gambaran kesiapan akreditasi rumah sakit versi

advertisement
GAMBARAN KESIAPAN AKREDITASI RUMAH SAKIT VERSI 2012
PADA STANDAR SASARAN KESELAMATAN PASIEN
DI RUMAH SAKIT HAJI JAKARTA
TAHUN 2014
OLEH:
Eko Setia Nugraha
NIM : 109101000039
PEMINATAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1437H / 2016M
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
Skripsi, Maret 2016
Eko Setia Nugraha, NIM : 109101000039
Gambaran Kesiapan Akreditasi Rumah Sakit Versi 2012 pada Standar Sasaran
Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta Tahun 2014
85 + xix halaman, 1 bagan, 3 gambar, 2 tabel, 6 lampiran
ABSTRAK
Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa akreditasi dilakukan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sehingga dapat meningkatkan kepercayaan
masyarakat. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan, pada 2014, Status
akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta masih menggunakan akreditasi 2009 sehingga
dikategorikan telah kadaluarsa karena telah melebihi tenggat waktu tiga tahun.
Berdasarkan wawancara, sejak tahun 2013 pihak Rumah Sakit Haji Jakarta telah
mempersiapkan untuk mengikuti standar akreditasi rumah sakit versi 2012. Namun,
pelaksanaan standar akreditasi versi 2012 mengalami beberapa keterlambatan dari target
yang ditetapkan. Penelitian ini ditujukan untuk melihat gambaran kesiapan Rumah Sakit
Haji Jakarta dalam mendapatkan akreditasi versi 2012 pada sasaran keselamatan pasien.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Informan penelitian dipilih melalui metode
purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah 1 anggota pokja akreditasi
SKP, 2 perawat, 1 seksi unit farmasi, 2 pasien. Triangulasi sumber, metode dan data
digunakan untuk meningkatkan validitas penelitian. Sesuai akreditasi 2012, terdapat
enam sasaran dalam Sasaran Keselamatan Pasien. Terdiri dari ketepatan identifikasi
pasien, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan keamanan obat, kepastian
tepat lokasi tepat prosedur tepat pasien operasi, pengendalian risiko infeksi dan
pengurangan risiko pasien jatuh. Dari enam standar tersebut didapatkan hasil dokter
operator sangat jarang menandai lokasi operasi dengan penanda khusus dan rumah sakit
tidak memiliki dokumen untuk monitoring dan evaluasi untuk pasien risiko jatuh.
Sedangkan pada sasaran lain, penyediaan dokumen dan implementasi sudah dilakukan.
Rumah sakit Haji Jakarta perlu melakukan sosialisasi terkait penandaan lokasi operasi
secara lebih intensif dan persuasif dan juga melengkapi dokumen monitoring dan
evaluasi dalam pengurangan risiko pasien jatuh.
Daftar bacaan: (1994 - 2016)
ii
FACULTY MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
DEPARTMENT OF PUBLIC HEALTH
INTENTION HEALTH SERVICE MANAGEMENT
Undergraduate Thesis, March 2016
Eko Setia Nugraha, NIM : 109101000039
An Overview of Readiness of Accreditation 2012 version Process on Patient Safety
Standard Goal in Jakarta Haji Hospital at 2014
85 + xix page, 1 chart, 3 image, 2 table, 6 attachment
ABSTRACT
The Ministry of Health of Republic Indonesia state that accreditation is
conducted for increasing a quality of health care so that can increase a trust of patient.
Based on the preliminary studies that has been conducted, in 2014, accreditation status
of Haji Hospital Jakarta still use 2009 accreditation version so that can be categorized as
an expired accreditation because of exceed 3 years as the limit of accreditation time.
Based on interview, since 2013 the hospital was preparing for getting a 2012
accreditation version. Nevertheless, the process to get the accreditation encountered
retardation by the target. This research aimed to make an overview of Jakarta Haji
Hospital readiness in getting a 2012 accreditation version on the patient safety goal. This
research uses a qualitative method. Informants in this research are chosen by purposive
sampling method. The informants are 1 person from the member of accreditation
working group of patient safety goal, 2 nurses, 1 person from pharmacy unit and 2
patients. Based on 2012 accreditation version, there are six goals on the patient safety
goal. There are identifying patient, increasing an effective communication, managing
alert drugs, to make sure right location, procedure and patient operation, reducing
infection risk and decreasing patient fall risk. From that six standard, the results are
operating doctor very rare mark the operation location using a special marker and
hospital does not have a monitoring and evaluation form for decreasing patitent fall risk.
On the other goals, requiring document and implementing have been completed. Haji
hospital need to make a socialization regarding operation location marking intensively
and persuasively and complete an evaluation and monitoring documents regarding
decreasing patient fall risk.
References: (1994 - 2016)
iii
GAMBARAN KESIAPAN AKREDITASI RUMAH SAKIT VERSI 2012
PADA STANDAR SASARAN KESELAMATAN PASIEN
DI RUMAH SAKIT HAJI JAKARTA
TAHUN 2014
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)
Oleh
Eko Setia Nugraha
NIM: 109101000039
Pembimbing I,
Pembimbing II,
dr. Yuli Prapancha Satar, MARS
NIP. 19530730 198011 1 001
Fajar Ariyanti, M.Kes, Ph.D
NIP. 19761209 200604 2 003
PEMINATAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1437 H/2016 M
iv
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI
Skripsi dengan judul Gambaran Kesiapan Akreditasi Rumah Sakit Versi 2012
Pada Standar Sasaran Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta Tahun 2014
telah diajukan dalam sidang ujian skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
pada 4 Maret 2014. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM.) pada Program Studi Kesehatan Masyarakat.
Jakarta, Maret 2016
Penguji I
Riastuti Kusuma Wardani, MKM
NIP. 1980516 200901 2 005
Penguji II
Dr. Ela Laelasari, M. Kes
NIP. 19721002 200604 2 001
Penguji III
Susanti Tungka, SKM, MARS
v
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah
satu persyaratan memperoleh gelar strata satu di Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi
yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, Maret 2016
Eko Setia Nugraha
vi
RIWAYAT HIDUP
Nama
: Eko Setia Nugraha
Tempat/Tgl Lahir
: Bireuen, 14 Januari 1992
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Agama
: Islam
Status
: Belum Menikah
Kewarganegaraan
: Indonesia
Alamat
: Jl. Medan-Banda Aceh, Dusun Sejahtera, Desa Geulanggang
Baro, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, Aceh 24251
Riwayat Pendidikan:
1. TK Nurul Hilal
(1996 – 1997)
2. SD Negeri 12 (Cot Gapu) Bireuen
(1997 – 2003)
3. SMP Negeri 1 Bireuen
(2003 – 2006)
4. SMA Negeri 1 Bireuen
(2006 – 2009)
5. S1 Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta
(2009 – sekarang)
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Kesiapan
Akreditasi Rumah Sakit Versi 2012 Standar Sasaran Keselamatan Pasien Di
Rumah Sakit Haji Jakarta Tahun 2014”. Shalawat dan salam juga tercurah bagi
junjungan dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad SAW.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan saran, bimbingan
serta bantuan baik langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak yang sangat
membantu dalam proses penyusunan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Keluarga tercinta Ibunda Rosmanidar, S.Pd dan Ayahanda Mardi Ahmad, SE
serta adikku Dessy Purnamasari yang selalu mendoakan secara tulus dan
memberikan dorongan baik moril maupun materil.
2. Bapak Prof. Dr. Arif Sumantri, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan.
3. Ibu Fajar Ariyanti, M.Kes, Ph.D selaku Kepala Program Studi Kesehatan
Masyarakat serta pembimbing skripsi.
4. Ibu Raihanna Nadra Alkaff, SKM, M.MA dan bapak dr. Yuli Prapancha Satar,
MARS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan waktu, arahan
dalam membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Dr. Ela Laelasari, M.Kes selaku dosen pembimbing akademik yang telah
membantu dan memberi masukan selama perkuliahan.
viii
6. Ibu Dewi Utami Iriani, Ph.D selaku Sekretaris Program Studi Kesehatan
Masyarakat dan seluruh dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, terima
kasih untuk seluruh ilmu dan nasihat yang diberikan selama ini. Mohon maaf
atas semua kesalahan yang dilakukan penulis selama masa perkuliahan.
7. Ibu Riastuti Kusuma Wardani, MKM dan ibu Susanti Tungka, MARS sebagai
penguji di sidang skripsi
8. Keluarga lainnya seperti Om, Tante, Sepupu dan semua yang telah memberi
dukungan serta senantiasa mengingatkan untuk lulus kuliah.
9. Bapak dr. Chairul Radjab Nasution, SpPD-KGEH, FINASIM, M.Kes yang telah
memberikan izin penelitian kepada penulis baik di Rumah Sakit Haji Jakarta dan
magang di Direktorat Bina Upaya Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan
RI.
10. Seluruh pihak Rumah Sakit Haji Jakarta yang telah membantu penulis untuk
menyelesaikan skripsi ini, khususnya pada Pak Kusnanto, informan dalam hal ini
Ibu Yati dan Pak Muzammil serta lainnya.
11. M. Iqbal Nurmansyah, selaku teman sekelas dalam perkuliahan dan menjadi
teman diskusi dalam berbagai hal. Serta teman-teman lain seperjuangan di
jurusan yang kuliahnya telat lulus dan sudah memberi motivasi satu sama lain.
12. Terakhir kepada seluruh kenalan dan teman yang ada di berbagai daerah
khususnya yang telah memberikan kritik membangun maupun nasihat selama
saya ada di perantauan.
ix
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih kurang dari
sempurna, sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi kemajuan di
masa yang akan datang. Penulis berdo’a semoga semua setiap bantuan yang telah kalian
berikan mendapat balasan dari Allah SWT. Amin Terakhir kiranya penulis berharap
semoga laporan skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca umumnnya
‫و ا لسال م عليكن ورحمة ا هلل و بر كا ته‬
Hormat saya
Eko Setia Nugraha
x
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL ..........................................................................................
i
ABSTRAK ......................................................................................................
ii
LEMBAR PERSETUJUAN .........................................................................
iv
LEMBAR PERNYATAAN ...........................................................................
vi
RIWAYAT HIDUP .......................................................................................
vii
KATA PENGANTAR ....................................................................................
viii
DAFTAR ISI ...................................................................................................
xi
DAFTAR BAGAN ..........................................................................................
xvi
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
xvii
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
xviii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................
xix
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang ........................................................................... ...
1
1.2. Rumusan Masalah ..................................................................... ...
6
1.3.Pertanyaan Penelitian ................................................................. ...
7
1.4. Tujuan
1.4.1 Tujuan Umum .......................................................................
7
1.4.2. Tujuan Khusus ....................................................................
7
1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1. Bagi Rumah Sakit ...............................................................
8
1.5.2. Bagi Peneliti ........................................................................
8
1.5.3. Bagi Peneliti Lain ...............................................................
9
1.6.Ruang Lingkup ..............................................................................
9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Akreditasi Rumah Sakit ...............................................................
10
2.1.1 Maksud Akreditasi Rumah sakit ....................................
10
2.1.2 Penyelenggaraan Akreditasi Rumah Sakit ................... ..
12
xi
2.1.3 Tujuan Rumah Sakit …...................................................
13
2.1.4 Manfaat Akreditasi ….................................................. ..
13
2.1.5 Langkah-Langkah Pelaksanaan Akreditasi ….............. ..
16
2.1.6 Pelaksanaan Akreditasi Rumah Sakit Secara Nasional.. .
16
2.1.7 Keputusan Akreditasi Rumah Sakit ….......................... .
18
2.2 Perbedaan Akreditasi Lama dan Baru ...........................................
20
2.3 Sasaran Keselamatan Pasien (Akreditasi Rumah Sakit Kementerian
Kesehatan Tahun 2012 ..................................................................... ..
22
2.3.1 Sasaran I: Ketepatan Identifikasi Pasien ..................... ..
22
2.3.1.1 Maksud dan Tujuan Sasaran I .......................... ..
22
2.3.1.2 Elemen Penilaian Sasaran I . ................. ..
23
2.3.2 Sasaran II: Peningkatan Komunikasi yang Efektif ..... ..
24
2.3.2.1 Maksud dan Tujuan Sasaran II ......................... ..
24
2.3.2.2 Elemen Penilaian Sasaran II . ................ ..
25
2.3.3 Sasaran III: Peningkatan Keamanan Obat yang Pelru
Diwaspadai ........................................................................... ..
25
2.3.3.1 Maksud dan Tujuan Sasaran III ........................ ..
25
2.3.3.2 Elemen Penilaian Sasaran III . ............... ..
26
2.3.4 Sasaran IV: Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur,
tepat-pasien operasi .............................................................. ..
27
2.3.4.1 Maksud dan Tujuan Sasaran IV ........................ ..
27
2.3.4.2 Elemen Penilaian Sasaran IV . .............. ..
28
2.3.5 Sasaran V: Pengurangan Risiko Infeksi Terkait
Pelayanan Kesehatan ............................................................ ..
29
2.3.5.1 Maksud dan Tujuan Sasaran V ....................... ..
29
xii
2.3.5.2 Elemen Penilaian Sasaran V . ................ ..
29
2.3.6 Sasaran VI: Pengurangan Risiko Pasien Jatuh ............ ..
30
2.3.6.1 Maksud dan Tujuan SasaranV I ...................... ..
30
2.3.6.2 Elemen Penilaian Sasaran VI . ....................... ..
30
2.4 Keselamatan Pasien . ................................................................... ..
31
2.5 Kerangka Teori ........................................................................... ..
32
BAB III KERANGKA PIKIR DAN DEFINISI ISTILAH.........................
3.1. Kerangka Pikir .......................................................................... ...............
40
3.2 Definisi Istilah .......................................................................... ................
41
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Desain Penelitian ......................................................................................
43
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................... ................
43
4.3 Informan Penelitian.................................................................. ................
43
4.4. Instrumen Penelitian ................................................................ ................
44
4.5 Metode Pengumpulan Data ..................................................... ..................
44
4.6 Validasi Data ........................................................................... .................
45
4.7 Pengolahan dan Analisis Data .....…......................................... .................
46
4.7.1 Pengolahan Data …..........................................................................
46
4.7.2 Analisis Data …..................................................................... ..........
47
BAB V HASIL
5.1 Gambaran Umum Informan Penelitian..................................... .....
48
5.2 Profil Rumah Sakit Haji.............................................................. ...
49
5.2.1 Visi dan Misi Rumah Sakit Haji ....................................
49
5.2.1.1 Visi Rumah Sakit Haji Jakarta ....................................
49
xiii
5.2.1.2 Misi Rumah Sakit Haji Jakarta ...................................
49
5.2.2 Akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta .............................
50
5.2.3 ISO 9001:2000 ...............................................................
50
5.2.4 Kebijakan Mutu di Rumah Sakit Haji Jakarta ................
50
5.3 Sasaran I: Ketepatan Identifikasi Pasien .......................................
51
5.4 Sasaran II: Peningkatan Komunikasi yang Efektif ......................
54
5.5 Sasaran III: Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu
Diwaspadai .....................................................................................
56
5.6 Sasaran IV: Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur,
Tepat pasien Operasi .....................................................................
58
5.7 Sasaran V: Pengurangan Risiko Infeksi Terkait
Pelayanan Kesehatan .....................................................................
60
5.8 Sasaran VI: Pengurangan Risiko Pasien Jatuh ..............................
62
BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Keterbatasan Penelitian ..............................................................................
65
6.2 Kesiapan RS Haji dalam menghadapi akreditasi versi 2012 pada sasaran
keselamatan pasien ....................................................................................
65
6.3 Sasaran I: Ketepatan Identifikasi Pasien ...................................................
66
6.4 Sasaran II: Peningkatan Komunikasi yang Efektif ..................................
68
6.5 Sasaran III: Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai ...........
70
6.6 Sasaran IV: Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, Tepat
Pasien Operasi ...........................................................................................
71
6.7 Sasaran V: Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan .....
73
6.8 Sasaran VI: Pengurangan Risiko Pasien Jatuh ...........................................
75
xiv
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan ....................................................................................................
78
7.2 Saran ...........................................................................................................
81
7.2.1Bagi Rumah Sakit Haji Jakarta ...............................................................
81
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................
82
LAMPIRAN
xv
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Kerangka Teori ..............................................................................
xvi
33
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Kerangka Pikir .............................................................................
40
Gambar 5.1 Lemari Penyimpanan Obat High Alert ........................................
57
Gambar 5.2 Stiker Tentang Pedoman Hand-hygiene ......................................
62
xvii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Istilah .................................................................................
41
Tabel 4.1 Sumber Perolehan Data Berdasarkan Informan dan
Metode Pengumpulan Data .............................................................
xviii
46
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pedoman Wawancara
Lampiran 2 Daftar Telaah Dokumen dan Observasi
Lampiran 3 SK Direktur Rumah Sakit Haji Jakarta tentang Ketepatan Identifikasi Pasien
Lampiran 4 SK Direktur Rumah Sakit Haji Jakarta tentang Peningkatan Komunikasi
yang Efektif
Lampiran 5 SK Direktur Rumah Sakit Haji Jakarta tentang Peningkatan Keamanan Obat
Lampiran 6 SK Direktur Rumah Sakit Haji Jakarta Panduan Instalasi Bedah
xix
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang memegang peranan
penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Menurut Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 340/MENKES/PER/III/2010 “Rumah sakit adalah
institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat
darurat”.
Berbagai upaya pemerintah dan masyarakat telah dilakukan untuk meningkatkan
kualitas pelayanan rumah sakit, diantaranya adalah akreditasi rumah sakit. Rumah sakit
yang telah memiliki akreditasi akan mampu memberikan jaminan hukum kepada
pelanggan dan masyarakat bahwa pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit sudah baik
dan sesuai dengan standar yang diterapkan (Departemen Kesehatan RI, 2000).
Melalui Undang-Undang (UU) terbaru mengenai rumah sakit, yaitu UU No. 44
tahun 2009, pada pasal 40 bagian ketiga juga disebutkan bahwa semua rumah sakit di
Indonesia wajib melaksanakan akreditasi dengan tujuan agar mutu rumah sakit semakin
meningkat. Sementara dalam UU No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit juga
menegaskan bahwa penyelenggaraan pelayanan kesehatan harus berdasarkan pada etika
dan moral.
Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) tahun 2012 melalui Kementerian
Kesehatan melakukan standarisasi penilaian akreditasi rumah sakit terhadap empat hal
terpenting yaitu : 1). Kelompok standar pelayanan berfokus pada pasien, 2). Kelompok
1
2
standar manajemen rumah sakit, 3). Sasaran keselamatan pasien rumah sakit, dan 4).
Sasaran millennium development goals. Dimana pada proses pelaksanaanya melibatkan
seluruh sumber daya manusia professional rumah sakit dari mulai tenaga medis dan
penunjang medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga manajemen rumah
sakit, dan tenaga non kesehatan.
Dalam akreditasi rumah sakit, sumber daya manusia telah diatur yakni melalui
penentuan jumlah dan spesifikasi tenaga serta fasilitas penunjang layanan yang harus
dimiliki oleh rumah sakit tersebut (Soepojo, 2002). Sumber daya terstandarisasi seperti
SDM, manajemen dan teknologi terstandarisasi merupakan komponen yang sangat
diperlukan untuk menghadapi persaingan dan menciptakan rumah sakit yang
mempunyai jasa pelayanan kesehatan berkualitas yang merupakan indikator untuk
meningkatkan citra rumah sakit dan profitabilitasnya (Hafizurrachman, 2009).
