1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penghasilan negara

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penghasilan negara adalah berasal dari rakyatnya melalui pungutan pajak,
dan/atau dari hasil kekayaan alam yang ada di dalam negara itu (natural
resources). Dua sumber tersebut merupakan dua sumber terpenting dan
memberikan penghasilan kepada negara. Penghasilan itu untuk membiayai
kepentingan umum yang akhirnya juga mencakup kepentingan pribadi individu
seperti kesehatan rakyat, pendidikan, kesejahteraan, dan sebagainya.
Pungutan pajak mengurangi penghasilan atau kekayaan individu tetapi
sebaliknya merupakan penghasilan negara yang kemudian dikembalikan lagi
kepada masyarakat, melalui pengeluaran-pengeluaran rutin, dan pengeluaranpengeluaran pembangunan yang akhirnya kembali lagi kepada seluruh masyarakat
dan bermanfaat bagi rakyat, baik yang membayar pajak ataupun tidak (Suandy,
2011:7).
Pendapatan negara memegang peranan penting dalam menjalankan seluruh
program pemerintah demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Pemerintah sangat
berpengaruh dalam mengatur, menstabilkan, dan mengembangkan kegiatan
ekonomi negara. Pajak menurut Pasal 1 UU No. 28 Tahun 2007 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah:
kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan
yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan
negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pembayaran pajak
1
2
merupakan perwujudan dari kewajiban kenegaraan dan peran serta Wajib
Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban
perpajakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional.
Sesuai falsafah undang-undang perpajakan, membayar pajak merupakan
kewajiban dari setiap warga Negara untuk ikut berpartisipasi dalam bentuk peran
serta terhadap pembiayaan negara dan pembangunan nasional.
Apabila ditinjau dari segi ekonomi, pajak dapat dipahami sebagai
pengalihan sumber daya dari sektor privat kepada sektor publik, maka dengan
sendirinya tentu ada pihak yang melakukan pemungutan atau menerima peralihan
kekayaan itu. Dalam hal ini yang dimaksud adalah pemerintah. Lembaga
pemerintah yang mengelola perpajakan negara di Indonesia adalah Direktorat
Jenderal Pajak (DJP) yang merupakan salah satu direktorat jenderal yang ada di
bawah naungan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Pemahaman
pengalihan sumber daya dari sektor privat kepada sektor publik ini memberikan
gambaran bahwa adanya pajak menyebabkan dua situasi menjadi berubah.
Pertama, berkurangnya kemampuan individu dalam menguasai sumber daya
untuk kepentingan penguasaan barang dan jasa. Kedua, bertambahnya
kemampuan keuangan negara dalam penyediaan barang dan jasa publik yang
merupakan kebutuhan masyarakat.
Sumber penerimaan negara Indonesia setiap tahun untuk sektor pajak
dapat dilihat di Laporan Keuangan Pemerintah Pusat yang telah diaudit pada
bagian Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah. Pencapaian Realisasi Pendapatan
Negara dan Hibah tiap tahunnya menunjukkan bahwa perpajakan tetap menjadi
3
kontributor utama dalam Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah. Hal ini dapat
terihat dari Tabel 1 yang telah diolah berikut ini.
Tabel 1
Jumlah Pendapatan Negara
(dalam triliun rupiah)
Tahun
Penerimaan
Pajak
Penerimaan
Negara
Bukan Pajak
Penerimaan
Hibah
Total Realisasi
Pendapatan
Negara dan
Hibah
Persentase
Pajak
2012
980.518
351.804
5.787
1.338.109
73%
2013
1.077.307
354.752
6.832
1.438.891
75%
2014
1.146.865
398.590
5.034
1.550.489
74%
2015
1.240.418
255.628
11.973
1.508.020
82%
Sumber: Kementerian Keuangan RI : Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(Diolah)
Berdasarkan Tabel 1 di atas memperlihatkan bahwa penerimaan negara
dari perpajakan mempunyai kontribusi lebih dari 50% setiap tahunnya. Hal ini
membuktikan bahwa penerimaan negara dari tahun ke tahun didominasi oleh
sektor pajak. Dapat dikatakan bahwa pajak merupakan tulang punggung
pendapatan negara.
