pengembangan model pembelajaran kooperatif tipe circ untuk

advertisement
Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC Untuk
Meningkatkan Kemampuan Menulis Bahasa Inggris Mahasiswa D3
Administrasi Negara FIS Unesa
Oleh:
Arik Susanti *)
Abstrak
Kesulitan yang dihadapi mahasiswa ketika mereka harus
menulis dalam bahasa Inggris adalah tidak dapat menentukan makna
kata, menentukan ide pokok serta menentukan kalimat yang menjadi
pendukung ide pokok. Selain itu proses pembelajarannya masih
bersifat tradisional. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah
dekriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan proses
pembelajaran dengan model kooperatif tipe Cooperative Integrated
Reading Composition (CIRC) dapat meningkatkan motivasi dan hasil
belajar mahasiswa. Selain itu juga mengembangkan keterampilan
kooperatif yang meliputi: menghargai pendapat, mengambil giliran,
berbicara, mendengarkan, bertanya, dan memeriksa ketepatan.
Kata Kunci : Pembelajaran kooperatip, CIRC, hasil belajar
1. Pendahuluan
Dewasa ini banyak pengaruh yang diakibatkan oleh globalisasi, salah
satunya adalah kurikulum pendidikan tinggi. Karena itu perlu diadakan reformasi
kurikulum melalui penyempurnaan kurikulum yang berbasis kompetensi. Dengan
kurikulum tersebut diharapkan (a) dapat menghasilkan lulusan yang memiliki
keunggulan kompetitif dan komparatif yang lebih merata persebarannya, (b) dapat
merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, hak asasi manusia,
ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, (c) mampu membentuk tamatan yang
memiliki karakter atau kepribadian yang kuat, memiliki pengetahuan dan
keterampilan dasar, berpola hidup sehat dan menghargai seni, (d) Lebih
demokratis karena dapat disesuaikan dengan keadaan dan kepentingan daerah
serta kemampuan dan motivasi belajar peserta didik dengan mengacu pada
pencapaian tujuan pendidikan nasional dan kompetensi yang ditentukan (Triana,
2003:113).
*) Penulis adalah dosen bahasa Inggris di jurusan PMP-KN FIS UNESA
1
Visi kurikulum berbasis kompetensi mempunyai dampak yang besar
terhadap strategi pembelajaran mahasiswa jurusan Administrasi Negara
Universitas Negeri Surabaya. Mata kuliah bahasa Inggris 4 SKS yang dibagi
dalam dua pertemuan yaitu bahasa Inggris I dan bahasa Inggris II masing-masing
berbobot 2 SKS. Dengan mata kuliah tersebut mahasiswa diharapkan mampu
menjawab tantangan KBK, sehingga desian pembelajaran disesuaikan dengan
kompetensi setiap mata kuliah tersebut.
Seperti diketahui tujuan pembelajaran bahasa Inggris I maupun II adalah
untuk mengembangkan keterampilan berbahasa baik secara lisan maupun tertulis.
Keterampilan berbahasa yang dimaksud adalah
keterampilan mendengarkan,
berbicara, membaca, dan menulis. Dalam penelitian ini akan difokuskan pada
mata kuliah bahasa Inggris II yang bertujuan untuk mengembangkan keempat
keterampilan berbahasa yang lebih menekankan pada keterampilan menulis.
Setelah mahasiswa tamat atau lulus dari perguruan tinggi, mereka dapat menulis
surat lamaran pekerjaan dalam bahasa Inggris dan berkomunikasi dengan bahasa
Inggris secara aktif.
Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa berpikir bahwa
pembelajaran menulis khususnya bahasa Inggris itu sangat sulit dan proses
pembelajaran yang membosankan (Susanti, 2001:1).
Kesulitan mahasiswa
tersebut dapat ditemukan ketika mereka harus mentransfer ide dari bahasa
Indonesia ke bahasa Inggris. Kesulitan yang kedua adalah mahasiswa tidak dapat
menentukan makna kata atau phrase yang ada dalam sebuah tulisan. Selain itu
proses pembelajarannya pun masih bersifat tradisional yaitu dengan menekankan
hasil tulisan mahasiswa bukan pada proses yang seharusnya dilakukan (Syamsi,
2003:136). Para mahasiswa langsung berpraktik menulis tanpa belajar bagaimana
caranya menulis. Dosen biasanya menyediakan beberapa macam topik dan
meminta peserta didik untuk memilih salah satu dan mereka langsung menulis.
Setelah selesai, hasil tulisan mereka dikumpulkan, dikoreksi dan dinilai oleh guru.