Perubahan paradigma standar akreditasi baru diaplikasikan pada pelayanan
berfokus pasien, dimana kepuasan pasien menjadi standar utama. Kesinambungan
pelayanan harus dilakukan baik saat merujuk keluar maupun serah terima pasien di
dalam rumah sakit. Proses akreditasi bukan hanya meneliti secara cross sectional tetapi
juga longitudinal, serta hasil survey pencapaian RS terhadap skoring yang ditentukan
berupa level-level pencapaian pratama, madya, utama dan paripurna (KARS, 2012).
Manfaat langsung dari akreditasi baru, yaitu RS mendengarkan pasien dan
keluarganya, menghormati hak-hak pasien, dan melibatkan pasien dalam proses
perawatan sebagai mitra; meningkatkan kepercayaan publik bahwa RS telah melakukan
upaya peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien; menyediakan lingkungan
kerja yang aman dan efisien yang memberikan kontribusi terhadap kepuasan karyawan;
3
modal negosiasi dengan asuransi kesehatan dan sumber pembayar lainnya dengan data
tentang mutu pelayanan menciptakan budaya yang terbuka untuk belajar dari pelaporan
yang tepat dari kejadian yang tidak diharapkan; dan menetapkan prioritas pada kualitas
dan keselamatan pasien di semua tingkat (RSUD Dr. Soegiri Lamongan, 2015).
Dengan adanya akreditasi versi 2012 yang dikeluarkan oleh Komite Akreditasi
Rumah Sakit, beberapa rumah sakit tengah mempersiapkan diri untuk bisa mengikuti
akreditasi tersebut. Dalam prosesnya, beberapa rumah sakit masih mengalami hambatan
atau dapat dikatakan belum siap untuk mengikuti akreditasi tersebut dikarenakan oleh
beberapa sebab. Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama
Semarang menyebutkan bahwa rumah sakit belum siap menghadapi akreditasi versi
2012 karena belum memiliki kebijakan terkait dengan pelaksanaan petugas terhadap
perlindungan dokumen rekam medis dari kerusakan dan kehilangan, tidak adanya pokja,
sarana prasarana yang tidak menunjang dan keterbatasan sistem manajemen rumah sakit
(Prawira & Asfawi, 2016).
Selain itu, penelitian lain yang dilakukan di RS umum Rajawali Citra Kabupaten
Bantul terkait analisis kesiapan menghadapi akreditasi pada bidang pelayanan
keselamatan kerja, kebakaran dan kewaspadaan bencana, menyebutkan bahwa masih
terdapat kesulitan dalam persiapan sumber daya manusia mengingat staf yang ditunjuk
untuk menyiapkan perangkat akreditasi belum memahami ilmu kesehatan keselamatan
kerja (Hariyono, 2013).
Rumah sakit haji Jakarta merupakan salah satu rumah sakit yang tidak berbeda
dengan rumah sakit lainnya, yaitu merupakan bagian dari sistem kesehatan yang juga
melayani masyarakat umum tanpa memandang perbedaan agama dan suku bangsa yang
4
di dukung oleh peralatan canggih dan di tangani oleh tenaga yang berkualitas dan
profesional. Pada tahun 2014, RS Haji Jakarta terakhir kali mendapatkan akreditasi oleh
Badan Akreditasi Departemen Kesehatan RI pada tahun 2009 dengan enam belas
pelayanan yang terakreditasi atau terakreditasi penuh.
Status akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta telah kadaluarsa karena telah
melebihi tenggat waktu yakni tiga tahun. Oleh karena itu, pihak Rumah Sakit Haji
Jakarta telah mempersiapkan untuk mengikuti standar akreditasi rumah sakit versi 2012
sejak tahun 2013. Namun, berdasarkan wawancara dengan pihak rumah sakit,
pelaksanaan standar akreditasi versi 2012 mengalami beberapa keterlambatan dari target
yang ditetapkan, semula awal 2014 lalu diundur menjadi pertengahan 2014 dan masih
terjadi keterlambatan.
Pada akreditasi versi 2012 terdapat beberapa sasaran yang dilakukan penilaian
dimana salah satu sasarannya ialah sasaran keselamatan pasien. Keselamatan pasien
sudah menjadi isu tidak hanya di Indonesia namun di negara berkembang maupun
negara maju lainnya. sebuah studi menunjukkan bahwa terdapat 10% pasien di rumah
sakit mengalami kejadian yang tidak diinginkan dimana setengahnya merupakan
tindakan yang dapat dicegah. Selain itu, penelitian di beberapa negara juga menyebutkan
angka yang tidak sedikit terhadap kejadian yang tidak diinginkan seperti Australia
sebesar 16,6%, Selandia Baru sebesar 12,9%, Inggris sebesar 10,8% dan Swedia sebesar
12,3% (Zegers, Wollersheim, Wensing, Vincent, & Grol, 2013).
Data terkait kejadian tidak diinginkan dan kejadian nyaris cedera di Indonesia
masih cukup sulit untuk didapatkan. Laporan data insiden keselamatan pasien untuk
setiap provinsi yang diterbitkan pada tahun 2007 menyebutkan bahwa Provinsi DKI
5
Jakarta menempati urutan tertinggi yaitu yaitu 37,9%. Selain itu, insiden keselamatan
pasien pada provinsi lainnya ialah Jawa Tengah 15,9%, D.I. Yogyakarta 13,8%, Jawa
Timur 11,7%, Sumatera Selatan 6,9%, Jawa Barat, 2,8%, Bali 1,4%, Sulawasi Selatan
0,7%) (KKP-RS, 2008).
WHO dalam bukunya menyebutkan bahwa situasi di negara berkembang
memerlukan perhatian lebih dalam hal keselamatan pasien dimana negara tersebut
cenderung lebih memiliki infrastruktur dan peralatan yang miskin, pasokan dan kualitas
obat yang kurang, kurang baiknya manajemen limbah dan pengendalian infeksi,
kurangnya kinerja personel dikarenakan kurangnya motivasi dan kemampuan teknis dan
kekurangan pendanaan menjadikan kemungkinan terjadinya insiden yang merugikan
jauh lebih besar ketimbang negara maju. WHO juga menyebutkan bahwa dilaporkan
sekitar 77% kasus obat palsu dan dibawah standar terjadi di negara berkembang (World
Health Organization, 2005).
Kejadian tidak diinginkan yang merupakan dampak dari rendahnya keselamatan
pasien memiliki dampak buruk terhadap rumah sakit, petugas kesehatan maupun pasien
dimana diantaranya ialah berdampak terhadap peningkatan biaya pelayanan juga dapat
membawa rumah sakit ke arena blamming, menimbulkan konflik antara dokter/petugas
kesehatan dan pasien, menimbulkan sengketa medis, tuntutan dan proses hukum,
tuduhan malpraktek, penyebaran ke media masyarakat yang akhirnya menimbulkan
opini negatif terhadap pelayanan rumah sakit, selain itu rumah sakit dan dokter bersusah
payah melindungi dirinya dengan asuransi, pengacara dan berakhir pada penurunan
kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit (Departemen Kesehatan,
2006).
6
Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti “Gambaran Kesiapan
Akreditasi Rumah Sakit Versi 2012 Standar Sasaran Keselamatan Pasien Di
Rumah Sakit Haji Jakarta Tahun 2014”.
1.2
Rumusan Masalah
Rumah Sakit Haji Jakarta pertama terakreditasi oleh Badan Akreditasi
Departemen Kesehatan RI pada bulan April 1998 dengan lima pelayanan yang
terakreditasi yaitu Unit Gawat Darurat, Administrasi, Keperawatan, Pelayanan Medik
dan Rekam Medik. Selanjutnya, RS Haji Jakarta terakhir diakreditasi pada tahun 2009
dengan 16 pelayanan dengan menggunakan standar lama, sehingga dapat disimpulkan
bahwa rumah sakit haji belum mendapatkan akreditasi versi 2012 pada tahun 2014.
Belum terakreditasinya RS Haji dengan versi 2012 adalah karena beberapa hal
yaitu : 1) tertundanya akreditasi yang seharusnya dilaksanakan setiap 3 tahun sekali
tetapi tertunda selama 5 tahun yaitu dari tahun 2009 sampai 2014, 2) Akreditasi baru
lebih sulit dan harus mengajukan hal-hal baru dalam prosesnya, sehingga sampai dengan
sekarang RS Haji Jakarta sedang mempersiapkan akreditasi versi baru tersebut, 3) Halhal yang dinilai kurang selama pelaksanaan akreditasi yaitu implementasi pelaksanaan
dan penyediaan dokumen dari standar yang diberlakukan. Dalam studi pendahuluan,
berdasarkan wawancara dengan pihak rumah sakit, juga disebutkan bahwa pelaksanaan
standar akreditasi versi 2012 mengalami beberapa keterlambatan dari target yang
ditetapkan, semula awal 2014 lalu diundur menjadi pertengahan 2014.
Penelitian ini juga berfokus pada sasaran keselamatan pasien pada akreditasi
versi 2012. Sasaran keselamatan pasien menjadi sebuah isu penting di Indonesia. Di
Indonesia sendiri, mengingat pentingnya aspek keselamatan pasien maka Kementerian
7
Kesehatan sendiri telah membuat Peraturan Menteri Kesehatan tentang Keselamatan
Pasien Rumah Sakit dimana peraturan ini dibuat untuk mempersiapkan rumah sakit agar
dapat meningkatkan keselamatan pasien. Selain itu, pemerintah juga menempatkan
aspek keselamatan pasien pada salah satu sasaran akreditasi versi 2012. Sedangkan
secara kuantitatif, untuk melihat angka kejadian tidak diinginkan dan kejadian nyaris
cedera di Indonesia, harus diakui bahwa data tersebut masih sangat langka karena
standar pelayanan di Indonesia masih kurang optimal (Rasdini, Wedri, & Mega, 2014).
1.3. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana gambaran kesiapan Akreditasi Rumah Sakit versi 2012 pada standar
sasaran keselamatan pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta tahun 2014?
1.4. Tujuan Penelitian
1.4.1
Tujuan Umum
Diketahui gambaran kesiapan Akreditasi Rumah Sakit versi 2012 pada
standar sasaran keselamatan pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta tahun 2014.
1.4.2. Tujuan Khusus
1.
Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran I keselamatan pasien
(ketepatan identifikasi pasien) di Rumah Sakit Haji tahun 2014.
2.
Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran II keselamatan pasien
(peningkatan komunikasi yang efektif) di Rumah Sakit Haji tahun 2014.
3.
Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran III keselamatan pasien
(peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai) di Rumah Sakit
Haji tahun 2014.
8
4.
Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran IV keselamatan pasien
(kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat pasien operasi) di Rumah
Sakit Haji tahun 2014.
5.
Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran V keselamatan pasien
(pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan) di Rumah Sakit
Haji tahun 2014.
6.
Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran VI keselamatan pasien
(pengurangan risiko pasien jatuh) di Rumah Sakit Haji tahun 2014.
1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1
Bagi Rumah Sakit
Penelitian ini diharapkan untuk mengetahui informasi jumlah dokumen yang
dimiliki Rumah Sakit Haji Jakarta serta implementasinya dalam penilaian
akreditasi standar sasaran keselamatan pasien. Serta dijadikan gambaran
dalam menentukan strategi kerja dalam pemenuhan dokumen penilaian
akreditasi standar sasaran keselamatan pasien.
1.5.2
Bagi Peneliti
1. Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai gambaran kesiapan
penilaian akreditasi rumah sakit.
2. Menambah
pengalaman
dalam
melakukan
penelitian
serta
pengembangan kompetensi diri dan disiplin ilmu yang diperoleh selama
perkuliahan.
9
1.5.3
Bagi Penelitian Lain
Sebagai informasi mengenai gambaran kesiapan penilaian akreditasi rumah
sakit. Serta menjadi bahan referensi bagi penelitian selanjutnya.
1.6.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian yang berjudul “Gambaran Kesiapan Akreditasi Rumah Sakit Versi
2012 Pada Standar Sasaran Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta Tahun
2014” merupakan penelitian kualitatif. Dilaksanakan pada tahun 2014 di Rumah Sakit
Haji Jakarta yang beralamat di Jl. Raya Pondok Gede no. 4 Jakarta Timur. Penelitian
dikhususkan pada standar sasaran keselematan pasien untuk mengetahui implementasi
dan proses pemenuhan kecukupan dokumentasi yang berguna untuk penilaian akreditasi
yang diselenggarakan KARS. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, telaah
dokumen, wawancara mendalam, pengumpulan data primer dan sekunder.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab dua berikut akan diuraikan teori-teori yang digunakan sesuai dengan
topik penelitian antara lain yang berhubungan dengan akreditasi rumah sakit.
2.1. Akreditasi Rumah Sakit
Peraturan Menteri Kesehatan RI, No 159a/MENKES/PER/II/1998 tentang
Rumah Sakit di sebutkan bahwa : Akreditasi Rumah Sakit adalah pengakuan bahwa
Rumah Sakit memenuhi standar minimal yang ditentukan Akreditasi merupakan
pengakuan resmi yang biasanya diberikan oleh Pemerintah terhadap lembaga sertifikasi
yang memenuhi standar EN-45012, yaitu persyaratan internasional bagi sebuah lembaga
sertifikasi. Sertifikasi merupakan pengakuan resmi terhadap keberhasilan penerapan
system mutu di perusahaan berdasarkan pada standar system mutu. Di Indonesia,
lembaga yang berwenang memberikan akreditasi kepada lembaga sertifikasi adalah
Komite Akreditasi Rumah Sakit (Depkes RI, 2000).
2.1.1
Maksud Akreditasi Rumah Sakit
Menurut (KARS, 2012) :
1. Memberikan standar-standar operasional rumah sakit dan fasilitas kesehatan dan
pelayanan lain yang berhubungan.
2. Menghubungkan program survey dan akreditasi yang akan menjadi anggota dari
profesi kesehatan, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan lain yang berhubungan secara
sukarela.
10
11
3. Menghubungkan program-program pendidikan dan riset dan menerbitkan hasil dari
itu, yang akan lebih lanjut maksud lain dari organisasi, dan untuk menerima
bantuan, pemberian dan warisan dan perlengkapan, dan mendukung organisasi.
4. Memberikan
tanggungjawab
dan
menghubungkan
kegiatan-kegiatan
lain
menyesuaikan dengan opersional dari penyusunan standar,survey dan program
akreditasi.
Akreditasi memiliki ciri:
a. Bersufat sukarela dari organisasi kesehatan
b. Lebih dari persyaratan yang ada pada lisensi
c. Tujuan untuk mengarahkan organisasi menuju optimasi penampilan daripada
hanya sekedar pencapaian minimum
d. Pencapaian secara maksimal standar maksimal
Survey akreditasi menyampaikan sasaran untuk evaluasi yang identik dengan
kekuatan dan kelemahan yang diperlukan untuk peningkatan manajemen dan pirantinya,
untuk pengajaran dan pelatihan , untuk menjamin adanya tindakan-tindakan perbaikan
dan
mendemonstrasikan
keinginan-keinginan
fasilitas
yang
diperlukan
dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu. Licensing adalah aktifitas
pemerintah menyatakan bahwa fasilitas kesehatan telah memenuhi standar minimum
untuk kesehatan dan kemananan. Akreditasi rumah sakit berkaitan dengan penilaian
kepatuhan terhadap standar-standar yang mencakup seluruh fungsi dan kegiatan rumah
sakit. Sumber daya atau sarana dan prasarana, manajemen, pelayanan medik, perawatan,
fungsi penunjang umum, diagnostic, rekam medis, hak pasien dan sebagainya.
12
Peningkatan mutu adalah seharusnya dimulai dari keinginan diri sendiri (rumah
sakit) secara keseluruhan dengan maksud untuk meningkatkan penampilan atas citra
dirinya dengan kesadaran , bahwa semakin bermutu rumah sakitnya akan semakin
banyak memperoleh keuntungan dalam arti luas. Sebelum di akreditasi, mulai (di
evaluasi) oleh pihak luar (KARS dan Kemenkes), rumah sakit tersebut akan menilai
dirinya sendiri lebih dulu.
Proses akreditasi Rumah Sakit secara garis besar adalah (KARS, 2012):
˜
Sebelum dilakukan akreditasi oleh Tim Akreditasi, Rumah Sakit mempersiapkan
diri senaik-baiknya melaksanakan dan melengkapi apa saja yang akan dinilai,
dengan melakukan penilaian diri sendiri dengan instrument atau kuisioner.
˜
Pada saatnya Komite Akeditasi RS melakukan pemeriksaan ( survey) ke Rumah
Sakit tersebut dan memeriksa dokumen- dokumen yang ada, peralatan medis,
mengamati kegiatan pelayanan medis, mewawancarai manajer, staf medis,
paramedis, dan non medis, serta pasien dan keluarganya.
2.1.2. Penyelenggaraan Akreditasi Rumah sakit
Menurut (Depkes RI, 2000) Standar pelayanan Rumah Sakit dan Standar pelayanan
Medis telah di tetapkan berdasar Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI, No
436/MENKES/SK/VI/1993. Standar yang digunakan untuk akreditasi mengacu pada
standar dalam Surat Keputusan Menteri tersebut dan pertimbangan lain yang telah
ditetapkan. Yang berwenang melakukan akreditasi Rumah Sakit, baik milik Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN, maupun swasta adalah “Komisi Akreditasi Rumah
Sakit“, suatu tim yang bersifat non struktural yang di bentuk berdasar Keputusan
13
Direktur Jenderal Pelayan Medik Depkes RI, terdiri atas unsur-unsur: PERSI ,Organisasi
profesi bidang kesehatan, Ahli Perumahsakitan, Departemen Kesehatan, dan Instansi/
unit terkait.
2.1.3. Tujuan Akreditasi Rumah Sakit
Menurut (Depkes RI, 2000) Tujuan umum dari akreditasi adalah untuk
mendapatkan gambaran seberapa jauh rumah sakit di Indonesia telah memenuhi
berbagai standar yang ditentukan, dengan demikian mutu pelayanan rumah sakit dapat
dipertanggungjawabkan.
 Tujuan Khusus
 Memberikan pengakuan dan penghargaan kepada Rumah Sakit yang telah
mencapai tingkat pelayanan Kesehatan sesuai dengan standar yang ditetapkan
 Memberikan jaminan kepada petugas rumah sakit bahwa semua fasilitas, tenaga
dan lingkungan yang diperlukan tersedia, sehingga dapat mendukung upaya
penyembuhan dan pengobatan pasien dengan sebaik-baiknya.
 Memberikan jaminan dan kepuasan kepada “costumer “ dan masyarakat bahwa
pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit di selenggarakan sebaik mungkin.
2.1.4. Manfaat Akreditasi
Manfaat dari akreditasi antara lain :
1. Bagi Rumah Sakit, menurut (Depkes RI, 2000)
a. Akreditasi menjadi forum komunikasi dan konsultasdi antara rumah sakit dan
bahan akreditasi yang akan memberikan saran perbaikan atau rekomendasi untuk
peningkatan mutu pelayanan rumah sakit melalui pencapaian standar yang
ditentukan.
14
b. Rumah sakit dapat mengetahui pelayanan yang berada dibawah standar atau
perlu ditingkatkan.
c. Penting untuk rekrutmen dan membatasi “Turn Over “ staf rumah sakit karena
pegawai akan lebig senang, tenang dan aman bekerja di rumah sakit yang akan di
akreditasi.
d. Dengan perkembangan asuransi Kesehatan, semakin banyak perusahaan asuransi
yang mempersyaratkan pesertanya untuk berobat di Rumah sakit yang telah
terakreditasi.
e. Alat untuk negosiasi dengan perusahaan asuransi kesehatan
f. Status Akreditasi dapat dijadikan alat untuk marketing pada masyarakat.
g. Pemerintah akan mempersyaratkan akreditasi sebagai criteria untuk memberi izin
rumah sakit yang menjadi tempat pendidikan tenaga medis/ para medis.
h. Merupakan status simbol bagi Rumah Sakit dan dapat meningkatkan citra dan
kepercayaan masyarakat atas Rumah Sakit.
i. Dengan diketahuinya kekurangan di bandingkan dengan standar yang ada, rumah
sakit dapat menggunakannya untuk kepentingan pengajuan anggran dan
perencanaan/pengembangan rumah sakit kepada pemilik.
