9 BAB II LANDASAN TEORI A. Penelitian yang Relevan Penelitian

advertisement
9
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian yang Relevan
Penelitian dengan judul Analisis Makna Pada Slogan Stasiun Televisi
Nasional di Indonesia pernah dilakuka oleh Siswoko Aji (2015). Penelitian yang
dilakukan oleh Siswoko Aji bertujuan (1) mendeskripsikan jenis makna dari slogan
yang dimiliki oleh stasiun televisi nasional di Indonesia, dan (2) mendeskripsikan
faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan makna yang terdapat pada slogan stasiun
televisi nasional di Indonesia. Landasan teori dalam penelitian tersebut adalah (1)
bahasa, (2) wacana, (3) semantik, (5) makna, dan (6) slogan. Metode penelitian
tersebut menggunakan metode deskriptif kualitatif. Datanya berupa slogan yang
terdapat pada 10 stasiun televisi nasional di Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian milik Siswoko Aji, peneliti belum pernah
menemukan penelitian mengenai
Kajian Semantik pada Slogan Iklan Minuman
Energi di Laman Youtube. Dengan demikian, maka peneliti melakukan penelitian
mengenai makna dalam slogan iklan minuman energi di laman Youtube. Perbedaan
penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu pada tujuan penelitian, landasan
teori, dan sumber data. Dalam penelitian ini tujuanya adalah (1) menjelaskan makna
kontekstual yang terdapat dalam wacana slogan iklan minuman energi di laman
Youtube, dan (2) menemukan proses semiosis tanda dalam wacana slogan iklan
mnuman energi di laman Youtube. Landasan teori penelitian ini adalah (1) bahasa, (2)
semantik), (3) tanda, (4) makna kontekstual, (5) iklan, dan (6) slogan. Sumber data
dalam penelitian ini adalah tayangan mengenai slogan yang diambil dari laman
Youtube.
9
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
10
B. Semantik
1.
Pengertian Semantik
Menurut Chaer (2009: 2) kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris:
semantics) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda yang berarti “tanda” atau
“lambang”). Kata kerjannya adalah semanio yang berarti “menandai” atau “
melambangkan”. Aminuddin (2011: 15) juga berpendapat bahwa semantik berasal
dari bahasa Yunani yang mengandung makna to signify atau memakai. Semantik
sebagai istilah teknis juga mengandung pengertian “study tentang makna”, dengan
anggapan bahwa menjadi bagian dari bahasa, maka semantik merupakan bagian dari
linguistik. Pateda (2010: 2) mengungkapkan bahwa kata semantik merupakan istilah
teknik yang mengacu pada study tentang makna ( arti, Inggris: meaning ). Istilah ini
merupakan istilah
baru
dalam
bahasa
Inggris.
Kridalaksana
(2011: 216)
mengemukakan bahwa semantik adalah 1) bagian struktur bahasa yang berhubungan
dengan makna ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu wicara, 2) sistem dan
penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa atau pada umumnya. Menurut
Verhaar (2012: 13) semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau
makna.
Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa semantik adalah
struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkap dan makna wicara.
Semantik juga dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau arti. Semantik
merupakan cabang linguistik tentang makna yang berarti
menandai
atau
melambangkan. Objek semantik yakni makna. Semantik juga mempunyai hubungan
yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya. Semantik akan selalu
berkaitan dengan keadaan sosial untuk mempengaruhi perkembangan bahasa.
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
11
2.
Manfaat Semantik
Penelitian ini akan membahas beberapa hal guna memberikan gambaran.
Gambaran yang dimaksud adalah gambaran terhadap makna dari slogan iklan. Fokus
penelitian ini adalah semantik (makna), khususnya makna kontekstual (makna
situasional) dalam bahasa iklan minuman energi di laman Youtube. Melalui kajian
semantik ini, penulis dapat mengetahui suatu makna dalam konteks bahasa iklan
melalui penganalisisan bahasanya. Kesimpulannya adalah informasi yang diperoleh
melalui penganalisisan ini secara tidak langsung akan sampai kepada pembaca.
Chaer (2009: 12) menyebutkan bahwa pengetahuan semantik, akan memberi
manfaat teoretis juga manfaat praktis. Bagi seorang guru, secara teoretis semantik
akan sangat bermanfaat bagi pengajaran, memahami dengan lebih baik bahasa yang
akan diajarkannya itu. Sedangkan manfaat praktisnya akan diperoleh berupa
kemudahan bagi dirinya dalam mengajarkan bahasa itu kepada murid-muridnya. Bagi
mereka yang berkecimpung di dunia jurnalistik, pengetahuan tentang semantik akan
bermanfaat bagi mereka. Pengetahuan semantik akan memudahkannya dalam memilih
dan menggunakan kata dengan makna yang tepat dalam menyampaikan informasi
kepada masyarakat.
Adapun manfaat semantik bagi orang awam, memang bagi orang-orang awam
atau bagi orang-orang kebanyakan pada umumnya, pengetahuan yang luas akan teori
semantik tidaklah diperlukan kecuali dasar-dasar semantik. Pemakaian dasar-dasar
semantik tentunya masih diperlukan untuk dapat memahami dunia di sekelilingnya
yang penuh dengan informasi dan lalu lintas kebahasaan. Semua informasi yang ada
di sekelilingnya harus mereka serap, baik melalui bahasa maupun melalui dunia
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
12
lingual. Informasi yang masyarakat peroleh akan membatu mereka untuk
mendapatkan pengetahuan yang baru. Manusia sebagai makhluk bermasyarakat tidak
mungkin mereka bisa hidup tanpa memahami alam sekeliling mereka yang
berlangsung melalui bahasa.
3.
