BAB II KARAKTER DISIPLIN DAN BOARDING SCHOOL A. Karakter

advertisement
BAB II
KARAKTER DISIPLIN DAN BOARDING SCHOOL
A. Karakter Disiplin
1. Pengertian Karakter.
Secara bahasa, karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein yang
artinya mengukir. Sifat utama ukiran adalah melekat kuat diatas benda
yang diukir. Tidak mudah usang tertelan waktu atau arus terkena gesekan.
Menghilangkan benda yang diukir itu.1 Sedangkan secara istilah, karakter
diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya yang bergantung pada
faktor kehidupannya sendiri. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak, atau
budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan
dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan,
dan kebangsaan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan
dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama,
budaya, adat istiadat.2
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, istilah „Karakter‟ berarti
sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang
dari yang lain; tabiat; watak‟.3 Bila dilihat dari asal katanya, istilah
1
Abdullah Munir, Pendidikan Karakter Membangun Karakter Anak Sejak Dari Rumah
(Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2010), hlm. 2-3.
2
Agus Zaenal Fitri, Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah (Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2012), hlm. 20-21.
3
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2008), hlm. 623.
27
28
„karakter‟ berasal dari bahasa Yunani Karasso, yang berarti ‘cetak biru’,
‘format dasar’, atau ‘sidik’ seperti dalam sidik jari.4 Pendapat lain
menyatakan bahwa istilah ‘ Karakter’ berasal dari bahasa Yunani
charassein, yang berarti „membuat tajam‟ atau „membuat dalam‟.5
Secara konseptual, lazimnya, istilah karakter dipahami dalam dua
kubu pengertian. Pengertian pertama, bersifat deterministik. Disini
karakter dipahami sebagai sekumpulan kondisi rohaniah pada diri kita
yang sudah teranugerahi atau ada dari sononya (given). Dengan demikian,
ia merupakan kondisi yang kita terima begitu saja, tak bisa kita ubah. Ia
khusus yang dapat membedakan orang yang satu dengan yang lainnya.
Pengertian kedua, bersifat non deterministik atau dinamis. Disini karakter
dipahami sebagai tingkat kekuatan atau ketangguhan seseorang dalam
upaya mengatasi kondisi rohaniah yang sudah given. Ia merupakan proses
yang dikehendaki oleh seseorang (willed) untuk menyempurnakan
kemanusiaannya. Bertolak dari tegangan (dialektika) dua pengertian itu,
muncullah pemahaman yng lebih realistis dan utuh mengenai karakter. Ia
dipahami sebagai rohaniah
yang belum selesai. Ia bisa diubah dan
dikembangkan mutunya, tapi bisa pula ditelantarkan sehingga tak ada
peningkatan mutu atau bahkan makin terpuruk.6
4
Saptono, Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter (Wawasan, Strategi, dan Langkah Praktis),
(Salatiga: Erlangga, 2011), hlm. 18.
5
Lorens Bagus, Kamus Filsafat ( Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 392.
6
Saptono, op.cit.
29
Berdasarkan pemahaman itu, maka orang yang bersikap pasrah pada
kondisi-kondisi diri yang sudah ada, disebut berkarakter lemah. Di sisi
lain, mereka yang tak mau begitu saja menerima kondisi-kondisi diri yang
sudah ada, melainkan berusaha mengatasinya, disebut berkarakter kuat
atau tangguh. Mereka senantiasa berupaya menyempurnakan diri,
meskipun menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam.7
Dharma Kesuma mengatakan bahwa karakter adalah kata benda yang
memiliki arti: (1) Kualitas-kualitas pembeda; (2) Kualitas-kualitas positif;
(3) Reputasi; (4) Seseorang dalam buku atau film; (5) Orang yang luar
biasa; (6) Individu dalam kaitannya kepribadian, tingkah laku, atau
tampilan. Dari kajian umum ini merujuk pada hal sebagai berikut: pertama,
karakter di kenakan pada orang atau bukan orang, tapi dalam wacana
pendidikan karakter, hal ini berkenaan dengan orang, kedua, berkenaan
dengan kualitas (bukan kuantitas) dan reputasi orang, ketiga, berkenaan
dengan daya pembeda atau pembatas, membedakan atau membatasi yang
satu dari yang lainnya, membedakan orang atau masyarakat yang satu
dengan orang atau masyarakat yang lainnya, keempat, karakter dapat
merujuk pada kualitas negatif atau positif. Simpulannya, bahwa karakter
adalah sebuah kata yang merujuk pada kualitas orang dengan karakteristik
tertentu.8
7
Thomas Lichona, Educating For Character (New York: Bantam Books, 1991), hlm. 51.
Dharma Kesuma, Pendidikan Karakter, Kajian Teori dan Praktek di Sekolah (Bandung: PT.
Remaja Rosda Karya, 2011), hlm. 23-24.
