skripsi intan - Fakultas Hukum UNSOED

advertisement
TINJAUAN YURIDIS TENTANG PERJANJIAN PAKET WISATA ANTARA
SMK BINA TEKNOLOGI PURWOKERTO DENGAN BIRO PERJALANAN
WISATA CV. TRISTA ALFA WISATA
SKRIPSI
Oleh:
INTAN NUR LATIFAH
E1A006079
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2012
TINJAUAN YURIDIS TENTANG PERJANJIAN PAKET WISATA
ANTARA SMK BINA TEKNOLOGI PURWOKERTO DENGAN BIRO
PERJALANAN WISATA CV. TRISTA ALVA WISATA
SKRIPSI
Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman
Oleh :
INTAN NUR LATIFAH
E1A006079
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2012
Latar Belakang Lembar Pengesahan Skripsi
TINJAUAN YURIDIS TENTANG PERJANJIAN PAKET WISATA
ANTARA SMK BINA TEKNOLOGI PURWOKERTO DENGAN BIRO
PERJALANAN WISATA CV. TRISTA ALVA WISATA.
Disusun Oleh :
INTAN NUR LATIFAH
E1A006079
Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman
Diterima dan disahkan
Pada tanggal
Februari 2012
Pembimbing I
Pembimbing II
Penguji
Edi Waluyo, SH.,MH.
Nur Wakhid,SH.,MH.
Budiman Setyo Haryanto,SH.,MH.
19581222 198810 1 001
19621225 198903 1 003 19630620 198901 1 001
Mengetahui,
Dekan Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman
Hj. Rochani Urip Salami,SH.,MS.
NIP.19520603 198003 2 001
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya,
Nama
: INTAN NUR LATIFAH
NIM
: E1A006079
Judul Skripsi
: TINJAUAN YURIDIS TENTANG PERJANJIAN
PAKET
WISATA
ANTARA
SMK
BINA
TEKNOLOGI PURWOKERTO DENGAN BIRO
PERJALANAN WISATA CV.TRISTA ALVA
WISATA.
Menyatakan bahwa skripsi yang saya buat ini adalah betul-betul hasil karya saya
sendiri dan tidak menjiplak hasil karya orang lain maupun dibuatkan oleh orang
lain.
Dan apabila ternyata terbukti saya melakukan pelanggaran sebagaimana tersebut
diatas, maka saya bersedia dikenakan sanksi apapun dari fakultas.
Purwokerto,
Februari 2012
Intan Nur Latifah
E1A006079
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul : TINJAUAN YURIDIS
TENTANG PERJANJIAN PAKET WISATA ANTARA SMK BINA
TEKNOLOGI PURWOKERTO DENGAN BIRO PERJALANAN WISATA
CV. TRISTA ALVA WISATA. Skripsi ini merupakan salah satu persyaratan
dalam memperoleh gelar sarjana hukum pada Fakultas Hukum Universitas
Jenderal Soedirman.
Berbagai kesulitan dan hambatan penulis hadapi dalam penyusunan skripsi ini.
Namun berkat bimbingan, bantuan dan moril serta pengarahan dari berbagai
pihak, maka skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulis
ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada :
1. Ibu Hj. Rochani Urip Salami, S.H,M.S., selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman.
2. Bapak Edi Waluyo,S.H.,M.H., selaku dosen pembimbing I Skripsi, atas
segala bantuan, arahan, dukungan, waktu dan masukan selama penulisan
skripsi ini.
3. Bapak Nur Wakhid,S.H.,M.H., selaku dosen Pembimbing II Skripsi, atas
segala bantuan, arahan dukungan, masukan, menyediakan waktu dan
kebaikan yang telah diberikan selama penulisan skripsi ini.
4. Bapak Budiman Setyo Haryanto, S.H.,M.H., Selaku dosen penguji Skripsi
yang telah memberi saran dan perbaikan pada skripsi penulis.
5. Bapak Edi Waluyo, S.H.,M.H., selaku Kepala Bagian Hukum Keperdataan
atas semua bantuannya.
6. Bapak Saryono Hanadi, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing
Akademik atas kebaikannya kepada penulis selama berproses kuliah di
Fakultas Hukum.
7. Seluruh dosen dan staf akademik di Fakultas Hukum Universitas Jenderal
Soedirman.
8. Ibu Dewi Paraswati S.E,S.H., yang telah meluangkan waktu untuk
membagi ilmunya dalam penelitian penulis di CV.Trista Alva Wisata
Purwokerto.
9. Kedua orang tua, adik dan seluruh keluarga besar yang telah mendukung
dan selalu memberi semangat kepada penulis.
10. Teman-teman penulis dimanapun yang selalu memberi dukungan.
11. Semua pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Semoga amal kebaikan serta bantuan yang telah diberikan mendapat balasan
dari Allah SWT. Skripsi ini hanya karya manusia biasa yang memiliki banyak
kekurangan oleh karenanya kritik dan masukan demi kesempurnaan skripsi ini
sangat penulis harapkan.
Purwokerto, 20 Februari 2012
Intan Nur Latifah
E1A006079
ABSTRAK
Perjalanan wisata,” atau “pariwisata” atau “Tour,” yaitu perjalanan atau
sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat
sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Hal ini menunjukkan
bahwa kegiatan perjalanan wisata atau pariwisata atau tour selalu dilakukan untuk
mengunjungi “obyek wisata” atau “atraksi wisata,” yaitu segala sesuatu yang
menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi suatu daerah tertentu.
Biro Perjalanan Wisata merupakan sarana yang dibutuhkan orang dalam
melakukan perjalanan wisata karena memberikan keuntungan yaitu menghemat
biaya, menghemat waktu, memberikan informasi yang lengkap dan dapat
dipercaya menjamin keamanan selama berlangsungnya perjalanan wisata.
Perjanjian Paket Wisata dimana Biro Perjalanan Wisata mengikatkan diri
untuk melakukan jasa-jasa atau pekerjaan pengangkutan, akomodasi,
makan/minum dan menikmati obyek dan atau atraksi wisata dalam rangka
penyelenggaraan wisata, dan pihak yang lain untuk membayar upah yang telah
dijanjikan.”
Kata Kunci : 1. Perjalanan Wisata
2. Biro Perjalanan Wisata
3. Perjanjian Paket Wisata,
ABSTRACT
Travel, "or" tourism "or" Tour, "the journey or part of these activities are
carried out voluntarily and to enjoy the temporary objects and attractions. This
indicates that the activities of a travel or tourism or to visit the tour is always
done "tourist attraction" or "tourist attraction", ie everything that appeals to
people to visit a particular area
Travel Bureau is a tool that takes people in the leisure traveler as it gives
the advantage of saving costs, save time, provide complete and reliable guarantee
security during the trip.
Agreement Package Travel Agency which committed themselves to
perform the services or work transport, accommodation, food / drink and enjoy
the object and or tourist attractions in the course of the tour, and the other party
to pay the promised wages. "
Key word :1. Travel tourism
2. Travel bureau
3. Agreement Package Travel Agency.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia mulai melakukan perjalanan sejak berada di planet bumi ini.
Secara sederhana perjalanan dapat diartikan sebagai suatu aktivitas seseorang
yang berpindah tempat dari suatu tempat ke tempat yang lain yang mempunyai
tujuan atas perpindahan tersebut. Dari suatu perjalanan akan mengakibatkan
adanya dimensi perjalanan, yaitu jarak dari perjalanan, tempat asal dari orang
yang melakukan perjalanan, tempat tujuan dari perjalanan dan lamanya tinggal
ditempat tujuan. Sedangkan suatu perjalanan baru dapat dilaksanakan apabila
timbul keinginan untuk mengadakan perjalanan, mempunyai biaya untuk
mengadakan perjalanan dan tersedianya waktu untuk mengadakan perjalanan.1
Banyak bentuk-bentuk kegiatan perjalanan yang dilakukan orang, apabila
kegiatan perjalanan mempunyai ciri-ciri bersifat santai, gembira, dan untuk
bersenang-senang, perjalanan yang demikian disebut ”perjalanan wisata,” atau
yang kini populer lazim disebut “pariwisata” atau “Tour” (dalam istilah kata
bahasa Inggris). Orang yang melakukan perjalanan wisata disebut “wisatawan.”
Oka A Yoeti mengemukakan ada empat kriteria suatu perjalanan dapat
dikategorikan sebagai ”perjalanan wisata,” atau “pariwisata” atau “Tour,” yaitu :
pertama perjalanan itu tujuannya semata-mata untuk bersenang-senang; kedua
perjalanan itu harus dilakukan dari suatu tempat di mana orang itu tinggal
1
http: //www.google.co.id/search=kepariwisataanIndonesia/.Dari Internet, diakses
tanggal 17 Desember 2011
berdiam, ke tempat lain yang bukan kota atau negara di mana ia biasa tinggal;
ketiga, Perjalanan itu dilakukan minimal selama 24 jam; keempat, perjalanan itu
tidak dikaitkan dengan mencari nafkah di tempat yang dikunjungi dan orang yang
melakukan perjalanan itu semata-mata sebagai konsumen di tempat yang
dikunjungi.2
Tercatat dalam sejarah bangsa yang pertama dianggap sebagai orang yang
melakukan perjalanan untuk tujuan bersenang-senang (travel for plesasure)
adalah bangsa Romawi. Pada waktu mereka telah melakukan perjalanan beratusratus mil dengan menunggang kuda untuk melihat candi-candi dan piramid
peninggalan Mesir kuno. Pada saat itu Yunani di Asia Kecil sudah dianggap
sebagai daerah tujuan wisata yang populer seperti halnya daerah-daerah di bagian
Timur Laut Tengah lainnya. Bangsa Romawi dalam melakukan perjalanan ke
Yunani, selain untuk menyaksikan pertandingan olahraga Olympiade, mereka
juga mencari sumber-sumber air panas untuk tujuan kesehatan. Dalam perjalanan
tersebut mereka juga menyaksikan atraksi kesenian rakyat dan festival yang
jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat-tempat peristirahatan di mana mereka
menginap.3
Berdasarkan fenomena tersebut Fandeli memberikan definisi yang luas
tentang ”perjalanan wisata,” atau “pariwisata” atau “Tour,” yaitu perjalanan atau
sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat
sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata.4 Hal ini menunjukkan
bahwa kegiatan perjalanan wisata atau pariwisata atau tour selalu dilakukan untuk
2
Oka A Yoeti, 2006. Ilmu Pariwisata, Sejarah, Perkembangan dan Prospeknya, PT.
Perca, hal. 10.
3
Oka A Yoeti, 1987, Pengantar Ilmu Pariwisata, Angkasa, Bandung, hal. 3.
4
http://fielduphly.multiply.com/journal/item/6. Diakses yanggal 15 Desember 2011.
mengunjungi “obyek wisata” atau “atraksi wisata,” yaitu segala sesuatu yang
menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi suatu daerah tertentu.
Obyek wisata atau atraksi wisata yang dapat menarik orang untuk
berkunjung ke suatu tempat daerah tujuan wisata pada pinsipnya harus memenuhi
tiga persyaratan yaitu ada yang dilihat (something to see), ada yang dikerjakan
(something to do) dan ada yang dibeli (something to buy), diantaranya5 :
1.
Benda-benda yang tersedia dan terdapat di alam semesta (Natural
Amenities), meliputi Iklim, misalnya cuaca cerah banyak cahaya
matahari, sejuk, panas, hujan, dan sebagainya; Fauna dan flora seperti
tanaman-tanaman yang aneh (uncommon vegetation), burung-burung,
ikan, binatang buas (wild life), taman nasional (national park), daerah
perburuan dan sebagainya; Pusat-pusat kesehatan (health center), sumber
air mineral (natural spring of mineral water), sumber air panas (hot
spring).
2.
Hasil ciptaan manusia (man-made suppty) yaitu benda-benda yang
bersejarah, kebudayaan dan keagamaan, seperti monumen bersejarah, dan
sisa peradaban masa lampau, museum, art gallery, perpustakaan, kesenian
rakyat, handi craft, Acara tradisional, pameran, festival, upacara
perkawinan dan lain-lain, Rumah-rumah beribadah, seperti mesjid, gereja,
kuil atau candi maupun pura.
3.
Tata Cara Hidup Masyarakat (The way of life) tradisional dari suatu
masyarakat merupakan salah satu sumber yang amat panting untuk
ditawarkan kepada para masyarakat. Hal semacam ini sudah terbukti,
5
http:// www.google.co.id//pengertian pariwisata secara umum dan source//, Diakses
yanggal 15 Desember 2011. betapa besar pengaruhnya dalam bidang ekonomi sehingga dapat
dijadikan events yang dijual. Contoh yang terkenal diantarannya adalah
pembakaran mayat (ngaben) di Bali, upacara pemakaman mayat di Tanah
Toraja, upacara Batagak penghulu di Minangkabau I, upacara khitanan di
daerah Parahyangan, upacara Sekaten di Yogyakarta, upacara Waisyak di
Candi mendut dan Borobudur.
(Sesuatu disebut “obyek wisata,” bila untuk melihat obyek itu tidak ada
kesiapan dilakukan terlebih dahulu, tanpa bantuan orang lain misalnya :
pemandangan, gunung, danau, lembah dan lain-lain sedangkan disebut
“atraksi wisata” ialah sesuatu yang dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat
dilihat, dinikmati, dan yang termasuk dalam hal ini : tari-tarian, nyanyian,
kesenian rakyat tradisonal, upacara adat dan lain-lain).
Sesuai dengan potensi yang dimiliki atau warisan yang ditinggalkan nenek
moyang pada suatu daerah, maka timbulah bermacam-macam jenis pariwisata
berdasarkan obyeknya diantaranya6 :
1.
Wisata Budaya (Cultural Tourism), yaitu jenis wisata di mana motivasi
orang untuk melakukan perjalanan disebabkan karena adanya daya tarik
seni budaya suatu tempat yang merupakan warisan nenek moyang dan
benda-benda kuno. Biasanya perjalanan semacam ini pengunjung diberi
kesempatan untuk mengambil bagian dalam suatu kegiatan kebudayaan.
2.
Wisata Kebudayaan (Recuperasional Tourism),
yaitu jenis wisata di
mana motivasi orang untuk melakukan perjalanan untuk menyembuhkan
penyakit, seperti mandi di sumber air panas, mandi lumpur atau mandi
susu (Eropa) atau mandi kopi (Jepang).
6
Oka A Yoeti, 1987. Op.cit. hal 116. 3.
Wisata Perdagangan (Commercial Torism), yaitu perjalanan wisata yang
dikaitkan dengan kegiatan perdagangan nasional atau internasional pada
umumnya berupa kegiatan expo, fair atau exhibition.
4.
Wisata Olah Raga (Sport Tourism), yaitu jenis wisata di mana tujuan
perjalanan adalah untuk melihat atau menyaksikan suatu pesta olah raga
di suatu tempat atau Negara tertentu seperti Olympiade, All England,
pertandingan tinju, sepak bola. Atau ikut berpartipasi dalam kegiatan itu
sendiri.