Semantik dan Makna
Istilah semantik tentu tidak lepas dari makna, karena makna merupakan objek
kajian semantik. Makna yang dimaksud tentunya berkaitan dengan makna dari satuansatuan bahasa, seperti kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Definisi ini sejalan
dengan pandangan Ferdianand de Saussure tentang konsep makna, yakni makna
adalah “pengertian” atau “konsep” yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda
linguistik. Menurut Aminuddin, (2008: 52) pada dasarnya, “makna” bermula dari
“kata”. Selain bermula dari kata, makna juga memiliki huubungan erat dengan (1)
sistem sosial budaya maupun realitas luar yang diacu, (2) pemakai, (3) konteks sosial
situasional dalam pemakaian. Kesimpulannya pengertian makna dapat dibatasi
sebagai hubungan antara bahasa dan dunia luar yang telah disepakati bersama oleh
para pemakai bahasa sehingga dapat saling mengerti (Grice dalam Aminuddin, 2008:
53).
Pateda (2010: 96) mengemukakan beberapa pendapat mengenai jenis atau tipe
makna. Palmer (1976: 34) mengemukakan jenis-jenis makna: (1) makna kognitif
(cognitive meaning), (2) makna ideasional (ideational meaning), (3) makna denotasi
(denotasional meaning), (4) makna proposisi (propositional meaning). Verhaar (1983:
124) mengemukakan istilah makna gramatikal dan makna leksikal. Boomfield (1933:
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
13
151) mengemukakan istilah makna sempit (narrowed meaning), dan makna luas
(widened mening). Menurut Chaer, (2009: 59) mengemukakan jenis-jenis makna: (1)
makna leksikal dan gramatikal, (2) makna referensial dan nonreferensial, (3) makna
denotasi dan makna konotasi, (4) makna umum dan makna khusus, (5) makna
konseptual dan makna asosiatif, (6) makna idiomatikal dan makna peribahasa, (7)
makna kias.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diambil sebuah simpulan bahwa
makna adalah denotasi. Makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata.
Maksudnya adalah makna dengan bendanya saling bertautan dan saling menyatu.
Suatu kata tidak bisa dihubungkan jika tanpa ada bendanya, peristiwa atau keadaan
tertentu maka tidak bisa memperoleh makna dari kata itu. Makna adalah pengertian
atau konsep yang terdapat pada tanda linguistik, yang memiliki hubungan dengan
sistem sosial budaya, pemakai, dan konteks sosial-situasional.
C. Makna Kontekstual
1.
Pengertian Makna Kontekstual
Makna yang timbul akibat adanya hubungan antara konteks sosial dan
situasional dengan bentuk ujaran disebut makna kontekstual (Aminuddin, 2008: 92).
Lebih lanjut, makna juga dapat ditentukan oleh konteks pemakaiannya. Konteks
pemakaiannya tersebut dapat berupa konteks sosial maupun situasional, sesuai dengan
permunculan dengan ujaran dalam pemakaian ataupun tindak komunikasi. Konteks
dalam komunikasi yang diungkapkan oleh Talmy Givon dibedakan antara konteks
generik dan konteks spesifik. Konteks generik adalah konteks yang bersifat umum
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
14
yang keberadaan, ciri, maupun penyikapan terhadapnya telah disadari oleh anggota
suatu masyarakat. Sementara konteks spesifik adalah konteks yang secara khusus
memperoleh perhatian interlokutor karena memiliki hubungan dengan situasi dan
peristiwa tuturan yang dilaksanakan (Givon dalam Aminuddin, 2008: 93). Konteks
memasukan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi
pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasai dimana teks tersebut
diproduksi, fungsi yang dimaksudkan, dan sebagiannya (Sobur, 2009:56).
Makna kontekstual adalah makna yang didasarkan atas hubungan antara ujaran
dan situasi pemakaian ujaran itu. Makna kontekstual merupakan makna sebuah
leksem atau kata yang berada dalam suatu konteks. Konteks juga berkenaan dengan
situasinya yakni tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa. Makna
kontekstual (contextual meaning) atau makna situasional (situational meaning)
muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan konteks. Konteks berwujud dalam
banyak hal. Konteks yang dimaksud yakni: (1) konteks orangan, termasuk disini hal
yang berkaitan dengan jenis kelamin, kedudukan pembicara, usia pembicara/
pendengar, latar belakang sosial ekonomi pembicara/pendengar (2) konteks situasi,
misalnya situasi aman, situasi ribut (3) konteks tujuan, misalnya meminta,
mengharapkan sesuatu (4) konteks formal/tidaknya pembicaraan (5) konteks suasana
hati pembicara/pendengar, misalnya takut, gembira, jengkel (6) konteks waktu,
misalnya malam, setelah magrib (7) konteks tempat, apakah tempatnya di sekolah, di
pasar, di depan bioskop (8) konteks objek, maksudnya apa yang menjadi fokus
pembicara (9) konteks alat kelengkapan bicara/dengar pada pembicara/pendengar (10)
konteks kebahasaan, maksudnya apakah memenuhi kaidah bahasa yang digunakan
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
15
oleh kedua belah pihak dan (11) konteks bahasa, yakni bahasa yang digunakan
(Pateda, 2010: 116).
Menurut Syafi‟e (dalam Sobur, 2009: 57) pada dasarnya konteks pemakaian
bahasa dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu: (1) Konteks fisik (physical
context) yang meliputi tempat terjadinya pemakaian bahasa dalam suatu komunikasi,
objek yng disajikandalam peristiwa komunikasi itu, dan tindakan atau perilaku dari
para peran dalam peristiwa komunikasi itu (2) Konteks Epistemis (epistemic context)
atau latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh pembicara maupun
pendengar (3) Konteks linguistik (linguistic context) yang terdiri atas kalimat-kalimat
atau tuturan-tuturan yang mendahului satu kalimat atau tuturan tertentu dalam
peristiwa komunikasi (4) Konteks sosial (social context) yaitu relasi sosial dan latar
setting yang melengkapi hubungan antara pembicara (penutur) dengan pendengar.
Pengkajian penelitian ini, peneliti lebih condong dalam pandangan Pateda.
Menurutnya bahwa makna kontekstual (contextual meaning) atau makna situasional
(situational meaning) muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan konteks.
