Realitas Film Jokowi Sebagai Media Kampanye Politik

advertisement
Realitas Film Jokowi Sebagai Media Kampanye
Politik
(Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Sosial Pada Konsentrasi Jurnalistik
Program Studi Ilmu Komunikasi
Oleh
Rangga Andriana
NIM 6662103245
KONSENTRASI JURNALISTIK
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
SERANG, 2015
LEMBAR PENYATAAN ORISINALITAS
LEMBAR PERSETUJUAN
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN IMU POLITIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
MOTTO & PERSEMBAHAN
….dan berbicaralah kepada mereka
Dengan pembicaraan yang berbekas pada
Jiwa mereka (Al-Qur’an 4:63)
Skripsi ini kupersembahkan untuk Papah
yang ada di Surga, dan Mamahku yang terus
berjuang dalam hidupnya agar anaknya dapat
mengangkat harkat, martabat dan derajat
Keluarga untuk mendapatkan hidup yang
lebih baik.
ABSTRAK
Rangga Andriana. NIM. 6662103245. Skripsi. Realitas Film Jokowi Sebagai
Media Kampanye Politik (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce).
Pembimbing I: Mia Dwianna, S.Sos, M.Ikom dan Pembimbing II: Puspita Asri
Praceka, S.Sos, M.Ikom
Film mempunyai kemampuan untuk memberikan tekanan kepada masyarakat dan
juga pemerintah mengenai sebuah realitas yang saat itu diangkat oleh sutradara.
Film Jokowi adalah penggambaran realitas perjalanan hidup ketika Joko Widodo
kecil hingga dewasa, namun peneliti melihat bahwa film ini juga digunakan sebagai
media kampanye politik Jokowi. Penelitian ini bertujuan melihat bagaimana tanda,
objek, interpretant dan realitas film Jokowi sebagai media kampanye politik.
Penelitian ini menggunakan paradigm interpretif dan pendekatan kualitatif
fenomenologi dengan metode yang digunakan dalam menafsirkan makna adalah
metode analisis semiotika model tiga unsur makna Charles Sanders Peirce yaitu
Sign/tanda, objek, dan intrepetant. Teknik pengumpulan data menggunakan
observasi tidak langsung yaitu mengamati Film Jokowi dan melakukan wawancara
kepada informan untuk menguatkan hasil interpretasi data. Hasil penelitian ini
mengungkapkan bahwa fenomena dalam film ini mempunyai makna sign, objek
dan intrepetant yang saling berhubungan satu sama lain dalam proses konstruksi
realitas dalam film Jokowi. Selain itu fenomena Realitas film ini termasuk kedalam
kegiatan kampanye politik, karena film tersebut membangun citra yang ingin
ditanamkan dalam alam bawah sadar masyarakat menaruh simpati dan berprilaku
sebagaimana yang diharapkan dalam kegiatan politik yaitu mendukung Jokowi.
Film ini muncul bukan sebagai refleksi dari tokoh dan apresiasi dalam kehidupan
seorang tokoh politik, tetapi film ini sengaja didesain sebagai media kampanye
politik.
Kata Kunci: Realitas, Film, Semiotika, Peirce, Kampanye Politik, Interpretif
ABSTRACT
Rangga Andriana. NIM. 6662103245. Undergraduate Thesis. Reality Film
Jokowi As Political Campaign Media (Semiotics Analysis of Charles Sanders
Peirce) Advisor I: Mia Dwianna, S.Sos, M.Ikom and Advisor II: Puspita Asri
Praceka, S.Sos, M.Ikom
Film has the ability to exert pressure on the community and the government
regarding a reality when it was appointed by the director. Jokowi movie is a
depiction of the reality of life's journey when Joko Widodo childhood to adulthood,
but researchers noticed that the film is also used as a medium for political
campaigns Jokowi. This study aims to see how the sign, object, interpretant and the
reality of the film as a medium Jokowi political campaigns. This study uses an
interpretive paradigm and phenomenological qualitative approach to the method
used in interpreting the meaning is the method of semiotic analysis model of the
three elements, namely the meaning of Charles Sanders Peirce Sign / signs, objects,
and intrepetant. Data collection techniques using indirect observation of observing
Film Jokowi and conducted interviews to informants to corroborate the results of
data interpretation. Results of the study revealed that the phenomenon in this film
has meaning sign, object and intrepetant are interconnected to one another in the
process of construction of reality in the film Jokowi. Besides the phenomenon of
reality this film included into the activities of a political campaign, because the film
that wants to build the image embedded in the subconscious of society sympathetic
and behave as expected in political activities that support Jokowi. This film appears
not as a reflection of the character and appreciation of the life of a political figure,
but the film is deliberately designed as a medium for political campaigns.
Keywords: Reality, Movie, Semiotics, Peirce, Political Campaign
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini yang berjudul “Realitas Film Jokowi Sebagai Media Kampanye Politik (Analisis
Semiotika Charles Sander Peirce)” dengan baik. Adapun penelitian ini dilakukan
dan disusun dengan tujuan untuk memenuhi salah satu syarat menempuh ujian
sarjana pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Dalam melakukan penelitian ini, penulis tetap bertumpu pada landasan
akademis dan menggunakan teori komunikasi yang ada untuk mengupas dan
mengemas hasil penelitian ini sehingga menjadi sebuah karya ilmiah yang
diharapkan bermanfaat dan dapat memberikan sumbangsih bagi perkembangan
ilmu komunikasi, khususnya yang berhubungan dengan analisis semiotika.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tentu tidak luput dari
kekurangan-kekurangan yang ada, sebagaimana fitrah manusia yang diciptakan
oleh Tuhan tidak ada yang sempurna dan tidak luput dari kesalahan. Dan selama
masa penyusunan skripsi ini penulis banyak sekali mendapat bantuan, dorongan
dan motivasi penting dari semua pihak. Maka dalam kesempatan ini dengan
ketulusan dan kerendahan hati, penulis ingin menghaturkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
i
1. Allah SWT dan Nabi Besar Muhammad SAW.
2. Bapak Prof. Dr. Soleh Hidayat, M.Pd. Selaku Rektor Universitas Sultan
Ageng Tirtayasa.
3. Bapak Dr. Agus Sjafari, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik.
4. Ibu Neka Fitriyah, S.Sos. M.Si, selaku Ketua Prodi Ilmu Komunikasi dan
dosen pembimbing akademik penulis dari semester awal sampai akhir.
5. Ibu Mia Dwianna S.Sos, M.Ikom selaku dosen pembimbing pertama yang
telah banyak memberi waktu, bimbingan ilmu, arahan dan kesempatan
pengalaman kepada penulis hingga dapat menyelesaikan penelitian ini.
6. Ibu Puspita Asri Praceka, S.Sos. M.Ikom, selaku Sekertaris Jurusan Prodi
Ilmu Komunikasi dan dosen pembimbing kedua yang juga telah banyak
membagi ilmu dan masukan yang berarti kepada penulis.
7. Bapak Idi Dimyati S.Ikom, M.Ikom yang telah banyak membantu penulis
ketika penulis menjalani masa perkuliahan.
8. Para Dosen dan staf TU Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik atas segala sumbangsihnya.
9. Mamah tercinta yang tidak pernah lelah berdoa yang terbaik untuk anak mu
ini, papah yang sekarang sudah bahagia di surga. Skripsi ini adalah bukti
Rangga berhasil menyelesaikan pendidikan S1.
10. Keluarga kecilku, istriku Dika Harisa S.Pd dan little son Adzka Fathir
Andriana yang telah menemani, mengisi, memberi asa dan kebahagiaan
disetiap detik penulis hidup di dunia ini.
ii
11. Adik-Adiku tersayang Inka Cahya Ramadhani dan Fanny Cahya Megantari
yang menjadi motivasi bagi penulis.
12. Sahabat yang sudah seperti keluarga yaitu Edward Daniel Wehantau &
Erends Lukas yang menemani penulis dari kecil hingga dewasa ini.
13. Dua sahabat yang telah menemani penulis dari awal perkuliahan Nicko
Rizfyanda Utama beserta keluarga dan Agung Gumelar beserta keluarga
yang terus mendukung penulis sampai saat ini.
14. Keluarga Besar Dugong Nadia Putri Riyanti, Sausan Saidah Sallam, Kinda
Handayani, Indra Handayani dan Arfian Ssr yang selalu ada dikala senang
atau pun susah dan selalu memberikan dukungan kepada penulis.
15. Teman-Teman Jurnalistik Komunikasi Kelas J Angkatan 2010, Putut Wiro
Reksono, Alief Krisna Fauzi, Sumardi Noviono, Lacuk, Maulana Yusuf,
Otnay aka Suryanto, Romi Fatullah, Windi Tresnanda. Selalu semangat
dalam menempuh perjanalan kuliah ini.
16. Teman-teman seperjuangan Teguh Cipta, M. Fandi, Dhamar Indraloka, Step
Ian Akbar, Akmal Alamsyah, Tirta Lestari Coppo, Natasya, Bunda Shinta,
Sari Puji Fitriani dan Puput Jolie. Semangat buat kalian semua.
17. Seluruh rekan BEM Fisip pimpinan Bang Dace. Terimakasih atas
pengalaman yang berharga
18. Seluruh rekan BEM Universitas pimpinan Bang Adam dan Bang Qubil.
Terimakasih atas pengalaman yang berharga.
19. Teman-teman KKM 109 Angkatan 2014 dan Seluruh Pengurus Desa
Mangkunegara – Bojonegara.
iii
20. Teman-Teman Pengurus Purna Paskibraka Kota Serang 2014 yang telah
memberikan pelajaran pengalaman, etika, moral dan bekal ilmu kepada
penulis.
Semoga Allah SWT membalas amal kebaikan kalian semua dengan yang
lebih baik, Amin. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat,
tidak hanya untuk diri sendiri, namun untuk seluruh pembaca pada umumnya.
Serang, Februari 2015
Penulis
Rangga Andriana
iv
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENYATAAN ORISINALITAS ........................................................ i
LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ................................................................ iii
MOTTO & PERSEMBAHAN ............................................................................ iv
ABSTRAK ............................................................................................................. v
ABSTRACT .......................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... x
BAB I ...................................................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah .................................................................................... 5
1.3
Identifikasi Penelitian ............................................................................... 5
1.4
Tujuan Penelitian ...................................................................................... 5
1.5
Manfaat Penelitian .................................................................................... 6
1.5.1
Manfaat Akademis ............................................................................ 6
1.5.2
Manfaat Praktis ................................................................................. 6
BAB II .................................................................................................................... 7
2.1
Paradigma Interpretif ................................................................................ 7
2.2
Tradisi Semiotik ....................................................................................... 8
2.3
Komunikasi Massa ................................................................................. 11
2.3.1
Pengertian Komunikasi Massa ........................................................ 11
v
2.3.2
Komponen Komunikasi Massa ....................................................... 14
2.3.3
Karakteristik Komunikasi Massa .................................................... 16
2.3.4
Fungsi Komunikasi Massa .............................................................. 17
2.4
Teori Interpretif ...................................................................................... 18
2.5
Teori Fenomenologi ............................................................................... 19
2.6
Teori Semiotika Charles Sander Peirce .................................................. 20
2.7
Konsep – Konsep .................................................................................... 26
2.7.1
Media Massa ................................................................................... 26
2.7.2
Film ................................................................................................. 27
2.7.2.1
Film Sebagai Media Massa ..................................................... 28
2.7.2.2
Film Sebagai Realitas Tanda .................................................. 32
2.7.2.3
Film Sebagai Representasi Realitas ......................................... 34
2.7.3
Kampanye Politik ............................................................................ 35
2.8
Kerangka Berpikir .................................................................................. 39
2.9
Penelitian Terdahulu ............................................................................... 41
BAB III ................................................................................................................. 45
3.1
Pendekatan dan Metode Penelitian......................................................... 45
3.2
Fokus Penelitian ..................................................................................... 47
3.3
Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 48
3.4
Informan Peneliti .................................................................................... 49
3.5
Unit Analisis ........................................................................................... 52
3.6
Teknik Analisis Data .............................................................................. 54
3.7
Validitas dan Triangulasi Data ............................................................... 56
3.8
Jadual Penelitian ..................................................................................... 57
BAB IV ................................................................................................................. 58
vi
4.1
Deskripsi Film Jokowi............................................................................ 58
4.1.1
Pemeran / Tokoh Film Jokowi ........................................................ 59
4.1.2
Sinopsis Film Jokowi ...................................................................... 62
4.2
Analisis Data .......................................................................................... 63
4.2.1
Makna semiotik pada scenes 1 ........................................................ 65
4.2.2
Makna semiotik pada scenes 2 ........................................................ 72
4.2.3
Makna semiotik pada scenes 3 ........................................................ 77
4.2.4
Makna semiotik pada scenes 4 ........................................................ 83
4.2.5
Makna semiotik pada scenes 5 ........................................................ 88
4.2.5
Makna semiotik pada scenes 6 ........................................................ 93
4.2.7
Makna semiotik pada scenes 7 ........................................................ 98
4.3
Interpretasi Data ................................................................................... 101
4.3.1
Makna Signs/Tanda Dalam Film Jokowi ...................................... 101
4.3.2
Makna Objek Dalam Film Jokowi ................................................ 104
4.3.3
Makna Intrepetant Dalam Film Jokowi ........................................ 105
4.3.4
Realitas Film Jokowi Sebagai Media Kampanye Politik .............. 108
BAB V................................................................................................................. 117
5.1
Kesimpulan ........................................................................................... 117
5.2
Saran-Saran .......................................................................................... 118
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 120
LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................... 124
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Model Unsur Makna Peirce (Fiske 2006, 63) ................................... 24
Gambar 2.2 Bagan Kerangka Berpikir .................................................................. 40
Gambar 3.3 Model Unsur Makna Peirce (Fiske 2006, 63) ................................... 55
Gambar 4.4 Poster Film Jokowi ............................................................................ 58
Gambar 4.5 Tokoh Notomiharjo ........................................................................... 59
Gambar 4.6 Tokoh Sujiatmi .................................................................................. 60
Gambar 4.7 Tokoh Jokowi .................................................................................... 60
Gambar 4.8 Tokoh Iriana ...................................................................................... 61
Gambar 4.9 Tokoh Wirorejo ................................................................................. 61
Gambar 4.10 Bagian Scenes 1 .............................................................................. 65
Gambar 4.11 Unsur Makna Scenes 1 .................................................................... 66
Gambar 4.12 Bagian Scenes 2 .............................................................................. 72
Gambar 4.13 Unsur Makna Scenes 2 .................................................................... 72
Gambar 4.14 Lakon Wayang Semar ..................................................................... 75
Gambar 4.15 Bagian Scenes 3 .............................................................................. 77
Gambar 4.16 Unsur Makna Scenes 3 .................................................................... 78
Gambar 4.17 Bagian Scenes 4 .............................................................................. 83
Gambar 4.18 Unsur Makna Scenes 4 .................................................................... 84
Gambar 4.19 Bagian Scenes 5 .............................................................................. 88
Gambar 4.20 Unsur Makna Scenes 5 .................................................................... 89
Gambar 4.21 Bagian Scenes 6 .............................................................................. 93
Gambar 4.22 Unsur Makna Scenes 6 .................................................................... 93
Gambar 4.23 Bagian Scenes 7 .............................................................................. 98
Gambar 4.24 Unsur Makna Scenes 7 .................................................................... 99
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Penjelasan Ikon, Indeks, Simbol ........................................................... 25
Tabel 2.2 Perbedaan Kampanye Pemilu dan Kampanye Politik .......................... 38
Tabel 2.3 Peneliti Terdahulu ................................................................................. 44
Tabel 3.1 Sampel Unit Analisis ............................................................................ 53
Tabel 4.1 Pembagian Tanda Scenes 1 ................................................................... 66
Tabel 4.2 Pembagian Tanda Scenes 2 ................................................................... 73
Tabel 4.3 Pembagian Tanda Scenes 3 ................................................................... 79
Tabel 4.4 Pembagian Tanda Scenes 4 ................................................................... 84
Tabel 4.5 Pembagian Tanda Scenes 5 ................................................................... 90
Tabel 4.6 Pembagian Tanda Scenes 6 ................................................................... 94
Tabel 4.7 Pembagian Tanda Scenes 7 ................................................................... 99
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pemberitaan Jokowi PKI ................................................................ 125
Lampiran 2 Sejarah Musik Rock........................................................................ 126
Lampiran 3 Sejarah G30S PKI........................................................................... 127
Lampiran 4 Sinopsis Film Jokowi ..................................................................... 128
Lampiran 5 Film Jokowi Sebagai Bentuk Kampanye........................................ 129
Lampiran 6 Pedoman Wawancara ..................................................................... 130
Lampiran 7 Transkip Wawancara Informan UtamaError!
Bookmark
not
defined.
Lampiran 8 Transkip Wawancara Informan Ahli .............................................. 132
Lampiran 9 Transkip Wawancara Informan Ahli . Error! Bookmark not defined.
Lampiran 10. Riwayat Hidup .............................................................................. 135
x
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Media dalam sebuah komunikasi politik mempunyai peranan yang sangat
penting sebagai sarana publisitas politik terhadap masyarakat luas. Tentunya
dengan tujuan khalayak mengetahui agenda politik setelah itu simpati dan
menjatuhkan pilihannya kepada partai tersebut. Siapapun komunikator atau aktivis
politik akan berusaha untuk menguasai media. Tak heran, barang siapa yang telah
menguasai media, maka dia hampir memenangi pertarungan politik.
Semenjak kemajuan teknologi dan informasi yang revolusioner, media cetak
maupun elektronik mengantarkan informasi kepada khalayak sangat efektif.
Pemanfaatan media untuk mendongkrak popularitas sebenarnya telah mulai marak
dan bebas sejak Pemilu 1999 dan semakin menguat di Pemilu 2004 hingga Pemilu
2006 (Asfar 2006). Segala kegiatan yang ada nuansa politik diangkat media
bertujuan tak hanya sebagai sarana publisitas namun juga mempengaruhi khalayak
untuk memilihnya. Dengan itu penyaluran pesan kampanye politik dapat
tersalurkan dengan efektif.
Pesan di sini bisa dalam bentuk lambang-lambang pembicaraan seperti kata,
gambar, maupun tindakan, atau bisa pula dengan melakukan kombinasi lambang
hingga menghasilkan cerita, foto (still picture atau motion picture), juga
pementasan drama. Alat yang dimaksud di sini tidak hanya berbicara sebatas pada
1
2
media mekanis, teknik, dan sarana untuk saling bertukar lambang, namun manusia
pun sesungguhnya bisa dijadikan sebagai saluran komunikasi khususnya
komunikasi politik.
Media komunikasi yang dianggap efektif dan mempengaruhi khalayak
diantaranya yaitu film. Selain sebagai sebuah produk seni yang memiliki kebebasan
dalam berekspresi, film juga sebagai salah satu media hiburan oleh masyarakat.
Melalui media film, kekuasaan atau kelompok tidak hanya punya daya paksa tetapi
juga mempunyai daya pukau yang sangat kuat serta mendominasi. Kekuasan yang
dimaksud adalah dengan media film, orang tidak bisa mengelak atau menolak
secara mentah-mentah sebab isi pesan dalam film. Film mempunyai kemampuan
untuk memberikan tekanan kepada masyarakat dan juga pemerintah mengenai
sebuah realitas yang saat itu diangkat oleh sutradara. Selain itu dengan media film,
penyebaran isu/wacana dapat secara masiv disebar luaskan sehingga isu yang
disampaikan dapat efektif. Hal tersebut juga berlaku bagi penyebaran kampanye
politik dengan menggunakan media film.
Film sebagai saluran komunikasi politik bertujuan untuk menyampaikan
pesan-pesan politik yang akan mempermudahkan kepada setiap komunikator
politik dalam menyampaikan dan memperkenalkan siapa dirinya kepada khalayak.
Kehadiran film mampu memberikan warna tersendiri di tengah persaingan politik
yang sedang terjadi, khususnya dalam penggunaan media kampanye politik. Film
sebagai saluran media komunikasi politik bukan kali ini saja dilakukan, sudah sejak
bangsa Indonesia merdeka pemerintah sudah menggunakan film untuk alat
kepentingan politik seperti propaganda, kampanye, dan pembentukan citra. Seperti
3
film penghianatan G 30-S PKI, dan Djakarta 1966 yang disutradai oleh Arifin C.
Noer pada tahun 1982 yang digunakan oleh pemerintah pada saat itu sebagai alat
propaganda.
Film juga mempunyai nilai lebih dibanding dengan media lainnya seperti
spanduk dukungan atau penggunaan media sosial. Dengan film, realitas yang
diangkat dapat dirangkai sedemikian rupa sehingga mempengaruhi emosi dan
psikologis yang akan mempengaruhi khalayak sesuai yang diinginkan. Teknik
pengambilan gambar, narasi cerita, aktor yang berperan, settingan waktu serta
teknik permainan emosi dan psikologis yang dilakukan oleh pekerja film menjadi
nilai lebih yang menjadikan film sebagai media dengan impact yang efektif.
Film Jokowi hadir di tengah-tengah persaingan menjelang pemilihan
presiden yang dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014. Film ini menjadi salah satu
media kampanye Calon Presiden Joko Widodo & Jusuf Kalla yang disutradai oleh
KK Dhereraj. Film Jokowi menceritakan kisah Joko Widodo sejak kecil hingga
kuliah. Proses perjalanan hidup Joko Widodo yang panjang dirangkum menjadi
film yang berdurasi selama kurang lebih dua jam.
KK Dheraaj sebagai sang sutradara, membuat film tentang perjalanan hidup
Jokowi. Tentu saja hal ini tergambar dengan jelas dari menit pertama bahwa KK
Dheraaj hendak menjawab siapa Jokowi dan menjelaskan kampanye negatif yang
menyebutkan Jokowi keturunan etnis Thionghoa dan beragama Kristen
(Kapanlagi.com diakses 14 januari 2015).
4
Dalam film Jokowi tersebut, khalayak tidak diperlihatkan secara langsung
bahwa isi film terdapat unsur kampanye, seperti dukungan atau mengajak khlayak
yang menonton untuk mendukung Joko Widodo. Namun khalayak diajak untuk
melihat bagaimana perjalanan hidup Joko Widodo. Realitas Joko Widodo yang
dibentuk oleh sutradara juga bukan sepenuhnya realitas yang telah terjadi. Realitas
dalam film Jokowi dibentuk dan dikonstruksi dengan adegan-adegan seperti adegan
dimana Jokowi “dibully” oleh teman sekelasnya, adegan rumah kontrakan yang
digusur secara paksa, adegan dimana dia jatuh cinta dengan Iriana sehingga adeganadegan tersebut sengaja dikonstruksi untuk mempengaruhi emosi dan psikologis
penonton.
Dalam penelitian ini akan dibahas masalah simbol, tanda, lambang dan
gambar. Oleh karena itu penelitian ini akan menggunakan analisis semiotik dari
Charles Sanders Peirce dan peneliti akan menjelaskan tanda adalah sesuatu yang
dikaitkan pada seseorang untuk sesuatu dalam beberapa hal dan kapasitas. Tanda
menunjuk pada seseorang, yakni menciptakan di benak orang tersebut suatu tanda
yang setara atau barangkali suatu tanda yang lebih berkembang. Tanda yang
diciptakan ia namakan intepretan dari tanda pertama, tanda itu menunjukkan
sesuatu yakni obyeknya (Fiske 2006, 69).
Serta dikaji dengan jenis-jenis tanda berdasarkan hubungan obyek dengan
tanda, yaitu ikon yang menunjukkan kemiripan dengan obyeknya. Indeks
merupakan tanda yang hubungan eksistensinya langsung dengan obyeknya, dan
symbol adalah tanda yang memiliki hubungan dengan obyeknya berdasarkan
kesepakatan atau aturan. Film Jokowi akan dikaji berdasarkan metode analisis
5
tersebut agar setiap simbol-simbol yang muncul dalam film bertema perjalanan
hidup tersebut terbukti sebagai kampanye politik.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, perumusan masalah pada penelitian ini
adalah “Bagaimana realitas film Jokowi sebagai media kampanye politik (Analisis
Semiotika Charles Sanders Peirce)?”
1.3
Identifikasi Penelitian
Setelah mengetahui rumusan masalah yang terjadi maka identifikasi
penelitian sebagai berikut:
1) Bagaimana Makna Tanda/Representament yang digunakan di Film
Jokowi sebagai bentuk kampanye politik.
2) Bagaimana Makna Objek yang digunakan di Film Jokowi sebagai
bentuk kampanye politik.
3) Bagaimana Makna Intrepetant yang digunakan di Film Jokowi sebagai
bentuk kampanye politik.
4) Bagaimana Realitas yang dibentuk di Film Jokowi sebagai bentuk
kampanye politik.
1.4
Tujuan Penelitian
1) Untuk mengetahui Makna Tanda/Representament yang digunakan di
Film Jokowi sebagai bentuk kampanye politik.
6
2) Untuk mengetahui makna Objek yang digunakan di Film Jokowi
sebagai bentuk kampanye politik.
3) Untuk mengetahui makna Intrepetant yang digunakan di Film Jokowi
sebagai bentuk kampanye politik.
4) Untuk mengetahui Realitas yang dibentuk di Film Jokowi sebagai
bentuk kampanye politik.
1.5
Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitian menggunakan analisis
semiotika pada Film Jokowi
1.5.1 Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontrIbusi bagi pengembangan
Ilmu Komunikasi khususnya pada kajian media film dengan menggunakan metode
semiotika mengenai penggunaan media sebagai alat kampanye politik dalam hal ini
media film.
