implementasi program jaminan sosial tenaga kerja

advertisement
IMPLEMENTASI PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA
TERHADAP TENAGA KERJA HARIAN LEPAS PADA
PT. TAMBANG DAMAI DI SAMARINDA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar
Kesarjanaan Dalam Ilmu Hukum
Diajukan Oleh:
SEPTIANI STEPANUS
NIM. 0908015076
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2013
IMPLEMENTASI PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA
TERHADAP TENAGA KERJA HARIAN LEPAS PADA
PT. TAMBANG DAMAI DI SAMARINDA
SEPTIANI STEPANUS
[email protected]
Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
ABSTRAK
Septiani Stepanus, 0908015076, “Implementasi Program
Jaminan Sosial Tenaga Kerja Terhadap Tenaga Kerja Harian Lepas Pada
PT. Tambang Damai di Samarinda”. Di bawah bimbingan Bapak Ivan
Zairani Lisi, S.H.,S.Sos.,M.Hum, selaku Pembimbing Utama dan Ibu
Erna Susanti,S.H.,M.H, selaku Pembimbing Pendamping.
Peran serta tenaga kerja dalam pembangunan nasional semakin
meningkat dengan disertai berbagai tantangan dan resiko yang dihadapinya.
Oleh karena itu, kepada tenaga kerja khusunya tenaga kerja harian lepas perlu
diberikan perlindungan, pemeliharaan dan peningkatan kesejahteraan, sehingga
dapat meningkatkan produktivitas kerja dengan adanya motivasi dan ketenangan
dalam bekerja.
Dalam rangka pemberian perlindungan terhadap tenaga kerja tersebut,
pemerintah telah melakukan berbagai usaha, salah satu diantaranya melalui
penyelenggaraan program Jamsostek. Penyelenggaraan program Jamsostek
khusunya tenaga kerja harian lepas diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga
Kerja Republik Indonesia Nomor KEP-150/MEN/1999 tentang Penyelenggaraan
Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi Tenaga Kerja Harian Lepas,
Borongan dan perjanjian kerja waktu tertentu, mewajibkan perusahaan untuk
mengikutsertakan tenaga kerja harian lepas dalam program Jamsostek.
Berdasarkan hal tersebut, maka rumusan masalah yang dikemukakan
adalah bagaimana pelaksanaan program jaminan sosial tenaga kerja terhadap
tenaga kerja harian lepas pada PT. Tambang Damai di Samarinda dan upaya
hukum yag dilakukan oleh tenaga kerja harian lepas untuk mendapatkan jaminan
sosial tenaga kerja.
Melalui hasil penelitian di lapangan, PT. Tambang Damai tidak
menjalankan kewajibannya dalam mengikutsertakan tenaga kerja harian lepas
dalam program Jamsostek. Lemahnya pengawasan dan posisi tenaga kerja yang
selalu lebih rendah dari pengusaha menjadi faktor utama terjadinya pelanggaran
terhadap hak-hak tenaga kerja khususnya tenaga kerja harian lepas.
Kata kunci : Tenaga kerja Harian Lepas, Pelaksanaan Program
Jamsostek, Upaya Hukum.
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Konsepsi Pembangunan Nasional dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 yang mencakup semua aspek kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan tujuan untuk mewujudkan
suatu masyarakat adil dan makmur yang merata baik material maupun spiritual
berdasarkan pancasila. Masyarakat yang adil dan makmur itu akan tercapai jika
negara
mampu
memberikan
peluang
bagi
seluruh
masyarakat
untuk
mendapatkan pekerjaan, karena dengan bekerja maka masyarakat dapat
memenuhi kebutuhannya.
Masalah hubungan tenaga kerja merupakan hubungan antara tenaga kerja
dengan pengusaha yang didalamnya terkandung hak dan kewajiban secara
timbal balik, salah satu kewajiban dari pengusaha adalah memberi perlindungan
terhadap tenaga kerja dan keluarganya. Dalam rangka pemberian perlindungan
terhadap tenaga kerja dan keluarganya tersebut, pemerintah telah melakukan
berbagai usaha, salah satu diantaranya melalui penyelenggaraan program
jaminan sosial tenaga kerja, yang disingkat dengan Jamsostek.