5.
Wisata Keagamaan (Religion Tourism), yaitu jenis wisata di mana tujuan
perjalanan yang dilakukan adalah untuk melihat atau menyaksikan
upacara-upacara keagamaan, seperti kunjungan ke Lourders bagi yang
beragama Katolik, atau ke Muntilan pusat pengembangan agama Kristen
di Jawa Tengah, ikut Umroh atau Haji bagi orang Islam atau upacara
Agama Hindu di Sakenan Bali.
6.
Wisata Industri (Industrial Tourism), yaitu jenis perjalanan wisata yang
dilakukan oleh rombongan pelajar atau mahasiswa atau orang awam ke
suatu kompleks atau daerah perindustrian, dimana terdapat pabrik-pabrik
atau
bengkel-bengkel
besar
dengan
maksud
dan
tujuan
untuk
mengadakan peninjauan atau penelitian.
Apapun jenis “perjalanan wisata” atau “pariwisata” atau “Tour” tersebut
pada hakikatnya adalah peristiwa “perpindahan” orang dari tempat dimana biasa
tinggal ke tempat tujuan wisata dan sebaliknya, yang hanya akan terjadi karena
adanya
fasilitas
“pengangkutan”
(transportasi),
karena
pengangkutan
(transportasi) lah yang dapat menggerakkan orang dari satu daerah ke daerah lain,
dari satu kota ke kota lain atau dari suatu Negara ke Negara lain. Tidak dapat
disangkal lagi bahwa fungsi utama pengangkutan (transportasi) sangat erat
hubungannya dengan accessibility, dalam arti frekuensi penggunaannya dan
kecepatannya menjadikan jarak yang jauh, bahkan harus menyeberangi sungai,
laut atau samudra, sehingga tidak mungkin dilakukan dengan berjalan kaki,
seolah-olah menjadi dekat, sehingga mempersingkat waktu dan memudahkan
orang untuk mengunjungi suatu daerah tujuan wisata.
Dalam kepariwisataan dikenal tiga macam pengangkutan (transportasi)
yaitu pengangkutan laut, pengangkutan udara dan pengangkutan darat, yang
dalam pemakaiannya biasanya hampir selalu merupakan kombinasi tergantung
pada kondisi tempat atau daerah tujuan wisata. Berdasarkan alat pengangkutan
(transportasi) yang digunakan, “perjalanan wisata” atau “pariwisata” atau “Tour,”
dibedakan menjadi tiga jenis wisata7 :
1.
Wisata Darat (Land Torism), yaitu kegiatan kepariwisataan yang
penyelenggaraan pengangkutan dari dan ke daerah tujuan wisata
menggunakan sarana pengangkutan darat seperti kendaraan bus, taxi atau
kereta api.
2.
Wisata Laut dan Sungai (Sea and River Tourism), yaitu kegiatan
kepariwisataan yang penyelenggaraan pengangkutan dari dan ke daerah
tujuan wisata menggunakan sarana pengangkutan laut dan sungai seperti
kapal dan perahu.
7
Oka A Yoeti, 1987. Op.cit. hal 118. 3.
Wisata Udara (Air Tourism), yaitu kegiatan kepariwisataan yang
penyelenggaraan pengangkutan dari dan ke daerah tujuan wisata
menggunakan sarana pengangkutan udara yaitu pesawat terbang.
Aktivitas
kepariwisataan
banyak
tergantung
pada
pengangkutan
(transportasi), karena faktor jarak dan waktu sangat mempengaruhi keinginan
orang
untuk
melakukan
perjalanan
wisata.
Pengangkutan
(transportasi)
menyebabkan pertumbuhan pariwisata sangat pesat sekali, kemajuan fasilitas
transportasi mendorong kemajuan kepariwisataan dan sebaliknya ekspansi dalam
industri pariwisata dapat menciptakan permintaan akan transportasi yang dapat
memenuhi kebutuhan wisatawan. Dalam kepariwisataan peranan sarana
pengangkutan tidak hanya sebagai alat angkut untuk membawa wisatawan ke
tujuan wisata, melainkan juga sebagai sarana untuk menikmati suatu obyek atau
daya tarik wisata dan alat angkut itu sendiri menjadi daya tarik wisata.
Fakta tentang perkembangan kemajuan transportasi mendorong banyaknya
orang melakukan perjalanan wisata dari suatu kota ke kota lain, dimulai pada abad
XIX ketika Thomas Cook melihat perkembangan jaringan kereta api dan
perkembangan transportasi pada umumnya. Pada tanggal 5 Juli 1841 ia secara
iseng-iseng merencanakan, mengorganisasi serta menyelenggarakan perjalanan
wisata dengan kereta api. Pada waktu itu, Thomas Cook mampu mengorganisir
570 orang dari kota Leicester ke kota Loughborough. Tour ini diberinya nama “a
round trip excursion.” Tour yang diselenggarakan itu mendapat sambutan hangat
sehingga pada tahun 1851 atas permintaan orang banyak ia menyelenggarakan
paket wisata kapal laut dengan akomodasi untuk mengunjungi “World
Exhibition” yang diadakan di Perancis dengan jumlah peserta sebanyak 150.000
orang.
Di luar pembicaraan tentang perkembangan sarana pengangkutan
(transportasi) sebagai awal mulainya banyak orang melakukan perjalanan wisata,
semua kegiatan yang dilakukan oleh Thomas Cook itu juga dianggap sebagai awal
dari kegiatan usaha dibidang perjalanan wisata yang terorganisir yang dikenal
dengan istilah Biro Perjalanan Wisata (Travel Agency).8 Menurut M.A. Desky
kegiatan yang dilakukan oleh Thomas Cook ini merupakan tonggak sejarah
perjalanan wisata modern karena telah memenuhi unsur-unsur perjalanan wisata :
tersedianya sarana transportasi, obyek wisata yaitu pameran, adanya jadwal yang
ketat dan adanya pihak penyelenggara.9
Di Indonesia, Biro Perjalanan Wisata pertama kali muncul pada jaman
Hindia Belanda, yang pertama kali didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda
pada tahun 1926 di Jakarta bernama Lissone Lindeman (LISLIND). Kemudian
pada tahun 1936 LISLIND ini diubah namanya menjadi Nederland Indische
Touristen Bureau (NITOUR) yang pada waktu itu berfungsi melayani perjalanan
orang-orang Belanda.10 Setelah kemedekaan, perkembangan Biro Perjalanan
Wisata di Indonesia terasa lamban. Baru pada permulaan Orde Baru dengan
keluarnya Inpres No. 9 th. 1969 dan dengan mantapnya stabilitas keamanan yang
disertai kemajuan di bidang ekonomi bisnis usaha biro perjalanan wisata
8
Oka A Yoeti, 1987. Op.cit. hal 13-15.
M.A. Desky, 2001. Pengantar Bisnis Biro Perjalanan Wisata. AdiCitia Karya Nusa
Yogyakarta, hal. 8.
10
Ibid.hal.8
9
berkembang sangat pesat dengan ditandai munculnya biro perjalanan seperti Pacto
dan Vaya Tour.11
Dalam pengertian yang sederhana Biro Perjalanan Wisata (Travel Agency),
adalah perusahaan atau badan usaha yang memberikan pelayanan lengkap
terhadap seseorang ataupun kelompok orang yang ingin melakukan perjalanan
baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Pelayanan ini meliputi transportasi
dan akomodasi lainnya selama perjalanan maupun di tempat tujuan.12 Aktifitas
usaha Biro Perjalanan Wisata (Travel Agency) membuat Paket Perjalanan Wisata
(Package Tour), yang mencakup unsur : obyek wisata/daya tarik wisata,
transportasi (darat, laut, udara), penyediaan jasa makanan-minuman, penyediaan
akomodasi, penyediaan tempat konvensi, penyediaan
jasa pramuwisata dan
pengurusan dokumen perjalanan (passport /visa). Hal terakhir adalah memberikan
kenyamanan dan keamanan terhadap orang atau kelompok orang yang
menggunakan jasa biro perjalanan wisata tersebut.13
Biro Perjalanan Wisata (travel agents) merupakan sarana yang
dibutuhkan orang dalam melakukan perjalanan wisata karena memberikan
keuntungan yaitu menghemat biaya, menghemat waktu, memberikan informasi
yang lengkap dan dapat dipercaya menjamin keamanan selama berlangsungnya
perjalanan wisata.
Masyarakat Indonesia saat ini juga sudah mulai tumbuh
kesadaran berwisata dengan menggunakan jasa Biro Perjalanan Wisata (Travel
Agent). Kebanyakan para wisatawan menggunakan jasa Biro Perjalanan Wisata
untuk menentukan suatu rencana perjalanan bila ingin berlibur ke suatu tempat.
11
12
13
Ibid. hal. 9.
http://www.thegrizaonline.com/ Diakses tanggal 17 Desember 2011.
http://asitajakarta.org/pipermail/pengurus_asitajakarta.org/attachments/20100106/a431c
e12/attachment.html. Diakses tanggal 17 Desember 2011.
Dengan demikian calon wisatawan yang semula tidak tertarik, akhirnya
memutuskan untuk berkunjung dan membayar paket wisata yang ditawarkan.14
Dari apa yang telah diuraikan menunjukkan bahwa “perjalanan wisata”
atau “pariwisata” atau “Tour” adalah merupakan fenomena yang sangat kompleks
dan unik, karena bersifat multidimensi, baik fisik, social, ekonomi maupun
budaya. Namun demikian yang belum nampak dalam uraian tersebut adalah
dimensi hukum yang memandang “perjalanan wisata” atau “pariwisata” atau
“Tour,” sebagai fenomena hukum.
Sebagaimana telah diuraikan bahwa hakikat dari “perjalanan wisata”
adalah perpindahan orang dari suatu tempat ke tempat lain yang digerakkan oleh
sarana pengangkutan (transportasi), sehingga “perjalanan wisata” adalah kegiatan
yang utamanya berhubungan dengan pengangkutan dari tempat asal wisatawan
sampai ke tempat tujuan, selama di tempat tujuan dan kembali ke tempat
asalnya.15 Berdasarkan jenis fasilitas pengangkutannya, “perjalanan wisata”
muncul dalam bentuk Wisata Darat (Land Torism), yang penyelenggaraannya
menggunakan sarana pengakutan darat seperti kendaraan bus, taxi atau kereta api;
Wisata Laut dan Sungai (Sea and River Tourism), yang penyelenggaraan
menggunakan sarana pengangkutan laut yaitu kapal dan Wisata Udara (Air
Tourism), yang penyelenggaraan pengangkutan menggunakan sarana kapal dan
perahu.
Dalam ranah hukum, pembicaraan tentang pengangkutan, termasuk dalam
bidang
Hukum
Pengangkutan,
yang
di
dalamnya
mengatur
mengenai
14
http://www.hosting24.com/. Diakses tanggal 17 Desember 2011.
http://raymondfrans63.wordpress.com/2011/10/13/dasar-dasar-pariwisata/. Diakses
tanggal 17 Desember 2011.
15
Pengangkutan Udara, Pengangkutan Laut dan Pengangkutan Darat. Dengan
demikian memandang “perjalanan wisata” sebagai fenomena hukum berarti
adalah
memandang
“perjalanan
wisata”
dari
sudut
pandang
Hukum
Pengangkutan.
Menurut kepustakaan Hukum, yang dimaksud dengan “Pengangkutan”
adalah : perjanjian timbal balik antara pengangkut dengan pengirim, dimana
pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang
dan/atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat,
sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan.16 Dalam
pengertian tersebut obyek pengangkutan meliputi orang dan barang, sehingga
dalam
Hukum
Pengangkutan
dibedakan
ada
pengangkutan
orang
dan
pengangkutan barang. Berdasarkan jenis alat pengangkutannya, pengangkutan
dibedakan ke dalam tiga jenis pengangkutan yaitu pengangkutan udara, laut dan
darat. Dengan demikian berdasarkan alat pengangkutan dan obyeknya, dalam
Hukum Pengangkutan dibedakan ada Hukum Pengangkutan Udara tentang orang
dan barang, Hukum Pengangkutan Laut tentang orang dan barang serta Hukum
Pengangkutan Darat tentang orang dan barang.
Apabila pembidangan Hukum Pengangkutan tersebut dihubungkan dengan
“perjalanan wisata,” yang berdasarkan alat pengangkutnya dibedakan ke dalam
Wisata Udara, Wisata Laut dan Wisata Darat, maka dapat dinyatakan bahwa
ketiga jenis “perjalanan wisata” tersebut adalah merupakan fenomena hukum yang
masing-masing termasuk dalam kategori peristiwa hukum Pengangkutan Udara,
Laut dan Darat tentang pengkutan orang.
16
HMN Purwosutjipto, 1991, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia 3, Cetakan
keempat Djambatan, Jakarta hal 2.
Pada kesempatan ini penulis bermaksud menyoroti satu jenis perjalanan
wisata yaitu mengenai Wisata Darat yang nota bene adalah merupakan fenomena
hukum Pengangkutan Darat tentang pengangkutan orang.
Dari hasil penelitian pendahuluan diperoleh data awal bahwa pada tanggal
pada 23 Juni 2008, Biro Perjalanan Wisata (Travel Agent) yang ada di Kabupaten
Banyumas yaitu CV. Trista Alfa Wisata yang berkedudukan di Jl. Pahlawan VI/18
Tanjung Purwokerto, menyelenggarakan Paket Kunjungan Industri ke Jakarta
selama tiga hari dengan peserta siswa SMK Bina Teknologi Purwokerto.
Transportasi yang disediakan adalah angkutan pariwisata berupa Bus Pariwisata
Tristar dan akomodasi berupa makanan-minuman, tiket obyek wisata Taman
Impian Jaya Ancol, Musium Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta satu tempat
kunjungan industri.
Untuk menyoroti aspek hukum dari penyelenggaraan Paket Kunjungan
Industri ke Jakarta dengan fasilitas kendaraan Bus Pariwisata tersebut pertamatama perlu dikemukakan pernyataan HMN Purwosutjipto mengatakan bahwa :
1.
Mengenai pengangkutan orang di darat tidak diatur dalam Kitab Undangundang Hukum Dagang (KUHD) dan satu-satunya peraturan yang
mengatur tentang pengangkutan orang didarat, adalah peraturan tentang
pengangkutan orang dengan Kereta Api dalam (Bepalingen Vervoer
Spoorwegen) S.1927 – 262.17
2.
Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata juga tidak ada peraturan
umum tentang pengangkutan orang didarat, oleh karena itu mengenai
perjanjian pengangkutan orang di darat didasarkan atas Buku II Kitab
17
Ibid.
Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) Bab I sampai dengan Bab
IV.18
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Paket Kunjungan Industri ke Jakarta
dengan fasilitas kendaraan Bus ternyata tidak diatur dalam KUH Perdata maupun
KUHD.
