15 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
Pengertian Manajemen
Menurut Hasibuan (2008:1) manajemen adalah ilmu yang mengatur mengenai
pemanfaatan sumber daya baik sumber daya manusia ataupun sumber daya lainnya
dengan efektif dan seefisien mungkin untuk mencapai tujuan tertentu. Kemudian
G.R. Terry (2006:288) mengemukakan manajemen adalah proses dari sejumlah
tindakan-tindakan
seperti
perencanaan,
pengorganisasian,
pengarahan
dan
pengendalian yang sudah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya baik sumber
daya manusia ataupun sumber daya lainnya dengan tujuan untuk menentukan dan
mencapai sasaran-sasaran tertentu. Sedangkan Coulter (2009:8) mengatakan
manajemen adalah proses mengkoordinasikan dan mengintegrasikan kegiatan kerja
secara efisien dan efektif dengan melalui orang lain. Efisien adalah mendapatkan
output yang maksimal dari jumlah input yang minimal dan sedangkan efektif adalah
menyelesaikan aktifitas yang membuat organisasi mencapai tujuannya.
Maka dari itu menurut beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
manajemen adalah keadaan yang mengatur mengenai proses perencanaan,
pengorganisasian, pengkoordinasian, pengarahan, dan pengendalian dengan tujuan
kegiatan kerja dapat dilakukan dengan efektif dan seefisien mungkin agar perusahaan
dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
2.2
Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Hasibuan (2008:4) manajemen sumber daya manusia adalah ilmu
yang mengatur mengenai hubungan dan peranan tenaga kerja untuk membantu
terciptanya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat secara efektif dan efisien.
Kemudian Mangkunegara (2013:2) mengatakan manajemen sumber daya manusia
adalah proses manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, koordinasi,
pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengembangan, pemberian balas jasa
terhadap karyawan atau tenaga kerja dengan alasan untuk mencapai tujuan
organisasi. Sedangkan Desler (2010:4) mengatakan manajemen sumber daya
manusia adalah kebijakan dan praktek yang melibatkan proses manajemen melalui
aspek sumber daya manusianya seperti perekrutan, pelatihan, dan pemberian
penghargaan.
15
16
Menurut beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan manajemen sumber
daya manusia adalah kebijakan yang mengatur mengenai aspek sumber daya
manusia seperti perekrutan, pelatihan, pengembangan, pemberian balas jasa dengan
alasan untuk mencapai tujuan perusahaan dan tenaga kerja secara efektif dan efisien.
2.2.1 Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Hasibuan (2008:10) peranan manajemen sumber daya manusia
merupakan aturan yang menetapkan tentang program kepegawaian yang terdiri dari
masalah-masalah berikut:
1. Menetapkan jumlah, kualitas, dan penempatan tenaga kerja yang efektif
sesuai kebutuhan perusahaan berdasarkan job description, job specification,
job requirement, dan job evaluation.
2. Menetapkan penarikan, seleksi, dan penempatan karyawan berdasarkan asas
the right man in the right place and the right man in the right job.
3. Menetapkan
program
kesejahteraan,
pengembangan,
promosi,
dan
pemberhentian
4. Meramalkan penawaran dan permintaan sumber daya manusia pada masa
yang akan datang.
5. Memperkirakan keadaan perkenomian secara umum dan perkembangan
perusahaan secara khusus.
6. Mengawasi dengan cermat undang-undang perburuhan dan kebijaksanaan
pemberian balas jasa perusahaan-perusahaan sejenis.
7. Mengawasi kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh.
8. Melaksanakan pendidikan, latihan, dan penilaian prestasi karyawan.
9. Mengatur mutasi karyawan baik secara vertical maupun horizontal.
10. Mengatur pensiun, pemberhentian, dan pesangonnya.
2.2.2 Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia.
Menurut Hasibuan (2011:21) ada 11 fungsi manajemen sumber daya
manusia, yaitu:
1. Perencanaan
Perencanaan adalah merencanakan program kepegawaian secara efektif dan
efisien. Program kepegawaiannya meliputi pengorganisasian, pengarahan,
17
pengendalian, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, kedisplinan, dan
pemberhentian karyawan.