PT. Tambang Damai adalah perusahaan pertambangan batubara yang
mempekerjakan tenaga kerja harian lepas. Tenaga kerja harian lepas dalam
melaksanakan pekerjaan di lapangan, mereka tidak terlepas dari resiko-resiko
kerja seperti kecelakaan kerja maupun sakit penyakit. Oleh karena itu dalam
penelitian ini penulis lebih fokus memilih pelaksanaan program Jaminan Sosial
Tenaga kerja terhadap Tenaga Kerja Harian Lepas, karena menurut penulis
Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja sangat dibutuhkan oleh Tenaga kerja
harian lepas dan penulis melihat para tenaga kerja harian lepas di perusahaan ini
tidak dilindungi dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Sedangkan didalam
penyelenggaraan program Jamsostek khususnya bagi tenaga kerja harian lepas
yang diatur dalam pasal 9 Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia
Nomor KEP-150/MEN/1999 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial
Tenaga Kerja bagi Tenaga Kerja Harian Lepas, Borongan dan Perjanjian Kerja
Waktu Tertentu disebutkan bahwa:
(1) Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja harian lepas kurang
dari 3 (tiga) bulan wajib mengikutsertakan dalam program jaminan
kecelakaan kerja dan jaminan kematian.
(2) Dalam hal pengusaha mempekerjakan tenaga kerja harian lepas
untuk melakukan pekerjaan secara terus-menerus selama 3 (tiga)
bulan berturut-turut atau lebih dan setiap bulannya kurang dari 20
(dua puluh) hari maka wajib mengikutsertakannya dalam program
jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua dan
jaminan pemeliharaan kesehatan.
(3) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dilakukan
terhitung sejak tenaga kerja harian lepas telah bekerja melewati masa
kerja 3 (tiga) bulan berturut-turut.
Mengingat besarnya peranan Jamsostek bagi negara pada umumnya dan
tenaga kerja khususnya, maka penulis sangat tertarik untuk mengadakan
penelitian pelaksanaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan pada kesempatan ini
dilakukan di PT. Tambang Damai di Samarinda, sehingga penulis mengambil
judul tentang “IMPLEMENTASI PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA
TERHADAP TENAGA KERJA HARIAN LEPAS PADA PT. TAMBANG DAMAI DI
SAMARINDA” ditinjau dari Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia
Nomor KEP-150/MEN/1999 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Program
Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Harian Lepas, Borongan dan
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dan batasan masalah di atas, penulis mengangkat
permasalahan guna dibahas dalam penulisan skripsi ini, yaitu:
1. Bagaimana pelaksanaan program jaminan sosial tenaga kerja terhadap
tenaga kerja harian lepas pada PT. Tambang Damai di Samarinda?
2. Bagaimana upaya hukum yang dilakukan oleh tenaga kerja harian lepas
pada PT. Tambang Damai di Samarinda untuk mendapatkan jaminan
sosial tenaga kerja?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah :
1.
Untuk mengetahui mengenai pelaksanaan program Jaminan Sosial
Tenaga Kerja Terhadap Tenaga Kerja Harian Lepas pada PT. Tambang
Damai di Samarinda.
2.
Untuk mengetahui upaya hukum yang dilakukan oleh tenaga kerja harian
lepas pada PT. Tambang Damai di Samarinda untuk mendapatkan
jaminan sosial tenaga kerja.
Metode Penelitian
Untuk keberhasilan suatu penelitian baik dalam memberikan gambaran
dan jawaban terhadap permasalahan yang diangkat, tujuan serta manfaat
penelitian sangat ditentukan oleh metode yang digunakan dalam penelitian.
1. Jenis Penelitian
Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan
analisa dan kontruksi, yang dilakukan secara metodologis, sistimatis dan
konsisten. Metodologis berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu,
sistimatis adalah berdasarkan suatu sistem, sedangkan konsisten berarti
tidak adanya hal-hal yang bertentangan dalam suatu kerangka tertentu.
