STUDI GERAKAN PEMIKIRAN ISLAM LIBERAL DI INDONES

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
JARINGAN ISLAM LIBERAL
(STUDI GERAKAN PEMIKIRAN ISLAM LIBERAL DI INDONESIA
TAHUN 2001-2005)
SKRIPSI
Oleh :
CAHYANINGRUM TRI AGUS TINA
K4408022
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
JARINGAN ISLAM LIBERAL
(STUDI GERAKAN PEMIKIRAN ISLAM LIBERAL DI INDONESIA
TAHUN 2001-2005)
Oleh :
CAHYANINGRUM TRI AGUS TINA
K4408022
Skripsi
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana
Program Studi Pendidikan Sejarah
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
commit to user
ii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commit to user
iii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commit to user
iv
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ABSTRAK
Cahyaningrum Tri Agus Tina. K4408022. JARINGAN ISLAM LIBERAL
(STUDI GERAKAN PEMIKIRAN ISLAM LIBERAL DI INDONESIA
TAHUN 2001-2005). Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Juli 2012.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Latar belakang
terbentuknya Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia, (2) Pemikiran dan strategi
Jaringan Islam Liberal (JIL) dalam mengembangkan Islam liberal di Indonesia,
(3) Pengaruh Jaringan Islam Liberal (JIL) terhadap kehidupan agama dan politik
di Indonesia tahun 2001-2005.
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode historis dengan
langkah-langkah heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Sumber data yang
digunakan dalam penelitian ini berupa sumber primer dan sumber sekunder.
Teknik pengumpulan data dengan studi pustaka, menggunakan sistem resume
katalog. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis historis
dengan melakukan kritik ekstern dan intern
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : (1) Latar belakang
terbentuknya Jaringan Islam Liberal adalah menguatnya pengaruh orientalis
dalam studi keislaman dan bangkitnya kelompok Islam fundamentalis yang
cenderung radikal dalam mengatasi permasalahan pasca orde baru. Jaringan Islam
Liberal diprakarsai Ulil Abshar Abdalla dan mulai aktif pada 8 Maret 2001, (2)
Pemikiran Islam liberal tercermin dalam beberapa agenda penting JIL, yang
meliputi: agenda politik (mendukung sekularisme), pluralisme agama, emansipasi
wanita, kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi. Strategi
pengembangan pemikiran Islam liberal dilaksanakan dengan bantuan dana The
Asia Fondation melalui forum kajian dan diskusi, media cetak seperti Gatra,
Tempo, Jawa Pos hingga media elektronik (kantor berita radio 68H), dan internet
dengan website resminya www.islamlib.com, (3) Pengaruh Jaringan Islam Liberal
di Indonesia adalah penegasan terhadap gagasan teologi negara sekular dan
pluralisme agama. Jaringan Islam Liberal bertujuan mencapai cita-cita civil
society (kebebasan masyarakat sipil) yang dalam perkembangannya justru
mengalami respon dan kritik dari berbagai pihak.
commit to user
v
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ABSTRACT
Cahyaningrum Tri Agus Tina. K4408022. LIBERAL ISLAM NETWORK (A
STUDY THOUGHT MOVEMENT OF LIBERAL ISLAM IN INDONESIA
2001-2005). Thesis. Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas
Maret University, July 2012.
The aims of this research are to identify: (1) The background formation of
Liberal Islam Network (JIL) in Indonesia, (2) Thoughts and strategies Liberal
Islam Network (JIL) in developing a liberal Islam in Indonesia, (3) The effect of
Liberal Islam Network (JIL) to the religious and political life in Indonesia 20012005.
This research was conducted by using the historical method through
heuristic, critical, interpretation and historiography steps. Source of data used in
this study of primary sources and secondary sources. The techniques of data
collection was done by literature study, using the resume and catalog system. The
technique of analysis data used in this research was the historical analysis with
external and internal critics.
Based on this research can be concluded: (1) The background formation
of Liberal Islam Network is the strengthening influence of orientalists in Islamic
studies and the rise of fundamentalist Islamic groups that tend to be radical in
overcome the problem post new order. Liberal Islam Network which initiated Ulil
Abshar Abdalla and active on March 8, 2001, (2) Liberal Islamic thought are
reflected in several important agenda of JIL, which include: the political agenda
(secularism), religious pluralism, emancipation of women, freedom of opinion and
freedom of expression. Liberal Islamic thought development strategies
implemented with financial assistance of The Asia Foundation through study and
discussion forums, print media such as Gatra, Tempo, Jawa Pos to electronic
media (radio news agency 68H) and internet with the official website
www.islamlib.com. (3) The effect of Liberal Islam Network in Indonesia is a
confirmation of theology the secular state idea and religious pluralism.The aims of
Liberal Islam Network to promote the ideals of civil society (freedom of civil
society), the development would have a response and critique of various parties.
commit to user
vi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
MOTTO
Janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak
di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal
mereka ialah jahanam; dan jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.
(QS. Ali Imran: 196-197)
Jika kau merasa bahwa segala yang di sekitarmu gelap dan pekat, tidakkah dirimu
curiga bahwa engkaulah yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi
mereka?, berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, sebab sinarmulah yang sedang
mereka nantikan, maka berkilaulah!
(Salim A. Fillah)
Tak ada penciptaan yang sia-sia, maka yakinlah bahwa Allah SWT selalu
memberi ganjaran pada perjuangan sekecil apapun.
(Penulis)
commit to user
vii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
HALAMAN PERSEMBAHAN
Dengan rasa syukur atas Rahmat Allah
SWT, karya ini penulis persembahkan
kepada:
 Bapak Ibu Tercinta, atas semua do’a,
dukungan dan kasih sayang tiada henti
 Kakak-kakakku tersayang: Mas Aris dan
Mas Bowo, karena tawamu ringankan
langkahku
 Sahabat-sahabatku
 Teman-teman Sejarah ‘08, Kakak-kakak
dan Adik-adik keluarga besar Prodi Sejarah
 Almamater
commit to user
viii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala
limpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penyusunan skripsi ini
dapat diselesaikan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah dan
terlimpahkan pada junjungan Kita Rasulullah SAW. Skripsi ini ditulis guna
memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan
pada Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas
Keguruan dan Ilmu Kependidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Selama masa penyelesaian skripsi ini, cukup banyak hambatan yang
menimbulkan kesulitan, namun berkat karunia Allah SWT dan peran berbagai
pihak akhirnya kesulitan yang timbul dapat teratasi. Untuk itu, atas segala bentuk
bantuannya, disampaikan terima kasih kepada :
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret
Surakarta yang telah memberikan ijin penyusunan skripsi.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah menyetujui
permohonan ijin dalam penyusunan skripsi.
3. Ketua Program Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin dan
pengarahan demi kelancaran penyusunan skripsi ini.
4. Drs. Tri Yuniyanto, M. Hum. selaku Pembimbing I, yang dengan sabar telah
memberikan motivasi, masukan, dan saran yang membangun kepada penulis.
5. Drs. Saiful Bachri, M.Pd selaku Pembimbing II, yang dengan sabar juga telah
memberikan motivasi, masukan, dan saran yang membangun kepada penulis.
6. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sebelas Maret Surakarta yang dengan tulus telah memberikan ilmu kepada
penulis.
7. Teman-teman Prodi Sejarah khususnya Angkatan 2008, yang telah
commit to user
memberikan bantuan, doa dan dukungannya kepada penulis.
ix
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah
membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas amal baik semua pihak yang telah
berperan dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam
penulisan skripsi ini masih terdapat kekurangan, sehingga kritik dan saran
senantiasa penulis harapkan. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat
bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan khususnya bagi mahasiswa Prodi
Sejarah.
Surakarta, Juli 2012
Penulis
commit to user
x
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………….… .........................................................................
i
HALAMAN PENGAJUAN.......................................................................................
ii
HALAMAN PERSETUJUAN …… ... ………………………………………...... ..
iii
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................
iv
ABSTRAK
……………...................................................................................
v
HALAMAN MOTTO ..............................................................................................
vii
HALAMAN PERSEMBAHAN………………………………...... ......................... viii
KATA PENGANTAR
......................................................................................
ix
…………………………………………………………...... .........
xi
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
......................................................................................
xv
PENDAHULUAN ............................................................................
1
A. Latar Belakang Masalah .............................................................
1
B. Rumusan Masalah ......................................................................
8
C. Tujuan Penelitian ........................................................................
8
D. Manfaat Penelitian .....................................................................
9
LANDASAN TEORI .......................................................................
10
A. Tinjauan Pustaka ........................................................................
10
1. Liberalisme………………………………………………….. .
10
2. Demokrasi…………………………………….................. ......
14
3. Sekularisme ...........................................................................
19
4. Pluralisme Agama …………………………………………....
22
5. Masyarakat Madani ...............................................................
26
B. Kerangka Berpikir ......................................................................
33
METODOLOGI PENELITIAN......................................................
commit
to user.....................................................
A. Tempat dan Waktu
Penelitian
36
DAFTAR ISI
BAB I
BAB II
BAB III
xi
36
perpustakaan.uns.ac.id
BAB IV
digilib.uns.ac.id
1. Tempat Penelitian .................................................................
36
2. Waktu Penelitian ...................................................................
36
B. Metode Penelitian ......................................................................
37
C. Sumber Data ...............................................................................
38
D. Teknik Pengumpulan Data .........................................................
40
E. Teknik Analisis Data .................................................................
41
F. Prosedur Penelitian ....................................................................
42
1. Heuristik ...............................................................................
43
2. Kritik ...................................................................................
44
3. Interpretasi ............................................................................
46
4. Historiografi ..........................................................................
46
HASIL PENELITIAN .....................................................................
48
A. Latar Belakang Terbentuknya Jaringan Islam Liberal (JIL) .........
48
1. Akar dan Wajah Pemikiran Liberal ........................................
48
a. Liberalisme di Barat .........................................................
48
b. Liberalisme dalam Islam ...................................................
54
2. Masuknya Pengaruh Islam Liberal Ke Indonesia .....................
59
c. Orientalisme .....................................................................
60
d. Kolonialisme di Indonesia ................................................
66
3. Politisasi Agama Pasca Orde Baru .........................................
70
4. Lahirnya Jaringan Islam Liberal di Indonesia .........................
75
B. Pemikiran dan Strategi PengembanganJaringan Islam Liberal
(JIL) 2001-2005..........................................................................
80
1. Seputar Istilah dan Tokoh-tokoh Islam Liberal .......................
80
a. Istilah Islam Liberal ..........................................................
80
b. Tokoh-tokoh Islam Liberal ...............................................
82
2. Agenda Jaringan Islam Liberal tahun 2001-2005 ....................
95
a. Agenda Politik ..................................................................
99
b. Pluralisme Agama ............................................................ 102
user
c. Kesetaraancommit
Genderto............................................................
104
xii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
d. Metode Hermeneutika untuk Al-Qur’an ............................ 110
e. Konsep Jihad .................................................................... 113
3. Strategi Pengembangan Islam Liberal di Indonesia................. 115
C. Pengaruh Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia tahun 20012005 ........................................................................................... 119
1. Jaringan Islam Liberal dan Cita-cita Civil Society ................... 119
a. Kehidupan Politik (Menggagas Agenda Penolakan Negara
Syariat) ............................................................................. 123
b. Kehidupan Agama (Mengedepankan Pluralisme Agama) ... 126
2. Respon dan Kritik terhadap Jaringan Islam Liberal................. 128
BAB I
SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ....................................... 138
A. Simpulan ...................................................................................... 138
B. Implikasi ...................................................................................... 140
C. Saran ............................................................................................ 142
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 143
LAMPIRAN ………………………………………………..................................... 151
commit to user
xiii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1: Bagan Kerangka Pemikiran ....................................................... 33
Gambar 2: Bagan Langkah-langkah/Prosedur Penelitian Sejarah ................ 43
commit to user
xiv
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Keputusan Fatwa MUI Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005
tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama .....
152
Lampiran 2: Kliping Kementerian Agama “Pikiran Sesat Anti Islam
Kuasai Departemen Agama”...................................................
155
Lampiran 3: Artikel Kompas .....................................................................
158
a. Kompas 1 Februari 2002
1) “Kekerasan,
‘Sumbangan’
Modernisasi
dan
Fundamentalisme Agama” ........................................
158
2) “Momentum Kebangkitan Islam Moderat” ................
160
3) “Agama, Demokrasi dan HAM” ................................
162
b. Kompas 26 April 2002
“Islam Liberal, Keberagaman Pasca Politisasi Agama” ....
164
c. Kompas 18 November 2002
“Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” ....................
165
Lampiran 4: Artikel Suara Merdeka ...........................................................
167
a. Suara Merdeka 28 Juni 2002
“Kecurigaan Seputar Islam Liberal”.................................
167
b. Suara Merdeka 30 September 2002
“Memahami Konsep Islam Liberal” .................................
168
Lampiran 5: Artikel Majalah Gatra ............................................................
170
c. Gatra 1 Desember 2001
“Perlawanan Islam Liberal” ..............................................
170
d. Gatra 8 Desember 2001
1) “Kampanye Baru Mengangkat Tabu” ..........................
172
2) “Tafsir liberal dari Utan Kayu” ...................................
175
3) “Berkutat Pada Wilayah Publik” .................................
177
4) “Melawan Ekstremisme Menuai Kesesatan” ..............
180
5) “Postra Mengais Makna” ...........................................
commit
to userKategorisasi .......................
6) “Islam Liberal:
Persoalan
182
xv
184
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
e. Gatra 21 Desember 2002
1) “Bahaya Bola Liar Fatwa Mati” ..................................
185
2) “Tafsir Agama Pemicu Fatwa” ....................................
189
3) “Ganjaran Bagi yang Berbeda”....................................
191
4) “Di Belakang Fatwa yang Membawa Maut”................
194
Lampiran 6: Jurnal ...................................................................................
195
a. “Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD
KHI) : Produk Fikih Liberal” ............................................
b. “The
Rise
of
Liberal
Islam
Network
(JIL)
195
in
Contemporary Indonesia” ................................................
214
Lampiran 7: Surat Keputusan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan tentang Ijin Penyusunan Skripsi ...........................
240
Lampiran 8: Surat Permohonan Ijin Menyusun Skripsi ..............................
241
commit to user
xvi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Liberalisme dalam ranah politik dimaknai sebagai sistem dan
kecenderungan melaksanakan demokrasi sekaligus menentang sentralisasi. Di
bidang ekonomi, liberalisme merujuk pada sistem pasar bebas yang membatasi
intervensi pemerintah. Di wilayah sosial, liberalisme berarti emansipasi wanita,
penyetaraan gender, menurunnya kontrol sosial terhadap individu dan nilai-nilai
kekeluargaan. Sedangkan dalam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan
menganut,
meyakini dan mengamalkan apa saja yang sesuai dengan
kecenderungan, kehendak masing-masing bahkan mereduksi agama menjadi
urusan privat (Syamsuddin Arif, 2008: 77).
Pada masa pemerintahan Belanda, Raffles berusaha melaksanakan
pembaruan yang bersifat liberal di Nusantara dengan memperkenalkan sistem
pemerintahan langsung dan sistem sewa tanah (land-rent) sebagai bentuk
kebebasan di bidang ekonomi (Parakitri T. Simbolon, 2007: 97-98), namun dalam
praktiknya cita-cita pembaruan tersebut hanya sebatas teori. Periode selanjutnya,
diterapkan sistem tanam paksa (cultuur stelsel) yang diiringi penyimpangan dan
kesengsaraan rakyat sehingga memicu tuntutan untuk beralih pada sistem usaha
bebas yang bersifat liberal. Lahirnya UU Agraria dan UU Gula pada tahun 1870
membawa perekonomian bebas dengan masuknya modal swasta. Liberalisme di
bidang ekonomi pada perkembangannya akan berpengaruh pada luasnya
liberalisasi dalam aspek kehidupan lain.
Sekularisme sebagai akar liberalisme masuk ke Indonesia melalui proses
penjajahan, khususnya oleh pemerintah Belanda. Prinsip negara sekular telah
menjadi dasar pemerintah untuk bersikap netral terhadap agama, artinya tidak
memihak salah satu agama atau mencampuri urusan agama (Aqib Suminto, 1985:
27). Mayoritas penduduk Hindia-Belanda yang beragama Islam, menyebabkan
Islam dianggap sebagai kekuatan politik yang dikhawatirkan mampu mengancam
posisi pemerintah Hindia-Belanda.
Pada to
tahun
commit
user1889 setelah kedatangan Snouck
1
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
2
Hurgronje, pemerintah Hindia-Belanda baru mempunyai kebijakan yang jelas
mengenai masalah Islam. Snouck menegaskan bahwa pada hakikatnya orang
Islam di Indonesia penuh damai, tetapi di sisi lain Snouck tidak buta terhadap
politik fanatisme Islam. Bagi Snouck, musuh kolonialisme bukanlah Islam
sebagai agama, melainkan Islam sebagai doktrin politik (H.J. Benda, 1980: 45).
Kenyataannya Islam berfungsi sebagai titik pusat identitas yang
melambangkan perlawanan terhadap penjajah (Aqib Suminto, 1985: 16).
Sehubungan dengan politik tersebut, Snouck Hurgronje membagi Islam menjadi
tiga bagian, yaitu ibadah, sosial-kemasyarakatan dan politik. Pemerintah
memberikan kebebasan dalam masalah ibadah dan sosial-kemasyarakatan, tetapi
tidak dalam hal politik. Pemerintah mencegah setiap usaha yang akan membawa
rakyat pada fanatisme dan Pan Islam. Kebijakan pemerintah Hindia-Belanda
dalam menghadapi tiga masalah ini dikenal dengan nama Politik Islam HindiaBelanda.
Politik Etis yang dijalankan penjajah Belanda di awal abad 20 semakin
menancapkan liberalisme di Indonesia. Salah satu bentuk kebijakannya disebut
unifikasi, yaitu upaya mengikat negeri jajahan dan penjajahnya dengan
menyampaikan kebudayaan Barat kepada orang Indonesia. Pendidikan yang
disarankan Snouck Hurgronje, menjadi cara dalam proses unifikasi agar orang
Indonesia dan penjajah mempunyai kesamaan persepsi dalam aspek sosial dan
politik, meskipun ada perbedaan agama (Deliar Noer, 1991: 183). Secara langsung
kebijakan politik balas budi khususnya dalam bidang pendidikan kepada golongan
pribumi telah memperlebar jarak antara rakyat dan agamanya, dengan demikian
Islam sebagai kekuatan politik akan mengalami krisis.
Keterlibatan Barat dalam proses liberalisasi Islam mengantarkan banyak
penelitian mengenai Islam liberal. Edward W. Said menjelaskan dengan
Humanisme ia hendak mengatakan bahwa setiap bidang selalu berkaitan dengan
bidang-bidang yang lain, dan bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang pernah
terisolasi dan bebas dari pengaruh dunia luar. Yang lebih menyedihkan adalah
semakin banyak studi kritis kebudayaan menunjukkan pada kita munculnya
commit
user
problem-problem ini, maka semakin
keciltopengaruh
yang dimiliki oleh pandangan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
3
tersebut, sehingga polarisasi reduktif seperti Islam versus Barat yang tampak
sama-sama ingin menjadi penakluk juga akan semakin banyak (Said, 2010: xxiii).
Perubahan strategi dalam mengenali lawan politik
pada masa
penjajahan Belanda adalah fakta menarik di mana Islam adalah kekuatan politik
yang ditakuti. Kurangnya pengetahuan yang tepat mengenai Islam, menyebabkan
pemerintah Hindia-Belanda tidak berani mencampuri agama Islam secara
langsung. Kedatangan Snouck Hurgronje telah mengubah politik Islam masa itu,
pemahamannya tentang Islam meyakinkan pemerintah Hindia-Belanda bahwa
Islam sebagai kekuatan politik dan religius tidak bisa dipandang rendah. Apabila
ideologi Islam disebarkan untuk membuat perlawanan terhadap pemerintahan
asing maka bahaya fanatisme agama akan menggerakkan rakyat untuk menghapus
orde kolonial. Hal ini membawa Snouck pada pola penghancuran lawan dengan
terjun langsung mempelajari secara mendalam tentang Islam (Agustina Dwi P. A.,
2010: 54-56). Maka secara nyata tidak jarang bahwa orang-orang Barat telah
mempelajari nilai-nilai Islam sebagai kekuatan yang pantas diperhitungkan.
Menurut keyakinan Islam, manusia adalah makhluk Tuhan. Ketinggian,
keutamaan dan kelebihan manusia dari makhluk lain terletak pada akal yang
dianugerahkan Tuhan kepadanya. Akal yang membuat manusia memiliki
kebudayaan dan peradaban tinggi, akal manusia yang mewujudkan ilmu
pengetahuan dan teknologi dan selanjutnya bermanfaat dalam mengubah dan
mengatur alam sekitarnya untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Karena
itu, akal mempunyai peranan penting dalam Islam. Dalam hal ini pandangan Islam
rasional berkembang sebagai dinamika gagasan dan pemikiran Islam terutama di
lingkungan pendidikan (Harun Nasution, 1995: 139). Islam rasional telah
mempengaruhi cara pandang Islam terhadap pentingnya ilmu pengetahuan dan
perkembangan teknologi yang berpusat pada peradaban Barat.
Keseriusan dalam mengembangkan gagasan dan pemikiran rasional
secara langsung terlihat dari beberapa program Departemen Agama masa Orde
Baru dengan mengirim para sarjana dan dosen-dosen Perguruan Tinggi Islam
untuk melanjutkan studi dan belajar ilmu-ilmu Islam di negeri Barat pada kaum
commit
user
orientalis (Budi Handrianto, 2007:
13).toLahirnya
pemikiran Islam Liberal di
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
4
kalangan pemikir dan intelektual Indonesia tidak dapat terlepas dari pengaruh para
pemikir Barat yang menggagas liberalisasi Islam. Jika ditelusuri dalam sejarah
pemikiran Islam di Indonesia, liberalisasi Islam sudah ditanamkan sejak zaman
penjajahan Belanda. Tetapi secara sistematis, dari dalam organisasi Islam,
Liberalisasi Islam di Indonesia dimulai awal tahun 1970-an. Pada 3 Januari 1970,
Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI),
Nurcholish Madjid, secara resmi menggulirkan perlunya dilakukan sekularisasi
Islam dengan memperkenalkan konsep Islam Yes, Partai Islam No (Adian Husaini
dan Nuim Hidayat, 2002:30).
Gerakan liberalisasi pemikiran Islam yang sebenarnya lebih berunsur
pengaruh eksternal daripada perkembangan alami dari dalam tradisi pemikiran
Islam. Pengaruh eksternal itu dapat ditelusuri dari trend pemikiran liberal di Barat
dan dalam tradisi keagamaan Kristen. Leornard Binder (2001: 4), di antara sarjana
Barat keturunan Yahudi yang bertanggungjawab mencetuskan pergerakan Islam
liberal dan mengorbitkannnya pada era 80-an, telah merinci agenda-agenda
penting Islam Liberal. Ia menjelaskan perlu didukung dan disebarluaskannya
pergerakan Islam Liberal. Selain rational discourse yang merupakan tonggak
utamanya, gerakan ini tidak lebih daripada alat untuk mencapai tujuan politik
yaitu menciptakan pemerintahan liberal.
Tema liberalisme Islam yang diangkat Binder merupakan tema yang
menggunakan dialog terbuka antara dunia Islam dengan dunia Barat, antara
pemikiran Islam dan pemikiran Barat. Dalam konteks dialog tersebut, yang terjadi
bukan hanya menarik akar-akar trend liberalisme Islam sampai ke dunia Barat,
melainkan sebagai proses take and give yang saling mengisi dan menangani
persoalan-persoalan kemodernan, transformasi sosial, dan tradisi lokal (dalam
konteks Binder adalah tradisi Arab). Maka tokoh-tokoh yang diangkat adalah Ali
Abd Roziq, Abdullah Laroi, Thariq al-Bisyri, Muhammad Imarah, Muhammad
Arkoun, dan Sumir Amin, yang berdialog secara kritis dengan pemikir liberalisme
Barat, sosialisme, marxisme dan postmodernisme (Binder, 2001: 25-32).
Gerakan liberalisme dalam konteks Islam sebenarnya adalah pengaruh dari
commit
to user
falsafah liberalisme yang berkembang
di negara
Barat yang masuk ke dalam seluruh
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
5
bidang kehidupan seperti liberalisme ekonomi, liberalisme budaya, liberalisme politik,
dan liberalisme agama. Pada periode ini pengaruh liberalisme yang telah terjadi dalam
agama Yahudi dan Kristian mulai diikuti oleh sekumpulan sarjana dan pemikir muslim
seperti yang dilakukan oleh Nasr Hamid Abu Zayd (Mesir), Muhammad Arkoun (Al
Jazair), Abdulah Ahmed Naim (Sudan), Asghar Ali Enginer (India), Aminah Wadud
(Amerika), Nurcholis Madjid, Syafii Maarif, Abdurrahman Wahid, Ulil Abshar Abdalla
(Indonesia), Muhamad Shahrour (Syria), Fetima Mernisi (Marocco), Abdul Karim
Soroush (Iran), Khaled Abou Fadl (Kuwait) dan lain-lain. Di samping itu terdapat banyak
kelompok diskusi, dan institusi seperti Jaringan Islam Liberal (JIL-Indonesia), Sister in
Islam (Malaysia) hampir di seluruh negara Islam (Puslitbang Kehidupan Keagamaan,
2007).
Munculnya fenomena paham keIslaman yang beragam pada dasarnya
menghendaki upaya dalam mencapai cita-cita Islam. Dalam perjalanan
sejarahnya, Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadist telah dipahami
oleh para penganutnya dengan latar belakang sosial, kultural, politik, pendidikan,
kecenderungan, disiplin, aliran dan sebagainya yang berbeda-beda. Berbagai
keragaman latar belakang yang dimiliki penganutnya itu ternyata telah digunakan
untuk memahami Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dari sinilah Islam dalam kenyataan
empiris lahir dalam sosok dan cara yang bervariasi, meskipun sumber yang
digunakan adalah sama (Abuddin Nata, 2001 : 211).
Wacana rasional agama Islam bertujuan menyelaraskan antara amalan
dengan norma wahyu, sejarah, nalar, atau penafsiran, sedangkan wacana rasional
dalam pemikiran liberal selalu mengarah kepada kesepakatan yang berlandaskan
kemauan baik. Pemikiran liberal Barat tidak memprediksikan bahwa wacana
rasional akan selalu menuju kesepakatan tentang bangunan institusi yang sama
(yakni negara demokrasi ideal) namun meyakini bahwa kesinambungan politikbudaya dalam peradaban Barat terlaksana karena upaya yang kontinue dalam
menerapkan wacana rasional, meskipun dengan pengalaman sejarah yang
heterogen (Binder, 2001: 6).
Islam liberal di Indonesia adalah sama dengan pembaruan Islam atau
Islam neo-modernis. Seperti diketahui istilah neo-modernis berasal dari Fazlur
commit to user
Rahman sebagaimana dikutip Greg Barton (1999: 9), membedakan gerakan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
6
pembaruan Islam dalam dua abad terakhir kepada empat macam, yaitu
revivalisme Islam, Modernisme Islam, neo-revivalisme Islam dan neomodernisme Islam. Gerakan neo-modernisme Islam mempunyai karakteristik
sintesis progresif dari rasionalitas modernis dengan ijtihad dan tradisi klasik.
Gagasan neo-modernisme Islam Fazlur Rahman di Indonesia telah muncul dalam
kemasan baru yang disebut Islam Liberal (Abd A’la, 2003: 227). Meskipun
tipologi Fazlur Rahman ini dimaksudkan untuk seluruh dunia Islam, tetapi
tipologi keempat gerakan tersebut diwakili juga oleh tokoh-tokoh Indonesia,
seperti Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Djohan Effendi dan Ahmad
Wahib.
Greg Barton (1999: 8) menegaskan bahwa telah muncul gerakan
intelektual Islam baru di Indonesia sekitar tahun 1970-an. Gerakan tersebut selain
lahir dari tradisi Modernisme Islam yang terdahulu dan telah ada di Indonesia,
juga secara tangguh tampil berbeda baik dari sisi konsepsi maupun aplikasi
gagasannya dengan pendekatan yang khas. Gerakan pemikiran baru ini
berkembang membawa misi suci yaitu memadukan cita-cita liberal progresif
dengan keimanan yang saleh. Selain itu Barton (1999: 15) menekankan konsep
gerakan pembaruan pemikiran Islam bukan sebagai reaksi oportunistik terhadap
realitas perubahan politik masa itu melainkan sebuah gerakan intelektual yang
menghendaki rasionalitas dalam kehidupan beragama. Namun, Islam sebagai
kekuatan Ideologis yang cukup besar telah berakibat pada konsekuensi politik
yang ditampilkan tokoh-tokoh gerakan neo-modernis.
Luthfi Assyaukanie dalam Adian Husaini dan Nuim Hidayat (2002 : 2-3)
menegaskan bahwa Islam Liberal mulai dipopulerkan tahun 1950-an, tetapi mulai
berkembang pesat terutama di Indonesia tahun 1980-an yaitu oleh tokoh utama
sekaligus sumber rujukan utama Jaringan Islam Liberal, Nurcholis Madjid.
Meskipun Nurcholis tidak pernah menggunakan istilah Islam Liberal untuk
mengembangkan gagasannya, tapi ia tidak menentang ide-ide Islam Liberal.
Karena itu, Islam Liberal diidentikkan dengan gagasan Islam yang dikembangkan
oleh Nurcholis dan kelompoknya yang tidak setuju dengan pemberlakuan syariat
commit
to user
Islam (secara formal oleh Negara),
memperjuangkan
sekularisasi, emansipasi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
7
wanita, menyamakan agama Islam dengan agama lain (Pluralisme teologis) dan
memperjuangkan demokrasi Barat serta sejenisnya.
Di Indonesia, dalam akhir abad 20 publikasi mazhab pemikiran yang
disebut Islam liberal itu memang tampak dikerjakan secara sistematis.
Pengelolanya menamakan diri dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Sebelum lahir
Jaringan Islam Liberal, wacana Islam liberal beredar di meja-meja diskusi dan
sederet kampus, akibat terbitnya buku Islamic Liberalism (Chicago, 1988) karya
Leonard Binder, dan Liberal Islam (Oxford, 1998) hasil editan Charles Kurzman
(Asrori S. Karni & Mujib Rahman, 2001 : 29). Beberapa basis Islam Liberal yang
berkembang di masyarakat muncul dari puluhan aktivitas intelektual muda
berbagai kelompok muslim moderat yang merasa bahwa kondisi sosial keagamaan
pasca Orde Baru (menurut para pendiri JIL) dirasakan semakin menunjukkan
wajah Islam yang tidak ramah dan cenderung menampilkan konservatifismenya.
Dalam pandangan para tokoh JIL, publik saat itu diwarnai dengan pemahaman
masalah sosial keagamaan yang radikal dan anti-pluralisme.
Sejak akhir tahun 1990-an muncul dikalangan anak muda muslim yaitu
kelompok yang menamakan dirinya Islam Liberal. Kelompok anak muda ini
mencoba memberikan respon terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul
pada akhir abad ke 20 dan awal abad ke 21. Jika kelompok cendekiawan masa
orde baru tidak berani menyebut diri mereka secara langsung sebagai kelompok
Islam Liberal, tetapi anak-anak muda yang muncul pada akhir tahun 1990-an (era
reformasi) secara berani menyebut diri mereka Islam liberal yang terlihat dari
berbagai agendanya tentu bisa dikaitkan dengan faham liberalisme yang ada di
Barat (Adian husaini dan Nuim Hidayat, 2002:4)
Agenda Jaringan Islam Liberal dan Sekularisasi yang menjadi gagasan
sentral para tokoh liberal telah mengakibatkan respon yang beragam. Meskipun
mengatasnamakan sebuah perlawanan terhadap golongan Islam fundamental yang
cenderung bertindak radikal, Jaringan Islam Liberal pada akhirnya menjadi
perdebatan panjang di kalangan Intelektual muslim dan masyarakat pada
umumya. Ulil Abshar Abdalla koordinator Jaringan Islam Liberal ramai
to user
diperbincangkan ketika tulisancommit
kontroversialnya
”Menyegarkan Kembali
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
8
Pemahaman Islam” (Kompas, 18 November 2002) mengudara diberbagai forum
diskusi Islam, bersama dengan itu Jaringan Islam Liberal justru semakin gencar
mengibarkan bendera Islam Liberalnya (Mu’arif, 2005: 14).
Berdasarkan latar belakang di depan, maka kajian mengenai sejarah
Islam khususnya pasang surut sejarah pemikiran Islam liberal perlu dilakukan
penelitian dengan judul “Jaringan Islam Liberal (Studi Gerakan Pemikiran
Islam Liberal di Indonesia Tahun 2001 – 2005)”. Dalam pembahasan ini
dilakukan pembatasan masalah pada latar belakang, perkembangan, gagasan,
strategi serta pengaruh Jaringan Islam Liberal sejak kemunculannya dalam
memperkenalkan Islam Liberal melalui media masa sampai keluarnya Fatwa
haram Majelis Ulama Indonesia tahun 2005 bahwa pluralisme, sekularisme dan
liberalisme merupakan paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis dapat merumuskan
masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah latar belakang terbentuknya Jaringan Islam Liberal
(JIL) di Indonesia?
2. Bagaimanakah pemikiran dan strategi Jaringan Islam Liberal (JIL)
dalam mengembangkan Islam liberal di Indonesia pada tahun 20012005?
3. Bagaimanakah pengaruh Jaringan Islam Liberal (JIL) terhadap
kehidupan agama dan politik di Indonesia tahun 2001-2005?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan permasalahan diatas, tujuan yang ingin dicapai dari
penulisan ini adalah untuk mengetahui :
1. Latar belakang terbentuknya Jaringan Islam Liberal (JIL) di
Indonesia.
2. Pemikiran dan strategi Jaringan Islam Liberal (JIL) dalam
mengembangkan Islam liberal di Indonesia pada tahun 2001-2005.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
9
3. Pengaruh Jaringan Islam Liberal (JIL) terhadap kehidupan agama dan
politik di Indonesia tahun 2001-2005.
D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
a. Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah kajian tentang
Pemikiran Islam liberal di Indonesia.
b. Untuk memberikan sumbangan pengetahuan ilmiah yang berguna
dalam rangka pengembangan ilmu sejarah khususnya Sejarah
Pemikiran Islam.
c. Dapat menambah wawasan pembaca khususnya mahasiswa tentang
Perkembangan Pemikiran Islam liberal di Indonesia yang difokuskan
pada Jaringan Islam Liberal sehingga diharapkan nantinya ada studi
lebih lanjut mengenai pemikiran Islam.
2. Manfaat Praktis
a. Untuk memenuhi salah satu syarat guna meraih gelar Sarjana
Kependidikan Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
b. Dapat memberikan motivasi kepada para sejarawan untuk selalu
mengadakan penelitian ilmiah.
c. Merupakan sumber referensi bagi mahasiswa Program Sejarah FKIP
Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang akan meneliti lebih lanjut
mengenai perkembangan Pemikiran Islam di Indonesia.
d. Menambah bacaan di perpustakaan bagi mahasiswa ataupun pembaca
pada umumnya mengenai Pemikiran Islam di Indonesia.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Liberalisme
Istilah liberalisme berasal dari bahasa latin, liber yang artinya bebas atau
merdeka. Terkait erat dengan konsep manusia merdeka, bisa sejak lahir ataupun
merdeka setelah dibebaskan (mantan budak atau freedman). Prinsip liberalisme
yang paling mendasar ialah pernyataan bahwa tunduk pada otoritas adalah
bertentangan dengan hak asasi, kebebasan dan harga diri manusia (Syamsuddin
Arif, 2008: 76). Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan
filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan
adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu
masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu.
Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan
agama. Syamsuddin Arif (2008: 77), menjelaskan bahwa di zaman pencerahan,
kaum intelektual dan politisi Eropa menggunakan istilah liberal untuk
membedakan diri mereka dari kelompok lain. Sebagai kata sifat, liberal digunakan
untuk menunjuk sikap anti feodal, anti kemapanan, anti rasial, bebas merdeka,
berpikir luas lagi terbuka.
Liberalisme tumbuh dari konteks masyarakat Eropa pada abad
pertengahan yang ditandai dengan karakteristik di mana anggota masyarakat
terikat satu sama lain dalam suatu sistem dominasi kompleks yang kukuh dan pola
hubungan dalam sistem ini bersifat statis serta sukar berubah. Masyarakat yang
terbaik
menurut
paham
liberal
adalah
yang
memungkinkan
individu
mengembangkan kemampuan-kemampuan individu sepenuhnya untuk dapat
mengembangkan bakat dan pikirannya yang mengharuskan para individu untuk
bertanggungjawab atas tindakannya. Menurut Ramlan Surbakti (1992: 35) ciri-ciri
ideologi liberal, yaitu: a. demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang lebih
baik, b. anggota masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasuk
kebebasan berbicara, kebebasan commit
beragama
dan kebebasan pers, c. pemerintah
to user
10
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
11
hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas, d. kekuasaan dari
seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang buruk, e. suatu masyarakat
dikatakan berbahagia apabila setiap individu atau sebagian terbesar individu
berbahagia.
Paham Liberalisme disimpulkan mencakup tiga hal, yaitu: a. kebebasan
berpikir tanpa batas (free thingking), berarti kebebasan memikirkan apa saja dan
siapa saja, b. senantiasa meragukan dan menolak kebenaran alias sophisme, lebih
dikenal dengan skeptisisme, agnotisisme dan relativisme, c. sikap longgar dan
semena-mena dalam beragama (loose adherence to and free exercise of religion),
di mana seseorang tidak mau dikatakan kafir walaupun dirinya sudah tidak
committed lagi pada ajaran agama (Syamsuddin Arif, 2008: 79).
Sejarah liberalisme termasuk juga liberalisme agama adalah tonggak baru
bagi sejarah kehidupan masyarakat Barat. Karena itu, disebut dengan periode
pencerahan. Perjuangan untuk kebebasan mulai dihidupkan kembali di zaman
renaissance. Paham ini muncul ketika terjadi konflik antara pendukung negara
kota yang bebas melawan pendukung Paus. Liberalisme lahir dari sistem
kekuasaan sosial dan politik sebelum masa Revolusi Prancis berupa sistem
merkantilisme, feodalisme, dan gereja roman Katolik. Liberalisme pada umumnya
meminimalkan campur tangan negara dalam kehidupan sosial. Sebagai satu
ideologi, liberalisme bisa dikatakan berasal dari falsafah humanisme yang
mempermasalahkan kekuasaan gereja di zaman renaissance dan juga dari
golongan Whings semasa Revolusi Inggris yang menginginkan hak untuk
memilih raja dan membatasi kekuasaan raja dengan menentang sistem
merkantilisme dan bentuk-bentuk agama kuno. Liberalisme selalu menentang
sistem kenegaraan yang didasarkan pada hukum agama.
Tiga hal yang mendasar dari Ideologi Liberalisme yaitu kehidupan,
kebebasan dan hak milik (life, liberty and property). Syeikh Sulaiman al-Khirasyi
menyimpulkan
bahwa
Liberalisme
adalah
madzhab
pemikiran
yang
memperhatikan kebebasan individu dan memandang kewajiban menghormati
kemerdekaan individu serta berkeyakinan bahwa tugas pokok pemerintah adalah
commit torakyat,
user
menjaga dan melindungi kebebasan
seperti kebebasan berfikir,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
12
mengungkapkan pendapat, kepemilikan pribadi dan kebebasan individu serta
sejenisnya. Secara umum asas liberalisme terdiri dari tiga hal: kebebasan,
individualis dan mendewakan akal.
a. Asas pertama: Kebebasan
Setiap individu bebas dalam perbuatannya dan mandiri dalam tingkah
lakunya tanpa diatur negara atau lainnya. individu hanya dibatasi oleh undangundang yang dibuat sendiri dan tidak terikat dengan aturan agama. Dengan
demikian, liberalisme disini adalah sisi lain dari sekularisme secara pengertian
umum yaitu memisahkan agama dan member ruang untuk lepas dari
ketentuannya. Sehingga manusia itu bebas berbuat, berkata, berkeyakinan dan
berhukum seperti apa yang diinginkan tanpa batasan syari’at Allah. Manusia
menjadi tuhan untuk dirinya dan penyembah hawa nafsunya serta bebas dari
hukum ilahi dan tidak diperintahkan mengikuti ajaran ilahi.
b. Asas kedua: Individualisme (Al-Fardiyah)
Ada dua pemahaman dalam Liberalisme: Pertama, Individual dalam
pengertian ananiyah (keakuan) dan cinta diri sendiri. Pengertian inilah yang
menguasai pemikiran Eropa sejak masa kebangkitan Eropa hingga abad ke-20
Masehi. Kedua, Individual dalam pengertian kemerdekaan pribadi. Inilah
pemahaman baru dalam agama liberal yang dikenal dengan Pragmatisme.
c. Asas ketiga: Mendewakan Akal (Aqlaniyah)
Kemerdekaan akal dalam mengetahui dan mencapai kemaslahatan serta
kemanfaatan tanpa membutuhkan kekuatan di luarnya. Hal ini dapat terlihat dari
hal-hal berikut ini:
1) Kebebasan adalah hak-hak yang dibangun atas dasar materi bukan
permasalahan di luar materi yang dapat dilihat dan diketahuinya
dengan akal, panca indera serta penelitian.
2) Negara dijauhkan dari semua yang berhubungan dengan keyakinan
agama, karena kebebasan menuntut tidak adanya satu yang pasti dan
yakin. Karena itu, tidak mungkin mencapai hakekat dari sesuatu
commit to user
kecuali dengan perantara akal melalui hasil percobaan yang ada.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
13
Sehingga sebelum melakukan percobaan, manusia tidak mengetahui
apa-apa dan belum mampu untuk memastikan sesuatu. Ini dinamakan
ideologi toleransi (al-Mabda’ at-Tasaamuh). Hakekatnya adalah
menghilangkan komitmen agama, karena itu memberikan manusia hak
untuk
berkeyakinan
dan
menunjukkannya
serta
tidak
boleh
mengkafirkannya. Negara berkewajiban melindungi rakyatnya, karena
negara dalam hal ini terbentuk untuk menjaga hak-hak asasi setiap
orang. Sehingga menuntut negara terpisah total dari agama dan
madzhab pemikiran yang ada. Ini jelas dibuat oleh akal yang hanya
beriman kepada perkara kasat mata sehingga menganggap agama itu
tidak ilmiah dan tidak dapat dijadikan sumber ilmu.
3) Undang-undang yang mengatur kebebasan kelompok liberal adalah
undang-undang buatan manusia yang bersandar pada akal yang
merdeka dan jauh dari syari’at Allah. Sumber hukum mereka dalam
undang-undang dan individu adalah akal.
Liberalisme berkaitan erat dengan perkembangan Jaringan Islam Liberal,
bukan hanya terlihat dari nama yang diusung namun dari agenda yang
dikembangkan oleh Jaringan Islam Liberal untuk menyegarkan pemikiran Islam
melalui asas yang terdapat dalam liberalisme. Disatu sisi liberal berarti liberasi
(pembebasan) kaum muslim dari kolonialisme yang saat itu menguasai hampir
seluruh dunia Islam. Di sisi lain berarti pembebasan kaum muslim dari cara
berpikir dan berperilaku yang menghambat kemajuan.
Islam liberal sebagai salah satu fenomenologi keislaman adalah bagian
dari berkembangnya paham liberal terutama di kalangan intelektual muslim yang
mendapatkan pendidikan Barat. Islam Liberal oleh Kurzman dinyatakan sebagai
sekelompok pemikir Islam yang mencoba keluar dari tradisi dan menyejajarkan
Islam dengan isu-isu global yang berkembang dalam dunia modern (Budi
Handrianto, 2007: 1). Kenyataan bahwa Islam menghormati kebebasan akal telah
terlihat sejak pikiran-pikiran rasional baik di bidang teologi maupun hukum Islam
berkembang serta mewarnai Islam sejak zaman klasik. Tradisi liberalisme Islam
user serta ulama terdahulu muncul
telah di mulai sejak para filsof, commit
ahli-ahlitohukum
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
14
dengan aliran-aliran rasional seperti Qadariyah, Mu’tazilah, Ahl ar-Ra’yi (Zuly
Qodir, 2010: 84-85).
