (1981: 367) dalam (Abdurrohman, 2003:
262-264) adalah kekurangan pemahaman tentang (a) simbol, (b) nilai tempat,
(c) perhitungan, (d) penggunaan proses yang keliru, dan (e) tulisan yang tidak
terbaca.
a.
Kekurangan Pemahaman tentang Simbol
Anak-anak umumnya banyak mengalami kesulitan jika mereka
disajikan soal-soal sepert 4+3=…, atau 8-5=…., akan tetapi mereka
mengalami kesulitan jika dihadapkan pada soal-soal sepert 4+…=7,
8=….+5. Kesulitan tentang kekurangan pemahaman mengenai simbol
umumnya karena anak tidak memahami simbol-simbol seperti sama
dengan (=), tidak sama dengan, tambah, kurang. Agar anak dapat
menyelesaikan soal-soal matematika,
mereka harus lebih dahulu
memahami simbol-simbol.
b.
Nilai Tempat
Ketidakpahaman tentang nilai tempat akan semakin mempersulit
commit
user bilangan basis bukan sepuluh.
anak jika mereka dihadapkan
padatolambang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
16
Bagi anak yang tidak berkesulitan belajar pun banyak yang mengalami
kesulitan untuk memahami lambang bilangan yang berbasis bukan
sepuluh. Anak yang mengalami kekeliruan mengenai nilai tempat dapat
juga karena
lupa cara
menghitung persoalan pengurangan atau
penjumlahan bersusun, sehingga untuk anak yang mengalami kesulitan
tidak cukup hanya diajak memahami nilai tempat tetapi juga diberi latihan
yang cukup.
c.
Penggunaan Proses yang Keliru
d.
Perhitungan
Terdapat anak yang belum mengenal dengan baik konsep
perkalian tetapi mencoba menghafal perkalian. Cara yang demikian dapat
menimbulkan kekeliruan jika hafalannya salah.
e.
Tulisan yang Tidak Bisa Dibaca
Anak yang tidak dapat membaca tulisannya sendiri karena bentukbentuk hurufnya tidak tepat atau tidak lurus mengikuti garis, akibatnya
anak banyak mengalami kekeliruan karena tidak mampu lagi membaca
tulisannya sendiri.
5. Tekanan Pada Benda Padat, Cair, dan Gas
a. Tekanan Pada Benda Padat
Pada saat berjalan di atas tanah yang berlumpur jejak kaki akan
tampak membekas lebih dalam jika dibandingkan saat berjalan di tanah yang
tak berlumpur. Gejala menunjukkan bahwa tekanan kaki pada tanah berlumpur
lebih besar dibandingkan tekanan kaki pada tanah yang tak berlumpur.
Tekanan adalah gaya per satuan luas permukaan tempat gaya bekerja.
Jika gaya bekerja pada sebuah bidang yang luas, tekanan yang ditimbulkan
akan lebih kecil. Sebaliknya, jika gaya bekerja pada bidang yang sempit
tekanan yang ditimbulkannya akan lebih besar.
Tekanan berbanding terbalik dengan luas bidang permukaan atau
dapat ditulis menjadi:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
17
P
(2.1)
1
A
Besarnya tekanan sebanding dengan gaya yang bekerja pada benda
sehingga dapat ditulis menjadi:
PF
(2.2)
Hubungan antara tekanan dengan gaya dan luas bidang dirumuskan
dengan persamaan:
P
(2.3)
F
A
Dalam SI satuan untuk Tekanan adalah Pascal (Pa). Satu pascal (Pa)
adalah tekanan yang dilakukan oleh gaya satu newton pada luas permukaan
satu meter persegi. Sering kali tekanan juga diukur dalam satuan kilopascal
(kPa), satu kPa sama dengan 1000 Pa.
b. Tekanan pada Benda Cair
1) Tekanan Hidrostatik
Fluida atau zat cair berbeda dengan zat padat, yaitu tak dapat
menopang tegangan geser, fluida berubah bentuk untuk mengisi tabung
dengan bentuk bagaimanapun. Bila sebuah benda tercelup dalam fluida
seperti air fluida mengadakan sebuah gaya yang tegak lurus permukaan
benda di setiap titik pada permukaan. Gaya per satuan luas yang diadakan
oleh fluida sama di setiap titik pada permukaan benda. Gaya per satuan
luas dinamakan tekanan fluida P
Sebuah kotak berada pada
kedalaman h di bawah permukaan
zat cair yang massa jenisnya 
,seperti pada gambar 2.1. Tekanan
yang dilakukan zat cair pada alas
Gambar 2.1 Tekanan Hidrostatik
Sumber (Bambang Haryadi, 2009:
150)
kotak disebabkan oleh berat zat cair
di atasnya.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
18
Dengan demikian,besarnya tekanan adalah:

