manajemen konstruksi - Knowledge Management System | Brantas

advertisement
PERMEN PU N0. 60 TAHUN 1992
PERMEN PU N0. 05 TAHUN 2007
Oleh:
Rogydesa, ST., MSE., MA.
Direktorat Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan
Ditjen. Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT
D I R E KT O R AT J E N D E R A L C I PT A K A RY A
DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
PENGATURAN BANGUNAN GEDUNG
DEFINISI BANGUNAN GEDUNG
wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan
tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas
dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai
tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau
tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan
sosial, budaya, maupun kegiatan khusus
PENGATURAN TERKAIT
UU No. 18/1999 Tentang Jasa Konstruksi
UU No. 28/2002 Tentang Bangunan Gedung
UU No. 26/2007 Tentang Penataan Ruang
PP No. 36/2006 tentang Peraturan Pelaksanaan UUBG
Pengaturan Bangunan Gedung
Undang-undang No. 28 Tahun 2002
tentang Bangunan Gedung
Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005
tentang Peraturan Pelaksanaan UU No.28 Tahun 2002
tentang Bangunan Gedung
Perpres
Perda Bangunan Gedung di
Kabupaten/Kota
Permen
Pedoman teknis
dan standar
teknis/ SNI
Kondisi sosial, budaya, ekonomi, geologi,
geografi, dan arsitektur daerah
Hal - 3
Pengaturan Kementerian PU sebagai Penunjang Penyusunan Perda Bangunan Gedung
19. PERPRES N0.73/2011 TTG PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA
4
PENYELENGGARAAN BG UUBG
PEMBANGUNAN
PEMANFAATAN
PELESTARIAN
 Tahap Perencanaan, dan
Pelaksanaan, beserta
Pengawasan/ MK
 Pemanfaatan dilakukan
oleh Pemilik atau
Pengguna setelah BG
dinyatakan Laik Fungsi
 BG & Lingkungan-Cagar
Budaya, harus
dilindungi dan
dilestarikan
 BG harus dipelihara,
dirawat, dan diperiksa
secara berkala agar
selalu laik fungsi
 Penetapan dilakukan
oleh PemDa dan/atau
Pemerintah
 Di atas tanah milik
sendiri maupun milik
pihak lain
 Setelah rencana teknis
disetujui PemDa dalam
bentuk IMB
 Pengesahan rencana
Teknis BG untuk
kepentingan umum
setelah mendapat
Pertimbangan Teknis
Tim Ahli BG (ad hoc)
 Pemilik dan Pengguna
mempunyai hak dan
kewajiban
 Perbaikan, Pemugaran,
dan Pemanfaatan yang
merusak nilai/ karakter,
harus dikembalikan
sesuai per-UU-an.
PEMBONGKARAN
 BG dapat dibongkar:
tidak laik fungsi; dapat
membahaya-kan
pemanfaatan BG
dan/atau lingkungannya; tidak memiliki IMB
 Penetapan BG harus
dibongkar oleh Pemda
berdasarkan hasil
pengkajian teknis
 Pembongkaran BG yang
mempunyai dampak
luas ber-dasarkan
RencTek pembongkaran
Penyelenggara: pemilik, pengguna, dan penyedia jasa konstruksi
Hak dan kewajiban: Pemilik dan Pengguna Bangunan Gedung
PERSYARATAN BG UUBG
administrasi
teknis
Status Hak atas Tanah
Tata Bangunan
Keandalan BG
Status Kepemilikan BG
Peruntukan dan
Intensitas BG
Keselamatan
Perizinan (IMB)
Arsitektur BG
Kesehatan
Pengendalian Dampak
Lingkungan
Kenyamanan
Pembangunan BG di atas Tanah Milik
Orang/Pihak Lain dengan Perjanjian
Tertulis
Kemudahan
Persyaratan administratif dan teknis untuk bangunan gedung adat, semi permanen,
darurat, dan bangunan gedung yang dibangun pada daerah lokasi bencana ditetapkan
oleh PemDa sesuai dengan kondisi sosial dan budaya setempat.
