iii. kerangka pemikiran

advertisement
III.
3.1.
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1. Konsep Strategi
Strategi berasal dari bahasa Yunani yang berarti: kepemimpinan dalam
ketentaraan. Strategi adalah hal menetapkan arah kepada “manajemen” dalam arti
orang
tentang
sumber
daya
didalam
bisnis
dan
tentang
bagaimana
mengidentifikasikan kondisi yang memberikan keuntungan terbaik untuk
membantu memenangkan persaingan didalam pasar. Dengan kata lain, definisi
strategi mengandung dua komponen yaitu : future intentions atau tujuang jangka
panjang dan competitive advantage atau keunggulan bersaing (Dirgantoro, 2004).
Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan jangka panjang. Strategi
bisnis dapat mencakup ekspansi geografis, diversifikasi, akuisisi, pengembangan
produk, penetrasi pasar, pengurangan bisnis, divestasi, likuidasi dan joint venture.
Strategi adalah tindakan potensial yang membutuhkan keputusan manajemen
tingkat atas dan sumber daya perusahaan dalam jumlah yang besar. Selain itu,
strategi mempengaruhi kemakmuran perusahaan dalam jangka panjang dan
berorientasi ke masa depan. Strategi memiliki konsekuensi yang multifungsi dan
multidimensi serta perlu mempertimbangkan faktor-faktor eksternal dan internal
yang dihadapi perusahaan (David, 2006)
3.1.2. Konsep Manajemen Strategi
Manajemen strategis merupakan seni dan pengetahuan untuk merumuskan,
mengimplementasikan, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang
membuat organisasi mampu mencapai tujuannya. Manajemen strategis berfokus
pada
mengintegrasikan
manajemen,
pemasaran,
keuangan/akuntansi,
produksi/operasi, penelitian dan pengembangan, dan sistem informasi komputer
untuk mencapai keberhasilan organisasional. Tujuan dari manajemen strategis
adalah untuk mengeksploitasi dan menciptakan peluangbarudan berbeda untuk
masa mendatang (David, 2009).
Menurut Dirgantoro (2004), manajemen strategik merupakan usaha untuk
mengembangkan kekuatan yang ada diperusahaan untuk menggunakan atau
21
menangkap peluang bisnis yang muncul guna mencapai tujuan perusahaan yang
telah ditetapkan sesuai misi yang telah ditentukan.
3.1.3. Model Manajemen Strategi
Proses manajemen strategis menurut David (2009), terdiri atas tiga tahap
yaitu formulasi strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi. Proses
manajemen strategi dapat dilihat seperti pada Gambar 1.

Formulasi strategi termasuk termasuk mengembangkan visi dan misi,
mengidentifikasi peluang dan ancaman eksternal perusahaan, menentukan
kekuatan dan kelemahan internal, menetapkan tujuan jangka panjang,
merumuskan alternatif strategi dan memilih strategi tertentu yang akan
dilaksanakan.

Implementasi strategi sering kali disebut tahap pelaksanaan dalam
manajemen strategis. Implementasi strategi mensyaratkan perusahaan
untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat kebijakan, memotivasi
karyawan dan mengalokasikan sumberdaya sehingga strategi yang telah
diformulasikan
dapat
dijalankan.
Implementasi
strategi
termasuk
mengembangkan budaya dan mendukung strategi, menciptakan struktur
oreganisasi yang efektif dan mengarahkan usaha pemasaran, menyiapkan
anggaran, mengembangkan dan memberdayakan system informasi, dan
menghubungkan kinerja karyawan dengan kinerja organisasi.

Evaluasi strategi adalah tahapan final dalam manajemen strategis.
Manajer sangat ingin mengetahui kapan strategi tidak dapat berjalan
seperti yang diharapkan; evaluasi strategi adalah alat utama untuk
mendapatkan informasi ini.
22
Menjalankan
Audit
Eksternal
Mengemba
ngkan
Pernyataan
Visi dan
Misi
Menetapk
an Tujuan
Jangka
Panjang
Merumuskan,
Mengevaluasi
dan memilih
Satrategi
Implementa
si Strategiisu
Manajemen
Menjalankan
Audit
Internal
Formulasi
Straegi
Implementa
si strategi
isu-isu
pemasaran,
keuangan,
akuntansi,
penelitian
dan
pengemban
gan, system
informasi
Implementasi
Strategi
Menguk
ur dan
mengev
aluasi
Kinerja
Evaluasi
Strategi
Gambar 1. Model Komprehensif Manajemen Strategis
Sumber : David (2009)
3.1.4. Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan
Salah satu langkah untuk melakukan perumusan strategi adalah dengan
menetapkan pernyataan visi dan misi perusahaan. Menurut David (2009), visi
adalah suatu kalimat yang menjelaskan “ingin menjadi apakah kita”. Pernyataan
visi sering dianggap sebagai tahap pertama dalam perencanaan strategis,
sedangkan menurut Dirgantoro (2004), visi adalah suatu pandangan yang jauh
tentang perusahaan; tujuan-tujuan perusahaan dan apa yang harus dilakukan untuk
mencapai tujuan tersebut.