2.
Bagi pemerintah, menurut (Depkes RI, 2000)
a. Akreditasi merupakan salah satu pendekatan untuk meningkatkan dan
membudayakan konsep mutu pelayanan rumah sakit melalui pembinaan terarah
dan berkesinambungan.
15
b. Dapat memberikan gambaran keadaan Perumahsakitan di Indonesia yang
memenuhi standar yang di tentukan sehingga menjadi bahan masukan untuk
perencanaan pengembangan pembangunan Kesehatan pada masa datang.
3.
Bagi Perusahaan Asuransi, menurut (Depkes RI, 2000)
a. Akreditasi penting untuk negosiasi klaim asuransi kesehatan dengan rumah sakit.
b. memberi gambaran rumah sakit mana yang dapat dijadikan mitra kerja
4.
Bagi masyarakat, menurut (Depkes RI, 2000)
a.
Dapat mengenal dengan melihat sertifikat Akreditasi yang biasanya di pajang
diRumah Sakit yang pelayanannya telah memenuhi standar, sehingga dapat
membantu mereka memilih rumah sakit yang di anggap baik.
b.
Masyarakat akan merasa lebih aman mendapat pelayanan di Rumah Sakit yang
sudah di akreditasi daripada yang belum di akreditasi.
5. Bagi pemilik, menurut (Depkes RI, 2000)
a.
Mempunyai rasa kebanggaan bila rumah sakitnya diakreditasi
b.
Pemilik dapat menilai seberapa baik pengelolaan sumber daya (efisiensi) rumah
sakit ini dilakukan oleh manajemen dan seluruh tenaga yang ada, sehingga misi
dan program rumah sakit dapat lebih mudah tercapai
6. Bagi petugas, menurut (Depkes RI, 2000)
a.
Merasa lebih senang dan aman serta terjamin bekerja pada Rumah Sakit yang
terakreditasi
b.
Biasanya pegawai pada unit pelayanan yang mendapat nilai baik sekali akan
mendapat imbalan dari manajemen atas usahanya selama ini dalam memenuhi
standar
16
c. Self Asesment akan menambah kesadaran akan pentingnya pemenuhan standard
an peningkatan mutu sehingga dapat memotivasi pegawai tersebut bekerja baik.
2.1.5. Langkah-langkah Pelaksanaan Akreditasi
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Kegiatan di tingkat Rumah
Sakit dalam Program Akreditasi akan meliputi :
1.
Membentuk Sub Komite Akreditasi di tingkat Rumah Sakit
2.
Mengikuti pelatihan-pelatihan tentang Akreditasi yang diadakan baik oleh wilayah
maupun pusat.
3.
Diseminasi informasi mengenai Akreditasi kepada seluruh staf Rumah Sakit
4.
Menyiapkan atau memenuhi standar.
2.1.6. Pelaksanaan Akreditasi Rumah Sakit Secara Nasional
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011). Pada prinsipnya
kegiatannya meliputi :
1.
Penjadwalan Rumah Sakit yang akan di Akreditasi
2.
Pentahapan kegiatan pelayanan yang akan di Akreditasi
3.
Proses/ prosedur pelaksanaan akreditasi Rumah Sakit adalah:
a. Setelah Komisi Gabungan menerima Surat permohonan akreditasi dari Rumah
sakit yang telah di tetapkan, Komisi akan mengirimkan instrumen kuisioner
pre-survei yang harus di isi dan di lengkapi oleh rumah sakit. Kriteria penilaian
di kelompokkan pada 15 bab standar yaitu:
standar 1 Sasaran Keselamatan Pasien
standar 2 Hak Pasien dan Keluarga
Standar 3 Pendidikan Pasien dan Keluarga
17
Standar 4 Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
Standar 5 Milennium Development Goal’s
Standar 6 Akses Pelayanan dan Kontinuitas Pelayanan
Standar 7 Asesmen Pasien
Standar 8 Pelayanan Pasien
Standar 9 Pelayanan Bedah dan Anestesi
Standar 10 Manajemen Penggunaan Obat
Standar 11 Manajemen Komunikasi dan Informasi
Standar 12 Kualifikasi dan Pendidikan Staf
Standar 13 Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
Standar 14 Tata Kelola, Kepemimpinan, dan Pengarahan
Standar 15 Manajemen Fasilitas dan Keselamatan
1. Komisi Gabungan Akreditasi akan menganalis hasil Self- assessment ini
2. Komisi Gabungan Akreditasi akan menjadwalakn kemusian melakukan
survey di lapangan dengan menunjuk satu tim survey yang terdiri dari
tenaga professional terlatih di bidang medis klinis, keperawatan dan
adminisrasi.
3. Tim survey memeriksa rekaman, dokumen, peralatan dan proses
pelayanan. Selain itu di lakukan juga wawancara dengan manajer, staf dan
pasien.
4. Surveyor menganalisis menyusun laporan penilaian dan mebuat
rekomendasi untuk perbaikan lebih lanjut.
18
5. Laporan Surveyor bersama-sama dengan usulan untuk status akreditasi
disampaikan kepada Komisi Gabungan Akreditasi.
2.1.7. Keputusan Penilaian Akreditasi Rumah Sakit
Hasil penilaian :
Menurut (KARS, 2012) Ada 4 kriteria hasil penilaian terhadap EP :
1.
Tercapai penuh ( skor 10)
 Melalui wawancara baik pada pasien/keluarga dan staf ditemukan
jawaban “ya” atau “selalu”, atau dapat menjawab sesuai dengan konteks
pertanyaan
 Melalui observasi dokumen, ditemukan minimal 9 dari 10 dokumen yang
diminta atau 90 % dokumen lengkap
 Melalui observasi bukti pelaksanaan, kegiatan/tindakan sudah berjalan
minimal 4 bulan terakhir dari masa penilaian
2. Tercapai sebagian (skor 5)
 Melalui wawancara baik pada pasien/keluarga dan staf ditemukan
jawaban “tidak selalu” atau “kadang-kadang”
 Melalui observasi dokumen, ditemukan 50 sampai 89 % dokumen yang
diminta
 Bukti dipenuhinya persyaratan hanya dapat ditemukan di sebagian
daerah/unit kerja dimana persyaratan harus ada
 Kebijakan/prosedur dapat dilaksanakan tetapi tidak dapat dipertahankan
 Melalui observasi bukti pelaksanaan, kegiatan/tindakan sudah berjalan 1 3 bulan terakhir dari masa penilaian
19
3. Tidak tercapai (skor 0)
 Melalui wawancara baik pada pasien/keluarga dan staf ditemukan jawaban
“jarang” atau “tidak pernah”,
 Melalui observasi dokumen, ditemukan <50% dari dokumen yang diminta,
 Bukti dipenuhinya persyaratan tidak dapat ditemukan di daerah/unit kerja
dimana persyaratan harus ada,
 Kebijakan/proses ditetapkan tetapi tidak dilaksanakan
Melalui observasi bukti pelaksanaan, kegiatan/tindakan sudah berjalan hanya ≤1
bulan terakhir dari masa penilaian. Berbeda dengan instrumen akreditasi versi 2007 yang
menggunakan skoring 0 sampai dengan 5, pada instrumen versi 2012 skoring yang
digunakan adalah 0, 5 dan 10. Rumah sakit mendapat skor = 10 bila 80 % standar telah
dipenuhi,skor = 5 bila 20–79 % standar terpenuhi dan skor = 0 bila pemenuhan standar
kurang dari 20 %. Pada survei akreditasi versi 2012 ini, pemenuhan standar tidak hanya
dilihat dari kelengkapan dokumen, tetapi juga implementasi dari standar akreditasi yang
akan dinilai dengan menggunakan metodologi telusur. Bagi rumah sakit yang baru
pertama kali survei dengan menggunakan standar akreditasi versi 2012 maka 4 (empat)
bulan sebelum survei dilakukan, rumah sakit harus sudah melaksanakan standar. Dan
bagi rumah sakit yang akreditasi ulang maka 1 (satu) bulan sebelum survei, rumah sakit
harus sudah melaksanakan standar. Berdasarkan standar versi 2012 ada 4 Keputusan
yang akan dikeluarkan, yaitu:
1.
Pratama (Dasar)
Bila Rumah Sakit tersebut sudah memenuhi empat standar dasar akreditasi.
20
2.
Utama
Status ini diberikan bila Rumah Sakit telah memenuhi delapan standar yang ada
3.
Madya
Status ini diberikan bila Rumah Sakit telah memenuhi dua belas standar yang ada
4.
Paripurna
Status ini diberikan bila Rumah Sakit telah memenuhi keseluruhan standar yang
ada, berjumlah lima belas standar.
2.2. Perbedaan Akreditasi Lama dan Baru
Menurut (KARS, 2012) Pada akreditasi versi lama dimulai dengan 5 pelayanan,
12 pelayanan dan pada versi baru dengan 16 pelayanan yaitu : 1) Pelayanan
Administrasi dan manajemen, 2) Pelayanan Medik, 3) Pelayanan Gawat Darurat, 4)
Pelayanan Keperawatan, 5) Pelayanan Rekam Medik, 6) Pelayanan Farmasi, 7)
Palayanan Keselamatan Kerja, 8) Pelayanan Radiologi, 9) Palayanan Laboratorium, 10)
Pelayanan Kamar Operasi, 11) Palayanan Pengendalian Infeksi, 12) Pelayanan Perinatal
resiko tinggi, 13) Pelayanan Rehabilitasi Medik, 14) Pelayanan Gizi, 15) Pelayanan
Intensif, dan 16)
Pelayanan Darah.
Selanjutnya Pada akreditasi lama lebih
mengutamakan :
1). Berfokus pada provider
2). Kuat pada input dan dokumentasi
3). Format akreditasi (standard dan parameter)
4). Lemah implementasi
kurang melibatkan petugas
Dan pada akreditasi versi baru 2012 lebih mengutamakan :
1). Berfokus pada pasien
21
2). Kuat pada proses, output dan outcome
3). Format akreditasi terdiri :
1. Standard :
2. Maksud dan tujuan :
3. Elemen penilaian
4). Kuat pada implementasi
melibatkan seluruh petugas
Sumber Acuan Akreditasi RS Baru adalah :
1. International Principles for Healthcare Standards, A Framework of requirement
for standards, 3rd Edition December 2007, International Society for Quality in
Health Care / ISQua
2. Joint Commission International Accreditation Standards for Hospitals 4 rd
Edition, 2011
3. Instrumen Akreditasi Rumah Sakit, edisi 2007, Komisi Akreditasi Rumah Sakit /
KARS
4. Standar-standar spesifik lainnya.
Perubahan Paradigma Standar Akreditasi Baru dari akreditasi lama ialah :
Menurut (KARS, 2012) :
1. Tujuan akreditasi adalah peningkatan mutu pelayanan RS, bukan semata-mata
sertifikat kelulusan
2. Standar akreditasi harus memenuhi krieria –kriteria internasional dan bersifat
dinamis
3. Pelayanan berfokus pada pasien
4. Keselamatan Pasien menjadi standar utama
22
5. Kesinambungan pelayanan harus dilakukan , baik saat merujuk keluar maupun
serah terima pasien di dalam RS ( antar unit, antar sift, antar petugas)
6. Hasil survey merupakan upaya pencapaian RS terhadap skoring yang ditentukan
berupa level level pencapaian : Pratama, Madya, Utama, Paripurna.
2.3. Sasaran Keselamatan Pasien (Akreditasi Rumah Sakit Kementerian
Kesehatan Tahun 2012)
Sasaran Keselamatan Pasien merupakan syarat yang harus diterapkan di semua
rumah sakit yang diakreditasi oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit. Penyusunan sasaran
ini mengacu kepada Nine Life-Saving Patient Safety Solutions dari WHO Patient Safety
(2007) yang digunakan juga oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS
PERSI), dan dari Joint Commission International (JCI) Maksud dari Sasaran
Keselamatan Pasien adalah mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien.
Sasaran ini menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan
menjelaskan bukti serta solusi dari konsunsus para ahli atas permasalahan ini diakui
bahwa desain sistem yang baik secara intrinsik adalah untuk memberikan pelayanan
kesehatan yang aman dan bermutu tinggi, sedapat mungkin sasaran secara umum,
difokuskan pada solusi-solusi sistem yang menyeluruh.
2.3.1 Sasaran I: Ketepatan Identifikasi Pasien
2.3.1.1 Maksud dan Tujuan Sasaran I
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Kesalahan karena keliru
pasien terjadi di hampir semua aspek tahapan diagnosis dan pengobatan. Kesalahan
identifikasi pasien bisa terjadi pada pasien yang dalam keadaan terbius / tersedasi,
mengalami disorientasi, tidak sadar; bertukar tempat tidur / kamar / lokasi di rumah
23
sakit, adanya kelainan sensori; atau akibat situasi lain. Maksud sasaran ini adalah untuk
melakukan dua kali pengecekan : pertama untuk identifikasi pasien sebagai individu
yang akan menerima pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk kesesuaian
pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
Kebijakan dan/atau prosedur yang secara kolaboratifdikembangkan untuk
memperbaiki proses identifikasi, khususnya pada proses untuk mengidentifikasi pasien
ketika pemberian obat, darah / produk darah; pengambilan darah dan spesimen lain
untuk pemeriksaan klinis; memberikan pengobatan atau tindakan lain. Kebijakan
dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi seorang
pasien, seperti nama pasien, nomor rekam medis, tanggal lahir, gelang identitas pasien
dengan bar-code, dan lain-lain. Nomor kamar pasien atau lokasi tidak bisa digunakan
untuk identifikasi. Kebijakan dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua
identitas yang berbeda pada lokasi yang berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan
rawat jalan, unit gawat darurat, atau kamar operasi, termasuk identifikasi pada pasien
koma tanpa identitas. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk mengembangkan
kebijakan dan/atau prosedur agar dapat memastikan semua kemungkinan situasi dapat
diidentifikasi.
2.3.1.2 Elemen Penilaian Sasaran I
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) :
1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan
nomor kamar atau lokasi pasien
2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah. Standar
Akreditasi Rumah Sakit
24
3. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis
4. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan / prosedur
5. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang konsisten
pada semua situasi dan lokasi
2.3.2 Sasaran II: Peningkatan Komunikasi Yang Efektif
2.3.2.1 Maksud dan Tujuan Sasaran II
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Komunikasi efektif, yang
tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien, akan mengurangi
kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat
berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan
kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telpon.
Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil
pemeriksaan kritis, seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telpon ke
unit pelayanan.
Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau
prosedur untuk perintah lisan dan telepon termasuk : mencatat / (memasukkan ke
komputer) perintah secara lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima perintah;
kemudian penerima perintah membacakan kembali (read back) perintah atau hasil
pemeriksaan; dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibaca ulang
adalah akurat. Kebijakan dan/atau prosedur pengidentifikasian juga menjelaskan bahwa
diperbolehkan
tidak
melakukan
pembacaan
kembali
(read
back)
bila
memungkinkan seperti di kamar operasi dan situasi gawat darurat di IGD atau ICU.
tidak
25
2.3.2.2 Elemen Penilaian Sasaran II
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011)
1. Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui telepon atau hasil pemeriksaan
dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah
2. Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil pemeriksaan dibacakan kembali secara
lengkap oleh penerima perintah.
3. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau yang
menyampaikan hasil pemeriksaan
4. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi keakuratan
komunikasi lisan atau melalui telepon secara konsisten
2.3.3 Sasaran III: Peningkatan Keamanan Obat Yang Perlu Diwaspadai
2.3.3.1 Maksud dan Tujuan SKP III
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Bila obat-obatan menjadi
bagian dari rencana pengobatan pasien, manajemen harus berperan secara kritis untuk
memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert
medications) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan / kesalahan serius
(sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan
(adverse outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama
Obat Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike / LASA). Obatobatan yang sering disebutkan dalam issue keselamatan pasien adalah pemberian
elektrolit konsentrat secara tidak sengaja (misalnya, kalium klorida 2meq/ml atau yang
26
lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0.9%, dan magnesium sulfat
=50% atau lebih pekat-).
Kesalahan ini bisa terjadi bila perawat tidak mendapatkan orientasi dengan baik di
unit pelayanan pasien, atau bila perawat kontrak tidak diorientasikan terlebih dahulu
sebelum ditugaskan, atau pada keadaan gawat darurat. Cara yang paling efektif untuk
mengurangi atau mengeliminasi kejadian tsb adalah dengan meningkatkan proses
pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit
konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi.
Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau
prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan data yang
ada di rumah sakit. Kebijakan dan/atau prosedur juga mengidentifikasi area mana saja
yang membutuhkan elektrolit konsentrat, seperti di IGD atau kamar operasi serta
pemberian label secara benar pada elektrolit dan bagaimana penyimpanannya di area
tersebut, sehingga membatasi akses untuk mencegah pemberian yang tidak disengaja /
kurang hati-hati.
2.3.3.2 Elemen Penilaian Sasaran III
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011)
1. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses identifikasi,
menetapkan lokasi, pemberian label, dan penyimpanan elektrolit konsentrat.
2. Implementasi kebijakan dan prosedur
3. Elektrolit konsentrat tidak boleh disimpan di unit pelayanan pasien kecuali jika
dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah pemberian yang
kurang hati-hati di area tersebut sesuai kebijakan.
27
4. Elektrolit konsentrat yang disimpan di pada unit pelayanan pasien harus diberi
label yang jelas, dan disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted).
2.3.4 Sasaran IV: Kepastian tepat-lokasi, tepat prosedur, tepat-pasien operasi
2.3.4.1 Maksud dan Tujuan Sasaran IV
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Salah-lokasi, salah-prosedur,
salah pasien pada operasi, adalah sesuatu yang mengkhawatirkan dan tidak jarang terjadi
di rumah sakit. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau tidak
adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan
lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Di samping
itu pula asesmen pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak
adekuat, budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah,
permasalahan yang berhubungan dengan resep yang tidak terbaca (illegible handwriting)
dan pemakaian singkatan adalah merupakan faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi.
Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan
dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan
ini. Digunakan juga praktek berbasis bukti, seperti yang digambarkan di Surgical Safety
Checklist dari WHO Patient Safety (2009), juga di The Joint Commission’s Universal
Protocol for Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery.
Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan pasien dan dilakukan atas satu pada tanda
yang dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan secara konsisten di rumah sakit dan
harus dibuat oleh operator / orang yang akan melakukan tindakan, dilaksanakan saat
pasien terjaga dan sadar jika memungkinkan, dan harus terlihat sampai saat akan disayat.
Penandaan lokasi operasi ditandai dilakukan pada semua kasus termasuk sisi (laterality),
28
multipel struktur (jari tangan, jari kaki, lesi), atau multipel level (tulang belakang).
Maksud proses verifikasi praoperatif adalah untuk :
 Memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar;
 Memastikan bahwa semua dokumen, foto (imaging), hasil pemeriksaan yang
relevan tersedia, diberi
 label dengan baik, dan dipampang;
 Lakukan verifikasi ketersediaan setiap peralatan khusus dan/atau implant-implant
yang dibutuhkan.
