i HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KERENTANAN INDIVIDU

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KERENTANAN INDIVIDU,
KESERIUSAN PENYAKIT, MANFAAT DAN HAMBATAN DENGAN
PENGGUNAAN SKRINING INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT PADA
WANITA USIA SUBUR
TESIS
Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Utama Kesehatan Ibu dan Anak
Oleh:
Maulida Nurfazriah Oktaviana
S021308052
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2015
commit to user
i
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KERENTANAN INDIVIDU, KESERIUSAN
PENYAKIT, MANFAAT DAN HAMBATAN DENGAN PENGGUNAAN
SKRINING INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT PADA WANITA USIA SUBUR
TESIS
Oleh:
Maulida Nurfazriah Oktaviana
S021308052
Tim Penguji :
Komisi
Pembimbing
Nama
Tanda Tangan
Tanggal
Pembimbing I Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si
NIP: 196108251986012001
……………..
……………
Pembimbing II Prof. Bhisma Murti, dr., MPH, MSc., PhD
NIP: 1955102119941210
……………..
……………
Telah dinyatakan memenuhi syarat
Pada tanggal……………...2015
Kepala Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat
Program Pascasarjana UNS
Prof. Bhisma Murti, dr., MPH., M.Sc., Ph.D
NIP. 195510211994121001
commit to user
ii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KERENTANAN INDIVIDU, KESERIUSAN
PENYAKIT, MANFAAT DAN HAMBATAN DENGAN PENGGUNAAN
SKRINING INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT PADA WANITA USIA SUBUR
TESIS
Oleh:
Maulida Nurfazriah Oktaviana
S021308052
Telah dipertahankan di depan penguji
Dan dinyatakan telah memenuhi syarat
Pada tanggal........................2015
Tim Penguji :
Jabatan
Nama
Tanda Tangan
Prof. Dr. Muhammad Akhyar, M. Pd
NIP.196107291991031001
Ketua
Sekretaris
……………...
Dono Indarto, dr.,M.Biotech.,St.Ph.D
NIP.196701041996011001
Anggota Penguji Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si
NIP: 196108251986012001
Prof. Bhisma Murti, dr., MPH, MSc., PhD
NIP: 1955102119941210
……………...
……………...
……………...
Mengetahui:
Direktur
Program Pascasarjana
Kepala Program Studi Pascasarjana
Ilmu Kesehatan Masyarakat
Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pdcommit toProf.
userBhisMurti,dr.MPH.,M.Sc.,Ph.D
NIP.196007271987021001
NIP. 195510211994121001
iii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PERNYATAAN KEASLIAN DAN PERSYARATAN
PUBLIKASI
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa:
1. Tesis yang berjudul: “Hubungan Antara Persepsi Kerentanan Individu,
Keseriusan Penyakit, Manfaat dan Hambatan dengan Penggunaan Skrining
Inspeksi Visual Asam Asetat Pada Wanita Usia Subur di Banyuwangi” ini
adalah karya penelitian saya sendiri dan tidak terdapat karya ilmiah yang pernah
diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik serta tidak terdapat
karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali
yang tertulis dengan acuan yang disebutkan sumbernya, baik dalam naskah
karangan dan daftar pustaka. Apabila ternyata didalam naskah ini dapat
dibuktikan terdapat unsur-unsur plagiasi, maka saya bersedia menerima sangsi,
baik Tesis beserta gelar magister saya batalkan serta diproses sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Publikasi sebagian atau keseluruhan isi Tesis pada jurnal atau forum ilmiah
harus menyertakan tim promotor sebagai author dan PPs UNS sebagai
institusinya. Apabila saya melakukan pelanggaran dari ketentuan publikasi ini,
maka saya bersedia mendapatka sanksi akademik yang berlaku.
Surakarta,……………………
Mahasiswa,
Maulida Nurfazriah Oktaviana
S021308052
commit to user
iv
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Maulida Nurfazriah Oktaviana, 2015. Hubungan Persepsi Kerentanan Indivivu,
Keseriusan Penyakit, Manfaat dan Hambatan dengan Penggunaan Skrining
Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) Pada Wanita Usia Subur. TESIS. Pembimbing I
: Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, Pembimbing II : Bhisma Murti. Program Studi Ilmu
Kesehatan Masyarakat. Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret.
ABSTRAK
Kanker serviks merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting pada
wanita di seluruh dunia. Penyakit kanker serviks merupakan penyakit kanker dengan
prevalensi tertinggi di Indonesia sebesar 0,8% atau sekitar 98.692 penduduk Data
Dinkes Banyuwangi (2013) menunjukkan penderita kanker serviks mencapai 80-100
penderita per tahunnya, sedangkan tahun 2014 hanya terdapat 74 wanita usia subur yang
melakukan pemeriksaan skrining. Jumlah wanita usia subur di Wilayah Puskesmas
Tegaldlimo kurang lebih 9.042 orang. Kesadaran perempuan Indonesia untuk
melakukan skrining masih sangat rendah. Cakupan deteksi dini di Indonesia kurang dari
lima persen sehingga banyak kasus kanker serviks ditemukan sudah pada stadium
lanjut. Tujuan dari penelitian ini untuk menunjukkan hubungan persepsi kerentanan
individu, keseriusan penyakit, manfaat dan hambatan dengan penggunaan skrining IVA
pada wanita usia subur.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik observasional dengan
rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive
sampling. Besar sampel sebanyak 140 wanita usia subur di wilayah Puskesmas
Tegaldlimo. Alat pengumpulan data menggunakan angket. Analisis data menggunakan
Chi Square dan regresi logistik ganda.
Hasil menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan positif persepsi kerentanan
terhadap penggunaan skrining IVA (OR= 5,17; CI=95%; 1,64 hingga 16,32; p = 0,005);
(2) persepsi keseriusan penyakit dengan penggunaan skrining IVA (OR= 4,21; CI=95%;
1,44 hingga 12,30; p = 0,009); (3) persepsi manfaat dengan penggunaan skrining IVA
(OR= 5,37; CI=95%; 1,59 hingga 18,11; p = 0,007); (4) terdapat hubungan negatif
persepsi hambatan dengan penggunaan skrining IVA (OR= 0,21; CI=95%; 0,07 hingga
0,65 p = 0,007); (5) terdapat hubungan persepsi kerentanan individu, keseriusan
penyakit, manfaat dan hambatan dengan penggunaan skrining IVA.
Kesimpulan: persepsi kerentanan individu, keseriusan penyakit, manfaat
berhubungan positif, sedangan hambatan berhubungan negatif dengan penggunaan
skrining IVA pada wanita usia subur
Kata Kunci: persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, manfaat, hambatan, skrining IVA.
commit to user
v
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Maulida Nurfazriah Oktaviana, 2015. The correlation among individual,
susceptibility perception, seriousness of the disease, benefits and those barriers
with willingness of using Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) Screening in
reproductive age women. THESIS. Supervisor I: Ismi Dwi Astuti Nurhaeni,
Supervisor II: Bhisma Murti,. Faculty of Public Health Science, Post Graduate Program,
Sebelas Maret University
ABSTRACT
.
Cervical cancer is an important public health problem among women over the
world. The prevalence of cancer in Indonesia is 1.4 per 1000 population. Cervical
cancer is the cancer with the highest prevalence in Indonesia of 0.8% or approximately
98 692 people The data of Banyuwangi Health Department in 2013 cervical cancer
patients reaches 80-100 patients per year, in 2014 there were only 74 reproductive
women who perform screening test, while the total of reproductive women at
Tegaldlimo Public Health Center approximately 9.042 people. Indonesian women's
awareness of screening is extremely low. The coverage of early detection in Indonesia is
less than five percent; so many cases of cervical cancer are already found at advanced
stage. The purpose of this research was to determine the correlation among individual
perception, susceptibility, seriousness of the disease, benefits, and obstacle with the use
of VIA screening in reproductive age women.
This research study was descriptive analytic observational with cross sectional
design. The sampling technic used purposive sampling. The total sample was 140 of
reproductive women at Tegaldlimo Public Health Center. Questionnaires ware used for
collecting the data. Data analysis used Chi Square and multiple logistic regression.
The research results show that (1) positive correlation among susceptibility
perception to the willingness for using VIA screening (OR = 5,17; CI = 95%; 1.64 to
16,32; p = 0.005); (2) the seriousness perception of the disease to the willingness for
using VIA screening (OR = 4.21; CI = 95%; 1.4 up to 12,30; p = 0,009); (3) the benefits
perception to the willingness for using VIA screening (OR = 5,37; CI = 95%; are 1.59
to 18,11; p = 0.007); (4) there was negative correlation to the obstacles perception of the
willingnes (OR = 0.21; CI = 95%; 0.07 to 0.65 p = 0.007); (5) The correlation among
individual, susceptibility perception, seriousness of the disease, benefits and those
barriers with willingness of using VIA Screening.
Individual susceptibility perception, seriousness of the disease, benefit, and
obstacle are negatively associated with VIA screening in reproductive women.
Keywords: susceptibility perception, seriousness, benefit, obstacle, VIA screening.
commit to user
vi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul:
“Hubungan persepsi kerentanan individu, keseriusan penyakit, manfaat dan hambatan,
dengan penggunaan skrining Inspeksi Visual Asam Asetat pada Wanita Usia Subur”
Tesis ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mencapai derajat
Magister Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Peneliti menyadari bahwa
Proposal ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan baik dari segi
isi maupun bahasa. Untuk itu peneliti mengharapkan kritik dan saran guna tercapainya
maksud dan tujuan penulis.
Dalam penyusunan Tesis ini, penulis mendapat bantuan baik material maupun
moril dari berbagai pihak, sehingga dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Ravik Karsidi,M.S selaku Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta
2. Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd selaku Direktur Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret Surakarta
3. Prof. Bhisma Murti, dr., MPH., M.Sc., Ph.D selaku Kepala Program Studi Ilmu
Kesehatan masyarakat, serta selaku dosen pembimbing II yang telah senantiasa
meluangkan waktu serta memberikan bimbingan kepada penulis selama menyusun
Tesis ini.
4. Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si selaku dosen pembimbing I yang telah
senantiasa meluangkan waktu serta memberikan bimbingan kepada penulis selama
menyusun Tesis ini.
5. Prof. Dr. Muhammad Akhyar, M. Pd
selaku
ketua
penguji
yang
telah
memberikan kritik dan saran kepada peneliti.
6. Dono Indarto, dr.,M.Biotech.,St.Ph.D selaku sekertaris penguji yang telah
memberikan kritik dan saran kepada peneliti.
7. Kepala Puskesmas Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi yang telah mengizinkan saya
penulis untuk melakukan penelitian di Puskesmas tersebut.
8. Teman seperjuangan mahasiswa pascasarjana Universitas Sebelas Maret yang telah
memberikan dorongan dan semangat atas kebersamaan baik dalam suka maupun
duka selama menempuh pendidikan. commit to user
vii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
9. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian penulisan Tesis ini
yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.
Semoga amal kebaikan dari semua pihak diterima Allah SWT dan mendapat
imbalan pahala yang berlipat ganda. Penulis menyadari bahwa Tesis ini masih jauh
dari kesempurnaan, mengingat keterbatasan ilmu pengetahuan, pengalaman serta
waktu, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik ke arah perbaikan dari
pembaca. Akhirnya penulis berharap Tesis penelitian ini dapat bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan.
Surakarta,
Juli 2015
Peneliti
commit to user
viii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul.....................................................................................................
i
Halaman Persetujuan...........................................................................................
ii
Halaman Persetujuan...........................................................................................
iii
Keaslian Dan Publikasi........................................................................................
iv
Abstrak.................................................................................................................
v
Abstract................................................................................................................
vi
Kata Pengantar .……….......…...……………………….....................................
vii
Daftar Isi .............................................................................................................
ix
Daftar Gambar.....................................................................................................
x
Daftar Tabel.........................................................................................................
xii
Daftar Lampiran..................................................................................................
xiii
Dafar Singkatan...................................................................................................
xiv
BAB I PENDAHULUAN……….…...............................………....................
1
A. Latar Belakang ..………………………..……….....………............
1
B. Rumusan Masalah .....……………………………...........................
2
C. Tujuan Penelitian .……………………………………....................
2
D. Manfaat Penelitian .....……………………………..........................
3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………..
4
A. Kajian Teori………………………………………………………..
4
1. Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)……………………………...
4
2. Wanita Usia Subur ……………………………………………….
6
3. Persepsi ...........………...................................................................
8
4. Model Promosi Kesehatan ……………………………………….
13
B. Penelitian Relevan ………………………………………………...
17
C. Kerangka Berpikir ............................................................................
18
D. Hipotesis …………………………………………………………..
19
BAB III METODE PENELITIAN......………………….................................
20
A. Desain Penelitian…………………………………………………..
20
B. Tempat dan Waktu Penelitian……………………………………...
20
C. Populasi dan Sampel Penelitian……………………………………
commit to user
21
ix
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
D. Variabel Penelitian…………………………………………………
21
E. Definisi Operasional……………………………………………….
22
F. Instrumen Penelitian……………………………………………….
24
G. Teknik Analisa Data……………………………………………….
28
H. Hasil Uji Reliabilitas……………………………………………….
30
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……………………
31
A. Karakteristik Sampel Penelitian…………………………………… 31
B. Pengujian Hipotesis………………………………………………..
32
C. Pembahasan………………………………………………………..
36
D. Keterbatasan Penelitian……………………………………………
39
BAB V PENUTUP…………………………………………………………….
