HASIL PENELITIAN PEMILU DAN PARTISIPASI POLITIK WARGA

advertisement
LAPORAN
HASIL PENELITIAN
PEMILU DAN PARTISIPASI POLITIK WARGA
KABUPATEN PROBOLINGGO
KERJASAMA
KPU KABUPATEN PROBOLINGGO –
FISIP UIN SUNAN AMPEL
SURABAYA
2015
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Ilahi Robbi kami panjatkan bersamaan dengan
selesainya penulisan laporan penelitian tentang pemilu dan partisipasi pemilih
warga di kabupaten Probolinggo. Terimakasih yang sebesar-besarnya kami
ucapkan kepada Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Probolinggo atas
kepercayaan dan kerjasamanya dalam pelaksanaan riset partisipasi pemilih ini.
FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya merupakan fakultas baru yang lahir mengiringi
perubahan IAIN menuju Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. FISIP
UIN Sunan Ampel terdiri dari tiga prodi yakni Sosiologi, Ilmu Politik dan
Hubungan Internasional. Selain tiga prodi didalamnya juga terdapat laboratorium
yang concern mengkaji dan meneliti persoalan politik dan sosial kemasyarakatan.
Penelitian ini, bagian dari kiprah laboratorium FISIP UINSA untuk terlibat dalam
ikhtiar penyehatan demokrasi dan kepemiluan.
Kami mengapresiasi Komisi Pemilihan Umum yang telah menggelar riset demi
menjamin keberlangsungan demokrasi. Demokrasi itu bagaikan tanaman yang
apabila tidak dirawat perlahan namun pasti menjadi layu dan membeku (Frozen
Democracy). Yang perlu disegerakan adalah upaya pendalaman demokrasi, atau
meminjam istilah Giddens, demokratisasi atas demokrasi (democratizing
democracy). Dan Riset yang telah dilakukan ini merupakan langkah awal bagi
pendalaman demokrasi dimaksud. Tak lupa apresiasi saya juga bagi tim peneliti
yang telah menyelesaikan riset ini.
Akhirnya , kami berharap semoga hasil penelitian ini banyak membawa manfaat.
Surabaya, Juli 2015
Dekan,
ttd
Prof. Akh. Muzakki, Grad. Dipl. SEA., M.Ag, M.Phil., Ph.D
i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
......................................................................................
Daftar Isi……………………………………………………………………
BAB I
BAB II
: PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang ............……………………...
1
1.2.
Rumusan Masalah...........................................
3
1.3
Kerangka Teoritik..................………………..
3
1.4
Tujuan Penelitian....…………………………..
7
1.5
Manfaat Penelitian...................……………...
7
1.6
Metode Penelitian...........................................
7
1.7
Rencana Anggaran……………………………
10
1.8
Alokasi waktu..................................................
10
1.9
Sistematika.......................................................
11
: KERANGKA TEORITIS
2.1.
Partisipasi Politik................................
2.1.1
Partisipasi Politik dalam Pandangan Elitisme
demokrasi dan Pilihan Rasional.....................
2.2
BAB III
i
ii
12
13
Partisipasi Politik dalam Berbagai Sistem
Pemerintahan.................................................
15
2.2.1
Partisipasi Politik di Negara Otoriter.............
16
2.2.2
Partisipasi Politik di Negara Berkembang.....
17
2.2.3
Partisipasi Politik di Negara Demokrasi........
19
2.2.4
Partisipasi Politik di Negara Liberal..............
20
: PEMILU DAN PARTISIPASI POLITIK WARGA
KABUPATEN PROBOLINGGO
3.1.
Pengetahuan Politik Lokal dan Nasional………
29
3.2.
Motif dan Partisipasi Warga dalam Pemilu.......
38
3.2.1.
Pandangan Warga Di Lima Kecamatan.…........
47
ii
.
BAB IV : PENUTUP
4.1
Kesimpulan……………………………………..
58
4.2
Saran…………………………………………….
69
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
iii
1
BAB I
PENDAHULUAN
I.
Latar Belakang
Dalam sejarah penyelenggaraan pemilu di Indonesia, tercatat sebanyak 11
(sebelas) kali pemilu telah dilaksanakan dalam tiga rezim pemerintahan yang
berbeda.
Pemilu
diselenggarakan
tahun
pada
1955
masa
adalah
rezim
pemilu
orde
lama,
untuk
pertama
kemudian
kalinya
orde
baru
menyelenggarakan pemilu sebanyak 6 (enam) kali dan di era reformasi telah
menyelenggarakan pemilu sebanyak 4 (empat) kali yakni pemilu tahun 1999,
2004, 2009 dan tahun 2014 tahun lalu1. Penyelengaraan pemilu secara berkala
mulai orde lama sampai orde baru bertujuan untuk memilih anggota legislatif di
berbagai tingkatan pemerintahan. Namun, di era reformasi, pemilu, selain
memilih calon angota legislatif juga memilih pejabat publik di lingkungan
eksekutif mulai presiden sampai bupati/walikota. Pemilu untuk memilih calon
kepala daerah ditingkat provinsi maupun kabupaten lazim disebut pemilu kepala
daerah (Pemilukada/Pilkada).
Pemilihan umum merupakan sarana legal untuk pergantian kekuasaan.
Disamping bertujuan untuk pergantian kekuasaan, pemilu juga bermanfaat
sebagai ruang evaluasi atas kepemimpinan lima tahunan oleh masyarakat.
Pemilihan umum atau disingkat pemilu dalam tataran praksisnya adalah proses
pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatanjabatan politik tersebut mulai dari presiden, gubernur, bupati/walikota serta
wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan.
Pemilihan umum secara langsung oleh rakyat merupakan sarana
perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara yang
demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Penyelenggaraan pemilihan umum secara langsung, umum,
bebas, rahasia, jujur, dan adil dapat terwujud apabila dilaksanakan oleh
1 Sejarah Pemilu, Dokumen KPU RI
1
2
penyelenggara pemilihan umum yang mempunyai integritas, profesionalitas, dan
akuntabilitas.
Penyelenggaraan pemilu dalam tiap periode pemerintahan mengalami
dinamika tersendiri yang berbeda satu dengan lainnya. Pada rezim orde lama,
untuk pertama kalinya pemilu dilaksanakan pada tahun 1955, sepuluh tahun
setelah Indonesia merdeka. Rencana menggelar pemilu pada tahun 1946 gagal
karena sebab utama yakni tidak siapnya perangkat undang-undang pemilu dan
kesibukan para pemimpin Negara melakukan konsolidasi akibat ketegangan
antar kekuatan politik di Indonesia. Pemilu untuk pertam kalinya ini, berhasil
diselenggarakan dengan aman, lancar, jujur dan adil serta sangat demokratis.
Pemilu 1955 bahkan mendapat pujian dari berbagai pihak, termasuk dari negaranegara asing. Pemilu ini diikuti oleh lebih 30-an partai politik dan lebih dari
seratus daftar kumpulan dan calon perorangan. Rezim orde baru, yang
memerintah mulai tahun 1967 melalui sidang MPRS memulai pemilu pada tahun
1971. Pemilihan Umum pada masa orde baru senantiasa menguntungkan penguasa
yakni partai Golkar. PNS selaku aparatur pemerintah, secara normatif harus
netral, namun dalam praktek ada tekanan untuk menyalurkan aspirasi politiknya
kepada Golkar. Massa pemilih juga tidak bisa leluasa mengekspresikan aspirasi
politiknya secara leluasa. Akibatnya, kondisi ini menyebabkan sikap apatisme
masyarakat terhadap politik dan pemilu.
Di era reformasi merupakan pemilu dimana aspirasi terbuka luas dan
leluasa, kesempatan politik bagi seluruh anggota masyarakat terbuka lebar dan
untuk siapa saja. Baik sebagai pemilih maupun anggota masyarakat yang ingin
tampil sebagai pejabat publik. Pemilu di masa ini senantiasa diwarnai kejutan
perubahan-perubahan perilaku politik yang berubah dengan sangat cepat. Pada
pemilu tahun 1999, pemilu pertama setelah tumbangnya rezim orde baru, pemilih
dapat diidentifikasi sebagai pemilih aktif dan partisipatif. Para pemilih secara
sukarela membiayai partai maupun calon yang didukungnya, juga dalam
pelaksanaan pemilu senantiasa menyediakan biaya dan waktu jika dibutuhkan.
Namun dengan cepat kondisi berubah, massa pemilih yang diliputi suasana
2
3
penuh kesukarelaan tersebut berubah menjadi pemilih berwatak transaksional.2
Pemilih transaksional ini mulai dikenal sejak pemilu tahun 2004 lalu dan terus
mengalami perkembangan mengkhawatirkan sampai pemilu tahun 2009 dan 2014
lalu. Partisipasi politik warga yang awalnya di dorong oleh keinginan terdalam
untuk terlibat dalam pembenahan pembangunan politik namun dalam
perjalanannya banyak terciderai oleh perilaku politik transaksional.
Melihat fenomena tersebut, menarik untuk dilihat lebih mendalam
tentang partisipasi politik warga terutama berkenaan dengan bagaimana para
pemilih memaknai politik lokal serta pemilu.
II.
Rumusan Masalah
Untuk melihat gambaran melek politik warga dalam pemilu terangkai
dalam pertanyaan penelitian berikut:
a. Bagaimana pengetahuan warga tentang politik lokal berkenaan dengan
peran Bupati dan DPRD di era Pemilihan Kepala Daerah Langsung?
b. Bagaimana Partisipasi Pemilih saat Pelaksanaan Pemilu serta Motif yang
Melatarbelakangi?
III.
Kerangka Teoritik
Partisipasi politik dalam studi analisis modern, awalnya hanya difokuskan
kepada keberperanan partai politik dalam mewarnai pemerintahan, namun dalam
perkembangannya juga mempelajari bagaimana kelompok-kelompok masyarakat
(NGO, Ormas, OKP, organisasi profesi) terlibat dalam memengaruhi
pengambilan kebijakan. Kelompok-kelompok ini muncul sebagai respon atas
kekecewaan terhadap kinerja partai politik yang dinilai tidak optimal
memperjuangkan aspirasi beragam masyarakat.
Partisipasi politik secara umum diartikan sebagai keterlibatan aktif
individu ataupun kelompok dalam proses pengambilan keputusan pemerintahan
2 Kacung Maridjan, Perilaku Pemilih Paska Runtuhnya Orde Baru, Makalah yang disampaikan
dalam diskusi dosen di Surabaya, 2008.
3
4
yang berdampak pada kehidupan mereka. Proses aktif bisa berbentuk oposisi
maupun loyalis pemerintah. Partisipasi politik dapat dilakukan melalui
penggunaan hak pilihnya pada saat pemilihan umum baik itu pemilu presiden,
gubernur maupun Bupati/Walikota, menghadiri rapat umum, mengadakan
hubungan (contacting) ataupun lobi-lobi dengan pejabat pemerintah atau anggota
parlemen, menjadi anggota partai politik ataupun kelompok penekan (pressure
group).
Dari contoh ini jelas bahwa partisipasi politik bukan sekedar memberikan
suaranya pada saat pemilu melainkan secara aktif melakukan gerakan, yang
langsung maupun tidak langsung dapat memengaruhi proses pembuatan
keputusan.
Beberapa ahli memberikan definisi yang berbeda-beda tentang
partisipasi politik. Herbert McClosky memberikan pengertian, ”partisipasi
politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mana
mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa, dan secara langsung
atau tidak langsung, dalam proses pembentukan kebijakan umum”.3
Samuel P. Huntington dan Joan M. Nelson4 secara eksplisit
memasukkan tindakan ilegal dan kekerasan kedalam pengertian tentang
partisipasi politik, “partisipasi politik adalah kegiatan warga yang bertindak
sebagai pribadi-pribadi, yang dimaksud untuk memengaruhi pembuatan
keputusan oleh pemerintah. Partisipasi bisa bersifat individual atau kolektif,
terorganisir ataupun sporadis, legal atau illegal, secara damai atau dengan
kekerasan, efektif atau tidak efektif”. Dari pengertian yang diberikan oleh
Huntington jelas memberikan tekanan pada kegiatan untuk memengaruhi proses
pengambilan kebijakan, yang dapat ditempuh dengan jalan apa pun.
Partisipasi Politik dalam Pandangan Penganjur Elitisme Demokratis dan
Pilihan Rasional (Rational Choice).
3 Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia, Hal 367
4Ibid, hal. 368
4
5
Elitisme Demokratis
Penganjur
elitisme
demokratis
berkutat
pada
persoalan
bagaimana
mempertahankan stabilitas politik, demokrasi adalah hal sekunder dalam hal ini.
Tokoh penganut Elitisme Demokratis, Schumpeter menyatakan bahwa pemimpin
yang berwawasan, yang meraih persetujuan melalui partisipasi minimal massa,
adalah cara terbaik untuk memelihara ketertiban.5 Penganjur elitisme demokratis
bertolak dari anggapan bahwa massa pada umumnya apatis, bodoh, dan tidak
mengerti aturan, sehingga keterlibatannya dalam skala luas di bidang
pemerintahan akan mengganggu ketertiban.