1.5.2 Manfaat Praktis
Diharapkan penelitian tentang film Jokowi ini, bisa memberikan manfaat
bagi banyak orang (khalayak), dalam menganalisis setiap pesan dari media massa,
terutama film. Sehingga khalayak bisa menangkap dan menerapkan isi dari pesan
tersebut, baik pesan yang tampak maupun pesan yang tidak tampak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Paradigma Interpretif
Ada berbagai cara pandang atau paradigma yang dapat digunakan oleh
seseorang (peneliti) di dalam menjalani suatu proses kehidupan (mengkaji suatu
persoalan ilmu). Penggunaan paradigma tertentu akan menghasilkan tindakan
(simpulan temuan) tertentu pula, yang tindakan (simpulan temuan) itu akan sangat
berbeda jika menggunakan paradigma yang lain.
Dalam konteks akademik, paradigma dimaksudkan sebagai cara pandang
seseorang (peneliti) dalam mengembangkan suatu pengetahuan (melalui
penyelidikan ilmiah). Peneliti memiliki seperangkat keyakinan atas riset dan apa
yang dilakukannya dalam suatu penyelidikan ilmiah tersebut. Di dalam riset ilmu
sosial (dalam mana akuntansi ada di dalamnya) yang dimensinya meliputi
obyektifisme dan subyektifisme, setidaknya dikenal empat paradigma utama yaitu
fungsionalisme, interpretifisme, radikal humanisme, dan radikal strukturalisme
(Burel and G. Morgan 1979, 82), atau tiga paradigma meliputi mainstream
(positivisme), interpretifisme, dan kritisisme.
Dalam buku Miller (2002) kehidupan sehari-hari kita dihadapkan kita
dihadapkan sekaligus dengan keteraturan dan ketidakaturan interaksi komunikasi,
situasi-situasi yang terjadi mungkin biasa (kecil) ataupun luar biasa (besar).
Perspektif interpretif tumbuh berdasarkan ketidakpuasan dengan teori postpositivis. Perspektif positivis dipandang terlalu umum, terlalu mekanis, dan tidak
7
8
mampu menangkap keruwetan, nuansa, dan kompleksitas dari interaksi manusia
(Ardianto 2007, 124).
Paradigma Interpretif menekankan bahwa penelitian pada dasarnya
dilakukan untuk memahami realitas dunia apa adanya. Suatu pemahaman atas sifat
fundamental dunia sosial pada tingkatan pengalaman subyektif. Pemahaman yang
menekankan keberadaan tatanan sosial, konsensus, integrasi dan kohesi sosial,
solidaritas dan aktualitas.
Paradigma interpretif yang berakar dari tradisi pemikiran German ini
mencakup suatu rentang pemikiran filosofis dan sosiologis yang luas, namun
memiliki karakteristik upaya yang sama untuk memahami dan menjelaskan dunia
sosial. Kesamaan tersebut terutama berpangkal dari titik pandang bahwa aktor
secara langsung terlibat dalam proses sosial.
Dengan demikian maka dalam
mengkonstruksi ilmu sosial seharusnya tidak berfokus pada analisis struktur oleh
karena dunia sosial adalah realitas yang tidak independen dari kerangka pikiran
manusia sebagai aktor sosial.
Aliran-aliran pemikiran yang termasuk dalam
paradigma interpretif ini adalah hermeneutika, solipsisme, fenomenologi,
interaksionisme simbolik, dan ethnometodologi, serta etnografi (Burel and G.
Morgan 1979, 235)
2.2
Tradisi Semiotik
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), fungsi tanda,
dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu
yang lain. Semiotik mengkaji tanda, penggunaan tanda dan segala sesuatu yang
9
bertalian dengan tanda. Dengan kata lain, perangkat pengertian semiotik (tanda,
pemaknaan, denotatum dan interpretan) dapat diterapkan pada semua bidang
kehidupan asalkan ada prasyaratnya dipenuhi, yaitu ada arti yang diberikan, ada
pemaknaan dan ada interpretasi.
Semiotik atau penyelidikan simbol-simbol, membentuk tradisi pemikiran
yang penting dalam teori komunikasi. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori
tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, ide, situasi,
perasaan, dan kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri (Littlejohn 2011, 53).
Penyelidikan tanda-tanda tidak hanya memberikan cara untuk melihat komunikasi,
melainkan memiliki pengaruh yang kuat pada hamper semua perspektif yang
sekarang ditetapkan pada teori komunikasi (Littlejohn 2011, 53).
Konsep dasar yang menyatukan tradisi ini adalah tanda yang didefinisikan
sebagai stimulus yang menandakan atau menunjukkan beberapa kondisi lain seperti
ketika asap menandakan adanya api. Konsep dasar kedua adalah simbol yang
biasanya menandakan tanda yang kompleks dengan banyak arti, termasuk arti yang
sangat khusus. Beberapa ahli memberikan perbedaan yang kuat antara tanda dan
simbol. Tanda dalam realitasnya memiliki referensi yang jelas terhadap sesuatu,
sedangkan simbol tidak (Littlejohn 2011, 54).
Menurut Morris (dalam Littlejohn 2001, 55) dalam kajiannya, tradisi
semtiotik selalu dibagi ke dalam tiga wilayah kajian yaitu semantik, sitaktik, dan
pragmatik. Wilayah kajian pertama yaitu Semantik, semantik berbicara tentang
bagaimana tanda-tanda berhubungan dengan yang ditunjukkannya atau apa yang
10
ditunjukkan oleh tanda-tanda. Kapanpun kita memberikan sebuah pertanyaan “Apa
yang direpresentasikan oleh tanda?” maka kita berada dalam ranah semantik
(Littlejohn 2011, 55). Sebagai contoh, kamus merupakan referensi semantik: ia
mengatakan apa arti kata atau apa yang mereka representasikan. Sebagai prinsip
dasar semiotic, representasi selalu dimediasi oleh interpretasi sadar seseorang dan
interpretasi atau arti apa pun bagi sebuah tanda akan mengubah satu situasi ke
situasi lainnya.
Wilayah kajian kedua dalam semiotik adalah sintaktik atau kajian hubungan
di antara tanda-tanda. Tanda-tanda sebetulnya tidak pernah berdiri dengan
sendirinya. Hampir semuanya selalu menjadi bagian dari system tanda atau
kelompok tanda yang lebih besar yang diatur dalam cara-cara tertentu (Littlejohn
2011, 55). Oleh karena itu, sintaktik mengacu pada aturan-aturan yang dengannya
orang mengombinasikan tanda-tanda ke dalam system makna yang kompleks.
Semiotik tetap mengacu pada prinsip bahwa tanda-tanda selalu dipahami dalam
kaitannya dengan tanda-tanda lain.
Wilayah kajian ketiga yaitu Pragmatik, kajian ini memperlihatkan
bagaimana tanda-tanda membuat perbedaan dalam kehidupan manusia atau
penggunaan praktis serta berbagai akibat dan pengaruh tanda pada kehidupan
sosial. Cabang ini memiliki pengaruh yang paling penting dalam teori komunikasi
karena tanda-tanda dan system tanda dilihat sebagai alat komunikasi manusia
(Littlejohn 2011, 56). Semiotika pragmatik menguraikan tentang asal usul tanda,
kegunaan tanda oleh yang menerapkannya dan efek tanda bagi yang
menginterpretasikan dalam batas perilaku subjek. Dalam penelitian ini, tradisi
11
semiotik menjadi dasar peneliti untuk mengkaji dan mengetahui pesan dari tandatanda yang muncul dalam film Jokowi.
2.3
Komunikasi Massa
2.3.1 Pengertian Komunikasi Massa
Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication berasal dari
bahasa latin: communicatio dan bersumber dari kata communis yang berarti sama.
Sama di sini maksudnya adalah sama makna (Effendy 2001, 9). Komunikasi
menyentuh semua aspek kehidupan bermasyarakat, atau sebaliknya semua aspek
kehidupan masyarakat menyentuh komunikasi. Justru itu orang melukiskan
komunikasi sebagai ubiquitos atau serba hadir. Artinya komunikasi berada di
manapun dan kapanpun juga.
Menurut Carl I. Hovland dalam karyanya yang berjudul Social
Communication memunculkan istilah science of communication yang didefenisikan
sebagai suatu upaya yang sistematis untuk merumuskan dengan cara setepattepatnya asas-asas penstransmisian informasi serta pembentukan opini dan sikap
(Effendy 2001, 13).Sedangkan menurut Fisher (Arifin, 2003:20), komunikasi
menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat atau sebaliknya semua aspek
kehidupan masyarakat menyentuh komunikasi. Justru itu orang melukiskan
komunikasi sebagai ubiquitos atau serba hadir, artinya komunikasi berada di
manapun dan kapanpun juga. Rumusan komunikasi yang sangat dikenal orang
adalah rumusan yang dibuat oleh Harold Lasswell. Menurut Lasswell (Mulyana
2000, 65)komunikasi adalah: “who says what in which channel to whom with what
12
effect”. jadi, jika dipilah-pilahkan akan terdapat lima unsur atau komponen di dalam
komunikasi, yaitu:
1. Siapa yang mengatakan
komunikator (communicator)
2. Apa yang dikatakan
pesan (message)
3. Media apa yang digunakan
media (channel)
4. Kepada siapa pesan disampaikan
komunikan (communicant)
5. Akibat yang terjadi
efek (effect)
Pengertian komunikasi massa merujuk, kepada pendapat Tan dan Wright,
merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam
menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak,
bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen, dan menimbulkan efek
tertentu. Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh
Bittner (Ardianto, 2004:3), yakni: komunikasi massa adalah pesan yang
dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass
communication is messages communicated through a mass medium to a large
number of people). Dari defenisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa
itu harus menggunakan media massa.
Menurut Mulyana (Mulyana 2000, 75) komunikasi massa (mass
communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak
(surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh suatu
lembaga atau orang yang tersebar yang dilembagakan, yang ditujukan kepada
sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim dan heterogen.
13
Selain pengertian di atas, beberapa ahli komunikasi juga mengemukakan
pendapatnya tentang pengertian komunikasi massa. Joseph A. Devito merumuskan
komunikasi massa menjadi dua hal, yaitu: “Pertama, komunikasi massa adalah
komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa
banyaknya. Ini berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua
orang yang membaca atau semua orang yang menonton televisi, agaknya ini tidak
berarti pula bahwa khalayak itu besar pada umumnya agak sukar untuk
didefenisikan. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh
pemancar-pemancar yang bersifat audio atau visual. Komunikasi massa menjadi
lebih logis jika didefenisikan menurut bentuknya seperti televisi, radio, surat kabar,
majalah, buku, tabloid, film, dan pita” (Ardianto, 2004:6).
Defenisi komunikasi massa yang lebih rinci dikemukakan oleh ahli
komunikasi lain, yaitu Gebner, komunikasi massa adalah produksi dan distribusi
yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang berkesinambungan
serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri (Ardianto, 2004:4).
Menurut Joseph R. Dominick mendefenisikan komunikasi massa sebagai suatu
proses di mana suatu organisasi yang kompleks dengan bantuan satu atau lebih
mesin memproduksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang besar,
heterogen, dan tersebar.
Berdasarkan pengertian tentang komunikasi massa yang sudah dikemukakan
oleh para ahli komunikasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi
massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa modern (media cetak
dan elektronik) dalam penyampaian informasi yang ditujukan kepada sejumlah
14
khalayak (komunikan) heterogen dan anonim sehingga pesan yang sama dapat
diterima secara serentak.
Menurut Wright (1959), perubahan teknologi baru menyebabkan perubahan
dalam defenisi komunikasi yang mempunyai tiga ciri (Severin dan Tankard,
2007:4), yaitu:
1.Komunikasi massa yang diarahkan kepada audience yang relatif besar,
heterogen dan anonim.
2.Pesan-pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk bisa
mencapai sebanyak mungkin anggota audience secara serempak dan
sifatnya sementara.
3.Komunikator cenderung berada atau beropersi dalam sebuah organisasi
yang kompleks yang mungkin membutuhkan biaya yang besar.
2.3.2 Komponen Komunikasi Massa
Komunikasi massa pada dasarnya merupakan komunikasi satu arah, artinya
komunikasi berlangsung dari komunikator (sumber) melalui media kepada
komunikan (khalayak). Walaupun komunikasi massa dalam prosesnya bersifat satu
arah, namun dalam operasionalnya memerlukan komponen lain yang turut
menentukan lancarnya proses komunikasi. Komponen dalam komunikasi massa
ternyata tidak sesederhana komponen komunikasi yang lainnya.
Proses komunikasi massa lebih kompleks, karena setiap komponennya
mempunyai karakteristik tertentu adalah sebagai berikut (Ardianto, 2004:36-42).
15
a. Komunikator Dalam komunikasi massa produknya bukan merupakan
karya langsung seseorang, tetapi dibuat melalui usaha-usaha yang
terorganisasikan dari beberapa partisipan, diproduksi secara massal,
dan didistribusikan kepada massa.
b. Pesan Sesuai dengan karakteristik dari pesan komunikasi massa yaitu
bersifat umum, maka pesan harus diketahui oleh setiap orang. Penataan
pesan bergantung pada sifat media yang berbeda antara satu sama
lainnya.
c. Media Media yang dimaksud dalam proses komunikasi massa yaitu
media massa yang memiliki ciri khas, mempunyai kemampuan untuk
memikat perhatian khalayak secara serempak (simultaneous) dan
serentak (instananeous).
d. Khalayak Khalayak yang dituju oleh komunikasi massa adalah massa
atau sejumlah besar khalayak. Karena banyaknya jumlah khalayak
serta sifatnya yang anonim dan heterogen, maka sangat penting bagi
media untuk memperhatikan khalayak.
e. Filter dan Regulator Komunikasi Massa Dalam komunikasi massa
pesan yang disampaikan media pada umumnya ditujukan kepada massa
(khalayak) yang heterogen. Khalayak yang heterogen ini akan
menerima pesan melalui media sesuai dengan latar belakang sosial,
ekonomi, pendidikan, agama, usia, budaya. Oleh karena itu, pesan
tersebut akan di – filter (disaring) oleh khalayak yang menerimanya.
16
f. Gatekeeper (Penjaga Gawang) Dalam proses perjalanannya sebuah
pesan dari sumber media massa kepada penerimanya, gatekeeper ikut
terlibat di dalamnya. Gatekeeper dapat berupa seseorang atau satu
kelompok yang dilalui suatu pesan dalam perjalanannya dari sumber
kepada penerima.
2.3.3 Karakteristik Komunikasi Massa
Menurut Severin dan Tankard yang dikutip Suprapto dalam bukunya
“Pengantar Teori Komunikasi” (2006:13-14) berdasarkan sifat-sifat komponen,
komunikasi massa mempunyai ciri-ciri khusus sebagai berikut:
1. Berlangsung satu arah Bandingkan dengan komunikasi antar personal
yang berlangsung dua arah. Dalam komunikasi massa feedback baru
akan diperoleh setelah komunikasi berlangsung.
2. Komunikator pada komunikasi massa melembaga Informasi yang
disampaikan melalui media massa merupakan produk bersama.
Seorang komunikator dalam media massa bertindak atas nama lembaga
dan nyaris tak memiliki kebebasan individual.
3. Pesan-pesan bersifat umum Pesan-pesan yang disampaikan melalui
media massa pada umumnya bersifat umum (untuk orang banyak).
4. Melahirkan keserempakan Bagaimana kekuatan sebuah radio siaran
melalui acara tertentu memaksa pendengarnya untuk secara serempak
mendengarkan acara tersebut.
5. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen Kemajemukan
audience komunikasi massa menyebabkan pelaksana komunikasi
17
massa harus benar-benar mempersiapkan semua ide atau informasi
yang akan disampaikan sebaik mungkin sebelum disebarluaskan.
2.3.4 Fungsi Komunikasi Massa
Di samping memiliki cirri-ciri khusus, komunikasi massa juga mempunyai
fungsi bagi masyarakat. Adapun fungsi komunikasi massa menurut Dominick yang
dikutip Ardianto dkk dalam bukunya “Komunikasi Massa Suatu Pengantar”
(2004:15-18) adalah sebagai berikut:
1. Surveillance (Pengawasan)
Pengawasan mengacu kepada yang kita kenal sebagai peranan
berita dan informasi dari media massa. Media mengambil tempat para
pengawal yang mempekerjakan pengawasan.
2. Interpretation (Penafsiran)
Media massa tidak hanya menyajikan fakta atau data, tetapi juga
informasi beserta penafsiran mengenai suatu peristiwa tertentu. Tujuan
penafsiran media ingin mengajak para pembaca atau pemirsa untuk
memperluas wawasan dan membahasnya lebih lanjut dalam
komunikasi antarpribadi atau komunikasi kelompok.
3. Linkage (Pertalian)
Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat yang
beragam, sehingga membentuk lingkage (pertalian) berdasarkan
kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu.
18
4. Transmission of Values (Penyebaran nilai-nilai)
Fungsi ini juga disebut sosialisasi. Sosialisasi mengacu kepada
cara, di mana individu mengadopsi perilaku dan nilai kelompok. Media
massa menyajikan penggambaran masyarakat dan dengan membaca,
mendengar, dan menonton maka seseorang mempelajari bagaimana
khalayak berperilaku dan nilai-nilai apa yang penting.
5. Entertainment (Hiburan)
Fungsi menghibur dari komunikasi massa tidak lain tujuannya
adalah untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak, karena dengan
melihat berita-berita ringan atau melihat tayangan-tayangan hiburan di
televisi dapat membuat pikiran khalayak segar kembali
2.4
Teori Interpretif
Teori interpretif berarti pemahaman berusaha menjelaskan makna suatu
tindakan. Karena tindakan dapat memiliki banyak arti, maka makna tidak dapat
mudah diungkapkan begitu saja. Interpretif secara harfiah merupakan proses aktif
dan inventif. Teori interpretif umumnya menyadari bahwa makna dapat berarti
lebih dari apa yang dijelaskan oleh pelaku. Jadi interpretasi adalah suatu tindakan
kreatif dalam mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan makna.
Pada teori ini karakteristik umum yaitu penekanan terhadap peran
subjektifitas yang didasarkan pada pengalaman individual. Makna merupakan
konsep kunci dan pengalaman dipandang sebagai meaning centered, dan bahasa
dipandang sebagai kekuatan yang mengemudikan pengalaman manusia. Teori
interpretif cenderung menghindarkan sifat-sifat preskriptif dan keputusan-
19
keputusan absolute tentang fenomena yang diamati. Pengamatan menurut
interpretif hanyalah sesuatu yang bersifat tentative dan relatif. Dalam penelitian ini
teori intepretif ditunjukkan untuk memahami fenomena yang diamati dan
menginterpretasikan makna-makna yang muncul pada film Jokowi sebagai media
kampanye politik.
2.5
Teori Fenomenologi
Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, Phainoai, yang berarti
‘menampak’ dan phainomenon merujuk pada ‘yang menampak’. Istilah ini
diperkenalkan oleh Johann Heirinckh. Istilah fenomenologi apabila dilihat lebih
lanjut berasal dari dua kata yakni; phenomenon yang berarti realitas yang tampak,
dan logos yang berarti ilmu. Maka fenomenologi dapat diartikan sebagai ilmu yang
berorientasi unutk mendapatan penjelasan dari realitas yang tampak. Lebih lanjut,
Kuswarno menyebutkan bahwa Fenomenologi berusaha mencari pemahaman
bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep penting dalam kerangka
intersubyektivitas (pemahaman kita mengenai dunia dibentuk oleh hubungan kita
dengan orang lain) (Kuswarno 2009, 2).
Alfred Schutz merupakan orang pertama yang mencoba menjelaskan
bagaimana fenomenologi dapat diterapkan untuk mengembangkan wawasan ke
dalam dunia sosial. Schutz memusatkan perhatian pada cara orang memahami
kesadaran orang lain, akan tetapi ia hidup dalam aliran kesadaran diri sendiri.
Perspektif yang digunakan oleh schutz untuk memahami kesadaran itu dengan
konsep intersubyektif. Yang dimaksud dengan dunia intersubyektif ini adalah
20
kehdupan-dunia (life-world) atau dunia kehidupan sehari-hari (Ritzer and Goodman
2007, 94).
2.6
Teori Semiotika Charles Sander Peirce
Secara etimologis, istilah semiotik berasal dari kata Yunani semeion yang
berarti”tanda”. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu atas dasar konvensi
sosial yang terbangun sebelumnya, dan dapat dianggap mewakil sesuatu yang lain
(Sobur 2004, 95). Secara terminologis, semiotika adalah studi tentang tanda dan
segala yang berhubungan dengan; cara berfungsinya, hubungannya dengan tandatanda lain, pengirimannya, dan penerimaan oleh mereka yang mempergunakannya
(Sujiman and Zoest 1992, 5).
Semiotik ini menekankan pada fungsi tentang yang tanda yang kita gunakan
dalam rangka komunikasi baik itu secara verbal, non verbal dan maupun visual
(Senel 2007, 118). Analisis semiotik merupakan cara atau metode untuk
menganalisis dan memberikan makna-makna terhadap lambang-lambang yang
terdapat suatu paket lambang-lambang pesan atau teks (Pawito 2007, 155-156).
Teks yang dimaksud dalam hubungan ini adalah segala bentuk sistem lambang
(sign) baik yang terdapat pada media massa maupun yang terdapat diluar media
massa.
Urusan analisis semiotik adalah melacak makna-makna yang diangkut
dengan teks berupa lambang-lambang (signs). Dengan kata lain, pemaknaan
terhadap lambang-lambang dalam tekslah yang menjadi pusat perhatian analisis
semiotik. Di dalam setiap teks, tanda-tanda di organisasikan ke dalam sistem tanda
21
yang oleh ilmu semiotika merupakan sebuah kode. Kode mempunyai sejumlah unit
(atau kadang-kadang satu unit) tanda. Cara menginterpretasi pesan-pesan yang
tertulis yang tidak mudah dipahami. Jika kode sudah diketahui, makna akan bisa
dipahami. Dalam semiotik, kode dipakai untuk merujuk pada struktur perilaku
manusia (Rachmat 2006, 269).
Jika dalam teks kita dapat memilih dan menghubungkan tanda-tanda dalam
hubungannya dengan kode-kode yang sudah kita kenali maknanya, selanjutnya
dilanjutkan kepada sasaran informasi atau pembaca yang kita inginkan. Karena
sistem tanda sifatnya konteksual dan bergantung pada pengguna tanda. Pemikiran
pengguna tanda merupakan hasil pengaruh dari berbagai konstruksi sosial di mana
pengguna tanda tersebut berada.
Dalam membaca sebuah teks, pembaca menginterpretasikan tanda dengan
acuan yang telah dipahami dan dimengerti. John Fiske menyebut bahwa semiotika
mempunyai tiga bidang studi utama, yaitu (Fiske 2006, 60):
a. Tanda itu sendiri. Hal ini terdiri atas studi tentang berbagai tanda yang
berbeda, cara tanda-tanda yang berbeda itu dalam menyampaikan makna,
dan cara tanda-tanda itu terkait dengan manusia yang menggunakannya.
Tanda adalah konstruksi manusia dan hanya bisa dipahami dalam artian
manusia yang menggunakannya.
b. Kode atau sistem yang mengorganisasikan tanda. Studi ini mencakup
cara berbagai kode dikembangkan guna memenuhi kebutuhan suatu
22
masyarakat atau budaya atau untuk mengeksploitasi saluran komunikasi
yang tersedia untuk mentransmisikasikannya.
c. Kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja. Ini pada gilirannya
bergantung pada penggunaan kode-kode dan tanda-tanda itu untuk
keberadaan dan bentuknya sendiri.
Dalam semiotika komunikasi, tanda atau signal dikaji dalam konteks
komunikasi yang lebih luas yaitu melibatkan berbagai elemen komunikasi. Charles
Sanderss Peirce melihat tanda (representamen) sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari objek referensinya serta pemahaman subjek atas tanda
(interpretant) (Piliang 2003, 266). Tampak pada definisi Peirce tersebut peran
subjek (somebody) sebagai bagian tidak terpisahkan dari pertandaan, yang menjadi
landasan semiotika komunikasi.
Penempatan tanda atau signal didalam rantai komunikasi menyebabkan
tanda atau signal mempunyai peran yang penting dalam penting dalam komunikasi.
Jadi, dalam teori komunikasi perhatian lebih kepada kondisi penyampaian
signifikasi, yaitu ada saluran komunikasi. Berkat saluran komunikasi inilah pesan
dapat disampaikan (Sujiman and Zoest 1992, 6).
Peirce juga mengungkapkan bahwasanya makna tanda yang sebenarnya
adalah mengemukakan sesuatu (Sujiman and Zoest 1992, 7). Tanda sebagai
produksi pesan, direkonstruksi berdasarkan konteks atau sistem sosial-budaya. Jadi,
tanda bersumber dari referensi sosial-budaya yang disepakati bersama untuk
dijadikan sebagai pedoman dan acuan untuk berkomunikasi. Menurut Peirce, suatu
23
sistem semiotik terdiri dari tanda, objek dan interpretant, dimana interpretant
datang dari interpreter di dalam sistem dan mengambil bagian aktif dalam proses
semiosis (Barbieri 2008, 1-3).
Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam
hubungan triadik, yakni representamen (R), objek (O), dan interpertant (I). R
adalah bagian tanda yang dapat dipersepsi (secara fisik atau mental). Pada bagian
inilah, seorang manusia mempersepsi dasar (ground). Selanjutnya, tanda ini
merujuk pada sesuatu yang diwakili olehnya (O). Bagian ini menuntun seseorang
mengaitkan dasar (ground) dengan suatu pengalaman. I merupakan bagian dari
proses yang menafsirkan hubungan R dengan O. Di sini seseorang bisa menafsirkan
persepsi atas dasar yang merujuk pada objek tertentu. Dengan demikian, Peirce
menjadikan tanda tidak hanya sebagai representatif, tetapi juga interpretatif.
Peirce melihat subjek sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses
signifikasi. Model triadik Peirce (representamen + objek + interpretan = tanda)
memperlihatkan peran besar subjek dalam proses transformasi bahasa. Tanda dalam
pandangan Peirce selalu berada di dalam proses perubahan tanpa henti, yang
disebut proses semiosis tidak berbatas (unlimited semiosis), yaitu proses penciptaan
rangkaian interpretan yang tanpa akhir (Piliang 2003, 266).