40
A. Kesimpulan………………………………………………………...
40
B. Implikasi…………………………………………………………...
40
C. Saran……………………………………………………………….
41
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 42
commit to user
x
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Pembentukan Persepsi…………………………………………………... 10
Gambar 2.2 Faktor-faktor pembentukan persepsi…………………………………… 11
Gambar 2.3 Health Belief Model…………………………………………………….. 15
Gambar 2.4 Sosial CognitiF.……………………………………………………….... 16
Gambar 2.5 Kerangka Berfikir……………………………………………………...... 18
commit to user
xi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1
Instrumen Persepsi Kerentanan Individu ...................................................... 25
Tabel 3.2
Instrumen Persepsi Keseriusan Penyakit ...................................................... 25
Tabel 3.3
Instrumen Persepsi Manfaat ......................................................................... 25
Tabel 3.4
Instrumen Persepsi Hambatan ...................................................................... 25
Tabel 3.5
Hasil Uji Reliabilitas .................................................................................... 30
Tabel 4.1
Karakteristik Data Kontinu........................................................................... 31
Tabel 4.3
Karakteristik Data Kategorik ........................................................................ 31
Tabel 4.4
Hubungan Persepsi Kerentanan Individu dengan Penggunaan Skrining
IVA ............................................................................................................... 32
Tabel 4.5
Hubungan Persepsi Keseriusan Penyakit dengan Penggunaan Skrining
IVA ............................................................................................................... 33
Tabel 4.6
Hubungan Persepsi Manfaat Dengan Penggunaan Skrining IVA ................ 33
Tabel 4.7
Hubungan Persepsi Hambatan Dengan Penggunaan Skrining IVA ............. 34
Tabel 4.8
Hasil Penghitungan Regresi Logistik ........................................................... 34
commit to user
xii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Biodata Mahasiswa……………………………………………………..45
Lampiran 2 : Lembar Kuesioner Data Demografi Dan Penggunaan Skrining IVA…..46
Lampiran 3 : Lembar Kuesioner Persepsi Kerentanan Individu………………….…..47
Lampiran 4 : Lembar Kuesioner Persepsi Keseriusan Penyakit dan Manfaat……….48
Lampiran 5 : Lembar Kuesioner Persepsi Hambatan…………………………………49
Lampiran 6 : Hasil Tes Reliabilitas Instrumen Persepsi Kerentanan Individu……….50
Lampiran 7 : Hasil Tes Reliabilitas Instrumen Persepsi Keseriusan Penyakit………..51
Lampiran 8 : Hasil Tes Reliabilitas Instrumen Persepsi Manfaat…………………….52
Lampiran 9 : Hasil Tes Reliabilitas Instrumen Persepsi Hambatan…………………..53
Lampiran 10 : Hasil Analisis Chi-Square Persepsi Kerentanan Individu……………...54
Lampiran 11 : Hasil Analisis Chi-Square Persepsi Keseriusan Penyakit……………...55
Lampiran 12 : Hasil Analisis Chi-Square Persepsi Manfaat…………………………..56
Lampiran 13 : Hasil Analisis Chi-Square Persepsi Persepsi Hambatan……………….57
Lampiran 14 : Hasil Analisis Regresi Logistik……………………………………….. 58
Lampiran 15 : Hasil Analisis Regresi Logistik……………………………………….. 59
Lampiran 16 : Karakteristik Data Kontinu dan Kategorikal………………………… 60
Lampiran 17 : Permohonan Studi Pendahuluan……………………………………… 61
Lampiran 18 : Rekomendasi Studi Pendahuluan Bakesbangpol Banyuwangi…… … 62
Lampiran 19 : Rekomendasi Studi Pendahuluan Dinkes Banyuwangi……………… 63
Lampiran 20 : Permohonan Ijin Penelitian…………………………………………… 64
Lampiran 21 : Rekomendasi Penelitian Badan Penanaman Modal Jawa Tengah…… 65
Lampiran 22 : Rekomendasi Penelitian Badan Penanaman Modal Jawa Tengah…….66
Lampiran 23 : Rekomendasi Penelitian Bangkesbangpol Jawa Timur………………..67
Lampiran 24 : Rekomendasi Penelitian Bangkesbangpol Banyuwangi……………….68
commit to user
xiii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR SINGKATAN
FGD
HBM
HPV
IVA
WUS
VIA
: Focus Group Discussion
: Health Belief Model.
: Human Papiloma Virus
: Inspeksi Visual Asam Asetat
: Wanita Usia Subur
: Visual Inspection with Acetic Acid
commit to user
xiv
1
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kanker serviks merupakan masalah kesehatan yang penting bagi wanita
di seluruh dunia dan merupakan penyebab kematian utama kanker pada wanita
khususnya di negara-negara yang sedang berkembang (Kumalasari dan
Andhyanto, 2012). Kanker serviks merupakan penyakit dengan prevalensi
urutan ketiga terbanyak pada wanita diseluruh dunia. Di Indonesia, kanker
serviks merupakan penyakit kanker perempuan urutan pertama (Pusdatin, 2015).
Prevalensi kanker tersebut tahun 2008, sebanyak 530.000 kasus kanker serviks
di seluruh dunia dan 275,000 meninggal dunia. Sebanyak 500.000 kasus baru
ditemukan setiap tahunya dan lebih dari 90% terdapat di negara-negara
berkembang (Pierce et al., 2012; WHO, 2012).
Pada tiga dekade terakhir ini, kasus kanker servik meningkat pada usia
lebih muda atau dibawah 30 tahun (Samadi, 2011). Berdasarkan data Riskesdas
(2013), prevalensi kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk. Sedagkan,
kanker serviks merupakan kanker dengan prevalensi tertinggi di Indonesia
sebesar (0,8%) atau sekitar 98.692 penduduk. Di Provinsi Jawa Timur,
prevalensi jumlah kanker serviks sebesar 21.313 penduduk (Pusdatin, 2015).
Menurut data dinas kesehatan kabupaten Banyuwangi (2013), penderita kanker
serviks mencapai 80-100 per tahun.
Skrining IVA efektif akan memberikan kontribusi untuk menurunkan
mortalitas & morbiditas yang terkait dengan keganasan kanker serviks
(Rahatgaonkar, 2012). Dalam beberapa studi klinis besar, skrining IVA telah
menunjukkan kepekaan klinis mulai dari 41% – 92%, mendekati yang dari
standar kolposkopi (Moon et al., 2012). Sejak 2008 sampai sekarang, 116.700
perempuan di Indonesia telah menerima penyuluhan deteksi dini kanker serviks
dan lebih dari 45.000 orang telah melakukan skrining IVA. Pada tahun 2014,
hanya terdapat 74 wanita usia subur yang melakukan pemeriksaan skrining IVA,
Kesadaran perempuan Indonesia untuk melakukan deteksi dini kanker
serviks masih sangat rendah. Cakupan
commitdeteksi
to userdini di Indonesia kurang dari lima
perpustakaan.uns.ac.id
2
digilib.uns.ac.id
persen sehingga banyak kasus kanker serviks ditemukan sudah stadium lanjut
yang seringkali menyebabkan kematian pada wanita. Begitu juga kesadaran
perempuan di Kabupaten Banyuwangi khususnya di Puskesmas Tegaldlimo,
jumlah cakupan wanita usia subur melakukan skrining IVA kurang dari satu
persen sedangkan jumlah WUS di wilayah Puskesmas Tegaldlimo sejumlah.
9.042 orang. Beberapa faktor kemungkinan mempengaruhi usia subur
melakukan skrining IVA antara lain: faktor pendidikan, faktor pengetahuan, dan
dukungan keluarga (Rahma dan Prabandari, 2011).
Menurut teori HBM individu akan mengambil suatu keputusan terhadap
suatu penyakit untuk melindung dirinya dengan cara memandang diri mereka
kerentanan, keseriusan, manfaat dan hambatan Sejauh ini belum ada penelitian
yang membuktikan faktor-faktor yang disebutkan diatas tadi terhadap wanita
subur menggunakan skrining IVA.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah ada hubungan persepsi kerentanan individu dengan penggunaan
skrining IVA pada wanita usia subur.
2. Apakah ada hubungan persepsi keseriusan penyakit dengan penggunaan
skrining IVA pada wanita usia subur.
3. Apakah ada hubungan persepsi manfaat dengan penggunaan skrining IVA
pada wanita usia subur.
4. Apakah ada hubungan persepsi hambatan dengan penggunaan skrining IVA
pada wanita usia subur.
5. Apakah ada hubungan persepsi kerentanan individu, persepsi keseriusan
penyakit, persepsi manfaat dan persepsi hambatan dengan penggunaan
skrining IVA pada wanita usia subur.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Menganalisis hubungan persepsi kerentanan individu, persepsi keseriusan
penyakit, persepsi manfaat dan persepsi hambatan dengan penggunaan
skrining IVA pada wanita usia
subur.to user
commit
3
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
2. Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan karakteristik sosial demografi persepsi kerentanan
individu, keserusan penyakit, manfaat dan hambatan penggunaan
skrining IVA pada wanita usia subur.
b. Menemukan hubungan persepsi kerentanan penyakit dengan penggunaan
skrining IVA pada wanita usia subur.
c. Menemukan hubungan keseriusan penyakit dengan penggunaan skrining
IVA pada wanita usia subur.
d. Menemukan hubungan persepsi manfaat dengan penggunaan skrining
IVA pada wanita usia subur.
e. Menemukan hubungan persepsi hambatan dengan penggunaan skrining
IVA pada wanita usia subur.
f. Menemukan hubungan persepsi kerentanan individu, persepsi keseriusan
penyakit, persepsi manfaat dan persepsi hambatan dengan penggunaan
skrining IVA pada wanita usia subur.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bukti untuk mendukung Teori
HBM dalam penggunaan skrining IVA.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber data untuk mendesain
program promosi kesehatan dalam meningkatkan penggunaan skrining IVA
dan menurunkan angka kejadian kanker serviks.
commit to user
4
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)
a. Pengertian
Skrining IVA adalah pemeriksaan leher rahim secara visual
menggunakan asam cuka dengan mata telanjang untuk mendeteksi
abnormalitas setelah pengolesan asam cuka 3-5% (Depkes, 2010). Skrining
IVA merupakan salah satu cara melakukan tes kanker serviks yang
mempunyai kelebihan yaitu kesederhanaan teknik dan kemampuan
memberikan hasil yang segera kepada ibu. Selain itu juga bisa dilakukan
oleh hampir semua tenaga kesehatan, yang telah mendapatkan pelatihan
(Depkes, 2007).
Menurut Widyastuti, dkk (2009) skrining IVA merupakan metode
untuk mendeteksi dini kanker serviks yang murah meriah menggunakan
asam asetat 3-5%, dan tergolong sederhana dan memiliki keakuratan 90%
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa skrining IVA
merupakan suatu cara pemeriksaan sederhana pada serviks dengan
menggunakan asam asetat dengan tujuan mendeteksi kanker serviks sedini
mungkin, yang cocok dilakukan di Indonesia dengan alasan mudah, murah
dan hasilnya efektif dapat mengidentifikasi kanker serviks.
b. Keunggulan dan Tujuan Skrining IVA
Menurut WHO (2006) dan Depkes (2009) ada beberapa keunggulan
skrining IVA diantara adalah mudah, murah, dapat dilakukan oleh bidan
atau tenaga medis puskesmas dan hasil didapat dengan segera Sarana yang
dibutuhkan sederhana. Dapat dikombinasi dengan tatalaksana segera lainnya
yang cukup dengan pendekatan sekali kunjungan (single visit approach).
Metode skrining IVA juga memenuhi kriteria tes penapisan yang baik,
penilaian ganda untuk sensitivitas dan spesifitas menunjukkan bahwa tes ini
sebanding dengan Pap smear dan kolposkopi.
commit to user
5
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Menurut Winkjosastro (2005) ada beberapa tujuan seseorang
melakukan pemeriksaan skrining IVA diantara adalah mendapatkan kanker
servik pada stadium lebih awal, untuk mendeteksi secara dini adanya
perubahan sel mulut rahim yang dapat mengarah ke kanker serviks beberapa
tahun kemudian, penanganan secara dini dapat dilakukan sehingga terhindar
dari kanker mulut rahim, pengobatan diharapkan berhasil lebih baik.
c. Sasaran dan Interval Skrining IVA
Sasaran pemeriksaan skrining IVA adalah wanita usia subur
khususnya yang sudah menikah dan memiliki faktor-faktor pencentus
terjadinya kanker serviks, misalnya riwayat KB, berganti-ganti pasangan,
jumlah anak, penggunaan antiseptik. Hal ini didukung menurut Depkes
(2006) sasaran skrining IVA dianjurkan bagi semua perempuan berusia
antara 30 sampai dengan 50 tahun yang memiliki faktor resiko seperti resiko
tinggi IMS akan dapat meningkatkan nilai prediktif positif dari skrining
IVA.
WHO (2006) mengindikasikan skrining deteksi dini kanker leher
rahim dilakukan pada kelompok berikut ini :
1) Setiap perempuan yang berusia antara 25-35 tahun, yang belum pernah
menjalani tes sebelumnya, atau pernah menjalani tes 3 tahun sebelumnya
atau lebih.
2) Perempuan yang ditemukan lesi abnormal pada pemeriksaan tes
sebelumnya.
3) Perempuan
yang
mengalami
perdarahan
abnormal
pervaginam,
perdarahan pasca sanggama atau perdarahan pasca menopause atau
mengalami tanda dan gejala abnormal lainnya.
4) Perempuan yang ditemukan ketidaknormalan pada leher rahimnya.
Sedangkan untuk sasaran interval usia melakukan skrining menurut
WHO (2006) merekomendasikan :
1) Bila skrining hanya mungkin dilakukan 1 kali seumur hidup maka
sebaiknya dilakukan pada perempuan antara usia 35 – 45 tahun.
commit to user
6
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
2) Untuk perempuan usia 25- 45 tahun, bila sumber daya memungkinkan,
skrining hendaknya dilakukan tiap 3 tahun sekali.
3) Untuk usia diatas 50 tahun, cukup dilakukan 5 tahun sekali.
4) Bila 2 kali berturut-turut hasil skrining sebelumnya negatif, perempuan
usia diatas 65 tahun, tidak perlu menjalani skrining.
5) Tidak semua perempuan direkomendasikan melakukan skrining setahun
sekali.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa di
Indonesia interval pemeriksaan skrining IVA adalah 5 tahun sekali. Jika hasil
pemeriksaan negatif maka dilakukan ulangan 5 tahun dan jika hasilnya
positif maka dilakukan ulangan 1 tahun kemudian. Sedangkan menurut
Depkes (2008) ada sedikit perbedaan antara di Indonesia dan di Amerika;
yaitu waktu awal skrining kira-kira 3 tahun setelah aktivitas seksual yang
pertama, intervalnya setiap tahun, atau setiap 2 – 3 tahun untuk wanita usia ≥
30 tahun dengan 3 kali berturut-turut hasil skrining negatif; penghentian
skrining pada wanita usia ≥70 tahun dengan ≥ 3 kali berturut-turut hasil tes
negatif dan tanpa hasil tes abnormal dalam 10 tahun terakhir.
2. Pengertian dan Faktor- faktor pendukung WUS melakukan skrining IVA
WUS adalah wanita yang sudah mengalami menstruasi dengan umur 15 - 49
tahun, yang terdiri dari muda paritas rendah (mupar) yaitu yang berumur dibawah
30 tahun dengan jumlah anak 0-2 orang dan bukan mupar yaitu yang berumur
diatas 30 tahun dengan jumlah anak berapa saja atau umur istri dibawah 30 tahun
dengan jumlah anak 3 atau lebih (Lestari, 2013).
Faktor-faktor yang mendukung wanita usia subur melakukan skrining IVA
menurut (Artiningsing, 2011) meliputi:
1) Faktor besarnya jasa pelayanan terhadap IVA dan tempat pelayanan IVA
2) Faktor kualitas pelayanan terhadap pemeriksaan IVA,
3) Faktor aksesibilitas yang mendorong pemeriksaan IVA dan tempat
pelayanan IVA adalah faktor kemudahan sarana transportasi
4) Faktor dari keunggulan IVA yang murah sehingga mudah dijangkau oleh
masyarakat
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
7
digilib.uns.ac.id
5) Pelayanan IVA tidak didukung pemberian informasi yang memadai
6) Hubungan interpersonal yang baik antara petugas dengan WUS hanya
dengan pelayanan swasta
7) Penanganan tindak lanjut dalam pelayanan IVA masih sangat kurang
Menurut CDC (2014) kanker serviks adalah adanya perubahan selsel serviks dengan karakteristik histologi. Proses perubahan pertama
menjadi tumor ini mulai terjadi pada sel-sel squamous colummar junction
yang di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: a. Infeksi HPV ; b. kebiasaan
merokok; c. pemakainan celana ketat; d. usia; e paritas; f. faktor pasangan
yang terdiri dari usia pertama melakukan hubungan seks, berganti-ganti
pasangan seks; dan faktor lainya berupa faktor makanan, KB, Ras, polusi
udara, pemakaian antiseptic.
