peningkatan pemahaman dan prestasi belajar ipa biologi materi

advertisement
Peningkatan Pemahaman dan Prestasi Belajar IPA Biologi Materi Sistem....
PENINGKATAN PEMAHAMAN DAN PRESTASI BELAJAR IPA
BIOLOGI MATERI SISTEM DALAM KEHIDUPAN TUMBUHAN
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EXPERIENTIAL LEARNING
PADA SISWA VIII B SMP N 3 TULUNG KLATEN
SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Harjono
Abstrak : Penelitian ini dilakukan sebagai upaya menjawab permasalahan yang terjadi di kelas VIII B
SMPN 3 Tulung, yaitu, kurangnya motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII B dalam memahami dan menjawab
soal-soal yang berkaitan dengan Sistem Kehidupan Tumbuhan dalam Pelajaran IPA Biologi. Rendahnya motivasi
dan hasil belajar siswa materi Sistem Kehidupan Tumbuhan ini menyebabkan banyak siswa yang mendapatkan
nilai di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dalam Pelajaran IPA Biologi.
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII
SMPN 3 Tulung Sukorini dalam Pelajaran IPA Biologi. Metode yang digunakan untuk meningkatkan motivasi
dan hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah Metode Experiential Learning atau Pembelajaran melalui
pengalaman.
Penelitian ini menggunakan empat tahap PTK, yaitu, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi,
penulis berhasil meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa secara signifikan. Dari hasil yang diperoleh
melalui penelitian ini, penulis berkesimpulan bahwa metode pembelajaran Experiential Learning mampu
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII B SMPN 3 Tulung dalam memahami materi Sistem
Kehidupan Tumbuhan.
Kata Kunci : Kehidupan Tanaman, Experiential Learning
LATAR BELAKANG MASALAH
Pemeo klasik mengatakan, “Pengalaman
adalah guru yang terbaik.” Maka, orang bijak adalah
orang yang bisa belajar dari pengalaman, ia tidak akan
melakukan kesalahan yang sama dua kali. Sayangnya,
yang lebih banyak terjadi dalam proses belajarmengajar di sekolah-sekolah adalah pemberian teori
dan konsep tanpa praktik dan pengalaman langsung.
Padahal, tanpa pengalaman langsung, pelajaran berupa
teori dan konsep nyaris tidak bermakna bagi kehidupan
seseorang. Terlebih dalam pelajaran IPA Biologi selalu
berkaitan dengan alam dan kehidupan makhluk hidup.
Materi pembelajaran dalam IPA Biologi hampir
seluruhnya berkaitan dengan kehidupan nyata yang
membutuhkan pengamatan langsung, pengalaman,
dan praktik secara nyata. Mulai dari pemahaman
tentang pertumbuhan dan perkembangan manusia,
sistem gerak pada manusia, sistem pencernaan
manusia, sistem pernapasan manusia, sistem
peredaran darah hingga materi yang berkaitan dengan
sistem dalam kehidupan tumbuhan.
Sayangnya, pembelajaran biologi selama ini
masih lebih banyak disampaikan dalam bentuk teori
di kelas sehingga siswa mengalami kesulitan untuk
* Staf Pengajar SMP Negeri 3 Tulung Klaten
Magistra No. 99 Th. XXX Maret 2017
ISSN 0215-9511
17
Peningkatan Pemahaman dan Prestasi Belajar IPA Biologi Materi Sistem....
memahami langsung apa dan bagaimana
sesungguhnya proses perkembangan dalam tumbuhan
itu. Dengan belajar secara langsung mengalami dalam
praktik, siswa akan merasa bahwa Biologi berisi halhal konkret yang bisa diamati, dipraktikkan dan diuji
kebenarannya melalui eksperimen dan pengalaman
Dengan model pembelajaraan kooperatif
melalui metode Experiential Learning atau
pembelajaran melaui pengalaman dan praktik
langsung di lapangan diharapkan siswa kelas VIII B
SMPN 3 Tulung, Klaten dapat meningkatkan
langsung dengan objek materi yang disampaikan.