Menurut Budi Handrianto (2007: 2), kriteria pengusung ide Islam Liberal
adalah seseorang yang menolak pendirian Negara Islam atau menolak
pemberlakuan syariat Islam baik total maupun parsial dalam sebuah Negara nonIslam sebagai hukum positif terutama berkaitan dengan hukum pidana,
memisahkan antara peran agama dan Negara. Agama hanya mengurus masalah
individu dan Negara tidak dibenarkan memasuki ruang privat termasuk di
dalamnya agama. Melakukan tafsir bebas terhadap Al-Qur’an dan Hadist yang di
luar mainstream pendapat ulama-ulama terkemuka dan literatur dari awal Islam
hingga saat ini, membela hak-hak wanita dalam arti melepaskan wanita dari
peraturan yang dirasa membelenggu dan membebaskan wanita dari sistem
paternalistik dan dominasi pria, di mana wanita dan pria dianggap sama dalam
segala hal. Membela kalangan non-muslim tanpa proporsi, membela kebebasan
berpikir baik itu yang sejalan maupun tidak dengan agama di dalamnya adalah ide
pluralisme agama, anti otoritas, merelatifkan kebenaran, membela gagasan
kemajuan meskipun harus berbenturan dengan norma dan etika agama.
Menurut Greg Barton (1999: 9), beberapa prinsip gagasan Islam liberal
yang dikembangkan di Indonesia: a. pentingnya kontekstual ijtihad, b. komitmen
terhadap rasionalitas dan pembaharuan, c. penerimaan terhadap pluralisme sosial
dan pluralisme agama-agama, d. pemisahan agama dari partai politik dan adanya
posisi non sektarian negara. Beberapa megaproyek Jaringan Islam Liberal dengan
jelas menunjukkan bahwa kebebasan adalah hal terpenting untuk diperjuangkan
sesuai prinsip-prinsip liberalisme terutama dalam pengambilan hukum atau
metode ijtihadnya menggunakan metode rasio bebas dan penafsiran Al-Qur’an
dengan metode hermeneutika. Secara langsung, agenda-agenda Jaringan Islam
Liberal berlandaskan pada paham liberal yang sebelumnya telah berkembang di
Barat.
2. Demokrasi
Demokrasi merupakan suatu sistem politik yang lahir pada abad ke-18,
commit to user
setelah kemerdekaan Amerika Serikat, kemudian meluas ke Eropa melalui proses
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
15
monarki konstitusi dan bahkan revolusi, seperti di perancis, yang sekaligus
merubah kerajaan menjadi republik. Secara etimologis, demokrasi berasal dari
bahasa yunani, yaitu dari kata demos yang berarti rakyat dan kratos yang berarti
pemerintahan atau kratein
yang
berarti memerintah.
Demokrasi dapat
diterjemahkan sebagai “kekuasaan rakyat”. Dengan kata lain demokrasi adalah
pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat baik secara langsung maupun tidak
langsung (melalui perwakilan). Dengan demikian dalam suatu Negara yang
menganut sistem pemerintahan demokrasi, kekuasaan tertinggi ada ditangan
rakyat sebagaimana pengertian demokrasi yang diucapkan oleh Abraham Lincoln
the goverment from the people, by the people and for the people (suatu
pemerinthan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat) (http://masri.blog.com,
diakses 27 Desember 2011).
Demokrasi adalah sebuah bentuk pemerintahan di mana rakyat yang
berkuasa. Pemerintah dalam Negara demokrasi pada dasarnya adalah pilihan
rakyat yang berdaulat dan diberi tugas untuk menyelenggarakan pemerintahan
Negara serta mempertanggungjawabkan pada rakyat. Demokrasi adalah bentuk
pemerintahan yang berasal dari rakyat, dilaksanakan oleh rakyat dan
dipergunakan untuk kepentingan rakyat.
Robert A. Dahl dalam studinya Dilemmas of Pluralist Democracy
menjelaskan bahwa demokrasi pada hakekatnya merupakan penataan hubungan
antara pemberian otonomi di satu sisi dengan kebutuhan akan kontrol di sisi lain
(Eep Saefulloh, 1994: 44). Lebih lanjut Dahl menggambarkan dalam hubungan
tersebut demokrasi menghadapi 6 kontradiksi: a. hak versus kebutuhan umum,
b. masyarakat yang terbuka versus masyarakat yang lebih tertutup, c. persamaan
individu versus persamaan kolektif, d. persamaan versus perbedaan, e. sentralisasi
versus desentralisasi, f. konsentrasi versus ketersebaran kekuasaan dan sumbersumber politik. Bagi Dahl, demokrasi tidak lain adalah satu model ideal
pengelolaan konflik otonomi (kebebasan) versus kontrol (pengendalian). Istilah
Dahl sebagai “demokrasi yang lebih maju”, yaitu demokrasi yang ditujukan untuk
mencari sumber ketidaksamaan dan mengelolanya, bukan demokrasi yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
16
memaksakan persamaan serta mematikan kemajemukan dan realitas konflik
politik (Eep Saefulloh, 1994: 55).
Demokrasi institusional atau prosedural dikemukakan oleh Joseph A.
Schumpeter sebagai kesepakatan kelembagaan untuk mencapai keputusankeputusan
politik
di
mana
individu-individu
meraih
kekuasaan
untuk
menentukannya melalui sebuah perjuangan kompetitif yang mewakili suara
rakyat. Sedangkan demokrasi menurut David Beetham adalah sebuah modus
pembuatan keputusan tentang sejumlah peraturan dan kebijakan yang secara
kolektif bersifat mengikat di mana rakyat menjalankan kontrolnya (Masdar
Hilmy, 2009: 28).
Tiga komponen demokrasi politik, yaitu: a. persaingan (competition)
antara pribadi atau organisasi politik untuk merebut posisi pemerintahan, b.
partisipasi politik yaitu dengan pemilihan wakil-wakil rakyat untuk duduk di kursi
parlemen, dan kebebasan serta persamaan (civil and political freedom), c.
kebebasan untuk mengekspresikan dan mengeluarkan pendapat tanpa takut
terhadap kekuatan manapun. Secara terminologi, demokrasi adalah suatu sistem
yang digunakan untuk menjalankan pemerintahan yang berdasarkankan pada
kedaulatan di tangan rakyat yang kebijakan-kebijakannya ditujukan untuk
mensejahterakan keseluruhan rakyat di dalam negara tersebut.
Demokrasi mempunyai peran yang sinergis antara proses pembuatan
kebijakan negara oleh institusi negara dengan rakyat yang menjadi penghuninya.
Proses demokrasi menjadi wacana yang mudah diingat karena dalam lingkungan
suatu negara harus berjalan sesuai dengan keinginan rakyatnya. Oleh sebab itu,
proses demokratisasi diterapkan agar seluruh kepentingan yang bernaung dalam
keinginan dan harapan rakyat atas proses pemerintahan harus mengikutsertakan
rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi di negara tersebut, sehingga setiap
kebijakan-kebijakan pemerintah semata-mata untuk kepentingan rakyatnya dan
mencapai kemudahan hidup bernegara dengan keadilan dan kesejahteraan yang
merata. Namun bukan hal mudah untuk melihat konsep demokrasi dalam konteks
Indonesia (Masdar Hilmy, 2009: 99). Kejatuhan pemerintah Orde Baru yang
commit to user
otoriter memberikan harapan demokratisasi
di Indonesia. Transisi politik yang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
17
direpresentasikan oleh era reformasi berdampak signifikan kepada pergantian
sistem politik sentralistik menuju pemerintahan yang lebih demokratis (Masdar
Hilmy, 2009: 101). Kondisi keagamaan yang cenderung mengalami penekanan
masa Orde Baru juga secara langsung memberikan harapan baru di era selanjutnya
(reformasi)
Wacana Islam dan demokrasi dapat dikelompokkan menjadi beberapa
pemikiran, yaitu: Islam dan demokrasi sebagai dua sistem politik yang berbeda.
Islam sebagai agama yang kaffah (sempurna) tidak saja mengatur soal keimanan
(aqidah) dan ibadah, melainkan mengatur segala aspek kehidupan umat manusia.
Dengan demikian, Islam dan demokrasi adalah dua hal yang berbeda. Adanya
prinsip-prinsip demokrasi dalam Islam, tetapi mengakui adanya perbedaan antara
Islam dan demokrasi. Islam merupakan sistem politik demokratis jika demokrasi
didefinisikan secara substantif, yaitu kedaulatan di tangan rakyat dan negara
merupakan terjemahan dari kedaulatan rakyat ini. Islam adalah sistem nilai yang
membenarkan dan mendukung sistem politik demokrasi seperti yang dipraktikkan
negara-negara maju. Islam dalam demokrasi tidak hanya karena prinsip syura
(musyawarah), tetapi juga karena adanya konsep ijtihad dan ijma’ (konsesus)
(http://alharasy.multiply.com/journal/item/4?&show_interstitial=1&u=%2Fjourn
al%2Fitem diakses 3 januari 2012).
Vali Nasr berpendapat bahwa “Muslim Demokrasi” (Masdar Hilmy,
2009: 105) telah lahir dan berkembang sejak awal 1990-an di beberapa Negara
dengan jumlah mayoritas penduduk beragama Islam. Meskipun mendukung
gagasan Islam dan demokrasi, dia berargumentasi bahwa demokrasi di dunia
Islam tidaklah muncul dari kerangka konseptual keagamaan ideologis yang
merepresentasikan sebuah sintesis antara islam dan demokrasi melainkan dari
hubungan pragmatis yang muncul di banyak negara Islam sebagai respon politik.
Demokrasi menjadikan suatu bangsa dan negara memiliki pandangan
hidup yang pluralistik dan memiliki norma-norma yang timbul dari pandangan
hidup setiap individu yang menjadi warganegara suatu bangsa dan negara
tersebut. Adapun menurut Nurcholis Madjid di negara-negara yang memiliki
user yang menjadi pandangan hidup
kemapanan demokrasi mencakupcommit
tujuh to
norma
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
18
demokratis, yaitu: 1) pentingnya kesadaran akan pluralism, 2) musyawarah, 3)
perkembangan moral, 4) pemufakatan yang jujur dan sehat, 5) pemenuhan segisegi ekonomi, 6) kerjasama antar warga masyarakat dan sikap mempercayai
maksud baik masing-masing, 7) pandangan hidup demokratis harus dijadikan
unsur yang menyatu dengan sistem pendidikan.
Robert Pinkney menjelaskan tentang model-model demokrasi di
Indonesia. Dua model demokrasi yang relevan untuk dikemukakan, yaitu
demokrasi berwawasan radikal (radical democracy), dan demokrasi berwawasan
liberal (liberal democracy). Menurut Pinkney, demokrasi radikal ditandai dengan
kuatnya pandangan bahwa hak-hak setiap warga negara dilindungi dengan prinsip
persamaan di depan hukum, tetapi perhatian yang diberikan tidak sama dengan
perlindungan hak individu di bawah demokrasi liberal. Sedangkan demokrasi
liberal lebih menekankan pada pengakuan terhadap hak-hak warga negara, baik
sebagai individu maupun anggota masyarakat. Oleh karena itu lebih bertujuan
menjaga tingkat representasi warga negara dan melindunginya dari tindakan
kelompok lain ataupun dari negara. Negara dalam hal ini tidak berposisi sebagai
operator kehendak mayoritas, karena dikhawatirkan akan bertentangan dengan
kepentingan minoritas. Kelompok yang berwawasan demokrasi radikal adalah
mereka yang pro syariat. Dengan pemahaman utama bahwa karena mayoritas
warga negara beragama Islam maka sudah seharusnya jika hukum yang
diimplementasikan bersumber dari syariat. Namun disadari bahwa implementasi
syariat hanya bisa dilakukan melalui mekanisme konstitusional, maka kelompok
ini percaya bahwa usaha tersebut baru tercapai jika mampu mendominasi
panggung politik (Arskal Salim dalam http://islamlib.com/id/artikel/islam-diantara-dua-model-demokrasi, diakses 19 Februari 2012).
Dapat dipahami bahwa fungsi demokrasi menjadi penting (essential) bagi
suatu negara untuk menerapkan demokratisasi ke dalam proses pemerintahannya.
Bukan hanya menjadikan demokrasi sebagai pandangan hidup, namun juga
menjadi dasar bagi proses pengambilan keputusan bagi setiap kebijakan oleh
pemerintahan. Namun dalam negara yang mayoritas penduduknya muslim harus
to user karena tidak semua pemegang
lebih peka dalam melihat realitacommit
di masyarakat
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
19
kekuasaan menyetujui demokrasi ala Barat. Dalam hal ini, Jaringan Islam Liberal
berusaha menjadi bagian bahkan jaringan yang mempelopori agenda demokrasi di
samping banyak organisasi dan institusi Islam yang telah ada. Secara umum,
agenda Jaringan Islam Liberal menghendaki sebuah negara yang mengedepankan
asas demokrasi terutama dalam penempatan agama.
3. Sekularisme
Sekularisme di Indonesia menjadi bahan perbincangan terutama di
kalangan intelektual muslim sejak dikenalkan Nurcholis Madjid melalui
makalahnya yang berjudul ”Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan
Masalah Integrasi Umat”. Gagasan sekularisasi yang menurut Nurcholis berbeda
dengan istilah sekularisme menunjukkan analogi-analogi pemikiran yang
dipengaruhi gagasan sekularisasi Harvey Cox dalam bukunya The Secular City.
Menurut Cox, sekularisasi adalah suatu keharusan dalam Kristen, namun dengan
lugas Nurcholis juga menyatakan bahwa sekularisasi adalah keharusan bagi semua
agama khusunya Islam. Kemiripan analogi yang digunakan menimbulkan kritik
berbagai kalangan karena jelas problem latar belakang sejarah Kristen dan Islam
adalah berbeda (Adian Husaini, 2005: 257-265)
Secara bahasa, sekuler berasal dari bahasa latin saeculum yang bermakna
ganda yaitu ruang dan waktu. Istilah ruang merujuk pada pengertian dunia atau
duniawi sedangkan waktu berarti sekarang atau kini. Kata secular akhirnya
berkembang menjadi sebuah istilah yang bermakna duniawi. Sekularisme yang
berkembang di dunia Barat pada era modern memisahkan hal-hal yang
menyangkut masalah agama dan non-agama. Pemicunya adalah ketidakserasian
antara hasil penemuan sains atau ilmu pengetahuan dengan doktrin Kristen (Heri
Ruslan, 2012: B1). Sekularisme yang dilahirkan di Barat telah berkembang pesat
di negara-negara umat Islam. Ia telah berkembang dalam berbagai bidang
termasuk politik, ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, dominasi politik
memberikan dampak secara tidak langsung kepada ekonomi dan sosial, maka
sekularisme politik dianggap menyeluruh. Pembahasan akan berdasarkan
perspektif agama Islam yang berpedoman
dan Al-Hadist.
commit toAl-Qur’an
user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
20
Ensiklopedi Islam yang dikutip Heri Ruslan dalam Republika (2012: B1)
mendefinisikan sekularisme sebagai suatu aliran atau sistem doktrin dan praktik
yang menolak segala bentuk yang diimani dan diagungkan oleh agama atau
keyakinan harus terpisah sama sekali dari masalah kenegaraan (urusan duniawi).
Sedangkan Sayyid Qutub memahami sekularisme sebagai pembangunan struktur
kehidupan tanpa dasar agama, sehingga Qutub memandang sekularisme adalah
musuh Islam yang paling berbahaya.
Menurut Lutfi Assyaukani dalam Jawa Pos (11 April 2005), Sekularisme
adalah sebuah istilah netral untuk merujuk konsep tentang pemisahan agama dan
negara. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh George Jacob Holyoake (18171906) seorang sarjana Inggris, sebagai sebuah gagasan alternatif untuk mengatasi
ketegangan panjang antara otoritas agama dan otoritas negara di Eropa. Dengan
sekularisme, masing-masing agama dan negara memiliki otoritasnya sendirisendiri: negara mengurusi politik sedangkan agama mengurusi gereja. Dalam
perkembangannya, sekularisme menjadi konsep yang efektif, bukan hanya dalam
meredam konflik dan ketegangan antara kuasa agama dan negara, tapi juga dalam
memberikan landasan pada demokrasi dan persamaan hak. Sebuah demokrasi
yang baik hanya bisa berjalan jika ia mampu menerapkan prinsip-prinsip
sekularisme dengan benar. Sebaliknya, demokrasi yang gagal atau buruk adalah
demokrasi yang tidak menjalankan prinsip-prinsip sekularisme secara benar.
Zia Gokalp, seorang sosiolog terkemuka dan politikus nasional Turki
menggulirkan perlunya pemisahan antara masalah ibadah serta keyakinan dan
muamalah. Sehingga, terjadi pemisahan antara kekuasaan spiritual Khalifah dan
kekuasaan duniawi sultan di Turki Usmani (Heri Ruslan, Republika 2012: B1).
Sekularisme semakin meluas di dunia Islam pada era imperialisme atau
penjajahan, karena harus berupaya agar mampu bertahan serta menjaga
kemerdekaan dari penguasa-penguasa asing. Nurcholis Madjid adalah tokoh
sentral dalam perkembangan sekularisme di Indonesia, meskipun Madjid
menyebutnya sebagai bentuk sekularisasi bukan sekularisme yang mengubah
kaum muslimin menjadi sekularis namun sekularisme berkembang pesat melebihi
commit to user
perkiraannya.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
21
Sekularisme di Barat terus berkembang dan disebarluaskan seiring
dengan proses penjajahan yang dilakukan. Ide-ide sekularisme terus ditancapkan
dan diajarkan kepada generasi muda Islam. Hasilnya, begitu negeri-negeri Islam
mempunyai kesempatan untuk memerdekakan diri,
bentuk negara dan
pemerintahan yang di bangun ummat Islam sepenuhnya mengacu pada prinsip
sekularisme dengan segala turunannya. Mulai dari pengaturan pemerintahan,
ekonomi, sosial, budaya, termasuk tentunya adalah dalam pengembangan model
pendidikannya. Bahkan di lembaga pendidikan formal Islam di dunia Islam-pun
tidak luput dari prinsip dan serangan sekularisme. Pada awalnya (di Indonesia
tahun 1970-an), pembicaraan mengenai penelitian agama, yaitu menjadikan
agama (lebih khusus adalah agama Islam) sebagai obyek penelitian adalah suatu
hal yang masih dianggap tabu. Namun, jika diamati perkembangannya, khususnya
mengenai metodologi penelitiannya, maka akan terlihat bahwa agama Islam
benar-benar telah menjadi sasaran obyek studi dan penelitian. Agama telah
didudukkan sebagai gejala budaya dan gejala sosial. Penelitian agama akan
melihat agama sebagai gejala budaya dan penelitian keagamaan akan melihat
agama sebagai gejala sosial.
Jika obyek penelitian agama dan keagamaan hanya memberikan porsi
agama sebatas pada aspek budaya dan aspek sosialnya, maka perangkat
metodologi penelitiannya tidak berbeda dari perangkat metodologi penelitian
sosial sebagaimana yang ada dalam episthemologi ilmu sosial dalam sistem
pendidikan sekuler. Dengan demikian ilmu yang dihasilkannya tidak jauh berbeda
dengan ilmu sosial lainnya, kecuali sebatas obyek penelitiannya saja yang berbeda
yaitu agama. Oleh karena itu, jika disaksikan dalam sebuah negara yang mayoritas
penduduknya muslim, peran agama (Islam) tidak boleh nampak dalam pengaturan
kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara riil, kecuali hanya sebatas spirit
moral bagi pelaku penyelenggara negara, sebagaimana terlihat dalam penafsiran
Ulil yang dikutip Budi Handrianto (2007: 265) mengenai Islam liberal yang
berlandaskan pada keyakinan bahwa memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi,
otoritas keagamaan dan politik. Islam liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan
commit
to user
dan politik harus dipisahkan. Islam
liberal
menentang negara agama (teokrasi).
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
22
Islam liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan
politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah
sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak
memiliki hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama
berada di ruang privat, dan dan urusan publik harus diselenggarakan melalui
proses konsensus.
4. Pluralisme Agama
Pluralisme berasal dari kata plural yang berarti banyak atau berbilang
atau bentuk kata yang digunakan untuk menunjukan lebih daripada satu.
Pluralisme dalam filsafat adalah pandangan yang melihat dunia terdiri dari
banyak makhluk. Pluralisme agama (religious pluralism) adalah sebuah paham
tentang ”pluralitas” (Adian Husaini, 2005: 334). Merupakan paham bagaimana
melihat keragaman dalam agama-agama. John Hick, salah satu tokoh utama
paham
religious
pluralism
mengajukan
gagasan
pluralisme
sebagai
pengembangan dari inklusivisme. Agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju
pada keparipurnaan yang sama.
Pluralisme dalam bahasa Inggris menurut Anis Malik Thoha (2005: 11)
mempunyai tiga pengertian, yaitu: a. pengertian kegerejaan: sebutan untuk orang
yang memegang lebih dari satu jabatan dalam struktur kegerejaan, memegang dua
jabatan atau lebih secara bersamaan, baik bersifat kegerejaan maupun non
kegerejaan; b. pengertian filosofis: berarti sistem pemikiran yang mengakui
adanya landasan pemikiran yang mendasarkan lebih dari satu; c. pengertian sosiopolitis: adalah suatu sistem yang mengakui koeksistensi keragaman kelompok,
baik yang bercorak ras, suku, aliran maupun partai dengan tetap menjunjung
tinggi aspek-aspek perbedaan yang sangat kerakteristik di antara kelompokkelompok tersebut.
Para ahli sosiologi dan antropologi cenderung mendefinisikan agama dari
sudut fungsi sosialnya, yaitu suatu sistem kehidupan yang mengikat manusia
dalam satuan-satuan atau kelompok-kelompok sosial. Sedangkan kebanyakan
pakar teologi, fenomenologi dan
sejarah
agama melihat agama dari aspek
commit
to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
23
substansinya yang sangat asasi yaitu sesuatu yang sakral. Dari definisi tersebut,
maka dapat ditarik suatu pengertian bahwa "pluralisme agama" adalah kondisi
hidup bersama (koeksistensi) antar agama (dalam arti yang luas) yang berbedabeda dalam satu komunitas dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau
ajaran masiang-masing agama. Namun dari segi konteks dimana pluralisme
agama sering digunakan dalam studi-studi dan wacana sosio-ilmiah pada era
modern ini, memiliki definisi yang berbeda. John Hick, yang dikutip Anis Malik
Thoha (2005: 15), menyatakan :
…pluralisme agama adalah suatu gagasan bahwa agama-agama besar dunia
merupakan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang, dan secara
bertepatan merupakan respon yang beragam terhadap, Yang Real atau Yang
Maha Agung dari dalam pranata kultural manusia yang bervariasi; dan
bahwa transformasi wujud manusia dari pemusatan-diri menuju pemusatanhakikat terjadi secara nyata dalam setiap masing-masing pranata kultural
manusia tersebut dan terjadi, sejauh yang dapat diamati, sampai pada batas
yang sama.
Dengan kata lain, Hick menurut Anis menegaskan sejatinya semua
agama adalah merupakan manifestasi-manifestasi dari realitas yang satu. Dengan
demikian, semua agama sama dan tidak ada yang lebih baik dari yang lain.
Majelis Ulama Indonesia yang di kutip Syamsuddin Arif mendefiniskan
Pluralisme Agama sebagai :
Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua
agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif;
oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya
agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme
juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup
berdampingan di surga (www.salafiah.net)
Nurcholish Madjid menyatakan bahwa ada tiga sikap dialog agama yang
dapat diambil dalam Islam, yaitu: a. sikap ekslusif dalam melihat agama lain
(agama-agama yang lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan bagi
pengikutnya), b. sikap inklusif (Agama-agama lain adalah bentuk implisit agama
Islam), c. sikap pluralis yang bisa terekspresi dalam macam-macam rumusan,
misalnya agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai
kebenaran yang sama, agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi
merupakan
kebenaran-kebenaran yang sama sah atau setiap agama
commit to user
mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran. Sehingga menurut Madjid
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
24
Pluralisme adalah sebuah aturan Tuhan (Sunatullah) yang tidak akan berubah dan
tidak mungkin diingkari atau dilawan
(Adian Husaini, 2010: 6 dalam
www.adianhusaini.com diakses 9 Nopember 2011).
Sebagai sebuah bentuk liberalisasi agama, Pluralisme Agama adalah
respon teologis terhadap political pluralism yang telah cukup lama digulirkan
(sebagai wacana) oleh para peletak dasar-dasar demokrasi pada awal dan yang
secara nyata dipraktikan oleh Amerika Serikat. Kecendrungan umum dunia Barat
pada waktu itu telah berusaha menuju modernisasi di segala bidang. Dan salah
satu ciri dari modern adalah demokrasi, globalisasi dan HAM. Maka, dari sinilah
lahir political pluralism. Jika dilihat dari konteks itu, maka Relegious Pluralism
pada hakikatnya adalah gerakan politik dan bukan gerakan agama. Setiap manusia
dipandang sama, tidak ada ras, suku, bangsa atau agama yang berhak mengklaim
bahwa dirinya paling unggul.
Menurut Anis Malik Thoha yang dikutip Budi Handrianto (2007: L)
mengatakan bahwa tren-tren pluralisme agama secara umum dapat diklasifikasi
kedalam empat kategori: Humanisme Sekular (Secular humanism), teologi global
(global theology), sinkritisme (syncretism atau eclectisicm) dan hikmah abadi
(sophia perennis atau perennial philosophy).
a. Humanisme Sekuler
Humanisme sekuler adalah suatu sistem etika (ethical system) yang
mengukuhkan dan mengagungkan nilai-nilai humanis, seperti toleransi, kasih
sayang, kehormatan tanpa adanya ketergantungan pada akidah-akidah dan ajaranajaran agama. Ciri dari humanisme sekuler ini adalah "antroposentris", yakni
menganggap manusia sebagai hakikat sentral kosmos atau menempatkannya
dititik sentral. Pemikiran ini merupakan kebangkitan kembali secara sadar
pemikiran relativisme Protagoras, yang ditafsirkan bahwa setiap manusia adalah
standard dan ukuran segala sesuatu. Apabila terjadi perbedaan opini dalam suatu
masalah, maka tidak ada apa yang disebut kebenaran obyektif, sehingga tidak bisa
dikatakan yang satu benar dan yang lain salah. Diantara tokoh yang mengusung
konsep ini antara lain adalah F.C.S Schiller (1863-1937), Bertrand Russel, August
commit to user
Comte (1798-1857)
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
25
b. Teologi Global
Pengaruh "globalisasi" menjadi hal penting dan komplek dalam
mengubah kehidupan manusia dengan segala aspeknya di luar apa yang
dibayangkan sebelumnya. Ini menyebabkan menurunnya dan bahkan lenyapnya
jati diri dan nilai-nilai suatu kultur atau budaya. Globalisasi juga telah
mempengaruhi secara nyata dan sangat signifikan munculnya gagasan-gagasan
dan wacana-wacana teologis baru yang sangat radikal, yang intinya menganjurkan
bahwa tidak perlu bersikap resisten dan menentang globalisasi dan globalisme
yang sudah nyata-nyata tak mungkin dihindari. Manusia harus mengubah dan
merombak pemikiran-pemikiran dan keyakinan-keyakinan agama tradisional agar
sejalan dengan semangat zaman dan nilai-nilainya yang diyakini "universal".
Berdasarkan perkembangan global ini menurut John Hick dalam Anis
Malik Thoha (2005: 77), memprediksi bahwa secara gradual akan terjadi proses
konvergensi cara-cara beragama dimasa yang akan datang, sehingga pada suatu
ketika agama-agama ini akan lebih menyerupai sekte yang beragam dalam Kristen
di Amerika Utara dan Eropa saat ini daripada merupakan entitas-entitas yang
ekslusif secara radikal. Wacana atau pemikiran keagamaan lintas kultur ini,
menurut Hick yang dikutip Anis harus dikemas dalam konsep yang disebut global
theology.
c. Sinkritisme
Trend sinkritisme adalah suatu kecendrungan pemikiran yang berusaha
menyatukan dan merekonsiliasi berbagai unsur yang berbeda-beda (bahkan
mungkin bertolak belakang) yang diseleksi dari berbagai agama dan tradisi, dalam
suatu wadah tertentu atau dalam salah satu agama yang ada (berwujud suatu aliran
baru) (Anis Malik Thoha, 2005: 93). Gagasan ini antara lain diusung oleh
Friedrich Heiler dan Arnold Toynbee. Dalam sebuah konferensi Asosiasi Sejarah
Agama Internasional di Tokyo pada bulan September 1958, dikemukakan gagasan
bahwa "mewujudkan persatuan seluruh agama" merupakan satu tugas penting
Ilmu Perbandingan Agama. Selanjutnya Arnold Toynbee menyatakan dalam salah
satu bab bukunya An Historian's Approach to Relegion "Misi agama-agama besar
commit to user
tidaklah kompetitif, melainkan komplementer
atau saling melengkapi”.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
26
d. Hikmah Abadi (Shophia Perennis)
Tema utama Hikmah Abadi adalah "hakikat esoteric" yang merupakan
asas dan esensi segala sesuatu yang berwujud dan terekspresikan dalam bentuk
hakikat-hakikat exsoteric dengan bahasa yang berbeda. Hakikat yang pertama
adalah hakikat transcendent yang tunggal, sementara yang kedua adalah hakikat
relegius yang merupakan manifestasi eksternal yang beragam dan saling
berlawanan dari hakikat transcendent tadi. Cara pandang ini kemudian menjadi
cara Hikmah Abadi dalam memandang segala realitas pluralitas agama.
Dengan kata lain bahwa agama terdiri dari dua hakikat atau dua realitas,
yakni esoteric dan exsoteric (esensi dan bentuk) Dua hakikat ini dipisah antara
keduanya oleh suatu garis horizontal; dan bukan pertikal, sehingga memisahkan
antara yang satu dengan yang lain (Hindu-Budha-Kristen-Islam dan sebagainya).
Yang berada di atas garis adalah hakikat bathiniyah (esoteric) dan yang berada di
bawah adalah hakikat lahiriyah (exsoteric). Meskipun secara lahiriyah agama
berbeda-beda tetapi secara bathiniyah semua agama menuju pada yang satu yakni
Tuhan.
Pluralisme menjadi agenda Jaringan Islam Liberal terutama dalam istilah
Humanisme sekuler di mana toleransi atau pengatasnamaan bahwa semua agama
adalah sama menjadi keharusan demi terciptanya kerukunan. Pemikiran
kontroversial
ini
justru
semakin
diperjuangkan
oleh
jaringan
untuk
mengembangkan liberalisasi Islam dalam kehidupan beragama sehingga
pandangan ini semakin membawa citra bahwa Jaringan Islam liberal adalah
pemberi solusi keragaman di Indonesia (Budi Handrianto, 2007: 266).
5. Masyarakat Madani
Masyarakat Madani pada prinsipnya memiliki makna ganda yaitu:
demokrasi, transparansi, toleransi, potensi, aspirasi, motivasi, partisipasi,
konsistensi,
komparasi,
koordinasi,
simplifikasi,
sinkronisasi,
integrasi,
emansipasi, dan hak asasi, namun yang paling dominan adalah masyarakat yang
demokratis. Konsep masyarakat madani menurut Islam adalah bangunan politik
yang demokratis, partisipatoris, menghormati
dan menghargai publik. Masyarakat
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
27
madani jelas mengacu pada agama Islam Sedangkan Istilah civil society yang
lebih dikenal lahir dari negara-negara Barat tidak mengaitkan prinsip tatanannya
pada agama tertentu namun pada dasarnya memiliki cita-cita membentuk sebuah
tatanan yang demokratis. Maka istilah masyarakat madani secara mudah dapat
dipahami sebagai masyarakat yang beradab, masyarakat sipil, dan masyarakat
yang tinggal di suatu kota atau masyarakat kota yang pluralistik (Husaini Usman
dalam http://masyarakatmadani8.blogspot.com/, diakses 21 Maret 2012). Karena
itu masyarakat madani sering disamakan juga dengan pemaknaan civil society
meskipun masyarakat madani lebih terfokus pada tatanan Islam.
Menurut Din Syamsuddin dalam M. Mawardi J. (2008: 18), Masyarakat
madani secara umum bisa diartikan sebagai suatu masyarakat atau institusi sosial
yang memiliki ciri-ciri antara lain : kemandirian, toleransi, keswadayaan, kerelaan
menolong satu sama lain, dan menjunjung tinggi norma dan etika yang disepakati
secara bersama-sama. Masyarakat madani secara substansial sudah ada sejak
zaman Aristoteles, yakni suatu masyarakat yang dipimpin dan tunduk pada
hukum. Penguasa, rakyat dan siapapun harus taat dan patuh pada hukum yang
telah dibuat secara bersama-sama.
Konteks masyarakat madani juga menjadi rangkaian perjuangan terutama
dalam lingkungan masyarakat Islam tentang keinginan untuk mencapai kejayaan
masa lalu khususnya masa Rasulullah Muhammad SAW. Hijrah Nabi Muhammad
SAW ke Madinah menjadi titik awal dalam menerapkan sistem agama-politik.
Nabi mendirikan suatu persekutuan dengan menggabungkan kaum kaya dan
miskin atas dasar yang sama, kebanggaan akan semua hal telah hilang dan semua
unsur heterogen dilebur menjadi satu bangsa. Nabi Muhammad mendirikan suatu
negara atas dasar prinsip-prinsip kesamaan, kebebasan dan persaudaraan. Bangsa
Arab, bangsa Yahudi, dan semua warga negara persemakmuran Islam
ditempatkan pada pijakan yang sama, diizinkan mengambil bagian secara bebas
dan sederajat di dalam pendirian suatu struktur sosio-politik dan memajukan
kemanusiaan bagi cita-cita moral yang lebih baik. Tidak ada prasangka-prasangka
nasional atau rasial, larangan-larangan karena warna kulit, kepentingan pribadi,
commit to user turunan di dalam persemakmuran
dan tidak ada kependetaan serta kebangsawanan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
28
Islam. Tidak ada hak-hak istimewa yang diberikan bagi individu, bahkan bagi
pejabat negara yang tertinggi. Nilai manusia yang hakiki ditentukan bukan oleh
pangkat atau nasib baiknya, melainkan oleh akhlak dan kemampuannya. Setiap
orang diberi peluang dan ruang gerak untuk menggunakan bakat dan
kemampuannya di jalan yang benar (Syed Mahmudunnasir, 1988: 129-131)
Kebijakan itu dilakukan dengan menerapkan suatu piagam kepada orangorang berupa hak-hak dan kewajiban-kewajiban umat Islam dan non Islam.
Piagam ini memberi perlengkapan bagi landasan suatu negara kota, suatu
persemakmuran dan bagi suatu bangsa yang didasarkan atas ikatan kesatuan
agama dan keimanan, kesamaan dan demokrasi. Piagam yang dikenal sebutan
Piagam Madinah menurut beberapa penelitian merupakan konstitusi tertulis
pertama di dunia (Adian Husaini dalam www.insistnet.com diakses 10 Februari
2012). Syed Mahmudunnasir (1988: 131-132), menuliskan ketetapan-ketetapan
utama Piagam Madinah sebagai berikut :
a. Dengan nama Allah Yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, telah
ditetapkan oleh Muhammad, Nabi Allah, bahwa orang-orang yang beriman,
baik suku Quraisy ataupun dari Yatsrib, dan semua orang dari manapun berasal
yang memiliki tujuan yang sama, semuanya adalah satu bangsa.
b. Perdamaian dan peperangan akan mengikat semua umat Islam , tidak
seorangpun di antaranya akan mempunyai hak mengadakan perdamaian atau
menyatakan perang dengan musuh-musuh dari teman-teman seagamanya.
c. Orang-orang Yahudi yang menggabungkan diri dengan persemakmuran akan
dilindungi dari semua penghinaan dan gangguan; orang-orang Yahudi akan
mempunyai hak-hak yang sama dengan orang-orang Islam sendiri terhadap
bantuan dan pelayanan yang baik.
d. Orang-orang Yahudi bersama umat Islam akan membentuk suatu bangsa
campuran dan akan mengamalkan agama sama bebasnya dengan umat Islam.
e. Langganan dan sekutu orang-orang Yahudi akan memperoleh keamanan dan
kebebasan yang sama.
f. Langganan dan sekutu orang-orang Yahudi dan orang Islam akan dihormati
commit to user
sebagai penyokong
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
29
g. Semua umat Islam yang sejati akan memandang rendah setiap orang yang
berbuat kejahatan, ketidakadilan, atau pelanggaran ketertiban; tidak ada
seorangpun yang akan melindungi yang bersalah meskipun saudara dekatnya.
h. Yang bersalah akan dituntut dan dihukum.
i. Orang-orang Yahudi akan bergabung dengan orang-orang Islam dalam
mempertahankan kota Madinah terhadap semua musuh.
j. Kota Madinah akan merupakan tempat yang suci dan aman bagi semua orang
yang mengakui piagam ini.
k. Orang-orang Yahudi, sekutu-sekutu umat Islam, tidak akan menyatakan perang
atau mengadakan persetujuan dengan musuh Islam untuk melawan umat Islam.
l. Semua perselisihan di masa depan, yang terjadi di antaranya yang mengakui
piagam ini, Insya Allah akan diserahkan kepada Nabi.
Atas dasar toleransi yang diterapkan pada masa Rasulullah, maka citacita masyarakat Madani menjadi popular di kalangan umat Islam bahkan lebih
luas di masyarakat dunia yang menginginkan sebuah demokrasi. Menurut
Zbigniew Rau yang dikutip oleh M. Mawardi J. (2008: 19), masyarakat madani
merupakan suatu masyarakat yang berkembang dari sejarah, yang mengandalkan
ruang di mana individu dan perkumpulan tempat bergabung, bersaing satu sama
lain guna mencapai nilai-nilai yang diyakini. Ruang ini timbul di antara
hubungan-hubungan yang merupakan hasil komitmen keluarga dan hubunganhubungan yang menyangkut kewajibannya terhadap negara. Lebih tegasnya
terdapat ruang hidup dalam kehidupan sehari-hari serta memberikan integritas
sistem nilai yang harus ada dalam masyarakat madani, yakni individualisme, pasar
dan pluralisme. Sedangkan menurut Kim Sunhyuk, masyarakat madani adalah
suatu satuan yang terdiri dari kelompok-kelompok yang secara mandiri
menghimpun diri dan gerakan-gerakan dalam masyarakat yang relatif otonom dari
negara. Satuan-satuan dasar dari reproduksi dan masyarakat politik yang mampu
melakukan kegiatan politik dalam ruang publik, guna menyatakan kepedulian dan
memajukan kepentingan menurut prinsip-prinsip pluralisme dan pengelolaan yang
mandiri.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
30
Gagasan civil society merupakan elemen penting dalam penegakan
sistem demokrasi (Muhammad A.S. Hikam, 2000: 76). Civil society
mengandaikan adanya suatu masyarakat modern yang visinya bermacam-macam.
Dalam konteks politik terlihat dari bentuk masyarakat yang berorientasi pada
kewarganegaraan yang berintikan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Menurut Hikam (2000: 78), masyarakat madani berusaha mengembalikan pada
tatanan normatif yaitu pada konsep yang pernah diyakini ada pada aman Madinah.
Konsep masyarakat madani bersifat utopian, sehingga yang tampak adalah sifat
yang ideal.
Masyarakat
madani
merupakan
format
kehidupan
sosial
yang
mengedepankan semangat demokratis dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi
manusia. Dalam masyarakat madani, warga negara bekerjasama membangun
ikatan sosial, jaringan produktif dan solidaritas kemanusiaan untuk mencapai
kebaikan bersama. Karena itu, tekanan sentral masyarakat madani terletak pada
independensinya terhadap negara. Masyarakat madani berkeinginan membangun
hubungan yang konsultatif bukan konfrontatif antara warga negara dan negara.
Masyarakat madani juga tidak hanya bersikap dan berperilaku sebagai citizen
yang memiliki hak dan kewajiban, melainkan juga harus menghormati equal
right, memperlakukan semua warga negara sebagai pemegang hak kebebasan
yang sama. Fenomena menarik dalam percaturan politik Indonesia mutakhir
adalah meningkatnya pembahasan seputar Islam dan perkembangannya dalam
bidang politik (Muhammad A.S. Hikam, 2000: 174). Dengan demikian, banyak
pemimpin Islam mencari pendekatan-pendekatan yang berlainan dalam merespon
kebijaksanaan pemerintah tentang Islam (pendekatan kompromi).
Pemberdayaan masyarakat Islam Indonesia merupakan bagian dari
pemberdayaan masyarakat Indonesia di mana faktanya bahwa masyarakat Islam
adalah penduduk mayoritas. Karena itu, orang-orang Islam berusaha dijauhkan
dari kecenderungan eksklusif (tertutup) dan justru mendorongnya untuk menjadi
bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia di mana hak dan kewajiban
sebagai penduduk tidak dibedakan antara satu dan lainnya (Muhammad. A.S.
commit to user
Hikam, 2000: 179-180).
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
31
Karakteristik yang menjadi prasyarat untuk merealisasikan wacana
masyarakat madani tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya, merupakan
satu kesatuan yang terintegral dan menjadi dasar serta nilai bagi masyarakat.
Adapun karakteristiknya, menurut Arendt dan Habermas yang dikutip oleh M.
Mawardi J (2008: 21), antara lain :
a. Free Public Sphere
Adanya ruang publik yang bebas sebagai sarana dalam mengemukan
pendapat. Pada ruang publik yang bebas, individu dalam posisinya yang setara
mampu melakukan transaksi-transaksi wacana dan praksis politik tanpa
mengalami distorsi dan kekhawatiran. Sebagai sebuah prasyarat, maka untuk
mengembangkan dan mewujudkan masyarakat madani dalam sebuah tatanan
masyarakat, free publik sphere menjadi salah satu bagian yang harus diperhatikan.
Tanpa ruang publik yang bebas dalam tatanan masyarakat madani, maka akan
terjadi pembungkaman kebebasan warga negara dalam menyalurkan aspirasinya
yang berkenaan dengan kepentingan umum oleh penguasa yang tirani dan otoriter.
b. Demokratis
Demokrasi merupakan suatu entitas yang menjadi penegak wacana
masyarakat madani. Dalam menjalani kehidupan, warga negara memiliki
kebebasan penuh untuk
menjalankan aktivitas kesehariannya,
termasuk
berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
c. Toleran
Toleransi merupakan sikap yang dikembangankan dalam masyarakat
madani untuk menunjukan sikap saling menghargai dan menghormati aktivitas
yang dilakukan orang lain.
d. Pluralisme
Pluralisme adalah pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan
keadaban. Bahkan pluralisme adalah suatu keharusan bagi keselamatan umat
manusia antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
32
e. Keadilan Sosial
Keadilan sosial berarti adanya keseimbangan dan pembagian yang
proporsional terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara yang mencakup
seluruh aspek kehidupan.
f. Partisipasi Sosial
Partisipasi Sosial yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih
dari rekayasa, intimidasi, ataupun intervensi penguasa/pihak lain, sehingga
masyarakat
memiliki
kedewasaan
dan
kemandirian
berpolitik
yang
bertanggungjawab.
g. Supremasi Hukum
Supremasi hukum yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya keadilan.
Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya setiap orang memiliki kedudukan
dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.
Impian menuju masyarakat madani telah merasuk dalam kelompok
Jaringan Islam Liberal dengan wajah yang berbeda. Masyarakat madani yang
dianggap sebagai masyarakat plural menjadi acuan dalam agenda-agenda Jaringan
Islam Liberal, meskipun dalam praktiknya wacana civil society sebagai bentuk
masyarakat madani yang telah dipengaruhi pemikiran barat lebih menjadi dasar
kuat dalam melegalkan pluralisme, hak asasi, persamaan gender dan sebagainya
yang termasuk dalam proyek liberalisasi.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
33
B. Kerangka Berpikir
Liberalisme
Barat
Perkembangan
Sains & IPTEK
(Wacana Rasional)
Islam Liberal
di Indonesia
Pertentangan
Liberal > < Radikal
JIMM
Postra
LKiS
FORMACI
JIL
Lain-lain
Demokrasi
Penyimpangan
(Kontroversi
Pemikiran Islam)
Agama :
Pluralisme
Agama
Politik :
Sekularisme
Masyarakat
Madani
Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir
Keterangan:
Sejarah intelektual selalu meninggalkan jejak-jejak pemikiran yang
secara langsung berpengaruh pada terbentukya pemikiran baru. Lahirnya
pemikiran Islam Liberal di kalangan pemikir dan intelektual Indonesia tidak dapat
terlepas dari pengaruh para pemikir Barat yang menggagas liberalisasi Islam.
commit to user
Selain itu wacana rasional akibat berkembangnya ilmu pengetahuan menyebabkan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
34
akal dijunjung dan tidak jarang menyingkirkan agama sebagai dasar utama
kehidupan. Hal ini menyebabkan Liberalisasi Islam yang diusung oleh bangsabangsa barat telah memberikan pengaruh besar terhadap munculnya ide-ide
pembaruan di kalangan intelektual muslim Indonesia. Pemerintah liberal
merupakan proses bersinambung dari wacana rasional, sedangkan wacana rasional
dimungkinkan keberadaannya di kalangan mereka yang memiliki budaya atau
kesadaran berlainan (Binder, 2001: 1)
Pengembangan gagasan dan pemikiran rasional di Indonesia, secara
langsung terlihat dari beberapa program Departemen Agama masa Orde Baru
dengan mengirim para sarjana IAIN untuk melanjutkan studi dan belajar ilmuilmu Islam di negeri Barat pada kaum orientalis (Budi Handrianto, 2007: 13).