24
Gambar 2.1 Model Unsur Makna Peirce (Fiske 2006, 63)
Model triadik Peirce tersebut memperlihatkan tiga elemen utama pembentuk
tanda, yaitu representamen (sesuatu yang merepresentasikan sesuatu yang lain),
objek (sesuatu yang direpresentasikan), dan interpretan (interpretasi seseorang
tentang tanda) (Piliang 2003, 267).
Panah dua arah menekankan bahwa masing-masing istilah dapat dipahami
hanya dalam relasinya dengan yang lain. Sebuah tanda mengacu pada sesuatu di
luar dirinya sendiri-objek, dan ini dipahami oleh seseorang; dan ini memiliki efek
di benak penggunanya-interpretant (Fiske 2006, 63). Prinsipnya, segala sesuatu
yang dapat menimbulkan kesan dapat pula berfungsi sebagai tanda. Pentingnya hal
ini terletak pada perhatian yang kemudian diarahkan pada keseluruhan sistem tanda,
karena dari sini dan dari pengetahuan kitalah hal itu kita peroleh. Tanda yang
terpisah mendapatkan arti dari pembedaan, pembandingan, dan pemilihan yang
dilakukan secara sistematis, diatur dalam ilmu bahasa atau kaidah sistem tanda dari
nilai yang diberikan oleh kaidah budaya dan sistem tanda (McQuill 1995, 182).
25
Atas dasar hubungan ini, Peirce mengadakan klasifikasi tanda. Tanda yang
dikaitkan dengan sifat ground dibaginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign.
Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda. Sinsign adalah eksistensi aktual
benda atau peristiwa yang ada pada tanda. Legisign adalah norma yang dikandung
oleh tanda (Sobur, 2004:32).
Berdasarkan sifat hubungan antara ground dan objek-nya, Peirce
membedakan tanda atas lambang (symbol), ikon (icon), dan indeks (index). Peirce
berpendapat bahwasanya model tersebut bermanfaat dan fundamenal mengenai
sifat tanda. Ketiganya dapat dijelaskan demikian (Fiske 2006, 70-71):
a. Lambang (symbol): suatu tanda dimana hubungan antara tanda dan
acuannya merupakan hubungan yang sudah terbentuk secara
konvensional. Lambang ini adalah tanda yang dibentuk karena adanya
konsensus dari para pengguna tanda.
b. Ikon (icon): suatu tanda dimana hubungan antara tanda dan acuannya
berupa hubungan berupa kemiripan. Jadi, ikon adalah bentuk tanda
yang dalam berbagai bentuk menyerupai objek dari tanda tersebut.
c. Indeks (index): suatu tanda yang hubungan eksistensinya langsung
dengan objeknya. Jadi, indeks adalah suatu tanda yang mempunyai
hubungan langsung (kausalitas) dengan objeknya.
Tabel 2.1 Penjelasan Ikon, Indeks, Simbol
Jenis
Tanda
Hubungan Antara Tanda dan
Sumber Acuannya
Contoh
26
Ikon
Tanda
dirancang
untuk
merepresentasikan sumber acuan
melalui sumulasi atau persamaan
(artinya, sumber acuan dapat
dilihat, didengan, dan seterusnya
dalam ikon).
Segala macam gambar
(bagan, diagram, dan
lain-lain), photo, katakata onomatopoeia, dan
seterusnya.
Indeks
Tanda
dirancang
untuk
mengindikasikan sumber acuan
atau saling menghubungkan
sumber acuan.
Jari yang menunjuk
kata kerengan seperti
disini, disana, kata
ganti seperti aku, kau,
ia dan seterusnya
Simbol
Tanda
dirancang
menyandikan sumber
melalui
kesepakatan
persetujuan
Simbol social seperti
mawar,
simbil
matematika,
dan
seterusnya
untuk
acuan
atau
Lalu berdasarkan Intrepetant, tanda dibagi menjadi atas Rheme, dicisign dan
Argument. Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan
berdasarkan pilihan. Misalnya, orang yang merah matanya dapat saja menandakan
bahwa orang itu baru menangis, atau menderita penyakit mata. Dicent sign atau
dicisign adalah tanda sesuai kenyataan. Misalnya jika pada suatu jalan serng terjadi
kecelakaan, maka di tepi jalan dipasang rambu lalu lintas yang menyatakan bahwa
disitu sering terjadi kecelakaan. Argument adalah tanda yang langsung memberikan
alasan tentang sesuatu.
2.7
Konsep – Konsep
2.7.1 Media Massa
Dalam komunikasi massa, media massa merupakan alat atau sarana dalam
pentransferan informasi. Dijelaskan pula bahwa media massa digunakan untuk
27
menunjukkan penerapan suatu alat teknis (media) yang menyalurkan atau
merupakan wadah komunikasi massa. Dari pengertian tersebut media massa juga
diartikan sebagai sarana penyampaian pesan yang berhubungan langsung dengan
masyarakat luas, misalnya surat kabar.
Secara umum media massa berfungsi sebagai alat yang bertujuan
menyalurkan pesan kepada khalayak sehingga tampaklah bahwa media massa
diperuntukkan untuk massa. Melalui media massa berbagai rangkaian peristiwa di
masyarakat disajikan. Pada akhirnya peran yang dilakukan media massa baik
sebagai toko informasi maupun institusi dengan demikian memiliki hubungan erat
dengan kebutuhan manusia.
Salah satu kebutuhan manusia yang paling esensi, baik individu maupun
masyarakat adalah kebutuhan untuk merancang dan mendapatkan informasi.
Melalui informasi dapat menambah pemgetahuan dan memperluas cakrawala
pemikiran. Dalam hubungan seperti ini, media massa dapat dikatakan sebagai
sumber dominan dalam penyebaran informasi karena dapat menjangkau khalayak
secara luas dan banyak.
2.7.2 Film
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI: 2003), film diartikan
sebagai (1) Selaput tipis yang dibuat dari seluloid untuk tempat gambar negative
(yang akan dibuat potret) atau tempat positif yang akan dimainkan di bioskop; (2)
Lakon (cerita) gambar hidup (Nasional 2002, 316).
28
Para teoritikus film menyatakan bahwa film adalah perkembangan yang
bermuncul dari fotografi. Hanya saja foto tidak memperlihatkan ilusi gerak (baca:
statis), sedangkan film memberikan ilusi gerak (moving camera). Film adalah
gambar hidup, juga sering disebut dengan movie. Gambar hidup adalah bentuk seni,
bentuk populer dari hiburan dan juga bisnis. Film merupakan teknologi hiburan
massa dan untuk menyebarluaskan informasi dan berbagai pesan dan skala luas di
samping pers, radio, dan televisi (McBridge 1983, 20).
Berdasarkan undang-undang perfilman No. 8 Tahun 1992: film adalah karya
cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar
yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada seluloid, pita
video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam
segala bentuk, jenis dan ukuran melalui proses kimiawi, elektronik atau lainnya.
Sedangkan perfilman itu sendiri adalah seluruh kegiatan yang berhubungan dengan
pembuatan jasa, teknik, pengeksporan, pengimporan, pengedaran, pertunjukan,
dan/atau penayangan film.
2.7.2.1
Film Sebagai Media Massa
Film adalah gambar yang bergerak yang diproduksi secara khusus untuk
dipertunjukan di gedung-gedung pertunjukan (bioskop), film ini jenisnya teatrikal.
Hal ini diperkuat dengan pendapat atau pandangan undang-undang nomor 8 tahun
1992, yang mengatakan bahwa film adalah karya cipta seni dan budaya yang
merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas
sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan /
atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan
29
ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau
tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan / atau ditayangkan dengan sistem
proyeksi mekanik, eletronik, dan / atau lainnya.
Media massa (film) merupakan perpanjangan tangan dari masyarakat,
sehingga apa yang terkandung dalam media tersebut merupakan gambaran realitas
sosial di masyarakat, yang mempunyai kekuatan dalam menyampaikan suatu
makna, tentunya dengan ide yang dituangkan oleh komunikator lewat berita dan
hiburan yang dikemas dalam isi pesan media. McQuail (1987) mendefinisikan
pandangannya tentang media sebagai berikut:
1. Media massa sebagai penterjemah yang menolong kita, menjadikan
pengalaman diri menjadi suatu yang masuk akal.
2. Media adalah angkutan yang menyampaikan informasi.
3. Media merupakan sarana komunikasi interaktif yang memberikan
kesempatan kepada khalayak atau masyarakat untuk memberikan
tanggapan atau umpan balik.
4. Media merupakan tanda yang memberikan intruksi dan menunjukkan arah.
5. Media merupakan filter yang memfokuskan kita pada beberapa bagian dari
pengalaman pribadi dan mengalihkannya dari beberapa bagian yang lain.
6. Media merupakan cermin yang merefleksikan diri kita.
7. Media merupakan pagar pembatas yang memblokir suatu kebenaran.
Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari
sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi
30
mekanis seperti surat kabar, film, radio, dan televisi Cangara (1998). Media massa
juga mempunyai kemampuan yang kuat dalam mengubah perilaku khalayak
(komunikan) melalui proses imitasi (belajar sosial). Hal ini dapat dilihat dari
banyaknya stasiun televisi, radio, perusahaan media cetak, baik itu surat kabar,
majalah, dan media cetak lainnya, sebab masyarakat selalu haus akan informasi,
hiburan dan lain sebagainya yang disediakan oleh media massa.
Hal ini dipertegas oleh McQuil (1987), yang mengatakan” Media massa
merupakan salah satu sarana untuk pengembangan kebudayaan, bukan hanya udaya
dalam pengertian seni dan simbol tetapi juga dalam pengertian pengembangan tatacara, mode, gaya hidup dan norma-norma”. Sementara menurut Liliweri (2001),
jenis media massa berorientasi pada 3 aspek penting. Pertama mengenai
penglihatan (visual dan verbal) dalam hal ini media cetak, kedua mengenai
pendengaran (audio) semata-mata (radio, tape recorder), verbal vokal dan yang
ketiga mengenai pendengaran dan penglihatan (televisi, film, video) yang bersifat
verbal visual vokal. Bahkan menurut Nurudin (2007), media massa mampu
menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tak terbatas. Selain itu media
massa juga mempunyai fungsi. Menurut Bungin (Bungin, Sosiologi Komunikasi:
Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat 2007, 7881) fungsi Komunikasi massa adalah fungsi pengawasan, fungsi social learning,
fungsi penyampaian informasi, fungsi tranformasi budaya, dan fungsi hiburan.
1. Fungsi pengawasan, media massa merupakan sebuah medium dimana
dapat digunakan untuk pengawasan aktivitas masyarakat pada umumnya.
31
Fungsi pengawasan ini bisa berupa peringatan dan kontrol sosial maupun
kegiatan persuasif.
2. Fungsi social learning, fungsi utama dari komunikasi media massa adalah
melakukan guiding dan pendidikan sosial kepada seluruh masyarakat.
Media massa bertugas untuk memberikan pencerahan-pencerahan
kepada masyarakat dimana komunikasi massa itu berlangsung.
3. Fungsi penyampaian informasi, komunikasi massa mengandalkan media
massa, sebagai alat dalam proses penyampaian informasi kepada
masyarakat luas. Komunikasi massa memungkinkan informasi dari
institusi publik tersampaikan kepada masyarakat secara luas dalam waktu
yang cepat dan singkat.
4. Fungsi transformasi budaya, merupakan fungsi yang yang bersifat
dinamis. Komunikasi massa sebagaimana sifat-sifat budaya massa, maka
yang terpenting adalah komunikasi massa menjadi proses transformasi
budaya
yang dilakukan bersama-sama oleh semua komponen
komunikasi massa, terutama yang didukung oleh media massa.
5. Fungsi hiburan, komunikasi massa juga digunakan sebagai medium
hiburan, terutama karena komunikasi massa menggunakan media massa.
Jadi fungsi hiburan yang ada pada media massa, juga merupakan bagian
dari fungsi komunikasi massa.
Dengan demikian, maka fungsi hiburan dari komunikasi massa saling
mendukung fungsi-fungsi lainnya dalam proses komunikasi massa.
32
2.7.2.2
Film Sebagai Realitas Tanda
Media dalam hal ini film, bisa diartikan sebagai sistem tanda atau lambang
tertentu yang berada ditengah khalayak, yang diekspresikan sebagai seni dan karya
sastra kemudian ditungkan dalam isi pesan pada sebuah film. Sebagai realitas tanda,
isi pesan film banyak dipandang sebagai gambaran simbolik (symbolic
representation), dari suatu budaya dan latar belakang di masyarakat. Sehingga isi
pesan dalam film yang disampaikan oleh sutradara (komunikator), merupakan
cerminan dari realitas sosial yang berupa nilai-nilai, aturan, dan tatanan normatif,
yang diangkat dari simbol-simbol realitas menjadi tontonan yang dipadukan antara
berita dan hiburan.
Tanda dalam realitas tersebut diangkat dari persepsi sutradara (komunikator)
sendiri, yang dimaknai dari pengalaman yang didapat atau dilihat dari lingkungan
sosial budaya. Sehingga film tidak semata membentuk realitas tapi memberikan
penekanan persepsi di depan kamera. Hal ini diperkuat oleh pandangan Sobur
(Sobur 2004), bahwa film bukan semata-mata memproduksi realitas tetapi juga
mendefinisikan realitas.
Film dibagi kedalam tiga kategori yaitu film fitur, film dokumenter, dan film
animasi yang biasa disebut dengan film kartun.
1. Film fitur, merupakan karya fiksi yang stukturnya berupa narasi yang
dibuat dengan tiga tahap. Tahap praproduksi merupakan tahap ketika
skenario diperoleh. Skenario ini bisa berupa adaptasi dari novel, cerita
pendek atau karya cetakan lainya. Bisa juga dibuat secara khusus untuk
33
dibuat filmnya. Tahap produksi yaitu masa berlangsunganya
pembuatan film berdasarkan skenario itu. Tahap terakahir, adalah posproduksi (editing), ketika semua bagian film dalam pengambilan
gambar tidak sesuai urutan cerita, disusun menjadi suatu kisah yang
menyatu.
2. Film dokumenter, merupakan film yang nonfiksi yang menggambarkan
situasi kehidupan nyata, dengan setiap individu menggambarkan
perasaannya dan pengalamanya dalam situasi apa adanya. Tanpa
persiapan, langsung pada kamera dan pewawancara. Film dokumenter
sering kali diambil tanpa skrip dan jarang ditampilkan di gedung
bioskop seperti film fitur. Film jenis ini biasanya ditampilkan di
televisi.
3. Film animasi, merupakan film yang menggunakan teknik ilusi gerakan
dari serangkaian gambaran benda dua atau tiga dimensi. Penciptaan
tradisional dari animasi gambar bergerak selalu diawali hampir
bersamaan dengan peyusunan storyboard, yaitu serangkaian sketsa
yang menggambarkan bagian penting cerita. Sketsa tambahan
dipersiapkan kemudian untuk memberikan ilustrasi latar belakang,
dekorasi serta tampilan dan karakter tokohya.
Selain
berbagai
jenis
film
tersebut
di
atas,
Ardianto
(2004),
mengelompokkan film menjadi 4 jenis salah satunya adalah film cerita (story film):
Film cerita adalah film yang mengandung suatu cerita, dan biasanya cerita yang
diangkat untuk membuat sebuah film jenis ini, bisa fiksi dan bisa juga berdasarkan
34
kisah nyata yang sudah dimodifikasi oleh sutradara, supaya lebih terlihat menarik
baik dari segi cerita maupun dari segi gambarnya. Film yang penulis teliti
merupakan film yang termasuk ke dalam jenis film cerita seperti yang telah
disebutkan oleh Ardianto, karena isi pesan dalam film ini merupakan kisah nyata
atau realitas sesungguhnya yang diangkat oleh sutradara menjadi sebuah film cerita.
2.7.2.3
Film Sebagai Representasi Realitas
Secara etimologis, film berarti moving image, gambar bergerak. Awalnya,
film lahir sebagai bagian dari perkembangan teknologi. Ia ditemukan dari hasil
pengembangan prinsip-prinsip fotografi dan proyektor. Thomas Edison yang untuk
pertama kalinya mengembangkan kamera citra bergerak pada tahun 1888 ketika ia
membuat film sepanjang 15 detik yang merekam salah seorang asistennya ketika
sedang bersin. Segera sesudah itu, Lumiere bersaudara memberikan pertunjukkan
film sinematik kepada umum di sebuah kafe di Paris (Danesi, Pesan, Tanda dan
Makna 2010, 132).
Pada titik ini film telah menjadi media bertutur manusia, sebuah alat
komunikasi, menyampaikan kisah. Jika sebelumnya bercerita dilakukan dengan
lisan, lalu tulisan, kini muncul satu medium lagi: dengan gambar bergerak, yang
diceritakan adalah perihal kehidupan. Di sinilah kita lantas menyebut film sebagai
representasi dunia nyata. Eric Sasono menulis, dibanding media lain, film memiliki
kemampuan untuk meniru kenyataan sedekat mungkin dengan kenyataan seharihari. Film dibuat representasinya oleh pembuat film dengan cara melakukan
pengamatan terhadap masyarakat, melakukan seleksi realitas yang bisa diangkat
35
menjadi film dan menyingkirkan yang tidak perlu, dan direkonstruksi yang dimulai
saat menulis skenario hingga film selesai di buat.
Meski demikian, realitas yang tampil dalam film bukanlah realitas
sebenarnya. Film menjadi imitasi kehidupan nyata (Irwansyah 2009, 12), yang
merupakan hasil karya seni, di mana di dalamnya di warnai dengan nilai estetis dan
pesan-pesan tentang nilai yang terkemas rapi (Al-Malaky 2004, 139).
Dalam kajian semiotik, film adalah salah satu produk media massa yang
menciptakan atau mendaur ulang tanda untuk tujuannya sendiri. Caranya adalah
dengan mengetahui apa yang dimaksudkan atau direpresentasikan oleh sesuatu,
bagaimana makna itu digambarakan, dan mengapa ia memiliki makna sebagaimana
ia tampil. Pada tingkat penanda, film adalah teks yang memuat serangkaian citra
fotografi yang mengakibatkan adanya ilusi gerak dan tindakan dalam kehidupan
nyata. Pada tingkat petanda, film merupakan cermin kehidupan metaforis. Jelas
bahwa topik film menjadi sangat pokok dalam semiotik media karena di dalam
genre film terdapat sistem signifikansi yang ditanggapi orang-orang masa kini dan
melalui film mereka mencari rekreasi, inspirasi, dan wawasan pada tingkat
interpretant (Danesi 2010,134).
2.7.3 Kampanye Politik
Terdapat banyak definisi mengenai kampanye yang dikemukakan oleh para
ilmuwan komunikasi, namun berikut ini adalah beberapa definisi yang populer.
Snyder (2002) dalam Venus (2004), mendefinisikan bahwa kampanye komunikasi
merupakan aktivitas komunikasi yang terorganisasi, secara langsung ditujukan
36
kepada masyarakat tertentu, pada periode waktu yang telah ditetapkan untuk
mencapai tujuan tertentu. Pfau dan Parrot (1993) dalam Venus (2004),
mendefinisikan kampanye sebagai kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk
menunjang dan meningkatkan proses pelaksanaan yang terencana pada periode
tertentu yang bertujuan mempengaruhi masyarakat sasaran tertentu.
Rogers dan Storey (1987) dalam Venus (2004), mendefiniskan kampanye
sebagai serangkaian kegiatan komunikasi yang terorganisasi dengan tujuan untuk
menciptakan dampak tertentu terhadap sebagian besar masyarakat sasaran secara
berkelanjutan dalam periode waktu tertentu. Berdasarkan beberapa definisi di atas,
Venus (2004) mengidentifikasi bahwa aktivitas kampanye setidaknya harus
mengandung empat hal yakni, (1) ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak
tertentu (2) ditujukan kepada jumlah masyarakat sasaran yang besar (3) dipusatkan
dalam kurun waktu tertentu
dan (4) dilakukan melalui serangkaian tindakan
komunikasi yang terorganisasi.
Kampanye politik adalah bentuk komunikasi politik yang dilakukan
seseorang atau sekelompok orang atau organisasi politik dalam waktu tertentu
untuk memperoleh dukungan politik dari masyarakat (Arifin, 2003). Salah satu
jenis kampanye politik adalah kampanye massa, yaitu kampanye politik yang
ditujukan kepada massa (orang banyak), baik melalui hubungan tatap muka maupun
dengan menggunakan berbagai media, seperti surat kabar, radio, televisi, film,
spanduk, baligo, poster, folder dan selebaran serta medium interaktif melalui
komputer (internet). Penyampaian pesan politik melalui media massa merupakan
bentuk kampanye yang handal dalam hal menjangkau masyarakat luas. Kampanye
37
politik saat ini sudah mengadopsi prinsip-prinsip pemasaran dan pembentukan
citra.
Menurut Ruslan (2005), kampanye politik merupakan jenis kampanye yang
pada umumnya dimotivasi oleh hasrat untuk meraih kekuasaan. Tujuan dari
kampanye ini adalah untuk memenangkan dukungan masyarakat terhadap
kandidat-kandidat yang dicalonkan agar dapat menduduki jabatan politik yang
diperebutkan lewat proses pemilihan. Kegiatan untuk membangun citra atau image
merupakan bagian penting dalam kampanye politik untuk memperoleh dukungan.
Terkait dengan komunikasi dalam kampanye politik, terdapat beberapa aktivitas
komunikasi yang dapat diidentifikasi. Menurut Nimmo (2005), kegiatan
komunikasi politik adalah kegiatan simbolik dimana kata-kata itu mencakup
ungkapan yang dikatakan atau dituliskan, gambar, lukisan, foto, film, gerak tubuh,
ekspresi wajah dan segala cara bertindak. Orang-orang yang mengamati simbolsimbol itu, menginterpretasikannya dengan cara-cara yang bermakna sehingga
membentuk citra mental tentang simbol-simbol tersebut.
Kampanye politik berbeda dengan kampanye pemilu. Kampanye politik
harus dilakukan secara permanen ketimbang periodik (Bluementhal 1982).
Perhatian kampanye politik tidak hanya terbatas pada periode menjelang pemilu,
tetapi sebelum dan setelah pemilu juga berperan amat penting dalam pembentukan
image politik yang nantinya akan mempengaruhi perilaku pemilih dalam
mengevaluasi kualitas kontestan (Firmanzah 2007, 272).
38
Tabel 2.2 Perbedaan Kampanye Pemilu dan Kampanye Politik
Kampanye Pemilu
Jangka dan Batas
Waktu
Periodik dan tertentu
Tujuan
Menggiring pemilih ke bilik
suara
Strategi
Mobilisasi dan berburu
pendukung Push-Marketing
Komunikasi
politik
Sifat hubungan
antara kandidat
dan pemilih
Kampanye Politik
Jangka panjang dan terus
menerus
Image politik
Membangun dan
membentuk reputasi
politik Pull Marketing
Interaksi dan mencari
Satu arah dan penekanan
pemahaman beserta
kepada janji dan harapan politik
solusi yang dihadapi
kalau menang pemilu
masyarakat
Pragmatis/traksaksi
Hubungan relasional
Produk politik
Janji dan harapan politik, figure
kandidat dan program kerja
Pengungkapan masalah
dan solusi. Ideology dan
system nilai yang
melandasi tujuan politik
Sifat program
kerja
Market-oriented dan berubahubah dari pemilu satu ke
pemilu lainnya
Konsisten
Retensi memori
kolektif
Cenderung mudah hilang
Sifat kampanye
Jelas, terukur dan dapat
dirasakan langsung aktivitas
fisiknya
Tidak mudah hilang
dalam ingatan kolektif
Bersifat laten, bersikap
kritis dan bersifat
menarik simpati
masyarakat.
Tabel diatas menjelaskan perbedaan yang cukup signifikan anatara
kampanye pemilu dan kampanye politik. Kampanye pemilu mencangkup semua
aktivitas politik yang ditujukan untuk menggiring pemilu ke tempat-tempat
pencoblosan. Sementara kampanye politik bersifat jangka panjang dan dilakukan
secara terus-menerus untuk membangun image politik. Image politik yang telah
terbangun melalui proses interaksi terus-menerus dengan masyarakat tidak mudah
hilang dari memori kolektif masyarakat. Dalam penelitian ini, Film Jokowi masuk
kedalam kategori kampanye politik. Hal ini dikarenakan film bersifat tidak mudah
39
hilang dalam ingatan kolektif, selain itu film Jokowi bertujuan untuk membangun
dan membentuk reputasi Jokowi.
2.8
Kerangka Berpikir
Menurut Uma Sekaran dalam Sugiyono mengemukakan bahwa kerangka
berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan
dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasikan sebagai masalah yang penting
(Sugiyono 2009).
Dalam penelitian ini Peneliti mengangkat fenomena penggunaan Film
Jokowi sebagai media kampanye politik atau media kampanye Joko Widodo yang
diisukan akan dicalonkan sebagai Presiden Republik Indonesia tahun 2014.
Fenomena yang diteliti adalah scenes-scenes atau adegan dalam film Jokowi
dengan menggunakan teori segitiga Charles Sanders Peirce yang berfokus pada
Tanda, Objek dan Interpretasi dari setiap Scenes. Peneliti juga melakukan
wawancara terhadap informan yang terkait atau mengetahui bahwa Film Jokowi
dibuat sebagai media kampanye politik Joko Widodo.