Berdasarkan objek kajian diatas, maka penulis akan menggunakan
metode penelitian hukum empiris dengan menggunakan pendekatan
undang-undang
(statute
approach)
dan
pendekatan
konseptual
(conceptual approach). Penelitian hukum empiris mencakup : (1)
penelitian terhadap identifikasi hukum (tidak tertulis), (2) penelitian
terhadap efektivitas hukum. Penelitian Hukum Sosiologis atau empiris
adalah metode penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data primer
dan menemukan kebenaran dengan menggunakan metode berpikir
induktif dan kriterium kebenaran koresponden serta fakta yang digunakan
untuk melakukan proses induksi dan pengujian kebenaran secara
koresponden adalah fakta yang mutakhir.1
1
Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI-PREES, Jakarta, Halaman 51
2. Pendekatan Penelitian
Untuk pendekatan
penelitian, ada dua pendekatan yang
digunakan yaitu pendekatan undang-undang (statute approach) dengan
menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut
dengan isu hukum yang sedang ditangani. Bagi penelitian untuk kegiatan
praktis, pendekatan undang-undang ini akan membuka kesempatan bagi
penulis untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara
suatu undang-undang dengan undang-undang lainnya, atau antara
undang-undang dengan undang-undang dasar, atau antara regulasi dan
undang-undang. Hasil dari telaah tersebut merupakan suatu argumen
untuk memecahkan isu yang dihadapi.2
Untuk pendekatan yang kedua, penulis
menggunakan pendekatan
konseptual (conceptual approach) dimana pendekatan ini beranjak dari
pandangan
mempelajari
dan
doktrin-doktrin
di
dalam
pandangan-pandangan
dan
ilmu
hukum.
Dengan
doktrin-doktrin
yang
berkembang di dalam ilmu, peneliti akan menemukan ide-ide yang
melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum, dan
asas-asas hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi.3
3. Pendekatan Masalah
Dalam penelitian ini pendekatan masalah yang digunakan adalah
studi kasus tipe Nodjudicial Case Study yaitu studi kasus tanpa konflik
yang tidak melibatkan pengadilan. Kalaupun konflik, diselesaikan oleh
pihak-pihak sendiri secara damai. Dalam penulisan skripsi ini penulis
menggunakan studi kasus tunggal (Single case studty), karena penulis
menemukan lebih dari satu objek yang mempunyai kriteria atau
karakteristik yang sama, sehingga cukup diambil 1 (satu) kasus hukum
saja. Dengan mengkaji 1(satu) kasus hukum, maka semua kasus yang
mempunyai kriteria atau karakteristik yang sama itu sudah terwakili.4
2
Ibid.
Ibid.
3
4
Abdulkadir Muhammad, Op.Cit Halaman 143
4. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis melakukan penelitian di kantor PT.
Tambang Damai yang beralamat di Jalan Batu Bara nomor 8 Samarinda
dan lokasi tambang yang berada di wilayah Desa Separi Kecamatan
Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara.
5. Waktu dan Jadwal Penelitian
Waktu dan jadwal penelitian ini dimanfaatkan selama masa
tenggang waktu yang diberikan dan sampai pada penyelesaikan
penelitian serta penulisan skripsi ini. Terhitung tanggal 29 September
2012 dan berakhir tanggal 29 Maret 2013.5
6. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah keseluruhan atau himpunan objek dengan ciri
yang sama, populasi dapat berupa himpunan orang, benda hidup atau
benda mati, kejadian, kasus-kasus, waktu atau tempat dengan ciri yang
sama.6 Populasi dalam penelitian ini adalah tenaga kerja harian lepas
pada PT. Tambang Damai di Samarinda.
Sampel adalah himpunan bagian atau sebagian dari populasi.7
Sampel dalam penelitian ini adalah 10 (sepuluh) orang tenaga kerja
harian lepas sebagai perwakilan dari populasi pada PT. Tambang Damai
di Samarinda.
7. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini bersumber dari
data primer dan data sekunder yang dapat diuraikan sebagai berikut:8
a. Data primer (primary law material) atau data dasar (Primary
data/basic data): Data primer adalah data yang langsung
diperoleh dari lapangan yaitu dengan melakukan wawancara dan
kuisioner terhadap:
5
Merujuk pada Surat Keputusan Nomor 2498/UN17.7/DT/2012
Bambang Sunggono, 1997, Metode Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, Halaman 120
7
Ibid. Halaman 122
8
Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, 2011, halaman 14
6
a) HRD PT. Tambang Damai di Samarinda.
b) Tenaga kerja harian lepas pada PT. Tambang Damai di
Samarinda khususnya tenaga kerja harian lepas di lokasi Desa
Separi, Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai
Kartanegara.
b. Data Sekunder (secondary law material) atau data pendukung
mencakup data-data yang berasal dari dokumen-dokumen resmi,
peraturan perundang-undangan, buku-buku, hasil-hasil penelitian
yang berwujud laporan dan sebagainya.
8. Teknik Pengumpulan Data
Dalam melakukan penelitian penulis menggunakan metode untuk
mengumpulkan data sebagai berikut.9
a. Penelitian lapangan, yakni pencarian data dengan melakukan
wawancara dengan memberikan pertanyaan secara langsung kepada
HRD PT.Tambang Damai di Samarinda dan beberapa orang yang
mewakili tenaga kerja harian lepas pada PT. Tambang Damai di
Samarinda.
b. Penelitian kepustakaan, dimana dalam pengumpulan data ini
menggunakan penelaahan kepustakaan untuk mempelajari dan
mengumpulkan data informasi dari literatur yang ada hubungannya
dengan penelitian ini.
9. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan cara kualitatif,
komprehensif, dan Lengkap artinya menguraikan seluruh sumber data
penelitian dengan kalimat yang mudah di pahami. Adapun sumber data
yang diuraikan penulis mengenai latar belakang perusahaan PT. Tambang
Damai, data karyawan yang terbagi dalam 2 (dua) kategori yaitu Staff
dan Non Staff. Non Staff sendiri dibagi menjadi 2 (dua) yaitu Non Staff
tenaga kerja kontrak dan Non Staff tenaga kerja harian lepas, serta data
tentang perusahaan yang terdaftar mengikuti program Jamsostek di
Kabupaten Kutai Kartanegara. Penyusunan yang sistematis, analisis
9
Abdulkadir Muhammad, Op. Cit, Halaman 68
berdasarkan ruang lingkup aspek-aspek berdasarkan ruang lingkup
penelitian adalah Disnaker Kabuaten Kutai Kartanegara dan PT. Tambang
Damai. Kemudian dilengkapi juga dengan data lapangan sehingga akan
menghasilkan suatu produk penelitian yang sesuai dengan tujuan
penelitian yaitu mengetahui pelaksanaan program Jamsostek terhadap
tenaga kerja harian lepas pada PT. Tambang Damai dan upaya hukum
yang dilakukan oleh tenaga kerja harian lepas pada PT. Tambang Damai
untuk mendapatkan Jamsostek.
Pembahasan
1. Pelaksanaan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Terhadap
Tenaga Kerja Harian Lepas pada PT. Tambang Damai di Samarinda
Jamsostek merupakan pertanggungan yang diselenggarakan oleh
pemerintah guna menyediakan jaminan tertentu kepada seseorang atau
anggota masyarakat yang menderita kerugian dalam memperjuangkan
hidupnya dan keluarganya yang mengandung prinsip keterlibatan/partisipasi
para pihak yang memerlukan jaminan perlindungan sosial tersebut.10
Dalam melaksanakan kegiatannya pengusaha berkewajiban untuk
memberikan perlindungan bagi tenaga kerjanya. Dalam Pasal 86 ayat (1)
Undang-undang
Nomor
13
Tahun
2003
Tentang
Ketenagakerjaan
menjelaskan bahwa:
(1) Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh
perlindungan atas :
a. keselamatan dan kesehatan kerja;
b. moral dan kesusilaan; dan
c. perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat
manusia serta nilai-nilai agama.
(2) Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna
mewujudkan
produktivitas
kerja
yang
optimal
diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja.