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi seluruh karyawan
dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang,
integrasi, dan koordinasi. Dalam hal ini organisasi merupakan hanya alat
untuk mencapai tujuan. Karena dengan adanya organisasi akan tercipta tujuan
yang efektif.
3. Pengarahan
Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan agar dapat
bekerja sama secara efektif dan efisien dalam membantu tercapainya tujuan
perusahaan, karyawan, serta masyarakat.
4. Pengendalian
Pengendalian adalah kegiatan mengendalikan seluruh karyawan dengan
tujuan untuk mentaati peraturan-peraturan perusahaan dan agar dapat bekerja
sesuai rencana yang sudah dibuat perusahaan.
5. Pengadaan
Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi untuk
mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
6. Pengembangan
Pengembangan adalah proses untuk meningkatkan keterampilan secara
teknis, teoritis, konseptual serta moral karyawan melalui pendidikan dan
pelatihan yang sesuai denagan kebutuhan pekerjaanya dengan tujuan agar
berguna untuk masa kini maupun masa depan.
7. Kompensasi
Kompensasi adalah pemberian balas jasa baik secara langsung maupun tidak
langsung dengan memberikan uang atau barang kepada karyawan sebagai
imbalan dari jasa yang telah diberikan untuk perusahaan.
8. Pengintegrasian
Pengintegrasian adalah kegiatan mempersatukan kepentingan perusahaan dan
kebutuhan karyawan dengan tujuan terciptanya kerja sama yang saling
menguntungkan.
18
9. Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah kegiatan memelihara atau meningkatkan kondisi fisik,
mental, dan loyalitas karyawan dengan tujuan agar mereka selalu setia untuk
bekerja hingga mereka pensiun.
10. Kedisplinan
Kedisplinan merupakan fungsi manajemen sumber daya manusia yang paling
penting karena kedisplinan merupakan kunci untuk terwujudnya tujuan
perusahaan secara maksimal. Kedisplinan ditunjukan melalui ketaatan untuk
mematuhi peraturan-peraturan dan norma sosial yang ada di dalam
perusahaan.
11. Pemberhentian
Pemberhentian adalah pemutusan hubungan kerja seorang karyawan dari
perusahaan. Pemberhentian ini disebebkan oleh beberapa sebab seperti
keinginan karyawan, keinginan perushaan, kontrak kerja yang sudah berakhir,
pensiun, atau sebab –sebab lainnya.
2.3
Lingkungan Kerja
Menurut Mamiharisoa et al (2015), lingkungan kerja adalah segala sesuatu
yang ada disekitar karyawan dan dapat mempengaruhi karyawan dalam menjalankan
tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Kemudian Logahan et al (2008), lingkungan
kerja merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan pada saat bekerja, baik
berbentuk fisik ataupun non fisik, langsung atau tidak langsung, yang dapat
mempengaruhi dirinya dan pekerjaannya saat bekerja.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja
merupakan bagian yang bergubungan langsung dengan karyawan dan mempengaruhi
karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya.
2.3.1 Jenis-Jenis Lingkungan Kerja
Menurut Sedarmayanti (2011:26) lingkungan kerja terbagi menjadi 2 jenis
yaitu lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik.
1. Lingkungan fisik yaitu keadaan yang terdapat di sekitar tempat kerja yang
akan mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Lingkungan fisik terbagi menjadi dua kategori yaitu:
19
a. Lingkungan yang berhubungan langsung dengan karyawan seperti pusat
kerja, kursi, meja, dan sebaginya.
b. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga mempengaruhi
kondisi manusia. Jenis lingkungan perantara menurut Sedarmayanti
(2011:28) mengatakan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
terbentuknya
lingkungan
kerja
yang
akan
dihubungkan
dengan
kemampuan karyawan adalah sebagai berikut:
-
Penerangan/Cahaya di Tempat Kerja
Cahaya sangat besar manfaatnya bagi karyawan untuk mendapatkan
keselamatan dan kelancaran kerja. Cahaya yang kurang jelas
mengakibatkan penglihatan menjadi kurang jelas sehingga akan
menyebabkan pekerjaan menjadi lambat, terjadi kesalahan, dan pada
akhirnya pekerjaan yang dilakukan menjadi kurang efisien sehingga
sulit tercapainya tujuan organisasi.