Berdasarkan kenyataan tersebut apabila ditinjau dalam Kitab Undangundang Hukum Perdata khususnya Buku III yang mengatur tentang Perjanjian
Bernama maupun dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang yang mengatur
tentang Hukum Pengangkutan, ternyata di dalamnya tidak mengenal bentuk
perjanjian mengenai Perjalanan Wisata Darat yang menggunakan fasilitas
kendaraan darat berupa bus. Dengan demikian permasalahan yang muncul disini
adalah mengenai konstruksi hukum dari Paket Kunjungan Industri ke Jakarta
dengan fasilitas kendaraan Bus Pariwisata.
Sehubungan dengan dengan hal tersebut Soerjono Soekanto mengatakan
bahwa :
“Tugas hukum adalah menjamin kepastian hukum, yang berarti suatu
kepastian bahwa setiap orang dapat mengharapkan sesuatu menurut
hukum dalam perbuatan tertentu, atau dengan kata lain, harus ada hukum
tertentu yang pasti bagi suatu peristiwa konkrit. Hakekatnya adalah suatu
kepastian, bagaimana peranan dan kegunaan lembaga hukum bagi
masyarakat serta apakah hak dan kewajiban warga masyarakat.”19
Berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas, penulis merasa perlu untuk
melakukan
penelitian
mengenai
penyelenggaraan
Paket
Wisata
yang
menggunakan fasilitas sarana pengangkutan bus. Hal ini penting karena dengan
18
19
Ibid. hal 51.
Soerjono Soekanto, Penegakan Hukum, Bina Cipta, Bandung, 1983, hal.42.
mengetahui isi dari paket wisata yang mencakup unsur : obyek wisata/daya tarik
wisata,
transportasi darat, penyediaan jasa makanan-minuman,
penyediaan
akomodasi dan penyediaan jasa pramuwisata, maka akan dapat diketahui
konstruksi hukumnya, sehingga ada kepastian hukum bagi masyarakat yang
melakukan perjalanan wisata.
Dengan demikian dalam penyelenggaraan Paket Wisata para pihak akan
dapat mengetahui hak-hak dan kewajiban apakah yang ada dalam hubungan
hukum tersebut. Hal ini penting mengingat dewasa ini perjalanan wisata dalam
bentuk paket-paket wisata yang dilakukan oleh pihak Sekolah pada akhir masa
studi selalu dilakukan baik oleh Sekolah Menengah Kejuruan maupun sekolahsekolah lainnya.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat diambil suatu
permasalahan yaitu :
1.
Bagaimana konstruksi hukum dari hubungan yang diadakan oleh CV.Trista
Alfa Wisata sebagai biro perjalanan wisata?
2.
Apakah hak-hak dan kewajiban yang timbul bagi para pihak dalam Perjanjian
Paket Kunjungan Industri Jakarta dan bagaimana tanggung jawab hukum Biro
Perjalanan Wisata di CV.Trista Alfa Wisata Purwokerto apabila terjadi
wanprestasi ?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1.
Untuk mengetahui konstruksi hukum dari hubungan yang diadakan oleh
CV.Trista Alfa Wisata sebagai biro perjalanan wisata.
2.
Untuk mengetahui hak-hak dan kewajiban yang timbul bagi para pihak dalam
Perjanjian Paket Kunjungan Industri Jakarta dan bagaimana tanggung jawab
hukum Biro Perjalanan Wisata di CV.Trista Alfa Wisata Purwokerto apabila
terjadi wanprestasi.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis
ataupun secara praktis sebagai berikut:
1.
Kegunaan Teoritis
Memberikan informasi yang berguna dan memberikan masukan bagi
pengembangan disiplin ilmu hukum Perdata pada umumnya dan hukum
Perjanjian.
2.
Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan menambah
wawasan yang berguna bagi masyarakat pada umumnya dan mahasiswa pada
khususnya terkait dengan hukum perjanjian (pengangkutan, jual beli,
pelayanan berkala) dalam perjanjian paket wisata.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Untuk memberikan gambaran tentang apa dan bagaimana konstruksi
hukum perjanjian Paket Wisata, pertama-tama akan dilakukan peninjauan
terhadap aspek ekonomi kepariwisataan yang dikenal dengan industri wisata dan
selanjutnya mengenai aspek hukumnya. Industri pariwisata berkaitan dengan
paket wisata dan Biro Perjalanan Wisata sebagai perusahaan ataupun badan usaha
yang memberikan pelayanan lengkap terhadap seseorang ataupun kelompok orang
yang ingin melakukan perjalanan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.
Sedangkan aspek hukum dari perjanjian Paket Wisata adalah mengenai konstruksi
hukum dari hubungan kontraktual perjanjian Paket Wisata antara Biro Perjalanan
Wisata dengan wisatawan.
A. Kepariwisataan
1. Pariwisata dan Wisatawan
Pariwisata atau perjalanan wisata berkembang karena adanya gerakan
manusia dalam mencari sesuatu yang belum diketahui, menjelajahi wilayah
yang baru, mencari perubahan suasana, atau untuk mendapatkan perjalanan
baru.
Sesungguhnya pariwisata telah dimulai sejak peradaban manusia itu
sendiri, ditandai oleh gerakan manusia yang melakukan ziarah dan perjalanan
agama lainnya. Sebagai fenomena moderen tonggak-tonggak bersejarah dalam
pariwisata dapat ditelusuri dari perjalanan Marcopolo (1254-1324) yang
menjelajahi Eropa sampai Tiongkok, untuk kemudian kembali lagi ke
Venesia, kemudian disusul perjalanan Cristopher Columbus (1451-1506) dan
Vasco da Gama (akhir abad XV. Namun sebagai industri internasional
pariwisata dimulai tahun 1869).20
Meskipun pariwisata telah lama menjadi perhatian, baik dari segi
ekonomi, politik maupun sosiologis, sampai saat ini belum ada kesepakatan
secara akademis mengenai apa pariwisata dan wisatawan. Kata “pariwisata”
secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua suku kata
yaitu “pari” dan “wisata;” “Pari” berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar,
atau berkeliling, sedangkan kata “wisata,” berarti perjalanan atau berpergian
yang dalam hal ini bersinonim dengan kata “travel” dalam bahasa Inggris.
Jadi secara harfiah pariwisata adalah suatu kegiatan perjalanan yang dilakukan
secara berkali-kali ke suatu tempat atau daerah yang ingin dikunjungi yang
dalam bahasa Inggris bersinonim dengan kata “tour.” Pengertian jamak dari
pariwisata adalah “kepariwisataan” yang diartikan sebagai hal-hal yang
berhubungan dengan pariwisata, yang dalam bahasa Inggris istilahnya
tourism.21
Dalam kepustakaan kepariwisataan salah satu pengertian pariwisata
dikemukakan oleh Oka A. Yoeti bahwa22 :
“Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara
waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ketempat lain dengan
maksud bukan untuk berusaha (business) atau mencari nafkah di
tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati
perjalanan tersebut guna bertamasya dan rekreasi atau untuk memenuhi
keinginan yang beraneka ragam."
Orang yang melakukan perjalanan wisata disebut “wisatawan” atau tourist.
Batasan terhadap pengertian wisatawan juga sangat bervariasi, mulai dari yang
20
hal 40.
I Gede Pitana dan Putu G Gayatri, 2004, Sosiologi Pariwisata, Andi, Yogayakarta.
21 Oka A Yoeti, 1987. Op.cit. hal 102- 103. 22
Ibid.
umum sampai dengan yang sangat teknis spesifik, namun yang diterima secara
umum dalam pariwisata internasional adalah sebagai berikut :
1. Traveller yaitu orang yang melakukan perjalanan antara dua tempat
atau lebih .
2. Visitor, yaitu orang yang melakukan perjalanan ke daerah yang bukan
merupakan tempat tinggalnya, kurang dari 12 bulan, dan tujuan
perjalannya bukan untuk terlibat dalam kegiatan untuk mencari nafkah,
pendapat atau penghidupan di tempat tujuan.
3. Tourist, yaitu bagian dari visitor yang menghabiskan waktu paling
tidak 24 jam di daerah yang dikunjungi.23
Dalam hukum positif Indonesia (Undang-Undang Nomor 10 Tahun
2009 tentang Kepariwisataan pada Pasal 1 angka 1) istilah pariwisata diganti
dengan “wisata” dengan batasan pengertian :
Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan
rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik
wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
Orang yang melakukan wisata disebut wisatawan (Pasal 1 angka 2 UndangUndang Nomor 10 Tahun 2009).
Semua definisi yang dikemukakan tentang “pariwisata” atau “wisata”
meskipun berbeda dalam penekanannya, selalu mengandung tiga unsur ciriciri pokok yaitu :
1. Perjalanan, yakni pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lain,
2. Tinggal sementara di tempat yang bukan merupakan tempat tinggal
biasanya, dan
3. Tujuan utama bukan untuk mencari penghidupan/pekerjaan di tempat
yang dituju.
23
I Gede Pitana dan Putu G Gayatri. Op.cit hal 47. Aktivitas wisata selalu merupakan perjalanan yang menempuh jarak
yang jauh dan waktu yang relatif lama, sehingga sejak berangkat, selama
dalam perjalanan, sesampai ke tujuan wisata dan kembali ke tempat tinggal
biasanya, pada umumnya wisatawan membutuhkan berbagai fasilitas yaitu24 :
1. Transportasi yang akan membawa wisatawan ke daerah tujuan wisata, baik
berupa angkutan darat, udara maupun laut.
2. Akomodasi yang merupakan tempat tinggal sementara bagi wisatawan di
tempat tujuan, penginapan dari berbagai jenis dan tarif, antara lain hotel,
losmen dan jenis penginapan lainnya.
3. Tempat makan dan minum yang menyediakan makanan spesifik daerah
setempat (local food) maupun makanan tempat asal wisatawan. Sarana
yang harus tersedia adalah bar dan restoran, rumah makan dan lain-lain.
4. Obyek wisata atau atraksi wisata yang menjadi daya tarik bagi wisatawan
untuk mengunjungi tempat tersebut.
5. Tempat hiburan untuk kegiatan rekreasi diwaktu senggang, seperti
lapangan golf, kolam renang dan lain-lain.
6. Tempat perbelanjaan sebagai tempat membeli barang-barang cenderamata
yang spesifik dan khas buatan masyarakat setempat, untuk kenangkenangan perjalanannya atau untuk oleh-oleh.
Secara sosiologis, pariwisata atau wisata (untuk selanjutnya ditulis
wisata) adalah aktivitas bersantai atau aktivitas waktu luang, dan pada
umumnya dilakukan pada saat seseorang bebas dari pekerjaan yang wajib
dilakukan, yaitu pada saat cuti atau libur. Dalam pemahaman masyarakat
24
http://raymondfrans63.wordpress.com/2011/10/13/dasar-dasar-pariwisata/ Diakses
tanggal 17 Desember 2011. pada umumnya wisata diidentikan dengan “berlibur di daerah lain.” Berlibur
di daerah lain, atau menggunakan waktu luang dengan melakukan wisata,
dewasa ini merupakan salah satu ciri masyarakat modern.
2. Industri Pariwisata
Bila orang mendengar kata industri, gambaran dari kebanyakan orang
adalah suatu bangunan pabrik dengan segala perlengkapannya yang
mempunyai cerobong asap dengan menggunakan mesin dalam proses
produksinya. Pengertian yang umum dari kata “industri” adalah segala proses
yang tujuan akhirnya menghasilkan produk berupa barang dan jasa (goods and
service) yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan guna memenuhi
kebutuhan manusia.
Wisata sebenarnya adalah suatu aktivitas atau kegiatan, jadi bukan
industri, tetapi dari sudut ekonomi aktivitas wisata menciptakan permintaan
produk barang dan jasa (goods and service) yang dihasilkan oleh banyak
perusahaan yang masing-masing terpisah sama sekali satu sama lainnya, tetapi
saling melengkapi, mulai dari transportasi, akomodasi, catering, entertainment
dan pelayanan lainnya.25
Dipandang dari aspek ekonomi, yakni dari segi permintaan (demand)
dan penawaran (supply), sebagai akibat adanya orang yang melakukan wisata
dengan berbagai macam tujuan, akan menciptakan permintaan barang dan
jasa-jasa yang dihasilkan oleh macam-macam perusahaan yang berbeda secara
bersama-sama. Kumpulan dari bermacam-macam perusahaan yang secara
25
Oka A Yoeti, 1987. Op.cit. hal 135. bersama-sama menghasilkan barang dan jasa (good and service) yang
dibutuhkan wisatawan inilah yang disebut dengan “Industri Pariwisata.” 26
Dengan perumusan lain R.S. Darmaji memberikan pengertian :
“Industri pariwisata, merupakan rangkuman dari pada berbagai macam
bidang usaha, yang secara bersama-sama menghasilkan produk-produk
mapun jasa-jasa/layanan-layanan atau service, yang nantinya baik
secara langsung ataupun tidak langsung akan dibutuhkan oleh
wisatawan selama perlawatannya.” 27
Kusudianto Hadiroto memberikan pengertian :
Industri Pariwisata adalah suatu organisasi baik pemerintah maupun
swasta yang terkait dalam pengembangan produk suatu layanan untuk
memenuhi kebutuhan orang-orang yang berpergian (wisatawan)28
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut menurut penulis :
“Industri Pariwisata” adalah rangkuman dari berbagai macam perusahaan
(baik perusahaan pemerintah maupun swasta) yang secara bersama
menghasilkan produk barang-barang dan jasa-jasa (goods and service) yang
saling terkait,
baik secara langsung atau tidak langsung dibutuhkan
wisatawan.
Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang industri pariwisata
yang menghasilkan produk pariwisata berupa barang dan jasa, yang diterima
oleh wisatawan semenjak ia meninggalkan daerah asalnya, sampai di tempat
tujuan, dan kembali ke daerah asalnya kembali, terdiri dari bermacam-macam
perusahaan yang berbeda, baik ukurannya, bentuk organisasinya, maupun
26 Oka A Yoeti, 1987. Op.cit. hal 140 -141. 27 R.S. Darmaji dalam Oka A Yoeti, 1987. Loc.cit. 28
http://repository.usu.ac.id/bitstream/pariwisata-arwina.pdf/. Diakses tanggal 20
Desember 2011
lokasi dan tempat kedudukannya, adalah :
1. Perusahaan Angkutan Wisata, yaitu perusahaan yang memberikan
pelayanan jasa-jasa angkutan bagi wisatawan yang membutuhkan.
2. Perusahaan Akomodasi, yaitu perusahaan yang menyediakan jasa
penginapan bagi wisatawan selama melakukan perjalanan di daerah objek
wisata, seperti hotel, motel, wisma, pondok wisata, villa, apartemen,
karavan, perkemahan, kapal pesiar, pondok remaja dan sebagainya;
3. Perusahaan Bar dan Restaurant, yaitu perusahaan yang menyediakan
pelayanan makanan dan minuman bagi wisatawan selama berada di daerah
wisata.