Kegiatan yang terus-menerus terjadi seperti ini mengakibatkan para mahasiswa
merasa jenuh dan kurang menyenangi pembelajaran menulis. Pada akhirnya
mereka berpendapat bahwa kegiatan menulis meupakan suatu beban yang
2
memberatkan. Sebagai akibatnya mereka enggan menulis dalam bahasa Inggris
sehingga kemampuan mereka sangat rendah.
Untuk menciptakan keberhasilan pendidikan khususnya pembelajaran
keterampilan menulis perlu diciptakan suatu kondisi belajar mengajar yang
efektif, yaitu suatu kondisi dimana mahasiswa secara aktif melibatkan dirinya
dalam proses pembelajaran dan guru/dosen memberi bantuan serta memberi
motivasi pembelajar dalam belajar. Minat pengaruhnya besar sekali terhadap
belajar, sebab dengan minat mahasiswa akan melakukan sesuatu yang diminatinya
(Usman, 2000:27)
Untuk meningkatkan minat belajar mahasiswa yang tinggi, seharusnya
dipilih metode pengajaran yang sesuai. Model pembelajaran kooperatif
merupakan model yang dapat mendorong mahasiswa menemukan dan memahami
konsep-konsep yang sulit. Selain itu model ini berguna dalam menumbuhkan
kerjasama, kemampuan membantu teman dan berfikir kritis. Pembelajaran
kooperatif ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur
penghargaan. Penelitian ini memfokuskan pada pembelajaran kooperatif tipe
CIRC.
Ada beberapa alasan mengapa digunakan pembelajaran kooperatif tipe
CIRC yaitu, (1) mahasiswa memperoleh pengetahuan sendiri melalui interaksi
dengan mahasiswa lain, (2) mahasiswa belajar lebih terarah, (3) dapat
meningkatkan motivasi mahasiswa, (4) anggota kelompok heterogen dan saling
membantu satu sama lain, (5) dapat diterapkan di semua pokok bahasan, (6)
mahasiswa terlibat pada suatu workshop penulisan, yang dimulai dari penulisan
buram, perevisian dan pengeditan karya sesama teman dan persiapan penerbitan
karya kelas.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui (1) proses belajar mengajar keterampilan menulis bahasa Inggris di
Prodi Administrasi Negara dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC (2) respon mahasiswa setelah belajar menulis bahasa Inggris di Prodi
Administrasi Negara dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
CIRC dan yang terakhir adalah (3) dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa.
2. Pembelajaran Kooperatif
3
Seperti diketahui bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan
teknik-teknik kelas yang praktis yang dapat digunakan guru setiap hari untuk
membantu mahasiswanya belajar setiap mata pelajaran, mulai dari keterampilanketerampilan dasar sampai pemecahan masalah (Nur, 2005:1). Dengan model
pembelajaran ini guru dapat memotivasi seluruh mahasiswa dan menumbuhkan
sikap belajar aktif pada mahasiswa. Mahasiswa harus bersikap aktif selama
proses belajar megajar, yaitu dengan membaca, menulis, mendengarkan
penjelasan guru, bertanya pada guru mengenai
materi pelajaran yang belum
dipahami, menjawab pertanyaan dari guru, berpendapat atau berdiskusi dengan
dengan teman selama proses pembelajaran. Dengan model seperti ini besar
kemungkinan proses belajar mengajar akan berhasil dengan baik. Dengan model
pembelajarn ini mahasiswa akan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil
dengan kemampuan yang heterogen sehingga mereka akan dapat membantu satu
sama lain dalam menuntaskan bahan ajar akademiknya.
Masih
menurut
Nur
(2005:80-84)
dengan
menggunakan
model
pembelajaran kooperatif, guru dapat mencapai tiga tujuan pembelajaran penting.
(1) Hasil belajar akademik. Selain bertujuan sosial, model ini juga bertujuan untuk
meningkatkan kinerja mahasiswa dalam tugas-tugas akademik. Para pengembang
model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah
dapat meningkatkan penilaian mahasiswa pada belajar akademik dan perubahan
norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Selain itu, model pembelajaran ini
juga dapat memberi keuntungan baik pada mahasiswa kelompok bawah maupun
atas yang bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Mahasiswa
kelompok bawah dapat memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya yang
memiliki orientasi dan bahasa yang sama. (2) Tujuan yang kedua dari
pembelajaran ini adalah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda baik
ras, budaya, kelas sosial, kemampuan maupun ketidakmampuan. Pembelajaran
kooperatif memberi peluang kepada mahasiswa yang berbeda latar belakang dan
kondisi untuk bekerja sama, saling tergantung satu sama lain atas tugas-tugas
bersama dan melalui penggunaan struktur penghargaan koopertaif, belajar
menghargai satu sama lain. (3) Tujuan yang ketiga adalah pengembangan
4
keterampilan sosial. Pada model ini guru mengajarkan keterampilan kepada
mahasiswa tentang kerjasama dan kolaborasi.