Lahirnya pemikiran Islam Liberal di kalangan pemikir dan intelektual Indonesia
tidak dapat terlepas dari pengaruh para pemikir Barat yang menggagas liberalisasi
Islam dan secara cepat meluas dalam berbagai aspek. Proyek imperialis yang
masuk melalui jalur pendidikan menjadi alur terprogram dan memberikan
pengaruh besar bagi pandangan ideologis negara Indonesia cenderung berpihak
pada Barat yang dinilai sukses dalam pengembangan Ilmu pengetahuan sehingga
negara-negara Barat berhasil maju pesat, dan Indonesia pantas belajar dari para
orientalis.
Menurut beberapa penelitian, grafik kebebasan beragama semakin
mengalami penekanan masa Orde baru sehingga pasca runtuhnya Orde baru
membentuk suatu optimisme masyarakat akan terwujudnya Demokrasi yang
sesungguhnya (Masdar Hilmy, 2009: 15). Kebebasan digaungkan dalam berbagai
bidang. Namun, bagaimana dengan kondisi kebebasan beragama dan semakin
maraknya gerakan Islam Konservatif yang cenderung Radikal dan tanpa basa-basi
dalam menindak kemaksiatan. Semangat reformasi dan munculnya fakta
mengenai Islam radikal telah mendorong tumbuh dan berkembangnya kelompokkelompok Civil society yang memperluas ruang gerak kebebasan warga
negaranya.
Masyarakat
madani
menjadi
alternatif
pemecahan,
dengan
pemberdayaan dan penguatan daya kontrol masyarakat terhadap kebijakancommit
to user kekuatan masyarakat sipil yang
kebijakan pemerintah sehingga akan
terwujud
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
35
mampu merealisasikan dan mampu menegakkan konsep hidup demokratis dan
menghargai hak-hak asasi manusia. Masyarakat madani dipercaya sebagai
alternatif paling tepat bagi demokratisasi, terutama di negara yang demokrasinya
mengalami ganjalan akibat kuatnya hegemoni negara (Mawardi J., 2008: 20).
Tetapi dalam waktu yang sama masyarakat dihadapkan pada suhu perpecahan di
kalangan golongan-golongan yang berbeda pandangan.
Islam liberal bukan hal baru di Indonesia namun Jaringan Islam Liberal
(JIL) adalah jaringan pelopor yang mengembangkan pemikiran liberalnya dengan
membawa bendera “Islam Liberal”. Dalam pemahaman lebih umum, seperti
penelitian yang dikembangkan Greg Barton dalam melihat gagasan Islam Liberal
di Indonesia, telah dikemukakan bahwa suburnya ide-ide Islam Liberal
dikembangkan secara serius dan populer jauh sebelum reformasi dilancarkan
sebagai hasil modernisasi dan globalisasi di masyarakat Indonesia (Barton, 1999:
3).
Jaringan Islam Liberal muncul karena adanya perbedaan latar belakang
budaya dari para pemikirnya dan sebagai pentuk respon atas Islam radikal yang
dianggapnya cenderung kaku dan tidak kontekstual. Dengan mengembangkan
konsep Demokrasi, khususnya di bidang agama dan politik Jaringan Islam Liberal
mengembangkan strategi pembumian Islam Liberal yang sesuai modernisasi
dengan intelektualitasnya melalui berbagai media masa baik cetak maupun
elektronik.
Keberhasilannya dalam mengembangkan pemikiran Islam liberal
terutama di kalangan intelektual muda pada akhirnya menimbulkan kontroversi
baik pro dan kontra dalam bentuk intelektual maupun fisik, namun keberadaannya
semakin terdesak dengan keluarnya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
tanggal 28 September dalam Munas-nya yang ke-7 (Budi Handrianto, 2007: xli)
mengenai Haramnya pluralisme, sekularisme, dan liberalisme agama sehingga
jaringan ini dinyatakan sesat.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian yang berjudul ”Jaringan Islam liberal (Studi Gerakan
Pemikiran Islam Liberal di Indonesia tahun 2001-2005)”, menggunakan teknik
pengumpulan data melalui studi pustaka dari sumber primer, sekunder dan
berbagai sumber yang relevan. Adapun perpustakaan yang digunakan sebagai
tempat pencarian data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta.
b. Perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas
Maret Surakarta.
c. Perpustakaan Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
d. Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret
Surakarta
e. Monumen Pers Surakarta (Perpustakaan dan Arsip Media Cetak)
f. Perpustakaan St. Kolose Ignasius Yogyakarta
g. Perpustakaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Jogja Library)
h. Perpustakaan STAIN Surakarta
i. Perpustakaan Gajah Mada
j. Buku-buku koleksi penulis
2. Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan untuk penelitian ini direncanakan mulai dari
disetujuinya judul skripsi yaitu pada bulan Februari 2012 sampai dengan
selesainya penulisan skripsi ini yaitu pada bulan Juli 2012.
commit to user
36
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
37
B. Metode Penelitian
Peranan metode ilmiah sangat penting dalam sebuah penelitian karena
keberhasilan tujuan yang akan dicapai tergantung dari penggunaan metode yang
tepat. Kata metode berasal dari bahasa Yunani, methodos yang berarti cara atau
jalan. Sehubungan dengan karya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara
kerja, yaitu cara kerja untuk memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang
bersangkutan (Koentjaraningrat, 1977: 16). Sedangkan menurut Helius Sjamsudin
(1994: 2), ”Metode ada hubungannya dengan suatu prosedur, proses atau teknik
yang sistematis dalam penyelidikan suatu disiplin ilmu tertentu untuk
mendapatkan obyek (bahan-bahan) yang diteliti”.
Penelitian ini merupakan penelitian yang berusaha merekonstruksikan
Pergerakan Jaringan Islam Liberal (Studi Gerakan Pemikiran Islam Liberal di
Indonesia tahun 2001-2005) . Mengingat peristiwa yang menjadi pokok penelitian
adalah peristiwa masa lampau, maka metode yang digunakan adalah metode
sejarah. Hadari Nawawi (1998: 78-79) mengemukakan bahwa metode penelitian
sejarah adalah prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan data masa lalu
atau peninggalan-peninggalan baik untuk memahami kejadian atau suatu keadaan
yang berlangsung pada masa lalu dan terlepas dari keadaan masa sekarang.
Metode sejarah dapat diartikan sebagai metode penelitian dan penulisan sejarah
dengan menggunakan cara, prosedur atau teknik yang sistematik sesuai dengan
asas-asas dan aturan ilmu sejarah (Daliman, 2012: 27)
Gilbert J. Garraghan yang dikutip Dudung Abdurrahman (2011: 103)
mengemukakan bahwa metode penelitian sejarah adalah seperangkat aturan dan
prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif,
menilai secara kritis, dan mengajukan sintesis dari hasil-hasil yang dicapai dalam
bentuk tertulis. Menurut Louis Gottschalk yang dikutip Daliman (2012: 28)
memaknai metode sejarah sebagai proses menguji dan menganalisis secara kritis
rekaman, dokumen-dokumen dan peninggalan masa lampau yang otentik dan
dapat dipercaya, serta membuat interpretasi dan sintesis atas fakta-fakta tersebut
menjadi kisah sejarah yang dapat dipercaya.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
38
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metode
penelitian sejarah adalah kegiatan pemecahan masalah dengan mengumpulkan
sumber-sumber sejarah yang relevan dengan permasalahan yang akan dikaji untuk
memahami kejadian pada masa lalu kemudian menguji dan menganalisa secara
kritis dan mengajukan sintesis dari hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis dari
sumber sejarah tersebut untuk dijadikan suatu cerita sejarah yang obyektif,
menarik dan dapat dipercaya.
C. Sumber Data
Sumber data sering juga disebut data sejarah. Menurut Kuntowijoyo
(1995: 94), ”data” merupakan bentuk jamak dari kata tunggal datum (bahasa latin)
yang berarti pemberitaan. Menurut Dudung Abdurrahman (2011: 35) data sejarah
merupakan bahan sejarah yang memerlukan pengolahan, penyeleksian, dan
pengkategorisasian. Menurut Helius Sjamsuddin dan Ismaun (1996: 61) sumber
sejarah ialah bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi
tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau.
Helius Sjamsuddin ( 1996: 73) mengemukakan tentang pengertian
sumber sejarah, yaitu:
Segala sesuatu yang langsung atau tidak langsung menceritakan kepada kita
tentang sesuatu kenyataan atau kegiatan manusia pada masa lalu (past
actuality). Sumber sejarah merupakan bahan-bahan mentah (raw materials)
sejarah yang mencakup segala macam evidensi (bukti) yang telah
ditinggalkan oleh manusia yang menunjukkan segala aktivitas mereka di
masa lalu yang berupa kata-kata yang tertulis atau kata-kata yang diucapkan
(lisan).
Sumber sejarah dapat dibedakan menjadi sumber primer dan sumber
sekunder. Sumber primer dalam penelitian sejarah adalah sumber yang
disampaikan langsung oleh saksi mata. Dikatakan sebagai sumber sekunder
karena tidak disampaikan langsung oleh saksi mata dan bentuknya dapat berupa
buku-buku, artikel, koran, majalah (Dudung Abdurrahman, 2011: 105).
Sedangkan Louis Gottschalk (1983: 35) berpendapat bahwa sumber-sumber
tulisan dan lisan dibagi atas dua jenis, yaitu data primer dan sekunder. Sumber
primer adalah kesaksian dari seorang saksi dengan mata-kepala sendiri atau saksi
commit to user
dengan pancaindera yang lain, atau dengan alat mekanis seperti diktafon (orang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
39
atau alat yang hadir pada peristiwa yang diceritakannya), oleh karena itu harus
dihasilkan oleh orang yang sezaman dengan peristiwa yang dikisahkan. Akan
tetapi sumber primer tidak perlu asli dalam arti hukum dari kata asli (dokumen itu
sendiri yang biasanya versi tulisan pertama), namun dalam bentuk copy atau suatu
edisi cetakan selanjutnya. Sumber sekunder merupakan kesaksian dari siapapun
yang bukan merupakan saksi pandang-mata (seseorang yang tidak hadir pada
peristiwa yang dikisahkan).
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data
primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer tersebut diantaranya arsip
yang meliputi: Artikel-artikel dalam surat kabar yang ditulis oleh tokoh-tokoh
Jaringan Islam Liberal seperti Kompas edisi 18 November tahun 2002, Majalah
Gatra 1 Desember 2001, 8 Desember 2001, 21 Desember 2002, Jawa Pos 11 April
2005, Tempo, Suara Merdeka, Republika. Beberapa tulisan tokoh-tokoh Islam
Liberal terutama yang dimuat dalam kelompok diskusi (mailing list) JIL
[email protected], website www.islamlib.com serta blog yang
dimiliki tokoh-tokoh yang pro ataupun kontra terhadap JIL (seperti :
www.Assyaukanie.com,
gusulil.wordpress.com,
Islam-kucinta.blogspot.com,
alislamu.com, ulil.net, goenawanmohamad.com, nongmahmada.blogspot.com,
pemikiranislam.net). Sumber data sekunder yang digunakan seperti penelitianpenelitian yang telah dibukukan berjudul Islam Liberal: Kritik terhadap ideologiideologi Pembangunan karya Leonard Binder, Gagasan Islam Liberal di
Indonesia karya Greg Barton, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942
karya Deliar Noer, 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia: Pengusung Ide-ide
Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme agama karya Budi Handrianto, Islam
Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya karya Adian Husaini
dan Nuim Hidayat, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal: Dialog
Interaktif dengan Aktivis Jaringan Islam Liberal karya Adnin Armas, Menangkal
Bahaya JIL dan FLA karya Hartono Ahmad Jaiz dan Agus Hasan Bashori, serta
beberapa karya dan sumber-sumber lain yang relevan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
40
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ditempuh dengan studi
kepustakaan. Studi pustaka penting sebagai proses bahan penelitian. Tujuannya
sebagai pemahaman secara menyeluruh tentang topik permasalahan. Teknik studi
pustaka adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk
memperoleh data ataupun fakta sejarah, dengan cara membaca buku-buku
literatur, majalah, dokumen atau arsip, surat kabar atau brosur yang tersimpan di
dalam perpustakaan (Koentjaraningrat, 1986: 31). Teknik pengumpulan data studi
pustaka adalah suatu penelitian yang berjuang untuk mengumpulkan data dan
informasi dengan menggunakan bermacam- macam materi yang terdapat dalam
buku, majalah, dokumen dan surat kabar (Kartini Kartono, 1990: 67).
Teknik studi pustaka dapat dilakukan dengan menggunakan sistem
katalog atau sistem kartu. Hal ini sejalan dengan pendapat Louis Gottschalk
(1983: 46-47), bahwa tempat penelitian yang lazim bagi seorang sejarawan adalah
perpustakaan dan alat yang paling bermanfaat bagi seorang sejarawan adalah
katalogus. Mengenai katalogus perpustakaan, biasanya terkandung keterangan
mengenai suatu masalah yang mencantumkan nama pengarang, judul buku,
subyek yang dicatat dan sumber pada halaman. Karena itu perlu mengingat
beberapa kata kunci (Key words) yang terdapat di dalam subyek yang dibahasnya,
sehingga dapat menemukan buku, artikel dan jurnal yang dimasukkan ke dalam
katalogus di bawah salah satu di antara kata-kata kunci. Tiap subyek sejarah
mengandung beberapa indikasi mengenai orang, tempat, periode dan jenis jabatan
manusia yang bersangkutan.
Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan sebagai
berikut:
a. Pencarian dan pengumpulan sumber-sumber data yang dibutuhkan baik itu sumber
primer maupun sumber sekunder yang berkaitan dengan masalah Islam Liberal
mulai dari awal munculnya hingga lahirnya JIL. Peneliti berusaha mengumpulkan
sumber- sumber sejarah yang berhubungan dengan masalah yang diteliti yaitu
mengadakan studi referensi yang ada di Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
41
Maret Surakarta, Perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan Program Studi Pendidikan Sejarah
Universitas Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan Monumen Pers Surakarta,
Perpustakaan STAIN Surakarta, Perpustakaan Gajah Mada, Jogja Library, St. Kolose
Ignasius Yogyakarta.
b. Membaca dan mencatat data baik sumber primer maupun sumber sekunder yang
relevan dengan materi pembahasan Jaringan Islam Liberal mulai dari Pergerakan
Jaringan Islam Liberal dari sebelum hingga batasan tahun yang diteliti secara
menyeluruh menggunakan sistem resume dan sistem katalog. Dengan meringkas
dan mencatat beberapa sumber berbeda yang telah terkumpul namun dalam
pembahasan materi yang sama kemudian merangkainya kembali dalam bentuk
kalimat baru yang relevan dengan pokok pembahasan tanpa mengubah maksud
dari sumber yang ditemukan.
c. Penggalian seperti pada tahap sebelumnya dilakukan secara berulang-ulang pada
pembahasa-pembahasan yang berbeda baik terhadap bahan-bahan pustaka seperti
buku, majalah, artikel, jurnal yang dilakukan di perpustakaan yang dianggap penting
dan relevan dengan masalah yang diteliti.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
analisis historis. Menurut Kuntowijoyo yang dikutip oleh Dudung Abdurrahman
(2011: 114), interpretasi atau penafsiran sejarah seringkali disebut juga dengan
analisis sejarah. Analisis sendiri berarti menguraikan, dan secara terminologis
berbeda dengan sintesis yang berarti menyatukan. Analisis dan sintesis, dipandang
sebagai metode-metode utama dalam interpretasi. Menurut Helius Sjamsuddin
(1996: 89) teknik analisis data historis adalah analisis data sejarah yang
menggunakan kritik sumber sebagai metode untuk menilai sumber-sumber yang
digunakan dalam penulisan sejarah.
Menurut Berkhofer yang dikutip oleh Dudung Abdurrahman (2011: 114),
analisis sejarah bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh
commit to user
dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
42
itu ke dalam suatu interpretasi yang menyeluruh. Menurut Sartono Kartodirdjo
(1992: 2) analisis sejarah ialah menyediakan suatu kerangka pemikiran atau
kerangka referensi yang mencakup berbagai konsep dan teori yang akan dipakai
dalam membuat analisis itu. Data yang telah diperoleh diinterpretasikan, dianalisis
isinya dan analisis data harus berpijak pada kerangka teori yang dipakai sehingga
menghasilkan fakta-fakta yang relevan dengan penelitian.
Analisis data merupakan langkah yang penting, dimulai dari melakukan
kegiatan pengumpulan data kemudian melakukan kritik ekstern dan intern untuk
mencari otensitas dan kredibilitas sumber yang didapatkan. Dari langkah ini dapat
diketahui sumber yang benar-benar dibutuhkan dan relevan dengan materi
penelitian. Selain itu, membandingkan data dari sumber sejarah tersebut dengan
bantuan seperangkat kerangka teori dan metode penelitian sejarah, kemudian
menjadi fakta sejarah. Agar memiliki makna yang jelas dan dapat dipahami, fakta
tersebut ditafsirkan dengan cara merangkaikan fakta menjadi karya yang
menyeluruh dan masuk akal.
F. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian adalah tata urutan yang harus dilaksanakan dalam
proses penelitian agar peneliti mendapat hasil yang optimal. langkah-langkah
penelitian dari awal yaitu persiapan membuat proposal sampai pada penulisan
hasil penelitian. Setiap penelitian mempunyai prosedur penelitian yang berbedabeda. Hal tersebut disesuaikan dengan disiplin ilmu san tujuan yang akan dicapai
oleh peneliti. Karena penelitian ini menggunakan metode historis, maka ada
empat tahap yang harus dipenuhi dalam melakukan penelitian. Empat langkah
tersebut terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Prosedur
penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
43
Heuristik
Jejak / Peristiwa
Sejarah
Kritik
Interpretasi
Historiografi
Fakta Sejarah
Cerita Sejarah
Gambar 2. Bagan Langkah-Langkah/Prosedur Penelitian Sejarah
Keterangan :
1. Heuristik
Heuristik berasal dari kata Yunani heurishein yang artinya memperoleh.
Dalam pengertian lain, menurut G.J. Reiner yang dikutip oleh Dudung
Abdurahman (2011: 104) heuristik adalah suatu teknik, suatu seni dan bukan
suatu ilmu. Oleh karena itu heuristic tidak mempunyai aturan-aturan umum.
Heuristic sering kali merupakan suatu keterampilan dalam menemukan,
menangani dan memperinci bibiliografi, atau mengklasifikasi dan merawat
catatan-catatan.
Pada tahap ini diusahakan mencari dan menemukan sumber-sumber
tertulis berupa buku-buku yang relevan dan surat kabar. Sumber tertulis primer
berupa arsip yang meliputi: Artikel-artikel dalam surat kabar yang ditulis oleh
para tokoh Jaringan Islam Liberal seperti Kompas edisi 18 November tahun 2002,
Majalah Gatra 1 Desember 2001, 8 Desember 2001, 21 Desember 2002, Jawa Pos
11 April 2005, Tempo, Suara Merdeka, Republika. Beberapa tulisan tokoh-tokoh
Islam Liberal terutama yang dimuat dalam kelompok diskusi (mailing list) JIL
[email protected], website www.islamlib.com serta blog yang
dimiliki tokoh-tokoh yang pro ataupun kontra terhadap JIL (seperti :
gusulil.wordpress.com,
goenawanmohamad.com,
Islam-kucinta.blogspot.com,
alislamu.com,
nongmahmada.blogspot.com,
ulil.net,
pemikiranislam.net).
Sumber data sekunder yang digunakan
seperti
commit to
user penelitian-penelitian yang telah
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
44
dibukukan
berjudul
Islam
Liberal:
Kritik
terhadap
ideologi-ideologi
Pembangunan karya Leonard Binder, Gagasan Islam Liberal di Indonesia karya
Greg Barton, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 karya Deliar Noer,
50 Tokoh Islam Liberal Indonesia: Pengusung Ide-ide Sekularisme, Pluralisme,
dan Liberalisme agama karya Budi Handrianto, Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi,
Penyimpangan dan Jawabannya karya Adian Husaini dan Nuim Hidayat,
Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal: Dialog Interaktif dengan
Aktivis Jaringan Islam Liberal karya Adnin Armas, Menangkal Bahaya JIL dan
FLA karya Hartono Ahmad Jaiz dan Agus Hasan Bashori, serta beberapa karya
dan sumber-sumber lain yang relevan.
Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan mengunjungi
beberapa perpustakaan diantaranya Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret
Surakarta, Perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan Program Studi Pendidikan Sejarah
Universitas Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan Monumen Pers Surakarta,
Perpustakaan
Universitas
Indonesia,
Perpustakaan
STAIN
Surakarta,
Perpustakaan Gajah Mada, Jogja Library, St. Kolose Ignasius Yogyakarta.
2. Kritik
Tugas penyelidik dalam penelitian historis ini adalah mengadakan
rekonstruksi mengenai masa lampau. Tetapi di dalam mengadakan rekonstruksi
itu, tidak semua peristiwa yang sudah silam dapat diulangi terjadinya, sehingga
penyelidik harus banyak mendasarkan diri pada fakta-fakta sejarah dan
membangun pemecaham masalah atas fakta itu. Fakta yang diterima dari berbagai
sumber, banyak bergantung pada orang-orang yang terdahulu hidup dan menjadi
pelaku atau pembuat sejarah yang diselidikinya. Karena itu, penyelidik harus
mempunyai cara-cara untuk meneliti apakah fakta itu benar-benar asli dan dapat
dipercaya ataukah tidak. Cara-cara meneliti data itulah yang dimaksud dengan
kritik historis.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
45
Kritik yaitu kegiatan untuk menyelidiki apakah sumber-sumber sejarah
itu sejati atau otentik dan dapat dipercaya atau tidak. Pada tahap ini kritik sumber
dilakukan dengan dua cara yaitu kritik ekstern dan kritik intern. Menurut Dudung
Abdurahman (2011: 108), kritik ekstern yaitu menguji suatu keabsahan tentang
keaslian sumber (otentisitas) sedangkan kritik intern menguji keabsahan tentang
kesahihan sumber (kredibilitas).
Kritik ekstern adalah kritik terhadap autentisitas sumber, apakah sumber
yang dikehendaki asli atau tidak, utuh atau turunan (salinan). Kritik ekstern
dilakukan terhadap sumber yang diperoleh berdasarkan bentuk fisik atau luarnya
berupa bahan (kertas atau tinta) yang digunakan dan segi penampilan yang lain.
Kritik ekstern dalam penelitian ini dilakukan dengan cara melihat kapan sumber
itu dibuat, di mana sumber itu dibuat, siapa pengarangnya dan bagaimana latar
belakang pendidikan pengarang. Sebagai contoh kritik ekstern terhadap buku
“Islam Liberal : Sejarah Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya” karya Adian
Husaini dan Nuim Hidayat, buku yang merupakan penelitian menyeluruh
mengenai Islam Liberal khususnya JIL dengan pengarang yang sejak awal fokus
pada penelitian hubungan Islam dengan Barat. Karya ini juga diterbitkan tahun
2002 setelah muncul JIL dan berbagai kontroversinya.
Kritik intern dilakukan dengan membandingkan antara isi sumber yang
satu dengan isi sumber yang lain sehingga data yang diperoleh dapat dipercaya
dan dapat memberikan sumber yang dibutuhkan. Hal tersebut dilaksanakan agar
dapat mengetahui bagaimana isi sumber sejarah dan relevansinya dengan masalah
yang dikaji. Kritik intern sumber data tertulis dalam penelitian ini dilakukan
dengan mengidentifikasi gaya, tata bahasa, dan ide yang digunakan penulis,
sumber data, dan permasalahannya kemudian dibandingkan dengan sumber data
lainnya. Kritik ini bertujuan untuk menguji apakah isi, fakta dan cerita dari suatu
sumber sejarah dapat dipercaya dan dapat memberikan informasi yang diperlukan.
Misalnya dengan membaca Artikel kontroversial Ulil Abshar Abdalla berjudul
”Menyegarkan kembali Pemahaman Islam”, Wajah Islam liberal di Indonesia
karya ulil Abshar Abdalla, buku-buku karangan Nurcholis Madjid, Abdurrahman
commit
to user
Wahid, serta catatan harian Ahmad
Wahib.
Semua itu adalah tokoh-tokoh liberal
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
46
yang telah menghasilkan pemikirannya dalam bentuk tulisan. Dengan demikian
kritik intern dapat dilakukan untuk melihat seberapa relevan tulisan-tulisan tokoh
tersebut mendukung karya peneliti.
3. Interpretasi
Menurut Nugroho Notosusanto (1978 : 40), interpretasi adalah suatu
usaha menafsirkan dan menetapkan makna serta hubungan dari fakta-fakta yang
ada, kemudian dilakukan perbandingan antara fakta yang satu dengan fakta yang
lain, sehingga terbentuk rangkaian yang selaras dan logis. Menurut Berkhofer
yang dikutip oleh Dudung Abdurrahman (2011 : 114) bertujuan untuk melakukan
sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan
bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu ke dalam suatu interpretasi
yang menyeluruh, sehingga dapat dikatakan sebagai suatu bentuk analisa.
Kegiatan menyeleksi dan menafsirkan tulisan buku dalam penelitian ini
dilakukan
dengan
berkesinambungan,
penentuan
periodisasi,
merangkaikan
data
secara
misalnya dengan merangkaikan periode sejarah dan
menghubungkan sumber data sejarah yang ada pada tulisan Greg Barton dengan
tulisan Leonard Binder maupun artikel-artikel tulisan Ulil Abshar Abdalla,
sehingga menjadi kesatuan yang harmonis dan masuk akal melalui interpretasi.
Dalam kegiatan interpretasi ini penelitian yang dilakukan berusaha bersikap
obyektif yang disebabkan keanekaragaman data yang diperoleh.
Fakta-fakta yang didapat kemudian ditafsirkan, diberi makna dan
ditemukan arti yang sebenarnya, sehingga dapat dipahami makna sesuai dengan
pemikiran yang relevan, logis dan berdasarkan obyek penelitian yang dikaji. Dari
kegiatan kritik sumber dan interpretasi tersebut dihasilkan fakta sejarah.
4. Historiografi
Historiografi adalah kegiatan menyusun fakta sejarah menjadi suatu
kisah. Peristiwa sejarah yang dikisahkan melalui historiografi akan sangat
dipengaruhi oleh subyektifitas penulis dalam merekonstruksinya. Menurut Helius
Sjamsuddin (1992: 153), historiografi merupakan kegiatan menyampaikan hasil
sintesa fakta-fakta yang diperolehcommit
dalam bentuk
to userkisah sejarah. Dalam historiografi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
47
seorang penulis tidak hanya menggunakan keterampilan teknis, penggunaan
kutipan-kutipan
dan
catatan-catatan
tetapi
penulis
juga
dituntut
untuk
menggunakan pikiran kritis dan analisis. Interpretasi yang dilakukan terhadap
fakta sejarah dapat menghasilkan suatu cerita atau kisah sejarah dan serangkaian
kisah tersebut disajikan dalam suatu penulisan atau historiografi.
Historiografi merupakan langkah terakhir dari metode sejarah untuk
menyampaikan susunan fakta sejarah menjadi cerita sejarah menggunakan bahasa
ilmiah, logis sehingga dapat diterima secara ilmiah. Historiografi dalam penelitian
diwujudkan dalam bentuk karya ilmiah berupa skripsi yang berjudul “Jaringan
Islam Liberal (Studi Gerakan Pemikiran Islam Liberal di Indonesia tahun
2001-2005)”.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB IV
HASIL PENELITIAN
B. Latar Belakang Terbentuknya Jaringan Islam Liberal (JIL)
Sejak masuknya sekularisme dan liberalisme ke dunia Islam, baik
melalui kolonialisme maupun interaksi budaya, polemik dan benturan pemikiran
senantiasa mewarnai perjalanan peradaban Islam. Menurut Daud Rasyid dalam
Adian Husaini (2002: vii), apabila ditelusuri akar permasalahannya, dapat
ditemukan ada dua kekuatan besar yang bertarung di panggung pemikiran yaitu
Islam dan Barat. Jaringan Islam liberal yang berkembang di Indonesia secara
massif sejak tahun 2001, diperkirakan muncul seiring atau bahkan akibat
kemunculan kelompok-kelompok Islam fundamentalis di Indonesia. Dalam
sejarah, pemikiran Islam liberal selalu muncul sebagai reaksi atas kemunculan
pemikiran Islam fundamentalis. Semakin menjamur kelompok-kelompok Islam
fundamentalis, semakin kuat pula dorongan untuk mengorganisasikan jejaring
Islam liberal. Jika dicermati, perkiraan tersebut tidak sepenuhnya benar dan tidak
pula salah karena bangkitnya Islam fundamentalis dengan berbagai aksinya bukan
faktor tunggal munculnya gagasan Islam liberal. Menariknya, kemunculan Islam
liberal di Indonesia seolah-olah terjadi setelah adanya persentuhan secara intens
dengan Barat dengan demokrasi-liberalnya, sedangkan Islam fundamentalis
muncul di Indonesia setelah terjadi persentuhan dengan Arab dengan
puritanismenya. Hal ini menunjukkan bahwa kemunculan masing-masing
kelompok bukan hanya karena merespon situasi yang ada di dalamnya atau bukan
hal yang murni dari Indonesia, namun juga adanya pengaruh yang datang dari
luar.
1. Akar dan Wajah Pemikiran Islam Liberal
a.
Liberalisme di Barat
Perkembangan sejarah manusia, memperlihatkan tahap di mana bangsa,
masyarakat, penduduk secara lahiriah hidup di tanah sendiri dan menurut adat
user
istiadat sendiri tampak secara commit
bebas to(merdeka)
mengatur, mengurus dan
48
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
49
mengarahkan hidupnya sendiri, mengungkapkan dan menampilkan diri lewat seni
musik, drama, lukis serta menghayati agama yang dianut. Namun, pada
kenyataannya meskipun hidup di tanahnya sendiri, orang-orang dalam bangsa dan
masyarakat tidak sepnuhnya bebas-merdeka. Masyarakat masih diatur dengan
ketat dan harus menetapi peraturan dan undang-undang oleh lembaga negara
dibawah penguasa, maupun oleh agama. Dari berbagai peraturan dan undangundang baik yang secara mendasar maupun dalam praktik banyak yang menindas,
tidak sesuai dengan kebutuhan zaman serta aspirasi orang-orang yang harus
menaati. Dalam suasana hidup yang semakin menekan tersebut lahir pandangan
dan gerakan liberalisme (Mangunhardjana, A., 1997: 148)
Secara umum pandangan dan gerakan liberalisme mengedepankan nilainilai
individual,
menjunjung
tinggi
martabat
pribadi
manusia
dan
kemerdekaannya. Kaum liberalis percaya akan kebaikan dan kemampuan manusia
untuk mengembangkan seluruh potensi dan hidupnya, optimisme terhadap
pandangan bahwa semua manusia adalah baik mengakar kuat dalam pemikiran
ini. Dalam bidang ekonomi, kaum liberalis menuntut
kebebasan dan
dihilangkannya segala hambatan, halangan dan pembatasan yang menghadang
kehidupan ekonomi baik dalam bentuk undang-undang atau aturan-aturan. Dalam
bidang politik-kenegaraan, kaum liberalis menuntut agar hak-hak politis setiap
orang dilindungi dan setiap orang bebas untuk bergerak dan ikut berpartisipasi
dalam bidang politik sesuai dengan aspirasi dan cita-citanya, dan mendapat
perlindungan masyarakat dan negara yang diperlukan, dengan cara itu ketertiban,
keamanan dan kemajuan negara akan terjamin (Mangunhardjana, A., 1997: 149).
Paham liberal (liberalisme) adalah satu di antara nama-nama untuk
menyebut ideologi Dunia Barat yang berkembang sejak masa Reformasi Gereja
dan Renaissance yang menandai berakhirnya Abad Pertengahan (abad V-XV).
Disebut liberal, yang secara harfiah berarti "bebas dari batasan" (free from
restraint), karena liberalisme menawarkan konsep kehidupan yang bebas dari
pengawasan gereja dan raja. Bertolak belakang dengan kehidupan Barat Abad
Pertengahan pada saat gereja dan raja mendominasi seluruh segi kehidupan
commit
to user
manusia. Sehingga dipercayai bahwa
akar
ideologi Barat adalah ide pemisahan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
50
agama dari kehidupan (sekularisme), yang selanjutnya melahirkan pemisahan
agama dari negara. Berbagai bentuk pemikiran liberal seperti liberalisme di
bidang politik, bidang ekonomi, maupun bidang agama, semuanya berakar pada
ide dasar yang sama, yaitu sekularisme (M. Shiddiq Al-Jawi dalam http://hiin.facebook.com/topic.php?uid=75026590041&topic=9232, diakses 10 Februari
2012).
Pada tingkat global, cara pandang sekular-liberal gaya Barat kemudian
diglobalisasi sebagai bagian dari upaya pelestarian hegemoni yang dalam logika
politis merupakan hal yang wajar dan menjadi dominan. Demokratisasi liberal
mengharuskan sekularisasi dan sekaligus pluralisme yang tidak membedakan
manusia atas dasar agama atau ras tertentu, tetapi manusia dikotak-kotakkan atas
dasar bangsa dan negara. Proses imitasi terhadap pola pikir dan budaya kekuatan
dominan akan memuluskan program hegemoni di bidang bisnis dan ekonomi
(Adian Husaini, 2005: 17).
Faktor penting yang menjadi latar belakang sejarah panjang pergeseran
Barat menjadi sekular dan liberal yang kemudian mengglobalkan pandangan
hidup dan nilai-nilainya ke seluruh dunia, termasuk di dunia Islam oleh Adian
Husaini (2005: 29-30) diklasifikasikan dalam tiga faktor penting : a. trauma
sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman
pertengahan (Problem sejarah Kristen), b. problem teks Bible, c. problem teologis
Kristen. Ketiga problema tersebut saling berkaitan sehingga memunculkan sikap
traumatis terhadap agama, yang selanjutnya melahirkan sikap berpikir sekularliberal dalam sejarah tradisi pemikiran Barat modern.
Problem sejarah Kristen dapat dipahami melalui perjalanan sejarah
peradaban Barat (Western Civilization) dengan apa yang
disebut “Zaman
Kegelapan” (the dark ages) atau “Zaman Pertegahan” (the medieval ages). Salah
satu fenomena penting dalam sejarah Abad Pertengahan di Eropa adalah upaya
Gereja Kristen memperoleh dan memelihara kekuatan politiknya. Agama Kristen
mulai mendapatkan peluang kebebasan (setelah beratus-tahun mengalami
penindasan di bawah Imperium Romawi) dari Kaisar Konstantin, yang pada tahun
commit
to user
313 M mengeluarkan Edict of Milan
yang
melarang penindasan terhadap semua
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
51
jenis monoteisme di Romawi dan memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh
Gereja untuk
menjadi
bagian dari administrasi pemerintahan.
Dengan
dikeluarkannya Edict of Theodosius pada tahun 392 M, agama Kristen memegang
posisi sebagai agama negara (state-religion) dari Imperium Romawi (Romawi
Empire). Di akhir masa Kekaisaran Romawi, institusi-institusi kenegaraan
Romawi mengalami kehancuran namun institusi Gereja meraih kekuatan dan
signifikansinya. Organisasi Gereja tumbuh menjadi lebih kuat dan keanggotannya
semakin meningkat. Agama Kristen (Christianity) merupakan prinsip pemersatu
dan Gereja menjadi Institusi yang dominan dan sentral. Tidak ada satupun aspek
kehidupan di Abad pertengahan yang tidak tersentuh oleh pengaruh Gereja.
(Adian Husaini, 2005: 31)
Di zaman hegemoni kekuasaan Gereja lahir sebuah institusi Gereja yang
terkenal kejahatan dan kekejamannya yaitu “Inquisisi”. Karen Armstrong dalam
Adian Husaini (2004: 148-149), menggambarkan kejahatan institusi Kristen
tersebut yang merupakan instrumen terror dalam Gereja Katolik sampai dengan
akhir abad ke-17. Gereja yang memegang otoritas atau wakil Tuhan, di mana Paus
adalah wakil Kristus yang diklaim mempunyai sifat Infallible (tidak dapat salah)
melegalisasikan berbagai kekejaman dan penindasan. Penyalahgunaan kekuasaan
Gereja justru menimbulkan pemberontakan dari dalam tubuh Gereja sendiri yang
sering disebut dengan istilah “reformasi”. Pergolakan pemikiran dan pertarungan
gagasan, seperti tercermin dalam kasus Copernicus, Galileo, Darwin dan para
saintis yang menentang doktrin gereja dan berusaha mengembangkan kejayaan
akal di atas segalanya harus mendapat konsekuensi yang tidak sederhana dari
pihak Gereja (Syamsuddin Arif, 2008: 86)
Hegemoni kekuasaan Gereja mengakibatkan krisis kepercayaan dalam
masyarakat, Gereja dan tokoh-tokohnya dianggap telah menyimpang dan
melakukan banyak penyelewengan. Pemberontakan terjadi di berbagai wilayah,
beberapa di antaranya adalah Martin Luther adalah tokoh pertama yang berani
melakukan protes atau pemberontakan secara terang-terangan terhadap Paus
dengan cara menempelkan 95 poin pernyataan (Ninety-five These) di pintu
commit 2005:
to user37). Luther terutama menentang
gerejanya, di Jerman (Adian Husaini,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
52
praktik jual beli surat pengampunan dosa (indulgences) oleh pemuka gereja, selain
itu juga menggugat keseluruhan doktrin supremasi Paus yang telah kehilangan
legitimasi akibat penyelewengan yang dilakukan, akibatnya Luther dikucilkan dari
Gereja Katolik. Luther mempercayai bahwa konsep keselamatan hanya datang
dari Tuhan, dan dasar ajaran hanya dari kitab suci bukan tradisi suci, oleh sebab
itu Luther meyakini bahwa Paus tidak memiliki wewenang dalam urusan
keselamatan umat. Gerakan Luther kemudian dikenal dengan Protestan yang
kemudian memisahkan diri dari Katolik Roma.
Pemberontakan yang terus berlangsung kemudian memisahkan dunia
Kristen Eropa menjadi dua bagian besar, yaitu Katolik dan Protestan. Bukan
hanya memisahkan tetapi juga menimbulkan persaingan yang dibarengi dengan
berbagai aksi pembantaian. Di Prancis, pertarungan antara Katolik dan Protestan
terlihat dalam kisah mengerikan pembantaian kaum Protestan (terutama
Calvinists) di Paris oleh kaum Katolik yang dikenal sebagai “The St.
Bartholomew’s Day Massacre”. Prancis juga dikenal dengan Revolusinya (1789)
yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity” (Adian Husaini, 2005: 38)
Dendam masyarakat Barat terhadap keistimewaan para tokoh agama
yang bersekutu dengan penguasa yang menindas rakyat juga berpengaruh
terhadap sikap Barat dalam memandang agama. Trauma tersebut yang kemudian
melahirkan paham sekularisme dalam politik, yaitu memisahkan antara agama
dengan politik. Dalam pandangan kelompok penentang hegemoni Gereja
meyakini bahwa jika agama dicampur dengan politik maka akan terjadi “politisasi
agama”. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi (privat) dan politik (negara)
adalah wilayah publik, agama adalah hal yang suci sedangkan politik adalah hal
yang kotor (Adian Husaini, 2005: 39)
Di sisi lain, problem yang berkaitan dengan teks Bible semakin
memperkuat kecenderungan terhadap munculnya penafsiran berbeda pada makna
yang terkandung di dalamnya. Mulai dari Perjanjian Lama (Hebrew Bible) yang
masih menjadi misteri sampai Perjanjian Baru (The New Testament) yang juga
mengalami problem otentisitas teks. Bruce M. Metzger, seorang guru besar bahasa
commit toSeminary
user
Perjanjian Baru di Princeton Theological
menjelaskan ada dua kondisi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
53
yang selalu dihadapi oleh penafsir Bible, yaitu tidak adanya dokumen Bible yang
original saat ini dan bahan-bahan yang ada bermacam-macam, berbeda satu
dengan lainnya (Adian Husaini, 2005: 42-43). Dominasi Gereja dinilai
menghambat kemajuan penelitian ilmiah karena Bible mengandung hal-hal yang
kontradiktif dengan akal hingga Revolusi ilmiah (scientific revolution) yang
dirintis Copernicus dengan teori heliosentrisnya dianggap bertentangan dengan
ajaran Bible (Adnin Armas, 2003: 3).
Selain problematika sejarah dan problem otentisitas Bible, terdapat faktor
lain yang menyebabkan Barat mengarahkan perubahan menuju secular-liberal,
yaitu problem teologi Kristen. Sepanjang sejarah peradaban Barat, terjadi berbagai
persoalan dalam perdebatan teologis. Di zaman pertengahan, rasio harus
disubordinasikan kepada kepercayaan Kristen. Akal dan filosofi pada zaman
pertengahan tidak digunakan untuk mengkritisi atau menentang doktrin-doktrin
kepercayaan Kristen, tetapi digunakan untuk mengklarifikasi, menjelaskan, dan
menunjangnya. Marvin Perry dalam bukunya Western Civilization: A Brief
History, menggambarkan sikap para ilmuwan dan pemikir abad pertengahan yang
menolak berbagai keyakinan Kristen di luar jangkauan akal manusia karena tidak
dapat ditelaah dengan argumen rasional. Bagi para pemikir di zaman pertengahan,
akal tidak memiliki keberadaan yang independen, tetapi pada akhirnya harus
mengakui standar kebenaran yang bersifat suprarasional dan di luar jangkauan
manusia agar pemikiran logis diarahkan oleh batasan-batasan Kristen dan dituntun
oleh otoritas scriptural dan keagamaan (Adian Husaini, 2005: 47)
Dari problem teologi Kristen inilah muncul gagasan yang menyatakan
perlunya menjembatani dan mempertemukan antara iman dan akal. Sejarah
intelektual Kristen adalah serangkaian upaya mencairkan konflik faith versus
reason, konflik antara dogma dan filsafat, agama dan sains, dan seterusnya.
Karena itu bisa dipahami mengapa Siger de Brabant yang dikecam, Bruno
dieksekusi, Galileo di-immurasi (dibakar), dan Spinoza yang dikucilkan tentu
dalam usahanya mengembangkan sains (Syamsuddin Arif, 2008: 173).
Sebagai suatu peradaban besar yang masih eksis hingga kini, Islam
commit to user
memiliki banyak perbedaan fundamental
dengan peradaban Barat. Problem
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
54
teologis Kristen, problem teks Bible, dan juga pengalaman Barat terhadap
hegemoni Gereja selama ratusan tahun telah membentuk konsep traumatis
terhadap agama sehingga muncul paham sekularisasi yang menempatkan agama
pada pojok kehidupan yang sempit (Adian Husaini, 2005: 55). Kejayaan dan
kemajuan Barat yang dipercaya bisa tercapai karena mampu keluar dari
kungkungan hegemoni kekuasaan Gereja, tanpa disadari telah menginspirasi
kalangan umat Islam yang mengaku berpandangan kritis sehingga secara mudah
mengimpor gagasan sekular-liberal peradaban Barat ke dalam pemikiran Islam.
b.