F mg
P 
A
A
Karena m   V dan V  A h , maka:

F mg
P 
A
A
V g  Ah g

P
A
A
Pgh
(2.4)
(2.5)
Apabila tekanan udara luar (tekanan barometer) diperhitungkan,
maka dari persamaan dihasilkan:
P  P0   g h
(2.6)
Dengan P0 = tekanan udara luar (N/m2)
2) Hukum Pascal
Ketika suatu permukaan benda padat (misalnya meja belajar)
ditekan dengan telapak tangan, maka tekanan disebarkan secara merata
pada telapak tangan. Sebuah kantong plastik yang berisi air dan ujungnya
dipegang kemudian pada kantong plastik dibuat lubang-lubang kecil.
Ketika ujung kantong plastik ditekan maka air akan keluar dari setiap
lubang dengan sama besar. Kedua peristiwa dapat dijelaskan menggunakan
prinsip hukum Pascal.
Hukum Pascal dinyatakan bahwa: “Tekanan yang diberikan pada
zat cair dalam suatu ruang (wadah) tertutup diteruskan ke segala arah
dengan sama besar (sama kuat)
Pada model dongkrak hidrolik (gambar 2.2), tekanan yang
diberikan pada pengisap yang penampangnya kecil diteruskan melalui pipa
menuju ke pengisap yang penampangnya besar. Pada pengisap besar akan
dihasilkan gaya angkat (gaya yang arahnya ke atas).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
19
Bila
gaya

F1
diberikan pada pengisap
yang lebih kecil, tekanan
dalam
cairan
akan

bertambah dengan F1 .
A1
Gaya yang diberikan oleh
cairan pada pengisap yang
Gambar 2.2 Model dongkrak Hidrolik
Sumber:Wasis, dkk (2008: 187)
lebih
besar
adalah
pertambahan tekanan dikali luas A2 . Bila gaya pada pengisap besar adalah

F2 , didapatkan:

(2.7)