8
30
Menurut Suyanto, karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang
menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik
dalam lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.9
Karakter merupakan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan tata nilai
dasar perilaku dan tata interaksi antar manusia. Secara universal berbagai
karakter dirumuskan sebagai nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar:
1. Kemandirian
2. Disiplin
3. Kebersihan
4. Tanggung jawab
5. Hubungan sosial
6. Pelaksanaan ibadah
7. Percaya diri
8. Sopan santun
9. Punya daya saing.10
Dapat ditarik kesimpulan bahwa karakter adalah akhlak atau budi
pekerti yang dapat membedakan seseorang satu dengan yang lainnya.
Dengan demikian karakter adalah nilai dasar yang membangun pribadi
seseorang, terbentuk baik dari hereditas maupun pengaruh lingkungan,
yang membedakan seseorang yang satu dengan yang lainnya, serta
9
Maksudin, Pendidikan Karakter Non-Dikotomik (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2013),
hlm. 3.
10
Muchlas Samani dan Haranto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Remaja
Rosdakarya: Bandung, 2011), hlm. 41.
31
dapat diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Pengertian Disiplin.
Disiplin secara bahasa berarti ketaatan (kepatuhan) pada peraturan
(tata tertib dan sebagainya).11 Istilah disiplin dalam bahasa Indonesia
berasal dari bahasa Belanda yang kemudian dipengaruhi juga oleh bahasa
Inggris. Disiplin menurut pengertian kedua bahasa tersebut berasal dari
bahasa Latin “diciplina” yang berarti latihan dan pendidikan kesopanan
dan kerohanian serta pengembangan tabiat.12
Istilah disiplin mengandung banyak arti. Menurut Sukardi, disiplin
mempunyai dua arti yang berbeda, tetapi keduanya mempunyai hubungan.
Kedua arti tersebut yaitu: 13
a. Disiplin dapat diartikan suatu rentetan kegiatan atau latihan yang
berencana yang dianggap perlu untuk mencapai suatu tujuan.
b. Disiplin dapat diartikan sebagai hukuman terhadap tingkah laku yang
tidak diinginkan atau melanggar ketentuan-ketentuan peraturan atau
hukum yang berlaku.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, disiplin adalah suatu tata tertib
yang dapat mengatur tatanan kehidupan pribadi dan kelompok.14
11
W.J.S. Purwadarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 1999),
hlm. 254.
12
Amirudin S, Disiplin Militer dan Pembinaannya (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1983), hlm.
11.
13
Sukardi, Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah (Surabaya : Usaha Nasional,
1983), hlm. 102.
14
Syaiful Bahri Djamarah, Rahasia Sukses Belajar (Jakarta : Rineka Cipta, 2002), hlm. 12
Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm. 81.
32
Sedangkan menurut Moh. Shochib, disiplin adalah kepatuhan menjalankan
peraturan dan hukuman karena kesadaran diri bukan takut pada sanksi.15
Jadi disiplin merupakan kepatuhan untuk menghormati dan menjalankan
suatu sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk pada keputusan,
perintah atau peraturan yang berlaku.
Dalam
Ensiklopedia
Pendidikan,
Soegarda
Purbakawatja
menjelaskan disiplin sebagai berikut:16
a. Disiplin adalah proses menyerahkan atau mengabdikan kehendakkehendak langsung, dorongan-dorongan, keinginan atau kepentingankepentingan kepada suatu cita-cita atau tujuan tertentu untuk mencapai
efek yang lebih besar.
b. Pengawasan langsung terhadap tingkah laku bawaan (pelajar-pelajar)
dengan menggunakan sistem hukuman atau hadiah.
c. Dalam sekolah, suatu tingkat tata tertib tertentu untuk mencapai
kondisi yang baik guna memenuhi fungsi pendidikan.
Menurut Al Ghozali, disiplin dapat diartikan sebagai kesediaan
untuk mematuhi peraturan yang baik, demikian itu bukan hanya patuh
karena adanya tekanan dari luar, melainkan kepatuhan didasari oleh
adanya kesadaran tentang nilai dan pentingnya peraturan itu.17
Selanjutnya
Wustra
Pariata
memberikan
pengertian
bahwa
kedisiplinan merupakan suatu keadaan tertib yang adanya orang-orang
15
Moh. Shochib, Pola Asuh Orang Tua dalam Membantu Anak Mengembangkan Disiplin
Diri (Jakarta: Rineka Cipta, 1989), hlm. 3.
16
Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedi Pendidikan (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm.
81.
17
Zainudin dkk, Seluk Beluk Pendidikan Al Ghozali (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 83.
