BAB I Perilaku Memilih: Analisis Penyebab Tingginya Surat

advertisement
I
BAB I
Perilaku Memilih:
Analisis Penyebab Tingginya Surat Suara Tidak Sah di Kota Mataram
A. Pendahuluan
Ainul Asikin * Bedi S * Faizah
Sopan Sapoan H* Eka Sugih G
Pemilihan umum (Pemilu) sebagai cara menjalankan demokrasi telah
dikenal dan dipraktekkan sejak lama. Bahkan kini pemilu telah menjadi
keyakinan negara modern dalam mengelola sistem politik mereka. Tidak
hanya itu, pemilu telah diyakini semua agama sehingga tidak perlu lagi
diperdebatkan. Amerika Serikat sebagai pemeluk agama Kristen terbesar
dunia, kini menjalankan pemilu, India sebagai pemeluk agama Hindu terbesar
juga menjalankan pemilu, termasuk Indonesia sebagai pemeluk agama Islam
terbesar sejak Orde Lama hingga kini menjalankan pemilu.
Masyarakat (warga negara) adalah komponen penentu berhasil atau
tidaknya pelaksanaan pemilu. Karena pada dasarnya hanya kekuatan pemlih
masyarakatlah yang bisa menentukan nasib negara dan bangsa ke depan.
Setiap warga negara, apapun latar belakangnya seperti suku, agama, ras, jenis
kelamin, status sosial, dan golongan, mereka memiliki hak yang sama untuk
berserikat dan berkumpul, menyatakan pendapat, menyikapi secara kritis
kebijakan pemerintah dan pejabat negara. Hak ini disebut hak politik yang
secara luas dapat langsung diaplikasikan secara kongkrit melalui pemilihan
umum.
Pemilihan umum merupakan salah satu bentuk paritisipasi politik
sebagai perwujudan dari kedaulatan rakyat, karena pada saat pemilu itulah,
rakyat menjadi pihak yang paling menentukan bagi proses politik di suatu
wilayah dengan memberikan suara secara langsung.
Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun
1945 menyatakan : “bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan
1
I
dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Amanat konstitusi tersebut
untuk memenuhi tuntutan perkembangan demokrasi yang sejalan dengan
pertumbuhan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perwujudan kedaulatan rakyat dilaksanakan melalui pemilihan umum
secara langsung sebagai sarana bagi rakyat untuk memilih wakil wakilnya.
Pemilihan umum secara langsung oleh rakyat merupakan sarana perwujudan
kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara yang demokratis
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945. Penyeleggaraan pemilihan umum secara langsung, umum, bebas,
rahasia, jujur, dan adil dapat terwujud apabila dilaksanakan oleh
penyelenggara pemilihan umum yang mempunyai integritas, profesionalitas,
dan akuntabilitas.
Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara
Pemilihan Umum yang kemudian disempurnakan melalui Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2011 dalam Pasal 1 angka (1) dikatakan bahwa Pemilihan
Umum,
selanjutnya
disingkat
Pemilu,
adalah sarana
pelaksanaan
kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas,
rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
berdasarkan
Pancasila
dan
Undang-Undang
Dasar
Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Sesuai Pasal 22 E ayat (2) UUD 1945, pemilihan umum
diselenggarakan untuk memilih Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan
Perwakilan Daerah (DPD), Presiden dan Wakil Presiden serta Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Jadi Pemilu 2014 ini ada dua serangkaian
pemilihan umum, dimana pemilihan umum, di mana Pemilu putaran pertama
memilih anggota DPR, DPD dan DPRD atau lebih dikenal dengan pemilu
legislatif kemudian Pemilu putaran ke dua yaitu memilih Presiden dan Wakil
Presiden.
Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang pemilihan umum
anggota DPR, DPD, dan DPRD dalam Pasal 5 ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa
2
I
sistem pemilu di Indonesia adalah sistem proporsional dengan daftar calon
terbuka untuk DPR, DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten/Kota dan sistem
distrik untuk memilih anggota DPD. Hal ini mendorong seluruh partai politik
muncul di Indonesia untuk berebut dalam Pemilu pada bulan April 2014.
Sedangkan partisipasi politik merupakan pengejawantahan kedaulatan
rakyat yang sangat fundamental dalam sebuah proses demokrasi. Apabila
masyarakat mempunyai partisipasi yang cukup tinggi, maka proses
pembangunan politik dan praktik demokratisasi berjalan dengan baik.
Perwujudan demokrasi di tingkat lokal salah satunya adalah dengan
melaksanakan Pemilihan Langsung Kepala Daerah (Pemilukada) di daerahdaerah.
Partisipasi merupakan salah satu aspek penting dari demokrasi. Asumsi
yang mendasari demokrasi (partisipasi) merupakan orang yang paling tahu
tentang apa yang baik bagi dirinya adalah orang itu sendiri. Karena keputusan
politik yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah menyangkut dan
mempengaruhi kehidupan warga negara maka warga masyarakt berhak ikut
serta menentukan isi keputusan yang mempengaruhi hidupnya dalam
keikutsertaan warga negara dalam mempengaruhi proses pembuatan dan
pelaksanaan keputusan politik. Kegiatan warga negara biasa dibagi dua
memepengaruhi isi kebijakan umum dan ikut menentukan pembuatan dan
pelaksana keputusan politik.
Namun tidak semua perwujudan demokrasi ini berjalan dengan lancar.
Masih banyak polemik mengenai partisipasi masyarakat di tingkat bawah.
Kecenderungan masyarakat terhadap uang (money politic), tingkat kehadiran
pemilih ke TPS, tingginya surat suara tidak sah, melek politik warga, dan
langkanya kesukarelaan politik warga merupakan sebuah fenomena yang
selalu ada pada setiap penyelenggaraan Pemilu. Fenomena demikian dapat
berdampak
pada
menurunnya tingkat
menentukan pilihan politiknya.
3
partisipasi
masyarakat
untuk
I
Partisipasi pemilih sejak tahun 1999 sampai dengan pemilu 2014
mengalami fluktuatif. Pada pemilu legislatif, penurunan partisipasi pemilih
sekitar 10% konsisten terjadi sampai pada pemilu 2009. Sementara pada
pemilu 2014 angka partisipasinya naik sebesar 5 %. Pada kasus Pilpres,
tercatat dalam pemilu 2014 pertama kalinya dalam sejarah angka
partisipasinya lebih rendah dibandingkan Pemilu Legislatif. Selain menurunnya
angka partisipasi pada pemilu, jumlah suara tidak sah juga terus mengalami
kenaikan dari 3.3 % pada Pemilu 1999 menjadi 9.7 % pada Pemilu 2004, dan
melonjak pada angka 14.4 % di Pemilu 2009.1 Di tengah tingkat partisipasi
pemilih yang meningkat, ternyata terdapat anomali pemilu dalam bentuk
suara tidak sah yang masih cukup tinggi pada pemilihan anggota legislatif
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang secara nasional mencapai 10,77 persen
atau sekitar 15.076.606 dari total suara yaitu 140.049.097 suara yang
diberikan pada pemilu legislatif yang lalu.2
Jumlah suara tidak sah pada Pemilu 2014 di Kota Mataram juga terjadi.
Dimana jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pemilu Legeslatif tahun 2014
sebanyak 292.219 pemilih. Dari jumlah tersebut Surat Suara Sah berjumlah
179.769 sedangkan suara tidak sah sebanyak 38.288. Pada Pilpres tahun 2014
suara sah mencapai 215.388, sedangkan suara tidak sah mencapai 1.455.3
Oleh karena itu, partisipasi masyarakat dalam Pemilu dan tingginya surat
suara tidak sah sangat penting untuk diteliti guna mencari akar masalah
penyebab hal tersebut dan mencari solusinya untuk perbaikan kedepan, guna
mengetahui seberapa jauh partisipasinya dalam mengawal penyelenggaraan
pemilu-pemilu selanjutnya khususnya di Kota Mataram. Kesadaran politik
yang cukup tinggi tentu sangat diharapkan. Jika partisipasi masyarakat tinggi
1
2
3
Sumber KPU RI
Laporan Penelitian Faktor-faktor Suara Tidak Sah dalam Pemilihan Anggota Legislatif DPR RI
Pemilu 2014 (LP3ES-IFES) http://www.rumahpemilu.org/.
Sumber KPUD Kota Mataram
4
I
maka kesadaran politiknya juga tinggi, namun jika partisipasi masyarakat
rendah maka kesadaran politiknya juga rendah.
Bahwa untuk mengetahui bagaimana partisipasi masyarakat dan
penyebab tingginya jumlah surat suara tidak sah yang ada di Kota Mataram
pada pemilu 2014 maka perlu diadakan penelitian mengenai hal tersebut.
Karena Kota Mataram merupakan salah satu Kota di Provinsi NTB yang
memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan kegiatan Pemilu secara serentak
dengan
daerah-daerah
lain
sesuai
dengan
Undang-Undang
demi
mensukseskan demokrasi di negeri ini.
Dari uraian di atas, penelitian ini merumuskan tiga permasalahan, yakni;
1) Bagaimana respon dan tingkat partisipasi masyarakat Kota Mataram dalam
Pemilihan Umum 2014 ?, 2) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
tingkat kehadiran pemilih dalam Pemilihan Umum 2014 di Kota Mataram ? 3)
Bagaimana perilaku pemilih menyebabkan surat suara tidak sah pada saat
Pemilihan Umum 2014 di Kota Mataram?. Dengan demikian penelitian ini
bertujuan; 1) untuk mengetahui respon dan tingkat partisipasi masyarakat
Kota Mataram dalam Pemilihan Umum 2014; 2) Untuk mengetahui faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kehadiran pemilih dalam
Pemilihan Umum 2014 di Kota Mataram; 3) Untuk mengetahui perilaku
pemilih menyebabkan surat suara tidak sah pada Pemilihan Umum 2014 di
Kota Mataram.
B. Tinjauan Teoritis
B.1. Konseptualisasi Tentang Partisipasi Politik
Partisipasi merupakan salah satu aspek penting demokrasi. Partisipasi
merupakan taraf partisipasi politik warga masyarakat dalam kegiatan-kegiatan
politik baik yang bersifat aktif maupun pasif dan bersifat langsung maupun
yang bersifat tidak langsung guna mempengaruhi kebijakan pemerintah. Karya
pakar Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada, Wahyudi Kumorotomo
5
I
mengatakan
“partisipasi adalah berbagai corak tindakan massa maupun
individual yang memperlihatkan adanya hubungan timbale balik antara
pemerintah dan warganya.”4
Lebih jauh Kumorotomo mengingatkan bahwa secara umum corak
partisipasi warga negara dibedakan menjadi empat macam, yaitu : pertama,
partisipasi dalam pemilihan (electoral participation), kedua, partisipasi
kelompok (group participation), ketiga, kontak antara warga negara dengan
warga pemerintah (citizen government contacting) dan keempat, partisipasi
warga negara secara langsung.
Linier dengan pandangan Kumorotomo, dua penggagas tentang
partisipasi politik yakni Samuel P. Hutington dan Joan Nelson dalam No Easy
Choice : Political participation in developing , mengemukakan:
“Partisipasi adalah kegiatan warga yang bertindak sebagai pribadipribadi, yang dimaksud untuk mempengaruhi pembuatan keputusan
oleh pemerintah, partisipasi bisa bersifat pribadi-pribadi atau kolektif,
terorganisir atau spontan, mantap atau sporadis, secara damai atau
dengan kekerasan, legal atau illegal, efektif atau tidak efektif.”5
Dalam prespektif yang lebih teknis Guru Besar Ilmu Politik Universitas
Airlangga yang mantan KPU RI Ramlan Surbakti mendefinisikan, partisipasi
politik sebagai kegiatan warga negara biasa dalam mempengaruhi pembuatan
dan pelaksanaan kebijakan umum dan dalam ikut menentukan pemimpin
pemerintah.6
Partisipasi politik merupakan aspek penting dalam sebuah tatanan
negara demokrasi sekaligus merupakan ciri khas adanya modernisasi politik.
Di negara-negara yang proses modernisasinya secara umum telah berjalan
dengan baik, biasanya tingkat partisipasi warga negara meningkat.
Modernisasi politik dapat berkaitan dengan aspek politik dan pemerintah.
Wahyudi Kumorotomo, Etika Administrasi Negara, Jakarta : Rajawali Press, 1999, hal. 112
Samuel P. Huntington dan Joan M. Nelson, No Easy Choice : Political Participation In Developing
Countries Cambridge, mass : Harvard University Press 1997, Hal. 3, dalam Miriam Budiarjo.
6
Arifin Rahmat, Sistem Politik Indonesia, Surabaya : Penerbit SIC, 1998, hal. 128
4
5
6
I
Partisipasi politik pada dasarnya merupakan kegiatan yang dilakukan warga
negara untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dengan tujuan
untuk mempengaruhi pengambilan keputusan yang dilakukan pemerintah7.
Sedangkan menurut Miriam Budiarjo, partisipasi politik adalah kegiatan
seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehiudpan
politk, yaitu dengan jalan memilih pimpinan negara dan secara langsung atau
tidak langsung mempengaruhi kebijakan pemerintah. 8
Dari pengertian mengenai partisipasi politik di atas maka dapat diambil
kesimpulan bahwa yang dimaksud partisipasi politik adalah keterlibatan
individu atau kelompok sebagai warga negara dalam proses politik yang
berupa kegiatan yang positif dan dapat juga yang negatif yang bertujuan
untuk berpatispasi aktif dalam kehidupan politik dalam rangka mempengaruhi
kebijakan pemerintah.
Terkait dengan perilaku politik seseorang dapat dilihat dari bentuk
partisipasi politik yang dilakukannya. Bentuk partisipasi politik dilihat dari segi
kegiatan dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Partisipasi aktif, bentuk partisipasi ini berorientasi kepada segi masukan
dan keluaran suatu sistem politik. Misalnya, kegiatan warga negara
mengajukan usul mengenai suatu kebijakana umum, mengajukan
alternatif kebijakan umum yang berbeda dengan kebijakan pemerintah,
mengajukan kritik dan saran perbaikan untuk meluruskan kebijaksanaan,
membayar pajak, dan ikut srta dalam kegiatan pemilihan pimpinan
pemerintahan.
b. Partisipasi pasif, bentuk partisipasi ini berorientasi kepada segi keluaran
suatu sistem politik. Misalnya, kegiatan mentaati peraturan/perintah,
menerima, dan melaksanakan begitu saja setiap keputusan pemerintah. 9
Selain
kedua
bentuk
partisipasi
diatas
ilmuan
politik
juga
mengidentifikasi beberapa kecenderungan perilaku politik masyarakat, yang
Sastromatmodjo, S. Partisipasi Politik, Semarang, IKIP Semarang Press, 1995, hlm. 67
Ibid. Hlm 68
9
Sudijono, Sastroadmojo, Perilaku Politik, IKIP Semarang Press, 1995, hal. 74
7
8
7
I
sering disebut sebagai perilaku apatis, sinisme, alienasi, dan anomie. Masingmasing penyebutan ini dapat dikonseptualisasikan sebagai berikut:
1. Apatis (masa bodoh) dapat diartikan sebagai tidak punya minat atau tidak
punya perhatian terhadap orang lain, situasi, atau gejala-gejala.
2. Sinisme menurut Agger diartikan sebagai “kecurigaan yang busuk dari
manusia”, dalam hal ini dia melihat bahwa politik adalah urusan yang
kotor, tidak dapat dipercaya, dan menganggap partisipasi politik dalam
bentuk apa pun sia-sia dan tidak ada hasilnya.
3. Alienasi menurut Lane sebagai perasaan keterasingan seseorang dari
politik dan pemerintahan masyarakat dan kecenderungan berpikir
mengenai pemerintahan dan politik bangsa yang dilakukan oleh orang lain
untuk oranng lain tidak adil.
4. Anomie, yang oleh Lane diungkapkan sebagai suatu perasaan kehidupan
nilai dan ketiadaan awal dengan kondisi seorang individu mengalami
perasaan ketidakefektifan dan bahwa para penguasa bersikap tidak peduli
yang mengakibatkan devaluasi dari tujuan-tujuan dan hilangnya urgensi
untuk bertindak.10
Pertanyaan yang sering muncul dan perlu dijelaskan dalam tulisan ini adalah
mengapa sebagian orang enggan berpartisipasi dalam politik?
menjawab
pertanyaan
ini
dapat
ditelusuri
karya
Untuk
Rosenberg,
yang
menyebutkan ada tiga alasan orang enggan sekali berpartisipasi politik: 11
Pertama bahwa individu memandang aktivitas politik merupakan
ancaman terhadap beberapa aspek kehidupannya. Ia beranggapan bahwa
mengikuti kegiatan politik dapat merusak hubungan sosial, dengan
lawannya dan dengan pekerjaannya karena kedekatannya dengan partaipartai politik tertentu. Kedua, bahwa konsekuensi yang ditanggung dari
suatu aktivitas politik mereka sebagai pekerjaan sia-sia. Mungkin disini
individu merasa adanya jurang pemisah antara cita-citanya dengan
realitas politik. Karena jurang pemisah begitu besarnya sehingga dianggap
tiada lagi aktifitas politik yang kiranya dapat menjembatani. Ketiga,
10
11
Michael Rush dan Althoff, Pengantar Sosiologi Politik, Jakarta : PT Rajawali, 1989, hal. 131
ibid
8
I
beranggapan bahwa memacu diri untuk tidak terlibat atau sebagai
perangsang politik adalah sebagai faktor yang sangat penting untuk
mendorong aktifitas politik. Maka dengan tidak adanya perangsang politik
yang sedemikian, hal itu membuat atau mendorong kearah perasaan
yang semakin besar bagi dorongan apati. Disini individu merasa bahwa
kegiatan bidang politik diterima sebagai yang bersifat pribadi sekali
daripada sifat politiknya. Dan dalam hubungan ini, individu merasa bahwa
kegiatan-kegiatan politik tidak dirasakan secara langsung menyajikan
kepuasan yang relative kecil. Dengan demikian partisipasi politik diterima
sebagai suatu hal yang sama sekali tidak dapat dianggap sebagai suatu
yang dapat memenuhi kebutuhan pribadi dan kebutuhan material
individu itu.
B.2. Tinjauan Umum Tentang Pemilihan Umum
Salah satu sub-bagian yang mendapat perhatian dalam pembahasan
sistem politik demokrasi adalah sistem pemilu. Karena itu, bagian ini perrlu
menjeaskan konseptualisasi tematik ini dengan dimulai dari penelaahan
tentang pemilu.
Pemilu adalah salah satu cara dalam sistem demokrasi untuk memilih
wakil-wakil rakyat atau presiden dan wakilnya yang akan duduk di lembaga
perwakilan rakyat, serta salah satu bentuk pemenuhan hak asasi warga
megara dibidang politik. Pemilu dilaksanakan untuk mewujudkan kedaulatan
rakyat. Sebab, rakyat tidak mungkin memerintah secara langsung. Karena itu,
diperlukan cara untuk memilih wakil rakyat dalam memerintah suatu Negara
selama jangka waktu tertentu. Pemilu dilaksanakan dengan menganut asas
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.
Konseptualisasi pemilu di atas telah diabstraksikan dalam UUD 1945 Bab
I Pasal 1 ayat (2) yang menyebutkan bahwa kedaulatan berada ditangan
rakyat dan dilakukan menurut Undang-Undang Dasar. Dalam demokrasi
modern yang menjalankan kedaulatan itu adalah wakil-wakil rakyat yang
ditentukan sendiri oleh rakyat. Untuk menentukan siapakah yang berwenang
mewakili rakyat maka dilaksanakan pemilihan umum. Pemilihan umum adalah
suatu cara memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk dilembaga perwakilan
9
I
rakyat serta salah satu pelayanan hak-hak asasi warga negara dalam bidang
politik.12
Lebih lanjut Ali Moertopo, pemilu adalah sarana yang tersedia bagi
rakyat untuk menjalankan kedaulatannya sesuai dengan azas yang bermaktub
dalam pembukaan UUD 1945. Senada dengan itu, Suryo Untoro,
mendefinisikan pemilu suatu pemilihan yang dilakukan oleh warga Negara
Indonesia yang mempunyai hak pilih untuk memilih wakil-wakilnya yang
duduk dalam Badan Perwakilan Rakyat.
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, pemilu dapat dimaknai
menjadi tiga macam perspektif, yakni perspektif tujuan, perspektif tingkat
perkembangan Negara dan perspektif demokrasi liberal. Ketiga makna ini
semakin memperkuat pengetahuan kita mengenai pengertian pemilu menurut
para ahli. Rakyat memang harus memahami hal semacam ini agar tidak terjadi
kekeliruan dan agar rakyat bisa ikut memantau system politik di Negara ini.
Setiap sistem pemilihan umum, yang biasanya diatur dalam peraturan
perundang-undangan, setidak-tidaknya mengandung tiga variabel pokok, yaitu
penyuaraan (balloting), distrik pemilihan (electoral district), dan formula
pemilihan.13
Secara umum Pemilu memiliki tujuan sebagai berikut; 1) Melaksanakan
kedaulatan rakyat; 2) Sebagai perwujudan hak asasi politik rakyat; 3) Untuk
memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR, DPD dan DPRD, serta memilih
Presiden dan Wakil Presiden; 4). Melaksanakan pergantian personal
pemerintah secara damai, aman dan tertib (secara konstitusional); 5)
Menjamin kesinambungan pembangunan nasional.
Sedangkan dalam praktek bernegara di Indonesia tujuan pemilu
tercantum dalam UUD 1945 Bab VII B pasal 22 E ayat (2) yang menyebutkan
12
13
Syarbaini, S. DKK, Sosiologi dan Politik, Jakarta, Galia Indonesia, 2002, hlm. 80
Douglas W. Rae, The Political Conquences of Electoral Laws, New Haven : Yale University Press,
1967, hal. 6-39
10
I
pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Presiden dan Wakil Presiden serta
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), kemudian dijabarkan dalam UU RI
Nomor 15 tahun 2011 bahwa pemilihan umum adalah sarana pelaksanaan
kedaulatan rakyat sesuai dengan amanat konstitusional yang diselenggarakan
secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Berdasarkan Pasal 22 E ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indoneisa tahun 1945, Pemilu dilaksanakan secara langsung, umum, bebas,
rahasia, jujur, dan adil.
a.
Langsung yaitu rakyat sebagai pemilih mempunyai hak untuk secara
langsung memberikan suaranya sesuai dengan kehendak hati nuraninya,
tanpa perantara.
b.
Umum, pada dasarnya semua warga negara yang memenuhi persyaratan
minimal dalam usia, yaitu sudah berumur 17 tahun atau telah pernah
kawin, berhak ikut memilih dalam pemilu. Warga negara yang sudah
berumur 21
tahun berhak dipilih dengan tanpa ada diskriminasi
(pengecualian).
c.
Bebas, setiap warga negara yang memilih menentukan pilihannya tanpa
tekanan dan paksaan dari siapapun/dengan apapun.Dalam melaksanakan
haknya setiap warga negara dijamin keamanannya, sehingga dapat
memilih sesuai dengan kehendak hati nurani dan kepentingannya.
d.
Rahasia, dalam memberikan suaranya, pemilih dijamin bahwa pilihannya
tidak akan diketahui oleh pihak manapun dan dengan apapun. Pemilih
memberikan suaranya pada surat suara dengan tidak dapat diketahui
oleh orang lain kepada siapapun suaranya akan diberikan.
e.
Jujur, dalam penyelenggaraan pemilu seitap penyelenggara/pelaksana
pemilu, pemerintah dan partai politik peserta pemilu, pengawas, dan
pemantau pemilu, termasuk pemilih serta semua pihak yang terlibat
11
I
secara tidak langsung harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan
peraturan perundang-udangan yang berlaku.
f.
Adil, berarti dalam penyelenggaraan pemilu setiap pemilih dan parpol
perserta pemilu mendapat perlakuan yang sama serta bebas dari
kecurangan pihak manapun.
Para ilmu politik mengenal bermacam-maca sistem pemilhan umum,
akan tetapi umumnya berkisar pada dua prinsip pokok, yaitu : “single member
constituency (satu daerah pemilihan memilih satu wakil ; biasanya disebut
Sistem Distrik) dan multi-member constituency (satu daerah pemilihan
memilih beberapa wakil ; biasanya dinamakan prorportional Representation
atau sistem Perwakilan Berimbang)”.14
a.
Sistem Distrik (Single-member constituency)
Sistem ini merupakan sistem pemilihan yang paling tua dan didasarkan
atas kesatuan geografis (yang biasanya disebut distrik karena kecilnya
daerah yang diliputi) mempunyai satu wakil dalam Dewan Perwakilan
Rakyat. Untuk keperluan itu daerah pemilihan dibagi dalam sejumlah
besar distrik dan jumlah wakil rakyat dalam Dewan Perwakilan Rakyat
ditentukanoleh jumlah distrik.
Dalam pemilihan umum legislatif tahun 2014, untuk anggota Dewan
Perwakilan Daerah pesertanya perseorangan menggunakan sistem distrik.
b. Sistem Perwakilan Berimbang (Multi-member constituency)
Satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil, biasanya dinamakan
proportional representation atau sistem perwakilan berimbang. Sistem ini
dimaksud untuk menghilangkan bebarapa kelemahan dari sistem distrik.
Gagasan pokok ialah bahwa jumlah kursi yang diperoleh oleh suatu
golongan atau partai adalah sesuai dengan jumlah suara yang
diperolehnya. Untuk keperluan ini diperlukan suatu pertimbangan.15
Rahman, H.A. Sistem Politik Indonesia, Yogyakarta, Garaha Ilmu, 2007, hlm. 151
Ibid. 152
14
15
12
I
Jumlah total anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditentukan atas dasar
pertimbangan dimana setiap daerah pemilih memilih sejumlah wakil
sesuai dengan banyaknya penduduk dalam daerah pemilih itu.
B.3. Tinjauan Umum Surat Suara Tidak Sah Pemilu 2014
Perbandingan suara tidak sah dalam pemilihan anggota legislatif DPR RI
antara tahun 2009 dan 2014 menunjukkan kecenderungan penurunan. Pada
pemilu 2009, suara tidak sah dalam pemilihan anggota legislatif DPR RI
mencapai 17,196,020 atau 14.39 persen dari total suara pemilih nasional,
sedangkan pemilihan anggota legislatif DPR RI, pemilu tahun 2014, jumlah
suara tidak sah mencapai 15,076,606 atau 10.77 persen dari total suara
pemilih nasional. Dengan demikian sesungguhnya telah terjadi penurunan
jumlah suara tidak sah pada pemilu 2014 sebesar 2,119,414 suara atau 3.63
persen suara dari total suara pemilih nasional.16
Pada saat pemungutan suara pemilu legislatif 2014, suara tidak sah
merupakan suatu hal yang tidak bisa dielakkan sebagai deviasi yang
sebenarnya masih dapat ditoleransi. Hal tersebut menjadi tidak biasa karena
pengamatan terhadap data-data suara tidak sah menunjukkan pola yang
relatif merata, tetap dan tidak acak. Suara tidak sah pada tingkat pemilihan
anggota legislatif nasional DPR RI, lebih tinggi dibandingkan dengan suara
tidak sah pada tingkat pemilihan anggota legislatif kabupaten (DPRD
Kabupaten).17
Secara common sense, penyebab suara sah dapat dengan mudah
dikaitkan dengan perilaku pemilih dalam memberikan hak suaranya pada saat
pemungutan suara. Dengan mengkaitkan aspek perilaku pemilih sebagai
faktor tingginya suara tidak sah, maka hulu persoalan suara tidak sah
bersumber dari apa yang mempengaruhi preferensi politik pemilih terhadap
16
17
Sumber www.KPU.go.id
Laporan Penelitian Faktor-faktor Suara Tidak Sah dalam Pemilihan Anggota Legislatif DPR RI
Pemilu 2014 (LP3ES-IFES) http://www.rumahpemilu.org/
13
I
calon, seperti tingkat pengetahuan terhadap calon sebagai hal yang paling
cepat diduga.
Dugaan tingkat pengetahuan sebagai faktor suara tidak sah dari hasil
pemungutan suara, sesungguhnya bukanlah hal yang secara independent
terbentuk dengan sendirinya. Menjadikan tingkat pengetahuan pemilih
sebagai konstributor suara tidak sah berkonsekuensi penulusuran dari aspek
lain, yaitu sosialisasi. Tema sosialisasi memiliki dua dimensi. Dimensi pertama,
yaitu sosialisasi yang terkait dengan tingkat pengetahuan masyarakat
terhadap calon anggota legislatif yang berarti hal tersebut tentang bagaimana
upaya yang dilakukan oleh para calon untuk memperkenalkan dirinya kepada
masyarakat sehingga layak untuk dipilih. Dimensi kedua, yaitu terkait dengan
sosialisasi tentang bagaimana cara masyarakat memberikan suara mereka di
tempat pemungutan suara secara benar. Pada dimensi ini menunjuk kepada
kinerja perangkat KPU dalam memberikan informasi kepada masyarakat
mengenai tatacara pemilihan.
Dengan kata lain, mencari akar persoalan yang menyebabkan suara tidak
cukupdengan menyelediki perilaku pemilih, namun juga perlu memasukkan
aspek lain, seperti (a) partai politik yang didalamnya juga termasuk calon
anggota legislatif, dan (b) kinerja aparat penyelenggara pada tingkat yang
langsung berhubungan dengan keputusan penetapan suara sah atau tidak sah
pada saat pemungutan suara dan perhitungan suara.
C. Metode Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di enam kecamatan di Kota Mataram,
yakni; Kec. Ampenan, Kec.Sekarbela, Kec. Mataram, Kec. Selaparang, Kec.
Cakra dan Kec. Sandubaya. Populasi penelitian ini adalah masyarakat yang
terdaftar di Data Pemilih Tetap pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden
tahun 2014. Sebagai representasi seluruh populasi, sampel penelitian adalah
200 pemilih dari 292.219 orang yang terdaftar dalam i Daftar Pemilih Tetap
(DPT) di enam kecamatan tersebut.
14
I
Data dikelompokkan menjadi dua, yakni data primer dan data sekunder.
Data primer adalah data yang didasarkan pada peninjauan langsung pada
objek yang diteliti untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan. Studi
lapangan yang dilakukan dengan datang langsung ke lokasi penelitian dengan
cara menyebarkan angket/kuesioner kepada responden yang dijadikan
sebagai sampel penelitian. Responden menjawab dengan memilih pilihan
jawaban yang telah disediakan dalam daftar pertanyaan. Data sekunder yaitu
dengan mencari sumber data dan informasi melalui buku-buku, jurnal,
internet dan lain-lain yang berkaitan dengan penelitian ini.
D. Hasil Penelitian
D.1. Karekteristik Sosial Kota Mataram
Penduduk sebagai subyek maupun objek pembangunan merupakan
variabel
dependen
yang
utama,
karenanya
informasi
mengenai
kependudukan menjadi sesuatu yang penting untuk dicermati. Sensus
penduduk tahun 2008 yang mencatat dimana jumlah penduduk di Kota
Mataram adalah 362.243 jiwa. Sedangkan berdasarkan data BPS tahun 2012,
jumlah penduduk kota Mataram tercatat 406.910 jiwa dengan rata-rata orang
per KK untuk masing-masing kecamatan adalah 4 5 orang per KK. Sedangkan
jumlah penduduk Kota Mataram berdasarkan Surat Keputusan KPU No.
110/Kpts/KPU/Tahun 2013 adalah 427.640 jiwa dengan jumlah masing-masing
kecamatan dalam tabel dibawah ini sebagai berikut :
Tabel 1.1: Jumlah Penduduk per-Kecamatan
No.
Kecamatan
Jumlah
1.
Ampenan
87.555
2.
Sekarbela
53.329
15
I
No.
Jumlah
Kecamatan
3.
Selaparang
72.235
4.
Mataram
79.240
5.
Sandubaya
63.538
6.
Cakranegara
71.743
Selain sebagai ibukota provinsi, Mataram juga telah menjadi pusat
pemerintahan, pendidikan, perdagangan, industri dan jasa, serta saat ini
sedang dikembangkan untuk menjadi kota pariwisata.
Suku Sasak merupakan suku asli sekaligus suku bangsa mayoritas
penghuni Kota Mataram. Mataram juga menjadi tempat tinggal berbagai suku
bangsa di Indonesia termasuk suku Bali, Tionghoa dan Arab. Islam adalah
agama mayoritas penduduk Mataram. Agama lain yang dianut adalah Kristen,
katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.
Peningkatan sumber daya manusia di Kota Mataram diarahkan maju
dan modern yang tetap berakar pada budaya dan religi. Oleh karenanya
fasilitas pendidikan di Kota Mataram menjadi hal yang terpenting dimana
ketersediaan saranan pendidikan cukup memadai, di Kota ini terdapat
beberapa perguruan tinggi baik Negeri maupun Swasta. Perguruan Tinggi
Negeri yang cukup terkenal di kota ini adalah Universitas Mataram yang sering
disingkat Unram. Selain itu terdapat juga Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Mataram, Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri (STPDN) untuk wilayah
Nusa Tenggara, ada Universitas HIndu Negeri "Gede Puja" Mataram.
Sementara Perguruan Tinggi Swasta diantaranya adalah Universitas AlAzhar (Unizar), Universitas Muhammadiyah Mataram, IKIP Mataram,
Universitas NTB, Universitas 45 Mataram, Universitas Saraswati, Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Mataram, STIE Mataram, dan berbagai macam
akademi-akademi atau perguruan tinggi lainnya. Dengan jumlah perguruan
tinggi yang seluruhnya ada di Kota Mataram adalah 22 buah.
16
I
D.2. Tingkat Kehadiran Pemilih
Dalam pemiu legislatif Tahun 2014 jumlah pemilih yang terdaftar dalam
pemilih tetap di Kota Mataram sebanyak 289.799 orang yang terdiri dari
pemilih Laki-laki yaitu sebanyak 140.515 orang dan Pemilih perempuan yaitu
sebanyak 149.284 orang. Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam pemilih
per-kecamatan dijelaskan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1.2: DPT Pemilu Legislatif tahun 2014
Jumlah
Keluruhan
1
Ampenan
10
2
Cakranegara
10
3
Mataram
9
4
Sandubaya
7
5
Sekarbela
5
6
Selaparang
9
Jumlah
50
Sumber: KPU Kota Mataram
No
Kecamatan
Jumlah
TPS
205
164
187
147
123
171
997
Jumlah Pemilih
L
P
L+P
28.805
31.126
59.931
22.121
23.745
45.866
26.348
27.982
54.330
20.910
21.884
42.794
17.103
17.727
34.830
24.751
26.162
50.913
140.038 148.626 288.664
Data di atas memperlihatkan bahwa jumlah DPT Kota Mataram
288.664, dengan komposisi pemilih laki-laki dengan 140,038 pemilih Laki-laki
dan 148,626 pemilih perempuan. Pemilih tersebut tersebar di 997 TPS dengan
50 Kelurahan. Dari keseluruhan pemilih tersebut, setelah pemungutan suara
berlangsung, Nampak bahwa surat suara sah berjumlah 179.769 suara
sedangkan suara tidak sah sebanyak 38.288 suara. Artinya dari jumlah total
DPT yakni 288.644 partisipasi masyarakat sebanyak 218.057 (suara sah
179,769 + suara tidak sah 38.288) atau 75,57% sedangkan jumlah yang tidak
menggunakan hak pilihnya sejumlah 70,587 atau 24,45%
Secara kuantitatif data di atas memperlihatkan fenomena sisi teknis
pemilu yang menerangkan angka partisipasi pemilih belum simetris dengan
angka keterampilan pemilih menggunakan hak pilihnya. Meskipun angka
partisipasi pemilih cukup tinggi (75,57%) namun jumlah surat suara tidak sah
juga sangat tinggi (24,45%). Sehingga data ini dapat dibaca kedalam dua
makna,
yakni;
(1)
keterampilan
masyarakat
Kota
Mataram
dalam
menggunakan hak pilihnya masih rendah; (2) akibat keterampilan yang rendah
17
I
24,45% masyarakat yang menggunakan hak pilihnya tidak memiliki nilai positif
untuk tidak disebut pemilih golput.
Pemilu tahun 2014 mengenal bebarapa jenis pemilih yaitu Daftar Pemilih
Tetap (DPT), Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), Daftar Pemilih Khusus (DPK)
dan Daftar Pemilih Khusus Tambahan (DPKTb) (Penggunaan KTP atau
indentitas lain lain atau paspor). Daftar pemilih tetap yaitu pemilih yang
ditetapkan oleh KPU setelah melakukan pendataan dan diumumkan.Kemudian
Daftar Pemilih Tambahan yaitu pemilih yang terdaftar setelah pengumuman
DPT sehingga dia masuk tambahan. Kemudian Daftar Pemilih Khusus adalah
mereka yang pindah memilih dengan menggunakan formulir A5. Dan terakhir
adalah Daftar Pemilih Khusus Tambahan adalah mereka yang menggunakan
KTP atau identitas lainnya meskipun tidak terdaftar dalam tiga kategori daftar
pemilih di atas.
Dalam pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 KPU Kota
Mataram, mencatat jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT sebanyak
292.219 orang yang terdiri dari pemilih laki-laki 141.913 orang dan pemilih
perempuan 150.306 orang. Jumlah DPTb 665 orang yang terdiri dari pemilih
laki-laki 333 orang dan pemilih perempuan 332 orang. Pemilih terdaftar dalam
DPK sebesar 984 orang yang terdiri dari pemilih laki-laki 505 orang dan pemilih
perempuan 479 orang. DPKTb /pengguna KTP atau identitas lain atau paspor
9.694 orang yang terdiri dari pemilih laki-laki 4.321 orang dan pemilih
perempuan 5.373 orang. Total dari semua pemilih yang terdaftar dalam semua
kategori itu adalah 303.562 orang yang terdiri dari laki-laki 147.072 orang dan
pemilih perempuan sebanyak 156.490 orang.
Yang menarik adalah partisipasi pemilih pada pemilu presiden menurun
disbanding pemilu legislative. Dari seluruh kategori pemilih (DPT, DPTb, DPK
dan DPKTb) yang berjumlah 303.562 orang, jumlah pemilih yang
menggunakan hak pilihnya sebanyak 216.843 orang atau 71,44% dan yang
tidak menggunakan hak pilihnya 86.719 atau 28,56%. Jumlah surat suara sah
adalah 215.508 dan suara tidak sah 1.435 suara.
18
I
D.3. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakhadiran pemilih di TPS dalam
kasus pemilu Kota Mataram dapat di klasifikasikan kedalam dua kelompok
besar yaitu faktor internal pemilih dan faktor ekternal. Faktor internal adalah
factor yang bersumber dari diri si pemilih sendiri, sedangkan ekternal adalah
faktor dari luar dirinya. Secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut ini
sebagai berikut :
Tabel 1.3: Faktor Yang Mempengaruhi Ketidakhadiran Pemilih
No
1
2
3
Internal
Teknis
Pekerjaan
-
Eksternal
Administratif
Sosialisasi
Politik
a. Faktor Internal
Dari wawancara mendalam yang dilakukan, penelitian ini
menemukan dua faktor internal yang mempengaruhi ketidakhadiran
pemilih di TPS, yakni alasan teknis dan alasan pekerjaan. Alasan teknis
adalah adanya kendala yang bersifat teknis yang dialami oleh pemilih
sehingga menghalanginya untuk menggunakan hak pilih. Seperti pada saat
hari pencoblosan pemilih sedang sakit, pemilih sedang ada kegiatan yang
lain serta berbagai hal lainnya yang sifatnya menyangkut pribadi pemilih.
Kondisi itulah yang secara teknis membuat pemilih tidak datang ke TPS
untuk menggunakan hak pilihnya.
Faktor pekerjaan adalah pekerjaan sehari-hari pemilih. Faktor
pekerjaan pemilih ini dalam pemahaman peneliti memiliki kontribusi
terhadap jumlah orang yang tidak memilih. Sebagian besar penduduk Kota
Mataram bekerja di sektor informal, dimana penghasilanya sangat terkait
dengan intensitasnya bekerja. Banyak dari sektor informal yang baru
mendapatkan penghasilan ketika mereka bekerja, tidak bekerja berarti
tidak ada penghasilan.
19
I
Maka dalam pemahaman responden penelitian, faktor pekerjaan cukup
singifikan pada pada factor internal membuat pemilih untuk tidak memilih.
Pemilih dalam kondisi seperti ini dihadapkan pada dua pilihan
menggunakan hak pilih yang akan mengancam berkurang yang
penghasilannya atau pergi bekerja dan tidak memilih.
b. Faktor Eksternal
Faktor ektenal merupakan faktor yang berasal dari luar yang
mengakibatkan pemilih tidak menggukan hak pilihnya dalam pemilu. Ada
tiga yang masuk pada kategori ini menurut pemilih yaitu aspek
administratif, sosialisasi dan politik.
1. Aspek Administrasi
Faktor adminisistratif adalah faktor yang berkaitan dengan
aspek
adminstrasi
yang
mengakibatkan
pemilih
tidak
bisa
menggunakan hak pilihnya. Diantaranya tidak terdata sebagai pemilih,
tidak
mendapatkan
kartu
pemilihan
tidak
memiliki
identitas
kependudukan (KTP). Hal-hal administratif seperti inilah yang
membuat pemilih tidak bisa ikut dalam pemilihan. Pemilih tidak akan
bisa menggunakan hak pilih jika tidak terdaftar sebagai pemilih. Kasus
pemilu legislatif 2009 adalah buktinya banyaknya masyarakat
Indonesia yang tidak bisa ikut dalam pemilu karena tidak terdaftar
sebagai pemilih.
Faktor berikut yang menjadi penghalang dari aspek administrasi
adalah permasalahan kartu identitas. Masih ada masyarakat tidak
memilki KTP. Jika masyarakat tidak memiliki KTP maka tidak akan
terdaftar di DPT (Daftar Pemimilih Tetap) karena secara administtaif
KTP yang menjadi rujukkan dalam mendata dan membuat DPT. Maka
masyarakat baru bisa terdaftar sebagai pemilih menimal sudah tinggal
6 bulan di satu tempat.
20
I
2. Aspek Sosialisasi
Sosialisasi atau menyebarluaskan pelaksanaan pemilu di
Indonesia sangat penting dilakukan dalam rangka memenimalisir
golput. Hal ini di sebabkan intensitas pemilu di Indonesia cukup tinggi
mulai dari memilih kepala desa, bupati/walikota, gubernur pemilu
legislatif dan pemilu presiden hal ini belum dimasukkan pemilihan yang
lebih kecil RT/RW.
Kondisi lain yang mendorong sosialisi sangat penting dalam
upaya meningkatkan partisipasi politik masyarakat adalah dalam setiap
pemilu terutama pemilu di era reformasi selalu diikuti oleh sebagian
peserta pemilu yang berbeda. Pada Pemilu 1999 diikuti sebanyak 48
partai politik, pada pemilu 2004 dikuti oleh 24 partai politik, pemilu
2009 dikuti oleh 41 partai politik nasional dan 6 partai politik lokal di
Aceh sedangkan pada Pemilu 2014 diikuti oleh 12 partai politik
nasional dan 3 partai politik lokal di Aceh. Kondisi ini menuntut
perlunya sosialisasi terhadap masyarakat. Permasalahan berikut yang
menuntut perlunya sosialisasi adalah mekanisme pemilihan yang
berbeda antara pemilu sebelum reformasi dengan pemilu sebelumnya.
Dimana pada era orde baru hanya memilih lambang partai sementara
sekarang sekalian memilih lambang juga harus memilih nama salah
satu calon di partai tersebut. Perubahan yang signifikan adalah pada
pemilu 2009 dan 2014.
3. Aspek Politik
Faktor politik adalah alasan atau penyebab yang ditimbulkan
oleh aspek politik masyarakat tidak mau memilih. Seperti ketidak
percaya dengan partai, tak punya pilihan dari kandidat yang tersedia
atau tak percaya bahwa pileg/pilres akan membawa perubahan dan
perbaikan. Kondisi inilah yang mendorong masyarakat untuk tidak
menggunakan hak pilihnya.
21
I
Stigma politik itu kotor, jahat, menghalalkan segala cara dan
lain sebagainya memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap
politik sehingga membuat masyarakat enggan untuk menggunakan hak
pilih. Stigma ini terbentuk karena tabiat sebagian politisi yang masuk
pada kategori politik instan. Politik dimana baru mendekati masyarakat
ketika akan ada agenda politik seperti pemilu. Maka kondisi ini
meruntuhkan kepercayaan masyarakat pada politisi.
Faktor lain adalah para politisi yang tidak mengakar, politisi
yang dekat dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Sebagian politisi lebih
dekat dengan para petinggi partai, dengan pemegang kekuasaan.
Mereka lebih menngantungkan diri pada pemimpinnya di bandingkan
mendekatkan diri dengan konstituen atau pemilihnya. Kondisi lain
adalah tingkah laku politisi yang banyak berkonflik mulai konflik
internal partai dalam mendapatkan jabatan strategis di partai,
kemudian konflik dengan politisi lain yang berbeda partai. Konflik
seperti ini menimbulkan anti pati masyarakat terhadap partai politik.
Idealnya konflik yang di tampilkan para politisi seharusnya tetap
mengedepankan etika politik (fatsoen).
D.4. Respon Pemilih tentang Pemilu
Ketika penelitian ini mengajukan pertanyan seputar pemilu kepada
responden, maka ditemukan respon mereka sebagaimana tampak pada tabel
di bawah.
Tabel 1.4: Tingkat Respon Pemilih Tentang Pemilu
Kecamatan
No
RESPON terhadap pertanyaan
Jumlah
Amp
1.
Mtrm
Slpg
Skrbl
Cakra
35
22
28
27
Sdby
Apakah Anda terdaftar sebagai
pemilih dalam pemilu 2014?
a. Sudah
45
22
33
190
I
Kecamatan
No
RESPON terhadap pertanyaan
Jumlah
Amp
2.
Cakra
Sdby
3
0
0
0
0
3
c. Tidak tahu
0
2
3
2
0
0
7
4
5
2
0
0
0
11
41
35
23
30
27
33
189
a. Waktu pelaksanaan
22
6
9
15
9
25
86
b. Calon-calon yang akan dipilih
39
22
10
19
25
25
140
c. Cara menggunakan hak pilih
23
7
8
3
8
10
59
0
3
2
4
0
1
10
a. Waktu pelaksanaan
21
15
4
8
9
8
65
b. Calon-calon yang akan dipilih
27
19
19
11
25
20
121
c. Cara menggunakan hak pilih
17
5
7
4
8
20
61
4
4
0
5
0
6
19
6
4
1
2
7
9
29
17
18
18
19
19
31
122
18
13
6
4
11
1
53
14
7
0
9
12
0
42
0
0
0
0
0
0
0
Apakah Anda diarahkan oleh
tokoh untuk memilih parpol/calon
tertentu pada pemilu 2014?
Informasi apa saja yang perlu
Anda ketahui terkait pemilu 2014
(boleh lebih dari satu jawaban)?
d. Lainnya,......
Informasi apa saja yang Anda
ketahui terkait dengan pemilu
2014? (boleh lebih dari satu
jawaban)
d. Lainnya,......
5.
Skrbl
0
b. Tidak
4.
Slpg
b. Belum
a. Ya
3.
Mtrm
Dari manakah Anda memperoleh
informasi mengenai pemilu 2014?
(boleh lebih dari satu jawaban)
a.
b.
c.
d.
e.
Media cetak (surat kabar,
majalah)
Media elektronik (TV, radio,
internet)
Media pendukung (poster,
brosur, spanduk, binner,
baliho)
Sosialisasi langsung dari
KPU
Lainnya,....
23
I
Kecamatan
No
RESPON terhadap pertanyaan
Jumlah
Amp
6.
7.
8.
9.
11.
Slpg
Skrbl
Cakra
Sdby
Apa pendapat Anda tentang jarak
tempuh TPS dengan tempat
tinggal Anda pada pemilu 2014?
a.
Jauh
14
8
2
2
5
2
33
b.
Dekat
31
32
23
28
22
31
167
45
32
19
29
25
30
180
Apa indentitas yang Anda
gunakan untuk memilih dalam
pemilu 2014?
a.
Kartu Pemilih
b.
KTP
6
4
1
2
3
16
c.
Keterangan Domisili
2
1
0
0
0
3
d.
Lainnya,......
0
0
1
0
0
0
1
43
34
23
27
25
23
175
2
6
2
3
2
10
25
6
3
0
3
7
11
30
19
15
13
20
19
32
118
12
13
6
5
4
2
42
23
7
11
7
17
0
65
Apakah Anda mengetahui tata
cara pencoblosan pada pemilu
2014
a.
Ya
b.
Tidak
Dari mana Anda mengetahui tata
cara pencoblosan pada Pemilu
2014?
a.
10.
Mtrm
Media cetak (surat kabar,
majalah)
b. Media elektronik (TV, radio,
internet)
c. Media pendukung (poster,
brosur, spanduk, binner,
baliho)
d. Sosialisasi langsung dari
KPU
Apakah dilakukan peragaan tata
cara pencoblosan oleh panitia
sebelum waktu pencoblosan
dimulai pada Pemilu 2014?
a.
Ya
35
36
18
28
23
20
160
b.
Tidak
10
4
7
2
4
13
40
43
36
24
30
27
33
193
2
4
1
0
0
0
7
Apakah Anda datang ke Tempat
Pemungutan Suara (TPS) atau
Panitia yang mendatangi Anda
pada Pemilu 2014?
a.
Datang sendiri ke TPS
b.
Panitia yang datang ke .....
karena.......
24
I
Kecamatan
No
12.
13.
14.
15
16.
RESPON terhadap pertanyaan
Mtrm
Slpg
Skrbl
Cakra
Sdby
a. Ya
20
39
19
25
18
6
127
b. Tidak
25
1
6
5
9
27
73
1
13
0
0
0
1
15
44
27
25
30
27
32
185
45
40
25
30
27
32
199
0
0
0
0
0
1
1
a. Ya
24
6
8
8
8
15
69
b. Tidak
21
34
17
22
19
18
131
9
12
5
6
7
23
62
Apakah Anda dibacakan atau
diberi tahu terlebih dahulu
sebelum menentukan pilihan pada
Pemilu 2014?
Setelah dibacakan apakah Anda
diarahkan untuk menentukan
pilihan terhadap parpol/calon
tertentu atau diputuskan sendiri
pada Pemilu 2014?
a.
Diarahakan
b.
Keputusan Sendiri
Apakah Anda sendiri yang
melakukan pencoblosan atau
memandatkan kepada panitia
pada Pemilu 2014?
a.
Sendiri
b.
Dimandatkan kepada panitia
Apakah terjadi anterian panjang di
TPS pada saat Anda melakukan
pencoblosan pada Pemilu 2014?
Kesulitan apa yang Anda temukan
pada saat pencoblosan pada
Pemilu 2014? (boleh lebih dari
satu jawaban)
a.
Surat Suara lebih dari satu
b.
Parpol yang banyak
19
14
16
17
15
24
105
c.
Nama calon yang tidak
disertai dengan poto calon
Lainnya
......................................
26
17
8
11
8
5
75
3
1
2
1
37
35
21
28
21
26
168
8
5
4
2
6
7
32
d.
17.
Jumlah
Amp
7
Apakah Anda membuka
keseluruhan atau sebagian surat
suara sebelum dicoblos pada
Pemilu 2014?
a.
Membuka keseluruhan
b.
Hanya membuka sebagian
saja
25
I
Kecamatan
No
RESPON terhadap pertanyaan
Jumlah
Amp
16.
17
13
12
14
22
93
b.
Satu nama caleg saja
23
14
10
14
11
18
90
7
2
2
2
5
8
26
0
0
0
2
0
0
36
38
23
26
23
32
178
9
2
2
4
4
1
22
3
0
3
0
0
2
8
42
40
22
30
27
31
192
8
3
4
0
0
8
23
14
0
18
0
0
6
38
5
6
2
13
0
2
28
40
34
23
17
27
31
172
Lebih dari satu nama caleg
pada partai yang sama
d. Lebih dari satu nama caleg
pada partai yang berbeda
Apakah ukuran besarnya alat
pencoblosan sesuai dengan
besarnya kotak pencoblosan pada
surat suara pada Pemilu 2014?
Apakah Anda menemukan surat
suara dobel pada Pemilu 2014 ?
a.
Ya
b.
Tidak
Apakah Anda melaporkan
penemuan surat suara yang dobel
tersebut kepada panitia?
b. Tidak
24.
Sdby
15
a. Ya
23.
Cakra
Gambar parpol saja
b. Terlalu Besar
22.
Skrbl
a.
a. Sesuai
21.
Slpg
Dari point di bawah ini yang mana
Anda coblos pada Pemilu 2014?
c.
19.
Mtrm
Apakah Anda mengalami
kesulitan pada saat memasukkan
Surat Suara ke dalam kotak suara
pada Pemilu 2014 ?
a.
Ya
b.
Tidak
Apa jenis kesulitan yang Anda
alami pada saat memasukkan
kertas Surat Suara ke dalam
kotak suara pada Pemilu 2014?
(jawaban boleh lebih dari satu)
a.
Surat Suara terlalu besar
14
8
7
6
0
1
36
b.
Lubang kotak suara terlalu
sempit
Surat suara banyak
10
12
2
3
1
3
31
14
17
12
20
25
3
91
3
3
3
1
1
2
13
c.
d.
Lainnya...................................
......
26
I
Dari tabel di atas terlihat bahwa respon masyarakat
terhadap pemilu cukup positif. Ditemukan dua faktor yang menyebabkannya,
sebagai berikut:
Data Hasil Olahan
1. Tingkat pengetahuan dan partisipasi masyarakat Kota Mataram dalam
pemilu yang cukup tinggi. Pengetahuan dan partisipasi baik atas
pengetahuan yang didapatkan secara autodidak melalui media misalnya
maupun melalui sosialisasi yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan
Umum (KPU). Kepastian sebagai pemilih tetap misalnya dari 200
responden yang ada yang mengetahui dirinya terdaftar sebanyak 190
(95%), belum terdaftar 3 (0,15%), dan yang belum mengetahui hanya 7
(0,35%). Pada tingkat kesadaran politik kecenderungan pengaruh dari luar
tidak signifikan merubah pilihan dalam menggunakan hak suaranya 94,5%
menyatakan tidak diarahkan, dan hanya 0,5% yang menyatakan
diarahkan. Sementara itu terkait dengan informasi yang paling banyak
diperlukan oleh para responden adalah calon-calon yang akan mereka
pilih mencapai 70% setelah itu waktu pelaksanaan, cara menggunakan
hak pilih, dan lainnya. Intensitas pengunaan media cetak dan elektronik
sebagai sarana sosialisasi penyelenggara pemilu dalam hal ini oleh KPU
cukup signifikan dirasakan dibanding dengan secara langsung yang
terkadang tempat, waktu, pesertanya terkadang terbatas. Media
elektronik misalnya 61%, media pendukung 26% sedangkan sosialisasi
langsung oleh KPU 21%.
2. Efektivitas sosialisasi yang dilakukan oleh KPU, termasuk intensitas
penggunaan media dalam hal memberikan informasi dan simulasisimulasi pemungutan suara telah memberikan dampak signifikan bagi
pemilih. Dari 200 responden 59% mendapatkan informasi dari media,
32,5% informasi dari KPU secara langsung. Sementara itu peragaan dan
pembacaan/pemberitahuan berulang-ulang pada saat pemungutan suara
juga sangat penting untuk tetap dilakukan. Terhadap peragaan tersebut
80% menjawab diperagakan, 20% menjawab tidak diperagakan. 63%
menjawab dibacakan dan 33% menjawab tidak.
27
I
D.5. Faktor Penyebab Surat Suara Tidak Sah
Penelitian ini menemukan faktor-faktor yang menyebabkan suara tidak
sah kedalam tiga aspek, (1) faktor suara tidak sah yang bersumber dari aspek
penyelenggara, (2) faktor suara tidak sah yang bersumber dari aspek perilaku
pemilih, (3) faktor suara yang dipengaruhi oleh peran partai politik adalah
sebagai berikut
1.
Aspek Penyelenggara
Kapasitas tentang kepemiluan merupakan suatu hal yang urgent bagi
penyelenggara pemilu, terutama pada tingkat ad-hoc, karena keberadaan
mereka merupakan garis pertama dalam keputusan-keputusan terhadap
hasil pemilu, seperti penetapan suara sah dan tidak sah. Kesalahan
keputusan atas penetapan hasil pemilu, seperti sah atau tidaknya suara pada
waktu perhitungan akan berimplikasi terhadap penetapan hasil pemilu pada
rentang yang lebih luas. Bekal kapasitas kepemiluan bagi penyelenggara
pemilu pada tingkat adhoc, terutama KPPS akan membuat kualitas pemilu
menjadi lebih baik. Bimbingan teknis (Bimtek) kepemiluan telah dilakukan
KPU dan jajaran dibawahnya secara berjenjang/ hirarki, mulai dari tingkat
KPU Provinsi, KPU Kabupaten, PPK, PPS sampai dengan KPPS. Untuk lebih
memperkuat kapasitas penyelenggara di tingkat ad hoc, KPU menerbitkan
buku panduan KPPS, yang didalamnya juga memuat materi tentang tata-cara
mencoblos bagi pemilih yang hasilnya dapat dinilai sah atau tidak sah.
Kualitas SDM dalam perekrutan anggota KPPS juga menentukan
kapasitas penyelenggara pemilu. Sebagian besar PPS mengaku kesulitan
merekrut anggota KPPS yang memiliki kemauan dan kemampuan sebagai
KPPS sebagaimana yang diamanatkan dalam aturan tertulis KPU. Di tingkat
pengawas pemilu, tidak berimbangnya jumlah Petugas Pengawas Lapangan
(PPL) dibandingkan dengan jumlah TPS berimplikasi kepada tidak
maksimalnya fungsi PPL sebagai mitra kerja PPS dan KPPS dalam mengawal
proses pemungutan dan penghitungan suara di tingkat TPS.
28
I
Pemahaman suara tidak sah dari penyelenggara pemilu pada tingkat
adhoc juga menjadi salah satu penyebab juga tingginya surat suara tidak sah.
Pengadministrasian hasil suara pemilu legislatif (Pileg) dicatat dalam sertfikat
rekapitulasi perhitungan suara mulai dari tingkat KPPS hingga KPU Provinsi.
Di dalam sertifikat termuat 3 jenis kolom yang harus diisikan oleh
petugas/penyelenggara pemilu pada setiap tingkatan, yaitu : kolom I adalah
kolom Data Pemilih dan Penggunaan Hak Pilih, kolom II adalah kolom Data
Penggunaan Hak Suara, dan kolom III adalah kolom Suara Sah dan Tidak Sah.
Dalam hal suara tidak sah, KPU telah memberikan petunjuk mengenai surat
suara yang dinilai sah dan tidak sah berdasarkan cara mencoblos. Terdapat
15 poin cara mencoblos yang dinilai sah dalam memberikan suara dan 4 poin
cara mencoblos yang menyebabkan suara tidak sah. Keempat poin tersebut
sebagai berikut :
No
Cara Mencoblos Tidak Sah Surat Suara Pemilu Legislatif 2014
1
Tanda coblos pada kolom yang memuat nomor urut, tanda gambar,
dan nama Partai Politik, Sedangkan tanda coblos calon terletak
pada partai politik yg berbeda, suaranya dinyatakan TIDAK SAH
2
Tanda coblos terletak hampir mengenai garis/diluar kolom pada
kolom yang memuat nomor urut, tanda gambar, dan nama Partai
Politik, suaranya dinyatakan TIDAK SAH
3
Tanda coblos terletak diantara kolom Partai Politik, suaranya
dinyatakan TIDAK SAH
4
Tanda coblos pada kolom yang memuat nomor urut, tanda gambar
dan nama Partai Politik, DAN tanda coblos pada kolom yang
memuat nomor urut dan nama calon, SERTA ada tanda coblos
diluar kolom, suaranya dinyatakan TIDAK SAH
Sumber : Buku Panduan KPPS, Pemilu Legislatif 2014
Penjelasan KPU mengenai surat suara tidak sah adalah dalam kerangka
tata-cara pencoblosan, karena memang sebagai hal yang paling mudah
dijelaskan untuk mengantisipasi kesalahan pada tingkat pencoblosan maupun
29
I
pada tingkat penulisan hasil. Kesalahan yang bersumber dari kesalahan
pencatatan oleh petugas (human error) dinilai akan dapat terdeteksi melalui
proses pencatatan dan pendokumentasian rekapitulasi hasil perhitungan
suara pemilu legislative yang dilakukan secara berjenjang.
2. Aspek Perilaku Pemilih
Sejak pemilu dilaksanakan dengan cara masyarakat memilih langsung
calon legislatif maupun sejak dilakukan pemilihan langsung terhadap presiden
dan wakil presiden sejak tahun 2004 di berbagai tingkatan, telah membentuk
kesadaran politik masyarakat yang cukup baik untuk menentukan pilihan pada
saat pemilu. Dibalik suara tidak sah, sesungguhnya mengimplikasikan
kesadaran politik pemilih yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari perilaku
partai politik. Dengan kata lain, menganalisa fenomena suara tidak sah masih
sah saja tinggi mulai dari pemilu tahun 2009, kiranya perlu melihat perilaku
partai politik dalam melakukan pendekatan politik ke masyarakat.
Pada pemilu legislatif dan presiden yang lalu, ketika mendatangi TPS
masyarakat cenderung mengatakan “negara minta milih, kita milih”, atau
“yang penting menggugurkan kewajiban”. Menggaris bawahi ungkapan “yang
penting menggugurkan kewajiban” merupakan ungkapan yang dapat dilihat
dari dua perspektif dan konteks, yaitu (1) sikap yang skeptis terhadap pemilu,
dan (2) sikap imbal balik dari sesuatu yang mereka terima. Sikap skeptis
terhadap
pemilu
merefleksikan
kesadaran
yang
sesungguhnya
mempertanyakan pengaruh pemilu terhadap kehidupan mereka, karena
pemilu lebih dilihat dalam kerangka kewajiban warga negara daripada sebagai
hak. Sehingga kedatangan mereka ke TPS lebih sebagai bentuk kepatuhan
sebagai warga negara, daripada sebagai bentuk kesadaran untuk menyalurkan
aspirasi politik dengan memilih calon anggota lagislatif. Sedangkan yang kedua
merupakan bentuk sikap yang lahir dari kesadaran penuh atas imbal balik dari
pemberian yang diterima oleh masyarakat dari tim sukses calon anggota
30
I
legislatif maupun tim sukses calon presiden yang menuntut komitmen untuk
memilih calon anggota legislatif tertentu yang diminta.
Dalam kontek suara tidak sah, sikap skeptis terlihat dari adanya blanko
surat suara yang tidak dicoblos, meski dimasukkan dalam kotak suara, sehigga
tidak dapat dihitung dan dinyatakan tidak sah. Demikian pula tidak dikenal
maka tidak dipilih merupakan ungkapan yang dapat memberikan deskripsi
mengenai satu diantara penyebab fenomena suara tidak sah. Kondisi ini
menjadi wajar karena kurangnya sosialisasi calon DPD, DPR RI, DPRD Provinsi
dan bahkan DPRD Kota kurang tedengar atau dapat dikatakan sama sekali
tidak ada yang sampai kepada pemilih tersebut, walaupun fhoto calon
tersebut tersebar dimana-mana, akan tetapi mesosialisasikan dirinya kepada
pemilih yang masih sangat minim.
Adapun suara tidak sah yang disebabkan oleh ketidaktahuan pemilih
mengenai tata cara pencoblosan, mungkin saja terjadi, terutama untuk
pemilih usia lanjut meskipun jumlahnya relatif lebih sedikit. Sedikitnya
sosialisasi yang dilakukan oleh caleg DPD, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD
Kota membuat sebagian besar pemilih tidak memiliki pengetahuan tentang
profil calon yang berkonsekuensi logis terhadap rendahnya tingkat keinginan
untuk mencoblos kertas suara DPR. Situasi ini terjadi di semua lokasi studi di
kecamatan.
Terlebih,
calon
anggota
legislatif
secara
etnis
tidak
merepresentasikan wilayah daerah pemilihannya.
Modus suara tidak sah lainnya adalah terdapat coblosan ganda pada
kolom yang berbeda. Perilaku mencoblos ganda dapat dikategorikan karena
dua hal: (1) dimotivasi oleh adanya pemberian uang atau barang dari para
caleg agar mereka memilih para caleg tersebut, (2) faktor kesalahan
pencoblosan, yang mana pada saat pencoblosan, surat suara tidak dibuka
secara benar, sehingga semua kolom tercoblos yang menyebabkan lubang
coblosan lebih di satu kolom, dan (3) karena masyarakat lebih kenal atau lebih
31
I
menyukai partai daripada caleg sehingga mereka terdorong lebih memilih
caleg dari partai yang berbeda.
3. Aspek Peran Partai Politik
Sedangkan terkait dengan aspek peran partai politik, sosialisasi
menjadi kata kunci dalam proses pemilihan anggota legislatif 2014. Sosialisasi
yang dilakukan baik oleh partai maupun caleg sangat menentukan bagi
masyarakat dalam menentukan pilihan politik mereka pada saat pemungutan
suara.
Dalam konteks ini, sosialisasi calon anggota legislatif (caleg) DPD, DPR
RI, DPRD Provinsi, DPRD Kota dirasa kurang intensif bahkan tidak ada sama
sekali. Sosialisasi calon anggota legislatif dengan cara langsung mendatangi
masyarakat, baik yang dilakukan oleh calon anggota legislatif itu sendiri, baik
yang dilakukan oleh tim sukses atau partai politik, lebih intensif dilakukan oleh
calon anggota legislatif ditingkat kabupaten. Sosialisasi caleg DPD, DPR RI,
DPRD Provinsi, DPRD Kota lebih cenderung dilakukan melalui media luar ruang
yang lebih bersifat impersonal, meski menampilkan fhoto dan nama, namun
masyarakat tidak pernah bisa mengenal profil caleg DPD, DPR RI, DPRD
Provinsi, DPRD Kota yang akan dikenal secara dekat.
Minimnya sosialisasi yang dilakukan oleh calon anggota legisatif (caleg)
DPD, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kota merupakan hal yang turut
mempengaruhi suara tidak sah. Sebab pada saat pemungutan suara, pemilih
cenderung membiarkan surat suara DPD, DPR RI, DPRD Provinsi dan bahkan
DPRD Kota tidak dicoblos atau dicoblos dengan cara tidak tepat, seperti coblos
ganda di kolom yang berbeda. Sosialisasi oleh para calon aggota legislatif
(caleg) penting dilakukan untuk memberikan pengetahuan terhadap para
pemilih, sehingga memiliki preferensi untuk memilih calon yang sesuai dengan
aspirasi politik mereka. Minimnya sosialisasi dinilai menyebabkan pemilih
tidak mencoblos caleg DPR, membiarkannya kosog, meskpiun demikian tetap
32
I
dimasukkan dalam kotak suara, sehingga suara yang diberikan menjadi tidak
sah.
33
I
Daftar Pustaka
Arifin Rahmat, Sistem Politik Indonesia, Surabaya : Penerbit SIC, 1998
Buku Putih Sanitasi, Gambaran Umum Kota Mataram, Pemerintah Kota mataram
tahun 2009
Douglas W. Rae, The Political Conquences of Electoral Laws, New Haven : Yale
University Press, 1967
Laporan Penelitian Faktor-faktor Suara Tidak Sah dalam Pemilihan Anggota
Legislatif DPR RI Pemilu 2014 (LP3ES-IFES) http://www.rumahpemilu.org/
Michael Rush dan Althoff, Pengantar Sosiologi Politik, Jakarta : PT Rajawali, 1989
Nawawi, Hadari, Metodologi Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press, 1987
Rahman, H.A. Sistem Politik Indonesia, Yogyakarta, Garaha Ilmu, 2007Wahyudi
Kumorotomo, Etika Administrasi Negara, Jakarta : Rajawali Press, 1999
Samuel P. Huntington dan Joan M. Nelson, No Easy Choice : Political Participation
In Developing Countries Cambridge, mass : Harvard University Press 1997, dalam
Miriam Budiarjo.
Sastromatmodjo, S. Partisipasi Politik, Semarang, IKIP Semarang Press, 1995
Sudijono, Sastroadmojo, Perilaku Politik, IKIP Semarang Press, 1995
Syarbaini, S. DKK, Sosiologi dan Politik, Jakarta, Galia Indonesia, 2002
www.KPU.go.id
34
I
BAB II
Kehadiran Dan Ketidakhadiran Pemilih di TPS:
Perbandingan Kota dan Desa di Kabupaten Dompu
Rusdiyanto* Suherman*Sri Rahmawati
Agus Setiawan*Arifudin
A. Pendahuluan
Kabupaten Dompu merupakan daerah yang memiliki angka partisipasi
pemilih paling tinggi di NTB. Pada pemilu legislatif, angka partisipasi pemilih
mencapai posisi 83,69 %. Meskipun pada pemilu presiden mengalami
penurunan menjadi 76,30%, namun angka tersebut masih lebih tinggi di
banding kabupaten/kota yang lain.
Proses pelaksanaan pemilu legislative maupun pemilu presiden tahun
2014 di Dompu secara umum berjalan dengan aman, tertib dan telah
menghasilkan anggota DPR, DPD, dan DPRD Provinsi NTB maupun DPRD
Kabupaten Dompu serta Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Suksesnya penyeleggaran kedua pemilu ini setidaknya dapat di lihat dari 2
(dua) aspek yaitu; tidak adanya gugatan proses pemilu dan hasil pemilu, serta
tingginya partisipasi masyarakat sebagaimana penjelasan di atas.
Banyak atau sedikitnya gugatan hasil pemilu di MK merupaan salah satu
indicator mengukur kualitas pemilu di daerah. Dari indicator ini terlihat bahwa
selama proses dan hasil Pemilu Legislatif, tidak ada satu pun gugatan yang
dilayangkan oleh peserta Pemilu. Meskipun pada pemilu presiden terdapat
gugatan di beberapa TPS, namun gugatan tersebut ditolak seluruhnya oleh
Mahkamah Konstitusi. Sukses tersebut tidak terlepas dari keterbukaan,
netralitas, dan penyelesaian setiap masalah yang diselesaikan pada tiap
tingkatan oleh penyelenggara Pemilu. Disamping itu, peran aktif dari seluruh
stakeholder dan masyarakat Kabupaten Dompu ikut member kontribusi
terhadap kesuksesan di atas. .
35
I
Melihat fakta-fakta di atas, penelitian ini mengajukan empat rumusan
masalah, sebagai berikut; 1) bagaimana tingkat kehadiran dan ketidakhadiran
pemilih di TPS pada Pemilu tahun 2014 di Kabupaten Dompu?; 2) Mengapa
angkapartisipasi Pemilu Legislatif Tahun 2014 naik dibandingkan Pemilu
Legislatifsebelumnya?; 3) Mengapa tingkat kehadiran pemilih pada Pileg lebih
tinggi dari Pilpres Tahun 2014 di Kabupaten Dompu ?; 4) Mengapa golput
tetap sajahadir dalam PemiluTahun 2014?
B. Tinjauan Teoritis
B.1. Teori Partisipasi Politik
Partisipasi secara harfiah berarti keikutsertaan. Dalam konteks politik
hal ini mengacu pada keikutsertaan warga dalam berbagai proses politik.
Partisipasi politik dapat juga dipahami sebagai proses keterlibatan warga
dalam segala tahapan kebijakan, mulai dari sejak pembuatan keputusan
sampai dengan penilaian keputusan, termasuk juga peluang untuk ikut serta
dalam pelaksanaan keputusan.
Menurut
Ramlan
Surbakti,18partisipasi
politik
merupakan
keikutsertaan warga negara biasa dalam menentukan segala keputusan yang
menyangkut atau mempengaruhi hidupnya. Sementara Michael Rush dan
Philip Althof menjelaskan partisipasi politik sebagai usaha terorganisir oleh
para warga negara untuk memilih pemimpin-pemimpin mereka dan
mempengaruhi bentuk dan jalannya kebijaksanaan umum.19 Berbeda dengan
pedapat-pendapat
terdahulu,
Sudijono
Sastroatmodjo20
mengartikan
partisipasi politik sebagai kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut
serta secara efektif dalam kehidupan politik yaitu dengan jalan memilih
pimpinan
negara
secara
langsung
dalam
mempengaruhi
kebijakan
pemerintah. Sedangkan menurut Samuel P. Huntington partisipasi politik juga
18
Ramlan Surbakti. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia
Rush, Michael & Althof. 2000. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Rajawali Press.
20
Sudijono Sastroatmodjo. 1995. Perilaku Politik. Semarang: IKIP Semarang Press
19
36
6
I
mencakup semua kegiatan yang mempengaruhi pemerintah, terlepas
tindakan itu efektif atau tidak, berhasil atau gagal.
Pengertian lainnya adalah partisipasi politik berupa kegiatan
mempengaruhi pemerintah yang dilakukan langsung atau tidak langsung
berarti dia melakukan sendiri tanpa menggunakan perantara, tetapi ada pula
yang tidak langsung melalui orang-orang yang dianggap dapat menyalurkan
pemerintah.21
Ramlan Surbakti22 mengelompokkan partisipasi politik menjadi dua, yakni
partisipasi aktif dan pasif. Partisipasi aktif merupakan kegiatan yang
berorientasi pada proses input dan output politik. Yang termasuk pada
partisipasi aktif adalah mengajukan usul mengenai suatu kebijakan umum,
mengajukan alternatif kebijakan umum yang berlainan dengan kebijakan yang
dibuat pemerintah, mengajukan kritik dan perbaikan untuk meluruskan
kebijakan, membayar pajak dan memilih pemimpin pemerintahan. Sedangkan
partisipasi passif adalah kegiatan yang berorientasi pada proses output.
Kegiatan yang termasuk pada partisipasi pasif adalah kegiatan yang mentaati
pemerintah,
menerima,
dan
melaksanakan
saja
setiap
keputusan
pemerintah.23
Para ilmuan Sosiologi Politik membagi dua tipe partisipasi politik, yakni
partisipasi konvensional dan non konvensional. Bentuk partisipasi politik
konvensional adalah pemberian suara, aktivitas diskusi politik, kegiatan
kampanye,
aktivitas
membentuk
dan
bergabung
dengan
kelompok
kepentingan lain, dan komunikasi individu dengan pejabat politik.24
Sedangkan bentuk partisipasi politik non-konvensional adalah melakukan
protes terhadap pemerintah, diskusi, dan lain-lain.
21
Huntington, Samuel P dan Nelson, Joan. 1994. Partisipasi Politik di Negara Berkembang.
Jakarta: Renika Cipta.
22
Ramlan Surbakti. Log. Cit, h. ….
23
Ibid., h. ….
24
Almond dalam Mochtar Masoed. 2001. Perbandingan Sistem Politik. Jogyakarta: Gajah Mada
University Press.
37
I
Penelitian ini melihat partisipasi politik dalam tipologi konvensional,
yaitu bagaimana masyarakat terlibat dalam pemberian suara pada pemilu
legislative maupun pemilu presiden tahun 2014.
B.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Politik.
Partisipasi politik di negara-negara yang menerapkan sistem politik
demokrasi merupakan hak warga negara. Karena itu, tidak semua warga
negara berperan serta dalam proses politik. Menurut pendapat beberapa ahli
faktor yang menyebabkan orang mau atau tidak mau ikut berpartisipasi dalam
politik antara lain; status social ekonomi,situasi, afiliasi politik orang tua,
pengalaman organisasi, kesadaran politik, kepercayaan terhadap pemerintah,
rangsangan dari sosialisasi.
Status sosial ialah kedudukan seseorang dalam masyarakat karena
keturunan, pendidikan dan pekerjaan. Sedangkan status ekonomi ialah
kedudukan seseorang dalam pelapisan masyarakat berdasarkan pemilikan
kekayaan. Seseorang yang memiliki status sosial yang tinggi diperkirakan tidak
hanya memiliki pengetahuan politik, tetapi juga mempunyai minat dan
perhatian pada politik.25
Menurut Ramlan Surbakti, situasi politik juga dipengaruhi oleh
keadaan yang mempengaruhi aktor secara langsung seperti cuaca, keluarga,
kehadiran orang lain, keadaan ruang, suasana kelompok, dan ancaman.26
Sedangkan aspek afiliasi politik orang tua
dimana seseorang ikut
berpartisipasi karena pengaruh afiliasi politik orang tua. Afiliasi politik dapat
dirumuskan sebagai keanggotaan atau kerjasama yang dilakukan individu atau
kelompok yang terlibat ke dalam aliran-aliran politik tertentu.27 Afiliasi politik
mendorong tumbuhnya kesadaran dan kedewasaan politik masyarakat untuk
menggunakan hak politiknya secara bebas dan bertanggungjawab dalam
melakukan berbagai aktifitas politik, seperti ikut dalam partai politik dalam
25
Ibid.
Ramlan Surbakti, Log. Cit. h. ….
27
B.N. Marbun. 1996. Kamus Politik. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan142 DEMOKRASI Vol. IX
No. 2 Th. 2010
26
38
I
pemerintahan, ikut dalam proses pengambilan dan pelaksanaan keputusan
politik.28
Pengalaman berorganisasi merupakan suatu sistem yang mengatur
kehidupan masyarakat atau bisa diartikan sebagai suatu prilaku yang terpola
dengan memberikan jabatan pada orang-orang tertentu untuk menjalankan
fungsi tertentu demi pencapaiantujuan bersama.29 Sejalan dengan pendapat
tersebut, Ibnu Kencana,30 menegaskan partisipasi politik merupakan
penentuan sikap dan keterlibatan hasrat setiap individu dalam situasi dan
kondisi organisasinya, sehingga pada akhirnya mendorong individu untuk
berperan serta dalam pencapaian tujuan organisasi serta ambil bagian dalam
sikap pertanggung jawaban bersama baik dalam situasi politik yang
melibatkan dukungan. Dalam konteks itu kepentingan organisasi mendorong
orang untuk ikut serta dalam pemberian suara
Orang ikut dalam proses pemilihan sampai dengan pemberian suara di
TPS juga ddorong oleh kesadaran politik mereka. Paling tidak bentuk
kesadaran politik itu adalah mereka menginginkan pemimpin politik terpilih
sesuai dengan idealitasnya. Orang yang memiliki tipologi seperti ini biasanya
menjadi pemilih yang otonom atau mandiri. Kepercayaan terhadap
pemerintah. Munculnya pemilih yang demikian, menandakan kemajuan
demokrasi suatu bangsa dalam kehidupan politiknya.
Apa yang dilakukan oleh pemerintah termasuk para elit politik ikut
memberi kontribusi terhadap minat seseorang menggunakan hak pilihnya.
Ketika mereka memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap pemerintah, maka
kecenderungan untuk ikut memilih tinggi, demikian sebaliknya. Oleh karena
itu kinerja pemerintah dalam masa pemerintahaannya menjadi medan yang
subur bagi peningkatan partisipasi pemilih. Dalam beberapa kasus,
masyarakat bersikap a-politik ketika menyaksikan kinerja pemerintah terus
memburuk.
28
Ibnu Kencana. 1997. Ilmu Politik. Jakarta: Rineka Cipta.
Bonar Simangunsong. 2004. Negara. Demokrasi dan Berpolitik Yang Profesional. Jakarta:
Gramedia
30
Ibnu Kencana. Op. Cit. h. ….
29
39
I
Kalangan behaviorism juga meyakini partisipasi politik tidak hadir
secara tiba-tiba. Mereka berpendapat bahwa partisipasi politik lahir dari
sosialisasi politik yang diterima individu sejak anak-anak hingga dewasa. Para
ahli sosiologi menyebutkan agen sosialisasi politik dapat dikelompokkan
menjadi dua, yakni sekunders groups dan primery groups. Kelompok sekunder
adalah pemerintah, KPU, media massa, partai politik, dan lain-ain. Sedangkan
kelompok primer misalnya teman bermain, orang tua, saudara, suami/istri.
Proses sosialiasi yang berlangsung sepanjang masa ini yang kemudian
membentuk partisipasi politik masyarakat.
B.3. Perilaku Pemilih (Voting Behavior)
Penulis menggunkan teori perilaku pemilih agar kulaifikasi dari sikap serta
oreintasi masyarakat didalam memilih dapat dikarakteristikkan berdasar tiga
pendekatan yang penulis pakai yaitu : pendekatan sosiologis, pendekatan
psikologis dan pendkatan pilihan rasional. Perilaku merupakan sifat alamiah
manusia yang membedakannya atas manusia lain, dan menjadi ciri khas
individu atas individu yang lain. Dalam konteks politik, perilaku dikategorikan
sebagai interaksi antara pemerintah dan masyarakat, lembaga-lembaga
pemerintah, dan diantara kelompok dan individu dalam masyarakat dalam
rangka proses pembuatan, pelaksanaan, dan penegakkan keputusan politik
pada dasarnya merupakan perilaku politik.
Ditengah masyarakat, individu berperilaku dan berinteraksi, sebagian
dari perilaku dan interaksi dapat berupa perilaku politik, yaitu perilaku yang
bersangkut paut dengan proses politik. Sebagian lainnya berupa perilaku
ekonomi, keluarga, agama, dan budaya. Termasuk kedalam kategori ekonomi,
yakni kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa, menjual dan membeli
barang dan jasa, mengkonsumsi barang dan jasa, menukar, menanam, dan
menspekulasikan modal.
Namun, hendaklah diketahui pula tidak semua
individu ataupun kelompok masyarakat mengerjakan kegiatan politik. 31.
31
Ramlan Surbakti “Memahami Ilmu Politik”, hal 15 PT.Grasindo, Jakarta 1992.
40
I
Memilih ialah suatu aktifitas yang merupakan proses menentukan
sesuatu yang dianggap cocok dan sesuai dengan keinginan seseorang atau
kelompok, baik yang bersifat eksklusif maupun yang inklusif.Memilih
merupakan aktifitas menentukan keputusan secara langsung maupun tidak
langsung. Menurut Surbakti (tahun:1992) menilai perilaku memilih ialah
keikutsertaan warga Negara dalam pemilihan umum merupakan serangkaian
kegiatan membuat keputusan, yakni apakah memilih atau tidak memilih
dalam pemilihan umum.32
Perilaku pemilih merupakan realitas sosial politik yang tidak terlepas dari
pengaruh faktor eksternal dan internal. Secara eksternal perilaku politik
merupakan hasil dari sosialisasi nilai-nilai dari lingkungannya, sedangkan
secara internal merupakan tindakan yang didasarkan atas rasionalitas
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku pemilih. Misalnya
saja isu-isu dan kebijakan politik, tetapi pula sekelompok orang yang memilih
kandidat karena dianggap representasi dari agama atau keyakinannya,
sementara kelompok lainnya memilih kandidat politik tertentu karena
dianggap representasi dari kelas sosialnya bahkan ada juga kelompok yang
memilih sebagai ekspresi dari sikap loyal pada ketokohan figur tertentu.
Sehingga yang paling mendasar dalam mempengaruhi perilaku pemilih antara
lain pengaruh elit, identifikasi kepartaian sistem sosial,media massa dan aliran
politik.
Sedikitnya terdapat tiga pendekatan yang biasanya digunakan dalam
melihat perilaku pemilih, yakni pendekatan sosiologis, psikologis, dan
pendekatan pilihan rasional.
a. Pendekatan Sosiologis
Pendekatan ini pada dasarnya menjelaskan bahwa karakteristik sosial
dan pengelompokan-pengelompokan sosial mempunyai pengaruh yang cukup
signifikan dalam menentukan perilaku pemilih. Pengelompokan sosial ini
32
Ibid, hal 145
41
I
misalnya berdasarkan umur (tua-muda), jenis kelamin (laki-laki dan
perempuan), agama dan semacamnya, dianggap mempunyai peranan cukup
menentukan dalam membentuk perilaku pemilih. Untuk itu, pemahaman
terhadap pengelompokan sosial baik secara formal seperti keangggotaan
seseorang didalam organisasi keagamaan, organisasi profesi, kelompokkelompok okupasi dan sebagainya, maupun kelompok informal seperti
keluarga, pertemanan, ataupun kelompok-kelompok kecil lainnya. Ini
merupakan sesuatu yang vital dalam memahami perilaku politik, karena
kelompok-kelompok ini mempunyai peranan besar dalam bentuk sikap,
persepsi dan orientasi seseorang. Jadi bisa dikatakan bahwa keangotaan
seseorang kepada kelompok-kelempok soisal tertentu dapat mempengaruhi
seseorang didalam menentukan pilihnaya pada saat pemilu. Hal ini tidak
terlepas dari seringnya anggota kelompok, organisasi profesi dan kelompok
okupasi berinteraksi satu sama lain sehingga timbulnya pemikiran-pemikiran
untuk mendukung salah satu dari caleg yang mengikuti pemilu.
Gerald pomper merinci pengaruh pengelompokan sosial dalam kajian
voting behavior ke dalam 2 variabel yaitu predisposisi (kecendrungan) sosial
ekonomi pemilih dan keluarga pemilih. Apakah preferensi politik ayah atau ibu
akan berpengaruh pada preferensi politik anak, sedangkan predisposisi sosial
ekonomi berupa agama yang dianut, tempat tinggal, kelas sosial, karakteristik
demografis dan sebagainya.33
Hubungan antara agama dengan perilaku pemilih nampaknya sangat
mempengaruhi dimana nilai-nilai agama selalu hadir didalam kehidupan privat
dan public dianggap berpengaruh terhadap kehidupan politik dan pribadi para
pemilih. Di kalangan partai politik, agama dapat melahirkan dukungan politik
dari pemilih atas dasar kesamaan teologis, ideologis, solidaritas dan
emosional. Fenomena partai yang berbasis agama dianggap menjadi daya
tarik kuat dalam preferensi politik.
33
A.Rahman Zainuddin, hal.47-48
42
I
Dalam literatur perilaku pemilih, aspek agama menjadi pengamatan
yang penting. Pemilih cenderung untuk memilih partai agama tertentu yang
sesuai dengan agama yang dianut. Di Indonesia faktor agama masih dianggap
penting untuk sebahagian besar masyarakat. Misalnya seorang muslim
cenderung untuk memilih partai yang berbasis Islam dan sebaliknya seorang
non-muslim cenderung untuk memilih partai non-muslim.34
b. Pendekatan psikologis
Psikologi adalah ilmu sifat, dimana fungsi-fungsi dan fenomena pikiran
manusia dipelajari. Setiap tingkah laku dan aktivitas masyarakat dipengaruhi
oleh akal individu. Sedangkan ilmu politik mempelajari aspek tingkah laku
masyarakat umum sehingga ilmu politik berhubungan sangat dekat dengan
psikologi.35
Pendekatan ini muncul merupakan reaksi atas ketidakpuasan mereka
terhadap pendekatan sosiologis. Secara metodologis, pendekatan sosiologis
dianggap sulit diukur, seperti bagaimana mengukur secara tepat sejumlah
indikator kelas sosial, tingkat pendidikan, agama, dan sebagainya. Pendekatan
ini menggunakan dan mengembangkan konsep psikologi terutama konsep
sikap dan sosialisasi untuk memperjelaskan perilaku pemilih. Disini para
pemilih menentukan pilihannya karena pengaruh kekuatan psikologis yang
berkembang dalam dirinya sebagai produk dari proses sosialisasi, artinya sikap
seseorang merupakan refleksi dari kepribadian dan merupakan variabel yang
menentukan dalam mempengaruhi perilaku politiknya. Pendekatan psikologis
menganggap sikap sebagai variabel utama dalam menjelaskan perilaku politik.
Hal ini disebabkan oleh fungsi sikap itu sendiri, menurut Greenstein ada 3
yakni:
34
Dikutip dari Sulhardi, Political Psycology Socialization, and culture,
http://pangerankatak.blogspot.com/2008/04/governing-intoduction-to-political, 28 April 2008
35
Suhardi, Op.Cit.
43
I
ï‚·
Sikap merupakan fungsi kepentingan, artinya penilaian terhadap objek
diberikan berdasarkan motivasi, minat dan kepentingan orang
tersebut.
ï‚·
Sikap merupakan fungsi penyesuaian diri, artinya seseorang bersikap
tertentu sesuai dengan keinginan orang itu untuk sama atau tidak
sama dengan tokoh yang diseganinya atau kelompok panutan.
ï‚·
Sikap merupakan fungsi eksternalisasi dan pertahanan diri, artinya
sikap seseorang itu merupakan upaya untuk mengatasi konflik batin
atau tekanan psikis yang mungkin berwujud mekanisme pertahanan
dan eksternalisasi diri.
Namun, sikap bukanlah sesuatu hal yang cepat terjadi, tetapi
terbentuk melalui proses yang panjang, yakni mulai dari lahir sampai dewasa.
Pada tahap pertama, informasi pembentukan sikap berkembang dari masa
anak-anak. Pada fase ini, keluarga merupakan tempat proses belajar. Anakanak belajar dari orangtua menganggap isu politik dan sebagainya. Pada
tahap kedua, adalah bagaimana sikap politik dibentuk pada saat dewasa
ketika menghadapi situasi di luar keluarga. Tahap ketiga, bagaimana sikap
politik dibentuk oleh kelompok-kelompok acuan seperti pekerjaan, gereja,
partai politik dan asosiasi lain.
Melalui proses sosialisasi ini individu dapat mengenali sistem politik yang
kemudian menentukan sifat persepsi politiknya serta reaksinya terhadap
gejala-gejala politik di dalam kaitannya dengan pemilihan kepala daerah.
Sosialisasi bertujuan menungkatkan kualitas pemilih
c. Pendekatan Pilihan Rasional
Dua pendekatan terdahulu secara implisit atau eksplisit menempatkan
pemilih pada waktu dan ruang kosong. Dimana pendekatan tersebut
beranggapan bahwa perilaku pemilih bukanlah keputusan yang dibuat pada
saat menjelang atau ketika berada dibalik suara, tetapi sudah ditentukan jauh
sebelumnya, bahkan jauh sebelum kampanye dimulai. Karakteristik sosiologis,
latar belakang keluarga, pembelahan kultural, identifikasi partai melalui
44
I
proses sosialisasi,pengalaman hidup, merupakan variabel yang secara sendirisendiri mempengaruhi perilaku politik seseorang. Ini berarti variabel lain
menentukan atau ikut menentukan dalam mempengaruhi perilaku pemilih.
Ada faktor situasional yang ikut mempengaruhi pilihan politik seseorang.
Dengan begitu para pemilih bukan hanya pasif tetapi juga aktif, bukan hanya
terbelenggu oleh karakteristik sosiologis tetapi bebas untuk bertindak. Faktor
situasional ini bisa berupa isu-isu politik pada kandidat yang dicalonkan.
Perilaku pemilih tidak harus tetap atau sama, karena karakteristik
sosiologis dan identifikasi partai dapat berubah-ubah sesuai waktu dan
peristiwa-peristiwa politik tertentu. Dengan begitu, isu-isu politik menjadi
pertimbangan yang penting dimana para pemilih akan menentukan pilihan
berdasarkan penilaian terhadap isu-isu politik dan kandidat yang diajukan.
Artinya para pemilih (masyarakat) dapat menentukan pilihannya berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan rasional.36
Pendekatan pilihan rasional mencoba menjelaskan bahwa kegiatan
memilih sebagai kalkulasi untung dan rugi yang di pertimbangkan tidak hanya
“ongkos” memilih dan kemungkinan suaranya dapat mempengaruhi hasil yang
di harapkan, tetapi juga perbedaan dari alternatif berupa pilihan yang ada.
Pertimbangan ini digunakan pemilih dan kandidat yang hendak mencalonkan
diri untuk terpilih sebagai wakil rakyat atau pejabat pemerintah. Bagi pemilih,
pertimbangan untung dan rugi digunakan untuk membuat keputusan tentang
partai atau kandidat yang dipilih, terutama untuk membuat keputusan apakah
ikut memilih atau tidak ikut memillih.37
Beberapa pendekatan diatas sama-sama berasumsi bahwa memilih
merupakan kegiatan yang otonom, dalam arti tanpa desakan dan paksaan dari
pihak lain. Namun, dalam kenyataan di Negara-negara berkembang perilaku
memilih bukan hanya ditentukan oleh pemilih sebagaimana disebutkan oleh
beberapa pendekatan diatas, tetapi dalam banyak hal justru ditentukan oleh
36
Ibid., h. 50-52
Surbakti ramlan. Memahami ilmu politik. Gramedia widiasarana Indonesia. Jakarta Hal 146
37
45
I
tekanan kelompok, intimidasi, dan paksaan dari kelompok atau pemimpin
tertentu.
Disamping melakukan identifikasi terhadap factor yang mempengaruhi
perilaku pemilih, para ilmuan sosial juga berusaha menyelami karekteristik
atau tipologi pemilih. Informasi tentang karekteristik pemilih penting,
mengingat perilaku indivu dalam menentukan pilihannya juga ditentukan oleh
karekteristik mereka. Tulisan ini mengungkap tiga karekteristik pemilih, yakni;
pemilih emosional, pemilih transaksional, dan pemilih cerdas,
Pada faktor ini pemilih memilih karena ikatan emosional dan kesamaan
etnisitas. Pemilih memilih kandidat yang paling menarik secara emosional
atau yang lebih disukai, pemilih menentukan pilihannya berdasarkan hasil
rekomendasi dari kerabat dekat, elit politik yang dipercaya. Pada faktor ini
pemilih cenderung mempertimbangkan materi dalam memberikan hak pilih
atau dengan kata lain secara materialistik masyarakat pada faktor ini bisa
memberikan hak pilih berdasarkan motivasi berupa imbalan yang di dapat dari
pemberian hak pilih mereka.
Pada karekteristik pemilih cerdas, pemilih lebih mengutaman pada
kualitas para calon yang diutamakan baik lihat dari segi visi dan misi serta
program yang ditawarkan oleh para calon. Pemilih yang ada pada faktor ini
kecenderungan kelompoknya kecil karena hanya orang-orang yang peduli,
memiliki kecerdasan dan mau berpikir untuk lima tahun ke depan saja yang
akan menjadikan visi misi calon sebagai tolok ukur dalam memilih.
C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan
pendekatan naturalistik setting. Penelitian kualitatif adalah prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif, dimana ucapan atau tulisan
dan prilaku yang dapat diamati dari orang-orang atau subjek itu sendiri.
Alas an pemilihan metode ini sebagai berikut; (1) Untuk menanggulangi
banyaknya informasi yang hilang, seperti yang dialami oleh penelitian
46
I
kuantitatif, sehingga intisari konsep yang ada dalam data dapat diungkap,
(2) Untuk menanggulangi kecenderungan menanggulangi data empiris
dengan
tujuan
membuktikan
kebenaran
hipotesis
yang
disusun
sebelumnya, (3) Untuk menanggulangi kecendrungan pembatasan variabel
sebelumnya.(4) Menyelesaikan penelitian kualitatif lebih mudah apabila
berhadapan dengan kenyataan ganda. (5) Metode kualitatif menyajikan
secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden/sumber
data. (6) Metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan
banyak pengaruh yang timbul dari pola-pola nilai yang dihadapi
Penelitian ini mengambil tujuh kecamatan, yakni (1) Kecamatan Huu,
(2) Kecamatan Kempo, (3) Kecamatan Kilo, (4) Kecamatan Dompu, dan (5)
KecamatanManggelewa. Sedangkan jumlah responden penelitian adalah
105 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yakni
wawancara dan dokumentasi.
D. Hasil Penelitian
D.1. Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih Pada Pemilu Legislatif
a. Masyarakat Kota
Pada masyarakat perkotaan, penelitian ini menemukan beberapa
factor yang mendorong kehadiran pemilih di TPS, sebagai berikut:
a) Faktor kedekatan emosional (keluarga) antara pemilih dengan
calon
b) Faktor politik uang
c) Faktor janji para calon
d) Faktor emosional karena tentangga dan
e) Faktor penggerakan massa oleh pada calon
f) Jasa masa lalu.
Disamping itu dilapangan peneliti mengemukakan temuan bahwa
sebagian masyarakat beranggapan bahwa KPU belum maksimal
47
I
melaksanakan sosialisasi secara langsung ke masyarakat karena
masyarakat mengetahui tata cara Pemilu atau pencoblosan melalui
lisan, dari mulut kemulut, oleh tim sukses dan para calon itu sendiri.
Sosialisasi KPU kepada masyarakat masih terasa umum dan kabur
karena menggunakan media baliho dan spanduk yang dipasang
beberapa tempat di pusat Kecamatan dan Desa yang hanya dapat
dibaca oleh orang-orang tertentu saja.Tetapi sosialisasi yang dirasakan
oleh masyarakat pada saat KPPS memberikan tata cara pencoblosan
pada hari “H”
Faktor kemudahan lain bahwa jarak TPS dengan tempat tinggal
masyarakat terjangkau oleh jalan kaki dan mobilitas lainnya.
Sebagian
masyarakat
menganggap
bahwa
kehadiran
masyarakat/pemilih di TPS merupakan tanggung jawab moral dalam
hal menyalurkan sebagai aspirasi masyarakat melalui wadah DPR.
Masyarakat menganggap bahwa DPR merupakan salah satu wadah
untuk menyalurkan aspirasi demi keberlangsungan pembangunan di
daerah masing-masing. Masyarakat merasa berkepentingan terhadap
wadah DPR, karena dengan hasil Pileg masyarakat akan dapat
merasakan langsung dampaknya karena berada lingkungan tempat
tinggal masyarakat. Dengan demikian masyarakat lebih mementingkan
Pileg dari pada Pilpres.Pemilihan anggota DPR masyarakat dapat
menagih kembali janji-janji politik mereka setelah mereka duduk
dikursi DPR walaupun saat ini masyarakat belum merasakan hasil Pileg
tahun 2014.
Harapan sebagian masyarakat kepada pemerintah atau
penyelenggara Pemilu (KPU Kabupaten Dompu) agar pelaksanaan
Pemilu dilaksanakan secara transparan, akuntabel, luber, tidak ada
tekanan dari pihak manapun, dan dilaksanakan dengan penuh
amanah. Masyarakat berharap KPU lebih gebyar melaksanakan
sosialisasi
kepada
masyarakat
48
secara
menyeluruh
terutama
I
masyarakat yang berpendidikan rendah, karena yang berpendidikan
rendah lebih mudah terpengaruhi oleh sosialisasi yang sifatnya
langsung seperti terjun langsung kepada masyarakat pemilih.
b. Masyarakat Pedesaan
Secara umum temuan di lapangan membuktikan bahwa
masyarakat pedesaan lebih konsisten partisipasinya pada pemilu
legislatif dari masyarakat perkotaan. Hal ini dapat dlihat dari
kecenderungan masyarakat dalam memilih pada calon DPR karena
dengan beberapa faktor yaitu (1) faktor kedekatan emosional
(keluarga) antara pemilih dengan calon, (2) faktor politik uang, (3)
faktor janji para calon, (4) faktor emosional karena tentangga, (5)
faktor penggerakan masa oleh pada calon, dan (6) jasa masa lalu.
Disamping itu masyarakat pedesaan sangat berkepentingan
besar terhadap para calon karena masyarakat akan merasakan dampak
langsung terhadap program calon yang dipilih walaupun tidak
dirasakan secara merata oleh masyarakat seluruhnya. Bagi masyarakat
pedesaan bahwa memilih berdasarkan kedekatan baik secara nasab
(keluarga), tetangga maupun yang lainnya lebih puas dirasakan untuk
dapat diperjuangkan walaupun pada akhirnya mengalami kekalahan.
Disamping faktor tersebut politik uang tetap menjadi faktor
utama bagi masyarakat untuk hadir di TPS. Jadi faktor politik uang dan
kedekatan antara calon dengan masyarakat pedesaan menjadi faktor
utama masyarakat untuk memilih calon pilihan mereka. Masyarakat
juga mudah percaya terhadap janji-janji atau iming-iming para calon
DPR untuk melakukan sesuatu setelah anggota DPR tersebut menjadi
wakil rakyat. Masyarakat juga terpengaruhi oleh jasa-jasa masa lalu
antara calon dengan masyarakat.
Dari segi bentukan Tim sukses masyarakat pedesaan lebih
terlihat perjuangannya untuk memenangkan para calon dukungannya
49
I
bahkan menjadi alat pemicu retaknya antar anggota keluarga bila
terdapat perbedaan pilihan seperti pemutusan aliran listrik, tidak
saling sapa bahkan menimbulkan permusuhan antara satu keluarga
dengan anggota keluarga lainnya.
D.2. Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih Pada Pemilu Presiden
a. Masyarakat Kota
Anggapan masyarakat bahwa Pilpres merupakan tanggung
jawab masyarakat sebagai warga Negara untuk memilih dan dipilih
pada pesta demokrasi. Pemilu Pilres tahun 2014 merupakan moment
bagi masyarakat untuk memilih pemimpin bangsa demi kelanjutan
pembangunan ke depan. Ada sebagian masyarakat beranggapan
bahwa Pilpres tidak ada dampak langsung bagi setiap individu, maka
sedikit minat masyarakat untuk mencoblos pada Pilpres. Politik uang
pada Pilpres tidak terlalu dirasakan oleh masyarakat bahkan tidak
pernah menerima uang pada tim sukses. Disamping itu gesekan
kepentingan antar masyarakat pada saat Pilpres tidak begitu terlihat.
Pada sisi yang lain Pilpres lebih mudah dipahami oleh masyarakat
seperti tata cara pelaksanaannya karena sosialisasi Komisi Pemilihan
Umum Republik Indonesia (KPU RI) dan para calon melalui media
elektronik seperti TV One, Metro TV mapun media cetak lainnya. Dari
segi proses pencoblosan Pilpres lebih mudah dilaksanakan oleh
masyarakat karena jumlah calon lebih sedikit bila dibandingkan pada
Pileg. Pada Pilpres keterlibatan masyarakat/pemilih lebih didominasi
karena faktor figur calon presiden dan wakil presiden dilihat dari treck
record para calon. Trik record tersebut masyarakat menilai dari
pemberitaan melalui media massa baik eloktronik maupun media
cetak disamping oleh para tim sukses, anggota partai pengusung
maupun simpatisan masing-masing calon ditempat tinggal masyarakat
tersebut. Dari segi TPS dan tempat tinggal masyarakat kota sangat
terjangkau.
50
I
Dengan demikian bahwa rendahnya motivasi masyarakat pada
Pilpres karena tidak ada kepentingan langsung dengan calon dan tidak
ada uang yang dibagi oleh para calon dan tim sukses menjadi
penyemangat bagi pemilih. Pemilu juga bagi sebagian masyarakat
sebagai sebagai momentum “mengais rejeki” karena ada kesempatan
atau peluang yang dilakukan oleh para calon atau dengan kata lain
adalah “mini proyek”.
b. Masyarakat Pedesaan
Secara umum pandangan masyarakat pedesaan terhadap
Pemilu
Presiden dan wakil Presiden tidak memiliki kepentingan
langsung dengan para calon presiden dan wakil presiden, tidak ada
penggerakan masa oleh tim sukses dan tidak pernah merasakan,
melihat, dan mendengar pembagian uang untuk kepentingan calon
tertentu tetapi masyarakat pedesaan merasakan secara tidak langsung
pembangunan disamping masyarakat menganggap adalah kewajiban
sebagai warga negara untuk memilih pemimpin bangsa demi
keberlanjutan cita-cita bangsa dan negara yang lebih baik. Masyarakat
masih mempercayai hal tersebut.
Walaupun masyarakat tidak merasakan dampak langsung
secara individu tapi masyarakat masih mempercayai bahwa dengan
memilih presiden dan wakil presiden yang baik akan dapat
mensejahterakan masyarakat dengan program pro rakyat walaupun
saat ini masyarakat belum merasakan dampak yang signifikan dan
merata terhadap hasil Pilpres tahun 2014 yang lalu.
D.3. Penyebab Golput di Dompu
Sebagai fenomena yang selalu muncul dalam setiap momentum
pemilu, penelitian ini berhasil mengungkap penyebab golput pada
masyarakat perkotaan dan pedesaan. Berikut paparan temuan penelitian
ini.
51
I
D.3.1. Golput Pada Pemilu Legislatif
Ketidakhadiran pemilih di TPS disebabkan dua sumber yakni
sumber
subjektifitas
dan
sumber
lingkungan.
Sumber
subjektifitas, yakni; tidak berada di tempat, persepsi terhadap
pemilu yang tidak membawa perubahan, dan move atau tidak
percayanya masyarakat terhadap elit politik. Sedangkan
sumber lingkungan adalah bekerjanya pengaruh ideology
agama. Semua penyebab ini ditemukan pada masyarakat
perkotaan maupun masyarakat pedesaan.
1. Tidak berada ditempat. Pada dasarnya tidak ada
masyarakat tidak memilih berdasarkan DPT tetapi
masyarakat tidak berada di tempat pada saat pencoblosan
karena meninggalkan kampung halaman seperti bekerja,
sekolah dan lain-lainnya.
2. Pemilu tidak membawa perubahan. Sebagian masyarakat
berpendapat bahwa pemilu legislatif tidak membawa
perubahan apa-apa. Siapapun anggota DPR menghiasi
meja dan kursi DPR tidak akan berjuang membela
kepentingan masyarakat secara umum karena mereka
lebih
mementingkan
kepentingan
keluarganya serta kepentingan
partainya
dan
kelompok-kelompok
sendiri.
3. Move tidak percaya. Sebagian masyarakat tidak percaya
terhadap calon yang pernah masyarakat pilih pada pemilu
sebelumnya atau dengan kata lain para calon lebih banyak
memberikan janji-janji politik pada saat kampanye tetapi
mereka tidak amanah, ketika menjadi DPR. DPR tidak lagi
mengingat atau menempati janjinya. Janji para calon yang
pernah diucapkan antara lain ingin memberikan proyek,
52
I
diberikan
pekerjaan
(diangkat
jadi
pegawai)
atau
kemudahan-kemudahan lainnya.
4. Idiologi Agama. Sebagian golongan masyarakat tertentu
berpendapat
bahwa
pelaksanaan
Pemilu
tidak
dilaksanakan melalui aturan agama Islam. Setiap hasil
Pemilu tidak mampu menjalankan syariat Islam pada hal
bangsa Indonesia negara mayoritas beragama Islam.
Pemimpin bangsa lebih mengutamakan kaum minoritas
(non muslim) dari pada kaum mayoritas (Islam).
D.3.2. Golput Pada Pemilu Presiden
Fenomena golput pada pemilu presiden lebih tinggi dibanding
pemilu legislatif baik pada masyarakat perkotaan maupun pedesaan.
Penelitian ini menemukan lima factor yang menyebabkan angka
golput tinggi pada pemilu presiden dan wakil presiden 2014 di
Kabupaten Dompu, sebagai berikut:
ï‚·
Tidak ada di tempat tinggalnya. Masyarakat perkotaan yang
memiliki mobilitas sosial tinggi tidak berada di tempat tinggalnya
pada saat hari pemungutan suara. Sedangkan pada masyarakat
pedesaan, komunitas trasmigrasi merupakan kelompok yang
memanfaatkan waktu untuk pulang ke daerah asal mereka.
Akibat mobilitas sosial tersebut mereka tidak bisa menggunakan
hak pilihnya.
ï‚·
Sikap
a-politik.
meningkatnya
Kemajuan
lapangan
di
kerja
bidang
ekonomi
menyebabkan
dengan
masyarakat
perkotaan dan pedesaan memiliki sikap a-politik. Bagi mereka
politik bukan urusan mereka melainkan urusan elit. Yang menjadi
urusan mereka adalah ekonomi, sosial, dan keagamaan.
Sedangkan dalam kehidupan politik masyarakat merasa hanya
sebagai objek bukan subjek.
53
I
ï‚·
Tidak terdaftar dalam daftar pemilih dan tidak memiliki identitas
kependudukan. Sistem administrasi pemilih dalam pemilu 2014
mengenal beberapa kategori, yakni; DPT, DPTb, DPK, dan DPKTb.
Khusus dalam kategori terakhir, meskipun tidak terdaftar dalam
daftar pemilih (DPT, DPTb, dan DPK), pemilih dapat menggunakan
hak pilihnya apabila memiliki identitas kependudukan yang harus
ditunjukkan pada KPPS pada saat pemungutan suara. Kondisi ini
menyebabkan
masyarakat
yang
tidak
memiliki
identitas
kependudukan tidak bisa menggunakan hak pilihnya, sehingga
dikategorikan sebagai golput. Meskipun golput karena tidak
memiliki identitas kependudukan ini tidak terdeteksi dalam
rekapitulasi hasil pemilu, namun jumlahnya cukup signifikan
untuk ukuran pemilu berdasarkan suara terbanyak.
ï‚·
Efek kebijakan pemerintah pusat. Kebijakan publik yang
diproduksi oleh pemerintah pusat mendapatkan evaluasi dari
masyarakat sepanjang masa kekuasaan pemerintah berlangsung.
Hasil evaluasi atas kebijakan yang dampaknya dirasakan langsung
oleh masyarakat di daerah dipandang tidak efektif oleh mereka
yang tidak menggunakan hak pilihnya pada pemilu presiden dan
wakil presiden.
54
I
Daftar Pustaka
Almond dalam Mochtar Masoed. 2001. Perbandingan Sistem Politik. Jogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Bonar Simangunsong. 2004. Negara. Demokrasi dan Berpolitik Yang Profesional.
Jakarta: Gramedia.
B.N. Marbun. 1996. Kamus Politik. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
David Marsh & Gerry Stoker. 2010. Teori dan Metode Dalam Ilmu Politik.
Bandung: Nusa Media.
George Ritzer & Douglas J. Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta:
Kencana.
Huntington, Samuel P dan Nelson, Joan. 1994. Partisipasi Politik di Negara
Berkembang. Jakarta: Renika Cipta.
Ibnu Kencana. 1997. Ilmu Politik. Jakarta: Rineka Cipta.
Joko Subagio P., 1997. Metode Penelitian Dalam Teori Dan Praktik. Cet.
II.Jakarta:PT. Rineka Cipta.
Lexy Moleong.2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cet. IX.Bandung:PT. Remaja
Rosda Karya.
Margono. 2000.Metodologi Penelitian Pendidikan.Cet. II.Jakarta:PT. Rineka Cipta.
Ramlan Surbakti. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia
Rush, Michael & Althof. 2000. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Rajawali Press.
Sudijono Sastroatmodjo. 1995. Perilaku Politik. Semarang: IKIP Semarang Press
http://perilakuorganisasi.com/teori-pertukaran-sosial-dan-pilihan-rasional2.html diakses pada 5 Januari 2013 pukul 11.45
55
I
BAB III
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih di TPS:
Faktor Penyebab Rendahnya Partisipasi Memilih di Gili Indah
Fajar Marta*Burhan Ekwanto*Juraidin*
Muzakar*Abdul Karim
A. Pengantar
Sebagai mekanisme rotasi kekuasaan politik, pemilihan umum erat
kaitannya dengan partisipasi politik. Partisipasi politik warga Negara yang
ditunjukkan melalui pemberian suara dalam pemilihan umum menjadi basis
legitimasi yang diperebutkan dan dimenangkan pemimpin-pemimpin politik.
Ini menunjukkan bahwasanya partisipasi politik warga negara dalam
pemberian suara menjadi awal dari seluruh proses politik selama satu
periode kekuasan politik. Oleh karena itu, tinggi-rendahnya partisipasi politik
sangat menentukan capaian dari proses politik, sekaligus menunjukkan
besar-kecilnya legitimasi yang didapatkan.
Perdebatan mengenai pentingnya partisipasi warga Negara dalam
berbagai proses politik menjadi penting ditengah berbagai hasil pemilihan
umum (pemilu) yang masih menjauhkan harapan publik terhadap perbaikan
sistem, taraf hidup dan disharmoni diantara berbagai lembaga Negara. Untuk
itu, keterlibatan publik dalam mengawal berbagai kerja sistem politik menjadi
kerja kolektif semua unsur Negara yang tidak bisa diserahkan kepada satu
kelompok tertentu. Munculnya kesadaran publik untuk mengawal dan
mendorong proses politik yang transparan terlihat dari munculnya berbagai
gerakan relawan yang independen maupun berafiliasi dengan kekuatan
politik tertentu, seperti terlihat pada gerakan relawan Pemilihan Presiden
(Pilpres) 2014.
Munculnya berbagai relawan tersebut mengindikasikan munculnya
kesadaran terhadap pentingnya politik sebagai jalur perjuangan. Gagasan ini
paling tidak senada dengan cara berpikir Pemilihan Umum (Pemilu) sebagai
56
I
media koreksi dan perbaikan terhadap sistem dan aktor politik yang terpilih
pada periode pemilu sebelumnya. Dengan demikian pemilu bukan hanya
sebagai media rotasi kekuasaan berkala melainkan cara untuk terus menerus
menemukan dan menciptakan sistem politik terbaik, yang sesuai dengan
harapan dan tantangan perubahan berbangsa dan bernegara.
Munculnya antusiasme warga Negara menyambut pemilihan umum
(pemilu) tidak serta merta menciptakan euphoria yang sama di semua daerah
di Indonesia. Masih terdapat warga Negara di suatu daerah tertentu yang
masih rendah tingkat partisipasi politiknya, khususnya untuk datang memilih
pada Pemilihan Umum. Fakta pemilu ini kembali menegaskan bahwasanya
tinggi rendahnya partisipasi politik bukan hanya persoalan administratif
melainkan bentuk sikap politik tertentu atas realitas politik (Golput). Kondisi
ini tentu saja membutuhkan perhatian lebih terutama kepada Komisi
Pemilihan Umum sebagai penyelenggara pemilihan umum untuk terus
meningkatkan kuantitas dan kualitas pemilu.
Tingginya angka Golput paling tidak disebabkan beberapa hal.
Pertama; tingginya partisipasi tidak menjamin pemilu menghasilkan
pemimpin dan perwakilan politik yang berkualitas. Artinya tingkat partisipasi
tidak menggambarkan proses seleksi yang baik terhadap para calon
pemimpin dan wakil rakyat. Kedua;tingginya partisipasi tidak memberikan
jaminan pemimpin dan wakil rakyat mampu merubah kondisi warga Negara
menjadi lebih baik, baik pada akses layanan publik maupun pada perubahan
perekonomian. Potret inilah yang kemudian terefleksi dengan semakin
meningkatnya angka golongan putih (golput) di setiap pemilu. Argumentasi
ini mendasarkan diri pada golput sebagai bentuk perlawanan terhadap
elemen demokrasi yang belum mampu menawarkan pilihan-pilihan terbaik.
Argumentasi ini sekaligus menjadi dasar pertimbangan rendahnya tingkat
partisipasi belum tentu paralel dengan rendahnya kesadaran politik.
57
I
Di sisi lain, pilihan untuk tidak terlibat dalam pemilihan umum
(Golput) berimplikasi pada beberapa hal berikut. Pertama; rendahnya
partisipasi politik berimplikasi terhadap semakin jauhnya harapan publik
memiliki pemimpin dan wakil rakyat yang berintegritas dan berkapasitas
menjalankan peran politiknya. Artinya keengganan warga Negara terlibat
dalam pemilihan umum memperbesar peluang munculnya pemimpin dan
wakil rakyat tanpa visi dan program perubahan yang jelas. Kedua; rendahnya
partisipasi politik berimplikasi terhadap tidak terbangunnya komunikasi
diantara warga Negara dengan pemerintah maupun wakil rakyat dalam
memperjuangkan perubahan yang diinginkan publik. Hal ini mengacu kepada
rendahnya akses publik mempengaruhi tokoh-tokoh politik yang berkapasitas
dan berpengaruh dalam menghasilkan berbagai keputusan politik. Artinya
terlibat memberikan suara dalam pemilihan umum sekaligus menjadi jejaring
dan “kontrak” dalam memperjuangkan kepentingan publik yang lebih luas.
Berbagai argumentasi tersebut mensiratkan pilihan untuk tidak
terlibat dalam pemberian suara merupakan sikap politik yang terbangun atas
basis politik, pengalaman dan pengetahuan politik tertentu. Jika perspektif
tersebut menjadi dasar argumentasi maka pendekatan untuk membangun
kesadaran warga Negara terlibat dalam pemberian suara tidak hanya
dibebankan kepada Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara
pemilihan umum, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh perangkat
demokrasi lainnya. Terutama partai politik yang menjalankan fungsi
rekruitmen, pendidikan dan kaderisasi politik.
Tidak terlibat dalam proses pemilu tidak hanya sebagai sikap politik,
pada faktanya banyak persoalan administratif membuat warga tidak
terdaftar sebagai wajib pilih menyebabkan warga kehilangan hak sipil dan
politiknya. Kondisi ini bisa saja bertalian dengan tingkat partisipasi warga
dalam pemilihan umum yang tidak mengalami perubahan substantif.
Berbagai persoalan tersebut terjadi diberbagai daerah tanpa terkecuali
58
I
termasuk di Kabupaten Lombok Utara, NTB. Dari beberapa daerah yang
menjadi locus pemilihan umum, Desa Gili Indah (Gili Trawangan, Meno dan
Air) menjadi daerah dengan tingkat partisipasi terendah yakni sebesar 51,69
persen pada pemilihan Legislatif di Kecamatan Pemenang. Rendahnya
partisipasi warga di Desa Gili Indah berbeda dengan beberapa desa lainnya di
Kecamatan Pemenang, meskipun dengan karakteristik masyarakat yang
sama-sama bekerja pada sektor pariwisata. Fakta ini tentu saja menarik
untuk diamati mengingat mayoritas penduduk di Desa Gili Indah berprofesi di
sektor pariwisata dengan tingkat perekonomian yang tinggi.
Dengan mendasarkan pada argumentasi di atas, penelitian ini
mengajuan tiga rumusan masalah penelitian sebegai berikut; 1) bagaimana
pelaksanaan Pemilihan Umum di Desa Gili Indah? 2) faktor-faktor apa yang
mempengaruhi rendahnya partisipasi warga dalam Pemilihan Umum di Gili
Indah? 3) bagaimana Strategi Peningkatan Partisipasi Pemilih di Gili Indah?
B. Tinjauan Teoritis
Sistem politik membutuhkan dukungan dari lingkungan politik. Salah
satu dukungan yang penting itu ialah partisipasi politik warga Negara dalam
proses politik. Salah satunya partisipasi warga negara dalam pemberian suara
di pemilihan umum. Partisipasi politik bukan sekedar keterlibatan warga
Negara dalam pemberian suara, tetapi implikasi dari proses pemberian suara
tersebut mampu menghasilkan struktur politik yang bekerja melaksanakan
mandat menghasilkan dan melaksanakan kebijakan selama lima tahun. Fakta
ini tentu saja berimplikasi terhadap munculnya berbagai cara dan gaya dalam
menjalankan pemerintahan. Pada fase inilah masyarakat dituntut untuk aktif
mengawasi dan menjadi mitra dalam menghasilkan kebijakan yang merakyat.
Pemilihan umum merupakan rutinitas dalam negara demokratis,
pemilu tidak hanya menyangkut pemilihan pemimpin politik melainkan
bentuk dari kedaulatan rakyat. Menurut teori demokrasi minimalis
(Schumpeterian), pemilu merupakan sebuah arena yang mewadahi kompetisi
59
I
(kontestasi) antar aktor politik untuk meraih kekuasaan; partisipasi politik
rakyat untuk menentukan pilihan; serta liberalisasi hak-hak sipil dan politik
