Jurnal-09 - Perludem

advertisement
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
Jurnal #5
Jurnal
Februari #9
2013
KODIFIKASI
UNDANG-UNDANG
PEMILU PEMBARUAN
HUKUM
PEMILU MENUJU
TRANSPARANSI,
PEMILU
SERENTAK
PARTISIPASI,
DAN
NASIONAL DAN PEMILU
DEMOKRASI
SERENTAK
DAERAH
Jurnal Pemilu dan Demokrasi adalah jurnal tiga bulanan yang diterbitkan oleh Yayasan Perludem.
Perludem menerima kontribusi tulisan dan pemikiran dari khalayak luas untuk dapat diterbitkan dalam
Jurnal Pemilu dan Demokrasi. Lebih lengkap hubungi Redaksi.
i
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan.
Seperti
halnya keterwakilan
perempuan sebagai salah satu
KODIFIKASI
UNDANG-UNDANG
PEMILU
PEMBARUAN HUKUM PEMILU MENUJU PEMILU
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu. UU No. 8 Tahun
SERENTAK NASIONAL DAN PEMILU SERENTAK
DAERAH
2012 menegaskan
politik peserta pemilu harus memenuhi
Jurnal Pemilu dan setiap
Demokrasipartai
#9
30% keterwakilan
perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
DEWAN PENGARAH
Prof.
Topo
Santoso,
SH.,M.H.,
Ph.D
praktik selama ini, pihak
yang
duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Dra. Siti Noordjanah Djohantini, M.M., M.Si
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
PENANGGUNG JAWAB
Titi Anggraini, SH.,
M.H. terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
akan berdampak
negatif
hukumPEMIMPIN
dan pemerintahan.
Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
REDAKSI
Khoirunnisa Agustyati
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
REDAKTUR PELAKSANA
Pengalaman
Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
Fadli Ramdhanil
Heroik M Pratama
2009.”
TATA LETAK DAN DESAIN SAMPUL
Masih
dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Effieberhubungan
Herdi
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam tulisan berjudul Transparansi dan
DITERBITKAN OLEH:
Yayasan Perludem
Akuntabilitas
Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
(Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi)
Jalan
Tebet
Tmur IVA
No. 1,satu
Tebet, hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye
adalah
salah
Jakarta Selatan
Telp: 021-8300004
Fax: oleh
021-83795697
kampanye
diperlukan
partai politik dan kandidatnya untuk dapat
www.perludem.org, [email protected]
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
vi
KATA PENGANTAR
Sejak perubahan UUD 1945 Indonesia telah
menyelenggarakan empat kali pemilu legislatif, empat
kali pemilu presiden, dan tiga kali gelombang pilkada.
Untuk menyelenggarakan ketiga jenis pemilu tersebut
telah dikeluarkan 14 undang-undang yang mengatur
pemilu, dari 14 undang-undang tersebut hingga saat ini
terdapat UU yang masih berlaku: UU No 42/2008 tentang
pemilu presiden, UU No 15/2011 tentang penyelenggara
pemilu, UU No 8/2012 tentang pemilu legislatif, dan UU
No 10/2016 tentang perubahan kedua undang-undang
pilkada. Namun dari ke-14 undang-undang tersebut
muncul kompleksitas pengaturan pemilu, kompleksitas
penyelenggaraan pemilu, dan kompleksitas pemerintahan
hasil pemilu.
Kompleksitas pengaturan pemilu ini ditandai oleh
selalu digugatnya undang-undang pemilu ke Mahkamah
Konstitusi. Kompleksitas penyelenggaraan pemilu
terlihat dari banyaknya petugas, tingginya anggaran,
besarnya volume dan varian surat suara, serta rumitnya
teknis penghitungan suara. Sedangkan kompleksitas
pemeirntahan hasil pemilu tampak oleh banyaknya partai
politik di parlemen, koalisi tidak berpola dan rapuh, serta
terjadinya pemerintahan terbelah secara horisontal dan
pemerintahan terputus secara vertikal.
Adanya kompleksitas ini mendorong adanya perubahan
besar dalam kerangka hukum penyelenggaraan pemilu
iii
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat selama
oleh politisi
pemerintah
yang terpilih
untuk memerintah.
ini,dan
mulai
dari model
pengaturan,
manajemen
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan
dengan
apa yang disampaikan
penyelenggaraan,
hingga
format
pemerintahan
hasil
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
pemilu. Demi menciptakan kepastian dan keadilan
pada Tahun
Pemilu.”
menjelaskan
bahwa
Political
budget cycles
hukum
maka Yuna
pengaturan
pemilu
harus
disatupadikan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
atau dikodifikasi. Kodifikasi undang-undang pemilu
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
sesungguhnya bukan sesuatu yang rumit akrena baik
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
undang-undang
pemilu
legislatif,
undang-undang
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
pemilu presiden, maupun undang-undang pilkada
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
dalam pengaturannya menggunakan asas yang sama,
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
menggunakan
model
manajemen
yangcycles,
sama,
dan
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya
political budget
melainkan
menggunakan
model
hukum
yang
sama.
political
corruption cycle
ataupenegakan
siklus korupsi
politik
pada
tahun-tahun
Pemilu yang
telah meningkat
dengan
ekstrim.terbentuknya kodifkasi
Dalam
mendorong
advokasi
undang-undnag
pemilu
bukan sebagai
hanya satu
menggabungkan
Masyarakat
tidak saja dapat
ditafsirkan
kesatuan, tetapi
keempat
undang-undang
yang mengatur
juga
juga perlu
dibatasi
mengingat perbedaan
hakikat pemilu
antara tetapi
laki-laki
dan
perempuan.
Seperti pengaturan
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai
satu
membenahi
dari isu-isu
penting
yang salah
tentang
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
pemilu. Sehubungan dengan hal itu inisiatif masyarkat
2012 menegaskan
setiap partai
politik
peserta pemilu
harusKodfikasi
memenuhi
sipil yang tergabung
dalam
“Sekretariat
Bersama
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi ini
patut diperjuangkan,
Undang-Undang
Pemilu”
telah
berdiskusi mengingat
panjang
praktikmenganai
selama ini, 9
pihak
yang
duduk
baik
di
parlemen
maupun
pemerintah
(sembilan) isu penting yang mengatura pemilu
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
yang terdiri dari: subkomite kelembagaan penyelenggara
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
pemilu, subkomite sistem pemilu, subkomite keterwakilan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
perempuan, subkomite pendaftaran pemilih, subkomite
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
kampanye dan dana kampanye, subkomite aksesibilitas
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
pemilu, subkomite teknologi kepemiluan, subkomite
2009.”
penegakan hukum pemilu, dan subkomite pemantauan
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
dan partisipasi masyarakat.
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Hasil
diskusi dan
kesimpulan
subkomitebahwa
tersebut
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana
Kampanye,dari
menguraikan
dana
merupakan
usulan
undang-undang
kampanye
adalah salah
satupembaruan
hal pentingterhadap
dalam proses
pemilu. Dana
kepemiluan
ini mengatur
pemilu untuk
presiden,
kampanye
diperlukanyang
oleh selama
partai politik
dan kandidatnya
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
iv
vi
pemilu legislatif, pemilu kepala daerah, dan penyelenggara
pemilu. Adanya rekomendasi ini diharapkan akan
meningkatakan kualitas pemilu kita baik dari segi proses
maupun hasil. Berangkat dari hal tersebut, Jurnal Pemilu &
Demokrasi edisi 9 dengan tema “KODIFIKASI UNDANG
UNDANG PEMILU PEMBARUAN HUKUM PEMILU
MENUJU PEMILU SERENTAK NASIONAL DAN
PEMILU SERENTAK DAERAH” yang ada dihadapan
pembaca ini berusaha untuk memetakan permasalahan
yang selama ini dalam kepemiluan Indonesia dan
memberikan rekomendasi untuk permasalahan tersebut.
Akhir kata, harapannya jurnal ini dapat memberikan
kontribusi dalam diskursus kepemiluan sekaligus menjadi
salah satu referensi bagi seluruh aktor demokrasi untuk
memperbaiki penyelenggaraan pemilu menuju peilu
serentak nasional dan pemilu serentak daerah
Jakarta, Agustus 2016
TITI ANGGRAINI
DIREKTUR EKSEKUTIF PERLUDEM
v
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Daftar
Isi
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Kata Pengantar........................................................................................... iii
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah Kepesertaan
menjadi fenomena
universal didukung dengan berbagai studi
Syarat
Peserta Pemilu.......................................................1
empiris diAgustyati
berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Khoirunnisa
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
MENGATUR RELAWAN POLITIK: MENEGASKAN BENTUK PARTISIPASI
agregat maupun
secara
spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
MASYARAKAT
DALAM
PEMILU.............................................................19
Maharddhika
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Memperbaiki Mekanisme Penegakan Hukum Pemilu.......................42
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
Fadli Ramadhanil
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
PENGAWASAN
PEMILU
Pemilu yang telah
meningkat dengan ekstrim.
POLITIK UANG DAN DANA KAMPANYE................................................70
Masyarakat
tidak
saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
Indonesia
Corruption
Watch
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
KOMISI
PEMILIHAN
UMUM
SEBAGAI
PENYELENGGARA
PEMILIHAN
perempuan.
Seperti
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai salah satu
UMUM.....................................................................................................96
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
Catherine Natalia
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
30% keterwakilan
perempuan. Kondisi
ini patut diperjuangkan, mengingat
MENARIK
KERAH KETERWAKILAN
PEREMPUAN..............................126
USEP
HASAN
SADIKIN
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
AGAR PEMILU UNTUK SEMUA:
akan berdampak
negatifTERHADAP
terhadap mandeknya
aspirasi perempuan dalam
CATATAN
KEBERPIHAKAN
PEMILIH DISABILITAS..........155
Kholilullah
P. pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
hukum dan
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Inklusifitas dalam Daftar Pemilih.......................................................187
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
Khoirunnisa Agustyati
2009.”
Menyederhanakan
Sistemdengan
Kepartaian..............................................211
Masih berhubungan
tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Heroik M. Pratama
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana
Kampanye,
bahwa dana
Rekapitulasi
Elektronik:
Langkah
Strategis
dalammenguraikan
pengembangan
Teknologi
Pemilu
di
Indonesia...........................................................245
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
Diah Setiawaty dan Sebastian Vishnu
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
Profil
Penulis............................................................................................285
legislatif
tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
vi
vi
Syarat Kepesertaan
Peserta Pemilu
Khoirunnisa Agustyati
Abstrak
Undang-undang sebagai aturan main dalam pemilu
menentukan nasib partai politik. Nasib partai politik tidak
hanya ditentukan dalam menentukan mekanisme siapa yang
menjadi pemenang pemilu, tetapi juga ketika menentukan siapa
yang berhak menjadi peserta pemilu. Ketentuan persyaratan
untuk menjadi peserta pemilu terus berubah dari pemilu ke
pemilu. Tampak dalam undang-undang bahwa persyaratan
yang harus dipenuhi partai politik untuk menjadi peserta pemilu
dari pemilu ke pemilu terus menyulitkan, khususnya bagi partai
baru. Untuk itulah dibutuhkan desain baru dalam persyaratan
peserta pemilu, khususnya menuju pemilu serentak nasional
dan pemilu serentak daerah.
Kata Kunci: undang-undang pemilu, syarat kepersetaan
peserta pemilu, pemilu serentak nasional dan pemilu serentak
daerah.
PENGANTAR
Undang-undang pemilu sebagai aturan main dalam pemilu
dapat dikatakan sebagai undang-undang yang paling menentukan
nasib partai politik. Bukan hanya menentukan bagaimana
pemenang pemilu dapat dihasilkan, tetapi juga menentukan siapa
saja yang berhak untuk menjadi peserta dalam pemilu. Karena
sifatnya yang menentukan nasib partai politik, maka wajar jika
1
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
setiap
kali akan
pemilukebijakan
selalu ada
perubahan
merupakan
suatumenyelenggarakan
upaya untuk menyelamatkan
publik
yang akan
terhadap
undang-undang
pemilu.
Setidaknya
hal
ini
terlihat
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
dengan
banyaknya
undang-undang
pemilu
yang
ditetapkan
sejak
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan
dengan
apa
yang disampaikan
1
era
reformasi
hingga tulisannya
Pemilu 2014
lalu .
Yuna
Farhan melalui
“Menelusuri
Siklus Politisasi Anggaran
pada
Tahun
Yuna menjelaskan
bahwa Political
budget cycles
Salah
satuPemilu.”
yang menyebabkan
berubahnya
undang-undang
sudah kepentingan
menjadi fenomena
didukung
dengan berbagai
studi
adalah
partai universal
politik yang
berbeda-beda.
Hal ini juga
empiris
di berbagai Negara.
Berbagai
variabelyang
yang mempengaruhi
politcal
yang
menyebabkan
adanya
perdebatan
cukup alot terkait
budget
cycles
seperti
perubahan
pola
pada
struktur
anggaran
baik
secara
sejumlah isu tentang sistem pemilu yang akan digunakan. Salah
agregat
maupun
secara
spesifik pada
tahun-tahun
Pemilu, terkonfirmasi
satu
yang
memicu
perdebatan
adalah
pembahasan
mengenai
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
ambang batas. Pada pembahasan UU No 10/2008 perdebatan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
mengenai ambang batas terjadi antara partai kecil dan partai
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
besar. Partai kecil dan menengah ingin mempertahankan ambang
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
batas sebesar 2.5%, sementara Partai besar ingin menaikkan
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
angka ambang batas menjadi 5%.
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
Perdebatan
mengenai
besarperbedaan
kecilnya hakikat
ambangantara
batas laki-laki
parlemen
juga
perlu dibatasi
mengingat
dan
(parliamentary
threshold)
dalam
pembahasan
undang-undang
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
pemilu,
disebabkan
adanya
untukpemilu.
mengurangi
syarat verifikasi
faktual
untukkeyakinan
menjadi peserta
UU No.jumlah
8 Tahun
partai
politik di parlemen
hasil
pemilu.
Perdebatan
ini memenuhi
muncul
2012 menegaskan
setiap partai
politik
peserta
pemilu harus
kembali
pada pembahasan
UU No
8/2012,
padahal mengingat
angaka
30% keterwakilan
perempuan. Kondisi
ini patut
diperjuangkan,
praktik
selama ini, pihak
yang duduk baik
di parlemen
maupun
yang
sebelumnya
diperdebatkan
sudah
meningkat
daripemerintah
pemilu
mayoritas
diduduki
oleh
laki-laki.
Apabila
tidak
diperjuangkan,
hal ini
sebelumnya, yaitu hingga 3.5%. Setelah perdebatan yang cukup
akan berdampak
negatif
terhadap mandeknya
aspirasibatas
perempuan
dalam
panjang,
akhirnya
diputuskan
bahwa ambang
parlemen
hukumPemilu
dan pemerintahan.
kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
untuk
2014 adalahDan
3.5%.
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Perdebatan mengenai ambang batas tersebut, membuat
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
sejumlah fraksi di parlemen berbeda-beda dalam menguslkan
2009.”
angka ambang batas yang akan digunakan. Adapun posisi dan
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
argumentasi dari setiap fraksi, dapat dilihat dalam table berikut
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
ini (Veri Junaidi, 2013, pp. 123-124) :
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
1 Miriam Budiardjo, 2009, Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramediia Pustakan
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
Utama. Hlm. 367
2
vi
JALAN PANJANG ADVOKASI PEMILIHAN KEPALA DAERAH LANGSUNG
Tabel 1 Posisi Fraksi dan Argumentasi Besaran
Ambang Batas
Fraksi
Posisi
Argumentasi
Partai
Demokrat
Peningkatan
PT Menjadi
4%
Untuk memperkuat
sistem presidensial
maka jumlah partai
perlu disederhanakan
Partai Golkar
Peningkatan
PT Menjadi
5%
• Penting untuk
penataan sistem
politik juga untuk
menjamin adanya
stabilitas politik dan
efektivitas kinerja
lembaga-lembaga
negara
• Agar tidak terjadi
pemborosan proses
di politik khususnya
di DPR
PDIP
Peningkatan
PT Menjadi
5%
• Sebagai negara
kepulauan dan
dengan jumlah
penduduk yang
besar, Indonesia tidak
memerlukan jumlah
partai yang besar
demi efektivitas
pembangunan
• Dengan jumlah
partai yang lebih
sederhana akan
lebih mudah
dalam tercapainya
kesepakatan dalam
membuat kebijakan
dan program
pembangunan.
3
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
Fraksi
Posisi
Argumentasi
merupakan
suatu
upaya
untuk
menyelamatkan
kebijakan
publik yang akan
PKS
Peningkatan
• Peningkatan
dibuat oleh politisi dan pemerintah
yang terpilih untuk
memerintah.
PT Menjadi
PT tidak
akan
5%
membunuh partai
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
kecil,
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus
Politisasi Anggaran
• Untuk
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political
budget cycles
menyederhanakan
jumlah
partai.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
PT tetap variabel
2.5% yang mempengaruhi
• PT di angka politcal
empirisPAN
di berbagai Negara. Berbagai
sudah cukup
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur2.5%
anggaran
baik secara
menyederhanakan
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahunpartai
Pemilu,
yangterkonfirmasi
masuk
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan
dengan siklus
di DPR 2009-2014
dibanding
DPR
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat
perkembangan
saat
periode
sebelumnya.
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
• Dengan angka
political corruption cycle atau siklus korupsi politik
pada
tahun-tahun
PT 2.5%
saja
suara
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
yang hilang sudah
19 juta tetapi
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagaimencapai
satu kesatuan,
suara.
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat• Penerapan
antara laki-laki
dan
PT
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan
salah satu
2.5%sebagai
baru sekali
diterapkan
dalam
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu.
UU No.
8 Tahun
pemilu
sehingga
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
belum perlu untuk
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan,
dievaluasi mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas
PKBdiduduki oleh laki-laki.
PT tetapApabila
2.5% tidak •diperjuangkan,
PT 2.%% yang hal ini
digunkaan
pada dalam
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi
perempuan
Pemilu
2009
layak
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh
Nindita
dipertahankan
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan
dan Korupsi:
• Peningkatan
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam
Pemilu
PT hingga 5% DPR RI
dapat membunuh
2009.”
demokrasi karena
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan
politik, Didik
sama dengan
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul
Transparansi
memperbanyak suaradan
yang hangus/hilang.
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan
bahwa dana
•
Peningkatan
PT Dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu.
akan mengurangi
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya
legitimasi untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik,
kandidat/calon
keterwakilan
di DPR
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
4
vi
Fraksi
Posisi
Argumentasi
Gerindra
Menolak PT
ditingkatkan
menjadi 5%
• Dengan adanya PT
2% sudah membuat
suara hilang menjadi
19 juta suara
• Gerindra setuju
dengan gagasan
penyederhanaan
partai, namun
bukan dengan
meningkatkan PT
melainkan dengan
pengetatan syarat
partai yang akan ikut
dalam pemilu.
Hanura
Peningkatan
PT menjadi
3%
Penetapan
peningkatan PT
harus dilakukan
secara rasional.
Angka 3% diajukan
demi berjalannya
kompromi dalam
pembuatan undangundang di DPR.
Dari table tersebut, terlihat bahwa terdapat perbedaan di
antara partai besar dan partai kecil dalam penentuan angka
ambang batas parlemen. Partai kecil merasa tidak perlu
meningkatkan PT, karena akan semakin meningkatkan jumlah
suara yang terbuang dalam pemilu. sementara partai besar
beranggapan bahwa dengan meningkatnya angka PT, maka
akan terjadi penyederhanaan dan efektivitas di parlemen hasil
pemilu.
Apabila kita melihat dari hasil pemilu 2009 dan pemilu 2014,
tentu kita akan berpikir ulang terkait asumsi yang digunakan
oleh partai besar tersebut. Sebab, pada Pemilu 2009 dengan
angka ambang batas 2,5%, telah menghasilkan 9 partai di
parlemen. Sedangkan, pada pemilu 2014 dengan angka ambang
5
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
batas 3,5%, justru menghasilkan jumlah partai politik menjadi 10
merupakan
suatu upaya
untuk varible
menyelamatkan
publik yang akan
partai
di parlemen.
Kedua
tersebutkebijakan
telah membuktikan
dibuat oleh
politisi peningkatan
dan pemerintahangka
yang terpilih
untuk memerintah.
bahwa
ternyata
PT bukanlah
cara untuk
menyederhanakan
partai
di parlemen.
Pandangan Hamdan
tersebut
berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna
Farhanrealitas
melaluipolitik
tulisannya
“Menelusuri
Siklus Politisasi
Melihat
yang
ada di masyarakat
yang Anggaran
plural
pada
Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
dan memperhatikan sistem hukum nasional yang berlaku, partai
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
politik dapat dikategorikan menjadi empat jenis; Pertama, partai
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
politik masyarakat, yaitu partai politik yang baru dibentuk oleh
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
sekelompok masyarkat; Kedua, partai politik berbadan hukum,
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
yaitu partai politik yang dibentuk oleh masyarakat dan memiliki
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
badan hukum resmi, karena telah didaftarkan pada institusi yang
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
berwenang;
Ketiga,
partai
politik
yaitumelainkan
partai
ini, yang menjadi
perhatian
tidak
hanyapeserta
politicalpemilu,
budget cycles,
politik
berbadan
dankorupsi
memenuhi
sebagai
politicalyang
corruption
cycle hukum
atau siklus
politik syarat
pada tahun-tahun
peserta
pemilu;
Keempat, dengan
partai ekstrim.
poltik parlemen, yaitu partai
Pemilu yang
telah meningkat
politik
pesertatidak
pemilu
yang ditafsirkan
mendapatkan
kursi
parlemen
Masyarakat
saja dapat
sebagai
satudi
kesatuan,
tetapi
(Mellaz,
2011,
p.
34).
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan.
Seperti kategori
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai
salah satu
Dari keempat
partai politik
tersebut,
manakah
syarat
verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
yang ingin disederhanakan? Jika menggunakan ambang batas
2012 menegaskan
setiap partai
peserta maka
pemiluambang
harus memenuhi
formal
ataupun ambang
bataspolitik
matematis,
batas
30%
keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
tersebut hanya berlaku pada partai politik peserta pemilu dan
praktikpolitik
selama ini,
pihak yang duduk
baik di parlemen
maupun
pemerintah
partai
di parlemen.
Penyederhanaan
atau
pengurangan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
jumlah partai politik berbadan hukum dapat dilakukan melalui
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
undang-undang partai politik, yakni dengan cara memperketat
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
pembentukan partai politik berbadan hukum. Hal ini dilakukan
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
agar tidak setiap orang dapat dengan mudah mendirikan partai
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
politik (Mellaz, 2011).
2009.”
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Prinsip
Syarat Kepesertaan Pemilu
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Menurut
Undang-Undang
Akuntabilitas Pengelolaan
Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
Sejak masa
reformasi,
telahproses
mengeluarkan
kampanye
adalah salah
satu halIndonesia
penting dalam
pemilu. Dana
kampanye
diperlukan olehparati
partaipolitik.
politik dan
kandidatnya
untuk
dapat
empat
undang-undang
Menjelang
Pemilu
1999,
berkompetisi
di
dalam
pemilu.
Setiap
partai
politik,
kandidat/calon
persyaratan membentuk partai politik dipermudah, yakni cukup
legislatif tidak
dapatyang
bekerja
secara 21,
maksimal
dalam
kampanye
didirikan
oleh akan
50 orang
berumur
kemudian
membuat
6
vi
akte didepan notaris (Pasal 2, 3, dan 4 UU No. 2/1999). Kondisi
ini tidak lepas dari kesejarahan partai politik di Indonesia yang
sebelumnya di monopoli oleh Orde Baru.
Setelah melewati pemilu 1999 dengan eforia keterbukaan,
syarat pendirian partai politik mulai diperketat menjelang
Pemilu 2004. Selain harus didukung sedikitnya 50 orang dan
harus membuat akte pendirian di hadapan notaris, partai juga
harus memiliki pengurus dan kantor di 50% Provinsi dan 50%
Kabupaten/Kota pada Provinsi yang dimaksud (Pasal 2,3, dan
4 UU No. 21/2002).
Namun, persyaratan ini masih dianggap terlalu mudah, hal
ini terlihat dari banyaknya partai politik baru yang mendaftarkan
diri ke Depkumham. Karena itu, menjelang Pemilu 2009
persyaratan mendirikan partai diperketat lagi, jumlah pendiri
tetap 50 orang, tetapi harus menyertakan 30% perempuan.
Selanjutnya partai poiltk harus memiliki pengurus dan kantor
di 60% provinsi dan di 50% kabupaten/kota dari provinsi yang
dimaksud, serta di 25% kecamtan di kabupaten/kota yang
dimaksud (Pasal 2,3, dan 4 UU No.2/2008).
Menjelang Pemilu 2014 persyaratan untuk mendirikan partai
politik kembali diubah. Partai politik didirikan dan dibentuk
oleh paling sedikit oleh 30 orang dan didaftarkan oleh paling
sedikit 50 orang pendiri yang mewakili seluruh pendiri partai
politik dengan akta notaris. Terkait dengan kepengurusan
partai politk, partai politik harus memenuhi syarat yang lebih
berat dibandingkan dengan ketentuan pada undang-undang
sebelumnya. Partai politik harus memiliki 100% kepengurusan
di tingkat provinsi di Indonesia dan paling sedikit 75% dari
jumlah kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan, serta
paling sedikit 50% dari jumlah kecamatan di kabupaten/kota
yang bersangkutan (Pasal 2 dan 3 UU No. 2/2011).
Jika melihat syarat administrasi yang harus dipenuhi untuk
dapat mendirikan partai politk, maka dapat dikatakan bahwa
7
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
syarat untuk mendirikan partai politik terus diperketat. Tetapi
merupakan
suatu upayasyarat
untuk menyelamatkan
akan
pada
kenyataannya,
tersebut dapatkebijakan
dipenuhipublik
oleh yang
partai
dibuat oleh
politisi
dan pemerintah
yang
terpilih
untukmemiliki
memerintah.
politik
baru,
apalagi
jika pendiri
partai
politik
dana
yang
cukup untuk
dan dengan
menyewa
partai
Pandangan
Hamdanmembentuk
tersebut berkaitan
apa kantor
yang disampaikan
Yuna
Farhan melalui
tulisannya “Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
di
provinsi
dan kabupaten/kota.
kondisi
syarat
pendirian
pada Tahun
Yuna menjelaskan
bahwa
cycles
partai
yang Pemilu.”
selalu diperketat
tersebut,
akanPolitical
rentanbudget
terhadap
sudah menjadipelanggaran
fenomena universal
didukung
dengan
berbagaidan
studi
permaslahan
hak individu
dalam
berserikat
empiris di berbagai
Negara.
Berbagai &
variabel
yang
mempengaruhi
berkumpul
( (Didik
Supriyanto
August
Mellaz
, 2011 , politcal
hal.
budget
cycles
seperti
perubahan
pola
pada
struktur
anggaran
baik
secara
38-39). Sehingga yang perlu dibatasi adalah persyaratan partai
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
politik
untuk mengikuti peserta pemilu.
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Menyederhakan partai politik peserta pemilu dapat
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
dilakukan
melalui
undang-undang
inimelainkan
dapat
ini, yang menjadi
perhatian
tidak hanyapemilu.
political Ketentuan
budget cycles,
diberlakukan
kepada
partai
baru yang
ingin
political corruption
cycle
atau politik
siklus korupsi
politik
padamengikuti
tahun-tahun
pemilu.
Sementara
bagi
partai
politk
yang
sudah
menjadi
peserta
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
pemilu
pada pemilu
sebelumnya,
untuk dapat
pemilu
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagaimengikuti
satu kesatuan,
tetapi
selanjutnya
dapat
menggunakan
capaian
hasil
pemilu
sebagai
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
persyaraatan.
Sehingga
batas
perempuan. Seperti
halnya ketentuan
keterwakilanmengenai
perempuan ambang
sebagai salah
satu
perwakilan
dapat
digunakan
sebagai peserta
perangkat
untuk
syarat verifikasi
faktual
untuk menjadi
pemilu.
UUmenyaring
No. 8 Tahun
peserta
pemilu berikutnya.
ini sama
syarat
2012 menegaskan
setiap partaiHal
politik
pesertahalnya
pemiludengan
harus memenuhi
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini patut
diperjuangkan,
mengingat
mendirikan
partai
politik, syarat
partai
politik
untuk dapat
ikut
praktik selama
ini, pihaksulit
yangdari
duduk
baik dike
parlemen
Pemilu
juga semakin
pemilu
pemilu.maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Pemilu 1999 merupakan pemilu transisi dari rezim orde
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
baru, oleh karenanya persyaratan partai politk untuk menjadi
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
peserta pemilu cukup ringan. Pertama adalah sudah berstatus
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
badan hukum sah; Kedua, memiliki pengurus dan kantor di
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
50% provinsi dan 50% di kabupetan/kota pada provinsi yang
2009.”
bersangkutan. Pada Pemilu 2004 selain sudah berbadan hukum
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
sah, syarat penyebaran pengurus dan kantor ditingkatkan, yaitu
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
partai
politik berbadan hukum memiliki pengurus dan kantor di
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
2/3
provinsi
dan 2/3
kabupaten/kota
dituntut
minimal
kampanye
adalah
salah
satu hal penting
dalam memiliki
proses pemilu.
Dana
1000
anggota
atau
1/1000
jumlah
penduduk.
Persyaratan
ini
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
tidak
berubahdipada
Pemilu
2009,Setiap
kecuali
ketentuan
berkompetisi
dalam
pemilu.
partai
politik,menyertakan
kandidat/calon
30%
perempuan
dalam
tingkat dalam
pusat. kampanye
Syarat
legislatif
tidak akan
dapatkepengurusan
bekerja secara di
maksimal
8
vi
kepesertaan dalam pemilu menjadi sangat berat untuk Pemilu
2014. Untuk menjadi peserta Pemilu 2014, partai politk
yang memenuhi ambang batas perolehan suara pada pemilu
sebelumnya otomatis menjadi peserta Pemilu pada berikutnya,
sementara bagi partai politik baru yang ingin menjadi peserta
Pemilu 2014 harus memenuhi persyaratan, yaitu berstatus
badan hukum, dan memiliki kepengurusan di seluruh provinsi di
Indonesia, dan memiliki kepengurusan di 75% kabupaten/kota
pada provinsi yang bersangkutan, serta memiliki kepengurusan
di 50% kecamatan pada kabupaten/kota yang bersangkutan.
Persyaratan untuk menjadi peserta Pemilu 2014 bagi partai
politik baru dianggap sangat berat dan bersikap diskriminatif.
Oleh karena itu, ketentuan tersebut diuji materi ke Mahkamah
Konstitusi (MK) yang kemudian ketentuan ini di batalkan oleh
MK. Sehingga tidak hanya partai baru yang harus diverifikasi,
tetapi juga partai lama yang sudah mendaptkan kursi di DPR.
Permasalahan Dalam Penerapan/
Implikasi Peraturan
Persyaratan partai politik untuk menjadi peserta Pemilu
2014 memberikan gambaran bahwa syarat untuk menjadi peserta
Pemilu 2014 cukup berat. Hampir seluruh partai—baik partai
yang ada di parlemen maupun partai nonparlemen—mengalami
kesulitan untuk memenuhi seluruh persyaratan. Dari 46 partai
yang mendaftar, hanya sepuluh partai yang lolos sebagai peserta
pemilu. Dari sepuluh partai tersebut, 9 adalah partai yang sudah
memiliki kursi di parlemen dan satu partai baru, yaitu; Partai
Nasiona Demokrat (Nasdem). Sembilan partai tersebut otomatis
dapat menjadi peserta pemilu, karena dalam Pasal 8 ayat (1) UU
No 8/2012 menyatakan bahwa; “Partai Politik Peserta Pemilu
pada Pemilu terakhir yang memenuhi ambang batas perolehan
9
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
suara dari jumlah suara sah secara nasional ditetapkan sebegai
merupakan
suatu
upaya untuk
menyelamatkan
publikArtinya
yang akan
Partai
Politik
Peserta
Pemilu
pada Pemilukebijakan
berikutnya”.
dibuat oleh politisi
pemerintah
terpilih
untuk memerintah.
kesembilan
partaidan
tersebut
tidakyang
perlu
diverifikasi
kembali.
Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Pandangan
Sementara
untuk partai nonparlemen dan partai baru
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
harus mengikuti verifikasi untuk dapat menjadi peserta pemilu.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Bahkan syarat yang harus dipenuhi oleh partai nonparlemen
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
atau partai baru tersebut terbilang cukup memberatkan. Pasal
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
8 ayat (2) UU No 8/2012 mensyaratkan untuk partai baru atau
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
partai
memenuhi
syarat sebagai
agregatnonparlemen
maupun secaraharus
spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu,berikut:
terkonfirmasi
a. praktek
Berstatus
badan hukum
sesuai dengan
UU Partai
Politik;
dalam
penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan
siklus
Pemilu
ataupun
menjelang Pemilu
2014. Melihat
perkembangan saat
b. 2009
Memiliki
kepengurusan
di seluruh
provinsi;
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
c. Memiliki kepengurusan di 75% jumlah kabupaten/kota
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
di provinsi yang bersangkutan;
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
d. Memiliki kepengurusan di 50% jumlah kecamatan di
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
kabupaten/kota
yang bersangkutan;
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
e. Menyerahkan
sekurang-kurangnya
30% sebagai
keterwakilan
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan perempuan
salah satu
perempuan
pada
kepengurusan
partai
politik
tingkat
syarat verifikasi
faktual
untuk menjadi
peserta
pemilu.
UUpusat;
No. 8 Tahun
2012
setiap partai
politik peserta pemilu
harus
memenuhi
f. menegaskan
Memiliki anggota
sekurang-kurangnya
1.000
orang
atau
30%
keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
1/1.000 dari jumlah penduduk pada kepengurusan partai politik
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
di
kabupaten/kota;
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
g. Mempunyai kantor tetap untuk kepengurusan pada
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
tingkatan
provinsi,Dan
dan
kabupaten/kota
tahapan
hukum danpusat,
pemerintahan.
kondisi
tersebut telahsampai
ditulis oleh
Nindita
terakhir
pemilu;
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
dalamgambar
Pemilu partai
DPR RI
h. Mengajukan
nama,
lambang,Korupsi
dan tanda
2009.” kepada KPU;
politik
Masih
berhubungan dengan
akuntabilitas
keuangan politik,
Didik
i.
Menyerahkan
nomortema
rekening
dana kampanye
pemilu
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
atas nama partai politik kepada KPU.
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
Syarat-syarat tersebut terlihat memberatkan bagi partai baru
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
ataupun partai nonparlemen, bahkan tidak adil. Hal ini yang
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
kemudian adanya gugatan uji materiil ke Mahkamah Konsitusi
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
(MK)
terkait pasal-pasal tersebut. Hasil dari gugatan tersebut
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
adalah MK menyatakan bahwa ketentuan Pasal 8 ayat (1)
10
vi
dan (2) sepanjang frasa “yang tidak memenuhi ambang batas
perolehan suara pada pemilu sebelumnya atau partai politik
baru”, serta penjelasan Pasal 8 ayat (2) sepanjang frasa “yang
dimaksud dengan partai politik baru adalah partai politik yang
belum pernah mengikuti Pemilu” adalah bertentangan dengan
UUD 1945.
Hal yang menjadi pertimbangan bagi MK adalah terdapat
syarat yang berbeda antara kepesertaan Pemilu 2009 dengan
Pemilu 2014. Syarat yang lebih memberatkan ini yang kemudian
dinilai oleh MK bahwa, seluruh partai politik harus diverifikasi
ulang tanpa melihat apakah partai tersebut sudah atau belum
mendapatkan kursi di parlemen. Argumentasi yang disampaikan
MK adalah (Veri Junaidi, 2013):
1. Adanya fakta hukum bahwa syarat yang harus dipenuhi
Partai Politik untuk mengikuti Pemilu 2009 berbeda dengan
persyaratan untuk Pemilu 2014. Syarat untuk menjadi peserta
Pemilu 2014 justru berat dibandingkan dengan persyaratan
peserta Pemilu 2009. Dengan demikian menjadi tidak adil, jika
partai politik yang telah lolos menjadi peserta Pemilu 2009
tidak perlu diverifikasi lagi untuk dapat mengikuti Pemilu
2014 sebagai partai politik baru, sementara partai yang tidak
memenuhi ambang batas harus verifikasi dengan syarat yang
lebih berat.
2. Tujuan penyederhaan partai politik tidak dapat dilakukan
dengan memberlakukan syarat-syarat yang berlainan kepada
masing-masing Partai Politik. Penyederhaan mestinya dilakukan
dengan menentukan syarat-syarat administrasi tertentu untuk
mengikuti pemilu, namun syarat itu harus diberlakukan sama
untuk semua partai politik tanpa pengecualian. Memberlakukan
syarat yang berbeda kepada peserta suatu kontestasi yang sama,
merupakan perlakuan yang tidak sama atau perlakuan yang
berbeda (unequal treatment) dan bertentangan dengan Pasal 27
ayat (1) serta Pasal 28 D ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945.
11
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
Dari pertimbangan tersebut, bahwa syarat untuk menjadi
merupakan
suatu upaya
untuk
menyelamatkan
kebijakan
publik yang
akan
peserta
pemilu
saat ini
semakin
menyulitkan
khususnya
bagi
dibuat oleh
politisi
dan pemerintah
yang
terpilih
untuk
memerintah.
partai
baru.
Syarat-syarat
yang
ada
dalam
undang-undang
pemilu
juga tidak
relevan
dengan
kebutuhan
itudisampaikan
sendiri.
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
denganpemilu
apa yang
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklustingkat
Politisasi
Anggaran
Partai
dituntut
untuk
memiliki
kantor dari
provinsi
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
hingga
tingkat
kecamatan.
Sehingga tidak
jarang
partai
politik
sudah sulit
menjadi
fenomena
universal
didukung
dengan
berbagai
studi
baru
untuk
menyiapkan
kantor
tersebut
ketika
proses
empiris di berbagai
Negara.
yang mempengaruhi
politcal
verifikasi
dilakukan.
Hal Berbagai
ini yangvariabel
kemudian
mendorong partai
budget
cycles
seperti
perubahan
pola
pada
struktur
anggaran
baik
secara
politik mendirikan kantor di daerah hanya sebatas formalitas
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
agar
dapat memenuhi syarat sebagai peserta pemilu. Sementara
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
ketika masa pendaftaran telah selesai, maka partai tidak lagi
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
mengurusi kantornya yang ada di daerah.
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Rekomendasi Untuk Pemilu
Nasional
dan Pemilu Daerah
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
Sebagai
sebuah mengingat
instrumenperbedaan
demokrasi,
Pemilu
tidak
hanyadan
juga
perlu dibatasi
hakikat
antara
laki-laki
bertujuan
mekanisme
regenerasi
pemimpin
secara
perempuan. sebagai
Seperti halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai salah
satu
damai,
tetapi juga
pemerintahan
yang
terbentuk
berjalan
syarat verifikasi
faktual
untuk menjadi
peserta
pemilu.dapat
UU No.
8 Tahun
2012 menegaskan
setiapefisien.
partai politik
peserta memang
pemilu harus
memenuhi
secara
efektif dan
Walaupun
efektivitas
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisijuga
ini patut
diperjuangkan,
dan
efisiensi dari
pemerintahan
bergantung
dari mengingat
sistem
praktik selama ini,
pihak
yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
pemerintahan
yang
digunakan.
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Sistem pemerintahan presidensil cenderung tidak berjalan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
efektif, setidaknya disebabkan oleh adanya tiga faktor. Pertama,
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
kemunculan fenomena deadlock, karena penolakan legislatif
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
kepada eksekutif. Kedua, adanya keterpisahan politik sebagai
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
dampak
2009.” dari mekanisme separation of power antara legislatif
dan eksekutif, sehingga menjadikan hubungan keduanya tidak
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
harmonis. Ketiga, terjadinya personalisasi kekuasaan pada
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
presiden
danPengelolaan
kekakuan pemerintahan
akibat
model fixed
term
Akuntabilitas
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
(Lijphart,
1992).
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye
partaiwaktu
politik penyelenggaraan
dan kandidatnya untuk
dapat
Fiorina diperlukan
menyebutoleh
bahwa,
Pemilu
berkompetisi
di
dalam
pemilu.
Setiap
partai
politik,
kandidat/calon
parlemen dan presiden sebagai faktor utama penyebab terjadinya
legislatif tidak
akan dapatMenurutnya,
bekerja secarapemerintahan
maksimal dalamterbelah
kampanye
devided
government.
12
vi
ketika anggota legislatif dan pejabat eksekutif dipilih pada waktu
yang berbeda dan/atau cara yang tidak sama. Sehingga dapat
dikatakan bahwa yang menjadi penyebab terjadinya devided
government adalah pada perbedaan waktu penyelenggaraan
Pemilu legislatif dan Pemilu presiden (Fiorina, 1996).
Dari pendapat-pendapat tersebut, maka dorongan untuk
memisahkan pemilu serentak nasional dan pemilu serentak lokal
menjadi kuat. Pemisahan ini akan berimplikasi pada; Pertama,
menjadikan pengurus partai lebih konsentrasi dalam melakukan
rekrutmen para calon anggota legislatif. Ketersediaan calon
juga lebih banyak, karena mereka yang tidak terpilih dalam
pemilu nasional dapat diajukan kembali dalam pemilu lokal dan
sebaliknya. Kedua, pemisahan ini akan mengurangi terjadinya
konflik internal. Pemilu nasional akan mengkanalisasi konflik
pencalonan anggota DPR dan pencalonan presiden dan wakil
presiden dalam satu waktu. kondisi ini juga juga terjadi di
daerah, pemilu lokal akan mengkanalisasi pencalonan anggota
DPRD dan pencalonan kepala Daerah. Dengan demikian, partai
punya banyak waktu untuk mengurusi anggota dan konstituennya. Ketiga, pemisahan ini membuat durasi pemilu menjadi
lebih pendek. Hal ini tidak saja memudahkan pemilih bersikap
rasional, tetapi juga memudahkan pemilih untuk menghukum
partai yang kinerjanya buruk (LIPI, 2014, pp. 30-31).
Dengan adanya dorongan pemisahan pemilu serentak
nasional dan pemilu serentak lokal, maka persyaratan partai
politik untuk menjadi peserta pemilu-pun perlu mengikuti desain
pemilu tersebut. Partai politik tidak perlu mengumpulkan syarat
adminisitratif yang memberatkan, seperti yang disyaratkan
dalam pemilu sebelumnya. Rekomendasi yang didorong ialah
sebagai berikut;
1. Bagi partai politik yang memiliki kursi di DPR, maka
dapat menjadi peserta pemilu pada pemilu berikutnya, atau;
2. Bagi partai politik yang mendapatkan kursi di 50%+1
13
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
DPRD Provinsi di Indonesia, maka dapat menjadi peserta
merupakan
suatu
upaya
untuk
menyelamatkan
Pemilu
DPR
pada
pemilu
berikutnya,
atau;kebijakan publik yang akan
dibuat
danpolitik
pemerintah
terpilih untuk
memerintah.
3. oleh
Bagipolitisi
partai
yangyang
mendapatkan
kursi
di 50%+1
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan dengan
yang disampaikan
DPRD
Kabupaten/Kota
di Indonesia
dapat apa
menjadi
peserta
Yuna
Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
Pemilu DPRD Provinsi pada pemilu berikutnya, atau;
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
4. Bagi partai baru agar ingin menjadi peserta pemilu,
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
maka harus mengumpulkan dukungan sebanyak perolehan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
kursi minimal untuk mendapatkan kursi di dapil atau dapat
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
membuktikan
1/1000
dari jumlah
pemilih
pada
agregat maupun dukungan
secara spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
pemilu
terakhir.
dalam praktek
penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang2menjadi
tidak hanya
political
budgetPeserta
cycles, melainkan
Tabel
Syaratperhatian
Kepesertaan
Partai
Politik
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Pemilu Nasional
Pemilu
Lokal satu kesatuan, tetapi
Masyarakat
tidak saja dapat ditafsirkan
sebagai
Memiliki
kursi DPR
Memiliki
kursi antara
DPR laki-laki dan
juga perlu
dibatasi
mengingat perbedaan
hakikat
Memiliki
kursi 50%+1
Memiliki
kursi 50%
perempuan.
Seperti
halnyadiketerwakilan
perempuan
sebagai salah satu
DPRD Provinsi
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
Memiliki kursi 50%+1 di
Partai baru wajib
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
DPRD Kabupaten/Kota
mengumpulkan dukungan
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini
patut diperjuangkan,
mengingat
sebanyak
perolehan
praktik selama ini, pihak yang duduk baikkursi
di parlemen
maupun pemerintah
minimal atau
membuktikan
dukungan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila
tidak diperjuangkan,
hal ini
1/1000 dari jumlah
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
pemilih pada pemilu
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi terakhir.
tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
Adanya syarat memiliki kantor bagi partai politik dari level
2009.”
pusat
sampai dengan kecamatan, apabila hal itu benar-benar
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
dijalankan
oleh
dandalam
tidaktulisan
hanya
sebatas
formalitasdan
Supriyanto dan
Liapartai
Wulandari
berjudul
Transparansi
belaka.
Hal ini
akan mendorong
institusionalitasi
partai
politik
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
termasuk
pengakaran
partai
politik
sampai
dengan
level
grass
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
root
masyarakat.
Untuk
itu, dalam
tetap mendorong
kampanye
diperlukan
oleh partai
politik rangka
dan kandidatnya
untuk dapat
adanya
institusionalisasi
partai
yangpartai
tidakpolitik,
hanya kandidat/calon
formalitas
berkompetisi
di dalam pemilu.
Setiap
legislatifsemestinya
tidak akan syarat
dapat bekerja
secara
maksimal
kampanye
belaka,
pendirian
kantor
hanyadalam
sampai
level
14
vi
kabupaten/kota saja. Akan tetapi, setiap partai politik harus
memiliki dan membuktikan kepengurusan partai sampai dengan
level kecamatan di Kabuapaten/Kota.
Mekanisme seperti ini selain mempermudah partai politik,
dapat mempermudah tugas sebagai penyelenggara pemilu
dalam melakukan verifikasi langsung di lapangan. Sejauh ini
KPU sendiri mengalami kesulitan yang sama akibat minimnya
sumber daya manusia yang dimiliki untuk melakukan verifikasi
secara faktual di lapangan. Hal ini dikarenakan setiap petugas
perlu mengecek secara satu persatu, apakah kantor yang
didaftarkan partai politik tersebut benar-benar ada atau
tidak. Ditengah kondisi yang seperti ini, pada akhirnya proses
verifikasi-pun tidak dilakuk an secara faktual melainkan hanya
berupa sampling.
Tidak hanya berhenti sampai disitu, hal lain yang
menyulitkan dan menjadikan proses verifikasi partai politik
peserta pemilu sebagai formalitas belaka ialah adanya ketentuan
memiliki anggota dengan jumlah 1000 atau 1/1000 dari jumlah
penduduk di Kabupaten/Kota (Pasal 8, ayat 2, huruf f UU
8/2012). Ketentuan ini sering kali dikelabui oleh partai politik
dengan menjaring individu masyarakat yang sebetulnya bukan
anggota partai politik. Untuk itu, paling tidak verifikasi partai
politik peserta pemilu dapat dilakukan dengan membuktikan
bahwa partai politik mampu meraih dukungan dari masyarakat
sebesar harga satu kursi minimal di dapil tersebut. Bagi partai
yang mampu membuktikan adanya dukungan tersebut dapat
dinyatakan lolos, sedangkan partai politik yang tidak mampu
membuktikan dukungan dinyatakan tidak lolos. Mekanisme
seperti ini selain mempermudah partai maupun penyelenggara
dalam proses rekapitulasi, ketentuan ini tentunya sangat relevan
untuk membuktikan kesiapan partai dalam pemilu dibandingkan
dengan syarat setiap partai politik memiliki kantor.
Selain membuktikan dukungan seharga jumlah kursi minimal
15
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
dalam satu dapil, pilihan lain yang bisa dipertimbangkan ialah
merupakan
suatu
upayadiwajibkan
untuk menyelamatkan
kebijakan publik
yang akan
setiap
partai
politik
untuk membuktikan
dukungan
dibuat oleh
pemerintah
yangyang
terpilih
untuk memerintah.
1/000
daripolitisi
jumlahdan
pemilih
terakhir
terdaftar
dalam Daftar
Pemilih
TetapHamdan
(DPT). tersebut
Hal ini berkaitan
jauh lebih
ringan
lebih
Pandangan
dengan
apadan
yangjauh
disampaikan
Yuna Farhanbagi
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus Politisasi
Anggaran
bermanfaat
partai
politik untuk
memanaskan
mesin partai,
pada Tahunmengatahui
Pemilu.” Yuna
menjelaskan
bahwa Political
cycles
termasuk
sebarapa
jauh dukungan
yangbudget
ia miliki
sudah menjadi
fenomena
universalsimulasi
didukungyang
dengan
berbagai
studi
sebelum
pemilu.
Berdasarkan
sudah
dibuat
empiris dimembandingkan
berbagai Negara. Berbagai
yang
mempengaruhi
politcal
dengan
jumlahvariabel
anggota
1/1000
dari jumlah
budget
cycles
seperti
perubahan
pola
pada
struktur
anggaran
baik
secara
penduduk dan jumlah pemilih terakhir. Ketentuan berdasarkan
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
jumlah
daftar pemilih terakhir jauh lebih ringan dibandingkan
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
dengan ketentuan jumlah penduduk (lihat tabel 2). Dengan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
adanya mekansime ini proses verifikasi faktual-pun akan lebih
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
mudah dilakukan oleh penyelenggara pemilu.
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Referensi
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
Ambardi,
K. (2009).
Mengungkap
Jakarta:dan
juga
perlu dibatasi
mengingat
perbedaan Politik
hakikat Kartel
antara .laki-laki
KPG.
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat
verifikasi
faktual&untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU No. Batas
8 Tahun
Didik
Supriyanto
August
Mellaz
. (2011
). Ambang
2012 menegaskan
setiap
partai politik peserta pemilu harus memenuhi
Perwakilan
. Jakarta
: Perludem.
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Fiorina. (1996). Devided Government 2nd Edition. Boston :
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Allyn and Bacon .
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Husein,
H. (2014).
Indonesia.
Fakta,
Angka,
Ananlisis,
akan
berdampak
negatifPemilu
terhadap
mandeknya
aspirasi
perempuan
dalam
dam
Studi
Banding.
Jakarta:
Perludem.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti
dalamAgustiyati,
tulisannya yang
“Perempuan
Korupsi:
Khoirunnisa
Liaberjudul:
Wulandari
dkk .dan
(2013).
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR RI
Menetapkan Arena Perebutan Kursi DPRD: Penerapan Prinsip
2009.”
Demokratis
dalam Pembentukan Daerah Pemilihan DPRD
Masih berhubungan
tema akuntabilitas
keuangan
Didik
Provinsi
dan DPRD dengan
Kabupaten/Kota
Pemilu
2014. politik,
Jakarta:
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
Perludem.
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
Laakso & Taagepera . (1979). Effective Number of Parties:
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
A Measure with Aplication to West Eropa . dalam Comparative
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
Political Studeis .
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
Lijphart,
(1992).
Parliamentary
Versus dalam
Presidential
legislatif
tidak A.
akan
dapat bekerja
secara maksimal
kampanye
16
vi
Government. Oxford: Oxford University Press.
LIPI. (2014). Position Paper LIPI Pemilu Serentak Nasional
2019. Jakarta : LIPI Press.
Mellaz, D. S. (2011). Ambang Batas Perwakilan. Pengaruh
Parliemantary Threshold Terhadap Penyederhaan Sistem
Kepartaian dan Proporsionalitas Hasil Pemilu. Jakarta:
Perludem.
Nuryanti, S. (2006). Analisis Proses dan Hasil Pemilihan
Kepala Daerah Langsung 2005 di Indonesia. Jakarta: LIPI Press.
P Kartawidjaja & S Pramono . (2009 ). Akal-Akalan Daerah
Pemilihan . Jakarta : Perludem .
Pamungkas, S. (2009). Perihal Pemilu . Yogyakarta : Jurusan
Politik dan Pemerintahan UGM .
Rae, D. W. (1967). The Political Consequences of Electoral
Laws. New Haven and London: Yale University Press.
Ramlan Surbakti, D. S. (2012). Seri Demokrasi Elektoral.
Meningkatkan Akurasi Daftar Pemilih. Jakarta: Kemitraan.
Ramlan Surbakti, D. S. (2012). Seri Demokrasi Elektoral:
Meningkatkan Akurasi Daftar Pemilih. Jakarta, Jakarta, Jakarta:
Kemitraan.
Supriyanto, D & Mellaz, A. (2011). Ambang Batas Perwakilan:
Pengaruh Parliamentary Threshold Terhadap Penyederhanaan
Sistem Kepartaian dan Proposionolitas Hasil Pemilu. Jakarta :
Perludem.
Veri Junaidi, K. N. (2013). Politik Hukum Sistem Pemilu:
Potret Partisipasi dan Keterbukaan Publik Dalam Penyusunan
UU No 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan
DPRD. Jakarta: Perludem.
17
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
18
vi
MENGATUR RELAWAN
POLITIK: MENEGASKAN
BENTUK PARTISIPASI
MASYARAKAT DALAM PEMILU
Maharddhika
Abstrak
Partisipasi politik pemilih pada masa pemilu dapat
dikategorikan menjadi partisipasi partisan dan nonpartisan.
Partisipasi dalam kategori partisan dapat berbentuk seperti
relawan politik yang kini marak muncul untuk mendukung
bakal calon kepala daerah. Kelompok relawan politik telah
menjadi entitas baru dalam praktik politik dan pemilu. Relawan
politik menjadi satu kelompok di luar struktur partai politik
dan tim kampanye yang turut berkontribusi bagi pemenangan
kandidat peserta pemilu. Namun yang menjadi kritik bagi
relawan ini adalah akuntabilitasn mereka khususnya dalam
pelaporan keuangan. Hal ini penting agar entitas politik ini
tidak ditumpangi oleh pihak yang sengaja memanfaatkan
kerelawanan masyarakat.
Kata Kunci: partisipasi politik, relawan politik, akuntabilitas
relawan.
PENGANTAR
Politik hari ini telah banyak dimeriahkan oleh partisipasi
masyarakat yang berbasis kesukarelawanan. Jauh sebelum
penyelenggaran Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017
bergulir, muncul kelompok-kelompok relawan yang mendukung
19
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
(bakal) calon kepala daerah. Beberapa kelompok tersebut
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
di antaranya adalah Relawan Adhyaksa, Pendukung Yusril,
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Sahabat Djarot, Sahabat Sandiaga Uno, Suka Haji Lulung, dan
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Teman Ahok. Munculnya kelompok-kelompok ini menjadi tren
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
baru sejak Pemilu 2014. Pada Pemilu 2014, muncul relawan
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
yang bergotong royong atas kemauan sendiri untuk mendukung
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
salah satu kandidat. Relawan ini lepas dari tim kampanye yang
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
didanai
oleh calon,
menjadi
bagian
darianggaran
agenda partai.
budget cycles
seperti namun
perubahan
pola pada
struktur
baik secara
Beragam
agenda
oleh para
relawan,
salah
agregat
maupun
secarapolitik
spesifikdilakukan
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
satunya
adalah
melakukan di
mobilisasi
Hal ini dengan
bertujuan
dalam praktek
penganggaran
Indonesiamassa.
yang berkaitan
siklus
Pemilumenghimpun
2009 ataupun menjelang
Pemilu
2014.harapan
Melihat perkembangan
saat
untuk
masyarakat
dengan
dapat bersama
ini,
yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
mendukung calon yang dikehendaki. Dalam hal ini, ada dua ciri
political corruption
cycle atau siklus
pada tahun-tahun
relawan
yang memobilisasi
massakorupsi
untuk politik
pemenangan
calon.
Pemilu
yang
telah
meningkat
dengan
ekstrim.
Pertama, dalam gerakannya, massa tidak bergantung dan
Masyarakat
tidak struktur
saja dapatpartai.
ditafsirkan
sebagai
kesatuan,
tetapi
berafiliasi
dengan
Kedua,
uangsatu
sebagai
modal
juga perlu dibatasi
mengingat
perbedaan sukarela.
hakikat antara
memobilisasi
datang
dari sumbangan
Selainlaki-laki
relawandan
perempuan.
Seperti kandidat,
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai
salah satu
yang
mendukung
muncul juga
relawan
independen
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
yang bergerak atas kehendak sendiri untuk turut menjaga
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
integritas hasil pemilu. Situs crowdsourcing kawalpemilu.org
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
adalah salah satu contoh partisipasi masyarakat yang menjaga
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
integritas hasil pemilu.
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Kawalpemilu.org
respon
bagi perempuan
keterbukaan
akan
berdampak negatifmuncul
terhadap atas
mandeknya
aspirasi
dalam
KPU.
Situs
ini
memuat
tabulasi
dari
hasil
rekapitulasi
data
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
scan
C1 (jumlah
di masing-masing
TPS)
Paramastuti
dalamperolehan
tulisannyasuara
yang berjudul:
“Perempuan
dan untuk
Korupsi:
pemilihan
2014.
Data scan Korupsi
C1 yangdalam
ada diPemilu
web KPU
Pengalamanpresiden
Perempuan
Menghadapi
DPRdi RI
2009.” diunggah, dan diperbarui pada server kawalpemilu.org
tabulasi,
setiap
sekitar
sepuluh dengan
menit. tema
Lepas
dari motifnya
yang bertujuan
Masih
berhubungan
akuntabilitas
keuangan
politik, Didik
Supriyanto dan
Lia Wulandari
dalam tulisan
berjudul
mengawal
Pemilu
2014 sehingga
terbebas
dari Transparansi
kecurangan-dan
Akuntabilitas Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikanfenomena
bahwa dana
kecurangan,
kawalpemilu.org
menunjukkan
kampanye
adalahdisalah
satu hal penting
dalampengoperasiannya
proses pemilu. Dana
yang
menarik
masyarakat
Indonesia;
kampanye diperlukan
oleh
partai
politik dan kandidatnya
untuk dapat
sepenuhnya
dilakukan
oleh
relawan-relawan.
Baik pengembang
berkompetisi
di
dalam
pemilu.
Setiap
partai
politik,
kandidat/calon
aplikasi maupun 700 relawan yang memasukkan data, semua
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
bekerja
tanpa diperintah ataupun dibayar. Relawan yang terdiri
20
vi
dari netizen independen ini secara sukarela memasukkan
data secara gotong royong. Pada laman Facebook, situs ini
menyatakan bahwa mereka adalah sebuah gerakan partisipasi
netizen independen yang berpihak pada kebenaran data.
Dimensi dari partisipasi masyarakat dalam pemilu memang
luas, tapi melihat dari fenomena Pemilu 2014, tergambar
dua jenis partisipasi masyarakat, yakni: partisan dan nonpartisan. Aktivitas yang dilakukan relawan dalam memobilisasi
massa adalah suatu bentuk partisipasi yang berpihak pada
pemenangan salah satu kandidat. Sementara aktivitas relawan
dalam menghimpun data kepemiluan terlihat sebagai suatu
upaya untuk ikut menjaga integritas pemilu.
Dari latar belakang di atas, setidaknya ada dua hal yang
bisa dirumuskan. Pertama, penyelenggaraan pemilu pasca
Perubahan UUD 1945 telah melahirkan bentuk-bentuk
partisipasi masyarakat di luar pemberian suara. Bentuk-bentuk
partisipasi tersebut sering tumpang tindih antara keterlibatan
kelompok masyarakat yang mendukung peserta pemilu, dengan
keterlibatan kelompok masyarakat non-partisan yang menjaga
pemilu sesuai dengan prinsip luber dan jurdil. Bentuk-bentuk
partisipasi tersebut harus dirumuskan kembali, agar partisipasi
kelompok masyarakat partisan ikut bertanggungjawab dalam
pemenangan peserta pemilu dan kelompok masyarakat
non-partisan tetap dalam posisi independen yang ikut
bertanggungjawab atas penjagaan nilai-nilai pemilu demokratis
berdasarkan prinsip luber dan jurdil.
Kedua, pemaknaan partisipasi mengalami tumpang-tindih
antara kelompok masyarakat partisan dan non-partisan. Hal
ini menyebabkan partispisipasi masyarakat—yang seharusnya
indpenden—seringkali ditunggangi kepentingan politik dari
perserta pemilu. Problematika tersebut dapat diselesaikan
dengan berbagai cara, salah satunya dengan membuka
pendaftaran dan akreditasi bagi kelompok masyarakat, agar
21
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
MENYERENTAKAN PEMILU, MEMUSATKAN ANGGARAN PILKADA
independensi partisapasi masyarakat dapat terjamin.
merupakan
upaya untuk
menyelamatkan
kebijakan
publik yang akan
Studi inisuatu
bertujuan
untuk
mendeskripsikan
prinsip-prinsip
dibuatruang
oleh politisi
dan pemerintah
yangmasyarakat
terpilih untukdalam
memerintah.
dan
lingkup
partisipasi
proses
Pandangan Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
penyelenggaraan
pemilu.
Riset
ini juga
akan
menjelaskan
Yuna
Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
desain pengaturan partisipasi masyarakat dalam proses
pada Tahun Pemilu.”
Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
penyelenggaraan
pemilu.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Dalam mencapai tujuan tersebut, riset ini menggunakan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
beberapa pendekatan; mengumpulkan hasil riset terdahulu
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dari
beberapa
lembaga
penelitian
yang terlibat
tim
agregat
maupun secara
spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu,dalam
terkonfirmasi
dan
focus
group yang
discussion
(FGD)
dalammenyelenggarakan
praktek penganggaran
di Indonesia
berkaitan
denganatau
siklus
diskusi
terfokus.
Hasil
riset
terdahulu
tersebut
disesuaikan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
dengan
dan keahlian
masing-masing
FGD
ini, yang perhatian
menjadi perhatian
tidak hanya
political budgetlembaga.
cycles, melainkan
mendiskusikan
desain
pengaturan
political corruptionbagaimana
cycle atau siklus
korupsi
politik padapartisipasi
tahun-tahun
Pemilu yang telah
meningkat dokumen-dokumen
dengan ekstrim.
masyarakat.
Penelusuran
hasil penelitian,
laporan
pemantauan,
dan ditafsirkan
laporan sebagai
dari lembaga-lembaga
Masyarakat
tidak saja dapat
satu kesatuan, tetapi
penyelenggara
pemilu
untuk menunjang
riset ini.
juga perlu dibatasi
mengingat
perbedaan hakikat
antara laki-laki dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Partisipasi politik menurut Miriam Budiardjo, dapat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
dimaknai sebagai kegiatan seseorang atau kelompok orang
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
secara sukarela untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
politik,
antara
lain dengan
jalan
memilih
pimpinan
negara
hukum dan
pemerintahan.
Dan
kondisi
tersebut
telah ditulis
oleh dan,
Nindita
secara
langsung
atau
tidak
langsung,
memengaruhi
kebijakan
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
1
pemerintah.
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Pascareformasi, pemilu jadi ajang persaingan terbuka antar
Bentuk Dan Prinsip Partisipasi
Masyarakat
peserta
untukdengan
memobilisasi
dukungan
suarapolitik,
pemilih
Masihpemilu
berhubungan
tema akuntabilitas
keuangan
Didik
Supriyanto
dan kemenangan.
Lia Wulandari dalam
tulisansistem
berjudul
Transparansi
dalam
meraih
Perubahan
pemilu
menjadidan
Akuntabilitas Pengelolaan
Dana juga
Kampanye,
bahwa dana
proporsional
daftar terbuka
turut menguraikan
membuat intensitas
kampanye antara
adalah masyarakat/pemilih
salah satu hal penting dengan
dalam proses
pemilu.
Dana
interaksi
berbagai
pihak,
kampanye
diperlukan
oleh(partai
partai politik
kandidatnya
untuk dapat
yaitu;
peserta
Pemilu
politikdanbeserta
kandidatnya),
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif
tidak akan
bekerja
maksimal
dalam
kampanye
1 Miriam Budiardjo,
2009,dapat
Dasar-Dasar
Ilmusecara
Politik. Jakarta:
Gramediia
Pustakan
Utama. Hlm. 367
22
vi
Pemerintah (pusat-daerah), penyelenggara pemilu, dan lembaga
pengawas pemilu, serta para pemantau.
Ada empat hal yang mengaitkan pentingnya partisipasi
politik masyarakat dengan pemilu yang demokratis (Bjornlund,
2004). Pertama, kehendak rakyat—sebagaimana tercantum
dalam The Universal Declaration of Human Right (UDHR)—
harus menjadi dasar dari pemerintahan yang diekspresikan
melalui pemilihan umum yang jujur dan adil. Kedua, pemilu
demokratis berkontribusi terhadap penghargaan hak sipil
lainnya. Demokrasi elektoral menjadi indikator yang paling
baik dari kemajuan hak sipil dan hak asasi manusia. Ketiga,
pemilu, khususnya pada negara yang masih mengalami transisi
demokrasi, dapat memberikan ruang kepada warga negara untuk
terlibat dalam ruang publik, karena mendorong masyarakat
untuk turut mengawasi, melakukan kajian, pendidikan pemilih,
dan melakukan advokasi.
Selain itu, pemilu juga mendorong keterlibatan masyarakat
yang ‘ter-marginal-kan’ untuk aktif terlibat di ruang publik,
sepert: kelompok minoritas, perempuan, disabilitas. Keempat,
mendorong pemerintahan yang efektif dan stabil. Walapun, tidak
dapat dipungkiri bahwa pemilu dapat menyebabkan masyarakat
terkotak-kotak akibat mendukung salah satu pihak atau calon.
Akan tetapi, pemilu yang kompetitif dapat mendorong proses
transisi ke demokrasi yang terkonsolidasi.
Oleh karena itu, proses penyelenggaraan pemilu demokratis
sangat membutuhkan partisipasi masyarakat sebagai pemilik
hak suara. Selaian itu, terdapat beberapa hal penting yang
berakitan dengan partsipasi masyarakat, yakni; Pertama, untuk
meningkatkan minat dan kepedulian warga negara terhadap
penyelenggaraan
Pemilu,
serta
pengetahuan/informasi
tentang proses penyelenggaraan Pemilu. Kedua, pelaksanaan
kedaulatan Partai berada pada anggota, kedaulatan rakyat, hak
asasi manusia dalam bidang politik, pengakuan atas legitimasi
23
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
partai politik, legitimasi penyelenggara negara (legislatif dan
merupakan suatu
menyelamatkan
kebijakandaerah),
publik yang
akan
eksekutif,
baik upaya
pada untuk
tingkat
nasional maupun
dan
dibuat oleh
politisi
danumumnya.
pemerintahKetiga,
yang terpilih
untuk
memerintah.
sistem
politik
pada
untuk
menjamin
pemilu
yang
adil (menyampaikan
hasilberkaitan
pemantauan
dan
pengaduan
atas
Pandangan
Hamdan tersebut
dengan
apa
yang disampaikan
Yuna Farhan
melalui tulisannya
Siklus Politisasi
Anggaran
dugaan
pelanggaran
ketentuan“Menelusuri
perundang-undangan
pemilu),
padamenjamin
Tahun Pemilu.”
Yunahasil
menjelaskan
bahwa Political cepat
budgethasil
cycles
dan
integritas
pemilu (penghitungan
2
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
pemilu).
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Pengelompokan partisipasi berdasarkan manfaat tersebut,
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dapat disederhanakan dalam tabel berikut.
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Tabel
Pengelompokan
Pemilu 1:
2009
ataupun menjelang jenis
Pemilupartisipasi
2014. Melihatberdasar
perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
manfaatnya
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Meningkatkan
Legitimasi
Integritas
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
minat dan
keterpilihan
hasil pemilu
Masyarakat
informasitidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
kepemiluan
juga perlu
dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
Sosialisasi
pemilu
Memilih calon
dan
Pemantauan
perempuan. Seperti
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai
salah satu
pasangan
calon
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU dan
No. 8 Tahun
pengawasan
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
Pelaksanaan
Pendidikan pemilih
Musyawarah
30% keterwakilan perempuan. Kondisi
ini patut
diperjuangkan,
mengingat
penghitungan
membahas
rencana
praktik selama ini, pihak yang duduk
parlemen maupun
pemerintah
cepat
visi,baik
misi,didan
program
partai
atas hasil
mayoritas diduduki oleh laki-laki.
Apabila
tidak diperjuangkan,
hal ini
dalam
pemilu
pemungutan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
di TPS
hukum suara
dan pemerintahan.
Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Pemberitaan
dan
Dukungan
aktif“Perempuan dan Korupsi:
Paramastuti dalam tulisannya yang
berjudul:
penyiaran media
kepada peserta
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
massa
2009.”
pemilu/calon
Masih
berhubungan
dengan tema
akuntabilitas
keuangan politik, Didik
Survei
dan
Mengajak
dan
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi dan
penyebarluasan
mengorganisasi
hasil survei
ataumenguraikan bahwa dana
Akuntabilitas
Pengelolaan Dana dukungan
Kampanye,
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
2 Surbakti, Ramlan, and Didik Supriyanto. Partisipasi Warga Masyarakat dalam
legislatif
tidak akanPemilihan
dapat Umum.
bekerjaJakarta:
secara
maksimal
dalam kampanye
Proses
Penyelenggaraan
Kemitraan
bagi Pembaruan
Tata
Pemerintahan, 2013
24
vi
keberatan
terhadap alternatif
rencana kebijakan
publik
Momen pemilu membuka ruang bagi masyarakat (warga
biasa) untuk membangun partisipasi dalam bingkai membangun
jembatan representasi politik antara masyarakat dan politisi
(elected politician). Pemilu diyakini mampu mentransformasi
relasi partisipasi antara masyarakat dengan yang dipilihnya
secara hirarkis, bahkan kadang intimidatif menjadi suatu
hubungan yang setara. Aktivitas partisipasi masyarakat nonpartisan tentu perlu dipastikan sifatnya, agar aktivitasnya lepas
dari konflik kepentingan peserta pemilu. Nagore dan Tuccinardi
(2014) mengidentifikasi dua prinsip nonpartisan: netralitas/
imparsialitas dan bebas dari campur tangan politik (neutrality/
impartiality and non-interference). Dua prinsip ini mengacu
pada Deklarasi; “Global Principles for Nonpartisan Observation
and Monitoring of Elections by Citizen Organizations” pada
tahun 2012 lalu.
Imparsialitas mengharuskan partisipasi memperlakukan
berbagai pihak dengan setara tanpa diskriminasi. Sementara
netralitas mengharuskan melepaskan kepentingan politik, tidak
terlibat dalam proses politis dan pemenangan kandidat.
“Generally, impartiality requires treating all
sides equally, not discriminating between any
of them. Neutrality, on the other hand, requires
detachment, not helping or being involved in the
political process.”
Prinsip
non-interference,
mengharuskan
partisipasi
menghormati kondisi lokal dan pemegang otoritas pemilu di
semua tingkatan. Melakukan koreksi atau menyatakan bahwa
kebijakan yang diterapkan di sebuah negara, terutama yang
berhubungan dengan pemilu, adalah salah atau tidak sesuai
25
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
MENYERENTAKAN PEMILU, MEMUSATKAN ANGGARAN PILKADA
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat dengan
oleh politisi
dan pemerintah
yangyang
terpilih
untuk memerintah.
prinsip
internasional
berlaku.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
“Respect the roles of impartial election
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
authorities at all levels and at no time
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
interfere unlawfully or inappropriately in
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
the administration of the elections, as well as
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
seek diligently to work in cooperation with
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
impartial
electionpada
officials,
and follow
agregat maupun
secara spesifik
tahun-tahun
Pemilu,lawful
terkonfirmasi
instructions
from
them
or
other
appropriate
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
authorities
concerning
ofperkembangan
electoral
Pemilu 2009 ataupun
menjelang
Pemilu protection
2014. Melihat
saat
integrity.”
ini, yang menjadi
perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption
atauini,
siklus
politik
pada lain
tahun-tahun
Selain duacycle
prinsip
adakorupsi
beberapa
prinsip
untuk
Pemilumengidentifikasi
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.
terma nonpartisan. Bjornlund (2004)
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagai satu internasional
kesatuan, tetapi
menjelaskan
prinsip-prinsip
nonpartisan
juga perlu
mengingat
perbedaan
hakikat
antara laki-laki
dan
yangdibatasi
diterapkan
sebagai
prinsip
pemantauan
sebagai
perempuan.
Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
berikut.
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
1. Mematuhi seluruh peraturan dan perundang2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
undangan di negara yang dipantau. Bagi pemantau
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
internasional yang akan memantau pemilu di sebuah
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
negara,
mereka
mengikuti
seluruh
peraturan hal
danini
mayoritas
diduduki
oleh harus
laki-laki.
Apabila tidak
diperjuangkan,
undang-undang
yang ada
di negaraaspirasi
yang akan
dipantau.
akan berdampak
negatif terhadap
mandeknya
perempuan
dalam
Secara
umum
negara
yang
akan
dipantau
akan
memberikan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
akreditasi
pemantau
yang dan
memiliki
Paramastuti
dalam kepada
tulisannyalembaga
yang berjudul:
“Perempuan
Korupsi:
legalitas
dan memberikan
akses
kepada
lembaga
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilutersebut
DPR RI
2009.”untuk memantau pemilu di negara yang bersangkutan.
Masih berhubungan
dengan
akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
2. Imparsial
dan tema
netralitas.
Setiap
pemantau
harus
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
bersikap objektif terhadap seluruh proses dan hasil pemilu,
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
dana
dan tidak
boleh memihak
kepada menguraikan
partai politikbahwa
tertentu
kampanye
salah dan
satu harus
hal penting
dalam proses
pemilu. Dana
atauadalah
kandidat
menyandarkan
pekerjaannya
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
kepada integritas proses dan hasil pemilu.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
26
vi
3.Non-interferenc.,
Pemantau
pemilu
harus
menghormati kondisi lokal di negara yang dipantau.
Sebagai pemantau, tidak boleh melakukan koreksi atau
menyatakan bahwa kebijakan yang diterapkan di sebuah
negara, terutama yang berhubungan dengan pemilu adalah
salah atau tidak sesuai dengan prinsip internasional yang
berlaku. Hal ini penting karena sejumlah negara terkadang
cukup sensitif dengan kehadiran pemantau internasional
dalam pemilu karena ada kekhawatiran adanya intervensi
dari asing.
4. Objektif, transparan, dan akurat. Pemantau harus
memaparkan hasil temuannya secara objektif, dan harus
bebas nilai. Hal-hal yang akan disampaikannya harus
berdasarkan fakta dan data lapangan, sehingga data yang
dicatat tersebut haruslah data yang akurat.
5. Tidak memiliki konflik kepentingan. Lembaga
pemantau pemilu tidak diperkenankan memiliki
kepentingan tertentu. Lembaga pemantau hanya bertindak
sesuai dengan tujuannya untuk melakukan pematauan.
Seorang pemantau harus berkomitmen penuh untuk
membawa misi pemantauan.
6. Menjaga hubungan baik dengan penyelenggara
pemilu pada negara yang dipantau. Lembaga pemantau
harus dapat menjaga hubungan baik dengan penyelenggara
pemilu pada negara yang dipantau. Menghormati peraturan
yang berlaku, peran, dan kewenangan dari penyelenggara
pemilu setempat. Beberapa hal yang perlu dihindari adalah
tidak mengumumkan hasil pemilu tanpa ada persetujuan
dari penyelenggara pemilu setempat.
27
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh7.politisi
dancomment.
pemerintahPemantau
yang terpilih
untuk
memerintah.
Public
pun
perlu
menghindari
Pandangan
Hamdan
tersebut pribadi
berkaitankepada
denganmedia.
apa yang disampaikan
memberikan
komentar
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
8. Menjaga kekompakan dengan tim pemantau dan
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
juga sesama pemantau. Agar kegiatan pemantauan dapat
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
berjalan dengan lancar, tim pemantauan harus menjaga
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
kesolidan tim pemantau. Untuk itu setiap pemantau harus
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
yang diberikan.
Mengikuti
agregatberpartisipasi
maupun secaradalam
spesifikbriefing
pada tahun-tahun
Pemilu, terkonfirmasi
dari ketua di
tim,
mematuhi
kerja, dan
dalam instruksi
praktek penganggaran
Indonesia
yang kerangka
berkaitan dengan
siklus
juga
mematuhi
peraturan
dari
lembaga
pemantau.
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Posisi Relawan Politik dan
Bagaimana Mengaturnya
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
Kelompok
relawan
politik telah
menjadi
entitas baru
juga perlu
dibatasi
mengingat
perbedaan
antara
laki-laki
dan
dalam
praktik
politik dan
pemilu. hakikat
Relawan
politik
menjadi
perempuan.
halnya
perempuan
sebagai dan
salahtim
satu
satu Seperti
kelompok
di keterwakilan
luar struktur
partai politik
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
kampanye yang turut berkontribusi bagi pemenangan
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
kandidat peserta pemilu.
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Marcin
Walecki,
hukum
dan ilmu
politikpemerintah
lulusan
praktik selama
ini, pihak
yangdoktor
duduk baik
di parlemen
maupun
Oxford,
menyebut
relawan
ini tidak
sebagai
partai ketiga—
mayoritas
diduduki
oleh laki-laki.
Apabila
diperjuangkan,
hal ini
organisasinegatif
yang memengaruhi
hasil aspirasi
pemilu,perempuan
tapi dia bukan
akan berdampak
terhadap mandeknya
dalam
atau partai
pemilu.
Praktik
ini
hukumpelaku
dan pemerintahan.
Danpolitik
kondisipeserta
tersebut telah
ditulis
oleh Nindita
memang
lazim
terjadi di
negara-negara
yang berdemokrasi.
Paramastuti
dalam
tulisannya
yang
berjudul: “Perempuan
dan Korupsi:
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR RI
Dalam pengaturan soal relawan politik, undang2009.”undang memang masih gagap. Dalam sejumlah regulasi
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
keuanganUU
politik,
Didik
paket
politik yang
tersedia,
seperti UU Pilkada,
Pemilu
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
Legislatif, UU Pemilu Presiden, termasuk UU Partai Politik,
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
pengaturan
soal partisipasi
masih terbatas.
Sebagai
contoh,
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
UU No 8/2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR,
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
28
vi
DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota (UU No
8/2012) mengatur partisipasi dalam Bab XIX: Partisipasi
Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemilu. Bentuk
partisipasi masyarakat yang disebut Pasal 246 adalah
sosialiasi pemilu, pendidikan politik bagi pemilih, survei
atau jajak pendapat tentang pemilu, dan penghitungan
cepat (quick count) hasil pemilu.
Soal pendanaan relawan misalnya, paket undangundang politik yang tersedia hanya mengatur sumbangan
pendanaan bagi partai politik (pengusung), serta pasangan
calon (pilkada dan pilpres) saja. Seperti dalam Pasal
74 ayat (2) dan (4) UU No 8/2015 tentang Pemilihan
Kepala Daerah (Pilkada), norma yang muncul hanya
terkait dengan pendanaan calon perseorangan, termasuk
besaran sumbangan bagi calon perseorangan.Keterlibatan
dalam upaya pemenangan kandidat berkonsekuensi pada
mobilisasi massa yang kemudian juga tak bisa mengelak
dari kebutuhan mengonsolidasikan ongkos politik—
aktivitas mobilisasi finansial untuk keperluan logistik
(pemasangan atribut, penyebaran alat peraga, dll).
Pengaturan ini tentu diperlukan agar tidak ada pihakpihak yang menancapkan kepentingannya dengan memberi
modal pada kelompok masyarakat untuk mendapat
keuntungan pribadi. Lebih jauh, jika ini tidak diatur,
maka relawan bisa menjadi arena baru tempat oligarki
dengan menginvestasikan modalnya dan menyamarkan
kepentingan-kepentingannya.
Eksistensi relawan politik hingga kini belum terwadahi
secara hukum. R. Ferdian Andi (2016) dalam opininya
29
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat di
olehkoran
politisi Republika
dan pemerintah
yang terpilih
untuk politik
memerintah.
menyebut
relawan
sebagai
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan dengan
yang
disampaikan
organisasi
tanpa
bentuk—tidak
jelas apa
jenis
kelaminnya.
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Relawan tentu bukanlah entitas yang berbentukAnggaran
partai
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
politik, kendati aktivitasnya sama seperti partai politik,
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
khususnya dalam hal memobilisasi massa, termasuk
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
pendanaan sebagai konsekuensi turunan dari mobilisasi
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
massa.
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Relawan
politik juga
tidak berbentuk
perkumpulan
dalam praktek
penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan siklus
atau
organisasi
massa
(ormas)
yang
berbadan
hukum
atau
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan
saat
yang
tidakperhatian
berbadan
hukum
yang
ini, yang
menjadi
tidak
hanyasebagaimana
political budgetketentuan
cycles, melainkan
diatur
dalamcycle
UU atau
No. siklus
17 Tahun
2013
tentang
political
corruption
korupsi
politik
padaOrganisasi
tahun-tahun
PemiluMassa
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
(Ormas).
Seperti
dalam
ketentuan Undang-undang
No. 17 Tahun
2013
Pasal
9 ayat sebagai
(1) dansatu
pasal
11 ayattetapi
(1)
Masyarakat
tidak saja
dapat
ditafsirkan
kesatuan,
menjelaskan
bahwa, organisasi
massa dapat
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan hakikat
antara berbentuk
laki-laki dan
perempuan.
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai salah
satu
badanSeperti
hukum
atau tidak
berbadan
hukum Ormas,
adapun
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
yang berbadan hukum dapat berbentuk perkumpulan
2012 menegaskan
setiap
partai
politik
peserta pemilu
memenuhi
atau yayasan.
Pada
pasal
berikutnya
(Pasalharus
12 Ayat
(1))
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
disebutkan soal persyaratan pendirian perkumpulan,
praktikyakni;
selama ini,
pihak
yang duduk
baik di parlemen
maupun
pemerintah
akte
pendirian,
sumber
pendanaan,
NPWP
atas
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
nama perkumpulan, dan lain-lain.
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Namun, keberdaan relawan politik—yang menjadi
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
fenomena
tersendiriyang
dalam
pergulatan
di
Paramastuti
dalam tulisannya
berjudul:
“Perempuan politik
dan Korupsi:
Indonesia—saat
tidak adaKorupsi
norma atau
yangRI
Pengalaman
Perempuan ini,
Menghadapi
dalamketentuan
Pemilu DPR
2009.”mengatur kelompok tersebut. Karena memang secara
normatif,
peserta
pemilu
dalam
pilkada,
atau pilpres
tidak
Masih
berhubungan
dengan
tema
akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
mengenal
istilah
relawan
atau
relawan
politik.
Supriyanto
dan Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
Kemudian,
bagaimana
pengaturan
yang tepat
untuk
kampanye
adalah salah
satupartisipasi
hal penting ini?.
dalam Untuk
proses pemilu.