33
dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan dengan senang
hati.18 Sedangkan HM. Hafi Anshori memberikan batasan kedisiplinan
sebagai suatu sikap mental yang dengan kesadaran dan keinsyafan untuk
mematuhi terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada
terhadap suatu hal karena mengerti bentuk-bentuk tentang perintah dan
larangan-larangan tersebut.19
Dari definisi tersebut diatas dapat dipahami bahwa peserta didik
memerlukan kedisiplinan untuk patuh dan taat menjalankan ketertiban
yang berlaku, baik perintah atau larangan, baik di dalam sekolah reguler
maupun didalam boarding school dalam rangka membentuk suatu
kepribadian yang berkarakter.
Dengan demikian Karakter Disiplin merupakan sesuatu yang
membedakan seseorang yang satu dengan yang lainnya tentang kedisiplinan
untuk patuh dan taat menjalankan ketertiban yang berlaku, baik perintah
maupun larangan yang terbentuk pada diri masing-masing individu.
Upaya pembentukan karakter disiplin melalui pendidikan model
boarding school adalah menggunakan teori Pavlov. teori ini adalah teori
belajar behavioristik, menggunakan penelitian yang khas dimana beliau
telah mengadakan penelitian secara intensif mengenai kelenjar ludah.
18
Wustra Pariata dkk, Ensiklopedi Administrasi (Yogyakarta: CV. Jahi Mas Agung, 1985),
hlm. 171.
19
HM. Hafi Anshori, Pengantar Umum Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hlm.
66.
34
Penelitian-penelitiannya menggunakan anjing sebagai subyek cukup
terkenal dimana-mana.20
Di dalam buku “Teori Belajar dan Pembelajaran” karangan Eveline
Siregar menyatakan bahwa Mula-mula teori conditioning ini dikembangkan
oleh Pavlov dengan melakukan percobaan terhadap anjing. Pada saat seekor
anjing diberi makanan dan lampu, keluarlah respons anjing itu berupa
keluarnya air liur. Demikian juga jika dalam pemberian makanan tersebut
disertai dengan bel, air liur anjing juga keluar. Setelah berkali-kali
dilakukan perlakuan serupa, maka pada saat hanya bel atau lampu yang
diberikan, anjing tersebut juga mengeluarkan air liur. Teori conditioning ini
lebih lanjut dikembangkan oleh Watson. Setelah mengadakan serangkaian
eksperimen, ia menyimpulkan bahwa pengubahan tingkah laku dapat
dilakukan melalui latihan/ membiasakan mereaksi terhadap stimulusstimulus yang diterima.21
Pembentukan pendidikan karakter juga terdapat kesesuaian dengan teori
Konvergensi dimana pembinaan atau pembentukan karakter itu tidak hanya
dipengaruhi oleh faktor bawaan sejak lahir akan tetapi juga dipengaruhi
dengan lingkungan. Siswa yang berada di boarding School akan
mendapatkan pembiasaan-pembiasaan yang ada di dalam asrama. Jadi
kesesuaian dengan penelitian ini adalah apabila pembentukan karakter itu
dilakukan pembiasaan-pembiasaan maka hasilnya akan lebih baik dibanding
20
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hlm.
280-281.
21
Eveline Siregar, dan Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran (Bogor: Galia
Indonesia, 2011), hlm. 25-27.
35
dengan peserta didik yang tidak berada di sekolah yang melalui pendidikan
model boarding school. Dengan demikian adanya boarding school di MAS
Simbang Kulon Pekalongan berjalan dengan baik yang didalamnya banyak
dilakukan pembiasaan-pembiasaan dalam upaya pembentukan karakter
disiplin. Dimana di lingkungan sekolah atau di lingkungan asrama santri
akan lebih dapat merealisasikan pembiasaan-pembiasaan baik sesuai untuk
pembentukan karakter mereka dengan baik dan sesuai yang diinginkan
keluarga juga sekolah maupun lingkungan masyarakat.
3. Dasar dan Tujuan Disiplin.
a. Dasar Disiplin
Disiplin merupakan sikap positif yang tidak terjadi dengan
sendirinya, melainkan sikap yang harus ditumbuhkan, dikembangkan dan
diterapkan dalam semua aspek sejak dini pada diri anak. Disiplin itu
sangat perlu untuk perkembangan anak, karena dengan disiplin tersebut
akan menumbuhkan ketertiban dan keteraturan.
Dalam dunia pendidikan sikap disiplin sangat penting bagi setiap
siswa. Dengan berdisiplin akan membuat seorang siswa memiliki
kecakapan mengenai belajar yang benar, membentuk watak yang baik
serta meningkatkan efisiensi belajar. Bentuk dari disiplin siswa yang
dapat dirasakan akibat dari cara pendidikan yang tepat oleh orang tua
adalah terbentuknya sikap rajin belajar dalam diri siswa tersebut.