-
Sirkulasi Udara di Tempat Kerja
Sirkulasi udara di tempat kerja dikatakan kurang baik apabila kadar
oksigen dalam udara tersebut telah berkurang karena oksigen
merupakan gas yang dibutuhkan oleh makhuluk hidup untuk menjaga
kelangsungan hidup. Udara dapat dikatakan tidak bersih ditandai
dengan sesak nafas dan hal ini tidak boleh berlangsung terlalu lama
karena akan berpengaruh pada kesehatan tubuh dan berakibat pada
kelelahan. Maka dari itu untuk memperoleh sirkulasi udara yang baik
di tempat kerja dibutuhkan tanaman karena tanaman merupakan
penghasil oksigen. Dengan cukupnya oksigen dan tumbuhnya
tanaman di tempat kerja akan memberikan kesejukan dan kesegaran
pada jasmani sehingga selama bekerja tubuh menjadi sejuk dan segar.
-
Kebisingan di Tempat Kerja
Kebisingan merupakan bunyi yang tidak dikehandaki oleh telinga
karena dalam jangka panjang bunyi tersebut dapat mengganggu
ketenangan bekerja, menimbulkan kesalahan ekonomi dan bahkan
dapat meruskak pendengaran. Karena dalam bekerja memerlukan
konsentrasi maka kebisingan di tempat kerja hendaknya dihilangkan
agar pekerjaan dapat dilakukan dengan efisien sehingga produktivitas
kerja yang dilakukan karyawan juga meningkat.
20
-
Keamanan di Tempat Kerja
Demi menjaga kondisi lingkungan kerja tetap dalam keadaan aman
maka perlu diperhatikan keamanan dalam bekerja, Maka faktor
pengamanan juga diperlukan. Salah satu upayanya dengan adanya
tenaga Satuan Petugas Pengaman (SATPAM) agar lingkungan kerja
tetap aman.
2. Lingkungan kerja non fisik yaitu semua keadaan yang terjadi yang berkaitan
dengan hubungan kerja (Sedarmayanti 2009:31). Terdapat dua jenis
hubungan kerja.
a. Hubungan kerja atasan dengan bawahan
Hubungan kerja atasan dengan bawahan terjadi pada saat atasan
memberikan tugas untuk dikerjakan oleh bawahannya.
b. Hubungan kerja antar sesama karyawan
Hubungan antar sesama karyawan merupakan hal yang selalu terjadi
dalam perusahaan karena hubungan antar karyawan akan menimbulkan
tingkat kepuasan kinerja karyawan. Hubungan antar karyawan yang baik
akan menciptakan kelancaran dalam bekerja.
2.4
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Sedarmayanti (2011:124) keselamatan dan kesehatan kerja
adalah pengawasan terhadap manusia, mesin, material, dan metode yang mencakup
lingkungan kerja dengan tujuan agar karyawan tidak mengalami kecelakaan kerja.
Kemudian Mangkunegara (2013:163) mengatakan keselamatan dan kesehatan kerja
adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik
jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada
umumnya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keselamatan dan
kesehatan kerja adalah kondisi dimana dilakukan pengawasan terhadap manusia agar
untuk menjamin kesempurnaan fisiknya selama di tempat kerja agar terhindar dari
kecelakaan kerja.
2.4.1 Pengertian Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja merupakan perlindungan karyawan dari luka-luka yang
disebabkan oleh kecelakaan yang terkait dengan pekerjaan. (Mondy, 2005:360).
21
Kemudian menurut Mangkunegara (2011:161) mengatakan keselamatan kerja
merupakan yang aman di tempat kerja sehingga selamat dari kerusakan atau kerugian
di tempat kerja. Resiko keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja
yang dapat menyebabkan kebakaran, luka memar, patah tulang, kerusakan organ
tubuh seperti penglihatan dan pendengaran. Maka dari itu keselamatan kerja sering
dihubungkan dengan lingkungan fisik perusahaan.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa keselamatan
kerja merupakan kondisi untuk mencegah kecelakaan kerja dengan memberikan rasa
aman dan tentram bagi karyawan di tempat kerja atau perusahaan.
