BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Perilaku Konsumen dan Perilaku Konsumtif
2.1.1. Pengertian Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen adalah perilaku yang ditunjukan dalam
mencari, membeli, menggunakan, menilai, dan menentukan produk, jasa,
dan gagasan (Schiffman & Kanuk, 2004), sedangkan menurut Mowen
(1995)
perilaku
pengambilan
konsumen
keputusan
merupakan
yang
sebuah
terlibat
proses
dalam
dan
unit
mendapatkan,
mengkonsumsi dan membuang barang, jasa, pengalaman, dan ide-ide.
Menurut Loudon & Bitta (1984), perilaku konsumen adalah proses
pengambilan keputusan dan aktivitas fisik individu yang terlibat dalam
mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, atau membuang barang dan
jasa.
Berdasarkan dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
perilaku konsumen adalah sebuah proses pengambilan keputusan yang
ditunjukan berupa perilaku atau aktivitas fisik yang terlibat dalam mencari,
membeli atau mendapatkan, menggunakan, menilai, dan membuang
produk, jasa, dan gagasan.
2.1.1.1. Proses Pengambilan Keputusan Konsumen
Kotler & Armstrong (2004) menjelaskan proses bagaimana
seseorang mengambil keputusan dalam pembelian suatu produk.
Pengambilan
keputusan
oleh
konsumen
untuk
melakukan
pembelian diawali dengan Pengenalan Kebutuhan, yaitu adanya
kesadaran terhadap pemenuhan kebutuhan dan keinginannya.
Setelah konsumen menyadari akan kebutuhan dan keinginannya,
selanjutnya konsumen melakukan kegiatan Pencarian Informasi,
sehubungan dengan produk yang diinginkannya.
Pada
tahap
mengumpulkan
Pencarian
informasi
Informasi
mengenai
ini,
tersedianya
konsumen
berbagai
alternatif yang memenuhi atau akan memenuhi kebutuhan dan
keinginannya, semua informasi ini berhubungan dengan produk
yang diinginkannya. Dari berbagai informasi yang diperoleh,
konsumen
menggunakannya
untuk
mengevaluasi
alternatif-
alternatif yang ada dalam menentukan keputusan pembeliannya.
Dalam tahap Evaluasi Alternatif ini, konsumen juga mempelajari
merek-merek yang tersedia dan ciri-cirinya.
Berdasarkan alternatif-alternatif yang ada, dan berbagai
faktor, akhirnya konsumen memilih produk yang dibelinya, Proses
ini disebut dengan Keputusan Pembelian, yang merupakan suatu
tahap dimana konsumen benar-benar membeli produk. Setelah
tahap Keputusan pembelian, proses Pengambilan Keputusan
Konsumen tidak berhenti sampai disitu saja, adanya Tindakan
Setelah Pembelian. Kepuasan dan ketidakpuasan konsumen akan
mempengaruhi perilaku konsumen berikutnya. Jika konsumen
merasa puas maka ia akan menunjukkan kemungkinan yang lebih
tinggi untuk membeli produk itu lagi. Sebaliknya apabila konsumen
merasa tidak puas, maka konsumen akan memungkinkan
melakukan tindakan membuang produk atau mengembalikan
produk
tersebut
atau
mereka
mungkin
berusaha
untuk
rnengurangi ketidakpuasan dengan mencari informasi yang dapat
memperkuat nilai produk tersebut.
Berdasarkan uraian penjelasan diatas, dapat disimpulkan
proses keputusan pembelian terdapat lima tahap pada setiap
pembelian
(Kotler
& Armstrong,
2004),
yaitu
Pengenalan
Kebutuhan, Pencarian Informasi, Evaluasi Alternatif, Keputusan
Pembelian dan Tindakan Setelah Pembelian.
2.1.2. Pengertian Perilaku Konsumtif
Menurut Schiffman & Kanuk (2004), konsumen yang melakukan
pembelian dipengaruhi motif emosional seperti hal-hal yang bersifat
pribadi atau subyektif (misalnya saja status, harga diri, perasaan cinta
dan lain sebagainya), tidak mempertimbangkan apakah barang atau jasa
yang dibelinya sesuai dengan dirinya, sesuai dengan kebutuhannya,
sesuai dengan kemampuannya, dan sesuai dengan standar atau kualitas
yang diharapkannya. Hal inilah yang menyebabkan individu dapat
berperilaku konsumtif.
Pengertian
Konsumen
perilaku
Indonesia
konsumtif
(dalam
Lina
menurut
&
Rosyid,
Yayasan
1997)
Lembaga
merupakan
kecenderungan untuk melakukan konsumsi tiada batas, yang lebih
mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan. Hal tersebut
mengandung arti adanya unsur sifat pemborosan dalam perilaku
konsumtif. Lubis (dalam Lina & Rosyid, 1997) mengemukan bahwa
perilaku
konsumtif
melekat
pada
individu
bila
membeli
dan
mengkonsumsi barang dan jasa yang didasari pada keinginan (want) dan
bukan pada kebutuhan (need). Menurut Fromm (1980) seseorang dapat
dikatakan konsumtif jika ia memiliki barang lebih disebabkan oleh
pertimbangan status, yang dimaksud adalah memiliki barang bukan untuk
memenuhi kebutuhannya tetapi karena barang tersebut menunjukan
status pemiliknya.