(3) Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan
ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.
10
Soepomo, 1981, Pengantar Hukum Asuransi Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta,
Halaman 20.
Pelaksanaan Jamsostek merupakan tanggung jawab Perusahaan
terhadap tenaga kerja. Hal tersebut ditegaskan dalam pasal 4 ayat (1)
Undang-undang Nomor 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosal Tenaga Kerja
yang
menyebutkan
bahwa
“Program
jaminan
sosial
tenaga
kerja
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 wajib dilakukan oleh setiap
perusahaan bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan didalam hubungan
kerja sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini”. Pelaksanaan Jamsostek
dilakukan oleh perusahaan jika telah memenuhi unsur-unsur dalam Pasal 2
ayat
(3)
Peraturan
Pemerintah
Nomor
14
Tahun
1993
Tentang
Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang menyatakan
bahwa “Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 10
(sepuluh)
orang
atau
lebih,
atau
membayar
upah
paling
sedikit
Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah) sebulan, wajib mengikutsertakan tenaga
kerjanya dalam program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1)”. Sehingga jelas bahwa perusahaan wajib mengikutsertakan
tenaga kerja dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
Namun pada kenyataannya masih banyak perusahaan yang tidak
melaksanakan kewajiban tersebut, khususnya tenaga kerja harian lepas
yang ada pada PT. Tambang Damai di Samarinda. Dimana tenaga kerja
harian
lepas
tersebut
tidak
dilindungi
dalam
program
Jamsostek
sebagaimana telah diatur dalam pasal 9 Keputusan Menteri Tenaga Kerja
Republik Indonesia Nomor KEP-150/MEN/1999 tentang Penyelenggaraan
Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
bagi Tenaga Kerja Harian Lepas,
Borongan dan perjanjian kerja waktu tertentu disebutkan bahwa:
(1) Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja harian lepas
kurang dari 3 (tiga) bulan wajib mengikutsertakan dalam
program jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian.
(2) Dalam hal pengusaha mempekerjakan tenaga kerja harian lepas
untuk melakukan pekerjaan secara terus-menerus selama 3
(tiga) bulan berturut-turut atau lebih dan setiap bulannya kurang
dari 20 (dua puluh) hari maka wajib mengikutsertakannya dalam
program jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan
hari tua dan jaminan pemeliharaan kesehatan.
(3) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dilakukan
terhitung sejak tenaga kerja harian lepas telah bekerja melewati
masa kerja 3 (tiga) bulan berturut-turut.
Berdasarkan
bunyi
pasal
tersebut,
PT.
Tambang
Damai
dalam
mempekerjakan tenaga kerja harian lepas telah memenuhi unsur-unsur
didalamnya dan sudah seharusnya perusahaan mengikutsertakan tenaga
kerja harian lepas dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Harian
Lepas. Namun berdasarkan fakta di lapangan, PT. Tambang Damai di
Samarinda tidak melaksanakan kewajibannya untuk mengikusertakan tenaga
kerja harian lepas dalam program Jamsostek. Pihak perusahaan beralasan
bahwa belum dilaksanakan hal tersebut karena tenaga kerja harian lepas
bersifat sementara dan tidak mempunyai ikatan kerja yang pasti pada
perusahaan (sewaktu-waktu dapat berhenti). Tetapi alasan tersebut tidak
bisa dibenarkan karena di dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Nomor 3
Tahun 1993 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja ditegaskan bahwa
“Program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
wajib dilakukan oleh setiap perusahaan bagi tenaga kerja yang melakukan
pekerjaan di dalam hubungan kerja sesuai dengan ketentuan Undangundang ini”. Dengan tidak melakukan kewajiban tersebut, PT. Tambang
Damai di Samarinda telah melakukan pelanggaran sehingga dapat dikenakan
sanksi sesuai dengan ketentuan pidana dalam Pasal 29 Undang-undang
Nomor 3 Tahun 1993 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang
menyebutkan bahwa:
(1) Barang siapa tidak memenuhi kewajiban sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1); Pasal 10 ayat (1), ayat (2),
dan ayat (3); Pasal 18 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4),
dan ayat (5); Pasal 19 ayat (2); Pasal 22 ayat (1); dan Pasal
26, diancam dengan hukuman kurungan selama-lamanya 6
(enam) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp.