40
Film Jokowi mempunyai
makna
sebagai
media
kampanye
politik
Joko
Widodo, adalah merupakan
fenomena yang akan diteliti
Scenes/Adegan dalam Film Jokowi
di teliti dan di analisis
menggunakan Model semiotika
Peirce
Apply Theory: Model Semiotika
Model Charles Sanders Peirce
Object
Representament
Intrepetant
Tanda-Tanda dalam Film Jokowi Sebagai Media
Kampanye Politik
Gambar 2.2 Bagan Kerangka Berpikir
2.9
Penelitian Terdahulu
Terdapat dua penelitian yang dianggap relevan dalam penelitian ini,
diantaranya yaitu Achmad Fuad Abdul Rozak, D (2009) dengan judul “Iklan
Politik Caleg Dalam Persepsi Pemilih Pemula (Study Deskriptif Kualitatif Tentang
Iklan Politik Caleg DPRD II Surakarta Melalui Media Luar Ruang Dalam Persepsi
Pemilih Pemula di SMA Negeri III Surakarta)”. Achmad Fuad melihat perubahan
lama masa kampanye caleg pada pemilu 2009 yang semakin panjang dan penetapan
caleg menggunakan sistem suara terbanyak, mendorong para caleg berkampanye
melalui berbagai cara dan media.
Salah satu media media yang dipakai untuk memperkenalkan sosok caleg
adalah media luar ruang karena berbiaya relatif lebih murah dan mampu
menjangkau khalayak cukup luas dengan waktu pemasangan cukup lama. Karena
itu caleg membuat iklan politik di medialuar ruang agar profil mereka dikenali
masyarakat.
Pemilih pemula sebagai segmen pemilih yang dinilai masih
independen, merupakan salah satu sasaran dari media komunikasi tersebut. Tujuan
dari adanya penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana bentuk iklan
politik caleg DPRD II Surakarta di media luar ruang. Selain itu penelitian ini juga
bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi pemilih pemula terhadap iklan
politik caleg di media luar ruang.
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan
metode wawancara mendalam yang dibantu juga dengan FGD (Focus group
discussion) untuk memperkuat data. Pengambilan sampel penelitian ini adalah
melalui purposive sampling yaitu pemilihan secara sengaja dengan maksud
42
menemukan apa yang sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini,
responden penelitian disebut sebagai informan. Adapun jumlah informan dalam
penelitian ini yaitu 4 orang calon anggota legislatif DPRD II Surakarta dan 12 orang
pemilih pemula di SMA Negeri III Surakarta.
Media luar ruang dianggap mampu memberikan informasi awal mengenai
profil caleg. Namun pesan politik caleg dianggap terlalu biasa. Sementara strategi
penempatan media luar ruang dinilai masih banyak kekurangan yang perlu
diperbaiki. Oleh karena itu, caleg harusnya memamakai konsep USP (Unique
Selling Proposition) agar iklan mereka lebih menarik. Sedangkan letak penempatan
iklan sebaiknya ditata dengan rapi dan tidak mengganggu lingkungan. Selain itu,
perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai efek komunikasi untuk mengetahui
sejauh mana pengaruh iklan media luar ruang terhadap keputusan memilih pada
khalayak.
Selanjutnya yaitu Indra Nur Laeli (2011), dengan judul “Politik dan
Internet Fungsi Internet dalam Kampanye Pemilihan Anggota DPRD Kota
Surabaya”. Penelitian ini dilatar belakangi oleh jaringan yang beraktifitas di ruang
yang bebas, terbuka, tanpa batas, dan berbasis digital.Hal ini yang menyebabkan
internet dijadikan salah satu media kampanye baru dalamruang politik. Media baru
ini dianggap dapat menciptakan suatu pencitraan sang politisi, usaha ini dilakukan
guna membuka komunikasi yang lebih efektif dengan publik. Sifatinternet yang
mengutamakan kecepatan dan keterbukaan dalam penyebaran informasi, dirasa
sanggup untuk menciptakan suasana kampanye yang efektif.
43
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apa yang menyebabkan
Hani Fidyanto memilih internet sebagai media kampanyenya; (2) Bagaimana
variasi isi pesan dan pengaturan tempo kampanye politik melalui internet (website
dan jejaring sosial online facebook, twitter).Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif
yang menggambarkan tujuan dari adanya penggunaan
internet sebagai media kampanye dalam pemilihan DPRD KotaSurabaya.
Tidak hanya tujuan dari penggunaan internet saja, akan tetapi penelitian ini
lebih jauh lagi akan membahas bagaimana penyajian pesan dan tingkat interaktif di
dalam media kampanye tersebut. Teori dan konsep yang digunakan adalah teori dan
konsep komunikasi kekuasan, masyarakat jaringan, konstestasi politik, jejaring
sosial online, pemilihan anggota DPRD Kota Surabaya, dan internet. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa penggunaan internet sebagai hasil dari perkembangan
teknologi di abad 21 melahirkan suatu masyarakat jaringan yang lebih banyak
melakukan aktifitasnya di ruang berbasis digital ini. Hal itulah yang menyebabkan
aktor politik merasa perlu untuk melakukan kampanye politik di internet. Adapun
penyampaian pesan dalam kampanye.
Tabel 2.3 Peneliti Terdahulu
Nama
Judul
Tahun
Tujuan Penelitian
Teori
Metode/Paradigma
Hasil Peneltian
Persamaan
Perbedaan
Kritik
Indah Nur Laeli
Rangga Andriana
Politik dan Internet Fungsi Internet
Realitas Film Jokowi sebagai media
dalam Kampanye Pemilihan Anggota
kampanye politik
DPRD Kota Surabaya
2009
2011
2015
Bagaimana variasi isi pesan dan Tanda, objek, Intrepetant dan
untuk mendeskripsikan bagaimana
pengaturan tempom kampanye politik Realitas yang digambarkan dalam
bentuk iklan politik caleg DPRD II
melalui internet (website dan jejaring film Jokowi digunakan sebagai
Surakarta di media luar ruang
sosial online facebook, twitter).
kampaye poltitik
Communication Power dan Konsep
Interpretif/Semiotika Charles
Teori Persepsi & Iklan
Masyarakat Jaringan
Sanders Peirce
Kualitatif / Konstruktivistis
Kualitatif / konstruktivistis
Kualitatif / Interpretif
perkembangan teknologi di abad 21
Media luar ruang dianggap mampu
melahirkan suatu masyarakat jaringan
memberikan informasi awal mengenai
yang
lebih
banyak
melakukan
profil caleg.
aktifitasnya di ruang berbasis digital
Penggunaan Media Sebagai Kampanye Politik dan alat kepentingan politik
Penggunaan Media Internet dan Media Media Film sebagai Alat Kampanye
Meneliti persepsi pemilih.
Sosial
Politik
Diperlukan penelitian lebih lanjut
Penelitian hanya pada sebatas
mengenai efek komunikasi untuk Diperlukan penelitian lebih lanjut efek
penggunaan media film sebagai
mengetahui sejauh mana pengaruh penggunaan internet terhadap
konstruksi realitas image politik dan
iklan media luar ruang terhadap penggunaan komunikasi politik
sebagai media komunikasi politik.
keputusan memilih pada khalayak
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Repository Universitas Sebelas Maret
Repository Universitas Surabaya
Iklan Politik Caleg Dalam Persepsi
Pemilih Pemula
44
Sumber
Achmad Fuad Abdul Rozak
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Pendekatan dan Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif digunakan
karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih
mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda. Kedua, metode ini menyajikan
secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan informan. Ketiga, metode ini
lebih peka dan lebih menyesuaikan diri dengan setting penelitian, dan mampu
melakukan penajaman terhadap pola-pola nilai yang dihadapi (Sugiyono 2009, 34). Analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa induktif
dan makna merupakan hal yang esensial. Dalam penelitian ini yang digunakan
adalah studi eksploratif, yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk mempelajari
secara intensif tentang latar belakang keadaan dan interaksi suatu unit sosial,
individu, lembaga, kelompok, masyarakat.
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berdasarkan paradigma,
strategi, dan implementasi model secara kualitatif. Istilah penelitian kualitatif
dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh
melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lain. Bodgan dan Taylor (1975:5)
mendefinisikan metodologi penelitian kualitatif sebagai prosedur peneliitian yang
menghasilkan data dari hasil eksplorasi peneliti berupa kata-kata tertulis atau lisan
dari orang-orang dan perilaku yang diamati, (Kriyantono, 58-60).
45
46
Kelebihan dalam penelitian kualitatif adalah, sebuah metode yang berusaha
mengungkap berbagai keunikan yang terdapat dalam individu, kelompok,
masyarakat atau organisasi dalam kehidupan sehari-hari secara menyeluruh, rinci,
dalam, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (Miles and Huberman,
1994 : 6-7)
Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang
sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perspektif partisipan. Pemahaman
tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi didapat setelah melakukan
analisisis terhadap kenyataan sosial yang menajdi fokus penelitian. Berdasarkan
analisis tersebut kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang
sifatnya abstrak tentang kenyataan-kenyataan dalam kehidupan sehari-hari,
(Hadjar, 1996 : 33-34). Pendekatan ini merupakan suatu metode penelitian yang
diharapkan dapat menghasilkan suatu deskripsi tentang ucapan, tulisan atau
perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat atau suatu
organisasi, (Bogdan dan Taylor, 1992 : 21-22, Fatchan, 2001 : 1).
Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan mereka
yang diteliti dengan rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan rumit.
Menurut Jane Richie (2007), penelitian kualitatif adalah upaya untuk menyajikan
dunia sosial, dan perspektifnya di dalam dunia, dari segi konsep, perilaku, persepsi,
dan persoalan tentang manusia yang diteliti. Dari kajian tentang definisi tersebut
dapatlah disisntesiskan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang
bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek
penelitian, (Moleong, 2004 : 6).
47
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksploratif
kualitatif. Penelitian ini merupakan salah satu pendekatan penelitian yang
digunakan untuk meneliti sesuatu (yang menarik perhatian) yang belum diketahui,
belum dipahami, belum dikenali, dengan baik. Menurut Subyantoro dan Suwarto
(2006 : 74) bahwa Penelitian eksploratif kualitatif disebut juga penelitian
penjajagan atau penelitian penelitian penjelajahan (explorative research),
merupakan penelitian ilmiah yang bertujuan mencari masalah dan fenomena baru
dalam mengisi kekosongan atau kekurangan dari pengetahuan, baik yang belum
maupun yang telah ada.
Penelitian ekploratif kualitatif bertujuan memperdalam pengetahuan
tentang suatu fenomena yang terjadi di sekeliling kita dalam rangka
merumuskannya menjadi sebuah karya tulis yang terperinci. Selanjutnya, dapat
juga dipakai untuk dapat mengembangkan suatu hipotesis. Penelitian ini juga
bertolak dari masalah, tetapi keadaan masalahnya masih terbuka dan belum
mempunyai hipotesis. Oleh karena itu, bila masalahnya telah berkembang maka
hipotesis pun dapat berkembang setelah penelitian eksploratif kualitatif selesai,
(Subyantoro dan Suwarto, 2006 : 74).
3.2
Fokus Penelitian
Fokus pada penelitian ini adalah untuk melihat dan mengungkapkan
bagaimana tanda, objek dan Intrepetant yang direpresentasikan dalam Film Jokowi
sebagai media kampanye politik. Peneliti hanya melihat Film Jokowi dari sisi
penggunaan media sebagai kampanye politik dan hanya mengungkap apa saja
tanda, objek dan Intrepetant yang muncul.
48
3.3
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah mengamati Film
Jokowi guna memperoleh data yang dibutuhkan. Adapun yang dilakukan untuk
memperoleh data ialah dengan cara:
a. Observasi
Observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara
sistematika terhadap suatu gejala yang tampak pada suatu penelitian.
Observasi langsung diakukan terhadap objek di tempat terjadi dan
berlangsungnya suatu peristiwa, sehingga observer berada bersama
objeknya yang diteliti. Sedangkan observasi tidak langsung adalah
observasi yang dilakukan tidak langsung pada saat berlangsungnya
peristiwa yng diselidiki. Misanya melalui slide – slide, foto maupun film
(Nawawi 1995, 104).
Karena objek yang diteliti yaitu Film Jokowi yang sudah beredar
dalam bentuk Film DVD dan sudah diputar di televisi, maka peneiti
menggunakan teknik observasi tidak langsung, peneliti hanya mengamati
slide atau cuplikan dari film Jokowi.
b. Metode dokumentasi
Teknik ini merupakan instrumen pengumpulan data yang sering
digunakan dalam berbagai metode pengumpuan data. Dokumen bisa
berbentuk dokumen publik atau privat. Dokumen publik misalnya: laporan
polisi, berita surat kabar, acara TV, dan lainnya. Dokumen privat misalnya:
memo, surat – surat pribadi, catatan pribadi, dan lainnya (Kriyantono 2009,
49
118). Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik dokumentasi
publik yaitu melalui Televisi dan berita internet yang berkaitan dengan
pemberitaan atau pembahasan film Jokowi.
c. Studi literatur (Pustaka)
Melakukan studi literatur yaitu mengumpukan data dengan cara
memperbanyak membaca buku, jurnal, internet, karya – karya ilmiah,
setelah itu data – data yang ada didalamnya di analisis. Sehingga teknik ini
juga sangat medukung peneliti.
d. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah percakapan antara periset – seseorang yang
berharap mendapatkan informasi – dan informan – seseorang yang
disesuaikan mempunyai informasi penting tentang suatu obyek (Berger and
Luckmann 1990, 111). Wawancara merupakan metode pengumpulan data
yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dan sebenarnya
(Kriyantono 2009, 98).
3.4
Informan Peneliti
Dalam penelitian ini, informan peneliti digunakan sebagai subjek dan data
pendukung dalam menganalisis objek film yang diteliti. Informan adalah orangorang yang memberi informasi baik tentang dirinya atau orang lain mengenai suatu
kejadian kepada peneliti. Dalam buku Moleong (2006) menjelaskan informan
sebagai orang yang dimanfaatkan untuk memberi informasi tentang situasi dan
kodisi latar penelitian.
50
Informan peneliti sebagai sumber data setidaknya memiliki kriteria sebagai
berikut:
1) Informan yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses
enkulturisasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui tetapi
juga dihayati.
2) Informan tergolong sedang atau pernah berkecimpung pada
kegiatan atau permasalahan yang sedang diteliti.
3) Informan mempunyai waktu yang memadai untuk memberikan
informasi.
4) Informan
tidak
cenderung
memberikan
informasi
hasil
kemasannya sendiri.
Sedangkan informan peneliti sebagai informan ahli maupun pendukung,
yang digunakan dalam penelitian ini memiliki kriteria informan diantaranya sebagai
berikut:
1) Pria/Wanita yang usianya tidak ditentukan.
2) Warga Negara Indonesia.
3) Berwawasan mengenai ilmu politik.
4) Berwawasan mengenai ilmu Semiotika atau Tanda.
5) Informan yang memiliki pengetahuan tentang komunikasi politik
dan kampanye politik.
51
Dari kriteria diatas, peneliti menentukan informan penelitian berdasarkan
dua kelompok:
a. Informan utama sebagai sumber data dalam penelitian ini yaitu Ali Soero
S.H sebagai ketua Tim Sukses Pro Jokowi (ProJo) wilayah Kota Serang,
dan anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) wilayah
Banten.
b. Informan Ahli, yaitu para ahli yang sangat memahami dan memberikan
penjelasan berbagai hal yang berkaitan dengan penelitian dan tidak dibatasi
dengan wilayah dan tempat tinggal, misalnya para akademisi, budayawan,
tokoh agama, kritikus dan lain-lain. Dalam penelitian ini yang menjadi
informan ahli sebagai berikut:
1)
Gandung Ismanto M.Sos Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Untirta sebagai perwakilan akademisi, dalam hal ini
berkompeten dalam bidang komunikasi dan kampanye politik dan
mampu menjelaskan permasalahan tentang penelitian ini.
2)
Firman Venayaksa Dosen Sastra Untirta, dalam hal ini
berkompeten dalam mengkaji tanda/semiotika dan membantu
peneliti untuk meneliti objek yang akan dianalisis.
52
3.5
Unit Analisis
Unit Analisis adalah setiap unit yang akan dianalisa, digambarkan atau
dijelaskan dengan pernyataan-pernyataan deskriptif, yang menjadi unit analisis
dalam penelitian ini adalah tanda-tanda yang ada pada film Jokowi sebagai media
kampanye politik. Melalui analisis semiotika makna dari film Jokowi yang dibagun
melalui sejumlah tanda dan kode dapat dikaji.
Teknik
pengambilan
sampel
dalam
penelitian
ini
menggunakan
nonprobability sampling. Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan
sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau
anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono 2009). Dalam
nonprobablity sampling ini meliputi beberapa bagian, salah satu diantaranya adalah
purposive sampling yang sering digunakan dalan penelitian kualitatif. Untuk itu
pemilihan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan teknik
purposive sampling. Teknik Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel
sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono 2009, 218).
Alasan peneliti menggunakan purposive sampling karena peneliti secara
sengaja memilih scenes/adegan pada Film Jokowi yang memenuhi kriteria yang
dibuat peneliti. Scenes/adegan adalah gambaran motion visual audio yang bergerak
yang mempunyai makna atau pesan didalamnya. Dalam pemilihan kriteria sampel
ini peneliti memilih scenes/adegan yang merepresentasikan Joko Widodo sebagai
bentuk Kampanye Politik. Peneliti memilih 7 scenes sampel yang mewakili objek
dari penelitian. Adapun 7 scenes ini diambil berdasarkan kategori-kategori tanda
53
yang ditonjolkan dalam Film Jokowi yang dimaknai dan diaplikasikan sebagai
kampanye politik.
Tabel 3.1 Sampel Unit Analisis
Scen
es
Visual
Keterangan
1
Kakek
Joko
Widodo
memarahi Ayah Joko Widodo
karena tidak setuju ketika
Ayahnya mendoakan Joko
Widodo agar besar nanti
menjadi tukang pahat kayu
2
Kakek Joko Widodo sedang
menceritakan kisah Semar
yang bukan keturunan Ningrat
namun dipatuhi oleh Raden
Janoko. Kakek Joko Widodo
juga memberikan saran dan
nasihat.
3
Pembersihan angota-anggota
PKI yang ada di kota
Surakarta
4
Joko Widodo masuk ke dalam
rumah temannya dan melihat
tanda salib. Lalu Ayah Jokowi
menasehati bahwa meskipun
beda agama, kita harus saling
menghormati
dan
menghargai.
54
5
Jokowi menolak uang yang
diberikan oleh temannya yang
telah bolos mengaji agar
Jokowi tidak memberitahu
Pak Ustadz. Setelah itu
Jokowi dipukuli oleh temantemannya karena menolak.
6
Ibu Jokowi menangis karena
penampilan Jokowi yang
berambut gondrong dan mulai
menyukai lagu Rock. Dan
Jokowi memberi penjelasan
kepada Ibunya.
7
Ayah Jokowi memberikan
wejangan dan pribahasa
ketika sedang mengantarkan
Jokowi untuk berangkat
kuliah.
3.6
Teknik Analisis Data
Unit analisis yang sudah terkumpul dan dikategorikan lalu dianalisis dengan
menggunakan analisis Semiotika Charles Sanders Peirce. Menurut Peirce semiotika
adalah suatu hubungan antara tanda, objek dan makna. Pemikiran Charles Sanders
Peirce bisa dijelaskan melalui bagan segitiga makna pada gambar dibawah berikut.
55
Gambar 3.3 Model Unsur Makna Peirce (Fiske 2006, 63)
Menurut Charles sanders Peirce tanda dibentuk oleh hubungan segitiga yaitu
representemant, yang oleh Peirce juga disebut tanda (sign) berhubungan dengan
objek yang dirujuk. Tahapan teknik analisis data yang peneliti gunakan adalah
sebagai berikut:
1.
Penulis menonton Film Jokowi terlebih dahulu. Kemudian penulis
melakukan pengkodingan, menguraikan dan pencatatan mengenai
dialog dan gambar, yang berkaitan dengan tanda bahwa film tersebut
sebagai media kampanye politiknya.
2.
Data yang sudah terkumpul melalui dialog dan gambar dalam film,
kemudian penulis analisis dengan menggunakan model Analisis
semiotika Charles Sanders Peirce untuk mengetahui tanda, objek dan
intrepretant. Masing-masing scenes diuraikan melalui ikon, indeks dan
simbol sehingga tanda, objek dan Intrepetant dapat diketahui.
56
3.
Setelah 7 sampel sudah dianalisis dengan menggunakan Metode
Semiotika Peirce lalu di interpretasikan dan dilakukan triangulasi
Teknik yaitu hasil wawancara, analisis scenes, dan literatur pustaka.
4.
3.7
Peneliti menarik kesimpulan dari hasil interpretasi data.
Validitas dan Triangulasi Data
Validitas data dalam penelitian komunikasi kualitatif lebih menunjukkan
pada tingkat sejauh mana data yang diperoleh telah secara akurat mewakili realitas
atau gejala yang diteliti (Pawito 2007, 97). Oleh karena itu Dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan uji kredibilitas (derajat kepercayaan), salah satu caranya
adalah dengan proses triangulasi,
Triangulasi
merupakan
proses
pengumpulan
data
yang
bersifat
menggabungkan berbagai sumber dan teknik pengumpulan data yang sudah ada.
Triangulasi menurut Creswell (2010:286) adalah teknik mengumpulkan sumbersumber data yang berbeda dengan memeriksa bukti-bukti yang berasal dari
sumber-sumber tersebut dan menggunakannya untuk membangun justifikasi tematema secara koheren.
Dengan demikian maka peneliti dalam melakukan proses pengumpulan data
terkait dengan penggunaan Film Jokowi sebagai media kampanye politik maka,
peneliti bukan hanya mengobservasi atau menganalisis film dengan menggunakan
teknik semiotika Peirce tetapi peneliti mewaancarai informan utama dan informan
ahli/pendukung guna mendapatkan data terkait dengan masalah dalam penelitian
ini. Proses pengumpulan data dengan pendekatan triangulasi, peneliti selain
57
mengumpulkan data tetapi sekaligus juga menguji kredibilitas data yang ada dari
berbagai sumber dimaksud.
Menurut Stainback (Sugiyono 2009, 85) bahwa teknik triangulasi dalam
penelitian kualitatif bertujuan bukan untuk mencari kebenaran tentang fenomena
tetapi lebih pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang telah
ditemukan. Kebenaran data dimaksud valid atau tidak maka harus dibandingkan
dengan data lain yang diperoleh dari sumber lain. Oleh karena itu maka dalam
penelitian ini, peneliti mengadakan pengecekan terhadap validasi data yang telah
diperoleh dengan mengkonfirmasi antara data/informasi yang diperoleh dari
sumber
yaitu
informan
utama
dan
informan
ahli/pendukung.
Peneliti
membandingkan data hasil wawancara dari subjek penelitian dengan data hasil
observasi atau analisis film dengan menggunakan analisis semiotika Charles
Sanders Peirce.
3.8
Jadual Penelitian
Bulan
No
Keterangan
SEP
1
Bimbingan BAB I, II & III
2
Sidang Outline
3
Penelitian (Observasi dan
Wawancara
4
Penyusunan hasil penelitian
5
Bimbingan BAB IV & V
6
Persiapan Sidang Skripsi
OKT NOV
DES
JAN
FEB
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1
Deskripsi Film Jokowi
Gambar 4.4 Poster Film Jokowi
Film Jokowi, adalah film produksi K2K Pictures yang diproduseri oleh KK
Dheeraj. Jenis film ini bergenre Drama, dengan durasi selama 117 menit. Film ini
dirilis pada tanggal 20 Juni tahun 2013, dan bisa dilihat di bioskop-bioskop..
Dibintangi oleh Teuku Rifnu Wikana sebagai Joko Widodo, Prisia Nasution sebagai
Iriana. Dan aktor-aktor lainnya seperti Ayu Dyah Pasha, Susilo Badar, Landung
Simatupang dan Ratna Riantarno.
58
59
4.1.1 Pemeran / Tokoh Film Jokowi
1) Ayah Jokowi (Notomiharjo)
Gambar 4.5 Tokoh Notomiharjo
Notomiharjo yang diperankan oleh Susilo Badar adalah seorang
tukang kayu dan juga Ayah dari Joko Widodo. Sejak Jokowi kecil keluarga
yang dipimpin oleh Notomiharjo hidup dalam kesederhanaan dan
mengalami beberapa permasalahan keuangan yang berakibat mereka sering
berpindah-pindah tempat tinggal. Ayah Jokowi selalu memberikan
semangat dan pelajaran hidup kepada Jokowi. Ketika Jokowi dewasa,
Notomiharjo menghembuskan nafas terakhirnya.
2) Ibu Jokowi (Sujiatmi)
Tokoh Sujiatmi yang diperankan oleh Ayu Dyah Pasha adalah Ibu
dari Jokowi. Bersama Notomiharjo, Sujiatmi hidup sederhana dan
melahirkan anak pertama yaitu Joko Widodo. Sujiatmi sangat berperan
semasa hidup Jokowi. Tokoh Sujiatmi dalam film ini sangat patuh dan
menuruti apa yang Notomiharjo lakukan. Meski dalam hidup kesederhanaan
namun dalam film ini tidak ada keluhan batin yang dirasakan oleh Sujiatmi.
60
Gambar 4.6 Tokoh Sujiatmi
3) Joko Widodo
Gambar 4.7 Tokoh Jokowi
Tokoh Joko Widodo atau dipanggil Jokowi diperankan oleh Teuku
Rifnu Wikana. Jokowi sebagai tokoh utama diceritakan semasa hidupnya
yang sederhana dan penuh akan serapan moral-moral kehidupan dan nasihat
yang membuat hidup Jokowi menjadi sukses. Menikah dengan Irinana
teman adiknya, menjadikan hidupnya bahagia. Namun sepeninggal Kakek
dan Ayahnya, Jokowi tidak putus asa. Akan tetapi menjadi semangat dan
menjadi orang yang suskses sehingga menjadi Walikota Solo dan Gubernur
DKI Jakarta pada tahun 2013.
61
4) Iriana
Gambar 4.8 Tokoh Iriana
Iriana yang diperankan oleh Prisia Nasution muncul di kehidupan
Jokowi setelah diperkenalkan oleh adiknya Jokowi. Jokowi mulai jatuh
cinta ketika pertama kali bertemu dan pada saat masa kuliah Jokowi
berlangsung dan menikah ketika Jokowi telah lulus kuliah. Dalam film ini
Iriana mempunyai satu anak dan selalu menemani di kehidupan Jokowi
sehari-hari.