warga negara.38 Sejalan dengan itu, pemilu menyangkut dua hal utama yakni
proses dan hasil. Pemilu dapat dikatakan berkualitas dari sisi prosesnya,
apabila pemilu berlangsung secara demokratis, aman, jujur dan adil.
Sedangkan dilihat dari hasilnya, pemilu berkualitas jika mampu menghasilkan
wakil rakyat dan pemimpin negara/politik yang mampu menyejahterakan
rakyat.39
Di negara-negara demokrasi tingginya
partisipasi masyarakat
menunjukkan bahwa warga Negara mengikuti dan memahami masalah
politik dan ingin melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan politik. Hal ini juga
menunjukkan bahwa rezim yang besangkutan memiliki kadar keabsahan
(legitimacy) yang tinggi. Sebaliknya, tingkat partisipasi yang rendah umumnya
dianggap sebagai tanda yang kurang baik, karena dapat ditafsirkan banyak
warga tidak menaruh perhatian terhadap masalah kenegaraan. Partisipasi
yang rendah dianggap menunjukkan legitimasi yang rendah pula.40
Secara teoritik Herbert McClosky mendefiniskan partisipasi politik
sebagai kegiatan sukarela dari warga masyarakat mengambil bagian dalam
proses pemilihan penguasa, dan secara langsung atau tidak langsung, dalam
proses pembentukan kebijakan umum.41 Penekanan terhadap pentingnya
proses memilih penguasa dan mempengaruhi kebijakan Negara sebagai yang
ditekankan Herbert McClosky menjadi satu rangkaian dari proses politik yang
panjang selama satu periode kekuasaan. Huntington dan Nelson menyatakan
partisipasi politik sebagai kegiatan yang dilakukan oleh para warga Negara
38
Lihat Sutoro eko, Krisis Demokrasi Elektoral “ dalam Demokrasi dan
Potret Lokal Pemilu 2004”, penyunting Prajarta dan Kana, Percik dan
Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2006
39
Lihat Abdullah Rozali, Mewujudkan Pemilu Yang Berkualitas, Rajawali
Pers, Jakarta, 2009
40
Lihat Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta,
2008, hal 369.
41
Ibid, hal 367
60
I
preman dengan tujuan mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah.
Partisipasi itu dapat secara spontan, sinambung atau sporadik, secara damai
atau dengan kekerasan, legal atau illegal, efektif atau tidak.42
Sedangkan Rush dan Althoff mendefinisikan partisipasi politik sebagai
keterlibatan individu sampai pada macam-macam tingkatan di dalam sistem
politik. Aktivitas politik itu bisa bergerak dari ketidakterlibatan sampai
dengan aktivitas jabatannya.43 David Road dan Wilson membagi empat
kategori partisipasi politik yang akan disajikan dalam bentuk piramida
partisipasi politik.
Aktivis
Partisipan
Pengamat
Apolitis
Sumber: David Road dan Wilson Dalam Bukunya Said dan Sahid Gatara,
Sosiologi Politik “Konsep dan Dinamika Perkembangan Kajian” Pustaka
Setia, 2007.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat dipahami bahwasanya partisipasi
politik bukan sekedar proses menjalankan pilihan-pilihan politik pada
pemilihan umum melainkan seluruh rangkaian dari proses memilih,
mengawasi, mempengaruhi dan evaluasi terhadap kepemimpinan politik
42
Huntington dan Nelson, Partisipasi Politik di Negara berkembang,
Rineka Cipta, Jakarta,1994, hal 6
43
Michael Rush dan Althoff, Pengantar Sosiologi Politik, Rajawali Pers,
Jakarta, 2007, hal 23
61
I
periode sebelumnya. Dalam konteks penelitian rendahnya tingkat partispasi
memilih warga Desa Gili Indah, peneliti memfokuskan pada rendahnya
partisipasi memilih dengan mengacu pada kualitas pelaksanaan pemilu dan
partisipasi politik warga dalam menyalurkan hak-hak sipil dan politik sebagai
warga negara dalam pemilihan umum (Pemilu). Dengan demikian penelitian
ini diharapkan dapat memberikan deskripsi mengenai persoalan-persoalan
pelaksanaan pemilu dan faktor-faktor rendahnya partisipasi dalam memilih
sebagaimana yang dikemukakan McClosky (1972:20) bahwa: “Ada yang tidak
ikut pemilihan karena sikap acuh tak acuh dan tidak tertarik oleh, atau kurang
paham mengenai, masalah politik. Ada juga karena tidak yakin bahwa usaha
untuk mempengaruhi kebijakan Pemerintah akan berhasil dan ada juga yang
sengaja tidak memanfaatkan kesempatan memilih karena kebetulan berada
dalam lingkungan dimana ketidaksertaan merupakan hal yang terpuji”. 44
C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam menemukan
makna dibalik rendahnya tingkat partisipasi memilih warga di Gili Indah.
Pendekatan kualitatif dianggap mampu memberikan keleluasaan bagi peneliti
untuk mendalami keseluruhan situasi sosial yang kompleks. Pada dasarnya
penelitian kualitatif dipilih karena permasalahan yang belum jelas, holistik,
kompleks, dinamis dan penuh makna sehingga tidak mungkin data pada
situasi social menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrument seperti
test, kuesioner maupun pedoman wawancara45. Metode kualitatif juga dapat
diketahui untuk mendapatkan wawasan tentang sesuatu yang baru sedikit
diketahui.46
Memilih informan yang memahami situasi sosial adalah salah satu
kunci keberhasilan dalam penelitian. Untuk itu dalam menentukan Informan,
44
45
46
Soebagio, Implikasi Golongan Putih Dalam Perspektif Pembangunan
Demokrasi Di Indonesia, Jurnal, Makara, Sosial Humaniora, Vol 12, No
2, Desember 2008:82-86
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D,
Alfabeta, Bandung, 2013, hal 292.
Strauss dan Corbin, Dasar-dasar penelitian kualitatif, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta, 2013, hal 5.
62
I
digunakan teknik Purposive Sampling. Yaitu teknik penentuan narasumber
dengan menentukan narasumber terlebih dahulu berdasarkan karakteristik
tertentu.
Peneliti akan menggunakan dua komponen data utama yaitu data
primer yang akan diperoleh secara langsung melalui wawancara, dan data
sekunder seperti data jumlah pemilih, perolehan suara dan dokumen terkait
Pemilihan Umum yang bisa didapatkan di Kantor Komisi Pemilihan Umum
(KPU) dan data-data pendukung melalui Media Massa.
Penelitian ini menggunakan teknik Indepth Interview dengan
mewawancarai informan kunci (key person) yang merupakan sebaran dari
karakteristik tertentu seperti pekerjaan, status sosial dan jenis kelamin pada
daerah yang menjadi locus penelitian. Indepth interview diharapkan dapat
memberikan informasi mendalam kepada peneliti mengenai kompleksitas
pada situasi sosial.
Analisis Data sebagai seperangkat proses dalam membaca dan
menemukan makna dari seluruh informasi yang disampaikan menjadi sangat
vital dalam menjamin hasil penelitian menjadi reliable. Untuk itu, penelitian
ini menggunakan teknik interaktive model. Analisis data menggunakan model
ini terdiri dari reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. 47
Alur analisis data dengan model interaktif akan tampak seperti pada gambar
berikut.
Gambar 3.1
Skema Analisis Data Model Interaktif
Pengumpulan Data
Penyajian Data
Reduksi Data
Kesimpulan-Kesimpulan:
Penarikan/Verifikasi
Sumber : Miles dan Huberman (edisi 2014:16)
47
Miles Matthew dan Huberman, Analisis Data Kualitatif, Penerbit
Universitas Indonesia, Jakarta, 2014, hal 16
63
I
D. Hasil Penelitian
D.1.Perihal Desa Gili Indah
Gili indah merupakan territorial Desa yang ada di kecamatan
pemenang, terdiri dari Dusun Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan dari
gugusan tiga pulau yang secara kewilayahan berada di sebelah utara
Kabupaten
Lombok
Utara.
Sebagai
gugusan
kepulauan,
pariwisata
merupakan sektor yang diandalkan dan menjadi pusat kedatangan utama
dari berbagai wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Dengan
berkah gugusan kepulauan yang indah tidak heran gili indah dianggap sebagai
surganya wisata bahari. Limpahan keindahan bahari tersebut mampu
dimanfaatkan secara baik oleh masyarakatnya dimana sebagian besar
penduduknya bermata pencaharian pada sector partiwisata dari berbagai
dimensi, sebagian nelayan, pedagang, pemandu wisata, boatman, kusir
cidomo hingga pengusaha dan sebagainya.
Tabel 3.2
Jumlah Penduduk Desa Gili Indah
DAK 2
Desa
Laki
Gili
2.564
Indah
Pere
mpu
an
2.52
6
DP 4
Jumlah
Laki
5.090
1.708
Pere
mpu
an
1.74
Jumlah
Jumlah KK
3.455
1.510
7
Sumber: server Dinas Dukcapil Kab. Lombok Utara, Data Per: 31 Januari 2015
64
I
D.2. Pemilih Desa Gili Indah
Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lombok
Utara jumlah wajib pilih di Desa Gili Indah berjumlah 3.430 wajib pilih dengan
rincian wajib pilih perempuan berjumlah 1.748 pemilih dan wajib pilih laki-laki
berjumlah 1682 wajib pilih yang tersebar melalui 5 tempat pemungutan suara
(TPS) terdiri dari 1 TPS berada di Dusun Gili Air, 1 TPS di Dusun Gili Meno dan
3 TPS di Dusun Gili Trawangan.
Tabel 3.3
Pemilih Desa Gili Indah
No.
Pemilih
TPS
Laki-Laki
Perempuan
Jumlah
1.
TPS 1
337
372
709
2.
TPS 2
363
367
730
3.
TPS 3
241
259
500
4.
TPS 4
388
373
761
5.
TPS 5
353
377
730
1682
1748
3430
Total
Sumber: KPU KLU, Pilpres 2014
D.3.Tingkat Kehadiran Pemilih
Tingkat kehadiran pada masing-masing tempat pemungutan suara
(TPS) di Desa Gili Indah berdasarkan hasil Pilpres 2014 sebesar 51,69 persen.
Angka partisipasi memilih tersebut mengindikasikan adanya persoalan
kepemiluan yang penting untuk segera ditindaklanuti oleh penyelenggara
pemilihan umum. Rendahnya tingkat partisipasi tersebut masih bisa
65
I
diintervensi mengingat masih terdapat keperdulian dari warga untuk terlibat
dalam proses politik terbukti dari masih adanya tingkat partisipasi sebesar 83
persen pada salah satu tempat pemungutan suara (TPS).
Tabel.3.4.
Tingkat Kehadiran Pemilih
Prosentase
No
TPS
1.
TPS 1
47 %
2.
TPS 2
56 %
3.
TPS 3
83 %
4.
TPS 4
50 %
5.
TPS 5
33 %
Rata-Rata
Memilih
51, 69 %
Keterangan
Tingkat partisipasi
memilih terbesar pada
TPS 3 sebesar 83 persen,
terkecil di TPS 5 sebesar
33 persen. Sedangkan
rata-rata partisipasi
memilih di Gili Indah
berkisar 51,69 persen.
Sumber: KPU KLU, Pilpres 2014
Rendahnya tingkat partisipasi memilih warga Desa Gili Indah merupakan
gejala munculnya apatisme warga terhadap proses politik yang seharusnya
mampu menjadi media evaluasi terhadap kepemimpinan dan perwakilan
politik. Angka 51,69 persen tentu merupakan angka partisipasi memilih
terendah jika dibandingkan dengan angka partisipasi dengan desa lain yang
berada di wilayah administratif Kecamatan Pemenang. Tingkat partisipasi
memilih sangat dipengaruhi oleh banyak variable. Seperti persoalan
administratif yang membuat warga tidak terdaftar sebagai pemilih. Persoalan
administratif ini terjadi hampir disetiap pemilihan umum, baik pilpres, pileg
maupun pilkada yang membuat warga dan kontestan politik kehilangan hak
memilih dan dipilih. Termasuk keterlambatan logistik pemilu dan minimnya
66
I
sosialisasi publik terkait pelaksanaan dan tata cara memilih juga menjadi
persoalan yang harus menjadi pertimbangan untuk menjawab rendahnya
tingkat partisipasi memilih.
Untuk menjawab penyebab rendahnya partisipasi memilih warga di Desa Gili
Indah, pembahasan ini akan di susun berdasarkan analisis terhadap
pelaksanaan pemilu, analisis terhadap faktor-faktor partisipasi memilih,
analisa terhadap potensi (kearifan) lokal dan analisa terhadap pola
peningkatan
partisipasi.
Sistematika
penyusunan
ditujukan
untuk
memudahkan pemetaan rendahnya tingkat kehadiran memilih dan potensi
lokal yang bisa digunakan mendorong perbaikan pelaksanaan pemilu
termasuk menemukan solusi komprehensif yang bisa diintervensi oleh
penyelenggara pemilu dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten
Lombok Utara.
D.4. Pelaksanaan Pemilihan Umum
Secara umum pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) di Desa Gili
Indah berjalan dengan lancar, seperti yang terjadi pada pemilihan umum
presiden (Pilpres) dan Pemilihan legislatif (Pileg) 2014 yang ditandai dengan
tersalurnya logistik pemilu secara lancar tanpa hambatan tertentu yang bisa
menggagalkan pelaksanaan pemilihan umum. Perangkat pemilu di Desa juga
telah melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga proses pencoblosan
berlangsung dengan aman dan tertib.
Selama ini pelaksanaan pemilu berjalan sesuai dengan prosedur dan
mekanisme yang diberlakukan. Dari pemilu ke pemilu masyarakat pemilih di
Gili Indah mengetahui adanya pemilu, namun dominan terkendala pada halhal teknis ke tempat pemungutan suara untuk pencoblosan serta pemahaman
mengenai boleh tidaknya pindah tempat pemungutan suara (TPS) untuk
memilih. Sebagai daerah yang mayoritas masyarakatnya pekerja persoalan
teknis pemilu menjadi persoalan utama mengingat keinginan untuk
menggunakan hak pilihnya sebagai warga Negara belum selaras dengan ritme
67
I
kerja di perusahaan dan jarak tempuh dari TPS ke tempat kerja sehingga
diperlukan kesesuaian kebijakan perusahaan dengan waktu pencoblosan,
terutama kepada pekerja di perusahaan. Berkenaan dengan pelaksanaan dan
persoalan pemilu, Kepala Dusun Gili Trawangan mengatakan sebagai berikut:
Pemilu berjalan lancar, dan kita sudah laksanakan, tidak ada persoalan logistik
Cuma perlu ada rangsangan kepada orang-orang ini (Pemilih) supaya
bagaimana dia untuk menyampaikan hak mereka terutama untuk kepentingan
pemerintahan kita mendatang. Banyak yg dapat undangan dari TPS lain mau
memilih di Trawangan karena mereka bekerja di sini. Banyak kendala seperti
itu di sini. KPU harus sering turun untuk konfirmasi supaya pemilu ini efektif
nantinya. Terutama yang memilih ditempat lain (H. Lukman, Wawancara, 5
Juli 2015).
Hal yang sama juga disampaikan oleh salah seorang tokoh pemuda
sekaligus pengusaha di Gili Trawangan sebagai berikut:
Pelaksanaan pemilu sudah bagus, dari sisi logistik dan ketepatan waktu
penyelenggaraan pemilu. Masyarakat sebenarnya tahu dirinya sebagai
pemilih, hanya saja banyak masyarakat yang bekerja di Gili (kepulauan) tetapi
tinggal di luar gili (Safari Mahdan, S.Kom, wawancara tanggal 5 juli 2015)
Jika mencermati beragamnya persoalan pelaksanaan pemilu di Gili
Indah, dapat ditekankan bahwasanya persoalan pemilu tidak hanya
menyangkut pemenuhan aspek logistik melainkan hal-hal menyangkut aspek
administratif lainnya seperti wajib pilih yang tidak terdata sebagai penduduk
lokal dan wajib pilih yang berasal dari luar gili (kepulauan) tetapi bekerja dan
beraktivitas keseharian di Gili Indah. Karakteristik wajib pilih seperti yang ada
di Gili Indah membutuhkan pendekatan khusus dari penyelenggara pemilu.
Posisi Gili Indah sebagai wilayah mata pencaharian dengan identitas
kependudukan pekerja yang beragam juga berkontribusi bagi rendahnya
tingkat partisipasi memilih di daerah lain, sehingga sosialisasi mengenai
mekanisme pindah tempat pemungutan suara menjadi penting dilakukan.
68
I
D.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Partisipasi Memilih
Angka partisipasi sebesar 51,69 persen tentu mengindikasikan ada
persoalan pemilu yang kompleks dan membutuhkan penanganan serius tidak
hanya oleh penyelenggara pemilu dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU)
dan pranata kelengakapan pemilu lainnya di Kecamatan dan Desa melainkan
membutuhkan perhatian dari stuktur politik lainnya seperti partai politik,
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR/DPD/DPRD) dan eksekutif dan elemen
demokrasi lainnya. Rendahnya tingkat partisipasi di Gili Indah berdasarkan
hasil penelitian ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:
1. Adanya apatisme memilih: Anggapan bahwa memilih dan tidak memilih
dimaknai sama saja, tidak memberikan perubahan bagi tingkat
kesejahteraan individu yang berkaitan dengan matapencahariannya
sehari-hari. Munculnya apatisme warga untuk tidak terlibat dalam proses
pemilihan umum menjadi peringatan bagi unsur demokrasi lain,
khususnya peringatan bagi Partai Politik, Dewan Perwakilan Rakyat dan
Eksekutif
untuk
segera
berbenah
menciptakan
kesadaran
dan
pembelajaran politik kepada warga Negara. Mengenai apatisme warga Gili
Indah disampaikan oleh beberapa tokoh Desa Gili Indah sebagai berikut:
“Belum ada bukti nyata yang ada di masyarakat yang disampaikan oleh
tokoh-tokoh politik yang terpilih. Kalau di Desa kan sudah ada bukti,
sekarang anak-anak muda jadi pengusa, jalan sudah masuk” (H. Taufik,
Wawancara, 5 Juli, 2015). “Apatis terhadap proses pemilu, ngapain kita
milih. Yang bekerja sibuk dengan pekerjaannya. Masyarakat juga Gak tahu
calon yang mau dipilih jadi banyak yang g milih” (Humaidi, Wawancara, 13
Juli 2015).
Munculnya apatisme warga terlibat dalam proses pemilihan umum
menjadi persoalan serius mengingat keengganan warga Negara terlibat dalam
proses politik bisa menyebabkan pemimpin menggunakan kekuasaan hanya
untuk kepentingan dan golongannya saja seperti yang disampaikan oleh Miriam
Budiarjo bahwasanya partisipasi politik terkait dengan kadar keabsahan dan
legitimasi yang rendah pula. Apatisme politik selain menghilangkan bermaknanya
69
I
satu suara juga berdampak terhadap rendahnya tingkat keterpilihan bagi calon
pemimpin dan calon perwakilan yang punya komitmen terhadap perubahan
rakyat. Keresahan ini muncul dari seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
(DPRD) KLU Dapil Tanjung dan Pemenang sebagaimana yang dikemukakan
berikut ini:
“Satu suara itu penting, peran serta tokoh untuk memilih punya pengaruh
lewat sosialisasi, memastikan pilihan dan datang ke TPS” (H.M. Arsan,
S.Pd.i, Wawancara 5 juli 2015).
Terkait rendahnya tingkat partisipasi memilih di Gili Indah, tidak
semua proses kontestasi politik diwarnai apatisme warga dalam memilih
terbukti dari antusiasme masyarakat Gili Indah ketika memilih pada
kontestasi politik lokal (Pilkades) yang begitu tinggi. Ada bebarapa hal
yang mempengaruhi, seperti faktor kedekatan, aduan yang cepat diproses
dan proses penyelesaian persoalan yang lebih cepat diselesaikan menjadi
faktor warga memilih dalam kontestasi Pilkades. Fakta ini tentu saja harus
direspon oleh instrumen dan kelembagaan politik lainnya untuk berbenah
memperbaiki
kinerjanya.
Antusiasme
pilkades
terangkum
dalam
pengakuan H.Taufik selaku Kepala Desa Gili Indah berikut ini:
“Pemilihan di tingkat lokal (Pilkades) lebih antusias, dari 2800 pemilih yang
memberikan hak pilihnya mencapai 2600 pemilih. Pilkades antusias dibanding
pemilihan lainnya karena lebih dekat dalam komunikasi, tiap hari bisa
menyampaikan keluhan mereka bisa sampaikan dan tindakan penyelesaian
masalah lebih cepat. Proses penyelesaian seperti itu tidak ditemukan di
pemilihan lainnya” (H. Taufik, Wawancara, 5 Juli 2015)
Rendahnya tingkat partisipasi memilih di Desa Gili Indah masih bisa
ditingkatkan mengingat masih adanya kesadaran politik warga dalam kontestasi
politik lokal (Pilkades). Dengan kata lain intensitas masyarakat Gili dalam proses
politik terjadi ketika ada kepentingan langsung yang berhubungan dengan
pembangunan masyarakat Desa sehingga intervensi merubah perilaku politik
tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU)
melainkan membutuhkan sinergisitas dengan Partai Politik, Pemerintah Daerah,
dan perangkat demokrasi lainnya.
70
I
2. Faktor Pekerjaan
Masyarakat Desa Gili Indah yang mayoritas pekerja disatu sisi
menyumbang sumbangsih dalam peningkatan taraf perekonomian
masyarakat dan sisi lain membutuhkan kedisiplinan dan semangat
profesionalisme faktanya menjadi persoalan selama ini terkait
rendahnya tingkat partisipasi memilih warga Desa Gili Indah. Benturan
waktu pencoblosan dan waktu bekerja menyebabkan wajib pilih tidak
mempunyai waktu untuk melakukan pencoblosan. Persoalan ini tentu
saja harus segera dibenahi oleh penyelengara pemilu dengan
membangun komitmen bersama diantara para pengusaha untuk
mengijinkan pegawainya memberikan hak suaranya. Sebagaimana
yang disampaikan oleh Kepala Dusun Gili Trawangan seperti berikut
ini:
“Trawangan daerah bisnis mereka berfikir lebih mementingkan pekerjaan.
masyarakat trawangan banyak yang di pinggir jadi agak susah balik untuk
memilih Untuk Pemuda kesibukan malam, kerja, mereka bangun jam 1-2
siang sehingga itu jadi kendala ikut memilih. Seperti boatman berangkat jam
7 pulang sore sehingga tidak bisa memilih sementara ada batasan jam
memilih” (H. Lukman, Wawancara, 5 Juli 2015). Persoalan menyangkut
benturan antara jam kerja dan waktu pencoblosan juga menjadi perhatian
tokoh Desa Gili Indah lainnya, seperti berikut ini:
“Disini kawasan pariswisata hidupnya di pantai, senang surfing tidak pulang
semalaman itu susahhnya kalau untuk memilih. kita kami siap membantu”
(Muktamat Rasmanto, Wawancara, 5 Juli 2015).
“Waktu bertepatan dengan kerja, contoh mereka orang sini masuk kerja 7.30
harus standby di tempat kerja break jam 12. Tutupnya jam 1 Banyak yang
datang setelah jam 1 TPS sudah tutup (H. Taufik, wawancara 5 juli 2015).
Benturan antara jam bekerja dengan waktu pencoblosan
tersebut harus mampu disiasati oleh penyelenggara pemilu dengan
membangun
kerjasama
dengan
seluruh
stakeholders
dalam
menyediakan tempat pemungutan suara yang relatif bisa dijangkau
oleh masyarakat pekerja. Meskipun telah ada keputusan pemerintah
71
I
untuk menjadikan hari pencoblosan sebagai hari libur nasional, tidak
memberikan jaminan mengingat karakteristik pekerjaan pada sektor
pariwisata berbeda dengan sektor formal yang lain.
3. Minimnya Sosialisasi
Penyampaian informasi publik terkait kepemiluan dari Komisi
Pemilihan Umum (KPU) masih sangat minim. Informasi mengenai
pemilu banyak didapatkan melalui media baik cetak maupun
elektronik, keberadaan media sosial juga berkontribusi terhadap
pemenuhan informasi kepemiluan. Persoalannya tidak semua media
tersebut mampu memberikan informasi pemilu yang refresentatif bagi
wajib pilih. Keberhasilan pemilu tidak hanya ditentukan variable
terpenuhinya logistik dan perangkat pemilu, peran informasi sangat
penting
menunjang
keberhasilan
pemilu
sehingga
kehadiran
penyelenggara pemilu dalam menyampaikan berbagai macam
informasi seperti tahapan pemilu, identitas kandidat dan cara
mencoblos sangat penting diketahui wajib pilih.
Minimnya sosialisasi tentang informasi pemilu tidak hanya
berdampak terhadap rendahnya pengetahuan pemilu masyarakat
melainkan juga merugikan para kandidat yang akan berkompetisi. Jika
hal ini terjadi dapat mengakibatkan ketidakpercayaan publik terhadap
penyelenggara pemilu dan tidak menutup kemungkinan muncul
gugatan terhadap keabsahan hasil pemilu. Dalam konteks dukungan
politik, bisa menyebabkan benturan pada akar rumput atas
ketidakpuasaan penyelenggaraan pemilu. Untuk konteks Desa Gili
Indah minimnya sosialisasi juga menjadi perhatian dari Pranata Desa
Gili Indah seperti beberapa pernyataan berikut:
“ Gili indah belum tersentuh sosialisasi yang benar-benar ya sosialisasi itu.
Sosialisasi baliho-baliho harus sudah ada ini lagi berapa bulan sudah harus
efektif dipelabuhan disemua area publik. KPU harus jemput bola dan sering-
72
I
sering diumumkan mengenai jadwal pemilihan untuk mengingatkan warga”
(H. Taufik, wawancara, 5 juli, 2015)
Sosialisasi minim pas mau pemilu, tidak ada baliho mungkin dari KPU
masyarakat kita kumpul hari jumat mungkin ada penceramah tentang
pemilu, sosialisasi melalui masjid paling bagus. Sedini mungkin masyarakat
tahu lewat ceramah masjid, karena kalau mau dikumpulkan sulit jadi momen
paling bagus di masjid melalui jumatan supaya masyarakat menggunakan hak
pilihnya (H. Lukman, wawancara, 5 Juli 2015).
Untuk memaksimalkan sosialisasi perlu dilakukan hal-hal
semisal forum pertemuan antar stakeholders, pemasangan billboard,
spanduk-leaflet pada tempat umum dan terjangkau oleh masyarakat
pemilih. Pentingnya peningkatan kuantitas dan kualitas pesan menjadi
perhatian akademisi Institut Agama Islam Negeri Mataram seperti
berikut ini:
Himbauan tokoh agama dan tokoh masyarakat melalui lembaga atau forum
pertemuan dapat memberikan pemahaman pentingnya berpartisipasi dalam
pemilu, misalnya melalui materi khutbah, brosur atau corong penerangan
umat. Pada saat hari pemilihan, perlu adanya suasana lokal yang
menggambarkan pesta demokrasi dengan menggunakan busana adat sebagai
ajang promosi bagi wisatawan (Dr. H. Lalu Muchsin Afendi, M.A. wawancara
11 Juli 2015). Hal yang sama juga disampaikan oleh tokoh muda Dusun Gili
Trawangan.
Perlu ada hiburan tradisional seperti presean, ada urusan di pak kadus kita
yang ikut selesaikan. Untuk pemuda menurut saya karena di sini mau begini
begitu pada sibuk, hanya sedikit waktunya, itu susahnya kita kalau sore bisa
kita manfaatkan untuk presean sebagai media sosialisasi (Muktamat
Rasmanto, Wawancara, 5 juli 2015)
4. Jarak Tempuh Pemilih
Mengingat ritme kesibukan yang dinamis berkaitan dengan
siklus pemilih dari daratan ke pulau maupun sebaliknya dan
keterjangkauan tempat pemungutan suara (TPS) bagi sebagian pemilih
masih menjadi kendala, sebagai konskuensi topografi Desa Gili Indah
yang bergugus kepulauan. Sebagai daerah pariwisata dengan tingkat
kunjungan yang besar dan mobilitas antar pulau yang begitu tinggi
73
I
dibutuhkan penanganan khusus bagi para wisatawan maupun
masyarakat yang berasal dari luar Gili Indah yang sedang berlibur
maupun masyarakat gili yang berada di daratan diakomodir
keinginannya sebagai warga Negara dalam memberikan hak pilih.
Banyak dari warga Trawangan yang sudah memiliki rumah di daratan
(Pemenang dan sekitarnya) ketika pemilu sedang berada di luar
trawangan tidak memilih karena jarak tempuh hanya untuk sekedar
datang memilih tentu saja persoalan ini memberikan sumbangsih bagi
rendahnya tingkat partisipasi warga dalam memilih.
D.6. Potensi (Kearifan) Lokal
Dalam perkembangannya, penelitian ini juga mengidentifikasi potensi
lokal sebagai upaya partisipasi memilih di Gili Indah yaitu sebagai berikut:
1. Harmomi akulturasi ritual keagamaan dan kebudayaan yang berlangsung
sinergis dan berkesinambungan. Aktivitas peribadatan dan agenda atraksi
budaya bisa berjalan beriringan dengan spesifik Gili Indah dengan ragam
kemajemukannya tanpa mereduksi tradisi yang sudah berlangsung lawas.
2. Potensi kecenderungan pemuda pada kegiatan-kegiatan olahraga, seperti
kompetisi liga bola antara perusahaan.
3. Event-event kolosal budaya dan pariwisata yang regular/berkala
dilaksanakan di Gili Indah. Semisal presean, rebo bontong-mandi shafar,
rangkaian kegiatan agustusan kemerdekaan dan sebagainya.
Berbagai potensi lokal yang ada di Gili Indah tersebut pada dasarnya
bisa digunakan sebagai media dalam upaya menyampaikan pesan-pesan
seputar pemilihan umum. Pendekatan kebudayaan yang terefleksi dalam nilainilai kultural bisa menjadi agen pengenalan politik. Dalam konteks rendahnya
partisipasi memilih di Desa Gili Indah tidak bisa dilepaskan dari sosialisasi
politik. Yakni Suatu upaya untuk terus meneruskan mengenalkan pentingnya
partisipasi dalam proses politik. Potensi lokal seperti kegiatan kepemudaan
74
I
dan lingkungan kerja menjadi agen sosialisasi yang efektif untuk
menyampaikan hak dan kewajiban politik sebagai warga Negara.
Mengenalkan pentingnya keterlibatan politik tidak hanya dilakukan
melalui lembaga-lembaga formal seperti sekolah, tetapi menyatu dalam
kebudayaan masyarakat setempat bisa menjadi pendekatan alternatif,
mengingat agen sosialisasi politik seperti partai politik, kurang mampu
memberikan
perubahan
signifikan.
Terbukti
dengan
memudarnya
kepercayaan publik terhadap keberadaan partai politik. Sehingga pendekatan
kebudayaan bisa menjadi alternatif dalam mengenalkan politik kepada warga.
D.7. Strategi Peningkatan Partisipasi
Dari berbagai persoalan kepemiluan yang menyebabkan rendahnya
partisipasi memilih warga Desa Gili Indah, dapat kami kemukakan beberapa
tools pola peningkatan partisipasi memilih, diantaranya:
1. Pengumuman formal: Adanya sosialisasi yang diadakan dengan
pemasangan
billboard-spanduk
dan
pembagian
leaflet
mengenai
pentingnya berpartisipasi dalam pemilihan umum, serta pengumuman
yang disampaikan melalui fasilitas publik secara terjadwal yang
mendapatkan permakluman dari pihak pemerintah setempat termasuk
juga bekerjasama dengan pemilik perusahaan untuk menyampaikan
beberapa pengumuman kepada pekerja.
2. Forum interaktif: Melalui pertemuan antar-stakeholders untuk bersamasama membangun dialog dan menemukan kesepemahaman mengenai
pentingnya partisipasi dan penggunaan hak pilih dalam pemilihan umum
(Pemilu).
3. Sinergi kegiatan kolosal: Membangun kerjasama yang baik antara
penyelenggara teknis pemilu setempat dengan lembaga/perusahaan yang
mengadakan event/kegiatan kolosal untuk menyosialisasikan partisipasi
memilih dan pentingnya menggunakan hak pilih.
75
I
4. Edukasi Entertainment-cultural: dengan menciptakan inovasi spesifik
bernuansa pariwisata dengan menyuasanakan TPS pada saat hari
pencoblosan melalui pemakaian busana adat pada TPS-TPS setempat.
D.8. Solusi Komfrehensif
Adapun dari berbagai pemetaan dan tanggapan responden pada
penelitian ini, diperoleh beberapa solusi berdasarkan realita (sebelumnya)
tentang rendahnya partisipasi memilih di Gili Indah diantaranya sebagai
berikut:
1. Prakondisi pemilu berkaitan dengan sosialisasi pemilihan umum dengan
mengacu pada tahapan pemilu yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan
Umum.
2. Pelaksanaan pemilihan umum berkaitan dengan implementasi teknis
pemilu pada tempat pemungutan suara (TPS) setempat.
3. Evaluasi pemilihan umum yang mengacu pada database perbandingan
tingkat partisipasi memilih dari pemilu ke pemilu di gili indah.
76
I
Daftar Pustaka
Abdullah Rozali, Mewujudkan Pemilu Yang Berkualitas, Rajawali Pers, Jakarta,
2009.
Amin Ibrahim, Pokok-Pokok Pengantar Ilmu Politik, Mandar Maju, Bandung.
Huntington dan Nelson, Partisipasi Politik di Negara berkembang, Rineka Cipta,
Jakarta,1994.
Miles Matthew dan Huberman, Analisis Data Kualitatif, Penerbit Universitas
Indonesia, Jakarta, 2014.
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 2008.
Michael Rush dan Althoff, Pengantar Sosiologi Politik, Rajawali Pers, Jakarta.
Sahid Gatara dan Dzulkiah Said, Sosiologi Politik, Konsep dan Dinamika
Perkembangan, Pustaka Setia Bandung, 2007.
Sutoro eko, Krisis Demokrasi Elektoral “ dalam Demokrasi dan Potret Lokal
Pemilu 2004”, penyunting Prajarta dan Kana, Percik dan Pustaka Pelajar
Yogyakarta, 2006.
Soebagio, Implikasi Golongan Putih Dalam Perspektif Pembangunan Demokrasi
Di Indonesia, Jurnal, Makara, Sosial Humaniora, Vol 12, No 2, Desember 2008:8286.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung,
2013.
Strauss dan Corbin, Dasar-dasar penelitian kualitatif, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
2013.
77
I
BAB IV.
Analisis Partisipasi Pemilih Pada Pemilu 2014:
Studi Kasus di Kabupaten Lombok Tengah
Ari Wahyudi * Sansuri * Zaeroni *
Baiq Husnawati * Lalu Puji H.
A. Pengantar
Masyarakat
menjadi komponen penentu berhasil atau tidaknya
pelaksanaan pemilu. Posisioning masysrakat ini menjadi strategis karena
setiap individu, apapun latar belakangnya seperti suku, agama, ras, jenis
kelamin, status sosial, dan golongan. Mereka memiliki hak yang sama untuk
berserikat dan berkumpul, menyatakan pendapat, menyikapi secara kritis
kebijakan pemerintah dan pejabat negara. Hak ini disebut hak politik yang
secara luas dapat langsung diaplikasikan melalui pemilihan umum.
Dalam
menjelaskan
prinsip
universal
di
atas,
Sastroatmodjo
menyatakan negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan pirnsip
kedaulatan rakyat dalam kerangka demokrasi Pancasila. Di mana untuk
mewujudkan pola kehiudpan sistem kedaulatan rakyat yang demokratis
tersebut adalah melalui pemilihan umum (pemilu). Melalui pemilu, rakyat
Indoneisa turut serta secara aktif untuk berpartisipasi dalam pengisian
pemimpin politik mereka di jabatan legislative (DPR, DPD, DPRD) maupun
eksekutif (presiden, gubernur bupati/wali kota). Pemilu juga merupakan salah
satu bentuk paritisipasi politik sebagai perwujudan dari kedaulatan rakyat,
karena pada saat pemilu itulah, rakyat menjadi pihak yang paling menentukan
bagi proses politik di suatu wilayah dengan memberikan suara secara
langsung.
Jika demikian logikanya, maka partisipasi masyarakat merupakan salah
satu aspek penting dari demokrasi. Asumsi yang mendasari demokrasi
(partisipasi) masyarakat merupakan aktor yang paling tahu tentang apa yang
78
I
baik bagi diri mereka. Karena keputusan politik yang dibuat dan dilaksanakan
oleh pemerintah menyangkut dan mempengaruhi kehidupan warga negara
maka warga masyarakt berhak ikut serta menentukan isi keputusan yang
mempengaruhi hidup mereka. Ilmuan politik membagi partisipasi politik
masyaraka menjadi dua, yakni; memepengaruhi isi kebijakan umum dan ikut
menentukan pembuatan dan pelaksana keputusan politik.
Kesadaran politik masyarakat menjadi faktor determinan dalam
partisipasi politik, artinya sebagai hal yang berhubungan dengan pengetahuan
dan kesadaran akan hak dan kewajiban yang berkaitan dengan lingkungan
masyarakat dan kegiatan politik menjadi ukuran dan kadar seseorang terlibat
dalam proses partisipasi politik. Pengalaman pemilu yang berlangsung dalam
beberapa dekade menunjukkan banyaknya para pemilih yang tidak
memberikan suaranya. Sebagai fenomena penggambaran di atas apabila
seseorang memiliki kesadaran politik dan kepercayaan kepada pemerintah
tinggi maka partisipasi pilitik cenderung aktif, sedangka apabila kesadaran dan
kepercayaan sangat kecil maka paritisipasi politik menjadi pasif dan apatis.
Berpijak dari proposisi di atas, penelitian ini merumuskan masalah
sebagai berikut; 1) bagaimana tingkat kehadiran pemilih pada Pemilihan Umum
2014?; 2) faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kehadiran mereka di
TPS?.
B. Tinjauan Teoritis
B.1. Konseptualisasi Seputar Partisipasi Politik
Partisipasi politik merupakan aspek penting dalam sebuah tatanan negara
demokrasi sekaligus merupakan ciri khas adanya modernisasi politik. Di
negara-negara yang proses modrnisasinya secara umum telah berjalan dengan
baik, biasanya tingkat partisipasi warga negara meningkat. Modernisasi politik
dapat berkaitan dengan aspek politik dan pemerintah.
Partisipasi politik pada dasarnya merupakan kegiatan yang dilakukan
warga negara untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dengan
79
I
tujuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan yang dilakukan
pemerintah48.
a. Pengertian partisipasi politik
Pemerintah dalam membuat dan melaksanakan keuptusan politik
akan menyangkut dan mempengaruhi kehidupan warga masyarakat. Dasar
inilah yang digunakan warga masyarakat agar dapat ikut serta dalam
menentukan isi politik. Prilaku-prilaku yang demikian dalam konteks politik
mencakup semua kegiatan sukarela, dimana seorang ikut serta dalam
proses pemilihan pemimipin-pemimpin politik dan turut serta secara
langsung atau tidak langsung dalam pembentukan kebijakan umum.
Menurut Budiarjo, partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau
kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehiudpan politk, yaitu
dengan jalan memilih pimpinan negara dan secara langsung atau tidak
langsung mempengaruhi kebijakan pemerintah.49
Menrut Hutington dan Nelson, bahwa parpartisipasi politik adalah
kegiatan warga negara yang bertindak sebagai pribadi-pribadi yang
dimaksud untuk mempengaruhi pembuat keputusan oleh pemerintah.
Partisipasi bisa bersifat individual dan kolektif, terorganisir dan spontan,
mantap atau sporadis, secara damai atau dengan kekerasan. Legal atau
ilegal, efektif atau tidak efektif.50
Menurut davis, partisipasi politik adalah sebagai mental dan emosinal
yang mendorong untuk memberikan sumbangan kepada tujuan atau citacita kelompok atau turut bertanggung jawab padanya.51
Dalam negara demokratis yang mendasari konsep partisipasi politik adalah
bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat, yang dilaksanakannya memalui
kegiatan bersama untuk menentukan tujuan serta masa depan suatu
Sastromatmodjo, S. Partisipasi Politik, Semarang, IKIP Semarang Press, 1995, hlm.
67
49
Ibid. Hlm 68
50
Budiarjo, M. Partisipasi dan Partai Politik, 1998, hlm. 3
51
Sastromatmodjo, S, Op.Cit. hal. 85
48
80
I
negara itu dan untuk menentukan orang-orang yang akan memegang
pimpinan.
Dari pengertian mengenai paritiisipasi politi di atas maka dapat diambil
kesimpulan bahwa yang dimaksud partisipasi politik adalah keterlibatan
individu atau kelompok sebagai warga negara dalam proses politik yang
berupa kegiatan yang positif dan dapat juga yang negatif yang bertujuan
untuk berpatispasi aktif dalam kehidupan politik dalam rangka
mempengaruhi kebijakan pemerintah.
b. Bentuk-bentuk partisipasi politik
Bentuk partisipasi politik seorang tampak dalam aktivitas-aktivitas
politiknya. Bentuk partisipasi politik yang paling umum dikenal adalah
pemungutan suara (voting) entan untuk memilih calon wakil rakyat atau
untuk memilih kepala negara.
Dalam buku pengantar sosiologi Politik, Michael Rush dan Philip Althoff
mengidentifkasi bentuk-bentuk partisipasi politik sebagi berikut:
a. Menduduki jabatan politik atau adiministarasi;
b. Mencari jabatan politik atau administrasi;
c. Mencari anggota aktif dalam suatu organisasi politik;
d. Menjadi anggota pasif dalam suatu organisasi politik.
e. Menjadi anggota aktif dalam suatu organisasi semi politik
f. Menjadi anggtota pasif dalam suatu organisasi semi politik
g. Paritispasi dalam rapat umum, demonstrasi, dsb
h. Partisipasi dalam diskusi politik internal
i.
Partisipasi dalam pemungutan suara.
Sastroatmodjo
juga
mengemukakan
tentang
bentuk-bentuk
paritipasi politik berdasarkan jumlah pelakunya yang dikategorikan
menjadi dua yaitu partisipasi individual dan partisipasi kolektif. Partisipasi
individual dapat berwujud kegiatan seperti menulis surat yang berisi
81
I
tuntutan atau keluhan kepada pemerintah. Partisipasi kolektif adalah
bahwa kegiatan warga negara secara serentak dimaksudkan untuk
mempengaruhi penguasa seperti dalam kegiatan pemilu.
Sementara itu, Maribath dan Goel membedakan partisipasi politik
menjadi beberapa kategori:
a. Apatis, adalah orang yang tidak berpartisipasi dan menarik diri dari
prose politik.
b. Spektator, adalah orang yang setidak-tidaknya pernah ikut memilih
dalam pemilu.
c. Gladiator, adalah mereka yang aktif terlibat dalam prose politik
misalnya momunikator, aktifis partai dan aktifis masyarakat.
d. Pengkritik, adalah orang-orang yang berpartisipasi dalam bentuk yang
tidak konvensional.
Menurut Rahman, kegiatan politik yang tercakup dalam konsep
partisipasi politik mempunyai berbagai mcam bentuk. Bentuk-bentuk
partisipasi politik yang terjadi berbagai negara dan waktu dapat dibedakan
menjadi kegiatan politik dalam bentuk konvensional dan non konvensional,
termasuk yang mungkin legal (seperti peitisi) maupun ilegal, penuh kekerasan,
dan revolusioner. Bentuk-bentuk frekuensi partisipasi politik dapat dipakai
sebagai ukuran untuk menilai stabilitas sistem politik, integritas kehidupan
politik,
kepuasan/ketidakpuasan warga negara. Bentuk-bentuk partispasi
politik yang dikemukakan oleh Alomond yang terbagi dalam dua bentuk yaitu
partisipasi politik konvensional dan partisipasi politik non konvensional. Rincian
bentuk partispasi politik sebagai berikut :
82
I
Tabel 4.1.
Bentuk partisipasi politik konvension dan non-konvensional
Konvensional
Non konvensional
Pemberian suara (voting)
Pengajuan petisi
Diskusi politik
Berdemonstrasi
Kegiatan kampanye
Konfrontasi, mogok
Membentuk dan bergabung dalam Tindak kekerasan politik harta benta
kelompok kepentingan
(pengerusakan, pengeboman)
Komunikasi individual dengan pejabat Tindak kekerasan politik terhadap
politik dan administrative
manusia (penculikan, pembubuhan)
c. Tujuan Partisipasi Politik
Adanya kondisi masyarakat yang beraneka ragam tentunya tiap-tiap
warga masyrakat mempunyai tujuan hidup yang beragam pula sesuai dengan
tingkat kebutuhannya, dan upaya memenuhi kebutuhan itu di refleksikan
dalam bentuk kegiatan, yang tentunya kebutuhan yang berbeda akan
menghasilkan kegiatan yang berbeda pula. Demikian pula dalam partisipasi
politiknya tentu tujuan yang ingin dicapai antara warga satu berbeda dengan
yang lain.
Menurut Waimer menyatakan bahwa yang menyebabkan timbulnya
pergerakan ke arah partispasi yang lebih luas dalam prose politik yaitu :
ï‚·
Modernisasi di segala bidang, berimplikasi pada komersialisme pertanian,
industri, perbaikan pendidikan, pengembangan metode masa, dan
sebagainya.
ï‚·
Terjadinya perubahan-perubahan struktur kelas sosial. Perubahan
sturktur kelas baru itu sebagai akibat dari terbentuknya kelas menegah
dan pekerja baru yang semakin meluas dalam era industrialisasi dan
modernisasi. Dari hal itu muncul persoalan yaitu siapa yang berhak ikut
serta dalam pembuatan-pembuatan keputusan-keputusan politik yang
83
I
akhirnya membawa perubahan dalam pola partisipasi politik. Kelas
menegnah baru itu secara praktis menyuarakan kepentingan-kepentingan
msyarakat yang terkesaan demokrtis.
ï‚·
Pengaruh
kaum
intlektual dan
meningkatnya komunikasi masa
merupakan faktor yang meluasnya komunikasi politik masyarakat. Ide-ide
baru seperti nasionalisme, liberalisasi akan membangkitkan tuntutantuntan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Komunikasi
yang luas mempermudah penyebaran ide-ide seluruh masyarakat.
Dengan masyarakat yang belum maju sekalipun akan dapat menerima
ide-ide politik tersebut secara tepat. Hal itu berimplikasi pada tuntutantuntutan rakyat ikut serta menentukan dan mempengaruhi kebijakan
pemerintah.
ï‚·
Adanya konflik di antara pemimpin-pemimpin politik. Pemimpin politik
yang bersaing memperebutkan kekuasaan sering kali untuk mencapai
kemenangan dilakukan dengan cara mencari dukungan masa. Dalam hal
mereka beranggapan, adalah sah apabila yang mereka lakukan demi
kempentingan rakyat dan dalam uapaya memerjuangkan ide-ide
partisipasi masa. Implikasinya adalah munculnya tuntutan terhadap hakhak rakyat, baik hak asasi manusia, keterbukaan, demokratisasi, maupun
isu-isu kebebasan pers. Dengan demikian pertentangan dan perjuangan
kelas menengah kekuasaan mengakibatkan perluasan hak pilih rakyat.
ï‚·
Adanya keterlibatan pemerintah yang semaki meluas dalam urusan sosial,
ekonomi dan kebudayaan. Meluasnya ruang lingkup aktivitas pemerintah
ini
seringkali
merangsang
tumbuhnya
tuntutan-tuntutan
yang
berorganisasi untuk ikut serta dalam mempengaruhi keputusan politik.
Hal tersebut merupakan konsekuensi dari perbuatan pemerintah dalam
segala bidang kehidupan.
Menurut Davis, partisipasi politik bertujuan untuk mempengaruhi
pengasa baik dalam arti memperkuat
maupun
dalam
pengertian
menekannya sehingga mereka memperhatikan atau memenuhi kepentingan
84
I
pelaku partisipasi. Tujuan tersebut sangat beralasan karena sasaran
partisipasi politik adalah lembaga-lembaga politik atau pemerintah yang
memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan politik.
Sedangkan bagi pemerintah, partisipasi politik dari masyarakat mempunyai
tujuan sebagai berikut:
a. Untuk mendukung program-program pemerintah, artinya peran serta
masyarakat diwujudkan untuk mendukung program politik dan
pembangunan.
b. Sebagai organisasi yang menyuarakan kepentingan masyarakat untuk
masukan bagi pemerintah dalam mengarahkan dan meningkatkan
pembangunan.
Jadi partisipasi politik sangatlah penting bagi masyarakat maupun
pemerintah. Bagi masyarakat dapat sebagai sarana untuk memberikan
masukan, kritik, dan saran terhadap pemerintah dalam perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan, sedangkan bagi pemerintah partisipasi politik
merupakan sebuah mekanisme pelaksanaan fungsi kontrol terhadap
pemerintah dan pelaksanaan kebijakan.
d. Landasan Partisipasi Politik
Hutington dan Nelson mengemukakan bahwa landasan yang lazim
digunakan untuk menyelenggarakan partisipasi politik adalah:
ï‚·
Kelas : perorangan-perorangan dengan status sosial, pendapatan,
pekerjaan yang serupa.
ï‚·
Kelompok/komunal : perorangan-perorangan dari ras, agama, bahasa
atau etnisitas yang sama.
ï‚·
Lingkungan (negihborhood) : perorangan-perorangan yang secara
geografi bertempat tinggal berdekatan satu sama lain.
85
I
ï‚·
Partai : perorangan yang mengidentifikasikan diri dengan organisasi
formal yang sama yang berusaha untuk meraih atau mempertahankan
kontrol atas bidang-bidang eksekutif dan legislatif pemerintah.
ï‚·
Golongan (function) : perorangan-perorangan yang dipersatukan oleh
intraksi yang terus menerus atau intens satu sama lain, dan salah satu
manifestasinya adalah pengelompokan patro-klien, artinya satu golongan
yang melibatkan pertukaran manfaat-manfaat secara timbal balik di
antara perorangan-perorangan yang mempunyai sistem status, kekayaan
dan pengaruh yang tidak sederajat.
Hermawan berpendapat bahwa yang berkaitan dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi prilaku politik, adalah:
ï‚·
Lingkungan sosial politik tidak langsung seperti sistem politik, media masa,
sistem budaya, dan lain-lain.
ï‚·
Lingkungan politik langsung yang mempengaruhi dan membentuk
kepribadian aktor seperti keluarga, teman agama, kelas, dan sebagainya.
ï‚·
Struktur kepribadian yang tercermin dalam sikap individu.
ï‚·
Faktor sosial politik langsung berupa situasi, yaitu keadaan yang
mempengaruhi aktor secara langsung ketika hendak melakukan suatu
kegiatan politik, seperti suasana kelompok, ancaman, dan lain-lain.
B.2. Konseptualisasi Perihal Pemilu
a. Definisi Pemilu
Berdasarkan UUD 1945 Bab I Pasal 1 ayat (2) kedaulatan berada
ditangan rakyat dan dilakukan menurut Undang-Undang Dasar. Dalam
demokrasi modern yang menjalankan kedaulatan itu adalah wakil-wakil rakyat
yang ditentukan sendiri oleh rakyat. Untuk menentukan siapakah yang
berwenang mewakili rakyat maka dilaksanakan pemilihan umum. Pemilihan
umum adalah suatu cara memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk
86
I
dilembaga perwakilan rakyat serta salah satu pelayanan hak-hak asasi warga
negara dalam bidang politik.52
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2007 tentang
penyelenggara pemiliham umum dinyatakan bahwa pemilihan umum, adalah
saranan pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Repbulik Indonesia tahun 1945.
Pemilihan umum (pemilu) merupakan salah satu hak asasi warga negara
yang sangat prinsipil. Karenanya dalam rangka pelaksanaan hak-hak asasi
adalah suatu keharusan bagi pemerintah untuk melaksanakan pemilu. Sesuai
dengan asas bahwa rakyatlah yang berdaulat maka semuanya itu harus
dikembalikan kepada rakyat untuk menentukannya. Adalah suatu pelanggaran
suatu hak asasi apabila pemerintah tidak mengadakan pemilu atau
memperlambat pemilu.53
Dari pengertian di atas bahwa pemilu adalah sarana mewujudkan pola
kedaulatan rakyat yang demokratis dengan cara memilih wakil-wakil rakyat,
Presiden dan Wakil Presiden secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur,
dan adil. Karena pemilu merupakan hak asasi mansia maka pemilu 2014 warga
negara yang terdaftar pada daftar calon pemilih berhak memilih langsung
wakil-wakilnya dan juga memilih langsung Presiden dan Wakil Presidennya.
b. Tujuan Pemilu
Tujuan pemilu adalah menghasilkan wakil-wakil rakyat yang
representatif dan selanjutnya menentukan pemerintahan. Dalam UUD 1945
Bab VII B pasal 22 E ayat (2) pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Presiden
52
53
Syarbaini, S. DKK, Sosiologi dan Politik, Jakarta, Galia Indonesia, 2002, hlm. 80
Kusnardi, M. dan Ibrahim, H. Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta,
Sinar Bakti, 1994, hlm. 329
87
I
dan Wakil Presiden serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), kemudian
dijabarkan dalam UU RI Nomor 15 tahun 2011 bahwa pemilihan umum adalah
sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat sesuai dengan amanat konstitusional
yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
c. Asas Pemilihan Umum
Berdasarkan Pasal 22 E ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indoneisa tahun 1945, Pemilu dilaksanakan secara langsung, umum, bebas,
rahasia, jujur, dan adil.
1. Langsung
Yaitu rakyat sebagai pemilih mempunyai hak untuk secara langsung
memberikan suaranya sesuai dengan kehendak hati nuraninya, tanpa
perantara.
2. Umum
Pada dasarnya semua warga negara yang memenuhi persyaratan minimal
dalam usia, yaitu sudah berumur 17 tahun atau telah pernah kawin,
berhak ikut memilih dalam pemilu. Warga negara yang sudah berumur 21
tahun berhak dipilih dengan tanpa ada diskriminasi (pengecualian).
3. Bebas
Setiap warga negara yang memilih menentukan pilihannya tanpa tekanan
dan paksaan dari siapapun/dengan apapun. Dalam melaksanakan haknya
setiap warga negara dijamin keamanannya, sehingga dapat memilih sesuai
dengan kehendak hati nurani dan kepentingannya.
4. Rahasia
Dalam memberikan suaranya, pemilih dijamin bahwa pilihannya tidak akan
diketahui oleh pihak manapun dan dengan apapun. Pemilih memberikan
suaranya pada surat suara dengan tidak dapat diketahui oleh orang lain
kepada siapapun suaranya akan diberikan.
88
I
5. Jujur
Dalam penyelenggaraan pemilu seitap penyelenggara/pelaksana pemilu,
pemerintah dan partai politik peserta pemilu, pengawas, dan pemantau
pemilu, termasuk pemilih serta semua pihak yang terlibat secara tidak
langsung harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan
perundang-udangan yang berlaku.
6. Adil
Berarti dalam penyelenggaraan pemilu setiap pemilih dan parpol perserta
pemilu mendapat perlakuan yang sama serta bebas dari kecurangan pihak
manapun.
d. Sistem Pemilihan Umum
Dalam ilmu politik dikenal bermacam-maca sistem pemilhan umum, akan
tetapi umumnya berkisar pada dua prinsip pokok, yaitu : “single member
constituency (satu daerah pemilihan memilih satu wakil ; biasanya disebut
Sistem Distrik) dan multi-member constituency (satu daerah pemilihan
memilih
beberapa
wakil
;
biasanya
dinamakan
prorportional
Representation atau sistem Perwakilan Berimbang)”.54
1. Single-member constituency (Sistem Distrik)
Sistem ini merupakan sistem pemilihan yang paling tua dan didasarkan
atas kesatuan geografis (yang biasanya disebut distrik karena kecilnya
daerah yang dilipunti) mempunyai satu wakil dalam Dewan Perwakilan
Rakyat. Untuk keperluan itu daerah pemilihan dibagi dalam sejumlah
besar distrik dan jumlah wakil rakyat dalam Dewan Perwakilan Rakyat
ditentukanoleh jumlah distrik. Dalam pemilihan umum legislatif tahun
2014,
untuk
anggota
Dwan
Perwakilan
Daerah
pesertanya
perseorangan menggunakan sistem distrik.
54
Rahman, H.A. Sistem Politik Indonesia, Yogyakarta, Garaha Ilmu, 2007, hlm. 151
89
I
2. Multi-member constituency (sistem Perwakilan Berimbang)
Satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil, biasanya dinamakan
prorportional representation atau sistem perwakilan berimbang. Sistem
ini dimaksud untuk menghilangkan bebarapa kelemahan dari sistem
distrik. Gagasan pokok ialah bahwa jumlah kursi yang diperoleh oleh
suatu golongan atau partai adalah sesuai dengan jumlah suara yang
diperolehnya. Untuk keperluan ini diperlukan suatu pertimbangan.55
Jumlah total anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditentukan atas dasar
pertimbangan dimana setiap daerah pemilih memilih sejumlah wakil
sesuai dengan banyaknya penduduk dalam daerah pemilih itu.
Indonesia merupakansalah satu negara demokrasi dimana dengan
adanya sistem pemilihan umum yang bebas untuk membentuk dan
terselenggaranya pemerintahan yang demokratis. Hal ini sesuai dengan
tujuan negara Republik Indonesia sebagaimana tercantum dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Penyelenggaraan pemilihan umum di Indonesia dilaksanakan
sebagai saranan pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasrkan Pancasila dan Undang-Undang
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemilu 2014 dilakukan dua kali
putaran dimana pemilu putran pertama memilih anggota DPR, DPD,
dan DPRD (legislatif) kemudian pemilu putaran ke dua yaitu memilih
Perseiden dan Wakil Presiden (eksekutif).
Dalam pemilu legislatif rakyat dapat memilih secara langsung wakilwakil mereka yang akan duduk di kursi DPR, DPRD Provinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota.
Pada
pemilihan
umum
anggota
legislatif
menggunakan sistem proporsional dengan daftar calon terbuka dimana
dalam memilih, rakyat dapat mengetahui siapa saja calon wakilwakilnya yang akan mewakilinya daerahnya. Selain dilaksanakan sistem
proporsional juga adanya sistem distrik dalam pemilihan untuk anggota
55
Ibid. hal.152
90
I
DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Dengan adanya sistem pemilihan
umum yang terbuka inilah diharapkan dapat memilih wakil-wakil rakyat
yang mempunyai integritas dan benar-benar mewakili aspirasi,
keagaman, kondisi, serta keinginan dari rakyat yang memilihnya.
C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa angka-angka yang
kemudian dijabarkan dengan kata-kata yang memperoleh gambaran yang
jelas terhadap kecenderungan prilaku yang diamati. Fokus penelitian ini
adalah adalah partisipasi politik pemilih yang berupa kehadiran pemilih di lokasi TPS
untuk memberikan hak suaranya pada pelaksanaan pemilu 2014 di Kabupaten
Lombok Tengah. Agar dapat memberikan hasil yang lengkap maka fokus penelitian
tersebut dirinci dalam unit-unit kajian sebagai berikut. Pertama, yaitu tingkat
kehadiran pemilih dalam pemilihan umum tahun 2014 di Kabupaten Lombok Tengah.
Kedua yaitu faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kehadiran pemilih
untuk memberikan hak suaranya pada pemilihan umum tahun 2014 di Kabupaten
Lombok Tengah.
Sumber data dalam penelitian ini adalah berupa data pemilihan dari
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lombok Tengah mulai dari Pemilu
tahun 2009 sampai dengan data pemilu tahun 2014. Kemudian ditambah
dengan data statistik yang diambil dari Lombok Tengah Dalam Angkat tahun
2014. Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Seleksi Data, yaitu pemeriksaan data untuk mengetahui apakah data
tersebut sudah lengkap sesuai dengan keperluan penelitian.
2. Klasifikasi Data, yaitu menempatkan data sesuai dengan bidang pokok
bahasan agar mudah dalam menganalisisnya.
3. Sistematika data, yaitu penyusunan data menurut sistematika yang
ditetapkan dalam penelitian sehingga mempermudah dalam analisa .
91
I
Data yang telah diolah, dianalisis secara kuantitatif dengan teori yang
digunakan, yaitu memberi arti dan menginterpretasikan setiap data yang telah
diolah kemudian diuraikan secara komperhensif dan mendalam dalam bentuk
uraian kalimat yang sistematis untuk kemudian ditarik kesimpulan. Selain itu
dalam menjawab permasalah
pertama peneliti menggunakan analisa isi
(contain analysis) untuk mendeskripsikan hasil pemilihan dalam 10 tahun
terakhir kemudian menyusun dan mengklasifikasikannya. Terdapat tiga tahap
model dalam analisis bahan hukum, yaitu reduksi data, penyajian data, dan
verifikasi data. Ketiga tahapan tersebut akan dilakukan secara simultan.
D. Hasil Penelitian
D.1. Tingkat Kehadiran Pemilih
a. Pemilu tahun 2009
Pada pemilu legislatif Tahun 2009 jumlah pemilih yang terdaftar
dalam pemilih tetap di Kabupaten Lombok Tengah sebanyak 615.655 orang
yang terdiri dari pemilih Laki-laki yaitu sebanyak 293.608 orang dan Pemilih
perempuan yaitu sebanyak 322.047 orang. Adapun jumlah pemilih yang
terdaftar dalam pemilih perkecamatan dijelaskan dalam grafik sebagai
berikut.
Grafik 4.2.
Daftar pemilih Tetap Pileg 2009
80000
70000
60000
50000
40000
30000
20000
10000
0
Jumlah Pemilih dalam Daftar Pemilih
Tetap
DATA PEMILIH DAN
PENGGUNAAN HAK PILIH
Jumlah Pemilih dalam
Daftar Pemilih Tetap
(1a+1b) LK
Jumlah Pemilih dalam
Daftar Pemilih Tetap
(1a+1b) PR
Jumlah Pemilih dalam
Daftar Pemilih Tetap
(1a+1b) JML
92
I
Sedangkan pada pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
jumlah pemilih yang terdaftar dalam pemilih tetap di Kabupaten Lombok
Tengah sebanyak 642.966 orang yang terdiri dari pemilih Laki-laki sebanyak
304.286 pemilih dan pemilih berjenis kelamin perempuan sebanyak 338.680
pemilih. Akan tetapi pada pemilihan umum ini setelah diumumkan keputusan
oleh Mahkamah Konstitusi pemilih yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih
tetap dapat melakukan pemilihan. Sehingga jumlah DPT yang ada masih
dinamis. Adapun jumlah pemilih perkecamatan digambarkan dalam grafik
sebagai berikut.
Grafik 4.3
DPT per-Kecamatan Pilpres 2009
b. Pemilu tahun 2010
Pada tahun 2010, Lombok Tengah menyelenggarakan pemilukada.
Apabila pada pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 jumlah
pemilih yang terdaftar dalam pemilih tetap sebanyak 655.027 orang yang
terdiri dari pemilih Laki-laki sebanyak 310.277 pemilih dan pemilih berjenis
kelamin perempuan sebanyak 344.750 pemilih. Maka pada pemilukada 2010
terjadi penambahan DPT sebanyak 12061 orang. Meskipun terjadi dua kali
putaran pemilihan bupati dan wakil bupati Kabupaten Lombok Tengah akan
93
I
tetapi data dalam DPTnya tetap. Adapun jumlah DPT yang terdaftar dalam
masing-masing kecamatan digambarkan dalam gerafik sebagai berikut.
Grafik 4.4
DPT Pilbup Per-Kecamatan 2010
80000
70000
DATA PEMILIH
60000
Jumlah Pemilih dalam Salinan Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk TPS dalam
Wilayah KPU Kab. Lombok Tengah LK
Jumlah Pemilih dalam Salinan Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk TPS dalam
Wilayah KPU Kab. Lombok Tengah PR
Jumlah Pemilih dalam Salinan Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk TPS dalam
Wilayah KPU Kab. Lombok Tengah JML
50000
Jumlah Pemilih dalam Salinan DPT yang menggunakan Hak Pilih Dalam
Wilayah KPU Kab. Lombok Tengah LK
40000
Jumlah Pemilih dalam Salinan DPT yang menggunakan Hak Pilih Dalam
Wilayah KPU Kab. Lombok Tengah PR
Jumlah Pemilih dalam Salinan DPT yang menggunakan Hak Pilih Dalam
Wilayah KPU Kab. Lombok Tengah JML
30000
Jumlah Pemilih dalam Salinan DPT yang tidak menggunakan hak pilih dalam
Wilayah KPU Kab. Lombok Tengah LK
20000
Jumlah Pemilih dalam Salinan DPT yang tidak menggunakan hak pilih dalam
Wilayah KPU Kab. Lombok Tengah PR
Jumlah Pemilih dalam Salinan DPT yang tidak menggunakan hak pilih dalam
Wilayah KPU Kab. Lombok Tengah JML
10000
Jumlah Pemilih dari TPS lain dalam Wilayah KPU Kabupaten Lombok Tengah
LK
Jumlah Pemilih dari TPS lain dalam Wilayah KPU Kabupaten Lombok Tengah
PR
0
Jumlah Pemilih dari TPS lain dalam Wilayah KPU Kabupaten Lombok Tengah
JML
c. Pemilu Tahun 2014
Pada pemilu Legislatif Tahun 2014 ada bebarapa jenis pemilih yaitu Daftar
Pemilih Tetap (DPT), Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), Daftar Pemilih Khusus
(DPK) dan Daftar Pemilih Khusus Tambahan (DPKTb) (Penggunaan KTP atau
indentitas lain atau paspor).
Daftar pemilih tetap yaitu pemilih yang
ditetapkan oleh KPU setelah melakukan pendataan dan diumumkan.
Kemudian Daftar Pemilih Tambahan yaitu pemilih yang terdaftar setelah
pengumuman DPT sehingga dia masuk tambahan. Kemudian Daftar Pemilih
Khusus adalah mereka yang pindah memilih dengan menggunakan form A5.
Dan terakhir adalah Daftar Pemilih Khusus Tambahan adalah mereka yang
menggunakan KTP atau identitas lainnya meskipun tidak terdaftar dalam tiga
kategori daftar pemilih di atas.
94
I
Adapun jumlah daftar pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih dengan
semua kategori yaitu 728.968 orang, yang terdiri dari pemilih laki-laki
sebanyak 354.870 pemilih dan perempuan sebanyak 374.098 pemilih.
Adapun jumlah daftar pemilih perkecamatan digambarkan dalam grafik
sebagai berikut.
Grafik 4.5
Jumlah Pemilih dalam DPT
Dalam pemilihan umum Tahun 2014 ada bebarapa jenis pemilih
yaitu Daftar Pemilih Tetap (DPT), Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), Daftar
Pemilih Khusus (DPK) dan Daftar Pemilih Khusus Tambahan (DPKTb)
(Penggunaan KTP atau indentitas lain lain atau paspor). Daftar pemilih tetap
yaitu pemilih yang ditetapkan oleh KPU setelah melakukan pendataan dan
diumumkan. Kemudian Daftar Pemilih Tambahan yaitu pemilih yang terdaftar
setelah pengumuman DPT sehingga dia masuk tambahan. Kemudian Daftar
Pemilih Khusus adalah mereka yang pindah memilih dengan menggunakan
form A5. Dan terakhir adalah Daftar Pemilih Khusus Tambahan adalah
mereka yang menggunakan KTP atau identitas lainnya meskipun tidak
terdaftar dalam tiga kategori daftar pemilih di atas.
95
I
Pemilihan umum Presiden Dan Wakil Presiden Tahun 2014 di
Kabupaten Lombok Tengah, pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih
tetap yaitu 723.952 orang. Jumlah daftar pemilih yang terdaftar dalam daftar
pemilih Tambahan (DPtb) yaitu 144 orang. Pemilih terdaftar dalam Daftar
Pemilih Khusus (DPK) yaitu sebesar 827 orang. Pemilih Khusus Tambahan
(DPKTb) /pengguna KTP atau identitas lain atau paspor 5.234 orang. Total
dari semua pemilih yang terdaftar dalam semua kategori itu adalah 730.164
orang yang terdiri dari laki-laki 355.698 orang dan pemilih perempuan
sebanyak 374.698 orang.
Grafik 4.6
DPT Pilpres 2014
90
80
70
60
50
Data Pemilih
40
5. Jumlah Pemilih
(1+2+3+4) LK
30
5. Jumlah Pemilih
(1+2+3+4) PR
20
5. Jumlah Pemilih
(1+2+3+4) JML
10
0
96
I
Tabel. 4.7
NO.
I.
A.
Daftar Pemiilih Dalam Semua Kategori Per-Kecamatan Pilpres 2014
URAIAN
Praya
Jonggat
Batukli
ang
Pujut
LK
40.103
36.101
29.717
41.117
PR
41.868
38.345
30.761
44.098
JML 81.971
74.446
60.478
Data Pemilih
Data Pemilih
1. Jumlah pemilih
terdaftar dalam
Daftar Pemlih
Tetap (DPT)
2. Jumlah pemilih
terdaftar dalam
Daftar Pemilih
Tambahan
(DPTb)
3. Pemilih
terdaftar dalam
Daftar pemilih
Khusus (DPK)
4. Pemilih Khusus
Tambahan
(DPKTb)/Penggu
na KTP atau
identitas lain
atau paspor
5. Jumlah Pemilih
(1+2+3+4)
Praya
Barat
Praya
Timur
Janap
ria
Pringgar
ata
Kopang
Praya
Tengah
Praya
Barat
Daya
Batuk
liang
Utara
29.29
0
30.74
9
60.03
9
11
11
22
26.14
2
28.17
1
54.31
3
17
14
31
29.18
8
30.05
9
59.24
7
0
0
0
25.224
31.937
24.284
20.777
353.126
25.847
33.144
25.165
22.723
51.071
65.081
49.449
43.500
0
0
0
3
4
7
1
1
2
2
1
3
19.24
6
19.90
3
39.14
9
1
2
3
Jumlah
Akhir
370.833
723.959
LK
PR
JML
24
20
44
9
6
13
0
0
0
85.215
13
4
17
LK
PR
JML
83
52
135
83
145
228
5
11
16
9
7
16
17
25
42
28
60
88
5
17
22
10
33
43
25
74
99
44
58
102
10
15
25
8
3
11
327
500
827
LK
PR
JML
691
1.022
1.713
222
313
535
139
201
340
102
112
214
227
280
507
71
74
145
110
194
304
221
294
515
101
213
314
139
203
342
20
39
59
121
125
246
2.164
3.070
5.234
LK
PR
JML
40.901
36.415
29.861
41.241
29.545
26.258
29.303
25.455
32.066
24.468
20.809
19.376
355.698
42.962
38.809
30.973
44.221
31.065
28.319
30.270
26.174
33.435
25.427
22.778
20.033
374.466
83.863
75.224
60.834
85.462
60.610
54.313
59.573
51.629
65.501
49.489
43.587
39.409
730.164
97
81
63
144
I
D.2. Jumlah Pemilih Yang Memberikan Hak Suara
a. Pemilu tahun 2009
Dalam pemilihan umum legislatif Tahun 2009 bahwa dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam pemilih tetap 615.655 orang dan yang
menggunakan hak pilih sebanyak sebanyak 457.299 orang yang terdiri dari
Pemilih Laki-laki yaitu sebanyak 212.588 orang dan pemilih perempuan sebayak
244.711orang. Sehingga jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya yaitu
sebanyak 74,28 %.
Tabel 4.8.
Jumlah Pemilih dalam pileg 2014 yang memberikan hak suaranya
1.
Praya
Jumlah Kehadiran
Pemilih
54.853
2.
Pujut
51.156
76,15
3.
Jonggat
45.171
72,35
4.
Kopang
41.571
71,38
5.
Batukliang
38.005
74,57
6.
Janapria
38.212
70,32
7.
Praya Timur
38.192
82,68
8.
Praya Barat
36.478
74,73
9.
Praya Tengah
32.261
76,17
10.
Pringgarata
29.736
68,17
11.
Batukliang Utara
23.660
70,91
12.
Praya Barat Daya
28.004
74,15
457.299
74,28
No.
Kecamatan
Jumlah
98
Persentase
(%)
77,92
I
Dalam pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
bahwa dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam pemilih tetap 642.966 orang
dan yang menggunakan hak pilih sebanyak sebanyak 482.212 orang yang terdiri
dari Pemilih Laki-laki yaitu sebanyak 221.686 orang dan pemilih perempuan
sebayak 260.526 orang. Sehingga jumlah pemilih yang menggunakan hak
pilihnya yaitu sebanyak 75%.
Tabel 4.9
Jumlah Pemilih yang Menggunakan Hak Pilih Dalam Pilpres 2009
1.
Praya
Jumlah Kehadiran
Pemilih
57.046
2.
Pujut
51.783
72,82
3.
Jonggat
50.197
77,45
4.
Kopang
44.75 9
74,41
5.
Batukliang
40.861
76,22
6.
Janapria
41.723
75,58
7.
Praya Timur
39.186
82,34
8.
Praya Barat
37.169
71,78
9.
Praya Tengah
33.505
77,43
10.
Pringgarata
32.029
68,88
11.
Batukliang Utara
25.835
74,58
12.
Praya Barat Daya
28.119
71,19
Jumlah
482.212
75
No.
Kecamatan
Persentase
(%)
76,21
b. Pemilu tahun 2010
Dalam Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah 2010 Putaran
Ibahwa dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam pemilih tetap 655.027 orang
99
I
dan yang menggunakan hak pilih sebanyak sebanyak 481.259 orang yang terdiri
dari Pemilih Laki-laki yaitu sebanyak 222.792 orang dan pemilih perempuan
sebayak 258.467 orang. Sehingga jumlah pemilih yang menggunakan hak
pilihnya yaitu sebanyak 73,47 %.
Tabel 4.10
Jumlah Pemilih Yang Menggunakan Hak Pilih Pilbup 2010
1.
Praya
Jumlah Kehadiran
Pemilih
58.446
2.
Pujut
53.313
73,12
3.
Jonggat
50.592
75,76
4.
Kopang
44.205
72,83
5.
Batukliang
40.859
73,97
6.
Janapria
41.160
73,71
7.
Praya Timur
37.749
78,60
8.
Praya Barat
36.481
69,31
9.
Praya Tengah
33.180
74,24
10.
Pringgarata
31.934
68,25
11.
Batukliang Utara
26.540
75,27
12.
Praya Barat Daya
26.800
66,83
481.259
73,47
No.
Kecamatan
Jumlah
Persentase
(%)
76,83
Dalam Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah 2010 Putaran II
bahwa dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam pemilih tetap 655.027 orang
dan yang menggunakan hak pilih sebanyak sebanyak 462.660 orang yang terdiri
dari Pemilih Laki-laki yaitu sebanyak 214.113 orang dan pemilih perempuan
100
I
sebayak 248.547 orang. Sehingga jumlah pemilih yang menggunakan hak
pilihnya yaitu sebanyak 70,63 %.
Tabel 4.11
Jumlah Pemilih Yang Menggunakan Hak Pilih dalam Pilkada putaran II
1.
Praya
Jumlah Kehadiran
Pemilih
56.669
2.
Pujut
51.227
70,26
3.
Jonggat
46.921
70,26
4.
Kopang
43.845
72,24
5.
Batukliang
40.142
72,67
6.
Janapria
39.919
71,49
7.
Praya Timur
36.570
76,15
8.
Praya Barat
33.789
64,19
9.
Praya Tengah
32.144
71,92
10.
Pringgarata
30.479
65,15
11.
Batukliang Utara
26.131
74,11
12.
Praya Barat Daya
24.824
61,91
Jumlah
462.660
70,63
No.
Kecamatan
Persentase
(%)
74,49
c. Pemilu Tahun 2014
Dalam Pemilihan Umum Legislatif Tahun 2014, di Kabupaten Lombok
Tengah pemilih yang datang ke lokasi TPS masih dapat dikatakan banyak karena
hampir 50% lebih, namun masih jauh dari angka 100%. Hal ini bisa dilihat jumlah
pemilih yang terdaftar dalam semua kategori yaitu sebanyak 728.968 orang dan
yang datang ke lokasi TPS untuk melakukan pemungutan suara sebanyak
548.816 yang terdiri dari pemilih laki-laki 253.816 orang dan pemilih perempuan
295.000 orang atau sekitar 75,29 %.
101
I
Table 4.12
Jumlah Pemilih Yang Menggunakan Hak Pilih dalam Pileg 2014
1.
Praya
Jumlah Kehadiran
Pemilih
64.167
2.
Pujut
70.463
83,80
3.
Jonggat
53.732
71,46
4.
Kopang
46.346
71,04
5.
Batukliang
44.424
73,42
6.
Janapria
43.379
73,18
7.
Praya Timur
45.161
82,92
8.
Praya Barat
45.571
74,90
9.
Praya Tengah
37.792
74,92
10.
Pringgarata
37.229
71,58
11.
Batukliang Utara
28.691
74,24
12.
Praya Barat Daya
31.861
71,40
548.816
75.29
No.
Kecamatan
Jumlah
Persentase
(%)
76,57
Dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014, di
Kabupaten Lombok Tengah pemilih yang datang ke lokasi TPS masih dapat
dikatakan banyak karena hampir 50% lebih, masih jauh dari angka 100%. Hal ini
bisa dilihat jumlah pemilih yang terdaftar yaitu sebanyak 730.164 orang dan yang
datang ke lokasi TPS untuk melakukan pemungutan suara sebanyak 496.106
orang atau sekitar 72,52 %.
102
I
Tabel 4.13
Jumlah Pemilih yang memberikan Hak Suara dalam Pilpres 2014
1.
Praya
Jumlah Kehadiran
Pemilih
59.579
2.
Pujut
55.739
65,22
3.
Jonggat
51.072
67,89
4.
Kopang
45.049
68,78
5.
Batukliang
42.019
69,07
6.
Janapria
40.505
67,99
7.
Praya Timur
39.789
72,9
8.
Praya Barat
38.595
63,68
9.
Praya Tengah
34.696
69,54
10.
Pringgarata
34.531
66,88
11.
Batukliang Utara
27.404
69,54
12.
Praya Barat Daya
27.128
62,24
496.106
72,52
No.
Kecamatan
Jumlah
Persentase
(%)
71,04
Grafik 4.14.
Jumlah Pemilih yang Memberikan Hak Suara
70
60
URAIAN
50
40
5. Jumlah seluruh
pengguna Hak Pilih
(1+2+3+4) LK
30
20
5. Jumlah seluruh
pengguna Hak Pilih
(1+2+3+4) PR
10
0
5. Jumlah seluruh
pengguna Hak Pilih
(1+2+3+4) JML
103
I
D.3. Perbandingan Jumlah Pemilih dan Pengguna Hak Pilih
a. Pemilu tahun 2009
Dalam
pemilihan
Umum
Legislatif
2009
terdapat
beberapa
perbandingan antara jumlah pemilih dengan pemilih yang memberikan hak
suaranya seperti yang tergambar dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.15.
Perbandingan Jumlah Pemilih dan Pengguna Hak Pilih dalam Pileg 2009
1.
Praya
Jumlah
Daftar
Pemilih
70.396
2.
Pujut
67.179
2.
Pujut
51.156
76,15
3.
Jonggat
62.431
3.
Jonggat
45.171
72,35
4.
Kopang
58.239
4.
Kopang
41.571
71,38
5.
Janapria
54.337
5.
Janapria
38.212
70,32
6.
Batukliang
50.964
6.
Praya Timur
38.192
82,68
7.
Praya Barat
48.810
7.
Batukliang
38.005
74,57
8.
Praya Timur
46.193
8.
Praya Barat
36.478
74,73
9.
Pringgarata
43.621
9.
Praya Tengah
32.261
76,17
10.
Praya
42.352
10.
Pringgarata
29.736
68,17
Praya Barat
Daya
Batukliang
Utara
37.767
11.
28.004
74,15
33.366
12.
Praya Barat
Daya
Batukliang
Utara
23.660
70,91
Total
615.655
457.299
74,28
No.
Kecamatan
No.
Kecamatan
1.
Praya
Jumlah
Kehadiran
Pemilih
54.853
Persent
ase
(%)
77,92
Tengah
11.
12.
104
I
Dalam pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 terdapat
beberapa perbandingan antara jumlah Daftar Pemilih dengan pemilih yang
menggunakan hak suaranya seperti yang tergambar dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.16.
Perbandingan Jumlah Pemilih dan Pengguna Hak Pilih dalam Pilpres 2009
1.
Praya
Jumlah
Daftar
Pemilih
74.855
2.
Pujut
71.045
2.
Pujut
51.783
72,89
3.
Jonggat
64.814
3.
Jonggat
50.197
77,45
4.
Kopang
60.155
4.
Kopang
44.759
74,41
5.
Janapria
55.204
5.
Janapria
41.723
75,58
6.
Batukliang
53.609
6.
Batukliang
40.861
82,34
7.
Praya Barat
51.781
7.
Praya Timur
39.186
76,22
8.
Praya Timur
47.591
8.
Praya Barat
37.169
71,78
9.
Pringgarata
46.502
9.
Praya Tengah
33.505
77,43
10. Praya
Tengah
11. Praya Barat
Daya
12. Batukliang
Utara
43.273
10.
Pringgarata
32.029
68,88
39.496
11.
28.119
71,19
34.641
12.
Praya Barat
Daya
Batukliang
Utara
25.835
74,58
Total
642.966
482.212
75
No.
Kec.
No.
Kec.
1.
Praya
Jumlah
Kehadiran
Pemilih
57.046
105
Persent
(%)
76,21
I
b. Pemilu tahun 2010
Dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati 2010 Putaran I terdapat
beberapa perbandingan antara jumlah Daftar Pemilih dengan pemilih yang
menggunakan hak suaranya seperti yang tergambar dalam tabel sebagai
berikut.
Tabel 4.17.
Perbandingan Jumlah Pemilih dan Pengguna Hak Pilih dalam Pilkada 2010
Putaran I
1.
Praya
Jumlah
Daftar
Pemilih
76.072
2.
Pujut
72.908
2.
Pujut
53.313
73,12
3.
Jonggat
66.781
3.
Jonggat
50.592
75,76
4.
Kopang
60.692
4.
Kopang
44.201
72,83
5.
Janapria
55.840
5.
Janapria
41.160
73,71
6.
Batukliang
55.239
6.
Batukliang
40.859
73,97
7.
Praya Barat
52.638
7.
Praya Timur
37.749
78,60
8.
Praya Timur
48.022
8.
Praya Barat
36.481
69,31
9.
Pringgarata
46.784
9.
33.180
74,24
10.
Praya Tengah
44.691
10.
Praya
Tengah
Pringgarata
31.934
68,26
11.
Praya
Barat
Daya
Batukliang
Utara
Total
40.103
11.
26.800
66,83
35.257
12.
Praya Barat
Daya
Batukliang
Utara
26.540
75,27
481.259
73,47
No.
12.
Kecamatan
No.
Kecamatan
1.
Praya
Jumlah
Kehadiran
Pemilih
58.446
655.027
106
Persen
tase
(%)
76,83
I
Dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati 2010 Putaran II terdapat beberapa
perbandingan antara jumlah Daftar Pemilih dengan pemilih yang menggunakan hak
suaranya seperti yang tergambar dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.18.
Perbandingan Jumlah Pemilih dan Pengguna Hak Pilih dalam Pilkada 2010
Putaran ke-II
Jumlah
Daftar
Pemilih
No.
Kecamatan
Jumlah
Kehadiran
Pemilih
1. Praya
76.072
1.
Praya
56.669
Pers
enta
se
(%)
74,49
2.
Pujut
72.908
2.
Pujut
51.227
70,26
3.
Jonggat
66.781
3.
Jonggat
46.921
70,26
4.
Kopang
60.692
4.
Kopang
43.845
72,24
5.
Janapria
55.840
5.
Janapria
39.919
71,49
6.
Batukliang
55.239
6.
Batukliang
40.142
72,67
7.
Praya Barat
52.638
7.
Praya Timur
36.570
76,16
8.
Praya Timur
48.022
8.
Praya Barat
33.789
64,19
9.
Pringgarata
46.784
9.
32.144
71,92
10. Praya Tengah
44.691
10.
Praya
Tengah
Pringgarata
30.479
65,15
11. Praya Barat
Daya
12. Batukliang
Utara
Total
40.103
11.
24.824
61,90
35.257
12.
Praya Barat
Daya
Batukliang
Utara
26.131
74,11
462.660
70,63
No.
Kecamatan
655.027
107
I
c. Pemilu tahun 2014
Dalam Pemilihan Umum Legislatif 2014 terdapat beberapa perbandingan
antara jumlah Daftar Pemilih dengan pemilih yang menggunakan hak suaranya
seperti yang tergambar dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.19.
Perbandingan Jumlah Pemilih dan Pengguna Hak Pilih dalam Pileg 2014
1.
Praya
83.804
1.
Praya
Jumlah
Kehadir
an
Pemilih
64.167
2.
Pujut
84.088
2.
Pujut
70.463
83,80
3.
Jonggat
75.189
3.
Jonggat
53.732
71,46
4.
Kopang
65.240
4.
Kopang
46.346
71,04
5.
Janapria
59.082
5.
Janapria
43.379
73,42
6.
Batukliang
60.705
6.
Batukliang
44.424
73,18
7.
Praya Barat
60.839
7.
Praya Timur
45.161
82,92
8.
Praya Timur
54.462
8.
Praya Barat
45.571
74,90
9.
Pringgarata
52.013
9.
37.792
74,92
10.
Praya Tengah
50.445
10.
Praya
Tengah
Pringgarata
37.229
71,58
11.
Praya Barat
Daya
Batukliang
Utara
Total
42.917
11.
31.861
74,24
40.184
12.
Praya Barat
Daya
Batukliang
Utara
28.691
71,40
548.816
75.29
No
12.
Kecamatan
Jumlah
Daftar
Pemilih
No.
Kecamatan
728.968
Pers
enta
se
(%)
76,57
Dalam pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 terdapat
beberapa perbandingan antara jumlah pemilih dengan pemilih yang
memberikan hak suaranya. Trend yang terjadi tidak selamanya jumlah pemilih
108
I
yang banyak dan yang menggunakan hak pilihnya banyak. Seperti yang terjadi di
beberapa kecamatan seperti di Kecamatan Pujut memilik daftar pemilih
terbanyak dalam semua kategori yaitu sebanyak 85.462 orang dan pemilih yang
datang ke lokasi TPS untuk melakukan pemilihan hanya sebanyak 55.739 orang
atau kalau di nomor urutkan bertempat di nomor urut dua setelah Kecamatan
Praya. Kecamatan Praya yang menempati pringkat ke-dua dalam daftar jumlah
pemilih yaitu sebanyak 83.863 orang namun jumlah pemilih yang datang ke
lokasi pemilih menempati pringkat pertama, yaitu sebanyak 59.579 orang.
Hal demikian juga terjadi pada kecamatan Praya Barat dan Janapria. Di
Kecamatan Praya Barat menempati peringkat 6 dalam daftar jumlah pemilih
tetap dengan jumlah pemilih dalam berbagai kategori yaitu sebanyak 60.610
orang. Namun jumlah pemilih yang datang ke lokasi TPS untuk melakukan
pemilihan hanya sebanyak 38.595 orang atau menempati peringkat 8. Kalah
dengan Kecamatan Janapria yang menempati peringkat 7 dalam jumlah pemilih
tetap sebanyak 59.573 orang, namun jumlah pemilih yang datang ke TPS
menempati peringkat enam dari dua belas kecamatan yaitu sebanyak 40.505
orang.
Trend yang sama juga terjadi di Kecamatan Pringgarata dan Praya Tengah.
Kecamatan Pringgarata memiliki jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT
sebanyak 51.629 orang, atau menempati peringkat 9 dari 12 kecamatan. Namun
pemilih yang datang ke lokasi TPS untuk melakukan pemilihan hanya sebanyak
34.531 orang atau menempati peringkat sepuluh kalah dengan kecamatan Praya
Tengah. Kecamatan Praya Tengah jumlah daftar pemilih yang terdaftar dalam
semua kategori yaitu sebanyak 49.895 orang atau menempati peringkat 10.
Jumlah pemilih yang datang ke lokasi TPS sebanyak 34.696 orang atau peringkat
9 dari 12 kecamatan.
109
I
Kecamatan Praya Barat Daya dan Batukliang Utara mengalami hal sama,
dimana Kecamatan Praya Barat Daya mempunyai jumlah pemilih yang terdaftar
dalam semua kategori yaitu sebanyak 43.587 orang atau peringkat 11 dari 12
kecamatan. Namun jumlah pemilih yang datang ke lokasi TPS yaitu sebanyak
27.128 orang atau menempati peringkat 12 dari 12 kecamatan atau yang
terakhir. Sebaliknya, kecamatan Batukliang Utara yang menempati peringkat 12
dari 12 kecamatan dalam daftar jumlah pemilih yang terdaftar dalam semua
kategori yaitu sebanyak 39.409 dan pemilih yang datang ke lokasi TPS untuk
melakukan pemilihan yaitu sebanyak 27.404 orang atau menempati peringkat
11 dari 12 Kecamatan.
Kecamatan yang memiliki tingkat partisipasi pemilih yang stabil di lihat dari
rasio jumlah daftar pemilih dan jumlah kehadiran pemilih di TPS yaitu hanya dua
kecamatan yaitu Kecamatan Jonggat dan Kecamatan Batukliang. Kecamatan
Jonggat yang memiliki daftar pemilih 75.274 orang dan jumlah pemilih yang
hadir ke TPS untuk memberikan hak suaranya sebanyak 51.072 orang. Demikian
juga Kecamatan Batukliang yang memiliki daftar pemilih 60.834 dan pemilih
yang hadir ke lokasi TPS sebanyak 42.019 orang.
Dari trend di atas dapat disimpulkan bahwa kalau dipetakan secara geografis
bahwa Kabupaten Lombok Tengah yang terbagi dalam 12 Kecamatan yaitu
kecamatan yang terbagi dalam wilayah selatan, tengah, dan utara bahwa terjadi
trend dimana kecamatan yang tergolong dari tengah ke Utara, seperti Praya,
Janapria, Mantang, Kopang, dan Batukliang Utara memiliki tingkat partisipasi
politik yang lebih tinggi dengan dibuktikan dengan tingkat kehadiran pemilih ke
lokasi TPS untuk memberikan hak suaranya. Sebaliknya tingkat partisipasi
memliki trend yang lebih rendah di kecamatan yang punya geografis di sebelah
selatan. Seperti kecamatan Pujut, Praya Timur, Prayat Barat, dan Praya Barat
Daya meskipun memiliki daftar pemilih yang terdaftar relatif lebih banyak
110
I
dibandingkan dengan kecamatan sebelah utara akan tetapi yang datang ke
lokasi TPS untuk melakukan pemilihan relatif lebih rendah dari rasio jumlah
pemilih.
Tabel 4.18.
Perbandingan Jumlah Pemilih dan Pengguna Hak Pilih dalam Pilpres 2014
1.
Pujut
Jumlah
Daftar
Pemilih
85.462
2.
Praya
83.863
2.
Pujut
55.739
65,22
3.
Jonggat
75.224
3.
Jonggat
51.072
67,89
4.
Kopang
65.501
4.
Kopang
45.049
68,78
5.
Batukliang
60.834
5.
Batukliang
42.019
69,07
6.
Praya Barat
60.610
6.
Janapria
40.505
67,99
7.
Janapria
59.573
7.
Praya Timur
39.789
72,9
8.
Praya Timur
54.577
8.
Praya Barat
38.595
63,68
9.
Pringgarata
51.692
9.
Praya Tengah
34.696
69,54
10. Praya Tengah
49.895
10.
Pringgarata
34.531
66,88
11. Praya
43.587
11.
Batukliang Utara
27.404
69,54
39.409
12.
Praya Barat Daya
27.128
62,24
496.106
67,95
No.
Kecamatan
Barat
Praya
Jumlah
Kehadiran
Pemilih
59.579
Persen
tase
(%)
71,04
No.
Kecamatan
1.
Daya
12. Batukliang
Utara
Total
730.164
111
I
Tabel 4.19: Perbandingan Partisipasi Pemilih Dalam Jenis Pemilu
Jenis Pemilu
Praya
Pujut
1. Pileg 2009 (%)
77,92
76,15 72,35
71,38
Batukli Prayat Janap Praya Pringg Praya Praba
Batura Total
Ang
Barat
ria
Timur Arata Tengah rda
74,57
74,73 70,32 74,73 68,17 76,17
74,15 70,91 74,28
2. Pilpres 2009
76,21
72,89 77,45
74,41
82,34
71,78
75,58
76,22
68,88
77,43
71,19
74,58
75
76,83
73,12 75,76
72,83
73,93
69,31
73,97
78,60
68,26
74,24
66,83
75,27
73,47
74,49
70,26 70,26
72,24
72,67
64,19
71,49
76,16
65,15
71,92
61,90
74,11
70,63
5. Pileg 2014 (%)
76,57
83,80 71,46
71,46
73,18
74,90
73,42
82,92
71,58
74,92
74,24
71,40
75,29
6. Pilpres 2014
71,04
65,22 67,89
68,78
69,07
63,68
67,99
72,9
66,88
69,54
62,24
69,54
67,95
75,51
73,57 72,53
71,85
74,29
69,77
72,13
76,92
68,15
74,04
68,83
72,24
72,77
No.
Jonggat
Kopang
(%)
3. Pilbup 2010 I
(%)
4. Pilbup 2010 II
(%)
(%)
Rata-rata (%)
112
D.3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kehadiran Pemilih
Umum 2014 di Kabupaten Lombok Tengah
Dalam Pemilihan
Tidak seperti pada pemilihan umum pada masa orde baru dimana partisipasi
pemilih tetap stabil di atas angka 90%, terlepas apakah ada intimidasi atau tidak oleh
pemerintah pada waktu itu. Pemilihan umum yang dilaksanakan di kabupaten Lombok
Tengah semenjak semenjak tahun 2009 memiliki fluktuasi yang disebabkan oleh
berbagai macam factor. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi
pemilih untuk hadir di TPS untuk menggunakan hak pilihnya yaitu antara lain:
1. Jenis Pemilihan Umum
Jenis pemilihan umum sangat berdampak terhadap tingkat partisipasi pemilih
yang datang ke lokasi TPS untuk memberikan hak pilihnya. Hal ini terlihat dari
perbandingan jumlah pemilih yang menggunakan hak suara pada pemilihan umum
legilatif cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan pemilihan umum Presiden dan
Wakil Presiden atau pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah seperti yang
tergambar dalam data di bawah ini. Dalam pemilihan umum Legislatif Tahun 2014
tingkat kehadiran pemilih di TPS cukup jauh dibandingkan dengan Pemilihan umum
Presiden dan Wakil Presiden 2014, dimana tingkat kehadiran pemilih dalam pemilu
legislatif tahun 2014
yaitu sebanyak 75,29% sedangka pemilu presiden dan wakil
Presiden tahun 2014 hanya 67,95%. Tingkat kehadiran dalam pemilu presiden dan wakil
presden tahun 2014 menurun cukup signifikan dibandingkan dengan pemilihan umum
presiden dan wakil presiden tahun 2009 yaitu sebanyak 75%. Ini merupakan pekerjaan
rumah bagi KPU Kabupaten Lombok Tengah. Ini merupakan angka kehadiran terendah
dalam pemilihan 10 tahun terakhir.
Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tahun 2010 pada putaran pertama di
Kabupaten Lombok Tengah memiliki tingkat kehadiran sebanyak 73,47%, namun pada
pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Putaran ke II tingkat kehadiran pemilih di TPS
semakin menurun hanya mencapai 70,63%. Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati ini tetap
stabil di bawah tingkat kehadiran pemilih dalam pemilihan umum legislatif tahun 2009
113
maupun tahun 2014. Pada pemilihan umum legislatif tahun 2014 KPU kabupaten
Lombok Tengah cukup berhasil meningkatkan tingkat kehadiran pemilih dari angka
74,28% pada pileg 2009 menjadi 75,29% pada pileg 2014.
Dengan data di atas kita bisa melihat bahwa trend partisipasi pemilih dengan
kehadiran di lokasi TPS untuk menggunakan hak pilihnya terlihat bahwa pada pemilihan
umum legislatif tingkat kehadiran pemilih di lokasi TPS untuk menggunakan hak pilihnya
cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan pemilihan umum yang lain seperti pilpres
dan pemilihan kepala daerah. Hal ini disebabkan karena pada pemilihan umum legislatif
akan memilih calon-calon perwakilan atau calon pemimpin yang paling dekat. Pemilihan
legilatif terutama pemilan anggota DPRD Kabupaten hampir setiap kampung ada
calonnya. Hal inilah yang menyebabkan mobilisasi pemilih antusias untuk datang ke
lokasi pemilih. Berbeda dengan pemilihan kepada daerah atau pemilihan presiden dan
wakil presiden di mana tokoh yang akan dipilih relatif jauh dari masyarakat grass root.
Sehingga menjadi pemicu rendahnya tingkat kehadiran pemilih di lokasi TPS untuk
memberikan hak pilihnya.
2. Letak Geografis (kota – desa)
Tingkat partisipasi pemilih yang paling rendah dilihat dari tingkat kehadiran
pemilih di lokasi TPS untuk menggunakan hak pilihnya yaitu terjadi di kecamatan
Pringgarata dan Kecamatan Praya Barat Daya. Di Kecamatan Pringgarata hampir semua
dari tingkat kehadiran pemilih di bawah angka 70%. Dalam pemilihan legislatif tahun
2009 tingkat kehadiran pemilh 68,17%, pada pilpresa 2009 sebanyak 68,88%, pada
pemilihan Bupati tahun 2010 putaran I yaitu sebanyak 68,26%, pada putaran ke II
menurun ke angka 65,15%. Kemudian pada pileg tahun 2014 naik ke angka 71,58% dan
pada pilpres 2014 hanya 66,88%. Sehingga kalau dirata-ratakan tingkat kehadiran
pemilih untuk memberikan hak pilihnya di kecamatan Pringgarata sebanyak 68,15%. Hal
ini tentu KPU Kabupaten Lombok Tengah harus memperhatikan kecamatan ini dengan
serius karena kecamatan Pringgarata kalau dilihat dari letak geografis tidak jauh dengan
114
Ibu Kota Kabupaten yaitu Kecamatan Praya sehingga nantinya akan meningkatkan
partisipasinya di Pemilu selanjutnya.
Sedangkan di Kecamatan Praya Barat Daya tingkat kehadiran pemilih pada pileg
2009 mencapai 74,15%, pada pilpres 2009 mencapai 71,19%, pada pilbub putaran I
angka partisipasi pemilih yaitu 66,83%, pada putaran kedua 61,90%, pada pileg 2014
mencapai 74,24%, dan pada pilpres 2014 terjadi penurunan yaitu hanya mencapai
62,24%. Sehingga kalau dirata-ratakan tingkat kehadiran pemilih yaitu sebanyak 68,83%.
Sedangkan tingkat partisipasi pemilih tertinggi dilihat dari tingkat kehadiran
pemilih yaitu terjadi di kecamatan Praya dan Praya Timur. Kecamatan ini merupakan
merupakan Ibu Kota Kabuapten. Tingkat kehadrian pemilih pada pileg 2009 mencapai
77,92%, pada pilpres 2009 mencapai 76,21, pada pilbub putaran I angka partisipasi
pemilih yaitu 76,83%, pada putaran kedua 74,49%, pada pileg 2014 mencapai 76,57%,
dan pada pilpres 2014 terjadi penurunan yaitu hanya mencapai 71,04%. Sehingga kalau
dirata-ratakan tingkat kehadiran pemilih yaitu sebanyak 75,51%.
Kecamatan yang tergolong tinggi juga terdapat di beberapa kecamatan yaitu
Kecamatan Praya Tengah, Jonggat. Dua kecamatan ini merupakan kecamatan yang
dekat dengan kecamatan Praya yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Lombok tengah.
Hal ini bisa dilihat dari tingkat kehadiran pemilih di Kecamatan Praya Tengah pada pileg
2009 mencapai 76,17%, pada pilpres 2009 mencapai 77,43%, pada pilbub putaran I
angka partisipasi pemilih yaitu 74,24%, pada putaran kedua 71,29%, pada pileg 2014
mencapai 74,92%, dan pada pilpres 2014 terjadi penurunan yaitu hanya mencapai
69,54%. Sehingga kalau dirata-ratakan tingkat kehadiran pemilih yaitu sebanyak 74,04%.
Sedangkan di Kecamatan Jonggat tingkat kehadiran pemilih pada pileg 2009
mencapai 72,35%, pada pilpres 2009 mencapai 77,45%, pada pilbub putaran I angka
partisipasi pemilih yaitu 75,76%, pada putaran kedua 70,26%, pada pileg 2014 mencapai
71,46%, dan pada pilpres 2014 terjadi penurunan yaitu hanya mencapai 67,89%.
Sehingga kalau dirata-ratakan tingkat kehadiran pemilih yaitu sebanyak 72,53%.
115
Di bagian selatan kecamatan Pujut tingkat kehadiran pemilih untuk
memberikan hak suaranya pada pileg 2009 mencapai 76,15%, pada pilpres 2009
mencapai 72,89%, pada pilbub putaran I angka partisipasi pemilih yaitu 73,12%, pada
putaran kedua 70,26%, pada pileg 2014 mencapai 83,80%, dan pada pilpres 2014 terjadi
penurunan yaitu hanya mencapai 65,22%. Sehingga kalau dirata-ratakan tingkat
kehadiran pemilih yaitu sebanyak 73,57%.
Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa kecamatan yang punya tingkat
partisipasi yang lebih tinggi adalah kecamatan yang dekat dengan kecamatan yang
menjadi ibu kota kabupaten seperti Praya, Praya Timur, Praya Tengah dan Jonggat.
3. Perilaku Elite
Apatisme politik warga negara tentu bukan tanpa sebab. Beberapa faktor
menjadi penyebab rendahnya partisipasi pemilih dalam pemilu, di antaranya adalah
perilaku elite politik hasil pemilu, baik pemilukada maupun pemilu legislatif yang dirasa
mengecewakan publik dengan serentetan kasus korupsi serta kiprahnya yang kurang
memuaskan publik. Selain itu, rakyat merasa tidak terkena dampak dari hasil proses
politik tersebut.
Pada dasarnya, mendatangi TPS dan kemudian menyalurkan hak pilihnya merupakan
sebuah hak, bukan kewajiban. Oleh karena itu, ketidakhadiran pemilih juga merupakan
hak individu yang juga harus dihormati. Namun alangkah lebih baiknya ketika sebagai
warga negara yang baik, ikut andil dan menyalurkan hak politiknya sesuai dengan
mekanisme yang ada. Terlebih ini merupakan hajat negara.
Dibutuhkan kesadaran dari warga negara terhadap sikap politiknya dalam
menentukan arah bangsa. Banyaknya pemilih yang menyalurkan hak pilihnya dalam
pemilu akan menentukan kualitas dari hasil yang diharapkan. Di samping itu diperlukan
keteladanan dari elite politik, terutama bagi mereka yang akan dipilih. Sosialisasi yang
116
masif serta pendidikan politik harus terus dilakukan, baik oleh penyelenggara pemilu,
pemerintah, dan peserta pemilu.56
Hasil survei LSI itu menyimpulkan, bahwa mayoritas publik (51,5%) sudah tidak
percaya dengan perilaku moral elit politik. Menurut temuan LSI, ada tiga faktor yang
turut memupuk tumbuhnya ketidakpercayaan publik tersebut, yakni sebagai berikut: 57
1. Minimnya elit politik yang bisa menjadi teladan bagi masyarakat;
Sebagai seorang tokoh sekaligus pemimpin, para elit politik seharusnya bisa
memberi teladan. Namun, kenyataan memperlihatkan bahwa kehidupan para elit
politik justru makin berjarak dengan rakyat banyak. Sementara rakyat didera
kemiskinan dan kesulitan hidup, para elit politik justru sibuk mempertontonkan
kemewahan. Biaya hidup mewah itu dibiayai dengan uang hasil hasil korupsi uang
rakyat
2. Kebiasaan hipokrit elit politik, yakni berbeda antara ucapan dan perbuatan;
Pentas politik kita semakin disesaki oleh politisi-politisi hipokrit. Ketika musim
kampanye tiba, mereka akan menebar begitu banyak janji. Namun, begitu mereka
sudah menjabat, tak satupun janji itu yang dilaksanakan. Masalahnya, perilaku itu
menjalari hampir semua elit politik kita. Bahkan Presiden SBY juga sering melakukan
hal serupa
3. Semakin berjaraknya perilaku elit politik dengan ajaran agamanya.
Banyak politisi, juga partai politik, menggunakan klaim agama untuk menjustifikasi
langkah-langkah politiknya. Malahan tidak sedikit partai politik yang menjadikan
agama sebagai basis ideologi untuk menerangi jalan politiknya. Namun, kejadian
baru-baru ini, khususnya kasus korupsi yang menyeret petinggi partai Islam, telah
mematahkan klaim-klaim agama tersebut. Rakyat mulai menyadari bahwa partai
agama pun tak kebal dari virus korupsi.
56
Danang Munandar, Analisis Rendahnya Partisipasi Pemilih Pada Pemilu 2014, http://gemanurani.com/2013/07/analisis-rendahnya-partisipasi-pemilih-pada-pemilu-2014/
57
:
http://www.berdikarionline.com/editorial/20130708/ketika-rakyat-tak-lagi-percaya-perilaku-elitpolitik.html#ixzz3hnAWlQGc
117
Hasil riset LSI sendiri menegaskan beberapa hal. Pertama, selubung moral yang
selama ini sering dikenakan para politisi untuk menutupi kebusukannya sudah tidak
efektif lagi. Politik moralitas mulai kehilangan daya pikatnya. Lihat saja, seorang
tersangka korupsi memegang tasbih di ruang pengadilan Tipikor. Bahkan yang paling
tidak enak didengar: anggaran pengadaan kitab suci pun dikorupsi. Kedua, faktor
integritas–bersih, jujur, tegas, konsisten, dll–dari seorang politisi sangat berpengaruh
terhadap sikap atau pilihan politik rakyat. Di sini rakyat mulai memeriksa rekam jejak
dari setiap elit politik. Rakyat tidak mau lagi membeli kucing di dalam karung. Ketiga,
rakyat tidak lagi melihat perbedaan signifikan antara partai berbalut ideologi agama
dengan sekuler dalam praksis politik. Sebab, pada kenyataannya, partai-partai agama
pun banyak terjerembab dalam kasus korupsi, suap, dan lain-lain. Praktek politik partaipartaai berlabel agama di parlemen juga tidak pernah memihak rakyat. Akhirnya, rakyat
makin sadar, bahwa label agama hanya dipakai untuk meraup suara pemilih. Keempat,
survei LSI mengindikasikan makin kuatnya apatisme massa rakyat terhadap politisi dan
politik. Sebetulnya, gejala ini bukan sesuatu yang baru. Sejak pemilu 1999 hingga
sekarang, partisipasi politik rakyat terus jatuh: 1999 (92 persen), 2004 (84 persen) dan
2009 (71 persen). Artinya, pemilu 2014 akan dibayang-bayangi oleh apatisme politik
yang terus meningkat. Dengan demikian, survei LSI menciptakan tantangan tersendiri. Di
satu sisi, ruang politik Indonesia makin didominasi politisi korup dan anti-rakyat. Namun,
di sisi lain pula, rakyat sebagai kekuatan perubahan juga terperangkap dalam apatisme
politik.
118
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta.
Budiharjo, Mariam, 1998, Partisipasi dan Partai Politik, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Hafiz Anshary, Abdul, 2001, KPU Evaluasi Partisipasi Pemilih Dalam Pemilu 2009,
http://www.kpu.go.id Kamis, 04/03/2015 20.45 WITA
Hermawan, Eman. 2001, Politik Membela Yang Benar, Yogyakarta: Yayasan KLIK
Hutington, Samuel P. dan Juan M. Nelson. 1994, Partisipasi Politik di Negara Berkembang.
Jakarta: Rineka Cipta.
Kurnardi Moh. Dan Harmaily Ibrahim. 1994, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta:
Sinar Bakti.
Mas’oed Mochtar dan Colin Mac Andrew, 2008. Perbandingan Sistem Politik, Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
Rachman, Maman, 1999, Strategi dan Langkah-Langkah Penelitian, Semarang: IKIP Semarang
Pers.
Raga Maran, Rafael, 2001, Pengntar Sosiologi Politik, Jakarta: Rineka Cipta.
Rahman H, A. 2007. Sistem Politik Indonesia, Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sastroatmodjo, Sudijono. 1995, Partisipasi Politik, Semarang: IKIP Semarang Press
Suryadi, Budi, 2007. Sosiologi Politik Sejarah, Definisi dan Perkembangan Konsep. Yogyakarta:
IRCiSoD
Wahyu Rahma Dani, Partisipasi Politik Pemilih Pemula Dalam Pelaksanaan Pemilu Tahun 2009
Di Desa Puguh Kecamatan Boja Kabupaten Kendal. Skripsi Universitas Negeri Semarang 2010
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 Tentang Penyelenggara Pemilihan Umum
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD
119
BAB V.
Political Literacy :
Analisis Berbasis Siswa Sebagai Pemilih Pemula dan Gender di Lombok Barat
Suhaimi Syamsuri * Umar Achmad Seth * Suhardi
Muhammad Amrullah * Marlan
A. Pengantar
Angka pertumbuhan pemilih pemula di Kabupaten Lombok Barat cukup tinggi. Pada
pemilu legislatif 2009 dari 404.792 terdapat 61.467 (15,18%) adalah pemilih pemula.
Sedangkan pada pemilu presiden 2009 dari 416.367 terdapat 55.674 (13,37%) pemilih
pemula. Pada pemilu legislatif 2014 dari 470.823 terdapat 66.031 (14,02%) pemilih pemula.
Dan pada pemilu presiden dari 475.028 terdapat 58.661 (12,35%) adalah pemilih pemula.
Fenomena lain yang juga menarik di Lombok Barat adalah angka golput (pemilih yang
tidak menggunakan hak pilihnya) masih tinggi. Pada pemilu tahun 2009, terlihat angka golput
pada pemilu legislatif mencapai posisi 23,94% dan pada pemilu presiden 21,76%. Sedangkan
pada pemilu tahun 2014, angka golput pemilu legislatif 20,27% dan pemilu presiden 28,08%.
Para ilmuan politik mengelompokkan beberapa tipologi golput, yakni; golput
ideologis, golput teknis, dan golput skeptis. Golput ideologis merupakan perilaku golput pada
masyarakat karena memiliki alas an-alasan idealis, seperti; tidak percaya dengan kapasitas
partai politik dan kandidat, kinerja pemerintah yang dipandang buruk, tidak percaya
terhadap lembaga legislatif, dan berbagai alas an kritis lainnya. Golput ideologis banyak
terjadi pada pemilih pemula yang sedang mengikuti pendidikan. Golput menjadi ekspresi
sikap kritis mereka.
Golput teknis terjadi karena halangan teknis pemilu. Pada tipologi ini orang menjadi
golput karena tidak terdaftar dalam daftar pemilih, tidak mendapat undangan memilih, tidak
memiliki identitas kependudukan, jarak tempat tinggal yang jauh dengan tempat
pemungutan suara, surat suara tidak mencukupi, dan berbagai faktor teknis pemilu lainnya.
Golput jenis ini banyak terjadi di masyarakat marginal, masyarakat pendatang diperkotaan.
Sedangkan golput skeptis terjadi karena orang tidak peduli dengan pemilu, menempatkan
120
pemilu bukan sebagai urusan mereka, ikut-ikutan tetangga atau teman yang tidak memilih.
Golput jenis ini biasanya terjadi pada kelompok pengusaha, atau pekerja yang sibuk.
Penelitian ini menduga golput ideologis masih banyak terjadi pada pelajar SLTA akibat
dari pengetahuan yang belum tuntas tentang demokrasi, pemilu dan kepartaian. Berpijak
dari kecurigaan tersebut, penelitian ini bertujuan mengungkap tiga perosalan, yakni; (1)
bagaimana kualitas partisipasi politik siswa SLTA?; (2) bagaimana tingkat melek politik siswa
dalam menggunakan hak pilih mereka; (3) faktor apa yang mempengaruhi terbentuknya
partisipasi dan melek politik siswa dalam menggunakan hak pilih mereka?.
B. Tinjauan Teoritis
B.1. Konseptualisasi Perihal Melek Politik
Secara harafiah, melek diartikan sama dengan melihat. Dengan melihat, kita akan
tahu apa yang dilihat/terlihat. Jika tahu dengan yang dilihat, maka kita akan tahu
bagaimana mesti bertindak atau bersikap. Lawan katanya adalah buta, yang berarti tidak
dapat melihat. Jelas sangat beda cara bersikap/bertindak antara orang yang buta dan
orang yang mampu melihat normal. Orang buta akan selalu meraba-raba. Tidak jarang
tertabrak atau bahkan sangat sulit untuk menempatkan sikap dan tindakan. Respon
orang buta secara lahiriah juga lamban. Semisal diajak adu lari, tentunya orang buta tidak
akan pernah mau untuk berlari karena akan membahayakan dirinya sendiri.
Politik adalah sesuatu yang berhubungan dengan kekuasaan yang ditujukan untuk
mengatur penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentunya tidak semua
orang atau semua golongan bisa begitu saja mengatur negara walaupun setiap orang
memiliki hak dan kesempatan yang sama. Kekuasaan adalah suatu alat yang diperlukan
untuk meraih hak dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kekuasaan itu sendiri tidak dijalankan begitu saja, akan tetapi dibutuhkan suatu
pemahaman dan pengetahuan untuk dapt dijalankan dengan sebagaimana mestinya.
Inilah yang namanya politik.
Jika pengertian di atas, MELEK dan POLITIK tadi disatukan, maka secara sederhana
dapat diartikan paham atau mengetahui tentang politik. melek politik ini adalah fondasi
121
yang paling penting dalam membangun suatu bangsa dan negara. Akan lebih baik jika
suatu bangsa ini dibangun dan digerakkan oleh seluruh elemen masyarakat yang terlibat
secara aktif, ketimbang hanya digerakkan oleh segelinter kelompok tertentu. Peran
politik dari masyarakat ini sangat menentukan ke mana arah layar dan kemudi mesti
digerakkan baik ketika laut sedang teang, atau mungkin sedang bergejolak.
Pada umumnya, negara-negara yang melek politiknya tinggi, taraf kesejahteraan
masyarakatnya juga tinggi. Negara yang masyarakatnya memiliki kesadaran/kepedulian
politik yang tinggi juga lebih mampu untuk bersaing di perdagangan global. Iklim politik
yang sangat kondusif disertai dengan peran aktif masyarakat akan menentukan kekuatan
politik negara itu pada kawasan terbatas. Lihat saja Singapura. Negara kecil begini ini
sudah cukup bikin Indonesia manut. Ga sampai di situ, Malaysia sendiri sering dibuat
gerah oleh ulah politik negara kecil ini.
Untuk membantu memahami konsepsi melek politik, berikut dipaparkan cirri-ciri
masyarakat melek politik.
a. Mengenal Kandidat Pilihannya
Masyarakat mesti tahu dan sekaligus paham siapa-siapa kandidat yang akan dipilih.
lebih baik apabila masyarakat mengenal baik kandidat tersebut seperti latar
belakang, aktivitasnya selama ini, kontribusinya kepada masyarakat, dan termasuk
pula kelebihan dan kekurangannya. Jika masyarakat tidak mengetahui sama sekali
atau hanya mengetahui sebatas latar belakangnya, maka bisa dikatakan bahwa
masyarakat itu ibarat memilih kucing dalam karung.
b. Mengetahui Program Kerja Yang Diusung Oleh Kandidat
Sudah sepantasnya kandidat baik yang akan duduk di parlemen maupun di kursi
eksekutif itu mesti punya visi dan misi. Kesemuanya itu akan dituangkan ke dalam
program kerja jika nanti terpilih. Di sini masyarakat mesti yakin bahwa kandidat
pilihannya itu akan benar-benar dapat mewakili aspirasinya, bukan aspirasi dari
sekelompok tertentu. Di sinilah sebenarnya letak kepercayaan rakyat kepada para
pengemban kekuasaan itu. Seperti pada ciri pertama, apabila ini tidak dapat
dilakukan, sama saja bila rakyat itu memilih kucing dalam karung.
122
Apapun bentuknya, melek politik ini bukan cuma sekedar dari masyarakat atau
rakyat, akan tetapi juga ditentukan oleh pemerintahannya. Sudah semestinya dalam
program politiknya ini pemerintah selalu meningkatkan dan kalau bisa
menggencarkan pemberantasan buta politik. Agak pesimis jika memang untuk
melek huruf saja masih sulit dilaksanakan, apalagi mesti memberantas buta politik.
Secara umum, pemberantasan buta politik itu sesungguhnya adalah kewajiban
seluruh warga negara. Dalam hal ini, kesadaran politik adalah modal utama untuk
membangun kerangka politik nasional yang kokoh. Setidaknya ada unsur dari
pemerintah sendiri, masyarakat, dan tentunya partai politik. Keseluruhan bangun
politik nasional ini mesti dilandaskan pada persamaan (persatuan) yang berprinsip
pada dasar negara. Ini namanya menjalankan fungsi negara yang berdaulat.
c. Mengenal Peran Partai Politik
Partai politik memiliki peran yang cukup penting dalam membangun fondasi politik
nasional. Partai politik ini memiliki tugas yang secara teknis akan menggerakkan
alat-alat politik yang dimilikinya untuk mencapai tujuan politik. Partai politik ini juga
satu-satunya institusi yang secara langsung (dan intensif) melakukan kontak politik
dengan masyarakat. Hal ini dikarenakan basis kekuatan politik dari partai politik itu
sendiri terletak di masyarakat (atau massa). Ini terlihat dari struktur organisasi yang
mengakar mulai dari tingkat DPP (Pusat) hingga ke PAC (tingkat kelurahan).
Alat politik di atas digerakkan sesuai dengan tujuan politik yang hendak dicapai.
Umumnya, tujuan politik itu tentunya adalah untuk meraih kekuasaan. Persoalannya
kemudian, setelah meraih kekuasaan, lalu kekuasaan itu ditujukan untuk siapa. Bisa
ditujukan untuk kepentingan partai sendiri, atau bisa juga memang untuk rakyat.
Idealnya, apabila suatu negara dibangun berdasarkan demokrasi rakyat, maka
kekuasaan itu semestinya dikembalikan kepada rakyat. Tapi tidak salah juga apabila
kekuasaan itu kemudian hanya untuk partai politik itu sendiri. Persoalannya tinggal
apakah memang kesemuanya itu dikembalikan untuk kepentingan bersama atau hanya
untuk segelinter orang tertentu.
123
B.2. Mengenal Konsep Partisipasi Politik
Partisipasi politik itu merupakan aspek penting dalam sebuah tatanan negara
demokrasi sekaligus merupakan ciri khas adanya modernisasi politik. Dinegara-negara
yang proses modernisasinya secara umum telah berjalan dengan baik, biasanya tingkat
partisipasi warga negara meningkat. Modernisasi politik dapat berkaitan dengan aspek
politik dan pemerintah. Partisipasi politik pada dasarnya merupakan kegiatan yang
dilakukan warga negara untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dengan
tujuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan yang dilakukan pemerintah
(Sastroatmodjo, 1995:67).
Pemerintah dalam membuat dan melaksanakan keputusan politik akan
menyangkut dan mempengaruhi kehidupan warga masyarakat. Dasar inilah yang
digunakan warga masyarakat agar dapat ikut serta dalam menentukan isi politik.
Prilaku-prilaku yang demikian dalam konteks politik mencakup semua kegiatan
sukarela, dimana seorang ikut serta dalam proses pemilihan pemimpin-pemimpin
politik dan turut serta secara langsung atau tidak langsung dalam pembentukan
kebijakan umum. Menurut Budiarjo, partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau
kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan
jalan memilih pimpinan negara dan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi
kebijakan pemerintah (Sastroatmodjo, 1995:68).
Menurut Hutington dan Nelson, bahwa partisipasi politik adalah kegiatan warga
negara yang bertindak sebagai pribadi-pribadi yang dimaksud untuk mempengaruhi
pembuat keputusan oleh pemerintah. Partisipasi bisa bersifat individual dan kolektif,
terorganisir dan sepontan, mantap atau sporadis, secara damai atau dengan kekerasan.
Legal atau ilegal, efektif atau tidak efektif (Budiarjo, 1998:3).
Menurut davis, partisipasi politik adalah sebagai mental dan emosional yang
mendorong untuk memberikan sumbangan kepada tujuan atau cita-cita kelompok atau
turut bertanggung jawab padanya (Sastroatmodjo, 1995:85). Dalam negara demokratis
yang mendasari konsep partisipasi politik adalah bahwa kedaulatan ada di tangan
rakyat, yang dilaksanakannya melalui kegiatan bersama untuk menentukan tujuan
124
serta masa depan suatu negara itu dan untuk menentukan orang-orang yang akan
memegang pemimpinan.
Dari pengertian mengenai partisipasi politik diatas maka dapat di ambil
kesimpulan bahwa yang dimaksud partisipasi politik adalah keterlibatan individu atau
kelompok sebagai warga negara dalam proses politik yang berupa kegiatan yang positif
dan dapat juga yang negatif yang bertujuan untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan
politik dalam rangka mempengaruhi kebijakan pemerintah.
Bentuk partisipasi politik seorang tampak dalam aktivitas-aktivitas politiknya.
Bentuk patisipasi politik yang paling umum dikenal adalah pemungutan suara (voting)
entah untuk memilih calon wakil rakyat atau untuk memilih kepala negara (Maran,
2001:148). Dalam buku Pengantar Sosiologi Politik (Maran, 2001:148), Michael Rush
dan Philip Althoff mengidentifikasi bentuk-bentuk partisipasi politik sebagai berikut :