Konteks yang dimaksud disini, yakni kedudukan pembicara, usia pembicara/
pendengar, latar belakang sosial ekonomi pembicara/pendengar. Konteks tujuan,
misalnya meminta, mengharapkan sesuatu. Konteks waktu, misalnya malam, setelah
magrib. Konteks tempat, apakah tempatnya di sekolah, di pasar, di depan bioskop.
Konteks objek, maksundanya apa yang menjadi fokus pembicaraan dan konteks
bahasa, yakni bahasa yang digunakan.
2.
Jenis Makna Kontekstual
Pateda, (2010: 116) menyebutkan bahwa konteks (kontekstual) dibagi menjadi
beberapa jenis yaitu:
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
16
a.
Konteks Orangan
Konteks orangan memaksa pembicara untuk mencari kata-kata yang maknanya
dipahami oleh kawan bicara. Maksudnya adalah sesuai dengan jenis kelamin. Tidak
hanya terpaku pada jenis kelamin faktor usia juga mempengaruhi. Latar belakang
sosial ekonomi juga sebagai faktor penting. Tidak lupa latar belakang pendidikan juga
sensitif dalam konteks orangan. Sulit bagi kita mengharapkan pemahaman tentang
makna demokrasi bagi seseorang yang berpependidikan SD.
b.
Konteks Situasi
Konteks situasi memaksa pembicara mencari kata yang maknanya berkaitan
dengan situasi. Misalnya situasi kedukaan akan memaksa orang untuk mencari kata
yang berkaitan dengan situasi itu. Orang akan menggunakan kata yang maknaya ikut
bersedih, kasihan, sayang. Orang tidak akan memilih kata yang menyinggung
perasaan yang kedukaan. Orang tidak akan berkata, “Yang meninggal ini berutang
kepada saya” oleh karena kata berutang menusuk perasaan orang yang berduka.
c.
Konteks Tujuan
Konteks tujuan merupakan upaya seseorang untuk menggapai, memberitahu,
meminta, dan memerintah lawan bicara/pendengar untuk melakukan sesuatu. Konteks
tujuan tidak memandang apapun. Maksudnya dalam mencapai tujuan tidak ada
batasan untuk teracu pada sebuah tujuan saja. Konteks tujuan, misalnya tujuan untuk
meminta. Orang yang mempunyai tujuan untuk meminta akan mencari kata-kata yang
maknanya meminta itu sebabnya orang akan berkata “Saya minta roti”.
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
17
d.
Konteks Formal
Konteks formal/tidaknya pembicaraan memaksa orang harus mencari kata
yang bermakna sesuai dengan keformalan/tidaknya pembicaraan. Misalnya dalam BI
ada kata ditolak. Dalam situasi tidak formal, orang dapat berkata “Usulmu ditolak”,
namun dalam situasi formal, orang terpaksa harus berkata: Usulmu perlu dipikirkan
masak-masak; usulmu masih memerlukan penelitian; dipertimbangkan dulu.
Mengapa? Kalau digunakan ditolak, rasanya kurang sopan jika dibandingkan
dengan urutan kata dipikirkan masak-masak, memerlukan penelitian, perlu
dipertimbangkan. Makna kata ditolak rasanya kasar, karena itu menyinggung perasaan
si pengusul.
e.
Konteks Suasana Hati
Konteks suasana hati pembicara/pendengar turut mempengruhi kata yang
berakibat pula pada makna. Misalnya suasana hati yang jengkel akan memungkinkan
kata-kata yang bermakna jengkel pula. Seseorang yang suasana hatinya sedang tidak
baik dan terganggu biasanya akan mengeluarkan kata-kata kasar. Itu sebabnya akan
muncul kata-kata anjing kau. Sebaliknya jika suasana hari sedang bergembira akan
memungkinkan kata-kata bermakna gembira pula. Itu sebabnya akan muncul kata asik
sekali.
f.
Konteks Waktu
Konteks waktu adalah konteks yang meninjau waktu atau kapan kejadian suatu
peristiwa terjadi. Konteks waktu, pertama waktu akan tidur. Waktu saat-saat orang
akan bersantap. Jika waktu seseorang bertamu pada waktu seseorang akan beristirahat,
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
18
maka orang yang diajak bicara merasa kesal. Perasaan kesal itu akan terlihat dari
makna kata-kata yang digunakannya. Misalnya ia akan berkata “Persoalan ini akan
kita bicarakan lagi, ya?” atau “Saudara kembali dulu”. Urutan kata akan kita
bicarakan lagi, saudara kembali dulu menyatakan makna kejengkelan.
g.
Konteks Tempat
Konteks tempat adalah konteks yang meninjau lokasi. Maksudnya adalah
tempat terjadinya sebuah peristiwa. Konteks tempat sangat mempengaruhi keabsahan
suatu peristiwa. Konteks tempat, misalnya di pasar, di depan bioskop, semuanya akan
turut mempengaruhi kata yang digunakan atau turut mempengaruhi makna kata yang
digunakan. Di tempat-tempat itu, orang akan mencari kata yang bermakna biasa-biasa,
misalnya makna berhubungan degan informasi.
h. Konteks Objek
Objek adalah alat yang dijadikan acuan dalam mengutarakan sesuatu. Konteks
objek yang mengacu kepada fokus pembicaraan akan turut mempengaruhi makna kata
yang digunakan. Konteks objek tergantung kepada masing-masing orang. Misalnya
fokus pembicaraan adalah soal ekonomi. Orang akan mencari kata-kata yang
maknanya berkaitan dengan ekonomi.
i.
Konteks Kelengkapan
Konteks kelengkapan alat bicara/dengar akan turut mempengaruhi makna kata
yang digunakan. Misalnya orang yang tidak normal alat bicaranya melafalkan kata
tumpul dalam kalimat “Pinsil ini tumpul”. Kata tumpul dilafalakan tumpu, sehingga
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
19
kalimat tadi dilafalkan “Pinsil itu tumpu”. Apakah akibatnya? Akibatnya kawan bicara
tidak mengerti isi kalimat, sebab makna kata tumpu tidak dipahami. Sebaliknya,
seseorang menjawab pertanyaan atau memerintah. Kalimat yang digunakan, yakni
“Cari!” kawan bicara karena alat pendengarannya kurang baik, kata terdengar mari.
