PEMBATALAN PENDAFTARAN HAK CIPTA BERDASARKAN

advertisement
PEMBATALAN PENDAFTARAN HAK CIPTA
BERDASARKAN GUGATAN PENCIPTA ATAU
PEMEGANG HAK CIPTA
(Studi Terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor 768 K/Pdt.Sus/2010)
SKRIPSI
Disusun Oleh :
PRIMADHIA LERAI MARISTA
E1A008215
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2012
PEMBATALAN PENDAFTARAN HAK CIPTA
BERDASARKAN GUGATAN PENCIPTA ATAU
PEMEGANG HAK CIPTA
(Studi Terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor 768 K/Pdt.Sus/2010)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman
Disusun Oleh :
PRIMADHIA LERAI MARISTA
E1A008215
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2012
LEMBAR PENGESAHAN ISI DAN FORMAT
PEMBATALAN PENDAFTARAN HAK CIPTA BERDASARKAN GUGATAN
PENCIPTA ATAU PEMEGANG HAK CIPTA
(Studi Terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor 768 K/Pdt.Sus/2010)
Oleh :
Primadhia Lerai Marista
E1A008215
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman
Diterima dan Disahkan
pada tanggal,
Agustus 2012
Pembimbing/Penguji I
Pembimbing/Penguji II
Penguji III
Eti Purwiyantiningsih,S.H.,M.H.
NIP. 19610707 198803 2 002
Agus Mardianto,S.H.,M.H.
NIP.19650831 200312 1 001
Th. Sri Mayani, S.H.
NIP.19480501 197402 2 001
Mengetahui,
Dekan Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman
Hj. Rochani Urip Salami, S.H.,M.S.
NIP. 19520603 198003 2001
iii
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :
PEMBATALAN
PENDAFTARAN
HAK
CIPTA
BERDASARKAN
GUGATAN PENCIPTA ATAU PEMEGANG HAK CIPTA (Studi Terhadap
Putusan Mahkamah Agung Nomor 768 K/Pdt.Sus/2010)
Adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan semua sumber data serta
informasi-informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat
diperiksa kebenarannya.
Bila pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi termasuk
pencabutan gelar kesarjanaan yang telah saya peroleh.
Purwokerto,
Agustus 2012
Hormat Saya,
PRIMADHIA LERAI MARISTA
NIM E1A008215
iv
MOTTO
Berusahalah Jangan Terlengah Waktu Sedetik Saja, Karena
Atas Kelengahan Kita Tidak Akan Bisa Dikembalikan
Seperti Semula
Kegagalan Hanya Terjadi Bila Kita Menyerah
v
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Segala Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “PEMBATALAN PENDAFTARAN HAK CIPTA BERDASARKAN
GUGATAN PENCIPTA ATAU PEMEGANG HAK CIPTA (Studi Terhadap
Putusan Mahkamah Agung Nomor 768 K/Pdt.Sus/2010)”.
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa penulisan skripsi ini masih jauh
dari sempurna, mengingat keterbatasan pengetahuan, waktu dan terbatasnya
literatur. Oleh karena itu semua saran dan kritik yang sifatnya membangun akan
diterima dengan ketulusan hati.
Dalam proses penulisan ini, penulis banyak menerima bantuan dari
berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu dalam
kesempatan ini penulis akan menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Ibu Hj. Rochani Urip Salami, S.H., M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman.
2. Bapak Joko Susanto, S.H.,S.U (Alm.) Selaku Pembantu Dekan I Fakultas
Hukum Universitas Jenderal Soedirman.
3. Ibu Rochati, S.H.,M.Hum selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman.
4. Bapak Drs. Antonius Sidik Maryono, S.H.,M.S selaku Pembantu Dekan III
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman.
5. Ibu Handri Wirastuti S, S.H., M.H selaku Pembimbing Akademik yang telah
memberikan bimbingan akademik sejak awal perkuliahan.
6. Ibu Eti Purwiyantiningsih, S.H., M.H selaku Dosen Pembimbing Skripsi I
yang telah memberikan arahan, saran, serta koreksi dalam proses penyusunan
skripsi.
vi
7.
Bapak Agus Mardianto, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing Skripsi II
yang telah yang telah memberikan arahan, saran, serta koreksi dalam proses
penyusunan skripsi.
8.
Ibu Th. Sri Mayani, S.H., selaku Dosen Penguji pada seminar skripsi dan
pendadaran yang telah memberikan koreksi dan saran mengenai perbaikan
skripsi ini.
9.
Bapak Edi Waluyo, S.H.,M.H selaku Ketua Bagian Hukum Keperdataan.
10. Semua Dosen dan karyawan di lingkungan Fakultas Hukum Universitas
Jenderal Soedirman.
11. Kepada Ibunda tercinta Drs. Siti Rahsetyowati, M.Si yang telah melahirkan,
mendidik, menyayangi, membesarkan dan mendoakan dalam setiap langkah
penulis. Kepada Ayahanda Marsudi, S.pd yang telah mendidik,menyayangi
dan mendoakan Penulis. Kepada Pak Amin yang telah membantu penulis
dalam banyak hal. Kakakku Pradanaditya Leroi Maristo, S.H yang telah
mengajari dan membantu banyak hal kepada Penulis. Adikku Maristo Barca
Vicgor Wardhana dan Zela yang telah mengisi hari-hari penulis dengan
kebahagiaan.
12. Kepada Eko Yuniarto Widodo, S.H yang telah mendukung, membantu,
memberikan semangat dan kasih sayang kepada penulis.
13. Sahabat-sahabatku
tersayang,
Nia
Nurmala
Ningrum, S.H.,
Defrina
Choirunnisaa, S.H., Intan Megawati, S.H., Wahyu Dwi Anggoro, S.H.,
Solikhatun Isnaini, S.H., Rio Widhi Kurniawan.,S.H., Sekar Dhatu Indri
Hapsari, S.H., Nurul Dwi Hastuti, S.H., Erni Rosta Saragih, S.H., Tannia
Desriane, S.H., Fergina Hardiyanti.,S.H., Nining Analita.,S.H., Elisa
Novitriana, S.H.,Aji Suparmanto, S.H., Ardi Mulyo Sayekti, S.H., Sujarwo,
S.H., Onie, Mudrik, Bayu Site, Gayul Pindo, Ditta.
14. Kepada Keluarga Besar Lembaga Kajian Hukum dan Sosial (LKHS).
15. Teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posdaya Desa Warungpring
Kecamatan Warungpring, Pemalang.
vii
16. Keluarga Besar Fakultas Hukum Unsoed angkatan 2008 serta semua pihak
yang turut membantu dan tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu.
Semoga segala kebaikan yang telah mereka berikan kepada penulis,
mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT. Penulis juga memohon maaf
kepada semua pihak apabila terdapat kesalahan dalam ucapan maupun tindakan
selama berinteraksi dan berproses di Fakultas Hukum Universitas Jenderal
Soedirman, semoga skripsi ini dapat bermanfaat. dan menambah pengetahuan.
Purwokerto,
Agustus 2012
PRIMADHIA LERAI MARISTA
E1A008215
viii
ABSTRAK
Hak Cipta merupakan bagian dari Hak Kekayaan Intelektual yang
melindungi karya ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra.
Pengaturan Hak Cipta di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Hak Cipta pada prinsipnya dapat diperoleh ketika
ciptaan tersebut diwujudkan. Perlindungan Hukum hak cipta dikenal dengan
sistem deklaratif, yaitu negara melindungi ciptaan secara otomatis setelah terlahir
suatu ciptaan tanpa harus didahului dengan pendaftaran.
Undang-Undang Hak Cipta mengatur mengenai Pembatalan Hak Cipta
pada Pasal 42 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
Pembatalan Hak Cipta merupakan perlindungan untuk pihak lain yang namanya
tidak terdaftar sebagai Pencipta tetapi sebenarnya merupakan Pencipta yang
sesungguhnya dari karya yang didaftarkan oleh orang lain.
Adapun inti
perkara Hak Cipta yang dibahas pada skripsi ini adalah
tentang Pembatalan Hak Cipta oleh Wen Ken Drug Co Pte Ltd yang terdaftar
sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta bersama-sama dengan PT.Sinde Budi
Sentosa dan Budi Yuwono. Pembatalan Hak Cipta oleh Wen Ken Drug Co Pte
Ltd tidak tepat dilakukan karena Wen Ken Drug Co Pte Ltd bukan pihak lain yang
dimaksud dalam Pasal 42 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak
Cipta.
Kata Kunci : Pembatalan Hak Cipta oleh Pencipta dan Pemegang Hak Cipta.
ix
ABSTRACT
Copy rights is part of the Intellectual Property Rights which protects
creative works in the field of science, art, and literature. In our country, the
regulation of copy rights was progressed Act Number 15, 2001 about Copy
Rights. In Principle copy right can be obtained when the creation was realized.
Protection of copy rigts law known as declarative system which protect the
automatic creation after creation born without having to be proceded by
registration.
Copy rights act is regulated about Cancellation Copy rights at article 42.
Act Number 19, 2002 about Copy right. Cancellation Copy rights is protection
for outsider who his name not listed as a creator but actually is a real creator of
the work registered by someone else.
Concerning substance the trade-mark case in this script was about
Cancellation Copy Rights by Wen Ken Drug Co Pte Ltd who listed as a creator
and copy rights holder together with PT. Sinde Budi Sentosa and Budi Yuwono.
Cancellation Copy Rights by Wen Ken Drug Co Pte Ltd was not right because
Wen Ken Drug Co Pte Ltd was not outsider who reffered at article 42. Act
Number 19, 2002 about Copy right.
Keywords : Cancellation Copy Rights by Creator and copy rights holder.
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL........................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii
HALAMAN SURAT PERNYATAAN .............................................................. iv
MOTTO .............................................................................................................. v
KATA PENGANTAR ........................................................................................ vi
ABSTRAK .......................................................................................................... ix
ABSTRACT ........................................................................................................ x
DAFTAR ISI ....................................................................................................... xi
BAB I.
PENDAHULUAN ............................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1
B. Perumusan Masalah .................................................................... 10
C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 10
D. Kegunaan Penelitian.................................................................... 11
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum tentang HKI ................................................... 12
1.
Pengertian Hak Kekayaan Intelektual .................................. 12
2.
Penggolongan Hak Kekayaan Intelektual ............................ 23
3.
Pengaturan Hak Kekayaan Intelektual ................................. 26
B. Hak Cipta .................................................................................. 29
1.
Pengertian dan Pengaturan Hak Cipta ................................ 29
2.
Prinsip Dasar Hak Cipta ...................................................... 34
3.
Pembatasan Hak .................................................................. 39
xi
4.
Pencipta ............................................................................... 41
5.
Pengalihan Hak Cipta .......................................................... 45
6.
Lisensi Hak Cipta ................................................................ 46
7.
Sisten Pendaftaran Hak Cipta .............................................. 49
8.
Masa Berlaku Hak Cipta ..................................................... 58
9.
Pembatalan dan Penghapusan Hak Cipta ............................ 60
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. ................................................... 63
Metode Pendekatan. ......................................................................... 63
A. Spesifikasi Penelitian................................................................... 63
B. Sumber Data ................................................................................ 63
C. Metode Pengumpulan Data ......................................................... 64
D. Metode Penyajian Data................................................................ 64
E. Metode Analisis Data .................................................................. 64
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ............................................................................ 66
B. Pembahasan ................................................................................. 88
BAB V. P E N U T U P
A. Simpulan ...................................................................................... 104
B. Saran ............................................................................................ 105
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan kreativitas manusia dalam menciptakan suatu karya yang
dapat
mempunyai
nilai
ekonomis
membutuhkan
perlindungan
hukum.
Perlindungan ini sangat penting untuk mendorong gairah inovasi orang-orang
yang kreatif. Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merupakan jawaban terhadap
Perlindungan hukum tersebut. Indonesia telah ikut dalam pergaulan masyarakat
dunia dengan menjadi anggota dalam Agreement Establishing The World Trade
Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia) yang
mencakup pula Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property
Rights (Persetujuan tentang Aspek-Aspek Dagang Hak Kekayaan Intelektual),
selanjutnya disebut TRIPS, melalui Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994. Selain
itu, Indonesia juga meratifikasi Berne Convention for the Protection of Artistic
and Literary Works (Konvensi Berne tentang Perlindungan Karya seni dan sastra)
melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1997 dan World Intellectual
Property Organization Copyrights Treaty (Perjanjian Hak Cipta WIPO), melalui
Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1997.
Perkembangunan sistem HKI yang modern dan efektif merupakan
kebutuhan nyata karena kondisi domestik suatu negara seiring dengan
pembangunan ekonomi serta adaptasi terhadap dampak globalisasi. Hak
1
Kekayaan Intelektual (HKI) menjadi sangat penting untuk meningkatkan laju
perekonomian negara yang pada akhirnya membawa kesejahteraan rakyatnya.
Secara normatif, HKI adalah “product of mind” atau oleh World Intellectual
Propery Organiztation atau WIPO disebut “creation of the mind” yang berarti
suatu karya manusia yang lahir dengan curahan tenaga, karsa, cipta, waktu dan
biaya. Segala jerih payah itu menjadi kontribusi yang memiliki nilai ekonomi.
Oleh karena itu, setiap karya intelektual patut diakui, dihargai dan dilindungi baik
secara moral dan etika maupun secara hukum.1 Convention Establishing The
World Intellectual Property Organization menjelaskan bahwa HKI dibagi dalam
dua kelompok substansi yaitu Hak Cipta dan Hak atas Kekayaan Industri.
Lingkup Hak cipta mencakup di dalamnya Hak Terkait atau Related Right yang
lazim disebut Neighboring Right. Bidang yang kedua meliputi Paten, Merek,
Desain Industri dan Rahasia Dagang yang kesemuanya lazim dikategorikan dalam
industrial property.2 Pengelompokan yang sama juga dianut dalam Agreement on
Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights selanjutnya disebut
Persetujuan TRIPS, yang menyatakan bahwa HKI terdiri dari: 3
1. Hak Cipta dan Hak Terkait;
2. Merek Dagang;
3. Indikasi Geografis;
1
Henry Soelistyo, 2011, Hak Cipta Tanpa Hak Moral, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2
Ibid.
Adrian Sutedi, 2009, Hak Atas Kekayaan Intelektual, Jakarta: Sinar Grafika, hal. 56.
hal.2.
3
2
4. Desain Industri;
5. Paten;
6. Tata Letak (topografi) sirkuit terpadu;
7. Perlindungan Informasi Rahasia;
8. Kontrol terhadap praktek persaingan usaha tidak sehat dalam perjanjian
lisensi.
Hak Kekayaan Intelektual tersebut mempunyai hukumnya sendiri dan
masing-masing mempunyai objek perlindungan hukumnya sendiri. Hak Cipta
merupakan bagian dari Hak Kekayaan Intelektual yang diatur dalam Undangundang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. Undang-undang Nomor 19
Tahun 2002 bukanlah produk undang-undang pertama di Indonesia tentang Hak
Cipta. Sejak menjadi bangsa yang merdeka, Indonesia tercatat memiliki 4 (empat)
buah undang-undang di bidang hak cipta yaitu Undang-undang Nomor 6 Tahun
1982, Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987, Undang-undang Nomor 12 Tahun
1997, dan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002.
Revisian terakhir yang
dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dilandasi oleh dua alasan. Pertama,
pemerintah menyadari bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar
biasa dengan didukung oleh masyarakat yang sangat kreatif. Potensi tersebut
perlu dilindungi dalam bentuk undang-undang yang modern dan selalu mengikuti
zaman. Alasan kedua karena perkembangan di bidang perdagangan, industri, dan
investasi telah sedemikian pesat sehingga memerlukan peningkatan perlindungan
bagi Pencipta dan pemilik Hak Terkait dengan tetap memperhatikan kepentingan
3
masyarakat luas, dan alasan ketiga terkait dengan konsekuensi Indonesia sebagai
anggota World Trade Organization (WTO) yaitu Organisasi Perdagangan Dunia.
Meskipun Pemerintah telah menyesuaikan isi Undang-undang Hak Cipta tahun
1997 dengan perlindungan TRIPS, revisi tetap perlu dilakukan untuk memberikan
perlindungan yang lebih komprehensif terhadap ciptaan yang dihasilkan oleh
bangsa Indonesia.4
Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang
Hak Cipta, Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak
untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin
untuk itu
dengan tidak mengurangi batasan-batasan menurut perundang-
undangan. Ciptaan adalah hasil karya setiap pencipta yang menunjukkan
keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, dan sastra. Ciptaan yang
dilindungi harus memenuhi syarat keaslian dan konkret. Sementara itu, ide tidak
mendapat perlindungan hak cipta.5
Hak Cipta terdiri atas Hak Ekonomi (economic rights) dan Hak Moral
(moral rights). Hak Ekonomi adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi
atas ciptaan serta produk hak terkait seperti memproduksi karya dalam segala
bentuk,
mengedarkan
perbanyakan
karya
kepada
publik,
menyewakan
perbanyakan karya, membuat terjemahan atau adaptasi dan mengumumkan karya
kepada publik. Hak Moral adalah hak yang melekat pada diri Pencipta atau
4
Tomi Sunaryo Utomo, 2010 , Hak Kekayaan Intelektual (HKI)di Era Global, Yogyakarta:
Graha Ilmu, hal.69.
5
Sudaryat, dkk, 2010, Hak Kekayaan Intelektual, Bandung: Oase Media, hal.21.
4
pelaku yang tidak dapat dihilangkan atau dihapus tanpa alasan apapun, walaupun
Hak Cipta
atau
Hak Terkait telah dialihkan. Secara umum, hak moral
berhubungan dengan hubungan spirit atau jiwa dari pencipta dengan karyanya.
Secara historis, hak moral berasal dari tradisi droit d’auteur (Perancis) yang
melihat kreasi intelektual sebagai perwujudan semangat atau jiwa dari pencipta.6
Menurut Pasal 1 angka 9 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak
Cipta, Hak Terkait adalah hak yang berkaitan dengan Hak Cipta, yaitu Hak bagi
Pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukannya; bagi Produser
Rekaman Suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara
atau rekaman bunyinya; dan bagi Lembaga Penyiaran untuk membuat,
memperbanyak, atau menyiarkan karya siarannya.
Pencipta dan pemegang hak cipta kadang sama, kadang juga berbeda.
Menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 Pencipta
diartikan sebagai seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas
inspirasinya melahirkan suatu ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi,
kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan dalam bentuk yang khas
dan bersifat pribadi. Pemegang hak cipta tidak selalu Pencipta. Pemegang hak
cipta adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta, pihak lain yang menerima hak
cipta dari pencipta atau pihak lain yang menerima lebih lanjut dari pihak tersebut.
Pemilik hak cipta pada prinsipnya adalah sebagai berikut :7
6
7
Tomi Sunaryo Utomo, Op.cit, hal. 89.
Yusran Isnaini, 2010, Buku Pintar HAKI, Jakarta: Ghalia Indonesia, hal.12.
5
a. Orang yang namanya terdaftar dalam Daftar
Umum Ciptaan pada
Direktorat Jenderal atau orang yang namanya disebut dalam ciptaan atau
diumumkan sebagai pencipta pada suatu ciptaan.
b. Kecuali terbukti sebaliknya, pada ceramah yang tidak menggunakan bahan
tertulis dan tidak ada pemberitahuan siapa penciptanya, orang yang
berceramah dianggap sebagai pencipta ceramah tersebut
c. Jika suatu ciptaan terdiri atas beberapa bagian tersendiri yang diciptakan
oleh dua orang atau lebih, yang dianggap sebagai pencipta ialah orang
yang memimpin serta mengawasi penyelesaian seluruh ciptaan itu, atau
dalam hal tidak ada orang tersebut, yang dianggap sebagai pencipta adalah
orang yang menghimpunnya dengan tidak mengurangi hak cipta masingmasing atas bagian ciptaannya itu.
d. Jika suatu ciptaan yang dirancang seseorang, kemudian diwujudkan dan
dikerjakan oleh orang lain di bawah pimpinan dan pengawasan orang yang
merancang, maka penciptanya adalah orang yang merancang ciptaannya
tersebut.
e. Jika suatu ciptaan dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain dalam
lingkungan pekerjaannya, pemegang hak cipta adalah pihak yang untuk
dan dalam dinasnya ciptaan itu dikerjakan, kecuali ada perjanjian lain
antara kedua pihak dengan tidak mengurangi hak pencipta apabila
penggunaan ciptaan itu diperluas sampai ke luar hubungan dinas lain
berdasarkan pesanan yang dilakukan dalam hubungan dinas.