4. Perusahaan Hiburan, yaitu perusahaan yang menyediakan barang-barang
berupa kerajinan tangan yang dapat menjadi kenang-kenangan bagi
wisatawan untuk dibawa pulang.
5. Perusahaan Souvenir dan Handicraft yaitu perusahaan yang menyediakan
barang-barang berupa kerajinan tangan yang dapat menjadi kenangkenangan bagi wisatawan tersebut.
Dewasa ini industri pariwisata telah membuktikan diri sebagai sebuah
alternatif kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan sebagai salah satu upaya
dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk mendapatkan kondisi
yang ideal maka industri pariwisata dituntut untuk berkembang dengan baik
dan menghasilkan produk yang unggul dan dapat diandalkan.
3. Paket Wisata
Dalam ilmu ekonomi, produk adalah sesuatu yang dihasilkan melalui
proses produksi atau “industri,” dengan tujuan akhir menghasilkan barang atau
jasa (goods and service). Sebagaimana telah diuraikan bahwa proses produksi
atau industri dalam kepariwisataan disebut “industri pariwisata,” yaitu
rangkuman dari berbagai macam perusahaan (baik perusahaan pemerintah
maupun swasta) yang secara bersama menghasilkan produk barang-barang
dan jasa-jasa (goods and service) yang saling terkait, baik secara langsung
atau tidak langsung dibutuhkan wisatawan.
Hasil produksi dari “Industri pariwisata,” yang berupa barang-barang
dan jasa-jasa (goods and service) disebut “produk wisata,” yang berupa
rangkaian dari berbagai jasa atau pelayanan yang dihasilkan berbagai
perusahaan, jasa masyarakat dan jasa alam, dimana tiap-tiap unsur jasa
tersebut dipersiapkan oleh masing-masing perusahaan dan ditawarkan secara
terpisah.
Jasa yang disediakan perusahaan antara lain jasa angkutan, akomodasi,
pelayanan makan-minum, jasa hiburan dan lain-lain. Jasa yang disediakan
masyarakat dan pemerintah antara lain berbagai prasarana umum, kemudahan,
keramahan, adat istiadat, seni budaya dan sebagainya. Jasa yang disediakan
alam antara lain pemandangan alam, pegunungan, pantai, gua alam, taman laut
dan sebagainya.29
Sekalipun kesemua produk wisata tersebut terpisah sama sekali satu
dengan lainnya namun karena saling melengkapi sedemikian rupa, maka
29
Gamal Suwantoro, 2004, Dasar-dasar Priwisata, Andi, Yogyakarta, hal. 48.
produk-produk wisata tersebut dapat digabungkan dalam satu kesatuan yang
disebut paket wisata (package tour). Itulah sebabnya dalam kalangan
kepariwisataan dikenal istilah “paket wisata” yang berarti adalah suatu wisata
yang disusun dengan biaya tertentu, dimana di dalamnya telah termasuk biayabiaya untuk pengangkutan, menginap, makam-minum, hiburan, menyaksikan
obyek/atraksi wisata dan lain-lain yang dibuat khusus untuk itu.
Beberapa penulis menjelaskan tentang pengertian paket wisata sebagai
berikut :
M.A. Desky
Paket wisata adalah perpaduan beberapa (produk) jasa pariwisata,
minimal terdiri dari dua (produk) jasa wisata yang dikemas menjadi
satu kesatuan harga yang tidak dapat dipisahkan.30
Oka A Yoeti
Paket wisata adalah perjalanan wisata yang dijual, dimana harganya
sudah termasuk biaya jasa-jasa untuk transportasi ke dan dari daerah
tujuan wisata, akomodasi di tempat yang dikunjungi, makan dan minum
selama perjalanan, menyaksikan obyek dan atraksi wisata di tempattempat yang dikunjungi.31
Penjualan paket wisata sangat menguntungkan bagi wisatawan sebagai
konsumen, karena menghemat waktu, harga relatif rendah dibanding kalau
mengurus sendiri, perjalanan dilakukan tanpa keraguan hati, program
perjalanan sudah pasti. Tentu saja ada kelemahan dalam paket wisata, tetapi
30
M.A. Desky. Op.cit. 23.
Oka A Yoeti, 1987. Op.cit. hal 325-326. 31
bila dibanding dengan kerugian bila mengurus sendiri, keuntungan yang
diperoleh jauh lebih banyak. 32
B. Biro Perjalanan Wisata
Dalam dunia kepariwisataan, dijumpai beberapa istilah yaitu operator
wisata (tour operator), agen perjalanan (travel agency) dan biro perjalanan
(travel bureau). Istilah tersebut dipadankan dengan Biro Perjalanan Wisata di
Indonesia.33 Menurut M.A. Desky istilah-istilah tersebut nampaknya berbeda,
akan tetapi jika menilik pada maknanya, semua istilah tersebut mempunyai
arti yang sama. Semua istilah tersebut sebenarnya merupakan fungsi dari Biro
Perjalanan Wisata.34
Mengenai pengertian Biro Perjalanan Wisata beberapa penulis
menyatakan :
1. Nyoman S. Pendit
Biro Perjalanan Wisata adalah perusahaan yang memiliki tujuan untuk
menyiapkan suatu perjalanan bagi seseorang yang merencanakan untuk
mengadakannya.35
2. R. S. Damardjati
Biro Perjalanan Wisata adalah perusahaan yang khusus mengatur dan
menyelenggarakan perjalanan dan persinggahan orang – orang termasuk
kelengkapan perjalanannya, dari suatu tempat ke tempat lain, baik di
32
M.A. Desky. Op.cit. 23.
http://raymondfrans63.wordpreess.com/biro-perjalanan-wisata-aktvitasnya/.Diakses
tanggal 17 Desember 2011
34 M.A. Desky. Op.cit. hal. 3. 35http://wartawarga.gunadarma.ac.id/Diakses tanggal 27 Desember 2011. 33
dalam negeri, dari dalam negeri, ke luar negri atau dalam negeri itu
sendiri.36
Biro Perjalanan Wisata menurut Peraturan Pemerintah RI
No. 67
Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan, sebagaimana diatur
dalam BAB II Paragraf 1 tentang Usaha Jasa Biro Perjalanan Wisata Pasal 7
sampai Pasal 12, adalah :
1. Perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi yang
melakukan kegiatan usaha Perjalanan Wisata yang meliputi tiga usaha
pokok yang wajib diselenggarakan yaitu37 :
a) Perencanaan dan pengemasan komponen-komponen perjalanan wisata,
yang meliputi sarana wisata, obyek dan daya tarik wisata dan jasa
pariwisata lainnya terutama yang terdapat di wilayah Indonesia dalam
bentuk paket wisata.
b) Penyelenggaraan dan penjualan paket wisata dengan cara menyalurkan
melalui Agen Perjalanan Wisata dan atau menjualnya langsung kepada
wisatawan atau konsumen.
c) Penyediaan layanan pramuwisata yang berhubungan dengan paket
wisata yang dijual.
Sedangkan kegiatan usaha yang tidak wajib adalah38 :
a) Penyediaan angkutan layanan wisata,
b) Pemesanan akomodasi, restoran, tempat konvensi dan tiket
pertunjukan seni budaya serta kunjungan ke obyek dan daya tarik
wisata,
c) Pengurusan dokumen perjalanan berupa paspor dan visa atau dokumen
lain yang dipersamakan,
d) Penyelenggaraan ibadah agama,
e) Penyeleggaraan perjalanan insentif.
2. Kewajiban Biro Perjalanan Wisata adalah39 :
a) Memenuhi jenis dan kualitas komponen perjalanan wisata yang
dikemas dan/atau dijanjikan dalam paket wisata; dan
36
Ibid.
Pasal 5 yis Pasal 6 dan Pasal 7 P P No. 67 Tahun 1996
38 Pasal 9 P P No. 67 Tahun 1996 39
Pasal 10 P P No. 67 Tahun 1996 37
b) Memberikan pelayanan secara optimal bagi wisatawan yang
melakukan pemesanan, pengurusan dokumen dan penyelenggaraan
perjalanan melalui Biro Perjalanan Wisata.
3. Tanggungjawab Biro Perjalanan Wisata40 :
Biro Perjalanan Wisata bertanggung jawab atas keselamatan wisatawan
yang melakukan perjalanan wisata berdasarkan paket wisata yang
dijualnya.
Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut, secara ringkas dapat dinyatakan
bahwa beberapa aktifitas usaha yang dapat dilakukan oleh Biro Perjalanan
Wisata dalam pengertiannya sebagai industri wisata antara lain :
a) Biro perjalanan wisata adalah perusahaan atau badan usaha yang
mempunyai kewenangan untuk membuat paket wisata dan berhak
untuk menjual dan menyelenggarakan paket wisata tersebut.
b) Biro perjalanan wisata juga menyediakan transportasi bagi orang atau
kelompok orang yang menggunakan jasa atau pelayanan paket wisata
dari biro perjalanan wisata tersebut.
c) Biro perjalanan wisata juga berhak melayani pemesanan dari orang
atau kelompok orang tentang penginapan, rumah makan, ataupun
sarana wisata lain yang dibutuhkan.
d) Mengurus surat-surat dari suatu perjalanan wisata dan juga berhak
untuk menyelenggarakan pemanduan terhadap suatu perjalanan
wisata.
e) Hal terakhir yang dilakukan oleh biro perjalanan wisata dalam
menyelenggarakan paket wisata adalah memberikan kenyamanan dan
40 Pasal 10 PP No. 67 Tahun 1996 keamanan terhadap orang atau kelompok orang yang menggunakan
jasa biro perjalanan wisata tersebut.
Menurut Oka A. Yoeti berdasarkan kegiatan usaha yang dilakukan
Biro Perjalanan Wisata sebagaimana telah diuraikan menyimpulkan bahwa
kegiatan usaha pokoknya Biro perjalanan wisata pada hakikatnya ada dua yaitu
: pertama, merencanakan dan kedua, menyelenggarakan perjalanan orangorang untuk tujuan wisata (tour) atas inisiatip dan risiko sendiri, dengan tujuan
mengambil keuntungan dari penyelenggaraan perjalanan tersebut.41
Sebagai perencana dan penyelenggara kegiatan wisata maka dalam
industri pariwisata, Biro Perjalanan Wisata memiliki dua fungsi yaitu 42:
1. Fungsi Umum :
Dalam hal ini biro perjalanan wisata merupakan suatu perusahaan atau
badan usaha yang memberikan penerangan atau informasi tentang segala
sesuatu yang berhubungan dengan dunia perjalanan pada umumnya dan
perjalanan wisata pada khususnya.
2. Fungsi khusus :
a) Biro perjalanan wisata sebagai perantara (intermediary) antara
wisatawan dan perusahaan-perusahaan penyedia fasilitas perjalanan
wisata, yang diperlukan wisatawan untuk mencapai tujuan wisata.
Dalam kegiatannya ia bertindak atas nama perusahaan lain dan
menjual jasa-jasa perusahaan yang diwakilinya.
41 Oka A Yoeti, 1987. Op.cit. hal 222. 42
File://localhost/K:/viever.php%2011.htm. Diakses tanggal 27 Desember 2011.
b) Biro perjalanan wisata sebagai perusahaan atau badan usaha yang
merencanakan dan menyelenggarakan wisata dengan tanggung jawab
dan resikonya sendiri.
c) Biro perjalanan wisata sebagai pengorganisasi yaitu ia berada di
tengah-tengah industri pariwisata menggiatkan usaha, aktif menjalin
kerjasama dengan perusahaan lain baik dalam dan luar negeri, untuk
membuat perjanjian khusus yang mengatur hubungan kerja dengan
persahaan-perusahaan wisata agar jelas tugas, kewajiban dan hak
masing-masing pihak.
Di antara perusahaan-perusahaan atau pihak-pihak yang dijalin
hubungan kerjanya antara lain : Perusahaan angkutan wisata baik dalam negeri
atau luar negeri, Hotel ataupun penginapan baik di dalam maupun di luar
negeri, Rumah makan ataupun restoran, Pemandu wisata, Perusahaanperusahaan maupun instansi-instansi yang mengurus dokumen perjalanan,
Pimpinan rombongan untuk setiap perjalanan wisata, Porter yang bertugas
memindahkan barang milik peserta dari tempat yang satu ke tempat yang lain.
Di Indonesia Biro Perjalanan Wisata berada di bawah kepemimpinan
Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Seluruh Indonesia atau ASITA (Association of
the Indonesia Tour and Travel Agencies) yang mempunyai perwakilan di
masing-masing daerah.43
Dengan keberadaan Biro Perjalanan Wisata dalam industri wisata,
banyak memberi keuntungan bagi wisatawan yang menggunakan paket wisata
yang ditawarkan Biro Perjalanan Wisata, antara lain adanya kepastian, efisiensi
43
M.A. Desky, ibid. Hal.13.
waktu dan informasi yang akurat. Dengan menggunakan jasa Biro Perjalanan
Wisata, perjalanan menjadi serba pasti dan terencana. Sebelum berangkat
seseorang dapat mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan
perjalanannya, seperti obyek wisata yang akan dikunjungi, angkutan yang
digunakan, hotel tempat menginap dan lain sebagainya. Dengan menggunakan
jasa Biro Perjalanan Wisata, seseorang tidak perlu bersusah payah
menghubungi semua pihak yang berkaitan dengan perjalananya. Dengan
menggunakan jasa Biro Perjalanan Wisata, seseorang akan memperoleh semua
informasi tentang seluruh fasilitas perjalanan yang sesuai dengan keinginan
dan kemampuannya.
Demikianlah tinjauan kritis tentang aspek ekonomi kepariwisataan yang
didalamnya membahas tentang “industri pariwisata” yang menghasilkan
“produk wisata” berupa barang-barang dan jasa-jasa (goods and service) yang
dibutuhkan wisatawan. Selanjutnya produk wisata dimaksud oleh Biro
Perjalanan Wisata digabungkan dalam satu kemasan yang disebut “paket
wisata” (package tour), untuk dijual kepada masyarakat yang akan melakukan
perjalanan wisata. Mekanisme penjualan paket wisata tersebut terjadi dalam
transaksi yang berupa perjanjian Paket Wisata.
Selanjutnya untuk mengkaji aspek hukum dari Perjanjian Paket Wisata,
maka dalam uraian berikut akan dibahas kajian teoritis tentang Perjanjian
sebagaimana diatur dalam Hukum Perdata, yang di dalamnya mencakup
tentang pengertian Perjanjian dan beberapa aspeknya dan perbedaan-perbedaan
jenis perjanjian yang salah satu diantaranya adalah tentang Perjanjian Tak
Bernama.