Kewarganegaraan yang terlalu aktif dalam proses pengambilan kebijakan akan
menyebabkan kelambanan dan mendorong kearah pengambilan keputusan yang
berjangka pendek dan kurang pertimbangan. Argumen lain yang menguatkan
prinsip ini, adalah bahwa massa kebanyakan rentan dimanipulasi oleh para
ideolog (dalam istilah rezim Orde Baru sering disebut „ekstrem kiri‟ untuk
menyebut gerakan para penganut ajaran komunis dan „ekstrem kanan‟ bagi kaum
fundamentalis agama).
Dalam lintasan sejarah pemerintahan di Indonesia, teori elitisme demokratis yang
menomorduakan demokrasi dan menomorsatukan stabilitas memiliki kedekatan
dengan praktik kekuasaan orde baru. Dalam menjalankan roda pemerintahan
dimana pembangunan sebagai panglima, rezim orde baru menegakkan trilogi
pembangunan yakni stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan
ekonomi. Dengan stabilitas nasional sebagai thesis utamanya, maka gemuruh
protes dan ekspresi massa untuk terlibat dalam proses pengambilan kebijakan
dianggap sebagai tindakan melawan hajat Negara.
Partisipasi dalam skala luas, menurut pandangan elitisme demokratis, dianggap
akan mengalami kesulitan dalam hal pelembagaannya. Berbeda dengan yang
pernah terjadi di Athena, pada masa Yunani Kuno abad ke-4 dan ke-5 SM, dimana
5 Keith, Faulks, Sosiologi Politik, Pengantar Kritis, Bandung: Nusamedia, hal 227-228
5
6
‘warga’6 masyarakat terlibat dalam hal pembuatan keputusan, pemilihan pejabat
pemerintahan dilakukan melalui pemungutan suara secara langsung. Saat ini,
dimana penduduk secara geografis tersebar, dan jumlahnya yang begitu besar
hingga mencapai jutaan dalam satu Negara, maka pelibatan warga masyarakat
secara
langsung
sebagaimana
yang
pernah
terjadi
di
Athena
tidak
memungkinkan.
Pembuatan keputusan, bagi penganut paham ini, hendaknya diserahkan kepada
para intelektual dan pengurus partai politik yang concern mengurus persoalan
politik dan menguasai seni dalam hal pemerintahan. Dengan demikian, seluruh
tanggung jawab menjalankan pemerintahan dan akibat buruk yang ditimbulkan
di pikul kelompok elit ini.
Pilihan Rasional
Para penganut Pilihan Rasional juga memiliki pandangan minimalis terhadap
partisipasi politik warga masyarakat. Berbeda dengan pandangan elitisme
demokratis yang menilai massa kebanyakan tidak cakap untuk urusan politik,
namun pandangan kaum pilihan rasional berangkat dari asumsi bahwa massa
kebanyakan berpartisipasi karena pertimbangan rasionalitas. Pertanyaan yang
diajukan oleh individu-individu, apakah keterlibatan mereka dalam proses
pengambilan keputusan memiliki dampak bagi mereka ataukah tidak ber efek
sama sekali?. Jawaban sebagian besar individu disimpulkan bahwa mereka
merasa tidak memiliki urusan dengan proses pengambilan kebijakan. Pendukung
teori ini, Olson7, bahkan pada kesimpulan bahwa individu yang rasional akan
bertindak untuk kepentingan diri sendiri dan tidak akan bertindak untuk
kepentingan umum. Gerakan politik, dalam pandangan ini, akan dipimpin oleh
orang yang secara politik diuntungkan. Para elit, yang menjadi motor gerakan
politik akan memeroleh keuntungan berupa prestige dan jabatan kekuasaan.
6Kata warga penulis garis miring karena dalam tradisi demokrasi langsung Athena tidak seluruh warga
dilibatkan.Yang tidak memiliki hak suara yakni kaum perempuan dan para pekerja asing yang berada di
wilayah Athena.
7Faulks, Kate, op cit, 231.
6
7
Mobilisasi massa, bergantung pada bagaimana kemampuan elit untuk
meyakinkan pemilih dan elit mengharapkan keuntungan dari biaya yang telah
dikeluarkan.
IV.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
-
Memeroleh gambaran pengetahuan masyarakat pemilih tentang
pemilu dan perpolitikan di tingkat daerah
-
Memeroleh gambaran partisipasi pemilih saat pelaksanaan pemilu
serta motif yang melatarbelakangi.
V.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangsih bagi:
-
Peningkatan kualitas penyelenggaraan pemilu yang terselenggara
setiap lima tahun sekali.
-
Penguatan melek politik warga yang dirancang dalam berbagai program
nantinya.
-
Pengembangan keilmuan seputar kepemiluan dan perilaku pemilih di
Indonesia.
-
Memberikan dasar kebijakan bagi lembaga penyelenggara pemilu
maupun stakeholder pemilu lainnya untuk membuat program
peningkatan kualitas pemilu dan demokrasi.
VI.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif jenis survey serta
kualitatif. Pendekatan survey digunakan untuk melihat sejauhmana pengetahuan
dan skill masyarakat dalam politik dan kepemiluan, sedangkan kualitatif dengan
wawancara dan observasi digunakan untuk menggali tindakan masyarakat dalam
politik dan kepemiluan tersebut. Melalui pendekatan logika induktif berusaha
memahami perilaku seseorang dengan interaksi secara langsung dan mendalam
(in-depth interview). Pendekatan ini juga tidak menafikan keterlibatan unsur
7
8
subyektif (common sense) dalam merumuskan dan mengkonsepsikan pengetahuan
seperti keyakinan, ideologi, pengalaman dan nilai yang dianutnya. Metode survey
yang dilakukan adalah sistem wawancara menggunakan panduan survey dalam
sistem daftar pertanyaan tertutup.
Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan mengambil sampling beberapa wilayah di
Kabupaten Probolinggo yang merepresentasikan pemilih yang tinggal di wilayah
perkotaan (wilayah kecamatan Kraksaan dan Paiton), pegunungan (wilayah
kecamatan Gading dan Maron) dan masyarakat pesisir (wilayah kecamatan
Gending). Pemilihan karakteristik pemilih ini berdasarkan hasil diskusi terfokus
(FGD) tim peneliti dengan komisioner serta sekretaris beserta seluruh kasubag
dan staf sekretariat KPU Kabupaten Probolinggo.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan baik sumber sekunder berupa dokumentasi,
data demografi maupun sumber primer yakni keterangan para para pemilih
melalui survey dan wawancara.
Penentuan Sampel
Penentuan sampel dalam metode survey tidak harus meneliti individu
secara keseluruhan, namun dengan syarat dan prosedur yang tepat dapat
mewakili keseluruhan populasi dan dapat memberi informasi sebanyak mungkin
sesuai kebutuhan8.
Melihat data yang tersedia dikantor KPU Kabupaten Probolinggo, maka
peneliti mengambil data nama-nama para pemilih dan alamatnya, maka
pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik quota sampling.
Quota sampling adalah teknik pemilih sampel dengan mengelompokkan sejumlah
orang dan kemudian menetapkan dalam tiap kategori.9
8 Masri Singarimbun (ed.), Metode Penelitian Survey, Jakarta: LP3ES, 1989, 149-152
9 W. Lawrence Nueman, Metodologi Penelitian Sosial, Pendekatan Kulaitatif dan Kuantitatif,
8
9
Penelitian ini, menggunakan metode quota sampling tersebut, memilih
sampling perempuan sebanyak 20 orang dan 80 orang laki-laki. Jadi total
keseluruhan sampling sebanyak 100 responden yang mewakili para pemilih di
kabupaten Probolinggo dengan kategori jenis kelamin (pria-wanita), kelompok
umur (terbagi kedalam tiga kategori yakni 17-21 tahun, kelompok usia produktif
yakni 22-55 tahun, dan kelompok diatas usia 55 tahun) yang seluruhnya berasal
dari pemilih yang tersebar di tiga wilayah tersebut diatas.
Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini pengumpulan data didapat dari tiga kegiatan yakni
survey, observasi dan wawancara. Observasi merupakan metode yang paling
pokok dalam penelitian kualitatif. Observasi yang dimaksud adalah deskripsi
secara sistematis tentang kejadian dan tingkah laku dalam setting sosial yang akan
diteliti10. Untuk melakukan pengamatan, seyogyanya observer dapat diterima
dengan baik, memperoleh „ijin masuk‟ baik formal maupun non formal dan tidak
menimbulkan kecanggungan dan „mengusik‟ subyek yang akan diteliti. Dalam
penelitian ini, tim peneliti beranggapan mudah untuk memenuhi kriteria
tersebut. Hal itu disebabkan, karena kedekatan pemahaman dan keseharian
antara subyek penelitian dengan para observer yang terdiri dari dosen sebagai
peneliti utama serta surveyor yang berasal dari mahasiswa yang berasal dari
kabupaten probolinggo sebagai peneliti lapangan.
Wawancara juga merupakan hal pokok dalam penelitian ini untuk
pengumpulan data, mengingat data yang akan dikumpulkan berupa penuturan
tentang
tindakan
pemilih
menjelang,
saat
pelaksanaan
dan
setelah
penyelenggaraan pemilu. Wawancara ini, peneliti menggunakan interview guide,
yang berisikan hal-hal penting yang harus diperdalam dan ditanyakan. Hal ini
penting bagi penulis untuk menghindari perbincangan yang tidak terarah dan
Jakarta: PT. Indeks, 2013, hal 272-273.
10 Emi Susanti Hendrarso, Penelitian Kualitatif:Sebuah Pengantar, dalam Bagong Suyanto dan
Sutinah (ed), Metode Penelitian Sosial, Berbagai Alternatif Pendekatan, Jakarta: Kencana, 2005,
hlm 172
9
10
subyek merasa bosan. Walaupun berpedoman pada interview guide, tetapi
digunakan secara luwes dan terkesan alamiah.
Pengumpulan data hasil survey per-kecamatan kemudian dipilah
berdasarkan jawaban yang diberikan oleh pemilih. Pemilahan juga dilakukan
untuk jawaban setiap item pertanyaan pada masing-masing kecamatan
(selengkapnya baca di bab tiga laporan penelitiian ini)
Analisa Data
Analisa yang digunakan dalam pendekatan ini mengikuti alur/proses yang
lazim digunakan dalam penelitian kuantitatif yakni mengkode data (koding),
pengolahan data dan analisa data. Hasil penyebaran survey yang dilakukan
peneliti lapangan dikodifikasi dan ditelaah secara deskriptif.
VII.
Rencana Biaya Anggaran
Penelitian ini membutuhkan anggaran sebesar Rp 10.000.000,- (sepuluh juta
rupiah). Dengan rincian penggunaan sebagai berikut:
-
Peneliti Utama
Rp 2.000.000,-
-
Tenaga lapangan
Rp 2.500.000,-
-
ATK
Rp 1.000.000,-
-
Operasional Penelitian
Rp 4.500.000,-
VIII. Alokasi Waktu
Penelitian akan dilaksanakan selama dua bulan yakni bulan Juni-Juli
dengan rincian sebagai berikut:
Juli
Juni
No
Kegiatan
I
1
Survey Awal dan Proposal
2
Pengorganisasian dan penelitian
3
FGD
II
III
IV
I



II
III
IV
 

10
11
4
IX.
Pelaporan


Sistematika
Sesuai dengan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang ada,
maka penelitian ini akan terdiri dari beberapa bab sebagaimana berikut:
Bab I: Pendahuluan : Dalam bab ini akan dibahas beberapa sub pembahasan, yaitu
latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
landasan teori, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II: Kajian Teori : Bab ini akan membahas teori yang dapat menjadi pintu
masuk penelitian ini. Teori yang akan dikupas adalah teori tentang partisipasi
politik
Bab III: Penyajian dan kajian data yang berkaitan dengan pengetahuan dan sikap
warga dalam pemilu di Kabupaten Probolinggo
Bab IV: Penutup
11
BAB II
PARTISIPASI POLITIK
Pengantar
Partisipasi politik dalam studi analisis modern, awalnya hanya difokuskan
kepada keberperanan partai politik dalam mewarnai pemerintahan, namun dalam
perkembangannya juga mempelajari bagaimana kelompok-kelompok masyarakat
(NGO, Ormas, OKP, organisasi profesi) terlibat dalam memengaruhi
pengambilan kebijakan. Kelompok-kelompok ini muncul sebagai respon atas
kekecewaan terhadap kinerja partai politik yang dinilai tidak optimal
memperjuangkan aspirasi beragam masyarakat.
A.
Definisi
Partisipasi politik secara umum diartikan sebagai keterlibatan aktif
individu ataupun kelompok dalam proses pengambilan keputusan pemerintahan
yang berdampak pada kehidupan mereka. Proses aktif bisa berbentuk oposisi
maupun loyalis pemerintah. Partisipasi politik dapat dilakukan melalui
penggunaan hak pilihnya pada saat pemilihan umum baik itu pemilu presiden,
gubernur maupun Bupati/Walikota, menghadiri rapat umum, mengadakan
hubungan (contacting) ataupun lobi-lobi dengan pejabat pemerintah atau anggota
parlemen, menjadi anggota partai politik ataupun kelompok penekan (pressure
group).