F1
A 
F2 
A2  2 F1
A1
A1
Prinsip Pascal dimanfaatkan banyak alat teknik yang dapat
ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dongkrak hidrolik, mesin
hidrolik pengangkat mobil, dan rem hidrolik mobil.
a) Dongkrak Hidrolik
Cara
kerja
dongkrak
hidrolik sebagai berikut. Ketika
sebuah gaya F1 diberikan melalui
tuas dongkrak untuk menekan
penghisap kecil A1, tekanan yang
dihasilkan
akan diteruskan oleh
minyak ke segala arah. Oleh
karena dinding bejana terbuat dari
Gambar 2.3Dongkrak Hidrolik
Sumber:Wasis, dkk (2008: 188)
bahan yang kuat, gaya yang
diberikan
tidak cukup untuk
mengubah bentuk bejana. Tekanan diteruskan oleh minyak ke
penghisap besar A2.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
20
b) Mesin Hidrolik Pengangkat Mobil
Prinsip
kerja
mesin
pengangkat mobil adalah udara
dengan
tekanan
tinggi
masuk
melaui sebuah keran, kemudian
udara dimampatkan dalam sebuah
tabung, tekanan udara yang tinggi
diteruskan
Gambar 2.4. Mesin Hidrolik
Pengangkat Mobil
Sumber:Wasis, dkk (2008:
190)
oleh
minyak
ke
pengisap, kemudian pada pengisap
dihasilkan gaya angkat yang besar
sehingga
pengisap
mampu
mengangkat mobil.
c) Rem Hidrolik
Setiap
dihubungkan
rem
oleh
mobil
pipa-pipa
menuju ke silinder master. Pipapipa penghubung dan master
silinder
diisi
penuh
dengan
minyak
rem.
Ketika
menekan
pedal
rem,
silinder
tertekan.
kaki
master
Tekanan
diteruskan oleh minyak rem ke
setiap silinder rem. Gaya tekan
Gambar 2.5. Rem Hidrolik
Sumber:Wasis, dkk (2008: 189)
pada
silinder
rem
menekan
sepasang sepatu rem sehingga
menjepit piringan logam, akibatnya timbul gesekan pada piringan
yang melawan arah gerak piringan hingga menghentikan putaran roda.
3) Bejana Berhubungan
Bejana berhubungan adalah sebuah bejana yang mempunyai
commit
to user Hukum bejana berhubungan
beberapa pipa yang saling
berhubungan.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
21
menyatakan jika bejana berhubungan diisi zat cair yang sejenis dalam
keadaan seimbang, maka permukaan zat cair akan berada pada satu bidang
sejajar (datar).
Permukaan zat cair bermassa jenis sama dalam keadaan diam di
dalam bejana berhubungan selalu mempunyai permukaan yang sejajar.
Apabila ada zat cair yang bermassa jenis tidak sama dimasukkan ke dalam
bejana berhubungan, maka kedua benda cair tidak akan bercampur,
sehingga permukaan kedua zat cair tidak sama tinggi.
Hukum bejana berhubungan tidak berlaku jika bejana diisi dengan
zat cair yang tidak sejenis, bejana digoyang-goyangkan, salah satu kaki
bejana ada yang berupa pipa kapiler, bejana ada yang mendapat tekanan
yang tidak sama. Jika dalam bejana berhubungan terdapat dua jenis cairan
yang berbeda, tinggi permukaan kedua zat dalam bejana berhubungan tidak
akan sama.
Pada gambar 2.6 terlihat
bahwa tinggi permukaan zat cair
yang
berbeda
dalam
bejana
berhubungan tidak sama. Titik P
adalah titik khayal yang terletak di
Gambar 2.6. Bejana Berhubungan
Sumber:Wasis, dkk (2008: 192)
perbatasan antara minyak goreng
dan air. Titik Q adalah titik khayal
pada air di ujung bejana lain. Tinggi titik P dan Q sama jika diukur dari
dasar bejana. Di titik P dan Q, besarnya tekanan sama.
P1  P2
(2.8)
1 g h1   2 g h2
1 h1   2 h2
Banyak alat yang digunakan dalam keseharian memanfaatkan
konsep bejana berhubungan diantaranya teko air dan menara penampung
air.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
22
a) Teko air
Tinggi pancaran sebuah teko air tidak pernah dirancang lebih
rendah dari pada tinggi permukaan tutupnya. Jika tinggi pancaran
lebih rendah dari pada tingggi permukaan tutupnya teko tidak bisa
diisi sampai penuh, sesuai dengan konsep bejana berhubungan yaitu
untuk mencapai permukaan yang mendatar maka sebagian air akan
tumpah keluar dari pancuran
b) Menara air
Menara air dipasang pada tempat
yang tinggi dan
dihubungkan ke semua keran dengan menggunakan pipa-pipa sebagai
penghubung. Ketika keran dibuka maka untuk mencapai permukaan
yang mendatar, air akan mengali dari menara air melalui pipa-pipa
menuju ke keran air.
4) Hukum Archimedes
a) Bunyi Hukum Archimedes
Sebuah batu kecil yang ujungnya diikat dengan seutas benang
akan terasa lebih berat ketika di pegang di udara, daripada batu
dicelupkan ke dalam tabung yang berisi air. Berat batu ketika tercelup
di dalam air tidak berkurang, tetapi air memberikan gaya apung pada
batu, adanya gaya apung membuat batu terasa ringan bila dimasukkan
ke dalam air. Besarnya gaya apung suatu benda di dalam zat cair
pertama kali diselidiki oleh Archimedes.
Archimedes menyatakan bahwa suatu benda yang dicelupkan
sebagian atau seluruhnya di dalam zat cair akan mengalami gaya
apung yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan
(didesak) oleh benda.
Jika benda tercelup seluruhnya dalam zat cair maka volume
zat cair yang dipindahkan sama dengan volume benda seluruhnya.
Namun, jika benda hanya tercelup sebagian saja dalam zat cair, maka
volume zat cair yang dipindahkan sama dengan volum benda yang
commit to user
tercelup.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
23
b) Menghitung Besarnya Gaya Apung Benda
Besarnya gaya angkat
ke atas atau gaya apung dapat
ditentukan
dengan
konsep
tekanan hidrostatik. Gambar 2.3
menunjukkan
Gambar 2.7. Prinsip Archimedes
Sumber (Bambang Haryadi,
2009: 154)
sebuah
silinder
dengan tinggi h yang luasnya A.
Ujung
atas
dan
bawahnya,
dicelupkan ke dalam fluida yang
massa jenisnya  .
Besarnya tekanan hidrostatik yang dialami permukaan atas
dan bawah silinder adalah:

F
P
A

F  mg
(2.9)
m   V   Ah
m g  Ah g

A
A
P   g h,
P
Sehingga: P1   g h1 dan P2   g h2
Besarnya gaya–gaya yang bekerja pada benda adalah

F PA

F1   g h1 A

F2   g h2 A
(2.10)
Gaya total yang disebabkan oleh tekanan fluida merupakan
gaya apung atau gaya tekan ke atas yang besarnya:
 

FA  F2  F1

FA   g h2 A   g h1 A

FA   g h2  h1 A

FA   g V
commit to user
(2.11)
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
24
Gaya total