Misi merupakan fondasi bagiprioritas, strategi, rencana, dan penugasan
kerja. Misi merupakan titik awal untuk perencanaan tugas-tugas manajerial dan
diatas semuanya, untuk perancangan struktur manajerial. Pernyataan misi
menjawab pertanyaan dasar yang dihadapi semua penyusun strategi: “Apakah
bisnis kita?”. Pernyataan misi lebih darisekedar pernyataan detail-detail spesifik;
pernyataan misi merupakan deklarasi sikap dan pandangan. Pernyataan misi
23
biasanya luas cakupannya karena setidaknya mencakup dua alasan. Pertama,
pernyataan misi yang baik memungkinkan penciptaan dan pertimbangan beragam
tujuan dan strategi altrnatif tanpa kemudian menghambat kreativitas manajemen.
Kedua, pernyataan misi perlu luas agar dapat secara efektif merekonsiliasi
perbedaan dikalangan, dan menarik bagi para stakeholders, yaitu individuindividu atau kelompok yang memiliki kepentingan khusus pada suatu perusahaan
(David, 2006).
Menurut Siagian (2011) misi adalah maksud dan kegiatan usaha yang
membuat organisasi memiliki jati diri yang khas dan sekaligus membedakannya
dari organisasi lain yang bergerak dalam bidang usaha yang sejenis. Misi
merupakan suatu bentuk pernyataan umum tertapi bersifat lestari oleh manajemen
puncak yang mengandung niat organisasi yang bersangkutan.
Tujuan didefinisikan sebagai hasil yang spesifik yang ingin dicapai suatu
organisasi untuk menjalankan misi dasarnya. Tujuan harus menantang, terukur,
konsisten, masuk akal dan jelas (David, 2006). Sedangkan Hariadi (2003)
menjelaskan, penetapan tujuan merupakan upaya untuk merefleksikan pernyataan
manajemen dalam misi kedalam target tertentu atau tingkat kemajuan organisasi
tertentu yang dapat diukur. Penetapan tujuan mengungkapkan target yang
menantang yang memerlukan usaha dan disiplin untuk mencapainya.
Menurut Purwanto (2008) tujuan perusahaan merupakan pernyataan
tentang keinginan yang akan dijadikan pedoman bagi manajemen perusahaan
untuk meraih hasil tertentu atas kegiatan yang dilakukan dengan dimensi waktu
tertentu atas kegiatan yang dilaukan dengan dimensi waktu tertentu. Tujuan
memiliki karakteristik yang berbeda dengan visi maupun misi, diantaranya : (1)
sesuai: tujuan selaras dengan visi dan misi; (2) berdimensi waktu, tujuan harus
kongkrit dan bisa diantisipasi kapan terjadinya; (3) layak. Tujuan hendaknya
merupakan suatu tekad yang bisa diwujudkan; (4) fleksibel. Tujuan senantiasa
bisa disesuaikan atau peka terhadap perubahan situasi dan kondisi; (5) mudah
dipahami.
24
3.1.5. Jenis-Jenis Strategi Alternatif
Menurut David (2009), pada prinsipnya strategi dapat dikelompokkan atas
empat kelompok strategi, yaitu :
1)
Strategi Integrasi(Integration Strategy)
Strategi ini menghendaki agar perusahaan melakukan pengawasan yang lebih
terhadap distributor, pemasok dan atau para pesaingnya. Strategi integrasi
dapa dilakukan melalui beberapa cara, antara lain integrasi ke depan,
integrasi ke belakang dan integrasi horizontal.
a. Integrasi ke depan (Forward Integration)
Integrasi ke depan adalah strategi untuk mencari kepemilikan atau
meningkatkan kontrol atas distributor atau peritel. Saat ini semakin
banyak produsen atau pemasok yang menjalankan strategi intergasi
kedepan dengan membuat situs web untuk menjual produk secara
langsung kepada konsumen.
b. Integrasi ke belakang (Backward Integration)
Integrasi ke belakang adalah strategi untuk mencari kepemilikan atau
meningkatkan kontrol atas pemasok perusahaan. Strategi ini sangat cocok
ketika pemasok perusahaan saat ini tidak dapat diandalkan, terlalu mahal
atau tidak dapat memenuhi kebutuhan perusahaan.
c. Integrasi horizontal(Horizontal Integration)
Integrasi horizontal adalah strategi untuk mencari kepemilikan atau
meningkatkan kontrol atas pesaing perusahaan. Merger, akuisisi, dan
pengambilalihan antar pesaing memungkinkan meningkatnya skala
ekonomi dan mendorong transfer sumber daya dan kompetensi.
2)
Strategi Intensif (Intensive Stategy)
Stategi intensif merupakan strategi yang memerlukan usaha-usaha intensif
untuk meningkatkan posisi persaingan perusahaan melalui produk yang ada.
Strategi intensif dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain penetrasi
pasar, pengembangan pasar dan pengembangan produk.
a. Penetrasi pasar (market penetration)
Strategi penetrasi pasar merupakan suatu strategi yang berusaha
meningkatkan pangsa pasar untuk produk atau jasa saat ini melalui upaya
25
pemasaran yang lebih besar. Penetrasi pasar mencakup meningkatkan
jumlah tenaga penjual, meningkatkan jumlah belanja iklan, menawarkan
promosi penjualan yang ekstensif atau meningkatkan usaha publisitas.
b. Pengembangan pasar (market development)
Strategi pengembangan pasar merupakan suatu strategi yang berusaha
memeperkenalkan produk atau jasja saat ini ke area geografis yang baru.
c. Pengembangan produk (product development)
Strategi pengembangan produk merupakan strategi yang berusaha
meningkatkan penjualan melalui perbaikan produk atau jasa saat ini atau
mengembangkan produk atau jasa baru.