pemahaman dan prestasi belajar untuk Materi Sistem
dalam Kehidupan Tumbuhan dalam Mata Pelajaran
Pelajaran Biologi merupakan salah satu mata
pelajaran yang membutuhkan praktik dan pengalaman
IPA sehingga memiliki nilai akademik yang melebihi
standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
langsung dengan metode pembelajaran yang tepat
untuk meningkatkan pemahaman dan prestasi belajar
RUMUSAN MASALAH
siswa di sekolah. Selain dibutuhkan eksperimen atau
demonstrasi dalam pembelajaran,, juga dibutuhkan
suasana yang mendukung proses pembelajaran siswa
agar tidak terjadi kejenuhan dan kebosanan siswa saat
belajar di kelas. Oleh sebab itu, dibutuhkan metode
pembelajaran yang tepat dan mampu menunjang
penguasaan siswa terhadap materi pelajaran. Oleh karenanya, dibutuhkan metode pengajaran
baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan para siswa
dan mampu menghidupkan situasi di kelas menjadi
lebih aktif, kreatif dan menumbuhkan semangat para
siswa untuk bekerjasama dan belajar secara lebih baik.
Dibutuhkan metode belajar kooperatif untuk
membangun jiwa kebersamaan dan kebiasaan
bekerjasama di antara para siswa agar lebih dapat
memaksimalkan hasil belajar mereka.
Pembelajaran kooperatif merupakan model
pembelajaran menggunakan sistem pengelompokkan
atau tim kecil, yaitu antara empat sampai lima orang
yang mempunyai latar belakang kemampuan
akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda
atau heterogen (Sanjaya, 2008: 242). Tokoh lain
mengungkapkan, pembelajaran kooperatif adalah
pemanfaatan kelompok kecil dalam pembelajaran
yang memungkinkan siswa bekerja sama (Semiawan,
1992: 4).
18
Dari latar belakang masalah, identifikasi
masalah dan pembatasan masalah yang dikemukakan
di atas, penulis merumuskan dua masalah pokok dalam
penelitian ini sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah pengaruh metode
pembelajaraan kooperatif tipe Experiential
Learning pada Pembelajaran IPA Biologi dalam
meningkatkan pemahaman siswa kelas VIII B
SMPN 3 Tulung, Klaten terhadap materi Sistem
dalam Kehidupan Tumbuhan?
2.
Bagaimanakah pengaruh pembelajaran
kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa pada materi Sistem dalam Kehidupan
Tumbuhan dalam Pembelajaran IPA Biologi pada
siswa Kelas VIII B SMPN 3 Tulung, Klaten?
METODOLOGI
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah pendekatan kualitatif karena objek penelitian
memiliki kriteria-kriteria sebagaimana dijelaskan
Moleong (2005: 8-13) sebagai berikut: (1) Latar
alamiah; (2) Manusia sebagai alat (instrumen); (3)
Menggunakan metode kualitatif; (4) Analisis data
secara induktif; (5) Teori dari dasar (grounded
theory); (6) Deskriptif; (7) Lebih mementingkan
proses daripada hasil; (8) Adanya batas yang
Magistra No. 99 Th. XXX Maret 2017
ISSN 0215-9511
Peningkatan Pemahaman dan Prestasi Belajar IPA Biologi Materi Sistem....
ditentukan oleh fokus; (9) Adanya kriteria khusus
untuk keabsahan data; (10) Desain yang bersifat
Gambar Siklus PTK Hopkins
sementara; dan (11) Hasil penelitian dirundingkan dan
disepakati bersama.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan
kelas (PTK) atau yang lebih dikenal dengan istilah
action research. Hakikat dari action research
terletak pada adanya tindakan atau aksi dalam situasi
yang alami untuk mengenali adanya masalah dalam
proses pembelajaran tertentu, kemudian berusaha
memberikan solusi atas masalah ini guna
meningkatkan dan memperbaiki proses pembelajaran
yang dilakukan selama ini. Penelitian tindakan kelas
merupakan suatu tindakan yang secara khusus diamati
terus-menerus, dilihat plus-minusnya, kemudian
diadakan pengubahan terkontrol sampai pada upaya
maksimal dalam bentuk tindakan yang paling tepat
(Arikunto, 2006: 3).
Prosedur penelitian ini dirancang dengan
menggunakan model penelitian tindakan yang terdiri
dari empat komponen tindakan, yaitu: perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan dan refleksi dalam suatu
sistem saling terkait yang disebut siklus atau daur.
Setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah,
yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan belajarmengajar. Model PTK yang digunakan dalam
penelitian ini dapat dijelaskan melalui lingkaran PTK
Hopkins (1993: 48) sebagai berikut:
Merujuk pada gambar di atas, setiap siklus
dilaksanakan dalam empat tahap: perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pertama
penulis merencanakan metode dan strategi
pembelajaran yang tepat untuk setiap sesi pertemuan.
Setelah rencana dibuat, kemudian dilaksanakan dalam
proses belajar-mengajar, diamati, dan direfleksikan
dalam bentuk evaluasi dan penilaian atas seluruh
proses ini.
Setelah dilakukan refleksi, penulis melakukan
revisi atau perbaikan atas rencana pada siklus pertama
agar mendapatkan hasil maksimal pada siklus kedua.
Perbaikan rencana penelitian ini akan diterapkan pada
tahap-tahap penelitian selanjutnya seperti dalam siklus
pertama, yaitu, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Dalam siklus kedua inilah diharapkan akan dicapai
hasil maksimal sesuai dengan yang ditargetkan dalam
penelitian ini.
Siklus dalam penelitian ini dibatasi dalam dua
siklus. Pembatasan pada dua siklus ini dimaksudkan
agar peneliti benar-benar dapat memperoleh hasil yang
maksimal dari penerapan strategi experiential
learning untuk meningkatkan pemahaman dan
prestasi belajar siswa Kelas VIII B SMPN 3 Tulung,
Magistra No. 99 Th. XXX Maret 2017
ISSN 0215-9511
19
Peningkatan Pemahaman dan Prestasi Belajar IPA Biologi Materi Sistem....
Klaten dalam pelajaran IPA Biologi. Artinya, jika
dalam Siklus 1 belum ditemukan hasil yang maksimal,
membentuk konsep-konsep abstrak (forming
abstract concepts); dan diakhiri dengan (4) pengujian
maka pada Siklus 2 digunakan pendekatan yang
berbeda agar diperoleh hasil yang diinginkan.
dalam situasi yang baru dan berbeda (testing in new
situations). Proses ini bisa dimulai dari mana saja,
tetapi harus dilanjutkan dengan langkah berikutnya
sebagai satu rangkaian dalam putaran yang tak
PEMBAHASAN
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, strategi
pembelajar an experiential learning untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pelajaran
IPA Biologi untuk materi Sistem dalam Kehidupan
Tumbuhan.
Strategi pembelajaran experiential learning
pertama kali digagas oleh David A. Kolb (1984)
dengan mengadopsi filsafat John Dewey Kurt Levin.
Kolb memaknai belajar sebagai “proses di mana
pengetahuan diciptakan melalui transformasi
pengalaman” (1984: 38). Teori Kolb disajikan dalam
sebuah model siklus atau lingkaran pembelajaran yang
digambarkan sebagai berikut:
terputus.
Langkah-langkah experiential learning
menurut bagan di atas dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Siswa menceritakan pengalaman yang relevan
dengan materi Sistem dalam Kehidupan
Tumbuhan;
2. Pengalaman ini kemudian dijadikan tema bahasan
agar semua siswa memahami cara belajar dari
pengalaman;
3. Siswa diberi pemahaman ihwal cara
mengungkapkan pengalaman dalam bentuk
konsep;
4. Konsep siswa kemudian diuji oleh guru dan siswa
lain dengan merujuk pada buku panduan mata
pelajaran Biologi Kelas VIII.
Sebelum melangkah pada pelaksanaan
tindakan, peneliti melakukan perencanaan untuk
meningkatkan pemahaman siswa kelas VIII B SMPN
3 Tulung agar dapat meningkatkan nilai pelajaran IPA
Biologi untuk materi Sistem Kehidupan pada
Tumbuhan yang menjadi tugas peneliti sebagai guru
Gambar Lingkaran Experiential Learning dari Kolb
pengajar. Karenanya, sebelum dilakukan PTK, peneliti
Lingkaran Kolb ihwal Strategi Pembelajaran
menentukan target penelitian atau indikator kinerja,
yaitu, lebih dari 70 persen siswa yang menjadi subyek
Eksperiensial (Kolb’s Experiential Learning Cycle)
adalah lingkaran pembelajaran yang dimulai dengan:
penelitian ini mampu mendapatkan nilai sesuai dengan
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu pada
(1) pengalaman konkret (concrete experience), dari
pengalaman konkret ini kemudian dilakukan; (2)
angka 75. Artinya, setelah penelitian tindakan kelas
ini dilakukan, setidaknya ada lebih dari 18 siswa yang
pengamatan dan perenungan atau observasi dan
refleksi (observation and reflection); setelah itu, (3)
mampu mendapatkan nilai minimal 75 atau lebih.