Apakah akibatnya? Kawan bicara mendekati pembicara. Pembicara akan bertannya
“Mengapa kau datang?” Kawan bicara menjawab “Kan... saya dipanggil... mari...
mari!” “Oh, bukan mari, tetapi cari, cari buku itu! Kata cari maknanya lain, kata mari
lain pula maknanya”.
j.
Konteks Kebahasaan
Konteks kebahasaan adalah konteks yang mengacu kepada kaidah kebahasaan.
Konteks kebahasaan, maksudnya hal-hal yang berhubungan dengan kaidah bahasa
yang bersangkutan akan turut mempengaruhi makna. Perlu diperhatikan dalam hal
tulis-menulis, yakni tanda-tanda baca dan diksi, sedangkan dalam komunikasi lisan
yang perlu diperhatikan, yakni unsur suprasegmental. Tanda baca sangat
mempengaruhi kata atau kalimat yang diungkapkan atau ditulis. Kata yang berbentuk
kata buku tidak dipahami maknanya, misalnya dalam wujud “Buku? Buku! Wujud
buku?” Adakah pertanyaan, sedangkan wujud “Buku!” Adalah perintah.
D. Tanda
1.
Pengertian Tanda
Tanda sebenarnya representasi dari gejala yang memiliki sejumlah kriteria
seperti: nama (sebutan), peran, fungsi, tujuan, keinginan. Tanda tersebut berada di
seluruh kehidupan manusia. Apabila tanda berada pada kehidupan manusia, maka ini
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
20
berarti tanda dapat pula berada pada kebutuhan manusia, dan menjadi sistem tanda
yang digunakannya sebagai pengatur kehidupannya. Oleh karenanya tanda-tanda itu
(yang berada dalam sistem tanda) sangatlah akrab dan bahkan melekat pada
kehidupan manusia yang penuh makna (meaningful action). Makna yang
dimaksudkan adalah seperti teraktualisasi pada bahasa, religi, seni, sejarah, ilmu
pengetahuan (Budianto dalam Sobur, 2009: 124).
Tanda terdapat dimana-mana: kata adalah tanda, demikian pula gerak isyarat,
lampu lalu lintas, bendera, dan sebagainya. Tanpa tanda tidak dapat berkomunikasi
(Sudjiman dalam Sobur, 2009: 124). Saussure meletakkan tanda dalam konteks
komunikasi manusia dengan melakukan pemilahan antara apa yang disebut signifer
(penanda) dan signifed (petanda). Signifer adalah bunyi yang bermakna atau coretan
yang bermakna (aspek material), yakni apa yang dikatakan dan apa yang ditulis atau
dibaca. Signifed adalah gambaran mental, yakni pikiran atau aspek mental dari bahasa.
Hubungan antara keberadaan fisik tanda dan konsep mentl tersebut dinamakan
signification. Dengan kata lain, signification adalah upaya dalam memberi makna
terhadap dunia (Fiske dalam Sobur, 2009: 125).
Menuurut Sobur (2009: 98), berdasarkan hubungan kenyataan dengan jenis
dasarnya tanda dibagi menjadi tiga yaitu: (1) Ikon (Icon), sesuatu yang melaksanakan
fungsi sebagai penanda yang serupa dengan bentuk objeknya (terlihat pada gambar
atau lukisan), (2) Indeks (Indeks), sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda
yang mengisyaratkan petandanya. Contohnya: asap sebagai tanda adanya api, (3)
Simbol (Symbol), sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang oleh
kaidah secara konvensi telah lazim digunakan dalam masyarakat. Eco (dalam Sobur,
2009: 133) dalam signifikasi yang terpenting adalah interpretan. Interpretan mencakup
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
21
tiga kategori tanda yaitu: (1) merupakan makna suatu tanda yang dilihat sebagai suatu
satuan budaya yang diwujudkan juga melalui tanda-tanda yang lain yang tidak
bergantung pada tanda pertama, (2) merupakan analisis komponen yang membagibagi suatu satuan budaya membagi komponen-komponen berdasarkan maknanya, dan
(3) setiap satuan yang membentuk makna satuan budaya itu dapat menjadi satuan
budaya sendiri yang diwakili oleh tanda lain yang juga bisa mengalami analisis
komponen sendiri dan menjadi bagian dari sistem tanda lain.
2.
Proses Semiosis Tanda
Hoed (dalam Sobur, 2009: 134) memberikan contoh menarik bagaimana suatu
lambang berkembang melalui proses semiosis yang mencoba memberi gambarang
tentang bagaimana komponen interpretan berkembang menjadi tanda baru setiap kali
sampai menimbulkan signifikasi, seperti contoh berikut ini:
Sabun mandi Lux
(gambar sabun bermerk Lux)
(Gambar wanita cantik, seorang bintang film)
Dipakai oleh sembilan dari sepuluh bintang film
Berapa tanda (kata dan gambar) pokok yaitu Lux, sembilan dari sepuluh, bintang film,
gambar sabun, dan gambar bintang film. Proses semiosis tanda yang terjadi pada
permainan iklan tersebut dapat digambarkan sebagai proses signifikasi empat tahap
yaitu:
1.
Proses Signifikasi Tahap 1
Sabun mandi “Lux”
/Lux/
“Sabun untuk mandi (bukan untuk mencuci pakaian)”
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
22
2.
Proses Signifikasi Tahap II
Sabun mandi bintang film
“Sabun untuk mandi istimewa karena
digunakan oleh sebagian besar bintang film‟
/Sabun untuk mandi/
3.
Proses Signifikasi Tahap III
Bintang film mandi
“Sebagian besar bintang film selalu
mandi dengan sabun Lux”
/Sabun mandi istimewa/
4.
