iii kerangka pemikiran

advertisement
III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
Kerangka
pemikiran
teoritis
merupakan
suatu
kerangka
yang
mengungkapkan suatu teori-teori yang sesuai dengan pokok permasalahan
penelitian yang dibahas. Penelitian ini, membahas permasalahan strategi apa yang
dapat dilakukan oleh perusahaan sehingga dapat membuat perusahaan untuk dapat
terus tumbuh dan menjaga eksistensinya dalam industri bunga potong krisan.
3.1.1. Strategi
Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Kata "strategi" adalah
turunan dari kata dalam bahasa Yunani, stratēgos. Stratēgos dapat diterjemahkan
sebagai 'komandan militer' pada zaman demokrasi Athena. Pada awalnya kata ini
dipergunakan untuk kepentingan militer yang dinyatakan sebagai “kiat yang
digunakan oleh para jenderal untuk memenangkan suatu peperangan”, tetapi
kemudian berkembang ke berbagai bidang yang berbeda seperti strategi bisnis,
olahraga, catur, ekonomi, pemasaran, perdagangan, dan manajemen strategi.
Meskipun strategi sudah banyak digunakan oleh bidang lainnya, akan tetapi ideide pokok dalam pengertian semula tetap dipertahankan hanya saja aplikasinya
disesuaikan dengan jenis organisasi yang menerapkan.
Dalam perkembangannya, konsep mengenai strategi terus berkembang dan
pengertian strategi oleh para ahli pun semakin beragam. Strategi adalah
pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan,
perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu7. Menurut
Chandler dalam Rangkuti (2005) menyatakan bahwa strategi merupakan alat
untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka
panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumber daya. Ahli strategi
lainnya menyebutkan strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental
(senantiasa meningkat) dan terus menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut
pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan
demikian, strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi dan bukan
dimulai dari apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang baru dan
7
http://www.wikipedia.com [diakses pada tanggal 04 Maret 2010]
25
perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti didalam bisnis yang
dilakukan (Hamel dan Prahalad, diacu dalam Umar, 2003).
Dari berbagai definisi strategi di atas dapat disimpulkan bahwa strategi
memiliki tujuan utama yaitu untuk memenangkan persaingan dengan membuat
suatu rencana yang menyeluruh serta mampu mengintegrasikan segala
sumberdaya dan kapasitas dalam perusahaan untuk mencapai tujuan tersebut. Hal
inilah yang menyebabkan strategi berbeda dengan taktik yang cenderung memiliki
ruang lingkup lebih sempit dan waktu yang lebih singkat. Didalam strategi yang
baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi faktor
pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara
rasional, efisien dalam pendanaan, dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan
secara efektif.
3.1.2. Klasifikasi Strategi
Pada dasarnya setiap perusahaan mempunyai strategi dalam berusaha.
Dalam mengkaji strategi perusahaan, bentuk strategi akan berbeda-beda
antarindustri, antarperusahaan, dan bahkan antarsituasi. Namun ada sejumlah
strategi yang sudah banyak diketahui umum dan dapat diterapkan pada berbagai
bentuk industri dan ukuran perusahaan. Strategi-strategi ini dikelompokkan
kedalam strategi generik. Istilah strategi generik dikemukakan oleh Porter.
Pengertiannya adalah suatu pendekatan strategi perusahaan dalam rangka
mengungguli pesaing dalam industri sejenis. Dalam praktik, setelah perusahaan
mengetahui strategi generiknya, untuk implementasinya akan ditindaklanjuti
dengan langkah penentuan strategi yang lebih operasional. Strategi-strategi utama
(grand strategy) merupakan strategi yang lebih operasional yang merupakan
tindak lanjut dari strategi generik. Tiga macam model strategi generik yaitu
pertama model strategi dari Hunger dan Wheelen, kedua dari Michael E. Porter,
dan ketiga dari Fred R. David (Umar, 2003):
1) Strategi Generik dari Hunger dan Wheelen
Untuk menjelaskan tentang strategi, Hunger dan Wheelen menggunakan
konsep dari General Electric. Pada prinsipnya strategi generik dibagi atas tiga
macam yaitu strategi pertumbuhan (growth strategy), strategi stabilitas (stability
strategy) dan strategi penciutan (retrenchment strategy). Bentuk strategi utamanya
26
ditentukan dari matriks GE yang didasarkan pada kekuatan bisnis atau posisi
bersaing perusahaan dan daya tarik produk di pasar industri. Berikut strategi
menurut Hunger dan Wheelen:
a) Strategi Pertumbuhan (growth strategy). Tujuan strategi perusahaan
mengacu kepada pencapaian pertumbuhan penjualan, modal, laba atau
kombinasi di antara itu. Perusahaan harus terus-menerus tumbuh (dalam
arti memanfaatkan peluang-peluang dan memperkecil biaya-biaya)
paling tidak dalam rangka untuk bertahan hidup. Dua strategi
pertumbuhan yang mendasar adalah:
i.
Strategi petumbuhan konsentrasi. Merupakan strategi dimana
perusahaan berkonsentrasi dan bertumbuh kembang pada semua atau
hampir semua sumber daya yang sejenis. Strategi ini memiliki dua
cara yaitu: 1) Horizontal yaitu dengan memperluas kegiatan-kegiatan
perusahaan ke dalam lokasi geografi yang berbeda dan atau dengan
menambah matang produk dan jasa yang ditawarkan kepada pasar. 2)
Vertikal dengan mengambil alih fungsi yang sebelumnya disediakan
oleh pemasok (backward integration) atau oleh distributor (forward
integration). Dengan kata lain, terdapat satu atau lebih bisnis yang
disediakan perusahaan.
ii.
Strategi pertumbuhan diversifikasi. Strategi ini menuntut perusahaan
untuk tumbuh dengan cara menambahkan produk atau divisi yang
berbeda dengan produk atau divisi yang telah ada. Pelaksanaannya
dapat secara internal maupun eksternal. Jika secara internal dilakukan
melalui perkembangan produk baru, tetapi jika secara eksternal
dilakukan dengan cara akuisisi. Strategi ini terdiri dari dua cara yaitu:
1) Terpusat (konsentris), strategi ini tepat dilakukan apabila
perusahaan memiliki posisi kompetitif yang kuat tetapi daya tarik
industri rendah. 2) Konglomerasi, strategi ini cocok apabila posisi
kompetitif perusahaan rata-rata dan daya tarik industrinya rendah.
b) Strategi Stabilitas (stability strategy). Strategi stabilitas paling tepat
digunakan oleh perusahaan yang dengan sukses beroperasi pada daya
tarik industri menengah. Daya tarik industri tersebut dinilai sedang
27
karena menghadapi pertumbuhan yang biasa-biasa saja atau bahkan tidak
ada pertumbuhan atau adanya perubahan lingkungan dan masa depan
yang tidak pasti. Strategi ini berguna untuk jangka pendek tetapi dapat
berbahaya untuk jangka panjang. Ada empat bentuk strategi utamanya,
yaitu:
i.