Dari contoh ini jelas bahwa partisipasi politik bukan sekedar
memberikan suaranya pada saat pemilu melainkan secara aktif melakukan
gerakan, yang langsung maupun tidak langsung dapat memengaruhi proses
pembuatan keputusan.
Pandangan Ahli tentang Partisipasi Politik
12
Beberapa ahli memberikan definisi yang berbeda-beda tentang
partisipasi politik. Herbert McClosky memberikan pengertian, ”partisipasi
politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mana
mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa, dan secara langsung
atau tidak langsung, dalam proses pembentukan kebijakan umum”.1
Samuel P. Huntington dan Joan M. Nelson2 secara eksplisit
memasukkan tindakan ilegal dan kekerasan kedalam pengertian tentang
partisipasi politik, “partisipasi politik adalah kegiatan warga yang bertindak
sebagai pribadi-pribadi, yang dimaksud untuk memengaruhi pembuatan
keputusan oleh pemerintah. Partisipasi bisa bersifat individual atau kolektif,
terorganisir ataupun sporadis, legal atau illegal, secara damai atau dengan
kekerasan, efektif atau tidak efektif”. Dari pengertian yang diberikan oleh
Huntington jelas memberikan tekanan pada kegiatan untuk memengaruhi proses
pengambilan kebijakan, yang dapat ditempuh dengan jalan apa pun.
B.
Partisipasi Politik dalam Pandangan Penganjur Elitisme Demokratis
dan Pilihan Rasional (Rational Choice).
Elitisme Demokratis
Penganjur
elitisme
demokratis
berkutat
pada
persoalan
bagaimana
mempertahankan stabilitas politik, demokrasi adalah hal sekunder dalam hal ini.
Tokoh penganut Elitisme Demokratis, Schumpeter menyatakan bahwa pemimpin
yang berwawasan, yang meraih persetujuan melalui partisipasi minimal massa,
adalah cara terbaik untuk memelihara ketertiban.3 Penganjur elitisme demokratis
bertolak dari anggapan bahwa massa pada umumnya apatis, bodoh, dan tidak
mengerti aturan, sehingga keterlibatannya dalam skala luas di bidang
pemerintahan akan mengganggu ketertiban.
1 Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia, Hal 367
2Ibid, hal. 368
3 Keith, Faulks, Sosiologi Politik, Pengantar Kritis, Bandung: Nusamedia, hal 227-228
13
Kewarganegaraan yang terlalu aktif dalam proses pengambilan kebijakan akan
menyebabkan kelambanan dan mendorong kearah pengambilan keputusan yang
berjangka pendek dan kurang pertimbangan. Argumen lain yang menguatkan
prinsip ini, adalah bahwa massa kebanyakan rentan dimanipulasi oleh para
ideolog (dalam istilah rezim Orde Baru sering disebut „ekstrem kiri‟ untuk
menyebut gerakan para penganut ajaran komunis dan „ekstrem kanan‟ bagi kaum
fundamentalis agama).
Dalam lintasan sejarah pemerintahan di Indonesia, teori elitisme demokratis yang
menomorduakan demokrasi dan menomorsatukan stabilitas memiliki kedekatan
dengan praktik kekuasaan orde baru. Dalam menjalankan roda pemerintahan
dimana pembangunan sebagai panglima, rezim orde baru menegakkan trilogi
pembangunan yakni stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan
ekonomi. Dengan stabilitas nasional sebagai thesis utamanya, maka gemuruh
protes dan ekspresi massa untuk terlibat dalam proses pengambilan kebijakan
dianggap sebagai tindakan melawan hajat Negara.
Partisipasi dalam skala luas, menurut pandangan elitisme demokratis, dianggap
akan mengalami kesulitan dalam hal pelembagaannya. Berbeda dengan yang
pernah terjadi di Athena, pada masa Yunani Kuno abad ke-4 dan ke-5 SM, dimana
‘warga’4 masyarakat terlibat dalam hal pembuatan keputusan, pemilihan pejabat
pemerintahan dilakukan melalui pemungutan suara secara langsung. Saat ini,
dimana penduduk secara geografis tersebar, dan jumlahnya yang begitu besar
hingga mencapai jutaan dalam satu Negara, maka pelibatan warga masyarakat
secara
langsung
sebagaimana
yang
pernah
terjadi
di
Athena
tidak
memungkinkan.
Pembuatan keputusan, bagi penganut paham ini, hendaknya diserahkan kepada
para intelektual dan pengurus partai politik yang concern mengurus persoalan
4Kata warga penulis garis miring karena dalam tradisi demokrasi langsung Athena tidak seluruh warga
dilibatkan.Yang tidak memiliki hak suara yakni kaum perempuan dan para pekerja asing yang berada di
wilayah Athena.
14
politik dan menguasai seni dalam hal pemerintahan. Dengan demikian, seluruh
tanggung jawab menjalankan pemerintahan dan akibat buruk yang ditimbulkan
di pikul kelompok elit ini.
Pilihan Rasional
Para penganut Pilihan Rasional juga memiliki pandangan minimalis terhadap
partisipasi politik warga masyarakat. Berbeda dengan pandangan elitisme
demokratis yang menilai massa kebanyakan tidak cakap untuk urusan politik,
namun pandangan kaum pilihan rasional berangkat dari asumsi bahwa massa
kebanyakan berpartisipasi karena pertimbangan rasionalitas. Pertanyaan yang
diajukan oleh individu-individu, apakah keterlibatan mereka dalam proses
pengambilan keputusan memiliki dampak bagi mereka ataukah tidak ber efek
sama sekali?. Jawaban sebagian besar individu disimpulkan bahwa mereka
merasa tidak memiliki urusan dengan proses pengambilan kebijakan. Pendukung
teori ini, Olson5, bahkan pada kesimpulan bahwa individu yang rasional akan
bertindak untuk kepentingan diri sendiri dan tidak akan bertindak untuk
kepentingan umum. Gerakan politik, dalam pandangan ini, akan dipimpin oleh
orang yang secara politik diuntungkan. Para elit, yang menjadi motor gerakan
politik akan memeroleh keuntungan berupa prestige dan jabatan kekuasaan.
Mobilisasi massa, bergantung pada bagaimana kemampuan elit untuk
meyakinkan pemilih dan elit mengharapkan keuntungan dari biaya yang telah
dikeluarkan.
PARTISIPASI POLITIK DALAM BERAGAM SISTEM PEMERINTAHAN
Demokrasi, sebagaimana kita kenal, bermacam-macam. Dalam sejarah demokrasi
di Indonesia, terdapat Demokrasi Pancasila, Demokrasi Terpimpin dan
Demokrasi Parlementer. Dibelahan dunia lain, ada yang menganut Demokrasi
Liberal, Demokrasi Soviet, Demokrasi Rakyat dan sebagainya.
Menurut Robert Dahl (2005), dalam praktik demokrasi yang berskala besar
diperlukan sejumlah institusi politik, yang sekurang-kurangnya mencakup:
5Faulks, Kate, op cit, 231.
15
1. pejabat-pejabat yang dipilih
2. pemilu yang bebas (free), adil (fair), dan sering dilakukan
3. kebebasan berekspresi
4. sumber-sumber informasi alternatif
5. otonomi asosiasional
6. kewarga(negara)an yang inklusif.
Institusi-institusi tersebut saling terkait dan saling melengkapi, dan diperlukan
demi partisipasi yang efektif, untuk mengontrol agenda-agenda kebijakan,
meningkatkan saling pengertian, serta demi menjamin pengakuan atas hak dan
peran-peran kewargaan (inklusi) secara penuh.
C.
Partisipasi Politik di Negara Otoriter
Partisipasi politik di Negara otoriter, seperti komunis pada masa lampau,
cenderung tinggi. Hal dikarenakan secara formal kekuasaan berada ditangan
rakyat dan bertujuan progresif untuk merombak tatanan masyarakat menuju
masyarakat modern, produktif, dan berideologi kuat. Mendiang Negara Uni
Soviet sebagai contoh dalam hal ini, prosentase kehadiran pemilih dalam pemilu
selalu menunjukkan angka tinggi. Dalam pemilihan umum Uni Soviet, kehadiran
pemilih menunjukkan angka 99%6. Partisipasi diluar pemilu, bersifat community
action, melalui pembinaan yang terkontrol oleh lembaga-lembaga kader yang
segmented seperti golongan pemuda, golongan buruh, serta organisasi kebudayaan.
Walaupun menunjukkan angka statistic tinggi, bentuk partisipasi bukan
tergolong partisipasi yang bersifat sukarela, tetapi terdapat unsur mobilized
participation di dalamnya karena intensitas ditentukan oleh partai. Di China dan
Mendiang Uni Soviet menghadapi dilema bagaimana memperkuat dan
memperluas partisipasi tanpa harus kehilangan kontrol sebagai mekanisme baku
untuk mencapai masyarakat yang dicita-citakan. China, melalui gerakan
“kampanye seratus bunga” mengendorkan kontrol dan memperbolehkan
6 S.E Finner, Comparative Government, London:Pelican Books, 1978 dalam Miriam Budiardjo, op cit,hal
379
16
masyarakat menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah pada tahun
1956/1957. Akan tetapi pengendoran ini tidak berlangsung lama, karena protes
keras semakin bergema dimana-mana dan pemerintah menganggap kritik ini
menganggu stabilitas nasional. Puncaknya, peristiwa Tiananment Square tahun
1989, beberapa ratus mahasiswa harus meregang nyawa akibat bentrok dengan
aparat keamanan, yang menyebabkan pemerintah kembali mengencangkan
kontrol terhadap masyarakat.
D.
Partisipasi Politik di Negara Berkembang
Partisipasi Politik di Negara berkembang memiliki karakteristik
dibanding Negara maju, yakni partisipasi otonom yang bersumber dari dirinya
sendiri masih terbatas. Kondisi ini, dapat memunculkan sifat apatis dan
puncaknya, kebuntuan partisipasi menghantarkan pada keadaan anomi dan
bahkan revolusi7.
Dilema Partisipasi Politik juga dihadapi oleh Negara berkembang yang
pembangunannya agak lancar. Di Negara-negara seperti ini, perluasan urbanisasi,
perkembangan teknologi informasi dan peningkatan pengetahuan masyarakat
akan media komunikasi (media literacy) berimbas pada meningkatnya tuntutan
akan peran serta masyarakat dalam wilayah politik.
Dalam sebuah studi tentang peningkatan peran serta masyarakat dalam kancah
social dan politik akibat penetrasi teknologi informasi (IT) digambarkan oleh
Budge8. Bahwa kecanggihan teknologi informasi dapat meringkus hambatan
waktu, ukuran, dan ruang dengan memungkinkan seseorang berinteraksi dengan
warga lainnya tanpa bertatap muka. Partisipasi interaktif terjalin dan terhubung
melalui jejaring social facebook, twitter, email dan faximile, teleconference, dan
koneksi kabel lainnya. Implikasi positif IT bagi partisipasi politik dapat diringkas
menjadi lima macam9:
7 Miriam Budiardjo, op cit, hal 381
8 Keith, Faulks, Sosiologi Politik, Tinjauan Kritis,hal 245
9 Ibid, 247-249
17
1. IT merupakan peluang baru bagi terciptanya kesadaran akan
keputusan pemerintah dan penting untuk melegitimasi keputusan
tersebut. Misalnya, sat ini bermunculan website yang menampilkan
produk-produk kebijakan pemerintah, lembaga swasta maupun
lembaga pendidikan.
2. Informasi juga mengalir cepat dari warga yang menyampaikan keluhan,
protes maupun kepuasan kepada pemerintah tanpa harus melalui
birokrasi yang panjang. Ini sangat membantu terutama warga negara
yang memiliki keterbatasan fisik dan kesibukan yang tinggi. Melalui IT
utamanya media massa, warga dapat melihat setiap produk kebijakan
dan sepak terjang partai politik, mengalihkan dukungan dengan cepat
kepada partai lain.
3. Teknologi baru meningktakan potensi prkumpulan masyarakat sipil
secara relatif murah. Rekruitmen anggota dan simpatisan yang
mendukung gagasan sehingga mengkristal menjadi kekuatan besar
dengan cepat dilakukan. Penyebaran gagasan, ide, opini dan protes atas
kesewenang-wenangan dan ketidak adilan pemerintah dengan cepat
memeroleh persetujuan melalui beragam jejaring social.
4. Sifat interaktif IT memungkinkan warga negara terlepas dari hubungan
yang bersifat pasif. Terjadi interaksi timbal balik antara warga Negara
dan pemerintah.
5. Bagi pemerintah, IT membantu untuk merumuskan kebijakan dengan
tepat. Tepat sasaran, tepat waktu dan tepat penganggarannya.
Identifikasi atas sasaran kebijakan dibantu melalui kecanggihan
informasi semisal mengelola statistic, menghimpun jajak pendapat dan
memilah kelompok-kelompok sosial baru.