2.4.2 Pengertian Kesehatan Kerja
Menurut Husni (2005:132) kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan
yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan baik fisik atau
mental yang baik. Kermudian Mangkunegara (2011:161) mengatakan kesehatan
kerja merupakan kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental, emosi, atau rasa
sakit yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kesehatan kerja
merupakan kondisi dimana para karyawan memperoleh kesehatan wajar atau
terhindar dari kondisi kesehatan yang kurang, baik itu dari segi fisik, mental, dan
emosi .
2.4.3 Dimensi dan Indikator Keselamatan Kerja
Menurut Indra Nofri (2013) dalam jurnalnya mengatakan bahwa dimensi
keselamatan kerja mempunyai 3 indikator yaitu:
a.
Komunikasi dan dukungan
b.
Alat pelindung diri
c.
Beban kerja
2.4.4 Dimensi dan Indikator Kesehatan Kerja
Menurut Indra Nofri (2013) dalam jurnalnya mengatakan bahwa dimensi
kesehatan kerja mempunyai 2 indikator yaitu:
a.
Kondisi karyawan
b.
Perlindungan karyawan dalam bekerja
22
2.4.5 Kecelakaan Kerja
Menurut Sedarmayanti (2011:129) untuk memelihara keselamatan dan
kesehatan kerja, perlu diperhatikan cara untuk menanggulangi kecelakaan kerja.
Terdapat dua faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja, yaitu:
a. Faktor manusia
1. Faktor fisik dan mental:
- Kurang penglihatan atau pendengaran.
- Otot lemah.
- Emosi dan syaraf tidak stabil.
2. Pengetahuan keterampilan
- Kurang memperhatikan metode kerja yang aman.
- Kebiasaan yang salah.
- Kurang pengalaman.
3. Sikap
- Kurangnya perhatian dan ketelitian dari karyawan.
- Malas.
- Tidak peduli akan akibat yang ditimbulkan.
-Hubungan yang kurang baik.
b. Faktor mesin atau alat
- Penerangan yang kurang.
- Mesin yang tidak dijaga.
- Kerusakan teknis.
2.4.6 Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Terdapat beberapa undang-undang yang mengatur mengenai keselamatan dan
kesehatan kerja, sebagai berikut:
a. Undang-undang Nomor 14 tahun 1969 Pasal 9 yang mengutarakan bahwa:
Tiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atau keselamatan,
kesehatan, kesusilaan, pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai
dengan martabat manusia dan moral agama.
b. Undang-undang Nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja yang
menetapkan mengenai kewajiban pengusaha, kewajiban dan hak tenaga kerja
serta syarat-syarat keselamatan kerja yang harus dipenuhi oleh organisasi.
c. Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.
23
-
Pasal 86 menyebutkan bahwa setiap organisasi wajib menerapkan upaya
keselamatan dan kesehatan kerja untuk melindungi keselamatan tenaga
kerja.
-
Pasal 87 mewajibkan setiap organisasi melaksanakan sistem manajemen
K3 yang terintegrasi dengan manajemen organisasi lainnya.
2.4.7 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Mangkunegara (2013:162) terdapat beberapa tujuan keselamatan
dan kesehatan kerja, yaitu sebagai berikut:
a. Agar setiap pegawai mendapatkan jaminan keselamatan dan kesehatan
kerja yang baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
b. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya.
c. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan penigkatan kesehatan gizi
karyawan.
e. Agar meningkatkan semangat, keserasian, dan partisipasi dalam bekerja.
f. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan
atau kondisi kerja.
g. Agar setiap karyawan merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.
2.4.8 Usaha-Usaha dalam Meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Mangkunegara (2013:162) ada beberapa usaha yang diperlukan
untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja, yaitu sebagai berikut:
a.
Mencegah dan mengurangi kecelakaan kebakaran dan peledakan.
b.
Memberikan peralatan perlindungan diri untuk karyawan yang bekerja
pada lingkungan yang menggunakan peralatan yang berbahaya.
c.
Mengatur suhu, kelembaban, kebersihan udara, penggunaan warna
ruangan kerja, penerangan yang cukup, dan mencegah kebisingan.
d.
Mencegah dengan memberikan perawatan terhadap timbulnya penyakit.
e.