PEDOMAN TEKNIS RUSUNA
BERTINGKAT TINGGI
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO.05/PRT/2007
MAKSUD
SEBAGAI PETUNJUK PELAKSANAAN BAGI PENYELENGGARA
PEMBANGUNAN RUSUNA BERTINGKAT TINGGI MELIPUTI:
• PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
• PELAKSANAAN KONSTRUKSI
(PASAL 6 (1) TETAP MENGACU PADA PERMEN PU NO 60/PRT/M/1992
TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN RUSUN
TUJUAN
•TERWUJUDNYA BG YG FUNGSIONAL, ANDAL, SERASI DAN SELARAS
DENGAN LINGKUNGANNYA
•TERWUJUDNYA TERTIB, EFISIEN, EFEKTIF, DENGAN
MEMPERTIMBANGIKAN ASPEK BUDAYA DAN POLA HIDUP PENGHUNI
SECARA BERKELANJUTAN
KETENTUAN UMUM
PENGERTIAN
•
•
•
•
•
•
•
•
RUMAH SUSUN
SATUAN RUMAH SUSUN
PRASARANA DAN SARANA
LINGKUNGAN
UTILITAS
PENGHASILAN MASYARAKAT
RUSUNA
RUSUNA BERTINGKAT TINGGI
KRITERIA PERENCANAAN (UMUM)
• BG RUSUNA MEMENUHI PERSYARATAN FUNGSIONAL, ANDAL,
EFISIEN, TERJANGKAU, SEDERHANA NAMUN MAMPU MENDUKUN
KUALITAS LINGKUNGAN & PRODUKTIVITAS KERJA
• KREATIVITAS DESAIN TIDAK MEWAH SECARA MATERIAL, MAMPU
MENYUBLIMASI FUNGSI TEKNIK DAN SOSIAL, SERASI DAN SELARAS
DENGAN LINGKUNGANNYA
• BIAYA O & M HARUS RENDAH
• PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DIUPAYAKAN SINGKAT SEHINGGA
DAPAT DIMANFAATKAN SEGERA
• HARUS DISELENGGARAKAN OLEH PENGEMBANG ATAU PENYEDIA
JASA BERSERTIFIKAT (MEMILIKI SURAT KETERANGAN AHLI)
KRITERIA PERENCANAAN (KHUSUS)
• MENGIKUTI KAIDAH ARSITEKTUR SETEMPAT
• MASA BANGUNAN SIMETRI, RASIO PANJANG:LEBAR <3, HINDARI
BENTUK DENAH YANG MENYEBABKAN PUNTIR
• PAKAI DILATASI JIKA PERLU
• LANTAI DASAR UNTUK FASOS, FASEK, FASUM
• LANTAI 1 KEATAS UNTUK HUNIAN (MAX 36 M2)
• LUAS SIRKULASI, UTILITAS, DAN RUANG BERSAMA MAX 30% TOTAL
LANTAI
• MEMENUHI PERSYARATAN PENGHAWAAN & PENCAHAYAAN
• STRUKTUR HARUS KOKOH (TAHAN GEMPA)
• SETIAP 3 LANTAI HARUS ADA RUANG BERSAMA TEMPAT
BERSOSIALISASI
• LEBAR TANGGA 110 CM, TINGGI ANAK TANGGA CUKUP NYAMAN
• SELURUH INSTALASI HARUS MENGGUNAKAN SHAFT
• PENGGUNAAN LIF UNTUK 6 LANTAI KEATAS
• DLL
SUBSTANSI YANG DIATUR
• KETENTUAN TEKNIS TATA BANGUNAN
– PERSYARATAN PERUNTUKAN DAN INTENSITAS
– ARSITEKTUR
– DAMPAK LINGKUNGAN
• KETENTUAN TEKNIS KEANDALAN BANGUNAN
–
–
–
–
PERSYARATAN
PERSYARATAN
PERSYARATAN
PERSYARATAN
KESELAMATAN
KESEHATAN
KENYAMANAN
KEMUDAHAN
• KETENTUAN BIAYA BANGUNAN
– BIAYA PEMBANGUNAN FISIK
– BIAYA YG DAPAT DIOPTIMASI
– BIAYA YG DAPAT DISUBSIDI
KETENTUAN TEKNIS TATA BANGUNAN
• PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN
– SESUAI DENGAN PERUNTUKAN
» RTRW
» RUTR
» RTBL
– MEMENUHI PERSYARATAN KEPADATAN
»
»
»
»
KDB-KLB-JUMLAH LANTAI BANGUNAN
PERHITUNGAN SKALA KAWASAN
MEMPERHITUNGKAN DAYA DUKUNG LAHAN
TIDAK MENGGAGU LALU LINTAS UDARA
– KETENTUAN GARIS SEMPADAN DAN JARAK BEBAS
»
»
»
»
GSB
GSS
GSP
JARAK ANTAR BANGUNAN
KETENTUAN TEKNIS TATA BANGUNAN
• ARSITEKTUR BANGUNAN GEDUNG
– PERSYARATAN PENAMPILAN BANGUNAN GEDUNG
» BENTUK DENAH
» PERSYARATAN DELATSI
» ATAP
– PERANCANGAN RUANG DALAM
» FUNGSI RUANG
» RUANG SERVIS
– PERSYARATAN TAPAK BESMEN ( BASEMENT )
» KOEFISIEN TAPAK BESMEN ( KTB )
» KETINGGIAN ATAP BESMEN
Bentuk L
Bila tidak simetris perlu
pemisahan struktur,
pemisahan tersebut agar
bentuk-bentuk tidak
simetris menjadi bentukbentuk simetris, unutk
menghindasi efek puntir
pada bangunan
Bentuk T
KETENTUAN TEKNIS TATA BANGUNAN
• ARSITEKTUR BANGUNAN GEDUNG
– SIRKULASI DAN FASILITAS PARKIR
»
»
»
»
»
»
KUMUDAHAN PENCAPAIAN
AKSESIBILITAS PEJALAN KAKI, PENCA DAN LANSIA
CLEARANCE VERTIKAL DAN HORIZONTAL PMK DAN AMBULAN
RAMBU RAMBU DAN PAPAN INFORMASI
RATIO JUMLAH PARKIR DAN PENGHIJAUAN
PERTIMBANGAN LALAU LINTAS LINGKUNGAN
– PERTANDAAN ( SIGNAGE )
» PENEMPATAN
» PEMBATASAB UKURAN DAN LOKASI
– PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN
» KARAKTER LINGKUNGAN
» PENCAHAYAAN DALAM DAN LUAR
» OPERASI DAN PEMELIHARAAN
KETENTUAN TEKNIS TATA BANGUNAN
• PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN
– TIDAK MENIMBULKAN DAMPAK PENTING THDP LINGKUNGAN
»
»
»
»
»
»
PERUBAHAN PADA SIFAT FISIK DAN / HAYATI
PERUBAHAN MENDASAR PADA KOMPONEN LINGKUNGAN
KEPUNAHAN SPESIES LANGKA
GANGUAN TERHADAP KAWASAN LINDUNG
BENDA-BENDA DAN PENINGGALAN BANGUNAN BERSEJARAH
MENGUBAH AREAL YG MEMPUNYAI KEINDAHAN ALAMI
– UPAYA PENGELOLAAN DAMPAK
» UKL
» UPL
– KETENTUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
» SESUAI PERTURAN PERUNDANGAN-UNDANGAN LINGKUNGAN
HIDUP
KETENTUAN TEKNIS TATA BANGUNAN
• RUSUN DALAM KAWASAN TERPADU
– MENGIKUTI RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
( RTBL )
» PERWUJUDAN KESATUAN KARAKTER
» KWALITAS BANGUNAN GEDUNG
» LINGKUNGAN BERKELANJUTAN
– MUATAN RTBL
»
»
»
»
PROGRAM BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
RENCANA UMUM DAN PANDUAN RANCANGAN
RENCANA INVESTASI
PENGENDALIAN RENCANA DAN PELAKSANAAN
KETENTUAN TEKNIS KEANDALAN BANGUNAN
• PERSYARATAN KESELAMATAN
– PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG
»
»
»
»
»
»
PRINSIP STRUKTUR
PEMBEBANAN
STRUKTUR ATAS
KONSTRUKSI BAJA
STRUKTUR BAWAH
PERSYARATAN BAHAN
– PERSYARATAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN
»
»
»
»
PROTEKSI PASIF
PROTEKSI AKTIF
PERSYARATAN JALAN KELUAR DAN AKSESIBILITAS PMK
PERSYARATAN PENCAHAYAAN DARURAT, TANDA ARAH DAN
SISTIM PERINGATAN DINI
» PERSYARATAN INSTALASI GAS
– PERSYARATAN TERHADAP BAHAYA PETIR DAN KELISTRIKAN
» INSTALASI PROTEKSI PETIR
» SISTIM KELISTRIKAN
KETENTUAN TEKNIS KEANDALAN BANGUNAN
• PERSYARATAN KESEHATAN
– PERSYARATAN SISTIM PENGHAWAAN
» VENTILASI ALAMI DAN BUATAN/MEKANIK
» BUKAAN PERMANEN, KISI-KISI PADA PINTU/JENDELA
– PERSYARATAN SISTIM PENCAHAYAAN
»
»
»
»
PENCAHAAYAAN ALAMI DAN BUATAN
TINGKAT ILUMINASI SESUAI DENGAN FUNGSI RUANG
OTOMATISASI PENCAHAYAAN DARURAT
PENGENDALIAN MANUAL DAN OTOMATIS
– PERSYARATAN SISTIM AIR MINUM DAN SANITASI
»
»
»
»
SISTIM AR MINUM
SISTIM PENGOLAHAN DAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH
SISTIM PENYALURAN AIR HUJAN
SISITIM PENAMPUNGAN DAN PEMBUANGAN SAMPAH
– PERSYARATAN PENGGUNAAN BAHAN BANGUNAN
» KEAMANAN BAGI PENGHUNI
» KEAMANAN BAGI LINGKUNGAN
KETENTUAN TEKNIS KEANDALAN BANGUNAN
• PERSYARATAN KENYAMANAN
– PERSYARATAN KENYAMANAN RUANG GERAK
» FUNGSI RUANG, JUMLAH PENGGUNA, AKSESIBILTAS DAN
PERABOT/PERALATAN
» HUBUNGAN ANTAR RUANG
– PERSYARATAN KENYAMANAN KONDISI UDARA DLM RUANG
» TEMPERATUR DAN KELEMBABAN
» ORIENTASI THDP MATAHARI, BENTUK MASSA, VENTILASI DAN
PENGGUNAAN BAHAN BANGUNAN
» PRINSIP PENGHEMATAN ENERGI DAN RAMAH LINGKUNGAN
» KEMUDAHAN PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN
– PERSYARATAN KENYAMANAN PANDANGAN
»
»
»
»
PERTIMBANGAN PANDANGAN DARI DALAM KE LUAR BANGUNAN
PERTIMBANGAN PANDANGAN DARI LUAR KEDALAM BANGUNAN
SISTIM PENYALURAN AIR HUJAN
SISITIM PENAMPUNGAN DAN PEMBUANGAN SAMPAH
– PERSYARATAN KENYAMANAN THDP TINGKAT GETARAN DAN
KEBISINGAN
» JENIS KEGIATAN
KETENTUAN TEKNIS KEANDALAN BANGUNAN
•
PERSYARATAN KEMUDAHAN
–
PERSYARATAN HUBUNGAN RUANG DALAM BANGUNAN
»
HUBUNGAN HORIZONTAL
* TERSEDIANYA PINTU DAN KORIDOR
* JUMLAH UKURAN DAN JENIS PINTU BEDASARKAN BESARAN RU
ANG, FUNGSI DAN JUMLAH PENGGUNA
* ARAH BUKAAN MEMPERTIMBANGKAN FUNGSI RUANG
* LEBAR KORIDOR MINIMUM 1.20 M
»
HUBUNGAN VERTIKAL
TERSEDIANYA SARANA HUBUNGAN VERTIKAL
* JUMLAH UKURAN DAN JENIS PINTU BEDASARKAN BESARAN RUANG, FUNGSI DAN JUMLAH PENGGUNA