Liberalisme dalam Islam
Pemikiran Islam liberal telah menjalar dalam berbagai peradaban,
termasuk peradaban di Timur Tengah yang justru lebih identik dengan Islam
puritan atau kelompok Islam fundamentalnya. Islam liberal tampil dengan wajah
dan respon yang berbeda-beda, tentu hal yang membuatnya sama adalah berbagai
keinginan untuk mencapai kebebasan. Akar-akar gerakan liberalisme Islam di
Timur Tengah bisa ditelusuri hingga awal abad ke-19, ketika gerakan kebangkitan
(harakah al-nahdhah) di kawasan Timur Tengah hampir serentak dimulai (Luthfi
Assyaukanie, 2001 dalam http://islamlib.com/id/artikel/wacana-islam-liberal-ditimur-tengah2, diakses 30 April 2012). Menurut Bernard Lewis (2004: 188),
argumen yang sering dijadikan dalil dalam pola hubungan antara Timur dan Barat
bukanlah kemunduran Timur dalam hal ini peradaban Islam namun bangkitnya
Barat yang ditandai dengan berbagai penemuan, gerakan ilmu pengetahuan,
revolusi teknologi, industri dan politik sehingga Barat mampu menegakkan
hegemoninya di dunia.
Bagi kelompok Islam yang dikenal sebagai kalangan fundamentalis
menganggap kemunduran Islam disebabkan karena negara-negara muslim telah
banyak mengadopsi gagasan dan praktik yang berasal dari luar Islam. Sedangkan
kelompok yang dikenal sebagai pembaharu atau reformis berpandangan
sebaliknya, bahwa penyebab hilangnya keagungan Islam karena dipertahankannya
cara-cara lama terutama dalam hal kekakuan banyak pemimpin agama Islam.
Praktik agama yang kolot membuat
para
reformis mengarahkan kritikan pada
commit
to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
55
sikap fanatis yang mendukung terhambatnya ilmu pengetahuan Islam yang dahulu
pernah jaya dan secara lebih umum atas terkekangnya kebebasan berpikir dan
mengemukakan pendapat (Lewis, 2004: 190).
Pada awalnya, kecenderungan liberalisme tokoh-tokoh pembaru Muslim
di kawasan Arab dipicu oleh semangat pemberontakan terhadap kolonialisme
Eropa dan terhadap keterbelakangan kaum Muslim. Albert Hourani adalah salah
seorang pengajar di Oxford’s Middle East Centre. Hourani banyak mengkaji dan
menulis tentang Timur Tengah. Dalam karyanya Arabic Thought in the Liberal
Age 1798 – 1939, menegaskan dalam masyarakat Arab era liberal pernah muncul
dan hidup selama beberapa waktu, sebelum kemudian mengalami pasang surut
dalam menghadapi berbagai perlawanan. Pemikiran-pemikiran Islam yang liberal,
dalam pandangan Hourani, didorong pertama kali pada tahun 1798 ketika pasukan
Napoleon Bonaparte memasuki wilayah Mesir. kedatangan Napoleon di Mesir
merupakan tonggak penting bagi Muslim Liberal dan juga bagi bangsa Eropa.
Bagi kaum Muslim Liberal, kedatangan itu membuka kekaguman, betapa tentara
Eropa yang modern mampu menaklukkan dan menguasai jantung Islam. Bagi
orang Eropa, kedatangan itu menyadarkan betapa mudah menaklukkan sebuah
peradaban yang di masa silam begitu berjaya dan sulit ditaklukkan. Kedatangan
Napoleon ke Mesir bukan sekadar invasi militer, melainkan juga titik awal
westernisasi bangsa Arab dan kaum Muslim. Hourani menjadikan era liberal
sebagai rujukan masa kebangkitan Islam di dunia modern. Dunia Arab kemudian
menyaksikan era liberal yang ditandai dengan berkembangnya respon yang positif
terhadap kemajuan Barat. Indutrialisasi, rasionalisasi, dan modernisasi adalah
pilar-pilar kehidupan Barat yang menjadi perhatian bersama sebagian besar orangorang Arab. Ketiga pilar tersebut dinilai penting untuk kehidupan manusia
(Rimbun Natamarga, dalam http://sejarah.kompasiana.com/2011/02/01/akar-danwajah-pemikiran-islam-liberal/, diakses 11 November 2011)
Semangat kemajuan Barat mendorong para pemikir muslim dan nonmuslim bersama-sama mengadakan dialog secara bebas, mengekspresikan secara
bebas pemahaman terhadap agama dan budaya di tengah-tengah masyarakat Arab.
commit tomemenuhi
user
Berbagai wacana liberal silih berganti
era 1798-1939, meskipun
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
56
beberapa tokoh pemikir dianggap kafir oleh tokoh-tokoh agama namun semangat
kebebasan berpikir tidak surut. Selama 1798-1939, era tersebut diramaikan oleh
tiga generasi pemikir. Generasi pertama muncul dan mewarnai pemikiranpemikiran pada 1830-1870. Generasi ini mempertanyakan mengapa dunia Barat
bisa maju dan mengapa dunia Arab dan Islam mengalami kemunduran. Dari
pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul beberapa pemikir yang mencoba
memberi jawaban. Di antaranya yang terkenal adalah Rifa’ah Badawi Rafi’ AthThahthawi (1801-1873) yang disebut sebagai bapak pembaruan pemikiran
keagamaan Mesir dengan kekagumannya atas Paris yang disiplin dan tertib
meskipun beberapa kritikan atas materialis Prancis juga ditulis dalam karyanya,
Khairuddin Pasya At-Tunisi (1825-1889), Faris Asy-Syidyaq (1804-1887) dan
Butrus Al-Bustani (1819-1883).
Generasi kedua muncul pada rentang 1870-1900. Gagasan dimulai
dengan beberapa wacana yang lebih berani, mengenai ketertinggalan Arab dan
Islam dari Barat masih dibicarakan serta juga mendiskusikan rasionalisme Barat
yang perlu diterapkan dalam menjalankan Islam. Artinya, akal perlu dipakai untuk
menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits. Selain itu, wacana yang mulai muncul adalah
masalah persamaan gender. Pada rentang waktu, dibahas isu-isu emansipasi
wanita di tengah-tengah masyarakat Arab pada umumnya dan masyarakat muslim
secara khusus. Di antara pemikir-pemikir generasi kedua ini adalah Jamaluddin
Al-Afghani (1839-1897) yang bisa dikatakan aktivis umat yang hampir
kehidupannya dihabiskan untuk berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang
lain demi untuk merealisasikan cita-citanya yaitu mempersatukan umat dan
bersama mengusir penjajah dari bumi timur., Muhammad Abduh (1848-1905),
dan Qasim Amin (1865-1908).
Tokoh Islam liberal yang dianggap paling kuat pengaruhnya terhadap
orientasi pemikiran intelektual di Indonesia adalah Muhammad Abduh. Kendati
dididik secara tradisional dan berguru pada beberapa ulama Universitas Al-Azhar,
yang sebagian besar bersikap konservatif, Abduh menunjukkan dirinya sebagai
intelektual yang terbuka dan progresif. Abduh dipercaya menjadi Mufti Agung
commit to
user ulama yang mempertahankan
Mesir. Abduh bisa dipandang sebagai
seorang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
57
orisinalitas Islam, sekaligus intelektual modernis yang liberal. Misalnya, selama
menjadi mufti, ia mengeluarkan fatwa kontroversial. Yaitu halalnya bunga bank
dan daging hasil sembelihan orang-orang nonmuslim. Tidak mengherankan bila
murid-murid Abduh terpecah menjadi dua kelompok besar. Ada kelompok Abduh
al-Yamånå (kelompok kanan), yang cenderung mengembangkan pemikiranpemikiran keagamaannya. Ada pula kelompok Abduh al-YasÉrå (kelompok kiri),
yang lebih berusaha mengembangkan gagasan-gagasan modern (Gatra, Kholis
Bahtiar Bakri, 2001: 74).
Kelompok kanan antara lain, Muhammad Rasyid Ridha dan Shakib
Arselan. Kelompok ini menjadi lebih fundamental pada Hassan al-Banna dan
Sayyid Qutb. Merekalah yang kemudian melahirkan gerakan Ikhwan al-Muslimun
dan kelompok-kelompok Islam garis keras lainnya, seperti Hizb al-Tahrir.
Sementara itu, Qasim Amin dan Ali Abdur Raziq dianggap sebagai murid Abduh
beraliran kiri. Kelompok kiri mencapai puncaknya pada diri Hasan Hanafi,
sebagai penggagas Islam kiri. Kemudian berkembang menjadi tokoh sekuler yang
radikal, seperti Fuad Zakariya, Zaki Najib Mahmud, dan Ahmad Said. Pemikiran
kelompok kiri, yang bisa disebut Islam libera di kawasan Arab mengalami
perkembangan cukup pesat. Murid-murid dan simpatisan Abduh yang
berkecenderungan kiri makin menyebar, tak terbatas di kawasan timur Arab,
melainkan juga meluas hingga ke barat seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair
(Gatra, Kholis Bahtiar Bakri, 2001: 74).
Generasi ketiga pada 1900-1939. Rentang ini adalah puncak era liberal di
dunia Arab sekaligus menandai akhir era tersebut. Berbagai wacana liberal
muncul dan dipikirkan. Namun, tema tentang kekhalifahan Islam mengenai
perlunya kekhalifahan Islam bagi masyarakat Arab dan Islam adalah hal yang
sering mendatangkan perdebatan sengit di antara pemikir pada generasi ini.
Memasuki dasawarsa 1920-an, wacana mulai mengerucut menjadi wacanawacana politis. Muncul isu-isu tentang nasionalisme, baik itu nasionalisme Arab,
nasionalisme Turki atau bahkan nasionalisme Mesir. Keadaan ini kemudian
diikuti wacana-wacana yang bersifat fundamental, di mana tokoh-tokoh mulai
commit todan
usermodernisasi dalam beragama. Di
meninggalkan upaya-upaya rasionalisasi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
58
antara tokoh-tokoh pemikir pada generasi ketiga adalah Ali Abdur Raziq (18881966), dan
Thaha
Husain
(1889-1973)
(Rimbun
Natamarga,
dalam
http://sejarah.kompasiana.com/2011/02/01/akar-dan-wajah-pemikiran-islamliberal/, diakses 11 November 2011).
Akhir generasi ketiga era liberal dalam pembahasan Hourani bukan
berarti menandakan matinya pemikiran liberal dalam Islam selama-lamanya.
Kemunculan gerakan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jamaah Takfir wal
Hijrah, dan negara Israel adalah beberapa sebab signifikan yang mendorong
kebangkitan kembali pemikiran liberal di dunia Arab dan terkhusus lagi di tengahtengah kaum muslimin di dunia. Tampil dengan corak yang lebih baru, era liberal
yang kedua dimulai ketika negara-negara Arab kalah dalam Perang Tujuh Hari
melawan Israel pada 1967. Setelah kekalahan itu, muncul tulisan-tulisan dengan
semangat yang sama ketika era liberal pertama berlangsung. Di antara nama
terkenal yang membawa semangat ini adalah Zaki Najib Mahmud, Najib
Mahfouz, Nawal el Sadawi, Hassan Hanafi, Muhammad Arkoun, Adonis, Nashr
Hamid Abu Zaid, dan Khalid Abul Fadhl. Pemikiran-pemikiran yang
dikembangkan telah menyebar ke negara-negara Islam termasuk Indonesia.
Tulisan-tulisan tokoh-tokoh ini dikaji dalam diskusi-diskusi, bahkan kadang kala
beberapa pemikir itu pun diundang untuk berbicara langsung (Syamsuddin Arif,
2008: 78).
Menurut Lutfi Assyaukanie, dosen filsafat dan sejarah pemikiran Islam di
Universitas Paramadina Mulya, Jakarta, ruang gerak Islam liberal pada dasarnya
mengalami hambatan. Islam liberal tidak bisa berinteraksi dengan masyarakat
secara luas. Bahkan cenderung mengalami konflik serius, karena berbenturan
dengan otoritas agama dan masyarakat (Gatra, Kholis Bahtiar Bakri, 2001: 74).
Misalnya kasus yang menimpa intelektual Mesir, Nasr Abu Zayd. Ia terpaksa
diasingkan
ke
Belanda
oleh
Universitas
Al-Azhar,
karena
pemikiran-
pemikirannya yang kontroversial. Yang tragis adalah nasib Mahmud Mohammed
Taha. Intelektual Sudan ini dihukum mati oleh pemerintah fundamentalis Sudan.
Intelektual liberal, seperti Ahmad Khalafallah, Najib Mahfouz, Fuad Zakariyya,
user mengalami beberapa pelecehan.
Muhammad Syahrour, dan Hasancommit
Hanafi,tojustru
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
59
Akibatnya, menyebabkan tokoh-tokoh tersebut tidak mempunyai ruang gerak
untuk berekspresi sesuai dengan keyakinannya. Tidak aneh jika di antarany ada
yang pindah ke negara-negara Barat, seperti Mohammed Arkoun seorang pemikir
asal Aljazair yang menetap di Prancis.
Di Indonesia, gagasan Islam liberal yang pernah dirintis, antara lain, oleh
Nurcholish Madjid, Harun Nasution, Munawir Sjadzali, dan Abdurrahman Wahid
juga mengalami nasib serupa dengan mendapat kecaman dan tuduhan sesat,
bahkan dianggap sebagai agen zionis yang ingin merusak Islam. Meskipun
pengalamannya tidak seburuk yang dialami intelektual Islam liberal di kawasan
Timur Tengah, menurut Ulil Abshar Abdalla, gagasan Islam liberal sebenarnya
telah gagal. Buktinya, tidak ada yang bisa diperbuat para intelektual Islam liberal
Indonesia pada saat kekerasan atas nama agama terus berkecamuk, bahkan
fundamentalisme dan ekstremisme agama semakin kuat. Kegagalan Islam liberal,
menurut Ulil, antara lain karena tidak adanya pengorganisasian secara sistematis.
Berbeda dengan kelompok fundamental yang memiliki infrastruktur jaringan
umatnya yang solid dan sudah terbangun lama. Dalam pandangan Lutfi
Assyaukanie, gerakan Islam liberal terlalu elitis, dan tidak mengakar ke
masyarakat bawah. Pada masa awal kebangkitan Islam liberal, pemegang isu-isu
pembaruan adalah tokoh-tokoh agama yang memiliki otoritas dan berpengaruh di
masyarakat, seperti Muhammad Abduh, Ali Abd al-Raziq, dan Qasim Amin.
Sedangkan di Indonesia, gagasan lebih banyak dibawa kalangan akademisi dan
peneliti, yang tidak mengakar di masyarakat. Akibatnya, masyarakat merasa asing
dengan isu-isu pembaruan. Bahkan, mereka menjadi reaktif karena menerima
doktrin bahwa gagasan Islam liberal adalah sesat (Gatra, Kholis Bahtiar Bakri,
2001: 75).
2. Masuknya Pengaruh Islam Liberal ke Indonesia
Berkembangnya Islam liberal di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari
besarnya peran orientalis yang mempengaruhi pemikiran tokoh-tokoh dan
generasi muda Muslim serta masuknya penjajah Barat ke tanah Indonesia yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
60
secara langsung menerapkan sistem liberal dalam berbagai bidang kehidupan
termasuk urusan agama.
a. Orientalisme
Orientalisme adalah gerakan pemikiran dan berbagai studi orang Barat
(nonmuslim) tentang Timur (Islam) yang mencakup pokok syariat Islam, ilmu,
peradaban, sastra, bahasa, dan kebudayaan. Gerakan pemikiran tersebut telah
memberikan andil besar dalam membentuk persepsi Barat tentang Islam.
Mengopinikan kemunduran pola pikir umat Islam dalam rangka pertarungan
peradaban antara Timur (Islam) dengan Barat yang kemudian bergerak dengan
berbagai motif, mulai motif agama, ekonomi dan penjajahan, politik, maupun
keilmuan. Orientalis menjadikan ilmu sebagai alat untuk menggerogoti da’wah
Islam dan bersembunyi di balik pembahasan dan penelitian ilmiah. Memasukkan
bibit-bibit (benih-benih) kebatilan terutama ke dalam Syari’ah Islamiyah,
masalah-masalah Fiqih, muamallah dan lain-lain, dengan sengaja menyusun halhal menyesatkan terhadap generasi muda Islam, yang belajar kepada orientalis,
memantapkan serta memberikan hal-hal yang membuat orang merasa cukup
terhadap pikiran-pikiran yang merusak dan berbahaya, kemudian menarik secara
halus agar para mahasiswa yang belajar dengan Orientalis dan yang belajar di
Barat bergabung dengan Orientalis dalam merusak dan tanpa disadari mencaricari kejelekan Islam (Abdul Mun’im Hasanain, 2008: 10).
Di antara cara orientalis dalam menggerogoti da’wah Islam adalah
membenamkan umat Islam ke dalam pemikiran yang menyesatkan terutama
generasi mudanya dengan memalingkan dan mengaburkan ajaran Islam yang telah
memiliki landasan jelas (Al-Qur’an serta Hadist). Faham-faham tersebut diajarkan
dengan memperlihatkan Firman Allah yang sesuai dengan pemahaman orientalis,
tentu dengan tujuan menciptakan keragu-raguan dalam jiwa-jiwa umat Islam.
Seperti melanggengkan materialism, faham yang mementingkan nafsu dan
kesenangan dunia. Eksistensialisme, aliran kebebasan yang merupakan kelanjutan
dari materialism modern. Ditanamkan pada pemuda-pemuda Islam untuk
pendangkalan, yang dianggap sebagai
commitgerakan
to user kebebasan. Peranan besar yang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
61
dilakukan oleh oriental untuk menyesatkan pemuda-pemuda Islam dengan
semboyan
“Gerakan
pembebasan
yaitu
bebas
dari
Agama,
akal
dan
perikemanusiaan supaya mereka menjadi hewan yang lebih sesat, tidak khawatir
lagi pada bahaya-bahaya kolonialis, dan Orientalis untuk memerangi Islam dan
penggerogotan da’wahnya”. Selain itu, Orientalis juga menyebarkan faham
kepada ilmuwan Islam, agar memisahkan antara ilmu dengan agama (yang disebut
Sekularisme), yaitu propaganda dengan
Orientalis
-
IndoForum
wajah intelektualisme (Islam dan
http://www.indoforum.org/t239248/#ixzz1ytiaHLsV,
diakses 26 Juni 2012)
Menurut Syamsuddin Arif (2008: 282), orientalisme dalam arti kata
kajian terhadap kebudayaan dan peradaban Timur telah bermula paling tidak
setelah terjadi kontak dan interaksi antara orang-orang Yunani dengan orang
Mesir Kuno, Babylonia, dan Persia. Sedangkan di abad pertengahan, orientalisme
adalah upaya mempelajari karya-karya ilmuwan Islam bahwa “Cahaya berasal
dari Timur” (Ex Oriente Lux). Kemudian sejak zaman Renaissance, orientalis
bukan hanya mempelajari bahasa, agama dan peradaban Mesir Kuno, Parsi,
Zoroaster, Arab dan Islam, tapi juga bahasa dan peradaban India, Cina dengan
agama Hindu dan Budhanya. Namun dengan motif dan tujuan yang lebih sempit,
yaitu sebagai alat dan senjata untuk menjajah, menguasai, dan mempengaruhi
bangsa dan peradaban Timur yang membawa slogan 3G (gold, glory, gospel).
Atas motif tersebut maka lahirlah orientalis (seperti: Goldziher, Alphonse
Mingana, Noldeke, Hurgronje, Lewis, Arthur J., Binder, dll) yang mendalami
kajian Timur untuk menghancurkan Islam.
Ignaz Goldziher adalah termasuk orientalis Yahudi terkemuka yang
mendalami ilmu-ilmu Islam. Pada usia 16 tahun, Goldziher telah sanggup
menerjemahkan dua buah kisah Turki ke dalam bahasa Hongaria. Buku klasik
pertama yang menjadi kajiannya adalah Azh Zhahiriyah: Madzhabuhum wa
Tarikhuhum. Kemudian mendalami kajian fikih dan ushul fikih. Dalam bukunya
Al Aqidah was Syariah fil Islam Goldziher banyak melakukan tuduhan-tuduhan
menyimpang kepada Nabi Muhammad SAW. Prof. Ahmad Muhammad Jamal
commitJamal,
to user Goldziher melontarkan tuduhan
mengkritik keras karyanya. Menurut
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
62
bahwa Islam merupakan himpunan pengetahuan dan pandangan agama-agama
lain (Yahudi, Nasrani, Majusi dan pemuja berhala) yang sengaja dipilih
Muhammad. Menurut Prof. Jamal, tuduhan-tuduhan yang dilakukan oleh
Goldziher sama halnya ketika turun Al-Qur’an, orang-orang Musyrik juga
menyatakan Muhammad seorang yang gila, tukang sihir, mendongeng palsu dan
lain-lain
(Tabrani
dalam
http://www.tabraniaceh.com/2011/06/sosok-
orientalisme-dan-kiprahnya.html, diakses 26 Juni 2012).
Pada tahun 1927 Alphonse Mingana, pendeta asal Irak dan mantan guru
besar di Universitas Birmingham, Inggris, mengumumkan bahwa “sudah tiba
saatnya sekarang untuk melakukan studi kritis terhadap teks Al-Quran
sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa IbraniArami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani”. Pernyataan orientalismissionaris tersebut
dilatarbelakangi oleh kekecewaan sarjana Kristen dan
Yahudi terhadap kitab sucinya dan juga disebabkan oleh kecemburuannya
terhadap umat Islam dan kitab suci nya Al-Quran (Syamsuddin Arif, 2008: 3).
Jauh sebelum Mingana, tepatnya pada tahun 1834 di Leipzig (Jerman),
seorang orientalis bernama Gustav Fluegel menerbitkan mushaf hasil kajian
filologinya. Naskah yang dibuatnya itu dinamakan Corani Textus Arabicus.
Naskah ini sempat dipakai tadarrus oleh aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL)
(http://annastacy.wordpress.com/2008/06/29/tokoh-idola-uli-abshar-abdallaorientalisme-dan-al-quran-kritik-wacana-keislaman-mutakhir/, diakses 26 Juni
2012). Kemudian datang Theodor Noeldeke seorang pakar semitik Jerman yang
menyelesaikan studinya di Gottingen, Vienna, Leiden dan Berlin. Pada tahun
1859 tulisannya tentang Sejarah Al-Qur`an memenangkan penghargaan dari
French Academie des Inscription. Noeldeke yang ingin merekonstruksi sejarah
Al-Quran dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860).
Tulisan Noldeke tentang Sejarah Al-Quran terus direvisi oleh muridnya
Friedrich Schwally dan karyanya diterbitkan dengan judul: The Origin of the
Qur’an (1909). Pada tahun 1919 Schwally menyelesaikan edisi keduanya dengan
judul The Collection of The Qur’an. Schwally juga merintis penyusunan,
user Schwally meninggal, usahanya
penyusunan buku The History of commit
the Text.toSetelah
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
63
dilanjutkan oleh Bergstassser dan terakhir disempurnakan oleh Otto Pretzl. Jadi
buku tentang Sejarah Al-Qur’an itu ditulis oleh beberapa orientalis yang terus
menerus disempurnakan. Hasil karya tersebut menjadi karya standar dalam
masalah sejarah kritis penyusunan Al-Quran bagi para orientalis. Taufik Adnan
Amal, Dosen Ulumul Qur’an dan aktivis Islam Liberal, juga menjadikan karya
orientalis menjadi rujukan utamanya dalam menulis buku “Rekonstruksi Sejarah
Al-Quran”
(Tabrani
dalam
http://www.tabraniaceh.com/2011/06/sosok-
orientalisme-dan-kiprahnya.html, diakses 26 Juni 2012)
Pada tahun 1937, Arthur Jeffery datang dengan ambisi membuat edisi
kritis Al-Quran, mengubah Mushaf Utsmani yang ada dan menggantikannya
dengan mushaf baru. Orientalis asal Australia yang pernah mengajar di American
University Cairo dan menjadi guru besar di Columbia University ini, berkeinginan
merestorasi teks Al-Quran berdasarkan Kitab al-Masahif karya Ibn Abi Dawuud
as-Sijistaani yang dianggap mengandung bacaan-bacaan dalam mushaf tandingan
(rival codices). Jeffery bermaksud meneruskan usaha Gotthelf Bergstraesser dan
Otto Pretzl yang pernah bekerja keras mengumpulkan foto lembaran-lembaran
naskah (manuskrip) Al-Quran dengan tujuan membuat edisi kritis Al-Quran tetapi
gagal karena semua arsipnya di Munich musnah saat Perang Dunia II berkecamuk
(Syamsuddin Arif, 2008: 5).
Christian Snouck Hurgronje, orientalis yang banyak dikenal masyarakat
Indonesia. Snouck meraih gelar sarjananya di Fakultas Teologi, Universitas
Leiden. Kemudian Snouck melanjutkan ke jurusan sastra Semitik dan meraih
doktor, ketika umur 23 tahun. Disertasinya tentang Perjalanan Haji ke Mekkah
(Het Mekkanche Feest). Tahun 1884 Snouck pergi ke Jeddah sampai 1885,
Snouck kemudian berpura-pura masuk Islam dengan menggunakan nama Abdul
Ghaffar agar bisa ke Mekkah dan menjalankan ibadah haji, namun enam bulan
kemudian diusir karena terbongkar jati dirinya. Snouck kembali ke Belanda
sebagai lektor di Universitas Leiden hingga tahun 1887. Selanjutnya Snouck
tinggal di Indonesia, dengan kedudukan sebagai penasihat pemerintah Belanda.
Selain itu, juga menulis De Atjehrs (Penduduk Aceh) dalam dua jilid (1893-1894).
commit
to user
Dalam disertasinya Het Mekkanche
Feest,
Snouck menjelaskan arti ibadah haji
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
64
dalam Islam, asal usul dan tradisi yang ada di dalamnya dan mengakhiri tulisan
dengan menyimpulkan bahwa haji dalam Islam merupakan sisa-sisa tradisi Arab
Jahiliyah (http://myquran.org/forum/index.php?topic=65952.0, diakses 26 Juni
2012).
Keinginan orientalis untuk terus meningkatkan keragu-raguan di
kalangan umat Islam tidak pernah surut bahkan semakin gencar dengan cara-cara
baru sampai tujuan yang diinginkan benar-benar tercapai, seperti tercantum dalam
Al-Qur’an:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga
kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “sesungguhnya petunjuk Allah
itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti
kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak
lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu (QS. Al-Baqarah {2}: 120).
Pada tahun 1930, Samuel Zwemer pada Konferensi Misionaris di Kota
Yerussalem menyatakan: "Misi kolonialisme dan misionaris terhadap Islam
bukanlah menghancurkan kaum Muslimin. Namun mengeluarkan seorang Muslim
dari Islam, agar dia menjadi orang Muslim yang tidak berakhlak. Dengan begitu
akan membuka pintu bagi kemenangan imperialis di negeri-negeri Islam." Samuel
Zwemmer yang juga orientalis-Yahudi ini bahkan mendirikan Jurnal the Muslim
World, namun isinya bukan untuk membela Islam bahkan ingin melemahkannya.
Bahkan pada tahun 1978 di Colorado, tepatnya di Green Area, Amerika Serikat
(AS)
seluruh
melumpuhkan
pendeta
dunia
berkumpul
umat
Islam.
(Qosim
untuk
membicarakan
Nursheha
strategi
Dzulhadi
dalam
http://www.akhirzaman.info/islam/miscellaneous/1256-metode-studi-islamorientalis-bahayakan-keilmuan-islam.html, diakses 30 Juni 2012)
Selain itu, lahir juga orientalis modern dengan berbagai karyanya yang
banyak menjadi rujukan dan menginspirasi intelektual muslim Indonesia
khusunya yang tergabung dalam kelompok Islam liberal. Leonard Binder adalah
seorang Yahudi yang dikenal sebagai ahli Internasional untuk bidang Politik
Timur Tengah dan Pemikiran Politik Islam ini juga memperoleh gelar Guru
Besarnya dengan sponsor dari University Of California Los Angeles (UCLA).
commit
to user
Dalam malakukan panelitian Binder
sering
bersama-sama Fazlur Rahman. Di
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
65
antara penelitiannya adalah tentang “Islam dan Perubahan Sosial”. Riset yang
dibiayai oleh Ford Foundation itu melibatkan puluhan ahli dan meneliti lima
masalah pokok (Binder, 2001: v). Hasil risetnya kemudian di bukukan oleh Fazlur
Rahman dalam karyanya Islam and Modernity : Tranformation of an Intellectual
Tradition (1982). Di antara karya-karya yang telah dipublikasikan: Religion and
Politics in Pakistan (1961), Iran : Poolitical Development in a Changing Society
(1962), The Ideological revolution in the Middle East (1964), In a Moment of
Enthusiasm : Political Power and the second Stratum in Egypt (1978), Islamic
Liberalism(1988) (Moh. Rofiq dalam http://musrofiq.blogspot.com/2012/06/vbehaviorurldefaultvmlo_13.html#!/2012/06/v-behaviorurldefaultvmlo_13.html,
diakses 26 Juni 2012).
Philip K. Hitti, Guru Besar Emeritus Sastra Semit di William and Annie
S. Paton Foundation, Universitas Princeton, selama beberapa dasawarsa diakui
oleh dunia internasional sebagai ahli Islam (orientalis) yang paling berbobot di
Barat. Salah satu karyanya, Islam and the West : An Historical, Cultural Survey,
meskipun ringkas namun secara garis besar menyoroti berbagai hal paling penting
mengenai hubungan antara dua peradaban yang berlawanan (Islam dan Barat)
semenjak abad pertengahan hingga sekarang. Selain itu Bernard Lewis, sejarawan
Yahudi Inggris-Amerika yang menjabat sebagai Profesor Kehormatan bidang
Timur Tengah di Universitas Princeton. Lewis mendalami sejarah Islam serta
interaksi kebudayaan Barat dan Islam. Lewis adalah salah satu dari sedikit
cendekiawan Eropa diizinkan untuk mengakses arsip dari Kekaisaran Ottoman di
Istanbul. Selain itu dalam studi sejarah keislaman, telah diterbitkan terjemahan
klasik Arab, Turki, Persia dan puisi Ibrani. Beberapa karya Lewis di antaranya ,
The Arabs in History , What Went Wrong? and The Crisis of Islam: Holy War and
Unholy Terror.
Selain orientalis-orientalis tersebut, masih banyak orientalis lain yang
pengaruhnya besar bagi dunia Islam. Orientalis masa kini pun tak kalah
banyaknya dengan zaman dahulu. Bahkan kini mendirikan Islamic-Islamic Studies
di Barat, untuk mendidik anak-anak cerdas Islam agar mengikuti jejaknya. Di
commit
to userC Smith dengan konsep World
antara tokoh yang terkenal adalah
Wilfred
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
66
Theology yang digulirkan Smith lahir sebagai respons terhadap proses globalisasi
sehingga muncul keharusan mengkaji ulang terminologi agama dan Samuel P.
Huntington dengan teori Benturan Peradabannya. Ada beberapa orientalis yang
dikenal cukup akomodatif dengan Islam, meski masih ada bias-bias dalam
tulisannya. Seperti John L Esposito dan Karen Armstrong. Esposito, meski
banyak melahirkan karya-karya yang membela Islam, namun tetap memberi cap
kepada Sayyid Qutb dan Al Maududi sebagai tokoh “Islam Radikal”. Karen
Armstrong menyamakan “Islam Fundamentalis” dengan Kristen Fundamentalis
dan Yahudi Fundamentalis. Dan itulah yang dirujuk dan dipuja-puja kaum liberal
untuk melihat Islam (Tabrani dalam http://www.tabraniaceh.com/2011/06/sosokorientalisme-dan-kiprahnya.html, diakses 26 Juni 2012)
b. Kolonialisme di Indonesia
Kedatangan penjajah Belanda dan Portugis ke Indonesia dengan
melaksanakan program trilogy Imperialisme, yaitu Gold, Glory, Gospel, sangat
jelas memperlihatkan bahwa di samping untuk menguasai kekayaan alam , para
penjajah berusaha untuk menyebarkan agama, dalam hal ini adalah Kristen.
Kekhawatiran akan munculnya kekuatan Islam yang akan melawan hegemoni
penjajah, mengingat Islam adalah mayoritas di Hindia Belanda maka pemerintah
kolonial berupaya untuk mempersempit peran Islam (Adian Husaini, 2005: 371).
Pemerintah baru yang diresapi oleh ide-ide liberal aliran Aufklarung atau
Enlightenment memerintah di Indonesia, mulai diterapkan politik pengajaran
liberal (Haidar Putra Daulay, 2007: 29). Prinsip sekular dapat ditelusuri pula dari
rekomendasi Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial untuk melakukan
Islam Politiek, yaitu kebijakan pemerintah kolonial dalam menangani masalah
Islam di Indonesia. Kebijakan ini menindas Islam sebagai ekspresi politik. Inti
Islam Politiek adalah : a. dalam bidang ibadah murni, pemerintah hendaknya
memberi kebebasan, sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah
Belanda; b. dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah hendaknya memanfaatkan
adat kebiasaan masyarakat agar rakyat mendekati Belanda; c. dalam bidang politik
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
67
atau kenegaraan, pemerintah harus mencegah setiap upaya yang akan membawa
rakyat pada fanatisme dan ide Pan Islam. (Aqib Suminto, 1985: 12).
Sekularisme sebagai akar liberalisme masuk ke Indonesia melalui proses
penjajahan, khususnya oleh pemerintah Hindia Belanda. Prinsip negara sekular
telah termaktub dalam Undang-Undang Dasar Belanda tahun 1855 ayat 119 yang
menyatakan bahwa pemerintah bersikap netral terhadap agama, artinya tidak
memihak salah satu agama atau mencampuri urusan agama. Namun beberapa
tahun setelah keluar Undang-undang tersebut beberapa pemberontakan terjadi, hal
ini tentu melatarbelakangi penyimpangan kebijaksanaan netral pemerintah
kolonial demi terpeliharanya ketertiban dan keamanan. Puncaknya pada tahun
1882 Lembaga Peradilan Agama diresmikan oleh pemerintah, dengan demikian
maka politik tidak mencampuri masalah agama telah berakhir. Sejak itulah
pemerintah semakin mencampuri agama Islam, terutama di bidang pendidikan
(Aqib Suminto, 1985: 27-29).
Selanjutnya, Politik Etis yang dijalankan penjajah Belanda di awal abad
ke-20 semakin menancapkan liberalisme di Indonesia. Salah satu bentuk
kebijakannya disebut unifikasi, yaitu upaya mengikat negeri jajahan dengan
penjajahnya dengan menyampaikan kebudayaan Barat kepada orang Indonesia.
Pendidikan, sebagaimana disarankan Snouck Hurgronje, menjadi cara manjur
dalam proses unifikasi agar orang Indonesia dan penjajah mempunyai kesamaan
persepsi dalam aspek sosial dan politik, meski pun ada perbedaan agama (Deliar
Noer, 1991: 183).
Bidang pendidikan menjadi jalur pilihan penjajah dalam memperluas
liberalism. Pada awal abad ke-20 Indonesia telah dipengaruhi ide-ide pembaruan
pemikiran Islam yang juga memasuki dunia pendidikan. Terlihat dari munculnya
upaya-upaya pembaruan dalam bidang materi, metode. Bidang materi tidak hanya
berorientasi pada mata pelajaran agama, tetapi dimasukkan pula mata pelajaran
umum. Metode pengajaran telah lebih bervariasi, tidak lagi semata-mata membaca
kitab dalam bentuk sorogan dan wetonan. Hingga bentuk lembaga pendidikan
Islam yang tidak lagi berorientasi pada ilmu agama saja (Haidar Putra Daulay,
commit to user
2007: 35).
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
68
Selain faktor kolonialisasi masa pemerintahan Hindia-Belanda, pada
abad ke 20 dan 21 mulai banyak generasi muda Muslim yang memutuskan untuk
belajar keislaman di negara-negara Barat (Eropa, Amerika dan Australia) di
bawah bimbingan mahaguru bukan Muslim (Yahudi, Nasrani, ataupun atheis) dan
dengan bahasa pengantar selain Arab (Syamsuddin Arif, 2008: 280). Hal ini telah
membentuk pandangan atau pemahaman generasi muda Muslim dalam
mengkritisi Islam. Bibit-bibit sekular telah benar-benar tertanam di Indonesia,
bahkan setelah pemerintah kolonial Belanda meninggalkan tanah jajahan, bukan
berarti paham sekular telah hilang. Beberapa peristiwa yang memperlihatkan
betapa kuatnya pengaruh dan aturan yang ditetapkan masa penjajahan masih
diwarisi oleh tokoh-tokoh bangsa. Proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945
seharusnya menjadi momentum untuk menghapus penjajahan secara total,
termasuk mencabut pemikiran sekular-liberal yang ditanamkan penjajah. Revolusi
kemerdekaan Indonesia hanyalah mengganti rezim penguasa, bukan mengganti
sistem atau ideologi penjajah. Pemerintahan memang berganti, tapi ideologi tetap
sekular.
Menurut Adian Husaini (2005: 374), dapat dicermati dalam sidangsidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Salah satu hal penting untuk diingat adalah seputar pembentukan konstitusi negara
Indonesia. Perdebatan terjadi antara dua kelompok yaitu kelompok nasionalis
Islam dan kelompok nasionalis sekular (golongan kebangsaan). Perdebatan dalam
BPUPKI diakhiri dengan pembentukan Panitia Sembilan yang berhasil menyusun
suatu Gentlemen’s Agreement, yang dikenal dengan Piagam Jakarta. Tetapi dalam
rapat BPUPKI tanggal 11 Juli 1945, Piagam Jakarta digugat oleh seorang Kristen
dari Maluku bernama Latuharhary, dengan alasan akan dapat mengalami kesulitan
dalam aplikasinya di berbagai daerah, khususnya ketika berhadapan dengan adat
istiadat. Sehingga, Piagam Jakarta yang sudah disepakati di BPUPKI dihapus,
dengan alasan ada keberatan dari pihak Kristen Indonesia Timur yang
menghendaki dicoretnya kata “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya”. Mohammad Natsir menyebut ini sebagai “peristiwa
to user
ultimatum terhadap Republik commit
Indonesia
yang baru saja diproklamirkan”.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
69
Kelompok sekular dengan tokohnya Soekarno, Hatta, Ahmad Soebarjo, dan M.
Yamin telah memenangkan kompetisi politik melawan kelompok Islam dengan
tokohnya Abdul Kahar Muzakkar, H. Agus Salim, Abdul Wahid Hasyim, dan
Abikoesno Tjokrosoejoso.
Pemerintahan yang sekular tidak hanya berhenti dalam perjalanan sekitar
proklamasi, dari awal masa Orde Baru sampai sekitar tahun 1988 dapat disebut
sebagai tahapan antagonis antara pemerintah dan Islam, di mana semakin
memperlihatkan sekularisasi dan deislamisasi. Pengembangan gagasan dan
pemikiran rasional di Indonesia, secara langsung terlihat dari beberapa program
Departemen Agama masa Orde Baru dengan mengirim para sarjana IAIN untuk
melanjutkan studi dan belajar ilmu-ilmu Islam di negeri Barat pada kaum
orientalis (Budi Handrianto, 2007: 57). Lahirnya pemikiran Islam Liberal di
kalangan pemikir dan intelektual Indonesia tidak dapat terlepas dari pengaruh para
pemikir Barat yang menggagas liberalisasi Islam dan secara cepat meluas dalam
berbagai aspek. Proyek imperialis yang masuk melalui jalur pendidikan menjadi
alur terprogram dan memberikan pengaruh besar bagi pandangan ideologis negara
Indonesia cenderung berpihak pada Barat
yang dinilai sukses dalam
pengembangan Ilmu pengetahuan sehingga negara-negara Barat berhasil maju
pesat, dan Indonesia pantas belajar dari para orientalis.
Dapat dimengerti mengapa berbagai bentuk pemikiran liberal sangat
potensial untuk dapat tumbuh subur di Indonesia, baik liberalisme di bidang
politik, ekonomi, atau pun agama. Dalam bidang ekonomi, liberalisme ini
berwujud dalam bentuk sistem kapitalisme (economic liberalism), yaitu sebuah
organisasi ekonomi yang bercirikan adanya kepemilikan pribadi (private
ownership), perekonomian pasar (market economy), persaingan (competition), dan
motif mencari untung (profit). Dalam bidang politik, liberalisme ini nampak
dalam sistem demokrasi liberal yang mengharuskan pemisahan agama dari negara
sebagai titik tolak pandangannya dan selalu mengagungkan kebebasan individu.
Dalam bidang agama, liberalisme diwujudkan dalam modernisme (paham
pembaruan), yaitu pandangan bahwa ajaran agama harus ditundukkan di bawah
commit to user pluralisme
nilai-nilai peradaban Barat yang mengedepankan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
70
Gagasan liberalisasi Islam tampak nyata masuk dan berkembang di
Indonesia, terlihat dengan hadirnya Nurcholish Madjid dengan ide pembaruannya
tahun 1970-an. Menurut Ulil Abshar Abdalla, tradisi liberal sebenarnya sudah ada
dan berkembang kuat di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Sejak 1980-an,
banyak isu-isu sensitif dalam Islam yang dipecahkan oleh NU dengan tidak biasa.
Mulai dari Pancasila sebagai asas tunggal, bunga bank, bank konvensional,
sampai ke isu insklusivisme Islam Indonesia. Wajar, jika citra NU sebagai
organisasi Islam tradisionalis, sudah lama harus ditinggalkan. Sejak 1970-an,
sudah dapat dikatakan mengisi posisi yang pernah ditempati Muhammadiyah dan
Persatuan Islam (Persis) pada 1920-an. Greg Barton, penulis biografi Gus Dur,
meyakini bahwa posisi sebagai kelompok Islam konservatif sekarang ini justru
dipegang oleh Muhammadiyah dan Persis (Rimbun Natamarga, dalam
http://sejarah.kompasiana.com/2011/02/01/akar-dan-wajah-pemikiran-islamliberal/, diakses 11 November 2011).
3. Politisasi Agama Pasca Orde Baru
Banyak kalangan menganggap bahwa masa pemerintahan Demokrasi
Terpimpin di bawah rezim Soekarno maupun era Orde Baru Soeharto adala rezim
yang tidak apresiatif terhadap Islam, bahkan dipandang telah melakukan proses
peminggiran aspirasi umat Islam di Indonesia (Syarif Hidayatullah, 2010: 27).
Permasalahan besar dan mendasar yang dihadapi pemerintah masa Orde Baru
telah mendorong penentu kebijakan untuk melakukan rekontruksi sistem ekonomi
dan politik yang diarahkan kepada modernisasi dengan menggunakan pendekatan
pragmatis dalam pemecahan permasalahan yang justru mengundang perbedaan
pendapat yang tajam antara tokoh-tokoh muslim dengan intelektual sekuler.
Kebijaksanaan berkembang bersamaan dengan restrukturisasi partaipartai politik, serta pemberlakuan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi seluruh
kekuatan sosial politik dan organisasi masa (Asas tunggal Pancasila). Keharusan
pemberlakuan asas tunggal, berimplikasi kepada peniadaan asas, serta ciri yang
menjadi identitas organisasi politik dan organisasi masa, sehingga peluang
membangkitkan Islam Politik secara
ideologis
menjadi tertutup. Puncaknya adalah
commit
to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
71
penerapan konsep masyarakat politik birokratik yaitu satu sistem politik di mana
kekuasaan dan partisipasi dalam pengambilan keputusan-keputusan nasional,
terbatas pada lingkaran pegawai-pegawai pemerintah terutama perwira-perwira
militer dan pejabat-pejabat tinggi birokrasi termasuk di dalamnya para tehnokrat
(Muslih Fuadie, dalam http://jurnalushuluddin.wordpress.com/2008/03/11/usahamemahami-ide-pembebasan-telaah-sosiologis-atas-pembaharuan-nurcholishmadjid-1970-1972/, diakses 9 Juni 2012)
Perubahan setting politik pasca Orde Baru tanpa diduga memberi ruang
bagi berkembangnya wacana penegakan syariat Islam di Indonesia. Pro dan kontra
tentu bermunculan, setiap kelompok mengajukan argumentasi untuk meneguhkan
pendirian masing-masing, argumentasi yang dibangun tidak lagi ditujukan untuk
berusaha meyakinkan pihak lain, tetapi justru melakukan stigmatisasi satu sama
lain. Di mata kelompok pro pelaksanaan syariat, kelompok yang menolak syariat
dianggap
Islamophobia.
Sementara
kelompok
anti
pelaksanaan
syariat
memandang sebagian kelompok pro pelaksanaan syariat sebagai orang-orang
yang
hendak
melakukan
politisasi
agama
(Arskal
Salim
dalam
http://islamlib.com/id/artikel/islam-di-antara-dua-model-demokrasi, diakses 19
Februari 2012).