36
Pada
hakikatnya
sikap
disiplin
merupakan
sikap
yang
diperintahkan oleh Allah SWT. Manusia dijadikan oleh Allah SWT
bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk berusaha dan berjihad di
jalan Allah SWT sampai akhir hayatnya. 22 Dalam hal yang menyangkut
masalah ibadah, sikap disiplin akan melatih manusia untuk dapat
mengendalikan diri dengan baik. Sebagai dasar yang mudah dipahami
tentang pentingnya sikap disiplin terdapat dalam QS. An Nisa‟ ayat 103.
          
         
 
Yang artinya: “ Maka apabila kamu telah menyelesaikan
shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu
berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah
shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu
yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. “23
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa mengerjakan sholat
pada waktunya merupakan perbuatan yang dianjurkan oleh agama dan
22
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 638-639.
Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur ‘an dan Terjemahnya (Jakarta: Litbang
Depag RI, 1999), hlm. 138.
23
37
amal yang diutamakan. Dengan demikian ayat tersebut tersirat anjuran
agar manusia dapat berdisiplin dalam mengerjakan suatu pekerjaan,
karena berdisiplin merupakan perbuatan yang disenangi oleh Allah SWT.
b. Tujuan Disiplin
Tujuan adalah sesuatu yang ingin diwujudkan atau sesuatu yang
ingin dicapai. Secara umum tujuan disiplin adalah menolong anak belajar
hidup sebagai makhluk sosial dan untuk mencapai pertumbuhan serta
perkembangan mereka yang optimal. Untuk dapat menentukan tujuan
pembentukan kedisiplinan dalam belajar, maka harus mengetahui kriteria
yang harus dipenuhi dalam menanamkan kedisiplinan, yaitu:24
a) Membuat perubahan dan pertumbuhan anak
b) Memelihara harga diri anak
c) Menjaga hubungan erat antara orang tua dan anak.
Dalam buku Peran disiplin pada perilaku dan prestasi siswa
karangan Tulus Tu‟u mengatakan “disiplin berperan penting dalam
membentuk individu yang berciri keunggulan”. Disiplin sangat penting dan
dibutuhkan oleh setiap siswa. Disiplin menjadi prasyarat bagi pembentukan
sikap, perilaku ,dan tata kehidupan berdisiplin, yang akan mengantar
seorang siswa sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja.
24
Charles Schaefer, Bagaimana Mempengaruhi Anak (Semarang: Dahar Prize, 1991), hlm. 12.
38
Adapun fungsi disiplin menurut Tulus Tu‟u yaitu sebagai berikut:
a. Menata Kehidupan Bersama
Fungsi disiplin adalah mengatur tata kehidupan manusia, dalam
kelompok tertentu atau dalam masyarakat. Dengan begitu, hubungan
antara individu satu dengan yang lain menjadi baik dan lancar.
Kehidupan bersama akan lebih terarah dengan adanya disiplin.
b. Membangun Kepribadian
Lingkungan yang berdisiplin baik, sangat berpengaruh terhadap
kepribadian seseorang. Apalagi seorang siswa yang sedang tumbuh
kepribadiannya, tentu lingkungan sekolah yang tertib, teratur, tenang,
tenteram, sangat berperan dalam membangun kepribadian yang baik.
c. Melatih Kepribadian
Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin tidak
terbentuk serta-merta dalam waktu singkat. Namun, terbentuk melalui
satu proses yang membutuhkan waktu panjang. Salah satu proses untuk
membentuk kepribadian tersebut dilakukan melalui latihan.
d. Pemaksaan
Dari pendapat itu, disiplin dapat terjadi karena dorongan kesadaran
diri. Disiplin dengan motif kesadaran diri ini lebih baik dan kuat.
Dengan melakukan kepatuhan dan ketaatan atas kesadaran diri,
39
bermanfaat bagi kebaikan dan kemajuan diri. Sebaliknya, disiplin dapat
pula terjadi karena adanya pemaksaan dan tekanan dari luar. 25
e. Hukuman
Tata tertib sekolah biasanya berisi hal-ha1 positif yang harus
dilakukan oleh siswa. Sisi lainnya berisi sanksi atau hukuman bagi yang
melanggar tata tertib tersebut. Ancaman sanksi / hukuman sangat
penting karena dapat memberi dorongan dan kekuatan bagi siswa untuk
menaati dan mematuhinya. Tanpa ancaman hukuman /sanksi, dorongan
ketaatan dan kepatuhan dapat diperlemah. Motivasi untuk hidup
mengikuti aturan yang berlaku menjadi lemah.
f. Menciptakan Lingkungan yang Kondusif
Disiplin sekolah berfungsi mendukung terlaksananya proses dan
kegiatan pendidikan agar berjalan lancar. Ha1 itu dicapai dengan
merancang peraturan sekolah, yakni peraturan bagi guru-guru, dan bagi
para siswa, serta peraturan-peraturan lain yang dianggap perlu.