Fromm (1995) menyatakan bahwa keinginan masyarakat dalam
era kehidupan yang modern untuk mengkonsumsi sesuatu tampaknya
telah kehilangan hubungan dengan kebutuhan yang sesungguhnya. Hal
itu terlihat bahwa perilaku konsumtif masyarakat Indonesia tergolong
berlebihan bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa di Asia tenggara
(Soegito dalam Parma, 2007). Keadaan ini dilihat dari rendahnya tingkat
tabungan masyarakat Indonesia dibandingkan negara lain seperti
Malaysia, Filipina, dan Singapura (Soegito dalam Parma, 2007).
Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat Indonesia lebih
senang menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan yang tidak
penting dengan berperilaku konsumtif yang menjadi syarat mutlak untuk
kelangsungan status dan gaya hidup (Soegito dalam Parma, 2007).
Selain itu, masyarakat juga melihat pola perilaku konsumsi seseorang
untuk membantu mereka membuat penilaian mengenai identitas sosial
orang tersebut (Solomon, 2004).
Pernyataan diatas diperjelas oleh Dennis dan Soron (2005) dalam
jurnal Death by Consumption bahwa setengah dari orang yang memiliki
tingkat konsumsi yang tinggi berdomisili di negara yang sedang
berkembang, dimana akan diperkirakan negara yang memiliki tingkat
populasi yang tinggi seperti Cina, India dan Indonesia akan memiliki
tingkat konsumsi yang sangat tinggi kedepannya.
Menurut Fromm (1955), perilaku mengkonsumsi produk secara
berlebihan tersebut dapat berakibat Consumption Hungry. Consumption
hungry adalah keinginan untuk mengkonsumsi sesuatu secara berlebihan
demi memenuhi rasa puas yang dapat membuat seseorang menjadi
konsumtif. Sedangkan, rasa puas pada manusia tidak bertahan pada satu
titik saja, melainkan akan cenderung meningkat (Fromm, 1955). Sehingga
orang tersebut akan memiliki keinginan untuk membelanjakan uangnya
dengan mengkonsumsi barang dan jasa secara berlebihan dan terus
menerus untuk memenuhi rasa puasnya.
Berdasarkan dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa perilaku
konsumtif adalah perilaku atau tindakan yang terlihat secara nyata dalam
membeli, mendapatkan, menggunakan, dan menghabiskan barang dan
jasa, tanpa batas dan lepas kendali, yang dalam proses tersebut lebih
mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan. Perilaku konsumtif
ditandai dengan kehidupan mewah dan berlebihan.
Bila dilihat dari pengertian perilaku konsumen adalah sebuah
proses pengambilan keputusan yang ditunjukan berupa perilaku atau
aktivitas fisik yang terlibat dalam mencari, membeli, menggunakan,
menilai, dan membuang produk, jasa, gagasan, sedangkan pengertian
perilaku konsumtif adalah perilaku atau tindakan yang terlihat secara
nyata dalam membeli, mendapatkan, menggunakan, dan menghabiskan
barang dan jasa, tanpa batas dan lepas kendali, yang dalam proses
tersebut lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan. Dari
pengertian tersebut dapat dilihat perilaku konsumtif sebenarnya bagian
dari perilaku konsumen, karena perilaku konsumtif merupakan bagian dari
mengkonsumsi suatu produk dan jasa yang dilakukan oleh konsumen.
Pada penelitian ini, perilaku konsumtif yang dimaksud adalah
perilaku konsumtif pada produk fashion. Produk adalah apapun yang bisa
ditawarkan ke sebuah pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau
kebutuhan (Kotler, 2004). Dari sudut pandang pelanggan, produk hanya
menarik jika produk tersebut menawarkan manfaat yang memenuhi
kebutuhan pelanggan (Lawn, 2004).
Sedangkan fashion berkaitan dengan sesuatu yang baru (Evans,
1989) dan pengadopsi fashion (mode) sering menganggap hal tersebut
sebagai cara baru untuk mengekspresikan diri mereka kepada orang lain.
Fashion adalah representasi mengejar individualitas, agar diterima secara
sosial (Sproles, 1985). Fashion juga merupakan salah satu cara individu
untuk mempertahankan atau malah memperbaiki status sosial mereka
(Hemphill & Suk, 2009). Berdasarkan prinsip ini, fashion merupakan hal
yang di adopsi oleh kaum sosial elite yang bertujuan untuk membedakan
diri mereka dari kelompok sosial menengah kebawah (Hemphill & Suk,
2009).
2.1.2.1. Dimensi - dimensi Perilaku Konsumtif
Berdasarkan dari pembahasan Erich Fromm (1995),
perilaku konsumtif memiliki beberapa dimensi yaitu Pemenuhan
Keinginan, Barang di Luar Jangkauan, Barang Tidak Produktif,
dan Status.