Pada saat rezim Orde Baru tumbang, euphoria reformasi telah
mendukung kebebasan tanpa batas sebagai bentuk pelampiasan kegagalan
pemerintah orde baru. Semangat demokrasi memberikan landasan bagi kelompok
Islam untuk menjalankan kembali aktivitasnya yang sempat dikurung masa Orde
Baru. Munculnya kelompok Islam radikal (yang lebih dikenal dengan Islam
fundamentalis) di garis depan mengambil bagian dari euphoria tersebut. Pada saat
beberapa kelompok fokus kampanye damai untuk pelaksanaan syari’ah Islam,
kelompok lain menggunakan cara-cara kekerasan seperti penyerangan sporadis
pada tempat-tempat hiburan dan jihad dengan berbagai asumsi perang fisiknya.
Krisis tersebut digunakan sebagai dasar kelompok Islam radikal untuk
memproklamirkan Islam murni sebagai satu-satunya solusi bagi krisis
multidimensional (Masdar Hilmy, 2009: 154).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
72
Dalam perspektif historis dan sosiologis, politisasi agama berkembang
pada saat suatu komunitas agama tertentu mengalami proses marginalisasi dalam
kehidupan yang terus berubah. Ketidakmampuan merespons kehidupan, membuat
kelompok tersebut meneguhkan identitas dirinya melalui simbol dan atribut
keagamaan. Melalui peneguhan tersebut kelompok ini berusaha membedakan diri
dari kelompok lain. Pada waktu yang sama, akan merasa memiliki energi baru
untuk melawan kelompok atau umat yang selama ini dituding sebagai penyebab
ketidakberdayaannya. Selain itu, juga bisa terjadi ketika rezim penguasa
berkeinginan melanggengkan kekuasaannya sehingga mencari legitimasi pada
agama. Dengan legitimasi agama, kekuasaan yang dipegang dimanifestasikan
sebagai titah ilahi yang tidak boleh diganggu gugat, serta harus dipatuhi secara
mutlak. Politisasi agama membuat ajaran agama akan terpangkas dari nilainya
yang universal. Ajaran agama ditundukkan ke dalam kepentingan yang
berdimensi temporal, lokal, atau sektarian. Agama menjadi alat kepentingan
sekelompok manusia tertentu, baik elite penguasa, kelompok oposisi, atau kaum
agamawan sendiri. Masing-masing menjadikan agama sebagai ajaran yang
bersifat reaktif guna meneguhkan ambisi, kepentingan, memberantas perbedaan,
dan melawan segala sesuatu yang dianggap bertentangan atau berbeda dengan
pandangan atau kepentingan kelompok tertentu (Abd A’la, 2002: 4).
Keberagaman respon pemikir politik Islam kontemporer dalam
menanggapi sistem politik Barat menjelang abad ke-19, dengan penetrasi Barat ke
Dunia Islam juga membawa konsep politik yang baru bagi kaum Muslim.
Pertikaian yang berkelanjutan di antara sesama Muslim tentang bagaimana
seharusnya respon dunia Muslim terhadap nilai-nilai Barat. Kelompok konservatif
merespon dengan penolakan sepenuhnya yang percaya dengan paradigma bahwa
hubungan antara agama dan negara tidak dapat dipisahkan. Asumsi tersebut
ditegakkan berdasarkan pemahaman bahwa Islam adalah satu agama yang
sempurna dan mempunyai kelengkapan ajaran di semua segmen kehidupan
manusia termasuk di bidang praktik kenegaraan, pandangan ini yang mengilhami
gerakan fundamentalisme (Zainal Abidin Amir, 2003: 14-15)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
73
Menghindari reduksi agama semacam itu, sekularisasi menjadi signifikan
untuk diangkat. Menurut Cassanova, sekularisasi sebagai proses sosial adalah
konseptualisasi dalam proses modernisasi sosial yang berbentuk diferensiasi
wilayah sekular dari institusi keagamaan. Berdasarkan sekularisasi semacam itu,
politik (dan aspek-aspek sejenis yang bersifat sekular) disikapi sebagai persoalan
duniawi yang tidak dapat dilepaskan dari perubahan dan kehidupan yang terus
berkembang. Dimensi kehidupan tidak dapat dianggap sakral sehingga disamakan
dengan aspek keimanan dan sejenisnya. Aspek tersebut merupakan persoalan
yang dinamis sehingga harus dibedakan dengan keyakinan dan ritual-ritual
keagamaan yang tidak akan pernah mengalami perubahan. Sekularisasi
mensyaratkan dimensi kehidupan sekular yang harus dibedakan dari nilai-nilai
agama yang sakral, tetapi pada saat yang sama kedua aspek itu tidak dapat
dipisahkan. Agama dijadikan sebagai pijakan bagi persoalan kehidupan yang
dinamis: politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pendidikan (Kompas, Abd A’la,
2002: 4).
Di Indonesia muncul gerakan Islam Liberal, yang cenderung moderat
dalam melemparkan isu-isu keagamaan global. Tema-tema moderat Islam Liberal,
dilengkapi arus lain dari tumbuhnya moderatisme Islam Indonesia, yakni, posttradisionalisme Islam (postra), yang digerakkan anak-anak muda Nahdlatul Ulama
(NU). Kehadiran kelompok ini, terlihat hendak meneguhkan moderatisme Islam
Indonesia, yang sebenarnya secara organisatoris telah lama dikembangkan secara
dominan oleh dua varian pergerakan Islam terbesar di Indonesia, yaitu: NU dan
Muhammadiyah. Kehadiran dua arus utama moderatisme Islam Indonesia (Islam
Liberal plus Post-Tradisionalisme Islam), tidak terlepas dari kemunculan
fenomena fundamentalisme-radikal yang semakin ekspresif pasca Orde Baru.
Kehadiran kelompok-kelompok yang sering melakukan aksi-aksi, yang dalam
konteks tertentu mengedepankan kekerasan,
dengan dalih
memberantas
kemaksiatan dan melindungi kaum Muslim dari keteraniayaan (semisal kasus
Maluku dan Poso), bagaimanapun menunjukkan sisi lain citra Islam Indonesia.
Namun citra yang terbentuk oleh mengerasnya kelompok fundamentalismecommit
user menguntungkan, terutama bila
radikal di Indonesia, dalam banyak
hal tokurang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
74
dilihat dari sisi moderatisme Islam. Dalam konteks ini, Islam moderat, bertugas
mencairkan kebekuan dengan menampilkan Islam dalam tema perdamaian,
dialogis, dan toleransi (Kompas, M. Alfan Alfian M, 2002: 5).
Islam moderat, bila ditinjau dari pilihan atas doktrin amar ma’ruf nahi
munkar, pilihannya lebih terletak pada amar ma’ruf (menyeru kepada kebaikan).
Maka, pendekatan yang digunakan lebih dialogis dan persuasif, daripada
kekerasan. Sementara pihak fundamentalisme-radikal, memilih nahi munkar
(mencegah kejahatan). Maka, terlihat gerakan-gerakannya yang massif dan
cenderung memakai kekerasan, terpaksa dilakukan dengan dalih demi
memberantas kejahatan dan kemaksiatan. Persoalannya adalah, bagaimana
penegakan hukum dilakukan di Indonesia, sehingga kelompok-kelompok
fundamentalisme-radikal tidak bertindak sendiri, meskipun didasari niat baik,
tetapi tetap melanggar hukum positif di Indonesia. Dalam konteks ini, sebenarnya
tidak bisa dipertentangkan atas kedua doktrin tersebut. Maka, kelompok Islam
moderat juga bertugas membendung tindakan fatal kelompok fundamentalismeradikal. Meskipun dominan kelompok Islam moderat di Indonesia, kurang
memiliki daya greget, dan seolah kurang mampu menjawab banyak pertanyaan
seputar realitas dinamika keislaman dan keindonesiaan, kecuali melalui wacanawacana
semata.
Inilah
yang
membuat
kelompok
fundamentalis-radikal
mengerucut, seolah mengambil-alih hal-hal yang di lapangan tidak dilakukan
kalangan moderat. Oleh karena itu, dalam konteks ini perlu ada agenda nyata dari
kalangan moderat, bukan hanya bergelut di dataran wacana, tetapi juga aksi nyata
di lapangan. Kalangan Islam moderat harus berjuang meneguhkan peran positif
Islam dalam merajut keharmonisan dalam konteks multikulturalisme Indonesia
(Kompas, M. Alfan Alfian M, 2002: 5).
Namun di sisi lain Islam Liberal yang cenderung moderat juga
mengalami tantangan dalam sepak terjangnya. Sidik Jatnika dalam Adian Husaini
dan Nuim Hidayat (2002: 122), mencatat bahwa agen gerakan Zionisme di
Indonesia yang paling mutakhir adalah gerakan dengan membonceng euphoria
reformasi. Atas nama kebebasan, hak asasi manusia secara terang-terangan mulai
commitberbagai
to user perilaku penyimpangan sosial
memperjuangkan pengakuan terhadap
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
75
maupun seksual sebagai realitas yang harus dihargai dan diberi hak hidup di
Indonesia. Kelompok ini dengan lantang mengkampanyekan agar komunisme dan
atheisme ataupun pemujaan terhadap setan di beri hak hidup di Indonesia seperti
sebuah agama atu ideologi. Bahkan tidak malu memperjuangkan agar pelacuran,
homoseksual, lesbian dianggap sebagai profesi dan perilaku yang sah
keberadaannya. Namun, jika masyarakat melakukan penggrebekan terhadap para
pelaku penyimpangan tersebut justru masyarakat yang disalahkan karena
dianggap telah melanggar hak individu manusia.
4. Lahirnya Jaringan Islam Liberal di Indonesia
Jaringan Islam liberal adalah nama sebuah gerakan dan aliran pemikiran
yang bermula dari ajang diskusi di Jalan Utan Kayu 68H, Jakarta Timur. Ulil
Abshar Abdalla bersama Ahmad Sahal, editor jurnal Kalam dan Goenawan
Mohamad, redaktur senior majalah Tempo adalah penggagas kehadiran
Komunitas Islam Utan Kayu. Jauh sebelum Komunitas Islam itu lahir, Utan Kayu
sejak 1996 telah menjadi ajang pertemuan para seniman sastra, teater, musik, film,
dan seni rupa. Di tempat itu pula Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang salah
satu motor utamanya Ulil Abshar Abdalla berkantor. Bersama Goenawan
Mohammad (mantan pemimpin redaksi Tempo) serta sejumlah pemikir muda
seperti Ahmad Sahal, Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaib dan Saiful Mujani, Ulil
kerap menggelar diskusi bertema ‘pembaruan’ pemikiran Islam. Akhir tahun 1999
para pengusung wacana Islam Liberal menemukan titik temu dan sepakat
mendirikan wadah diskusi yang tanpa basa-basi membawa bendera Islam liberal
dengan nama ‘Jaringan Islam Liberal’ yang lebih dikenal dengan JIL pada 8
Maret 2001 (Gatra 8 Desember 2001: 66-67).
Beberapa tokoh Jaringan Islam Liberal yang berada dalam jajaran pendiri
menunjukkan sikap kritis bukan hanya karena lingkungan yang mendukung sikap
kritisnya dalam menelaah konsep-konsep Islam namun dari perjalanan pendidikan
yang dilalui memberikan warna dalam menggagas Islam liberal. Goenawan
Muhammad adalah seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan
luas. Tanpa lelah memperjuangkan
kebebasan
commit
to user berbicara dan berpikir melalui
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
76
berbagai tulisan yang mengangkat tema HAM, agama, demokrasi dan organisasi
yang didirikannya. Meskipun jarang memberikan pernyataan tentang Islam liberal
dan pluralisme, Goenawan adalah tokoh yang paling berperan bagi tumbuhnya
bibit-bibit Islam liberal di Indonesia melalui perannya di media, memfasilitasi
terbentuknya kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL). Dengan jabatannya sebagai
pemimpin redaksi beberapa majalah termasuk majalah Tempo yang sering
mengangkat Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Ulil Abshar Abdalla
hingga dikenal secara nasional bahkan menjadi ditokohkan oleh masyarakat (Budi
Handrianto, 2007: 110).
Nama Islam liberal menggambarkan prinsip-prinsip yang dianut, yaitu
Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosialpolitik yang menindas. “Liberal” di sini bermakna dua: kebebasan dan
pembebasan. Pelopor JIL percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab
pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan
kebutuhan penafsirnya. Dan kemudian memilih satu jenis tafsir, dengan demikian
satu kata sifat terhadap Islam, yaitu “liberal”. Untuk mewujudkan Islam Liberal,
membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL). Kehadiran JIL semakin melengkapi
Komunitas Utan Kayu, menjadi perpaduan antara kebebasan seni-budaya dan
agama. Berawal dari dunia maya, JIL mulai menyebarluaskan pemikiran dan
tulisan tokoh-tokohnya, menjadikan mailing list (milis) yang tergabung dalam
[email protected] sebagai media diskusi dan berdebat secara bebas.
Diskusi pertama yang menjadi cikal bakal terbentuknya JIL terjadi pada tanggal
21 Februari 2001 dengan topik “Akar-akar Liberalisme Islam : Pengalaman Timur
Tengah” yang di presentasikan oleh Luthfi Assyaukanie. Dari diskusi mengenai
wacana Islam liberal di Timur Tengah kemudian muncul gagasan untuk membuat
sebuah website sebagai wahana ajang diskusi secara luas yang dapat diakses
masyarakat umum dalam www.islamlib.com.
Islam Liberal melekat bukan hanya sebagai formalisasi nama website,
namun telah terlihat dalam berbagai diskusi yang ingin mencari sebuah model
Islam yang bebas, mencerahkan dan penuh dengan toleransi. Pasca runtuhnya
commit sebagai
to user bentuk reformasi. Namun seiring
rezim Orde Baru, kebebasan digaungkan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
77
dengan itu suasana politik di Indonesia dipenuhi isu dan aksi sosial yang dekat
dengan terorisme, isu tersebut dipandang oleh para pengagum liberalisme dekat
dengan model pemahaman keagamaan yang kaku, sempit dan radikal. Karena itu
nama islam liberal seringkali disinggungkan atau menjadi lawan dari gerakan
“Islam radikal”. Gerakan Islam liberal yang terbentuk dalam Jaringan Islam
Liberal tidaklah bentuk pengerucutan namun sebuah bentuk perkembangan dari
gerakan Islam liberal pada periode sebelumnya karena terbukti muncul kelompokkelompok atau perhimpunan lain yang juga terpengaruh kondisi sosial politik
Indonesia masa reformasi. Terkhusus Jaringan Islam liberal, dengan tegas
merumuskan latar belakang pendirian JIL, sebagai berikut:
Kekhawatiran akan bangkitnya ‘ekstremisme’ dan ‘fundamentalisme’
agama sempat membuat banyak orang khawatir akhir-akhir ini. Gejala yang
menunjukkan perkembangan seperti itu memang cukup banyak. Munculnya
sejumlah kelompok militant Islam, tindakan pengrusakan gereja (juga
tempat ibadah yang lain), berkembangnya sejumlah media yang
menyuarakan aspirasi “Islam militant”, penggunaan istilah “jihad” sebagai
alat pengesahan serangan terhadap kelompok agama lain, dan semacamnya
adalah beberapa perkembangan yang menandai bangkitnya aspirasi
keagamaan yang ekstrem tersebut (www.islamlib.com, rubrik tentang kami
diakses 10 Februari 2012).
Ketegangan
dan
kecurigaan
yang
ditimbulkan
oleh
pandangan
keagamaan yang berbeda menyebabkan kesulitan dalam membangun suatu
kehidupan yang damai di antara kelompok-kelompok keagamaan yang ada.
Menurut kelompok Jaringan Islam Liberal, pandangan keagamaan yang terbuka,
plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu
kehidupan yang demokratis. Pandangan tersebut semakin meredup karena hanya
menjadi konsumsi kalangan akademis dan kalangan terdidik di kelas menengah
dan sulit dipahami oleh kalangan masyarakat awam, karena bahasa yang
digunakan bersifat elitis. Kekhawatiran yang dirasakan kelompok Jaringan Islam
Liberal, mengantarkan para tokohnya secara serius dan sistematis merumuskan
apa yang menjadi fokus tujuan atau misi dalam pembentukan JIL. Dalam website
www.islamlib.com, Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas
Islam dengan landasan sebagai berikut:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
78
a. Membuka Pintu Ijtihad pada Semua Dimensi Islam.
Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks
keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan
dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara
keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam
akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa
diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial),
ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).
b. Mengutamakan Semangat Religio Etik, Bukan Makna Literal Teks.
Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan
Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur’an dan Sunnah Nabi, bukan
menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran
yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan
semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi
bagian dari peradaban kemanusiaan universal.
c. Mempercayai Kebenaran yang Relatif, Terbuka dan Plural.
Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam
penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran
adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka,
sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain
kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain
cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang
yang terus berubah-ubah.
d. Memihak pada yang Minoritas dan Tertindas.
Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada
kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik
yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan
dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas,
mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.
e. Meyakini Kebebasan Beragama.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
79
Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama
adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak
membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau
kepercayaan.
f. Memisahkan Otoritas Duniawi dan Ukhrawi, Otoritas Keagamaan dan Politik.
Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus
dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin
bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara
yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi
yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci
untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat,
dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.
Berdasakan landasan tersebut JIL bertujuan untuk menyebarkan gagasan
Islam Liberal seluas-luasnya kepada masyarakat. Karena itu
dipilih bentuk
jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik, sehingga tidak
ada struktur organisasi yang resmi, namun tetap dikoordinasi. Sebagai koordinator
JIL dikenal nama Ulil Abshar Abdalla, dan beberapa kontributor yang
bertanggungjawab juga sebagai editor website www.islamlib.com seperti:
Akhmad Sahal, Anick, Burhanuddin, Hamid Basyaib, Lanny Octavia, Luthfi
Assyaukanie, Malja Abrar, Abd. Moqsith Ghazali, Nong Darol Mahmada,
Novriantoni, Saidiman Ahmad, Taufik Damas (Sumber: Rubrik Kontak Kami
http://islamlib.com/id/halaman/kontak).
JIL adalah wadah yang longgar untuk siapapun yang memiliki aspirasi
dan kepedulian terhadap gagasan Islam Liberal. Keyakinan tokoh-tokoh JIL
bahwa cara tersebut adalah pilihan tepat untuk memperoleh dukungan untuk
mengembangkan gagasan liberalisme dalam Islam semakin ditegaskan dengan
merumuskan misi, sebagai berikut: Pertama, mengembangkan penafsiran Islam
yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang kami anut, serta menyebarkannya
kepada seluas mungkin khalayak. Kedua, mengusahakan terbukanya ruang dialog
yang bebas dari tekanan konservatisme. Kami yakin, terbukanya ruang dialog
to user Islam yang sehat. Ketiga,
akan memekarkan pemikiran commit
dan gerakan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
80
mengupayakan terciptanya struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi.
(Budi Handrianto, 2007: 266)
C. Pemikiran dan Strategi Jaringan Islam Liberal (JIL) Tahun 2001-2005
1. Seputar Istilah dan Tokoh-tokoh Islam Liberal
a. Istilah Islam Liberal
Istilah “Islam Liberal” pertama kali dipopulerkan oleh Asaf ‘Ali Asghar
Fyzee (1899-1981), seorang sarjana hukum berkebangsaan India yang juga
professor tamu di Cambridge University dan University of California Los
Angeles. Fyzee menggunakan istilah ini untuk merujuk kelompok Islam yang
memberikan apresiasi terhadap tradisi intelektual yang menentang gagasan
teokrasi, memberikan dukungan terhadap demokrasi, menjamin hak-hak nonMuslim dan kaum perempuan, membela kebebasan berpikir dan gagasan tentang
kemajuan. Kurang lebih ungkapan Islam liberal bisa dibaca dalam sebuah konteks
bagaimana apresiasi kaum intelektual Muslim terhadap proses perubahan dari
modernisasi ke demokratisasi Dunia Islam. Masalah demokratisasi Dunia Islam
dapat dipetakan dalam dua kerangka masalah pokok: antara minimnya
pengalaman empiris baik di masa lalu atau masa kini dan masalah interpretasi
sistem nilai yang memberikan apresiasi terhadap demokrasi. Yang pertama
berimplikasi pada keharusan mempersiapkan infrastruktur sosial, seperti
kemajuan ekonomi dan pendidikan, sedangkan yang kedua berimplikasi pada
keharusan melakukan reinterpretasi sistem nilai Islam dengan cara menemukan
substansi ajaran Islam untuk mengapresiasi kebebasan berpikir dan gagasangagasan kemajuan lainnya (Taufik Rahman, 2004: 49-50)
Terminology Islam liberal menjadi polpuler setelah Leonard Binder
mempublikasikan mengenai pemikiran politik di Timur Tengah melalui bukunya
Islamic Liberalism: A Critique of Development Ideologis (Islam Liberal: Kritik
terhadap Ideologi-ideologi Pembangunan) pada tahun 1988. Dalam buku ini
Binder mengkaji beragam pendekatan mengenai perubahan dalam pemikiran
Barat dan Islam untuk mendapatkan sebuah pemahaman yang lebih baik
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
81
mengenai politik liberalisme di Timur Tengah dengan beberapa landasan asumsi
(Binder, 2001: 1-2), antara lain:
1.
Pemerintah liberal merupakan hasil proses bersinambung dari wacana
rasional.
2. Wacana rasional dimungkinkan keberadaannya di kalangan mereka
yang memiliki budaya atau kesadaran yang berlainan.
3. Wacana rasional dapat mewujudkan konsensus budaya dan sikap saling
pengertian, serta kesepakatan mengenai hal-hal tertentu.
4. Konsensus memungkinkan adanya tatanan politik yang stabil, dan
merupakan landasan rasional dalam memilih strategi-strategi politik.
5. Pemilihan strategi secara rasional merupakan landasan peningkatan
kondisi kesejahteraan manusia melalui upaya bersama.
6. Liberalisme politik, dalam konteks ini, bisa dikotak-kotakkan. Ia bisa
saja didapati di manapun, atau mesti dipertahankan tanpa menggunakan
wacana.
7. Penolakan liberalisme di Timur Tengah atau di manapun bukan semata
persoalan moral atau ketidakpedulian politis.
8. Liberalisme politik hanya akan ada bila prasyarat sosial dan intelektual
terpenuhi.
9. Prasyarat ini telah terpenuhi di sebagian kawasan Timur Tengah yang
mayoritas Islam.
10. Dengan melibatkan diri dalam wacana rasional bersama mereka yang
kesadarannya telah dibentuk oleh budaya Islam, upaya peningkatan
prospek liberalisme politik di kawasan itu dan kawasan lain yang belum
akrab dengan wacana bukanlah sesuatu yang mustahil.
Leonard Binder menempatkan gerakan Islam liberal sebagai sebuah
proses kritik terhadap modernisme pembangunan di dunia ketiga dengan
mengambil kasus di Timur Tengah. Ia mengasumsikan bahwa gerakan Islam
liberal sebagai sebuah gerakan kultural yang mengusung proses yang
berkesinambungan mengenai wacana rasional. Dengan rasionalisme inilah
diharapkan adanya sebuah perubahan pola pemerintahan yang lebih liberal
sehingga terbuka kemungkinan menciptakan sebuah konsensus budaya dan sikap
saling pengertian, serta kesepakatan mengenai hal-hal tertentu berdasarkan
strategi yang rasional untuk meningkatkan kesejahteraan manusia melalui upaya
bersama (Binder, 2001: 2-4). Dari hasil penelitiannya di Timur Tengah, Binder
menyebutkan bahwa kalangan tradisi merupakan rival utama gerakan Islam
liberal. Kaum tradisionalis didefinisikan Binder sebagai kelompok yang
menjadikan bahasa Al-Quran sebagai basis dari pengetahuan absolut tentang
commit to user
dunia. Sedangkan bagi islam liberal bahasa Al-Quran berkoordinasi dengan esensi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
82
wahyu, namun isi dan makna dari wahyu tidaklah esensial bersifat verbal,
mengingat kata-kata Al-Quran membutuhkan pemahaman dan penafsiran di balik
pernyataan verbalnya itu. Untuk itu konteks dan makna interpretative dari
wahyulah yang sebenarnya bekerja. Dan tentu ini sebuah pemahaman yang
debatable dan bersifat relative, tidak suci dan kaku seperti diyakini kaum
tradisionalis.
Mohammad Nasih, seorang aktivis Jaringan Islam Liberal Semarang
memberikan jawaban atas kontroversi pengertian Islam liberal. Islam liberal
adalah suatu bentuk penafsiran baru atas agama Islam dengan wawasan
keterbukaan pintu ijtihad pada semua bidang. Penekanan pada semangat religioetik, bukan pada makna literal teks, kebenaran yang relatif, terbuka dan plural,
pemihakan pada yang minoritas dan tertindas, kebebasan beragama dan
berkepercayaan, bahkan untuk tidak beragama sekalipun, dan pemisahan otoritas
agama dan otoritas politik. Menurut Nasih nama Islam liberal hanyalah
menggambarkan prinsip-prinsip yang dianut, yaitu Islam yang menekankan
kebebasan pribadi (meminjam istilah Mu’tazilah, salah satu sekte Islam yang
terkenal karena penekanannya pada aspek rasionalitas”kebebasan manusia”), dan
pembebasan struktur sosial politik dari dominasi yang tidak sehat dan menindas.
Jadi adjektif liberal mempunyai dua makna sekaligus yaitu kebebasan dan
pembebasan. Oleh karena itu, menurut Nasih tidak tepat jika Islam liberal dikaitkaitkan secara berlebihan dengan liberalisme yang dianut Barat (Suara Merdeka,
30 September 2002: VI).
b. Tokoh-Tokoh Islam Liberal
Menurut Adian Husaini dan Nuim Hidayat (2002: 18-19), Ali Abdul
Raziq (1866-1966) adalah tokoh pertama yang merupakan rujukan kaum Islam
liberal. Bila Raziq dikenal hanya melalui karya tulisnya. Maka Fazlur Rahman
bisa disebut sebagai tokoh pertama Islam liberal yang melakukan aksi gerakan,
selain juga tulisan-tulisan. Rahman dilahirkan di Indo-Pakistan (sebelum terpecah
dengan India) dan ketika mulai dewasa Rahman merasa tidak cocok dengan
gerakan Jamaat Islami yang dirintis
Maududi.
commit
to user Ketidakpuasaan Rahman dengan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
83
suasana keislaman di Pakistan membuat Rahman tertarik melanjutkan studi Islam
ke Barat. Kiprah dan studinya di Barat, mendorong Rahman untuk kembali ke
Pakistan dan berusaha menuangkan pikiran-pikiran liberalnya melalui lembagalembaga pemerintahan yang dipercayakan kepada Rahman.
Jabatan ganda sebagai Direktur Lembaga Riset Islam dan sebagai dewan
Penasihat Ideologi Islam Pemerintah Pakistan, mulai digunakan secara agresif
untuk menyerang hukum-hukum Islam,
misalnya: menentang dalil-dalil
kebolehan poligami, hak cerai laki-laki, mendukung Keluarga Berencana (KB),
dan menurutnya bunga bank kecil halal namun bunga bank berlipat ganda haram.
Pendapat-pendapat Rahman secara langsung mendapat serangan-serangan tajam
dari para ulama Islam Pakistan. Serangan tersebut membuat Rahman kembali
memantapkan perjalanannya ke Amerika (1970) sebagai Guru Besar Kajian Islam
di Department of Near Eastern Languages and Civilization, University of
Chicago. Selain Fazlur Rahman di Universitas Chicago, para mahasiswa juga
dididik oleh ilmuwan politik yang bernama Leonard Binder. Rahman dan Binder
sering bersama-sama mengadakan proyek penelitian, di antaranya penelitian
tentang “Islam dan Perubahan Sosial” yang meliputi masalah pokok, seperti:
pendidikan agama dan perubahan peran ulama dalam Islam, syariat dan kemajuan
ekonomi, keluarga dalam masyarakat dan hukum Islam masa kini, Islam dan
masalah legalitas politik, perubahan konsepsi-konsepsi stratifikasi di dalam
masyarakat muslim masa kini (Sibawaihi, 2007: 17-21). Hasil riset tersebut
kemudian dibukukan oleh Rahman dalam karyanya Islam and Modernity:
Transformation of an Intellectual Tradition, sedangkan Binder menyusun buku
dari penelitian tersebut dengan judul Islamic Liberalism.
Tokoh-tokoh Islam liberal lainnya yang cukup berpengaruh di Dunia
Islam, khususnya Mesir adalah Dr. Farag Faudah yang dituduh anti-syariat Islam
dan divonis kafir, terbunuh tidak beberapa lama setelah peristiwa debat dengan
kelompok Islam (Adian Husaini dan Nuim Hidayat, 2002: 23), Dr. Muhammad
Khalafullah dan Dr. Fuad Zakaria. Selain itu juga dikenal penganut paham Islam
liberal, yaitu Nashr Abu Zayd yang dianggap murtad dan pengadilan memutuskan
commit to
user Yunis sehingga Nashr pindah ke
perkawinannya dengan Istrinya Profesor
Ibtihal
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
84
Leiden, Belanda (Gatra, 21 Desember 2002: 30), Hassan Hanafi, Abdullahi
Ahmed An-Na’im, Mohammad Arkoun, Mohammad Abed Al Jabiri, Mustafa
Kemal Attaturk dengan penerapan sekularismenya di Turki, sedangkan dari
kalangan wanita (tokoh-tokoh feminis) antara lain Fatimah Mernissi dan Rif’at
Hassan.
Selain itu muncul tokoh-tokoh Indonesia yang mulai mengembangkan
pemikiran-pemikiran liberalnya. Islam liberal di Indonesia adalah sama dengan
pembaruan Islam atau Islam neo-modernis. Seperti diketahui istilah neo-modernis
berasal dari Fazlur Rahman sebagaimana dikutip Greg Barton (1999: 9),
membedakan gerakan pembaruan Islam dalam dua abad terakhir kepada empat
macam, yaitu revivalisme Islam, Modernisme Islam, neo-revivalisme Islam dan
neo-modernisme Islam. Gerakan neo-modernisme Islam mempunyai karakteristik
sintesis progresif dari rasionalitas modernis dengan ijtihad dan tradisi klasik.
Meskipun tipologi Fazlur Rahman ini dimaksudkan untuk seluruh dunia Islam,
tetapi tipologi keempat gerakan tersebut diwakili juga oleh tokoh-tokoh Indonesia,
seperti Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Djohan Effendi dan Ahmad
Wahib. Greg Barton (1999: 8) menegaskan bahwa telah muncul gerakan
intelektual Islam baru di Indonesia sekitar tahun 1970-an. Gerakan tersebut selain
lahir dari tradisi Modernisme Islam yang terdahulu dan telah ada di Indonesia,
juga secara tangguh tampil berbeda baik dari sisi konsepsi maupun aplikasi
gagasannya dengan pendekatan yang khas. Gerakan pemikiran baru ini
berkembang membawa misi suci yaitu memadukan cita-cita liberal progresif
dengan keimanan yang saleh.
Lebih jauh Budi Handrianto dalam bukunya menyebutkan 50 pengusung
ide Sekularisme, pluralisme dan liberalisme dalam tiga kategori:
c. Para Pelopor yang terdiri dari 8 orang : Abdul Mukti Ali, Abdurrahman Wahid,
Ahmad Wahib, Djohan Effendi, Harun Nasution, M. Dawam Rahardjo,
Munawir Sjadzali, Nurcholish Madjid
d. Para Senior yang terdiri dari 15 orang : Abdul Munir Mulkhan, Ahmad Syafi’I
Ma’arif,
Alwi
Abdurrahman Shihab, Azzyumardi Azra, Goenawan
commit
to user
Mohammad, Jalaluddin Rahmat,
Kautsar
Azhari Noer, Komaruddin Hudayat,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
85
M. Amin Abdullah, M. Syafi’i Anwar, Masdar Farid Mas’udi, Moeslim
Abdurrahman, Nasaruddin Umar, Said Aqiel Siradj, Zainul Kamal.
e. Para Penerus Perjuangan yang terdiri dari 27 orang : Abd A’la, Abdul Moqsith
Ghazzali, Ahmad Fuad Fanani, Ahmad Gauss AF, Ahmad Sahal, Bahtiar
Effendi, Budhy Munawar Rahman, Denny J.A., Fathimah Usman, Hamid
Basyaib, Husein Muhammad, Ihsan Ali Fauzi, M. Jadul Maula, M. Luthfi
Assyaukanie, Muhammad Ali, Mun’im A. Sirry, Nong Darol Mahmada, Rizal
Malarangeng, Saiful Mujani, Siti Musdah Mulia, Sukidi, Sumanto Al
Qurthuby, Syamsu Rizal Panggabean, Taufik Adnan Amal, Ulil Abshar
Abdalla, Zuhairi Misrawi, Zuly Qodir.
Menurut Budi Handrianto (2007: 4), pada dasarnya yang masuk dalam
kategori daftar nama pengusung atau pendukung sekularisme, pluralisme dan
liberalisme adalah tokoh di Indonesia yang mempunyai pandangan tersebut baik
dinyatakan secara lisan maupun tulisan dan pengaruhnya sudah jelas terlihat.
Kategorisasi tersebut bukanlah hal yang mutlak dan sewaktu-waktu bisa terjadi
perubahan sesuai gagasan yang dikembangkannya.
Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, pesantren menjadi bagian
penting dalam pembentukan moral generasi bangsa. Namun globalisasi dan
modernisasi seringkali berbenturan dengan pemikiran serta doktrin-doktrin kyai
pesantren. Kehidupan tradisional makin subur terlembagakan dengan sistem
pendidikan
yang
cenderung
mengajarkan
literature
kuno
dibanding
mengembangkan kajian keagamaan yang sedang muncul di permukaan. Pesantren
mempertahankan tradisi-tradisi nilai yang bersendikan pengabdian, keikhlasan,
kejujuran dan kepatuhan pada kyai dalam mempelajari ilmu agama. Menentang
rasionalisme seperti berpikir terbuka dan mengembangkan nalar kritisisme serta
minimnya ijtihad dengan mengajarkan ilmu yang berorientasikan fiqih merupakan
topic utama pesantren sebagai akar tradisionalisme yang dimonumentalkan
sebagai ajaran ritual umat Islam (Fakhruddin Karmani, 2004: 65-66). Kondisi
pesantren yang dekat dengan tradisi-tradisi lama dan cenderung eksklusif
membuka paradigm liberalisasi dalam pemikiran santri-santri kritis yang
to user
menghendaki Islam dinamis dancommit
mengikuti
perkembangan zaman. Maka tidak
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
86
mengherankan jika gagasan Islam liberal berkembang subur di kalangan individuindividu yang pernah ada dalam kungkungan pesantren maupun lingkungan yang
mengharuskan untuk berpikir kritis.
Berikut adalah beberapa tokoh yang berpengaruh dan bahkan menjadi
pelopor terbentuknya Jaringan Islam Liberal di Indonesia:
1) Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid atau biasa disapa dengan nama Cak Nur, lahir dan
dibesarkan di lingkungan keluarga kiyai terpandang di Mojoanyar, Jombang, Jawa
Timur, pada 17 Maret 1939. Ayahnya, KH. Abdul Madjid, dikenal sebagai
pendukung Masyumi. Dari kedua orang tuanya, Cak Nur mewarisi darah
intelektualisme dan aktivisme dua organisasi besar Islam di Indonesia, yaitu
Masyumi yang modernis dan Nahdlatul Ulama (NU) yang tradisionalis. Setelah
melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo,
menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani
studi doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan
disertasi filsafat dan Kalam Ibnu Taimiyah (Budi Handriyanto, 2007: 63). Mantan
ketua HMI di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam Institut Agama Islam Negeri
Syarief Hidayatullah ini pernah berjasa dalam krisis kepemimpinan yang dialami
bangsa Indonesia pada tahun 1998. Cak Nur adalah orang yang sering
dimintai nasehat oleh Presiden Soeharto mengenai kerusuhan dan krisis negara.
Pembaruan Islam yang dicetuskan tokoh yang mendapat julukan sebagai
“Penarik gerbong kaum pembaru” oleh Majalah Tempo ini adalah ide dan gagasan
Nurcholis tentang gerakan sekularisasi di Indonesia sejak tahun 1970, dalam acara
halal bi halal di Jakarta 3 Januari yang dihadiri para aktivis penerus Masyumi,
Nurcholish Madjid menyampaikan makalahnya yang berjudul “Keharusan
Pembaruan Pemikiran dan Masalah Integrasi Umat”. Selain menjabat sebagai
rektor Universitas Paramadina Mulya, semasa hidupnya Nurcholish juga aktif
menjadi pembicara dalam seminar internasional Islam di dalam maupun di luar
negeri. Selain itu, banyak menulis makalah-makalah yang diterbitkan dalam
berbagai majalah, surat kabar dan buku suntingan, beberapa diantaranya bahkan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
87
berbahasa Inggris
(http://profil.merdeka.com/indonesia/n/nurcholish-madjid/,
diakses 26 Juni 2012).
Kesan mendalam selama Nurcholis berkesempatan mengunjungi
Amerika membuatnya tertarik ketika Falur Rahman dan Leonar Binder (keduanya
merupakan Guru Besar Chicago University) menawari Nurcholish proyek
penelitian di Amerika pada tahun 1976. Proyek penelitian yang sebagian besar
berbentuk seminar dan lokakarya serta di danai oleh Ford Foundation, sebuah
yayasan Amerika yang hingga saat ini masih bekerjasama dengan kegiatankegiatan Jaringan Islam Liberal dan Yayasan Paramadina yang pernah dipimpin
Nurcholish (Budi Handrianto, 2007: 64). Nurcholish banyak terinspirasi
pandangan tokoh-tokoh orientalis baik melalui pertemuan dalam studinya maupun
dengan karya-karya yang pernah dibaca. Demikian juga dengan kalangan aktivis
Jaringan Islam Liberal yang menganggap Nurcholish sebagai “Bapak Pluralisme
dan Toleransi” dan bertekad akan meneruskan perjuangannya (Budi Handrianto,
2007: 74).
2) Siti Musdah Mulia
Siti Musdah Mulia. Lahir 3 Maret 1958 di Bone, Sulawesi Selatan. Putri
pertama pasangan H. Mustamin Abdul Fatah dan Hj. Buaidah Achmad. Ibunya,
merupakan gadis pertama di desanya yang menyelesaikan pendidikan di Pesantren
Darud Dakwah wal Irsyad (DDI), Pare-Pare, sedang ayahnya pernah menjadi
Komandan Batalyon dalam Negara Islam pimpinan Abdul Kahar Muzakkar yang
kemudian dikenal sebagai gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan. Musdah adalah
perempuan pertama yang meraih doktor dalam bidang pemikiran politik Islam di
IAIN Jakarta (1997), dengan disertasi: Negara Islam: Pemikiran Husain Haikal
(diterbitkan menjadi buku oleh Paramadina tahun 2000); Perempuan pertama
dikukuhkan LIPI sebagai Profesor Riset bidang Lektur Keagamaan di Departemen
Agama (1999) dengan Pidato Pengukuhan: Potret Perempuan Dalam Lektur
Agama (Rekonstruksi Pemikiran Islam Menuju Masyarakat Egaliter dan
Demokratis). Atas upayanya mempromosikan demokrasi dan HAM pada tahun
2007 dalam peringatan International Women Days di Gedung Putih, Musdah
commit
to user
menerima penghargaan International
Women
of Courage mewakili Asia Pasifik
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
88
dari Menlu Amerika Serikat, Condoleeza Rice. Akhir tahun 2009 menerima
penghargaan
Internasional
dari
Itali,
Woman
of
The
Year
2009
(http://mujahidahmuslimah.com/component/content/article/41-biografi/47biografi-musdah-mulia-dalam-buku-muslimah-sejati-.html, diakses 26 Juni 2012).
Pendidikan formal dimulai dari SD di Surabaya (tamat 1969), Pesantren
As’adiyah, Sulawesi Selatan (tamat 1973); Fakultas Syari'ah As’adiyah (1977).
Menyelesaikan Sarjana Muda Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah, Universitas
Muslim Indonesia (UMI) Makasar (1980); Program S1 Jurusan Bahasa dan
Sastera Arab di Fakultas Adab, IAIN Alaudin, Makasar (1982); Program S2
Bidang Sejarah Pemikiran Islam (1992) dan Program S3 Bidang Pemikiran Politik
Islam di IAIN IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (Budi Handrianto, 2007: 235)
Pendidikan non-Formal antara lain: kursus singkat mengenai Islam dan Civil
Society di Universitas Melbourne, Australia, kursus singkat Pendidikan HAM di
Universitas Chulalongkorn, Thailand, kursus singkat Advokasi Penegakan HAM
dan Demokrasi (International Visitor Program) di Amerika Serikat, kursus
singkat Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan di Universitas George Mason,
Virginia, Amerika Serikat, kursus singkat Pelatih HAM di Universitas Lund,
Swedia, kursus singkat Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Perempuan di
Bangladesh Institute of Administration and Management (BIAM), Dhaka,
Bangladesh. Visiting Professor di EHESS, Paris, Perancis,
International
Leadership Visitor Program, Departement of State, Washington (Mohammad
Nasor, 2008: 30).
Kiprahnya dalam menyuarakan, membela dan mengembalikan hak-hak
perempuan di mata agama telah membawa Musdah dikenal banyak kalangan
terutama kalangan pemerhati dan aktivis isu perempuan di Indonesia. Di samping
pegawai negeri sipil (PNS), sejak mahasiswa Musdah dikenal sebagai aktivis
organisasi pemuda dan ormas atau LSM Perempuan. Karya intelektualnya
semakin lengkap dengan tulisannya terkait dengan isu perempuan, antara lain:
Lektur Agama Dalam Media Massa (Depag 1999), Anotasi Buku Islam
Kontemporer (Depag 2000), Islam Menggugat Poligami, Kesetaraan dan Keadilan
commit toAnalisis
user
Gender, Pedoman Dakwah Muballighat,
Kebijakan Publik, Muslimat
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
89
NU, Meretas Jalan Awal Hidup Manusia: Modul Pelatihan Konselor Hak-Hak
Reproduksi, Seluk-Beluk Ibadah Dalam Islam, Muslimah Reformis: Perempuan
Pembaru keagamaan, dan Perempuan dan Politik, Gramedia,. Islam and Violence
Against Women, Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender, Poligami : Budaya Bisu
yang
Merendahkan
Martabat
Perempuan,
Menuju
Kemandirian
Politik
Perempuan, Islam dan HAM. Selain itu, Musdah Mulia adalah staf ahli pada
Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) Badan Litbang Departemen Agama
dan Sekretaris umum ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) (Budi
Handrianto, 2007: 237).
Akhir tahun 2004, Musdah Mulia menjadi koordinator dalam tim
Pengarusutamaan Gender (PUG) Departemen Agama RI membuat rumusan
tandingan bagi Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang disahkan melalui Inpres
tahun 1991 yang secara resmi menjadi referensi para hakim agama di Peradilan
Agama, terutama dalam memutuskan perkara yang berhubungan dengan
perkawinan. Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD KHI), bertujuan
untuk mengkaji kembali hukum-hukum yang dianggap merugikan kaum
perempuan. CLD-KHI menjadi kontroversi di kalangan pakar Islam yang
berkeberatan dan menolak gagasan tersebut. Kegagalan CLD-KHI tidak membuat
Musdah berhenti menyuarakan isu-isu gender yang mendukung paham liberalisme
dan pluralisme, bersama rekan-rekan dalam satu tujuan baik di ICRP maupun JIL
dibantu The Asia Foundation lembaga donasi dari Amerika. Musdah bahkan
muncul kembali bersama para penulis buku Fiqih Lintas Agama, yang oleh
sebagian umat Muslim dianggap banyak membuang makna teks dan
menggunakan aspek konteks secara amburadul (Budi Handrianto, 2007: 240).
3) Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad adalah seorang jurnalis dan sastrawan kritis yang
terus memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui tulisan dan
berbagai organisasainya. Pendidikan formalnya hingga SMA banyak dihabiskan
di Pekalongan, kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi Fakultas Psikologi UI
namun tidak sampai lulus namun justru menuntut ilmu ke College of Europe,
commit
to usersempat menjadi wartawan harian
Belgia. Sepulangnya ke tanah air
Goenawan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
90
KAMI, kemudian turut mendirikan Majalah Ekspres. Pada tahun 1971, Goenawan
bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah mingguan Tempo, sebuah majalah
yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Banyak tulisan tentang
agenda-agenda politik Indonesia. Jiwa kritis membawa Goenawan untuk
mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi
di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi dan merugikan kepentingan
pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994. Goenawan kemudian
mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang pertama di Indonesia.