6
f. Jika suatu ciptaan dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan,
pihak yang membuat karya cipta itu dianggap sebagai pencipta dan
pemegang hak cipta, kecuali apabila diperjanjikan lain antara kedua pihak.
g. Jika
suatu badan hukum mengumumkan bahwa ciptaan berasal dari
padanya dengan tidak menyebut seseorang sebagai penciptanya, badan
hukum tersebut dianggap sebagai penciptanya, kecuali jika terbukti
sebaliknya.
Pendaftaran hak cipta bukanlah untuk memperoleh perlindungan Hak
cipta. Artinya, seorang pencipta yang tidak mendaftarkan hak cipta juga
mendapatkan perlindungan asalkan ia benar-benar sebagai Pencipta suatu ciptaan
tertentu. Meskipun Hak cipta tidak memerlukan pendaftaran dan bersifat
otomatis, namun demikian dianjurkan kepada pencipta maupun pemegang hak
cipta untuk mendaftarkan ciptaannya, karena surat pendaftaran Hak Cipta dapat
dijadikan sebagai alat bukti awal di Pengadilan apabila timbul sengketa di
kemudian hari terhadap ciptaan tersebut.
Manfaat pendaftaran Hak Cipta yaitu tetap dianggap sebagai Pencipta,
sampai ada pihak yang dapat membuktikan sebaliknya di Pengadilan. Beban
pembuktian di Pengadilan pada pundak pihak lain, bukan pada pundak pihak yang
telah mendaftarkan Hak Cipta.8
Pasal 42 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
menyebutkan bahwa dalam hal ciptaan yang didaftar menurut Pasal 37 ayat (1)
8
Adrian Sutedi, Op.cit. hal. 119.
7
dan (2) serta Pasal 39, pihak lain menurut Pasal 2 Undang-Undang Hak Cipta atas
Hak Cipta dapat mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Niaga.
Kasus Hak Cipta dari Lukisan pada merek Larutan Penyegar Cap kaki tiga
dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 768 K/Pdt.Sus/2010 dimana Wen Ken
Drug Co Pte Ltd, suatu Perusahaan di Negara Singapura pemilik merek cap kaki
tiga mengadakan kerjasama dengan PT. Budi Sentosa melalui Budi Yuwono pada
tahun 1980. Wen Ken Drug Co Pte Ltd memberikan lisensi merek dagang logo
dan tulisan cap kaki tiga kepada PT. Sinde Budi Sentosa untuk memproduksi,
menjual, memasarkan dan mendistribusikan produk minuman larutan penyegar
dengan merek logo cap kaki tiga. Wen Ken Drug Co Pte Ltd mengetahui bahwa
Budi Yuwono mendaftarkan logo cap kaki tiga pada kantor Hak Cipta sebagai
milik bersama antara Wen Ken Drug Co Pte Ltd, PT. Budi Sentosa dan Budi
Yuwono dengan Nomor pendaftaran 015649. Wen Ken Drug Co Pte Ltd
mengajukan gugatan untuk membatalkan atau setidak-tidaknya menyatakan batal
pendaftaran atas nama PT. Sinde Budi Sentosa dan Budi Yuwono dalam daftar
Hak Cipta dengan Nomor pendaftaran 015649 karena menurut Wen Ken Drug Co
Pte Ltd, gambar badak yang terdapat pada merek Cap Kaki Tiga adalah
ciptaannya dan penggunaan lukisan Badak dalam Merek Cap Kaki Tiga tersebut
telah dilakukannya sejak Tahun 1937 sehingga Wen Ken Drug Co Pte Ltd menilai
Budi Yuwono dan PT. Sinde Budi Sentosa berbuat curang dengan mendaftarkan
hak cipta tersebut dengan nama bersama. Alasan Budi Yuwono mendaftarkan
Hak Cipta dengan nama bersama tersebut adalah karena Wen Ken Drug Co Pte
8
Ltd hanya memberi logo atau gambar kaki tiga dalam lingkaran dengan tulisan
cap kaki tiga dan Budi Yuwono selaku pemilik PT. Sinde Budi Sentosa telah
memberi tambahan gambar etiket pada gambar ciptaan Wen Ken Drug Co Pte Ltd
yaitu bukan hanya gambar cap kaki tiga dan gambar badak semata melainkan
“Seni Lukis Etiket” yaitu berupa gambar sebuah etiket dengan paduan warna
merah, kuning, putih dan biru, terdiri atas kaligrafi arab, tulisan Larutan
Penyegar, gambar botol, gambar kaki tiga dalam lingkaran, tulisan slogan dan
seni lukis/lukisan dengan komposisi tertentu sebagai suatu kesatuan karya seni
lukis yang utuh sehingga tidak dapat dipenggal menjadi bagian-bagian.
Apabila dikaitkan dengan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 19 Tahun
2002 tentang Hak Cipta dimana pihak lain menurut Pasal 2 Hak Cipta dapat
mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Niaga, maka yang dapat
mengajukan gugatan pembatalan adalah pihak lain yang namanya tidak terdaftar
sebagai pencipta, sedangkan Wen Ken Drug Co Pte Ltd, PT. Sinde Budi Sentosa
dan Budi Yuwono sama-sama terdaftar sebagai pencipta sekaligus pemegang Hak
Cipta atas Ciptaan yang menjadi Objek Gugatan, sehingga mempunyai
kedudukan yang sama atas ciptaan tersebut yang mana salah satu pihak tidak
dapat mengklaim kepemilikan hak cipta atas nama sendiri atau menyangkal
kepemilikan pihak lain yang sama-sama terdaftar sebagai pencipta dan pemegang
hak cipta. Oleh karena itu, berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di
atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul, “PEMBATALAN
PENDAFTARAN HAK CIPTA BERDASARKAN GUGATAN PENCIPTA
9
ATAU PEMEGANG HAK CIPTA (Studi Terhadap Putusan Mahkamah Agung
Nomor 768 K/Pdt.Sus/2010)”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
Bagaimana penerapan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang
Hak cipta dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 768 k/pdt.sus/2010?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan Pasal 42 UndangUndang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta dalam Putusan Mahkamah
Agung Nomor 768 k/pdt.sus/2010.
D. Kegunaan Penelitian
A. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi
pengembangan studi tentang Hak Kekayaan Intelektual khususnya dalam Hak
Cipta.
10
B. Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi
pembaca, khususnya bagi pembaca yang bergerak di bidang hukum dan atau
bisnis atau perdagangan.
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum tentang Hak Kekayaan Intelektual
1. Pengertian Hak Kekayaan Intelektual
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Intellectual Property Rights
merupakan hak untuk menikmati hasil kreativitas intelektual manusia secara
ekonomis.9 HKI berhubungan erat dengan benda tidak berwujud serta
melindungi karya intelektual yang lahir dari cipta, rasa dan karsa manusia.10
Intellectual Property Rights (IPR) pertama kali diterjemahkan di Indonesia
menjadi “Hak Milik Intelektual”, kemudian menjadi “Hak atas Kekayaan
Intelektual”. Setelah dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Hukum dan
Perundang-undangan RI Nomor M.03.PR.07.10 Tahun 2000 dan Persetujuan
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, dalam surat Nomor
24/M/PAN/1/2000, istilah Hak Atas Kekayaan Intelektual atau akronim
“HAKI” diganti menjadi Hak Kekayaan Intelektual dengan akronim HKI.
Surat Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-Undangan tersebut didasari
pula dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 144 Tahun 1998
tanggal 15 September 1998, tentang Perubahan Nama Direktorat Jenderal Hak
Cipta, Paten dan Merek berubah menjadi Direktorat Jenderal Hak Atas
9
Sudaryat, dkk, Op.cit, hal.15.
Tomi Suryo Utomo, Op.cit, hal.1.
10
12
Kekayaan Intelektual (Ditjen HAKI) kemudian berdasar Keputusan Presiden
Nomor 177 Tahun 2000 Ditjen HAKI berubah menjadi Direktorat Jenderal
Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI).11
WIPO (World Intellectual Proprty Organization), sebuah lembaga
internasional di bawah PBB yang menangani masalah HKI mendefinisikan
HKI sebagai “Kreasi yang dihasilkan dari pikiran manusia yang meliputi :
invensi, karya sastra dan seni, symbol, nama, citra dan desain yang digunakan
dalam perdagangan”. Definisi dari WIPO ini merupakan contoh yang paling
nyata bahwa HKI memang tidak dapat dilepaskan dari cabang-cabang ilmu
yang melingkupinya.12 Definisi bersifat lebih umum dikemukakan oleh Jill
Mc-Keough dan Andrew Stewart
yang mendefinisikan HKI sebagai
“sekumpulan hak yang diberikan oleh hukum untuk melindungi investasi
ekonomi dari usaha-usaha yang kreatif”. Definisi HKI yang tidak jauh
berbeda juga di kemukakan UNCTAD-ICTSD. Menurut kedua lembaga
tersebut, HKI merupakan hasil-hasil usaha manusia kreatif yang dilindungi
oleh hukum. Sedangkan Ditjen HKI bekerja sama dengan ECAP
mendefinisikan HKI sebagai “hak yang timbul dari hasil olah pikir otak yang
menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia”.13
11
www.hukumonline.com, Dasar Huum Perubahan Istilah HAKI menjadi HKI, tersedia di
website http://alturl.com/hgowj, diakses tanggal 7 Juni 2012.
12
Tomi Suryo Utomo, Op. cit. hal.1.
13
Ibid, hal.2.
13
Menurut Muhamad Djumhana dan R. Djubaedillah, HKI merupakan hak
yang berasal dari hasil kegiatan kreatif suatu kemampuan daya pikir
manusia dalam bidang teknologi, ilmu pengetahuan maupun seni dan
sastra yang diekspresikan kepada khalayak umum dalam berbagai
bentuknya, yang memiliki manfaat serta berguna dalam menunjang
kehidupan manusia, juga mempunyai nilai ekonomi.14
Menurut Agus Sardjono, HKI adalah hak yang timbul dari aktivitas
intelektual manusia dalam bidang industri, ilmu pengetahuan, sastra, dan
seni.15
Menurut Ahmad M. Ramli, HKI merupakan suatu hak yang timbul
akibat dari adanya tindakan kreatif manusia yang menghasilkan karya-karya
inovatif yang dapat diterapkan dalam kehidupan manusia.16
Menurut Saidin, Hak Kekayaan Intelektual adalah hak kebendaan, hak
atas sesuatu benda yang bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja rasio, hasil
dari pekerjaan manusia yang menalar. Hasil kerjanya itu berupa benda
immaterial. Benda tidak berwujud.17
Secara substantif, pengertian HKI dapat dideskripsikan sebagai hak atas
kekayaan yang timbul dan lahir karena kemampuan intelektual manusia. HKI
14
myblog-zurich.blogspot.com, 2oo8, Sejarah dan Perkembangan hak Kekayaan Intelektual
Indonesia, tersedia di website http://alturl.com/2cfy7, diakses tanggal 7 Juni 2012.
15
Ibid.
16
Ibid.
17
Saidin, 2003, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Jakarta : Raja Grafindo Persada,
hal.9.
14
dikategorikan sebagai hak atas kekayaan mengingat HKI pada akhirnya
menghasilkan karya-karya intelektual berupa : pengetahuan, seni, sastra,
teknologi dimana dalam mewujudkan membutuhkan pengorbanan tenaga,
waktu biaya, dan pikiran. Adanya pengorbanan tersebut menjadikan karya
intelektual tersebut menjadi memiliki nilai. Apabila ditambah dengan manfaat
ekonomi yang dapat dinikmati, maka nilai ekonomi yang melekat
menumbuhkan konsepsi kekayaan (property) terhadap karya-karya intelektual
tadi.18 Dari segi pranata, HKI dibangun sebagai instrumen hukum yang
berbasis etika pengetahuan, penghargaan, dan perlindungan terhadap hak atas
kreasi intelektual yang diberikan sebagaimana lazimnya hak milik yang
mempunyai nilai ekonomi dan sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan
ekonomi.19
Menurut David Bainbridge, HKI dikatakan “that area of law which
concern legal associated with creative effort or commercial repurtation
and goodwill”. Konsepsi yang di dikemukakan oleh David ini sangat
kental dengan pendekatan hukum. Hal ini logis karena dalam mengkaji
masalah HKI pada akhirnya semua akan bermuara pada konsep hukum,
terutama menyangkut upaya memberikan perlindungan terhadap hasilhasil karya intelektual.20
18
Budi Agus Riswandi dan M.Syamsudin, Op.cit, hal. 31.
Tim Lindsey dan Eddy Damian, 2006, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar,
Bandung : PT Alumni, hal. 79.
20
Budi Agus Riswandi dan M.Syamsudin, Op.cit, hal.32.
19
15
Menurut Henry Soelistyo, HKI adalah “product of mind” atau oleh
World Intellectual Propery Organiztation atau WIPO disebut “creation
of the mind” yang berarti suatu karya manusia yang lahir dengan
curahan tenaga, karsa, cipta, waktu dan biaya. Segala jerih payah itu
menjadi kontribusi yang memiliki nilai ekonomi. Oleh karena itu, setiap
karya intelektual patut diakui, dihargai dan dilindungi baik secara moral
dan etika maupun secara hukum.21
Penciptaan Hak Kekayaan Intelekual membutuhkan banyak waktu di
samping bakat, pekerjaan, dan juga uang untuk membiayainya. Apabila tidak
ada perlindungan atas kreativitas intelektual yang berlaku di bidang seni,
industri, dan pengetahuan maka tiap orang dapat meniru dan membuat copy
secara bebas serta dapat memproduksi tanpa batas.22
Berikut ini diuraikan beberapa teori dasar perlindungan HKI yang di
kemukakan oleh Robert C. Sherwood sebagaimana dikutip oleh Ranti
Fauza Mayana dalam buku Perlindungan Desain Industri di Indonesia dalam
Era Perdagangan Bebas. Menurut Sherwood, terdapat lima teori dasar
perlindungan HKI. 23
21
22
Henry Soelistyo, 2011, Op.cit, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, hal.2.
Sudargo Gautama, 1990, Segi-Segi Hukum Hak Milik Intelektual, Bandung:PT.Eresco,
hal.7.
23
Sudaryat dkk, Op. cit, hal.19-20.
16
1. Reward Theory
Reward Theory memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu
pengakuan terhadap karya intelektual yang telah dihasilkan oleh
penemu, pencipta, atau pendesain sehingga ia harus diberi
penghargaan sebagai imbangan atas upaya kreatifnya dalam
menemukan atau menciptakan karya intelektualnya.
2. Recovery Theory
Dalam Recovery Theory, dinyatakan bahwa penemu, pencipta, atau
pendesain yang telah mengeluarkan waktu, biaya, serta tenaga
untuk menghasilkan karya intelektualnya harus memperoleh
kembali apa yang telah dikeluarkannya.
3. Incentive Theory
Dalam Incentive Theory dikaitkan antara pengembangan kreativitas
dengan memberikan insentif kepada para penemu, pencipta, atau
pendesain. Berdasarkan teori ini, insentif perlu diberikan untuk
mengupayakan terpacunya kegiatan-kegiatan peneliti yang berguna.
4. Risk Theory
Dalam Risk Theory dinyatakan bahwa karya mengandung risiko.
HKI merupakan hasil penelitian yang mengandung risiko
memungkinkan pihak lain menemukan cara yang lebih baik untuk
memperbaiki kekurangan penelitian yang terdahulu yang dilakukan
17
oleh pihak pertama yang melakukan penelitian dan mengakui
bahwa hasil dari penelitian tersebut merupakan hasil jerih payahnya
dan berhak sebagai pemegang HKI terhadap hasil penelitiannya.
Dengan demikian, adalah wajar memberikan bentuk perlindungan
hukum terhadap upaya atau kegiatan yang mengandung risiko
tersebut.
5. Economic Growth Stimulus Theory
Dalam
Economic
Growth
Stimulus
Theory
diakui
bahwa
perlindungan atas Hak Kekayaan Intelektual merupakan alat
pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi adalah keseluruhan
tujuan dibangunnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual.
Perlindungan dalam hal Hak Kekayaan Intelektual lebih dominan pada
perlindungan idividual, namun untuk menyeimbangkan kepentingan individu
dengan kepentingan masyarakat, maka sistem HKI mendasarkan diri pada
prinsip sebagai berikut :24
1. Prinsip Keadilan (the principle of natural justice)
Pencipta sebuah karya atau orang lain yang bekerja membuahkan
hasil dari kemampuan intelektualnya, wajar memperoleh imbalan.
Imbalan tersebut dapat berupa materi maupun bukan materi, seperti
adanya rasa aman karena dilindungi dan diakui atas hasil karyanya.
24
Budi Agus Riswandi dan M.Syamsudin, Op.cit, hal. 32-34.
18
Hukum memberikan perlindungan tersebut demi kepentingan
pencipta berupa suatu kekuasaan untuk bertindak dalam rangka
kepentingannya tersebut, yang kita sebut hak. Setiap hak menurut
hukum mempunyai title, yaitu suatu peristiwa tertentu yang menjadi
alasan melekatnya hak itu pada pemiliknya. Menyangkut HKI,
maka peristiwa yang menjadi alasan melekatnya itu, adalah
penciptaan yang mendasarkan atas kemampuan intelektualnya.
Perlindungan ini tidak terbatas di dalam negeri penemu itu sendiri,
melainkan juga dapat meliputi perlindungan di luar batas
negaranya.
2. Prinsip Ekonomi (the economic argument)
Hak Kekayaan Intelektual ini merupakan hak yang berasal dari
hasil kegiatan kreatif suatu kemampuan daya pikir manusia yang
memiliki manfaat serta berguna dalam kehidupan manusia. HKI
merupakan
suatu bentuk
kekayaan bagi
pemiliknya.
Dari
kepemilikannya, seseorang akan mendapat keuntungan, misalnya
dalam bentuk pembayaran royalty dan technical fee.
3. Prinsip Kebudayaan (the culture argument)
Karya
manusia
itu
pada
hakikatnya
bertujuan
untuk
memungkinkannya hidup, selanjutnya dari hidup itu pula akan
19
timbul suatu gerak hidup yang harus menghasilkan lebih banyak
karya lagi. Dengan konsepsi demikian maka pertumbuhan,
perkembangan ilmu pengetahuan, seni dan sastra sangat besar
artinya bagi peningkatan taraf kehidupan, peradaban, dan martabat
manusia. Memberikan kemaslahatan bagi masyarakat, bangsa dan
negara.
Pengakuan atas kreasi, karya, karsa dan cipta manusia
adalah suatu usaha yang tidak dapat dilepaskan sebagai suatu
perwujudan suasana yang diharapkan mampu membangkitkan
semangat dan minat untuk mendorong melahirkan ciptaan baru.
4. Prinsip Sosial (the social argument)
Hukum tidak mengatur kepentingan manusia sebagai perseorangan
yang berdiri sendiri terlepas dari manusia yang lain, tetapi hukum
mengatur manusia sebagai warga masyarakat. Dengan demikian,
hak apapun yang diakui oleh hukum dan diberikan kepada
perseorangan atau suatu persekutuan atau kesatuan lain, tidak boleh
diberikan semata-mata untuk memenuhi kepentingan perseorangan
atau suatu persekutuan atau kesatuan itu saja, tetapi pemberian hak
kepada perseorangan, persekutuan atau kesatuan itu diberikan, dan
diakui oleh hukum. Oleh karena dengan diberikannya hak tersebut
kepada perseorangan, persekutuan atau kesatuan hukum itu,
kepentingan masyarakat akan terpenuhi.