Strategi istirahat (Pause Strategy): strategi ini tepat dilakukan
sebagai
strategi
sementara
agar
perusahaan
dapat
mengkonsolidasikan sumber daya yang ada setelah menghadapi
pertumbuhan yang cepat dalam industri.
ii.
Strategi waspada (Proceed with Caution Strategy): kondisi
lingkungan kompetitif dipandang sangat mudah berubah dan sangat
tidak dapat diperkirakan. Perusahaan tetap menjalankan usahanya
dengan hati-hati karena adanya faktor-faktor penting yang berubah
pada lingkungan eksternal, seperti peraturan dari pemerintah.
iii.
Strategi tanpa perubahan (No Change Strategy): stabilitas relatif
yang diciptakan oleh posisi kompetitif sederhana perusahaan, di
dalam industri yang menghadapi pertumbuhan kecil atau bahkan
tidak ada, mendorong perusahaan untuk melanjutkan kegiatannya
saat itu, dan hanya melakukan penyesuaian kecil bagi inflasi dalam
tujuan penjualan dan labanya.
iv.
Strategi laba (Profit Strategy): ketika industri mencapai kejenuhan
dan turun daya tariknya dari tinggi menjadi sedang (atau bahkan
menjadi tidak menarik sama sekali), perusahaan dengan posisi
kompetitif yang hanya rata-rata akan mengalami penjualan dan laba
datar dan bahkan mungkin lebih menurun. Strategi ini lebih
mengutamakan keuntungan saat ini walau memiliki risiko besar
dengan mengorbankan pertumbuhan masa depan. Hasilnya sering
kali adalah kesuksesan jangka pendek sekaligus dengan stagnasi
jangka panjang
c) Strategi Penciutan (Retrenchment Strategy). Strategi ini dimaksudkan
untuk melakukan pengurangan atas produk yang dihasilkan atau
pengurangan atas pasar maupun fungsi-fungsi dalam perusahaan,
28
khususnya yang mempunyai cashflow negatif. Strategi ini biasanya
diterapkan pada bisnis yang berada pada tahap menurun (decline) bila
suatu
perusahaan
mempunyai
posisi
persaingan
yang
lemah
dibandingkan dengan daya tarik industrinya. Ada empat bentuk strategi
utama untuk strategi generik yaitu:
i. Strategi turnaround. Strategi ini dianjurkan untuk digunakan pada saat
daya tarik industrinya sedang tinggi walaupun perusahaan sebenarnya
mengalami kesulitan walaupun belum kritis. Strategi ini menekankan
pada upaya perbaikan efisisensi operasional, yang pelaksanaannya
terdiri dari dua tahap. Yang pertama adalah masalah kontradiksi yaitu
upaya-upaya yang tujuannya mengurangi biaya perusahaan. Kedua
adalah masalah konsolidasi yaitu pengembangan program-program
untuk menstabilkan perusahaan yang sudah mengalami perampingan
tersebut.
ii. Strategi captive company. Pada strategi ini, beberapa aktivitas dari
bagian tertentu yang kurang menarik perlu dikurangi, kemudian
diusahakan agar fungsi-fungsi lain menjadi lebih menarik. Dengan
demikian, diharapkan ada calon investor mau menginvestasikan
modalnya di perusahaan.
iii. Strategi sell-out atau divestment. Jika perusahaan tidak lagi mampu
melakukan strategi captive company, perusahaan terpaksa harus dijual
dan investor segera meninggalkan bisnis ini, asalkan saham-saham
perusahaan yang akan dijual tidak jatuh, sehingga tidak merugikan para
pemegang saham. Jika perusahaan memiliki banyak bidang usaha,
maka divisi yang merugikan sebaiknya ditutup karena bidang usaha
seperti ini tergolong divestasi (divestment).
iv. Strategi bankruptcy. Strategi bankruptcy (pailit) dapat membantu
perusahaan menghindar dari tanggung jawab atas hutang-hutang dan
juga dapat menyatakan tidak berlakunya kontrak-kontrak kerja yang
telah disetujui. Sebelum kondisi pailit ini ditentukan, perusahaan dapat
berusaha terlebih dahulu menghasilkan sebanyak-banyaknya uang tunai
dari penjualan aset-aset. Bagi perusahaan multi bisnis, hendaknya divisi
29
yang mengalami kesulitan dapat dilokalisasi agar tidak berdampak pada
divisi-divisi lain.
v. Strategi liquidation. Strategi terakhir yang dapat dilakukan oleh
manajemen karena perusahaan sudah relatif tidak memiliki prospek
lagi. Prinsipnya, lebih baik melakukan likuidasi secepatnya daripada
menunggu kebangkrutan, karena bagi pemegang saham, harga saham
likuidasi lebih baik daripada saham perusahaan yang sudah dinyatakan
bangkrut.
2) Strategi Generik dari Michael E. Porter
Menurut Porter dalam Umar (2003), jika perusahaan ingin meningkatkan
usahanya dalam persaingan yang semakin ketat, perusahaan harus memilih prinsip
berbisnis, yaitu produk dengan harga tinggi atau produk dengan biaya rendah,
bukan kedua-duanya. Berdasarkan prinsip ini, Porter (1993) menyatakan bahwa
suatu perusahaan dapat memperoleh keunggulan bersaing dari tiga macam strategi
generik yaitu:
a) Keunggulan Biaya
Keunggulan biaya merupakan yang paling jelas dari ketiga strategi
generik. Perusahaan harus bersiap menjadi produsen berbiaya rendah dalam
industrinya. Perusahaan memiliki cakupan yang luas dan melayani banyak
segmen industri. Bahkan mungkin beroperasi didalam industri-industri
terkait. Perusahaan berbiaya rendah umumnya menjual produk-produk
standar atau tanpa embel-embel dan memberi penekanan besar pada upaya
mendapatkan keungguluan biaya skala atau absolut dari semua standar.
b) Diferensiasi
Strategi generik kedua adalah diferensiasi. Dalam strategi diferensiasi,
perusahaan berusaha menjadi unik dalam industrinya disepanjang beberapa
dimensi yang secara umum dihargai oleh pembeli. Perusahaan menyeleksi
satu atau lebih atribut yang dipandang penting oleh banyak pembeli di suatu
industri, dan secara unik menempatkan diri untuk memenuhi kebutuhan itu.