20
Magistra No. 99 Th. XXX Maret 2017
ISSN 0215-9511
Peningkatan Pemahaman dan Prestasi Belajar IPA Biologi Materi Sistem....
Target ini dibuat mengingat sebelum dilakukan
PTK, keadaan nilai siswa masih jauh dari harapan,
pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan
pemahaman dan nilai siswa dalam bidang IPA Biologi,
yaitu, 16 orang siswa atau 61,5% siswa masih memiliki
nilai di bawah KKM, tujuh siswa atau 27 % berhasil
mencapai KKM (75), dan sisanya, 3 siswa atau 11,5
% berhasil mencapai nilai di atas KKM. Untuk lebih
terutama yang berkaitan dengan materi Sistem dalam
Kehidupan Tumbuhan.
jelasnya, kondisi nilai hasil belajar siswa dalam
pelajaran IPA Biologi, terutama dalam materi Sistem
dalam Kehidupan Tumbuhan dapat dijelaskan melalui
tabel di bawah ini.
Tabel 4.4.
Persentase Nilai Siswa Kelas VIII B
Pra-PTK Berdasarkan KKM
No
Nilai Diukur
dari KKM
1
Di atas KKM
Jumlah Persentase
3
11,5 %
2 Mencapai KKM
7
27%
3
16
61,5 %
Di bawah KKM
Grafik Nilai Siswa Kelas VIII B
Pra-PTK Berdasarkan KKM
Siklus I
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, hal pertama yang
peneliti lakukan adalah menyusun rencana program
pengajaran (RPP) yang akan dijadikan panduan
untuk mener apkan metode pembelajaran
experiential learning di kelas VIII BSMPN 3
Tulung, Klaten. Peneliti menyusun RPP
berdasarkan kurikulum IPA Biologi untuk kelas
VIII B dan meminta para siswa untuk ikut
menentukan model pengajaran di kelas selama tiga
bulan, dimulai dari Juli hingga September 2016.
RPP dirancang sesuai dengan kurikulum
yang berlaku di kelas VIII B semester ganjil tahun
pelajaran 2016/2017. Untuk penelitian tindakan
kelas ini, penulis focus pada satu pokok bahasan
yang menjadi tema utama penelitian ini, yaitu,
Sistem dalam Kehidupan Tumbuhan. Tema ini
sedikitnya memiliki lima sub-tema, yaitu: Struktur
Tumbuhan; Pengangkutan Air pada Tumbuhan;
Cara Tumbuhan Memperoleh Energi; Macammacam Gerak pada Tumbuhan; serta Hama dan
Penyakit pada Tumbuhan.
b. Pelaksanaan
Hasil pengamatan di atas menjadi bahan
Pelajaran IPA Biologi di kelas VIII B
SMPN 3 Tulung, Klaten diberikan setiap hari
pertimbangan peneliti untuk melaksanakan metode
pembelajaran yang dapat meningkatkan nilai siswa
dalam pembelajaran materi Sistem dalam Kehidupan
Tumbuhan dalam Mata Pelajaran IPA Biologi di SMP
Kelas VIII B. Peneliti menetapkan model
Selasa, mulai jam 9.30 sampai dengan jam 11.00
WIB. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari
Selasa, 19 Juli 2016. Pada pertemuan ini tema yang
dibahas adalah Struktur Tumbuhan.
pembelajaran experiential learning sebagai model
pertanyaan kepada siswa, siapa saja yang sudah
Magistra No. 99 Th. XXX Maret 2017
ISSN 0215-9511
Di awal pertemuan, peneliti mengajukan
21
Peningkatan Pemahaman dan Prestasi Belajar IPA Biologi Materi Sistem....