1. Pemenuhan Keinginan
Rasa puas pada manusia tidak berhenti pada satu titik saja
melainkan cenderung meningkat. Oleh karena itu dalam
pengkonsumsian suatu hal, manusia selalu ingin lebih, untuk
memenuhi rasa puasnya, walaupun sebenarnya tidak ada
kebutuhan akan barang tersebut. Sehingga individu tersebut
akan memiliki keinginan untuk membelanjakan uangnya
dengan mengkonsumsi barang dan jasa secara terus
menerus untuk memenuhi rasa puasnya.
2. Barang di Luar Jangkauan
Acquistion transitory having and using – throwing away (or
if posibble, profitable exchange for a better mode) new
acquisition = consitutes the vicious.
Jika manusia menjadi konsumtif, tindakan konsumsinya
menjadi kompulsif dan tidak rasional. Individu tersebut selalu
merasa “belum lengkap” dan mencari-cari kepuasan akhir
dengan mendapatkan barang-barang baru. Individu tersebut
tidak lagi mencari kebutuhan dirinya dan kegunaan barang itu
bagi dirinya.
3. Barang Tidak Produktif
Jika pengkonsumsian barang menjadi berlebihan maka
kegunaan
konsumsi
menjadi
tidak
jelas,
sehingga
mengakibatkan barang atau produk tersebut menjadi tidak
produktif.
4. Status
Perilaku individu bisa digolongkan sebagai konsumtif jika ia
memiliki barang-barang lebih karena pertimbangan status.
Manusia mendapatkan barang-barang untuk memilikinya.
Tindakan
konsumsi
itu
sendiri
tidak
lagi
merupakan
pengalaman yang berarti, manusiawi dan produktif karena
hanya merupakan pengalaman pemuasan angan-angan untuk
mencapai suatu status melalui barang atau kegiatan yang
bukan merupakan bagian dari kebutuhan dirinya.
2.1.2.2. Faktor-faktor Perilaku Konsumtif
Banyak hal yang mendasari seseorang mengkonsumsi
atau membeli suatu produk. Faktor-faktor merupakan hal-hal yang
mendasari seseorang untuk pada akhirnya mengkonsumsi suatu
produk. Perilaku konsumtif, menurut Engel, Blackwell, dan Miniard
(1995) dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut :
1. Kebudayaan, yaitu sebagai bentuk kreativitas yang diwariskan
dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang akan
membentuk perilaku yang mengakar. Kebudayaan memiliki
pengaruh kuat terhadap perilaku membeli, perilaku membeli
dapat diramalkan dari nilai-nilai budaya yang dipegang
konsumen.
2. Kelas Sosial, yaitu pembagian di dalam masyarakat yang
terdiri dari individu-individu yang berbagi nilai, minat, dan
perilaku yang sama. Tingkat seseorang dalam berinteraksi
sosial akan mempengaruhi bentuk perilakunya. Kelas sosial
menunjukkan bentuk-bentuk perilaku konsumsi yang berbeda.
3. Kelompok
Referensi,
mempengaruhi
didalam
perilaku
kelompok
pendapat
dan
yaitu
kelompok
seseorang.
sosial
seleranya.
akan
yang
Interaksi
berpengaruh
Seseorang
sangat
seseorang
terhadap
dipengaruhi
oleh
kelompok referensi melalui tiga cara (Kotler, 1994) ; Kelompok
referensi menghadapkan seseorang pada perilaku dan gaya
hidup
baru.
Mempengaruhi
sikap
dan
gambaran
diri
seseorang karena secara normal orang ingin ”menyesuaikan
diri”. Menciptakan suasana untuk penyesuaian yang dapat
mempengaruhi pilihan orang terhadap merek dan produk.
4. Situasi, yaitu berupa suasana hati dan kondisi seseorang
akan mempengaruhi bentuk perilaku konsumsinya, termasuk
kondisi keuangan atau pendapatan, waktu dan juga tempat
membeli.
5. Keluarga, yaitu berbentuk keyakinan dan kebiasaan yang
berfungsi langsung menetapkan keputusan perilaku untuk
membeli atau menggunakan produk atau jasa tertentu.
Keluarga sebagai bagian dari faktor eksternal mempunyai
pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan sikap dan
perilaku anggotanya.
6. Kepribadian, yaitu bentuk sifat-sifat yang terdapat dalam diri
individu yang mempengaruhi keputusan untuk berperilaku.
Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda yang
akan mempengaruhi perilaku konsumsi (Kotler, 1994).
7. Konsep diri, yaitu persepsi dan perilaku seseorang untuk
membeli dan menggunakan produk/jasa tertentu. Konsep diri
seseorang juga berpengaruh terhadap perilaku konsumsi.
Seseorang
yang
memandang
dirinya
secara
negatif
cenderung berperilaku konsumtif untuk menaikkan citra
dirinya.
8. Motivasi, yaitu yang mendorong seseorang untuk membeli
dan menggunakan suatu produk. Menurut Foxall (dalam
Pohan, 2001) motivasi pembelian dapat dibagi dalam
beberapa kategori besar, yaitu Buying for Needs, Buying for
Special Occasions or Situation, Buying for Saving or
Investment, dan Buying for Fullfilling Psychological Needs.