Upaya penagihan di dalam pajak tentu merupakan hal yang sangat penting.
Hal itu perlu dipahami mengingat bahwa pajak dari sisi ekonomi merupakan
peralihan kekayaan dari wajib pajak ke dalam kas negara dapat dipandang sebagai
sebuah pengurangan kekayaan. Apabila pajak itu merupakan pengurangan
kekayaan tentu saja juga sekaligus dapat dirasakan sebagai sesuatu yang
4
mengurangi
kesejahteraan,
mengurangi
kenikmatan,
bahkan
lebih
jauh
mengurangi hak individu yang bersangkutan, dan dapat dipandang sebagai sesuatu
yang membebani. Oleh karena mengurangi kesejahteraan individu maka tentu saja
secara alamiah orang akan berusaha untuk tidak memenuhi kewajiban tersebut,
atau mengurangi pemenuhan kewajiban tersebut salah satunya melalui cara
penghindaran (tax avoidance) (Pudyatmoko, 2009:181).
Menurut Simon (2003) seperti yang dikutip oleh Harinurdin (2011)
pengertian kepatuhan pajak (tax compliance) adalah wajib pajak mempunyai
kesediaan untuk memenuhi kewajiban pajaknya. Pemenuhan kewajiban
perpajakan tersebut harus sesuai dengan aturan yang berlaku tanpa perlu ada
pemeriksaan, investigasi seksama (obtrusive investigation), peringatan, ancaman,
dan penerapan sanksi baik hukum maupun administrasi. Kepatuhan wajib pajak
memenuhi kewajiban perpajakannya akan meningkatkan penerimaan negara dan
pada gilirannya akan meningkatkan besarnya rasio pajak. Menurut Manurung
(2013) dalam Fidiana et. al. (2013) persentase tingkat kepatuhan pajak di
Indonesia pada tahun 2012 masih dianggap sangat rendah, hal tersebut tidak
berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Rendahnya tingkat kepatuhan pajak di
Indonesia diperkuat oleh banyaknya penelitian-penelitian yang mengeksplorasi
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi meningkatnya kepatuhan perpajakan.
Ketidakpatuhan pajak terjadi di berbagai negara, termasuk negara-negara
berkembang seperti Indonesia. Menurut Hai dan See (2011) dalam Fidiana et al.
(2013) masalah ketidakpatuhan pajak telah ada sejak lahirnya konsep pajak itu
sendiri.
5
Menurut Menteri Keuangan RI Sri Mulyani dalam Antara (2016),
mengatakan bahwa penerimaan pajak pemerintah dalam beberapa tahun terakhir
jauh di bawah target, dan kepatuhan wajib pajak untuk melaporkan hartanya
masih rendah, sehingga membuat rasio pajak menjadi kecil.
Indikasi adanya praktek penghindaran pajak di Indonesia terlihat dari
rendahnya rasio pajak Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau
biasa disebut tax ratio. Brodjonegoro (2016) menyatakan bahwa rasio penerimaan
perpajakan (tax ratio) Indonesia yang saat ini berada di kisaran 11 persen dan
masih berada di bawah standar negara-negara ASEAN dan Organisation on
Economic Cooperation and Development (OECD).
Pajak bukan lahir dari perjanjian, melainkan dengan menggunakan dasar
undang-undang. Jadi di situ rakyat sebagai pihak yang memiliki kekayaan yang
akan dipindahkan ke kas negara telah memberikan persetujuannya melalui wakilwakil mereka yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Apabila rakyat
telah menyetujui dan mengizinkan dirinya dikenakan pajak, atau sebagian
kekayaan yang ada padanya dialihkan ke kas negara maka tentunya hal tersebut
dapat dilaksanakan. Apabila kemudian rakyat tidak memenuhi kewajiban yang
telah disetujui tersebut maka dalam hal seperti itu dapat dilakukan upaya
penagihan.