Para ahli telah menemukan fakta bahwa kandungan asap tembakau
juga mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi virus.
Kandungan nikotin di dalam lendir serviks meningkatkan daya reproduksi
jenis sel yang dikenal berpotensi menjadi sel kanker ganas. Pemakaian
celana ketat dapat meningkatkan suhu vagina sehingga akan merusak daya
hidup sebagian mikroorganisme, dan mendukung perkembangan sebagian
mikroorganisme lainnya. Kanker serviks berpotensi paling besar pada usia
antara 35-55 tahun. Paritas kemampuan wanita untuk melahirkan secara
normal. Pada proses persalinan normal, bayi bergerak melalui mulut rahim
dan ada kemungkinan sedikit merusak jaringan epitel di tempat tersebut
(CDC, 2014 dan Were et al., 2011).
Usia ketika wanita mulai melakukan hubungan seks secara aktif juga
menjadi salah satu faktor pemicu kanker serviks. Meskipun secara
fungsional rahim wanita dinyatakan sudah berfungsi sejak mengalami
menstruasi (9-15 tahun), namun kesiapan total umumnya baru tercapai pada
usia sekitar 20 tahun, dimana secara mental, wanita juga sudah siap untuk
berhubungan seksual secara sadar. Faktor penyebab yang satu ini memiliki
potensi penularan yang tinggi. Virus HPV dapat ditularkan melalui
hubungan seksual baik normal
maupun
oral. Pemakaian pil KB secara teruscommit
to user
8
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
menerus berpotensi menimbulkan kanker serviks. Pada pemakaian lebih dari
lima tahun, risiko ini menetap menjadi 2 kali lebih besar dibanding wanita
yang tidak memakai pil KB (CDC, 2014 dan Were et al., 2011 ).
Pemakaian antiseptik di vagina, wanita modern ingin selalu tampil
sempurna termasuk di wilayah pribadinya. Antiseptik tersebut dapat
membunuh
bakteri
di
sekitar
vagina,
termasuk
bakteri
yang
menguntungkan. Dan apabila digunakan dalam dosis yang terlalu sering,
maka zat antiseptik tersebut dapat mengakibatkan iritasi pada kulit bibir
vagina yang sangat lembut. Iritasi ini biasa berkembang menjadi sel
abnormal yang berpotensi dysplasia (Cancer Research, 2014).
Menurut Medicinet (2014) awal terjadinya kanker serviks biasanya
tidak menimbulkan gejala. Ketika kanker tumbuh lebih besar, kemungkinan
menimbulkan beberapa gejala yaitu: gejala dini dan lanjutan. Gejala dini
berupa sedikit sekresi dari vagina berupa air, perdarahan setelah koitus,
metrorargia, perdarahan pasca menopause, polimenorea. Gejala lanjutan
biasanya berupa sekresi dari vagina yang kehitaman serta bau, nyeri pada
daerah pelvis, abdomen, lumbal, bokong, berat badan menurun, anoreksia,
anemia, edema ekstremitas bawah, disuria, perdarahan dari rectum.
3. Persepsi
a. Pengertian Persepsi
Persepsi adalah suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu
merupakan proses yang berwujud diterima stimulus oleh individu melalui alat
reseptornya. Namun proses itu tidak berhenti sampai disitu saja, melainkan
stimulus di teruskan ke pusat susunan syaraf yaitu otak dan terjadilah proses
psikologis, sehingga individu menyadari apa yang a lihat, apa yang ia dengar,
dan sebagainya individu mengalami persepsi (Fitriyah dan Jauhar, 2014).
Persepsi
adalah
proses
dimana
individu
mengatur
dan
menginterpretasikan kesan-kesan sensorik mereka guna memberikan arti bagi
lingkungan mereka. Namun, apa yang diterima seseorang pada dasarnya bisa
berbeda dari realitas objektif. Walaupun seharusnya tidak perlu ada perbedaan
tersebut sering timbul (Robbins dan
Judge,
2008).
commit
to user
9
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Menurut pengertian dari penjelasan di atas penulis simpulkan bahwa
persepsi merupakan suatu proses yang dimiliki oleh setiap individu dalam
kehidupan sehari-hari yang menerima stimulus atau rangsang berupa informasi
yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam
diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya
melalui indera-indera yang dimilikinya.
b. Proses
Pembentukan
Persepsi
dan
Faktor
yang
Mempengaruhi
Pembentukan Persepsi.
Persepsi seseorang tidaklah timbul begitu saja, ada tahapan-tahapan atau
proses tertentu yang harus dilalui oleh seseorang untuk bisa berpersepsi.
Menentukan persepsi seseorang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu,
proses belajar, lingkungan, rangsangan dan hal-hal yang lain. Hal ini didukung
menurut Sunaryo (2004) menyatakan bahwa proses pembentukan persepsi
melewati tiga proses, yaitu : proses fisik, proses fisiologi dan proses psikologi.
Dalam hal ini terjadilah adanya proses persepsi yaitu suatu proses di mana
individu mengetahui dan menyadari suatu obyek berdasarkan stimulus yang
mengenai alat inderanya.
Menurut (Robbins dan Judge, 2008) Proses pembentukan persepsi dimulai
dengan penerimaan rangsangan dari berbagai sumber. Dapat juga di pengaruhi
faktor-faktor personal, yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk
stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberi respon terhadap stimuli. Sejalan
dengan hal tersebut, maka persepsi seseorang ditentukan oleh dua faktor utama
yaitu pengalaman masa lalu dan faktor pribadi yang di dapat melalui proses
belajar dan pengalaman masa lalu
Menurut Damayanti (2000) menggambarkan proses pembentukan persepsi
terdapat pada gambar 2.1 di bawah ini.
commit to user
10
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Rangsangan/
Sensasi
Seleksi Input
Lingkungan
Persepsi
Pengalaman
Proses Pengorganisasian
Interpretasi
Proses belajar
Gambar 2.1 Pembentukan Persepsi
Sumber: Damayanti (2000)
Proses pembentukan persepsi dimulai dengan penerimaan rangsangan
dari berbagai sumber melalui panca indera yang dimiliki, setelah itu diberikan
respon sesuai dengan penilaian dan pemberian arti terhadap rangsang lain.
Setelah diterima rangsangan atau data yang ada diseleksi. Untuk menghemat
perhatian yang digunakan rangsangan-rangsangan yang telah diterima diseleksi
lagi untuk diproses pada tahapan yang lebih lanjut. Setelah diseleksi rangsangan
diorganisasikan berdasar-kan bentuk sesuai dengan rangsangan yang telah
diterima. Setelah data diterima dan diatur, proses selanjutnya individu
menafsirkan data yang diterima dengan berbagai cara. Dikatakan telah terjadi
persepsi setelah data atau rangsangan tersebut berhasil ditafsirkan. Persepsi
seseorang tidak timbul dengan sendirinya, tetapi melalui proses dan faktor-faktor
yang mempengaruhi persepsi seseorang. Hal inilah yang menyebabkan setiap
orang memiliki interpretasi berbeda, walaupun apa yang dilihatnya sama, belum
tentu persepsi seseorang tersebut sama tergantung dengan pengalaman serta
proses belajar yang didapat selama menerima proses rangsangan dari
lingkungan.
Sedangkan menurut Robins dan Judge (2008) ada beberapa faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya pembentukkan persepsi yaitu:
commit to user
11
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Faktor-faktor dalam
diri si pengarti:
1. Sikap-sikap
2. Motif-motif
3. Minat-minat
4. Pengalaman
5. Harapan-harapan
Faktor-faktor situasi:
1. Waktu
2. Keadaan kerja
3. Keadaan sosial
Persepsi
Faktor-faktor dalam diri target:
1. Suatu yang baru
2. Gerakan
3. Suara
4. Ukuran
5. Latar belakang
6. Kedekatan
7. Kemiripan
Gambar 2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Sumber: Robins dan Judge (2008)
Persepsi seseorang tidak timbul dengan sendirinya, tetapi melalui proses
dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang. Hal inilah yang
menyebabkan setiap orang memiliki interpretasi berbeda, walaupun apa yang
dilihatnya sama. Menurut Robbins dan Judge (2008) terdapat 3 faktor yang
mempengaruhi persepsi seseorang, yaitu:
1) Individu yang bersangkutan (pemersepsi)
Apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan interpretasi
tentang apa yang dilihatnya itu, ia akan dipengaruhi oleh karakterisktik
individual yang dimilikinnya seperti sikap, motif, kepentingan, minat,
pengalaman, pengetahuan, dan harapannya.
2) Sasaran dari persepsi
Sasaran dari persepsi dapat berupa orang, benda, ataupun peristiwa. Sifatsifat itu biasanya berpengaruh
terhadap
commit
to userpersepsi orang yang melihatnya.
12
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Persepsi terhadap sasaran bukan merupakan sesuatu yangdilihat secara teori
melainkan dalam kaitannya dengan orang lain yang terlibat. Hal tersebut
yang menyebabkan seseorang cenderung mengelompokkan orang, benda,
ataupun peristiwa sejenis dan memisahkannya dari kelompok lain yang
tidak serupa.
3) Situasi
Persepsi harus dilihat secara kontekstual yangberarti situasi dimana persepsi
tersebut timbul, harus mendapat perhatian. Situasi merupakan faktor yang
turut berperan dalam proses pembentukan persepsi seseorang.
Konstruksi sosial budaya juga dapat berkontribusi terhadap persepsi
seseorang khususnya wanita dalam pengambilan keputusan akan pelayanan
kesehatan. Sosial budaya membentuk kepribadian tidak lain adalah pola
perilaku konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan,
ganjaran) yang dimiliki. Pola reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan
perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain (Azwar, 2005).
Selain itu, menurut penulis sosial budaya juga merupakan suatu kebiasaan
dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang
dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan bertambah
pengetahuannya untuk melakukan atau tidak melakukan
Gender merupakan perbedaan peran manusia yang membutuhkan
proses yang lama antara laki-laki dan perempuan. Pembentukan gender yang
dtentukan
oleh
faktor-faktor
yang
ikut
membentuk,
kemudian
disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksikan melalui sosial dan atau
budaya kemudian dilanggengkan oleh iterpretasi agama dan mitos-mitos,
seolah-olah telah menjadi kodrat laki-laki dan perempuan (Fakih, 2003).
Adanya anggapan perempuan mempunyai akses yang lemah,
tergantung, serta tidak mandiri misalnya terhadap keuangan keluarga
sehingga mengurangi kemampuannya untuk melindungi dirinya dari faktor
risiko penyakit, serta dalam keadaan sakitpun perempuan harus mendapatkan
ijin suami untuk berkunjungcommit
ke sarana
pelayanan kesehatan. Terbatasnya
to user
13
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
akses
terhadap
biaya,
jarak/transportasi,
informasi
dan
teknologi
memperburuk ketidakadilan gender. Apalagi perempuan dengan penyakit
yang berhubungan dengan organ kewanitaan cenderung tidak ke sarana
kesehatan karena takut dengan stigma sosial yang ‘miring’ atau negatif yang
akan diterima dan kalaupun berobat penyakitnya sudah dalam stadium lanjut
(Widihastuti., et al, 2013)
4. Model-model promosi kesehatan
Promosi kesehatan merupakan proses yang memungkinkan individu untuk
meningkatkan status kesehatan mereka. Ada beberapa model-model teori promosi
kesehatan yang dikembangkan oleh beberapa ahli. Dalam penelitian ini teori yang
digunakan adalah teori HBM yang dikembangkan oleh Rosenstock (1994), tetapi
peneliti juga menyantumkan teori model pembelajaran social yang dikembangan
oleh Bandura (2004).
Teori HBM secara ekstensif menentukan hubungan antara keyakinan dan
perilaku kesehatan, model ini memprediksikan bahwa individu akan mengambil
tindakan untuk melindungi atau mempromosikan kesehatan jika mereka
memandang diri mereka rentan terhadap kondisi atau masalah yang serius.
HBM intrapersonal (sifatnya dalam diri individu, pengetahuan dan
keyakinan) adalah teori yang digunakan dalam promosi kesehatan untuk merancang
intervensi dan program pencegahan. Fokus dari HBM adalah untuk menilai
perilaku kesehatan individu melalui pengujian persepsi dan sikap seseorang
mungkin memiliki kemungkinan terjangkit penyakit dan efek negatif dari tindakan
tertentu.
HBM merupakan model psikologis yang mencoba untuk menjelaskan dan
memprediksi perilaku kesehatan dengan berfokus pada sikap dan keyakinan
individu. HBM sebagai bagian dari upaya pelayanan kesehatan masyarakat oleh
para psikolog sosial di Amerika Serikat untuk menjelaskan kurangnya partisipasi
masyarakat dalam program pemeriksaan kesehatan dan pencegahan (misalnya,
sebuah proyek skrining TB gratis yang letaknya strategis). Sejak saat itu, HBM
telah diadaptasi untuk menelusuri berbagai perilaku kesehatan jangka panjang dan
jangka pendek, termasuk perilaku seksual berisiko.
commit to user
14
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Variabel kunci menurut teori HBM yang dikembangkan oleh Rosenstock
(1994) adalah:
a. Persepsi Ancaman: Terdiri dari dua bagian: anggapan kerentanan terhadap suatu
penyakit dan tingkat keparahan yg dirasakan .
1) Persepsi Kerentanan : persepsi secara subjektif seseorang tentang risiko
tertular penyakit.
2) Persepsi Tingkat keparahan: persepsi tentang tingkat keseriusan tertular
penyakit atau membiarkannya tidak diobati (termasuk evaluasi dari kedua
konsekuensi medis dan klinis dan konsekuensi sosial yang mungkin
muncul).
b. Manfaat yang dirasakan : Efektivitas tingkat kepercayaan terhadap strategi yang
dirancang untuk mengurangi ancaman suatu penyakit.
c. Hambatan yang dirasakan : Konsekuensi negatif potensial yang mungkin timbul
ketika mengambil tindakan tertentu, termasuk tuntutan fisik, psikologis, dan
keuangan.
d. Petunjuk melakukan tindakan : Kegiatan, baik fisik (misalnya, gejala fisik) atau
lingkungan (misalnya, media publikasi) yang memotivasi orang untuk
mengambil tindakan. Petunjuk melaksanakan tindakan adalah aspek dari HBM
yang belum diteliti secara sistematis.
e. Variabel lain : faktor keberagaman demografi, sosiopsikologis, dan variabel
struktural dapat mempengaruhi persepsi individu dan dengan demikian secara
tidak langsung mempengaruhi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan.
f. Keberhasilan diri : Kepercayaan untuk dapat berhasil menjalankan perilaku yang
diperlukan untuk menghasilkan hasil yang diinginkan.