Perusahaan dihargai dengan harga premium (premium price) karena
keunikannya.
30
Logika dari strategi diferensiasi mengharuskan perusahaan memilih
atribut untuk mendiferensiasikan diri yang “berbeda” dengan atribut rivalnya.
Perusahaan harus benar-benar unik pada sesuatu atau dirasakan unik
seandainya ingin mengarahkan harga premium. Namun, sebagai kontras
dengan keunggulan biaya mungkin ada lebih dari satu strategi yang berhasil
dalam suatu industri jika ada beberapa atribut yang dipandang penting oleh
pembeli.
c) Fokus
Strategi generik yang ketiga adalah fokus. Strategi ini sangat berbeda
dengan strategi-strategi lain karena menekankan pilihan pada cakupan
bersaing yang sempit dalam satu industri bersangkutan dan menyesuaikan
strateginya untuk melayani mereka dan mengesampingkan yang lain. Dengan
mengoptimumkan strateginya untuk segmen sasaran, penganut strategi fokus
berusaha mencapai keunggulan bersaing di dalam segmen sasaran walaupun
tidak memiliki keunggulan bersaing secara keseluruhan. Strategi fokus
mempunyai dua varian. Fokus biaya, dimana perusahaan mengusahakan
keunggulan biaya dalam segmen sasarannya, sementara dalam fokus
diferensiasi
perusahaan
mengusahakan
diferensiasi
dalam
segmen
sasarannya.
Perusahaan yang menerapkan semua strategi generik tetapi gagal
mencapai satu pun dikatakan “terperangkap di tengah”. Perusahaan itu tidak
memiliki keunggulan bersaing. Sebuah perusahaan yang terperangkap
ditengah akan bersaing pada posisi yang tidak menguntungkan karena
pemimpin biaya, diferensiator, atau penganut fokus akan memiliki posisi
yang lebih baik untuk bersaing dalam segmen manapun.
3) Strategi Generik dari Fred R. David
Menurut Fred R. David, strategi dikelompokkan menjadi empat tipe, yaitu
strategi integrasi, strategi intensif, strategi diversifikasi, dan strategi defensif
(David, 2009). Pemilihan tipe strategi ini didasarkan atas kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman baik dari lingkungan luar maupun dari lingkungan dalam
suatu bisnis.
31
a) Strategi Integrasi
Strategi ini menghendaki agar perusahaan melakukan pengawasan
yang lebih terhadap distributor, pemasok dan atau pesaingnya, misalnya
melalui merger, akuisisi atau membuat perusahaan sendiri. Strategi ini terdiri
dari:
i.
Integrasi ke depan (forward integration strategy) yaitu usaha
memperoleh kepemilikan atau kendali yang lebih besar atas
distributor atau peritel.
ii.
Integrasi ke belakang (backward integration strategy) yaitu sebuah
strategi yang mengupayakan kepemilikan atau kendali yang lebih
besar atas pemasok perusahaan. Strategi ini sangat tepat ketika
pemasok perusahaan yang ada saat ini tidak bisa diandalkan,
terlampau
mahal,
atau
tidak
mampu
memenuhi
kebutuhan
perusahaan.
iii.
Integrasi horisontal (horizontal integration strategy) yaitu strategi
yang mengupayakan kepemilikan atau kendali yang lebih besar atas
pesaing
perusahaan.
Tren
yang
signifikan
yaitu
dengan
menggunakan strategi integrasi horizontal ini sebagai strategi
pertumbuhan. Merger, akuisisi dan pengambilalihan diantara para
pesaing memungkinkan peningkatan skala ekonomi serta mendorong
transfer sumberdaya dan kompetensi.
b) Strategi Intensif
Strategi
ini
memerlukan
usaha-usaha
yang
intensif
untuk
meningkatkan posisi persaingan perusahaan melalui produk yang ada, terdiri
dari:
i.
Penetrasi pasar (market penetration strategy) adalah strategi yang
mengusahakan peningkatan pangsa pasar untuk produk atau jasa
yang ada di pasar saat ini melalui upaya-upaya pemasaran yang lebih
besar. Penetrasi pasar meliputi penambahan jumlah tenaga
penjualan, peningkatan biaya iklan, penawaran item untuk promosi
penjualan secara ekstensif atau pelipatgandaan pemasaran.
32
ii.
Pengembangan
pasar
(market
development)
adalah
strategi
memperkenalkan produk atau jasa yang ada saat ini ke wilayahwilayah geografis yang baru. Tujuan strategi ini adalah untuk
memperbesar pangsa pasar. Hal ini dapat dilakukan jika memiliki
jaringan distribusi, terjadi kelebihan kapasitas produksi, pendapatan
laba yang sesuai dengan harapan, serta adanya pasar baru atau pasar
yang belum jenuh.
iii.
Pengembangan produk (product development) adalah sebuah strategi
yang
mengupayakan
peningkatan
penjualan
dengan
cara
memperbaiki atau memodifikasi produk atau jasa yang ada saat ini.
Strategi ini biasanya membutuhkan biaya yang besar untuk
penelitian
dan
pengembangan.
Tujuan
strategi
ini
untuk
memperbaiki dan atau mengembangkan produk yang sudah ada. Hal
ini dapat dilakukan apabila produk sudah berada pada tahapan jenuh,
pesaing menawarkan produk sejenis yang lebih baik, dan atau lebih
murah, memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk, dan
berada pada industri yang sedang tumbuh.
c) Strategi Diversifikasi
Terdapat dua jenis umum strategi diversifikasi yaitu terkait dan tidak
terkait. Strategi terkait yaitu memilih portofolio bisnis dengan berupaya
memanfaatkan kesesuaian strategis rantai nilai bisnis yang kompetitif.
Strategi tidak terkait yaitu memilih portofolio bisnis yang sanggup
memberikan kinerja keuangan yang sangat baik di industrinya sendiri, alihalih berupaya memanfaatkan kesesuaian strategis rantai nilai diantara bisnis.
Strategi diversifikasi ini juga dapat dibedakan menjadi tiga tipe umum
yaitu:
i.
Diversifikasi konsentris (concentric diversification), strategi ini
dapat dilakukan dengan cara menambah produk atau jasa yang baru
tetapi masih saling berhubungan. Tujuan strategi ini untuk membuat
produk baru yang berhubungan untuk pasar yang sama. Hal ini dapat
dilakukan jika bersaing pada industri yang pertumbuhannya lambat
atau decline.