Memelihara ketertiban dan kebersihan serta keserasian lingkungan kerja.
f.
Menciptakan suasana kerja yang dapat meningkatkan semangat kerja
karyawan.
24
2.4.9 Dampak Melakukan Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Menurut Uni Eropa-OSHA (2009) mencatat terdapat beberapa biaya tidak
langsung dari adanya kecelakaan kerja yaitu:
1. Terjadinya gangguan produksi.
2. Membutuhkan perekrutan serta pelatihan untuk mengganti pekerja yang
mengalamai kecelakaan kerja.
3. Kerusakan peralatan dan bahan produksi.
4. Menurunkan kualitas produk yang dihasilkan.
2.5
Turnover Intention
2.5.1 Pengertian Turnover
Menurut Mathis dan Jackson (2006:125) turnover adalah proses dimana
karyawan meninggalkan organisasi dan maka dari itu harus digantikan dengan
karyawan baru. Wirawan (2015) mengatakann turnover adalah karyawan yang
berhenti dari suatu perusahan dan pindah kerja ke perusahaan lain karena alasan
tertentu. Kemudian Whiteoak (2007) mengatakan turnover merupakan proses dimana
para karyawan meninggalkan organisasi dan harus segera digantikan karena apabila
turnover ini terjadi dalam cukup tinggi akan memberikan dampak yang buruk untuk
organisasi.
Dengan demikian dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan turnover
adalah berhentinya karyawan dari suatu organisasi dan maka dari itu harus diganti
oleh karyawan yang baru.
2.5.2 Pengertian Turnover Intention
Menurut Mobley (2011:26) turnover intention adalah niat karyawan untuk
berhenti dari pekerjaannya dan pindah ke tempat kerja lain secara sukarela atau
karena pilihannya sendiri. Kemudian Staffelbach (2008:34) mengatakan turnover
intention adalah keinginan seseorang untuk pindah dari pekerjaanya dalam jangka
waktu tertentu dan merupakan pendahuluan akan terjadinya turnover yang
sebenarnya.
Dengan demikian dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
turnover intention adalah keinginan atau niat karyawan untuk pindah ke tempat kerja
25
yang lain atas pilihannya sendiri dengan melakukan pertimbangan dan pemikiran
terlebih dahulu.
2.5.3 Jenis-Jenis Turnover
Menurut David G. Allen (2004) ada beberapa jenis turnover atau pindah
kerja, yaitu:
a. Sukarela
Pindah kerja secara sukarela adalah pindah kerja yang merupakan inisiatif
yang berasal dari karyawan itu sendiri. Jenis-jenis turnover secara sukarela
ada 2 yaitu:
-
Fungsional
Jika keluarnya karyawan secara sukarela memberikan keuntungan bagi
perusahaan Sebagai contoh karyawan yang keluar ialah karyawan yang
tidak produktif.
-
Disfungsional
Apabila
dengan
keluarnya
karyawan
tersebut,
perusahaan
akan
menagalami kerugian. Sebagai contoh karyawan yang keluar ialah
karyawan yang potensial. Disfungsional terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
Tak dapat dihindari
Dapat dihindari
b. Terpaksa
Pindah kerja secara terpaksa adalah pindah kerja karena berasal dari
perusahaan tempat karyawan itu bekerja.
26
Pindah Kerja
(turnover)
Sukarela
Fungsional
Terpaksa
Disfungsional
Tak dapat
dihindari
Dapat dihindari
Gambar 2. 1 Jenis Pindah Kerja
Sumber: David G. Allen, 2004
2.5.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Turnover Intention
Faktor-faktor yang mempengaruhi turnover intention cukup beragam dan
berkaitan antara satu dengan lainnya. Menurut Ilham (2012: 5) faktor-faktor yang
mempengaruhi turnover intention adalah sebagai berikut:
1. Usia
Pekerja muda mempunyai tingkat turnover yang lebih tinggi daripada
pekerja-pekerja yang lebih tua. Artinya, semakin tinggi usia seseorang,
maka semakin rendah pula keinginan untuk pindah kerja. Alasannya
karena karyawan yang masih muda masih ingin untuk mecoba-coba
berbagai jenis pekerjaan dan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk
mendapat pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya.