Selanjutnya, kelompok-kelompok yang terhimpun dalam satuan satuan
organisasi-organisasi
kepemudaan,
koalisi
perempuan,
jaringan
pekerja,
perkumpulan keagamaan dan lain sebagainya tergugah kesadaran sosial dan
politiknya sehingga berupaya memengaruhi keputusan pemerintah. Cara-cara
yang ditempuh untuk merealisasikan tuntutan berpotensi menyebabkan chaos
18
jika terdapat kesenjangan dengan tujuan yang ingin dicapai. Sebagaimana
prediksi Huntington bahwa pembangunan yang cepat, dan ikut sertanya banyak
kelompok baru dalam politik dalam waktu yang singkat dapat mengganggu
stabilitas10.
E.
Partisipasi Politik di Negara Demokrasi
Di negara-negara yang menganut sistem demokrasi, partisipasi politik
dapat diklasifikasikan kedalam dua bentuk. Pertama partisipasi politik dalam
pemberian suara saat pemilu, kedua partisipasi politik diluar pemberian suara
saat pemilu.
Partisipasi dalam bentuk pemberian suara saat pemilu, di Negara-negara
demokrasi seperti Amerika Serikat dan negara demokrasi lainnya menunjukkan
angka yang terus menurun dari tahun ke tahun.Pada tahun 1995, angka kehadiran
pemilih saat pemilu kurang dari 50%, sedangkan di Prancis dan Jerman lebih
tinggi. Dalam Pemilu 1990 di Prancis tercatat angka sebesar 86%, sedangkan di
Jerman pada Pemilu 1992 mencapai 90%. Di Inggris pada Pemilu 1992 juga cukup
tinggi tingkat kehadiran pemilihnya yakni sebesar 77%, sedangkan di Belanda
sama dengan Perancis yakni 86%.
Pada tahun 2000-an, tingkat partisipasi dalam bentuk pemberian suara saat
pemilu mengalami penurunan. Di Inggris, pada pemilihan umum 2001, pemilih
yang menggunakan hak pilihnya (voter turnout) sebesar 59,2%. Sementara di
Jerman, voter turnout pada pemilu 2002 sebanyak 47.980.304 orang, berkurang
dibanding pemilu tahun 1998 berjumlah 49.308.512 orang.11
Walaupun partisipasi politik dalam bentuk pemberian suara saat pemilu rendah,
namun partisipasi politik dalam bentuk organisasi-organisasi yang aktif
membantu pemecahan masalah lingkungan, penyakit AIDS dan advokasi
10 Samuel P. Huntington, Political Order In Changing Societies, New Haven: Yale University Press, 1968,
Hal 4, dalam Miriam Budiardjo, op cit, hal 381.
11 Data-data diambil dari Miriam Budiarjo dan sumber lain dengan pengolahan seperlunya
19
kebijakan cukup tinggi. Mengapakah tingkat partisipasi politik cenderung
menurun? Perubahan sosial yang berdampak bagi partisipasi politik akan
dijelaskan dalam sub bab dibawah ini.
F.
Partisipasi Politik dalam Demokrasi Liberal
Studi tentang perubahan sosial yang berdampak pada partisipasi politik
dalam sistem demokrasi liberal terangkum dalam beberapa kecenderungan;
kewarganegaraan yang semakin berwawasan dan kritis, menurunnya kepecayaan
terhadap efektifitas lembaga dan elit politik, menurunnya loyalitas kepada partai
politik tradisional, dan anjloknya tingkat keikutsertaan dalam pemilihan umum,
dan peningkatan partisipasi politik inkonvensional.
Kewarganegaraan Kritis dan Berwawasan
Peningkatan daya kritis dan wawasan warga Negara disumbang oleh dua
hal. Pertama, tingkat pendidikan yang semakin tinggi, dan kedua, penetrasi media
massa. Sebelum tahun 1930, atau sebelum perang dunia kedua, fasilitas
pendidikan hanya dinikmati segelintir orang kelompok minoritas. Paska perang
dunia kedua, maka kesempatan untuk memeroleh pendidikan semakin terbuka.
Berbondong-bondong warga Negara memasuki universitas dan sekolah-sekolah.
Tercatat di Amerika Serikat pada tahun 1974, pendaftar dilembaga pendidikan
tumbuh sebesar 347%, 472% terjadi di Inggris dan tertinggi dicapai Perancis
dengan angka 586%12.
Televisi juga memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kesadaran
politik. Dalam sebuah studi, Dalton menemukan fakta bahwa 69% rakyat
Amerika Serikat menyebut televisi sebagai sumber informasi penting mengenai
politik. Selain televisi, persebaran opini melalui internet, email juga mempercepat
saling tukar informasi dan meng up date kondisi perpolitikan mutakhir.
12 Dalton, ……dalam Keith, Faulks
20
Penetrasi media semakin kuat ditengah budaya masyarakat yang semakin
individual. Masing-masing individu tidak lagi terikat dalam satuan-satuan
perkumpulan keagamaan semisal gereja, ormas islam maupun perkumpulan
kepemudaan dalam pembentukan sikap politiknya. Individualisasi ini terkait
dengan proses perubahan sosial dalam skala luas. Peningkatan pendapatan per
kapita, mengendornya semangat berorganisasi, pergeseran jenis usaha dari
manufaktur ke sektor jasa adalah proses perubahan sosial yang turut
mempercepat individualisasi.
Peningkatan jenjang pendidikan dan jumlah masyarakat melek media (media
literacy) tidak berbanding lurus dengan kesadaran mereka untuk berpartisipasi
dalam politik. Dalam satu survey di Amerika Serikat terhadap 250.000 mahasiswa
Universitas California pada tahun 1998 menunjukkan hanya 27% yang merasa
penting untuk mengikuti masalah politik.
Di Indonesia, Survey terbaru memperlihatkan sebanyak 60,51 persen pemilih
pemula belum memastikan diri akan memilih dalam pemilihan umum (pemilu)
2009 lalu. Sebanyak 18% (persen) menyatakan tidak akan memilih, sedangkan
21,49 persen menyatakan akan menggunakan hak pilihnya. Ini antara lain hasil
survei tingkat partisipasi politik pemilih pemula menjelang pemilu 2009 di Kota
Solo13. Jumlah responden 400 responden berasal dari siswa kelas 2 dan 3 dari 10
SMA/SMK di Kota Solo yang berusia 17-20 tahun.
Menurunnya Kepercayaan Politik
Kepercayaan masyarakat akan efektifitas lembaga diukur juga dari
kepercayaan mereka pada politisi. Menurunnya tingkat kepercayaan public
terhadap politisi dan proses demokrasi yang sedang berjalan di ikuti oleh semakin
meningginya pengawasan terhadap lembaga-lembaga politik tersebut. Media dan
13 Kompas.com, kamis 19 Pebruari 2009, “60,51% Pemilih Pemula Belum Pastikan Memilih” Survey oleh
Lembaga Peduli Remaja Kriya Mandiri Solo, Diunduh pada tanggal 21 Desember 2011
21
perangkat teknologi informasi lain memainkan peran besar menumbuhkan
partisipasi politik.
Perilaku
tidak
patut
seperti
perselingkuhan
yang
dilakukan
politisi,
penyalahgunaan kekuasaan melalui tender proyek menjadi cepat tersiar ke
hadapan publik. Contoh terkini dalam perpolitikan nasional, seperti kasus wisma
atlet yang menyeret sejumlah pengurus DPP Partai Demokrat mempercepat
runtuhnya kepercayaan politik masyarakat.
Hasil survey Lingkaran Survey Indonesia (LSI)14 menjelaskan bahwa tingkat
kepercayaan masyarakat terhadap politisi di Indonesia anjlok total. Kepercayaan
tersebut kini hanya tinggal 23,4 persen. Sementara yang tidak percaya sebesar
51,3 persen, dan sisanya tidak tahu. Survei yang dilaksanakan pada 5-10
September 2011 dengan 1200 responden ini menemukan bahwa jumlah tersebut
menurun drastis dibanding tahun 2005. Saat itu tingkat kepercayaan publik
maupun citra positif DPR masih sebesar 44,2 persen.
Politisi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tokoh tokoh yang yang dipilih
rakyat melalui mekanisme Pemilu, seperti Presiden, Gubernur, Bupati, Wali Kota,
anggota DPR, dan mantan anggota DPR. Hasil survei kepercayaan terhadap
politisi di kalangan masyarakat perkotaan lebih buruk dibanding masyarakat
pedesaan. Di perkotaan, yang menyatakan politisi bekerja dengan baik sebanyak
19,6 persen. Sedangkan di desa lebih besar lagi, yakni 26,6 persen.
Sedangkan di kalangan pendidikan tinggi, mahasiswa, dan lulusan S1, S2, dan S3,
yang menyatakan politisi bekerja dengan baik juga lebih sedikit, yakni hanya 18,4
persen. Sedangkan di kalangan responden yang berpendidikan menengah dan
rendah (SMU ke bawah) lebih banyak, yakni di atas 24 persen.
14 Berita Pelita Online, “Kepercayaan Publik terhadap Politisi Anjlok”, diunduh pada tanggal 02 Pebruari
2012 melalui http://www.pelitaonline.com/read/politik/nasional/16/8246/kepercayaan-publik-terhadappolitisi-anjlok/
22
Melihat hasil survey LSI diatas, kita memeroleh gambaran bahwa semakin tinggi
tingkat pendidikan, kepercayaan dan tingkat kepuasan terhadap kinerja politisi
semakin rendah. Sebaliknya, bagi yang berpendidikan menengah dan rendah
(SMU kebawah) tingkat kepuasan terdapat kinerja politisi menunjukkan angka
lebih tinggi yakni sebesar 24 persen.
Begitu juga perbandingan penilaian masyarakat perkotaan dan pedesaan terhadap
kinerja politisi juga berbeda. Bagi masyarakat kota yang lebih dekat dengan
media, berpendidikan dan berpenghasilan tinggi, tingkat kepercayaan politiknya
semakin rendah dibanding masyarakat pedesaan.
Menurunnya Loyalitas Kepada Partai Politik Tradisional
Partai-partai politik merupakan mediator penting untuk menjembatani
kepentingan Negara dan masyarakat sipil. Mengingat posisi strategis yang
diperankannya, menarik untuk ditelisik lebih jauh kebelakang sejarah
kemunculan partai dan signifikansi peran partai politik dalam sistem politik
modern. Dalam pandangan Roy C Macridis, tidak ada sistem politik yang
berlangsung tanpa kehadiran partai politik. Walaupun awalnya, skeptisisme juga
muncul mengiringi kelahiran partai politik terutama oleh masyarakat dan
birokrasi di Eropa Barat, yang menganggap partai politik bagian dari konflik
politik.
Partai politik menjadi aktor utama dalam menggerakkan partisipasi masyarakat,
karena dianggap mewakili aspirasi warga Negara terutama isu seputar agama dan
kelas. Namun seiring perubahan sosial dan bergesernya isu-isu politik
kontemporer yang lebih kompleks15 dan fragmentasi identitas sosial baru16,
15Isu-isu politik pada tahun 80-an berpusat pada sensitifitas agama diwakili oleh partai persatuan
pembangunan (PPP), sedangkan isu-isu perjuangan kelas banyak diusung oleh Partai Demokrasi
Perjuangan (PDI), sedangkan isu-isu politik terkini lebih bervariasi seperti isu lingkungan, energy,
gender, dan ekonomi.
16Kelas-kelas social baru bermunculan seiring pertumbuhan ekonomi, seperti kalangan kelas konsumen baru
atau disebut kelompok menengah, organisasi profesi dll.
23
terjadi penggerusan atas peran partai politik sebagai wadah penjaring aspirasi
masyarakat.
Para pemilih cenderung mengikuti isu-isu terbaru serta prestasi kinerja partai
politik dibanding mengikuti perasaan setia (loyal) terhadap partai politik
tertentu. Efek lebih lanjut dari sikap seperti ini adalah para pemilih dengan cepat
mencabut dan mengalihkan dukungan dari satu partai politik kepada partai
politik lainnya.
Hasil survei yang dilakukan Centre for Strategic and International Studies (CSIS)
menunjukkan dukungan masyarakat terhadap partai politik semakin menurun
akibat kekecewaan publik yang menilai pemerintah cenderung stagnan. Survei
CSIS itu mencatat Partai Demokrat menjadi partai yang mengalami penurunan
dukungan public terbesar dengan angka penurunan 8,25%, sehingga hanya
memperoleh dukungan 12,6%. Sementara itu Partai Golkar diperkirakan
memperoleh dukungan 10,5%, menurun 3,95% dari pemilu 2009 lalu, sedangkan
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mendapat dukungan 7,8%,
dengan demikian terjadi penurunan sebesar 6,23%. Menariknya, sebanyak 48,4%
masyarakat tidak memiliki pilihan ketika ditanyai dukungan mereka terhadap
partai politik.