3)
Strategi Diversifikasi (Diversification Strategy)
Strategi diversifikasi merupakan suatu strategi yang dimaksudkan untuk
menambah produk-produk baru. Strategi diversifikasi dapat dilakukan
melalui diversifikasi konsentrik, diversifikasi konglomerat, dan diversifikasi
horizontal.
a. Diversifikasi konsentrik (consentric diversification)
Strategi diversifikasi konsentrik atau terfokus adalah strategi menambah
produk baru atau jasa baru, tetapi berhubungan.
b. Diversifikasi konglomerat (conglomerate diversification)
Strategi diversifikasi konglomerat adalah strategi menambah produk atau
jasa baru tetapi tidak saling berkaitan.
c. Diversifikasi horizontal (horizontal diversification)
Strategi diversifikasi horizontaladalah strategi menambah produk atau
jasa baru, tetapi tidak berkaitan dan masih untu pelanggan saat ini.
4)
Strategi Defensif (Defensive Strategy)
Strategi defensif merupakan suatu strategi yang dimaksudkan agar
perusahaan melakukan tindakan-tindakan penyelamatan agar terlepas dari
kerugian yang lebih besar, termasuk mengalami kebangkrutan. Strategi
defensif dapat dilakukan melaui tiga cara yaitu retrenchment, divestasi, dan
likuidasi.
26
a. Penciutan (Retrenchment)
Retrenchment terjadi ketika suatu organisasi mengelompokkan ulang
melalui pengurangan asset dan biaya untuk membalikkan penjualan dan
laba yang menurun. Kadang kala disebut pembalikan atau strategi
reorganisasional. Retrenchment didesain untuk memperkuat kompetensi
khusus dasar suatu organisasi. Selama retrenchment, para penyusun
strategi bekerja dengan sumberdaya yang terbatas dan menghadapi
tekanan dari pemegang saham, karyawan dan media. Retrenchment dapat
melibatkan penjualan tanah dan gedung untuk meningkatkan kas,
memotong lini produk, menutup bisnis yang labanya sangat tipis,
menutup pabrik yang tua atau kuno, mengotomatisasi proses, mengurangi
jumlah karyawan dan mendapatkan sistem kontrol pengeluaran.
b. Divestasi (Divestiture)
Strategi divestasi adalah strategi dengan menjual satu divisi atau bagian
dari suatu organisasi. Divestasi sering digunakan untuk meningkatkan
modal untuk akuisisi atau investasi strategis lebih jauh. Divestasi dapat
menjadi bagian dari keseluruhan strategi penciutan untuk membebaskan
organisasi dari bisnis yang tidak menguntungkan, yang membutuhkan
terlalu banyak modal.
c. Likuidasi (Likuidation)
Likuidasi merupakan suatu strategi yang digunakan perusahaan dengan
cara menjual seluruh asset perusahaan, secara terpisah-pisah atau
sepotong-potong untuk nilai riilnya. Likuidasi adalah suatu pengakuan
kekalahan, dengan cara menghentrikan operasi untuk menghindari
kehilangan uang dalam jumlah besar.
3.1.6. Analisis Lingkungan Usaha
Analisis lingkungan dilakukan dengan tujuan utama untuk melihat
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada industri maupun organisasi baik
pada lingkungan eksternal (peluang dan ancaman) maupun lingkungan internal
(kekuatan dan kelemahan).
27
3.1.6.1. Analisis Lingkungan Eksternal
Menurut Dirgantoro (2004) lingkungan eksternal bisa dikatakan sebagai
komponen-komponen atau variabel lingkungan yang berada atau berasal dari luar
organisasi/perusahaan. Komponen tersebut cenderung berada diluar jangkauan
organisasi, artinya organisasi/perusahaan tidak bisa melakukan intervensi terhadap
komponen-komponen tersebut.
Perubahan dalam kekuatan eksternal mewujud menjadi perubahan dalam
permintaan dan konsumen akan produk adan jasa industrial konsumen dan
konsumen. Kekuatan eksternal mempengaruhi jenis produk yang dikembangkan,
hakikat pemosisian dan strategi segmentasi pasar, jenis jasa yang ditawarkan, dan
pilihan bisnis yang akan dibeli atau dijual. Secara langsung, kekuatan eskternal
mempengaruhi baik pemasok maupun distributor. Menurut David (2009), untuk
melakukan
audit
eksternal,
sebuah
perusahaan
harus
terlebih
dahulu
mengumpulkan intelegen kompetitif dan informaasi mengenai berbagai tren
ekonomi, sosial, budaya, demografis, lingkungan, politik, pemerintahan, hukum
dan teknologi. Lingkungan eksternal perusahaan dibedakan kedalam dua kategori,
yaitu :
1. Lingkungan Jauh
Lingkungan jauh perusahaan terdiri dari faktor-faktor yang pada dasarnya
berada di luar dan terlepas dari perusahaan. Faktor-faktor utama yang diperhatikan
adalah faktor Politik, Ekonomi, Sosial dan Teknologi (PEST).
a) Faktor Politik, Pemerintah, dan Hukum
Arah , kebijakan, dan stabilitas politik pemerintah menjadi faktor penting
bagi para pengusaha untuk berusaha. Situasi politik yang tidak kondusif akan
berdampak negatif bagi dunia usaha, begitu pula sebaliknya. Beberapa hal utama
yang perlu diperhatikan dari faktor politik agar bisnis dapat berkembang dengan
baik, adalah sebagai berikut (1) Undang-undang tentang lingkungan dan
perburuhan ; (2) peraturan tentang perdagangan luar negri ;
(3) stabilitas
pemerintahan ; (4) peraturan dengan keamanan dan kesehatan kerja ; (5) sistem
perpajakan.