Sementara karyawan yang berusia tua lebih enggan untuk pindah
pekerjaan karena sudah mempunyai tanggung jawab untuk keluarga,dan
energy sudah berkurang apabila harus pindah ke pekerjaan ditempat baru.
2. Lama Kerja
Tingkat turnover rendah apabila memiliki masa kerja yang lama.
Turnover banyak terjadi pada karyawa baru atau karyawan yang memiliki
masa kerja singkat. Karena karyawan yang memiliki masa kerja lama di
suatu perusahaan berarti karyawan tersebut sudah dapat menyesuaikan
dirinya dengan perusahaan dan pekerjaanya maka dari itu karyawan
27
dengan masa kerja lama lebih mempunyai rasa tanggung jawab lebih
besar dibanding karyawan baru. Maka dari itu mengakibatkan karyawan
dengan masa kerja yang lama enggan untuk berpindah pekerjaan atau
perusahaan.
3. Tingkat Pendidikan dan Intelegensi
Karyawan yang mempunyai tingkat intelegensi tidak terlalu tinggi
akan melihat tugas yang diberikan sebagai suatu tekanan dan merupakan
sumber kecemasan maka dari itu karyawan tersebut mudah merasa
gelisah akan tanggung jawab yang diberikan. Dan sebaliknya karyawan
yang mempunyai tingkat intelegensi tinggi akan lebih merasa cepat bosan
dengan pekerjaan yang monoton. Maka dari itu karyawan yang
mempunyai tingkat intelegensi tinggi lebih berani untuk mencari
pekerjaan baru dibanding karyawan yang mempunyai tingkat intelegensi
tidak terlalu tinggi.
4. Keikatan terhadap perusahaan
Semakin tinggi keikatan karyawan terhadap perusahaannya tingkat
turnover intention akan semakin kecil. Sebaliknya semakin rendah
keikatan karyawan terhadap perusahaan maka tingkat turnover intention
semakin tinggi. Alasannya karena karyawan yang mempunyai rasa
keikatan yang tinggi berarti karyawan tersebut mempunyai perasaan
memiliki perusahaan, dan rasa aman selama di perusahan. Maka dari itu
hal-hal tersebut akan berdampak dengan menurunnya dorongan karyawan
untuk berpindah pekerjaan dan perusahaan.
5. Kepuasan Kerja
Setiap individu memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda-beda
sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada karyawan tersebut.
Kepuasan berhubungan dengan keinginan individu untuk meninggalkan
perusahaan dan kepuasan meliputi kepuasan akan upa dan promosi,
kepuasan atas supervise yang terima, kepuasan dengan rekan kerja, dan
kepuasan akan pekerjaan tersebut.
2.5.5 Dimensi dan Indikator Turnover Intention
Menurut Bruno Staffelbach (2008:35) terdapat 3 dimensi penentu terjadinya
turnover:
28
1. Faktor Psikologis
a. Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan keadaan emosianal yang dihasilkan memalui
penilaian pekerjaan untuk melihat hasil pekerjaan baik secara keseluruhan
maupun secara aspek-aspek tertentu.
b. Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi adalah loyalitas karyawan terhadap organisasi yang
dilihat melalui keyakinan untuk menerima semua tujuan organisasi, usaha
untuk membuat organisasi lebih maju, dan keinginan untuk tetap setia
pada organisasi. Faktor Ekonomi
a. Gaji
Gaji merupakan salah satu komponen yang dominan utama ekonomi
ketika seorang melakukan pekerjaan.
b. Peluang External
Peluang external merupakan ketersediaan peluang karir diluar organisasi
lebih baik seperti jumlah ekonomi yang ditawarkan dan hal ini ymemacu
karyawan untuk menarik diri dari organisasi sebelumnya.
2. Faktor Demografi
a. Usia
Faktor usia merupakan salah satu hal yang sering dikaitkan untuk terjadi
niat untuk keluar karena karyawan yang memiliki usia muda lebih sering
untuk mencoba berbagai jenis pekerjaan dibanding karyawan yang
memiliki usia lebih tua.
b. Lama Bekerja
Lama bekerja dilihat dari kesetiaan karyawan kepada organisasi. Semakin
lama bekerja pada suatu organisasi maka keinginan karyawan untuk
pindah akan rendah dan begitu juga sebaliknya.