Tahap “Sebelum insisi” (Time out) memungkinkan semua pertanyaan atau
kekeliruan diselesaikan. Time out dilakukan di tempat, dimana tindakan akan dilakukan,
tepat sebelum tindakan dimulai, dan melibatkan seluruh tim operasi. Rumah sakit
menetapkan bagaimana proses itu didokumentasikan secara ringkas, misalnya
menggunakan checklist.
2.3.4.2 Elemen Penilaian Sasaran IV
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011)
1. Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang jelas dan dapat dimengerti untuk
identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien di dalam proses penandaan.
2. Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk memverifikasi
saat preoperasi tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien dan semua dokumen
serta peralatan yang diperlukan tersedia, tepat, dan fungsional.
3. Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur “sebelum insisi /
time-out” tepat sebelum dimulainya suatu prosedur / tindakan pembedahan.
29
4. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung keseragaman proses
untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien, termasuk prosedur
medis dan tindakan pengobatan gigi / dental yang dilaksanakan di luar kamar
operasi.
2.3.5 Sasaran V: Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
2.3.5.1 Maksud dan Tujuan Sasaran V
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Pencegahan dan
pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan,
dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan
kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan
kesehatan.
Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk
infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran darah (blood stream infections) dan
pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis). Pokok eliminasi infeksi
ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Pedoman
hand hygiene bisa di baca di kepustakaan WHO, dan berbagai organisasi nasional dan
intemasional.
Infeksi juga bisa disebabkan oleh ventilasi yang buruk (penyakit pneumonia),
kateter, penggunaan alat medis yang tidak steril. Khusus untuk infeksi, terdapat standar
akreditasi yang memiliki sasaran tersendiri yaitu standar Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi. Jika memperoleh standar tersebut maka sebuah rumah sakit bisa mendapatkan
status akreditasi paripurna karena penilaian standar PPI harus dilakukan setelah dua
belas standar lain memenuhi syarat.
30
2.3.5.2 Elemen Penilaian Sasaran V
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011)
1. Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand hygiene terbaru yang
diterbitkan dan sudah diterima secara umum (al.dari WHO Patient Safety).
2. Rumah sakit menerapkan program hand hygiene yang efektif.
3. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan pengurangan
secara berkelanjutan risiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan
2.3.6 Sasaran VI: Pengurangan Risiko Pasien Jatuh
2.3.6.1 Maksud dan Tujuan Sasaran VI
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Jumlah kasus jatuh cukup
bermakna
sebagai
penyebab
cedera
pasien
rawat
inap.
Dalam
konteks
populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang diberikan, dan fasilitasnya, rumah
sakit perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi
risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh, obat dan telaah
terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan dan keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang
digunakan oleh pasien. Program tersebut harus diterapkan di rumah sakit.
2.3.6.2 Elemen Penilaian Sasaran VI
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011)
1. Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal risiko pasien jatuh dan melakukan
asesmen ulang bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan dll.
2. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka yang
pada hasil asesmen dianggap berisiko jatuh
31
3. Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik keberhasilan pengurangan cedera akibat
jatuh dan dampak dari kejadian tidak diharapkan
4. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan pengurangan
berkelanjutan risiko pasien cedera akibat jatuh di rumah sakit.
2.4 Keselamatan Pasien
Pengertian Keselamatan Pasien Rumah Sakit berdasarkan Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 adalah suatu
sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen
risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil. Sedangkan insiden
keselamatan pasien atau insiden adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi
yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada
pasien, terdiri dari Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak
Cedera dan Kejadian Potensial Cedera. Uraian pengertian dari kerjadian-kejadian
menurut
diatas
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
1691/MENKES/PER/VIII/2011 sebagai berikut :
1. Kejadian Tidak Diharapkan, selanjutnya disingkat KTD adalah insiden yang
mengakibatkan cedera pada pasien.
32
2. Kejadian Nyaris Cedera, selanjutnya disingkat KNC adalah terjadinya insiden
yang belum sampai terpapar ke pasien.
3. Kejadian Tidak Cedera, selanjutnya disingkat KTC adalah insiden yang sudah
terpapar ke pasien, tetapi tidak timbul cedera.
4. Kondisi Potensial Cedera, selanjutnya disingkat KPC adalah kondisi yang sangat
berpotensi untuk menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi insiden.
33
2.5 Kerangka Teori
Sasaran Keselamatan Pasien
Akreditasi Rumah Sakit
Versi 2012
Sasaran I : Ketepatan
identifikasi pasien
Sasaran II : Peningkatan
Komunikasi yang efektif
Sasaran III : Peningkatan
keamanan obat yang pelu
diwaspadai
Sasaran IV : Kepastian
tepat-lokasi, tepat-prosedur,
tepat-pasien operasi
Sasaran V : Pengurangan
risiko infeksi terkait
pelayanan kesehatan
Sasaran VI : Pengurangan
risiko pasien jatuh
Sumber: Standar Akreditasi Rumah Sakit, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Tahun 2011.
34
Penjelasan dari kerangka teori berdasarkan instrumen akreditasi rumah sakit
standar enam sasaran keselamatan pasien dapat dilihat sebagai berikut :
1. Sasaran I : Ketepatan Identifikasi Pasien
Menurut instrumen (KARS, 2012), Kesalahan karena keliru-pasien sebenarnya terjadi
di semua aspek diagnosis dan pengobatan. Keadaan yang dapat mengarahkan
terjadinya kesalahan dalam mengidentifikasi pasien, adalah pasien yang dalam
keadaan terbius atau tersedasi, mengalami disorientasi, atau tidak sadar sepenuhnya;
mungkin bertukar tempat tidur, kamar, lokasi di dalam rumah sakit; mungkin
mengalami disabilitas sensori; atau akibat situasi lain. Maksud ganda dari sasaran ini
adalah : pertama, untuk dengan cara yang dapat dipercaya mengidentifikasi pasien
sebagai individu yang dimaksudkan untuk mendapatkan pelayanan atau pengobatan;
dan kedua, untuk mencocokkan pelayanan atau pengobatan terhadap individu
tersebut. Kebijakan dan/atau prosedur yang secara kolaboratif dikembangkan untuk
memperbaiki proses identifikasi, khususnya proses yang digunakan untuk
mengidentifikasi pasien ketika pemberian obat, darah atau produk darah;
pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis; atau memberikan
pengobatan atau tindakan lain. Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya
dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, dengan dua
nama pasien, nomor identifikasi menggunakan nomor rekam medis, tanggal lahir,
gelang (identitas pasien) dengan bar-code, atau cara lain. Nomor kamar atau lokasi
pasien tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kebijakan dan prosedur juga
menjelaskan penggunaan dua pengidentifikasi yang berbeda pada lokasi yang
35
berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan ambulatori atau pelayanan rawat jalan
yang lain, unit gawat darurat, atau kamar operasi. Identifikasi terhadap pasien koma
yang tanpa identitas, juga termasuk. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk
mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur untuk memastikan telah mengatur
semua situasi yang memungkinkan untuk diidentifikasi.
2. Sasaran II : Peningkatan Komunikasi yang Efektif
Menurut instrumen (KARS, 2012), Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat,
lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh penerima, akan mengurangi kesalahan, dan
menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat secara elektronik,
lisan, atau tertulis. Komunikasi yang paling mudah mengalami kesalahan adalah
perintah diberikan secara lisan dan yang diberikan melalui telpon, bila diperbolehkan
peraturan perundangan. Komunikasi lain yang mudah terjadi kesalahan adalah
pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis, seperti laboratorium klinis menelpon unit
pelayanan pasien untuk melaporkan hasil pemeriksaan segera. Rumah sakit secara
kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk perintah lisan
dan melalui telepon termasuk menuliskan atau memasukkan ke komputer perintah
secara lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima informasi; penerima
membacakan kembali
(read back) perintah atau hasil
pemeriksaan;
dan
mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibacakan ulang dengan
akurat.untuk obat-obat yang termasuk obat NORUM/LASA dilakukan eja ulang.
Kebijakan dan prosedur mengidentifikasi alternatif yang diperbolehkan bila proses
pembacaan kembali tidak memungkinkan seperti di kamar operasi dan dalam situasi
gawat darurat/emergensi di IGD atau ICU.
36
3. Sasaran III : Peningkatan Keamanan Obat
Menurut instrumen (KARS, 2012), bila obat-obatan adalah bagian dari rencana
pengobatan pasien, maka penerapan manajemen yang benar, penting untuk
memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert
medications) adalah obat yang persentasinya tinggi dalam menyebabkan terjadi
kesalahan dan kejadian sentinel (sentinel event), obat yang berisiko tinggi
menyebabkan dampak yang tidak diinginkan demikian pula obat-obat yang tampak
mirip atau ucapan mirip (Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau LookAlike Sound-Alike / LASA). Daftar obat-obatan yang sangat perlu diwaspadai
tersedia di WHO. Yang sering disebut-sebut dalam isu keamanan obat adalah
pemberian elektrolit konsentrat secara tidak sengaja (misalnya, kalium/potasium
klorida [sama dengan 2 mEq/ml atau yang lebih pekat)], kalium/potasium fosfat
[(sama dengan atau lebih besar dari 3 mmol/ml)], natrium/sodium klorida [lebih pekat
dari 0.9%], dan magnesium sulfat [sama dengan 50% atau lebih pekat]. Kesalahan ini
bisa terjadi bila staf tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit asuhan pasien,
bila perawat kontrak tidak diorientasikan sebagaimana mestinya terhadap unit asuhan
pasien, atau pada keadaan gawat darurat/emergensi. Cara yang paling efektif untuk
mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut adalah dengan mengembangkan
proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai termasuk memindahkan
elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi. Rumah sakit secara
kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk menyusun
daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan datanya sendiri. Kebijakan dan
37
prosedur juga mengidentifikasi area mana yang membutuhkan elektrolit konsentrat
secara klinis sebagaimana ditetapkan oleh petunjuk dan praktek profesional, seperti di
IGD atau kamar operasi, serta menetapkan cara pemberian label yang jelas serta
bagaimana penyimpanannya di area tersebut sedemikian rupa, sehingga membatasi
akses untuk mencegah pemberian yang tidak disengaja/kurang hati-hati.
4. Sasaran IV : Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, dan Tepat Pasien Operasi
Menurut instrumen (KARS, 2012). Salah-lokasi, salah-prosedur, salah-pasien operasi,
adalah kejadian yang mengkhawatirkan dan biasa terjadi di rumah sakit. Kesalahan
ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau tidak adekuat antara anggota
tim bedah, kurang melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi, dan tidak ada
prosedur untuk memverifikasi lokasi operasi. Di samping itu juga asesmen pasien
yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak
mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang
berhubungan dengan resep yang tidak terbaca (illegible handwriting) dan pemakaian
singkatan adalah merupakan faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi. Rumah sakit
perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan atau prosedur yang
efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini. Kebijakan
termasuk definisi dari operasi yang memasukkan sekurang-kurangnya prosedur yang
menginvestigasi dan mengobati penyakit serta kelainan pada tubuh manusia dengan
cara menyayat, membuang, mengubah, atau menyisipkan kesempatan diagnostik.
Kebijakan berlaku atas setiap lokasi di rumah sakit dimana prosedur ini dijalankan.
Praktek berbasis bukti, seperti yang diuraikan dalam Surgical Safety Checklist dari
WHO Patient Safety (2009), juga di The Joint Commission’s Universal Protocol for
38
Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery. Penandaan lokasi
operasi melibatkan pasien dan dilakukan dengan tanda yang segera dapat dikenali.
Tanda itu harus digunakan secara konsisten di seluruh rumah sakit; dan harus dibuat
oleh orang yang akan melakukan tindakan; harus dibuat saat pasien terjaga dan sadar;
jika memungkinkan, dan harus terlihat sampai pasien disiapkan dan diselimuti.
Lokasi operasi ditandai pada semua kasus termasuk sisi (laterality), struktur multipel
(jari tangan, jari kaki, lesi), atau multiple level (tulang belakang). Maksud dari proses
verifikasi praoperatif adalah untuk : memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang
benar; memastikan bahwa semua dokumen, foto (images), dan hasil pemeriksaan
yang relevan tersedia, diberi label dengan baik, dan dipampang; Memverifikasi
keberadaan peralatan khusus yang dibutuhkan.
Tahap “Sebelum insisi” / Time out memungkinkan setiap pertanyaan yang belum
terjawab atau kesimpang-siuran dibereskan. Time out dilakukan di tempat tindakan
akan dilakukan, tepat sebelum tindakan dimulai, dan melibatkan seluruh tim operasi.
Rumah sakit menetapkan bagaimana proses itu didokumentasikan (secara ringkas,
misalnya menggunakan checklist)
5. Sasaran V : Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Menurut instrumen (KARS, 2012). Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan
tantangan praktisi dalam kebanyakan tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan
biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan
merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan
kesehatan. Infeksi umumnya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan
termasuk infeksi saluran kemih-terkait kateter, infeksi aliran darah (blood stream
39
infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis).
Pokok dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi lain adalah cuci tangan (hand
hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene yang berlaku secara internasional bisa
diperoleh dari WHO, Rumah sakit mempunyai proses kolaboratif untuk
mengembangkan kebijakan atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi
pedoman hand hygiene yang diterima secara umum untuk implementasi pedoman itu
di rumah sakit.
6. Sasaran VI : Pengurangan risiko pasien jatuh
Menurut instrumen (KARS, 2012). Jumlah kasus jatuh menjadi bagian yang
bermakna penyebab cedera pasien rawat inap. Dalam konteks masyarakat yang
dilayani, pelayanan yang diberikan, dan fasilitasnya, rumah sakit perlu mengevaluasi
risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila
sampai jatuh. Evaluasi bisa meliputi riwayat jatuh, obat dan telaah terhadap obat dan
konsumsi alkohol, penelitian terhadap gaya atau cara jalan dan keseimbangan, serta
alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien. Program ini memonitor baik
konsekuensi yang dimaksudkan atau yang tidak sengaja terhadap langkah-langkah
yang dilakukan untuk mengurangi jatuh. Misalnya penggunaan yang tidak benar dari
alat penghalang atau pembatasan asupan cairan bisa menyebabkan cedera, sirkulasi
yang terganggu, atau integrasi kulit yang menurun. Program tersebut harus diterapkan
di rumah sakit.
BAB III
KERANGKA PIKIR DAN DEFINISI ISTILAH
3.1 Kerangka Pikir
Berdasarkan penjelasan berbagai teori yang telah dijelaskan pada bab tinjauan
pustaka, maka dapat dirumuskan tahapan untuk menilai kecukupan dokumen akreditasi
dan implementasi adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1 Kerangka Pikir
Penilaian Kesiapan Akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta
Sasaran 1: ketepatan identifikasi pasien
Sasaran 2: komunikasi efektif
Kesiapan Akreditasi Versi
Sasaran 3: peningkatan keamanan obat
2012 Standar Sasaran
Keselamatan Pasien
Sasaran 4: kepastian tepat lokasi, prosedur,
pasien operasi
Sasaran 5: pengurangan risiko infeksi
Sasaran 6: pengurangan risiko pasien jatuh
Kerangka pikir di atas menggambarkan sasaran-sasaran yang terdapat pada
penilaian akreditasi standar sasaran keselamatan pasien yang terdiri dari enam sasaran
seperti sasaran ketepatan identifikasi pasien, sasaran peningkatan komunikasi yang
efektif, sasaran peningkatan kemanan obat yang perlu diwaspadai, sasaran kepastian
tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi, sasaran pengurangan risiko infeksi
terkait pelayanan kesehatan dan sasaran pengurangan risiko pasien jatuh. Sasaransasaran tersebut memiliki unsur dari dokumen yang dibutuhkan seperti dokumen
akreditasi, pedoman/panduan, kebijakan, dan standar operasional prosedur.
40
41
3.2. Definisi Istilah
Tabel 3.1 Definisi Istilah
No
.
1.
Variabel
Ketepatan
Identifikasi
Pasien
2.
Peningkatan
Komunikasi
yang Efektif
3.
Peningkatan
Keamanan
Obat
4.
Kepastian
Tepat-lokasi,
Tepatprosedur,
Tepat pasienoperasi
Definisi Istilah
Cara Ukur
Instrumen
Pengumpulan dan
pencatatan segala
keterangan tentang
data diri pasien
sebelum dirawat atau
diperiksa agar
setelahnya terjadi
tindakan medis yang
teliti dan akurat
Proses untuk
meningkatkan
penyampaian
informasi/pesan
antar tenaga medis
dan dari tenaga
medis ke pasien
melalui cara tertentu
sampai pesan
dimengerti
Pengelolaan dan
penyimpanan obatobatan yang secara
signifikan berisiko
membahayakan
pasien
Telaah dokumen,
Wawancara
mendalam, dan
observasi.
- Daftar telaah
dokumen
- Pedoman
wawancara
mendalam
Telaah dokumen,
Wawancara
mendalam, dan
observasi
- Daftar telaah
dokumen
- Pedoman
wawancara
mendalam
Telaah dokumen,
Wawancara
mendalam, dan
observasi.
- Daftar telaah
dokumen
- Pedoman
wawancara
mendalam
Peningkatan
keamanan pada
pasien operasi atau
bedah saat tim medis
melakukan praanestesi, time out
(pra-tindakan di
ruang operasi), dan
sebelum pasien
meninggalkan ruang
operasi
Telaah dokumen,
Wawancara
mendalam, dan
observasi.
- Daftar telaah
dokumen
- Pedoman
wawancara
mendalam
42
5.
Pengurangan
Risiko
Infeksi
6.
Pengurangan
Risiko Pasien
Jatuh
Pengimplementasian
program cuci tangan
yang efektif dalam
rangka mencegah
infeksi nosokomial
di rumah sakit
Pencegahan risiko
jatuh pada pasien
melalui tindakan
pengkajian
(assessment),
intervensi dan
pengawan
Telaah dokumen,
Wawancara
mendalam, dan
observasi.
- Daftar telaah
dokumen
- Pedoman
wawancara
mendalam
Telaah dokumen,
Wawancara
mendalam, dan
observasi.
- Daftar telaah
dokumen
- Pedoman
wawancara
mendalam
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif melalui pendekatan kualitatif yang didapatkan
melalui metode observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen untuk mengetahui
gambaran kesiapan akreditasi pada standar sasaran keselamatan pasien di Rumah Sakit
Haji Jakarta.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Haji Jakarta, Jl. Raya Pondok Gede no.
4, Jakarta Timur. Dikhususkan pada seksi akreditasi yang dibentuk oleh pihak rumah
sakit. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2014.
4.3 Informan Penelitian
Dalam penelitian kualitatif pemilihan informan dilakukan menggunakan metode
purposive sampling. Pemilihan informan dikarenakan pihak-pihak tersebut adalah pihak
yang terlibat atau bertanggung jawab dalam persiapan akreditasi di Rumah Sakit Haji
Jakarta khususnya standar sasaran keselamatan pasien. Pemilihan informan harus
memenuhi kategori-kategori yang berkaitan dengan penelitian. Dalam penelitian ini
informan dipilih berdasarkan kesesuaian dan kecukupan terhadap topik yang diteliti.