Perilaku konsumtif dapat dikatakan termasuk dalam Buying for
Fullfilling Psychological Need, dimana individu memutuskan
untuk melakukan pembelian suatu produk dengan alasan
semata-mata karena produk tersebut menggugah emosi
invidu. Produk yang dibeli dapat memberikan suatu “nilai” atau
“rasa” tertentu terhadap pembelinya.
9. Pengalaman
belajar,
yaitu
tindakan
pengamatan
dan
pelajaran dari stimulus berupa informasi untuk melakukan
pembelian dan penggunaan. Sebelum seseorang membeli
produk,
seseorang
akan
mendasarkan
pengamatannya
terhadap produk tersebut. Jika produk tersebut sesuai maka
seseorang tidak akan segan membelinya. Pembelian yang
dilakukan konsumen juga merupakan suatu rangkaian proses
belajar.
10. Gaya hidup, yaitu pola rutinitas kehidupan dan aktivitas
seseorang dalam menggunakan waktu dan uang. Gaya hidup
juga merupakan pola hidup seseorang yang diekspresikannya
dalam aktivitas, minat, dan opini, yang menggambarkan
“keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan
lingkungannya (Abdurachman, 2004)
2.2. Remaja
2.2.1. Pengertian Remaja
Kata remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang
berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa (Hurlock, 2004). Definisi
remaja menurut Hurlock (2004), masa remaja merupakan suatu periode
transisi dimana seseorang berubah secara fisik dan psikologis dari
seorang anak menjadi dewasa. Piaget (dalam Hurlock, 2004) mempunyai
arti yang lebih luas, dimana remaja mencakup kematangan mental,
emosional, sosial, dan fisik.
Menurut
Sarwono
(2006),
untuk
profil
remaja
Indonesia
sebenarnya tidak ada yang seragam dan berlaku secara nasional karena
Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat, dan tingkatan sosialekonomi maupun pendidikan. Menurut Papalia, Olds & Feldman (2001),
mengenai batasan rentang usia pada remaja, transisi perkembangan
pada remaja berlangsung antara masa kanak-kanak dan masa dewasa,
yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir
pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Hal itu diperjelas oleh Monks (2000), dimana remaja merupakan
individu yang berusia antara 12 hingga 21 tahun yang sedang mengalami
masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, dengan
pembagian 12 hingga 15 tahun pada masa remaja awal, 15 hingga 18
tahun untuk masa remaja pertengahan dan 18 hingga 21 tahun untuk
masa remaja akhir. Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock
karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi
perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa Hurlock (2004). Pada
penelitian ini pemfokusan kepada remaja awal dan akhir terkait dengan
sampel penelitian ini, yaitu anak SMA dengan kisaran usia berumur 13-18
tahun. Namun ketersediaan sampel pada SMA IIBS hanya pada remaja
berumur 14-17 tahun yang duduk di SMA kelas 1 dan 2.
2.2.2. Aspek-aspek Perkembangan Pada Masa Remaja
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang
terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Transisi
perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa
kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa
sudah dicapai (Hurlock, 1990).
Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspekaspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan
Papalia
dan
Olds
(2001),
yaitu:
(1)
perkembangan
fisik,
(2)
perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.
1. Perkembangan fisik
Yang
dimaksud
dengan
perkembangan
fisik
adalah
perubahan-perubahan dalam hakikat fisik individu. Perkembangan
fisik pada remaja mencakup perubahan-perubahan pada tubuh, otak,
kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik. Perubahan pada tubuh
ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan
tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi
reproduksi.
2. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif meliputi perubahan dalam pikiran,
intelegensi, dan bahasa individu. Piaget (dalam Papalia & Olds,
2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan
kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan
lingkungan
sosial
yang
semakin
luas
untuk
eksperimentasi
memungkinkan remaja untuk berpikir astrak. Remaja sudah mampu
membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting
dibanding ide lainnya. Remaja sudah mampu memikirkan suatu
situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock,
2001).
Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi
tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan
sesuatu yang diinginkan di masa depan dan membuat suatu
perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock,
2001). Remaja juga sudah dapat memahami bahwa tindakan yang
dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan
datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan
konsekuensi dari tindakannya.
3. Perkembangan kepribadian dan sosial
Tahap
perkembangan
kepribadian
dan
sosial
meliputi
perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain, dalam
emosi, dalam kepribadian, dan dalam peran dari konteks sosial
dalam perkembangan. Perkembangan kepribadian adalah perubahan
cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi
secara unik, sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan
dalam berhubungan dengan orang lain.
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan
kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger dalam Papalia
& Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok
teman sebaya cukup besar. Pada diri remaja, pengaruh lingkungan
dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Pada kehidupan
sosial, remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari
jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan
orang dewasa.