20
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) memiliki prinsip-prinsip umum yang
berlaku, yaitu :25
a. HKI Memberikan Hak Eksklusif
Hak yang diberikan oleh sistem HKI bersifat eksklusif.
Maksudnya, hak tersebut bersifat khusus dan hanya dimiliki oleh
orang yang terkait langsung dengan kekayaan intelektual yang
dihasilkan. Melalui hak tersebut, pemegang dapat mencegah orang
lain untuk membuat, menggunakan atau berbuat sesuatu tanpa izin.
b. HKI Melindungi Usaha Intelektual yang Bersifat Kreatif
Berdasarkan Pendaftaran
Secara umum, pendaftaran merupakan salah satu syarat kekayaan
intelektual yang dihasilkan oleh seseorang. Beberapa cabang HKI
yang mewajibkan seseorang untuk melakukan pendaftaran adalah
Merek, Paten, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
dan Perlindungan Varietas Tanaman. Prinsip ini mendasari semua
Undang-undang HKI di seluruh dunia dan membawa konsekuensi
bahwa pemilik kekayaan intelektual yang tidak melakukan
pendaftaran tidak dapat menuntut seseorang yang dianggap telah
menggunakan kekayaan intelektualnya secara melawan hukum.
Selain aturan umum ini, dua cabang HKI lainnya, yaitu Hak Cipta
dan Rahasia Dagang tidak wajib didaftarkan untuk mendapatkan
25
Tomi Suryo Utomo, Op.cit. hal. 12-14.
21
perlindungan hukum karena sifatnya yang berbeda dengan cabangcabang HKI lainnya. Perlindungan Hak Cipta secara otomatis ada
pada saat ide telah diwujudkan menjadi bentuk yang nyata.
Sedangkan untuk Rahasia Dagang, aturan pendaftaran tidak
diwajibkan mengingat sifat dari rahasia dagang terkait dengan
informasi yang tidak diketahui oleh umum.
c. Prinsip Pendaftaran Bersifat Teritorial
Sistem HKI mengatur bahwa pendaftaran yang melahirkan
perlindungan hukum bersifat territorial. Artinya, perlindungan
hukum hanya diberikan di tempat pendaftaran tersebut dilakukan.
Sistem ini selaras dengan kedaulatan negara di dalam hukum
publik dimana keputusan yang dihasilkan tidak dapat dipaksakan
berlaku di negara lainnya.
d. Prinsip Pemisahan Benda Secara Fisik dengan HKI yang
Terkandung di Dalam Benda Tersebut
Sistem ini bersifat sangat unik dan merupakan ciri khas HKI
karena di dalam cabang hukum lain yang bersifat berwujud,
penguasaan secara fisik dari sebuah benda sekaligus membuktikan
kepemilikan yang sah atas benda tersebut. Di dalam sistem HKI,
seseorang yang menguasai benda secara fisik tidak otomatis
memiliki hak eksklusif terhadap benda fisik tersebut.
e. Prinsip Jangka Waktu Perlindungan HKI adalah Terbatas
22
Meskipun ada cabang HKI yang dapat diperpanjang jangka waktu
perlindungannya, secara umum jangka waktu perlindungan HKI
tidak selamanya atau bersifat terbatas. Tujuan pembatasan
perlindungan ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada
masyarakat mengakses kekayaan intelektual tersebut secara
optimal melalui usaha-usaha pengembangan lebih lanjut dan
sekaligus mencegah monopoli atas kekayaan intelektual tersebut.
f. Prinsip Kekayaan Intelektual yang Berakhir Perlindungan Menjadi
Public Domain
HKI yang telah berakhir jangka waktu Perlindungannya akan
menjadi milik umum. Semua orang berhak untuk mengakses HKI
yang telah berakhir jangka waktu perlindungannya. Pasca
berakhirnya perlindungan hukum, pemegang HKI tidak boleh
menghalangi atau melakukan tindakan seolah-olah masih memiliki
hak eksklusif. Sebagai contoh, perjanjian Lisensi tidak boleh
dilakukan jika jangka waktu perlindungan HKI yang menjadi dasar
bagi terjadinya perjanjian tersebut telah berakhir.
23
2. Penggolongan Hak Kekayaan Intelektual
Menurut konvensi WIPO yang termasuk ke dalam ruang lingkup
Intellectual Property Rights (IPR) atau Hak Kekayaan Intelektual terdiri dari
dua unsur yaitu :26
a. Hak Milik Perindustrian (Industrial Property Right) yang meliputi
Paten, merek dagang, dan desain industri.
b. Hak Cipta yang meliputi hasil-hasil karya kesusasteraan, musik,
fotografi dan sinematografi.
Lingkup Hak cipta mencakup di dalamnya Hak Terkait atau Related
Right yang lazim disebut Neighbouring Right. Bidang yang kedua meliputi
Paten, Merek, Desain Industri dan Rahasia Dagang yang kesemuanya lazim
dikategorikan dalam industrial property.27
Hak atas Kekayaan Perindustrian atau Industrial Property dapat
diklasifikasikan menjadi :28
a. Patent (Paten)
b. Utility Models (Model dan Rancang Bangun) atau dalam hukum
Indonesia dikenal dengan istilah paten sederhana (simple patent)
c. Industrial Designs (Desain Industri)
d. Trade Marks (Merek Dagang)
e. Trade Names (Nama Dagang)
26
Taryana Soenandar, Op.cit, hal.8.
Henry Soelistyo, Op.cit, hal.2.
28
Saidin, Op.cit, hal. 14.
27
24
f. Indication of Source or Appelation of Origin (Sumber tanda atau
sebutan asal).
Pengelompokan Hak atas Kekayaan Perindustrian seperti tertera di atas
didasarkan pada Convention Establishing The World Intellectual Property
Organization. Dalam beberapa literatur khususnya literatur yang ditulis oleh
para pakar dari negara yang menganut sistem hukum anglo saxon, bidang hak
atas kekayaan perindustrian tersebut masih ditambah lagi beberapa bidang lain
yaitu : trade secrets, service mark, dan unfair competition protection. Hak atas
kekayaan perindustrian itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 29
1. Patent
2. Utility Models
3. Industrial Designs
4. Trade Secrets
5. Trade Marks
6. Service Marks
7. Trade Names of Commercial Names
8. Appelations of Origin
9. Indications of Origin
10. Unfair Competition Protection.
29
Ibid, hal. 15.
25
Berdasarkan kerangka WTO/TRIPS ada dua bidang lagi yang perlu
ditambahkan yaitu :
1. Perlindungan Varietas Baru Tanaman, dan
2. Integrated Circuit (Rangkaian Elektronika Terpadu)
Berdasarkan perkembangan HKI yang terbaru, HKI mempunyai 7
(tujuh) cabang. Yaitu :
1. Hak Cipta dan Hak Terkait
2. Merek
3. Paten
4. Desain Industri
5. Rahasia Dagang
6. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
7. Perlindungan Varietas Tanaman.30
3. Pengaturan Hak Kekayaan Intelektual
Pengaturan Hak Kekayaan Intelektual bukan hal baru di Indonesia.
Secara historis, peraturan yang mengatur Hak Kekayaan Intelektual di
Indonesia telah ada sejak zaman Pemerintahan Hindia Belanda. Indonesia
30
Tomi Suryo Utomo, Op.cit, hal.7-8.
26
telah mempunyai Undang-undang tentang Hak Kekayaan Intelektual yang
merupakan pemberlakuan peraturan perundang-undangan pemerintahan
Hindia Belanda yang berlaku di negeri Belanda, diberlakukan di Indonesia
sebagai negara jajahan Belanda berdasarkan prinsip konkordansi.31
Bidang Hak Kekayaan Intelektual yang mendapat pengakuan pada
zaman Pemerintahan Hindia Belanda yaitu Hak Cipta, Merek, dan Paten.
Adapun peraturan perundang-undangan Belanda bidang Hak Kekayaan
Intelektual adalah sebagai berikut :32
a. Auteurs Wet 1912 (Undang-undang Hak Pengarang 1912, Undangundang Hak Cipta; Stb. 1912 Nomor 600).
b. Reglement Industriele Eigendom Kolonien 1912 (Peraturan Hak
Milik Industrial Kolonial 1912; Stb.1912 Nomor 545 jo. Stb. 1913
Nomor 214).
c. Octrooi Wet 1910 (Undang-undang Paten 1910; Stb. 1910 Nomor
33).
Pemerintah kolonial Belanda di Indonesia memutuskan untuk menjadi
anggota Konvensi Paris pada tahun 1888 dan disusul dengan menjadi anggota
Konvensi Berne pada tahun 1914 untuk melengkapi peraturan perundangundangan Hak Kekayaan Intelektual.33
31
Adrian Sutedi, Op.cit, hal. 1.
Ibid.
33
Tomi Suryo Utomo, Op.cit, hal. 7.
32
27
Pada zaman pendudukan Jepang, peraturan di bidang HKI tersebut tetap
diberlakukan sampai pada saat bangsa Indonesia memproklamirkan
kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945 peraturan HKI produk Kolonial
Belanda tetap diberlakukan. Sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan
peralihan UUD 1945, seluruh peraturan perundang-undangan peninggalan
kolonial Belanda tetap berlaku berdasarkan ketentuan Pasal II Aturan
Peralihan UUD 1945 yang berbunyi: “Segala badan negara dan peraturan
yang ada masih berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UndangUndang ini”. Hal ini kemudian dipertegas lagi dengan ditetapkannya
Peraturan Pemerintah Nomor 2 tanggal 10 Oktober 1945 yang menyatakan :
“Segala badan negara dan peraturan-peraturan yang ada sampai berdirinya
negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, selama belum
diadakan menurut Undang-Undang Dasar, masih berlaku asal tidak
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar tersebut”.34
Undang-undang Hak Cipta dan Undang-undang Merek peninggalan
Belanda tetap berlaku, namun Undang-undang Paten (Octrooi Wet) sudah
tidak diberlakukan lagi karena dianggap bertentangan dengan Kedaulatan
Republik Indonesia.35 Sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang Paten
peninggalan Belanda, permohonan paten dapat diajukan di Kantor Paten yang
34
35
Myblog-zurich.blogspot.com, Op.cit.
Tomi Suryo Utomo, Loc.cit.
28
berada di Batavia (sekarang Jakarta), namun pemeriksaan atas permohonan
paten tersebut harus dilakukan di Belanda.36
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia mengundangkan
Undang-undang Merek Tahun 1961 dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun
1961 yang disusul dengan Undang-undang Hak Cipta Nasional yang pertama
pada tahun 1982 yaitu Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 dan Undangundang Paten Nomor 6 Tahun 1989. Setelah mengalami beberapa kali
perubahan sebagai konsekuensi keikutsertaan Indonesia dengan berbagai
konvensi internasional, diantaranya perjanjian TRIPS, Undang-undang HKI
terkini dari ketiga cabang utama tersebut adalah Undang-undang Hak Cipta
Nomor 19 Tahun 2002, Undang-undang Paten Nomor 14 Tahun 2001 dan
Undang-undang Merek Nomor 15 Tahun 2001.37 Untuk melengkapi
keberadaan Undang-undang HKI, pemerintah telah membuat Undang-undang
HKI lainnya, yaitu Undang-undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang
Perlindungan Varietas Tanaman, Undang-undang Nomor 30 Tahun 2000
tentang Rahasia Dagang, Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang
Desain Industri, dan Undang-undang Nomor 32 tahun 2000 tentang Desain
Tata Letak Sirkuit Terpadu.38
36
Myblog-zurich.blogspot.com, Op.cit.
Tomi Suryo Utomo, Op.cit, hal.7.
38
Ibid.
37
29
B. Hak Cipta
1. Pengertian dan Pengaturan Hak Cipta
Keaslian suatu karya, baik berupa karangan atau ciptaan merupakan
suatu hal esensial dalam perlindungan hukum melalui hak cipta. Suatu karya
tersebut harus benar-benar merupakan hasil karya orang yang mengakui
bahwa karya tersebut sebagai ciptaannya. Demikian juga, harus ada relevansi
antara hasil karya dengan yuridiksi apabila hasil karya tersebut ingin
dilindungi di Indonesia.39
Perlindungan hukum melalui hak cipta dewasa ini melindungi hasil
karya atau kreasi dari pengarang, pencipta, artis, musisi, programer,
dramawan, dan lain-lain, yakni melindungi hak-hak pencipta atau perbuatan
pihak lain yang tanpa izin memproduksi atau meniru hasil karyanya.40
Kesulitan utama memahami Hak Cipta pada dasarnya lebih banyak
berpangkal pada penggunaan kata “cipta” dan “ciptaan” yang selama ini
menjadi ungkapan umum untuk menunjuk kegiatan manusia yang
menghasilkan suatu karya.41 Selama ini, masyarakat menilai bahwa setiap
kegiatan yang membuat sesuatu dikatakan mencipta dan hasilnya disebut
sebagai ciptaan apapun bentuk dan jenis ciptaannya. Selama ini pula, kata
“cipta” lazim digunakan untuk menunjuk kegiatan kreatif yang menghasilkan
39
Endang Purwaningsih, 2005, Perkembangan Hukum Intellectual Property Rights, Bogor:
Ghalia Indonesia, hal.1.
40
Endang Purwaningsih, Op.cit, hal. 1.
41
Henry Soelistyo, Op.cit, hal. 46.
30
ciptaan.42 Upaya memahami Hak Cipta dapat diawali dengan mengenali
objeknya yaitu segala bentuk ciptaan yang bernuansa ilmu pengetahuan, seni
dan sastra.
Menurut Endang Purwaningsih, ciptaan atau hasil karya adalah ciptaan
atau hasil karya Pencipta dalam segala bentuk yang menunjukan keasliannya
dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra.43
Luasnya ragam ciptaan, prinsip-prinsip dan norma pengaturan
perlindungan Hak Cipta sangat dipengaruhi oleh bentuk dan sifat berbagai
ragam ciptaan itu. Misalnya, bentuk ciptaan yang berupa lukisan atau gambar,
akan diakui sebagai hasil ciptaan apabila lukisan atau gambar tersebut sudah
selesai dikerjakan dan sudah berbentuk lukisan atau gambar yang sempurna.
Karya yang telah selesai diwujudkan seperti itulah yang mendapat
perlindungan Hak Cipta.
Menurut Saidin, Hak Cipta semula terkandung di alam pikiran, di alam
ide, namun untuk dapat dilindungi harus ada wujud nyata dari alam ide
tersebut.44
Menurut Perjanjian Hak Cipta Sedunia (Universal Copyrights
Convention) pasal v : “Copyrights shall include the ekclusive right of the
author to make, publish, and authorize the making and publication of
translation of works protected under this convention” atau “Hak Cipta
42
Ibid.
Endang Purwaningsih, Op.cit. hal. 2.
44
Saidin, Op.cit, hal. 59.
43
31
meliputi hak tunggal si Pencipta untuk membuat, menerbitkan dan memberi
kuasa untuk membuat dan menerbitkan terjemahan dari karya yang dilindungi
oleh perjanjian ini”.45
Menurut Undang-undang Hak Cipta Auteurswet tahun 1912 Staatsblad
Nomor 600 tahun 1912, Pasal 1 menyatakan bahwa : “Hak cipta adalah hak
tunggal dari pencipta atau hak dari yang mendapatkan hak tersebut, atas hasil
ciptaannya dalam lapangan kesusasteraan, pengetahuan, dan kesenian untuk
mengumumkan dan memperbanyaknya, dengan mengingat pembatasan yang
ditentukan dalam undang-undang.46
Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta,
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau
penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau
memberikan izin
untuk itu
dengan tidak mengurangi batasan-batasan
menurut perundang-undangan. Hak terkait (Related rights) merupakan bagian
dari Hak Cipta. Hak Terkait merujuk kepada kategori hak yang diberikan
kepada pelaku, produser rekaman dan lembaga penyiaran.47
Menurut Pasal 1 angka 9, Hak Terkait adalah hak yang berkaitan
dengan Hak Cipta, yaitu hak eksklusif bagi pelaku untuk memperbanyak atau
menyiarkan pertunjukannya ; bagi Produser Rekaman Suara untuk
memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman
45
Ramdlon Naning, 1982, Perihal Hak Cipta Indonesia, Yogyakarta : Liberty, hal. 2
Ibid.
47
Tomi Suryo Utomo, Op.cit. hal. 91.
46
32
bunyinya ; dan bagi Lembaga Penyiaran untuk membuat, memperbanyak, atau
menyiarkan karya siarannya. Pelaku adalah aktor, penyanyi, pemusik, penari
atau
mereka
yang
menampilkan,
memperagakan,
mempertunjukkan,
menyanyikan, menyampaikan, mendeklamasikan, atau memainkan suatu
karya musik, drama, tari, sastra, folklor, atau karya seni lainnya. Produser
Rekaman Suara adalah orang atau badan hukum yang pertama kali merekam
dan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan perekaman suara atau
perekaman bunyi, baik perekaman dari suatu pertunjukan maupun perekaman
suara atau perekaman bunyi lainnya. Lembaga Penyiaran adalah organisasi
penyelenggara siaran yang berbentuk badan hukum, yang melakukan
penyiaran atas suatu karya siaran dengan menggunakan transmisi dengan atau
tanpa kabel atau melalui sistem elektromagnetik.
Menurut Pasal 12 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak
Cipta, Ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang ilmu
pengetahuan, seni dan sastra yang meliputi karya :
a. Buku, program komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis
yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain
b. Ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu
c. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu
pengetahuan
d. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks
33
e. Drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan
pantomim
f. Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir,
seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan
g. Arsitektur
h. Peta
i. Seni batik
j. Fotografi
k. Sinematografi
l. Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain
dari hasil pengalihwujudan.
Hak Cipta terdiri atas Hak Ekonomi (economic rights) dan Hak Moral
(moral rights).
Hak Ekonomi adalah hak untuk mendapatkan manfaat
ekonomi atas ciptaan serta produk hak terkait seperti memproduksi karya
dalam segala bentuk, mengedarkan perbanyakan karya kepada publik,
menyewakan perbanyakan karya, membuat terjemahan atau adaptasi dan
mengumumkan karya kepada publik. Hak Moral adalah hak yang melekat
pada diri Pencipta atau pelaku yang tidak dapat dihilangkan atau dihapus
tanpa alasan apapun, walaupun Hak Cipta atau Hak Terkait telah dialihkan.
Peraturan yang mengatur Hak Cipta di Indonesia, telah ada sejak zaman
Indonesia dijajah oleh kolonial Belanda. Pada tahun 1912, pemerintah Hindia
34
Belanda memberlakukan undang-undang Hak pengarang atau pencipta yang
disebut author rights dalam peraturan Auteurs Wet 1912 Stb. 1912 No. 600.
Pada zaman Jepang menjajah Indonesia, peraturan Auteurs Wet 1912 tetap
diberlakukan sampai Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.
Setelah Indonesia merdeka, Indonesia mengundangkan Undang-undang Hak
Cipta Nasional yang pertama pada tahun 1982 yaitu Undang-undang Nomor
6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta. Pada tahun 1987, Undang-undang Nomor 6
Tahun 1982 diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987.
Pasca
Indonesia
meratifikasi
Persetujuan
Pendirian
Organisasi
Perdagangan Dunia (Agreement the Establishing World Trade Organization)
yang mencakup pula Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual
Property Rights selanjutnya disebut TRIPS melalui Undang-undang Nomor 7
Tahun 1994, maka Indonesia terikat dan diwajibkan untuk mengharmonisasi
hukumnya yang terkait dengan persetujuan ini. Salah satu hukum yang terkait
dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual.48
Hak Cipta sebagai satu bagian dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual
juga terkena imbas dari harmonisasi hukum ini dimana Undang-undang
Nomor 12 Tahun 1997 tentang Hak Cipta diperbaharui dengan Undangundang Nomor 19 Tahun 2002 untuk memberikan perlindungan yang lebih
komprehensif terhadap ciptaan yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia.