pernah melihat tumbuhan dan struktur-struktur
yang menyusunnya ini. Hampir seluruh siswa
mengacungkan tangannya sebagai jawaban
afirmatif atas pertanyaan ini. Artinya, hampir
semua siswa mengaku pernah dan bahkan sering
melihat tumbuhan dan struktur-struktur yang
menyusunnya. Atas dasar ini, peneliti meminta
siswa satu per satu untuk menjelaskan struktur dan
nama tumbuhan yang sering atau pernah mereka
lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan ini, hal pertama yang
dilakukan peneliti adalah membimbing siswa untuk
memerhatikan dengan seksama beberapa jenis
tanaman yang ada di sekolah. Ternyata, pada
dasarnya semua jenis tanaman yang ada di sekitar
lingkungan sekolah dibangun atas tiga organ dasar
yang sama, yaitu akar, batang dan daun. Kemudian
peneliti memberi pertanyaan, apakah fungsi dari
masing-masing organ tanaman tersebut?
Masing-masing siswa boleh memberikan
jawaban ber dasarkan pengetahuan dan
pengalaman masing-masing, tetapi juga boleh
menjawab dengan mencari bahan-bahan bacaan
dalam buku pembelajaran sehingga lebih lengkap
dan mendekati fakta yang sebenarnya.
Peneliti kemudian menjelaskan bagianbagian tubuh tanaman yang dimulai dari penjelasan
tentang akar, batang, dan daun. Akar memiliki
rambut-rambut akar yang berfungsi menyerap air
dan mineral dari dalam tanah. Semakin banyak
rambut akar yang dimiliki, semakin luas daerah
permukaan epidermis akar yang dapat bersentuhan
dengan tanah. Luasnya daerah permukaan
berakibat pada semakin banyaknya air dan mineral
dari tanah yang diserap oleh akar.
c. Pengamatan
Dalam pengamatan terhadap penguasaan
siswa atas materi IPA Biologi yang telah dibahas
dalam dua pertemuan sebelumnya. Siswa diberi
kesempatan untuk menjawab setiap soal yang
peneliti berikan dengan cara mereka sendiri, tidak
boleh mencontek hasil pekerjaan teman, tetapi
boleh bertanya pada peneliti bila ada soal yang
kurang jelas.
Hasil dari pengamatan ini berusaha
menjelaskan adanya peningkatan pemahaman dan
kemampuan siswa dalam pelajaran IPA Biologi.
Peningkatan pemahaman siswa ini dibuktikan
dengan meningkatnya kemampuan siswa
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang peneliti
ajukan berkaitan dengan materi pembelajaran di
kelas dan peningkatan nilai siswa. Peningkatan
pemahaman terkait dengan peningkatan prestasi
siswa.
Peningkatan pemahaman siswa diukur
berdasarkan kemampuan siswa menguasai materimateri pembelajaran di kelas yang dikaitkan dengan
pengalaman langsung yang mereka alami sehingga
siswa lebih mudah menyerap pelajaran yang
disampaikan. Selama pengamatan yang peneliti
lakukan di kelas, siswa lebih cepat merespons
pelajaran yang disampaikan karena berkaitan
langsung dengan pengalaman mereka dalam
kehidupan sehari-hari.
Dari pengamatan ini, peningkatan
pemahaman siswa ini ditunjukkan dengan
peningkatan nilai siswa dibandingkan sebelumnya,
yaitu: tujuh siswa atau 27 % siswa mendapat nilai
di atas KKM, sepuluh siswa atau 38,5 % siswa
mendapat nilai KKM dan sisanya, yaitu, sembilan
siswa atau 34,5 % siswa mendapat nilai di bawah
22
Magistra No. 99 Th. XXX Maret 2017
ISSN 0215-9511
Peningkatan Pemahaman dan Prestasi Belajar IPA Biologi Materi Sistem....
KKM. Untuk lebih jelasnya, peningkatan nilai siswa
dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.5
Persentase Nilai Siswa Kelas VIII B
Seteleh Siklus I Berdasarkan KKM
experiential learning yang menjadi kerangka
penelitian ini. Artinya, setiap siswa tetap harus
memerhatikan pengalaman riil aktual yang mereka
hadapi dengan kerangka tema atau pokok bahasan
IPA Biologi yang dibahas di kelas.