Kemudian diimplementasikan secara konsisten dan konsekuen.
Dengan demikian, sekolah menjadi lingkungan pendidikan yang
aman, tenang, tenteram, tertib dan teratur. Lingkungan seperti ini adalah
lingkungan yang kondusif bagi pendidikan. Dengan adanya disiplin maka
proses belajar mengajar akan lebih terarah dan dapat mencapai tujuan
pendidikan secara maksimal.26
25
Tulus Tu‟u, Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa (Jakarta: Grasindo, 2004),
hlm 37.
26
Ibid. hlm 38.
40
Menurut Singgih D Gunarsa, disiplin perlu dalam mendidik anak
supaya anak dengan mudah:27
a) Meresapkan pengetahuan dan pengertian sosial antara lain mengenai
hak milik orang lain
b) Mengerti dan segera menurut untuk menjalankan kewajiban dan
secara langsung mengerti larangan-larangan
c) Mengerti tingkah laku yang baik dan buruk
d) Belajar mengendalikan keinginan dan berbuat sesuatu tanpa merasa
terancam oleh hukuman
e) Mengorbankan kesenangan sendiri tanpa peringatan dari orang lain.
Tujuan disiplin menurut Charles Schaefer dibagi menjadi dua,
yaitu: 28
a) Tujuan jangka pendek, yaitu membuat anak-anak terlatih dan
terkontrol dengan mengajarkan mereka bentuk-bentuk tingkah laku
yang tidak pantas atau yang masih asing bagi mereka.
b) Tujuan jangka panjang, yaitu untuk perkembangan pengendalian diri
dan pengarahan diri (self control and self direction) yang dalam hal
apa anak-anak dapat mengarahkan diri sendiri tanpa pengaruh
pengendalian dari luar.
27
Singgih D Gunarsa, Psikologi untuk Keluarga (Jakarta : PT. BPK. Gunung Mulia, 1987),
hlm. 163.
28
Charles Schaefer, Op. Cit, hlm. 9.
41
Selanjutnya Elizabeth B. Hurlock menyebutkan bahwa seluruh
tujuan disiplin adalah membentuk perilaku sedemikian rupa sehingga ia
akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya
tempat individu itu diidentifikasikan.29
Pembentukan disiplin merupakan tindak lanjutan perhatian kasih
sayang orang tua kepada anak-anaknya yang diungkapkan secara murni
dengan memenuhi segala kebutuhan anak sewaktu masih bergantung
pada orang tua. Hal ini merupakan suatu cara untuk meningkatkan
perkembangan jiwa anak dalam menghargai dirinya dan mengajarkan
cara-cara bertindak dalam kebiasaan yang diterima oleh masyarakat.
Sebagaimana yang diungkapkan Kartini Kartono bahwa “menanamkan
disiplin pada anak bertujuan untuk menolong anak memperoleh
keseimbangan antara kebutuhan berdikari dan penghargaan terhadap hakhak orang lain.30
4. Indikator dan Bentuk Disiplin.
a.
Indikator Disiplin
Disiplin merupakan suatu proses belajar mengembangkan
kebiasaan-kebiasaan, penugasan diri dan mengakui tanggung jawab
pribadinya terhadap masyarakat. Maka kedisiplinan peserta didik dalam
mengikuti suatu kegiatan akan menimbulkan sikap tanggung jawab atau
29
Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, terj. Meitsari Tjandrasa (Jakarta : Erlangga,
2000), hlm. 82.
30
Kartini Kartono, Peranan Keluarga Memandu Anak (Jakarta: Rajawali Press, 1992), hlm.
205.
42
disiplin dalam menghadapi pelajaran atau dalam pelajarannya. Dengan
demikian indikator disiplin dapat dilihat dalam proses dan hasil belajar.
Dalam proses belajar indikator disiplin dapat dilihat dari:
1)
ketaatan pada tata tertib,
2)
ketepatan hadir,
3)
mengikuti proses belajar mengajar,
4)
kerapihan dalam berpakaian,
5)
mengerjakan tugas dan aktif dalam kegiatan sekolah,
6)
berperilaku sesuai norma,
7)
kesesuaian jadwal pulang sekolah,
8)
tidak melanggar peraturan sekolah 31
Menurut Cece Wijaya, yang termasuk indikator disiplin antara
lain:
1)
Melaksanakan tata tertib yang baik, baik guru maupun siswa
karena tata tertib yang berlaku merupakan aturan dan oleh
siapapun demi kelancaran proses pendidikan
2)
Tata terhadap kebijakan dan kebijaksanaan yang berlaku
3)
Menguasai diri dan instropeksi, yaitu guru maupun siswa
memiliki rasa tanggung jawab (sense of responsibility) yang
tinggi
terhadap
keberlangsungan
belajar
mengajar
dan
mempertahankan indikator kedisiplinan melalui upaya seperti
31
Omar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2007), hlm. 92.