Menurut Nur (2005:5) ada lima model dalam pembelajaran kooperatif
yang telah dikembangkan yaitu,
(1) Students Teams Achievement Division
(STAD). Pada tipe ini mahasiswa bekerja dengan kelompok heterogen dalam
mendiskusikan suatu masalah, kemudian presentasi di depan kelas dan guru
memberi komentar atas hasil presentasi. Kelompok yang terbaik akan mendapat
penghargaan. (2) Teams-Games Tournament (TGT). Tipe ini hampir sama dengan
STAD, tetapi ada unsure kegembiraan karena adanya penggunaan permainan. (3)
Jigsaw II merupakan kelompok yang berbagi tugas. Dengan kata lain setiap
anggota kelompok mempunyai tugas yang berbeda. (4) Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) yaitu tipe yang digunakan untuk pengajaran
menulis dan membaca. Dalam proses penulisan mahasiswa terlibat dalam
workshop penulisan yang dimulai dari pemulisan buram, menulis draft, saling
melakukan perevisian dan pengeditan karya sesama teman, dan persiapan untuk
pemublikasian. (5) Team Accelerated Instruction (TAI). TAI mempunyai
persamaan dengan STAD dan TGT dalam penggunaan tim –tim pembelajaran.
Tetapi
mempunyai perbedaan yaitu STAD dan TGT menggunakan sebuah
tatanan pengajaran tunggal untuk kelas, TAI menggabungkan pembelajaran
kooperatif dengan pengajaran individual. STAD dan TGT diterapkan pada hampir
semua kelas III –VI.
3. Teori yang Mendasari Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif dikembangkan dari ide bahwa untuk dapat belajar
seseorang harus memiliki pasangan atau teman. Pembelajaran kooperatif dilandasi
oleh teori belajar sebagai berikut:
Teori Belajar Konstruktivisme
Secara sederhana konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan kita
merupakan konstruksi dari kita yang mengetahui sesuatu pengetahuan itu
bukanlah fakta yang ditemukan, melainkan suatu perumusan yang diciptakan
orang yang sedang mempelajarinya. Menurut pandangan teori ini, belajar
merupakan proses aktif dari subyek pembelajar untuk merekonstruksi makna
5
sesuatu itu entah teks, kegiatan dialog, pengalaman fiktif, dan lain-lain. Belajar
merupakan peoses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan
yang dipelajarinya dengan pengertian yang sudah dimiliki sehingga pengertiannya
menjadi berkembang (Sadiman, 2004).
4. Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC
Pada proses pembelajaran bahasa Inggris II yang ditekankan pada
keterampilan menulis digunakan model pembelajaran kooperatif CIRC. Pertamatama dosen mempersiapkan materi pembelajaran. Diawal pertemuan dilaksanakan
pembelajaran langsung dimana dosen memberikan penjelasan awal tentang materi
yang akan dipergunakan selanjutnya. Setelah itu dosen membentuk kelompok
dengan anggota yang berkemampuan heterogen. Kegiatan yang kedua adalah
penyajian materi. Dalam kegiatan ini dibagai menjadi tahapan-tahapan. Tahap
pertama, pendahuluan yaitu kegiatan yang menekankan pada apa yang akan
dipelajari mahasiswa dalam kelompok
dan menginformasikan hal-hal yang
penting dengan tujuan untuk memotivasi mahasiswa.
Kegiatan yang kedua adalah pengembangan yaitu mengembangkan materi
ajar sesuai dengan apa yang dipelajari mahasiswa dalam kelompok. Didalam
kelompok mahasiswa belajar memahami dan memaknai dari materi ajar dan
berlatih menjawab pertanyaan serta menyusun kalimat acak menjadi satu paragrap
yang bagus. Jika semua anggota kelompok telah paham, dosen baru beralih pada
sub topik yang lain. Jika belum anggota kelompok harus menjelaskan pada
anggota kelompok lainnya yang belum jelas. Meskipun bekerja dalam kelompok
mahasiswa tetap bekerja secara mandiri yaitu mengerjakan tugas tanpa kerja sama
dan jika telah selesai dicocokan dengan sesama anggota yang lainnya. Dosen juga
memberi evaluasi diakhir kegiatan pembelajaran secara mandiri dengan tujuan
untuk mengetahui nilai perkembangan individu peserta didik dan dapat
dikembangkan sebagai nilai perkembangan kelompok. Setelah diketahui nilai
perkembangan kelompok dosen memberikan sertifikat kepada kelompoh yang
mendapatkan skor tertinggi.