Menurut teori HBM yang dikembangkan oleh Rosenstock (1994)
menunjukkan hubungan variabel-variabel, termasuk semua elemen yang diperlukan
untuk perubahan perilaku yang meliputi persepsi individu tentang ancaman dan
harapan yang mempengaruhi individu untuk melakukan tindakan untuk mengurangi
ancaman tersebut berdasarkan harapan.
commit to user
15
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Latar belakang
Variabel demografis
(umur, gender, suku)
Variabel sosio-psikologis
(kepribadian, kelas sosial, kawan
sebaya, penekan rujukan)
Variabel struktural
(pengetahuan penyakit, kontak
sebelumnya dengan penyakit)
Persepsi
Harapan:
1. Persepsi manfaat tindakan
2. Persepsi hambatan
tindakan
3. Efikasi diri (kemampuan
mewujudkan hasil)
Ancaman:
1. Persepsi kerentanan untuk
mengalami penyakit
2. Persepsi keparahan penyakit
Tindakan
Stimulus Tindakan:
1. Media
2. Pengaruh individual
3. Pengingat
Perilaku untuk
mengurangi ancaman,
berdasarkan harapan
Gambar 2.3 Health Belief Model.
Sedangkan model teori pembelajaran sosial dalam penelitian ini akan
menjelaskan perilaku individu yang dipengaruhi oleh norma sosial, harapan,
observasi dan merasa mempunyai kemampuan untuk mengkontrol perilaku
kesehatan mereka. Model pembelajaran sosial di sebut juga juga teori kesadaran
sosial. Model ini memfokuskan pada tiga pengaruh pada perilaku, yaitu : penentu
timbal balik merupakan pengaruh keberlangsungan tidak tampak kompleks interaksi
antara perilaku orang dengan lingkungannya, norma sosial merupakan efek sosial
budaya yang lazim pada perilaku, dan faktor kesadaran meliputi pembelajaran
observasional, harapan serta efikasi diri.
Menurut teori social Bandura faktor person (kognitif) memainkan peranan
penting. Faktor person (kognitif) yang
dimaksud
commit
to usersaat ini adalah efikasi diri, sebagai
16
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan
masalah dengan efektif lihat pada gambar 2.4 dibawah ini.
Hasil yang diharapkan:
1. Fisik
2. Sosial
3. Evaluasi diri
Efikasi diri
Tujuan
Tindakan
Faktor sosial struktural
1. Fasilitas
2. Hambatan
Gambar 2.4 Teor Sosial Kognitif
Pada teori pembelajaran sosial kognitif Bandura mempunyai kekuatan dan
kelemahan. Kekuatannya yaitu secara realistis pemecahan masalah kompleksitas
promosi kesehatan (tidak terlalu sederhana). Tidak sama dengan model tahapantahapan perubahan dan HBM secara eksplisit mengakui pengaruh faktor lain :
lingkungan, sosial dan perilaku. Memperlebar peran promosi kesehatan melalui
persuasi perorangan tentang perilaku yang berlainan daripada perlindungan
keseluruhan lingkungan sosial dan lebih memperlebar kepercayaan perorangan.
Sedangkan kelemahannya teori ini adalah sulit untuk diimplementasikan karena
lingkup luas dan kompleks.
Selain model teori HBM dan Bandura menurut Widihastuti A., et al (2013)
perubahan perilaku individu ternyata juga dipengaruhi oleh norma sosial budaya
yang berkaitan erat dengan gender. Gender merupakan istilah yang digunakan untuk
menggambarkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara social, yang
mengacu pada peran, perilaku, kegiatan serta karakteristik sosial yang dibentuk
oleh suatu masyarakat atau budaya tertentu berdasarkan persepsi yang pantas untuk
perempuan atau pantas untuk laki-laki.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
17
digilib.uns.ac.id
Perbedaan peran tersebut akan mempengaruhi persepsi perasaan tidak
nyaman serta mempengaruhi keinginan perempuan untuk menyatakan dirinya sakit.
Peran perempuan dalam mengurus rumah tangga mengakibatkan apabila perempuan
jatuh sakit tidak cepat mencari pengobatan karena merasa tidak nyaman melalaikan
tugas dan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga.
B. Hasil Penelitian yang Relevan.
1. Were, E et al (2011) melakukan penelitian dengan judul “Perceptions of risk
and barriers to cervical cancer screening at Moi Teaching and Referral
Hospital (MTRH)” Hasil penelitian dari 219 perempuan yang diwawancarai,
12,3% dari responden telah diskrining sebelumnya. Wanita lebih dari 30 tahun
kemungkinan besar telah diskrining sebelumnya (p = 0,012). Sementara 22,8%
merasa bahwa mereka berisiko kanker serviks, demikian juga 65% dari semua
peserta, juga ingin diskrining. Persepsi bahwa berada pada risiko kanker serviks
secara bermakna dikaitkan dengan kebutuhan yang dirasakan untuk skrining
(p= 0,002), dua hal tersebut saling terkait khusus untuk wanita yang mengaku
memiliki banyak pasangan seks seumur hidup (p = 0,005). Takut hasil skining
tidak akurat dan tidak memiliki biaya adalah hambatan yang paling umum
untuk melakukan skrining diungkapkan oleh 22,4% dan 11,4% responden.
2. Bourne et al.,(2010) melakukan penelitian dengan judul “Perception, attitude
and practices of women towards pelvic examination and Pap smear in
Jamaica”. Hasil menunjukkan bahwa wanita yang lebih tua lebih mungkin
untuk melakukan pemeriksaan skrining dibandingkan dengan wanita yang lebih
muda (χ2 = 675,29, P <0,001). Usia, jumlah kehamilan yang mengakibatkan
keguguran, jumlah kehamilan yang mengakibatkan aborsi diinduksi, usia
hubungan seksual pertama, jumlah tahun bersekolah, daerah tempat tinggal dan
kelas sosial-ekonomi secara statistik faktor signifikan pemeriksaan skrining di
Jamaika. Oleh karena itu, model memiliki daya prediksi yang signifikan di
mana (χ2 = 1022,79, P <0,001.
Dalam penelitian ini akan diteliti faktor-faktor yang mempengaruhi
penggunaan skrining IVA dengan
menggunakan
teori HBM misalnya persepsi
commit
to user
18
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
tentang kerentanan individu, persepsi keseriusan penyakit, pensepsi manfaat
dan persepsi hambatan, yang dihubungan dengan penggunaan skrining IVA.
Beberapa faktor penelitian juga mengadopsi dari hasil penelitian yang relevan.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang relevan adalah pada variabel
persepsi hambatan. Dalam penelitian tersebut menjelaskan yang menjadi
hambatan yang paling umum untuk tidak melakukan skrining karena tidak
adanya biaya serta takut tentang hasil dari skrining diungkapkan oleh
responden.
Dalam penelitian ini untuk mengetahui apa yang telah dihasilkan orang
lain apakah hasil penelitian nanti akan sama. Sedangkan perbedaannya pada
penelitian ini adalah peneliti menambahkan variabel lain yaitu persepsi
kerentanan individu, persepsi keseriusan penyakit, dan persepsi manfaat, yang
akan dihubungan dengan teori HBM untuk menilai perilaku kesehatan individu
melalui pengujian variabel persepsi serta sikap seseorang mungkin memiliki
kemungkinan terjangkit penyakit dan efek negatif dari tindakan tertentu, selain
itu terdapat perbedaan pada besar sampel, tempat, waktu serta analisis data yang
berbeda.
C. Kerangka Berpikir
Persepsi kerentanan individu, persepsi keseriusan penyakit, persepsi manfaat
mempengaruhi penggunaan skrining IVA sehingga dapat menghindari akibat buruk
dari penyakit. Persepsi hambatan juga dapat mempengaruhi kemampuan individu
melakukan tindakan sehingga meggunakan skrining IVA. Kerangka berpikir dari
kajian pustaka yang telah diuraikan sebagai berikut:
Persepsi
kerentanan
Persepsi
keseriusan
Persepsi
manfaat
Persepi
hambatan
Menghindari akibat
buruk dari penyakit
Efikasi diri
commit
to user
Penggunaan
IVA
19
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Gambar: 2.5 Kerangka berpikir hubungan antara persepsi kerentanan individu,
keseriusan penyakit, manfaat dan hambatan dengan penggunaan Skrining IVA pada
wanita usia subur .
D. Hipotesis
Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ada hubungan positif persepsi kerentanan penyakit dengan penggunaan skrining
IVA. Makin tinggi persepsi kerentanan makin tinggi penggunaan skrining IVA.
2. Ada hubungan positif persepsi keseriusan penyakit dengan penggunaan skrining
IVA. Makin tinggi persepsi keseriusan penyakit makin tinggi penggunaan
skrining IVA.
3. Ada hubungan positif persepsi manfaat dengan penggunaan skrining IVA.
Makin tinggi persepsi manfaat yang dirasakan makin tinggi penggunaan skrining
IVA.
4. Ada hubungan negatif persepsi hambatan dengan penggunaan skrining IVA.
Makin tinggi persepsi hambatan makin rendah penggunaan skrining IVA.
5. Ada hubungan persepsi kerentanan individu, keseriusan penyakit, persepsi
manfaat, dan persepsi hambatan dengan penggunaan skrining IVA
commit to user
20
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptifanalitik-observasional dengan pendekatan cross-sectional (potong-lintang). Dengan
pendekatan potong-lintang, semua variabel yang diteliti - baik variabel independen
maupun dependen - diukur pada saat yang sama.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi
Jawa Timur.
2. Waktu penelitian
Penyususan proposal, seminar proposal dan revisi proposal dilaksanakan
bulan November 2014 hingga Februari 2015. Uji validitas dan reliabilitas untuk
instrument penelitian, pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan laporan
penelitian dilakukan bulan Maret hingga Juli 2015.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi sasaran (target population) dalam penelitian ini adalah wanita
usia subur. Populasi terjangkau (accessible population ) dalam penelitian ini
adalah wanita usia subur di Wilayah Puskesmas Tegaldilmo Kabupaten
Banyuwangi, dengan jumlah wanita usia subur sekitar 9.042.
commit to user
21
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
2. Sampel
Dalam penelitian ini subyek dipilih dengan menggunakan teknik purposive
sampling. Besar sampel diperkirakan dengan menggunakan rumus menurut
teori yang dikembangkan oleh Hair yang membutuhkan sampel 15-20 subyek
untuk setiap variabel independen. Penelitian ini terdapat empat variabel
independen yang akan diteliti sehingga dibutuhkan sampel minimal 60-80
subjek. Pada penelitian ini jumlah sampel yang dibutuhkan peneliti adalah 140
subjek, yang terdiri dari 60 wanita usia subur yang tidak melakukan skrining
IVA dan 80 wanita usia subur melakukan skrining IVA.
Adapun kriteria dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut:
Kriteria dalam menentukan sampel penelitian ini meliputi:
a. Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi:
1) WUS yang sudah menikah
2) WUS yang sehat jasmani
3) WUS yang bersedia jadi responden
b. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini meliputi:
1) WUS yang pada saat penelitian sedang sakit
2) WUS yang tidak membaca dan menulis
D. Variabel Penelitian
Variabel independen adalah persepsi kerentanan individu, persepsi keseriusan
penyakit, persepsi manfaat, dan persepsi hambatan. Variabel dependen adalah
penggunaan skrining IVA
commit to user
22
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
E. Definisi Operasional
1. Persepsi kerentanan penyakit
a. Definisi: persepsi secara subjektif seseorang tentang risiko tertular penyakit,
serta kemungkinan yang dirasakan mengacu pada risiko seseorang mengidap
penyakit tertentu atau dampak buruk kesehatan. Dalam konteks HBM,
kemungkinan mengidap suatu penyakit digunakan untuk mengkaji pendapat
individu tentang bagaimana kemungkinan perilaku mereka dapat berdampak
buruk terhadap kesehatannya.
b. Alat ukur: Kuesioner
c. Skala pengukuran: Kontinu
Untuk analisis ganda diubah menjadi dikotomi jika nilai skor rendah
(< mean); tinggi (≥ mean).
2. Persepsi keseriusan penyakit
a. Definisi: persepsi tentang tingkat keseriusan penyakit atau membiarkannya
tidak diobati (termasuk evaluasi dari kedua konsekuensi medis dan klinis dan
konsekuensi sosial yang mungkin muncul), sesuai keadaan atau tindakan
yang mungkin dapat terjadi. Dalam HBM kata tersebut dapat diartikan
seberapa besar kemungkian seseorang mengidap suatu penyakit yang dapat
mempengaruhi keputusan mereka untuk merubah perilakunya
b. Alat ukur: Kuesioner
c. Skala Pengukuran: Kontinu
Untuk analisis data kontinu diubah menjadi dikotomi jika nilai skor rendah
(< mean); tinggi (≥ mean).
commit to user
23
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
3. Persepsi manfaat
a. Definisi: Efektivitas tingkat kepercayaan terhadap strategi yang dirancang
untuk mengurangi ancaman suatu penyakit. Bertujuan meningkatkan kualitas
yang lebih besar dari hidup seorang individu baik secara mental dan fisik.
b. Alat ukur: Kuesioner
c. Skala pengukuran: Kontinu
Untuk analisis data kontinu diubah menjadi dikotomi jika nilai skor rendah
(< mean); tinggi (≥ mean).
4. Persepsi hambatan
a. Definisi: Konsekuensi negatif potensial yang mungkin timbul ketika
mengambil tindakan tertentu, termasuk tuntutan fisik, psikologis, dan
keuangan atau bahkan masalah efikasi diri seperti tidak percaya diri.
b. Alat ukur: Kuesioner
c. Skala pengukuran: Kontinu
Untuk analisis data kontinu diubah menjadi dikotomi jika nilai skor rendah
(< mean); tinggi (≥ mean).
5. Penggunaan Skrining IVA
a. Definisi: usaha untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan secara klinis
belum jelas dengan menggunakan test, pemeriksaan atau prosedur tertentu
yang dapat digunakan secara cepat untuk mengklasifikasikan mereka ke
dalam kategori yang diperkirakan mengalami atau diperkirakan tidak
mengalami penyakit yang menjadi objek skrining.
b. Alat ukur: Kuesioner
c. Skala pengukuran: Kontinu
commit to user
24
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Untuk analisis data kontinu diubah menjadi dikotomi jika nilai skor rendah
(< mean); tinggi (≥ mean).
F. Instrumen Penelitian
1. Uji validitas
a. Validitas isi
Validitas isi dari kuesioner dinilai dengan cara memeriksa apakah itemitem pertanyaan didalam kuesioner memang sudah sesuai dengan isi konten
dari masing-masing variabel yang diteliti, khususnya variabel-variabel
independen yaitu persepsi kerentanan individu, persepsi keseriusan penyakit,
persepsi manfaat, persepsi hambatan. Isi masing-masing variabel tersebut
dinilai kesesuaiannya dengan definisi variabel sebagai hasil agasintesis dari
teori-teori yang relevan, yang umumnya digunakan oleh peneliti dalam
penelitian serupa sebelumnya dan pakar dibidang penelitian tersebut.