menduduki jabatan politik atau administrasi

mencari jabatan politik atau administrasi

mencari anggota aktif dalam suatu organisasi politik

menjadi anggota pasif dalam suatu organisasi politik.

menjadi anggota aktif dalam suatu organisasi semi politik

menjadi anggota pasif dalam suatu organisasi semi politik

partisipasi dalam rapat umum, demontrasi, dsb

partisipasi dalam diskusi politik internal

partisipasi dalam pemungutan suara
Sastroatmodjo (1995:77) juga mengemukakan tentang bentuk-bentuk partisipasi
politik berdasarkan jumlah pelakunya yang dikategorikan menjadi dua yaitu partisipasi
individual dan partisipasi kolektif. Partisipasi individual dapat terwujud kegiatan seperti
menulis surat yang berisi tuntutan atau keluhan kepada pemerintah. Partisipasi kolektif
adalah bahwa kegiatan warga negara secara serentak dimaksudkan untuk
mempengaruhi penguasa seperti dalam kegiatan pemilu.
125
Sementara itu Maribath dan Goel (Rahman, 2007:289) membedakan partisipasi
politik menjadi beberapa kategori:

Apatis, adalah orang yang tidak berpartisipasi dan menarik diri dari proses
politik.

Spektator, adalah rang yang setidak-tidaknya pernah ikut memilih dalam pemilu.

Gladiator, adalah mereka yang aktif terlibat dalam proses politik misalnya
komunikator, aktifis partai dan aktifis masyarakat.

Pengkritik, adalah orang-orang yang berpartisipasi dalam bentuk yang tidak
konvensional.
Menurut Rahman (2007:287) kegiatan politik yang tercakup dalam konsep partisipasi
politik mempunyai berbagai macam bentuk. Bentuk-bentuk partisipasi politik yang
terjadi berbagai negara dan waktu dapat dibedakan menjadi kegiatan politik dalam
bentuk konvensional dan non konvensional, termasuk yang mungkin legal (seperti
petisi) maupun ilegal, penuh kekerasan, dan revolusioner. Bentuk-bentuk frekuensi
partisipasi politik dapat dipakai sebagai ukuran untuk menilai stabilitas sistem politik,
integritas kehidupan politik, kepuasan/ketidak puasan warga negara.
Adanya kondisi masyarakat yang beraneka ragam tentunya tiap-tiap warga masyarakat
mempunyai tujuan hidup yang beragam pula sesuai dengan tingkat kebutuhannya, dan
upaya memenuhi kebutuhan itu di refleksikan dalam bentuk kegiatan, yang tentunya
kebutuhan yang berbeda akan menghasilkan kegiatan yang berbeda pula. Demikian
pula dalam partisipasi politiknya tentu tujuan yang ingin dicapai antara warga satu
berbeda dengan yang lain. Menurut Waimer (Sastroatmodjo, 1995:85) menyatakan
bahwa yang menyebabkan timbulnya pergerakan ke arah partisipasi yang lebih luas
dalam proses politik yaitu :

Modernisasi disegala bidang, berimplikasi pada komersialisme pertanian,
industri, perbaikan pendidikan, pengembangan metode masa, dan sebagainya.

Terjadinya perubahan-perubahan struktur kelas sosial. Perubahan struktur kelas
baru itu sebagai akibat dari terbentuknya kelas menengah dan pekerja batu yang
semakin meluas dalam era industrialisasi dan moderenisasi. Dari hal itu muncul
126
persoalan yaitu siapa yang berhak ikut serta dalam pembuatan-pembuatan
keputusan-keputusan politik yang akhirnya membawa perubahan-perubahan
dalam pola partisipasi politik. Kelas menengah baru itu secara praktis
menyuarakan kepentingan-kepentingan masyarakat yang terkesan demokratis.
Menurut Davis (Sastroatmodjo, 1995:85) partisipasi politik bertujuan untuk
mempengaruhi penguasa baik dalam arti memperkuat maupun dalam
pengertian menekannya sehingga mereka memperhatikan atau memenuhi
kepentingan pelaku partisipasi. Tujuan tersebut sangat beralasan karena sasaran
partisipasi politik adalah lembaga-lembaga politik atau pemerintah yang memiliki
kewenangan dalam pengambilan keputusan politik Sedangkan bagi pemerintah,
partisipasi politik dari warga negara mempunyai tujuan sebagai berikut :

Untuk
mendukung
program-program
pemerintah,
artinya
peran
serta
masyarakat diwujudkan untuk mendukung program politik dan pembangunan.