* JUMLAH DAN KAPASITAS LIFT SESUAI JUMLAH PENGGUNA
* TERSEDIANNYA LIFT KEBAKARAN
*
»
SARANA EVAKUASI
»
AKSESIBILITAS PENYANDANG CACAT DAN LANSIA
*
TERSEDIANYA FASILITAS TOILET, PARKIR, TELEPON DLL
* DISESUAIKAN DENGAN LUAS DAN KETINGGIAN BANGUNAN
PERSYARATAN TEKNIS
PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM N0. 60 TAHUN 1992
SISTEMATIKA PERMEN PU NO 60/1992
 KETENTUAN UMUM
 RUANG
 STRUKTUR, KOMPONEN & BAHAN
BANGUNAN
 KELENGKAPAN RUMAH SUSUN
 SATUAN RUMAH SUSUN
 BAGIAN BERSAMA & BENDA BERSAMA
 KEPADATAN & TATA LETAK BANGUNAN
 PRASARANA LINGKUNGAN
 FASILITAS LINGKUNGAN
 KETENTUAN LAIN
 KETENTUAN PERALIHAN
 KETENTUAN PENUTUP
I. KETENTUAN UMUM
MAKSUD :
sebagai
landasan
dalam
perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, pengelolaan dan
pengembangan rumah susun dalam rangka
peningkatan kwalitas hidup penghuninya
TUJUAN :
menjamin keamanan, keselamatan, kesehatan
dan kenyamanan bagi penghuni dan/atau
pemakainya
LINGKUP SUBSTANSI YANG DIATUR
MELIPUTI KETENTUAN TEKNIS:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
Ruang;
Struktur, komponen dan bahan bangunan;
Kelengkapan rumah susun;
Satuan rumah susun;
Bagian bersama dan benda barsama;
Kepadatan dan tata letak bangunan;
Prasarana Lingkungan;
Fasilitas Lingkungan.
PERSYARATAN TEKNIS RUSUN
Harus dilandasi dengan rancang bangun yang
dapat menggunakan koordinasi modular dan
memperhatikan karakteristik daerah (kondisi
alam, sosial, ekonomi dan budaya) pola tata letak
dan arsitektur kota.
II. RUANG
RUMAH SUSUN MERUPAKAN KELOMPOK RUANG DENGAN
FUNGSI & DIMENSI TERTENTU
TABEL KELOMPOK RUANG
PERSYARATAN RUANG DALAM RUMAH SUSUN
III. STRUKTUR, KOMPONEN
DAN BAHAN BANGUNAN
RUSUN harus menggunakan struktur, komponen
dan bahan bangunan dengan memperhatikan
prinsip koordinasi modular dan memenuhi
persyaratan konstruksi dengan memperhitungkan
kekuatan dan ketahanan baik dari arah vertikal
maupun horizontal terhadap beban gempa, angin,
tambahan, hujan, banjir, kebakaran, daya dukung
tanah, dll.
STRUKTUR
 Struktur, komponen, dan bahan bangunan
merupakan satu kesatuan sistem konstruksi
yang tidak boleh diubah.
 Struktur, komponen, dan bahan bangunan
untuk atap bangunan yg dipakai untuk pendaratan
helikopter dalam keadaan darurat harus
menggunakan konstruksi beton yang diperkuat
dengan penambahan tulangan penahan susut
atau retak sesuai ketentuan yang berlaku.