Berdasarkan dari sintesis teori yang diambil dari tinjauan pustaka teori
persepsi dan terori HBM yang selanjutnya isi dari masing-masing variabel
dijabarkan dalam sejumlah kisi-kisi (Tabel 3.1, 3.2, 3.3, 3.4,). Selanjutnya
kisi-kisi tersebut dituangkan dalam pertanyaan-pertanyaan kuesioner. Sebuah
kuesioner memiliki validitas isi yang tinggi jika semua item pertanyaan
kuesioner relevan dan meliputi semua aspek isi variabel yang akan diukur.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
25
digilib.uns.ac.id
Tabel 3.1. Instrumen untuk mengukur variabel persepsi kerentanan individu
Aspek elemen
No. item
Total item
Favorable
Unfovarable
1. Lingkungan
8
1
2. Stimulus
9,10,11
12
4
3. Ancaman
13,14,15,16
4
Total
8
1
9
Tabel 3.2. Instrumen untuk mengukur variabel persepsi keseriusan penyakit
Aspek elemen
No. item
Total item
Favorable
Unfovarable
1. Sikap
1
2
2
2. Motif/minat
3,4
2
3. Pengalaman
5
6
2
4. Harapan
7
2
Total
5
2
7
Tabel 3.3. Instrumen untuk mengukur variabel persepsi manfaat
Aspek elemen
No. item
Total item
Favorable Unfovarable
1. Efektivitas
17,18
2
2. Melakukan
19,20
2
tindakan
3. Mengurangi
21,22,23
3
ancaman
Total
7
7
Tabel 3.4. Instrumen untuk mengukur variabel persepsi hambatan
Aspek elemen
No. item
Total item
Favorable
Unfovarable
1. Konsekuensi
24,25,26
3
negatif
2. Psikologis/fisik
27
28,29
3
3. Keuangan
30
31
2
Total
2
6
8
b. Validitas muka
Penelitian ini menggunakan alat ukur kuesioner, dengan memperhatikan
tata-bahasa dan susunan item-item pertanyaan, sehingga masing-masing item
pertanyaan dapat dipahami oleh subjek penelitian dengan benar. Untuk
memastikan validitas muka,commit
peneliti
mengkaji sejauh mana item-item
to user
perpustakaan.uns.ac.id
26
digilib.uns.ac.id
pertanyaan dalam kuesioner telah disusun dengan kalimat yang baik, jelas dan
tidak terlalu panjang. Setiap item pertanyaan hanya menanyakan sebuah
pertanyaan. Dengan demikian masing-masing item pertanyaan tidak
menimbulkan multi-tafsir dan jawaban yang diperoleh adalah jawaban yang
sesungguhnya.
c. Validitas konstruk
Penelitian ini menggunakan validitas konstruk sebagai alat ukur
kuesioner yang disusun berdasarkan dari tinjauan sejumlah teori yang sudah
ada, penelitian ini memastikan bahwa variabel-variabel yang diteliti diukur
dengan benar sesuai dengan teori yang relevan.
d. Validitas kriteria
Validitas kriteria alat ukur kuesioner dengan membandingkan secara
kuantitatif dengan alat ukur standart emas. Karena dalam penelitian ini tidak
ada standart emasnya, sehingga dibuatkan instrumen baru dengan cara
menjadikan sintesis-sintesis dari kajian teori sebagai patokan dalam
penuangan dalam pembuatan kuesioner.
Karena instrumen ini belum bersifat baku, dilakukan uji reliabilitas di
populasi sumber dan berada di dalam sampel. Uji reliabilitas ini dilakukan
sebelum pengambilan data dan menggunakan ukuran sampel sebanyak 20
wanita usia subur.
2. Uji reliabilitas
Pengukuran variabel yang konsisten harus menunjukkan dua aspek
reliabilitas yaitu: konsistensi internal dan stabilitas. Konsistensi internal yang
akan diukur secara kuantitatif dalam penelitian ini dari masing-masing variabel
commit to user
27
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
komposit meliputi: (1) Item-Total Correlation; (2) Split-Half Reliability. Aspek
konsistensi internal merujuk kepada korelasi antar item-item pertanyaan yang
masing-masing bertujuan untuk mengukur suatu variabel komposit yang sama..
a. Konsistensi Internal
1) Korelasi Item-Total.
Dalam penelitian ini menggunakan korelasi item-total yaitu suatu
indikator yang menunjukkan kekuatan korelasi antara masing-masing
item dan total pengukuran dikurangi dengan item yang bersangkutan.
Karena dikurangi dengan item yang bersangkutan, maka korelasi itemtotal disebut juga korelasi item-sisa Suatu item dapat digunakan dalam
alat ukur jika memiliki korelasi item-total ≥ 0.20. Item yang berkorelasi
lebih rendah tidak akan digunakan, jika perlu diganti dengan membuat
item baru.
2) Reliabilitas Belah-Paroh.
Dalam penelitian ini akan dinilai reliabilitas belah-paroh yaitu
penilaian
konsistensi internal (homogenitas) alat ukur dengan cara
membagi item-item secara random ke dalam dua bagian alat ukur, lalu
mengorelasikan kedua bagian tersebut. Jika alat ukur memiliki
konsistensi internal, maka kedua bagian akan berkorelasi tinggi.
Reliabilitas Belah-Paroh yang akan dinilai dalam penelitian ini adalah
Alpha () Cronbach.
Alat ukur menunjukkan konsistensi internal jika memiliki alpha
Cronbach ≥ 0.60. Makin tinggi alpha Cronbach, makin baik (konsisten)
alat ukur. Tetapi ada beberapa keadaan dimana alpha Cronbach tinggi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
28
digilib.uns.ac.id
tidak menunjukkan alat ukur yang baik. Pertama, nilai alpha Cronbach
tergantung dari besarnya korelasi antar item dan jumlah item di dalam
alat ukur. Jika jumlah item pertanyaan alat ukur banyak, alpha Cronbach
akan meningkat, meskipun tidak berarti alat ukur tersebut baik.
b. Stabilitas
Alat ukur yang reliabilitas menunjukkan konsistensi internal dan
stabilitas ketika digunakan untuk mengukur variabel subjek penelitian pada
kondisi yang identik. Stabilitas (disebut juga reprodusibilitas) alat ukur yang
akan dinilai dalam penelitian ini adalah stabilitas pengukuran pada dua
kesempatan yang dipisahkan oleh interval waktu yang berbeda (test-retest
reliability). Stabilitas pengukuran dikatakan cukup jika hasil pengukuran dari
dua waktu menghasilkan korelasi Pearson (r) ≥ 0.50. Dengan program statistik
seperti SPSS dan Stata dapat dihitung korelasi item-total, alpha Cronbach, dan
korelasi Pearson untuk test-retest reliability.
G. Teknik Analisis Data
Data kuantitatif diperoleh melalui pengambilan data dengan subjek
penelitian menggunakan kuesioner. Jawaban sangat tidak setuju, tidak setuju,
setuju, sangat setuju untuk masing-masing pernyataan tentang variabel yang diteliti,
yaitu persepsi kerentanan individu, persepsi keseriusan penyakit, persepsi manfaat
dan hambatan dengan kesediaan penggunaan skrining IVA. Selanjutnya jawaban
masing-masing pernyataan diberi skor berturut-turut 1, 2, 3, dan 4. Skor jawaban
untuk masing-masing pernyataan kemudian dijumlahkan, menghasilkan data
kontinu. Data kontinu dideskripsikan dalam parameter mean, standar deviasi (SD),
commit to user
29
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
minimum, dan maksimum. Sedangkan karakteristik sampel variabel data
kategorikal dideskripsikan dalam n dan (%).
Hubungan antara antara persepsi tentang kerentanan individu, keseriusan
penyakit, tentang manfaat dan hambatan dengan penggunaan skrining IVA
dianalisis dengan menggunakan suatu model analisis multivariat, yaitu analisis
regresi logistik ganda. Model analisis regresi logistik ganda sebagai berikut:
b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4
Keterangan:
P
= Probabilitas untuk menggunkan skrining IVA
1-P
= Probabilitas yang tidak menggunakan skrining IVA
X1
= Persepsi Kerentanan penyakit (0: Rendah; 1: Tinggi)
X2
= Persepsi keseriusan penyakit (0: Rendah; 1: Tinggi)
X3
=Manfaat skrining (0: Rendah; 1: Tinggi)
X4
= Hambatan skrining (0: Rendah; 1: Tinggi)
Hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen ditunjukkan
oleh Odds Ratio (OR ) = exp (b). Kemaknaan statistik OR diuji dengan uji Wald
hasilnya ditunjukkan dengan nilai p.
Interpretasi Odds Ratio (OR ) sebagai berikut:
OR=1
tidak terdapat hubungan antara persepsi kerentanan individu, persepsi
keseriusan penyakit, manfaat dan hambatan dengan menggunakan skrining
IVA
≤OR<1
terdapat hubungan antara persepsi kerentanan individu, persepsi
keseriusan penyakit, manfaat dan hambatan dengan menggunakan skrining
commitkerentanan
to user individu, persepsi keseriusan
IVA. Wanita dengan persepsi
30
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
penyakit, manfaat dan hambatan kecil kemungkinan menggunakan
skrining IVA rendah
1<OR≤ ∞
terdapat hubungan antara persepsi kerentanan individu, persepsi
keseriusan penyakit, manfaat dan hambatan dengan menggunakan
skrining IVA.Wanita dengan persepsi kerentanan individu, persepsi
keseriusan penyakit, manfaat dan hambatan besar kemungkinan
menggunakan skrining IVA besar.
H. Hasil Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas menggunakan sampel uji coba dimana pada sampel uji coba
dilakukan pada 20 responden. Aspek reliabilitas yang diuji adalah konsistensi
internal, yang ditunjukkan oleh korelasi item total (item-total correlation) dan
reliabilitas belah alpha Cronbach. Hasil uji reliabilitas seperti pada Tabel 3.5.
Tabel 3.5. Hasil Tes Reliabilitas Instrumen Variabel
Variabel
Persepsi Kerentanan
Persepsi Keseriusan
Persepsi Manfaat
Persepsi Hambatan
Corrected Item-Total
Corelation
≥ 0,52
≥ 0,47
≥ 0,54
≥ 0,41
Alpha Cronbach
0,87
0,82
0,85
0,84
Hasil tes reliabilitas persepsi kerentanan individu, persepsi keseriusan
penyakit, persepsi manfaat dan persepsi hambatan diperoleh korelasi item total >
0,20 untuk masing-masing item kuesioner dan alpha Cronbach > 0,60. Jadi
kueisoner yang dihasilkan memenuhi syarat minimal konsistensi internal dan
selanjutnya digunakan dalam pengambilan data dalam penelitian ini.
commit to user
31
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
I. Karakteristik Sampel Penelitian
1. Karakteristik Data Kontinu
Hasil statistik deskriptif responden data kontinu yang berupa usia,
persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat, dan persepsi
hambatan responden dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Karakteristik Penelitian Data Kontinu
Variabel
n
Min
Maks
Umur
140 19,00 47,00
Persepsi Kerentanan
140 15,00 28,00
Persepsi Keseriusan
140 15,00 24,00
Persepsi Manfaat
140 15,00 26,00
Persepsi Hambatan
140 14,00 26,00
Tabel 4.1 menunjukkan nilai mean
Mean Median Mode
SD
29,89
30,00
32,00 6,42
21,32
21,00
20,00 2,57
19,41
20,00
20,00 1,69
20,09
20,00
20,00 1,51
21,34
22,00
22,00 2,97
umur (29,89), minimal (19,00),
maksimal (47,00) dengan standar deviasi (6,42). Sedangkan nilai minimal dari
masing masing variabel (15,00), kecuali variabel persepsi hambatan dengan nilai
minimal (14,00), mean variabel persepsi hambatan (21,34), maksimal (26,00)
dengan standar deviasi (2,97).
2. Karakteristik Data Kategori
Hasil karakteristik terdiri dari pendidikan, pekerjaan, dan lama pernikahan
responden dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Karakteristik Data Kategori
No
1
Karakteristik
Pendidikan
2
Pekerjaan
3
Lama Pekerjaan
Kategori
SD
SMP
SMA/SMK
D3/PT
IRT/Tidak bekerja
Petani
Wiraswasta
Pedagang
< 5 tahun
commit
to user
≥ 5 tahun
n=100
13
40
78
9
46
34
58
2
65
75
%
9,3
28,6
55,7
6,4
32,9
24,3
41,4
1,4
46,4
53,6
32
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki
tingkat pendidikan SMA/SMK yaitu sebanyak 78 orang (55,7%), responden
mempunyai pekerjaan wiraswasta yaitu sebanyak 58 orang (41,4%), dan
mayoritas lama pernikahan ≥ 5 tahun yaitu sebanyak 75 orang (53,6%).
II. Pengujian Hipotesis
1. Analisis Bivariat
a. Hubungan Persepsi Kerentanan dengan Penggunaan Skrining IVA
Hasil perhitungan Chi Square hubungan persepsi kerentanan dengan
penggunaan metode skrining IVA dapat dilihat pada tabulasi silang Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Hubungan Persepsi Kerentanan dengan Penggunaan Skrining IVA
Persepsi
kerentanan
Tinggi
Rendah
Total
Skrining IVA
Tidak
Ya
n
%
n
%
6
4,3
55 39,3
54 38,6 25 17,8
60 42,9 80 57,1
Total
n
61
79
140
%
100
100
100
OR
P
19,80
< 0,001
Tabel 4.3. menunjukkan nilai Odds Ratio sebesar 19,80 berarti bahwa
wanita usia subur dengan persepsi kerentanan tinggi mempunyai kemungkinan
19,8 kali lebih besar untuk melakukan skrining IVA dibandingkan wanita usia
subur dengan persepsi kerentanan rendah. Hasil uji Chi-Square menunjukkan
bahwa ada hubungan antara persepsi kerentanan dengan skrining IVA dan
secara statistik signifikan (OR= 19,80). Karena pada Tabel 4.3 hasil kalkulasi
tidak ada satupun sel yang berisi nilai harapan (expected value) ≤ 5. Jadi tidak
diperlukan uji pasti Fisher Exact Test.
b. Hubungan Persepsi Keseriusan Penyakit dengan Penggunaan Skrining IVA
Hasil perhitungan Chi Square hubungan persepsi keseriusan penyakit
dengan penggunaan metode skrining IVA dapat dilihat pada tabulasi silang
Tabel 4.4.
commit to user
33
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Tabel 4.4. Hubungan Persepsi Keseriusan dengan Skrining IVA
Persepsi
keseriusan
Tinggi
Rendah
Total
Skrining IVA
Tidak
Ya
n
%
n
%
14 10,0
66
47,1
46 32,9
14
10,0
60 42,9
80
57,1
Total
n
80
60
140
%
100
100
100
OR
P
15,49
< 0,001
Tabel 4.4 menunjukkan nilai Odds Ratio sebesar 15,49 berarti bahwa
wanita usia subur dengan persepsi keseriusan penyakit tinggi mempunyai
kemungkinan 15,49 kali lebih besar untuk melakukan skrining IVA
dibandingkan wanita usia subur dengan persepsi keseriusan penyakit rendah.
Hasil uji Chi-Square bahwa ada hubungan antara persepsi keseriusan
penyakit dengan skrining IVA dan secara statistik signifikan (OR= 15,49).