Siklus II
No
Nilai Diukur
dari KKM
1
Di atas KKM
Jumlah Persentase
7
27%
2 Mencapai KKM
10
38,4 %
3 Di bawah KKM
9
34,6 %
Grafik
Nilai Siswa Kelas VIII B
Setelah Siklus I
a. Perbaikan Rencana
Dalam Siklus II ini, peneliti berencana
menerapkan model pembelajaran experiential
learning secara lebih maksimal pada siswa kelas
VIII B SMPN 3 Tulung, Klaten. Pada Siklus II
peneliti akan lebih menekankan pada keaktifan
siswa untuk membaca dengan merancang setiap
pertemuan sebagai sarana untuk menyampaikan
pendapat dan bertukar pikiran serta pengalaman
melalui diskusi kelompok.
b. Pelaksanaan
d. Refleksi
Berdasarkan pengamatan di atas, peneliti
menemukan adanya peningkatan pemahaman
siswa melalui model pembelajaran experiential
learning, tetapi hasil yang diinginkan masih belum
maksimal. Target yang ingin peneliti capai, yaitu,
22 orang siswa atau lebih berhasil mendapat nilai
di atas KKM. Meskipun demikian, sudah ada
peningkatan prestasi siswa yang ditunjukkan
dengan meningkatnya nilai siswa secara umum.
Oleh karenanya, peneliti harus melakukan
perubahan strategi pengajaran untuk mencapai
hasil yang diinginkan. Namun, perubahan strategi
ini tetap berpijak pada model pembelajaran
Magistra No. 99 Th. XXX Maret 2017
ISSN 0215-9511
Pertemuan pertama Siklus II dimulai pada
hari Selasa, 9 Agustus 2016. Pada pertemuan ini,
tema yang dibahas adalah “Fotosintesis.” Ada dua
sub-pokok bahasan dalam tema ini, yaitu: (1)
Fotosintesis sebagai sumber energi; dan (2) Faktorfaktor yang mempengaruhi fotosintesis.
Pada pertemuan pertama, kelompok I
membahas sub-pokok bahasan “Fotosintesis
sebagai sumber energi.” Kelompok I menjelaskan,
mengapa daun pada tumbuhan sebagian besar
berwarna hijau? Karena tanaman umumnya
memiliki klorofil atau zat hijau daun.
Terhadap pernyataan kelompok I ini,
kelompok II memberi tanggapan sebagai berikut:
“Mengapa daun-daun pada tanaman berubah
warna sebelum akhirnya gugur? Warna apa yang
tampak pada daun sebelum gugur?” Selanjutnya
kelompok II menjelaskan bahwa, kurangnya
cahaya secara tidak langsung dapat mengakibatkan
23
Peningkatan Pemahaman dan Prestasi Belajar IPA Biologi Materi Sistem....
rusaknya klorofil. Bila klorofil rusak, daun tumbuhan tidak akan berwarna hijau untuk waktu yang lama.
Klorofil ini harus ada dalam daun tumbuhan agar terjadi proses fotosintesis. Energi cahaya yang
ditangkap oleh klorofil, diperlukan untuk mereaksikan karbondioksida dan air untuk membentuk gula (makanan)
dan oksigen seperti pada persamaan reaksi sederhana berikut.
Dari persamaan reaksi tersebut jelas bahwa karbondioksida dibutuhkan dalam proses fotosintesis.
Gula adalah makanan yang dihasilkan oleh tumbuhan. Makanan yang tidak langsung digunakan oleh tumbuhan,
dapat disimpan dalam akar, batang, daun, buah, dan biji. Oksigen menjadi bagian udara yang kita hirup saat
bernapas. Hampir 90% oksigen yang ada di atmosfer kita berasal dari hasil proses fotosintesis. Hewan dan
tumbuhan memakai makanan dan oksigen yang dihasilkan melalui proses fotosintesis.