Setelah mahasiswa memahami teori, mereka berlatih untuk menulis sebuah
paragraph. Kegiatan ini dilaksanakan dengan model pembelajaran CIRC.
6
Kegiatan pertama diawali dengan penentuan topik, setelah itu penulisan topik
sentence. Untuk menghasilkan paragrap yang bagus mahasiswa membuat
pertanyaan yang mendukung dari topik sentence tersebut. Kemudian dibuat
supporting points (poin-poin pendukung) yang dilanjutkan dengan kalimat
penutup. Jika penulisan kerangka ini telah selesai, mahasiswa baru dapat
mengembangkannya menjadi paragrap. Teman sesama anggota akan saling
merevisi dan memberikan ide dari tulisan tersebut. Guru juga dapat memberi
masukan. Setelah kegiatan ini selesai, hasil karya tersebut dapat dipublikasikan
dalam bentuk mading. Guru juga memberi sertifikat atau penghargaan pada
kelompok dengan skor yang tertinggi.
5. Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis berbeda dengan keterampilan berbicara. Dalam
keterampilan menulis orang harus mematuhi peraturan yang telah ditetapkan
seperti tata bahasa, penulisan dan lain sebagainya karena jika ini diabaikan orang
akan memahami tulisan ketika berbeda maknanya dengan apa yang kita maksud.
Dalam menulis orang tidak langsung memahami makna yang ada sehingga
pembaca harus membaca beberapa kali.
Menurut Young dan Savage (1982:60) ada 4 jenis tulisan yaitu, tulisan
narasi, deskripsi, eksposisi dan argumentasi. Narasi adalah tulisan yang ditulis
berdasarkan keterangan waktu untuk menceritakan suatu kejadian secara fiktif.
Karangan deskripsi adalah karangan yang bertujuan untuk menggambarkan suatu
peristiwa secara jelas kepada pembaca seakan-akan pembaca melihat sendiri
kejadian tersebut. Eksposisi adalah adalah karangan menjelaskan cara-cara atau
langakah-langkah untuk mencapai suatu tujuan yang disertai dengan contoh atau
fakta yang ada. Sedangkan karangan argumentasi adalah karangan yang bertujuan
untuk mempengaruhi pembacanya agar setuju dengan apa yang dikatakan oleh
penulis.
6. Konsep Belajar
Yang dimaksud dengan konsep belajar menurut kamus besar bahasa
Indonesia adalah proses menguasai atau memperoleh pengetahuan atau
7
keterampilan dalam bidang tertentu dengan jalan studi, mencari pengalaman atau
karena diajar. Dengan kata lain belajar adalah suatu aktivitas untuk menguasai dan
memperoleh pengetahuan. Menurut Kimble dan Garmezy yang dikutip dari
Brown (1987:7)mengatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan yang secara
relatif tetap dalam tendensi tingkah laku ini adalah hasil pengukuran praktis.
Belajar bersifat aktivitas dan proses. Aktivitas dan proses ini berada dalam
kesadaran manusia. Itu sebabnya adanya orang yang mengatakan bahwa belajar
adalah proses sadar yang merupakan hasil dari pengajaran.
7. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptive kuantitatif. Sedangkan subjek penelitian ini adalah mahasiswa D III
Administrasi Negara Universitas Negeri Surabaya dengan jumlah 40 mahasiswa.
Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah observasi, angket dan tes.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik
deskriptif yang memaparkan hasil penelitian berdasarkan data yang diperoleh
untuk mengetahui tingkat keberhasilan penerapan model pembelajaran kooperatif
dengan tipe STAD dan CIRC.