Survey diatas memberitakan pada kita bahwa terjadi penurunan tingkat
kepercayaan public terhadap kinerja partai politik. Hal ini terjadi karena
pemberitaan yang gencar media massa atas skandal korupsi yang melibatkan
partai politik. Mega korupsi Bank Century dan Wisma atlet yang menyeret
pentolan partai Demokrat, korupsi dalam kementerian tenaga kerja dan
transmigrasi (Kemenakertrans) yang diduga melibatkan fungsionaris PKB, suap
pemilihan Gubernur Bank Indonesia yang menimpa fungsionaris PPP, PDI P dan
Golkar dengan cepat mengalir ke rumah-rumah warga melalui pemberitaan
televisi. Respon masyarakat atas skandal tersebut adalah „menghukum‟ partai
24
politik yang bersangkutan dengan jalan mengalihkan dukungan pada partai lain
yang dinilai belum cacat moral.
Differensiasi dan fragmentasi isu-isu politik mencerabut hubungan partai politik
dan pemilihnya yang berdasarkan komitmen tradisi. Dengan demikian, kontrak
yang dijalin warga Negara dengan partai politik adalah dengan melihat arah
program, visi, dan perilaku politik pengurusnya.
Anjloknya Tingkat Keikutsertaan dalam Pemilihan Umum
Kecenderungan yang segera muncul akibat menurunnya kepercayaan
politik masyarakat adalah penurunan tingkat partisipasi pada pemilu. Menurut
studi tentang tingkat kehadiran pemilih di berbagai Negara mencatat terjadi
penurunan secara keseluruhan. Namun, walaupun terjadi penurunan partisipasi
politik secara konvensional yakni pada pemberian suara pada pemilihan umum,
namun terjadi peningkatan partisipasi politik inkonvensional.
Peningkatan Partisipasi Politik Inkonvensional
Disaat angka partisipasi politik konvensional berupa pemberian suara
saat pemilu menurun, keterlibatan masyarakat dalam tindakan langsung
meningkat pesat. Studi di beberapa negara menunjukkan peningkatan tingkat
partisipasi melalui boikot, protes, pemogokan tidak resmi atau pendudukan
gedung oleh warga masyarakat. Di Negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris
dan Jerman Barat, keterlibatan partisipasi warga dalam aksi-aksi langsung
semacam itu mencapai seperempat jumlah penduduk.
Keanggotaan dalam organisasi-organisasi lingkungan, koalisi perempuan
meningkat pesat melebihi keanggotaan partai politik di banyak Negara. Warga
Negara cenderung bergabung dengan organisasi-organisasi diluar partai politik
untuk mengambil bagian dalam berbagai macam partisipasi alternatif untuk
mengungkapkan opini mereka.
25
Pertukaran Sosial George Caspar Homans
Pertukaran sosial karya Homans menarik untuk juga dijadikan sebagai kerangka
pikir dalam memahami partisipasi pemilih dalam penelitian ini. Alasan utamanya
karena teori ini memandang perilaku sosial sebagai pertukaran aktivitas, ternilai
ataupun tidak dan kurang lebih menguntungkan atau mahal bagi dua orang yang
saling berinteraksi. Teori pertukaran ini berusaha menjelaskan perilaku sosial
dasar berdasarkan imbalan dan biaya. Dalam bangunan teori sosiologi, teori ini
masuk dalam rumpun perilaku sosial.
Mengembangkan temuan- temuan B.F Skinner, Homans lalu mencetuskan
beberapa proposisi yang merupakan inti dari teori pertukaran sosial. Proposisiproposisi tersebut antara lain proposisi sukses, proposisi stimulus, proposisi
kekurangan dan kelebihan, proposisi nilai, proposisi agresi-pujian, proposisi
rasionalitas.
Untuk kepentingan penelitian ini, kami hanya menggunakan tiga proposisi yakni
proposisi sukses, stimulus dan rasionalitas.
Proposisi Sukses
Jika seseorang sering melakukan suatu tindakan dan orang tersebut mendapatkan imbalan
dari apa yang ia lakukan, maka makin besar kecenderungan ia akan melakukannya pada waktu
yang akan datang.
Secara umum perilaku yang selaras dengan proposisi sukses meliputi tiga
tahap yaitu Pertama tindakan seseorang, Kedua hasil yang diberikan dan Ketiga
pengulangan tindakan asli atau minimal tindakan yang dalam beberapa hal
menyerupai tindakan asli.
Homans mencatat bahwa ada beberapa hal khusus terkait dengan proposisi
sukses. Pertama meskipun secara umum benar bahwa imblan yang semakin sering
dilakukan mendorong peningkatan frekuensi tindakan. Situasi timbal balik ini
mungkin berlangsung tanpa batas. Dalam beberapa hal individu sama sekali tidak
dapat terlalu sering berbuat seperti itu. Kedua semakin pendek interval antara
26
perilaku dan imbalan, semakin besar kecenderungan seseorang melakukan
perilaku tersebut. Sebaliknya semakin panjang interval antara perilaku dan
imbalan memperkecil kecenderungan melakukan perilaku tersebut. Intinya
adalah imbalan tidak teratur yang diberikan kepada seseorang menyebabkan
berulangnya perilaku, sedangkan imbalan yang teratur justru membuat
masyarakat menjadi bosan dan muak melakukan hal yang sama pada waktu yang
akan datang.
Proposisi Stimulus
Jika pada masa lalu terjadi stimulus tertentu, atau serangkaian stimulus adalah situasi
dimana tindakan seseorang diberikan imbalan, maka semakin mirip stimulus saat ini dengan
stimulus masa lalu tersebut semakin besar kecenderungan orang tersebut mengulangi tindakan
yang sama atau yang serupa.
Homans tertarik pada proses Generalisasi yaitu kecenderungan untuk
memperbanyak perilaku pada situasi serupa. Namun, beliau juga berpendapat
bahwa proses diskriminasi juga penting. Seorang aktor menjadi terlalu sensitif
terhadap rangsangan khususnya jika rangsangan itu sangat bernilai baginya.
Sebaliknya aktor akan dapat merespon rangsangan yang tidak relevan, paling
tidak sampai situasinya dibenahi oleh kegagalan yang berulang. Semua itu
dipengaruhi oleh kewaspadaan individu atau perhatian mereka terhadap
rangsangan.
Proposisi Rasionalitas
Ketika seseorang memilih tindakan alternative, seseorang akan memilih tindakan
sebagaimana yang dipersepsikannya kala itu jika nilai hasilnya dikalikan dengan probabilitas
keberhasilan, maka hasilnya adalah lebih besar.
Jika proposisi sebelumnya banyak bersandar dari behaviorisme (perilaku
sosial). Proposisi rasionalitas secara gamblang menunjukkan pengaruh teori
pilihan rasional pendekatan Homans. Pada dasarnya, orang menelaah melakukan
kalkulasi atas berbagai tindakan alternatif yang tersedia baginya. Mereka
27
membandingkan jumlah imbalan yang diasosiasikan dengan setiap tindakan.
Mereka pun mengkalkulasikan kecenderungan bahwa mereka benar-benar akan
menerima imbalan. Imbalan yang bernilai tinggi akan hilang nilainya jika actor
menganggap bahwa itu semua cenderung tidak akan mereka peroleh. Sebaliknya,
imbalan yang bernilai rendah akan mengalami pertambahan nilai jika semua itu
dipandang sangat mungkin diperoleh. Jadi terjadi interaksi antara nilai imbalan
dengan kecenderungan diperolehnya imbalan. Imbalan yang paling diinginkan
adalah imbalan yang sangat bernilai dan sangat mungkin tercapai. Imbalan yang
paling tidak diinginkan adalah imbalan yang paling tidak bernilai dan cenderung
tidak mungkin diperoleh. Beliau juga berargumen bahwa struktur skala besar
dapat dipahami jika kita memahami secara baik perilaku sosial dasar.
Menurutnya proses pertukaran identik pada level masyarakat terdapat proses
kombinasi fundamental yang lebih kompleks17.
Dengan demikian teori pertukaran melihat tatanan sosial sebagai hasil yng
tidak direncanakan dari tindakan pertukaran antara anggota masyarakat. Teori
pertukaran secara eksklusif menunjukkan upaya untuk menjelaskan kehidupan
dengan metode pilihan rasional. Teori pertukaran tumbuh dari fakta bahwa pasar
lembaga non industry masyarakat biasanya lebih sederhana daripada yang
ditemukan dalam ekonomi modern18.
17 George Ritzer. Teori Sosiologi (Bantul : Kreasi Wacana Offset. 2011), Hal 450-457.
18 Khoirul Yahya, dkk. Teori Politik (Surabaya : IAIN Sunan Ampel Press. 2013), Hal 137-141
28
BAB III
PEMILU DAN PARTISIPASI POLITIK WARGA
KABUPATEN PROBOLINGGO
Partisipasi dalam pengertian konvensional adalah kehadiran pemilih pada
saat pemungutan suara untuk memilih wakilnya dalam pemilu. Namun, partisipasi
politik secara umum diartikan sebagai keterlibatan aktif individu ataupun kelompok
dalam proses pengambilan keputusan pemerintahan yang berdampak pada
kehidupan mereka. Untuk dapat terlibat secara aktif maka dituntut pengetahuan
yang memadai mengenai politik maupun soal kepemiluan.
Pandangan dan beberapa macam bentuk partisipasi warga diperoleh melalui survey
dan wawancara yang dilakukan bulan juli lalu, terhadap 100 orang responden yang
mewakili tiga karakteristik wilayah kabupaten Probolinggo. Ketiga wilayah tersebut
meliputi wilayah perkotaan, pegunungan dan pesisir yang tersebar di kecamatan
kraksaan, paiton, kecamatan Gading dan Maron serta pesisir di Kecamatan Gending.
Metode Survey yakni wawancara tatap muka dilakukan untuk mencari pemahaman
masyarakat tentang pemilu maupun gambaran tentang “melek” politik warga.
“melek” politik yang digali dalam penelitian ini meliputi pengetahuan warga tentang
pemilu, politik lokal dan nasional, serta bagaimana bentuk partisipasi yang
dilakukan. Pemaparan berikut merupakan perpaduan sajian data sekaligus kajian
yang menjadi fokus penelitian.
I.
Pengetahuan Politik Lokal dan Nasional
Dalam sistem demokrasi keberadaan pemilu berkala merupakan hal yang
penting untuk dilaksanakan. Pemilihan umum merupakan sarana konversi suara
rakyat menjadi kursi kekuasaan baik di legislatif maupun eksekutif.
Pemilu,
29
merupakan salah satu dari beberapa macam institusi politik dalam paktik demokrasi.
Menurut Robert Dahl (2005), dalam praktik demokrasi yang berskala besar
diperlukan sejumlah institusi politik, yang sekurang-kurangnya mencakup:
1. pejabat-pejabat yang dipilih
2. pemilu yang bebas (free), adil (fair), dan sering dilakukan
3. kebebasan berekspresi
4. sumber-sumber informasi alternatif
5. otonomi asosiasional
6. kewarga(negara)an yang inklusif.
Institusi-institusi tersebut saling terkait dan saling melengkapi, dan diperlukan demi
partisipasi yang efektif, untuk mengontrol agenda-agenda kebijakan, meningkatkan
saling pengertian, serta demi menjamin pengakuan atas hak dan peran-peran
kewargaan (inklusi) secara penuh.
Dalam sejarah keenam institusi tersebut tidak lahir sekaligus, melainkan bertahap.
Dua yang disebut terakhir lahir kemudian. Kewarga(Negara)an yang inklusif
mengandaikan pemilih yang memiliki pengetahuan memadai tentang siapa yang akan
dipilih, apa tugas dan peran anggota dewan, memiliki rekam jejak yang baik
keberadaan calon pemimpin baik legislatif maupun eksekutif. Dalam pengumpulan
survey yang telah dilakukan, para pemilih umumnya mengenal calon dengan baik
yakni sebesar 70 persen.
30
Mengenal Calon Anggota DPRD
Tidak
30%
Iya
70%
Tingginya angka pemilih yang mengenal calon anggota DPRD tidak lepas dari
kedekatan secara geografis calon dan pemilihnya. Saluran-saluran informasi yang
menyampaikan atau mengenalkan keberadaan calon tersebut kepada pemilih
beragam, mulai dari stakeholder formal pemilu yakni Parpol maupun KPU, juga
memanfaatkan saluran institusi keluarga, pertemanan dan aparat desa.
saluran-saluran informasi
Keluarga dan teman
22
Aparat Desa
KPU Kab
13
Parpol
Parpol
13
Aparat Desa
KPU Kab
Keluarga dan teman
21
0
5
10
15
20
25
Dari diagram diatas terlihat bahwa institusi keluarga dan relasi pertemanan maupun
kelompok teman sebaya (peer group) memiliki andil besar untuk menyebarluaskan
rekam jejak calon kepada para pemilih. Dari sana juga tergambar bahwa upaya partai
31
politik dalam menjajakan profil kader partai yang akan mencalonkan diri dalam
pemilihan legislatif sangatlah kecil yakni 19 persen, masih dibawah KPU yang diakui
30 persen responden.
Peranan keluarga dalam sosialisasi politik juga menjadi perhatian para ahli. Keluarga
merupakan salah satu agensi paling penting dan paling awal dalam sosialisasi politik.