Sebagai organisasi yang menyuarakan kepentingan masyarakat untuk masukan
bagi pemerintah dalam mengarahkan dan meningkatkan pembangunan
(Sastroatmodjo, 1995:85).
Jadi partisipasi politik sangatlah penting bagi masyarakat maupun pemerintah. Bagi
masyarakat dapat sebagai sarana untuk memberikan masukan, kritik, dan saran
terhadap pemerintah dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, sedangkan
bagi pemerintah partisipasi politik merupakan sebuah mekanisme pelaksanaan fungsi
kontrol terhadap pemerintah dan pelaksanaan kebijakan.
Huntington dan Nelson (1994:21) mengemukakan bahwa landasan yang lazim
digunakan untuk menyelenggarakan partisipasi politik adalah :
 Kelas : perorangan-perorangan dengan setatus sosial, pendapatan, pekerjaan yang
serupa.
 Kelompok/komunal : perorangan-perorangan dari ras, agama, bahasa atau
etnisitas yang sama.
 Lingkungan (neighborhood): perorangan-perorangan yang secara geografis
bertempat tinggal berdekatan satu sama lain.
127
 Partai: perorangan yang mengidentifikasikan diri dengan organisasi formal yang
sama yang berusaha untuk meraih atu mempertahankan kontrol atas bidangbidang eksekutif dan legislatif pemerintahan.
 Golongan (Fuction): perorangan-perorangan yang dipersatukan oleh intraksi yang
terus menerus atau intens satu sama lain, dan salah satu manifestasinya adalah
pengelompokan patron-klien, artinya satu golongan yang melibatkan pertukaran
manfaat-manfaat secara timbal balik diantara perorangan-perorangan yang
mempunyai sistem setatus, kekayaan dan pengaruh yang tidak sedrajat.
Hermawan (2001:72) berpendapat bahwa yang berkaitan dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi prilaku politik, adalah :
ï‚·
Lingkungan sosial politik tidak langsung seperti sistem politik, media masa, sistem
budaya, dan lain-lain.
ï‚·
Lingkungan politik langsung yang mempengaruhi dan membentuk kebribadian
aktor seperti keluarga, teman agama, kelas, dan sebagainya.
ï‚·
Struktur kepribadian yang tercermin dalam sikap individu.
ï‚·
Faktor sosial politik langsung berupa situasi, yaitu keadaan yang mempengaruhi
aktor secara langsung ketika hendak melakukan suatu kegiatan politik, seperti
suasana kelompok, ancaman, dan lain-lain.
B.3. Konseptualisasi Seputar Pemilu
Berdasarkan UUD 1945 Bab I Pasal 1 ayat (2) kedaulatan berada di tangan rakyat
dan dilakukan menurut Undang-Undang Dasar. Dalam demokrasi moderen yang
menjalankan kedaulatan itu adalah wakil-wakil rakyat yang ditentukan sendiri oleh
rakyat. Untuk menentukan siapakah yang berwenang mewakili rakyat maka
dilaksanakanlah pemilihan umum. Pemililu adalah suatu cara memilih wakil-wakil rakyat
yang akan duduk dilembaga perwakilan rakyat serta salah satu pelayanan hak-hak asasi
warga negara dalam bidang politik (Syarbaini, 2002:80)
128
Pemilu juga dipahami sebagai salah satu hak asasi warga negara yang sangat
prinsipil. Karenanya dalam rangka pelaksanaan hak-hak asasi adalah suatu keharusan
bagi pemerintah untuk melaksanakan pemilu. Sesuai dengan asas bahwa rakyatlah yang
berdaulat maka semuanya itu harus dikembalikan kepada rakyat untuk menentukannya.
Adalah suatu pelanggaran suatu hak asasi apabila pemerintah tidak mengadakan pemilu
atau memperlambat pemilu tanpa persetujuan dari wakil-wakil rakyat (Kusnardi,
1994:329). Dari pengertian diatas bahwa pemilu adalah sarana mewujudkan pola
kedaulatan rakyat yang demokratis dengan cara memilih wakil-wakil rakyat, Presiden
dan Wakil Presiden secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Karena
pemilu merupakan hak asasi manusia maka pemilu 2009 warga negara yang terdaftar
pada daftar calon pemilih berhak memilih langsung wakil-wakilnya dan juga memilih
langsung Presiden dan Wakil Presidennya.
Tujuan pemilu adalah menghasilkan wakil-wakil rakyat yang representatif dan
selanjutnya menentukan pemerintahan. Dalam UUD 1945 Bab VII B pasal 22 E ayat (2)
pemilihan umum diselenggrakan untuk memilih Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan
Perwakilan Daerah (DPD), Persiden dan Wakil Presiden serta Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD). Melalui pemilu dan hasilnya, masyarakat mengharapkan perubahan
yang berarti untuk memperbaiki kehidupan mereka sehari-hari.
Sedangkan asas pemilu Berdasarkan pasal 22 E ayat (1) Undang-undang Dasar
Negara Republik Indonesia tahun 1945, Pemilu dilaksanakan secara langsung, umum,
bebas, rahasia, jujur, dan adil. Pengertian asas pemilu adalah :
ï‚·
Langsung. Yaitu rakyat sebagai pemilih mempunyai hak untuk secara langsung
memberikan suaranya sesuai dengan kehendak hati nuraninya, tanpa perantara.
ï‚·
Umum. Pada dasarnya semua warga negara yang memenuhi persyaratan minimal
dalam usia, yaitu sudah berumur 17 tahun atau telah pernah kawin, berhak ikut
memilih dalam pemilu. Warga negara yang sudah berumur 21 tahun berhak dipilih
dengan tanpa ada diskriminasi (pengecualian)
ï‚·
Bebas. Setiap warga negara yang memilih menentukan pilihannya tanpa tekanan
dan paksaan dari siapapun/dengan apapun. Dalam melaksanakan haknya setiap
129
warga negara dijamin keamanannya, sehingga dapat memilih sesuai dengan
kehendak hati nurani dan kepentingannya.
ï‚·
Rahasia. Dalam memberikan suaranya, pemilih dijamin bahwa pilihannya tidak akan
diketahui oleh pihak manapun dan dengan jalan apapun. Pemilih memberikan
suaranya pada surat suara dengan tidak dapat diketahui oleh orang lain kepada
siapapun suarnanya akan di berikan.
ï‚·
Jujur. Dalam penyelenggaraan pemilu setiap penyelenggara/pelaksana pemilu,
pemerintah dan partai politik peserta pemilu, pengawas, dan pemantau pemilu,
termasuk pemilih serta semua pihak yang terlibat secara tidak langsung harus
bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
ï‚·
Adil. Berarti dalam penyelenggaraan pemilu setiap pemilih dan parpol peserta
pemilu mendapat perlakuan yang sama serta bebas dari kecurangan pihak manapun.
B.4. Berkenalan Dengan Beragam Sistem Pemilu
Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam sistem pemilihan umum, akan
tetapi
umumnya
berkisar
pada
dua
prinsip
pokok,
yaitu
:“single-member
constituency(satu daerah pemilihan memilih satu wakil ; biasanya disebut Sistem
Distrik) dan multi-member constituency(satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil;
biasanya dinamakan Proportional Representation atau Sitem Perwakilan Berimbang)”
(Rahman, 2007:151).
a. Single-member constituency (Sistem Distrik)
Sistem ini merupakan sistem pemilihan yang paling tua dan didasarkan atas
kesatuan geografis (yang biasanya disebut distrik karena kecilnya daerah yang
diliputi) mempunyai satu wakil dalam Dewan Perwakilan Rakyat. Untuk keperluan
itu daerah pemilihan dibagi dalam sejumlah besar distrik dan jumlah wakil rakyat
dalam Dewan Perwakilan Rakyat ditentukan oleh jumlah distrik. Dalam pemilihan
umum legislatif tahun 2014, untuk anggota Dewan Perwakilan Daerah pesertanya
perseorangan menggunakan sistem distrik.
130
b. Multi-member constituency (Sitem Perwakilan Berimbang)
Satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil, biasanya dinamakan proportional
representation atau sitem perwakilan berimbang. Sistem ini dimaksud untuk
menghilangkan beberapa kelemahan dari sistem distrik. Gagasan pokok ialah bahwa
jumlah kursi yang diperoleh oleh suatu golongan atau partai adalah sesuai dengan
jumlah suara yang diperolehnya. Untuk keperluan ini diperlukan suatu
pertimbangan (Rahman, 2007:152).
Jumlah total anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditentukan atas dasar perimbangan
dimana setiap daerah pemilihan memilih sejumlah wakil sesuai dengan banyaknya
penduduk dalam daerah pemilihan itu. Indonesia merupakan salah satu negara
demokrasi dimana dengan adanya sistem pemilihan umum yang bebas untuk
membentuk dan terselenggaranya pemerintahan yang demokratis. Hal ini sesuai dengan
tujuan negara Republik Indonesia bagaimana tercantum didalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Penyelenggaraan pemilihan
umum di Indonesia dilaksanakan sebagai sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pemilu 2014 dilakukan dua kali putaran dimana pemilu putaran pertama memilih
angota DPR, DPD dan DPRD (legislatif)kemudian pemilu putaran ke dua yaitu memilih
Presiden dan Wakil Presiden (eksekutif). Dalam pemilu legislatif rakyat dapat memilih
secara langsung wakil-wakil mereka yang akan duduk di kursi DPR, DPRD Provinsi dan
DPRD Kabupaten/Kota. Pada pemilu anggota legislatif menggunakan sistem
proporsional dengan daftar calon terbuka dimana dalam memilih, rakyat dapat
mengetahui siapa saja calon wakil-wakilnya yang akan mewakili daerahnya. Selain
dilaksanakan sistem proporsional juga adanya sistem distrik dalam pemilihan untuk
anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Dengan adanya sistem pemilihan umum yang
terbuka inilah diharapkan dapat memilih wakil-wakil rakyat yang mempunyai integritas
131
dan benar-benar mewakili aspirasi, keragaman, kondisi, serta keinginan dari rakyat yang
memilihnya.
C. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif. Penelitian difokuskan pada
partisipasi dan melek politik siswa sebagai pemilih pemula dalam pelaksanaan pemilu
tahun 2014. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi terhadap
siswa SLTA yang dijadikan sampel. Fokus sampel adalah penduduk berusia 17 tahun dan
wajib memilih pada pemilu 2014. Dari banyaknya penduduk kabupaten lombok barat
pada usia 16 – 18 tahun, atau usia yang sudah masuk kategori sebagai pemilih pemula
tersebut di atas, maka tim riset dapat mengelompokkan kelompok pemilih pemula
berbasis siswa SLTA sebagai fokus riset dengan jumlah objek sebagai sampel sebesar 277
siswa. Adapun pengelompokkan sampel dimaksud dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.1. jumlah Sampel Penelitian
NO
NAMA SEKOLAH
JUMLAH SISWA
TOTAL SAMPEL
1
SMAN 1 GERUNG
386
39
KELAS
XII411
2
SMAN 2 GERUNG
151
15
91
9
24
3
SMAN 1 NARMADA
476
48
384
38
86
4
SMAN 2 NARMADA
100
10
56
6
66
5
SMAN 1 GUNUNGSARI
304
30
411
41
72
1.417
142
1.353
135
277
JUMLAH
KELAS XI
SAMPEL
SAMPEL
41
80
Data yang telah dikumpulkan selama proses penelitian berlangsung dianalisis dengan
tahapan sebagai berikut:
1.
2.
Pengumpulan data, pengumpulan data di lakukan dengan cara mencari data dan
mengumpulkan berbagai jenis data atau sumber di lapangan yang mendukung Riset
ini.
Reduksi data, reduksi data yaitu proses pemilihan pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data “kasar’’ yang muncul dari
catatan tertulis di lapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang
menajamkan, menggolongkan mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan
132
3.
4.
mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhirnya
dapat di tarik dan di verifikasi.
Penyajian data, penyajian data yaitu sekumpulan informasi yang tersusun yang
memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
Menarik kesimpulan atau verifikasi, kesimpulan adalah suatu tinjauan ulang pada
catatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna yang muncul data
yang harus diuji kebenarannya, kekokohanya yaitu merupakan validitasnya.
Dari tahapan analisis data tersebut diatas dapat digambarkan dengan bentuk skema
sebagai berikut :
Tabel 5.2
Bentuk sekema analisis data
Pengumpulan Data
Penyajian Data
Reduksi Data
Kesimpulan-kesimpulan
Sumber : Milles dan Hubermen (1999:20).
D. Hasil Penelitian
D.1. Sketsa Penduduk Lombok Barat
Menurut sumber data statistik tahun 2014 terdapat Jumlah penduduk Kabupaten
Lombok Barat berjumlah 620.412 jiwa yang terdiri dari 303.210 orang laki-laki dan 317.202
orang perempuan. Untuk mengetahui lebih jelas jumlah penduduk berdasarkan kelompok
umur dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 5.3. Penduduk Lombok Barat
No
1
2
3
4
5
6
Kelompok umum
0-4
5-9
10-14
15-19
20-24
25-29
Laki-laki
32.783
31.083
31.611
31.852
25.427
26.371
Perempuan
30815
29.576
30.146
30.729
29.625
31.542
Jumlah
63.598
60.659
61.757
62.581
55.052
57.913
133
No
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Kelompok umum
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60-64
65-69
70-74
75 +
JUMLAH
Laki-laki
24.252
23.094
19.331
15.512
13.076
8.893
7.616
4.963
3.729
3.617
303.210
Perempuan
27.995
25.219
20.542
15.830
13.669
9.073
8.037
5.475
4.345
4.584
317.202
Jumlah
52.247
48.313
39.873
31.342
26.745
17.966
15.653
10.438
8.074
8.201
620.412
Sumber : Data statistik Kabupaten Lombok Barat 2014
Tabel 5.4. Penduduk Lombok Tengah Menurut Jenis Kelamin
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Kecamatan
SEKOTONG
LEMBAR
GERUNG
LABUAPI
KEDIRI
KURIPAN
NARMADA
LINGSAR
GUNUNGSARI
BATU LAYAR
Laki
28.936
22.491
36.450
30.624
27.356
17.328
44.266
32.067
40.241
23.451
Perempuan
29.218
23.507
40.557
32.294
28.714
17.887
46.775
33.610
41.117
23.523
Jumlah
58.154
45.998
77.007
62.918
56.070
35.215
91.041
65.677
81.358
46.974
Rasio Jenis Kelamin
99,03
95,68
89,87
94,83
95,27
96,87
94,64
95,41
97,87
99,70
Sumber : Data statistik Kabupaten Lombok Barat 2014
Tabel 5.5. Penduduk Usia 16-18 tahun
No
Kecamatan
2011
2012
2013
1.
SEKOTONG
3.044
3.015
3.049
2.
LEMBAR
2.401
2.378
2.405
3.
GERUNG
4.626
4.582
4.635
4.
LABUAPI
3.607
3.572
3.613
5.
KEDIRI
4.089
4.050
4.097
6.
KURIPAN
2.067
2.047
2.070
7.
NARMADA
4.774
4.728
4.783
8.
LINGSAR
3.386
3.354
3.393
9.
GUNUNGSARI
4.676
4.631
4.685
10.
BATU LAYAR
2.570
2.545
2.574
Sumber : Data statistik Kabupaten Lombok Barat 2014
134
D.2. Pemahaman Siswa Perihal Kepemiluan
Bentuk pemahaman (melek) politik siswa sebagai pemilih pemula pada pemilu
2014,
tampak
dalam
aktivitas-aktivitas
kesehariannya
yaitu
dengan
seringnya
membicarakan dan melakukan diskusi tentang kepemiluan, baik di tempat sekolah maupun
di kelompok belajar siswa, dan memiliki persepsi yang berbeda-beda karena membicarakan
masalah politik adalah merupakan bentuk partisipasi politik yang mudah untuk dilakukan
oleh semua orang. Namun demikian, tidak semua orang dapat melakukannya dalam
kenyataannya memang hanya pemilih pemula tertentu saja yang suka membicarakan
masalah politik.
a. Tentang Badan Penyelenggara Pemilu.
Dalam melakukan wawancara maupun menjawab kuesioner tentang aspek
lembaga penyelenggara pemilu, sebagian besar siswa sudah memahami, seperti halnya
dijawab oleh Herlin Wilya (18 tahun) dengan jelas dan mantap menyampaikan
pernyataan bahwa :
Yang saya tau pak, bahwa “salah satu lembaga penyelenggara pemilu adalah Komisi
Pemilihan Umum atau yang disingkat dengan KPU adalah lembaga penyelenggara
Pemilu yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri yang bertugas melaksanakan
Pemilu”.
Demikian juga Fathurrahman (18 Tahun) dari kelas yang sama di SMA 1 Gerung,
menyampaikan pernyataan bahwa :
“Sifat nasional mencerminkan bahwa wilayah kerja dan tanggung jawab KPU sebagai
penyelenggara Pemilihan Umum mencakup seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Sifat tetap menunjukkan KPU sebagai lembaga yang menjalankan tugas
secara berkesinambungan meskipun dibatasi oleh masa jabatan tertentu”.
Seorang siswa bernama Ahmad Mualim (18 tahun) kelas XII, juga dengan
mantap memberikan pernyataan tentang sifat KPU yang mandiri,
bahwa Sifat mandiri menegaskan KPU dalam menyelenggarakan Pemilihan Umum
bebas dari pengaruh pihak manapun. Penyelenggaraan Pemilu, baik pemilu Presiden
dan Pemilukada dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Penyelenggaraan
ditingkat provinsi dilakukan KPU Provinsi, sedangkan ditingkat kabupaten/kota
dilaksanakan oleh KPU Kabupaten/Kota.
135
Eka Angga Aditya (17 tahun) kelas XII, juga memberi pernyataan tentang
pemahamannya terhadap badan penyelenggara pemilu,
“bahwa selain badan penyelenggara pemilu di atas, terdapat juga penyelenggara
pemilu yang bersifat sementara (adhoc) yaitu Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK),
Panitia Pemungutan Suara (PPS) untuk tingkat desa/kelurahan, dan Kelompok
Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) untuk masing-masing TPS.
Demikian juga pendapat dari Hasbi Johari (17 Tahun) kelas XI bahwa:
“Badan Pengawas Pemilu, selanjutnya disingkat Bawaslu, adalah lembaga
penyelenggara Pemilu yang bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu di seluruh
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Dan lebih mantap lagi pendapat seorang siswa kelas XI yang bernama Farzana
Maesarah, bahwa :
Dalam menjalankan fungsi pengawasannya, Bawaslu dibentuk secara berjenjang
sampai ke tingkat desa. Bawaslu dan Bawaslu Provinsi adalah lembaga pengawas yang
bersifat tetap, sedangkan jenjang yang ada dibawahnya bersifat ad-hoc, antara lain
Pengawas Pemilu Kabupaten/Kota, Pengawas Pemilu Kecamatan, Pengawas Pemilu
Lapangan”.
Berbeda dengan pendapat kelompok siswa kelas XI (kelompok diskusi) dan
diwakili oleh I Komang Rodita. Dalam wawancara tentang DKPP, dengan ringan dia
menjawab,: “tidak mengerti masalah DKPP, yang penting Pemilu aman mas”. Dengan
menjawab seperti tersebut di atas, maka Tim riset telah menjelaskan bahwa Dewan
Kehormatan Penyelenggara Pemilu yang disingkat DKPP, adalah lembaga yang bertugas
menangani pelanggaran kode etik Penyelenggara Pemilu dan merupakan satu kesatuan
fungsi penyelenggaraan Pemilu. Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu dianggap
sangat penting keberadaannya, terutama untuk mewujudkan penyelenggaraan pemilu
yang demokratis dan berkualitas dan untuk memberikan akuntabilitas penuh kepada
pemenang dalam kontestasi pemilihan calon pemimpin. Keanggotaan DKPP berasal dari
KPU, Bawaslu, DPR, Utusan Pemerintah dan Tokoh Masyarakat.
b. Tentang Pemilihan Umum.
Pemilihan Umum atau disingkat dengan Pemilu adalah sarana pelaksanaan
kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan
adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Tanggapan Kelompok belajar kelas XI terhadap Pemilu Legislatif 2014
menyatakan diantaranya bahwa Pemilu 2014 rumit coblos gambar atau coblos calon,
136
surat suara yang besar, perasaan masih masa bodoh, partisipasi masyarakat kurang,
tidak peduli dengan calon yang jadi, seperti pernyataan berikut dari hasil wawancara
dengan Irfan Fauzan Husni (18 tahun) bahwa :
“Pemilu 2014 itu rumit, mencoblos tanda gambar dan nama calonnya, ukuran surat
suara besar. Oleh sebab itu saya tidak perduli alias tidak memilih dan juga tidak peduli
dengan calon yang jadi”.
Ada pula yang beranggapan Pemilu 2014 berjalan baik, tidak ada tekanan, hanya
calon tidak sesuai harapan, tidak dapat “sangu”dari calon / partai dan calon yang terpilih
tidak memperhatikan masyarakat, seperti pernyataan berikut ini :
“Pemilunya berjalan baik, tidak ada tekanan hanya calon yang ada tidak sesuai dengan
harapan”.
Tanggapan lain dari kelompok ini adalah bahwa :
“Pemilu Legislatif 2014 tidak ada yang positif, tidak bisa menilai karena tidak tahu
tentang Pemilu, Calon mengandalkan pada partai bukan pada masyarakat, harapannya
mestinya calon diseleksi di partai untuk mendapatkan yang terbaik”.
Di lain pihak ada pula yang tidak paham, kurang mengenal kader/ calon dari sisi
kepribadiannya, karena acuh tak acuh, sehingga yang dipahami terbatas karena tidak
mengikuti informasi, sibuk dengan belajar untuk ujian, seperti pernyataan Hairil Amry
(17 tahun) berikut ini :
“saya kurang paham dengan pemilu legislatif, karena tidak mau tau dan tidak
mengurusi Pemilu, kurang tahu calon dan tidak mengerti masalah informasi, sibuk
dengan persiapan ulangan sekolah”.
c. Tentang Sistem Pemilu
Penjelasan awal telah disampaikan bahwa Sistem pemilu dikenal dua cara sistem
pemilihan umum yaitu :
a. Sistem distrik biasa disebut juga single-member constituency (tetapi ada juga yang
memakai istilah single-member-district untuk menyebut sistem ini). Pada intinya,
sistem distrik merupakan sistem pemilihan dimana suatu negara dibagi menjadi beberapa daerah pemilihan (distrik) yang jumlahnya sama dengan jumlah wakil rakyat
yang akan dipilih dalam sebuah lembaga perwakilan. Dengan demikian, satu distrik
137
akan menghasilkan satu wakil rakyat. Kandidat yang memperoleh suara terbanyak di
suatu distrik akan menjadi wakil rakyat terpilih, sedangkan kandidat yang
memperoleh suara lebih sedikit, suaranya tidak akan diperhitungkan atau dianggap
hilang-sekecil apapun selisih perolehan suara yang ada sehingga dikenal istilah the
winner-takes-all.
b. Sistem Perwakilan Proposional ialah sistem dimana kursi-kursi di Lembaga
Perwakilan Rakyat dibagikan kepada tiap-tiap partai politik, disesuaikan dengan
prosentase atau pertimbangan jumlah suara yang diperoleh tiap-tiap partai politik.
Dalam praktiknya di Indonesia, pemilihan umum akhir-akhir ini adalah
penggabungan dari dua sistem itu. Pemilihan DPD dilaksanakan dengan sistem
distrik, yang diambil dari empat calon terpilih untuk setiap propinsi. Sedangkan
untuk pemilihan DPR dan DPRD serta Presiden dan wakil Presiden menggunakan
sistem perwakilan berimbang.
Pernyataan yang disampaikan oleh Hasdi (18 tahun) kelas XII tentang sistem pemilu di
indonesia, bahwa :
“sistem pemilu di Indonesia, tidak jelas, tidak mengerti, kursi apa yang direbut di DPR,
apa kursi bisa dibawa pulang ? wah repot pak, boro-boro mikirin sistem pemilu, bayar
kos saya saja tidak karuan”.
Pernyataan yang lainpun demikian, siswa lebih banyak tidak mau tahu atau tidak perduli
dengan sistem pemilu yang dianut, yang penting :
“Pelaksanaan pemilu harus jujur dan benar-benar dapat mewakili dan
memperjuangkan aspirasi kami di DPR, atau Bapak presiden benar-benar serius
memperhatikan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara menyeluruh, bukan hanya
di pulau jawa saja”.
Sikap dan pernyataan lain dari kelompok siswa ini adalah :
“bapak-bapak dari KPU, silakan selenggarakan sistem pemilu ini dengan aturan yang
sudah ditentukan, jangan bapak-bapak bermain-main dengan kecurangan, kami sudah
tahu apa yang diinginkan oleh calon legislatif itu, mereka juga semua tidak jelas,
mereka masuk jadi calon karena punya uang, bukan karena mereka memahami apa itu
wakil rakyat”
138
Tanggapan lain menyatakan bahwa :
“apa semua partai peserta pemilu sudah memahami sistem pemilu, jangan-jangan
partai tidak kenal namanya sitem pemilu, apalagi tokoh-tokohnya partai, aduh kasihan
deh, bagaimana kami bisa mengerti ?”
Kelompok dari kelas dan sekolah yang berbeda juga memberikan pernyataan bahwa :
“Sistem pemilu sudah baik, tetapi kurang disosialisasikan ke kami sebagai pemilih
pemula, sehingga dampaknya kami semua ini gampang diintimidasi oleh kelompok
tertentu, seperti kami diberi uang untuk memilih calon A, atau pengaruh-pengaruh
lainnya sehingga kami bingung sendiri”
d. Tentang Tujuan Pemilu
Secara sederhana tujuan dari pemilu adalah penyaluran kedaulatan rakyat.
Tujuan dari pada penyelenggaraan pemilihan umum (general election) menurut Jimmly
Asshiddiqie dapat dirumuskan dalam empat bagian yaitu:
ï‚· Untuk memungkinkan terjadinya pemilihan kepemimpinan pemerintahan secara
tertib dan damai.
ï‚· Untuk memungkinkan terjadinya pergantian pejabat yang akan mewakili
kepentingan rakyat di lembaga perwakilan.
ï‚· Untuk melaksanakan prinsip kedaulatan rakyat.
ï‚· Untuk melaksanakan prinsip hak-hak asasi warga Negara.
Pernyataan yang mendasar dari seorang siswa yang bernama Annita (17 Thn) kelas XII,
menyatakan :
“pemimpin yang kami pilih sudah bagus, kami memahami tujuan dia menjadi bupati,
wakil Bupati, tapi yang merusak visi misi mereka adalah tim suksesnya, mentangmentang bangat, malah mereka tim sukses itu yang mengatur struktur pimpinan
dibawahnya”
Pernyataan yang lain dari seorang siswa yang bernama Julkarnaen (18 Thn) kelas XII,
menyatakan :
“pemimpin yang kami pilih awalnya baik, koq lama-lama jadi rusak, koq korupsi,
nepotisme, keluarganya menjadi pejabat juga, hebathebathebat”
139
Tujuan pemilu bukanlah sekedar untuk untuk memilih pemimpin pemerintahan yang
baik, tetapi juga untuk melaksanakan prinsip kedaulatan rakyat, untuk melaksanakan
prinsip hak-hak asasi kita sebagai siswa, seperti yang diungkapkan oleh Harmain (18
tahun) kelas XII bahwa :
“Karena pemimpin yang baik, maka kita bisa sekolah dengan baik, gedung sekolah
sangat bagus, jalan aspal, listrik lengkap, ada lampu merah dan hijau, saya bisa belajar
dengan tenang, orang tua saya pegawai negeri yang bisa terima uang tiap bulan untuk
bayar sekolah saya dan bayar kredit motor untuk sekolah saya, iya kan pak?”
e. Pemahaman terhadap Manfaat Pemilu.
Pengetahuan bahwa Pemilu Legislatif adalah untuk memilih wakil rakyat,
memilih partai dan calon, calon tidak dikenal masyarakat, ada kesan calon yang akan
dipilih tidak jelas atau latar belakangnya samar-samar, tergantung pada calon yang
mendekat, dan calon yang dipilih bila terpilih lupa dengan pemilihnya, sehingga
mengecewakan, calon hanya mencari suara terbanyak tetapi tidak mempunyai peranan.
Seperti dalam pernyataan Sudarmaji, (18 Tahun) kelas XII berikut ini :
“ Manfaat pemilu sebenarnya luas sekali, tetapi tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh
peserta pemilu, partai-partai sebagai peserta pemilu tidak konsekwen dengan hasil
pemilu, kalau kalah dia ngamuk, kalau menang dia melupakan kita, eehh malah sangat
berkuasa sekali, tuh anggota DPR di kampung saya, mana dia mau lihat kita lagi”
Pengetahuan pada kelompok ini secara umum mengatakan kurang begitu tahu tentang
Pemilu Legislatif 2014, yang diketahui hanya sebatas untuk memilih wakil rakyat.
Mereka sebatas ikut-ikutan saja tanpa mengerti apa maksud Pemilu, karena tidak
merasakan manfaatnya. Pemilu Legislatif bagi mereka justru sangat membingungkan
dan merepotkan ketika melakukan coblosan, seperti pernyataan berikut ini :
“saya tahu kalau Pemilu itu untuk memilih wakil rakyat, saya hanya ikut-ikutan saja
yang sesungguhnya tidak merasakan manfaatnya. Kadang malah membingungkan
ketika mencoblos karena banyaknya partai”
Sementara itu pemahaman mereka tentang Pemilu Legislatif 2014 adalah untuk memilih
calon yang diinginkan yang dipandang baik maupun berwibawa, tentang aturan main
kurang memahami karena ruwet, karena banyak partai, surat suara besar dan
membingungkan. Ada yang memahami lebih banyak tentang aturan main, karena yang
140
bersangkutan kebetulan anak dari tokoh dan pengurus partai, seperti pernyataan
berikut ini :
“Pemilu Legislatif itu untuk memilih calon yang dianggap baik dan berwibawa. Saya
agak paham banyak karena saya selalu mengikuti perkembangan partai yang sedang
diurus oleh orangtua sebagai pengurus partai”
Pengetahuan pada kelompok ini, memandang bahwa Pemilu Legislatif 2014 lebih
terbuka, bisa memilih calon yang diinginkan. Yang diketahui dari mereka bahwa intinya
untuk memilih calon yang akan duduk di DPR, DPRD Provinsi atau Kabupaten/Kota,
hanya masalahnya sebagian calon tidak dikenal masyarakat. Di dalam pemikiran mereka
dikatakan bahwa peranan wakil rakyat tidak berfungsi dengan baik ketika duduk
menjadi wakil rakyat, bahkan sama sekali lupa dengan yang memilihnya, seperti
pernyataan berikut ini :
“Pemilu legislatif 2014 adalah untuk memilih calon anggota DPR. DPD dan DPRD
provinsi dan kabupaten/kota, bisa memilih calon yang diinginkan, tapi calon yang mana
yang harus dipilih, ini akibat dari informasi dan sosialisasi calon yang tidak menyentuh
ke level kami sebagai siswa artinya belum merata tentang sosialisasinya, sehingga
partisipasi kurang tinggi, dan peranan wakil rakyat tidak dapat berfungsi sebagai wakil
rakyat dengan baik”.
Disisi lain pada tingkat kelas yang sama, ada yang tidak mengetahui sama sekali tentang
Pemilu Legislatif 2014, karena acuh tidak peduli. Pemilu Legislatif tidak merubah nasib
masyarakat. Tidak suka berpikir untuk masalah politik, seperti pernyataan berikut ini :
“saya tidak tahu kalau ada Pemilu, terus terang saya acuh saja sebab Pemilu itu tidak
bisa merubah nasib rakyat dan saya tidak senang politik”
Pemahaman dalam kelompok ini tentang Pemilu Legislatif 2014 sebagian memahami
terhadap aturan yang ada meski tidak semuanya:
“Saya memahami Pemilu Legislatif dan pemilu presiden 2014, ya sebagaian besar saya
pelajari. Kebetulan saya adalah kader partai, sehingga dituntut untuk belajar”
Sebagian lain tidak memahami, acuh tak acuh karena tidak berkepentingan langsung.
Mereka hanya ikutan saja karena merupakan aturan negara. Sebagian karena sibuk
dengan membantu orang tua dengan usahanya sehingga tidak mengikuti perkembangan
141
tentang Pemilu 2014. Sikap mereka pada kelompok ini secara umum menyatakan setuju
terhadap Pemilu 2014, meski dengan catatan agar pemilu selanjutnya agar lebih baik
lagi, seperti pernyataan berikut ini :
“Kalau kami setuju, Pemilu tetap berjalan terus, hanya perlu ada penyempurnaan yang
lebih baik sehingga pemilu selanjutnya akan lebih baik dari pemilu sekarang”
Sebagian ada sikap yang menyatakan bahwa antara menggunakan hak pilih atau tidak
menggunakan hak pilih tidak ada pengaruh terhadap rakyatnya. Tanggapan pada
kelompok ini tentang Pemilu Legislatif 2014, menyatakan tanggapan bahwa secara
umum baik dan berjalan normal, sesuai harapan. Sebagian menyatakan belum sesuai
harapan terhadap calon yang jadi karena dalam kenyataannya belum memperhatikan
nasib rakyat/ pemilih yang memilihnya. Calon yang terpilih kebanyakan tidak memenuhi
janjinya seperti ketika kampanye. Hal tersebut seperti terungkap dalam peryataan
berikut ini :
“Pemilu berjalan bagus, sesuai harapan, cuma jago yang jadi lupa dengan masyarakat
atau konstituennya”
Dari seluruh deskripsi hasil penelitian di atas, penelitian ini menemukan simpulan
sebagai berikut:
Bahwa kualitas pemilih ditingkat SLTA sangat ditentukan oleh beberapa faktor,
diantaranya adalah komunitas pergaulan mulai dari keluarga sampai ditingkat disekolah
dan yang paling signifikan adalah komunitas dan media informasi terutama media
elektronik. Kemudian terkait tingkat melek politik siswa dalam menggunakan hak
pilihnya hampir sama tetapi yang cukup memprihatinkan adalah pilihan politik siswa
juga sangat ditentukan oleh adanya imbalan/ money politik disamping karena pengaruh
keluarga atau media dan juga komunitas pergaulan.
Ketiga, faktor yang mempengaruhi terbentuknya partisipasi dan melek politik siswa
dalam menggunakan hak politiknya sangat ditentukan oleh komunitas pergaulan, baik
ditingkat keluarga, masyarakat, sampai ditingkat sekolah. Peran parpol tidak begitu
significant kalau dikomparasikan dengan media massa dan tokoh-tokoh tingkat
komunitas juga memberi kontribusi yang cukup significant dalam menentukan dan
menggunakan hak politiknya oleh siswa SLTA.
142
Berdasarkan simpulan di atas, penelitian ini merekomendasikan: Pertama,
Kepada KPU sebagai Penyelenggara Pemilu melakukan roadshow pendidikan politik dan
pemilih kepada pemilih pemula. Kedua, kepada pemerintah khususnya Dinas Pendidikan
atau kemeterian terkait utuk memasukkan kurikulum khusus tentang kepemiluan mulai
dari tingakat SLTP dan SLTA. Ketiga, Kepada partai politik untuk terus-menerus
melakukan fungsi pendidikan politiknya khususnya kepada pemilu pemula. Keempat,
Penyelenggara Pemilu melakukan kerjasama yang permanen dengan aktor-aktor kunci
yang ada ditingkat Kabupaten sampai ketingkat Desa atau Kelurahan.
143
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharismi, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Renika Cipta
Anwar, 2008, Mencerdaskan Pemilih Pemula, http:/www.reessay_wordpress.com
Hasan, Ikbal, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya
Moleong, Lexy, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung; Remaja Rosdakarya
____________, 2007, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung; Remaja Rosdakarya
Rachman, Maman, 1999, Strategi dan Langkah-Langkah Penelitian, Semarang-IKIP, Semarang
Press
144
BAB VI.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi Politik Masyarakat
Transmigrasi Kecamatan Labangka
Syukri Rahmat * Sudirman * Yuyun Nurul Azmi
Nur Kholis * Aryati
A. Pengantar
Pemilihan umum (pemilu) merupakan salah satu bentuk perwujudan kedaulatan
rakyat. Pengakuan tentang kedaulatan rakyat ini juga dicantumkan didalam Pasal 1 angka
(1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Umum
presiden dan wakil presiden menyatakan “pemilihan umum untuk selanjutnya disebut
pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.
Tujuan pemilu menurut ketentuan Pasal 22E ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 adalah untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah. Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim mengatakan bahwa pemilihan umum tidak
lain adalah suatu cara untuk memilih wakil-wakil rakyat. Dan karenanya bagi suatu negara
yang menyebutnya sebagai negara yang demokrasi, pemilihan umum itu harus dilaksanakan
dalam waktu-waktu tertentu.
Sastro Wardoyo (1995) menyatakan bahwa Negara Indonesia merupakan Negara
yang berdasarkan prinsip kedaulatan rakyat dalam kerangka demokrasi pancasila.Untuk
mewujudkan pola kehidupan sistem kedaulatan rakyat yang demokratis tersebut, adalah
melalui pemilihan umum.Dengan pemilihan umum tersebut, rakyat Indonesia ingin turut
serta secara aktif untuk berpartisipasi dalam memilih wakil mereka dan secara langsung
atau tidak langsung mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah karena partisipasi politik
merupakan aspek penting dalam sebuah tatanan Negara demokrasi sekaligus merupakan
cirri khas adanya modernisasi politik.
145
Sistem pemilu merupakan metode yang mengatur serta memungkinkan warga
negara memilih/mencoblos para wakil rakyat diantara mereka sendiri.Metode berhubungan
erat dengan aturan dan prosedur merubah atau mentransformasi suara ke kursi di
parlemen.Baik yang memilih ataupun yang hendak dipilih juga merupakan bagian dari
sebuah entitas yang samaTerdapat bagian-bagian atau komponen-komponen yang
merupakan sistem itu sendiri dalam melaksanakan pemilihan umum diantaranya:
Sistem hak pilih, Sistem pembagian daerah pemilihan, Sistem pemilihan, Sistem
pencalonan.Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim mengatakan bahwa pemilihan umum
tidak lain adalah suatu cara untuk memilih wakil-wakil rakyat. Dan karenanya bagi suatu
negara yang menyebutnya sebagai negara yang demokrasi, pemilihan umum itu harus
dilaksanakan dalam waktu-waktu tertentu.
Dalam pelaksanaan pemilu, diselenggarakan oleh suatu badan yaitu Komisi
Pemilihan Umum (KPU). KPU adalah suatu lembaga yang dibentuk berdasarkan undangundang untuk menyelenggarakan pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap dan
mandiri sebagaimana diatur pada Pasal 22E, Angka 5 Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. Penyelenggaraan pemilu oleh KPU yang bersifat nasional,
tetap dan mendiri merupakan amanat konstitusi.
Pemilu secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil hanya dapat terwujud
apabila
dilaksanakan
oleh
penyelenggara
pemilu
yang
mempunyai
integritas,
profesionalitas, dan akuntabilitas, sebagaimana dimaksud pada huruf (b) Pertimbangan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilu.
Dalam hal ini diharapkan KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota dapat melaksanakan
tugasnya sebagai penyelenggara pemilu terlepas dari pengaruh serta kepentingan dari pihak
manapun.
Proses pemilu yang diselenggarakan oleh KPU yang melibatkan partsispasi
masyarakat dalam menentukan wakil mereka baik pemilihan legislative maupun presiden
disebut dengan partisipasi politik. Partisipasi politik merupakan suatu bentuk keterlibatan
146
langsung masyarakat dalam memilih dan menentukan perwakilan mereka yang akan
menyuarakan dan menentukan kebijakan pemerintah. Partisipasi politik merupakan salah
satu bentuk demokrasi yang dijalankan oleh rakyat, dan adapun bentuk demokrasi yang
dianut oleh bangsa Indonesia yaitu demokrasi pancasila.Dalam sistem demokrasi pancasila
menjelaskan bahwa “kedaulatan berada di tangan rakyat dan sepenuhnya dijalankan oleh
negara”.
Pemilihan presiden dan wakil presiden yang diselenggarakan pada tanggal 9 Juli
2014 melibatkan seluruh rakyat Indonesia yang telah memenuhi syarat termasuk masyarkat
yang ada di Sumbawa. Kabupaten Sumbawa memiliki 24 Kecamatan yang tersebar di
seluruh wilayah Sumbawa.Tiap-tiap kecamatan yang ada di Sumbawa memliki tingkat
partisipasi yang berbeda dalam pemilihan tahun lalu khusunya pada pemilihan presiden dan
wakil presiden.Pada pemilihan presiden dan wakil presiden yang diselenggarakan di
kabupaten Sumbawa, terjadi penurunan angka partisipasi politik jika dibandingkan dengan
pemilihan legislative.
Dari 24 kecamatan yang ada di Sumbawa, ternyata di kecamatan Labangka
merupakan tingkat partisipasi ter rendah.Pada kecamatan Labangka terjadi tingkat
penurunan partisipasi masyarakat.Pada pemilihan legislative, angka partisipasi masyarakat
adalah 72,58%, sedangkan pada pemilihan presiden terjadi penurunan menjadi
65,56%.Kecamatan Labangka merupakan kecamatan hasil pemekaran dari kecamatan
Plampang dan kecamatan Labangka merupakan salah satu daerah transmigran. Dari
kenyataan itu, peneliti selanjutnya berencana untuk mengadakan suatu penelitian untuk
mengetahui apakah ada hubungan antara daerah transmigran dengan rendahnya tingkat
partisipasi masyarakat dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya
tingkat partisipasi masyarakat Labangka.
Dari uraian di atas, penelitian ini mengajukan dua rumusan masalah, sebagai berikut:
Bagaimanakah tingkat partisipasi pemilih masyarakat transmigrasi Kecamatan Labangka
147
pada masing-masing desa? Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya partisipasi
masyarakat transmigran Kecamatan Labangka?
B. Tinjauan Teoritis
Partisipasi politik secara harfiah berarti “keikutsertaan”, dalam konteks politik hal ini
mengacu pada pada keikutsertaan warga dalam berbagai proses politik. Keikutsertaan warga
dalam proses politik tidaklah hanya berarti warga mendukung keputusan atau kebijakan
yang telah digariskan oleh para pemimpinnya, karena kalau ini yangterjadi maka istilah yang
tepat adalah mobilisasi politik. Partisipasi politik adalah keterlibatan setiap individu dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara dalam posisinya sebagai warganegara dengan
kehendak suka rela dalam segala tahapan kebijakan dan, mulai dari sejak pembuatan
keputusan sampai dengan penilaian keputusan, termasuk juga peluang untuk ikut serta
dalam pelaksanaan keputusan dalam mencapai cita-cita bangsanya.
Partisipasi politik merupakan kegiatan atau keikutsertaan masyarakat dalam
menentukan dan memilih wakil mereka melalui suatu proses yaitu pemilihan umum atau
Pemilu. Partisipasi politik juga dapat diartikan sebagai kegiatan warganegara yang bertujuan
untuk mempengaruhi pengambilan keputusan politik.Partisipasi politik dilakukan orang
dalam posisinya sebagai warganegara, bukan politikus ataupun pegawai negeri dan sifat
partisipasi politik ini adalah sukarela, bukan dimobilisasi oleh negara ataupun partai yang
berkuasa.
Menurut Bolgherini, bahwa tindakan memaksa dalam kegiatan atau aktivitas yang
berkaitan dengan kehidupan politik juga termasuk partisipasi politik.
partisipasi politik
menurut Bolgherini adalah " ... a series of activities related to political life, aimed at
influencing public decisions in a more or less direct way—legal, conventional, pacific, or
contentious. Bagi Bolgherini, partisipasi politik adalah segala aktivitas yang berkaitan dengan
kehidupan politik, yang ditujukan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan baik secara
langsung maupun tidak langsung dengan cara legal, konvensional, damai, ataupun memaksa.
148
Menurut Kevin R. Hardwick bahwa partisipasi politik memberi perhatian pada caracara warga Negara berinteraksi dengan pemerintah, warga Negara berupaya menyampaikan
kepentingan-kepentingan
mereka
terhadap
pejabat-pejabat
publik
agar
mampu
mewujudkan kepentingan-kepentingan tersebut.
Ramlan Surbakti menjelaskan bahwa partisipasipolitik adalah keikutsertaan warga
Negara biasa dalam menentukan segala kekeputusan masyarakat atau mempengaruhi
hidupnya. Partisipasi politik berarti keikutsertaan warga Negara biasa (yang tidakmempunyai
kewenangan) dalam mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik.
Herbert McClosky menerangkan bahwa partisipasi adalahkegiatan-kegiatan suka rela dari
warga masyarakat melalui mana mereka mengambilbagian dalam proses pemilihan
penguasa dan secara langsung atau tidak langsung, dalam proses penentuan kebijakan
umum.
Berdasarkan hasil Studi klasik mengenai partisipasi politik diadakan oleh Samuel P.
Huntington dan Joan Nelson dalam karya penelitiannya No Easy Choice: Political
Participation in Developing Countries. Lewat penelitian mereka, Huntington and
Nelson memberikan suatu catatan: Partisipasi yang bersifat mobilized (dipaksa) juga
termasuk ke dalam kajian partisipasi politik. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh
Bolgherini yaitu bahwa dalam melakukan partisipasi politik, cara yang digunakan salah
satunya yang bersifat paksaan (contentious). Bagi Huntington and Nelson, perbedaan
partisipasi politik sukarela dan mobilisasi (diarahkan, senada dengan dipaksa) hanya dalam
aspek prinsip, bukan kenyataan tindakan: Intinya baik sukarela ataupun dipaksa,
warganegara tetap melakukan partisipasi politik.
Sementara menurut Rush dan Althoff, kata “politik” diartikan sebagai proses
penyelesaian dari konflik-konflik manusia atau proses dimana masyarakat membuat
keputusan-keputusan atau mengembangkan kebijakan tertentu atau secara otoritatif
mengalokasikan sumber-sumber dan nilai-nilai tertentu. Maka partisipasi politik dapat
149
didefinisikan mengambil peranan atau bagian dalam aktivitas atau kegiatan politik suatu
negara.
Kegiatan partisipasi politik yang dilakukan oleh masyarakat untuk menentukan dan
mempengaruhi kebijakan pemerintahdapat dilakukan melalui suatu proses yaitu proses
pemilihan umum (Pemilu). Proses pemilu diselenggarakan oleh suatu badan independen
yang dibentuk oleh pemerintah Komisi Pemilihan Umum (KPU). Berdasarkan Peraturan
Komisi Pemilihan Umum Nomor 16 Tahun 2014 tentang kampanye pemilihan umum
presiden dan wakil presiden yang dijabarkan pada bab 1 ketentuan umum pasal 1 ayat 3
menjelaskan “komisi pemilihan umum, selanjtnya disebut KPU, adalah lembaga
penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional, tetap dan mandiri yang bertugas melaksanakan
Pemilu”.
Menurut Jimly Asshiddiqie dalam bukunya yang berjudul Konstitusi dan
Konstitusionalisme Indonesia mendefinsikan Komisi Pemilihan Umum Sebagai Berikut:
“Komisi Pemilihan Umum adalah lembaga negara yang menyelenggarakan pemilihan umum
di Indonesia, yakni meliputi Pemilihan Umum Anggota DPR/DPD/DPRD, Pemilihan Umum
Presiden dan Wakil Presiden, serta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah. Komisi Pemilihan Umum tidak dapat disejajarkan kedudukannya dengan lembagalembaga negara yang lain yang kewenangannya ditentukan dan diberikan oleh UUD 1945.
Bahkan nama Komisi Pemilihan Umum belum disebut secara pasti atau tidak ditentukan
dalam UUD 1945, tetapi kewenangannya sebagai penyelenggara pemilihan umum sudah
ditegaskan dalam Pasal 22E ayat (5) UUD 1945 yaitu Pemilihan umum diselenggarakan oleh
suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri. Artinya, bahwa
Komisi Pemilihan Umum itu adalah penyelenggara pemilu, dan sebagai penyelenggara
bersifat nasional, tetap dan mandiri.
Ferry Kurnia Rizkiyansyah dalam bukunya yang berjudul Mengawal Pemilu Menatap
Demokrasi, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan penyelenggara pemilihan umum
adalah suatu lembaga khusus yang menangani proses pemilihan umum (Rizkiyansyah,
150
2007:78). Definisi di atas menyebutkan bahwa penyelenggara pemilihan umum adalah
lembaga khusus yang menangani proses pemilihan umum. Komisi pemilihan umum
merupakan lembaga khusus yang menangani proses pemilihan umum di Indonesia. Komisi
pemilihan umum sesuai dengan amanat UUD 1945 merupakan lembaga khusus
penyelenggara pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap dan mandiri.
Ketentuan mengenai penyelenggara pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap dan
mandiri telah ditindaklanjuti dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun
2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum.Komisi Pemilihan Umum sebagai lembaga
independen ditunjukkan dalam Penjelasan Pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 22 Tahun 2007, yang menyebutkan bahwa Komisi Pemilihan Umum bersifat nasional,
tetap dan mandiri.Yang dimaksud bersifat nasional yaitu mencerminkan bahwa wilayah kerja
Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara pemilihan umum mencakup seluruh negara
Republik Indonesia.Sifat tetap menunjukkan Komisi Pemilihan Umum sebagai lembaga yang
menjalankan tugas secara berkesinambungan meskipun dibatasi oleh masa jabatan
tertentu.Sifat mandiri menegaskan Komisi Pemilihan Umum dalam menyelenggarakan dan
melaksanakan
pemilihan
umum
adalah
bebas
dari
pengaruh
pihak
manapun.Penyelenggaraan pemilihan umum harus memberikan derajad kompetisi yang
sehat, partisipatif dan mempunyai derajad keterwakilan yang tinggi sebagai amanat dari
reformasi.
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, penyelenggara pemilihan umum (pemilu)
dalam hal ini adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mempunyai kewajiban untuk
menyelenggarakan proses kampanye yang merupakan bagian dalam pemilu yang nanti pada
akhirnya melakasanakan proses mencoblosan yang dilakukan oleh masyarakat sebagai
bentuk dari partisipasi politik. Proses kampanye sangat penting agar masyarakat bisa
memahami calon yang akan mereka pilih sebelum proses pencoblosan. Disamping itu,
kampanye juga berfungsi agar masyarakat bisa mengetahui visi dan misi para calon sehingga
masyarakat bisa yakin dengan para calon.
151
Proses kampanye diselenggarakan oleh para calon, baik calon legislatif, gubernur,
bupati/walikota dan juga calon presiden dan calon wakilpresiden. Proses kampanye
dilakssanakan oleh para calon tetapi berdasrkan waktu yang telah ditentukan oleh
penyelenggara pemilu yaitu Komisi Pemilihan Umum.
Kampanye adalah
sebuah
tindakan
dan
usaha
yang
bertujuan
mendapatkanpencapaian dukungan, usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan
atausekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan pencapaian suatu proses
pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok, kampanye biasa juga dilakukan guna
mempengaruhi, penghambatan, pembelokan pecapaian. Dalam sistempolitik demokrasi,
kampanye politis berdaya mengacu padakampanye elektoralpencapaian dukungan, di mana
wakil terpilih atau referenda diputuskan. Kampanye politis tindakan politik berupaya
meliputi usaha terorganisir untuk mengubahkebijakan di dalam suatu institusi.
C. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif.
Metode deskriptif dianggap paling sesuai untuk penelitian ini sebagaimana dikemukakan
Nazir didalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian menyatakan bahwa, pengertian
deskriptif adalah “suatu metode dengan meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu
hal kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa
sekarang”.Penelitian deskriptif meliputi pengumpulan data untuk di uji hipotesis atau
menjawab pertanyaan mengenai status terakhir dari subjek penelitian.Tipe yang paling
umum dari penelitian ini adalah penelitian sikap, atau pendapat individu, organisasi,
keadaan, atupun prosedur yang dikumpulkan melalui daftar pertanyaan, survey, wawancara
atau observasi.
Salah satu model pendekatan penelitian kualitatif deskriptif adalah penelitian dengan
metode atau pendekatan studi kasus (case study).Study kasus termasuk dalam penelitian
deskriptif yaitu suatu penelitian yang dilakukan terfokus pada suatu kasus tertentu untuk
diamati dan dianalisis secara cermat dan tuntas. Kasus bisa berupa individu atau
kelompok.Penelitian studi kasus merupakan studi mendalammengenai unit sosial tertentu
152
dan hasil penelitian tersebut memberikan gambaran luas serta mendalam mengenai unit
sosial tertentu.Subjek yang diteliti relatif terbatas namun variabel-variabel dan fokus yang
diteliti sangat luas dimensinya (Danim, 2002).
Pada penelitian ini, peneliti terfokus untuk meneliti kasus yang terjadi di kecamatan
Labangka yang merupakan daerah transmigran dan adapun kasus yang terjadi yaitu
rendahnya tingkat partisipasi politik masyarakat pada pemilihan presiden tanggal 9 Juli
2014.Peneliti mencari akar permasalahan yang terjadi apakah ada hubungan antara daerah
transmigran dengan rendahnya tingkat partisipasi politik masyarakat Labangka dan mencari
penyebab-penyebab yang melatarbelakangi rendahnya tingkat partisipasi masyarakat
Labangka.
Adapun ruang lingkup penelitian dibatasi pada rendahnya tingkat partisipasi politik
masyarakat kecamatan Labangka pada pemilihan presiden dan wakil presiden 9 Juli 2014.
Sedangkan objek penelitian ini adalah masyarakat kecamatan Labangka yang tidak ikut
dalam pemilihan presiden dan wakilpresiden 9 Juli 2014 yang tersebar pada 5 Desa yaitu
Desa Labangka, Desa Suka Damai, Desa Suka Maju, Desa Sekokat dan Desa Jaya Makmur.
Disamping itu, responden juga terdiri dari 20% para pemilih yang ikut dalam partisipasi
politik pada pemilihan presiden dan wakil presiden untuk mengetahui motivasi mereka
kenapa mereka mau dan aktif dalam kegiatan partisipasi politik atau memilih.
Pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara, yakni; observasi dan wawancara
terstruktur. Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala
yang tampakpada objek penelitian pengamatan dan pencatatan dilakukan terhadap objek di
tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa (Margono, 1997). Dengan cara ini, maka
peneliti dapat memahami secara langsung objek penelitian. Teknik pengumpulan data
dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses
kerja, gejala-gejala alamdan bila responden yang diamati tidak terlalu besar (Sugiono, 2010).
Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui gambaran umum tentang objek
penelitian dan ingin mengetahui gejala-gejala yang terjadi pada responden.Bentuk observasi
yang dilakukan oleh peneliti berupa pengamatan terhadap daerah penelitian untuk
153
memahami karakteristik masyarakat, karakteristik pemilih, pengamatan terhadap lokasi
pemilhan, pengamatan terhadap kehidupan masyarakat, dan lain-lain.
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti
telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena
dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian
berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan
(Sugiono, 2010). Dalam penelitian ini, peneliti menuliskan daftar-daftar pertanyaan sebagai
bahan wawancara dengan responden, dan peneliti juga menanyakan pertanyaan-pertanyaan
yang sama kepada semua responden. Disamping itu, peneliti juga sudah mempersiapkan
alternatif-alternatif jawaban yang akan disamapaikan oleh responden.
Analisis data dilakukan melalui empat tahap. Pertama pengumpulan data. Pengumpulan
data dilakukan melalui proses observasi dan wawancara. Selanjutnya data yang sudah
terkumpul kemudian disederhanakan ke dalam tulisan-tulisan yang mudah dipahami
sehingga mempermudah peneliti dalam mengkatagorikan data yang terkumpul.Dalam
penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dengan cara observasi lapangan untuk
memahami secara pasti kondisi dan situasi daerah penelitian yaitu kecamatan Labangka yang
meliputi 5 desa yang berada di kecamatan Labangka. Kedua Reduksi data. Mereduksi data
berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting,
dicari tema dan polanya dan membuang hal-hal yang tidak diperlukan dalam penelitian.
Dengan demikian datayang sudah direduksikan akan memberikan gambaran yang jelas dan
mempermudah peneliti untukmelakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya
bila diperlukan (Sugiono, 2006). Dalam hal ini, peneliti merangkum dan menyederhanakan
hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap para responden di desa labangka sehingga
mempermudah peneliti dalam memberikan gambaran responden.
Ketiga penyajian data. Dalam hal ini, data yang sudah dirangkum kemudian disajikan
untuk menggambarka kondisi dan situasi para responden yang tidak ikut berpartisipasi
dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 9 Juli 2014 serta menjelaskan dan
menggambarkan faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi masyarakat
Labangka dalam pemilihan presiden dan wakilpresiden. Keempat penarikan kesimpulan. ada
154
tahap ini peneliti menarikkesimpulan dari hasil analisis data yang sudah dilakukan.
Kesimpulan beruapa deskriptif atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih belum
jelas sehingga setelah diteliti menjadi lebih jelas (Sugiono, 2006).Penarikan kesimpulan yang
dilakukan oleh peneliti berupa deskripsi yang diuraikan dengan kata-kata berdasarkan hasil
yang diperoleh dan yang analisis sehingga bisa menjawab asumsi-asumsi yang dipaparkan
oleh peneliti.
D. Hasil Penelitian
D.1. Mengenal Kecamatan Lebangka
Kecamatan Labangka merupakan salah satu kecamatan dari dua puluh empat
kecamatan yang terdapat di wilayah administrasi Kabupaten Sumbawa,
Provinsi Nusa
Tenggara Barat. Wilayah kecamatan ini terletak di bagian tenggara wilayah Kabupaten
Sumbawa. Berikut ini adalah batas-batas wilayah Kecamatan Labangka :
- Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Plampang
- Sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia
- Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Ropang
- Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Plampang
Luas wilayah Kecamatan Labangka adalah 243,08 km2 dan jumlah penduduk pada
tahun 2013 sebanyak 10.438 jiwa dengan kepadatan penduduk 43 jiwa/km2. Wilayah
Kecamatan Labangka terdiri dari 5 desa definitif. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72
Tahun 2005 tentang Desa, disebut bahwa desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang
memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam system Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seluruh desa di
wilayah Kecamatan Labangka diklasifikasikan sebagai desa swadaya. Desa swadaya adalah
suatu wilayah pedesaan yang hampir seluruh masyarakatnya mampu memenuhi
kebutuhannya dengan cara mengadakan sendiri. Ciri-ciri desa swadaya antara lain:
penduduknya masih jarang, mata pencaharian penduduk relatif homogen dan bersifat
155
agraris, masyarakatnya masih memegang teguh adat serta sarana danprasarana pendukung
yang dimiliki masih kurang. Di antara kelima desa di Kecamatan Labangka, Desa Suka Damai
memiliki wilayah yang terluas, yaitu sekitar 21,68 % dari seluruh luas Kecamatan Labangka,
diikuti Desa Labangka (20,53 %) dan Desa Jaya Makmur (20,50 %). Luas wilayah untuk
masing-masing desa dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 6.1
Luas Wilayah Kecamatan Labangka Dirinci
perDesa Tahun 2013 (Hektar)
Desa
Luas wilayah
Persentase
Jaya Makmur
4 984
20,50
Sekokat
4.587
18,87
Suka Damai
5.269
21,68
Labangka
4.990
20,53
Suka Mulya
4.478
18,42
Jumlah
24.308
100
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa
Karena letaknya yang berbatasan dengan laut yaitu SamuderaIndonesia disebelah
selatan maka seluruh desa di Kecamatan Labangkadikategorikan sebagai desa pantai.Iklim
sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan ekosistemyang ada di suatu daerah, tak
terkecuali di Kecamatan Labangka.Tingkat curah hujan dan banyaknya hari hujan per tahun
sangat berpengaruh bagimasyarakat, terutama bagi masyarakat dengan mata pencaharian
dibidang pertanian, seperti di Kecamatan Labangka yang sebagian besarpenduduknya
mengandalkan sektor pertanian.Dan mengingat sebagianbesar petani di Kecamatan
Labangka sangat mengandalkan air hujan untukmengairi tanamannya makanya tingkat
curah hujan memiliki pengaruhsangat besar di kecamatan ini. Pada tahun 2013 banyaknya
hari hujan dikecamatan Labangka sekitar 131 hari dengan rata-rata curah hujan
sebesar2,95 mm. Curah hujan tersebut relatif tinggi terjadi pada bulan Novemberhingga
156
bulan Juni. Hanya pada bulan Mei curah hujan relatif rendah yaitusebesar 6 mm.
Sedangkan bulan Juli sampai dengan bulan Oktober telahmemasuki musim kemarau.
Kecamatan Labangka merupakan hasil pemekaran dari KecamatanPlampang pada
tahun 2004 menjadi 2 kecamatan yaitu Kecamatan Plampangdan Kecamatan Labangka.
Kecamatan Labangka terdiri dari 5 desa yang semuanya diklasifikasikan sebagai desa
swadaya.Demi terselenggaranya suatu pemerintahan desa yang dapatberjalan efektif dan
efisien serta dapat meningkatkan aksesibilitaspenduduk memperlancar pelayanan yang
baik kepada seluruh penduduk dimasing-masing desa, maka di Kecamatan Labangka
dibentuk satuanpemerintahan di tingkat desa dan satuan lingkungan setempat yang
lebihkecil.
Wilayah Kecamatan Labangka terdiri atas 5 desa, 22 dusun, 43 rukunwarga dan 95
rukun tetangga.Bertambahnya berbagai macam sarana perekonomian yang ada diwilayah
Kecamatan Labangka bisa menjadi salah satu indikator adanyapertumbuhan ekonomi
masyarakat.Keberadaan sarana perekonomianseperti pasar, pertokoan, kios serta warung
merupakan sarana mobilitas perekonomian masyarakat.Di Kecamatan Labangka terdapat 2
pasardengan
bangunan
permanen,
tapi
sayangnya
pasar
yang
ada
masih
kurangdimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sebagai tempat transaksijual beli
sehari-hari.Banyak masyarakat yang masih melakukan transaksijual beli di pasar yang
berada di kecamatan lain, seperti salah satunya diPasar Plampang.
Penduduk merupakan salah satu modal dasar bagi pelaksanaanpembangunan.
Namun di sisi lain, penduduk juga menjadi beban beratdalam pembangunan. Untuk itu
perencanaan kependudukan harus benarbenarbaik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
Dengan mengetahuikeadaan penduduk memungkinkan perencanaan pembangunan akan
lebihtepat dan terarah.Dari tahun ke tahun jumlah penduduk Kecamatan Labangka
selalumengalami peningkatan.Hingga tahun 2013 berjumlah 10.438 jiwa yangterdiri dari
5.392 penduduk laki-laki dan 5.046 penduduk perempuan.Daridata tersebut diperoleh
angka sex ratio sebesar 107, yang berarti dalam100 penduduk perempuan terdapat 107
penduduk laki-laki.
157
Dilihat daridata sex ratio yang dirinci per desa, ternyata seluruh desa di
KecamatanLabangka memiliki angka sex ratio di atas 100, yaitu berkisar antara 103hingga
113.Dengan luas wilayah 243,08 km2 dan jumlah penduduk 10.438 jiwadiperoleh
kepadatan penduduk Kecamatan Labangka secara rata-ratasebesar 43 jiwa/km2. Namun
kepadatan penduduk tersebut tidak tersebarsecara merata di seluruh desa. Desa Suka
Damai merupakan desa yangmempunyai kepadatan penduduk tertinggi yaitu 54 jiwa/km2,
disusul desaLabangka dengan kepadatan penduduk 51 jiwa/km2, kemudian desaSekokat
pada urutan ketiga dengan kepadatan penduduk 38 jiwa/km2,selanjutnya ada desa Jaya
Makmur dengan kepadatan penduduk 36 jiwa/km2. Sedangkan desa dengan kepadatan
penduduk
terendah
diKecamatan
Labangka
adalah
desa
Suka
Mulya
dengan
kepadatanpenduduk 34 jiwa/km2.Rumah tangga di Kecamatan Labangka sebagian
besarmengandalkan
sektor
pertanian
dalam
memenuhi
kebutuhan
hidup
sehariharinya,terutama tanaman pangan.Selain sektor pertanian ada jugarumah tangga
yang menekuni bidang perdagangan, angkutan, industri danlainnya.
Grafik 6.2
Jumlah Penduduk Berdasakan Mata Pencaharian
800
700
600
500
400
300
200
100
0
Pertanian
Jaya Makmur
443
Sekokat
414
Suka Damai
724
Labangka
631
Suka Mulya
379
Industri kerajinan
2
4
5
1
1
Perdagangan
35
33
44
30
22
Angkutan
11
17
17
13
16
Lainnya
33
23
34
29
15
Tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup dari suatu masyarakat dapat diukur
dengan berbagai indikator sosial. Indikator-indikator sosial yang umumnya dipergunakan
158
antara lain tingkat pendidikan, tingkat kesehatan, kehidupan beragama dan indikatorindikator sosial lainnya. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang terpenting dalam
membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut Undang-undang nomor 20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pengertian pendidikan adalah usaha sadar
terencana untuk mewujudkan
Suasana
belajar
dan
proses
pembelajaran
agar
peserta
didik
secara
aktifmengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritualkeagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,serta keterampilan yang
diperlukan darinya, masyarakat, bangsa, dannegara.
Tingkat keberhasilan pendidikan masyarakat dapat dipengaruhioleh berbagai hal,
salah satu diantaranya adalah ketersediaan sarana danprasarana fisik seperti gedung
sekolah beserta berbagai fasilitaspenunjangnya. Dalam menghadapi berbagai tantangan
yang semakin beratdi masa yang akan datang pendidikan tidak cukup hanya
didukungketersediaan
jugaberkualitas.
fisik
Selain
yangmengedepankan
itu
mutu
semata
tetapi perlu
perlu
didukung
dan
efisiensi
adanya
juga
tenaga
dengan
sehingga
pendidik
system
generasi
yang
pendidikan
muda
dapat
tumbuhberkembang menjadi manusia yang berkualitas dan sesuai dengan pasarkerja.
Pada tahun 2013, di Kecamatan Labangka terdapat SekolahDasar/MI sebanyak 7
sekolah, SMP/MTs sebanyak 4 sekolah, SMAsebanyak 1 sekolah dan sarana pendidikan pra
sekolah sebanyak 1 TK.Pada tahun 2013, dari semua jenjang pendidikan yang ada di
KecamatanLabangka jenjang SD/MI memiliki jumlah murid yang paling banyak yaitu1.498
orang murid, yang terdiri dari 773 orang murid laki-laki dan 725orang murid perempuan.
Sedangkan rata-rata ratio murid-guru untukjenjang SD/MI sebesar 17, yang berarti untuk
setiap 1 orang guru rata-ratamembimbing sebanyak 17 orang murid. Menurut jenjang
pendidikanterakhir yang ditamatkan guru untuk jenjang SD/MI terdapat sebanyak 20orang
guru yang memiliki ijazah tertinggi SMA atau lebih rendah, 13 orangguru memiliki ijazah
tertinggi D1/D2/D3 dan 52 orang guru memiliki ijazahtertinggi S1 atau lebih tinggi.
Ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan masyarakat jugasangat penting dalam
mendukung peningkatan kualitas sumber dayamanusia.Hal ini mengingat tinggi rendahnya
159
tingkat kesehatan masyarakattidak terlepas dari tersedia tidaknya sarana dan prasarana
dimaksud yangtentu saja dalam kualitas dan kuantitas yang memadai. Sarana
kesehatanyang tersedia di Kecamatan Labangka antara lain 1 puskesmas, 4puskesmas
pembantu (pustu), 5 polindes, 1 tempat praktek dokter, 22posyandu, dan 5 praktek bidan.
Masih terkait dengan indikator sosial yang lain, yaitu menyangkutkehidupan
beragama di Kecamatan Labangka. Mayoritas pendudukKecamatan Labangka menganut
agama Islam yaitu diperkirakan lebih dari90 persen dari total seluruh penduduk kecamatan
ini, sementara sisanya menganut agama Hindu. Pada tahun 2013 di Kecamatan
Labangkaterdapat 8 buah masjid, 38 buah langgar/musholla, dan 2 buah pura.
Sebagian besar rumah tangga di Kecamatan Labangka tangga atau lebih dari 86
persen dari total jumlah rumah tangga bermatapencaharian sebagai petani. Sebagian besar
petani tersebut mengusahakan pertanian tanaman pangan, terutama jenis tanaman
palawija, seperti jagung, kacang hijau dan kacang tanah.Selain tanaman palawija banyak
petani yang juga menanam tanaman padi, tanaman hortikultura seperti jeruk dan rambutan
serta tanaman perkebunan seperti jambu mete, tanaman jarak dan sebagainya.
Lahan pertanian yang terdapat di Kecamatan Labangka umumnya berupa lahan
kering seperti tegalan dan ladang yang sangat mengandalkan air hujan untuk
pengairannya.Untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan memudahkan komunikasi
serta koordinasi antara petugas penyuluhan dengan para petani, maka dibentuk kelompokkelompok tani di setiap desa di Kecamatan Labangka. Kelompok tani yang ada pada tahun
2013 tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun 2012, dimana tercatat ada 84
kelompok tani dan 1 kontak tani yang tersebar di 5 desa.
Banyak rumah tangga yang selain bercocok tanam juga sekaligus menjadi
pemelihara ternak, baik itu ternak besar, ternak kecil maupun unggas.Ternak besar seperti
sapi dan kerbau biasanya dibiarkan oleh pemeliharanya untuk mencari makan sendiri di
ladang atau pekarangan. Data register peternakan tahun 2013 menunjukan adanya
peningkatan jumlah populasi ternak besar di Kecamatan Labangka dibandingkan dengan
tahun 2012 . Pada tahun 2013 populasi sapi meningkat dari 6.882 ekor menjadi 8.146 ekor,
160
sementara populasi kerbau meningkat dari 95 ekor menjadi 121 ekor, dan populasi kuda
mengingkat dari 126 ekor menjadi 132 ekor.
Tabel 6. 3
Luas Lahan Sawah dan Lahan Bukan Sawah di Kecamatan Labangka Dirinci
per Desa Tahun 2013 (Ha)
Desa
Jaya Makmur
Lahan
Tegalan/kebun Pekarangan
tambak
Perkebunan
-
2147
87
-
50
Sekokat
25
1961
98
-
40
Suka Damai
105
2622
132
-
45
Labangka
25
2826
117
-
50
Suka Mulya
17
1834
88
50
55
Jumlah
172
11.390
522
50
240
Sumber: Dinas pertanian kecamatan Labangka
D.2. Pemilih di Kecamatan Labangka
Kecamatan Labangka terdiri dari 5 Desa, yaitu Desa Labangka, desa Suka Damai, Desa
Suka Mulya, Desa Sekokat dan desa Jaya Makmur. Dari 24 kecamatan yang ada di Sumbawa,
ternyata di kecamatan Labangka yang memiliki tingkat partisipasi ter rendah.Adapun jumlah
pemilih di kecamatan Labangka berdasarkan Daftar Pemilih Tetap adalah 8.022, terdiri dari
4.055 pemilih laki-laki dan 3.965 pemilih prempuan.Tiap-tiap desa memiliki jumlah TPS yang
berbeda dimana desa Labangka memiliki 5 TPS dan jumlah pemilih berdarkan Daftar Pemilih
Tetap adalah 2.024 pemilih, dimana jumlah pemilih laki-laki sebanyak 1.026 pemilih dan
prempuan sebanyak998 pemilih. Desa Jaya Makmur terdiri dari 3 TPS, dimana jumlah lakilaki sebanyak 748 pemilih dan jumlah pemilih prempuan sebanyak 704 pemilih dan
keseluruahan pemilih sebnayak 1.452 pemilih. Desa Sekokat terdiri dari 3 TPS, dengan total
pemilih sebanyak 1.276, pemilih laki-laki sebanyak 1.026 dan pemilih prempuan sebanyak
652 orang. Desa Suka Mulya terdiri dari 3 TPS dengan jumlah pemilih laki-laki sebanyak 582
161
pemilih dan jumlah pemilih prempuan sebanyak 566 dan jumlah keseluruhan pemilih
sebanyak 1.148.
Tabel 6.3
Rekapitulasi daftar pemilih tetap kecamatan Labangka pada Pemilihan presiden dan
wakil presiden tahun 2014
Jumlah pemilih
No
Nama Desa
Jumlah
Laki-laki
prempuan
L+P
TPS
1
Jaya Makmur
3
748
704
1.452
2
Labangka
5
1.026
998
2.024
3
Sekokat
3
624
652
1.276
4
Suka Damai
5
1.075
1.047
2.122
5
Suka Mulya
3
582
566
1.148
19
4.055
3.967
8.022
TOTAL
Sumber: KPU Sumbawa
D.3. Pembahasan Data Hasil Penelitian
Angka partisipasi pemilih dalam pemilihan presiden dan wakil presiden pada
kecamatan Labangka hanya berjumlah 65,56%. Hal ini menunjukkan adanya penurunan
dibandingkan dengan
angka partisipasi politik masyarakat Labangka pada pemilihan
legislative. Dalam pemilihan legislative, angka partisipasi masyarakat Labangka berjumlah
72,58%. Dalam penelitian yang telah dilakukan, peneliti mencari faktor-faktor penyebab
terjadinya angka penurunan partisipasi politik tersebut.Pada penelitian ini, peneliti
mengklasifikan bentuk-bentuk partisipasi politik ke dalam beberapa bagian dengan mengacu
pada teori Huntington dan Nelson yaitu: mengikuti kegiatan kampanye, menjadi tim sukses,
mengikuti dan mengamati proses pemilihan, dan mencoblos.
162
Selanjutnya, peneliti mencari akar permasalahan dengan cara melakukan
pengumpulan data melalui proses wawancara terstruktur, dimana peneliti mempersiapkan
beberapa pertanyaan yang ditanyakan kepada responden atau sampel. Dalam penentuan
sampel, peneliti menggunakan teknik purposive random sampling yaitu dengan cara peneliti
menentukan sampel penelitian dan adapun sampel penelitiannya adalah para masyarakat
Labangka yang tidak memilih atau tidak mencoblos pada pemilihan presiden dan wakil
presiden, Tanggal 9 Juli 2014. Adapun jumlah sampel yang diambil yaitu berjumlah 80
responden yang tersebar di 5 desa yaitu Desa Labangka, Desa Jaya Makmur, Desa Sekokat,
Desa Suka Damai, dan Desa Suka Mulya. Peneliti mengambil sampel 20 orang pada tiap-tiap
TPS yang telah ditentukan yang tingkat partisipasinya paling rendah pada tiap-tiap desa.
Selanjutnya peneliti juga mewawancarai masyarakat yang ikut mencoblos dalam
Pilpres lalu sebanyak 20 orang yang diambil pada tiap-tiap desa sebagai sampel untuk
mengetahui motivasi dan alasan mereka tidak mau terlibat dan mencoblos pada pemilihan
presiden dan wakil presiden tanggal 9 Juli 2014 yang lalu. Hal ini dilakukan sebagai
pembanding antara masyarakat yang terlibat dalam partisipasi politik dan mereka yang tidak
mau terlibat dalam partisipasi politik atau mencoblos.
Adapun hasil wawancara yang dijabarkan pada tiap-tiap desa berdasarkan tingkat
partisipasiterrendah berbasis TPS adalah sebagai berikut:
a. Desa Jaya Makmur
TPS 001 desa Jaya Makmur merupakan tempat partisipasi pemilih yang paling rendah
dari semua TPS yang ada di kecamatan Labangka. Adapun jumlah pemilih terdaftar
berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) adalah 515 pemilih, dimana jumlah yang ikut
partisipasi politik (memilih) sejumlah 209 orang/pemilih sedangkan yang tidaknyoblos atau
tidak memilih sebanyak 306 pemilih. Bila dipersentasekan maka jumlah yang memilih
sebanyak 40,58% dan jumlah yang tidak memilih sebanyak 59,42%. Hal ini menunjukkan
bahwa angka yang tidak memilih lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah yang
memilih.
163
Grafik 6.5
Persentase yang memilih dan tidak memilih
yang memilih
34%
66,33%
yang tidak
memilih
Berdasarkan hasil wawancara, baik dengan DPTyang mencoblos maupuntidak
mencoblos,berdasarkankonsep partisipasi Samuel Huntington yang sudah dioperasionalkan
adalahsebagai berikut. Selama masa kampanye Pilpres yang berlansung sejak Tanggal 4 Juni
sampai 5 Juli 2014, dinyatakan olehseluruh respondenadalah tidak ada kampanye sama
sekali di wilayah kecamatan, apalagi di Desa Suka Makmur. Sehingga masyarakat Desa Suka
Makmur tidaktersentuh secara langsung dengankegiatan kampanye Pilpres.Media
Kampanye yang bisa diakses masyarakat adalah melalui stiker-stiker kecil calon presiden dari
beberapa tim yang berasal dari kader partai politik pendukung calon presiden dan wakil
presiden.
Dengan demikian, masyarakat Desa SukaMakmur sangatterbatas dalam
memahami pasangan calon presiden yang maju dalamPilpres lalu, dan dari seluruh
responden yang tidak mencoblos menyatakan bahwa mereka tidak memiliki calon yang
diunggulkan. Lebih jauh ditelusuri juga tidak ada responden yang menjadi anggota tim
sukses pasangan calon atau tidak ada anggota tim sukses yang mendatangi mereka untuk
melakukan sosialisasi.
Hal diatas sungguh berbeda dengan pemilihan legislatif, dimana pada pemilihan
legislative banyak tim sukses yang melakukan proses kampanye bahkan mereka melakukan
proses kampanye dari rumah ke rumah. Proses kampanye terbuka pun sering dilakukan
seperti kampanye yang dilakukan di rumah penduduk bahkan pada kampanye tersebut para
calon legislatif turun secara langsung ke lapangan untuk menyampaikan visi dan misi mereka
kepada masyarakat. Dengan demikian, mereka tentu lebih kenal dengan calon legislative
lebih dekat dan dengan sendiri pada akhirnya mereka mempunyai pilihan.
164
Kurangnya sosialiasi dari penyelenggara pemilu seperti dari PPK dan PPS
juga
merupakan salah satu faktor kurangnya informasi tentang calon presiden dan calon wakil
presiden sehingga mengakibatkan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap calon
presiden dan calon wakil presiden tersebut.
Semua hal diatas juga dibenarkan oleh beberapa responden kunci.Responden kunci
adalah para responden yang ditunjuk langsung oleh peneliti untuk menguji tingkat validitas
dari jawaban masyrakat.Adapun responden kunci dari desa Jaya Makmur adalah
sekdes.Beliau membenarkan pernyataan masyarakat tersebut sehingga membuat jawaban
mereka menjadi lebih kuat.
Dari jawaban responden yang tidak mencoblos pada saat Pilpres dapat dirinci alasan sebagai
berikut:
1. Pemilihan presidenbertepatan dengan panen jagung
Jawaban ini merupakan jawaban terbanyak dari responden.Dari 20 jumlah
responden, 13 menjawab sibuk dengan urusan panen jagung mereka.Bila di persentasekan
maka jumlah mereka adalah 65%.Berdasarkan hasil observasi dan diperkuat oleh data
penduduk, memang benar bahwa mayoritas petani di kecamatan Labangka khususnya di
desa Jaya Mamur adalah petani jagung dan pada bulan Juli para petani masih banyak yang
sibuk dengan urusan panen jagung mereka.
Disamping itu, jarak antara kampung mereka dengan lahanjagung cukup jauh
mengakibatkan mereka tidak mau memilih bahkan cuek dengan pemilu.Faktor lain juga
diperkuat
dengan
dampakdaritidakadanya
tidak
adanya
proses
pilihan
kampanye
dan
mereka
dalam
kurangnya
pemilu
sosialisasi
dari
sebagai
pihak
penyelenggara atau dari pihak-pihak lain.
2. Masyarakat pulang kampung
Sebagian besar penduduk di kecamatan Labangka khususnya di desa Jaya Makmur
berasal dari Lombok.Ketika waktu pemilihan umum, sebagian dari petani ada yang pulang
165
kampung sehingga mengakibatkan mereka tidak bisa ikut serta dalam partisipasi politik atau
mereka tidak bisa memilih.Pada bulan Juli, ada sebagian petani yang sudah selesai panen
bahkan mereka sudah menjual hasil panennya sehingga ada dari mereka yang pulang untuk
silaturrahmi ke keluarga mereka atau mungkin karena alasan lain.Dari 20 jumlah responden,
4 dari mereka menjawab dengan jawaban pulang kampung dan bila di persentasekan maka
jumlah mereka adalah 20%.
3. Tidak ada di tempat
Faktor lain yang mengakibatkan rendahnya partisipasi politik masyarakat Labangka
adalah mereka tidak ada di tempat. Sebagian dari masyarakat ada yang kuliah di luar daerah
seperti di Mataram, di Lombok, di Malang, dan di daerah lain. Disamping itu, ada juga
diantara mereka yang pergi merantau ke luar negeri seperti para TKW yang merantau ke
Arab Saudi dan negara-negara lain. Jumlah mereka lebih sedikit dari total jumlah sampel
yaitu 2 responden atau 10%
4. Data lama muncul lagi
Di dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), masih terdapat data lama yang sudah dihapus
oleh anggota PPS tetapi nama tersebut masih muncul lagi di DPT. Hal ini berdasarkan hasil
yang telah ditelusuri oleh peneliti dan anggota PPS. Ketika peneliti dan anggota PPS
menelusuri nama-nama yang terdapat dalam DPT, ternyata ada beberapa dari nama
tersebut yang memang sudah dihapus oleh anggota PPS tetapi ketika daftar nama pemilih
tetap dikeluarkan oleh KPU, nama tersebut masih ada lagi. Ada beberapa faktor yang
menyebabkan data tersebut dihapus oleh anggota PPS yang terdahulu misalnya karena
alasan perkawinan, pindah domisili, dan lain-lain. Adapun jumlah atau persentase yang tidak
ikut partisispasi politik karena data lama muncul lagi sebanyak 5%.
166
Grafik 6.6
Persentase yang tidak memilih
10%
bertepatan dengan
panen jagung
5%
pulang kampung
20%
tidak ada di tempat
65%
data lama muncul
lagi
b. Desa Labangka
Desa Labangka,TPS 005 merupakan sampel berikutnya. Adapun jumlah Daftar
Pemilih Tetap (DPT) adalah sebanyak 509 pemilih. Dari jumlah itu, sebanyak 168 pemilih
yang tidak ikut berpartisipasi politik atau memilih, sedangkan sisanya sebanyak 341
pemilihyang ikut dalam partisipasi politik atau memilih. Bila di persentasekan maka jumlah
yang tidak memilih sebanyak 33% dan jumlah yang memilih sebanyak 67%. Banyaknya
persentase yang tidak ikut dalam partisipasi politikmenunjukkan kurang pedulinya
masyarakat dengan pemilihan presiden dan wakil presiden. Sesungguhnya persoalan yang
terjadi di desaJaya Makmur yang berhubungan dengan tidak adanya proses kampanye juga
terjadi di desa Labangka.
Grafik 6.7
Persentase yang ikut memilih dan yang tidak ikut memilih
yang memilih
34%
66,33%
yang tidak
memilih
167
Ketika para responden diwawancara mengenai proses kampanye, mereka menjawab
bahwa tidak pernah ada proses kampanye, baik kampanye yang dilakukan di lapangan
terbuka ataupun di tempat umum dan juga kampanye yang dilakukan di rumah penduduk.
Dengan tidak adanya proses kampanye,otomatis mereka tidak tahu visi dan misi para calon
yang bermuara pada tidak adanya pilihan mereka. Disamping itu, kurangnya sosialisai dari
penyelenggara pemilu juga merupakan faktor lain yang mengakibatkan mereka kurang
paham dengan calon presiden calon wakil presiden.
Adapun jawaban para responden kenapa mereka ikut memilih, dapat digammbarkan
sebagai berikut:
1. Pemilu Bertepatan dengan masa panen jagung
Ketika peneliti mewawancarai para responden mengenai kenapa mereka tidak memilih
pada pemilihan presiden, sebagian besar dari mereka menjawab bahwa waktu pemilu
mereka sibuk dengan panen jagung. Pada waktu itu mereka masih dalam proses memetik
jagung yang sudah kering dan setelah itu jagung disemai dan dijual. Mereka tidak bisa
mengikuti proses pemilu dan mereka tidak bisa mencoblos karena mereka ingin jagungnya
cepat selesai. Adapun jumlah yang menjawab dengan jawaban ini berjumlah 60% dari
jumlah responden yang diwawancarai.
2. Tidak ada di tempat
Alasan lain yang mengakibatkan rendahnya partisipasi politik pada pemilihan
presiden dan wakil presiden adalah karena pemilih yang terdaftar dalam DPT tidak ada di
tempat. Jawaban ini berdasarkan pernyataan dan pembuktian yang disampaikan oleh
anggota PPS yang juga ikut dalam membantu proses penelitian ini. Ternyata, nama yang
tercantum dalam DPT sebagiannya memang tidak ada di tempat disebabkan oleh beberap
faktor diantaranya: karena sekolah atau kuliah diluar daerah, menjadi TKW/TKI, dan juga
karena ada yang pulang kampung dan juga karena alasan lain. Jumlah persentase
masyarakat yang tidak memilih karena alasan ini berjumlah 18%.
168
3. Jarak TPS cukup jauh dari pemukiman
Alasan lain kenapa penduduk tidak mau memilih pada pemiihan presiden adalah
karena jarak antara pemukiman penduduk dengan TPS cukup jauh. Salah satu daerah yang
terisolir di desa Labangka adalah kampung Bali, kampung Bali ini dihuni oleh hampir
sebagian besar para pendatang dari Bali.Adapun jarak antara kampung Bali dengan TPS
sekitar 600 sampai 800 meter.Hal ini mengakibatkan kurangnya motivasi para penduduk
kampung Bali untuk mengikuti atau memilih pada waktu pemilihan presiden dan wakil
presiden.Adapun persentase dengan jawaban ini berjumlah 15% dari jumlah penduduk.
4. Data lama muncul lagi
Jawaban lain yang mengakibatkan rendahnya partisipasi politik pada masyarakat
Labangka adalah karena dalam DPT masih muncul data lama. Hal ini diketahui ketika nama
yang terdapat dalam DPT dan setelah ditelusuri bersama anggota PPS ternyata nama
tersebut memang sudah tidak ada lagi di desa Labangka. Nama-nama tersebut sebenarnya
sudah dihapus oleh anggota PPS sebelumnya tetapinama itu masih ada dalam DPT. Data
lama disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya karena sudah tidak berdomisili lagi, data
ganda, dan lain-lain.Jumlah yang tidak memilih karena data lama muncullagi sebanyak 7%.
Grafik 6.8
Persentase yang tidak memilih
bertepatan dengan
panen jagung
7%
15%
18%
tidak ada di tempat
60%
jarak TPS cukupjauh
data lama muncul lagi
169
c. Desa Suka Mulya
DesaSuka Mulya mempunyai luas 4.478 hektar, dimana pada TPS 001 terjadi
rendahnya tingkat partisipasi politik masyarakat. Adapun jumlah DPT yang terdaftar
dalam Daftar Pemilih Tetap berjumlah 413, dimana yang ikut dalam partsispasi politik
sebanyak 269 pemilih atau 65% sementara yang tidak ikut dalam partisipasi politik atau
yang memilih sebanyak 144 pemilih atau 35%.
Grafik 6.9
Persentase yang memilih dan yang tidak memilih
35%
memilih
tidak memilih
65%
Rendahnya tingkat partisipasi politikdisebabkan oleh banyak faktor.Ketika
peneliti mewawancara responden apakah mereka pernah mengikuti kegiatan
kampanye, mereka menjawab bahwa mereka tidak pernah mengikuti kegiatan
kampanye bahkan ada diantara mereka yang tidak kenal dan tidak tahu calon presiden
dan calon wakil presiden. Mereka juga menjelaskan bahwa pada pemilihan presiden dan
wakil presiden tidak pernah ada kegiatan kampanye, baik yang dilakukan oleh tim
sukses ataupun yang dilakukan oleh masyarakat.