Kelompok III dan IV menjelaskan tentang “Gerak Semu pada Tumbuhan.” Gerak semu pada tumbuhan
dipengaruhi oleh rangsangan yang datang pada tumbuhan. Respons tumbuhan terhadap gravitasi bumi disebut
geotropisme. Pucuk tumbuhan yang tumbuh ke arah sinar matahari merupakan contoh gerak fototropisme
positif sekaligus gerak geotropisme negatif. Arah tumbuh akar ke dalam tanah merupakan contoh geotropisme
positif sekaligus hidrotropisme positif. Gerak tumbuh sulur yang membelit karena stimulus sentuhan sulur
dengan tempat tumbuhnya merupakan contoh gerak tigmotropisme. Keseluruhan tropisme adalah respons
yang membantu tumbuhan bertahan dalam upaya memperoleh sinar matahari, air atau mineral yang terlarut
dalam tanah.
Ada jenis gerakan lain yang juga dilakukan tumbuhan sebagai tanggapan atas rangsangan lingkungan.
Yaitu, gerakan tumbuhan berpindah tempat. Gerak pindah tempat tumbuhan karena pengaruh stimulus dikenal
dengan gerak taksis. Gerak taksis ini dapat berupa gerak pindah tempat tumbuhan secara keseluruhan,
maupun sebagian. Sebagai contoh gerak pindah tempat organel kloroplas di dalam sel ketika sel-sel Elodea
disinari. Contoh lainnya adalah gerak sel gamet jantan menuju sel gamet betina pada lumut.
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Selasa, 23 Agustus 2016. Dalam pertemuan ini tema yang dibahas
adalah “Penyakit dan Hama pada Tanaman.” Yang menjadi pembahas kali ini adalah kelompok V dan VI.
Kelompok V tampil menjelaskan bahwa Penyakit adalah penyebab tanaman menjadi sakit. Tanaman
dikatakan sakit jika ada perubahan seluruh atau sebagian organ-organ tanaman yang menyebabkan
terganggunya kegiatan fisiologisnya, atau sakit adalah penyimpangan dari keadaan normal. Misalnya tanaman
tomat yang semula segar tiba-tiba menjadi layu. Daun kedelai yang awalnya berwarna hijau segar, sekarang
tiba-tiba kelihatan bercak-bercak cokelat.
Tanaman-tanaman tersebut menyimpang dari keadaan normal dan biasanya orang mengatakan sakit.
Penyebab sakit ini bermacam-macam, seperti bakteri, cendawan, virus, kekurangan atau kelebihan air,
24
Magistra No. 99 Th. XXX Maret 2017
ISSN 0215-9511
Peningkatan Pemahaman dan Prestasi Belajar IPA Biologi Materi Sistem....
kekurangan atau kelebihan unsur hara atau karena
tanaman mendapatkan stress lingkungan misalnya
Dengan menggunakan model pembelajaran
experiential learning didapat lebih dari 70 % siswa
suhu lingkungan yang terlalu panas atau terlalu
dingin.
mampu mendapatkan nilai di atas KKM. Artinya,
dari 26 siswa yang menjadi subjek penelitian ini,
ada 18 siswa yang mampu mendapatkan nilai di
Hama adalah binatang perusak tanaman
budidaya. Tanaman yang dirusak tersebut misalnya
kol, sawi, selada, tomat, terung, jagung, jeruk,
mangga. Sementara itu, binatang yang merusak
atau hama diantaranya adalah bermacam-macam
ulat, belalang, siput, bekicot, serangga dan
sebagainya.
Tindakan yang dilakukan agar tanaman
terlindung dari serangan penyakit dan hama disebut
proteksi tanaman. Pengendalian hama yang baik
yaitu dengan cara biologis. Pengendaliannya
meliputi penggunaan predator, binatang pemakan
hama atau penggunaan parasit dan bakteri yang
dapat menyebabkan sakit pada hama tetapi tidak
pada tumbuhan. Pemberantasan secara biologis
ini hanya akan mematikan hama. Sementara itu,
serangga lain yang bukan hama akan terhindar dari
kematian.
atas KKM, sedangkan selebihnya, yaitu 8 siswa,
mendapatkan nilai KKM dan dinyatakan lulus
untuk mata pelajaran IPA Biologi.