Dana
mengatur
bentuk
menjawab
kampanye
diperlukan
oleh partaiini,
politik
dansatu
kandidatnya
untuk
dapat
kebutuhan
pengaturan
perlu
mekanisme
untuk
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
30
vi
menjelaskan jenis kelamin dari suatu bentuk partisipasi
masyarakat dalam pemilu. Dari uarian bab sebelumnya
sudah dijelaskan bahwa, partisipasi masyarakat dibagi
ke dalam dua kategori, yakni: nonpartisanship dan
partisanship. kedua kategori tersebut terletak pada
keberpihakan dan pemenuhan prinsip-prinsip partisipasi
masyarakat.
Garis tegas perbedaan keduanya berada pada relasi
suatu kelompok dengan kandidat. Jika ia (kelompok)
tidak terlibat dalam pemenangan kandidat, maka ia
dapat dikategorikan sebagai relawan, independen,
atau partisipasi masyarakat yang bersifat pasrtisipan.
Sebaliknya, jika ia (kelompok) terlibat dalam upaya
pemenangan kandidat, maka ia tidak bisa digolongkan
sebagai relawan, independen, atau partisipasi masyarakat
yang non-partisan. Dengan kata lain, kelompok tersebut
dapat dikategorikan sebagai kelompok partisipan yang
ikut aktif dalam pemenangan pemilu, sebagaimana Tim
kampanye suatu Calon/Pasanagan Calon.
Fenomena relawan yang terlibat dalam pemenangan ini
senada dengan kategori-kategori kampanye. Kampanye
didefinisikan sebagai kerja terkelola yang berusaha agar
calon dipilih atau dipilih kembali dalam suatu jabatan.
Bedanya, kampanye menjadi cara yang digunakan oleh
para calon untuk merayu pemilih, agar pemilih mau
memberikan suaranya untuk mereka dengan sumber dana
yang berasal dari partai politik dan calon, sumbangan
perseorangan, dan perusahaan.
Dari kesamaan kategori ini dan kondisi sosial politik
31
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat yang
oleh politisi
dandipemerintah
memerintah.
berbeda
Indonesiayang
dan terpilih
negarauntuk
lainya.
Di Indonesia,
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan
dengan
apa yang disampaikan
tidak jarang
relawan—yang
sudah
terorganisir—seringkali
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
membangun komunikasi inten dengan Politisasi
peserta Anggaran
pemilu
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
(Bakal Calon/Calon/Partai Politik). Berbeda dengan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
relawan terorganisir di Amerika yang tidak berkomunikasi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
dengan kandidat. Oleh karena itu, sudah sepatutnya
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
pengaturan soal ‘relawan’ harus dipertegas di pengetauran
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
kampanye dengan pertimbangan sifat dan prinsip relawan
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
tersebut. Sehingga, semua yang bekerja untuk kandidat
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
dan
atau perhatian
untuk kemenangan
kandidat
harus
ini, yang
menjadi
tidak hanya political
budget
cycles,terdaftar
melainkan
di
Komisi
Pemilihan
Umum
(KPU).
Dalam
hal
ini juga
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Sumber dana,
keanggotaan, serta proses
Pemilutermasuk
yang telah meningkat
dengandan
ekstrim.
verifikasi.
Masyarakat
tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
kelompok
yang bersifat
tidak
terlibat
dalam
juga perluSementara
dibatasi mengingat
perbedaan
hakikat
antara
laki-laki
dan
perempuan.
halnya keterwakilan
sebagai salah
satu
upayaSeperti
pemenangan
kandidat, iaperempuan
mesti mendaftar
ke KPU
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
dan wajib menjaga independensinya dengan melaporkan
2012 menegaskan
setiap partai
politikkepengurusan,
peserta pemilu sumber
harus memenuhi
profil organisasi,
susunan
dana,
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
rencana aktivitas serta wilayah kerja, dan alat serta
praktikmetodologi
selama ini, pihak
yangdigunakan
duduk baik di
parlemen
maupun pemerintah
yang
dalam
berkegiatan
untuk
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
kemudian diakreditasi.
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Pengaturan ini tidak dimaksudkan untuk membelenggu
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
kebebasan
yang
dijamin
oleh konstitusi,
dan
Paramastuti
dalam berekspresi
tulisannya yang
berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
juga bukan
dimaksudkan
untuk
mengerdilkan
partisipasi
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam Pemilu
DPR RI
2009.”masyarakat. Tetapi, pengaturan ini bertujuan untuk
membentuk
praktik
yang transparan,
Masih
berhubungan
denganpolitik
tema akuntabilitas
keuangan akuntabel,
politik, Didik
sertadan
bertanggung
jawab
diseluruh
elemenTransparansi
masyarakat—
Supriyanto
Lia Wulandari
dalam
tulisan berjudul
dan
tanpa terkecuali.
Akuntabilitas
Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
32
vi
Menjaga Independensi Dengan
Akreditasi
Partisipasi masyarakat dalam pemilu dimaksudkan
untuk menjaga integritas proses dan hasil pemilu. Oleh
karena itu, untuk menopang dedikasi dan fungsi tersebut,
lembaga-lembaga yang melakukan partisipasi dalam
pemilu harus mampu meningkatkan mutu dan menjamin
independensinya secara terus-menerus. Lembaga tersebut
mesti aktif membangun sistem penjaminan mutu internal.
Untuk menjaga sistem internal tersebut berjalan baik,
akreditasi dari eksternal diperlukan.
Akreditasi adalah proses evaluasi dan penilaian secara
komprehensif atas komitmen lembaga-lembaga yang
melakukan partisipasi dalam pemilu terhadap mutu dan
independensi penyelenggaraan aktivitasnya. Akreditasi
ditekankan pada pemenuhan prinsip independen, bukan
kelayakan untuk melakukan bentuk-bentuk partisipasi.
Pengaturan soal akreditasi berpijak pada prinsip
perlindungan. Sehingga, partisipasi masyarakat yang
telah tumbuh-kembang pada tataran akar rumput tidak
terganggu. Jika pengaturan dilakukan hanya dengan
semangat meregistrasi, pengatuan akan menjadi birokratis,
hal ini akan menyulitkan partisipasi yang bersifat bottom
up.
Lembaga yang melakukan partisipasi pada mulanya
mendaftar ke KPU. KPU kemudian memberikan informasi
mengenai beberapa kriteria yang bersifat terbuka dan
menjaga lembaga-lembaga tersebut untuk tetap berlaku
33
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
MENYERENTAKAN PEMILU, MEMUSATKAN ANGGARAN PILKADA
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat independen
oleh politisi dandalam
pemerintah
yang terpilihdi
untuk
memerintah.
berpartisipasi
pemilu.
Evaluasi
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
untuk akreditasi
kemudian
dilakukan
dalam
rentang
waktu
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
setelah lembaga-lembaga tersebut bekerja di pemilu.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
dan independensi lembaga-lembaga yang melakukan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
partisipasi dalam pemilu. Evaluasi ini dilakukan oleh KPU—
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
yang pada
bersifat
mandiri—secara
berkala,
agregatsebagai
maupunlembaga
secara spesifik
tahun-tahun
Pemilu, terkonfirmasi
dan transparan
untuk
menilai pencapaian
dalam menyeluruh,
praktek penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan siklus
standar
independensi
partisipasi
dalam
pemilu.
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi
hanya political
budget
cycles,
melainkan
Dalam perhatian
menjaga tidak
independensi
ini, KPU
akan
memeriksa
political
corruption cycle
korupsi politik
pada tahun-tahun
setidaknya
dua atau
hal:siklus
keterlibatan
lembaga
dalam
Pemilupemenangan
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.
kandidat dan sumber dana yang jelas. Kriteria
Masyarakat
tidak yang
saja dapat
ditafsirkan
sebagai
satu
kesatuan,pada
tetapi
independen
diperiksa
ini juga
bisa
mengacu
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan
hakikat
laki-laki
dan
prinsip-prinsip
nonpartisan
yang
telahantara
dibahas
secara
perempuan.
halnya
perempuan
sebagai
salah
satu
lebih Seperti
jauh pada
babketerwakilan
sebelumnya.
Sementara
sumber
dana
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
yang jelas berarti lembaga tersebut mampu membuka
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
laporan keuangannya ke publik dan membuka ruang
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
audit. Khusus bagi bentuk partisipasi berupa survei dan
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
hitung cepat, KPU juga perlu memeriksa metodologi dan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
keabsahan data. Pemeriksaan ini tentu mesti melibatkan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
lembaga profesi yang bergerak di bidang survei.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Akreditasi
dilakukan
atas
dasar “Perempuan
kriteria yang
Paramastuti
dalam tulisannya
yang
berjudul:
danbersifat
Korupsi:
terbuka.
Sertifikasi
akreditasi
akandalam
diberikan
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
Pemilusebagai
DPR RI
2009.”pengakuan terhadap kompetensi dan independensi
untuk
berpartisipasi
dalam
pemilu.keuangan
KPU politik,
kemudian
Masih
berhubungan
dengan tema
akuntabilitas
Didik
mengumumkan
dan mensosialisasikan
lembaga-lembaga
Supriyanto
dan Lia Wulandari
dalam tulisan berjudul
Transparansi dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
bahwa dana
yang mendapat
sertifikat
akreditasi menguraikan
ini.
kampanyeLembaga-lembaga
adalah salah satu hal
penting
dalam
proses pemilu.
Dana
yang
turut
berpartisipasi
dalam
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
pemilu yang mendapatkan akreditasi dari KPU ini wajib
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
34
vi
menyerahkan hasil laporan partisipasinya kepada KPU.
Jika lembaga tersebut tidak memberikan laporan, maka
akreditasi partisipasinya dapat ditarik kembali oleh KPU.
KPU berwenang untuk mengevaluasi dan menilai, serta
menetapkan status dan peringkat mutu dan independensi
partisipasi dalam pemilu berdasarkan standar terbuka yang
telah ditetapkan. Dengan demikian, tujuan dan manfaat
akreditasi dapat diketahui dan di pahami oleh public.
Adapaun tujuan dan manfaat akreditasi dalah sebagai
berikut:
Pertama, memberikan jaminan bahwa lembaga
yang terakreditasi telah memenuhi standar mutu dan
independensi yang ditetapkan secara terbuka oleh
KPU, sehingga mampu memberikan perlindungan bagi
masyarakat dari informasi dan penyelenggaraan partisipasi
pemilu yang tidak memenuhi standar independen. Selama
ini, masyarakat sering dibingungkan oleh informasi
yang simpang siur antara informasi yang bermuatan
politis dan mendukung pemenangan salah satu kandidat
dengan informasi yang bersifat tidak memihak. Akreditasi
diharapkan mampu memberi batasan yang jelas sehingga
masyarakat tidak lagi dibingungkan oleh hal ini.
Kedua, mendorong lembaga-lembaga yang melakukan
partisipasi dalam pemilu untuk terus menerus
melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu dan
independensinya. Selain itu, akreditasi juga diharapkan
bisa memacu lembaga-lembaga partisipasi pemilu untuk
memiliki rencana strategis, visi, misi, dan tujuan serta
mendorong lembaga-lembaga ini berupaya meningkatkan
35
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat mutu
oleh politisi
dan dan
pemerintah
yang terpilih
memerintah.
program
lembaganya
secarauntuk
bertahap,
terencana,
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan
dengan apa yang disampaikan
dan kompetitif
di tingkat
kabupaten/kota,
provinsi,
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
regional, nasional, bahkan internasional.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Ketiga, hasil akreditasi dapat dimanfaatkan sebagai
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
dasar pertimbangan dari badan atau instansi yang lain.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Riset ini merekomendasikan akreditasi bisa dipakai sebagai
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
badan-badan
penyelesai
agregatpertimbangan
maupun secara bagi
spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu, sengketa—
terkonfirmasi
misalnya
Mahkamah
Konstitusi—untuk
menerima
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan
siklus
kesaksian.
Pasal
6
PMK
Nomor
4
Tahun
2014
tentang
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
pedoman
beracaratidak
dalam
hasil
pemilihan
ini, yang
menjadi perhatian
hanyaperselisihan
political budget
cycles,
melainkan
umum
presiden
menyebutkan
bahwa,
political
corruption
cycledan
atauwakil
sikluspresiden
korupsi politik
pada tahun-tahun
Pemiluketerangan
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.dari pemantau pemilu
saksi yang
berasal
presidentidak
dan saja
wakil
presiden
yang bersertifikat
bisa menjadi
Masyarakat
dapat
ditafsirkan
sebagai satu kesatuan,
tetapi
alat dibatasi
bukti dalam
perkara
perselisihan
hasil laki-laki
pemilihan
juga perlu
mengingat
perbedaan
hakikat antara
dan
perempuan.
halnya
keterwakilan
perempuan
salah ini
satu
umumSeperti
presiden
dan
wakil presiden.
Intisebagai
dari pasal
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
bisa diadopsi di UU Pemilu sebagai insentif bagi lembaga
2012 menegaskan
peserta pemilu harus memenuhi
partisipasi setiap
pemilupartai
yangpolitik
terakreditasi.
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Selain oleh badan penyelesai sengketa, akreditasi juga
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
bisa menjadi dasar pertimbangan tim seleksi anggota KPU
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
untuk menguji atau memberi kredit bagi mereka yang
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
pernah beraktivitas dalam lembaga partisipasi pemilu yang
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
terakreditasi.
Pasal 11yang
UU 15/2011
Penyelenggara
Paramastuti
dalam tulisannya
berjudul: tentang
“Perempuan
dan Korupsi:
PemiluPerempuan
merinci persyaratan
menjadi
anggotaDPR
KPURI
Pengalaman
Menghadapi untuk
Korupsi
dalam Pemilu
2009.”RI, KPU Provinsi, atau KPU Kabupaten/Kota, salah
satunya
adalahdengan
memiliki
dan keahlian
Masih
berhubungan
temapengetahuan
akuntabilitas keuangan
politik,yang
Didik
berkaitan
dengan
penyelenggaraan
pemilu. Transparansi dan
Supriyanto
dan Lia
Wulandari
dalam tulisan berjudul
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanyeBerdasarkan
diperlukan oleh
partaidan
politik
dan kandidatnya
untuk dapat
uraian
analisis
yang telah dilakukan,
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
Penutup
36
vi
ada dua kesimpulan yang dapat dikemukakan. Pertama,
dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam
pemilu merupakan salah satu bentuk partisipasi politik
masyarakat yang bertujuan untuk mempengaruhi
kebijakan politik. dalam hal ini bertujuan untuk mengawal
proses pelaksanaan pemilu agar terpilih pemimpin yang
memang benar diinginkan rakyat dan melalui proses yang
jujur dan adil.
Dari distingsi itu, partisipasi masyarakat dalam pemilu
dapat dikategorikan menjadi dua hal. Pertama, partisipasi
yang partisan dan partisipasi yang non-partisan. Partisipasi
kelompok masyarakat partisan ikut bertanggungjawab
dalam pemenangan peserta pemilu, sedangkan kelompok
masyarakat non-partisan tetap dalam posisi independen
dan bertanggungjawab atas penjagaan nilai-nilai pemilu
demokratis dan prinsip luber dan jurdil.
Kedua, belum adanya distingsi yang jelas mengenai
partisipasi partisan dan nonpartisan. Sehingga berseraknya
pengaturan tentang partisipasi ini telah membuka celah
bagi masuknya kepentingan politik peserta pemilu untuk
menunggangi partisipasi masyarakat yang seharusnya
bersifat independen. Survei dan penghitungan cepat
misalnya, lebih marak dilakukan sebagai penggiring
opini publik dalam menentukan pilihan. Padahal, survei
ini juga penting untuk teguh bersifat independen dalam
memastikan proses dan hasil pemilu berjalan jujur dan
adil.
Penerapan akreditasi diyakini mampu menyaring hal ini,
meski ada juga perdebatan dalam penerapan akreditasi ini.
37
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat Sedangkan
oleh politisi dan
pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
kelompok
pendukung
menilai
bahwa
akreditasi
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan
apakredibilitas
yang disampaikan
dan pengaturan
diperlukan
untukdengan
menjaga
dan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
independensi dari lembaga yang melakukan partisipasi.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Pada akhirnya, riset ini merekomendasikan beberapa
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
hal untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
yang berkaitan dengan pengaturan partisipasi masyarakat
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
pemilu.
ini penting
dalam rangka
menegaskan
agregatdalam
maupun
secara Hal
spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
kembali
bentuk-bentuk
partisipasi
masyarakat
dalam
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan
siklus
penyelenggaraan
pemilu
di
peraturan
perundangPemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
undangan.
ini, yang
menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption
atau siklus
korupsi politik
pada mengenai
tahun-tahun
Pertama, cycle
diperlukan
penegasan
kembali
Pemilupartisipasi
yang telah meningkat
dengan ekstrim.
yang partisan
dan partisipasi non partisan.
Masyarakat
tidakyang
saja dapat
ditafsirkandan
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
Partisipasi
independen
nonpartisan
sangat
juga perlu
dibatasi
mengingat
perbedaan
hakikatmasyarakat
antara laki-laki
dan
penting.
Sebagai
pihak
yang netral,
dapat
perempuan.
Seperti
halnya
perempuan penilaian
sebagai salah
satu
menjadi
saksi
yangketerwakilan
dapat memberikan
yang
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
juga netral dan tidak memihak salah satu kandidat atau
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
partai politik tentang proses pemilu. Sehingga, apapun
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
hasil dari pemilu dan siapapun pemenangnya, apabila
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
masyarakat berpartisipasi—secara netral, nonpartisan,
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
dan independen—mereka tidak akan gaduh. Bila mereka
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
partisan, relawan pemenang maupun relawan pihak yang
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
kalah dalam
tentunya
akanyang
rawan
terhadap
konflik.
Paramastuti
tulisannya
berjudul:
“Perempuan
danSeperti
Korupsi:
yang terjadi
pada
Pilpres 2014
yangdalam
lalu, Pemilu
dimana
duaRI
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
DPR
2009.”kubu kandidat sama-sama memiliki basis relawan yang
cukup
ekstrim dan
memperlihatkan
keberpihakan
mereka
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
keuangan politik,
Didik
dengan
baik dalam
kehidupan
sehari-hari
maupun
Supriyanto
dan jelas,
Lia Wulandari
dalam
tulisan berjudul
Transparansi
dan
pada sosial
media. Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
Akuntabilitas
Pengelolaan
kampanyeKedua,
adalah pengaturan
salah satu halmengenai
penting dalam
proses masyarakat
pemilu. Dana
partisipasi
kampanye
diperlukan
olehmemberikan
partai politikjaminan
dan kandidatnya
untuk dapat
diperlukan
untuk
kepada masyarakat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
38
vi
untuk melaksanakan hak politik mereka dalam bentuk
partisipasi di pemilu. Partisipasi masyarakat nonpartisan
dan independen perlu juga didorong agar tetap hadir di
tengah-tengah maraknya partisipasi masyarakat yang
partisan dan memihak. Pengaturan dilakukan untuk
mencegah agar masyarakat yang mulai semakin aktif
berpartisipasi menjadi alat bagi kandidat atau partai politik
saja untuk dimobilisasi.
Pengaturan mengenai partisipasi masyarakat dalam
pemilu bukan bertujuan untuk membelenggu atau
mengkontrol partisipasi masyarakat sehingga masyarakat
tidak bisa bebas berkreasi dalam melakukan pemantauan
maupun partisipasi lainnya. Undang-undang dan
peraturan dengan prinsip menjamin hak warga negara
dalam berpartisipasi akan membuat masyarakat lebih
bebas melakukan partisipasi mereka.
Ketiga, penerapan akreditasi dengan serius pada segala
bentuk partisipasi masyarakat dalam pemilu diyakini dapat
menjaga independensi. Setidaknya ada tiga tujuan dalam
penerapan akreditasi ini: (1) memberikan jaminan bahwa
lembaga yang teakreditasi telah memenuhi standar mutu
dan independensi yang ditetapkan secara terbuka oleh
KPU; (2) mendorong lembaga-lembaga yang melakukan
partisipasi dalam pemilu untuk terus menerus melakukan
perbaikan dan mempertahankan mutu dan independensi;
(3) hasil akreditasi dapat dimanfaatkan sebagai dasar
pertimbangan dari badan atau instansi lain—misalnya;
badan penyelesai sengketa dan tim seleksi anggota KPU.
39
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
REFERENSI
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Bjornlund, Eric C. Beyond Free and Fair: Monitoring
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Elections
andYuna
Building
Budiarjo,
Miriam.
pada Tahun
Pemilu.”
menjelaskan
bahwa
PoliticalDasar-dasar
budget cycles
Ilmu
Politik.
Jakarta:
Gramedia
Pustaka
Utama,
2009. studi
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai
empiris di Dmocracy.
berbagai Negara.
BerbagaiJohn
variabel
yang mempengaruhi
politcal
Amerika:
Hopkins
Univesity Press,
budget2004.
cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Surbakti, Ramlan, and Didik Supriyanto. Partisipasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Warga Masyarakat dalam Proses Penyelenggaraan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Pemilihan Umum. Jakarta: Kemitraan bagi Pembaruan
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
Tata Pemerintahan, 2013.
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Nagore,
Leandro,dengan
and Domenico
Tuccinardi. ”Citizen
Pemilu yang
telah meningkat
ekstrim.
Electoraltidak
Observation.”
aceproject.org.
http://
Masyarakat
saja dapat ditafsirkan
sebagai satu2014.
kesatuan,
tetapi
aceproject.org/ace-en/focus/citizen-electoral-observation
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
(accessed
May
3, 2015).
perempuan.
Seperti
halnya
keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi
faktual
untuk
peserta
pemilu.Politik.”
UU No. 8
Tahun
Andi, R. Ferdian. menjadi
“Mengatur
Relawan
Koran
2012 menegaskan
partai http://www.republika.co.id/berita/
politik peserta pemilu harus memenuhi
Republika. setiap
2016.
30% keterwakilan
perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
koran/opini-koran/16/03/29/o4sjlb21-mengaturpraktikrelawan-politik
selama ini, pihak yang
duduk May
baik di
(accessed
5,parlemen
2016) maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
40
vi
41
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Memperbaiki Mekanisme
Penegakan Hukum
empirisPemilu
di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
1
Ramadhanil
agregatFadli
maupun
secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
ABSTRAK
Dari hasil evaluasi setiap kali pemilu selalu ada catatan
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
khusus mengenai sitem penegakan hukum pemilunya.
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
Beberapa catatan adalah bahwa proses penegakan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
hukum terlalu panjang sehingga penyelensaiannya
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
tidak maksimal dan tidak memberikan keadilan bagi
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
pihak yang kehilangan hak elektoralnya. Untuk itu
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
reformasi
penegakan
hukum
praktikperlu
selamadilakukan
ini, pihak yang
duduk baik dalam
di parlemen
maupun pemerintah
pemilu
agarolehdapat
menjamin
pemilu
berjalan hal
freeini
mayoritas
diduduki
laki-laki.
Apabila tidak
diperjuangkan,
and fair.negatif
Desain
penegakan
hukum
yang
ditawarkan
akan berdampak
terhadap
mandeknya
aspirasi
perempuan
dalam
adanya perbaikan
pidana,
hukumadalah
dan pemerintahan.
Dan kondisidalam
tersebutpelanggaran
telah ditulis oleh
Nindita
administrasi,
kode etik,
dan
perselisihan
hasil pemilu.
Paramastuti
dalam tulisannya
yang
berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR RI
Kata Kunci: Perselisihan pemilu, free and fair election,
2009.”pemilu demkratis
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
1 Penulis adalah Peneliti Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi
kampanye
diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
(Perludem)
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
Pendahuluan
42
vi
Proses penegakan hukum pemilu adalah proses yang
paling penting dalam setiap penylenggaraan pemilu. Karena
salah satu indikator pemilu demokratis adalah dilihat
bagaimana proses penegakan hukum sepanjang pemilunya
berjalan. Jika proses penegakan hukum pemilu berjalan
secara free and fair, maka boleh jadi salah satu syarat untuk
proses penyelenggaraan pemilu yang demokratis tercapai.
Tetapi, untuk bergeser kepada jalannya proses penegakan
hukum pemilu yang berjalan secara free and fair, mesti
perlu dibangun sistem penegakan hukum pemilu yang kuat
dan bisa dilaksanakan. Poin inilah kemudian yang selalu
menjadi duri dalam sekam dalam setiap penyelenggaraan
pemilu di Indonesia. Persiapan sistem penegakan hukum
senantiasa tidak dipersiapkan dengan serius oleh lembaga
yang memiliki kewaijabn untuk membuatnya. Akibatnya,
Dari sekian pemilu yang pernah diselenggarakan di
Indonesia, tidak satu-pun yang sepi dari protes, entah itu
terhadap proses penyelenggaraannya maupun hasilnya.
Bahkan pemilu 1955 yang dikenal sebagai pemilu yang
paling bersih-pun tidak luput dari protes2. Perangkatperangkat hukum yang dirancang untuk memayungi dan
memberikan keadilan penyelenggaraan pemilu-pemilu
sebelumnya, dirasa masih belum memuaskan untuk
memberikan keadilan.
Dalam praktik penyelenggaraan pemilu masih saja
terjadi berbagai masalah, masalah-masalah itu antara lain
disebabkan oleh beberapa faktor, yakni: ketidakjelasan
2 Topo Santoso dkk, Penegakann Hukum Pemilu; Praktik Pemilu 2004, 2011,
Jakarta: Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), hal. 23
43
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pengertian
oleh politisi dan
pemerintah
terpilihpelanggaran
untuk memerintah.
dan
batasanyang
antara
pidana,
Pandangan
Hamdandan
tersebut
dengan
apa yang disampaikan
administrasi
etik.berkaitan
sehingga
menimbulkan
tafsir
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
yang berbeda antara aparat penegak hukum. Selian itu,
pada Tahun
Pemilu.” Yuna
menjelaskan
bahwa Political
budget
cycles
ketidakjelasan
mekanisme
penanganan
perkara,
sehingga
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
menimbulkan tumpang tindih penanganan. Hal ini
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
sebabkan oleh lembaga penegak hukum tidak disiapkan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dengan baik, sehingga seringkali kesulitan dalam
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
menangani suatu perkara yang muncul dalam proses
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
pemilu.
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Padahal,
suatutidakproses
penanganan
pelanggaran
ini, yang menjadi
perhatian
hanya political
budget cycles,
melainkan
hukum
pemilu
sebaiknya
di korupsi
atur dalam
political
corruption
cycle
atau siklus
politiksuatu
pada perangkat
tahun-tahun
Pemiluhukum
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
yang
jelas dan
pasti.
Misalnya, tidak boleh ada
aturan yang
menghasilkan
suatusebagai
penafsiran
yang jamak
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
satu kesatuan,
tetapi
untuk
mengatur
satu perbedaan
hal. Pengalaman
dari pemilu
juga perlu
dibatasi
mengingat
hakikat antara
laki-laki ke
dan
perempuan.
Seperti
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai
salah satu
pemilu,
definisi
kampanye
selalu
saja membuat
persoalan
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
Tahun
semakin runyam, karena makna yang terkandung 8
dalam
2012 menegaskan
setiap
partai makna
politik peserta
harus memenuhi
suatu istilah
memiliki
ganda pemilu
atau multitafsir
dan
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
tidak tegas. Sehingga definisi kampanye terus menjadi
praktikperdebatan.
selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Padahal, defenisi kampanye yang pasti dan rigid sangat
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
dibutuhkan, karena banyaknya pelanggaran pemilu yang
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
bersandar
definisi
dan
batasan“Perempuan
kampanye.dan
Misalnya
Paramastuti
dalampada
tulisannya
yang
berjudul:
Korupsi:
untuk Perempuan
pelaku kampanye
diluar
jadwal.
Pelanggaran
Pengalaman
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu DPRiniRI
2009.”membutuhkan definisi kampanye yang pasti dan tidak
multitafsir.
Jika
definisi
mengambang,
maka
Masih
berhubungan
dengan
temakampanye
akuntabilitas
keuangan politik,
Didik
sulit dan
untuk
kampanye
di luar
Supriyanto
Liamenjerat
Wulandaripelaku
dalam pelanggaran
tulisan berjudul
Transparansi
dan
jadwal.Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
Akuntabilitas
kampanyeDisamping
adalah salah persoalan
satu hal penting
dalam materilnya
proses pemilu.yang
Dana
hukum
kampanye
diperlukan oleh
partaipenyelesaian
politik dan kandidatnya
untuk dapat
bermasalah,
proses
dari pelanggaran
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
44
vi
tersebut juga mengalami persoalan. Misalnya, untuk
proses penanganan pelanggaran pidana pemilu. Dalam
desaian UU pemilu yang ada saat ini, baik pileg maupun
pilpres, penanganan pelanggaran pidana melibatkan
banyak lembaga dan dengan proses yang cukup berbelit.
Padahal, ada satu asas hukum yang mengatakan bahwa,
suatu proses penanganan pelanggaran pidana, semestinya
ada diatas prinsip yang cepat, efektif, mudah, dan biaya
ringan.
Selain itu, persoalan penyelesaian sengketa pemilu juga
mesti diperbaiki. Mulai dari sengketa non hasil pemilu,
begitu juga dengan sengketa hasil pemilu. Untuk sengketa
non hasil pemilu misalnya, ketentuan di UU 8/2012
membagi dua bentuk penyelsaian sengketa administrasi
pemilu. Pertama, terdapat sengketa administrasi pemilu
yang melibatkan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
Kedua, terdapat sengketa pemilu yang harus diputuskan
oleh Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Padahal, setiap sengketa administrasi pemilu adalah
ranah penyelesaian adminstratif yang bisa dituntaskan di
PTUN. Selain itu, peran Bawaslu yang juga merupakan
sebagai pengawas pemilu disatu sisi, dan sebagai penyelesai
sengketa disisi yang lain, dipandang sebagai fungsi yang
tidak bisa dimainkan secara bersamaan.
Catatan penting juga diberikan kepada pengaturan
mekanisme perselisihan hasil pemilu. Kemapanan proses
penyelesaian perselisihan hasil pemilu di Indonesia yang
diselesaikan oleh Mahkamah Konstitusi, masih cendrung
naik turun dan tidak konsisten. Hal pertama yang perlu
45
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat disorot
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
adalah
proses hukum
acarauntuk
yangmemerintah.
disusun dan
Pandangan
Hamdanoleh
tersebut
berkaitanKonstitusi.
dengan apa yang
dilaksanakan
Mahkamah
Satudisampaikan
hal yang
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
tidak konsisten misalnya, terkait dengan mekanisme
pada Tahun
Pemilu.” pendahuluan.
Yuna menjelaskan
bahwaproses
Politicalpemeriksaan
budget cycles
pemeriksaan
Apakah
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
pendahuluan
masih
membuka
ruang
perbaikan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
permohonan dari para pemohon berdasarkan nasihat
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
yang diberikan oleh majelis hakim ?. Jika dilihat dengan
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
pelaksanaan proses persidangan yang dilaksanakan oleh
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Mahkamah Konstitusi (MK) dalam pengujian undangPemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
undang,
hal tidak
itu dibenarkan.
Tetapi
dipahami
ini, yang
menjadimaka
perhatian
hanya political
budgetperlu
cycles,
melainkan
bahwa,
proses
pemeriksaan
pendahuluan
adalah
ruang
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
untukdengan
memperdengarkan
permohonan yang
Pemilubagi
yangpemohon
telah meningkat
ekstrim.
disampaikan,
kemudian
majelis hakim—yang
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagai satu memeriksa—
kesatuan, tetapi
akan
memberikan
nasihat
terhadap
materi
permohonan
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara
laki-laki dan
yang
disampaikan
untuk
kemudian
diperbaiki
oleh
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah
satu
pemohon.
syarat verifikasi
faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan
partai
politikperselisihan
peserta pemilu
harus
memenuhi
Namun setiap
dalam
proses
hasil
pemilihan
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi ini
patut diperjuangkan,
mengingat
kepala daerah
(Pilkada)
2015,
proses pemeriksaan
praktikpendahuluan
selama ini, pihak
di parlemen
maupun pemerintah
diyang
MK duduk
sama baik
sekali
tidak memberikan
ruang
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
perbaikan permohonan lagi kepada pemohon. Proses yang
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
berbeda dengan perselisihan hasil Pileg dan Pilpres 2014
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
tersebut, telah memperlihatkan bahwa proses penyelesaian
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
perselisihan pemilu di MK tidak konsisten.
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.” Kemudian juga proses dan mekanisme pemeriksaan
saksi
dan bukti
yangtema
dilakukan
olehkeuangan
MK. Pada
proses
Masih
berhubungan
dengan
akuntabilitas
politik,
Didik
Pilegdan
2014,
bukti surat
sekali
tidakTransparansi
diperiksa dan
Supriyanto
Lia alat
Wulandari
dalamsama
tulisan
berjudul
dan
dibukaPengelolaan
di depan persidangan.
Semua
diperiksa di
“dapur”
Akuntabilitas
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
MK,adalah
yang dilakukan
prosespemilu.
ini sedikit
kampanye
salah satu panitera.
hal pentingNamun,
dalam proses
Dana
membaik
ketika
hasil Pilkada
kampanye
diperlukan
olehproses
partai perselisihan
politik dan kandidatnya
untuk2015.
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
46
vi
Meskipun tidak selalu dan berlangsung di seluruh panel,
alat bukti sudah dibuka dan dikonfirmasi kepada para
saksi di depan forum persidangan.
Terakhir, proses perselisihan hasil di MK yang masih
menjadi perdebatan adalah jawaban terkait apakah MK
hanya memeriksa dan mengadili selisih, kebenaran, dan
ketepatan suara ?, atau hanya bisa menguji proses tahapan
pilkada sudah berjalan jujur dan demokratis ?. Hal inilah
yang mesti dijelaskan di dalam suatu system penegakan
hukum pemilu. Tulisan ini akan mencoba menjawab dan
menjelaskan satu persatu persoalan penegakan hukum
pemilu selama ini. Selian itu, tulisan ini menawarkan
desaian baru penyelesaikan perselisihan pemilu.
Pembatasan Masalah
Dalam tulisan ini, dibatasi terhadap lima hal yang
menjadi bagain system penegakan hukum pemilu di
Indonesia,
1. Catatan dan rekomendasi kedepan terkait dengan
penanganan pidana pemilu;
2. Catatan dan rekomendasi kedepan terkait dengan
penanganan pelanggaran administrasi pemilu;
3. Catatan dan rekomendasi kedepan terkait dengan
pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu;
4. Catatan dan rekomendasi kedepan terkait dengan
sengketa non hasil pemilu; dan
5. Catatan dan rekomendasi kedepan terkait dengan
perselisihan hasil pemilu.
47
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Persoalan Berulang Dari Formula
Penegakan Hukum Pemilu
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Terdapat
pokok yang
ingin
dicapai
dengan
pada Tahun
Pemilu.”tiga
Yunahal
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
prinsip
penegakan
hukum
pemilu
berdasar
pada
keadilan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Pertama,
pemilu
mesti menjamin
empirispemilu.
di berbagai
Negara.prinsip
Berbagaikeadilan
variabel yang
mempengaruhi
politcal
setiapperubahan
tindakan,pola
prosedur,
dan keputusan
terkait
budgetbahwa
cycles seperti
pada struktur
anggaran baik
secara
pemilupada
sesuai
dengan Pemilu,
kerangka
hukum.
agregatdengan
maupunproses
secara spesifik
tahun-tahun
terkonfirmasi
dalam Kedua,
praktek Adanya
penganggaran
di Indonesia
berkaitan
dengan siklus
perlindungan
danyang
pemulihan
terhadap
hak
Pemilupilih
2009 warga
ataupunnegara.
menjelang
Pemilumemungkinan
2014. Melihat perkembangan
saat
Ketiga,
warga negara
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
yang meyakini bahwa hak pilih mereka telah dilanggar
political
corruption
cycle atau
siklus korupsi
politik pada
tahun-tahun
untuk
mengajukan
pengaduan,
mengikuti
persidangan,
Pemiludan
yangmendapatkan
telah meningkat
dengan ekstrim.
3
putusan.
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
Sebagaimana sudah dijelaskan pada pembatasan
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
masalah, maka pada bagain ini akan coba menguraikan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
catatan terhadap mekanisme penegakan hukum pemilu
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
yang ada selama ini. Terdapat lima bagian sistem
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
penegakan hukum pemilu yang akan dijelaskan:
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
1. ini,
Catatan
pidana
pemilu
praktik selama
pihak terhadap
yang dudukpenanganan
baik di parlemen
maupun
pemerintah
mayoritas Catatan
diduduki pertama
oleh laki-laki.
Apabila
tidak
diperjuangkan,
hal ini
terhadap ketentuan pidana pemilu
akan berdampak
negatif dari
terhadap
aspirasiyang
perempuan
dalam
adalah dilihat
sisi mandeknya
materi hukum
mengatur
hukumtindak
dan pemerintahan.
Dan kondisi
tersebut
telahmenjadi
ditulis oleh
Nindita
pidana pemilu.
Hal utama
yang
sorotan
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
dalam penanganan pemilu ialah terlalu banyak sanksi
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
pidana yang disebutkan di dalam undang-undang pemilu,
2009.”
tetapi sukar untuk bisa dilaksanakan. Selain sukar untuk
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
dilaksanakan, sanksi dan ketentuan pidana tersebut juga
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
tidak efektif untuk menciptakan dan membangun suatu
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
3 International IDEA, Keadilan Pemilu: Ringkassan Buku Acuan International
kampanye
diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
IDEA, 2010, Jakarta: Indonesia Printer, hlm. 5.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
48
vi
keadilan pemilu.
Misalnya, di dalam setiap ketentuan hukum pidana
pemilu, banyak sekali tindakan-tindakan administratif
dari penyelenggara pemilihan ad hoc, namun diberikan
sanksi pidana. Padahal, tindakan dan kesalahan
administratif tersebut masih sangat mungkin untuk
diperbaiki oleh penyelenggara pada tingkat diatasnya.
Alasan lain, banyaknya ancaman pidana yang diberikan
kepada penyelenggara ad hoc, sedikit banyaknya akan
mempengaruhi kerja partisipasitif yang semestinya
tidak terbebani dengan ancaman pidana—andai terjadi
kesalahan.
Meskipun, persoalan kapasitas dan integritas dari
setiap penyelenggara pemilu merupakan hal yang tidak
bisa ditawar dan dikompromikan. Beberapa pasal yang
ada di Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 Tentang
Pemilihan Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD
Kabupaten/Kota ( UU No. 8/2012) banyak memberikan
sanksi pidana kepada penyelenggara pemilu ditingkat
bawah/ad hoc. Beberapa poin misalnya, ketentuan terkait
dengan perbaikan daftar pemilih. Pasal 274 mengatur;
“Setiap anggota PPS atau PPLN yang dengan sengaja tidak
memperbaiki daftar pemilih sementara setelah mendapat
masukan dari masyarakat dan Peserta Pemilu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 36 ayat (6), Pasal 37 ayat (2),
dan Pasal 43 ayat (5) dipidana dengan pidana kurungan
paling lama 6 (enam) bulan dan denda paling banyak Rp
6.000.000,00 (enam juta rupiah)”.
Jika dilihat konstruksi pasal diatas, maka sanksi
49
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat diberikan
oleh politisi atas
dan pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
tindakan dari
PPS dan
PPLN
yang tidak
Pandangan
Hamdandaftar
tersebutpemilihan,
berkaitan dengan
apa yang
disampaikan
memperbaiki
setelah
mendapatkan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
masukan dari masyarakat dan peserta pemilu. Padahal,
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
perbuatan
yang
diancam
dengan
tindak
pidana
tersebut,
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
sangat
bisa
untuk
dilakukan dan
diperbaiki
oleh
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
penyelenggara pemilu ditingkat atas PPS atau PPSLN.
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Artinya, tidak ideal jika kesalahan administratif yang
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dilakukan oleh penyelenggara pemilihan sangat bisa untuk
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
diperbaiki dan terdapat pengawas pemilu yang melakukan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
pengawasan
pada setiap
tahapan,
maka
tidakcycles,
tepatmelainkan
kiranya
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya
political
budget
kesalahan
penyelenggara
ad pada
hoc tahun-tahun
ini untuk
political
corruptionadministrasi
cycle atau siklus
korupsi politik
sanksi
pidana.
Pemiludiancam
yang telahdengan
meningkat
dengan
ekstrim.
Hal tidak
lain misalnya
terkait pelanggaran
Masyarakat
saja dapat ditafsirkan
sebagai satu pidana
kesatuan,yang
tetapi
ditujukan
kepada
peserta
pemilihan.
Salah
satunya
adalah
juga perlu
dibatasi
mengingat
perbedaan
hakikat
antara
laki-laki
dan
perempuan.
Sepertiyang
halnya
perempuan
sebagai
salahNo.
satu
ketentuan
adaketerwakilan
di dalam Pasal
279 ayat
(1) UU
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
8/2012 yang berbunyi; “Pelaksana kampanye, peserta
2012 menegaskan
partai politik
peserta yang
pemiludengan
harus memenuhi
kampanye, setiap
dan petugas
kampanye
sengaja
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
mengakibatkan terganggunya pelaksanaan Kampanye
praktikPemilu
selama ini,
pihak yang
duduk
di parlemen
maupun pemerintah
di tingkat
desa
ataubaik
nama
lain/kelurahan
dipidana
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
rupiah)”.
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Tujuan
dari pengaturan
yang
ada di dalam
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam pasal
Pemilutersebut
DPR RI
2009.”adalah untuk menciptakan suasana yang kondusif dalam
proses
pelaksanaan
kampanye.
Selain kondusif,
tujuannya
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
keuangan politik,
Didik
adalah
pemilu
tidak
saling
mengganggu
Supriyanto
danagar
Lia antar-peserta
Wulandari dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
dalam melakukan
kampanye
satu sama bahwa
lain. Oleh
Akuntabilitas
Pengelolaan aktivitas
Dana Kampanye,
menguraikan
dana
sebab
itu, tidak
jikapenting
tindakan
mengganggu
tahapan
kampanye
adalah
salah efektif
satu hal
dalam
proses pemilu.
Dana
kampanye
diberikan
pidana
ditingkat
desa/
kampanye
diperlukan
oleh partaisanksi
politik dan
kandidatnya
untuk
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
50
vi
kelurahan diberikan sanksi pidana.
Salah satu tindakan yang bisa memberikan efek jera bagi
para pengganggu jalannya kampanye peserta pemilu lain
adalah sanksi administrasi berupa larangan melaksanakan
kampanye ditempat tersebut. Artinya, siapapun yang
menganggu jalannya kampanye dan itu berasal dari salah
satu peserta pemilu lainnya, maka larangan kampanye bisa
dikeluarkan KPU.
Selain dua hal diatas, salah satu ketentuan yang
perlu untuk disorot adalah defenisi kampanye. Hal ini
disebabkan oleh defenisi kampanye yang mengambang,
sehingga membuat jalannya proses penegakan hukum
menjadi tidak efektif. Merujuk pada Pasal 1 angka 29 UU
No. 8/2012 pengartian kampanye disebutkan; “Kampanye
Pemilu adalah kegiatan Peserta Pemilu untuk meyakinkan
para Pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program
Peserta Pemilu”.
Defenisi yang mengambang tersebut, menjadi
perdebatan tiada henti. Ihwal yang sering diperdebatkan
adalah, apakah unsur kampanye yang ada di dalam pasal
tersebut yang terdiri dari visi, misi, dan program peserta
pemilu harus terkandung secara kumulatif di dalam suatu
perbuatan, baru kemudian itu disebut sebagai kampanye
?. Hal lain yang sering dipertanyakan adalah, apakah
yang dimaksud dengan visi, misi, dan program perserta
pemilu adalah visi, misi, dan program yang diserahkan dan
didaftarkan ke KPU ?.
Defenisi kampanye ini menjadi penting, karena sangat
banyak pembatasan dan pelanggaran pemilu, khususnya
51
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pidana
oleh politisi
dan pemerintah
terpilih untuk
memerintah.
yang
berkaitan yang
langsung
dengan
aktivitas
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
kampanye.
Beberapa
diantaranya
adalah
pelanggaran
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
pidana pemilu dengan perbuatan kampanye di luarAnggaran
jadwal
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
dan kampanye di tempat-tempat yang dilarang.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Kunci untuk bisa menjerat pelaku pelanggaran atas
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
perbuatan sebagaimana disebut diatas, harus dibuktikan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
apakah
yang Pemilu,
dilakukan
adalah
agregatsecara
maupunkuat
secara
spesifikperbuatan
pada tahun-tahun
terkonfirmasi
kampanye diatau
bukan.
kecendrungan
dalam aktivitas
praktek penganggaran
Indonesia
yang Dari
berkaitan
dengan siklus
yang
terjadi
selama
ini,
mulai
dari
Pemilu
Legislatif
dan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan
saat
Pemilu
Presiden
dan
Wakil
Presiden
Pemilihan
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political2014,
budgetserta
cycles,
melainkan
Kepala
Daerah
pemahaman
yang muncul
adalah
political
corruption
cycle2015,
atau siklus
korupsi politik
pada tahun-tahun
Pemilumenyulitkan
yang telah meningkat
ekstrim.
upaya dengan
penegakan
hukum dalam menjerat
pelaku pelanggaran.
Masyarakat
tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perluDalam
dibatasi
mengingat
hakikat
dan
“tungku
tigoperbedaan
sajarangan”
(tigaantara
buah laki-laki
batu yang
perempuan.
Seperti
halnya untuk
keterwakilan
perempuan
sebagai salah
satu
dijadikan
tungku
menampung
berdirinya
periuk
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
dalam memasak dalam bahasa Minangkabau) penegakan
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
hukum pemilu, yang terdiri dari Pengawas Pemilu,
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Kepolisian, dan Kejaksaan, muncul pemahaman bahwa
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
unsur kampanye yang ada di dalam peraturan perundangmayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
undangan harus kumulatif. Artinya, tiga unsur yang terdiri
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
dari visi, misi, dan program harus ada secara bersamaan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
di dalam
suatu
aktivitas
Selain itu, dan
visi,Korupsi:
misi,
Paramastuti
dalam
tulisannya
yangkampanye.
berjudul: “Perempuan
dan program
yang
disangkakan,
bahanDPR
yangRI
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsimestilah
dalam Pemilu
2009.”didaftarkan oleh peserta pemilu kepada KPU. Kondisi
inilah
kemudian
yang
menjadi
catatan
penting
dalam
Masih
berhubungan
dengan
tema
akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
setiap
proses
penegakan
hukum
pemilu.
Supriyanto
dan
Lia Wulandari
dalam
tulisan
berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
dana
Selain
soal ketentuan
materil menguraikan
dari pidanabahwa
pemilu,
kampanye
adalah penanganan
salah satu hal atau
penting
proses pemilu.
Dana
persoalan
caradalam
bagaimana
kemudian
kampanye
diperlukan
politik dan
kandidatnya
dapat
pidana
pemiluoleh
itupartai
ditegakkan
juga
memilikiuntuk
catatan
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
52
vi
tersendiri. Setidaknya ada beberapa catatan penting terkait
dengan hukum acara penanganan pelanggaran pidana
pemilu:
a. Tugas Berlebih di Pengawas Pemilu
Sebagaimana diatur di dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan, baik pemilu legislatif, pemilu
presiden, dan juga pemilihan kepala daerah, baik temuan
maupun laporan dugaan pelanggaran pidana pemilu mesti
dimulai prosesnya di pengawas pemilu. Artinya, apakah itu
suatu perbuatan yang ditemukan pengawas sebagai dugaan
pelanggaran, atau laporan dari masyarkaat, peserta pemilu,
dan pemantau pemilu, mesti diproses terlebih dahulu oleh
pengawas pemilu. 4
Pengawas pemilu yang berhak menentukan apakah
suatu perbuatan terkategori sebagai pelanggaran pidana
pemilu atau tidak. Meskipun di dalam tubuh pengawas
pemilu terdapat forum bersama antara pengawas pemilu,
kepolisian, dan kejaksaan, tetapi karena sekretariatnya
ada di pengawas pemilu, maka perhatian pasti selalu
diarahkan kepada pengawas pemilu. Tidak akan pernah
suatu perbuatan yang diduga sebagai pelanggaran pidana
pemilu sampai kepada Kepolisian, jika tidak didahului
dengam proses yang dilakukan oleh pengawas pemilu.
Dalam batas penalaran yang wajar, hal ini tentu menjadi
catatan penting. Ditambah dengan tugas pokoknya
yang mengawasi seluruh tahapan pemilu, tugas sebagai
4 Veri Junaidi, Firmansyah arifin, dan Fadli Ramadhanil, Evaluasi Penegakan
Hukum Pemilu 2014, 2014, Jakarta: Perkumpulan Untuk Pemilu dan
Demokrasi. Hal. 55
53
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat penerima
oleh politisi dan
pemerintah
yang terpilih
untuktugas
memerintah.
laporan
pelanggaran
adalah
kesekian
Pandangan
Hamdanpengawas
tersebut berkaitan
apa dalam
yang disampaikan
dari lembaga
pemilu.dengan
Bahkan,
konteks
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
Pilkada 2015, tugas pengawas pemilu juga ditambah
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna menjelaskan
bahwa Political
budget
cycles
dengan
penyelesaian
sengketa pencalonan
sampai
kepada
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
pengawas pemilu tingkat kabupaten/kota. Hal ini jelas
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
memberatkan bagi pengawas pemilu.
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
b. Desaian
Kelembagaan
yang TidakPemilu,
Jelas terkonfirmasi
agregat maupun
secara spesifik
pada tahun-tahun
Selain
soal bebanditugas
yangyang
terlalu
banyak,
catatan
dalam praktek
penganggaran
Indonesia
berkaitan
dengan
siklus
Pemilulain
2009adalah
ataupundesain
menjelang
Pemilu 2014.pengawas
Melihat perkembangan
saat
kelembagaan
pemilu yang
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
tidak jelas. apabila dibandingkan dengan tugas, fungsi
political
corruption
cycle ataudalam
siklus korupsi
politik pada
tahun-tahun
dan
kewajibannya
menyelesaikan
pelanggaran
Pemilupidana
yang telah
meningkat
dengan
pemilu.
Salah
satu ekstrim.
yang menjadi perhatian serius
Masyarakat
saja dapat
sebagai
kesatuan,
tetapi
adalah, tidak
meskipun
tidakditafsirkan
disebut jelas
di satu
dalam
peraturan
juga perlu
dibatasi mengingat perbedaan
hakikat
antara laki-laki
dan
perundang-undangan,
tetapi ada
kewajiban
bahwa
perempuan.
Seperti
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai
salah satu
pengawas
pemilu-lah
yang berkewajiban
untuk
memenuhi
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
bukti dari laporan/temuan dari dugaan tindak pidana.
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
Hal ini tentu mengherankan, karena tenaga dan sumber
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
daya manusia yang ada di pengawas pemilu, jelas tidak
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
memadai
untuk
barang
bukti dari suatu
mayoritas
diduduki
oleh mengumpulkan
laki-laki. Apabila tidak
diperjuangkan,
hal ini
dugaan
tindak
pidana.
Selain
itu,
dalam
mengumpulkan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
bukti dugaan
hukumbarang
dan pemerintahan.
Dantindak
kondisipidana,
tersebutjelas
telahmesti
ditulisada
olehupaya
Nindita
paksa
yang
perlu
dimiliki
oleh
suatu
lembaga.
Sekali
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
lagi, pengawas
bukanlah
lembaga
memiliki
Pengalaman
Perempuanpemilu
Menghadapi
Korupsi
dalamyang
Pemilu
DPR RI
2009.”kewenangan untuk melakukan upaya paksa dalam mencari,
memanggil,
dandengan
memenuhi
alat bukti. keuangan politik, Didik
Masih
berhubungan
tema akuntabilitas
Supriyantoc.
danMisunderstanding
Lia Wulandari dalamAntara
tulisan berjudul
Transparansi
dan
Pengawas,
Kepolisian
Akuntabilitas
Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
dan Kejaksaan
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
Ruang sentragakumdu (Sentra Penegakan Hukum
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
54
vi
Terpadu) yang sekretariatnya di kantor pengawas pemilu
merupakan ruang untuk mencapai kesepakatan bersama
dalam menyikapai laporan atau temuan terhadap dugaan
pelanggaran pidana pemilu. Artinya, ruang sentragakumdu
ini sejatinya akan digunakan untuk menyeragamkan
pemahanam antar penegakan hukum dari awal, sehingga
penanganan pelanggaran pidana selanjutnya akan lebih
mudah. Hal ini dapat terwujud, apabila kesepahaman
untuk suatu pelanggaran pidana sudah sama antar penegak
hukum. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ruang
sentragakumdu justru menjadi forum perdebatan dan
ketidaksepahaman dalam menyikapi pelanggaran pidana
pemilu.
Acap kali ditemukan, ketika pengawas pemilu sudah
meyakini suatu perbuatan adalah pelanggaran pidana
pemilu, namun Kepolisian dan Kejaksaan dalam paradigma
yang sangat positifistik mengatakan unsur pelanggaran dari
perbuatan tersebut tidak terpenuhi. Hal inilah kemudian
yang menjadi salah satu penghambat dalam penanganan
pelanggaran pidana pemilu.
2. Catatan Terhadap
Administrasi Pemilu
Penanganan
Pelanggaran
Terhadap penanganan pelanggaran administrasi dalam
pelaksanaan pemilu, terdapat tiga poin penting yang ingin
disampaikan. Pertama, di dalam UU Pileg maupun UU
Pilpres, sama sekali tidak disebutkan secara terperinci
apa yang didefinisikan sebagai pelanggaran administrasi
pemilu. Di dalam UU No. 8 Tahun 2012 Tentang Pemilihan
Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/
55
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat Kota,
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuk memerintah.
Pasal
25 menyebutkan
bahwa;
“Pelanggaran
Pandangan
Hamdanadalah
tersebutpelanggaran
berkaitan dengan
apa yang
disampaikan
administrasi
yang
meliputi
tata
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
cara, prosedur, dan mekanisme yang berkaitan dengan
pada Tahun
Pemilu.” pelaksanaan
Yuna menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
administrasi
pemiliu
dalam
setiap
tahapan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
penyelenggaraan pemiludi luar tindak pidana pemilu dan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu”.
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Namun,
pengertian
berbeda
diberikan
di dalam
UU
agregat maupun
secara
spesifik pada
tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
42 penganggaran
Tahun 2008di Tentang
Presiden
dalam No.
praktek
Indonesia Pemilihan
yang berkaitan
dengan dan
siklus
Wakil
Presiden.
Pasal
191
menyebutkan
“Pelanggaran
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
administrasi
Pemilu
Presiden
dan Wakil
Presiden
adalah
ini, yang
menjadi perhatian
tidak
hanya political
budget
cycles, melainkan
pelanggaran
terhadap
Undang-Undang
ini yang
political
corruption cycle
atau ketentuan
siklus korupsi
politik pada tahun-tahun
Pemilubukan
yang telah
meningkatketentuan
dengan ekstrim.
merupakan
pidana pemilu Presiden dan
Wakil Presiden
terhadap
ketentuan
diatur
di
Masyarakat
tidak sajadan
dapat
ditafsirkan
sebagailain
satuyang
kesatuan,
tetapi
dalam
Peraturan
KPU”.perbedaan hakikat antara laki-laki dan
juga perlu
dibatasi
mengingat
perempuan.
Seperti
halnya yang
keterwakilan
perempuan
sebagai
satu
Dua
defenisi
berbeda
tersebut,
tentusalah
akan
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
menimbulkan kerancuan di dalam proses pelaksanaan
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
penanganan pelanggaran administrasi. Apalagi, sebelum
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
adanya perintah MK untuk melaksanakan pemilu legislatif
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
dan pemilu presiden dan wakil presiden secara serentak,
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
selisih waktu pelaksanaan pileg dan pilpres hanya dalam
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
waktu tiga bulan. Bisa dibayangkan—contoh paling
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
mutakhir
kemudian
jarak
Paramastuti
dalam Pemilu
tulisannya2014—bagaimana
yang berjudul: “Perempuan
dan Korupsi:
pelaksanaan
pilegMenghadapi
dan pilpres
hanyadalam
tiga bulan,
Pengalaman
Perempuan
Korupsi
Pemilu namun
DPR RI
2009.”defenisi pelanggaran administasinya berbeda. Khusus
untuk
defenisi yang
diberikan
di dalamkeuangan
UU No. politik,
42 Tahun
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
Didik
2008dan
Tentang
Pemilihan
dan Wakil
Presiden
Supriyanto
Lia Wulandari
dalamPresiden
tulisan berjudul
Transparansi
dan
adalah Pengelolaan
defenisi yang
sangat
multitafsir,
luas sekali,
Akuntabilitas
Dana
Kampanye,
menguraikan
bahwa dan
dana
sukar
dilaksanakan.
kampanye
adalah
salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanyeKedua,
diperlukanpersoalan
oleh partai politik
dan kandidatnya
untuk dapat
mendasar
dari penanganan
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
56
vi
pelanggaran administrasi adalah tidak pernah jelasnya
sanksi yang akan diberikan apabila terbutki suatu
pelanggaran adalah pelanggaran administrasi. Baik di
dalam UU Pileg dan UU Pilpres, tidak disebutkan secara
jelas jenis dan bentuk sanksi dalam sautu pelanggaran
administrasi.
Ketiga, adalah terkait dengan pelanggaran administrasi.
Hampir sama dengan pelanggaran pidana, pelanggaran
administrasi mesti dilaporkan terlebih dahulu kepada
pengawas pemilu baru kemudian diteruskan ke KPU untuk
ditindaklanjuti. Oleh sebab itu, efektifitas dan efesiensi
dari penanganan pelanggaran administrasi dipandang
tidak baik, karena proses yang panjang yang mestinya
dipersingkat.
3. Catatan Terhadap Penanganan Pelanggaran Kode
Etik Penyelenggara Pemilu
Bagian ketiga dari penanganan pelanggaran pemilu
adalah pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu.
Pelanggaran ini bersifat khusus dan hanya diberlakukan
kepada penyelenggara pemilu. Terhadap hal ini, terdapat
dua catatan penting yang perlu diperhatikan. Pertama,
proses yang ada di Dewan Kehormatan Penyelenggara
Pemilu (DKPP), forum yang mengadili pelanggaran kode
etik penyelenggara pemilu, mesti dipastikan hanya akan
mengadili pelanggaran kode etik an sich.
Proses di DKPP tidak diperbolehkan masuk ke ranah
administrasi pemilu. Ini menjadi catatan, karena terjadi
beberapa kali di proses persidangan di DKPP. Berdasarkan
pengalaman pemilu sebelumnya, kasus pencalonan salah
57
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat satu
oleh politisi
pemerintah
terpilih
untuk
memerintah.
calon dan
Gubernur
di yang
Provinsi
Jawa
Timur,
Khofifah
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan
dengan
apa yang yang
disampaikan
Indarparawansa
menjadi
contoh
kejadian
pas
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
dengan kondisi ini. Dimana, Khofifah yang awalnya
pada Tahun
Pemilu.”tidak
Yuna memenuhi
menjelaskan syarat
bahwa Political
budget
cycles
dinyatakan
pencalonan
dalam
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
penyelenggaraan Pemilihan Gubernur Jawa Timur Tahun
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
2013, diperintahkan DKPP untuk dinyatakan memenuhi
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
syarat dan dapat menjadi calon Gubernur Provinsi Jawa
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Timur. Hal ini tentu berpotensi akan menciptakan tumpang
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
tindih putusan peradilan dalam proses penegakan hukum
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
pemilu.
dengan
keputusan
administratif
ini, yang
menjadiKarena,
perhatianterkait
tidak hanya
political
budget cycles,
melainkan
seorang
bakal
calon
kepala
daerah
memenuhi
syarat
atau
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
memunhi
syarat,
bukan
lembaga DKPP yang berhak
Pemilutidak
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
menyatakan
Masyarakat
tidak hal
sajatersebut.
dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
pengadilan
administrasi
negaraantara
yang laki-laki
memiliki
juga perluAda
dibatasi
mengingat
perbedaan hakikat
dan
perempuan.
Seperti halnya
perempuan
sebagai salah
satu
kewenangan
untuk keterwakilan
memutuskan,
apakah keputusan
KPU
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
daerah yang menyatakan seorang bakal calon kepala
2012 menegaskan
setiap
partai politik
peserta
pemilu
daerah tidak
memenuhi
syarat
sudah
tepatharus
ataumemenuhi
belum.
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
Oleh sebab itu, DKPP mesti fokus dalam memutus dugaan
praktikpelanggaran
selama ini, pihak
yang
duduk
baikmasuk
di parlemen
maupun
pemerintah
kode
etik,
tanpa
ke ranah
administrasi
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
pemilu.
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Kedua, makna “penyelenggara pemilu” yang akan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
diputus
dugaan
pelanggaran
kode etiknya
oleh DKPP
perlu
Paramastuti
dalam
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
disederhanakan.
artian,Korupsi
tidak semua
Pengalaman
Perempuan Dalam
Menghadapi
dalam penyelenggara
Pemilu DPR RI
2009.”pemilu bisa diperiksa ditingkat DKPP. Selama ini yang
terjadi,
KPPS-pun
sebagai
pemilupolitik,
ditingkat
Masih
berhubungan
dengan
temapenyelenggara
akuntabilitas keuangan
Didik
bawah
diperiksa dalam
di DKPP.
ini tentu
membuat
Supriyanto
danjuga
Lia Wulandari
tulisanHal
berjudul
Transparansi
dan
perkaraPengelolaan
di DKPP menjadi
sangat banyak,
dan proses
Akuntabilitas
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwachek
dana
and adalah
balances
di tubuh
internal
penyelenggara
kampanye
salah
satu hal
penting
dalam prosespemilu
pemilu.yang
Dana
bersifat
hierarkis
berjalan.
kampanye
diperlukan
olehtidak
partai
politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
58
vi
4. Catatan Terhadap Proses Sengketa Administrasi
Pemilu
Terhadap proses sengketa admnistrasi pemilu, hal
pertama yang perlu untuk dirapihkan adalah prihal
nomenklatur terhadap proses ini. Terdapat beberapa
peristilahan yang muncul di beberapa peraturan
perundang-undangan. Misalnya sengketa pemilu, sengketa
administrasi pemilu, sengketa tata usaha negara pemilu,
sengketa pemilihan, dan sengketa pencalonan.
Istilah sengketa pemilu muncul pada proses pemilu
legislatif. Sementara untuk sengketa tata usaha negara
pemilu muncul di dalam proses sengketa pemilihan kepala
daerah dan juga muncul di proses pemilu legislatif.
Dalam faktanya, baik sengketa pemilu, sengketa
tata usaha negara pemilu, maupun sengketa pemilihan,
berangkat dari satu sebab yang sama: ketidakpuasaan bakal
calon peserta pemilu terhadap keputusan KPU sebagai
penyelenggara pemilu. Pada posisi ini, dapat ditarik satu
benang merah persoalan, bahwa yang akan dipersoalkan
adalah keputusan tata usaha negara yang dikeluarkan oleh
KPU.
Oleh sebab itu, karena yang akan disengketakan
dan dipersoalkan adalah keputusan tata usaha negara
dari pejabat tata usaha negara dalam hal ini KPU, maka
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
(UU Pengadilan Tata Usaha Negara), maka permohonan
sengketa mesti diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara.
Hal inilah kemudian menjadi catatan penting dalam proses
sengketa pemilu, sengketa tata usaha negara, dan juga
59
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat sengketa
oleh politisi
dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
pemilihan.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
5. Catatan Terhadap Proses Sengketa Perselisihan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Hasil Pemilu
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Jika fenomena
hendak universal
berbicaradidukung
terkait dengan
dengan
catatan
sudah menjadi
berbagai
studi
hasil pemilu
Mahkamah
Konstitusi (MK),
empirisperselisihan
di berbagai Negara.
Berbagaidi
variabel
yang mempengaruhi
politcal
catatan yang
bisa struktur
disampaikan.
Mulai
dari
budgettentu
cycles banyak
seperti perubahan
pola pada
anggaran
baik secara
MK,
legal pada
standing
pemohon,
sampai
kepada
agregatkewenangan
maupun secara
spesifik
tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
acara MK. Pada
bagianyang
ini berkaitan
akan disampaikan
dalam hukum
praktek penganggaran
di Indonesia
dengan siklus
Pemilubeberapa
2009 ataupun
Pemilucatatan
2014. Melihat
perkembangan
saat
hal menjelang
terkait dengan
penting
pada proses
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
perselisihan hasil pemilu di MK.
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pertama, terkait dengan kewenangan MK dalam
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
menyelesaikan
sengketa
pilkada.
Perdebatan
ini
Masyarakat
saja dapat kepada
ditafsirkan
sebagai satu
kesatuan,
tetapi
khusus tidak
ditunjukkan
pilkada,
karena
memang
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
hal ini yang sekarang menjadi titik krusial yang masih
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
diperdebatkan. Pada satu sisi, jika dilihat ketersediaan
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
supporting peradilan, kemapanan lembaga, dan jaminan
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
independensi lembaga, MK adalah lembaga paling ideal
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
untuk menyelesaikan sengketa pilkada.
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
yang lain,
terdapat
MK No.hal
97/ini
mayoritas Namun
didudukipada
olehsisi
laki-laki.
Apabila
tidakputusan
diperjuangkan,
PUU-XIII/2013
yang menyebutkan
pilkadaperempuan
bukanla rezim
akan berdampak
negatif terhadap
mandeknya aspirasi
dalam
hukumpemilu,
dan pemerintahan.
Dan kondisi
telah ditulis
oleh Nindita
sehingga MK
tak lagitersebut
berwenang
menyelesaikan
Paramastuti
dalampilkada.
tulisannya
berjudul: “Perempuan
dan Korupsi:
sengketa
Iniyang
perdebatan
penting yang
harus
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR
diselesaikan. Paling tidak, logika pilkada bukan pemiluRI
2009.”tentu sangat bisa dimentahkan. Ketika asas, prinsip, dan
Masih
berhubungan dengan
tema
akuntabilitas
keuangan
politik, Didik
penyelenggaranya
sama,
tentu
sangat mudah
mengatakan
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
bahwa pilkada tentu adalah salah satu jenis pemilihan yang
Akuntabilitas
Danapemilu.
Kampanye, menguraikan bahwa dana
masuk Pengelolaan
ke dalam rezim
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
Hanya saja, benturan hebat tentu mesti dijawab ketika
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
60
vi
diperhadapkan pada putusan MK yang menyatakan
sebaliknya. Bukankah putusan pengadilan adalah salah
satu sumber hukum yang mesti ditaati dan dilaksanakan?
Kedua, terkait dengan legal standing orang yang bisa
mengajukan permohonan perselisihan hasil pemilu ke MK.
Titik persoala yang mesti dijawab pada persoalan ini adalah
legal standing untuk perseorangan calon anggota legislatif,
apakah mereka betul-betul memiliki legal standing untuk
mengajukan permohonan ke MK. Sebagai konsekuensi dari
formula penentuan calon terpilih dalam pemilu legislatif
dengan cara suara terbanyak, maka sudah menjadi hal
yang mesti perseorangan calon anggota legislatif memiliki
legal standing untuk mengajukan permohonan.
Ketentuan ini yang masih belum ada. Kepastian hukum
terkait dengan calon perseorangan dapat mengajukan
permohonan perselisihan hasil pilkada ke MK mesti diatur
eksplisit. Hal ketiga, terkait dengan hukum acara MK.
Dalam forum persidangan di MK yang hendak menemukan
keadilan materil, maka mesti dibuka kesempatan sebebasbebasnya kepada para pihak untuk membuka dalil. Hal lain
adalah seluruh alat bukti yang diajukan dan sesuai dengan
dalil, maka mesti dibuka di depan persidangan.
Pembaharuan Konsep Penegakan Hukum Pemilu
Berdasarkan catatan yang sudah diuraikan diatas, maka
pada bagian ini akan coba mengusulkan rekomendasi
kedepan terkait dengan konsep penegakan hukum pemilu
kedepan;
61
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh1.
politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuk memerintah.
Rekomendasi
Terkait
Penanganan
Pelanggaran
Pandangan
Pidana Hamdan
Pemilu tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Dalam penanganan pelanggaran pidana pemilu, perlu
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
dilakukan perbaikan pada dua segmentasi. Pertama, dari
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
segi hukum materil hukum pidana pemilu. Desain hukum
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
pidana pemilu kedepan, perlu mengurangi ketentuan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
yang
teralu
banyak
diberikan
kepada
penyelenggara
agregatpidana
maupun
secara
spesifik
pada
tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
pemilu.
Pada
bagian
ini,
perlu
dibatasi
dengan
beberapa
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan
siklus
indikator.
Misalnya,
jika
perbuatan
yang
dilakukan
adalah
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
tindak
pidana
yangtidak
diatur
di political
dalam KUHP,
tindakmelainkan
pidana
ini, yang
menjadi
perhatian
hanya
budget cycles,
korupsi,
dancycle
politik
uang, korupsi
maka politik
sanksipada
pidana
tetap
political
corruption
atau siklus
tahun-tahun
Pemiludipertahankan.
yang telah meningkat dengan ekstrim.
Masyarakat
tidak saja
dapat perbuatan
ditafsirkan sebagai
kesatuan,
tetapi
Namun,
untuk
yang satumasih
dapat
juga perlu
dibatasilangsung
mengingat
perbedaan
hakikat antara
dan
diperbaiki
oleh
penyelenggara
pemilulaki-laki
ditingkat
perempuan.
Seperti
halnya
keterwakilan
sebagai
salah satu
atasnya,
maka
sanksi
pidana perempuan
perlu untuk
dihilangkan.
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
Penghilangan sanksi pidana ini mesti diganti dengan
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
pemberian sanksi administrasi yang jelas dan terukur.
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Disamping itu, pembenahan pada sektor ini, mesti diiringi
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
dengan pembenahan dari rekruitmen penyelenggara
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
pemilu, dengan titik tekan yang mesti dipenuhi adalah soal
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
integritas dan kapasitas.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Kedua,
degan
penanganan
pelanggaran
Paramastuti
dalam terkait
tulisannya
yang pola
berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
pidanaPerempuan
pemilu, atau
dalam Korupsi
bahasa dalam
lain terkait
Pengalaman
Menghadapi
Pemilu hukum
DPR RI
2009.”acara penanganan pelanggaran pidana pemilu. Proses
penanganan
pidana pemilu
mesti
lebih
Masih
berhubunganpelanggaran
dengan tema akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
efektif.
satu langkah
yang berjudul
perlu diambil
adalah
Supriyanto
dan Salah
Lia Wulandari
dalam tulisan
Transparansi
dan
Akuntabilitas
Dana Kampanye,
menguraikan
dana
temuanPengelolaan
dan pelaporan
pelanggaran
pidanabahwa
pemilu
kampanye
adalahsaja
salahKepolisian.
satu hal penting
dalam
proses
Dana
langsung
Artinya,
peran
daripemilu.
pengawas
kampanye
diperlukan
partai politik
dan tindak
kandidatnya
untuk
dapat
pemilu
dalam oleh
menerima
laporan
pidana
pemilu
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
62
vi
mesti dihilangkan. Kedepan, laporan tindak pidana
pemilu mesti langsung ke Kepolisian. Kepolisian-lah yang
langsung bertanggungjawan melakukan penyelidikan dan
penyidikan terhadap tindak pidana pemilu.
Selain lembaga Kepolisian adalah yang paling relevan
dalam pelanggaran pidana pemilu, Kepolisian adalah
lembaga yang memiliki kewenagan pro justicia dan
upaya paksa dalam mengungkap pelanggaran pidana
pemilu. Selain itu, perbaikan ini perlu beriringan dengan
pembentukan desk khusus penanganan pelanggaran
pidana pemilu selama tahapan pemilu dan limitasi waktu
khusus dalam penanganan pelanggaran pidana pemilu,
tanpa secara otomatis membuat dugaan pelanggaran
tersebut menjadi kadaluarsa jika waktu tersebut telah
lewat.
2. Rekomendasi Terkait Penanganan Pelanggaran
Administrasi Pemilu
Terkait dengan penanganan pelanggaran administrasi
pemilu, juga mesti mencakup pada dua hal. Pertama, perlu
defenisi ulang terkait dengan pelanggaran administrasi
pemilu. Defenisi yang ada di dalam UU No. 8 Tahun
2012 sudah cukup baik. Hanya saja perlu diturunkan
secara terperinci, perbuatan apa yang dikategorikan
sebagai pelanggaran administrasi pemilu. Selain bentuk
perbuatan, jenis sanksi administasi pemilu perlu
ditentukan. Lazimnya, sanksi administrasi bisa diberikan
dalam bentuk peringatan tertulis, peringatan keras, sampai
kepada pemecatan, atau pembatalan sebagai peserta
pemilu. Rumusan inilah kemudian yang perlu dirapihkan.
63
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat olehKategorinya
politisi dan pemerintah
yang
bisa terbagi
keterpilih
dalamuntuk
dua memerintah.
bagian. Sanksi
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan
apa yang disampaikan
administrasi
untuk
peserta
pemilu,
penyelenggara
pemilu,
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
termasuk kepada pemilih. Kedua terkait dengan
cara
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
penanganan pelanggaran administrasi. Hampir sama
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
dengan penanganan pelanggaran administrasi pemilu,
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
efektifitas dari penanganan pelanggaran administrasi
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
pemilu perlu disederhanakan. Salah satu cara yang
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
mesti dilakukan adalah tidak perlu lagi mesti dimulai
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
dari pengawas pemilu. Tetapi, setiap pelanggaran
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
administrasi
pemilu
ditujukan
kepada
KPU
ini, yang
menjadi perhatian
tidaklangsung
hanya political
budget cycles,
melainkan
untuk
ditindaklanjuti.
political
corruption
cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang
telah
meningkat dengan
ekstrim.
3.
Rekomendasi
Terkait
Penanganan Pelanggaran
Kode Etik
Penyelenggara
Pemilu sebagai satu kesatuan, tetapi
Masyarakat
tidak
saja dapat ditafsirkan
juga perluBerdasarkan
dibatasi mengingat
laki-laki
dan
pada perbedaan
catatan hakikat
yang antara
diuraikan
pada
perempuan.
Seperti
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai
salahetik
satu
bagian
sebelumnya,
penanganan
pelanggaran
kode
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
penyelenggara pemilu perlu melakukan perbaikan pada
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
beberapa hal. Pertama, mesti ada penegasan dan limitasi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
dari putusan DKPP, bahwa yang akan diadili dan diputus
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
oleh lembaga ini adalah dugaan pelanggaran kode etik
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
penyelenggara pemilu.
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
DKPP
mesti memastikan
bahwatelah
mereka
bisa
hukum dan
pemerintahan.
Dan kondisi tersebut
ditulistidak
oleh Nindita
masukdalam
ke ranah
administrasi
pemilu,“Perempuan
karena peran
juga
Paramastuti
tulisannya
yang berjudul:
danitu
Korupsi:
dimainkan
oleh lembaga
peradilan
lain,
yakni
Pengadilan
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR RI
2009.”Tata Usaha Negara (PTUN). Terkait denga rumusan
pelanggaran
menjadi
pedoman
Masih
berhubungankode
denganetik
temayang
akuntabilitas
keuangan
politik,oleh
Didik
penyelenggara
pemilu,dalam
mesti
melibatkan
banyak pihak
Supriyanto
dan Lia Wulandari
tulisan
berjudul Transparansi
dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Kampanye,
menguraikan
dana
lagi, seperti
partaiDana
politik
dan peserta
pemilu. bahwa
Sehingga,
kampanye
adalahkode
salahetik
satuyang
hal penting
dalam
proses pemilu.
Dana
landasan
mengikat
penyelenggara
pemilu
kampanye
olehpemikiran
partai politikyang
dan kandidatnya
dapat
lahirdiperlukan
dari butir
berasal dariuntuk
banyak
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
64
vi
perspektif.
Kedua, terkait dengan tingkatan penyelenggara pemilu
yang bisa diproses oleh DKPP. Kedepan, penyelenggara
pemilu yang akan diproses dan disidangkan oleh DKPP
cukup hanya penyelenggara pemilu ditingkat pusat saja.
Dalam artian, komisoner KPU dan Bawaslu pusat saja
yang dapat diproses dan disidangkan oleh DKPP. Untuk
penyelenggara pemilu dibawahnya, mekanisme penegakan
kode etik berjalan sesuai dengan tingkatan penyelenggara
pemilu. Artinya, jika pelanggaran kode etik dilakukan
oleh KPPS, PPS, dan PPK, maka yang akan melakukan
penegakan kode etik adalah KPU Kabupaten/Kota.
selanjutnya, jika yang melakukan pelanggaran kode etik
adalah KPU Kabupaten/Kota, maka yang memeriksa dan
memutus pelanggaran kode etiknya adalah KPU Provinsi.
Untuk KPU Provinsi, yang memeriksa dan memutus
pelanggaran kode etiknya adalah KPU RI.
Untuk KPU RI barulah kemudian DKPP yang memiliki
kewenangan untuk memeriksa. Terkait dengan mekenisme
pemeriksaan, untuk memperkuat independensi, sangat
terbuka kemungkinan internal KPU untuk mengajak
ihak eksternal yang memiliki kapasitas dan integritas
untuk memeriksa. Desian ini bertujuan agar mekanisme
penjagaan kode etik internal ditubuh penyelenggara pemilu
juga berjalan. Meknisme yang sama juga diharapkan pada
tubuh Bawaslu.
4.Rekomendasi Perbaikan
Pelanggaran Administrasi Pemilu
Untuk
Penanganan
65
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat olehTerkait
politisi dan
pemerintah
yang terpilih
untuk memerintah.
dengan
mekanisme
sengketa
administrasi
Pandangan
tersebut
berkaitan
yang disampaikan
pemilu,Hamdan
maka hal
pertama
yangdengan
mestiapa
dilakukan
adalah
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
menjadikan proses sengketa dibawah satu nomenklatur
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna menjelaskan
bahwa
Political
saja, yakni
sengketa
administrasi
pemilu.
Jadi,budget
siapa cycles
saja
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
yang merasa keberatan dan ingin menggugat keputusan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
KPU, maka prosesnya disatu pintu pengadilan tata usaha
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
negara saja. Prosedur dan hukum acaranya bisa disamakan
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dengan sengketa tata usaha negara biasa. Hanya saja, hal
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
yang perlu diatur teknis adalah waktu penyelesaian yang
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
perlu
diatur
rigid,tidak
sehingga
tidak mengganggu
ini, yang
menjadi
perhatian
hanya political
budget cycles, tahapan
melainkan
pemilu.
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang
telah meningkat
dengan
ekstrim. kasasi ke Mahkamah
Putusan
PTUN dapat
dilakukan
Agung, tidak
dan saja
putusannya
bersifat
finalsatu
dan
mengikat.
Masyarakat
dapat ditafsirkan
sebagai
kesatuan,
tetapi
Tantangan
terhadap
proses hakikat
ini adalah
memastikan
juga perlu
dibatasi lain
mengingat
perbedaan
antara
laki-laki dan
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
perempuankepemiluan
sebagai salahdari
satu
peningkatan
kapasitas
dan perspektif
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
hakim PTUN, dibawah koordinasi kamar tata usaha negara
2012 menegaskan
setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
MA.
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
5. Rekomendasi Terhadap Proses Perselisihan Hasil
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Pemilu
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Untuk negatif
prosesterhadap
perselisihan
hasil aspirasi
pemiluperempuan
di MK, perlu
akan berdampak
mandeknya
dalam
diberikan
beberapa
rekomendasi
kedepan.
Pertama,
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
perdebatan
terkait apakah
MK berwenang
menyelesaikan
Paramastuti
dalam tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
perselisihan
hasil Menghadapi
pilkada atauKorupsi
tidak perlu
diselesaikan.
HalRI
Pengalaman
Perempuan
dalam
Pemilu DPR
2009.”ini tentu mesti dimulai dengan memberikan penjelasan
danberhubungan
pengaturandengan
hukum
terkait
dengankeuangan
pemilihan
kepala
Masih
tema
akuntabilitas
politik,
Didik
daerah
dari pemilu.
yang
Supriyanto
dan merupakan
Lia Wulandaribagian
dalam tulisan
berjudul Peranan
Transparansi
dan
Akuntabilitas
Kampanye,
bahwa dana
segara Pengelolaan
diharapkanDana
untuk
hal inimenguraikan
adalah pengaturan
kampanye
adalah
salah
satu hal oleh
penting
dalam
pemilu. Jika
Dana
legislasi
yang
dilakukan
DPR
dan proses
pemerintah.
kampanye
diperlukan
olehpenafsiran
partai politik
dan kandidatnya
untuk dapat
perlu,
melakukan
kembali
ke MK.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
66
vi
Kedua,terkait dengan kejelasan legal standing dari
perseorangan calon anggota legislatif perlu diatur eksplisit
di dalam peraturan perundang-undangan. Ketiga, terkait
dengan kepastian hukum acara MK dalam mengadili
perselisihan hasil pemilu, perlu diperbaiki dan disesuaikan
dengan perkembangan dan kebutuhan system pemilu. Jika
perlu, hukum acara MK diatur dalam peraturan perundangundangan setingkat undang-undang.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Terdapat persoalan secara meteril dan formil dari
penanganan pelanggaran pidana pemilu. Oleh sebab itu,
pembenahan dan pengelompokan kembali pelanggaran
pidana pemilu dan memperbaiki mekanisme penangannya
perlu dilakukan;
2. Untuk pelanggaran administrasi, perlu diberikan
defenisi yang lebih jelas, seperti perincian bentuk sanksi
dan perbuatan yang akan diberikan sanksi administrasi.
Selain itu, terkait dengan mekanisme penanganan
pelanggarannya, dilakukan langsung oleh KPU;
3. Untuk pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu,
perlu diberikan pembatasan bahwa DKPP tidak bisa
masuk ke ranah administrasi pemilu, dan penyelenggara
pemilu yang diproses oleh DKPP adalah KPU dan
Bawaslu RI saja. Untuk penyelenggara dibawahnya akan
diperiksa dan diproses oleh masing-masing lembaga yang
67
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat setingkat
oleh politisidiatasnya,
dan pemerintah
yang
terpilihhierarki
untuk memerintah.
sesuai
dengan
kelembagaan
Pandangan
Hamdanpemilu;
tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
penyelenggara
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
4.Untuk sengketa administrasi pemilu, perlu
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
pengertian yang satu saja, yakni sengketa administrasi
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
pemilu. Untuk penangannya, diberikan kepada PTUN,
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
dengan ruang upaya hukum diberikan kepada MA;
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
5. Untuk
hasil pemilu,
perlu
segera
agregat maupun
secara perselisihan
spesifik pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
bahwa pilkada
adalah bagian
dari rezim
pemilu,
dalam dipastikan
praktek penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan
siklus
Pemilukejelasan
2009 ataupun
menjelang
Pemilu
2014. Melihat
perkembangan
saat
legal
standing
kepada
perseorangan
calon
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
anggota legislatif dan pembenahan hukum acara MK.
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Daftar Pustaka
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan hakikat antara laki-laki dan
Peraturan
Perundang-Undangan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Pemilihan
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD
2012 menegaskan
setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
Kabupaten/Kota
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang
praktik selama
ini, pihakPresiden
yang duduk
baik
di parlemen
maupun pemerintah
Pemilihan
dan
Wakil
Presiden
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 Tentang
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun
hukum dan2014
pemerintahan.
kondisi tersebut
telahPemerintah
ditulis oleh Nindita
Tentang Dan
Pengesahan
Peraturan
ParamastutiPengganti
dalam tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
Korupsi:
Undang-Undang
Nomor
1 Tahun dan
2014
PengalamanTentang
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR RI
Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota.