Dengan tidak adanya proses kampanye yang dilakukan baik oleh calon sendiri
ataupun yang dilakukan oleh tim sukses berdampak kepada tidak adanya pilihan
masyarakat. Disamping itu, juga tidak ada orang lain atau tim sukses yang mengajak
170
atau mempengaruhi mereka untuk memilih calon tertentu.Disamping itu, kurangnya
sosilaisasi yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu semakin melengkapi kurangnya
pemahaman masyarakat terhadap pentingya pemilu atau pemilhan umum yang
berdampak langsung terhadap rendahnya tingkat partisipasi politikmasyarakat.
Berdasarkan hasil wawancara, peneliti selanjtmya menggambarkan alasan yang
menyebabkan kenapa masyarakat Labangka tidak mau berpartsisipsi dalam pemilu
presiden tanggal 9 Juli 2014 seperti sebagai berikut:
1. Bertepatan dengan panen jagung
Mayoritas penduduk di kecamatan Labangka adalah petani jagung.Kesibukan
masyarakat dengan panen jagung mengakibatkan mereka tidak mau berpartisipasi
dalam pemilihan presiden dan wakil presiden. Jawaban masyarakat desa Suka Mulya
yang menjelaskan bahwa pada bulan Juli tahun lalu mereka masih sibuk dengan panen
jagung mereka dan mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka karena kalau
mereka pulang maka panen jagung mereka semakin lama. Disamping itu, jauhnya jarak
antara lahan jagung dengan desa juga menyebabkan mereka tidak mau mengikuti
proses pemilu. Dari 20 responden yang diwawancarai, 12 orang atau 60% dari mereka
menjawab bahwa mereka tidak memilih pada pemilihan presiden tanggal 7 Juli tahun
lalu karena mereka sibuk dengan urusan panen jagung mereka.
2. Tidak ada ditempat
Ketika dalam proses wawancara, peneliti mewawancarai responden untuk
mengetahui alasan mereka kenapa mereka tidak memilih atau mencoblos pada
pemilihan presiden tahun lalu dan beberapa dari responden menjawab bahwa mereka
tidak memilih karena tidak ada di tempat. Pada waktu pemilihan presiden dan
calonwakil presiden, sebagian dari mereka ada yang pulang ke Lombok untuk
silaturrahmi dan tujuan lain tetapi ada juga diantara mereka karena mereka sekolah dan
171
kuliah diluar Sumbawa. Adapun jumlah yang tidak ikut memilih karena tidak ada di
tempat sebanyak 15%.
3. Data lama muncul lagi
Faktor lain yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi masyarakat adalah
data lama muncul lagi. Munculnya data lama disebakan oleh banyak faktor diantaranya
data orang yang sudah tidak ada di desa Suka Mulya muncul lagi, ada yang sudah pindah
domisili tetapi masih terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), ada yang sudah kawin
dengan penduduk desa lain tetapi masih terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT),
dan lain-lain. Adapun jumlah masyarakat yang tidak ikut memilih karena faktor data
lama muncu lagi sebanyak 15%
4. Jarak TPS cukup jauh dengan pemukiman
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi masyarakat
desa Suka Mulya adalah karena jarak dari rumah mereka dengan TPS cukupjauh sekitar
600-800 meter. Masih banyak dari penduduk yang belum memiliki transposrtasi pribadi
atau sepeda motor sehingga menyulitkan mobilisasi masyarakat termasuk kesulitan
untuk pergi ke TPS untuk memilih calon presiden dan calonwakilpresiden. Adapun
persentase masyarakat Suka Mulya yang tidak ikut dalam partisipasi politik karena
alasan jarakTPS dengan rumah sebanyak 10% atau sebanyak3 responden dari 20
responden yang telah diwawancarai.
Grafik 6.10
Persentase yang tidak memilih
bertepatan dengan
panen jagung
10%
tidak ada di tempat
15%
15%
60%
data lama
muncullagi
jarak TPS cukup
jauh
172
d. Desa Sekokat
Desa Sekokat merupakan salah satu desa yang memiliki tingkat partisipasi
masyarakatnya rendah dalam pemilihan presiden dan wakil presiden pada tahun 2014
yang lalu.Adapun jumlah daftar pemilih tetap (DPT) pada TPS 002 sebanyak 328. Dari
jumlah tersebut, sebanyak 223 pemilih atau 67,99% yang ikut memilih sedangkan
sisanya sebanyak 105 pemilih atau 32,01% tidak ikut memilih.
Grafik 6.11
Persentase yang memilih dan yang tidak memilih
32,01%
yang memilih
67,99%
yang tidak memilih
Dari kenyataan tersebut, selanjutnya peneliti melakukan kegiatan wawancara untuk
mengetahui masalah yang terjadi pada desa Sekokat berhubungan dengan
rendahnya tingkat partisipasi masyarakat. Pertanyaan awal yang ditanyakan oleh
peneliti adalah sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan yang berhubungan dengan
kampanye.
Ketika peneliti menanyakan kepada responden apakah mereka pernah mengikuti
proses kampanya pada pemilihan presiden dan wakil presiden? Mereka menjawab
bahwa pada tahun lalu ketika pemilihan presiden dan wakil presiden tidak ada proses
kampanye baik itu kampanye yang dilakukan dilapangan atau kampanye terbuka
ataupun kampanye yang hanya diikuti oleh beberapa peserta atau kampanye tertutup.
173
Disamping itu, juga tidak ada tim sukses yang mengajak atau mempengaruhi mereka
untuk memilih calon tertentu.
Dengan tidak adanya proses kampanye, berakibat pada kurangnya pemahaman
masyarakat terhadap visi dan misi yang dimiliki oleh calonpresiden dan calon wakil
presiden.Dampak dari semua itu adalah para masyarakat tidak bisa mengenal calon
presiden dan calon wakil presiden sehingga berujung pada tidak adanya pilihan
mereka.selanjutnya, peneliti menanyakan pertanyaan inti kepada responden mengenai
kenapa mereka tidak mau memilih presiden dan wakil presiden pada pemilu tahun lalu.
Kemudian mereka pun menjawab dengan masing–masing jawaban yang berbeda:
1. Bertepatan dengan masa panen
Sebagaimana yang terjadi di desa lain, ternyata permasalahan masyarakat
terhadap sibuknya dengan pekejaan jagung juga terjadi di desa Suka Damai. Pada bulan
Juli sebagian masyarakat Suka Damai masih sibuk dengan urusan panen jagung mereka
sehingga
menyebabkan
mereka
tidak
bisa
bahkan
cuek
dengan
urusan
pemilu.Disamping itu, jauhnya jarak antara lahan jagung dengan desa juga salah satu
faktor penyebab rendahnya motivasi masyarakat untuk mau berpartisipasi dalam
pemilu.Adapun jumlah responden yang tidak ikut berpartisipasi dalam pemilu presiden
tanggal 9Juli 2004 sebanyak 13 atau 65% responden dari 20 responden.
2.
Tidak ada di tempat
Rendahnya tingkat partisipasi politik pada kecamatan Labangka khususnya pada
desa Sekokat adalah karena di dalam DPT, masih terdapat beberapa nama yang tidak
ada di tempat sehingga mengakibatkan mereka tidak bisa ikut memilih.Mereka tidak
ada di tempat disebabkan oleh beberapa hal seperti karena ada diantara mereka yang
lagi sekolah atau kuliah di luar Sumbawa dan mereka malas pulang karena alasan-alasan
tertentu sehingga mengakibatkan mereka tidak bisa ikut dalam partisipasi politik. Sebab
lain mereka tidak ada di tempat karena sebagian dari mereka ada yang jadi TKW dan
bekerja di Arab Saudi atau kerja di negara-negara lain. Jumlah masyarakat yang tidak
174
ikut memilih karena alasan tidak ada di tempat sebanyak 2responden dari 20 sampel
atau 15%
3. Data lama muncul lagi
Munculnya data lama mengakibatkan rendahnya tingkat partisipasi masyarakat
di desa Suka Damai. Didalam DPT, masih ada data-data penduduk yang sudah tidak
berdomisilli lagi dan sudah tidak menetap lagi di desa Suka Damai. Adanya ikatan
keluarga dan perkawinan yang mengakibatkan beberapa dari masyarakat Suka Damai
kadang-kadang tinggal selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dan khususnya
ketika masa panen jagung tetapi pada akhirnya mereka pulang kampung tetapi mereka
terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).Pada pemilihan legislative, mereka terdaftar
sebagai pemilih tetapi pada pemilihan preside ada sebagian dari mereka yang pulang
kampung. Jumlah masyarakat yang tidak memilih karena alasan ini berjumlah 10%.
4.
Alasan lain
Ketika proses wawancara dengan responden, peneliti mendapat tanggapan yang
kurang baik. Sejak kedantangan peneliti, responden sudah menunjukkan sikap yang
tidak koperatif sehingga peneliti agak kesulitan untuk mendapatkan informasi yang
dibutuhkan oleh peneliti.Dari hasil wawancara yang dilakukan, diperoleh jawaban
bahwa mereka cuek dengan hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan pemilu, baik
pada pemilu legislative maupun pada pada pemilu presiden.Mereka hampir tidak
pernah mengikuti kegiatan seperti kampanye, dan mungkin mereka tidak pernah ikut
memilih.Disamping itu, alasan lain juga disebabkan oleh data ganda artinya ada
beberapa data atau nama yang terdaftar di DPT lebih dari satu nama. Jumlah
masyarakat yang tidak memilih karena alasan lain sebanyak 10%.
175
Grafik 6.12
Persentase yang tidak memilih
10%
bertepatan dengan
panen jagung
10%
tidak ada di tempat
15%
65%
data lama muncul
lagi
alasan lain
e. Desa Suka Damai
Desa Suka Damai merupakan salah satu desayang terdapat dikecamatan
Labangka dengan luas wilayah 52,69 km dengan jumlah penduduk 2.838. Dari 2.838
jumlah penduduk, yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap atau masyarakat yang
sudah mempunyaihakuntuk memilih sebanyak 2.122, terdiri dari 1.078 pemilih laki-laki
dan sebanyak 1.047 pemilih prempuan yang tersebar pada 5 TPS dimana pada TPS 1
terdapat 432 pemilih, TPS 2 memiliki 474 pemilih, TPS 3 terdiri dari 497 pemilih, TPS 4
terdiri dari 383 pemilih, dan TPS 5 terdiri dari 426 pemilih.
Adapun yang dijadikan sampel pada desa Suka Damai yaitu TPS 002. TPS 002
desa Suka Damai memiliki 474 pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT),
dimana jumlah yang ikut memilih sebanyak 334 pemilih dan yang tidak ikut memilih
sebanyak 140 pemilih. Selanjutnya peneliti mengadakan proses wawancara dengan
responden yang tidak ikut memilih atau yang tidak terlibat dalam partisipasi politik pada
pemilihan presiden 7 Juli 2014 sebanyak 20 responden sebagai sampel. Peneliti
mewawancarai para responden yang berhubungan dengan proses dan kegiatan pemilu.
Ketika peneliti bertanya tentang apakah responden pernah mengikuti kegiatan
176
kampanye, mereka menjawab bahwa selama proses kampanye, tidak pernah ada
kegiatan kampanye dan otomatis mereka tidak ikut berkampanye.
Grafik. 6.13
Persentase yang memilih dan tidak memilih
yang memilih
yang tidak memilih
30%
70%
Disamping itu, selama waktu kampanye tidak pernah ada tim sukses yang mengajak
mereka untuk memilih calon tertentu apalagi mereka harus terlibat langsung sebagai tim
sukses pasangan tertentu. Kurangnya sosialisasi dari penyelenggara pemilu terhadap
pentingnya arti sebuah demokrasi juga mempengaruhi kurang pedulinya masyarakat
Labangka khususnya masyarakat Suka Damai terhadap arti sebuah demokrasi yang pada
akhirnya berujung pada tidak adanya pilihan masyarakat. Selanjutnya peneliti menguraikan
faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi politik masyarakat Suka
Damai sebagai berikut:
1. Bertepatan dengan panen jagung
Faktor terbesar yang menyebabkan rendahnya tingkat partisispasi politik masyarakat
Suka Damai adalah karena pada waktu pemilihan umum masyarakat Suka Damai masih
sibuk dengan panen jagung. Pada umumnya pada bulan Juli tahun lalu masyarakata Suka
Damai masih dalam proses panen jagung. Mereka sibuk dengan segala kegiatan yang
berhubungan dengan urusan jagung mereka sehingga mereka tidak mau menyempatkan
waktu mereka untuk memilih. Hal ini terjadi
juga disebabkan karena mereka
tidakmempunyai pilihan dalam pemilihan presiden dan wakil presiden.
177
Ketika peneliti mewawancarai para responden, mereka menjawab bahwa ketika proses
pemilihan umum presiden dan wakil presiden tahun lalu mereka masih sibuk dengan urusan
panen jagung sehingga mengakibatkan mereka tidak bisa mengikuti proses pemilu. Dari 20
responden yang diwawancarai, terdapat 13 responden atau 55% yang menjawab bahwa
mereka tidak bisa mengikuti partisipasi politik atau memilih.
2. Pulang kampung
Kemudian selanjutnya alasan kedua terbanyak yang menyebabkan rendahnya
tingkat partisipasi politik masyarkat Suka Maju adalah karena mereka pulang kampung.Pada
bulan Juli tahun lalu, ada beberapa masyarakat yang sedang pulang kampung. Mereka
pulang kampung untuk silaturrahmi atau karena alasan-alasan lain. Disamping itu, ada juga
sebagian dari mereka yang sudah selesai panen jagung sehingga mereka pulang untuk
beberapa waktu.Jumlah masyarakat yang tidak memilih karena alasan pulang kampung
sebanyak 20%.
3. Tidak ada di tempat
Tidak ada di tempat merupakan faktor lain yang menyebabkan rendahnya tingkat
pemilih masyarakat desa Suka Damai. Dari data nama pemilih yang terdaftar dalam DPT,
terdapat beberapa nama yang pemilihnya tidak ada di tempat. Ada beberapa hal yang
menyebabkan mereka tidak ada di tempat seperti sekolah atau kuliah di luar Sumbawa, ada
yang jadi TKI/TKW, dan penyebab lain. Jumlah masyarakat yang tidak memilih karena faktor
tidak ada di tempat sebanyak 15%.
4. Data lama muncul lagi
Hal lain yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi politik masyarakat Suka
Damai adalah karena data lama muncul lagi. Data lama yang muncul sebenarnya sudah
dihapus oleh anggota PPS tetapi data tersebut masih muncul lagi ketika nama-nama
tersebut dikeluarkan oleh KPU.Nama-nama yang muncul disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya karena perkawinan, sudah pindah domisili, dan lain-lain.Jumlah masyarakat
yang tidak memilih karena alasan ini sebanyak 10%.
178
Grafik 6.14
Persentase yang tidak memilih
bertepatan
dengan panen
jagung
10%
15%
pulang kampung
55%
20%
tidak ada di
tempat
Selanjutnya, peneliti juga mewawancarai sebanyak 10 responden yang ikut
memilih dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tanggal 7 Juli 2014 tahun lalu.Hal
ini dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui motivasi masyarakat Labangka kenapa
mereka mau mengikuti pemilihan presiden dan wakilpresiden.Berdasarkan jawaban
para responden, selanjutnya peneliti memafarkan beberapa jawaban para responden.
Dari jawaban responden, ada dua alasan utama yang menyebabkan mereka termotivasi
untuk memilih yaitu karena kesadaran sendiri dank arena mereka mempunyai pilihan
bahkan mereka menyebutkan nama pilihan mereka ketika mereka memilh pada tahun
lalu.
Berdasarkan hasil dari jawaban-jawaban yang disamapaikan oleh para
responden pada tiap-tiapdesa dimana pada tiap-tiap desa diambil satu TPS sebagai
sampel untuk mewakili keseluruhan masyarakat kecamatan Labangka.Dari jawababanjawaban para responden, selanjutnya dapat dikatagorikan ke dalam 5 bentuk jawaban
dengan persentase responden dan persentase jawaban yang berbeda. Adapun jawaban
masyarakat yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi politik masyarakat adalah:
masa pemilu Bertepatan dengan waktu panen jagung, pulang kampung, tidak ada di
tempat, jarak TPS cukup jauh dengan pemukiman, data lama muncul lagi, serta ada juga
yang menjawab karena alasan lain seperti cuek dengan pemilu.
179
Pada desa Jaya Makmur, terdapat empat jawaban responden dengan jawaban
dan pesentase yang berbeda yaitu karena Bertepatan dengan panen jagung, pulang
kampung, jarak TPS cukup jauh dengan pemukiman, dan tidak ada di tempat. Adapun
jumlah responden yang menjawab karena alasan Bertepatan dengan panen jagung
sebanyak 13 responden atau 65%, pulang kampung sebanyak 4 responden atau 20%,
tidak ada di tempat sebanyak 2 responden atau 10%, dan data lama muncu lagi
sebanyak 5%. Selanjtnya desa Labangka dengan jumlah TPS sebanyak 5 TPS dan adapun
yang menjadi sampel adalah TPS 005 dengan jumlah pemilih berdasarkan Daftar Pemilih
Tetap sebanyak 509 pemilih dengan jumlah yang ikut terlibat dalam partisipasi politik
sebanyak 341 pemilih dan jumlah yang tidak memilih sebanyak 168 pemilih.
Dari 168 jumlah responden, mereka menjawab dengan alasan yang berbeda
dengan persentase yang berbeda pula. Adapun jawaban terbanyak adalah karena
pemilihan umum Bertepatan dengan masa panen dengan jumlah responden sebanyak
60%, kemudian jawaban kedua terbanyak adalah karena tidak ada di tempat dengan
persentase 18%, jarak TPS cukup jauh dengan pemukiman sebanyak 15%, dan karena
data lama muncul lagi sebanyak 7%. Desa selanjutnya adalah desa Suka Mulya dengan
jumlah DPT sebanyak 413 pemilih dimana jumlah yang memilih sebanyak 269 pemilih
atau 65% dan jumlah yang tidak memilih sebanyak 144 pemilih atau 35%. Adapun
jawaban masyarakat desa Suka Mulya dengan persentse yang terbanyak adalah karena
pemilu Bertepatan dengan masa panen jagung dengan persentase 60%, tidak ada di
tempat sebanyak 20%, jarak TPS cukup jauh dengan pemukiman sebanyak 10%, dan
karena alasan data lama muncul lagi sebanyak 10%.
Desa berikutnya adalah desa Sekokat dan yang dijadikan sampel adalah TPS 002
dengan jumlah DPT sebanyak
328 dimana yang terlibat dalam partsipasi politik
sebanyak 223 pemilih atau 67,99%, dan yang tidak memilih sebanyak 32,01%. Dari
jumlah responden yang dijadikan sampel, jawaban terbanyak adalah karena pemilihan
Bertepatan dengan waktu panen sebanyak 65%, selanjutnya disusul oleh jawaban kedua
180
terbanyak yaitu karena tidak ada di tempat sebanyak 15%, kemudian data lama muncul
lagi sebanyak 10%, dan karena alasan lain sebanyak 10%.
Desa terakhir adalah desa Suka Damai. Adapun jumlah TPS yang terdapat di desa
Suka Damai adalah sebanyak 3 TPS dan yang dijadikan sampel adalah TPS 002.Jumlah
pemilih berdasarkan Daftar Pemilih Tetap pada TPS 3 sebanyak 474 pemilih.Adapun
yang ikut memilih sebanyak 334 pemilih dan yang tidak memilih sebanyak 140 pemilih.
Berdasarkan jawaban para responden, dapat digambarkan bahwa alasan yang paling
banyak kenapa mereka tidak memilih adalah karena pemilihan umum Bertepatan
dengan masa panen jagung sebanyak 11 responden atau 55%, kemudian karena pulang
kampung sebanyak 20%, tidak ada di tempat sebanyak 15%, dan karena data lama
muncul lagi sebanyak 10%
milu, dan malas.
E. Kesimpulan
Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat Labangka pada pemilihan presiden
dan wakil presiden dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kurangnya sosialisasi dari
penyelenggara pemilu, tidak adanya kegiatan kampanye, tidak adanya tim sukses, serta
hal-hal lain yang berhubungan dengan kegiatan pemilu. Selama proses kampanye yang
berlangsung dari tanggal 5 Juni sampai dengan tanggal 5 Juli tidak pernah ada kegiatan
kampanye baik kampanye terbuka maupun kegiatan tertutup. Dengan tidak adanya
kegiatan kampanye mengakibatkan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap calon
presiden dan calon wakil presiden, disamping itu masyarakat juga tidak bisa mengetahui
visi dan misi para calon yang bermuara pada tidak adanya pilihan masyarakat. Tidak
adanya tim sukses yang bisa mempengaruhi masyarakat untuk memilih calon tertentu
juga merupakan faktor lain yang mempengaruhi rendahnya tingkat partisipasi politik
masyarakat Labangka.
Kurangnya sosialisasi dari penyelenggara pemilu seperti KPU, PPK, dan PPS juga
merupakan faktor penting yang bisa mempengaruhi arti pentingnya sebuah demokrasi
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan kurangnya sosialisasi dari
penyelenggara pemilu otomatis mengakibatkan dampak negatif terhadap pentingnya
181
sebuah demokrasi. Selama proses menjelang pemilu dan pada waktu masa kampanye,
tidak pernah ada sosialisai yang dilakukan oleh pihak penyelenggara terhadap
masyarakat Labangka.
Selanjutnya, dari hasil pengumpulan data yang kemudiah diolah kemudian
peneliti menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya partisipasi
politik masyarakat Labangka disebabkan oleh 6 faktor:
1. Pemilihan Bertepatan dengan masa panen jagung 61%
2. Tidak ada di tempat 14,50%
3. Data lama muncul lagi 9,50%
4. Pulang kampung 8%
5. Jarak TPS cukup jauh dengan pemukiman 5%
6. Alasan lain 2%
Berdasarkan temuan di atas, penelitian ini memberikan rekomendasi sebagai berikut:
1. Pemuktahiran data
2. Peningkatan kuantitas dan kualitas sosialisai
3. Adanya kordinasi intensif dengan seluruh jajaran penyelenggara pemilu dari KPU,
PPK, hingga PPS
4. KPU juga harus mendorong partai politik untuk melakukan pendidikan politik di
masyarakat
182
DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan, (2002), Menjadi Peneliti Kualitatif, CV. Pustaka Setia, Bandung
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31378/4/Chapter%20I.pdf
http://www.academia.edu/8746334/Resume_Memahami_Ilmu_Politik_oleh_Ramlan_Surbakti
http://blog.umy.ac.id/stratasatu/2012/06/25/pengertian-partisipasi-politik/
http://www.rumahpemilu.org/in/read/7448/Menguatkan-Penyelenggaraan-Pilkada-Langsungoleh-Ferry-Kurnia-Rizkiyansyah
Jimly Asshiddiqie, 2002, Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat, Pusat Studi
HTN FH UI, Jakarta, hlm.27-28.
Nazir, Mohammad. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia
Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 16 tahun 2014 Tentang kampanye pemilihan umum
presiden dan wakil presiden
Rush, Michael dan Althoff.Pengantar Sosiologi Politik. Penerbit PT Rajawali.Jakarta 1989
Samuel P. Huntington dan Joan Nelson, Partisipasi Politik di Negara Berkembang, (Jakarta:
Rineka Cipta, 1990) h. 9-10
Silvia Bolgherini, "Participation" dalam Mauro Calise and Theodore J. Lowi, Hyperpolitics: An
Interactive Dictionary of Political Science Concept (Chicago: The University of Chicago, 2010) p.
169.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta : PT. Gramedia. Hal 140
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilihan
Umum
183
BAB VII
Partisipasi Pemilih:
Studi Kasus Di Kecamatan Maluk dan Sekongkong, Kabupaten Sumbawa Barat
Khairuddin * Aliatullah * Fahroni *
Denny Saputra * Supriadi
A. Pengantar
Pemilihan umum merupakan salah satu sarana demokrasi dan bentuk perwujudan
kedaulatan rakyat untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin mulai dari tingkat pusat,
provinsi dan kabupaten/kota. Dalam implementasinya di Indonesia dikenal 3 pemilihan
umum, yaitu pemilihan umum, pemilihan umum presiden dan pemilihan umum kepala
daerah. Istilah pemilihan umum merujuk pada pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat
yang akan duduk mewakili rakyatpada lembaga perwakilan rakyat pada berbagai tingkatan
seperti dewan perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan daerah (DPD), Dewan
perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Sedangkan pemilu
presiden dan wakil presiden merujuk pada pemilihan umum untuk memilih presiden dan
wakil presiden. Adapaun pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) merujuk pada
pemilihan umum untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah provinsi (gubernur
dan wakil gubernur) dan bupati/walikota dan wakil bupati/wakil walikota.
Penyelenggaraan
pemilu
untuk
memilih
anggota
DPR,
DPD
dan
DPRD
diselenggarakan secara bersamaan. Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD
provinsi, dan DPRD kabupaten/kota adalah partai politik dan peserta Pemilu untuk memilih
anggota DPD adalah perseorangan. Sedangkan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
dilaksanakan setelah pelaksanaan pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD. Peserta
pemilu presiden dan wakil presiden adalah pasangan calon yang dicalonkan oleh partai
politik atau gabungan partai politik. Adapun Pemilukada diselenggarakan setelah
pelaksanaan pemilu DPR, DPD, dan DPRD dengan peserta dari pasangan calon
yang
dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik ataupun pasangan calon
perseorangan yang memenuhi persyaratan menurut undang-undang.
Penyelenggara Pemilu adalah lembaga yang menyelenggarakan Pemilu yang terdiri
184
atas Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai satu
kesatuan fungsi penyelenggaraan Pemilu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Presiden dan Wakil Presiden
secara langsung oleh rakyat, serta untuk memilih gubernur, bupati, dan walikota secara
demokratis.
Sebagai sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat, KPU sebagai salah satu penyelenggara
pemilihan umum, menggalang partisipasi penduduk atau warga negara yang memenuhi
syarat dalam memilih pemimpin dan wakilnya dalam setiap pemilu. Partisipasi warga negara
ini merupakan salah satu indikator legitimasi rakyat terhadap kekuasaan politik yang
terbentuk. Warga negara yang memenuhi syarat didaftar dalam daftar pemilih yang dapat
memberikan suaranya pada hari pemungutan suara di tempat pemungutan suara (TPS).
Penggalangan partisipasi warga negara untuk memilih telah menjadi bagian yang
sangat penting dalam pemilu. Ini terlihat tegas dalam tahapan penyusunan daftar pemilih
yang diselenggarakan KPU.
Partisipasi pemilih dalam memberikan suaranya di TPS merupakan salah satu
indikator yang dapat memberikan gambaran tentang legitimasi politik terhadap pemimpin
maupun wakil rakyat yang akan memperjuangkan kepentingannya secara demokratis di
dalam melahirkan kebijakan publik. Semakin tinggi angka partisipasi pemilih berarti semakin
tinggi tingkat legitimasi rakyat terhadap pemimpin atau wakil mereka yang duduk di
lembaga pemerintahan. Sebaliknya, semakin rendah partisipasi politik pemilih berarti
semakin rendah legitimasi yang diberikan. Partisipasi pemilih ini biasanya diukur dengan
persentase kehadiran warga negara yang terdaftar dalam daftar pemilih dalam memberikan
suaranya di tempat pemungutan suara atau yang biasa disebut dengan voter turn out. Oleh
karena itu, semakin tinggi persentase voter turn-out, maka semakin tinggi juga tingkat
keberhasilan pemilihan umum yang berarti bahwa semakin tinggi pula legitimasi calon
pemimpin/wakil rakyat dalam menduduki jabatan politik pada lembaga pemerintahan.
Namun demikian, tingkat partisipasi pemilih tidak berpengaruh terhadap keabsahan hasil
Pemilu. Ini berarti bahwa berapapun tingkat partisipasi pemilih, hasil pemilu tetap sah.
Persoalannya semata terletak pada legitimasi terhadap wakil rakyat atau pemimpin terpilih
185
yang dapat dipersepsikan bahwa tingkat partisipasi rendah berarti wakil rakyat/pemimpin
terpilih tidak mempunyai legitimasi yang kuat dalam membentuk pemerintahan, melahirkan
kebijakan publik dan menjalankan program pembangunan.
Di Kabupaten Sumbawa Barat, voter turn-out dalam momentum pemilihan umum
dalam 5 tahun terakhir ini menunjukkan angka persentase yang fluktuatif. Data yang
tersedia di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sumbawa Barat (KPU KSB) menunjukkan
bahwa fluktuasi angka persentase voter turn-out tersebut mencapai interval 4-10% dalam
berbagai momentum pemilihan umum 5 tahun terakhir ini sebagaimana ditunjukkan pada
Grafik 7.1 berikut.
Grafik 7.1
Fluktuasi Partisipasi Pemilih di Kabupaten Sumbawa Barat
Tahun 2009-2014
82,18%
84,00%
80,77%
82,00%
80,00%
78,00%
75,23%
73,38%
76,00%
72,05%
71,36%
74,00%
72,00%
70,00%
68,00%
66,00%
64,00%
Pemilu
Legislatif
2009
Pemilu
Presiden
2009
Pemilukada Pemilukada
KSB 2010
NTB 2013
Pemilu
Legislatif
2014
Pemilu
Presiden
2014
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
2009-2014
Fenomena yang sama juga terjadi pada partisipasi pemilih pada tingkat
kecamatan. Grafik 7.2 berikut ini menunjukkan angka persentase partisipasi pemilih di 8
(delapan) kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat.
186
Grafik 7.2
Perkembangan Partisipasi Pemilih 8 Kecamatan
di Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2009-2014
100,00%
90,00%
80,00%
70,00%
60,00%
50,00%
40,00%
30,00%
20,00%
10,00%
0,00%
Seteluk
Poto Tano
Brang Rea
Brang Ene
Taliwang
Jereweh
Maluk
Sekongkang
KSB
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
2009-2014
Dari Grafik 7.2 di atas menujukkan fluktuasi angka partisipasi pemilih pada 8
kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat dalam 6 pemilu sepanjang 5 tahun terakhir. Data di
atas menunjukkan adanya konsisten tentang peringkat partisipasi pada 2 (dua) kecamatan
yang mempunyai kecenderungan (trend) selalu berada di bawah angka partisipasi Kabupaten
Sumbawa Barat dalam setiap pemilu yaitu pada Kecamatan Maluk dan Kecamatan
Sekongkang.
Partisipasi pemilih di Kecamatan Maluk dalam 6 pemilu sepanjang 5 tahun
terakhir ini tidak pernah melebihi angka 63,88% dengan konsisten berada pada
peringkat 8 atau psosisi peeringkat terakhir di antara 8 kecamatan yang ada di wilayah
Kabupaten Sumbawa Barat.
Fenomena yang hampir sama terjadi di Kecamatan Sekongkang. Dalam 6 pemilu
sepanjang 5 tahun terakhir ini, partisipasi pemilih Kecamatan Sekongkang konsisten
berada pada peringkat 7 dari 8 kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Sumbawa
187
Barat, kecuali pada Pemilukada Tahun 2010 mengalami angka partisipasi lebih tinggi
0,40% dari angka partisipasi Kabupaten Sumbawa Barat.
Secara lebih spesipik, Grafik 7.3 berikut ini menunjukkan perbandingan angka
partisipasi pemilih Kecamatan Maluk dan Kecamatan Sekongkang dibandingkan angka
partisipasi pemilih Kabupaten Sumbawa Barat.
Grafik 7.3
Perbandingan Partisipasi Pemilih di Kecamatan Maluk dan Sekongkang dengan
Partisipasi Pemilih Tingkat Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2009-2014
90,00%
80,00%
70,00%
60,00%
50,00%
40,00%
30,00%
Maluk
20,00%
Sekongkang
10,00%
KSB
0,00%
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
2009-2014
Fenomena ini menarik untuk dikaji secara mendalam tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi adanya konsistensi data tentang rendahnya partisipasi pemilih di
Kecamatan Maluk dan Kecamatan Sekongkang dalam 5 tahun terakhir ini.
Dugaan sementara terhadap fenomena tersebut terkait dengan keberadaan 2
kecamatan tersebut yang bersentuhan langsung dengan aktivitas operasional
188
pertambangan PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT). Kecamatan Maluk merupakan
wilayah terpadat penduduknya di Kabupaten Sumbawa Barat. Kepadatan penduduk
Kecamatan maluk mencapai 135 jiwa per km 2. Sedangkan Kecamatan Sekongkang
merupakan wilayah yang terjarang penduduknya di Kabupaten Sumbawa Barat.
Kepadatan penduduk Kecamatan Sekongkang hanya 23 jiwa per km2 (BPS, 2014). Kedua
Kecamatan ini merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Jereweh pasca
berlangsungnya aktivitas operasional PTNNT. Sebagian besar penduduk Kecamatan
Maluk dan Sekongkang adalah penduduk pendatang.
Aktivitas operasional PTNNT telah menjadi daya tarik bagi sebagian orang untuk
datang mencari kerja, berbisnis dan menetap di Kecamatan Maluk. Sedangkan
Kecamatan Sekongkang, sebagian besar penduduknya merupakan pendatang dari
program transmigrasi dan pendatang karena daya tarik aktivitas operasional PTNNT.
Meskipun penduduk kedua kecamatan ini masih kental dengan corak agraris,
namun sentuhan langsung dengan aktivitas operasional PTNNT telah menyebabkan
perubahan sosial dan karakter masyarakat yang mendekati karakter masyarakat urban
yang mempunyai kecenderungan apatis terhadap perubahan sosial melalui pemilihan
umum.
Rendahnya partisipasi pemilih sebagai salah satu bentuk perilaku, tentu tidak
disebabkan oleh faktor tunggal. Barangkali ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi
yang harus dikaji secara teoritik dan empirik. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan
penelitian tentang partisipasi pemilih di daerah lingkar tambang PTNNT khususnya di
Kecamatan Maluk dan Sekongkang.
Ada 3 alasan yang mendasari penelitian ini diselenggarakan. Pertama karena
partisipasi pemilih sangat penting artinya dalam pemberian legitimasi pemerintahan
yang terbentuk pasac pemilu; Kedua, partisipasi pemilih di Kecamatan Maluk dan
Sekongkang selalu lebih rendah dibandingkan angka partisipasi Kabupaten Sumbawa
Barat; Ketiga karena penelitian tentang partisipasi pemilih di Kabupaten Sumbawa Barat
khususnya di kecamatan Maluk dan Sekongkang belum pernah dilakukan sehingga
189
sangat diperlukan adanya penelitian ini untuk mengungkapkan permasalahan yang
menjadi penyebab rendahnya partisipasi pemilih.
Dari pemikiran di atas, penelitian ini mengajukan dua rumusan maslah, yakni; 1)
Bagaimana tingkat partisipasi pemilih di Kecamatan Maluk dan Sekongkang? 2) Faktorfaktor apakah yang mendukung dan menghambat partisipasi pemilih di Kecamatan
maluk dan Sekongkang?
B. Tinjauan Teoritis
B.1. Penelitian Terdahulu
Kajian tentang pemilihan umum dari aspek partisipasi pemilih masih menjadi tema
yang menarik untuk diteliti. Partisipasi menjadi tema yang menarik minat banyak peneliti
karena karena memiliki arti penting dalam memberikan legitimasi terhadap pemerintahan.
a.
Penelitian Doni Hendrik (2009)
Doni Hendrik melakukan penelitian dengan judul “Variabel-variabel yang
Mempengaruhi Rendahnnya Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pilkada Walikota dan
Wakil Walikota Padang Tahun 2008”. Penelitian ini berusaha mengungkapkan pengaruh
kesadaran politik warga, sosialisasi Komisi Pemilihan Umum daerah (KPUD) dan situasi hari
pemungutan suara terhadap rendahnya partisipasi pemilih dalam pemilihan kepala daerah
di Kota Padang Tahun 2008.
Hasil penelitian dimuat dalam Jurnal Demokrasi Volume IX Nomor 2 Tahun 2010
dengan temuan bahwa variabel yang menyebabkan rendahnya partisipasi politik
masyarakat kota Padang dalam Pilkada Kota Padang tahun 2008 disebabkan kurangnya
sosialisasi dan cendrung lemahnya kesadaran politik warga kota Padang. Sementara situasi
pada hari H menunjukkan situasi yang biasa-biasa saja/baik-baik saja. Hal ini berarti bahwa
variabel situasi dapat dikatakan tidak berpengaruh terhadap rendahnya tingkat partisipasi.
Walapun demikian, data deskriptif juga menujukkan alasan lain ketidak- ikutan
masyarakat dalam pilkada ini disebabkan oleh alasan-alasan lain. Peneliti kemudian
melaukan pendalaman melalui wawancara kaultatif. Setelah didalami lebih lanjut melalui
wawancara dengan pertanyaan terbuka, maka alasan lain-lain yang dimaksud responden
190
ialah oleh karena beberapa alasan yang pada umumnya terpola karena alasan: tidak
dososialisasikan, karena tidak terdaftar dalam DPT, serta tidak mau peduli dengan Pilkada.
Hal ini menunjukkan, bahwa persoalan rendahnya partisipasi yang muncul tersebut
disebabkan oleh masalah-masalah yang serupa dari data kuantitatif deskriptif sebelumnya,
dimana pada dasarnya berhubungan dengan rendahnya kinerja KPUD dan Pemerintah
daerah, sosialisasi politik dan penyadaran politik, serta proses pembuatan DPT yang
mengalami berbagai permasalahan. Hal ini membuat banyak masyarakat yang tidak
tercantum dalam DPT Pilkada Kota Padang Tahun 2008.
Berdasarkan hasil analisis data yang ada disimpulkan bahwa rendahnya sosialiasasi
politik merupakan variabel yang kuantitas pelaksanaanya terkecil dilakukan oleh KPUD kota
Padang. Sementara keasadaran politik, merupakan variabel yang berada pada posisi sedang
tetapi cendrung mendekati lemah. Sementara variabel situasi politik merupakan variabel
yang berada pada taraf yang sedang yang tidak memiliki pengaruh terhadap rendahnya
partisipasi politik. Dengan demikian, maka variabel sosialisasi politik yang rendah
merupakan variabel yang menyebabkan rendahya partisipasi politik masyarakat dalam
pilkada kota Padang tahun 2008.
Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk melakukan usaha peningkatan
partisipasi dengan jalan meningkatkan kesadaran politik warga, meningkatkan sosialisasi
KPU dan pemerintah, serta memperbaiki situasi dan keadaan kearah yang lebih baik
sehingga masyarakat memiliki kepedulian atau keasadaran serta tidak memuncul sikap
apatis terhadap proses-proses politik.
b.
Penelitian Martini Tarigan (2009)
Martini Tarigan menyoroti masalah partisipasi politik masyarakat dalam Pemilihan
Kepala Daerah di Kabupaten Temanggung Tahun 2008. Penelitian dengan metode survey
tipe eksplanatori ini ditujukan untuk mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi
partisipasi politik masyarakat Temanggung dalam pilkada.
Teknik pengambilan sampel menggunakan sample acak 2 cabang yang
menggabungkan sistem acak dan sistem acak proporsional. Adapun jumlah responden
191
adalah 243 orang yang tersebar di 20 kecamatan se-Kabupaten Temanggung. Dengan
menggunakan analisa kualitatif dan deskriptif kuantitatif meliputi tabel frekuensi, tabel
silang, korelasi produk momen dengan taraf kepercayaan 95 dan 99%, dan regresi linier
berganda.
Berdasarkan hasil olah data menunjukkan bahwa dari keempat variabel yaitu
partisipasi politik (Y), popularitas calon (X1), status sosial ekonomi (X2) dan kondisi sosial
politik (X3), variabel popularitas calon dan variabel kondisi sosial politik menunjukkan
adanya korelasi dengan partisipasi politik. Sedangkan variable status sosial ekonomi
menunjukkan tidak ada hubungan positif terhadap partisipasi politik. Sedangkan
berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa hanya popularitas
calon yang mempunyai hubungan positif dengan partisipasi politik, sedangkan variabel
status sosial ekonomi dan kondisi sosial politik mempunyai hubungan negatif dengan
partisipasi politik.
c.
Vivaldi E. C. Lasut (2014)
Vivaldi Lasut melakukan penelitian dengan judul “Partisipasi Politik Pemilih pemula pada
Pemilihan Umum Legislatif Tahun 2014 di Kecamatan Tomohon Utara Kota Tomohon”.
Penelitian kualitatif bertipe deskriptif ini mengkaji bentuk-bentuk partisipasi politik Pemilih
Pemula di Kecamatan Tomohon Utara dalam rangka pemilihan umum legislatif 2014.
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa bentuk-bentuk partisipasi politik
yang dilakukan oleh pemilih pemula di Kecamatan Tomohon Utara dalam rangka pemilihan
umum legislatif 2014 yang pertama adalah berbicara atau berdiskusi tentang masalah dan
fenomena-fenomena politik menjelang pemilu legislatif melalui forum-forum informal yaitu
diskusi dengan teman-teman pada saat kumpul-kumpul, dan yang kedua adalah pemberian
suara pada saat hari pemungutan suara dengan antusiasme untuk datang ke TPS
memberikan hak suaranya. Sebagian besar pemilih pemula di Kecamatan Tomohon Utara
tidak dapat mengikuti kegiatan kampanye terbuka karena kegiatan kampanye dari caloncalon anggota legislatif berbenturan dengan jam sekolah yang merupakan prioritas utama
bagi pemilih pemula yang masih duduk di bangku SMA.
192
Faktor yang mendorong pemilih pemula di Kecamatan Tomohon Utara untuk
berpartisipasi dalam kegiatan pemilu adalah rasa ingin tahu yang besar dari dalam diri
pemilih pemula karena ini merupakan pemilu pertama bagi mereka dan idealisme kaum
muda yakni kesadaran politik yang ditunjukan pemilih pemula karena ingin berpartisipasi
membawa perubahan bagi bangsa dengan cara memberikan hak suara pada pemilu
legislatif 2014.
Adapun faktor yang menjadi penghambat partisipasi politik pemilih pemula di Kecamatan
Tomohon Utara adalah kegiatan sehari-hari yaitu ke sekolah dan kuliah kemudian pengaruh
dari pihak keluarga berupa larangan untuk mengikuti kegiatan politik karena anggapan dari
keluarga bahwa pemilih pemula yang masih usia sekolah harus fokus pada kegiatan belajar.
B.2. Perihal Pemilihan Umum
Indonesia sebagai salah satu negara penganut demokrasi modern, wakil-wakil rakyat
dan pemimpin negara dipilih secara langsung oleh rakyat melalui mekanisme pemilihan
umum (Pemilu). Mengacu pada Undang-Undang Dasar Tahun 1945 bahwa kedaulatan
berada di tangan rakyat dan dilakukan menurut Undang-Undang Dasar. Oleh karena itu,
untuk melaksakan kedaulatan rakyat tersebut diselenggarakan pemilihan umum secara
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.
Dalam perkembangan sistem politik di Indonesia dikenal 3 pemilu, yaitu: 1). Pemilu
untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan daerah (DPD)
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi dan Kabupaten/Kota; 2). Pemilu
untuk memilih presiden dan wakil presiden; dan 3). Pemilu untuk memilih kepala daerah
dan wakil kepala daerah (Pemilukada) bupati/walikota dan wakil bupati/wakil walikota.
Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPR dan DPRD adalah partai politik dan
peserta Pemilu untuk memilih anggota DPD adalah perseorangan. Sedangkan Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan setelah pelaksanaan pemilihan umum anggota
DPR, DPD, dan DPRD. Peserta pemilu presiden dan wakil presiden adalah pasangan calon
yang dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Adapun Pemilukada
193
diselenggarakan setelah pelaksanaan pemilu DPR, DPD, dan DPRD dengan peserta dari
pasangan calon yang dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik.
Pemilu diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas
Pemilu (Bawaslu). KPU bertugas menyelenggarakan pemilu dan Bawaslu bertugas
mengawasi penyelenggaraan pemilu. Untuk menyelenggarakan pemilu di tingkat provinsi
dibentuk KPU provinsi dan pengawasannya diselenggarakan oleh Bawaslu provinsi. Untuk
untuk menyelanggarakan pemilu di tingkat kabupaten/kota dibentuk KPU kabupaten/kota,
sedangkan pengawasannya diselenggarakan oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu)
Kabupaten/kota yang dibentuk oleh Bawaslu Provinsi.
Dalam perjalanan sejarah pemilu untuk memilih wakil rakyat, pemilu di Indonesia
diselenggarakan dengan sistem proporsional. Sebelum Pemilu Tahun 2004, pemilu
diselenggarakan dengan sistem proporsional tertutup. Artinya partai politik peserta pemilu
menawarkan daftar calon yang diajukan, pemilih cukup memilih partai. Alokasi kursi partai
didasarkan pada daftar urut yang sudah ada. Namun sejak pemilu 2004, pemilu
diselenggarakan dengan sistem proporsional terbuka dimana partai politik menawarkan
calon Kecuali untuk memilih anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil
banyak.
Pemilihan umum untuk memilih anggota DPR, DPD dan DPRD dapat dipandang
sebagai metode mentransfer kedaulatan yang ada di tangan rakyat yang diwujudkan dalam
sejumlah suara ke dalam sejumlah kursi pada lembaga perwakilan rakyat. Sedangkan
pemilihan umum untuk memilih presiden, gubernur, bupati dan walikota merupakan
pemberian mandat secara langsung dari rakyat dengan dasar jumlah suara yang diperoleh
secara mayoritas untuk menentukan kepada siapa mandat rakyat diberikan.
Syamsuddin Haris (1998) menyebutkan bahwa salah satu fungsi pemilu adalah
sebagai sarana legitimasi politik. Pemilu merupakan kebutuhan dalam pembentukan
pemerintahan. Keabsahan pemerintahan yang terbentuk sangat ditentukan oleh sejauh
mana partisipasi rakyat dalam pemilu. Partai poltik peserta pemilu, selain menawarkan
calon-calonnya, juga menawarkan kebijakan dan program kerja yang akan dijalankan jika
194
membentuk pemerintahan. Semakin tinggi suara yang diperoleh partai politik peserta
pemilu diartikan sebagai tingginya legitimasi rakyat terhadap partai politik tersebut dalam
pembentukan pemerintahan dan kebijakan publik yang akan dijalankan.
Fungsi-fungsi lain pemilu di antaranya:
1.
Fungsi Perwakilan Politik
Fungsi ini terutama menjadi kebutuhan rakyat, sebagai mekanisme demokratis bagi
rakyat untuk menentukan wakil-wakil yang dapat dipercaya untuk duduk dalam
pemerintahan maupun dalam lembaga legislatif. Tidak ada demokrasi tanpa
representasi.
2.
Sebagai Mekanisme Sirkulasi Elite Politik
Fungsi ini didasarkan pada asumsi bahwa elite politik berasal dari rakyat dan bertugas
mewakili rakyat. Pemilu menjadi sarana bagi warga negara untuk mencapai posisi Elite
Politik. Dan untuk mencapai posisi elite politik bisa ditempuh dengan persaingan politik
yang adil, obyektif, terbuka, dan bermartabat.
3. Sebagai Sarana Pendidikan Politik Rakyat
Pemilu merupakan salah satu bentuk pendidikan politik bagi rakyat yang bersifat
langsung, terbuka dan massal, yang diharapkan bisa mencerdaskan masyarakat tentang
demokrasi.
B.3. Konseptualisasi Partisipasi Pemilih
Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya bahwa pemilu merupakan sarana
legitimasi politik. Semakin tinggi partisipasi rakyat dalam pemilu yang diukur dengan tingkat
kehadirannya dalam memberikan suaranya di tempat pemungutan suara (vooter turn-out),
maka semakin tinggi juga kepercayaan rakyat terhadap pembentukan pemerintahan dan
kebijakan/program-program pembangunan yang direncanakan. Tingginya kepercayaan
rakyat mencerminkan tingginya legitimasi pemerintahan. Maka disinilah letak urgensitas
dari partisipasi pemilih dalam pemilu.
195
1. Partisipasi
Ramlah Surbakti (1992) mengatakan bahwa partisipasi adalah salah satu aspek
penting demokrasi. Asumsi yang mendasari demokrasi (dan partisipasi) orang yang
paling tahu tentang apa yang baik bagi dirinya adalah orang itu. Karena keputusan
politik yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah menyangkut dan mempengaruhi
kehidupan warga masyarakat maka warga masyarakat berhak ikut serta menentukan isi
keputusan politik.
Adapun Mikkelsen (1999) menawarkan arti partisipasi secera sederhana sebagai
bentuk keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukan
sendiri. Sementara itu, Miriam Budiardjo (2008) mengatakan bahwa partisipasi politik
merupakan kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif
dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan negara dan secara
langsung atau tidak langsung, memengaruhi kebijakan pemerintah (public policy).
Kegiatan ini mencakup tindakan seperti memberikan suara dalam pemilihan umum,
menghadiri rapat umum, mengadakan hubungan (contacting) atau lobbying dengan
pejabat pemerintah atau anggota parlemen, menjadi anggota partai atau salah satu
gerakan sosial dengan direct action-nya dan sebagainya.
Partisipasi mempunyai berbagai manfaat. Sondang Siagian (2002) menyebutkan
5 manfaat partisipasi di antaranya:
1.
Turut memikirkan nasib sendiri dengan memanfaatkan lembaga-lembaga sosial dan
politik yang ada di masyarakat sebagai saluran aspirasi.
2.
Mewujudkan adanya kesadaran bermasyarakat dan bernegara yang tinggi dengan
tidak menyerahkan penentuan nasib sendiri kepada orang lain, seperti kepada
pimpinan, tokoh masyarakat yang ada, baik yang sifatnya formal maupun informal.
3.
Memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang bertanggungjawab.
4.
Ketaatan kepada berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
196
5.
Kerelaan merupakan pengorbanan yang dituntut oleh pembangunan demi
kepentingan bersama yang lebih luas dan lebih penting.
Berdasarkan berbagai pendapat pakar tersebut dapat disimpulkan bahwa partisipasi
rakyat dalam politik memberikan pengaruh yang penting bagi arah pemerintahan dan
pembangunan nasional dan daerah.
2. Pemilih
Memberikan suara dalam pemilihan umum merupakan salah satu hak
konstitusional warga negara yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar. Namun
demikian, tidak semua warga negara berhak menjadi pemilih. Hanya warga negara yang
memenuhi kriteria dan persyaratan tertentu dapat didaftarkan sebagai pemilih.
Dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum
Presiden dan Wakil Presiden dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang
Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD, pemilih didefinisikan sebagai Warga
Negara Indonesia yang telah genap berumur 17 (tujuh belas) tahun atau lebih atau
sudah/pernah kawin. Definisi yang agak berbeda disebutkan dalam Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota
Menjadi Undang-Undang. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 disebutkan
bahwa pemilih adalah penduduk yang berusia paling rendah 17 (tujuh belas) tahun
atau sudah/pernah kawin yang terdaftar dalam Pemilihan. Kedua definisi tersebut,
meskipun berbeda, namun dalam implementasinya mempunyai persamaan dalam
proses penentuan warga negara maupun penduduk untuk didaftarkan menjadi pemilih.
Untuk dapat memilih pada hari pemungutan suara, warga negara atau penduduk
didaftarkan, diumumkan dan divalidasi namanya oleh Komisi Penyuluhan Umum dan
perangkat di bawahnya sesuai dengan jadwal tahapan yang telah ditentukan. Pada
pemilu Tahun 2014 lalu, proses pendaftaran pemilih lebih teliti dan ada kelonggaran
bagi warga negara atau penduduk yang tidak terdaftar dapat didaftarkan langsung pada
hari pemungutan suara dengan menunjukkan identitas kependudukan yang sah kepada
197
petugas di tempat pemungutan suara. Prosedur ini memberikan jaminan bahwa warga
negara atau penduduk yang memenuhi syarat terpenuhi hak konstitusionalnya untuk
dapat memberikan suaranya pada hari pemungutan suara.
3. Partisipasi Pemilih
Salah satu bentuk partisipasi politik warga negara adalah partisipasi atau
keikutsertaannya dalam memberikan suara dalam pemungutan suara di tempat
pemungutan suara. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan partisipasi pemilih disini
adalah keikutsertaan warga negara atau penduduk yang telah terdaftar dalam daftar
pemilih pada hari pemungutan suara di tempat pemungutan suara yang telah
ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum.
Partisipasi pemilih dalam memberikan memberikan suaranya di tempat
pemungutan suara sangat berpengaruh terhadap legitimasi pemerintahan yang
terbentuk. Disinilah letak pentingnya partisipasi pemilih bagi arah pembangunan
nasional dan daerah. Oleh karena itu, penelitian tentang partisipasi pemilih perlu
diselenggarakan secara rutin pasca pemungutan suara guna memperoleh kesimpulan
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi-rendahnya partisipasi pemilih. Dengan
mengetahui ragam faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian selanjutnya dapat
dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun strategi dan kebijakan yang
antisipatif untuk meningkatkan partisipasi pemilih dalam pemilu selanjutnya di masa
yang akan datang.
B.4. Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Pemilih
Ada banyak faktor yang mempengaruhi keputusan pemilih untuk datang
memberikan suaranya dalam pemungutan suara. Miriam Budiardjo (2008) mengatakan
bahwa anggota masyarakat yang berpartisipasi dalam proses politik seperti pemilu
terdorong oleh keyakinan bahwa melalui kegiatan bersama itu kepentingan mereka akan
tersalur atau sekurang-kurangnya diperhatikan, dan bahwa mereka sedikit banyak dapat
mempengaruhi tindakan dari mereka yang berwenang untuk membuat keputusan yang
198
mengikat. Dengan kata lain, mereka percaya bahwa kegiatan mereka mempunyai efek
politik (political efficacy).
Sementara itu, Maran (2007) menyebutkan bahwa faktor utama yang mendorong
orang berpartisipasi politik antara lain:
1) Perangsang politik adalah suatu dorongan terhadap seorang pemilih agar mau
berpatisipasi dalam kehidupan politik. Perangsang politik dipengaruhi oleh kegiatan
kegiatan diskusi politik, pengaruh media massa, diskusidiskusi formal dan informal.
2) Karakteristik pribadi seseorang adalah watak sosial seorang pemilih yang mempunyai
kepedulian sosial yang besar terhadap masalah sosial, politik, ekonomi, dan hankam,
yang biasanya mau terlibat dalam aktivitas politik.
3) Karakteristik sosial adalah status sosial, ekonomi, kelompok ras, etnis, dan agama
seseorang yang akan mempengaruhi persepsi, sikap, perilaku seseorang dalam
aktivitas.
4) Situasi atau lingkungan politik adalah keadaan lingkungan sosial sekitar seorang
pemilih yang baik dan kondusif agar seorang pemilih mau dengan senang hati
berpartisipasi dalam aktivitas politik.
5) Pendidikan politik adalah upaya pemerintah untuk merubah warga Negara agar dapat
memiliki kesadaran politik dengan terlibat dalam aktivitas politik.
Adapun Doni Hendrik (2010) berdasarkan pendapat beberapa ahli mengidentifikasi
beberapa faktor yang menyebabkan orang mau atau tidak mau ikut berpartisipasi
dalam politik antara lain:
1) Status sosial dan ekonomi
Status sosial ialah kedudukan seseorang dalam masyarakat karena keturunan,
pendidikan dan pekerjaan. Sedangkan status ekonomi ialah kedudukan seseorang
dalam pelapisan masyarakat berdasarkan pemilikan kekayaan. Seseorang yang
memiliki status sosial yang tinggi diperkirakan tidak hanya memiliki pengetahuan
politik, tetapi juga mempunyai minat dan perhatian pada politik.
199
2) Situasi
Menurut
Ramlan
Surbakti,
situasi politik juga dipengaruhi oleh keadaan yang
mempengaruhi aktor secara langsung seperti cuaca, keluarga, kehadiran orang
lain, keadaan ruang, suasana kelompok, dan ancaman (Surbakti, 1992).
3) Afiliasi politik orang tua
Afiliasi berarti tergabung dalam suatu kelompok atau kumpulan. Afiliasi politik
dapat dirumuskan sebagai keanggotaan atau kerjasama yang dilakukan individu
atau kelompok yang terlibat ke dalam aliran-aliran politik tertentu. Afiliasi politik
mendorong tumbuhnya kesadaran dan kedewasaan
menggunakan
melakukan
hak
berbagai
politiknya
aktifitas
secara bebas
dan
politik
masyarakat
untuk
bertanggungjawab
dalam
politik, seperti ikut dalam partai politik dalam
pemerintahan, ikut dalam proses pengambilan dan pelaksanaan keputusan politik
(Marbun, 1996).
4) Pengalaman berorganisasi
Organisasi merupakan suatu sistem yang mengatur kehidupan masyarakat atau bisa
diartikan sebagai suatu prilaku yang terpola dengan memberikan jabatan pada
orang- orang tertentu untuk menjalankan fungsi tertentu demi pencapaian tujuan
bersama (Simangunsong, 2004). Sejalan dengan pendapat tersebut, menurut Ibnu
Kencana (1997) partisipasi politik merupakan penentuan sikap dan keterlibatan
hasrat setiap individu dalam situasi dan kondisi organisasinya, sehingga pada
akhirnya mendorong individu tersebut untuk berperan serta dalam pencapaian
tujuan organisasi serta ambil bagian dalam sikap pertanggung jawaban bersama
baik dalam situasi politik yang melibatkan dukungan.
5) Kesadaran politik
Kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang menyangkut tentang
pengetahuan seseorang tentang lingkungan masyarakat dan politik, dan menyangkut
minat dan perhatian seseorang terhadap lingkungan masyarakat dan politik
tempat dia hidup.
200
6) Kepercayaan terhadap pemerintah
Kepercayaan terhadap pemerintah ialah penilaian seseorang terhadap pemerintah
apakah ia menilai pemerintah dapat dipercaya dan dapat dipengaruhi atau tidak,
baik dalam pembuatan kebijakan-kebijakan atau pelaksanaan pemerintahan.
7) Perangsang partisipasi melalui sosialisasi media massa dan diskusi-diskusi informal.
Adapun Bismar Arianto (2010) melakukan analisis tentang penyebab masyarakat
tidak memilih dalam Pemilu Tahun 2009. Hasil analisis mengungkapkan bahwa penyebab
pemilih tidak memilih dalam pemilu karena 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal terdiri dari faktor teknis dan pekerjaan. Sedangkan faktor
eksternal terdiri dari faktor administrasi, sosialisasi dan politik.
1) Faktor Teknis
Faktor teknis terkait dengan kendala teknis yang dialami oleh pemilih sehingga
menghalanginya untuk menggunakan hak pilih. Seperti pada saat hari pencoblosan
pemilih sedang sakit, pemilih sedang ada kegiatan yang lain serta berbagai hal lainnya
yang sifatnya menyangkut pribadi pemilih. Kondisi itulah yang secara teknis membuat
pemilih tidak datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya.
Faktor teknis ini dalam pemahaman dapat diklasifikasikan ke dalam dua hal yaitu
teknis mutlak dan teknis yang bisa ditolerir. Teknis mutlak adalah kendala yang serta
merta membuat pemilih tidak bisa hadir ke TPS seperti sakit yang membuat pemilih
tidak bisa keluar rumah. Sedang berada di luar kota. Kondisi yang seperti yang penulis
maksud teknis mutlak. Teknis yang dapat ditolerir adalah permasalahan yang sifatnya
sederhana yang melakat pada pribadi pemilih yang mengakibat tidak datang ke TPS.
Seperti ada keperluan keluarga, merencanakan liburan pada saat hari pemilihan. Pada
kasus-kasus seperti ini dalam pemahaman penulis pemilih masih bisa mensiasatinya,
yaitu dengan cara mendatangi TPS untuk menggunakan hak pilih terlebih dahulu baru
melakukan aktivitas atau keperluan yang bersifat pribadi.
Pemilih yang tidak hadir di TPS karena alasan teknis yang tipe kedua ini cenderung
tidak mengetahui essensi dari menggunakan hak pilih, sehingga lebih mementingkan
201
kepentingan pribadi dari pada menggunakan pilihnya. Pemilih ideal harus mengetahui
dampak dari satu suara yang diberikan dalam pemilu. Hakikatnya suara yang diberikan
itulah yang menentukan pemimpin lima tahun mendatang. Dengan memilih pemimpin
yang baik berarti pemilih berkontribusi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik
pula.
2) Faktor Pekerjaan
Faktor pekerjaan adalah pekerjaan sehari-hari pemilih. Faktor pekerjaan pemilih ini
memiliki kontribusi terhadap jumlah orang yang tidak memilih.Berdasarkan data
Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010 dari 107,41 juta orang yang bekerja, paling
banyak bekerja di sektor pertanian yaitu 42,83 juta orang (39,88 persen), disusul sektor
perdagangan sebesar 22,21 juta orang (20,68 persen), dan sektor jasa kemasyarakatan
sebesar 15,62 juta orang (14,54 persen).
Data di atas menunjukkan sebagian besar penduduk Indonesia bekerja di sektor
informal, dimana penghasilanya sangat terkait dengan intensitasnya bekerja. Banyak
dari sektor informal yang baru mendapatkan penghasilan ketika mereka bekerja, tidak
bekerja berarti tidak ada penghasilan. Seperti tukang ojek, buruh harian, nelayan,
petani harian.
Kemudian ada pekerjaan masyarakat yang mengharuskan mereka untuk meninggalkan
tempat tinggalnya seperti para pelaut, penggali tambang. Kondisi seperti membuat
mereka harus tidak memilih, karena faktor lokasi mereka bekerja yang jauh dari TPS.
Maka faktor pekerjaan cukup singifikan pada pada faktor internal membuat pemilih
untuk tidak memilih. Pemilih dalam kondisi seperti ini dihadapkan pada dua pilihan
menggunakan hak pilih yang akan mengancam berkurangnya penghasilan atau pergi
bekerja dan tidak memilih.
3) Faktor Administratif
Faktor adminisistratif adalah faktor yang berkaitan dengan aspek adminstrasi yang
mengakibatkan pemilih tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Di antaranya tidak
202
terdata sebagai pemilih, tidak mendapatkan kartu pemilihan tidak memiliki identitas
kependudukan (KTP). Hal-hal administratif seperti inilah yang membuat pemilih tidak
bisa ikut dalam pemilihan. Pemilih tidak akan bisa menggunakan hak pilih jika tidak
terdaftar sebagai pemilih.
Faktor berikut yang menjadi penghalang dari aspek administrasi adalah permasalahan
kartu identitas. Masih ada masyarakat tidak memilki KTP. Jika masyarakat tidak
memiliki KTP maka tidak akan terdaftar di DPT (Daftar Pemimilih Tetap) karena secara
administtaif KTP yang menjadi rujukkan dalam mendata dan membuat DPT. Maka
masyarakat baru bisa terdaftar sebagai pemilih menimal sudah tinggal 6 bulan di satu
tempat.
Pemilih yang tidak hadir di TPS yang diakibat oleh faktor administratif ini bisa
diminimalisir jika para petugas pendata pemilih melakukan pendataan secara benar
dan maksimal untuk mendatangi rumah-rumah pemilih. Selain itu dituntut inisiatif
masyarakat untuk mendatangi petugas pendataan untuk mendaftarkan diri sebagai
pemilih. Langkah berikutnya DPS (Daftar Pemilih Sementara) harus ditempel di tempattempat strategis agar bisa dibaca oleh masyarakat. Masyarakat juga harus berinisiatif
melacak namanya di DPS, jika belum terdaftar segara melopor ke pengrus RT atau
petugas pendataan. Langkah berikut untuk menimalisir terjadi golput karen aspek
adminitrasi adalah dengan memanfaatkan data kependudukan berbasis IT. Upaya
elektoronik Kartu Tanda Penduduk (E-KTP) yang dilakukan pemerintahan sekarang
dalam pandangan penulis sangat efektif dalam menimalisir jumlah pemilih yang tidak
hadir di TPS karena alasan administratif.
4) Sosialisasi
Sosialisasi atau menyebarluaskan pelaksanaan pemilu di Indonesia sangat penting
dilakukan dalam rangka memenimalisir jumlah pemilih yang tidak hadir di TPS. Hal ini
di sebabkan intensitas pemilu di Indonesia cukup tinggi mulai dari memilih kepala
desa, bupati/walikota, gubernur pemilu legislatif dan pemilu presiden hal ini belum
dimasukkan pemilihan yang lebih kecil RT/RW.
203
Kondisi lain yang mendorong sosialisi sangat penting dalam upaya meningkatkan
partisipasi politik masyarakat adalah dalam setiap pemilu terutama pemilu di era
reformasi selalu diikuti oleh sebagian peserta pemilu yang berbeda. Pada Pemilu 1999
diikuti sebanyak 48 partai politik, pada pemilu 2004 dikuti oleh 24 partai politik dan
pemilu 2009 dikuti oleh 41 partai politik nasional dan 6 partai politik lokal di Aceh.
Kondisi ini menuntut perlunya sosialisasi terhadap masyarakat. Permasalahan berikut
yang menuntut perlunya sosialisasi adalah mekanisme pemilihan yang berbeda antara
pemilu sebelum reformasi dengan pemilu sebelumnya. Dimana pada era Orde Baru
hanya memilih lambang partai sementara sekarang selain memilih lambang juga harus
memilih nama salah satu calon di pertai tersebut. Perubahan yang signifikan adalah
pada pemilu 2009 dimana pemilih tidak lagi mencoblos dalam memilih tetapi dengan
cara menandai.
Kondisi ini menuntut pentingnya sosialisasi dalam rangka menyukseskan pelaksanaan
pemilu dan meminimalisir angka jumlah pemilih yang tidak hadir di TPS dalam setiap
pemilu. Terlepas dari itu semua penduduk di Indonesia sebagai besar berada di
pedesaan maka menyebar luaskan informasi pemilu dinilai pentingi, apalagi bagi
masyarakat yang jauh dari akses transportasi dan informasi, maka sosiliasi dari mulut
ke mulut menjadi faktor kunci mengurangi angka jumlah pemilih yang tidak hadir di
TPS.
5) Faktor Politik
Faktor politik adalah alasan atau penyebab yang ditimbulkan oleh aspek politik
masyarakat tidak mau memilih. Seperti ketidak percaya dengan partai, tak punya
pilihan dari kandidat yang tersedia atau tak percaya bahwa pileg/pilkada akan
membawa perubahan dan perbaikan. Kondisi inilah yang mendorong masyarakat
untuk tidak menggunakan hak pilihnya.
Stigma politik itu kotor, jahat, menghalalkan segala cara dan lain sebagainya
memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap politik sehingga membuat
masyarakat enggan untuk menggunakan hak pilih. Stigma ini terbentuk karena tabiat
204
sebagian politisi yang masuk pada kategori politik instan. Politik dimana baru
mendekati masyarakat ketika akan ada agenda politik seperti pemilu. Maka kondisi ini
meruntuhkan kepercayaan masyarakat pada politisi.
Faktor lain adalah para politisi yang tidak mengakar, politisi yang dekat dan
memperjuangkan aspirasi rakyat. Sebagian politisi lebih dekat dengan para petinggi
partai, dengan pemegang kekuasaan. Mereka lebih menngantungkan diri pada
pemimpinnya dibandingkan mendekatkan diri dengan konstituen atau pemilihnya.
Kondisi lain adalah tingkah laku politisi yang banyak berkonflik mulai konflik internal
partai dalam mendapatkan jabatan strategis dalam struktur partai, kemudian konflik
dengan politisi lain yang berbeda partai. Konflik seperti ini menimbulkan anti pati
masyarakat terhadap partai politik. Idealnya konflik yang di tampilkan para politisi
seharusnya tetap mengedepankan etika politik.
Politik pragamatis yang semakin menguat, baik dikalangan politisi maupun di sebagian
masyarakat. Para politisi hanya mencari keuntungan sesaat dengan cara mendapatkan
suara rakyat. Sedangan sebagian masyarakat kita, politik dengan melakukan transaksi
semakin menjadi-jadi. Baru mau mendukung, memilih jika ada mendapatkan
keutungan materi, maka muncul ungkapan kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau
sudah jadi/terpilih mereka akan lupa janji. Kondisi-kondisi yang seperti ini secara
politik memengaruhi masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. Sebagian
masyarakat semakin tidak yakin dengan politisi. Harus diakui tidak semua politisi
seperti ini, masih banyak politisi yang baik, namun mereka yang baik tenggelam
dikalahkan politisi yang tidak baik.
Dari beberapa pendapat di atas, penelitian ini mencoba untuk mendeskripsikan
menemukan faktor apa saja yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pemilihan
umum di masa yang akan datang. Berdasarkan berbagai uraian di atas, maka dapat
disimpulkan beberapa faktor yang mempengaruhi partisipasi pemilih memberikan
suaranya di tempat pemungutan suara meliputi:
205
1) Faktor Internal Pemilih yaitu faktor yang berasal dari dorongan dari dalam diri pemilih.
Faktor ini meliputi: persepsi politik, hambatan fisik dan pertimbangan ekonomi.
Persepsi politik terkait dengan cara pandang pribadi seorang pemilih misalnya karena
pengaruh paham politik yang diyakininya. Pengalaman dan pengetahuan tentang
pemilu sebagai sarana demokrasi untuk mewujudkan pemerintahan yang melayani
rakyat, kepercayaan terhadap kejujuran lembaga penyelenggara pemilu, dan
kepercayaan terhadap peserta pemilu baik partai politik maupun calon yang
diusungnya membentuk persepsi yang mempengaruhi pemilih untuk berpartisipasi
dalam Pemilu.
Hambatan fisik yang dialami pemilih pada saat Pemilu juga turut mempengaruhi
partisipasinya dalam pemilu. Pemilih yang sedang sakit tertentu akan memilih
beristirahat di rumah sakit untuk mendapat perawatan medis. Begitupula halnya
dengan pemilih yang sedang berada jauh dari wilayah pemilihannya karena suatu
keperluan akan lebih memilih bertahan ketimbang memutuskan untuk pulang hanya
untuk memberikan suaranya dalam pemilu. Para penghuni lembaga pemasyarakatan
yang telah telah terdaftar di dalam daftar pemilih di tempat asalnya, tentu tidak
memungkinkan bagi mereka untuk turut memberikan suara di alamat asalnya.
Sedangkan pertimbangan ekonomi misalnya alasan pekerjaan. Ada orang-orang
tertentu yang menganggap memilih hanya membuang-buang waktu dan memilih
untuk bekerja yang dapat memberikan keuntungan secara ekonomi bagi kebutuhan
pribadi dan keluarganya.
2) Faktor Eksternal Pemilih yaitu faktor yang berasal dari luar diri pemilih. Faktor ini
meliputi faktor teknis dan pengaruh yang keras dari lingkungan organisasi terutama
lingkungan kerja dan instruksi organisasi massa yang menjadi preferensi pemilih.
Faktor teknis adalah faktor yang terkait langsung dengan teknis penyelenggaraan
Pemilu seperti data pemilih, undangan untuk memilih, cara memilih, waktu dan
tempat memilih. Keberadaan nama seorang di dalam daftar pemilih mempengaruhi
kehadirannya di tempat pemungutan suara untuk memilih. Keberadaan surat
206
undangan memilih yang diedarkan oleh KPPS, dengan kondisi pengetahuan tentang
pemilu yang terbatas, mereka yang tidak menerima surat undangan memilih dari KPPS
menganggap diri tidak berhak hadir di TPS. Begitupula halnya dengan mereka yang
terbatas menerima informasi tentang teknis memberikan suara bisa mempengaruhi
kehadiran mereka di TPS.
Faktor eksternal lainnya adalah pengaruh kelompok referensi dari pemilih yang telah
terdaftar dalam daftar pemilih. Kelompok keagamaan tertentu memahami pemilu
sebagai bentuk demokrasi yang diharamkan. Kelompok keagamaan sejenis itu tidak
jarang juga mengelola suatu usaha sebagai sumber pembiayaan organisasinya. Sejalan
dengan pemahaman tentang demokrasi yang demikian terimplementasi dalam bentuk
pemberian instruksi kepada pengikutnya untuk tidak memberikan suaranya dalam
pemilu. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi pemilih ini sebagaimana
digambarkan pada Gambar dibawah ini.
Gambar 7.4
Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Pemilih
207
C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif.
Fokus penelitian ini adalah partisipasi pemilih di Kecamatan Maluk dan Sekongkang yaitu
angka kehadiran pemilih dalam memberikan suaranya di tempat pemungutan suara
dalam 5 tahun terakhir sejak Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2009 sampai dengan
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014. Adapun penjabaran fokus
penelitian ini meliputi:
1) Angka partisipasi pemilih yaitu angka kehadiran pemilih dalam memberikan suaranya
di tempat pemungutan suara dalam 5 tahun terakhir sejak Pemilu DPR, DPD dan DPRD
Tahun 2009 sampai dengan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun
2014.
2) Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi pemilih dalam memberikan suaranya di
tempat pemungutan suara yaitu faktor dorongan dari dalam diri pemilih maupun
dukungan/hambatan dari luar yang mempengaruhi keikutsertaan pemilih untuk
memberikan suaranya di tempat pemungutan suara pada waktu yang telah
ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum. Selanjutnya faktor-faktor tersebut akan
diuraikan dalam berbagai pertanyaan dalam instrumen penelitian, meliputi:
a) Pengaruh persepsi politik;
b) Pengaruh hambatan fisik;
c)
Pengaruh pertimbangan ekonomi;
d) Pengaruh kesiapan teknis;
e) Pengaruh lingkungan organisasi; dan
f)
Pengaruh terpaan informasi/sosialisasi pemilu.
Penelitian ini diselenggarakan di Kecamatan Maluk dan Kecamatan Sekongkang
Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pertimbangan pemilihan lokasi
ini karena tingkat partisipasi pemilih dalam 6 pemilihan umum sejak Tahun 2009 sampai
dengan Tahun 2014 secara konsisten selalu rendah dibandingkan dengan 6 kecamatan
lainnya di Kabupaten Sumbawa Barat.
208
Pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner, wawancara, dan dokumentasi.
Penjelasannya sebagai berikut:
1) Kuesioner
Sejumlah daftar pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban yang diajukan oleh
peneliti untuk mendapatkan tanggapan responden.
Dengan pertimbangan jumlah pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 lalu di Kecamatan Maluk dan
Sekongkang yang berjumlah 18.263 sebagai populasi maka, daftar pertanyaan dalam
kuesioner ini akan ditanyakan kepada 100 responden sebagai sampel yang dipilih
secara acak (random sampling).
Jumlah sample tersebut akan didistribusikan secara proporsional masing-masing 62
sample di Kecamatan Maluk dan 38 sample di Kecamatan Sekongkang sebagaimana
ditunjukkan pada Tabel dibawah ini.
Tabel 7.5
Distribusi Jumlah Sample
No
Kecamatan
Ukuran
Populasi
% dalam
Populasi
Jumlah Sample
Proporsional
1
Maluk
11.262
62%
62
2
Sekongkang
7.001
38%
38
Jumlah
18.263
100%
100
Jumlah 100 responden ditetapkan peneliti mengacu pada Tabel Pengambilan Sample
menurut Yamane dengan mempertimbangkan tingkat ketepatan (level precision),
tingkat kepercayaan (confidence) dan tingkat keanekaragaman (degree of variability).
Menurut Yamane (dalam Sarwono, 2011) bahwa untuk ukuran populasi sampai dengan
20,000 dengan pertimbangan presisi 10% dan tingkat kepercayaan 95% maka
dibutuhkan sampel sebanyak 100.
209
2) Wawancara
Kegiatan wawancara peneliti lakukan dengan cara mengajukan pertanyaan kepada 25
informan sebagaimana pada Tabel dibawah ini.
Tabel 7.6
Daftar Informan Penelitian
No
Informan
Jumlah
1
Komisioner KPU KSB
1 orang
2
Camat
2 orang
3
Kepala Desa
2 orang
4
Mantan anggota Panitia Pemilihan Kecamatan
2 orang
5
Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan yang masih aktif
2 orang
6
Mantan anggota Panitia Pemungutan Suara
2 orang
7
Anggota Panitia Pemungutan Suara yang masih aktif
2 orang
8
Mantan anggota Panitia Pengawas Kecamatan
2 orang
9
Mantan anggota KPPS
2 orang
10
Pengurus partai politik tingkat kecamatan
5 orang
11
Manager Social Responsibility PTNNT
1 orang
12
Anggota DPRD Terpilih dari Dapil 3 (Sekongkang)
2 orang
Jumlah
25 orang
Diharapkan dengan penggalian informasi melalui wawancara secara mendalam
terhadap 25 informan sebagaimana disebut di atas, akan diperoleh data yang valid
tentang partisipasi pemilih di Kecamatan Maluk dan Sekongkang.
210
3) Dokumentasi
Kegiatan dokumentasi peneliti lakukan dengan cara mengumpulkan data dengan
melakukan pencatatan pada sumber-sumber data yang ada meliputi dokumen Sertifikat
Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara, Laporan Periodik Penyelenggaraan
Pemilihan Umum, memo, dan arsip-arsip lain yang berkaitan dengan angka partisipasi
pemilih dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data Model Interaktif.
Hal ini dilakukan karena penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang
mengutamakan proses daripada hasil. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini
bersifat tentatif, sehingga selalu merupakan proses yang interaktif dan terus-menerus.
Oleh karena itu peneliti mulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari
berbagai sumber yaitu dari hasil wawancara yang dilakukan, catatan laporan, serta
dokumen yang ada. Menurut Miles dan Huberman (1992) tahapan analisis dalam penelitian
kualitatif terdiri dari 3 (tiga) tahapan pokok yaitu:
1) Reduksi Data
Data yang diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumen yang tersedia dituangkan
dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terinci. Laporan tersebut oleh peneliti
direduksi, dirangkum, dipilah-pilah, difokuskan pada hal-hal yang penting kemudian
dicari tema atau polanya. Reduksi data dilakukan terus-menerus selama proses
penelitian berlangsung.
2) Penyajian Data
Penyajian data atau display data dimaksudkan agar memudahkan bagi peneliti untuk
melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian.
3) Penarikan Kesimpulan/verifikasi
Verifikasi data dalam penelitian kualitatif ini dilakukan secara terus-menenis sepanjang
proses penelitian berlangsung. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses
pengumpulan data, peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari setiap
211
data yang diperoleh yaitu mencari pola, tema, hubungan yang sama, hal-hal yang sering
dan yang jarang muncul, hipotesis serta hal lainnya yang dituangkan dalam kesimpulan
yang masih bersifat tentatif. Dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi yang
terus-menerus tersebut, maka diperoleh kesimpulan yang bersifat grounded.
Adapaun komponen analisis data tersebut oleh Miles dan Huberman (1992) disebut sebagai
model interaktif yang dapat digambarkan dalam Gambar sebagai berikut.
Gambar 7.7
Komponen-komponen Analisis Data: Model Interaktif
Pengumpulan
data
Penyajian
data
Reduksi
data
Kesimpulan-kesimpulan:
Penarikan/verifikasi
Sumber: Miles dan Huberman (1992)
Lebih lanjut dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1992), bahwa: “Ketiga hal utama, yaitu
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi sebagai sesuatu yang
jalin-menjalin pada saat sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk
yang sejajar, untuk membangun wawasan umum yang disebut analisis”.
D. Hasil Penelitian
D.1. Sketsa Kabupaten Sumbawa Barat
Kabupaten Sumbawa Barat merupakan satu kabupaten di wilayah administratif Provinsi
Nusa Tenggara Barat hasil pemekaran dari Kabupaten Sumbawa yang disahkan
pembentukannya berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2003. Kabupaten Sumbawa
212
Barat mempunyai luas 184.902 ha, dengan ketinggian antara 0-1.730 meter di atas
permukaan laut, memiliki 16 pulau kecil.
Secara geografis Kabupaten Sumbawa Barat terletak antara 08 o 29’ dan 9o 07’ lintang
selatan dan antara 116o 42’ - 117o 05’ bujur timur, dibatasi oleh Selat Alas di sebelah barat,
Samudra Indonesia di bagian selatan dan Kabupaten Sumbawa di sebelah utara dan timur.
Secara administratif pada Tahun 2013 Kabupaten Sumbawa Barat terdiri dari 8
kecamatan dan 64 desa/kelurahan. Masing-masing kecamatan mempunyai luas yang
berbeda-beda seperti tertera pada Tabel dibawah ini.
Tabel 7.8
Jumlah, Persentase Luas dan Jumlah Desa masing-masing
Kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
Kecamatan
1. Sekongkang
Luas (ha)
Persentase Luas
(persen)
Jumlah
Desa/Kelurahan
372,42
20,14
7
92,42
5,00
5
3. Jereweh
260,19
14,07
4
4. Taliwang
375,93
20,33
15
5. Brang Rea
212,07
11,47
9
6. Brang Ene
140,90
7,62
6
7. Seteluk
236,21
12,77
10
8. Poto Tano
158,88
8,59
8
1. 849,02
100,00
64
2. Maluk
Jumlah
Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2014.
Secara klimatologi, rata-rata hari hujan di Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
berada dalam rentang 8,00-15,67 hari dengan curah hujan mencapai 126,3 mm sampai
213
dengan 218,2 mm setiap bulannya dimana curah hujan tertinggi terjadi pada bulan
Desember yang mencapai 802 mm. Rata-rata lama penyinaran sinar matahari pada Tahun
2013 mencapai 77,5 persen dengan rata-rata kecepatan angin 5,1 knots.
Secara topografi, Kabupaten Sumbawa Barat mempunyai permukaan bumi yang
beragam, mulai dari datar, bergelombang curam sampai sangat curam dengan ketinggian
berkisar antara 0 hingga 1.730 m di atas permukaan laut, meliputi: datar seluas 21.822
hektar (11,80 persen), bergelombang seluas 16.369 hektar (8,85 persen), curam seluas
53.609 hektar (28,99 persen), dan sangat curam seluas 93.102 hektar (50,35 persen).
Ketinggian untuk kota-kota kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat berkisar antara 10
sampai 650 m di atas permukaan laut.
Topografi yang semakin datar sebagian besar digunakan untuk kegiatan pertanian dan
lokasi permukiman, sedang topografi yang semakin curam hingga sangat curam merupakan
kawasan hutan yang berfungsi untuk melindungi kawasan sekitarnya yang lebih rendah
(BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2014).
Sebagai daerah otonom yang menyelenggarakan roda pemerintahan dan pelayanan
publik, sejak terbentuk pada Tahun 2003 Kabupaten Sumbawa Barat telah mengalami 3
periode pemerintahan, yaitu:
1. Tahun 2003-2005, Pemerintahan yang dipimpin Drs. A. Wahab Yasin, MM (Penjabat
Bupati);
2. Tahun 2005-2015, Pemerintahan yang dipimpin Bupati DR. KH. Zulkifli Muhadli, SH, MM
dan Wakil Bupati Drs. H. Mala Rahman (selama 2 periode).
Dengan demikian, saat ini Kabupaten Sumbawa Barat dipimpin oleh seorang bupati
dan seorang wakil bupati hasil pemilihan kepala daerah langsung pada 22 Juni 2005 dan 26
April 2010 berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Unsur penyelenggara
pemerintahan lainnya adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Kabupaten Sumbawa
Barat telah mengalami 3 periode DPRD yaitu:
214
1. DPRD Periode 2004-2009 dengan Ketua Drs. Manimbang Kahariadi, anggota berjumlah
20 orang hasil Pemilu Tahun 2004;
2. DPRD Periode 2009-2014 dengan Ketua H.M Syafii, anggota berjumlah 25 orang hasil
Pemilu Tahun 2009; dan
3. DPRD Periode 2014-2019 dengan Ketua Muhammad Nasir, ST, MM, anggota berjumlah
25 orang hasil Pemilu Tahun 2014.
Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat pada Tahun 2013 berjumlah 121.167 jiwa
dengan komposisi jumlah perempuan 59.814 jiwa dan laki-laki 61.353 jiwa. Penduduk
Sumbawa Barat mengalami perkembangan rata-rata 2,16 persen per tahun yaitu dari
118.608 jiwa pada Tahun 2012 dan menjadi 121.167 jiwa pada Tahun 2013. Peningkatan
tersebut disebabkan karena adanya perbedaan penduduk yang lahir dan yang mati, serta
penduduk yang datang dan pergi dari kabupaten tersebut. Gambaran tentang komposisi
penduduk 8 kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat dapat dilihat pada dibawah ini.
Tabel 7.9
Jumlah dan Distribusi Penduduk
Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
Laki-laki
Perempuan
Penduduk
Kepadatan
(jiwa)
(jiwa)
(jiwa)
(jiwa/km2)
No
Kecamatan
1
Sekongkang
4.386
4.229
8.615
23
2
Maluk
6.512
6.004
12.516
124
3
Jereweh
4.402
4.429
8.831
34
4
Taliwang
23.373
23.132
46.505
135
5
Brang Rea
6.748
6.446
13.194
62
6
Brang Ene
2.723
2.565
5.379
38
7
Seteluk
8.227
8.059
16.286
69
8
Poto Tano
4.982
4.859
9.841
62
61.353
59.814
12.1167
66
Jumlah
Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2014.
215
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)58 memperlihatkan bahwa penduduk
Kabupaten Sumbawa Barat tergolong dalam kriteria menengah bawah, pendidikan (Angka
Melek Hurup dan Rata-rata Lama Sekolah) tergolong dalam kriteria menengah atas, dan
pendapatan (Paritas Daya Beli) tergolong dalam kriteria menengah bawah. Oleh karena itu,
IPM Kabupaten Sumbawa Barat pada Tahun 2004 secara umum tergolong dalam kriteria
menengah bawah. Tabel 4.3 berikut ini menggambarkan perbandingan IPM Kabupaten
Sumbawa Barat dengan kabupaten/kota lain di Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Tabel 7.10
Perbandingan Index Pembangunan Manusia (IPM)
Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten/Kota Lain di Propinsi NTB Tahun 2014
No
Kabupaten/
Kota
Angka
Harapan
Hidup
Pendidikan
Paritas
Daya Beli
(0–100)
Peringkat
IPM
IPM
1.
Lombok Barat
61,71
6,10
630,13
63,19
8
2.
Lombok Tengah
61,96
6,19
632,97
62,57
9
3.
Lombok Timur
61,88
6,91
628,09
64,91
7
4.
Mataram
67,62
9,68
650,09
73,70
1
5.
Sumbawa Barat
61,61
8,02
632,76
67,85
3
6.
Sumbawa
60,93
7,64
638,03
67,23
5
7.
Dompu
61,26