43
melakukan evaluasi secara rutin terhadap kegiatan belajar
mengajar. 32
b. Bentuk Disiplin
Menurut Aan Sulono bentuk-bentuk kedisiplinan adalah: 33
1)
Hadir di ruangan pada waktunya
Kedisiplinan ini akan memacu kesuksesan dalam belajar.
Peserta didik yang terlambat datang atau tidak masuk sekolah
tanpa ada alasan yang bisa di terima, maka harus dihukum sesuai
dengan aturan yang berlaku.
2)
Taat pergaulan di sekolah
Sikap ini bisa diwujudkan dengan tindakan-tindakan
menghormati semua orang yang tergabung dalam sekolah,
menghormati pendapat, menjaga diri dari perbuatan dan sikap
yang bertentangan dengan agama serta harus selalu bersikap
terpuji.
3)
Mengikuti kegiatan ekstrakulikuler
Kegiatan ekstrakulikuler merupakan serentetan program
sekolah yang menuntut peserta didik untuk berdisiplin atau aktif
mengikutinya dengan mencurahkan segala potensi yang mereka
miliki baik yang bersifat fisik, mental, emosional maupun
intelektual yang bertujuan untuk memperluas pengetahuan dan
membina nilai dan sikap siswa.
32
Cece Wijaya, Tabrani Rusyam, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), hlm. 18-20.
33
Aan Sulono, Pendidikan Moral Pancasila (Jakarta: Intan Pariwara, 1988), hlm. 102
44
4)
Belajar dirumah
Dengan kedisiplinan belajar di rumah, peserta didik akan
menjadi lebih ingat terhadap pelajaran yang telah dipelajari dan
lebih siap untuk menghadapi pelajaran yang akan diberikan oleh
gurunya sehingga peseta didik akan lebih paham terhadap suatu
pelajaran.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan.
Permasalahan disiplin siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya
kinerja akademik atau hasil belajarnya. Permasalahan-permasalahan tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor, pada umumnya berasal dari faktor intern
yaitu dari siswa itu sendiri maupun faktor ekstern yang berasal dari luar.
Beberapa faktor yang mempengaruhi disiplin adalah sebagai berikut:34
a) Kesadaran diri, berfungsi sebagai pemahaman diri bahwa disiplin
dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Selain
kesadaran diri menjadi motif sangat kuat bagi terbentuknya disiplin.
b) Pengikut dan ketaatan, sebagai langkah penerapan dan praktik atas
peraturan-peraturan yang mengatur perilaku individunya. Hal ini sebagai
kelanjutan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan
dan kemauan diri yang kuat.
c) Alat pendidikan, untuk mempengaruhi, mengubah, membina dan
membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai yang ditentukan dan
diajarkan.
34
Tulus Tu‟u, Op. Cit, hlm 48-49.
45
d) Hukuman, sebagai upaya menyadarkan, mengoreksi dan meluruskan
yang salah sehingga orang kembali pada perilaku yang sesuai dengan
harapan.
Hal senada dalam buku Suradi menerangkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi disiplin belajar adalah sebagai berikut:35
a. Teladan
Teladan yang ditunjukkan guru-guru, kepala sekolah maupun
atasan sangat berpengaruh terhadap disiplin para siswa. Dalam disiplin
belajar, siswa akan lebih mudah meniru apa yang mereka lihat sebagai
teladan daripada dengan apa yang mereka dengar.
a. Lingkungan berdisiplin
Seseorang yang berada di lingkungan berdisiplin tinggi akan
membuatnya mempunyai disiplin tinggi pula. Salah satu ciri manusia
adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungannya. Dengan
potensi adaptasi ini, ia dapat mempertahankan hidupnya.
b. Latihan berdisiplin
Disiplin seseorang dapat dicapai dan dibentuk melalui latihan dan
kebiasaan. Artinya melakukan disiplin secara berulang-ulang dan
membiasakannya dalam praktik kehidupan sehari-hari akan membentuk
disiplin dalam diri siswa.
35
Ibid., hlm.49-50.
46
Selanjutnya
Emile
Durkheim
mengemukakan
faktor
yang
mempengaruhi disiplin adalah: 36
1.
Kebiasaan
2.
Kekuasaan orang tua
3.
Kecenderungan tidak ingin berlebih-lebihan
4.
Kemampuan mengendalikan keinginan-keinginan
5.
Pemahaman atas batas-batas normal.
Sependapat dengan hal di atas, Hasan Basri membagi faktor yang
mempengaruhi disiplin dalam kehidupan seseorang menjadi dua, yaitu: 37
a.
Faktor internal, yang meliputi:
1) Taraf kesadaran diri
2) Motivasi intrinsik
3) Perasaan bertanggungjawab
4) Perasaan malu
5) Nilai tertentu yang ingin dimasyarakatkan seseorang, seperti nilai
disiplin dalam mematuhi sebuah tata tertib sekolah.
b.