2009.”
Buku
Masih
berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
International IDEA, Keadilan Pemilu: Ringkassan Buku
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
Acuan
International
IDEA, 2010,
Jakarta: Indonesia
kampanye Printer,
adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
Topo Santoso dkk, Penegakann Hukum Pemilu; Praktik
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
68
vi
Pemilu 2004, 2011, Jakarta: Perkumpulan Untuk
Pemilu dan Demokrasi (Perludem)
Veri Junaidi, Firmansyah arifin, dan Fadli Ramadhanil,
Evaluasi Penegakan Hukum Pemilu 2014, 2014, Jakarta:
Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi.
69
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
PENGAWASAN PEMILU
POLITIK UANG DAN DANA
empirisKAMPANYE
di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Indonesia Corruption Watch
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang
telah meningkat
dengan ekstrim.
Pelaporan
dana kampanye
terus menjadi permasalahan
Abstrak
setiap kali
Setidaknya
lima
isu dalam
Masyarakat
tidakpemilu.
saja dapat
ditafsirkanterdapat
sebagai satu
kesatuan,
tetapi
juga perlu
dibatasidana
mengingat
perbedaan
antara manipulasi
laki-laki dan
pelaporan
kampanye:
aspekhakikat
kepatuhan,
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai
salah satu
pendapatan,
manipulasi
pencatatan
belanja,
ketepatan
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
waktu pelaporan, dan audit. Agar permasalahan pelaporan
2012 menegaskan
setiap partai
peserta pemilu
harus memenuhi
dana kampanye
tidak politik
terus berulang
diperlukan
sebuah
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
badan khusus untuk menangani masalah tersebut. Dalam
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
konteks ini Bawsalu dapat diperkuat perannya menjadi
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
lembaga pemeriksa dana politik dan dana pemilu.
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Kata
kunci: Dana
kampanye,
pengawasan
hukum dan
pemerintahan.
Dan kondisi
tersebut
telah dituliskampanye,
oleh Nindita
politik
uang
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Pengantar
Masih berhubungan
dengan temapolitik
akuntabilitas
keuangan
politik, Didik
Persoalan menyangkut
uang dan
dana kampanye
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
seolah permasalah rutin yang selalu muncul dari setiap
Akuntabilitas
Dana tetapi,
Kampanye,
menguraikan
dana
pemiluPengelolaan
ke pemilu. Akan
permasalahan
ini bahwa
seringkali
kampanye
salah satu attensi
hal penting
dalam penyelesaian
proses pemilu.yang
Dana
tidakadalah
mendapatkan
dan porsi
kampanye
diperlukan
oleh partai
kandidatnya
dapat
tuntas.
Maraknya
politikpolitik
uangdan
yang
semakinuntuk
terbuka
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
70
vi
dilakukan seolah tidak tersentuh oleh hukum. Pada saat
yang sama, persoalan dana kampanye seolah dianggap
pekerjaan kelas dua yang seringkali tidak dianggap urgen.
Padahal kedua hal tersebut merupakan aspek sangat
subtantif dalam menentukan kualitas pemilu itu sendiri.
Dalam pemilu, politik dan uang merupakan pasangan tak
terpisahkan. Uang penting untuk membiayai kampanye,
karena kampanye berpengaruh pada hasil pemilu.
Kampanye tidak akan berjalan tanpa uang, meski uang
tidak merupakan faktor satu-satunya untuk memperoleh
keberhasilan.
Dalam sistem politik yang tidak demokratis, korupsi
politik akan tumbuh subur dan menjadi tabiat kebanyakan
politisi. Sama halnya dalam partai yang tidak ”sehat”,
mereka akan mencari sumber-sumber pendanaan instan
untuk menjalankan mesin politik, salah satunya melalui
korupsi uang negara atau melalui cara instan yang lain,
seperti yang marak belakangan ini dengan menarik
kekuatan pemodal (baca: pengusaha) ke dalam kongsi
partai.
Menurut Marcin Walecki, masalah utama dalam korupsi
pemilu berkaitan dengan masalah keuangan atau dalam
hal ini pengumpulan modal pemenangan. Secara umum,
pendanaan politik yang korup dikumpulkan kandidat atau
partai, dimana mereka melakukan operasi. Nassmacher1
menambahkan bahwa uang mempengaruhi kompetisi
politik dan menjadi sumber daya utama bagi politisi yang
1 Nassmacher, Karl-Heinz. Foundation for Democracy, Approaches to
Comparative Political Finance, Nomos Verlagsgesellschaft, Baden-Baden, 2001
71
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat ingin
oleh politisi
dan pemerintah
yang
terpilih untuk memerintah.
memenangkan
atau
mempertahankan
kekuasaan.
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
Uang dapat
diubah
menjadi
banyak
sumber
daya,
seperti;
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
membeli barang-barang, keterampilan, dan pelayanan.
pada Tahun
Yuna
bahwa Political
budget cycles
SelainPemilu.”
itu, uang
punmenjelaskan
dapat digunakan
untuk bertransaksi
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
langsung dengan pemilih dalam bentuk politik uang.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Sebagai contoh incumbent menggunakan sumber daya
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
untuk
memberi
dan pekerjaan,
agregatpublik
maupun
secara
spesifik kontrak
pada tahun-tahun
Pemilu,mengontrol
terkonfirmasi
informasi,
dan
membuat
keputusan.
Uang
memperkuat
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
politik
bagi mereka
memilikinya
atau mereka
Pemilupengaruh
2009 ataupun
menjelang
Pemiluyang
2014.
Melihat perkembangan
saat
yang
memiliki
wewenang
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak hanyauntuk
politicalmendistribusikannya.
budget cycles, melainkan
Pada
sisi lain
hambatan
dapatpada
menghalangi
political
corruption
cycle
atau sikluskeuangan
korupsi politik
tahun-tahun
Pemiluindividu
yang telahdan
meningkat
ekstrim.
partaidengan
politik
dalam mendapatkan akses
kekuasaan,
untuk keuntungan
politik,
Masyarakat
tidakkeuangan
saja dapat ditafsirkan
sebagai satupartai
kesatuan,
tetapi
kelompok
atau kandidat
cara tidak
juga perlu
dibatasikepentingan,
mengingat perbedaan
hakikatdengan
antara laki-laki
dan
2
perempuan.
halnya
keterwakilan perempuan sebagai salah satu
benarSeperti
atau tidak
sah.
syarat verifikasi
faktual
untuk
pemilu.
UU No. adalah
8 Tahun
Menurut Open menjadi
Society,peserta
korupsi
pemilu
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
praktek pendanaan kampanye, baik penerimaan maupun
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
pengeluaran yang menciptakan hubungan koruptif
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
antara penyumbang dan partai politik atau kandidat yang
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
didukungnya maupun pola perilaku koruptif yang terjadi
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
antara peserta pemilu dan voters.3
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Dari
penjelasan
secara “Perempuan
umum terdapat
tiga
Paramastuti
dalam
tulisannyadiatas,
yang berjudul:
dan Korupsi:
bentukPerempuan
korupsi pemilu,
yaitu: Korupsi dalam Pemilu DPR RI
Pengalaman
Menghadapi
2009.” a. Manipulasi Pengumpulan dan Pencatatan
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
2 Walecki, Marcin, 2003. Political Money and Political Corruption:
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana
Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
Considerations
for Nigeria.
International
Foundation
for Election Systems
(ifes)
inec-civil
society
forum
seminar
on
agenda
for
electoral
reform
27 – 28Dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu.
november 2003 abuja, nigeria
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
3 Ade Irawan dkk. Panduan Pemantauan Korupsi Pemilu. ICW 2014. Hlm 9
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
72
vi
Dana Kampanye. Partai politik atau kandidat menerima
donasi dari sumber-sumber yang dilarang oleh aturan,
seperti; sumbangan melebihi batas maksimal, bersumber
dari hasil korupsi atau kejahatan, dan penyumbang tidak
jelas.
b. Penyalahgunaan Sumber Dana dan Daya
Negara. Partai politik atau kandidat menyalahgunakan
sumber dana dan daya negara/publik untuk kepentingan
pemenangan mereka.
c. Politik Uang. Partai, kandidat, tim sukses,
memberikan/menjanjikan uang atau barang kepada
pemilih atau penyelenggara pemilihan dalam rangka
memenangkan pemilu.
Secara umum, korupsi dimulai dari tahapan nominasi
kandidat. Paling mencolok terjadi dalam pemilihan
anggota DPR, DPRD, dan kepala daerah. Beragam istilah
dikenal merujuk pada korupsi dalam penentuan nominasi
(candidacy buying) seperti pemberian uang mahar, uang
perahu, serta uang nomor urut atau daerah pemilihan
(dapil).
Fase kedua terjadi dalam pengumpulan modal
pemenangan. Sebagian besar kandidat tidak memiliki
hubungan baik dengan konstituen. Alih-alih mendapat
donasi, kandidat justru mesti mengeluarkan uang banyak
untuk membeli atau memikat konstituen. Tidak sedikit
kandidat menggunakan cara-cara yang tidak halal untuk
mengumpulkan modal pemenangan, seperti menerima
donasi yang dilarang oleh aturan atau menyelewengkan
sumber dana dan fasilitas negara, terutama untuk kandidat
73
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat petahana
oleh politisiyang
dan pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
memiliki akses
terhadap
kekuasaan.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Tentu saja modal dari sumber yang haram tidak akan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
dicatat dalam pengeluaran resmi dana kampanye. Partai
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
politik atau kandidat otomatis akan memanipulasi laporan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
keuangan. Hasil penelitian ICW terkait laporan keuangan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
kandidat dalam pemiihan anggota legislatif, presiden
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
wakilsecara
presiden,
serta
daerahPemilu,
memperlihatkan
agregatdan
maupun
spesifik
padakepala
tahun-tahun
terkonfirmasi
banyak
kandidat
yang
tidak
mencantumkan
penerimaan
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
dengan
jujur.2014. Melihat perkembangan saat
Pemiludan
2009pengeluaran
ataupun menjelang
Pemilu
ini, yang menjadi
perhatian
tidak hanya
budgetkampanye
cycles, melainkan
Fase ketiga
adalah
pada political
saat proses
dan
political
corruption
cycle
atau
siklus
korupsi
politik
pada
tahun-tahun
pemilihan. Untuk memperoleh banyak dukungan dan
Pemilukemenangan,
yang telah meningkat
dengan
berbagai
caraekstrim.
digunakan oleh partai politik
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
satu kesatuan,
tetapi
dan kandidat,
termasuk
dengan sebagai
melakukan
politik uang
juga perlu
dibatasi
mengingat
perbedaan
hakikatpemilihan,
antara laki-laki
dan
kepada
pemilih
maupun
penyelenggara
seperti
perempuan.
Seperti
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai salah satu
KPU dan
panitia
pengawas
di semua
tingkatan
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Pengaturan
Kampanye
akan berdampak
negatifDana
terhadap
mandeknya aspirasi perempuan dalam
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Berikut tabel pengaturan sumbangan dana kampanye
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
pada beberapa rezim pengaturan yang berbeda:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
KONTEKS PEMILU di INDONESIA
Masih berhubungan
dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
74
vi
Pemilu
Sumbangan
Regulasi
Badan
Hukum Swasta
1,000,000,000
Pasal 96 ayat 1
dan 2 UU No. 42
Tahun 2008
1,000,000,000
Pasal 131 ayat 1
dan 2 UU No. 8
Tahun 2012
Kepala 50,000,000
Daerah
Sumbangan
500,000,000
Pasal 74 ayat 5 UU
No. 1 Tahun 2015
Pemilu
Presiden
Perseorangan
Badan Hukum
Swasta
Kandidat
1,000,000,000
5,000,000,000
-
-
-
Tidak
dibatasi
Partai Politik
-
-
-
Tidak
dibatasi
Berkaca dari pelbagai pemilu/ pilkada yang secara rutin dilakukan,
Indonesia belum melakukan pembenahan secara signifikan dalam
75
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat berbagai
oleh politisi
dan
pemerintah yang
untuk memerintah.
hal
menyangkut
danaterpilih
kampanye.
Hal ini terlihat
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan
apa yangtidak
disampaikan
dari laporan
dana
kampanye
yang
seadanya,
tertib
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
dan tidak berjalannya sanksi dari penyelenggara pemilu.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Jika berkaca pada pengaturan dan penyelenggaraan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Pilkada serentak 2015, memang terdapat aspek pembaruan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
terkait dana kampanye, setidaknya pada dua aspek.
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
negara
semakin
banyak memberikan
subsidi
agregatPertama,
maupun secara
spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu, terkonfirmasi
kepada kandidat.
Mengacu
kepada UU
Pilkada,
dalam kampanye
praktek penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan
siklus
dari
tujuh
aktivitas
kampanye,
sebanyak
empat
diantaranya
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ditanggung
oleh penyelenggara.
Seperti
kegiatan
kampanye
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya political
budget
cycles,
melainkan
berupa
: Debat
publik,
iklan media
dan
political
corruption
cycle
atau siklus
korupsimassa,
politik alat
padaperaga
tahun-tahun
Pemiludebat
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.ini sebagaimana dalam
publik.
Tujuan
pengaturan
pemabahasan
RUU
dilakukan
untuk
menekan
Masyarakat
tidak saja
dapatPilkada
ditafsirkan
sebagai satu
kesatuan,
tetapi
biayadibatasi
kampanye
para kandidat
selama
menjadi
juga perlu
mengingat
perbedaan yang
hakikat
antaraini
laki-laki
dan
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
perempuan
satu
permasalahan
utama
terjadinya
korupsisebagai
pada salah
kepala
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
daerah. Kedua, diberlakukannya pembatasan belanja
2012 menegaskan
politik Besaran
peserta pemilu
harus memenuhi
kampanye setiap
kepadapartai
kandidat.
dan ketentuan
lebih
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
lanjut dapat diperhatikan dalam PKPU Nomor 8 Tahun
praktik2015.
selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.” Hasil temuan ICW dalam penyelenggaraan pemilu
Problem Dana Kampanye di
Indonesia
di berhubungan
Indonesia, pemilihan
legislatif,
presiden
Masih
dengan temaanggota
akuntabilitas
keuangan
politik, dan
Didik
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
wakil presiden, serta kepala daerah tidak pernah terlepas
Akuntabilitas
Danaberkaitan
Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
dari 3 Pengelolaan
masalah utama
dengan
dana kampanye.
kampanye
adalah berkaitan
salah satu dengan
hal penting
dalam proses
pemilu.
Dana
Pertama,
kepatuhan
kandidat
dalam
kampanye
diperlukan
oleh partai politik
kandidatnyapencatatan
untuk dapat
melakukan
pencatatan;
Kedua,danmanipulasi
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
76
vi
pendapatan dari sumber pihak ketiga, dan ketiga,
manipulasi pencatatan belanja.
1. Aspek kepatuhan
Dalam aturan, kandidat atau partai peserta pemilu
diwajibkan memiliki rekening khusus dana kampanye
(RKDK).
Semua transaksi yang berkaitan dengan
pendapatan dan belanja selama pemilu wajib dicatat dan
dilaporkan kepada komisi pemilihan umum untuk diaudit
dan dipublikasikan.
Tapi kenyataannya, kandidat atau partai kerapkali
melakukan banyak penyiasatan seperti tidak mencatat
semua transaksi dalam laporan dana kampanye, mencatat
hanya sebagian transaksi, transaksi tidak melalui
RKDK, dan seluruh penerimaan dana kampanye tidak
disampaikan melalui RKDK akan tetapi diberikan langsung
kepada tim pemenangan pasangan calon, sehingga RKDK
hanya memiliki saldo awal pada saat pembukaan rekening.
Bahkan dalam riset pemilukada di delapan daerah,
beberapa kandidat yang dinyatakan kalah dalam pemilihan
tidak melaporkan RKDK kepada KPUD.
Tabel 5. Temuan terkait aspek kepatuhan
laporan dana kampanye
No
1
Pelanggaran
Tidak melaporkan rekening khusus dana
kampanye
77
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Rekening Kampanye menggunakan Rekening
2
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Bendahara Parpol atau rekening Partai Politik
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Pada laporan awal RKDK nama alamat
3 Pemilu.”
pada Tahun
Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
penyumbang
sama. Namun
pada laporan
sudah menjadi fenomena universal
didukung
dengan berbagai studi
empiris di berbagai
Negara.
Berbagaiperubahan
variabel yang
mempengaruhi
politcal
akhir
RKDK didapati
pada
identitas
budget cycles seperti
perubahan
pola
pada
struktur
anggaran
baik
alamatnya. Sedangkan nama perusahaan, NPWP, secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
nomor kontak (no hp) tetap.
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Seluruh penerimaan dana kampanye tidak
4
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
disampaikan melalui RKDK, akan tetapi diberikan
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
langsung
tim pemenangan
pasangan
political corruption
cyclekepada
atau siklus
korupsi politik
pada tahun-tahun
Pemilu yang telah
meningkat
dengan
calon.
Sehingga
RKDKekstrim.
hanya memiliki saldo awal
Masyarakat pada
tidaksaat
saja pembukaan
dapat ditafsirkan
sebagai satu kesatuan, tetapi
rekening
juga perlu
mengingat
perbedaan
hakikat
antara
laki-laki dan
Transaksi
tidak melalui
Rekening
Khusus
Dana
5 dibatasi
perempuan. Seperti
halnya
keterwakilan perempuan sebagai salah satu
Kampanye
(RKDK)
syarat verifikasiTidak
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU No. 8 Tahun
ada transaksi
melalui
Rekening
Khusus
6.
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
Dana Kampanye (RKDK), sehingga saldo akhir RKDK
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
sama
seperti
rekeningpemerintah
praktik selama ini,
pihak
yangsaldo
dudukawal
baik pembukaan
di parlemen maupun
Tidak oleh
membuat
pembukuan
7. diduduki
mayoritas
laki-laki.
Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Tidak
mencatat
sumbangan
selain
bentuk
uang, dalam
akan berdampak
negatif
terhadap
mandeknya
aspirasi
perempuan
8.
hukum dan pemerintahan.
kondisisumbangan
tersebut telah
ditulis atau
oleh Nindita
sumbanganDan
langsung,
fasilitas
Paramastuti dalam
tulisannya
yangutang
berjudul:
“Perempuan dan Korupsi:
sumbangan
dalam
dan diskon
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
Laporan terlambat diserahkan
9.
2009.”
10. Laporan yang disampaikan ke KPU tidak final dan
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
masih disusulkan atau diubah ketika diserahkan
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
kepada Auditor
Akuntabilitas Pengelolaan
Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
78
vi
2. Manipulasi Pendapatan
Aturan pemilu di Indonesia membatasi kandidat dan
partai politik dalam mengumpulkan modal kampanye.
Fokus pembatasan pada penyumbang pihak ketiga baik
perseorangan maupun badan hukum. Selain itu, semua
aturan pemilu pun melarang kandidat mengumpulkan
dana dari phak asing dan negara termasuk didalamnya
BUMN, BUMD, dan BUMDes. Tujuannya agar kandidat
atau partai tidak bergantung pada pendonor besar dan
lapangan persaingan antar kandidat dan partai tetap sama.
Masalahnya, dalam pemantauan beberapa pemilu,
ICW justru menemukan banyak pelanggaran yang
berkaitan dengan sumbangan pihak ketiga (perseorangan,
perusahaan, dan badan usaha) dan sumber dana yang
dilarang oleh aturan. Untuk sumbangan pihak ketiga
umumnya berupa manipulasi penyumbang seperti alamat
palsu, penyumbang fiktif, alamat sama, penyumbang tidak
sesuai dengan profile ekonomi (tidak memiliki kemampuan
menyumbang).
Banyak faktor yang menyebabkan kandidat atau partai
politik memanipulasi sumber pendapatan. Dimulai dari
perilaku penyumbang yang tidak mau disebutkan namanya
di daftar penyumbang, hingga nilai sumbangan melebihi
batas maksimum sumbangan. Sehingga nilai sumbangan
dalam daftar laporan partai tidak disebutkan dengan
jelas—beserta sumber penyumbang, atau nilai uang di
pecah-pecah sesuai dengan nilai standar maksimum.
Selain itu, sumber dana yang dilarang seperti; hasil tindak
pidana, seringkali menjadi penyebab kandidat atau parpol
79
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat memanipulasi
oleh politisi dan sumber
pemerintah
yang terpilih untuk memerintah.
pendapatan.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Tabel 6. Manipulasi penyumbang dana kampanye
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi
fenomena universal didukung dengan berbagai studi
No Pelanggaran
empiris di berbagai
Negara.
Berbagai variabel
yang mempengaruhi
Tidak
mencantumkan
nama penyumbang
pihak politcal
1
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
ketiga
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Nama Perusahaan yang fiktif
2
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Sumbangan
pihak
ketiga2014.
melebih
batas
maksimal saat
3 ataupun
Pemilu 2009
menjelang
Pemilu
Melihat
perkembangan
Penyumbang
tidak
mempunyai
ekonomi
ini, yang4menjadi
perhatian tidak
hanya
politicalkemampuan
budget cycles,
melainkan
political corruption
atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
untukcycle
menyumbang
Pemilu yang
meningkat tidak
dengan
ekstrim. telah menyumbang
Penyumbang
mengakui
5 telah
Masyarakat
tidak
saja dapat
ditafsirkan
sebagai satu
kesatuan,
Penyumbang
mengaku
menyumbang,
tetapi
tidak tetapi
6
juga perlu dibatasi
perbedaan
dapatmengingat
menunjukkan
bukti hakikat antara laki-laki dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
Penyumbang memberikan sumabnagan tidak sesuai
7
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
dengan nominal yang dilaporkan
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
Penyumbang tidak memiliki KTP dan NPWP
8
30% keterwakilan
perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Alamat
palsu
9
praktik selama ini, pihakpenyumbang
yang duduk baik
di parlemen maupun pemerintah
Alamat
penyumbang
tidak
jelas.
mayoritas
diduduki
oleh
laki-laki.
Apabila
tidak diperjuangkan, hal ini
10
akan berdampak
negatif terhadap
aspirasi yang
perempuan
Penyumbang
yang mandeknya
mempunyai alamat
sama dalam
11
hukum dan pemerintahan.
kondisi
tersebutjenis
telahUtang
ditulisdan
olehsaldo
Nindita
PenyiasatanDan
lewat
sumbangan
12
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
kas partai dan dana kampanye
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
Sumbangan langsung dari perusahaan untuk
2009.” 13
kepentingan kampanye
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
dari rekening dana taktis pemerintah ke
14 dan Transfer
Supriyanto
Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
rekening partai
rekening
Yayasan bahwa dana
Akuntabilitas Pengelolaan
Danamelalui
Kampanye,
menguraikan
Penyumbang
digunakan
namanya
15 adalah
kampanye
salah satuyang
hal hanya
penting
dalam proses
pemilu. Dana
kampanye diperlukan
partai politik dan kandidatnya untuk dapat
sebagaioleh
penyumbang
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
80
vi
Sumber: kompilasi hasil pemantauan ICW dalam pemilu
dan pemilukada
3. Manipulasi pencatatan belanja.
Manipulasi pencatatan belanja merupakan konsekuensi
dari manipulasi dalam pencatatan sumber pendapatan
oleh kandidat atau partai politik. Karena tidak semua
pendapatan dicatat, maka banyak belanja yang berkaitan
dengan kampanye yang tidak dicatat dalam RKDK.
Dalam laporan dana kampanye pemilu, banyak kandidat
yang hanya mencamtumkan keterangan dalam sisi belanja
“Kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundangundangan” tanpa dijelaskan kegiatannya. Selain faktor
politik, masalah teknis yang menjadi penyebab kandidat
atau partai tidak mencatat laporan kegiatan adalah
minimnya sumber daya manusia yang mumpuni untuk
mencatat laporan kegiatan.
Terkait dengan belanja terutama belanja konsultan
politik atau jasa tidak pernah dimasukan di dalam laporan
belanja kampanye. Demikian juga dengan belanja iklan
kampanye dengan diskon atau dibayarkan oleh pihak
ketiga.
81
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Tabel 7. Contoh manipulasi belanja kampanye
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan
tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
No melalui
Pelanggaran
pada Tahun
Yunanama
menjelaskan
bahwa
Political budget
Sumber dan
penyumbang
berubah-ubah
(awalcycles
1 Pemilu.”
sudah menjadi
fenomena
didukungAtapi
dengan
laporan
RKDKuniversal
nama perusahaan
padaberbagai
laporan studi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
akhir dana kampanye diubah menjadi “CV.A”
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Tidak ada penjelasan kegiatan, hanya dengan
2
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
“Kegiatan
lain yang
melanggar
dalam praktekmenyatakan
penganggaran
di Indonesia
yangtidak
berkaitan
dengan siklus
Peraturan
Perundang-undangan”
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Laporan
nilaitidak
belanja
berbeda
dengan
belanja
ini, yang3menjadi
perhatian
hanya
political
budgetriil
cycles,
melainkan
political corruption
cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
(pengeluaran)
Pemilu yang
meningkat dengan
ekstrim. untuk melakukan
Menggunakan
Dana Kampanye
4. telah
Masyarakatpolitik
tidak saja
uangdapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
Sumber:
kompilasi
hasilpeserta
pemantauan
ICW
syarat verifikasi
faktual
untuk menjadi
pemilu. UU
No. dalam
8 Tahun
pemilu
dan
pemilukada
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
30% keterwakilan
perempuan.waktu
Kondisipelaporan
ini patut diperjuangkan, mengingat
4. Ketepatan
praktik selama
ini, pihak
yang duduk baik
di parlemen maupun
pemerintah
Partai
berkewajiban
menyampaikan
laporan
awal
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
dana kampanye, laporan periodik, dan laporan akhir
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
dana kampanye sesuai dengan batas waktu yang telah
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
ditetapkan. Sanksi bagi partai yang terlambat antara lain;
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
pembatalan sebagai peserta pemilu atau tidak dilantiknya
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
calon terpilih.
2009.”
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Audit
Supriyanto5.dan
Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
Penting
dicatatDana
bahwa
dalam audit
dana kampanye
kampanye
adalah
salah
satu halaudit
penting
dalam proses
pemilu.
Dana
dalam
pilkada
hanyalah
kepatuhan.
Sehingga
auditor
kampanye
diperlukan
oleh partai pengecekan
politik dan kandidatnya
untuk dapat
hanya
akan melakukan
dari segi kepatuhan
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
82
vi
para kandidat dalam laporan dana kampanye mereka.
Hampir dapat dipastikan model audit kepatuhan tidak
akan menemukan manipulasi/kejanggalan sumbangan
maupun belanja kandidat. Sehingga semakin tampak audit
dana kampanye dalam pilkada ini hanyalah formalitas
belaka dalam memenuhi administrasi pilkada.
Problem dari segi auditor menurut IAPI adalah adanya
kewenangan KPUD untuk menunjuk lansung Kantor
Akuntan Publik, jika biaya audit di bawah Rp. 50 Juta
untuk melakukan audit. Hal ini yang menjadi salah satu
masalah karena penunjukkan itu potensial dengan konflik
kepentingan dan tidak terbukanya kompetensi untuk
terpilihnya auditor yang berkualitas baik.
KEDUDUKAN DAN PERAN BADAN
PENGAWAS PEMILU (BAWASLU)
Tugas Bawaslu
Tugas Bawaslu dijabarkan dalam pasal 73 UU
Penyelenggara Pemilu telah disebutkan bahwa, lembaga
pengawas pemilu tingkat pusat tersebut bertugas:
1. Menyusun standar tata laksana kerja pengawasan
tahapan penyelenggaraan pemilu sebagai pedoman kerja
bagi pengawas pemilu di setiap tingkatan.
2.Mengawasi penyelenggaraan pemilu dalam
rangka pencegahan dan penindakan pelanggaran untuk
terwujudnya Pemilu yang demokratis.
a. Mengawasi persiapan penyelenggaraan Pemilu
83
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat yang
oleh politisi
pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
terdiridan
atas:
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
i. perencanaan dan penetapan jadwal tahapan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Pemilu;
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
ii. perencanaan
pengadaan
logistik
oleh KPU;
sudah menjadi
fenomena universal
didukung
dengan
berbagai studi
penetapan
pemilihan politcal
dan
empiris di iii.pelaksanaan
berbagai Negara. Berbagai
variabeldaerah
yang mempengaruhi
budgetjumlah
cycles seperti
perubahan
padapemilihan
struktur anggaran
baik secara
kursi pada
setiappola
daerah
untuk pemilihan
agregatanggota
maupun Dewan
secara spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
Perwakilan
Rakyat Daerah
Provinsi
dan
dalam anggota
praktek penganggaran
di Indonesia
yang Daerah
berkaitanKabupaten/
dengan siklus
Dewan Perwakilan
Rakyat
PemiluKota
2009 ataupun
menjelang
Pemilu
2014. Melihat
perkembangan
saat
oleh KPU
sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
perundang-undangan;
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
iv. sosialisasi penyelenggaraan Pemilu;
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
v. pelaksanaan tugas pengawasan lain yang diatur
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
dalam
ketentuan
peraturan
perundang-undangan.
juga perlu
dibatasi
mengingat
perbedaan
hakikat antara laki-laki dan
b.
Mengawasi
pelaksanaan
tahapan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuanpenyelenggaraan
sebagai salah satu
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
Pemilu yang
terdiri
atas:
2012 menegaskan
setiap partaidata
politik
pesertadan
pemilu
harus memenuhi
i. pemutakhiran
pemilih
penetapan
daftar
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
pemilih sementara serta daftar pemilih tetap;
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
ii. penetapan peserta Pemilu;
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
iii.proses
sampaiaspirasi
dengan
penetapan
akan berdampak
negatif pencalonan
terhadap mandeknya
perempuan
dalam
Dewan Perwakilan
Rakyat,telah
Dewan
hukumanggota
dan pemerintahan.
Dan kondisi tersebut
ditulisPerwakilan
oleh Nindita
Daerah,
Dewan
Perwakilan
Rakyat
Daerah, dan
pasangan
Paramastuti
dalam
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
Korupsi:
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR RI
calon presiden dan wakil presiden, dan calon gubernur,
2009.”bupati, dan walikota sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
Masih
berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyantoiv.
danpelaksanaan
Lia Wulandari
dalam tulisan berjudul Transparansi dan
kampanye;
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
v. pengadaan logistik Pemilu dan pendistribusiannya;
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
pelaksanaan
pemungutan
suara
dan penghitungan
kampanyevi.
diperlukan
oleh partai
politik dan
kandidatnya
untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
84
vi
suara hasil Pemilu di TPS;
vii. pergerakan surat suara, berita acara penghitungan
suara, dan sertifikat hasil penghitungan suara dari tingkat
TPS sampai ke PPK;
viii.pergerakan surat tabulasi penghitungan suara dari
tingkat TPS sampai ke KPU Kabupaten/Kota;
ix. proses rekapitulasi hasil penghitungan perolehan
suara di PPS, PPK, KPU Kabupaten/Kota, KPU Provinsi,
dan KPU;
x. pelaksanaan penghitungan dan pemungutan suara
ulang, Pemilu lanjutan, dan Pemilu susulan;
xi. pelaksanaan putusan pengadilan terkait dengan
Pemilu;
xii. pelaksanaan putusan DKPP;
xiii.proses penetapan hasil Pemilu.
c. mengelola, memelihara, dan merawat arsip/
dokumen serta melaksanakan penyusutannya berdasarkan
jadwal retensi arsip yang disusun oleh Bawaslu dan ANRI;
d.memantau atas pelaksanaan tindak lanjut
penanganan pelanggaran pidana Pemilu oleh instansi yang
berwenang;
e. mengawasi atas pelaksanaan putusan pelanggaran
Pemilu;
f.
evaluasi pengawasan Pemilu;
g.
menyusun
laporan
penyelenggaraan Pemilu; dan
hasil
pengawasan
h. melaksanakan tugas lain yang diatur dalam
85
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat ketentuan
oleh politisi peraturan
dan pemerintah
yang terpilih untuk memerintah.
perundang-undangan.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan
melalui tulisannya
“Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Wewenang
Bawaslu:
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Dalamfenomena
melaksanakan
tugasnya,
Bawaslu
berwenang:
sudah menjadi
universal
didukung
dengan
berbagai studi
Menerima
laporan variabel
dugaanyang
pelanggaran
terhadap
empiris di 1.
berbagai
Negara. Berbagai
mempengaruhi
politcal
budgetpelaksanaan
cycles seperti perubahan
pada struktur
anggaran baik secara
ketentuanpola
peraturan
perundang-undangan
agregatmengenai
maupun secara
spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Pemilu;
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
2. Menerima laporan adanya dugaan pelanggaran
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
administrasi Pemilu dan mengkaji laporan dan temuan,
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
serta merekomendasikannya kepada yang berwenang;
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
3.telah
Menyelesaikan
sengketa
Pemilu;
Pemilu yang
meningkat dengan
ekstrim.
4. Membentuk
Bawaslu
Provinsi;
Masyarakat
tidak saja dapat
ditafsirkan
sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu5.
dibatasi
mengingat dan
perbedaan
hakikat antara laki-laki
dan
Mengangkat
memberhentikan
anggota
perempuan.
Seperti
halnyadan
keterwakilan perempuan sebagai salah satu
Bawaslu
Provinsi;
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
6. Melaksanakan wewenang lain yang diatur dalam
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
ketentuan peraturan perundang-undangan.
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Kewajiban Bawaslu:
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak
negatif
terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Bawaslu
berkewajiban:
hukum dan
pemerintahan.
Dan kondisi
tersebut telah
ditulis
oleh Nindita
a.
Bersikap tidak
diskriminatif
dalam
menjalankan
Paramastuti
tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
tugas dalam
dan wewenangnya;
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
b. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap
2009.”
pelaksanaan tugas Pengawas Pemilu pada semua tingkatan;
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
dandalam
menindaklanjuti
laporan yang
Supriyantoc.
danMenerima
Lia Wulandari
tulisan berjudul Transparansi
dan
berkaitan
dengan
dugaan
adanya
pelanggaran
terhadap
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
pelaksanaan
peraturan
mengenai
kampanye
adalah salah
satu hal perundang-undangan
penting dalam proses pemilu.
Dana
Pemilu;
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
86
vi
d.Menyampaikan
laporan
hasil
pengawasan
kepada Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, dan KPU
sesuai dengan tahapan Pemilu secara periodik dan/atau
berdasarkan kebutuhan;
e. Melaksanakan kewajiban lain yang diberikan oleh
peraturan perundang-undangan.
a. Summary Hasil Pengawasan Pilpres 2014
Bawaslu menyebutkan bahwa sepanjang pemilu presiden
2014 terdapat dugaan pelanggaran sebanyak 1.238.
Dugaan Pelanggaran terdiri dari 1.136 dugaan pelanggaran
administrasi. Dugaan pelanggaran administrasi tersebut
kemudian diteruskan kepada KPU untuk ditindaklanjuti.
Sisanya, 81 dugaan pelanggaran pidana dan 21 dugaan
pelanggaran kode etik. 4
Dugaan
pelanggaran
terbanyak
menyangkut
4 Data rekapitulasi diperoleh dari data BAWASLU RI 2014
87
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pelanggaran
oleh politisi danpemasangan
pemerintah yang
untuk
memerintah.
Alatterpilih
Peraga
Kampanye
(APK),
Pandangan
Hamdan Daftar
tersebutPemilih
berkaitanTetap
dengan(DPT),
apa yangdan
disampaikan
permasalahan
politik
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
uang seta kampanye hitam.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi
faktualpelaksanaan
untuk menjadisentra
pesertaGakkumdu
pemilu. UU (kompilasi
No. 8 Tahun
Hambatan
2012 menegaskan
setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
catatan Bawaslu):
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
1. Adanya kesan dari unsur kepolisian dan kejaksaan
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
untuk tidak menindaklanjuti laporan dugaan pelanggaran
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
pemilu yang ditangani oleh pengawas pemilu.
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
2.pemerintahan.
Keterbatasan
hukum dan
Dananggaran.
kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
Korupsi:
3.dalam
Terdapat
perbedaan
pendapat
antara dan
pengawas
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR RI
pemilu, kepolisian dan kejaksaan dalam menentukan
2009.”keterpenuhan unsur pasal tindak pidana pemilu.
Masih berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
politik,
Didik
4. Perbedaan
pemahaman
antara keuangan
pengawas
pemilu,
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
kepolisian dan kejaksaan dalam pembahasan sentra
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
gakkumdu.
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
Kurangnya
komunikasi
dankandidatnya
koordinasiuntuk
dengan
kampanye5.
diperlukan
oleh partai
politik dan
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
88
vi
unsur kepolisian dan kejaksaan dalam sentra gakkumdu.
6. Pengawas Pemilu diposisikan sebagai pelapor
bukan penerus rekomendasi.
7. Adanya perbedaan penafsiran dari masing-masing
unsur anggota sentra gakkumdu, salah satunya mengenai
keterpenuhan unsur kampanye.
8. Kondisi geografis (kepulauan)
efektivitas koordinasi sentra gakkumdu.
9.Masih terdapat beberapa
memiliki Polres dan Kejari.
menghambat
kabupaten
belum
10.
Minimnya pengetahuan akan pemilu oleh
pihak kepolisian dan kejaksaan, sehingga menghambat
pembahasan dalam sentra gakkumdu.
11.
Kesulitan
untuk
mendatangkan
anggota
sentra gakkumdu dari unsur kejaksaan (Kota Sorong),
dikarenakan Kejaksaan Negeri Sorong membawahi
beberapa kabupaten yang ada di Sorong Raya dan terbatas
anggota kejaksaan yang ditunjuk sebagai anggota sentra
gakkumdu dibeberapa kabupaten dimaksud.
b. Summary Hasil Pengawas Pemilu Legislative
2014 :
Dugaan pelanggaran administrasi :
Bawaslu mendapat 4.410 dugaan pelanggaran
administrasi. Sebanyak 3.455 merupakan temuan dan
655 laporan. Seluruh dugaan pelanggaran tersebut
ditindaklanjuti oleh Bawaslu dan diteruskan ke KPU. Oleh
89
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat KPU,
oleh politisi
pemerintah
terpilih untuk
memerintah.5
3740 dan
(91%)
dugaan yang
pelanggaran
ditindaklanjuti.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Masyarakat
tidak
saja dapat ditafsirkan
Dugaan
Pelanggaran
Pidana sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
Bawaslu mendapat laporan dan temuan dugaan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
pelanggaran pidana sebanyak 137 kasus (66 laporan dan 71
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
temuan). Semua dugaan pelanggaran pidana yang diterima
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
bawaslu disebut telah diteruskan ke pihak kepolisian
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
dengan tindak lanjut sebagai berikut:
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap
mandeknya aspirasiDihentikan
perempuan dalam
Diterima
hukum danBawaslu
pemerintahan. Dan 137
kondisi tersebut telah0ditulis oleh Nindita137
ParamastutiKepolisian
dalam tulisannya yang
137 berjudul: “Perempuan
84 dan Korupsi:52
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Kejaksaan
52
6 Pemilu DPR RI44
2009.”
PN-Putusan
44
-
37
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Dugaan
Pelanggaran
Etik oleh
kandidat bahwa dana
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kode
Kampanye,
menguraikan
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
5 Ibid
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
90
vi
Terdapat 48 dugaan pelanggaran kode etik (29 laporan
diterima panwas dan 19 temuan). Pengawas pemilu
mengkaji 35 dugaan pelanggaran dan 26 dugaan diteruskan
ke Bawaslu RI, 28 diteruskan ke Bawaslu Provinsi, dan
36 dugaan diteruskan ke DKPP. 9 hasil tindak lanjut
DKPP ditindaklanjuti oleh KPU dan 1 diantaranya tidak
ditindaklanjuti.
Perbandingan Temuan dan
Pelanggaran yang diterima Bawaslu
Laporan
Dugaan
REKOMENDASI PERBAIKAN
Ditengah persoalan yang sudah diuraikan diatas,
ada ruang kosong ketiadaan pengaturan yang mengenai
lembaga khusus yang membuat berbagai persoalan politik
uang dan dana kampanye menjadi persoalan pokok yang
selalu muncul dari waktu ke waktu. Sulit dibantah, berawal
dari persoalan dana kampanye ini yang menyebabkan
banyak kepala daerah terlibat persoalan kasus korupsi di
91
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
kemudian harinya.
Dana
dan
politik uang pada
kenyataanya
tidak
merupakan
suatukampanye
upaya untuk
menyelamatkan
kebijakan
publik yang
akan
pekerjaan
pokok yang
( main
jobs)untuk
bagimemerintah.
penyelenggara
dibuat menjadi
oleh politisi
dan pemerintah
terpilih
pemilu Hamdan
dalam hal
ini KPU
dan Bawaslu.
Sehingga
ini-lah
Pandangan
tersebut
berkaitan
dengan apa
yang disampaikan
yang memicu
banyak pelanggaran.
Khususnya
Yuna Farhan
melalui munculnya
tulisannya “Menelusuri
Siklus Politisasi
Anggaran
Bawaslu
yangYuna
cenderung
dalam
pada Tahun
Pemilu.”
menjelaskan“kehilangan”
bahwa Politicalarah
budget
cycles
sudah melakukan
menjadi fenomena
universal
didukung dengan berbagai studi
pengawasan
pemilu.
empiris di Jika
berbagai
Negara.kepada
Berbagai
variabel yang
mempengaruhi
politcal
Mengacu
komparasi
di negara
lain, semisal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
di Amerika terdapat Federal Election Commission (FEC)
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
yang memang memfokuskan untuk memeriksa keuangan
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
partai dan pemilu secara linear. Hal ini tentu kontras
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
dengan kondisi dalam negeri. Terdapat banyak organ
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
penyelenggara pemilu, akan tetapi tidak ada pengawalan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
tentang
danadengan
politikekstrim.
(kandidat dan partai politik)
Pemilukhusus
yang telah
meningkat
secara terfokus.
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
UU Pemilu
yang hakikat
sedangantara
disiapkan
oleh
juga perluKodifikasi
dibatasi mengingat
perbedaan
laki-laki
dan
Jaringan
Pemilu
sebaiknya
meletakkan
fokus
perbaikan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
pengawasan
dana
kandidat
syarat verifikasi
faktual
untukkampanye
menjadi peserta
pemilu.dalam
UU No.pemilu.
8 Tahun
2012 menegaskan
setiap partai
politikdapat
peserta dilalakukan
pemilu harus memenuhi
Pilihan paling
rasional
dengan
30% keterwakilan
ini patut
diperjuangkan,
mengingat
mengubahperempuan.
tugas danKondisi
tanggung
jawab
Badan Pengawas
praktikPemilu
selama ini,
pihak yang
duduk
baik di parlemen
menjadi
Badan
Pemeriksa
Danamaupun
Politik pemerintah
(BPDP).
mayoritas
diduduki
oleh
laki-laki.
Apabila
tidak
diperjuangkan,
hal ini
Pilihan ini dianggap paling dapat direalisasikan, karena
akan berdampak
negatif
terhadap yang
mandeknya
perempuan dalam
infrastruktur
Bawaslu
sudahaspirasi
terdesentralisasi
di
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
seluruh daerah.
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
92
vi
Diluar alur kerja sebagaimana bagan diatas, hal
yang paling penting tentu berbicara terkait tugas dan
kewenangan BPDP itu sendiri. Sejumlah tugas dan
kewenangan yang diusulkan meliputi: 6
a. Menerima keseluruhan jenis laporan yang berkaitan
dengan dana kampanye pada tingkatan pemilu nasional
b. Melakukan pengawasan terhadap penerimaan dan
pengeluaran uang dan/atau barang partai politik dan/
atau individu calon peserta pemilu dan dana kampanye
tingkat nasional
c. Melakukan audit dan pemeriksaan secara berkala
terhadap uang dan/atau barang serta dana kampanye
partai politik dan/atau individu calon peserta pemilu
tingkat nasional
d. Melakukan supervisi terhadap tugas dan wewenang
serta kewajiban BPDP tingkat provinsi
e. Meminta dokumen dan
keterangan kepada
pengurus dan/atau anggota, serta pihak ketiga dalam
hal melakukan pemriksaan dan audit keuangan partai
politik dan/atau individu calon peserta pemilu dan dana
kampanye
f. Memanggil pengurus, anggota, dan pihak ketiga
dalam hal kepentingan audit dan pemeriksaan keuangan
partai politik dan dana kampanye
g. Mengeluarkan keputusan terkait dengan proses
6 Rekomendasi tugas dan kewenangan diambil dari rancangan kondifikasi
UU Pemilu yang disusun oleh berbagai stakeholders penggiat pemilu dan
demokrasi.
93
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pengawasan,
oleh politisi danaudit,
pemerintah
terpilih untuk
memerintah.
dan yang
pemeriksaan
keuangan
partai
Pandangan
Hamdan
berkaitan dengan apa yang disampaikan
politik dan
danatersebut
kampanye
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
h. Mengeluarkan rekomendasi kepada lembaga atau
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
pihak terkait prihal hasil pemeriksaaan audit keuangan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
partai politik dan dana kampanye
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
i. seperti
Mengeluarkan
kepada
Kementrian
budget cycles
perubahan rekomendasi
pola pada struktur
anggaran
baik secara
keberadaan
dan terkonfirmasi
eksistensi
agregatHukum
maupun dan
secaraHAM
spesifikterkait
pada tahun-tahun
Pemilu,
berdasarkan
hasil yang
pengawasan,
audit dan
dalam partai
praktek politik
penganggaran
di Indonesia
berkaitan dengan
siklus
Pemilupemeriksaan
2009 ataupun keuangan
menjelang Pemilu
Melihat
perkembangan
saat
partai 2014.
politik
dan dana
kampanye
ini, yang menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
j. Mengeluarkan rekomendasi kepada KPU terkait
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
dengan keikusertaan partai politik dan/atau individu calon
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
peserta pemilu berdasarkan hasil pengawasan, audita, dan
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagai satu kesatuan, tetapi
pemeriksaan
keuangan
dan dana kampanye;
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
k. Mengeluarkan rekomendasi kepada Kepolisian,
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
Kejaksaan, dan KPK terkait dengan dugaan tindak pidana
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
yang dilakukan
partai
politik
dan/atau
calon
2012 menegaskan
setiapoleh
partai
politik
peserta
pemilu individu
harus memenuhi
peserta pemilu
berdasarkan
hasil
pengawasan,
audit,
dan
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
keuangan
danbaik
dana
kampanye
praktikpemeriksaan
selama ini, pihak
yang duduk
di parlemen
maupun pemerintah
mayoritas l.
diduduki
oleh
laki-laki.
Apabila
tidak
diperjuangkan,
hal ini
Rekomendasi yang dikeluarkan oleh BPDP wajib
akan berdampak
negatifoleh
terhadap
mandeknya
aspirasi perempuan
dalam
ditindaklanjuti
lembaga
yang menerima
rekomendasi
hukumtersebut
dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
m. Memilih dan mengangkat auditor dan/atau staf
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
pendukung untuk menjalankan tugas, dan wewenang dari
2009.”
BPDP
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
*** Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
Akuntabilitas
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
94
vi
95
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
KOMISI PEMILIHAN UMUM
SEBAGAI PENYELENGGARA
empirisPEMILIHAN
di berbagai Negara. Berbagai
variabel yang mempengaruhi politcal
UMUM
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Natalia
agregatCatherine
maupun secara
spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Abstrak
Pengantar
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
Penyelenggaraan pemilihan umum yang bersifat
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil hanya
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
dapat terwujud apabila Penyelenggara Pemilu mempunyai
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
integritas yang tinggi serta memahami dan menghormati
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
sipil
dan
politik
negara.
Sebagaimana
praktikhak-hak
selama ini,
pihak
yang
dudukdari
baikwarga
di parlemen
maupun
pemerintah
diamanatkan
Undang-Undang
Negara Republik
mayoritas
diduduki oleh
laki-laki. Apabila Dasar
tidak diperjuangkan,
hal ini
Indonesianegatif
Tahun
1945, mandeknya
Penyelenggara
Pemilu
memiliki
akan berdampak
terhadap
aspirasi
perempuan
dalam
menyelenggarakan
Pemilu
kelembagaan
hukumtugas
dan pemerintahan.
Dan kondisi
tersebutdengan
telah ditulis
oleh Nindita
yang bersifat
nasional,yang
tetap
dan mandiri.
Paramastuti
dalam tulisannya
berjudul:
“Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
DPR15RI
Penyelenggara Pemilu merupakandalam
salah Pemilu
satu dari
2009.”(lima belas aspek) yang menjadi standar internasional
Masih
berhubungan
akuntabilitas
politik, Didik
yang
dijadikandengan
toloktema
ukur
pemilu keuangan
yang demokratis
1
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
sebagaimana dirumuskan oleh International IDEA
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye
adalah salah
hal penting
dalam Pemilihan
proses pemilu.
1 International
IDEA, satu
Standar-standar
Internasional
Umum: Dana
Pedoman Peninjauan Kembali Kerangka Hukum Pemilu, Jakarta: International
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
IDEA, 2004.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
96
vi
. Ke-15 aspek pemilu demokratis tersebut adalah (1)
Penyusunan Kerangka Hukum, (2) Pemilihan Sistem
Pemilu, (3) Penetapan Daerah Pemilihan, (4) Badan
Penyelenggara Pemilu, (5) Pendaftaran Pemilih dan Daftar
Pemilih, (6) Akses Kertas Suara bagi Partai Politik dan
Calon, (7) Kampanye Pemilu yang Demokratis, (8) Akses
Media dan Kebebasan Berekspresi, (9) Pembiayaan dan
Pengeluaran, (10) Pemungutan Suara, (11) Penghitungan
dan Rekapitulasi Suara, (12) Peranan Wakil Partai dan
Calon, (13) Pemantau Pemilu, (14) Kepatuhan terhadap
hukum, dan (15) Penegakan Peraturan Pemilu.
Kerangka hukum yang mengatur penyelenggara pemilu
terdapat dalam Pasal 22E ayat (5) Undang-Undang Dasar
1945, “Pemilihan umum diselenggarakan oleh suatu
komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap dan
mandiri.” Hal ini berbeda dengan kondisi sebelumnya, di
mana penyelenggara pemilu adalah pemerintah, dalam
hal ini Departemen Dalam Negeri. Penyelenggaraan
pemilu oleh pemerintah selama masa Pemerintahan
Orde Baru telah membuka ruang terjadinya kecurangan
untuk memenangkan Golkar. Hal ini melatarbelakangi
diserahkannya penyelenggaraan pemilu kepada sebuah
institusi Negara baru yang terpisah dari kekuasaan
pemerintahan.
Salah satu faktor penting bagi keberhasilan
penyelenggaraan pemilihan umum dan pemilihan
kepala daerah terletak pada kesiapan penyelenggara
pemilu itu sendiri, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU)
dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Dua institusi
97
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat ini
oleh politisi
pemerintah yang
terpilih
untuk memerintah.
telah dan
diamanatkan
oleh
undang-undang
untuk
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan
denganfungsi,
apa yangtugas
disampaikan
menyelenggarakan
pemilu
menurut
dan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
kewenangannya masing-masing.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Melalui pengujian Undang-Undang Nomor 22 Tahun
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
2007 tentang Penyelenggara Pemilu Mahkamah Konstitusi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
telah memberikan tafsir resmi terhadap Pasal 22E ayat (5)
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Dasarpada
1945,tahun-tahun
yaitu:
agregatUndang-Undang
maupun secara spesifik
Pemilu, terkonfirmasi
Bahwa
untuk menjamin
terselenggaranya
pemilihan
dalam praktek
penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan dengan
siklus
Pemiluumum
2009 ataupun
menjelang
PemiluPasal
2014. Melihat
perkembangan
saat
yang luber
dan jurdil,
22E ayat
(5) UUD 1945
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
menentukan bahwa, “Pemilihan umum diselenggarakan
political
corruption
cycle pemilihan
atau siklus umum
korupsi yang
politik
pada tahun-tahun
oleh
suatu komisi
bersifat
nasional,
Pemilutetap
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
dan mandiri” Kalimat “suatu komisi pemilihan
Masyarakat
sajaUUD
dapat1945
ditafsirkan
satu
kesatuan,
tetapi
umum” tidak
dalam
tidak sebagai
merujuk
kepada
sebuah
juga perlu
dibatasi
mengingat
hakikat antara
laki-laki
dan
nama
institusi,
akanperbedaan
tetapi menunjuk
pada
fungsi
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
perempuan
sebagainasional,
salah satu
penyelenggaraan
pemilihan
umum
yang bersifat
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
tetap dan mandiri. Dengan demikian, menurut Mahkamah,
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
fungsi penyelenggaraan pemilihan umum tidak hanya
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), akan
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
tetapi termasuk juga lembaga pemilihan umum dalam
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
hal ini Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai satu
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
kesatuan fungsi penyelenggaraan pemilihan umum yang
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
bersifat
nasional,
tetap,
dan
mandiri.
Pengertian
iniKorupsi:
lebih
Paramastuti
dalam
tulisannya
yang
berjudul:
“Perempuan
dan
memenuhi
ketentuan
UUD 1945
yang
mengamanatkan
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu DPR RI
2009.”adanya penyelenggara pemilihan umum yang bersifat
mandiri
untukdengan
dapattema
terlaksananya
pemilihan
umum
Masih
berhubungan
akuntabilitas keuangan
politik,
Didik
yangdanmemenuhi
prinsip-prinsip
luber Transparansi
dan jurdil.
Supriyanto
Lia Wulandari
dalam tulisan berjudul
dan
Penyelenggaraan
umum tanpa
pengawasan
Akuntabilitas
Pengelolaanpemilihan
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwaoleh
dana
lembaga
akan
mengancam
prinsip-prinsip
kampanye
adalahindependen,
salah satu hal
penting
dalam proses
pemilu. Dana
luber
dan jurdil
dalam
pemilu. Oleh
karena
kampanye
diperlukan
oleh
partaipelaksanaan
politik dan kandidatnya
untuk
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
98
vi
itu, menurut Mahkamah, Badan Pengawas Pemilihan
Umum (Bawaslu) sebagaimana diatur dalam Bab IV Pasal
70 sampai dengan Pasal 109 Undang-Undang 22/2007,
harus diartikan sebagai lembaga penyelenggara pemilu
yang bertugas melakukan pengawasan pelaksanaan
pemilihan umum, sehingga fungsi penyelenggaraan
Pemilu dilakukan oleh unsur penyelenggara, dalam hal
ini Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan unsur pengawas
Pemilu, dalam hal ini Badan Pengawas Pemilihan Umum
(Bawaslu). Bahkan, Dewan Kehormatan yang mengawasi
perilaku penyelenggara Pemilu pun harus diartikan
sebagai lembaga yang merupakan satu kesatuan fungsi
penyelenggara pemilihan umum. Dengan demikian,
jaminan kemandirian penyelenggara pemilu menjadi
nyata dan jelas.
Hal ini ditindaklanjuti ketika Undang-Undang Nomor
22 Tahun 2007 diganti dengan Undang-Undang Nomor
15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu. Dalam
Undang-Undang tersebut, baik KPU, Bawaslu, maupun
DKPP didefinisikan sebagai lembaga penyelenggara pemilu
yang merupakan satu kesatuan fungsi pemilu. Dengan
demikian, yang dipahami dari frasa “komisi pemilihan
umum” dalam Pasal 22E ayat (5) UUD 1945 adalah KPU,
Bawaslu dan DKPP sebagai satu kesatuan fungsi2. Akan
tetapi selain Komisi Pemilihan Umum, berdasarkan
Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan
Aceh, khusus di Aceh dibentuk lembaga penyelenggara
2 Titi Anggraini dkk, Kajian Kodifikasi Undang-Undang Pemilu, Yayasan
Perludem, November 2014, Cet.1, hal. 32-34.
99
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pemilu
oleh politisi
dan pemerintah
yangIndependen
terpilih untukPemilihan
memerintah.
dengan
nama Komite
(KIP)
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Aceh dan
KIP Kabupaten/Kota.
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Ketentuan lebih lanjut mengenai Penyelenggara Pemilu
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
2011 tentang Penyelenggara Pemilu, namun ketentuan-
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
ketentuan menyangkut Penyelenggara Pemilu juga
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dalam
berbagai
Pemilu,
yaitu
agregatditemukan
maupun secara
spesifik
pada Undang-Undang
tahun-tahun Pemilu,
terkonfirmasi
Nomor
8 Tahunyang
2012berkaitan
tentangdengan
Pemilihan
dalam Undang-Undang
praktek penganggaran
di Indonesia
siklus
Umum
Anggota
DPR,
DPD
dan
DPRD,
Undang-Undang
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Nomor
42perhatian
Tahun 2008
Pemilu
Presiden
dan
Wakil
ini, yang
menjadi
tidak tentang
hanya political
budget
cycles,
melainkan
Presiden,
serta
1 Tahun
2015
political
corruption
cycleUndang-Undang
atau siklus korupsiNomor
politik pada
tahun-tahun
Pemiluyang
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
diubah
dengan
Undang-Undang
Nomor 8 Tahun
2015 tentang
Pemilihan
Gubernur
dan satu
Wakil
Gubernur,
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagai
kesatuan,
tetapi
Bupati
dan Wakil
Bupati,
Walikota
dan antara
Wakil laki-laki
Walikota.
juga perlu
dibatasi
mengingat
perbedaan
hakikat
dan
perempuan.
Seperti dalam
halnya Undang-Undang
keterwakilan perempuan
salah satu
Pengaturan
Pemilusebagai
yang terpisahsyarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
pisah ini menyebabkan terjadinya pengulangan (duplikasi),
2012 menegaskan
politikrincian
peserta tugas
pemiludan
harus
memenuhi
khususnya setiap
yang partai
mengatur
wewenang
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
penyelenggara
pemilu.
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Lembaga
penyelenggara
pemilu
di Indonesia
atas
hukum dan
pemerintahan.
Dan kondisi
tersebut
telah ditulisterdiri
oleh Nindita
Komisi
Pemilihan
Umum
Badan
Pengawas
Paramastuti
dalam
tulisannya
yang(KPU),
berjudul:
“Perempuan
danPemilu
Korupsi:
(Bawaslu)
dan Dewan
Kehormatan
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
KorupsiPenyelenggara
dalam Pemilu Pemilu
DPR RI
2009.”(DKPP). Akan tetapi yang akan menjadi fokus pembahasan
Rumusan Masalah
adalah
Komisi dengan
Pemilihan
Umum sebagai
penyelenggara
Masih
berhubungan
tema akuntabilitas
keuangan
politik, Didik
pemilu
dalam
melaksanakan
fungsi Transparansi
manajemen
Supriyanto
dan Lia
Wulandari
dalam tulisan berjudul
dan
penyelenggaraan
Beberapa
permasalahan
Akuntabilitas
Pengelolaan pemilu.
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwayang
dana
muncul
pada
saatsatu
Komisi
Umum
melaksanakan
kampanye
adalah
salah
hal Pemilihan
penting dalam
proses
pemilu. Dana
kampanye
diperlukan
oleh
partai politik dan
kandidatnya
fungsinya
dapat
dikelompokkan
sebagai
berikut:untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
100
vi
1. Tugas, wewenang dan fungsi lembaga penyelenggara
pemilu, yaitu terkait dengan core business sesuai siklus
pemilu (sebelum, selama dan sesudah pemilu).
2. Struktur Organisasi dan Tata Kerja Komisi
Pemilihan Umum
a. Hubungan Anggota dan Sekretariat Jenderal/
Sekretariat Komisi Pemilihan Umum
b. Hubungan KPU dengan KPU Provinsi dan KPU
Kabupaten/Kota serta lembaga penyelenggara pemilu ad
hoc.
c. Mekanisme pengambilan
penyelenggara pemilu
keputusan
lembaga
d.Standarisasi
pengukuran
penyelenggara pemilu
kinerja
lembaga
e. Pemberhentian anggota lembaga penyelenggara
pemilu
3. Hubungan KPU dengan Bawaslu, dan DKPP
Tujuan dan Metode
1.Tujuan
Tujuan penulisan adalah melakukan inventarisasi
permasalahan yang dihadapi oleh Komisi Pemilihan Umum
dalam melaksanakan fungsi manajemen penyelenggaraan
Pemilu untuk kemudian dilakukan pembahasan terhadap
permasalahan tersebut guna merumuskan rekomendasi
bagi Komisi Pemilihan Umum.
101
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh2.Metode
politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Penyusunan laporan ini dilakukan dengan menggunakan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
dua metode, yaitu:
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
a. Studi
Pustaka
sudah menjadi
fenomena
universal didukung dengan berbagai studi
studi Berbagai
pustaka variabel
dilakukan
penelaahan
empiris di Kegiatan
berbagai Negara.
yangmelalui
mempengaruhi
politcal
budgetbuku,
cycles laporan
seperti perubahan
struktur anggaran lain
baikyang
secara
penelitianpola
danpada
dokumen-dokumen
agregatmembahas
maupun secara
spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
Komisi
Pemilihan
Umum selalu
penyelenggara
dalam pemilu,
praktek penganggaran
di Indonesia yang
berkaitan dengan
siklus
serta studi perbandingan
pengalaman
beberapa
Pemilunegara
2009 ataupun
Pemilu
2014. Melihat perkembangan
saat
terkaitmenjelang
manajemen
penyelenggaraan
Pemilu.
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
b. Focus Group Discussion atau diskusi terbatas
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
dilakukan untuk mengelaborasi lebih lanjut terhadap kajian
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
awal yang telah dihasilkan dalam kegiatan pengumpulan
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
data guna memperkaya gagasan dalam penulisan jurnal
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
ini.
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama
ini, pihak yang duduk
baik diperlu
parlemen
maupun pemerintah
Penyelenggaraan
pemilu
dipahami
sebagai
mayoritas
diduduki
oleh
laki-laki.
Apabila
tidak
diperjuangkan,
hal ini
sebuah siklus yang dimulai dari kegiatan perencanaan,
akan berdampak
negatif terhadap
aspirasi perempuan
dalam
pelaksanaan,
evaluasi mandeknya
dan kembali
menyiapkan
hukumpenyelenggaraan
dan pemerintahan. pemilu
Dan kondisi
tersebut
ditulis
oleh Nindita
yang
akan telah
datang,
maka
tugas
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
pokok dan fungsi penyelenggara Pemilu tidak terbatas
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
pada pelaksanaan Pemilu saja. Untuk menjamin
2009.”
Tugas, wewenang dan fungsi
Komisi Pemilihan Umum
kesinambungan penyelenggaraan Pemilu dan peningkatan
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
kualitas demokrasi, pasca penyelenggaraan Pemilu
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
dilaksanakan kegiatan antara lain melakukan evaluasi
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
terhadap sistem dan manajemen Pemilu, melaksanakan
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
updating data pemilih, pendidikan pemilih, pemeliharaan
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
102
vi
arsip/dokumen, dan penyampaian informasi hasil Pemilu.
Sebagai sebuah siklus Pemilu dibagi dalam tiga periode,
yaitu: (1) Pra-Pemilu (pre-electoral), (2) Periode Pemilu
(electoral) dan (3) Pasca-Pemilu (post-electoral).
Pada periode pra-Pemilu KPU melakukan kegiatankegiatan seperti penyusunan program dan anggaran
Pemilu, rekrutmen personel badan penyelenggara,
pengadaan barang dan jasa pemerintah, dan bimbingan
teknis. Sedangkan pada periode pemilu, yang dapat
dikatakan puncak kegiatan Pemilu itu sendiri, kegiatankegiatan yang dilakukan diantaranya adalah penetapan
daftar calon tetap, kampanye, distribusi logistik,
pemungutan dan penghitungan suara. Dan pada periode
pasca Pemilu kegiatan yang biasanya dilakukan oleh KPU
adalah pengarsipan hasil-hasil Pemilu, penelitian untuk
perbaikan proses Pemilu, reformasi badan penyelenggara
dan pengembangan jaringan pihak-pihak terkait.
Dengan Pemilu sebagai sebuah siklus, maka KPU sebagai
penyelenggara Pemilu akan terus-menerus melaksanakan
kegiatan-kegiatan kepemiluan, baik ada tahapan maupun
tidak ada kegiatan tahapan Pemilu.
Dari sisi penyelenggara Pemilu, paling tidak terdapat 7
(tujuh) fungsi lembaga penyelenggara Pemilu seperti KPU
yang perlu diperhatikan, yaitu:
(1) Fungsi Personalia. Walaupun KPU hanya
mempekerjakan sejumlah kecil orang secara permanen,
namun pada saat penyelenggaraan Pemilu ia akan
melibatkan jutaan orang. Dikarenakan personil yang
bersifat permanen maupun yang temporer sama-sama
103
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat harus
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
memerintah.
menunjukkan
kinerja
yang untuk
profesional,
maka
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan
dengan apa
yangberkualitas
disampaikan
administrasi
kepegawaian
dan pelatihan
yang
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
akan menjadi penting.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
(2) Fungsi Keuangan. Anggaran untuk Pemilu harus
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
disusun, dibahas, dinegosiasikan, disetujui dan dimonitor.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Banyak dana akan digunakan untuk personil dan logistik,
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
kesemuanya
perlu
secara
agregatyang
maupun
secara spesifik
padadipertanggungjawabkan
tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam baik.
praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009
2014. Melihat
perkembangan
saat
(3)ataupun
Fungsimenjelang
Hukum.Pemilu
KPU selain
memiliki
peran dalam
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
menafsirkan dan menyusun peraturan pelaksana Undangpolitical
corruption
cycleiaatau
korupsi politik
pada
tahun-tahun
undang
Pemilu,
jugasiklus
diharapkan
mampu
memberikan
Pemilusaran
yang telah
meningkat dengan
ekstrim.
rekomendasi
penyempurnaan
Undang-undang
Masyarakat
Pemilu. tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
(4) Fungsi Investigasi. Temuan dan laporan mengenai
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
masalah teknis dan administratif yang berkaitan dengan
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
tahapan Pemilu oleh penyelenggara Pemilu maupun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
pelanggaran yang dilakukan oleh Peserta Pemilu, akan
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
membutuhkan kemampuan investigasi.
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
dan Operasi.
Persiapan hal
danini
mayoritas (5)Fungsi
diduduki olehLogistik
laki-laki. Apabila
tidak diperjuangkan,
pengerahan
personil
logistikaspirasi
dan perempuan
pemeliharaan
akan berdampak
negatif
terhadapdan
mandeknya
dalam
hukumjaringan
dan pemerintahan.
Dan kondisi
tersebut
telah ditulis
Nindita
komunikasi
merupakan
bagian
yangoleh
esensial
Paramastuti
yang berjudul:
“Perempuan dan Korupsi:
dalamdalam
setiaptulisannya
penyelenggaraan
Pemilu.
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
(6) Fungsi Pengolahan Data. Pemrosesan data dalam
2009.”
jumlah yang besar akan sangat dibutuhkan baik secara
Masih
berhubungan
dengantidak
tema akuntabilitas
politik, Didik
langsung
maupun
langsung, keuangan
secara permanen
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
maupun temporer untuk mengolah daftar pemilih dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
hasil Pemilu.
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
104
vi
(7) Fungsi Informasi dan Publikasi. Penyebarluasan
informasi Pemilu dan pendidikan pemilih merupakan
bagian penting dari tugas KPU. Hal ini menjadi lebih
penting lagi pada saat terjadinya perubahan sistem Pemilu
dan menurunnya angka tingkat partisipasi dalam Pemilu.
Implementasi fungsi-fungsi utama penyelenggara
Pemilu tersebut di atas ke dalam struktur jabatan di
lingkungan KPU berwujud pada pemisahan jabatan
Anggota KPU sebagai jabatan politik karena dipilih oleh
DPR dan jabatan Sekretariat Jenderal KPU sebagai jabatan
karir PNS. Intinya, anggota KPU memiliki domain bidang
tugas pada level perumus kebijakan sedang Sekretariat
Jenderal KPU sebagai pelaksana kebijakan3.
Struktur Organisasi dan Tata
Kerja Komisi Pemilihan Umum
1. Hubungan Anggota KPU dengan Sekretariat
Jenderal/Sekretariat KPU
Salah satu yang perlu dipertimbangkan dalam penataan
struktur organisasi dan tata kerja kelembagaan Komisi
Pemilihan Umum adalah hubungan antara Anggota KPU
dengan Sekretariat Jenderal/Sekretariat KPU. Hubungan
kelembagaan penyelenggara pemilu dengan Sekretariat
seharusnya dijaga soliditasnya. Akan tetapi, yang sering
terjadi adalah kesenjangan antara Anggota KPU dengan
Sekretariat, baik di tingkat Pusat maupun daerah.
3 Sekretariat Jenderal KPU RI, Road Map Reformasi Birokrasi 2013, http://
kpu.go.id/koleksigambar/ ROADMAP_RB_2013_rev28314-ver2003-1300.pdf
105
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat Kesenjangan
oleh politisi danini
pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
mulai dirasakan
sejak
tahun
2001 ketika
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan
apa yang
disampaikan
KPU mulai
dibentuk
sebagai dengan
lembaga
penyelenggara
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
pemilu yang mandiri, di mana Anggota KPU Anggaran
berasal
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
dari latar belakang civil society (akademisi dan aktivis
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
NGO) sementara jajaran Sekretariat Jenderal berlatar
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
belakang birokrat. Jajaran Sekretariat KPU sebagian besar
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
masih merupakan pegawai negeri sipil yang berasal dari
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Kementerian Dalam Negeri atau lembaga lainnya. Ketika
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Ketua LPU adalah ex-officio Menteri Dalam Negeri, para
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
staf
yang perhatian
sebagiantidak
besar
daripolitical
Kementerian
Dalammelainkan
Negeri
ini, yang
menjadi
hanya
budget cycles,
tidak
memiliki
ketika
political
corruption
cycle persoalan
atau siklus psikopolitik.
korupsi politik Namun
pada tahun-tahun
berasal
dariekstrim.
latar belakang civil society
PemiluAnggota
yang telahKPU
meningkat
dengan
seringkali
dianggap
cukupsebagai
memiliki
di
Masyarakat
tidak
saja dapattidak
ditafsirkan
satu legitimasi
kesatuan, tetapi
depan
jajaran
Sekretariat.
Kesenjangan
antaralaki-laki
Anggota
juga perlu
dibatasi
mengingat
perbedaan
hakikat antara
dan
KPU
dan
sekretariat
jenderal
masih
terbawa
hingga
ke
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
periode faktual
KPU periode
2007-2012,
dan turut
menjadi
syarat verifikasi
untuk menjadi
peserta pemilu.
UU No.
8 Tahun
2012 menegaskan
setiap
partaipenataan
politik peserta
pemilu harus
memenuhi
pertimbangan
dalam
kelembagaan
KPU.
Salah
30% keterwakilan
perempuan.
ini dalam
patut diperjuangkan,
satu langkah
cukup Kondisi
penting
periode inimengingat
adalah
praktikrekruitmen
selama ini, pihak
yang duduk
di parlemen
pegawai
KPU, baik
sehingga
mulaimaupun
masukpemerintah
pegawai
mayoritas
diduduki
oleh
laki-laki.
Apabila
tidak
diperjuangkan,
yang bukan merupakan pindahan dari lembaga lain hal
atauini
akan berdampak
negatif terhadap
mandeknyaini
aspirasi
perempuan
dalam
pegawai organik
KPU. Rekruitmen
belakangan
terhenti
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
karena kebijakan moratorium PNS, namun kembali dibuka
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
tahun 2013. Tahun 2014, KPU kembali akan memiliki
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam
Pemilu DPR RI
pegawai yang merupakan fresh-people. 4
2009.”
Tugas kesekretariatan yang merupakan bagian birokrasi
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
adalah membantu tugas Komisioner, sementara Komisioner
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
bukan Pengelolaan
birokrat. PNS
organik
KPU baru
pada tahun
2008,
Akuntabilitas
Dana
Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
4 Abdul Gaffar Karim, Memahami Kebutuhan akan Electoral Management
kampanye
diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
Course bagi Penyelenggara Pemilu di Indonesia, 2014
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
106
vi
di daerah banyak yang pinjaman dari pemda, sehingga
dedikasi kesekretariatan tidak murni untuk kepentingan
pemilu. Di Sekretariat Jenderal KPU, reformasi birokrasi
dilakukan untuk memperbaiki kinerja agar hasilnya nanti
berdampak positif terhadap pelaksanaan kewenangan
KPU sebagai penyelenggara pemilu. Tugas dan wewengan
Sekretariat Jenderal KPU adalah sebagai berikut :
a. membantu menyusun program dan anggaran
Pemilu
b. memberikan dukungan teknis administratif kepada
anggota KPU
c. membantu melaksanakan tugas KPU dalam rengka
menyelenggarakan Pemilu
d. membantu merumuskan dan menyusun rancangan
Peraturan dan Keputusan KPU
e.memberikan bantuan
penyelesaian sengketa Pemilu
hukum
dan
fasilitasi
f. membantu menyusun laporan penyelenggaraan
kegiatan dan pertanggungjawaban KPU
g. melaksanakan tugas-tugas lain sesuai peraturan
per undang – undangan yang berlaku.
Adapun Wewenang Sekretariat Jenderal KPU adalah
sebagai berikut :
a. mengadakan dan mendistribusikan perlengkapan
penyelenggaraan Pemilu, berdasarkan norma, standar,
prosedur dan kebutuhan yang ditetapkan oleh KPU
b.
mengadakan
perlengkapan
penyelenggaraan
107
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat Pemilu
oleh politisi
dan pemerintah
untuk
memerintah.
sesuai
peraturan yang
per terpilih
Undang
– undangan
yang
Pandangan
berlakuHamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
c.mengangkat tenaga pakar/ahli berdasarkan
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
kebutuhan atas persetujuan KPU
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
memberikan
pelayanan
administrasi,
empiris di d.
berbagai
Negara. Berbagai variabel
yang mempengaruhi
politcal
dan kepegawaian
dengan
perundangbudgetketatausahaan
cycles seperti perubahan
pola padasesuai
struktur
anggaran
baik secara
agregatundangan.
maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek
penganggaran
yang berkaitan
siklus
Walaupun
belumdi Indonesia
dilaksanakan
dengandengan
optimal,
Pemiluprinsip-prinsip
2009 ataupun menjelang
Pemilu
2014. Melihat perkembangan
saat
tata kelola
pemerintahan
yang baik telah
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
dilakukan. Seperti prinsip keterbukaan dan transparansi.
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Keterbukaan merujuk pada ketersediaan informasi dan
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
kejelasan bagi masyarakat umum untuk mengetahui proses
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagai
satu telah
kesatuan,
tetapi
penyusunan,
pelaksanaan,
dan hasil
yang
dicapai
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
dari suatu kebijakan yang telah diputuskan.
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 tahun 2011
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
Sekretariatsetiap
Jenderal
di peserta
pusat dan
Sekretariat
KPU
2012 menegaskan
partaiKPU
politik
pemilu
harus memenuhi
Provinsi dan
Sekretariat
KPUini
Kabupaten/kota
mempunyai
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
patut diperjuangkan,
mengingat
hubungan
hierarkis
dan
satu
manajemen
kepegawaian.
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Duadiduduki
pengaturan
tersebutApabila
menjadi
kunci dalam
mayoritas
oleh laki-laki.
tidakfaktor
diperjuangkan,
hal ini
penataan negatif
Sekretariat
Jenderal aspirasi
KPU, perempuan
dimana telah
akan berdampak
terhadap mandeknya
dalam
hukumdiamanatkan
dan pemerintahan.
Dan kondisi tersebut
telah ditulis
Nindita
Undang-Undang
tersebut
terkaitoleh
dengan
Paramastuti
dalam tulisannya
yangKPU
berjudul:
dan Korupsi:
pembentukan
sekretariat
baik “Perempuan
yang berkedudukan
di
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR
pusat, provinsi, kabupaten dan kota berdasar usulan dariRI
2009.”KPU sendiri. Terkait dengan tugas dan fungsi sekretariat,
Masih
berhubungan
dengan tema
akuntabilitas
politik,
Didik
dalam
Undang-Undang
Nomor
15 tahunkeuangan
2011 diatur
bahwa
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
Sekretariat Jenderal KPU, Sekretariat KPU Provinsi,
Akuntabilitas
PengelolaanKPU
Dana Kabupaten/Kota
Kampanye, menguraikan
bahwa
dana
dan Sekretariat
dibentuk
untuk
kampanye
adalah salah
satu hal tugas
penting
dalam
proses pemilu.
Dana
mendukung
kelancaran
dan
wewenang
KPU, KPU
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota. Dengan demikian,
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
108
vi
tugas, fungsi, dan susunan organisasi Sekretariat Jenderal
KPU, sekretariat KPU Provinsi, dan sekretariat KPU
Kabupaten/Kota akan mencerminkan tugas dan wewenang
serta kewajiban KPU. 5
Dukungan Sekretariat terhadap Kebijakan Komisioner
menjadi penting di dalam penyelenggaraan pemilu,
sebagaimana diatur di dalam UU Nomor 15 Tahun 2011
tentang Penyelenggara Pemilu, khususnya Pasal 55 sampai
dengan Pasal 68. Dukungan tersebut di antaranya dapat
diukur berdasarkan dua hal berikut: SDM pegawai dan
perencanaan anggaran. Dalam hal SDM pegawai, de facto
pegawai Sekretariat KPU di Daerah hampir semuanya
berasal dari Pemerintah Daerah. Sering kali, Sekretariat
kurang kondusif dan kurang sejalan dengan komisioner
karena timbul kompleks psikologis di kalangan pegawai
bahwa atasannya bukanlah KPU melainkan Pemerintah
Daerah, artinya terjadi dualisme kepemimpinan dan bias
kepentingan di KPU. Hal ini pada gilirannya berdampak
pada efektivitas kerja dan kinerja KPU di dalam
menyelenggarakan pemilu. Ke depan, KPU tentunya
harus mempunyai perencanaan, rekrutmen, dan sistem
karier pegawai yang memenuhi persyaratan khusus
seperti memiliki pengetahuan di bidang kepemiluan,
pemerintahan, manajemen keuangan, manajemen SDM,
dan manajemen asset. Di samping itu, SDM pegawai
KPU juga memiliki reputasi dan rekam jejak yang baik,
serta memiliki kredibilitas, integritas, dan kepemimpinan
5 Sekretariat Jenderal KPU RI, Road Map Reformasi Birokrasi 2013, http://
kpu.go.id/koleksigambar/ROADMAP_RB_2013_rev28314-ver2003-1300.pdf
109
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat yang
oleh politisi
pemerintah
yang terpilihanggaran,
untuk memerintah.
baik. dan
Dalam
hal perencanaan
penyediaan
Pandangan
Hamdan
tersebut
dengan
yang disampaikan
anggaran
Pemilu
2014 berkaitan
seringkali
tidakapa
selaras
(sinkron)
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
dengan program kegiatan atau kebutuhan Anggaran
teknis
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
penyelenggaraan Pemilu. Seringkali ditemukan adanya
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan tetapi tidak
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
teranggarkan, sedangkan pada sisi lain ada anggaranbudget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
anggaran yang tidak dapat digunakan karena tidak jelas
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
peruntukannya. Selain itu pengalokasian anggaran untuk
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
suatu kegiatan terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
kegiatan
jumlah
peserta
yang harus
dilibatkan.
Oleh
ini, yang
menjadi dan
perhatian
tidak
hanya political
budget
cycles, melainkan
karena
itu, dalam
penyusunan
anggaran
sebaiknya
bagian
political
corruption
cycle atau
siklus korupsi
politik
pada tahun-tahun
dengan
bagian program dan teknis
Pemiluanggaran
yang telahberkoordinasi
meningkat dengan
ekstrim.
penyelenggaraan
Pemilu,
sehinggasebagai
tidak terjadi
lagi adanya
Masyarakat
tidak saja dapat
ditafsirkan
satu kesatuan,
tetapi
ketidakselarasan
penganggaran
dengan
pelaksanaan
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
6
kegiatannya.
perempuan.
Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi
faktual untukKPU
menjadi
pesertaKPU
pemilu.Provinsi,
UU No. 8 KPU
Tahun
2. Hubungan
dengan
2012 menegaskan
setiap partai
politik peserta
pemilu harus
memenuhi
Kabupaten/Kota
dan lembaga
penyelenggara
pemilu
ad
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
hoc.
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional biasanya
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
diadopsi oleh negara demokrasi yang bersusunan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
kesatuan. Dalam negara seperti ini hanya ada satu badan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
penyelenggara
pemiluyang
di berjudul:
seluruh wilayah.
Kalaupun
di
Paramastuti
dalam tulisannya
“Perempuan
dan Korupsi:
daerahPerempuan
dibentukMenghadapi
badan penyelenggara
makaRI
Pengalaman
Korupsi dalampemilu,
Pemilu DPR
2009.”badan penyelenggara pemilu tersebut merupakan bagian
danberhubungan
bawahan dengan
dari penyelenggara
pemilu
yang
bersifat
Masih
tema akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
nasional.
Antara
badan
penyelenggara
pemilu
nasional
Supriyanto
dan Lia
Wulandari
dalam
tulisan berjudul
Transparansi
dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
6 LP3ES, Laporan Evaluasi Pemilu 2014, hal. 23
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
110
vi
dengan lokal terdapat hubungan hierarkis.7
Sebagai penyelenggara pemilu legislatif, presiden
dan wakil presiden, dan kepala daerah, KPU bertugas
dan berwenang untuk mendesain peraturan, membuat
perencanaan, program dan mengkoordinasikan semua
tahapan-tahapan pemilu dengan KPU Provinsi dan KPU
Kabupaten/Kota. Dalam hal ini, kedudukan KPU Provinsi,
KPU Kabupaten/Kota bertugas melaksanakan semua
tahapan pemilu di tingkat daerah masing-masing.
Kedudukan KPU sebagai super-ordinasi juga dilihat dari
kewenangan punitive yang dimilikinya dalam melakukan
penindakan pelanggaran pada jajarannya, seperti
dinyatakan dalam Pasal 8 ayat (1) huruf o Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2011 bahwa KPU dapat mengenakan
sanksi administrative dan/atau menonaktifkan sementara
anggota KPU Provinsi yang terbukti melakukan
tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan
penyelenggaraan pemilihan berdasarkan rekomendasi
Bawaslu dan/atau ketentuan peraturan perundangundangan yang ada.
3.Mekanisme pengambilan
penyelenggara pemilu
keputusan
lembaga
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang
Penyelenggara Pemilu mengatur mekanisme pengambilan
keputusan KPU dalam Pasal 30-36 sebagai berikut:
a. Pengambilan keputusan KPU, KPU Provinsi, dan
7 Ramlan Surbakti dan Kris Nugroho, Studi tentang Desain Kelembagaan
Pemilu yang Efektif, (Jakarta: Kemitraan, 2015), hal. 18-19.
111
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat KPU
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
Kabupaten/Kota
dilakukan
dalam
rapat
pleno.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
b. Jenis rapat pleno adalah rapat pleno tertutup dan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
rapat pleno terbuka.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
c. Rekapitulasi
penghitungan
suara
danberbagai
penetapan
sudah menjadi
fenomena universal
didukung
dengan
studi
Pemilu
dilakukan
olehvariabel
KPU, yang
KPUmempengaruhi
Provinsi, danpolitcal
KPU
empirishasil
di berbagai
Negara.