Pengertian penghindaran pajak (tax avoidance) diuraikan oleh Suandy
(2011:21) yang menyatakan bahwa penghindaran pajak adalah suatu usaha
pengurangan secara legal yang dilakukan dengan cara memanfaatkan ketentuan-
6
ketentuan di bidang perpajakan secara optimal seperti, pengecualian dan
pemotongan-pemotongan yang diperkenankan maupun manfaat hal-hal yang
belum diatur dan kelemahan-kelemahan yang ada dalam peraturan-peraturan yang
berlaku.
Perusahaan yang berperilaku tax avoidance dianggap tidak bertanggung
jawab secara sosial. Menurut World Bank Group Tanggung jawab sosial
perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) disebut sebagai komitmen
bisnis berkelanjutan yang berkontribusi bagi ekonomi melalui kerjasama dengan
pihak-pihak yang berkepentingan dan berpengaruh pada lingkungan sekitar dan
masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas sarana dan keberlangsungan
hidup masyarakat setempat maupun secara umum dengan cara-cara yang
bermanfaat baik untuk bisnis itu sendiri maupun nuntuk masyarakat luas atau
untuk pembangunan.
Dari definisi tersebut dapat disebutkan bahwa pajak dan CSR sama-sama
ditujukan untuk kesejahteraan umum. Namun bedanya adalah pajak dikelola oleh
pemerintah pusat maupun daerah yang kemudian didistribusikan kepada
masyarakat umum sedangkan biaya pelaksanaan CSR dikelola perusahaan untuk
kemudian didistribusikan kepada masyarakat umum.
Kajian tentang hubungan penghindaran pajak dengan Corporate Social
Responsibility telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan hasil yang mix atau
berbeda-beda. Adiningtiyas (2016) melakukan penelitian untuk menguji dan
mencari bukti apakah performa Corporate Social Responsibility berpengaruh
7
terhadap tax avoidance. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Corporate Social
Responsibility memiliki pengaruh negatif terhadap tax avoidance perusahaan.
Perusahaan dengan performa Corporate Social Responsibility yang tinggi berarti
memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi sehingga perusahaan mengurangi
tax avoidance karena dianggap tidak bertanggung jawab secara sosial.
Hasil penelitian tersebut didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Septiani (2015) yang menyatakan bahwa Corporate Social Responsibility
memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap agresivitas pajak. Hasil uji
menunjukkan pengungkapan CSR memiliki hubungan negatif yang signifikan,
berarti semakin tinggi pengungkapan CSR, semakin rendah tingkat agresivitas
pajak yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Artinya, dengan memiliki ungkapan
yang tinggi akan tanggung jawab sosial atau yang biasa disebut Corporate Social
Responsibility, maka perusahaan memiliki tingkat yang rendah dalam melakukan
agresivitas pajak karena dengan adanya pengungkapan CSR yang baik maka citra
perusahaan juga akan semakin baik sehingga perusahaan enggan melakukan
tindakan agresivitas pajak yang mempunyai resiko akan merusak citra perusahaan.
Pendapat berbeda dilakukan oleh Mustikawati (2015) yang menyatakan
bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibility tidak berpengaruh terhadap
penghindaran pajak. Semakin besar atau kecil pengungkapan CSR tidak
berpengaruh terhadap praktek penghindaran pajak yang dilakukan perusahaan.
Sebuah entitas yang melakukan kegiatan CSR dengan baik, tidak terlepas dari
perusahaan yang memiliki tanggung jawab yang baik dalam mengelolah
8
perusahaannya (Rahmawati et al., 2016). Harmonisasi antara perusahaan dengan
masyarakat sekitarnya dapat tercapai apabila terdapat komitmen penuh dari
manajemen puncak (top management) perusahaan terhadap penerapan CSR
sebagai
akuntabilitas
publik.