50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
(2) Dalam hal pengulangan tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) untuk kedua kalinya atau lebih,
setelah putusan akhir telah memperoleh kekuatan hukum
tetap, maka pelanggaran tersebut dipidana kurungan
selama-lamanya 8 (delapan) bulan.
(3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah
pelanggaran.
Adapun yang bertanggung jawab jika sanksi ini diterapkan adalah
Direktur
perusahaan,
karena
Direktur
adalah
penanggung
jawab
pelaksanaan kegiatan perusahaan. Penulis berpendapat bahwa proses
pidana dapat dilakukan jika dalam upaya hukum non litigasi tidak
menemukan jalan keluar. Selain itu, proses non litigasi diharapkan mampu
memberikan jalan keluar tanpa menimbulkan kesenjangan antara pengusaha
dan tenaga kerja harian lepas.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan Bapak Panut selaku
Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Syarat-syarat Kerja Kabupaten Kutai
Kartanegara, diketahui bahwa keberadaan tenaga kerja harian lepas pada
umumnya banyak digunakan dalam bidang konstruksi tetapi ada juga
beberapa perusahaan tambang yang menggunakan jasa tenaga kerja harian
lepas. Namun pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja Harian
Lepas (Disnaker) Kabupaten Kutai Kartanegara masih pasif, artinya bahwa
Disnaker Kabupaten Kutai Kartanegara hanya menunggu dari pihak
perusahaan mengenai data tenaga kerja harian lepas yang bekerja pada
perusahaan tersebut. Untuk wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara sendiri
ada sekitar 1.044 perusahaan yang telah terdaftar dalam program
Jamsostek. Dengan jumlah tenaga kerja sebagai berikut:
Tabel 4. Data Jumlah Keseluruhan Tenaga Kerja di Kabupaten Kutai
Kartanegara Yang Telah Terdaftar Dalam Program Jamsostek
Warga Negara Indonesia
Warga Negara Asing
(WNI)
(WNA)
Jumlah
Laki-laki
Wanita
Laki-laki
Wanita
102.231
7.770
580
11
Sumber : Disnaker Kabupaten Kutai Kartanegara
110.592
Penjelasan
dari
Bapak
Muslimin
Kunjung,
selaku
Kepala
Seksi
Pegawasan Norma Kerja, untuk permasalahan sektor Pertambangan tidak
ada yang melaporkan bahwa perusahaan tersebut mempekerjakan tenaga
kerja harian lepas. Pada umumnya tenaga kerja harian lepas yang bekerja
berasal dari sektor Perkebunan dan Konstruksi, bahkan menurut Bapak
Muslimin Kunjung, dari perusahaaan yang ada di Kabupaten Kutai
Kartanegara, belum seluruhnya melaporka tenaga kerja harian lepas untuk
mengikuti program Jamsostek.
Berdasarkan keterangan ini, sangat jelas bahwa selain faktor kesadaran
dari perusahaan yang rendah, pengawasan yang lemah dari Disnaker
membuka celah terjadinya pelanggaran terhadap hak tenaga kerja harian
lepas. PT. Tambang Damai di Samarinda adalah salah satu perusahaan yang
tidak mendaftarkan jumlah tenaga kerja harian lepas yang ada di Kabupaten
Kutai Kartanegara. Dengan tidak melaporkan jumlah tenaga kerja harian
lepas dan tidak melaksanakan kewajiban tersebut berarti PT. Tambang
Damai sudah melanggar kewajibannya dalam mengikutsertakan tenaga kerja
harian lepas dalam program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana telah
diatur dalam Pasal 9 Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia
Nomor KEP-150/MEN/1999 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan
Sosial Tenaga Kerja
bagi Tenaga Kerja Harian Lepas, Borongan dan
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu.