33
ii.
Diversifikasi horisontal (horizontal diversification), strategi ini
dilakukan dengan menambahkan produk dan jasa pelayanan yang
baru, tetapi tidak saling berhubungan untuk ditawarkan pada para
konsumen yang ada sekarang. Tujuan strategi ini adalah menambah
produk baru yang tidak berhubungan dengan tujuan memuaskan
pelanggan yang sama.
iii.
Diversifikasi konglomerasi (conglomerate diversification), strategi
dengan menambahkan produk atau jasa yang tidak saling
berhubungan. Tujuan strategi ini untuk menambah produk baru yang
tidak saling berhubungan untuk pasar yang berbeda.
d) Strategi Defensif
i.
Penciutan (retrenchment) terjadi manakala sebuah organisasi
melakukan pengelompokan ulang melalui pengurangan biaya dan
aset untuk membalik penjualan dan laba yang menurun. Kadang kala
disebut pembalikan atau strategi reorganisasional, penciutan
dirancang untuk memperkuat kompetensi khusus dasar suatu
organisasi.
ii.
Divestasi (divestiture) yaitu menjual satu divisi atau bagian dari
suatu organisasi. Divestasi sering dipakai untuk mendapatkan modal
guna akuisisi atau investasi strategis lebih jauh.
iii.
Likuidasi (liquidation) yaitu menjual seluruh aset perusahaan, secara
terpisah-pisah untuk kekayaan berwujudnya. Likuidasi merupakan
pengakuan kekalahan dan konsekuensinya bisa menjadi sebuah
strategi yang sulit secara emosional. Namun demikian, lebih baik
menghentikan operasi daripada terus menderita kerugian uang dalam
jumlah yang besar.
3.1.3. Manajemen Strategi
Manajemen strategis adalah serangkaian keputusan dan tindakan
manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Manajemen strategis meliputi pengamatan lingkungan, perumusan strategi
(perencanaan strategis dan perencanaan jangka panjang), implementasi strategi,
dan evaluasi serta pengendalian. Manajemen strategis menekankan pada
34
pengamatan dan evaluasi peluang dan ancaman lingkungan dengan melihat
kekuatan dan kelemahan perusahaan (Hunger dan Wheelen, 2003).
David (2009), Manajemen strategis dapat didefinisikan sebagai seni dan
pengetahuan dalam merumuskan, mengimplementasikan, serta mengevaluasi
keputusan-keputusan lintas fungsional yang memampukan sebuah organisasi
mencapai tujuannya. Sebagaimana disiratkan oleh definisi ini, manajemen
strategis berfokus pada usaha untuk mengintegrasikan manajemen, pemasaran,
keuangan/akuntansi, produksi/operasi, penelitian dan pengembangan serta sistem
informasi komputer untuk mencapai keberhasilan organisasional
Proses manajemen strategi terdiri atas tiga tahap yaitu perumusan strategi,
penerapan strategi, dan penilaian strategi. Perumusan strategi mencakup
pengembangan visi dan misi, identifikasi peluang dan ancaman eksternal suatu
organisasi, kesadaran akan kekuatan dan kelemahan internal, penetapan tujuan
jangka panjang, pencarian strategi-strategi alternatif, dan pemilihan strategi
tertentu untuk mencapai tujuan.
Penerapan strategi mengharuskan perusahaan untuk menetapkan tujuan
tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumber
daya, sehingga strategi-strategi yang telah dirumuskan dapat dijalankan.
Penerapan strategi mencakup pengembangan budaya yang suportif pada strategi,
penciptaan struktur organisasional yang efektif, pengerahan ulang upaya-upaya
pemasaran, penyiapan anggaran, pengembangan serta pemanfaatan sistem
informasi dan pengaitan kompensasi karyawan dengan kinerja organisasi.
Penerapan strategi sering kali disebut “tahap aksi” dari manajemen strategis.
Penilaian strategis merupakan tahap akhir dalam manajemen strategis.
Pada tahap ini aktifitas-aktivitas perusahaan pada tahap-tahap sebelumnya dinilai.
Penilaian dititikberatkan pada sejauh mana strategi yang diterapkan berfungsi
dengan baik. Evaluasi strategi terutama berarti usaha untuk mendapatkan
informasi ini. Tiga macam aktivitas mendasar untuk melakukan evaluasi strategi
adalah (1) peninjauan fakor-faktor eksternal dan internal yang menjadi landasan
bagi strategi saat ini, (2) pengukuran kinerja dan (3) pengambilan langkah
korektif.
35
Proses manajemen strategis dapat dengan mudah dipelajari dan
diaplikasikan dengan menggunakan sebuah model. Kerangka kerja pada Gambar
2 merupakan sebuah model komprehensif dari proses manajemen strategis yang
diterima secara luas. Model ini tidak menjamin keberhasilan, tetapi ia
merepresentasikan sebuah pendekatan yang jelas dan praktis untuk merumuskan,
menerapkan, dan menilai strategi.
Menjalankan
audit eksternal
Mengimplementas
Mengembang
Menetapkan
Menciptakan,
Mengimpleme
ikan
kan
tujuan-tujuan
mengevaluasi,
ntasikan
pemasaran,
dan
pernyataan
jangka
dan
strategi – isu-
keuangan,
mengevaluasi
visi dan misi
panjang
strategi
isu manajemen
akuntansi, litbang
kinerja
memilih
strategi
–
Mengukur
dan isu MIS
Menjalankan
audit
internal
Gambar 2. Model Manajemen Strategis
Sumber: David (2002)
Tahap pengembangan visi dan misi, audit lingkungan eksternal dan
internal, penetapan tujuan jangka panjang sampai pada pembuatan dan pemilihan
strategi merupakan bagian dari tahap formulasi strategi. Tahap menetapkan
kebijakan dan sasaran tahunan serta alokasi sumberdaya merupakan tahap
implementasi strategi, sedangkan tahap mengukur dan mengevaluasi prestasi
merupakan tahap evaluasi strategi.
3.1.3.1. Perumusan Strategi (Visi, Misi dan Tujuan)
Sebuah bisnis tidak ditentukan oleh namanya, anggaran dasarnya, atau
akta perusahaannya. Bisnis ditentukan oleh misinya. Hanya dengan menentukan
misi dan maksud organisasi secara jelaslah yang memungkinkan tujuan bisnis
36
menjadi jelas dan realistis (Drucker diacu dalam David, 2009). Pernyataan
Drucker tersebut menunjukkan pentingnya misi yang harus ada di dalam suatu
perusahaan. David (2009), menyatakan bahwa pernyataan misi (mission
statement) adalah sebuah deklarasi tentang “alasan keberadaan” suatu organisasi
yang membedakan satu organisasi dari organisasi-organisasi lain yang serupa.