Faktor eksternal, yang meliputi:
1) Presentasi yang ketat
2) Hukuman yang adil
3) Motivasi luar
4) Upah atau penggajian yang cukup
36
Emile Durkaeim, Pendidikan Moral (Moral Education) (Jakarta: Erlangga, 1995), hlm.
99- 100
37
Hasan Basri, Remaja Berkualitas, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994), hlm. 74
47
5) Lingkungan tempat kerja yang menyenangkan
6) Teman yang persuasif.
B. Pendidikan Model Boarding School.
1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah proses pemartabatan manusia menuju puncak
optimalisasi potensi kognitif, afekteif, dan psikomotorik yang dimilikinya.
Pendidikan adalah proses membimbing, melatih, dan memandu manusia
terhindar atau keluar dari kebodohan dan pembodohan. Pendidikan adalah
metaforfosis perilaku menuju kedewasaan sejati.38
Pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada
term al-tarbiyah. Al-tarbiyah berasal dari kata rabb, yang artinya tumbuh,
berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau
eksistensinya. Dalam pengertian yang luas pengertian pendidikan dalam
term al-tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan, yaitu: Pertama,
memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh).
Kedua, mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan. Ketiga,
mengarahkan seluruh fitrah kearah kesempurnaan. Keempat, melaksanakan
pendidikan secara bertahap.39
Pengertian pendidikan juga dikemukakan oleh beberapa ahli di
antaranya: 1) Menurut Ngalim Purwanto: pendidikan ialah pimpinan yang
diberika dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak, dalam
38
Sudarwan Danim, Pengantar Kependidikan (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 2-3.
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 25-26.
39
48
pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri sendiri dan
bagi masyarakat.40 2) Menurut Ki Hajar Dewantara sebagaimana dikutip
oleh Hasbullah, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang
ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya.41 3) Menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan mengandung
pengertian sebagai bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama. 42
Dalam referensi lain mengatakan bahwa pengertian yang sederhana
dan
umum
makna
pendidikan
merupakan
usaha
manusia
untuk
menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik
jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat
dan kebudayaan.43
Sedangkan dalam UU no. 20 th 2003 dijelaskan bahwa pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat dan negara.44
40
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan: Teoritis dan Praktis (Bandung: Remaja
Rosdakarya 1995), hlm. 10.
41
Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 4.
42
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat (Bandung: Ar-Ruzz Media, 1989), hlm. 20.
43
Fuad Insan, Dasar-Dasar Kependidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), hlm. 1-2.
44
Hasbullah, Op.Cit, hlm. 4.
49
Dari berbagai pengertian pendidikan di atas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa pendidikan merupakan suatu proses pembinaan ataupun bimbingan,
untuk mengembangkan potensi jasmani dan rohani peserta didik agar dapat
menghasilkan suatu perubahan yang semakin baik, sehingga peserta didik
memiliki kemampuan menghadapi masa depan mereka.
2. Pengertian Model Boarding School.
Malik Fajar menjelaskan bahwa berdasarkan jenisnya pesantren
dibedakan menjadi lima jenis, yaitu: (a) Jenis A, yaitu pesantren yang paling
sederhana; (b) Jenis B, terdapat komponen-komponen pondok pesantren
yang klasik; (c) Jenis C, yaitu bentuk klasik yang diperluas dengan suatu
madrasah; (d) Jenis D, yaitu bentuk klasik yang diperluas dengan suatu
madrasah ditambah dengan progam ketrampilan; (e) Jenis E, pesantren
modern yaitu di samping sektor pendidikan keislaman klasik juga mencakup
semua tingkat sekolah formal dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. 45
Berdasarkan pengertian boarding school diatas, maka boarding school
dapat dikatakan sebagai tempat tinggal peserta didik (asrama) yang
terintegrasi dan menjadi bagian dari lembaga pendidikan formal yang
memberikan materi-materi tambahan dan kegiatan-kegiatan lain untuk dapat
membantu membentuk peserta didik yang berkarakter.
45
17.
Malik Fajar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam (Jakarta: Alfa Grafikatama, 1998), hlm.
50
3. Tujuan Boarding School.
Tujuan dari boarding school mengacu pada visi misi yang
diharapkan dari madrasah yang bersangkutan, karena boarding school dan
madrasah merupakan dua hal yang berintegrasi dan melengkapi dalam
menciptakan dan membentuk output peserta didik yang berkualitas.