8. Hasil Penelitian
a. Proses Belajar Mengajar dengan Menggunakan Model Kooperatif
1) Proses Belajar dengan Menggunakan Tipe CIRC
Pembelajaran kooperatif dengan tipe CIRC bertujuan untuk dapat menulis
dengan mudah dan gampang sehingga akan menghasilkan sebuah tulisan yang
indah dan menarik. Selain itu, model ini juga bertujuan agar kegiatan menulis
menjadi proses pembelajarn yang menarik dan inovatif sehingga mahaiswa tidak
berpikir bahwa menulis itu susah. Pada tipe CIRC, pada kegiatan pendahuluan
dosen juga memotivasi mahasiswa tentang pengalaman mereka yang tidak
terlupakan. Dari pertanyaan tersebut mahasiswa akan menjawab sesuai dengan
pengalaman dirinya. Kegiatan seperti ini akan membuat mahasiswa siap untuk
mengikuti perkuliahan. Setelah itu, dilanjutkan dengan kegiatan inti. Pada
kegiatan ini dosen membagikan teks bacaan dan menyuruh mahasiswa untuk
8
membaca teks dan menjawab pertanyaan yang disediakan oleh dosen. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut ini:
People tend to keep their money in a bank because they want it
safe. Besides, saving in a bank draws interest. There are several kinds of
deposits such as Tabanas, Taska, Palapa, Demand deposits, time deposits.
Demand deposits is also called checking accounts. People may save and
withdraw their money any time needed.
If customers have time deposits the money put in a saving accounts
remains in a bank for period of time. The interest depends on the economic
conditions and the bank condition. Any time the customers withdraw some of
their money, they know exactly the restKemudian berlatih untuk membuat
ringkasan atau rangkuman. Jika proses ini sudah dapat berjalan dengan
baik, guru akan meminta mahasiswa untuk memulai proses penulisan
yang dimulai dari penulisan buram, menulis draft, perevisian,
pengeditan dan persiapn publikasi. Tugas ini dilakukan secara individu
oleh mahasiswa.
Adapun contoh pertanyaan adalah sebagai berikut
(1) What are the advantages of having money in a bank ?
(2) Mention some kinds of deposits?
(3) Can customers withdraw their money put in a saving accounts after being saved
one or two days ?
(4) How is the interest ?
(5) How do the customers know exactly the rest of their money after the withdraw ?
Setiap kelompok telah mempunyai satu teks judul bacaan. Kemudian guru
meminta mereka untuk membaca teks yang telah mereka miliki. Setiap mahasiswa
membaca teks sendiri untuk memahami maksud dan makna dari teks tersebut.
Setelah itu mereka mendiskusikan inti dari teks tersebut. Ketika menjawab
pertanyaan, mahasiswa harus meggunakan kalimat lengkap. Dengan kemampuan
tata bahasa yang telah mereka miliki dan pelajari mereka mulai berlatih untuk
menjawab pertanyaan secara tertulis sesuai dengan pertanyaan yang diberikan
oleh guru. Ketika mereka menjawab pertanyaan harus dalam bentuk kalimat
lengkap.
Ketika menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa kelompok yang
menjawab sebagai berikut:
(1) Because safe and getting interest
(2) safe and get interest
(3) safe, getting interest and withdraw every time when it needed.
9
Dari tiga jawaban yang terkumpul, guru dapat menjelaskan bahwa secara lisan
mereka dapat menjawab pertanyaan. Tetapi dalam bentuk tertulis jawaban
tersebut belum lengkap karena kalimat yang mereka ucapkan tidak mempunyai
Subjek (S) dan Predikat (P). Padahal kalimat yang baku minimal mempunyai S
dan P. Untuk membentuk kalimat lengkap, sebelum menjawab pertanyaan guru
meminta semua kelompok kooperatif untuk menganalisa pertanyaan no 1.
What are the advantages of having money in a bank?
Dari kalimat tersebut guru menanyakan kepada mahasiswa, mana yang termasuk
S. Ada yang menjawab the advantages, the advantages of having money in the
bank, atau having money in a bank. Setelah itu guru bertanya, apa predikat dari
kalimat tersebut. Ketika ditanya predikat banyak mahasiswa yang belum paham.
Kemudian guru memberi contoh kalimat sebagai berikut;
I am
S
P
a teacher
Comp
Setelah mendapat contoh tersebut mahasiswa menjadi paham bahwa Predikat
biasanya adalah kata to be atau kata kerja (verb). Mereka mendiskusikan dengan
kelompok kooperatif macam-macam to be. Ada banyak to be yang mereka ketahui
yaitu, is, am ,are, was, were, been, dan be.
Akhirnya mereka paham, bahwa dalam pertanyaan no 1 yang dimaksud
dengan P adalah are dan S adalah the advantages of having money in the bank. S
dan P sudah diketahui maka mereka mulai menyusun kalimat sesuai dengan
aturan yaitu sebagai berikut:
S
+
P
The advantages of having money in the bank are safe and getting interest.