C. Perjanjian pada umumnya
1. Pengertian Perjanjian
Dalam undang-undang, hukum perjanjian diatur di dalam Buku III
KUH Perdata yang mengatur tentang perikatan. Hal ini karena perjanjian
merupakan salah satu peristiwa yang melahirkan hubungan hukum dalam
lapangan harta kekayaan antara dua pihak yang disatu pihak ada hak dan di
lain pihak ada kewajiban (perikatan).
Pasal 1313 KUH Perdata merumuskan perjanjian sebagai :
“Suatu perjanjian adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.”
Dengan
pertimbangan
agar
perbuatan-perbuatan
yang
tidak
mengandung unsur kehendak atas akibatnya tidak masuk dalam cakupan
perumusan, seperti perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad),
perwakilan sukarela (zaakwarneming) dan agar perjanjian timbal balik bisa
tercakup dalam perumusan tersebut, J. Satrio merevisi perumusan tersebut
menjadi demikian :
“Perjanjian adalah perbuatan hukum dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih atau dimana
satu orang lain atau lebih saling mengikatkan dirinya.”44
Suatu perjanjian tidak terjadi seketika atau serta merta dan perjanjian dibuat
untuk dilaksanakan, oleh karena itu dalam suatu perjanjian yang dibuat selalu
terdapat tiga tahapan, yaitu45 :
44
J. Satrio, 1995, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, Buku
Kesatu, Citra Aditya Bakti, Bandung.hal. 23 – 27.
a). Pra-contractual, yaitu perbuatan-perbuatan yang tercakup dalam
negosiasi dengan kajian tentang penawaran dan penerimaan;
b). Contractual, yaitu tentang bertemunya dua pernyataan kehendak yang
saling mengisi dan mengikat kedua belah pihak;
c). Post-contractual, yaitu tahap pada pelaksanaan hak-hak dan kewajibankewajiban yang hendak diwujudkan melalui perjanjian tersebut.
2. Asas-asas Perjanjian
KUH Perdata menentukan dengan jelas mengenai beberapa asas-asas
perjanjian, diantaranya dalam Pasal 1315 menentukan asas personalia
perjanjian; Pasal 1337 menentukan asas kesusilaan dan ketertiban umum;
Pasal 1338 ayat (1) menentukan asas mengikatnya perjanjian; Pasal 1338 ayat
(3) menentukan asas iktikad baik; sedangkan Pasal 1339 menentukan asas
kepatutan dan kebiasaan. Namun menurut Rutten, hanya ada tiga asas yang
paling pokok dalam hukum perjanjian, yaitu asas konsensualisme, asas
kekuatan mengikatnya perjanjian dan asas kebebasan berkontrak. 46
a. Asas kebebasan berkontrak
Asas kebebasan berkontrak (contacts vrijheid atau partij-autonomie)
adalah suatu asas yang menetapkan bahwa setiap orang bebas untuk
mengadakan perjanjian apa saja, bebas untuk menentukan isi, luas dan
bentuk perjanjian. Asas ini disimpulkan juga dari Pasal 1338 ayat (1) KUH
Perdata yang menyatakan : “Semua perjanjian yang dibuat secara sah
45
Salim HS, 2003, Perkembangan Hukum Kontrak innominaat di Indonesia, Sinar
Grafika, Jakarta, hal. 16.
46
Purwakhid Patrik, 1982. Asas Iktikad Baik dan Kepatutan dalam Perjanjian, Fakultas
Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, hal.3.
berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.” Subekti
mengatakan, bahwa dengan menekankan pada kata “semua”, maka
ketentuan tersebut seolah-olah berisikan pernyataan pada masyarakat
bahwa, setiap orang diperbolehkan membuat perjanjian yang berupa dan
berisi apa saja baik yang sudah diatur ataupun yang belum diatur dalam
undang-undang.47
b. Asas konsensualisme
Asas konsensualisme adalah suatu asas yang menyatakan bahwa perjanjian
telah terjadi atau lahir sejak tercapainya sepakat para pihak, artinya suatu
perjanjian telah ada dan mempunyai akibat hukum dengan tercapainya
kata sepakat dari para pihak mengenai hal-hal pokok dan tidaklah
diperlukan suatu formalitas.48 Asas kesepakatan ini disimpulkan dari Pasal
1320 KUH Perdata yang menyatakan, bahwa untuk sahnya suatu
perjanjian diperlukan empat syarat yaitu : sepakat mereka yang
mengikatkan diri, kecakapan untuk membuat suatu perjanjian, suatu hal
tertentu dan suatu sebab yang halal. Pada saat ini ada kecenderungan
mewujudkan perjanjian konsensuil dalam bentuk perjanjian tertulis, baik
dibawah tangan maupun dengan akta otentik. Hal ini dimaksudkan untuk
mempermudah pembuktian jika dalam pelaksanaannya nanti salah satu
pihak melakukan pelangggaran.
47
48
Subekti, 1983, Hukum Perjanjian, PT. Internusa, Jakarta, hal. 14.
Ibid. hal. 15.
c. Asas mengikatnya perjanjian (pacta sunt servanda)
Asas mengikatnya perjanjian adalah suatu asas yang menyatakan bahwa
perjanjian yang dibuat secara sah, mengikat mereka yang membuat
sebagai undang-undang. Dengan demikian para pihak terikat dan harus
melaksanakan perjanjian yang telah disepakati bersama, seperti hal
keharusan untuk mentaati undang-undang.49 Asas kekuatan mengikatnya
perjanjian ini disimpulkan dari Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang
menyatakan “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai
undang-undang bagi mereka yang membuatnya.” Dijelaskan oleh Sudikno
Mertokusumo, bahwa bunyi lengkap adagium tersebut adalah Pacta nuda
servanda sunt, yang mempunyai arti bahwa kata sepakat tidak perlu
dirumuskan dalam bentuk sumpah, perbuatan atau formalitas tertentu agar
menjadi kewajiban yang mengikat.50
3. Jenis Perjanjian
Dalam Hukum Perjanjian, perjanjian dibedakan ke dalam beberapa
kelompok
pembedaan
berdasarkan
kriteria-kriteri
tertentu,
beberapa
pembedaan pembedaan dimaksud akan diuraikan dalam uraian berikut.
a. Perjanjian Konsensuil dan Riil
Berdasarkan cara lahirnya perjanjian dibedakan atas perjanjian konsensuil
dan perjanjian riil. Perjanjian konsensuil adalah perjanjian dimana adanya
kata sepakat antara para pihak saja sudah cukup untuk timbulnya
perjanjian yang bersangkutan, dan timbulnya perjanjian tersebut
49
J. Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian Buku I, PT. Citra
Bakti, Bandung, 1995, hal. 142.
50
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Liberty, Yogyakarta,
1986, hal. 97.
Aditya
ditentukan sejak detik tercapainya kesepakatan.51 Akibat hukum dari
timbulnya perjanjian adalah lahirnya kewajiban bagi salah satu atau kedua
belah pihak, oleh karena itu perjanjian yang bersifat konsensuil juga
merupakan perjanjian “obligatoir” (baru melahirkan kewajiban), sehingga
sering dikenal dengan perjanjian yang konsensuil obligatoir. Perjanjian riil
adalah perjanjian yang baru lahir kalau barang yang menjadi pokok
prestasi telah diserahkan,52 artinya dengan tercapainya sepakat para pihak
saja belum cukup untuk melahirkan perjanjian riil, sehingga untuk adanya
perjanjian riil harus terpenuhi adanya dua unsur yaitu sepakat dan
penyerahan benda pokok perjanjian. Contohnya : pinjam meminjam,
pinjam pakai dan penitipan barang. Pada umumnya, perjanjian-perjanjian
khusus yang diatur dalam Buku III KUH Perdata bersifat konsensuil
obligatoir, kecuali beberapa perjanjian tertentu yang bersifat riil.
b. Perjanjian Sepihak dan Timbal-balik
Berdasarkan perikatan yang timbul dari suatu perjanjian, mengikat satu
pihak saja ataukah mengikat kedua belah pihak, perjanjian dapat
dibedakan atas perjanjian sepihak dan perjanjian timbal balik, yakni
“Perjanjian sepihak adalah perjanjian yang menimbulkan kewajiban pada
salah satu pihak saja sedangkan pada pihak yang lain hanya ada hak saja,
seperti : hibah, pinjam pakai, perjanjian pinjam mengganti, penitipan
barang cuma-cuma; Sedangkan Perjanjian timbal balik adalah perjanjian
yang menimbulkan kewajiban dan hak kepada kedua belah pihak, dengan
51
52
Subekti, Op.cit.hal. 48
Ibid.hal. 49
mana hak dan kewajiban itu mempunyai hubungan satu sama lainnya,
seperti : perjanjian jual beli, sewa menyewa, tukar menukar dan lain-lain.53
4. Syarat Sahnya Perjanjian
Setiap orang yang mengadakan perjanjian selalu dimaksudkan untuk
menimbulkan akibat hukum yang dikehendaki atau yang dianggap
dikehendaki. Agar maksud itu tercapai dan bila perlu pelaksanaannya dapat
dipaksakan melalui pengadilan, maka perjanjian yang dibuat harus perjanjian
yang memenuhi syarat sahnya perjanjian. Melalui Pasal 1320 KUH Perdata,
pembuat undang-undang telah menetapkan syarat-syarat pokok yang harus
dipenuhi agar perjanjian yang mereka adakan menjadi perjanjian yang sah,
yakni :
a. Sepakat mereka yang mengikatkan diri;
b. Kecakapan untuk membuat perjanjian,
c. Suatu hal tertentu,
d. Suatu sebab yang halal.
Kata sepakat merupakan dasar lahirnya suatu perjanjian. Suatu
perjanjian dianggap lahir atau terjadi pada saat dicapainya kata sepakat antara
para pihak yang mengadakan perjanjian. Sepakat atau konsensus mengandung
pengertian bahwa para pihak saling menyatakan kehendak masing-masing
untuk menutup sebuah perjanjian dan kehendak pihak yang satu sesuai secara
timbal balik dengan kehendak pihak lainnya. Pernyataan kehendak tersebut
tidak harus dinyatakan secara tegas dengan kata-kata, tetapi dapat juga
53
Ibid, hal. 42
dilakukan dengan perbuatan atau sikap yang mencerminkan adanya kehendak
untuk mengadakan perjanjian. Pernyataan kehendak yang menghasilkan
kesepakatan dapat dibedakan antara pernyataan kehendak untuk menawarkan
dan pernyataan kehendak untuk melakukan penerimaan.
Syarat kedua untuk sah perjanjian adalah kecakapan para pihak untuk
membuat perjanjian. Menurut Pasal 1329 KUH Perdata, “Setiap orang adalah
cakap untuk membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh undang-undang tidak
dinyatakan tidak cakap”. Dari ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa
menurut undang-undang pada asasnya
setiap orang adalah
cakap untuk
membuat perjanjian. Ketidakcakapan merupakan suatu perkecualian atas asas
tersebut dan
orang hanya tidak cakap kalau undang-undang menentukan
demikian. Perkecualian atas prinsip tersebut terdapat dalam Pasal 1330 KUH
Perdata yang menyebutkan secara berturut-turut bahwa tidak cakap untuk
membuat suatu perjanjian adalah :
1). Orang-orang belum dewasa,
2). Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan,
3). Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undangundang dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang
telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu.
Syarat ketiga untuk sahnya perjanjian adalah adanya suatu hal tertentu.
Suatu hal tertentu harus ditafsirkan bahwa obyek perjanjian harus “tertentu”.
Sekalipun masing-masing obyek tidak harus individual tertentu. Mengenai
syarat bahwa obyeknya harus tertentu, Pasal 1333 ayat (2) menyatakan bahwa
jumlahnya semula boleh belum tertentu asal kemudian hari dapat ditentukan.
Tetapi jika pada saat perjanjian ditutup obyek sama sekali tidak tertentu atau
tidak ada adalah tidak boleh. Jadi yang dimaksud dengan “suatu hal tertentu”
adalah bahwa paling tidak macam atau jenis benda dalam perjanjian sudah
ditentukan pada saat lahirnya perjanjian.54
Syarat keempat untuk sahnya perjanjian adalah adanya suatu “sebab
(Latin : causa) yang halal (Geoorloofde orzaak). KUH perdata tidak
memberikan perumusan mengenai apa yang dimaksud dengan “sebab yang
halal.” Hanya dijelaskan dalam Pasal 1337 KUH Perdata bahwa “suatu sebab
adalah terlarang, apabila dilarang oleh undang-undang, atau apabila
berlawanan dengan kesusilaan atau ketertiban umum.” Dari penjelasan
tersebut dapat ditarik pengertian bahwa untuk sahnya suatu perjanjian
causanya harus diperbolehkan, dan sebaliknya causa yang tidak diperbolehkan
adalah apabila dilarang oleh undang-undang atau bertentangan dengan
kesusilaan dan ketertiban umum.
Menurut pendapat Hamaker dan Hofman serta Hoge Raad dalam
Arrestnya tanggal 17 November 1922, yang dimaksud dengan causa
perjanjian adalah tujuan perjanjian, yakni apa yang menjadi tujuan bersama
para pihak dalam membuat perjanjian. Dengan demikian maka yang dimaksud
dengan sebab atau causa yang halal adalah bahwa tujuan perjanjian tidak
bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum.55
Dikatakan bertentangan dengan undang-undang apabila tujuan para
pihak mengadakan perjanjian secara jelas melanggar ketentuan undang 54
55
J. Satrio, Hukum Perikatan Buku II, op.cit., hal. 31.
Ibid. hal. 60-72.
undang; Dan dikatakan bertentangan dengan kesusilaan adalah apabila tujuan
para pihak mengadakan perjanjian bertentangan dengan nilai-nilai positif yang
hidup dalam masyarakat; Sedangkan
dikatakan bertentangan dengan
ketertiban umum adalah apabila tujuan para pihak dalam mengadakan
perjanjian bertentangan dengan hal-hal yang berkaitan dengan masalah
kepentingan umum yakni kedamaian, ketentraman dan keamanan hidup
bermasyarakat.56
Dua syarat yang pertama, dinamakan syarat subyektif, karena
mengenai orang-orangnya atau subyeknya yang mengadakan perjanjian,
sedangkan dua syarat yang terakhir dinamakan syarat-syarat obyektif, karena
mengenai obyek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu. Tidak
terpenuhinya syarat-syarat tersebut atau salah satu syarat dari syarat tersebut
adalah perjanjian tidak sah atau batal. Dalam hal syarat obyektif tidak
terpenuhi, perjanjian adalah itu batal demi hukum; artinya sejak semula
tidak pernah
dilahirkan suatu perjanjian dan tidak pernah ada perikatan.
Tujuan para pihak yang mengadakan perjanjian tersebut untuk melahirkan
suatu perikatan hukum adalah gagal. Sedangkan dalam hal syarat subyektif
tidak terpenuhi, perjanjian tidak batal demi hukum, tetapi dapat dibatalkan,
artinya perjanjian itu oleh hukum dianggap ada sampai salah satu pihak yang
tidak cakap atau yang memberikan sepakat secara tidak bebas meminta
pembatalan.57
56
57
Ibid. hal. 98-127.