Berbagai
dalam pola
rapat
pleno
terbuka.
budgetKabupaten/Kota
cycles seperti perubahan
pada
struktur
anggaran baik secara
agregat maupun
secara pleno
spesifik KPU
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
d. Rapat
sah apabila
dihadiri
oleh
dalam sekurang-kurangnya
praktek penganggaran di5 Indonesia
yang berkaitan
siklus
(lima) orang
anggota dengan
KPU yang
Pemiludibuktikan
2009 ataupun
menjelang
Pemilu
2014. Melihat perkembangan saat
dengan
daftar
hadir.
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
e. Keputusan rapat pleno KPU sah apabila disetujui
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
oleh sekurang-kurangnya 4 (empat) orang anggota KPU
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
yang hadir.
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
Dalam
hal tidak
tercapai hakikat
persetujuan,
juga perluf.dibatasi
mengingat
perbedaan
antara keputusan
laki-laki dan
rapat
pleno
KPU
diambil
berdasarkan
suara
terbanyak.
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi
faktualpleno
untukKPU
menjadi
pesertadan
pemilu.
No. 8 Tahun
g. Rapat
Provinsi
KPUUUKabupaten/
2012 menegaskan
partai
politik oleh
peserta
pemilu harus memenuhi
Kota sah setiap
apabila
dihadiri
sekurang-kurangnya
4
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini patut diperjuangkan,
mengingat
(empat) orang
anggota
KPU Provinsi
dan KPU Kabupaten/
praktikKota
selama
ini, pihak
yang duduk
baikdaftar
di parlemen
yang
dibuktikan
dengan
hadir.maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
h. Keputusan rapat pleno KPU Provinsi dan KPU
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Kabupaten/Kota sah apabila disetujui oleh sekuranghukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
kurangnya 3 (tiga) orang anggota KPU Provinsi dan KPU
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Kabupaten/Kota yang hadir.
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.” i. Dalam hal tidak tercapai persetujuan, keputusan
rapat
pleno KPU
Provinsi
dan KPUkeuangan
Kabupaten/Kota
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
politik, Didik
diambil
Supriyanto
dan berdasarkan
Lia Wulandarisuara
dalamterbanyak.
tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas
menguraikan
bahwa
dana
j. Pengelolaan
Dalam hal Dana
tidakKampanye,
tercapai kuorum,
khusus
rapat
kampanye
adalah
satu hal penting
dalam
proses pemilu.
Dana
pleno
KPU,salah
KPU Provinsi,
dan KPU
Kabupaten/Kota
untuk
kampanye
diperlukanhasil
olehPemilu
partai politik
dan
kandidatnya
menetapkan
ditunda
selama
3 (tiga)untuk
jam. dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
112
vi
k. Dalam hal rapat pleno telah ditunda dan tetap
tidak tercapai kuorum, rapat pleno dilanjutkan tanpa
memperhatikan kuorum.
l. Khusus rapat pleno KPU, KPU Provinsi, dan KPU
Kabupaten/Kota untuk menetapkan hasil Pemilu tidak
dilakukan pemungutan suara.
m. Undangan dan agenda rapat pleno KPU, KPU
Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota disampaikan paling
lambat 3 (tiga) hari sebelumnya.
n. Rapat pleno dipimpin oleh Ketua KPU, Ketua KPU
Provinsi, dan Ketua KPU Kabupaten/Kota.
o. Apabila ketua berhalangan, rapat pleno KPU, KPU
Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota dipimpin oleh salah
satu anggota yang dipilih secara aklamasi.
p. Sekretaris Jenderal KPU, sekretaris KPU Provinsi,
dan sekretaris KPU Kabupaten/Kota wajib memberikan
dukungan teknis dan administratif dalam rapat pleno.
Sekretariat wajib hadir dalam rapat pleno dan memiliki
hak bicara, meskipun tidak memiliki hak suara dalam
pengambilan keputusan.
q. Ketua wajib menandatangani penetapan hasil
Pemilu yang diputuskan dalam rapat pleno dalam waktu
paling lama 3 (tiga) hari.
r.Dalam hal penetapan hasil Pemilu tidak
ditandatangani ketua dalam waktu 3 (tiga) hari, salah satu
anggota menandatangani penetapan hasil Pemilu.
s. Dalam hal tidak ada anggota KPU, KPU Provinsi,
dan KPU Kabupaten/Kota yang menandatangani
113
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat penetapan
oleh politisi dan
pemerintah
terpilih
untuk memerintah.
hasil
Pemilu, yang
dengan
sendirinya
hasil Pemilu
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan dengan apa yang disampaikan
dinyatakan
sah dan
berlaku.
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Permasalahan dalam praktik, rapat pleno terutama
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
pada masa tahapan pemilu seringkali harus dilakukan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
secara mendadak karena urgensi permasalahan yang
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
harus segera diambil keputusan, sehingga ketentuan Pasal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
ayat (1)
Undangan
rapatPemilu,
pleno terkonfirmasi
KPU, KPU
agregat35
maupun
secara
spesifik dan
padaagenda
tahun-tahun
dan KPU Kabupaten/Kota
disampaikan
paling
dalam Provinsi,
praktek penganggaran
di Indonesia yang berkaitan
dengan
siklus
lambat
3
(tiga)
hari
sebelumnya
menjadi
sukar
untuk
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
dipenuhi.
Sebaiknya
ketentuan
mengenai
jangkamelainkan
waktu
ini, yang
menjadi perhatian
tidak
hanya political
budget cycles,
penyampaian
undangan
rapat
plenopolitik
tidakpada
diatur
dalam
political
corruption cycle
atau siklus
korupsi
tahun-tahun
PemiluUndang-Undang,
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.
cukup
dalam
peraturan KPU atau jika
akan diatur
dalam
waktunya
Masyarakat
tidak saja
dapatUndang-Undang
ditafsirkan sebagai jangka
satu kesatuan,
tetapi
menjadi
paling
lambat 1perbedaan
(satu) hari.
juga perlu
dibatasi
mengingat
hakikat antara laki-laki dan
perempuan.
Seperti
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai lembaga
salah satu
4.
Standarisasi
pengukuran
kinerja
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
penyelenggara pemilu
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
The International IDEA menetapkan 7 prinsip yang
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
berlaku umum untuk menjamin legitimasi dan kredibilitas
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
penyelenggara
tersebut yaitu:
mayoritas
diduduki olehpemilu.
laki-laki. Prinsip-prinsip
Apabila tidak diperjuangkan,
hal ini
independence,
impartiality,
integrity,
transparency,
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
8
professionalism
dan service-mindedness.
hukumefficiency,
dan pemerintahan.
Dan kondisi tersebut
telah ditulis oleh Nindita
Sementara
ACE Project
penyelenggara
Paramastuti
dalamitu,
tulisannya
yang membagi
berjudul: “Perempuan
dan pemilu
Korupsi:
(electoral
management
body/EMB)
menjadi
model,DPR
yaituRI
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam 3Pemilu
2009.”penyelenggara pemilu independen, penyelenggara pemilu
9
pemerintah,
dan
penyelenggara
pemilukeuangan
campuran.
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
politik,
Didik
SupriyantoPada
dan Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
model independen, pemilu diselenggarakan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
8 Alan
Wall dkk,
Electoral
Design:
The International
IDEA Hand
kampanye
adalah
salah
satuManagement
hal penting
dalam
proses pemilu.
Dana
Book, International IDEA, Stockholm, Swedia, hal. 22-25.
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
9 ACE-Electoral Knowledge Network “Electoral Management Body”
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
114
vi
oleh lembaga penyelenggara pemilu independen yang
bersifat otonom dan tidak berkaitan dengan kekuasaan
eksekutif. Lembaga ini mengelola sendiri keuangannya.
Penyelenggara pemilu independen tidak bertanggung jawab
kepada kementerian atau departemen. Meski demikian,
lembaga ini bisa bertanggung jawab kepada lembaga
legislatif, yudikatif, atau kepala negara. Penyelenggara
pemilu independen ini beranggotakan orang dari
lembaga eksekutif. Di sejumlah Negara, seperti Jamaica,
Rumania, Suriname, dan Vanuatu, penyelenggara pemilu
independen terdiri atas dua badan (double independent
framework). Satu badan bertanggung jawab atas kebijakan
yang berkaitan dengan proses pemilu, dan satu badan
lainnya bertanggung jawab atas penyelenggaraan dan
implementasi kebijakan dalam proses pemilu.
Pada model penyelenggara pemilu pemerintah, pemilu
diselenggarakan dan dikelola oleh eksekutif, melalui
kementerian, umumnya Kementerian Dalam Negeri atau
Kementerian Kehakiman dan/atau otoritas lokal. Di tingkat
pusat, lembaga penyelenggara pemilu ini dipimpin oleh
menteri atau pegawai negeri sipil. Anggarannya berasal
dari pemerintah. Negara-negara yang menerapkan sistem
ini adalah Amerika Serikat, Inggris, Swedia dan Swiss.
Pada model campuran (mixed), penyelenggara
pemilu memiliki dual struktur. Dalam hal kebijakan
dan monitoring, bersifat independen dari eksekutif,
seperti halnya pada model independen. Akan tetapi,
implementasinya dilakukan oleh sebuah departemen atau
pemerintah lokal, seperti halnya model pemerintah. Saat
115
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat ini,
oleh dari
politisi
dan negara,
pemerintah
yang terpilih
memerintah.
204
sebanyak
122 untuk
negara
menerapkan
Pandangan
tersebut
berkaitanIndonesia.
dengan apa Selebihnya,
yang disampaikan
model Hamdan
independen,
termasuk
54
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
negara menerapkan model pemerintah, dan 28 negara
pada Tahun
Pemilu.” model
Yuna menjelaskan
Political
budget ACE
cycles
menerapkan
campuran.bahwa
Dalam
uraiannya,
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
hanya menekankan independensi dari eksekutif, dan tidak
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
terlalu menekankan independensi dari pihak lain seperti
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
partai dan legislatif. Akan tetapi, soal independensi ini,
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
ACE juga menegaskan bukan semata pada soal strukturnya,
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
namun juga perilakunya. 10
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Sementara
itu, International
for Democracy
and Electoral
ini, yang menjadi
perhatian
tidak hanya political
budget cycles,
melainkan
Assistance
menyatakan
bahwa
penyelenggaraan
political
corruption(IDEA)
cycle atau
siklus korupsi
politik
pada tahun-tahun
Pemilupemilu
yang telah
meningkat dengan
ekstrim.
memerlukan
lembaga
penyelenggara pemilu yang
bukan hanya
independen
dan imparsial
darikesatuan,
pemerintah,
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagai satu
tetapi
tapi dibatasi
juga dari
pengaruh
pihakhakikat
lain, antara
karenalaki-laki
hal itu
juga perlu
mengingat
perbedaan
dan
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
salah satu
merupakan
area kritikal
bagiperempuan
lembaga sebagai
penyelenggara
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
pemilu, untuk mengimplementasikan keputusan penting
11
2012 menegaskan
setiap partai politik
pemilu
harus memenuhi
yang bisa mempengaruhi
hasilpeserta
pemilu.
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
5. Pemberhentian Anggota KPU, KPU Provinsi dan
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
KPU Kabupaten/Kota
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Pemberhentian
anggota
KPU, KPU
Provinsi,
dan KPU
akan berdampak
negatif terhadap
mandeknya
aspirasi
perempuan
dalam
Kabupaten/Kota
didahului
dengan
verifikasi
oleh
DKPP
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
atas: dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Paramastuti
Pengalaman
Korupsi dari
dalam Penyelenggara
Pemilu DPR RI
a.Perempuan
pengaduanMenghadapi
secara tertulis
2009.”Pemilu, peserta Pemilu, tim kampanye, masyarakat, dan
Masih
berhubungan
dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
pemilih;
dan/atau
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana
Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
10 Harun
Husein, Pemilu
Indonesia:
Fakta, Angka,
Analisis, dan Studi
Banding,
Jakarta,
Perludem,
2014,
hal.
586.
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
11 IDEA, Standar-Standar Internasional untuk Pemilihan Umum: Pedoman
kampanye
diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
Peninjauan Kembali Kerangka Hukum Pemilu, Jakarta: IDEA, 2002, hal. 45.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
116
vi
b. rekomendasi dari DPR.
Dalam proses pemberhentian tersebut, Anggota KPU,
KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota harus diberi
kesempatan untuk membela diri di hadapan DKPP.
Dalam hal rapat pleno DKPP memutuskan pemberhentian
anggota sebagaimana dimaksud pada, anggota yang
bersangkutan diberhentikan sementara sebagai anggota
KPU, KPU Provinsi, atau KPU Kabupaten/Kota sampai
dengan diterbitkannya keputusan pemberhentian. Tata
cara pengaduan, pembelaan, dan pengambilan putusan
oleh DKPP diatur lebih lanjut dengan Peraturan DKPP.
Anggota KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota
diberhentikan sementara karena:
a. menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana
yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau
lebih;
b. menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana
Pemilu; atau
c. memenuhi ketentuan
dalam Pasal 28 ayat (3).
sebagaimana
dimaksud
Dalam hal anggota KPU, KPU Provinsi, atau KPU
Kabupaten/Kota dinyatakan terbukti bersalah karena
melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, anggota
yang bersangkutan diberhentikan sebagai anggota KPU,
KPU Provinsi, atau KPU Kabupaten/Kota. Dalam hal
anggota KPU, KPU Provinsi, atau KPU Kabupaten/Kota
dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana
117
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat berdasarkan
oleh politisi dan
pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
putusan
pengadilan
yang
telah
memperoleh
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
kekuatan
hukum
tetap,
anggota
yang
bersangkutan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
harus diaktifkan kembali. Dalam hal surat keputusan
pada Tahun
Pemilu.”kembali
Yuna menjelaskan
bahwa
Political pada
budgettidak
cycles
pengaktifan
sebagaimana
dimaksud
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
diterbitkan dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari,
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
dengan sendirinya anggota KPU, KPU Provinsi, atau KPU
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Kabupaten/Kota dinyatakan aktif kembali. Dalam hal
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
anggota KPU, KPU Provinsi, atau KPU Kabupaten/Kota
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
dinyatakan tidak terbukti bersalah sebagaimana dimaksud
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
pada
ayatperhatian
(3) dantidak
ayathanya
(4), dilakukan
rehabilitasi
nama
ini, yang
menjadi
political budget
cycles, melainkan
anggota
KPU,
KPU
Provinsi,
atau KPU
political
corruption
cycle
atau
siklus korupsi
politikKabupaten/Kota
pada tahun-tahun
yang
bersangkutan.
Pemberhentian
sementara
paling lama
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
60 (enam
puluh)
hari kerja
dan dapat
diperpanjang
paling
Masyarakat
tidak
saja dapat
ditafsirkan
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
lama
30
(tiga
puluh)
hari
kerja.
Dalam
hal
perpanjangan
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
waktuSeperti
sebagaimana
dimaksud perempuan
telah berakhir
dansalah
tanpa
perempuan.
halnya keterwakilan
sebagai
satu
pemberhentian
tetap,
yangpeserta
bersangkutan
syarat verifikasi
faktual untuk
menjadi
pemilu. UUdinyatakan
No. 8 Tahun
2012 menegaskan
setiap Undang-Undang.
partai politik peserta pemilu harus memenuhi
berhenti dengan
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 15 Tahun
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
2015, dalam penyelenggaraan pemilihan umum terdapat 3
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
fungsi yang saling berkaitan yang diinstitusionalisasikan
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”dalam 3 kelembagaan, yaitu KPU, Bawaslu, dan DKPP.
Hubungan KPU dengan Bawaslu
dan DKPP
DKPP atau Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Umum
bukan
lembaga
tetapi
Supriyanto
dan Lia
Wulandari
dalampenyelenggara
tulisan berjudul pemilu,
Transparansi
dan
tugas
dan
kewenangannya
terkait
dengan
para
pejabat
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
penyelenggara
penyelenggara
pemilu
kampanye
adalah salahpemilu.
satu hal Lembaga
penting dalam
proses pemilu.
Dana
menurut
Pasal
22E
UUD
1945
adalah
“komisi
pemilihan
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
118
vi
umum” (dengan huruf kecil), tetapi oleh undang-undang
dijabarkan menjadi terbagi ke dalam 2 kelembagaan
yang terpisah dan masing-masing bersifat independen,
yaitu “Komisi Pemilihan Umum” (dengan huruf Besar)
atau KPU, dan “Badan Pengawas Pemilihan Umum” atau
BAWASLU (Bawaslu).
Sejatinya, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang
Penyelenggara Pemilu secara ideal telah merumuskan
keberadaan KPU dan Bawaslu dalam satu nafas harmonis
sebagai satu kesatuan fungsi penyelenggaraan pemilu.
Kedua lembaga ini telah diamanatkan UU untuk
menyelenggarakan pemilu menurut fungsi, tugas, dan
kewenangannya masing-masing. KPU sebagai pelaksana
teknis setiap tahapan pemilu. Bawaslu pada fungsi
pengawasan, penanganan pelanggaran, dan penyelesaian
sengketa pemilu. Namun, dalam pelaksanaannya KPU
dan Bawaslu tak pernah bisa lepas dari polemik, konflik
dan perdebatan (laten) satu sama lain. Konflik yang saat
ini terjadi bukanlah konflik pertama. Sejak pemilu era
reformasi, hubungan antara pengawas dan pelaksana
pemilu selalu cenderung tak harmonis. Bedanya, ada
yang mampu meredam ketidakharmonisan itu dalam
bingkai kerja peran kritis pengawasan pemilu demokratis.
Misalnya pengawasan pemilu 1999 dan 2004. Beberapa
kali KPU dan Pengawas Pemilu terlibat diskursus terkait
pelaksanaan suatu tahapan pemilu. Akan tetapi diskursus
tersebut lebih fokus pada kinerja dan kerja pengawasannya
ketimbang kompetisi antar dua lembaga. Publik lebih
menilainya sebagai bentuk kontrol dalam penyelenggaraan
119
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pemilu
oleh politisi
dan pemerintah
yang
terpilih
untuk memerintah.
ketimbang
konflik
antar
institusi
penyelenggara
Pandangan
pemilu.Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Pada Pemilu 2009, arah konflik hubungan KPU dan
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Bawaslu lebih mengarah pada persoalan eksistensi.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Pengabaian peran yang satu oleh yang lain. Banyak
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
perdebatan yang terjadi karena persoalan pengakuan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Pengawas
yang dianggap
terlalu
agregatkeberadaan
maupun secara
spesifik Pemilu
pada tahun-tahun
Pemilu,tidak
terkonfirmasi
KPUdi(dan
jajarannya).
Juga yang
selalu
dalam diperhitungkan
praktek penganggaran
Indonesia
yang berkaitan
dengan
siklus
berkaitan
dengan
persoalan
klasik:
pembatasan
akses
data
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
dan
informasi
olehtidak
KPU.hanya
Dan political
nampaknya
apa
yangmelainkan
terjadi
ini, yang
menjadi
perhatian
budget
cycles,
pada
2009 kini
terulang
persiapan
pemilu
political
corruption
cyclekembali
atau siklus
korupsipada
politik
pada tahun-tahun
Pemilu2014,
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
dengan
kondisi
lebih
mengkhawatirkan karena
disertai tidak
ancaman
kriminalisasi
KPU.
Masyarakat
saja dapat
ditafsirkan
sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perluDesain
dibatasi ideal
mengingat
perbedaan
hakikat antara
laki-laki dan
yang
dirumuskan
Undang-Undang
perempuan.
Seperti tidak
halnya mampu
keterwakilan
sebagai salah satu
nampaknya
atau perempuan
gagal diimplementasikan
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UUpencapaian
No. 8 Tahun
dalam pelaksanaan di lapangan. Ketimbang
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
kesepakatan pembagian tugas, fungsi, dan wewenang
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
antar masing-masing lembaga, apa yang terjadi antara
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
KPU dan Bawaslu lebih banyak pada kesalahpahaman
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
dan ketidaksepahaman tentang suatu hal. Berbahayanya
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
kesalahpahaman dan ketidaksepahaman itu selalu terlontar
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
ke ranah
publik.
Publik
dilibatkan
pada perdebatan
Paramastuti
dalam
tulisannya
yangikut
berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
yang akhirnya
dariKorupsi
upaya-upaya
membangun
Pengalaman
Perempuanmenjauh
Menghadapi
dalam Pemilu
DPR RI
2009.”kepercayaan terhadap penyelenggara dan penyelenggaraan
pemilu
yang luber,
jurdil,
demokratis.Publik
semakin
Masih
berhubungan
dengan
temadan
akuntabilitas
keuangan politik,
Didik
dihadapkan
pada situasi
tidak
sehat.
Ketimbang
disuguhi
Supriyanto
dan Lia Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
oleh perkembangan
persiapan
penyelenggaraan
pemilu
Akuntabilitas
Pengelolaan Dana
Kampanye,
menguraikan bahwa
dana
yangadalah
berkualitas,
mereka
lebih banyak
diberikan
berita
kampanye
salah satu
hal penting
dalam proses
pemilu.
Dana
soaldiperlukan
kisruh antar
lembaga
tidakuntuk
mungkin
kampanye
olehdua
partai
politik ini.
dan Bukan
kandidatnya
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
120
vi
jika terus dibiarkan apatisme akan menguat dan kepercayaan
terhadap lembaga penyelenggara pemilu semakin menurun. 12
Bawaslu dan Panwaslu ternyata juga tidak memiliki
kewenangan untuk mengeksekusi bagi caleg atau paprol yang
melakukan pelanggaran. Kewenangan mereka hanya dibatasi
pada rekomendasi seperti rekomendasi kepada KPU jika ada
pelanggaran admisnistrasi, rekomendasi kepada DKPP jika
ada pelanggaran kode etik dan rekomendasi kepada Polisi jika
ada pelanggaran pidana. Bawaslu diberikan senjata yang hanya
punya teropong, tetapi tidak punya peluru. Hanya sebatas
pada mengamat-amati pelanggaran dan tidak punya kekuatan
untuk menembak langsung. Oleh karena itu, kewenangan
untuk mengeksekusi bagi pelaku yang melanggar aturan perlu
diberikan pada Bawaslu. Perlu difikirkan pengaturan mengenai
perlindungan hukum terhadap saksi maupun pelapor tindak
pidana pemilu ataupun pelanggaran lainnya agar tidak terjadi
intimidasi, dan ada saksi yang bersedia mengungkap pelanggaran
di setiap tahapan pemilu. Selain itu, perlu diakomodasi mekanisme
penyelesaian sengketa alternatif dalam kerangka regulasi untuk
meningkatkan efektiftas dan efisiensi penanganan sengketa
pemilu. Pentingnya kewenangan Bawaslu dalam penyelesaian
sengketa pemilu juga perlu diperhatikan. Pemahaman mengenai
sengketa pemilu juga perlu diperluas hingga dapat mencakup
sengketa antar caleg tidak hanya antar partai tapi juga internal
partai. Perlu ada regulasi yang mendorong Bawaslu agar lebih
proaktif dan tegas serta tidak pandang bulu dalam penegakan
hukum pemilu.
DKPP merupakan embrio yang muncul dari keinginan untuk
membuat peradilan pemilu yang terpisah dari MK dan MA. Banyak
12 Titi Anggraini, Mengurai Konflik KPU Bawaslu,http://www.rumahpemilu.org/in/
read/833/Mengurai-Konflik-KPU-Bawaslu-Oleh-Titi-Anggraini, 29-11-2012
121
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat
oleh politisi
dan
pemerintah
yangdiputus
terpilih untuk
memerintah.
masalah
kode
etik
yang sudah
DKPP
dimunculkan
Pandangan
Hamdan
tersebutMK
berkaitan
apa yang disampaikan
kembali di
MK, padahal
hanyadengan
menyidangkan
sengketa
Yunahasil
Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
pemilu.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Tugas dan kewenangan DKPP (Dewan Kehormatan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Penyelenggara Pemilihan Umum) berkaitan dengan orang
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
per orang pejabat penyelenggara pemilihan umum, baik
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
KPU
maupun
Dalam
arti sempit,
hanya
agregat
maupun
secaraBawaslu.
spesifik pada
tahun-tahun
Pemilu,KPU
terkonfirmasi
terdiri
atas
para komisioner
di tingkat
pusat, provinsi,
dalam
praktek
penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan dan
siklus
di
tingkat
kabupaten/kota.
Demikian
pula
dalam
arti
sempit,
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Bawaslu
hanya
terdiri
atas
pimpinan
anggota
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
politicalatau
budget
cycles, Bawaslu
melainkan
tingkat
pusat dan
tingkat
provinsi.
dalam
political
corruption
cycleBawaslu
atau siklus
korupsi
politik Namun,
pada tahun-tahun
Pemilu
telah
meningkat dengan
ekstrim. umum itu, baik dalam
artiyang
luas,
penyelenggara
pemilihan
lingkungan
KPU
Bawaslu,sebagai
menyangkut
pula para
Masyarakat
tidak
sajamaupun
dapat ditafsirkan
satu kesatuan,
tetapi
yang mengingat
bekerja secara
tetaphakikat
atau pun
yang
bekerja
juga petugas
perlu dibatasi
perbedaan
antara
laki-laki
dan
perempuan.
Sepertitetap
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai
salah
satu
secara tidak
atau
ad hoc. Yang
bekerja
secara
tetap,
syarat
verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
misalnya, adalah pegawai negeri sipil yang bekerja di KPU
2012atau
menegaskan
setiapdipartai
politik
peserta pemilu
memenuhi
yang bekerja
Bawaslu.
Sedangkan
yang harus
bekerja
secara
30% tidak
keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
tetap atau ad hoc, misalnya, adalah Ketua dan Anggota
praktik
selama
ini, pihak yang
duduk
baik di parlemen
maupun
pemerintah
Panitia Pengawas
Pemilu
(Panwaslu)
di tingkat
kabupaten/
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
kota atau pun petugas pengawas di tingkat operasional di
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
lapangan dan panitia pemungutan suara dan para petugas
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
pelaksana operasional KPU di lapangan sampai ke tingkat
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Panitia Pemungutan Suara (TPS). Menurut Undang-Undang,
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
semua itu termasuk ke dalam pengertian penyelenggara
2009.”
pemilihan umum. Hanya saja, khusus bagi pegawai negeri
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
sipil -- sebagai bagian dari penyelenggara pemilu – selain
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
tunduk kepada
ketentuan
UU Pemilu,menguraikan
dalam kaitan
dengan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
bahwa
dana
penegakan
kode
etika
diatur
dan
harus
tunduk
pula
kepada
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
ketentuan
Undang-Undang
Kepegawaian.
kampanye
diperlukan
oleh partai politik
dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
122
vi
Putusan DKPP bersifat final dan mengikat. Final artinya tidak
tersedia lagi upaya hukum lain atau upaya hukum yang lebih
lanjut sesudah berlakunya putusan DKPP sejak ditetapkan dan
diucapkan dalam sidang pleno terbuka DKPP terbuka untuk
umum. Mengikat artinya putusan itu langsung mengikat dan
bersifat memaksa sehingga semua lembaga penyelenggara
kekuasaan negara dan termasuk badan-badan peradilan terikat
dan wajib melaksanakan putusan DKPP itu sebagaimana
mestinya. Pelaksanaan atau eksekusi putusan DKPP itu wajib
ditindak-lanjuti sebagaimana mestinya oleh KPU, Bawaslu, atau
pun oleh Pemerintah dan lembaga-lembaga yang terkait.
Secara normatif dan formal, putusan DKPP tidak berkaitan
dengan proses tahapan pemilihan umum. Sebabnya ialah,
objectum litis perkara di DKPP hanya berkaitan dengan isu
persona aparat penyelenggara pemilihan umum, maka dengan
sendirinya putusan DKPP pun tidak mengandung akibat hukum
terhadap proses atau tahapan pemilihan umum. Objek perkara
di DKPP juga tidak tergantung kepada ‘tempus delicti’ atau saat
kapan suatu perbuatan melanggar kode etik. 13
Rekomendasi
1. Karena dukungan Sekretariat terhadap Kebijakan
Komisioner menjadi penting di dalam penyelenggaraan
pemilu, penguatan kelembagaan KPU perlu dilakukan dengan
memperjelas hubungan komisioner dengan staf sekretariat. Perlu
ada ketentuan dalam Undang-Undang yang mengatur bahwa
pada forum rapat pleno diharuskan kehadiran staf sekretariat
yang punya hak bicara tetapi tidak punya hak suara dalam
mengambil keputusan.
13 Jimly Asshidiqie, “Pengenalan DKPP untuk Penegak Hukum”, disampaikan dalam
forum Rapat Pimpinan Kepolisian Republik Indonesia di Jakarta, Februari 2013.
123
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan
upaya
untuk menyelamatkan
kebijakan
publik yangdan
akan
KPUsuatu
harus
mempunyai
perencanaan,
rekrutmen,
dibuat
oleh politisi
pemerintah
terpilih untuk
memerintah.
sistem
karier dan
pegawai
yang yang
memenuhi
persyaratan
khusus
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan di
dengan
apa yang
disampaikan
seperti memiliki
pengetahuan
bidang
kepemiluan,
Yuna
Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
pemerintahan, manajemen keuangan, manajemen SDM,
dan
pada
Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
manajemen asset. Di samping itu, SDM pegawai KPU juga
sudah
menjadi
fenomena
didukung
dengan
berbagai
studi
memiliki
reputasi
danuniversal
rekam jejak
yang baik,
serta
memiliki
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
kredibilitas, integritas, dan kepemimpinan yang baik.
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
2. Undang-undang pemilu harus mengatur ukuran,
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
komposisi,
dan masa kerja
anggotayang
lembaga
penyelenggara
dalam
praktek penganggaran
di Indonesia
berkaitan
dengan siklus
pemilu.
Juga
mengatur
hubungan
antara
lembaga
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan
saat
pemilutidak
pusat
dan
lembaga-lembaga
pemilu
ini, penyelenggara
yang menjadi perhatian
hanya
political
budget cycles, melainkan
tingkat
yang lebih
serta
hubungan
antara
semua
political
corruption
cycle rendah,
atau siklus
korupsi
politik pada
tahun-tahun
lembaga
pemilu
dengan
lembaga
eksekutif. Undang-undang
Pemilu
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
harus membuat
tentang
mekanisme
untuk
Masyarakat
tidak sajaketentuan
dapat ditafsirkan
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
dan menangani
keluhan
dalam
jugamemproses,
perlu dibatasimemutuskan,
mengingat perbedaan
hakikat antara
laki-laki
dan
pemilu secara
waktu.
perempuan.
Sepertitepat
halnya
keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
3. Dalam penyelenggaraan pemilu perlu dibangun
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
pemahaman dan komitmen yang sama di antara KPU dan
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Bawaslu sebagai mitra penyelenggara pemilu. Membangun
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
pemahaman
bersama
adalah
mengurangi
perselisihan
akan
berdampak negatif
terhadap
mandeknya
aspirasi perempuan
dalam
atau
perbedaan
pendapat
antar
sesama
penyelenggara
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
pemilu, dalam
terutama
di tingkat
bawah. Tanpa
adanya
Paramastuti
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan sinergi
Korupsi:
yang kuat
antara KPU
dan Bawaslu,
pemilu DPR
tidakRI
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi proses
dalam Pemilu
akan berjalan dengan baik, terutama dalam menjalankan
2009.”
prosesberhubungan
penyelenggaraan
pemilu.
Upaya untuk
membangun
Masih
dengan tema
akuntabilitas
keuangan
politik, Didik
persamaan
tersebut
antara Transparansi
lain dengan
Supriyanto
dan Liapemahaman
Wulandari dalam
tulisan berjudul
dan
dilakukannya
kegiatan
bimbingan
yang dipadukan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana
Kampanye,teknis
menguraikan
bahwa dana
kampanye
salah satudan
halDKPP.
penting Adanya
dalam proses
Dana
antara adalah
KPU, Bawaslu
sinergipemilu.
di antara
kampanye
partai politikpemilu
dan kandidatnya
untuk
dapat
sesamadiperlukan
lembaga oleh
penyelenggara
diperlukan
karena
berkompetisi
di
dalam
pemilu.
Setiap
partai
politik,
kandidat/calon
seringkali partai politik menggunakan lembaga penyelenggara
legislatif
tidak menghancurkan
akan dapat bekerja
secara penyelenggara
maksimal dalampemilu.
kampanye
lain untuk
lembaga
124
vi
125
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
MENARIK KERAH
KETERWAKILAN
empiris di berbagai Negara. Berbagai 1
variabel yang mempengaruhi politcal
budgetPEREMPUAN
cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
USEP HASAN SADIKIN
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Abstrak
Pemilu
(concurrent
elections)
berdasar
Masyarakat
tidakserentak
saja dapat ditafsirkan
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
pengalaman
negara-negara
Amerika
Selatan
merupakan
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
solusiSeperti
menghindari
pemerintahan
terbelah
presidensial
perempuan.
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai
salah satu
multipartai.
kerah
(coattail
syarat verifikasi
faktualEfek
untuk menarik
menjadi peserta
pemilu.
UU No. effeck)
8 Tahun
2012 menegaskan
setiappartai
partai atau
politikkoalisi
peserta pengusung
pemilu harus presiden
memenuhi
menghasilkan
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi ini
diperjuangkan,
terpilih menjadi
mayoritas
dipatut
parlemen.
Pemilumengingat
untuk
praktikmemilih
selama ini,
pihak yang duduk
baik
di parlemen
maupun terhadap
pemerintah
pemerintahan
baik
dan
berkepentingan
mayoritas
diduduki
oleh
laki-laki.
Apabila
tidak
diperjuangkan,
hal ini
rakyat menjadi tujuan yang lebih konkret bisa dicapai.
akan berdampak
negatif
terhadap
mandeknya
aspirasi
dalam
Tapi pemilu
serentak
selain
menarik
kerahperempuan
partai/koalisi
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
partai menjadi mayoritas di parlemen juga harus menarik
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
kerah keterwakilan perempuan. Jika pemahaman pemilu
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
serentak dan pemilihan sistem pemilu tak tepat dipilih,
2009.”
pemilu serentak menjadi kompleksitas semata dan kembali
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
mengabaikan kepentingan perempuan yang berjumlah
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
setengah dari total warga negara.
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
1 Editor rumahpemilu.org. Tulisan adalah pandangan pribadi dan tidak
kampanye
diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
mencerminkan pandangan lembaga
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
126
vi
Kata kunci: Pemilu serentak, keterwakilan perempuan,
efek menarik kerah
PENGANTAR
Pemilu 2019 yang memilih presiden-wakil presiden
secara bersamaan dengan memilih anggota (partai)
parlemen merupakan pemilu serentak nasional pertama
Indonesia. Pemilu serentak (concurrent elections)
bertujuan untuk menciptakan hasil pemilu berupa
pemimpin eksekutif yang didukung partai atau koalisi
mayoritas di parlemen. Tujuan yang tertera dalam Putusan
Mahkamah Konstitusi Nomor 39 ini merupakan bentuk
konkret dari penguatan presidensial. Sejak 2004, pemilu
Indonesia menghasilkan pemerintahan terbelah, sehingga
posisi presiden lemah akibat tak didukung partai mayoritas
di parlemen.
Penerapan pemilu presiden langsung bagi negara
berkonteks multipartai seperti Indonesia sebetulnya sudah
diingatkan Scott Mainwaring sejak 1980-an. Menurutnya,
sistem pemerintahan presidensial (berpemilu presiden
langsung) tidak akan cocok dengan sistem multipartai. Jika
kita merujuk pada sejumlah indeks negara-negara dalam
demokrasi 2, transparansi3, hak asasi manusia (HAM) 4,
keramahan terhadap keragaman 5, kita berkesimpulan,
peringkat negara-negara antar indeks relatif mirip. Bila
kita kaitkan dengan sistem politik, didapat temuan,
2 Freedomhouse.org dan democracyranking.org
3 Transparency.org
4 Freedomhouse.org dan ohchr.org
5 Ilga-europe.org
127
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat negara
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih untuk
memerintah.
dengan
sistem pemerintahan
presidensial,
sistem
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan
dengan
apasistem
yang disampaikan
kepartaian
multipartai
esktrim,
serta
pemilu
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
proporsional berkursi banyak tidak mendapatkan
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa Political budget cycles
peringkat
indeks
yang
baik.6
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Pengalaman pemilu serentak sejumlah negara di
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Amerika Latin bisa menghindari “kutukan” sistem
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Ternyata, jika
surat
suara
agregatpresidensial
maupun secaramultipartai.
spesifik pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
presiden dandipemilu
parlemen
ditawarkan
dalam pemilu
praktek penganggaran
Indonesia
yang berkaitan
denganpada
siklus
pemilih
di
waktu
bersamaan,
pemilih
cenderung
memilih
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
partai
yang
mengusung
calon
presiden
pilihan
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak hanya
political
budget
cycles, pemilih.
melainkan
Artinya
elektabilitas
calonkorupsi
presiden
otomatis
political
corruption
cycle atau siklus
politik akan
pada tahun-tahun
Pemilumenarik
yang telahelektabilitas
meningkat dengan
ekstrim.
partai
dan menjadi lebih optimal
kesesuaian
jika pemilihannya
bersamaan.
Masyarakat
tidakelektabilitasnya
saja dapat ditafsirkan
sebagai satu kesatuan,
tetapi
Konkretnya,
jika Pemilu
Presidenhakikat
dan Pemilu
2014
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan
antaraPartai
laki-laki
dan
perempuan.
Seperti halnya persentase
keterwakilanperolehan
perempuansuara
sebagai
salah
satu
lalu diserentakan,
PDIP
akan
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
sangat lebih dekat dengan persentase perolehan suara
2012 menegaskan
partai
politik peserta
pemilu bisa
harusdihindari.
memenuhi
Jokowi-JK setiap
sehingga
pemerintahan
terbelah
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Lalu, bagaimana upaya penguatan presidensial
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Indonesia sejalan dengan peningkatan keterwakilan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
perempuan di parlemen? Jika mengevaluasi hasil
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Pemilu DPR dan DPRD (Pileg) 2014, kita menemukan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
kekhawatiran
prospekyang
keterwakilan
politik perempuan.
Paramastuti
dalam tulisannya
berjudul: “Perempuan
dan Korupsi:
Kebijakan
afirmasi
perempuan
dalam
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalamsistem
Pemilu pemilu
DPR RI
2009.”selama ini justru melemahkan perempuan berpolitik.
Kemundurandengan
kuantitas
hasil Pileg
2014politik,
berupa
Masih berhubungan
tema akuntabilitas
keuangan
Didik
berkurangnya
perolehan
calegTransparansi
perempuan.
Supriyanto
dan Lia Wulandari
dalamkursi
tulisanoleh
berjudul
dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye
adalah
salah
hal
penting
dalamSystems,
prosesDistrict
pemilu. Dana
6 Eric
C.C. Chang
andsatu
Miriam
A. Golden,
Electoral
Magnitude and Corruption, British Journal of Political Science, 2005, page 34kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
35.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
128
vi
Meskipun Undang-Undang No. 8 tahun 2012 tentang Pileg
2014 dan sejumlah Peraturan Komisi Pemilihan Umum
(PKPU) lebih membuka pencalonan perempuan sehingga
meningkat, perempuan hanya memperoleh 96 kursi dari
560 kursi di DPR RI. Berkurang 1 persen dari hasil Pileg
2009, 102 kursi.
Dalam kualitas pun hasil Pileg 2014, perempuan yang
terpilih pun tak menggembirakan. Perempuan terpilih
merupakan perpanjangan kuasa patriarki. Lebih banyak
dari mereka merupakan istri dari petahana eksekutif di
daerah, istri petahana legislator, atau istri dari elite partai.
Jika bukan dari kalangan itu, yang terpilih lebih karena
tingkat popularitasnya sebagai pesohor (artis misalnya).
Pekerjaan rumah membenahi kuantitas dan kualitas
keterwakilan perempuan ini bertambah kompleks
di konteks Pemilu Serentak 2019. Karakter pemilu
serentak adalah menempatkan calon presiden sebagai
objek sorot pesta demokrasi. Keterwakilan perempuan
yang kerap terpinggirkan di pemilu-pemilu sebelumnya
berkemungkinan semakin terpinggirkan. Jika efek
menarik kerah parlemen tak optimal dan tak menarik
kerah keterwakilan perempuan, pemilu serentak sebatas
menambah kompleksitas pemilu parlemen dengan
pemilu presiden. Pemerintahan terbelah yang masih
dihasilkan, bukan hanya tak melibatkan perempuan secara
proporsional jumlah di pemerintahan tapi juga kebijakan
yang dihasilkan cenderung tak berpihak kepada rakyat,
termasuk 50%-nya yaitu perempuan.
129
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
LANDASAN TEORI
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Pemilufenomena
serentak
(concurrent
election)
adalah
sudah menjadi
universal
didukung dengan
berbagai
studi
Pemilu serentak
danmempengaruhi
pemilu legislatif
empirispenggabungkan
di berbagai Negara.pemilu
Berbagaieksekutif
variabel yang
politcal
satu tahapan
budgetdalam
cycles seperti
perubahanpenyelenggaraan
pola pada struktur khususnya
anggaran baiktahap
secara
agregatpemungutan
maupun secarasuara.
spesifikTujuannya
pada tahun-tahun
bukanPemilu,
semataterkonfirmasi
efisiensi
dalam anggaran,
praktek penganggaran
Indonesia
yang berkaitan
dengan siklus
melainkandiuntuk
menciptakan
pemerintahan
Pemilukongruen
2009 ataupun
menjelang
Pemilu 2014.
Melihat perkembangan
saat
atau
menghindari
pemerintahan
terbelah
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
(divided government) yang berwujud jumlah kursi
political
corruptionparlemen
cycle atau bukan
siklus korupsi
pada
tahun-tahun
mayoritas
dimilikipolitik
partai
atau
koalisi
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
7
partai yang mengusung presiden terpilih.
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
Pemilu serentak merupakan jawaban masalah laten
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
negara presidensial yang menganut sistem PR dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
sistem kepartaian multipartai. Scott Mainwaring, dalam
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
Presidentialism, Multiparty System, and Democracy: The
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
Difficult Equation,
diluncurkan
Septembermengingat
1990,
30% keterwakilan
perempuan.yang
Kondisi
ini patut diperjuangkan,
presidensial-multipartai
berbahaya
praktikmenilai
selama ini,kombinasi
pihak yang duduk
baik di parlemen maupun
pemerintah
bagididuduki
stabilitas
Ilmuwan
politik dari hal
dariini
mayoritas
oleh demokrasi.
laki-laki. Apabila
tidak diperjuangkan,
Universitynegatif
of Notre
Damemandeknya
ini merujuk
bukti hasil
penelitian
akan berdampak
terhadap
aspirasi
perempuan
dalam
semua
negara penganut
presidensial-multipartai,
sejak
hukumdi
dan
pemerintahan.
Dan kondisi
tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti
yang berjudul:
“Perempuan salah
dan Korupsi:
1930 dalam
hinggatulisannya
1990. Mainwaring
menegaskan,
satu
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR
konsekuensi terpisahnya pemilihan eksekutif dan legislatifRI
2009.”adalah presiden terpilih bisa berasal dari partai peraih
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye
adalah
salahKhoirunnisa
satu hal Nur
penting
dalam
proses
Dana
7 Didik
Supriyanto,
Agustyati,
August
Mellaz, pemilu.
Manata Ulang
Jadwal Pilkada Menuju Pemilu Nasional dan Daerah, Perludem, Jakarta 2013,
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
halaman 27.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
130
vi
suara kecil di parlemen. 8
Namun, sebuah jalan keluar kemudian mencuat ke
permukaan. Hanya empat tahun setelah Mainwaring
meluncurkan tesisnya, sebuah preseden baru terjadi
di Brasil. Negara bola ini, membuktikan bahwa
presidensialisme dengan multipartai dan sistem pemilu
PR—seperti halnya di Indonesia—ternyata bisa stabil.
Caranya, dengan melakukan pemilu serentak.
Keunikan dari pemilu serentak adalah lebih optimal
bekerjanya efek menarik kerah (coattail effect) yaitu hasil
pemilu presiden menjadi kongruen dengan hasil pemilu
legislatif. Jika pemilih disodorkan surat suara pemilu
presiden dan pemilu DPR bersamaan, pilhan partai
cenderung seiring dengan pilihan presiden. Hasilnya,
Brasil keluar dari kutukan divided government atau
minority government.9
Keterwakilan perempuan
Viera dan Runciman dalam “Representation” (2008)
mengkonsepsikan tiga macam representasi. Pertama,
pictorial
representation
yang
mengkonsepsikan
keterwakilan pihak yang dipilih untuk mewakili harus
menyerupai yang diwakilinya. Berdasarkan kesamaan
ini maka para wakil dapat bertindak atas nama mereka
yang diwakilinya. Kedua, theatrical representation yang
menkonsepsikan wakil yang terpilih harus menafsirkan,
8 Scott Mainwaring, Presisentialism, Multiparty Systems, And Democracy:
The Difficult Equation, Kellogg Institute, 1990: 4.
9 Harun Husein, Pemilu Indonesia, Perludem, Jakarta, 2014: 527.
131
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat berbicara
oleh politisi dan
dan pemerintah
terpilih
untuk
memerintah.
bertindak yang
untuk
pihak
yang
diwakilinya.
Pandangan
dengan apa
yang
disampaikan
DenganHamdan
cara initersebut
wakil berkaitan
menghidupkan
yang
diwakilinya.
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
Ketiga, juridical representation yang mengkonsepsikan
pada Tahun
Yuna menjelaskan
bahwa Political
budget yang
cycles
wakil Pemilu.”
yang terpilih
harus bertinda
atas nama
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
diwakilinya,
dengan
persetujuan
dan/atau
demi
empiris di berbagai Negara. Berbagai
variabel yang mempengaruhi politcal
kepentingan mereka. 10
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Representasi
perempuan
di pemilu
berarti
juga
agregat maupun
secara spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
bermakna
banyak
dalam mengintegrasikan
praktek penganggaranperempuan
di Indonesia yang
yang berkaitan
dengan
siklus
di
arena
politik.
Kita
harus
membicarakan
tentang
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
identitas
yang tak tidak
tunggal.
ini, yang
menjadi perhatian
hanyaKonsep
political perempuan
budget cycles,menurut
melainkan
feminisme
privat
political
corruptionyang
cyclemencakup
atau siklus publik
korupsidan
politik
padaseharusnya
tahun-tahun
Pemilubisa
yang telah
meningkat dengan
ekstrim. kebajikan yang lebih
mengedepankan
nilai-nilai
mendorong
negosiasi, dan
lobisatu
dalam
hubungan
Masyarakat
tidakkerja
saja sama,
dapat ditafsirkan
sebagai
kesatuan,
tetapi
yangdibatasi
lebih egaliter.
Gerakan
politikhakikat
perempuan
juga perlu
mengingat
perbedaan
antaraseharusnya
laki-laki dan
perempuan.
Seperti gerakan
halnya keterwakilan
sebagai
salah satu
merupakan
politik yangperempuan
memberdaya,
bersama.
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
Representasi perempuan bukan hanya deskriptif
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
(numbers). Numbers penting sebagai pintu masuk
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
untuk menerobos peminggiran perempuan. Lebih dari
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
ini, representasi perempuan bermakna juga substantif
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
memajukan kelompok yang marjinal dan mampu
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
mengartikulasikan kepentingan perempuan (women
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
11
interest/gender
interest).
Paramastuti
dalam tulisannya
yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Sistem pemilu dan keterwakilan
perempuan
Masih
berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
SupriyantoSistem
dan Liapemilu
Wulandari
dalam
berjudul
Transparansi
dan
DPR
dantulisan
DPRD
Indonesia
merujuk
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
10 Nuri Suseno, Politik Representasi, Puskapol UI, Depok 2014: 34-35;
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
11 Ani W Soetjpto, Politik Harapan, Marjin Kiri, Jakarta 2011;
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
132
vi
The International Institute for Democracy and Electoral
Assistance (International IDEA) masuk kategori sistem
pemilu proporsional atau proportional repretentative (PR).
Sistem yang pada dasarnya memilih logo partai pada surat
suara ini merupakan sistem yang menekankan hubungan
rakyat dengan kelembagaan partai. Satu daerah pemilihan
(dapil/distrik) terdapat lebih dari satu kursi, biasanya
lebih dari 3 kursi.
Sistem PR biasa dihadapkan dengan sistem plurality/
majority (P/M). Sistem yang pada dasarnya memilih calon
ini menekankan hubungan rakyat dengan personal dewan
terpilih. Setiap daerah pemilihan dari sistem ini hanya
ada satu kursi yang diperebutkan banyak calon dari partai
dan nonpartai. Amerika Serikat jadi rujukan pembanding
penerapan sistem pemilu P/M yang biasa disebut secara
slengean dengan istilah sistem distrik.
Pada umumnya kalangan ahli ilmu politik sepakat,
berdasar derajat keterwakilan keragaman, sistem pemilu
PR dianggap lebih adil dibandingkan sistem P/M.
Alasannya, kursi yang diperoleh dari sistem PR sepadan
dengan jumlah suara yang diperoleh di pemilu. Misal, jika
partai A mendapatkan suara 60 persen di pemilu, maka
kursi yang diperoleh merupakan 60 persen kursi dari
total kursi yang ada. Berkursi banyak dan proporsional
membuat sistem PR pun lebih mengakomodir kelompok
minoritas dan marjinal, termasuk perempuan.
Menurut Richard E. Matland, berdasarkan logika
matematika yang didukung data hasil pemilu banyak
negara, dapat disimpulkan bahwa sistem pemilu PR
133
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat paling
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuk perempuan
memerintah. di
banyak
meningkatkan
jumlah
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan sistem
dengan apa
disampaikan
parlemen.
Namun
penggunaan
PR yang
tak sendirinya
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
menghasilkan perempuan di parlemen lebih banyak.
pada Tahun
Yuna menjelaskan
bahwa Political
budget
cycles
SemuaPemilu.”
masih tergantung
pengoperasian
sejumlah
variabel
sudah menjadi fenomena
universal didukung dengan berbagai studi
12
sistem pemilu.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Variabel teknis pemilu bisa dibedakan atas variabel
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
pemilu
langsung
dan variabel
teknisterkonfirmasi
langsung.
agregatteknis
maupun
secaratidak
spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu,
dua variabel
teknis yang
pemilu
tidak dengan
langsung,
dalam Terdapat
praktek penganggaran
di Indonesia
berkaitan
siklus
yaitu
pembatasan
partai
politik
peserta
pemilu
(electoral
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
threshold)
dan pembatasan
parpol
masuk
parlemen
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya political
budget
cycles,
melainkan
(parliamentary
threshold).
Sedang
variabel
langsung
political
corruption cycle
atau siklus
korupsi
politik teknis
pada tahun-tahun
Pemilumeliputi:
yang telah meningkat
dengandaerah
ekstrim.pemilihan, (2) metode
(1) penetapan
pencalonan,
(3) dapat
metode
pemberian
suara,
(4) formula
Masyarakat
tidak saja
ditafsirkan
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
perolehan
dan (5)perbedaan
formula penetapan
calon
terpilih.
juga perlu
dibatasikursi,
mengingat
hakikat antara
laki-laki
dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
Afirmasi (affirmative action) didefinisikan sebagai
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
langkah strategis untuk mengupayakan kemajuan dalam
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
hal kesetaraan dan kesempatan bagi kelompok-kelompok
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
tertentu seperti kaum perempuan atau kelompok minoritas
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
kurang terwakili
dalam
posisi-posisi
di
hukumlain
dan yang
pemerintahan.
Dan kondisi
tersebut
telah ditulisstrategis
oleh Nindita
masyarakat.
Kesetaraan
danberjudul:
kesempatan
ini secara
eksplisit
Paramastuti
dalam tulisannya
yang
“Perempuan
dan
Korupsi:
mempertimbangkan
karakterKorupsi
khusus dalam
jenis kelamin
yangRI
Pengalaman
Perempuan Menghadapi
Pemilu DPR
13
2009.”selama ini menjadi dasar terjadinya diskriminasi.
Afirmasi
Afirmasi menempatkan
beban rekrutmen
hanya
Masih berhubungan
dengan tema akuntabilitas
keuangan tak
politik,
Didik
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
pada perempuan secara individu melainkan pada
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
12 Richard
Matland,
Enhancing
Women’s dalam
Political Participation:
Legislative
kampanye
adalahE. salah
satu
hal penting
proses pemilu.
Dana
Recruitment and Electoral Systems, IDEA 2005: 107
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
13 Ani W Soetjipto, Perempuan di Tengah Gerhana Bulan 2005: 179.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
134
vi
pengontrol rekrutmen. Afirmasi meminta suatu jumlah
tertentu atau persentase dari anggota suatu badan, apakah
itu di daftar kandidiat, struktur pengurus partai, lembaga/
panitia penyelenggara, pimpinan lembaga penyelenggara,
panitia seleksi, atau parlemen.
Sekilas penjelasan afirmasi itu seperti mengistimewakan
perempuan. Tapi jika kita merujuk pada keadaan partisipasi
yang terkait dengan kultur dan kebijakan dalam kehidupan
bernegara dan bermasyarakat, afirmasi merupakan
pengkreasian kondisi netral gender dari yang sebelumnya
timpang. Afirmasi perempuan berfungsi mengkoreksi
relasi gender dalam prosedur atau kelembagaan.
PEMBAHASAN
Pemerintahan hasil Pemilu 2014 merupakan
pemerintahan terburuk dalam aspek relasi antara eksekutif
dan legislatif. Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden
dan wakil presiden yang dipilih langsung oleh rakyat tak
didukung partai dan koalisi partai mayoritas di parlemen.
PDI Perjuangan hanya meraih 19,46% kursi parlemen (109
dari 560 kursi). Sedangkan Koalisi Indonesia Hebat total
hanya 37,14% kursi parlemen (208 kursi yang terdiri dari
109 PDIP, 47 PKB, 36 NasDem, 16 Hanura). Persentase kecil
dukungan terhadap pemerintah ini ada dalam fragmentasi
9 partai dari total 10 partai di parlemen. Ini merupakan
angka indeks Effective Number of Parliamentary Parties
(ENPP) tertinggi selama pemerintahan Indonesia berdiri.
Dalam penyusunan kabinet pemerintahan, KIH baru
mendapat dukungan partai dari Koalisi Merah Putih.
135
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat PAN
oleh politisi
dan49
pemerintah
yang terpilihdengan
untuk memerintah.
dengan
kursi bergabung
KIH padalah
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
apa yang
disampaikan
merupakan
partai
calon
wakil dengan
presiden,
Hatta
Rajasa
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
dari pasangan calon Prabowo-Hatta. PPP dengan konflik
pada Tahun
Pemilu.” Yuna
menjelaskan
bahwa ke
Political
budget cycles
kepengurusan
ganda
ikut bergabung
KIH menambah
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
39 kursi. 296 kursi atau 52,85% kursi parlemen memang
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
menjadi mayoritas. Tapi tambahan kursi dua partai
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
terakhir bercita rasa KMP dan tak solid.
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Hasilnya,
hingga dua
tahun pemerintahan
Jokowi-JK
dalam praktek
penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan dengan
siklus
memimpin,
baru
3
undang-undang
dihasilkan.
Malah,
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Undang-undang
No.1
Tahun
tentang
berasal
ini, yang
menjadi perhatian
tidak
hanya 2015
political
budgetPilkada
cycles, melainkan
dari
Peraturan
Pengganti
political
corruption
cyclePemerintah
atau siklus korupsi
politikUndang-undang
pada tahun-tahun
Pemilu(Perppu)
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.
No.1 Tahun
2014,
merupakan warisan dari
Pemerintahan
Pemerintahan
JokowiMasyarakat
tidak sajaSBY-Boediono.
dapat ditafsirkan sebagai
satu kesatuan,
tetapi
JK menjadi
pemerintahan
paling
tak antara
produktif
sejak
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan
hakikat
laki-laki
dan
perempuan.
SepertiVisi-Misi
halnya keterwakilan
sebagai
salah
satu
Reformasi.
Nawa Cita perempuan
menjadi Nawa
Cita
Citata
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
karena bertepuk sebelah tangan oleh DPR yang gaduh.
2012 menegaskan
setiap
partaimenjadi
politik peserta
pemilu harus memenuhi
“Sakitnya tuh
di sini!”
analogi.
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Yang terjadi di pemerintahan nasional terjadi
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
juga di pemerintahan lokal. Dari tujuh provinsi yang
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
melangsungkan pilkada serentak 2015, keadaan parlemen
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
ketujuhnya yang dihasilkan dari Pemilu Legislatif 2014 juga
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
tak kondusif.
Fragmentasi
partai di “Perempuan
parlemen daerah
pun
Paramastuti
dalam tulisannya
yang berjudul:
dan Korupsi:
sangatPerempuan
tinggi. Artinya,
kepalaKorupsi
daerah dalam
mau tak
mau DPR
harusRI
Pengalaman
Menghadapi
Pemilu
2009.”melalui delapan poros partai dalam membuat kebijakan
seperti
peraturan
daerah
APBD. Tak
heranpolitik,
jika tidak
Masih
berhubungan
dengan
temadan
akuntabilitas
keuangan
Didik
ada perubahan
signifikan
dari
pemerintahan
terpilih hasil
Supriyanto
dan Lia Wulandari
dalam
tulisan
berjudul Transparansi
dan
pilkada.
Visi-misi kepala
daerah yang
dituangkan
melalui
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
136
vi
Perda dan APBD sangat mungkin ditolak DPRD. 14
Kepala daerah terpilih Pilkada 2015 menghadapi
DPRD Provinsi dengan rata-rata indeks ENPP 8.2. DPRD
Provinsi Bengkulu menempati peringkat pertama indeks
ENPP tertinggi sebesar 9,4. DPRD Provinsi Sumatera
Barat dikuasai sembilan partai. Provinsi Jambi sembilan
partai. Provinsi Sulawesi Tengah delapan partai. Provinsi
Kepulauan Riau tujuh partai. Provinsi Kalimantan Selatan
tujuh partai, dan Provinsi Sulawesi Utara enam partai.
Dibandingkan enam provinsi lainya, Provinsi Sulawesi
Utara menjadi satu-satunya provinsi dengan indeks ENPP
5.9 atau terdapat enam partai politik relevan di DPRD
Provinsi. Meski jumlah terbilang sedikit, dalam tipologi
sistem kepartaian, DPRD provinsi ini tetap termasuk
kedalam sistem multipartai ekstrem yang terfragmentasi
dan tentunya terpolarisasi. 15
Keadaan parlemen daerah yang tak kondusif itu pun
juga harus dihadapi perempuan kepala daerah. Indah
Dhamayanti Putri dan Dahlan akan memimpin Kabupaten
Bima dengan indeks ENPP 9.9. DPRD di Kabupaten
Bima terdiri atas 45 kursi. Proporsi kursi tersebut terbagi
pada partai Nasdem sebanyak 3 kursi, PKB 3 kursi, PKS
4 kursi, PDIP 3 kursi, Golkar 6 kursi, Gerindra 4 kursi,
Demokrat 5 kursi, PAN 7 kursi, PPP 4 kursi, Hanura 4
kursi, dan PBB 2 kursi. Indah Dhamayanti Putri mesti
berhadapan atau melobi 10 kekuatan atau hampir
14 Prospek Pemerintahan Hasil Pilkada 2015, Heroik M. Pratama dan
Maharddhika, Perludem, Jakarta 2015: 26.
15 Ibid.
137
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat seluruh
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
memerintah.
partai
yang memiliki
kursi diuntuk
DPRD
Bima untuk
16
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan
dengan
yang disampaikan
Kondisi
iniapa
kurang
lebih juga
menggolkan
kebijakannya.
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
dihadapi perempuan kepala daerah lain, parlemen Anggaran
daerah
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
terklasifikasi multipartai ekstrem.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Keadaan terbelahnya pemerintahan nasional dan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
lokal mengharuskan penerapan desaign pemilu serentak
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dan pemilu
lokal secepatnya.
Pemilu
agregatnasional
maupun secara
spesifik serentak
pada tahun-tahun
Pemilu, terkonfirmasi
adalah penggabungan
pemilu
eksekutif
dalam serentak
praktek penganggaran
di Indonesia yang
berkaitan
dengan dan
siklus
pemilu
legislatif
dalam
satu
tahapan
penyelenggaraan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
khususnya
tahap tidak
pemungutan
suara.
Tujuannya
bukan
ini, yang
menjadi perhatian
hanya political
budget
cycles, melainkan
semata
efisiensi
untuk
menciptakan
political
corruption
cycleanggaran,
atau siklusmelainkan
korupsi politik
pada
tahun-tahun
Pemilupemerintahan
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.
kongruen
atau
menghindari pemerintahan
terbelahtidak
(divided
government)
yang berwujud
jumlah
Masyarakat
saja dapat
ditafsirkan sebagai
satu kesatuan,
tetapi
kursidibatasi
mayoritas
parlemen
bukan dimiliki
koalisi
juga perlu
mengingat
perbedaan
hakikat partai
antaraatau
laki-laki
dan
perempuan.
halnya keterwakilan
partaiSeperti
yang mengusung
presidenperempuan
terpilih. sebagai salah satu
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
UU No.partai/
8 Tahun
Pemerintahan kongruen, yang pemilu.
berbentuk
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
koalisi mayoritas parlemen kondusif mendukung eksekutif
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
diupayakan dengan teknis pemilu serentak. Jika pemilih
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
ditawarkan surat suara pemilu presiden dan pemilu
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
parlemen di waktu bersamaan, pemilih cenderung memilih
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
partai yang mengusung calon presiden pilihan pemilih.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Dari
pengertian
serentak
itu, pilkada
serentakdan
bukanlah
Paramastuti
dalam
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
Korupsi:
pemiluPerempuan
serentak. Menghadapi
Pilkada masuk
dalam
desaign
Pengalaman
Korupsi
dalam
Pemilu pemilu
DPR RI
2009.”serentak lokal yang coba diupayakan pakar pemilu melalui
penyatuan/kodifikasi
Pemilu
Masih
berhubungan dengan undang-undang
tema akuntabilitaskepemiluan.
keuangan politik,
Didik
serentak
lokal
adalah dalam
pemilu
yangberjudul
diselenggarakan
KPU
Supriyanto
dan Lia
Wulandari
tulisan
Transparansi
dan
Akuntabilitas
Dana daerah
Kampanye,
bahwa
dana
untuk Pengelolaan
memilih kepala
danmenguraikan
wakil kepala
daerah
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
16 Ibid: 57.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
138
vi
(provinsi dan kabupaten/kota), anggota DPRD Provinsi,
serta anggota DPRD Kabupaten/Kota. Karena periode
kepala daerah dan DPRD saat ini belum sama, maka perlu
penyelenggaraan pilkada serentak transisi. Jika masa
jabatan kepala daerah semua tingkatan seluruh Indonesia
sudah sama dengan masa jabatan DPRD provinsi dan
kabupaten/kota, pemilihan kepala daerah dan anggota
parlemen daerah bisa bersamaan dalam desaign pemilu
serentak lokal.
Menyerentakan pemilu lokal ini juga menghasilkan
fase koreksi bagi pemerintahan presidensial. Kelebihan
sistem pemerintahan presidensial adalah periode jabatan
presiden yang pasti. Tapi periode yang pasti ini juga
menjadi kelemahan presidensial. Kalau kinerja presiden
buruk harus tunggu sampai jabatannya habis. Tak bisa
diturunkan, kecuali melanggar hukum. Pemilu serentak
lokal menjadi koreksi pemerintahan nasional di tengah
masa jabatan presiden. Jika tak memuaskan, presiden dan
partai pengusungnya bisa dihukum di pemilu serentak
lokal, dengan memilih calon dan partai lain di semua
tingkat daerah. Tapi jika kinerja presiden memuaskan,
pemilu serentak daerah akan memperkuat relasi pusat dan
daerah.
Menarik kerah keterwakilan perempuan
Meningkatkan keterwakilan perempuan di konteks
pemilu serentak selain harus terus menguatkan makna
dan tujuan keterwakilan perempuan tapi juga harus
memahami makna dan tujuan pemilu serentak. Sehingga
efek menarik kerah yang dioptimalkan dalam pemilu
139
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat serentak
oleh politisi
dan
pemerintah
untuk memerintah.
tak
hanya
terjadiyang
padaterpilih
terciptanya
parlemen yang
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
kondusif
mendukung
eksekutif
tapi
juga bisa
meningkatkan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
keterwakilan perempuan.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Pada dasarnya, desaign pemilu serentak merupakan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
desaign yang tak ramah perempuan. Ragam sistem
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
pemilu termasuk sistem pemilu proporsional yang ramah
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
diserentakan
dan
dikondisikan
dengan
sistem
agregatperempuan
maupun secara
spesifik pada
tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
pluralitas/mayoritas
jugayang
tidak
ramahdengan
terhadap
dalam pemilu
praktek penganggaran
di Indonesia
berkaitan
siklus
perempuan
untuk
memilih
pemimpin
eksekutif.
Karakter
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
pemilu
menempatkan
ini, yang
menjadiserentak
perhatian adalah
tidak hanya
political budgetcalon
cycles,presiden
melainkan
sebagai
objekcycle
sorotatau
pesta
demokrasi.
political
corruption
siklus
korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang
telah meningkat
dengan
ekstrim.
Penting
memulai
dengan
menyadari keterwakilan
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
satu kesatuan,
tetapi
perempuan
di konteks
pemilusebagai
serentak
mempunyai
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan
antarapemilu
laki-lakitak
dan
kompleksitas
yang lebih
tinggi hakikat
dari pada
perempuan.
SepertiAgar
halnyaketerwakilan
keterwakilan perempuan
satu
serentak.
perempuansebagai
yangsalah
kerap
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
terpinggirkan di pemilu-pemilu sebelumnya tak
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
semakin terpinggirkan, rekayasa pemilu yang bertujuan
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
meningkatkan keterwakilan perempuan di parlemen harus
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
dibuat sesederhana mungkin.
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Menambah
keterwakilan
perempuan
akan berdampak
negatifkompleksitas
terhadap mandeknya
aspirasi
perempuanpada
dalam
pencalonan
sangat
mungkin
menjadi
kontraproduktif.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Dampaknya
bisa lebih buruk
dibanding
Pemilu 2014.
Paramastuti
dalam tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
danJangan
Korupsi:
mengulang
penerapan
sistemKorupsi
pemiludalam
yang Pemilu
membiarkan
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
DPR RI
2009.”perempuan bertarung dengan lelaki dan perempuan
sekaligus.
Jangan
jugatema
mengulang
perempuan
dalam
Masih
berhubungan
dengan
akuntabilitas
keuanganada
politik,
Didik
kontestasi
membutuhkan
sumber
dayaTransparansi
publik (uang,
Supriyanto
dan Liayang
Wulandari
dalam tulisan
berjudul
dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
dana
popularitas,
dan mobilitas)
yang tinggi.
Di pemilubahwa
serentak,
kampanye
adalah salah
hal penting
dalam prosesperhatiannya
pemilu. Dana
perempuan
akansatu
semakin
dikesampingkan
kampanye
diperlukan
oleh partai
politik
dan kandidatnya
dapat
karena
bersamaan
dengan
pemilihan
presiden,untuk
sehingga
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
140
vi
solidaritas perempuan dalam pengoranisasian partai dan
lintas partai menjadi semakin dibutuhkan.
Selain itu, upaya meningkatkan keterwakilan di pemilu
selayaknya ditempatkan pada proses dan hasil pemilu.
Seberapa tingkat keterwakilan perempuan dalam proses
pencalonan dan penyelenggaraan jangan dipisahkan
dengan tingkat keterpilihan perempuan di tataran hasil
dari pemilu. Dalam tataran proses pemilu harus terbuka
dan memudahkan partisipasi perempuan untuk memilih,
mencalonkan, dan menyelenggarakan. Di tataran hasil
pemilu, keterwakilan perempuan dalam proses pun
harus terhubung dengan hasil keterpilihan perempuan.
Bagaimana pun keterwakilan perempuan di pemilu
bertujuan untuk mengkonversi suara menjadi kursi yang
ditempati perempuan yang diharapkan bisa menghasilkan
kebijakan yang meningkatkan kualitas hidup perempuan
sebagai warga sehingga tercipta kehidupan bernegara yang
setara dan adil.
Rekayasa sistem pemilu yang terkait dengan sistem
politik membuktikan pengaruh kuat gambaran keterwakilan
perempuan di proses dan hasil pemilu. Sistem pemilu
tertentu bisa meningkatkan keterwakilan perempuan
secara kuantitas tapi tidak secara kualitas. Sebaliknya,
ada pilihan sistem yang meningkatkan keterwakilan
perempuan secara kualitas meski secara kuantitas sedikit.
Ada sistem yang meningkatkan keterwakilan perempuan
pada pencalonan. Ada juga sistem yang meningkatkan
keterwakilan perempuan pada keterpilihan.
Jika mengevaluasi hasil Pemilu DPR dan DPRD
141
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat (Pileg)
oleh politisi
dan kita
pemerintah
yang terpilih
untuk memerintah.
2014,
menemukan
kekhawatiran
akademisi
Pandangan
tersebut
dengan
apa
yang disampaikan
gerakanHamdan
perempuan,
Aniberkaitan
Soetjipto
dalam
bukunya
“Politik
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
Harapan”. Menurut Ani, kebijakan afirmasi perempuan
di
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
sistem pemilu proporsional terbuka bernomor urut justru
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
melemahkan perempuan berpolitik. Pusat Kajian Ilmu
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Politik (Puskapol) UI menguatkannya, afirmasi perempuan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
di Pileg 2014 malah lahirkan paradoks partisipasi.
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Kemunduran
kuantitas
hasil
2014
berupa
dalam praktek
penganggaran
di Indonesia
yangPileg
berkaitan
dengan
siklus
berkurangnya
perolehan
kursi
oleh
caleg
perempuan.
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Meskipun
Undang-Undang
No.
8 tahun
2012cycles,
tentang
Pileg
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya
political
budget
melainkan
2014
dan sejumlah
Peraturan
Komisi
Pemilihan
Umum
political
corruption
cycle atau
siklus korupsi
politik
pada tahun-tahun
Pemilu(PKPU)
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim. perempuan sehingga
lebih
membuka
pencalonan
meningkat,
hanya memperoleh
kursi dari
Masyarakat
tidakperempuan
saja dapat ditafsirkan
sebagai satu 96
kesatuan,
tetapi
560 dibatasi
kursi di mengingat
DPR RI. Berkurang
1 persenantara
dari hasil
Pileg
juga perlu
perbedaan hakikat
laki-laki
dan
perempuan.
halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
2009,Seperti
102 kursi.
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta2014
pemilu.
UUperempuan
No. 8 Tahun
Dalam kualitas
pun
hasil Pileg
caleg
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
terpilih merupakan perempuan yang menjadi perpanjangan
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
kuasa patriarki. Lebih banyak dari mereka merupakan istri
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
dari petahana eksekutif di daerah, istri petahana legislator,
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
atau istri dari elite partai. Jika bukan dari kalangan itu,
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
yang terpilih lebih karena tingkat popularitasnya sebagai
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
pesohor
(artis
misalnya).
Paramastuti
dalam
tulisannya
yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Puskapol
UI melalui
pencermatan
hasilPemilu
Pileg DPR
2014RI
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi dalam
2009.”menyimpulkan, berdasarkan profil dan basis keterpilihan
anggota
legislatif
DPRtema
RI akuntabilitas
2014-2019, keuangan
sangat berpeluang
Masih
berhubungan
dengan
politik, Didik
kuatnya
dominasi
fraksi
terhadap
otonomiTransparansi
anggota, tak
Supriyanto
dan Lia
Wulandari
dalam
tulisan berjudul
dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
bahwa
dana
terkecuali
perempuan.
Penyebab menguraikan
utamanya, pola
basis
kampanye
adalah salah
hal penting dalam
proses
pemilu. dan
Dana
rekrutmen
yang satu
mengandalkan
kekuatan
finansial
kampanye
diperlukan untuk
oleh partai
politik dan elektabilitas.
kandidatnya untuk
kekerabatan
mendukung
Hal dapat
ini
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
142
vi
tergambar, 7 dari 77 anggota terpilih memiliki jaringan
kekerabatan termasuk dalam 10 besar peraih suara
tertinggi. 17
Aktivis perempuan, Lies Marcoes dalam “Perempuan
dan Langkah Afirmatif” (Kompas 21/4 2014) menjelaskan,
yang terjadi dalam mekanisme rekrutmen caleg di partai
cenderung bersifat instans dan diwarnai nepotisme. NPWP
(Nomor Piro Wani Piro) menjadi pengetahuan bersama
bakal caleg. Dalam keadaan ini, caleg perempuan hanyalah
kamuflase upaya perluasan oligarki.
Paradoks keterwakilan perempuan pun terjadi di
pemilu PR daftar calon di Brasil. Perempuan bisa hadir
dalam pencalonan pemilu tapi sebatas itu.18 Afirmasi
kuota pencalonan diatur minimal 30% dan maksimal
70%. Tapi keterpilihan perempuan di dewan partai Brasil
tak pernah melebihi 15% bahkan banyak kemajuan dalam
menghasilkan undang-undang bersemangat kesetaraan
untuk keadilan. 19
REKOMENDASI
Tujuan keterwakilan perempuan di pemilu semestinya
tidak memutus hasil pemilu dan jalannya pemerintahan
terpilih. Keterwakilan perempuan di pemilu bukan saja
soal jumlah perempuan yang dicalonkan/mencalonkan
17 Irwansyah dkk., Paradoks Representasi, Puskapol UI, 2014: .
18 Ana Alice Alcantara, Women and Politics: the Brazil Paradox, Open
Democracy, 2008;
19 Pedro de Abreu Gomes dos Santos, Gendering Representation: Parties,
Institutions, and The Under-Representation of Women in Brazil’s State
Legislatures, University of Kansas, 2012: 3;
143
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat tapi
oleh politisi
pemerintah
terpilih untuk
memerintah.pun
yang dan
lebih
pentingyang
keterpilihan
perempuan
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan dengan
apa yang disampaikan
meningkat.
Selain
pencalonan
dan keterpilihan,
tujuan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
terpentingnya adalah para perempuan dewan dan
pada Tahun
Pemilu.” Yuna
menjelaskan
bahwa bisa
Political
budget cycles
pemerintahan
terpilih
hasil pemilu
menghasilkan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
kebijakan yang berkesetaraan untuk keadilan.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Pemilu 1999 dan 2004, perempuan yang terpilih
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
bawahsecara
10 persen
kursiPemilu,
DPR. terkonfirmasi
Tapi, para
agregatdimaupun
spesifikdari
padajumlah
tahun-tahun
yang terpilih
sedikityang
ini berkaitan
merepresentasikan
dalam perempuan
praktek penganggaran
di Indonesia
dengan siklus
serta
terhubung
gerakan
perempuan.
Sisi
pengorganisasian
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
dan
kewenangan
yang lebih
kuat
bisa cycles,
lebih dihadapi
ini, yang
menjadi
perhatianpartai
tidak hanya
political
budget
melainkan
gerakan
perempuan.
perempuan
pun mau
political
corruption
cycle atauAktivis
siklus gerakan
korupsi politik
pada tahun-tahun
Pemilumasuk
yang telah
dengan ekstrim.
danmeningkat
terlibat berorganisasi
di partai. Kualitas aktivis
gerakantidak
perempuan
diditafsirkan
partai mampu
partai
Masyarakat
saja dapat
sebagaimeyakinkan
satu kesatuan,
tetapi
dan dibatasi
DPR dalam
menghasilkan
yanglaki-laki
berpihak
juga perlu
mengingat
perbedaan kebijakan
hakikat antara
dan
perempuan.
halnyauntuk
keterwakilan
perempuan
sebagai undangsalah satu
pada Seperti
kesetaraan
keadilan.
Di antaranya
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
undang KDRT, antitrafiking, pembelaan buruh migran,
2012 menegaskan
setiap
partai politikjuga
peserta
pemilu
harus memenuhi
perlindungan
saksi/korban,
status
kewarganegaraan
30% keterwakilan
perempuan.
perempuan
dan anak.Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Bandingkan dengan Pemilu 2009 dan 2014.
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Keterwakilan peremuan di DPR melalui sistem PR daftar
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
calon ini memang lebih dari 15 persen. Tapi, perempuan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
terpilih
semakin
banyak
patriarkis
dan
Paramastuti
dalam
tulisannya
yangberlatarbelakang
berjudul: “Perempuan
dan Korupsi:
merepresentasikan
dinasti politik
patriah.
Selain
itu, DPR
upayaRI
Pengalaman
Perempuan Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
2009.”kesetaraan untuk keadilan melalui kebijakan diganggu
parlemen
yang dengan
semakin
gaduh.
Masih
berhubungan
tema
akuntabilitas keuangan politik, Didik
DPR 2009dalam
dan 2014
jelas
merupakan
hal yang
SupriyantoKeadaan
dan Lia Wulandari
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana
Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
ingin dihindari
dari
hasil
pemilu serentak.
Kompleksitas
kampanye
adalah
salah
satu calon
hal penting
dalam proses pemilu.
Dana
sistem
pemilu
daftar
akan membingungkan
pemilih
kampanye
oleh partai
kandidatnya
dapat
dan diperlukan
mengaburkan
disainpolitik
dan dan
tujuan
pemilu untuk
serentak.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
144
vi
Pemilih lebih berkemungkinan memilih calon presiden
yang tak sesuai dengan pilihannya di pilihan pemilu
legislatif.
Jika disimulasikan dengan Pemilu 2014, pemilih
akan tetap banyak yang memilih Jokowi-JK tapi pilihan
partainya Gerindra karena daftar calon terbuka mendorong
pemilih memilih caleg, bukan partai. Jadi, meskipun
pada 2019 dan seterusnya pilpres dan pileg diserentakan,
prilaku pemilih berkecenderungan sama dengan Pemilu
2009/2014 yang tak serentak. Pemilu serentak tetap
menghasilkan pemerintahan terbelah.
Dari pengalaman keterwakilan perempuan di pemilu
Indonesia dan referensi buku keterwakilan perempuan
yang menyertakan studi banding pengalaman banyak
negara menyertakan konteks pemilu serentak, dihasilkan
rekomendasi peningkatan keterwakilan perempuan di
pemilu serentak adalah sebagai berikut:
Sistem pemilu proporsional
daftar partai
Sistem pemilu DPR dan DPRD tetap menggunakan sistem
pemilu proporsional representatif (PR). Dibandingkan
sistem pluralitas/mayoritas yang mendorong kompetisi
ketat dan terbuka-bebas, sistem PR dinilai para pakar
pemilu lebih memungkinkan perempuan terpilih. 20
Varian sistem PR yang dipilih adalah PR daftar partai—
20 Richard E. Matland, Enhancing Women’s Political Participation:
Legislative Recruitment and Electoral Systems, IDEA 2005: 101.
145
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat yang
oleh politisi
pemerintah
yang terpilih
untukSistem
memerintah.
biasa dan
disebut
daftar (calon)
tertutup.
ini mirip
Pandangan
berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
denganHamdan
Pemilu tersebut
1999. Surat
suara
hanya
berisikan
logo
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
partai dan nomor urut. Tak ada daftar calon di surat suara
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
sehingga
pemilih
hanya
memilihbahwa
partai.Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Tapi, bukan berarti tak menyertakan daftar calon di
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
surat suara, daftar calon tak perlu terbuka. Partai tetap
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
membuka
dan mempublikasikan
daftar terkonfirmasi
calon. Ini
agregatharus
maupun
secara spesifik
pada tahun-tahun Pemilu,
syarat kepesertaan
pemilu
dan
diperuntukan
dalam menjadi
praktek penganggaran
di Indonesia
yang
berkaitan
dengan bagi
siklus
publik
dalam
tahap
kampanye.
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi
political
melainkan
Sistemperhatian
pemilu tidak
PR hanya
daftar
calonbudget
yangcycles,
mendorong
political
corruption cycle
siklus korupsi
tahun-tahun
persaingan
antaratau
individu
calon politik
pada pada
dasarnya
tak
Pemilusesuai
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
dengan prinsip solidaritas perempuan. Akademisi
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagai
satuIman
kesatuan,
tetapi
Ilmu Politik
Universitas
Indonesia
Nur
Subono
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan
hakikat Pemilu
antara laki-laki
dan
menjelaskan,
di kontestasi
antar individu
2009 dan
perempuan.
Seperti
keterwakilan
perempuan
sebagaiKeadaan
salah satu
Pemilu
2014halnya
membutuhkan
modal
sangat besar.
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
Tahun
timpang gender di masyarakat yang meninggikan 8posisi
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
lelaki membuat calon perempuan kalah bersaing dengan
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
calon lelaki. Nur menjelaskan, pada dasarnya, di kontestasi
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
antar individu Pemilu 2014 membutuhkan modal sangat
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
besar. Keadaan timpang gender di masyarakat yang
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
meninggikan posisi lelaki membuat calon perempuan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
21
kalah dalam
bersaing
denganyang
calon
perempuan.
Paramastuti
tulisannya
berjudul:
“Perempuan dan Korupsi:
Direktur
eksekutif
Lembaga
Bantuan
Hukum
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
PemiluAsosiasi
DPR RI
2009.”Perempuan untuk Keadilan (LBH Apik), Ratna Batara Mukti
menyetujui
pendapat
Nur.akuntabilitas
Dalam sistem
proporsional
Masih
berhubungan
dengan tema
keuangan
politik, Didik
terbuka
gerakan
dalam
pencalonan
Supriyanto
dan dukungan
Lia Wulandari
dalamperempuan
tulisan berjudul
Transparansi
dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
menjadi
terpecah. Dana
Gerakan
perempuan
yang seharusnya
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
21 http://www.rumahpemilu.org/in/read/9684/Proporsional-Terbukakampanye
diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
Mungkin-Tak-Cocok-dengan-Perempuan
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
146
vi
berprinsip dan membutuhkan solidaritas malah menjadi
saling bersaing antar individu perempuan. 22
Di pemilu serentak, perempuan akan semakin
dikesampingkan perhatiannya karena bersamaan dengan
pemilihan presiden, sehingga solidaritas perempuan dalam
pengoranisasian partai dan lintas partai menjadi semakin
dibutuhkan. Mengulang perempuan ada dalam sistem
pemilu PR daftar calon berarti membiarkan kontestasi yang
membutuhkan sumber daya publik (uang, popularitas, dan
mobilitas) tinggi yang juga berarti menambah kompleksitas
konteks pemilu serentak.
Besaran dapil 3-6 kursi, bukan threshold
Memperkecil besaran daerah pemilihan (dapil)
berpengaruh dalam peningkatan keterwakilan perempuan.
Makin sedikit kursi yang tersedia pada satu dapil akan
memperketat persaingan partai sehingga yang lebih
berkemungkinan mendapat kursi hanya partai-partai
besar. Semakin sedikit jumlah partai di parlemen, semakin
besar perolehan kursi diperuntukan perempuan. Partai
di parlemen semakin sedikit tapi setiap partai akan
memperoleh lebih dari satu kursi. 23Dengan menyertakan
zipper system murni pada proses keterpilihan, perempuan
biasanya akan memperoleh kursi kedua di masing-masing
partai.