Semua soal latihan yang diberikan oleh guru tersebut diselesaikan dengan baik
oleh semua mahasiswa karena mereka selalu mendiskusikan kesulitan-kesulitan
yang dihadapi.
Selama mahasiswa bekerja dalam kelompok kooperatif tugas guru tetap
membimbing mahasiswa yang masih belum dapat bekerja secara kooperatif dalam
kelompok belajar tersebut agar setiap anggota kelompok dapat bekerjasama
10
dengan anggota kelompoknya secara maksimal serta berbagi tugas dengan
anggota kelompoknya.
Setelah seluruh mahasiswa paham bagaimana membuat kalimat, tugas
selanjutnya adalah mahasiswa mulai membuat cerita sederhana. Cerita tersebut
dapat dimulai dari topik atau tema. Ini dapat dipilih dari lingkungan kehidupan
sehari-hari mereka. Setelah menentukan tema, maka mereka dapat membuat
kerangka karangan. Tujuannya agar mahasiswa dapat bercerita secara urut dan
runtut. Salah satu contoh dari tugas mahasiswa adalah sebagai berikut:
Sebelum membuat sebuah paragrap, harus ditentkan tema atau topik dari suatu
permasalahan. Topik yang ditentukan adalah Salsa’s Birthday. Adapun contoh
kerangka karangan sebagai berikut:
1)
2)
Orientation
Where: It was held in Indah Hotel
When: Last Sunday at 07.00 pm
Who are invited: all of my friends
Events:
(1) Before going to the party, I prepared the prize to Salsa.
(2) I choosed a beautiful gown and some accessories.
(3) The Situation during the party:
(a) the party was wonderful
(b) there are many friends
(c) there are many delicious foods, fruits, cakes and drinks
(d) there was full of music
(e) The decoaration very romantic bacause there were many colourfull
flowers and lamps
(f) there were many games
(4) I feel very happy because I meet with my best friend.
Setelah itu mahasiswa dapat melanjutkan proses penulisan paragrap. Adapun
contoh penulisan dari karangan tersebut adalah sebagai berikut:
Last Sunday at 7.00 pm I was going to Salsa’s birtday in Indah Hotel.
Before I went there, I prepared prize for Salsa. I also prepared the gown that I
would wear in the party. In that party I want to look beautiful so I will wear a
good gown but I don’t have it. So that I borrowed it from my sister. I wore white
gown and some accesories. I and Bella went there by motorcycle. After arriving
there, we meet with Salsa. She is very beautiful with wearing pink gown.
During the party, is very wonderful, because there were many old friends
in senior high school. There were many games. The decoration was very romantic.
There were many delicious foods, fruits, cakes, and drinks. I feel very happy
because I could meet my best friends they are Atika, Aida, Novi and Tommy.
11
Tulisan tersebut harus dikerjakan secara individu. Setelah selesai mereka dapat
bertukar pekerjaan untuk memberikan pendapat atas tulisan teman tersebut.
Mereka juga dapat berkonsultasi dengan guru untuk mendapatkan hasil tulisan
yang bagus. Dari contoh pekerjaan mahasiswa tersebut dapat disimpulkan bahwa
ada beberapa kesalahan yang telah dibuat oleh mahasiswa diantaranya adalah
sebagai berikut.
1) I was going to Salsa’s party Last Sunday.
Karena itu merupakan kalimat yang terjadi pada waktu lampau, cukup
digunakan past tense. Jadi kalimat yang benar adalah I went to Salsa party.
2) Pada umumnya mahasiswa masih kesulitan dalam menggunakan pronouns
(kata ganti orang). Contohnya adalah sebagai berikut:
I prepared prize for Salsa. Seharusnya cukup ditulis dengan I prepared prize
for her. We meet with Salsa seharusnya cukup ditulis We meet her. I and Bella
seharusnya ditulis Bella and I.
3) Kesalahan yang lainnya adalah masih ada mahasiswa yang belum paham
tentang penggunaan Subjek dan Predikat. Ada kalimat yang tidak memakai
Subjek. Contoh: During the party, is very wonderful seharusnya ditulis dengan
During the party, the situation is very wonderful
4) Rata-rata kesalahan yang juga dibuat oleh mahasiswa adalah mereka tidak
konsisten dengan tenses yang digunakan. Kalau menggunakan past tense
seharusnya konsisten dan tidak menggunakan bentuk present karena kejadian
tersebut sudah terjadi. Contoh I feel very happy seharusnya ditulis I felt very
happy. the situation is very wonderful seharusnya ditulis the situation was
very wonderful
Dari contoh pekerjaan mahasiswa yang mewakili dapat diklasifikasikan
bahwa pada umumnya makna yang terkandung dari sebuah karangan tersebut
dapat ditangkap dan dipahami oleh pembaca. Tetapi mereka masih membuat
beberapa kesalahan yang tidak terlalu signifikan. Ini berarti ketika mereka menulis
dan ada beberapa kesalahan yang telah saya sebutkan diatas, pembaca masih dapat
menangkap dan memahami makna dari cerita tersebut.