48
Budi Agus Riswandi dan M.Syamsudin, Op.cit. hal.1.
35
2. Prinsip Dasar Hak Cipta
Dalam kerangka ciptaan yang mendapatkan hak cipta setidaknya harus
memperhatikan beberapa prinsip-prinsip dasar hak cipta, yaitu :
1. Hak Cipta melindungi perwujudan ide bukan ide sendiri.
Prinsip ini merupakan prinsip yang umum dalam Undang-undang
Hak Cipta yang berlaku di kebanyakan negara di seluruh dunia.
Melalui prinsip ini, perwujudan ide merupakan titik sentral dari
perlindungan hak cipta. Perwujudan ide dapat berupa sesuatu yang
dapat dibaca, didengar, maupun dilihat yang dalam istilah sering
disebut sebagai fixation. Beberapa literatur asing memuat beberapa
contoh dari fixation ini, misalnya sebuah lagu yang disenandungkan
seseorang belumlah mengalami sebuah perwujudan ide jika belum
direkam atau ditulis ke dalam sebuah not lagu. Demikian pula sebuah
ide pembuatan sebuah buku bukanlah menjadi objek hak cipta
sampai ide tersebut diwujudkan dalam penulisan sebuah buku yang
dapat dibaca oleh orang lain.49
Dari prinsip dasar ini telah melahirkan dua subprinsip, yaitu :50
a. Suatu ciptaan harus mempunyai keaslian (orisinil) untuk dapat
menikmati hak-hak yang diberikan Undang-undang Hak Cipta,
49
50
Tomi Suryo Utomo, Op.cit, hal. 70.
Budi Agus Riswandi dan M.Syamsudin, Op.cit. hal.9.
36
sangat erat hubungannya dengan bentuk perwujudan suatu
ciptaan.
b. Suatu ciptaan, mempunyai hak cipta jika ciptaan yang
bersangkutan diwujudkan dalam bentuk tertulis atau bentuk
material yang lain. Ini berarti bahwa suatu ide atau suatu
pikiran atau suatu gagasan atau cita-cita belum merupakan
suatu ciptaan.
2. Hak Cipta tidak memerlukan pendaftaran untuk mendapatkan
perlindungan hukum.
Prinsip ini berasal dari Konvensi Bern yang mengatur bahwa
perlindungan hukum sebuah ciptaan tidak diperoleh karena sebuah
pendaftaran melainkan telah diwujudkan dalam bentuk yang nyata.
Meskipun pendaftaran bukanlah sebuah kewajiban, dalam praktik
pendaftaran ciptaan terbukti sangat bermanfaat bagi para pencipta
karena dapat dipergunakan sebagai alat bukti jika terjadi sengketa
dengan pihak ketiga.51 Ciptaan yang dilahirkan dapat diumumkan (to
make public/openbaarmaken) dan walaupun suatu ciptaan tidak
diumumkan, hak ciptanya tetap ada pada pencipta.52
3. Hak Cipta bersifat orisinil dan pribadi.
51
52
Tomi Suryo Utomo, Op.cit, hal. 71.
Budi Agus Riswandi dan M.Syamsudin, Op.cit. hal.9.
37
Prinsip ini mengandung arti bahwa hak cipta lahir dari ekspresi
seseorang atau beberapa orang pencipta yang bersifat sangat khas.
Disamping itu, orisinalitas
ciptaan merupakan hal penting untuk
membedakan ciptaan itu dengan ciptaan dari pihak lain.53
4. Ada pemisahan antara kepemilikan fisik dengan hak yang terkandung
dalam suatu benda.
Prinsip ini sangat penting terutama berkaitan dengan penggunaan hak
ekonomi dari ciptaan yang dilindungi oleh Undang-undang Hak
Cipta dalam bentuk kegiatan perbanyakan atau pengumuman sebuah
ciptaan. Pembelian sebuah ciptaan berupa lagu dalam bentuk kaset
atau CD oleh konsumen, tidak secara otomatis mengalihkan hak
ekonomi ciptaan itu dari pemegang hak kepada konsumen. Hal ini
berarti bahwa pembelian ciptaan itu hanya dipergunakan untuk
kepentingan sendiri dan tidak bersifat komersial. Tindakan
pengumuman atau perbanyakan yang dilakukan oleh konsumen akan
melanggar hak cipta pemiliknya jika dilakukan tanpa seizin
pemegang hak cipta.54
5. Jangka waktu perlindungan hak cipta bersifat terbatas
Prinsip ini sesuai dengan sifat HKI yang memberikan monopoli
terbatas kepada para pemegang hak. Biasanya, setelah jangka waktu
53
54
Tomi Suryo Utomo, Op.cit, hal. 71.
Ibid.
38
perlindungan hukum terhadap ciptaan berakhir, ciptaan tersebut akan
menjadi milik masyarakat (public domain).
Sebagai konsekuensi
dari prinsip ini, seseorang boleh menggunakan ciptaan tersebut tanpa
harus meminta izin kepada pemegang hak cipta atau tanpa harus
membayar royalti terhadap penggunaan ciptaan tersebut.55
6. Pasal-pasal pidana di dalam Undang-undang Hak Cipta bersifat delik
biasa.
Pelanggaran Hak Cipta dikategorikan sebagai delik biasa di dalam
Undang-undang Hak Cipta Indonesia. Melalui prinsip ini, para
penyidik, dalam hal ini polisi dengan dibantu oleh PNS bertindak
secara aktif di dalam melindungi ciptaan yang dilakukan oleh pihak
lain.56
7. Perlindungan Hak Cipta berlaku terhadap warga negara asing yang
terlibat dalam perjanjian yang sama.
Mengingat Undang-undang Hak Cipta tidak mewajibkan pendaftaran
sebuah ciptaan agar dapat dilindungi Undang-undang Hak Cipta,
prinsip ini menjadi sangat penting karena mengatur sejauh mana
Undang-undang Hak Cipta sebuah negara dapat diberlakukan
terhadap ciptaan warga asing jika ciptaan tersebut pertama kali
dipublikasikan di sebuah negara atau negara dimana warga negara itu
55
56
Ibid.
Ibid.
39
berasal menandatangani sebuah konvensi internasional yang sama
dengan sebuah negara.57
3. Pembatasan Hak Cipta
Seperti halnya hak milik perseorangan lainnya, hak cipta juga mengenal
pembatasan dalam penggunaan atau pemanfaatannya. Undang-undang Hak
Cipta memberikan beberapa pembatasan terhadap pemanfaatan hak cipta.
Beberapa pembatasan atas pemanfaatan hak cipta tetapi tidak dikategorikan
sebagai pelanggaran hak cipta diantaranya :58
1. Pengumuman dan/atau Perbanyakan lambang Negara dan lagu
kebangsaan menurut sifatnya yang asli;
2. Pengumuman dan/atau Perbanyakan segala sesuatu yang diumumkan
dan/atau diperbanyak oleh atau atas nama Pemerintah, kecuali
apabila Hak Cipta itu dinyatakan dilindungi, baik dengan peraturan
perundang-undangan maupun dengan pernyataan pada Ciptaan itu
sendiri atau ketika Ciptaan itu diumumkan dan/atau diperbanyak;
3. Pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari
kantor berita, Lembaga Penyiaran, dan surat kabar atau sumber
sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara
lengkap.
57
58
Ibid.
Budi Agus Riswandi dan M.Syamsudin, Op.cit. hal.14.
40
Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta Dengan syarat bahwa
sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan diantaranya :
1. Penggunaan Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan
kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan
kepentingan yang wajar dari Pencipta;
2. Pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun
sebagian, guna keperluan pembelaan di dalam atau di luar
Pengadilan;
3.
Pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun
sebagian, guna keperluan ceramah yang semata-mata untuk tujuan
pendidikan dan ilmu pengetahuan serta pertunjukan atau
pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak
merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta;
4. Perbanyakan suatu Ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni, dan
sastra dalam huruf braille guna keperluan para tunanetra, kecuali
jika Perbanyakan itu bersifat komersial;
5. Perbanyakan suatu Ciptaan selain Program Komputer, secara
terbatas dengan cara atau alat apa pun atau proses yang serupa oleh
perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan,
dan pusat dokumentasi yang nonkomersial semata mata untuk
keperluan aktivitasnya;
41
6. Perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan
teknis atas karya arsitektur, seperti ciptaan bangunan;
7. Pembuatan salinan cadangan suatu Program Komputer oleh
pemilik Program Komputer yang dilakukan semata mata untuk
digunakan sendiri.
4. Pencipta
Menurut Pasal 1 angka 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
tantang Hak Cipta, pencipta adalah seseorang atau beberapa orang secara
bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu ciptaan berdasarkan
kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang
dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi. Pencipta dan
pemegang hak cipta kadang sama, kadang juga berbeda.
Definisi Pencipta seperti yang diatur di dalam Pasal 1 angka 1 Undangundang Hak Cipta memberikan landasan yang sangat fundamental mengenai
Pencipta. Melalui definisi tersebut dapat diketahui bahwa untuk dapat disebut
sebagai Pencipta seseorang harus mempunyai kemampuan dan skill yang
memungkinkan seseorang atau beberapa orang dianggap sebagai Pencipta.59
Pemegang hak cipta tidak selalu Pencipta. Pemegang hak cipta adalah
pencipta sebagai pemilik hak cipta, pihak lain yang menerima hak cipta dari
pencipta atau pihak lain yang menerima lebih lanjut dari pihak tersebut.
59
Tomi Suryo Utomo, Op.cit, hal. 75.
42
Pemilik hak cipta pada prinsipnya adalah sebagai berikut: 60
a. Orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan pada
Direktorat Jenderal atau orang yang namanya disebut dalam
ciptaan atau diumumkan sebagai pencipta pada suatu ciptaan.
b. Kecuali
terbukti
sebaliknya,
pada
ceramah
yang
tidak
menggunakan bahan tertulis dan tidak ada pemberitahuan siapa
penciptanya, orang yang berceramah dianggap sebagai pencipta
ceramah tersebut
c. Jika suatu ciptaan terdiri atas beberapa bagian tersendiri yang
diciptakan oleh dua orang atau lebih, yang dianggap sebagai
pencipta
ialah
orang
yang
memimpin
serta
mengawasi
penyelesaian seluruh ciptaan itu, atau dalam hal tidak ada orang
tersebut, yang dianggap sebagai pencipta adalah orang yang
menghimpunnya dengan tidak mengurangi hak cipta masingmasing atas bagian ciptaannya itu.
d. Jika
suatu
ciptaan
yang
dirancang
seseorang,
kemudian
diwujudkan dan dikerjakan oleh orang lain di bawah pimpinan dan
pengawasan orang yang merancang, maka penciptanya adalah
orang yang merancang ciptaannya tersebut.
e. Jika suatu ciptaan dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain
dalam lingkungan pekerjaannya, pemegang hak cipta adalah pihak
60
Yusran Isnaini, Loc.cit.
43
yang untuk dan dalam dinasnya ciptaan itu dikerjakan, kecuali ada
perjanjian lain antara kedua pihak dengan tidak mengurangi hak
pencipta apabila penggunaan ciptaan itu diperluas sampai ke luar
hubungan dinas lain berdasarkan pesanan yang dilakukan dalam
hubungan dinas.
f. Jika suatu ciptaan dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan
pesanan, pihak yang membuat karya cipta itu dianggap sebagai
pencipta dan pemegang hak cipta, kecuali apabila diperjanjikan
lain antara kedua pihak.
g. Jika suatu badan hukum mengumumkan bahwa ciptaan berasal
dari
padanya
dengan
tidak
menyebut
seseorang
sebagai
penciptanya, badan hukum tersebut dianggap sebagai penciptanya,
kecuali jika terbukti sebaliknya.
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk
mengumumkan, memperbanyak ciptaannya, atau memberikan izin untuk itu
dengan tidak mengurangi batasan-batasan menurut perundang-undangan yang
berlaku. Pencipta atau pemegang hak cipta atas karya sinematografi dan
program komputer memiliki hak untuk memberikan izin atau melarang orang
lain tanpa persetujuannya menyewakan ciptaan tersebut untuk kepentingan
yang bersifat komersil. Ini berarti bahwa pihak lain baru dapat melakukan
44
pengumuman dan/atau memperbanyak ciptaan yang dilindungi Hak Cipta
apabila telah memperoleh izin dari penciptanya. 61
Hak-hak yang dimiliki oleh pencipta dan pemegang hak cipta secara
umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu :62
1. Hak Ekonomi (Economic Rights)
Hak Ekonomi adalah hak yang dimiliki oleh pencipta atau
pemegang hak cipta untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari
ciptaannya yang terdiri dari hak untuk :
a. Memproduksi karya dalam segala bentuk
b. Mengedarkan perbanyakan karya kepada publik
c. Menyewakan perbanyakan karya
d. Membuat terjemahan atau adaptasi
e. Mengumumkan karya kepada publik.
2. Hak Moral (Moral Rights)
Hak moral adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku
yang tidak dapat dihilangkan atau dihapus dengan alasan apapun,
walaupun hak cipta ataupun hak terkait telah dialihkan. Ada dua
jenis hak moral, yaitu :
a. Hak untuk diakui sebagai pencipta (authorship rights atau
paternity right)
61
62
Adrian Sutedi, Op.cit. hal. 117.
Tomi Suryo Utomo, Op.cit, hal.88.
45
Jika karya dari seorang pencipta diperbanyak, diumumkan
atau dipamerkan dihadapan publik, nama pencipta harus
tercantum pada karya tersebut.
b. Hak keutuhan karya (the right to protect the integrity of the
work)
Hak Keutuhan karya ini akan mencegah tindakan
perubahan terhadap ciptaan yang berpotensi merusak
reputasi dan kehormatan pencipta. Perubahan tersebut
dapat berupa : pemutarbalikan, pemotongan, perusakan,
dan penggantian yang berhubungan dengan karya cipta.
5. Pengalihan Hak Cipta
Hak Cipta merupakan hak milik kebendaan sehingga dapat beralih atau
dialihkan baik status maupun penguasaannya kepada orang lain.63 Hak Cipta
dianggap sebagai barang bergerak dan dapat dialihkan seluruhnya atau
sebagian, karena :64
a. Pewarisan;
b. Hibah;
c. Wasiat;
d. Perjanjian tertulis; atau
63
64
Henry Soelistyo, Op.cit, hal. 97.
Adrian Sutedi, Op.cit, hal. 118.
46
e. Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundangundangan.
Pengalihan Hak Cipta harus dilakukan secara tertulis. Penjelasan Pasal 3
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta menjelaskan bahwa
Beralih atau dialihkannya Hak Cipta tidak dapat dilakukan secara lisan, tetapi
harus dilakukan secara tertulis baik dengan maupun tanpa akta notariil.
Menurut Henry Soelistyo, pengalihan Hak Cipta dapat melalui wakaf
sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang
Wakaf.65 Apabila Pencipta meninggal dunia maka Hak Cipta menjadi milik
ahli warisnya atau penerima wasiat sehingga tidak dapat disita dan apabila ada
perubahan suatu ciptaan maka harus dengan persetujuan ahli warisnya.66
Dalam kaitan itu, kemana pun dan sampai derajat keberapa pun Hak Cipta
telah beralih atau dialihkan, pemegang Hak Cipta tetap terikat untuk
mengakui dan menghormati Hak Moral pencipta yaitu dengan selalu
mewajibkan untuk mencantumkan nama pencipta dalam ciptaan.67
6. Lisensi Hak Cipta
Menurut Pasal 1 angka 14 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta, Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak
Cipta atau Pemegang Hak Terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan
65
Henry Soelistyo, Op.cit, hal. 98.
Adrian Sutedi, Op.cit, hal. 118.
67
Henry Soelistyo, Op.cit, hal. 98.
66
47
dan/atau memperbanyak Ciptaannya atau produk Hak Terkaitnya dengan
persyaratan tertentu. Pengaturan mengenai lisensi hak cipta diatur di dalam
pasal 45, Pasal 46, dan Pasal 47 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta.
Pasal 45 menentukan sebagai berikut :
1) Pemegang Hak Cipta berhak memberikan Lisensi kepada pihak
lain berdasarkan surat perjanjian Lisensi untuk melaksanakan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.
2) Kecuali diperjanjikan lain, lingkup Lisensi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi semua perbuatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 berlangsung selama jangka waktu Lisensi diberikan
dan berlaku untuk seluruh wilayah Negara Republik Indonesia
3) Kecuali diperjanjikan lain, pelaksanaan perbuatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disertai dengan kewajiban
pemberian royalti kepada Pemegang Hak Cipta oleh penerima
Lisensi.
4) Jumlah royalti yang wajib dibayarkan kepada Pemegang Hak Cipta
oleh penerima Lisensi adalah berdasarkan kesepakatan kedua
belah pihak dengan berpedoman kepada kesepakatan organisasi
profesi.
48
Sesuai rumusan tersebut, lisensi mencakup seluruh isi hak, berlaku
untuk selama jangka waktu tertentu, dan diakui implementasinya di seluruh
wilayah negara Republik Indonesia dengan kewajiban membayar royalti.68
Mengenai ketentuan besarnya royalti, dalam Undang-undang Hak Cipta tidak
disebutkan.69 Hanya dijelaskan dalam Pasal 45 ayat (1) Undang-undang
Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta bahwa dengan perjanjian lisensi
maka si penerima lisensi harus membayar royalti berdasarkan kesepakatan
kedua belah pihak dengan berpedoman kepada kesepakatan organisasi profesi.
Selanjutnya ketentuan Pasal 46 Undang-undang Hak Cipta mengatur
prinsip non-eksklusivitas perjanjian lisensi. Intinya, hukum meletakkan suatu
asumsi bahwa setiap perjanjian lisensi selalu bersifat non-eksklusif. Artinya,
pencipta atau pemegang Hak Cipta masih tetap dapat memberikan lisensi yang
sama kepada pihak ketiga lainnya. Jika tidak, hal itu harus dinyatakan secara
tegas dan jelas.70
Selain ketentuan yang berdimensi perdata, Undang-undang Hak Cipta
juga mengatur kewenangan dan kepentingan publik.71 Pasal 47
Undang-
undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta merumuskan ketentuan
sebagai berikut :
68
Henry Soelistyo, Op.cit, hal. 101.
Adrian Sutedi, Op.cit, hal. 118.
70
Ibid, hal.103.
71
Ibid.
69
49
1) Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat
menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau
memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak
sehat sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
2) Agar dapat mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga,
perjanjian Lisensi wajib dicatatkan di Direktorat Jenderal.
3) Direktorat Jenderal wajib menolak pencatatan perjanjian Lisensi
yang memuat ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pencatatan perjanjian Lisensi
diatur dengan Keputusan Presiden.
Undang-undang Hak Cipta melarang Lisensi Hak Cipta apabila
bertentangan dengan kebijakan perekonomian Indonesia atau memuat
ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat. Dalam praktik,
bentuk-bentuk tindakan seperti itu sangat beragam, diantaranya perjanjian
lisensi di kalangan Musisi atau pencipta lagu dengan industri rekaman. Meski
tidak banyak, contoh ini pernah terjadi. Ketika itu, seorang pencipta lagu dan
sekaligus penyanyi dikontrak oleh perusahaan rekaman untuk lima album.