Karena pada Tabel 4.4 hasil kalkulasi tidak ada satupun sel yang berisi nilai
harapan (expected value) ≤ 5. Jadi tidak diperlukan uji pasti Fisher Exact
Test.
c. Hubungan Persepsi Manfaat dengan Penggunan Skrining IVA
Hasil perhitungan chi square hubungan persepsi manfaat dengan
skrining IVA dapat dilihat pada tabulasi silang Tabel 4.5.
Tabel 4.5. Hubungan Persepsi Manfaat dengan Skrining IVA
Persepsi
manfaat
Tinggi
Rendah
Total
Skrining IVA
Tidak
Ya
N
%
n
%
5
3,6
45
32,1
55
39,3
35
25,0
60
42,9
80
57,1
Total
n
50
90
140
%
100
100
100
OR
p
14,14
< 0,001
Tabel 4.5 menunjukkan nilai Odds Ratio sebesar 14,14 berarti bahwa
wanita usia subur dengan persepsi manfaat tinggi mempunyai kemungkinan
14,14 kali lebih besar untuk melakukan skrining IVA dibandingkan wanita
usia subur dengan persepsi manfaat rendah. Hasil uji Chi-Square bahwa ada
hubungan antara persepsi manfaat dengan metode skrining IVA dan secara
statistik signifikan (OR=14,14).
Karena
pada Tabel 4.5 hasil kalkulasi tidak
commit
to user
34
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
ada satupun sel yang berisi nilai harapan (expected value) ≤ 5. Jadi tidak
diperlukan uji pasti Fisher Exact Test.
d. Hubungan Persepsi Hambatan dengan Penggunan Skrining IVA
Hasil perhitungan Chi Square hubungan persepsi hambatan dengan
penggunaan metode skrining IVA dapat dilihat pada tabulasi silang tabel 4.6.
Tabel 4.6. Hubungan Persepsi Hambatan dengan skrining IVA
Skrining IVA
Total
Tidak
Ya
OR
p
n
%
n
%
N
%
Tinggi
53
37,9
33
23,5
86
100
0,09 < 0,001
Rendah
7
5,0
47
33,6
54
100
Total
60
42,9
80
57,1
140 100
Tabel 4.6. menunjukkan nilai Odds Ratio sebesar 0,09 berarti bahwa
Persepsi
hambatan
wanita usia subur dengan persepsi hambatan tinggi mempunyai kemungkinan
0,09 kali lebih rendah untuk melakukan skrining Inspeksi Visual Asam Asetat
dibandingkan WUS dengan persepsi hambatan tinggi. Hasil uji Chi-Square
bahwa ada hubungan antara persepsi hambatan dengan metode skrining IVA dan
secara statistik signifikan (OR= 0,09). Karena pada Tabel 4.6 hasil kalkulasi
tidak ada satupun sel yang berisi nilai harapan (expected value) ≤ 5. Jadi tidak
diperlukan uji pasti Fisher Exact Test.
2. Regresi Logistik Ganda
Hasil perhitungan analisis multivariat menggunakan regresi logistik
ganda untuk mengetahui hubungan persepsi kerentanan, persepsi keseriusan,
persepsi manfaat dan persepsi hambatan dengan penggunaan skrining IVA dapat
dilihat dari Tabel 4.7.
Tabel 4.7. Analisis regresi logistik ganda
Variabel
Persepsi kerentaan
Persepsi keseriusan
Persepsi manfaat
Persepsi hambatan
N observasi
-2 log likelihood
Nagelkerke R 2
OR
CI 95%
Batas bawah
Batas atas
1,64
16,32
1,44
12,30
1,59
18,11
0,07
0,65
5,17
4,21
5,37
0,21
140
102,44
63% commit to user
p Uji
Wald
0,005
0,009
0,007
0,007
35
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Nilai Odd Ratio variabel persepsi kerentanan sebesar 5,17 berarti bahwa
wanita usia subur dengan persepsi kerentanan tinggi mempunyai kemungkinan
5,17 kali lebih besar untuk melakukan skrining IVA daripada ibu dengan
persepsi kerentanan yang rendah. Hasil uji wald menunjukkan adanya hubungan
antara persepsi kerentanan dengan skrining IVA dan secara statistik signifikan
(OR= 5,17; CI=95%; 1,64 hingga 16,32; p = 0,005).
Nilai Odd Ratio variabel persepsi keseriusan penyakit sebesar 4,21
berarti bahwa wanita usia subur dengan persepsi keseriusan penyakit tinggi
mempunyai kemungkinan 4,21 kali lebih besar untuk melakukan skrining IVA
daripada wanita usia subur dengan persepsi keseriusan penyakit yang rendah.
Hasil uji wald menunjukkan adanya hubungan antara persepsi keseriusan dengan
skrining IVA dan secara statistik signifikan (OR= 4,21; CI=95%; 1,44 hingga
12,30; p = 0,009).
Nilai Odd Ratio variabel persepsi manfaat sebesar 5,37 berarti bahwa
wanita usia subur dengan persepsi manfaat yang tinggi mempunyai
kemungkinan untuk melakukan skrining IVA 5,37 kali lebih besar daripada
wanita usia subur dengan persepsi manfaat yang rendah. Hasil uji wald
menunjukkan adanya hubungan persepsi manfaat dengan skrining I IVA dan
secara statistik signifikan (OR= 5,37; CI=95%; 1,59 hingga 18,11; p = 0,007).
Nilai Odd Ratio variabel persepsi hambatan sebesar 0,21 berarti bahwa
wanita usia subur dengan persepsi hambatan yang tinggi mempunyai
kemungkinan 0,21 kali lebih besar untuk melakukan skrining IVA daripada
wanita usia subur dengan persepsi hambatan yang rendah. Hasil uji Wald
menunjukkan adanya hubungan persepsi manfaat dengan skrining IVA dan
secara statistik signifikan (OR= 0,21; CI=95%; 0,07 hingga 0,65 p = 0,007).
Nilai Negelkerke R2 sebesar 63,0% berarti bahwa keempat variabel bebas
(persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat dan persepsi
hambatan) mampu menjelaskan penggunaan metode skrining IVA sebesar
63,0% dan sisanya yaitu sebesar 37,0% dijelaskan oleh faktor lain diluar model
penelitian.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
36
digilib.uns.ac.id
3. Pembahasan
1. Hubungan Persepsi Kerentanan Individu dengan Penggunaan Skrining IVA
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara persepsi
kerentanan individu dengan melakukan skrining IVA dan secara statistik
signifikan, dimana seseorang menyadari bahwa dirinya rentan atau mudah
terkena suatu penyakit dalam hal ini adalah kanker serviks, maka dia akan
melakukan suatu usaha untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut dengan
melakukan skrining IVA, hal ini sesuai dengan teori HBM yang dikembangkan
oleh Rosenstock (1994) bahwa anggapan seseorang untuk mudah tertular suatu
penyakit akan membuatnya untuk melakukan suatu perlindungan.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian dari Huchko et al bahwa ada
hubungan yang signifikan antara persepsi kerentanan dengan keinginan untuk
melakukan skrining. Hasil penelitian ini didukung oleh Winkjosastro (2005)
bahwa tujuan sesorang melakukan pemeriksaan awal atau skrining IVA salah
satunya adalah agar terhindar dari kanker mulut rahim. Kemudian dalam
(Bakhtari et al., 2012 ) menyatakan bahwa seorang individu akan mengambil
tindakan untuk melindungi diri mereka jika mereka menganggap bahwa kondisi
mereka rentan terhadap kondisi atau masalah yang serius.
Dari uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa individu yang
memiliki persepsi kerentanan yang tinggi terhadap penyakit kanker serviks
maka individu terbesut akan melakukan usaha untuk mencegah terjadinya
penyakit kanker serviks dengan mengikuti skrining IVA.
2. Hubungan Persepsi Keseriusan Penyakit dengan Penggunaan Skrining IVA
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara persepsi
keseriusan penyakit dengan melakukan skrining IVA dan secara statistik
signifikan, makin serius atau makin parah suatu penyakit maka seseorang akan
melakukan upaya untuk melakukan pencegahan yaitu melakukan skrining IVA.
Hasil penelitian ini didukung oleh Winkjosastro (2005) bahwa tujuan melakukan
skrining IVA dikarekanan besarnya keparahan dari kanker leher rahim.
Teori HBM yang dikembangkan oleh Rosenstock (1994) menyatakan
commit
to user suatu penyakit menyebabkan
bahwa persepsi keseriusan atau
keparahan
perpustakaan.uns.ac.id
37
digilib.uns.ac.id
seseorang mempunyai sikap untuk melakukan suatu upaya pengobatan,
kemudian dalam (Bakhtari et al., 2012) memprediksikan bahwa seorang
individu akan mengambil tindakan untuk melindungi diri mereka jika mereka
menganggap bahwa kondisi seseorang tersebut dalam masalah yang serius.
Penulis dapat menyimpulkan bahwa dengan adanya persepsi atau
anggapan tentang keseriusan suatu penyakit dalam hal ini adalah kanker serviks,
membuat individu bersedia untuk melalukan pemeriksaan dengan metode
skrining IVA. Hal ini dikarenakan mereka tidak ingin terkena penyakit serius
sehingga akan melakukan usaha untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut
3. Hubungan Persepsi Manfaat dengan Penggunaan Skrining IVA
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara persepsi
manfaat yang dirasakan dengan melakukan skrining IVA dan secara statistik
signifikan, hal ini berarti semakin merasakan manfaat dari suatu tindkan untuk
menghindari penyakit, maka akanlebih memilih melakukan tindakan tersebut.
Hal ini didukung oleh teori HBM yang dikembangkan oleh Rosenstock (1994)
bahwa efektivitas tingkat kepercayaan terhadap strategi yang dirancang untuk
mengurangi ancaman suatu penyakit semakin tinggi maka dengan sendirinya
akan melakukan tindakan pencegahan tersebut dalam hal ini melakukan skrining
Inspeksi Visual Asam Asetat.
Hasil penelitian ini didukung oleh Were, et al.,(2011) yang menyatakan
bahwa semakin diketahui manfaat dari pemeriksaan leher rahim maka semakin
banyak untuk melakukan pemeriksaan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat
dari WHO (2006) bahwa manfaat dari melakukan pemeriksaan Inspeksi Visual
Asam Asetat adalah untuk mengetahui atau mendeteksi adanya kelainan pada
leher rahim segera setelah dilakukan pemeriksaan sehingga dapat dilakukan
suatu tindakan pengobatan dengan segera.
Sedangkan menurut Winkjosastro (2005) ada beberapa manfaat
seseorang melakukan pemeriksaan inspeksi visual asam asetat di antara adalah
dapat segera mendapatkan kanker servik pada stadium lebih awal, untuk
mendeteksi secara dini adanya perubahan sel mulut rahim yang dapat mengarah
ke kanker mulut rahim beberapacommit
tahun kemudian,
penanganan secara dini dapat
to user
perpustakaan.uns.ac.id
38
digilib.uns.ac.id
dilakukan sehingga terhindar dari kanker mulut rahim, sehingga pengobatan
diharapkan berhasil lebih baik.
Penulis dapat menyimpulkan dari uraian diatas bahwa dengan
mengetahui manfaat dari suatu metode pemeriksaan atau skrining IVA maka
individu akan lebih tertarik dan lebih sadar tentag pentingnya skrining IVA
tersebut dan tidak akan berfikir dua kali untuk melakukan skrining IVA.
4. Hubungan Persepsi Hambatan dengan Penggunaan Skrining IVA
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara persepsi
hambatan yang dirasakan dengan melakukan skrining IVA dan secara statistik
signifikan, hal ini berarti semakin merasakan besarnya suatu hambatan dalam
melakukan perilaku maka keberhasilan untuk berperilaku tersebut semakin kecil.
Hambatan yang dirasakan merupakan suatu konsekuensi negatif potensial yang
mungkin timbul ketika mengambil tindakan tertentu, termasuk tuntutan fisik,
psikologis, dan keuangan teori HBM yang dikembangkan oleh Rosenstock
(1994)
Hasil penelitian ini didukung oleh Were, E et al.,(2011) dalam penelitian
tersebut menjelaskan bahwa yang menjadi hambatan yang paling umum bahwa
wanita tidak melakukan skrining dikarenkan tidak adanya biaya serta takut
tentang hasil dari skrining diungkapkan oleh 22,4% responden. Kemudian
Widihastuti, et al (2013) juga menyatakan bahwa masih adanya anggapan
perempuan mempunyai akses yang lemah, tergantung, serta tidak mandiri
misalnya terhadap keuangan keluarga sehingga mengurangi kemampuannya
untuk melindungi dirinya dari faktor risiko penyakit, serta dalam keadaan
sakitpun perempuan harus mendapatkan ijin suami untuk berkunjung ke sarana
pelayanan kesehatan.
Terbatasnya akses terhadap biaya, jarak/transportasi, informasi dan
teknologi memperburuk kondisi perempuan untuk melakukan skrining IVA. Jika
perempuan mempunyai akses terhadap pembiayaan, keputusan mandiri maka
akan berdampak signifikan terhadap kesejahteraan perempuan. Apalagi
perempuan dengan penyakit yang berhubungan dengan organ kewanitaan
cenderung tidak ke sarana kesehatan
commitkarena
to usertakut dengan stigma sosial yang
39
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
miring atau negatif yang akan diterima dan kalaupun berobat penyakitnya sudah
dalam stadium lanjut (Widihastuti., et al, 2013).
Penulis menyimpulkan bahwa adanya persepsi hambatan dalam metode
skrining IVA membuat individu atau WUS enggan dalam melakukan skrining
tersebut. Hal ini dikarenakan banyak anggapan yang negatif dari diri individu
sendiri mengenai skrining IVA karena kurangnya pemahaman tentang manfaat
dari skrining IVA tersebut. Atau adanaya hambatan dari pihak pemeriksa
meliputi ketersediaan alat, akses menuju pelayanan kesehatan maupun tenaga
kesehatan yang kurang memadai.
4. Keterbatasan Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian ini sudah mampu menjelaskan ada
hubungan yang signifikan, karena peneliti hanya menggunakan kuesioner
sehingga hanya membahas tentang metode hasil secara statistik. Peneliti tidak
melakukan observasi dan wawancara mendalam (indeep interview) terhadap
wanita usia subur yang melakukan skrining IVA maupun yang tidak melakukan
skrining.
commit to user
40
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Ada hubungan positif dan secara statistik signifikan antara persepsi kerentanan
individu dengan penggunaan skrining IVA (OR= 5,17; CI=95%; 1,64 hingga
16,32; p = 0,005).
2. Ada hubungan positif dan secara statistik signifikan antara persepsi keseriusan
penyakit dengan penggunaan skrining IVA (OR= 4,21; CI=95%; 1,44 hingga
12,30; p = 0,009).
3. Ada hubungan positif dan secara statistik signifikan antara persepsi manfaat
dengan penggunaan skrining IVA (OR= 5,37; CI=95%; 1,59 hingga 18,11; p =
0,007).
4. Ada hubungan negatif dan secara statistik signifikan antara persepsi hambatan
yang dirasakan dengan penggunaan skrining IVA (OR= 0,21; CI=95%; 0,07
hingga 0,65 p = 0,007).
5. Ada hubungan secara statistik signifikan persepsi kerentanan individu, persepsi
keseriusan penyakit, persepsi manfaat dan persepsi hambatan dengan
penggunaan skrining IVA.