Hunger dan Wheelen (2003) menambahkan bahwa disamping lima faktor
kunci yang telah disebutkan oleh Umar (2003), terdapat faktor-faktor lain yang
28
berpengaruh terhadap kekuatan politik-hukum antara lain regulasi antitrust,
intensif khusus, sikap terhadap perusahaan asing, dan undang-undang mengenai
gaji dan promosi.
b)
Faktor Ekonomi
Kondisi ekonomi suatu daerah atau negara dapat mempengaruhi iklim
berbisnissuatu perusahaan. Semakin buruk kondisi ekonomi, semakin buruk pula
iklim berbisnis. Oleh karena itu, pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat
hendakny bersama-sama mempertahankan bahkan meningkatkan kondisi ekonomi
daerahnya menjadi lebih baik lagi agar perusahaan dapat bergerak maju dalam
usahanya. Beberapa faktor kunci yang perlu diperhatikan dalam menganalisis
ekonomi suatu daerah atau negara adalah siklus bisnis, ketersediaan energi,
inflasi, suku bunga, investasi, harga-harga produk dan jasa, produktivitas, dan
tenaga kerja (Umar, 2003).
Hunger dan Wheelen (2003) menambahkan bahwa disamping delapan
faktor kunci yang telah disebutkan oleh Umar (2003), terdapat faktor-faktor lain
yang berpengaruh terhadap kekuatan ekonomi diantaranya tren GNP, persediaan
uang, tingkat pengangguran, pengendalian upah/harga, devaluasi atau revaluasi,
ketersediaan energy dan biaya serta pendapatan disposable dan discretionary.
c)
Faktor SoSial, Budaya, Demografi dan Lingkungan
Kondisi sosial masyarakat memang berubah-ubah. Hendaknya perubahan-
perubahan sosial yang terjadi yang mempengaruhi perusahaan dapat diantisipasi
oleh perusahaan. Kondisi sosial ini memiliki banyak aspek, antara lain sikap, gaya
hidup, adat-istiadat, dan kebiasaan dari orang-orang dilingkungan eksternal
perusahaan seperti kondisi kultural, ekologis, demografis, religious, pendidikan
dan etnis (Umar, 2003).
Hunger dan Wheelen (2003) menyebutkan bahwa kekuatan sosiokultural
terdiri dari beberapa aspek antara lain perubahan gaya hidup, harapan karir,
aktivisme konsumen, tingkat formasi keluarga, pertumbuhan tingkat populasi,
distribusi umur populasi, pergeseran wilayah regional dalam populasi, tingkat
harapan hidup dan tingkat kelahiran.
29
d) Faktor Teknologi
Kekuatan teknologi mempresentasikan peluang dan ancaman besar yang
harus dipertimbangkan dalam perumusan strategi. Kemajuan teknologi bisa secara
dramatis mempengaruhi produk, jasa, pasar, pemasok, distributor, pesaing,
pelanggan, proses produksi, praktik pemasaran dan posisi kompetitif organisasi.
Kemajuan teknologi dapat menciptakan pasar baru, yang menghasilkan
penciptaan produk baru dan produk yang lebih baik, perubahan posisi biaya
kompetitif dalam suatu industri, dan membuat produk dan jasa saat ini sudah
usang. Perubahan teknologi dapat mengurangi atau menghilangkan hambatan
biaya antar bisnis, menciptakan siklus produksi yang lebih pendek, menciptakan
kelangkaan dalam keterampilan teknis serta menghasilkan perubahan dalam nilainilai dan harapan karyawan, manajer dan konsumen. Kemajuan teknologi bisa
menciptakan keunggulan kompetitif baru yang lebih baik daripada keunggulan
kompetitif yang telah ada.
Organisasi-organisasi yang secara tradisional memiliki pengeluaran
teknologi yang terbatas pada apa yang mereka bisa danai setelah memenuhi
persyaratan pemasaran dan keuangan sangat perlu membalik cara berfikir mereka.
Perusahaan perlu menjalankan strategi yang bisa memanfaatkan peluang yang
ditawarkan
teknologi
untuk
mencapai
keunggulan
kompetitif
yang
berkesinambungan dipasar.
2. Lingkungan Industri (kekuatan kompetitif)
Analisis lingkungan industri dilakukan dengan menggunakan konsep
competitive strategy yang dikemukakan oleh Porter. Competitive strategy
menganalisis persaingan bisnis berdasarkan lima aspek utama yang disebut lima
kekuatan bersaing Porter. Model lima kekuatan Porter tentang analisis kompetitif
adalah pendekatan yang secara luas untuk mengembangkan strategi dalam banyak
industri. Model lima kekuatan Porter dapat dilihat pada Gambar 2.
30
Potensi Pengembangan
Produk-Produk Pengganti
Daya Tawar
Pemasok
Persaingan antar
Perusahaan Saingan
Daya Tawar
Konsumen
Potensi Masuknya
Pesaing Baru
Gambar 2. Lima Kekuatan Bersaing Porter
Sumber : David (2009)
Penjelasan lima kekuatan bersaing Porter adalah sebagai berikut:
a.