Goenawan juga turut mendirikan
Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang
bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia (Budi
Handrianto, 2007: 107-108).
Beberapa karya Goenawan yang telah dihasilkan seperti kumpulan esai
antara lain Seks, Sastra, Kita (1980); Kekuasaan dan Kesusastraan (1993); Catatan
Pinggir (mencapai tujuh jilid); Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata,
Waktu (2001); Eksotopi (2002), dan Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai (2009).
Terjemahan bahasa Inggris atas esainya dikerjakan oleh Jennifer Lindsay dan
terbit sebagai Sidelines (1994) dan Conversations with Difference (2002).
Goenawan telah menerbitkan enam buku puisi: Parikesit (1971) dan Interlude
(1973) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Asmaradana (1992),
Misalkan Kita Di Sarajevo (1998), Sajak-sajak Goenawan Mohamad: 1961-2001
(2001) dan Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004), diedit oleh Laksmi
Pamuntjak. Ia juga menulis tiga libreto untuk opera kontemporer: Kali, The
King’s Witch, dan Tan Malaka. (http://salihara.org/about/curators/goenawanmohamad, diakses 26 Juni 2012)
Menurut Budi Handrianto (2007: 110), “meskipun jarang memberikan
pernyataan tentang Islam liberal dan pluralisme, Goenawan adalah tokoh yang
paling berperan bagi tumbuhnya bibit-bibit Islam liberal di Indonesia melalui
perannya di media”. Goenawan memfasilitasi terbentuknya kelompok Jaringan
Islam Liberal (JIL) di markas teater Utan Kayu yang sejak tahun 1996 menjadi
ajang pertemuan para seniman sastra, teter, music, film dan seni rupa. Dengan
commit Abdurrahman
to user
majalah Tempo, Goenawan mengangkat
Wahid, Nurcholish Madjid
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
91
dan Ulil Abshar Abdalla hingga dikenal secara nasional bahkan menjadi
ditokohkan oleh masyarakat. Popularitas Goenawan bukan hanya dalam lingkup
nasional tetapi telah meluas hingga Internasional. Beberapa penghargaan
diterimanya baik dari Universitas Tel Aviv, Universitas Leiden, yang didasarkan
pada aktivitas goenawan selama 30 tahun terakhir yang memperjuangkan
kebebasan pers dan jurnalisme yang independen di Indonesia (negara dengan
populasi muslim terbanyak di dunia). Terlepas dari kualitas teknik jurnalistiknya,
goenawan merupakan sosok tokoh pers yang konsisten dalam meliberalkan islam
di Indonesia (Budi Handrianto, 2007: 112).
4) Ulil Abshar Abdalla
Ulil Abshar Abdalla yang aktif dalam lingkungan Nahdlatul Ulama
menjadi sosok kontroversial pada saat Jaringan Islam Liberal juga ramai
diperbincangkan kalangan intelektual muslim. Predikat liberal melekat kuat dalam
diri koordinator JIL ini. Pendidikannya dilalui mulai dari Madrasah Mathali’ul
Falah, Kajen, Pondok Pesantren Mansajul ‘Ulum, Cebolek, Pondok Pesantren AlAnwar, Sarang, Rembang. Pernah kuliah di Fakultas Syari’ah (LIPIA) dan sempat
mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Perjalanan
karirnya di habiskan dengan aktif dalam berbagai organisasi, ketua Lakpesdam
NU, staf di ISAI, Direktur program (Indonesian Conference on Religion and
Peace (ICRP), Direktur Freedom Institute. Puncaknya pada tahun 2001 Ulil
Abshar Abdalla mendirikan sebuah jaringan yang dikenal dengan nama Jaringan
Islam liberal dengan tujuan sebagai berikut yang dikutip dari blog pribadinya,
Tujuan utama kelompok ini secara umum ada dua. Pertama, melakukan
kritik atas pemahaman keislaman yang fundamentalistis, radikal dan
cenderung pada kekerasan. Paham-paham semacam ini muncul bak
cendawan setelah era reformasi di Indonesia sejak 1998. Bagi saya, paham
Islam yang radikal, eksklusif, dan pro-kekerasan ini sangat berbahaya bukan
saja bagi masyarakat Indonesia yang plural, tetapi juga bagi Islam sendiri.
Sebagai seorang Muslim, saya tidak mau agama saya”dibajak” oleh kaum
radikal-fundamentalis untuk mengesahkan kekerasan atas nama agama.
Kedua, untuk menyebarkan pemahaman Islam yang lebih rasional,
kontekstual, humanis, dan pluralis. Di mata saya dan teman-teman yang
menggagas JIL, Islam harus terus-menerus dikonfrontasikan dengan realitas
sosial yang terus berubah. Jawaban yang diberikan oleh agama atau ulama
commit
user zaman sekarang. Oleh karena,
di masa lampau, belum tentu
tepatto untuk
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
92
sikap kritis dalam membaca pemikiran Islam yang kita warisi dari ulama
masa lampau sangat penting.
Tidak semua hal yang tertera dalam Quran dan hadis harus dimaknai secara
harafiah. Quran dan hadis dibentuk oleh konteks yang spesifik, dan karena
itu harus terus-menerus dikontekstualisasikan, terutama ajaran-ajaran yang
berkenaan dengan kehidupan sosial-politik. Bagi saya dan teman-teman JIL,
misalnya, sistem pengelolaan “negara” yang pernah dicontohkan oleh Nabi
dan sahabat-sahabat sesudahnya di Madinah tidak mesti kita contoh mentahmentah untuk dipraktekkan pada zaman sekarang, sebab kita berhadapan
dengan konteks sejarah yang berbeda (Ulil Abshar Abdalla dalam
http://ulil.net/page/6/, diakses 26 juni 2012).
Ulil Abshar Abdalla semakin dikenal masyarakat karena berbagai
tulisannya di media massa yang menghebohkan kalangan Islam. Salah satunya
yang membawa Ulil mendapat Fatwa mati oleh Forum Ulama Umat Islam (FUUI)
adalah artikel provokatifnya dalam Kompas 18 November 2002 berjudul
“Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” (http://islamlib.com/id/artikel/telaahkritis-konstruktif-pemikiran-ulil-abshar-abdalla, diakses 2 Mei 2012). Dalam
beberapa diskusi yang diterbitkan www.islamlib.com, Ulil terlihat sebagai
pengagum Barat yang melihat agama secara lebih longgar dengan toleransi yang
dianggapnya menjadi modal Indonesia sebagai negara yang beragam.
Sebagai pendiri dan koordinator JIL yang sering menyuarakan
liberalisasi tafsir Islam, Ulil menuai banyak kritik dan atas pergerakannya dalam
mengusung gagasan pemikiran Islam liberal Ulil disebut sebagai pewaris pembaru
pemikiran Islam melebihi Nurcholish Madjid. Pemikiran anehnya tentang
beberapa konsep dalam Islam semakin diperkuat dengan pendidikan S2 dan S3
bidang perbandingan agama di Universitas Boston, Amerika Serikat
(Budi
Handrianto, 2007: 261-263).
Ulil memanfaatkan setiap kesempatan untuk memahami apa yang Ulil
sebut pemahaman Islam liberal. Ketika mendapat undangan dari University of
Michigan untuk menjadi guest lecturer dengan memberi mata kuliah tentang
“Pemikiran Islam kontemporer di Indonesia” selama setengah bulan di universitas
yang terletak di kota Ann Arbor. Setelah mengajar, Ulil kemudian menetap di
Athens, negara bagian Ohio, tepatnya
di user
Ohio University. Ulil berkeinginan
commit to
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
93
merealisasikan obsesinya untuk menulis buku. Buku yang merupakan penafsiran
Ulil secara utuh tentang Alqur’an dan ajaran Islam secara umum dari perspektif
Islam liberal (kutipan wawancara dalam http://islamlib.com/id/artikel/saya-inginmeniru-al-tahtawi, diakses 6 Mei 2012), dalam akhir wawancara Ulil menegaskan
Terus terang, saya ingin meniru Rifa’ah Rafi’Al-Tahtawi, seorang ulama
Mesir yang dikirim ke Perancis pada abad ke-19 oleh pemerintah Mesir
untuk menjadi pemimpin mahasiswa Mesir yang sekolah di Perancis. Dia
menulis kesannya mengenai kota Paris khususnya, dalam kitabnya yang
terkenal Tahlîsul Ibrîs fi Talkhîsil Bâris. Kesimpulannya kira-kira, banyak
hal positif yang bisa kita pelajari dari orang lain, siapapun mereka. Dalam
kehidupan orang Amerika, saya menemukan banyak hal yang menurut
standar Islam akan sangat Islam sekali, sekalipun banyak juga hal lain yang
menjauhi nilai islam. Tapi kalau ditotal, yang sesaui dengan nilai-nilai Islam
lebih banyak ketimbang yang tidak sesuai.
Hal ini menggambarkan bagaimana sosok Ulil yang kagum dengan
kehidupan Barat khususnya Amerika, negara yang menempanya dalam proses
mencari dan menemukan konsep Islam liberal.
5) Luthfi Assyaukanie
Luthfi Assyaukanie adalah pengajar Sejarah Pemikiran Islam di
Universitas Paramadina. Pendidikan tingginya dihabiskan di luar negeri, mulai
dari Jordan University, Aman, ISTAC, kuala lumpur hingga University of
Melbourne. Sebagai salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal, Luthfi meyakini
bahwa Islam dating sebagai bentuk protes dan perlawanan terhadap dominasi
Islam ortodoks, baik dalam wajahnya yang fundamentalis (dalam sikap politis)
maupun konservatif (dalam pemahaman keagamaan). Sehingga dalam pandangan
Luthfi, Islam liberal adalah sebuah gerakan reformasi dengan semangat
protestanisme klasik yang berusaha memperbaiki kehidupan umat Islam (Budi
Handrianto, 2007: 216-218). Karya monumental Luthfi adalah sebagai penyunting
buku “Wajah Islam Liberal di Indonesia”. Buku yang menjadi propaganda
pertama Islam liberal di Indonesia.
Keberaniannya dalam menyampaikan komentar tentang Islam membuat
Luthfi dikenal sebagai aktivis JIL yang menganggap bahwa mempelajari karya
orientalis adalah suatu keharusan untuk membuka pemahaman umat Islam agar
commit to user
mampu berhadapan dengan apa yang ada diluar pandangannya. Dalam blog
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
94
pribadinya (www.assyaukanie.com), menurut Luthfi sumbangan Orientalisme
terhadap khazanah keislaman begitu besar. Salah satu jasa terbesar para Orientalis
adalah meneliti sumber-sumber awal Islam yang masih dalam bentuk manuskrip,
lalu mengedit (tahqîq), mengkatalogisasi, dan menerbitkannya dalam bentuk buku
yang kemudian bisa diakses oleh setiap orang. Buku-buku hadis banyak di-tahqîq
oleh para Orientalis. Luthfi berpendapat bahwa tidak melihat sisi negatif dari
Orientalisme kecuali pada aspek-aspek metodologis seperti banyak dikritik oleh
sarjana studi budaya (cultural studies), seperti Edward Said. Namun pertengkaran
soal metodologis adalah sesuatu yang wajar dalam dunia akademi di Barat.
Edward Said mengecam para Orientalis karena mereka dianggap sebagai
perpanjangan kuasa, kolonialisme, dan hegemoni Barat. Kritik Luthfi terhadapnya
adalah Said terlalu sibuk dengan kekeliruan-kekeliruan Orientalisme sehingga
mengabaikan dinamika yang kompleks dari disiplin ini. Satu hal yang sering
dilupakan bahwa kaum Orientalis adalah para ilmuwan juga yang akan
mengkritisi
temuan-temuan
koleganya
yang
dianggap
tidak
akurat
(http://www.assyaukanie.com/interviews/islamic-studies-di-barat, diakses 26 Juni
2012)
Selain beberapa tokoh tersebut, ada juga intelektual seperti; Nong Darol
Mahmada adalah salah satu aktivis yang giat menyuarakan masalah-masalah
gender. Santri yang menyelesaikan kuliah di jurusan Tafsir Hadits Fakultas
Ushuluddin, IAIN Jakarta dan pernah aktif dalam kelompok belajar yang
bermukim di Ciputat dikenal dengan Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) ini
aktif dalam Jaringan Islam Liberal, mengelola website Islamlib.com dan salah
satu koordinator di divisi pengembangan media dan advokasi Institut Studi Arus
Informasi
(ISAI).
Pengamat
masalah
gender
dan
Islam
ini,
gencar
mengkampanyekan tidak wajibnya jilbab bagi wanita muslim melainkan lebih
pada keharusan budaya daripada keharusan agama (Budi Handrianto, 2007: 227).
Ahmad Sahal, salah satu koordinator diskusi pada Komunitas Utan Kayu
pernah mengenyam pendidikan pesantren Futuhiyyah, Demak dan Al Falah,
Kediri serta Perguruan Tinggi Islam di Yogyakarta. Sahal aktif dalam
commit
user redaktur Jurnal Kalam (Budi
pergerakannya di Freedom Institut
jugatosebagai
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
95
Handrianto, 2007: 187). Denny J.A., rutin menulis kolom politik di sejumlah
media masa, tulisan-tilisannya juga mampu membawa Denny meraih sejumlah
penghargaan di bidang akademis, jurnalistik dan konsultan politik. Denny
meyakini bahwa komunitas Islam liberal di Indonesia sudah saatnya
mengembangkan sebuah teologi tersendiri yang sah secara substansi dan
metodologi, yaitu teologi Islam liberal yang dalam politik teologi itu menjadi
teologi negara sekular (Budi Handrianto, 2007: 196). Taufik Adnan Amal, dosen
mata kuliah ulumul Qur’an pada Fakultas Syari’ah IAIN Alauddin Makasar dan
anggota Forum Kajian Budaya dan Agama (FKBA). Taufik merupakan intelektual
yang aktif menggagas edisi kritis Al-Qur’an dengan bukunya Rekonstruksi
sejarah Al-Qur’an. Selain beberapa tokoh-tokoh tersebut, banyak aktivis yang
bergabung dengan Jaringan Islam liberal, baik melancarkan gagasannya dalam
kebebasan beragama sampai kebebasan berpendapat baik politik maupun isu-isu
gender.
2. Agenda Jaringan Islam Liberal Tahun 2001-2005
Secara umum Islam liberal memiliki dua agenda besar. Pertama, secara
internal adalah sebuah proses kritik diri bagaimana keberagamaan itu bukan
sesuatu yang instant, tapi ia melibatkan sebuah pencairan yang serius dan tentu
beresiko diasingkan (bahkan dikafirkan) oleh kaumnya sendiri. Kedua, secara
eksternal adalah masalah strategi bagaimana menempatkan Islam dalam proses
perubahan sosial dan global yang mengarah pada pelembagaan nilai-nilai
demokrasi (Taufik Rahman, 2004: 63)
Charles Kurzman (2001: xliii-lx) dalam pengantar bukunya “Wacana
Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global” menjelaskan
Enam formulasi agenda Islam liberal antara lain : Pertama, melawan Teokrasi
(against theocracy). Kalangan Islam liberal menolak ide penyatuan agama dan
negara, dan menolak pandangan bahwa syariat Islam mewajibkan sistem politik
tertentu bagi tegaknya tatanan politik Islam. Kedua, mendukung gagasan dan ide
demokrasi. Kalangan Islam liberal berpendapat bahwa pada dasarnya Islam
memberikan dukungan sepenuhnya
terhadap
ide demokrasi, seperti adanya konsep
commit
to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
96
syura atau musyawarah yang tidak harus dibatasi pada bentuk-bentuk institusional
khusus . Ketiga, Rights of Women, yaitu membela hak-hak kaum perempuan.
Berkaitan dengan pembelaan terhadap hak-hak perempuan, posisi kalangan Islam
liberal berhadapan dengan pandangan konvensional yang membentuk konstruksi
pandangan konservatif dalam memberikan pemaknaan terhadap teks-teks Islam
baik Al-Quran maupun hadist Nabi yang menjelaskan tentang poligami, hak-hak
kewarisan, hak kaup pria untuk bercerai, otoritas kesaksian hukum pria yang lebih
besar, tentang jilbab, pemisahan gender, ketidaksesuaian kaum perempuanuntuk
menjadi pemimpin sebuah komunitas Muslim. Keempat, membela hak-hak nonMuslim (minoritas). Pandangan kalangan Islam liberal terhadap hak-hak nonMuslim maupun kalangan minoritas, mendapatkan basis historisnya yang kuat,
terutama melalui kesepakatan Piagam Madinah pada masa kepemimpinan
Rasulullah. Kelima, Freedom of Thought, yaitu membela kebebasan berpikir.
Gagasan tentang kebebasan berpikir merupakan ide yang sangat fundamental bagi
kalangan Islam liberal. Kebebasan berpikir menjadi suatu wacana yang
substansial dalam ide-ide Islam liberal, agar dapat memberikan dasar pembenaran
terhadap pengungkapan pemikiran Islam lainnya. Keenam, Progress, yaitu ide
membela gagasan kemajuan. Posisi kalangan Islam liberal yang mendukung
gagasan tentang kemajuan, berhubungan erat dengan posisi kalangan Islam liberal
yang melihat modernitas dan perubahan sosial sebagai proses transformasi yang
bersifat positif dan potensial.
Sejak era kebangkitan Islam, berbagai persoalan menyangkut kehidupan
kaum muslim telah didiskusikan. Terlihat bahwa Jaringan Islam Liberal
terinspirasi dengan formulasi yang dikembangkan oleh Charles Kurzman, karena
pada perkembangannya agenda besar yang diusung tidak jauh berbeda dengan
formulasi Islam Liberal Charles Kurzman. Menurut Luthfi Assyaukanie (2001
dalam
http://islamlib.com/id/artikel/empat-agenda-islam-yang-membebaskan,
diakses 10 Februari 2012), melihat paling tidak ada empat agenda utama yang
menjadi payung bagi persoalan-persoalan yang dibahas oleh para pembaru dan
intelektual muslim selama ini. Yakni, agenda politik, agenda toleransi agama,
user
agenda emansipasi wanita, dan commit
agenda tokebebasan
berekspresi. Kaum muslim
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
97
dituntut melihat keempat agenda ini dari perspektifnya sendiri, dan bukan dari
perspektif masa silam yang lebih banyak memunculkan kontradiksi daripada
penyelesaian yang baik.
Agenda pertama adalah agenda politik. Yang dimaksud dengan agenda
ini adalah sikap politik kaum muslim dalam melihat sistem pemerintahan yang
berlaku. Dengan kata lain, agenda ini berusaha untuk menolak sistem
pemerintahan Islam dan mendukung sekularisme. Secara teologis, persoalan ini
bisa dikatakan telah selesai, khususnya setelah para intelektual muslim, semacam
Ali Abd al-Raziq, Ahmad Khalafallah (Mesir), Mahmud Taleqani (Iran), dan
Nurcholish Majid (Indonesia), menganggap persoalan tersebut sebagai persoalan
ijtihadi yang diserahkan sepenuhnya kepada kaum muslim.
Pilihan terhadap bentuk negara, apakah republik, kerajaan, semikerajaan, parlementer adalah pilihan manusiawi, dan bukan pilihan ilahi. Umat
Islam lebih mengetahui urusan dunia mereka, persis seperti yang dikatakan oleh
Nabi Muhammad: “antum a’lamu bi umuri dunyakum” (kalian lebih tahu tentang
urusan dunia kalian). Dan karena urusan politik adalah urusan dunia, maka
menjadi hak kaum muslim untuk mengaturnya sendiri. Tak ada satu ayatpun di
dalam Al-Qur’an yang mewajibkan manusia menentukan satu bentuk atau sistem
politik tertentu. Allah hanya mengisyaratkan perlunya memiliki tatanan yang jujur
dan adil. Dan dalam hal politik, bisa apa saja, termasuk sistem demokrasi yang
kini dianggap sebagai alternatif terbaik dari sistem politik yang pernah ada.
Agenda kedua adalah agenda yang menyangkut kehidupan antar-agama
kaum muslim (toleransi agama). Dengan semakin majemuknya kehidupan
bermasyarakat di negara-negara muslim, pencarian teologi pluralisme tampaknya
menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Pengalaman awal-awal masyarakat
Madinah yang dipimpin Nabi, kerap dijadikan model percontohan adanya
toleransi kehidupan antar-agama dalam Islam. Dengan model ini, Islam dianggap
sebagai agama yang menghormati keberadaan agama-agama lain, inklusif, dan
toleran. Menurut pemahaman tokoh-tokoh JIL, asas teologi Islam yang lebih
penting menyangkut kehidupan antar-agama tidak terbatas hanya pada
commit
to user
pengalaman Madinah. Al-Qur’an,
sebagai
kitab suci yang menjadi rujukan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
98
teologis kaum muslim, memiliki banyak sekali ayat yang memerintahkan umat
Islam untuk, bukan saja menghormati keberadaan agama-agama lain, tapi
mengajak mereka mencari kesamaan-kesamaan (QS. 3: 64). Dalam beberapa ayat
Al-Qur’an, Allah menjamin para penganut agama-agama lain (seperti Yahudi,
Kristen, Sabean) akan mendapatkan pahala sesuai dengan perbuatan baik mereka
dan dijamin berada dalam lindungan Allah (QS. 2: 62 dan QS. 5: 69). Ayat-ayat
seperti ini memperkuat ayat-ayat lainnya yang menyatakan bahwa semua agama,
selama mengakui ketertundukannya kepada Allah (yang merupakan makna dari
kata “Islam”), pada dasarnya adalah sama.
Agenda ketiga adalah agenda emansipasi wanita. Agenda ini mengajak
kaum muslim untuk memikirkan kembali beberapa doktrin agama yang cenderung
merugikan dan mendiskreditkan kaum perempuan. Hal ini karena doktrin-doktrin
tersebut bertentangan dengan semangat dasar Islam yang mengakui persamaan
dan menghormati hak-hak semua jenis kelamin (lihat misalnya QS. 33:35, QS. 49:
13, QS. 4: 1). Sudah saatnya kaum muslim bersikap kritis dalam melihat dan
membaca warisan keagamaannya, karena sebagian dari pesan-pesan yang
terkandung dalam warisan-warisan keagamaan itu dibentuk dalam kondisi sosialbudaya tertentu. Dan karenanya, perlu penafsiran dan pemahaman ulang.
Agenda keempat tentang kebebasan berpendapat dan kebebasan
berekspresi. Agenda ini menjadi penting dalam kehidupan kaum muslim modern,
khususnya ketika persoalan tersebut berkaitan erat dengan masalah Hak-hak Asasi
Manusia (HAM). Islam sangat menghormati hak-hak asasi manusia, dengan
demikian, juga menghormati kebebasan berpendapat. Sejak dibukanya kembali
“pintu ijtihad” lebih dari satu abad silam, tidak ada alasan bagi seorang muslim
untuk takut memiliki pendapat pribadi. Pendapat (ijtihad) adalah sesuatu yang
sangat dihargai dan dihormati dalam Islam. Begitu dihormatinya sebuah pendapat,
sebuah kaedah fikih menegaskan bahwa seseorang akan diberikan dua pahala jika
benar dalam berijtihad, dan diberikan satu pahala jika salah.
Atas dasar hal itu, Islam menghargai pendapat atau karya seseorang.
Tidak ada hak bagi siapapun untuk melarang seseorang memiliki kebebasan
commitmengakui
to user adanya batasan-batasan dalam
berpendapat. Namun demikian, Islam
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
99
berekspresi. Ekspresi adalah persoalan cara yang berimplikasi pada masalah
hukum yang menjadi urusan negara. Seseorang yang melanggar cara-cara
berekspresi, akan berhadapan dengan undang-undang yang telah diatur oleh
negara (Luthfi Assyaukanie, 2001 dalam http://islamlib.com/id/artikel/empatagenda-islam-yang-membebaskan, diakses 10 Februari 2012).
Sedangkan Ulil Abshar Abdalla yang dikutip oleh Budi Handrianto
(2008: xlviii), mengungkapkan bahwa untuk menandingi kalangan revivalis, JIL
telah menyusun sejumlah agenda, antara lain: Kampanye sekularisasi seraya
menolak konsep Islam Kaffah (total) dan menolak penegakan syariat islam,
menjauhkan konsep Jihad dari makna perang, penerbitan Al-Qur’an edisi kritis,
mengkampanyekan feminisme dan kesetaraan gender serta pluralisme. Menurut
Ulil, beragama secara kaffah itu tidak sehat dilihat dari berbagai segi, agama yang
kaffah hanya tepat untuk masyarakat sederhana yang belum mengalami kehidupan
seperti zaman modern. Bagi Ulil, beragama yang sehat adalah beragama yang
tidak kaffah. Berdasarkan agenda yang digagas oleh tokoh-tokoh JIL, selanjutnya
akan dibahas secara rinci beberapa proyek besar agenda JIL sejak tahun 20012005.
a.
Agenda Politik
Pada dasarnya istilah Islam progresif, Islam liberal, Islam sekular, Islam
reduksionis, Islam akomodatif dan sejenisnya merujuk pada hal yang senada,
yaitu tentang Islam yang tunduk atau tersubordinasikan kepada Barat.
Komaruddin Hidayat menyebutkan bahwa ekspresi pemikiran liberal dalam
politik adalah menolak formula klasik, dengan contohnya yang diterapkan oleh
Ali Abdur Raziq dan Kemal Attaturk (Adian Husaini dan Nuim Hidayat, 2002:
33). Pemecatan Raziq dari anggota ulama Al-Azhar, dilakukan oleh Haiah Kibaril
Ulama (Dewan Ulama Terkemuka) yang terdiri dari 19 orang ulama dan
mengklasifikasikan kesalahan fatal Raziq dalam tujuh butir, yaitu: 1) Menjadikan
syariat Islam hanya sebagai hukum agama yang tidak ada kaitannya dengan
pengaturan atau tata laksana urusan duniawi, 2) berpendapat bahwa jihad
Rasulullah ditujukan untuk meraih
kekuasaan
commit
to user setingkat raja dan bukan untuk
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
100
mensyiarkan agama ke seluruh dunia, 3) menyatakan bahwa lembaga
pemerintahan di masa Rasulullah tidak jelas, rancu, kacau, tidak komplit, dan
membingungkan (bagi yang mencoba memahaminya), 4) berpendapat bahwa
tanggungjawab (Muhammad) Rasulullah hanya menyebarluaskan syariat tanpa
menjadi penguasa atau pemerintah, 5) menganggap sepi ijma’ (kesepakatan) para
sahabat Rasul yang menetapkan umat harus menunjuk seorang untuk mengelola
urusan keagamaan da keduniaan serta mengakui adanya kewajiban untuk
mengangkat seorang imam, 6) mengingkari bahwa qudhat (kehakiman)
merupakan fungsi syariat, 7) berpendapat bahwa pemerintahan Abu Bakar dan
Khulafaur Rasyidin merupakan pemerintahan sekuler (Adian Husaini dan Nuim
Hidayat, 2002: 13)
Selain itu proses sekularisasi Turki secara resmi dimulai dengan
proklamasi negara Republik Turki pada tanggal 29 Oktober 1923. Mustafa Kemal
terpilih sebagai presiden pertama, lalu mengganti nama menjadi Kemal Attaturk
(Bapak Bangsa Turki). Turki secara tegas menyebut dirinya sebagai negara
sekuler. UUD Turki pasal 1 menegaskan, Turki adalah negara (1) Republik, (2)
Nasionalis, (3) Kerakyatan, (4) Kenegaraan, (5) Sekularis, (6) Revolusioneris.
Karena itu, hal-hal yang dianggap membahayakan prinsip sekuler akan diserang.
Islam yang dipeluk oleh 99 % rakyat Turki dianggap suatu ancaman potensial
yang dapat menghancurkan prinsip sekuler, kenyataan menunjukkan bahwa Islam
tidak pernah mati di Turki, meskipun segala macam cara telah dilakukan untuk
mensekulerkan rakyat Turki. Bahasa Arab diganti dengan bahasa Turki, lembaga
pendidikan agama ditutup, wanita dan pria dipaksa berpakaian ala Barat, Huruf
Arab diganti dengan huruf latin, kalender Islam diganti dengan kalender Masehi
(Adian Husaini dan Nuim Hidayat, 2002: 34)
Kedua tokoh tersebut cukup menginspirasi tokoh-tokoh Jaringan Islam
Liberal dalam mengembangkan agenda sekularisme di Indonesia. Diskursus
negara sekular tidak terlepas dari keterbatasan dan kekurangannya, mengalami
pembusukan dari dalam dan dari luar. Dalam tataran nasional, ditemukan
ketidakmampuan dan ketidaktegasan sistem sekular dalam menyelesaikan
user
berbagai persoalan, seperti konflikcommit
etnis, to
penggusuran
dan krisis ekonomi. Begitu
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
101
juga dalam tataran global, sistem global telah menjerat dunia ketiga dengan
hegemoni politik dan ekonomi sekaligus. Hal Ini menjadi amunisi kalangan pro
negara syariat untuk menghancurkan sistem sekuler. Akibatnya, stigmatisasi
terhadap sistem sekuler semakin kuat, bukan untuk keluar dari krisis
kemanusiaan, politik, budaya dan lain-lain, melainkan untuk kembali kepada
syariat (Zuhairi Misrawi 2002, dalam http://islamlib.com/id/artikel/negarasyariat-atawa-negara-sekuler, diakses 2 Mei 2012)
Karena itu, yang patut disadari bersama adalah bagaimana memahami
kembali sistem sekuler, dalam hal ini adalah demokrasi. Sebagai sebuah sistem,
demokrasi merupakan jalan tengah untuk keluar dari ekstrem kanan dan ekstrem
kiri. Yang menjadi kata kuci dalam demokrasi adalah pelembagaan yang didasari
atas nilai-nilai persamaan, pluralitas, kemanusiaan dan kesetaraan. Demokrasi
meniscayakan terwadahkannya keadilan, sehingga dapat menghindari dari
otoritarianisme dan meminimalisir segala bentuk penindasan, baik yang
dilatarbelakangi agama, politik maupun ekonomi. Dalam konteks masyarakat
beragama, seperti di tanah air, pemikiran keagamaan tidak hanya dikampanyekan
dalam hal formalisasi, melainkan adanya pelembagaan pemikiran yang didasarkan
atas nilai kemanusiaan, keadilan, kesetaraan dan persamaan hak. Olivier Roy
(1994) dalam The Failure of Political Islam mempunyai kritikan yang tajam bagi
kalangan
Islam
Politik
yang
hanya
berkutat
pada
kekuasaan
dan
mengesampingkan dimensi kemanusian, pluralitas, keadilan dan kesetaraan.
Menurutnya, model yang diterapkan di Iran merupakan contoh terbaik yang
tersedia dalam komunitas muslim, karena menjadikan sistem sekuler sebagai
upaya melembagakan pemikiran keagamaan (the Iranian model is in fact a
“secular” model, in the sense that it is the state that defines the place of the
clergy and not the clergy who define the place of politic). Dengan demikian,
sebenarnya permasalahan bukan hanya terletak pada akhir mendirikan negara
syariat atau negara sekuler, melainkan berupaya melembagakan keadilan,
kemanusiaan, kesetaraan dan kebhinnekaan (Zuhairi Misrawi 2002, dalam
http://islamlib.com/id/artikel/negara-syariat-atawa-negara-sekuler, diakses 2 Mei
commit to user
2012)
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
102
b.
Pluralisme Agama
Islam adalah agama yang dalam pengertian teknis dan sosial-revolutif
sebagai tantangan yang mengancam struktur yang menindas baik di dalam
maupun luar Arab. Tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal
(universal brotherhood), kesetaraan (equality) dan keadilan sosial (social justice).
Islam menekankan kesatuan manusia, dan menekankan keadilan pada semua
aspek kehidupan (Engineer, 1999: 33). Atas dasar keadilan dan kesetaraan maka
umat manusia diharuskan untuk hidup berdampingan secara damai dan berusaha
membebaskan golongan masyarakat lemah dari penderitaan. Bahkan Ibn
Taymiyyah seorang ahli hukum abad pertengahan, menganggap keadilan adalah
hal sentral, “Kehidupan manusia di muka bumi ini akan lebih tertata dengan
sistem yang berkeadilan walau disertai perbuatan dosa, daripada dengan tirani
yang alim” (Engineer, 1999: 39). Keyakinan semacam itu juga tercermin pada
pemikiran tokoh-tokoh liberal yang berusaha mengembangkan pluralisme.
Sebelumnya perlu dibedakan antara makna pluralitas dan pluralisme.
Pluralitas agama adalah wujud fakta keberagaman dan perbedaan agama-agama di
dunia ini. Sebagai fakta, pluralitas merupakan ketentuan Tuhan (Sunnatullah),
dan karenanya tidak dapat dihapuskan. Adapun pluralisme agama adalah
pandangan, pikiran, sikap dan pendirian yang dimiliki seseorang terhadap
kenyataan akan keberagaman dan fakta perbedaan tersebut. Secara khusus,
pluralisme agama adalah pandangan, pikiran, keyakinan bahawa agama-agama
yang bermacam-macam dan berbeda-beda itu mempunyai kesamaan dari segi
ontologi, soteriologi, dan epistemologi. Seperti dikemukakan Peter Byrne,
profesor di King’s College London UK, pluralisme agama merupakan
persenyawaan tiga tesis. Pertama, semua tradisi agama-agama besar dunia adalah
sama, semuanya merujuk dan menunjuk sebuah realitas tunggal yang transendent
dan suci. Kedua, semuanya sama-sama menawarkan jalan keselamatan. Dan
ketiga, semuanya tidak ada yang lebih benar dari yang lain, artinya setiap agama
harus senantiasa terbuka untuk dikritik dan ditinjau kembali (Syamsuddin Arif,
2010: 2). Pluralisme didasarkan pada satu asumsi bahwa semua agama adalah
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
103
jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama (Budi Handrianto, 2007:
xxxi).
Menurut Budhy Munawar Rachman, ide toleransi dan pluralisme
antaragama, akan membawa umat manusia kepada paham “kesetaraan kaum
beriman di hadapan Allah”. Walaupun berbeda agama, tetapi iman di hadapan
Allah adalah sama. Karena iman menyangkut penghayatan manusia kepada Allah,
yang jauh lebih mendalam dari segi-segi formal agama, berkaitan dengan
religiusitas atau bahasa keilmuan sekarang spiritual intelligence. Oleh karena itu,
yang diperlukan dalam penghayatan masalah pluralisme antaragama, adalah
pandangan bahwa siapapun yang beriman (tanpa harus melihat agamanya apa)
adalah sama di hadapan Allah. Karena Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu
(http://islamlib.com/id/artikel/basis-teologi-persaudaraan-antar-agama,diakses
30 April 2012).
Menurut Rachman (2001), dari segi teologi Islam seharusnya tidak
menjadi masalah. Al-Qur’an menegaskan bahwa keselamatan di hari akhir hanya
tergantung kepada apakah seseorang itu percaya kepada Allah, percaya kepada
hari akhir dan berbuat baik, dan inti ajaran agama adalah mengenai ketiga hal
tersebut. Hal Ini dikemukakan Al-Qur’an dalam Al-Baqarah dan Al-Maidah (Q.S.
2: 62 dan 5: 69). Dalam mengomentari ayat tersebut, Abdullah Yusuf Ali
menegaskan bahwa ajaran Allah itu satu, Islam mengakui keimanan yang benar
dalam bentuk yang lain, asal dijalankan dengan sungguh-sungguh dan didukung
oleh akal sehat, disertai tingkah laku yang baik (sebagaimana hal yang sama
berlaku bagi orang Islam sendiri). Sementara Muhammad Asad dalam tafsirnya
mengomentari, the idea of “salvation” here made conditional upon three
elements only: belief in God, belief in the Day of Judgement, and rightous action
in life. Dengan begitu, agama jelas mengakui adanya kesetaraan kaum beriman di
hadapan Allah. Kalau orang Islam diwajibkan menjalankan agamanya, begitu juga
umat dalam agama lain. Dalam QS. Al-Maidah (5: 66) tertera: “Dan sekiranya
mereka mengikuti ajaran Taurat dan Injil serta segala yang diturunkan dari Tuhan
kepada mereka, niscaya mereka akan menikmati kesenangan dari setiap penjuru”.
commit
useradalah takwa, bukan formalisme
Ukuran derajat seseorang dengan
orangtolain
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
104
agama apa yang dianut. Perspektif ini akan sangat membantu dalam membangun
kembali cintakasih dan persaudaraan antar agama (dari basis teologisnya) yang
dicita-citakan
dapat
lebih
baik
di
masa-masa
mendatang
(http://islamlib.com/id/artikel/basis-teologi-persaudaraan-antar-agama,
diakses
30 April 2012).
c.
Kesetaraan Gender
Kesalahpahaman ekstrem tentang ijtihad dan pemahaman Al-Qur’an
khususnya ayat-ayat yang dianggap merugikan kaum perempuan kembali terjadi
dan bahkan lebih besar, didemonstrasikan dengan gamblang oleh kelompok Islam
liberal (sekuler) yang memberikan salah satu bukti lain bahwa upaya melahirkan
ijtihad yang benar di tengah-tengah umat Islam belum berhasil, dan kesalahan
ekstrem ini jelas akan lebih menyesatkan umat dari hakikat ijtihad yang
sebenarnya. Di Indonesia paham ini ditumbuhsuburkan oleh kelompok Jaringan
Islam Liberal (JIL) yang dikomandani Ulil Abshar Abdalla yang bersinergi
dengan Yayasan Paramadina Jakarta pimpinan mendiang Cak Nur (Nurcholish
Madjid) (Ade Fariz Fazrullah, 2007: 466).
Gerakan feminis di Barat tidak dapat dipungkiri merupakan respons dan
reaksi terhadap situasi dan kondisi kehidupan masyarakat di sana, terutama yang
menyangkut nasib dan peran kaum wanita. Salah satu penyebabnya ialah
pandangan ‘sebelah mata’ terhadap perempuan (Misogyny) dan berbagai macam
anggapan buruk (stereotype) serta citra negative yang dilekatkan kepada wanita,
bahkan telah terwujud dalam tata-nilai masyarakat, kebudayaan, hukum, dan
politik. Pada abad pertengahan hingga di awal abad modern, citra dan kedudukan
perempuan tidak pernah dianggap setara dengan laki-laki, peran wanita dibatasi
hanya dalam lingkup rumah tangga. Wanita disamakan dengan budak (hamba
sahaya) dan anak-anak, dianggap lemah fisik maupun akalnya. Paderi-paderi
gereja menuding perempuan sebagai sumber malapetaka dan pembawa sial
(Syamsuddin Arif, 2008: 103-104)
Kaum feminis di Barat umumnya menganggap Mary Wollstonecraft
(1759-1797) sebagai nenek moyang
dan pelopor
commit
to user feminis. Melalui A Vidication of
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
105
Rights of Woman, Wollstonecraft mengecam berbagai bentuk diskriminasi
terhadap perempuan, menuntut persamaan hak bagi perempuan baik dalam
pendidikan maupun politik. Perempuan diperjuangkan untuk bersekolah dan
memberikan suara dalam pemilihan umum (suffrage). selain hak pendidikan dan
politik, para aktivis perempuan juga menuntut reformasi hukum dan undangundang negara agar lebih adil dan tidak merugikan perempuan. Berbagai agenda
emansipasi dilakukan secara intensif, termasuk menolak pembedaan di lingkungan
kerja. Namun pada perkembangannya, gerakan feminis di Barat terlihat
mengalami stigmatisasi dengan munculnya feminis-feminis radikal yang bersikap
anti laki-laki, mengutuk sistem patriarki, mencemooh perkawinan, menghalalkan
aborsi, merayakan lesbianism dan revolusi seks, justru menodai reputasi gerakan
emansipasinya (Syamsuddin Arif, 2008: 106-107)
Gerakan feminisme juga disalahkan karena semakin menyuburkan
pergaulan sesama jenis, menjauhkan keinginannya untuk menjalin perkawinan,
dan mengubah perempuan menjadi makhluk yang gila karier. Emansipasi di Barat
terbukti telah merusak sendi-sendi masyarakat dan menghancurkan nilai-nilai
keluarga. Banyaknya wanita yang mencegah kehamilan dan menggugurkan
kandungan akan berdampak buruk bagi negara-negara yang bersangkutan karena
menghentikan populasi generasi baru. Karena terlalu radikal dan melampaui
batas-batas kewajaran yang umum, gerakan feminis di Barat berangsur-angsur
surut dan nyaris tinggal wacana. Syamsuddin Arif (2008: 109), menjelaskan
bahwa gerakan feminis hanya akan menyengsarakan kaum wanita. Relasi gender
tidak harus dipahami sebagai perseteruan dan pertarungan antar kelompok (class
struggle) dengan saling menegasikan dan berebut posisi, melainkan dalam
perspektif kerjasama dan hubungan timbal balik, dalam arti saling menopang dan
bahu membahu membangun keluarga, bangsa dan negara, saling melengkapi,
saling mengisi dan saling menghargai satu sama lain.
Wacana emansipasi di kalangan umat Islam, pertama kali digulirkan oleh
Syekh Muhammad Abduh (1849-1905 M). Tokoh reformis dari Mesir ini
menekankan pentingnya anak-anak perempuan dan kaum wanita Muslimah
commit
to dan
userperguruan tinggi agar mengetahui
mendapatkan pendidikan formal di
sekolah
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
106
hak-hak dan tanggungjawab sebagai seorang Muslimah dalam pembangunan
umat. Menurut Hasan at-Turabi, Islam mengakui hak-hak perempuan di ranah
public, termasuk hak dan kebebasan mengemukakan pendapat, mengikuti pemilu,
berdagang, menghadiri shalat berjamaah, ikut ke medan perang, dan lain-lain.
Namun ada juga yang menggunakan pendekatan secular-liberal yaitu Qasim
Amin. Intelektual yang disebut-sebut sebagai “bapak feminism Arab” meulis buku
yang menyeru emansipasi wanita ala Barat, menurut Amin jika ingin maju
buanglah
jauh-jauh
doktrin-doktrin
agama
yang
konon
menindas
dan
membelenggu perempuan, seperti perintah berjilbab, poligami, dan lain
sebagainya (Syamsuddin Arif, 2008: 109-110).
Gagasan Qasim Amin telah mendapat sanggahan dan tolakan keras yang
sekaligus membuktikan bahwa tidak seperti yang sering dituduhkan, ternyata
kedatangan Islam adalah agama yang emansipatoris dan telah menyebabkan
terjadinya revolusi gender pada abad ke-7 M. Islam telah mengeliminasi adat
istiadat Jahiliyah yang berlaku di Jazirah Arab, seperti mengubur hidup-hidup
setiap bayi perempuan dilahirkan, mengawini perempuan sebanyak yang disukai
dan menceraikan sesuka hati, serta mempraktikan bermacam-macam pola
perkawinan yang jelas sangat merugikan dan menindas perempuan. Mulai dari
anak sulung laki-laki yang boleh menikahi janda (istri) mendiang ayahnya, ada
bapak yang saling menukarkan putrinya untuk dinikahi satu sama lain, bertukar
istri hanya dengan kesepakatan suami tanpa membayar mahar, hingga maraknya
suami yang yang dengan paksa menyuruh istrinya untuk tidur dengan lelaki lain
sampai hamil semata-mata hanya untuk mendapatkan bibit unggul dari orang lain
yang dipandang istimewa (Syamsuddin Arif, 2008: 110-111).
Gerakan feminis radikal nampaknya berpengaruh juga di kalangan
Muslim. Fatima Mernissi dari Maroko, Nawal al-Saadawi dari Mesir, Riffat
Hasan dari Pakistan (pendiri International Network fot the Rights of Female
Victims of Violence in Pakistan), Taslima Nasreen dari Bangladesh, Assia Djebar
dari Aljazair, Amina Wadud dari Amerika Serikat yang sempat membuat heboh
dengan ulahnya menjadi khatib dan imam shalat jum’at, Zainah Anwar dari Sisto Mulia
user dari Indonesia. Beberapa tokoh
ters In Islam (SIS) Malaysia, Siticommit
Musdah
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
107
tersebut hanya sebagian dari banyak tokoh yang tercatat dalam survei tentang
feminism di negara-negara Muslim, dan tentunya masih banyak perempuan yang
memandang emansipasi dari segi yang salah kaprah (Syamsuddin Arif, 2008: 112)
Di Indonesia, wacana tersebut terlihat dari dukungan JIL terhadap
Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD KHI) yang disusun sebagai
laporan dari hasil penelitian selama dua tahun yang dilakukan oleh sebuah tim
yang menamakan dirinya dengan Kelompok Kerja Pengarus Utamaan Gender
(Pokja PUG) pimpinan DR. Siti Musdah Mulia, MA staf ahli Menteri Agama
bidang Hubungan Organisasi Keagamaan Internasional sejak masa Said Agil
Husein al-Munawwar, yang diserahi tugas oleh Direktorat Peradilan Agama
Depag RI untuk meneliti, mengkaji ulang dan menyusun draft pembaruan (revisi)
terhadap Kompilasi Hukum Islam yang diberlakukan berdasarkan Instruksi
Presiden (Inpres) No.1 tahun 1991. PUG dibentuk berdasarkan Inpres No. 9 tahun
2001, yang di dalamnya tertuang pernyataan bahwa seluruh program kegiatan
pemerintah harus mengikutsertakan PUG dengan tujuan untuk menjamin
penerapan kebijakan yang berperspektif gender (Ade Fariz Fahrullah, 2007: 467).