2.5.6 Kerugian dan Keuntungan Turnover
1. Kerugian Turnover
Menurut Wirawan (2015) turnover dapat
perusahaan. Kerugian tersebut antara lain:
menimbulkan kerugian bagi
29
a. Kinerja Perusahaan
Turnover akan mempengaruhi kinerja perusahaan apabila karyawan yang
ingin pindah kerja merupakan karyawan yang menentukan keberhasilan
perusahaan. Kuantitas, kualitas produksi, proses pemasaran dapat menurun
dan terganggu yang kemudian akan berdampak pada
profit perusahaan
apabila terjadi turnover di perusahaan.
b. Biaya Turnover Pegawai
Dengan terjadinya turnover akan menimbulkan biaya pergantian karyawan
kecuali jika karyawan yang turnover tidak perlu digantu tetapi jika karyawan
yang ingin pindah kerja perlu diganti maka perusahaan harus memerlukan
biaya lebih udah merekrut karyawan pengganti.
2. Keuntungan Turnover
Menurut Wirawan (2015) turnover mempunyai potensi untuk menguntungkan
perusahaan. Maka keuntungan turnover untuk perusahaan yaitu:
a. Perginya tenaga kerja yang relatif bergaji mahal.
Jika perusahaan menggunakan sistem kompensasi berdasarkan senioritas
maka biaya karyawan yang sudah lama bekerja maka makin tinggi biaya yang
dikeluarkan. Oleh karena itu jika kenaikan biaya karyawan meningkat
melampaui peningkatan produktivitas maka terjadinya turnover karyawan
akan menjadi menguntungkan.
b. Perginya tenaga kerja yang kurang produktif.
Tenaga kerja yang kurang produktif adalah tenaga kerja yang fisik dan
mentalnya sudah menurun atau tidak mampu lagi mengikuti tekanan kerja
dan perubahan lingkungan internal dan eksternal perusahaan.
c. Pengakhiran kecocokan yang buruk.
Dalam proses perekrutan dan seleksi yang dilakukan secara hati-hati,
sejumlah kecocokan akan lebih baik daripada kecocokan lainnya. Hal ini
terjadi jika produktivitas dan kinerja tidak terlalu bergantung pada teknologi
dan hubungan sosial serta keterampilan kontekstual.
d. Inovasi
Dengan terjadinya turnover maka kemungkinan untuk mengganti karyawan
karena dengan seperti itu memungkinkan perusahaan untuk mencari
30
pengetahuan, ide-ide, pengalaman, dan keterampilan yang dibawa oleh
karyawan yang baru.
2.6
Kinerja Karyawan
Menurut Mangkunegara (2013: 67) mengatakan isitilah kinerja berasal dari
kata job performance atau actual performance yang berarti hasil kerja secara
kuantitas dan kualitas yang telah diraih karyawan dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tanggung jawab yang telah diberikan. Kemudian Hasibuan (2005:87)
mengatakan kinerja karyawan merupakan hasil dari pekerjaan yang telah dicapai
seorang karyawan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya
berdasarkan faktor kecakapan, pengalaman, kesungguhan, serta waktu yang
diberikan. Sedangkan Mathis dan Jackson (2006:378) mengatakan kinerja adalah
pada dasarnya apa yang dilakukan dan yang tidak dilakukan oleh karyawan
Maka dari itu menurut beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa
kinerja karyawan merupakan hasil kerja berdasarkan apa yang telah diraih oleh
karyawan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
2.6.1 Faktor-Faktor Kinerja
Menurut
Wibowo
(2014:84)
mengemukakan
beberapa
faktor
yang
mempengaruhi kinerja, yaitu sebagai berikut:
1. Personal Factors
Dilihat melalui tingkat keterampilan, kompetensi, motivasi, dan komitmen
yang dimiliki oleh setiap karyawan.
2. Leadership Factors.
Ditentukan melalui kualitas, bimbingan, dan dukungan yang dilakukan oleh
manager.
3. Team Factors.
Ditunjukan melalui dukungan yang diberikan oleh sesame karyawan atau
rekan kerja.
4. System Factors.
Ditentukan melalui sistem kerja dan fasilitas yang telah diberikan organisasi.