Persaingan Antarperusahaan Saingan
Persaingan antarperusahaan saingan biasanya merupakan yang paling
hebat dari lima kekuatan kompetitif. Strategi yang dijalankan oleh sebuah
perusahaan dapat berhasil hanya sejauh ia menghasilkan keunggulan kompetitif
atas straegi yangdijalankan perusahaan pesaing. Perubahan dalam strategi oleh
satu perusahaan bias jadi ditanggapi dengan langkah balasan, seperti penurunan
harga, peningkatan kualitas, penambahan fitur, penyediaan layanan, perpanjangan
garansi dan pengintesifan iklan.
Intensitas persaingan antarperusahaan saingan cenderung meningkat ketika
jumlah pesaing bertambah, ketika pesaing lebih setara dalam hal ukuran dan
kapabilitas, ketika permintaan akan produk industri itu menurun, dan ketika
potongan harga menjadi lazim. Persaingan juga meningkat manakala konsumen
dapat beralih merek dengan mudah; ketika hambatan untuk meninggalkan pasar
tinggi; tatkala biaya tetap tinggi; kala produk bias rusak atau musnah; ketika
permintaan konsumen tumbuh lambat atau turun sehingga pesaing memiliki
kelebihan kapasitas dan atau persediaan; saat produk yang dijual adalah
komoditas (tidak mudah terdiferensiasi seperti bensin); ketika perusahaan pesaing
beragam dalam hal strategi, asal usul, dan budaya; serta manakala merger dan
akuisisi lazim dalam industri. Saat persaingan antar perusahaan saingan
meningkat, laba industri menurun, dalam beberapa kasus sampai pada titik dimana
sebuah industri menjadi tidak menarik secara inheren.
31
b.
Potensi Masuknya Pesaing Baru
Masuknya pendatang baru dapat menjadi ancaman bagi pemain lama yang
sudah ada sebelumnya karena bisa mengurangi keuntungan yang didapat atau bisa
saja menambah daya tarik industri bersangkutan. Seberapa jauh tingkat keseriusan
ancaman ini akan tergantung pada dua hal, yaitu rintangan penghalang masuk
serta bagaimana reaksi pemain lama terhadap pendatang baru.
Menurut Purwanto (2008) terdapat tujuh sumber rintangan masuk,
diantaranya (1) skala ekonomis; (2) differensiasi produk; (3) kebutuhan modal; (4)
biaya beralih pemasok; (5) akses ke saluran distribusi; (6) biaya tak
menguntungkan terlepas dari skala; dan (7) kebijakan pemerintah.
c.
Potensi Pengembangan Produk Pengganti
Suatu produk dapat menjadi substitusi atau pengganti bagi produk lain jika
konsumen menganggap produk-produk tersebut mempunyai fungsi yang serupa.
Tekanan persaingan dari produk substitusi akan mendorong suatu perusahaan
menjalankan suatu strategi untuk meyakinkan pelanggan bahwa produk mereka
berbeda dari produk substitusi dengan melalui berbagai bentuk differentiate
strategy seperti harga yang bersaing, kualitas yang beda, pelayanan yang lebih
baik, dan kinerja yang lebih sesuai dengan keinginan konsumen atau kombinasi.
Menurut Purwanto (2008) produk pengganti membatasi laba potensial dari
industri dengan menetapkan harga pagu (ceiling price) yang dapat diberikan oleh
perusahaan industri, dimana semakin menarik alternatif harga yang ditawarkan
oleh produk pengganti, makin ketat pembatasan laba industri.
d.
Daya Tawar Pemasok
Daya tawar pemasok mempengaruhi intensitas persaingan di suatu
industri, khususnya ketika terdapat sejumlah pemasok, atau ketika hanya terdapat
sedikit bahan mentah pengganti yang bagus atau ketika biaya peralihan ke bahan
mentah lain sangat tinggi. Akan menguntungkan kepentingan baik pemasok
maupun produsen untuk saling membantu dengan harga yang masuk akal, kualitas
yang baik, pengembangan layanan baru, pengiriman yang tepat waktu, dan biaya
persediaan yang lebih rendah, sehingga meningkatkan profitabilitas jangka
panjang dari semua pihak yang berkepentingan.
32
Di semakin banyak industri, penjual menjalin kemitraan strategis dengan
pemasok terpilih dalam upaya untuk (1) mengurangi biaya persediaan dan logistik
(misalnya, melalui pengiriman tepat waktu); (2) mempercepat ketersediaan
komponen generasi selanjutnya; (3) meningkatkan kualitas onderdil dan
komponen yang dipasok serta mengurangi tingkat kecacatannya, dan (4) menekan
pengeluaran baik bagi diri mereka sendiri maupun pemasok mereka.
e.
Daya Tawar Konsumen
Daya tawar konsumen dapat tinggi apabila mereka berkonsentrasi atau
berbelanja atau membeli dalam jumlah besar yang mempengaruhi intensitas
persaingan disuatu industri dan ketika produk yang dibeli adalah standar atau
tidak terdiferensiasi. Jika demikian, konsumen sering kali dapat menegosiasikan
harga jual, cakupan garansi dan paket-paket aksesori dalam pengertian yang luas.