Peneliti akan melakukan wawancara mendalam dan menggali informasi selengkapnya
dari para informan. Sesuai dengan prasyarat tersebut dan meminta masukkan kepada
43
44
pihak rumah sakit dalam menentukan informan maka informan pada penelitian ini
diantaranya adalah Anggota Pokja Akreditasi Rumah Sakit Standar Sasaran
Keselamatan Pasien, Seksi Pelayanan Keperawatan dan Kepala Unit Farmasi. Seluruh
informan tersebut bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan akreditasi rumah sakit
yang dilaksanakan oleh KARS. Yang menjadi informan dalam penelitian berjumlah
enam orang, yaitu :
1. Anggota Pokja Akreditasi SKP
: 1 orang informan
2. Seksi Pelayanan Keperawatan
: 2 orang informan
3. Seksi Unit Farmasi
: 1 orang informan
4. Pasien
: 2 orang informan
4.4. Instrumen Penelitian
1. Pedoman wawancara semi terstruktur.
2. Daftar tilik kelengkapan dokumen akreditasi.
3. Buku catatan dan alat perekam untuk merekam proses wawancara mendalam.
4.5 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Data primer
diperoleh melalui teknik wawancara mendalam yang rencananya dilaksanakan selama 12 minggu dan observasi. Wawancara dilakukan langsung oleh peneliti menggunakan
pedoman wawancara yang telah disusun. Hasil wawancara akan dicatat dan direkam
menggunakan alat perekam. Sedangkan observasi dilakukan dengan menggunakan
pedoman observasi.
Data sekunder diperoleh melalui hasil telaah dokumen yang berkaitan dengan
penelitian di bagian pelayanan keperawatan Rumah Sakit Haji Jakarta. Telaah dokumen
45
dilakukan untuk mengetahui berapa banyak dokumen yang telah dibuat oleh seksi,
sehingga dapat menggambarkan kesiapan dalam akreditasi. Data sekunder yang telah
dikelompokkan berdasarkan standar-standar akan dinilai kelengkapannya berdasarkan
kriteria yang telah ditentukan.
4.6. Validasi Data
Guna mempertahankan agar data valid dalam teknik kualitatif deskriptif, peneliti
menggukanan triangulasi yang meliputi sumber dan metode. Penggunaan triangulasi
pada penelitian ini dijelaskan secara lebih detil pada tabel 4.1.
1. Triangulasi sumber
Melakukan cek ulang data dengan fakta dari sumber lainnya, membandingkan
dan menggunakan kelompok informan yang sangat berbeda semaksimal
mungkin.
2. Triangulasi metode
Membandingkan hasil wawancara mendalam dengan telaah dokumen serta
observasi yang saling terkait atau mengecek ulang data primer dan data
sekunder.
3. Triangulasi data
Data dikumpulkan dalam dua jenis data yakni primer dan sekunder dimana data
primer diperoleh melalui wawancara dan observasi, sedangkan data sekunder
diperoleh melalui telaah dokumen.
46
Tabel 4. 1. Sumber Perolehan Data Berdasarkan Sumber Informan dan Metode
Pengumpulan Data
Elemen pada Sasaran Keselamatan Pasien
Sasaran I
Sasaran II
Sasaran III
Sasaran IV
Sasaran V
Sasaran VI
Sumber
A, B, D
A, B, D
A, B, C
A, B, D
A, B
A, B
Keterangan: A: Anggota Pokja Akreditasi SKP
B: Seksi pelayanan keperawatan
C: Seksi unit farmasi
D: Pasien
Metode
W, D
W, D, O
W, D, O
W, D
W, D, O
W, D, O
Jenis Data
P,S
P,S
P,S
P,S
P,S
P,S
W: Wawancara
D: Telaah dokumen
O: Observasi
P: Primer
S: Sekunder
4.7 Pengolahan dan Analisis Data
4.7.1 Pengolahan Data
1. Data primer
Pengolahan dari hasil data primer yang dilakukan melalui observasi dan
wawancara mendalam diantaranya :
a) Mendengar dan membuat transkrip hasil wawancara
b) Menelaah transkrip wawancara
c) Merangkum hasil wawancara ke dalam bentuk matriks.
2. Data sekunder
Peneliti menelaah dokumen yang tersedia dalam standar akreditasi
pelayanan keperawatan di Rumah Sakit Haji Jakarta. Kemudian mengisi daftar
telaah dokumen yang telah tersedia dan mengamati dokumen apa saja yang perlu
ditambahkan.
47
4.7.2 Analisis Data
Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis interpretasi secara
naratif. Setelah memberikan interpretasi, selanjutnya peneliti memberikan
narasi gambaran kesiapan pada enam elemen standar sasaran keselamatan
pasien. Pada narasi digambarkan kesesuaian jumlah dokumen sesuai dengan
standar dari instrumen yang ditetapkan oleh KARS, serta implementasi
dilapangan berdasarkan wawancara mendalam dan observasi.
BAB V
HASIL PENELITIAN
5. 1 Gambaran Umum Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini adalah pihak yang terlibat dalam persiapan
akreditasi RS Haji Jakarta dimana diantaranya adalah Pokja Akreditasi bidang Sasaran
Keselamatan Pasien, Kepala Perawat dan pasien. Berikut adalah gambaran setiap
informan:
1. Anggota Pokja Akreditasi (Informan A)
Informan ialah Anggota Pokja Akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta.
Informan memiliki tanggung jawab dalam mensukseskan persiapan akreditasi
Rumah Sakit Haji Jakarta.
2. Seksi Pelayanan Keperawatan (Informan B dan Informan C)
Informan selanjutnya berasal dari seksi pelayanan keperawatan yakni
kepala seksi instalasi rawat inap dan kepala sub instalasi (ruang rawat inap
Afiyah) RS Haji Jakarta. Informan merupakan tenaga paramedik yang
memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien.
3. Kepala Instalasi Farmasi (Informan D)
Informan lainnya berasal dari Instalasi Farmasi yakni Kepala Instalasi
Farmasi dan dalam pokja akreditasi bertangung jawab dalam standar manajemen
pengelolaan obat. Kepala Instalasi Farmasi bertanggung jawab dalam
pengelolaan
persediaan farmasi termasuk sediaan farmasi yang perlu
diwaspadai.
48
49
4. Keluarga Pasien (Informan E dan Informan F)
Informan juga berasal dari kalangan keluarga pasien. Informan
merupakan keluarga pasien rawat inap RS Haji Jakarta. Dikarenakan pasien tidak
mampu menjawab pertanyaan maka yang menjawab adalah keluarga pasien.
Informan merupakan pihak yang mengetahui pelayanan yang diberikan oleh RS
Haji Jakarta.
5. 2 Profil Rumah Sakit Haji
Rumah Sakit Haji Jakarta beralamatkan di Jalan Raya Pondok Gede No. 4
Jakarta Timur dan di atas lahan seluas 1 Ha Rumah Sakit Haji Jakarta dibangun atas 6
(enam) lantai. Keberadaan Rumah Sakit Haji Jakarta tidak berbeda dengan rumah sakit
lainnya; yaitu merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan masyarakat yang juga
melayani masyarakat umum tanpa memandang perbedaan agama dan suku bangsa.
Didukung oleh peralatan yang canggih dan ditangani oleh tenaga yang berkualitas dan
profesional, Rumah Sakit Haji Jakarta siap melayani kesehatan masyarakat umum.
5. 2. 1 Visi dan Misi Rumah Sakit Haji Jakarta
5. 2. 1. 1 Visi Rumah Sakit Haji Jakarta
Dari pemberdayaan dan pemfokusan sumber daya manusia dan kualitas sistem
manajemen, kami akan bertumbuh menjadi institusi layanan kesehatan Islami modern,
berkelas dunia dengan jejaring rumah sakit di seluruh Indonesia.
5. 2. 1. 2 Misi Rumah Sakit Haji Jakarta
Meningkatkan kualitas hidup manusia sebagai ibadah kami kepada Allah melalui
penyediaan layanan kesehatan Islami, modern, paripurna dan berkualitas.
50
5. 2. 2 Akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta
Rumah Sakit Haji Jakarta telah diakreditasi tingkat dasar (lima pelayanan) oleh Badan
Akreditasi Departemen Kesehatan RI pada bulan April 1998. Lima pelayanan yang telah
diakreditasi yaitu Unit Gawat Darurat, Administrasi, Keperawatan, Pelayanan Medik
dan Rekam Medik dengan hasil lulus. Saat ini Rumah Sakit Haji Jakarta mendapat status
akreditasi penuh (16 pelayanan) dari standar lama dan sedang mempersiapkan proses
akreditasi rumah sakit versi 2012.
5. 2. 3 ISO 9001:2000
Selain mengikuti akreditasi rumah sakit, Rumah Sakit Haji Jakarta juga telah
mengikuti penilaian ISO 9001 : 2000. Persiapan penilaian ISO 9001 : 2000 dimulai pada
tanggal 13 Juni 2002 dengan mempersiapkan dokumen POB (Prosedur Operasional
Baku) Rumah Sakit Haji Jakarta. Selanjutnya pada tanggal 22 November 2002, Rumah
Sakit Haji Jakarta mendapatkan sertifikat ISO 9001 : 2000. Hingga kini, Rumah Sakit
Haji Jakarta tetap mempertahankan sertifikat ISO 9001 : 2000 dengan melakukan renual
tiga tahun sekali; tahun 2005 dan 2008.
5. 2. 4 Kebijakan Mutu Rumah Sakit Haji Jakarta
Kebijakan mutu yang ada di Rumah Sakit Haji Jakarta merupakan gabungan dari
visi dan misi. Adapun isi dari kebijakan mutu tersebut adalah sebagai berikut:
Untuk meningkatkan kualitas hidup manusia sebagai ibadah kami kepada Allah
melalui penyediaan layanan kesehatan Islami modern, paripurna dan berkualitas
merupakan tekad kuat dari Rumah Sakit Haji Jakarta. Kami akan tumbuh menjadi
institusi layanan kesehatan Islami modern, berkualitas dunia dengan jejaring rumah sakit
di seluruh Indonesia dari pemberdayaan dan pemfokusan sumber daya manusia kami
51
dan kualitas sistem manajemen. Dengan menjalankan tugas sesuai dengan prosedur,
standar serta nilai dasar yaitu, keikhlasan, kejujuran, integritas, kebersihan, penghargaan
atas martabat manusia dan keterbukaan pikiran adalah kontribusi sebagai karyawan di
Rumah Sakit Haji Jakarta.
5. 3 Sasaran I Keselamatan Pasien : Ketepatan Identifikasi Pasien
Sasaran I dalam keselamatan pasien sesuai akreditasi versi 2012 ialah identifikasi
pasien. Dalam sasaran ini dilakukan penilaian terhadap praktik, kebijakan dan atau
prosedur dalam identifikasi pasien sebelum tindakan, pemberian obat, pemberian darah
atau produk darah dan pengambilan spesimen darah atau spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis.
Berdasarkan telaah dokumen, pihak Rumah Sakit Haji Jakarta telah melengkapi
dokumen yang disyaratkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit, yaitu dengan adanya
acuan pembuatan kebijakan oleh direktur rumah sakit yaitu Peraturan Menteri Kesehatan
1691/2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit. Tersedia juga dokumen regulasi
yaitu Kebijakan/Panduan identifikasi pasien, Standar Operasional Prosedur pemasangan
gelang identifikasi, dan Standar Operasional Prosedur sebelum dan sesudah memberikan
produk darah. Dokumen tersebut berdasarkan keputusan direktur Rumah Sakit Haji
Jakarta nomor : 095/RSHJ/DIR/SK/AKRE/IX/2012 (dapat dilihat pada lampiran 3).
Dalam hal implementasinya didukung oleh wawancara terhadap informan, identifikasi
pasien dilakukan dengan gelang pasien yang memuat nomer rekam medis, nama dan
tempat tanggal lahir pasien. Selain itu, petugas juga menanyakan nama pasien terlebih
dahulu untuk memastikan kebenaran pasien. Berikut hasil wawancara terhadap
informan:
52
“identifikasi dari tiga yaitu nama, nomor rm dan tanggal lahir ditempel di gelang.
(Informan A)”
“Identifikasi pasien dimulai dari operan dari petugas poliklinik maupun UGD lalu
konfirmasi identitas, program, terapi. Yang kedua adalah konfirmasi pasien dan riwayat
penyakit. Identitas menggunakan gelang pasien mulai dari poliklinik maupun ruang
opname yakni warna biru untuk laki-laki dan warna merah jambu untuk perempuan. Di
gelang ada nama, tempat tanggal lahir dan nomer rekam medik. (Informan B)”
“Identifikasi menggunakan nama, tanggal lahir dan no rekam medis pada gelang pasien
dan mengkonfirmasi kepada pasien atau keluarga pasien.” (Informan C)
Dalam identifikasi sebelum pemberian obat, darah atau produk darah dan
tindakan serta sebelum mengambil darah dan spesimen lain dilakukan prosedur yang
sama yakni menggunakan gelang dan mengkonfirmasi ulang kepada keluarga maupun
pasien. Berikut hasil wawancara kepada informan:
“Sebelum pemberian obat harus lihat gelang pasien, dicocokan obatnya dengan pasien.
Sebelum tindakan sama berdasarkan gelangnya, tidak boleh lihat bed karna bisa jadi
pasiennya dipindah. (Informan A)
“Pemberian obat mulai dari cek nama, no rekam medik, cek benar obat, dosis, pasien,
waktu, cara pemberian dan menanyakan konfirmasi ulang ke pasien dan melihat gelang
pasien. mulai dari pemberian dari bank darah, kita akan mengecek dari form
permintaan dan darah yang ada. Cek nomer kemasan darah, di label meliputi nama, no
RM, tanggal lahir, golongan darah, kondisi darah dan apakah sesuai dengan darah
53
yang diminta, jumlahnya pengambilan spesimen darah oleh petugas laboratorium,
pengembailan dahak dan urin oleh perawat akan dicek prosedur dari dokter, siapkan
botol, dan siapkan label dan ditempel pada spesimen (Informan B)”
“Untuk pemberian obat: ada gelang, dipanggil nama, diinformasikan akan ada
pemberian obat, cara pemberian, informasi alergi. Pengambilan darah, dipanggil, akan
ada pemberitahuan”(Informan E)
Terkait dengan kebijakan atau prosedur yang mengarahkan identifikasi pasien
secara konsisten, RS Haji Jakarta telah memiliki prosedur tersebut. Dalam hal ini,
peneliti juga telah melakukan observasi terkait implementasi sasaran tersebut. Dalam
rangka penyebaran atau sosialisasinya, pihak rumah sakit menyebarkannya melalui
beberapa cara seperti melalui selebaran yang ditempel, soft file yang dikirim ke
komputer, rapat ruangan, briefing dan komuniasi informal. Berikut hasil wawancara
terkait kebijakan dan sosialisasinya:
“Sosialisasi seteiap ruangan, ikut rapat ruangan. (Informan A)”
“Biasanya lewat rapat ruangan, diberitahukan pas operan jaga dan ada selebaran
ditempel dan pada saat setiap hari diingatkan.” (Informan B)”
“SOP ada, sosialisasi saat briefing, saat rapat, sudah link ke komputer bisa melihat di
komputer kode link nya.”(Inofrman C)
Berdasarkan hasil observasi dalam hal implementasi identifikasi menggunakan
beberapa identitas pasien, antara lain : biru untuk laki-laki, merah jambu untuk
54
perempuan, merah dengan risiko alergi, dan kuning untuk risiko pasien jatuh. Sedangkan
identifikasi sebelum pemberian obat, darah atau produk darah, identifikasi sebelum
mengambil darah dan spesimen lain serta identifikasi sebelum pengobatan dan tindakan,
Rumah Sakit Haji Jakarta telah melaksanakan implementasi. Dalam hal kebijakan,
terdapat dokumen kebijakan dan sosialisasinya dilaksanakan dengan baik maka RS Haji
Jakarta.
5. 4 Sasaran II Keselamatan Pasien : Peningkatan Komunikasi Yang Efektif
Sasaran II pada Standar Keselamatan Pasien ialah komunikasi yang efektif.
Sasaran ini menilai komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas dan
yang dipahami oleh resipien atau penerima sehingga dapat mengurangi kesalahan dan
menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Dalam hal ini juga dinilai prosedur dan
kebijakan dalam mendukung praktek yang konsisten untuk melakukan verifikasi
terhadap akurasi dari komunikasi lisan melalui telepon.
Berdasarkan telaah dokumen, pihak Rumah Sakit Haji Jakarta telah melengkap
dokumen yang disyaratkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit antara lain
kebijakan/panduan terkait pemberian informasi yang edukatif antar tenaga medis dan
tenaga medis ke pasien, serta dokumen Standara Operasional Prosedur komunikasi via
telepon. Dokumen tersebut berdasarkan keputusan direktur Rumah Sakit Haji Jakarta
nomor : 096/RSHJ/DIR/SK/AKRE/IX/2012 (dapat dilihat pada lampiran 4). Hal ini
didukung dengan wawancara terhadap informan, petugas paramedis yang telah
melakukan komunikasi sesuai dengan prosedur yang sama yakni
teknik SBAR
(Situation, Background, Analysis, Recommendation). Berikut ringkasan wawancara
terkait komunikasi efektif:
55
“Ada SBAR. Bagian keperawatan yang lebih tahu.” (Informan A)
“Instuksi dari dokter menggunakan teknik SBAR yakni S situasi pasien dan identitas
pasien baru, b background yakni sudah diberikan apa saja, A analisa dari dokter apa, R
rekomendasi dari dokter seperti apa.”(Informan B)
“.........metode SBAR. Dalam menerima instruksi via telepon, kita harus mengulang
kembali....” (Informan C)
“....perintah ditulis kembali....ada kolom validasi dari dokter...ada pengulangan dari
apa yang disampaikan dokter....sekarang juga sedang dikembangkan komunikasi via
telpon...”(Informan D)
Dipandang dari sudut pandang pasien, pasien merasa sudah jelas dalam
menerima instruksi dari petugas kesehatan. Berikut hasil wawancara terhadap informan:
“Diinformasikan dokter melalui lisan saat pemberian instruksi instruksi dari dokter atau
perawat jelas, kalau ndak jelas bertanya kembali sampai mengerti.” (Informan E)
“….......ada perintah dari dokter dan jelas dipahami......”(Informan F)
Menurut observasi yang peneliti lakukan terkait kebijakan atau prosedur tentang
komunikasi, RS Haji Jakarta telah memiliki prosedur tersebut dan menyebarkannya
seperti kebijakan pada identifikasi pasien.
“..Ada sosialisasi dan kebijakan terkait SBAR..” (Informan B)
“....Sop nya sama ada dan sosialisasinya sama..”(Informan C)
Dalam hal penerimaan instruksi, informasi ditindak secara baik yakni adanya
penulisan kembali oleh penerima informasi. Menurut informan, perintah atau hasil
56
pemeriksaan dibacakan kembali yakni dalam bentuk pengulangan kembali dan
dikonfirmasi kembali oleh dokter. Dalam hal kebijakan atau prosedur, sudah terdapat
prosedur terkait komunikasi namun tidak termasuk didalamnya untuk menuliskan
kembali perintah atau hasil pemeriksaan. dan penyebarannya dilakukan sama seperti
kebijakan identifikasi pasien.
5.5 Sasaran III Keselamatan Pasien : Peningkatan Keamanan Obat Yang Perlu
Diwaspadai (High Alert Medications)
Sasaran III dalam Standar Keselamatan Pasien adalah peningkatan keamanan
obat yang perlu diwaspadai. Maksud dan tujuan dari sasaran ini ialah pengelolaan yang
benar terutama dalam obat yang perlu diwaspadai sehingga dapat memastikan
keselamatan pasien.
Berdasarkan telaah dokumen, Kebijakan atau Panduan mengenai obat-obat yang
high alert mencakup identifikasi, lokasi, pelabelan, dan penyimpanan obat high alert
sudah dimiliki oleh Rumah Sakit Haji Jakarta. Dokumen tersebut berdasarkan keputusan
direktur Rumah Sakit Haji Jakarta nomor : 013/RSHJ/DIR/SK/AKRE/I/2013 (dapat
dilihat pada lampiran 5).