Proses Signifikasi Tahap IV
Bintang film mandi dengan sabun Lux
“Jika mandi dengan sabun Lux,
saya
/Bintang film mandi dengan
Sabun Lux/seperti bintang film”
Setiap tanda adalah interpretan. Interpretan atau pengguna tanda adalah konsep
pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya kesuatu makna
tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk
sebuah tanda. Setiap tanda didahului suatu tanda, yakni mengembangkan tanda itu
sendiri. Ada unsur-unsur sebut saja unsur-unsur kontekstual yang pada dasarnya
merupakan prainterpretasi suatu tanda. Sebagian unsur-unsur itu konkret dan kelihatan
(Van Zoest dalam Sobur, 2009: 136).
E. Iklan
1.
Pengertian Iklan
Iklan adalah berita pesanan untuk mendorong, membujuk kepada khalayak
ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan, pemberitahuan kepada
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
23
khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di dalam media massa
(seperti surat kabar dan majalah) atau di tempat umum. Iklan adalah beritanya itu
sendiri, sedangkan periklanan adalah prosesnya yaitu suatu program kegiatan untuk
mempersiapkan berita tersebut dan menyebarluaskan kepada pasar (Swastha, 2009:
245). Iklan adalah sebuah karya kreatif yang menggunakan media audio visual dan
media verbal. Manipulasi kata-kata dan ungkapan dengan menggunakan media verbal
seringkali dilakukan secara leluasa sehingga dalam beberapa hal ada kecenderungan
melanggar kaidah kebahasaan yang berlaku. Wreight dalam Mulyana, (2005: 63-64)
menambahkan iklan merupakan proses berkomunikasi yang mempunyai kekuatan
penting sebagai sarana pemasaran, membantu layanan, serta gagasan dan ide-ide
melalui saluran tertentu dalam bentuk informasi yang bersifat persuasif.
Memancing konsumen adalah cara yang dilakukan terutama oleh bagian
pemasaran untuk mendapatkan konsumen yang baru. Iklan biasanya dibuat semenarik
mungkin sehingga masyarakat menyenangi iklan tersebut. Iklan yang dibuat tersebut
membentu citra produk yang diiklankan. Salah satunya adalah iklan minuman energi.
Iklan ini dibuat beda dengan iklan lain. Iklan minuman energi dibuat paling
spektakuler dengan biaya mahal dan dipromosikan secara gencar, tidak hanya di
televisi, akan tetapi iklan ini sering muncul di laman Youtube, radio, bahkan dalam
poster-poster di jalanan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa iklan didefinisikan
sebagai bentuk penyajian dan promosi ide. Iklan adalah berita pesanan yang dimuat di
media massa. Iklan disebarkan dengan menggunakan media audio visual dan media
verbal untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa
yang ditawarkan. Fokus dalam penelitian ini adalah slogan yang terdapat Iklan
minuman energi. Iklan minuman energi adalah berita pesan produsen (pabrik
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
24
minuman energi) kepada konsumen yang dimuat di media massa dengan
menggunakan media audio visual.
2.
Fungsi Iklan
Iklan merupakan sebuah tempat untuk menjelaskan suatu informasi dalam
bentuk produk yang akan dijual kepada konsumen. Iklan tercipta tentunya mempunyai
fungsi yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pemasaran. Swastha (2009:
246) berpendapat bahwa fungsi iklan dibagi menjadi beberapa jenis yaitu, (1)
memberikan informasi, (2) membujuk atau mempengaruhi, (3) menciptakan kesan
(image), (4) memuaskan keinginan, dan (5) sebagai alat komunikasi. Jenis-jenis iklan
tersebut sudah pasti menunjang terciptanya iklan yang menarik, kemenarikan iklan
akan sangat berpengaruh besar kepada potensi daya jual sebuah produk yang di
iklankan. Swastha dalam bukunya menjalaskan secara rinci fungsi iklan yang sudah
disebutkan di atas, yaitu:
a.
Memberikan Informasi
Iklan merupakan suatu alat bagi penjual dan pembeli untuk memberitahukan
informasi kepada pihak lain agar kebutuhan dan keinginan mereka dapat dipenuhi
dengan mengadakan yang memuaskan bagi pembeli berupa penyebaran. Iklan dapat
memberikan informasi lebih banyak daripada lainnya, baik tentang barangnya,
harganya, ataupun informasi lain yang mempunyai kegunaan bagi konsumen. Iklan
membuat konumen sadar (aware) akan merk-merk baru, mendidik mereka tentang
berbagai fitur dan manfaat merk, serta memfasilitasi penciptaan citra merk yang
positif. Tanpa adanya informasi seperti itu orang segan atau tidak mengetahui banyak
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
25
tentang suatu barang. Informasi mengenai produk yang ditawarkan dapat berupa
tuturan atau tulisan.
b.
Membujuk atau Mempengaruhi
Iklan tidak bersifat memberitahukan, tetapi juga bersifat membujuk terutama
pada pembeli-pembeli dengan menyatakan bahwa suatu produk adalah lebih baik
daripada produk lainnya. Iklan yang sifatnya membujuk tersebut lebih baik dipasang
pada media-media seperti televisi. Umumnya, orang tidak ingin dibujuk atau didorong
untuk membeli produk yang sudah jelas dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan
mereka. Terkadang dalaam dunia periklanan terdapat dua produk yang sejenis, jika
terjadi hal semacam itu penjual akan mengeluarkan lebih banyak waktu dan tenaga
untuk membujuk orang bahwa produknya lebih baik daripada yang lain. Secara rinci
iklan merupakan alat untuk membujuk pembeli potensial dengan menyatakan bahwa
suatu produk lebih baik dari produk lain.
c.
Menciptakan Kesan (Image)
Menggunakan sebuah iklan dalam sebuah pemasaran, orang akan mempunyai
kesan tertentu tentang apa yang diiklankan. Mampu membuat sebuah kesan pertama
yang baik, maka selanjutnya akan menjadi lebih mudah dalam menawarkan suatu
produk kepada pelanggan. Pemasangan iklan selalu berusaha untuk menciptakan yang
sebaik-baiknya, misalnya dengan menggunakan warna, ilustrasi, bentuk dan layout
yang menarik. Orang akan selalu mempunyai suatu kesan tertentu tentang suatu
produk yang dilakukan. Iklan juga dapat menciptakan kesan kepada masyarakat untuk
melaksanakan pembelian secara rasional dan ekonomis.