Pernyataan misi juga menjawab pernyataan paling penting yaitu “Apakah bisnis
kita?”. Pernyataan misi ini jelas sangat penting untuk menetapkan tujuan dan
merumuskan strategi.
Sementara pernyataan misi menjawab pertanyaan “Apakah bisnis kita?”
pernyataan visi (vision statement) mencoba memberi jawaban atas pertanyaan
“Ingin menjadi seperti apakah kita?”. Pernyataan visi dan misi yang jelas
dibutuhkan sebelum strategi-strategi alternatif dapat dirumuskan dan diterapkan.
Tujuan merupakan titik sentral semua kegiatan perusahaan yang dapat
dipakai menjadi alat untuk penilaian prestasi, pengendalian, koordinasi, dan juga
untuk kepentingan strategi. Tujuan perusahaan atau suatu organisasi akan
mempunyai banyak manfaat pada proses perumusan dan implementasi strategi
jika manajemen puncak dapat dengan baik merumuskan, melembagakan,
mengkomunikasikan dan menguatkan tujuan tersebut melalui perusahaan.
3.1.3.2. Lingkungan Internal
Lingkungan bisnis dapat dibagi atas dua lingkungan yaitu lingkungan
eksternal dan lingkungan internal. Lingkungan internal merupakan aspek-aspek
yang ada di dalam perusahaan. Hunger dan Wheelen (2003) menyatakan para
manajer strategis seharusnya mengenali variabel-variabel dalam perusahaan
mereka yang mungkin merupakan kekuatan atau kelemahan yang penting. Sebuah
variabel merupakan kekuatan apabila menyediakan keunggulan kompetitif.
Keunggulan kompetitif adalah sesuatu yang dilakukan perusahaan atau berpotensi
untuk dilakukan dengan baik secara relatif terhadap kecakapan pesaing lain yang
sudah ada ataupun potensial. Sebuah variabel merupakan kelemahan apabila
berupa sesuatu yang tidak dilakukan dengan baik oleh perusahaan atau perusahaan
tidak memiliki kapasitas untuk melakukannya sementara para pesaingnya
memiliki kapasitas tersebut.
37
Menurut David (2009) bidang fungsional yang menjadi variabel dalam
analisis internal adalah:
1) Fungsi manajemen (functions of management) terdiri atas lima aktivitas
pokok yaitu perencanaan, pengorganisasian, pemotivasian, penempatan staf,
dan pengontrolan.
2) Fungsi pemasaran (functions of marketing) dapat dideskripsikan sebagai
proses
pendefinisian,
pengantisipasian,
penciptaan,
serta
pemenuhan
kebutuhan dan keinginan konsumen akan produk dan jasa. Ada tujuh fungsi
pemasaran pokok yaitu analisis konsumen, penjualan produk atau jasa,
perencanaan produk atau jasa, penetapan harga, distribusi, riset pemasaran,
dan analisis peluang.
3) Fungsi keuangan (functions of finance/accounting), kondisi keuangan sering
kali dianggap sebagai ukuran tunggal terbaik posisi kompetitif perusahaan
dan daya tarik bagi investor. Hal ini dapat dilihat dari rasio keuangan
perusahaan yang mencakup rasio likuiditas, leverage, aktivitas, profitabilitas,
dan pertumbuhan. Faktor keuangan sering mengubah strategi yang ada dan
menggeser rencana penerapan
4) Fungsi produksi/operasi (production/operations functions) yaitu seluruh
aktivitas yang mengubah input menjadi barang atau jasa. Manajemen
produksi atau operasi menangani input, transformasi, dan output yang
beragam dari satu industri dan pasar ke industri dan pasar yang lain. Fungsi
dasar manajemen produksi diadaptasi dari R. Schroeder yang terdiri dari
proses, kapasitas, persediaan, angkatan kerja, dan kualitas.
5) Fungsi penelitian dan pengembangan-litbang (research and development),
manajemen fungsi litbang yang efektif membutuhkan kemitraan yang
strategis dan operasional antara fungsi litbang dengan fungsi-fungsi bisnis
penting lainnya. Litbang diarahkan untuk mengembangkan produk-produk
baru sebelum pesaing melakukannya, meningkatkan kualitas produk, atau
untuk memperbaiki proses produksi sehingga dapat menekan biaya.
6) Fungsi sistem informasi manajemen (SIM), informasi merepresentasikan
sumber penting keunggulan atau kelemahan manajemen kompetitif. Menilai
kekuatan dan kelemahan internal sebuah perusahaan dalam sistem informasi
38
adalah dimensi yang penting dari suatu audit internal. SIM berguna untuk
memperbaiki kinerja perusahaan melalui perbaikan kualitas keputusan
manajerial. SIM berisi database catatan penting yang sangat berguna bagi
perusahaan.
3.1.3.3. Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal merupakan suatu kondisi yang berada di luar
kemampuan organisasi untuk mengendalikannya. Menurut David diacu dalam
Budi
(2008),
analisis
terhadap
lingkungan
eksternal
bertujuan
untuk
mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi suatu perusahaan, sehingga
perusahaan memiliki kemampuan untuk dapat merumuskan suatu strategi. Umar
(2003) mengelompokkan lingkungan eksternal kedalam dua kategori yaitu
lingkungan jauh dan lingkungan industri.
1) Lingkungan Jauh
Lingkungan jauh perusahaan terdiri dari faktor-faktor yang pada dasarnya
di luar dan terlepas dari perusahaan. David (2009) menyatakan faktor-faktor
utama yang biasa diperhatikan adalah a) Faktor Politik, Pemerintahan, dan
Hukum; b) Faktor Ekonomi, c) Faktor Sosial, Budaya, Demografis dan
Lingkungan; serta d) Faktor Teknologi. Faktor-faktor tersebut sering disingkat
PEST. Lingkungan jauh ini memberikan kesempatan besar bagi perusahaan untuk
maju, sekaligus dapat menjadi hambatan dan ancaman untuk maju.
a) Faktor Politik, Pemerintahan dan Hukum
Pemerintah baik pusat maupun daerah merupakan pembuat regulasi,
deregulasi, pensubsidi, pemberi kerja, dan konsumen utama organisasi. Selain
itu, kondisi politik yang tidak kondusif akan berdampak negatif bagi dunia
usaha, begitu pula sebaliknya. Faktor-faktor politik, pemerintahan, dan
hukum, karenanya dapat merepresentasikan peluang dan ancaman utama baik
bagi organisasi kecil maupun organisai besar.
b) Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi memiliki dampak langsung terhadap daya tarik
potensial dari beragam strategi. Kondisi ekonomi suatu daerah atau negara
dapat mempengaruhi iklim berbisnis suatu perusahaan. Semakin buruk kondisi
ekonomi semakin buruk pula iklim berbinis.