Davies menyimpulkan bahwa sebagian besar kepribadian politik individu,
kecederungannya untuk berpikir dan bertindak secara politis, ditentukan di rumah,
sebelum dia mengambil peran sebagai orang dewasa 1.
Peranan keluarga dalam memengaruhi sikap politik anak-anak muda ini juga terlihat
dalam studi mengenai pemberian suara saat pemilu. Terdapat kecenderungan kuat
pada para pemberi suara untuk memberikan dukungan kepada partai yang sama
dengan partai yang dipilih ayah mereka. Di Indonesia, saat orde baru anak-anak yang
berada di lingkungan keluarga Pegawai Negeri Sipil (PNS) cenderung menjatuhkan
pilihan politiknya pada Golkar dibanding anak-anak di luar komunitas PNS.
Namun perkenalan warga dengan calon legislatif sebatas personal, belum menyentuh
aspek substansial semisal program kerja dan rencana pengembangan dari partai
pengusungnya. Hal ini terlihat dari masih jauhnya pemilih akan program kerja partai
politik. Sebanyak 74 persen responden mengatakan tidak tahu program-program
kerja partai politik.
Minimnya angka keterlibatan dan partisipasi warga dalam setiap tahapan-tahapan
pemilihan, menjadi salah satu sebab adanya jarak antara partai politik dengan warga
konstituennya. Partai hanya mementingkan mendulang suara saat pemilihan
timbang memberikan pendidikan pentingnya politik. Maka bisa dimaklumi, tidak
1
James, C. Davies, “The Family’s Role in Politicial Sosialization”, Annals, 361, 1965. Hal II, dalam
Rush, Michael,….hal 61
32
sedikit warga yang menyatakan tidak tahu tentang program-program kerja partai
politik.
Ini berarti, UUD RI No 2 tahun 2008 Tentang Parpol pada BAB VI Hak dan
Kewajiban Pasal 13 butir E dan K tidak dilaksanakan dengan optimal oleh partai
politik. Maka iya, hanya 26 persen responden yang mengatakan tahu tentang
program kerja partai politik.
Berjaraknya informasi program partai politik ternyata berbanding terbalik dengan
program individu calon anggota legislatif. Informasi seputar janji caleg lebih nyaring
terdengar dibanding program kerja partai politiknya. Gerakan menjaring hati warga
secara masif disebar baik melalui media cetak, elektronik hingga online. 74 persen
responden mengaku pernah mendengar janji-janji para kandidat. Mulai dari janji
bantuan sapi, sembako, perbaikan jalan, irigasi, renovasi Masjid, layanan kesehatan
dan pendidikan gratis. Hanya 26 persen responden yang mengaku tidak pernah
mendengar janji-janji manis partai politik atau kandidat.
Pernah dengar janji caleg ?
Tidak Pernah
Pernah
26%
74%
Salah satu indikator untuk menakar kualitas calon pemimpin adalah melihat dan
mencermati program kerja individu sebagai janji seorang caleg. Setiap proses pemilu,
baik pemilu legislatif atau eksekutif selayaknya mencantumkan prioritas perbaikan
maupun program yang akan diusung sang calon sesuai kebutuhan masyarakatnya.
Program kerja partai politik di kabupaten Probolinggo nampaknya masih sunyi
bahkan nyaris tak terdengar oleh warga.
33
Bagaimana pengetahuan atau melek warga terhadap tugas dan fungsi anggota
legislatif maupun peran-peran seorang Bupati? Dalam hal ini pandangan warga yang
tersebar di tiga wilayah tersebut memahami bahwa tugas dan peran anggota legislatif
maupun seorang Bupati adalah sekedar pemberi santunan dan bantuan. Terlihat
dalam diagram berikut jawaban para responden
Persepsi Warga Terhadap Tugas Dewan
Memberi Santunan/bantuan
14%
Membuat Perda
lain-lain
49%
37%
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau oleh warga lebih dikenal dengan
istilah “dewan” diasumsikan sebagai pejabat yang bertugas memberi santunan
maupun bantuan. Masyarakat tidak memusingkan apakah anggota legislatif tersebut
memiliki kepekaan dan kemampuan merancang peraturan daerah yang menjadi
kebuituhan masyarakat atau tidak. “Seng penting loman” merupakan tolok ukur bagi
sebagian responden untuk mengukur integritas anggota dewan. Sementara sebanyak
37 % (tigapuluh tujuh persen) responden telah menilai bahwa tugas anggota dewan
daerah adalah merancang peraturan daerah yang bermanfaat bagi kehidupan mereka.
Selain kedua persepsi tersebut, sebanyak 14 persen responden menjawab dengan
varian jawaban lain yakni menyatakan bahwa tugas anggota dewan mengayomi
masyarakat, mensejahterakan rakyat, pro rakyat maupun mengentaskan kemiskinan.
Demikian pula dengan pandangan warga atas tugas dan peran Bupati, jawaban yang
menyatakan tugas bupati memberi bantuan lebih besar yakni 56 persen.
34
Peran Bupati
Memberi Bantuan
membuat Perbup
lain-lain
21%
23%
56%
Banyaknya warga yang menganggap Bupati sebagai pemberi bantuan maupun
santunan wajar mengingat dalam era pemilihan umum kepala daerah secara langsung
(pilkada), para incumbent banyak membelanjakan uang APBD untuk kegiatan bantuan
baik langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat.
Akibat panjang dari kegiatan tersebut adalah membentuk cara pandang (mindset)
masyarakat yang demikian rupa hingga menganggap bahwa tugas seorang kepala
daerah maupun anggota dewan adalah memberi santunan. Mindset atau cara
pandang ini bukan terjadi secara serta merta, namun berlangsung dalam jangka
waktu yang lama.
Partai politik, sebagaimana amanat UU No. 02 Tahun 2008 memiliki dua fungsi.
Menyelenggarakan pendidikan politik masyarakat dan rekrutmen politik dalam
proses pengisian jabatan politik. Sementara tugas komisi pemilihan umum adalah
memberikan informasi seputar penyelenggaraan pemilu berikut seluruh tahapan
penyelenggaraannya. Tabel berikut menyajikan perbedaan peran dan fungsi
sosialisasi Partai Politik dan KPU menurut undang-undang.
35
Jenis Kegiatan
Sosialisasi
PARTAI POLITIK
-
KOMISI PEMILIHAN UMUM
Melakukan pendidikan politik dan
Menyampaikan
menyalurkan
Pemilu Kepada Masyarakat
aspirasi
politik
informasi
anggotanya;
-
Menyukseskan
penyelenggaraan
pemilihan umum;
(Pasal 13 UU No. 02 Tahun 2008
diperbaharui UU nomor 02 Tahun 2012)
Namun masih terdapat secercah harapan karena sebagian warga sebanyak 23 persen
menyatakan bahwa tugas seorang kepala daerah adalah merancang dan menerbitkan
Peraturan Bupati (PERBUP). Sementara terdapat 21 persen menyatakan bahwa tugas
seorang kepala daerah adalah menyediakan lapangan pekerjaan, mengayomi
masyarakat serta mengentas kemiskinan. Membuka lapangan pekerjaan adalah salah
satu jenis peran bupati yang diharapkan masyarakat terutama saat ini dimana jumlah
warga yang membutuhkan makin banyak tiap tahunnya.
Pemahaman tentang politik nasional yang digali dalam survey penelitian ini hanya
meliputi peran dan kiprah anggota DPR RI. Terhadap peran dan fungsi anggota
legislatif di tingkat pusat sebagian besar masih buta, hal ini tergambar dalam
jawaban responden sejumlah 65 persen tidak tahu apa tugas dan fungsi anggota
legislatif. Sementara 35 persen lainnya menjawab bahwa tugas anggota legislatif
membuat undang-undang dan melakukan kontrol terhadap pemerintah serta
memperjuangkan otonomi daerah.
Tingginya jumlah warga yang mengenal peran anggota DPR RI jika dibanding
pengetahuan warga tentang peran anggota dewan daerah, tidak terlepas dari peran
televisi. Televisi juga memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kesadaran
politik. Dalam sebuah studi, Dalton menemukan fakta bahwa 69% rakyat Amerika
Serikat menyebut televisi sebagai sumber informasi penting mengenai politik. Selain
36
televisi, persebaran opini melalui internet, email juga mempercepat saling tukar
informasi dan meng up date kondisi perpolitikan mutakhir.
Penetrasi media semakin kuat ditengah budaya masyarakat yang semakin individual.
Masing-masing individu tidak lagi terikat dalam satuan-satuan perkumpulan
keagamaan semisal gereja, ormas islam maupun perkumpulan kepemudaan dalam
pembentukan sikap politiknya. Individualisasi ini terkait dengan proses perubahan
sosial dalam skala luas. Peningkatan pendapatan per kapita, mengendornya semangat
berorganisasi, pergeseran jenis usaha dari manufaktur ke sektor jasa adalah proses
perubahan sosial yang turut mempercepat individualisasi.
Peningkatan jenjang pendidikan dan jumlah masyarakat melek media (media literacy)
tidak berbanding lurus dengan kesadaran mereka untuk berpartisipasi dalam politik.
Dalam satu survey di Amerika Serikat terhadap 250.000 mahasiswa Universitas
California pada tahun 1998 menunjukkan hanya 27% yang merasa penting untuk
mengikuti masalah politik.
Pemahaman Tentang Pemilu
Pemilihan umum yang diselenggarakan secara berkala setiap lima tahun
hampir semua tahu, terutama kapan dan untuk apa dilaksanakan. Tatkala digali
lebih dalam apa makna serta tujuan partisipasi dalam penyelenggaraan pemilu, maka
didapat jawaban sebagaimana dibawah ini. Melalui wawancara dengan model
pertanyaan terbuka, para responden menyebut bahwa kenapa mereka berpartisipasi
didorong oleh keinginan untuk mensukseskan pemilu serta mewujudkan hak dan
kewajiban sebagai warga Negara. Selain bertujuan pembuktian diri sebab kedudukan
sebagai warga Negara yang baik, juga dimotivasi oleh ramainya kontestasi caleg dan
berharap dapat memilih caleg disertai harapan agar memeroleh bantuan baik
material maupun bantuan dalam bentuk barang.
37
Sementara terdapat jawaban yang menegaskan bahwa keterlibatan dalam pemilu
sekedar ikut-ikutan dan meramaikan acara, karena pemilu dianggap tak ubahnya
semacam pertunjukan atau even kegiatan lainnya. Saran dari aparat desa juga
menjadi dasar pemilih untuk berpartisipasi dalam pemilu.
Pemilihan Umum atau dikenal luas dengan istilah pemilu merupakan sarana
pergantian kekuasaan baik kekuasaan legislatif maupun eksekutif, namun dalam
pandangan warga memiliki pemaknaan sendiri setingkat pemahaman mereka
terhadap pemilu itu sendiri. Dalam wawancara informan menyebut bahwa bagi
mereka pemilu bermanfaat untuk mengganti anggota legislatif baik di DPR maupun
DPRD sekaligus juga sebagai ajang evaluasi atas kinerja mereka selama lima tahun
berkuasa. Secara umum mereka juga menghendaki adanaya perubahan dan
pergantian wajah para legislatif tiap kali pemilu sehingga dapat mensejahteraan
rakyat. Bagi informan pemilu sangat besar maknanya utama bagi penentuan nasib
rakyat. Pemilu juga sebagai indikator kuat bahwa Indonesia telah menjadi Negara
demokrasi.
Selain makna optimis dan positif sebagian juga pesimis dengan menyebut pemilu
sebagai even yang menghamburkan uang banyak serta bertabur janji para calon
legislatif, ajang pencitraan para pemimpin.
II.
Motif dan Partisipasi Warga dalam Pemilu
Partisipasi dalam bentuk keterlibatan warga dalam kegiatan politik
diharapkan dapat meningkatkan mutu dan kualitas penyelenggaraan pemilu. Pemilu
berkualitas
memiliki
dua
indikator.
Pertama,
mekanisme
dan
tahapan
penyelenggaraannya dapat diakses seluas-luasnya oleh masyarakat, kedua walaupun
mekanisme terbuka namun pemilu yang baik hasil perolehan suara pemenang tidak
bisa diprediksi.
38
Partisipasi warga dalam pelaksanaan pemilu didorong oleh motif atau dorongan diri
yang kuat mengapa hal tersebut dilakukan. Ditanya apa yang membuat warga senang
terlibat aktif dalam pemilu, rata-rata responden mengaku dilatarbelakangi karena
sudah mendapat uang dari salah satu calon. Tentu alasan tersebut memang
memprihatinkan. Politik transaksional dan jual beli suara sudah dianggap biasa bagi
warga. Dari hasil wawancara, terungkap pendapat dari warga apa alasan yang
mendorong mereka untuk terlibat aktif dalam pemilu. Warga pemilih yang senang
ikut terlibat aktif dalam pemilu karena ingin mensukseskan calonnya sendiri serta
ingin mendorong terealisasinya janji-janji politik calon. Juga ditemui alasan bahwa
riuh rendah pemilu mempunyai daya tarik tersendiri. Ramainya perbincangan
tentang pemilihan, juga menjadi alasan kebanyakan responden senang ikut terlibat
aktif dalam pemilu.