Pada sistem PR daftar partai, pemilih hanya memilih
partai dan calon terpilih ditentukan berdasarkan nomor
22 Ibid
23 Ibid: 103.
147
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat urut.
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuksemakin
memerintah.
Semakin
kecil rentang
dapil dan
sedikit
Pandangan
dengan apa
yang parlemen,
disampaikan
partai Hamdan
peserta tersebut
pemiluberkaitan
memperoleh
kursi
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
semakin banyak kemungkinan partai mendapatkan
dua
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
kursi, dan bisa dipastikan yang mendapatkan kursi di
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
antaranya adalah perempuan.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Tentu saja rekomendasi pengecilan besaran dapil ini tak
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
kecil.
keadaan ini
baiknya
gerakan
agregatdisukai
maupunpartai-partai
secara spesifik
padaDi
tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
tak larut
pada polarisasi
sentimen
Partai
dalam perempuan
praktek penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan
siklus
Besar
VS
Partai
Kecil.
Gerakan
perempuan
harus
lintas
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
dan
melampaui
kepentingan
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak hanya partai
politicaluntuk
budgetmengutamakan
cycles, melainkan
kepentingan
kolektif
perempuan.
political
corruption cycle
ataugerakan
siklus korupsi
politik pada tahun-tahun
Pemilu yang
telah meningkat
dengan
Besaran
kursi 3-6
tiapekstrim.
dapil akan dirasa signifikan
Masyarakat
tidak saja dapat
ditafsirkan sebagai
satu kesatuan,
tetapi
meningkatkan
keterwakilan
perempuan
dibanding
juga perlu
perbedaan
dan
3-12,dibatasi
3-10, mengingat
bahkan 3-8.
Pada hakikat
daftar antara
calon,laki-laki
terdapat
perempuan.
Sepertienam
halnya nama
keterwakilan
satu
maksimal
calonperempuan
(karena sebagai
rentangsalah
kursi
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
dapil yang diupayakan adalah 3-6 kursi). Setiap partai
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
bisa menampilkan 3 sampai 6 nama di daftar calon
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
secara berseling, lelaki-perempuan dan seterusnya atau
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
perempuan-lelaki dan seterusnya.
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Pengoptimalan
fungsimandeknya
besaran aspirasi
dapil ini
pun untuk
akan berdampak
negatif terhadap
perempuan
dalam
menjaga
prinsip
sistem
proporsional
dan
opovov
(one
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
person,
onetulisannya
vote, oneyang
value).
Richard
E. Matland
Paramastuti
dalam
berjudul:
“Perempuan
dan (2005)
Korupsi:
dan Ramlan
Surbakti,
DidikKorupsi
Supriyanto,
dan Hasyim
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
dalam Pemilu
DPR RI
2009.”Asyari (2011) merekomendasikan parliamentary threshold
(PT)
sebagai salah
satu
variabel
sistemkeuangan
pemilu yang
perlu
Masih
berhubungan
dengan
tema
akuntabilitas
politik,
Didik
digunakan
meningkatkan
keterwakilan
perempuan.
Supriyanto
dan Liauntuk
Wulandari
dalam tulisan
berjudul Transparansi
dan
Akuntabilitas
Dana Kampanye,angka
menguraikan
bahwa
dana
RamlanPengelolaan
dkk. merekomendasikan
PT 2,5%.
Richard
kampanye
adalah salahsemakin
satu hal penting
proses pemilu.
Dana
menekankan,
tinggi dalam
PT semakin
mungkin
kampanye
diperlukan oleh
partai politik
dan kandidatnya
dapat
meningkatkan
keterwakilan
perempuan.
Tapi untuk
sejatinya,
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
148
vi
rekomendasi menyertakan PT apalagi meningkatkannya
merupakan hal yang bertolak belakang dengan prinsip
sistem pemilu proporsional dan opovov.
Nomor urut dan zipper system
murni
Zipper system pencalonan selama ini (melalui sistem
pemilu PR daftar calon) hanya signifikan meningkatkan
keterwakilan perempuan dalam tahap pencalonan. Dalam
tahap keterpilihan, zipper system pencalonan ini tak
berkecenderungan meningkatkan jumlah perempuan.
Peningkatan keterwakilan dalam pencalonan di Pemilu
2014 malah berbanding terbalik dengan keterpilihannya.
Hampir semua calon perempuan terpilih di DPR, DPRD
Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota memiliki nomor urut
kecil: 1, 2, atau 3. Itu artinya, dalam sistem proporsional
daftar calon terbuka pun, nomor urut masih berperan
penting bagi keterpilihan calon perempuan. Oleh karena
itu, yang harus dilakukan adalah mengubah ketentuan
daftar calon “1 in 3” menjadi ”daftar calon disusun secara
selang-seling berdasar jenis kelamin” atau daftar zigzag
atau zipper murni. 24
Calon perempuan di urutan awal berseling calon lelaki
untuk dapil ganjil sedangkan untuk dapil genap calon lelaki
di urutan awal berseling calon perempuan. Format ini
memungkinkan diterimanya calon perempuan di urutan
24 Ramlan Surbakti, Didik Supriyanto, dan Hasyim Asyari, Meningkatkan
Keterwakilan Perempuan, Kemitraan, Jakarta 2011: 23-24.
149
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat awal
oleh politisi
pemerintah
yang terpilih
untukundang-undang
memerintah.
daftardan
calon
oleh dewan
pembuat
Pandangan
tersebut berkaitan
disampaikan
pemilu Hamdan
yang didominasi
lelaki.dengan
Selainapa
itu,yang
kewenangan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
nomor urut calon diberikan kepada partai selain membuat
pada Tahun
Yuna menjelaskan
bahwamurni
Political
budget juga
cycles
lebih Pemilu.”
berpeluangnya
zipper system
diterima
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
akan menggambarkan kualitas partai dalam menyusun
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
calon.
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Pembatasan
peserta
pemilu
dinilaimelainkan
para
ini, yang menjadi
perhatianpartai
tidak hanya
political
budget cycles,
political
corruption
atau siklus
politik pada
tahun-tahun
pakar
sistemcycle
pemilu
akan korupsi
meningkatkan
keterpilihan
Pemiluperempuan.
yang telah meningkat
denganagar
ekstrim.
Ini dilakukan
perolehan suara dan kursi
Tidak membatasi jumlah partai
peserta pemilu
lebih terkonsentrasi
beberapasebagai
partai.satu
Jika
perolehan
Masyarakat
tidak saja dapatkeditafsirkan
kesatuan,
tetapi
juga perlu
mengingat
hakikat
antara
laki-laki di
dan
kursidibatasi
terkonsentrasi
keperbedaan
sedikit partai,
calon
perempuan
perempuan.
halnya
keterwakilan
sebagai
salah satu
partaiSeperti
tersebut
berpeluang
besarperempuan
menjadi calon
terpilih.
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
Pengaruh pembatasan partai peserta pemilu bagi
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
keterpilihan perempuan dapat dipahami sebagai berikut:
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
jika jumlah parpol peserta pemilu sedikit, peluang
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
keterpilihan perempuan besar, karena perolehan kursi
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
terkonsentrasi hanya pada beberapa partai. Dalam hal
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
kecenderungan,
banyak
yang
hukumini
danberlaku
pemerintahan.
Dan kondisi semakin
tersebut telah
dituliskursi
oleh Nindita
didapatkan
semakin
besar pula
peluang perempuan
Paramastuti
dalam partai,
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
terpilih.
Pengalaman
Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.” Sebaliknya, bila partai peserta pemilu terlalu banyak
perolehan
kursidengan
tersebar
keakuntabilitas
banyak partai.
Di keadaan
ini
Masih
berhubungan
tema
keuangan
politik, Didik
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
partai berkemungkinan besar hanya mendapatkan kursi
Akuntabilitas
Kampanye,
menguraikan lebih
bahwakecil
dana
paling Pengelolaan
banyak satuDana
kursi.
Peluang perempuan
kampanye
adalah
salah
satu hal penting dalam
proses pemilu.
karena
partai
berkecenderungan
menempatkan
lelakiDana
di
kampanye
diperlukan
oleh
partai
politik
dan
kandidatnya
untuk
dapat
nomor urut satu pada dapil potensial mendapatkan kursi.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
150
vi
Tapi, pembatasan jumlah partai peserta pemilu
jika menekankan pada besar/kecil-nya struktur dan
modal partai bisa sangat tak demokratis. Efek menarik
kerah dalam pemilu serentak bisa dioptimalkan untuk
tidak memilih cara pembatasan jumlah partai peserta
pemilu. Jika surat suara pilpres dan pileg disatukan, lalu
penyusunan pilihan presiden di atas partai atau koalisi
partai pengusung presiden, banyaknya jumlah partai
peserta pemilu dikurangi oleh upaya memfokuskan
kosentrasi pemilih hanya pada jumlah calon presiden
berelektabilitas tinggi. Jumlah partai peserta pemilu dan
calon presiden akan banyak, tapi yang jadi sorotan media
dan fokus bagi pemilih hanya yang berkemungkinan
menang saja.
Formula perolehan kursi d’Hondt
Metode divisor dengan varian metode d’Hondt
membantu meningkatkan keterpilihan perempuan. Metode
d’Hondt menguntungkan partai besar dalam memperoleh
kursi. Di setiap dapilnya, partai besar akan mendapatkan
kursi lebih dari satu. Penerapan zipper system murni
(lelaki-perempuan/perempuan-lelaki) mengoptimalkan
peluang keterpilihan perempuan. 25
Sebaliknya, jika formula perolehan kursi menguntungkan
partai kecil, tingkat keterpilihan perempuan menjadi
kecil. Perolehan kursi akan menyebar, kemungkinan
besar satu kursi setiap partai. Dengan kecenderungan
25 Ibid: 24.
151
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat partai
oleh politisi
dan pemerintah
yang
memerintah.
menempatkan
lelaki
di terpilih
nomor untuk
urut satu
pada dapil
Pandangan
Hamdan
tersebutlebih
berkaitan
dengan apa
yang disampaikan
potensial,
perempuan
tak memilih
peluang
terpilih.
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Yang perlu menjadi pegangan kita semua, pemilu
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
serentak semakin menguatkan relasi sistem pemerintahan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
presidensial
Indonesia
dengan
sistem
kepartaian
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
multipartai dan sistem pemilu proporsional. Disain pemilu
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
mengingatkan,
tujuan
adalah
untuk
memilih
agregatini
maupun
secara spesifik
padapemilu
tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
yang berjalan
sehat
berdampak
dalam pemerintahan
praktek penganggaran
di Indonesia
yangdan
berkaitan
dengan baik
siklus
bagi
rakyat,
termasuk
perempuan.
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi
perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
***
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Dari semua rekomendasi peningkatan keterwakilan
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
perempuan di konteks pemilu serentak itu semoga bisa
Masyarakat
saja dapat pentingnya
ditafsirkan sebagai
satu kesatuan,
tetapi
semakintidak
menyadarkan
solidaritas
bagi gerakan
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan. Jika merujuk pada awal gerakan perempuan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
menyertakan pengalamannya, solidaritas merupakan
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
keutamaan kekuatan utama gerakan. Pengalaman
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
kebertubuhan serta korban diskriminasi dan kekerasan
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
menjadi dasar kolektivitas identitas perempuan sebagai
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
gerakan.
Kekuatan
utama solidaritas
inidiperjuangkan,
bukan saja penting
mayoritas
diduduki
oleh laki-laki.
Apabila tidak
hal ini
tapi
merupakan
kebutuhan
gerakan
perempuan
untuk
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
di pemilu serentak.
hukumterlibat
dan pemerintahan.
Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti
dalam pemilu
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan sangat
Korupsi:
Sistem
legislatif
Indonesia
saat ini
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR RI
mirip dengan sistem pemilu legislatif di Brasil. Sistem
2009.”pemilu legislatif yang sangat kompleks, PR daftar calon
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
terbuka
dengan
besaran
dapil terlalu
banyak
kursi.
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
Sistem pemilu legislatif seperti ini jika diserentakan tetap
Akuntabilitas
Pengelolaan Dana
Kampanye,
bahwa dana
tak menghasilkan
parlemen
yang menguraikan
kondusif mendukung
kampanye
adalahterpilih.
salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
presiden
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
Dilma Rousseff, presiden perempuan pertama Brasil
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
hasil pemilu serentak keempat Brasil dimakzulkan
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
152
vi
parlemen. Analis politik dari Universitas Katolik Pontifical di
Sao Paulo, Pedro Aruda, kepada The New York Times (18/4)
mengatakan, ini adalah kudeta yang akan memunculkan trauma
pada sistem presidensial Brasil.26 Pemilu serentak bertujuan
menguatkan presidensial dengan bentuk dukungan partai/koalisi
mayoritas parlemen tapi pemilu serentak 2014 di Brasil malah
menghasilkan yang sebaliknya.
Paradoksal pemilu serentak Brasil itu hendaknya menjadi
pelajaran Indonesia yang menyelenggarakan pemilu serentak
dengan tujuan menghasilkan pemerintahan presidensial yang
sehat dan peningkatan keterwakilan perempuan. Yang terjadi
di Pemilu Serentak 2014 Brasil, melalui pemilu presiden yang
diserentakan dengan sistem PR daftar calon dengan besaran dapil
berkursi banyak, tidak menghasilkan dua tujuan itu. Presiden
dimakzulkan dan keterwakilan perempuan dewan partai tak
mencapai 10 persen (9,9% atau 51 dari 513).
REFERENSI
Ana Alice Alcantara, Women and Politics: the Brazil Paradox,
Open Democracy, 2008;
Andrew Reynolds, et.al., Electoral System Design: The New
International IDEA Handbook, (Stockholm: International
Institute for Democracy and Electoral Assistance, 2005);
Ani W. Soetjipto, Politik Harapan, Margin Kiri, Jakarta 2011;
Ani W. Soetjipto dan Shelly Adelina, Partai Politik dan Strategi
Gender Separuh Hati, Margin Kiri, Jakarta 2012;
Eric C.C. Chang and Miriam A. Golden, Electoral Systems,
District Magnitude and Corruption, British Journal of Political
Science, 2005;
26 Rousseff Dimakzulkan, Kompas cetak, 19 April 2016: 10.
153
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Didik Supriyanto, Khoirunnisa Nur Agustyati, August Mellaz,
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Manata Ulang Jadwal Pilkada Menuju Pemilu Nasional dan
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Daerah, Perludem, Jakarta 2013;
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Pedro
AbreuNegara.
GomesBerbagai
dos Santos,
Gendering
Representation:
empiris
di de
berbagai
variabel
yang mempengaruhi
politcal
Parties,
Institutions,
and Thepola
Under-Representation
ofbaik
Women
budget cycles
seperti perubahan
pada struktur anggaran
secara
in
Brazil’s
State secara
Legislatures,
of Kansas,
2012;
agregat
maupun
spesifik University
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
dalam
praktek
penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan
Harun
Husein,
Pemilu Indonesia,
Perludem,
Jakarta
2014;siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Heroik M. Pratama dan Maharddhika, Prospek Pemerintahan
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
Hasil Pilkada 2015, Perludem, Jakarta 2015;
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Irwansyah
dkk.,
Paradoks
Representasi
Politik Perempuan,
Pemilu
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
Puskapol
UI, Depok
2012;
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
Nadezhda
Shvedova,
Kendala-kendala
terhadap
juga
perlu dibatasi
mengingat
perbedaan hakikat
antara Partisipasi
laki-laki dan
perempuan. Seperti
halnya dalam
keterwakilan
perempuan
sebagai salah
satu
Perempuan
di Parlemen
Perempuan
di Parlemen,
Bukan
syarat
verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
Sekedar Jumlah, Bukan Sekedar Hiasan, Azza Karam, dkk,
2012 menegaskan
partaidan
politik
peserta pemilu
harus Yayasan
memenuhi
penerjemah
Aryasetiap
Wisesa
Widjanarko,
Jakarta:
30% keterwakilan
perempuan.
Jurnal
Perempuan,
1999. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Nuri Suseno, Politik Representasi, Puskapol UI, Depok 2014;
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Sarah
Maximnegatif
dkk., terhadap
Perempuan
di Parlemen:
Sekedar
akan
berdampak
mandeknya
aspirasi Bukan
perempuan
dalam
Jumlah,
IDEA
2002;
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti
dalam tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
Scott Mainwaring,
Presisentialism,
Multiparty
Systems,
And
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR
RI
Democracy: The Difficult Equation, Kellogg Institute, 1990;
2009.”
Ramlan Surbakti, Didik Supriyanto, dan Hasyim Asyari,
Masih berhubungan
dengan tema
akuntabilitasKemitraan,
keuangan politik,
Didik
Meningkatkan
Keterwakilan
Perempuan,
Jakarta
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
2011.
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
154
vi
AGAR PEMILU UNTUK
SEMUA:
CATATAN KEBERPIHAKAN
TERHADAP PEMILIH
DISABILITAS
Kholilullah P.
Abstrak
Penyelenggaraan pemilu sudah seharusnya dapat
menjamin hak politik setiap warga negara yang telah
memiliki hak pilih tanpa terkecuali termasuk kepada pemilih
yang memiliki keterbatasan fisik ataupun mental. Untuk
itu peraturan yang menjadi payung hukum pelaksanaan
pemilu harus memastikan hak pemilih disabilitas tidak
terabaikan. Pemilih disabilitas harus dipastikan dapat
mengakses seluruh tahapan pemilu baik itu sejak tercatat
dalam daftar pemilih, terlibat dalam proses kampanye, dan
juga tidak kesulitan pada hari pemungutan suara.
Kata kunci: Pemilu akses, hak politik warga negara,
pemilih disabilitas
155
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Pengantar
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Pemilu sebagai pesta demokrasi ternyata tak bisa
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
diikutiPemilu.”
oleh semua
negarabahwa
yang Political
memilikibudget
hak pilih.
pada Tahun
Yuna warga
menjelaskan
cycles
Salah
satunya
adalah
warga
penyandang
disabilitas.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
dan
diskriminasi
warga
penyelenggara
empirisStigma
di berbagai
Negara.
Berbagai variabel
yangdan
mempengaruhi
politcal
dalam
kehidupan
dan bernegara
budgetNegara
cycles seperti
perubahan
polabermasyarakat
pada struktur anggaran
baik secara
penyandang
kehilangan
hak
pilihnya.
agregatmembuat
maupun secara
spesifik disabilitas
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
dalam Jangankan
praktek penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan siklus
hak dipilih,
hak memilih
pun terabaikan.
PemiluSehingga
2009 ataupun
menjelang
Pemilu
2014. Melihat
perkembangan
saat
wajar
jika tingkat
partisipasi
pemilih
disabilitas
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
selama ini masuk kategori sangat rendah.
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pada tahapan pendaftaran pemilih, nama warga
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
disabilitas bisa tidak masuk dalam daftar. Kalau pun
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
terdaftar dan menyadari kepastian hak pilihnya, warga
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
disabilitas tak mendapatkan informasi dan pendidikan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
pemilih yang baik. Sebagian warga disabilitas ada
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
yang sampai di tempat pemungutan suara (TPS) untuk
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
menggunakan hak pilihnya. Tapi keadaan TPS yang
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
minim
membuat
pemilih
praktiktidak
selama ramah
ini, pihakdan
yang duduk
baikfasilitas
di parlemen
maupun pemerintah
disabilitas
menggunakan
pilihnya, hal
danini
mayoritas
diduduki kesulitan
oleh laki-laki.
Apabila tidak hak
diperjuangkan,
harus didampingi.
Selain
kesulitan
menggunakan
hak
akan berdampak
negatif terhadap
mandeknya
aspirasi
perempuan dalam
warga disablitas
puntersebut
kesulitan
menggunakan
hak
hukummemilih,
dan pemerintahan.
Dan kondisi
telah
ditulis oleh Nindita
dipilihnya.
Paramastuti
dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman
Perempuan
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR RI
Dinamika
ini Menghadapi
tidak berdiri
sendiri,
karena
undang2009.”undang kepemiluan dinilai belum memiliki perspektif
Masih
berhubunganyang
dengan
tema akuntabilitas
keuangan politik,
Didik
aksesibilitas
mumpuni.
Cara pandang
terhadap
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
disabilitas dilihat dari sudut pandang non-disabilitas.
Akuntabilitas
Pengelolaan
Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
Dominasi
jabatanDana
politik
oleh politisi
non-disabilitas,
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
pemahaman yang minim terhadap kondisi disabilitas,
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
156
vi
serta empati yang rendah untuk membuka ruang politik
tanpa pandang fisik, membuat para pengambil kebijakan
abai terhadap prinsip-prinsip pemilu yang aksesibel.
Akhirnya regulasi dirumuskan secara diskriminatif dan
belum memberikan perlindungan yang memadai terhadap
hak pilih.
Pasal-pasal diskriminatif ditemukan tersebar di
beberapa regulasi kepemiluan. Misalnya soal persyaratan
“sehat jasmani dan rohani” dalam mengakses jabatan
publik. Salah satunya diatur dalam Pasal 5 huruf d UU
No 42/2008 yang menyatakan bahwa persyaratan untuk
menjadi calon Presiden dan calon Wakil Presiden adalah
“mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan
tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
Diksi “mampu secara jasmani dan rohani” menimbulkan
pemahaman dan penilaian berbeda bagi setiap pembuat
kebijakan.
Nuansa diskriminasi semakin menguat tatkala hadir
pasal diskriminatif baru dalam UU No 8/2015, Pasal 57 ayat
(3) menyatakan, “Untuk dapat terdaftar sebagai Pemilih,
warga negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus memenuhi syarat: a. tidak sedang terganggu jiwa/
ingatannya; dan/atau b. tidak sedang dicabut hak pilihnya
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap”. Klausul seperti ini padahal belum
pernah diatur pada UU kepemiluan sebelumnya. Lahirnya
aturan ini menandakan sebuah kemunduran bagi reformasi
kepemiluan di Indonesia.
Namun KPU RI cukup memiliki perspektif dan
157
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat penghormatan
oleh politisi dan pemerintah
terpilihhak
untuk
memerintah.
yang baikyang
terhadap
pilih
dan prinsip
Pandangan
Hamdan
tersebut setiap
berkaitanwarga
dengan negara.
apa yang disampaikan
kesetaraan
memilih
Sehingga
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
regulasi yang dinilai diskriminatif, diresolusi dengan
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna yang
menjelaskan
Political
budget
cycles
pengaturan
teknis
sangat bahwa
antisipatif.
Pasal
57 ayat
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
(3) diterjemahkan kembali di Pasal 4 ayat (3) PKPU No
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
4/2014 tentang pemutakhiran data dan daftar pemilih
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dalam Pilkada yaitu, “Penduduk yang sedang terganggu
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
jiwa/ingatannya sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
huruf a, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai Pemilih,
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
harus
dibuktikan
surat
keterangan
ini, yang
menjadi
perhatiandengan
tidak hanya
political
budgetdokter”.
cycles, melainkan
Akan tetapi,
maju
yang politik
diambilpada
olehtahun-tahun
anggota
political corruption
cyclelangkah
atau siklus
korupsi
PemiluKPU
yang RI
telah
meningkat
dengan ekstrim.
bukan
merupakan
tuntutan sistem, atau perintah
spesifik tidak
regulasi.
itu hanya
bagian
dari
mentalitas
Masyarakat
saja Tindakan
dapat ditafsirkan
sebagai
satu
kesatuan,
tetapi
individu
danmengingat
kemajuan perbedaan
perspektif hakikat
yang semakin
untuk
juga perlu
dibatasi
antara baik
laki-laki
dan
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
perempuan sebagai
salah satu
menghadirkan
Pemilu
yang berintegritas
di Indonesia.
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
Dengan demikian tingkat kerentanan terhadap perlakukan
2012 menegaskan
setiap
partai
politik
peserta pemilu
diskriminatif
bagi
warga
disabilitas
masih harus
cukupmemenuhi
tinggi.
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
Mengingat pergantian rezim penyelenggara Pemilu yang
praktik5selama
pihak yang
duduk baik
di parlemenoleh
maupun
pemerintah
tahunini,sekali,
berpotensi
digantikan
wajah
baru
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
dengan perspektif disabilitas yang juga relatif berbeda.
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Gerakan affirmatif diperlukan untuk menjawab
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
dua persoalan
mendasar
di aspek“Perempuan
disabilitas.dan
Pertama,
Paramastuti
dalam tulisannya
yang berjudul:
Korupsi:
diskriminasi
terhadap
warga disabilitas
dalam
mengakses
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi dalam
Pemilu
DPR RI
2009.”peran kepemiluan dirasakan sangat kentara. Akibatnya
membentuk
rantai
sebab-akibat
yang tidak
bisa dipisahkan
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
keuangan
politik, Didik
dengan
partisipasi
yang sangat
Supriyanto
dan tingkat
Lia Wulandari
dalamwarga
tulisan disabilitas
berjudul Transparansi
dan
rendah.Pengelolaan
Baik dalam
hak pilihbahwa
maupun
Akuntabilitas
Danamenggunakan
Kampanye, menguraikan
dana
peran
sertasalah
dalam
lainnya.
Titik kritis
kampanye
adalah
satuisu
hal kepemiluan
penting dalam
proses pemilu.
Dana
simpul-simpul
diskriminasi
pada untuk
beberapa
kampanye
diperlukan oleh
partai politikterdeteksi
dan kandidatnya
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
158
vi
aspek penyelenggaraan Pemilu, yaitu: pendaftaran
pemilih, kampanye, pemungutan suara, pencalonan, ruang
disabilitas dalam penyelenggaraan.
Kedua, perspektif regulasi yang melayani atau
mendukung peran serta warga disabilitas dalam
penyelenggaraan Pemilu belum menggambarkan affirmasi
yang cukup. Belum berpihak sepenuhnya terhadap warga
disabilitas. Hal ini menciptakan lingkungan yang saling
mempengaruhi antara eksistensi warga disabilitas dengan
perlakuan disrkiminatif warga bahkan keluarga.
Prinsip Yang Harus Dijaga
Penyandang disabilitas sebagai kelompok yang
berkebutuhan khusus perlu mendapatkan aksesibilitas
dalam Pemilu. Penyandang disabilitas bukanlah kelompok
yang minta diistimewakan, tetapi hanya membutuhkan
fasilitas dalam pelaksanaan Pemilu bisa diakses oleh
mereka. Sejatinya, untuk memastikan aksesibilitas dalam
pelakasanaan Pemilu mesti dilakukan upaya-upaya sejak
awal proses tahapan Pemilu berjalan. Misalnya, ketika
proses pembuatan UU Pemilu, aksesibilitas perlu dijadikan
pertimbangan dalam penyususan aturan-aturan Pemilu.
Dimensi utama aksesibilitas meliputi pelayanan dan
perhatian terhadap pemilih disabilitas. Prinsip utamanya
yaitu, bagaimana memastikan agar pemilih dapat
mengakses TPS dengan tanpa hambatan saat memberikan
suaranya pada hari pencoblosan. Dengan demikian,
fokus dimensi aksesibilitas dalam Pemilu ditujukan pada
seluruh instrumen yang akan digunakan sepanjang proses
159
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pemberian
oleh politisi dan
pemerintah
terpilih
untuk memerintah.
suara
oleh yang
Pemilih
Disabilitas.
Misalnya,
Pandangan
Hamdan
apa yangalat
disampaikan
topografi
TPS, tersebut
bentukberkaitan
ruang dengan
bilik suara,
bantu
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
pemberian suara, dll. Desain ruang dan instrumen yang
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan bahwa Political budget cycles
digunakan
harus
akses.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Akan tetapi, melihat persoalan yang selama ini dihadapi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
publik dalam konteks akses terhadap Pemilu, maka
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
penting
untuk memperluas
dimensi
aksesibilitas.
agregatdinilai
maupun
secara spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
Prinsip
aksesibilitas
pada
akhirnya
berkembang.
Pertama,
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan
siklus
bagaimana
memastikan
agar
masyarakat
dapat
mengakses
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
hak
pilihnya
dan tidak
menggunakan
suaranya.
Pemerintah
ini, yang
menjadi
perhatian
hanya political
budget cycles,
melainkan
harus
menjamin
setiap
warga
negara
telah
political
corruption
cycle bahwa
atau siklus
korupsi
politik
padayang
tahun-tahun
Pemilumemenuhi
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.
persyaratan
harus
mendapatkan hak pilih, serta
harus menjamin
pilih
tersebutsebagai
dapatsatu
digunakan
tanpa
Masyarakat
tidak saja hak
dapat
ditafsirkan
kesatuan,
tetapi
hambatan
Kedua,
bagaimana
dapat
juga perlu
dibatasiapapun.
mengingat
perbedaan
hakikatmasyarakat
antara laki-laki
dan
perempuan.
Seperti
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai salah satu
dengan
mudah
mengakses
peran
dan keterlibatannya
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
No.sebagai
8 Tahun
secara aktif dalam aktivitas kepemiluan, UU
baik
2012 menegaskan
setiap partai
politikpenyelenggara.
peserta pemilu harus memenuhi
pemilih, kontestan
maupun
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Warga disabilitas adalah warga yang memiliki fungsi
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
penginderaan yang sama dengan masyarakat pada
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
umumnya, hanya saja dengan caranya sendiri, atau
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
cara yang berbeda dengan. Artinya, seluruh tuntutan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
perandalam
dapattulisannya
dilakukan
masyarakat
yang
Paramastuti
yangsebagaimana
berjudul: “Perempuan
dan Korupsi:
memiliki
kesempurnaan
penginderaan
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi dalamsecara
Pemiluumum.
DPR RI
2009.”Tidak ada alasan bagi para pihak untuk membedakan dan
memposisikan
sebagaikeuangan
warga yang
lemah.
Masih
berhubungan warga
dengandisabilitas
tema akuntabilitas
politik,
Didik
Paradigma
menuntut
agartulisan
ketersediaan
pilih warga
Supriyanto
dan Liaini
Wulandari
dalam
berjudulhak
Transparansi
dan
bukan Pengelolaan
atas dasar pemberian
Pemerintah
melalui
diskresi
Akuntabilitas
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
Penyelenggara
hak dasar
kampanye
adalah salahPemilu,
satu hal namun
penting sebagai
dalam proses
pemilu.yang
Dana
harus
dipenuhioleh
secara
otomatis.
kampanye
diperlukan
partai
politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
160
vi
Perkembangan Kategorisasi
Disabilitas
Perkembangan jenis disabilitas terus berubah,
dengan demikian turut mengubah perlakuan dalam
menghadapinya. Kategorisasi yang disepakati oleh para
pihak terdiri dari 5 jenis disabilitas yaitu: Disabilitas Fisik,
misalnya tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa,
dan tunalaras; Disabilitas Mental, misalnya tunalaras
dan tunagrahita; Disabilitas Intelektual, misalnya
seorang anak yang mengalami ketidakmampuan dalam
belajar; Disabilitas Sensorik, mengacu pada gangguan
pendengaran, penglihatan dan indera lainnya juga bisa
terganggu; serta Disabilitas Perkembangan, misalnya
spina bifida.
Kategorisasi ini berbeda dari jenis disabilitas yang
menjadi standar nasional yang dikembangkan oleh
Kementerian Sosial dalam survey dan sensusnya, yaitu:
Cacat penglihatan, Cacat pendengaran,
Cacat mental,
Cacat fisik, Gangguan mental, Gangguan jiwa/psikis, Bisu
tuli. Kategori kementerian sosial ini hanya mengakomodir
2 jenis disabilitas dalam UU Kepemiluan. Misalnya pasal
86 ayat (1) Perppu No 1/2014 juncto UU No 8/2015, hanya
mengakomodir tunanetra dan tunadaksa untuk diberikan
fasilitas pendamping. Pada akhirnya akan mempengaruhi
kualitas pelayanan dalam Pemilu jika membandingkan
dengan realita disabilitas di lapangan.
161
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Akses Terhadap Pendaftaran
Pemilih
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Diskriminasi
hukum
terhadap
disabilitas
dalam
proses
pada Tahun
Pemilu.” Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
penyusunan
daftar
pemilih
sudah
terjadi
sejak
Pemilu
di
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Stigmatisasi
disabilitas
empirisIndonesia
di berbagai berlangsung.
Negara. Berbagai
variabel yangterhadap
mempengaruhi
politcal
olehpada
penyelenggara
Pemilu,
budgettidak
cycleshanya
seperti dilakukan
perubahan pola
struktur anggaran
baikyang
secara
disabilitas
mampuPemilu,
menunaikan
hak
agregatmenilai
maupunbahwa
secara spesifik
padatidak
tahun-tahun
terkonfirmasi
dalam dan
praktek
penganggarantanpa
di Indonesia
yang berkaitan
denganlain,
siklus
kewajibannya
bergantung
dengan orang
Pemiluatau
2009tidak
ataupun
menjelang
Pemiluuntuk
2014. Melihat
perkembangan
saat
dapat
dipercaya
mengambil
keputusan
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
atas dirinya –terutama bagi disabilitas mental.
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Bahkan stigma ini juga ada pada keluarga dari disabilitas
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
yang bersangkutan. Banyak penyandang disabilitas yang
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
disembunyikan oleh keluarga sehingga tidak bisa memilih.
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
Hak untuk mengambil keputusan atas dirinya sendiri
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
diambil alih keluarganya. Padahal belum tentu keputusan
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
yang diambil keluarga baik untuk penyandang disabilitas
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
itu sendiri. Akibatnya fatal, proses pendaftaran pemilih
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
tidak
ramah
bagi warga
penyandang
disabilitas.
praktikmenjadi
selama ini,
pihak
yang duduk
baik di parlemen
maupun
pemerintah
dari laki-laki.
stigma Apabila
ini sangat
kompleks. Proses
mayoritas Dampak
diduduki oleh
tidak diperjuangkan,
hal ini
akan berdampak
negatif
terhadap
mandeknya aspirasi
perempuan
dalam
yang tidak
ramah
menciptakan
penyusunan
daftar
hukumpemilih
dan pemerintahan.
Dan kondisi
tersebut
telah ditulis oleh
Nindita
berlangsung
secara
diskriminatif.
Banyak
Paramastuti
tulisannyayang
yang berjudul:
“Perempuan dandengan
Korupsi:
wargadalam
disabilitas
tidak teridentifikasi
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR RI
benar karena pendataannya tidak menjangkau mereka
2009.”secara menyeluruh. Daftar Pemilih tidak secara jernih
Masih
berhubungan dengan
tema akuntabilitas
keuangan
politik, Didik
menunjukkan
pemilih-pemilih
yang
menyandang
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
disabilitas. Sehingga data disabilitas yang tersedia belum
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana yang
Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
memberikan
gambaran
memadai
untuk kepentingan
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
Pemilu. Bahkan situasi ini memberi kejelasan mengapa
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
162
vi
angka partisipasi warga penyandang disabilitas tergolong
rendah.
Bila ditilik lebih mendalam, format Daftar Pemilih yang
digunakan berdasarkan PKPU No 9/2013 dan PKPU No
9/2014 tentang penyusunan daftar pemilih untuk Pileg
dan Pilpres tidak akomodatif terhadap warga disabilitas.
Pasal 9 ayat (2) PKPU No 9/2013 serta Pasal 11 ayat (2)
PKPU No 9/2014 mengatur bahwa Daftar Pemilih paling
sedikit memuat nomor kartu keluarga, nomor induk
kependudukan, nama, tempat dan tanggal lahir, jenis
kelamin, status kawin, alamat, dan jenis disabilitas Warga
Negara Indonesia yang mempunyai hak memilih.
Sepintas ayat di atas sangat berperspektif disabilitas.
Namun saat diterjemahkan ke dalam tabel yang lebih
operasional, maka format daftar pemilih akhirnya menjadi
10 kolom informasi: i) No. KK, ii) NIK, iii) Nama, iv) Tempat
Lahir, v) Tanggal Lahir, vi) Umur, vii) Status Perkawinan,
viii) Jenis Kelamin, ix) Alamat, x) Keterangan. Ada
informasi yang hilang pada format tabel daftar pemilih,
yaitu informasi jenis disabilitas warga negara Indonesia
yang mempunyai hak memilih. Informasi jenis disabilitas
dilebur ke dalam kolom Keterangan. Dalam prakteknya,
dengan keragaman tingkat pemahaman dan perspektif
Pantarlih terhadap disabilitas yang terbatas, tidak aneh
jika kolom Keterangan kurang mengakomodir kepentingan
disabilitas, sebagaimana tuntutan PKPU tersebut.
Perspektif disabilitasnya tereduksi secara signifikan.
Titik krusial dari persoalan format yang tidak ramah
disabilitas dan keterbatasan wawasan terkait disabilitas
163
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat memberikan
oleh politisi danefek
pemerintah
yang
terpilih
untuk memerintah.
domino
bagi
masalah
lanjutan, yaitu
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
invaliditas
jumlah
pemilih
disabilitas
yang
sesungguhnya,
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
serta pola perkembangan pemilih disabilitas Anggaran
dalam
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
Pemilu. Besaran data yang diperoleh Pantarlih otomatis
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
kabur, bahkan yang berhasil diidentifikasi cenderung
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
sedikit. Selama ini, besaran data yang sedikit dinilai
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
menjadi penyebab minimnya perhatian dan kepedulian
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
menghadapi pemilih disabilitas di Indonesia. Data pemilih
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
penyandang disabilitas belum bisa diketahui secara pasti
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
karena
sumber
informasi
yangpolitical
minim.budget cycles, melainkan
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak hanya
Di sisi lain,
individu
petugas
Pantarlih
political corruption
cycle perspektif
atau siklus korupsi
politik
pada tahun-tahun
Pemilujuga
yang turut
telah meningkat
menjadi dengan
alasan ekstrim.
perbedaan data. Tidak semua
Pantarlih
punya
yang benar
atau
memadai
dalam
Masyarakat
tidak
sajaperspektif
dapat ditafsirkan
sebagai
satu
kesatuan,
tetapi
mendefinisikan
disabilitas.
Penyebabnya
beragam,
antara
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan
hakikat antara
laki-laki
dan
perempuan.
Sepertipelatihan
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai
satu
lain karena
pemahaman
disabilitas
yangsalah
minim,
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
tingkat pendidikan Pantarlih yang beragam, stigmatisasi
2012 menegaskan
setiap
partai masih
politik melekat
peserta pemilu
harusPantarlih
memenuhi
Pantarlih yang
diyakini
mengingat
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi inidan
patutjabatannya
diperjuangkan,
mengingat
merupakan
warga setempat
cenderung
praktikberputar
selama ini,dikalangan
pihak yang duduk
baik di parlemen
sekelompok
orang dimaupun
desa. pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Perbedaan ini pada akhirnya akan menggiring opini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
petugas Pantarlih saat menentukan apakah seseorang
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
layak dalam
dimasukkan
sebagai
warga disabilitas
dalam
daftar
Paramastuti
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
pemilih.
Daftar Pemilih
yang Korupsi
ada tidak
dapat
diandalkan
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
dalam
Pemilu
DPR RI
2009.”sepenuhnya untuk kepentingan Pemilu. Data yang tidak
reliable
dan kurang
invalid
membatasikeuangan
Pemerintah
dalam
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
politik,
Didik
pengambilan
keputusan
terkait
dukungan
untuk pemilih
Supriyanto
dan Lia Wulandari
dalam
tulisan
berjudul Transparansi
dan
disabilitas.
Untuk menghindari
celah
data dan informasi,
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
Pemerintah
dalam
KPU dalam
terpaksa
menggunakan
kampanye
adalah salah
satuhal
halini
penting
proses
pemilu. Dana
asumsi-asumsi
daripartai
berbagai
referensi.
kampanye
diperlukan oleh
politik
dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
164
vi
Kemunduran Kesetaraan Politik
Dalam Pilkada
Perkembangan undang-undang Pilkada mengalami
kemunduran yang signifikan. UU No. 8/2015 mengatur
bahwa agar dapat didaftar sebagai pemilih, maka warga
negara harus memenuhi persyaratan tidak sedang
terganggu jiwa/ingatannya. Dikatakan mundur karena
regulasi kepemiluan sebelumnya sama sekali tidak
mengatur pembatasan gangguan jiwa/ingatan. Pasal
ini berpotensi menghilangkan hak pilih warga negara,
serta tidak sejalan dengan prinsip hak pilih sebagai hak
fundamental yang melekat pada setiap warga negara sejak
lahir di Indonesia.
Antisipasi yang dilakukan oleh KPU RI adalah
menerbitkan PKPU No. 4 Tahun 2015. Pasal 4 ayat (3)
PKPU ini menyatakan, “Penduduk yang sedang terganggu
jiwa/ingatannya sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf a, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai Pemilih,
harus dibuktikan dengan surat keterangan dokter”. Jika
disimulasikan, Panitia Pendaftaran Pemilih (Pantarlih)
harus mendata seluruh warga negara tanpa kecuali. Jika
ada warga negara yang dianggap oleh keluarga atau wali dari
warga negara tersebut terganggu jiwanya, maka keluarga
atau wali calon Pemilih tersebut yang harus membuktikan
kepada Pantarlih dengan surat medis yang menunjukkan
seseorang tersebut sedang terganggu jiwanya.
Namun peran PKPU tidak terlepas dari pemahaman
dan kapasitas masing-masing anggota KPUnya yang sudah
165
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat memadai.
oleh politisi dan
pemerintah
yangsistem
terpilih yang
untuk memerintah.
Bukan
tuntutan
mengharuskan
Pandangan
berkaitan
dengan apa yang disampaikan
setiap Hamdan
anggota tersebut
KPU wajib
menafsirkannya
demikian.
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
Sehingga, pemahaman yang tidak menjadi bagian
dari
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
sistem yang baku berpotensi membuka ruang debat yang
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
sia-sia. Resikonya, pergantian anggota KPU berpotensi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
pula mengganti pasal-pasal dalam PKPU. Aturan-aturan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
yang prinsipil tidak semestinya dilepaskan pengaturannya
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
pada pengaturan teknis dengan strata PKPU, harus di
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
undang-undang.
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Titik kritis
klausul
inihanya
terletak
padabudget
momen
pendaftaran
ini, yang menjadi
perhatian
tidak
political
cycles,
melainkan
pemilih
yang
dilakukan
dengan
6 bulan
political
corruption
cycle
atau siklus
korupsijarak
politikwaktu
pada tahun-tahun
Pemilusebelum
yang telahpelaksanaan
meningkat dengan
ekstrim.
Pemilu
Kepala Daerah. Berdasarkan
perkembangan
Indonesia
saat satu
ini, Rumah
Masyarakat
tidak sajamedis
dapat di
ditafsirkan
sebagai
kesatuan,Sakit
tetapi
Jiwadibatasi
telah membuat
waktu
juga perlu
mengingat kebijakan
perbedaan untuk
hakikatmembatasi
antara laki-laki
dan
perempuan.
Sepertipasien
halnyadengan
keterwakilan
perempuan
sebagai3 salah
satu
perawatan
gangguan
jiwa selama
minggu
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
saja. Artinya, setelah pasien dengan gangguan jiwa dirawat
2012 menegaskan
partai maka
politik 3peserta
pemilu
harus memenuhi
di Rumah setiap
Sakit Jiwa,
minggu
berikutnya
pasien
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
tersebut sudah dinyatakan pulih dan harus mengakhiri
praktikperawatan
selama ini, pihak
yang duduk
di Rumah
Sakit.baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Maka itu, jika seorang warga negara dinyatakan oleh
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
dokter sakit saat pada saat pendaftaran Pemilih, belum
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
tentu dalam
yang tulisannya
bersangkutan
kondisi
sakit dan
pada
saat
Paramastuti
yang dalam
berjudul:
“Perempuan
Korupsi:
pelaksanaan
Pemilu.
Dengan
fakta dalam
ini, pemilih
yangRI
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
Pemilu DPR
2009.”dianggap terganggu jiwa/ingatannya pada saat pendaftaran
Pemilih,
sudahdengan
pasti tema
akanakuntabilitas
kehilangankeuangan
suara politik,
pada saat
Masih
berhubungan
Didik
pelaksanaan
Pemilu, padahal
yangberjudul
bersangkutan
berada
Supriyanto
dan Lia Wulandari
dalam tulisan
Transparansi
dan
dalam Pengelolaan
kondisi yangDana
sehatKampanye,
pada saatmenguraikan
itu. Klausul bahwa
ini sangat
Akuntabilitas
dana
mengancam
hak satu
pilihhal
warga
negara.
Pasal
ini tidak
boleh
kampanye
adalah salah
penting
dalam
proses
pemilu.
Dana
dicantumkan
UU kepemiluan.
kampanye
diperlukandalam
oleh partai
politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
166
vi
Pengambilan Keputusan Berbasis
Asumsi
Petugas Pantarlih dengan wawasan disabilitas
yang minim, perspektif yang lemah, dan pendekatan
yang berbeda akan melahirkan hasil identifikasi yang
berbeda pula. Sebagaimana perbedaan data disabilitas
yang sangat mungkin terjadi antar institusi lain. Data
Kementerian Kesejahteraan Sosial dan Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia mengatakan bahwa ada
sekitar 3,063,559 penyandang disabilitas di, Indonesia. Di
waktu yang berbeda, kementerian sosial mencatat bahwa
disabilitas pada tahun 2012 sebanyak 3.838.985 orang,
yang didominasi oleh usia produktif yaitu 25 hingga 55
tahun.
Berbedadengan World Health Survey pada tahun 2006
yang memprediksi bahwa secara global jumlah penyandang
disabilitas adalah antara 15.6%-19.4% dari total populasi
dunia. Bila presentase tersebut diterapkan di Indonesia,
dengan perkiraan jumlah penduduk 240 juta orang, maka
perkiraan jumlah penyandang disabilitas di Indonesia
adalah antara 37–46.5 juta orang. Di lain pihak, United
Nations Economic and Social Commission for Asia and
the Pacific (UNESCAP) pada tahun 2006 mengeluarkan
perkiraan bahwa sekitar 1% dari penduduk Indonesia
adalah penyandang disabilitas, atau sekitar 2,1 juta orang.
Dari catatan di atas hanya menunjukkan perkiraan
jumlah disabilitas, bukan pemilih disabilitas. Sehingga
muncul pertanyaan, dari jumlah tersebut berapakah jumlah
167
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pemilih
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
memerintah.
penyandang
disabilitas
yang untuk
sesungguhnya.
KPU
Pandangan
Hamdan
berkaitan informasi
dengan apa dan
yang data
disampaikan
tentu saja
akantersebut
menggunakan
yang
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
diperoleh dari data pemilih. Namun untuk mengantisipasi
pada Tahun
Pemilu.”instrumen
Yuna menjelaskan
bahwa
Political
budget KPU
cycles
kekurangan
dukungan
bagi
disabilitas,
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
harus menggunakan asumsi-asumsi dengan data yang ada
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
dan referensi tambahan dari pihak lain. Dengan harapan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
instrumen pendukung bagi disabilitas mencukupi.
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Akibatnya
muncul
rantai persoalan
hanya
karena
dalam praktek
penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan
siklus
diawali
oleh
sebuah
persoalan
teknis,
yaitu
tentang
daftar
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
pemilih
berperspektif
diantaranya:
tidak
ini, yang
menjaditidak
perhatian
tidak hanyadisabilitas,
political budget
cycles, melainkan
adanya
perbaikan
terhadap
pemilih
yang
political
corruption
cycle atau
siklus data
korupsi
politik disabilitas
pada tahun-tahun
Pemilusesungguhnya
yang telah meningkat
ekstrim.
serta dengan
pola perkembangannya
di Indonesia;
ketidakkemampuan
dan kesatuan,
memenuhi
Masyarakat
tidak saja dapatmengidentifikasi
ditafsirkan sebagai satu
tetapi
jenisdibatasi
serta mengingat
jumlah alat
bantu hakikat
disabilitas;
juga perlu
perbedaan
antara instrumen
laki-laki dan
perempuan.
Seperti
keterwakilan
perempuan
sebagai
satu
Pemilu
tidakhalnya
ramah
disabilitas;
penyediaan
alatsalah
bantu
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
yang tidak tepat guna dan fungsi yang kurang efektif
2012 menegaskan
partai politik
pemilu
harus
memenuhi
oleh karenasetiap
identifikasi
jenis peserta
disabilitas
yang
tidak
tepat;
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
terdegradasinya prinsip kerahasiaan Pemilu dengan
praktikadanya
selama ini,
pihak yang
duduk baik di parlemen
maupun pemerintah
tuntutan
pendampingan;
atau kurangnya
materi
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
pendidikan pemilih yang aksesibel.
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Itu sebabnya persoalan daftar pemilih yang aksesibilitas
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
merupakan
persoalanyang
yang
tidak “Perempuan
bisa dianggap
kecil.
Paramastuti
dalam tulisannya
berjudul:
dan Korupsi:
Melihat
akar masalahnya,
haldalam
utamaPemilu
yang DPR
harusRI
Pengalaman
Perempuan
Menghadapimaka
Korupsi
2009.”dicarikan solusinya adalah, bagaimana mendesain format
daftar
pemilih yang
mengakomodir
semangat
Pasal
9 PKPU
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
No 9/2013
dan Pasal dalam
11 PKPU
Noberjudul
9/2014.Transparansi
Selanjutnya,
Supriyanto
dan Lia Wulandari
tulisan
dan
bagaimana
menyiapkan
yang memiliki
wawasan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana SDM
Kampanye,
menguraikan
bahwa dan
dana
pemahaman
yangsatu
baik
disabilitas,
sehingga
dapat
kampanye
adalah salah
halterkait
penting
dalam proses
pemilu.
Dana
memperkuat
pendataan.
kampanye
diperlukanaspek
oleh partai
politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
168
vi
Akses Dalam Kampanye
Kampanye politik adalah salah satu tahapan penting
dalam pemilu, baik Pemilu Legislatif maupun Pemilu
Eksekutif. Tahapan kampanye adalah ruang bagi kontestan
untuk meyakinkan Pemilih dengan menawarkan visi, misi,
dan program peserta Pemilu. Melalui kampanye, peserta
Pemilu membangun hubungan politiknya secara langsung
kepada pemilih dengan janji-janji politik yang dirasa
menjadi kebutuhan banyak pihak. Semakin menarik janji
politik yang ditawarkan kepada publik, semakin besar
keyakinan calon pemilih untuk menetapkan pilihan
politiknya. Maka dari itu, kampanye seharusnya menjadi
alasan mengapa seseorang memilih calon tertentu.
Namun selama ini, kampanye tidak dilaksanakan
dengan mempertimbangkan kebutuhan warga disabilitas.
Akibatnya warga disabilitas tidak mendapatkan informasi
yang baik. Visi, Misi dan Program kontestan Pemilu tidak
sampai, atau tak utuh diserap oleh pemilih penyandang
disabilitas. Bahkan materinya cenderung tidak bisa
dipahami karena berbagai keterbatasan, utamanya bagi
disabilitas sensorik (mata, pendengaran, dll). Lebih jauh
lagi, warga penyandang disabilitas juga terkadang tak
tahu waktu, tempat, dan cara pemilihan. Sehingga pemilih
disabilitas urung menggunakan hak pilihnya karena
kurang memahami apa yang sesungguhnya diperjuangkan
para kontestan, mereka kehilangan hak pilih.
Persoalan akses banyak menimpa kelompok disabilitas
sensorik (tunarungu dan tunanetra) serta disabilitas fisik
169
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat (tunagrahita).
oleh politisi dan pemerintah
yang terpilih
untuk memerintah.
Kedua kategori
disabilitas
ini kesulitan
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan apa yang
disampaikan
atau bahkan
hampir
tidak
bisa mengakses
materi-materi
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
kampanye. Muatan kampanye tidak sampai ke Anggaran
warga
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
disabilitas dan hubungan politik tidak terbangun. Sehingga
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
tujuan dari kampanye otomatis tidak tercapai dengan baik.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Lantas bukan hanya hak pilih yang terhambat, namun
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
aspirasi disabilitas juga tidak terakomodir dengan baik
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam janji politik.
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang
telah meningkat
dengan
ekstrim.
Persoalan
disabilitas
tidak
bisa diselesaikan dengan
Akar Persoalan
Masyarakat
tidak saja dapat
ditafsirkan
sebagairagamnya
satu kesatuan,
tetapi
menggeneralisir
solusi,
mengingat
bentuk
juga perlu
dibatasi dan
mengingat
perbedaan hakikat
laki-laki dan
disabilitas
penanganannya.
Untukantara
mengantisipasi
perempuan.
Seperti
halnyapenting
keterwakilan
salahdan
satu
kendala
di atas,
untukperempuan
menggali sebagai
persoalan
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
mencarikan solusi praktisnya.
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
Tunanetra. Kendala utama yang dialami oleh tunanetra
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
mengakses
yang
bersifat
visual
pada
praktikadalah
selama ini,
pihak yang informasi
duduk baik di
parlemen
maupun
pemerintah
setiap
bentukoleh
metode
kampanye.
Kontestan
Pemilu harus
mayoritas
diduduki
laki-laki.
Apabila tidak
diperjuangkan,
hal ini
peka terhadap
alternatif
bagiaspirasi
penglihatan
sehingga
akan berdampak
negatifsarana
terhadap
mandeknya
perempuan
dalam
mendapatkan
informasi
yangditulis
samaoleh
dengan
hukumdisabilitas
dan pemerintahan.
Dan kondisi
tersebut telah
Nindita
wargadalam
lain. Fungsi
indera
menjadi
andalandan
tunanetra
Paramastuti
tulisannya
yangyang
berjudul:
“Perempuan
Korupsi:
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
adalah indera peraba dan indera pendengar. DPR
MakaRI
2009.”alternatif yang harus disiapkan dalam setiap pelaksanaan
kampanye
adalah
sarana
bisa didengar
dan
diraba,
Masih
berhubungan
dengan
temayang
akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
atau sarana audio dan tulisan yang bercetak huruf braille.
Akuntabilitas
Pengelolaan
Danayang
Kampanye,
bahwa
dana
Tunarungu.
Kendala
dialamimenguraikan
oleh tunarungu
adalah
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
mengakses informasi yang bersifat audio dan tulisan pada
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
170
vi
setiap bentuk metode kampanye. Penyelenggara Pemilu
serta kontestan Pemilu harus mengupayakan sarana
alternatif bagi tunarungu agar dapat mengakses seluruh
materi kampanye. Fungsi indera yang menjadi andalan
tunarungu adalah indera penglihatan. Maka sarana
alternatif yang harus disiapkan dalam setiap pelaksanaan
kampanye adalah sarana yang bisa dilihat, atau sarana
visual.
Kendati dapat melihat, lazimnya tunarungu tidak dapat
membaca dan berbicara, karena proses tumbuh kembang
mereka tidak memungkinkan dalam mempelajari tulisan
dan bahasa yang membutuhkan indera pendengaran
dalam proses belajarnya. Alternatif yang digunakan agar
tunarungu mampu memahami bahasa dan tulisan adalah
bahasa isyarat yang hanya secara khusus didesain untuk
tunarungu. Sehingga materi kampanye harus diproduksi
dalam bentuk visual (grafis dan gambar bergerak) yang
berimbang dari produksi informasi yang bersifat audio.
Desain khusus bahasa isyarat juga berarti bahwa
bahasa isyarat juga harus dipelajari oleh tunarungu yang
bersangkutan. Tidak seluruh tunarungu bisa memahami
bahasa isyarat. Namun ada non-tunarungu yang bisa
memahami dan menguasai bahasa isyarat. Oleh sebab
itu, dalam penyelenggaraan kampanye yang menuntut
komunikasi antara manusia dan manusia, maka
penyelenggara dan peserta Pemilu harus semestinya selalu
menggunakan translator tunarungu. Agar setiap materi
yang disampaikan oleh kontestan Pemilu tersampaikan
dengan utuh.
171
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat olehTunagrahita.
politisi dan pemerintah
untuk
memerintah.
Kendala yang
yangterpilih
dialami
oleh
tunagrahita
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan
dengan
apapada
yangbentuk
disampaikan
dalam mengakses
kampanye
bukan
terletak
dan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
sifat informasinya, melainkan pada fasilitas yang tersedia
pada Tahun
Yuna tempat
menjelaskan
bahwadimana
Political penyebaran
budget cycles
untukPemilu.”
mengakses
kegiatan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
informasi tersebut diselenggarakan. Tunagrahita akan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
selalu mengalami kendala terhadap kegiatan kampanye
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
yang sifatnya pertemuan fisik antara kontestan dan
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
pemilih. Dalam kasus ini, tugas kontestan pemilu adalah
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
menyediakan fasilitas pendukung agar tunagrahita dapat
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
mengakses
tempattidak
kegiatan
secarabudget
mandiri.
ini, yang
menjadi perhatian
hanya political
cycles,Kegiatan
melainkan
kampanye
harus
dilakukan
pada
tempat-tempat
yang
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
keleluasaan
bagi
tunagrahita untuk bergerak
Pemilumemberikan
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.
tanpa harus
oleh
pihak lain.
Masyarakat
tidakdibantu
saja dapat
ditafsirkan
sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi
faktual untuk
menjadi
pesertahitung,
pemilu. UU
No. 8
Tahun
Aksesibilitas
dalam
pungut
atau
dalam
2012 menegaskan
setiap
partai (pencoblosan)
politik peserta pemilu
memenuhi
pelaksanaan
Pemilu
dan harus
penghitungan
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
patut diperjuangkan,
mengingat
suara, merupakan
salah
satuinipersoalan
yang krusial
bagi
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
penyandang disabilitas. Selama ini, kritik publik berkenaan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
dengan persoalan akses disabilitas menghadapi TPS,
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
bilik suara, serta partisipasi dalam proses penghitungan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
suara. Kendati berhasil melewati tantangan pada tahapanParamastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
tahapan yang sebelumnya, disabilitas masih harus bergelut
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”dengan tantangan berikutnya dalam proses pungut hitung.
Akses Pungut Hitung
Kegagalan dalam menjawab persoalan dalam pungut
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
hitung
menjadi
akibat
yang lebih
Supriyanto
dankemudian
Lia Wulandari
dalamsebab
tulisanuntuk
berjudul
Transparansi
dan
besar,
yaitu
tidak
terpenuhinya
prinsip
LUBER
JURDIL
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
dalam
Pemilu.
kampanye
adalah
salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanyePencoblosan
diperlukan oleh
partai perspektif
politik dan kandidatnya
untuk
dapat
adalah
regulasi yang
belum
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
172
vi
selesai, fasilitas yang tidak mendukung, teknis pemberian
suara yang tidak ramah dan kadang merepotkan,
pendampingan yang membuka ruang manipulasi.
Sedangkan persoalan dalam penghitungan suara adalah
seputar akses terhadap informasi yang sedang berlangsung.
Dengan perspektif disabilitas yang memadai, akan menjadi
modal untuk menyelesaikan seluruh persoalan.
Perspektif Regulasi dan
Konsekuensi Pungut Hitung
Perkembangan jenis disabilitas belum diiringi dengan
kesiapan regulasi dan instrumen yang memadai. Persoalan
ini merupakan akar rantai persoalan yang panjang, dan
menjadi akibat dari perspektif yang kurang tepat sejak
proses penyusunannya. UU No 42/2008 hanya mengenal
2 jenis disabilitas (tunanetra dan tunadaksa) dalam Pemilu
dan membuka ruang bagi disabilitas fisik lainnya. Dengan
pasal ini, Pemerintah menyediakan seorang pendamping
yang dapat dimanfaatkan jika seorang penyandang
disabilitas menginginkannya, baik yang berasal dari
keluarga maupun dari petugas KPPS. Sebagai kontrol,
pendampingan harus disaksikan oleh seorang petugas
KPPS saat membantu “kliennya” memberikan suara.
Akan tetapi peruntukkan 2 jenis disabilitas ini dinilai
belum memadai. Dilihat dari kategorinya, jangkauan
pengaturan disabilitas hanya menjangkau tunanetra
dan tunadaksa. Ini pula yang menjadi akar masalah
munculnya pasal diskriminasi terhadap disabilitas mental
dalam UU Pilkada. Perspektif pembuat kebijakan menilai
173
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat bahwa
oleh politisi
dan pemerintah
yangjiwa/ingatan
terpilih untuk memerintah.
gangguan
terhadap
bukan bentuk
Pandangan
Hamdan
tersebutkebijakan
berkaitan dengan
apa yang
disampaikan
disabilitas.
Pembuat
cenderung
menganggap
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
gangguan jiwa merupakan penyakit kronis yangAnggaran
tidak
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
cakap untuk mendapatkan hak pilih, serta harus dihambat
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
partisipasinya melalui regulasi. Akibatnya hak pilih warga
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
negara dihilangkan.
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Penegasan
jenis-jenis
disabilitas Pemilu,
dalamterkonfirmasi
regulasi
agregat maupun
secara spesifik
pada tahun-tahun
untuk kepentingan
penganggaran
Pemilu.
dalam penting
praktek penganggaran
di Indonesia yang
berkaitan dengan
siklus
Dengan
pembatasan
hanya
pada
disabilitas
fisik,
maka
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
orientasi
penganggaran
Pemilu
nantinya
terpaku
pada
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya
political
budget cycles,
melainkan
kebutuhan
dukungan
instrumen
untuk
political
corruption cycle
atau siklus
korupsi politik
padamembantu
tahun-tahun
Pemilupemilih
yang telah
meningkatfisik
dengan
ekstrim.
disabilitas
semata,
sedangkan disabilitas lain
terlupakan.
selama ini
instrumen
dukungan
Masyarakat
tidakContohnya,
saja dapat ditafsirkan
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
untuk
disabilitas
yangperbedaan
dianggarkan
KPU
adalah
juga perlu
dibatasi
mengingat
hakikatoleh
antara
laki-laki
dan
perempuan.
SepertiTemplate
halnya keterwakilan
perempuan
salah
satu
Template.
adalah alat
bantu sebagai
memilih
yang
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
fungsinya memberikan tekstur timbul agar dapat diraba
2012 menegaskan
setiap partai
politikSerupa
peserta halnya
pemilu dengan
harus memenuhi
oleh penyandang
tunanetra.
fungsi
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
huruf braille. Dengan begitu, pemilih tunanetra dapat
praktikmenentukan
selama ini, pihak
yang duduksecara
baik di mandiri
parlemen maupun
pemerintah
pilihannya
tanpa dukungan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
pendamping. Tujuannya agar prinsip kerahasiaan dalam
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Pemilu terjaga.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Namun
bagi disabilitas
fisik “Perempuan
seperti tunagrahita,
Paramastuti
dalam tulisannya
yang berjudul:
dan Korupsi:
dukungan
pemilunya
tidak terlayani
tidak adanya
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi karena
dalam Pemilu
DPR RI
2009.”anggaran. Ketiadaan anggaran karena regulasi yang tidak
mengakomodasi.
Sehingga
saat menghadapi
pemilih
Masih
berhubungan dengan
tema akuntabilitas
keuangan politik,
Didik
dengan
disabilitas
ganda
yang tidak
Supriyanto
dan Lia
Wulandari
dalam atau
tulisantunagrahita
berjudul Transparansi
dan
memiliki
tangan (atau
dan menguraikan
kaki sekaligus),
tetap
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana tangan
Kampanye,
bahwa
dana
saja adalah
seorang
pemilih
oleh pihak
kampanye
salah
satu disabilitas
hal penting harus
dalamdibantu
proses pemilu.
Dana
kedua.
Kendatioleh
dapat
dibantu
oleh
kampanye
diperlukan
partai
politik
danpendamping
kandidatnya pilihannya
untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
174
vi
dan disaksikan oleh petugas KPPS, tetap saja aspek
kerahasiaannya tidak terpenuhi. Kemandiriannya dibatasi.
Contoh kasus lain, tunarungu yang biasanya sekaligus
menyandang tunawicara. Selama ini bantuan yang
diberikan petugas KPPS hanya memberikan isyarat kepada
pemilih tunarungu jika yang bersangkutan dipanggil oleh
petugas KPPS untuk memberikan hak pilihnya. Tunarungu
tidak mengetahui apa yang sedang disampaikan oleh
petugas KPPS diawal prosesi pembukaan pemungutan
suara, juga tidak mengetahui arahan-arahan petugas KPPS
yang disampaikan selama pemungutan suara berlangsung,
juga tidak mengetahui dinamika diskusi saat penghitungan
suara. KPU tidak menyediakan sarana pendukung teks
karena regulasi tidak membuka ruang untuk itu.
Penguatan kategorisasi disabilitas dalam regulasi
akan mendorong penganggaran yang berperspektif
disabilitas. Stakeholders akan terdorong untuk melakukan
inventarisasi instrumen pendukung bagi penyandang
disabilitas secara lebih komprehensif. Dengan begitu,
tidak hanya bagi tunanetra namun jenis disabilitas lainnya
terbantu saat menggunakan hak pilihnya dan berpartisipasi
dalam pelaksanaan pemilihan secara mandiri. Pengadaan
kebutuhan instrumen untuk mendukung fungsi-fungsi
yang tidak ada bagi penyandang disabilitas akan optimal.
Dinamika Pemberian Suara
Permasalahan berikutnya kembali hadir saat pemilih
penyandang
disabilitas
memberikan
pilihannya.
Pergantian sistem dari mencoblos ke sistem mencontreng,
175
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat selanjutnya
oleh politisi danmencoblos-mencontreng
pemerintah yang terpilih untuk
memerintah.
serta
mencoblos
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan apa disabilitas
yang disampaikan
kembali,
membuat
pemilih
penyandang
dan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
pemilih pemula kebingungan. Sejatinya kebingungan
pada Tahun
Pemilu.”
Yunaoleh
menjelaskan
bahwa Political
cycles
ini juga
dialami
banyak unsur
pemilih budget
yang lain.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Butuh sosialisasi dan pendidikan pemilih yang panjang
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
dan koreksi yang intensif kepada masyarakat untuk
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
meminimalisir kebingungan masyarakat. Pembelajaran
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
bagi para pembuat kebijakan, bahwa inovasi seyogyanya
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
melalui pengkajian yang matang dan mendalam agar
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
kebijakan
yang dihasilkan
dapat
lestari.
cycles, melainkan
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya
political
budget
Pergantiancycle
sistem
secara politik
mencotreng
pada saat
political corruption
ataumemilih
siklus korupsi
pada tahun-tahun
Pemiluitu
yang
telah meningkat
dengan ekstrim.
menyulitkan
disabilitas
tunanetra untuk memberikan
suara. Tidak
menjamin
contrengan
Masyarakat
tidak ada
saja yang
dapatdapat
ditafsirkan
sebagaiapakah
satu kesatuan,
tetapi
yangdibatasi
diberikan
oleh seorang
disabilitas
netralaki-laki
berbekas
juga perlu
mengingat
perbedaan
hakikat antara
dan
perempuan.
Sepertiatau
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai
salah satu
atau tidak,
apakah
spidol (alat
tulis) yang
digunakan
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
Tahun
bertinta. Akibatnya seorang tunanetra tidak 8 akan
2012 menegaskan
setiap
partai politik
pemilu
harussuaranya
memenuhi
mendapatkan
kepastian
atau peserta
keyakinan
bahwa
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini patut
diperjuangkan,
mengingat
benar-benar
tersalurkan,
kecuali
harus
didampingi
oleh
praktikorang
selamayang
ini, pihak
yang
duduk
baik
di
parlemen
maupun
pemerintah
dipercayainya dan seorang petugas KPPS. Ini
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
kembali mengancam kemandirian dan kerahasiaan pilihan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
pemilih.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Sistem
juga yang
masihberjudul:
menyisakan
pekerjaan
Paramastuti
dalamcoblos
tulisannya
“Perempuan
dan rumah
Korupsi:
yang berat.
Pengalaman
pemilu
2014,
fasilitas
template
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR RI
2009.”bagi disabilitas netra masih belum terpenuhi dengan
baik.
Hal ini dengan
ditengarai
akibat darikeuangan
penyederhanaan
Masih
berhubungan
tema akuntabilitas
politik, Didik
cara dan
pandang
bahwa dalam
pelaksanaan
PilpresTransparansi
relatif lebih
Supriyanto
Lia Wulandari
tulisan berjudul
dan
sederhana,
sehingga
berimplikasi
ketersediaan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana
Kampanye, pada
menguraikan
bahwa alat
dana
bantu
template
yanghal
tidak
merata.
“Satu TPS
kampanye
adalah
salah satu
penting
dalamPrinsip
proses pemilu.
Dana
dengan
Satu Alat
bagi disabilitas
kampanye
diperlukan
olehbantu
partaiMencoblos”
politik dan kandidatnya
untuknetra
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
176
vi
tidak terjadi. Bagi pemilih disabilitas netra, di banyak TPS
di wilayah pemantauan banyak yang tidak bisa memilih
secara mandiri akibat ketiadaan braille template . Pemilih
disabilitas netra akhirnya harus menggunakan pendamping
dan kehilangan prinsip kerahasiaannya dalam menentukan
pilihan di bilik suara.
Desaign surat suara yang merupakan konsekuensi dari
sistem Pemilu juga melahirkan kritik tersendiri. Sistem
proporsional daftar terbuka menuntut list kandidat
dimunculkan berbarengan dengan gambar partai. Dengan
demikian, diharapkan terjalinnya hubungan yang kuat
antara kandidat dan konstituten. Kandidat tidak hanya
berharap pada upaya partai, namun dituntut untuk turut
bekerja dan menemui calon pemilih ke lapangan selama
Pemilu. Relasi yang terbangun tidak hanya antara institusi
partai dengan pemilih, namun secara langsung antara
kandidat dengan calon pemilih. Sehingga aspirasi yang
disampaikan oleh pemilih memiliki daya tanggung-gugat
secara langsung kepada si kandidat bila terpilih nantinya.
Sistem pemilu proposional daftar terbuka semestinya
menguntungkan penyandang disabilitas karena membuka
ruang bagi penyandang desabilitas untuk berhubungan
langsung dengan para calon dan calon terpilih. Namun
nyatanya, penyandang disabilitas tidak mendapatkan
manfaat lebih dalam proses pemilihan, justru sebaliknya
hanya jadi sasaran jual beli suara. Sedangkan pada
pasca pemilihan tidak terdapat hubungan khusus antara
calon terpilih dengan penyandang desabilitas sebagai
konstituennya, sehingga semakin banyak kebijakan yang
177
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat tidak
oleh politisi
dan
pemerintah
yang terpilih
untuk memerintah.
ramah
terhadap
penyandang
desablitas.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Jika daftar terbuka tidak berdampak baik bagi
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
penyandang desabilitas, maka kembali ke daftar tertutup
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
menjadi pilihan baik: pertama, memudahkan pemberian
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
suara; kedua, menghindari lebih jauh jadi obyek jual beli
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
suara; dan ketiga, perjuangan kepentingan bisa difokuskan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
partai.secara
Tentuspesifik
denganpada
catatan
daftar calon
disusun
oleh
agregatke
maupun
tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
partai melalui
internal.
Hal dengan
ini penting
dalam anggota
praktek penganggaran
di pemilihan
Indonesia yang
berkaitan
siklus
karena
aspirasi
disabilitas
selayaknya
menjadi
pekerjaanPemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
rumah
bagi
partai,tidak
yang
selanjutnya
diteruskan
kepada
ini, yang
menjadi
perhatian
hanya
political budget
cycles, melainkan
para
kader-kadernya
mainstream
Pilihan
political
corruption
cycle atausebagai
siklus korupsi
politikbersama.
pada tahun-tahun
Pemiluuntuk
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
berharap
pada
individu
partai ternyata tidak lebih
baik dengan
partai.
Masyarakat
tidakmenuntut
saja dapat pertanggungjawaban
ditafsirkan sebagai satukepada
kesatuan,
tetapi
juga perluImplementasi
dibatasi mengingat
perbedaan
hakikat antara
dan
pemilu
proposional
daftar laki-laki
tertutup
perempuan.
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai salah
satu
juga Seperti
akan memudahkan
penyandang
desabilitas
untuk
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
memberikan suara. Sistem ini akan mengubah ukuran surat
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
suara dan penentuan pilihan menjadi lebih sederhana.
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Proses pencoblosan selama di bilik pemungutan suara
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
menjadi lebih cepat. Selain hanya memilih gambar partai
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
politik, sistem ini juga memudahkan penyelenggara untuk
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
menyediakan fasilitas secara merata, misalnya pengadaan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
surat dalam
suara braille.
Paramastuti
tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Penggunaan Diksi Dan Praktik
Pendampingan
Masih
berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
SupriyantoDiksi
dan Lia
Wulandari
dalam tulisan
berjudul
Transparansi
dan
“dapat”
dan “berhak”
menjadi
perdebatan
yang
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwadiksi
dana
prinsipil
dalam penyusunan
regulasi.
Bagi disabilitas,
kampanye
adalah
satu hal
pentingpemaknaan
dalam proses
pemilu. Dana
“dapat”
dansalah
“berhak”
memiliki
tersendiri.
Ini
kampanye
diperlukan
oleh
partai
politik
dan
kandidatnya
untuk
dapat
terkait dengan Pasal 157 yang memberikan pilihan kepada
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
178
vi
penyandang disabilitas untuk menggunakan pendamping
saat menggunakan hak pilihnya. Juga pada pasal-pasal
lain yang menghubungkan antara keterbatasan fungsi
dan kemandirian disabilitas. Muatan yang terkandung
dalam dua kata ini didefinisikan berbeda. Bahkan term
ini dianggap sangat prinsipil dalam hal penghormatan
terhadap penyandang disabilitas.
“Dapat” dinilai mengandung pemaknaan bahwa seorang
disabilitas harus diberikan pilihan untuk mengatasi
keterbatasan fungsi yang tidak ada pada dirinya. Sehingga
diksi ini dianggap terlalu mengikat dan menilai bahwa
seorang disabilitas tidak mandiri. Sedangkan muatan
kata “berhak” dinilai lebih memberikan kebebasan dan
kemandirian. Tidak mengedepankan keterbatasan yang
disandang oleh disabilitas hingga harus menggunakan
pilihan yang disediakan oleh penyelenggara. Kendati para
pengambil kebijakan menilai diksi ini hanya bermaksud
memberikan kemudahan bagi penyandang disabilitas,
namun pemaknaan yang digunakan berhubungan dengan
perlakuan yang diskriminatif dan aspek penghormatan
terhadap sesama manusia.
Dipahami juga bahwa “dapat” merupakan terminologi
yang sering digunakan dalam bahasa hukum untuk
memberikan kebebasan dalam menentukan dua pilihan
atau lebih. Akan tetapi terminologi “berhak” dinilai lebih
memberikan kebebasan serta penghormatan bagi seorang
penyandang disabilitas untuk menentukan pilihan sendiri.
Disabilitas ingin penentuan atau keputusan penggunaan
instrumen dukungan (termasuk pendamping) merupakan
179
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pilihannya,
oleh politisi danbukan
pemerintah
yang terpilih
memerintah.oleh
pilihan
yanguntuk
disediakan
Pandangan
HamdanPemilu.
tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Penyelenggara
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Titik tekannya ada pada siapa yang memutuskan untuk
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
menentukan model alat bantu yang akan digunakan.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Oleh karena itu, redaksi yang sebaiknya digunakan dalam
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
regulasi adalah “berhak”. Redaksi ini tentunya harus diikuti
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
aturan
instrumen
agregatdengan
maupunpenguatan
secara spesifik
pada terkait
tahun-tahun
Pemilu,pendukung
terkonfirmasi
bagi
disabilitas.
Agar
pilihan-pilihannya
lebih
banyak
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan
siklus
dan
menghargai
aspek
kemandirian
dan
kebebasan
yang
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
seharusnya
setara dimiliki
oleh
setiapbudget
pemilih.
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya
political
cycles, melainkan
political corruption
atau siklus
politik
padaakibat
tahun-tahun
Diskursuscycle
terminologi
inikorupsi
muncul
sebagai
dari
Pemiluperlakuan
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.
yang dinilai tidak baik dari petugas-petugas
Masyarakat
tidak saja
dapatwarga
ditafsirkan
sebagai satu
kesatuan,yang
tetapi
di lapangan.
Banyak
penyandang
disabilitas
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan hakikat
laki-laki
dan
mengeluhkan
tentang perlakukan
petugasantara
KPPS yang
tidak
perempuan.
Seperti
keterwakilan
perempuan
sebagai
salah satu
ramah,
atauhalnya
berdasarkan
kasihan
sehingga
membantu
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
secara berlebihan. Perlakuan yang demikian menyinggung
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
perasaan pemilih disabilitas yang seolah-olah dipandang
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
sebagai orang yang tidak berdaya, tidak mandiri dan patut
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
dikasihani. Sejatinya disabilitas hanya soal kekurangan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
salah satu indera, alat atau organ yang fungsinya dapat
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
digantikan dengan indera, alat atau organ yang lain.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Pengalaman
burukyang
yang
dialami
oleh disabilitas
ini
Paramastuti
dalam tulisannya
berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
diyakini
sebagai Menghadapi
dampak dari
kurangnya
pemahaman
Pengalaman
Perempuan
Korupsi
dalam Pemilu
DPR RI
2009.”panitia/KPPS terhadap disabilitas. Sangat mungkin
terjadi
karena tingkat
petugas
KPPS politik,
yang pada
Masih
berhubungan
dengan pendidikan
tema akuntabilitas
keuangan
Didik
umumnya
oleh tulisan
lulusanberjudul
SMA atau
sederajat.
Supriyanto
dan Liadidominasi
Wulandari dalam
Transparansi
dan
Akuntabilitas
Kampanye,
menguraikan
dana
DenganPengelolaan
demikian,Dana
tingkat
kepekaan
terhadapbahwa
pemilih
kampanye
adalah salah
satu Ditambah
hal penting lagi
dalamdengan
proses pemilu.
Dana
disabilitas
lemah.
minimnya
kampanye
diperlukan
oleh yang
partai dilakukan
politik dan oleh
kandidatnya
untuk dapat
bimbingan
teknis
KPU. Pelayanan
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
180
vi
panitia KPPS dirasakan sangat kurang selama proses
pendampingan.
Misalnya saja, saat mendampingi pemilih disabilitas,
pihak KPPS tidak menanyakan lebih dulu apakah ada
pendamping yang ditunjuk/dipercaya pemilih atau tidak.
Kenyatannya, di banyak TPS di wilayah pemantauan
petugas KPPS langsung saja mengantar pemilih ke bilik
suara tanpa bertanya soal pendampingan dan apalagi
menyodorkan Formulir model C3 bagi pendamping yang
tersedia. Perlakuan ini sangat rentan menyalahi prinsip
Pemilu yang LUBER dan JURDIL.
Akses Terhadap Jabatan Publik
Warga penyandang disabilitas mengalami kesulitan
dalam menggunakan hak memilih sekaligus hak dipilihnya.
Dalam kandidasi legislatif maupun eksekutif, ada stigma
di antara politisi bahwa tingkat keterpilihan kandidat
disabilitas rendah. Tidak begitu menguntungkan dan
tidak menarik berdasarkan hitungan-hitungan politik.
Padahal dalam konteks keterpilihan, terdapat nama besar
Abdurrahman Wahid (Gusdur) sebagai penyandang
disabilitas yang pernah menjabat sebagai presiden paling
fenomenal di Indonesia, kendati pemilihannya melalui
MPR. Beliau sempat menjadi pemimpin bangsa dan
memiliki pengikut ideologis hingga saat ini.
Ada juga Rayu, anggota DPRD Sulawesi Barat periode
2014-2019 yang profesi awalnya sebagai aktivis disabilitas
di Sulawesi. Keterpilihannya di DPRD patut dilihat sebagai
nilai tawar dari kontribusi pemilih disabilitas serta jejaring
181
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat aktivis
oleh politisi
dan pemerintah
yang
terpilih
untuk memerintah.
di daerah
setempat.
Saat
ini, perhatian
Rayu pada
Pandangan
tersebut berkaitan
dengan sangat
apa yangmembantu
disampaikan
regulasiHamdan
yang mendukung
disabilitas
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
upaya penyetaraan hak disabilitas dalam penyelenggaraan
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa fisik
Political
budget
cycles
negara.
Poinnya
adalah,
kekurangan
tidak
menjadi
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
penyebab penilaian publik dalam politik. Terlebih jika
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
menghitung potensi pemilih disabilitas di Indonesia,
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
sekurang-kurangnya suara disabilitas menempati ruang
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
10% DPT. Angka tersebut cukup signifikan secara politik,
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
ini cukup untuk membantah stigma terhadap tingkat
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
keterpilihan
disabilitas.
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya political budget cycles, melainkan
Pertanyaan
awal
yang
harus
dijawab
seberapa
political corruption
cycle
atau
siklus
korupsi
politikadalah
pada tahun-tahun
Pemilubesar
yang telah
meningkat
dengan oleh
ekstrim.
ruang
yang dibuka
regulasi agar masyarakat
dapat mengakses
jabatan
publik.sebagai
Berkenaan
dengan tetapi
itu,
Masyarakat
tidak saja dapat
ditafsirkan
satu kesatuan,
tantangan
dalam regulasi
ini hanya
juga perlu
dibatasiaksesibilitas
mengingat perbedaan
hakikat sejauh
antara laki-laki
dan
perempuan.
Seperti
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai salah
satu
berputar
pada
2 persoalan
utama
dan mengakar,
yaitu
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
menyangkut persyaratan; i) Kesehatan jasmani dan
2012 menegaskan
partaipendidikan.
politik peserta
pemilu
harus memenuhi
rohani, dansetiap
ii) tingkat
Jika
2 permasalahan
ini
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
dapat diatasi, maka aksesibilitas terhadap jabatan publik
praktikdapat
selamadikatakan
ini, pihak yang
duduk baik
di parlemen
pemerintah
sempurna.
Bahkan
akan maupun
turut membantu
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
menyelesaikan persoalan yang dihadapi pada setiap proses
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
tahapan Pemilu nantinya.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Syarat
jasmani
dan rohani”
untukdanmenjadi
Paramastuti
dalam“sehat
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
Korupsi:
anggota
KPU, KPU
Provinsi, KPU
Kabupaten/Kota,
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam Pemilu PPUK,
DPR RI
2009.”PPUD/L, dan PPPS, sering ditafsirkan tidak berlaku
bagi
penyadang
desabilitas.
Padahalkeuangan
faktanya
banyak
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
politik,
Didik
penyandang
desablitasdalam
yang tulisan
memiliki
kemampuan
untuk
Supriyanto
dan Lia Wulandari
berjudul
Transparansi
dan
menjalankan
fungsiDana
penyelenggara
pelaksana.
Akuntabilitas
Pengelolaan
Kampanye,maupun
menguraikan
bahwaOleh
dana
karena
itu, salah
penjelasan
terhadap
“sehat
jasmani
kampanye
adalah
satu hal
pentingpengertian
dalam proses
pemilu.
Dana
dan diperlukan
rohani” bahwa
hal ini
tidakdan
membatasi
penyandang
kampanye
oleh partai
politik
kandidatnya
untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
182
vi
desabilitas, sebagaimana dulu pernah diatur dalam UU
No 12/2003, perlu dicantumkan kembali. Pencantuman
ini juga berlaku bagi syarat calon dan pasangan calon,
sehingga para penyandang desabilitas tidak terhalangi
haknya untuk ikut kompetisi dalam memperebutkan
jabatan publik.