B. Implikasi
Penelitian ini memiliki implikasi teoretis bahwa teori Health Belief Model
dapat digunakan untuk menjelaskan persepsi kerentanan individu, keseriusan
penyakit, persepsi manfaat, dan persepsi hambatan sebagai faktor-faktor wanita
usia subur dalam penggunaan skrining IVA. Sebagai faktor efisiensi dalam
menentukan suatu tindakan atau perilaku sebagai upaya pencegahan terhadap
penyakit kanker serviks.
Untuk meningkatkan pencegahan terhadap penyakit kanker serviks tidak
hanya dari kesadaran dan pengetahuan ibu sendiri tetapi juga adanya kesadaran dari
suami, kesediaan dari tenaga kesehatan untuk memberikan informasi tentang
commit to user
41
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
kanker serviks dan metode skrining IVA Asetat kepada seluruh masyarakat
khususnya wanita usia subur.
C. Saran
Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut :
1. Bagi Wanita Usia Subur
Wanita usia subur diharapkan meluang waktu untuk melakukan pemeriksaan
skrining IVA sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit kanker serviks.
2. Bagi Petugas Kesehatan
Petugas kesehatan sebaiknya mengadakan program pendidikan kesehatan,
penyuluhan-penyuluhan tentang pentingnya melakukan pencegahan terhadap
kanker serviks yaitu dengan metode skrining IVA. Hal ini dapat dilakukan
dengan menggunakan dengan menggunakan media sehingga memberikan
pemahaman dan ketertarikan wanita usia subur untuk melakukan pemeriksaan
skrining IVA.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya disarankan melakukan penelitian tidak hanya menggunakan
alat kuesioner saja tetapi juga dengan wawancara mendalam atau Focus Group
Discussion (FGD) sehingga didapatkan hasil yang lebih luas.
commit to user
42
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Daftar pustaka
Azwar, Saifuddin. 2005. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Artiningsih, N (2011). Hubunga Antara Tingkat Pengetahuan Dan Sikap WUS Dengan
Pemeriksaan IVA Dalam Rangka Deteksi Dini Kanker Serviks di Puskesmas
Blooto Kecamatan Prajurit Kulon Mojokerto. Perpustakaan.UNS.ac.id. Diakses
7 Oktober 2014.
Bakhtari Aqdam F, Nuri Zadeh R, Sahebi L (2012). Effect of education based on Health
Belief Model on Believe promotion and screening behaviours of breast cancer
among women reffered to Tabriz health centers. Medl J Tabriz Uni Medl Sci.
2012;33:25–31. In Persian,” n.d. Diakses 7 Oktober 2014.
Bourne PA, Kerr-Campbell MD, McGrowder DA, Beckford OW (2010). Perception of
women on cancer screening and sexual behavior in a rural area, Jamaica: Is there
a public health problem?. N Am J Med Sci. 2(4):174-81. Diakses 22 November
2014.
Candraningsih (2011). Hubungan tingkat pengetahuan WUS tentang kanker serviks
dengan praktik deteksi dini kanker serviks di BPS IS Manyaran Semarang from:
http://ejournal. .ac.id /index.php/ilmukeperawatan/search. Diakses 19
November 2014.
Cancer Research UK (2014). Cervical cancer. Let's beat cancer sooner. Cervical
cancer
risks
and
causes.
http://www.cancerresearchuk.org/aboutcancer/type/cervical-cancer/about/cervical-cancer-risks-and-causes. Diakses 15
Desember 2014
CDC (2014). Division of Cancer Prevention and Control, National Center for Chronic
Disease Prevention and Health Promotion. http://www.cdc.gov/cancer/cervical/.
Diakses 15 Desember 2014
Damayanti. 2000. Dasar – dasar Psikologi. Jakarta: FKM UI.
Depkes (2013). Laporan Nasionla Riset Kesehatan Dasar. Jakarta : Badan Penelitian
Dan Pengembangan Kesehatan Dasar
(2010). Pedoman Nasional Pengendalian Penyakit Kanker. Jakarta : Derektorat
Jenderal Pengendalian Penyakit Kesehatan Lingkungan.
(2009). Pencegahan Kanker Leher Rahim Dan Kanker Payudara. Jakarta
(2008). Skrining Kanker Leher Rahim dengan Metode Inspeksi Visual Dengan
Asam Asetat (Iva). Jakarta
Depkes (2007). Pedoman Surveilans Epidemiologi Penyakit Kanker Tertentu
Dikomunitas. Jakarta.
Dinkes Jatim (2011). Kontribusi Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
43
digilib.uns.ac.id
Dinkes Banyuwangi (2014). Profil Dinas Kesehatan Banyuwangi.
Emilia. O; Putu. H; Dhanu. K; Harry. F (2010). Bebas Ancaman Kanker Serviks.
Yogyakarta: Medio Pressindo. Diakses 7 Oktober 2014
Fakih, M (2003). Analisis Gender dan Tranformasional, Yogyakarta : Pustaka pelajar.
Family Health International (2011). The AIDS Control and Prevention (AIDSCAP)
Project, implemented by Family Health International, is funded by the United
States Agency for International Development. AIDSCAP Behavioral Research
Unit. Diakses 22 November 2014.
Fitriyah Dan Jauhar (2014). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Kumalasari Dan Andhyantoro (2012). Kesehatan Reproduksi Untuk Mahasiswa
Kebidanan Dan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Lestari, W., Ulfiana E., Suparmi (2013). Buju ajar kesehatan reproduksi berbasis
kompetensi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran: EGC
Medicinenet (2014). We Bring Doctors Knowledge To You. Cervical Cancer (cont.)
http://www.medicinenet.com/cervical_cancer/page3.htm#symptoms. Diakses 22
November 2014
Moon, T. D., Silva-Matos, C., Cordoso, A., Baptista, A. J., Sidat, M., & Vermund, S. H.
(2012). Implementation of cervical cancer screening using visual inspection with
acetic acid in rural Mozambique: successes and challenges using HIV care and
treatment programme investments in Zambézia Province. Journal of the
International AIDS Society, 15(2):17406. Diakses 7 Oktober 2014.
Murti, B (2013). Desain Dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitaif Dan
Kualitatif Di Bidang Kesehatan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Partrijunianti (2012). Solusi Jalan Tengah: Perempuan Dan Pekerjaan Dalam Perubahan
Social Budaya Di Kampung Betawi Rawakalog. FISIP UI, 2012. Diakses 25
Januari 2015.
Pierce, M. C., Guan, Y., Quinn, M. K., Zhang, X., Zhang, W.-H., Qiao, Y.-L.,RichardsKortum, R (2012). A Pilot Study Of Low-Cost, High-Resolution Microendoscopy
As A Tool For Identifying Women With Cervical Precancer. Cancer Prevention
Research (Philadelphia, Pa.), 5(11). Diakses 7 Oktober 2014.
Pusdatin, (2015). Pusat Data Dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Diakses 15
Agustus 2015.
Rahatgaonkar, Veena (2012). VIA in cervical cancer screening . Associate Professor &
In charge of cancer detection center. Bharati Vidyapeeth University Medical
College, Sangli. OSR Journal of Dental and Medical Sciences (IOSRJDMS) ISSN:
2279-0861. Diakses 7 Oktober 2014.
Rahma dan Prabandari (2011). Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Minat Wus
commitPemeriksaan
to user
(Wanita Usia Subur) Dalam Melakukan
Iva (Inspeksi Visual Dengan
44
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Pulasan Asam Asetat) Di Desa Pangebatan Kecamatan Karanglewas Kabupaten
Banyumas Tahun 2011. FKM. UI. Diakses 7 Oktober 2014.
Ratih Oemiati, R., Rahajeng, E ., Kristanto, Y (2011). Prevalensi Tumor Dan Beberapa
Faktor Yang Mempengaruhinya Di Indonesia. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan. Bidan Prada : Jurnal Ilmiah Kebidanan, Vol.3 No.1
Edisi Juni 2012. Diakses 7 Oktober 2014.
Riskesdas (2013). Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
Kesehatan RI Tahun 2013. Diakses 7 Oktober 2014.
Robbins, P dan Judge, A (2008). Organizational Behavior. Penerbit Salemba Empat.
Samadi, H. P (2011). Yes, I Know Everything About Kanker Serviks. Metagraf, Creative
Im Prevalensi Tumor Dan Beberapa Faktor Yang Mempengaruhinya
Sugiharto, dkk (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY PRESS
Sunaryo (2006). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
Suwiyoga (2009). Beberapa masalah Pap smear sebagai alat diagnosis dini kanker
serviks di Indonesia [Some problems Pap smear as a means ofearly diagnosis of
cervical cancer in Indonesia ]. from: http://ejournal. unud.ac.id/abstrak/pap.pdf.
Diakses 19 November 2014.
Were, E et al (2011). Perceptions of risk and barriers to cervical cancer screening at
Moi Teaching and Referral Hospital (MTRH), Eldoret, Kenya. NCBI Journal.
Diakses 22 November 2014.
WHO (2012). Prevention of cervical cancer through screening using visual inspection
with acetic acid (VIA) and treatment with cryotherapy. A demonstration project in
six African countries: Malawi, Madagascar, Nigeria, Uganda, the United Republic
of Tanzania, and Zambia. WHO Library. Diakses 19 November 2014.
(2006). Comprehensive Cervical Cancer Control A guide to essential Practice
WHO Press, Geneva, Switzerland. Diakses 14 Agustus 2015.
Widihastuti A., et al (2013). Modul Pelatihan Layanan Kesehatan Seksual &
Reproduksi Ramah Remaja untuk Dokter Praktik Swasta di Dearah Istimewa
Yogyakarta, Kemitraan UNFPA dan Angsamerah Institution. Diakses 25 Januari
2015
Widyastuti, dkk (2009). Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Fitramaya
Wiknjosastro (2005). Ilmu Kebidanan. Yogyakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Yuliati (2012). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku WUS dalam deteksi
dini kanker leher rahim metode IVA di Puskesmas Prembun. Kabupaten
Kebumen. FKM. UI. Diakses 3 Oktober 2014.
commit to user
Lampiran 1
perpustakaan.uns.ac.id
45
digilib.uns.ac.id
BIODATA
a. Nama
: Maulida Nurfazriah Oktaviana
b. Tempat, tanggal lahir
: Banyuwangi, 12 Oktober 1988
c. Email
: [email protected]
d. Riwayat pendidikan di Perguruan Tinggi:
No
Institusi
1 Universitas Muhammadiyah Jember
Bidang Ilmu
Tahun
Gelar
Keperawatan
2011
S. Kep.,Ns
Surakarta,
Juli 2015
Maulida Nurfazriah Oktaviana
commit to user
Lampiran 2
perpustakaan.uns.ac.id
46
digilib.uns.ac.id
LEMBAR KUESIONER
Judul : Hubungan Antara Persepsi Kerentanan Individu, Persepsi Keseriusan Penyakit,
Persepsi Manfaat Dan Persepsi Hambatan, Dengan Penggunaan Skrining Inspeksi
Visual Asam Asetat Pada Wanita Usia Subur Di Banyuwangi.
Peneliti
: Maulida Nurfazriah Oktaviana
Skrining Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) adalah salah satu cara melakukan tes
kanker serviks, dengan cara mengolesi mulut rahim dengan asam asetat. Bertujuan
untuk mendeteksi dini penyakit kanker serviks.
Petunjuk pengisisan:
1. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti dan beri tanda chek list (√) pada kolom
yang anda pilih.
2. Tiap pertanyaan hanya diisi dengan satu jawaban
3. Jawablah dengan baik, setiap pertanyaan mewakili persepsi kerentanan individu,
keseriusan penyakit, manfaat, hambatan menggunakan skrining IVA
A. Data demografi
Isilah biodata dibawah ini dengan memberikan jawaban tertulis pada tempat yang
telah disediakan
1. Usia
:
2. Pendidikan terakhir
:
3. Pekerjaan
:
4. Usia perkawinan
:
B. Perilaku penggunakan skrining IVA
Isilah pertanyaan dibawah ini dengan menggunakan chek list (√) pada jawaban
yang anda anggap benar!
1. Apakah sebelumnya anda pernah melakukan pemeriksaan skrining IVA
Tidak
Ya
2. Apakah anda pernah memperoleh informasi mengenai skrining IVA
Tidak
Ya
commit to user
Lampiran 3
perpustakaan.uns.ac.id
47
digilib.uns.ac.id
3. Apakah anda pernah mempunyai riwayat kanker serviks sebelumnya ?
Tidak
Ya
4. Apakah ada keluarga yang menderita kanker serviks?
Tidak
Ya
Sebutkan hubungan keluarga:……………………………………………………………..
Jawablah dengan baik, setiap pertanyaan mewakili persepsi keseriusan penyakit,
kerentanan, manfaat, hambatan menggunakan skrining IVA
 Pilihlah Sangat Setuju (SS) apabila pertanyaan tersebut dirasakan terjadi
pada ibu
 Pelihlah Setuju (S) apabila pertanyaan tersebut dirasakan terjadi sebagian
besar pada diri ibu.
 Pilihlah Tidak Setuju (TS) apabila pertanyan tersebut dirasakan sebagian
kecil pada diri ibu.
 Pilihlah Sangat Tidak Setuju (STS) apabila pertanyaab tersebut tidak
dirasakab terjadi pada diri ibu.
C. Persepsi kerentanan individu
No
Pertanyaan
SS
S
TS STS
1
Saya melakukan pemeriksaan IVA karena didukung
keluarga dan suami
2
Saya yakin dengan teratur melakukan pemeriksaan
IVA saya akan terhindar dari ancaman penyakit
kanker yang mematikan.
3
Saya melakukan pemeriksaan karena saya seorang
wanita usia subur yang berisiko terkena kanker
serviks.
4
Menurut saya IVA wajib dilakukan ketika wanita
sudah pernah melakukan hubungan seksual.
5
Saya melakukan pemeriksaan IVA karena saya
wanita usia subur yang menikah lebih dari sekali.
5
Menurut saya pemeriksaan IVA penting karena saya
wanita yang menikah kurang di usia 20 tahun.
6
Menurut saya pemeriksaan IVA perlu saya lakukan
karena saya wanita yang menggunakan KB
hormonal yang membuat saya rentan.
7
Menurut saya pemeriksaan IVA perlu saya lakukan
karena saya memiliki anak lebih dari 3.
8
Saya melakukan pemeriksaan commit
IVA karena
to user saya
mempunyai riwayat sakit pada kemaluan saya.
Lampiran 4
perpustakaan.uns.ac.id
48
digilib.uns.ac.id
D. Persepsi keseriusan penyakit
No
9
10
11
12
13
14
15
Pertanyaan
Saya melakukan pemeriksaan IVA bila saya
merasakan adanya keluhan seperti perdarahan
pervagina yang tidak normal.
Saya melakukan pemeriksaan IVA karena saya
mengeluh keputihan yang cukup banyak.
Saya tetap melakukan pemeriksaan IVA walaupun
diikuti dengan rasa nyeri.
Saya melakukan pemeriksaan IVA karena keinginan
sendiri.
Saya melakukan pemeriksaan karena saudara saya
ada mengderita kanker servik.