Berdasarakan kesiapan Standar Keselamatan Pasien, dalam hal kebijakan
pengelolaan obat yang perlu diwaspadai, pengimplementasian, dan lokasi penyimpanan,
obat elektrolit konsentrat tinggi sudah diletakan dalam tempat yang aman. Dalam hal
pelaksanaan pengelolaan obat yang perlu diwaspadai, berdasarkan informan, terdapat
prosedur pengelolaan obat yang perlu diwaspadai yang memuat penyimpanan obat
berdasarkan stabilitas obat seperti suhu, cahaya dan temperatur. Selain itu, obat yang
57
tergolong dalam high alert juga dipisahkan penyimpananya. Berikut hasil wawancara
terhadap informan:
“obat yang perlu diwaspadai lokasi terpisah dengan obat yang lain, dan dikasih tanda
warna merah. Lingkaran kuning untuk penanda LASA. Untuk yang perlu diwaspadai
ada di ruang rawat inap.”(Informan A)
“Lokasi aman dari jangkauan pengunjung, pasien lain, tempat suhu yang sudah
direkomendasikan. Ada label tersendiri yakni high alert dalam obat tertentu.”
(Informan B)
“…...Di rawat inap tidak ada boleh cairan konsentrat tinggi kecuali di ICU, OK.
.”(Informan C)
“penentuan lokasi obat sesuai dengan stabilitas obat, ada dari suhu, cahaya dan
temperatur, ada indikator dan monitoringnya juga.”(Informan D)
Gambar 5.1 Lemari Penyimpanan Obat High Alert
58
Berdasarkan wawancara, obat yang perlu diwaspadai juga diberikan label yang
disebut high alert. Berikut kutipan wawancara terhadap informan:
“...ada label tersendiri yakni high alert dalam obat tertentu...”(Informan B)
“...penandaan obat diberikan high alert....”(Informan C)
Berdasarkan observasi, kebijakan tersebut juga telah dilaksanakan dimana obat
yang perlu diwaspadai diletakan pada lokasi yang aman dari jangkauan pengunjung dan
pasien lain serta berada ditempat dengan suhu yang sudah direkomendasikan. Obat juga
tidak berada pada ruang rawat inap kecuali di ruang ICU dan OK. Sedangkan
pelaksanaan waktu implementasi juga telah mencukupi syarat yang ditetapkan yaitu
minimal sudah berjalan empat bulan terakhir
5.6 Sasaran IV Keselamatan Pasien : Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur,
Tepat Pasien Operasi
Sasaran IV dalam Standar Keselamatan Pasien ialah kepastian tepat lokasi, tepat
prosedur, tepat pasien operasi. Sasaran ini ditujukan untuk mengurangi salah lokasi,
salah prosedur, salah pasien operasi yang dapat terjadi di rumah sakit. Penandaan
operasi dilakukan dengan spidol khusus namun dalam implementasinya, menurut
informan masih jarang dilakukan.
Berdasarkan telaah dokumen, pihak Rumah Sakit Haji Jakarta telah memiliki
dokumen regulasi yaitu kebijakan/panduan untuk pelayanan bedah untuk memastikan
tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien operasi. Dokumen tersebut berdasarkan
keputusan direktur RumahSakit Haji Jakarta nomor : 119/RSHJ/DIR/SK/AKRE/IX/2012
(dapat dilihat pada lampiran 6). Sedangkan dokumen implementasi juga sudah ada yaitu
59
daftar checklist operasi untuk selanjutnya dicatat di rekam medis pasien operasi. Hal ini
didukung oleh hasil wawancara terhadap informan:
“......ditandain sama pulpen atau spidol yang tidak bisa hilang...” (Informan A)
“Yang bertanggung jawab dalam operasi yakni semua tim, mulai dari perawat di
ruangan, perawat di ruang operasi dan dokter operasi spidol khusus yang ga gampang
ilang identifikasi atau gambarnya
berkewajiban menandakan operasi yaitu dokter
operator. Masalahnya presentase penandaannya kecil sekali mas”(Informan B)
“Presentase penandaan sangat kecil yang sudah dilakukan karena terkait tindakan
dokter.”(Informan C)
Dalam proses operasi juga terdapat checklist yang digunakan sebelum
preoperasi. Tim operasi juga ditugaskan untuk mencatat prosedur yang harus dilakukan
sebelum time out. Berdasarkan telaah dokumen, terdapat juga SOP terkait identifikasi
lokasi operasi, jenis operasi. Berikut hasil wawancara terhadap informant:
“Verifikasi pra operasi dengan ditandai yang mau dioperasi, ada ceklis pra operasi dan
post operasi.....ada format yang harus diisi...”(Informan C)
“Kebijakan identifikasi lokasi operasi ada SOP nya, identifiaksi lokasi operasi, jenis
operasi lalu dioperkan ke dokter.” (Informan B)
Berdasarkan elemen penilaian Standar Keselamatan Pasien sasaran IV, dalam hal
penandaan lokasi operasi tidak selalu dilakukan oleh dokter operator dan presentasenya
juga sangat kecil. Padahal Rumah Sakit Haji Jakarta telah memiliki SPO untuk
penandaan lokasi operasi. Dalam hal penggunaan checklist, RS Haji Jakarta telah
60
menggunakan checklist sebelum melakukan operasi. RS Haji Jakarta juga telah memiliki
prosedur operasi yang digunakan untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur dan
tepat pasien- tepat operasi.
5.7 Sasaran V Keselamatan Pasien : Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan
Kesehatan
Sasaran V dalam Standar Keselamatan Pasien ialah pengurangan risiko infeksi
terkait pelayanan kesehatan. Sasaran ini ditujukan untuk mencegah dan mengendalikan
infeksi nosokomial yang terjadi di rumah sakit. Infeksi nosokomial didapat oleh pasien
ketika dalam proses asuhan keperawatan atau dirawat di rumah sakit. Suatu infeksi
dikatakan didapat dari rumah sakit apabila sebelum dirawat tidak ada tanda-tanda klinik
terjadi infeksi namun selama dirawat muncul tanda-tanda infeksi yang timbul sekurangkurangnya setelah 3x24 jam sejak mulai perawatan. Seluruh orang yang berada di rumah
sakit mempunyai potensi yang sama untuk menyebarkan risiko infeksi. Petugas
kesehatan seperti perawat, dokter, bidan menjadi pembawa risiko infeksi paling besar
karena seringnya kontak langsung dengan pasien. Sesuai instrumen standar akreditasi
dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit, maka metode yang digunakan untuk mencegah dan
mengendalikan infeksi nosokomial adalah dengan mencuci tangan. Rumah Sakit Haji
Jakarta menggunakan sandi “Tepung Selaci Putih” yang merupakan kepanjangan dari
bagian yang harus dicuci seperti telapak, punggung dan sela-sela jari. Berdasarkan telaah
dokumen, pihak Rumah Sakit Haji telah melengkapi seluruh dokumen yang
dipersyaratkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit, antara lain dokumen regulasi yang
terdiri dari Kebijakan/panduan hand hygiene, Standar Operasional Prosedur momen lima
61
cuci tangan maupun dokumen implementasi yaitu indikator infeksi terkait pelayanan
kesehatan dan sosialisasi kebijakan dan prosedur cuci tangan. Berikut hasil wawancara
terkait prosedur cuci tangan:
“ada namanya tepung selaci puput.”(Informan A)
“...prosedur enam langkah cuci tangan dan enam waktu cuci tangan, ada yang namanya
Tepung selaci putih...”(Informan C)
Selain itu, pengendalian risiko infeksi juga dilakukan untuk mencegah infeksi
pada operasi, infus dan catheter. Setiap shift yang dilakukan oleh perawat terdapat
pelaporan, lalu direkap menjadi laporan harian dan bulanan serta diberikan kepda tim
pengendalian infeksi. Berikut hasil wawancara terhadap informan:
“.........pengendalian infeksi ada operasi, infus, catheter, di setiap ruangan ada tim
INOK tergantung kapasitas pasien. Tiap shift dan tiap hari ada pelaporan, tiap shift,
tiap hari lalu tiap bulan. Infus tiga hari ganti, catheter tiap hari...”(Informan C)
Menurut observasi yang dilakukan, fasilitas cuci tangan yang baik antara lain
wastafel, sabun, dan pedoman mencuci tangan yang benar sudah ada di setiap lorong
Rumah Sakit Haji Jakarta. Secara implementasi, fasilitas tersebut dimanfaatkan oleh
petugas kesehatan yang ada di Rumah Sakit, baik sebelum atau sesudah melakukan
tindakan. Berdasarkan elemen penilaian Standar Keselamatan Pasien IV, RS Haji
Jakarta telah mengadaptasi pedoman hand hygiene yang sudah sesuai dengan yang
diterbitkan oleh WHO. Rumah Sakit juga telah menyebarkan prosedur cuci tangan
diberbagai ruangan. Terkait dengan kebijakan lain yang mengarahkan pengurangan
secara berkelanjutan risiko infeksi, RS Haji Jakarta telah memiliki prosedurnya.
62
Pelaksanaan waktu implementasi juga telah mencukupi syarat yang ditetapkan, karena
rumah sakit telah mengimplementasikannya sejak lama.
Gambar 5.2 Stiker Tentang Pedoman Hand-hygiene
5. 8 Sasaran VI Keselamatan Pasien : Pengurangan Risiko Pasien Jatuh
Sasaran VI ialah pengurangan risiko jatuh. Sasaran ini ditujukan untuk
mengurangi jatuh pasien. Berdasarkan telaah dokumen, berkaitan dokumen regulasi
telah dimiliki oleh Rumah Sakit Haji Jakarta yaitu kebijakan asesmen risiko pasien
jatuh, serta Standar Operasional Prosedur pemakaian gelang kuning untuk pasien dengan
risiko jatuh. hal ini didukung oleh hasil wawancara, terdapat proses asesmen risiko
pasien jatuh yang ditunjukan dengan gelang kuning dan sandi-sandi. Namun
ketersediaan dokumen implementasi hasil pengurangan cedera akibat jatuh tidak lengkap
dan tidak selalu dilakukan oleh pihak rumah sakit. Sementara untuk menilai pasien
63
dengan risiko rendah, sedang, dan tinggi. Rumah Sakit menyediakan checklist untuk
petugas kesehatan lalu membuat skoring untuk menilai risiko pasien tersebut. Skor
dibawah 20 adalah pasien dengan risiko rendah, sementara 21 – 39 pasien dengan risiko
sedang, dan diatas 40 merupakan pasien dengan risiko tinggi. Berikut hasil wawancara
terkait penilaian risiko pasien jatuh:
“....pasien diidentifikasi melalui gelang, gelang kuning untuk pasien jatuh, pengurangan
risiko pasien jatuh ada tempat tidur yang rodanya bisa dikunci, disetiap kamar mandi
ada pegangan dan tempat tidur ada penghalangnya.”(Informan A)
''…..disamping gelang pasien ada gelang kuning untuk menilai kondisi...”(Informan B)
“.....sandi morse untuk dewasa dan dampi-dampi untuk anak-anak yakni ada resiko
rendah, sedang dan tinggi....”(informan C)
Selain itu terdapat juga proses pengurangan risiko pasien jatuh yaitu dengan
monitor lebih ketat, kerjasama dengan penjaga pasien dan memasang pengaman pada
tempat tidur pasien.
“...........dipasang handle di kanan kiri pasien, monitor lebih ketat, bekerjasama dengan
penjaga pasien, ada pengamanan tempat tidur juga....”(Informan B)
“........ada sampiran tempat tidur, ada penjelasan kepada pasien dan keluarga untuk
adanya gelang kuning,...(Informan C)
Berdasarkan observasi dalam hal asesmen risiko pasien jatuh, RS Haji Jakarta
telah melakukan penilaian risiko yang ditunjukan dengan penggunaan gelang kuning
oleh pasien. Pelaksanaan waktu implementasi juga telah mencukupi syarat yang
ditetapkan yaitu minimal sudah berjalan empat bulan terakhir. Selain itu terdapat juga
sandi-sandi untuk mengukur risiko pasien jatuh, yaitu sandi Morse untuk dewasa dan
64
Humpty Dumpty (dampi-dampi) untuk anak-anak. Dalam hal pengurangan risiko serta
langkah RS Haji Jakarta telah menerapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk
mengurangi risiko pasien jatuh. Terkait kebijakan, RS Haji Jakarta juga telah memiliki
prosedur yang baik untuk standar sasaran keselamatan pasien elemen pengurangan risiko
pasien jatuh.
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal kedalaman pembahasan apa yang
menjadi akar permasalahan pada sasaran-sasaran tertentu yang belum mencapai standar
yang ditetapkan. Hal tersebut karena penelitian ini hanya menggambarkan kesiapan
akreditasi rumah sakit dan berpanduan pada instrumen yang diterbitkan oleh Komisi
Akreditasi Rumah Sakit.
6.2 Kesiapan RS Haji dalam menghadapi akreditasi versi 2012 pada standar
sasaran keselamatan pasien
Secara keseluruhan, telah terdapat kebijakan yang dikeluarkan pimpinan RS
terkait sasaran keselamatan pasien akreditasi rumah sakit Kementerian Kesehatan.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Direktur Rumah Sakit Haji Jakarta Nomor
005/RSHJ/DIR/SK/AKRE/2013 tentang Panduan Enam Sasaran Keselamatan Pasien
Rumah Sakit Haji Jakarta. Dalam peraturan tersebut diatur mengenai penerapan enam
sasaran yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan yakni ketepatan identifikasi
pasien, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan komunikasi yang efektif,
peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, kepastian tepat-lokasi, tepatprosedur, tepat-pasien operasi, pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
dan pengurangan risiko pasien jatuh. Hal tersebut tentunya memberikan suatu tanda
bahwa RS Haji Jakarta telah siap untuk mengikuti proses akreditasi Rumah Sakit. Selain
itu, dengan adanya kebijakan menandakan bahwa tujuan akan dapat dicapai dimana
dalam hal ini adalah adanya peningkatan keselamatan pasien.
65
66
Salah satu hal pokok yang paling berpengaruh dalam kesuksesan sebuah
implementasi kebijakan ialah komunikasi, disposisi, struktur birokrasi dan sumber daya
(Nuryatin, Minto, & Pani, 2012). Implementasi kebijakan di RS Haji Jakarta mengalami
kesuksesan karena adanya komunikasi yang efektif diantara manajemen dan tenaga
kesehatan. Penyebaran kebijakan yang tertuang dalam prosedur disebarkan melalui
rapat-rapat divisi. Selain itu, kebijakan juga disebarkan melalui komputer-komputer dan
selebaran yang ada di ruangan beberapa divisi.
Setelah adanya kebijakan, beberapa tugas lain juga perlu diperhatikan. Para aktor
pengambil kebijakan seperti pimpinan RS perlu mengambil dan memiliki tanggung
jawab terhadap implementasi kebijakan sekaligus memantau kemajuan, mengevaluasi
hasil, dan memastikan umpan balik untuk pembuat kebijakan serta mengenalkan aplikasi
dari semua hasil penelitian yang berguna (Ayuningtyas, 2014)
Kebijakan-kebijakan yang telah dibuat bisa menjadi gagal karena kurangnya
perhatian terhadap pelaksanaan. Oleh karena itu, dibutuhkan komunikasi dua arah antara
pengambil kebijakan dan perencana yang merupakan hal yang mutlak harus dilakukan
(William, 1994). Dalam lingkup penelitian ini, tentunya dibutuhkan koordinasi antara
pengambil kebijakan dengan pelaksana lapangan seperti perawat, dokter dan tenaga
kesehatan maupun tenaga non kesehatan yang bekerja di RS Haji Jakarta.
6.3 Sasaran I Keselamatan Pasien: Ketepatan Identifikasi Pasien
Maksud dari sasaran ini adalah memastikan bahwa proses identifikasi pasien
sebagai individu yang dimaksudkan untuk mendapatkan pelayanan atau pengobatan
dilakukan dengan cara yang dapat dipercaya dan mencocokan pelayanan atau
67
pengobatan terhadap individu tersebut. Kebijakan dan atau prosedur yang secara
kolaboratif dikembangkan untuk memperbaiki proses identifikasi, khususnya proses
yang digunakan untuk mengidentifikasi pasien ketika pemberian obat, darah atau produk
darah, pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis atau memberikan
pengobatan atau tindakan lain (Kementerian Kesehatan, 2011)
Rumah sakit Haji Jakarta telah menerapkan identifikasi pasien menggunakan
cara yakni melihat identitas pasien pada gelang pasien dan mengkonfirmasi kembali
dengan bertanya kepada pasien sebelum pemberian obat, pengambilan spesimen dan
sebelum pemberian tindakan. Pihak manajemen pun menyatakan pelarangan untuk
melihat identitas melalui tempat tidur pasien mengingat adanya kemungkinan
pemindahan pasien sebelumnya sehingga identitas yang berada di tempat tidur tidak
cocok dengan pasien yang berada di tempat tidur.
Penelitian yang dilakukan pada salah satu rumah sakit di Kota Malang juga
menyebutkan bahwa struktur sistem identifikasi pasien sudah tersedia secara lengkap
dengan menggunakan gelang pasien dan juga verifikasi terhadap pasien dengan bertanya
kepada pasien terkait identitas diri. Namun, masih terdapat kendala dan hambatan dalam
hal tersebut seperti kurangnya kebiasaan melakukan verifikasi, keluhan pasien jika
terlalu sering ditanya dan kadang terjadi salah cetak nama pada stiker identitas
(Anggraeni, Hakim, & Widjiati I., 2014).
Studi kasus yang dilakukan di RSUD DR. R. Soetijono Blora terkait kesiapan
menghadapi akreditasi versi 2012, dalam keselamatan pasien dan sasaran identifikasi
pasien, disebutkan bahwa masih terdapat permasalahan dalam proses identifikasi pasien.
Pada dasaranya, identifikasi pasien sudah dilakukan namun belum dilakukan secara
68
maksimal. Permasalahan yang terjadi seperti belum adanya evaluasi, pengadaan gelang
belum merata dan lengkap serta kebijakan dan pedoman yang belum lengkap (Dwi
Octaria, 2014).
WHO juga menyatakan pentingnya melibatkan pasien untuk mengidentifikasi
sendiri sebelum menerima tindakan atau obat dalam proses identifikasi pasien (WHO,
2007) (WHO Collaborating Centre for Patient Safety SOlutions, 2007). Rumah Sakit
Haji Jakarta juga telah mengembangkan kebijakan dan prosedur yang mengarahkan
identifikasi yang konsisten. Hal tersebut juga sesuai dengan yang dinyatakan WHO
yakni diperlukan adanya standarisasi identifikasi pasien dalam fasilitas pelayanan
kesehatan (WHO Collaborating Centre for Patient Safety SOlutions, 2007). RS Haji
Jakarta sendiri telah mengembangkan prosedur pemakaian gelang yang berbeda pada
setiap karakter pasien dan prosedur untuk menanyakan kembali pada setiap pasien.
Dengan adanya kebijakan tersebut, diharapkan dapat menimalisir terjadinya kesalahan
pasien atau kesalahan pemberian tindakan atau obat yang diterima.
6.4 Sasaran II Keselamatan Pasien: peningkatan komunikasi yang efektif
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas dan yang dipahami
oleh pasien, akan mengurangi kesalahan dan menghasilkan peningkatan keselamatan
pasien (Kementerian Kesehatan, 2011). Standar akreditasi rumah sakit versi 2012 pada
sasaran keselamatan pasien mensyaratkan agar rumah sakit menyusun cara komunikasi
yang efektif, tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dapat dipahami penerima. Hal itu
untuk mengurangi kesalahan dan menghasilkan perbaikan keselamatan pasien.
