30 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KERJA

advertisement
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KERJA, PERLINDUNGAN
HUKUM DAN TENAGA KONTRAK
2.1 Perjanjian Kerja
2.1.1 Pengertian Perjanjian Kerja
Secara yuridis, pengertian perjanjian diatur dalam Pasal 1313 KUH
Perdata, yang berbunyi: “Perjanjian adalah suatu perbuatan yang mana
satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih
lainnya”. Selanjutnya perjanjian yang dalam bahasa belanda disebut
arbeldsoverenkoms, mempunyai beberapa pengertian, Undang–Undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 angka 14
memberikan pengertian yakni: “Perjanjian kerja adalah perjanjian antara
pekerja/buruh dan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syaratsyarat kerja hak dan kewajiban kedua belah pihak”.
Wirdjono Prodjodikoro sesuai Pasal 1601 huruf a menyebut
tentang perjanjian perburuhan30. Sedangkan Soebekti ada menyebut
tentang Perjanjian Perburuhan yang sejati31. Pengertian perjanjian kerja
yang umum, dapat dilihat dalam Pasal 1601 huruf a KUH Perdata
memberikan pengertian sebagai berikut: “Perjanjian kerja adalah
30
Wirjono Prodjodikno, 1981, Hukum Perdata Tetang Persetujuan-Persetujuan Tertentu,
Cet. VII, Sumur-Bandung. h. 67.
31
Soebekti, 1960, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Cet. V, Penerbit CV. Pembimbing
Masa, Jakarta. h. 131.
30
31
perjanjian dimana pihak kesatu (buruh), mengikatkan dirinya untuk
dibawah perintah pihak lain (simajikan) untuk suatu waktu tertentu
melakukan pekerjaan dengan menerima upah”.
Selanjutnya, Pasal 1601 KUH Perdata huruf b, menentukan tentang
Persetujuan pemborongan kerja adalah “suatu persetujuan bahwa pihak
kesatu, yaitu pemborong, mengikatkan diri untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan bagi pihak lain, yaitu pemberi tugas, dengan harga yang telah
ditentukan”.
Selain pengertian normatif seperti di atas Imam Soepomo
berpendapat, bahwa perjanjian kerja adalah suatu perjanjian dimana
pihak kesatu (pekerja/buruh), mengikatkan diri untuk bekerja dengan
menerima upah dan pihak kedua yakni majikan/pengusaha mengikatkan
diri untuk memperkerjakan pekerja dengan membayar upah32.
2.1.2 Syarat Sahnya Perjanjian Kerja
Sebagai bagian dari perjanjian pada umumnya, maka perjanjian
kerja harus memenuhi syarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 52 ayat (1) menyatakan:
Perjanjian kerja dibuat atas dasar:
a. Kesepakatan kedua belah pihak;
b. Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum;
c. Adanya pekerjaan yang diperjanjikan; dan
32
Zainal Asikin. op.cit. h. 51.
32
d. Pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban
umum, kesusilaan.
Selanjutnya KUH Perdata juga mengatur syarat sahnya perjanjian
dalam Pasal 1320 KUH Perdata yaitu:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan
3. Suatu hal tertentu
4. Kausa yang halal.
Pasal 1338 KUH perdata juga berkaitan dengan suatu perjanjian
yaitu berbunyi: “Suatu perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai
undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua
belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang
dinyatakan cukup untuk itu. Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan
itikad baik.
2.1.3 Unsur-Unsur Dalam Perjanjian Kerja
Berdasarkan Pasal 52 ayat (c) Undang-Undang Nomor 13 Tahun
2003, Suatu Perjanjian harus mempunyai pekerjaan yang diperjanjikan.
Hal tersebut mengandung makna bahwa yang diperjanjiakan dalam suatu
perjanjian kerja harus mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah33.
33
Hidayat Muharam, 2006, Panduan Memahami Hukum Ketenagakerjaan Serta
Pelaksanaan Di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 4.