Subekti, Hukum Perjanjian, op.cit., hal. 20. 5. Prestasi dalam suatu Perjanjian
a. Prestasi dan Wanprestasi dalam Perjanjian
Perjanjian obligator senantiasa terdapat kewajiban yang harus
dipenuhi oleh salah satu pihak dan kewajiban tersebut merupakan hak
yang pemenuhannya dapat dituntut oleh pihak yang lain. Pihak yang
berhak menuntut disebut pihak berpiutang atau kreditur dan pihak yang
wajib memenuhi tuntutan disebut sebagai pihak berutang atau debitur,
sedang apa yang menjadi hak dari kreditur dan kewajiban bagi debitur
dinamakan prestasi.
Dalam perjanjian prestasi dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
1) Memberikan sesuatu,
2) Melakukan suatu perbuatan,
3) Tidak melakukan suatu perbuatan.
Jika seorang debitur telah melaksanakan kewajibannya dengan
sempurna, tepat sesuai dengan apa yang diperjanjikan oleh kedua belah
pihak, maka dikatakan bahwa debitur telah menunaikan prestasi atau
berprestasi. Sebaliknya jika debitur tidak memenuhi kewajibannya dengan
sempurna tepat sesuai dengan apa yang diperjanjikan oleh kedua belah
pihak, menurut hukum debitur tersebut dikatakan wanprestasi atau cidera
janji.
Ada tiga kemungkinan bentuk-bentuk tindakan wanprestasi
sebagaimana dikatakan oleh J. Satrio, yaitu jika :
1) Debitur sama sekali tidak berprestasi;
2) Debitur keliru berprestasi;
3) Debitur terlambat berprestasi. 58
Wanprestasi ini ada kalau debitur tidak dapat membuktikan
bahwa tidak terlaksananya prestasi sebagaimana yang diperjanjikan adalah
diluar kesalahannya, jadi wanprestasi itu terjadi karena debitur mempunyai
kesalahan.59
Kesalahan dapat berupa kesengajaan dan kelalaian; kesengajaan
terjadi jika ada niat dan kehendak pada debitur untuk tidak memenuhi
prestasi, sedangkan kelalaian ada jika debitur dapat menghindari penyebab
tidak terjadi prestasi dan ia dapat dipersalahkan karena ia tidak
menghindarinya. Dengan demikian, seorang debitur dapat dinyatakan
wanprestasi manakala ia tidak melaksanakan kewajibannya untuk
memenuhi
prestasi,
dan
tidak
terlaksananya
kewajiban
tersebut
dikarenakan faktor kesengajaan atau kelalaian.
Apabila terjadi wanprestasi, maka kreditur mempunyai beberapa
pilihan atas berbagai macam kemungkinan tuntutan.
Kemungkinan
pilihan tersebut adalah berupa tuntutan 60:
1) Pemenuhan perjanjian;
2) Pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi;
3) Ganti rugi saja;
4) Pembatalan perjanjian;
58
J. Satrio, 1993, opcit., hal. 122.
A. Qirom Syamsudin Meliala, Pokok-pokok
Perkembangannya, Liberty, Yogyakarta, 1985, hal. 26.
60
Subekti, op.cit., hal. 53.
59
Hukum
Perjanjian
Beserta
5) pembatalan perjanjian disertai ganti rugi.
Tuntutan-tuntutan
tersebut
tidak
lain
dimaksudkan
untuk
memberikan perlindungan bagi kreditur, agar dapat mempertahankan
kepentingannya terhadap debitur yang tidak jujur. Namun demikian,
hukum juga memperhatikan dan memberikan perlindungan bagi debitur
yang tidak memenuhi kewajibannya, jika hal itu terjadi bukan karena
kesalahan atau akibat kelalaiannya.
Subekti61 mengemukakan bahwa seorang debitur yang dinyatakan
wanprestasi masih dimungkinkan untuk melakukan pembelaan berupa :
1) Mengajukan tuntutan adanya keadaan memaksa (overmacht atau force
majeur);
2) Mengajukan bahwa si kreditur sendiri juga telah lalai (exeptio non
adimpleti contractus);
3) Mengajukan bahwa kreditur telah melepaskan haknya untuk menuntut
ganti rugi (rechtsverwerking).
b. Keadaan memaksa (overmacht atau force majeur)
Sebagaimana dikemukakan bahwa wanprestasi adalah tidak
terlaksananya prestasi sebagaimana mestinya karena adanya faktor
kesalahan pada debitur. Dengan ini berarti, ada kemungkinan tidak
terlaksananya prestasi tanpa ada kesalahan pada debitur, tetapi
dikarenakan adanya suatu sebab di luar diri debitur yang menghalanghalangi pemenuhan prestasi.
61
Subekti, op.cit., hlm. 53.
Tentang sebab yang menghalang-halangi pemenuhan prestasi
yang demikian itu, disebut “keadaan memaksa” (overmacht atau force
majeur) yang didalam KUH Perdata diatur dalam Pasal 1244 dan Pasal
1245.
Pasal 1244 KUH Perdata :
“Jika ada alasan untuk itu, si berhutang harus dihukum mengganti
biaya, rugi dan bunga apabila ia tidak dapat membuktikan, bahwa
hal tidak atau tidak pada waktu yang tepat dilaksanakan perikatan
itu, disebabkan karena suatu hal yang tak terduga, pun tak dapat
dipertanggungjawabkan kepadanya, kesemuanya itupun jika
iktikad buruk tidaklah ada pada pihaknya.”
Pasal 1245 KUH Perdata :
“Tidaklah biaya, rugi dan bunga, harus digantinya, apabila
lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian tak
disengaja si berhutang berhalangan memberikan atau berbuat
sesuatu yang diwajibkan, atau lantaran hal-hal yang sama telah
melakukan perbuatan yang terlarang.”
Dari kedua Pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa : keadaan
memaksa (overmacht) adalah suatu keadaan atau kejadian yang tak
dapat
diduga-duga terjadinya, sehingga menghalangi seorang debitur
untuk melakukan prestasinya sebelum ia lalai dan keadaan mana tidak
dapat dipersalahkan kepadanya.
Dari batasan tersebut dapat diketahui adanya bebarapa unsur dari
keadaan memaksa yaitu :
1) Hal tidak dapat diduga sebelumnya;
2) Diluar kesalahan debitur;
3) Menghalangi debitur untuk berprestasi;
4) debitur belum lalai.
Keadaan memaksa dapat bersifat tetap dan dapat bersifat
sementara. Keadaan memaksa adalah bersifat tetap manakala keadaan
yang mengakibatkan terhalangnya prestasi berlangsung untuk selamanya;
contohnya benda yang menjadi obyek prestasi terbakar diluar salahnya
debitur. Sebaliknya keadaan memaksa adalah bersifat sementara jika
keadaan yang menyebabkan terhalangnya prestasi hanya berlangsung
dalam jangka waktu tertentu saja; contohnya banjir.
Akibat dari adanya keadaan memaksa ditentukan dalam Pasal
1245 KUH Perdata, yaitu menghapuskan atau meniadakan kewajiban
debitur membayar ganti rugi. Hal itu berarti bahwa debitur tidak wajib
membayar ganti rugi, bilamana ia terhalang oleh keadaan memaksa dalam
melaksanakan prestasi.
Hapusnya kewajiban membayar ganti rugi hanyalah merupakan
konsekuensi lebih lanjut dari pada hapusnya kewajiban prestasi, oleh
karena itu akibat dari adanya keadaan memaksa, yang paling pokok
sebenarnya adalah menghapuskan kewajiban prestasi debitur.
Dengan mengingat adanya dua macam bentuk keadaan memaksa
yang bersifat tetap dan sementara, maka harus disimpulkan bahwa akibat
adanya keadaan memaksa adalah : debitur tidak diwajibkan melaksanakan
prestasi jika keadaan memaksanya bersifat tetap atau debitur hanya
diwajibkan menunda pelaksanaan prestasi sampai keadaan memaksanya
yang bersifat sementara itu selesai.
6. Akibat Hukum Perjanjian
KUH Perdata Buku III titel 2 bagian 3 yang berjudul tentang
akibat hukum perjanjian, dibuka dengan Pasal 1338 yang menyatakan : “
semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang
bagi mereka yang membuatnya.“
Dengan demikian setiap perjanjian yang dibuat “ secara sah “
berarti memenuhi syarat untuk sahnya perjanjian yaitu ada kesepakatan
untuk membuat perjanjian, mereka yang bersepakat adalah orang yang
cakap untuk membuat perjanjian, prestasinya tertentu dan tujuan para
pihak mengadakan perjanjian secara jelas tidak melanggar ketentuan
undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum, maka perjanjian
mengikat para pihak yang membuat perjanjian, seperti undang-undang
yang mengikat orang terhadap siapa undang-undang berlaku.
Perjanjian yang dibuat secara sah tidak dapat dibatalkan secara
sepihak. Pembatalan hanya dapat dilakukan atas dasar kesepakatan antara
para pihak yang membuatnya untuk membatalkan perjanjian yang telah
ada tersebut. Dengan demikian perjanjian yang dibuat secara sah berlaku
mengikat dan para pihak wajib melaksanakan ketentuan-ketentuan yang
ada dalam perjanjian.
Sampai kapankah perjanjian mengikat atau sampai kapan suatu
perjanjian itu berakhir ? Pada asasnya perjanjian berakhir kalau akibatakibat hukum yang dituju telah selesai terpenuhi.
7. Risiko
Yang dimaksud dengan risiko adalah suatu kewajiban untuk
menanggung kerugian sebagai akibat dari adanya suatu peristiwa atau
kejadian yang menimpa obyek perjanjian dan bukan karena kesalahan dari
salah satu pihak.62 Hal itu berarti risiko berpokok pangkal pada suatu
peristiwa diluar kesalahan salah satu pihak yang mengadakan perjanjian,
atau dengan kata lain berpokok pangkal pada kejadian yang didalam
hukum dinamakan : keadaan memaksa. Dengan demikian maka risiko
adalah merupakan kelanjutan dari keadaan memaksa.
a. Resiko pada Perjanjian Sepihak
Pasal 1237 KUH Perdata : “Dalam hal adanya perikatan untuk
memberikan sesuatu kebendaan tertentu, kebendaan itu semenjak
perikatan dilahirkan, adalah atas tanggungan si berpiutang”. Ketentuan ini
terletak pada bab tentang perikatan pada umumnya; jadi disini diatur
tentang perikatan dalam bentuk dasarnya yaitu hubungan dalam lapangan
hukum kekayaan, dimana disatu pihak ada hak (kreditur) dan dilain pihak
ada kewajiban (debitur). Bentuk perikatan seperti ini muncul pada
perjanjian sepihak, seperti pada hibah.
Berdasarkan ketentuan tersebut benda yang harus diserahkan
menjadi tanggungan kreditur. Disini tidak dibicarakan siapa yang bersalah,
tetapi hanya dikatakan yang menanggung kerugian adalah kreditur; maka --ditafsirkan bahwa--- kalau terjadi kerugian pada benda tertentu yang
62
A. Qirom Syamsudin Meliala, op.cit, hlm. 49.
harus diserahkan dan tidak ada yang bersalah atas kerugian itu, yang
menanggung adalah kreditur. Dengan begitu, dalam perikatan untuk
memberikan suatu barang tertentu, jika barang ini sebelum diserahkan,
musnah atau rusak karena suatu peristiwa di luar kesalahan salah satu
pihak, kerugian ini harus dipikul oleh “si berpiutang” (kreditur), yaitu
pihak yang berhak menerima barang itu. Dalam bahasa hukum dikatakan
pada perikatan untuk memberikan suatu barang tertentu, yang timbul dari
suatu perjanjian yang sepihak resiko ada pada kreditur.
b. Resiko pada Perjanjian Timbal Balik
Dalam perjanjian timbal balik prestasi yang satu berkaitan erat
sekali dengan prestasi yang lain; dijanjikannya prestasi yang satu adalah
dengan memperhitungkan akan diterimanya prestasi yang lain. Pengaturan
resiko dalam perjanjian timbal-balik, dimana kedua belah pihak samasama berkewajiban memenuhi prestasi, dapat kita simpulkan dari
pengaturan yang terdapat dalam Pasal 1444 ayat (1) KUH Perdata yang
menyatakan :
“Jika barang tertentu yang menjadi bahan persetujuan, musnah, tak
lagi dapat diperdagangkan, atau hilang, sedemikian hingga
samasekali tak diketahui apakah barang itu masih ada, maka
hapuslah perikatannya, asal barang itu musnah atau hilang di luar
salahnya si berutang, dan sebelum ia lalai menyerahkannya.”
Disini ditentukan, apabila suatu barang tertentu yang menjadi
bahan perjanjian musnah tak dapat lagi diperdagangkan atau hilang diluar
salahnya si berutang maka perikatan antara pihak-pihak yang membuat
perjanjian menjadi hapus; dan karena seluruh perikatan hapus, maka
dengan sendirinya pihak yang membuat perjanjian tidak dapat menuntut
sesuatu apapun antara yang satu terhadap yang lain.
Hal itu berarti apabila barang yang menjadi obyek perjanjian
timbal-balik selama belum diserahkan telah musnah tak lagi dapat
diperdagangkan atau hilang diluar salahnya salah satu pihak, maka
risikonya ditanggung oleh pemilik; Karena terhadap barang miliknya,
pemilik yang harus menyerahkan barangnya, berkedudukan sebagai
debitur, maka disini dikatakan risiko kerugian dipikul oleh debitur.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan Pasal 1444 KUH
Perdata, resiko pada perjanjian timbal-balik ditanggung oleh pemilik atau
debitur.
Karena Pasal 1444 KUH Perdata ini termuat dalam Bagian Umum
Buku III KUH Perdata, maka pasal tersebut merupakan ketentuan umum
tentang resiko yang menjadi pedoman bagi perjanjian-perjanjian pada
umumnya. Pasal 1237 KUH Perdata sebagai pedoman tentang resiko bagi
perjanjian sepihak. Sedangkan Pasal 1444 KUH Perdata sebagai pedoman
tentang resiko bagi perjanjian timbal-balik.
Kecuali perihal resiko ini diatur dalam pasal-pasal Bagian Umum
Buku III KUH Perdata yang menjadi pedoman bagi perjanjian pada
umumnya, yang dirasakan mengatur tentang resiko itu sudah seadilnya,
perihal resiko juga diatur dalam pasal-pasal Bagian Khusus Buku III KUH
Perdata tentang perjanjian-perjanjian tertentu pada pasal-pasal tertentu
pula. Misalnya dalam perjanjian jual-beli resikonya diatur pada Pasal
1460, 1461 dan 1462 KUH Perdata, dalam perjanjian tukar-menukar
resikonya diatur pada Pasal 1545 KUH Perdata, selanjutnya dalam
perjanjian sewa-menyewa resikonya diatur dalam Pasal 1553 KUH
Perdata dan lain sebagainya.