FA   g V  mg
adalah berat fluida yang
dipindahkan. Dengan demikian, gaya angkat ke atas pada benda sama
dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda.
c) Mengapung, Melayang dan Tenggelam
Apabila sebuah benda padat dicelupkan ke dalam zat cair,
maka ada tiga kemungkinan yang terjadi pada benda, yaitu tenggelam,
melayang, atau terapung.
Gambar 2.8. Keadaan Benda dalam Zat Cair
Sumber: http://www. jajalabut.com
(1)
Mengapung
Jika sebuah balok kayu dijatuhkan ke dalam air, pada
balok bekerja gaya apung Fa yang lebih besar daripada berat
balok w . Akibatnya, balok akan bergerak ke atas sampai gaya
apung Fa sama dengan berat balok w . Pada saat gaya apung
sama dengan berat balok , sebagian balok muncul di permukaan
air. Pada saat balok mengapung, volum balok yang dipindahkan
hanya volum balok yang tercelup dalam air.
Pada peristiwa mengapung, tidak semua bagian benda
tercelup dalam zat cair, sehingga volume yang dipindahkan
benda lebih kecil daripada volume benda, sehingga pada
peristiwa mengapung massa jenis rata-rata benda lebih kecil
daripada massa jenis
zat to
cair.
commit
user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
25
(2)
Benda tenggelam
Benda dikatakan tenggelam, jika benda berada di dasar
zat cair. Jika sebutir telur baru dijatuhkan ke dalam gelas yang
berisi air tawar, pada telur bekerja gaya apung Fa yang lebih
kecil daripada berat telur w , akibatnya telur akan bergerak ke
bawah sampai menyentuh dasar gelas. Pada peristiwa tenggelam
massa jenis rata- rata benda lebih besar daripada massa jenis zat
cair.
(3)
Benda melayang
Benda dikatakan melayang jika seluruh benda tercelup
ke dalam zat cair, tetapi tidak menyentuh dasar zat cair. Pada
keadaan telur tenggelam di dasar gelas, ditambahkan garam pada
zat cair kemudian diaduk sampai garam larut dalam air. Telur
secara perlahan akan naik ke permukaan gelas dan berhenti di
antara permukaan dan dasar gelas. Pada peristiwa melayang,
gaya apung Fa sama dengan berat benda w . Dengan analisis
massa jenis diperoleh massa jenis rata-rata benda sama dengan
massa jenis zat cair.
Baik dalam kasus mengapung maupun kasus melayang
berlaku syarat yang sama, yaitu gaya apung yang dialami benda
sama dengan berat benda. Perbedaannya adalah pada kasus
melayang, volum air yang didesak benda sama dengan volum
benda, sedangkan pada kasus mengapung, volume air yang
didesak benda sama dengan volum benda yang tercelup saja
dalam zat cair.
d) Aplikasi Hukum Archimedes
Beberapa alat yang bekerja berdasarkan Hukum Archimedes,
antara lain jembatan ponton, hidrometer, kapal selam, dan balon udara.
(1) Jembatan Ponton
Dalam keadaan darurat oang membuat jembatan dengan
commit to user
memasang drum kosong yang tertutup rapat secara berjajar dan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
26
meletakkan papan di atas drum untuk orang berjalan. Drum
kosong akan mengapung dalam air sebab drum kosong memiliki
rongga yang berisi udara di dalam drum.
(2) Hidrometer
Hidrometer adalah alat yang mengapung di dalam zat
cair, dilengkapi dengan sebuah skala dan dipakai untuk mengukur
massa jenis zat cair, massa jenis yang diuku adalah massa jenis
relatif.
Di dalam zat cair yang berbeda, hidrometer akan
mengapung dengan kedalaman yang berbeda. Makin besar massa
jenis zat cair maka makin tinggi tangkai kaca yang muncul ke
permukaan zat cair. Dengan demikian skala pada sebuah
hidrometer memiliki angka yang kecil pada bagian atas
hidrometer dan angka yang besar pada bagian bawah hidrometer.
(3) Kapal Selam
Kapal selam adalah kapal yang dapat bergeak di dalam
air. Kapal selam digunakan untuk kepentingan militer dan
penyelidikan di bawah laut. Kapal selam memiliki tangki
pemberat yang terletak di antara lambung dalam dan lambung
luar. Agar dapat menyelam, tangki pemberat diisi dengan air laut,
sehingga berat kapal bertambah besar. Untuk mengapung
kembali, air laut dikeluarkan dari tangki pemberat.
(4) Balon Udara
Gaya apung yang dilakukan udara pada benda juga
sebanding dengan volum udara yang dipindahkan benda, semakin