33
1. Adanya unsur work atau pekerjaan
Suatu perjanjian kerja tersebut haruslah ada suatu pekerjaan yang
diperjanjikan dan dikerjakan sendiri oleh pekerja yang membuat
perjanjian kerja tersebut, pekerjaan mana yaitu yang dikerjakan oleh
pekerja itu sendiri, haruslah berdasarkan dan berpedoman pada
perjanjian kerja. Pasal 1603 a KUHPer menyatakan “Buruh Wajib
melakukan sendiri pekerjaannya; hanya dengan seizin majikan dapat
menyuruh orang ketiga menggantikannya”.
2. Adanya Service atau pelayanan
Pasal 1603 b KUHPer, Pekerja wajib melakukan pekerjaan yang
dilakukan sebagai manifestasi adanya perjanjian kerja tersebut,
pekerja haruslah tunduk pada perintah orang lain, yaitu pihak pemberi
kerja dan harus tunduk dan di bawah perintah orang lain, si majikan.
Dengan adanya ketentuan tersebut, menunjukkan bahwa si pekerja
dalam melaksanakan pekerjaanya berada di bawah wibawa orang lain
yaitu si majikan.
3. Adanya unsur upah
Dilihat dalam Pasal 1 angka 30 Undang-Undang 13 Tahun 2003
menyatakan definisi dari Upah adalah hak pekerja atau buruh yang
diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari
pengusaha atau pemeberi kerja kepada pekerja atau buruh yang
ditetapkan dan dibayarakan menurut
suatu perjanjian kerja,
kesepakatan atau peraturan perundang-undangan termasuk tunjangan
34
bagi pekerja atau buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan atau
jasa yang telah atau akan dilakukan.
2.1.4 Pembagian Perjanjian Kerja
Pada dasarnya perjanjian kerja dibuat tidak dipersyaratkan dalam
bentuk tertentu apakah dalam bentuk tertulis atau tidak tertulis. Jadi
seperti perjanjian lainnya, bentuk perjanjian kerja adalah bebas.
Perjanjian lisan lazimnya dilakukan di masyarakat adat untuk ikatan
hukum yang sederhana, misalnya perjanjian “pengadasan ternak”
sedangkan perjanjian tertulis lazimnya dilakukan di masyarakat yang
sudah modern, berkaitan dengan bisnis yang hubungan hukumnya
kompleks. Perjanjian tertulis untuk hubungan bisnis lazimnya disebut
dengan kontrak.
Selanjutnya perjanjian kerja dapat dibagi menjadi:
a. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu;
Pengertian Perjanjian Kerja Waktu Tertentu terdapat di Pasal 1603 e
ayat (1) KUH Perdata yang mengatur mengenai perjanjian kerja untuk
waktu tertentu: “Hubungan kerja berakir demi hukum jika habis
waktunya yang ditetapkan dalam perjanjian atas peraturan-peraturan
atau dalam peraturan perundang-undangan atau jika semua itu tidak
ada menurut kebiasaan”.
Jelaslah bahwa yang dinamakan perjanjian kerja untuk waktu tertentu
dibagi pula menjadi 3 yaitu:
35
1. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dimana waktu berlakunya
ditentukan menurut perjanjian, misalnya dalam perjanjian kerja
tertulis untuk waktu 2 tahun dan sebagainya atau sampai proyek
selesai.
2. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dimana waktu berlakunya
ditentukan menurut undang-undang, misalnya bila pengusaha
mempekerjakan tenaga asing, dalam perjanjian kerja tertulis untuk
waktu sekian tahun dan sebaginya menurut ijin yang diberikan
oleh menteri tenaga kerja atas dasat Undang-Undang Nomor 3
tahun 1958 tentang penempatan tenaga kerja asing.
3. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dimana waktu berlakunya
ditentukan menurut kebiasaan, misalnya diperkebunan terdapat
pekerja pemetik kopi, jangka waktu perjanjian kerja ditentukan
oleh musim kopi. Musim kopi hanya berlangsung beberapa bulan
dan setelah musim kopi selesai maka perjanjian kerja dianggap
telah berakhir.
b. Perjanjian Kerja untuk Waktu Tidak Tertentu
Perjanjian kerja untuk waktu tertentu diatur dalam Pasal 1603 huruf q
ayat (1) KUH Perdata yang menyatakan bahwa jika waktu lamanya
hubungan kerja tidak ditentukan baik dalam perjanjian atau peraturan
majikan, maupun dalam peraturan perundang-undangan ataupun pula
menurut kebiasaan, maka hubungan kerja itu dipandang diadakan
untuk waktu tidak tertentu. Dengan dimikian yang dinamakan
36
perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu adalah perjanjian kerja
dimana waktu berlakunya tidak ditentukana baik dalam perjanjian,
undang-undang ataupun dalam kebiasaan.
2.2 Perlindungan Hukum
2.2.1 Pengertian Perlindungan Hukum
Menurut Satjipto Raharjo perlindungan hukum adalah upaya
melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu
kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya
tersebut34.
Perlindungan hukum merupakan perlindungan yang diberikan
kepada subyek-subyek hukum dalam bentuk perangkat hukum baik yang
tertulis maupun tidak tertulis, yang pada karya ilmiah ini akan lebih
difokuskan pada perlindungan hukum terhadap pemenuhan hak-hak
kesehatan dan kesalamatan tenaga kontrak sebagai mana telah diatur
dalam Undng-Undang.
2.2.2 Pengertian Perlindungan Hukum Ketenagakerjaan
Suatu bentuk pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh perusahaan
terhadap tenaga kerja, untuk memberi keharmonisan dalam bekerja.
Perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hakhak dasar pekerja dan menjamin kesetaraan serta perlakuan tanpa
diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja
34
Satijpto Raharjo, 2003, Sisi–sisi lain dari hukum di indonesia, Kompas, Jakarta, h. 121.
37
dan keluarganya, dengan tetap melihat perkembangan kemajuan dunia
usaha dan kepentingan perusahaan.
Menurut Kartasapoetra dan Indraningsih sebagaimana dikutip Asikin
maka perlindungan pekerja ini mencakup35:
a. Norma Keselamatan Kerja: yang meliputi keselamatan kerja yang
bertalian dengan mesin, pesawat, alat-alat kerja bahan dan proses
pengerjaannya, keadaan tempat kerja dan lingkungan serta cara-cara
melakukan pekerjaan;
b. Norma Kesehatan Kerja dan Heigiene Kesehatan Perusahaan yang
meliputi: pemeliharaan dan mempertinggi derajat kesehatan pekerja,
dilakukan dengan mengatur pemberian obat-obatan, perawatan tenaga
kerja yang sakit;
c. Norma Kerja yang meliputi: perlindungan terhadap tenaga kerja yang
bertalian dengan waktu bekerja, system pengupahan, istirahat, cuti,
kerja, wanita, anak, kesusilaan menurut agama keyakinan masingmasing
yang
diakui
oleh
pemerintah,
kewajiban
sosial
kemasyarakatan dan sebagainya guna memelihara kegairahan dan
moril kerja yang menjamin daya guna kerja yang tinggi serta menjaga
perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral;
d. Norma Kecelakaan Kerja meliputi: Tenaga Kerja yang mendapat
kecelakaan dan/atau menderita penyakit kuman akibat pekerjaan,
berhak atas ganti rugi perawatan dan rehabilitasi akibat kecelakaan
35
Zainal Asikin, op.cit. h. 96.
38
dan atau penyakit akibat pekerjaan, ahli warisnya berhak mendapat
ganti kerugian.
Sedangkan menurut Imam Soepomo membagi perlindungan pekerja ini
menjadi 3 (tiga) macam yaitu:
a. Perlindungan ekonomis, yaitu suatu jenis perlindungan yang
berkaitan dengan usaha-usaha untuk untuk memberikan kepada
pekerja suatu penghasilan yang cukup memenuhi keperluan seharihari baginya beserta keluarganya, termasuk dalam hal pekerja
tersebut tidak mampu bekerja
sesuatu
diluar
kehedaknya.