Perjanjian kontrak tersebut menyatakan bahwa perusahaan rekaman dapat
menghentikan kontrak itu setiap saat dengan pemberitahuan sebulan
sebelumnya. Kenyataannya perjanjian itu lebih menuntut komitmen total dari
50
pencipta lagu kepada produser rekaman tanpa ada jaminan karya-karyanya
akan diedarkan di pasaran. Perselisihan akan timbul karena produser rekaman
harus menunggu timing yang dianggap tepat untuk mengedarkan hasil karya
rekamannya. Pertimbangan yang murni bisnis seperti itu sering kali menjadi
berlarut-larut dan cenderung merugikan kepentingan pencipta lagu.72
Sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 47 ayat (2) di atas, perjanjian
lisensi wajib dicatatkan di Direktorat Jenderal. Pencatatan dilakukan sebagai
salah satu bentuk pelaksanaan asas publikasi agar perjanjian lisensi dapat
mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga.73
7. Sistem Pendaftaran Hak Cipta
Hak Cipta pada prinsipnya dapat diperoleh ketika ciptaan tersebut
diwujudkan. Perlindungan Hukum hak cipta dikenal dengan sistem deklaratif,
yaitu negara melindungi ciptaan secara otomatis setelah terlahir suatu ciptaan
tanpa harus didahului dengan pendaftaran. Hal ini berbeda dengan karya
intelektual lain yang mensyaratkan kewajiban mengajukan permintaan
pendaftaran untuk memperoleh status dan perlindungan hukum. Pendaftaran
ciptaan lebih bersifat pilihan. Pendaftaran berfungsi sebagai pencatatan hak
pencipta atas ciptaan, identitas pencipta atau data lain yang relevan.
Tujuannya untuk mendapatkan catatan formal status kepemilikan Hak Cipta.
72
73
Henry Soelistyo, Op.cit, hal.100-101.
Ibid, hal.103.
51
Hal ini penting, terutama untuk mendukung pembuktian dalam hal terjadi
sengketa kepemilikan Hak Cipta, termasuk kebenaran mengenai siapa yang
dianggap sebagai Pencipta. Demikian pula dalam pengalihan atau pelisensian
Hak Cipta akan lebih mudah dilakukan apabila terdapat dokumen tertulis
tentang ciptaan seperti sertifikat pendaftaran Hak Cipta yang bersangkutan.74
Pendaftaran ini akan memberikan manfaat bagi pendaftar yaitu tetap dianggap
sebagai pencipta sampai ada pihak lain yang dapat membuktikan sebaliknya di
pengadilan. Pendaftar menikmati Perlindungan hukum sampai adanya putusan
hakim yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan bahwa pihak lain
(bukan pendaftar) yang menjadi Pencipta.75
Pasal 35 sampai Pasal 44 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta mengatur tentang Pendaftaran Hak Cipta. Prinsip-prinsip
ketentuan yang diatur dalam Undang-undang tersebut adalah sebagai berikut
:76
1) Direktorat Jenderal menyelenggarakan pendaftaran Ciptaan dan
dicatat dalam Daftar Umum Ciptaan. Pendaftaran Ciptaan tidak
merupakan kewajiban untuk mendapatkan Hak Cipta.
2) Pendaftaran Ciptaan tidak mengandung arti sebagai pengesahan atas
isi, arti, atau bentuk Ciptaan yang didaftar.
74
Ibid, hal. 85.
Budi Agus Riswadi dan M.Syamsudin, op.cit, hal. 19.
76
Henry Soelistyo, Op.cit, hal. 83.
75
52
3) Pendaftaran Ciptaan dilakukan atas dasar permohonan yang
diajukan oleh Pencipta atau oleh Pemegang Hak Cipta atas kuasa
(Konsultan Terdaftar). Dalam hal permohonan diajukan oleh lebih
dari seorang atau suatu badan hukum yang secara bersama-sama
berhak atas Ciptaan, maka permohonan itu harus dilampiri salinan
resmi akta atau keterangan yang membuktikan kepemilikan haknya.
4) Pendaftaran
Ciptaan
dianggap
telah
dilakukan
pada
saat
diterimanya permohonan oleh Direktorat Jenderal dengan lengkap,
termasuk yang diajukan oleh lebih dari seorang atau satu badan
hukum.
5) Dalam hal Ciptaan didaftar tidak sesuai dengan nama Pencipta atau
pihak yang berhak, maka pihak yang berhak atas Hak Cipta tersebut
dapat mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Niaga.
6) Kekuatan hukum suatu pendaftaran Ciptaan harus hapus karena
dinyatakan batal oleh putusan pengadilan. Selain itu, penghapusan
dapat dilakukan atas permohonan orang atau badan hukum yang
namanya tercatat sebagai Pencipta atau Pemegang hak cipta.
Selebihnya, pendaftaran hapus karena berakhirnya Jangka waktu
perlindungan hak cipta.
Sehubungan dengan prinsip-prinsip tersebut di atas, pemerintah
memfasilitasi kebutuhan pencipta untuk mendaftarkan ciptaannya, terutama
untuk memperoleh alat bukti kepemilikan ciptaannya. Hal ini dilakukan
53
pemerintah dengan menyelenggarakan administrasi khusus pendaftaran
ciptaan, dengan menetapkan syarat-syarat dan biaya pendaftaran. Administrasi
pendaftaran ciptaan diatur dalam Peraturan Menteri Kehakiman Nomor:
M.01-HC.03.01 Tahun 1987 yang diadministrasikan oleh Direktorat Jenderal
Hak Kekayaan Intelektual.77 Peraturan Menteri Kehakiman tersebut hingga
saat ini masih berlaku meski Undang-undang Hak Cipta sudah diubah dan
diganti dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia
Nomor: M.11.PR.07.06 Tahun 2003 tentang Penunjukan Kantor Wilayah
Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia untuk
Menerima Permohonan Pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual, maka Kantor
Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia ditunjuk untuk
menerima permohonan Hak Kekayaan Intelektual yang selanjutnya disebut
HKI di lingkungan wilayah kerjanya.
Persyaratan Permohonan Hak Cipta adalah sebagai berikut :78
1. Mengisi Formulir pendaftaran ciptaan rangkap 2 (dua). Formulir
dapat diminta secara cuma-cuma pada kantor wilayah. Lembar
pertama dari formulir tersebut ditandatangani di atas materai
Rp.6000,00 (enam ribu rupiah).
77
Ibid. hal. 85.
kumham-jakarta.info, Persyaratan Permohonan Hak Cipta, tersedia di website
http://www.kumham-jakarta.info/info-layanan/hak-kekayaan-intelektual/persyaratan-hak-cipta, diakses
pada tanggal 15 Juni 2012.
78
54
2. Formulir pendaftaran ciptaan mencantumkan :
a. Nama, kewarganegaraan dan alamat pencipta
b. Nama, kewarganegaraan dan alamat Pemegang Hak Cipta;
c. Nama, kewarganegaraan dan alamat kuasa;
d. Jenis dan judul ciptaan;
e. Tanggal dan tempat ciptaan diumumkan untuk pertama
kali;
f. Uraian ciptaan rangkap 4 (empat).
Apabila Hak Cipta dialihkan kepada pihak lain melalui suatu
perjanjian tertulis atau lisensi maka kedua pihak harus dicatatkan
nama
dan
kewarganegaraannya
dalam
surat
permohonan.
Demikian pula terhadap penerima kuasa. Jenis dan judul ciptaan
harus sesuai dengan ketentuan Pasal 12 Undang-undang Hak
Cipta. Tanggal dan tempat ciptaan diumumkan untuk pertama kali
maksudnya adalah, waktu dan tempat ciptaan itu diperkenalkan
kepada publik. Sedangkan yang dimaksud uraian ciptaan adalah
gambaran umum tentang ciptaan yang dituangkan secara tertulis
dalam formulir permohonan pendaftaran yang telah dipersiapkan
secara baku oleh Departemen Kehakiman C.q.Ditjen HKI.79
3. Surat permohonan pendaftaran ciptaan hanya dapat diajukan untuk
satu ciptaan.
79
Saidin, Op.cit, hal.94-95.
55
4. Melampirkan bukti kewarganegaraan pencipta dan pemegang hak
cipta berupa fotocopy KTP atau Paspor.
5. Apabila pemohon adalah Badan Hukum maka harus melampirkan
turunan resmi akta pendirian badan hukum tersebut.
6. Melampirkan Surat Kuasa apabila permohonan tersebut dilakukan
oleh seorang kuasa, beserta bukti kewarganegaraan kuasa tersebut.
Kuasa disini adalah konsultan yang terdaftar pada Direktorat
Jenderal.
7. Apabila pemohon tidak bertempat tinggal di dalam wilayah
Republik
Indonesia,
maka
untuk
keperluan
permohonan
pendaftaran ciptaan ia harus memilih tempat tinggal dan
menunjukan seorang kuasa di dalam wilayah Republik Indonesia.
8. Apabila permohonan pendaftaran ciptaan yang diajukan atas nama
lebih dari seorang dan atau suatu badan hukum, maka nama-nama
pemohon harus ditulis semuanya, dengan menetapkan satu alamat
pemohon.
9. Apabila ciptaan tersebut telah dipindahkan, agar melampirkan
bukti pemindahan hak.
10. Melampirkan contoh ciptaan yang dimohonkan pendaftarannya
atau penggantinya.
Pemohon akan menerima surat tanda permohonan pendaftaran ciptaan
yang berisikan nama pencipta, pemegang hak cipta, nama kuasa, jenis dan
56
judul ciptaan, tanggal dan jam surat permohonan diterima, berfungsi sebagai
bukti penyerahan permohonan pendaftaran ciptaan.
Terhadap Permohonan pendaftaran Hak Cipta tersebut, Direktorat
Jenderal akan memberikan keputusan paling lama 9 (Sembilan) bulan
terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan secara lengkap. Apabila surat
permohonan pendaftaran ciptaan tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksudkan di atas, maka Direktorat Jenderal HKI atas nama Menteri
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia memberitahukan secara tertulis kepada
pemohon agar melengkapi syarat–syarat yang dimaksudkan. Apabila
permohonan dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal pengiriman
pemberitahuan tersebut ternyata pemohon tidak memenuhi atau melengkapi
syarat–syarat yang telah ditetapkan tersebut, maka permohonannya menjadi
batal demi hukum. Artinya jika pemohon hendak meneruskan permohonannya
kembali,
ia
harus
mengulangi
kembali
syarat–syarat
sebagaimana
ditetapkan.80
Permohonan pendaftaran ciptaan yang telah memenuhi persyaratan
tersebut oleh Direktorat Jenderal HKI diperiksa apakah pemohon benar- benar
Pencipta atau Pemegang Hak atas Ciptaan yang dimohonkan. Hasil
pemeriksaan tersebut kemudian disampaikan kepada Menteri Kehakiman dan
Hak Asasi Manusia untuk mendapatkan keputusannya. Keputusan Menteri
80
Ibid, hal. 96.
57
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia diberitahukan kepada Pemohon oleh
Direktur Jenderal HKI.81
Apabila permohonan
pendaftaran ciptaan ditolak oleh Direktorat
Jenderal HKI, pemohon dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan
Niaga dengan surat gugatan yang ditandatangani pemohon atau kuasanya agar
ciptaan yang dimohonkan pendaftarannya didaftarkan dalam daftar umum
ciptaan di Direktorat Jenderal HKI. Permohonan kepada Pengadilan Niaga
tersebut harus diajukan dalam waktu 3 bulan setelah diterimanya penolakan
pendaftaran tersebut oleh pemohon atau kuasanya.82
Apabila surat permohonan pendaftaran ciptaan telah memenuhi syaratsyarat tersebut, ciptaan yang dimohonkan pendaftarannya didaftarkan oleh
Direktorat Jenderal HKI dalam daftar umum ciptaan dengan menerbitkan
surat pendaftaran ciptaan dalam rangkap 2 (dua). Kedua lembar surat
pendaftaran ciptaan tersebut ditandatangani oleh Direktorat Jenderal HKI atau
pejabat yang ditunjuk, sebagai bukti pendaftaran, sedangkan lembar kedua
surat pendaftaran ciptaan tersebut beserta surat permohonan pendaftaran
ciptaan dikirim kepada pemohon dan lembar pertama disimpan di Kantor
Direktorat Jenderal HKI.83
Menurut Pasal 39 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak
Cipta, Daftar Umum ciptaan memuat :
81
Ibid.
Ibid.
83
Ibid.
82
58
a. Nama Pencipta dan Pemegang Hak Cipta
b. Tanggal penerimaan surat permohonan
c. Tanggal lengkapnya persyaratan
d. Nomor pendaftaran ciptaan.
Setelah dimuat dalam daftar umum ciptaan, hak cipta yang telah
didaftarkan tersebut diumumkan dalam Berita Resmi Ciptaan Ditjen HKI
yang berisikan keterangan tentang : 84
a. Nama, kewarganegaraan dan alamat Pencipta;
b. Nama, kewarganegaraan dan alamat Pemegang Hak Cipta;
c. Jenis dan judul ciptaan;
d. Tanggal dan tempat ciptaan diumumkan untuk pertama kali;
e. Uraian ciptaan;
f. Nomor Pendaftaran;
g. Tanggal Pendaftaran;
h. Pemindahan
hak,
perubahan
nama,
Perubahan
alamat,
penghapusan dan pembatalan;
i. Lain-lain yang dianggap perlu.
Seluruh rangkaian proses pendaftaran hak cipta dikenakan biaya.
Besarnya biaya tergantung pada jenis permohonan. Tarif permohonan
84
Ibid, hal. 97.
59
pendaftaran suatu ciptaan sebesar Rp. 200.000,00. Tarif Permohonan
pendaftaran suatu ciptaan berupa program komputer Rp. 300.000,00.85
8. Masa Berlaku Hak Cipta
Sesuai dengan Prinsip Hak Cipta yaitu Jangka waktu perlindungan hak
cipta bersifat terbatas. Dalam ketentuan Undang-undang Hak Cipta, Hak Cipta
mempunyai jangka waktu perlindungannya. Pada dasarnya Undang-undang
Hak Cipta mengenal tiga ketentuan jangka waktu perlindungan. Hal ini diatur
dalam Pasal 29 sampai Pasal 34 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta yaitu sebagai berikut :86
a. Jangka Waktu selama hidup pencipta ditambah 50 tahun setelah
penciptanya meninggal dunia.
Ciptaan yang memperoleh perlindungan selama life time plus 50
tahun ini adalah jenis-jenis ciptaan yang asli dan bukan karya
turunan atau derivatif. Diantaranya, buku dan semua karya tulis
lain, lagu, atau musik atau drama atau drama musikal, tari,
koreografi, lukisan dan karya seni rupa dalam segala bentuknya.
Apabila ciptaan dimiliki oleh dua orang atau lebih maka Hak Cipta
berlaku selama hidup pencipta yang meninggal paling akhir dan
berlangsung 50 tahun berikutnya.
85
Dgip.go.id, diakses di website http://www.dgip.go.id/hak-cipta/tarif-biaya-hak-cipta,
tanggal 15 Juni 2012.
86
Henry Soelistyo, Op.cit, hal.80.
60
b. Jangka waktu selama 50 tahun sejak pertama kali ciptaan
diumumkan.
Jenis-jenis ciptaan yang dilindungi selama 50 tahun ini meliputi
Program Komputer, sinematografi, fotografi, database dan
hasil
karya pengalihwujudan. Ketentuan ini juga berlaku bagi ciptaan
yang dimiliki oleh badan hukum. Demikianm pula Hak Cipta atas
perwajahan karya tulis atau typographical arrangement yang
dihitung sejak pertama kali diterbitkan. Perlindungan selama 50
tahun juga berlaku terhadap ciptaan-ciptaan yang Hak Ciptanya
dipegang oleh negara karena ciptaan tersebut tidak diketahui
penciptanya dan ciptaan itu belum diterbitkan. Demikian pula
ciptaan yang telah diterbitkan tetapi tidak diketahui penciptanya,
atau penerbitnya.
c.
Tanpa Batas Waktu.
Perlindungan abadi merupakan pengecualian dari prinsip jangka
waktu perlindungan Hak Cipta bersifat terbatas. Perlindungan
abadi ini diberikan untuk folklore atau cerita rakyat dan hasil
kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita,
hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan,
koreografi, tarian, kaligrafi, dan hasil karya seni lainnya. Hak
61
Cipta atas ciptaan-ciptaan seperti ini dipegang oleh negara.
Perlindungan secara tanpa batas waktu juga berlaku terhadap Hak
Moral sebagaimana diatur dalam Pasal 24
ayat (1) Undang-
undang Hak Cipta yaitu agar nama Pencipta tetap dicantumkan
dalam ciptaannya.
9. Pembatalan dan Penghapusan Hak Cipta
Pembatalan Hak Cipta diatur dalam Pasal 42 Undang-undang Nomor
19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang berisi ketentuan :
Dalam hal ciptaan didaftar menurut Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2) serta
Pasal 39, pihak lain menurut Pasal 2 berhak atas Hak Cipta dapat
mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Niaga.
Pengaturan gugatan pembatalan pendaftaran Hak Cipta tersebut pada
dasarnya merupakan manifestasi dari jaminan perlindungan Hak Moral.
Ciptaan yang terdaftar atas nama orang selain pencipta atau pemegang Hak
Cipta, pendaftaran itu harus dibatalkan. Caranya dengan mengajukan
gugatan Pembatalan ke Pengadilan Niaga untuk meluruskan status
kepemilikannya pada pencipta yang sebenarnya.87 Pembatalan hak cipta
kurang diatur secara jelas pada Undang-undang Hak Cipta. Undang-undang
Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta mengatur tentang upaya
pembatalan, namun tidak mengatur tentang kriteria-kriteria suatu hak cipta
87
Ibid, hal. 84.
62
dapat dibatalkan.88 Apabila dipahami makna Pasal 42 Undang-undang
Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, pihak yang dapat melakukan
Pembatalan adalah pihak lain yang namanya tidak dicantumkan di dalam
daftar ciptaan dan merasa bahwa hasil ciptaan yang didaftarkan tersebut
miliknya.
Selain Pembatalan Hak Cipta, Undang-undang Hak Cipta juga mengatur
mengenai Penghapusan Hak Cipta. Penghapusan Hak Cipta diatur dalam
Pasal 44 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
Pasal 44 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
menentukan :
Kekuatan hukum dari suatu pendaftaran Ciptaan hapus karena:
a. Penghapusan atas permohonan orang atau badan hukum yang
namanya tercatat sebagai Pencipta atau Pemegang Hak Cipta;
b. lampau waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, Pasal 30,
dan Pasal 31 dengan mengingat Pasal 32;
c. dinyatakan batal oleh putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap.
Berbeda dengan Pembatalan Hak Cipta, Penghapusan Hak Cipta diatur
dengan jelas dan terdapat kriteria-kriteria penghapusan Hak Cipta seperti
yang tercantum dalam Pasal di atas. Penghapusan Hak Cipta
dimohonkan oleh pencipta atau pemegang hak cipta.
88
Budi Agus Riswadi dan M.Syamsudin, Op.cit, hal.23.
63
dapat
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif,
yaitu pendekatan dari segi-segi hukum dan kaidah-kaidah hukum yang ada serta
berlaku dalam masyarakat, yang merupakan usaha untuk menemukan apakah
hukumnya sesuai untuk diterapkan in-concreto guna menyelesaikan suatu perkara
tertentu dan dimana peraturan itu didapat.89
B. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian yang dipakai adalah penelitian deskriptif analisis,
yaitu menggambarkan Peraturan Perundang-udangan yang berlaku dikaitkan
dengan teori-teori hukum dan praktek pelaksanaan hukum positif yang
menyangkut permasalahan di atas tanpa bermaksud mengambil kesimpulan secara
umum.90
C. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder,
yaitu meliputi bahan hukum primer terdiri dari peraturan perundang-undangan
89
Ronny Hanitijo Soemitro, 1989. Metodelogi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia
Indonesia, Jakarta, hal. 22.
90
Ibid, hal. 98.