5) Kakek Jokowi (Wirorejo)
Gambar 4.9 Tokoh Wirorejo
Wirorejo yang diperankan oleh Landung Simatupang adalah orang
yang selalu menasihati Jokowi dan menceritakan kisah wayang sebagai
contoh kehidupan yang harus Jokowi pelajari. Wirorejo atau Mbah Rejo
62
adalah bapak dari Notomiharo (Ayah Jokowi). Tidak lama Jokowi menikah
dengan Iriana, Wirorejo berpulang kepada Sang Khalik, meninggalkan
wejangan-wejangan yang membuat Jokowi semangat dalam menjalani
kehidupan.
4.1.2 Sinopsis Film Jokowi
Film Jokowi berkisah tentang seorang anak tukang kayu bernama
Joko Widodo, yang tinggal dan hidup di rumah kecil pinggiran sungai. Masa
kanak-kanak yang jauh dari istilah kecukupan telah dilaluinya. Kecintaanya
pada Musik Rock yang tetap bertahan hingga saat ia menjabat menjadi
pemimpin besar nantinya itu, seolah mampu memotivasi semangat
hidupnya.
Kisah Cinta dengan Iriana, seorang gadis sederhana yang merupakan
teman sekolah adiknya menjadi pendorong semangat sang pemimpin masa
depan ini untuk menghadapi berbagai tantangan. Sepeninggal Pak
Notomiharjo, orang tua, guru sekaligus sahabatnya, Joko seperti tak mau
tenggelam dalam kedukaan. Usahanya untuk membuktikan semua pelajaran
dari sang Ayah, makin keras ia lakukan. Dan waktu mengantarkan anak
bantaran kali ini, menjadi sosok yang bukan hanya besar dimata orang-orang
disekitarnya namun juga rendah hati dan selalu memanusiakan sesamanya.
Dari pinggiran sungai di desa kecil yang bernama Srambatan, Joko
telah mampu tampil menjadi pemimpin Kota Solo yang menulis lembaran
baru. Setiap orang bangga akan kepemimpinannya, Kota Solo seperti
63
menemukan pahlawan baru. Joko Widodo kini lebih dikenal sebagai Joko
Wi, sebuah nama yang diberikan seorang pengusaha Prancis yang
mengaguminya, yang mana telah menjadi tokoh yang berpengaruh bagi
masyarakat Solo dan kelak akan menjadi tokoh yang berpangaruh di
Indonesia.
4.2
Analisis Data
Pada Bab hasil penelitian dan pembahasan ini, akan diuraikan
berbagai hal mengenai hasil dan pembahasan dari penelitian berupa Analisis
Semiotika Tentang Realitas film Jokowi sebagai media kampanye politik.
Hasil dari penelitian ini peneliti peroleh melalui pengambilan 7 sampel
kemudian mendeskripsikannya ke dalam suatu bentuk analisis yang
tersistematis. Bab ini mengacu kepada identifikasi masalah penelitian yang
sebelumnya telah dirumuskan mengenai analisis semiotika film sebagai inti
penelitian. Yaitu dengan menggunakan metode analisis semiotika, yang
merupakan bagian dari metode analisis data dalam penelitian kualitatif.
Hasil penelitian ini akan dihadapkan pada beberapa temuan terutama
dari kecurigaan akan adanya realitas yang dibentuk dan diwakili oleh suatu
tanda atau simbol yang tertuang dalam bentuk scene sehingga menghasilkan
interpretasi bahwa film ini membantu Jokowi dalam menyebarkan
kampanye. Bagian-bagian tersebut meliputi verbal (percakapan) non-verbal
(adegan/gerak tubuh), perumpaan makna kata, bahkan properti yang ada
64
disekitar film tersebut juga dapat dijadikan acuan untuk penelitian lebih
lanjut.
Selain itu struktur dalam film ini juga menjadikan temuan-temuan
yang ada lebih mudah dideskripsikan. Struktur film dalam hal ini meliputi
Shot yang dapat diartikan sebagai pengambilan gambar dalam satu kali take.
Kemudian ada Scene yaitu segmen pendek dari keseluruhan cerita yang
memperlihatkan satu aksi berkesinambungan yang diikat oleh ruang, waktu,
isi cerita, tema, karakter,atau motif dan Sequence yaitu satu segmen besar
yang memperlihatkan satu rangkaian peristiwa yang utuh. Elemen Scene dan
struktur film ini menjadi kesatuan utuh yang saling mempengaruhi dan
dIbuktikan dengan bentuk penjabaran dari data-data yang telah diperoleh.
Peneliti mengkategorikan setiap scenes menjadi tiga bagian yaitu
Tanda/Representament, Objek dan Intrepetant sebagai sumber acuan. Untuk
itu, peneliti memfokuskan penelitian ini pada tanda-tanda yang terdapat
pada 7 Scenes sampel film Jokowi berdasarkan klasifikasi dari tanda
(qualisign, sinsign, dan legisign), klasifikasi objek (icon (ikon), index
(indek), dan symbol (simbol)) dan klasifikasi interpretant (Rheme, Dicent
Sign atau Dicisign dan Argument). Untuk kemudian dianalisis dengan
menggunakan teori segitiga semiotik Charles Sanders Peirce.
65
4.2.1 Makna semiotik pada scenes 1
Scenes 1-1 05:51
Scenes 1-2 menit 06:01
Scenes 1-3 menit 06:30
Gambar 4.10 Bagian Scenes 1
Scenes 1-1
: Notomiharjo sedang menyanyikan lagu dan berkata bahwa
jika Jokowi sudah besar akan menjadi tukang kayu
Scenes 1-2
: Kakek Jokowi langsung memotong lagu yang dinyanyikan
oleh Notomiharjo dan memberikan wejangan bahwa ucapan
adalah doa. Lalu Kakek Jokowi mendoakan agar kelak besar
menjadi orang yang maju dan menjadi orang yang hebat
Scenes 1-3
: Orang tua Jokowi lalu mengamini apa yang dikatakan Kakek
Jokowi.
66
Gambar 4.11 Unsur Makna Scenes 1
Doa (Signs)
Jokowi (Object)
Jokowi sukses
berkat doa yang
baik (Intrepetant)
Tabel 4.1 Pembagian Tanda Scenes 1
Signs
Qualisign
Nada tegas Kakek Jokowi yang tidak suka
mendengar ucapan Ayah Jokowi
Sinsign
Ayah Jokowi dengan pertanyaan pesimis
anaknya akan jadi apa, karena bapaknya tukang
kayu.
Legisign
Pengucapan kata “Amin” sebagai isyarat ketika
mendengar ucapaan Kakek Jokowi sebagai
bentuk doa.
Ikon
Objek
Intrepetant
Ayah Jokowi Tukang Kayu
Indeks
Ayah Jokowi Tukang kayu maka Jokowi juga
menjadi tukang kayu
Simbol
Notomiharjo Ayah kandung Jokowi dan Kakek
Jokowi adalah bagian dari Notomiharjo
Rheme
Kakek Jokowi tidak ingin mendengar kata-kata
asal karena sudah hidup susah
Dicent Sign
Kata sebagai Doa, Doa sebagai bentuk
pengharapan yang lebih baik
Argument
Alasan kenapa tidak boleh asal-asalan karena
mereka percaya bahwa kata adalah Doa.
(Sumber: Peneliti)
67
Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda.
Kata keras
menunjukan suatu tanda. Misalnya, suaranya keras yang menandakan orang
itu marah atau ada sesuatu yang diinginkan (Pateda 2001, 44). Qualisign
yang ditampilkan pada scenes 1 tersebut menandakan Ayah Jokowi yang
menyanyi dengan dan berkata bahwa besarnya akan menjadi tukang kayu
sama seperti bapaknya. Lalu Kakek Jokowi memotongnya lalu dan dengan
nada tegas memberikan nasihat bahwa ucapan adalah doa dan melarang
untuk berbicara secara asal-asalan khususnya dalam hal mendoakan anak.
Dengan sikap Kakek Jokowi tersebut menandakan bahwa Doa
adalah sesuatu yang diucapkan dengan hati-hati. Dan doa menjadi sebuah
tanda sebagai bentuk ucapan.
Dalam ajaran agama Islam pun diperkuat dalam surat Al-Israa ayat 53
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah
mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).
Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara
mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi
manusia.”
Setiap ucapan akan menentukan apa yang akan dilakukan. Kata-kata
yg dikeluarkan secara lisan ataupun dalam hati, akan memprogram dan
pikiran akan menggerakan tubuh untuk melakukan hal tersebut. Misalnya
ketika kita bilang tak bisa, susah, pusing, dan lain sebagainya, otak akan
memproses dan, memprogram kepada seluruh tubuh, bahwa kita tidak bisa.
Hingga akhirnya benar-benar tidak mampu. Penjelasan tersebut yang ingin
ditekankan dalam tanda Qualisign.
68
Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada
tanda (Pateda 2001, 44). Tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilan
dalam kenyataan. Semua pernyataan individual yang tidak dilembagakan
dapat merupakan Sinsign. Misal jerit kesakitan, heran atau ketawa riang.
Kita dapat mengenal orang dan cara jalan, ketawanya, nada suara yang
semuanya itu merupakan Sinsign.
Sinsign yang ditampilkan pada scenes 1 adalah Ayah Jokowi dengan
nada sinis mengatakan kepada Kakek Jokowi “lha emang mau jadi apa toh
pak? Bapaknya saja tukang kayu”. Perkataan tersebut menandakan bahwa
Ayah Jokowi memiliki sikap pesimis dalam melihat masa depan Jokowi. Ini
juga dilatar belakangi oleh pekerjaan Ayah Jokowi yang hanya sebagai
tukang kayu dan sedang mengalami kesulitan keuangan. Tukang kayu
dengan latar belakang pendidikan yang seadanya, dan dalam keadaan
kesulitan keuangan juga dapat mempengaruhi pola pikir dan emosi. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi pesimis adalah orang yg bersikap
atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik (khawatir kalah, rugi,
celaka,
dsb);
orang
yg
mudah
putus
(tipis)
harapan
(http://kbbi.web.id/pesimis diakses pada 4 februari 2015).
Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. Tanda-tanda
lalu-lintas merupakan Legisign. Hal itu juga dapat dikatakan dari gerakan
isyarat tradisional, seperti mengangguk yang berarti ”ya”, mengerutkan alis,
cara berjabatan tangan (Pateda 2001, 44).
69
Pada bagian scenes 1-3 menit 06:30 setelah Kakek Jokowi
memberikan nasihat kepada Ayah dan Ibu Jokowi,
“Kalo kamu mendoakan anakmu ojo asal-asalan besok kalo
besar jadi petinggi, jadi orang yang hidupnya makmur, panutan orang
banyak. Gitu!”
Setelah itu kedua orang tua Jokowi berkata “amin” sambil
menganggukkan kepala. Kata Aamiin diucapkan ketika kita mendengarkan
do’a orang lain. Dimana kata tersebut bermakna sebuah permintaan kepada
Allah semoga do’a yang diucapkan tersebut diijabbah oleh Allah.
Menganggukkan kepala dan mengucapkan kata “amin” menandakan
Legisign dan menjadi pembenaran atas apa yang telah dikatakan oleh Kakek
Jokowi.
Ikon, adalah tanda yang dicirikan oleh persamaannya (resembles)
dengan objek yang digambarkan (Pateda 2001, 44). Tanda yang dicirikan
sebagai persamaan Jokowi (objek) adalah Ayah Jokowi. Dalam scenes 1,
objek yang dibicarakan adalah Jokowi. Ayah Jokowi menganggap bahwa
Jokowi adalah hasil representasi makna yang digambarkan sama
dengannya.
Indeks adalah hubungan langsung antara sebuah tanda dan objek
yang kedua-duanya dihubungkan (Pateda 2001, 44). Indeks, merupakan
tanda yang hubungan eksisitensialnya langsung dengan objeknya.
Runtuhnya rumah-rumah adalah indeks dari gempa. Terendamnya
bangunan adalah indeks dari banjir. Sebuah indeks dapat dikenali bukan
70
hanya dengan melihat seperti halnya dalam ikon, tetapi juga perlu dipikirkan
hubungan antara dua objek tersebut.
Dalam scenes 1, Jokowi didoakan nanti besar menjadi tukang kayu.
Karena latar belakang pekerjaan Ayah Jokowi adalah sebagai tukang kayu,
maka Ayah Jokowi memaknai bahwa nanti besar Jokowi sama dengan
sepertinya. Penandaan ini termasuk kedalam indeks persona, indeks ini
saling menghubungkan pihak-pihak yang ambil bagian dalam sebuah situasi
(Danesi, Pesan, Tanda dan Makna 2010, 43). Indeks pada scenes ini
memberikan tanda kepada sumber acuan bahwa apa yang dilakukan oleh
Ayah Jokowi salah dan tidak benar, karena ucapan adalah doa.
Simbol adalah tanda yang memiliki hubungan dengan objeknya
berdasarkan konvensi, kesepakatan, atau aturan (Pateda 2001, 44). Makna
dari suatu simbol ditentukan oleh suatu persetujuan bersama, atau diterima
oleh umum sebagai suatu kebenaran tanda. Scenes 1 menempatkan Ayah
Jokowi sebagai Ayah kandung adalah merupakan simbol yang menandakan
sikapnya yang pesimis. Seperti dijelaskan pada bagian ikon, Ayah Jokowi
menganggap Jokowi sebagai representasi dirinya. Kakek Jokowi juga
merupakan bagian dari simbol karena bagian dari Jokowi.
Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan
berdasarkan pilihan (Pateda 2001, 44). Rheme pada scenes 1 ketika Kakek
Jokowi tidak ingin mendengar kata-kata asal karena sudah hidup susah.
71
Dicent Sign adalah tanda sesuai kenyataan (Pateda 2001, 44). Pada
scenes 1 ini pada kenyataannya kata-kata memang dipercayai sebagai doa.
Kata-kata yang diucapkan adalah hasil dari manifestasi dan mengandung
makna yang berasosiasi dalam otak. Sehingga khalayak percaya pada
kenyataannya kata-kata yang baik dapat menjadi doa yang baik. Begitupula
kata-kata yang buruk dapat menjadi doa yang buruk.
Argument adalah tanda yang langsung memberikan alasan tentang
sesuatu (Pateda 2001, 44). Argument yang muncul ketika Kakek Jokowi
tidak setuju dengan perkataan Ayah Jokowi bahwa ketika Jokowi besar
nanti dia akan seperti Ayahnya yaitu tukang kayu. Kakek Jokowi tidak
setuju karena yang dipercayainya yaitu kata adalah doa. “Kalo kamu
mendoakan anakmu ojo asal-asalan besok kalo besar jadi petinggi, jadi
orang yang hidupnya makmur, panutan orang banyak. Gitu!” kutipan kata
tersebut menjadi Argument bahwa tidak benar jika orang tuanya tukang
kayu maka anaknya juga menjadi tukang kayu. Agar tidak seperti itu
Ayahnya yang menjadi tukang kayu, maka sudah sepantasnya berdoa dan
mengucapkan kata tidak asal-asalan agar Jokowi kelak menjadi orang yang
hidupnya makmur dan menjadi panutan orang banyak.
72
4.2.2 Makna semiotik pada scenes 2
Scenes 2-1 menit 17:10
Gambar 4.12 Bagian Scenes 2
Scenes 2-1
: Kakek Jokowi sedang memainkan wayang semar dan
memberikan wejangan kepada Jokowi kecil bahwa untuk
menjadi orang yang hebat tidak perlu mentereng dan tidak
perlu mewah, namun yang terpenting adalah hatinya.
Gambar 4.13 Unsur Makna Scenes 2
Rendah Hati (Signs)
Wayang (Object)
Untuk menjadi orang
yang hebat yang tidak
mesti harus mewah dan
mentereng, seperti tokoh
Semar (Intrepetant)
73
Tabel 4.2 Pembagian Tanda Scenes 2
Signs
Qualisign
Dengan nada lembut, Kakek Jokowi
menjelaskan bahwa untuk menjadi orang hebat
dIbutuhkan kerendahan hati
Sinsign
Cerita semar adalah penggambaran rendah hati
Legisign
Yang terkandung dalam cerita semar adalah
sifat-sifat rendah hati
Ikon
Objek
Indeks
Simbol
Rheme
Intrepetant
Dicent Sign
Argument
Wayang Semar
Semar adalah wayang yang mempunyai watak
yang baik dan rendah hati. Sehingga untuk
menjadi orang yang hebat tidak diperlukan
sesuatu yang mewah
Semar sebagai simbol orang yang hebat dan
rendah hati
Jokowi menjadi orang yang hebat dan rendah
hati berkat watak Semar yang menginsipirasi
Jokowi hebat berarti mengamalkan
mencontoh apa yang Semar lakukan.
dan
Semar adalah panutan itu menjadi alasan Jokowi
menjadi orang hebat.
(Sumber: Peneliti)
Qualisign yang ditandakan pada scenes 2 adalah cara Kakek Jokowi
memainkan wayang dengan nada yang semangat dan lembut kepada
Jokowi. Untuk menjelaskan apa itu arti kerendahan hati kepada Jokowi,
Kakek Jokowi harus menjelaskan dengan nada semangat dan lembut pada
saat memainkan wayang semar.
“Semar… ini cuman abdi, dia bukan orang yang punya
pangkat, bukan pembesar. Tapi ini Raden Janoko majikannya nurut
sama Semar. Sebab apa? Semar walaupun cuma abdi pembantu
namun dia adalah titisan dari Dewa. Dewa Ismoyo Dewa yang sakti!
Le, kalo kita mau jadi orang yang hebat itu tidak perlu mentereng,
tidak perlu mewah yang penting hatinya.”
74
Dengan suara lembut sebagai Qualisign, maka kualitas yang ada
pada tanda (rendah hati) dapat termanifestasi secara efektif. Sehingga
khalayak beranggapan bahwa pembawaan lembut menjadi bagian dari sikap
rendah hati seperti wayang semar.
Signsigns eksistensi aktual yang menandakan peristiwa ada pada
tanda yaitu dengan cerita semar yang dimainkan oleh Kakek Jokowi.
Peristiwa yang diceritakan bahwa Raden Janoko yang selalu patuh pada
Semar adalah representasi peristiwa yang berhubungan dengan tanda
(rendah hati).
Legisign atau norma yang dikandung dalam cerita semar adalah
sifat-sifat rendah hati. Scenes ini menekankan bahwa cerita/mitos wayang
sebagai panutan atau pendidikan moral tidak dapat dipisahkan.
Ikon sebagai Wayang yang dimainkan adalah Semar dan Raden
Janoko. Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang
Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8
daya, yaitu: 1. Tidak pernah lapar, 2. Tidak pernah mengantuk, 3. Tidak
pernah jatuh cinta, 4. Tidak pernah bersedih, 5. Tidak pernah merasa capek,
6. Tidak pernah menderita sakit, 7. Tidak pernah kepanasan, 8. Tidak pernah
kedinginan. Kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubunubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara
Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad
Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan
75
untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan
menguasi manusia di alam dunia (Ceritawayang.com diakses pada tanggal
2 Februari 2015).
Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia
kepada Bendara (tuan) nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku
prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar
mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada
keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau
pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat
pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat diayomi
oleh Janggan Semarasanta.
Gambar 4.14 Lakon Wayang Semar
Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat
yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai
puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaan abadi lahir batin. Dalam
catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh
76
Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya,
Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna
(Ceritawayang.com diakses pada tanggal 2 Februari 2015).
Wayang semar diindikasikan sebagai Semar adalah wayang yang
mempunyai watak yang baik dan rendah hati dan bertubuh cebol dan bukan
dari keluarga ningrat. Sutradara ingin menekankan bahwa Jokowi bukan
dari keluarga ningrat dan mempunyai perwatakan sama seperti Semar.
Dengan menganalogikan Jokowi adalah Semar. Maka maksud dari scene ini
mengindikasikan semua pelajaran dari watak semar ada pada sifat-sifat
Jokowi. Sehingga untuk menjadi orang yang hebat tidak diperlukan sesuatu
yang mewah ataupun mentereng.
Semar sebagai simbol orang yang hebat dan rendah hati mempunyai
hubungan dengan Jokowi. Jika Jokowi ingin menjadi orang yang hebat
maka contohlah nilai-nilai kehidupan wayang Semar.
Rheme yang dijadikan sebagai tanda untuk memperkuat Intrepetant
adalah tanda tersebut dapat ditafsirkan kedalam beberapa hal. Tanda
tersebut bisa dilihat ketika Jokowi sekarang sukses mengartikan bahwa
Jokowi mengamalkan apa yang sudah dinasihati oleh Kakek Jokowi.
Perumpamaan Semar sebagai orang yang hebat dan bukan dari keluarga
ningrat juga menjadi perumapaan Jokowi yang bukan dari keluarga ningrat
namun menjadi orang yang hebat.
77
Dicent Sign tanda yang sesuai kenyataan muncul sama seperti
Rheme, Jokowi hebat berarti mengamalkan dan mencontoh apa yang Semar
lakukan. Bahwa Semar sebagai tanda dan Jokowi sebagai kenyataan.
Argument Semar adalah panutan itu menjadi alasan Jokowi menjadi
orang hebat dan itu menjadi alasan sebagai tanda Argument. Alasan ini pula
yang mencerminkan bahwa petinggi Negara yang melakukan perbuatan
tercela, korupsi, suap dan tindakan kriminal lainnya karena mereka tidak
mengemban amanat atau mencontoh perilaku Semar.
4.2.3 Makna semiotik pada scenes 3
Scene 3-1 menit 19:07
Scene 3-2 menit 19:26
Scene 3-3 menit 19:42
Scene 3-4 menit 20:15
Gambar 4.15 Bagian Scenes 3
78
Scenes 3-1
: Suasana jalan kota yang sepi (terdengar suara radio)
Scenes 3-2
: Banyak warga yang diikat dan dimasukkan kedalam mobil
oleh petugas keamanaan kota.
Scenes 3-3
: Notomiharjo tampak kebingungan bertanya kepada Suroso
apa yang sedang terjadi, dan suroso menjelaskan bahwa
sedang ada pembersihan anggota Partai Komunis Indonesia
(PKI) karena telah terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh
PKI di Jakarta.
Scenes 3-4
: Suroso ditangkap dan memberontak ketika ingin dibawa oleh
petugas keamaan karena terindikasi sebagai anggota PKI.
Gambar 4.16 Unsur Makna Scenes 3
Jokowi Bukan PKI (Signs)
Pemberitaan &
Pembersihan
Anggota PKI
(Object)
Tidak
ditangkapnya
Notomiharjo
sebagai
intrepetasi
bahwa
keluarga Jokowi tidak
mengetahui dan bukan
anggota
PKI
(intrerepetant)
79
Tabel 4.3 Pembagian Tanda Scenes 3
Qualisign
Signs
Sinsign
Legisign
Ikon
Objek
Indeks
Simbol
Rheme
Dicent Sign
Intrepetant
Argument
Notomiharjo bertanya dengan raut wajah
kebingungan dan tidak tahu apa-apa saat
kejadian pembersihan anggota PKI di kota.
Raut wajah Notomiharjo yang kebingungan dan
bertanya menandakan bahwa dia bukan anggota
PKI
Tidak ditangkapnya Notomiharjo adalah tanda
bahwa keluarganya bukan anggota PKI
Suara radio yang menjelaskan peristiwa
pemberontakan yang dilakukan oleh PKI
Hubungan suara radio yang menjelaskan
pemberontakan PKI dan pembersihan anggota
PKI yang dilakukan oleh petugas keamanan
saling berhubungan
Anggota PKI dianggap sebagai pemberontak
dan berbahaya.
PKI adalah kelompok yang melakukan
pemberontakan, ditangkapnya beberapa warga
mengasosiasikan bahwa mereka adalah anggota
PKI
Pembersihan anggota PKI merupakan tanda
bahwa PKI berbahaya
Anggota PKI melakukan pemberontakan yang
terjadi di Jakarta sehingga seluruh anggota PKI
harus ditangkap karena dianggap berbahaya
oleh
pemerintah.
Tidak
ditangkapnya
Notomiharjo menjadi Argument bahwa keluarga
Jokowi tidak terlibat dalam kelompok PKI
(Sumber: Peneliti)
80
Pada scenes 3-1 terlihat jalan-jalan kota Surakarta yang lengang tidak
seperti biasanya, latar belakang suara audio yang pada saat itu memberitakan
kejadian pemberontakan Gerakan Pemberontakan 30 September Partai
Komunis Indonesia atau yang lebih dikenal dengan G 30-S PKI. Pada scene
2 Notomiharjo bersama Jokowi mengendarai sepeda dan berhenti
dikerumunan warga yang sedang melihat petugas keamanan sedang
melakukan
pembersihan
anggota-anggota
PKI
karena
kejadian
pemberontakan pada tahun 1965. Sejarah Singkat G 30 S PKI adalah sebuah
pengkhianatan terbesar yang dialami bangsa Indonesia, Gerakan 30
September 1965 / PKI atau G30S/PKI. Peristiwa G 30 S PKI terjadi pada
malam hari tepat waktunya saat pergantian dari tanggal 30 September hari
Kamis, menjadi 1 Oktober pada hari Jumat tahun 1965 tepat tengah malam
dengan melibatkan Pasukan Cakrabirawa dan Anggota Partai Komunis
Indonesia (PKI).
Gerakan ini bertujuan menggulingkan pemerintahan Presiden
Soekarno dan menginginkan pemerintahan Indonesia menjadi pemerintahan
komunis. Gerakan 30 S PKI dipimpin oleh ketua saat itu, yaitu Dipa
Nusantara Aidit atau sering dikenal dengan nama DN. Aidit. DN. Aidit
gencar memberikan hasutan kepada seluruh masyarakat supaya mendukung
PKI dengan iming-iming Indonesia akan lebih maju dan sentosa. DN. Aidit
menurut pakar sejarah pada masa rezim Presiden Soeharto merupakan
dalang utama gerakan 30 S PKI.