Syarat pendidikan menjadi persoalan
karena struktur sosial menghadirkan struktur hukum
yang diskriminatif. Banyak warga disabilitas yang minim
mendapat asupan pendidikan yang baik. Bahkan banyak
yang tidak bisa mengakses ke institusi pendidikan resmi
pada umumnya, seperti SD, SMP, SMA bahkan Perguruan
Tinggi. Sehingga tingkat pendidikan warga non-disabilitas
cenderung rendah. Dengan ijazah yang rendah, atau
bahkan ketiadaan ijazah, otomatis akses warga disabilitas
terhadap jabatan publik juga rendah.
Masalah aksesibilitas atas jabatan publik menjadi siklus
persoalan yang tidak terputus, yang akan menimbulkan
dampak korespondensif atau mempengaruhi sebuah
kondisi satu sama lain. Pencalonan yang memberatkan
sudah tentu mengurangi jumlah calon dari warga
disabilitas, baik sebagai penyelenggara, pemimpin
eksekutif atau anggota legislatif. Minimnya calon semakin
menekan peluang keterpilihan warga disabilitas untuk
hadir di lembaga publik. Akhirnya representasi penyandang
disabilitas sedikit jumlahnya, bahkan tidak ada.
Ketiadaan ini akan mengurangi perspektif dan empati
terhadap kondisi disabilitas dalam Pemilu. Selanjutnya
berpengaruh pada regulasi teknis dalam Pemilu. Maka
sudah pasti, keluhan disabilitas untuk menunaikan
183
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat hak
oleh politisi
dan tidak
pemerintah
terpilih untukSiklusnya
memerintah.
pilihnya
akanyang
terselesaikan.
akan
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan
dengan
apa yang disabilitas
disampaikan
terus berputar
sepanjang
tingkat
pendidikan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
kepada warga non-disabilitas rendah atau tidak menjadi
pada Tahun
Pemilu.”diYuna
menjelaskan
budget
cycles
mainstream
masyarakat.
Olehbahwa
sebabPolitical
itu, penting
untuk
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
mencanangkan gerakan afirmasi bagi disabilitas, dengan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
mereformasi regulasi yang dibutuhkan disabilitas dalam
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
kepemiluan secara fundamental.
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Berdasarkan
kajian
diatas,
ditemukan
banyakmelainkan
sekali
ini, yang menjadi
perhatian
tidak hanya
political
budget cycles,
political
corruption cycleseputar
atau siklusaksesibilitas
korupsi politikdalam
pada tahun-tahun
permasalahan
Pemilu
Pemiludi
yangIndonesia.
telah meningkat
dengan
ekstrim. terbatasi hampir di
Akses
disabilitas
Kesimpulan
setiap tidak
tahapan
pemilu,
sejak sebagai
pendaftaran
pemilih,
Masyarakat
saja dapat
ditafsirkan
satu kesatuan,
tetapi
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan hakikat
laki-laki
dan
pencalonan,
aktivitas kampanye,
hinggaantara
pungut
hitung.
perempuan.
Seperti
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai
salah satu
Semua
permasalahan
ini terjadi
karena
stakeholder
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
Tahun
pemilu dihegemoni oleh warga non-disabilitas 8 yang
2012 menegaskan
setiap partai
politik
peserta pemilu
harus memenuhi
berpemahaman
rendah
terhadap
aksesibilitas
dalam
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
pemilu. Muncul banyak regulasi yang pada akhirnya
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
menjadi siklus merugikan bagi disabilitas di setiap agenda
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
kepemiluan. Jika tidak dilakukan tindakan afirmasi, maka
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
siklus negatif ini tidak akan terputus.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Jika
sekedar
meletakkan
dasar“Perempuan
persoalannya
pada
Paramastuti
dalam
tulisannya
yang berjudul:
dan Korupsi:
pemahaman
terhadap
disabilitas
yang
minim
di DPR
benakRI
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
2009.”stakeholders, maka kondisi yang akses akan terwujud
dalam
jangka waktu
panjang,
seiring
lahirnya
Masih
berhubungan
denganyang
temasangat
akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
generasi
yang
baru dengan
perspektif
yang
lebih baik.
Supriyanto
dan Lia
Wulandari
dalam tulisan
berjudul
Transparansi
dan
Itu sebabnya
penting
menemukan
akarbahwa
masalah
Akuntabilitas
Pengelolaan
Danauntuk
Kampanye,
menguraikan
dana
yangadalah
lebih salah
operasioal
namun
mendasar.
Aspekpemilu.
ini dapat
kampanye
satu hal
penting
dalam proses
Dana
kampanye
diperlukan
olehsusunan
partai politik
dan kandidatnya
dapat
ditemukan
dari
regulasi
kepemiluan.untuk
Budaya
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
184
vi
merupakan inspirasi dari terumusnya hukum, namun
hukum juga dapat mempengaruhi perilaku budaya.
Dengan merekayasa hukum kepemiluan, maka budaya
kepemiluan yang tidak akses perlahan akan dapat diatasi
dengan elegan.
Rekayasa hukum yang dimaksud bukan sekedar
mengganti hukum yang tidak akses secara antitesis. Akan
tetapi, perlu ada perombakan yang mendasar, sehingga
proses pemilu dapat berdampak korespondensif terhadap
hasil pemilu, lalu memberi pengaruh balik terhadap proses
pemilu berikutnya secara berkesinambungan. Pemilih
disabilitas dapat berpengaruh dalam proses pemilu, lalu
kebijakan yang dirumuskan oleh para politisi hasil pemilu
berpihak terhadap disabilitas dan memberikan feedback
yang aspiratif dan akomodatif.
Jika dikaji dari sudut pandang yang lebih jauh, persoalan
disabilitas sebenarnya dapat dimulai dari memperbaiki
sistem pemilu. Sistem pemilu saat ini adalah proporsional
terbuka. Mestinya sistem ini menguntungkan penyandang
desabilitas karena membuka ruang bagi penyandang
desabilitas untuk berhubungan langsung dengan para
calon dan calon terpilih. Namun nyatanya, penyandang
desabilitas tidak mendapatkan manfaat lebih dalam
proses pemilihan, justru sebaliknya hanya jadi sasaran
jual beli suara. Sedangkan pada pasca pemilihan tidak
terdapat hubungan khusus antara calon terpilih dengan
penyandang desabilitas sebagai konstituennya, sehingga
semakin banyak kebijakan yang tidak ramah terhadap
penyandang disablitas.
185
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat olehPremisnya
politisi danadalah,
pemerintah
terpilih
untuk
memerintah.
jikayang
daftar
terbuka
tidak
berdampak
Pandangan
Hamdan
tersebutdisabilitas,
berkaitan dengan
yang disampaikan
baik bagi
penyandang
makaapa
kembali
ke daftar
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
tertutup menjadi pilihan baik. Pertama, memudahkanAnggaran
teknis
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
pemberian suara bagi disabilitas; kedua, menghindari lebih
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
jauh jadi obyek jual beli suara yang mengorbankan pemilih
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
disabilias; dan ketiga, perjuangan kepentingan disabilitas
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
bisa difokuskan ke partai. Entitasnya lebih besar dan
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
terkonsolidasi. Tentu dengan catatan, daftar calon disusun
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
oleh anggota partai melalui pemilihan internal. Warga
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
disabilitas
dapat mengawal
internal
ini
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanyaproses
politicalpemilihan
budget cycles,
melainkan
dengan
bargain
jumlah
suarakorupsi
yang dimilikinya.
political
corruption
cycle
atau siklus
politik padaKomitmen
tahun-tahun
politik
lebih
mudah
ditanggung-gugat
ke
institusi,
dan
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
vonis terhadap
pelanggaran
komitmen
kongkrit
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagaijuga
satulebih
kesatuan,
tetapi
dan
berdampak.
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
perempuan
salah
satu
Implementasi
pemilu
proposional
daftarsebagai
tertutup
akan
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
memudahkan penyandang disabilitas untuk memberikan
2012 menegaskan
setiap
partai
politik peserta
memenuhi
suara. Selain
hanya
memilih
gambarpemilu
partaiharus
politik,
juga
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
memudahkan penyelenggara untuk menyediakan fasilitas,
praktikmisalnya
selama ini,pengadaan
pihak yang duduk
di parlemen
pemerintah
suratbaik
suara
braille. maupun
Undang-undang
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
seharusnya memudahkan penyandang desabilitas untuk
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
mengakses DPS sehingga bisa membantu menyempurnakan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
DPT. Demikian juga dalam kampanye, partai politik, calon,
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
dan pasangan calon seharusnya membuka akses, misalnya
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
dengan menampilkan bahasa isyarat agar penyandang
2009.”
tuna rungu bisa menangkap pesan-pesan kampanye.
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
undang-undang
memberi
SupriyantoAkhirnya,
dan Lia Wulandari
dalam tulisanharus
berjuduljelas
Transparansi
dan
perintah
kepada Dana
KPUKampanye,
untuk memenuhi
Akuntabilitas
Pengelolaan
menguraikan kebutuhan
bahwa dana
penyandang
desabilitas
memberikan
suara
di TPS.
kampanye
adalah salah
satu haldalam
penting
dalam proses
pemilu.
Dana
Sehingga
tercipta
dukungan
utuh kepada
warga
kampanye
diperlukan
oleh partai
politikyang
dan kandidatnya
untuk
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
186
vi
Inklusifitas dalam
Daftar Pemilih
Khoirunnisa Agustyati
Abstrak
Setiap warga negara yang sudah memiliki hak pilih
sudah seharusnya namanya masuk di dalam daftar
pemilih. Namun setiap kali pemilu permasalahan daftar
pemilih selalu berulang. Hal ini terkair dengan sumber
data yang digunakan untuk memutakhirkan daftar
pemilih, sumber daya manusia, juga termasuk data
pemilih di luar negeri. Untuk itu perlu adanya perubahan
dalam sistem pendaftaran pemilih. Rekomendasi yang
didorong adalah sumber data yang digunakan adalah
data pemilu terakhir dan sistem penadftaran pemilih
dilakukan secara berkelanjutan.
Kata kunci: pemutakhiran daftar pemilih, hak politik,
inklusifitas
Pengantar
Pendaftaran pemilih merupakan hal penting dalam
proses penyelenggaraan pemilu. Melalui pendaftaran
pemilih hak politik setiap warga negara untuk memberikan
suara dalam proses demokrasi perwakilan akan ditentukan.
Dalam hal ini terfasilitasi atau tidaknya setiap wagra negara
187
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat untuk
oleh politisi
dan pemerintah
terpilih
untuk memerintah.
memberikan
suarayang
dalam
pemungutan
suara pada
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan
dengan apa yang
disampaikan
saat pemilu
tergantung
pada keberhasilan
pendaftaran
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
pemilih.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Hak memilih bagi setiap warga negara adalah hak politik
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
yang harus dilindungi. Hak pilih sendiri memperoleh
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
jaminan hukum yang diatur dalam Deklarasi Universal Hak
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Manusai
21 DUHAM
menyatakan:
agregatAsasi
maupun
secara (DUHAM).
spesifik padaPasal
tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
(1)
Setiap
orang
berhak
turut
serta
dalam
pemerintahan
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
sendiri,
baik Pemilu
dengan2014.
langsung
dengan
Pemilunegrinya
2009 ataupun
menjelang
Melihatmaupun
perkembangan
saat
perantara
wakil-wakil
dipilih
secara
bebas;
(2)
Setiap
ini, yang
menjadi perhatian
tidakyang
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
orang
berhakcycle
atas kesempatasan
yangpolitik
sama pada
untuktahun-tahun
diangkat
political
corruption
atau siklus korupsi
Pemiludalam
yang telah
meningkat
dengan ekstrim.
jabatan
pemerintahan
negrinya; (3) Kemauan rakyat
harus menjadi
dasar
kemauantetapi
ini
Masyarakat
tidak saja
dapatkekuasaan
ditafsirkanpemerintah;
sebagai satu kesatuan,
harus
dinyatak
dalam perbedaan
pemilihan-pemilihan
berkala
yang
juga perlu
dibatasi
mengingat
hakikat antara
laki-laki
dan
perempuan.
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai
satu
jujur Seperti
dan yang
dilakukan
menurut
hak pilih
yang salah
bersifat
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
umum dan berkesamaan, serta dengan pemungutan suara
2012 menegaskan
setiap
partai menurut
politik peserta
pemiluyang
haruslain
memenuhi
yang rahasia
ataupun
cara-cara
yang
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
juga menjamin kebebasan mengeluaran suara.
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Hak pilih warga negara Indonesia secara tegas diatur
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
kedalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) Pasal
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
27 ayat 1: “Segala warga negara bersamaan kedudukannya
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
di dalam
hukum
dan pemerintahan
wajib menjunjung
Paramastuti
dalam
tulisannya
yang berjudul: dan
“Perempuan
dan Korupsi:
hukumPerempuan
dan pemerintahan
itu dengan
adaPemilu
kecualinya.”
Pengalaman
Menghadapi
Korupsitidak
dalam
DPR RI
2009.”Selanjutnya Pasal 28D ayat (1) menyatakan, “Setiap orang
berhak
atas pengakuan,
jaminan, perlindungan,
Masih
berhubungan
dengan tema akuntabilitas
keuangan politik, dan
Didik
kepastian
yangdalam
adil serta
yang sama di
Supriyanto
dan Liahukum
Wulandari
tulisanperlakuan
berjudul Transparansi
dan
hadapan
hukum.” Lalu
(3) menyatkan,
“Setiap
warga
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana ayat
Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
negara
berhak
kesempatan
yang sama
dalam
kampanye
adalah
salahmemperoleh
satu hal penting
dalam proses
pemilu.
Dana
pemerintahan”.
kampanye
diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
188
vi
Secara lebih spesifik, Undang-Undang Nomor 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU No 39/1999)
Pasal 43 menyatakan “Setiap warga negara berhak untuk
dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan
pesamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan.” Bahkan Mahkamah
Konstitusi juga memperhatikan betul hak pilih setiap
warga negara sebagaimana terlihat dalam Putusan perkara
MK No 011-017/PUU-I/2003 yang menyatkan, “bahwa hak
konstitusional warga negara untuk memilih dan memilih
adalah hak yang dijamin konstitiusi, undang-undang,
maupun konvensi internasional, sehingga pembatasan
penyimpangan dan penghapusan hak adalah pelangagran
terhadap hak asasi manusia.”
Meskipun kerangka hukum internasional dan nasional,
menempatkan betapa pentingya hak pilih seorang warga
negara, tetapi dalam perjalanannya, penyusunan dan
pemutakhiran daftar pemilih dalam setiap pemilu di
Indonesia selalu menghadapi masalah. Hasil audit daftar
pemilh yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Pendidikan
Penerapan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) terhadap DPS pada
Juli-Agustus 2008 misalnya, menunjukkan sekitar 20,8%
warga negara yang memiliki hak pilih tidak masuk dalam
daftar pemilih. Selain itu laporan dari Tim Penyelidikan
Pemenuhan Hak Sipil dan Politik dalam Pemilu Legislatif
2009 oleh Komnas HAM menunjukkan terdapat sekitar 2540% pemilih kehilangan hak pilihnya karena tidak masuk
dalam daftar pemilih. Putusan MK No 102/PUU-VII/2009
189
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat yang
oleh politisi
dan pemerintah
terpilih
untuk
memerintah.
menyatakan
bahwa yang
warga
negara
yang
tidak masuk
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitankesempatan
dengan apa yang
disampaikan
dalam daftar
pemilih
diberikan
untuk
memilih
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
menggunakan KTP, menunjukkan bahwa jumlah pemilih
pada Tahun
Yuna menjelaskan
bahwa Political
budgetperlu
cycles
yang Pemilu.”
belum terdaftar
cukup siginifikan
sehingga
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
diberikan ruang khusus agar hak pilih warga negara yang
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
tidak terdaftar tersebut tidak hilang. (Ramlan Surbakti D.
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
S., 2012, p. 4)
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Mengapa
pendaftaran
pemilih
sulit menjangkau
dalam praktek
penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan siklus
semua
warga
negara
yang
memiliki
hak
pilih
dalam
setiap
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan
saat
pemilu?
satu
sebabnya
adalah
masih
ditemukan
ini, yang
menjadi Salah
perhatian
tidak
hanya political
budget
cycles,
melainkan
ketidakpastian
penggunaan
prinsip politik
de jure
maupun
de
political
corruption cycle
atau siklus korupsi
pada
tahun-tahun
Pemilufacto
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
dalam
mendaftar
pemilih.
Prinsip de jure mengacu
pada penggunaan
alamat
yang terdapat
dalam
KK atau
Masyarakat
tidak saja dapat
ditafsirkan
sebagai satu
kesatuan,
tetapi
KTP,dibatasi
sementara
de facto
menggunakan
alamat
faktual
juga perlu
mengingat
perbedaan
hakikat antara
laki-laki
dan
perempuan.
Seperti
halnyatersebut
keterwakilan
perempuan
salah satu
di mana
pemilih
tinggal.
Selain sebagai
itu, penduduk
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
yang tinggal di pemukiman liar, pekerja, mahasiswa,
dan
2012 menegaskan
setiap
partai
politik
peserta
pemilu
harus
memenuhi
warga kota yang tinggal di pemukiman eksklusif, dan
30% keterwakilan
perempuan.
ini patut
diperjuangkan,
pemilih yang
tinggal Kondisi
di wilayah
pedesaan,
masihmengingat
banyak
praktikbelum
selama terdaftar
ini, pihak yang
duduk
baik
di
parlemen
maupun
pemerintah
karena tidak mengetahui adanya tahapan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
pemutakhiran daftar pemilih. (Ramlan Surbakti D. S.,
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
2012, pp. 19-20). Selain itu hal yang menjadi masalah
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
adalah masih ada warga yang tidak melaporkan peristiwa
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
kependudukan yang dialami seperti kelahiran, kematian,
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
dan kepindahan. Kedua hal ini menjadi penyebab data
2009.”
kependudukan menjadi tidak termutakhirkan. Padahal
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
data kependudukan adalah sumber utama dalam
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
pemutakhiran
daftar
pemilih. Karena
sumber
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwaDP4
dana
bermasalah,
maka
ketika
KPU
melakukan
pemutahiran
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
datadiperlukan
juga mengalami
banyak
sehingga
Daftar
kampanye
oleh partai
politikmasalah,
dan kandidatnya
untuk
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
190
vi
Pemilih Sementara (DPS) dan Daftar Pemilih Tetap (DPT)
juga tetap menyisakan masalah.
Pengaturan Undang-Undang
Pemilu 1955-Pemilu
Pemilu 1955 diatur dalam UU No 27/1948. Undangundang tersebut membuat kriteria pemilih adalah pemilih
berusia 18 tahun, tidak terganggu ingatannya tidak
dicabut hak memilihnya, dan tidak sedang kehilangan
kemerdekaannya. Setelah itu terjadi perubahan undangundang pemilu menjadi UU No 7/1953. Undang-undang
ini menetapkan warga negara yang sudah memiliki hak
pilih adalah warga negara yang berusia 18 tahun atau
sudah menikah. Tetapi mereka tidak dapat menggunakan
hak pilihnya jika tidak masuk ke dalam daftar pemilih, hak
pilihnya dicabut pengadilan, sedang mengalami hukuman
penjara, dan terganggu ingatannya.
Pengaturan mengenai syarat bagi penduduk untuk
dapat menjadi pemilih kemudian berubah ketika pemilu
pada masa orde baru. Dalam UU No 15/1969 disebutkan
bahwa pemilih adalah warga negara yang sudah berusia 17
tahun dan atau sudah menikah. Selain itu undang-undang
ini juga mencabut hak pilih dan hak dipilih dari orangorang yang terlibat dalam Peristiwa G 30S/PKI. Syarat ini
berlaku selama lebih dari 30 tahun selama pemerintahan
orde baru berkuasa. Baru ketika pemerintahan orde
baru jatuh dan dilaksanakan Pemilu 1999 pemilih yang
sebelumnya dianggap terlibat dalam Peristiwa G30S/PKI
191
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat dipulihkan
oleh politisi dan
terpilih
memerintah.
hakpemerintah
pilihnya. yang
Namun
hakuntuk
untuk
dipilih atau
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
apa yang
disampaikan
dicalonkan
tetap
dilarang
yang dengan
kemudian
ketentuan
ini
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
dicabut oleh Mahkamah Konsititusi (MK).
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Masuk pada Pemilu 2004 persyaratan untuk dapat
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
terdaftar menjadi pemilih tidak berubah. Hanya saja
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
terdapat perubahan mengenai metode pemutakhiran
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
2004 diatur
UU
agregatdaftar
maupunpemilihnya.
secara spesifikPemilu
pada tahun-tahun
Pemilu,dalam
terkonfirmasi
Namun di
dalam
undang-undang
ini tidak
dalam 12/2004.
praktek penganggaran
Indonesia
yang berkaitan dengan
siklus
disebutkan
siapa
yang
menjadi
penyedia
sumber
data
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
untuk
pemutakhiran
daftar
Hanyacycles,
dalam
Pasal
ini, yang
menjadi
perhatian tidak
hanyapemilih.
political budget
melainkan
53corruption
ayat (4) UU
12/2003
disebutkan
tata cara
political
cycleNo
atau
siklus korupsi
politikbahwa
pada tahun-tahun
Pemilupelaksanaan
yang telah meningkat
dengan pemilih
ekstrim. ditetapkan oleh KPU.
pendaftaran
Dalam tidak
melakukan
pemutakhiran
daftar
Masyarakat
saja dapat
ditafsirkan sebagai
satupemilih
kesatuan,KPU
tetapi
membuat
program
yangperbedaan
bernama hakikat
Pendaftaran
juga perlu
dibatasi
mengingat
antaraPemilih
laki-lakidan
dan
perempuan.
SepertiPenduduk
halnya keterwakilan
perempuan
satu
Pendataan
Berkelanjutan
(P4B). sebagai
Dengansalah
adanya
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
data ini diharapkan data pemilih dapat dilakukan secara
2012 menegaskan
setiap
partai
peserta
pemilu
harus
memenuhi
berkelanjutan
dan
tidakpolitik
ada data
yang
hanya
sekali
pakai
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
dan dibuang. Data kependudukan ini juga diharapkan
praktikdapat
selamaberguna
ini, pihakuntuk
yang duduk
baik di parlemen
pemerintah
menentukan
jumlahmaupun
anggota
DPRD,
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
pembuatan dapil dan juga pembuatan TPS.
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Untuk melaksanakan program ini KPU bekerja sama
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
dengan
Badan
Pusat Statistik
(BPS) dan
Departemen
Paramastuti
dalam
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan Dalam
Korupsi:
NegeriPerempuan
khususnyaMenghadapi
Ditjen Administrasi
dan Kependudukan.
Pengalaman
Korupsi dalam
Pemilu DPR RI
2009.”Pada saat itu Indonesia memiliki lima data kependudukan
yang
tidak terintegrasi,
yaitu;
Kementrian
dalam
negeri
Masih
berhubungan
dengan tema
akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
yangdan
mendasarkan
dalam
halTransparansi
ini bisa saja
Supriyanto
Lia Wulandaripada
dalamKTP,
tulisan
berjudul
dan
seorangPengelolaan
warga negara
memiliki
lebihmenguraikan
dari satu KTP.
Kedua,
Akuntabilitas
Dana
Kampanye,
bahwa
dana
dataadalah
BPS yang
didasarkan
pada sensus
setiapDana
10
kampanye
salah
satu hal penting
dalampenduduk
proses pemilu.
tahun
sekali atau
(SUPAS).
kampanye
diperlukan
olehSurvey
partai Penduduk
politik dan Antarsensus
kandidatnya untuk
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
192
vi
Dari data BPS ini data penduduk menjadi data proyeksi
dibandingkan dengan data real di lapangan. Ketiga, data
dari BKKBN berdasarkan akseptor KB. Keempat, data
kependudukan yang dimiliki oleh Bupati/Walikota. Data
ini seringkali dinaikkan jumlahnya untuk kepentingan
DAU dan DAK yang lebih, dan kelima, data dari KPU pada
Pemilu 1999.
Untuk mendapatkan data yang akurat KPU dan BPS
mengetuk pintu dari rumah ke rumah. Untuk pemilih yang
tidak memiliki tempat tinggal KPU dan BPS melakukan
pendataan serentak pada satu malam di seluruh Indonesia.
Pada saat itu KPU membuat kurang lebih 12 variabel data
kependudukan termasuk data pemilih dengan disabilitas.
Harapan dengan adanya data ini adalah terdapat data
yang dapat digunakan secara berkelanjutan untuk pemilupemilu kedepan. Namun data ini tidak digunakan oleh
Departemen Dalam Negeri untuk kepentingan pemilu
selanjutnya.
Untuk pendataan pemilih pada Pemilu 2009 undangundang mengamanatkan kepada pemerintah untuk
menyediakan Data Penduduk Potensial Pemilu (DP4). DP4
ini bukanlah hasil pemutakhiran data terhadap data P4B
yang sebelumya sudah diberikan oleh KPU. Pemerintah
memutakhirkan data penduduk sendiri dengan berbasiskan
KTP dan KK. Sehingga memungkinkan satu orang warga
negara terdata dua kali karena seorang warga negara bisa
memiliki lebih dari satu KTP. Selanjutanya UU No 10/2008
menentukan bahwa KPU kabupaten/kota menggunakan
data kependudukan sebagai bahan penyusunan daftar
193
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pemilih
oleh politisisementara.
dan pemerintah
yang terpilih
memerintah.
Dalam
daftar untuk
pemilih
sekurangPandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan
apa yang disampaikan
kurangnya
terdapat
nomor
induk
kependudukan
(NIK),
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
nama, tanggal lahir, jenis kelamin, dan alamat warga
pada Tahun
Yuna menjelaskan
bahwa Political budget cycles
negaraPemilu.”
yang memiliki
hak memilih.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Sejak saat itu sumber data untuk pemutakhiran data
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
pemilih bersumber dari data pemerintah. Selain sumber
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
yangsecara
bermasalah
lainnya
pada
Pemilu
agregatdata
maupun
spesifik permasalahan
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
lalu adalah
peran dari
penyelenggara
pemilu
dalam 2009
praktekyang
penganggaran
di Indonesia
yang
berkaitan dengan
siklus
dianggap
tidak
maksimal
dalam
tahapan
pendaftaran
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
pemilih.
keterlambatan
pembentukan
di
ini, yang
menjadiPertama,
perhatian tidak
hanya political
budget cycles,PPDP
melainkan
berbagai
daerah.
Kedua,
pembentukan
political
corruption
cycle atau
siklus keterlambatan
korupsi politik pada
tahun-tahun
Pemilusekretariat
yang telah meningkat
dengan ekstrim.
PPS sehingga
sekretariat KPU kabupaten/
kota yang
melayani
kebutuhan
PPS
secara
administrative,
Masyarakat
tidak
saja dapat
ditafsirkan
sebagai
satu
kesatuan, tetapi
khususnya
keuangan.
PPS dan
PPDP
juga perlu
dibatasi urusan
mengingat
perbedaan Ketiga,
hakikat antara
laki-laki
dan
perempuan.
Sepertibersikap
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai salah
satu
cenderung
pasif dalam
memutakhirkan
daftar
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
pemilih sementara, yaitu hanya menunggu kedatangan
2012 menegaskan
politik peserta Keempat,
pemilu harussosialisasi
memenuhi
warga di setiap
kantorpartai
desa/kelurahan.
30% keterwakilan
perempuan. Kondisi
ini patut
diperjuangkan,
mengingat
tentang pemutakhiran
daftar
pemilih
sangat terbatas
praktiksehingga
selama ini, kegiatan
pihak yang duduk
baik di parlemen
pemerintah
pemutakhiran
daftarmaupun
pemilih
tidak
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
diketahui secara luas. Kelima, sebagian besar warga
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
bersifat pasif karena berbagai alasan, seperti merasa sudah
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
terdaftar karena ikut pemilu pada pemilu sebelumnya,
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
tidak tahu apa kapan dan dimana pemutakhiran daftar
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
pemilih, ataupun menunggu kedatangan petugas. Karena
2009.”
itu tidak heran jika tidak banyak warga yang mengecek
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
daftar pemilih sementara (Ramlan Surbakti D. S., 2012).
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Partai
politik juga
memiliki peran
dalambahwa
baiknya
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
dana
kualitas
pemilih.
Dalamdalam
peraturan
disebutkan
kampanye
adalahdaftar
salah satu
hal penting
proses pemilu.
Dana
bahwa
KPU kabupaten/kota
memberikan
salinan
kampanye
diperlukan
oleh partai politikwajib
dan kandidatnya
untuk
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
194
vi
DPS kepada partai politik pada tingkat kecamatan dalam
bentuk perangkat lunak yang terkunci. Harapannya adalah
setiap partai politik dapat mengecek apakah konstituen
mereka sudah terdaftar dalam daftar pemilih atau belum,
jika belum maka partai politik dapat memberikan masukan
kepada PPS. Namun yang biasanya terjadi adalah tidak
ada masukan dari partai politik di tingkat kecamatan.
Permasalahan mengenai daftar pemilih baru disampaikan
oleh partai politik di tingkat pusat atau ketika penetapan
hasil pemilu sudah akan diumumkan. Hal ini menunjukkan
bahwa mesin partai politik belum bekerja secara maksimal
hingga tingkat bawah. Jika partai politik menyampaikan
permasalahan daftar pemilih sejak tingkat kecamatan
maka permasalahan daftar pemilih tidak akan menumpuk
di akhir tahapan pemilu.
Permasalahan dalam pemutakhiran daftar pemilih
di Pemilu 2009 juga terjadi ketika Pemilu 2014. Sumber
data yang digunakan untuk pemutakhiran daftar pemilih
juga bersumber dari DP4 yang berasal dari pemerintah.
Metode pemutakhirannya pun juga dilakukan dengan cara
yang sama. Namun hasilnya memang cukup berbeda, hasil
pemutakhiran daftar pemilih pada Pemilu 2014 dianggap
lebih akurat dibandingnya dengan pemilu sebelumnya.
Hal ini karena KPU memiliki waktu yang cukup panjang
dalam mempersiapkan tahapan pemilu karena UU No
8/2012 selesai 23 bulan sebelum hari pemungutan suara.
Selain itu KPU juga mengembangkan Sistem Informasi
Daftar Pemilih (Sidalih) yang merupakan sistem online
dimana masyarakat dapat melihat apakah namanya
195
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat sudah
oleh politisi
dan pemerintah
yangpemilih
terpilih untuk
memerintah.
terdaftar
dalam daftar
atau belum.
Bahkan
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
operator
di kabupaten/kota
dapat
langsung
memeprbaiki
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
data jika terdapat data yang bermasalah.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Hal yang membedakan lainnya adalah pada proses
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
pemutakhiran daftar pemilih Pemilu 2014 terdapat isitilah
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), Daftar Pemilih Khusus
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Daftar
Pemilih
Khusus Tambahan
(DPKTb).
agregat(DPK),
maupundan
secara
spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu, terkonfirmasi
pemilih
sudah
terdaftar
dalam DPTb
praktekdiperuntukkan
penganggaran dibagi
Indonesia
yangyang
berkaitan
dengan
siklus
dalam
DPS
atau
DPT
namun
karena
alasan
tertentu
pada
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
hari
pemungutan
tidak dapat
memilih
di TPSmelainkan
tempat
ini, yang
menjadi
perhatiansuara
tidak hanya
political
budget cycles,
dimana
dirinya
dankorupsi
harus politik
memilih
di tahun-tahun
TPS lain.
political
corruption
cycleterdaftar
atau siklus
pada
PemiluUntuk
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
dapat
mengurus
DPTb
maka pemilih harus melapor
ke daerah
tujuannya
dengan
menunjukkan
identitas
Masyarakat
tidak
saja dapat
ditafsirkan
sebagai satubukti
kesatuan,
tetapi
kependudukan
dan bukti
bahwa yang
bersangkutan
sudah
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan
hakikat
antara laki-laki
dan
perempuan.
Seperti
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai
satu
terdaftar
di DPT.
Bukti
sudah terdaftar
di DPT
dapatsalah
dilihat
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
di portal Sidalih KPU.
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
Sementara DPK diperuntukkan bagi pemilih yang belum
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
terdaftar dalam DPS, DPSHP, DPT dan DPTb. Untuk dapat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
dimasukkan ke dalam DPK pemilih harus menujukkan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
identitas kependudukan dan melaporkannya paling lambat
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
14 hari sebelum hari pemungutan suara. Bagi pemilih yang
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
belumdalam
terdaftar
dalamyang
DPSberjudul:
hingga DPK,
KPU tetap
masih
Paramastuti
tulisannya
“Perempuan
dan Korupsi:
membuka
ruang Menghadapi
bagi pemilihKorupsi
untuk dalam
dapat Pemilu
memberikan
Pengalaman
Perempuan
DPR RI
2009.”hak pilihnya melalui DPKTb. DPKTb diperuntukkan
bagi
pemilih yang
belum
dalam
daftarpolitik,
pemilih,
Masih
berhubungan
dengan
tematerdaftar
akuntabilitas
keuangan
Didik
namun
dapat memberikan
pilihnya
pada hari
Supriyanto
dan tetap
Lia Wulandari
dalam tulisanhak
berjudul
Transparansi
dan
pemungutan
suara.
Pemilih
dengan
kategori bahwa
ini dapat
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana
Kampanye,
menguraikan
dana
memilih
hanya
menunjukkan
KTP
kepada
petugas
kampanye
adalah
salahdengan
satu hal
penting dalam
proses
pemilu.
Dana
KPPS
di TPS. oleh
Namun
pemilih
kategori untuk
ini hanya
kampanye
diperlukan
partai
politik dengan
dan kandidatnya
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
196
vi
dapat memilih di TPS yang sesuai dengan domisili di kartu
identitas kependudukan dan baru dapat memberikan hak
pilihnya satu jam sebelum TPS ditutup.
Permasalahan Daftar Pemilih dari
Pemilu ke Pemilu
Penduduk dan Pemilih
Inti dari sistem pemilu adalah proses konversi dari
saura yang berasal dari pemilih menjadi kursi untuk calon
terpilih. Dalam mengkonversi suara pemilih tersebut
berbagai jenis sistem pemilu yang ada dan diterapkan
secara berbeda-beda oleh masing-masing negara. Pilihan
sistem pemilu tersebut merupakan hasil kesepakatan
antara pembuat undang-undang yang ada di setiap negara.
Dari sistem pemilu yang berbeda tersebut setidaknya
terdapat empat variabel yang menentukan hasil pemilu,
yaitu; besaran daerah pemilihan, jumlah daerah pemilihan,
ambang batas; dan formula perolehan kursi. Proses
konversi dari suara menjadi kursi merupakan turunan
dari proses konversi dari variabel-variabel sistem pemilu
tersebut.
Penentuan empat variabel tersebut ditentukan
berdasarkan dari jumlah penduduk. Jumlah penduduk
digunakan untuk mendata berapa dari jumlah penduduk
tersebut yang menjadi pemilih. Kemdian dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih akan terlihat
berapa jumlah pemilih yang memberikan hak suaranya
pada hari pemungutan suara. Kemudian dari jumlah
197
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pemilih
oleh politisi
dan pemerintah
yang
terpilih
untuk memerintah.
yang
memberikan
suara
tersebut
akan terlihat
Pandangan
tersebut
berkaitan dengan apa yang disampaikan
berapa Hamdan
jumlah suara
sah.
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Turunan dari jumlah penduduk menjadi jumlah suara
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sah ini yang kemudian ketika dikonversi dengan variabel
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
sistem pemilu akan menghasilkan turunan hingga jumlah
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
calon terpiluh cadangan. Jumlah penduduk dan jumlah
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dikonversi
dengan
besaran Pemilu,
daerah terkonfirmasi
pemilihan
agregatpemilih
maupunjika
secara
spesifik pada
tahun-tahun
jumlah
daerah pemilihan
akan
jumlah
dalam dan
praktek
penganggaran
di Indonesia
yangmenghasilkan
berkaitan dengan
siklus
kursi.
Kemudian
dari
jumlah
pemilih
yang
memberikan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
suaranya
di haritidak
pemungutan
suara
dikonvesi
ini, yang
menjadi perhatian
hanya political
budgetjika
cycles,
melainkan
dengan
ambang
untuk
political
corruption
cyclebatas
atau dan
siklusformula
korupsi perolehan
politik padakursi
tahun-tahun
Pemiluakan
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
menjadi
jumlah
calon
terpilih dan jumlah calon
terpilih tidak
cadangan.
Dariditafsirkan
proses ini
terlihat
dalam
Masyarakat
saja dapat
sebagai
satubahwa
kesatuan,
tetapi
menentukan
hasil pemilu
akan sangat
bergantung
dengan
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan
hakikat
antara laki-laki
dan
perempuan.
Sepertijumlah
halnyapenduduk
keterwakilan
perempuan
pendataan
dan
pemilih. sebagai salah satu
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UUsepatutnya
No. 8 Tahun
Untuk itulah data kependudukan
sudah
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
terdata dengan baik. Namun inilah yang menjadi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
permasalahan. Hal ini terlihat dari adanya perbedaan
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
data antara data proyeksi BPS tahun 2012 dengan data
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
DAKK 2012. Pada tahun 2012 Perludem pernah mencoba
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
menyandingkan data DAK2 tahun 2012 dengan data
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
proyeksi
penduduk
tahun
versi“Perempuan
Badan Pusat
Statistik
Paramastuti
dalam
tulisannya
yang2012
berjudul:
dan
Korupsi:
(BPS).Perempuan
Data ini disandingkan
BPS
karena
BPSRI
Pengalaman
Menghadapi dengan
Korupsi data
dalam
Pemilu
DPR
2009.”adalah lembaga yang secara rutin melakukan survey jumlah
penduduk
dandengan
juga tema
melakukan
proyeksi
pertumbuhan
Masih
berhubungan
akuntabilitas
keuangan
politik, Didik
jumlah
Dari
persandingan
ini terdapat
selisih
Supriyanto
danpenduduk.
Lia Wulandari
dalam
tulisan berjudul
Transparansi
dan
data yang
cukup signifikan.
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanyeBerdasarkan
adalah salah satu
hal penting
proses pemilu.
Dana
DAKK,
jumlahdalam
penduduk
Indonesia
kampanye
olehmencapai
partai politik
dan kandidatnya
untuk dapat
padadiperlukan
tahun 2012
251.857.940
jiwa. Sementara
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
198
vi
menurut data BPS yang melakukan sensus penduduk
setiap sepuluh tahun, jumlah penduduk Indonesia pada
tahun 2010 adalah 237.556.363 jiwa. Jika proyeksi
pertumbuhan penduduk adalah 1.49% per tahun, maka
jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2012 mencapai
244.688.238 jiwa. Artinya jumlah penduduk pada DAKK
lebih banyak dibandingkan dengan data proyeksi BPS dan
Bappenas, terdapat selisih sebesar 7.169.657 jiwa.
Jika yang diasumsikan 70% penduduk adalah pemilih
maka jika dilihat dari DAKK, 70% dari 251.857.940 adalah
176.300.558, sementara 70% dari jumlah penduduk
proyeksi penduduk BPS 2012 yang berjumlah 238.768.848
adalah 167.138.194. Dari angka ini pun terdapat selisih
9.162.364.
Selisih
inilah
yang
kemudian
memunculkan
permasalahan ketika data ini diturunkan kedalam DP4
dan pemutakhiran data pemilih. Sehingga pada Pemilu
2014 yang lalu KPU dalam memutakhirkan data pemilih
berupaya untuk “membersihkan” data yang dianggap
bermasalah tersebut, dan proses ini memakan waktu
yang cukup panjang karena kemudian penetapan daftar
pemilih Pemilu 2014 dilakukan secara berulang kali. Dari
pemaparan tersebut terlihat bahwa jika data penduduk
yang digunakan sebagai sumber data pemilih bermasalah
maka permasalahan daftar pemilih akan terus berulang.
Evaluasi Pendaftaran Pemilih
Berdasarkan UU No 8/2012, penyusunan dan
pemutakhiran daftar pemilih dimulai sejak 16 bulan
199
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat sebelum
oleh politisi hari
dan pemerintah
yang terpilih
memerintah.
pemungutan
suara.untuk
Tahapan
dalam
Pandangan
tersebut
berkaitan
dengan apa daftar
yang disampaikan
proses Hamdan
penyusunan
dan
pemutakhiran
pemilih
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
untuk Pemilu 2014 tidak jauh berbeda dengan tahapan
pada Tahun
Pemilu.” pemilih
Yuna menjelaskan
bahwa 2009.
Political Pemerintah
budget cycles
pendaftaran
pada Pemilu
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
adalah sebagai penyedia sumber data pemilih, dalam
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
hal ini pemerintah menyerahkan DP4 kepada KPU. DP4
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
diserahkan oleh kemendagri kepada KPU dan Data WNI
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
luar negeri diserahkan oleh kementrian luar negeri kepada
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
KPU. Untuk tingkat daerah, gubernur menyerahkan DP4
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
penduduk
provinsitidak
kepada
KPU Provinsi
dan melainkan
bupati/
ini, yang
menjadi perhatian
hanya political
budget cycles,
walikota
menyerahkan
DP4korupsi
penduduk
political
corruption
cycle atau siklus
politikkabupaten/kota
pada tahun-tahun
kepada
KPU
Kabupaten/Kota.
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
DP4 tidak
tersebut
dimutakhirkan
oleh KPU
Kabupaten/
Masyarakat
saja dapat
ditafsirkan sebagai
satu kesatuan,
tetapi
Kotadibatasi
dan dibentuk
olehperbedaan
jajaran PPK,
PPS,
dan laki-laki
Pantarlih.
juga perlu
mengingat
hakikat
antara
dan
perempuan.
Seperti
halnya
keterwakilan
sebagai
satu
Pantarlih
terdiri
dari
perangkat perempuan
desa, rukun
warga,salah
rukun
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
tetangga, atau nama lain. Intinya adalah orang yang dikenal
2012 menegaskan
setiapmasyarakat.
partai politikDalam
peserta proses
pemilu pemutakhiran
harus memenuhi
dan mengenal
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini patut diperjuangkan,
mengingat
daftar pemilih
ini tugas
pantarlih
adalah yang menjadi
praktikujung
selamatombang
ini, pihak yang
baik di parlemen
pemerintah
dariduduk
pemutakhiran
daftarmaupun
pemilih
karena
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
pantarlih adalah pihak yang turun langsung ke lapangan.
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Berdasarkan Pasal 17 huruf (c) PKPU No 9/2013 tugas
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
pantarlih adalah; mencatat pemilih yang telah memenuhi
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
syarat tetapi belum terdaftar, memperbaiki data pemilih
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
jika ada kesalahan, menoret pemilih yang telah meninggal
2009.”
dunia, mencoret pemilih yang pindah domisili, mencoret
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
pemilih yang berubah status dari sipil menjadi TNI/Polri,
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
mencoret
pemilih yang
berusia
17 tahun dan
belum
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana belum
Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
menikah
pada
hari
pemungutan
suara,
dan
mencoret
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
pemili
yang telah
tidak
ada
keberadaannya.
kampanye
diperlukan
olehdipastikan
partai politik
dan
kandidatnya
untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
200
vi
Setelah mendapatkan data dari pantarlij, PPS menyusun
Daftar Pemilih Sementara (DPS) dalam waktu satu bulan.
DPS kemudian diumumkan kepada masyarakat selama 14
hari. Selain dimumumkan kepada masyarakat, DPS juga
diberikan kepada peserta pemilu pada tingkat kecamatan
melalui PPK. Setalah mendapatkan masukan dari
masyarakat dan peserta pemilu, PPS memperbaiki DPS
dan menyusun Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan
(DPSHP). Kemudian DPSHP diumumkan kepada
masyarakat dan peserta pemilu. Setelah memperbaiki
DPSHP berdasarkan masukan dari masyarakat dan peserta
pemilu, PPS menetapkan DPSHP akhir. Lalu DPSHP akhir
diserahkan kepada KPU Kabupaten/Kota melalui PPK.
Lalu KPU Kabupaten/Kota menetapka DPT. DPT ini
kemudian diserahkan kepada KPU, KPU Provinsi, PPK,
dan PPS. Salinan DPT ini wajib diberikan kepada peserta
pemilu di tingkat kabupaten/kota dan perwakilan peserta
pemilu di tingkat kecamatan oleh KPU Kabupaten/Kota.
Salinan DPS yang dimaksud diberkan dalam bentuk salinan
soft copy dan cakram padat dengan format terkunci.
Hal yang membedakan antara proses penyusunan dan
pemutakhiran daftar pemilih Pemilu 2014 adalah adanya
istilah Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), Daftar Pemilih
Khusus (DPK), dan Daftar Pemilih Khusus Tambahan
(DPKTb). DPTb diperuntukan bagi pemilih yang sudah
terdaftar dalam DPT namun karena alasan tertentu pada
hari pemungutan suara tidak dapat memberikan suaranya
di TPS dimana yang bersangkutan terdaftar. Untuk itu
pemilih seperti mahasiswa, pekerja, atau dengan alasan
201
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat lain
oleh politisi
pemerintah
yang terpilih
yang dan
sudah
mengetahui
tidak untuk
dapatmemerintah.
memberikan
Pandangan
Hamdanpada
tersebut
dengan apa
yangmaka
disampaikan
hak pilihnya
hariberkaitan
pemungutan
suara
yang
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
bersangkutan harus melapor di KPU Kabupaten/Kota asal.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Namun ketentuan ini kemudian diubah KPU, bagi
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
pemilih yang akan pindah pada hari pemungutan suara
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
maka tidak perlu mengurus ke KPU Kabupaten/Kota asal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
akan
memberatkan
sehingga
pemilih
dapat
agregatkarena
maupun
secara
spesifik padapemilih,
tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
mengurus di
di Indonesia
KPU Kabupaten/Kota
di tempat
dalam langsung
praktek penganggaran
yang berkaitan dengan
siklus
yang
baru.
Hal
ini
lebih
memudahkan
memilih
dalam
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
mengurus
DPTb. Untuk
itu bagi
pemilih
yang
akanmelainkan
pindah
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya
political
budget
cycles,
dan
akan mendaftar
dalam
harus
memenuhi
syarat;
political
corruption
cycle atau
siklusDPTb
korupsi
politik
pada tahun-tahun
Pemilumemiliki
yang telahbukti
meningkat
dengan
ekstrim.
identitas
kependudukan
dan memiliki bukti
sudah terdaftar
DPT.ditafsirkan
Bukti sudah
terdaftar
dalam DPT
Masyarakat
tidak sajadidapat
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
dapat
dilihatmengingat
dalam portal
KPU. hakikat antara laki-laki dan
juga perlu
dibatasi
perbedaan
perempuan.
Seperti
keterwakilan
perempuan sebagai
satu
Selain
ituhalnya
UU 8/2012
juga memberikan
ruang salah
kepada
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
pemilih yang tidak memiliki identitas kependudukan untuk
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
terdaftar dalam daftar pemilih. Pemilih dengan kategori
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
tersebut masuk dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK). DPK
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
diperuntukan bagi pemilih yang idak memiliki identitas
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
kependudukan, atau tidak terdaftar dalam DPS, tidak
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
terdaftar dalam DPSHP, tidak terdaftar dalam DPT, tidak
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
terdaftar
dalam
DPTb.yang
DPK
disusun
dan ditetapkan
oleh
Paramastuti
dalam
tulisannya
berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
KPU Provinsi.
DPK
disusun paling
lambat
14Pemilu
hari sebelum
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
DPR RI
2009.”hari pemungutan suara.
Selanjutnya,dengan
untuk
mengakomodir
seluruh
warga
Masih berhubungan
tema
akuntabilitas keuangan
politik,
Didik
negara
telah memiliki
hak berjudul
pilihnya,
maka KPU
Supriyanto
dan yang
Lia Wulandari
dalam tulisan
Transparansi
dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
dana
membuka
ruang kepada
pemilih yang
memilikibahwa
identitas
kampanye
adalah salahtetapi
satu hal
penting
dalam
proses
pemilu.
Dana
kependudukan
tidak
terdaftar
dalam
daftar
pemilih
kampanye
diperlukan
oleh
partai politik
kandidatnya
untuk KTP
dapat
untuk
tetap dapat
memilih
hanya dan
dengan
menunjukkan
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
202
vi
yang bersangkutan. Namun dengan catatan harus memilih
di TPS yang sesuai dengan domisili yang tercantum dalam
data kependudukan tersebut dan memilih pada waktu satu
jam sebelum TPS ditutup.
Permasalahan yang dihadapi dalam tahapan
pendaftaran pemilih untuk Pemilu 2014 pada dasarnya
tidak jauh berbeda dengan permasalahan pada pemilupemilu sebelumnya. Masih terdapat permasalahan
seperti tidak akuratnya data pemilih, hal ini terlihat dari
panjangnya proses menetapkan daftar pemilih tetap. Jika
seuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan oleh KPU maka
penetapan daftar pemilih tetap ditetapkan pada bulan
Oktober, namun karena masih banyaknya masalah hal ini
mundur hingga Desember 2013, dan DPT yang sudah tetap
itu masih dapat diperbaiki hingga Febuari 2014.
Pemilih di Luar Negeri
Sama halnya dengan proses pemutakhiran daftar
pemilih di dalam negeri, proses pemutakhiran pemilih di
luar negeri juga mendapati persoalannya sendiri. Hal ini
terjadi karena banyak data penduduk yang tersebar yang
mencatat data pemilih di luar negeri. Bagi WNI yang
tinggal di luar negeri jika melaporkan kedatangannya
di luar negeri maka namanya akan dicatat di Konjen
atau Keduataan Besar Indonesia yang ada di luar negeri.
BNP2TKI pun memiliki data sendiri terkait dengan
jumlah TKI yang berangkat ke luar negeri. Imigrasi pun
memiliki data penduduk yang keluar ataupun masuk ke
luar negeri. Banyaknya instansi pemerintah yang memiliki
203
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat data
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilihdengan
untuk memerintah.
ini sayangnya
tidak terintegrasi
baik sehingga
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
yang disampaikan
pendataan
pemilih
yang
ada dengan
di luarapanegeri
menjadi
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
tidak akurat. Berdasarkan data yang dimiliki KPU
pada
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
Pileg 2014 yang lalu, data pemilih di luar negeri adalah
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
sebanyak 2.03.298 pemilih. Namun menurut migrant care
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
data ini masih kurang dari data yang seharusnya akrena
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
jumlah TKI yang berangkat ke luar negeri setiap tahunnya
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
bertambah. Belum lagi ditambah dengan TKI yang ilgal
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
yang jumlahnya juga tidak sedikit. Untuk itulah KPU perlu
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
berintegrasi
dengan
instansi
yang
berkaitan
dengan
ini, yang
menjadi perhatian
tidak
hanyaterkait
political
budget
cycles, melainkan
penyedia
data
penduduk
yangkorupsi
ada dipolitik
luar negeri.
political
corruption
cycle
atau siklus
pada tahun-tahun
Pemilu yang
telah meningkat
ekstrim.
Selain
pendataandengan
pemilih
yang ada di luar negeri,
KPU juga
perlu
kemudahan
bagi
pemilihtetapi
di
Masyarakat
tidak
sajamemberikan
dapat ditafsirkan
sebagai satu
kesatuan,
luar dibatasi
negeri mengingat
dalam memberikan
pilihannya.
juga perlu
perbedaan hakikat
antara Sebetulnya
laki-laki dan
perempuan.
Sepertitelah
halnyamengatur
keterwakilan
perempuansoal
sebagai
salah satu
Indonesia
mengenai
pemilih
di
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
luar negeri melalui UU No 7/2953 tentang Pemilihan
2012 menegaskan
setiap partai politik
peserta pemilu
harus
memenuhi
Anggota Konstituante
dan Anggota
Dewan
Perwakilan
30% keterwakilan
perempuan.hak
Kondisi
ini patut
diperjuangkan,
Rakyat. Pemberian
kepada
pemilih
yang adamengingat
di luar
praktiknegeri
selamadikenal
ini, pihakdengan
yang duduk
baik
di
parlemen
maupun
pemerintah
istilah external voting. ACE project
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
mencatat terdapat empat cara yang dapat dilakukan agar
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
pemilih di luar negeri dapat memberikan hak pilihnya.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Pertama adalah personal voting. Personal voting adalah
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
pemilih harus menuju ke satu tempat khusus dalam
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
memberikan suaranya, tempat tersebut adalah dapat
2009.”
berupa TPS ataupun kantor kedutaan Indonesia yang ada
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
di luar negeri. Kedua, adalah potal voting. Dalam postal
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
voting pemilih
memberikan
suarnaya
di tempat dia
tinggal
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
di
luar
negeri
atau
tempat
khusus
yang
dia
minta
untuk
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
menerima
surat
surat suarauntuk
tersebut
kampanye
diperlukan
olehsuara.
partai selanjutnya
politik dan kandidatnya
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
204
vi
dikirimkan kembali ke kantor perwakilan di luar negeri
atau dikirim kembali ke negaranya melalui pos. Ketiga
adalag proxy vote. Dalam proxy vote pemilih yang tinggal
di luar negeri mewakilkan pemberian suaranya kepada
orang lain. Bisa kepada orang yang ada di negara asalnya
atau yang berada di luar negeri. Yang jelas adalah orang
yang mewakili adalah orang yang ditunjuk langsung
oleh orang yang bersangkutan. Keempat adalah melalui
peralatan elektronik (electronic means). Memberikan
suara melalui perangkat elektronik dapat dilakukan
dengan menggunakan internet, personal digital assistance
(PDA), maupun telepon atau telepon seluler. Dari keempat
cara tersebut, Indonesia baru mempraktekkan dua cara
saja yaitu metode personal vote dan postal vote. (Husein,
2014, p. 278)
Mekanisme Pendaftaran Pemilih
Agar permasalahan dalam pemutakhiran daftar
pemilih tidak terulang, sejumlah mekanisme baru dalam
pemutakhiran daftar pemilih ditawarkan. Jika sumber data
yang sebelumnya digunakan adalah data kependudukan
yang berasal dari pemerintah, maka kedepan sumber
data yang digunakan sebagai sumber data adalah DPT
pemilu terakhir. Data kependudukan yang berasal dari
pemerintah yang dikenal dengan DP4 tetap digunakan
sebagai data tambahan dan juga sebagai alat untuk
mengsingkronisasi dengan DPT pemilu terakhir. Selain
itu KPU juga mengintegrasikan data DPT terakhir dengan
data-data kependudukan lainnya seperti data pemilih yang
205
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat ada
oleh di
politisi
pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
luar dan
negeri.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Ketika data DPT pemilu terakhir dan data kependudukan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
dari pemerintah sudah disingkronkan maka KPU
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Kabupaten/Kota dapat langsung menyusun Daftar Pemilih
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Sementara (DPS). Masyarakat, partai politik, dan peserta
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
pemilu dapat memberikan masukan terhadap DPS ini
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
waktu
hari.pada
Kemudian
KPUPemilu,
Kabupaten/Kota
agregatdalam
maupun
secara30
spesifik
tahun-tahun
terkonfirmasi
melakukan
perbaikan
terhadap
DPS
tersebut
dan
daftar
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan
siklus
pemilih
langsung
ditetapkan
sebagai
Daftar
Pemilih
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Tetap.
Dengan
mekanisme
harapannya
KPU
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak hanyaseperti
politicalini
budget
cycles, melainkan
tidak
perlu berpanjang-panjang
dalam
menetapkan
daftar
political
corruption
cycle atau siklus korupsi
politik
pada tahun-tahun
Pemilupemilih.
yang telahJika
meningkat
ekstrim.
masih dengan
ada warga
negara yang memiliki hak
pilih namun
terdaftar
dalamsebagai
daftarsatu
pemilih
terdapat
Masyarakat
tidak tidak
saja dapat
ditafsirkan
kesatuan,
tetapi
ruang
untukmengingat
didata dalam
Daftarhakikat
Pemilihantara
Khusus
(DPK).
juga perlu
dibatasi
perbedaan
laki-laki
dan
perempuan.
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai
salah
satu
SelainSeperti
itu bagi
pemilih
yang sudah
terdaftar
namun
pada
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
hari pemungutan suara tidak dapat memilih di TPS tempat
2012 menegaskan
setiap partai
politik maka
pesertapemilih
pemilu tersebut
harus memenuhi
yang bersangkutan
terdaftar
dapat
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
dimasukkan dalam Daftar Pemilih Pindahan. Dalam
praktikmelakukan
selama ini, pihak
yang duduk
baik di parlemen
pemerintah
proses
pemutakhiran
daftarmaupun
pemilih
dapat
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
dilakukan dengan teknologi informasi seperti yang selama
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
ini dikembangkan oleh KPU.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.” Pertama, hak pilih seorang warga negara dalam pemilu
Kesimpulan
diatur
baik dalam
standar
internasional
dan juga
dalam
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
konstitusi
1945dalam
Pasaltulisan
27 ayat
(1) yang
berbunyi
Supriyanto
dan LiaUUD
Wulandari
berjudul
Transparansi
dan
“SegalaPengelolaan
warga negara
bersamaan
di dalam
Akuntabilitas
Dana
Kampanye,kedudukannya
menguraikan bahwa
dana
hukum
dansalah
pemerintahan
dan wajib
hukum
kampanye
adalah
satu hal penting
dalammenjunjung
proses pemilu.
Dana
kampanye
oleh partai
politiktidak
dan ada
kandidatnya
untukSerta
dapat
dan diperlukan
pemerintahana
itu dengan
kecualinya”.
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
206
vi
Pasal 28D ayat (1) dan (3) yang menjelaskan “ (1) Setiap
orang berhak atas pengakuan, jeminan, perlindungan,
dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang
sama di hadapan hukum; (3) Setiap warga negara berhak
memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan”
Kedua, walaupun sudah dijamin dalam konstitusi namun
dalam perjalan pemilu pasca-reformasi masih terdapat
sejumlah permasalahan terkait dengan pemutakhiran
daftar pemilih. Permasalahannya tersebut antara lain
terkait dengan (1) sumber data pemilih. Selama ini sumber
data untuk pemutakhiran data pemilih adalah data yang
berasal dari pemerintah atau Data Penduduk Potensi
Pemilih Pemilu (DP4). Data ini dianggap tidak akurat
karena terdapat sejumlah permasalahan seperti selisih data
dengan data yang dimiliki BPS. Selain itu data penduduk
dari pemerintah tidak akurat karena masih banyak
penduduk yang tidak melaporkan peristiwa kependudukan
yang terjadi seperti pindah domisili, melaporkan keluarga
yang sudah meninggal dunia, atau berganti identitas
kependudukan. Masalah lainnya adalah terkait dengan
anggaran. Karena anggaran untuk pemutakhiran data
pemilih seringkali datang terlambat sehingga petugas di
lapangan tidak dapat melakukan pemutakhiran daftar
pemilih secara maksimal. Masalah lain yang muncul adalah
seringkali terdapat pergantingan penyelenggara pemilu
di daerah ketika tahapan pemutakhiran daftar pemilih
sedang berjalan.
Ketiga, isu usia minimal untuk dapat dikategorikan
menjadi pemilih. Selama ini usia memilih yang diterapkan
207
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat adalah
oleh politisi
pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
17 dan
tahun.
Namun
hal ini
sempat
menjadi
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
perdebatan
karena
usia
17 tahun
masih
dikategorikan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
sebagai anak-anak. Sehingga sempat muncul Anggaran
untuk
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
menaikkan usia memilih menjadi 18 tahun. Namun diskusi
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
yang berkembang adalah walaupun usia 17 tahun masih
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
dalam kategori anak-anak namun usia ini sudah memiliki
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
identitas kependudukan. Selain itu dengan memberikan
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
hak pilih kepada warga negara yang sudah berusia 17 tahun
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
dapat meningkatkan partisipasi pemilih dan juga dapat
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
mengangkan
isu lokal
kalangan
muda.
ini, yang
menjadi perhatian
tidakdari
hanya
politicalanak
budget
cycles, melainkan
Keempat, cycle
syaratatau
sudah
atau
pernah
menikah
ikut
political corruption
siklus
korupsi
politik
pada untuk
tahun-tahun
Pemilupemilu
yang telah
meningkat
ekstrim. karena hal ini dianggap
juga
menjadidengan
permasalahan
melegalkan
di bawah sebagai
usia. satu kesatuan, tetapi
Masyarakat
tidakpernikahan
saja dapat ditafsirkan
juga perluKelima,
dibatasi perlu
mengingat
perbedaankembali
hakikat memberikan
antara laki-lakihak
dan
didiskusikan
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai kembali
salah satu
pilih kepada
TNI/Polri.
Isu mengenai
pemberian
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
hak pilih untuk TNI/Polri muncul karena ada pengalaman
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
trauma masa lalu. Pertimbangan memasukkan kembali
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
TNI/Polri sebagai salah satu warga negara yang diberikan
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
hak pilih adalah karena memilih adalah hak sipil setiap
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
warga negara baik itu sipil ataupun militer. Di sejumlah
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
negara yang menerapkan aturan ini pun tidak bukti bahwa
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
pilihan
dari tulisannya
militer adalah
hasil dari“Perempuan
komando atasannya.
Paramastuti
dalam
yang berjudul:
dan Korupsi:
Hak sipil
perlu Menghadapi
diberikan kepada
Pengalaman
Perempuan
Korupsisetiap
dalam warga
Pemilu negara
DPR RI
2009.”karena hak sipil berbeda dengan terlibat secara langsung
dalam
berpolitik
sehingga
pilihan untuk
memasukkan
Masih
berhubungan
dengan
tema akuntabilitas
keuangan
politik, Didik
militer
dalam
hak pilih
perlu
dipertimbangkan.
Supriyanto
danke
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanyePertama,
diperlukanbatas
oleh partai
politik dan
kandidatnya
untuk
dapat
usia memilih
tetap
diberikan
kepada
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
Rekomendasi
208
vi
warga negara yang sudah memasuki usia 17 tahun tetapi
tidak perlu disertakan syarat sudah atau pernhah menikah.
Kedua, perlu mempertimbangkan kembali untuk
memasukkan TNI/Polri sebagai warga negara yang
diberikan hak pilihnya karena hak pilih merupakan hak
sipil namun perlu dipertimbangkan bagaimana teknis
pengaturan tata cara pemilihan bagi prajurit karena
prajurit TNI/Polri sering kali ditugaskan berpindahpindah tempat.
Ketiga, sumber data untuk pemutakhiran daftar pemilih
diserahkan kepada DPT pemilu terakhir dan KPU sebagai
pengelola utama pemutakhiran daftar pemilih. Sehingga
KPU tidak bergantung kepada data kependudukan dari
pemerintah.
Keempat, proses pemutakhiran daftar pemilih yang
selama ini panjang dan rumit perlu dipersingkat. Selama
ini data pemilih ditetapkan jauh-jauh hari sebelum hari
pemungutan suara karena untuk sjumlah kepentingan
seperti untuk kepentingan logistik. Jika menggunakan data
DPT pemilu terakhir maka KPU sudah dapat memprediksi
berapa jumlah pemilih pada pemilu berikutnya sehingga
dapat langsung memperkirakan kebutuhan logistik di TPS.
Kelima, perlu dilakukan integarsi antar-lembaga terkait
dengan pendataan pemilih di luar negeri karena setiap
lembaga memiliki data-data mengenai warga negara
Indonesia di luar negeri.
209
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Referensi
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Husein, H. (2014). Pemilu Indonesia. Fakta, Angka,
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Ananlisis,
damYuna
Studimenjelaskan
Banding. Jakarta:
Perludem.
pada Tahun
Pemilu.”
bahwa Political
budget cycles
Ramlan
Surbakti,
D. S.
(2012).dengan
Seri berbagai
Demokrasi
sudah menjadi
fenomena
universal
didukung
studi
empirisElektoral.
di berbagaiMeningkatkan
Negara. BerbagaiAkurasi
variabelDaftar
yang mempengaruhi
politcal
Pemilih. Jakarta:
budgetKemitraan.
cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Supriyanto, D & Mellaz, A. (2011). Ambang Batas
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Perwakilan: Pengaruh Parliamentary Threshold Terhadap
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Penyederhanaan Sistem Kepartaian dan Proposionolitas
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
Hasil Pemilu. Jakarta : Perludem.
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
210
vi
Menyederhanakan
Sistem Kepartaian
Heroik M. Pratama
Abstrak
This study try to eleborate how to simplify the political
parties system in Indonesia through minimizing district
magnitude, as one of technical variable electoral system.
Referring to the simulations with calculate ballot letters
political parties election 2014 using the district magnitude
3-6 seats , 3-8 , 3-10 with four different formula calculation:
hare, droop, d’hond, and saint lague. Showing that, 3-6
varian district magnitude able to do simplicity political
parties system and encourages the creation of a pluralism
limited political parties system.
Kata kunci: sistem pemilu, sistem kepartaian, daerah
pemliihan.
Pengantar
Sejak pemilu pertama 1955 sampai dengan pemilu
2015, terdapat lebih dari dua partai politik relevan dalam
pengambilan keputusan di parlemen yang menandakan
dianutnya sistem multipartai di Indonesia. Adanya
pemilahan sosial masyarakat “social claveges” secara
211
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat suku,
oleh politisi
dan dan
pemerintah
terpilih
untuk
memerintah.bagi
budaya,
agamayang
menjadi
suatu
keniscayaan
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan
dengan apa yang
disampaikan
Indonesia
menerapkan
sistem multipartai
dengan
tujuan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
untuk menampung representasi politik yang beragam
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
dengan
berbagai
ideologi
maupun
program
yang
diusung
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
oleh partai politik.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Meski dinilai relevan dari sudut pandang sistem sosial
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dari
sudutpada
pandang
sistem Pemilu,
politik terkonfirmasi
khususnya
agregatmasyarakat,
maupun secara
spesifik
tahun-tahun
sistem
multipartai
dalam sistem
praktek pemerintahan
penganggaran dipenerapan
Indonesia yang
berkaitan
dengantidak
siklus
sepenuhnya
mampu
berjalan
seirama
dengan
sistem
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
pemerintahan
presidensialisme
yang
diusung.
Adanya
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya political
budget
cycles, melainkan
purifikasi
pemerintahan
yang
political
corruptionsistem
cycle atau
siklus korupsipresidensialisme
politik pada tahun-tahun
Pemiluditandai
yang telah dengan
meningkatdipilihnya
dengan ekstrim.
secara langsung presiden
dan wakil
presiden
melalui
mekanisme
umum
Masyarakat
tidak
saja dapat
ditafsirkan
sebagai pemilihan
satu kesatuan,
tetapi
(pemilu).
Menempatkan
presidenhakikat
terpilih
sebagai
single
juga perlu
dibatasi
mengingat perbedaan
antara
laki-laki
dan
perempuan.
halnya
perempuan sebagai
salah satu
cheif Seperti
executive
yangketerwakilan
memiliki kewenangan
dan tanggung
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
jawab untuk mengambil keputusan dan kebijakan publik.
2012 menegaskan
setiap
partaidalam
politiksetiap
pesertaperumusan
pemilu haruskebijakan
memenuhi
Akan tetapi
karena
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini patut diperjuangkan,
mengingat
publik seperti
APBN,
presiden
harus memperoleh
praktikpersetujuan
selama ini, pihak
duduk baik
di parlemen
maupun
pemerintah
dariyang
lembaga
legislatif.
Sehingga,
sering
kali
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
presiden terpilih mengalami kesulitan untuk menghasilkan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
kebijakan ketika harus berhadapan dengan parlemen
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
karena banyaknya partai politik dengan tingkat fragmentasi
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
politik yang cukup tinggi, ditambah dengan adanya koalisi
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
partai politik minoritas pengusung presiden terpilih.
2009.”
Studi yang dilakukan
olehakuntabilitas
Hanta Yudha
(2010)politik,
misalnya,
Masih berhubungan
dengan tema
keuangan
Didik
berhasil
menunjukan
ketidakberdayaan
pemerintahan
Supriyanto
dan Lia
Wulandari dalam
tulisan berjudul Transparansi
dan
Susilo Pengelolaan
BambanganDana
Yudhoyono
dihadapan
parlemen
Akuntabilitas
Kampanye,
menguraikan
bahwayang
dana
setiap
saat salah
bisa menolak
publik
yangpemilu.
diusulkan
kampanye
adalah
satu hal kebijakan
penting dalam
proses
Dana
pemerintah.
kemudian
pemerintahan
kampanye
diperlukanHal
olehinipartai
politik mendorong
dan kandidatnya
untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
212
vi
SBY untuk membangun koalisi lebih gemuk melibatkan
enam partai politik Demokrat, PKS, Golkar, PPP, PKB, dan
PAN untuk mempermudah proses persetujuan kebijakan
publik yang diusulkan presiden kepada DPR.
Pada sisi lain, Dodi Ambardi (2009) dalam studinya
“Mengungkap Politik Kartel” melihat terdapat kebijakan
yang berbasis transkasional dari dihadapkannya sistem
pemerintahan presidensialisme dengan sistem kepartaian
multipartai. Karena adanya ketidaksepahaman antara
partai politik di parlemen dengan pemerintah dalam
pembahasan kebijakan publik tertentu, adanya transaksi
antara eksekutif dan legislatif menjadi sarana sekaligus
pelumas untuk memuluskan kebijakan publik yang
diusulkan. Sehingga sering kali praktek ini berujung pada
korupsi.
Kompleksitas, inefektivitas, dan instabilitas memang
sudah menjadi paradoks dasar dari relasi yang ditimbulkan
antara sistem pemerintahan presidensialisme dengan
sistem multipartai ekstrim. Jika merujuk pada studi
yang dilakukan oleh Scott Mainwering (1993) sebagian
besar negara yang mampu mempertahankan sistem
pemerintahan presidensialisme ialah negara yang
menerapkan sistem dwi partai. Sedangkan negara-negara
yang menerapakan sistem presidensialisme dengan sistem
multipartai secara bersamaan, sebagian besar mengalami
deadlock akibat tingginya tingkat fragmantasi politik di
parlemen yang berujung pada konflik antara eksekutif dan
legislatif.
Salah satu cara untuk mengukur tingkat fragmantasi
213
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat politik
oleh politisi
pemerintah Laaks
yang terpilih
memerintah.
di dan
parlemen,
dan untuk
Taagepera
(1979)
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan
dengan apa
yang disampaikan
memformulasikan
rumus
matematis
indeks
effective
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
number of parliamentary parties atau yang dikenal dengan
pada Tahun
menjelaskan
bahwahitung
Political
budget
cycles
istilahPemilu.”
ENPP. Yuna
Semakin
tinggi hasil
indeks
ENPP
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
maka semakin terfragmantasi dan semakin tidak efektif
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
dalam pengambilan keputusan. Sedangkan semakin rendak
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
nilai ENPP maka semakin efektif pula proses perumusan
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
kebijakan publik karena tingkat fragmantasi politik yang
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
rendah.
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Dari pemilu
sampai
dengan
pemilu
ini, yang menjadi
perhatian1955
tidak hanya
political
budget
cycles, terakhir
melainkan
2014,
indekscycle
ENPP
rendahpolitik
terjadi
masa
political
corruption
atau paling
siklus korupsi
padapada
tahun-tahun
Pemilupemerintahan
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.
orde baru.
Hal
ini karena hanya terdapat tiga
partai politik
sebagai
pemilih
dan
pemilu-pemilu
Masyarakat
tidak saja
dapatpeserta
ditafsirkan
sebagai
satu
kesatuan, tetapi
yangdibatasi
diselenggarakan
masa hakikat
orde baru
tidak
berjalan
juga perlu
mengingat pada
perbedaan
antara
laki-laki
dan
perempuan.
halnya
keterwakilan
perempuan
sebagaiSehingga
salah satu
sesuaiSeperti
dengan
prinsip
pemilu yang
demokratis.
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
rendahnya indeks ENPP dan efektifnya penyelenggaraan
2012 menegaskan
setiapselama
partai politik
pemilu harus memenuhi
pemerintahan
orde peserta
baru dilatarbelakangi
oleh
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
rekayasa sistem politik yang dilakukan oleh rezim.
praktikSedangkan
selama ini, pihak
yangreformasi,
duduk baik di
parlemensistem
maupunpolitik
pemerintah
pasca
dimana
di
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Indonesia lebih terbuka dan penyelenggaran pemilu
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
dilaksanakan sesuai dengan prinsip jujur, adil, langsung,
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
umum, bebas, dan rahasia. Menghasilkan tingkat ENPP
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
yang sebagian besar terfragmantasi dan cenderung tidak
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
efektif dalam setiap pengambilan keputusan.
2009.”
Dengan melihat
tersebut, keuangan
upaya melakukan
Masih berhubungan
denganrealitas
tema akuntabilitas
politik, Didik
penyederhanaan
sistemdalam
kepartaian
multipartai
ekstrim
Supriyanto
dan Lia Wulandari
tulisandari
berjudul
Transparansi
dan
yang jumlahnya
lima partai
politik relevan
di
Akuntabilitas
Pengelolaanlebih
Danadari
Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
parlemen
dengan
jumlah
kampanye
adalah menuju
salah satumultipartai
hal penting moderat
dalam proses
pemilu.
Dana
maksimal
limaoleh
partai
relevan
parlemen,
menjadi
kampanye
diperlukan
partai
politikdidan
kandidatnya
untukfokus
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
214
vi
bahasan utama di setiap revisi UU Pemilu. Peningkatan
besaran parliementary threshold (PT) atau ambang batas
parlemen bagi setiap partai politik untuk memperoleh
kursi DPR, menjadi salah satu variabel dari sistem pemilu
yang selalu diupayakan untuk memangkas jumlah partai
politik di DPR. Tetapi, realitasnya pada Pemilu 2009
dengan besaran PT 2,5% menghasilkan sembilan partai
politik di DPR dengan jumlah partai relevan sebanyak
enam partai, dan Pemilu 2014 lalu dengan besaran PT
3,5% menempatkan sepuluh partai politik di DPR dengan
tingkat ENPP 8,2. Yang artinya Indonesia masih menganut
sistem multipartai ekstrim dengan terdapat lebih dari lima
partai politik di parlemen.
Keberadaan PT sering kali dijadikan jalan pintas bagi
partai politik besar khususnya untuk membatasi partaipartai politik kecil untuk meraih kursi DPR. Turki adalah
salah satu negara dengan besaran tertinggi di dunia yakni
10% yang menghasilkan dua partai politik di parlemen.
Tetapi dampak buruk yang dihasilkan dari semakin tinggi
PT ialah disproposionalitas suara pemilih dalam pemilu,
atau terbuangnya secara sia-sia suara pemilih bagi partai
politik yang tidak mampu meraih ambang batas tersebut.
Berkaca dari pengalaman serta dampak negatif tersebut,
peningkatan besaran PT tidak dapat dijadikan sarana
untuk menyederhanakan sistem kepartaian di Indonesia.
Untuk itu tulisan ini berusaha untuk menawarkan sebuah
rekayasa sistem pemilu dengan merubah besaran district
magnitude atau besaran alokasi per-daerah pemilihan
yang dikolerasikan dengan formula penghitungan suara,
215
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat dalam
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilihsistem
untuk memerintah.
rangka
menyederhanakan
kepartaian di
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan dengan
apabesar
yang disampaikan
Indonesia.
Untuk
membuktikan
sebarapa
pengaruh
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
dari kombinasi dua variabel sistem pemilu ini terhadap
pada Tahun
Yuna menjelaskan
bahwa
Political budget
cycles
sistemPemilu.”
kepartaian,
studi ini akan
disimulasikan
dengan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
perolehan suara partai politik Pemilu 2014.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Sehingga paling tidak terdapat tiga hal yang akan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
darispesifik
studi pada
ini: pertama,
membentuk
daerah
agregatdihasilkan
maupun secara
tahun-tahun
Pemilu, terkonfirmasi
baru dengan
besaranyang
3-6 berkaitan
dan 3-8 dengan
perdaerah
dalam pemilihan
praktek penganggaran
di Indonesia
siklus
pemilihan.
Kedua,
menghitung
perolehan
kursi
partai
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
politik
pemilihan
dengan
menggunakan
ini, yang
menjadiper-daerah
perhatian tidak
hanya political
budget cycles,
melainkan
besaran
district
magnitude
dan
formula
penghitungan
yang
political
corruption
cycle
atau siklus
korupsi
politik
pada tahun-tahun
Pemiluberbeda-beda.
yang telah meningkat
dengan
ekstrim. besaran indeks ENPP
Ketiga,
menghitungan
dari hasil
perolehan
partaisebagai
politiksatu
dengan
besaran
Masyarakat
tidak
saja dapatkursi
ditafsirkan
kesatuan,
tetapi
alokasi
kursimengingat
dan formula
penghitungan
yanglaki-laki
berbedajuga perlu
dibatasi
perbedaan
hakikat antara
dan
perempuan.
Sepertimelihat
halnya keterwakilan
perempuan
salah satu
beda untuk
sistem kepartaian
yangsebagai
terbentuk.
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Sistem pemilu dan sistem kepartaian merupakan satu
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Bentuk Dan
sistem
pemilu
yang
beririsan
hukumlainnya.
dan pemerintahan.
kondisi
tersebut
telahdianut
ditulis oleh
Nindita
secara
langsung
dengan
bentuk
sistem
kepartaian
disuatu
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
negara.
Studi yang
dilakukanKorupsi
Maurice
Duverger
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
dalam
Pemilu (1950)
DPR RI
2009.”berhasil menjelaskan sistem pemilu plurality majority
Sistem Pemilu dan Sistem
Kepartaian
selalu
menghasilkan
dua partai keuangan
dan sistem
pemilu
Masih
berhubungan
dengansistem
tema akuntabilitas
politik,
Didik
propotional
representation
berhasil
membentuk
sistem
Supriyanto
dan Lia Wulandari
dalam tulisan
berjudul
Transparansi
dan
banyakPengelolaan
partai atau
multipartai.
ini terjadi
karena
Akuntabilitas
Dana
Kampanye, Hal
menguraikan
bahwa
dana
adanya
efek
mekanis
ditimbulkan
daripemilu.
variabelkampanye
adalah
salah
satu halyang
penting
dalam proses
Dana
kampanye
diperlukan
oleh partai
danyang
kandidatnya
untuk
dapat
variabel
langsung
sistempolitik
pemilu
berfungsi
untuk
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
216
vi
mengkonversi suara menjadi kursi. District magnitude atau
besaran alokasi kursi per-daerah pemilihan dan electoral
formula atau formula penghitungan suara menjadi kursi,
menjadi dua varibel langsung dari sistem pemilu yang
berpengaruh pada sedikit banyaknya jumlah kursi partai
politik di parlemen.
District magnitude merupakan jumlah alokasi kursi
parleman yang disedikan dalam satu daerah pemilihan
untuk diperebutkan oleh partai politik. Secara teoritik
besaran daerah pemilihan diklasifikasikan kedalam dua
jenis yakni: Pertama, daerah berkursi tunggal single
member constituency maksudnya ialah didalam satu
daerah pemilihan terdapat satu kursi parlemen yang
diperebutkan. Kedua, besaran daerah pemilihan berkursi
jamak multi member constituency atau lebih dari dua kursi
yang diperebutkan dalam satu daerah pemilihan. Multi
member constituency district magnitude terbagi dalam
dua jenis: besaran daerah pemilihan kecil yang dalam satu
daerah pemilihan terdapat 2-5 kursi yang diperebutkan,
besaran daerah pemilihan sedang yaitu dalam satu daerah
pemilihan terdapat 6-10 kursi, dan besar daerah pemilihan
besar yang terdapat lebih dari 10 kursi yang diperubutkan
dalam satu daerah pemilihan. Jumlah alokasi kursi per-daerah pemilihan secara
tidak langsung mencerminkan jumlah partai politik
relevan di parlemen. Single mamber constituency yang
digunakan dalam sistem pemilu plurality majority dengan
memperebutkan satu kursi dalam satu daerah pemilihan,
hanya memberikan ruang pada partai politik besar
217
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat untuk
oleh politisi
dan pemerintah
terpilih untuk
memperoleh
kursiyang
parlemen
yang memerintah.
berujung pada
Pandangan
Hamdan
tersebut
dengan apa
yang disampaikan
terciptanya
sistem
duaberkaitan
partai seperti
Amerika
Serikat.
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
Sedangkan, multi mamber constituency dengan terdapat
pada Tahun
Pemilu.”
Political
budget
cycles
lebih dari
satuYuna
kursimenjelaskan
dalam satubahwa
daerah
pemilihan
untuk
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
diperubatkan, memberikan ruang kepada partai-partai
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
menengah dan partai kecil untuk memperoleh kursi di
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
parlemen. Sehingga varian multi mamber consituency
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
mampu mendorong terciptanya sistem kepartaian
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
pluralitas atau multipartai.
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Secara perhatian
lebih spesifik,
menjelaskan
ini, yang menjadi
tidak hanyaDieter
politicalNohlan
budget cycles,
melainkan
korelasi
tersebut
karena
semakin
besaran
political
corruption
cycle terjadi
atau siklus
korupsi
politikrendah
pada tahun-tahun
Pemiludistrict
yang telah
meningkat dengan
ekstrim.
magnitude
semakin
sulit peluang partai politik
kecil “gurem”
mendapatkan
sedangkan
Masyarakat
tidak sajauntuk
dapat ditafsirkan
sebagaikursi,
satu kesatuan,
tetapi
apabila
besaran
daerahperbedaan
pemilihan
kecil antara
denganlaki-laki
bilangan
juga perlu
dibatasi
mengingat
hakikat
dan
perempuan.
keterwakilan
perempuan sebagai
satu
genapSeperti
(2,4,6 halnya
dan seterusnya)
kecenderungan
partaisalah
politik
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
yang memperoleh suara di peringkat ke dua akan memetik
2012 menegaskan
setiap partai politik
peserta pemilu
memenuhi
rezeki (P Kartawidjaja
& S Pramono
, 2009harus
). Sebaliknya
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi ini patut
diperjuangkan,
mengingat
jika besaran
daerah pemilihan
dengan
angka ganjil
(1,3,5
praktikdan
selama
ini,
pihak
yang
duduk
baik
di
parlemen
maupun
pemerintah
seterusnya) kecenderungan partai politik peraih suara
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
terbanyak akan meraih kesempatan untuk memperoleh
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
kursi.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Namun
demikian,yangkorelasi
Paramastuti
dalam tulisannya
berjudul: pembentukan
“Perempuan dan sistem
Korupsi:
kepartaian
ini tidak
hanya melibatkan
variabel
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi dalam
Pemilu district
DPR RI
2009.”magnitude semata tetapi terdapat peran variabel formula
penghitungan
electoral
formula
yangkeuangan
berfungsi
untuk
Masih
berhubungan dengan
tema
akuntabilitas
politik,
Didik
mengkonversi
suara dalam
menjadi
kursi.