64
dan Putusan Pengadilan, bahan hukum sekunder terdiri dari arsip atau penelitian
terdahulu yang berkaitan dengan obyek atau materi penelitian, serta bahan hukum
tersier yang terdiri dari buku-buku literatur yang berkaiitan langsung dengan
masalah yang diteliti.91
D. Metode Pengumpulan Data
Data sekunder diperoleh melalui studi dokumen atas data pokok
berupa Putusan Mahkamah Agung Nomor 768 k/pdt.sus/2010 dan studi pustaka
terhadap bahan-bahan hukum primer, sekunder dan tersier yang berkaitan dengan
masalah yang diteliti. Untuk tahap awal dilakukan inventarisasi terhadap
Peraturan Perundang-undangan, dan buku literatur yang tersedia kemudian
dicatat berdasar relevansinya dengan pokok masalah yang diteliti dan selanjutnya
dipelajari sebagai satu kesatuan yang utuh.
E. Metode Penyajian Data
Data yang diperoleh selanjutnya disajikan dalam bentuk uraian-uraian
yang dikelompokan atas dasar kualifikasi data, kemudian disusun secara
sistematis. Sistematis di sini adalah keseluruhan data sekunder yang diperoleh
dihubungkan antara yang satu dengan lainnya disesuaikan dengan pokok
permasalahan yang diteliti, sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh.
91
Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, 1994. Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan
Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 12-13.
65
F. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis secara normatif kualitatif, yaitu
pembahasan dan penjabaran data hasil penelitian yang disusun secara logis dan
sistematika berdasarkan pada norma hukum, kaidah-kaidah dan doktrin hukum
yang ada relevansinya dengan pokok permasalahan.92
92
Rony Hanitijo Soemitro, op.cit., halaman 11
66
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan terhadap putusan Mahkamah Agung Nomor: 768
K/ Pdt.Sus/2010, yang menghasilkan data-data sebagai berikut :
1. Para Pihak Dalam Perkara
1.1. Pemohon Kasasi
PT. Sinde Budi Sentosa, berkedudukan di Kp. Gede Setiameker,
Tambun Bekasi dan Budi Yuwono, bertempat tinggal di Jalan Waspada
No. 2 Jakarta Barat dalam hal ini memberi kuasa kepada Isnaini, SH dan
kawan-kawan, berkantor di Jalan Wahid Hasyim No. 14 Jakarta 10340,
selanjutnya disebut para Pemohon Kasasi dan dahulu merupakan Para
Tergugat I, II.
1.2. Termohon Kasasi
Wen Ken Drug Co Pte Ltd, suatu perseroan yang didirikan menurut
hukum Negara Singapura, yang berkedudukan di 2 Alexandra Road #0208 Delta House Building, Singapura dalam hal ini memberi kuasa kepada
Dr. Gunawan Widjaja, SH.,M.H.MM dan kawan-kawan/ Penasehat
Hukum Widjaja & Associates Law Firm, berkantor di Jalan Kapten
67
Tendean No. 1 Jakarta Selatan, selanjutnya disebut Termohon Kasasi dan
dahulu merupakan Penggugat.
2. Duduk Perkara
2.1. Penggugat yaitu Wen Ken Drug Co Pte Ltd adalah suatu perusahaan
yang didirikan di Singapura pemilik Merek dan Logo CAP KAKI TIGA;
2.2. Salah satu hasil riset dan pengembangan Penggugat adalah jenis produk
minuman larutan penyegar;
2.3. Larutan Penyegar produksi Penggugat dijual dalam kemasan yang
mempergunakan Merek CAP KAKI TIGA disertai dengan lukisan Badak;
2.4. Penggunaan lukisan badak dalam Merek CAP KAKI TIGA telah
dilakukan Penggugat sejak tahun 1937;
2.5. Bahwa
lukisan
BADAK
PENGGUGAT
secara
terus
menerus
dipergunakan oleh PENGGUGAT, sebagaimana ternyata dalam berbagai
pengumuman dalam bentuk iklan surat kabar, yaitu antara lain pada
harian;
a. Sing Chew Ji t Poh, 31 Januari 1959;
b. Sing Chew Ji t Poh, 28 Oktober 1960;
c. Sing Chew Ji t Poh, 19 Maret 1986;
d. Berita Harian, 8 Agustus 1998;
e. Berita Minggu, 20 Desember 1998;
f. Utusan Malaysia, 24 Desember 1998;
68
2.6. Bahwa pada dasarnya perlindungan terhadap Ciptaan hanya diberikan
kepada pihak yang pertama kali mengumumkan Ciptaannya kepada
masyarakat, dan dengan demikian berarti lukisan BADAK yang pertama
kali dipublikasikan oleh PENGGUGAT membawa akibat hukum (secara
otomatis) PENGGUGAT merupakan Pencipta sekaligus Pemegang Hak
Cipta atas Ciptaan berupa seni lukisan BADAK yang melekat pada
merek CAP KAKI TIGA, sebagaimana dimaksud dengan ketentuan
Pasal 2 Undang-Undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (UUHC)
yang berbunyi:
“Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang hak
cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang
timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa
mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku”
2.7. Pada tahun 1980, untuk memasuki wilayah Indonesia Penggugat
mengadakan kerjasama dengan PT. Sinde Budi Sentosa melalui Budi
Yuwono
untuk
memproduksi,
menjual,
memasarkan
dan
mendisribusikan produk minuman larutan penyegar dengan Merek dan
logo CAP KAKI TIGA;
2.8. Tergugat II yaitu Budi Yuwono mendaftarkan logo CAP KAKI TIGA
pada Kantor Hak Cipta sebagai milik bersama antara Wen Ken Drug
Co Pte Ltd, PT. Sinde Budi Sentosa dan Budi Yuwono dengan
69
Pendaftaran Hak Cipta No. 015649 pada tanggal 1 Maret 1996 tanpa
sepengetahuan Penggugat;
2.9. Pendaftaran Hak Cipta atas nama bersama tersebut menunjukkan adanya
itikad tidak baik Tergugat I dan Tergugat II dengan maksud untuk turut
serta menguasai logo CAP KAKI TIGA Ciptaan Penggugat;
2.10. Perlindungan terhadap Ciptaan hanya diberikan kepada pihak yang
pertama kali mengumumkan Ciptaannya kepada masyarakat, baik yang
diumumkan dalam bentuk penjualan dan peredaran;
2.11. Wen Ken Drug Co Pte Ltd selaku satu-satunya Pencipta dan
Pemegang Hak Cipta berupa logo CAP KAKI TIGA berdasarkan Pasal
42 UUHC diberikan hak untuk mengajukan gugatan pembatalan Hak
Cipta, yang berbunyi :
“Dalam hal Ciptaan yang didaftar menurut Pasal 37 ayat (1) dan (2)
serta Pasal 39, pihak lain menurut Pasal 2 UUHC atas Hak Cipta dapat
mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Niaga”
3. Petitum/Tuntutan
Berdasarkan atas uraian-uraian sebagaimana tersebut di atas maka Penggugat
memohon kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,
agar kiranya memberikan putusan sebagai berikut :
3.1. Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
70
3.2. Menyatakan Penggugat sebagai satu-satunya Pencipta dan atau
Pemegang Hak Cipta atas logo CAP KAKI TIGA;
3.3. Menyatakan Tergugat II telah melakukan itikad tidak baik dalam
mendaftarkan Hak Cipta logo CAP KAKI TIGA;
3.4. Membatalkan atau setidak-tidaknya menyatakan batal pendaftaran
atas nama Tergugat I dan Tergugat II dalam Daftar Hak Cipta
dengan Nomor pendaftaran 015649 ;
3.5. Mencoret nama Tergugat I dan Tergugat II dari Pendaftaran Hak
Cipta No. 015649 pada Daftar Umum Ciptaan ;
3.6. Memerintahkan DEPARTEMEN HUKUM DAN HAK ASASI
MANUSIA
RI
u.b.
DIREKTORAT
JENDERAL
HAK
KEKAYAAN INTELEKTUAL u.b. Direktorat Jenderal Hak
Kekayaan Intelektual (HKI) u.b. Direktur Hak Cipta, Desain
Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang,
beralamat di Jl. Daan Mogot Km. 24 Tangerang untuk memperbaiki
Pendaftaran Hak Cipta No. 015649 dengan cara mencoret nama
TERGUGAT I dan TERGUGAT II dari Pendaftaran Hak Cipta No.
015649 pada Daftar Umum Ciptaan;
3.7. Menghukum TERGUGAT untuk membayar biaya perkara ;
Atau
Apabila Pengadilan berpendapat lain mohon putusan yang seadIl-adilnya
(ex aequo et bono) ;
71
4. Eksepsi (Jawaban) Tergugat I/Pemohon Kasasi
4.1. PENGGUGAT
TIDAK
MEMPUNYAI
KAPASITAS
UNTUK
MENGAJUKAN GUGATAN;
4.1.1
Bahwa Penggugat tidak mempunyai kapasitas untuk mengajukan
Gugatan Pembatalan Hak Cipta yang telah terdaftar pada
Departemen Hukum dan HAM RI cq. Direktorat Jenderal HKI cq.
Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit
Terpadu dan Rahasia Dagang dengan nomor pendaftaran 015649,
karena berdasarkan ketentuan Pasal 42 jo Pasal 2 ayat (1) UndangUndang No. 19 Tahun 2002 yang dimaksud Pihak Lain adalah
Pencipta atau Pemegang Hak Cipta ; Sedangkan dalam hal ini
Tergugat I, Tergugat II maupun Penggugat adalah sama-sama
terdaftar sebagai Pencipta sekaligus Pemegang Hak Cipta atas
ciptaan yang menjadi objek gugatan dalam perkara a quo,
sehingga baik Tergugat I, Tergugat II maupun Penggugat
mempunyai kedudukan dan hak yang sama atas ciptaan tersebut,
yang mana salah satu pihak tidak dapat mengklaim sendiri,
menyangkal, maupun membatalkan kepemilikan pihak lainnya ;
4.1.2
Bahwa oleh karena Penggugat bukan satu-satunya Pencipta
maupun Pemegang Hak atas Ciptaan terdaftar dengan nomor
015649, maka jika Penggugat ingin membatalkan Hak Cipta
tersebut harus mendapat izin atau persetujuan dari para pencipta
72
lainnya yang namanya juga terdaftar sebagai Pencipta sekaligus
sebagai Pemegang Hak Cipta (yakni Tergugat I dan Tergugat II);
4.1.3
Bahwa karena Penggugat sama sekali tidak mendapat izin maupun
persetujuan dari Pencipta atau Pemegang Hak Cipta lainnya yang
namanya terdaftar sebagai Pencipta dari Objek Ciptaan tersebut,
maka Penggugat tidak mempunyai kapasitas untuk mengajukan
gugatan ini. Oleh sebab itu demi tegaknya keadilan dan kepastian
hukum, Tergugat I mohon agar Majelis Hakim menyatakan
Gugatan Penggugat Tidak Dapat Diterima (niet ontvanke lijk verk
laard / NO) ;
4.2. GUGATAN PENGGUGAT TIDAK JELAS/ KABUR (OBSCUUR
LIBEL) ;
4.2.1. Bahwa Penggugat mengakui telah menggunakan Lukisan BADAK
dan merek CAP KAKI TIGA tanpa didukung bukti maupun
penjelasan
yang
akurat,
yaitu
lukisan
Badak
yang
bagaimana/seperti apa dan siapa penciptanya. Karena dalam hal ini
Hak Cipta yang terdaftar dengan No. 015649 bukan berupa
Lukisan BADAK maupun CAP KAKI TIGA semata, melainkan
"Seni Lukis Etiket" yaitu berupa gambar sebuah etiket dengan
paduan warna merah, kuning, putih dan biru, terdiri atas kaligrafi
arab, tulisan Larutan Penyegar, gambar botol, gambar kaki tiga
dalam lingkaran, tulisan slogan, dan seni lukis/tulisan lainnya
73
dengan posisi dan komposisi tertentu, sebagai satu kesatuan karya
seni lukisan utuh sehingga tidak dapat dipenggal menjadi bagian
demi bagian ;
4.2.2. Bahwa mulai dari perihal gugatan maupun pada petitum
gugatannya, Penggugat sama sekali tidak menyebutkan dengan
jelas dan rinci mengenai objek yang digugat. Penggugat hanya
menggugat pembatalan Hak Cipta No. Pendaftaran 015649, tanpa
menjelaskan Jenis Ciptaan, Judul Ciptaan, terdaftar dimana (pada
instansi/lembaga/assosiasi apa)? Hal ini menyebabkan objek
gugatan tidak jelas / kabur ;
4.2.3. Bahwa terlebih lagi petitum gugatan Penggugat antara yang satu
dengan lainnya saling bertentangan. Hal ini terlihat dimana pada
petitum nomor 4, Penggugat menggugat untuk dibatalkannya
Pendaftaran Hak Cipta Nomor 015649, sebaliknya pada petitum
nomor 5 Penggugat menggugat agar nama Tergugat I dan Tergugat
II dihapus/dicoret dari Pendaftaran Hak Cipta tersebut. Hal ini
menjadikan gugatan Penggugat simpang siur dan tidak jelas apa
yang sebenarnya maksud Penggugat ; menggugat pembatalan
Pendaftaran Hak Cipta atau menuntut Perbaikan Sertifikat
Pendaftaran ; Sebab jika Hak Cipta daftar No. 015649 tersebut
dibatalkan maka akan menjadi batal Hak Cipta tersebut sebagai
satu kesatuan secara menyeluruh, tanpa terkecuali, termasuk semua
74
nama yang tercantum sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta.
Sedangkan jika Penggugat hanya ingin memperbaiki sertifikat
pendaftaran agar ada beberapa nama Pencipta dihilangkan,
seharusnya permohonan tersebut diajukan ke Departemen Hukum
dan HAM RI cq. Direktorat Jenderal HKI cq. Direktorat Hak
Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan
Rahasia Dagang, yang mana perubahan dapat dilaksanakan jika
memang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu ;
4.2.4. Bahwa disamping ketidakjelasan objek gugatan tersebut, yakni
Jenis Ciptaan, Judul Ciptaan, terdaftar dimana (pada instansi/
lembaga/assosiasi
apa),
Penggugat
juga
menggugat
agar
Pengadilan Niaga mencoret Pendaftaran Hak Cipta No. 015649
dari Daftar Umum Ciptaan, tanpa menjelaskan pihak mana yang
berhak mencoretnya, karena dalam hal ini Pengadilan hanya
memutuskan dan siapa yang menjadi Pelaksananya harus
disebutkan dengan jelas. Sebab, sesuai dengan ketentuan Pasal 178
(3) HIR, Hakim dilarang mengabulkan melebihi dari apa yang
dituntut ;
4.2.5. Bahwa berdasarkan uraian tersebut terbukti bahwa Gugatan
Penggugat kabur, tidak jelas serta tidak ada keterkaitan antara
subjek dan objek gugatan, bahkan bertentangan antara petitum
yang satu dengan yang lain, sehingga gugatan menjadi bias. Oleh
75
sebab itu Tergugat I mohon agar Majelis Hakim menyatakan
Gugatan Penggugat Tidak Dapat Diterima (niet ontvanke lijk verk
laard / NO) ;
5. Eksepsi (Jawaban) Tergugat II
5.1 GUGATAN PENGGUGAT TIDAK JELAS / KABUR (OBSCUUR
LIBEL)
5.1.1 Bahwa Penggugat mengakui telah menggunakan Lukisan BADAK
dan merek CAP KAKI TIGA tanpa didukung bukti maupun
penjelasan yang akurat, yaitu lukisan badak yang bagaimana/
seperti apa dan siapa penciptanya karena dalam hal ini Hak Cipta
yang terdaftar dengan No. 015649 bukan berupa Lukisan BADAK
maupun CAP KAKI TIGA semata, melainkan "Seni Lukis Etiket"
yaitu berupa gambar sebuah etiket dengan paduan warna merah,
kuning, putih dan biru, terdiri atas kaligrafi arab, tulisan Larutan
Penyegar, gambar botol, gambar kaki tiga dalam lingkaran, tulisan
slogan, dan seni lukis/tulisan lainnya dengan posisi dan komposisi
tertentu, sebagai satu kesatuan karya seni lukis yang utuh sehingga
tidak dapat dipenggal menjadi bagian demi bagian ;
5.1.2 Bahwa mulai dari perihal gugatan maupun pada petitum
gugatannya, Penggugat sama sekali tidak menyebutkan dengan
jelas dan rinci mengenai objek yang digugat. Penggugat hanya
76
meggugat pembatalan Hak Cipta No. Pendaftaran 015649, tanpa
menjelaskan Jenis Ciptaan, Judul Ciptaan, terdaftar dimana (pada
instansi/lembaga/assosiasi apa)? Hal ini menyebabkan objek
gugatan tidak jelas / kabur ;
5.1.3 Bahwa terlebih lagi petitum gugatan Penggugat antara yang satu
dengan lainnya saling bertentangan. Hal ini terlihat dimana pada
petitum nomor 4, Penggugat menggugat untuk dibatalkannya
Pendaftaran Hak Cipta Nomor 015649, sebaliknya pada petitum
nomor 5 Penggugat menggugat agar nama Tegugat I dan Tergugat
II dihapus/dicoret dari Pendaftaran Hak Cipta tersebut. Hal ini
menjadikan gugatan Pegggugat simpang siur dan tidak jelas apa
yang sebenarnya maksud Penggugat ; menggugat pembatalan
Pendaftaran Hak Cipta atau menuntut Perbaikan Sertifkat
Pendaftaran ;
Sebab jika Hak Cipta daftar No. 015649 tersebut dibatalkan maka
akan menjadi batal Hak Cipta tersebut sebagai satu kesatuan
secara menyeluruh, tanpa terkecuali, termasuk semua nama yang
tercantum sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta ; Sedangkan
jika Penggugat hanya ingin memperbaiki Sertifikat pendaftaran
agar ada beberapa nama Pencipta dihilangkan, seharusnya
permohonan tersebut diajukan ke Departemen Hukum dan HAM
RI cq. Direktorat Jenderal HKI cq. Direktorat Hak Cipta, Desain
77
Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang,
yang mana perubahan dapat dilaksanakan jika memang memenuhi
persyaratan-persyaratan tertentu ;
5.1.4 Bahwa disamping ketidakjelasan objek gugatan tersebut, yakni
Jenis
Ciptaan,
Judul
Ciptaan,
terdaftar
dimana
(pada
instansi/lembaga/ assosiasi apa), Penggugat juga menggugat agar
Pengadilan Niaga mencoret Pendaftaran Hak Cipta No. 015649
dari Daftar Umum Ciptaan, tanpa menjelaskan Pihak mana yang
berhak mencoretnya, karena dalam hal ini Pengadilan hanya
memutuskan dan siapa yang menjadi Pelaksananya harus disebut
kan dengan jelas. Sebab, sesuai dengan ketentuan Pasal 178 (3)
HIR, Hakim dilarang mengabulkan melebihi dari apa yang
dituntut ;
5.1.5 Bahwa berdasarkan uraian tersebut terbukti bahwa Gugatan
Penggugat kabur, tidak jelas serta tidak ada keterkaitan antara
subjek dan objek gugatan, bahkan bertentangan antara petitum
yang satu dengan yang lain, sehingga gugatan menjadi bias. Oleh
sebab itu Tergugat II mohon agar Majelis Hakim menyatakan
Gugatan Penggugat Tidak Dapat Diterima (niet ontvankelijk verk
laard / NO) ;
78
5.2 PENGGUGAT
TIDAK
MEMPUNYAI
KAPASITAS
UNTUK
MENGAJUKAN GUGATAN
5.2.1 Bahwa Penggugat tidak mempunyai kapasitas untuk mengajukan
Gugatan Pembatalan Hak Cipta yang telah terdaftar pada
Departemen Hukum dan HAM RI cq. Direktorat Jenderal HKI cq.
Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit
Terpadu dan Rahasia Dagang dengan nomor pendaftaran 015649,
karena berdasarkan ketentuan Pasal 42 jo Pasal 2 ayat (1) UndangUndang No. 19 Tahun 2002 yang dimaksud Pihak Lain adalah
Pencipta atau Pemegang Hak Cipta ; Sedangkan dalam hal ini
Tergugat I, Tergugat II maupun Penggugat adalah sama-sama
terdaftar sebagai Pencipta sekaligus Pemegang Hak Cipta atas
Ciptaan yang menjadi objek gugatan dalam perkara a quo.
