siaran pers

advertisement
SIARAN PERS
Pusat Hubungan Masyarakat
Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110
Telp: 021-3860371/Fax: 021-3508711
www.kemendag.go.id
Kemendag Pertegas Aturan SNI, 215 Produk dalam Pengawasan
Jakarta, 7 November 2014 –Kementerian Perdagangan RI mempertegas penerapan aturan Standar Nasional
Indonesia (SNI). Saat ini, Kemendag sedang mengawasi 215 produk yang melanggar ketentuan SNI, label dan
manual kartu garansi (MKG), 95 di antaranya dipastikan melanggar dan terancam ditindak tegas.
Kemendag melakukan pengawasan prapasar dan di pasar sesuai Permendag No. 14/M-Dag/Per/3/2007 tentang
Standardisasi Jasa Bidang Perdagangan dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib terhadap Barang
dan Jasa yang Diperdagangkan, serta Permendag No. 20/M-Dag/Per/5/2009 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pengawasan Barang dan Jasa.
“Setiap produk yang diberlakukan SNI secara wajib harus dibubuhi tanda SNI, NRP/NPB, dan label berbahasa
Indonesia bila diperdagangkan. Saat ini sudah terdapat 106 produk yang terdiri dari 112 SNI yang sudah
diberlakukan secara wajib. Pada periode Januari-Agustus 2014 terdapat 215 produk yang diawasi. Dari jumlah
tersebut terdapat 38 produk (12 SNI, 16 label, dan 10 MKG) sudah sesuai ketentuan, terdiri dari 17 produk dalam
negeri dan 21 impor. Sedangkan produk yang diduga tidak sesuai sebesar 95 produk (17 SNI, 58 label, dan 20
MKG) yang terdiri dari 23 produk dalam negeri dan 72 impor. Sisanya, sebesar 82 produk masih dalam proses
pengujian di laboratorium," tegas Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Widodo, hari ini, Jumat
(7/11). "Terhadap produk yang tidak sesuai ketentuan tersebut telah dilakukan teguran tertulis maupun proses
penegakan hukum, seperti perintah penarikan barang, pelimpahan berkas ke kejaksaan, dan penyitaan produk”,
imbuh Widodo
Di samping pengawasan berkala, pada 29-31 Oktober 2014 telah dilaksanakan sidak di Batam,Provinsi Kepulauan
Riau, dan ditemukan beberap aproduk yang diduga tidak memenuhi ketentuan, yaitu helm kendaraan bermotor
roda dua (2 merek), penanak nasi/rice cooker (3 merek), kipas angin (1 merek), setrika listrik (1 merek), dan
telepon seluler (2 merek).
Pada media briefing di ruang Flamboyan, Kemendag, Widodo menegaskan pemerintah akan terus melakukan
pengawasan produk yang melanggar ketentuan (SNI, label dan MKG) dan akan melakukan penerapan sanksi
secara tegas tanpa pandang bulu. Penegakan SNI ini merupakan upaya Kemendag dalam melakukan perlindungan
terhadap konsumen.
Di era perdagangan global, standar merupakan suatu instrumen yang berperan dalam menentukan mutu produk.
SNI disusun dengan mempertimbangkan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup
(K3L), perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman untuk memperoleh manfaat yang
sebesar-besarnya.
Apabila suatu produk menjadi kebutuhan masyarakat umum dan terkait dengan K3L, Pemerintah dapat
memberlakukan SNI secara wajib. Dalam hal ini, seluruh produk yang beredar di Indonesia wajib memenuhi syarat
mutu yang ditetapkan dalam SNI yang dibuktikan dengan diterbitkannya Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI
(SPPT SNI) oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro). Dengan demikian, konsumen hanya akan mengonsumsi atau
menggunakan produk yang terjamin mutunya dan aman.