7,97
645,50
67,58
4
8.
Lombok Utara
61,32
5,61
618,65
61,37
10
9.
Bima
63,55
7,59
621,52
66,52
6
10.
Kota Bima
63,22
10,22
622,00
69,83
2
62,73
7,19
645,72
66,89
-
11.
Propinsi NTB
Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2014
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indeks komposit yang dikembangkan United Nation for
Development Programme (UNDP) untuk mengukur tingkat pencapaian upaya pembangunan manusia dari berbagai
bidang, meliputi: kesehatan (Angka Harapan Hidup).
58
216
Data di atas memberikan informasi bahwa kualitas sumberdaya manusia Kabupaten
Sumbawa Barat yang ditunjukkan oleh nilai IPM, berada di atas rata-rata Propinsi NTB dan
menempati peringkat ke-3, namun nilai IPM tersebut masih tergolong dalam kriteria
menengah bawah59. Apabila dilihat secara parsial, hanya indeks pendidikan yang berada di
atas rata-rata Propinsi NTB, sedang angka harapan hidup dan paritas daya beli masih
berada di bawah rata-rata Propinsi NTB. Keadaan tersebut menuntut perlunya percepatan
pembangunan bidang kesehatan dan ekonomi, serta juga pendidikan agar segera dapat
dihasilkan sumberdaya pembangunan yang semakin berkualitas.
Struktur ekonomi Kabupaten Sumbawa Barat tercermin dari nilai Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) dalam tiga tahun terakhir masih didominasi oleh sektor primer,
yaitu sektor pertanian dan pertambangan, sedang kontribusi sektor ekonomi lainnya
terhadap PDRB sangat kecil. PDRB Kabupaten Sumbawa Barat atas dasar harga berlaku
pada Tahun 2013 sebesar Rp. 10.035.568.820.000 dan Tahun 2012 sebesar Rp.
9.342.335.600.000, sehingga terjadi peningkatan sebesar 7,42 persen.
Dari total nilai PDRB tersebut, kontribusi sektor primer terhadap PDRB Tahun 2012
sebesar 91,71 persen (meliputi pertanian dalam arti luas 3,72 persen dan pertambangan
87,99 persen) dan Tahun 2013 sebesar 91,17 persen (meliputi pertanian dalam arti luas
3,69 persen dan pertambangan 87,48 persen), sedang kontribusi sektor sekunder dan
tersier pada Tahun 2012 sebesar 8,29 persen dan tahun 2013 hanya 8,83 persen.
PDRB perkapita Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013 sebesar Rp. 79.623.385. PDRB
perkapita ini menunjukkan besaran PDRB dibagi jumlah penduduk. PDRB perkapita ini tidak
mutlak menunjukkan rata-rata pendapatan yang diterima penduduk Kabupaten Sumbawa
Barat mengingat adanya transfer out atau pendapatan yang dibawa keluar kabupaten
Sumbawa Barat oleh pemilik faktor produksi (terjadi kebocoran wilayah), terutama pada
subsektor pertambangan non migas sangat besar (BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2014).
59
Keterangan:
kriteria tinggi apabila IPM 80,0 – 100,0; menengah atas apabila IPM 66,0 – 79,9; menengah bawah apabila IPM
50,0 – 65,9; dan kriteria rendah apabila IPM < 50,0).
217
Dari uraian tersebut, diperkirakan sampai 20 tahun ke depan, struktur ekonomi
Kabupaten Sumbawa Barat masih akan didominasi oleh sektor primer, yaitu pertanian
dalam arti luas dan pertambangan. Sektor sekunder, yang terdiri dari: lapangan usaha
industri pengolahan (manufaktur), lapangan usaha listrik, gas dan air minum, dan lapangan
usaha konstruksi diperkirakan berkembang sangat lambat, bahkan cenderung stagnan.
Sektor tersier juga berkembang lambat, karena kontribusi terbesar diperoleh dari lapangan
usaha perdagangan, hotel dan restoran serta lapangan usaha pengangkutan dan
komunikasi. Lapangan usaha Bank dan lapangan usaha jasa-jasa sangat kecil kontribusinya
kepada PDRB di Kabupaten Sumbawa Barat.
D.2. Sketsa Kecamatan Maluk & Kecamatan Sekongkong
Kecamatan Maluk merupakan salah satu dari delapan kecamatan yang ada di Kabupaten
Sumbawa Barat. Dengan luas wilayah mencapai 92,42 km2. Kecamatan Maluk terdiri dari 5 desa
desa yaitu Maluk, Benete, Bukit Damai, Mantun dan Pasir Putih. Dilihat dari letak geografisnya
di bagian utara berbatasan dengan Kecamatan Sekongkang, di sebelah selatan berbatasan
dengan Kecamatan Jereweh di sebelah barat berbatasan dengan Selat Alas dan berbatasan
dengan Kecamatan Jereweh di sebelah timur.
Pada Tahun 2013 Kecamatan Maluk mempunyai penduduk sebesar 12.516 jiwa
yang terdiri dari 6.512 laki-laki dan 6.004 perempuan. dengan demikian sex ratio penduduk
Kecamatan Maluk 108. Dengan penduduk 12.516 jiwa dan luas wilayah Kecamatan Maluk
92,42 km2, maka kepadatan penduduk mencapai 135 jiwa/km2. Kecamatan Maluk
tergolong sebagai kecamatan dengan penduduk terpadat di Kabupaten Sumbawa Barat
(BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2014).
Kecamatan Sekongkang merupakan salah satu dari delapan kecamatan yang ada di
Kabupaten Sumbawa Barat. Wilayah Kecamatan Sekongkang 372,42 km 2 terdiri dari 8 desa
yaitu Sekongkang Bawah, Sekongkang Atas, Tongo, Ai Kangkung, Tatar, Talonang Baru,
Kemuning dan Unit Pemukiman Terpadu (UPT) Tongo II SP2. Terletak di ujung selatan
Kabupaten Sumbawa Barat, berbatasan langsung dengan Kecamatan Lunyuk Kabupaten
Sumbawa di sebelah timur dan Samudra Indonesia di sebelah selatan. Sedangkan di sebelah
barat berbatasan dengan Selatan Alas dan di sebelah utara berbatasan langsung dengan
Kecamatan Maluk dan Kecamatan Jereweh.
218
Pada Tahun 2013 Kecamatan Sekongkang mempunyai sebanyak 8.615 jiwa dengan
jumlah penduduk laki-laki 4.386 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 4.229 jiwa
dengan perbandingan jumlah berdasarkan jenis kelamin (sex ratio) 104. Hal ini
menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih banyak 4 persen dibandingkan
penduduk perempuan di Kecamatan Sekongkang. Dengan penduduk 8.615 jiwa dan luas
wilayah Kecamatan Sekongkang 372,42 km2, maka kepadatan penduduk mencapai 23
jiwa/km2. Kecamatan Sekongkang tergolong sebagai kecamatan dengan penduduk
terjarang di Kabupaten Sumbawa Barat (BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2014).
D.3. Partisipasi Pemilih di Kabupaten Sumbawa Barat
D.3.1.Partisipasi Pemilih Tingkat Kabupaten Sumbawa Barat
Sebagaimana telah diuraikan pada Bab Pendahuluan bahwa partisipasi
pemilih Kabupaten Sumbawa Barat dalam pemilu sepanjang 5 tahun terakhir ini
menunjukkan angka partisipasi yang fluktuatif. Data yang tersedia di Komisi
Pemilihan Umum Kabupaten Sumbawa Barat (KPU KSB) menunjukkan bahwa
fluktuasi angka partisipasi tersebut berkisar antara 4 sampai 10 persen dalam
berbagai peristiwa pemilihan umum 5 tahun terakhir ini sebagaimana ditunjukkan
pada Grafik dibawah ini.
Grafik 7.11
Fluktuasi Partisipasi Pemilih di Kabupaten Sumbawa Barat
Tahun 2009-2014
82,18%
84,00%
80,77%
82,00%
80,00%
78,00%
75,23%
73,38%
76,00%
71,36%
74,00%
72,05%
72,00%
70,00%
68,00%
66,00%
64,00%
Pemilu
Legislatif
2009
Pemilu
Presiden
2009
Pemilukada Pemilukada Pemilu
KSB 2010 NTB 2013 Legislatif
2014
Pemilu
Presiden
2014
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
2009-2014
219
Adapun gambaran jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT, jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilih, dan angka partisipasi pemilih di
Kabupaten Sumbawa Barat dalam 5 tahun terakhir ini sebagai berikut:
1. Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2009
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Kabupaten
Sumbawa Barat dalam Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2009 (Pemilu Legislatif 2009)
mencapai 79.788 orang yang terdiri dari 40.692 laki-laki atau 51,00 persen dari jumlah
pemilih terdaftar dalam DPT dan 39.096 perempuan atau 49,00 persen dari total pemilih
terdaftar dalam DPT.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
berjumlah 60.024 pemilih yang diri dari 30.798 laki-laki atau 38,60 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 29.226 perempuan atau 36,67 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Legislatif 2009 di
Kabupaten Sumbawa Barat mencapai 75,23 persen.
Adapun perbandingan angka partisipasi pemilih laki-laki dibandingkan perempuan
sebagai berikut:
a) Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT berjumlah 40.692 pemilih, sebanyak
30.798 atau sebesar 75,69 persen dari jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
b) Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 39.096 pemilih,
sebanyak 29.226 atau sebesar 74,75 persen dari jumlah yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
c) Dengan demikian, angka partisipasi laki-laki lebih tinggi 0,93 persen dibandingkan
partisipasi perempuan dalam Pemilu Legislatif 2009 di Kabupaten Sumbawa Barat.
Secara rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih yang terdaftar
dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan pada Tabel dibawah
ini
220
Tabel 7.12
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Menggunakan
Hak Pilih
Partisipasi dari
Keseluruhan
DPT
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
40.692
30.798
38,60%
75,69%
Perempuan
39.096
29.226
36,63%
74,75%
Jumlah
79.788
60.024
75,23%
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara
Partai Politik dan Calon Anggota DPR, DPD dan DPRD pada Pemilu Tahun
2009
2.
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kabupaten Sumbawa Barat dalam
Pemilu Presiden Tahun 2009 mencapai 82.710 orang yang terdiri dari 41.983 laki-laki atau
50,76 persen dari jumlah pemilih terdaftar dalam DPT dan 40.727 perempuan atau 49,24
persen dari total pemilih terdaftar dalam DPT. Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT
Pemilu Presiden Tahun 2009 ini bertambah sebanyak 2.922 pemilih atau mengalami
penambahan sebesar 3,66 persen dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu
Legislatif 2009.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak
pilihnya berjumlah 59.024 pemilih yang diri dari 30.308 laki-laki atau 36,64 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 28.716 perempuan atau 34,72 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih
yang terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Presiden
Tahun 2009 di Kabupaten Sumbawa Barat mencapai 71,36 persen.
221
Adapun perbandingan angka partisipasi pemilih laki-laki dibandingkan perempuan
sebagai berikut:
1. Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 41.983 pemilih,
sebanyak 30.308 atau sebesar 367,64 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
2. Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 40.727 pemilih,
sebanyak 28.716 atau sebesar 34,72 persen pemilih perempuan yang terdaftar
dalam DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi laki-laki lebih tinggi 1,68 persen
dibandingkan partisipasi perempuan dalam Pemilu Presiden Tahun 2009 di Kabupaten
Sumbawa Barat. Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana
ditunjukkan pada Tabel dibawah ini.
Tabel 7.13
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilu Presiden Tahun 2009
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
41.983
30.308
36,64%
72,19%
Perempuan
40.727
28.716
34,72%
70,51%
Jumlah
82.710
59.024
71,36%
Sumber:
Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
222
3. Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kabupaten Sumbawa Barat dalam
Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010 (Pemilukada KSB 2010)
mencapai 40.284 orang yang terdiri dari 40.284 laki-laki atau 49,29 persen dari jumlah
pemilih terdaftar dalam DPT dan 341.439 perempuan atau 50,71 persen dari total
pemilih terdaftar dalam DPT.
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilukada KSB 2010 ini berkurang
sebanyak 987 pemilih atau mengalami pengurangan sebesar 1,19 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu Presiden Tahun 2009.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak
pilihnya berjumlah 66.007 pemilih yang diri dari 33.463 laki-laki atau 40,95 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 32.544 perempuan atau 39,82 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih
yang terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilukada KSB 2010
mencapai 80,77 persen.
Adapun perbandingan
angka
partisipasi pemilih
laki-laki dibandingkan
perempuan sebagai berikut:
1. Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 40.284 pemilih,
sebanyak 333.463 atau sebesar 83,07 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
2. Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 41.439 pemilih,
sebanyak 32.544 atau sebesar 78,53 persen pemilih perempuan yang terdaftar
dalam DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi laki-laki lebih tinggi 4,53 persen
dibandingkan partisipasi perempuan dalam Pemilukada KSB 2010. Secara lebih rinci
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT
yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan pada Tabel di bawah.
223
Tabel 7.14
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilukada KSB 2010
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
40.284
33.463
40,95%
83,07%
Perempuan
41.439
32.544
39,82%
78,53%
Jumlah
81.723
66.007
80,77%
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010
4. Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Tahun 2013
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kabupaten Sumbawa Barat dalam
Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Tahun 2013 (Pemilukada
NTB 2013) mencapai 92.403 orang yang terdiri dari 45.038 laki-laki atau 48,74 persen
dari jumlah pemilih terdaftar dalam DPT dan 47.365 perempuan atau 51,26 persen dari
total pemilih terdaftar dalam DPT. Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilukada
NTB 2013 ini bertambah sebanyak 10.680 pemilih atau mengalami pertambahan sebesar
13,07 persen dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilukada KSB 2010.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak
pilihnya berjumlah 67.809 pemilih yang diri dari 33.172 laki-laki atau 35,90 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 34.637 perempuan atau 37,48 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih
yang terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilukada NTB
2013 di Kabupaten Sumbawa Barat mencapai 73,38 persen. Adapun perbandingan
angka partisipasi pemilih laki-laki dibandingkan perempuan sebagai berikut:
224
a) Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 45.038 pemilih,
sebanyak 33.172 atau sebesar 73,65 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
b) Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 47.365 pemilih,
sebanyak 34.637 atau sebesar 73,13 persen pemilih perempuan yang terdaftar
dalam DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi laki-laki lebih tinggi 0,53 persen
dibandingkan partisipasi laki-laki dalam Pemilukada NTB 2013 di Kabupaten Sumbawa
Barat . Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih
yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan
pada tabel di bawah ini
Tabel 7.15
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilukada NTB 2013
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
45.038
33.172
35,90%
73,65%
Perempuan
47.365
34.637
37,48%
73,13%
Jumlah
92.403
67.809
73,38%
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Tahun 2013
5. Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kabupaten Sumbawa Barat dalam
Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014 (Pemilu Legislatif 2014) mencapai 92.552 orang
yang terdiri dari 46.103 laki-laki atau 49,81 persen dari jumlah pemilih terdaftar dalam
225
DPT dan 46.449 perempuan atau 50,19 persen dari total pemilih terdaftar dalam DPT.
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014 ini
bertambah sebanyak 149 pemilih atau mengalami pertambahan sebesar 0,16 persen
dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilukada NTB 2013.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak
pilihnya berjumlah 76.057 pemilih yang diri dari 37.625 laki-laki atau 40,65 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 38.432 perempuan atau 41,52 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih
yang terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Legislatif 2014
di Kabupaten Sumbawa Barat mencapai 82,18 persen. Adapun perbandingan angka
partisipasi pemilih laki-laki dibandingkan perempuan sebagai berikut:
a) Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 46.103 pemilih,
sebanyak 37.625 atau sebesar 81,61 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
b) Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 46.449 pemilih,
sebanyak 38.432 atau sebesar 82,74 persen pemilih perempuan yang terdaftar
dalam DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 1,13 persen
dibandingkan partisipasi laki-laki dalam Pemilu Legislatif 2014 di Kabupaten Sumbawa
Barat . Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih
yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan
pada Tabel dibawah ini.
226
Tabel 7.16
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilu Legislatif 2014
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
46.103
37.625
40,65%
81,61%
Perempuan
46.449
38.432
41,52%
82,74%
Jumlah
92.552
76.057
82,18%
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Partai
Politik dan Calon Anggota DPR, DPD dan DPRD pada Pemilu Tahun 2014
6. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kabupaten Sumbawa Barat dalam
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 mencapai 92.531 orang yang terdiri
dari 46.057 laki-laki atau 49,77 persen dari jumlah pemilih terdaftar dalam DPT dan
46.474 perempuan atau 50,23 persen dari total pemilih terdaftar dalam DPT. Jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 ini
berkurang sebanyak 21 pemilih atau mengalami pengurangan sebesar 0,02 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu Legislatif 2014.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak
pilihnya berjumlah 66.668 pemilih yang diri dari 32.690 laki-laki atau 35,33 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 33.978 perempuan atau 36,72 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih
yang terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Presiden dan
Wakil Presiden Tahun 2014 di Kabupaten Sumbawa Barat mencapai 72,05 persen.
Adapun perbandingan angka partisipasi pemilih laki-laki dibandingkan perempuan
sebagai berikut:
227
a) Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 46.057 pemilih,
sebanyak 32.690 atau sebesar 70,98 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
b) Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 46.474 pemilih,
sebanyak 33.978 atau sebesar 73,11 persen pemilih perempuan yang terdaftar
dalam DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 2,13 persen
dibandingkan partisipasi laki-laki dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
di Kabupaten Sumbawa Barat . Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam
DPT dan jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
sebagaimana ditunjukkan pada tabel di bawah ini
Tabel 7.17
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
46.057
32.690
35,33%
70,98%
Perempuan
46.474
33.978
36,72%
73,11%
Jumlah
92.531
66.668
72,05%
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
Dari berbagai uraian yang dipaparkan di atas, beberapa kesimpulan yang dapat ditarik
antara lain:
1) Angka partisipasi pemilih dalam berbagai Pemilu sejak Pemilu Tahun 2009 hingga
Pemilu Tahun 2014 di Kabupaten Sumbawa Barat senantiasa mengalami fluktuasi;
228
2) Partisipasi perempuan dalam berbagai Pemilu sejak Pemilu Tahun 2009 hingga
Pemilu Tahun 2014 di Kabupaten Sumbawa Barat
senantiasa lebih rendah
dibandingkan partisipasi laki-laki kecuali dalam 2 pemilu terakhir Tahun 2014.
D.3.2. Partisipasi Pemilih di Kecamatan Maluk Kabupaten Sumbawa Barat
Sebagaimana partisipasi pemilih di Kabupaten Sumbawa Barat, partisipasi pemilih di
Kecamatan Maluk pun mengalami fluktuasi dari berbagai momentum Pemilu sejak Tahun
2009 sampai 2014.
Grafik 7.18
Fluktuasi Partisipasi Pemilih di Kecamatan Maluk
Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2009-2014
90,00%
80,00%
70,00%
60,00%
50,00%
40,00%
30,00%
20,00%
10,00%
0,00%
75,23%
56,54%
82,18%
80,77%
73,38%
71,36%
56,95%
72,05%
63,88%
55,52%
45,58%
41,90%
Pemilu
Legislatif
2009
Pemilu
Presiden
2009
Pemilukada Pemilukada
KSB 2010 NTB 2013
Kecamatan Maluk
Pemilu
Legislatif
2014
Pemilu
Presiden
2014
KSB
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
2009-2014
Dari Grafik di atas diketahui bahwa angka partisipasi pemilih di Kecamatan Maluk selalu
lebih rendah dari angka partisipasi pemilih Kabupaten Sumbawa Barat. Dalam 5 tahun
terakhir, angka partisipasi tertinggi pemilih di Kecamatan Maluk mencapai 63,88 persen
yaitu pada Pemilu KSB Tahun 2010. Sedangkan angka partisipasi terendah 41,90 persen yaitu
pada Pemilukada NTB Tahun 2013.
229
Adapun gambaran jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT, jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilih, dan angka partisipasi pemilih di
Kecamatan Maluk dalam 5 tahun terakhir ini sebagai berikut:
1.
Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2009
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Kecamatan Maluk
dalam Pemilu Legislatif 2009 (Pemilu Legislatif 2009) mencapai 8.316 orang yang terdiri dari
4.708 laki-laki atau 56,61 persen dari jumlah pemilih terdaftar dalam DPT dan 3.608
perempuan atau 43,39 persen dari total pemilih terdaftar dalam DPT.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
berjumlah 4.702 pemilih yang diri dari 2.567 laki-laki atau 30,87 persen dari jumlah pemilih
yang terdaftar dalam DPT dan 2.135 perempuan atau 25,67 persen dari jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih yang terdaftar dalam DPT
yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Legislatif 2009 di Kecamatan Maluk
mencapai 56,54 persen. Adapun perbandingan angka partisipasi pemilih laki-laki
dibandingkan perempuan sebagai berikut:
a)
Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT berjumlah 4.708 pemilih, sebanyak
2.567 atau sebesar 54,52 persen dari jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
b)
Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 3.608 pemilih,
sebanyak 2.135 atau sebesar 59,17 persen dari jumlah yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 4,65 persen dibandingkan
partisipasi laki-laki dalam Pemilu Legislatif 2009 di Kecamatan Maluk. Secara lebih rinci
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang
menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan pada Tabel dibawah ini.
230
Tabel 7.19
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilu Legislatif 2009 di Kecamatan Maluk
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Hak Pilih
Partisipasi dari
Keseluruhan
DPT
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
4.708
2.567
30,87 persen
54,52 persen
Perempuan
3.608
2.135
25,67 persen
59,17 persen
Jumlah
8.316
4.702
56,54 persen
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Partai
Politik dan Calon Anggota DPR, DPD dan DPRD pada Pemilu Tahun 2009
2.
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kecamatan Maluk dalam Pemilu Presiden
Tahun 2009 mencapai 8.913 orang yang terdiri dari 4.708 laki-laki atau 56,41 persen dari
jumlah pemilih terdaftar dalam DPT dan 3.608 perempuan atau 43,59 persen dari total
pemilih terdaftar dalam DPT. Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu Presiden
Tahun 2009 ini bertambah sebanyak 597 pemilih atau mengalami penambahan sebesar
7,18 persen dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu Legislatif 2009.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
berjumlah 5.076 pemilih yang diri dari 2.776 laki-laki atau 31,15 persen dari jumlah pemilih
yang terdaftar dalam DPT dan 2.300 perempuan atau 25,81 persen dari jumlah pemilih
yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih yang terdaftar
dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Presiden Tahun 2009 di
Kecamatan Maluk mencapai 56,95 persen. Adapun perbandingan angka partisipasi pemilih
laki-laki dibandingkan perempuan sebagai berikut:
231
1. Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 5,028 pemilih,
sebanyak 2,776 atau sebesar 55,21 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
2. Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 3.885 pemilih,
sebanyak 2,300 atau sebesar 59,20 persen pemilih perempuan yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 3,99 persen
dibandingkan partisipasi laki-laki dalam Pemilu Presiden Tahun 2009 di Kecamatan Maluk.
Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan pada tabel
di bawah ini.
Tabel 7.20
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih dalam
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 di Kecamatan Maluk
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Hak Pilih
Partisipasi dari
Keseluruhan
DPT
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
5.028
2.776
31,15 persen
55,21 persen
Perempuan
3.885
2.300
25,81 persen
59,20 persen
Jumlah
8.913
5.076
56,95 persen
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
232
3.
Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kecamatan Maluk dalam Pemilu
Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010 (Pemilukada KSB 2010) mencapai
8.680 orang yang terdiri dari 4.867 laki-laki atau 56,07 persen dari jumlah pemilih
terdaftar dalam DPT dan 3.813 perempuan atau 43,93 persen dari total pemilih
terdaftar dalam DPT. Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilukada KSB 2010 ini
berkurang sebanyak 233 pemilih atau mengalami pengurangan sebesar 2,61 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu Presiden Tahun 2009.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak
pilihnya berjumlah 5,545 pemilih yang diri dari 3,032 laki-laki atau 34,93 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 2.513 perempuan atau 28,95 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih
yang terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilukada KSB 2010
di Kecamatan Maluk mencapai 63, 88 persen. Adapun perbandingan angka partisipasi
pemilih laki-laki dibandingkan perempuan sebagai berikut:
1. Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 4.867 pemilih,
sebanyak 3.032 atau sebesar 62,30 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
2. Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 3.813 pemilih,
sebanyak 2,513 atau sebesar 65,91 persen pemilih perempuan yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 3,61 persen
dibandingkan partisipasi laki-laki dalam Pemilukada KSB 2010 di Kecamatan Maluk. Secara
lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih yang terdaftar
dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan pada tabel di
bawah ini
233
Tabel 7.21
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilukada KSB 2010 di Kecamatan Maluk
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
4.867
3.032
34,93 persen
62,30 persen
Perempuan
3.813
2.513
28,95 persen
65,91 persen
Jumlah
8.680
5.545
63,88 persen
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010
4.
Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Tahun 2013
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kecamatan Maluk dalam Pemilu
Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Tahun 2013 (Pemilukada NTB 2013)
mencapai 10,865 orang yang terdiri dari 6,041 laki-laki atau 55,60 persen dari jumlah
pemilih terdaftar dalam DPT dan 4.824 perempuan atau 44,40 persen dari total pemilih
terdaftar dalam DPT. Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilukada NTB 2013 ini
bertambah sebanyak 2.185 pemilih atau mengalami pertambahan sebesar 25,17 persen
dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilukada KSB 2010.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
berjumlah 4.552 pemilih yang diri dari 2.369 laki-laki atau 21,80 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 2.183 perempuan atau 20,09 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilukada NTB 2013 di
Kecamatan Maluk mencapai 41,90 persen. Adapun perbandingan angka partisipasi
pemilih laki-laki dibandingkan perempuan sebagai berikut:
234
a)
Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 6,041 pemilih,
sebanyak 2.369 atau sebesar 39,22 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
b)
Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 4.824 pemilih,
sebanyak 2,183 atau sebesar 45,25 persen pemilih perempuan yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 6,04 persen dibandingkan
partisipasi laki-laki dalam Pemilukada NTB 2013 di Kecamatan Maluk. Secara lebih rinci jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang
menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 7.22
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilukada NTB 2013 di Kecamatan Maluk
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Hak Pilih
Partisipasi dari
Keseluruhan
DPT
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
6.041
2.369
21,80 persen
39,22 persen
Perempuan
4.824
2.183
20,09 persen
45,25 persen
10.865
4.552
41,90 persen
Jumlah
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Tahun 2013
5.
Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kecamatan Maluk dalam Pemilu
DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014 (Pemilu Legislatif 2014) mencapai 11,359 orang yang
terdiri dari 6.306 laki-laki atau 55,52 persen dari jumlah pemilih terdaftar dalam DPT dan
235
5.053 perempuan atau 44,48 persen dari total pemilih terdaftar dalam DPT. Jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT Pe Pemilu Legislatif 2014 ini bertambah sebanyak 494
pemilih atau mengalami pertambahan sebesar 4,55 persen dari jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT Pemilukada NTB 2013.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak
pilihnya berjumlah 6.306 pemilih yang diri dari 3.320 laki-laki atau 29,23 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 2.986 perempuan atau 26,29 persen dari
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih
yang terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Legislatif 2014
di Kecamatan Maluk mencapai 55,52 persen. Adapun perbandingan angka partisipasi
pemilih laki-laki dibandingkan perempuan sebagai berikut:
1. Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 6.306 pemilih,
sebanyak 3.320 atau sebesar 52,65 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
2. Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 5.053 pemilih,
sebanyak 2.986 atau sebesar 59,06 persen pemilih perempuan yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 6,45 persen
dibandingkan partisipasi laki-laki dalam Pemilu Legislatif 2014 di Kecamatan Maluk.
Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan pada
tabel dibawah ini.
236
Tabel 7.23
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilu Legislatif 2014 di Kecamatan Maluk
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
6.306
3.320
29,23 persen
52,65 persen
Perempuan
5.053
2.986
26,29 persen
59,09 persen
11.359
6.306
55,52 persen
Jumlah
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Partai
Politik dan Calon Anggota DPR, DPD dan DPRD pada Pemilu Tahun 2014
6.
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kecamatan Maluk dalam Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 mencapai 11,262 orang yang terdiri dari 6.237
laki-laki atau 55,38 persen dari jumlah pemilih terdaftar dalam DPT dan 5.025
perempuan atau 44,62 persen dari total pemilih terdaftar dalam DPT. Jumlah pemilih
yang terdaftar dalam DPT Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 ini berkurang
sebanyak 97 pemilih atau mengalami pengurangan sebesar 0,85 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
berjumlah 5.133 pemilih yang diri dari 2.662 laki-laki atau 23,64 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 2.471 perempuan atau 21,94 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden Tahun 2014 di Kecamatan Maluk mencapai 45,58 persen.Adapun perbandingan
angka partisipasi pemilih laki-laki dibandingkan perempuan sebagai berikut:
237
a)
Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 6.237 pemilih,
sebanyak 2.662 atau sebesar 42,68 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
b)
Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 5.025 pemilih,
sebanyak 2.471 atau sebesar 49,17 persen pemilih perempuan yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 6,49 persen
dibandingkan partisipasi laki-laki dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
di Kecamatan Maluk. Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan
jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana
ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 7.24
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 di Kecamatan Maluk
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
6.237
2.662
23,64 persen
42,68 persen
Perempuan
5.025
2.471
21,94 persen
49,17 persen
11.262
5.133
45,58 persen
Jumlah
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
238
Dari berbagai uraian yang dipaparkan di atas, beberapa kesimpulan yang dapat ditarik
antara lain:
1) Angka partisipasi pemilih dalam berbagai Pemilu sejak Pemilu Tahun 2009 hingga
Pemilu Tahun 2014 di Kecamatan Maluk senantiasa lebih rendah dari angka
partisipasi pemilih Kabupaten Sumbawa Barat;
2) Angka partisipasi pemilih dalam berbagai Pemilu sejak Pemilu Tahun 2009 hingga
Pemilu Tahun 2014 di Kecamatan Maluk senantiasa mengalami fluktuasi;
3) Partisipasi perempuan dalam berbagai Pemilu sejak Pemilu Tahun 2009 hingga
Pemilu Tahun 2014 di Kecamatan Maluk senantiasa lebih tinggi dibandingkan
partisipasi laki-laki.
D.3.3. Partisipasi Pemilih di Kecamatan Sekongkang
Sebagaimana partisipasi pemilih di Kabupaten Sumbawa Barat, partisipasi
pemilih di Kecamatan Sekongkang pun mengalami fluktuasi dari berbagai momentum
Pemilu sejak Tahun 2009 sampai 2014.
Grafik 7.25
Fluktuasi Partisipasi Pemilih di Kecamatan Sekongkang
Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2009-2014
100,00%
80,00%
75,23%
61,54%
60,00%
81,17%
71,36%
60,89%
40,00%
82,18%
73,38%
72,05%
72,60%
71,09%
59,32%
80,77%
20,00%
0,00%
Pemilu
Legislatif
2009
Pemilu
Presiden
2009
Pemilukada
KSB 2010
Sekongkang
Pemilukada
NTB 2013
Pemilu
Legislatif
2014
Pemilu
Presiden
2014
KSB
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
2009-2014
239
Dari Grafik di atas diketahui bahwa angka partisipasi pemilih di Kecamatan
Sekongkang mempunyai kecenderungan selalu lebih rendah dari angka partisipasi pemilih
Kabupaten Sumbawa Barat kecuali pada Pemilukada KSB Tahun 2010. Dalam 5 tahun
terakhir, angka partisipasi tertinggi pemilih di Kecamatan Sekongkang mencapai 81,17
persen yaitu pada Pemilukada KSB Tahun 2010. Sedangkan angka partisipasi terendah
59,32 persen yaitu pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014.
Adapun gambaran jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT, jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilih, dan angka partisipasi pemilih di
Kecamatan Sekongkang dalam 5 tahun terakhir ini sebagai berikut:
1. Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2009
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Kecamatan
Sekongkang dalam Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2009 (Pemilu Legislatif 2009)
mencapai 6.508 orang yang terdiri dari 4.165 laki-laki atau 64,00 persen dari jumlah
pemilih terdaftar dalam DPT dan 2.343 perempuan atau 36,00 persen dari total pemilih
terdaftar dalam DPT.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
berjumlah 4.005 pemilih yang diri dari 2.218 laki-laki atau 34,08 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 1.787 perempuan atau 27,46 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Legislatif 2009 di
Kecamatan Sekongkang mencapai 61,54 persen. Perbandingan angka partisipasi pemilih
laki-laki dibandingkan perempuan sebagai berikut:
a)
Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 4.165 pemilih,
sebanyak 2.218 atau sebesar 53,25 persen dari jumlah pemilih laki-laki yang
terdaftar dalam DPT menggunakan hak pilihnya.
b)
Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 2.343 pemilih,
sebanyak 1.787 atau sebesar 76,27 persen dari jumlah yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
240
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 23,02 persen
dibandingkan partisipasi laki-laki dalam Pemilu Legislatif 2009 di Kecamatan Sekongkang.
Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan pada tabel
dibawah ini.
Tabel 7.26
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilu Legislatif 2009 di Kecamatan Sekongkang
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
4.165
2.218
34,08 persen
53,25 persen
Perempuan
2.343
1.787
27,46 persen
76,27 persen
Jumlah
6.508
4.005
61,54 persen
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Partai
Politik dan Calon Anggota DPR, DPD dan DPRD pada Pemilu Tahun 2009
2.
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kecamatan Sekongkang dalam Pemilu
Presiden Tahun 2009 mencapai 6.838 orang yang terdiri dari 4.393 laki-laki atau 64,24
persen dari jumlah pemilih terdaftar dalam DPT dan 2.445 perempuan atau 35,76 persen
dari total pemilih terdaftar dalam DPT. Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu
Presiden Tahun 2009 ini bertambah sebanyak 330 pemilih atau mengalami penambahan
sebesar 5,07 persen dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu Legislatif 2009.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
berjumlah 4.164 pemilih yang diri dari 2.506 laki-laki atau 36,65 persen dari jumlah pemilih
yang terdaftar dalam DPT dan 1.658 perempuan atau 24,25 persen dari jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih yang terdaftar dalam DPT
241
yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Presiden Tahun 2009
di Kecamatan
Sekongkang mencapai 60,89 persen. Perbandingan angka partisipasi pemilih laki-laki
dibandingkan perempuan sebagai berikut:
a)
Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT berjumlah 4.393 pemilih, sebanyak
2.506 atau sebesar 57,05 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
b)
Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 2.445 pemilih,
sebanyak 1.658 atau sebesar 67,810 persen pemilih perempuan yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 10,77 persen dibandingkan
partisipasi laki-laki dalam Pemilu Presiden Tahun 2009 di Kecamatan Sekongkang. Secara
lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih yang terdaftar dalam
DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 7.27
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 di Kecamatan Sekongkang
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
4.393
2.506
36,65 persen
57,05 persen
Perempuan
2.445
1.658
24,25 persen
67,81 persen
Jumlah
6.838
4.164
60,89 persen
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
242
3. Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kecamatan Sekongkang dalam
Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010 (Pemilukada KSB 2010)
mencapai 4.876 orang yang terdiri dari 2.561 laki-laki atau 52,52 persen dari jumlah
pemilih terdaftar dalam DPT dan 2.315 perempuan atau 47,48 persen dari total pemilih
terdaftar dalam DPT. Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilukada KSB 2010 ini
berkurang sebanyak 1.962 pemilih atau mengalami pengurangan sebesar 28,69 persen
dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu Presiden Tahun 2009.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
berjumlah 4.876 pemilih yang diri dari 2.561 laki-laki atau 42,27 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 2.315 perempuan atau 38,90 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilukada KSB 2010 di
Kecamatan Sekongkang mencapai 81,17 persen. Angka partisipasi pemilih Kecamatan
Sekongkang dalam Pemilukada KSB 2010 ini merupakan angka partisipasi tertinggi
sepanjang pemilu yang diselenggarakan sejak Tahun 2009 sampai 2014. Bahkan angka
partisipasi ini lebih tinggi 0,4 persen berada di atas angka partisipasi Kabupaten
Sumbawa Barat dalam pemilu yang sama yang mencapai 80,77 persen. Adapun
perbandingan angka partisipasi pemilih laki-laki dibandingkan perempuan sebagai
berikut:
a)
Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 2.561 pemilih,
sebanyak 2.061 atau sebesar 80,48 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
b)
Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 2.315 pemilih,
sebanyak 1.897 atau sebesar 81,94 persen pemilih perempuan yang terdaftar
dalam DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 1,47 persen
dibandingkan partisipasi laki-laki dalam Pemilukada KSB 2010 di Kecamatan Sekongkang.
243
Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan pada
tabel dibawah ini.
Tabel 7.28
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilukada KSB 2010 di Kecamatan Sekongkang
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
2.561
2.061
42,27 persen
80,48 persen
Perempuan
2.315
1.897
38,90 persen
81,94 persen
Jumlah
4.876
3.958
81,17 persen
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010
4. Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Tahun 2013
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kecamatan Sekongkang dalam Pemilu
Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Tahun 2013 (Pemilukada NTB 2013)
mencapai 6.011 orang yang terdiri dari 3.071 laki-laki atau 51,09 persen dari jumlah
pemilih terdaftar dalam DPT dan 2.940 perempuan atau 48,91 persen dari total pemilih
terdaftar dalam DPT. Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilukada NTB 2013 ini
bertambah sebanyak 1.135 pemilih atau mengalami pertambahan sebesar 23,28 persen
dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilukada KSB 2010.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
berjumlah 4.273 pemilih yang diri dari 2.221 laki-laki atau 36,95 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 2.052 perempuan atau 34,149 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih yang
244
terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilukada NTB 2013 di
Kecamatan Sekongkang mencapai 71,09 persen. Perbandingan angka partisipasi pemilih
laki-laki dibandingkan perempuan sebagai berikut:
a)
Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 3.071 pemilih,
sebanyak 2.221 atau sebesar 72,32 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
b)
Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 2.940 pemilih,
sebanyak 2,052 atau sebesar 69,80 persen pemilih perempuan yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi pemilih laki-laki lebih tinggi 2,53 persen
dibandingkan partisipasi pemilih perempuan dalam Pemilukada NTB 2013 di Kecamatan
Sekongkang. Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana
ditunjukkan pada Tabel dibawah ini.
Tabel 7.29
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilukada NTB 2013 di Kecamatan Sekongkang
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
3.071
2.221
36,95 persen
72,32 persen
Perempuan
2.940
2.052
34,14 persen
69,80 persen
Jumlah
6.011
4.273
71,09 persen
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Tahun 2013
245
5. Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kecamatan Sekongkang dalam
Pemilu DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014 (Pemilu Legislatif 2014) mencapai 6.990 orang
yang terdiri dari 3.673 laki-laki atau 52,49 persen dari jumlah pemilih terdaftar dalam
DPT dan 3.324 perempuan atau 47,51 persen dari total pemilih terdaftar dalam DPT.
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT Pemilu Legislatif 2014 ini bertambah sebanyak
986 pemilih atau mengalami pertambahan sebesar 16,40 persen dari jumlah pemilih
yang terdaftar dalam DPT Pemilukada NTB 2013.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
berjumlah 5.080 pemilih yang diri dari 2.606 laki-laki atau 37,20 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 2.477 perempuan atau 35,40 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Legislatif 2014 di
Kecamatan Sekongkang mencapai 72,60 persen. Perbandingan angka partisipasi pemilih
laki-laki dibandingkan perempuan sebagai berikut:
a)
Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
berjumlah 3.673 pemilih,
sebanyak 2.603 atau sebesar 70,87 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
b)
Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 3.324 pemilih,
sebanyak 2.477 atau sebesar 74,52 persen pemilih perempuan yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 3,65 persen
dibandingkan partisipasi laki-laki dalam Pemilu Legislatif 2014 di Kecamatan Sekongkang.
Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT dan jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya sebagaimana ditunjukkan pada
Tabel dibawah ini.
246
Tabel 7.30
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilu Legislatif 2014 di Kecamatan Sekongkang
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
3.673
2.603
37,20 persen
70,87 persen
Perempuan
3.324
2.477
35,40 persen
74,52 persen
Jumlah
6.997
5.080
72,60 persen
3,65 persen
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Partai
Politik dan Calon Anggota DPR, DPD dan DPRD pada Pemilu Tahun 2014
6. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kecamatan Sekongkang dalam Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 mencapai 7.001 orang yang terdiri dari 3.668
laki-laki atau 52,39 persen dari jumlah pemilih terdaftar dalam DPT dan 3.333 perempuan
atau 47,61 persen dari total pemilih terdaftar dalam DPT. Jumlah pemilih yang terdaftar
dalam DPT Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 ini berkurang sebanyak 4
pemilih atau mengalami pengurangan sebesar 0,06 persen dari jumlah pemilih yang
terdaftar dalam DPT Pemilu Legislatif 2014.
Adapun jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
berjumlah 4.153 pemilih yang diri dari 2.103 laki-laki atau 30,04 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT dan 2.050 perempuan atau 29,28 persen dari jumlah
pemilih yang terdaftar dalam DPT. Dengan demikian partisipasi seluruh pemilih yang
terdaftar dalam DPT yang hadir memberikan suaranya dalam Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden Tahun 2014 di Kecamatan Sekongkang mencapai 59,32 persen. Perbandingan
angka partisipasi pemilih laki-laki dibandingkan perempuan sebagai berikut:
247
a)
Jumlah pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT berjumlah 3.668 pemilih, sebanyak
2.103 atau sebesar 57,33 persen pemilih laki-laki yang terdaftar dalam DPT
menggunakan hak pilihnya.
b)
Jumlah pemilih perempuan yang terdaftar dalam DPT berjumlah 3.333 pemilih,
sebanyak 2.050 atau sebesar 61,51 persen pemilih perempuan yang terdaftar dalam
DPT menggunakan hak pilihnya.
Dengan demikian, angka partisipasi perempuan lebih tinggi 4,17 persen
dibandingkan partisipasi laki-laki dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
di Kecamatan Sekongkang. Secara lebih rinci jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT
dan jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilihnya
sebagaimana ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 7.31
Jumlah DPT dan Angka Partisipasi Pemilih
dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kecamatan Sekongkang
Jumlah DPT
Gender
Jumlah
DPT
Mengunakan
Partisipasi dari
Keseluruhan DPT
Hak Pilih
Partisipasi dari
masing-masing
DPT
Laki-laki
3.668
2.103
30,04 persen
57,33 persen
Perempuan
3.333
2.050
29,28 persen
61,51 persen
Jumlah
7.001
4.153
59,32 persen
Sumber: Diolah dari Sertifikat Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
Dari berbagai uraian yang dipaparkan di atas, beberapa kesimpulan yang dapat ditarik
antara lain:
1) Angka partisipasi pemilih dalam berbagai Pemilu sejak Pemilu Tahun 2009 hingga
Pemilu Tahun 2014 di Kecamatan Sekongkang senantiasa lebih rendah dari angka
248
partisipasi pemilih Kabupaten Sumbawa Barat, kecuali pada Pemilu Bupati dan Wakil
Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010 yang mencapai 81,17 persen atau lebih tinggi 0,4
persen dibandingkan angka partisipasi Kabupaten Sumbawa Barat dalam pemilu
yang sama yang mencapai 80,77 persen.
2) Angka partisipasi pemilih dalam berbagai Pemilu sejak Pemilu Tahun 2009 hingga
Pemilu Tahun 2014 di Kecamatan Sekongkang senantiasa mengalami fluktuasi;
3) Partisipasi perempuan dalam berbagai Pemilu sejak Pemilu Tahun 2009 hingga
Pemilu Tahun 2014 di Kecamatan Sekongkang senantiasa lebih tinggi dibandingkan
partisipasi laki-laki kecuali pada Pemilukada KSB 2010.
D.4. Alasan Pemilih Berpartisipasi dan Tidak Berpartisipasi
D.4.1. Alasan Pemilih Berpartisipasi dalam Pemilu
Berdasarkan hasil wawancara dengan 100 responden di Kecamatan Maluk dan
Sekongkang, sebanyak 48 responden atau 48 persen mengatakan bahwa mereka ikut
memberikan suaranya di tempat pemungutan suara (TPS). Ada beragam alasan dari 48
responden tersebut yang melandasi mereka ikut serta memberikan suara sebagaimana
ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 7.32
Alasan Pemilih Berpartisipasi dalam Pemilu
No
Alasan Pemilih Berpartisipasi dalam Pemilu
F
%
Peringkat
1
Anjuran salah satu calon yang akan dipilih
42
87,50%
1
2
Terdaftar dalam Daftar Pemilih
33
68,75%
2
3
Mendapat Undangan untuk Memilih
32
66,67%
3
4
Anjuran salah satu partai politik
29
60,42%
4
5
Anjuran penyelenggara Pemilu
28
58,33%
5
249
No
6
Alasan Pemilih Berpartisipasi dalam Pemilu
F
%
Peringkat
Percaya dengan Pemilu dapat membuahkan
perubahan
6
22
45,83%
7
Anjuran pemerintah
12
25,00%
7
8
Anjuran oleh Perusahaan tempat saya bekerja
11
22,92%
8
9
Anjuran oleh Pimpinan Ormas
8
16,67%
9
Dari tabel di atas diketahui bahwa faktor yang paling dominan mendorong pemilih
untuk memberikan suaranya dalam pemilu adalah adanya Anjuran dari Salah Satu Calon
yang akan Dipilih dengan persentase 87,50 persen, kemudian disusul dengan alasan
Terdaftar dalam Daftar Pemilih dengan persentase 68,75 persen. Alasan berikutnya dengan
persentase yang terpaut tipis karena Mendapat Undangan untuk Memilih dengan
persentase 66,67 persen.
Adapun anjuran partai politik sebagai peserta pemilu dengan persentase 60,42
persen yang menempati peringkat ke-4. Sedangkan anjuran penyelenggara pemilu seperti
KPU, PPK, PPS dan KPPS menempati peringkat ke-5 dengan persentase 58,33 persen.
Menyusul kemudian alasan karena Percaya dengan Pemilu dapat membuahkan perubahan
dengan persentase 45,83 persen pada peringkat ke-6. Pada peringkat ke-7 dengan
persentase 25,00 persen karena alasan Anjuran Pemerintah, peringkat ke-8 dengan
persentase 22,92 persen karena Anjuran oleh Perusahaan tempat bekerja dan pada
peringkat terakhir dengan persentase 16,67 persen karena Anjuran oleh Pimpinan Ormas.
Agar lebih jelas peringkat alasan pemilih memberikan suaranya sebagaimana ditampilkan
pada Grafik dibawah ini.
250
Grafik 7.33
Alasan Pemilih Ikut Memberikan Suaranya
Anjuran oleh Pimpinan Ormas
Anjuran oleh Perusahaan tempat saya bekerja
Anjuran pemerintah
Percaya dengan Pemilu dapat membuahkan…
Anjuran penyelenggara Pemilu
Anjuran salah satu partai politik
Mendapat Undangan untuk Memilih
Terdaftar dalam Daftar Pemilih
Anjuran salah satu calon yang akan dipilih
16,67%
22,92%
25,00%
45,83%
58,33%
60,42%
66,67%
68,75%
87,50%
Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling
mempengaruhi partisipasi pemilih memberikan suaranya di TPS adalah adanya Anjuran dari
Salah Satu Calon yang akan Dipilih. Terhadap alasan ini perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut apakah faktor Anjuran dari Salah Satu Calon yang akan Dipilih murni menjadi alasan
pemilih datang ke TPS untuk memberikan suaranya secara sukarela atau kemungkinan
terdapat alasan lain yang masih belum tergali, misalnya kemungkinan adanya anjuran yang
disertai pemberian dari calon kepada pemilih berupa keuntungan material seperti dalam
kasus politik uang (money politics). Namun apabila pemilih datang ke TPS untuk
memberikan suaranya secara sukarela tanpa disertai politik uang, maka pelibatan caloncalon yang diusung oleh partai politik peserta pemilu dalam upaya mendongkrak partisipasi
pemilih akan bernilai strategis.
Faktor lainnya yang cukup efektif mempengaruhi partisipasi pemilih adalah pemilih
terdaftar dalam DPT, pemilih mendapat Undangan untuk Memilih, adanya Anjuran partai
politik, adanya anjuran penyelenggara pemilu dan yang paling penting adalah kepercayaan
terhadap pemilu yang dapat membawa perubahan.
251
D.4.2. Alasan Pemilih Tidak Berpartisipasi dalam Pemilu
Ketidakpercayaan pemilih terhadap partai politik dan calon yang akan dipilih
memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap angka partisipasi pemilih dalam
memberikan suaranya di TPS. Gejala ini terungkap berdasarkan hasil wawancara dengan 100
responden di Kecamatan Maluk dan Sekongkang. Dari 100 responden yang diwawancara,
sebanyak 52 responden atau 52 persen mengatakan bahwa mereka tidak ikut memberikan
suaranya di TPS. Alasan yang paling dominan adalah adanya ketidakpercayaan pemilih
terhadap partai politik dan calon yang akan dipilih. Ada beragam alasan dari 52 responden
tersebut yang melandasi mereka tidak ikut serta memberikan suara sebagaimana ditunjukkan
pada tabel 7.25
Tabel 7.34
Alasan Pemilih Tidak Berpartisipasi dalam Pemilu
No
Alasan Pemilih Tidak Berpartisipasi
dalam Pemilu
F
%
Peringkat
1.
Tidak percaya dengan partai politik
21
40,38%
1
2.
Tidak percaya dengan calon yang dipilih
12
23,08%
2
3.
Berhalangan (bepergian/sakit)
8
15,38%
3
4.
Tidak terdaftar dalam Daftar Pemilih
5
9,62%
4
5.
Lebih memilih bekerja
5
9,62%
4
6.
Tidak mendapat Undangan untuk Memilih
4
7,69%
5
7.
Bertentangan dengan ideologi/keyakinan
3
5,77%
6
8.
Tidak tahu ada Pemilu
0
0,00%
7
9.
Tidak tahu letak Tempat Pemungutan Suara
0
0,00%
8
10.
Tidak tahu cara memberikan suara
0
0,00%
9
11.
Dilarang oleh Perusahaan tempat saya bekerja
0
0,00%
10
252
12.
Alasan Pemilih Tidak Berpartisipasi dalam
Pemilu
Dilarang oleh Pimpinan Ormas
13.
No
F
%
Peringkat
0
0,00%
11
Tidak percaya dengan Pemilu
0
0,00%
12
14.
Tidak percaya dengan penyelenggara Pemilu
0
0,00%
13
15.
Menganggap Pemilu tidak bermanfaat
0
0,00%
14
Dari tabel di atas diketahui bahwa faktor yang paling dominan mendorong pemilih
untuk tidak memberikan suaranya dalam pemilu adalah adanya ketidakpercayaan terhadap
partai politik persentase 40,38 persen, kemudian disusul dengan alasan Tidak percaya
dengan calon yang dipilih dengan persentase 23,08 persen. Alasan berikutnya karena
Berhalangan (bepergian/sakit) dengan persentase 15,38 persen.
Adapun karena tidak terdaftar dalam DPT dan alasan pemilih lebih memilih bekerja
menempati peringkat ke-4 dengan persentase sama persis 9,62 persen. Sedangkan anjuran
pemilih yang tidak memberikan suaranya karena alasan Tidak mendapat Undangan untuk
Memilih menempati peringkat ke-5 dengan persentase 7,69 persen. Menyusul kemudian
pada peringkat terakhir alasan karena Bertentangan dengan ideologi/keyakinan dengan
persentase 5,77% persen pada peringkat ke-6.
Alasan-alasan lain yang ditawarkan peneliti seperti Tidak Tahu Ada Pemilu, Tidak
Tahu Letak TPS dan lain sebagainya tidak mendapatkan respon dari pemilih. Agar lebih jelas
peringkat alasan pemilih tidak memberikan suaranya sebagaimana ditampilkan pada Grafik
dibawah ini.
Grafik 7.35
Alasan Pemilih Tidak Ikut Memberikan Suaranya
Bertentangan dengan ideologi/keyakinan
Tidak mendapat Undangan untuk Memilih
Lebih memilih bekerja
Tidak terdaftar dalam Daftar Pemilih
Berhalangan (bepergian/sakit)
Tidak percaya dengan calon yang dipilih
Tidak percaya dengan partai politik
5,77%
7,69%
9,62%
9,62%
15,38%
23,08%
40,38%
253
Dari Grafik 7.29 di atas semakin jelas bahwa bahwa faktor ketidakpercayaan
terhadap partai politik paling dominan mendorong pemilih untuk tidak memberikan
suaranya dalam pemilu.
Menyusul alasan lainnya yang masih senada adalah
ketidakpercayaan terhadap calon yang akan dipilih. Fenomena ini menjadi menarik, karena
faktor peserta pemilu baik terutama keberadaan calon yang diusung oleh partai politik
menjadi hal yang dapat mendongkrak angka partisipasi pemilih sebagaimana tampak pada
Grafik sebelumnya dan di sisi yang lain juga menjadi alasan pemilih untuk tidak
berpartisipasi dalam pemilu.
Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling
mempengaruhi rendahnya angka partisipasi pemilih dalam memberikan suaranya di TPS
karena adanya ketidakpercayaan pemilih terhadap partai politik dan calon yang akan dipilih.
Fenomena ini tampaknya perlu menjadi bagian yang harus diperhatikan oleh partai politik
dalam rangka pembangunan kepercayaan pemilih kepada peserta pemilu ke depan.
Meskipun 52 persen pemilih yang terdaftar dalam DPT di Kecamatan Maluk dan
Sekongkang tidak ikut memberikan suaranya di TPS, namun secara keseluruhan, 100 persen
responden telah memperoleh informasi pemilu dari berbagai cara dan berbagai sumber.
Penelitian ini juga secara khusus mengkaji sumber dan cara pemilih memperoleh informasi
dan teknis pemilu.
Berdasarkan hasil wawancara dengan 100 responden diketahui bahwa 100 persen
pemilih telah memperoleh informasi pemilu. Menurut sumber dan cara pemilih
memperoleh informasi pemilu, mayoritas pemilih memperoleh informasi tentang pemilu
secara efektif dari alat peraga berupa baliho, spanduk, leaflet maupun pamflet yang
dipublikasikan oleh penyelenggara pemilu. Tampaknya faktor ini memberikan kontribusi
yang signifikan dalam meningkatkan partisipasi pemilih sebagaimana ditunjukkan pada
Grafik7.8 yang ditampilkan pada bagian sebelumnya. Selengkapnya respon pemilih
terhadap sumber dan cara pemilih memperoleh informasi pemilu sebagaimana ditunjukkan
pada Tabel dibawah ini.
254
Tabel 7.36
Sumber dan Cara Pemilih Memperoleh Informasi Pemilu
No
Sumber/Cara Perolehan Informasi Pemilu
F
%
Peringkat
1
Dari baliho/spanduk/leaflet/pamflet/brosur
yang diedarkan oleh penyelenggara Pemilu
82
82,00%
1
2
Dari sosialisasi yang disampaikan oleh peserta
Pemilu (partai politik/calon)
71
71,00%
2
3
Dari sosialisasi yang disampaikan oleh
penyelenggara Pemilu
62
62,00%
3
4
Dari sosialisasi yang disampaikan oleh
Pemerintah
36
36,00%
4
5
Dari media massa elektornik (televisi/radio)
30
30,00%
5
6
Dari media massa cetak
(koran/tabloid/majalah)
18
18,00%
6
7
Dari sosialisasi yang disampaikan oleh
Perusahaan tempat saya bekerja
15
15,00%
7
8
Dari sosialisasi yang disampaikan oleh
lembaga sosial/kemasyarakatan (LSM/Ormas)
13
13,00%
8
9
Dari informasi keluarga/kerabat
/tetangga/teman
13
13,00%
9
10
Dari media sosial online
(internet/facebook/tweeter/messanger, dll)
9
9,00%
10
Dari Tabel
di atas diketahui bahwa sebagian besar pemilih (82 persen)
memperoleh informasi pemilu dari alat peraga berupa baliho, spanduk, leaflet maupun
pamflet yang dipublikasikan oleh penyelenggara pemilu. Pemilih juga efektif memperoleh
informasi pemilu dari sosialisasi yang disampaikan oleh peserta Pemilu baik partai politik
maupun calon yang diusungnya (71 persen). Sedangkan perolehan informasi pemilu dari
255
sosialisasi secara massal dengan tatap muka yang diselenggarakan penyelenggara pemilu
diterima efektif oleh 62 persen pemilih. Sedangkan pemilih yang memperoleh informasi
pemilu dari pemerintah, media massa elektronik/cetak, informasi dari perusahaan,
lembaga sosial kemasyarakatan, dari keluarga dan media sosial online berada di bawah 36
persen. Untuk lebih jelasnya sumber informasi dan cara pemilih memperoleh informasi
pemilu sebagaimana ditampilkan pada Grafik dibawah ini.
Grafik 7.37
Sumber dan Cara Penyampaian Informasi Pemilu
Dari media sosial online
(internet/facebook/tweeter/messanger, dll)
9,00%
Dari informasi keluarga/kerabat
/tetangga/teman
13,00%
Dari sosialisasi yang disampaikan oleh
lembaga sosial/kemasyarakatan (LSM/Ormas)
13,00%
Dari sosialisasi yang disampaikan oleh
Perusahaan tempat saya bekerja
Dari media massa cetak
(koran/tabloid/majalah)
Dari media massa elektornik (televisi/radio)
Dari sosialisasi yang disampaikan oleh
Pemerintah
Dari sosialisasi yang disampaikan oleh
penyelenggara Pemilu
Dari sosialisasi yang disampaikan oleh peserta
Pemilu (partai politik/calon)
Dari baliho/spanduk/leaflet/pamflet/brosur
yang diedarkan oleh penyelenggara Pemilu
15,00%
18,00%
30,00%
36,00%
62,00%
71,00%
82,00%
Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sumber dan cara
pemilih memperoleh informasi pemilu yang paling efektif adalah melalui alat peraga
berupa baliho, spanduk, pamflet dan brosur yang diedarkan oleh penyelenggara Pemilu,
melalui sosialisasi yang disampaikan oleh penyelenggara dan peserta Pemilu (partai
politik/calon).
256
D.5. Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Pemilih dalam Pemilu
Selain mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi pemilih dalam
memberikan suaranya di TPS sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, penelitian ini juga
berusaha mengungkapkan faktor lain yang mempengaruhi performa partisipasi pemilih dalam
pemilu di Kecamatan Maluk dan Sekongkang.Berdasarkan data yang diperoleh dalam
penelitian ini ditemukan suatu kondisi yang mempengaruhi performa partisipasi pemilih
dalam pemilu di Kecamatan Maluk dan Sekongkang, yaitu keberadaan DPT Ganda yaitu
pemilih yang terdaftar pada lebih dari 1 TPS.
Dari 100 responden yang diwawancara, terdapat 3 (tiga) responden yang mengaku
pernah terdaftar pada lebih dari 1 (satu) TPS. Namun demikian, meskipun mereka terdaftar di
lebih dari TPS, namun dalam keputusannya mereka memilih untuk memberikan suaranya
hanya di satu TPS. Dalam kasus seperti ini, mereka mempunyai kecenderungan untuk memilih
di daerah asalnya dimana mereka juga terdaftar sebagai pemilih.
Seorang responden bernama Masrah Jayadi yang pada Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden tahun 2009 terdaftar di Nomor Urut 167 pada TPS V Desa Sekongkang Atas
Kecamatan Sekongkang dan juga terdaftar pada Nomor Urut 244 TPS III Desa Goa Kecamatan
Jereweh. Pemilih ini mengaku lebih memilih untuk memberikan suaranya di TPS III Desa Goa
Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat dimana pemilih beralamat tetap. Oleh karena
hari Pemilu merupakan hari libur sehingga sembari pulang untuk memberikan suara, pemilih
juga dapat berlibur berkumpul dengan keluarga dan tetangga.
Adapun seorang responden lainnya juga menyampaikan bahwa dirinya pernah
terdaftar di lebih dari 1 TPS pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009. Pemilih ini
terdaftar di Nomor Urut 136 Desa Mantun Kecamatan Maluk Kabupaten Sumbawa Barat dan
juga terdaftar di daerah asalnya di Lombok Timur. Oleh karena memilih hanya diperkenankan
1 kali, maka responden tersebut lebih memilih memberikan suaranya di Lombok Timur
sehingga tidak ikut memberikan suaranya di Kecamatan Maluk.
Sedangkan responden lainnya mengaku pernah terdaftar pada 2 TPS pada Pemilukada
NTB Tahun 2013 yaitu pada TPS III Desa Mantun Kecamatan Maluk Kabupaten Sumbawa
257
Barat dan TPS lainnya di daerah asalnya di Kabupaten Lombok Barat. Sebagai seorang
karyawan perusahaan swasta yang berdomisili di Kecamatan Maluk, responden bekerja
dengan roster 5 hari kerja yaitu senin hingga jumat dan hari sabtu dan minggu adalah hari
libur bekerja. Sesuai dengan kebiasaan, pada hari jumat selepas bekerja responden pulang ke
Lombok Barat untuk berkumpul bersama keluarga.
Keberadaan hari Pemilukada NTB Tahun 2013 yang jatuh pada hari senin pada Tanggal
13 Mei 2013 yang ditetapkan sebagai hari libur di seluruh wilayah Provinsi Nusa Tenggara
Barat
menjadi libur tambahan bagi responden. Keputusan responden untuk pulang ke
Lombok Barat dan memilih di sana memberikan konsekuensi berkurangnya partisipasi pemilih
di Kecamatan Maluk Kabupaten Sumbawa Barat.
Berangkat dari kasus 3 responden ini, maka keberadaan DPT Ganda merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi performa partisipasi pemilih di Kecamatan Maluk dan
Sekongkang. Oleh karena itu, rendahnya angka partisipasi pemilih di Kecamatan Maluk dan
Sekongkang bukan semata-mata disebabkan oleh partisipasi pemilih untuk memberikan
suaranya, tetapi faktor kesalahan administrasi pemilu juga turut memberikan kontribusi.
Berdasarkan uraian yang disampaikan di atas, maka disimpulkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi partisipasi pemilih dalam memberikan suaranya di TPS antara lain:
D.5.1. Faktor-faktor pendukung partisipasi pemilih di Kecamatan Maluk dan Sekongkang:
a) Faktor yang mendorong pemilih untuk memberikan suaranya dalam pemilu adalah
keberadaan anjuran untuk memilih dan faktor teknis terkait dengan keberadaan
pemilih dalam Daftar pemilih Tetap dan adanya surat undangan memilih dari
penyelenggara pemilu.
b) Keberadaan anjuran dari Salah Satu Calon yang akan Dipilih, partai politik dan
penyelenggara pemilu merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi
partisipasi pemilih;
c) Sedangkan anjuran dari pemerintah, perusahaan tempat bekerja dan pimpinan
ormas serta kepercayaan bahwa Pemilu dapat membuahkan perubahan tidak
banyak mempengaruhi partisipasi pemilih.
258
D.5..2. Faktor penghambat partisipasi pemilih di Kecamatan Maluk dan Sekongkang:
a)
Faktor ketidakpercayaan pemilih terhadap partai politik dan calon yang akan
dipilih menjadi penghambat yang sangat signifikan terhadap partisipasi pemilih
dalam memberikan suaranya di TPS.
b)
Faktor lainnya yang turut berkontribusi menghambat partisipasi pemilih adalah
faktor kebutuhan pemilih untuk bepergian/bekerja, kondisi kesehatan pemilih,
dan ideologi/keyakinan pemilih.
c)
Sedangkan faktor teknis pemilu yang turut menghambat partisipasi pemilih
adalah pemilih tidak terdaftar dalam DPT dan Tidak mendapat Undangan untuk
Memilih
Dari seluruh proses dan temuan penelitian di atas, penelitian ini menarik simpulan
sebagai berikut:
1. Angka partisipasi pemilih dalam berbagai Pemilu sejak Pemilu Tahun 2009 hingga
Pemilu Tahun 2014 di Kecamatan Maluk dan Sekongkang senantiasa mengalami
fluktuasi dengan kecenderungan senantiasa lebih rendah dari angka partisipasi
pemilih Kabupaten Sumbawa Barat, kecuali di Kecamatan Sekongkang pada Pemilu
Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010.
2. Partisipasi perempuan dalam berbagai Pemilu sejak Pemilu Tahun 2009 hingga
Pemilu Tahun 2014 di Kecamatan Maluk dan Sekongkang senantiasa lebih tinggi
dibandingkan partisipasi laki-laki, kecuali di Kecamatan Sekongkang pada Pemilu
Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat Tahun 2010.
3. Faktor yang paling dominan mendorong pemilih untuk memberikan suaranya
dalam pemilu adalah keberadaan anjuran untuk memilih terutama anjuran dari
Calon yang akan Dipilih, partai politik dan penyelenggara pemilu dan faktor teknis
terkait dengan keberadaan pemilih dalam Daftar pemilih Tetap dan adanya surat
undangan memilih dari penyelenggara pemilu. Sedangkan anjuran dari
pemerintah, perusahaan tempat bekerja dan pimpinan ormas serta kepercayaan
bahwa Pemilu dapat membuahkan perubahan tidak banyak mempengaruhi
partisipasi pemilih.
259
4. Faktor yang paling dominan menghambat partisipasi pemilih untuk memberikan
suaranya di TPS di Kecamatan Maluk dan Sekongkang adalah faktor
ketidakpercayaan pemilih terhadap partai politik dan calon yang akan dipilih.
Faktor lainnya yang turut berkontribusi menghambat partisipasi pemilih adalah
faktor kebutuhan pemilih untuk bepergian/bekerja, kondisi kesehatan pemilih, dan
ideologi/keyakinan pemilih. Sedangkan faktor teknis pemilu yang turut
menghambat partisipasi pemilih adalah pemilih tidak terdaftar dalam DPT dan
Tidak mendapat Undangan untuk Memilih
5. Sumber dan cara pemilih memperoleh informasi pemilu, penyampaian informasi
melalui alat peraga berupa baliho, spanduk, leaflet maupun pamflet yang
dipublikasikan oleh penyelenggara pemilu merupakan cara yang paling efektif di
samping informasi pemilu yang diperoleh dari sosialisasi yang disampaikan oleh
peserta Pemilu baik partai politik maupun calon, informasi pemilu dari sosialisasi
secara massal dengan tatap muka yang diselenggarakan penyelenggara pemilu.
Sedangkan
penyampaian
informasi
oleh
pemerintah,
media
massa
elektronik/cetak, informasi dari perusahaan, lembaga sosial kemasyarakatan, dari
keluarga dan media sosial online tidak terlalu efektif.
6. Keberadaan DPT Ganda dan keputusan untuk memilih di luar Kecamatan Maluk
dan Sekongkang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi performa
partisipasi pemilih di Kecamatan Maluk dan Sekongkang.
Berdasarkan kesimpulan di atas, akhirnya penelitian memberikan saran sebagai
berikut:
1. Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sumbawa Barat perlu terus mendorong
partisipasi peserta pemilu baik partai politik maupun calon agar memberikan
anjuran kepada pemilih untuk menggunakan hak pilihnya.
2. Penyelenggara Pemilu yang terdiri dari Komisi Pemilihan Umum, Panitia Pemilihan
Kecamatan, Panitia Pemungutan Suara, Kelompok Penyelenggara Pemungutan
Suara dan Panitia Pengawas Pemilu perlu meningkatkan perannya dalam
260
memberikan anjuran melalui sosialisasi informasi pemilu kepada pemilih untuk
mengguanakan hak pilihnya;
3. Para pihak di luar lembaga penyelenggara pemilu baik itu pemerintah, perusahaan,
organisasi sosial kemasyarakatan maupun media massa elektronik dan cetak, perlu
dilibatkan dan diberi peluang memberikan anjuran melalui sosialisasi informasi
pemilu yang lebih massif kepada pemilih untuk menggunakan hak pilihnya.
4. Peserta pemilu baik partai politik maupun calon perlu membangun citra yang baik
melalui pelaksanaan perannya yang lebih baik di dalam lembaga pemerintahan
sehingga terbangun kepercayaan pemilih bahwa pemilu dapat membuahkan
perubahan.
5. Penyelenggara pemilu perlu menyediakan fasilitas yang dapat memberikan
kemudahan bagi pemilih yang mempunyai kondisi kesehatan fisik yang terbatas.
6. Penyelenggara pemilu perlu melakukan sosialisasi yang lebih massif dengan
membangun dialog dengan kelompok masyarakat yang mempunyai ideologi yang
tidak sejalan dengan upaya meningkatkan partisipasi pemilih.
7. Penyelenggara pemilu perlu membangun sistem yang dapat menjamin
pemenuhan hak-hak konstitusional pemilih melalui persiapan teknis yang
memadai sekaligus menjamin validitas daftar pemilih sehingga tidak menimbulkan
duplikasi.
8. Cara penyampaian informasi pemilu melalui alat peraga berupa baliho, spanduk,
leaflet
maupun
pamflet
perlu
tetap
digunakan
dengan
senantiasa
menyelenggarakan penyampaian informasi pemilu melalui kegiatan tatap muka.
261
DAFTAR PUSTAKA
Arianto, Bismar. 2010. Analisis Penyebab Masyarakat Tidak Memilih dalam Pemilu. Jurnal Ilmu
Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011.
BPS Kabupaten Sumbawa Barat. 2014. Sumbawa Barat dalam Angka Tahun 2014. Taliwang: BPS
Kabupaten Sumbawa Barat
Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Faisal, Sanapiah. 2005. Format-format Penelitian Sosial. Jakarta: Rajawali Press,.
Haris, Syamsuddin. 1998. Menggugat Pemilihan Umum Orde Baru. DKI Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Hendrik, Doni. 2010. Variabel-variabel yang Mempengaruhi Rendahnnya Partisipasi Politik
Masyarakat dalam Pilkada Walikota dan Wakil Walikota Padang Tahun 2008. Dalam
Jurnal Demokrasi Volume IX Nomor 2 Tahun 2010.
Kencana, Ibnu. 1997. Ilmu Politik. Jakarta: Rineka Cipta.
Lasut, Vivaldi E. C. 2014. Partisipasi Politik Pemilih Pemula di Kecamatan Tomohon Utara dalam
Rangka Pemilihan Umum Legislatif 2014.
Maran, Rafael Raga. 2001. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta : Rineka Cipta.
Marbun, B.N. 1996. Kamus Politik. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Mikkelsen, Britha. (1999). Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-upaya Pemberdayaan:
Sebuah Buku Pegangan bagi Para Praktisi Lapangan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Miles, B, Mathew dan A, Michall Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press.
Moleong, Lexy. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Muhadjir, Noeng. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Sarwono, Jonathan. 2011.Mixed Methods. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Simangunsong, Bonar. 2004. Negara Demokrasi dan Berpolitik Yang Profesional. Jakarta:
Gramedia.
Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Widya Sarana.
Tarigan, Martini. 2009. Partisipasi Politik Masyarakat Kabupaten Temanggung dalam
Pelaksanaan Pilkada Tahun 2008. Tesis Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro
Semarang.
262
Peraturan Perundang-Undangan:
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota
Menjadi Undang-Undang.
263
BAB VIII
Perilaku Memilih Masyarakat Petani Kecamatan Belo Kabupaten Bima:
Studi Kasus Terhadap Pemilu 2014
Siti Nursusila * Muhammad Waru * Yudin C.N.A.
Muhammad Taufik * Zuriati
A. Pengantar
Kedudukan pemilih dalam Pemilu menempati peran krusial. Partisipasi pemilih,
minimal dalam memberikan hak suaranya pada setiap pelaksanaan Pemilu merupakan
elemen yang sangat penting yang harus terus didorong agar dapat terus meningkat sampai
pada tingkat yang ideal. Hal ini disebabkan karena tingkat partisipasi pemilih dalam
memberikan hak suaranya dalam setiap Pemilu akan menentukan tingkat legitimasi politik
dan dukungan rakyat terhadap pemerintahan yang hendak dibangun melalui Pemilu
tersebut yang secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh pula terhadap kinerja
Pemerintahan tersebut dalam merealisasikan program-programnya dalam rangka
mewujudkan mensejahterakan rakyat. Tingkat partisipasi pemilih dalam memberikan hak
suaranya pada setiap pelaksanaan Pemilu juga merupakan cerminan dari tingkat kesadaran
politik masyarakat yang harus terus dibangun dan ditingkatkan.
Hakekatnya pada negara-negara yang menganut faham demokrasi termasuk Negara
Indonesia, partisipasi warga masyarakat dalam setiap proses demokrasi, terutama dalam
pelaksanaan Pemilu merupakan suatu keharusan, karena demokrasi itu sendiri dibangun
melalui partisipasi. Dapat dikatakan bahwa tidak ada Demokrasi tanpa partisipasi, atau
dalam rumusan bahasa yang lain sebagaimana yang ditulis oleh Elvi Juliansyah, Demokrasi
tanpa partisipasi adalah manipulasi terhadap demokrasi, karena dengan partisipasi akan
terbentuk demokrasi. Antara Demokrasi dan partisipasi merupakan dua dasar dengan nilai
264
etintas yang sama, Konsep Demokrasi tumbuh melalui partisipasi dan Demokrasi berasal
dari partisipasi.60
Umumnya hampir semua negara yang menganut faham atau sistim politik
demokrasi, partisipasi pemilih dalam memberikan hak pilihnya dalam Pemilu dipandang
sebagai hak, bukan kewajiban, sehingga setiap warga negara yang memenuhi syarat sebagai
pemilih dapat bebas menggunakan hak-nya tersebut untuk memilih sesuai dengan
kehendaknya ataupun tidak memilih tanpa suatu sanksi apapun. Secara hukum berapapun
tingkat partisipasi pemilih dalam memberikan hak suaranya dalam pemilu bukanlah
masalah, bukan suatu hal yang menentukan keabsyahan Pemilu, bahkan pada Negara yang
dianggap sudah lebih maju tingkat demokrasinya dibandingkan dengan Negara Indonesia,
seperti di Amerika Serikat, tingkat partisipasi Pemilih dalam memberikan hak suaranya
dalam Pemilu kurang dari 50 persen.61
Namun demikian, partisipasi pemilih dalam memberikan hak suaranya dalam pemilu
tetaplah merupakan elemen penting dalam pemilu yang harus terus diupayakan agar dapat
meningkat dan dipertahankan sampai pada tingkat tinggi/ ideal, karena alasan-alasan
sebagaimana yang telah diuraikan di atas.
Mencermati angka tingkat partisipasi pemilih dalam pelaksanaan Pemilu di
Indonesia, khususnya selama masa pasca Orde Baru, terlihat angka yang fluktuatif untuk
Pemilu Legislatif, yaitu 84, 10 persen pada Pemilu tahun 2004, turun menjadi 70,90 persen
pada Pemilu tahun 2009 dan kemudian naik lagi menjadi 75,11 pada pemilu tahun 2014.
Sedangkan untuk Pemilu Presiden dan wakil Presiden menunjukan trend angka yang terus
menurun sejak dilaksanakan untuk pertama kali tahun 2004, sebagaimana terlihat pada
tabel berikut:
60
Elvi Juliasyah. 2007. Pilkada, Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
CV. Mandar Maju, Bandung, hlm. 83.
61
Lili Romli, 2007. Potret Otonomi daerah dan Wakil rakyat di tingkat lokal. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Hlm. 350.
265
Grafik 8.1
Tingkat Partisipasi Pemilih Dalam Pemilu Legislatif
Dan Pemilu Preseiden Secara Nasional
90
80
70
60
50
2004
40
2009
30
2014
20
10
0
PEMILU
LEGISLATIF
PEMILU
PRESIDEN
Tidak jauh berbeda dengan angka tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu secara
nasional tersebut di atas, angka tingkat partisipasi Pemilih dalam Pemilu di kabupaten Bima
dan di kecamatan Belo, kabupaten Bima pada dua Pemilu terakhir, juga menunjukan angka
yang rendah dengan trend yang cenderung menurun, terutama untuk Pemilu Presiden dan
wakil Presiden, sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel. 8.2
Tingkat Partisipasi Pemilih Dalam Pemilu Legislatif
Dan Pemilu Presiden Di Kabupaten Bima
TAHUN
JENIS PEMILU
2009
2014
Jmlah
Yang
Pemilih
Hadir
Pemilu Legislatif
292.121
241.432
82,78
Pemilu Presiden
301.459
233.965
77,75
%
Jmlah
Yang Hadir
%
360.310
274.348
76,14
358.832
237.798
66,27
Pemilih
266
Dalam bentuk grafik, tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu legislatif dan pemilu
presiden di Kabupaten Bima mengalami penurunan secara persentase, meskipun secara
kuantitas tidaklah demikian.
Grafik. 8.3
Tingkat Partisipasi Pemilih Dalam Pemilu Legislatif
Dan Pemilu Presiden Di Kabupaten Bima
90,00%
80,00%
70,00%
60,00%
50,00%
2009
40,00%
2014
30,00%
20,00%
10,00%
0,00%
Pemilu Legislatif Pemilu Presiden
Tabel. 8.4
Tingkat Partisipasi Pemilih
Dalam Pemilu Legislatif Dan Pemilu Preseiden Di Kecamatan Belo
TAHUN
JENIS PEMILU
2009
Jmlah
Yang Hadir
%
16.525
14.547
88,08
17.262
13,195
76,50
Pemilih
Pemilu
Legislatif
Pemilu
Presiden
2014
Jmlah
Yang Hadir
%
21,354
17.066
79,92
21,354
12.720
60,44
Pemilih
267
Grafik 8.5
Grafik Tingkat Partisipasi Pemilih
Dalam Pemilu Legislatif Dan Pemilu Preseiden Di Kecamatan Belo
90,00%
80,00%
70,00%
60,00%
50,00%
2009
40,00%
2014
30,00%
20,00%
10,00%
0,00%
Pemilu Legislatif Pemilu Presiden
Angka-angka yang ditunjukan dalam tabel di atas berada jauh di bawah angka tingkat
partisipasi pemilih dalam memberikan hak pilihnya pada lima kali Pemilu Legislatif yang
dilaksanakan selama masa pemerintahan Orde Baru dan masa transisi pemerintahan pada
tahun 1999 yang mencapai angka di atas 90 persen. Angka-angka tersebut tidak termasuk
mereka yang tidak memberikan hak pilihnya karena alasan yang bersifat teknis administratif,
seperti tidak terdaftar dalam DPT atau DPTb atau karena tidak memiliki kartu Pemilih dan
lain sebagainya.
Hal yang cukup menarik dari fakta empirik yang ditunjukan oleh angka tingkat
partisipasi Pemilih di atas, khususnya untuk konteks Kabupaten Bima dan kecamatan Belo,
kabupaten Bima adalah rendahnya tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu Presiden dan
wakil Presiden dibandingkan dengan Pemilu Legislatif pada setiap Pemilu, dan apabila
dibanding angka tingkat partisipasi pemilih pada kedua Pemilu tersebut, terjadi penurunan
angka tingkat partisipasi secara cukup signifikan padahal kedua pemilu tersebut dilaksanakan
dalam waktu yang berselang hanya beberapa bulan saja.
268
Data-data di atas, memperlihatkan tingkat partisipasi Pemilih pada Pemilu Legislatif
yang dilaksanakan pada tanggal 9 April tahun 2014 untuk tingkat kabupaten Bima adalah
76,14 persen dan untuk tingkat kecamatan Belo 79,92 persen. Sedangkan angka tingkat
partisipasi Pemilih pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang dilaksanakan tiga bulan
kemudian, yaitu pada tanggal 9 Juli tahun 2014 untuk tingkat kabupaten Bima adalah 66,27
persen dan untuk tingkat kecamatan Belo 60,44 persen. Artinya terjadi penurunan angka
tingkat partisipasi pemilih pada skedua pemilu tersebut secara cukup signifikan, yaitu
sebesar 9,87 persen untuk tingkat kabupaten Bima dan sebesar 19,48 persen untuk tingkat