Sehingga baik Tergugat I, Tergugat II maupun Penggugat
mempunyai kedudukan dan hak yang sama atas Ciptaan tersebut,
yang mana salah satu pihak tidak dapat mengklaim sendiri,
menyangkal, maupun membatalkan kepemilikan pihak lainnya ;
5.2.2 Bahwa oleh karena Penggugat bukan satu-satunya Pencipta
maupun Pemegang Hak atas Ciptaan terdaftar dengan nomor
015649, maka jika Penggugat ingin membatalkan Hak Cipta
tersebut harus mendapat izin atau persetujuan dari Para Pencipta
79
lainnya yang namanya juga terdaftar sebagai Pencipta sekaligus
sebagai Pemegang Hak Cipta (yakni Tergugat I dan Tergugat II) ;
5.2.3 Bahwa karena Penggugat sama sekali tidak mendapat izin maupun
persetujuan dari Pencipta atau Pemegang Hak Cipta lainnya yang
namanya terdaftar sebagai Pencipta dari Objek Ciptaan tersebut,
maka Penggugat tidak mempunyai kapasitas untuk mengajukan
gugatan ini. Oleh sebab itu demi tegaknya keadilan dan kepastian
hukum, Tergugat II mohon agar Majelis Hakim menyatakan
Gugatan Penggugat Tidak Dapat Diterima (niet ontvankelijk
verklaard / NO);
6. Amar Putusan Pengadilan Tingkat Pertama
(Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Nomor : 31/Hak Cipta /2010 /PN.Niaga. Jkt.Pst)
DALAM EKSEPSI :
- Menyatakan eksepsi Tergugat I dan Tergugat II tidak dapat diterima ;
DALAM POKOK PERKARA :
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya ;
2. Menyatakan Penggugat sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta atas
logo CAP KAKI TIGA ;
3. Menyatakan Tergugat II telah melakukan itikad tidak baik dalam
mendaftarkan Hak Cipta logo CAP KAKI TIGA ;
80
4. Membatalkan pendaftaran atas nama Tergugat I dan Tergugat II dalam
Daftar Hak Cipta dengan nomor Pendaftaran 015649 ;
5. Memerintahkan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI u.b.
Direktrat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, u.b. Direktur Hak Cipta,
Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang,
beralamat di Jalan Daan Mogot Km. 24 Tangerang untuk memperbaiki
Pendaftaran Hak Cipta No. 015649 pada Daftar Umum Ciptaan ;
6. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp
641.000, - (enam ratus empat puluh satu ribu rupiah) ;
7. Alasan Pengajuan Kasasi
7.1. Dalam Eksepsi
Judex Facti salah dalam menerapkan hukum
Termohon Kasasi / dahulu Penggugat tidak berkapasitas untuk
mengajukan gugatan ;
7.1.1
Bahwa Pemohon Kasasi sangat keberatan terhadap Putusan
Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat daIam Perkara No.
31/Hak Cipta/2010/PN.Niaga.Jkt.Pst dan menolak dengan tegas
putusan tersebut karena Judex Facti salah atau keliru dalam
menerapkan hukum dan bertentangan dengan hukum yang berlaku
sehingga tidak memenuhi rasa keadilan ;
81
7.1.2
Bahwa keberatan Pemohon Kasasi sangatlah beralasan, karena
setelah membaca secara seksama, dan setelah mempelajari isi
putusan, Pemohon Kasasi / dahulu Tergugat yakin bahwa Judex
facti Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah melanggar hukum yang
berlaku
karena
membenarkan
pemikiran
dan
dalil
yang
dikemukakan oleh Termohon Kasasi /dahulu Penggugat dengan
mempertimbangkan hukum yang keliru ;
7.1.3
Bahwa dalam hal ini Judex facti telah salah dalam pertimbangan
hukum karena tanpa mempertimbangkan eksepsi Tergugat I dan
Tergugat II dan langsung menolak eksepsi Tergugat I dan
Tergugat II dengan alasan eksepsi tersebut merupakan materi dan
langsung masuk pokok perkara padahal Penggugat mengakui telah
menggunakan lukisan Badak dan Cap Kaki Tiga tanpa di dukung
bukti maupun penjelasan yang akurat, karena dalam hal ini SENI
LUKlS ETIKET merupakan hasil ciptaan Pemohon Kasasi /
dahulu Tergugat II bersama Tergugat I yang orisinil (asli) yang
mana telah jelas di dalam undang undang No. 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta dimana mengenai Orisinil (keaslian) di sini
adalah sesuatu yang berasal dari sumber asal orang yang membuat
atau yang menciptakan atau sesuatu yang langsung di temukan
oleh orang yang dapat membuktikan sumber asalnya ;
82
7.1.4
Bahwa oleh karena Penggugat / Termohon Kasasi tidak cukup
bukti untuk dinyatakan sebagai Pencipta maupun Pemegang Hak
Cipta maka secara hukum tidak berkualitas untuk mengajukan
gugatan pembatalan Hak Cipta dalam sengketa sekarang ini.
Sebab, berdasarkan ketentuan Pasal 42 jo Pasal 2 ayat (1)
Undang- Undang No. 19 Tahun 2002 yang dimaksud Pihak Lain
adalah Pencipta atau Pemegang Hak Cipta. Dengan demikian
sudah sepatutnya Gugatan Penggugat tidak dapat diterima (niet
ontvanke lijk verk laard / NO);
7.2
DALAM POKOK PERKARA
7.2.1
Bahwa Judex facti telah salah di dalam pertimbangan hukum
maupun penerapan hukum Hak Cipta terlihat dimana hal yang
mengenai
pendaftran
dipertimbangkan,
mempertimbangkan
dalam
azas
Hak
hal
atau
Cipta
ini
sama
seharusnya
prinsip
dasar
sekali
Judex
tidak
facti
sebagaimana
disebutkan di dalam penjelasan umum Undang-undang No :
19/2002 tentang Hak Cipta yaitu :
"Perlindungan Hak cipta tidak diberikan kepada ide atau gagasan
karena karya cipta harus memiliki bentuk yang khas, bersifat
pribadi dan menunjukkan keaslian/orisinil sebagai ciptaan atau
keahlian yang lahir berdasarkan kemampuan, kreatifitas, atau
keahlian sehingga ciptaan itu dapat dilihat, dibaca dan didengar”
83
7.2.2
Bahwa dengan dipenuhinya azas orisinil (keaslian) dari ciptaan
Pemohon Kasasi / dahulu Tergugat I berupa seni lukis dengan
judul "SENI LUKIS ETIKET LARUTAN PENYEGAR CAP
KAKI TIGA", maka diterimanya pendaftaran ciptaan milik
pemohon kasasi berturut-turut dengan No. 015649
tersebut,
adalah sudah tepat dan sesuai memenuhi persyaratan / ketentuan
hukum yang berlaku, khususnya Undang-Undang no. 19 tahun
2002 tentang Hak Cipta ;
7.2.3
Bahwa ternyata Judex Facti telah salah dalam menafsirkan azas
orisinil / keaslian dari suatu ciptaan yang jelas-jelas merupakan
persyaratan mutlak dalam pendaftaran Hak Cipta, prinsip dasar
dalam pendaftaran Hak Cipta adalah orisinil atau tidaknya suatu
ciptaan yang diajukan pendaftarannya maka Pemohon Kasasi /
dahulu Tergugat I telah dapat membuktikan bahwa ciptaannya
benar-benar asli (orisinil), dan sudah sepatutnya serta sewajarnya
ciptaan Pemohon Kasasi tersebut mendapat perlindungan hukum
di Indonesia ;
7.2.4
Bahwa
dengan
demikian
dalil
Termohon
Kasasi/dahulu
Penggugat yang mengaku sebagai pihak yang pertama kali
mengumumkan ( to make publik ) logo CAP KAKl TIGA tidak
dapat dianggap dialah yang menciptakan logo tersebut, dengan
kata lain orang yang mengumumkan belum tentu yang
84
menciptakan dan tidak dapat dianggap sebagai yang menciptakan.
Dalam hal ini dan dalam banyak kasus dapat saja seseorang
mengumumkan, menggunakan, menyebarluaskan suatu karya
cipta orang lain sebelum si Pencipta mendaftarkan ciptaannya
tersebut, atau bahkan ciptaan tersebut tidak di daftarkan oleh
Penciptanya. Dengan demikian Termohon Kasasi l dahulu
Penggugat adalah tidak benar sebagai Pencipta atau Pemegang
Hak Cipta dari objek yang jadi sengketa dalam parkara a quo yang
berupa "SENI LUKIS ETIKET"
Pertimbangan hukum semacam itu jelas suatu penerapan hukum
yang salah, karena orang/pihak yang menggunakan atau
mengumumkan saja suatu ciptaan tidak dapat dianggap sebagai
Pencipta.
8. Pertimbangan Hukum Mahkamah Agung
8.1. Bahwa Termohon Kasasi tidak mempunyai bukti sebagai Pemegang Hak
Cipta dari Negara Singapura dan atau Negara lain atas hak cipta logo
“Cap Kaki Tiga” ;
8.2. Termohon Kasasi tidak dapat membuktikan sebagai pencipta logo “Cap
Kaki Tiga”, hal mana sesuai dengan Pasal 5 UU No. 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta, Pasal a dan b, Termohon Kasasi bukan sebagai
Pencipta;
85
8.3. Bahwa Judex Facti salah dalam menerapkan hukum, membatalkan
pendaftaran Hak Cipta atas merek Cap Kaki Tiga sebagaimana tersebut
dalam daftar No. 15649 tanggal 1 Maret 1996 ;
a. Baik Penggugat maupun Tergugat I dan II berdasarkan daftar tersebut
adalah sebagai pencipta dan pemegang Hak Cipta atas seni lukis etiket
Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga sehingga tidak ada alasan yang dapat
dibenarkan bahwa Penggugat mengajukan gugatan terhadap Tergugat I
dan II untuk pembatalan;
b. Bahwa pendaftaran yang dilakukan dari Tergugat adalah sebagai
tindak lanjut dari kesepakatan tanggal 8 Februari 1978 antara
Penggugat dan Tergugat yang pada pokoknya Tergugat harus
mengatur daftar merek dagang dan hak ciptanya, sehingga tidak ada
alasan untuk menyebut perbuatan Tergugat sebagai perbuatan yang
tidak beritikad baik ;
c. Bahwa Penggugat dalam perkara a quo tidak mengajukan data bukti
formil sebagai pencipta dan pemegang Hak Cipta dari merek Kaki
Tiga, selama dari pendaftaran yang dilakukan bersama dengan
Tergugat telah menunjukkan bahwa Kaki Tiga sudah banyak
digunakan dalam berbagai hal ;
d. Bahwa pendaftaran Hak Cipta No. 015649 dilakukan pada tanggal 1
Maret 1996 dan telah diketahui oleh Penggugat karena Tergugat selalu
86
mengurus Produk yang ada pada Penggugat sehingga gugatan sudah
lewat waktu karena telah berlalu selang 14 tahun ;
e. Dengan alasan tersebut Penggugat tidak berkualitas untuk mengajukan
gugatan pembatalan pendaftaran yang telah dilakukan secara resmi
secara hukum yang berlaku di Indonesia ;
9. Diktum Putusan Mahkamah Agung
MENGADILI
1. Mengabulkan Permohonan Kasasi dari Pemohon Kasasi I : PT.
SINDE BUDI SENTOSA, dan Pemohon Kasasi II : BUDI
YUWONO;
2. Membatalkan Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat Nomor : 31/Hak Cipta /2010 /PN.Niaga. Jkt.Pst ;
MENGADILI SENDIRI
DALAM EKSEPSI
Menolak eksepsi para Tergugat ;
DALAM POKOK PERKARA
1. Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima
2.
Menghukum
Penggugat
untuk
Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah)
87
membayar
perkara
sebesar
B. Pembahasan
Karya cipta merupakan hasil karya dari seseorang atau beberapa orang
yang dilindungi oleh Undang-undang Hak Cipta. Menurut Endang Purwaningsih,
ciptaan atau hasil karya adalah ciptaan atau hasil karya Pencipta dalam segala
bentuk yang menunjukan keasliannya dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan
sastra.93 Karya Cipta yang dilindungi secara tegas diatur dalam Pasal 12 Undangundang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
Menurut Pasal 12 Undang-Undang Hak Cipta, ciptaan yang dilindungi
adalah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang
mencakup :
a. Buku, program komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis
yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain
b. Ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu
c. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu
pengetahuan
d. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks
e. Drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan
pantomime
f. Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir,
seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan
g. Arsitektur
93
Endang Purwaningsih, Op.cit. hal. 2.
88
h. Peta
i. Seni batik
j. Fotografi
k. Sinematografi
l. Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain
dari hasil pengalihwujudan.
Undang-Undang Hak Cipta memberikan pengertian dan penjelasan dari
berbagai jenis ciptaan yang telah disebutkan di atas, diantaranya sebagai berikut :
a. Susunan perwajahan karya tulis atau typhographical arrangement,
yaitu aspek seni dan estetika pada susunan dan bentuk penulisan karya
tulis. Hal ini antara lain mencakup format, hiasan, warna, dan susunan
atau letak huruf yang secara keseluruhan menampilkan wujud yang
khas.
b. Ciptaan lain yang sejenis, yaitu ciptaan-ciptaan yang belum
disebutkan, tetapi dapat disamakan dengan ciptaan, seperti ceramah,
kuliah, dan pidato.
c. Alat peraga adalah ciptaan yang berbentuk dua atau pun tiga dimensi
yang berkaitan dengan geografis, topografi, arsitektur, biologi, atau
ilmu pengetahuan lain.
89
d.
Lagu atau musik diartikan sebagai karya yang bersifat utuh, sekali
pun terdiri atas unsur lagu atau melodi; syair atau lirik, dan
aransemennya, termasuk notasi.
e. Gambar, antara lain meliputi: motif, diagram, sketsa, logo, dan bentuk
huruf indah, di mana gambar tersebut dibuat bukan untuk tujuan
desain industri. Kolase diartikan sebagai komposisi artistik yang
dibuat dari berbagai bahan (misalnya dari kain, kertas, dan kayu) yang
ditempelkan pada permukaan gambar.
f. Arsitektur, antara lain meliputi: seni gambar bangunan, seni gambar
miniatur, dan seni gambar maket bangunan.
g.
Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan/atau buatan
manusia yang berada di atas atau pun di bawah permukaan bumi yang
digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala tertentu.
h. Batik yang dibuat secara konvensional dilindungi dalam undangundang ini sebagai bentuk ciptaan tersendiri. Karya-karya tersebut
memperoleh perlindungan karena mempunyai nilai seni, baik pada
ciptaan motif, gambar, maupun komposisi warnanya. Pengertian seni
batik juga diterapkan pada karya tradisional lainnya yang merupakan
kekayaan bangsa Indonesia yang terdapat di berbagai daerah, seperti
seni songket, ikat, dan lain-lain yang dewasa ini terus dikembangkan.
i. Karya sinematografi, yaitu ciptaan yang merupakan media komunikasi
massa gambar bergerak (moving images), antara lain film dokumenter,
90
film iklan, reportase atau film cerita yang dibuat dengan scenario, dan
film kartun. Karya ini dibuat dalam pita seluloid, pita video, piringan
video, cakram optic, dan/atau media lain yang memungkinkan untuk
dipertunjukkan di bioskop, di layar lebar, ditayangkan di televise, atau
media lainnya.
j. Bunga Rampai, meliputi ciptaan dalam bentuk buku yang berisi
kumpulan berbagai karya tulis pilihan; himpunan lagu-lagu pilihan
yang direkam dalam satu kaset, cakram optic, atau media lainnya, serta
komposisi dari berbagai karya tari pilihan.
k. Database diartikan sebagai kompilasi data dalam bentuk apa pun yang
dapat dibaca oleh mesin (komputer) atau dalam bentuk lain, di mana
karena alasan pemilihan atau pengaturan atas isi data itu merupakan
kreasi intelektual. Perlindungan terhadap database diberikan dengan
tidak mengurangi hak pencipta lain yang ciptaannya dimasukkan
dalam database tersebut.
l. Pengalihwujudan adalah pengubahan bentuk, misalnya dari bentuk
patung menjadi lukisan, cerita roman menjadi drama, atau film dan
lain-lain.
Menurut Saidin, Hak Cipta semula terkandung di alam pikiran, di alam
ide, namun untuk dapat dilindungi harus ada wujud nyata dari alam ide
91
tersebut.94 Misalnya, untuk karya seni harus sudah menjelma dalam bentuk
lukisan, penggalan irama lagu atau musik.
Berdasarkan hasil penelitian Nomor 4.2.1, 5.1.1, 7.1.3, 7.2.4 tentang Seni
Lukis Etiket Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga apabila dihubungkan dengan Pasal
12 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, pendapat Endang
Purwaningsih, dan pendapat Saidin maka dapat dideskripsikan bahwa Seni Lukis
Etiket Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga merupakan Karya Cipta dan dilindungi
oleh Undang-undang Hak Cipta karena seni lukis etiket tersebut tergolong ke
dalam seni yang berupa seni rupa. Seni lukis etiket tersebut juga sudah bukan
merupakan ide dan sudah menjadi wujud nyata sehingga dapat dikategorikan
sebagai karya cipta.
Seseorang atau beberapa orang yang menciptakan karya cipta disebut
sebagai Pencipta. Menurut Pasal 1 angka 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun
2002 tentang Hak Cipta, pencipta adalah seseorang atau beberapa orang secara
bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu ciptaan berdasarkan
kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang
dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.
Menurut Yusran Isnaini, Hak Cipta dari suatu karya cipta dapat dimiliki
oleh lebih dari satu orang karena seseorang dapat bekerja sama dengan orang lain
dalam menghasilkan suatu karya cipta.95
94
Saidin, Op.cit, hal. 59.
Yusran Isnaini, Op.cit. hal. 14.
95
92
Menurut Tomi Suryo Utomo, untuk dapat disebut sebagai pencipta
seseorang
harus mempunyai kemampuan dan skill yang memungkinkan
seseorang atau beberapa orang dianggap sebagai pencipta.96
Menurut Adrian Sutedi, Pendaftaran Hak Cipta bukanlah untuk
memperoleh perlindungan Hak Cipta. Artinya seorang pencipta yang tidak
mendaftarkan Hak Cipta atas karya ciptanya juga mendapatkan perlindungan
asalkan ia benar-benar sebagai Pencipta suatu ciptaan tertentu.97 Perlindungan
Hukum hak cipta dikenal dengan sistem deklaratif, yaitu negara melindungi
ciptaan secara otomatis setelah terlahir suatu ciptaan tanpa harus didahului
dengan pendaftaran.
Menurut Adrian Sutedi, meskipun Hak Cipta tidak memerlukan
Pendaftaran dan bersifat otomatis, namun demikian dianjurkan kepada Pencipta
maupun Pemegang Hak Cipta untuk mendaftarakan ciptaannya, karena Surat
Pendaftaran Ciptaan tersebut dapat dijadikan sebagai bukti awal di Pengadilan
apabila timbul sengketa di kemudian hari terhadap ciptaannya itu.98
Pemegang hak cipta tidak selalu menjadi Pencipta. Pemegang hak cipta
adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta, pihak lain yang menerima hak cipta
dari pencipta atau pihak lain yang menerima lebih lanjut dari pihak tersebut.
96
Tomi Suryo Utomo, Loc.cit.
Adrian Sutedi. Loc.cit.
98
Ibid.
97
93
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta mengatur
mengenai siapa yang dapat disebut Pencipta Pada Pasal 5 sampai dengan Pasal 9.