Perlindungan ini disebut jaminan sosial.
b. Perlindungan sosial, yaitu suatu perlindungan yang berkaitan
dengan usaha kemasyarakatan, yang tujuannnya memungkinkan
pekerja itu mengenyam dan memperkembangkan prikehidupannya
sebagai manusia pada umumnya, dan sebagai anggota masyarakat
dan anggota keluarga; atau yang biasa disebut dengan kesehatan
kerja.
c. Perlindungan Teknis, yaitu suatu jenis perlindungan yang berkaitan
dengan usaha-usaha untuk menjaga pekerja dari bahaya kecelakaan
yang dapat ditimbulkan oleh pesawat-pesawat atau alat kerja
lainnya atau oleh bahan yang diolah atau dikerjakan perusahaan;
atau yang biasa disebut dengan keselamatan kerja36.
36
Zainal Asikin, Loc.Cit.
39
Berdasarkan pemberian perlindungan hukum bagi pekerja menurut Imam
Soepomo meliputi lima bidang hukum perburuhan, yaitu37:
a. Bidang pengerahan/penempatan tenaga kerja
Perlindungan hukum yang dibutuhkan oleh pekerja sebelum ia
menjalani hubungan kerja. Masa ini sering disebut dengan masa pra
penempatan atau pengerahan.
b. Bidang hubungan kerja
Masa yang dibutuhkan oleh pekerja sejak ia mengadakan hubungan
kerja dengan pengusaha. Hubungan kerja itu didahului oleh perjanjian
kerja. Perjanjian kerja dapat dilakukan dalam batas waktu tertentu
atau tanpa batas waktu yang disebut dengan pekerja tetap.
c. Bidang kesehatan kerja
Selama menjalin hubungan kerja yang merupakan hubungan hukum,
pekerja harus mendapat jaminan atas kesehatan tubuhnya dalam
jangka waktu yang relatif lama.
d. Bidang keamanan kerja
Adanya perlindungan hukum bagi pekerja atas alat-alat kerja yang
dipergunakan oleh pekerja. Dalam waktu relatif singkat atau lama
akan aman dan ada jaminan keselamatan bagi pekerja. Dalam hal ini
negara mewajibkan kepada pengusaha untuk menyediakan alat
keamanan kerja bagi pekerja.
37
Asri Wijayanti, 2009, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Sinar Grafika,
Surabaya, h. 11.
40
e. Bidang jaminan sosial buruh
Telah diundangkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang
Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
2.2.3 Jenis Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu38:
1. Perlindungan Hukum Preventif
Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk
mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam
peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah
suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasanbatasan dalam melakukan suatu kewajiban.
2. Perlindungan Hukum Represif
Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa
sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang
diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu
pelanggaran.
2.3 Tenaga Kontrak
2.3.1 Pengertian Tenaga Kontrak
Penegertian Tenaga kontrak adalah tenaga kontrak yang bekerja
pada suatu instansi dengan kerja waktu tertentu yang didasari atas suatu
perjanjian atau kontrak dapat juga disebut dengan perjanjian kerja waktu
tertentu. Pengaturan lebih lanjut PKWT dijabarkan di dalam Keputusan
38
Musrihah, loc.it.
41
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia (selanjutnya
disingkat
Kepmenakertrans):
KEP.100/MEN/VI/2004
Tentang
Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu.
2.3.2 Syarat Kerja Kontrak
Adapun syarat-syarat untuk melakukan kerja kontrak adalah
sebagai berikut:
1. Perjanjian Kerja Kontrak harus ditulis dan harus menggunakan
bahasa Indonesia sesuai dalam Pasal 57 ayat 1 Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai berikut:
”perjanjian kerja untuk waktu tertentu dibuat secara tertulis serta
harus menggunakan Bahasa Indonesia dan huruf latin.”
2. Perjanjian Kerja Kontrak yang tidak dibuat tertulis dianggap sebagai
Perjanjian Kerja untuk Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) dengan
demikian pekerja menjadi pekerja tetap di perusahaan tersebut
sesuai dalam Pasal 57 ayat 2 Undang-undang Nomor 13 tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan sebagai berikut: perjanjian kerja untuk
waktu tertentu yang dibuat tidak tertulis bertentangan dengan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dinyatakan sebagai
perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu.