Saat
ini
terdapat
kecenderungan
(trend)
meningkatnya tuntutan publik atas transparasi dan akuntabilitas perusahaan
sebagai wujud implementasi GCG (Good Corporate Governance). Salah satu
implementasi GCG perusahaan adalah penerapan CSR. Dalam era globalisasi,
kesadaran akan penerapan CSR menjadi penting seiring dengan semakin
maraknya kepedulian masyarakat terhadap produk (barang) yang ramah
lingkungan. Salah satu prinsip GCG adalah masalah pertanggungjawaban
(responsibility), yaitu kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan terhadap
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang
sehat (Effendi, 2016:162)
Irawan dan Aria (2012) dalam Rahmawati et al. (2016) menyatakan bahwa
penerapan GCG diharapkan bisa mempengaruhi entitas untuk berperilaku
profesional, transparan dan efisien serta mengoptimalkan fungsi manajerial
perusahaan dalam setiap Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) dianggap
mampu mempekuat posisi daya saing perusahaan secara berkesinambungan,
mengelola resiko dan sumber daya secara efektif dan efisien, serta dapat
meningkatkan kepercayaan investor (Rahmawati et al. , 2016).
9
Raka dalam Effendi (2016) menyatakan bahwa dalam GCG tersirat bahwa
sebuah perusahaan bukanlah mesin pencetak keuntungan bagi pemiliknya,
melainkan sebuah entitas untuk menciptakan nilai bagi semua pihak yang
berkepentingan. Selain itu, perusahaan bukanlah sekedar mesin yang mengubah
input menjadi output, melainkan sebuah lembaga insani (human institution),
sebuah masyarakat yang punya nilai, cita-cita, jati diri, dan tanggung jawab sosial.
Konsep GCG mencerminkan pentingnya sikap berbagi (sharing), peduli (caring),
dan melestarikan.
Penerapan tata kelola yang baik ditujukan untuk mendorong para pemegang
saham, anggota Dewan Komisaris, dan Direksi untuk dapat mengambil keputusan
dan bertindak sesuai dengan etika moral (Hanggraeni, 2015:77). Peran Good
Corporate Governance yang baik diduga dapat mendorong ketaatan perusahaan
sebagai wajib pajak untuk menjalankan kewajiban perpajakaannya. GCG juga
mempengaruhi cara sebuah perusahaan dalam melaksanakan kewajiban
perpajakannya. Jika perusahaan tersebut melakukan tax avoidance tentu
perusahaan tersebut melakukan perencanaan pajak untuk meminimalkan pajak
yang harus dibayar sehingga hal tersebut menjadikan citra buruk bagi perusahan.
Hal tersebut juga mencerminkan lemahnya penerapan GCG pada perusahaan.
Daniri (2005) dalam Hanggraeni (2015:85) menjelaskan pengertian dasar dari
tata kelola secara sistematik adalah terciptanya mekanisme check and balance
yang efektif, pengelolaan perusahaan yang memperhatikan kepentingan
stakeholders, dan menekankan pendekatan bahwa perusahaan melakukan upaya
10
untuk memenuhi kepentingan pemegang saham dengan menyeimbangkan
kepentingan para pemangku kepentingan, terutama pemegang saham.
Mekanisme tata kelola pada dasarnya terdiri dari pengendalian di dalam atau
internal dan pengendalian lingkungan atau eksternal. Mekanisme Eksternal
corporate governance menjadi faktor pendorong dalam proses pengambilan
keputusan yang berasal dari luar perusahaan. Salah satu diantaranya adalah
adanya sistem hukum yang baik dan tepat sasaran.
Dalam mendukung adanya penerapan tata kelola yang baik dalam suatu
perusahaan dibutuhkan pula adanya mekanisme corporate governance yang
berasal dari dalam perusahaan termasuk didalamnya komposisi dewan direksi,
dewan komisaris, shareholders, komisaris independen dan Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS). Mekanisme internal corporate governance memiliki
dampak langsung dalam mendorong manajer untuk meningkatkan kinerjanya.