39
c) Faktor Sosial, Budaya, Demografis dan Lingkungan
Perubahan sosial, budaya, demografis dan lingkungan memiliki
dampak yang besar atas hampir semua produk, jasa, pasar, dan konsumen.
Organisasi-organisasi kecil, besar, laba, dan nirlaba di industri dikejutkan dan
ditantang oleh peluang dan ancaman yang muncul dari perubahan dalam
variabel sosial, budaya, demografis, dan lingkungan.
Tren-tren sosial, budaya, demografis, dan lingkungan membentuk cara
orang hidup, bekerja, memproduksi, dan mengkonsumsi. Tren-tren baru itu
menciptakan jenis konsumen yang berbeda dan konsekuensinya, menciptakan
kebutuhan akan produk, jasa, dan strategi yang berbeda pula.
d) Faktor Teknologi
Dewasa ini perkembangan teknologi mengalami kemajuan yang pesat,
baik di bidang bisnis maupun di bidang yang mendukung bisnis. Sebenarnya,
teknologi itu tidak hanya mencakup penemuan-penemuan baru saja, tetapi
juga meliputi cara-cara pelaksanaan atau metode-metode baru dalam
mengerjakan suatu pekerjaan, artinya bahwa ia memberikan suatu gambaran
yang luas, yang meliputi: mendesain, menghasilkan, dan mendistribusikan.
Perubahan dan penemuan teknologi yang revolusioner tersebut memiliki
dampak yang dramatis terhadap organisasi.
Tabel 5. Daftar Fenomena yang Memungkinkan Menghasilkan Peluang dan
Ancaman Berdasarkan Alat Analisis PEST
POLIITIK, PEMERINTAH dan
SOSIAL, BUDAYA, DEMOGRAFI
HUKUM
dan LINGKUNGAN
- Situasi politik Negara
- Pertumbuhan dan jumlah penduduk
- Kebijakan politik luar negeri
- Kepercayaan, gaya hidup, dan perilaku
- Regulasi dan deregulasi pemerintah
belanja
- Kebijakan subsidi, fiskal, dan - Sikap terhadap mutu produk
moneter
- Tingkat pendidikan rata-rata
- Peraturan tenaga kerja, pajak, - Perilaku terhadap pemerintah
ekspor, impor, dll
- Manajemen limbah, dll
EKONOMI
TEKNOLOGI
- Tingkat inflasi dan tingkat pajak
- Perkembangan teknologi informasi
- Kecenderungan PDB
- Kecenderungan
perkembangan
- Ketersediaan kredit
teknologi yang unik dalam industri
- Pola konsumsi
- Perkembangan teknologi dasar
- Kurs mata uang
- Perkembangan perilaku masyarakat
- Tren pertumbuhan ekonomi, dll
terhadap teknologi, dll
Sumber : David diacu dalam Budi (2008)
40
2) Lingkungan Industri
Hunger dan Wheelen (2003), industri adalah kelompok perusahaan yang
memproduksi produk barang atau jasa yang serupa, seperti jasa keuangan atau
minuman ringan. Pemeriksaan tentang pentingnya kelompok pemegang saham
dalam lingkungan kerja perusahaan disebut analisis industri.
Aspek lingkungan industri akan lebih mengarah pada aspek persaingan
dimana bisnis perusahaan berada. Akibatnya, faktor-faktor yang mempengaruhi
kondisi persaingan, seperti ancaman-ancaman dan kekuatan-kekuatan yang
dimiliki perusahaan termasuk kondisi persaingan itu sendiri menjadi perlu untuk
dianalisis (Umar, 2003)
Porter dalam Umar (2003) mengemukakan konsep Competitive Strategy
yang menganalisis persaingan bisnis berdasarkan lima aspek utama yang disebut
Lima Kekuatan Bersaing. Analisis kompetitif adalah pendekatan yang digunakan
secara luas untuk mengembangkan strategi di banyak industri. Model lima
kekuatan Porter (Porter’s five forces model) yaitu terdiri dari ancaman masuknya
pendatang baru, persaingan antar perusahaan dalam industri, ancaman dari produk
pengganti, kekuatan tawar-menawar pembeli, kekuatan tawar-menawar pemasok,
seperti ditunjukkan pada gambar 3.
Pendatang baru
yang potensial
Kekuatan
dari
serikat,
pemerintah, dan
sebgainya
Ancaman
pendatang baru
Stakeholder
lainnya
Pesaing Industri
Pemasok
Persaingan di antara
perusahaan yang telah
ada
Kekuatan penawaran
pembeli
Pembeli
Kekuatan penawaran
pemasok
Ancaman produk atau
jasa pengganti
Produk
pengganti
Gambar 3. Konsep Competitive Strategy(substitusi)
dari Michael E. Porter
Sumber : Hunger dan Wheelen (2003)
41
3.1.3.4. Identifikasi Faktor-Faktor Strategis Perusahaan
Identifikasi faktor-faktor strategis perusahaan didasarkan pada analisis
lingkungan internal dan eksternal perusahaan. Analisis lingkungan internal
perusahaan menghasilkan faktor strategis berupa kekuatan dan kelemahan.
Analisis lingkungan eksternal menghasilkan faktor strategis berupa peluang dan
ancaman.
3.1.3.5.Matriks SWOT/TOWS
Setelah menilai situasi perusahaan dari segi internal, eksternal, maupun
analisis kompetitif serta meninjau strategi-strategi perusahaan yang telah tersedia.
Tahap selanjutnya yaitu mengidentifikasi cara-cara alternatif sehingga organisasi
dapat
menggunakan
kekuatan-kekuatan
khususnya
untuk
menggunakan
kesempatan atas peluang-peluang atau untuk menghindari ancaman-ancaman dan
mengatasi kelemahan-kelemahan.