2. Upaya Hukum Yang Dilakukan Oleh Tenaga Kerja Harian Lepas
Pada PT. Tambang Damai Di Samarinda Untuk Mendapatkan
Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
Upaya hukum yang dapat dilakukan oleh tenaga kerja harian lepas pada
PT. Tambang Damai untuk mendapatkan jaminan sosial tenaga kerja,
menurut penulis para tenaga kerja harian lepas dapat membuat Serikat
Pekerja atau organisasi pekerja/buruh. Kehadiran organisasi pekerja
dimaksudkan untuk memperjuangkan hak dan kepentingan pekerja,
sehingga tidak diberlakukan sewenang-wenang oleh pihak pengusaha.
Keberhasilan maksudnya ini sangat tergantung dari kesadaran para tenaga
kerja untuk mengorganisasikan dirinya, semakin baik organisasi itu, maka
akan semakin kuat. Sebaliknya semakin lemah, maka semakin tidak berdaya
dalam melakukan tugasnya. Karena itulah kaum pekerja/buruh di Indonesia
harus menghimpun dirinya dalam suatu wadah atau organisasi.
Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang
Serikat Pekerja/Serikat Buruh menyebutkan bahwa serikat pekerja/serikat
buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh
baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas,
terbuka,
mandiri,
memperjuangkan,
pekerja/buruh
demokratis,
membela
serta
dan
serta
bertanggung
melindungi
meningkatkan
hak
kesejahteraan
dan
jawab
guna
kepentingan
pekerja/buruh
dan
keluarganya. Selain dari membentuk organisasi serikat pekerja/buruh,
menurut penulis upaya hukum yang dapat ditempuh oleh tenaga kerja
harian lepas adalah melalui perundingan bipartit. Berdasarkan Pasal 1 ayat
(10)
Undang-undang
Nomor
2
Tahun
2004
tentang
Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial, perundingan bipartit adalah perundingan
antara pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh dengan pengusaha
untuk menyelesaikan perselisihan hubungan industrial. Sehingga melalui
perundingan bipartit ini, dapat diperoleh hasil yang menguntungkan kedua
belah pihak.11
Menurut keterangan dari tenaga kerja harian lepas pada PT.Tambang
Damai di Samarinda yang diwakili oleh Bapak Basri, tenaga kerja harian
lepas sudah pernah melakukan upaya hukum melalui perundingan bipartit
dengan manajemen perusahaan. Dari hasil perundingan bipartit tersebut,
manajemen perusahaan menjanjikan akan memenuhi hak-hak tenaga kerja
harian lepas, salah satunya adalah mengikutsertakan tenaga kerja harian
lepas dalam program Jamsostek. Namun dari waktu ke waktu hal tersebut
tidak pernah terwujud.
11
Agus S Primasta, Proses Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, Warta Hukum
Edisi : Agustus-September 2008 Artikel.
Bapak Basri menduga bahwa hal ini bentuk dari penundaan dari pihak
perusahaan dengan memberikan janji-janji tersebut. Sehingga penulis
menyimpulkan
bahwa
perundingan
bipartit
tidak
memberikan
tidak
memberikan jalan keluar yang bermanfaat bagi tenaga kerja harian lepas.
Setelah proses perundingan bipartit tidak menemukan jalan keluar,
Bapak Basri dan tenaga kerja harian lepas lainnya berencana melaporkan
permasalahan yang dihadapi tenaga kerja harian lepas pada Disnaker
Kabupaten Kutai Kartanegara dengan harapan pihak Disnaker mampu
memberikan jalan keluar dalam mendapatkan hak-haknya pada perusahaan
melalui
mediasi.
Mediasi
adalah
penyelesaian
perselisihan
melalui
musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih mediator yang netral
yang terdaftar di instansi ketenagakerjaan.12
Disini Mediator harus benar-benar bersifat netral dalam menggali
kebenaran yang diperoleh dari masing-masing pihak. Mediator harus
memahami penyebab permasalahan yang timbul serta dapat mengkaji
dampak yang ditimbulkan bagi pihak yang posisinya lemah dalam hal ini
tenaga kerja harian lepas, hal yang terpenting adalah mediator dapat
memberikan solusi bagi para pihak terutama bagi para tenaga kerja harian
lepas mengingat bahwa Jamsostek merupakan hak yang sangat mendasar
guna menjamin kesejahteraan tenaga kerja harian lepas tersebut.