2.2.3. Perilaku Konsumtif Remaja
Dalam kehidupan nyata, fashion sangat diminati oleh banyak
pihak, salah satunya remaja. Sebagian dari mereka menganggap fashion
hal yang harus sangat diperhatikan (Hemphill & Suk, 2009). Fashion
menjadi alasan terbesar bagi individu, termasuk golongan remaja dalam
menghabiskan uang mereka, konsumsi dalam bidang fashion (Hemphill &
Suk, 2009). Hal itu dapat terjadi, karena menurut Tambunan (2001)
kelompok usia remaja biasanya memiliki karakteristik khas seperti mudah
terbujuk iklan dan rayuan penjual, suka ikut-ikutan teman, mudah tertarik
pada mode atau fashion, tidak realistis, tidak hemat atau cenderung boros
dalam menggunakan uangnya, dan impulsif.
Perilaku konsumtif pada umumnya terjadi pada remaja, yang
dalam perkembangannya mereka akan menjadi orang dewasa dengan
gaya hidup konsumtif (Tambunan, 2001). Tambunan (2001) menjelaskan,
bagi produsen kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang
potensial. Misalnya bagi para pelaku industri mode, kelompok usia remaja
adalah salah satu pasar yang potensial untuk produk-produk seperti
pakaian sepatu, dan bermacam-macam aksesoris (Stanton dalam
Brahim, 2009). Alasannya karena pola konsumsi seseorang terbentuk
pada usia remaja (Loundon & Bitta, 1993).
Meskipun sebagian besar dari remaja tidak memiliki penghasilan
tetap karena belum memiliki pekerjaan dan masih bersekolah, namun
para pemasar tahu bahwa sebenarnya pendapatan mereka tidak terbatas,
dalam arti bisa meminta uang kapan saja pada orang tua mereka (Loudon
& Bitta, 1993).
Konsumen remaja, yang mempunyai keinginan membeli yang
tinggi, karena pada umumnya remaja mempunyai ciri khas dalam
berpakaian, bergaya rambut, berdandan menggunakan kosmetik, dan
lain-lainnya. Remaja ingin selalu berpenampilan yang dapat menarik
perhatian
orang
lain
terutama
teman
sebaya,
sehingga
remaja
kebanyakan membelanjakan uangnya untuk keperluan tersebut (Monks,
Knoers & Haditono, 1991).
Lucher (dalam Marpaung, 2005) berpendapat bahwa remaja
sering berkorban demi segi kepuasaan terutama dalam mengikuti mode,
karena apa yang dianggap pantas oleh remaja adalah apa yang telah
menjadi mode saat ini, sekalipun harus mengeluarkan uang secara
berlebih untuk memenuhi keperluannya. Bagi berkebanyakan remaja
bergaya hidup konsumtif merupakan cara paling cepat untuk dapat ikut
masuk dalam kehidupan kelompok sosial yang diinginkan (Ashadi dalam
Brahim, 2009). Hal itulah yang menyebabkan remaja kemudian
berperilaku konsumtif dengan berusaha untuk mengikuti fashion atau
mode. Misalnya saja perilaku konsumtif pada remaja putri, remaja putri
cenderung menyesuaikan warna pakaian dengan warna sepatu, tas, dan
aksesoris lainnya yang dipakainya (Park & Burns dalam Brahim, 2009).
Bila mereka memakai barang-barang tersebut dengan warna yang tidak
sesuai akan mengakibatkan mereka menjadi kurang percaya diri, yang
pada akhirnya mereka menjadi konsumtif hanya karena kepentingan
kesesuaian warna.
Masa remaja adalah masa dimana seseorang mencari informasiinformasi dari luar untuk membentuk identitas diri mereka (Ascbach et.al
dalam Brahim, 2009). Remaja mencoba untuk mencari jati diri mereka
yang sesungguhnya, oleh karena itu mereka cenderung tertarik untuk
mencoba hal-hal baru yang menarik bagi mereka. Salah satunya adalah,
mereka mengikuti trend fashion. Sedangkan fashion berkaitan dengan
sesuatu yang baru (Evans,1989).
Akibat dari perilaku-perilaku yang selalu mengikuti trend fashion,
dan tuntutan sosial cenderung menimbulkan pola konsumsi yang
berlebihan. Sedangkan perkembangan Fashion selalu berubah, suatu
gaya yang sudah dibilang fashionable, akan digantikan lagi oleh gaya lain
yang lebih fashionable, yang kemudian akan menjadi trend, dan akan
selalu seperti itu, perkembangan fashion akan selalu berjalan (Hemphill &
Suk, 2009). Hal tersebut akan terus menuntut rasa tidak puas dengan apa
yang dimilikinya sehingga muncul lah perilaku konsumtif.
Perilaku konsumtif muncul karena para remaja cenderung
membeli produk fashion yang mereka inginkan bukan yang mereka
butuhkan secara berlebihan dan tidak wajar (Fromm, 1995). Perilaku
konsumtif bersifat emosional karena semata-mata hanya bertujuan untuk
mencapai kepuasan diri.