PERSYARATAN KOMPONEN DAN
BAHAN BANGUNAN
a. Dinding pembatas dengan ruang luar non struktur, harus
kuat dan aman serta tidak boleh diubah.
b. Keawetan sekurang-kurangnya 20 tahun
c. Dinding pembatas dengan ruang non struktur harus dapat
menahan beban sesuai fungsinya dan mempunyai ikatan
yang kuat dengan struktur bangunan
d. Bahan bangunan pagar dan railing harus mempunyai
bentuk dan kekokohan yg menjamin keamanan terutama
bagi anak-anak (tinggi railing min 120 cm)
e. Salah satu dinding luar sarusun harus diberi tanda
khusus, dapat dibuka/dipecah untuk keadaan darurat
BEBAN YG WAJIB DIPERHITUNGKAN
IV. KELENGKAPAN RUMAH SUSUN
Rumah susun harus dilengkapi dengan:
KELENGKAPAN
a
b
KETENTUAN
Alat Transportasi
Bangunan
- tangga
- Untuk rusun s.d. 5 lantai
lebar 120 cm, bordes 120 cm, lebar injakan 22,5 cm, tinggi
injakan 17,5, railing 110 cm, lubang railing 10 cm
- lif
-
Pintu & tangga
kebakaran
-
Untuk rusun > 5 lantai
Jumlah & kapasitas memadai
Fungsi: lif penumpang, makanan, barang
Lif kebakaran (min 1 buah)
Dilengkapi signage
Setiap 25 m ada 2 buah
Mudah dijangkau, exit time 2,5 menit
Pintu tahan api (min 1 jam), warna tertentu
Lebar pintu 100 cm, tinggi 210 cm, menutup otomatis
secara mkanis
- Membuka ke arah tangga, membuka keluar di lantai
dasar
- Kompartemen (terutama rusun>40m)
- Tidak berbentuk tangga puntir
KELENGKAPAN
KETENTUAN
c
Alat tan sistem alarm - Detektor kebakaran otomatis (>5 lantai)
kebakaran
- Detektor/alat lain manual (s.d. 5 lantai)
- Alarm harus menjangkau semua bagian rusun
d
Alat pemadam
kebakaran
- Sprinkler, hydrant gedung, APAR, hydrant halaman (>5
lantai), dimulai dr lantai 1
- Hydrant gedung, APAR, hydrant halaman (s.d. 5 lantai),
dimulai dari lantai 1
e
Penangkal petir
- Dapat menggunakan penangkal petir konvensional (non
radio aktif atau non konvensional (dengan radio aktif)
f
Jaringan air bersih
- Jaringan distribusi, tangki penampungan, rumah pompa,
meteran air, keran
- Tekanan air min 0,5 atm di outlet
- Jaringan air bersih kota ditampung dahulu sebelum
distribusi
- Tangki dalam tanah (3 hari), tangki atap (6 jam)
g
Saluran air hujan
- Saluran di dalam bangunan, saluran luar bangunan
- Diupayakan diresapkan
- Dipisah dengan saluran limbah manusia
KELENGKAPAN
KETENTUAN
h
Saluran pembuangan - Saluran pembuang limbah dapur, KM, cuci, kakus, dll
air limbah
- Saluran kakus harus terpisah dari saluran pembuang
lainnya dan dilengkapi pipa udara, bak kontrol, tangki
septik
- Saluran harus tertutup
- Kemiringan harus cukup (lubang pemerksa 50 m)
- Bila terdapat kegiatan industri saluran harus tersendiri,
dilengkapi bak kontrol, treatment plant
i
Tempat pewadahan
sampah
-
j
Tempat jemuran
- Memenuhi persyaratan keamanan, kebersihan,
kenyamanan pandang, sirkulasi udara, penetrasi matahari
cukup
k
Sarana pemeliharaan - Menyatu dengan bangunan serta memudahkan proses
pemeliharaan dan perawatan berkala
l
Listrik
Di setiap sarusun (dapat permanen/ tidak permanen)
Sampah terbungkus kedap bau dan air
Saluran D min 50 cm, tertutup otomatis
Terkoordinasi dengan sistem jaringan pembuangan
sampah lingkungan
- Meteran, sekering, saklar, stop kontak sesuai kebutuhan
KELENGKAPAN
KETENTUAN
m Genset
- Cukup untuk memberikan penerangan pada tangga
umum, koridor, lobi, pompa air, pompa kebakaran, dan lif
- Penempatan terlingung
- Tangki bahan bakar selalu terisi
- Dirawat secara berkala
n
Jaringan gas
- Meteran gas, pipa, sesuai kebutuhan
o
Telepon dan
komunikasi
- Sesuai dengan ketentuan berlaku
PERSYARATAN KELENGKAPAN RUSUN
Kelengkapan rumah susun yang merupakan hak
bersama harus ditempatkan dengan memperhatikan
keamanan, keserasian, kemudahan dalam
pemasangan, pemanfaatan, pemeliharaan dan
perbaikan, serta pengembangannya.