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
26
d.
Memuaskan Keinginan
Sebelum memilih dan membeli produk, kadang-kadang orang ingin diberitahu
lebih dulu. Sebagai contoh, mereka ingin lebih dulu mengetahui tentang gizi, vitamin,
dan harga pada seuah produk makanan yang paling baik untuk keluarga. Orang juga
ingin dibujuk untuk melakukan sesuatu yang baik bagi mereka atau bagi masyarakat.
Misalnya dibujuk untuk membantu fakir miskin, penderita bencana, atau dibujuk
untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. Berdasarkan penjelasan sebelumnya
periklanan merupakan suatu alat yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan, dan
tujuan itu sendiri berupa pertukaran yang saling memuaskan.
e.
Alat Komunikasi
Periklanan merupakan suatu alat untuk membuka komunikasi dua arah.
Komunikasi dua arah yang dimaksud yaitu komunikasi antara pembeli dan penjual.
Komunikasi tersebut akan menjadikan keinginan mereka terpenuhi dengan cara yang
efektif dan efesien. Komunikasi dapat menunjukkan cara-cara untuk mengadakan
pertukaran yang paling memuaskan. Menggunakan media iklan semacam ini dapat
berfungsi untuk menghubungi yang bersangkutan sehingga akan terjadi pembicaraan
antara kedua belah pihak.
3.
Jenis-Jenis Iklan
Menurut
Kotler
(2002:
658),
iklan
berdasarkan
tujuannya
dapat
diklasifikasikan menjadi tiga jenis yakni:
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
27
JENIS-JENIS IKLAN
Iklan Informatif
(Informative Advertising)
Iklan Persiasif
(Persuasif Advertising)
Iklan Reminder
(Reminder Advertising)
Ciri-ciri Iklan Informative
(Informative Advertising)
1. Bertujuan untuk
membentuk atau
menciptakan kesadaran,
pengenalan dan
pengetahuan tentang
produk atau fitur-fitur
baru dari produk yang
sudah ada,
2. Menginformasikan
perubahan harga dan
kemasan produk,
3. Menjelaskan cara kerja
produk,
4. Mengurangi ketakutan
konsumen, dan
5. Mengoreksi produk.
Ciri-ciri Iklan Persuasif
(Persuasive Advertising)
1. Bertujuan untuk
menciptakan
keksukaan, preferensi
dan keyakinan
sehingga konsumen
mau membeli dan
menggunakan barang
dan jasa,
2. Mempersuasif
khalayak untuk
memilih merk tertentu,
3. Menganjurkan untuk
membeli,
4. Mengubah persepsi
konsumen, dan
5. Membujuk untuk
membeli sekarang.
Iklan Reminder (Reminder
Advertising)
1. Bertujuan untuk
mendorong pembelian
ulang barang dan jasa,
2. Mengingatkan bahwa
suatu produk memiliki
kemungkinan akan
sangat dibutuhkan
dalam waktu dekat,
3. Mengingatkan pembeli
dimana membeli
produk tersebut.
4. Menjaga kesadaran
akan produk
(consumer‟s state of
mind), dan
5. Menjalin hubungan
baik dengan
konsumen.
Jenis-jenis iklan dapat dibagi menjadi sembilan kelompok. Suhandang (2005:
54) berpendapat bahwa jenis iklan tersebut merupakan komponen utama dalam
memeberitahukan dan menginformasikan suatu hal, barang, ataupun jasa melalui
media massa baik langsung maupun secara tidak langsung. Jenis iklan yang dijelaskan
disini adalah variasi dalam segi penyampaian, bentuk dan kosakata yang digunakan.
Jenis-jenis iklan tersebut mempunyai fungsi yang sama yaitu sebagai alat penghubung
produsen dan konsumen agar konsumen lebih cepat mengetahui setiap produk yang
ditawarkan oleh produsen kepada konsumen, disinilah fungsi dari iklan yang
menjadi alat penghubung antara produsen dan konsumen. Sembilan jenis iklan
tersebut adalah iklan nasional, iklan industri, iklan perdagangan, iklan pertanian,
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
28
iklan profesi, iklan ide (gagasan), iklan klasifikasi (mini), iklan toserba dan iklan
maklumat.
Suhandang juga menjelaskan secara langsung pengertian dari kesembilan jenis
iklan tersebut, yaitu: (1) Iklan nasional adalah iklan yang konsumennya berada di
seluruh wilayah dalam satu negara. Iklan nasional adalah iklan yang menawarkan atau
memperkenalkan komoditi produksi nasional seperti iklan pesawat terbang buatan
IPTN, mebel ukiran jepara, senjata buatan PT Pindad, (2) Iklan industri adalah iklan
yang mengkampanyekan barang-barang industri seperti iklan sepatu, garmen, tekstil,
makanan, dan minuman, (3) Iklan perdagangan adalah iklan yang menawarkan atau
mengkampanyekan barang-barang dagangan seperti iklan perabot rumah tangga,
perkakas dapur, segala kebutuhan pokok rumah tangga, atau barang-barang keperluan
hidup manusia sehari-hari, (4) Iklan pertanian adalah iklan yang menawarkan atau
memperkenalkan hasil dan alat-alat pertanian seperti iklan traktor, mesin rontogan
pupuk, kayu jati, tanaman hias, (5) Iklan profesi adalah iklan yang mengkampanyekan
jasa keahlian seperti iklan bank, pengembang, praktik dokter, konsultan hukum, (6)
Iklan ide (gagasan) adalah iklan yang menawarkan suatu idea atau gagasan dalam
melakukan suatu usaha tertentu, seperti kerja sama dalam perniagaan atau kerja sama
dalam menyelesaiakan suatu proyek pembangunan, kerja sama usaha tertentu, (7)
Iklan klasifikasi (mini) adalah iklan yang ditampilkan dengan cara dikelompokan
berdasarkn jenis barang atau kebutuhan, seperti iklan kelompok jual beli kendaraan,
cari pekerjaan, lowongan kerja, (8) Iklan toserba adalah iklan yang menawarkan
berbagai macam serta jenis barang atau jasa, dan (9) Iklan maklumat adalah iklan
yang menyajikan berbagai pengumuman, seperti undangan rapat, ucapan bela
sungkawa, pemberitahuan.