besar volum udara yang dipindahkan benda, makin besar gaya
apung yang dilakukan udara.
Balon yang besar dapat lebih banyak memindahkan
volum udaa. Beat udara yang dipindahkan balon menekan balon
ke atas, sehingga balon dapat mengapung di udara. Agar balon
to user
dapat mengapungcommit
di udara,
massa jenis gas di dalam balon harus
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
27
lebih kecil dari pada massa jenis udara yang dipindahkan. Balon
yang diisi udara panas mengapung karena massa jenis udara panas
lebih kecil dari pada massa jenis udara dingin.
c. Tekanan pada Benda gas
1) Tekanan Udara Ruang Terbuka
a) Tekanan Atmosfer Udara
Tekanan udara di permukaan laut rata-rata sebesar 1 atm
atau 76 cmHg. Makin rendah suatu tempat, makin besar tekanannya.
Sebaliknya, makin tinggi suatu tempat, makin rendah tenannya.
Setiap kenaikkan 10 m tekanan udara berkurang sebesar 1 mmHg.
Udara yang meliputi bumi mempunyai berat yang dipengaruhi oleh
gaya gravitasi bumi. Karena udara memiliki berat, maka udara juga
memiliki tekanan. Besarnya tekanan udara ditentukan oleh tinggi
suatu tempatnya dari permukaan air laut.
Tabel 2.1 Tekanan Udara di Berbagai Ketinggian
No
Ketinggian (m)
1
7000
2
5000
3
3000
4
1000
5
500
6
Di atas permukaan air laut
Sumber (Karim,dkk, 2008: 235)
Tekanan (cmHg)
6
26
46
66
71
76
b) Hubungan Gejala Alam dengan Tekanan Udara
(1) Angin Bergerak
Angin atau pergerakan udara timbul karena adanya
perbedaan tekanan udara. Angin selalu bertiup dari daerah
bertekanan udara tinggi ke daerah bertekanan rendah.
(2) Tekanan Udara Memperkirakan Cuaca
Tekanan udara termasuk salah satu unsure utama cuaca.
Cuaca adalah keadaan atmosfer di suatu tempat yang tidak luas
pada saat tertentucommit
dan tidak
belangsung lama.
to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
28
Tekanan udara pada suatu tempat berubah sepanjang
hari. Lembaga meteorologi mencatat tekanan udara yang
berubah-ubah. Penyimpangan yang cukup signifikan pada grafik
yang diperoleh dapat memperkiakan cuaca di suatu tempat.
Tekanan udara
lebih rendah dari kondisi
biasa
maka
kemungkinan besar akan turun hujan, sedangkan bila tekanan
udara lebih tinggi dari kondisi biasa maka kemungkinan cuaca
cerah.
(3) Angin Siklon
Aliran udara bergeak dari daerah bertekanan tinggi ke
daerah bertekanan rendah. Jika suatu daeah tekanan udaranya
sangat rendah maka udara di sekitar akan mengitari pusat
tekanan rendah sehingga tmenghasilkan angin siklon. Siklon
memiliki lintasan spiral konvergen yang naik dan memiliki arah
berlawanan dengan jarum jam di BBU. Siklon tropis tejadi pada
daerah-daerah air hangat di lautan dekat ekuator.
c)
Alat Ukur Tekanan Udara Ruang Terbuka
(1) Baromoter Toricelli
Pada
Torricelli
1643
melakukan
percobaan
tabung
tahun
menggunakan
kaca
yang
kuat
dengan panjang kurang lebih
1 meter dan salah satu
ujungnya tertututp. Tabung
vertikal
dengan
ujung
terbuka dihadapkan ke atas,
Gambar 2.9. Pecobaan Toricelli
dengan menggunakan corong
Sumber: (Saiful Karim, dkk,
dituangkan raksa ke dalam
2008: 228)
tabung
commit to user
kemudian
sampai
menutup
penuh
ujung
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
29
tabung yang terbuka dan segera membaliknya. Dari percobaan
yang dilakukan didapatkan permukaan raksa dalam tabung turun
dan berhenti ketika kolom raksa dalam tabung 76 cm di atas
permukaan raksa dalam bejana.
Ketika posisi tabung dimiringkan, tinggi kolom raksa
tetap 76 cm. Gaya oleh tekanan atmosfer pada permukaan raksa
dalam bejana seimbang dengan berat raksa setinggi 76 cm dalam
tabung. Jika tekanan atmosfer naik maka gaya oleh tekanan
atmosfer pada permukaan raksa dalam bejana akan menekan
kolom raksa sehingga lebih tinggi dari pada 76 cm. Sebaliknya,
jika tekanan atmosfer turun maka supaya seimbang, kolom raksa
turun di bawah 76 cm. Tekanan atmosfer di permukaan laut kirakira 76 cmHg (tekanan 1 atm)
(2) Barometer Aneroid
Barometer logam disebut barometer aneroid. Barometer
Aneroid banyak digunakan di Badan Meteorologi dan Geofisika