Isu gender yang dihembuskan dunia Barat telah memberikan efek bius yang
sangat kuat di bumi pertiwi seiring dengan kecenderungan naiknya kasus-kasus
tindak kekerasan terhadap perempuan, sebagaimana dilansir oleh Komisi Nasional
Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).
Kasus-kasus kekerasan yang marak diperlihatkan media masa menjadi
acuan Pokja PUG dalam menyusun CLD KHI, namun permasalahannya adalah
banyak argumentasi dari gagasan-gagasan feministik seputar gender yang tertuang
dalam CLD KHI. Jika dicermati mengandung banyak kerancuan, sehingga
menimbulkan kontroversi di kalangan ulama khususnya dan umat Islam pada
umumnya. Karena pembaruan terhadap KHI yang diajukan oleh Tim Pokja PUG,
bukan lagi dalam konteks tajdid (pemurnian) maupun ishlah (perbaikan), tetapi
justru terjebak dalam konsep bid’ah (penyimpangan) dan taghyir (perubahan) dari
hukum Islam yang asli. Selain itu, pendekatan yang digunakan bukan pendekatan
syari’at, tetapi pendekatan gender, pluralisme, hak azasi manusia, dan demokrasi
(Ade Fariz Fahrullah, 2007: 469).commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
108
Masalah Kesetaraan Gender selalu menjadi polemik dalam pemahaman
muslim yang meyakini emansipasi wanita dengan model Barat. Fatimah Mernissi
adalah salah satu tokoh feminis yang tergerak untuk membuka belenggu aturan
agama terhadap perempuan. Tidak lain karena lingkungan Mernissi kecil yang
meyakinkannya untuk bergerak memperjuangkan keadilan bagi perempuan.
karya-karya Mernissi sarat
dengan pengalaman individualnya. Setidaknya
pengalaman individual tersebut yang memacunya untuk melakukan riset historis
tentang sesuatu yang dirasa mengganggu paham keagamaannya. Misalnya kita
lihat dalam karyanya The
Veil
and Male Elite (Menengok kontroversi
Keterlibatan Wanita Dalam Politik) yang kemudian direvisi menjadi Women
and Islam: A Historical and Theological Enquiry.
Pelacakan Mernissi terhadap nash-nash suci baik Al-Qur’an dan Hadist
didasari pada pengalaman individunya sehari-hari ketika berhubungan dengan
masyarakat. Soal lain yang menjadi concern Mernissi adalah hijab. Tema hijab
sangat dominan dalam karir intelektual Mernissi karena soal itulah yang sejak
kecil mempengaruhi dirinya dan keluarganya, dan tentunya keluarga muslim
lainnya. Hijab, yang merupakan instrumen pembatasan, pemisahan
dan
pengucilan terhadap perempuan dari ruang publik bagi Mernissi merupakan
bentuk pemahaman keagamaan dominan. Hijab juga berarti sarana pemisahan
antara penguasa dan rakyat. Pemikiran hijab yang terakhir ini dipengaruhi oleh
realitas kekuasaan yang terjadi dalam masyarakat Arab (Nong Darol Mahmada,
2001
dalam
http://islamlib.com/id/artikel/berontak-demi-kaum-perempuan,
diakses 2 Mei 2012). Dengan melakukan penafsiran-penafsiran Al-Qur’an dan
Hadist, riset sejarah dan analisa sosiologis, Mernissi berusaha keras untuk
membongkar pemahaman tersebut, untuk kemudian memberikan tafsir alternatif.
Pemikiran Mernissi mengenai hal ini bisa dilihat dalam dua bukunya The
Forgetten of Queen in Islam (Ratu-Ratu Islam yang Terlupakan) dan Islam and
Democracy (Islam dan demokrasi: antologi Ketakutan)
Dalam beberapa karyanya, Mernissi juga mencoba menunjukkan bahwa
kekurangan-kekurangan yang ada dalam pemerintahan Arab bukanlah karena
commit
to user
secara inheren ajaran-ajaran religius
yang
nota bene menjadi undang-undang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
109
dasar pemerintahan tersebut cacat. Namun karena ajaran agama itu telah
dimanipulasi oleh orang yang berkuasa untuk kepentingan dirinya sendiri.
Namun dalam beberapa hal Mernissi membela Arab, ketika negara-negara ini
disorot dan dicitrakan negatif oleh pers Barat (Fatima Mernissi, 1994: 26).
Menurut Nong Darol Mahmada (2001), Setelah Nabi Muhammad SAW
wafat, aktivitas perempuan berangsur-angsur surut. Ditambah dengan peristiwa
keterlibatan Siti Aisyah (isteri Nabi) dalam memimpin perang unta melawan
Khalifah Ali bin Abi Thalib. Peristiwa itu kontroversial dikalangan pemikir Islam
klasik. Ada satu pendapat yang mengatakan, tindakan itu merupakan ijtihad
Aisyah sehingga tidak berdampak politis apapun dan mendapatkan satu pahala.
Ada juga sebagian kalangan yang mengatakan, peristiwa itu merupakan sebab
perpecahan umat Islam. Sehingga menjadi legitimasi perempuan Islam untuk
tidak berkiprah di bidang politik. Puncak pembatasan terjadi pada masa
Kekhalifahan Daulah Islamiyah dan Abbasiyah. Pada dinasti Umayah masa
Khalifah Al-Walid II (743-744 M), perempuan pertama kalinya ditempatkan di
harem-harem dan tidak mempunyai andil dalam keterlibatan publik. Suara
keterlibatan perempuan pada masa ini hampir tidak terdengar. Pada akhir
kekhalifahan Abbasiyah yaitu pada pertengahan abad ke-13 M, sistem harem telah
tegak kokoh. Pada periode inilah, lahirnya tafsir-tafsir Al-Qur’an klasik semisal
Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ar-Razi, Tafsir Ibnu Katsir dan lainnya. Ini
mempengaruhi penafsiran-penafsiran mereka yang mengabaikan ayat-ayat
kesetaraan
(http://islamlib.com/id/artikel/hijabisasi-perempuan-dalam-ruang-
publik, diakses 2 Mei 2012).
Di Indonesia, hijabisasi terhadap perempuan sempat ramai seiring dengan
derasnya tuntutan diberlakukannya syari’at Islam. Dan hijabisasi merupakan
agenda pertama dari penerapan syariat Islam. Ini bisa dilihat dalam bentuk
diwajibkannya peemakaian jilbab, pembatasan ruang gerak dan sebagainya.
Contohnya di Aceh dan Padang atau daerah-daerah yang menghendaki
pemberlakuan syariat Islam. Bahkan masjid yang sebelumnya berfungsi sebagai
ruang publik sekarang hanya milik kaum lelaki. Praktik-praktik seperti ini terjadi
commit
user
di negara-negara yang mendasarkan
padato syari’at
Islam, misalnya Afghanistan,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
110
Pakistan, Arab Saudi, Sudan dan sebagainya. Dalam konteks kekinian, dimana
kesetaraan perempuan tidak lagi dipersoalkan, membatasi perempuan dari ruang
publik merupakan langkah yang mundur bagi keberlangsungan masa depan Islam
(Nong Darol Mahmada, 2001 dalam http://islamlib.com/id/artikel/hijabisasiperempuan-dalam-ruang-publik, diakses 2 Mei 2012).
d.
Metode Hermeneutika
Secara etimologi istilah Hermeneutics berasal dari bahasa Yunani kuno
hermeneuein yang berarti menerjemahkan atau menafsirkan, hal-hal yang
berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan suatu pesan (Sibawaihi, 2007:
6). Menurut para ahli, pembakuan istilah hermeneutics sebagai suatu ilmu, metode
dan teknik memahami suatu pesan atau teks baru terjadi sekitar abad ke-18
Masehi, menyusul terjadinya gerakan Reformasi yang dicetuskan oleh Martin
Luther di Jerman. Para teolog Protestan menolak klaim otoritas Gereja Katolik
dalam pemaknaan dan penjabaran kitab suci. Bagi kaum Protestan, setiap orang
berhak menafsirkan Bible, dengan catatan mengetahui bahasa dan konteks
sejarahnya. Friedrich Schleiermacher, seorang teolog Protestan yang pertama kali
memperluas wilayah hermeneutika dari sebatas teknik interpretasi kitab suci
(biblische Hermeneutik) menjadi hermeneutika umum yang mengkaji prasyarat
atau kondisi-kondisi apa saja yang memungkinkan terwujudnya suatu pemahaman
atau penafsiran yang benar dari sebuah teks. Schleiermacher bukan hanya
berupaya membebaskan tafsir dari dogma, tetapi juga mengajukan perlunya
melakukan desakralisasi teks. Dalam perspektif hermeneutika umum ini, semua
teks harus diperlakukan sama, tidak ada yang perlu diistimewakan, tak peduli
apakah kitab suci (Bible) ataupun teks hasil karangan manusia biasa (Syamsuddin
Arif, 2008: 178-180). Bagi Habermas, hermeneutika bertujuan membongkar
motif-motif tersembunyi dan kepentingan terselubung yang melatarbelakangi
lahirnya sebuah teks. Sebagai kritik ideology, hermeneutika harus bisa
mengungkapkan manipulasi, dominasi, dan propaganda di balik bahasa sebuah
teks, segala sesuatu yang mungkin telah mendistorsi pesan atau makna sistematis.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
111
Menurut Syamsuddin Arif (2008: 181), hermeneutika jelas tidak bebas
dari nilai, hermeneutika mengandung sejumlah asumsi dan konsekuensi.
Hermeneutika menganggap semua teks adalah sama, semuanya merupakan karya
manusia. Asumsi ini lahir dari kekecewaan terhadap Bible, di mana campur
tangan manusia dalam perjanjian lama (Torah) dan perjanjian baru (Gospels) jauh
lebih banyak dibandingkan apa yang diwahyukan Allah kepada Nabi Musa dan
Nabi Isa a.s. Bila diterapkan pada Al-Qur’an, hermeneutika secara otomatis
menghendaki penolakan terhadap status Al-Qur’an sebagai Kalamullah,
mempertanyakan otentisitasnya.
Hermeneutika menganggap setiap teks sebagai produk sejarah, sebuah
asumsi yang tepat dalam kasus Bible mengingat sejarahnya yang problematis. Hal
ini tidak berlaku untuk Al-Qur’an, yang kebenarannya melintasi batas-batas ruang
dan waktu (trans-historical) dan pesan-pesannya ditujukan kepada seluruh umat
manusia. Selain itu, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis, selalu
meragukan kebenaran darimanapun datangnya, dan terus terperangkap dalam apa
yang disebut sebagai lingkaran hermeneutis, di mana makna senantiasa berubah.
Terakhir, hermeneutika menghendaki pelakunya untuk menganut relativisme
epistimologis, bahwa tidak ada tafsir yang mutlak benar (semuanya relative).
Kebenaran terikat dan bergantung pada konteks (zaman dan tempat) tertentu.
Selain mengaburkan dan menolak kebenaran, faham ini juga akan melahirkan
mufassir-mufassir gadungan dan pemikir-pemikir liar (Syamsuddin Arif, 2008:
182-183).
Menurut Ahmad Fuad Fanani (2002), hermeneutika sebagai sebuah
metode interpretasi sangat relevan dipakai dalam memahami pesan Al-Qur’an
agar subtilitas inttelegendi (ketepatan pemahaman) dan subtilitas ecsplicandi
(ketepatan penjabaran) dari pesan Allah bisa ditelusuri secara komprehensif.
Pesan Allah yang diturunkan pada teks al-Qur’an melalui Nabi Muhammad tidak
hanya dipahami secara tekstual, juga bisa kita pahami secara kontekstual dan
menyeluruh dengan tidak membatasi diri pada teks dan konteks ketika Al-Qur’an
turun. Maka, teks Al-Qur’an beserta yang melingkupinya dapat digunakan agar
commit
user dan tempat di mana manusia
selaras dan cocok dengan kondisi
ruang,to waktu,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
112
berada dan hidup. Diskursus hermeneutika tidak bisa dilepaskan dari bahasa,
karena problem hermeneutika adalah problem bahasa. Untuk itu, dalam
memahami teks Al-Qur’an, disamping harus memahami kaidah tata bahasa, juga
mengandaikan suasana psikologis dan sosio historis (wacana) teks tersebut.
Dengan kata lain, istilah teknis yang diciptakan Ferdinand de Saussure (seorang
ahli bahasa dari Swis) adalah hubungan yang dialektis antara teks dan wacana.
(http://islamlib.com/id/artikel/metode-hermeneutika-untuk-al-quran, diakses 30
April 2012).
Analisis yang dilakukan oleh Mohammad Arkoun dan Fazlur Rahman
harus diakui sebagai prestasi intelektual. Analisisnya telah mampu membongkar
apa yang selama ini tidak tersentuh (unthoucable) oleh akal klasik maupun
modern. Al-Qur’an sesungguhnya mempunyai visi transformatif dan liberatif
untuk kemanusiaan. Ayat-ayat mengawali misi penurunan Al-Qur’an dengan
mengadakan
revolusi
teologis.
Revolusi
teologis
ini
mengartikulasikan
substansinya melalui jargon “Tauhid” yang menegasikan seluruh sesembahan
selain Allah. Tauhid ini juga menegaskan semangat egalitarianisme sebagai
simbol perlawanan terhadap perbudakan dan kejahatan kemanusiaan yang terjadi
di Makkah. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah mengindikasikan semangat revolusi
sosiologis terhadap tatanan dan struktur sosial kehidupan masyarakat dengan
menjadikan keadilan dan kemakmuran sebagai doktrin sandaran (Ahmad Fuad
Fanani, 2002 dalam http://islamlib.com/id/artikel/metode-hermeneutika-untuk-alquran, diakses 30 April 2012). Hermeneutika yang merupakan metode penafsiran
yang memadai pada era modern, perlu memberikan tujuan penafsiran yang tegas
dan jelas. Tugas hermeneutika Al-Qur’an yang mendesak adalah untuk
pembebasan sosial kemanusiaan dari berbagai eksploitasi yang merugikan.
Eksploitasi itu bisa berbentuk ekonomi, politik, sosial, budaya, serta pengekangan
keberagamaan. Maka umat Islam Indonesia harus mempelopori penafsiran AlQur’an yang berimplikasi pada pembebasan sosial. Sudah waktunya para
agamawan terjun untuk membebaskan penindasan, membela hak-hak wanita, dan
berdiri pada garda terdepan menumbangkan segala ketidakadilan. Usaha yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
113
dilakukan Farid Esack dalam menumbangkan rezim apartheid di Afrika Selatan,
layak dipertimbangkan sebagai pemandu gerakan dan wacana keilmuan.
e.
Konsep Jihad
Jihad merupakan salah satu tema penting dalam ajaran Islam. Tiang
Islam adalah Shalat dan atapnya adalah jihad. Upaya mereduksi makna Jihad,
karena besarnya kecenderungan untuk mengkonotasikan jihad dengan perang. Jika
dihadapkan kepada kelompok yang memusuhi Islam, maka umat Islam harus
berjihad. Mengingat jalan kekerasan fisik bari bisa dilakukan jika umat Islam
diserang secara fisik pula, maka penerapan Jihad bisa berbeda-beda, tergantung
skala prioritas, karena itu tidak perlu dimaknai secara tunggal sebagai perang fisik
secara frontal (Nur Rachmat Yuliantoro, 2002: 6-7).
Dalam pandangan Jaringan Islam Liberal pemaknaan Jihad jelas tidak
bisa disamakan dengan perang. Tema Jihad menguat semenjak Amerika
merencanakan serangan ke Afganistan menyusul tragedi 11 September. Beberapa
organisasi keislaman mengangkat tema jihad untuk membangun solidaritas antiAmerika (Gatra, Asrori S.Karni & Hendra Makmur, 2001: 70).
Berbagai
demonstrasi dan aksi anti-Amerika dan sekutu-sekutunya telah menggeser citra
Islam di Indonesia sebagai Islam yang lebih toleran, menekankan kedamaian dan
perdamaian, harmonis, selalu menempuh jalan tengah moderat (ummatan
washatan), atau bahkan digambarkan media massa internasional sebagai Islam
with a smiling face. Pergeseran citra ini dapat mengubah pandangan dan harapan
banyak kalangan, khususnya kalangan Islam internasional di negara-negara lain,
bahwa Islam Indonesia merupakan alternatif bagi kemajuan Islam di tengah
peradaban dunia dan modernisme yang tidak terelakkan. Islam di Indonesia dalam
pandangan dunia adalah Islam yang kompatibel dengan modernisme, kemajuan
sains dan teknologi, dan multikulturalisme.
Pada waktu yang sama, pemerintahan Presiden Megawati juga
mengambil posisi dan sikap yang lebih tegas terhadap kelompok-kelompok garis
keras. Sikap tegas dimulai dengan ancaman mencabut kewarganegaraan bagi yang
akan pergi ke Afghanistan dan bergabung
commit todengan
user tentara Taliban sampai kepada
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
114
tindakan keras polisi menghadapi demonstrasi bahkan menahan sejumlah orang
(FPI-Solo) dan memanggil pimpinan FPI, Habib Riziq Shihab ke kantor polisi.
Dengan sikap tersebut, gelombang demonstrasi dan sikap anti-Amerika, serta
tuntutan-tuntutan kepada pemerintah Indonesia terlihat menurun secara signifikan.
Menurut Azyumardi Azra (2001 dalam http://islamlib.com/id/artikel/jihadproporsional, diakses 2 Mei 2012), memandang dampak yang terjadi terhadap
kondisi politik dan ekonomi nasional, maka sebaiknya seluruh elemen bisa
melihat masalah konfrontasi Amerika Serikat (AS) dengan Bin Laden (Taliban)
secara lebih jernih, dingin dan obyektif dengan titik tolak kepentingan nasional.
Juga perlu pengamatan yang lebih jernih tentang Bin Laden maupun rezim
Taliban dilihat dari perspektif Islam di Indonesia. Dalam berbagai segi
pemahaman dan praktek keagamaan yang dianut Bin Laden maupun Taliban
memiliki perbedaan yang mencolok dengan pemahaman dan praktik Islam
umumnya di Indonesia.
Solidaritas Islam (ukhuwwah Islamiyyah) sangat dianjurkan dalam ajaran
Islam, karena sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits,
setiap Muslim merupakan saudara bagi Muslim lainnya, penderitaan yang dialami
seorang atau sekelompok Muslim lainnya juga merupakan penderitaan bagi
Muslim lainnya. Tetapi ekspresi solidaritas Islam itu harus ditempatkan pada
proporsinya. Dalam kerangka proporsionalitas, maka ukhuwah Islamiyah terhadap
Muslim Afghanistan yang menjadi korban serangan AS tidak harus selalu dalam
bentuk jihad dalam arti perang bersama-lama melawan AS. Berbagai constraints
yang ada, baik di dalam negeri sendiri dan di luar negeri (khususnya di
Afghanistan dan Pakistan) seharusnya mendorong ungkapan solidaritas Islam itu
dalam bentuk lain, seperti pengumpulan dana, makanan, pakaian, obat-obatan
untuk membantu saudara-saudara Muslim di Afghanistan (Azyumardi Azra, 2001
dalam http://islamlib.com/id/artikel/jihad-proporsional, diakses 2 Mei 2012).
Proporsionalitas ungkapan solidaritas Islam seharusnya juga lebih
berorientasi ke dalam. Keadaan ekonomi Indonesia yang masih terpuruk telah
menjadikan kaum Muslimin sebagai korban yang paling menderita, apakah dalam
to user
bentuk merosotnya pendapatan commit
maupun
dalam bentuk pengangguran yang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
115
semakin meluas. Selain itu, sekitar 1,3 juta anak bangsa telah menjadi pengungsi
di mana-mana. Bisa dipastikan, sebagian besarnya adalah kaum Muslimin.
Ukhuwwah Islamiyah yang begitu menggelora lebih tepat ditujukan kepada
permasalahan
tersebut.
Memandang
berbagai
gejala
yang
kurang
menggembirakan, maka para pemimpin organisasi-organisasi besar seperti NU,
Muhammadiyah, dan organisasi-organisasi besar lainnya mengambil sikap lebih
pro-aktif. Sikap pro-aktif bisa dilakukan dengan lebih sering melakukan dialog
dengan kelompok-kelompok garis keras untuk merumuskan sikap yang lebih
proporsional dalam menyikapi berbagai perkembangan baik di dalam maupun luar
negeri yang mempengaruhi kaum Muslimin dan Islam. Para pemimpin
mainstream Muslim juga harus lebih outspoken dan asertif untuk menyatakan
kepada publik umumnya tentang sikap proporsional dalam merespon dan
menyikapi berbagai perkembangan tersebut (Azyumardi Azra, 2001 dalam
http://islamlib.com/id/artikel/jihad-proporsional, diakses 2 Mei 2012). Sikap
kalangan Islam Liberal terhadap konsep Jihad tentu bukan tanpa tantangan, karena
pandangan yang berbeda dengan pemahaman kelompok Islam Radikal dalam
memahami jihad, sementara dapat dilihat, kelompok Islam radikal semakin
berkembang dan memperoleh banyak simpatisan serta tetap memegang teguh
prinsipnya.
3. Strategi Pengembangan Islam Liberal di Indonesia
Sejak berdiri, Jaringan Islam Liberal nampaknya kurang memperlihatkan
jumlah simpatisan yang berarti, namun dibalik itu ternyata kesuksesan Jaringan
Islam liberal dalam membumikan Islam liberal di Indonesia pasca Orde Baru
terlihat nyata. Ada beberapa kegiatan pokok Jaringan Islam Liberal yang sudah
dilakukan (http://islamlib.com/id/halaman/tentang-jil, diakses 10 Februari 2012)
a. Sindikasi Penulis Islam Liberal. Maksudnya adalah mengumpulkan tulisan
sejumlah penulis yang selama ini dikenal (atau belum dikenal) oleh publik luas
sebagai pembela pluralisme dan inklusivisme. Sindikasi ini akan menyediakan
bahan-bahan tulisan, wawancara dan artikel yang baik untuk koran-koran di
daerah yang biasanya mengalami
kesulitan
commit
to useruntuk mendapatkan penulis yang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
116
baik. Dengan adanya “otonomi daerah”, maka peran media lokal makin
penting, dan suara-suara keagamaan yang toleran juga penting untuk
disebarkan melalui media daerah ini. Setiap minggu, akan disediakan artikel
dan wawancara untuk koran-koran daerah.
b. Talk-show di Kantor Berita Radio 68H. Talk-show ini akan mengundang
sejumlah tokoh yang selama ini dikenal sebagai “pendekar pluralisme dan
inklusivisme” untuk berbicara tentang berbagai isu sosial-keagamaan di Tanah
Air. Acara ini akan diselenggarakan setiap minggu, dan disiarkan melaui
jaringan Radio namlapanha di 40 Radio, antara lain; Radio namlapanha
Jakarta, Radio Smart (Menado), Radio DMS (Maluku), Radio Unisi
(Yogyakarta), Radio PTPN (Solo), Radio Mara (Bandung), Radio Prima FM
(Aceh).
c. Penerbitan Buku. JIL berupaya menghadirkan buku-buku yang bertemakan
pluralisme dan inklusivisme agama, baik berupa terjemahan, kumpulan tulisan,
maupun penerbitan ulang buku-buku lama yang masih relevan dengan tematema tersebut. Saat ini JIL sudah menerbitkan buku kumpulan artikel,
wawancara, dan diskusi yang diselenggarakan oleh JIL, berjudul Wajah Liberal
Islam di Indonesia.
d. Penerbitan Buku Saku. Untuk kebutuhan pembaca umum, JIL menerbitkan
Buku saku setebal 50-100 halaman dengan bahasa renyah dan mudah dicerna.
Buku Saku ini akan mengulas dan menanggapi sejumlah isu yang menajdi
bahan perdebatan dalam masyarakat. Tentu, tanggapan ini dari perspektif Islam
Liberal. Tema-tema itu antara lain: jihad, penerapan syari’at Islam, jilbab,
penerapan ajaran “memerintahkan yang baik, dan mencegah yang jahat” (amr
ma’ruf, nahy munkar), dll.
e. Website Islamlib.com. Program ini berawal dari dibukanya milis Islam Liberal
([email protected]) yang mendapat respon positif. Ada usulan
dari beberapa anggota untuk meluaskan milis ini ke dalam bentuk website yang
bisa diakses oleh semua kalangan. Sementara milis akan tetap dipertahankan
untuk kalangan terbatas saja. Semua produk JIL (sindikasi media, talk show
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
117
radio, dll.) akan dimuat dalam website ini. Web ini juga akan memuat setiap
perkembangan berita, artikel, atau apapun yang berkaitan dengan misi JIL.
f. Iklan Layanan Masyarakat. Untuk menyebarkan visi Islam Liberal, JIL
memproduksi
sejumlah
Iklan
Layanan
Masyarakat
(Public
Service
Advertisement) dengan tema-tema seputar pluralisme, penghargaan atas
perbedaan, dan dan pencegahan konflik sosial. Salah satu iklan yang sudah
diproduksi adalah iklan berjudul “Islam Warna-Warni”.
g. Diskusi Keislaman. Melalui kerjasama dengan pihak luar (universitas, LSM,
kelompok mahasiswa, pesantren, dan pihak-pihak lain), JIL menyelenggarakan
sejumlah diskusi dan seminar mengenai tema-tema keislaman dan keagamaan
secara umum. Termasuk dalam kegiatan ini adalah diskusi keliling yang
diadakan melalui kerjasama dengan kelompok-kelompok mahasiswa di
sejumlah universitas, seperti Universitas Indonesia Jakarta, Universitas
Diponegoro Semarang, Institut Pertanian Bogor, UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, dll.
Strategi pengembangan Jaringan Islam Liberal dapat dikatakan meraih
kesuksesan berkat dukungan media. Di mana era global telah membawa dominasi
informasi oleh negara-negara maju berkembang pesat. Pakar komunikasi Wilbur
Schramm membenarkan bahwa hampir terdapat monopoli media internasional,
adanya orientasi pasar pada media internasional. Dengan dominasi komunikasi,
maka rekayasa informasi global sangat leluasa dilakukan. Dapat dipahami bahwa
peran opini publik terhadap pola pikir, pola sikap, dan perilaku masyarakat sangat
besar. Banyak pemilik media massa seolah-olah tidak peduli dengan informasi
yang di sampaikan akan merusak atau mendidik (Adian Husaini, 2002: xxxvii)
Menurut Adian Husaini (2002: xlvii), bagi Barat tampaknya ada rumus
yang dipegang: siapa yang mendukung sekularisme, tidak mencampurkan agama
dengan politik, melawan Islam garis keras, bersahabat dengan zionis, itu yang
akan dijadikan kawan dan dibantu oleh Barat. Selain itu Agenda yang diusung JIL
dapat disadari ataupun tidak telah menampakkan kemiripan dengan warisan
imperialis. Secara jujur, sebenarnya, ide-ide besar JIL dapat dipahami dalam
commit
user
kerangka warisan imperalisme Barat
ke to
atas
Dunia Islam. Jika diamati tentang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
118
agenda-agenda JIL, maka kita akan menemukan perkaitan antara imperialisme
barat dan agenda JIL. Dalam agenda politik, kaum muslimin diarahkan oleh JIL
untuk mempercayai sekularisme, dan menolak sistem pemerintahan Islam
(Khilafah). Dalam agenda plurarisme, kelompok ini menyeru bahawa semua
agama adalah benar, tidak boleh ada truth claim. Agenda emansipasi wanita,
adalah menyamaratakan secara total peranan hak lelaki dan perempuan, dan
agenda kebebasan berekspresi, seperti hak untuk tidak beragama, tak jauh berbeda
dengan agenda politik di atas.
Semua ide-ide tersebut pada akhirnya, kembali kepada ideologi dan
kepentingan imperialis. Kerana itu, sulit untuk tidak menganggap bahwa JIL
adalah proyel imperialis dengan mencari akar pemikiran-pemikiran tersebut dari
Islam secara murni, kecuali setelah melalui penyelewengan teks-teks Al-Qur’an
dan As-Sunnah. Misalnya teologi pluralisme menganggap semua agama benar,
sebenarnya berasal dari hasil Konsili Vatikan II 1963-1965 yang mengambil
prinsip extra ecclesium nulla salus (di luar Katolik tak ada keselamatan) menjadi
teologi inklusif-pluralis, yang menyatakan keselamatan mungkin berada di luar
Katolik. (Adian Husaini dan Nuim Hidayat, 2002: 97).
Dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak persamaan dengan ideologi
liberalism-kapitalisme. Ide-ide besar kapitalisme itu antara lain: sekularisme,
demokrasi, dan kebebasan. Kentalnya ide-ide pokok kapitalisme sehingga tokoh
JIL menjadikan ideologi kapitalisme sebagai standard pemikiran. Meminjam
bahasa Al Jawi, idea-idea kapitalisme diterima terlebih dulu secara taken for
granted dan dianggap benar secara total, tanpa diberi peluang untuk didebat
(ghair qabli li an-niqasy) dan tanpa ada kesempatan untuk diubah (ghair qabli li
at-taghyir) kemudian ide-ide tersebut dijadikan dasar untuk menilai dan mengadili
Islam. Selain itu, peran The Asia Foundation dalam pemberian dana untuk
kegiatan-kegiatan JIL semakin memperkuat adanya kerjasama khususnya dalam
membentuk opini publik untuk mendukung pengembangan JIL (Thoriq dalam
http://islamicunderstanding.wordpress.com/2011/09/23/jil-cia-asia-foundationrancak-serang-muslim-indonesia/, 29 Feb 2012
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
119
Dapat dilihat dalam website www.islamlib.com kesuksesan programnya
dalam mengelola berbagai rubrik mulai dari reportase, kolom, editorial,
wawancara, klipping, pernyataan pers, tokoh, sampai resensi buku, tercatat sejak
tahun 2001 sampai 2005 berjumlah 743 tulisan (rubrik, judul, penyusun, dan
waktu terbit: Terlampir) yang setiap tahunnya dapat diamati memperjelas agenda
JIL sesuai dengan isu yang berkembang dan perlu didiskusikan. Sejak berdiri
tahun 2001 JIL mulai dari diskusi-diskusi mengenai istilah liberal dalam Islam
Liberal dan menyusun agenda-agenda yang harus dikerjakan. Tahun 2002, seiring
dengan datangnya respon, kritik dan sejumlah peristiwa politik yang banyak
mengusung Islam sebagai kekuatan ideologis, sehingga muncul penolakan
terhadap penerapan syariat dalam negara, JIL mulai menggagas secara serius
mengenai teologi negara sekular. Tahun 2003, pluralisme Nampak menjadi
puncak dari agenda-agenda JIL, di mana sikap toleransi, kebebasan menafsirkan
Al-Qur’an, kebebasan berekspresi (mulai pembahasan agama, seni, dan
batasannya) menjadi tema diskusi yang diusung. Tahun 2004, seiring maraknya
pemilu 2004, di mana partai Islam bersaing dengan legitimasi agama untuk
meraih simpati masyarakat, diskusi JIL diwarnai dengan pembendunganpembendungan politisasi agama dalam pemilu, posisi ulama dengan godaan
politik kekuasaan sehingga gagasan sekularisasi Nurcholis Madjid dianggap perlu
dikembangkan dengan tidal mencampuradukkan antara kepentingan politik
menggunakan label Islam. Tahun 2005, memuncaknya respon dengan hadirnya
Fatwa MUI mengenai haramnya Sekularisme, pluralisma dan liberalisme semakin
memojokkan posisi JIL, namun JIL tetap intens dalam berbagai diskusinya dan
mulai menegaskan kembali mengapa perlu meniru Barat yang maju, karena Islam
terus berubah.
D. Pengaruh Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia Tahun 2001-2005
1. Jaringan Islam Liberal dan Cita-cita Civil Society
Civil society, dipadankan dalam bahasa Indonesia dengan “masyarakat
sipil”, “masyarakat kewargaan” adalah suatu istilah yang pada mulanya berasal
to user yang sedang giat melakukan
dari Barat kemudian masuk kecommit
negeri-negeri
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
120
demokratisasi, termasuk Indonesia. Telah menjadi agenda penting yang sering
dibicarakan banyak pemikir sebagai wacana dari praktik politik kontemporer.
Sebagaisalah satu ajaran yang mwmpunyai misi mengubah tatanan sosial
masyarakat, Islam memiliki konsep tentang masyarakat ideal dank arena itu Islam
juga berkepentingan untuk mengubah masyarakat menuju cita-cita idealnya.
Kesesuaian ajaran-ajaran Islam dengan civil society disepakati bahwa Islam
mendorong penciptaan masyarakat madani, Nabi Muhammad bahkan telah
mencontohkan secara aktual bagaimana perwujudan civil society yaitu ketika
Nabi mendirikan dan memimpin Yatsrib yang kemudian dikenal sebagai kota
Madinah dengan Piagam Madinah sebagai aturan yang disepakati bersama antara
siapapun yang ada di Madinah (Masduki, 2007: 159).
Masyarakat madani jika dipahami secara sepintas merupakan format
kehidupan sosial yang mengedepankan semangat demokratis dan menjunjung
tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Dalam masyarakat madani, warga negara
bekerjasama membangun ikatan sosial, jaringan produktif dan solidaritas
kemanusiaan yang bersifat nongovermental untuk mencapai kebaikan bersama.
Karena
itu,
tekanan sentral masyarakat
madani adalah terletak pada
independensinya terhadap negara. Masyarakat madani berkeinginan membangun
hubungan yang konsultatif bukan konfrontatif antara warga negara dan negara.
Masyarakat madani juga tidak hanya bersikap dan berperilaku sebagai citizen
yang memiliki hak dan kewajiban, melainkan juga harus menghormati equal
right, memperlakukan semua warga negara sebagai pemegang hak kebebasan
yang sama (Mawardji J., 2008: 20)
Terdapat beberapa unsur yang merupakan bagian dari proses pemaknaan
masyarakat madani yang lebih dari sekadar gerakan-gerakan pro-demokrasi yang
menekankan peranan Islam, demokratisasi sebagai pemberdayaan, bukan oposisi,
pemerintah tetap merupakan faktor yang krusial bagi demokratisasi dan reformasi
politik, kerjasama pemerintah dan masyarakat sipil, bukan konflik dan perebutan
kekuasaan, pemerintah memerintah masyarakat sipil, tatanan demokratis tidak
bisa diciptakan tanpa kekuasaan negara, menjamin stabilitas, di samping unsur
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
121
kehidupan masyarakat yang berkualitas dan bertamaddun atau civility (Ahmad
Baso, 1999: 257)
Memasuki dekade 1990-an, orang banyak berbicara tentang civil society
yang oleh kalangan Islam disebut sebagai masyarakat madani. Tidak jarang
terjadi salah kaprah dalam memberikan interpretasi tentang konsep dasar apa yang
disebut sebagai civil society. Dan tidak jarang pula ada yang memahami dengan
melihat civil society sebagai masyarakat sipil vis a vis militer dalam kehidupan
politik di Indonesia (Afan Gaffar, 1999: 176). Sebutan masyarakat madani, seperti
banyak diakui para pendukungnya, pertama kali diperkenalkan oleh Anwar
Ibrahim sewaktu masih menjabat sebagai Deputi Perdana Menteri Malaysia dalam
satu forum ilmiah menyampaikan ceramah berjudul “Islam dan Pembentukan
Masyarakat Madani”, bahwa dalam sejarah Asia Tenggara, Islamlah yang pertama
kali memperkenalkan cita-cita keadilan sosial dan pembentukan masyarakat
madani, yaitu civil society yang bersifat demokratis. Meskipun Anwar menyadari
bahwa konsep civil society berasal dari Barat, tetapi Ernest Gellner juga menyebut
konsep High Islam yang menegaskan bahwa budaya tinggi Islam yang juga
beroperasi dalam sejarah Asia Tenggara (Ahmad Baso, 1999: 258)
Menurut Hikam dalam Ahmad Baso (1999: 259-260), civil society
diperlukan untuk menjembatani kemungkinan terjadinya dominasi oleh kekuatan
primordial seperti agama. Maka, jika disepakati untuk membangun sebuah civil
society dengan agama sebagai panglimanya akan mengalami kesulitan sebab
dalam civil society agama ditempatkan sebagai salah satu elemen identitas. Hal ini
berbeda dengan apa yang berlaku dalam wacana masyarakat madani yang
menjadikan peranan Islam sebagai faktor dominan. Arena konsep civil society
sepenuhnya berawal dari kemaslahatan manusia sebab civil society bukan
berdasarkan prinsip agama, tetapi kewarganegaraan.
Senada dengan itu, kelompok JIL sejak awal telah bekerjasama dengan
Asia Foundation dalam mendorong demokratisasi dan civil society di Indonesia.
Seperti dijelaskan Ulil dalam Gatra (8 Desember 2001: 66), “kami susun
program, kami ajukan ke Asia Foundation, dan disetujui”. Hal tersebut
to user Officer Islam dan Civil Society
dibenarkan oleh Ahmad Suaedy, commit
selaku Program
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
122
Asia Foundation, “Dalam rangka mendorong demokratisasi dan civil society,
kami memang bekerjasama dengan banyak organisasi Islam”. Bukan hal yang
mustahil bahwa organisasi Islam yang dirangkul dalam kerjasama tersebut adalah
organisasi yang mengangkat agenda-agenda sejalan dengan Barat.
Dari penjelasan program-program JIL sebelumnya selama lima tahun
(2001-2005), dapat diamati beberapa tahapan besar yang berjalan dalam
pengembangan gagasan-gagasan liberalnya. Sejak berdiri tahun 2001 JIL mulai
dari diskusi-diskusi mengenai istilah liberal dalam Islam Liberal dan menyusun
agenda-agenda yang harus dikerjakan. Tahun 2002, seiring dengan datangnya
respon, kritik dan sejumlah peristiwa politik yang banyak mengusung Islam
sebagai kekuatan ideologis, sehingga muncul penolakan terhadap penerapan
syariat dalam negara, JIL mulai menggagas secara serius mengenai teologi negara
sekular. Tahun 2003, pluralisme Nampak menjadi puncak dari agenda-agenda
JIL, di mana sikap toleransi, kebebasan menafsirkan Al-Qur’an, kebebasan
berekspresi (mulai pembahasan agama, seni, dan batasannya) menjadi tema
diskusi yang diusung. Tahun 2004, seiring maraknya pemilu 2004, di mana partai
Islam bersaing dengan legitimasi agama untuk meraih simpati masyarakat,
diskusi JIL diwarnai dengan pembendungan-pembendungan politisasi agama
dalam pemilu, posisi ulama dengan godaan politik kekuasaan sehingga gagasan
sekularisasi Nurcholis Madjid dianggap perlu dikembangkan dengan tidal
mencampuradukkan antara kepentingan politik menggunakan label Islam. Tahun
2005, memuncaknya respon dengan hadirnya Fatwa MUI mengenai haramnya
Sekularisme, pluralisma dan liberalisme semakin memojokkan posisi JIL, namun
JIL tetap intens dalam berbagai diskusinya dan mulai menegaskan kembali
mengapa perlu meniru Barat yang maju, karena Islam terus berubah.
Agenda tersebut mengarahkan pada cita-cita Jaringan Islam Liberal
dalam Islam dan civil society yang sebenarnya adalah implementasi dari bentuk
masyarakat madani dalam terjemahan era modern karena menurut Ulil (Kompas,
18 November 2002) menjelaskan,
…Di sini, saya mempunyaicommit
perbedaan
dengan pandangan dominan. Dalam
to user
usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah, Rasul
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
123
tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil
menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam
sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular, dan
kontekstual.
Kita tidak diwajibkan mengikuti Rasul secara harfiah, sebab apa yang
dilakukan olehnya di Madinah adalah upaya menegosiasikan antara nilainilai universal Islam dengan situasi sosial di sana dengan seluruh kendala
yang ada. Islam di Madinah adalah hasil suatu trade-off antara “yang
universal” dengan “yang partikular”.
Umat Islam harus ber-ijtihad mencari formula baru dalam menerjemahkan
nilai-nilai itu dalam konteks kehidupan mereka sendiri. “Islam”-nya Rasul
di Madinah adalah salah satu kemungkinan menerjemahkan Islam yang
universal di muka Bumi; ada kemungkinan lain untuk menerjemahkan Islam
dengan cara lain, dalam konteks yang lain pula. Islam di Madinah adalah
one among others, salah satu jenis Islam yang hadir di muka Bumi.
Jadi dalam konteks ini Ulil menganggap bahwa masyarakat madani
hanya ada pada masa Rasulullah, yang tidak akan bisa diterapkan di masa
sekarang. Anggapan tersebut jelas bertentangan dengan konsep konstitusi
Modern. Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, & Ni’matul Huda (2008: 47), menjelaskan
bahwa Piagam Madinah atau Konstitusi Madinah yang dibuat
untuk
mempersatukan kelompok-kelompok sosial di Madinah menjadi satu umat dan
mengakui hak-haknya demi kepentingan bersama, merupakan contoh atau teladan
dalam sejarah kemanusiaan dalam membangun masyarakat yang bercorak
majemuk. Ide-ide dalam ketetapan Piagam Madinah tetap mempunyai relevansi
kuat dengan perkembangan dan keinginan masyarakat internasional dewasa ini,
dan telah menjadi pandangan hidup modern berbagai negara di dunia. Tujuan
membentuk masyarakat beradab atau dalam konteks ini disebut civil society yang
penuh dengan toleransi antar umat beragama direpresentasikan dalam menggagas
sekularisme dan pluralisme agama.
a. Kehidupan Politik (Menggagas Agenda Penolakan Negara Syariat)
Diskursus negara syariat sebenarnya bukan diskursus baru dalam wacana
Islam Politik. Panorama seperti ini hampir menjadi karakter utama negara yang
mayoritas penduduknya beragama
Islam.toBisa
commit
user dilihat dari maraknya organisasi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
124
keagamaan yang lantang menyuarakan isu negara syariat di berbagai dunia Islam,
seperti Ikhwan Muslimin (Mesir), Jamaat Islamiyah (India, Pakistan dan
Bangladesh) dan FIS (Aljazair). Syariat Islam menjadi istilah penting dalam
kajian hubungan Islam dengan negara. Sejak terbentuk kesadaran nasionalisme
Indonesia, syariat Islam menjadi salah satu ideologi yang bersaing dengan
kekuatan ideologi lain, pada era tertentu syariat Islam dianggap sebagai kekuatan
yang bisa mengganggu stabilitas Nasional sehingga perlu dikendalikan. Dan di
masa transisi Indonesia menuju Demokrasi, syariat Islam kembali memasuki
arena wacana politik dan gerakan yang cukup sistematis untuk diterapkan sebagai
hukum nasional (Taufik Rahman, 2004: 105-106).
Menguatnya keinginan masyarakat
muslim di tanah air untuk
menerapkan syariat Islam merupakan gejala yang menarik, bukan hanya dalam hal
penerapan yang bersifat teknis, akan tetapi dalam mengungkap dimensi yang
hilang dalam wacana syariat Islam. Terdapat ruang yang lebar untuk memahami
kembali syariat Islam yang hanya dianggap identik dengan istilah “penerapan dan
formalisasi”. Arus reformasi dan demokratisasi yang berkembang pesat pascatotalitarianisme Orde Baru telah mengilhami keterbukaan dan kebebasan untuk
mendiskusikan wacana keagamaan yang telah mengalami keterkungkungan
(Zuhairi Misrawi, 2001: dalam http://islamlib.com/id/artikel/tafsir-humanis-atassyariat-islam, diakses 30 April 2012).