Terdapat dua syarat utama pemberlakuan SNI secara wajib, yaitu kesiapan industri dalam negeri dan infrastruktur
mutu (laboratorium uji dan LSPro). Apabila kedua hal tersebut terpenuhi, maka menteri teknis yang berwenang,
misalnya Menteri Perindustrian, Menteri ESDM, Menteri Pertanian, dan sebagainya, akan menerbitkan Peraturan
Menteri (Permen). Sebagai anggota dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Indonesia, melalui Badan
Standardisasi Nasional (BSN), akan menotifikasi draft Permen tersebut ke WTO selama minimal 60 hari. Hal ini
ditujukan untuk menginformasikan kepada industri maupun importir bahwa Indonesia akan segera
memberlakukan SNI secara wajib, serta untuk mendapat tanggapan dari mereka. Setelah dinotifikasi, kemudian
draft akan ditandatangani oleh Menteri dan diundangkan di Lembaran Negara. Umumnya, minimal 6 bulan
kepada pelaku usaha untuk dapat mempersiapkan produknya, baik yang akan diproduksi, maupun yang sudah
beredar.
Untuk menjamin bahwa produk yang telah diberlakukan SNI secara wajib tersebut selalu sesuai dengan SNI,
Kemendag sebagai coordinator pengawasan barang dan jasa, melakukan pengawasan. Kegiatan ini dilakukan
melalui pengawasan prapasar dan di pasar. Pengawasan di pasar dilakukan secara berkala maupun khusus, baik
sendiri maupun bersama instansi terkait. Pengawasan bersama dilakukan melalui Tim Terpadu Pengawasan
Barang Beredar (Tim TPBB) yang antara lain beranggotakan BPOM, Kemenperin, ESDM, Kementan, BSN, KKP, dan
Polri. Dalam pengawasan terdapat enam paremeter kunci, yaitu standar, label, klausula baku, cara menjual, iklan,
dan layanan purna jual.
“Implikasinya di dalam negeri, bila konsumen selalu menggunakan dan mencari produk berkualitas (bertanda
SNI), dan produsen berlomba-lomba menerapkan SNI secara sukarela, maka hal ini dapat mendorong
pertumbuhan konsumsi produk dalam negeri secara signifikan. Pada akhirnya produk kita menjadi produk yang
jaya di negeri sendiri. Hal ini juga sangat dimungkinkan, mengingat SNI sudah dirumuskan dengan mengacu pada
standar internasional. Artinya bila kemudian produsen memutuskan melakukan ekspor, maka produk tersebut
sudah memenuhi persyaratan standar internasional dan memudahkan transaksi perdagangan,” terang Widodo.
Pengujian Produk Loom Band
Terkait dengan adanya isu produk loom band mengandung bahan berbahaya, Ditjen SPK telah melakukan
pengambilan contoh dan pengujian terhadap 11 merek produk loom band. Berdasarkan pengujian yang dilakukan,
terdapat 1 merek yang tidak memenuhi syarat mutu, yaitu merek Xing Long, yang memiliki kadar phthalate lebih
dari syarat mutu yang ditetapkan. Kandungan phthalate pada produk loom band merek Xing Long ditemukan
dalam aksesori yang ada dalam paket produk tersebut. Sedangkan, 10 merek lainnya memiliki kadar phthalate
dan logam berat dengan kadar lebih rendah dari syarat mutu yang ditetapkan, sehingga disimpulkan memiliki
mutu yang sesuai standar. 10 Merek tersebut yaitu Monstertail, Lollipop, Colourfull Loom band, Colourfull endless
flexible, Loom band Stroberi, Monstertail rainbow loom, Rainbow loom endless flexible, Rainbow loom, Rainbow
loom by Choons Designs, dan satu produk dengan merek dalam huruf China.
-- selesai -Informasi lebih lanjut hubungi:
Ani Mulyati
Kepala Pusat Humas
Kementerian Perdagangan
Telp/Fax: 021-3860371/021-3508711
Email: [email protected]
Chandrini Mestika Dewi
DirekturPengembanganMutuBarang
DitjenStandardisasidanPerlindunganKonsumenKementeria
nPerdagangan
Telp: 021-8710323
Fax: 021-8710478
Email: [email protected]
Irpan Ganda Putra
DirekturPengawasanBarangBeredardanJasa
DitjenStandardisasidanPerlindunganKonsumenKementeria
nPerdagangan
Telp/Fax: 021-3858189
Email: [email protected]
Frida Adiati
DirekturStandardisasi
DitjenStandardisasidanPerlindunganKonsumenKementeria
nPerdagangan
Telp/Fax: 021-3863928
Email: [email protected]
Download