Alasan pemilih yang mengatakan bahwa keterlibatannya dalam pemilu hanya untuk
mensukseskan calon karena telah mendapat pemberian uang mengingatkan kita
pada proposisi sukses Homans. Proposisi itu mengatakan Jika seseorang sering
melakukan suatu tindakan dan orang tersebut mendapatkan imbalan dari apa yang ia lakukan,
maka makin besar kecenderungan ia akan melakukannya pada waktu yang akan datang
Pemilih yang menyatakan demikian bukan terjadi begitu saja (given), namun sebagai
bentuk pengulangan akibat
imbalan atau stimulus yang diterima pada pemilu
sebelumnya. Sehingga tidak dikatakan pemilu jika tidak mendapat uang. Pola ini lalu
terbangun berulang dan membangun suatu tindakan sosial yang mapan.
Selain imbalan material, namun terselip juga harapan akan imbalan tak langsung
yakni mendorong caleg merealisasikan gagasan dalam rencana politiknya. Hal inilah
sebenarnya yang diharapkan dari penyelenggaraan pemilu, transaksi yang terjalin
adalah menukar suara untuk produk kebijakan yang membawa mashlahah bagi
masyarakat.
39
Tentu tugas pelaksana pemilihan misal KPU, perlu memperhatikan sebab-sebab
menurunnya partisipasi warga. Apa yang membuat warga antusias dan apa sebab
sebab warga tidak antusias untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu.
Penuturan responden kenapa mereka tidak lagi antusias dalam penyelenggaraan
pemilu adalah kesibukan pemilih sendiri semisal kesibukan profesi, mencari nafkah
untuk keluarga, bayaran kecil dan atau lokasi jauh dari rumah. Bukan hanya alasan
kewajiban dalam rumah tangga dan yang sudah disebut diawal tadi, tapi juga dalam
pandangan kebanyakan pemilih, pemilu sudah tidak menarik, tidak ada gunanya,
hanya memboroskan anggaran negara.
Alasan lain yang dikemukakan kenapa warga sudah tidak lagi sreg membantu
pemilu, karena pemilih beralasan bahwa pemilu itu sudah ada panitianya. Hal lain
yang jadi sebab warga tidak lagi sreg terhadap pemilu, karena banyaknya calon ingkar
janji, ketika jadi lupa kepada pemilihnya. Sebagian warga juga menyatakan
pelaksanaan pemilu sudah tidak ada pengaruh. Rata-rata calon pun tidak dikenal
oleh warga.
Jika kita lihat perhelatan pemilu, maka terlihat tiga stakeholder utama pemilu yakni
pemilih, peserta pemilu dan penyelenggara dengan tugas pokok masing-masing.
Penyelenggara yang terdiri dari KPU Kabupaten, Panwas, PPK, PPS dan KPPS
bertugas untuk menyelngarakan dan menjamin terpenuhinya hak memilih warga.
Partai politik sebagai peserta pemilu berkewajiban untuk menciptakan kehidupan
politik yang mencerdaskan, merekrut kader yang potensial sehingga dapat
mempersembahkan produk kebijakan secara optimal.
Seputar Daftar Pemilih Sementara (DPS)
Secara teknis, tahapan penyelenggaraan pemilu dirancang oleh KPU sejak
kapan waktu penyelenggaraannya, penyusunan daftar pemilih sementara, penetapan
40
dafatar pemilih tetap dan pelaksanaan kampanye sampai selesainya pemungutan
suara.
Salah satu tahapan krusial dalam penyelenggaraan pemilu adalah penetapan jumlah
pemilih yang tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Permasalahan dalam Daftar
Pemilih Tetap (DPT) dalam pemilu kali ini menduduki peringkat nomor satu, baru
kemudian disusul oleh persoalan lain-lain seperti logistik, teknik penghitungan suara
dan lainnya. Alur kegiatan pemutakhiran sebagaimana diamanatkan UU Nomor 08
Tahun 2012 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD maupun Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden menetapkan Alur Pemutakhiran Data Pemilih sebagai berikut;
Pemerintah
menyediakan
data pemilih
KPU Kab/Kota Mengolah
data tersebut dibantu
PANTARLIH, PPK dan PPS
KPU Menetapkan Peraturan tentang
Tatacara Penyusunan Daftar Pemilih
dengan fase-fase sebagai berikut:
- Penyusunan Daftar Pemilih yang
berasal dari DP 4
- Pemutahiran Data
DPS, DPS HP
- KPU Kab menetapkan DPT
Dari alur diatas maka domain KPU Kab/Kota adalah pada pengolahan setelah
diterimanya Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang disediakan Pemerintah.
Semakin bagus kualitas bahan baku (DP 4) semakin cepat pula proses pemutakhiran
yang dilakukan dan sebaliknya. Selain disokong bahan mentah berupa kualitas DP 4,
pemutakhiran pemilih juga disokong oleh partisipasi aktif masyarakat sejak
pengumuman Daftar Pemilih Sementara (DPS). Selama penggalian data dilapangan
antusiasme masyarakat demikian rendah, hal ini terlihat dari besarnya jumlah warga
yang tidak melihat pengumuman daftar pemilih sementara.
41
Pengumuman DPS
Tahu
Tidak tahu
21%
79%
Data hasil wawancara kepada warga menerangkan bahwa hanya 21 persen responden
yang menyatakan tahu dan melihat data Daftar Pemilih Sementara (DPS). Responden
menjelaskan mereka tahu data DPS tersebut mayoritas dari panitia pemilihan/KPU
dan aparat desa. Sedang 79 persen responden menyatakan tidak tahu dan tidak
melihat data DPS yang sudah diumumkan. Dalam alam politik demokrasi, partisipasi
warga adalah kata kunci. Demokratis tidaknya suatu sistem politik dilihat dari tinggi
rendahnya tingkat partisipasi warganya. Salah satu indikator partisipasi ini dilihat
dari antusiasme warga dalam menggunakan hak pilihnya. Antusiasme menggunakan
hak pilih selalu dimulai dari usaha warga untuk melihat apakah dirinya sudah
terdaftar dalam daftar pemilih atau tidak.
Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang sudah diumumkan oleh panita pemilihan di
tempat pengumuman desa/kelurahan bertujuan untuk mendapat masukan dan
tanggapan dari warga. Warga yang sudah punya hak pilih namun namanya belum
terdaftar dalam DPS maka boleh memberitahu panitia pemilihan untuk dimasukkan
ke dalam daftar pemilih. Hal ini penting untuk akurasi data. Menjamin setiap warga
bisa mendapatkan haknya memilih dalam pemilu.
DPS yang sudah mendapatkan masukan dan tanggapan dari warga kemudian akan
diperbaiki oleh panitia pemilihan. DPS hasil perbaikan (DPSHP) akan dikirim oleh
panitia pemilihan ditingkat desa/kelurahan ke KPU Kabupaten/kota untuk
42
ditetapkan menjadi Daftar Pemilih Tetap (DPT). DPT yang sudah ditetapkan oleh
KPU Kabupaten/kota akan dikirim ke panitia pemilihan tingkat desa/kelurahan
kemudian diumumkan kembali hingga hari pemungutan suara dilaksanakan.
Penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT)
Pengumuman DPT
Tahu
Tidak tahu
29%
68%
DPT yang sudah ditetapkan oleh KPU kabupaten/kota tidak menjamin keakurasian
dan validitas data sepenuhnya. Maka perlu, warga sebagai pemilih melihat DPT yang
sudah diumumkan oleh panitia. Namun sayang 68 persen responden menjelaskan
bahwa dirinya tidak tahu dan tidak melihat DPT yang sudah diumumkan. Dan hanya
29 persen responden yang menyatakan bahwa dirinya tahu dan melihat DPT.
Pelaksanaan Kampanye
Dalam setiap tahapan pemilihan, yang selalu menarik untuk diperhatikan
adalah masa kampanye. Pelaksanaan kampanye sudah diatur dalam Peraturan KPU
RI No 01 tahun 2013 tentang pedoman kampanye, dan terakhir diubah oleh Peraturan
KPU RI No 15 tahun 2013.
43
Terlibat Kampanye Parpol
Terlibat
Tidak terlibat
11%
89%
Kampanye adalah panggung bagi para kandidat untuk memaparkan visi misinya,
mengutarakan janji-janji, baik melalui alat-alat peraga di pinggir jalan hingga
kampanye terbuka. Tak jarang ditemui ketika ada gelaran kampanye terbuka, jalan
akan ramai hingga macet. Walaupun tentu banyaknya euforia pendukung disana sini
belum besaran dukungan yang sudah diperoleh kandidat.
Dalam UUD RI No 2 tahun 2008 Tentang Parpol pada BAB V Tujuan dan Fungsi
Pasal 10 ayat 2 point (a) yang berbunyi; Meningkatkan patisipasi politik anggota dan
masyarakat dalam rangka penyelenggaraan politik dan pemerintahan. Namun fakta
yang ditemui dilapangan, keterlibatan warga dalam partisipasi politik, semisal
kampanye hanya 11% persen. Angka sekecil itu pun karena alasan menjadi tim
sukses, diajak keluarga dan dapat kaos dan uang.
89 persen responden menyatakan tidak ikut terlibat dalam kampanye. Variasi alasan
karena; sibuk kerja, tidak ada yang ajak dan ada pula yang menyatakan, terlibat
dalam kampanye hanya bikin capek. Alasan-alasan tesebut menunjukan bahwa
warga mulai tidak lagi tertarik dengan proses euforia pemilu.
Pemungutan dan Penghitungan Suara
44
Pemungutan dan pengjitungan suara dilaksanakan pada saat hari libur atau
hari yang diliburkan. Pemerintah menetapkan hari libur agar masyarakat terlibat
penuh dalam pelaksanaan pemilihan umum tersebut.
Proses Pemungutan dan Penghitungan
Suara
Iya Sampai Selesai
Tidak, habis nyoblos pulang
13%
87%
Kenyataan pada saat hari pemungutan suara, warga hanya hadir ke Tempat
Pemungutan Suara (TPS), menggunakan hak pilih, selesai, lalu pulang. Sebanyak 87
persen responden mengaku demikian. Mereka tidak peduli apapun hasilnya dan
bagaimana prosesnya. Seakan-akan bagi mereka demikianlah berpolitik. Datang
mencoblos, selesai, lalu pulang.
Kepedulian atas hasil serta perlunya pengawasan atas proses pemungutan suara di
TPS hanya dilakukan oleh 13 persen responden. Itu pun, karena menjadi tim sukses
salah satu calon, hingga penting untuk mencatat hasil. Juga karena menjadi saksi
hingga perlu melihat bagaimana jalannya proses pemungutan dan penghitungan
suara. Apakah sesuai dengan prosedur atau tidak? dan atau untuk memastikan tidak
ada kecurangan/kejanggalan yang dilakukan oleh pelaksana pemilihan. Dan andai 13
persen responden itu kemudian tidak jadi tim sukses dan saksi, bisa ditebak mereka
pun tidak akan menunggu dan mengawasi jalannya pemungutan dan penghitungan
suara.
Dari gambaran diatas kita memiliki pemahaman bahwa pemahaman warga tentang
partisipasi politik masih berkutat pada beberapa hal. Pertama, oleh sebagian besar
masyarakat masih dilihat sekedar pemberian suara pada saat pemilu (contreng atau
45
coblos). Cara pandang semacam ini, menyebabkan pemilih hanya berfungsi sebagai
kontributor suara saja. Tidak lebih dari itu. Pemilu dianggap dan seringkali disebut
“pesta demokrasi” yang dirayakan lima tahun sekali sebagai “muara” dari proses
politik. Pasca pemilu, mereka merasa tidak lagi memiliki keterlibatan apa-apa dalam
proses politik selanjutnya.
Pemahaman ini terbangun melalui fase yang sangat panjang. Pemerintah Orde Baru,
melalui proyek de-ideologisasi, de-politisasi memisahkan massa pemilih dengan
partai politik dan kegiatan yang bersinggungan dengan politik. Kebijakan yang
berlangsung puluhan tahun ini menghantarkan masyarakat menuju kondisi yang
emoh politik. Tidak ambil pusing dan merasa tidak punya kaitan apa-apa dengan
proses politik (baca; pengambilan keputusan) yang sedang dan akan berlangsung.
Partisipasi politik pada masa tersebut, dan berlangsung hingga hari ini, adalah hadir
di TPS dan memberikan hak pilihnya.
Konsekuensi lanjutan dari sikap ini adalah pemilu dianggap sebagai kebutuhan para
calon/kandidat, dan bukan kebutuhan para pemilih (masyarakat). Tak heran jika
setiap even pemilihan baik pemilu/kada, sebagian pemilih menunggu “mobilisasi”
dari calon atau tim sukses. “Mobilisasi” dimaksud adalah anggaran yang diterima
oleh pemilih untuk hadir dalam rapat-rapat kampanye, sosialisasi kandidat sampai
hadir di TPS dan memberikan suaranya.