HalTransparansi
ini karena,
Supriyanto
dan Lia Wulandari
tulisan
berjudul
dan
masing-masing
penghitungan
suara bahwa
memiliki
Akuntabilitas
Pengelolaanformula
Dana Kampanye,
menguraikan
dana
karakter
yang
berbeda
dalam
menghitung
suarapemilu.
partai dan
kampanye
adalah
salah
satu hal
penting
dalam proses
Dana
mengelaokasikannya
dalam
wujud
di parlemen.
kampanye
diperlukan oleh partai
politik
dankursi
kandidatnya
untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
218
vi
Secara teoritik, setiap sistem pemilu memiliki formula
penghitungan suaranya masing-masing. Sistem pemilu
plurality majority atau yang lebih dikenal dengan istilah
sistem pemilu mayoritas dalam proses penghitungan
suaranya menekankan pada prinsip the winner take
all, yaknikandidat yang meraih suara terbanyak secara
otomatis menjadi pemenangnya. Akan tetapi karena
terdapat beberapa varian dari sistem pemilu mayoritas
salah satunya two round systems, yang menerapkan
ambang batas suara 50%+1 yakni hanya kandidat
yang memperoleh suara lebih dari 50% yang berhak
memperoleh kursi. Adanya penerapan ambang batas ini
dilatarbelakangi oleh beberapa aspek yang salah satunya
ialah drajat keterwakilan dan dukungan atau legitimasi
terhadap kandidat terkait.
Berbeda dengan sistem Pemilu mayoritas, dalam
sistem pemilu proposional terdapat dua bentuk formula
penghitungan suara yakni kuota dan divisor yang
didalamnya memiliki variannya masing-masing. Pertama,
formula penghtiungan suara kuota terbagi kedalam dua
varian: kuota hare dan kuoata droop. Kuota hare atau
yang lebih dikenal dengan sisa suara terbanyak (the largest
remainder). Formula ini banyak digunakan di negara
Austria, Belgia, Denmark, Yunani, Islandia, dan juga Italia
untuk memilih majelis rendah. Dalam formula ini terdapat
dua varian teknin penghitungan yakni varian Kuota Hare
dan Kuota Droop dengan karakter utama adanya bilangan
pembagai pemilih.
Untuk kuota Hare rumus yang digunakan untuk
219
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat memperoleh
oleh politisi dan
pemerintah
yang terpilih
memerintah.
bilangan
pembagi
pemilihuntuk
ialah:
HQ= V(vote)/
Pandangan
berkaitan
dengan
apadiketahui,
yang disampaikan
S(seat).Hamdan
Setelah tersebut
bilangan
pembagi
pemilih
total
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
perolehan suara partai atau kandidat akan dibagi kedalam
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
Political
budget cycles
bilangan
tersebut
dan
jika masihbahwa
ada sisa
hasil pembagian,
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
kursi akan dialokasikan kepada sisa suara terbesar.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Sedangkan dalam varian kuota Drop yang membedakan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
adalah adanya rumus mencari bilang pembagi pemilih yang
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
di tambah satu DQ= V(vote)/S(seat)+1. Varian formula
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
penghitungan suara ini, sangat ramah bagi partai politik
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
dengan
suara
yang
tidak
terlalu
signifikan.
ini, yang
menjadiperolehan
perhatian tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
Hal
ini
karena,
adanya
bilang
pembagi
yang
ditentukan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
perolehan
suara
partai dalam pemilu secara
Pemiluoleh
yang besaran
telah meningkat
dengan
ekstrim.
keseluruhan.
Sehingga
formula ini
sangat
untuk
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagai
saturelevan
kesatuan,
tetapi
mengakomodir
partai-partai
politik
kecil
untuk
duduk
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki di
dan
kursi
parlemen.
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi peserta
pemilu.
UU No.
8 Tahun
Kedua,
formula
penghitungan
divisor
terbagi
kedalam
2012 menegaskan
politik peserta
pemilu
harus memenuhi
dua variansetiap
yang partai
diantaranya:
Divisor
Jefferson/D’Hondt
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi ini
patut diperjuangkan,
dengan Divisor
Webster/St
Lague.
Jika dalam mengingat
formula
praktikkuota
selamabilang
ini, pihak
yang
duduk
baik
di
parlemen
maupun
pemerintah
pembagi pemilih terlebih dahulu dicari melalui
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
rumus, sedangkan formula divisor bilang pembaginya
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
sudah ditentutkan. Untuk varian D’Hondt bilangan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
pembagi terdiri dari angka 1,2,3,4,5... dst, sedangkan
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
varian Webster bilangan pembagi terdiri dari angka-angka
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
ganjil seperi 1,3,5,7... dst. Bilangan pembagi ini akan terus
2009.”
dibagi sampai dengan jumlah suara habis terbagi dan akan
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
diambil nilai suara terbesar untuk dialokasikan kedalam
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
kursi sesuai
denganDana
jumlah
kursi yang
diperbutkan
dalam
Akuntabilitas
Pengelolaan
Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
satu
daerah
pemilihan.
Sehingga
formula
penghitungan
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
ini diperlukan
lebih menguntungkan
partai
besaruntuk
dengan
kampanye
oleh partai politik
dan politik
kandidatnya
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
220
vi
perolehan suara yang signifikan untuk meraih banyak
kursi di Parlemen. Dengan kata lain, formula ini sedikit
banyak merugikan partai-partai kecil untuk meraih kursi
parlemen dan relevan untuk digunakan dalam rangka
menyederhanakan sistem kepartaian.
Meski demikian, dalam melihat sistem kepartaian sering
kali terjebak pada nalar jumlah partai politik di parlemen.
Sebagai contoh, pada tahun 2005 hasil Pemilu Inggris
menempatkan 12 partai politik duduk di parlemen. Dari
646 kursi parlemen Inggris, hanya terdapat dua sampai
dengan tiga partai politik yang memiliki pengaruh dalam
pengambilan keputusan, karena adanya konsentrasi kursi
parlemen pada tiga partai dua partai besar: Partai Buruh
(356 kursi), Partai Konservatif (198 kursi), dan Partai
Liberal (62 kursi). Sedangkan 30 kursi lainnya tersebar
ke sembilan partai dengan perolehan kursi satu hingga
sembilan. Dari sinilah kemudian Inggris dikategorisasikan
sebagai negara yang menganut sistem dua partai dwi partys
sisytems.
Untuk itu dalam melihat bentuk sistem kepartaian,
Laakso dan Taagepera (1979) memperkenalkan rumus
matematis effective number of parliamentary parties atau
yang disebut dengan indeks ENPP. Formula penghitungan
ini digunakan untuk melihat berapa banyak partai politik
relevan atau sebarapa banyak jumlah kursi di parlemen
yang terkonsentrasi kepada partai politik tertentu. Formula
ini berlandaskan pada pertanyaan: apakah kekuatan politik
terkonsentrasi pada satu partai, atau terbagi di antara
berbagai partai politik ? (Supriyanto, D & Mellaz, A, 2011,
221
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat hal.
oleh politisi
dan pemerintah
terpilihIndeks
untuk memerintah.
30). Secara
lebih jauhyang
formula
ENPP tersebut
Pandangan
Hamdanberikut:
tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
adalah sebagai
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009
ataupunmenggunakan
menjelang Pemilurumus
2014. Melihat
perkembangan
saat
Dengan
matematis
tersebut,
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
barulah dapat diketahui bentuk sistem kepartaian yang
political
corruption
cycle atau
siklus
korupsi
padapolitik
tahun-tahun
dianut
oleh suatu
negara.
Salah
satupolitik
ilmuwan
asal
PemiluItalia
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
Giovanni Satori paling tidang mengklasifikasikan
Masyarakat
saja dapat
kesatuan,
tetapi
sistem tidak
kepartaian
keditafsirkan
dalam sebagai
tujuh satu
kategori
bentuk
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan
hakikat antara
dan
diantaranya
one party
system/sistem
partailaki-laki
tunggal,
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilanhegemonik,
perempuan sebagai
salah satu
hegemonic
party/partai
predominant
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
party/partai predominan, two party/dua partai, limited
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
pluralism/pluralisme terbatas, extreme pluralism/
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
pluralisme ekstrem dan atomized/ atomik. Tetapi untuk
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
sistem pluralisme atau yang lebih dikenal dengan sistem
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
multipartai, ia membagi kedalam dua bentuk yakni limited
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
pluralism atau multipartai sederhana yakni jumlah kursi
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
di parlemen
terkonsentari
sampai lima
partai
Paramastuti
dalam tulisannya
yang kedalam
berjudul: tiga
“Perempuan
dan Korupsi:
politi. Perempuan
Dan, extreme
pluralism
atau dalam
multipartai
Pengalaman
Menghadapi
Korupsi
Pemiluekstrim
DPR RI
2009.”dengan terdapat konsentrasi kursi lebih dari lima partai
politik
di parlemen.
Masih
berhubungan
dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Sistem Kepartaian
SupriyantoTipologi
dan Lia Wulandari
dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas
Pengelolaan Tingkat
Dana Kampanye,
menguraikan bahwa dana
Jumlah
Jarak Ideologis
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
Partai
Rendah
Tinggi
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
222
vi
3–5
Pluralisme
Moderat
Pluralisme
terbatas namun
terpolarisasi
>5
Plurlisme
Ekstrem
Pluralisme
Terpolarisasi
(Ambardi, 2009, hal. 11)
Rekam Jejak Sistem Kepartaian
Pemilu 1955 sebagai pemilu nasional pertama bagi
Indonesia menjadi penanda era multipartai jilid pertama.
Tercatat, 34 partai politik terdaftar sebagai peserta pemilu
dan menghasilkan 28 partai politik yang berhasil meraih
kursi DPR. Kendati demikian, indeks ENPP Pemilu 1999
sebesar 6.4 yang berarti terdapat enam partai dominan di
parlemen dalam mengambil keputusan antara lain: Partai
Nasional Indonesia (PNI) dan Masyumi dengan perolehan
57 kursi; Nahdlatul Ulama (NU) 45 kursi; Partai Komunis
Indonesia 39 kursi; Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
dan Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dengan perolehan
masing-masing 8 kursi.
Kegaduhan dan stabilitas politik negara yang berujung
pada jatuh bangunnya kabinet pada era pemerintahan
parlementer, nampaknya sudah menjadi konsekuensi yang
harus diterima dari penerapan sistem multipartai ekstrim.
Hal ini karena adanya rentang jarak ideologi yang cukup
jauh antar partai politik, dimulai dari ideologi kiri dengan
aliran nasionalis dan komunis direpresentasikan oleh PNI
223
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat dan
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuk memerintah.
PKI, dengan
partai politik
berhaluan
agama sebagai
Pandangan
berkaitan
dengan
yang disampaikan
ideologiHamdan
seperti tersebut
Masyumi,
NU, PSII,
danapa
Parkindo.
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
Konflik berkepanjangan antar partai, memaksa presiden
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
pertama Indonesia mengeluarkan Penpres No. 7/1959
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
yang disusul dengan dikeluarkannya Penpres 13/1960
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
mengenai penagkuan, pengawasan, dan pembubaran partai
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dibawah
sistem pada
demokrasi
terpimpin
alaterkonfirmasi
Soekarno
agregatpolitik
maupun
secara spesifik
tahun-tahun
Pemilu,
dalam Pamungkas
2012:
Daridengan
28 partai
dalam (Dhakidae
praktek penganggaran
di Indonesia
yang 152).
berkaitan
siklus
politik
yang
ada,
hanya
tersisa
sepuluh
partai
politik
yang
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
diakui
oleh
pemerintah:
PNI,political
NU, PSII,
PERTI,
Parkindo,
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak hanya
budget
cycles,
melainkan
Partai
Katolik,
Partindo,
IPKI,
dan politik
PKI yang
political
corruption
cycle
atau siklus
korupsi
padaberdampak
tahun-tahun
Pemilupada
yang telah
meningkat dengan
terciptanya
sistemekstrim.
kepartaian predominant.
Partai Komunis
Indonesia
(PKI)sebagai
menjadi
satu-satunya
Masyarakat
tidak saja dapat
ditafsirkan
satu kesatuan,
tetapi
partai
politikmengingat
yang paling
dominan
dalam
menjalankan
juga perlu
dibatasi
perbedaan
hakikat
antara
laki-laki dan
perempuan.
Seperti
keterwakilan
perempuan
sebagai
salahtiga
satu
perannya
dihalnya
pemerintahan
karena,
adanya
politik
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
kaki yang diterapkan oleh Soekarno dengan militer untuk
2012 menegaskan
setiap
partai politikdalam
peserta
pemilu harus
memenuhi
mengokohkan
kekuasaanya
demokrasi
terpimpin.
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Setelah sang proklamator meninggalkan kursi
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
kepresidenannya, Indonesia mengalami era multipartai
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
jilid kedua dibawah rezim otoritarian Soeharto yang
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
ditandai dengan diberlakukannya fusi partai. Dalam rangka
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
menciptakan
stabilitas
politik
dan “Perempuan
mengamankan
posisi
Paramastuti
dalam tulisannya
yang
berjudul:
dan Korupsi:
rezim,Perempuan
Soeharto melakukan
partai politik
Pengalaman
Menghadapipenyederhanaan
Korupsi dalam Pemilu
DPR RI
2009.”dengan mengabungkan partai politik peninggalan orde
baru
kedalam dengan
dua kelompok
koalisi: keuangan
PNI, IPKI,
Murba,
Masih
berhubungan
tema akuntabilitas
politik,
Didik
Parkindo,
Partai dalam
Katolik
menjadi
Partai
Demokrasi
Supriyanto
dan Liadan
Wulandari
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
Indonesia
(PDI). Serta
NU, Parmusi,
PSII,
Akuntabilitas
Pengelolaan
Danadigabungkanya
Kampanye, menguraikan
bahwa
dana
dan adalah
Perti menjadi
Partai
Pembangunan
(PPP).
kampanye
salah satu
hal Persatuan
penting dalam
proses pemilu.
Dana
kampanyeSelain
diperlukan
oleh era
partai
politik
dan kandidatnya
untuk
dapat
itu, pada
politik
kepartaian
ini muncul
partai
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
224
vi
baru dari rahim negara yang berfungsi sebagai instrumen
kontrol negara terhadap kehidupan politik Indonesia
dengan nama Golongan Karya atau Golkar. Kondisi ini
disebut oleh Satori (dalam Arifin 2005: 35) sebagai party
state system karena sulit membedakan antara negara
dengan partai politik yang memiliki kekuasaan layaknya
negara.
Sistem kepartaian pada era orde baru lahir dibawah
rekayasa politik rezim dengan menutup ruang partai politik
untuk tumbuh kembang secara alamiah dari masyarakat
dan menciptakan interaksinya sendiri baik pada arena
pemilu maupun arena pemerintahan. Dari enam Pemilu
(1971, 1977, 982, 1987, 1992, 1997) yang dilangsungkan
selama orde baru, selalu menempatkan Golkar sebagai
partai pemenang pemilu (lihat grafik ENPP) dengan
memanfaatkan alat-alat negara seperti birokrasi dan TNI.
Sehingga pada waktu itu pemilu hanya dijadikan sebagai
formalitas dengan mengenyampingkan prinsip dan tujuan
utama pemilu sebagai rotasi kekuasaan demi memperoleh
pengakuan internasional sebagai negara demokratis.
225
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat olehPasca
politisi
dan pemerintah
yang
terpilih untuk
memerintah.
tumbangnya
rezim
otoritarian
orde
baru melalui
Pandangan
Hamdan
tersebut berkaitan
dengan apamengalami
yang disampaikan
gelombang
reformasi
1998, Indonesia
era
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
multipartai jilid III ditengah iklim demokrasi yang
pada Tahun
Pemilu.”
Yunamelalui
menjelaskan
bahwa Political
budgetjujur,
cycles
semakin
terbuka
penyelenggaran
pemilu
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
adil, langsung, umum, bebas, dan rahasia di bawah sistem
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
pemilu proposional daftar tertutup. Pemilu 1999 menjadi
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
titik balik sistem multipartai di Indonesia dari party
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
state system menjadi multipartai terbatas atau limited
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
pluralism. Tercatat sebanyak 141 partai politik yang
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
mendaftar
sebagaitidak
peserta
48 cycles,
partaimelainkan
politik
ini, yang
menjadi perhatian
hanyapemilu
politicaldan
budget
dinyatakan
pemilu
dengan
political
corruptionlolos
cycleverifikasi
atau siklussebagai
korupsipeserta
politik pada
tahun-tahun
21 partai
politik
di DPR (Pamungkas 2009:
Pemilumenempatkan
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.
90). Adapun
ENPP
yang dihasilkan
sebesar
4.7 atau
Masyarakat
tidak indeks
saja dapat
ditafsirkan
sebagai satu
kesatuan,
tetapi
empat
partai
politik
dominan
yang
memiliki
pengaruh
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
siginfikan
partai
perempuan.
Sepertidalam
halnya formulasi
keterwakilankebijakan.
perempuanKeempat
sebagai salah
satu
politik tersebut
antara
lain PDIP
153
syarat verifikasi
faktual untuk
menjadi
pesertadengan
pemilu. perolehan
UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan
setiap Golkar
partai politik
peserta
pemilu
harus dan
memenuhi
kursi, kemudian
120 kursi,
PPP
58 kursi,
PKB
30% keterwakilan
perempuan.
sebanyak 51
kursi. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama
ini, pihak
yang duduk baik
di parlemen
maupun
pemerintah
Meski
terkategorisasi
sebagai
sistem
mulitipartai
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
terbatas limited pluralism dengan jumlah partai politik
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
tiga sampai dengan lima di parlemen, pemerintahan hasil
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
pemilu pertama di era reformasi tersebut tidak mampu
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
berjalan secara efektif. Padahal jika merujuk pada toeri
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
sistem kepartaian Satori (1976), limited pluralism memiliki
2009.”
pola persaingan sentripetal yang membentuk bipolar
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
coalitional configuration dengan membilah dua kubu
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
koalisi Pengelolaan
partai politik
di Kampanye,
parlemen menguraikan
sebagai koalisi
partai
Akuntabilitas
Dana
bahwa
dana
pengusung
pemerintah
dan
oposisi
pemerintah.
Yang
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
tentunya
mampu
penyelenggaran
kampanye
diperlukan
oleh mendorong
partai politikefektivitas
dan kandidatnya
untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
226
vi
pemerintah melalui mekanisme check and balances. Tetapi
realitasnya hal ini tidak berjalan, bahkan terjadi peristiwa
impeachment terhadap Presiden Abdurahhman Wahid
atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Dur.
Ketidakstabilan politik pada periode awal pemerintahan
reformasi ini, tidak sepenuhnya disebabkan oleh sistem
kepartaian limited pluralism. Melainkan, terdapat peran
serta sistem pemerintahan presidensialisme di Indonesia
yang belum sepenuhnya dijalankan secara murni. Sebelum
dilakukannya amandemen UUD 1945 presiden diangkat
oleh Majelis Permusyawaratan Perwakilan (MPR) bukan
melalui pemilihan umum langsung. Situasi ini berdampak
pada kaburnya partai-partai politik mana yang tergabung
dalam koalisi pengusung pemerintah dan partai politik
mana saja yang tergabung dalam oposisi. Belum lagi
ditambah dengan adanya kekecewaan PDIP sebagai partai
politik pemenang Pemilu 1999 dengan jumlah perolehan
kursi terbanyak yang tidak berhasil meraih posisi presiden.
Pada sisi lain, sistem ketata negaraan pada era awal
demokratisasi politik itu masih menempatkan MPR
sebagai lembaga negara tertinggi dibandingkan presiden,
yang seharusnya tidak terjadi dalam sistem pemerintahan
presidensialisme karena terdapat pemisahan kekuasaan
yang jelas separation of power antara eksekutif dan
legislatif yang satu sama lain tidak bisa saling menjatuhkan.
Sehingga dengan adanya peristiwa bulloggate dan
bruneigate menjadi pemicu awal pemakzulan Gus Dur
sebagai presiden.
Setelah amandemen UUD 1945 terjadi purifikasi
227
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat presidensialisme
oleh politisi dan pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
di Indonesia
yang
ditandai
dengan
Pandangan
tersebutpemilu
berkaitanlangsung
dengan apauntuk
yang disampaikan
adanya Hamdan
mekanisme
memilih
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
presiden dan wakil presiden. Susilo Bambang Yudhoyono
pada Tahun
Pemilu.” Yuna Jusuf
menjelaskan
Political
budget cycles
dan Muhammad
Kallabahwa
menjadi
presiden
dan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
wakil presiden pertama hasil Pemilu 2004. Meski
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
demikian, yang menjadi menarik kemudian terdapat
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
pola koalisi partai politik pengusung presiden yang
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
cair tanpa mempertimbangkan identitas partai seperti
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
ideologi nasionalis atau islam. Pada putaran ke dua
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
pilpres,
SBY-JK
oleh cycles,
koalisimelainkan
partai
ini, yang
menjadipasangan
perhatian tidak
hanyadidukung
political budget
politik
yang cycle
terdiriatau
dari:
PKS,
PPP, PKPI,
political
corruption
siklus
korupsi
politik dan
padaDemokrat.
tahun-tahun
Sedangkan
Megawati
dan
Hasyim
didukung
oleh
koalisi
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
kebangsaan
dariditafsirkan
PDIP, Golkar,
PPP,
PBR,
dan PDS.
Masyarakat
tidakterdiri
saja dapat
sebagai
satu
kesatuan,
tetapi
Namun
demikan,
SBY-JK
sebagai
presiden
dan
wakil
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
presiden
terpilih
memilkiperempuan
hak prerogratif
sebagai
perempuan.
Seperti
halnyayang
keterwakilan
sebagai salah
satu
presiden faktual
dan wakil
untuk pemilu.
mengangkat
syarat verifikasi
untukpresiden
menjadi peserta
UU No.mentri8 Tahun
2012 menegaskan
partaikomposisi
politik peserta
pemilu
harus
memenuhi
mentrinya.setiap
Membuat
mentri
yang
tidak
hanya
30% keterwakilan
Kondisiprtai
ini patut
diperjuangkan,
mengingat
ditempati perempuan.
oleh kader-kader
politik
koalisi pengusung
praktikpencalonannya.
selama ini, pihak yang
dudukterdapat
baik di parlemen
maupun
Tetapi,
mentri
yangpemerintah
berasal
mayoritas
diduduki
oleh
laki-laki.
Apabila
tidak
diperjuangkan,
hal ini
diluar koalisi pengusung dengan total delapan partai
akan berdampak
negatif terhadap
mandeknya
perempuan
dalam
politik memperoleh
jabatan
mentri.aspirasi
Hal inilah
kemudian
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
menjadi penanda awal terciptanya sistem kepartaian
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
yang terkartelisasi dimana setiap partai politik melepas
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
ideologinya untuk mencapai kepentingan bersama.
2009.”
Capres-Cawapres
Partai Pendukung
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
PDIP,
PDS,Transparansi
Golkar, PPP,dan
dan Hasyim
Supriyanto Megawati
dan Lia Wulandari
dalam tulisan
berjudul
PBR menguraikan bahwa dana
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye,
kampanye SBY
adalah
dalam
proses
pemilu. Dana
PPP,
PKPI,PKS
dansalah
JK satu hal penting PD,
kampanyeGaris
diperlukan
oleh partai
politik
dan kandidatnya untuk dapat
bawah
: partai
sekuler
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
228
vi
Miring
: partai islam.
(Sumber : KPU dalam Ambardi 2009, h. 257)
Untuk pemilu legislatif, Pemilu 2004 mulai menerapkan
besaran alokasi kursi per daerah pemilihan yang terdiri
dari kabupatan, kota, atau gabungan kabupaten kota. Jika
pada pemilu sebelumnya daerah pemilihan berbasiskan
pada daerah tingkat I atau provinsi, tetapi berdasarkan
UU 12/2003 daerah pemilihan DPR adalah provinsi atau
bagian-bagian provinsi dengan besaran alokasi daerah
pemilihan 3 – 12 kursi.
Teradapat 24 partai politik peserta pemilu dan 16
partai politik yang meraih kursi DPR pada Pemilu 2004
dengan indeks ENPP sebesar 7.1 atau tujuh partai politik
yang memiliki sebaran kursi signifikan untuk mengambil
keputusan: Golkar 127 kursi, PDIP 109 kursi, PKB 52 kursi,
PPP 58 kursi, Demokrat 56 kursi, PKS 45 kursi, dan PAN
53 kursi. Dalam hal ini, Pemilu 2004 menjadi penanda
dianutnya sistem kepartaian extreme pluralism dengan
jumlah partai politik relevan lebih dari lima.
Jika melihat karakter dasar dari sistem kepartaian
extreme pluralism ialah terciptanya outbiding politics
yakni politik saling menjatuhkan antar partai politik
akibat adanya perbedaan ideologi secara fundamental
antara satu partai politik dengan partai politik lainnya.
Namun demikian, karena koalisi antar partai politik dalam
mengusung presiden tercipta tanpa memandang ideologi
partai maka konflik antara partai politik dalam konteks
Indonesia bukan berdasarkan pada perbedaan ideologi
maupun program melainkan berdasarkan kepentingan
229
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat partai.
oleh politisi
yang terpilih
memerintah.
Haldan
inipemerintah
sangat nampak
padauntuk
setiap
pembahasan
Pandangan
Hamdan
berkaitan
dengan apa
yang disampaikan
APBN di
DPR tersebut
selalu ada
perbedaan
pendapat
bahkan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
pengambilan keputusan di parlemen yang tidakAnggaran
hanya
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
muncul dari koalisi partai politik pengusung pemerintahan,
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
melainkan terdapat pula partai partai politik yang
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
tergabung dalam koalisi pemerintahan ikut mengkritisi
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dan menolak kebijakan yang dikeluarkan oleh Presiden.
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Situasi
politik kepartaian
demikian
terus berlanjut
di
dalam praktek
penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan siklus
2009 menjelang
dan Pemilu
2014.
Pada
Pemilu
2009, untuk
PemiluPemilu
2009 ataupun
Pemilu
2014.
Melihat
perkembangan
saat
pertama
kalinya Indonesia
menerapkan
pemilu
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya political
budgetsistem
cycles, melainkan
proposional
daftaratau
terbuka
(open list)
memilih
political
corruption cycle
siklus korupsi
politikdengan
pada tahun-tahun
Pemilulangsung
yang telahcalon
meningkat
dengan
ekstrim.
anggota
DPR
yang sudah disediakan oleh
partai dan
dalam
surat suara.
pemilu
Masyarakat
tidaktertera
saja dapat
ditafsirkan
sebagaiMenjelang
satu kesatuan,
tetapi
ketiga
pada era
reformasi,
wacanahakikat
penyederhanaan
partai
juga perlu
dibatasi
mengingat
perbedaan
antara laki-laki
dan
perempuan.
keterwakilan
sebagai
salahUU
satu
politikSeperti
mulaihalnya
menguat
dalamperempuan
pembahasan
revisi
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
12/2003 yang menjadi payung hukum penyelenggaran
2012 menegaskan
setiap partai
politik ambang
peserta pemilu
harusparlemen
memenuhi
Pemilu 2004.
Alhasil
batas
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini patut
diperjuangkan,
parliamentary
threshold
mulai
diterapkan
pada mengingat
Pemilu
praktik2009
selamadengan
ini, pihakbesaran
yang duduk
baik
di
parlemen
maupun
pemerintah
2,5%. Sehingga bagi partai politik
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
yang tidak mampu meraih suara 2,5% pemilih tidak berhak
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
untuk duduk di kursi parlemen. Di samping itu, dari 3-12
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
kursi per daerah pemilihan dirubah menjadi 3-10 kursi per
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
daerah pemilihan.
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.” Dari 16 partai politik di DPR hasil Pemilu 2004, hanya
terdapat
sembilan
partai
politik
di DPRkeuangan
hasil Pemilu
2009
Masih
berhubungan
dengan
tema
akuntabilitas
politik,
Didik
dengan
besaran
indeks
ENPP
6.2berjudul
atau terdapat
enam
Supriyanto
dan Lia
Wulandari
dalam
tulisan
Transparansi
dan
partai Pengelolaan
politik relevan
di Kampanye,
DPR yangmenguraikan
dapat mempengaruhi
Akuntabilitas
Dana
bahwa dana
keputusan.
Meskisatu
mengalami
penurunan,
jumlah
tersebut
kampanye
adalah salah
hal penting
dalam proses
pemilu.
Dana
tidakdiperlukan
terlalu oleh
memiliki
maknadan
yang
berarti untuk
terhadap
kampanye
partai politik
kandidatnya
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
230
vi
jalannya pemerintahan. Hal ini karena hasil Pemilu 2009
masih terkategorisasi sebagai sistem kepartaian pluralisme
ekstrim yang selalu berdampak pada kegaduhan antara
presiden dengan DPR dalam pengambilan keputusan.
Belajar dari Pemilu 2009 yang masih menghasilkan
sistem kepartaian pluralisme ekstrim. Menjelang Pemilu
2014 terjadi kembali revisi UU Pemilu Legislatif dengan
tujuan untuk menciptakan sistem multipartai sederhana
atau limited pluralism. Pembahasan revisi UU 10/2008
cukup menyita waktu karena partai politik terbagi
dalam dua kelompok yang berbeda yakni: kelompok
pertama terdiri dari partai-partai politik besar yang pro
penyederhanaan partai politik dengan menawarkan
peningkatan besaran ambang batas parlemen. Kelompok
kedua terdiri dari partai-partai politik menengah dan kecil
yang menawarkan besaran ambang batas parlemen yang
tidak berubah. Namun demikian pada akhirnya disepakati
besaran PT ditingkatkan menjari 3,5% dari 2,5%. Akan
tetapi, jumlah partai politik di DPR justru meningkat dari
sembilan partai menjadi sepuluh partai politik dengan
indeks ENPP yang meningkat pula yakni 8,2.
Meningkatnya fragmantasi politik di DPR hasil Pemilu
2014 sangat terasa pada awal pemerintahan Presiden
Jokowi dan Jusuf Kalla. Kegaduhan pembahasan UU MD3
dan pemilihan ketua DPR misalnya, menjadi salah satu
bukti nyata dari tingginya fragmantasi politik di DPR. Dari
sinilah kemudian rangkain rekayasa pemilu yang dilakukan
melalui revisi UU Pemilu dengan meningkatkan besaran
parliamentary threshold tidak memiliki dampak yang
231
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat cukup
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih sistem
untuk memerintah.
signifikan
dalam menegaskan
pemerintahan
Pandangan
Hamdan
berkaitan dengan
apa kepartaian.
yang disampaikan
presidensial
dantersebut
menyederhanakan
sistem
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini patut
diperjuangkan,
(sumber:
hasil hitung
besaran
enpp
berdasarkanmengingat
jumlah
praktikkursi
selama
ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
DPR)
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.” Gagalnya ambang batas parlemen sebagai variabel
Memperkecil Besaran Daerah
Pemilihan
teknis
dari sistem
pemilu
menyederhanakan
sistem
Masih
berhubungan
dengan
temauntuk
akuntabilitas
keuangan politik,
Didik
kepartaian,
menjadi dalam
pembelajaran
penting
bagi para
Supriyanto
dan Lia Wulandari
tulisan berjudul
Transparansi
dan
pemangku
kebijakan
dalam
melakukan
revisi UU
Pemilu.
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana
Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
Sejauh
ini penyederhanaan
partai dalam
politikproses
di artikan
dengan
kampanye
adalah
salah satu hal penting
pemilu.
Dana
kampanye
diperlukanjumlah
oleh partai
politik
dan kandidatnya
untuk
dapat
mengurangi
partai
politik
di parlemen
dengan
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
232
vi
membatasi banyaknya partai politik yang memperoleh
kursi di DPR melalui ketentuan ambang batas. Padahal jika
merujuk studi politik kepartaian yang ada, penyederhanaan
partai politik ialah menyederhanakan konsentrasi kursi
di parlemen kedalam beberapa-beberapa partai politik,
dengan tujuan untuk menciptakan kursi mayoritas partai
politik di DPR, baik partai politik koalisi pengusung
pemerintahan maupun oposisi pemerintah. Untuk itu
rumus matematis indeks ENPP hadir untuk melihat jumlah
konsentrasi kursi partai politik.
Memperkecil besaran district magnitude dapat menjadi
salah satu cara relevan yang dapat digunakan untuk
menyederhanakan konsentrasi kursi partai politik dalam
rangka menciptakan sistem kepartaian pluralisme terbatas
dengan jumlah partai politik relevan tiga sampai dengan
lima partai politik di parlemen. Jika parlamentary threshold
berusaha untuk membatasi partai politik kecil meraih
kursi di DPR yang berdampak pada disproposionalitas
suara dan terbuangnya suara pemilih secara sia-sia.
Sedangkan ketentuan menurunkan besaran alokasi kursi
per daerah pemilihan berusaha untuk menciptakan ruang
persaiangan yang lebih ketat antara partai politik kecil
maupun besar untuk meraih suara terbanyak dalam rangka
meraih kursi yang jumlah kursi per daerah pemilihannya
lebih diperkecil. Dengan kata lain, semakin kecil besaran
dapil semakin sulit partai politik untuk meraih kursi di
parlemen. Sedangkan semakin besar alokasi kursi dalam
satu dapil semakin mudah bagi partai politik untuk meraih
kursi di parlemen.
233
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat olehKarena
politisisistem
dan pemerintah
yang terpilihdan
untuk
memerintah.
pemilu proposional
sistem
kepartaian
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan dengan
yang disampaikan
pluralisme
menjadi
keniscayaan
bagi apa
Indonesia,
maka
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
pilihan untuk menurunkan besaran alokasi kursi per
pada Tahun
Yunaberada
menjelaskan
Political
budget
daerahPemilu.”
pemilihan
pada bahwa
3-8 kursi
perdail
dan cycles
3-6
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
kursi perdapil. Meski demikian, dalam menentukan
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
besaran alokasi per daerah pemilihan terdapat beberapa
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
hal yang perlu dipertimbangkan yang salah satunya ialah
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
aspek representasi. Keterkaitan atau ikatan antara pemilih
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
dengan partai politik akan dimulai dari pembentukan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
daerah
pemilihan.
Aspekhanya
representasi
sendiricycles,
dapatmelainkan
dilihat
ini, yang
menjadi
perhatian tidak
political budget
dari
berbagaicycle
sudutatau
pandang
tidak
hanya
dibatasi
pada
political
corruption
siklus yang
korupsi
politik
pada
tahun-tahun
dukungan
terhadap partai politik. Tetapi
Pemilujumlah
yang telah
meningkatpemilih
dengan ekstrim.
dapat pula
melalui
presfektif
idoelogi
yang dibawa
Masyarakat
tidakdilihat
saja dapat
ditafsirkan
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
atau
ditawarkan
oleh
partai
politik
yang
ada
terhadap.
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
Jika dipetakan
kembali
paling perempuan
tidak terdapat
tigasalah
kutub
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
sebagai
satu
ideologi yang
hari
ini masih
dimiliki
syarat verifikasi
faktualpada
untuk
menjadi
peserta
pemilu.dan
UU tercantum
No. 8 Tahun
2012 menegaskan
politik
peserta
pemilu
harus memenuhi
dalam garissetiap
partaipartai
politik
yakni
ideologi
nasionalis,
agama,
30% keterwakilan
perempuan.Secara
Kondisilebih
ini patut
diperjuangkan,
mengingat
dan pembangunan.
jauh
pemetaan ini
dapat
praktikdilihat
selama melalui
ini, pihaktabel
yang duduk
baik
berikut
: di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
234
vi
Peta Ideologi Partai Politik
Nasionalis
PDIP : dengan
mengusung
ideologi
nasionalis dengan
menjungjung
tinggi Pancasila,
UUD 45,
dan ekonomi
kerakyatan.
Gerindra
: mengusung
ideologi nasionalis
pancasila
dengan ekonomi
kerakyatan.
Agama
PBB : mengusun
ideologi agama
islam dengan
ekonomi
kerakyatan.
Pembagunan
Demokrat:
mengusung ideologi
nasionalis religius
dengan ekonomi
kebangsaan tetapi
terbukan terhadap
ekonomi lainglobalisasi
PKS :
mengusung
ideologi islam
dengan ekonomi
kerakyatan.
Golkar: propasar
menitik beratkan
pasar bebas atau
ekonomi terbuka,
tetapi tetap
mencantumkan
ideologi pancasila.
Hanura :
mengusung
ideologi nasionalis
pancasila
dengan ekonomi
kerakyatan.
PAN :
mengusung ideologi
pancasila berakar
pada moral, agama,
kemanusian, dan
kemajemukan.
Dengan ekonomi
keryakyatan.
235
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Nasdem
PKB :
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
: mengusun
mengusung ideologi
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
ideologi pancasila agama (humanisme
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
dan cita-cita
religius) dengan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
orientasi
ekonomi
empiris proklamasi
di berbagai Negara. Berbagai
variabel
yang mempengaruhi politcal
dengan
ekonomi
kerakyatan.
budget cycles
seperti
perubahan
pola pada struktur anggaran baik secara
agregat kerakyatan.
maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
PKPI
:
dalam praktek
penganggaran
di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
mengusun
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yangideologi
menjadi nasionalis
perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
politicaldengan
corruption
cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
pancasila
Pemilu yang
telah meningkat
dengan ekstrim.
dan UUD
1945,
Masyarakat
saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
dengantidak
orientasi
juga perlu
dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
ekonomi
perempuan.
Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
kerakytan.
syarat verifikasi
faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
(Diadopsi dan diolah dari Sugiona & Mas’udi 2008: 1630% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
20 dan Setiwan & Naigolon (eds.) 2004)
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
klasifikasi
tersebut
lima partai
mayoritas Merujuk
diduduki pada
oleh laki-laki.
Apabila
tidakterdapat
diperjuangkan,
hal ini
politik yang
tergabung
nasionalis
antara
akan berdampak
negatif
terhadap kedalam
mandeknyakubu
aspirasi
perempuan
dalam
hukumlain:
dan pemerintahan.
Dan kondisi
tersebutNasdem,
telah ditulis
oleh PKPI.
Nindita
PDIP, Gerindra,
Hanura,
dan
Paramastuti
dalam tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
Sedangkan
pada kelompok
ideologi
agama teridiri
dari
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR
empat partai politik: PBB, PKS, PAN, dan PKB. PadaRI
2009.”sisi lain, dalam kutub ideologi pembangunan hanya
Masih
berhubungan
denganpolitik
tema akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
terdapat
dua partai
yakni Demokrat
dan
Golkar.
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
Ketiga ideologi tersebut tentunya dapat dimaknai dalam
Akuntabilitas
Dana
Kampanye,yang
menguraikan
dana
konsepPengelolaan
keterwakilan
masyarakat
tercerminbahwa
kedalam
kampanye
adalah
salah
satu hal
dalamdiproses
pemilu. Jika
Dana
tubuh
partai
politik
danpenting
parlemen
Indonesia.
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
dikontekstualisasikan dengan besaran dapil terkecil yakni
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
236
vi
3-6, pluralitas keterwakilan dari tiga ideologi tersebut
tentunya dapat terfasilitasi dengan asumsi paling tidak
setiap partai politik dari tiga ideologi tersebut mampu
memperoleh minimal dua kursi. Sehingga ketiga ideologi
yang mewakili pluralitas masyarakat dapat tercermin di
parlemen Indonesia.
Namun demikian, karena besaran dapil merupakan
arena persaingan antara partai politik untuk meraih suara
sebanyak-banyaknya dalam rangka memperoleh kursi
parlemen. Keberadaan minimal satu partai yang mewakili
ideologi tertentu untuk mendapat dua kursi, tentunya tidak
dapat dipastikan karena persaiangan antara partai politik
untuk memobilisasi massa dalam memperoleh suara tidak
dapat sepenuhnya di prediksi. Akan tetapi dengan adanya
besaran alokasi kuri 3-6 paling tidak sudah menyediakan
ruang pluralitas keterwakilan masyarakat yang tercermin
kedalam tiga ideologi partai politik tersebut.
Di samping itu, dengan adanya perubahan besaran
alokasi kursi per daerah pemilihan tentunya berdampak
langsung pada pembentukan dan batas-batasi wilayah
per daerah pemilihan yang selama ini sudah terbentuk
dalam 3-10 kursi. Jika pada Pemilu 2014 menghasilkan
77 daerah pemilihan untuk seluruh Indonesia, dengan
menggunakan besaran dapil 3-8 beserta 3-6 kursi, masingmasing menghasilkan 98 dan 121 daerah pemilihan. Secara
lebih spesifik berikut hasil simulasi pembentukan daerah
pemilihan:
237
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
No.
Provinsi
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
(3-10)
Besarn Dapil
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
(3-8)
Besaran Dapil
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
(3-6) fenomena universal didukung dengan berbagai studi
sudah menjadi
1
Jawa
Barat variabel yang 91
16
empiris di berbagai
Negara.
Berbagai
mempengaruhi politcal
2 seperti perubahan
Jawa Timur
87anggaran baik 14
budget cycles
pola pada struktur
secara
3
Tengah
12
agregat maupun
secaraJawa
spesifik
pada tahun-tahun77
Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek
di Indonesia
dengan5siklus
4 penganggaran
Sumatera
Utara yang berkaitan
30
3
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi
perhatian
tidak hanya political budget
5
Banten
22 cycles,
3 melainkan
4
political corruption
cycle
atau
siklus
korupsi
politik
pada
tahun-tahun
6
DKI Jakarta
21
3
4
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
7
Lampung
18
2
3
Masyarakat
dapat ditafsirkan
8 tidak saja
Sulawesi
Selatan sebagai
24satu kesatuan,
3
3tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
9
Sumatera Selatan
17
2
3
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
10
Riau
11
2
2
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
11
Sumatera Barat
14
2
2
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
12
Nusa
Tenggara
10
1
2
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Barat
praktik selama ini, pihak
yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
13
NTT
2
2 ini
mayoritas diduduki
oleh
laki-laki. Apabila tidak 13
diperjuangkan,
hal
14
Barat aspirasi
10 perempuan
1
2dalam
akan berdampak
negatifKalimantan
terhadap mandeknya
Aceh
13 ditulis2oleh Nindita
2
hukum dan15
pemerintahan.
Dan kondisi tersebut telah
Paramastuti16dalam tulisannya
Bali yang berjudul: “Perempuan
9
1dan Korupsi:
2
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
DPR
17
Papua
10
1
2 RI
2009.”
18
Kalimantan Timur
8
1
2
Masih berhubungan
dengan tema Selatan
akuntabilitas 11
keuangan2politik,2Didik
19
Kalimantan
Supriyanto 20
dan Lia Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
Jambi
7
1
1 dan
Akuntabilitas
21 Pengelolaan
DIYDana Kampanye, menguraikan
8
1 bahwa1 dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
22
Sulteng
6
1
1
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
238
vi
17
17
6
4
4
5
4
4
3
2
3
3
2
2
2
2
2
2
2
2
2
23
Sultra
5
1
1
24
Kalimantan Tengah
6
1
1
25
Sulut
6
1
1
26
Bengkulu
4
1
1
27
Kepri
3
1
1
28
Maluku
4
1
1
29
Sulbar
3
1
1
30
Babel
3
1
1
31
Maluku Utara
3
1
1
32
Gorontalo
3
1
1
33
Papua Barat
3
1
1
Total
560
77
(Hasil simulasi pembentukan dapil pada seluruh Provinsi
di Indonesia dengan menggunakan DAK)
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Meski jumlah daerah pemilihan jauh lebih banyak
dibandingkan jumlah daerah pemilihan 3-10 kursi,
besaran alokasi kursi 3-8 dan 3-6 jauh lebih kompetitif
yang tentunya berpengaruh pada konsentrasi kursi partai
politik di parlemen. Secara sederhana jika besaran alokasi
kursi 3-6 dibandingkan dengan 3-10, besaran alokasi kursi
3-6 jauh lebih kompetitif karena hanya terdapat maksimal
enam kursi dalam satu daerah pemilihan. Begitu pula
dengan besaran dapil 3-8 dengan 3-10, besaran alokasi kursi
3-8 jauh lebih kompetif dengan terdapat maksimal delapan
kursi dalam satu daerah pemilihan. Untuk memastikan hal
tersebut, simulasi pembentukan daerah pemilihan dengan
membandingkan besaran daerah pemilihan multi mamber
constituency dengan tiga varian besaran yakni 3-10, 3-8,
3-6 menjadi penting untuk dilakukan.
239
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat olehDengan
politisi dan
pemerintah yang
terpilih
untuk memerintah.
memanfaatkan
hasil
perolehan
suara partai
Pandangan
tersebut berkaitan
yang disampaikan
politik Hamdan
pada Pemilu
legislatifdengan
2014apasimulasi
untuk
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
perolehan kursi partai politik di hitung ulang kedalam tiga
pada Tahun
Political
budget
cycles
varianPemilu.”
alokasi Yuna
kursimenjelaskan
per daerah bahwa
pemilihan
yang
berbedasudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
beda. Selain itu, dalam proses konversi suara menjadi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
kursi dilakukan dengan empat formula penghitungan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
yang berbeda yakni formula kuota dengan kuota murni
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dan droop, serta formula divisior dengan d’hond beserta
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
webtser. Dengen tujuan untuk melihat perbandingan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
hasil
perolehan
dari political
masing-masing
partai
dan
ini, yang
menjadi
perhatiansuara
tidak hanya
budget cycles,
melainkan
dikontekstualiasikan
rumus
ENPP,
sehingga
political
corruption cycle atau kedalam
siklus korupsi
politik
pada tahun-tahun
terlihat
secara
langsung
Pemiludapat
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.sistem kepartaian yang
terbentuk.
Adapun
hasilditafsirkan
simulasi sebagai
penghitungan
perolehan
Masyarakat
tidak
saja dapat
satu kesatuan,
tetapi
kursi
dari
masing-masing
partai
dengan
besaran
alokasi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
kursi Seperti
perdapil
yangketerwakilan
berbedea-beda
dan dikombinasikan
perempuan.
halnya
perempuan
sebagai salah satu
dengan faktual
formula
penghtiungan
yang
berbeda
syarat verifikasi
untuk
menjadi peserta
pemilu.
UU No. adalah
8 Tahun
2012 menegaskan
setiap: partai politik peserta pemilu harus memenuhi
sebagai berikut
30% keterwakilan
perempuan.
patutPolitik
diperjuangkan, mengingat
Simulasi
PerolehanKondisi
Kursi ini
Partai
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
240
vi
Berdasarkan hasil simulasi dengan mengunakan
besaran alokasi kursi per daerah pemilihan dan formula
penghitungan yang berbeda-beda pula. Menghasilkan
perolehan kursi partai politik yang bervariatif antara
partai politik. Hasil perolehan suara ini tidak hanya dapat
digunakan untuk melihat seberapa jauh kemampuan
bersaing partai untuk meraih kursi parlemen dengan
besaran alokasi kursi yang berbeda-beda semata. Akan
tetapi data ini dapat digunakan pula untuk mengukur
indeks ENPP. Dengan kata lain, hasil indeks ENPP yang
ditimbulkan nantinya dapat menjadi salah satu indikator
serta alasan untuk memilih besaran alokasi kursi perdaerah
pemilihan yang tepat untuk menyederhanakan sistem
kepartaian dalam rangka menciptakan sistem pluralisme
terbatas.
Hasil Hitung ENPP
Formula
Besaran Daerah Pemilihan
3-10 Kursi
3-8 Kursi
3-6
Kursi
8,2
7,4
6,8
7,6
6,8
6,6
6.4
6,1
5,7
Kuota Hare
Kuota Droop
Divisor
D’Hond
Divisor Saint
8.08
7,2
6,6
Lague
Merujuk pada hasil indeks ENPP di atas, adanya pengaturan
ulang dan pengecilan besaran dapil memiliki korelasi secara
241
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakandengan
suatu upaya
untuk
menyelamatkan
kebijakan publik
yang akan
langsung
indeks
ENPP
yang ada. Semakin
kecil besaran
dibuatsemakin
oleh politisi
danpula
pemerintah
terpilih
untuk
memerintah.
dapil
kecil
indeks yang
ENPP.
Untuk
besaran
dapil 3-10
misalnya,
jikaHamdan
dikombinasikan
dengan
formula
penghitungan
Pandangan
tersebut berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
Yuna Farhan
“Menelusuri
Siklus Politisasi
kuota
murnimelalui
atau tulisannya
hare seperti
yang diterapkan
padaAnggaran
pada
pada Tahun
Pemilu.”
menjelaskan
bahwa 8.2.
Political
budget cycles
Pemilu
2014,
meraihYuna
besaran
indeks ENPP
Sedangkan
jika
sudah menjadi fenomena
dengankuota
berbagai
studi
dikombinasikan
dengan universal
formula didukung
penghitungan
droop,
empiris did’hondt
berbagaidan
Negara.
Berbagai
yang mempengaruhi
politcal
divisior
saint
lague variabel
masing-masing
meraih indeks
budget
cycles
seperti
perubahan
pola
pada
struktur
anggaran
baik
secara
ENPP sebesar 7.6, 6.4, 8.08. Begitu pula dengan varian besaran
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
daerah pemilihan lainnya seperti 3-8 dan juga 3-6 kursi per
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
daerah pemilihan. Pada varian 3-8 dengan menggunakan teknik
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
kuota hare dan droop berhasil meraih indeks ENPP sebesar 7.4
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
dan 6.8. Akan tetapi jika dikorelasikan dengan formula divisior
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
d’hondt
dan saint lague masing-masing meraih indeks ENPP
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
sebesar 6.1 dan 7.2. Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
daerah
pemilihan
lainnya,
jugaDibandingkan
perlu dibatasi dengan
mengingatbesaran
perbedaan
hakikat
antara laki-laki
dan
alokasi
kursi
3-6
kursi
meraih
indeks
ENPP
paling
rendah
yang
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
tentunya
berdampak
pada menjadi
penyederhanaan
sistem
syarat verifikasi
faktual untuk
peserta pemilu.
UUkepartaian.
No. 8 Tahun
Dengan
menggunakan
formula
kuota
indeks
ENPP
2012 menegaskan
setiap partai
politik
peserta
pemilu
harusmencapai
memenuhi
30% keterwakilan
iniuntuk
patut diperjuangkan,
angka
6.8 untuk perempuan.
kuota hare,Kondisi
dan 6.6
kuota droop. mengingat
Dengan
praktik
selama
ini, pihak yang
duduk
baikpolitik
di parlemen
maupun
pemerintah
kata
lain
menghasilkan
enam
partai
relevan
di DPR
untuk
mayoritas
diduduki
oleh
laki-laki.
Apabila
tidak
diperjuangkan,
hal ini
menghasilkan kebijakan dan masih tergolong kedalam sistem
akan berdampak
negatifekstrim.
terhadap Sedangkan
mandeknya aspirasi
dalam
kepartian
pluralisme
denganperempuan
menggunakan
hukum dan
pemerintahan.
Dan kondisi
tersebut
telah
ditulis 5.7
olehuntuk
Nindita
metode
divisor
menghasilkan
indeks
ENPP
sebesar
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
varian d’hond dan 6.6 untuk varia siant lague. Sehingga, jika
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
memang semangat yang dibawa untuk meredam fragmantasi
2009.”
politik dan menyederhanakan sistem kepartain dalam rangka
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
menciptakan pluralisme terbatas dengan jumlah partai politik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
tiga sampai lima di DPR. Maka besaran alokasi kursi 3-6 dengan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
formula penghitungan divisor merupakan pilihan yang tepat
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
dalam rangka melakukan rekayasa sistem pemilu melalui revisi
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
UU
kepemiluan.
berkompetisi
di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
242
vi
Kesimpulan
Mempekecil besaran district magnitude atau alokasi kursi
per daerah pemilihan menjadi salah satu variabel teknis dan
langsung dari sistem pemilu yang relavan untuk digunakan
dalam rangka menyederhanakan sistem kepartaian di Indonesia.
Sejauh ini, penyederhanaan sistem kepartaian dimaknai dengan
mengurangi jumlah partai politik di DPR yang salah satu caranya
melalui peningkatan besaran parliamentary threshold. Tetapi,
pada realitasnya dari dua pemilu yang sudah dilewati dengan
besaran ambang batas parlemen yang berbeda-beda tidak mampu
menciptakan sistem kepartaian pluralisme terbatas dengan
indeks effective number of parties parliament (ENPP) diatas
enam, yang terkategorisasi sebagai sistem pluralisme ekstrim.
Padahal, penyederhanaan sistem kepartaian yang seutuhnya
ialah menicptakan konsentrasi perolehan kursi kepada sedikit
partai politik dengan tujuan meredam tingkat fragmantasi
politik di parlemen yang berpengaruh terhadap efektifitas
penyelenggaraan sistem pemerintahan presidensialisme di
Indonesia.
Merujuk pada hasil simulasi yang sudah dilakukan, besaran
alokasi kursi 3-6 per daerah pemilihan yang dikombinasikan
dengan formula penghitungan divisor mampu mendorong
terciptanya sistem kepartaian pluralisme terbatas, dengan
besaran indeks ENPP 5.7 jika menggunakan formula D’hond
dan 6.6 jika menggunakan formula Saint Lague. Selain mampu
meminimalisir disiproposionalitas suara dan terbuangnya suara
partai-partai kecil secara sia-sia melalui penerapan ambang
batas. Ketentuan memperkecil district magnitude mampu
memfasilitasi representasi politik antara warga negara dengan
partai tiga karakter ideologi partai yakni agama, nasionalis, dan
pembangunan.
243
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
Referensi
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
Ambardi,
K. (2009).
Mengungkap
Politik
Kartel
. Jakarta:
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
KPG.
Yuna
Farhan
melalui tulisannya
Siklus).Politisasi
Didik
Supriyanto
& August“Menelusuri
Mellaz . (2011
AmbangAnggaran
Batas
pada
Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
Perwakilan . Jakarta : Perludem.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
Fiorina. (1996). Devided Government 2nd Edition. Boston :
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Allyn
and Bacon .
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Khoirunnisa
Agustiyati,
Lia tahun-tahun
WulandariPemilu,
dkk terkonfirmasi
. (2013).
agregat
maupun secara
spesifik pada
Menetapkan
Perebutan
Kursi DPRD:
Penerapan
Prinsip
dalam praktek Arena
penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan
siklus
Pemilu 2009 ataupun
Pemilu 2014.
Melihat
perkembangan
saat
Demokratis
dalammenjelang
Pembentukan
Daerah
Pemilihan
DPRD
ini,
yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota Pemilu 2014. Jakarta:
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Perludem.
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Laakso & Taagepera . (1979). Effective Number of Parties:
Masyarakat
tidak
saja dapattoditafsirkan
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
A Measure
with
Aplication
West Eropa
. dalam
Comparative
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
Political Studeis .
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
Lijphart, A. (1992). Parliamentary Versus Presidential
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
Government.
Oxford:
University
Press.
2012 menegaskan
setiapOxford
partai politik
peserta
pemilu harus memenuhi
LIPI.
(2014). perempuan.
Position Paper
LIPI
Pemilu
Serentak Nasional
30%
keterwakilan
Kondisi
ini patut
diperjuangkan,
mengingat
praktikJakarta
selama ini,
pihak
yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
2019.
: LIPI
Press.
mayoritas
diduduki
oleh
Apabila
diperjuangkan,
hal ini
Mellaz, D. S. (2011).laki-laki.
Ambang
Batastidak
Perwakilan.
Pengaruh
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Parliemantary
Threshold Terhadap Penyederhaan Sistem
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Kepartaian dan Proporsionalitas Hasil Pemilu. Jakarta: Perludem.
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Nuryanti, S. (2006). Analisis Proses dan Hasil Pemilihan
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
Kepala
2009.” Daerah Langsung 2005 di Indonesia. Jakarta: LIPI Press.
P
Kartawidjaja
& Sdengan
Pramono
. (2009 ). Akal-Akalan
Daerah
Masih
berhubungan
tema akuntabilitas
keuangan politik,
Didik
Pemilihan
. Jakarta
: Perludem
. tulisan berjudul Transparansi dan
Supriyanto dan
Lia Wulandari
dalam
Akuntabilitas
Pengelolaan
Kampanye,
dana
Pamungkas,
S. (2009).Dana
Perihal
Pemilu menguraikan
. Yogyakarta bahwa
: Jurusan
kampanye
salah satuUGM
hal penting
dalam proses pemilu. Dana
Politik
danadalah
Pemerintahan
.
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
Rae, D. W. (1967). The Political Consequences of Electoral
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
Laws. New Haven and London: Yale University Press.
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
244
vi
Rekapitulasi
Elektronik: Langkah
Strategis dalam
pengembangan
Teknologi Pemilu di
Indonesia
Diah Setiawaty dan Sebastian Vishnu
Abstrak
The development of election technology in Indonesia
continue to evolve along with the well development of
Indonesia digital era. An attempt towards e-recapitulation
started in 2004 when the General Election Comission
(KPU) uploaded the result of every voting station from the
district committee to the center in Jakarta. It continues in
2009 and has been a great success in Presidential election
2014. The result was tremendous, not only it created
transparency, credibility and legitimacy. It also triggered
a lot of public participation by the flowering of civic-tech
initiative. However there were still a nagging problem on
the hierarchical recapitulation voting result from KPPS
(village level), PPK (regent level), KPU Kab (city level),
KPU Provinsi (provinsial level) and KPU Pusat ( national
level),from the inicial voting to the official result. It is not
245
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat only
oleh politisi
pemerintah
yang energy
terpilih untuk
takes dan
a lot
of time and
to domemerintah.
counting and
Pandangan
Hamdanprocess
tersebutfor
berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
recapitulation
the biggest
one-day
–election
in
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
the world but also prompt to manipulation and electoral
pada Tahun
Pemilu.”One
Yuna
bahwa Political
budget cycles
malpractice.
ofmenjelaskan
the way to increase
the performance,
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
professionality, and election result management through
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
the use of election technology is by using electronic
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
recapitulation (e-recap). This research elaborates the
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
urgency and alternative to advance the use of election
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
technology in Indonesia particularly e-recapitulationto
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
change
the
way EMB’s
work political
and create
a more
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak hanya
budget
cycles,practical
melainkan
and
time-efficient
solution
for
the
election
administration.
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang
telah kunci:
meningkat dengan
ekstrim.
Kata
e-recapitulation,
teknologi, pemilu,
Komisi Pemilihan
Umum,
rekapitulasi,
Masyarakat
tidak saja dapat
ditafsirkan
sebagaielektronik.
satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
Pemilihan umum di Indonesia dilaksanakan dengan
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
menggunakan asas-asas secara langsung, umum, bebas,
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
rahasia, jujur, dan adil (luber dan jurdil) yang dilakukan
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
setiap lima tahun sekali. Hal ini sesuai dengan Pasal 22E
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
ayat (1) UUD 1945 yang berlaku di semua pemilu baik
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
(memilihDan
anggota
DPD,
Provinsi,
hukumlegislatif
dan pemerintahan.
kondisiDPR,
tersebut
telahDPRD
ditulis oleh
Nindita
dan
DPRD
Kabupaten/Kota),
pemilu
presiden
(memilih
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
presiden
dan wakil
presiden),
sertadalam
pilkada
(memilih
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
Pemilu
DPR RI
2009.”gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati,
Pengantar
serta
walikota dan
wakil
walikota).
Masih
berhubungan
dengan
tema
akuntabilitas keuangan politik, Didik
SupriyantoSayangnya
dan Lia Wulandari
dalam
tulisan
berjudul Transparansi
dan
dalam berbagai
pengalaman
dan praktek
Akuntabilitas
Pengelolaan
bahwa dana
pelakanaan
pemiluDana
pascaKampanye,
Perubahanmenguraikan
UUD 1945, penerapan
kampanye
salah tersebut
satu hal penting
dalam
proses
pemilu.
Dana
asasadalah
luber jurdil
seringkali
tidak
berjalan
dengan
kampanye
diperlukan
partaikealpaan,
politik dankesalahan,
kandidatnya
untuk dapat
maksimal,
baikoleh
karena
kecurangan,
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
246
vi
maupun kejahatan. Kealpaan dan kesalahan (human error)
sering terjadi karena sifat dari pekerjaan penyelenggara
yang rumit berkelindan dengan kurangnya kemampuan
dan keahlian dari sumber daya manusia yang ada (petugas
pemilu di lapangan). Akibatnya kerap terjadi kesalahan
teknis dalam menata pemungutan suara, menulis hasil
penghitungan suara, bahkan menjumlah hasil rekapitulasi
penghitungan suara. Sedangkan kecurangan dan kejahatan
( muncul karena rendahnya etika peserta pemilu dalam
mengejar kemenangan dan rendahnya integritas petugas
pemilu.
Menurut Prof. Ramlan Surbakti (Surbakti :2015)
setidaknya terdapat empat permasalahan utama dalam
pelaksanaan pemiliha umum di Indonesia antara lain 1)
Pemilihan umum proporsional dengan daftar calon terbuka
yang digunakan dalam pemilihan umum anggota DPR dan
DPRD merupakan sistem yang kompleks dan terdapat
banyak pelanggaran pemilu ; 2) Kalender pemilihan
umum tidak mendukung pemerintah presidential dan
pemerintahan daerah yang efektif ; 3) Proses rekapitulasi
hasil penghitungan suara masih melalui banyak tingkatan
; 4) Masyarakat sebagai pemberi suara belum dapat
menentukan pilihan secara cerdas
Berbagai hal tersebut diatas mengakibatkan kerap
terjadi malpraktek dalam pemilu mulai dari penyembunyian
surat suara, penghentian pemungutan suara, manipulasi
penghitungan suara di TPS, dan mengubah hasil
rekapitulasi penghitungan suara. Sebagai konsekuensi
dari kealpaan, kesalahan, kecurangan, maupun kejahatan
247
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat adalah
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
sengketa
hasil pemilu
dan atau
hasil
pemilu yang
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan dengan
yang disampaikan
selalu diragukan
kebenarannya.
Oleh apa
karena
itu demi
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
menjaga prinsip luber dan jurdil maka kehadiran teknologi
pada Tahun
menjelaskan
bahwa Political
budget
cycles
dalamPemilu.”
proses Yuna
pemilu
sangat diperlukan.
Bahkan
dalam
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
pemilu yang melibatkan banyak pemilih dengan sistem
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
pemilihan rumit seperti di Indonesia, kehadiran teknologi
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
menjadi sebuah keharusan. Teknologi disinyalir dapat
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
menghindari kealpaan dan kesalahan yang dilakukan
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
petugas, serta mengantisipasi kecurangan dan kejahatan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
yang
dilakukan
peserta
petugas.
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak dan
hanya
political budget cycles, melainkan
Bentuk teknologi
pemilu
bermacam-macam,
lewat
political corruption
cycle atau
siklus pun
korupsi
politik pada tahun-tahun
Pemilurekapitulasi
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.
elektronik,
e-recapitulation,
teknologi bisa
memfasilitasi
rekapitulasi
penghitungan
setelah
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan
sebagai satusuara
kesatuan,
tetapi
suaradibatasi
dihitung
di TPSperbedaan
secara cepat
danantara
akurat.
Melalui
juga perlu
mengingat
hakikat
laki-laki
dan
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
perempuan teknologi
sebagai salahbisa
satu
penghitungan
elektronik
(e-counting),
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
melakukan penghitungan suara di TPS secara akurat
2012 menegaskan
setiapBahkan
partai politik
peserta
pemiluteknologi
harus memenuhi
dan cepat pula.
melalui
e-voting,
dapat
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
memfasilitasi pemungutan suara secara online yang
praktikhasilnya
selama ini,
pihak
yang duduk
baik di parlemen maupun pemerintah
bisa
segera
diketahui.
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Sementara itu, perkembangan teknologi di Indonesia
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
telah melonjak pesat, tidak hanya hanya sebatas pada
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
pemungutan
dan penghitungan
suara,
tetapi juga
dalam
Paramastuti
dalam tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
fase-fase
persiapan
dan evaluasinya.
Di dalam
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi dalam
Pemilu hal
DPRiniRI
2009.”teknologi dapat membantu perencanaan dan pemantauan
pengiriman
surat
suara
keakuntabilitas
seluruh TPS
sehingga
kasusMasih
berhubungan
dengan
tema
keuangan
politik,
Didik
kasus
surat
suara belum
sampai
pada
hari H,
surat suara
Supriyanto
dan
Lia Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
rusak, Pengelolaan
dan surat tertukar,
bisa dihindari.
Teknologi
Akuntabilitas
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwajuga
dana
bisa adalah
diterapkan
pendaftaran
pemilih
sehingga
setiap
kampanye
salahdalam
satu hal
penting dalam
proses
pemilu.
Dana
pemilih
bisa memastikan
apakah
sudah
masuk
kampanye
diperlukan
oleh partai politik
dannamanya
kandidatnya
untuk
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
248
vi
dalam daftar pemilih atau belum. Penggunaan teknologi
dalam kampanye juga membantu peserta pemilu untuk
menawarkan visi misi dan program serta profil calon,
sehingga mereka dapat mempengaruhi pemilih dalam
memberikan suara, sebaliknya pemilih memiliki informasi
yang cukup tentang peserta sehingga tidak ragu dalam
memberikan suara.
Kehadiran teknologi dalam upaya menjaga prinsipprinsip pemilu demokratis sudah jamak dilakukan oleh
banyak negara. Sesuai dengan kerumitan sistem pemilihan
masing-masing banyak negara yang menggunakan
e-voting, e-counting, dan e-recapitulation. Mereka juga
memaksimalkan peran teknologi dalam pendaftaran
pemilih, kampanye, dan persiapan pemungutan suara.
Tidak hanya lembaga penyelenggara yang menggunakan
teknologi untuk melancarkan proses penyelenggaraan
pemilu, banyak lembaga pemantau pemilu yang
menggunakan teknologi untuk memantau ada tidaknya
pelanggaran dalam proses pemilu. Namun semua itu
didasari kesadaran bahwa kehadiran teknologi dalam
pemilu hanyalah sebagai alat bantu untuk menjaga prinsipprinsip pemilu demokratis sekaligus melancarkan proses
pemilu.
Penerapan e-racapitulation dalam
teknologi pemilu
Penggunaan teknologi dalam pemilu Indonesia
sesungguhnya bukan hal baru. Karena berbagai masalah
yang selalu berulang terkait mekanisme pungut hitung
249
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat misalnya,
oleh politisi pada
dan pemerintah
yang terpilih
Pemilu 2004,
KPU untuk
sudahmemerintah.
mengenalkan
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan
dengan apaDiyangsini
disampaikan
penghitungan
teknologi
informasi.
hasil
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
penghitungan suara di setiap TPS (Formulir C-1) diinput
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna menjelaskan
bahwa
Political
budget cycles
melalui
komputer
di Sekretariat
PPK
lalu dikirim
ke
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
data base KPU di Jakarta. Dalam jangka dua pekan hasil
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
penghitungan ini mencapai 80% dari seluruh suara
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
yang masuk. Penghitungan teknologi informasi ini
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
memang tidak menjadi dasar hukum dalam menetapkan
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
perolehan suara dan kursi partai politik dan calon, namun
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
kehadirannya
bisatidak
menjadi
alat kontrol
penghitungan
ini, yang
menjadi perhatian
hanya political
budget cycles,
melainkan
manual
berjenjang
dari
TPS,
PPS,
PPK,
KPU
kabupaten/
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
KPU meningkat
provinsi, dan
KPU.
Penghitungan menggunakan
Pemilukota,
yang telah
dengan
ekstrim.
teknologi
informasi
juga mampu
hasrat
Masyarakat
tidak
saja dapatitu
ditafsirkan
sebagaimemenuhi
satu kesatuan,
tetapi
ingin
tahu
masyarakat
atas
hasil
pemilu.
Sementara
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
itu,dengan
berbeda perempuan
pada Pemilu
2009,
KPU
perempuan.
Seperti teknologi
halnya keterwakilan
sebagai
salah
satu
juga melakukan
rekapitulasi
syarat verifikasi
faktual untuk
menjadi penghitungan
peserta pemilu. suara.
UU No.Namun
8 Tahun
2012 menegaskan
setiaptidak
partaimaksimal.
politik peserta
pemilu harus
memenuhi
hasilnya masih
Rekapitulasi
elektronik
30% keterwakilan
perempuan.
inidalam
patut diperjuangkan,
berhenti pada
angka Kondisi
30% di
suara dalammengingat
pemilu
praktiklegislatif.
selama ini, Hal
pihakini
yang
duduk baik
di parlemen
maupun
pemerintah
menjadi
sebuah
preseden
buruk
yang
mayoritas
diduduki
oleh
laki-laki.
Apabila
tidak
diperjuangkan,
hal ini
kemudian membatalkan pengunaannya e-recap dalam
akan berdampak
negatif terhadap
mandeknya
aspirasi
perempuan
dalam
pemilu presiden.
Tentu saja
dalam hal
ini kerugian
Negara
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
tidak terhindarkan.
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Menjelang Pemilu 2014, KPU
mempersiapkan
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
penggunaan teknologi secara sungguh-sungguh. Meskipun
2009.”
undang-undang pemilu tidak memberi dasar hukum
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
yang kuat, KPU menyadari penggunaan teknologi dapat
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
membantu
prosesDana
pelaksanaan
pemilu secara
luber
Akuntabilitas
Pengelolaan
Kampanye, menguraikan
bahwa
dana
dan
jurdil.
KPU
juga
menyadari
pemanfaatan
teknologi
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
mampu
meningkatkan
pelayanan
KPU
kepada peserta
kampanye
diperlukan
oleh partai
politik dan
kandidatnya
untuk dan
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
250
vi
pemilih. Oleh karena itu KPU menyempurnakan Sistem
Informasi Pendaftaran Pemilih (Sidalih) dan Sistem
Informasi Logistik (Silog) yang sudah dirintis dalam
pemilu sebelumnya. KPU juga membuat Application
Programming Interface (API) KPU, Sistem Informasi
Partai Politik (Sipol), dan Sistem Informasi Penghitungan
Suara (Situng).
Situng yang dibuat berdasarkan hasil evaluasi sistem
serupa pada Pemilu 2004 dan Pemilu 2009, akhirnya
tidak diluncurkan ke publik. Demikian juga terdapat
beberap penolakan terhadap Sipol oleh partai politik
karena dianggap tidak kuat dasar hukumnya. maka peran
Situng digantikan dengan model penerapan teknologi
internet yang lebih sederhana tetapi akurasinya terjamin.
Tidak ada penghitungan suara, namun masyarakat luas
bisa menghitung sendiri. Caranya dengan memindai hasil
penghitungan suara di TPS (Formulir C- D1) lalu hasil
pindaian itu dipublikasikan melalui laman KPU (www.kpu.
go.id). Keputusan KPU untuk mempublikasikan Formulir
C-1 ini mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat, juga
peserta pemilu. Dengan cara demikian, KPU tidak hanya
menedepankan prinsip tranpraransi dalam penghitungan
suara, tetapi juga memungkinkan setiap orang untuk
mengecek kebenaran hasil penghitungan suara di setiap
TPS.
Publikasi hasil pindaian Formulir C-1 inilah yang
mengundang partisipasi masyarakat untuk ikut mengecek
kebenaran pindaian Formulir C-1 menghitung perolehan
suara sehingga memperoleh sendiri hasil hitungan yang
251
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat akurat.
oleh politisi
dan pemerintah
terpilih untuk
memerintah.
Banyak
kelompokyang
masyarakat
yang
menghitung
Pandangan
HamdanFormulir
tersebut berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
hasil pindaian
C-1, yang
menonjol
di antaranya
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
adalah KawalPemilu. Hasil penghitungan KawalPemilu
pada Tahun
Pemilu.” Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
dkk kemudian
menjadi
pembanding
dengan
hasil
hitungan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
resmi KPU. Hasil itu juga yang bisa meredakan simpang
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
siur hasil hitungan cepat yang dilakukan oleh lembagabudget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
lembaga survei.
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
Terlepas
dari berbagai
keberhasilan
terkaitdengan
publikasi
dalam praktek
penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
siklus
pindaian
formulir
C-1,
namun
sampai
sejauh
ini
penggunaan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
teknologi
dalam pemilu
belum
memiliki
landasan
hukum
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya
political
budget
cycles, melainkan
yang
memadai.
Hal
inisiklus
tidak korupsi
saja ditandai
political
corruption
cycle
atau
politik oleh
pada penolakan
tahun-tahun
Pemilupartai
yang telah
meningkat
dengan ekstrim.
politik
atas penggunaan
Sipol oleh KPU, tetapi juga
oleh kontroversi
(rencana)
penggunaan
teknologi
dalam
Masyarakat
tidak saja dapat
ditafsirkan
sebagai satu
kesatuan,
tetapi
pemilu,
khususnya
dalam
pemungutan
penghitungan
juga perlu
dibatasi
mengingat
perbedaan
hakikatdan
antara
laki-laki dan
perempuan.
halnya
keterwakilan
sebagaiteknologi
salah satu
suara.Seperti
Belajar
dari
kegagalanperempuan
penggunaan
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
penghitungan suara pada Pemilu 2009 dan keberhasilan
2012 menegaskan
setiap partai politik
pemilu harus
memenuhi
teknologi pemindaian
dalampeserta
penghitungan
suara
pada
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
Pemilu 2014, maka diperlukan pertimbangan yang masak
praktikuntuk
selamamelakukan
ini, pihak yangpertimbangan
duduk baik di parlemen
maupun
pemerintah
teknologi.
Oleh
karena
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
itu penggunaan teknologi dalam pemilu selama ini perlu
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
dievaluasi secara menyeluruh guna merumuskan kebijakan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
yang tepat, bahwa kehadiran teknologi dalam pemilu
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
merupakan solusi, bukan sebaliknya.
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.” Penting bagi teknologi pemilu, untuk memperhatikan
berbagai
aspek dengan
hukumtema
sebagaimana
diatur
dalam
undangMasih
berhubungan
akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
undang
pemilu,
tetapi
jugatulisan
harusberjudul
mempertimbangkan
Supriyanto
dan Lia
Wulandari
dalam
Transparansi dan
aspek lain:
kondisiDana
geografis,
sosialmenguraikan
budaya, politik,
Akuntabilitas
Pengelolaan
Kampanye,
bahwa dan
dana
ekonomi.
yang
berbeda-beda
antara
kampanye
adalah Kondisi
salah satugeografis
hal penting
dalam
proses pemilu.
Dana
daerah
pantai,olehdaratan,
pegunungan,
dan kepulauan
kampanye
diperlukan
partai politik
dan kandidatnya
untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
252
vi
mengharuskan teknologi mampu mengatasinya. Tingkat
pendidikan dan kebiasaan hidup yang berbeda-beda antara
kelompok masyarakat harus mampu diatasi oleh jenis
teknologi yang dipilih. Aspek politik lebih menekankan
kepada munculnya kepercayaan partai politik dan politisi
terhadap teknologi yang dipilih. Sedangkan aspek ekonomi
memperhatikan faktor anggaran, karena penggunaan
teknologi jika tidak hati-hati justru akan menimbulkan
pembengkakan biaya.
Selain itu sebagaimana yaninternasional yang
mempelajari penerapan teknologi dalam pemilu, terdapat
sejumlah prinsip penerapan teknologi dalam pemilu: (1)
ditentukan berdasarkan pertimbangan yang holistik, (2)
antisipatif terhadap dampak, (3) menjaminan transparansi
dan kepastian etik, (3) jaminan keamanan, (4) lulus uji dan
memberikan keyakinan terkait tingkat akurasi hasil, (5)
kepastian privasi, (6) kepastian inklusivitas, (7) berbiaya
efektif, (8) efisien, (9) keberlanjutan, (10) fleksibel dan
mampu beradaptasi dengan regulasi, serta (10) ramah
pengguna dan dapat dipercaya.
Permasalahan dalam Metode
Pemberian Suara dan Proses
Penghitungan Suara
Pemungutan suara adalah inti dari pemilu. Sebab, di
sinilah, di dalam bilik suara, pemilih memberikan suaranya
kepada partai politik atau calon yang mereka percaya.
Proses memilih butuh waktu hanya satu sampai lima
menit, namun pertimbangannya bisa sudah berlangsung
253
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat lama.
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
Dampak
yang diharapkan
pun
akan
panjang ke
Pandangan
Hamdan tersebut
berkaitan
yangpolitik
disampaikan
depan. Pengetahuan
yang
cukup dengan
tentangapa
partai
dan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
calon, dapat mendorong pemilih bersikap rasional dalam
pada Tahun
Pemilu.” suara.
Yuna menjelaskan
bahwa Political
budget
cycles
memberikan
Namun hubungan
emosional
antara
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
partai politik dan calon dengan pemilih juga menjadi faktor
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
lain yang menentukan.
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Rae (1967)
dua jenis metode
agregat maupun
secara membedakan
spesifik pada tahun-tahun
Pemilu, pemberian
terkonfirmasi
suara:
kategorial
dan
ordinal.
Pada
metode
kategorial,
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan
siklus
pemilih
hanya
dibolehkan
memilih
salah
satu
dari
partai
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
politik
atau
calon yang
pada surat
suara;
sedangkan
ini, yang
menjadi
perhatian
tidaktertera
hanya political
budget
cycles,
melainkan
pada
metodecycle
ordinal,
pemilih
dibolehkan
memilih
lebih
political
corruption
atau siklus
korupsi
politik pada
tahun-tahun
Pemiludari
yangsatu
telahdari
meningkat
partai dengan
politikekstrim.
atau calon yang terdapat pada
surat suara.
jenissebagai
pemberian
suara akan
Masyarakat
tidak Masing-masing
saja dapat ditafsirkan
satu kesatuan,
tetapi
berpengaruh
terhadap perbedaan
perilaku pemilih
hasil
pemilu.
juga perlu
dibatasi mengingat
hakikat dan
antara
laki-laki
dan
perempuan.
Seperti
halnya
sebagai
salah satu
Tentang
hal ini
bisaketerwakilan
dibaca padaperempuan
bagian sistem
pemilu.
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
Tahun
Sejak Pemilu 1955, hingga Pemilu 2014, baik 8untuk
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
pemilu legisaltif maupun eksekutif, metode yang dipakai
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
sama. Pertama, penghitungan suara di TPS, yaitu dengan
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
cara membuka satu per satu surat suara yang telah dicoblos
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
pemilih, lalu menera satu per satu perolehan suara partai
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
politik atau calon pada papan besar (Formulir Plano) dan
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Formulir
Prosesyang
penghitungan
suara tidak
hanya
Paramastuti
dalamC-1.
tulisannya
berjudul: “Perempuan
dan Korupsi:
diikutiPerempuan
oleh petugas
dan saksi,
tetapidalam
juga Pemilu
terbukaDPR
bagiRI
Pengalaman
Menghadapi
Korupsi
2009.”masyarakat, pemilih, dan pemantau.
Kedua, rekapitulasi
hasil
penghitungan
suara
secara
Masih berhubungan
dengan tema
akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
berjenjenjang,
dari PPS,
PPK,berjudul
ke KPU
kabupaten/
Supriyanto
dan Lia Wulandari
dalamketulisan
Transparansi
dan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
bahwahasil
dana
kota, ke
KPU provinsi,
dan ke menguraikan
KPU. Di sini
kampanye
adalah salah
satudihal
penting
dalamC-1)
proses
pemilu.
Dana
penghitungan
suara
TPS
(Formulir
direkap
di PPS,
kampanye
oleh partai
dan direkap
kandidatnya
untukhasil
dapat
hasildiperlukan
penghitungan
suarapolitik
di PPS
di PPK,
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
254
vi
penghitungan suara PPK direkap di KPU kabupaten/kota,
hasil penghitungan suara KPU kabupaten/kota direkap di
KPU provinsi, dan hasil penghitungan suara KPU provinsi
direkap di KPU. Tentu saja untuk pemilu anggota DPRD
kabupaten/kota dan pilkada bupati/walikota rekapitulasi
berhenti di KPU kabupaten/kota, pemilu anggota DPRD
provinsi dan pilkada gubernur rekapitulasi berhenti di
KPU provinsi. Hanya pada pemilu anggota DPR, DPD,
serta pemilu presiden, rekapitulasi berlanjut sampai KPU.
Hasil rekapitulasi penghitungan suara pemilu anggota
DPRD kabupaten/kota dan pilkada bupati/walikota lalu
ditetapkan KPU kabupaten/kota sebagai hasil pemilu,
yang diikuti penetapan calon terpilih berdasarkan formula
perolehan suara dan penetapan calon terpilih. Demikian
juga hasil rekapitulasi penghitungan suara pemilu DPRD
provinsi dan pilkada gubernur ditetapkan KPU provinsi
sebagai hasil pemilu, yang diikuti penetapan calon terpilih
berdasarkan formula perolehan kursi dan penetapan calon
terpilih. Hal yang sama juga terjadi pada pemilu anggota
DPR, DPD, dan pemilu Presiden. Hasil rekapitulasi
nasional ditetapkan sebagai hasil pemilu, lalu diikuti
penetapan calon terpiih berdasarkan formula perolehan
kursi dan penetapan calon terpilih.
Penghitungan suara berjenjang, mulai dari TPS,
rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS, PPK, KPU
kabuaten/kota, KPU provinsi, dan KPU, memerlukan
waktu lama. Hasil pemilu baru bisa diumumkan tiga
sampai empat pekan atau satu bulan. Di sinilah kehadiran
teknologi diperlukan untuk mempercepat proses
255
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat penghitungan
oleh politisi dan suara
pemerintah
yang terpilih
agar semua
pihakuntuk
yangmemerintah.
terlibat dalam
Pandangan
tersebut
berkaitanhasilnya.
dengan apa
yang disampaikan
pemilu Hamdan
secepatnya
mengetahui
Bukan
hanya itu,
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
penghitungan suara secara berjenjang membukaAnggaran
ruang
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
kecurangan dan manipulasi penghitungan suara, sehingga
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
hadirnya teknologi diharapkan mampu menutupnya.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009
ataupun menjelang
Pemilu
2014. Melihat
perkembangan
saat
Teknologi
yang secara
spesifik
dikembangkan
untuk
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
mengelola informasi disebut information technology
political
corruption
cycle
atau siklus
korupsi
politik
pada tahun-tahun
atau
teknologi
informasi
(TI).
Konsep
TI sering
dikaitkan
Pemiludengan
yang telah aktivitas
meningkat dengan
ekstrim.
komunikasi sehingga melahirkan
Kerangka Konseptual
Masyarakat
tidak saja dapat
sebagai satu
kesatuan,atau
tetapi
istilah information
andditafsirkan
communication
technology
juga perlu
dibatasiinformasi
mengingat dan
perbedaan
hakikat antara
dan
teknologi
komunikasi
(TIK). laki-laki
Menurut
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai salah
satu
Kundhishora
(2010)
TIK adalah
terminologi
generik
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
yang berarti teknologi digunakan untuk mengoleksi,
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
menyimpan, mereview dan mengedit serta berkomunikasi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
dalam berbagai bentuk. TIK memiliki karakter fleksibel
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
sehingga dapat diterapkan di berbagai ranah dan skala.
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Pada perusahaan TIK digunakan untuk meningkatkan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
pada
negaratersebut
TIK telah
digunakan
hukumproduktivitas,
dan pemerintahan.
Dan kondisi
ditulis olehuntuk
Nindita
mewujudkan
pemerintahan
yang
baik
(good
governance).
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Penggunaan
TIK dalam
pemerintahan
melahirkan
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi dalam
Pemilu konsep
DPR RI
2009.”open government.
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanyeSecara
adalah sederhana
salah satu electronic
hal penting voting
dalam atau
prosesyang
pemilu.