untuk
memperkirakan
cuaca
dengan
mengukur
tekanan
udaranya. Barometer logam biasa juga disebut barometer kering.
Karena barometer aneroid tidak berisi cairan maka barometer
anaroid
ringan,
murah,
dan
mudah
dipindah-pindahkan
dibandingkan dengan barometer raksa. Skala barometer aneroid
juga lebih mudah dibaca karena bentuknya lingkaran.
Bagian utama barometer aneroid ialah sebuah kotak
logam kecil yang berisi udara dengan tekanan yang sangat
rendah. Permukaan kotak dibuat bergelombang agar lebih
mudah melentur di bagian tengahnya. Jika tekanan bertambah,
bagian atas dan bawah kotak lebih mengempis. Gerakan
mengempis kotak diperkuat oleh sebuah tuas yang menarik
rantai ke kiri. Akibatnya, jarum penunjuk lebih menyimpang ke
kanan menunjukkan angka lebih besar.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
30
2) Tekanan Udara Ruang Tertutup
a) Gas Dalam Ruang Tertutup
Sebuah balon ditiup dan diikat sehingga bentuk balon yang
kempis berubah menjadi bulat. Demikian pula, jika balon yang bulat
ditekan maka balon yang ditekan akan kempis dan bagian balon yang
lain akan menggelembung dan membesar. Dapat dikatakan bahwa
udara di dalam balon menekan ke segala arah pada dinding balon.
Udara dalam ruang tertutup mengadakan tekanan ke segala arah pada
dinding ruang.
b) Alat Ukur Tekanan Udara Tertutup
Alat pengukur tekanan udara dalam ruang tertutup yang
paling sederhana disebut manometer raksa dan manometer Bourdon.
Manometer raksa dibedakan menjadi dua yaitu manometer raksa
terbuka dan manometer aksa tertutup.
(1) Manometer Raksa Terbuka
Manometer raksa terbuka adalah sebuah tabung U yang
kedua ujungnya terbuka. Salah satu kaki terbuka berhubungan
dengan udara luar, sehingga tekanan permukaan raksa pada kaki
terbuka selalu sama dengan tekanan atmosfer. Kaki lainnya
dihubungkan ke uang yang akan diukur tekanan gasnya melalui
sebuah selang karet.
Sebelum kaki tertutup dihubungkan dengan uang gas,
permukaan raksa dalam kedua kaki sama tinggi. Ketika kaki
tertutup dihubungkan dengan ruang gas yang tekanannya lebih
besar daripada tekanan atmosfer, permukaan raksa dalam kaki
terbuka naik. Permukaan raksa dalam kaki tertutup akan lebih
rendah daripada permukaan raksa dalam kaki terbuka.
(2) Manometer Raksa Tertutup
Manometer raksa tertutup adalah sebuah tabung U yang
salah satu ujungnya tertutup. Ujung terbuka dihubungkan ke
commit
to karet.
user Piupa U diisi dengan raksa dan
suplai gas melalui
selang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
31
ruang di atas permukaan raksa dalam pipa tertutup adalah
vakum. Jika gas tidak memiliki tekanan maka permukaan raksa
dalam kedua kaki sama tingi. Jika gas memiliki tekanan maka
pemukaan raksa dalam ujung tertutup akan naik dan lebih tinggi
daripada permukaan raksa yang kakinya berhubungan dengan
suplai gas.
(3) Manometer Bourdon
Alat pengukur tekanan udara dalam ruang jenis lain
adalah manometer Bourdon. Tekanan dari dalam ruang tertutup
akan mengubah kelengkungan pipa lentur. Ujung pipa
dihubungkan dengan jarum berskala. Ketika kelengkungan pipa
berubah akibat tekanan, penunjukan jarum juga berubah.
c)
Hukum Boyle
Hukum Boyle menyatakan bahwa: “ dalam ruang tertutup
suhu dijaga konstan, jika volume suatu gas (V1) diperbesar menjadi
(V2), maka tekanan gas di dalam ruang
akan mengecil (dari P1
menjadi P2, dimana P2 < P1) atau sebaliknya, jika volumenya
diperkecil maka tekanan gas di dalam ruang akan meningkat pula.
Besarnya volume gas berbanding terbalik dengan besarnya tekanan
gas di dalam ruang.
Hukum Boyle secara matematis dapat dirumuskan sebagai
berikut:
P  V  Kons tan
(2.12)
P1  V1  P2  V2
Marthen Kanginan (2007:92-125)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
32
B. Penelitian Yang Relevan
Di dalam penelitian tentang analisis kesalahan siswa menyelesaikan soalsoal Fisika, mengacu pada beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh penelit i
serupa sebelumnya, yaitu:
1. Anggraheni (2012: 76-77), melakukan penelitian mengenai tentang kesalahan