Matriks
Threats-Opportunities-Weaknesses-Strengths
(TOWS/SWOT)
merupakan matching tool yang penting untuk menghasilkan empat rangkaian
alternatif strategi yaitu: a) Strategi SO (Strength-Opportunity), b) Strategi WO
(Weakness-Opportunity), c) Strategi ST (Strength-Threat), d) Strategi WT
(Weakness-Threat).
3.1.3.6. Arsitektur Strategik
Hamel dan C.K. Prahalad pada tahun 1990-an memperkenalkan suatu
pendekatan baru dalam merumuskan strategi, yaitu pendekatan arsitektur strategik
yang bersifat bentangan (stretch). Hamel dan Prahalad dalam Amalia (2009)
menyatakan bahwa: “strategic architecture is basically a high level blueprint for
deployment of new functionalities, the acquisition of new competencies, and the
reconfiguring of the interface with customers”. Strategi ini terlahir dikarenakan
keduanya menyatakan bahwa pendekatan klasik kurang mampu untuk
mengakomodir perubahan lingkungan yang cepat. Arsitektur strategik tidak hanya
akan mengakomodasi perubahan lingkungan yang telah dibakukan dalam bentuk
asumsi, namun juga perubahan lingkungan yang cepat yang akan “memaksa”
organisasi yang bersangkutan untuk bersikap lebih adaptif, lebih fleksibel. Selain
42
itu, organisasi yang bersangkutan dapat dengan leluasa mengembangkan skenario
yang diperkirakan akan memuluskan jalan tercapainya visi dan misi organisasi.
Yoshida (2006) menyatakan organisasi yang akan menerapkan pendekatan
strategis stretch (arsitektur strategik) ini terlebih dahulu perlu mendefinisikan
industri yang akan dimasukinya lengkap dengan gambaran tentang masa depan
industri tersebut. Gambaran masa depan industri inilah yang kemudian dikenal
sebagai industry foresight. Kemudian organisasi tersebut mengevaluasi kekuatan
dan kelemahan esensial yang dimilikinya. Kekuatan esensial ini dikenal sebagai
kompetensi inti (core competencies) organisasi. Sedang kelemahan esensial
merupakan tantangan yang harus dihadapi dan dicari solusinya sehingga tidak
akan menjadi batu sandungan dalam pencapaian tujuan organisasi tersebut. Inilah
yang dikenal dengan strategic challenge. Informasi keduanya dijadikan dasar
untuk memetakan strategi dan aksi yang akan ditempuh demi tercapainya visi dan
misi organisasi. Pendekatan dalam menyusun arsitektur strategik memperhatikan
beberapa unsur berikut: visi dan misi organisasi, analisis lingkungan internal dan
eksternal organisasi, industry foresight, strategic challenge, dan sasaran
organisasi.
1. Visi dan Misi Organisasi
Visi organisasi adalah pernyataan tentang cita-cita yang ingin dicapai di
masa mendatang (what do we want to become). Misi organisasi adalah pernyataan
tentang alasan keberadaan organisasi (the reason for being). Keduanya harus
dinyatakan secara jelas sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang salah dalam
mengkomunikasikannya ke seluruh relung organisasi.
2. Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal
Analisis ini merupakan pemindaian terhadap faktor-faktor internal dan
eksternal yang mempengaruhi organisasi saat ini dan masa datang. Analisis
internal dapat dijelaskan melalui pendekatan fungsional sehingga diperoleh
kekuatan dan kelemahan perusahaan. Sedangkan analisis lingkungan eksternal
dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan PEST (Politik – Ekonomi –
Sosial – Teknologi) dan juga dengan analisis lima Kekuatan Porter. Hasil dari
analisis lingkungan eksternal menghasilkan peluang dan ancaman bagi organisasi.
43
3. Industry Foresight (Redefinisi Industri Masa Depan)
Merupakan suatu asumsi terbaik yang disepakati bersama tentang masa
depan suatu industri/perusahaan/organisasi dan berdasarkan hal ini dibangun
segala hal yang diperlukan untuk menunjang evolusi bisnis tersebut. Industry
foresight memberikan gambaran tentang hal-hal yang potensial dalam organisasi
untuk dikembangkan di masa depan dan memungkinkan organisasi tersebut untuk
mengambil posisi sebagai pemimpin.
4. Strategic Challenge (Tantangan Organisasi)
Tantangan organisasi adalah sarana atau tata cara operasional yang harus
dimiliki dan diaplikasikan oleh organisasi untuk memperoleh keunggulankeunggulan bersaing baru secara bertahap. Tantangan organisasi merupakan
rencana awal yang perlu dipersiapkan organisasi, meliputi potensi bisnis dan
perkiraan investasi yang diperlukan untuk merealisasikan bisnis baru. Tantangan
organisasi mengidentifikasi titik fokus untuk pembangunan kapabilitas organisasi
dalam jangka pendek dan menengah.
5. Sasaran Organisasi
Sasaran merupakan tujuan organisasi yang telah terkuantifisir dengan baik.
Sasaran diidentifikasi dengan memperjelas visi, misi, dan tujuan organisasi.
Sasaran ini meliputi sasaran umum dan sasaran khusus. Sasaran khusus
merupakan tujuan jangka pendek yang ingin dicapai.
Penggambaran arsitektur strategik tidak memiliki standar yang baku.
Penggambaran arsitektur strategik harus dapat memperlihatkan jalan perubahan
yang akan ditempuh oleh organisasi untuk memenangkan persaingan di dalam
industri
tertentu.
Memenangkan
persaingan
tersebut
dilakukan
dengan
membangun sendiri kekuatan inti organisasi, dan mengembangkan sendiri batasan
industri. Dengan demikian kekuatan inti yang dapat dimaksimalkan untuk meraih
kemenangan (Gambar 4)
44
Visi dan Misi
Analisis
Internal
Tantangan
organisasi
Strategi
Kebijakan
Industry
Foresight
Arsitektur
strategik
Sasaran
Analisis
Eksternal
Program
Gambar 4. Perencanaan Strategik dengan Pendekatan Arsitektur Strategik.
Sumber: Yoshida (2006)
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Usaha kecil telah dipromosikan dan dijadikan sebagai agenda utama
pembangunan ekonomi Indonesia. Usaha kecil juga sebagai salah satu bagian
penting dari perekonomian Indonesia. Terdapat tiga alasan mengapa memandang
usaha kecil dan menengah sebagai bagian penting dari perekonomian Indonesia.
Alasan pertama adalah karena kinerjanya cenderung lebih baik dalam hal
menghasilkan tenaga kerja yang produktif. Kedua, mencapai peningkatan
produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. Ketiga adalah
memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar (Brata, 2003).