Konsumen memiliki daya tawar yang lebih luas dalam kondisi-konsisi
berikut: (1) jika mereka dapat dengan mudah dan murah beralih ke merek atau
pengganti pesaing; (2) jika mereka menduduki tempat yang sangat penting bagi
penjual; (3) jika penjual menghadapi masalah menurunnya permintaan konsumen;
(4) jika mereka memegang informasi tentang produk, harga dan biaya penjual; (5)
jika mereka memegang kendali mengenai apa dan kapan mereka bias membeli
produk.
3.1.6.2. Analisis Lingkungan Internal
Menurut Dirgantoro (2004), analisis lingkungan internal terdiri dari
komponen-komponen atau variabel lingkungan yang berasal atau berada didalam
organisasi/perusahaan itu sendiri. Komponen-komponen dari lingkungan internal
cenderung lebih mudah dikendalikan oleh organisasi/perusahaan atau berada
didalam jangkauan intervensi mereka.
Semua organisasi mempunyai kekuatan dan kelemahan dalam berbagai
bidang fungsional bisnis. Tidak ada bisnis yang sama kuatnya atau sama
lemahnya disemua area. Kekuatan suatu perusahaan yang tidak dapat dengan
mudah disamakan atau ditiru oleh pesaing disebut kompetensi khusus (David,
2009).
33
Berdasarkan pendekatan fungsional, David (2009), membagi lingkungan
internal menjadi enam bagian yaitu :
a. Manajemen
Manajemen merupakan suatu tingkatan sistem pengaturan organisasi yang
mencakup sistem produksi, pemasaran, pengelolaan sumberdaya manusia
dan keuangan. Fungsi manajemen terdiri atas lima aktivitas dasar yaitu
perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi, pengelolaan staff dan
pengendalian.
b. Pemasaran
Pemasaran merupakan proses menetapkan, mengantisipasi, menciptakan
dan memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen akan produk dan jasa.
Tujuh fungsi dasar pemasaran anatara lain: (1) analisis konsumen; (2)
penjualan produk/jasa; (3) perencanaan produk dan jasa; (4) penetapan
harga; (5) distribusi; (6) riset pemasaran, dan (7) analisis peluang.
c. Keuangan/Akunting
Kondisi keuangan sering dianggap sebagai ukuran tunggal terbaik untuk
poisisi kompetitif dan dayatariknya bagi investor. Menentukan kekuatan
dan kelemahan keuangan suatu organisasi merupakan hal yang penting
guna memformulasikan strategi secara efektif. Likuidasi, pengungkit
(leverage), modal kerja, profitabilitas, utilitas asset, arus kas dan ekuitas
dapat mengeliminasi strategi-strategi tertentu sebagai alternatif yang
mungkin.
d. Produksi/operasi
Fungsi produksi dan operasi dari suatu terdiri dari semua aktivitas yang
mengubah masukan menjadi barang dan jasa. Aktivitas produksi/operasi
merupakan bagian terbesar dari asset manusia dan modal. Dalam
kebanyakan industri, biaya utama untuk menghasilkan produk dan jasa
berasal dari operasi, sehingga produksi/operasi memiliki nilai yang tinggi
sebagai senjata persaingan dalam strategi perusahaan secara keseluruhan.
e. Penelitian dan pengembangan
Arah terpenting kelima dalam operasi internal yang harus dievaluasi untuk
kekuatan dan kelemahan spesifik adalah penelitian dan pengembangan
34
(litbang). Banyak perusahaan saat ini tidak menjalankan litbang, tetapi
banyak juga perusahaan yang mengandalkan keberhasilan aktivitas litbang
untuk
bertahan
hidup.
Perusahaan
yang
menjalankan
strategi
pengembangan produk khususnya harus memiliki orientasi litbang yang
kuat.
f. Sistem Informasi Manajemen
Informasi mengikat semua fungsi bisnis menjadi satu dan menjadi dasar
untuk semua keputusan manajerial. Informasi mewakili sumber utama
keunggulan atau kelemahan kompetitif manajemen. Mengevaluasi
kekuatan dan kelemahan sistem informasi perusahaan adalah dimensi yang
penting dalam menjalankan audit internal. Kegunaan sisitem infornasi
manajemen adalah untuk memperbaiki kinerja suatu perusahaan dengan
memperbaiki kualitas keputusan manajerial.
3.1.7. Matriks IFE dan EFE
Matriks IFE merupakan alat perumusan strategi yang digunakan untuk
mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor lingkungan internal dan mengukur
sejauh mana kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Matriks EFE merupakan alat
perumusan strategi yang digunakan untuk merangkum dan mengevaluasi faktor
lingkungan eksternal dan mengukur sejauh mana peluang dan ancaman yang
dihadapi (David,2006).
3.1.8. Matriks Internal-Eksternal (I-E)
Matriks IE (Internal-External) merupakan pemetaan skor matriks EFE
dan IFE dan memposisikan perusahaan kedalam tampilan sembilan sel dimana
setiap sel merupakan kondisi atau langkah-langkah yang harus ditempuh
perusahaan. Tujuan dari matriks IE adalah untuk memperoleh strategi bisnis
ditingkat korporat yang lebih detail (David, 2006). Matriks IE didasarkan pada
dua dimensi kunci, yaitu total rata-rata tertimbang IFE pada sumbu-x (horizontal)
dan total rata-rata tertimbang EFE pada sumbu y (vertikal).