Pasal-pasal KUH Perdata yang megatur resiko dalam perjanjianperjanjian jual-beli, tukar-menukar, dan sewa-mnyewa itu dirasakan
sebagai sudah seadilnya sesuai dengan Pasal 1444 KUH Perdata. Kecuali
Pasal 1460 KUH Perdata yang mengatur resiko secara tidak adil, sehingga
Mahkamah Agung dengan Surat Edarannya No. 3 tahun 1963 menyatakan
Pasal 1460 tersebut tidak berlaku lagi.
Kemudian bilamana ketentuan mengenai resiko ini kita hubungkan
dengan asas kebebasan berkontrak yang menentukan bahwa semua orang
dapat membuat perjanjian yang bagaimanapun isinya asal tidak
bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum,
maka dapat dikatakan bahwa pengaturan mengenai resiko ini inkonkreto
diserahkan kepada para pihak yang membuat perjanjian untuk mengatur
dan menentukan sendiri sedemikian rupa, bagaimana perihal resiko itu
diinginkan mereka.
D. Unsur-Unsur Perjanjian
1. Unsur Essensialia
Menurut J. Satrio, unsur essensialia adalah unsur perjanjian yang selalu
harus ada dalam suatu perjanjian, unsur mutlak, yang tanpa adanya unsur
tersebut perjanjian tidak mungkin ada.63 Kausa yang halal merupakan unsur
essensialia untuk adanya perjanjian64.
Pembicaraan tentang unsur essensialia terhadap adanya perjanjian
dalam uraian di atas adalah pembicaraan perjanjian dalam pengertian pada
umumnya, yang bisa berlaku terhadap perjanjian khusus (bernama) maupun
perjanjian tidak bernama secara umum. Dengan mendasarkan pemahaman
pada ketentuan Pasal 1320 KUH Perdata maka unsur essensialia yang
menjadikan adanya perjanjian secara umum adalah : sepakat para pihak baik
sepakat itu sah atau tidak sah; adanya para pihak baik cakap atau tidak cakap;
obyek prestasi yang tertentu atau dapat ditentukan; kausa yang halal, yang
kesemuanya merupakan sekelompok unsur essensialia yang harus ada secara
komulatif. Selanjutnya J. Satrio menjelaskan bahwa pada perjanjian riil,
syarat penyerahan obyek prestasi perjanjian merupakan essensialia; sama
seperti bentuk tertentu merupakan essensialia dari perjanjian formil; demikian
pula harga dan barang merupakan unsur essensialia dari perjanjian jual beli65.
Berdasarkan penjelasan diatas dapatlah di deskripsikan bahwa
essensialia suatu perjanjian secara umum akan membedakan terhadap suatu
perbuatan itu sebagai suatu perjanjian atau bukan; sedangkan essensialia
suatu perjanjian tertentu akan membedakan terhadap keberadaan antara
perjanjian khusus tertentu dengan perjanjian tertentu yang lain.
Pada umumnya, meskipun tidak dinyatakan secara tegas, unsur
essensialia seperti tersebut di atur dalam Buku III KUH Perdata melalui
pengaturan yang bersifat memaksa (dwigend recth) yang dapat dikenali
63
J. Satrio, Buku Kedua, Op.Cit., hal. 67
Ibid., hal. 68.
65
Ibid. 64
dengan ciri, apabila ketentuan tersebut tidak dipenuhi akan berakibat batal
demi hukum atas perjanjian yang bersangkutan.
2. Unsur Naturalia
Unsur Naturalia adalah unsur perjanjian yang oleh undang-undang di
atur tetapi yang oleh para pihak dapat di singkirkan atau di ganti 66. Unsur ini
sebenarnya merupakan bagian-bagian isi perjanjian yang secara umum patut,
dan adil bagi para pihak karena merupakan konsekuensi logis dari perjanjian
yang bersangkutan. Dalam keadaan normal orang pada umumnya pun akan
menghendaki pengaturan demikian sebagaimana logisnya.
Unsur naturalia ini oleh undang-undang diatur dengan hukum yang
bersifat mengatur atau menambah (regelend rech atau aanvullend rech). Jadi,
melalui aturan yang bersifat menambah ini pembuat undang-undang telah
menfiksikan kehendak para pihak rata-rata umumnya orang dalam membuat
perjanjian. Secara logis (natural) seseorang yang dalam suatu perjanjian misal
nya jual beli diwajibkan untuk menyerahkan hak milik atas kebendaan
tertentu, sebagai konsekuensi logisnya ia diwajibkan pula untuk menjamin
bahwa kebendaan yang diserahkan tersebut aman dari tuntutan pihak ketiga
dan bebas dari cacat tersembunyi ( Pasal 1491 KUH Perdata). Tanpa
memperjanjikan hal ini pun ketentuan pasal tersebut berlaku secara otomatis
menambah isi perjanjian yang dibuat oleh para pihak. Namun demikian
ketentuan tersebut dapat disingkirkan dengan mengaturnya secara lain
melalui kesepakatan kedua belah pihak.
66 Ibid. 3. Unsur Accidentalia
Unsur Accidentalia adalah unsur perjanjian yang ditambahkan oleh para
pihak karena undang-undang tidak mengatur tentang hal tersebut67. Semua
janji-janji dalam suatu perjanjian yang sengaja dibuat untuk menyimpangi
ketentuan hukum yang menambah merupakan unsur accidentalia68.
Pemahaman tentang unsur accidentalia ini akan menjadi jelas bila
dikaitkan dengan perjanjian khusus atau perjanjian bernama yang umumnya
telah mendapatkan pengaturan secara relatif lengkap melalui ketentuan yang
bersifat menambah. Meskipun demikian kadang-kadang terkandung hal-hal
tertentu undang-undang tidak atau lupa mengaturnya sehingga diserahkan
kepada para pihak untuk mengaturnya sendiri. Dengan demikian unsur
accidentalia ini dapat berupa janji-janji yang dibuat oleh para pihak karena
undang-undang (yang bersifat menambah) tidak mengaturnya atau berupa
janji-janji yang dibuat para pihak dalam hal mereka menyimpangi ketentuan
yang bersifat menambah tersebut.
E. Perjanjian Bernama dan Perjanjian Tak Bernama
Pasal 1319 KUH Perdata menyebutkan dua kelompok perjanjian, yaitu
perjanjian yang oleh undang-undang diberikan suatu nama khusus disebut
perjanjian bernama (benoemde atau nominaat contracten) dan perjanjian yang
dalam undang-undang tak dikenal dengan suatu nama tertentu yang disebut
perjanjian tak bernama (onbenoemde atau innominaat contracten).
67
68
Ibid.
Ibid., hal 73. Perjanjian bernama adalah perjanjian-perjanjian yang diberi nama dan
pengaturan secara khusus dalam titel V sampai dengan titel XIX Buku III
KUH Perdata, dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) dan di
dalam peraturan perundang-undangan yang lain, atau ringkasnya perjanjian
bernama adalah perjanjian yang dikenal dengan nama tertentu dan mempunyai
pengaturan secara khusus dalam Undang-Undang. A’ contrario perjanjian tak
bernama adalah perjanjian yang belum mendapat pengaturan secara khusus
dalam Undang-Undang.69
Yang termasuk Perjanjian Bernama yang diatur dalam KUH Perdata
adalah : Jual-beli (Bab V), Tukar-menukar (Bab VI), Sewa-menyewa (Bab
VII), Perjanjian untuk Melakukan Pekerjaan (Bab VIII), Persekutuan (Bab
IX), Hibah (Bab X), Penitipan Barang (Bab XI), Pinjam Pakai (Bab XII),
Pinjam-meminjam (Bab XIII), Bunga Tetap atau Bunga Abadi (Bab XIV),
Perjanjian Untung-untungan (Bab XV), Pemberian Kuasa (Bab XVI),
Penanggungan (Bab XVII) dan Perdamain (Bab XVIII). Sedangkan Perjanjian
Bernama yang diatur dalam KUHD antara lain Perjanjian Pengangkutan.
J. Satrio memberikan patokan bahwa dalam menentukan suatu
perjanjian tertentu termasuk perjanjian bernama atau perjanjian tidak bernama,
caranya adalah dengan melihat apakah semua unsur-unsur pokok essensialia
perjanjian yang bersangkutan memenuhi unsur pokok perjanjian bernama atau
tidak.70
69
70
J. Satrio 1992, Hukum Perjanjian, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal 115-117.
Ibid. hal. 118.
Selanjutnya beliau mengingatkan bahwa di samping perjanjian
bernama dan perjanjian tak bernama, dikenal ada perjanjian-perjanjian yang
tidak diatur dalam Undang-Undang, tetapi dalam praktik mempunyai nama
sendiri yang unsur-unsurnya mirip atau sama dengan unsur-unsur perjanjian
bernama, tetapi terjalin menjadi satu sedemikian rupa sehingga perjanjian
yang demikian itu tak dapat dipisah-pisahkan sebagai perjanjian yang berdiri
sendiri sendiri. Dalam kepustakaan hukum perjanjian yang demikian disebut
dengan istilah “Perjanjian Campuran” dan di dalam praktik banyak terjadi
dalam bentuk :
1. Perjanjian in de kost antara anak kost dengan induk semangnya,
2. Perjanjian untuk melakukan pekerjaan tertentu,
3. Perjanjian pemborongan pekerjaan (menyediakan makanan),
4. Perjanjian sewa-beli.
Dengan demikian perjanjian campuran adalah perjanjian yang mempunyai
ciri-ciri dari dua atau lebih perjanjian bernama (onbenoemde atau innominaat
contracten).
Di luar Perjanjian-perjanjian Campuran yang sudah dikenal dalam
praktik sebagaimana disebutkan, sebenarnya ada bentuk lain yang dewasa ini
banyak terjadi dalam masyarakat, namun belum disinggung dalam
kepustakaan hukum adalah “Perjanjian Paket Wisata,” yang di dalamnya
berisi unsur-unsur perjanjian bernama, tetapi terjalin menjadi satu sedemikian
rupa sehingga perjanjian yang demikian itu tak dapat dipisah-pisahkan.
Bagaimana pemecahannya kalau suatu perjanjian memuat beberapa
unsur yang mirip/sama dengan unsur-unsur beberapa perjanjian bernama,
tetapi yang terjalin menjadi satu, sehingga tidak dapat dipisahkan seperti
halnya “Perjanjian Paket Wisata” ?
Dalam menghadapi masalah yang demikian para sarjana mempunyai
pandangan yang berbeda-beda yang menimbulkan tiga teori, yaitu71 :
1). Teori Absorpsi
Menurut teori ini, Perjanjian tersebut dilihat terlebih dulu unsur mana
dalam perjanjian tersebut yang paling menonjol, lalu diterapkan peraturan
perjanjian yang sesuai dengan unsur-unsur yang paling menonjol
(dominan) tersebut. Di sini unsur-unsur yang lain dikalahkan seakan-akan
unsur-unsur yang lain dihisap atau terhisap. Itulah sebabnya teori ini
disebut teori absorpsi.
2) Teori Suigeneris
Menurut teori ini kalau ada perjanjian campuran, yang terjalin menjadi
satu sehingga tidak dapat dipisahkan, perjanjian yang demikian dipandang
sebagai perjanjian yang tersendiri, sebagai perjanjian khusus yang
mempunyai ciri tersendiri, sehingga peraturan perjanjian bernama yang
unsur-unsurnya muncul dalam perjanjian tersebut diterapkan secara
analogis.
3) Teori Kombinasi atau Kumulasi
Menurut teori ini kalau ada perjanjian campuran, yang terjalin menjadi
satu sehingga tidak dapat dipisahkan, unsur-unsur perjanjian dipisah 71
J. Satrio, Hukum Perjanjian, Op.cit. hal 118-124.
pisahkan dulu, kemudian untuk masing-masing diterapkan ketentuan
perjanjian yang cocok untuk tiap-tiap unsur tersebut. Itulah sebabnya teori
ini dinamakam teori kombinasi.
BAB III
METODE PENELITIAN
1. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode
pendekatan yuridis normatif, yaitu pendekatan yang menggunakan konsepsi
legistis positivistis. Konsepsi ini memandang hukum identik dengan norma-norma
tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh lembaga atau pejabat negara yang
berwenang. Selain itu konsepsi legistis positivistis juga memandang hukum
sebagai sistem normatif yang bersifat otonom, tertutup dan terlepas dari
kehidupan masyarakat. Berdasarkan konsepsi ini pada tahap kegiatan berikutnya
dikumpulkan hukum perundang-undangan dan peraturan tertulis saja ke dalam
koleksinya dan menyampingkan norma-norma lain sebagai bukan norma hukum.72
2. Metode Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan adalah studi kasus (case study)
sebagai pendekatan yang bertujuan mempertahankan keutuhan dalam gejala yang
akan diteliti sehingga data yang dikumpulkan merupakan data yang menyeluruh
dan terintegrasi. Dengan demikian penelitian studi kasus diharapkan dapat
mengembangkan pengetahuan yang mendalam tentang gejala-gejala yang akan
diteliti.73
72
Ronny Hanitijo Soemitro, 1985, Metologi Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia,
Jakarta , hal. 11.
73
Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta,
hal. 16.
3. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian yang akan digunakan adalah penelitian deskriptif,
yang menggambarkan in concreto yang dikonsultasikan pada seperangkat
peraturan hukum positif yang berlaku dan ada kaitannya dengan masalah yang
menjadi obyek penelitian.74
4. Jenis Data
a. Data Sekunder
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data sekunder, karena
pendekatan yang akan dilakukan adalah pendekatan yuridis normatif. Data
sekunder di bidang hukum dipandang dari kekuatan mengikatnya meliputi
:
1). Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat
dan terdiri dari :
a. Norma Dasar Pancasila;
b. Peraturan Dasar; Batang Tubuh UUD 1945;
c. Peraturan perundang-undangan;
d. Bahan hukum yang tidak dikodifikasikan;
e. Yurisprudensi;
f. Traktat;
g. Bahan hukum dari zaman penjajahan yang hingga kini masih
berlaku, seperti Kitab Undang-undang Hukum Perdata (yang
merupakan terjemahan, secara yuridis formal bersifat tidak
resmi dari Burgerlijk Wetbook)
74
Ronny Hanitijo Soemitro, op.cit., hlm. 11.
2). Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan hukum yang erat
hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu
menganalisa dan memahami bahan hukum primer, yang berupa :
a. Rancangan peraturan perundang-undangan;
b. Hasil karya ilmiah para sarjana;
c. Hasil-hasil penelitian.
3). Bahan hukum Tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan
informasi tentang bahan hukum primer dan sekunder, misalnya :
a. Bibliografi;
b. Indeks komulatif.75
Data sekunder yang akan digunakan dalam penelitian ini
meliputi bahan-bahan hukum primer, sekunder dan tersier yang
berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti.