Jaringan kelengkapan yang menggunakan pipa harus
diberi warna berbeda satu sama lain, sesuai dengan
ketentuan yang berlaku
V. SATUAN RUMAH SUSUN
 Harus mempunyai ukuran standar yang sesuai
kebutuhan ruang dan ketentuan satuan rumah
susun.
 Dapat terdiri dari 1 ruang utama dan ruang lain di
dalam ataupun di luar ruang utama sesuai
kebutuhan seperti (kamar mandi, dapur, kakus)
 Untuk satuan rumah susun hunian, ruang utama
harus berfungsi sebagai ruang tidur
 Untuk satuan rumah susun bukan hunian, ruang
utama harus berfungsi sebagai ruang kerja atau
usaha
BATAS PEMILIKAN RUMAH SUSUN
Batas pemilikan satuan rumah susun dapat berupa
ruang tertutup dan sebagian terbuka dan/atau
ruang terbuka.
VI. BAGIAN BERSAMA
DAN BENDA BERSAMA
Bagian bersama merupakan bagian rumah susun yang
dimiliki secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama
dalam kesatuan fungsi dengan satuan-satuan rumah susun
dan dapat berupa ruang umum, struktur dan komponen
kelengkapan rumah susun, prasarana lingkungan dan fasilitas
Iingkungan yang menyatu dengan bangunan rumah susun
Benda bersama merupakan benda yang terletak diatas
tanah bersama diluar bangunan rumah susun yang dimiliki
secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama dalam
kesatuan fungsi dengan rumah susun dan dapat berupa
prasarana lingkungan dan fasllitas Iingkungan.
VII. KEPADATAN
DAN TATA LETAK BANGUNAN
Kepadatan Bangunan suatu lingkungan rumah susun
harus memperhitungkan Koefisien Dasar Bangunan (KDB),
Koefisien Lantai Bangunan (KLB), Ketinggian dan kedalaman
bangunan serta penggunaan tanah yang bertujuan untuk
mencapai optimasi daya guna dan hasil guna tanah
Tata
letak
bangunan
rumah
susun
harus
memperhatikan jarak antara bangunan, batas pemilikan tanah
bersama serta kemudahan pencapaian dan pengelolaan guna
mencapal keamanan, keselamatan dan kenyamanan penghuni
serta Iingkungannya
VIII. PRASARANA LINGKUNGAN
Lingkungan rumah susun harus dilengkapi dengan
prasarana lingkungan berupa jalan setapak, jalan
kendaraan yang berfungsi sebagai penghubung antara
bangunan rumah susun atau keluar lingkungan rumah
susun, tempat parkir dan/atau tempat penyimpanan
barang.
UTILITAS UMUM
Lingkungan rumah susun harus dilengkapi dengan
utilitas umum yang terdiri dari jaringan air bersih,
saluran pembuangan air hujan, saluran pembuangan
air limbah, jaringan tempat pembuangan sampah,
jaringan pemadam kebakaran, jaringan listrik,
jaringan gas, jaringan telepon dan alat komunikasi
lainnya yang berfungsi sebagai sarana penunjang
pelayanan lingkungan.
IX. FASILITAS LINGKUNGAN
Lingkungan rumah susun harus dilengkapi dengan
fasilitas lingkungan yang berupa ruangan dan/atau,
bangunan, yang dapat terdiri dari fasilitas
perniagaan atau perbelanjaan, lapangan terbuka,
pendidikan, kesehatan, peribadatan, fasilitas
pemerintahan dan pelayanan umum serta
pemakaman dan pertamanan.
Terima Kasih
Download