81
Gerakan 30 S PKI bergerak atas satu komando yang dipimpin oleh
Komandan Batalyon I Cakrabirawa, Letnan Kolonel Untung Syamsuri.
Gerakan ini dimulai dari Jakarta dan Yogyakarta, gerakan ini mengincar
Dewan Jendral dan Perwira Tinggi. Awal mula gerakan ini hanya
bermaksud menculik dan membawa para Jendral dan perwira tinggi ke
Lubang Buaya. Namun, ada beberapa prajurit Cakrabirawa yang
memutuskan untuk membunuh Dewan Jendral dan perwira tinggi. Jendral
yang dibantai oleh PKI diantaranya Jendral Ahmad Yani dan Karel Satsuit
Tubun. Sisa Jendral dan perwira tinggi meninggal dunia secara perlahan
karena luka penyiksaan di Lubang Buaya.
Atas kejadian yang membuat luka Bangsa Indonesia, rakyat
menuntut kepada Presiden Soekarno supaya membubarkan Partai Komunis
Indonesia (PKI). Dengan rasa terpaksa akhirnya Partai PKI yang menjadi
kekuatan bagi Presiden Soekarno dalam aksi “Ganyang Malaysia” di
bubarkan. Selanjutnya Presiden Soekarno memberikan mandat pembersihan
semua struktur pemerintahannya kepada Mayor Jendral Soeharto yang
terkenal dengan Surat Perintah 11 Maret 1966.
Latar setting waktu dan tempat dalam film Jokowi pada scenes 3
sengaja dibuat ketika pembersihan anggota PKI di Surakatra dilakukan.
Qualisign ditandakan bagaimana Notomiharjo bertanya dengan raut wajah
kebingungan dan tidak tahu apa-apa saat kejadian pembersihan anggota PKI
di kota. Dengan raut wajah heran dan bingung ini menjadi Sinsign bahwa
Notomiharjo yang kebingungan dan bertanya menandakan bahwa dia bukan
82
anggota PKI. Pada scenes 3-4 dimana Suroso ditangkap dan Ayah Jokowi
tidak ditangkap menjadi Legisign keluarga Notomiharjo bukan anggota PKI
Pemberitaan dan pembersihan anggota PKI sebagai Objek dalam
scenes ini untuk merepresentasikan tanda. Suara radio yang memberitakan
pemberontakan dan pembersihan anggota PKI sebagai ikon. Suasana jalan
yang lengang, dan warga yang dipaksa masuk kedalam mobil adalah sebagai
indeks yang menghubungkan suara radio yang menjelaskan pemberontakan
PKI dan pembersihan anggota PKI yang dilakukan oleh petugas keamanan saling
berhubungan. Dan juga menjadi Simbol tanda bahwa anggota PKI dianggap
sebagai pemberontak dan berbahaya.
Intrepetant yang muncul ketika objek dan tanda saling berhubungan
yaitu bahwa Notomiharjo bukanlah anggota PKI, bahkan tidak mengetahui
kejadian pemberontakan PKI setelah mengetahui dan mendengar di radio.
Rheme dalam penafsiran scenes ini PKI adalah kelompok yang melakukan
pemberontakan, ditangkapnya beberapa warga mengasosiasikan bahwa
mereka adalah anggota PKI. Dicent Sign sebagai tanda yang dianggap
sebagai kenyataan adalah peristiwa pemberontakan dan anggota PKI yang
berbahaya. Argument yang muncul adalah Anggota PKI melakukan
pemberontakan yang terjadi di Jakarta sehingga seluruh anggota PKI harus
ditangkap karena dianggap berbahaya oleh pemerintah. Tidak ditangkapnya
Notomiharjo menjadi Argument bahwa keluarga Jokowi tidak terlibat dalam
kelompok PKI
83
4.2.4 Makna semiotik pada scenes 4
Scenes 4-1 menit 23:58
Scenes 4-2 menit 24:08
Scenes 4-3 menit 24:50
Gambar 4.17 Bagian Scenes 4
Scenes 4-1
: Jokowi kecil masuk kerumah teman barunya dan melihat
Salib yang diletakkan di atas meja
Scenes 4-2
: Teman barunya menjelaskan bahwa itu adalah Salib, dan
umat katolik percaya bahwa Yesus disalib untuk menebus
Dosa.
Scenes 4-3
: Ayah Jokowi menjelaskan kepada Jokowi kecil bahwa
sesama manusia meskipun berbeda keyakinan namun masih
tetap sama dan harus saling menghargai dan menghormati.
84
Gambar 4.18 Unsur Makna Scenes 4
Jiwa Pluralisme (Signs)
Salib (Object)
Jokowi dari kecil sudah
mempunyai jiwa Pluralisme dan
saling menghormati terhadap
orang yang berbeda keyakinan
(intrerepetant)
Tabel 4.4 Pembagian Tanda Scenes 4
Qualisign
Signs
Sinsign
Salib menandakan bahwa Tarti adalah orang
katolik
Legisign
Salib sebagai representasi Yesus untuk menebus
dosa salam agama katolik
Ikon
Objek
Jokowi dengan polos bertanya kepada Tarti.
Indeks
Simbol
Rheme
Dicent Sign
Intrepetant
Argument
Salib yang terletak di atas meja
Jokowi menanyakan kepada Tarti apa itu salib
mengindikasikan Tarti untuk menjelaskan apa itu
salib.
Salib sebagai tanda bahwa Tarti adalah orang
katolik
Tarti mempunyai salib ditafsirkan sebagai orang
yang berbeda keyakinan dengan Jokowi.
Pluralisme sebagai tanda bahwa jika orang
berbeda agama, maka Jokowi harus tetap berbaik
hati.
Pluralisme sebagai bentuk kerukunan agama.
Dengan mempunyai jiwa pluralisme sudah
mewakili
sifat-sifat
saling
menghargai,
menghormati dan baik terhadap orang yang
berbeda agama
85
Pada bagian scenes 4 terdapat tiga frame dengan dua setingan lokasi
yang berbeda. Pada alur cerita scenes 4-1 dan 4-2 pada menit 23:58, Jokowi
kecil diajak bermain kerumah teman barunya yang beragama katolik.
Didalam rumah Tarti, Jokowi melihat salib yang terletak di atas meja dan
bertanya kepada Tarti apa benta itu. Lalu Tarti menjelaskan bahwa salib itu
adalah Yesus, orang katolik percaya bahwa Yesus disalib untuk menebus
dosa.
Lalu pada scenes 4-3, setingan tempat berpindah ke rumah Jokowi.
Topik pada saat itu masih membahas Bu Harjo dan anaknya Tarti yang
berbeda keyakinan dengan Jokowi.
“Bu Harjo dan keluarganya itu Le… punya keyakinan yang
berbeda sama kita. Gapapa tho? Tuhan juga menciptakan manusia
dengan berbeda-beda. Tapi tetap satu keturunan ya nabi Adam. Tapi
biarpun kita berbeda tetep harus saling menghormati dan berbuat
baik.”
Di scenes tiga ini, sutradara ingin menekankan bahwa Jokowi sejak
kecil tertanam jiwa pluralisme. Menurut Kautsar Azhari Noer secara istilah,
pluralisme bukan hanya sekedar keadaan atau fakta yang bersifat plural,
jamak atau banyak. Akan tetapi lebih dari itu, pluralisme secara substansial
termanifestasi dalam sikap untuk saling mengakui sekaligus menghargai,
menghormati, memelihara dan bahkan mengembangkan atau memperkaya
keadaan yang bersifat plural, jamak atau banyak (Noer 1999, 872).
Jika dikaitkan dengan konteks relasi masyarakat yang kompleks,
pluralisme merupakan kunci penting untuk memahami realitas kehidupan.
86
Di sisi lain, realitas kehidupan merupakan hasil konstruksi, karena itu tidak
mungkin ada realitas yang tunggal, tetapi plural. Sebab, setiap individu dan
komunitas sosial memiliki konstruksi sosial sendiri-sendiri (Naim and Sauqi
2008, 76). Secara rinci, pluralisme merupakan keberadaan atau toleransi
keragaman etnik, kelompok-kelompok kultural atau keragaman sikap dan
kepercayaan dalam suatu masyarakat. Untuk merealisasikan dan
mendukung konsep tersebut, diperlukan adanya toleransi. Sebab toleransi
tanpa adanya sikap pluralistik tidak akan menjamin tercapainya kerukunan
antar umat beragama yang abadi begitu pun sebaliknya (Shihab 1998, 41).
Toleransi sebagai kemampuan untuk menghormati sifat dasar, keyakinan
dan perilaku yang dimiliki oleh orang lain, dalam Islam disebut tasamuh
(Shihab 1998, 41).
Qualisign yang ditampilkan dalam scenes ini adalah Jokowi yang
menanyakan kepada Tarti benda apa yang terletak di atas meja. Visualisasi
salib yang ditonjolkan juga menjadi kualitas tanda sehingga menjadi alasan
kenapa Jokowi harus bertanya maksud dari tanda salib itu sendiri.
Sinsign adalah ketika Tarti menjelaskan eksistensi salib itu sendiri,
mengapa ada manusia (Yesus) berada dalam salib itu dan mengapa orang
katolik percaya akan adanya Yesus. Sehingga ada tanda dimana nanti akan
dijelaskan oleh Ayah joko widodo mengapa Tarti memiliki perbedaan
keyakinan dan menjelaskan kepada Jokowi agar tetap menghormati
meskipun berbeda keyakinan.
87
Legisign yang divisualisasikan adalah norma yang ada pada tanda
salib itu sendiri. Tanda Salib menandakan bahwa Tarti berbeda kepercayaan
dengan Jokowi, dan itu juga menjadi alasan mengapa Ayah Jokowi
menjelaskan kepada Jokowi bahwa keluarga Tarti berbeda keyakinan.
Ikon pada adegan ini adalah salib yang terletak diatas meja. Pada
scenes 4-1 kamera memfokuskan salib selama 5 detik dengan teknik kamera
close-up. Ini menekankan bahwa salib sebagai focus pada adegan ini, karena
dengan adanya salib yang terletak diatas meja menjadi acuan agar sutradara
menjelaskan kepada khalayak bahwa Jokowi mengerti akan perbedaan
keyakinan. Hal tersebut juga sebagai Indeks yang mengindikasikan
hubungan sebab-akibat, Jokowi mengerti dan paham dengan perbedaan
keyakinan karena indeks dari scenes 4 tersebut.
Kata-kata yang diucapkan oleh Ayah Jokowi agar untuk
menghormati dan menghargai orang yang berbeda keyakinan sama seperti
kutipan
Noer
bahwa
Pluralisme
dilihat
secara
substansial
dan
termanifestasi. Visualisasi yang ditampilkan pada scene 4-3 Ayah Jokowi
menjelaskan kepada Jokowi maksud dari perbedaan keyakinan dengan hatihati. Visualisasi pada scenes 4-3 juga Ayah Jokowi sebagai Ayah yang
demokratis dan terbuka dalam peran mendidik anak khusushnya pergaulan.
Peranan keadaan keluarga terhadap perkembangan sosial anak-anaknya
tidak hanya terbatas kepada situasi sosial ekonominya atau keutuhan
keluarga saja, melainkan cara dan sikap pergaulannya pun memegang
peranan penting (Ahmadi 2007, 242). Peranan keadaan keluarga terhadap
88
perkembangan anak tidak hanya terbatas kepada situasi-situasi sosial
ekonomi atau kepada keutuhan struktur dan interaksi saja.
Visualisasi scenes 4-3 dan cara Notomiharjo memberikan
pendidikan kepada anaknya menekankan bahwa didalam keluarga Jokowi
yang sederhana tercipta suasanan demokratis dan terbuka kepada Jokowi.
Hal ini juga menekankan cara mendidik Notomiharjo kepada Jokowi,
sehingga Jokowi terbentuk secara mental khususnya melihat situasi-situasi
sosial yang berbeda. Intrepetant yang muncul menandakan bahwa Jokowi
sejak kecil sudah dididik untuk hidup terbuka dan plural terhadap orangorang yang berbeda, baik berbeda keyakinan maupun perbedaan sosial.
4.2.5 Makna semiotik pada scenes 5
Scene 5-1 menit 27:01
Scene 5-2 menit 27:44
Scene 5-3 menit 28:00
Scene 5-4 menit 28:20
Gambar 4.19 Bagian Scenes 5
89
Scenes 5-1
: Jokowi dihadang oleh teman pengajiannya di tengah
jembatan karena Jokowi mengetahui bahwa teman-temannya
bolos pada saat mengaji
Scenes 5-2
: Teman Jokowi menawarkan uang kepada Jokowi agar diam
dan tidak mengadukan kepada pak ustad. Namun Jokowi
menolak.
Scenes 5-3
: Teman Jokowi menghadang kembali lalu menawarkan uang
lebih banyak, namun Jokowi tetap menolak
Scenes 5-4
: Teman Jokowi kecewa dan memukuli Jokowi.
Gambar 4.20 Unsur Makna Scenes 5
Jokowi Anti Suap (Signs)
Uang yang ditolak
(Object)
Jokowi dari kecil telah
menolak suap, karena
perbuatan tersebut tidak
terpuji. (Intrerepetant)
90
Tabel 4.5 Pembagian Tanda Scenes 5
Sinsign
Jokowi menolak uang yang diberikan dengan
tidak emosi
Adegan Jokowi menolak uang sebagai tanda
bahwa Jokowi jujur
Legisign
Tanda menolak adalah sebagai representasi
bahwa Jokowi anti suap
Qualisign
Signs
Ikon
Objek
Indeks
Simbol
Rheme
Intrepetant
Dicent Sign
Argument
Uang yang ingin diberikan sebagai tanda
untuk menutup mulut Jokowi
Jokowi dipukul sebagai tanda bahwa dia
menolak uang.
Uang dalam adegan ini adalah sebagai bentuk
Suap dan itu termasuk tindakan tidak terpuji
Jokowi menolak menerima uang karena alasan
temannya agar Jokowi tidak menceritakan
kepada pak ustadz bahwa telah membolos.
Jokowi menolak uang yang diberikan karena
dianggap sebagai perbuatan yang tidak
terpuji.
(Sumber: Peneliti)
Pada bagian scenes 5, terdapat empat adegan yang dibagi menjadi
scenes 5-1, 5-2, 5-3, 5-4 dan settingan tempat yang sama yaitu di tengah
jembatan. Scenes ini menceritakan Jokowi melihat ketiga temannya yang
bolos mengaji, dan ketiga temannya tersebut menghadang Jokowi di tengah
jembatan. Teman Jokowi yang menghadang, menawarkan uang kepada
Jokowi agar tidak mengadu kepada pak ustadz bahwa temannya telah bolos,
namun Jokowi menolak. Lalu temannya menawarkan uang yang lebih
banyak dari sebelumnya namun Jokowi tetap menolak, lalu temannya
memukuli Jokowi.
91
Dalam scenes ini ditekankan bahwa dari kecil Jokowi menolak untuk
menerima uang karena menganggap bahwa uang tersebut sebagai bentuk
suap. Dalam realitas yang terjadi pada kehidupan sehari-hari tidak jarang
pegawai negeri/pejabat/penyelenggara Negara yang berharap menerima
hadiah dari pelayanan yang mereka berikan atau menggunakan suatu
permasalah politik sebagai kesempatan untuk memeras atau menerima suap
demi memuluskan suatu persoalan (Maheka 2008, 20). Tindakan yang
dilakukan oleh teman Jokowi yang bolos saat mengaji dan ingin
memberikan
sejumlah
uang,
adalah
temasuk
kedalam
kategori
Suap/Gratifikasi. Suap adalah suatu tindakan dengan memberikan sejumlah
uang atau barang atau perjanjian khusus kepada seseorang yang mempnyai
otoritas atau yang dipercaya dan membujuknya untuk merubah tujuan
sebelumnya (Ackerman 2006, 131).
Bagian scenes 5 tersebut menandakan dan merepresentasikan
bagaimana sikap Jokowi pada saat ini yang anti suap dan anti korupsi,
karena sejak kecil dia sudah menolak tindakan-tindakan yang dianggap
sebagai suap meskipun resikonya Jokowi dipukul oleh temannya. Realitas
yang terjadi pada saat ini memang Indonesia banyak sekali kasus dimana
pebajat Negara terlibat kasus suap dan korupsi. Jokowi hadir dengan
komitmen anti-korupsi yang juga seraya menjawab bahwa tidak semua
pejabat melakukan korupsi dan mudah disuap oleh orang-orang yang
mempunyai kepentingan.
92
Qualigisign sebagai bentuk kualitas ditandakan dengan sikap Jokowi
yang menolak uang dengan tidak menunjukkan sikap emosi atau marah.
Bahkan ketika teman Jokowi memukul kepalanya pada scenes 5-2 dan
scenes 5-4, Jokowi tidak melawan. Ini menandakan Jokowi adalah orang
yang sabar ketika menghadapi persoalan.
Sinsign dalam scenes ini adalah peristiwa secara keseluruhan pada
scenes 4, dimana ini juga menandakan ekistensi Jokowi sebagai orang yang
jujur, sabar dan tidak emosional. Legisign juga ditandakan sama seperti
sinsigsn ketika Jokowi menolak pemberian uang ini menandakan bahwa
Jokowi orang yang jujur dan anti suap.
Objek dalam scenes 5 ini adalah uang sebagai bentuk tanda ikon,
indek, dan simbol. Karena uang yang dimaksud dalam scenes ini adala objek
yang menjadi pemicu Jokowi menolak dan menganggap uang tersebut tidak
pantas untuk diterimanya.
Rheme yang ditafsirkan pada tanda dalam scenes 5 yaitu Jokowi
menolak menerima uang karena alasan temannya agar Jokowi tidak
menceritakan kepada Pak Ustadz bahwa teman-temannya telah membolos.
Dicent Sign dan Argument yang dapat diinterpretasikan yaitu Jokowi
menolak uang yang diberikan karena dianggap sebagai perbuatan yang tidak
terpuji.
93
4.2.5 Makna semiotik pada scenes 6
Scenes 6-1 menit 53:57
Scenes 6-2 menit 57:45
Gambar 4.21 Bagian Scenes 6
Scenes 6-1
: Jokowi mendengar dan melihat beberapa orang sedang
memainkan alat music bergenre Rock.
Scenes 6-3
: Ibu Jokowi berdoa dan menangis karena melihat Jokowi
suka pada Rock dan khawatir tentang hobinya.
Gambar 4.22 Unsur Makna Scenes 6
Jokowi Santun dan Menghormati Orang Tua (Signs)
Lagu Rock
(Object)
Rock tidak menjadikan Jokowi
sebagai orang yang buruk, namun
Rock menjadi semangat dan gairahh
dalam menuntut ilmu.
(intrerepetant)
94
Tabel 4.6 Pembagian Tanda Scenes 6
Sinsign
Jokowi menjelaskan secara halus dan tetap
sopan karena Ibunya yang salah paham.
Gaya rambut gondrong dan lagu rock dianggap
merubah sifat orang menjadi tidak baik
Legisign
Lagu rock dan rambut gondrong mengandung
norma negatif.
Qualisign
Signs
Ikon
Indeks
Objek
Lagu Rock mempunyai hubungan dengan
semangat belajar Jokowi
Rheme
Ibu Jokowi percaya orang yang menyukai lagu
rock dan berambut gondrong adalah prilaku
yang tidak baik.
Ibu Jokowi menangis karena anaknya yang
menyukai lagu rock dan berambut gondrong
Dicent Sign
Lagu rock indentik dengan rambut gondrong
dan mabuk-mabukan
Argument
Jokowi menjelaskan kepada Ibunya bahwa
lagu rock dan rambut gondrong tidak
merubahnya menjadi prilaku yang buruk.
Simbol
Intrepetant
Lagu Rock
(Sumber: Peneliti)
Scenes 6 diawali ketika Jokowi melihat beberapa orang memainkan
musik bergenre rock (pada scenes 6-1), melihat beberapa orang tersebut
memainkan lagu rock Jokowi menjadi terinspirasi dan menyukai lagu rock
(dalam scenes ini Jokowi mendengarkan lagu Led Zeppelin). Pada scenes 62 ketika Jokowi pulang dari pasar, Ibu Jokowi menangis dan menganggap
bahwa Jokowi bergaul dengan orang yang mabuk-mabukan dan mendengar
lagu rock adalah sesuatu yang salah dan tidak benar.
95
Sejarah musik rock memiliki asal yang beragam. Di awal tahun
1950an orang berdebat mengenai akar dari musik rock and roll ini. Musik
rock pada dasarnya dieksplor dan dikembangkan oleh banyak orang namun
demikian akar musik rock yang paling kuat adalah pada musik blues dan
rhythm. Blues dan rhythm lalu memproduski sebuah lagu yang oleh beberapa
orang diklaim sebagai lagu rock and roll pertama berjudul 'Rocket '88' oleh
Jackie Brenston.
Dengan berjalannya waktu, black musik yang dianggap sebagai
musik 'ras' ini mulai disukai. Pendengar kulit putih juga mendengarkan lagulagu R&B dan membeli rekamanan 'ras' ini. Masuknya black music ke
telinga audience mainstream mempopulerkan Motown, label rekaman
khusus untuk black music yang menjadi bagian terbesar musik pop tahun
1960an. Namun demikian, kebanyakan pendengar kulit putih hanya
mendengarkan black music bila lagu-lagu tersebut dinyanyikan ulang oleh
penyanyi kulit putih.
Di akhir tahun 1950an dan awal tahun 1960an kebanayakn pendengar
muda mendengarkan campuran dari musik rock and roll, pop dan R&B.
Rock bagaimanapun masih dilihat sebagai jenis musik sendiri sampai akhir
tahun 1960an dengan adanya Motown, The Beatles, Rolling Stones dan
aliran rock keras seperti Led Zeppelin dan Jimi Hendrix. Sejarah musik rock
memiliki asal yang beragam. Di awal tahun 1950an orang berdebat
mengenai akar dari musik rock and roll ini. Musik rock pada dasarnya
dieksplor dan dikembangkan oleh banyak orang namun demikian akar musik
96
rock yang paling kuat adalah pada musik blues dan rhythm. Blues dan
rhythm lalu memproduski sebuah lagu yang oleh beberapa orang diklaim
sebagai lagu rock and roll pertama berjudul 'Rocket '88' oleh Jackie
Brenston. Dengan berjalannya waktu, black musik yang dianggap sebagai
musik 'ras' ini mulai disukai.
Pendengar kulit putih juga mendengarkan lagu-lagu R&B dan
membeli rekamanan 'ras' ini. Masuknya black music ke telinga audience
mainstream mempopulerkan Motown, label rekaman khusus untuk black
music yang menjadi bagian terbesar musik pop tahun 1960an. Namun
demikian, kebanyakan pendengar kulit putih hanya mendengarkan black
music bila lagu-lagu tersebut dinyanyikan ulang oleh penyanyi kulit putih.
Di akhir tahun 1950an dan awal tahun 1960an kebanyakan pendengar muda
mendengarkan campuran dari musik rock and roll, pop dan R&B. Rock
bagaimanapun masih dilihat sebagai jenis musik sendiri sampai akhir tahun
1960an dengan adanya Motown, The Beatles, Rolling Stones dan aliran rock
keras seperti Led Zeppelin dan Jimi Hendrix (kapasitor.net diakses pada 8
februari 2015).
Representasi genre rock pada film ini adalah lagu-lagu rock pada era
1960an yang cenderung mengusung nilai-nilai kebebasan individu. Band
atau penggemarnya sendiri membuat identitas rock berbeda dengan genre
lainnya, rock cenderung bebas, hidup tidak teratur, mabuk-mabukan dan
tidak jauh dari penggunaan obat-obatan terlarang. Ini juga yang membuat
Ibu Jokowi pada scenes 6-2 khawatir dan menganggap Jokowi jadi anak
97
berandalan karena menyukai lagu rock. Visualisasi pada scenes 6-1 yang
memperlihatkan sekelompok pemuda bermain musik rock juga berambut
sama seperti Jokowi. Pada saat itu latar tempat, settingan waktu serta budaya
yang diperlihatkan bahwa Ayah dan Ibu Jokowi adalah keluarga yang kental
dengan budaya Jawa.
Qualisign yaitu Jokowi yang berusaha menjelaskan dengan cara
halus bahwa Ibunya telah salah paham menekankan lagu rock tidak
mengubah sifat-sifat Jokowi. Sinsign Gaya rambut gondrong dan lagu rock
menandakan bahwa dapat merubah sifat orang menjadi tidak baik. Legisign
adalah tanda Lagu rock dan rambut gondrong mengandung norma negatif,
hal ini karena Ibu Jokowi melihat perbedaan budaya yang dia pahami yaitu
budaya jawa dengan budaya barat yang memang berbeda dengan latar
belakang Jokowi.
Ikon sebagai penanda objek yang dibahasa dalam scenes 6 ini adalah
Lagu rock dan Rambut yang gondrong. Lalu indeks sebagai tanda yang
menghubungkan antara objek dan sumber acuannya yaitu Lagu Rock
mempunyai hubungan dengan semangat belajar Jokowi tapi tidak
mempunyai hubungan mempengaruhi prilaku Jokowi. Objek lagu rock
sebagai simbol Ibu Jokowi percaya orang yang menyukai lagu rock dan
berambut gondrong akan merubah prilaku menjadi tidak baik.
Tanda Rheme pada scenes 6 adalah Ibu Jokowi menangis karena
anaknya yang menyukai lagu rock dan berambut gondrong. Dicent Sign
98
Lagu rock indentik dengan rambut gondrong dan mabuk-mabukan.
Argument yang ditandakan yaitu Jokowi menjelaskan kepada Ibunya bahwa
lagu rock dan rambut gondrong tidak merubahnya menjadi prilaku yang
buruk.