b. Keterampilan Kooperatif yang Dikembangkan Pada Mahasiswa
12
Sesuai dengan pendapat Nur (2005:80) yang menyatakan bahwa dengan
menggunakan pembelajaran kooperatif guru dapat mencapai tiga tujuan yaitu hasil
belajar akademik, dapat menerima perbedaan terhadap orang lain seperti ras,
agama, ataupun budaya dan tujuan yang ketiga adalah untuk pengembangan
keterampilan sosial.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bagaimana proses kegiatan
belajar mengajar yang terjadi di kelas dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif mahasiswa akan mempunyai sikap lebih menghargai pendapat lain. Ini
dapat diketahui dari hasil pengamatan peneliti yaitu sebanyak 29 mahasiswa atau
72,5% menghargai teman yang sedang mengungkapkan pendapatnya. Dengan
model pembelajaran kooperatif mereka juga dapat berbagai tugas sesuai dengan
kemampuannya. Hal ini dilakukan oleh sebanyak 30 mahasiswa atau 75%.
Dengan pembelajaran kooperatif, guru dapat memotivasi mahasiswa untuk
berbicara. Dengan kelompok kooperatif mahasiswa dimotivasi untuk berbicara
dengan sesama teman. Itupun dengan kelompok yang kecil. Berdasarkan hasil
pengamatan sebanyak 20 mahasiswa atau 50% mahasiswa sudah mempunyai
keberanian untuk berbicara.
Keterampilan lain yang dikembangkan adalah keterampilan untuk
mendengarkan secara aktif. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dapat diketahui
sebanyak
35
mahasiswa
atau
87,5%
mempunyai
kemampuan
untuk
mendengarkan secara aktif.
Pada keterampilan bertanya sebanyak 45% mahasiswa sudah mempunyai
keberanian untuk bertanya. Dalam pembelajaran kooperatif mahasiswa tidak
berada dalam tugas sebanyak 25% mahmahasiswa. Dan keterampilan yang
terakhir adalah memeriksa ketepatan. Berdasarkan hasil pengamatan sebanyak
42,5% mahasiswa telah melaksanakan keterampilan memeriksa ketepatan.
c. Respon Mahasiswa Dalam Proses Pembelajaran Kooperatif
Diakhir proses pembelajaran, mahasiswa diberi angket yang bertujuan
untuk mengetahui bagaimana respon mereka setelah mengikuti perkulihan bahasa
Inggris. Berdasarkan hasil angket diketahui bahwa sebanyak 75 % mahasiswa
13
menjawab senang sekali sedangkan 10% menjawab senang mengikuti perkuliahan
dan sebanyak 7, 5% menjawab kurang senang dan tidak senang. Terdapat 50%
mahasiswa yang menjawab senang sekali terhadap materi ajar bahasa Inggris, 20
% menjawab senang dan sisanya 15% dan 10% menjawab kurang senang dan
tidak senang. Terhadap bahan tertulisnya yang berbentuk hand out atau lembar
kegiatan mahasiswa sebanyak 12,5% menjawab senang sekali, sedangkan
sebanyak 47,5% menjawab senang dan sebanyak 25%
dan 15% mahasiswa
menjawab kurang senang dan tidak senang terhadap bahan tertulisnya.
Dari angket yang disebarkan kepada mahasiswa diperoleh bahwa sebanyak
25% mahasiswa merasa senang sekali dengan sistem evaluasi yang dilakukan oleh
guru, sedangkan 30% dari mahasiswa menjawab senang dan sebanyak 25% dan
20% menjawab kurang senang dan tidak senang dengan sistem evaluasi tersebut.
Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC suasana
kelas menjadi lebih menyenangkan dan menggairahkan karena sebanyak 65%
mahasiswa menjawab sangat senang, 22,5% mahasiswa menjawab senang dengan
suasana kelas sedangkan sisanya menjawab kurang senang sebanyak 10% dan
menjawab tidak senang sebanyak 2,5%
Sebanyak 42,5% mahasiswa menjawab senang sekali dan sebanyak 40%
menjawab senang dengan cara mengajar guru dan sisanya sebanyak 7,5% kurang
senang dan 10% mahasiswa menjawab tidak senang dengan cara mengajar guru.