Pada prinsipnya, pencipta adalah sebagai berikut :
a. Orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan pada
Direktorat Jenderal atau orang yang namanya disebut dalam ciptaan
atau diumumkan sebagai pencipta pada suatu ciptaan.
b. Kecuali terbukti sebaliknya, pada ceramah yang tidak menggunakan
bahan tertulis dan tidak ada pemberitahuan siapa penciptanya, orang
yang berceramah dianggap sebagai pencipta ceramah tersebut
c. Jika suatu ciptaan terdiri atas beberapa bagian tersendiri yang
diciptakan oleh dua orang atau lebih, yang dianggap sebagai pencipta
ialah orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian seluruh
ciptaan itu, atau dalam hal tidak ada orang tersebut, yang dianggap
sebagai pencipta adalah orang yang menghimpunnya dengan tidak
mengurangi hak cipta masing-masing atas bagian ciptaannya itu.
d. Jika suatu ciptaan yang dirancang seseorang, kemudian diwujudkan
dan dikerjakan oleh orang lain di bawah pimpinan dan pengawasan
orang yang merancang, maka penciptanya adalah orang yang
merancang ciptaannya tersebut.
e. Jika suatu ciptaan dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain
dalam lingkungan pekerjaannya, pemegang hak cipta adalah pihak
yang untuk dan dalam dinasnya ciptaan itu dikerjakan, kecuali ada
94
perjanjian lain antara kedua pihak dengan tidak mengurangi hak
pencipta apabila penggunaan ciptaan itu diperluas sampai ke luar
hubungan dinas lain berdasarkan pesanan yang dilakukan dalam
hubungan dinas.
f. Jika suatu ciptaan dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan
pesanan, pihak yang membuat karya cipta itu dianggap sebagai
pencipta dan pemegang hak cipta, kecuali apabila diperjanjikan lain
antara kedua pihak.
g. Jika suatu badan hukum mengumumkan bahwa ciptaan berasal dari
padanya dengan tidak menyebut seseorang sebagai penciptanya, badan
hukum tersebut dianggap sebagai penciptanya, kecuali jika terbukti
sebaliknya.
Hak-hak yang dimiliki oleh pencipta dan pemegang hak cipta secara
umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu :99
1. Hak Ekonomi (Economic Rights)
Hak Ekonomi adalah hak yang dimiliki oleh pencipta atau pemegang
hak cipta untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari ciptaannya yang
terdiri dari hak untuk :
a. Memproduksi karya dalam segala bentuk
b. Mengedarkan perbanyakan karya kepada publik
c. Menyewakan perbanyakan karya
99
Tomi Suryo Utomo, Op.cit, hal.88.
95
d. Membuat terjemahan atau adaptasi
e. Mengumumkan karya kepada publik.
2. Hak Moral (Moral Rights)
Hak moral adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku
yang tidak dapat dihilangkan atau dihapus tanpa alasan apapun,
walaupun hak cipta ataupun hak terkait telah dialihkan. Ada dua jenis
hak moral, yaitu :
a. Hak untuk diakui sebagai pencipta (authorship rights atau
paternity right)
Jika karya dari seorang pencipta diperbanyak, diumumkan atau
dipamerkan dihadapan publik, nama pencipta harus tercantum
pada karya tersebut.
b. Hak keutuhan karya (the right to protect the integrity of the work)
Hak Keutuhan karya ini akan mencegah tindakan perubahan
terhadap ciptaan yang berpotensi merusak reputasi dan kehormatan
pencipta. Perubahan tersebut dapat berupa : pemutarbalikan,
pemotongan, perusakan, dan penggantian yang berhubungan
dengan karya cipta.
Menurut Henry Soelistyo, penentuan mengenai siapa yang dimaksud
sebagai pencipta lebih dirujukkan pada pedoman yang tertulis secara formal.
Apabila terjadi sengketa mengenai kepemilikan Hak Cipta, maka yang pertama-
96
tama digunakan sebagai rujukan adalah orang yang namanya terdaftar dalam
Daftar Umum Ciptaan.100
Pasal 5 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta berisi
ketentuan:
i. Kecuali terbukti sebaliknya, yang dianggap sebagai Pencipta adalah:
a. Orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan pada
Direktorat Jenderal ; atau
b. Orang yang namanya disebut dalam Ciptaan atau diumumkan
sebagai Pencipta pada Suatu Ciptaan.
ii. Kecuali terbukti sebaliknya, pada ceramah yang tidak menggunakan
bahan tertulis dan tidak ada pemberitahuan siapa Penciptanya,
orang
yang berceramah dianggap sebagai Pencipta ceramah
tersebut.
Berdasarkan Hasil penelitian 2.8, 3.4, 3.6, 4.1.2, dan 5.2.2 tentang
Pencipta maupun Pemegang Hak atas Ciptaan Seni Lukis Etiket Larutan
Penyegar Cap Kaki Tiga, apabila dihubungkan dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan pendapat Henry
Soelistyo maka dapat dideskripsikan bahwa Wen Ken Drug Co Pte Ltd, PT.
Sinde Budi Sentosa, dan Budi Yuwono disebut sebagai Pencipta atas Seni Lukis
Etiket Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga yang terdaftar dalam Daftar Umum
100
Henry Soelistyo, Op.cit¸ hal. 65.
97
Ciptaan dari Pendaftaran Hak Cipta Nomor 15649 tanggal 1 Maret 1996 karena
nama mereka terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan.
Pencipta yang telah menciptakan suatu karya cipta yang telah berwujud
maka Pencipta tersebut mempunyai Hak Cipta dari karya cipta tersebut.
Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang
Hak Cipta, Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak
untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin
untuk itu
dengan tidak mengurangi batasan-batasan menurut perundang-
undangan.
Menurut Saidin, Eksklusif bersifat khusus, spesifik, unik. Keunikannya
sesuai dengan sifat dan cara melahirkan hak tersebut.101 Tidak semua orang dapat
menjadi seorang peneliti, komponis, atau sastrawan. Hanya orang-orang tertentu
yang diberikan kecerdasan intelektual yang dapat berkreasi untuk menghasilkan
karya cipta.102
Menurut Sudaryat, Hak Eksklusif adalah hak yang hanya dimiliki oleh
pemilik HKI dan tidak seorangpun berhak menikmatinya tanpa izin
pemiliknya.103
Menurut Yusran Isnaini, Pencipta diberikan Hak khusus ini didasarkan
pada adanya kemampuan pencipta untuk menghasilkan keaslian kreativitas
101
Sidin, Op.cit, hal. 59.
Ibid.
103
Sudaryat, dkk, Op.cit, hal.18.
102
98
sebagai individu.104 Bentuk khas yang dimaksud adalah perwujudan ide dan
pikiran pencipta ke dalam bentuk karya materi yang dapat dilihat, didengar,
diraba, dan dibaca oleh orang lain.105
Hak Cipta sebagai Hak Kebendaan. Prof. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan
memberikan rumusan tentang hak kebendaan yakni :”hak mutlak atas suatu
benda dimana hak itu memberikan kekuasaan langsung atas suatu benda dan
dapat dipertahankan terhadap siapapun juga”.106
Ciri pokok Hak Kebendaan yaitu :107
a. Merupakan hak yang mutlak, dapat dipertahankan terhadap
siapapun juga
b. Mempunyai zaakgevilog atau droit de suite (hak yang mengikuti).
Artinya hak itu terus mengikuti bendanya di mana pun juga dan
dalam tangan siapapun benda itu berada. Hak ini terus mengikuti
orang yang mempunyainya
c. Sistem yang dianut dalam hak kebendaan di mana terhadap yang
lebih dahulu terjadi mempunyai kedudukan dan tingkat yang lebih
tinggi daripada yang terjadi kemudian.
d. Mempunyai sifat droit de preference (hak yang didahulukan)
e. Adanya yang dinamakan gugat kebendaan.
104
Yusran Isnaini,Op.cit, hal. 2
Ibid.
106
Saidin, Op.cit, hal. 49.
107
Ibid.
105
99
f. Kemungkinan untuk dapat memindahkan hak kebendaan itu dapat
secara sepenuhnya dilakukan.
Jika kita kaitkan dengan Hak Cipta maka dapatlah dikatakan bahwa Hak
Cipta itu sebagai hak kebendaan. Pandangan ini dapat disimpulkan dalam
rumusan Pasal 1 Undang-undang Hak Cipta Indonesia yang menyatakan bahwa
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk
mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu
dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku.108 Hal ini menunjukan bahwa hak cipta itu hanya dapat
dimiliki oleh si pencipta atau si penerima hak. Hanya namanya yang disebut
sebagai Pencipta atau Pemegang Hak Cipta yang boleh menggunakan hak cipta
dan ia dilindungi dalam penggunaan haknya terhadap subjek lain yang
mengganggu atau menggunakannya tidak dengan cara yang diperkenankan oleh
aturan hukum.109
Pasal 499 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata memberikan batasan
tentang rumusan benda, menurut pasal tersebut, benda adalah tiap-tiap barang
dan tiap-tiap hak yang dapat dikuasai hak milik. Hak cipta termasuk dalam benda
sehingga dapat menguasai hak ciptanya sebagai hak milik. Hak Cipta merupakan
108
109
Ibid, hal. 50.
Ibid.
100
Hak Kekayaan yang termasuk dalam cakupan benda tidak berwujud (benda tidak
bertubuh).
Hak milik immaterial termasuk ke dalam hak yang disebut pasal 499
KUH Perdata. Oleh sebab itu, hak milik immaterial itu sendiri dapat menjadi
objek dari sesuatu hak benda.110 Hak benda adalah hak absolut atas sesuatu
benda, tetapi ada hak absolut yang objeknya bukan benda berwujud (barang).
Itulah yang disebut dengan nama hak milik intelektual (intellectual property
rights).111
Berdasarkan Hasil penelitian 2.8, 3.4, 3.6, 4.1.2, dan 5.2.2 tentang
pendaftaran ciptaan atas nama Wen Ken Drug Co Pte Ltd, PT. Sinde Budi
Sentosa, dan Budi Yuwono yang terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan dari
Pendaftaran Hak Cipta Nomor 15649 tanggal 1 Maret 1996, apabila dihubungkan
dengan ketentuan Pasal 5 ayat (1) huruf a dan Pendapat Henry Soelistyo maka
dapat dideskripsikan bahwa Wen Ken Drug Co Pte Ltd, PT. Sinde Budi Sentosa,
dan Budi Yuwono adalah Pencipta dan sebagai pemilik hak cipta atas Seni Lukis
Etiket Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga sehingga mendapatkan perlindungan
hukum atas karya ciptanya dan mempunyai hak eksklusif terhadap karya
ciptanya tersebut. Hak Cipta tersebut merupakan hak kebendaan yang
mempunyai sifat khusus dan hanya dapat dimiliki oleh si pencipta atau si
penerima hak. Hanya namanya yang disebut sebagai Pemilik atau pemegang hak
110
111
Ibid, hal. 53.
Ibid.
101
cipta yang boleh menggunakan hak cipta dan ia dilindungi dalam penggunaan
haknya terhadap subjek lain yang mengganggu atau menggunakannya tidak
dengan cara yang diperkenankan oleh aturan hukum.
Undang-undang Hak Cipta mengatur mengenai Pembatalan dan
Penghapusan Hak Cipta. Pembatalan Hak Cipta diatur dalam Pasal 42 Undangundang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang berisi ketentuan :
Dalam hal ciptaan didaftar menurut Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2) serta
Pasal 39, pihak lain yang menurut Pasal 2 berhak atas Hak Cipta dapat
mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Niaga.
Pasal 2 Undang-Undang Hak Cipta, menentukan:
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang
Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya,
yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa
mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
2. Pencipta atau Pemegang Hak Cipta atas karya sinematografi dan
Program Komputer memiliki hak untuk memberikan izin atau
melarang orang lain yang tanpa persetujuannya menyewakan
Ciptaan tersebut untuk kepentingan yang bersifat komersial.
Menurut Pasal 42 Undang-undang Hak Cipta, “…pihak lain yang
menurut Pasal 2 berhak atas Hak Cipta…”. Berdasarkan kata “berhak atas hak
102
cipta” merupakan arti dari pihak lain yang dimaksud dalam Pasal ini yaitu orang
yang sebenarnya seorang Pencipta dari suatu karya tetapi karya tersebut tidak
didaftarkan atas namanya.
Menurut Henry Soelistyo, dalam hal ciptaan didaftar tidak sesuai dengan
nama Pencipta atau pihak yang berhak, maka pihak yang berhak atas Hak Cipta
tersebut dapat mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Niaga. 112
Menurut Henry Soelistyo, Pengaturan gugatan pembatalan pendaftaran
Hak Cipta tersebut pada dasarnya merupakan manifestasi dari jaminan
perlindungan Hak Moral. Ciptaan yang terdaftar atas nama orang selain pencipta
atau pemegang Hak Cipta, pendaftaran itu harus dibatalkan. Caranya dengan
mengajukan gugatan Pembatalan ke Pengadilan Niaga untuk meluruskan status
kepemilikannya pada pencipta yang sebenarnya.113
Menurut Adrian Sutedi, Beban pembuktian di Pengadilan pada pundak
pihak lain, bukan pada pundak pihak yang telah mendaftarkan Hak Cipta.114
Berdasarkan Hasil Penelitian Nomor 2.11, 4.1.1, 5.2.1 7.1.4, tentang
Pembatalan Hak Cipta Seni Lukis Etiket Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga, yang
dimaksud pihak lain dalam Pasal 42 adalah Pencipta atau Pemegang Hak Cipta,
apabila dihubungkan dengan Pasal 42 Undang-undang Hak Cipta, Pasal 2
Undang-undang Hak Cipta, pendapat Henry Soelistyo dan pendapat Adrian
Sutedi maka dapat dideskripsikan bahwa Putusan Hakim dalam Putusan
112
Henry Soelistyo, Loc.cit.
Ibid.
114
Adrian Sutedi, Loc.cit.
113
103
Mahkamah Agung Nomor 768 K/Pdt.Sus/2010 yang menolak gugatan Penggugat
karena Wen Ken Drug Co Pte Ltd, PT. Sinde Budi Sentosa dan Budi Yuwono
sama-sama terdaftar sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta atas Seni Lukis
Etiket Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga sebagai suatu kesatuan sudah sesuai
sehingga Wen Ken Drug Co Pte Ltd tidak bisa menggugat Pembatalan karena
sama saja dengan menggugat dirinya sendiri dan Wen Ken Drug Co Pte Ltd
bukan pihak lain yang dimaksud dalam Pasal 42 Undang-undang Hak Cipta.
Pasal 44 Undang-undang Hak Cipta lebih tepat digunakan mengenai
Penghapusan Hak Cipta.
Pasal 44 Undang-undang Hak Cipta berisi Ketentuan :
Kekuatan hukum dari suatu pendaftaran Ciptaan hapus karena:
a. penghapusan atas permohonan orang atau badan hukum yang
namanya tercatat sebagai Pencipta atau Pemegang Hak Cipta;
b. lampau waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, Pasal 30,
dan Pasal 31 dengan mengingat Pasal 32;
c. dinyatakan batal oleh putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap.
Berdasarkan Hasil Penelitian diatas dimana Wen Ken Drug Co Pte Ltd
yang merupakan Pencipta dan Pemegang Hak Cipta mengajukan gugatan
pembatalan Hak Cipta lebih tepat mengajukan Penghapusan Hak Cipta karena
menurut Pasal 44 Undang-undang Hak Cipta huruf a, Penghapusan Hak Cipta
dapat dimohonkan oleh pencipta atau pemegang hak cipta.
104
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan
sebagai berikut :
Putusan Mahkamah Agung Nomor 768 K/Pdt.Sus/2010 telah menerapkan
Pasal 42 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, hal ini
terlihat pada dibatalkannya Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat Nomor : 31/Hak Cipta /2010 /PN.Niaga. Jkt.Pst karena
Termohon Kasasi dan dahulu Penggugat yaitu Wen Ken Drug Co Pte Ltd
mengajukan gugatan Pembatalan hak cipta atas Seni Lukis Etiket Larutan
Penyegar Cap Kaki Tiga pada Pengadilan Niaga dan Wen Ken Drug Co Pte
Ltd terdaftar sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta atas Seni Lukis Etiket
Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga tersebut. Pasal 42 Undang-undang Nomor
19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta digunakan untuk Pencipta yang sebenarnya
menciptakan suatu karya tetapi hasil karyanya di daftarkan oleh Pihak lain dan
Wen Ken Drug Co Pte Ltd yang terdaftar sebagai Pencipta dan pemegang hak
cipta bukan merupakan pihak lain yang dimaksud dalam Pasal 42 Undangundang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
105
B. Saran
Sebaiknya Wen Ken Drug Co Pte Ltd menggunakan Pasal 44 Undang-undang
Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan mengajukan Penghapusan
pendaftaran ciptaan kepada Pengadilan Niaga karena pada Pasal 44 Pencipta
dan Pemegang Hak Cipta dapat mengajukan Penghapusan ciptaan.
106
DAFTAR PUSTAKA
Literatur
Damian, Eddy dan Tim Lindsey. 2006. Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar.
Bandung : PT Alumni.
Djaja , Ermansyah. 2009. Hukum Hak Kekayaan Intelektual. Jakarta: Sinar Grafika.
Gautama, Sudargo. 1990. Segi-Segi Hukum Hak Milik Intelektual. Bandung: PT
Eresco.
Hasyim, Farida. 2009. Hukum Dagang. Jakarta : Sinar Grafika.
Isnaini, Yusran. 2010. Buku Pintar HAKI. Bogor: Ghalia Indonesia.
____________. 2009. Hak Cipta dan Tantangannya di Era Cyber Space. Jakarta :
Ghalia Indonesia.
Naning, Ramdlon.1982. Perihal Hak Cipta Indonesia. Yogyakarta : Liberty.
Purwaningsih, Endang. 2005. Perkembangan Hukum Intellectual Property Rights.
Bogor : Ghalia Indonesia.
Riswandi, Budi Agus dan M. Syamsudin. 2004. Hak Kekayaan Intelektual dan
Budaya Hukum. Jakarta : PT RajaGrafindo.
Saidin, 2003. Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual. Jakarta : Raja Grafindo
Persada.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamuji. 1994. Penelitian Hukum Normatif, Suatu
Tinjauan Singkat. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
107
Soelistyo, Henry. 2011. Hak Cipta Tanpa Hak Moral, Jakarta : PT RajaGrafindo
Persada.
Soemitro, Ronny Hanitijo. 1989. Metodelogi Penelitian Hukum dan Jurimetri,
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Soenandar, Taryana. 2007. Perlindungan HAKI di Negara-negara ASEAN, Jakarta:
Sinar Grafika.
Sudaryat, dkk. 2010. Hak Kekayaan Intelektual. Jakarta: Oase Media.
Sutedi, Adrian. 2009. Hak Atas Kekayaan Intelektual. Jakarta: Sinar Grafika.
Utomo, Tomi Suryo.2010. Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Era Globa, Sebuah
Kajian Kontemporer. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Peraturan Perundang-undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4220).
Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M.11.PR.07.06 Tahun
2003 tentang Penunjukan Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia untuk Menerima Permohonan Hak
Kekayaan Intelektual.
Peraturan Menteri Kehakiman Nomor: M.01-HC.03.01 Tahun 1987 tentang
Pendaftaran Ciptaan mengatur mengenai isi dari daftar umum ciptaan.
108
Internet
Hukumonline.com, Dasar Hukum Perubahan Istilah HAKI menjadi HKI, tersedia di
website http://alturl.com/hgowj, diakses tanggal 7 Juni 2012.
Kumham-jakarta.info, Persyaratan Permohonan Hak Cipta, tersedia di
website
http://www.kumham-jakarta.info/info-layanan/hak-kekayaan-
intelektual/ persyaratan-hak-cipta, diakses pada tanggal 15 Juni 2012.
myblog-zurich.blogspot.com, 2oo8, Sejarah dan Perkembangan hak Kekayaan
Intelektual
Indonesia, tersedia di website http://alturl.com/2cfy7, diakses
tanggal 7 Juni 2012.
109
Download