Sistem boarding school ini diharapkan dapat menunjang terhadap
standarisasi madrasah unggulan yang mempunyai indikator sebagai
berikut: (a) SDM berkualitas yang berkomitmen pada tugas dan
tanggungjawab; (b) organisasi dan kepemimpinan yang efektif; (c) dana
yang memadai; (d) sinergitas antara lembaga pemerintah dan non
pemerintah: dan (e) fasilitas dan lingkungan pembelajaran yang
kondusif.46
4. Kurikulum Boarding School.
Kurikulum boarding school dalam menanamkan nilai-nilai karakter
yang diterapkan di setiap lembaga pendidikan berbeda antara satu dengan
lainnya berdasarkan visi misi dari lembaga tersebut. Untuk itu setiap
boarding
school
mempunyai
kemandirian
dalam
menyusun,
mengembangkan, dan memberikan materi-materi kepada peserta didik yang
disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan pusat kurikulum badan penelitian dan pengembangan
Kementrian Pendidikan Nasional dalam publikasinya berjudul pedoman
pelaksanaan pendidikan karakter, menyatakan bahwa pendidikan karakter
46
Agus Maimun dan Agus Zaenul Fitri, Madrasah Unggulan; Lembaga Pendidikan
Alternatif di Era Kompetitif (Malang: UIN Press, 2010), hlm. 73-74.
51
bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia,
bermoral, bertoleran, bergotong royong. Berjiwa politik, berkembang
dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan daan teknologi yang semuanya
dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan
pancasila.
Sedangkan
fungsi
dari
pendidikan
karakter
yaitu: (1)
mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik dan
berperilaku baik, (2) memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang
multikultur, (3) meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam
pergaulan dunia.47
5. Karakteristik Boarding School.
Secara embrional, boarding school telah mengembangkan aspekaspek tertentu dari nilai-nilai yang ada pada masyarakat. Sejak awal
berdirinya lembaga ini sangat menekankan kepada moralitas dan
menjunjung
tinggi
nilai-nilai
kemandirian,
kesederhanaan,
dan
sejenisnya.48
Karakteristik sistem pendidikan Boarding School, diantaranya
adalah:49
a. Dari segi sosial, sistem boarding school mengisolasi anak didik
dari lingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk. Di
lingkungan sekolah dan asrama dikonstruksi suatu lingkungan sosial
yang relatif homogen yakni teman sebaya dan para guru pembimbing.
47
Muchlas Samani dan Hariyanto, Op.Cit, hlm. 52.
Abd A‟la, Pembaruan Pesantren (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006), hlm. 49.
49
Ibid, hlm. 50.
48
52
Homogen dalam tujuan yakni menuntut ilmu sebagai sarana mengejar
cita-cita.
b. Dari segi ekonomi, boarding school memberikan layanan yang
paripurna sehingga menuntut biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu
anak didik akan benar-benar terlayani dengan baik melalui berbagai
layanan dan fasilitas.
c. Dari segi semangat religiusitas, boarding school menjanjikan
pendidikan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani,
intelektual dan spiritual. Diharapkan akan lahir peserta didik yang
tangguh secara keduniaan dengan ilmu dan teknologi, serta siap secara
iman dan amal saleh.
Menurut Muhammad Nur Khamid, klarifikasi atau jenis-jenis
boarding school dibagi menjadi tiga, yaitu: sistem bermukim siswa, jenis
siswa, dan sistem sekolah.
Tabel. 01
Klasifikasi Boarding School50
a. Menurut sistem bermukim siswa
No.
50
Tipe Boarding
Keterangan
School
1
All Boarding School
2
Boarding day school
Seluruh
siswa
tinggal
di
asrama/sekolah.
Sebagian siswanya tinggal di asrama
dan sebagian lagi tinggal di sekitar
Muhammad Nur Khamid, Jenis-jenis Boarding School. www.elib.unikom.ac.id. (12Juli
2012). Diakses 6 Maret 2015.
53
asrama.
Mayoritas tidak tinggal di asrama
3
Day boarding
meskipun sebagian ada yang tinggal di
asrama.
b. Menurut Jenis Siswa
No. Tipe Boarding School
Keterangan
Sekolah yang menerima murid dari
1
Junior boarding school
tingkat SD sampai dengan SMP,
namun umumnya tingkat SMP saja.
2
Co-educational school
3
Boys school
4
Girls school
5
6
c.
Pre- professional arts
Sekolah yang menerima siswa lakilaki dan perempuan.
Sekolah yang menerima siswa lakilaki saja.
Sekolah
yang
menerima
siswa
perempuan saja.
Sekolah khusus untuk seniman.
school
Special-Need Boarding
Sekolah
untuk
anak-anak
yang
School
bermasalah dengan sekolah biasa.
Menurut sistem sekolah
No. Tipe Boarding School
Keterangan
Sekolah yang mengikuti aturan militer
1
Military school
dan biasanya menggunakan seragam
khusus.
Sekolah dimana siswa dapat memilih
2
5 day boarding school untuk tinggal diasrama atau pulang di
akhir pekan.
54
Download