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
29
Berdasarkan berbagai macam jenis-jenis iklan di atas maka iklan minuman
energi termasuk ke dalam jenis iklan industri. Iklan minuman energi di samping
tergabung dalam jenis iklan industri, di dalamnya terdapat slogan. Iklan minuman
energi memiliki slogan yang singkat, padat dan menarik sehingga konsumen tertarik
untuk membeli produk dan mencoba produk tersebut. Cuplikan video atau gambargambar yang di sertakan dalam mempromosikan iklan juga tergolong menarik dan
mempunyai kesan yang baik. Slogan iklan minuman energi tergolong unik, dikatakan
unik karena pada slogan iklan minuman energi mempunyai ciri khas sendiri yang
nampaknya ingin melepaskan diri dari kaidah makna.
4.
Struktur Iklan
Sebuah iklan, baik yang dipublikasikan melalui media cetak maupun media
elektronik, pada dasarnya memiliki struktur. Menurut (Widyatama, 2011: 100), pada
umumnya, iklan ditampilkan dalam bentuk dan urutan sebagai berikut:
a.
Judul Iklan (Ad Headline)
Judul iklan disebut pula dengan ad headline atau sering disebut headline.
Headline diartikan sebagai judul atau kepala pesan iklan. Headline merupakan bagian
yang penting bagi sebuah iklan. Headline mempunyai tiga fungsi, yakni (1) untuk
menarik perhatian awal pembaca, (2) menahan mata untuk berhenti sesaat melakukan
pencarian pada stimuli pesan yang lain, (3) membangkitkan minat bagi bagian-bagian
lain dari iklan. Selain terpadat fungsi, headline juga memiliki ciri tertentu dalam
dunia periklanan yaitu (1) umumya dibuat dengan tulisan yang menonjol, kadang
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
30
dengan bentuk huruf yang lebih besar disertai dengan warna yang lebih mencolok atau
dengan warna berbeda dibanding pesan lain Iklan tersebut, (2) umumnya headline
terdiri atas kalimat pendek, bahkan kadang hannya dibangun dari satu kata saja, malah
bisa hanya dibuat dari satu huruf saja, (3) umumnya headline berisi kalimat atau kata
yng mengandung kesan kuat sehingga menarik minat perhatian khalayak (sangat
persuasif, kadang malah provokatif).
b.
Sub Judul Iklan (Sub Ad Headline)
Sub judul iklan (sub headline) adalah bagian dari iklan yang bertugas untuk
menjabarkan lebih jauh pesan yang terdapat dalam judul. Sub judul harus lebih
ringkas daripada body copy. Sub judul (sub headline), biasanya hadir mengikuti judul
iklan (headline). Jika pada semua iklan terdapat kalimat yang cukup panjang, maka
judul iklan (headline) lazim diikuti dengan sub judul (sub headline). Sub judul
memiliki tugas memelihara perhatian yang telah diperoleh dari khalayak setelah
mereka membaca judul, untuk terus dilanjutkan atau digiring menerpa body copy
iklan. Sub judul dapat diletakkan di atas headline atau di bawahnya. Maksudnya
adalah dalam penulisan sub judul iklan harus mempertimbangkan unsur seni dan
fungsi.
c.
Tubuh Iklan (Ad Body Text)
Seringkali istilah tubuh iklan atau ad body copy disebut pula dengan ad body
text. Ad body copy merupakan uraian pesan yang lebih detail dibanding ad sub
headline. Pada bagian ini biasanya pesan iklan dituliskan secara rinci. Meskipun
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
31
merupakan bagian detail dari sebuah iklan, bukan berarti kalimat yang digunakan
panjang lebar sesuai kehendak pengiklanannya. Maksudnya adalah pemilihan
kalimat pada body text harus singkat, padat dan jelas dan mengandung unsur
persuasif dan provokatif. Body copy berisi elemen yang dirancang untuk dibaca dan
dicerna.
d.
Penutup (Closer)
Closer merupakan bagian penutup atau yang mengakhiri iklan. Closer
menempati kedudukan yang sangat penting setelah judul, sub judul, maupun body text.
Closer berfungsi untuk menyimpulkan apa yang ditulis Iklan, mengarahkan pada
pesan tertentu, memerintah untuk melakukan sesuatu, menegaskan pesan tentang
merek, keunggulan produk, menginformasikan alamat, waktu, kesempatan, serta
mengingatkan kembali inti pesan. Agar lebih menarik pada bagian penutup (closer)
ditambahkan tanda, gambar, simbol, dan pictografi lainnya. Penyimpulan iklan sangat
diperlukan agar iklan tidak mengambang dan masyarakat tidak membuat kesimpulan
sendiri mengenai iklan tersebut.
5.
Bahasa Iklan
Sarana tutur iklan adalah bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan
iklan kepada konsumen. Bahasa yang dimaksud adalah bahasa yang digunakan Iklan
di laman Youtube. Misalnya Iklan minuman energi menggunakan bahasa yang khas,
singkat tetapi dapat dipahami oleh pendengar. Laman Youtube terdapat dua macam
penggunaan bahasa, yaitu bahasa dalam bentuk dialog dan bahasa dalam bentuk
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
32
monolog (langsung dari pembicara kepada pendengar). Penggunaan bahasa dalam
bentuk dialog dilakukan oleh beberapa orang. Bahasa iklan memiliki ciri dan karakter
tertentu. Penggunaan bahasa iklan, menjadi salah satu aspek penting bagi keberhasilan
iklan. Bahasa Iklan dituntut untuk mampu mengunggah, menarik, mengidentifikasi,
menggalang kebersamaan dan menyampaikan pesan dengan koperatif kepada
khalayak. Bahasa iklan harus mampu menjadi manifestasi atau presentasi dari hakl
yang diinginkan pihak pengiklan kepada masyarakat luas. Tujuannya adalah untuk
mempengaruhi masyarakat agar tertarik dengan sesuatu yang diiklankan (Mulyana,
2005: 65). Bahasa iklan, disamping memiliki fungsi informatif, juga mengandung
fungsi persuasif.