yang dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal Fisika materi Cahaya.
Dari hasil penelitian, ditemukan jenis kesalahan dan penyebab kesalahan yang
dilakukan oleh siswa yaitu kesalahan terjemahan yang disebabkan siswa tidak
memahami data-data yang disebutkan dalam soal, tidak memahami simbolsimbol Fisika untuk data-data yang disebutkan dalam soal, kurang teliti dalam
menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan ke dalam simbol Fisika, serta
tidak memahami gambar pada soal, kesalahan strategi disebabkan siswa tidak
memahami langkah yang tepat dalam penyelesaian soal dan kurang latihan
menyelesaikan soal, kesalahan konsep yang disebabkan siswa kurang
maksimal dalam belajar dan tidak memperhatikan penjelasan guru, kesalahan
hitung yang disebabkan siswa kurang terampil dan kurang teliti dalam operasi
hitung,
dan soal tidak direspon yang disebabkan siswa tidak mengetahui
jawaban soal, tidak memahami langkah dalam menyelesaikan soal, dan kurang
latihan menyelesaikan soal.
2. Dewi (2011: 81-82), melakukan penelitian mengenai kesalahan yang
dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal Fisika materi Keseimbangan
Benda Tegar. Dari hasil penelitian, ditemukan jenis kesalahan dan penyebab
kesalahan yang dilakukan oleh siswa yaitu kesalahan terjemahan yang
disebabkan siswa kurang teliti dalam memahami maksud soal, siswa belum
paham tentang penguraian gaya ke sumbu x dan y, dan siswa cenderung
mengerjakan soal secara langsung tanpa menggambarkan sketsa soal,
kesalahan strategi yang disebabkan siswa kurang latihan soal sehingga salah
dalam menentukan langkah penyelesaian soal, kesalahan konsep yang
disebabkan siswa tidak memahami konsep Momen Gaya dan kurang
memperhatikan saat diterangkan, kesalahan hitung yang disebabkan siswa
commitoperasi
to user hitung, kesalahan tanda yang
kurang teliti dalam melakukan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
33
disebabkan siswa belum memahami bahwa gaya merupakan besaran vektor
yang juga memperhatikan arahnya positif atau negatif dan siswa kurang teliti,
dan kesalahan dalam trigonometri yang disebabkan siswa belum memahami
konsep trigonometri.
3. Ikhbar Nur Jiwanto (2012), melakukan penelitian mengenai kesalahan siswa
dalam menyelesaikan masalah Fisika SMA menurut Polya.
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian yang dilakukan adalah observasi,
wawancara, dan test tertulis yang disebut teknik triangulasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kesulitan siswa dalam memecahkan masalah soal Fisika
dari masing–masing tahapan Polya adalah pemahaman soal (understanding)
sebanyak 50,1 %, sedangkan pada tahap rencana penyelesaian (planning)
sebanyak 51,0 %, Tahapan berikutnya yaitu tahap pelaksanaan rencana
(solving) sebanyak 68,7 % dan tahap terakhir peninjauan kembali (checking)
sebanyak 85,7 %.
4. Rufaida (2012: 85-86), melakukan penelitian mengenai kesalahan yang
dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal Fisika materi Momentum dan
Impuls. Dari hasil penelitian, ditemukan jenis kesalahan dan penyebab
kesalahan yang dilakukan oleh siswa yaitu jenis kesalahan dan penyebab
kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal Fisika materi
pokok Momentum dan Impuls adalah kesalahan strategi (36%) yang
disebabkan siswa kurang teliti dan belum dapat membedakan penggunaan
simbol-simbol Fisika, kesalahan terjemahan (84%) yang disebabkan siswa
kekurangan waktu, kurang teliti, lupa, bingung dengan simbol Fisika dan
bahkan tidak tahu; kesalahan konsep (68%) yang disebabkan siswa belum
memahami dan bahkan tidak tahu konsep-konsep yang terkandung dalam
materi pokok Momentum dan Impuls akibat kurang belajar, kesalahan hitung
(60%) yang disebabkan siswa kurang teliti, bingung dan tergesa-gesa dalam
mengerjakan soal karena kekurangan waktu, bahkan beberapa siswa tidak
dapat melakukan operasi perhitungan dengan baik, dan kesalahan tanda (48%)
yang disebabkan siswa lupa dan tidak teliti dalam menerapkan tanda positif
commit to user