3. Perjanjian Kerja Kontrak tidak mempersyaratkan adanya masa
percobaan sesuai dalam Pasal 58 ayat 1 Undang-Undang Nomor 13
tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai berikut: ”perjanjian
kerja untuk waktu tertentu tidak dapat mensyaratkan adanya masa
percobaan kerja.”
42
4. Apabila dalam Perjanjian Kerja Kontrak ditetapkan masa percobaan
maka akan batal demi hukum sesuai dalam Pasal 58 ayat 2 Undangundang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai
berikut: ”dalam hal disyaratkan masa percobaan kerja dalam
perjanjian kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), masa
percobaan kerja yang disyaratkan batal demi hukum.”
5. Perjanjian Kerja Kontrak tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang
bersifat terus-menerus atau tidak terputus-putus, sesuai dalam Pasal
56 ayat (1) dan (2) Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan sebagai berikut: ”perjanjian kerja dibuat untuk
waktu tertentu atau untuk waktu tidak tertentu. Perjanjian kerja
untuk waktu tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
didasarkan atas: jangka waktu; atau selesainya suatu pekerjaan
tertentu.”
Adapun ciri-ciri pekerjaan yang dapat dibuat Perjanjian Kerja untuk
Kontrak adalah sebagai berikut:
1. Jangka waktu pekerjaan tersebut tertentu atau terbatas
2. Jenis pekerjaan yang dilaksanakan oleh pekerja/buruh adalah tertentu
bersifat, jenisnya dan kegiatanya selesai dalam jangka waktu tertentu
3. Pekerjaan yang bukan merupakan kegiatan pokok dari suatu
perusahaan atau hanya merupakan pekerjaan penunjang atau
tambahan
43
4. Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru atau kegiatan baru
atau tambahan yang dalam percobaan atau penjajakan.
Adapun masa berakhirnya Perjanjian Kerja untuk Kontrak adalah
sebagai berikut:
1. Untuk Perjanjian Kerja untuk Kontrak adalah yang sekali selesai dan
predictable maka perjanjian kerja untuk waktu tertentu diadakan
untuk paling lama dua tahun dan hanya boleh diperpanjang satu kali
untuk jangka waktu paling lama satu tahun. Pembaruan perjanjian
kerja untuk waktu tertentu hanya dapat diadakan satu kali dan paling
lama dua tahun.
2. Apabila perjanjian kerja untuk kontrak diakhiri oleh salah satu pihak
sebelum berakhirnya perjanjian kerja untuk kontrak, maka pihak
yang mengakhiri harus mengganti rugi sebesar upah pekerja sampai
berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja dan sebaliknya jika
kewajiban ganti rugi itu tidak terjadi apabila pekerjaan yang
diprediksikan untuk jangka waktu tertentu lebih cepat diselesaikan.
Bila demikian maka perjanjian kerja untuk kontrak dibuat akan
berakhir dengan sendirinya sesuai dalam Pasal 62 ayat (1) UndangUndang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai
berikut: ”apabila salah satu pihak mengakhiri hubungan kerja
sebelum berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian
kerja waktu tertentu, atau berakhirnya hubungan kerja bukan karena
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1), pihak
44
yang mengakhiri hubungan kerja diwajibkan membayar ganti rugi
kepada pihak lainnya sebesar upah pekerja/buruh sampai batas waktu
berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja.”
Jika sampai perjanjian kerja untuk kontrak itu pekerjaan belum
selesai juga selesai maka dapat dilakukan pembaharuan perjanjian kerja
untuk kontrak¸ pembaharuan perjanjian kerja untuk kontrak tersebut
dapat dilakukan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 hari setelah
berakhirnya perjanjian kerja. Konsekuensinya selama 30 hari masa
tenggang waktu tidak ada hubungan kerja antara pekerja dengan
pengusaha.
Download