Dana
dikenal
kampanye
diperlukan
oleh
partai politik
kandidatnya
untuk
dapat
dengan
sebutan
e-voting
dapat dan
dimaknai
sebagai
sebuah
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
Pemungutan Suara Elektronik
(e-voting)
256
vi
cara pemungutan suara melalui teknologi atau mesin
pemungutan suara. Cenitkaya & Centikaya (2007, dalam
Darmawan, Nurhandjati, & Kartini 2014: 2) dalam studinya
menjelaskan “e-voting refers to the use of computers
or computerises voting equipment to cast ballots in an
election”. Penggunaan teknologi dalam proses pemungutan
suara pertama kali muncul pada tahun 1889 di Amerika
Serikat. Pada awalnya kehadiran e-voting dilatarbelakangi
oleh semakin maraknya manipulasi terhadap hasil pemilu.
Dengan kata lain e-voting hadir sebagai instrumen
untuk mencegah penggelembungan suara. Pada sisi lain
keberadaan teknologi dalam pemungutan suara ini di
anggap cenderung efektif dan efisien dengan berbagai
varian model (Nurhandjati, & Kartini: 2014).
Penghitungan Suara Elektronik
(e-counting)
Hampir serupa dengan electronic voting, electronic
counting merupakan proses penghitungan suara yang
dilakukan dengan mengggunakan teknologi informasi.
Melalui teknologi ini proses penghitungan suara dapat
dilakukan secara cepat, efektif, dan efisien. Salah satu
persoalan mendasar dalam pemilu di Indonesia ialah
sering kali terjadi penggelembungan suara dalam tahapan
rekapitulasi suara. Bagi beberapa pihak penerapan
e-counting merupakan salah satu solusi yang dapat
digunakan untuk meminimalisir hal tersebut.
Rekapitulasi suara elektronik
257
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
(e-recapitulation)
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
e-Rekapitulasi adalah cara penghitungan perolehan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
suara Pemilu.”
dengan Yuna
cara teknologi
informasi
sehingga
hasilnya
pada Tahun
menjelaskan
bahwa Political
budget
cycles
saat
itu
juga
bisa
langsung
sampai
di
pusat
data,
dalam
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
ini KPU
yangBerbagai
dikirimvariabel
langsung
dari TPS. E-recap
empirishal
di berbagai
Negara.
yang mempengaruhi
politcal
dari
tataanggaran
kelola baik
Pemilu,
budgetmerupakan
cycles seperti bagian
perubahan
polareformasi
pada struktur
secara
teknologi
elektronik
dalam
proses
agregatdengan
maupunmenggunakan
secara spesifik pada
tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
dalam rekapitulasi
praktek penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan
siklus
perolehan
suara Pemilu
di tiap
tempat
Pemilupemungutan
2009 ataupun menjelang
Pemilu 2014.
perkembangan
saat
suara. Program
ini Melihat
juga bisa
mengurangi
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak
hanya
political
budget
cycles,
melainkan
kesalahan-kesalahan yang terjadi akibat human error.
political
corruption cyclepenggunaan
atau siklus korupsi
politik pada tahun-tahun
Rekomendasi
E-Rekapitulasi
bertujuan
Pemiluuntuk
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
menghasilkan pemilu yang lebih kredibel, bersih,
Masyarakat
tidak murah
saja dapat
satu kesatuan,
tetapi
transparan,
danditafsirkan
mudah. sebagai
E-Rekapitulasi
memiliki
juga perlu
dibatasi
mengingat
perbedaan
hakikat pengiriman,
antara laki-laki
dan
peran
penting
yakni proses
pengolahan,
audit
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai
satu
dan penayangan
hasil
rekapitulasi
perolehan
suarasalah
pemilu
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
untuk masing-masing pos pemungutan suara (TPS).(Berita
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
BPPT:2014)
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Dasar
hukum Dan
juga
penting
menghindari
hukum dan
pemerintahan.
kondisi
tersebut untuk
telah ditulis
oleh Nindita
Paramastuti
dalam tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
kontroversi
setiap kali
penyelenggara
mengeluarkan
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam
Pemilu
perangkat berbasis teknologi. Pada Pemilu DPR
2004RI
2009.”misalnya, keputusan KPU untuk melakukan rekapitulasi
Dasar Hukum Penggunaan
Teknologi Pemilu
Masih
berhubungandengan
dengan tema
akuntabilitas
keuangan
politik,KPU
Didik
penghitungan
TI tidak
bersambut
baik. Meski
Supriyanto
dan
Lia
Wulandari
dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
berkali-kali menegaskan bahwa penghitungan dengan TI
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana
Kampanye,
menguraikan
bahwa
dana
hanyalah
alat kontrol
atas
rekapitulasi
penghitungan
suara
kampanye
adalah
salah satudari
halTPS,
penting
pemilu. Dana
manual
berjenjang
PPS,dalam
PPK,proses
KPU Kabupaten/
kampanye
diperlukan
oleh partaidan
politik
dan namun
kandidatnya
untuk dapat
Kota,
KPU Provinsi,
KPU,
kehadirannya
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
258
vi
tetap dipersoalkan karena dianggap mengacaukan
hasil rekapitulasi penghitungan suara resmi (manual).
Meskipun penghitungan suara dengan TI ini berhasil
memenuhi rasa ingin tahu masyarakat atas hasil pemilu,
namun hasil hitungannya tetap dicurigai sebagai rekayasa
penyelenggara untuk memenangkan peserta pemilu
tertentu.
Masalahnya menjadi lebih rumit ketika dengan
teknologi berbeda, KPU penyelenggara Pemilu 2009
gagal menunjukkan hasil penghitungan suara dengan TI.
Rekapitulasi penghitungan suara dengan teknologi ICR itu
gagal, karena jumlah suara yang terkumpul dalam pemilu
legislatif tidak sampai 30% sehingga tidak lagi dilanjutkan
dalam pemilu presiden. Kegagalan ini tidak hanya
menyebabkan biaya pengadaan perangkat hilang percuma,
tetapi juga tidak berfungsinya hasil penghitungan suara
dengan TI sebagai pengontrol hasil penghitungan suara
manual berjenjang. Hasrat masyarakat untuk segera
ingin tahu juga tidak terpenuhi. Untungnya masyarakat
mendapat gantinya dari hasil hitung cepat yang dilakukan
lembaga survei.
Yang lebih merugikan dampak dari kegagalan tersebut
adalah respons negatif para pembuat undang-undang
atas usulan untuk melegalkan rekapitulasi penghitungan
suara dengan TI ke dalam undang-undang. Mereka belum
percaya bahwa kehadiran teknologi dalam pemungutan
dan penghitungan suara dapat memperlancar proses
pemungutan dan penghitungan suara. Mereka tidak
percaya bahwa kehadiran teknologi benar-benar dapat
259
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat mewujudkan
oleh politisi danprinsip
pemerintah
yang terpilih
pemilu
luber untuk
jurdil,memerintah.
sehingga UU
Pandangan
Hamdan
tersebut
dengan apa yang
disampaikan
No 8/2012
sama
sekaliberkaitan
tidak menyinggung
penggunaan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
teknologi dalam pemungutan dan penghitungan suara.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Untungnya
MK
mempunyai
pandangan
lain
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
sehingga UU No 1/2015 juncto UU No 8/2008 yang
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
mengatur pilkada mengadopsi penggunaan teknologi
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
pemungautan
suara.
Apabila
agregatdalam
maupun
secara spesifik dan
pada penghitungan
tahun-tahun Pemilu,
terkonfirmasi
penggunaan
teknologi
dalam pemungutan
dalam implementasi
praktek penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan siklus
dan
penghitungan
suara
dalam
pilkada
berjalan
baik
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan
saat
dan
mendapat
kepercayaan
masyarakat,
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak hanya political
budgetmaka
cycles,pembuat
melainkan
undang-undang
mengatur
legislatif
dan
political
corruption cycle yang
atau siklus
korupsipemilu
politik pada
tahun-tahun
Pemilupemilu
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
presiden
akan
mengadopsinya.
Tanpa landasan
hukum tidak
di undang-undang,
penerapan
teknologi
dalam
Masyarakat
saja dapat ditafsirkan
sebagai satu
kesatuan,
tetapi
pemungutan
dan penghitungan
tidak
akan laki-laki
mendapat
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaansuara
hakikat
antara
dan
perempuan.
Seperti
halnyadan
keterwakilan
perempuan sebagai salah satu
kepastian
hukum
selalu dipersoalkan.
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu. UUmendorong
No. 8 Tahun
Putusan MK No 147/PUU-VII/2009
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
pembuat undang-undang untuk memasukkan ketentuan
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
penggunaan teknologi dalam tahapan pemungutan dan
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
penghitungan suara. Hal ini terlihat dari UU No 1/2015
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
juncto UU No 8/2015 yang mengatur penyelenggaraan
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
pilkada:
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Pasal
85 tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Paramastuti
dalam
Pengalaman
dalam
Pemilu
DPR RI
(1) Perempuan
Pemberian Menghadapi
suara untukKorupsi
Pemilihan
dapat
dilakukan
2009.”dengan cara:
Masih berhubungan
dengansatu
temakali
akuntabilitas
keuangan
politik, Didik
a. memberi tanda
pada surat
suara; atau
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
b. memberi suara melalui peralatan Pemilihan suara
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
secara elektronik.
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
98 oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
kampanyePasal
diperlukan
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
260
vi
(3) Dalam hal pemberian suara dilakukan dengan cara
elektronik, penghitungan suara dilakukan dengan cara
manual dan/atau elektronik.
Pasal 111
(1) Mekanisme penghitungan dan rekapitulasi suara
Pemilihan secara manual dan/atau menggunakan sistem
penghitungan suara secara elektronik diatur dengan
Peraturan KPU.
Dari tiga pasal yang mengatur penggunaan teknologi
informasi dalam pemungutan dan penghitungan suara
tersebut dapat ditarik kesimpulan: pertama, dalam
pemungutan suara, undang-undang pilkada memberi
alternatif untuk menggunakan e-voting, selain cara lama
mencoblos surat suara; kedua, ketika pemberian suara
dilakukan secara elektornik atau e-voting, penghitungan
suara dilakukan secara manual dan atau secara elektronik;
dan ketiga, ketentuan lebih lanjut tentang penghitungan
secara manual dan atau elektronik diatur melalui PKPU.
UU No 1/2015 juncto UU No 8/2015 menjadi landasan
hukum kuat untuk penggunaan teknologi informasi
dalam pemungutan dan penghitungan suara. Inilah pintu
masuk bagi penyelenggara pemilu untuk mempersiapkan
segala sesuatu yang terkait dengan penggunaan teknologi
informasi dalam pemungutan dan penghitungan suara.
Ingat perintah MK, bahwa penggunaan teknologi
informasi dalam pemungutan dan penghitungan suara
harus didahului kajian mendalam, serangkain uji coba,
serta kesiapan peralatan, petugas, dan masyarakat. Jadi
adanya ketentuan penggunaan teknologi informasi dalam
261
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat UU
olehNo
politisi
dan juncto
pemerintah
yang8/2015
terpilihtidak
untukbisa
memerintah.
1/2015
UU No
serta merta
Pandangan
Hamdanlangsung
tersebut berkaitan
dengan
apa yang disampaikan
penyelenggara
menerapkan
penggunaan
e-voting
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
atau e-counting.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Terhadap ketentuan Pasal 85 dan 98 UU No 1/2015 juncto
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
UU No 8/2015, sesungguhnya terdapat ketidaklogisan.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
Disebutkan bahwa dalam hal pemberian suara dilakukan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
elektonik
(e-voting),
maka penghitungan
suaranya
agregatsecara
maupun
secara spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu, terkonfirmasi
secara caradi manual
dan
atau
secaradengan
elektronik
dalam dilakukan
praktek penganggaran
Indonesia
yang
berkaitan
siklus
(e-counting).
Lazimnya,
pemberian
suara
secara
elektonik
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
(e-voting)
itu otomatis
diikutipolitical
penghitungan
suaramelainkan
secara
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya
budget cycles,
elektronik
karena
mesin
e-voting
langsung
political
corruption(e-caounting)
cycle atau siklus
korupsi
politik
pada tahun-tahun
Pemiludidesain
yang telahuntuk
meningkat
dengan ekstrim.
e-counting.
Jika e-voting lalu diikuti oleh
penghitungan
secara
justru
evektivitas
e-voting
Masyarakat
tidak saja
dapatmanual,
ditafsirkan
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
tidakdibatasi
termanfaatkan.
juga perlu
mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan.
Seperti halnya
sebagai salah
satu
Memang
Pasal keterwakilan
98 memberiperempuan
pilihan dihitung
secara
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
manual atau elektonik terhadap pemberian suara
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
elektronik. Tetapi ketentuan tersebut menyalahi logika
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
dan efektivitas penggunaan teknologi inforamsi, sebab
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
pemberian suara elektonik (e-voting) secara otomatis
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
diikuti penghitungan suara secara elektonik juga
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
(e-caounting) di dalam satu peralatan. Oleh karena itu ke
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
dalamdalam
pengertian
e-voting
sesungguhnya
sudahdan
termasuk
Paramastuti
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
Korupsi:
di dalamnya
e-counting.
Jadi,
undang-undang
mestinya
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam Pemilu
DPR RI
2009.”tegas dan jelas: jika pemberian suara dilakukan secara
elektonik
(e-voting),
penghitungan
suaranya
Masih
berhubungan
dengan maka
tema akuntabilitas
keuangan
politik,juga
Didik
dilakukan
elektronik
(e-counting),
karena kedua
Supriyanto
dan Liasecara
Wulandari
dalam tulisan
berjudul Transparansi
dan
fungsi tersebut
bisaDana
disatukan
dalammenguraikan
satu mesin elektronik
Akuntabilitas
Pengelolaan
Kampanye,
bahwa dana
(e-voting
suaraproses
secarapemilu.
elektronik
kampanye
adalahmachine).
salah satuJika
halpemberian
penting dalam
Dana
(e-voting)
lalu oleh
diikuti
penghitungan
suara secara
manual
kampanye
diperlukan
partai
politik dan kandidatnya
untuk
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
262
vi
berjenjang, maka tak hanya tidak logis dan tidak efketif,
tetapi juga bisa menimbulkan kekacauan.
Dengan demikian, jika penggunaan teknologi dalam
pemungutan dan penghitungan suara sudah diadopsi
undang-undang pemilu, maka akan terdapat kepastian
hukum bagi penyelenggara dan pemangku kepentingan
lainnya. Kepastian ini akan mendorong semua pihak untuk
mencari jenis teknologi yang tepat.
Pemilihan jenis teknologi apa yang hendak
digunakan dalam pelaksanaan tahapan pemilu merupakan
hal mendasar yang harus dibahas oleh semua pihak.
Pengalaman
kegagalan
rekapitulasi
penghitungan
suara dengan teknologi ICR menjadi pembelajaran
penting. Untung saja saat itu rekapitulasi penghitungan
dengan ICR hanya difungsikan sebagai pendamping
rekapitulasi penghitungan suara manual berjenjang. Jika
saja penggunaan teknologi ICR itu menjadi basis resmi
rekapitulasi penghitungan suara, maka sudah dipastikan
pemilu akan kacau.
Penggunaan E-recap Pilihan
Strategis
Mengacu kepada pengalaman Negara lain,
kesuksesan India dalan menggunakan e-voting dan
kesuksesan Philipina menggunakan e-counting dalam
pemilunya, mengilhami banyak kalangan untuk
menerapkan teknologi informasi dalam pemungutan
dan penghitungan suara di Indonesia. Menurut mereka,
e-voting atau e-counting tidak hanya mampu menghemat
263
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat anggaran
oleh politisinegara,
dan pemerintah
yangberfungsi
terpilih untuk
memerintah.
tetapi juga
untuk
menghadapi
Pandangan
Hamdan
berkaitandalam
dengan apa
yang disampaikan
berbagai
kasustersebut
pelanggaran
pemungutan
dan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
penghitungan suara. Usulan menggunakan e-voting atau
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna menjelaskan
bahwaBPPT
Political
budget cycles
e-counting
semakin
menguat setelah
menunjukkan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
keberhasilan penggunaan peralatan e-voting buatannya
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
dalam pemilihan kepala desa di beberapa daerah.
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Apakah
Indonesia
membutuhkan
e-voting
atau
agregat maupun
secara
spesifik pada
tahun-tahun Pemilu,
terkonfirmasi
e-counting?
Jika mengacu
pada pengalaman
dalam setidaknya
praktek penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan
dengan siklus
India
dan
Philipina,
maka
harus
ditegaskan
bahwa
kedua
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan
saat
negara
tersebut
mulai
penggunaan
e-voting
dan
ini, yang
menjadi
perhatian
tidakmerintis
hanya political
budget cycles,
melainkan
e-counting
hari siklus
sebelumnya.
Mereka
political
corruption jauh
cycle atau
korupsi politik
padamelakukan
tahun-tahun
Pemilupenelitian
yang telah meningkat
ekstrim.
dan uji dengan
coba berkali-kali,
sampai kemudian
semua pihak
merasa
menggunakannya.
Oleh karena
Masyarakat
tidak saja
dapatsiap
ditafsirkan
sebagai satu kesatuan,
tetapi
itu dibatasi
para pengusul
e-voting
juga perlu
mengingat mestinya
perbedaan bersabar,
hakikat antara
laki-lakidan
dan
perempuan.
Sepertitidak
halnya
sebagai
salah
satu
e-counting
bisaketerwakilan
diwujudkanperempuan
dalam waktu
dekat,
tetapi
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
butuh pengkajian dan uji coba berkali-kali. Keberhasilan
2012 menegaskan
setiappemilihan
partai politik
peserta
pemilu
harus
memenuhi
e-voting dalam
kepala
desa,
bukan
serta
merta
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
menjadi pertanda akan kesuksesan e-voting dalam pemilu,
praktikmengingat
selama ini, pihak
baik di parlemen
maupun pemerintah
skalayang
danduduk
kompleksitas
yang berbeda.
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Yang sering luput dari perhatian para pengusul
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
e-voting dan e-counting dalam pemilu Indonesia adalah
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
adanya
perbedaan
pemilu “Perempuan
India dan dan
Philipina
Paramastuti
dalam
tulisannyasistem
yang berjudul:
Korupsi:
dengan
Indonesia.
India dan
Philipina
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi
dalam menggunakan
Pemilu DPR RI
2009.”sistem pemilu mayoritarian untuk memilih anggota
legislatif
sedangkan
Indonesia
menggunakan
sistem
Masih
berhubungan
dengan tema
akuntabilitas
keuangan politik,
Didik
pemilu
proposional.
Padahal
jamak
diketahui,
sistem
Supriyanto
dan Lia
Wulandari dalam
tulisan
berjudul
Transparansi
dan
pemiluPengelolaan
mayoritarian
sederhana
dalam pemilihan
Akuntabilitas
Danalebih
Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
karena
jumlah
diperebutkan
di setiap
daerah
kampanye
adalah
salahkursi
satu yang
hal penting
dalam proses
pemilu.
Dana
pemilihan
hanya
jumlah
partai dan
kampanye
diperlukan
olehsatu,
partaisehingga
politik dan
kandidatnya
untukcalon
dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
264
vi
pun sangat sedikit. Ini tentu memudahkan pembuatan
peralatan yang ramah kepada pemilih. Bandingkan dengan
pemilu Indonesia yang terkahir: jumlah kursi yang tersedia
di setiap daerah pemilihan antara 3-12, jumlah partai yang
ikut berkompetisi 12, jumlah lembaga yang diperebutkan
3 (DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota)
ditambah DPD, sehingga tedapat 150-450 calon.
Sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 4.2, terdapat
sejumlah kelebihan dan kekurangan dalam penggunaan
e-voting. Namun dalam konteks politiknya Indonesia
masalahnya menjadi lebih rumit. Pertama, sebagai negara
yang baru memulai demokrasi setelah sekian puluh tahun
hidup dalam otoritarianisme, masyarakat politik Indonesia
masih dalam kondisi tidak saling percaya, atau distrust
soceity. Hal ini juga menimpa kaum elit politiknya sehingga
sangat butuh waktu lebih panjang untuk meyakinkan
penggunaan e-voting. Contoh sederhana ditunjukkan
oleh penolakan anggota DPR melakukan voting secara
elektronik dengan menggunakan peralatan di depan
mejanya masing-masing.
Kedua, memang benar pada 2014 sekitar 80 juta
penduduk Indonesia menjadi pengguna internet.
Namun angka itu bukan berarti jaminan memuluskan
penggunaan e-voting karena selain masih banyak yang
belum melek internet, yang melek iternet pun masih
butuh waktu lama untuk bisa menerimanya. Masalah
yang dihadapi e-counting, kurang lebih juga sama. Yang
harus dipertimbangkan lagi adalah fakta internasional, di
mana semakin banyak negara yang justru menghentikan
265
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat penggunaan
oleh politisi dan
pemerintah
terpilih untuk memerintah.
e-voting
dan yang
e-counting.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Mengacu kepada
MK No 147/PUU-VII/2009
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
menyatakan, bahwa e-voting bisa saja diterapkan dengan
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sejumlah syarat yang bersifat komulatif: pertama, tidak
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
melanggar asas luber dan jurdil; kedua, harus sudah siap
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
dari sisi teknologi, pembiayaan, sumber daya manusia
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
perangkat
kesiapan
masyarakat
di
agregatmaupun
maupun secara
spesifiklunaknya,
pada tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
yang bersangkutan,
serta
persyaratan
lain yang
dalam daerah
praktek penganggaran
di Indonesia
yang
berkaitan dengan
siklus
diperlukan.
Itu
artinya
penggunaan
e-voting
harus
melalui
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
kajian
panjang,
serangkaian
uji cobabudget
untukcycles,
memastikan
ini, yang
menjadi
perhatian
tidak hanya political
melainkan
kinerja
tinggi
mesin,
persiapan
sumber
manusia,
political
corruption
cycle
atau siklus
korupsi
politik daya
pada tahun-tahun
Pemilupenyediaan
yang telah meningkat
dengan
ekstrim.dan yang paling penting
dana yang
mencukupi,
tidak melanggar
prinsip
luber dan
jurdil.
mengacu
Masyarakat
tidak saja dapat
ditafsirkan
sebagai
satuJika
kesatuan,
tetapi
padadibatasi
keputusan
MK Jerman
dan pengadilan
tinggi
Belanda,
juga perlu
mengingat
perbedaan
hakikat antara
laki-laki
dan
perempuan.
Seperti
perempuan
sebagai e-voting
salah satu
prinsip
luberhalnya
jurdil keterwakilan
itu yang paling
sulit dipenuhi
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
maupun e-counting.
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
Membuat perangkat e-voting sesungguhnya bukanlah
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
hal sulit. Secara teknis teknologis, BPPT sudah berhasil
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
membuatnya. Jika perangkat e-voting bisa membuat,
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
BPPT tidak akan kesulitan membuat perangkat e-counting.
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Namun yang jadi masalah bukan soal kemampuan teknis
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
teknologis
perangkat,
melainkan
kesiapan
Paramastuti
dalam sebuah
tulisannya
yang berjudul:
“Perempuan
dan secara
Korupsi:
keseluruhan
sebagaimana
disyaratkan
oleh MK.
Di sinilah
Pengalaman
Perempuan
Menghadapi
Korupsi dalam
Pemilu
DPR RI
2009.”pertimbangan-pertimbangan non teknis justru harus
diperhatikan,
aspek
politik, ekonomi,
sosial
Masih
berhubunganseperti
dengan tema
akuntabilitas
keuangan dan
politik,
Didik
budaya.
JikaWulandari
tidak maka
e-voting
dan e-counting
bukan
Supriyanto
dan Lia
dalam
tulisan berjudul
Transparansi
dan
menjadi
solusi pemilu,
justrumenguraikan
menciptakanbahwa
bencana
Akuntabilitas
Pengelolaan
Danatetapi
Kampanye,
dana
baru.adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye
kampanye Jika
diperlukan
oleh
partai
politik daninternasional,
kandidatnya untuk
dapat
mengacu
pada
pengalaman
peneraan
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
266
vi
teknologi dalam pemilu harus memperhatikan beberapa
prinsip berikut ini: ditentukan berdasarkan pertimbangan
yang holistik, antisipatif terhadap dampak, menjaminan
transparansi dan kepastian etik, jaminan keamanan, lulus
uji dan memberikan keyakinan terkait tingkat akurasi hasil,
kepastian privasi, kepastian inklusivitas, berbiaya efektif,
efisien, keberlanjutan, fleksibel dan mampu beradaptasi
dengan regulasi, serta ramah pengguna dan dapat
dipercaya. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
tersebut, penerapan teknologi dalam pemungutan dan
penghitungan suara dalam pemilu Indonesia, pertamatama harus ditujukan pada kondisi mana dalam proses
tersebut yang paling dibutuhkan kehadirannya.
Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, secara
umum kegiatan pemungutan suara dan penghitungan
suara di TPS pada hari H, tidak terdapat masalah signifikan.
Bahkan lembaga-lembaga internasional menyebutkan,
praktek pemilu Indonesia pada hari H bisa menjadi
standar internasional, mengingat praktek pemilu tidak
hanya berjalan berdasarkan prinsip luber dan jurdil, tetapi
menjadi sebuah perayaan politik. Kegiatan pemungutan
dan penghitungan suara menjadi wahana interaksi
sosial politik untuk meneguhkan demokrasi, toleransi,
kesetiakawanan, dan perdamaian. Oleh karena itu, kegiatan
yang sudah berlangsung baik itu sudah seharusnya tidak
digantikan oleh e-voting atau e-counting. Sebab kehadiran
teknologi justru akan menghilangkan karakter demokrasi
khas Indonesia yang menjadi mimpi banyak negara lain.
Kembali ke permasalah pokok pemilu di Indonesia dari
267
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat pemilu
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuk
memerintah.
ke pemilu,
salah satunya
adalah
proses
rekapitulasi
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitanbanyak
dengan apa
yang disampaikan
suara yang
sering
diwarnai
kecurangan
dan
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
hasil rekapitulasi yang banyak manipulasi. Kasus-kasus
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa Political
budget
cycles
perubahan
hasil
rekapitulasi
penghitungan
suara
dari PPS,
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
PPK, KPU kabupaten/kota, KPU provinsi, dan KPU, selalu
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
terulang setiap kali pemilu, dengan titik sentral di PPS
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dan PPK. Ini salah satu sebab yang bisa mendelegitimasi
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
hasil pemilu. Sementara itu di sisi lain, proses rekapitulasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
penghitugan suara yang memakan waktu hampir satu
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
bulan,
tidak
saja gagal
rasabudget
ingin cycles,
tahu atas
hasil
ini, yang
menjadi
perhatian
tidakmemenuhi
hanya political
melainkan
pemilu,
tetapi
juga
bisa
menimbulkan
kerawanan
politik
political
corruption
cycle
atau
siklus
korupsi politik
pada tahun-tahun
situasi
yang tidak
pasti.
Pada titik inilah kehadrian
Pemiluakibat
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
e-recap tidak
sangat
strategis.
Masyarakat
saja
dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
e-recap bisa
memperpendek
juga perluPertama,
dibatasi mengingat
perbedaan
hakikat masa
antararekapitulasi
laki-laki dan
perempuan.
Seperti halnya
perempuan
sebagai
salah satu
penghitungan
suaraketerwakilan
sehingga rasa
ingin tahu
masyarakat
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8 Tahun
akan hasil pemilu bisa dipenuhi dengan cepat. Kedua,
2012 menegaskan
setiap merekapitulasi
partai politik peserta
pemilu
harus
e-recap mampu
dengan
cepat
danmemenuhi
akurat
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
hasil penghtiugan suara di TPS (Formulir C-1), sehingga
praktikmenghindarkan
selama ini, pihak yang
duduk
baik di parlemen
pemerintah
dari
kesalahan
teknismaupun
penghitungan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
suara akibat kealpaan dan kesalahan petugas. Ketiga,
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
mesin e-recap bekerja tanpa memperhitungkan emosi
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
dan kepentingan para pihak sehingga hasil bisa dipercaya.
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Keempat, e-recap secara teknologis, merupakan tahap
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
yang paling mudah jika dibandingkan dengan e-voting dan
2009.”
e-counting, sehingga praktek pengembangan teknologi
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
pemilu berjalan sesuai hukum teknologi: dimulai dari yang
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
paling Pengelolaan
mudah, beranjak
ke yang lebih
sulit, lalu bahwa
mencapai
Akuntabilitas
Dana Kampanye,
menguraikan
dana
tahapan
yang
paling
rumit.
Kelima,
e-recap
bisa
didesain
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
dan diperlukan
diproduksioleh
di dalam
kampanye
partai negeri.
politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
268
vi
Yang sering luput dari perhatian para pengusul e-voting
dan e-counting dalam pemilu Indonesia adalah adanya
perbedaan sistem pemilu India dan Philipina dengan
Indonesia. India dan Philipina menggunakan sistem
pemilu mayoritarian untuk memilih anggota legislatif
sedangkan Indonesia menggunakan sistem pemilu
proposional. Padahal jamak diketahui, sistem pemilu
mayoritarian lebih sederhana dalam pemilihan karena
jumlah kursi yang diperebutkan di setiap daerah pemilihan
hanya satu, sehingga jumlah partai dan calon pun sangat
sedikit. Ini tentu memudahkan pembuatan peralatan
yang ramah kepada pemilih. Bandingkan dengan pemilu
Indonesia yang terkahir: jumlah kursi yang tersedia di
setiap daerah pemilihan antara 3-12, jumlah partai yang
ikut berkompetisi 12, jumlah lembaga yang diperebutkan
3 (DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota)
ditambah DPD, sehingga tedapat 150-450 calon.
Sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 1 di bawah ini,
terdapat sejumlah kelebihan dan kekurangan dalam
penggunaan e-voting. Namun dalam konteks politiknya
Indonesia masalahnya menjadi lebih rumit. Pertama,
sebagai negara yang baru memulai demokrasi setelah
sekian puluh tahun hidup dalam otoriterisme, masyarakat
politik Indonesia masih dalam kondisi tidak saling
percaya, atau distrust soceity. Hal ini juga menimpa
kaum elit politiknya sehingga sangat butuh waktu lebih
panjang untuk meyakinkan penggunaan e-voting. Contoh
sederhana ditunjukkan oleh penolakan anggota DPR
melakukan voting secara elektronik dengan menggunakan
269
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat peraltan
oleh politisi
pemerintah
terpilih untuk memerintah.
di dan
depan
mejanyayang
masing-masing.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Kedua, memang benar pada 2014 sekitar 80 juta
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
penduduk Indonesia menjadi pengguna internet. Namun
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
angka itu bukan berarti jaminan memuluskan penggunaan
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
e-voting karena selain masih banyak yang belum melek
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
internet, yang melek iternet pun masih butuh waktu
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
untuk
bisa
menerimanya.
Masalah
yangterkonfirmasi
dihadapi
agregatlama
maupun
secara
spesifik
pada tahun-tahun
Pemilu,
kurang lebih
juga sama.
dalam e-counting,
praktek penganggaran
di Indonesia
yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Tabel 1 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN E-VOTING
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Kelebihan
E Voting
Kekurangan
E Voting
Masyarakat
tidak saja
dapat ditafsirkan sebagai
satu kesatuan,
tetapi
dan perbedaan
tabulasi hakikat
Kurangnya
juga perlu Penghitungan
dibatasi mengingat
antara transparansi.
laki-laki dan
perempuan.
lebihSeperti
cepat. halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi
untuk menjadi
pesertaTerbatasanya
pemilu. UU No.
8 Tahun
Hasilfaktuallebih
akurat
keterbukaan
2012 menegaskan
setiap partai manusia
politik peserta
harus memenuhi
karena kesalahan
dan pemilu
pemahamaan
sistem
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
dikecualikan.
bagi yang bukan ahlinya.
praktik selama
ini,
pihak
yang
duduk
baik
di
parlemen
maupun pemerintah
Penanganan yanng efisien
Kurangnya
standar yang
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
dari formula sistem pemilu disepakati untuk sistem
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
yang rumit yang memerlukan e-voting.
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
prosedur perhitungan yang
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
melelahkan.
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
Peningkatan
tampilan
Memerlukan
sertifikasi
2009.”
surat suara yang rumit
sistem, tapi standar sertifikasi
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
tidak di sepakati secara luas.
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
270
vi
Meningkatnya kenyamanan
Berpotensi
melanggar
bagi para pemilih.
kerahasiaan
pemilihan,
khususnya dalam sistem
yang melakukan autentikasi
pemilih maupun suara yang
diberikan.
Berpotensi meningkatkan
Resiko manipulasi oleh
partisipasi jumlah suara, orang dalam dengan akses
khususnya pemilih melalui istimewa ke sistem oleh
internet.
peretas dari luar.
Lebih
selaras
dengan
Kemungkinan kecurangan
kebutuhan
masyarakat dengan manipulasi besaryang mobilitasnya semakin besaran oleh sekelompok
meningkat.
kecil orang dalam.
Pencegahan kecurangan di
Meningkatnya biaya baik
TPS dan selama pengiriman pembelian maupun sistem
dan tabulasi hasil dengan pemeliharaan e-voting.
mengurangi campur tangan
manusia.
M e n i n g k a t k a n
M e n i n g k a t n y a
aksesibilitas,
contohnya persyaratan
infrastruktur
memakai surat suara audio dan lingkungan sontohnya
untuk pemilih tuna rungu berkaitan dengan pasokan
dengan pemilihan melalui listrik, teknologi komunikasi,
internet, begitu pula pada suhu, kelembaban.
pemilih yang tinggal di rumah
dan yang tinggal di luar negri.
271
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat
terpilih
K oleh
e mpolitisi
u n dan
g kpemerintah
i n a n yangM
e n iuntuk
n g memerintah.
k a t n y a
Pandangan Hamdan tersebut
berkaitan
dengan apa yang
disampaikan
menggunakan
layar
persyaratan
keamanan
Yuna
Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
multibahasa
yang
dapat untuk melindungi sistem
pada
Tahun Pemilu.”
menjelaskan
bahwa Political
cycles
melayani
para Yuna
pemilih
pemberian
seuara budget
selama
sudah
menjadidengan
fenomena
didukung
dengan ke
berbagai
multibahasa
lebihuniversal
baik dan
antara pemilu
pemilustudi
empiris
di berbagaidengan
Negara. Berbagai
variabel yang mempengaruhi
politcal
dibandingkan
surat selanjutnya
termasuk
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
suara.
selama
pengangkutan,
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
penyimpanan,
dan
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
pemeliharaan.
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Pengurangan
surat
Kurangnya
tingkat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
suara yang rusak karena kendali oleh penyelenggara
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
sistemyang pemilihan
karena tingginya
Pemilu
telah meningkatdapat
denganpemilihan,
ekstrim.
memperingatkan
para ketergantungan
terhadap
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
pemilih
tentang
suara vendor dan atau teknologi.
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
yang tidakSeperti
sah halnya
(walaupun
perempuan.
keterwakilan perempuan sebagai salah satu
pertimbangannya
harus
syarat
verifikasi faktual untuk
menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
diberikan
untuksetiap
memastikan
2012
menegaskan
partai politik peserta pemilu harus memenuhi
bahwa
para pemilih
bisa tidak
30%
keterwakilan
perempuan.
Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
memberikan
jika baik di parlemen maupun pemerintah
praktik
selama ini,suaranya
pihak yang duduk
mayoritas
diduduki
oleh
laki-laki.
mereka memiliki demikian). Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akanBerpotensi
berdampak negatif
terhadap mandeknya
menghemat
K e maspirasi
u n gperempuan
k i n a dalam
n
hukum
dan
pemerintahan.
Dan
kondisi
tersebut
telah
ditulis
oleh
Nindita
biaya dalam jangka panjang penghitungan ulang terbatas.
Paramastuti
dalam tulisannya
yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
melalui penghematan
waktu
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
pekerja pemungutan suara
2009.”
dan mengurangi biaya untuk
Masih berhubungan
dengan
tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
produksi
dan distribusi
surat
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
suara.
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
272
vi
Penghematan
biaya
Kebutuhan
untuk
melalui pemilihan dengan kampanye tambahan bagi
internet; jangkauan global pendidikan pemilih.
dengan pengeluaran logistik
yang sangat sedikit. Tidak
ada biaya pengiriman, tidak
ada
keterlambatan
saat
pengiriman
materi
dan
menerimanya kembali.
Jika dibandingkan dengan
Berpotensi konflik dengan
pemilihan melalui pos, maka kerangka hukum yang ada.
pemilihan melalui internet
dapat mengurangi insiden
penjualan suara dan pemilihan
oleh
keluarga
dengan
memperbolehkan pemilihan
beberapa kali namun hanya
suara terakhir yang dihitung
dan mencegah manipulasi
dengan memberikan tenggat
waktu bagi suara masuk
melalui kontrol langsung saat
pemungutan suara.
Berpotensi
kurangnya
kepercayaan publik pada
pemilihan
berdasarkan
e-voting sebagai hasil dari
kelemahan-kelemahaan di
atas.
273
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat Sumber:
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuk memerintah.
Darmawan,
Nurhandjati,
& Kartini
2014: 6-11
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Namun risiko akibat kegagalan atau ketidakmasimalan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
fungsi mesin e-recap juga sama dengan mesin e-voting
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
dan e-counting. Oleh karena itu dalam merencang e-recap
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
beberapa hal berikut ini harus diperhatikan: Pertama,
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
kemungkinan bahwa komunikasi dan transmisi antar
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
sistem pada
teknologi
pemilu
dapatterkonfirmasi
diserang
agregatpiranti
maupundalam
secara spesifik
tahun-tahun
Pemilu,
menggagalkan
sistem.yang
Kedua,
kemungkinan
dalam sehingga
praktek penganggaran
di Indonesia
berkaitan
dengan siklus
serangan
atas
data
hasil
pemilu
dengan
tujuan
mengubah
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan
saat
database
maupun tidak
hasilhanya
pemilu.
Ketiga,
yang
ini, yang
menjadi perhatian
political
budgetserangan
cycles, melainkan
diarahkan
kepada
petugas
melalui
political
corruption
cycle atau
siklus
korupsipiranti
politikyang
pada digunakan
tahun-tahun
Pemiludalam
yang telah
meningkat dengan ekstrim.
e-recap.
Masyarakat
tidak saja et
dapat
satu kesatuan,
tetapi
Reynold
allditafsirkan
(2008) sebagai
menyarankan
beberapa
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan hakikat
antara
laki-laki
dan
rekomendasi
kepada penyelenggara
pemilu
yang
hendak
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
sebagai salah
satu
menerapkan
e-voting.
Meski perempuan
Renold bicara
tentang
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
e-voting, namun saran tersebut juga berguna bagi
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
penyelenggara yang hendak menerapkan e-recap:
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
Setiap
yang
diadopsi
harus memenuhi
mayoritas 1.diduduki
olehsolusi
laki-laki.
Apabila
tidak diperjuangkan,
hal ini
persyaratan
dengan
basis
kode yang
akan berdampak
negatif
terhadapmenggunakan
mandeknya aspirasi
perempuan
dalam
hukumdipercaya
dan pemerintahan.
(trustedDan
codekondisi
base).tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti
tulisannya yang
“Perempuan
dan Korupsi:
2. dalam
Penyelenggara
harusberjudul:
memiliki
kode sumber/kode
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
dasar (source code) dari sistem tersebut.
2009.”
3. Semua sistem yang digunakan harus dipelajari
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
dengan baik terutama terkait total biaya dan secara
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
keseluruhan sepanjang masa hidup sistem.
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
Harus
dipikrikan
mekanisme
dengan
kampanye4.
adalah
salah
satu hal penting
dalamperawatan
proses pemilu.
Dana
memperhatikan
efektivitas
biaya.
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
274
vi
5. Proses mengadopsi bentuk teknologi harus dilakukan
secara bertahap dan terencana dengan baik.
Partisipasi Masyarakat dalam
pengawasan Rekapitulasi Hasil
Pemilu
Permasalahan Pemilu selama ini seperti yang telah
disebutkan sebelumnya berawal di hulu hingga ke hilir,
namun banyak masyarakat lebih mempertanyakan
mengenai kecurangan yang ada pada hilir pemilu yaitu
pada masa pemungutan dan penghitungan suara. Dengan
adanya rekapitulasi dibantu dengan bantuan teknologi
seperti yang telah disebutkan dalam bab sebelumnya
diharapkan dalam mempercepat proses penghitungan
sehingga hasil pemilu dapat diketahui oleh publik secara
tepat karena dengan jenjang waktu yang lama publik akan
menunggu serta dapat menimbulkan konflik dalam skala
besar karena tingkat ketidakpercayaan publik akan semakin
turun dengan lamanya waktu rekapitulasi tersebut.
Setelah adanya proses penghitungan dengan cepat
bukan berarti publik tidak dapat berpartisipasi kembali
dalam memeriksa hasil pemilu apakah sudah sesuai apa
tidak. Partisipasi publik terkait hasil pemilu ini mulai
ada sejak Pemilu Legislatif dan Presiden pada tahun
2014. KPU sebagai penyelenggara pemilu membuka data
hasil scan C1 kepada publik secara daring. Melalui data-
275
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat data
oleh politisi
dan pemerintah
yang
memerintah.
yang dibuka
oleh KPU
initerpilih
publikuntuk
dapat
memeriksa /
Pandangan
tersebut
berkaitan
dengandimana
apa yangpublik
disampaikan
kroscekHamdan
hasil pemilu
secara
langsung,
ikut
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
berpartisipasi secara langsung dalam pemilu.
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Pembukaan Data Scan C1 sejak pemilu 2014 kemari telah
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
menghasilkan beberapa contoh partisipasi publik secara
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
langsung seperti Kawal Pemilu yang kemudian berlanjut
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
pelaksanaan
Pilkada
2015
yaitu Kawal
Pilkada.
Dengan
agregatpada
maupun
secara spesifik
pada
tahun-tahun
Pemilu,
terkonfirmasi
scan C1 kepada
publikyang
maka
akan memperluas
dalam membuka
praktek penganggaran
di Indonesia
berkaitan
dengan siklus
frasa
penggunaan
teknologi
dalam
pemilu
yang
semula
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan
saat
terbatas
penggunaan
oleh penyelenggara
ini, yang
menjadikepada
perhatian
tidak hanyateknologi
political budget
cycles, melainkan
pemilu
kepada
penggunaan
dalam
pengawasan
political
corruption
cycle
atau siklus teknologi
korupsi politik
pada
tahun-tahun
Pemilupemilu
yang telah
meningkat
dengan
yang
dilakukan
olehekstrim.
masyarakat.
Masyarakat
tidak
saja pemilu
dapat ditafsirkan
sebagai
satu kesatuan,
tetapi
Contoh
kawal
maupun kawal
pilkada
merupakan
juga perlu
dibatasi
mengingat
perbedaan hakikat
antara laki-laki
dan
contoh
terbaik
dalam implementasi
penggunaan
teknologi
perempuan.
halnya keterwakilan
perempuan
sebagai
satu
dalamSeperti
pengawasan
hasil pemilu,
walaupun
sejak salah
Pemilu
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
2014 kemarin telah banyak contoh-contoh terbaik
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
penggunana teknologi sebagai bagian dari partisipasi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
masyarakat seperti API Pemilu sebagai contoh sosialisasi
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
pemilu berbasis teknologi yang membantu publik
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
mengetahui siapa calonnya, kemudian mata massa yang
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
membantu pengawasan pelanggaran pemilu. Kawal Pemilu
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
lahir dari
keterbukaan
KPUberjudul:
itu sendiri
yang menggunggah
Paramastuti
dalam
tulisannya yang
“Perempuan
dan Korupsi:
hasil Perempuan
scan C1 scara
daring.
Dimana
Pengalaman
Menghadapi
Korupsi
dalamkawal
Pemilu pemilu
DPR RI
2009.”menggunakan teknologi berbasis web yang mengajak
publik
untuk berpartisipasi
dengan memeriksa
C1Didik
di
Masih
berhubungan
dengan tema akuntabilitas
keuangan scan
politik,
TPS dan
di wilayahnya
masing
NamunTransparansi
kawal Pemilu
Supriyanto
Lia Wulandari
dalammasing.
tulisan berjudul
dan
ini dilaksanakan
hanyaKampanye,
pada Pemilihan
Presiden
Akuntabilitas
Pengelolaan Dana
menguraikan
bahwa dan
dana
Wakil
Presiden
kampanye
adalah
salahsaja.
satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
276
vi
Kesimpulan dan Rekomendasi
Kehadiran teknologi dalam proses pemilu diperlukan.
Bahkan dalam pemilu yang melibatkan banyak pemilih
dengan sistem pemilihan rumit, kehadiran teknologi seakan
menjadi keharusan. Sebab, teknologi dapat menghindari
kealpaan dan kesalahan yang dilakukan petugas, serta
mengantisipasi kecurangan dan kejahatan yang dilakukan
peserta dan petugas. Melalui e-voting, e-counting, dan
e-recapitulation, teknologi dapat memfasilitas pemungutan
dan penghitungan suara secara cepat dan akurat.
Putusan MK No 147/PUU-VII/2009 membuka
ruang penggunaan teknologi dalam pelaksanaan pemilu,
khususnya pada tahapan pemungutan dan penghitungan
suara. Namun MK mengingatkan, bahwa penggunaan
harus didahului oleh pengkajian, ujicoba dan sosialisasi
agar tidak melanggar asas luber dan jurdil. Penggunaan
teknologi dalam pemungutan dan penghitungan suara
tidak hanya dituntut kesiapan sisi teknologi, pembiayaan,
sumber daya manusia maupun perangkat lunaknya, tetapi
juga kesiapan pemilih, peserta dan masyarakat. Atas
dasar putusan ini, UU No 1/2015 juncto UU No 8/2015
mengatur penggunaan teknologi dalam pemungutan dan
penghitungan suara, meskipun ketentuan tersebut tidak
logis. Sebelumnya, UU No 8/2012 memberi basis hukum
atas penggunaan teknologi dalam pendaftaran pemilih.
Adanya landasan hukum sangat penting untuk
penggunaan teknologi dalam pemilu seoperti yang telah
disebutkan sebelumnya. Penolakan Sipol oleh partai
277
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat politik
oleh politisi
danPemilu
pemerintah
terpilih untuk
dalam
2014yang
menunjukkan
halmemerintah.
tersebut dapat
Pandangan
Hamdan
tersebut
berkaitan
dengan
apa yang
disampaikan
terjadi karena
belum
adanya
landasan
hukum.
Selanjutnya,
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
penghitungan suara berbasis teknologi informasiAnggaran
yang
pada Tahun
Pemilu.”
Yuna
menjelaskan
bahwa
Political
budget
cycles
hanya berdasarkan keputusan atau peraturan KPU, justru
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
mengundang kontroversi. Meskipun bertujuan baik,
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
yakni sebagai alat kontrol penghitungan manual dan
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
memenuhi rasa ingin tahu masyarakat atas hasil pemilu,
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
namun banyak partai politik dan calon yang mencurigai
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
penghitungan berbasis teknologi informasi bertujuan
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
untuk
memenangkan
pemilubudget
tertentu.
Hadirnya
ini, yang
menjadi
perhatian tidakpeserta
hanya political
cycles,
melainkan
pasal
yang
membuka
penggunaan
teknologi
dalam
undangpolitical corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
pemilu
juga mendorong
penyelenggara pemilu dan
Pemiluundang
yang telah
meningkat
dengan ekstrim.
pihak-pihak
melakukansebagai
pengkajian
dan ujicoba
Masyarakat
tidak lain
saja untuk
dapat ditafsirkan
satu kesatuan,
tetapi
perangkat,
sebelum
perangkat
ini
digunakan.Putusan
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-lakiMK
dan
memang
memberikan
pilihan
kepada
pembuat
undangperempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
undang untuk
meknisme
syarat verifikasi
faktualmembuat
untuk menjadi
pesertapemberian
pemilu. UUsuara
No. 8secra
Tahun
2012 menegaskan
partai selain
politik secara
peserta konvensional
pemilu harus memenuhi
elektronik setiap
(e-voting),
dengan
30% keterwakilan
Kondisi
patut diperjuangkan,
mencoblosperempuan.
surat suara.
Jadi ini
sifatnya
pilihan: cara mengingat
manual
praktiktidak
selama
ini, pihakcara
yangelektonik
duduk baikboleh
di parlemen
maupun pemerintah
dilarang,
saja digunakan.
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Namun,
sebagaimana
dijelaskan
sebelumnya,
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
praktek penggunaan e-voting telah mengalami penurun
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
kepercayaan di berbagai belahan dunia karena dianggap
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
gagal memenuhi prinsip luber dan jurdil (sesuatu yang
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
disyaratkan oleh MK). Padahal pada saat yang sama,
2009.”
masyarakat Internasional justru mengapreasisi proses
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
pemungutan dan penghitungan suara di TPS dalam pemilu
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Indonesia.
BangsaDana
Indonesia
dinilai
telah menjalankan
Akuntabilitas
Pengelolaan
Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
praktek
politik
demokratis
dengan
menggelar
pemilu
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu.
Dana
yang
luber
dan
jurdil,
bukan
sebagai
kewajiban
politik,
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
278
vi
melainkan sebagai perayaan politik. Dengan pertimbangan
tersebut, maka sebaiknya e-voting diperlukan. Sebab,
kehadiran e-voting dalam konteks pemilu Indonesia tidak
hanya akan mematikan praktek-praktek terbaik demokrasi
di Indonesia, tetapi justru akan menimbulkan masalah
baru.
Yang dibutuhkan kehadiran teknologi informasi dalam
pemilu Indonesia adalah proses rekapitulasi penghitungan
suara berjenjang dari PPS, PPK, KPU kabupaten/kota,
KPU provinsi, dan KPU. Sebab pada wilayah ini, selain
membutuhkacssssn waktu lama sehingga gagal memenuhi
rasa ingin tahun para pihak atas hasil pemilu dan
menimbulkan kerawanan-kerawanan politik, juga sering
terjadi kecurangan dan pelanggaran berupa manipulasi
hasil rekapitulasi penghitungan suara. Di sinilah
pentinganya e-recap dalam pemilu Indonesia, yakni untuk
melakuan penghitungan secara cepat dan akurat, sekaligus
mencegah manipulasi hasil rekapitulasi penghitungan
suara. Dengan e-recap kasus-kasus gugatan hasil pemilu
bisa dikurangai dan legitimasi pemilu semakin tinggi.
Meskipun begitu, dalam undang-undang pemilu,
pengaturannya tidak langsung digunakan e-recap dalam
rekapitulasi penghitungan suara berjenjang, melainkan
e-recap sebagai alternatif dari rekapitulasi penghitungan
suara berjanjang. Dengan demikian penyelenggara pemilu
bisa memilih kapan dan di mana akan dilakukan e-recap
(setelah melakukan serangkan pengkajian, uji coban dan
berbagai persiapan), kapan dan di mana rekapitulasi
penghitungan berjenjang dipertahankan. Ketentun
279
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat bersifat
oleh politisi
dan pemerintah
yang
terpilih untuk
memerintah.
alternatif
tersebut
merupakan
rumusan
terbaik
Pandangan
Hamdan tersebut berkaitan
dengan
apamelek
yang disampaikan
dalam undang-undang,
mengingat
tingkat
teknologi
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
informasi belum merata, kesiapan peratalan dan petugas
pada Tahun
Pemilu.”dilakukan
Yuna menjelaskan
bahwa Political
budget yang
cycles
pun harus
secara bertahap.
Apapaun
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
digunakan, e-recap atau manual berjanjang, pengumuman
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
melalui internet hasil pindaian Formulir C-1 tetap harus
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
dilakukan sehingga undang-undang harus mengatur hal
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
ini.
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Setelah
adanya
landasan
hukum
akan
penggunaan
Pemilu 2009
ataupun
menjelang
Pemilu 2014.
Melihat
perkembangan
saat
teknologi
maka tahap
selanjutnya
yang cycles,
mesti melainkan
dilihat
ini, yang
menjadi perhatian
tidak hanya
political budget
adalah
pemilihan
teknologi
dalam
pemilu
political
corruption
cycle jenis
atau siklus
korupsi
politik
padamerupakan
tahun-tahun
Pemilulangkah
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim. yang gagal menunaikan
awal
yang vital.
Teknologi
tugas, tidak
menyebabkan
baru,
tetapi juga
Masyarakat
tidakhanya
saja dapat
ditafsirkankeributan
sebagai satu
kesatuan,
tetapi
mengurangi
kepercayaan
masyarakat
juga perlu
dibatasi mengingat
perbedaan
hakikat atas
antarapenggunaan
laki-laki dan
perempuan.
Seperti
halnyakeseluruhan.
keterwakilan perempuan
salahICR
satu
teknologi
secara
Kegagalan sebagai
teknologi
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
dalam penghitungan suara pada Pemilu 2009 adalah
2012 menegaskan
partai politik
peserta
pemilu harus
contoh baiksetiap
bagaimana
pentingnya
pengkajian
danmemenuhi
ujicoba
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
harus dilakukan sungguh-sungguh sebelum teknologi
praktikdigunakan.
selama ini, pihak
yang duduk
baik di parlemen
maupun
pemerintah
Memang
penghitungan
berbasis
teknologi
ICR
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
hanya menjadi pembanding penghitungan manual. Namun
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
ketika prosesnya tersendat dan hasilnya tidak kredibel,
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
maka hal itu akan mengembangkan opini macam-macam.
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman ini juga yang membuat dalam Pemilu 2014,
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
KPU tidak mempublikasikan hasil penghitungan berbasis
2009.”
teknologi. Sebagai gantinya, KPU memindai Formulir
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
C-1, dan hasil pindaian tersebut dipublikasikan secara
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
luas melalui
www.kpu.go.id.
Di sinilah
KPU mengambil
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye,
menguraikan
bahwa dana
kebijakan
tepat,
sehingga
hasil
pindaian
Formulir
C-1 tidak
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu.
Dana
hanya
menunjukkan
adanya
tranparansi
penyelenggaraan
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
280
vi
pemilu, tetapi juga memungkinkan siapa saja untuk ikut
mengontrol proses dan hasil pemilu.
Karena fungsi teknologi dalam pemilu hanya sebagai
alat bantu, maka penerapannya harus tepat guna, yakni
sesuai kebutuhan lembaga penyelenggara. Dalam hal ini
penyelenggara pemilu dapat memutuskan pada tahapan
mana penggunaan teknologi harus dimaksimalkan,
dan pada tahap mana kehadiran teknologi tidak begitu
diperlukan. Sementara itu dari pemilu ke pemilu selalu
menunjukkan bahwa permasalahan utama pemilu
Indonesia terjadi pada proses rekapitulasi penghitungan
suara berjenjang, khususnya di PPS dan PPK, di mana
sering terjadi kasus kecurangan dan manipulasi hasil
rekapitulasi penghitungan suara, sehingga kehadiran
teknologi bisa mengatasi masalah tersebut. Keempat,
sesuai dengan tingkat kompleksitas teknologi, maka
e-recap yang lebih sederhana daripada e-counting dan
e-voting, maka praktek penggunaan teknologi dalam
pemilu juga harus dimulai dari yang paling sederhana,
lalu berkembang menunju yang lebih rumit sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.
Penggunaan teknologi untuk pemilu dapat digunakan
sejak hulu hingga hilir pelaksanaan Pemilu. Namun
terkait dengan waktu serta maka yang paling dapat
segera direalisasikan adalah penggunaan E-Recap
maupun melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh
KPU sebelumnya seperti Sidalih, Situng, Sipol dan Scan
C1 yang didukung oleh Poin ketiga yaitu dasar hukum
pelaksanaannya. Dengan fokus pada penggunaan E-Recap
281
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat serta
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilihyang
untuktelah
memerintah.
pelaksanaan
sistem-sistem
dibangun
Pandangan
Hamdan tersebutPemilu
berkaitandapat
dengan
apa yang disampaikan
maka Penyelenggara
memberikan
waktu
Yuna Farhan
melalui
tulisannya
“Menelusuri
Siklus
Politisasi
Anggaran
untuk evaluasi penggunaan sistem tersebut dalam 2
pada Tahun
Pemilu.”
Yunasehingga
menjelaskan
bahwa Politicalakan
budgetdapat
cycles
periode
pemilu
penyelenggara
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
mengetahui teknologi manakah yang tepat guna untuk
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
mendukung pelaksaan pemilu sehingga teknologi dalam
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
membantu efisiensi anggaran penyelenggaran pemilu serta
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
pelaksanaan Pemilu yang Luber dan Jurdil.
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Demi
kepastian
hukum
mendorong
dilakukanya
Pemilu 2009
ataupun
menjelang
Pemiludan
2014.
Melihat perkembangan
saat
kajian
serius
dan tidak
ujicoba
terus
menerus,
ini, yang
menjadi
perhatian
hanya
political
budgetmaka
cycles,undangmelainkan
undang
pemilu
mengatur
teknologi
political
corruption
cycleharus
atau siklus
korupsipenggunaan
politik pada tahun-tahun
Pemilue-recap
yang telah
meningkat
dengan
ekstrim.
dalam
tahapan
pemungutan
dan penghitungan
suara. Namun
dalam
hendaknya
ditekanakan
Masyarakat
tidak saja
dapatpengaturan
ditafsirkan sebagai
satu kesatuan,
tetapi
bahwa
penggunaan
e-recap adalah
alternatif
dari
juga perlu
dibatasi
mengingat perbedaan
hakikat antara
laki-laki
dan
perempuan.
Seperti halnya
keterwakilan
perempuan
sebagai salah
satu
rekapitulasi
penghitungan
suara
berjenjang.
Dengan
syarat verifikasi
faktual
untuk
menjadi
peserta
pemilu.
UU
No.
8
Tahun
demikian, penyelenggara pemilu bisa memilih kapan
2012 menegaskan
setiap
partai politik
peserta
memenuhi
dan di mana
digunakan
e-recap
danpemilu
kapanharus
dan di
mana
30% keterwakilan
perempuan.
Kondisi
ini
patut
diperjuangkan,
mengingat
tetap mempertahankan rekapitulasi penghitungan suara
praktikberjenjang.
selama ini, pihak
yang duduk
baik di parlemen
maupun
pemerintah
Adapun
pertimbangan
untuk
menggunakan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
teknologi e-recap adalah kesiapan perangkat teknologi,
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
ketersediaan anggaran, kemampuan petugas dalam
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
mengoperasikan alat, serta kesiapan pemilih, partai politik,
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
calon dan masyarakat pada umumnya.
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Referensi
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
O. K. dalam
(2015).tulisan
Openberjudul
Data Index
Election.
SupriyantoFoundation,
dan Lia Wulandari
Transparansi
dan
Retrieved
from http://index.okfn.org:
http://index.okfn.
Akuntabilitas
Pengelolaan
Dana Kampanye, menguraikan
bahwa dana
org/dataset/elections/.
kampanye
adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanyeBPPT.
diperlukan
oleh partai politik
dan untuk
kandidatnya
untuk2014.
dapat
E-rekapitulasi.
Invoasi
Pemilu
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
282
vi
http://www.bppt.go.id/teknologi-informasi-energi-danmaterial/1815-e-rekapitulasi-inovasi-untuk-pemilu-2014
Ikhsan Darmawan, d. (2014). Memhami E-Voting:
Berkaca dari Pengalaman Negara-negara lain dan
Jembaran (Bali). Jakarta: Yaysan Pustaka.
David L Dill,Bruce Scheiner, Barbara Simons. (2003,
August 10). Voting and Technology: Who Gets to Count Your
Vote? Retrieved August 2015, from Scheiner on Security:
https://www.schneier.com/essays/archives/2003/08/
voting_and_technolog.html
Husein, H. (2015). API Pemilu menuju Smart Election.
Jakarta: Perludem.\
Husein, Harun, Republika. (2013, April 5). Hikayat
Dapil Superman. Teraju .
Indoneia, K. P. (2015). Laporan Pelayanan Informasi
Publik. . Jakarta: Komisi Pemilihan umum.
Kinanti, F. (2013, January 13). Les Journals. Retrieved
August 10, 2015, from web.unair.ac.id: http://fellinkinantifisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail-70905-Metode%20
Analisis%20Hubungan%20Internasional-Studi%20
Perbandingan.html
Kundishora. (n.d.). The Role of Information and
CommunicationTechnology (ICT) in Enhancing Local
Economic Development and Poverty Reduction. Harare:
Zimbabwe Academic and Research Network.
Barkan, J. D. (2013). Technology is Not Democracy.
Journal of Democracy, 159.
Setiawaty, Diah e. a. (2015). Modul Bahan Ajar S2 Tata
283
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat Kelola
oleh politisi
dan pemerintah
yang terpilih
untuk UGM&
memerintah.
Pemilu:
IT dan Pemilu.
Yogyakarta:
AEC.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Miller, L. (2015, July 14). http://piratetimes.net/illegalYuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
and-insecure-evoting-carried-out-in-argentina/. Retrieved
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
July 21, 2015, from http://piratetimes.net/: http://
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
piratetimes.net/illegal-and-insecure-evoting-carried-out-
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
in-argentina
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
(n.d.). secara
Retrieved
from
Bank Pemilu,
: http://www.apt.
agregat maupun
spesifik
padaWorld
tahun-tahun
terkonfirmasi
dalam int/sites/default/files/Upload-files/ASTAP/Rept-5-epraktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
PemiluGovt.pdf.
2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi
perhatian
hanya political
budget cycles, melainkan
Pamungkas,
S.tidak
(2004).
Disproporsionalitas
Suara
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Dalam Pemilu Legislatif 2014. Retrieved 27 22, 2015, from
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Sigit Pamungkas: Ada Jalan Tengah: http://sigitp.staff.
Masyarakat
tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
ugm.ac.id/?p=53
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
Rae, Douglas W. (1967).The Political Consequences of
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
Electoral Laws. Yale University Press
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
Reynold,setiap
A., & partai
team, politik
a. (2008).
Electoral
Design:
2012 menegaskan
peserta
pemiluSystem
harus memenuhi
The New International
IDEAini
Handbook.
Sweden: IDEA.
30% keterwakilan
perempuan. Kondisi
patut diperjuangkan,
mengingat
praktik selama
ini, pihak
yang duduk
baik di parlemen
maupun
pemerintah
Surbakti,
R. (2015).
Mengapa
Indonesia
Membutuhkan
mayoritas
diduduki
oleh
laki-laki.
Apabila
tidak
diperjuangkan,
hal ini
Rekapitulasi Elektronik dan harus Menghindari
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
Pemungutan Suara Secara Elektronik. Diskusi Pengalaman
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Internasional dalam Teknologi Kepemiluan , (p. 2). Jakarta.
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Tempo/Rosdianahangka. (2012, February 22). www.
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”tempo.co. Retrieved 2015, from Tempo: http://tempo.co/
read/
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
and Open
(n.d.).
Retrieved
SupriyantoTransparency
dan Lia Wulandari
dalamGovernment.
tulisan berjudul
Transparansi
dan
from www.whitehouse.gov:
http://www.whitehouse.gov/
Akuntabilitas
Pengelolaan Dana Kampanye,
menguraikan bahwa dana
the_press_office/TransparencyandOpenGovernment.
kampanye
adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanyeWisanggeni,
diperlukan oleh
partai politik
dan kandidatnya
untuk dapat
H. (2015).
API Pemilu:
Sebuah Perjalanan
berkompetisi
di
dalam
pemilu.
Setiap
partai
politik,
kandidat/calon
Menyalakan Harapan. Jakarta: Perludem.
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
284
vi
PROFIL PENULIS
LIA WULANDARI
seorang Peneliti Perludem Sejak April 2011, dengan spesialisasi isu-isu politik
dan kepartaian. Lulusan Ilmu Politik dari Universitas Indonesia tahun 2008 ini juga
pernah menjadi relawan penelitian di Komnas Perempuan dan Puskapol UI untuk riset
Kekerasan terhadap Permpuan dan Keterwakilan Perlemen sejak tahun 2007. Sejak
mahasiswa, aktif dalam kegiatan sosial kemahasiswaan di Senat FISIP UI, BEM UI dan
sebagai reporter di FISIPERS FISIP UI. Penelitian yang pernah dilakukan ialah keuangan
partai politik, dana kampanye, dan subsidi partai politik yang dilakukan bersama tim
Perludem. Selain itu, ia aktif terlibat dalam advokasi UU No. 8 Tahun 2012 tentang
Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dan UU
No. 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota.
USEP HASAN SADIKIN
Pegiat rumahpemilu.org, portal berita dan data pemilu Indonesia yang merupakan
bentuk layanan informasi pemilu Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).
Lelaki kelahiran Serang, 27 Oktober 1983 ini merupakan lulusan (2008) Geografi, FMIPA,
Universitas Indonesia. Minat dan kritismenya terhadap demokrasi dan kesetaraan
tak tertampung di profesinya sebagai konsultan pemetaan dan guru geografi. Usep
lalu melibatkan aktivismenya pada isu kesetaraan gender di Jurnal Perempuan; isu
disabilitas di Helen Keller International Indonesia, hingga sekarang di Perludem. Usep
biasa berinteraksi melalui media sosial dan email di [email protected].
FADLI RAMADHANIL
Menyelesaikan studi sarjana hukum pada Fakultas Hukum Universitas Andalas,
Padang, pada Mei tahun 2013. Semasa mahasiswa Fadli aktif di Perhimpunan
Mahasiswa Tata Negara Fakultas Hukum Unand, dan sejak 2011 bergabung dengan
Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Unand sebagai asisten peneliti.
Selesai menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Andalas, Fadli bergabung
dengan Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) sejak Juni 2013 sampai
sekarang. Di Perludem aktif menggeluti isu-isu penegakan hukum pemilu. Fadli aktif
menulis di beberapa media seperti Kompas, Republika, dan The Geotimes, serta Jurnal
Pemilu&Demokrasi. Tulisannya banyak menilik persoalan pemilu, demokrasi, penegakan
hukum, dan dinamika ketatanegaraan. email: [email protected].
KHOIRUNNISA AGUSTIYATI
Lahir di Palembang, 24 Agustus 1987. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Sosiologi pada
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Indonesia pada Januari 2010. Saat ini
sedang mengambil gelar Master dalam bidang Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Sejak
285
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
2010 menggeluti isu dan dunia kepemiluan paska lulus dari UI, dengan bergabung
sebagai Peneliti Pemilu pada Centre for Electoral Reform (CETRO). Juni 2012 hingga
merupakan
suatu upaya
menyelamatkan
kebijakan
publik
yang akan
saat
ini, aktif bekerja
sebagaiuntuk
Peneliti
Pemilu di Perkumpulan
Pemilu
dan Demokrasi
dibuat oleh
politisi
dan
pemerintah
yang
terpilih
memerintah.
(Perludem).
Dalam
dunia
kepemiluan,
penulis
aktif
sebagaiuntuk
fasilitator
dalam pelatihan
dan workshop kepemiluan. Terlibat secara aktif pada berbagai forum kerjasama antar
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
lembaga-lembaga pemilu dan demokrasi, baik berskala nasional dan internasional.
Yuna
Farhan
melalui
tulisannyasipil
“Menelusuri
Siklus
Politisasi Anggaran
Turut terlibat
dalam
koalisi masyarakat
untuk mendukung
penyelenggaraan
pemilu
pada profesional.
Tahun Pemilu.”
menjelaskan
bahwa
Political
budgetpemilu
cycles
secara
Selain itu,Yuna
juga aktif
terlibat dalam
advokasi
undang-undang
dan
penyelenggara
pemilu.
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
CATHERINE NATALIA
budget
cycles seperti
perubahan
pola pada struktur
anggaran
baik secara
Lahir
di Bandung,
27 Desember
1972. Menyelesaikan
pendidikan
Sarjana Hukum
dari
agregat maupun
secara
spesifik
pada 1996
tahun-tahun
Pemilu,
Universitas
Padjadjaran
Bandung
pada tahun
dan Magister
Hukumterkonfirmasi
di Universitas
Indonesia
pada tahun
2005. Tenaga
Teknis di Komisi
Republik
dalam praktek
penganggaran
di Indonesia
yang Pemilihan
berkaitanUmum
dengan
siklus
Indonesia pada 2009-2015, bergabung dengan Perludem sejak Februari 2015 sebagai
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
Legal Drafter.
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political
corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
PANDU
DEWANTA
Adalah
mahasiswa
aktif
S1 di Fakultas
Hukumekstrim.
Universitas Padjadjaran. Saat ini aktif di
Pemilu yang telah
meningkat
dengan
BEM KEMA Universitas Padjadjaran dan PAKTA (Pusat Kajian Mahasiswa Hukum Tata
Masyarakat
tidak
saja dapat
ditafsirkan
tetapi
Negara).
Pada bulan
Desember
2015 sampai
dengansebagai
Februari satu
2016kesatuan,
sempat magang
juga
perluuntuk
dibatasi
mengingat
perbedaan
hakikat
antara laki-laki dan
di
Perludem
mempelajari
kepemiluan.
Alamat email
: [email protected]
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
DEBORA BLANDINA SINAMBELA
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
Menggemari dunia jurnalistik sejak masa kuliah dengan bergabung di Lembaga Pers
2012 menegaskan
partai
politik
peserta
pemilu
harusFakultas
memenuhi
Mahasiswa
Suara USU. setiap
Meraih gelar
Sarjana
di Ilmu
Komunikasi
(S.ikom)
Ilmu
30% keterwakilan
Kondisi
ini patut
diperjuangkan,
mengingat
Sosial
dan Ilmu Politikperempuan.
(FISIP) Universitas
Sumatera
Utara.
Aktif meliput dan
menulis
Pemilihan
Raya (Pemira)
Kampus
Pemilihan
Gubernur Sumatera
Tahun
praktik selama
ini, pihak
yang serta
duduk
baik di parlemen
maupunUtara
pemerintah
2013. Kemudian menjadi Staff Media Center KPU Sumut pada Pemilu Legislatif dan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
Pemilu Presiden 2014, kerjasama antara Yayasan Kippas, KPU Sumut dan Perludem.
akan berdampak
negatif
terhadap
mandeknya
aspirasi
perempuan
dalam
Menjadi
Ketua Klub Penulis
Perempuan
Sumut
dan koordinator
penulisan
calon legislatif
hukum dan
Dan
kondisimenjadi
tersebut
telahrumahpemilu.org
ditulis oleh Nindita
perempuan
di pemerintahan.
Sumut. Saat ini aktif
Perludem
Jurnalis
sejak
2015.
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
MAHARDDHIKA
2009.”di Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) sejak 2014, mengelola
Bergiat
rumahpemilu.org,
serta mempunyai
pada isu perempuan
dan
anak muda
Masih berhubungan
denganketertarikan
tema akuntabilitas
keuangan
politik,
Didik
di pemilu. Ia juga menjadi kontributor tetap youthproactive.com.
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas
Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
HEROIK
M PRATAMA
kampanye
adalah
satu
haldipenting
dalam
prosesPriapemilu.
Dana
Lahir
pada tanggal
16 salah
November
1992,
Kota Bogor
Jawa Barat.
yang dikenal
dengan
sapaan
Heroik
meraih
gelar
Sarjana
Ilmu
Politik
(S.IP)
di
Jurusan
Politik
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM. Sejak mahasiswa ia aktif
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
diberbagai bidang organisasi kemahasiswaan mulai dari Korps Mahasiswa Politik dan
legislatif tidak
akan
dapat
bekerja
secara
maksimal
Pemerintahan
(KOMAP
UGM)
sebagai
presiden,
kemudian
pimpinandalam
bidang kampanye
sosial dan
286
vi
politik senat mahasiswa FISIPOL UGM, sebagai salah satu pendiri Dewan Mahasiswa
FISIPOL UGM, serta mentri aksi dan propaganda BEM KM UGM. Pada tahun 2014, ia
pernah menjadi asisten peneliti di Reaserch Center of Politics and Goverment (POLGOV)
UGM dan November 2014 aktif di Perludem sebagai peneliti yang menggeluti isu sistem
pemilu dan sistem kepartaian.
DIAH SETIAWATY
Adalah Program Officer API (Application Programming Interface) Pemilu, program
database pemilu Perludem. API Pemilu bertujuan memberikan informasi yang lebih
baik kepada pemilih, meningkatkan akses publik terhadap informasi pemilu, serta
meningkatkan partisipasi pemilih melalui penggunaan teknologi. Program API Pemilu
terus mendukung upaya Komisi Pemilihan Umum dalam menyediakan akses yang
lebih mudah untuk membuka data, terutama data pemilu. Perempuan yang dikenal
dengan sapaan Diah juga aktif dalam advokasi terbuka gerakan data di Indonesia, dan
salah satu pendiri Open Data Club. Diah telah beberapa kali berbicara di forum-forum
internasional diantaranya Open Government Partnership Asia-Pasific Regional Meeting
(Bali, 2014), International Conference Civil Society in Development (2014),Asean
Election Stakeholder Forum (Timor Leste, 2015) Open Data International Conference
(2015) dan menjadi lead dalam penyelenggaraan International Open Data Research
Symposium (Jakarta,2015). Selain itu, Diah terlibat dalam program-program pendidikan
pemilih di Perludem.
SEBASTIAN VISHNU
Lulusan Hubungan Internasional Universitas Padjdjaran ini aktif di Perkumpulan Untuk
Pemilu dan Demokrasi (Perludem) sejak awal tahun 2014. Pria yang dikenal dengan
sapaan Bastian ini memiliki ruang lingkup dan minat kajian pada isu-isu teknologi
kepemiluan. Selain itu, ia aktif pengembangan gerakan Open Data di Indonesia dengan
berbagai organisasi lainnya.
KHOLILULLAH P
Adalah seorang aktivis yang bergabung di Perludem sejak 2013. Lepas dari aktivisme
kampus, lelaki ini kemudian menggeluti dunia organisasi masyarakat sipil di Aceh sejak
2006: Forum LSM Aceh, Forum Peneliti Aceh, dan Aceh Institute. Berbagai isu terkait
peace building dan good governance telah dilaluinya, termasuk isu kepemiluan daerah.
Hal ini pula yang mendorong dirinya untuk memberikan perhatian khusus terhadap
dinamika kepemiluan daerah, terutama daerah-daerah mendapatkan tag khusus seperti
Aceh, Papua, Papua Barat, Yogyakarta, dan DKI Jakarta. Sebagai seorang yang juga
merupakan lulusan profesi Akuntan dari Fakultas Ekonomi Unsyiah, lelaki yang lahir di
tahun 1984 ini juga berminat serta terus mendalami isu anggaran kepemiluan.
287
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
sudah menjadi fenomena universal didukung dengan berbagai studi
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
agregat maupun secara spesifik pada tahun-tahun Pemilu, terkonfirmasi
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
ini, yang menjadi perhatian tidak hanya political budget cycles, melainkan
political corruption cycle atau siklus korupsi politik pada tahun-tahun
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
Masyarakat tidak saja dapat ditafsirkan sebagai satu kesatuan, tetapi
juga perlu dibatasi mengingat perbedaan hakikat antara laki-laki dan
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
praktik selama ini, pihak yang duduk baik di parlemen maupun pemerintah
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
akan berdampak negatif terhadap mandeknya aspirasi perempuan dalam
hukum dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
Paramastuti dalam tulisannya yang berjudul: “Perempuan dan Korupsi:
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
2009.”
Masih berhubungan dengan tema akuntabilitas keuangan politik, Didik
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kampanye, menguraikan bahwa dana
kampanye adalah salah satu hal penting dalam proses pemilu. Dana
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
288
vi
Latar Belakang
Demokrasi memang bukan satu tatanan yang sempurna untuk mengatur peri
kehidupun manusia. Namun sejarah di manapun telah membuktikan, bahwa demokrasi
sebagai model kehidupan bernegara memiliki peluang paling kecil dalam menistakan
kemanusiaan. Oleh karena itu, meskipun dalam berbagai dokumentasi negara ini
tidak banyak ditemukan kata demokrasi, para pendiri negara sejak zaman pergerakan
berusaha keras menerapkan prinsip-prinsip negara demokrasi bagi Indonesia.
Tiada negara demokrasi tanpa pemilihan umum (pemilu), sebab pemilu merupakan
instrumen pokok dalam menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. Sesungguhnya, pemilu
tidak saja sebagai arena untuk mengekspresikan kebebasan rakyat dalam memilih
pemimpinnya, tetapi juga arena untuk menilai dan menghukum para pemimpin
yang tampil di hadapan rakyat. Namun, pengalaman di berbagai tempat dan negara
menunjukkan bahwa pelaksanaan pemilu seringkali hanya berupa kegiatan prosedural
politik belaka, sehingga proses dan hasilnya menyimpang dari tujuan pemilu sekaligus
mencederai nilai-nilai demokrasi.
Kenyataan tersebut mengharuskan dilakukannya usaha yang tak henti untuk
membangun dan memperbaiki sistem pemilu yang fair, yakni pemilu yang mampu
menampung kebebasan rakyat dan menjaga kedaulatan rakyat. Para penyelenggara
pemilu dituntut memahami filosofi pemilu, memiliki pengetahuan dan ketrampilan
teknis penyelenggaraan pemilu, serta konsisten menjalankan peraturan pemilu, agar
proses pemilu berjalan sesuai dengan tujuannya. Selanjutnya, hasil pemilu, yakni para
pemimpin yang terpilih, perlu didorong dan diberdayakan terus-menerus agar dapat
menjalankan fungsinya secara maksimal; mereka juga perlu dikontrol agar tidak
meyalahgunakan kedaulatan rakyat yang diberikan kepadanya.
Menyadari bahwa kondisi-kondisi tersebut membutuhkan partisipasi setiap warga
negara, maka para mantan Pengawas Pemilu 2004 berhimpun dalam wadah yang
bernama Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi, disingkat Perludem agar dapat
secara efektif terlibat dalam proses membangun negara demokrasi dan melaksanakan
pemilu yang fair. Nilai-nilai moral pengawas pemilu yang tertanam selama menjalankan
tugas-tugas pengawasan pemilu, serta pengetahuan dan keterampilan tentang
pelaksanaan dan pengawasan pemilu, merupakan modal bagi Perludem untuk
memaksimalkan partisipasinya.
289
Pemilu&
Demokrasi
Jurnal
merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan kebijakan publik yang akan
dibuat oleh politisi dan pemerintah yang terpilih untuk memerintah.
Pandangan Hamdan tersebut berkaitan dengan apa yang disampaikan
Yuna Farhan melalui tulisannya “Menelusuri Siklus Politisasi Anggaran
pada Tahun Pemilu.” Yuna menjelaskan bahwa Political budget cycles
Visi
Terwujudnya
negarafenomena
demokrasi universal
dan terselenggarakannya
pemiluberbagai
yang mampu
sudah menjadi
didukung dengan
studi
menampung kebebasan rakyat dan menjaga kedaulatan rakyat.
empiris di berbagai Negara. Berbagai variabel yang mempengaruhi politcal
budget cycles seperti perubahan pola pada struktur anggaran baik secara
Misi
agregat maupun
secara spesifik
Pemilu,
1.Menguatkan
kapasitas
perludem pada
untuktahun-tahun
menjadi lembaga
yangterkonfirmasi
transparan,
akuntabel,
dan
demokratis.
dalam praktek penganggaran di Indonesia yang berkaitan dengan siklus
2. Meningkatkan kapasitas personil perludem untuk menjadi pegiat pemilu yang
Pemilu 2009 ataupun menjelang Pemilu 2014. Melihat perkembangan saat
berintegritas dan berkompeten.
ini,Mengembangkan
yang menjadi perhatian
hanya
political
budgetdicycles,
melainkan
3.
pusat riset, tidak
data, dan
informasi
kepemiluan
indonesia
political
corruption
cycleyang
atausesuai
siklus
korupsi
politik pada
tahun-tahun
4.
Membangun
sistem pemilu
dengan
prinsip-prinsip
demokrasi
5.
Meningkatkan
kapasitas
pembuat
kebijakan,
penyelenggara,
peserta
dan pemilih
Pemilu yang telah meningkat dengan ekstrim.
agar memahami filosofi tujuan pemilu dan demokrasi serta memiliki pengetahuan
Masyarakat
tidak
saja
dapat ditafsirkan
dan
keterampilan
teknis
penyelenggaraan
pemilu.sebagai satu kesatuan, tetapi
juga
perlu dibatasi
mengingat
perbedaan
antara peraturan
laki-laki dan
dan
6.
Memantau
penyelenggaraan
pemilu
agar tetaphakikat
sesuai dengan
prinsip-prinsip
pemilu
yang
demokratis
perempuan. Seperti halnya keterwakilan perempuan sebagai salah satu
7. Memperluas jaringan kelembagaan untuk memperkuat nilai – nilai pemilu yang
syarat verifikasi faktual untuk menjadi peserta pemilu. UU No. 8 Tahun
demokratis.
2012 menegaskan setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi
30% keterwakilan perempuan. Kondisi ini patut diperjuangkan, mengingat
Kegiatan
1.
Pengkajian:
mengkaji
peraturan,
mekanisme
prosedur pemilu/pilkada;
mengkaji
praktik
selama
ini, pihak
yang duduk
baikdan
di parlemen
maupun pemerintah
pelaksanaan pemilu/pilkada; memetakan kekuatan dan kelemahan peraturan
mayoritas diduduki oleh laki-laki. Apabila tidak diperjuangkan, hal ini
pemilu/pilkada; menggambarkan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pemilu/
akan
berdampak
negatif
terhadap
mandeknya
aspirasi
perempuan
dalam
pilkada;
mengajukan
rekomendasi
perbaikan
sistem dan
peraturan
pemilu/pilkada;
hukum
dll. dan pemerintahan. Dan kondisi tersebut telah ditulis oleh Nindita
2.
Pelatihan: meningkatkan
pemahaman
stakeholder
pemilu/pilkada
tentang
Paramastuti
dalam tulisannya
yang para
berjudul:
“Perempuan
dan Korupsi:
filosofi pemilu/pilkada; meningkatkan pemahaman tokoh masyarakat tentang
Pengalaman Perempuan Menghadapi Korupsi dalam Pemilu DPR RI
pentingnya partisipasi masyarakat dalam pemilu/pilkada; meningkatkan
2009.”
pengetahuan dan ketrampilan petugas-petugas pemilu/pilkada; meningkatkan
pengetahuan
dan ketrampilan
paratema
pemantau
pemilu/pilkada;
dll. politik, Didik
Masih berhubungan
dengan
akuntabilitas
keuangan
3.Pemantauan: memonitor pelaksanaan pemilu/pilkada; mengontrol dan
Supriyanto dan Lia Wulandari dalam tulisan berjudul Transparansi dan
mengingatkan penyelenggara pemilu/pilkada agar bekerja sesuai dengan
Akuntabilitas
Kampanye, menguraikan
dana
peraturan yangPengelolaan
ada; mencatatDana
dan mendokumentasikan
kasus-kasus bahwa
pelanggaran
kampanye
adalah
salah satu menyampaikan
hal penting dalam
proseskecurangan
pemilu. Dana
dan sengketa
pemilu/pilkada;
pelaku-pelaku
dan
pelanggaran
pemilu/pilkada
kepada
pihak
yang
berkompeten;
dll
kampanye diperlukan oleh partai politik dan kandidatnya untuk dapat
berkompetisi di dalam pemilu. Setiap partai politik, kandidat/calon
legislatif tidak akan dapat bekerja secara maksimal dalam kampanye
290
vi
291
Download