kecamatan Belo, kabupaten Bima.
Di bandingkan dengan 17 kecamatan lainnya yang ada di wilayah kabupaten Bima,
angka tingkat partisipisi pemilih dalam Pemilu Presiden dan wakil Presiden di kecamatan
Belo ini adalah yang paling rendah. Demikian juga dengan penurunan angka tingkat
partisipasi pemilih dari Pemilu Legislatif ke Pemilu Presiden dan wakil Presiden adalah yang
paling menonjol, yaitu sebesar 11, 58 persen pada Pemilu tahun 2009 dan 19,48 persen pada
Pemilu tahun 2014. Sedangkan dilihat dari karakteristik masyarakatnya, dapat dikatakan
tidak berbeda dengan masyarakat di kecamatan lainnya di kabupaten Bima, yaitu cukup
homogen dilihat dari tingkat kehidupan sosial ekonomi, tingkat pendidikan maupun jenis
pekerjaannyanya. Sama halnya dengan masyarakat di kecamatan lainnya di kabupaten Bima,
sekitar 80% dari penduduk dan pemilih di kecamatan Belo terdiri dari masyarakat petani.
Namun para petani di wilayah kecamatan ini dikenal sangat rajin dan ulet. Mereka tidak saja
mengolah sawah dan ladang yang ada di wilayah tempat tinggalnya seperti para petani pada
umumnya di kabupaten Bima, tetapi mereka juga berani berspekulasi dan mengambil resiko
dengan menyewa tanah pertanian milik orang lain secara musiman atau secara tahunan
yang berada di wilayah kecamatan lainnya di kabupaten Bima bahkan di luar kabupaten
Bima, yaitu di kabupaten Dompu dan kabupaten Sumbawa, terutama untuk tanaman
bawang merah. Hal inilah menarik untuk diteliti dan dikaji serta dicarikan jawabannya dalam
penelitian ini.
Dari uraian di atas, penelitian ini mengajukan dua permasalahan, sebagai berikut: (1)
Bagaimanakah perilaku pemilih(voting behavior dan non voting behavior ) masyarakat
269
Petani di kecamatan Belo, kabupaten Bima, dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dan
wakil Presiden tahun 2014? (2) Faktor-faktor apakah yang dominan mempengaruhi
rendahnya tingkat partisipasi masyarakat petani di kecamatan Belo, kabupaten Bima, pada
pemilu Presiden dan wakil Presiden tahun 2014?
B. Tinjauan Teoritis
B.1. Mengenal Konsepsi Tentang Pemilih dan Partisipasi Politik
Pemilih adalah semua warga negara dewasa yang telah memenuhi syarat-syarat
tertentu. Dalam prespektif perundang-undangan di Indonesia, syarat-syarat yang dimaksud
diantaranya adalah, telah berusia 17 tahun dihitung pada hari pemilihan, bukan merupakan
anggota TNI/Polri, dan tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan Pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap. Sedangkan partisipasi mempunyai pengertian yang
sangat luas, sehingga para pakar mengartikan partisipasi dengan berbagai definisi.
Penjelasan partisipasi mengacu kepada partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat.
Taliziduhu dengan mengutip Davis mengartikan partisipasi sebagai suatu dorongan
mental dan emosional yang menggerakan mereka untuk bersama-sama mencapai tujuan
dan bersama-sama bertanggung jawab. Secara sederhana partisipasi merupakan peran serta
masyarakat terhadap sebuah atau berbagai kegiatan dalam kehidupannya yang sifatnya
sosial (memasyarakat).62
Partisipasi merupakan salah satu pilar penting demokrasi. Jika demokrasi diartikan
secara sederhana sebagai suatu pemerintahan yang berasal dari dan untuk-rakyat, maka
partisipasi merupakan sarana di mana partisipasi pemilih menjadi salah satu elemen penting
untuk dikaji. Kajian atas perilaku pemilih bukan saja dimanfaatkan untuk mendulang suara,
namun terutama untuk melihat dan memahami konstelasi harapan dan kepentingan rakyat
dalam konteks politik demokratis.63
62
Ndraha, Taliziduhu. 1993. Partisipasi Masyarakat. Yayasan Karya Dharma, IIP Jakarta. Hlm. 37.
63
Partisipasi warga negara dapat dilihat melalui perilaku politiknya. Perilaku politik itu dapat dilihat dari
berbagai jenis yaitu melalui partai politik, kampanye, pemberian suara dan lain-lain. Bentuk perilaku
politik ini menjadi alat analisis untuk melihat partisipasi politik masyarakat itu sendiri.
270
Partisipasi politik yang meluas merupakan ciri khas modernisasi politik. Istilah
partisipasi politik telah digunakan dalam berbagai pengertian yang berkaitan perilaku, sikap
dan persepsi yang merupakan syarat mutlak bagi partisipasi politik. Huntington dan Nelson
(1994) dalam bukunya No Easy Choice Politicall Participation in Developing Countries
memaknai partisipasi politik sebagai: “By political participation we mean activity by private
citizens designed to influence government decision-making. Participation may be individual
or collective, organized or spontaneous, sustained or sporadic, peaceful or violent, legal or
illegal, effective or ineffective.64
Senada dengan hal ini, Miriam Budiardjo memaknai partisipasi politik, yakni:
“Kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan
politik, yaitu dengan jalan memilih pimpinan Negara dan secara langsung atau tidak
langsung, mempengaruhi kebijakan Pemerintah (public policy). Kegiatan ini mencakup
tindakan seperti memberikan suara dalam pemilihan umum menghadiri rapat umum,
menjadi anggota suatu partai atau kelompok kepentingan, mengadakan hubungan
(contacting) dengan pejabat Pemerintah atau anggota parlemen, dan sebagainya. 65
Sebagaimana diketahui bahwa legitimasi dalam perspektif demokrasi adalah tingkat
partisipasi sebagai bentuk keterlibatan menentukan arah pengambilan keputusan. Legitimasi
merupakan kunci penentu yang secara fungsional kontributif sebagai faktor pendukung
kekuasaan sebagai output demokrasi itu sendiri. Jika tidak, maka keberadaan demokrasi itu
sendiri akan sama dengan ketidakberadaannya. Sementara Ramlan Surbakti menyatakan
bahwa Partisipasi politik sebagai:
“kegiatan warga negara biasa dalam memengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan
kebijaksanaan umum dan dalam ikut menentukan pemimpin pemerintahan. Kegiatan yang
dimaksud antara lain mengajukan tuntutan, membayar pajak, melaksanakan keputusan,
64
“partisipasi politik adalah kegiatan warga Negara yang bertindak sebagai pribadi-pribadi, yang
dimaksud untuk mempengaruhi pembuatan keputusan oleh Pemerintah. Partisipasi biasa bersifat
individual atau kolektif, terorganisir atau spontan, mantap atau sporadik, secara damai atau dengan
kekerasan, legal atau illegal, efektif atau tidak efektif”. Huntington, S.P. & Nelson, J. (1977:4). No easy
choice political participation in developing countries. Cambridge: Harvard University Press.
65
Miriam, Budiardjo, 2010. Dasar-dasar Ilmu Politik, (edisi revisi). Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hlm. 183
271
mengajukan kritik dan koreksi atas pelaksanaan suatu kebijakan umum dan mendukung
atau menentang calon pemimpin tertentu, mengajukan alternatif pemimpin dan memilih
wakil rakyat dalam pemilihan umum. Oleh karena itu yang dimaksud dengan partisipasi
politik ialah keikutsertaan warga negara biasa dalam menentukan segala keputusan yang
menyangkut atau mempengaruhi hidupnya.66
Beragam definisi partisipasi politik dari para pakar ilmu politik tersebut di atas, secara
eksplisit mereka memaknai partisipasi politik bersubstansi core political activity yang bersifat
personal dari setiap warga negara secara sukarela untuk berperan serta dalam proses
pemilihan umum untuk memilih para pejabat publik, baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam proses penetapan kebijakan publik.
B.2. Konsepsi Tentang Perilaku Pemilih
Perilaku memilih (voting behavior) dan Partisipasi politik adalah paket dalam pemilu.
Partisipasi politik menyoal hubungan antara kesadaran politik dan kepercayaan kepada
pemerintahan. Sedangkan perilaku memilih adalah keikutsertaan warga negara dalam
pemilu sebagai rangkaian pembuatan keputusan. Oleh karena itu dapat dilihat hubungan
yang erat antara demokrasi, partisipasi politik, pemilihan umum, partai politik dan perilaku
memilih.
Bismar Arianto dengan mengutip Hasanuddin menyatakan bahwa dalam kajian
perilaku pemilih hanya ada dua konsep utama, yaitu; perilaku memilih (voting behavior) dan
perilaku tidak memilih (non voting behavior). David Moon mengatakan ada dua pendekatan
teoritik utama dalam menjelaskan perilaku non-voting yaitu: pertama, menekankan pada
karakteristik sosial dan psikologi pemilih dan karakteristik institusional sistem pemilu; dan
kedua, menekankan pada harapan pemilih tentang keuntungan dan kerugian atas keputusan
mereka untuk hadir atau tidak hadir memilih.67
66
Ramlan Surbakti. 1992. Memahami Ilmu Politik. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta. Hlm.
141
67
Bismar Arianto. Analisis Penyebab Masyarakat Tidak Memilih Dalam Pemilu. Jurnal Ilmu Politik dan
Ilmu Pemerintahan. Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Maritim Raja Ali HajiVol. 1, No. 1, 2011.
272
Keikutsertaan warga Negara dalam pemilihan umum merupakan serangkaian
kegiatan memubuat keputusan, yakni apakah memilih atau tidak memilih dalam pemilihan
umum. Miriam Budiarjo (2008;136) mendefinisikan perilaku pemilih sebagai kegiatan
seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, antara
lain dengan jalan memilih pemimpin negara dan secara langsung atau tidak langsung
mempengaruhi kebijakan pemerintah (public policy). Kegiatan ini mencakup tindakan seperti
memberikan suara dalam pemilihan umum, menghadiri rapat umum, mengadakan
hubungan (contacting) atau (lobbying) dengan pejabat pemerintah atau anggota parlemen,
menjadi anggota partai atau salah satu gerakan sosial dengan direct actionnya, dan
sebagainya.68
Secara teoretis, Dieter Roth (2008) menyatakan perilaku memilih (voting behavior)
dapat diurai dalam tiga pendekatan utama, masing-masing pendekatan sosiologi, psikologi,
dan pilihan rasional. Perilaku memilih atau voting behavior dalam pemilu adalah respons
psikologis dan emosional yang diwujudkan dalam bentuk tindakan politik mendukung suatu
partai politik.
Dalam ranah kajian ilmu sosial politik, ada beberapa kajian perihal pendekatan guna
memahami perilaku memilih (voting behavior) ini, pendekatan tersebut antara lain:
1) Pendekatan sosiologi, pendekatan ini lahir dari buah penelitian Sosiolog, Paul F.
Lazersfeld dan rekan sekerjanya Bernard Berelson dan Hazel Gaudet dari Columbia
University.69 Aliran ini melihat voter dari latar belakang perseorangan atau kelompok
berdasarkan jenis kelamin, kelas sosial, ras, etnik, agama, ideologi bahkan daerah asal
68
Perilaku memilih bisa dikategorikan ke dalam dua besaran, yaitu: Perilaku Memilih Rasional. Perilaku
memilih ini, notabane disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari internal pemilih. Sehingga
pemilih, disini berkedudukan sebagai makhluk yang independen, memiliki hak bebas untuk
menentukan memilih partai atau kandidat mana pun. Dan sebagian besar mereka berasal dari internal
pemilih sendiri, hasil berpikir dan penilaian terhadap objek politik tertentu. Perilaku Memilih Emosional.
Sementara untuk perilaku memilih ini, lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari
lingkungan. Seperti factor sosiologis, struktursosial, ekologi maupun sosiopsikologi.
69
Mazhab sosiologis pada awalnya berasal dari Eropa yang kemudian berkembang di Amerika Serikat,
yang pertama kali dikembangkan oleh Biro Penerapan Ilmu Sosial Universitas Colombia (Colombia`s
University Bureau of Applied Social Science), sehingga lebih di kenal dengan kelompok Colombia.
Karenanya model ini juga disebut Mazhab Columbia (Columbia School).
273
yang bisa menentukan keputusan untuk memberikan suara pada saat pemilihan. 70
Kelompok ini melakukan penelitian mengenai The People’s Choice pada tahun 1948 dan
Voting pada tahun 1952. Di dalam 2 karya tersebut terungkap perilaku memilih
seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti sosial ekonomi, afiliasi etnis,
tradisi keluarga, keanggotaan terhadap organisasi, usia, jenis kelamin, pekerjaan, tempat
tinggal, dan lain-lain.
Umumnya yang menentukan pilihan adalah kelompok sosial yang mempengaruhi
individu untuk memilih. Baik besar maupun kecil. Latar belakang pilihan atas partai, calon
dan isu, ditentukan oleh karakteristik sosial pemilih. Seseorang akan memilih partai atau
figur tertentu, karena ada kesamaan karakteristik sosial antara si pemilih dan karakteristik
sosial figur atau partai.
Pendekatan sosiologis pada dasarnya menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan
pengelompokan-pengelompokan sosial mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam
menentukan perilaku pemilih. Pengelompokan sosial seperti umur (tua, muda), jenis
kelamin, agama dan semacamnya, dianggap mempunyai peranan yang cukup menentukan
dalam membentuk perilaku pemilih. Latar belakang pilihan atas partai atau calon, menurut
model sosiologis dikembangkan dari asumsi bahwa perilaku pemilih ditentukan oleh
karakteristik sosial pemilih.
Sejalan dengan pendekatan sosiologis tersebut, Saiful Mujani, R. William Liddle dan
Kuskridho Ambardi dalam bukunya Kuasa Rakyat (2012), menjelaskan bahwa faktor agama
menjadi hal yang dipercaya sangat berpengaruh dalam konteks pendekatan sosiologis. Hal
ini setidaknya bisa dicermati dengan eksistensi partai politik berlatar agama tertentu yang
tumbuh dan berkembang di negeri ini dengan segala dinamikanya.
2) Pendekatan psikologis, yakni cara memilih sebuah partai/ kandidat oleh faktor psikologis
karena pengaruh luar, bukan dari dirinya. Pendekatan ini memilih dalam pemilu
70
Di Amerika saja, Negara yang demokrasi-nya dianggap relatif maju, berdasarkan sejumlah penelitian,
masih ada perilaku pemilih yang mendasarkan pada warna kulit, ras, atau agama. Kelompok sosial
cenderung mempengaruhi aggotanya untuk memilih calon tertentu. Memang, perilaku politik itu kadang
sangat aneh. Karena pilihan politik itu abstrak.
274
berdasarkan kecenderungan-kecenderungan yang ditentukan oleh faktor psikologis.71
Pendekatan mazhab psikologis ini menekankan kepada 3 aspek variabel psikologis
sebagai telaah utamanya yakni, ikatan emosional pada suatu partai politik, orientasi
terhadap isu yang berkembang dan orientasi terhadap kandidiat. Inti dari mazhab ini
adalah identifikasi seseorang terhadap partai tertentu yang kemudian akan
mempengaruhi sikap orang tersebut terhadap para calon dan isu-isu politik yang
berkembang. Kekuatan dan arah identifikasi kepartaian adalah kunci dalam menjelaskan
sikap dan perilaku pemilih.
Sejalan dengan pendekatan tersebut, Wllliam Liddle dan Saiful Mujani mengklasifikasi pada
tiga faktor.72
a) Pertama, Party Identification (Party ID), yaitu kecenderungan pemilih karena memiliki
kedekatan psikologis dengan partai tertentu. Seseorang merasa dekat kerena pergaulan
sosial. Biasanya pertama dibentuk oleh keluarga. Di sini fungsi keluarga sebagai agent of
socialization sangat mumpuni. Semakin orang tua menjadi idola, maka semakin kuatlah
pengaruh orang tua tersebut terhadap dirinya. Dia yakin dan percaya karena
berkembang dalam keluarganya bahwa partai tertentu itu baik atau layak dipilih. Jadi, dia
tidak perlu lagi mendapatkan atau mencari informasi tentang partai tersebut.
b) Kedua, orientasi isu. Kedekatan seseorang oleh isu tertentu. Seseorang tidak mengerti
betul dengan isu tersebut. Tapi dia menarik. Misalnya, isu neo-liberalisme, mereka
langsung tidak setuju dan menolak. Walau bila ditanya seseorang itu tidak mengerti
benar apa isu itu. Karena tidak diketahui berdasarkan informasi yang dia peroleh.
c) Ketiga, orientasi calon. Orang memilih bukan karena karya atau prestasi seorang calon.
Tapi lebih karena kharisma. Orientasi calon ini lebih melihat siapa dia, atau anak siapa.
71
Mazhab ini pertama kali dipergunakan oleh Pusat Penelitian dan Survey Universitas Michigan
(University of Michigan`s Survey Research Centre) sehingga kelompok ini dikenal dengan sebutan
kelompok Michigan. Hasil penelitian kelompok ini yang dikenal luas adalah The Voter`s Decide (1954)
dan The American Voter (1960).
72
Dalam pendekatan ini, Saiful Mujani, R. William Liddle dan Kuskridho Ambardi (2012) menjelaskan
bahwa seorang warga berpartisipasi dalam Pemilu atau Pilpres bukan saja karena kondisinya lebih
baik secara sosial ekonomi, atau karena berada dalam jaringan sosial, akan tetapi karena ia tertarik
dengan politik, punya perasaan dekat dengan partai tertentu (identitas partai), punya cukup informasi
untuk menentukan pilihan, merasa suaranya berarti, serta percaya bahwa pilihannya dapat ikut
memperbaiki keadaan (political efficacy).
275
Tidak mendalami atau perlu tahu bagaimana prestasi dan ‘track record’-nya selama ini.
Anehnya, malah ada yang memilih bukan karena sosok kandidat, tapi karena orang
tuanya. Seperti orang yang memilih Megawati, karena ayahnya Soekarno, bukan dirinya.
3) Pendekatan rasional (rational choice). Pendekatan ini berkembang atas kritikan
terhadap kedua pendekatan sebelumnya baik itu pendekatan sosiologis maupun
pendekatan psikologis yang menempatkan pemilih pada ruang dan waktu yang kosong
(determinan). Pemilih seakan-akan menjadi pion yang mudah ditebak langkahnya. kritik
terhadap dua pendekatan di atas, kemudian memunculkan asumsi pemilih bukan
wayang yang tidak memiliki kehendak bebas dari kemauan, dalangnya oleh Anthony
Downs dalam Economic Theory of Democracy.73 Artinya, peristiwa-peristiwa politik
tertentu dapat mengubah preferensi pilihan seseorang.
Dalam pendekatan pilihan rasional ini, dipaparkan dua orientasi yang menjadi daya tarik
pemilih, yaitu orientasi isu dan kandidat. Orientasi isu berpusat pada pertanyaan; apa yang
seharusnya dan sebaiknya dilakukan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi
masyarakat? Dan orientasi kandidat mengacu pada sikap seseorang terhadap pribadi
kandidat tanpa mempedulikan label partainya. Di sinilah para pemilih menentukan
pilihannya berdasarkan pertimbangan rasional.74 Pemilih yang rasional memiliki motivasi,
prinsip, pengetahuan dan informasi yang cukup, tindakan mereka bukanlah faktor kebetulan,
bukan untuk diri sendiri melainkan untuk kepentingan umum menurut pikiran dan
pertimbangan logis. Perilaku pemilih yang rasional menekankan bahwa pemberian suara
berdasarkan perhitungan untung rugi atau rasional berfikir pemilih, artinya perilaku pemilih
rasional mengantarkan pada kesimpulan bahwa pemilih benar-benar melakukan penilaian
yang valid.
73
Model pilihan rasional bersumber pada karya Anthony Downs, James Buchannan, Gordon Tullock dan
Manchur Olsen. Menurut model ini, perilaku pemilih ditentukan oleh penilaian terhadap keadaan
ekonomi-sosial-politik ditingkat individu (egosentrik) dan ditingkat lokal-regional-nasional (sosiotropik).
74
Cara memilih berdasarkan informasi tentang apa dan siapa partai atau kandidat tersebut. Jadi, ada
keingintahuan pemilih apakah sang kandidat itu sesuai atau tidak dengan keinginannya. Demokrasi
mengharapkan orang memilih secara rasional. Supaya yang dipilih itu benar-benar layak. Layak di sini
adalah mampu. Dalam arti punya kemampuan memimpin dan mengelola pemerintahan menurut
pandangan pemilih. Demokrasi mengharapkan rakyatlah yang menyeleksi siapa calon yang berhak
dipilih. Dan obsesi demokrasi mengharapkan para pemilih mengetahui informasi tentang partai atau
kandidat.
276
Salah satu penelitian yang menggunakan teori pilihan rasional (rational choice) di Indonesia
adalah studi oleh Saiful Mujani dkk.75 Studi ini salah satunya untuk menjawab pertanyaan:
mengapa PDIP menang pada Pemilu 1999, Partai Golkar menang pada 2004, dan kemudian
Partai Demokrat menang pada tahun 2009. Hampir 3 kali Pemilu paska reformasi
dimenangkan oleh partai yang berbeda.
Pendekatan rasional ini sangat mahal dan sulit. Tapi, itulah yang ideal dalam kacamata
demokrasi. Kalau bisa berjalan dan berlaku, maka kualitas orang yang dipilih akan lebih
bagus. Bisa kita katakan semacam fit and propper test, dan memberikan kesempatan kepada
rakyat sebagai electorate yang menentukan sebuah partai atau kandidat untuk menang,
termasuk “menghukum” partai atau kandidat yang tidak patut untuk dipilih.
Perilaku memilih dapat disimpulkan bahwa memilih atau tidaknya seseorang dari 3
pendekatan di atas dikarenakan beberapa faktor yang saling berkaitan yaitu faktor
sosiologis, faktor psikologis, faktor rasional yang satu sama lain saling melengkapi. Perilaku
pemilih seseorang dapat dipengaruhi oleh sikap seseorang yang terbentuk dari sosialisasi
panjang yang terdiri dari latar belakang keluarga, ruang lingkup pekerjaan, agama atau
kegiatan-kegiatan dalam kelompok formal dan informal. Sikap seseorang tersebut akan
memberikan pemahaman terhadap isu kebijakan dan kandidat.
Senada namun sedikit berbeda dengan pemaparan sebelumnya, Firmanzah (2007:
89) menyatakan bahwa setidaknya ada tiga faktor determinan bagi pemilih dalam
menentukan pilihan politiknya. Ketiga faktor tersebut sangat mempengaruhi pertimbangan
pemilih, yakni:
Pertama, Kondisi awal pemilih, ini dimaksudkan bahwa karakteristik yang melekat
dalam diri pemilih. Setiap individu memiliki sistem nilai, keyakinan dan kepercayaan yang
berbeda-beda dan mewarisi kemampuan yang berbeda-beda pula. Kondisi ini jelas sangat
mempengaruhi individu ketika mengambil keputusan politik.
75
Penelitian Saiful Munjani dkk diperoleh dari data survey oleh Lembaga Suvey Indonesia (LSI) dalam
rentang waktu Pemilu tahun 1999, 2004 dan 2009. Penelitian ini merupakan satu-satunya studi
tentang perilaku memilih dalah skala nasional (banyak penelitian perilaku memilih mengambil sampel
daerah tertentu saja). Selain itu penelitian ini dirasa cukup lengkap, karena menggunakan ketiga
pendekatan (sosiologis, psikologis dan pilihan rasional) dalam memotret perilaku memilih di Indonesia.
277
Kedua, faktor media massa yang mempengaruhi opini publik. Media massa yang
memuat data, informasi dan berita berperan penting dalam mempengaruhi oponi
dimasyarakat. Demikian pula dengan pemaparan para ahli, iklan politik, hasil seminar, survey
dan berbagai hal yang diulas dalam media massa akan menjadi pertimbangan pemilih.
Ketiga, Faktor parpol atau kontestan, pemilih akan menilai latar belakang, reputasi,
citra, ideologi dan kualitas para tokoh-tokoh parpol dengan pandangan mereka masingmasing. Dalam hal ini masyarakat lebih sering melakukan penilaian terhadap figur tokoh
parpol, sekaligus menjadi barometer mereka dalam menilai parpol yang bersangkutan.
B.3. Ketidakhadiran Pemilih
Partisipasi politik dalam negara demokrasi merupakan indikator implementasi
penyelenggaraan kekuasaaan negara tertinggi yang absah oleh rakyat (kedaulatan rakyat),
yang dimanifestasikan keterlibatan mereka dalam pesta demokrasi (Pemilu). Makin tinggi
tingkat partisipasi politik mengindikasikan bahwa rakyat mengikuti dan memahami serta
melibatkan diri dalam kegiatan kenegaraan. Sebaliknya tingkat partisipasi politik yang
rendah pada umumnya mengindikasikan bahwa rakyat kurang menaruh apresiasi atau minat
terhadap masalah atau kegiatan kenegaraan. Rendahnya tingkat partisipasi politik rakyat
direfleksikan dalam sikap golongan putih (golput) dalam pemilu. Dalam perspektif
berdemokrasi, tentunya sikap golput akan berimplikasi pada pembangunan kualitas
demokrasi.
Isitilah perilaku non voting dalam bahasa Indonesia diartikan tidak memilih atau lebih
dikenal dengan golongan putih (golput).76 Golput belakangan ini menjadi momok tersendiri
bagi sistem demokrasi yang tengah berkembang di negara kita. Pada pemilu 2009, jumlah
suara Golput mencapai 49.677.776 (29 %), padahal saat itu Majelis Ulama Indonesia (MUI)
telah menyatakan haram untuk golput, melalui Ijtimaa Ulama setelah merespon usulan
Ketua MPR kala itu--Hidayat Nurwahid.
76
Golput di sini dimaknai sebagai sikap sadar untuk tidak mempergunakan hak pilihnya secara
substantif, aktif, dan merupakan hak setiap warganegara Indonesia. Adapun pemilih yang datang ke
TPS namun salah dalam melakukan tata laksana peraturan tidak dimasukkan dalam kriteria golput.
278
Dalam pelbagai literatur perilaku memilih, perilaku non voting umumnya digunakan
untuk merujuk pada fenomena ketidakhadiran seseorang dalam Pemilu. 77 Gejala perilaku
non voting telah terjadi sejak masa orde baru di mana sistem politik hegemoni saat itu
dijalankan oleh rezim Soeharto. Penelitian Muhammad Asfar terhadap perilaku non voting
dilakukan pada masa orde baru yaitu tahun 1996 – 1997 yang membawa pada kesimpulan
hasil penelitian sebagai berikut:78
1. Pertama, berdasarkan pendekatan sosiologis, bahwa para non-voter memiliki
karakteristik sosial secara pendidikan memadai (tinggi), pekerjaan yang bervariasi
(pengusaha, PNS, aktivis LSM, dan petani), para non-voter berkecenerungan memiliki
latar belakang aktif di organisasi sosial dan kemahasiswaan, dari sisi pendapatan para
non-voter mengaku penghasilannya cukup atau lebih dari cukup.
2. Kedua, berdasarkan pendekatan sosio-psikologis, bahwa pada non-voter yang diteliti
memiliki tipe kepribadian yang toleran dan tidak otoriter. Para non-voter juga mengaku
sangat terbuka terhadap berbagai saran dan kritik dari orang lain dan tidak pernah
berpikir bahwa orang lain harus berpikiran, bersikap dan berperilaku seperti mereka.
Para non-voter secara orientasi kepribadian mempunyai orientasi kepribadian anomi
yang dimanifestasikan melalui penilaian mereka yang menganggap aktivitas politik
(voting) sebagai sesuatu yang sia-sia yang disebabkan ketidakmampuan lembagalembaga demokrasi dalam menyalurkan aspirasi masyarakat. Disamping itu, para nonvoter umumnya memiliki pengalaman sosialisasi politik yang kurang menyenangkan,
seperti pernah dikecewakan partai politik atau kecewa terhadap penampilan institusiinstitusi demokrasi.
3. Ketiga, berdasarkan pendekatan pilihan rasioal, bahwa pada non-voter yang diteliti
mempunyai persepsi dan evaluasi kurang baik terhadap sistem politik dibuktikan dengan
dwi fungsi ABRI, perlemahan institusi demokrasi seperti DPR dan PDRD, serta evaluasi
kurang baik terhadap sistem Pemilu yang dibuktikan dengan penggabungan partai
77
Muhammad Asfar. 1998. Perilaku Non Voting Di Bawah Sistem Politik Hegemonik, Tesis Program
Studi Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogjakarta. Hal 173.
78
Muhammad Asfar. Ibid , hal. 206 – 216.
279
politik, pelaksanaan pemilu yang tidak jujur dan adil, serta keterlibatan ABRI dan
Birokrasi untuk pemenangan Golkar.
4. Keempat, berdasarkan faktor kepercayaan publik, bahwa para non-voter yang diteliti
memiliki kepercayaan politik yang sangat rendah. Kepercayaan politk ini ditujukan
kepada: tidak berfungsinya lembaga perwakilan (DPR dan DPRD), tidak berfungsinya
lembaga peradilan (Pengadilan Negeri), praktek korupsi kolusi dan nepotisme serta
kebijakan-kebijakan pemerintahan orde baru yang tidak kondusif bagi proses demokrasi.
5. Kelima, perilaku non-voting umumnya dimanifestasikan dalam bentuk ketidakhadiran di
tempat pemungutan suara. Separuh non-voter memanifestasikan perilaku tidak memilih
dalam bentuk semacam ini. Sementara itu, separuh lainya dimanifestasikan dalam
bentuk mencoblos semua tanda gambar, mencoblos bagian putih dari kartu suara dan
tidak mencoblos sama sekali.
Senada dengan penelitian Asfar, Eep Saefulloh Fatah, mengklasifikasikan
ketidakhadiran pemilih (golput) atas empat golongan:
a) Pertama, golput teknis, yakni mereka yang karena sebab-sebab teknis tertentu (seperti
keluarga meninggal, ketiduran, dan lain-lain) berhalangan hadir ke tempat pemungutan
suara, atau mereka yang keliru mencoblos sehingga suaranya dinyatakan tidak sah.
b) Kedua, golput teknis-politis, seperti mereka yang tidak terdaftar sebagai pemilih karena
kesalahan dirinya atau pihak lain (lembaga statistik, penyelenggara pemilu).
c) Ketiga, golput politis, yakni mereka yang merasa tak punya pilihan dari kandidat yang
tersedia atau tak percaya bahwa pileg/pilkada akan membawa perubahan dan
perbaikan.
d) Keempat, golput ideologis, yakni mereka yang tak percaya pada mekanisme demokrasi
(liberal) dan tak mau terlibat di dalamnya entah karena alasan fundamentalisme agama
atau alasan politik-ideologi lain.79
79 Jadi berdasarkan hal di atas, golput adalah mereka yang dengan sengaja dan dengan suatu maksud dan tujuan yang jelas menolak memberikan suara dalam pemilu.
Dengan demikian, orang-orang yang berhalangan hadir di Tempat Pemilihan Suara (TPS) hanya karena alasan teknis, seperti jauhnya TPS atau terluput dari pendaftaran,
otomatis dikeluarkan dari kategori golput. Begitu pula persyaratan yang diperlukan untuk menjadi golput bukan lagi sekedar memiliki rasa enggan atau malas ke TPS tanpa
maksud yang jelas. Pengecualian kedua golongan ini dari istilah golput tidak hanya memurnikan wawasan mengenai kelompok itu, melainkan juga sekaligus memperkecil
kemungkinan terjadinya pengaburan makna, baik disengaja maupun tidak
.
280
Secara faktual fenomena Golput tidak hanya terjadi di negara demokrasi yang sedang
berkembang, di negara yang sudah maju dalam berdemokrasi pun juga menghadapi
fenomena Golput, seperti di Amerika Serikat yang capaian angka partisipasi politik
pemilihnya berkisar antara 50% s/d 60%, begitu pula di Perancis dan Belanda yang angka
capaian partisipasi politik pemilihnya berkisar 86%. 80
Lebih lanjut, secara empirik, Soebagio menengarai peningkatan angka Golput
tersebut terjadi antara lain oleh realitas sebagai berikut:
1) Pemilu dan Pilkada langsung belum mampu menghasilkan perubahan berarti bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat;
2) Menurunnya kinerja partai politik yang tidak memiliki platform politik yang realistis dan
kader politik yang berkualitas serta komitmen politik yang berpihak kepada kepentingan
publik, melainkan lebih mengutamakan kepentingan kelompok atau golongannya;
3) Merosotnya integritas moral aktor-aktor politik (elit politik) yang berperilaku koruptif
dan lebih mengejar kekuasaan/kedudukan daripada memperjuangkan aspirasi publik;
4) Tidak terealisasikannya janji-janji yang dikampanyekan oleh elit politik kepada publik
yang mendukungnnya;
5) Kejenuhan pemilih karena sering adanya Pemilu/Pilkada yang dipandang sebagai
kegiatan seremonial berdemokrasi yang lebih menguntungkan bagi para elit politik;
6) Kurang netralnya penyelenggara Pemilu/Pilkada yang masih berpotensi melakukan
keberpihakan kepada kontestan tertentu, di samping juga kurangnya intensitas sosialisasi
Pemilu secara terprogram dan meluas.81
C. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif kualitatif. Populasi penelitian ini
adalah seluruh masyarakat petani di kecamatan Belo, kabupaten Bima propinsi Nusa
Tenggara barat yang terdaftar sebagai pemilih dalam Daftara Pemilih Tetap (DPT) dan Daftar
Pemilil tetap tambahan (DPTb) Pemilihan Umum Presiden dan wakil Presiden tahun 2014.
80
Soebagio. Implikasi Golongan Putih Dalam Perspektif Pembangunan Demokrasi Di Indonesia Makara,
Sosial Humaniora, vol. 12, no. 2, Desember 2008: 82-86.
81
Soebagio, Ibid.
281
Khususnya pada 5 Desa yang diteliti, yaitu desa Diha, desa, Renda, desa, Ngali, desa Cenggu
dan desa Lido, yang diasumsikan sebesar 80 persen dari jumlah pemilih terdaftar dalam DPT
dan DPTb atau sebesar 11.709 orang. Alasan penetapan populasi ini adalah karena DPT dan
DPTb untuk Pemilu Presiden dan wakil Presiden merupakan hasil validasi dari DPT dan DPTb
Pemilu legislatif yang dilaksanakan tiga bulan sebelumnya, sehingga dianggap bahwa semua
pemilih yang terdaftar dalam DPT dan DPTb untuk Pemilu Presiden dan wakil Presiden
terdaftar pula dalam DPT dan DPTb untuk Pemilu legislatif tahun 2014.
Sedangkan sampel dalam penelitian ini ditetapkan sebesar 5 persen dari jumlah
populasi atau sebanyak 580 orang. Oleh karena jumlah populasi cukup besar dan populasi
tersebut memiki karakteristik yang sama (homogen) maka dalam penentuan sampel, semua
populasi diberikan kesempatan yang sama untuk tampil sebagai sampel. Atas dasar itu maka
penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik probability sampling atau
tepatnya teknik simple random sampling.
Di samping itu untuk mendukung validitas data primer yang dikumpulkan melalui
responden, maka diperlukan juga keterangan atau penjelasan-penjelasan dari pihak-pihak
yang dianggap berkompeten. Untuk itu dalam penelitian ini ditetapkan juga sampel dengan
teknik non probability sampling, yaitu snowball sampling dengan menetapkan ketua KPU
Kabupaten Bima sebagai informan utama (Key informan), serta dilakukan diskusi mendalam
dan berfokus dengan berbagai pihak dalam acara focus group discussion (FGD).
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Data primer dikumpulkan dengan dua cara, yaitu : pertama, dengan cara menyebarkan
Angket atau questionnaire yang berisi sejumlah daftar pertanyaan yang telah disiapkan
untuk dijawab oleh 550 orang responden yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam hal
ini disadari bahwa untuk dapat mengumpulkan data dari jumlah responden yang cukup
besar tersebut dalam waktu yang terbatas tentu tidaklah mudah. Oleh karena itu, dalam
penelitian ini ditetapkan tingkat error tertinggi dalam pengumpulan data ini tidak
melebihi 10 persen dari jumlah questionnaire yang diedarkan. Kedua, dengan cara
melakukan wawancara mendalam (dept interview) dengan ketua KPU Kabupaten Bima
yang telah ditetapkan sebagai key informan dan pihak-pihak lain berdasarkan petunjuk
282
dari kedua key informan tersebut dan seterunya dengan pola snowball. Sebagai alat
bantu dalam pengumpulan data ini digunakan digital voice recorder dan buku notebook
untuk mencatat.
2.
Data sekunder dikumpulkan dengan cara melakukan studi dan penelusuran
kepustakaan,
terutama
di
kantor
KPU
Kabuaten
Bima,
perpustakaan
STIH
Muhammadiyah Bima, perpustakaan STISIP Mbojo Bima dan melalui media online.
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa
deskriptif kualitatif. Dalam teknik analisa semacam ini, data-data yang telah dikumpulkan,
setelah diurutkan, dikelompokkan dan diorganisasikan ke dalam pola kategori tertentu
sebagaimana dimaksud di atas, kemudian dijelaskan, dihubungkan satu sama lainya,
diinterpretasikan, dan kemudian dinarasikan atau dideskripsikan, sehingga akhirnya dapat
memberikan kesimpulan yang merupakan jawaban atas permasalahan penelitian sesuai
dengan yang diharapkan.
D. Hasil Penelitian
D.1. Gambaran Umum Masyarakat Belo Kabupaten Bima
Berdasarkan data statistik tahun 2012, luas wilayah kecamatan belo adalah 44,76
km2 yang terbagi dalam 8 Desa, yaitu desa Roka, desa Runggu, desa Cenggu, desa Renda,
desa Ngali, desa Lido, desa Soki dan desa Ncera. 82 Jumlah Penduduk kecamatan Belo
seluruhnya adalah 25.044 Jiwa, degan tingkat kepadatan penduduk 559 Jiwa/km2.
Secara umum kehidupan masyarakat di kecamatan Belo masih dicirikan oleh
kehidupan masyarakat pedesaan pada umumnya, yaitu:
a) Pergaulan hidup yang akrab dan saling kenal-mengenal atas dasar kekeluargaan;
b) Sebahagian besar masyarakat hidup di sektor pertanian. Pekerjan lain yang bukan
pertanian biasanya dianggap sebagai pekerjaan sambilan saja;
82
Tahun 2012 bertambah 1 desa, yaitu desa DIHA yang merupakan pemekaran dari desa Ncera).
283
c) Masyarakat yang cukup homogen dilihat dari agama, mata pencarian, ada istiadat dan
sebagainya.
Tipilogi masyarakat.
Telah dikemukakan bahwa corak hubungan sosial masyarakat di Kecamatan Belo
masih dicirikan oleh kehidupan sosial masyarakat pedesaan. Pola inter-aksi horizontal di
antara warga masyarakat pada masing-masing desa didasari dengan semangat kekeluargaan.
Semua pasangan berinteraksi dianggap sebagai anggota keluarga. Hal yang sangat berperan
dalam interaksi dan hubungan sosialnya adalah motif-motif sosial, seperti kesamaan adat
kebiasaan, kesamaan tujuan dan kesamaan pengalaman.
Hubungan Sosial di desa-desa di kecamatan Belo, dilandasi dengan ikatan batin yang
kuat diantara sesama warga desa, yaitu perasaan di mana setiap warga/anggota masyarakat
merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimana ia hidup dan
dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi
masyarakat atau anggota-anggota masyarakat. Karena beranggapan sama-sama sebagai
anggota masyarakat yang saling mencintai, menghormati, mempunyai hak dan tanggung
jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagian bersama di dalam masyarakat.
Hubungan sosial yang sangat kuat yang didasari dengan ikatan kekeluargaan ini
diantaranya tercermin dalam sikap atau perilaku kerja sama, saling bantu membantu atau
gotong royong dalam berbagai bentuk kegiatan seperti mendirikan rumah, upacara pesta
perkawinan, memperbaiki jalan desa, membuat saluran air, membersihkan kuburan desa
dan lain sebagainya, yang langsung atau tidak langsung akan berimplikasi pula pada perilaku
politiknya.
Namun demikian, dalam masyarakat Belo terdapat perbedaan orientasi yang sangat
kontras antara masing-masing desa dalam hal menjalani kehidupan bermasyarakat dan
memenuhi kelas-kelas sosial, terutama dalam sektor pertanian. Secara singkat tipilogi
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Masyarakat Desa Roka biasanya menjadi buruh tani, mereka pada umumnya yang
bekerja pada sektor pertanian bekerja pada Petani yang memiliki lahan banyak dengan
284
gaji per musim tanam, setelah mendapati modal dan memiliki keterampilan bertani yang
mumpuni mereka akhirnya mandiri.
b) Masyarakat desa Runggu cenderung menjadi buruh tani lepas, pada musim panen padi
ramai-ramai menjadi buruh tani padi, pada musim panen bawang juga menjadi buruh
bawang, dan lebih suka menjadi pekerja-pekerja formal dan bekerja tetap seperti pada
instansi pemerintahan atau pertokoan.
c) Masyarakat desa Cenggu biasanya menjadi petani mandiri dengan memanfaatkan lahan
yang dimiliki, tidak banyak yang menjadi buruh tani. Sehingga perkembangannya
cenderung stagnan dari tahun ke-tahun.
d) Dalam masyarakat desa Renda terlihat masyarakat yang paling “kapitalis” di antara
desa-desa lainnya. Dalam hal bertani tidak saja di desa sendiri akan tetapi sudah banyak
menyebar ke desa-desa lain bahkan hingga kabupaten lain seperti Kabupaten Dompu
dan Sumbawa. Di samping itu, masyarakatnya lebih banyak menjadi pedagang besar
yang menguasai perdagangan hasil pertanian seperti Bawang Merah. Investasi
masyarakat Desa Renda cenderung mengarah pada kekuatan ekonomi, sehingga
cenderung banyak pedagang besar di Desa Renda.
e) Berbeda dengan Desa Ngali, meski dalam pola pertanian memiliki motivasi yang sama
dengan Desa Renda, seperti bertani menyebar memenuhi pelosok kabupaten yang
tanahnya tidak dimamfaatkan secara efisien oleh masyarakat setempat, masyarakat desa
Ngali cenderung menginfestasikan pada bidang pendidikan, sehingga di Desa Ngali
banyak sekali masyarakatnya yang berpendidikan tinggi.
f) Desa Lido merupakan desa yang memiliki karakter mirip dengan desa Ngali, dan Renda
dalam bekerja, yakni memiliki etos kerja dalam bertani, bertanipun menyebar dalam
berbagai wilayah di beberapa kabupaten lain. namun tidak terlalu identik seperti desa
Ngali yang berinvestasi pada pendidikan atau Desa Renda pada bidang ekonomi,
masyarakat Desa Lido memiliki rasa kepemilikan bersama yang tinggi, sehingga tidak ada
yang terlalu kaya dan tidak terlalu banyak yang berpendidikan tinggi.
g) Masyarakat Desa Soki merupakan pemekaran dari Desa Lido namun tidak memiliki
kesamaan kultur dengan Desa induknya. Masyarakat Desa Sokipun dalam urusan
285
pertanian tidak jauh beda dengan Desa Renda, Ngali, Lido. Mereka lebih berkarakter
sama dengan Desa Ncera, yang cenderung mengalah dalam bersikap dan bergaul
tertutup hanya dalam lingkup komunitas masyarakatnya. Seperti dalam memilih
pasangan untuk berkeluarga.
h) Masyarakat Desa Ncera memiliki tingkat primordial berdasakan karakter dialek bahasa.
Karena dialek bahasa Ncera hampir di tuturkan oleh tiga desa lainnya yakni Desa Soki,
Ncera, dan Doro o’o. Sehingga mereka memiliki karakater yang sama berdasarkan dialek
bahasa.83
Agama dan Budaya
Berdasarkan catatan BPS Statistik Bima, seluruh warga masyarakat di kecamatan Belo
menganut agama Islam. Agama ini masuk di Bima pada sekitar pertengahan abad XVI dibawa
oleh para pedagang dan mubalig dari kerajaan Demak di pulau Jawa dan kerajaan Ternate di
Maluku. Oleh karena itu kebudayaan masyarakat di kecamatan Belo, seperti juga
kebudayaan masyarakat Bima (mbojo) pada umumnya, diwarnai oleh nilai-nilai doktrinal
Islam. Islamisasi dalam masyarakat Bima menyangkut seluruh aspek kehidupan termasuk
aspek budaya, poltik, ekonomi, hukum dan dimensi kehidupan yang lainnya.
Pada zaman sebelum masuknya Islam, agama yang dianut oleh masyarakat Bima
adalah agama Hindu/Syiwa. Pada zaman ini, yang disebut dengan zaman ‘ncuhi’, masyarakat
Bima sudah terbiasa mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan bersama secara
musyawarah dan mufakat. Pemerintahan pada zaman ‘Ncuhi’ ini dilaksanakan dengan
berpegang pada pola masyarakat paguyuban, di mana pengambilan keputusan dilakukan
dengan mengutamakan musyawarah yang didasari dengan semangat kekeluargaan yang
tinggi. Hal ini kemudian diperkuat dengan nilai-nilai persaudaraan yang dibawa oleh Islam,
yang kemudian tumbuh melembaga dalam budaya masyarakat Bima dan menjadi pola dasar
83
Wahyudinsyah. 2012. Preferensi dan Model Penyelesaian Kasus Hukum (Studi di Masyarakat
Kecmatan Belo Kabupaten Bima). Tesis Program PascaSarjana Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
286
sistim pemerintahan kerajaan Bima pada waktu itu. Syarifuddin Jurdi menyimpulkan bahwa
kebudayaan Bima dihasilkan dari perpaduan nilai lokal, rasional, (pengatahuan) dan wahyu.84
Nilai-nilai Islam sangat kental mempengaruhi budaya masyarakat Bima umumnya, tidak
terkecuali masyarakat Belo, seperti misalnya dalam cara berpakaian yang disebut dengan
“Rimpu” yakni cara berpakaian yang menutup aurat bagi perempuan dengan menggunakan
dua lembar sarung, yang dalam Islam disebut dengan jilbab. Demikian juga dalam hal
pernikahan, waris, muamalah, musyawarah bahkan sampai pada penyelesaian masalah
masalah-masalah hukum.
Asas kebersamaan, persaudaraan, musyarwarah dan mufakat sangat melekat dalam
kehidupan masyarakat Bima, yang tercermin dalam sesanti “Kese tahopu dua” (bersama
lebih baik daripada sendiri) dan ‘tohompa ra nami sura dou ma labo dana (Kepentingan
rakyat dan tanah air harus lebih diutamakan daripada kepentingan seorang atau segelintir
orang).
Mata pencaharian dan etos kerja.
Mata pencaharian masyarakat kecamatan Belo pada umumnya adalah sebagai
petani. Hampir 90 persen penduduk kecamatan Belo yang sudah memasuki usia kerja
bekerja pada bidang pertanian, sedangkan selebihnya bekerja sebaga pedagang, pengrajin
industri, jasa angkutan, pertukangan dan pegawai pemerintahan (PNS, TNI/Polri dan
pensiunan). Secara sederhana klasifikasi masyarakat di kecamatan Belo menurut jenis
pekerjaannya dapat ditunjukan dalam tabel sebagai berikut :
Masyarakat petani di kecamatan Belo dan di kabupaten Bima pada umumnya, tidak
mengenal pembagian kelas petani antara tuan tanah dengan buruh tani seperti di pulau
Jawa dan daerah-daerah lain, meskipun dalam faktanya ada juga petani-petani yang memiliki
tanah yang cukup luas dan sebagian yang lainnya memiliki tanah yang sempit dan bahkan
tidak memiliki tanah sendiri. Para petani yang tidak memiliki tanah dan yang memiliki tanah
yang sempit ini biasanya menggarap tanah para petani yang memiliki tanah cukup luas,
84
Syarifuddin Jurdi. 2010. Historiografi Muhammadiyah. hal 177
287
namun mereka tidak berkedudukan sebagai buruh yang menerima upah harian, demikian
juga dengan pemilik tanah yang digarap tidak berkedudukan sebagai majikan. Hubungan
kerja antara petani pemilik tanah dengan petani penggarap tanah adalah sejajar dan bersifat
kemitraan yang dilaksanakan dengan sistim bagi hasil atau sistim pengupahan secara
musiman. Hasil pertanian yang utama di kecamatan Belo adalah bawang merah, padi dan
kedelai.
Masyarakat petani di kecamatan Belo dikenal sangat rajin, ulet dan dinamis. Mereka
tidak saja menggarap tanah pertanian yang ada dalam batas wilayah desanya sendiri atau
dalam batas wilayah kecamatan Belo saja, tetapi sudah terbiasa menyebar di wilayah
kecamatan lainnya di kabupaten Bima bahkan di luar wilayah kabupaten Bima, seperti di
kabupaten Dompu dan kabupaten Sumbawa. Sebahagian dari mereka memiliki mental
enterpreneur, yaitu berani mengambil resiko menyewa tanah-tanah pertanian yang tidak
digarap dengan baik oleh para pemiliknya di wilayah kecamatan atau kebupaten lainnya
secara musiman atau secara tahunan, terutama untuk menanam bawang merah.
Oleh karena itu pada musim tanam bawang merah, yaitu pada bualan April– Mei
sampai pada musim panen pada sekitar bulan Juli–Agustus setiap tahunnya, banyak
masyarakat petani di kecamatan Belo yang berada diluar wilayah kecamatan Belo. Hal ini
selaras pula dengan jawaban para responden dalam penelitian ini di mana untuk
melaksanakan pekerjaannya sebagai petani 22,24% reseponden mengaku sering
meninggalkan desanya, 14,45% mengaku cukup sering meninggalkan desa dan hanya 39,16%
yang menyatakan tidak pernah meninggalkan desanya.85
D.2. Kesadaran Politik Masyarakat Petani
Untuk dapat memahami perilaku pemilih masyarakat petani di kecamatan Belo,
kabupaten Bima pada Pemilu legislatif dan pemilu Presiden dan wakil Presiden tahun 2014,
maka penting untuk dipahami terlebih dahulu kesadaran politik dari masyarakat petani di
85
Hasil Focus group discution (FGD) yang dilaksanakan di kator KPU Kabupaten Bima pada tanggal 14
Juli 2015 mengungkapkan bahwa tidak kurang dari separoh masyarakat di kebamatan Belo, terutama
masyarakat dari desa Renda, desa Ngali, desa Lido dan desa Soki berada di luar wilayah kecamatan
Belo pada setiap musim tanam sampai dengan musim panen bawang merah.
288
kecamatan Belo itu sendiri. Yang dimaksud dengan kesadaran politik di sini adalah sikap
batin dari setiap individu warga negara yang ditampakkan pada kesadaran atas hak dan
kewajibannya sebagai warga negara yang merupakan bagian dari agregasi warga
masyarakat/ bangsa dalam suatu Negara. Kesadaran politik ini tercermin pada kesadaran
atas pentingnya urusan-urusan yang menyangkut kepentingan bersama dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara, yang diantaranya dapat dilihat pada tingkat partisipasi warga
negara dalam kegiatan Pemilihan umum, minimal dalam memberikan hak suaranya.
Kesadaran politik akan terbentuk melalui proses sosialisasi politik atau dengan kata
lain, kesadaran politik merupakan output dari sosialisasi politik yang dilakukan oleh agenagen atau lembaga-lembaga sosialisasi politik. Dengan demikian kesadaran warga negara
akan pentingnya berpartisipasi dalam pelaksanaan Pemilu akan ditentukan oleh sosialisasi
pemilu yang dilakukan oleh Penyelenggara Pemilu (KPU dan Bawaslu beserta jajarannya
sampai ke tingkat desa), partai politik peserta pemilu, termasuk para kandidat calon anggota
legislatif dan lembaga pemerintah maupun non pemerintah lainnya yang bertugas atau
berkepentingan dengan Pemilihan umum.
Untuk mendapatkan gambaran mengenai kesadaran politik masyarakat petani di
kecamatan Belo, kabupaten Bima, dalam penelitian ini ada sejumlah pertanyaan yang
diajukan, yang harus dijawab oleh semua responden. Dari 526 questioner yang diterima
kembali oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa tingkat kesadaran politik masyarakat petani
di kecamatan Belo tidak terlalu menggembirakan. Selengkapnya jawaban responden adalah
sebagai berikut:
Tabel 8.6
Kesadaran politik masyarakat petani
Di kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Propinsi NTB
No
Pertanyaan
Jawaban
Jlh
%
Mengetahui
330
62,74
pemilu legislatif yg dilaksanakan tgl 9
Cukup Mengetahui
196
37,26
April 2014 dan Pemilu Presiden yang
Tidak mengetahui
0
0
01 Apakah anda mengetahui adanya
dilaksanakan pd tgl 9 Juli 2014
289
No
Pertanyaan
Jawaban
Jlh
%
265
50,38
50
9,50
167
31,75
22
4,18
22
4,18
253
48,10
Cukup sering
225
42,88
Jarang
48
9,12
Tidak pernah
0
0
02 Darimana anda mendapatkan informasi Dari penyelenggara
tentang adanya pelaksanaan Pemilu
Pemilu (KPU/PPK/PPS,
Legislatif dan Pemilu Presiden dan
termasuk Paswas,
wakil Presiden tersebut
panwascan, panwaslap)
Dari Parpol peserta
Pemilu, Dari calon
anggota
DPR/DPD/DPRD
Dari Pemerintah desa,
termasuk RT/RW
Dari media informasi
umum (TV, Radio,
koran)
Dari sumber lain
03 Seberapa seringkah anda pendapatkan Sering sekali
informasi tentang Pemilu tersebut
04 Apakah anda memahami arti penting
Sangat memahami
160
30,42
Pemilu bagi masa depan Bangsa dan
Cukup memahami
252
47,91
Negara Indonesia.
Kurang memahami
79
15,02
Tidak memahami
35
6,65
Sangat memahami
218
41,44
sebagai warga negara Indonesia, anda Cukup memahami
197
37,45
mempunyai hak untuk memberikan
Kurang memahami
84
15,97
suara pada pemilu
Tidak memahami
27
5,13
05 Apakah anda memahami bahwa
290
No
Pertanyaan
Jawaban
06 Apakah yang akan anda lakukan apabila Akan mengurus supaya
mengetahui bahwa nama anda tidak
terdaftar
tercatat dalam Daftar Pemilih
Akan mengurus kalau
Jlh
%
287
54,56
147
27,95
67
12,74
25
4,75
sementara (DPS) atau Daftara Pemilih ada petugas yang
tetap (DPT)
datang mencatat, atau
perintah dari
memerintah desa
Akan mengurus kalau
ada parpol atau calon
anggota
DPR/DPD/DPRD yang
memberi biaya
transpor
Tidak memperdulikan
Berdasarkan pada jawaban responden di atas, ternyata bahwa hampir semua
responden mengaku mengetahui adanya pemilu Legislatif yang dilaksanakan pada tanggal 9
April 2014 dan Pemilu Presiden dan wakil Presiden yang dilaksanakan pada tanggal 9 Juli
2014. Sumber informasi yang diperoleh para responden tentang adanya pemilu tersebut
yang paling utama adalah dari penyelenggara Pemilu, yaitu KPU Kabupaten Bima, PPK/ PPS,
termasuk Panwas kabupaten Bima/Panwascam dan panwaslap (50,38%) dan Pemerintah
desa, termasuk RT/RW-nya (31,75%). Selebihnya bersumber dari partai politik peserta
pemilu, termasuk para calon anggota DPR/DPD/DPRD (9,50%) serta dari media informasi
umum (TV, radio dan koran) dan sumber lain masing-masing (4,18%).
Temuan penelitian di atas menunjukan bahwa sosialisasi Pemilu Legislatif dan Pemilu
Presiden dan wakil Presiden tahun 2014 di kecamatan Belo, khususnya mengenai hari dan
tanggal pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara sudah cukup baik. Ketua KPU
Kabupaten Bima menjelaskan bahwa strategi sosialisai yang dilakukan oleh KPU Kabupaten
291
Bima adalah bekerja sama dengan pemerintah daerah. Pada setiap kesempatan pertemuan
dengan pemerintah daerah, baik formal maupun informal, KPU Kabupaten Bima selalu
meminta kepada Pemerintah daerah, terutama pemerintah tingkat kecamatan dan desa
agar
dapat
membantu
penyenggara
pemilu
pada
wilayahnya
masing-masing
mensosialisasikan hari dan tanggal pemunggutan suara melalui berbagai media dan
kesempatan yang tersedia, seperti mesjid dan mushola, acara pernikahan, sunatan dan
semacamnya. Kerja sama yang baik ini terlaksana dengan baik pula di semua desa yang ada
di wilayah kecamatan Belo, kabupaten Bima.86
Oleh karena itu intensitas informasi tentang pelaksaan Pemilu legislatif maupun
Pemilu Presiden dan wakil Presiden yang diperoleh masyarakat petani di kecamatan Belo
cukup tinggi, yaitu mencapai 90, 98 % responden yang mengaku sering sekali dan cukup
sering mendapatkan informsi tentang pelaksanaan kedua Pemilu tersebut dan hanya 9,12%
yang kurang mendapatkan informasi.
Masyarakat petani di kecamatan Belo umumnya cukup memahami arti penting Pemilu
bagi masa depan bangsa dan Negara Indonesia. Hal ini tercermin dalam jawaban responden
tersebut di atas, di mana 78,33% responden mengaku sangat memahami dan cukup
memahami arti penting Pemilu bagi masa depan bangsa dan Negara Indonesia, 15,02%
menyakatan kurang memahami dan hanya 6,65% yang menyatakan tidak memahami.
Demikian juga mereka cukup memahami hak-nya sebagai warga Negara Indonesia untuk
ikut berpartisipasi menentukan masa depan bangsa dan negara melalui Pemilu. Jawaban
responden di atas menunjukan bahwa 78,99% responden mengaku sangat memahami dan
cukup memahami hak-nya sebagai warga negara untuk ikut memilih dalam pemilu, 15,97%
mengaku kurang memahami dan sisanya hanya 5,13% yang mengaku tidak memahami haknya tersebut. Berdasarkan jawaban responden tersebut maka dapat dikatakan bahwa
tingkat pemahamah masyarakat petani di kecamatan Belo terhadap arti penting pemilu dan
hak-nya sebagai warga negara untuk memberikan suara dalam setiap pemilu sudah cukup
baik atau tinggi.
86
Wawancara dengan ketua KPU Kabupaten Bima dan ketua PPK Kecamatan Belo pada tanggal 14 Juli
2015.
292
Namun demikian pemahaman yang cukup tinggi tersebut tidak diikuti dengan
kesadaran yang tinggi pula untuk ikut secara pro-aktif menggunakan hak pilihnya secara
bertanggungjawab. Hal ini terlihat dari jawaban responden atas pertanyaan pada angka 6 di
atas, yaitu “Apakah yang akan anda lakukan apabila mengetahui bahwa nama anda tidak
tercatat dalam DPS atau DPT?”. Terhadap pertanyaan ini hanya 54,56% responden yang
menjawab “akan mengurus supaya terdaftar”. Sedangkan selebihnya 40,69% masih harus
didorong atau dibujuk dan masih ada 4,75% yang menyatakan tidak peduli. Oleh karena itu,
program-program pendidikan politik (political education) bagi masyarakat, khususnya
masyarakat petani di kecamatan Belo ini merupakan keharusan pada masa yang akan
datang, dan ini bukan saja menjadi tanggungjawab pemerintah, tetapi juga merupakan
tanggungjawab partai-partai politik dan semua komponen masyarakat yang pro demokrasi.
Dapat dipastikan bahwa perilaku apatisme dan pragmatisme masyarakat terhadap
pemilu seperti yang diuraikan di atas, tidak saja terjadi di kalangan masyarakat petani di
kecamatan Belo, tetapi juga terjadi di berbagai wilayah atau daerah lainnya di Indonesia.
Banyak variabel yang dapat dituding sebagai penyebab munculnya perilaku masyarakat
seperti ini, misalnya kejenuhan karena terlalu banyaknya macam Pemilu, ketidak percayaan
masyarakat terhadap program-progran yang ditawarkan dan janji-janji politik berdasarkan
pada pengalaman pemilu-pemilu sebelumnya dan sikap tidak demokratis yang ditunjukan
oleh para elit politik dan para calon anggota legislatif, seperti pembelian suara (money
politic), pembagian barang-barang atas mana sumbangan, pemberian hadiah dan lain-lain.
Hal ini diperparah lagi oleh sistim pemilu proporsional terbuka yang kita anut, yang telah
membuka ruang kompetisi yang sangat ketat, bukan saja antar partai politik peserta pemilu
tetapi juga antar para calon anggota legistaif dalam satu partai politik peserta pemilu.
Akibatnya berbagai cara dilakukan oleh para calon anggota legislatif untuk merebut suara
pemilih, rambu-rambu etika dan moral demokrasi dan hukum diabaikan dan perilaku
masyarakat tumbuh mengekor menjadi semakin pragmatis.87
87
Focus group discussiion yang dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2015 di kantor KPU Kabupaten Bima
mengungkapkan bahwa perilaku para calon anggota legislatif yang tidak demokratis ini merupakan
fenomena umum yang terjadi di kecaman Belo dan kecamatan lainnya di kabupaten Bima pada
legislatit tahun 2014.
293
D.3. Perilaku Pemilih Masyarakat Petani
Membahas perilaku pemilih berarti membahas perilaku memilih (voting behavior)
dan perilaku tidak memilih (non voting behavior). Perilaku memilih ialah keikutsertaan
warga Negara dalam pemilihan umum merupakan serangkaian kegiatan membuat
keputusan, sedangkan perilaku tidak memilih adalah kebalikannya.
Perilaku pemilih merupakan realitas sosial politik yang tidak terlepas dari pengaruh
faktor eksternal dan internal. Secara eksternal perilaku politik merupakan hasil dari
sosialisasi nilai-nilai dari lingkungannya, sedangkan secara internal merupakan tindakan
yang didasarkan atas rasionalitas berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.
Banyak faktor yang dapat memengaruhi perilaku pemilih dalam mengambil
keputusan politiknya. Visi-misi dan pandangan politik, kecakapan, latar belakang calon (atau
parpol) dan lain-lain, tetapi ada juga sekelompok orang yang memilih kandidat karena
dianggap mewakili kelompok (desa—issue primordial), representasi dari agama atau
keyakinannya, sementara kelompok lainnya memilih kandidat politik tertentu karena
dianggap representasi dari kelas sosialnya bahkan ada juga kelompok yang memilih sebagai
ekspresi dari sikap loyal pada ketokohan figur tertentu. Bagaimana dengan perilaku pemilih
masyarakat petani di kecamatan Belo, kabupaten Bima?
Berdasarkan jawaban responden dalam penelitian ini, maka dapat dijelaskan perilaku
pemilih masyarakat petani di kecamatan Belo dalam pemilu legislatif maupun pemilu
presiden dan wakil presiden tahun 2014 sebagai berikut:
1. Perilaku Memilih (Voting Behavior)
Berdasarkan jawaban dari 526 responden dalam penelitian ini, terdapat 407
(77,38%) responden yang memberikan hak suara pada pemilu legislatif tahun 2014,
sedangkan sisanya 119 (22,62) tidak memberikan hak suaranya. Angka-angka ini tidak
jauh berbeda dengan angka tingkat partisipasi ril masyarakat di kecamatan Belo dan di
tingkat kabupaten Bima pada pemilu legislatif tahun 2014, yaitu masing-masing 79,92%
dan 76,14%. Sedangkan untuk pemilu Presiden dan wakil presiden, jumlah responden
yang memberikan hak suaranya adalah sebanyak 335 (63,69) responden, sedang
selebihnya 191 (36,31%) responden tidak memberikan hak suara pada Pemilu presiden
294
dan wakil presiden tahun 2014. Angka ini juga tidak jauh berbeda dengan angka tingkat
partisipasi ril pemilih pada Pemilu Presiden dan wakil Presiden tahun 2014 di kecamatan
Belo 60,44% dan tingkat kabupaten Bima 66,27%.
Hal ini menunjukan bahwa
responden yang dipilih dalam penelitian ini cukup repsentatif mewakili keadaan yang
sesungguhnya.
Untuk mengetahui perilaku pemilih masyarakat petani di kecamatan Belo pada
pemilu legislatif maupun pemilu presiden dan wakil presiden tahun 2014, dapat
dianalisis dari jawaban responden terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam tabel di
bawah ini;
Tabel 8.7
Perilaku memilih masyarakat petani
Di kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Propinsi NTB
No
Pertanyaan
01 Faktor apa yg mendorong
anda memberikan suara
pada Pemilu legislatif
tahun 2014
Jawaban
Kesadaran sendiri
Ada kenalan/keluarga dekat
yg menjadi calon
Ada parpol yang dikagumi
Ada calon anggota legislatif
yg dikagumi
Ada keuntungan secara
ekonomi
02 Faktor apa yg mendorong
Kesadaran sendiri
anda memberikan suara
Kagum pada
pada Pemilu Presiden dan Capres/Cawapres tertentu
wakil presiden tahun 2014
Ada parpol/Timses yang
mengajak/menyuruh
Ada keuntungan secara
ekonomi
03 Apakah yg menjadi
Kedekatan hukungan
pertimbangan utama anda keluarga/pergaulan dengan
dalam memberikan suara
calon tertentu
pada parpol atau calon
Kedekatan dengan parpol
tertentu dalam Pemilu
tertentu
legislatif
Janji politik (Visi, misi dan
program yg ditawarkan) oleh
Parpol/Calon
Jlh
167
185
%
41.03
45,45
2
23
0,49
5,65
30
7,37
255
34
76,12
10,15
20
5,97
26
7,76
243
59,70
2
0,49
29
7,12
295
No
Pertanyaan
Jawaban
Track record (Rekam jejak
calon)
Adanya keuntungan ekonomi
yg diperoleh dari calon
04 Apakah yg menjadi
Janji politik (Visi, misi dan
pertimbangan utama anda program yg ditawarkan) oleh
dalam memberikan suara
Parpol/Calon
pada Pemilu Presiden dan
Track record (Rekam jejak
wakil Presiden.
calon)
Parpol pengusung calon
Popolaritas calon
Adanya keuntungan ekonomi
yg diperoleh dari
calon/Timses
Jlh
%
71
17,44
62
15,23
46
13,73
58
17,31
29
126
76
8,66
37,61
22,69
Berdasarkan awaban responden atas pertanyaan-pertanyaan dalam tabel 4,2 di atas ,
dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Motivasi kehadiran pemilih masyarakat petani di kecamatan Belo untuk memberikan
suaranya di TPS pada pemilu Legislatif tahun 2014
lebih disebabkan karena
pertimbangan subjektif, yaitu karena adanya hubungan keluarga atau hubungan
pergaulan dengan calon anggota legislatif, bukan karena kesadaran untuk
menggunakan hak pilihnya secara bertangungjawab. Hal ini dapat dilihat dari jawaban
responden terhadap pertanyaan pada angka 1 dalam tabel 4,5 di atas, di mana 45,45%
responden menyatakan bahwa faktor yang mendorong responden untuk memberikan
suara pada Pemilu legislatif tahun 2014 adalah karena ada kenalan/keluarga dekat
yang menjadi calon anggota legislatif. Demikian juga dalam menentukan pilihan,
59,70% responden menyatakan bahwa yang menjadi pertimbangan utama dalam
menentukan pilihan adalah kedekatan hubungan kekeluargaan atau pergaulan dengan
calon yang dipilih.
Faktor lainnya yang mempengaruhi keputusan petani untuk
menentukan pilihannya pada pemilu legislatif tahun 2014 adalah track record (rekam
jejak) Calon 17,44%; keuntungan ekonomi (Money politik) 15, 23%; Janji politik (Visi,
296
misi dan program yang ditawarkan) 7,12 % dan ikatan emosional atau kedekatan
dengan parpol tertentu 0,49%.
Grafik 8.7
GrafikPerilaku Memilih Masyarakat Petani di Kecamatan Belo
pada Pemilu Legislatif Tahun 2014
2.
Berbeda dengan Pemilu Legislatif, motivasi utama masyarakat petani di kecamatan
Belo untuk memberikan suaranya pada Pemilu Presiden dan wakil Presiden adalah
faktor kesadaran politik untuk menggunakan hak pilihnya. Kesimpulan ini didasarkan
pada jawaban responden terhadap pertanyaan pada angka 2 dalam tabel di atas, di
mana 76,12% responden
menyatakan hal yang demikian itu. Sedangkan dalam
menentukan pilihannya sangat dipengaruhi oleh popularitas calon, yaitu 37,61%,
keuntungan ekonomi (Money politik)
22,69%; track record (rekam jejak) Calon
297
17,31%; Janji politik (Visi, misi dan program yang ditawarkan) 13,73 %; dan parpol
pengusung pasangan calon 8,66%.
Grafik 8.8
Grafik Perilaku Memilih Masyarakat Petani Di Kecamatan Belo
Pada Pemilu Presiden Dan Wakil Presiden Tahun 2014
Dengan demikian perilaku memilih masyarakat Petani di kecamatan Belo pada
pemilu legislatif masih sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat sosiologis,
terutama faktor kedekatan hubungan keluarga atau pergaulan sosial dengan calon anggota
legislatif yang akan dipilihnya. Faktor inilah yang menjadi alasan munculnya fenomena
“Jago kandang” pada setiap desa dari para caleg yang berasal dari kecamatan Belo pada
pemilu Legislatif tahun 2014, seperti Caleg atas nama Drs. NOERDIN H.M JACUB (untuk
DPRD Provinsi Dapil NTB 6) yang memperoleh suara sebesar 3.788 di kecamatan Belo,
dengan capaian 3.193 suara (jumlah pengguna hak pilih 3.811 di desa Renda) —desa asal
caleg yang bersangkutan, menunjukkan relasi dimaksud. 88 Begitu pula capaian 2.068 suara
yang diperoleh oleh 3 orang caleg asal Desa Renda yang memperebutkan jatah Kursi DPRD
Kabupaten di Dapil Bima 3 yaitu: a) H. ABURRAHMAN, S.SOS, Partai Hanura 846 suara; b)
88
Sertifikat Model DA-1 DPRD Propinsi Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Dari Setiap
Kelurahan Di Tingkat Kecamatan Dalam Pemilihan Umum Anggota DPRD Propinsi NTB Tahun 2014
298
ARDIWIN PAN 634 suara; dan c) MUSMULYADIN Partai Golkar 588 suara semakin
menasbihkan faktor “relasi kenalan/ keluarga dekat yang menjadi calon”. 89
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa Kedekatan hubungan keluarga
dan hubungan kekerabatan masih sangat kental di kalangan masyarakat pada semua desa
yang ada di kecamatan Belo. Pergaulan hidup sehari-hari yang didasari dengan semangat
kekeluargaan yang tinggi, mempengaruhi pula perilaku mereka dalam hal politik. Apabila
ada salah seorang keluarga yang menjadi calon anggota legislatif, maka keluarga yang
lainnya akan memberikan suara bahkan membantu mempengaruhi pemilih lainnya untuk
memberikan suara. Mereka akan meninggalkan pekerjaannya sebagai petani dan
menyempatkan diri untuk memberikan suara keluarga atau kenalannya yang menjadi calon
anggota legislatif tersebut. Hal ini tercermin dari jawaban responden atas pertanyaan:
“Bagaimana sikap anda jika ada calon anggota DPR/ DPD/ DPRD yang merupakan kenalan
dekat atau keluarga dekat anda?”. Didapatkan jawaban sebagai berikut:
Tabel 8.9
Perilaku memilih masyarakat petani di kecamatan Belo
jika ada calon anggota DPR/ DPD/ DPRD yang merupakan kenalan dekat atau keluarga
dekat
Akan memberikan suara tanpa syarat apapun
69,58%
Tidak akan memberikan suara karena mengutamakan pekerjaan
13,69%
Akan memberikan suara kalau bersedia memberikan uang
8,75%
transpor dan ganti kerugian
Akan memberikan suara kalau bersedia memberikan transpor
7,98%
saja
Selain faktor sosiologis, meskipipun jumlahnya tidak besar, masih ditemukan perilaku
memilih petani pada Pemilu Legislatif yang dipengaruhi oleh faktor psikologis, yaitu perilaku
memilih yang digantungkan pada kedekatan atau ikatan emosional yang kuat dengan partai
89
diolah dari sertifikat Model DA-1 DPRD Kabupaten/Kota Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan
Suara Dari Setiap Kelurahan Di Tingkat Kecamatan Dalam Pemilihan Umum Anggota DPRD
Kabupaten Bima Tahun 2014.
299
politik tertentu sebesar 0,49%. Penelururan lebih jauh terhadap perilaku
pemilih ini
mengungkapkan bahwa mereka selalu memilih parpol yang sama pada setiap Pemilu dan
sulit mengubah pilihannya tersebut. Sedangkan pemilih yang memilih karena pertimbangan
janji politik (Visi, misi dan program yang ditawarkan oleh parpol atau calon) 7,12% dan yang
memilih karena pertimbangan track record parpol atau calon sebesar 17,44%. Perilaku
memilih dari kedua kategori ini yang disebut terakhir ini dapat dikatakan didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan rasional (Rational choice). Selebihnya sebasar 15,23% adalah
pemilih pragmatis, yang menggantungkan pilihannya pada materi yang diberikan oleh partai
politik peserta pemilu atau candidat calon anggota legislatif.
Sedangkan pada Pemilu Presiden dan wakil presiden, perilaku memilih masyarakat
petani di kecamatan Belo sangat dipengaruhi oleh popularitas pasangan calon, yaitu sebesar
37,61%. Jadi perilaku memilih yang tidak rasionak, karena hanya menilai calon dari sisi
luarnya saja dan mudah dimanipulasi oleh media masa, terutama Televisi. Namun demikian
jumlah pemilih rasional juga cukup besar yaitu 31,04%, dan yang cukup memprihatinkan
adalah tingginya angka perilaku memilih yang bersifat pragmatis, yaitu sebesar 22,69%.
2. Perilaku tidak memilih (Non voting behavior)
Telah disinggung pada bab penduhuan bahwa angka tingkat non voting pemilih di
kecamatan Belo pada Pemilu legislatif tahun 2014 adalah sebesar 20,08% dan pada Pemilu
Presiden dan wakil Presiden sebesar 39,56%. Angka non voting pada Pemilu Legislatif
tersebut dapat dikatakan cukup menggembirakan, setidaknya karena angka tersebut berada
di bawah angka non voting di tingkat kabupaten Bima maupun di tingkat Nasional. Namun
angka non voting pada Pemilu Presiden dan wakil Presiden merupakan angka tertinggi
dibandingkan dengan semua kecamatan lainnya yang ada di kabupaten Bima, dan juga
berada di atas angka non voting di tingkat kabupaten Bima maupun di tingkat nasional.
Hampir sama dengan data empirik yang dikemukakan di atas, hasil angket
(Questioner) dalam penelitian ini menunjukan bahwa angka non voting pemilih masyarakat
300
petani di kecamatan Belo adalan 22,62% pada Pemilu Legislatif dan 36,31% pada Pemilu
Presiden dan wakil Presiden tahun 2014. Berkenaan dengan perilaku non voting pada kedua
Pemilu yang dilaksanakan pada tahun 2014 tersebut, respon memberika jawan sebagai
berikut :
Tabel 8.10
Perilaku non voting masyarakat petani di kecamatan Belo
Pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presideng dan wakil Presiden tahun 2014
No
Pertanyaan
01
Faktor apa yang
menjadi kendala anda
tidak memberikan
suara pada pemilu
legislatif tahun 2014
02
Tabel
Jawaban
Sedang berada di luar
wilayah desa
Sedang sibuk dengan
pekerjaan sbg petani
Tdk ada parpol/calon
yang memberi biaya
transpor/ganti rugi
Tdk ada
keluarga/kenalan dekat
yg jadi calon
Ada hajatan
lain/musibah/ketiduran
Alasan lain
Faktor apa yang
Sedang berada di luar
menjadi kendala anda wilayah desa
tidak memberikan
Sedang sibuk dengan
suara pada pemilu
pekerjaan sbg petani
Presiden dan wakil
Tdk ada parpol/calon
Presiden tahun 2014 yang memberi biaya
transpor/ganti rugi
Tdk ada Calon yang saya
inginkan.
Ada hajatan
lain/musibah/ketiduran
Alasan lain
Jlh
20
%
16,81
75
63,02
12
10,08
11
9,24
1
0.84
0
44
0
23,04
129
67,54
14
7,33
3
1,57
1
0,52
0
0
di atas memperlihatkan bahwa perilaku non voting masyarakat Petani di
kecamatan Belo pada Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden dan wakil Presiden tahun
301
2014 terutama disebabkan kesibukan mereka sebagai patani, yaitu 63,02% pada Pemilu
Legislatif dan 67,54% pada Pemilu Presiden dan wakil Presiden. Angka ini masih di tanbah
dengan pemilih yang berada di luar wilayah desanya yang hampir seluruhya karena alasan
kerja pula, yaitu 16,81% pada Pemilu Legislatif dan 23,04% pada Pemilu Presiden dan wakil
Presiden. Hal ini dapat difahami mengingat pelaksanaan Pemilu Legislatif pada tanggal 9
April 2014 bertepatan dengan musim tanan bawang merah dan pelaksanaan Pemilu
Presiden dan wakil Presiden pada tanggal 9 Juli 2014 bertepatan dengan musim tanam padi
dan musim panen bawang merah.
Faktor lainnya yang menjadi alasan perilaku non voting masyarakat petani di kecamatan
Belo pada Pemilu Legislatif tahun 2014 adalah karena tidak ada parpol/calon yang memberi
biaya transpor/ganti rugi 10,08%; tidak ada kenalan atau keluarga dekat yang menjadi calon
anggota legislatif 9,24%; dan karena ada hajatan lain/musibah/ketiduran 0,84%.
Grafik 8.11
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Non Voting Masyarakat Petani Di Kecamatan Belo
Pada Pemilu Legislatif 2014
302
Sedangkan pada faktor lain yang mempengaruhi perilaku non voting pada Pemilu
Presiden dan wakil Presiden adalah karena tidak ada parpol yang memberi uang transpor/ganti
rugi 7,33%; tidak ada calon yang sesuai dengan keinginan 1,57 % dan karena ada hajatan
lain/musibah/ketiduran 0,52%.
Grafik 8.12
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Non Voting Masyarakat Petani Di Kecamatan Belo
Pada Pemilu Presiden Dan Wakil Presiden 2014
Pada prinsipnya masyarakat petani di kecamatan Belo meyakini bahwa melalui Pemilu
akan dapat menjamin terpilihnya para pemimpin (Anggota Legislatif/Presiden dan wakil
presiden) yang baik dan sunguh-sungguh akan memperjuangkan kepentigan rakyat. Hal ini
terlihat dari jawaban responden atas pertanyaan yang berkaitan dengan itu sebagai berikut :
Tabel 8.13
Kepercayan masyarakat petani di kecamatan Belo
Pada mekanisme Pemilu tahun 2014
Pertanyaan
Jawaban
Apakah anda percaya bhw Pemilu akan
Percaya
menjamin terpilihnya pemimpin yg baik dan Tidak percaya
sungguh-sungguh berpihak pada kepentingan Tidak tahu
rakyat
%
77,56
0,03
22,05
303
Namun demikian, memperhatikan jawaban responden di atas mengindikasikan adanya
kecenderungan apatisme masyarakat petani di kecamatan Belo terhadap pemilu. Meskipun
pemilu diyakini oleh mereka sebagai suatu mekanisme demokrasi yang menjanjikan perubahan
dan perbaikan masa depan bersama, namun tidak dianggap sebagai sesuatu yang lebih penting
dari pekerjaan mereka sehari-hari sebagai petani. Mereka enggan untuk meninggalkan
pekerjaannya walau sejenak untuk menyempatkan diri memberikan suara di TPS.
Berdasarkan pada uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku non voting masyarakat petani di kecamatan Belo pada pemilu
legislatif dan pemilu Presiden dan wakil presiden tahun 2014, yang paling utama adalah
faktor pekerjaan (alasan sosial ekonomi), kemudian faktor sikap mental pragmatisme dan
faktor teknis. Oleh karena tingkat pendidikan rata-rata para petani yang rendah, maka
dalam penelitian ini tidak ditemukan perilaku non voting yang disebabkan oleh alasan yang
bersifat politis atau alasan idiologis.
D.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu
Presiden dan wakil Presiden
Tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu Presiden dan wakil Presiden tahun 2014
adalah sebesar 60,44%, yang merupakan angka tingkat partisipasi terendah dibandingkan
dengan semua kecamatan lainnya yang ada di wilayah kabupaten Bima. Angka ini berada
jauh di bawah angka tingat partisipasi pemilih tingkat kabupaten Bima maupun tingkat
Nasional. Apabila dibandingkan dengan tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu Legislatif
yang dilaksanakan hanya berselang tiga bulan sebelumya yang mencapai angka 79,92%,
terjadi penurunan sebesar 19,48%. Demikian juga apabila dibandingkan dengan angkat
tingkat partisipasi pemilih pada pemilu yang sama periode sebelumnya yang berada pada
tingkat 76,50%, terjadi penurunanan sebesar 17,06%. Hal ini tentunya merupakan pertanda
buruk bagi pembangunan kehidupan demokrasi di Negara Kita, sehinga tidak bisa dibiarkan
dan harus dicarikan jawaban agar dapat dirumuskan kebijakan untuk mengatasinya.
304
Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat di kecamatan Belo pada Pemilu Presiden
dan wakil Presiden ini tahun 2014 ini juga tidak terlepas dari faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku Pemilih petani di daerah itu yang sudah dibahas sebelumnya, baik
perilaku memilih (Voting Behavior) maupun perilaku tidak memilih (Non voting Behavior).
Dari pembahasan mengenai perilaku memilih masyarakat petani di kecamatan Belo
di atas telah dapat diketahui bahwa faktor utama yang mempengaruhinya adalah faktor
sosiologis, yaitu kedekatan hubungan keluarga atau hubungan pergaulan sosial, sedangkan
faktor utama yang mempengaruhi perilaku non voting adalah faktor sosial ekonomi atau
faktor pekerjaan. Oleh karena itu menjadi hal yang wajar apabila tingkat partisipasi
masyarakat petani dalam memberikan hak suaranya pada Pemilu legislatif mencapai angka
yang relatif tinggi. Karena pada Pemilu Legislatif ini ada kepentingan subjektif yang bersifat
langsung atau tidak langsung dari para pemilih petani itu sendiri yang mereka perjuangkan,
yaitu mewujudakan kepentingan keluarga atau kenalan dekat mereka dan tentunya dengan
harapan agar pada giliran nanti merekapun akan dapat menikmati hasil dari perjuangannya
itu. Hal ini masih didukung lagi oleh adanya mobilisasi pemilih oleh parpol atau para calon
anggota legislatif atas biaya mereka, adanya praket politik uang dan semacamnya yang
dapat menggiring para pemilih untuk memberikan suaranya pada Pemilu Legislatif. Hal-hal
yang demikian ini tidak akan dijumpai pada Pemilu Presiden dan wakil Presiden.
Tingkat pendidikan rata-rata masyarakat petani di kecamatan Belo yang rendah dan
pemahaman politik yang minim bahkan kebanyakan a politik, dan keterbiasaan mereka
dalam suasana pemilu legislatif yang dapat memberikan manfaat langsung berupa uang
atau kaos dan sejenisnya pada pemilu legislatif telah membangun preferensi yang keliru
dalam benak mereka, seolah-olah pemilu Legislatif lebih penting dari pada pemilu Presiden
dan wakil Presiden. Hal ini terlihat dari jawaban responden atas pertanyaan “Andaikan
305
dihadapkan pada pilihan harus memilih pada Pemilu Legislatif atau Pemilu Presiden dan
wakil Presiden, yang manakah yang akan anda pilih?”
Terbahadap pertanyaan tersebut, 74,15% responden menjawab akan memberikan
suara pada Pemilu Lagslatif dan sisanya 25, 85% menjawab akan memberikan suara pada
pemilu Presiden dan wakil Presiden.
Grafik 8.15
Sikap Masyarakat Petani di kecamatan BeloTerhadap
Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dan wakil Presiden tahun 2014
Tingginya angka non voting pada pemilu Presiden dan wakil presiden di kecamatan
Belo juga disebabkan karena tingginya angka non voting dari masyarakat petani di daerah
itu yang disebabkan karena faktor pekerjaan, terlebih lagi karena Pemilu Presiden dan wakil
presiden tersebut dilaksanakan pada bulan Juli, yang berarti bertepatan dengan musim
tanan padi dan musim tanam bawang merah, di mana sebahagian besar dari masyarakat
petani di kecamatan belo sedang berada di luar daerahnya.
Berdasarkan pada pembahasan di mukan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
306
1.
Faktor utama yang mempengaruhi perilaku memilih masyarakat petani di kecamatan
Belo, kabupaten Bima pada Pemilu Legislatif tahun 2014 adalah faktor sosiologis,
terutama kedekatan hubungan keluarga atau pergaulan sosial dengan calon anggota
legislatif yang akan dipilihnya 59,70%. Faktor kedekatan hubungan keluarga atau
kedekatan hubungan pergaulan ini bukan saja menjadi faktor penentu bagi pemilih
petani untuk menentukan pilihannya tetapi juga menjadi faktor pendorong yang
memotivasi mereka untuk memberikan suaranya pada pemilu Legislatif. Faktor lainnya
adalah, pertimbangan rasional yang didasarkan pada penilaian terhadap track record
parpol/calon 17,44% dan janji politik (Visi, misi dan program yang ditawarkan) 7,12%,
kemudian faktor money politic 15,23% dan faktor kedekatan dengan parpol tertentu
0,49%. Sedangkan Faktor utama yang mempengaruhi perilaku memilih masyarakat
petani di kecamatan Belo, kabupaten Bima pada Pemilu Presiden dan wakil Presiden
tahun 2014 adal popularitas pasangan calon 37,61%, kemudian faktor Track record
pasangan calon 17,31%, faktor parpol pengusung pasangan calon 8,66% dan faktor
money politik 22,69%.
2.
Faktor utama yang mempengaruhi perilaku non voting masyarakat petani di kecamatan
Belo, yang juga menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu
Presiden dan wakil presiden tahun 2014 adalah faktor pekerjaan. yakni terkait dengan
kesibukan masyarakat petani yang bertepatan antara pelaksanaan Pemilu Presiden Dan
Wakil Presiden dengan musim bertani mereka. Di samping itu masih cukup banyak
ditemukan pemilih yang bersifat pragmatis, yang menggantungkan pilihannya pada
materi yang diberikan oleh peserta pemilu.
Sehubungan dengan kesimpulan di atas, maka saran-saran yang dapat diberikan
adalah sebagai berikut :
1.
Oleh karena faktor utama yang mempegaruhi perilaku masyarakat petani di kecamatan
Belo pada Pemilu Legislatif adalah faktor kedekatan kekeluargaan atau pergaulan sosial,
demikian juga karena perilaku memilih masyarakat pada Pemilu Presiden dan wakil
Presiden sangat dipengaruhi oleh popularitas calon, di mana kedua faktor tersebut
307
merupakan faktor yang bersifat irrasional dilihat dari substansi dan urgensi Pemilu,
maka perlu adanya pendidikan politik yang dilaksanakan secara intens, terencana dan
sistimatis bagi masyarakat a politik seperti para petani di kecamatan Belo ini. Hal ini
tentunya menjadi tanggungjawab Negara dengan memberdayakan intitusi Negara yang
ada, terutama KPU selaku Penyelenggara pemilu yang merupakan Lembaga Negara
yang bersifat permanen.
2.
Untuk kebutuhan jangka pendek, guna meningkatkan pertisipasi pemilih masyarakat
petani di kecamatan Belo dalam memberikan hak suranya pada pemilu yang akan
datang, perlu dipikirkan untuk mendekatkan Tempat Pemungutan suara (TPS) pada
tempat-tempat tertentu yang merupakan tempat konsentrasi para petani dalam
menjalankan pekerjaannya sebagai petani, misalnya berupa TPS keliling. TPS keliling ini
berisi surat suara daerah pemilihan (Dapil) yang meliputi wilayah kecamatan Belo
namun dapat bergerak memasuki wilayah Dapil lainnya bahkan kabupaten lainnya di
mana para petani kecamatan Belo berkonsentrasi.
3. Perlu adanya upaya untuk meingkatkan peran dan fungsi partai politik untuk
membangun budaya politik yang sehat dan bermartabat, termasuk memberikan
pendidikan politik yang sehat pada masyarakat umumnya, terutama masyarakat yang a
politik, baik yang dilakukan secara formal maupun melalui keteladanan dalam sikap dan
perbuatannya. Hal ini sangatlah penting mengingat munculnya sikap pragmatis di
kalangan masyarakat seperti di kecamatan Belo ini, merupakan hasil inter aksi yang
tidak demokratis dengan partai politik atau para aktor politik yang menginginkan suara
mereka. Adalah imposible merubah perilaku masyarakat, apalagi masyarakat a politik
seperti para petani di kecamatan Belo ini apabila perilaku parpol dan para aktor
politik/kandidal calon anggota legislatif tidak berubah.
308
DAFTAR PUSTAKA
Bismar Arianto. Analisis Penyebab Masyarakat Tidak Memilih Dalam Pemilu. Jurnal Ilmu Politik