Sebanyak 17,5% mahasiswa merasa senang sekali dengan cara penilaian
yang dipakai oleh guru. Sedangkan sebanyak 37,5% mahasiswa menjawab senang
sedangkan sebanyak 22,5% mahasiswa menjawab kurang senang dan
senang dengan sistem penilaian yang dipakai oleh guru.
14
tidak
Cara pemberian tugas yang dilakukan oleh guru sebanyak 62,5%
mahasiswa merasa senang sekal, sebanyak 15% mahasiswa menjawab senang dan
sisanya 12,5% mahasiswa menjawab kurang senang dan tidak senang.
Sebanyak 85% mahasiswa merasa senang sekali untuk mengikuti proses
pembelajaran berikutnya dan sebanyak 10% mahasiswa menjawab senang dan
sebanyak 2,5% mahasiswa menjawab kurang senang dan tidak senang untuk
mengikuti proses pembelajaran berikutnya.
d. Hasil Belajar Menulis Bahasa Inggris dengan Model Kooperatif Tipe
CIRC
Untuk mengetahui apakah ada peningkatan hasil belajar dengan model
kooperatif tipe CIRC maka sebelum diadakan penelitian mahasiswa diberi pre-tes.
Nilai rata-rata pada pre tes yaitu 54, 45.
Setelah diadakan pre tes maka mahasiswa diberi treatmen (proses
pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif) agar diperoleh hasil yang
memuaskan. Setelah diberi treatemen, kemudian mahasiswa diberi pos tes.dan
nilai rat-rata pada pos tes adalah 68,15. Untuk mengetahui apakah ada
peningkatan yang signifikan, maka hasil tersebut dihitung dengan t-tes dan
diperoleh hasil sebesar 3,468. Setelah dikonsultasikan dengan tabel t dengan
tingkat kepercayaan 5%, diketahui t = 2,860. Ternyata harga t > t 0,05, maka
dalam proses pembelajaran tersebut terdapat perubahan yang signifikan.
9. Simpulan
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan
menggunakan model kelompok belajar kooperatif dapat meningkatkan motivasi
belajar dan hasil belajar mahasiswa. Selain itu dengan model pembelajaran
kooperatif juga dapat meningkatkan keterampilan sosial individu seperti,
keberanian untuk berbicara, mengundang orang lain untuk mengungkapkan
pendapat, dan lain-lain.
15
Daftar Pustaka
Brown, Douglas. 1987. Principles of Language Learning and Teaching. New
Jersey : Prentice-Hall, Inc.
Byrne, Don. 1984. Teaching Writing Skill. New York: Barners and Nobble Inc
Desi, Azizah. 2004. Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Biologi SMU. Tesis yang
tidak dipublikasikan. Surabaya: UNESA
Ibrahin, Muslimin. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Universitas Negeri Surabaya:
University Press.
Indah, Nur. 2004. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMPN I Kalitengah
Lamongan. Tesis yang tidak dipublikasikan. Surabaya: UNESA
Nur, Muhammad. 2005. Pemeblajaran Kooperatif. Suarabya: Pusat Sains dan
Matematika Sekolah UNESA
Sadiman. 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Soekemi, Kem., Soewono, Lestari, Lies Amin. 2000. Metodologi Penelitian
Bahasa. Suarabaya: UNESA University Press
Susanti, Arik. 2002. Teaching Reading Using Comics As Supplement Material in
Junior High School. Skripsi yang tidak dipublikasikan. Surabaya: UNESA
Syamsi, Kastam. 2003. Mencari Alternatif Model Pembelajaran Bahasa Berbasis
Kompetensi. Makalah Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan
Pembelajarannya: Surabaya, 6 Oktober 2003
Tatik, Rustin Rahayu Ningsih.2006. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe STAD di SMPN 32 Surabaya. Skripsi yang tidak dipublikasikan.
Surabaya: UNESA
Triana, Dinny Devi. 2003. Pembelajaran Praktik Tari Melalui Metode Global dan
Metode Proyak dalam Krurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah
Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan Pembelajarannya: Surabaya, 6
Oktober 2003
Usman, Uzer. 2000. Menjadi Guru yang Profesional. Remaja Rosda Karya:
Bandung
Young, Rosalie M. Dan Savage, Harriet H. 1982. Better Learning. New Jersey :
Prentice Hall
16
Download