Dalam hal komunikasi, Rumah Sakit Haji Jakarta telah menerapkan teknik
69
komunikasi SBAR (Situation, Background, Analysis, Recommendation). Teknik
komunikasi tersebut dinilai efektif dan dapat meningkatkan kepuasan dan motivasi
perawat dalam melakukan operan (Safitri, 2012). Penelitian yang dilakukan di sebuah
rumah sakit di daerah Blora menyebutkan bahwa mereka belum menggunakan sistem
komunikasi SBAR dan CABAK (catat, baca dan konfirmasi). Disana juga belum ada
pengulangan untuk perintah yang diberikan oleh dokter konsulen sehingga masih bisa
terjadi kesalahan dalam konsultasi (Dwi Octaria, 2014). Penelitian yang dilakukan pada
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta menyebutkan bahwa komunikasi antara petugas
kesehatan dan pasien belum menggunakan format SBAR namun sudah melakukan
CABAK. Berdasar observasi yang dilakukan, mereka hanya melakukan Situation dan
Background saja, sedangkan Assessment hanya dilakukan oleh beberapa petuga dan
Recommendation sama sekali belum dilakukan (Setyaningrum, 2015).
Penelitian yang dilakukan di RSUD Kota Mataram menyebutkan terjadi
perbedaan efektifitas dari setiap langkah komunikasi SBAR pada perawat di RSUD
tersebut. Pada fase situation efektivitas bernilai 82,0%, sedangkan pada background
hanya bernilai 33,0%. Pada fase assessment dan recommendation, persentase efektifitas
bernilai 36,0% (Supinganto, Mulianingsih, & Suharmanto, 2015).
Penelitian lain juga menyebutkan bahwa metode SBAR memiliki hubungan
positif antara penerapan metode komunikasi SBAR pada handover keperawatan dengan
kinerja perawat di ruang triage IGD RSUP Sanglah Denpasar (Suprapta, 2012). Adanya
komunikasi yang efektif tentunya menjadi salah satu upaya untuk meminimalisir
kesalahan penanganan terhadap pasien. Tidak adanya komunikasi yang efektif barang
tentu dapat menyebabkan kesalahan dalam penanganan terhadap pasien.
70
Penggunaan teknik komunikasi SBAR dapat mengukur fokusnya informasi.
Teknik SBAR Juga memberikan peluang kepada pasien untuk berkomunikasi secara
efektif serta mereduksi adanya repetisi. SBAR juga mendorong untuk formulasi
komunikasi yang benar dengan detail (mu Wales, 2012). Dengan adanya implementasi
komunikasi menggunakan teknik SBAR di Rumah Sakit Haji Jakarta, tentunya hal ini
memberikan keuntungan terutama dalam hal menurunkan angka kecelakaan pasien.
6.5 Sasaran III Keselamatan Pasien : Peningkatan Keamanan Obat Yang Perlu
Diwaspadai (High Alert Medications)
Rumah
Sakit Haji Jakarta telah menerapkan kebijakan atau prosedur yang
memuat identifikasi, lokasi, pemberian label dan penyimpanan obat yang perlu
diwaspadai. Obat-obatan yang perlu diwaspadai disimpan di dalam lemari pada ruang
instalasi farmasi, beserta dengan daftar obat high alert. Selain itu di setiap ruang perawat
inap terdapat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai. Hal ini sangat penting mengingat
ketika apoteker tidak hadir, obat-obat tersebut mampu dikelola oleh setiap unit klinis
sesuai kebijakan rumah sakit.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58
Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit dimana elektrolit
konsentrasi tinggi yang disimpan pada unit perawatan pasien dilengkapi dengan
pengaman, harus diberi label yang jelas dan disimpan pada area yang dibatasi ketat
(restricted) untuk mencegah penatalaksanaan yang kurang hati-hati (Kementerian
Kesehatan, 2014).
Penelitian yang dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta menyebutkan
71
bahwa RS tersebut belum melakukan penyimpanan obat high alert sesuai dengan standar
yang seharusnya. Obat-obat high alert pada rumah sakit tersebut masih disimpan
bercampur dengan obat lain yang tidak termasuk obat high alert dan akses tidak dibatasi
dengan ketat (Setyaningrum, 2015). Pada penelitian lain, juga disebutkan bahwa terdapat
peningkatan kesesuaian penyimpanan obat high alert setelah dilakukan intervensi berupa
sosialisasi dalam bentuk pelatihan, penyusunan daftar obat high alert dan pelabelan obat
tersebut (Hermanto, Risdiana, & Harimurti, 2015).
Keamanan obat juga menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam keselamatan
pasien. Obat menjadi salah satu komponen dalam melakukan perawatan pasien. Obatobatan yang perlu diwaspadai (high alert medications) antara lain ialah obat yang sering
menyebabkan terjadi kesalahan atau kesalahan serius (sentinel event). Obat yang
berisiko tinggi menyebabkan dapak yang tidak diinginkan (adverse outcome) seperti
obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip) Nama Obat Rupa dan Ucapan
Mirip/NORUM atau Look Alike Sound Alike/LASA) (Kementerian Kesehatan, 2014).
6.6 Sasaran IV Keselamatan Pasien : Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur,
Tepat Pasien Operasi
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, tim operasi Rumah Sakit Haji
Jakarta memiliki presentase yang sangat kecil dalam penandaan lokasi operasi. Padahal
menurut informan, prosedur penandaan lokasi operasi sudah disosialisasikan. Selain itu
alat pendukung untuk menandai lokasi operasi seperti spidol atau penanda yang tidak
mudah hilang sudah tersedia. Dalam instrumen akreditasi versi 2012, setiap rumah sakit
terutama dokter operator dituntut untuk konsisten melakukan penandaan lokasi operasi.
72
Masalah manusia memang menjadi salah satu akar permasalahan dalam melakukan
operasi (Murtedjo, 2012).
Rumah Sakit Haji Jakarta juga telah menggunakan suatu checklist dalam proses
operasi. Checklist dalam operasi dilakukan dengan maksud memverifikasi lokasi,
prosedur dan pasien yang benar; memastikan bahwa semua dokumen, foto, hasil
pemeriksaan yang relevan tersedia, diberi label dengan baik dan dipampang serta
melakukan verifikasi ketersediaan peralatan khusus dan atau implant yang dibutuhkan.
Oleh karena itu, proses ini merupakan proses yang penting untuk dilakukan. Setelah itu,
tim operasi juga diharapkan menerapkan pencatatan sebelum dimulainya suatu prosedur
atau tindakan pembedahan. Dengan itu, masalah yang terdapat dapat diselesaikan
sebelum dimulainya pembedahan dan diharapkan pembedahan berjalan dengan lancar
(Kementerian Kesehatan, 2014).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di sebuah rumah sakit menyebutkan
bahwa sebagian besar perawat telah melakukan upaya untuk meningkatkan ketepatan
lokasi, prosedur, dan pasien operasi sebelum dilakukan operasi ke pasien. Berbagai
upaya tersebut ialah melakukan pengecekan terkait identitas pasien, mengecek ketepatan
prosedur dan lokasi operasi serta melakukan beberapa prosedur rutin seperti enema
sesuai instruksi dokter, menganjurkan pasien untuk puasa, sebelum memberi antibiotik
melakukan test alergi terlebih dahulu, menyiapkan dan mengecek hasil foto-foto rontgen
dan hasil pemeriksaan lainnya. Hal ini bertujuan untuk mencegah kekeliruan lokasi,
prosedur, dan pasien operasi (Iswati, 2013).
Penelitian lain yang dilakukan di RS Muhammadiyah Yogyakarta menyebutkan
bahwa meskipun prosedur penandaan pasien operasi sudah ada tetapi pelaksanaan
73
penandaan belum berjalan dengan baik. Penandaan lokasi operasi belum dilaksanakan
sempurna dimana penandaan hanya dilakukan pada beberapa kasus seperti pada pasien
ortopedi, kasus tumor mammae (Setyaningrum, 2015).
Salah-lokasi, salah-prosedur, salah-pasien pada operasi disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranya komunikasi yang kurang efektif antar anggota tim bedah, kurangnya
pelibatan pasien dan tidak adanya prosedur verifikasi okasi operasi. Selain itu, beberapa
faktor juga turut berkontribusi dalam menyebabkan kesalahan-kesalahan tersebut seperti
asesmen pasien yang tidak adekuat, penelahaan ulang catatan medis tidak adekuat,
budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah,
permasalahan yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak terbaca dan
pemakaian singkatan (Kementerian Kesehatan, 2014).
6.7 Sasaran V Keselamatan Pasien: Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan
kesehatan
Sasaran V keselamatan pasien pada standar akreditasi versi 2012 ialah
pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan. Pada dasarnya, pokok dari
eleminasi infeksi ialah dengan cuci tangan yang tepat. Oleh karena itu, pihak akreditasi
rumah sakit memfokuskan penggunaan metode cuci tangan pada sasaran ini. Sedangkan,
aspek lain dalam hal pencegahan dan pengendalian infeksi dinilai dalam komponen lain
akreditasi yakni pada standar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang termasuk
didalamnya penilaian terkait peran kepemimpinan, pelatihan dan pelatihan staf,
penggunaan metode untuk mengidentifikasi risiko infeksi, pendidikan serta kebijakan
dan prosedur yang ada.
74
Bila melihat lebih dalam terkait dengan infeksi yang dapat terjadi pada pelayanan
kesehatan, infeksi dapat terjadi pada beberapa bagian seperti sistem pernafasan,
perkemihan, pencernaan, pembuluh darah dan luka pembedahan. Sedangkan macammacam infeksi yang dapat terjadi diantaranya Infeksi saluran kemih (UTI), Phlebitis,
Bronchopnemnonia, Decubitus, Dehiscensi luka operasi, Influenza, Selulitis dan Sepsis.
Terkait dengan penyebab infeksi pada pelayanan kesehatan, seperti yang juga telah
disebutkan oleh komite akreditasi rumah sakit, salah satu faktor yang mempengaruhi
ialah higienitas daripada petugas kesehatan (Effendy, 2013).
Dalam aspek hand hygiene, RS Haji Jakarta mengadopsi cara mencuci tangan
“Tepung Selaci Putih” atau “Tepung Selaci Puput” yakni telapak tangan, punggung
tangan, sela-sela jari, putar ibu jari dan putar ujung jari. Berdasarkan observasi yang
dilakukan, poster-poster panduan mencuci tangan juga sudah disebarkan pihak rumah
sakit ke berbagai ruang seperti ruang perawat sehingga bisa menjadi pengingat bagi
semua pihak agar melakuan kegiatan cuci tangan dengan baik dan benar.
Penelitian yang dilakukan di sebuah rumah sakit menunjukkan bahwa petugas
masih belum memahami pentingnya 5 momen untuk melakukan cuci tangan. Petugas
kebanyakan hanya melakukan cuci tangan pada saat setelah melakukan tindakan dan
setelah kontak dengan pasien.. Petugas sangat jarang sekali melakukan bahkan hampir
tidak pernah melakukan cuci tangan sebelum kontak dengan pasien. Hal ini disadari oleh
petugas, namun sudah menjadi suatu kebiasaan yang diterapkan sehingga menjadi
budaya tersendiri (Dwi Octaria, 2014).
Hasil observasi yang ditemukan di rumah sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta
menjelaskan
bahwa
masih
terdapat
beberapa
kekurangan
dalam
75
pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan. Kekurangan tersebut
diantaranya ialah sarana cuci tangan yang belum tersedia secara merata dan memadai,
cuci tangan yang dilakukan oleh petugas sudah sesuai dengan standar WHO tetapi
beberapa dari petugas melakukan dengan urutan yang masih belum benar, kepatuhan
dan pemahaman petugas akan cuci tangan 5 waktu belum baik, dan belum adanya
evaluasi (Setyaningrum, 2015).
Hasil penelitian di rumah sakit lain menunjukkan sebagian besar perawat telah
menerapkan tindakan untuk mengurangi infeksi dengan mencuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan tindakan keperawatan, mendisinfeksi bagian tubuh yang akan
dirawat luka, memakai alat-alat yang sudah disterilkan, dan memakai sarung tangan saat
melakukan tindakan apapun (Iswati, 2013).
Cuci tangan bisa dilakukan dengan dua cara yakni mencuci tangan dengan air
dan mencuci tangan berbahan dasar alkohol. Dimana dalam setiap prosesnya tetap
menggunakan konsep “Tepung Selaci Putih” namun dalam mencuci tangan
menggunakan air, gerakan dilakukan pengulanagan sebanyak delapan kali dan dengan
alkohol cukup diulang empat kali (RSUD dr. M. Ashari, 2014).
Melakukan cuci tangan dengan tepat dapat mereduksi infeksi saluran kemih,
infeksi pada aliran darah dan juga pneumonia (Kementerian Kesehatan, 2011). Cuci
tangan merupakan prosedur satu-satunya yang paling penting dalam mencegah infeksi
nosokomial (Zuhriyah, 2004).
6.8 Sasaran VI Keselamatan Pasien: Pengurangan Risiko Pasien Jatuh
Rumah Sakit Haji Jakarta telah melakukan asesmen terhadap risiko pasien jatuh.
76
Dengan menggunakan pedoman asesmen, pasien dengan skor 20 masuk kategori rendah,
21-39 kategori sedang, dan pasien yang skornya diatas 40 tergolong ke dalam pasien
risiko jatuh kategori tinggi. Selain itu terdapat sandi-sandi untuk mengukur risiko pasien
jatuh, yaitu Sandi Morse untuk dewasa dan Humpty Dumpty (dampi-dampi) untuk anakanak. Setelah asesmen, pasien dengan risiko jatuh ditandai dengan pemakaian gelang
kuning. Selain asesmen, Rumah Sakit Haji Jakarta juga melakukan beberapa upaya lain
untuk dapat mereduksi kasus pasien jatuh antara lain dengan komunikasi intensif dengan
keluarga pasien, penggunaan tempat tidur dengan memakai sampiran dan roda tempat
tidur tersebut dapat dikunci, memberi pegangan di kamar mandi. Selama dalam
perawatan pasien tersebut wajib didampingi
Penelitian yang dilakukan di RSUD DR. R. Soetijono Blora menunjukan bahwa
RS tersebut belum melakukan penilaian awal dan juga penilaian pada saat perubahan
kondisi pada pasien dengan risiko jatuh. Kondisi tersebut disinyalir dikarenakan karena
belum adanya kebijakan dan pedoman terkait dengan penilaian pasien dengan risiko
jatuh (Dwi Octaria, 2014).
Hasil penelitian terkait kepatuhan perawat dalam melaksanakan standar prosedur
operasional pencegahan pasien risiko jatuh di RS Borromeus menunjukan bahwa 98%
perawat sudah patuh melakukan penilaian terhadap pasien risiko jatuh menggunakan
Morse Fall Scale (MFS), 68% patuh memasang gelang pasien berisiko jatuh, 68% patuh
memasang label segitiga dan 96% patuh dalam pemasangan pagar pengaman tempat
tidur (Setyarini & Herlina, 2013).
Penelitian yang dilakukan pada RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta menyebutkan bahwa penilaian awal pada pasien telah
dilakukan namun belum dilakukan dengan metode yang benar. Penggunaan gelang
77
kuning pada pasien dengan risiko jatuh juga belum dilakukan dengan optimal. Hal
tersebut dikarenakan kebijakan mengenai asesmen pasien risiko jatuh belum diketahui
dan dipahami dengan benar oleh petugas (Setyaningrum, 2015).
Pasien jatuh menjadi salah satu penyebab cedera bagi pasien rawat inap. Rumah
sakit perlu mengevaluasi dan mengambil tindakan untuk dapat mengurangi kasus
tersebut sehingga dapat meningkatkan keselamatan pasien. Evaluasi yang dapat
dilakukan antara lain mengidentifikasi riwayat jatuh, obat dan telaah konsumsi alkohol,
gaya jalan dan keseimbangan serta alat bantu berjalan yang digunakan pasien
(Kementerian Kesehatan, 2014). Secara teoritis, jntuk mengantisipasi dan mencegah
terjadinya pasien jatuh -dengan atau tanpa cidera- perlu dilakukan pengkajian di awal
maupun kemudian pengkajian ulang secara berkala mengenai risiko pasien jatuh,
termasuk risiko potensial yang berhubungan dengan jadwal pemberian obat serta
mengambil tindakan untuk mengurangi semua risiko yang telah diidentifikasikan
tersebut. Pengkajian risiko jatuh ini telah dapat dilaksanakan sejak pasien mulai
mendaftar (Setyarini E. A., 2014).
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7. 1 Simpulan
7.1.1 Gambaran kesiapan akreditasi Rumah Sakit Haji pada sasaran I (ketepatan
identifikasi pasien)
Pada sasaran I, yakni sasaran ketepatan identifikasi pasien, Rumah Sakit Haji
Jakarta dinilai telah siap pada sasaran ini. Hal ini dibuktikan berdasarkan telaah
dokumen pihak rumah sakit Haji Jakarta telah melengkapi yang disyaratkan oleh Komisi
Akreditasi Rumah Sakit. Kebijakan dan sosialisasinya telah berjalan, sedangkan
implementasi pengadaan dan pemasangan gelang telah dilakukan. Begitu juga
identifikasi dalam pemberian obat dan produk darah.
7.1.2 Gambaran kesiapan akreditasi Rumah Sakit Haji pada sasaran II
(peningkatan komunikasi yang efektif)
Pada sasaran II yakni peningkatan komunikasi yang efektif, Rumah Sakit Haji
Jakarta dinilai telah siap pada sasaran ini. Berdasarkan telaah dokumen pihak rumah
sakit telah melengkapi kebijakan atau prosedur, diantaranya sudah terdapat prosedur
terkait komunikasi dan juga sudah disebarkan secara baik. Pihak Rumah Sakit Haji
Jakarta menggunakan teknik SBAR (Situation, Backgroung, Analysis, Recommendation).
Dalam hal penerimaan instruksi, informasi ditindak secara baik yakni adanya penulisan
kembali oleh penerima informasi. Perintah atau hasil pemeriksaan juga dibacakan
kembali dalam bentuk pengulangan dan dikonfirmasi kembali oleh dokter.
78
79
7.1.3 Gambaran kesiapan Rumah Sakit Haji pada sasaran III (peningkatan
keamanan obat yang perlu diwaspadai)
Pada sasaran III yakni peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai,
Rumah Sakit Haji Jakarta dinilai telah siap pada sasaran ini karena telah terdapat
kebijakan pengelolaan obat yang perlu diwaspadai yang mencakup identifikasi, lokasi,
pelabelan, dan penyimpanan obat high alert. RS Haji juga telah mengimplementasikan
kebijakan tersebut sesuai syarat yang ditetapkan yaitu minimal sudah berjalan empat
bulan terakhir. yakni dengan melakukan pelabelan dan meletakkan pada tempat yang
aman dari jangkauan pengunjung dan pasien lain serta berada ditempat dengan suhu
yang sudah direkomendasikan terhadap obat-obat yang perlu diwaspadai.
7.1.4 Gambaran kesiapan Rumah Sakit Haji pada sasaran IV (kepastian tepatlokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi)
Pada sasaran IV yakni kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur dan tepat-pasien
operasi, Rumah Sakit Haji Jakarta dinilai masih belum siap pada sasaran ini mengingat
petugas kesehatan belum melaksanakan penandaan lokasi operasi dengan spidol khusus
secara teratur. Dalam hal penggunaan checklist, petugas selalu menggunakan checklist
setiap melakukan oeprasi. RS Haji Jakarta juga telah memiliki prosedur operasi yang
digunakan untuk memastikan tepat lokasi, tepat operasi, tepat prosedur dan tepat pasien.