Disnaker sebagai Mediator wajib untuk menjaga seluruh keterangan
yang diperoleh dari para pihak karena sifatnya yang rahasia. Jika dalam
perundingan diperoleh kesepakatan, maka hal tersebut dituangkan dalam
perjanjian bersama yang ditandatangani oleh para pihak dan disaksikan oleh
mediator serta didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial. Namun jika
dalam proses mediasi tersebut tidak mencapai kesepakatan, maka upaya
terakhir yang dapat ditempuh oleh tenaga kerja harian lepas adalah
melaporkan langsung pada Pengadilan Hubungan Industrial untuk diproses
lebih lanjut.
12
Ibid.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan,
yaitu: 1) Pelaksanaan program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Terhadap
Tenaga Kerja Harian Lepas pada PT. Tambang Damai di Samarinda tidak
dilaksanakan oleh perusahaan. PT. Tambang Damai beralasan bahwa tenaga
kerja harian lepas bersifat sementara dan tidak mempunyai ikatan kerja
yang pasti pada perusahaan. Namun alasan ini tidak dapat dibenarkan
karena sudah bertentangan dengan ketentuan yang diatur dalam Undangundang Nomor 3 Tahun 1993 tentang Jamsostek. Lemahnya pengawasan
dari Disnaker menjadi salah satu penyebab banyaknya tenaga kerja harian
lepas tidak terdaftar dalam program Jamsostek termasuk tenaga kerja harian
lepas yang bekerja pada PT. Tambang Damai di Samarinda. 2) Upaya hukum
yang dilakukan oleh tenaga kerja harian lepas pada PT. Tambang Damai di
Samarinda untuk mendapatkan Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah
melakukan perundingan bipartit dengan pihak manajemen perusahaan.
Namun hal tersebut belum mampu menemukan jalan keluar bagi kedua
belah
pihak.
Tidak
adanya
jalan
keluar
dari
perundingan
bipartit
mengharuskan tenaga kerja harian lepas untuk membuat serikat pekerja
yang nantinya menjadi wadah atau organisasi untuk memperjuangkan hak
pekerja khususnya tenaga kerja harian lepas, dan menempuh upaya hukum
yang lain seperti mediasi serta Pengadilan Hubungan Industrial yang
menjadi upaya hukum terakhir bagi tenaga kerja harian lepas jika dalam
mediasi tidak mencapai kesepakatan.
Saran
Adapun saran yang dapat dikemukakan penulis adalah sebagai berikut: 1)
PT. Tambang Damai harus bertanggung jawab dalam pelaksanaan program
Jamsostek terhadap tenaga kerja harian lepas karena merupakan kewajiban
perusahaan terhadap pekerjanya sebagaimana telah diatur dalam Keputusan
Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor KEP-150/MEN/1999 tentang
Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
bagi Tenaga Kerja
Harian Lepas, Borongan dan perjanjian kerja waktu tertentu. Sehingga tenaga
kerja harian lepas merasa terlindungi dan tenang dalam melaksanakan
pekerjaannya dengan resiko-resiko yang dihadapi di lapangan. 2) Peran
pemerintah, dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) juga sangat penting
dalam melakukan pengawasan seperti kunjungan rutin ke perusahaan dan
mendengar langsung keluhan dari tenaga kerja yang ada di perusahaan tersebut
sebagai upaya menindaklanjuti pihak pengusaha yang telah lalai tidak
memberikan Jamsostek kepada pekerjanya khususnya tenaga kerja harian lepas.
Tenaga kerja harian lepas juga harus lebih berani untuk memperjuangkan hakhaknya, dengan cara melaporkan setiap pelanggaran yang dilakukan perusahaan
kepada Disnaker melalui serikat pekerja/buruh atau perwakilan dari tenaga kerja,
terlebih
lagi
jika
Ketenagakerjaan.
hal
tersebut
sudah
diatur
dalam
Undang-undang
Download