4.2.7 Makna semiotik pada scenes 7
Scenes 7-1 menit 01:07:21
Gambar 4.23 Bagian Scenes 7
Scenes 7-1
: ketika Ayah Jokowi mengantarkan Jokowi ke terminal lalu
makan soto. Ayah Jokowi berkata bahwa Jokowi harus
seperti tukang soto, melayani apa saja yang dinginkan
masyarakat.
99
Gambar 4.24 Unsur Makna Scenes 7
Sikap Politik Jokowi Sebagai Pelayan Masyarakat
(Signs)
Pengandaian
Tukang Soto
(Object)
Representasi tukang soto
mencirikan bahwa Jokowi
menjadi pemimpin yang
menjadi panutan banyak orang
(intrerepetant)
Tabel 4.7 Pembagian Tanda Scenes 7
Qualisign
Signs
Sinsign
Legisign
Ikon
Indeks
Objek
Simbol
Rheme
Intrepetant
Dicent Sign
Tukang soto yang harus ditiru oleh Jokowi
sebagai tanda bahwa Jokowi calon pemimpin.
Sifat tukang soto sama seperti sifat Jokowi
sebagai calon pemimpin
Pengandaian agar melayani siapapun menjadi
norma yang terkandung dalam tanda
Tukang Soto
Pengandaian
seperti
tukang
soto
menghubungkan Intrepetant dan representasi
Jokowi sebagai pemimpin
Tukang Soto sebagai simbol hubungan
alamiah antara melayani banyak orang dengan
Jokowi sebagai calon pemimpin.
Realitas kepemimpinan Jokowi saat ini sama
seperti pengandaian tukang soto untuk
melayani banyak orang.
Pengandaian Ayah Jokowi agar Jokowi seperti
tukang soto mengandung makna dan
100
menandakan bahwa Jokowi akan menjadi
pemimpin dan panutan banyak orang
Argument
Alasan Ayah Jokowi berkata Jokowi harus
meniru tukang soto karena untuk menjadi
pemimpin dan panutan harus melayani banyak
orang dan berbagai jenis permintaan.
(Sumber: Peneliti)
Pada scenes 7-1 menit 01:07:21 Notomiharjo mengantarkan anaknya
Jokowi untuk berangkat kuliah keluar kota dan memakan soto di warung
soto dekat terminal. Terjadi percakapan bahwa Notomiharjo ingin anaknya
meniru tukang soto, sifat-sifat tukang soto menjadi yang selalu melayani
pelanggan meskipun bermacam-macam permintaan namun tetap melayani.
“yang datang kesini itu kan banyak orang, macam-macam
permintaannya. Dari permintaan yang banyak itu tukang soto tetap
melayani, nanti kalo kamu ditengah-tengah masyarakat ketemu
dengan orang-orang berbagai jenis, mereka juga mempunyai
permintaan yang banyak dan macam-macam. Tapi tetap kamu harus
melayani, tapi sebenarnya le… kamu yang jadi panutan mereka. Ada
pribahasa Luruk tanpa golok menang tanpa ngasoraki, bagaimana
memenangkan sesuatu tanpa membuat musuh yang dikalahkan itu
merasa kalah atau direndahkan.”
Kutipan percakapan pada scenes 7-1 menandakan bahwa Jokowi
akan menjadi pemimpin dan panutan banyak orang hal tersebut menjadi sign
dalam scenes 7-1. Qualisign adalah Tukang soto yang harus ditiru oleh
Jokowi sebagai tanda bahwa Jokowi calon pemimpin. Sinsign adalah sifat
tukang soto sama seperti sifat Jokowi sebagai calon pemimpin. Legisin
Pengandaian dan makna pribahasa yang dikatakan mempunyai tujuan agar
melayani siapapun menjadi norma yang terkandung dalam tanda
101
Objek yang juga dijadikan ikon adalah tukang soto. Pengandaian
menjadi seperti tukang soto sebagai Indeks menghubungkan Intrepetant dan
representasi Jokowi sebagai pemimpin. Simbol Tukang Soto sebagai
hubungan alamiah antara melayani banyak orang dengan Jokowi sebagai
calon pemimpin.
Rheme adalah Realitas kepemimpinan Jokowi saat ini sama seperti
pengandaian tukang soto untuk melayani banyak orang. Dicent Sign
Pengandaian Ayah Jokowi agar Jokowi seperti tukang soto mengandung
makna dan menandakan bahwa Jokowi akan menjadi pemimpin dan panutan
banyak orang. Argument Alasan Ayah Jokowi berkata Jokowi harus meniru
tukang soto karena untuk menjadi peimpin dan panutan harus melayani
banyak orang dan berbagai jenis permintaan.
4.3
Interpretasi Data
4.3.1 Makna Signs/Tanda Dalam Film Jokowi
Pada bagian analisis data, peneliti menemukan tanda-tanda disetiap 7 scenes
yang diteliti. Tanda-tanda yang muncul dalam setiap 8 scenes saling berhubungan
antara scenes satu dengan scenes yang lainnya.
Pada scenes pertama sutradara menekankan bahwa Doa (sign) sebagai
representasi bahwa kelak besar nanti Jokowi akan menjadi seorang panutan dan
menjadi orang yang besar karena orang tua yang mendoakan anaknya dengan doa
yang baik. Pada scenes kedua tanda yang ingin ditekankan adalah nilai-nilai moral
untuk menjadi rendah hati (sign).
102
Pada scenes ketiga sutradara mengambil isu kejadian pemberontakan G-30S
PKI yang mengakibatkan tewasnya jenderal-jenderal TNI. Kegiatan pembersihan
seluruh anggota PKI lebih ditonjolkan karena untuk merepresentasikan latar
belakang notomiharjo dan keluarga Jokowi bukan sebagai bagian Partai Komunis
Indonesia.
Pada scenes keempat sutradara menekankan bahwa Jokowi sudah dididik
dari kecil oleh keluarganya untuk saling menghormati dan menghargai atas
perbedaan keyakinan. Jiwa pluralisme sebagai tanda ingin ditekankan oleh
sutradara adalah bagian penting yang harus dimiliki oleh pemimpin, terutama
didalam bangsa Indonesia yang plural.
Pada scenes kelima adegan Jokowi menolak uang dari temannya untuk tidak
menceritakan kepada pak ustadz sebagai representasi bahwa Jokowi tidak bisa
disuap, meskipun temannya menambahkan uang lebih dari sebelumnya namun
sikap Jokowi tetap tidak menerimanya. Hal ini merupakan cerminan realitas sikap
politik Jokowi yang anti suap dari kecil.
Pada scenes keenam menegaskan bahwa tanda yang muncul adalah
representasi Jokowi dalam berkomunikasi kepada orang tuanya. Meskipun ibunya
salah paham karena mengira Jokowi mabuk-mabukan dan menjadi berandalan
akibat mendengar lagu rock. Namun cara Jokowi menjelaskan kepada ibunya
dengan kata-kata yang halus adalah representasi lagu rock yang tidak
mempengaruhi sikap Jokowi sebagai orang yang lembut kepada orang tuanya
khususnya ibunya.
103
Pada scenes ketujuh percakapan antara notomiharjo dan Jokowi bermula
agar Jokowi harus meniru sikap tukang soto, menandakan bahwa sikap politik
Jokowi pada saat ini sebagai public service yang melayani berbagai macam
permintaan. Pribahasa “Luruk tanpa golok menang tanpa ngasoraki, bagaimana
memenangkan sesuatu tanpa membuat musuh yang dikalahkan itu merasa kalah
atau direndahkan” juga merupakan sikap politik Jokowi yang hati-hati dalam
mengambil keputusan atau kebijakan sehingga pihak-pihak lainnya tidak merasa
dirugikan.
Makna tanda yang ditampilkan dalam film Jokowi yang diwakilkan oleh 7
scenes diatas, adalah untuk menandakan realitas sikap dan sifat Jokowi. Alur cerita
dari Jokowi kecil hingga Jokowi dewasa menggambarkan sosok moral
kepemimpinan. Tanda bahwa Jokowi dari kecil sudah didoakan menjadi orang yang
hebat melalui doa-doa, ajaran-ajaran moral dari Kakeknya sehingga Jokowi
menjadi orang yang berjiwa besar, kenyataan bahwa latar belakang keluarga Jokowi
yang bukan dari anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), Jokowi yang mempunyai
jiwa pluralisme dan menghormati perbedaan keyakinan, Jokowi sebagai pribadi
yang anti suap dari kecil, tutur kata yang santun meskipun dia menyukai musik
rock, dan Ayahnya yang meminta dia meniru tukang soto sebagai orang yang
melayani segala perbedaan adalah representasi image politik yang ingin
disampaikan oleh Jokowi kepada khalayak bahwa pada kenyataannya Jokowi
memang mempunyai sikap yang diinginkan oleh khalayak.
104
4.3.2 Makna Objek Dalam Film Jokowi
Objek-objek
yang
digunakan
merupakan
tanda
terpenting
agar
representament dan interpretant saling berhubungan satu sama lain. Tanpa adanya
objek sebagai penghubung, pesan, representasi dan interpretasi yang ingin
disampaikan oleh sutradara tidak akan berhasil. Objek sebagai alat penghubung
juga dapat digambarkan melalui peristiwa-peristiwa yang relevan agar representasi
dan Intrepetant dapat dicerna dan diasosiasi oleh khalayak. Dalam film ini objek
cenderung menggunakan mitos, budaya, agama dan peristiwa-peristiwa yang sudah
dialami atau terjadi pada kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam penyampaiannya,
objek
yang
ditampilkan
tidak
sulit
untuk
menghubungkan
antara
representament/sign dengan Intrepetant.
Penggunaan wayang yang dilakukan oleh Kakek Jokowi juga dianggap
sebagai rujukan nilai moral dan sebagai alat media komunikasi (Kominfo 2011, 38).
Sepanjang sejarah wayang telah menjadi grand narrative untuk mengajarkan nilainilai universal. Lakon semar mempunyai nilai-nilai universal seperti rendah hati
dan pribadi yang baik. Lakon wayang sebagai objek menghubungkan representasi
bahwa Jokowi sebagai orang hebat harus memiliki kesederhanaan dan rendah hati.
Setelah itu halayak dibawa kedalam alur cerita pembersihan angota-anggota
PKI yang ada di Kota Surakarta. Objek yang digunakan sebagai penghubung adalah
peristiwa pemberontakan G-30S PKI dan pembersihan para anggota PKI. Dengan
adanya objek tersebut menandakan bahwa latar belakang keluarga Jokowi yang
bersih dan tidak ada kaitannya dengan anggota PKI.
105
Untuk menggambarkan bahwa Jokowi mempunyai sifat plural, ikon yang
digunakan adalah salib untuk menghubungkan tanda bahwa Jokowi adalah orang
yang dididik dengan nilai-nilai pluralisme terhadap orang yang berbeda keyakinan.
Penggunaan objek salib sebagai tanda bahwa Jokowi berbeda keyakinan dengan
temannya digunakan untuk menghubungkan representasi sifat Jokowi dengan
Intrepetant.
Untuk merepresentasikan bahwa Jokowi mempunyai sikap anti korupsi.
Objek yang digunakan sebagai penghubung adalah uang tutup mulut yang ingin
diberikan oleh teman Jokowi namun ditolak oleh Jokowi. Untuk merepresentasikan
kecintaanya terhadap lagu rock dan mempunyai sikap yang sopan dan santun
kepada orang tua, objek yang digunakan adalah lagu rock. Pada scenes terakhir,
notomiharjo menandakan tukang soto sebagai objek perumpamaan agar Jokowi
meniru sifat-sifat tukang soto.
Objek-objek yang dimunculkan dalam setiap scenes film ini mempunyai
makna-makna yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama yaitu
menghubungkan representament/sign dengan Intrepetant. Objek dibuat dengan
terstruktur rapih bertahap, sehingga tidak terdapat bias yang membuat khalayak
tidak mengerti pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara.
4.3.3 Makna Intrepetant Dalam Film Jokowi
Intrepetant atau makna interpretasi adalah rangkaian gabungan dari Rheme,
Dicent sign dan Argument. Intrepetant muncul sebagai hasil dari penafsiran tanda
objek dan representasi yang muncul melalui tanda-tanda. Intrepetant dapat muncul
106
berupa gagasan-gagasan, argumentasi, dan kesimpulan penafsiran dari dari setiap
tanda objek dan representament disetiap scenes.
Disetiap scenes yang peneliti analisis, interpretasi yang muncul berbedabeda. Pada scenes pertama Intrepetant yang muncul adalah penafsiran bahwa
Jokowi akan sukses dan menjadi orang berpengaruh karena sejak kecil orang tuanya
mendoakan dengan doa yang baik. Pada scenes kedua Intrepetant muncul karena
lakon Semar yang diwayangkan oleh Kakek Jokowi, mengajarkan Jokowi bahwa
untuk menjadi orang yang hebat tidak perlu menjadi sosok mewah dan mentereng.
Wejangan agar Jokowi menjadi orang yang rendah hati dan berjiwa besar muncul
sebagai tanda Intrepetant.
Pada scenes ketiga Intrepetant yang muncul menafsirkan bahwa keluarga
notomiharjo dan anaknya Jokowi tidak terlibat dan bukan anggota dari Partai
Komunis Indonesia (PKI). Tanda Intrepetant ini sangat penting untuk ditafsirkan
karena latar belakang PKI sebagai pemberontak dan perusak bangsa. Untuk itu
tanda tersebut penting ditampilkan agar khalayak dapat mengetahui bagaimana latar
belakang politik keluarga Jokowi.
Pada scenes keempat Intrepetant muncul bahwa Jokowi sejak kecil sudah
dididik agar mempunyai sifat-sifat menghargai, menghormati dan tetap baik pada
orang yang berbeda keyakinan (plural). Intrepetant ini muncul untuk mendukung
representamen/sign bahwa Jokowi adalah seorang pluralisme yang menghormati
perbedaan agama.
107
Pada scenes kelima Intrepetant yang muncul alah sikap Jokowi yang
menolak pemberian uang dari temannya sebagai representasi bahwa Jokowi
seorang yang bersih dan anti suap. Jokowi menganggap uang yang diberikan oleh
temannya adalah sebagai tindakan yang tidak terpuji, dan khalayak menafsirkan
bahwa itu adalah tindakan suap.
Scenes keenam Intrepetant bahwa kesukaan Jokowi terhadap lagu rock tidak
mempengaruhi sikap santun dan etika Jokowi kepada orang tuanya. Image rock
yang cenderung melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bermoral seperti
mabuk-mabukan justru dalam scenes ini digambarkan tidak seperti itu. Makna rock
yang ditekankan justru menjadi semangat Jokowi dalam menuntut ilmu dan itu
tidak merubah etika dan sopan santun Jokowi kepada orang tuanya.
Scenes ketujuh mempunyai makna bahwa sikap politik dan kepemimpinan
Jokowi yang menerima segala perbedaan menjadi panutan banyak orang. Pribahasa
“Luruk tanpa golok menang tanpa ngasoraki, bagaimana memenangkan sesuatu
tanpa membuat musuh yang dikalahkan itu merasa kalah atau direndahkan” juga
merupakan bentuk interpretasi bahwa Jokowi tidak merendahkan orang lain
khususnya dalam hal berpolitik. Dari ketujuh scenes menandakan interpretasi
cenderung mempunyai makna untuk menjelaskan latar belakang kehidupan dan
cara berpolitik Jokowi yang cenderung lebih kearah pro rakyat.
Menurut Firman Venayaksa penjelasan interpretant yang ditemukan adalah
sebagai berikut:
“Dalam film ini adalah intrepetant dari setiap tanda-tanda/scenes
yang ditampilkan selalu menampilkan sosok/sifat kejawaan yang
108
memang sebagian khalayak mengetahui bahwa orang-orang jawa
mempunyai sifat-sifat arif, dan budaya/mitos yang telah turunmenurun juga dipahami sebagai simbol budaya yang harus dipetik.
Seperti pepatah-pepatah yang digunakan, serta sifat-sifat semar yang
memang bisa dibilang unik dan dapat menarik perhatian khlayak.
“(wawancara dengan Firman Venayaksa, pada tanggal 19 Mei 2015)
Makna interpretant dalam setiap scenes adalah representasi dari konstruksi
fenomena yang dibuat agar khalayak lebih memahami apa yang ingin disampaikan.
4.3.4 Realitas Film Jokowi Sebagai Media Kampanye Politik
Pekerjaan media pada hakikatnya adalah mengkonstruksikan realitas. Isi
media adalah hasil para pekerja media mengkonstruksikan berbagai realitas yang
dipilihnya, diantaranya realitas politik (Sobur 2002, 88). Makna realitas sosial tidak
bersifat statis dan selalu berubah-ubah, dengan kenyataan itu realitas sosial harus
dibentuk dan diciptakan melalui fenomena sosial (Firmanzah 2007, 291).
Film Jokowi dibentuk dan dikonstruksi sebagai cerminan kisah hidup
Jokowi. Oleh karena itu dalam film ini banyak menampilkan peran keluarga yang
memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter Jokowi. Sejak kecil
Jokowi adalah seorang anak yang hidup ditengah keluarga yang berkeyakinan
bahwa moralitas (kejujuran, tanggung jawab, kekuatan untuk peduli) adalah prinsip
hidup yang utama. Nilai inilah yang membentuk karakter politik Jokowi.
Realitas film ini dibentuk kedalam pikiran masyarakat bahwa keluarga
Jokowi adalah keluarga yang pantas dijadikan inspirasi bagi banyak orang. Ini bisa
dilihat dari kuatnya pendirian sang Ayah dalam mendefinisikan peran dan tanggung
jawab kepala keluarga. Juga keluarga Jokowi kecil bukanlah “rumah” yang
109
konservatif tapi sangat demokratis yang terlihat dari banyaknya diskusi antara sang
Ayah dengan Jokowi kecil.
Dalam film ini Notomiharjo adalah moral leader dalam keluarga Jokowi. Ini
ditandakan dari sikap sang Ayah yang memiliki otoritas kuat, disiplin, ketaatan,
serta pemberi hukuman disaat Jokowi kecil melakukan kesalahan. Karakter moral
itulah yang diwariskannya kepada Jokowi sebagai faktor krusial dalam
pembentukan watak kedisiplinan dan cara berpolitik Jokowi. Film ini juga ingin
menyampaikan kepada masyarakat bahwa Jokowi dibesarkan didalam keluarga
yang plural, memiliki toleransi yang besar dalam menyikapi perbedaan, serta
dibesarkan dalam keluarga yang sangat memahami budaya masyarakat jawa lewat
Kakek yang selalu menceritakan kisah pewayangan.
Dimensi moralitas kepemimpinan dominan sengaja ditampilkan saat isu-isu
krisis moral terjadi di Indonesia, seperti krisis keteladanan dalam diri para
pemimpin yang banyak terlibat korupsi. Korupsi yang hari ini banyak melibatkan
pemimpin/pejabat di republik ini, dimanfaatkan sebagai bahan untuk menyiapkan
fakta-fakta konstruksi. Jika kemudian pada scenes 5 film Jokowi merepresentasikan
sifat Jokowi sebagai personal yang tidak tidak mau menerima uang sogokan karena
itu dianggap sebagai suap, maka sebenarnya film Jokowi menawarkan jawaban
yaitu pemimpin baru bermoral yang mampu mewujudkan harapan serta menjadi
inspirasi bagi khalayak dalam memerangi korupsi.
Selain moralitas kepemimpinan Jokowi yang ditampilkan, realitas Jokowi
sebagai pribadi yang besar dari budaya keluarga yang progresif dan sangat
110
demokratis juga turut mendominasi. Sehingga tema-tema perubahan menjadi sangat
dominan dalam keluarga mereka turut menjadi cerminan bahwa Jokowi tidak
dibesarkan oleh keluarga yang konservatif. Hal ini nampak dari banyaknya segmen
film yang memperlihatkan banyaknya diskusi yang terjadi. Dalam film ini sengaja
diperlihatkan bahwa Jokowi kecil lahir, tumbuh dan berkembang hingga akhirnya
dewasa ditengah kehidupan keluarga yang dililit kemiskinan. Intinya adalah film
ini sengaja ingin menimbulkan identitas dan perasaan bersama bahwa Jokowi
adalah sosok pemimpin yang dekat dengan penderitaan, ketertindasan, dan
kemiskinan.
Akan tetapi realitas yang dicoba dibangun melalui peran sentral Kakek dan
Ayahnya dianggap sebagai realitas yang berlebihan. Pada kenyataannya realitas
politik Jokowi berbeda dengan gambaran yang ada di film tersebut. Figur Kakek
atau Ayahnya selama ini tidak dimunculkan dalam karir berpolitik jokowi. Tidak
ada pemberitaan atau informasi bahwa Jokowi mempunyai sikap-sikap teladan
karena didikan dari orang tuanya. Sementara tiba-tiba dalam film ini figur Ayah
dan kakeknya digambarkan sebagai figur yang sangat sentral yang membangun
karakter jokowi.
Hal ini juga senada dikatakan oleh Gandung Ismanto yang mengatakan
bahwa sosok sentral ayah dan kakeknya sebagai realitas yang berlebihan. Berikut
pernyataannya:
“Menurut saya adegan-adegan tersebut terlalu berlebihan (lebay).
Kalau Kakek dan Ayahnya itu adalah dua orang yang digambarkan
memiliki pengaruh dalam membangun karakter jokowi. Justru
realitas politiknya berbeda, figur Kakek atau Ayahnya selama ini
111
tidak dimunculkan dalam karir berpolitik jokowi. Publik bahkan
hanya mengetahui namanya saja, kita tidak memiliki informasi yang
clear bagaimana latar belakang Ayah dan Kakeknya. Sementara tibatiba dalam film ini figur Ayahnya dan kakenya itu digambarkan
sebagai figur yang sangat sentral yang membangun karakter jokowi.
Itu yang menurut saya berlebihan dalam menggambarkan realitas
kehidupan jokowi.” (Wawancara dengan Gandung Ismanto S.Sos
M.Sos pada tanggal 16 februari 2015)
Selain itu tahap pengumpulan informasi dalam proses pembuatan film
tersebut tidak dapat dibuktikan dengan kuat. Hal tersebut dikarenakan pada Kakek
dan Ayahnya Jokowi telah meninggal sebelum film tersebut diproduksi. Sehingga
subjektifitas dalam mengkonstruksi realitas tokoh Kakek dan Ayahnya dianggap
berlebihan.
Realitas-realitas yang dijelaskan diatas sebagai representasi image politik
Jokowi yang ingin disampaikan kepada khalayak. Firmanzah dalam bukunya
berjudul Marketing Politik mendefinisikan image politik sebagai berikut:
“Image Politik didefinisikan sebagai konstruksi atas representasi dan
persepsi masyarakat (public) akan suatu partai politik atau individu
mengenai semua hal yang terkait dengan aktivitas politik”
(Firmanzah 2007, 230).
Lalu Image politik menurut Gandung Ismanto:
“Image dalam pengertian sederhana yaitu citra, atau kesan yang
didalamnya ada persepsi yang ditangkap oleh setiap orang secara
personal terhadap seseorang atau tokoh politik dalam hal ini jika
dalam konteks politik produknya adalah orang-orang atau tokoh
politik, sehingga image politik ya tentu bicara soal pencitraan.”
(Wawancara dengan Gandung Ismanto S.Sos M.Sos pada tanggal 16
februari 2015)
112
Firmanzah mendefinisikan bahwa image politik terkait dengan aktivitas
politik, menurut peneliti segala sesuatu yang dilakukan oleh Jokowi khususnya
pada realitas yang digambarkan dalam film tersebut adalah cerminan sikap
politiknya. Karena Jokowi merupakan tokoh politik, dan hal-hal yang dilakukannya
adalah merupaka produk politiknya.
Dalam film ini image politik yang coba disampaikan bersifat positif dan
membangun. Image positif yang dimiliki oleh kandidat dapat membantu untuk
meyakinkan pemilih bahwa janji serta harapan politik yang diberikan benar-benar
dimaksudkan untuk perbaikan bangsa dan Negara, bukan untuk kepentingan politik
praktis saja (Firmanzah 2007, 274). Film ini juga ditujukan sebagai representasi
orientasi solusi dari partai politik dalam menjawab segala bentuk fenomena krisis
politik yang terjadi di negeri ini. Begitu suatu partai politik atau para pelaku politik
menawarkan suatu solusi, hal ini dapat dianggap menjadi titik terang bagi
masyarakat luas. Karenanya, masyarakat akan menilai dan memberikan kredit
positif kepada partai politik yang dapat memberikan solusi terhadap permasalahan
yang tengah dihadapi (Firmanzah 2007, 284).
Pendekatan dalam kajian image politik yang digunakan di film ini termasuk
dalam kategori pendekatan afeksi. Pendapat Gandung Ismanto tentang pendekatan
yang digunakan dalam film Jokowi:
“Film ini mencoba menggunakan pendekatan afektif. Karena film ini
sebenarnya ingin mengambil dan membangun simpati masyarakat
bahwa Jokowi adalah bagian dari masyarakat dan Jokowi adalah
masyarakat itu sendiri. Ia lahir dan dibesarkan pada masyarakat
umumnya. Ia bukan politisi atau bukan elit atau orang kaya, dan
simpati itu tampaknya ingin lebih dibangun ketimbang kognisi.
113
Karena kalau melihat konteks politik Jokowi pertama kali di Jakarta,
orang tidak begitu kenal Jokowi, meski terpaan media sangat massive
pada saat itu.“ (Wawancara dengan Gandung Ismanto S.Sos M.Sos
pada tanggal 16 februari 2015)
Adegan atau scenes yang ditampilkan dengan bentuk drama dan perjalanan
hidup Jokowi yang dikemas sedemikian rupa, juga merupakan realitas yang sengaja
dibangun untuk membangkitkan emosional khalayak. Dimana scenes Jokowi
dipukuli oleh temannya hanya karena tidak mau menerima uang, Kakek dan
Ayahnya sebagai sosok sentral dalam pembentukan karakternya namun meninggal,
perjalanan cintanya dengan Iriana merupakan sebagian dari banyaknya realitas
yang sengaja dibangun agar membangkitkan emosional khalayak juga termasuk
dalam pendekatan afeksi.