35
3.1.9. Matriks SWOT
Matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities Threats Matrix)
merupakan alat untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman dalam lingkungan suatu organisasi. Analisis ini didasarkan pada logika
yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan juga
meminimalkan kelemahan dan ancaman (David, 2006)
Matriks SWOT merupakan alat mencocokkan terpenting yang membantu
manajer mengembangkan empat tipe strategi : SO (kekuatan-peluang; strengthsopportunities),
WO
(kekuatan-ancaman;
(kelemahan-peluang;
strengths-threats),
dan
weaknesses-opportunities),
WT
ST
(kelemahan-ancaman;
weaknesses-threats).
3.1.10. Matriks QSP (QSPM)
Matriks QSP adalah alat yang memungkinkan penyusunan strategi untuk
mengevaluasi alternatif strategi secara objektif berdasarkan faktor keberhasilan
kunci internal dan eksternal yang telah diidentifikasi sebelumnya. Secara konsep,
QSPM menentukan daya tarik relatif dari berbagai strategi berdasarkan seberapa
jauh faktor keberhasilan kunci internal dan eksternal dimanfaatkan atau
diperbaiki. Daya tarik relatif dari masing-masing strtegi dalam satu set alternatif
dihitung dengan menentukan pengaruh kumulatif dari masing-masing faktor
keberhasilan kunci eksternal dan internal (David, 2006).
Matriks QSP memiliki keunggulan dan keterbatasan. Keunggulan dari
QSPM adalah bahwa set strategi dapat dievaluasi secara bertahap atau besamasama. Keunggulan lainnya dari QSPM adalah bahwa ia membutuhkan penyusun
strategi untuk mengintegrasikan faktor internal dan eksternal yang relevan ke
dalam proses keputusan. Dengan mengembangkan QSPM membuat kecil
kemungkinan suatu faktor kunci akan terabaikan atau diberi bobot yang tidak
sesuai. Sedangkan, keterbatasan QSPM adalah selalu membutuhkan penilaian
intuitif dan asumsi mendasar, disamping itu QSPM hanya dapat bermanfaat
sebagai informasi pendahuluan dan analisis pencocokan yang mendasari
penyusunannya (David, 2006).
36
3.2.
Kerangkan Pemikiran Operasional
Indutri kecil merupakan suatu usaha yang memiliki keterbatasan baik
dalam hal permodalan maupun sumber daya manusia yang dimilikinya. Pada
umumnya kendala yang sering dihadapi oleh usaha kecil antara lain keterbatasan
dana dalam pengembangan usaha, keterbatasan kemampuan teknis yang meliputi
pengadaan bahan baku dan peralatan standar, desain maupun mutu produk serta
keterbatasan kemampuan memasarkan (Enslikopedia Ekonomi, Bisnis dan
Manajemen: 1997; 265-266)5.
UKM Awal Putra Mandiri merupakan usaha kecil yang mengolah ikan
bandeng menjadi sate bandeng. Seperti usaha kecil pada umumnya, UKM Awal
Putra Mandiri dalam menjalankan usahanya dihadapkan pada beberapa
permasalahan, hingga saat ini pengelolaan manajemen yang dilakukan oleh UKM
Awal Putra Mandiri masih dilakukan secara sederhana, baik dari segi pengelolaan
keuangan maupun sumber daya manusia yang dimiliki. Permasalahan lain yang
dialami UKM Awal Putra Mandiri adalah belum memiliki jaringan distribusi yang
kontinu dalam memasarkan produk olahannya tersebut, hal ini dikarenakan
produk yang dihasilkan mudah rusak dan memiliki daya tahan yang tidak terlalu
lama. Hal ini menyebabkan wilayah pemasarannya hanya disekitar wilayah
Serang, Banten dan sekitarnya.
Disisi lain, peluang pasar yang besar menyebabkan banyak bermunculan
usaha-usaha sejenis yang memproduksi sate bandeng. Kondisi tersebut berpotensi
untuk menciptakan persaingan usaha yang cukup tinggi diantara produsen sate
bandeng.
Untuk itu, penentuan strategi pengembangan usaha yang tepat sangat
dibutuhkan oleh UKM Awal Putra Mandiri, sehingga dapat memaksimalkan
keuntungan dan mempertahankan keberlangsungan usahanya. Dalam melakukan
penelitian ini, hal yang paling mendasar yang perlu diketahui adalah visi, misi dan
tujuan Awal Putra Mandiri yang dicita-citakan oleh perusahaan. Penetapan visi,
misi dan tujuan perusahaan dilakukan agar usaha sate bandeng memiliki arah yang
jelas dalam mencapai tujuan usahanya.
5
Santoso S. 2009. Permasalahan Industri Kecil/Rumah Tangga di Kabupaten
Ponorogo.http://ssantoso.blogspot.com/2009/10/permasalahan-industri-kecil-rumah_2074.html
37
Penentuan strategi bagi UKM Awal Putra Mandiri didasarkan pada
lingkungan internal dan eksternal organisasinya. Faktor internal yang dibahas
dalam penelitian ini terdiri dari manajemen, pemasaran, produksi, keuangan dan
penelitian dan pengembangan. Kondisi manajemen yang terjadi pada UKM Awal
Putra Mandiri antara lain adanya keuletan dari pemilik usaha dalam menjalankan
usahanya. Hal ini merupakan modal dasar yang dimiliki perusahaan untuk dapat
memotivasi pemilik serta para karyawannya. Keuletan pemilik ditunjukkan
dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Disperindagkop Kota
Serang maupun DKP Provinsi Banten, sehingga dapat menambah pengetahuan
pemilik dalam menghasilkan produk yang lebih beragam. Dari sisi pemasaran,
promosi produk sate bandeng telah menggunakan teknologi informasi, sehingga
tidak jarang permintaan yang datang berasal dari luar wilayah Serang yang
mengetahui melalui internet. Dari sisi keuangan, hingga saat ini UKM Awal Putra
Mandiri masih mengalami permasalahan terkait keterbatasan modal untuk
pengembangan usaha dan sistem pembukuan yang dilakukan masih sederhana.