Demokrasi yang dicita-citakan tentunya mempunyai keterbatasan untuk
menampung semua aspirasi primordial yang antagonistik. Demokrasi tidak
memiliki kekuatan yang cukup untuk mengakomodasi kekuatan mayoritas
primordial agar norma-norma primordialnya diberlakukan sebagai kebijakan
publik yang ditegakkan negara, misalnya melalui lembaga pengadilan dan
kepolisian. Setiap Muslim memiliki kepercayaan bahwa kultur politik Nabi
Muhammad adalah pemimpin yang harus diteladani, dan masyarakat politik
(polity) yang dibangun, yakni Madinah, harus dijadikan acuan. Rasulullah bukan
saja seorang pemimpin spiritual umat tapi juga seorang pemimpin politik. Dalam
diri Nabi, dua kekuatan ini menyatu, dan Nabi dipercaya menjalankan
commit
to user Berdasarkan keterangan tersebut
kepemimpinan politiknya atas dasar
Syari’ah.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
125
Saiful Mujani, (2001: dalam http://islamlib.com/id/artikel/syariat-islam-danketerbatasan-demokrasi diakses 30 April 2012) menegaskan
Demokrasi itu sendiri membutuhkan kultur politik demokrasi, yakni kultur
massa mayoritas yang percaya bahwa demokrasi adalah sistem politik
terbaik dibanding sistem lain. Di dalamnya ada keyakinan terhadap
pluralisme politik: keyakinan bahwa keragamaan politik, teruatama yang
berkaitan dengan politik yang bertumpu pada kekuatan primordial seperti
agama, merupakan keniscayaan. Karena itu, tidak boleh ada kekuatan
priomordial apapun untuk memaksakan dirinya menjadi dominan terhadap
kekuatan primordial lain dalam wilayah publik. Kalau kultur ini lemah, di
mana kekuatan primordial mayoritas menuntut menjadi kekuatan dominan
dalam arena publik, maka sistem politik yang cocok untuk ini adalah nondemokrasi, misalnya saja otoritarianisme atau bahkan totalitarianisme.
Sejauh aspirasi politik syari’ah ini terbatas pada kelompok-kelompok dalam
masyarakat, bukan sebagai bagian dari kebijakan publik, maka perbedaan
pemahaman itu relatif masih bisa diakomodasi asal tidak bertentangan
dengan hukum yang berlaku umum. Tapi kalau sudah menjadi keputusan
publik, lewat lembaga-lembaga negara, maka ia akan mengikat semua
Muslim. Kalau ini terjadi, demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang
berfungsi mewadahi pluralisme primordial, termasuk perbedaan pemahaman
tentang syari’ah, mulai terancam keberadaannya.
Maka, pada dasarnya penerapan syariat dianggap sebagai hal yang
mengancam keragaman di Indonesia yang multikultural sehingga kelompok Islam
liberal begitu menolak wacana syariat diterapkan di Indonesia. Penerapan syariat
dikhawatirkan akan menjadi penghambat proses demokrasi yang diharapkan
mampu menampung kebebasan. Secara umum argumentasi kaum liberal untuk
menolak penerapan syariat Islam dapat dikategorikan menjadi tiga. Argumentasi
historis, bahwa hukum Islam adalah produk masa lalu yang dibentuk berdasarkan
latar belakang sosial dan politik masyarakat dan merupakan sebuah respon
terhadap keperluan dan kepentingan masyarakat saat itu. Karena itulah, syariat
Islam tidak mungkin diaplikasikan untuk saat ini karena tidak merefleksikan
kepentingan masyarakat saat ini. Berdasarkan pertimbangan maqashid syariah,
argumentasi ini menyatakan bahwa setiap hukum mempunyai objektif/maqasid
utamanya sendiri. Dan objektif utama syariat Islam secara umum adalah
menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia. Konsep maslahat itu sendiri
commit
to Apa
useryang dianggap maslahat pada saat
berubah seiring dengan berjalannya
waktu.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
126
tertentu dan oleh masyarakat tertentu belum tentu dianggap sama oleh masyarakat
lain dan dalam konteks waktu yang lain. Yang terakhir berdasarkan argumen
pertimbangan Hak Asasi Manusia, syariat Islam yang diterapkan dalam aturan
pemerintahan sebagai dasar hukum dikhawatirkan akan menghambat toleransi dan
melanggar
HAM
(Wildan
Hasan
dalam,
http://www.voa-
islam.com/news/indonesiana/2011/03/16/13797/kejanggalan-pemikiran-ulilabshar-abdalla-tentang-islam/, diakses 10 Juni 2012). Menurut Ulil (Gatra, 21
Desember 2002: 29), pemberlakuan syariat Islam sama saja melibatkan secara
penuh peran negara dalam kehidupan beragama, cara ini bisa mempersempit cara
pandang Islam, Syariat menjadi terjebak dalam urusan larangan-larangan seperti
minuman keras, Jilbab, perzinaan, perkawinan sesama jenis.
b. Terhadap Kehidupan Agama (Mengedepankan Pluralisme Agama)
Pengaruh cara pandang JIL terhadap kehidupan beragama jelas
menimbulkan kontroversi luar biasa khususnya artikel yang ditulis Ulil dalam
Kompas 18 November 2002. Menurutnya, temuan-temuan besar dalam sejarah
manusia sebagai bagian dari usaha menuju perbaikan mutu kehidupan adalah
wahyu Tuhan pula, karena temuan-temuan itu dilahirkan oleh akal manusia yang
merupakan anugrah Tuhan. Karena itu, seluruh karya cipta manusia, tidak peduli
agamanya adalah milik orang Islam juga, tidak ada gunanya orang Islam membuat
tembok ketat antara peradaban Islam dan peradaban Barat: yang satu dianggap
unggul, yang lain dianggap rendah. Sebab, setiap peradaban adalah hasil karya
manusia, dan karena itu milik semua bangsa, termasuk milik orang Islam. Umat
Islam harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa suatu penafsiran Islam
oleh golongan tertentu bukanlah paling benar dan mutlak, karena itu harus ada
kesediaan untuk menerima dari semua sumber kebenaran, termasuk yang
datangnya dari luar Islam. Setiap golongan hendaknya menghargai hak golongan
lain untuk menafsirkan Islam berdasarkan sudut pandangnya sendiri, yang harus
dilawan adalah setiap usaha untuk memutlakkan pandangan keagamaan tertentu.
Ulil berpandangan lebih jauh lagi, bahwa setiap nilai kebaikan, di mana pun
tempatnya, sejatinya adalah nilai commit
Islam juga.
Islam (seperti pernah dikemukakan
to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
127
Cak Nur dan sejumlah pemikir lain) adalah nilai generis yang bisa ada di Kristen,
Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan
sebagainya. Bisa jadi, kebenaran “Islam” bisa ada dalam filsafat Marxisme.
Paham pluralisme sangat dekat dan didukung oleh pandangan Islam
inklusif yang terbuka terhadap kemajuan. Idea of progress bertitik tolak pada
konsepsi atau doktrin bahwa manusia pada dasarnya adalah baik , suci dan cinta
kepada kebenaran dan kemajuan (manusia diciptakan Allah dalam fitrah dan
berwatak hanif). Konsistensi idea of progress adalah sikap mental yang terbuka,
berupa kesediaan menerima dan mengambil nilai-nilai (duniawi) dari mana saja,
asalkan mengandung kebenaran. Jadi, sejalan dengan intellectual freedom,
manusia harus bersedia mendengarkan perkembangan ide-ide kemanusiaan
dengan spectrum seluas mungkin, kemudian memilih mana yang menurut ukuran
objektif mengandung kebenaran (Nurcholish Madjid, 2008: 234). Menurut Madjid
(2008: 235), sikap terbuka merupakan salah satu tanda bahwa seseorang
memperoleh petunjuk dari Allah, sedangkan sikap tertutup, sehingga “berdada
sempit dan sesak bagaikan orang yang beranjak ke langit”, merupakan salah satu
tanda kesesatan.
Di satu sisi, JIL mengedepankan toleransi beragama, namun di sisi lain
pengaruhnya sangat buruk bagi manusia, kelonggaran-kelonggaran yang
dipercaya datang dari Al-Qur’an sebenarnya merupakan kelonggaran yang dibuat
oleh manusia itu sendiri, bisa jadi kelonggaran tersebut telah malampaui batas
toleransi. Kebebasan yang diususng oleh JIL telah meresahkan umat muslim
khususnya bagi kelompok yang awam dan menerima mentah-mentah indahnya
sebuah kebebasan termasuk kebebasan untuk tidak beragama. Menurut Djohan
Effendi (dalam wawancaranya dengan Nong Darol Mahmada, Agustuss 2001,
http://islamlib.com/id/artikel/harus-ada-kebebasan-untuk-tidak-beragama,
diakses 30 April 2012)
Pertama, keberagamaan harus menjadi suatu pilihan, keyakinan. Dan setiap
orang harus meyakini bahwa keberagamaannya itu merupakan keyakinan
yang ultimate. Kalau tidak seperti itu, buat apa beragama kalau kita tidak
meyakini bahwa agama yang kita pegang akan menyelamatkan kita. Kedua,
salah satu wujud keberagamaan
yang
commit
to paling
user dalam adalah ketulusan. Jadi ia
harus secara tulus, tidak ada paksaan untuk menganut agama. Karena itu
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
128
segala macam bentuk paksaan tidaklah dibenarkan, karena musuh yang
paling fundamental dari agama adalah kemunafikan. Jadi kalau orang tidak
memperoleh kebebasan untuk menentukan pilihannya, entah karena paksaan
secara halus ataupun kasar, dalam bentuk apapun, menurut saya tidak akan
lahir keberagamaan yang tulus, yang betul-betul murni. Kalau tidak ada
kemurnian dalam beragama, buat apa?
Pluralisme yang disalahartikan telah menimbulkan berbagai kontroversi
di kalangan umat Islam khususnya di Indonesia. Pluralisme dan toleransi
disuguhkan dengan berbagai argumentasi yang menolak adanya pemaksaan untuk
memeluk satu agama. Menurut Nurcholish Madjid (2001), tidak boleh ada
pemaksaan agama artinya tidak boleh memaksa manusia untuk memeluk satu
agama. Agama-agama yang ada (sepanjang benar-benar bersifat standar dan
mempunyai kitab suci) harus ditolerir dan juga harus diberi hak hidup. Al-Qur’an
bahkan menuntut agar menjalankan ajaran-ajaran agamanya. Berdasarkan hal itu,
secara historis, masyarakat yang paling berhasil belajar soal kemajemukan adalah
masyarakat Islam. Karena itu, negara-negara Islam rata-rata multi-agama, kecuali
Arab Saudi, negara ini menerapkan kebijakan politik yang dimulai Umar bin
Khattab untuk daerah Hijaz. Untuk Hijaz tidak boleh ada agama lain, karena
dimaksudkan sebagai sebuah homebase yang aman. Mereka yang keluar dari
hijaz, dan mereka yang bersedia keluar ke Irak atau Yaman, diberi kompensasi
yang besar. Tapi kalau kita ke Mesir, Yaman, Uni Emirat Arab, Libanon dan lainlain masih banyak orang-orang Nasrani, Yahudi dan lain-lain, dengan Gereja dan
Sinagogenya
(http://islamlib.com/id/artikel/dalam-hal-toleransi-eropa-jauh-
terbelakang, diakses 30 April 2012). Pemahaman-pemahaman semacam ini telah
merasuk dalam pandangan masyarakat Indonesia bukan hanya di kalangan tokohtokoh intelektual saja melainkan hingga lapisan bawah, pemahaman pluralisme
telah mengakar mulai dari pendidikan tingkat Sekolah Dasar, dengan
menanamkan bahwa semua agama adalah sama sehingga perlu adanya toleransi
antarumat beragama.
2. Respon dan Kritik terhadap Jaringan Islam Liberal
Kehadiran dan sepak terjang JIL sejak awal telah memancing respon
commit to user
yang berbeda baik dari masyarakat awam, lintas agama, para ulama bahkan dari
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
129
sesama kelompok muslim moderat-progresif yang memiliki basis teologis yang
mirip. Mulai dari kritik metodologi, respon terhadap proyek-proyek JIL (masalah
penolakan negara syariat, agenda pluralisme, dukungan akan betuk-bentuk
kesetaraan gender, serta kebebasan berekspresi). Respon masyarakat bukan hanya
bersifat diplomatis namun ada juga yang konfrontatif, menggunakan cara-cara
kekerasan untuk membubarkan kelompok JIL, bahkan “Gerakan Indonesia tanpa
JIL” ramai diperjuangkan oleh banyak kalangan yang merasa bahwa JIL telah
sewenang-wenang dalam menginterpretasikan pemahaman kebebasan beragama
secara berlebihan hingga dianggap merusak tata aturan Islam yang telah jelas.
Dukungan
dan
penolakan
mewarnai
perjalanan
JIL
dalam
melanggengkan gagasan Islam Liberal agar dikenal masyarakat dalam kelas yang
beragam. Kelompok pertama datang dari sekelompok intelektual tradisionalis
muda yang sebagian besar adalah staf Lembaga Kajian dan Pengembangan
Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU, di mana Ulil Abshar Abdalla sebagai
koordinator JIL masih menjadi ketua. Sejalan dengan itu Jadul Maulana seorang
pemikir muda NU yang menjadi ketua Yayasan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan
Sosial), Yogyakarta membenarkan keberatan sebagian kalangan muda NU
terhadap kampanye Islam Liberal. Respon muncul dengan mengajukan kritik atas
orientasi liberal JIL yang menurut kelompok ini memiliki bias dan mengarah pada
liberalisme Barat yang tidak memiliki kecocokan dengan Islam. Kemudian
mengajukan sebuah pendekatan alternatif yang disebut dengan post tradisionalis
Islam (Postra). Walaupun mengakui perbedaan atas penafsiran modernitas dan
liberalisme namun Jadul Maulana menyebut “kalangan Post Tradisionalisme
Islam masih bisa mencari dan mencapai titik temu dengan Islam Liberal, terutama
dalam menghadapi dua musuh yang sama: fundamentalisme dan konservatisme“
(Gatra, 8 Desember 2001: 68).
Beberapa repon keras datang dari Adian Husaini dan Nuim Hidayat,
Adnin Armas dan Hartono Ahmad Jaiz. Menurut Husaini dan Hidayat, argumenargumen JIL adalah menyesatkan, meskipun keduanya berusaha untuk tidak
membuat ‘cap sesat’ pada siapapun yang dikritik (Adian Husaini dan Nuim
commit
user diperhatikan adalah kritiknya
Hidayat, 2002: ix). Beberapa fokus
yangto penting
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
130
kepada argumen JIL yang menyatakan orang Budha, hindu, Kristen dan Yahudi
hari ini sebagai ahli kitab, penolakan JIL pada pelembagaan syariat dan tuduhan
mereka kepada JIL sebagai kelompok yang membawa kepentingan imperialis
Barat, Zionisme (Israel) dan jebakan Misionaris Kristen. Poin ini penting
diperhatikan bahwa untuk menggagas agenda masyarakat pluralis sebagai cita
ideal JIL masih akan banyak mendapatkan hambatan dari kebanyakan kaum
Muslim, kritik tersebut dirangkum dalam sebuah karya yang dipublikasikan.
Buku Armas memuat keterlibatan penulis dalam diskusi di milis
[email protected]. Armas menyatakan bahwa apa yang digagas dan
dikembangkan JIL adalah bentuk lain tradisi orientalis yang mencoba
mendangkalkan iman. Selain JIL mencoba menggunakan problem dan sejarah
agama Barat (khususnya Kristen) sebagai masalah yang harus dihadapi umat
Islam, terutama berkenaan dengan gagasan mengenai sekularisasi yang
sebenarnya sama sekali tidak memiliki persamaan historis maupun dukungan teks
dalam Islam. Armas menilai bahwa konsep liberal yang diusung tidak dieksplorasi
secara mendalam sehingga memunculkan ide kebebasan yang liar tanpa batas
(Adnin Armas, 2003: xiv). Sedangkan Jaiz mengkritik identifikasi mengenai
pembaharu Islam sebagai modernis atau liberalis. Pengecapan label modernis atau
liberalis sama sekali tidak Islami sebab terminologi ini menunjukkan sebuah
kontaminasi nilai-nilai Barat yang secular dan tidak Islami. Jaiz menyatakan
bahwa JIL adalah sebuah gerakan yang berbahaya bagi umat Islam, sebab
berupaya
mendangkalkan akidah di balik
anjuran-anjurannya
mengenai
pentingnya ijtihad.
Khoirul Huda (2009: 37), mengutip pandangan Luthfi Assyaukanie
bahwa pertentangan terjadi antara kelompok yang mempunyai cara pandang dan
logika berfikir yang berbalik dalam memaknai Islam sehingga agenda masingmasing kelompok tentu berbeda. Berikut beberapa pandangan yang berbeda di
antara keduanya yang berimplikasi pada agenda gerakan:
a. Di bidang politik, Muslim liberal berpandangan bahwa persoalan politik adalah
masalah ijtihadi yang diserahkan sepenuhnya kepada kaum muslimin, bentuk
commit republik,
to user
negara dan pemerintahan berupa
kerajaan, parlementer, atau
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
131
presidential diserahkan pada kesepakatan anak bangsa. Sedangkan Muslim
Fundamentalis berpandangan bahwa bentuk negara adalah khilafah dengan
dasar syari‘at Islam.
b. Berkaitan dengan hubungan internal umat Islam dan antar umat beragama.
Kelompok Liberal meyebarkan faham pluralisme, inklusivisme dan toleransi,
serta terbuka terhadap peradaban Barat, sebaliknya Islam fundamentalis
cenderung mengembangkan anti-pluralis, eksklusif, menganggap agama lain
sebagai orang kafir dan kelompok terkutuk serta mempercayai secara
berlebihan teori konspirasi Barat dan umat Islam sebagai korbannya.
c. Emansipasi wanita, kelompok liberal berkeinginan kuat mendekonstruksi
beberapa doktrin Islam yang cenderung mendiskreditkan dan merugikan kaum
wanita melalui gerakan feminisme dan persamaan gender. Sedangkan Islam
Fundamentalis lebih membatasi emansipasi secara konservatif pada kewajiban
wanita di sekitar rumah tangga, memakai jilbab, melayani suami dan
membolehkan suami untuk berpoligami.
d. Mengenai kebebasan berpendapat. Islam liberal sangat menghargai kebebasan
berfikir dan berpendapat karena merupakan wilayah privat seseorang, yang
dibatasi hanya kebebasan berekspresi karena dilakukan secara berlebihan akan
berbenturan dengan wilayah Negara. Sedangkan Islam Fundamentalis lebih
cenderung mempromosikan peradaban tekstual Islam.
Kasus-kasus aktual yang menandai adanya konflik tidak sebatas wacana
antara sesama kelompok Islam progresif namun semakin berkembang di
antaranya, tahun 2002 Ulil Abshar Abdalla menuai kritik para ulama dengan
artikel provokatifnya di Kompas 18 November, berjudul “Menyegarkan Kembali
Pemahaman Islam”. Sejumlah ulama menjatuhkan fatwa mati akibat artikelnya
yang
dianggap
menghina
dan
memutarbalikkan
kebenaran
agama.
Menindaklanjuti apa yang kemudian dikenal dengan “Pernyataan Bersama Ulama
dan Umat Islam Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur” di Bandung. Satu di
antara isi pernyataan bersama itu berbunyi, “Menuntut aparat penegak hukum
untuk membongkar jaringan dan kegiatan yang secara sistematis dan masif
commitRasulullah,
to user
melakukan penghinaan terhadap Allah,
umat Islam dan para ulama”.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
132
Seorang perumus fatwa tersebut, KH. Athian Ali Muhammad Da’I yang menjadi
pemimpin acara Silaturahmi Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) bersama
beberapa ulama dari berbagai organisasi ataupun pribadi mengusulkan agenda
actual tertentu agar diangkat dalam pernyataan bersama dan menyepakati empat
poin untuk dinyatakan bersama. Mulai soal penyelesaian hukum kasus Abu Bakar
Ba’asyir, seruan memboikot produk coca-cola, fatwa mati Islam liberal, serta
seruan menentang hegemoni politik Amerika Serikat (Gatra, 21 Desember 2002:
24-25).
Bahkan FPI (Front Pembela Islam) adalah lawan yang paling gencar
untuk membubarkan JIL. Habib Riziq menyebut bahwa Islam Liberal adalah
“Plagiat pemikiran”, karena gagasan-gagasannya hanya meniru tokoh-tokoh
orientalis yang menggagas pembaruan terutama dalam memahami dan menilai
Islam. Kaum Liberal Indonesia dengan semangat mengkampanyekan tentang
perlunya membuat Tafsir Al-Qur’an edisi kritis. Padahal, jauh sebelum kaum
Liberal Indonesia mengkampanyekan hal tersebut, adalah Arthur Jeffery (18931959) seorang tokoh Kristen Methodist dari Australia, dalam buku “The Qur’an
as Scripture” yang diterbitkan pada tahun 1952. Selain itu, masih ada Abraham
Geiger (1810-1874) yang melakukan kajian Al-Qur’an dari konteks ajaran
Yahudi, dan Gustav Weil (1808-1889) yang melakukan kajian Al-Qur’an secara
kronologis, serta Theodor Noldeke (1836-1930) yang melakukan kajian kritis asal
muasal Al-Qur’an, juga Pdt. Edward Sell (1839-1932) yang menggunakan
metodologi “Higher Criticism” terhadap Al-Qur’an, lalu Ignaz Golziher seorang
Yahudi asal Hungaria yang pernah menjadi mahasiswa di Universitas Al-Azhar
(Habib
Rizieq
dalam
http://pondokhabib.wordpress.com/2011/11/08/liberal-
pelacur-pemikiran/, diakses 26 juni 2012).
Kaum Liberal Indonesia dengan agresif mendorong penyatuan semua
agama dengan konsep pluralisme, inklusivisme dan multikulturalisme. Jauh
sebelum ini, Theolog dari kalangan Protestan seperti John Hick dan Paul F.
Knitter, maupun dari kalangan Katholik seperti Raimundo Panikkar, sudah lebih
dulu menyuarakannya. Di kalangan umat Hindu ada nama Ram Mohan Roy
commitajaran
to user
(1772-1833) yang mencampur adukkan
semua agama, kemudian ajarannya
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
133
dilanjutkan oleh Debendranath Tagore dan Kashub Chandra Sen. Kemudian
gerakan ini semakin kuat diusung di kalangan Hindu oleh Ramakrishna (18361886) dan Vivekananda (1863-1902). Kaum Liberal Indonesia menggelorakan
semangat perkawinan sejenis. Namun, jauh sebelum kaum Liberal Indonesia
menyuarakan legalisasi homoseksual dan lesbianisme, Eric James, seorang
pejabat gereja Inggris melalui bukunya “Homosexuality and a Pastoral Church”
telah menghimbau gereja agar mengedepankan toleransi kehidupan homoseksual
dan lesbianisme serta mengizinkan perkawinan sejenis. Bahkan pada November
2003, para pastor Gereja Anglikan di New Hampshire AS sepakat mengangkat
Uskup Homoseks bernama Gene Robinson. Maka, di negara Barat, Homosex dan
Lesbi tidak dianggap sebagai kejahatan selama masyarakat menerimanya (Habib
Rizieq
dalam
http://pondokhabib.wordpress.com/2011/11/08/liberal-pelacur-
pemikiran/, diakses 26 juni 2012).
Kritik lain juga datang dari Mustofa Bisri yang banyak menyorot gaya
tulisan Ulil yang provokatif dan terkesan emosional, sementara Haidar Bagir yang
menyatakan bahwa gagasan-gagasan yang dipromosikan JIL cenderung tidak
memiliki basis teori dan metodologi yang jelas, terutama berhubungan dengan
makna liberal yang multitafsir dan memiliki pengertian yang tidak terbatas
(Gatra, 21 Desember 2002: 27). Syamsuddin, tokoh yang belajar pada orientalis
namun kemudian membuat sebuah karya yang menunjukkan bagaimana orientalis
ingin mengaburkan apa yang sudah jelas dalam aturan Islam juga turut
memberikan kritik atas pandangan orang liberal yang menjelma sebagai
intelektual muslim terutama masalah kesetaraan gender yang sering digaungkan
tokoh-tokoh JIL. Menurut Syamsuddin (2008: 113), tidak ada ayat Al-Qur’an
yang menampakkan misogyny ataupun bias gender. Justru begitu mulianya wanita
dalam Islam hingga berbagai keistimewaan melekat pada diri perempuan. Pada
skala hidup rumah tangga, perempuan dan laki-laki memiliki peran dan
tanggungjawab berbeda namun saling melengkapi, adapun pada skala yang lebih
luas, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, laki-laki dan
perempuan dituntut untuk berperan dan berpartisipasi secara aktif, melaksanakan
commit
to user
amar ma’ruf dan nahi munkar serta
berlomba-lomba
dalam kebaikan.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
134
Respon bukan hanya datang dari individu atau kelompok diskusi tertentu.
Sekularisme, pluralisme dan liberalisme yang marak dan menjalar di kalangan
Islam telah memanggil MUI untuk bertindak. Tanggal 26-29 Juli 2005 dalam
Musyawarah Nasional (Munas)-nya yang ke-7, Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Pusat mengeluarkan 11 fatwa, yaitu;
1.
MUI mengharamkan pelanggaran hak atas kekayaan intelektual termasuk hak
cipta.
2.
MUI mengharamkan perdukunan dan peramalan termasuk publikasi hal
tersebut di media.
3.
MUI mengharamkan do’a bersama antaragama, kecuali do’a menurut
keyakinan atau ajaran agama masing-masing dan mengamini pemimpin do’a
yang berasal dari agama Islam.
4.
MUI mengharamkan kawin beda agama.
5.
MUI mengharamkan warisan beda agama kecuali dengan wasiat dan hibah.
6.
MUI mengeluarkan kriteria maslahat atau kebaikan bagi orang banyak.
7.
MUI mengharamkan pluralisme (pandangan yang menganggap semua agama
sama), sekularisme dan liberalisme. (Keputusan fatwa MUI Nomor:
7/MUNAS VII/MUI/11/2005) Terlampir
8.
Fatwa yang memperbolehkan pencabutan hak pribadi untuk kepentingan
umum. Fatwa MUI ini sama dengan kebijakan pemerintah, asal diberikan
ganti rugi yang layak dan tidak untuk kepentingan komersial.
9.
MUI mengharamkan imam shalat perempuan.
10. MUI mengharamkan aliran Ahmadiyah.
11. MUI memperbolehkan hukuman mati untuk tindak pidana berat
Kontroversi
dan
reaksi
negatif
dari
berbagai
pihak
langsung
bermunculan, fatwa tersebut dianggap tidak mendorong terjadinya dialog
antaragama serta kerukunan dan saling pengertian antar pemeluk agama dan juga
antargolongan dalam satu agama. Terdapat beberapa poin penting karena
dijadikan landasan argument penolakan terhadap fatwa tersebut. Pertama, soal
definisi liberalisme, pluralisme, sekularisme yang dimaksud. Kedua, soal
commitKetiga,
to usersoal pernyataan seseorang corong
kekuatan dan pengaruh fatwa tersebut.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
135
liberal bahwa MUI bukanlah wakil resmi dan satu-satunya kebenaran dalam Islam
(Syamsuddin Arif, 2008: 116-118). Respon balik juga datang dari pihak JIL yang
mempertegas posisinya yang tidak akan membubarkan diri, fatwa MUI dianggap
telah membatasi kebebasan berpendapat di negara yang demokrasi. Namun seiring
dengan itu pergerakan JIL mulai dirasakan pudar dengan perginya Ulil Abshar
Abdalla ke Amerika untuk melanjutkan studinya sekaligus meredam respon
berlebih dari pihak lawan.
Menyimak situs www.islamlib.com, sebagai situs resmi yang terbuka
untuk umum dan memuat banyak lontaran pemikiran yang sangat bervariasi
dalam berbagai bidang, mulai akidah, syariat, sosial dan budaya, politik sampai
politik internasional. Dalam lapangan akidah promosi terhadap teologi inklusif
dan pluralisdipandang sebagai hal yang sangat serius dalam penghancuran akidah
Islam. Konsep persamaan agama dengan menggunakan pemahaman Al-Qur’an
sebagai legitimasi dianggap telah mengaburkan konsep Tauhid Islam (Adian
Husaini dan Nuim Hidayat, 2002: 82). Reinterpretasi terhadap basis teologi
seperti diusulkan oleh kalangan pemikir muslim yang menamakan dirinya liberal,
inklusif, dan pluralis, tampak sekali terlalu dipaksakan. Hal itu karena Islam
hanya mengajarkan toleransi, sebatas menghormati agama lain bukan pluralisme,
dalam arti mengakui kebenaran agama lain. Adanya hambatan teologis seperti
diakukan oleh JIL, dikatakan tidak berdasar. Sejarah Islam dan umat Islam dari
Rasulullah hingga beberapa abad sesudahnya, termasuk hari ini, tidak pernah
menemukan hambatan teologis ketika berinteraksi dengan umat antar-agama.
Karena memang basis teologi yang diajarkan Islam sudah cukup jelas dan mudah
untuk diaplikasikan.
Selain teologi inklusif-pluralis penolakan terhadap penegakan syariat
Islam adalah misi penting yang sangat berpengaruh dalam munculnya responrespon kelompok lawan. Menurut pemahaman kelompok JIL Banyak dampak
negatif yang bakal muncul dari pemaksaan penerapan syariat Islam di Indonesia.
Dari soal kemiskinan, ketidakadilan hukum, hingga perampasan hak-hak
kewarganegaraan akibat sentralisme kekuasaan pada hanya satu penafsiran.
commit
to user
Korban pertama yang bakal muncul
akibat
penerapan syariat Islam itu adalah
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
136
kaum perempuan. Karena, menurut Dr. Moeslim Abdurrahman, banyak sekali
regulasi dalam Islam yang membatasi ruang gerak kaum perempuan (Kutipan
wawancara
Ulil
dan
Moeslim
Abdurrahman,
2001
dalam
http://islamlib.com/id/artikel/korban-pertama-dari-penerapan-syariat-adalahperempuan, diakses 30 April 2012). Seperti kutipan jawaban Ulil dalam
menjawab pertanyaan mengenai dampak dari pelaksanaan syariat Islam yang
sekarang ramai dituntut sebagian kaum muslim di Indonesia:
Kalau kita belajar dari pengalaman di Sudan atau Pakistan atau negeri Islam
lainnya yang lebih dahulu melakukan penerapan syariat Islam, saya kira,
pihak pertama yang paling merasakan dampak pelaksanaan syariat islam
adalah kaum perempuan. Ini karena banyaknya regulasi dalam Islam dalam
pelbagai hal. Misalnya, soal pengenaan pakaian dan lain-lain.
Kedua, kelompok minoritas non-muslim. Alasannya, saat ini kita sedang
mencari tafsiran sesungguhnya kalau syariat islam diterapkan dalam bentuk
hidup bersama. Apakah kalau kita merefer kepada Piagam Madinah, masih
tergambar bahwa kelompok Islam berkuasa dan oleh karenanya ada
perlindungan. Sementara kelompok non-Muslim menjadi warga kelas dua.
Ketiga, sebagaimana yang terjadi di Sudan dan lain-lain, kalau syariat Islam
diterapkan dengan asumsi hukum hudud dilaksanakan secara konsisten,
maka orang-orang miskin menjadi korban paling pertama.
Pandangan yang tidak menyeluruh mengenai konsep syariat telah
menjebak kelompok Islam Liberal tidak lain adalah proses pertempuran peradaban
global yang terjadi pada berbagai lini:politik, ekonomi, pemikiran, informasi. Hal
ini dianggap sebagai agenda imperialis sejati yang diteruskan oleh tangan-tangan
kelompok liberal. Syariat Islam yang sudah baku diacak-acak dan dianggap kuno,
ketinggalan zaman dan tidak relevan lagi dengan nilai-nilai demokrasi Barat
(Adian Husaini dan Nuim Hidayat, 2002: 166)
Perlu dipahami, bahwa respon dan kritik tajam atas pergerakan JIL bukan
tanpa alasan. Artikel-artikel kontroversial semakin sring di muat, mulai dari
urusan negara, proyek menerbitkan Al-Qur’an edisi kritis, pelegalan pernikahan
beda agama, masalah seni (pornoaksi dan pornografi hingga goyang inul) di mana
fanatik beragama akan menghapus seni budaya, pandangan terhadap jilbab yang
dianggap budaya arab saja, sampai tuntutan pelegalan hubungan sesama jenis
commit to user
yang dirasa merupakan hak asasi manusia yang harus dilindungi (seperti kasus
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
137
Irshad Manji, muslimah pendukung dan penganut lesbianisme yang justru
dianggap pejuang wanita yang mampu berontak dengan tulisan-tulisannya).
Penyimpangan-penyimpangan itu bukan hanya terjadi karena pemikiran tokohtokoh JIL yang terlalu liberal sehingga melampaui batas-batas agama. Namun
kepercayaan akan teori Francis Fukuyama yang mengasumsikan bahwa sejarah
akan berhenti pada prototype liberal Barat dan seluruh dunia harus mengikuti
prototype ini (Khadhar, 2005: 99). Kegandrungan akan kemajuan Barat masih
dijunjung tinggi oleh kelompok Jaringan Islam Liberal sehingga bukan hal yang
mustahil bahwa jaringan ini akan terus ada dan mengembangkan gagasan melalui
tulisan-tulisan
tokoh-tokohnya
karena
bentuknnya
(menggunakan istilah ”jaringan” bukan organisasi resmi).
commit to user
yang
tidak
formal
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
C. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Di Indonesia prinsip liberal-sekular masuk bersama dengan kolonialisasi dan
pengaruh orientalis. Kedatangan Snouck Hurgronje dengan politik Islam
pemerintah Hindia-Belanda telah memberi kebebasan dalam hal ibadah dan
sosial kemasyarakatan, tetapi dalam politik pemerintah mencegah setiap upaya
yang akan membawa rakyat pada fanatisme dan Pan Islam. Gagasan Islam
liberal kembali berkembang pada tahun 1970-an. Pasca penumpasan PKI,
pemerintah Orde Baru yang lebih dekat dengan pengaruh Barat mempercayai
bahwa Islam dapat menghambat pembangunan. Gerakan radikal seperti
Komando Jihad serta penerapan Pancasila sebagai asas tunggal berdampak
pada dibubarkannya sejumlah partai politik dan ormas Islam. Virus Islam
phobia semakin memarjinalkan Islam khususnya dalam bidang politik karena
dikhawatirkan akan mengancam kedudukan pemerintah. Reformasi juga
menjadi pendorong luasnya politisasi agama dan tuntutan negara syariat yang
menganggap
rezim
Orde
Baru
telah
mengalami
kegagalan
dengan
pemerintahan sekularnya, sehingga bermunculan kelompok-kelompok Islam
fundamentalis yang radikal dan represif dalam mengatasi masalah umat.
Beberapa faktor tersebut telah mendorong Ulil Abshar Abdalla dan aktivis pro
kebebasan termasuk pejuang kebebasan pers seperti Goenawan Mohammad
yang tergabung dalam kelompok diskusi (Kajian Utan Kayu) pada awal tahun
2001 menggagas jaringan yang mewadai diskusi-diskusi seputar isu-isu
kontemporer yang dikenal dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).
2. Jaringan Islam Liberal memperkenalkan pemikiran Islam Liberal secara luas
melalui beberapa agenda yang diklasifikasikan dalam empat agenda utama.
Agenda pertama adalah agenda politik, berusaha menolak penegakan syariat
commit to user
Islam dalam sistem pemerintahan dan mendukung sekularisme. Agenda kedua
138
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
139
adalah agenda yang berkaitan dengan kehidupan antar-agama (toleransi
agama),
mendorong teologi pluralisme menjadi sesuatu yang
harus
dikembangkan dalam masyarakat majemuk. Agenda ketiga adalah agenda
emansipasi wanita, difokuskan pada kajian kritis terhadap beberapa doktrin
agama yang cenderung merugikan dan mendiskreditkan kaum perempuan.
Agenda keempat tentang kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi,
berkaitan erat dengan masalah Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Strategi
pengembangan gagasan Islam liberal dilaksanakan dengan bantuan dana dari
The Asia Fondation. Kampanye Islam liberal gencar dilancarkan melalui
berbagai cara, mulai dari forum kajian dan diskusi dalam kelompok kecil
ataupun kampus-kampus, melalui media cetak seperti Gatra, Tempo, Jawa Pos
(mendapat porsi khusus dengan nama Kajian Islam Utan Kayu), hingga media
elektronik (kantor berita radio 68H) termasuk internet dengan website resmi
yang memuat seluruh arsip diskusi dan rubrik lainnya (www.islamlib.com).
3. Jaringan Islam Liberal mengarahkan tujuannya pada cita-cita civil society.
Penegasan terhadap penolakan negara syariat (menggagas teologi negara
sekular) dan pluralisme agama sebagai pembentuk civil society yang dalam
perkembangannya justru mengalami respon dan kritik berbagai pihak.
Kesuksesan dalam mengelola website www.islamlib.com,
mulai rubrik
reportase, kolom, editorial, wawancara, klipping, pernyataan pers, tokoh,
sampai resensi buku, tercatat sejak tahun 2001 sampai 2005 berjumlah 743
tulisan memperjelas agenda JIL sesuai dengan isu yang berkembang pada
masing-masing periode. Sejak berdiri tahun 2001 JIL mengawali diskusidiskusi mengenai istilah liberal dalam Islam Liberal dan menyusun agendaagenda penting. Tahun 2002, bersamaan dengan datangnya respon, kritik dan
sejumlah peristiwa politik yang banyak mengusung Islam sebagai kekuatan
ideologis, sehingga muncul penolakan terhadap penerapan syariat dalam
negara, JIL mulai serius menggagas teologi negara sekular. Tahun 2003,
pluralisme menjadi puncak dari agenda-agenda JIL, di mana sikap toleransi,
kebebasan menafsirkan Al-Qur’an, kebebasan berekspresi (mulai pembahasan
commit to
user
agama, seni, dan batasannya) menjadi
tema
diskusi yang diusung. Tahun 2004,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
140
partai Islam bersaing dalam Pemilu dengan menggunakan agama sebagai
legitimasi untuk meraih simpati masyarakat, diskusi JIL diwarnai dengan
pembendungan-pembendungan politisasi agama, posisi ulama dan politik
kekuasaan, sehingga mendorong gagasan sekularisasi Nurcholis Madjid
dianggap perlu dikembangkan. Tahun 2005, puncaknya respon terhadap sepak
terjang JIL dengan keluarnya Fatwa MUI mengenai haramnya sekularisme,
pluralisme dan liberalisme semakin memojokkan posisi JIL, namun JIL tetap
intens dalam berbagai diskusi dan mulai menegaskan kembali perlunya meniru
Barat yang maju karena jauh dari dominasi agama.
D. Implikasi
1. Teoritis
Implikasi Teoritis dari hasil penelitian ini adalah proyek Jaringan Islam
Liberal yang terangkum dalam beberapa agenda khususnya isu-isu kontemporer
mengenai penerapan sekularisme, pluralisme, kebebasan berpendapat, dan
masalah kesetaraan gender adalah rangkaian yang dipercaya mampu mewujudkan
masyarakat demokratis. Fungsi demokrasi menjadi penting (essential) bagi suatu
negara untuk menerapkan demokratisasi ke dalam proses pemerintahannya.
Dalam penelitian ini menemukan bahwa bagi negara yang mayoritas penduduknya
muslim harus lebih peka dalam melihat realita di masyarakat karena tidak semua
pemegang kekuasaan menyetujui demokrasi ala Barat.
Jaringan Islam Liberal berusaha menjadi bagian bahkan jaringan yang
mempelopori agenda demokrasi di samping banyak organisasi dan institusi Islam
yang telah ada. Secara umum, agenda Jaringan Islam Liberal menghendaki sebuah
negara yang mengedepankan asas demokrasi terutama dalam penempatan agama
sehingga pluralism dan sekularisme dianggap menjadi jalan untuk terbentuknya
masyarakat Madani yang dalam konteks ini disebut dengan civil society. Selain
itu, pemahaman pada pemaknaan sekularisme dan sekularisasi, serta pluralisme
dan pluralitas juga menjadi kajian penting yang memerlukan pendalaman teori
bagi peneliti
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
141
2. Praktis
Implikasi secara praktis dari hasil penelitian ini dalam dunia pendidikan
adalah memperlihatkan bagaimana pertentangan antara kelompok fundamentalis
dan liberalis merupakan fenomena yang telah mengakar dari peradaban kuno
dengan nama dan tokoh yang berbeda namun pada dasarnya memiliki substansi
yang sama. Bahkan pada tingkat sekolah terutama perguruan tinggi, kelompokkelompok yang mewakili dua kubu tersebut juga mengalami pertentangan. Karena
tidak bisa dipungkiri bahwa liberalisasi agama sangat mudah masuk melalui jalur
pendidikan, hal ini terlihat pada sebagian besar tokoh-tokoh JIL yang justru
berlatar belakang pendidikan tinggi.
Keberadaan Jaringan Islam Liberal (JIL) di era reformasi yang menuai
berbagai protes terutama dari kalangan ulama bahkan tokoh-tokoh progresif yang
sama-sama mengusung ide kemajuan, hal ini menunjukkan bahwa perbedaan
pandangan bisa disebabkan bukan hanya karena pengaruh luar namun dari
subyektifitas tokoh-tokoh tersebut (baik dari latar belakang pendidikan atau
kondisi sosial yang membesarkannya). Bagaimanapun juga ajaran Islam adalah
ajaran yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadist, sehingga konsep
relativitas tidak bisa diterapkan dalam segala bidang kehidupan karena tidak
semua yang diajarkan dalam Islam bisa dirasionalkan.
3. Metodologis
Implikasi metodologis dari penelitian ini adalah dengan penggunaan
metode historis memudahkan peneliti dalam mengumpulkan sumber melalui studi
pustaka, namun banyaknya sumber yang ditemukan dengan berbagai sudut
pandang masing-masing penulis membuat proses kritik dan interpretasi data harus
ditempuh dalam waktu yang lama. Perbedaan dalam hal-hal pemaknaan dan
pengklasifikasian beberapa definisi penting membuat peneliti harus menelaah
berulang kali sumber-sumber yang diperoleh agar meminimalisir subyektivitas
dalam penulisan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
142
E. Saran
Berdasarkan pembahasan dalam hasil penelitian di atas, maka saran yang
dapat diberikan oleh peneliti sebagai berikut:
3. Bagi Para Pembaca
Bagi para pembaca, terutama pendidik dan pelajar, penelitian ini
diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai sejarah pemikiran Islam di
Indonesia khususnya Islam Liberal yang oleh beberapa pihak dianggap sesat
karena telah menunjukkan penyimpangan dalam proses liberalisasi Islam.
Masalah Pemikiran Islam masih dianggap tabu untuk diketahui masyarakat awam,
sehingga tidak di semua pembelajaran hal-hal mengenai konflik dalam tubuh
Islam di bahas secara mendalam. Arus Islam Liberal yang mudah masuk melalui
jalur pendidikan mendorong pihak-pihak dilingkungan pendidikan harus secara
intens
melakukan
pembendungan
terhadap
paham-paham
Islam
yang
menyimpang. Diskusi dan kajian keislaman terutama dilingkungan perguruan
tinggi diharapkan bisa dilaksanakan secara terbuka dan mampu menarik seluruh
kalangan, karena diketahui selama ini sebagian besar acara dengan tema
keislaman kurang diminati mahasiswa secara umum.
4. Bagi Para Peneliti Selanjutnya
Bagi para peneliti, diharapkan ada yang tertarik untuk meneliti lebih jauh
mengenai perkembangan Jaringan Islam Liberal, karena diketahui pasca keluarnya
fatwa Majelis Ulama Indonesia tahun 2005 aktivitas JIL sempat memperkecil
intensitas pergerakannya namun tetap dengan tegas tidak akan membubarkan diri.
Bahkan mulai ramai kembali dengan munculnya isu-isu terorisme yang
mengancam tokoh-tokoh JIL di Indonesia. Selain itu, bersamaan dengan semakin
kerasnya perlawanan dari kalangan Islam Fundamentalis di tahun 2012 ini
kelompok Islam Liberal muncul dengan wajah-wajah baru yang kebanyakan
digawangi oleh aktivis muda pengagum kebebasan. Fenomena tersebut menarik
untuk menjadi bahan kajian para peneliti terutama yang menekuni bidang
pemikiran Islam guna membendung imperialisme gaya baru yang beralih dari
commit to user
perang fisik ke perang pemikiran.
Download