Menurut saya kanker serviks merupakan penyakit
yang mematikan jadi saya menggunakan skrining
supaya saya mengetahui sedeni mungkin.
Saya melakukan pemeriksaan karena ingin
mengetahui kondisi saya dan segera berobat.
SS
S
TS
STS
SS
S
TS
STS
E. Persepsi manfaat skrining
No
17
18
19
20
21
22
23
Pertanyaan
Saya melakukan pemeriksaan IVA karena dilakukan
bersama teman-teman.
Menurut saya pemeriksaan IVA penting sehingga
saya tetap melakukan IVA walaupun saya merasa
malu dengan teknik pemeriksaannya.
Saya melakukan pemeriksaan IVA karena saya ingin
mengetahui apakah saya berisiko terkena kanker
seviks.
Saya melakukan pemeriksaan karena saya ingin
mengetahui dan cepat berobat jika hasilnya positif.
Saya melakukan pemeriksaan IVA karena biaya
yang terjakau dan murah.
Saya melakukan pemeriksaan IVA karena biayanya
gratis.
Saya melakukan pemeriksaan IVA karena
pemeriksaan dilakukan di puskesmas atau klinik
yang dekat dengan rumah saya.
commit to user
Lampiran 5
perpustakaan.uns.ac.id
49
digilib.uns.ac.id
F. Persepsi hambatan skrining
No
24
25
26
27
28
29
30
31
Pertanyaan
Saya merasa takut bila akan melakukan pemeriksaan
IVA karena nyeri/takut.
Saya merasa takut dengan hasil pemeriksaan, jika
saya melakukan pemeriksaan IVA.
Teknik pemeriksaan IVA membuat saya ragu bila
hasilnya kurang akurat.
Karena teknik pemeriksaannya saya hanya mau
melakukan pemeriksaan IVA jika petugas
pemeriksannya seorang wanita.
Teknik pemeriksaan IVA membuat saya malu dan
enggan untuk memeriksakan diri.
Saya merasa takut dengan hasil pemeriksaan akan
berpengaruh dengan rumah tangga saya.
Saya ingin melakukan pemeriksaan tapi saya terlalu
sibuk, sehingga tidak ada waktu untuk melakukan
pemeriksaan.
Saya merasa takut dengan hasil pemeriksaan karena
akan membutuhkan biaya yang mahal untuk berobat.
commit to user
SS
S
TS
STS
Lampiran 6
perpustakaan.uns.ac.id
50
digilib.uns.ac.id
Hasil Tes Reliabilitas Instrument
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
Excluded
a
Total
%
20
100.0
0
.0
20
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
.876
8
Item-Total Statistics
Scale Mean if
Scale Variance
Item Deleted
if Item Deleted
Corrected Item-Total Cronbach's Alpha if
Correlation
Item Deleted
rentan1
19.9000
12.726
.672
.857
rentan2
20.1500
13.187
.528
.871
rentan3
19.8000
13.326
.557
.868
rentan4
20.3500
13.187
.628
.862
rentan5
20.1500
11.503
.734
.849
rentan6
20.0500
12.787
.602
.864
rentan7
20.3000
11.695
.707
.853
rentan8
20.3000
12.642
.671
.857
Scale Statistics
Mean
23.0000
Variance
16.211
Std. Deviation
N of Items
4.02623
commit to user
8
Lampiran 7
perpustakaan.uns.ac.id
51
digilib.uns.ac.id
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
Excluded
a
Total
%
20
100.0
0
.0
20
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
.816
7
Item-Total Statistics
Scale Mean if
Scale Variance if Item
Corrected Item-
Cronbach's Alpha if
Item Deleted
Deleted
Total Correlation
Item Deleted
serius1
17.3000
6.011
.478
.804
serius2
17.3000
6.011
.478
.804
serius3
17.4500
5.208
.494
.811
serius4
17.1500
5.818
.618
.785
serius5
17.4500
5.208
.586
.787
serius6
17.2000
5.432
.717
.766
serius7
17.0500
5.524
.604
.783
Scale Statistics
Mean
20.1500
Variance
7.397
Std. Deviation
N of Items
2.71981
commit to user
7
Lampiran 8
perpustakaan.uns.ac.id
52
digilib.uns.ac.id
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
Excluded
a
Total
%
20
100.0
0
.0
20
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
.852
7
Item-Total Statistics
Scale Mean if
Scale Variance if
Corrected Item-
Cronbach's Alpha if
Item Deleted
Item Deleted
Total Correlation
Item Deleted
manfaat1
18.5500
5.418
.728
.816
manfaat2
17.9500
5.839
.751
.809
manfaat3
17.9500
6.892
.632
.832
manfaat4
17.8500
7.187
.555
.842
manfaat5
17.8500
7.187
.555
.842
manfaat6
18.0500
6.682
.543
.841
manfaat7
18.1000
5.989
.630
.831
Scale Statistics
Mean
21.0500
Variance
8.576
Std. Deviation
N of Items
2.92853
commit to user
7
Lampiran 9
perpustakaan.uns.ac.id
53
digilib.uns.ac.id
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
Excluded
a
Total
%
20
100.0
0
.0
20
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
.845
8
Item-Total Statistics
Scale Mean if
Scale Variance if
Corrected Item-
Cronbach's Alpha if
Item Deleted
Item Deleted
Total Correlation
Item Deleted
hambatan1
18.9500
9.524
.751
.807
hambatan2
18.9500
11.313
.463
.842
hambatan3
19.2500
9.461
.630
.820
hambatan4
18.5500
10.787
.415
.845
hambatan5
19.1000
8.095
.845
.787
hambatan6
19.2500
10.408
.465
.840
hambatan7
19.4000
9.726
.565
.829
hambatan8
19.1500
9.503
.551
.832
Scale Statistics
Mean
21.8000
Variance
12.589
Std. Deviation
N of Items
3.54816
commit to user
8
Lampiran 10
perpustakaan.uns.ac.id
54
digilib.uns.ac.id
Crosstabs Persepsi Kerentanan dengan Skrining IVA
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
Missing
Percent
Persepsi kerentanan *
Skrining IVA
140
N
Total
Percent
100.0%
0
N
.0%
Percent
140
100.0%
Persepsi Kerentanan * Skrining IVA Crosstabulation
Count
Skrining IVA
rendah
Persepsi Kerentanan
tinggi
Total
rendah
54
25
79
tinggi
6
60
55
80
61
140
Total
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
a
1
.000
45.772
1
.000
53.377
1
.000
48.131
b
Likelihood Ratio
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2sided)
sided)
df
Fisher's Exact Test
Exact Sig. (1sided)
.000
Linear-by-Linear
Association
b
N of Valid Cases
47.788
1
.000
140
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 26.14.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Persepsi
Kerentanan (rendah / tinggi)
For cohort Skrining IVA =
rendah
For cohort Skrining IVA =
tinggi
N of Valid Cases
Lower
Upper
19.800
7.529
52.069
6.949
3.203
15.076
.351
.251
.490
140
commit to user
.000
Lampiran 11
perpustakaan.uns.ac.id
55
digilib.uns.ac.id
Crosstabs Persepsi Keseriusan dengan Skrining IVA
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
Missing
Percent
Persepsi keseriusan *
Skrining IVA
140
N
Total
Percent
100.0%
0
N
.0%
Percent
140
100.0%
Persepsi Keseriusan * Skrining IVA Crosstabulation
Count
Skrining IVA
rendah
Persepsi Keseriusan
tinggi
Total
rendah
46
14
60
tinggi
14
60
66
80
80
140
Total
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
a
1
.000
46.624
1
.000
51.825
1
.000
49.010
b
Likelihood Ratio
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2sided)
sided)
df
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
b
N of Valid Cases
Exact Sig. (1sided)
.000
48.660
1
.000
140
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 25.71.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Persepsi
Keseriusan (rendah / tinggi)
For cohort Skrining IVA =
rendah
For cohort Skrining IVA =
tinggi
N of Valid Cases
Lower
Upper
15.490
6.748
35.557
4.381
2.668
7.193
.283
.177
.452
140
commit to user
.000
Lampiran 12
perpustakaan.uns.ac.id
56
digilib.uns.ac.id
Crosstabs Persepsi Manfaat dengan Skrining IVA
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
Persepsi manfaat *
Skrining IVA
Missing
Percent
140
N
Total
Percent
100.0%
0
N
.0%
Percent
140
100.0%
Persepsi Manfaat * Skrining IVA Crosstabulation
Count
Skrining IVA
rendah
Persepsi Manfaat
tinggi
Total
rendah
55
35
90
tinggi
5
60
45
80
50
140
Total
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
a
1
.000
32.232
1
.000
38.421
1
.000
34.287
b
Likelihood Ratio
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2sided)
sided)
df
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
b
N of Valid Cases
Exact Sig. (1sided)
.000
34.042
1
.000
140
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 21.43.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Persepsi
Manfaat (rendah / tinggi)
For cohort Skrining IVA =
rendah
For cohort Skrining IVA =
tinggi
N of Valid Cases
Lower
Upper
14.143
5.118
39.084
6.111
2.618
14.265
.432
.328
.569
140
commit to user
.000
Lampiran 13
perpustakaan.uns.ac.id
57
digilib.uns.ac.id
Crosstabs Persepsi Hambatan dengan Skrining IVA
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
Persepsi hambatan *
Skrining IVA
Missing
Percent
140
N
100.0%
Total
Percent
0
N
.0%
Percent
140
100.0%
Persepsi Hambatan * Skrining IVA Crosstabulation
Count
Skrining IVA
rendah
Persepsi Hambatan
rendah
tinggi
Total
tinggi
Total
7
47
54
53
60
33
80
86
140
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
a
1
.000
30.122
1
.000
35.033
1
.000
32.078
b
Likelihood Ratio
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2sided)
sided)
df
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
b
N of Valid Cases
Exact Sig. (1sided)
.000
31.849
1
.000
140
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 23.14.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Persepsi
Hambatan (rendah / tinggi)
For cohort Skrining IVA =
rendah
For cohort Skrining IVA =
tinggi
N of Valid Cases
Lower
Upper
.093
.038
.229
.210
.103
.428
2.268
1.702
3.022
140
commit to user
.000
Lampiran 14
perpustakaan.uns.ac.id
58
digilib.uns.ac.id
Logistic Regression
Case Processing Summary
a
Unweighted Cases
Selected Cases
N
Included in Analysis
Percent
140
100.0
0
.0
140
0
140
100.0
.0
100.0
Missing Cases
Total
Unselected Cases
Total
a. If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.
Dependent Variable
Encoding
Original
Value
Internal Value
rendah
tinggi
0
1
Block 0: Beginning Block
Classification Table
a,b
Predicted
Skrining IVA
Observed
Step 0
Skrining IVA
rendah
Percentage
Correct
tinggi
rendah
0
60
.0
tinggi
0
80
100.0
Overall Percentage
57.1
a. Constant is included in the model.
b. The cut value is .500
Variables in the Equation
B
Step 0
Constant
S.E.
.288
.171
Wald
df
Sig.
2.838
1
Exp(B)
.092
1.333
Variables not in the Equation
Score
Step 0
Variables
df
Sig.
kerentanan
48.131
1
.000
keseriusan
49.010
1
.000
manfaat
34.287
1
.000
hambatan
32.078
1
.000
72.761
4
.000
Overall Statistics
commit to user
Lampiran 15
perpustakaan.uns.ac.id
59
digilib.uns.ac.id
Block 1: Method = Enter
Omnibus Tests of Model Coefficients
Chi-square
Step 1
df
Sig.
Step
88.773
4
.000
Block
88.773
4
.000
Model
88.773
4
.000
Model Summary
Step
Cox & Snell R
Square
-2 Log likelihood
1
102.442
a
Nagelkerke R
Square
.470
.630
a. Estimation terminated at iteration number 5 because parameter
estimates changed by less than .001.
Classification Table
a
Predicted
Skrining IVA
Observed
Step 1
rendah
Skrining IVA
Percentage
Correct
tinggi
rendah
51
9
85.0
tinggi
11
69
86.2
Overall Percentage
85.7
a. The cut value is .500
Variables in the Equation
95.0% C.I.for
EXP(B)
B
S.E.
Wald
df
Sig.
Exp(B)
Lower
Upper
a
Step 1 kerentana
n
1.643
.586
7.858
1
.005
5.173
1.639
16.320
keseriusa
n
1.438
.547
6.923
1
.009
4.213
1.443
12.298
manfaat
1.681
.620
7.346
1
.007
5.370
1.593
18.106
hambatan
-1.555
.575
7.313
1
.007
.211
.068
.652
Constant
-.513
.584
.773
1
.379
.598
a. Variable(s) entered on step 1: kerentanan, keseriusan, manfaat,
hambatan.
commit to user
Lampiran 16
perpustakaan.uns.ac.id
60
digilib.uns.ac.id
Frequency Table
Pendidikan WUS
Frequency
Valid
Percent
Cumulative
Percent
Valid Percent
SD
13
9.3
9.3
9.3
SMP
40
28.6
28.6
37.9
SMA/SMK
78
55.7
55.7
93.6
9
6.4
6.4
100.0
140
100.0
100.0
D 3/PT
Total
Pekerjaan WUS
Frequency
Valid
Percent
Cumulative
Percent
Valid Percent
IRT
46
32.9
32.9
32.9
Tani
34
24.3
24.3
57.1
Wirasawasta
58
41.4
41.4
98.6
2
1.4
1.4
100.0
140
100.0
100.0
Pedagang
Total
Lama Pernikahan
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative
Percent
kurang dari 5 tahun
65
46.4
46.4
46.4
> = 5 tahun
75
53.6
53.6
100.0
140
100.0
100.0
Total
Descriptives
Statistics
Persepsi
Kerentanan
N
Valid
Missing
Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Minimum
Maximum
Sum
Persepsi
Keseriusan
Persepsi
Manfaat
Persepsi
Hambatan
Usia
140
140
140
140
140
0
21.3214
21.0000
20.00
2.66949
15.00
28.00
2985.00
0
19.4071
20.0000
20.00
1.69169
15.00
24.00
2717.00
0
20.0786
20.0000
20.00
1.51286
15.00
26.00
2811.00
0
21.3357
22.0000
22.00
2.97377
14.00
26.00
2987.00
0
29.8857
30.0000
32.00
6.42397
19.00
47.00
4184.00
commit to user
Lampiran 17
perpustakaan.uns.ac.id
61
digilib.uns.ac.id
commit to user
Lampiran
perpustakaan.uns.ac.id
62
digilib.uns.ac.id
commit to user
Lampiran 19
perpustakaan.uns.ac.id
63
digilib.uns.ac.id
commit to user
Lampiran 20
perpustakaan.uns.ac.id
64
digilib.uns.ac.id
commit to user
Lampiran 21
perpustakaan.uns.ac.id
65
digilib.uns.ac.id
commit to user
Lampiran 22
perpustakaan.uns.ac.id
66
digilib.uns.ac.id
commit to user
Lampiran 23
perpustakaan.uns.ac.id
67
digilib.uns.ac.id
commit to user
Lampiran 23
perpustakaan.uns.ac.id
68
digilib.uns.ac.id
commit to user
Download