Pembentukan image politik tentu berkaitan erat dengan kampanye politik
dan begitu pula sebaliknya (Lock dan Harris, 1996). Pendapat Gandung Ismanto
tentang definisi kampanye politik:
“Kampanye politik itu pada dasarnya bisa dilihat sebagai media atau
cara atau instrument untuk membangun image dalam konteks ini
tentu image politik baik partai maupun individu.” (Wawancara
dengan Gandung Ismanto S.Sos M.Sos pada tanggal 16 februari
2015)
Menurut Arifin (2003), kampanye politik didefinisikan sebagai berikut:
“Kampanye politik adalah bentuk komunikasi politik yang dilakukan
seseorang atau sekelompok orang atau organisasi politik dalam
waktu tertentu untuk memperoleh dukungan politik dari masyarakat”
(Arifin, 2003)
114
Dalam film ini secara tidak langsung termasuk kedalam kegiatan kampanye
politik. Karena film tersebut bertujuan untuk membangun citra yang ingin
ditanamkan dalam alam bawah sadar masyarakat dan diharapkan film ini
menggerakkan publik untuk menaruh simpati dan berprilaku sebagaimana yang
diharapkan dalam kegiatan politik yaitu mendukung Jokowi. Selain itu pula KK
Dheeraj sebagai orang yang memproduseri film ini mengeluarkan statement seperti
berikut:
“Saya bangga tentu film Joko Widodo ini menjadi bagian sejarah.
Fungsinya nggak cuma untuk menghibur saat tayang di bioskop. Tapi
tambah fungsi sebagai media kampanye calon presiden"
(kapanlagi.com diakses pada tanggal 11 februari 2015)
Film ini tidak sepenuhnya merepresentasikan perjalanan hidup Jokowi
seutuhnya. Banyak fakta-fakta realitas yang tidak digambarkan seperti
kepemimpinan Jokowi selama 8 tahun menjabat Walikota Solo, kebijakankebijakan pro dan kontra. Lalu adegan-adegan yang dianggap berlebihan dalam
menggambarkan realitas Jokowi, seperti rumah jokowi yang demokratis, Jokowi
yang dipukuli hanya karena tidak mau menerima uang.
Justru jika realitas yang digambarkan hanyalah sebuah perjalanan hidup
Jokowi yang penuh dengan makna dan moral leader adalah bukan sebagai tujuan
utama film ini dibuat. Disamping statement KK Dheeraj yang mengatakan bahwa
film ini sebagai media kampanye politik, realitas film ini juga sengaja dikonstruksi
untuk menyinggung isu-isu politik dan sosial yang terjadi pada moral pemimpinpemimpin sehingga munculnya film Jokowi adalah sebagai pemimpin dengan
115
cerminan yang baik dan pantas dikala banyaknya kasus-kasus khususnya kasus
korupsi yang menjerat pemimpin di Negara ini.
Lalu pada adegan scenes 3 ketika orang-orang PKI ditangkap oleh petugas
keamanan dan Ayah Jokowi tidak ditangkap pada saat di kota, bukan berarti juga
bahwa Jokowi tidak terlibat sebagai keturunan PKI. Scenes 3 sengaja ditampilkan
seperti itu untuk menepis isu bahwa Jokowi adalah keturunan PKI, bukan
merefleksikan kenyataan bahwa Jokowi bukan anggota PKI.
Film ini muncul bukan sebagai refleksi dari tokoh dan apresiasi dalam
kehidupan seorang tokoh, tetapi film ini sengaja didesain sebagai media untuk
mengkampanyekan image politik Jokowi. Sehingga tidak aneh jika realitas yang
dipresentasikan selalu bersifat positif dan menggiring khalayak agar menilai bahwa
Jokowi sebagai pemimpin yang layak bagi Indonesia dengan memperlihatkan sifat
yang menjadi panutan banyak orang.
Hal ini tersebut juga dikatakan oleh informan Firman Venayaksa, Ali Soera
dan Gandung Ismanto bahwa film ini didesain sebagai kemasan fenomena yang
dijadikan media kampanye.
Menurut Gandung Ismanto:
“Karena film tersebut bertujuan untuk membangun citra yang ingin
ditanamkan dalam alam bawah sadar masyarakat yang demikian
diharapkan dia menggerakkan publik untuk menaruh simpati dan
berprilaku sebagaimana yang diharapkan dalam kegiatan politik yaitu
mendukung atau memilih dirinya.” (Wawancara dengan Gandung
Ismanto S.Sos M.Sos pada tanggal 16 februari 2015)
116
Selain film Jokowi itu sendiri, latar belakang KK Dheeraj sebagai produser
film ini adalah seorang produser yang rutin membuat film bergenre horror dan
hampir sebagian besar film yang dibuat adalah bergenre horror dan identik dengan
pemeran-pemeran perempuan yang seksi. Bahkan tidak jarang KK Dheeraj
menggunakan pemeran bintang film porno dari luar negeri untuk datang ke
Indonesia dan bermain sebagai pemeran utama dalam film-film horrornya.
Dengan latar belakang tersebut, KK Dheeraj sebagai produser dan timnya
film Jokowi belum sepenuhnya merepresentasikan figur-figur insan perfilman yang
memiliki kapasitas terpercaya baik secara teknis dan secara akamedik untuk
menggambarkan realitas kehidupan seseorang dalam sebuah media khususnya
perfilman Juga seharusnya dalam memproduksi sebuah film lebih netral dan tidak
berpihak khususnya dalam keterlibatan pemilihan umum. Film merupakan sebuah
gambaran realitas yang ada ditengah masyarakat, sebaiknya bagi produser bisa
menggambarkan secara jujur setiap adegan yang ditampilkan dalam film tanpa
harus memasukan suatu propaganda atau makna-makna terselubung yang
tujuannya hanya untuk mendukung salah satu pihak, karena film fungsinya sebagai
media informasi dan media pembelajaran bagi masyarakat banyak.
BAB V
KESIMPULAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti mengenai realitas film
Jokowi sebagai media kampanye politik (analisis semiotika Charles Sanders
Peirce), peneliti dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Makna tanda dalam film Jokowi yang diwakilkan oleh 7 scenes, adalah
realitas sikap dan sifat Jokowi. Representasi politik yang ingin
disampaikan oleh Jokowi kepada khalayak bahwa pada kenyataannya
Jokowi memang mempunyai sikap yang diinginkan oleh khalayak,
sehingga mempunyai makna bahwa film ini sebagai media kampanye
politik.
2. Objek-objek yang dimunculkan dalam setiap scenes film ini mempunyai
makna-makna yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama yaitu
menghubungkan representament/sign dengan Intrepetant. Objek dibuat
dengan terstruktur dan tidak bias. Sehingga membuat khalayak mengerti
pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara.
3. Makna intrepetant dari ketujuh scenes menandakan interpretasi
cenderung mempunyai makna untuk menjelaskan latar belakang
kehidupan
dan
cara
berpolitik
Jokowi.
Film
ini
cenderung
mengkonstruksi dan mebuat gagasan agar khalayak melihat Jokowi
117
118
adalah pemimpin yang lahir sebagai rakyat dan menjadi pemimpin untuk
rakyat.
4. Realitas film ini termasuk kedalam kegiatan kampanye politik, karena
film tersebut bertujuan untuk membangun citra yang ingin ditanamkan
dalam alam bawah sadar masyarakat. Realitas film dibangun sebagai
proses interaksi dengan masyarakat, sehingga tidak mudah hilang dari
memori kolektif masyarakat. Realitas film ini dibuat bukan hanya
sebagai refleksi dari tokoh dan apresiasi dalam kehidupan seorang tokoh
politik, tetapi film ini sengaja didesain sebagai media kampanye politik.
5.2
Saran-Saran
Bagi produser film, hendaknya dalam memproduksi sebuah film lebih netral
dan tidak berpihak khususnya dalam keterlibatan pemilihan umum. Film
merupakan sebuah gambaran realitas yang ada ditengah masyarakat, sebaiknya bagi
produser bisa menggambarkan secara jujur setiap adegan yang ditampilkan dalam
film tanpa harus memasukan suatu propaganda atau makna-makna terselubung
yang tujuannya hanya untuk mendukung salah satu pihak, karena film fungsinya
sebagai media informasi dan media pembelajaran bagi masyarakat banyak.
Bagi para pemirsa film hendaknya agar lebih cermat dalam memahami
makna yang ada dalam sebuah film tersebut. Pesan moral yang terkandung dalam
film kenyataannya bukan hanya sebuah pembelajaran namun dapat mempengaruhi
sikap politik. Kita harus benar-benar memahami dan membedakan film yang
menyampaikan pesan moral atau malah film tersebut sengaja dibuat karena untuk
mempengaruhi sikap politik.
119
Film Jokowi seharusnya menjadi sebuah acuan bagi para akademisi bahwa
kampanye politik tidak hanya menggunakan media luar ruang, pemberitaan, surat
kabar ataupun media sosial. Namun film juga dapat digunakan oleh pelaku politik
untuk dijadikan media kampanye politik. Dan penelitian ini bisa dijadikan acuan
untuk meneliti dan membahas perkembangan film sebagai media kampanye politik.
DAFTAR PUSTAKA
Ackerman, Susan Rose. Korupsi dan Pemerintahan: Sebab, Akibat dan Reformasi.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2006.
Ahmadi, Abu. Psikologi Komunikasi. Jakarta: Rineka Cipta, 2007.
Al-Malaky, Eki. Remaja Doyan Filsafat. Why Not? Bandung: DAR! Mizan, 2004.
Ardianto, Elvinaro. Filsafat Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media,
2007.
Arifin, Anwar. Pencitraan Dalam Politik, Strategi Pemenangan Pemilu Dalam
Perspektif Komunikasi Politik. Jakarta: Pustaka Indonesia, 2006.
Asfar, Muhammad. Pemilu dan Perilaku Memilih 1955-2004. Jakarta: Pustaka
Eureka, 2006.
Barbieri, Marcello. "The Code Model of Semiosis: The First Steps Toward a
Scientific Biosemiotics." The American Journal of Semiotics, 2008: 24.
Berger, Peter L, and Thomas Luckmann. The Social Construction of Reality: A
Treatise In The Sociological of Knowledge. Jakarta: LP3ES, 1990.
Bungin, Burhan. Penelitian Kualitatf, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik,
dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana, 2008.
—. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi
di Masyarakat. Jakarta: Kencana, 2007.
Burel, G, and G. Morgan. Sociological Paradigms and Organisational Analysis.
USA: Ashgate Publishing Company, 1979.
Danesi, Marcel. Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta: Jalasutra,
2010.
—. Pesan, Tanda dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra, 2010.
Effendy, Onong U. Ilmu komunikasi: Teori dan Praktek. Bandyng: Remaja
Rosdakarya, 2001.
Eriyanto. Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta:
LKIS, 2002.
Firmanzah. Marketing Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007.
120
121
Fiske, John. Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Paling
Komprehensif,. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.
Irwansyah, Ade. Seandainya Saya Kritikus Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka,
2009.
Kominfo. Wayang Sebagai Media Komunikasi Tradisional Dalam Diseminasi
Informasi. Jakarta: Kominfo.go.id, 2011.
Kriyantono, Rachmat. Tekhnik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana, 2009.
Kuswarno, Engkus. Fenomenologi; fenomena pengemis kota bandung. Bandung:
Widya Padjajaran, 2009.
Littlejohn, Stephen W. Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba Humanika, 2011.
Maheka, Arya. Mengenali dan Memberantas Korupsi. Jakarta: Komisi
Pemberantasan Korupsi, 2008.
McBridge, Sean. Komunikasi dan Masyarakat Sekarang dan Masa Depan: Aneka
Suara Satu Dimensi. Jakarta: Balai Pustaka, 1983.
McQuill, Dennis. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Erlangga, 1995.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya,
2004.
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2000.
Naim, Ngainun, and Ahmad Sauqi. Pendidikan Multikultural, Kosen dan Aplikasi.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008.
Nasional, Departemen Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ke-3.
Jakarta: Balai Pustaka, 2002.
Nimmo, Dan. Komunikasi Politik (Khalayak dan Efek). Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2010.
Noer, Kautsar Azhari. Menyemarakkan Dialog Agama (Perspektif Kaum Sufi)
dalam Edy A Effendy (ed), Dekonstruksi Islam Madzhab Ciputat. Bandung:
Zaman Wacana Mulia, 1999.
Onong, Effendy Uchjana. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2006.
Pateda, Mansoer. Semantik Leksikal, Edisi Kedua. Jakarta: Rineka Cipta, 2001.
122
Patton, Michael Quinn. Qualitative Research & Evaluatin Methods. California:
Sage Publication, 2002.
Pawito. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiS, 2007.
Piliang, Yasraf Amir. Hipersemiotika : Tafsir Cultural Studies atas Matinya
Makna. Yogyakarta: Jalasutra, 2003.
Rachmat, Kriyantono. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2006.
Rakhmat, Jalalludin. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2005.
Ritzer, George, and Douglas J Goodman. Teori Sosiologi Modern, terjemahan
Alimandan. Jakarta: Kencana, 2007.
Senel, Müfit. "“The Semiotic Approach and Language Teaching and Learning"."
Journal of Language and Linguistic Studies 3 (April 2007): 118.
Shihab, Alwi. Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama. Bandung:
Mizan, 1998.
Sobur, Alex. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,
Analisis Semiotik, Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakayarya,
2002.
—. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.
Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2009.
Sujiman, Panuti, and Aart Van Zoest. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1992.
Venus, Antar. Manajemen Kampanye. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2004.
123
Sumber Internet
Sejarah Musik Rock
http://www.kapasitor.net/community/post/1022-sejarah-music-rock diakses pada
tanggal 8 Februari 2015 pada jam 09.59 wib
Jokowi bukan dari keluarga PKI
http://nasional.kompas.com/read/2014/07/04/0502157/.Tudingan.PDIP.Usung.Ka
der.PKI.Lecehkan.TNI.dan.BIN. Diakses pada tanggal 8 februari 2015 pada
jam 10.42 wib
Sejarah Singkat G30S PKI.
http://www.indoberita.com/2014/09/294000/mengenang-sejarah-singkatg-30-s-pki/ diakses pada tanggal 8 februari 2015 pada jam 12.18 wib
KK Dheeraj Film Jokowi Sebagai Media Kampanye Pilpres
http://www.kapanlagi.com/KK Dheeraj _ Film 'Jokowi' Jadi Media Kampanye
Pilpres.html diakses pada tanggal 1 februari 2014 pada jam 03.00 wib
LAMPIRAN-LAMPIRAN
124
125
Lampiran 1 Pemberitaan Jokowi PKI
126
Lampiran 2 Sejarah Musik Rock
127
Lampiran 3 Sejarah G30S PKI
128
Lampiran 4 Sinopsis Film Jokowi
129
Lampiran 5 Film Jokowi Sebagai Bentuk Kampanye
130
Lampiran 6 Pedoman Wawancara
PEDOMAN PERTANYAAN PENELITIAN
1. Judul Penelitian
: Realitas Film Jokowi Sebagai Media Kampanye Politik
(Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)
2. Fokus Wawancara : 1. Proses Perencanaan Pembuatan Film
2. Unsur-Unsur Film Jokowi Sebagai Kampanye Politik
3. Makna Semiotika pada Film Jokowi
3. Kategorisasi Pertanyaan :
- P1 (Pertanyaan 1) : Pertanyaan untuk Informan Utama yaitu yang berkaitan
dengan pembuatan film, atau sebagai tim sukses.
- P2 (Pertanyaan 2) : Pertanyaan untuk Informan Ahli dalam bidang kampanye
politik
- P3 (Pertanyaan 3) : Pertanyaan untuk Informan Ahli dalam bidang kajian
Makna/Semiotika Film
- P1 (Pertanyaan 1) :
Pertanyaan untuk fokus wawancara : Proses Perencanaan Pembuatan Film
1) Untuk tujuan apa Film Jokowi ini dibuat?
2) Proses apa saja yang dilakukan baik oleh pihak partai atau dari tim sukses
jokowi dan house production dalam pembuatan film ini?
3) Mengapa perjalan hidup Joko Widodo diangkat kedalam film ini?
4) Kenapa media seperti Film dipilih menjadi salah satu media kampanye
politik Jokowi?
5) Apakah anda sebagai ketua Tim Sukses ProJo merasa terbantu dengan
adanya Film Jokowi?
.
131
- P2 (Pertanyaan 2) :
Pertanyaan Untuk Fokus Wawancara : Unsur-Unsur Film Jokowi Sebagai
Kampanye Politik
1) Apa yang dimaksud dengan image politik?
2) Bagaimana image politik terbentuk?
3) Dalam kajian image politik ada dua pendekatan afektif dan kognitif,
menurut Anda dalam film Jokowi. Pendekatan apa digunakan oleh
sutradara?
4) Dalam film ini, sejauh mana realitas image politik yang dibentuk?
5) Adakah kaitannya adegan-adegan Kakek dan Ayahnya sebagai Moral
Leader dalam pembentukan sikap politik Jokowi?
6) Apa yang dimaksud dengan kampanye politik?
7) Apakah film Jokowi termasuk kedalam kampanye politik?
8) Film ini termasuk kedalam kategori kampanye politik yang seperti apa?
- P3 (Pertanyaan 3) :
Pertanyaan untuk fokus wawancara : Makna Semiotika pada Film Jokowi
1) Bagaimana makna tanda yang ada pada sampel scenes 1?
2) Bagaimana makna tanda yang ada pada sampel scenes 2?
3) Bagaimana makna tanda yang ada pada sampel scenes 3?
4) Bagaimana makna tanda yang ada pada sampel scenes 4?
5) Bagaimana makna tanda yang ada pada sampel scenes 5?
6) Bagaimana makna tanda yang ada pada sampel scenes 6?
7) Bagaimana makna tanda yang ada pada sampel scenes 7?
8) Bagaimana makna tanda dalam film jokowi?
9) Bagaimana makna objek dalam film jokowi?
10) Bagaimana makna interpretant dalam film jokowi?
11) Bagaimana realitas yang ditampilkan melalui scenes-scenes dalam film
tersebut?
12) Dalam 7 scenes yang dijadikan sampel bagaimana representasi makna
yang ditampilkan?
13) Apakah tanda-tanda dalam setiap scene yang ditampilkan sudah
merepresentasikan Film Jokowi sebagai media kampanye politik?
132
Lampiran 7 Transkip Wawancara Informan Ahli
Jawaban Pertanyaan Penelitian Realitas Film Jokowi Sebagai Media
Kampanye Politik (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)
Biodata informan penelitian
Nama
: Gandung Ismanto S.Sos, M.Sos
Umur
: 41 Tahun
Pekerjaan/Jabatan
: Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untirta
Wawancara dilaksanakan pada Hari Selasa, 16 Februari 2015.
PERTANYAAN & JAWABAN
1. Apa yang dimaksud dengan image politik?
Jawab: image itu dalam pengertian sederhana yaitu citra, atau kesan yang
didalamnya ada persepsi yang ditangkap oleh setiap orang secara personal
terhadap seseorang atau tokoh politik dalam hal ini. Karena image juga
bicara soal iklan ya bicara soal produk, kalo dalam konteks politik
produknya adalah orang-orang atau tokoh politik, sehingga image politik ya
tentu bicara soal pencitraan.
2. Bagaimana image politik terbentuk?
Jawab: image terbentuk karena beberapa factor, bisa muncul karena jejak
rekam yang dimiliki oleh seseorang yang kemudian dikenali oleh orang
lain/publik yang mempengaruhi penilaiannya terhadap orang itu. Bisa juga
dari terpaan informasi.
3. Dalam kajian image politik ada dua pendekatan afektif dan kognitif,
menurut Anda dalam film Jokowi. Pendekatan apa digunakan oleh
sutradara?
Jawab: jika dilihat dari konten/isinya, sutradara atau film ini mencoba
menggunakan pendekatan afektif/afeksi ya. Karena film ini sebenarnya
ingin mengambil dan membangun simpati masyarakat bahwa Jokowi adalah
bagian dari masyarakat dan Jokowi adalah masyarakat itu sendiri. Ia lahir
133
dan dibesarkan pada masyarakat umumnya. Ia bukan politisi atau bukan elit
atau orang kaya, dan simpati itu tampaknya ingin lebih dibangun ketimbang
kognisi. Mengapa… karena kalau melihat konteks politik Jokowi pertama
kali di Jakarta, orang tidak begitu kenal Jokowi, meski terpaan media sangat
massive pada saat itu.
4. Sejauh mana realitas image politik yang dibentuk?
Jawab: image yang dibangun memang sengaja dibuat berlawanan seperti
realitas politik yang dialami oleh masyakarat. Bahwa seseorang calon
pemimpin, kepala daerah, legislative, calon presiden itu harus berasal dari
orang ningrat, berdarah biru, kaum bangsawan, orang kaya, atau elite
penguasa yang ada. Nah… image yang dibangun dalam film ini bahwa
jokowi adalah masyarakat itu sendiri, dia hidup dengan kompleksitas
kehidupan yang sama seperti dialami oleh masyarakat, digambarkan dia
pernah digusur, digambarkan dia tidak punya rumah, pernah miskin,
kehidupannya yang dibangun dari zero to hero.
5. Adakah kaitannya adegan-adegan Kakek dan Ayahnya sebagai Moral
Leader dalam pembentukan sikap politik Jokowi?
Jawab: menurut saya adegan-adegan tersebut terlalu berlebihan (lebay).
Kalau Kakek dan Ayahnya itu adalah dua orang yang digambarkan
memiliki pengaruh dalam membangun karakter jokowi. Justru realitas
politiknya berbeda, figur Kakek atau Ayahnya selama ini tidak dimunculkan
dalam karir berpolitik jokowi. Publik bahkan hanya mengetahui namanya
saja, kita tidak memiliki informasi yang clear bagaimana latar belakang
Ayah dan Kakeknya. Sementara tiba-tiba dalam film ini figur Ayahnya dan
kakenya itu digambarkan sebagai figur yang sangat sentral yang
membangun karakter jokowi. Itu yang menurut saya berlebihan dalam
menggambarkan realitas kehidupan jokowi.
6. Apa yang dimaksud dengan kampanye politik?
Jawab: kampanye politik itu pada dasarnya bisa dilihat sebagai media atau
cara atau instrument untuk membangun image dalam konteks ini tentu
image politik baik partai maupun individu.
7. Apakah film Jokowi termasuk kedalam kampanye politik?
Jawab: secara tidak langsung Iya, mengapa? Karena film tersebut bertujuan
untuk membangun citra yang ingin ditanamkan dalam alam bawah sadar
masyarakat yang demikian diharapkan dia menggerakkan publik untuk
134
menaruh simpati dan berprilaku sebagaimana yang diharapkan dalam
kegiatan politik yaitu mendukung atau memilih dirinya.
8. Film ini termasuk kedalam kategori kampanye politik yang seperti
apa?
Jawab: bisa dibilang ini termasuk kedalam kategori kampanye politik
modern. Cara baru dalam tradisi politik kita. Dia memanfaatkan sifat-sifat
film yang memang bagian dari media massa untuk mempromosikan atau
menyebarluaskan profil dirinya agar lebih dikenal oleh masyarakat luas.
Disamping itu juga dia menggunakan media iklan, berita dan lain-lain.
Namun film memang merupakan daya tarik tersendiri khususnya khalayak
yang tidak mengerti dunia politik agar bisa mendukung dirinya.
135
Lampiran 8. Riwayat Hidup
RIWAYAT HIDUP
Nama Lengkap
: Rangga Andriana
Jenis Kelamin
: Laki-Laki
Tempat/Tinggal Lahir
: Serang, 04 Juli 1991
Alamat
: Komplek Lebak Indah B3 No. 180 RT/RW 02/04.
Kelurahan Terondol – Kecamatan Serang
Email
: [email protected]
Perguruan Tinggi
: Universitas Sultan Ageng Titayasa, Serang – Banten
Fakultas
: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Jurusan
: Ilmu Komunikasi (Konsentrasi Jurnalistik)
Angkatan
: 2010
» Pendidikan Formal
No.
Jenjang Pendidikan
1.
Sekolah Dasar
2.
Sekolah Menengah
Pertama
Sekolah Menengah
3.
Kejuruan Jurusan
Multimedia
4.
S1 Ilmu Komunikasi
Nama
Kota
Tahun
SDN 13
Serang
1997 – 2003
SMP 15
Serang
2003 – 2006
Serang
2006 – 2009
Serang
2010 - 2015
Sekolah
SMK 1
Pasundan
UNTIRTA
SERANG
136
» Pengalaman Organisasi
No.
Nama Organisasi
Jabatan
Tahun
1.
Badan Eksekutif Mahasiswa
Menkominfo
2012 - 2013
Anggota
2012 - 2015
Purna Paskibraka Indonesia Kota
Kasub
2011 - 2015
Serang
Dansus
Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP
Depkominfo
Unitirta
2.
Komunitas Fotografer Banten
Exposure
3.
4.
2011 - 2012
» Pengalaman Bekerja
No.
1.
Tahun
2008
Jabatan
Deskripsi Pekerjaan
Magang sebagai
Upload data to Cloud Center,
Operator Data di
Manage Data melalui FTP
KTI Cilegon
Client.
Developer Website
2.
2012
Staff ICT FISIP
Kemahasiswaan Fakultas
Untirta
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Untirta
3.
Leader &
Sebagai leader dan
2013 –
Phtographer
photographer wedding di
Sekarang
Autofocus| Creative
daerah kota Serang, Cilegon,
and Photo Wedding
Tangerang
Bekerja pada posisi
4.
2014
Editor di
IYAA.COM Media
Portal Berita
Sebagai editor bahasa, berita
di situs media portal berita
online IYAA.COM
Download