2.3. Boarding School
2.3.1. Pengertian Boarding School
Pengertian dari boarding school adalah sekolah khusus yang
pelajarnya akan diberikan rumah tinggal dan juga makanan sebagaimana
diberikan pelajaran tentunya. Boarding school tidak lain adalah sistem
sekolah dengan asrama, peserta didik tinggal dalam lingkungan sekolah
dalam waktu tertentu (Majalah Keluarga Muzzaki, 2012). Sosiologi
Amerika Cokson dan Hognes (dalam Steven, 1980) menyatakan dua
elemen penting dari boarding school, yakni:
1. Sekolah secara luas teroganisasi dihuni oleh pelajar dan berbagai
pihak yang bertugas untuk bekerja sama dalam usaha mencapai
prestasi, kebutuhan fisik dan social well being dari mereka sendiri.
2. Baik bangunan dan suasana dari institusi ini memiliki kualitas
estetika tersendiri yang menunjukan agama, budaya, dan nilai etis
dari institusi tersebut.
Lebih lanjut lagi Lambert (dalam White, 2004) menyatakan
boarding school mempunyai empat point, yakni:
1. Tempat berpindahnya baik fisik, mental dan keahlian sosial.
2. Tempat pelajar diajari tentang nilai yang pantas dalam bertingkah
laku, kepercayaan, rasa dan ekspresi, agama, moral dan
kesadaran akan budaya dan ketertarikan intelektualitas.
3. Tempat reputasi dan kehormatan sekolah tersebut sangatlah
diperhatikan.
4. Boarding
school
mengitergrasikan
pribadi-pribadi
kedalam
kelompok sosial tertentu sesuai dengan tujuan kelompok sosial.
Menurut Tizard, Sinclair dan Clarke, Boarding school juga disebut
sebagai sekolah yang lengkap dengan kehidupan pelajarnya di dalamnya,
terdiri dari beberapa unit dan mempunyai aktivitas dan kurikulum berbeda
yang meliputi hampir keseluruhan maupun bagian dari kehidupan pelajar
didalamnya
(dalam
Kahane,
1988).
Selain
itu,
dalam
kegiatan
ekstrakulikuler, pihak berwenang dari sekolah juga memaksakan aturan
untuk menciptakan keseragaman (conformity). Hal tersebut juga terlihat
dalam aktivitas keseharian lainnya seperti olahraga, musik, kesenian dan
kegiatan di luar lainnya (excursion) yang cenderung membangkitkan
inovasi dan kebebasan (Kahane, 1988).
Perbedaan boarding school dengan sekolah umum lainnya adalah
kelas di boarding school cenderung sedikit dengan jumlah siswa-siswi
yang tidak banyak seperti kelas sekolah umum. Hal ini dilakukan agar
para guru bisa melakukan pendekatan ke para siswa-siswi (GaztambideFernández, Rubén, 2009). Di boarding school bisa mengeluarkan siswasiswi dari kelas apabila siswa tersebut tidak terlihat minat dalam
berpartisipasi dikelas untuk belajar (Gaztambide-Fernández, Rubén,
2009). Di boarding school kegiatan seperti olahraga atau kesenian tidak
temasuk dalam kegiatan ektrakulikuler, mereka mencakup semua aspek
belajar (Gaztambide-Fernández, Rubén, 2009).
2.3.2. Jenis-jenis Boarding School
Terdapat beberapa jenis boarding school, namun tidak semua jenis
boarding school terdapat di Indonesia. Berikut adalah jenis-jenis boarding
school menurut Hays (1994) :
1. Sekolah dengan pelajar berjenis kelamin sama (contohnya ST.
Margaret’s School for Girls, Victoria).
2. Sekolah militer, di Indonesia contohnya SMU Taruna Nusantara,
Magelang.
3. Sekolah Pra-Profesional seni, melatih pelajar menjadi seniman di
berbagai bidang seperti musik, akting, teater, ballet, dan penulis.
Namun, di Indonesia belum ditemukan sekolah dengan jenis ini.
4. Sekolah berdasarkan agama, di Indonesia sekolah seperti ini
merupakan jenis boarding school yang paling banyak.
5. Sekolah berkebutuhan khusus seperti para remaja bermasalah, autis.
6. Sekolah junior yang menyediakan Boarding school di bawah tahap
SMU.
2.3.3. Siswa-siswi Boarding School
Perasaan diabaikan, kurang diperhatikan, atau tidak hadirnya figur
orang tua sebagai identifikasi bagi siswa-siswi yang tinggal di asrama. Hal
tersebut
dapat
dikurangi
dengan
kesempatan
untuk
memperoleh
bimbingan, pengarahan, informasi serta pengalaman-pengalaman yang
bermanfaat terutama dari pembina asrama (Surya dalam Saomah, 2006).
Namun, sebenarnya menurut TABS (The Association of Boarding
Schools) 86% siswa-siswi boarding school merasa sangat puas atau
cukup puas dengan kehidupan keluarga mereka. Banyak siswa-siswi yang
bersekolah di boarding school karena mereka memiliki kehidupan rumah
yang sehat, yang mendorong mereka untuk mengejar impian mereka
melalui pendidikan yang lebih baik dan lebih tinggi.