Kuncoro dalam Brata (2003) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha
rumah tangga di Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyerap
tenaga kerja, meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah
tangga.
Sektor pertanian menjadi salah satu penyumbang terbesar usaha kecil yang
ada di Indonesia. Usaha kecil yang semakin berkembang saat ini yaitu usaha
dibidang florikultura. Dalam bisnis florikultura, Indonesia mempunyai prospek
yang baik untuk mengembangkan komoditas tanaman hias mengingat
perkembangannya yang cukup pesat baik di dalam negeri maupun di dunia. Selain
itu keanekaragaman flora Indonesia yang berlimpah, dengan karakteristik dan
morfologi unik menjadikan Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk
memajukan industri florikultura dalam negeri.
Pada perdagangan internasional tanaman hias, bunga potong merupakan
salah satu komoditas andalan penting. Komoditas bunga potong yang cukup
45
banyak diminati yaitu krisan yang menempati urutan kedua setelah mawar.
Tingginya permintaan krisan menyebabkan pasokan krisan saat ini belum
mencukupi kebutuhan dunia. Produsen krisan di Asia Tenggara seperti di
Indonesia hanya mampu menyuplai sekitar sepuluh persen dari total permintaan
dunia. Dengan demikian peluang bisnis bunga potong krisan masih sangat
menjanjikan sehingga pengembangan bisnis dibidang ini masih dapat dilakukan.
Sondi Farm yang berada di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor
adalah salah satu usaha kecil yang bergerak dibidang budidaya bunga potong
krisan. Bunga krisan yang di poduksi di pasarkan ke florist-florist yang terdapat di
daerah Jakarta dan Bogor. Sebagai perusahaan yang cukup baru serta kondisi
belum memiliki sistem manajerial yang baik, pengawas yang kurang
berpengalaman, menjadikan perusahaan belum dapat beroperasi secara efektif dan
efisien. Pada bidang produksi Sondi Farm belum memiliki perencanaan produksi
yang cukup baik, dimana dalam pelaksanaan produksi hanya berdasarkan
mengikuti pola tanam sebelumnya.
Adanya kendala dibidang produksi seperti hama dan penyakit yang
menyerang tanaman dikarenakan perubahan iklim global, kondisi lahan yang
miring yang membutuhkan biaya yang cukup tinggi untuk perawatan, kenaikan
biaya produksi dan operasional perusahaan, serta permintaan pasar akan bunga
potong krisan yang masih meningkat membuat Sondi Farm perlu melakukan
penyusunan strategi dan tindakan nyata untuk menghadapi situasi tersebut dengan
alat analisis dan teori yang tepat dan sesuai. Penyusunan strategi ini juga
bertujuan agar pelaku usaha kecil dalam bidang florikultura berperilaku seperti
organisasi bisnis besar sehingga nantinya mampu bertahan dalam mengatasi
perubahan lingkungan bisnis.
Perumusan strategi pengembangan usaha Sondi Farm dengan pendekatan
manajemen strategis diawali dengan melakukan analisis kondisi perusahaan
terkini untuk mengetahui gambaran umum kondisi perusahaan termasuk
permasalah yang dihadapinya. Selanjutnya adalah mengetahui visi dan misi
perusahaan sehingga tujuan usaha bisa diketahui dengan jelas.
Tahap analisis selanjutnya adalah menganalisis lingkungan internal dan
eksternal perusahaan. Analisis lingkungan internal perusahaan menggunakan
46
pendekatan bidang fungsional perusahaan yaitu manajemen, pemasaran, produksi
atau operasi, keuangan, penelitian dan pengembangan serta sumberdaya manusia.
Analisis lingkungan eksternal mencakup lingkungan politik, pemerintahan, dan
hukum; ekonomi; sosial, budaya demografi dan lingkungan; serta teknologi.
Anlisis lingkungan industri dilakukan dengan model lima kekuatan Porter.
Hasil dari analisis lingkungan internal diperoleh faktor-faktor kekuatan
dan kelemahan perusahaan, sedangkan hasil analisis lingkungan eksternal
perusahaan diperoleh faktor-faktor peluang dan ancaman. Selanjutnya faktorfaktor tersebut dilakukan pencocokan dalam SWOT matriks, yang nantinya akan
menghasilkan sejumlah alternatif strategi yang dapat digunakan untuk
menjalankan pengembangan usaha Sondi Farm.
Tahap akhir dari proses perumusan strategi ini tahap keputusan. Pada
tahap keputusan ini terdapat beberapa model pendekatan yaitu matriks QSP, AHP,
ANP, Arsitektur strategik, dan road map strategy. Pada penelitian ini digunakan
pendekatan arsitektur strategik untuk tahap keputusan, dimana sejumlah alternatif
strategi dari analisis SWOT matriks kemudian dipetakan dalam bentuk gambaran
jalan perubahan. Pendekatan arsitektur strategik ini disusun berdasarkan lima
faktor yaitu visi dan misi, analisis lingkungan internal dan eksternal, industry
foresight, strategic challenge, dan juga sasaran organisasi. Pendekatan Arsitektur
strategik digunakan sebagai peta yang akan menuntun organisasi untuk mencapai
tujuan secara tepat waktu dan efisien dalam periode waktu tertentu. Kerangka
pemikiran penelitian ini diringkas pada Gambar 5.
47
Kondisi internal perusahaan yang belum memiliki sistem
manjerial yang baik.
Belum adanya perencanaan produksi yang matang,
sehingga belum mampu memenuhi permintaan pasar
Adanya kendala dibidang produksi kondisi lahan yang
miring, dan perubahan iklim global.
Meningkatnya
biaya
operasional
dan
produksi
perusahaan
Permintaan pasar akan bunga potong untuk florist yang
tinggi.
Visi, Misi dan Tujuan
Perusahaan
Analisis
Lingkungan
ANALISIS EKSTERNAL
Analisis Lingkungan umum
 Politik
 Ekonomi
 Sosial budaya
 Teknologi
Analisis Industri
 Rivalitas dalam industri
 Ancaman pendatang baru
 Ancaman Produk subtitusi
 Daya tawar pemasok
 Daya tawar pembeli
ANALISIS INTERNAL
 Manajemen
 Keuangan
 Produksi/operasi
 Sistem Informasi
Manajemen
 Pemasaran
 Penelitian dan
pengembangan.
Faktor peluang dan ancaman
Faktor kekuatan dan
kelemahan
Matriks SWOT
Alternatif Strategi
Arsitektur Strategik
Gambar 5. Kerangka Pemikiran Penelitian Arsitektur Strategik Sondi Farm
48
Download