dan Ilmu Pemerintahan. Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji. Vol. 1, No. 1, 2011.
BPS Kabupaten Bima. Bima Dalam Angka Tahun 2012.
Eka Suaib, 2010. Problematika Pemutakhiran Data Pemilih di Indonesia. Penerbit Koekoesan.
Depok.
Elvi Juliasyah. 2007. Pilkada, Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah. CV. Mandar Maju, Bandung.
Huntington, S.P. & Nelson, J. 1977. No easy choice political participation in developing
countries. Cambridge: Harvard University Press.
Joko J. Prihatmoko, 2008. Mendemokratiskan Pemilu Dari Sistem Sampai Elemen Teknis. cet ke1 Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Joseph A. Schumpeter. 1942. Capitalism, Socialism, and Democracy, 2d ed. (New York: Harper).
Lili Romli, 2007. Potret Otonomi daerah dan Wakil rakyat di tingkat lokal. Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.
Miriam, Budiardjo, 2010. Dasar-dasar Ilmu Politik, (edisi revisi). Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Muhammad Asfar. 1998. Perilaku Non Voting Di Bawah Sistem Politik Hegemonik, Tesis
Program Studi Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Mukhtar, Metode Praktis Penelitian Deskriptif Kualitatif. GP Press Group, Jakarta. 2013.
Ndraha, Taliziduhu. 1993. Partisipasi Masyarakat. Yayasan Karya Dharma, IIP Jakarta.
Nur Hidayat Sardini. 2011. Restorasi Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia. Fajar Media Press.
Yogyakarta.
Ramlan Surbakti. 1992. Memahami Ilmu Politik. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
309
Soebagio. Implikasi Golongan Putih Dalam Perspektif Pembangunan Demokrasi Di Indonesia
Makara, Sosial Humaniora, vol. 12, no. 2, Desember 2008.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta. Bandung.
Syarifuddin Jurdi. 2010. Historiografi Muhammadiyah.
Wahyudinsyah. 2012. Preferensi dan Model Penyelesaian Kasus Hukum (Studi di Masyarakat
Kecamatan Belo Kabupaten Bima). Tesis Program PascaSarjana Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
310
Bab IX
Analisis Perilaku Pemilih di Kota Bima
Bukhari * Agus Salim * Fatmahul Fitriah
Tamrin * M.Saleh Abubakar
A. Pengantar
Seiring dengan keterbukaan informasi dan proses demokrasi, rakyat Indonesia
memiliki peluang untuk mengevaluasi pemimpin pada tingkat lokal dan nasional. Survei
berupa jajak pendapat itu dilakukan untuk mendapatkan informasi dari tangan pertama
tentang kinerja dan tingkat kepercayaan masyarakat atau responden terhadap pemimpin di
wilayahnya. Hasil dari survei ini biasanya diumumkan sebagai masukan bagi pemimpin yang
dievaluasi tersebut baik presiden, wakil presiden, penyelenggara pemerintahan
kabupaten/kota dan provinsi, politisi, dan tokoh-tokoh masyarakat.
Riset pemilu merupakan salah satu elemen strategis dalam manajemen pemilu. Riset
tidak hanya memberikan rasionalitas akademik mengenai suatu substansi pemilu tetapi
lebih jauh dijadikan pijakan empirik mengenai persoalan atas hal yang dijadikan
perdebatan. Dalam negara demokrasi, partisipasi pemilih menjadi elemen penting
demokrasi perwakilan. Ia adalah fondasi praktek politik demokrasi perwakilan.
Persoalannya adalah terdapat sejumlah masalah menyangkut partisipasi pemilih yang tidak
banyak diungkap dan sebagian menjadi ruang gelap yang terus menjadi pertanyaan, seperti
fluktuasi kehadiran pemilih di TPS, suara tidak sah yang tinggi, politik uang, misteri derajat
melek politik warga dan langkanya kesukarelaan pemilih.
Masalah tersbut tentu harus dibedah agar diketahui akar masalah dan dicari jalan
keluarnya. Harapannya partisipasi dalam pemilu berada pada idealitas yang diimajinasikan.
Dalam konteks ini riset dapat memainkan peran memberi pendekatan dan jawaban atas
berbagai pertanyaan diatas. Namun demikian, usaha-usaha untuk mewujudkan survei yang
ilmiah terkadang terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Sehingga hasil-hasil
penelitian tersebut seringkali mengandung bias. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil
penelitian lembaga-lembaga tersebut tentang suatu topik yang dalam banyak hal saling
311
bertentangan. Akibatnya masyarakat menerima hasil survei tersebut kebingungan.
Ironisnya, pemerintah tidak memiliki lembaga sandaran untuk menjawab hasil-hasil survei
organisasi-organisasi lain. Sebenarnya pemerintah memiliki lembaga statistik atau Badan
Pusat Statistik (BPS) namun hasilnya seringkali diragukan oleh masyarakat. Kemungkinan
besar karena posisinya sebagai lembaga pemerintah. Berbagai aspek inilah kemudian yang
melatarbelakangi ketertarikan melakukan penelitian dengan judul “ Analisis Perilaku
Pemilih di Kota Bima
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini mengajukan rumusan masalah
bagaimanakah perilaku pemilih di Kota Bima?.
B. Tinjauan Teoritis
B.1. Konseptualisasi Tentang Pemilu
Pemilihan Umum sebagaimana dalam peraturan perundang-undangan, selanjutnya
disebut Pemilu adalah pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pemilihan umum merupakan media dan mekanisme pelibatan rakyat dalam wilayah
demokrasi untuk menentukan keputusan politik yang strategis, dimana suara setiap rakyat
diwujudkan dalam bentuk hak pilih yang merupakan wujud kontrak sosial antara negara dan
rakyat sebagaimana Joanes Joko memberikan esensi penting pemilu yakni merupakan
kontrak sosial antara mereka yang terpilih dengan rakyat yang banyak. Jangan sampai
rakyat menjadi apatis terhadap pemilu dan menganggap pemilu hanya untuk sekedar
memenuhi prosedur demokrasi. Apalagi jika pemilu sampai kehilangan esensinya dimana
pemilu diikuti bukan lagi atas dasar kesadaran rasional, namun atas dorongan ideologis
irasional (Joko,2004 : 6)
Berdasarkan definisi pemilu menurut Joanes Joko dan peraturan perundangundangan dapat dirumuskan pemilu merupakan proses dimana rakyat melibatkan diri
secara bebas dan langsung menggunakan hak pilihnya untuk menentukan wakilnya baik
312
legislatif maupun eksekutif tanpa ada paksaan dari pihak manapun, sehingga rakyat merasa
puas dengan pilihannya.
B.2. Perihal Partisipasi politik
Ramlan Surbakti memberikan definisi singkat mengenai partisipasi politik sebagai
bentuk keikutsertaan warga negara biasa dalam menentukan segala keputusan yang
menyangkut atau mempengaruhi hidupnya (Surbakti, 1999:140). Sedangkan Milbrath dan
Goel membedakan partisipasi menjadi beberapa kategori berikut : Pertama, apatis. Artinya
orang yang tidak berpartisipasi dan menarik diri dari proses politik. Kedua, spektator.
Artinya, orang yang setidak-tidaknya pernah ikut memilih dalam pemilihan umum. Ketiga,
gladiator. Artinya mereka yang secara aktif terlibat dalam proses politik, yakni komunikator,
spesialis mengadakan kontak tatap muka, aktivis partai dan pekerja kampanye dan aktivis
masyarakat. Keempat, pengritik, yakni dalam bentuk partisipasi tidak konvensional.(dalam
Surbakti 1999:143)
Model partisipasi tersebut dapat membantu peneliti untuk menganalisa bentuk
partisipasi dan rasionalisasi penggunaan hak pilih pada kelompok pemilih pemula dalam
konteks pasca pilkada kota Malang.
B.3. Teori Pilihan Rasional
Teori pilihan rasional Coleman tampak jelas dalam gagasan dasarnya bahwa
“tindakan perseorangan mengarah kepada sesuatu tujuan dan tujuan itu (dan juga
tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi)” (1990:13). Untuk memberikan
analogi dalam merealisaskan teorinya Coleman menggunakan dua unsur utama, yakni aktor
dan sumberdaya adalah sesuatu yang menarik perhatian dan yang dapat dikontrol oleh
aktor.
Friedman dan Hechter (1988) Teori pilihan rasional memusatkan perhatian pada
aktor. Aktor dipandang sebagai manusia yang mempunyai tujuan atau mempunyai maksud.
Artinya aktor mempunyai tujuan dan tindakannya tertuju pada upaya untuk mencapai
tujuan itu. Aktorpun dipandang mempunyai pilihan (atau nilai, keperluan). Teori pilihan
313
rasional tak menghiraukan apa yang menjadi pilihan atau apa yang menjadi sumber pilihan
aktor. Yang terpenting adalah kenyataan bahwa tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan
yang sesuai dengan tingkatan pilihan aktor.
Interpretasi teori pilihan rasional dalam penelitian ini adalah bahwa tindakan
pemilih pemula baik secara individu maupun berkelompok dalam melakukan sebuah
tindakan untuk berpartisipasi ataupun menggunakan hak pilih dalam pilkada mengarah
pada sebuah tujuan yang sudah tentu didasarkan oleh nilai ataupun sebuah pilihan.
Pada prinsipnya pemilih pemula dan elit dalam partai politik merupakan dua orang
aktor yang masing-masing memiliki sumber daya dan berusaha mengendalikan satu sama
lain, yang menjadi dasar dari tindakan keduanya adalah tujuan dan nilai untuk mewujudkan
kepentingan masing-masing secara maksimal, karena itu kedua aktor tersebut terlibat
dalam sebuah mekanisme sistem dan saling tergantung satu-sama lain, yang membedakan
adalah rasio penguasaan terhadap kekuatan untuk mengendalikan sumberdaya pihak lain.
Elit partai memiliki posisi tawar yang lebih strategis dan lebih solid untuk mengendalikan
pemilih pemula sebagai sumberdaya untuk memenangkan kepentingan partainya,
sedangkan posisi pemilih pemula tidak dalam ikatan solid karena didasari oleh berbagai
latar belakang yang berbeda sehingga pemilih pemula kurang dapat mengendalikan elit
partai sebagai sumberdaya untuk memaksimalkan kepentingannya.
Teori pilihan rasional dapat digunakan sebagai pendekatan dalam penelitian ini,
Pemilih pemula adalah sebuah entitas yang plural dan majemuk yang mana perilaku kolektif
mereka dapat dipastikan tidak stabil dan kacau, sebagai contoh : dalam peristiwa pilkada
kota Malang maka perilaku mereka dipastikan majemuk dan tidak stabil baik dari model
partisipasi ataupun penggunaan hak pilih dan berbagai faktor yang mendasarinya, sehingga
terjadi pemindahan kontrol secara sepihak oleh kalangan elit partai kepada kelompok
pemilih pemula. Idealnya tercipta keseimbangan sistem tetapi realitanya sering terjadi
penguasaan aktor satu kepada aktor yang lain.
314
B.4. Perilaku Memilih (Voting Behavior)
B.4.1. Teori Perilaku
Yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia,
baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar. (1938)
seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui
proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon,
maka teori skiner disebut teori “S – O - R”atau Stimulus – Organisme – Respon. Skiner
membedakan adanya dua proses, yaitu :
a. Respondent respon atau reflexsive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan –
rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut electing stimulation
karena menimbulkan respon – respon yang relative tetap. Misalnya : makanan yang lezat
menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan
sebagainya. Respondent respon ini juga mencakup perilaku emosinal misalnya
mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan
kegembiraannya dengan mengadakan pesta, dan sebagainya.
b. Operant respon atau instrumental respon, yakni respon yang timbul dan berkembang
kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut
reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila
seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian
tugasnya atau job description) kemudian memperoleh penghargaan dari atasannya
(stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam
melaksanakan tugasnya.
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan
menjadi dua yaitu :
1) Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung
atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada
315
perhatian, persepsi, pengetahuan / kesadaran, dan sikap yang terjadi belum bisa
diamati secara jelas oleh orang lain.
2) Perilaku terbuka adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan
nyata atau terbuka. Respon terhadap terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam
bentuk tindakan atau praktek (practice).
Diatas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus
(rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya sama namun bentuk
respon akan berbeda dari setiap orang. Faktor – factor yang membedakan respon terhadap
stimulus disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua
yaitu :
a) Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat given atau
bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
b) Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, fisik, ekonomi, politik, dan
sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi factor yang dominanyang mewarnai
perilaku seseorang.
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi
perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan,
yakni:
(1). Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui
setimulus (objek) terlebih dahulu.
(2). Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.
(3). Evaluation (menimbang – nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal ini
berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
(4). Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru.
(5). Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan
sikapnya terhadap stimulus.
316
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari
oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi
kebiasaan atau bersifat langgeng (long lasting).
2. Perilaku Memilih
Menurut Jack Plano voting behavior atau perilaku memilih adalah: “Salah satu
bentuk perilaku politik yang terbuka.” Sedangkan menurut Haryanto, Voting adalah:
“Kegiatan warga negara yang mempunyai hak untuk memilih dan di daftar sebagai seorang
pemilih, memberikan suaranya untuk memilih atau menentukan wakil-wakilnya”.
Pemberian suara kepada salah satu kontestan merupakan suatu kepercayaan untuk
membawa aspirasi pribadi, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kepercayaan yang
diberikan, juga karena adanya kesesuaian nilai yang dimiliki arah tempat memberikan suara.
Nilai yang di maksud di sini adalah preferensi yang dimiliki organisasi terhadap tujuan
tertentu atau cara tertentu melaksanakan sesuatu. Jadi kepercayaan pemberi suara akan
ada, jika seseorang telah memahami makna nilai yang dimiliki dalam rangka mencapai
tujuan.
Perilaku memilih atau voting behavior dalam pemilu adalah respons psikologis dan
emosional yang diwujudkan dalam bentuk tindakan politik mendukung suatu partai politik
atau kandidat dengan cara mencoblos surat suara. Menurut Josep Kristiadi penelitian
mengenai voting behavior dalam pemilu pada dasarnya mempergunakan beberapa mazhab
yang telah berkembang selama ini yakni :
a. Pendekatan Sosiologis
Mazhab sosiologis pada awalnya berasal dari Eropa yang kemudian berkembang di
Amerika Serikat, yang pertama kali dikembangkan oleh Biro Penerapan Ilmu Sosial
Universitas Colombia (Colombia`s University Bureau of Applied Social Science), sehingga
lebih di kenal dengan kelompok Colombia. Kelompok ini melakukan penelitian mengenai
The People’s Choice pada tahun 1948 dan voting pada tahun 1952. Di dalam dua karya
tersebut terungkap perilaku memilih seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan
317
seperti sosial ekonomi, afiliasi etnis, tradisi keluarga, keanggotaan terhadap organisasi, usia,
jenis kelamin, pekerjaan, tempat tinggal, dan lain-lain.
b. Pendekatan Psikologis
Mazhab ini pertama kali dipergunakan oleh Pusat Penelitian dan Survey Universitas
Michigan (University of Michigan`s Survey Research Centre) sehingga kelompok ini dikenal
dengan sebutan kelompok Michigan. Hasil penelitian kelompok ini yang dikenal luas adalah
The Voter`s Decide (1954) dan The American Voter (1960).
Pendekatan mazhab psikologis ini menekankan kepada 3 aspek variabel psikologis
sebagai telaah utamanya yakni, ikatan emosional pada suatu Partai Politik, orientasi
terhadap isu yang berkembang dan orientasi terhadap kandidat. Inti dari mazhab ini adalah
identifikasi seseorang terhadap partai tertentu yang kemudian akan mempengaruhi sikap
orang tersebut terhadap para calon dan isu-isu politik yang berkembang. Kekuatan dan arah
identifikasi kepartaian adalah kunci dalam menjelaskan sikap dan perilaku pemilih.
Campbell (1960) menjelaskan proses terbentuknya perilaku pemilih dengan istilah
“Funnel of Causality”. Pengandaian itu dimaksudkan untuk menjelaskan fenomena voting
yang di dalam model terletak paling atas dari “funnel”(Cerobong). Digambarkan bahwa di
dalam cerobong terdapat as (axis) yang mewakili dimensi waktu. Kejadian-kejadian yang
saling berhubungan satu sama lain bergerak dalam dimensi waktu tertentu mulai dari mulut
sampai ujung cerobong. Mulut cerobong adalah latar belakang sosial (ras, agama, etnik,
daerah), status sosial (pendidikan, pekerjaan, kelas) dan watak orang tua. Semua unsur tadi
mempengaruhi identifikasi kepartaian seseorang yang merupakan bagian berikutnya dari
proses tersebut. Pada tahap berikutnya, identifikasi kepartaian akan mempengaruhi
penilaian terhadap para kandidat dan isu-isu politik.
Sedangkan proses yang paling dekat dengan perilaku pemilih adalah kampanye
sebelum pemilu maupun kejadian-kejadian yang diberitakan oleh media massa. Masingmasing unsur dalam proses tersebut akan mempengaruhi perilaku pemilih, meskipun titik
berat studi Kelompok Michigan adalah identifikasi kepartaian dan isu-isu politik para calon,
dan bukan latar belakang sosial atau budayanya.
318
c. Pendekatan Ekonomi
Pendekatan ini lahir sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap pendekatan sosiologis
dan psikologis. Pemikiran baru ini mempergunakan pendekatan ekonomi yang sering pula
disebut sebagai pendekatan rasional. Tokoh dalam pendekatan ini antara lain Downs
dengan karyanya “An Economic Theory of Democracy” (1957) dan Riker & Ordeshook, yang
dituangkan dalam tulisan berjudul “A Theory of the Calculus Voting”, (1962). Para penganut
aliran ini mencoba memberikan penjelasan bahwa perilaku pemilih terhadap partai politik
tertentu berdasarkan perhitungan, tentang apa yang diperoleh bila seseorang menentukan
pilihannya, baik terhadap calon presiden maupun anggota parlemen.
B.4.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Memilih (Theori Rational Choice)
Model pilihan rasional bersumber pada karya Anthony Downs, James Buchannan,
Gordon Tullock dan Manchur Olsen. Menurut model ini, perilaku pemilih ditentukan oleh
penilaian terhadap keadaan ekonomi-sosial-politik ditingkat individu (egosentrik) dan
ditingkat lokal-regional-nasional (sosiotropik).
Pendekatan ini berkembang atas kritikan terhadap kedua pendekatan sebelumnya
baik itu pendekatan sosiologis maupun pendekatan psikologis yang menempatkan pemilih
pada ruang dan waktu yang kosong (determinan). Pemilih seakan-akan menjadi pion yang
mudah ditebak langkahnya. Pendekatan sosiologis menekankan bahwa perilaku memilih
ditentukan oleh struktur sosial masyarakat seperti umur, tingkat pendidikan, tingkat
pendapatan, agama dll. Perilaku memilih merupakan faktor yang ditentukan oleh strukturstruktur sosial tadi.
Pada pendekatan psikologis mengasumsikan jika perilaku memilih individu
ditentukan oleh faktor psikis seseorang seperti identifikasi diri terhadap partai politik,
kesukaan terhadap kualitas kepribadian kandidat, dan informasi politik. Pendekatan ini
menekan bahwa perilaku memilih ditentukan oleh faktor-faktor psikis tadi. Sementara itu,
menurut pendekatan pilihan rasional, yang menentukan dalam sebuah pemilu bukanlah
adanya ketergantungan terhadap ikatan sosial struktural atau ikatan partai yang kuat,
melainkan hasil penilaian rasional dari warga. Pendekatan sosiologis dan psikologis
319
menempatkan individu sebagai obyek yang tidak dapat bertindak “bebas” karena
ditentukan oleh struktur sosial dan aspek psikis atau disebutkan juga determinan,
sementara pilihan rasional menempatkan individu sebagai aspek yang bebas atau voluntary
dalam menentukan pilihannya.
Menurut Anthony Downs melalui deskripsinya mengenai homo economicus, bahwa
sang pemilih rasional hanya menuruti kepentinganya sendiri atau kalaupun tidak, akan
senantiasa mendahulukan kepentingannya sendiri diatas kepentingan orang lain. Ini disebut
juga dengan self-interest axiom. Walaupun menurut Downs, tidak semua orang merupakan
orang yang egois, namun ia tiba pada kesimpulan bahwa “sosok-sosok heroik” ini dari segi
jumlah dapat diabaikan. Manusia bertindak egois, terutama oleh karena mereka ingin
mengoptimalkan kesejahteraan material mereka, yakni pemasukan atau harta benda
mereka. Jika hal ini diterapkan kepada perilaku pemilih, maka ini berarti bahwa pemilih
yang rasional akan memilih partai yang paling menjanjikan keuntungan bagi dirinya. Pemilih
tidak terlalu tertarik kepada konsep politis sebuah partai, melainkan kepada keuntungan
terbesar yang dapat ia peroleh apabila partai ini menduduki pemerintah dibandingkan
dengan partai lain.
Pendekatan pilihan rasional dalam kajian perilaku pemilih diadaptasi dari ilmu
ekonomi yaitu menekan ongkos sekecil-kecilnya untuk memperoleh keuntungan sebesarbesarnya. Maka dalam perilaku memilih rasional (rational choice), pemilih bertindak
rasional yaitu memilih partai politik atau kandidat yang dianggap mendatangkan
keuntungan sebesar-besarnya dan menekan kerugian sekecil-kecilnya.
Down menjelaskan bahwa perilaku memilih berhubungan dengan kebijakan pemerintah
(government actions) dalam suatu periode sebelum Pemilu dilaksanakan. Perilaku memilih
ditentukan manfaat terhadap pendapatan yang diterima akibat dari kebijakan pemerintah
atau kepercayaan terhadap janji politik dari parta oposisi.
“Voting decision is based on a comparasion of the utility income he actually received
during this period from the actions of the incumbent party and those he believes he
would have received had each of the opposition parties been in power”.
“……….He votes for whatever party he believes would provide him with the highest
utilities income from government action”.
320
Down menjelaskan secara makro bahwa government action selain dipengaruhi oleh
sektor swasta juga dipengaruhi oleh faktor masyarakat. Konteks masyarakat disini salah
satunya adalah harapan pemerintah untuk dipilih kembali. Kaitan terhadap hal ini adalah
preposisi bahwa masyarakat akan memilih kembali partai atau kandidat pemerintah jika ada
manfaat pendapatan (utilities income) yang mereka terima akibat kebijakan pemerintah.
Atau jika hal ini tidak diterima oleh masyarakat, maka mereka akan memilih partai oposisi.
Terhadap hal ini dapat diketahui bahwa prasyarat pilihan rasional adalah adanya sistem
multi partai dan oposisi.
Down menyatakan bahwa seorang pemilih umumnya tidak memiliki informasi yang
baik dibidang politik oleh karena informasi yang diterima tidak seimbang, sehingga
menyebabkan mereka memilih tidak rasional. Terhadap hal ini diketahui prasyarat lainnya
dari pilihan rasional adalah adanya akses informasi terhadap kebijakan pemerintah oleh
masyarakat, tanpa akses informasi ini mustahil masyarakat dapat menilai kebijakan
pemerintah dikaitkan dengan manfaat pendapatan (utilities income).
Teori Downs ini kemudian dapat membantu menjelaskan kemunduran tingkat
partisipasi pemilu pada tahun 1980 an dan 1990 an di Jerman. Dalam penelitian Saiful
Munjani juga menjadikan pendekatan pilihan rasional (rational choice/ekonomi-politik)
untuk menjelaskan fenomena atau trend perilaku memilih masyarakat Indonesia pada
Pemilu 1999, 2004 dan 2009.
Menurut perspektif rasionalitas pemilih, seseorang berprilaku rasional yakni
menghitung bagaimana caranya mendapatkan hasil maksimal dengan ongkos minimal.
Model ini memberi perhatian pada dinamika ekonomi-politik, sehingga asumsinya pilihan
politik banyak dibentuk oleh evaluasi atas kondisi ekonomi, personal maupun kolektif.
Evaluasi positif warga terhadap kondisi ekonomi akan memberikan reward (ganjaran)
terhadap pejabat yang sedang menjabat. Sebaliknya, jika evaluasinya negatif, maka dia akan
memberikan hukuman terhadapnya dengan cara memilih pihak oposisi.
Orang memilih calon atau partai apabila calon atau partai tersebut dipandang dapat
membantu pemilih memenuhi kepentingan dasarnya: kehidupan ekonomi. Bagaimana
seseorang pemilih mengetahui bahwa partai dan calon tertentu dapat membantu mencapai
321
kepentingan ekonominya tersebut tidak membutuhkan informasi yang terlalu detail dan
akurat, cukup dengan mempersepsikan keadaan ekonomi dirinya (egosentrik) dibawah
sebuah pemerintahan (partai atau calon).
Dalam model ekonomi-politik ini ditekankan bahwa perilaku politik pemilih
dipengaruhi oleh kepentingan ekonominya (manfaat ekonomi). Bila keadaan ekonomi
rumah tangga seseorang pemilih dibawah pemerintahan sekarang lebih baik dibanding
periode sebelumnya, maka pemilih tersebut cenderung akan memilih partai atau calon
presiden yang sedang memerintah sekarang dan begitu juga sebaliknya.
Salah satu penelitian yang menggunakan teori pilihan rasional (rational choice) di
Indonesia adalah studi oleh Saiful Munjani dkk. Studi ini salah satunya untuk menjawab
pertanyaan: mengapa PDIP menang pada Pemilu tahun 1999, Partai Golkar menang pada
tahun 2004, dan kemudian Partai Demokrat menang pada tahun 2009. Hampir tiga kali
Pemilu pasca reformasi dimenangkan oleh partai yang berbeda. Jawaban terhadap
pertanyaan ini dapat dijelaskan dengan pendekatan pilihan rasional melalu 2 variabel yaitu:
1. Evaluasi atas kinerja pemerintah
2. Evaluasi atas tingkat pendapatan diri dan keluarga
C. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam proses penelitian ini yaitu penelitian deskriptif
dengan
pendekatan
kuantitatif
yang
bertujuan
untuk
mendeskripsikan
atau
menggambarkan dan menganalisa tentang perilaku pemilih di Kota Bima.
Walaupun penelitian ini tergolong penelitian deskriptif, bukan berarti hanya akan
mendeskripsikan data dan fakta yang diperoleh. Akan dilakukan juga interpretasi dan
analisa yang mendalam sehingga akan diperoleh gambaran yang jelas untuk selanjutnya
dapat disimpulkan secara generalisasi.
Penelitian ini mengambil lokasi di Kota Bima secara sengaja. Dalam teknik
pengambilan lokasi secara sengaja, dikenal juga sebagai sampling pertimbangan, terjadi
apabila pengambilan lokasi dilakukan berdasarkan pertimbangan peneliti.
322
Populasi penelitian ini adalah seluruh masyarakat Kota Bima yang memiliki hak pilih
pada Pemilu Legislatif (DPRD Kota Bima, DPRD Provinsi, DPR, DPD), Presiden Tahun 2014
dan Pilkada Kota Bima Tahun 2013. Sedangkan sampaelnya sebanyak 300 orang yang telah
memiliki hak pilih (17 tahun keatas/pernah/telah menikah) untuk diwawancara.
Responden terpilih nantinya akan dikelompokkan berdasarkan kriteria
seperti disajikan pada tabel di bawah ini:
Tabel 9.1: Pengelompokan Responden
KRITERIA
KELOMPOK
1. Latar belakang pendidikan
a. Pendidikan rendah
b. Pendidikan menengah
c. Pendidikan tinggi
2. Jenis kelamin
a. Laki-laki
b. Perempuan
3. Pekerjaan
a. Formal
b. Nonformal
4. Umur
a. Remaja
b. Dewasa
c. Tua
KOTA BIMA
KEC.
KEC.
R
T
R
T
R
T
R
T
R
T
R
T
R
T
R
T
R
T
R
T
Gambar 9.1: Alur Penentuan Responden
323
Pengumpulan data dilakukan dengan metode Multi Stage Random Sampling yang
melakukan pengacakan bertingkat mulai dari pengacakan lokasi (Kelurahan) hingga
penentuan responden terpilih yang akan diwawancara dengan menggunakan metode acak
Kish Grid. Sebagai kontrol, tiap responden akan diberikan kartu kontrol yang nantinya akan
didatangi lagi sebagai pengecekan ulang apakah wawancara benar-benar dilakukan. Quality
control dilakukan terhadap 20 persen responden secara acak dan dilakukan oleh pendata
dari STISIP Mbojo Bima sebagai pelaksana project survey. Peneliti melakukan pengumpulan
data dengan menggunakan instrumen kuesioner yang telah disiapkan kemudian kuesioner
tersebut diisi oleh setiap responden dengan teknik wawancara oleh surveyor yang terlatih.
Surveyor yang melakukan kegiatan pengumpulan data lapangan 15 (lima belas) orang,
dimana masing-masing orang memperoleh jatah wawancara 20 (dua puluh orang)
responden dengan rincian 10 (sepuluh) orang responden setiap kelurahannya.
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Statistical Package for the
Social Sciance (SPSS). Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Pemeriksaan data (editing)
Pemeriksaan data atau editing ini dilakukan ketika semua data dari kuesioner atau
angket terkumpul, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memeriksa kembali
kuesioner tersebut satu persatu, sehingga diharapkan angket yang akan diolah sesuai
dengan harapan yaitu sudah diisi dengan benar dan jelas, seperti kuesioner yang masuk
diperiksa dari kesalahan-kesalahan seperti kurang jawaban, kesalahan jawaban.
2) Pemberian Kode (coding)
Langkah ini merupakan pemberian kode terhadap jawaban-jawaban yang diperoleh dari
responden. Hal ini dilakukan untuk menyederhanakan data-data yang diperoleh, dengan
tujuan memudahkan analisa data, contoh data yang ada dikelompokkan pada
karakteristik responden.
3) Tabulasi
Aktivitas tahap ini dilakukan pada saat semua angket telah diperiksa. Tahap pertama
adalah tabel-tabel kerja sesuai dengan variabel-variabel pertanyaan, sehingga dapat
324
digunakan untuk memudahkan pembacaan terhadap data serta mempermudah
karakteristik responden berdasarkan jawaban yang diberikan dalam kuesioner.
Tahap analisis data merupakan usaha untuk memecahkan suatu masalah dan
hipotesis dalam suatu penelitian. Agar tujuan dalam penelitian ini dapat tercapai maka
dilakukan analisis data statistik menggunakan program SPSS yang kemudian dianalisis serta
dideskripsikan untuk menjawab tujuan penelitian yaitu bagaimana perilaku pemilih di Kota
Bima.
D. Hasil Penelitian
D.1. Gambaran Umum Responden Penelitian
Dari total 300 orang responden, 93 orang reponden atau 31% responden dengan
latar belakang pendidikan tidak tamat SD, tamatan SD dan SMP/sedarajat. Tingkat
pendidikan yang rendah menjadi asumsi sementara penyebab terjadinya error dalam pemilu
tahun 2014.
Tabel 9.2. Tingkat Pendidikan
Frequency
Percent
Valid
Cumulative Percent
Percent
Valid
SD/ MI/ sederajat
39
13.0
13.0
13.0
40
13.3
13.3
26.3
SLTA/ MA
127
42.3
42.3
68.7
SMK
16
5.3
5.3
74.0
D1/ D2
2
.7
.7
74.7
D3/ Akademi
5
1.7
1.7
76.3
D4/ Sarjana
56
18.7
18.7
95.0
Pasca Sarjana
1
.3
.3
95.3
14
4.7
4.7
100.0
300
100.0
100.0
SMP/ MTS/
sederajat
Tidak Sekolah/
belum tamat SD
Total
325
Grafik 9.2. Tingkat Pendidikan (%)
0,3
4,7
SD/ MI/ Sederajat
13
SMP/ MTS/ Sederajat
13,3
SLTA/ MA
18,7
SMK
D1/ D2
1,7
0,7
D3/ Akademi
5,3
D4/ Sarjana
42,3
Pasca Sarjana
Tidak Sekolah/ Belum
tamat SD
Dari total keseluruhan sample, yang bekerja di Sector Formal (PNS, Guru,
Profesional, Pegawai BUMN/BUMD, Karyawan Swasta) dengan rata-rata penghasilan
menengah keatas sebesar 62 orang responden (20,7%). Sedangkan pada Sector dengan
penghasilan standar rata-rata menengah kebawah atau disebut Sector Informal (Pedagang,
Petani, Nelayan, Buruh Industri, Ibu Rumah Tangga) sebesar 218 (72,6%) dan sisanya
adalah terkategori Pensiunan dan Pelajar sebesar 20 orang (6,7%).
Tabel 9.3. Pekerjaan
Pekerjaan
Valid
8.7
Valid
Percent
8.7
Cumulative
Percent
8.7
20
6.7
6.7
15.3
1
.3
.3
15.7
5
1.7
1.7
17.3
11
3.7
3.7
21.0
Frequency
Percent
PNS
26
Guru/Pengajar/Dosen
Buruh Pabrik/Buruh
Perkebunan
Pegawai
BUMD/BUMN
Karyawan Swasta
326
Frequency
Percent
Valid
Percent
Cumulative
Percent
49
16.3
16.3
37.3
41
13.7
13.7
51.0
Nelayan/Tambak
3
1.0
1.0
52.0
Petani/Ternak
3
1.0
1.0
53.0
Jasa Transportasi
3
1.0
1.0
54.0
Ibu Rumah Tangga
79
26.3
26.3
80.3
Pelajar/Mahasiswa
11
3.7
3.7
84.0
bekerja tidak tetap
22
7.3
7.3
91.3
tidak bekerja
16
5.3
5.3
96.7
Pensiunan
9
3.0
3.0
99.7
Lainnya
1
.3
.3
100.0
300
100.0
100.0
Pekerjaan
Pekerja
Pertambangan
Wiraswasta/Pedagang
/Usaha Sendiri/
Total
PNS
Grafik 9.3. Jenis Pekerjaan
Guru/Pengajar/Dosen
0,3
5,3
3
8,7
6,7
7,3
3,7
0,3
1,7
3,7
Buruh Pabrik/Buruh Perkebunan
Pegawai BUMD/BUMN
Karyawan Swasta
Pekerja Pertambangan
16,3
26,3
13,7
1 11
Wiraswasta/Pedagang/Usaha
Sendiri
Nelayan/Tambak
Petani/Ternak
Jasa Transportasi
327
1.
Penggunaan Hak Pilih dalam Pemilu Legislatif Tahun 2014
Dari total 300 responden yang diwawancara, sebanyak 10,7 % tidak
menggunakan hak
pilih dalam Pemilu Legislatif Tahun 2014 yang lalu dan sebanyak 89,3 % menggunakan hak
pilih. Error yang terjadi dalam Pemilu lalu lebih disebabkan karena rusaknya surat suara,
sehingga asumsi ini tidak mendasar pada tidak digunakannya hak pilih.
Adapun alasan responden tidak menggunakan hak pilih, dari 10,7% terdapat
sebanyak 9.3% mengaku tidak terdaftar dalam DPT dan 0,3% mengaku tidak memiliki waktu
untuk melakukan pencoblosan dikarenakan kesibukan bekerja dan 1 % memilih untuk tidak
menjawab.
Mengenai pemilu presiden tahun 2014 juga terdapat kemiripan pola dengan
perbedaan hasil yang tidak terpaut jauh dari Pemilu Legislatif Tahun 2014. Dari hasil yang
ada, sebanyak 37 pemilih (12,3%) tidak menggunakan hak pilihnya dengan alasan yang sama
seperti pada ketidakikutsertaan responden dalam Pemilu lagislatif yaitu tidak terdaftar
dalam DPT. Adapun dari total 12,3% responden yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam
pemilu Presiden tahun 2014 yaitu sebanyak 8,7% tidak terdaftar dalam DPT dan sisanya
dengan alasan tidak mengetahui informasi dan tidak memiliki waktu datang ke TPS serta
karena alasan tidak ada calon yang sesuai dengan aspirasi.
Pertimbangan ini menjadi rekomendasi untuk maksimalisasi pencatatan pemilih
dalam DPT pada Pemilu yang akan datang.
Tabel 9.4. Penggunaan hak pilih dalam Pemilu Legislatif yang lalu
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Ya
268
89.3
89.3
Cumulative
Percent
89.3
Tidak
32
10.7
10.7
100.0
Total
300
100.0
100.0
328
Grafik 9.4. Penggunaan Hak Pilih dalam Pemilu Legislatif
Tahun 2014
Ya
10,7
Tidak
89,3
D.2. Penggunaan Hak Pilih
D.2.1. Alasan Tidak menggunakan Hak Pilih
Tabel 9.5. Alasan tidak menggunakan hak pilih pada Pemilu Legislatif
Frequency Percent
Valid
Tidak terdaftar
dalam daftar pemilih
tetap (DPT)
Tidak memiliki waktu
yang cukup menuju
TPS
TT/TM
28
9.3
Valid
Percent
87.5
Cumulative
Percent
87.5
1
.3
3.1
90.6
3
1.0
9.4
100.0
Total
32
10.7
100.0
Grafik 9.5; Alasan tidak menggunakan hak pilih pada
Pemilu Legislatif
9,3
0,3
1
Tidak Terdaftar Dalam
Daftar Pemilih Tetap
(DPT)
Tidak Memiliki Waktu
Yang Cukup Menuju TPS
TT/TM
329
D.2.2. Penggunaan Hak Pilih Pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
Tabel 9.6. Penggunaan Hak Pilih Pada Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014
Valid
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Ya
263
87.7
87.7
87.7
Tidak
37
12.3
12.3
100.0
Total
300
100.0
100.0
Percent
Grafik 9.6. Penggunaan Hak Pilih Pada Pemilu Presiden dan
Wakil Presiden Tahun 2014
Ya
12,3
Tidak
87,7
330
2. Alasan Tidak Menggunakan Hak Pilih Pada Pemilu Presiden Dan Wakil Presiden Tahun
2014
Tabel 9.7. Alasan Tidak Menggunakan Hak Pilih Pada Pemilu Presiden Dan Wakil
Presiden
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Tidak terdaftar dalam
26
8.7
70.3
70.3
daftar pemilih tetap
(DPT)
Tidak mengetahui
informasi mengenai
Pemilu Presiden dan
wakil presiden
Tidak memiliki waktu
yang cukup menuju
TPS
Tidak ada calon
Presiden dan wakil
presiden yang sesuai
dengan aspirasi
Valid
1
.3
2.7
73.0
5
1.7
13.5
86.5
2
.7
5.4
91.9
TT/TM
3
1.0
8.1
100.0
Total
37
12.3
100.0
Grafik 9.7. Alasan Tidak Menggunakan Hak Pilih Pada
Pemilu Presiden Dan Wakil Presiden
Tidak Terdaftar Dalam
Daftar Pemilih Tetap (DPT)
0,3
1,7
8,7
0,7
Tidak Mengetahui
Informasi Mengenai
Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden
Tidak Memiliki Waktu
Yang Cukup Menuju TPS
1
Tidak Ada Calon Presiden
dan Wakil Presiden Yang
Sesuai Dengan Aspirasi
331
D.2.3. Penggunaan Hak Pilih dalam Pemilukada Kota Bima Tahun 2013
Berbeda dengan pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD dan Pemilu Presiden dan
Wakil Presiden Tahun 2014, terhadap pertanyaan tentang penggunaan hak pilih pada
Pemilukada Kota Bima Tahun 2013, terdapat perubahan perilaku pemilih dari Pemilu
legislatif dan pemilu presiden tahun 2014 banyak responden yang tidak menggunakan
hak pilih (tidak mencoblos). Sedangkan pada pemilukada Tahun 2013 yang tidak
menggunakan hak pilih dari total 100% responden hanya sebanyak 6.0 % tidak
menggunkan hak pilih. Meski jumlahnya tidak begitu besar, alasan tidak terdaftar dalam
DPT masih menjadi alasan dengan urutan teratas.
Tabel 9.8. Penggunaan Hak Pilih dalam Pemilukada Kota Bima
Valid
Frequency
Percent
94.0
Valid
Percent
94.0
Cumulative
Percent
94.0
Ya
282
Tidak
18
6.0
6.0
100.0
Total
300
100.0
100.0
Grafik 9.8. Penggunaan Hak Pilih dalam
Pemilukada Kota Bima Lalu
6
Ya
Tidak
94
332
D.2.4. Alasan Tidak Menggunakan Hak Pilih Pada Pemilukada Kota Bima Tahun 2013
Tabel 9.9. Alasan Tidak Menggunakan Hak Pilih Pada Pemilukada Kota Bima
Valid
Tidak Terdaftar Dalam
Daftar Pemilih Tetap
(DPT)
Tidak Mengetahui
Informasi Mengenai
Mengenai Pemilukada
Tidak Memiliki Waktu
Yang Cukup Menuju TPS
Tidak Ada Calon Kepala
Daerah Yang Sesuai
Dengan Aspirasi
Tidak Ada Calon Kepala
Daerah Yang Visi-Misinya
Jelas
Tidak Ada Calon Kepala
Daerah Yang
Memberikan Uang
Freque Percent
ncy
Valid
Percent
Cumulative
Percent
6
2.0
33.3
33.3
2
.7
11.1
44.4
1
.3
5.6
50.0
3
1.0
16.7
66.7
1
.3
5.6
72.2
2
.7
11.1
83.3
TT/TM
3
1.0
16.7
100.0
Total
18
6.0
100.0
Grafik 9.9. Alasan Tidak Menggunakan Hak
Pilih Pada Pemilukada Kota Bima
2
0,7
1
0,3
0,7
0,3
1
Tidak Terdaftar Dalam
Daftar Pemilih Tetap
(DPT)
Tidak Mengetahui
Informasi Mengenai
Mengenai Pemilukada
Tidak Memiliki Waktu
Yang Cukup Menuju TPS
Tidak Ada Calon Kepala
Daerah Yang Sesuai
Dengan Aspirasi
Tidak Ada Calon Kepala
Daerah Yang VisiMisinya Jelas
333
D.3. Pertimbangan Memilih Pada Pileg, Pilpres dan Pemilukada
Pada pertayaan pertimbangan masyarakat dalam mengikuti pemiihan umum terdapat
beragam alasan pertimbangan masyarakat. Pertimbangan objektif seperti kemampuan dan
kepribadian kandidat (calon) menempati urutan teratas dengan persentase 37,9% atau 30
orang responden dari total 300 sampel. Sementara berdasarkan pertimbangan objektif lain
yaitu track record/rekam jejak calon, menempati urutan ketiga sebesar 18,4% yang diikuti
pertimbangan latar belakang profesi/pekerjan kandidat (calon) sebesar 10.6%. Diluar
pertimbangan objektif pemilih, memilih dengan pertimbambangan karena memiliki
hubungan keluarga, latar belakang kesamaan identitas kesukuan menempati posisi kedua
sebesar 20,2%. Hal
ini terbilang wajar mengingat ikatan emosional kekeluargaan
merupakan identitas pengikat yang paling dasar dalam sistem sosial. Adapun responden
yang memilih calon kandidat tertentu karena dipengaruhi oleh anak, saudara dan tetangga
di lingkungannya sebesar 9,6%, kemudian repsonden yang mengaku memilih karena dipaksa
oleh tokoh masyarakat di lingkungannya sebesar 2.0% dan memilih karena pertimbangan
menerima pemberian uang/sembako dll dari calon/partai/ tim suksesnya mempati urutan
bawah yaitu 1,1%.
Terhadap pertanyaan tentang pengetahuan atau informasi yang diperoleh masyarakat
tentang adanya bantuan, hadiah, sumbangan dll dari kandidat (grafik dan tabel 11), lebih
dari setengah responden (55%) mengaku mengetahui bahwa ada praktik pemberian uang
atau hadiah dan lain-lain untuk mempengaruhi perilaku pemilih dan 41% responden
mengaku tidak mengetahui informasi tentang hal tersebut dan sisanya 4% memilih untuk
tidak menjawab. Melalui pertanyaan terbuka, responden diminta untuk menceritakan
bentuk dari pada praktik bantuan, hadiah, sumbangan dll yang mereka ketahui seperti
ditunjukan pada grafik dan tabel 12 yaitu dalam bentuk uang (fresh money) berada diurutan
teratas sebesar 48%, dalam bentuk sembako sebanyak 31%, pemberian dalam bentuk baju
10,3% dan pemberian lainnya (seperti kursi plastik,dll) sebesar 8,3%. Adapun yang
memberikan dalam bentuk hewan peliharaan sebesar 2% dan voucher belanja 1%.
Sikap yang ditunjukan masyarakat terhadap calon/kandidat tertentu yang memberikan
sumbangan/bantuan/hadiah berupa uang, dll ditunjukan secara beragam seperti pada tabel
334
dan grafik nomor 13 yaitu 32% menyatakan sikap independennya dengan tidak menerima
pemberian hadiah/bantuan/uang dll dan tidak memilih candidat/calon yang melakukan
praktek money politik. Jika urutan teratas masyarakat menyatakan sikap independennya,
namun tidak demikian pada urutan kedua yang lebih pragmatis atau mudah terpengaruh
dengan politik uang dan politik bantuan dari kandidat/calon yaitu sebesar 24% responden.
Pada urutan ketiga sebesar 19,3% reponden lebih menunjukan sikap selektif untuk
menerima uang/bantuan/hadiah dari calon/kandidat yang diinginkan oleh mereka sendiri.
Sementara itu sebesar 7,7% responden menunjukan sikap “lebih pintar” yaitu tetap
menerima bantuan/uang/hadiah dll meski tidak memilih calon atau kandidat tersebut.
Pada grafik dan tabel 14 data menujukan terdapat 13,7% dari 300 orang responden
yang diwawancarai menyatakan menerima bantuan dari para calon/ kandidat dan sebanyak
68,7% menjawab tidak menerima bantuan/ uang/ hadiah, dll serta 17,7% responden
memilih untuk tidak menjawab atau tidak mengetahui. Terhadap pertanyaan lanjutan
apakah bantuan/ hadiah/ uang dll mempengaruhi pilihan masyarakat (grafik dan tabel 15)
sebanyak 21,7% responden menjawab bahwa bantuan/ uang/ hadiah yang diberikan
mempengaruhi pilihan mereka. Sementara itu sebesar 66,0% menyatakan tidak
terpengaruhi oleh politik bantuan atau politik uang.
Atas pertanyaan lanjutan tentang money politik dan sejenisnya, responden ditanyakan
mengenai reaksi mereka apabila mendapat bantuan/ uang/ hadiah dll dari dua atau lebih
calon/ kandidat dan apabila mendapat hadiah/ bantuan/ aauang dalam nomianal atau
jumlah yang sama, maka bagaimana masyarakat menyikapi masalah tersebut (tabel dan
grafik 16 dan 17). Sebanyak 11,3% respoden menjawab mencoblos kandidat atau calon
dengan bantuan/ hadiah/ uang terbanyak. 75,5% mengatakan tidak terpengaruh oleh
pemberian kandidat dengan alasan pertimbangan yang lain. Sementara itu, sebanyak 6,7%
dalam posisi dilematis mengaku mencoblos semua kandidat atau calon yang memberikan
hadiah/sumbangan/ uang dan sebanyak 6,3% menyikapi posisi dilematisnya dengan
bersikap abstain atau tidak memilih/ mencoblos. Scor yang kuang lebih hampir sama dengan
pertanyaan apabila mendapat bantuan/ hadiah/ uang dengan nominal yang sama dari
banyak kandidat. Sebesar 13,0 responden menjawab mencoblos semua nama/ gambar
335
kandidat yang memberikan uang/ bantuan/ hadiah, 11,3% memilih untuk tidak mencoblos
atau abstain dan sebanyak 75% responden menjawab tidak terpengaruh oleh bantuan/
hadiah/ uang yang diberikan dengan alasan pertimbangan yang lain.
Meski tidak begitu besar dan bukan sebagai variable tunggal, politik uang/ politik
bantuan mempengaruhi banyaknya kertas suara rusak. Posisi dilematis masyarakat akan
money politik dari semua candidat/ calon membuat masyarakat mengambil sikap untuk
abstain atau tidak melakukan pencoblosan dan atau memutuskan untuk mencoblos semua
kandidat/ calon yang memberikan uang/ bantuan/ hadiah dll.
Tabel 9.10. Pertimbangan Memilih Pada Pileg, Pilpres, Pemilukada Lalu
Valid
Frequency
Percent
Valid
Percent
Cumulative
Percent
57
19.0
20.2
20.2
52
17.3
18.4
38.7
30
10.0
10.6
49.3
107
35.7
37.9
87.2
3
1.0
1.1
88.3
27
9.0
9.6
97.9
6
2.0
2.1
100.0
282
94.0
100.0
Tidak memilih
18
6.0
Total
300
100.0
Hubungan
keluarga/suku dengan
calon
Track record/rekam
jejak dari calon
Latar belakang profesi/
pekerjaan calon
Kemampuan dan
kepribadian calon
Menerima pemberian
uang/sembako dll dari
calon/partai/ tim
suksesnya
Diberi masukan/saran
dari sanak
saudara/tetangga di
sekitar
Dipaksa/ dipengaruhi
oleh tokoh masyarakat
di lingkungan anda
Total
336
Grafik 9.10. Alasan Memilih Pada
Pileg, Pilpres, Pemilukada Lalu
Hubungan keluarga/suku dengan
calon
Track record/rekam jejak dari
calon
19
2
6
17,3
9
1
10
35,7
Latar belakang profesi/ pekerjaan
calon
Kemampuan dan kepribadian
calon
Menerima pemberian
uang/sembako dll dari
calon/partai/ tim suksesnya
Diberi masukan/saran dari sanak
saudara/tetangga di sekitar
Dipaksa/ dipengaruhi oleh tokoh
masyarakat di lingkungan anda
Tidak memilih
337
DAFTAR PUSTAKA
Sumber dari buku :
Affan Gaffar, Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, Cet.
Keenam, September 2006, hal 7-9
Anthony Down, An Ecnomic Theory Of Political Action In A Democracy, at The Journal of
Political Economy, Volume 65, Issue 2. US: 1957. Hal. 140
Budiardjo, Miriam. “DASAR-DASAR ILMU POLITIK”. JAKARTA,2008.
Dieter Roth, Studi Pemilu Empiris: Sumber, Teori-Teori, Instrumen dan Metode. Jakarta:
Friedrish-Naumann-Stiftung fur die Freiheit. 2008. hal. 48
Fransiskus Sudiarsis (ed), dalam Deny JA, Memperkuat Pilar Kelima, Pemilu 2004 dalam
Temuan Survei LSI, LkiS, Jogjakarta, Agustus, 2006, hal.ix
Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Gadjah Mada University Press, Yogjakarta,
Cet,. Kesepuluh 2003, hal. 63.
Hans-Dieter Klingemann dkk, Partai, Kebijakan dan Demokrasi, Pustaka Pelajar, Jogjakarta,
Maret 2000, hal 8
Joanes Joko dan Esti Wulandari, Pemilu 2004 Sebuah Tinjauan Kritis, Solo, 2004, hal 10
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, Cet.
Duapuluh Edisi Revisi, 2004, hal. 6
Kusnardi, Moehamad et al.ILMU NEGARA. JAKARTA, 1988.
Marijan, Kacung. SISTEM POLITIK INDONESIA. JAKARTA, 2010.
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cet.
Keduapuluh dua, Agustus 2002, hal 161
Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, Gramedia Widia Sarana Indonesia, Jakarta, Cet
keempat, 1999, hal.140
Ritzer, George & Goodman, Douglas J, (2004). Teori Sosiologi Modern, Jakarta : Prenada Media
Roth, Op.Cit hal. 49. Kutipan dari Buku karya Anthony Down, Economic Theory of Democracy,
New York 1957
338
Saiful Munjani, R. William Liddle, Kuskridho Ambardi, Kuasa Rakyat, Jakarta: Mizan Publika.
2012. hal 98
Tim Kontras, Pemilu dan Kebebasan Sipil dalam Mempertimbangkan Pemilu Aceh di Bawah
Darurat Militer, Kontras, Maret 2004, hal. 9
Sumber Non Buku :
Kompas, Kamis, 26 Februari 2004
Sinar Harapan, Kamis 12 September 2002
_____ , PDIP Incar Pemilih Pemula 2009, Antara News, Kamis 17 Januari 2008
_____ , Coblosan Pilkada Dimulai, www.pemilu-online.com, 5 November 2007
_____ , Eddy-Budi Pemenang Pilkada, www. pemilu-online.com, 16 November 2007
PP No 6 Tahun 2005 tenang Pemilihan Pengangkatan dan Pemberhentian Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah
http://www.in-christ.net/files/favicon.gif
http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/memahami-eksistensi-golput-dalam.html
http://www.infoskripsi.com/Free-Resource/Konsep-Perilaku-Pengertian-Perilaku-BentukPerilaku-dan-Domain-Perilaku.html
http://leo4kusuma.blogspot.com/2008/12/tentang-golput-1-pengertian-secara-umum.html
339
BAB X
PERILAKU PEMILIH DALAM PEMILU
Figuritas, Tokoh Panutan, Dan Kemandirian Pemilih
Analisa Penelitian Partisipasi Memilih di Kel. Pancor Lombok Timur Tahun 2015
M. Saleh * Musa Al Hadi * Taharuddin
Zinurrain * M.Lutfi Sarifudin
A. Pengantar
Apakah partisipasi memilih merupakan satu-satunya bentuk dari partisipasi politik
masih menjadi perdebatan di kalangan sarjana ilmu politik. Bagi sebagian kalangan
partisipasi memilih (voting) hanya salah satu dari sekian banyak bentuk partisipasi politik.
Ada banyak bentuk partisipasi yang bisa dilakukan warganegara, baik yang umum dan biasa
sampai yang ekstrem sekalipun. Warganegara yang ikut serta dan memperhatikan gosip
berita tentang politik dan pemerintahan termasuk telah melaksanakan partisipasi politik. Pun
yang paling ekstrem misalnya melakukan kudeta atas pemerintahan yang sah termasuk
berpartisipasi dalam politik. Sedangkan bagi yang lain partisipasi kemudian berarti bertindak
(to act) sehingga bincang-bincang tidak termasuk dalam partisipasi. Dan kemudian tingkat
partisipasi politik mencapai puncaknya ketika pemilihan umum. Maka dipersempit partisipasi
memilih merupakan partisipasi politik utama warganegara. (Saiful Mujani. R. William Liddle,
Kusrido Ambardi, 2011)
Studi perilaku memilih (voting behavior) berkisar pada empat pertanyaan, (1)
Mengapa seorang memilih partai tertentu dan bukan partai lainnya; (2) Mengapa seseorang
memilih kandidat tertentu dan bukan lainnya; (3) Mengapa seseorang bersetia memilih satu
partai dari pemilu ke pemilu; (4) sementara ada pemilih yang berganti-ganti pilihan pada tiap
kali pemilu.
Secara garis besar ada dua mazhab besar yang dipakai dalam penelitian tentang perilaku
pemilih, yaitu pendekatan sosiologis dan pendekatan psikologis (Josef Kristiadi, 1993).
Pendekatan sosiologis dipelopori oleh Biro Penerapan Ilmu Sosial Universitas Columbia
(Colombia University Bureau of Applied Science). Berdasar inilah pendekatan sosiologis dalam
340
studi voting disebut juga sebagai mazhab Colombia atau Kelompok Colombia. Dalam karyakarya yang diterbitkan kelompok ini diungkapkan bahwa perilaku politik seseorang terhadap
partai politik tertentu dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti sosial ekonomi,
afiliasi etnik, tradisi keluarga, keanggotaaan terhadap organisasi, usia, jenis kelamin,
pekerjaan, tempat tinggal, dan lain-lain.
Pendekatan Psikologis dipelopori oleh Pusat Penelitian dan Survei Universitas
Michigan (University of Michigan’s Survey Research Centre). Karena itulah studi voting yang
menggunakan pendekatan psikologis dikenal juga sebagai mazhab Michigan atau Kelompok
Michigan. Pendekatan ini sekurang-kurangnya dimaksudkan untuk melengkapi pendekatan
sosiologis yang kadang-kadang dari segi metodologis agak sulit menentukan kriteria
pengelompokan masyarakat. Selain itu, ada kecenderungan bahwa semakin lama dominasi
kelas tertentu terhadap partai politik tertentu tidak lagi mutlak.
Pendekatan psikologis yang awalnya dikembangkan di Amerika memusatkan pada
tiga aspek, yakni keterikatan seseorang dengan partai politik, orientasi seseorang kepada
para calon presiden maupun anggota parlemen, dan orientasi seseorang terhadap isu-isu
politik. Misalnya, kalau seseorang mempunyai kecenderungan mengidentifikasikan diri
dengan Partai Demokrat, dan kemudian terpikat isu-isu dan kandidat, maka dalam pemilu
akan memilih Partai Demokrat.Inti pendekatan psikologis adalah identifikasi seseorang
terhadap partai tertentu yang kemudian akan mempengaruhi sikap orang tersebut terhadap
para calon dan isu-isu politik yang berkembang. Kekuatan dan arah identifikasi kepartaian
adalah kunci dalam menjelaskan sikap dan perilaku pemilih.
Untuk menjelaskan perilaku memilih di Kelurahan Pancor penelitian ini menetapkan
figuritas, visi peserta pemilu, pemimpin opini, partai politik, media, dan keinginan sendiri
sebagai faktor independen. Tiga kali pelaksanaan pemilihan; Pemilihan Kepala Daerah tahun
2013, Pemilihan Legislatif tahun 2014, dan Pemilihan Presiden tahun 2014 menjadi bahan
kajian dalam menentukan faktor yang menentukan perilaku memilih di Kelurahan Pancor.
Masalah figuritas peserta pemilu menjadi salah satu penjelasan perilaku memilih di
Indonesia. Penelitian yang diadakan Saiful Mujani dan William Liddle menunjukan
341
pentingnya faktor figur pemimpin partai dalam perilaku memilih pasca Orde Baru. Pemilih
kemudian mendukung PDI-P karena faktor Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum
partai. Begitu pula dengan PAN dengan Amien Rais, mantan Ketua Umum Muhammadiyah
organisasi terbesar kedua di Indonesia, PKB dengan Gus Dur, bekas Ketua Umum Nahdlatul
Ulama (NU), organisasi islam terbesar di Indonesia. Dan yang terakhir munculnya Partai
Demokrat dengan SBY dan Partai Gerindra dengan Prabowo Subianto. Mereka memilih
pemimpin partai, bukan partainya.
Hal ini dengan jelas dapat dilihat pada pelaksanaan pemilukada. Penelitian yang
dilakukan Bafadal (2009) peran partai politik sangat minimal, dan digantikan oleh kelompok
yang disebut tim sukses atau nama lain. Pemenang pemilukada tidak jarang dari pasangan
yang didukung koalisi partai dengan suara minimal, bahkan pasangan yang maju melalui jalur
independen. Tidak ada korelasi antara dukungan pada partai politik dengan dukungan pada
pasangan calon dalam pemilukada. Pemilih memilki kebebasan relatif dan tidak terikat pada
dukungan partai politik. Berdasarkan hal ini kemudian peran partai politik dalam
menentukan pasangan calon yang didukung pemilih kemudian kecil sekali, bahkan lebih pada
level yang lebih buruk, tidak ada sama sekali.
Perilaku pemilih yang otonom juga dijelaskan oleh Leo Agustanto (2009), pada
pemilukada pemilih menjadi swinging voters. Maksudnya bisa saja pada tahun ini seorang
pemilih mendukung pasangan X dan bukan pasangan Y namun lima tahun berikutnya ia akan
mendukung pasangan Y bergantung pada apa yang ditawarkan oleh peserta pemilukada
tersebut. Dengan ringan dan gampangnya pemilih kemudian berpindah-pindah dari satu
pasangan ke pasangan lain. Ini bukan hanya khas indonesia tetapi merupakan gejala pemilih
di negara berkembang, ketika angka masa mengambang (floating mass) dan pemilih berayun
(swinging voters) masih sangat tinggi.
Bila demikian muncul pertanyaan, apakah dengan demikian visi dan misi peserta
pemilu begitu penting? Leo Agustanto (2009) membantahnya. Pemilih dipandang tidak
mementingkan program peserta pemilu. Mereka berpikir pragmatis, apa yang bisa
didapatkan dengan cepat dari peserta pemilu. Bagi pemilih, belum tentu program yang
dijanjikan peserta pemilu akan mampu direalisasikan dalam kepemimpinannya nanti. Maka
342
dari itu peserta pemilu kemudian menjawabnya dengan menyajikan kampanye dengan
model pembagian sembako, kaos, bahkan dengan membagikan uang dalam jumlah tertentu.
Kampanye yang dialogis dan intelek dipandang tidak akan mampu menyenangkan dan
merebut hati pemilih. Peserta pemilu hanya mengikuti pola pikir masyarakat yang jangka
pendek.
Padahal salah satu tujuan pemilihan langsung adalah menipiskan peluang terjadinya
politik uang. Sebagaimana disampaikan Joko J. Prihatmoko (2005) pemilukada merupakan
ikhtiar untuk menipiskan praktik politik uang. Jika dipilih oleh DPRD maka politik uang sulit
untuk dihindarkan, peserta pemilihan akan memberi uang kepada anggota DPRD untuk
memilihnya. Dengan pemilihan langsung politik uang tidak akan efektif karena calon pemberi
uang tidak mudah melakukan kontrol. Apalagi mekanisme pengawasan pemilukada
dilakukan secara ketat oleh lembaga tersendiri (Panitia Pengawas/panwas). Masyarakat bisa
bersaksi jika terjadi politik uang.
Mengenai fenomena politik uang, Adjie Alfaraby – Peneliti Senior Lingkaran Survei
Indonesia – menyampaikan toleransi masyarakat terhadap politik uang masih sangat tinggi.
Meskipun tiap daerah tingkat toleransinya berbeda-beda namun umumnya masih menjadi
gejala umum dalam pemilu. Hal ini yang membuat persepsi mahalnya biaya menjadi peserta
pemilu. Strategi memenangkan pemilu diasumsikan dengan menyiapkan segunung uang,
dukungan banyak partai politik, dan semaraknya kampanye yang mahal.
Salah satu faktor penting dalam partisipasi politik masyarakat berkaitan dengan
keberadaan elit. Sebagaimana dijelaskan Haryanto (2005), elit merupakan anggota
masyarakat yang mempunyai keunggulan daripada masyarakat lain. Dalam setiap cabang
kehidupan selalu muncul kelompok elit ini. Dalam mengendalikan partisipasi politik
masyarakat ada dua sifat perilaku yang mungkin dilakukan oleh elit. Partisipasi politik yang
sifatnyamobilisir atau dikerahkan terjadi apabila elit mengadakan upaya-upaya untuk
melibatkan massa ke dalam aktivitas-aktivitas politik. Sementara itu partisipasi politik yang
sifatnya mandiri atau sukarela terjadi apabila elit hanya menganjurkannya atau menghimbau
agar massa melakukan aktivitas-aktivitas politik. Dalam partisipasi politik yang sifatnya
mandiri, elit tidak mempunyai kemampuan dan sekaligus juga tidak mempunyai kemauan
343
untuk melakukan tindakan pemaksaan atau penindasan agar massa melakukan aktivitasaktivitas politik.
Partai Politik merupakan entitas yang tidak dapat dipisahkan dari sistem demokrasi
dan pemilu sebagai mekanisme penyertanya. Keikutsertaan dalam pemilu merupakan salah
satu ciri khas dari partai politik. Sebagaimana disampaikan oleh Sigit Pamungkas (2011)
partai politik didefiniskan sebagai sebuah organisasi untuk memperjuangkan nilai atau
ideologi tertentu melalui penguasaan struktur kekuasaan dan kekuasaan itu diperoleh
melalui keikutsertaan dalam pemilihan umum. Partai politik berbeda dengan organisasi
sosial dan organisasi ekonomi. Partai politik didirikan bukan untuk memberi pelayanan sosial
dan amal, bukan pula untuk meraih keuntungan ekonomi. Partai politik didirikan untuk
meraih kekuasaan dan memperjuangkan ideologi yang dianutnya. Partai politik juga berbeda
dengan kelompok kepentingan yang berusaha mempengaruhi kebijakan pemerintah namun
tidak berusaha untuk meraih jabatan-jabatan publik.
Peran ideologis partai politik dipertanyakan oleh Guno Tri Tjahjoko (2011).
Penelitian yang dilakukannya di Malang Raya menunjukan partai politik telah bergeser jauh
dari peran ideologis menjadi peran karikatif sebagaimana organisasi sosial. Alih-alih
menguatkan ideologi bagi para kader dan pemilihnya, partai politik kemudian lebih
mengambil peran memberikan banyak sumbangan pada pemilih baik secara organisasi
maupun pribadi kader. Perilaku seperti ini dipandang lebih menarik bagi pemilih daripada
pembinaan ideologis. Program partai pun terkesan pragmatis dan dalam usaha untuk
begerak ke tengah menjangkau pemilih yang lebih heterogen. Pada akhirnya hubungan
antara partai dengan pemilih lebih bersifat transaksional dan mencapai puncaknya
menjelang pelaksanaan pemilihan.
Terkait dengan peran media massa dalam politik di Indonesia, Kacung Marijan
(2010) menjelaskan ada empat pola. Pertama, apa yang disampaikan media massa
sesungguhnya hanya mengabarkan apa yang terjadi di dalam masyarakat, tidak ada agenda
tersembunyi. Kedua, media tidak dapat menentukan apa yang dipikirkan tetapi dapat
mempengaruhi apa yang dipikirkan. Ketiga, media massa mempengaruhi pikiran dengan
menentukan fokus pada suatu kejadian sehingga mempengaruhi penafsiran dari pemirsa.
344
Dan terakhir media memiliki pengaruh langsung pada sikap dan perilaku seseorang termasuk
di dalamnya perilaku politik. Media tidak hanya mereflesikan realitas melainkan memiliki
pengaruh terhadap realitas itu termasuk di dalamnya memberikan makna pada realitas.
Pemilih pun dapat bertindak secara otonom untuk menyatakan dukungannya pada peserta
pemilu. Sebagaimana disampaikan Aulia A. Rachman (2006) pemilih dapat dikategorikan
menjadi tiga. Pertama, pemberi suara rasional yaitu pemilih yang memiliki pertimbangan
sendiri dalam mendukung dari sekian banyak pilihan yang tersedia. Pemilih jenis ini akan
konsisten mendukung peserta yang sama ketika diberikan pilihan yang sama pada masa yang
berbeda. Kedua, pemberi suara reaktif yaitu pemilih yang mendasarkan diri pada
pertimbangan jangka panjang yang biasa berupa atribut sosial dan demografis seperti
pekerjaan, pendidikan, agama, ras, tempat tinggal dan sebagainya. Ketiga, pemberi suara
responsif yaitu pemberi suara yang kerap berpindah-pindah dukungan dan mendasarkan
pada kepentingan jangka pendek sesuai dengan program dan janji kampanye peserta pemilu.
B.
Tiga Pemilu Tiga Pemenang
Untuk menjelaskan perilaku memilih di Kelurahan Pancor penelitian ini
menggunakan pelaksanaan tiga pemilu di tingkat lokal. Definisi pemilu di tingkat lokal tidak
hanya bermakna pemilu pada tingkatan lokal seperti pemilihan kepala daerah tetapi juga
pemilu nasional yang terjadi di lokal Lombok Timur. Tiga pemilu yang dimaksud terdiri atas
Pemilihan Umum Kepala Daerah Lombok Timur (Pemilukada Lotim) yang berlangsung tahun
2013, Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014.
Pemilukada Lotim 2013 diikuti oleh empat pasangan calon, yaitu Sukiman Azmy dan
Syamsul Lutfi (SUFI), Ali Bin Dahlan dan Khairul Warisin (ALKHAER), Abdul Wahab dan Lale
Yaqutunnafis (WALY), serta Usman Fauzi dan Ichwan Sutrisno (MAFAN). Dua pasangan yang
diramalkan akan bersaing dengan ketat yaitu SUFI yang didukung oleh NW PANCOR dan
mayoritas partai politik di Lombok Timur serta selaku petahana, dan ALKHAER yang mana Ali
BD merupakan bupati periode 2003-2008 dan peserta Pemilukada Lotim tahun 2008 dan kali
ini muncul sebagai calon independen. Sementara pasangan WALY dianggap sebagai
pasangan yang bisa saja muncul sebagai kejutan karena didukung oleh NW ANJANI.
345
Pemilukada berlangsung satu putaran dimenangkan oleh ALKHAER dengan selisih suara yang
sedikit saja sebagaimana Tabel di bawah ini:
Sebagaimana pemilu nasional, pileg 2014 di Lombok Timur diikuti oleh dua belas
partai politik. Pada pileg tahun 2014 Partai Demokrat yang didukung NW Pancor berhasil
meraih suara terbanyak, dengan menempatkan 6 (enam) orang kadernya di DPRD Lombok
Timur. Kesuksesan Partai Demokrat sebagai pemenang pileg tidak dapat dilepaskan dari
dukungan NW PANCOR, dan kemudian berhasil menempatkan kadernya, Khairul Rizal,
sebagai Ketua DPRD Lotim. Sebelumnya, Khairul Rizal adalah anggota legislatif dari Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) dan menjadi Wakil Ketua DPRD. Selain sebagai politikus, dirinya juga
dikenal sebagai suami dari Siti Rohmi Djalilah, Ketua DPRD Lotim sebelumnya dan juga kakak
kandung dari TGB Zainul Majdi, Ketua Partai Demokrat NTB sekaligus tokoh sentral NW
PANCOR. Partai politik lain mendapatkan perolehan suara secara merata, dan tidak ada
partai yang dominan sebagaimana Tabel di bawah ini:
346
Pileg 2014 diikuti oleh dua pasangan calon, yaitu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa
(PRAHARA) dan Joko Widodo-Jusuf Kalla (JOKOWI-JK). PRAHARA didukung oleh partai yang
tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP), yaitu Partai Gerindra, Partai Golkar, PPP, PKS,
PAN, dan PBB. Sementara JOKOWI-JK didukung oleh partai dalam Koalisi Indonesia Hebat
(KIH), yaitu Partai NASDEM, PKB, PDIP, Partai HANURA, dan PKPI. Partai Demokrat pada pileg
ini memilih sebagai ‘penyeimbang’ sehingga kader-kadernya terpecah pada dua kubu yang
berseberangan. Untuk lokal Lombok Timur, Pilpres dimenangkan oleh PRAHARA dengan
selisih suara yang cukup jauh. Faktor apakah yang menjadi penentu kemenangan belum
diketahui pasti. Faktanya NW PANCOR mendukung PRAHARA sementara NW ANJANI terlihat
lebih mendukung pasangan JOKOWI-JK sebagaimana Tabel dibawah ini :
C.
Penjelasan Alternatif tentang Perilaku Memilih di Pulau Lombok
Terdapat semacam keyakinan selama ini bila perilaku memilih di Lombok Timur
khususnya, dan Lombok secara umumnya dipengaruhi oleh faktor pemimpin opini. Lebih
spesifik pemimpin opini diperankan oleh tokoh agama – di Pulau Lombok disebut dengan
Tuan Guru. Dengan pandangan seperti ini maka tiap kali pemilihan yang terjadi adalah
perebutan atau saling klaim mendapatkan dukungan dari Tuan Guru. Tidak jarang seorang
Tuan Guru kemudian diklaim oleh lebih dari peserta pemilihan. Logika yang dibangun, bila
Tuan Guru sudah mendukung maka akan diikuti oleh pengikut (jamaah) yang jumlahnya
begitu banyak dan tersebar di Pulau Lombok.
Tuan Guru utama yang begitu berpengaruh adalah Maulanasyekh Tuan Guru
Zainuddin Abdul Madjid, pendiri dan pemimpin utama organisasi Nahdatul Wathan (NW).
Kariernya sebagai pemuka agama dan politisi begitu cemerlang. Pernah menjadi pemimpin
347
utama Masyumi untuk Sunda Kecil dan kemudian berpindah mendukung Partai Golkar sejak
Orde Baru. Selain karier pribadi, kecermelangan juga ditunjukan dengan keberhasilan
mengembangkan NW ke seluruh Nusantara. Meskipun hubungan dengan berbagai madrasah
yang tersebar bersifat pribadi kultural, tidak ditangani secara formal organisatoris
sebagaimana Muhammadiyah. Meskipun pada alumni berbagai sekolah NW yang dijuluki
arbituren terdapat potongan dari gaji yang diperoleh sebagai bentuk terima kasih dan
memelihara hubungan dengan organisasi.
Sepeninggal Maulanasyekh, NW tetap menjadi salah satu faktor utama dalam
menjelaskan politik di Lombok. Dalam politik pemerintahan formal, perannya kemudian
dilanjutkan oleh Tuan Guru Bajang Zainul Majdi, yang menjadi Gubernur NTB selama dua
periode sejak tahun 2008. Sebelumnya ia sempat menduduki jabatan sebagai anggota DPR
sejak tahun 2004 mewakili Partai Bulan Bintang (PBB). Kadernya yang lain, Syamsul Lutfi dan
Gde Syamsul menjadi anggota DPR sejak tahun 2014 masing-masing mewakili Partai
Demokrat dan Partai Hanura. Sebelumnya Syamsul Lutfi menjadi Wakil Bupati Lombok Timur
tahun 2008-2013.
Lalu Mujiharta (2005) mengadakan penelitian yang bermaksud untuk menemukan
tentang keterlibatan tuan guru (TG) dalam politik, terutama di Kabupaten Lombok Tengah.
Penelitian ditujukan pada perilaku TG pasca reformasi dengan membandingkannya dengan
pengalaman Orde Baru (orba). Pentingnya penelitian tentang pergeseran orientasi politik TG
karena memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil pemilu. Menurut Mujiharta, pergeseran
orientasi politik TG memilki pengaruh terhadap perolehan suara dalam pemilu. Dalam
penelitian ditemukan telah terjadi pergeseran orientasi perjuangan tuan guru dalam
kaitannya dengan politik. Pada suasana totaliter orba, tuan guru tidak punya pilihan politik
lain dengan mendukung Golkar. Orientasi politik pada masa itu ialah untuk menyelamatkan
eksistensi pondok pesantren atau lembaga pendidikan lain di bawah pimpinannya. Tanpa
mendukung Golkar, akan banyak ditemui kesulitan baik dari birokrasi pendidikan maupun
pendanaan. Pasca keterbukaan terjadi pergeseran orientasi politik. Dengan sistem
“multipartai sederhana”, memberikan kelonggaran bagi TG untuk memilih salah satu dari
sekian banyak partai sebagai afiliasi politiknya. Sistem dan suasana keterbukaan
348
menyebabkan terjadinya pergeseran dari mempertahankan eksistensi lembaga menjadi
harapan untuk meraih kekuasaan. Ditambahkan, pergeseran orientasi juga ditunjukan
dengan makin terlibatnya tuan guru dalam perebutan beberapa jabatan dalam
pemerintahan, terutama posisi anggota legislatif. Keterlibatan TG dalam politik ditujukan
untuk menghindarkan adanya eksploitasi dan pemanfaatan keberadaannya untuk
pemenangan pemilu oleh para politikus.
Penelitian yang dilakukan Bafadal dan Bambang Eka Cahyo Widodo (2005) mengenai
peningkatan peroleh suara Partai Bulan Bintang pada Pemilihan Legislatif tahun 2004 di
Kabupaten lombok Timur menemukan pentingnya peran TG. Peningkatan peroleh suara PBB
tahun 2004 disebabkan tiga faktor; (1) struktur kepengurusan partai di tingkat lokal yang
mengakomodir Pengurus NW, (2) Kandidat dalam daftar calon yang banyak terdiri dari
mereka yang selama ini dikategorikan sebagai tokoh NW, dan (3) isu kampanye berupa
penegakan syariat Islam yang menarik perhatian para pemilih. Selain yang telah disebutkan
sebelumnya, faktor utama yang menyebabkan peningkatan perolehan suara PBB pada
Pemilu 2004 di Kabupaten Lombok Timur adalah dukungan dari NW. Pesona Tuan Guru
Zainul Majdi, sebagai Ketua Dewan Tanfidziah NW, mampu menarik simpati dari jamaah NW,
maupun dari masyarakat luas. Sistem patriarkhi yang masih kental dalam masyarakat
Lombok Timur menempatkan sosok Tuan Guru sebagai tokoh agama yang dijunjung dan
kedudukan yang terhormat dalam masyarakat. Fatwa atau keputusan Tuan Guru kerap tidak
hanya bersifat profan (keduniawian) tetapi juga mengandung nilai ukhrawi.
Ahmad Husni Mubarak (2006) kemudian membahas mengenai bagaimana partai
politk peserta pemilihan umum tahun 2004 berebut untuk mendapatkan dukungan NW.
Sebagai kelompok kepentingan yang memiliki pengikut terbesar di Lombok maka dukungan
NW diharapkan akan menjadi faktor penentu kemenangan partai politik tersebut.
Memanfaatkan sifat NW yang selama ini tidak menjauh dari politk praktis maka dua partai
kemudian mendapatkan dukungan, yaitu Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Golkar.
Dukungan ini tidak sekadar himbauan massa tetapi juga tokoh NW tidak segan untuk
menjadi juru kampanye memenangkan partai politik yang didukungnya.
349
Namun pada tahun 2010 asumsi NW sebagai faktor utama mendapatkan keraguan.
Studi yang dilakukan Bafadal (2014) menunjukan keraguan dimulai dengan pelaksanaan
Pemilukada di Kabupaten Lombok Tengah. Pasangan calon yang didukung NW ternyata
mengalami kekalahan meskipun mampu melaju hingga putaran kedua. Padahal pasangan L.
Gde Sakti-Elyas Munir (SALAM) ketika itu didukung oleh seluruh faksi yang ada di NW namun
ternyata tak mampu mendongkrak perolehan suara. Pasangan ini dikalahkan oleh Suhaili-L.
Normal Suzana (Maiq-Meres) yang didukung oleh organisasi islam lain (baca:Yatofa).
Kekalahan pasangan yang didukung NW mengejutkan banyak pihak, dan memicu pemikiran
untuk meninjau kembali asumsi NW sebagai faktor dominan dalam politik di NTB.Peninjauan
kembali atas dominasi NW kemudian menguat pada pelaksanaan Pemilukada di Kabupaten
Lombok Timur tahun 2013. Ketika itu pasangan Sukiman-Lutfi (SUFI) yang didukung NW, juga
pasangan petahana, meraih suara lebih sedikit dibandingkan pasangan Ali BD-Khaerul
Warisin (ALKHAER). Pada saat yang bersamaan digelar pula pelaksanaan Pemilukada Provinsi
NTB, dimana Tuan Guru Bajang Zainul Majdi-M. Amin (TGB-Amin) yang didukung NW
memenangkan pemilihan. Mengapa di NTB menang sementara di Lombok Timur kalah?
Hipotesis yang ditawarkan sosok personal TGB Zainul Majdi telah melampaui suara
organisasi NW.
D. Figuritas, Tokoh Panutan, dan Pemilih Otonom
Penelitian ini menemukan tingginya angka partisipasi memilih. Dari 40 responden, 34
responden menyatakan diri ikut memilih sementara sisanya tidak. Ini berarti 85% dari
responden menyatakan diri memilih dalam pemilihan umum legislatif tahun 2014. Adapun
alasan untuk memilih mayoritas didorong oleh keinginan sendiri. Lainnya secara berturutturut karena figur populer, himbauan tokoh panutan, kesamaan partai politik, dan terakhir
sevisi seperti Tabel dibawah ini :
350
Dari hasil penelitian dapat dikatakan bahwa dalam pemilihan legislatif pemilih
bersifat otonom paternalistik. Dikatakan bersifat otonom karena partisipasi memilih
didorong kenginan sendiri bukan atas dorongan lain. Namun demikian peran elit dalam
memobilisasi juga tidak dapat dikesampingkan. Selisih di antara kedua tidak begitu besar.
Bila figur populer dan himbauan tokoh diasumsikan sebagai jenis partisipasi mobilisasi maka
angkanya melampaui partisipasi otonom.
Dalam Pemilihan Presiden tahun 2014, tingkat partisipasi memilih lebih tinggi.
Penelitian ini menemukan 35 orang menyatakan diri ikut memilih. Artinya 87.5% pemilih
menggunakan haknya. Mengapa demikian? Jawaban singkat hal ini disebabkan terlalu
banyak calon dalam pemilihan legislatif sehingga membingungkan pemilih. Kebingungan ini
kemudian mendorong mereka tidak menggunakan haknya. Adapun alasan menggunakan
partisipasi memilih mayoritas karena figur populer. Lainnya secara berturut-turut keinginan
sendiri, himbauan tokoh panutan, kesamaan partai politik, dan terakhir sevisi Sebgaimana
Tabel dibawah ini:
Dalam Pemilihan Presiden dapat disimpulkan partisipasi disebabkan karena figuritas
dari peserta pemilu. Hal ini tidak lepas dari massifnya kampanye yang dilakukan oleh peserta
pemilu di berbagai saluran komunikasi massa. Peserta pemilu begitu teringat dalam benak
pemilih dengan beragam persepsi yang dihasilkan. Selain itu, faktor keinginan sendiri dan
himbauan tokoh juga menjadi faktor lain yang cukup menentukan partisipasi memilih dalam
pemilihan presiden yang lalu.
Dalam Pemilihan Kepala Daerah angka partisipasi juga tinggi, di atas 80% tepatnya
82.5% menyatakan menggunakan hak pilihnya. Adapun dasar dari partisipasi memilih
351
terutama didorong oleh keinginan sendiri, berturut-turut figur populer, himbauan tokoh
panutan, kesamaan partai politik, dan terakhir senang dan sevisi sebagaimana Tabel dibawah
ini:
Dari data tersebut ditemukan fakta bahwa partisipasi pemilih bersifat otonom
penokohan. Disebut otonom karena penggunaan hak memilih dalam pemilihan umum
kepala daerah didorong oleh keingian sendiri. Meskipun demikian pada sisi lain figur populer
dan himbauan tokoh tidak dapat dikesampingkan dan menjadi faktor lain yang mendorong
partisipasi memilih.
Berdasarkan uraian di atas penelitian ini menemukan tiga faktor dominan dalam
menentukan perilaku pemilih –sebagai salah satu bentuk partisipasi memilih – di Kelurahan
Pancor yaitu Figur Populer, Himbauan Tokoh, dan Keinginan Sendiri. Dengan demikian
terlihat ada jenis partisipasi yang terombang-ambing dari bentuk otonom dan mobilisasi. Hal
ini menguatkan penelitian-penelitian sebelumnya tentang kuatnya figuritas dan pengaruh
tokoh dalam menentukan perilaku memilih di Pulau Lombok.
Selain itu, penelitian ini menemukan rendahnya faktor partai politik dalam tiap
pelaksanaan pemilu. Alasan kesamaan partai politik dalam menentukan pilihan dalam pemilu
kecil sekali dalam pemilihan legislatif, pemilihan presiden, dan pemilihan umum kepala
daerah berturut-turut 5.13%, 2.5%, dan 2.63%. Data ini mengindikasikan kekhawatiran para
sarjana tentang terjadinya deparpolisasi, ketika kehadiran partai politik tidak dirasakan dan
dianggap penting oleh pemilih. Partai Politik kemudian hanya dijadikan jalan bagi calon
untuk ikut serta dalam pemilihan umum karena peraturan perundangan mensyaratkan
demikian.
352
Tingginya angka partisipasi memilih tidak dapat dilepaskan dari kepuasan pemilih
sosialisasi pendidikan pemilih yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu. Sebagaimana
diketahui bersama, pasca reformasi terjadi perubahan dalam partisipasi memilih dari yang
semula didasari ketakutan menjadi penuh kesadaran. Memilih kemudian menjadi hak bukan
lagi kewajiban sebagaimana masa lalu. Mayoritas pemilih menyatakan kepuasan bahkan
sangat puas (65%) terhadap sosialisasi pendidikan pemilih, dan hanya 22.5% yang tidak puas,
sisanya biasa saja sebagaimana ditunjukkan Tabel dibawah ini:
Ada berbagai saluran sosialisasi pendidikan pemilih yang digunakan. Mayoritas
responden menilai bahwa adanya sosialisasi melalui media cukup ampuh (32,5%)mengajak
masyarakat untuk berpartisipasi memilih di TPS. Selanjutnya informasi yang tertera pada
ruang publik maupun mencari informasi sendiri sebesar 17,5%, melalui pengurus parpol yang
menyampaikan kegiatan internalnya sebesar 15% dan melalui corong penerangan
masyarakat sebesar 15%. Adapun penyampaian langsung dan melalui forum oleh pelaksana
teknis pemilu bergugus sebesar 20%. Sebagaimana diitunjukkan tabel dibawah ini:
353
Pentingnya sosialisasi menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan
partisipasi memilih dalam pemilu. Sebagian besar responden – mencapai 2/3 dari total –
menyatakan persetujuannya sosialisasi mampu meningkatkan partisipasi memilih, bahkan
30% menyatakan sangat setuju. Sisanya menjawab tidak tahu. Sebagaimana Tabel dibawah
ini
Terkait dengan manfaat pemilu terhadap kehidupan demokrasi, mayoritas responden
menyatakan sangat bermanfaat (72.5%) bahkan yang menjawab sangat bermanfaat sebesar
22.5%. Hal ini menegaskan penerimaan mayoritas pemilih di Indonesia terhadap demokrasi
beserta perangkat pendukungnya seperti pemilihan umum. Meskipun mayoritas penduduk
di Indonesia adalah muslim yang dalam kehidupannya merujuk pada ajaran Tuhan melalui
Al-Qur’an dan Sunnah Rasul namun penerimaan terhadap demokrasi yang berasal dari tradisi
Yunani berdasar pemikiran manusia cukup besar. (bandingkan dengan Saiful Mujani, Muslim
Demokrat). Hanya 5% dari responden yang menjawab biasa saja. sebagaimana Tabel
dibawah ini
354
Meskipun pada masa pasca reformasi warganegara diberikan kebebasan untuk
menggunakan atau tidak hak memilihnya mayoritas responden menyatakan pentingnya
partisipasi dalam pembangunan demokrasi. Lebih dari setengah responden menyatakan
pentingnya hak pilih dalam pembangunan demokrasi. Bahkan lebih sepertiga menyatakan
sangat penting, hanya sedikit responden yang menjawab biasa saja sebagaimana Tabel
dibawah ini:
Persepsi positif atas partisipasi memilih tidak lepas dari penilaian masyarakat
terhadap pengelolaan teknis pemilu. Mayoritas responden menyatakan puas terhadap
pengelolaan teknis pemilu oleh penyelenggara pemilu. Responden yang menjawab tidak
puas dan biasa saja memang ada namun jumlahnya tidak besar sebagaimana tabel dibawah
ini:
Penilaian positif terhadap pengelolaan teknis karena masyarakat merasa dimudahkan
dengan sarana dan prasarana penunjang pemilu. Mayoritas responden menyatakan sarana
dan prasarana pemilu sudah memadai baik keseluruhan dan sebagian. Hanya sedikit
355
responden yang menyatakan sarana prasarana yang ada belum memadai sebagaimana Tabel
dibawah ini:
Meskipun memiliki persepsi positif terhadap pelaksanaan pemilu namun responden
menginginkan perbaikan terhadap proses pelaksanaan pemilu di masa yang akan datang.
Pendaftaran Pemilih merupakan bagian yang mendapat perhatian utama bagi responden
untuk diperbaiki dalam pemilu berikutnya. Hal ini perlu dilakukan untuk menjamin seorang
warganegara menggunakan haknya dalam pemilu. Peraturan Pelaksana dan Sosialisasi
menjadi bagian lain yang mendapat perhatian dari responden sebagaimana Tabel dibawah
ini:
Terkait dengan preferensi dalam melakukan partisipasi dalam pemilu ditemukan
fakta kuatnya faktor tokoh dalam masyarakat (pemimpin opini). Ada beragam jenis tokoh
dalam masyarakat. Tokoh agama menjadi figur penting yang menentukan preferensi
responden dalam melaksanakan hak pilihnya. Selain itu ada tokoh budaya, tokoh
pemerintahan, tokoh partai, dan pemuda sebagaimana Tabel dibawah ini:
356
Bukan hanya tokoh, media juga menjadi salah satu faktor yang menjadi preferensi
dari pemilih. Responden dalam penelitian ini menganggap media televisi paling efektif untuk
menyampaikan sosialisasi pemilu, disamping media-media lainnya (radio, koran dan ruang
publik) sebagai sarana sosialisasi. Sedangkan media lainnya berupa seni pertunjukan, corong
penerangan dan sebagainyasebagaimana Tabel dibawah ini:
Penelitian ini juga memberikan pertanyaan terbuka bagi responden. Beberapa
jawaban yang diberikan responden terutama berkisar pada dua hal, yaitu Sosialisasi Pemilu
dan Penigkatan Kualitas Penyelenggaraan Pemilu. Masayrakat mengingikan sosialisasi pemilu
dilaksanakan dengan mengadakan pertemuan langsung terhadap elemen masyarakat
pemilih, dengan menyampaikan, (1) informasi kepemiluan, (2) pendaftaran pemilih, (3)
tahapan pemilu, (4) tata cara memilih, (5) alat peraga sosialisasi, (6) visi misi calon/peserta
pemilu dan sebagainya. Sementara terkait dengan Peningkatan kualitas penyelenggaraan
pemilu khususnya di TPS dari aspek: (1) SDM, (2) kapasitas pemahaman tata kelola, (3)
rekruitmen petugas teknis pemilu pada tingkatan TPS, (4) sarana penunjang, (5) keamanan
penghitungan, (6) distribusi kotak suara, (7) transparansi dan waktu efektif pengumuman
perolehan pemilu.
E.
Kesimpulan
Secara umum penelitian ini menyimpulkan partisipasi memilih dalam pemilu di
Kelurahan Pancor tergolong tinggi. Tingginya angka partisipasi tidak dapat dilepaskan dari
massifnya sosialisasi pendidikan pemilih yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu. Tokoh
panutan menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan partisipasi memilih
sebagaimana ditemukan dalam penelitian ini. Apakah dengan demikian dikatakan jenis
357
partisipasi yang terjadi mobilisasi? Penelitian ini menyatakan jawaban persetujuan. Ke depan
diharapkan muncul inovasi sosialisasi pendidikan pemilih yang melibatkan stakeholder untuk
menciptakan pemilih yang otonom. Termasuk di dalamnya keragaman jumlah alat peraga
dan media sosialisasi terkait tata cara pemilihan.
Sementara itu terkait dengan perilaku memilih, penelitian ini menemukan tiga faktor
yaitu Figuritas, Tokoh Panutan (vote getter), dan kesadaran sendiri pemilih. Temuan dalam
penelitian ini menguatkan asumsi masih pentingnya faktor figur dan tokoh panutan dalam
perilaku memilih di Pulau Lombok. Kedua hal ini mampu meredam faktor visi dan misi
peserta pemilu, dan yang lebih memperihatinkan ketika kehadiran partai politik tidak
mendapat respon yang cukup baik. Kemandirian pemilih ke depannya mungkin akan terus
meningkat dengan makin terbukanya informasi dan iklim kebebasan pada masa reformasi
ini.
358
Download