Internal corporate governance berbicara mengenai mekanisme akuntanbilitas,
pengawasan, dan pengendalian manajemen perusahaan dalam memanfaatkan
sumber daya dan keputusan pengambilan risiko. Oleh karena itu peneliti akan
meneliti GCG dengan proksi proporsi komisaris independen, komite audit dan
kualitas audit.
Komisaris independen yang duduk dalam jajaran pengurus perseroan
dianggap penting dalam kaitan implementasi GCG dalam perusahaan, karena
memiliki peran untuk memberi nasihat dan melakukan pengawasan terhadap
jalannya perusahaan (Sitorus, 2012:665). Tugas komisaris independen dalam
11
memastikan prinsip-prinsip dan praktik GCG dipatuhi dan diterapkan dengan
baik, antara lain menjamin transparansi dan keterbukaan laporan keuangan
perusahaan, kepatuhan perusahaan pada perundang-undangan dan peraturan yang
berlaku, serta menjamin akuntanbilitas program perseroan (Effendi, 2016:36).
Adanya komisaris independen dalam perusahaan juga dapat memberikan petunjuk
dan arahan untuk mengelola perusahaan serta merumuskan strategi perusahaan
yang lebih baik termasuk dalam menentukan kebijakan terkait tarif pajak efektif
yang akan dibayarkan perusahaan (Diantari, 2016:708). Hal ini didukung dengan
penelitian yang dilakukan Maharani dan Suardana (2014) yang menyatakan
bahwa komisaris independen berpengaruh negatif terhadap penghindaran pajak.
Menurut Pedoman Good Corporate Governance Indonesia (2006), bagi
perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesi sekurang-kurangnya
harus membentuk komite audit, sedangkan komite lainnya sesuai dengan
kebutuhan. Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia, tugas dan
tanggung jawab komite audit secara umum terdapat tiga bidang, yaitu laporan
keuangan,
Good
Corporate
Governance,
dan
pengawasan
perusahaan.
Pembentukan komite audit bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dalam
rangka implementasi GCG. Berdasarkan hal tersebut, komite audit dengan
wewenang yang dimilikinya akan dapat mencegah segala perilaku atau tindakan
yang menyimpang terkait dengan laporan keuangan perusahaan. Sehingga dengan
adanya komite audit dalam perusahaan dapat meminimalisir terjadinya praktik
tax avoidance. Menurut Diantari (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa
komite audit berpengaruh negatif terhadap tax avoidance.
12
Kualitas Audit berhubungan dengan transparansi, dimana transparansi
mensyaratkan adanya pengungkapan yang akurat. KAP besar (Big Four
Accounting Firm) diyakini dapat melakukan audit yang lebih berkualitas. Hal ini
dikarenakan KAP Big Four diberikan banyak pelatihan dan diakui secara
internasional (Nindita dan Siregar, 2012:92). Jika dikaitkan dengan penghindaran
pajak, manajer perusahaan yang diaudit oleh KAP The Big Four akan lebih sulit
memanipulasi laba yang ditunjukkan untuk kepentingan perpajakan. Menurut
Chai dan Liu (2010), jika nominal pajak yang dibayar terlalu tinggi bagi
perusahaan biasanya akan memaksa perusahaan untuk melakukan manipulasi laba
untuk kepentingan perusahaan.
Penelitian yang pernah dilakukan mengenai pengaruh Good Corporate
Governance terhadap penghindaran pajak telah banyak ditemui oleh beberapa
peneliti dengan hasil yang mix atau berbeda-beda. Salah satunya oleh Rahmawati
et al. (2016), penelitian tersebut menemukan bahwa kepemilikan manajerial dan
kepemilikan institusional memberikan pengaruh negatif signifikan terhadap tax
avoidance. Sebagai salah satu mekanisme tata kelola perusahaan yaitu
kepemilikan manajerial memiliki pengaruh signifikan dan memiliki arah negatif
terhadap tax avoidance. Mekanisme lain yaitu dewan komisaris dan komite audit
tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Sedangkan penelitian Maharani dan
Suardana (2014) diperoleh hasil bahwa variabel yang berpengaruh negatif adalah
proporsi dewan komisaris, kualitas audit, dan komite audit, sedangkan risiko
perusahaan berpengaruh positif terhadap tax avoidance yang dilakukan
13
perusahaan manufaktur yang terdaftar Bursa Efek Indonesia periode tahun
pengamatan 2008-2012.