Untuk lebih jelasnya, pengamatan atas hasil
pembelajaran tersebut peneliti tuangkan dalam
bentuk tabel di bawah ini:
Tabel 4.6
Persentase Nilai Siswa Kelas VIII B
Seteleh Siklus II Berdasarkan KKM
No
Nilai Diukur
dari KKM
1
Di atas KKM
Jumlah Persentase
18
70%
8
30%
2 Mencapai KKM
Grafik
Nilai Siswa Kelas VIII B
Setelah Siklus II
c. Pengamatan
Pengamatan sebenarnya dilakukan
berbarengan dengan pelaksanaan siklus II. Akan
tetapi, pengamatan terhadap hasil belajar siswa
dilakukan pada pertemuan kelima, tanggal 6
September 2016. Pada pertemuan ini, peneliti
mengadakan evaluasi untuk mengetahui
pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPA
Biologi, Sistem Kehidupan pada Tanaman. Dari
hasil evaluasi ini, tampak jelas peningkatan yang
sangat signifikan dalam kemampuan siswa
menyerap dan memahami pelajaran yang
disampaikan.
Magistra No. 99 Th. XXX Maret 2017
ISSN 0215-9511
KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan di atas, peneliti
mendapatkan data bahwa model pembelajaran
experiential learning sangat efektif dalam
meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa
kelas VIII B SMPN 3 Tulung, Klaten dalam Pelajaran
IPA Biologi. Dengan model pembelajaran experiential
learning siswa dapat termotivasi untuk lebih banyak
25
Peningkatan Pemahaman dan Prestasi Belajar IPA Biologi Materi Sistem....
belajar dan membaca materi pelajaran sehingga dapat
menunjukkan kemampuannya di kelas pada saat sesi
Model pembelajaran experiential learning
dirancang sebagai model pembelajaran yang
tanya jawab maupun diskusi.
menyenangkan, aktif, dan kreatif sehingga siswa
memiliki peran yang sangat penting dalam proses
belajar-mengajar di kelas. Dengan cara ini, siswa
merasa memiliki peran yang penting dan dibutuhkan
Oleh karenanya, model pembelajaran
experiential learning ini bisa dijadikan salah satu model
pengajaran di kelas untuk memacu motivasi dan
semangat belajar siswa hingga dapat meningkatkan
pemahaman dan prestasi belajar siswa dalam IPA
Biologi.
26
bagi pengembangan prestasi mereka dan juga
peningkatan suasana belajar di kelas.
Magistra No. 99 Th. XXX Maret 2017
ISSN 0215-9511
Peningkatan Pemahaman dan Prestasi Belajar IPA Biologi Materi Sistem....
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal. Dasar-dasar Penulisan Karya
Ilmiah. (Jakarta: Grasindo, 2006).
Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) untuk Guru, Kepala Sekolah,
Pengawas, dan Penilai. Jakarta: Universitas
Negeri Jakarta.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu
Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta,
2002).
Darmodjo & Kaligis. Ilmu Alamiah Dasar. (Jakarta:
Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004)
Kimball. Biologi Jilid 1,2,3. (Jakarta: Erlangga, 2003)
Kolb, David A. Experiential Learning: Experience
as the Source of Learning and Development.
(Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, N.J.,
1984).
Martin. Biology. (Southbank: Thompson & Brokes/
Cole, 2005).
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif.
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005).
Nader, S.S. Biology. (Boston: Mc. Graw–Hill, Inc.,
2004).
Neufeldt, Victoria A. Webster’s New World College.
(New York: MacMillan, 1996).
Purwanto, M. Ngalim. Ilmu Pendidikan: Teori dan
Praktik (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995).
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai
Pustaka, 1994).
Raves, P.H. Biology, Edisi Ketujuh. (Boston: Mc.
Graw–Hill, Inc., 2005).
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran. (Jakarta:
Kencana Prenada Media, 2008).
Semiawan, Pendekatan Ketrampilan Proses.
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992).
Soehartono, Irawan. Metode Penelitian Sosial,
(Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2002).
Sudiana, Yayan. Ensiklopedi Populer Anak.
(Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2004).
Sudijono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan,
(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2001).
Sugiono, Metode Penelitian Administrasi, (Jakarta:
CV. Alfabeta, 2003).
Suroso AY, dkk. Ensiklopedi Sains dan Kehidupan.
(Jakarta: Tarity Samudra Berlian, 2003).
Syukur, Abdul. Ensiklopedi Umum untuk Pelajar.
(Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005).
Purves, W.K, and Helier. Life: The Science of
Biology. (Sunderland: Sinaver Assosiates, Inc.,
2004).
Magistra No. 99 Th. XXX Maret 2017
ISSN 0215-9511
27
Download