(+) dan negatif (-).
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
34
C. Kerangka Berfikir
Belajar adalah proses transformasi ilmu guna memperoleh kompetensi,
ketrampilan, dan sikap untuk membawa perubahan yang lebih baik. Sedangkan
kegiatan pembelajaran merupakan suatu sistem dan proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Proses belajar tidak selalu berhasil dengan baik karena adanya hambatan
dalam proses pembelajaran, salah satu hambatan adalah kesalahan yang dialami
siswa sebagai hambatan dalam proses belajar mengajar. Kesalahan merupakan
suatu ganguan yang terjadi dalam proses belajar sehingga dapat mempengaruhi
hasil belajar.
Kesalahan-kesalahan belajar dilakukan oleh siswa yang tidak memahami
cara belajar dengan baik, dengan mengetahui kesalahan–kesalahan yang dilakukan
siswa, diharapkan para siswa mengerti bagaimana seharusnya belajar Fisika
(IPA). Kesalahan banyak terjadi dalam pembelajaran Fisika (IPA) di SMP,
khususnya dalam mengerjakan soal–soal.
Berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar Fisika dapat dilihat dari
kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal pada materi yang telah diajarkan.
Ketidakberhasilan dari proses belajar dapat ditunjukkan dengan adanya kesalahan
yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan suatu persoalan.
Kesalahan merupakan suatu permasalahan yang wajar. Akan tetapi
apabila dibiarkan saja, tujuan dari pembelajaran Fisika tidak dapat tercapai secara
optimal. Tekanan merupakan salah satu materi yang dipelajari pada Semester
Genap kelas VIII. Pada materi Tekanan sering terjadi berbagai kesalahan sehingga
mengakibatkan hasil belajar tidak maksimal. Kesalahan terjadi dikarenakan
karakteristik materi Tekanan yang termasuk sulit, yaitu konsep tekanan pada
benda padat, cair, dan gas yang masih membuat siswa bingung, serta banyak
penerapan rumus yang memerlukan perhitungan.
Sesuai dengan karakteristik materi Tekanan, kesalahan yang mungkin
dapat terjadi pada siswa antara lain:
1.
Kesalahan terjemahan, merupakan kesalahan mengubah informasi ke dalam
to user
simbol Fisika serta kesalahan commit
mengartikan
maksud soal.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
35
2.
Kesalahan konsep, merupakan kesalahan dalam memahami konsep-konsep
Fisika dalam materi Tekanan
3.
Kesalahan strategi, merupakan kesalahan siswa dalam mengerjakan sehingga
mengarah ke jalan buntu dengan kata lain mengerjakan dengan cara yang
salah sehingga jawaban siswa asal-asalan.
4.
Kesalahan
hitung,
merupakan kesalahan dalam
menghitung
seperti
menjumlahkan, mengurangi, mengalikan, dan membagi.
Untuk mengetahui secara jelas apa saja jenis kesalahan dan penyebab
siswa melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal Fisika pada materi
Tekanan, perlu dianalisis kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan
soal Tekanan pada benda padat, cair, dan gas. Kegiatan yang dilakukan untuk
mengetahui mengenai jenis kesalahan dan penyebab kesalahan dapat dilakukan
melalui observasi pada kegiatan belajar mengajar pada materi Tekanan.
Selanjutnya, melakukan analisis terhadap hasil penyelesaian soal-soal materi
Tekanan pada benda padat, cair, dan gas yang diberikan kepada siswa.
Berdasarkan dari identifikasi jawaban siswa, kemudian dilakukan wawancara
kepada beberapa siswa untuk mengetahui penyebab kesalahan yang dilakukan.
Dari data yang diperoleh, selanjutnya dilakukan triangulasi data, yaitu
membandingkan data yang diperoleh dari kegiatan observasi, penyelesaian soal,
dan wawancara untuk memperoleh data yang valid. Kemudian, tahap yang
dilakukan adalah analisis data yang meliputi kegiatan reduksi data, penyajian data,
dan kesimpulan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
36
Soal tes Tekanan
Jawaban siswa
Salah
Benar
Observasi
Analisis Kesalahan
Jenis Kesalahan yang mungkin:
Kesalahan Terjemahan
Kesalahan Konsep
Kesalahan Strategi
Kesalahan Hitung
Penyebab Kesalahan
Kesimpulan
Gambar 2.10. Bagan Kerangka Pemikiran
commit to user
Wawancara
Download