Penelitian ini perlu dilakukan dengan mempertimbangkan pengaruh
Corporate Social Responsibility (CSR) dan Good Corporate Governance (GCG)
terhadap penghindaran pajak. Objek penelitian ini yaitu perusahaan multinasioal
sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesi (BEI).
Penelitian ini berfokus pada penghindaran pajak yang merupakan suatu
praktik yang secara umum disepakati sebagai suatu tindakan yang tidak dapat
diterima dan harus dicegah serta dilawan. Akan tetapi, kenyataan bahwa
penghindaran pajak dilakukan dengan memanfaatkan celah dalam peraturan
perpajakan sehingga secara literal tidak melanggar hukum membuat isu tersebut
menjadi isu diskusi yang menarik.
Pajak dan CSR sama-sama ditujukan untuk kesejahteraan umum.
Perusahaan yang berperilaku tax avoidance dianggap tidak bertanggung jawab
secara sosial dan bertolak belakang dengan prinsip CSR. Selain itu, tata kelola
perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) diduga dapat mendorong
ketaatan perusahaan sebagai wajib pajak untuk menjalankan kewajiban
perpajakaannya.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka peneliti akan
menggunakan judul Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) dan Good
Corporate Governance (GCG) terhadap penghindaran pajak.
14
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah terebut, maka rumusan masalah yang
dapat digunakan dalam penelitian ini :
1. Apakah Corporate Social Responsibility (CSR) berpengaruh terhadap
penghindaran pajak?
2. Apakah komisaris independen berpengaruh terhadap penghindaran pajak?
3. Apakah komite audit berpengaruh terhadap penghindaran pajak?
4. Apakah kualitas audit berpengaruh terhadap penghindaran pajak?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka
tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR)
terhadap penghindaran pajak.
2. Untuk mengetahui pengaruh komisaris independen terhadap penghindaran
pajak.
3. Untuk mengetahui pengaruh komite audit terhadap penghindaran pajak.
4. Untuk mengetahui pengaruh komite audit terhadap penghindaran pajak.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah disebutkan maka penelitian ini
diharapkan dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak, antara lain:
a. Kontribusi Praktis
Dari penelitian ini diharapkan perusahaan dapat mempertimbangkan
diterapkannya Corporate Social Responsibility dan Good Corporate
15
Governance yang dapat berpengaruh terhadap penghindaran pajak
perusahaan sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat
atas perencanaan pajaknya.
b. Kontribusi Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan informasi
mengenai pengaruh Corporate Social Responsibility dan Good Corporate
Governance terhadap penghindaran pajak. Selain itu penelitian ini
diharapkan dapat memberikan referensi dan acuan bagi penelitian
selanjutnya yang mengangkat topik yang sama.
c. Kontribusi Kebijakan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan evaluasi dan
masukan
kepada
Direktorat
Jenderal
Pajak
mengenai
fenomena
penghindaran pajak yang banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan
besar dan kebijakan perusahaan di masa yang akan datang.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Agar dapat mengarah ke pembahasan dan tidak meluas sehingga tidak
menyimpang dari materi-materi pokoknya, dalam penelitian ini peneliti
membatasi permasalahan pada pengaruh Corporate Social Responsibility dan
Good Corporate Governance (yang diproksikan komisaris independem, komite
audit dan kualitas audit) terhadap penghindaran pajak pada perusahaan
multinasioanal sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode
2012-2015.
Download