5. Contextual/Situational Factors.
Ditentukan melalui tingginya tingkat tekanan dan perubahan yang terjadi
pada lingkungan internal dan lingkungan external.
31
2.6.2 Dimensi dan Indikator Kinerja
Menurut Wirawan (2009) menjelaskan mengenai pengembangan dimensi dan
indikator instrument evaluasi kinerja yaitu:
a.
b.
c.
Dimensi hasil kerja terdiri dari tiga indikator yaitu:
1.
Kualitas hasil kerja
2.
Efisiensi dalam mengerjakan tugas
Dimensi perilaku kerja terdiri dari tiga indikator yaitu:
1.
Kedisplinan
2.
Keteleitian
3.
Inisiatif
Dimensi sifat pribadi terdiri dari dua infikator yaitu:
1.
Kemampuan
2.
Semangat kerja
2.6.3 Tujuan Evaluasi Kinerja
Tujuan evaluasi kinerja adalah untuk meningkatkan kinerja perusahaan
melalui spesifik tujuan evaluasi kinerja yang dikemukakan Mangkunegara (2014:10)
adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan pengertian antar sesama karyawan mengenai persyaratan
kinerja.
2. Perusahaan mengakui hasil kerja seorang karyawan sehingga para karyawan
termotivasi untuk meningkatkan pekerjaan menjadi lebih baik.
3. Memberikan peluang kepada karyawan untuk mengungkapkan keinginannya
dan perusahaan meningkatkan rasa kepedulian terhadap pengembangan karier
karyawan.
4. Merumuskan kembali sasaran untuk masa depan sehingga para karyawan
termotivasi untuk lebih berprestasi sesuai dengan kompetensi yang ia miliki.
2.7
Kerangka Pemikiran
Menurut hubungan antar variabel yang telah dijelaskan dapat dibuat sebuah
gambar kerangka berfikir yaitu sebagai berikut:
32
Lingkungan Kerja
(X1)
Turnover Intention
Kinerja Karyawan
(Y)
(Z)
Keselamatan dan
Kesehetan Kerja
(X2)
Gambar 2. 2 Kerangka Pemikiran
Sumber: Penulis
2.8
Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran yang sudah digambarkan maka penulis
dapat membuat hipotesis mengenai penelitian ini. Berikut adalah hipotesis penelitian
berdasarkan tujuan-tujuan dari penelitian:
•
Hipotesis 1
Ho = Tidak ada pengaruh lingkungan kerja (X1) terhadap turnover intention
(Y)
Ha = Ada pengaruh lingkungan kerja (X1) terhadap turnover intention (Y)
•
Hipotesis 2
Ho =Tidak ada pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja (X2) terhadap
turnover intention (Y)
Ha = Ada pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja (X2) terhadap turnover
intention (Y)
•
Hipotesis 3
Ho = Tidak ada pengaruh turnover intention (Y) terhadap kinerja karyawan
(Z)
Ha = Ada pengaruh turnover intention (Y) terhadap kinerja karyawan (Z)
•
Hipotesis 4
Ho = Tidak ada pengaruh lingkungan kerja (X1) terhadap kinerja karyawan
(Z)
33
Ha = Ada pengaruh lingkungan kerja (X1) terhadap kinerja karyawan (Z)
•
Hipotesis 5
Ho =Tidak ada pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja (X2) terhadap
kinerja karyawan (Z)
Ha = Ada pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja (X2) terhadap kinerja
karyawan (Z)
•
Hipotesis 6
Ho =Tidak ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan kerja (X1),
keselamatan dan kesehatan kerja (X2) terhadap turnover intention (Y)
Ha = Ada pengaruh pengaruh yang signifikan antara lingkungan kerja (X1),
keselamatan dan kesehatan kerja (X2) terhadap turnover intention (Y)
Hipotesis 7
Ho = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan kerja (X1),
keselamatan dan kesehatan kerja (X2) terhadap turnover intention (Y)
dan berdampak terhadap kinerja karyawan (Z)
Ha = Ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan kerja (X1)
keselamatan dan kesehatan kerja (X2) terhadap turnover intention (Y)
dan berdampak terhadap kinerja karyawan (Z)
34
Download