Oleh karena itu, RS Haji Jakarta masih dinilai masih belum siap pada sasaran akreditasi
ini.
7.1.5 Gambaran kesiapan Rumah Sakit Haji pada sasaran V (pengurangan risiko
infeksi terkait pelayanan kesehatan)
Sesuai dengan Standar Sasaran Keselamatan Pasien kelima yakni pengurangan
80
risiko infeksi, Rumah Sakit Haji Jakarta dinilai telah siap pada sasaran ini. RS Haji
Jakarta telah melakukan adaptasi pedoman hand hygiene karena sudah sesuai dengan
yang diterbitkan WHO yakni dengan menggunakan sandi “Tepung Selaci Putih” yang
merupakan kepanjangan dari bagian yang harus dicuci seperti telapak, punggung dan
sela-sela jari. Pihak rumah sakit juga telah menyebarkan prosedur cuci tangan diberbagai
ruangan. Terkait dengan kebijakan lain yang mengarahkan pengurangan secara
berkelanjutan risiko infeksi, RS Haji Jakarta juga telah memiliki kebijakan hand
hygiene, Standar Operasional Prosedur momen lima cuci tangan maupun dokumen
implementasi yaitu indikator infeksi terkait pelayanan kesehatan, sosialisasi kebijakan
dan prosedur cuci tangan sebagaimana sesuai dengan yang disyaratkan oleh Komisi
Akreditasi Rumah Sakit.
7.1.6 Gambaran kesiapan Rumah Sakit Haji pada sasaran VI (pengurangan risiko
pasien jatuh)
Dalam sasaran VI yakni pengurangan risiko pasien jatuh, Rumah Sakit Haji
Jakarta dinilai belum siap pada sasaran ini dikarenakan belum selalu tersedianya
dokumen implementasi yaitu form monitoring dan evaluasi hasil pengurangan risiko
pasien jatuh. Pada dasarnya, RS Haji Jakarta telah melakukan penilaian risiko yang
ditunjukan dengan penggunaan gelang kuning oleh pasien yang berisiko jatuh. Rumah
Sakit menyediakan checklist untuk petugas kesehatan lalu membuat skoring untuk
menilai risiko pasien tersebut. Selain itu terdapat juga sandi-sandi untuk mengukur
risiko pasien jatuh. Dalam hal pengurangan risiko, RS Haji Jakarta telah menerapkan
langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi risiko pasien jatuh seperti monitor
lebih ketat, kerjasama dengan penjaga pasien dan memasang pengaman pada tempat
81
tidur pasien. Pelaksanaan waktu implementasi juga telah mencukupi syarat yang
ditetapkan yaitu minimal sudah berjalan empat bulan terakhir.
7. 2 Saran
7. 2. 1 Bagi Rumah Sakit Haji Jakarta
1. Mengontrol ketersediaan gelang dan pemasangannya pada pasien sebagai bagian
penting dari identifikasi pasien, sebelum dan setelah mendapatkan status
akreditasi.
2. Mempelajari dan mengembangkan teknik komunikasi selain SBAR untuk
meningkatkan hasil yang lebih baik lagi dalam hal peningkatan komunikasi
efektif di rumah sakit.
3. Melaksanakan orientasi saat pendidikan dan pelatihan terkait obat-obatan pada
seluruh tenaga medis di unit rawat inap dan rawat jalan, agar tidak terjadi salah
pemberian obat jenis elektrolat konsentrat tinggi.
4. Memberikan sosialisasi lebih intensif dan persuasif terhadap tim bedah dalam hal
penandaan lokasi operasi sehingga pelaksanaan penandaan lokasi operasi dapat
dilakukan pada setiap operasi yang dilakukan, serta membuat form monitoring
dan evaluasi agar meningkatkan kepatuhan penandaan lokasi operasi pada dokter
operator.
5. Menambah sarana dan prasarana yang sudah ada sekarang berkaitan dengan cuci
tangan agar risiko infeksi nosokomial dapat diminimalisir lagi, seperti
penambahan wastafel dan sabun cuci tangan.
6. Melengkapi dokumen yang disyaratkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit,
yaitu form monitoring dan evaluasi hasil pengurangan risiko pasien jatuh
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, D., Hakim, L., & Widjiati I., C. (2014). Evaluasi pelaksanaan sistem
identifikasi pasien di instalasi rawat inap rumah sakit. Jurnal Kedokteran
Brawijaya, 97-102.
Ayuningtyas, Dumilah. (2014). Kebijakan Kesehatan Prinsip dan Praktik. PT Raja
Grafindo Persada: Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2000). Pedoman akreditasi rumah sakit.
Jakarta : Dirjen Pelayanan medik, direktorat rumah sakit umum dan pendidikan
Depkes RI
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Panduan nasional keselamatan
pasien rumah sakit (patient safety). Jakarta: Kementerian Kesehatan.
Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
dan Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS). 2011. Standar Akreditasi Rumah
Sakit. Jakarta.
Dwi Octaria, R. (2014). Analisis kesiapan rumah sakit yang telah terakreditasi 12
pelayanan terhadap pemenuhan standar akreditasi versi 2012 (Studi kasus RSUD
DR. R. Soetijono Blora). Yogyakarta: UMY Thesis.
Effendy, C. (2013). Infeksi Nosokomial. Retrieved from www.ugm.ac.id:
https://www.google.com.tr/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&cad=
rja&uact=8&ved=0ahUKEwi9li61OvLAhWMDpoKHX4uDEAQFghDMAU&url=http%3A%2F%2Felisa.ugm.a
c.id%2Fuser%2Farchive%2Fdownload%2F26240%2F699c7a2ce792b8031140576
064d3ab64&usg=AFQjCNEdelwqAtL9z33S
Hafizurrachman. (2009). Sumber Daya Manusia Rumah Sakit di Q-Hospital. Majalah
Kedokteran Indonesia, Volume: 59, Nomor: 8, Agustus 2009.
Hariyono, W. (2013). Analisis kesiapan menghadapi akreditasi pada pelayanan
administrasi dan manejemen di rumah sakit umum rajawali citra kabupaten Bantul
(telaah pembanding pada akreditasi rumah sakit bidang pelayanan k3b).
KESMAS, 113-116.
Hermanto, B., Risdiana, I., & Harimurti, S. (2015). Pengelolaan obat high alert
medication pada tahap distribusi dan penyimpanan di RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta Unit II. Yogyakarta: Tesis UMY.
Iswati. (2013.). Penerapan sasaran keselamatan pasien di rumah sakit. Retrieved from
http://jurnal-griyahusada.com:http://jurnal-
82
83
griyahusada.com/awal/images/files/PENERAPAN%20SASARAN%20KESELA
MATAN%20PASIEN%20DI%20RUMAH%20SAKIT.pdf
Kementerian Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691
Tahun 2011 Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian
Kesehatan. 2011.
Kementerian Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58 Tahun 2014 Tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan.
2014.
Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS). 2012. Instrumen Akreditasi Rumah Sakit versi
2012. Jakarta.
Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS). 2012. Laporan Survei Akreditasi Rumah
Sakit. Jakarta.
KKP-RS. 2008. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Jakarta: Depkes
RI.
Murtedjo, Urip. (2012). Peran Dokter Bedah Dalam Meningkatkan Keselamatan Pasien.
Bahan Presentasi Kongres XII Seminar Tahunan Patient Safety.
NHS Wales. Improving Clinical Communication Using SBAR. (2012). Artikel diakses
dari www.1000livesplus.wales.nhs.uk pada 5 November 2014
NHS Wales. (2014, november 5). Improving clinical communication using SBAR.
Retrieved from www.1000liveplus.wales.nhs.uk: www.1000liveplus.wales.nhs.uk
Nuryatin, S. P., Minto, H., & Pani, R. S. (2012). Implementasi pelayanan kesehatan
masyarkat miskin non kuota (Jamkesda dan SPM) (Studi di DInas Kesehatan
Kabupaten Blitar). Jurnal Administrasi Publik, 1195-1202.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011
Prawira, Z. Y., & Asfawi, S. (2016). Gambaran kesiapan akreditasi KARS berdasarkan
standar MKI 16 (manajemen komunikasi dan informasi) di Rumah Sakit Bhakti
Wira Tamtama Semarang Tahun 2015. Karya Tulis Ilmiah.
Rasdini, I. A., Wedri, N. M., & Mega, I. (2014). Hubungan penerapan budaya
keselamatan pasien dengan supervisi pelayanan keperawatan oleh perawat
pelaksana.
Retrieved
from
poltekkes-denpasar.ac.id:
http://poltekkesdenpasar.ac.id/files/JURNAL%20GEMA%20KEPERAWATAN/DESEMBER%2
02014/ARTIKEL%20IGA%20Ari%20Rasdini%20dkk,.pdf
RSUD dr. M. Ashari, Kabupaten Pemalang. Peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia.
Artikel diakses dari www.rsud.pemalangkab.go.id pada 20 Oktober 2014
84
RSUD Dr. Soegiri Lamongan. (2015, 2 29). Standar akreditasi rumah sakit. Retrieved
from lamongankab.go.id: http://lamongankab.go.id/instansi/rsud-soegiri/standarakreditasi-rumah-sakit/
Safitri, Rina. (2012) Pengaruh Teknik Komunikasi SBAR Terhadap Motivasi dan
Kepuasan Perawat Dalam Melakukan Operan di Ruang Rawat Inap RSUP Dr. M.
Djamil Padang Tahun 2012. Tesis Universitas Andalas.
Setyaningrum, N. D. (2015). Evaluasi kesiapan rumah sakit yang telah terakreditasi 5
pelayanan terhadap pemenuhan standar patient safety akreditasi versi 2012 (studi
kasus di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II). Yogyakarta: Tesis
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Setyarini, E. A. (2014). Pelaksanaan standar prosedur operasional: identifikasi risiko
pasien jatuh dengan menggunakan skala jatuh morse di rumah sakit A Bandung.
Setyarini, E.A., & Herlina, L. L. (2013). Kepatuhan perawat melaksanakan standar
prosedur operasional: pencegahan pasien risiko jatuh di gedung yosef 3 Dago dan
Surya Kencana Rumah Sakit Borromeus. Jurnal Kesehatan STIKES Santo
Borromeus, 94-150.
Soepojo P. (2002). Benchmarking system akreditasi rumah sakit di Indonesia dan
Australia. Jurnal manajemen Pelayanan Kesehatan.
Sukowati Phasky Nuryatin, Hadi Minto, Rengu Stefanus Pani. (2012). Implementasi
Kebijakan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin Non Kuota (Jamkesda dan
SPM) (Studi di Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar). Jurnal Administrasi Publik
(JAP), Vol .1, No. 6, Hal. 1195-1202
Supinganto, A., Mulianingsih, M., & Suharmanto. (2015). Identifikasi Komunikasi
Efektif SBAR (Situation, Background, Assesment, Recommendation) di RSUD Kota
Mataram.Retrieved from stikesyarsimataram.ac.id:
http://stikesyarsimataram.ac.id/syscontent/uploads/file/Artikel%20SBAR%20SUHARMANTO%20febjuli%202015.pdf
Suprapta, Made Ani. (2012). Hubungan Metoda Komunikasi SBAR Pada Handover
Keperawatan Dengan Kinerja Perawat di Ruang Triage IGD RSUP Sanglah
Denpasar. Artikel diakses dari www.sanglahhospitalbali.com, 25 oktober 2014
WHO Collaborating Centre for Patient Safety Solutions, Patient Identifications, Patient
Safety Solutions, volume 1, solution 2, May 2007.
William, R. A. Health Planning for Effective Management. Oxford University Press.
Diterjemahkan oleh: Laksono Trisnantoro dan Sigit Ryarto dalam judul
85
Perencanaan kesehatan Untuk Meningkatkan Efektivitas Manajemen. Gadjah
Mada University Press. 1994
World Health Organization. (2005). World Alliance for Patient Safety: forward
programme 2005.
Zegers, M., Wollersheim, H., Wensing, M., Vincent, C., & Grol, R. (2013). Patient
safety and risk prevention. John WIley and Sons.
Zuhriyah, Lilik. Gambaran Bakteriologis Tangan Perawat. Jurnal Kedokteran Brawijaya,
Vol. XX, No.1, April 2004.
Pedoman Wawancara untuk Pokja Akreditasi RS Haji
Identitas Informan
Nama
:
Umur
:
Jabatan
:
No. Kontak :
Keterangan Wawancara
Hari/Wawancara
:
Durasi
:
Pokok Bahasan
Sasaran 1
1. Bagaimana prosedur identifikasi pasien rawat inap di RS Haji?
2. Bagaimana prosedur identifikasi sebelum pemberian obat, darah atau porduk darah?
3. Bagaimana identifikasi pasien sebelum pengambilan spesimen?
4. Bagaimana prosedur identifikasi pasien sebelum pemberian tindakan?
5. Adakah kebijakan atau SOP identifikasi pasien, kalau ada bagaimana sosialisisainya?
Sasaran 2
1. Bagaimana pemberian perintah hasil pemeriksaan baik secara lisan maupun melalui telepon?
2. Adakah kebijakan atau SOP pemberian perintah hasil pemeriksaan baik secara lisan maupun
telepon, kalau ada bagaimana sosialisasinya?
Sasaran 3
1. Adakah dan bagaimana kebijakan atau prosedur dalam identifikasi, lokasi, label dan
penyimpanan obat yang perlu diwaspadai?
2. Bagaimana penentuan lokasi, pemberian label dan penyimpanan obat serta penanganan
elektolit konsentrat?
Sasaran 4
1. Bagaimana kebijakan atau prosedur dalam mengidentifikasi lokasi operasi?
2. Bagaimana praktek identifikasi lokasi operasi termasuk verifikasi preoperasi
Sasaran 5
1. Bagaimana kebijakan dan prosedur hand hygiene RS?
2. Bagaimana penerapan hand hygiene di RS?
Sasaran 6
1. Bagaimana proses assessmen resiko pasien jatuh?
2. Bagaimana kebijakan atau prosedur yang berkaitan dengan pengurangan resiko cedera
pasien akibat jatuh di rumah sakit?
Pedoman Wawancara untuk Perawat RS Haji
Identitas Informan
Nama
:
Umur
:
Jabatan
:
No. Kontak :
Keterangan Wawancara
Hari/Wawancara
:
Durasi
:
Pokok Bahasan
Sasaran 1
1. Bagaimana prosedur identifikasi pasien rawat inap di RS Haji?
2. Bagaimana prosedur identifikasi sebelum pemberian obat, darah atau porduk darah?
3. Bagaimana identifikasi pasien sebelum pengambilan spesimen?
4. Bagaimana prosedur identifikasi pasien sebelum pemberian tindakan?
5. Adakah kebijakan atau SOP identifikasi pasien, kalau ada bagaimana sosialisisainya?
Sasaran 2
1. Bagaimana pemberian perintah hasil pemeriksaan baik secara lisan maupun melalui telepon?
2. Adakah kebijakan atau SOP pemberian perintah hasil pemeriksaan baik secara lisan maupun
telepon, kalau ada bagaimana sosialisasinya?
3. Apakah terdapat komunikasi dua arah antara dokter dan perawat? Seperti dokter memberi
perintah lalu perawat mengulangnya kembali.
Sasaran 3
1. Adakah dan bagaimana kebijakan atau prosedur dalam identifikasi, lokasi, label dan
penyimpanan obat yang perlu diwaspadai?
2. Bagaimana penentuan lokasi, pemberian label dan penyimpanan obat serta penanganan
elektolit konsentrat?
Sasaran 4
1. Bagaimana kebijakan atau prosedur dalam mengidentifikasi lokasi operasi?
2. Bagaimana praktek identifikasi lokasi operasi termasuk verifikasi preoperasi?
3. Apakah tim medis mencatat semua prosedur selama operasi?
Sasaran 5
1. Bagaimana kebijakan dan prosedur hand hygiene RS?
2. Bagaimana penerapan hand hygiene di RS?
3. Bagaimana pengendalian pengurangan risiko infeksi?
Sasaran 6
1. Bagaimana proses assessmen resiko pasien jatuh?
2. Bagaimana kebijakan atau prosedur yang berkaitan dengan pengurangan resiko cedera
pasien akibat jatuh di rumah sakit?
Pedoman Wawancara untuk Pasien
Identitas Informan
Nama
:
Umur
:
Jabatan
:
No. Kontak :
Keterangan Wawancara
Hari/Wawancara
:
Durasi
:
Pokok Bahasan
Sasaran 1
1. Bagaimana cara mengenali pasien sebelum pemberian obat, darah atau produk darah serta
tindakan dan pengobatan?
2. Bagamana cara mengenali pasien sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis?
Sasaran 2
1. Bagaimana pemberian perintah hasil pemeriksaan baik secara lisan maupun melalui telepon?
2. Apakah perintah dilakukan secara jelas?
Sasaran 4
1. Bagaimana tim rumah sakit menandai lokasi operasi?
Pedoman Wawancara untuk Kepala Unit Farmasi
Identitas Informan
Nama
:
Umur
:
Jabatan
:
No. Kontak :
Keterangan Wawancara
Hari/Wawancara
:
Durasi
:
Pokok Bahasan
Sasaran 3
Wawancara:
1. Adakah dan Bagaimana kebijakan atau prosedur dalam identifikasi, lokasi, label dan
penyimpanan obat yang perlu diwaspadai?
2. Bagaimana penentuan lokasi, pemberian label dan penyimpanan obat serta penanganan
elektolit konsentrat?
DAFTAR TELAAH DOKUMEN
1. Sasaran I Keselamatan Pasien
 PMK 1691/2011 tentang Keselamatan Pasien RS
 Kebijakan/ Panduan Identifikasi pasien
 SPO pemasangan gelang identifikasi
 SPO identifikasi sebelum memberikan obat, darah/produk darah, mengambil
darah/specimen lainnya, pemberian pemberian pengobatan dan tindakan/prosedur.
2. Sasaran II Keselamatan Pasien
 Kebijakan/Panduan Komunikasi pemberian informasi dan edukasi yang efektif
 SPO komunikasi via telp
3. Sasaran III Keselamatan Pasien
 Kebijakan / Panduan/ Prosedur mengenai obat-obat yang high alert minimal mencakup
identifikasi, lokasi, pelabelan, dan penyimpanan obat high alert
 Daftar obat-obatan high alert
4. Sasaran IV Keselamatan Pasien
 Kebijakan / Panduan / SPO pelayanan bedah untuk untuk memastikan tepat lokasi, tepat
prosedur, dan tepat pasien, termasuk prosedur medis dan tindakan pengobatan gigi /
dental
 SPO penandaan lokasi operasi
 Dokumen : Surgery safety Check list di laksanakan dan dicatat di rekam medis pasien
operasi
5. Sasaran V Keselamatan Pasien
 Kebijakan / Panduan Hand hygiene
 SPO Cuci tangan
 SPO lima momen cuci tangan
Dokumen Implementasi
 Indikator infeksi yang terkait pelayanan kesehatan
 Sosialisasi kebijakan dan prosedur cuci tangan
6. Sasaran VI Keselamatan Pasien
 Kebijakan / Panduan/SPO asesmen dan asesmen ulang risiko pasien jatuh
 Kebijakan langkah –langkah pencegahan risiko pasien jatuh
 SPO pemasangan gelang risiko jatuh
OBSERVASI
1.
2.
3.
4.
5.
Pemberian gelang identifikasi pada pasien rawat inap.
Daftar obat elektrolat konsentrat tinggi/high alert.
Lemari penyimpanan obat high alert.
Panduan hand hygiene dan cuci tangan di RS.
Implementasi kebijakan pengurangan resiko cedera akibat pasien jatuh di rumah sakit.
Download