Penjelasan mengenai boarding school pada “What is a Boarding
School?” (Kennedy, 2012), bahwa siswa-siswi benar-benar tinggal di
boarding school, saat di asrama mereka diawasi oleh anggota staf atau
pembina asrama selama 24 jam, pelajar boarding school menghabiskan
hampir seluruh kegiatan kesehariannya dalam lingkungan sekolah ataupun
asrama.
Kehidupan di asrama menuntut siswa-siswi untuk mentaati dan
menegakkan aturan-aturan yang berlaku serta tata tertib yang tertulis di
asrama. Pembina asrama memberikan pembinaan (misalnya pada
kegiatan-kegiatan belajar dan mengaji), bimbingan (misalnya dengan
pemberian orientasi dan informasi seputar kehidupan asrama dan sekolah)
termasuk di dalamnya melatih siswa-siswi melakukan segala sesuatunya
sendiri (misalnya membereskan tempat tidur sendiri dan lain-lain)
(Saomah, 2006).
Meskipun pada awalnya bentuk kepatuhan itu karena dikontrol oleh
pembina asrama namun seiring dengan lamanya waktu tinggal di asrama
serta kematangan remaja itu sendiri, proses kepatuhan itu berkembang
menjadi sesuatu yang diputuskan dan dikontrol oleh diri sendiri (Saomah,
2006).
Sebagai aturan, siswa-siswi boarding school mengikuti hari yang
sangat terstruktur di mana kelas, makan, belajar, kegiatan dan waktu luang
yang telah ditentukan untuk mereka. “Home Stay” adalah komponen yang
unik dari pengalaman boarding school. Menurut “What is a Boarding
School?” (Kennedy, 2012) berada jauh dari rumah dan belajar untuk
mengatasi memberikan rasa percaya diri anak dan kemerdekaan.
Boarding school dapat membentuk karakter anak dengan peraturan yang
ketat siswa-siswi diajarkan mandiri, bisa mengurus dirinya sendiri.
Meskipun boarding school terisolasi dari dunia luar, anak diajarkan untuk
bertahan (Lucher dalam Marpaung, 2005).
Di lingkungan sekolah ini mereka dipacu untuk menguasai ilmu dan
teknologi secara intensif sedangkan selama di lingkungan asrama mereka
ditempa untuk menerapkan ajaran agama atau nilai-nilai khusus serta
mengekspresikan rasa seni dan keterampilan hidup pada hari libur
(Majalah Keluarga Muzzaki, 2012). Hari-hari mereka adalah hari-hari
berinteraksi dengan teman sebaya dan para guru. Rutinitas kegiatan
tersebut berlangsung dari pagi hingga malam sampai bertemu pagi lagi.
Hampir setiap hari kegiatan mereka selalu dilingkupi oleh dinamika
kehidupan yang serba sama karena sesuai dengan jadwal kegiatan yang
diberikan oleh pihak lembaga pendidikan tersebut (Majalah Keluarga
Muzzaki, 2012).
Berdasarkan penelitian yang TABS lakukan mengenai kehidupan
anak-anak yang pernah bersekolah di boarding school, 59% siswa-siswi
boarding school menggambarkan sekolah mereka memiliki siswa-siswi
dari berbagai ras dan kelompok etnis. Beragamnya latar belakang etnik
warga asrama juga menuntut siswa-siswi untuk mampu bersikap toleran
terhadap sesama temannya (Saomah, 2006). Mereka berasal dari
keluarga dan bahkan daerah yang berbeda sehingga hampir dapat
dipastikan pola perilaku mereka juga beraneka ragam (Saomah, 2006).
Dikemukakan oleh Mohammad Surya (dalam Saomah, 2006)
bahwa siswa-siswi yang tinggal di asrama dituntut untuk mampu
melakukan penyesuaian diri dengan lingkungannya yang baru, dengan
teman yang baru, kebiasaan hidup, pengelolaan diri, serta tuntutan sosial
yang semuanya baru. Siswa-siswi berasal dari berbagai daerah yang
mempunyai
latar
belakang
sosial,
budaya,
tingkat
kecerdasan,
kemampuan akademik yang sangat beragam. Kondisi ini sangat kondusif
untuk
membangun
wawasan
nasional
dan
siswa-siswi
terbiasa
berinteraksi dengan teman-temannya yang berbeda sehingga sangat baik
bagi anak untuk melatih wisdom anak dan menghargai pluralitas.
Munculnya beberapa mitos mengenai boarding school, yang salah
satunya bahwa siswa-siswi yang pernah bersekolah di boarding school
merupakan
anak-anak
yang
bermasalah,
namun
kenyataannya
berdasarkan penelitian yang TABS lakukan 60% responden menentukan
masuk sekolah boarding school karena keinginannya untuk memiliki
kesempatan lebih baik pendidikan. Selain itu, 95% siswa-siswi boarding
school mengatakan bahwa kehidupan sosial mereka tidak berhubungan
dengan obat dan alkohol, dibandingkan dengan 82% dari siswa-siswi
sekolah umum.