Fungsi ini ditekankan untuk mendapatkan dampak nyata dari suatu tuturan
karena itu bahasa iklan memegang peranan sangat vital dalam menyampaikan maksud
iklan itu sendiri, di dalam media massa, seperti laman Youtube misalnya, terkadang
ditemukan iklan yang minim bahasa. Adapun ciri-ciri bahasa iklan yaitu: (a)
Menggunakan bahasa motif yaitu bahasa emotif artinya bukanlah suatu bahasa yang
membuat orang emosi karena marah, tetapi bagaaimana seseorang merasakan sesuatu
perasaan yang datang dari hati untuk melakukan sesuatu, (b) Menggunakan struktur
kalimat yang unik yaitu struktur kalimat yang unik maksudnya struktur kalimat yang
cenderung membuat para pembaca menikmati dan mudah mengerti, serta terkesan, (c)
Pilihan kata yang khusus yaitu pilihan kata yang khusus iklan biasanya berupa kata
yang tidak rasional atau tidak baku agar dapat mempengaruhi para pembaca, dan (d)
Ajakan yang efektif, ajakan yang efektif adalah suatu ajakan yang tidak bertele-tele
dan tersembunyi secara makna, tetapi ajakan yang bisa membuat hati seseorang
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
33
tersentuh dan tergerak serta terdorong untuk melakukan sesuatu. Misalnya Iklan
tersebut kalimat yang digunakan adalah kalimat yang efektif (langsung menuju pada
inti pesan), dan iklan tersebut dibuat semenarik mungkin agar pembaca tersentuh
sehingga mau melakukan sesuatu sesuai yang diinginkan.
F. Slogan
1.
Pengertian Slogan
Kata slogan berasal dari bahasa slaugghairm (bahasa Gaelik) yang artinnya
„teriakan bertempur‟. Slogan adalah kata-kata yang menarik dan mudah diingat yang
dipakai untuk mengiklankan sesuat slogan adalah perkataan atau kalimat pendek yang
menarik atau mencolok dan mudah diingat untuk memberitahukan atau mengiklankan
sesuatu (Poerwadarminta, 2007: 1136). Setelah mengetahui pengertian slogan diatas
dapat disimpulkan bahwa slogan adalah perkataan atau kalimat pendek yang menarik,
mencolok dan mudah diingat untuk memberitahukan atau menyampaikan sesuatu.
Umumnya orang melihat slogan untuk menjelaskan dan mempromosikan produk dan
jasanya kepada masyarakat luas. Slogan berupa ungkapan yang khas, indah, unik dan
mudah dikenali. Banyak sekali poster atau jasa iklan maupun barang yang
menggunakan slogan-slogan tertentu untuk memikat pelanggan atau pembelinya. Saat
ini penggunaan slogan sudah meluas kepada hal-hal lain seperti kampanye anti
korupsi, kampanye anti narkoba dan lain-lain.
2.
Fungsi Slogan
Dibuatnya slogan tentu memiliki tujuan. Tujuan tersebut dalam hal ini dibagi
menjadi lima hal. Tujuan yang pertama menyampaikan informasi. Tujuan yang kedua
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
34
untuk mempengaruhi orang. Tujuan yang ketiga untuk menjadi himbauan orang lain.
Tujuan yang keempat untuk memotivasi orang lain. Sedangkan tujuan yang kelima
yaitu menyadarkan orang lain akan sesuatu yang berbahaya.
3.
Ciri-ciri Slogan
Slogan juga memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan yang lain.
Ciri-ciri tersebut dalam hal ini dibagi mejadi 5 ciri. Ciri yang pertama slogan
merupakan sebuah frasa, kata-kata, ataupun kalimat motto. Ciri yang kedua slogan
merupakan sebuah ide atau gagasan yang memiliki tujuan tertentu. Ciri yang ketiga
slogan terdiri dari beberapa kata singkat, menarik dan mudah diingat. Ciri yang
keempat slogan berisi ajakan atau informasi yang tersirat. Sedangkan Ciri yang kelima
yaitu berupa motto atau semboyan individu maupun organisasi.
4.
Slogan Iklan
Slogan iklan merupakan salah satu media promosi yang efektif dalam
memasarkan berbagai produk kepada konsumen karena daya jangkauannya yang luas
dan masif. Masyarakat dapat dengan mudah mengetahui produk terbaru dan
berkualitas yang dipasarkan melalui iklan. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan
suatu produk, baik barang maupun jasa kepada masyarakat, guna menarik perhatian
masyarakat untuk mengenali, membeli, hingga mengonsumsi atau menggunakan
produk yang diiklankan. Persaingan di bidang iklan memang semakin tajam sejak
adanya televisi. Namun, media cetak tetap memiliki pangsa pasar tersendiri dan tetap
menjadi target produsen dalam mengiklankan produknya.
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
35
G. Minuman Energi
Minuman energi adalah jenis minuman yang ditujukan untuk menambah
energi seseorang yang meminumnya. Bagi beberapa kalangan, minuman energi
diminum dengan tujuan untuk mencegah kantuk. Umumnya, minuman energi
dipasarkan dalam bentuk botol kecil siap yang siap minum. Jika umumnya di luar
negeri (Amerika Serikat), minuman energi digolongkan sebagai minuma ringan, di
Indonesia, minuman energi di golongkan sebagai minuman kesehatan. Menurut Nick
Hudson, ahli kebugaran dari Inggris, minuman energi sebenarnya adalah minuman
yang mengandung cukup banyak kalori.
Analisis Makna Kontekstual..., Septian Nursetiaaji, FKIP, UMP, 2017
Download