Kedua, melihat bahwa demokrasi serta kegiatan politik berada di arena perebutan
kekuasaan semata. Tidak hanya pada level pemilihan Presiden, Gubernur atau
Bupati/Walikota, bahkan pada saat pemilihan RT/RW pun mereka menyebut
dengan istilah berdemokrasi. Oleh karena pemahamannya hanya seputar perebutan
kekuasaan, maka, pelaku politik adalah mereka yang tercatat sebagai pengurus
partai, kandidat peserta pemilihan, serta tim suksesnya. Pemilih (voters) tidak merasa
menjadi bagian penting dari elemen demokrasi.
Pemahaman ini, setidaknya disebabkan oleh belum optimalnya partai politik sebagai
sarana partisipasi politik masyarakat dalam mengembangkan kehidupan demokrasi
untuk menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab.
46
Janji Caleg
Tidak menepati
Menepati
19%
80%
Salah satu alasan kenapa kemudian pemilih banyak tidak peduli dengan pemilu
adalah sikap para kandidat yang ketika jadi, lupa pada janji-janjinya. Masyarakat
kemudian menganggap bahwa pemilihan tidak punya arti apa-apa. Tidak ada
perubahan setelahnya, tidak ada dampaknya yang terasa oleh warga. Sejumlah 80
persen responden mengatakan bahwa para kandidat ketika sudah terpilih, tidak
menepati janjinya.
Banyaknya janji yang diingkari, ketika jadi lalu lupa diri, ini tidak kecil pengaruhnya
bagi pandangan masyarakat. Maka maklum, perlahan-lahan warga pun menganggap
bahwa pemilu adalah waktu untuk mendapatkan uang secara gratis. Bukan waktu
untuk benar-benar menyeleksi kandidat. Bukan waktu untuk mencermati dan
mengkritisi visi-misi kandidat.
47
Janji Caleg
Menepati
6
Maron
19
7
Kraksaan
Gending
14
1
Paiton
Gading
Tidak menepati
13
0
20
5
15
III. Pandangan Warga di Lima Kecamatan
Berikut kami tampilkan pengumpulan data di lima kecamatan dalam survey
partisipasi pemilih kabupaten Probolinggo dalam bentuk diagram dibawah ini.
Mengenal Calon Anggota DPRD
Tidak Kenal
9
Maron
Paiton
Kraksaan
Gading
Kenal
11
4
16
4
16
6
14
7
Gending
13
Kita lihat diagram batang diatas bahwa untuk calon anggota DPRD, para pemilih
rata-rata secara personal telah mengenal baik calon yang diajukan partai politik
dalam pemilu legislatif 2014 lalu.
48
Alasan Memilih
Diajak seseorang
Maron
Gading
6
3
2
2
Paiton
Kraksaan
Tebak-tebakan
4
0
0
Gending
6
3
4
Bagi pemilih yang tidak kenal dengan calon secara langsung, maka yang menjadi
dasar untuk menjatuhkan pilihan karena dua hal yakni diajak oleh teman/keluarga
sebagai orang terdekat, namun tak jarang karena tidak tersentuh oleh kampanye baik
parpol maupun individu calon terdapat pemilih yang asal memilih. Di lima
kecamatan tersebut, nampak wilayah kecamatan Gading atau daerah “atas” lebih
banyak yang asal memilih.
49
Saluran Informasi
Lainya
Maron
Aparat Desa
1
0
Paiton
0
Gading
0
Parpol
7
3
4
3
1
Kraksaan
KPU
6
3
2
8
7
8
4
4
1
Gending
2
6
Bagi yang tahu calon, maka saluran-saluran yang berperan mengenalkan
calon
tersebut adalah parpol, KPU, Keluarga dan Aparat Desa. Dari diagram diatas terlihat
pemilih kraksaan yang paling besar memanfaatkan institusi KPU sebagai saluran
untuk mengenal calon. Hal ini karena kedekatan geografis maupun aktifitas KPU
Kabupaten yang terletak di kecamatan kraksaan berpengaruh kuat untuk para
pemilih.
Peran Anggota DPRD
3
Maron
5
Paiton
8
8
4
0
Kraksaan
9
1
Gading
2
2
6
4
6
Lainnya
11
11
Gending
0
12
Membuat Peraturan
12
Memberi Santunan
12
8
10
12
50
Pemahaman terhadap tugas dan peran anggota DRPD, lapisan terbesar dari lima
kecamatan tersebut menjawab bahwa peran utamanya adalah memberi santunan
maupun bantuan. Pemahaman lebih baik terhadap tugas DPRD yakni membuat
perda maupun tugas lain terdapat pada pemilih Kraksaan dan Paiton.
Namun untuk pemilih di kecamatan kraksaan, saat ditanya dengan pertanyaan yang
sama untuk peran seorang Bupati, maka lapisan terebsarnya adalah menjawab
membri bantuan dan santunan. Dalam diagram batang dibawah terlihat jawaban
pemilih di lima kecamatan
Peran Kepala Daerah
Maron
Kraksaan
Lainnya
Membuat Peraturan
Gending
0
5
10
Memberi santunan
15
20
Pemahaman pemilih terhadap peran anggota DPR RI lebih jauh lagi karena rata-rata
mereka tidak tahu apa peran anggota DPR RI
51
Peran DPR RI
Tidak tahu
Maron
Tahu
18
2
10
10
Paiton
Kraksaan
11
9
Gading
14
6
Gending
12
8
Walaupun tidak memahami peran dan wewenangnya, namun secara personal
mengaku tahu dan kenal dengan calon anggota DPR RI dalam pemlihan Umum
Legislatif 2014 lalu.
Kenal Calon Anggota DPR RI
Tidak Kenal
Kenal
10
10
Maron
7
Paiton
13
8
Kraksaan
Gading
5
Gending
5
12
15
15
Partisipasi Pemilih dalam Pemilu
52
Salah satu tahapan yang menuntut partispasi warga agar terlibat aktif adalah
pengumuman DPS sampai penetapan DPT. Pada tahapan pengumuman DPS,
menurut pengakuan warga masih banyak yang tidak tahu kapan dan dimana
pengumuman tersebut disampaikan.
Pengumuman DPS
Tidak Tahu
Maron
Tahu
15
5
Paiton
14
6
Kraksaan
15
5
Gading
19
1
Gending
16
4
Begitu juga dengan pengumuman DPS Hasil Perbaikan untuk ditetapkan menjadi
DPT, pemilih juga banyak yang belum tahu. Lapisan terbesar yang mengaku tidak
tahu pengumuman DPT ada di wilayah kecamatan Gading.
Pengumuman DPT
Tidak Tahu
10
10
Maron
Paiton
7
Kraksaan
Gading
Gending
Tahu
13
19
6
20
0
6
14
53
Kampanye politik adalah wadah untuk mengenalkan program dan visi perjuangan
kepada masyarakat luas. Namun saat ini sebagian besar responden menyatakan tidak
terlibat dalam penyelnggaraan kampanye parpol tersebut.
Kampanye Partai Politik
Tidak Terlibat
Maron
19
1
Paiton
Kraksaan
Gading
Terlibat
17
3
19
1
18
2
Gending
16
4
Akibat lebih jauh dari keengganan masyarakat terlibat dalam kampanye partai
politik, adalah menjauhnya informasi tentang program kerja parpol dari masyarakat.
Program Kerja Parpol
Tahu
6
Maron
Paiton
Kraksaan
Gading
Gending
Tidak tahu
14
3
17
4
16
6
14
7
13
54
Sepinya infromasi tentang program kerja parpol, rupanya tidak berbanding lurus
dengan pengetahuan warga akan rencana caleg. Sebagian besar warga mengetahui
rencana kerja maupun janji yang diucapkan seorang calon anggota legislatif.
Rencana Kerja Caleg
Pernah
Maron
Tidak pernah
15
5
10
10
Paiton
Kraks…
13
7
Gading
19
1
Gend…
17
3
Hari Pemungutan dan Penghitungan Suara
Saat pemungutan suara, rata-rata warga hanya memberikan suara lalu pulang,
tidak mengikuti proses penghitungan sampai selesai. Terdapat warga yang mengaku
mengikuti
proses
penghitungan
sampai
selesai,
namun
kecil.
Pemungutan dan Penghitungan Suara
Maron
17
3
Paiton
16
4
Kraksaan
0
Gading
0
Gending
5
Habis coblos pulang
20
Iya, sampai selesai
14
6
0
20
10
15
20
55
Komposisi Responden; Usia dan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Responden
Perempuan
42%
Laki-laki
58%
Usia Responden
Laki-Laki
Perempuan
45
35
9
5
Usia 17-21
4
Usia 22-55
2
Usia >55
56
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan temuan dan analisis yang peneliti kembangkan dari
jawaban atas permasalahan penelitian maka diperoleh informasi berikut;
-
Perpolitikan tanah air telah bergeser dari penentuan
keputusan yang serba pusat menjadi kewenangan daerah
sehingga lebih dekat dengan rakyat. Dengan demikian maka
pemahaman terhadap politik lokal oleh warga juga senantiasa
terus ditingkatkan. Politik lokal dalam penelitian ini meliputi
peran dan fungsi anggota DPRD maupun Bupati. Dalam
temuan dan kajian data lapangan bahwa pemahaman warga
atas peran kedua pilar utama pemerintah daerah belum mapan.
Lapisan terbesar warga Probolinggo menjawab bahwa peran
dan fungsi keduanya adalah memberi bantuan maupun
santunan. Selebihnya menjawab pembuat perda, mengayomi
masyaraat miskin serta menciptakan lapangan pekerjaan. Jika
kita cermati maka hal ini bukan terjadi secara tiba-tiba, namun
berlangsung
dalam
waktu
lama.
Keputusan
untuk
menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara langsung
serta penetapan anggota DPRD melalui mekanisme suara
terbanyak hadir memperantarai cara pandang tersebut. Telah
kita ketahui bersama bahwa untuk meraih simpati pemilih,
58
maka kontestan pemilu melakukan cara-cara pragmatis untuk
membujuk para pemilih dengan bantuan material maupun
santunan yang dikemas dalam bantuan pemerintah daerah.
-
Motif yang melatarbelakangi aktifnya partisipasi warga
menjelang pelaksanaan pemilu membentang mulai dari alasan
mendapat uang dari para calon, suksesi calon dukungan,
mendorong terealisasinya janji-janji politik hingga karena
sekedar suka dengan
euforia pemilu
semata.
Sedang
keengganan warga untuk terlibat aktif dalam pelaksanaa
pemilu disebabkan selain alasan sudah ada panitia, sibuk kerja,
jarak yang tidak dekat, calon yang tidak dikenal warga, janjijanji yang dilupakan oleh calon ketika sudah terpilih, hingga
pada adanya anggapan warga bahwa pemilu tidak membawa
perubahan
yang
signifikan
bagi
kehidupan
pemilih.
Keengganan pemilih untuk terlibat aktif dalam pemilu bukan
karena kurangnya sosialisasi KPU, tapi dipengaruhi hal lain
diluar teknis KPU. Faktor-faktor tersebut antara lain, seperti
banyaknya praktek koruptif, janji-janji politik yang tidak
ditepati hingga praktek politik uang oleh peserta pemilu.
Kesimpulan ini mematahkan asumsi selama ini yang
mengatakan bahwa rendahnya partisipasi pemilih dalam
pemilu disebabkan kurangnya sosialisasi oleh KPU.
59
B. Saran
Penelitian ini semoga dapat menjadi acuan bagi perbaikan kehidupan
demokrasi dan perpolitikan di tingkat lokal. Hasil penelitian yang tengah
dilaporkan ini memiliki sejumlah pertanyaan lanjutan untuk dikembangkan bagi
peneliti selanjutnya yang berminat terhadap masalah sejenis yang tidak sempat
tereksplorasi dalam kegiatan ini untuk perkembangan ilmu pengetahuan yakni;
-
Bagaimanakah usaha-usaha yang dilakukan secara berkelompok
maupun profesional dalam membantu penyehatan demokrasi di
tingkat lokal/daerah?
Sedangkan bagi kepentingan praktis perpopolitikan daerah, upya yang harus
dilakukan adalah;
-
Perbaikan rekruitmen politik oleh partai politik, peningkatan
kehidupan berdemokrasi melalui pendidikan politik yang menjadi
kewajiban partai politik
-
Perlu dicari langkah-langkah menarik dan praktis dari KPU
Kabupaten Probolinggo saat pengumuman DPS, DPT agar menarik
partisipasi masyarakat.
60
DAFTAR PUSTAKA
Agus Salim, 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Buku Sumber untuk Penelitian
Kualitatif, Yogyakarta:Tiara Wacana
Bagong Suyanto dan Sutinah (ed) , 2005, Metode Penelitian Sosial, Berbagai Alternatif
Pendekatan, Jakarta: Kencana
Keith, Faulks, 2010., Sosiologi Politik, Pengantar Kritis, Bandung: Nusamedia
Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia.
Margaret M. Poloma, 2000., Sosiologi Kontemporer, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada,
Masri Singarimbun, (ed.), 1989, Metode Penelitian Survey, Jakarta: LP3ES.
W. Lawrence Neuman, ,2003., Sosial Research Methods, Qualitative and Quantitative
Approaches 5th ed., New York: Pearson Education Inc.
Download