Boarding school menyediakan sarana dan prasarana untuk
memenuhi kebutuhan siswa. Lengkapnya fasilitas yang ada untuk
menyalurkan bakat dan hobi siswa-siswi. Siswa-siswi di boarding school
memiliki
kesempatan
mengambil
untuk
mengeksplorasi
berbagai
kepentingan,
bidang yang diminati, dan menunjukkan bakat mereka
(Gaztambide-Fernández, Rubén, 2009). Ini adalah salah satu yang
dijanjikan oleh boarding school untuk menarik perhatian para siswa-siswi
untuk masuk ke sekolah ini.
2.4. Kerangka Berfikir
Manusia sering kali dihadapkan pada persoalan untuk memenuhi
kebutuhannya dan mempertahan kehidupannya (Fromm, 1955). Oleh karena itu,
manusia
harus
melengkapi
kebutuhannya
tersebut.
Namun
seiring
berkembangnya jaman, manusia tidak lagi berpusat hanya pada pemenuhan
kebutuhannya, tetapi juga untuk memenuhi keinginan-keinginannya (Fromm,
1955). Fromm (1995) menyatakan bahwa keinginan masyarakat untuk
mengkonsumsi sesuatu produk telah tidak mempedulikan kebutuhan yang
sesungguhnya. Masyarakat modern memiliki keinginan untuk membelanjakan
uangnya dengan mengkonsumsi barang dan jasa yang modern agar tidak
ketinggalan jaman. Tuntutan dan tindakan seperti inilah yang merupakan
perillaku konsumtif yang dilakukan seseorang terhadap suatu objek yang ada di
sekelilingnya
(Engel,
dkk,
1994).
Hal
tersebut
secara
tidak
langsung
mempengaruhi peningkatan daya beli masyarakat.
Menurut Tambunan (2001), pada umumnya perilaku konsumtif terjadi
pada remaja, yang dalam perkembangannya mereka akan menjadi orang
dewasa dengan gaya hidup konsumtif, karena pola konsumsi seseorang
terbentuk pada usia remaja (Loundon & Bitta, 1993). Remaja merupakan salah
satu contoh yang paling mudah terpengaruh gaya hidup konsumtif (Loudon &
Bitta, 1993). Meskipun sebagian besar dari remaja tidak memiliki penghasilan
tetap karena belum memiliki pekerjaan dan masih bersekolah, namun para
pemasar tahu bahwa sebenarnya pendapatan mereka tidak terbatas, dalam arti
bisa meminta uang kapan saja pada orang tua mereka (Loudon & Bitta, 1994).
Selain itu remaja merupakan tipe konsumen yang mudah terpengaruh oleh
rayuan penjual, mudah terbujuk iklan, tidak berfikir hemat, kurang realistis, dan
impulsif (Johnstone dalam Brahim, 2009).
Pada perkembangan sosial masa remaja, mereka lebih melibatkan
kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, dalam Papalia & Olds,
2001). Dengan demikian pada masa remaja, pengaruh lingkungan dalam
menentukan perilaku diakui cukup kuat. Salah satu lingkungan sosial remaja,
adalah lingkungan sekolah.
Pada penelitian sebelumnya mengenai perilaku konsumtif pada remaja,
sampel berasal dari sekolah-sekolah umum, dari hasil penelitian-penelitian
sebelumnya, dapat diambil kesimpulan dimana adanya kecenderungan perilaku
konsumtif yang cukup besar. Namun, pada sekolah berjenis boarding school,
pelajar menghabiskan hampir seluruh kegiatan kesehariannya dalam lingkungan
sekolah maupun asrama (Honris, dalam Gaztambide-Fernández dan Rubén,
2009). Meskipun sekolah berasrama yang identik dengan kondisi yang terisolasi
dari dunia luar dan memiliki akses kedunia luar yang lebih sedikit, namun tidak
menjamin bahwa siswa-siswi akan menjadi individu yang tidak konsumtif.
Pemilihan remaja SMA boarding school dikarenakan peneliti memiliki
asumsi, bahwa siswa-siswi asrama memiliki kemungkinan pandangan yang
berbeda karena beberapa hal, seperti jauh dari orang tua, memiliki akses ke
dunia luar yang lebih sedikit, dan lain sebagainya. Salah satu sekolah yang
menyediakan model pendidikan boarding school adalah SMA International
Islamic Boarding School Republic of Indonesia atau dikenal dengan SMA IIBS.
Pemilihan
SMA
IIBS
berdasarkan
atas
SMA
boarding
school
yang
menyelenggarakan pendidikan berdasarkan kurikulum nasional, disamping
pendidikan lainnya sesuai dengan karakteristik yang akan SMA IIBS ingin capai,
serta memiliki standar internasional. SMA IIBS juga memiliki siswa-siswi dengan
keberagaman suku dan berasal dari berbagai daerah (Jawa, Kalimantan,
Sulawesi, Sumatra bahkan Jayapura), dan berada di kelas ekonomi menengah
ke atas, sehingga di asumsikan memiliki kecenderungan berperilaku konsumtif.
Download