Disamping itu, UKM Awal Putra Mandiri juga menerapkan aktivitas penelitian
dan pengembangan dalam kegiatan usahanya.
Faktor eksternal yang dibahas dalam penelitian ini meliputi lingkungan
jauh (politik dan pemerintahan, ekonomi, sosial dan teknologi) dan lingkungan
industri (ancaman pendatang baru, ancaman produk substitusi, persaingan diantara
industri dan kekuatan tawar pemasok). Faktor politik dan pemerintahan dalam hal
ini merupakan suatu peluang yang dapat dimanfaatkan oleh UKM Awal Putra
Mandiri. Hal ini dikarenakan baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat,
menerapkan kebijakan yang dapat dimanfaatkan oleh UKM Awal Putra Mandiri,
antara lain dukungan Disperindagkop kota Serang melalui pelatihan-pelatihan dan
adanya kesempatan UKM untuk memperoleh tambahan permodalan melalui
program KUR, sedangkan untuk lingkungan ekonomi, faktor yang menjadi
kendala bagi Awal Putra Mandiri yaitu fluktuasi harga bahan baku seperti gula,
cabai dan bawang merah yang cenderung meningkat sehingga menyebabkan
meningkatnya biaya produksi, sedangkan harga produk tidak ditingkatkan dan
berdampak terhadap keuntungan yang diperoleh perusahaan. Dari sisi sosial,
masih melekatnya budaya memberikan oleh-oleh khas daerah dapat menjadi
38
peluang bagi UKM Awal Putra Mandiri, karena produk yang dijual merupakan
makanan khas daerah, disamping itu peluang lain yang dapat dimanfaatkan oleh
UKM Awal Putra Mandiri adalah kemajuan dalam hal teknologi yang dapat
dimanfaatkan untuk memperlancar aktivitas bisnisnya. Hingga saat ini teknologi
yang digunakan oleh UKM Awal Putra Mandiri antara lainmesin penggiling
daging ikan, vacuum sealer, handphone, komputer dan motor. Disamping
lingkungan jauh, UKM Awal Putra Mandiri juga dihadapkan pada lingkungan
industri. Lingkungan industri yang dihadapi UKM Awal Putra Mandiri antara lain
(1) ancaman pendatang baru yang semakin banyak karena hambatan masuk
kedalam industri sate bandeng terbilang rendah; (2) ancaman produk substitusi;
(3) persaingan antar usaha sate bandeng yang berada di wilayah kota Serang; (4)
ketersediaan pemasok yang cukup banyak.
Analisis
lingkungan
internal
dan
eksternal
dimaksudkan
untuk
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang ada serta mengidentifikasi
peluang dan ancaman yang dapat mempengaruhi UKM Awal Putra Mandiri.
Analisis pada faktor internal dan eksternal kemudian diidentifikasi untuk
mengetahui faktor mana yang termasuk kedalam kekuatan, kelemahan, peluang
dan ancaman yang berpengaruh terhadap perusahaan, untuk kemudian
diformulasikan kedalam matriks IFE dan EFE.
Hasil matriks IFE dan EFE yang telah dianalisis selanjutnya diplotkan
kedalam matriks IE untuk mengetahui kondisi perusahaan. Setelah membuat
matriks IE, selanjutnya adalah analisis strategi dengan menggunakan matriks
SWOT dari input lingkungan internal dan eksternal yang dicocokkan kedalan
empat tipe strategi. Terakhir, dilakukan pemilihan strategi dengan menggunakan
matriks QSP, sehingga diperoleh prioritas strategi yang dapat diterapkan oleh
Awal Putra Mandiri. Berdasarkan keterangan diatas, kerangka pemikiran
penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.
39
UKM Awal Putra Mandiri
-
Identifikasi Permasalahn
Persaingan industri yang tinggi
Manajemen masih sederhana
Belum memiliki jaringan distribusi yang
kontinu
Strategi Pengembangan Usaha
Identifikasi Visi, Misi dan Tujuan
Analisis Lingkungan Eksternal
Analisis Lingkungan
Internal
-
Manajemen
Pemasaran
Produksi
Keuangan
Penelitian dan
pengembangan
Lingkungan Jauh : (Politik,
Ekonomi, Sosial dan
Teknologi)
Lingkungan Industri :
(Ancaman pendatang baru,
Ancaman produk substitusi,
Persaingan diantara industri,
Daya tawar pemasok)
Identifikasi Kekuatan dan
Kelemahan (Matriks IFE)
Identifikasi Peluang dan
Ancaman (Matriks EFE)
Matriks IE dan Matriks
SWOT
Analisis QSPM
Prioritas Strategi Pengembangan
Gambar. 3 Kerangka Pemikiran Operasional UKM Awal Putra Mandiri
40
Download