Khusus yang akan diteliti adalah bahan hukum primer
berupa Surat Perjanjian Paket wisata antara SMK Bina Teknologi
Purwokerto dengan Biro Perjalanan Wisata CV. Trista Alva
Wisata.
b. Data Primer
Dalam penelitian ini juga diperlukan data primer yang berfungsi
sebagai pelengkap/pendukung data sekunder. Data primer diperoleh dengan
cara melakukan wawancara yang bersumber dari keterangan-keterangan
pimpinan, staf dan karyawan CV. Trista Alfa Wisata Purwokerto.
75
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji,
Jakarta, 1985, hal. 14-15.
Penelitian Hukum Normatif, CV. Rajawali
5. Metode Pengumpulan Data
a. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dengan cara melakukan studi pustaka dan studi
dokumen terhadap bahan-bahan hukum sekunder yang berkaitan dengan
masalah yang diteliti yaitu Surat Perjanjian Paket Kunjungan Industri
Jakarta SMK Bina Teknologi Perwokerto dengan CV. Trista Alfa Wisata.
b. Data Primer
Data primer diperoleh dengan cara melakukan wawancara dengan
pimpinan, staf dan karyawan CV Trista Alfa Wisata Purwokerto.
6. Metode Penyajian Data
Data yang diperoleh selanjutnya disajikan dalam bentuk uraian yang disusun
secara sistematis, maksudnya bahwa data sekunder yang diperoleh akan
dihubungkan satu dengan yang lainnya dan disesuaikan dengan pokok
permasalahan sehingga tercipta satu kesatuan yang utuh.
7. Metode Analisis Data
Untuk memperoleh suatu kesimpulan yang diharapkan, data yang diperoleh
akan dianalisa dengan menggunakan metode analisis kualitatif, yaitu
penjabaran dan pembahasan data temuan berdasarkan pada norma-norma
hukum,76 peraturan perundang-undangan dan teori hukum perdata, khususnya
dalam bidang Hukum Perjanjian.
76
Soerjono Soekanto, op.cit., hal. 93.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Sejarah Perkembangan Biro Pariwisata CV. Trista Alfa Wisata77
Perusahaan CV. Trista Alfa Wisata berkedudukan di Jl. Overste
Isdiman No. 26 Purwokerto adalah perusahaan yang bergerak di bidang Biro
Wisata dan Transportasi Wisata serta jasa pelayanan wisata inbound dan
outbound. CV. Trista Alfa Wisata merupakan pengembangan usaha dari Cv.
PO Tri Kusuma, yang bergerak di bidang transportasi darat, meliputi angkutan
bus antar kota antar propinsi dan antar kota dalam provinsi, serta armada
travel antar jemput. Dalam pengembangannya, prospek transportasi pariwisata
dan biro perjalanan wisata dipandang cerah sehingga CV. PO Tri Kusuma
membentuk divisi transportasi dan biro wisata untuk melayani permintaan
konsumen.
Dengan maksud untuk melayani konsumen lebih profesional, maka
divisi transportasi dan biro wisata dijadikan perusahaan terpisah dengan nama
CV. Tri Kusuma Wisata pada tanggal 3 Oktober 2003 yang kemudian pada
tanggal 22 Nopember 2005 berganti nama menjadi CV. Trista Alfa Wisata.
Tujuan pergantian nama tersebut adalah untuk mempertegas komitmen
perusahaan untuk total bergerak di bidang Biro Perjalanan dan Transportasi
Wisata.
77
Company Profile CV. Trista Alfa Wisata
Visi CV. Trista Alfa Wisata adalah menjadi perusahaan yang terbesar
dan terbaik serta menjadi perusahaan yang menyediakan jasa wisata
terlengkap di Purwokerto, sedangkan misi CV. Trista Alfa Wisata adalah
melayani konsumen dengan sebaik-baiknya, mengantarkan konsumen sampai
di tempat tujuan dengan selamat dan nyaman. Kepuasan dan kenyamanan
konsumen adalah prioritas dari CV. Trista Alfa Wisata.
Obyek usaha CV. Trista Alfa Wisata meliputi Pelayanan Jasa
Perjalanan Wisata, Kunjungan Studi, Kunjungan Industri, Paket-paket Wisata
Internasional dan Domestik, Sewa Bus Pariwisata, Tiketing Pesawat udara,
Kapal laut dan Kereta api serta Perwakilan resmi Taman Impian Jaya Ancol.
Paket wisata domestik yang ditawarkan sampai saat ini adalah :
a) Pesona Bali Dewata
Paket wisata ini diselenggarakan dalam waktu lima hari empat malam,
dengan tujuan wisata ke pulau Bali untuk mengunjungi obyek wisata atau
atraksi wisata Tanah Lot, Joger, Pantai Kuta, Krisna, Tari Barong, Pusat
Jajan Bali, Sokawati, Tanjung B enoa, Pura Luhur Uluwatu, Garuda
Wisnu Kencana, Pantai Sanur dan Danau Beratan Bedugul; Dengan
fasilitas : Bus Pariwisata AC Seat 2-2, Ferry penyeberangan pergi-pulang
dan shutel bus pantai Kuta; menginap dua malam di Hotel AC (1 kamar 4
orang), 12 kali makan dan snack. Wisata dipandu oleh Tour Leader dan
Guide Lokal.
b) One Day Tour Fun Jakarta
Paket wisata ini diselenggarakan dalam waktu lima hari empat malam,
dengan tujuan wisata ke Jakarta untuk mengunjungi obyek wisata atau
atraksi wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Monumen Nasional
(Monas), Taman Impian Jaya Ancol, Ocean Dream Samudra dan Dunia
Fantasi; Dengan fasilitas : Bus Pariwisata AC Tristar, Tunggal Daya dan
Karya Jasa, makan dua kali prasmanan satu kali box, tiket obyek atau
atraksi wisata, asuransi jiwa, Guide Lokal dan Tour Leader.
c) Road to Jakarta
Paket wisata ini diselenggarakan dalam waktu tiga hari, dengan tujuan
wisata ke Jakarta, untuk mengunjungi obyek wisata atau atraksi wisata
Planetarium, Monumen Nasional (Monas) Taman Mini Indonesia Indah
(TMII), menyaksikan film di Theatre Imex Keong Mas, PP Iptek dan
jalan-jalan di TMII, Ocean Dream Samudra Ancol, Dunia Fantasi, belanja
di Cibaduyut; Dengan fasilitas : Bus Pariwisata AC Teguh, Efisiensi,
Tunggal Daya dan Karya Jasa, menginap satu malam di Graha Wisata
Ragunan, makan sesuai program, tiket obyek wisata, Guide Lokal dan
Tour Leader, Asuransi Jiwa dan Dokumentasi.
d) Bromo Tour
Paket wisata ini diselenggarakan dalam waktu empat hari, dengan tujuan
wisata ke Probolinggo, untuk mengunjungi obyek wisata atau atraksi
wisata Puncak Bromo, Puncak Penanjakan, Taman Safari Prigen, Jatim
Park, Wisata Agro; Dengan fasilitas : Bus Pariwisata AC, Hotel AC satu
malam (1 kamar dua orang), makan, tiket obyek wisata, Guide Lokal dan
Tour Leader, Asuransi Jiwa dan Dokumentasi.
e) Bandung Tour
Paket wisata ini diselenggarakan dalam waktu empat hari, dengan tujuan
wisata ke Bandung, untuk mengunjungi obyek wisata atau atraksi wisata
Situ Patenan, Kawah Putih, Belanja di Cihampelas, Ciater, Kawah Ratu
Gunung Tangkuban Perahu, dan belanja di Cibaduyut; Dengan fasilitas :
Bus Pariwisata AC, Menginap satu malam di Wisma Diklat PPFNI
Lembang, makan enam kali, Tiket Obyek Wisata, Guide Lokal dan Tour
Leader, Asuransi Jiwa dan Dokumentasi.
f) Pesona Pengandaran
Paket wisata ini diselenggarakan dalam waktu dua hari, dengan tujuan
wisata ke Pengandaran, untuk mengunjungi obyek wisata atau atraksi
wisata Pantai Pengandaran Barat, Batu Hiu, Green Canyon;
Dengan
fasilitas : Bus Pariwisata AC, Snack perjalanan dan makan (3 kali
prasmanan dan 1 kali box), Menginap satu malam, Tiket Obyek Wisata,
Tour Leader, Asuransi Jiwa dan Dokumentasi.
g) Visit to Nagyogyakarto
Paket wisata ini diselenggarakan dalam waktu dua hari, dengan tujuan
wisata ke Yogyakarta untuk mengunjungi obyek wisata atau atraksi wisata
Prambanan, Keraton Yogyakarta, Gembira Loka, Malioboro; Dengan
fasilitas : Bus Pariwisata AC seat 2-3 kapasitas 59 tempat duduk (Tristar,
Tunggal Daya, Karya Jasa), makan (2 kali prasmanan dan 1 kali box),
Tiket Obyek Wisata, Tour Leader dan Guide Lokal, Asuransi Jiwa dan
Dokumentasi.
2. Data sekunder berwujud bahan hukum primer, yaitu “Surat
Perjanjian Paket Kunjungan Industri Jakarta SMK Bina Teknologi
Purwokerto dengan CV. Trista Alfa Wisata
2.1. Para Pihak
2.1.1 Pihak I : SURATMAN
Guru SMK Bina Teknologi Purwokerto, bertindak
untuk dan atas nama Kepala Sekolah SMK Bina
Teknologi Purwokerto, yang berkedudukan di Jl.
Pahlawan VI/18 Tanjung Purwokerto.
2.1.2 Pihak II : INDRA SETIAWAN
Direktur CV. Trista Alfa Wisata berkedudukan di Jl.
Suparjo Rustam No. 1A
Purwokerto, bertindak
dalam jabatan sebagai Direktur CV. Trista Alfa
Wisata.
2.2. Premissa
Pada tanggal lima belas bulan April tahun dua ribu delapan, pihak
panitia bertemu dengan Pihak II untuk membicarakan kunjungan
industri ke Jakarta. Kemudian pada tanggal dua April tahun dua
ribu delapan terjadi pembicaraan yang intinya, Pihak I setuju untuk
menggunakan jasa pelayanan Paket Wisata dari Pihak II bagi siswa
dan siswi SMK Bina Teknologi Purwokerto, yang akan
dilaksanakan pada tanggal dua puluh lima sampai dengan dua
puluh delapan bulan Juni tahun dua ribu delapan.
2.3. Tempat Tujuan Wisata
Wisata Industri ini bertujuan ke Jakarta dengan kunjungan ke
obyek wisata atau atraksi wisata satu tempat Kunjungan Industri,
Museum Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Taman Impian Jaya
Ancol, Dunia Fantasi, Taman Mini Indonesia Indah.
2.4. Transportasi
Armada yang digunakan adalah empat unit Bus Pariwisata
TRISTAR dan dua unit Bus Pariwisata Selera Masa dengan
fasilitas air condisioner, tape, video compact disc, televisi, dengan
tempat duduk lima puluh sembilan tiap bus.
2.5. Akomodasi
Pihak II menyediakan :
2.5.1.Makanan sebanyak empat kali prasmanan dan dua kali
lunch box.
2.5.2. Tiket obyek wisata dan biaya parkir di tempat obyek
wisata.
2.5.3. Tour leader satu orang dalam setiap bus.
2.5.4. Asuransi Jiwa untuk setiap orang.
2.5.5. Dokumentasi dalam bentuk VCD hasil rekaman kegiatan
sebanyak satu keping untuk group.
2.6. Harga Paket Wisata
Biaya tour disepakati oleh kedua pihak Rp. 406.000,- (empat ratus
enam ribu rupiah) per orang untuk jumlah peserta sebanyak 310
siswa/ siswi dan 24 guru pendamping.
2.7. Mekanisme Pembayaran
Pembayaran pertama sebesar 30 % dari total nilai kontrak di bayar
pada saat penandatangan perjanjian, kedua, 60 % dari total nilai
kontrak dilakukan pada tanggal empat bulan April tahun dua ribu
delapan dan ketiga, pelunasan sebesar 10 % dari total nilai kontrak
dilakukan satu hari setelah pelaksanaan.
B. Pembahasan
Untuk mendapatkan kesimpulan terhadap perumusan masalah yang diteliti
yaitu tentang bentuk konstruksi hukum dari hubungan yang diadakan oleh
CV.Trista Alfa Wisata sebagai biro perjalanan wisata dan mengenai hak-hak dan
kewajiban yang timbul bagi para pihak dalam Perjanjian Paket Kunjungan
Industri Jakarta serta tanggung jawab hukum Biro Perjalanan Wisata di CV.Trista
Alfa Wisata Purwokerto apabila terjadi wanprestasi, maka disajikan pembahasan
akan dibagi menjadi dua yaitu pembahasan umum yang membahas kajian teoritis
tentang konstruksi hukum perjanjian paket wisata dan kedua mengenai akibat
hukum dari perjanjian paket wisata.
1. Pembahasan Umum
Untuk mengetahui secara teoritis tentang konstruksi hukum perjanjian
paket wisata, maka pembahasan akan dilakukan dengan menyajikan hal-hal
tentang kepariwisataan dan aspek hukum perjalanan wisata dalam hubungan
dengan peraturan hukum dan doktrin yang mengatur dan menjelaskan Hukum
Perjanjian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata dalam hubungannya
dengan kepariwisataan.
Menurut hukum positif Indonesia,78 istilah pariwisata diganti dengan
“wisata” yang pengertiannya adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk
tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik
wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Orang yang
melakukan wisata disebut wisatawan. Ciri pokok “wisata” ada tiga yaitu :
pertama, perjalanan yaitu pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lain;
kedua, tinggal sementara di tempat yang bukan merupakan tempat tinggal
biasanya; ketiga, tujuan untuk bersenang-senang di tempat yang dituju.
Aktivitas wisata yang demikian membutuhkan berbagai fasilitas yaitu79 :
Transportasi, Akomodasi, Makan dan minum, Obyek wisata atau atraksi
wisata, Tempat hiburan dan Tempat perbelanjaan.
Secara sosiologis, wisata adalah aktivitas bersantai atau aktivitas
waktu luang, yang dilakukan pada saat seseorang bebas dari pekerjaan yaitu
pada saat cuti atau libur, sehingga wisata diidentikan dengan “berlibur di
daerah lain.” Berlibur di daerah lain, atau menggunakan waktu luang dengan
melakukan wisata adalah salah satu ciri masyarakat modern.
Dari aspek ekonomi wisata adalah aktivitas pelayanan yang dilakukan
oleh bermacam-macam perusahaan yang secara bersama-sama menghasilkan
78
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan pada Pasal 1 angka 1
dan Pasal 1 angka 2.
79
http://raymondfrans63.wordpress.com/2011/10/13/dasar-dasar-pariwisata/ Diakses
tanggal 17 Desember 2011. barang dan jasa (good and service) yang dibutuhkan wisatawan yang disebut
dengan “Industri Pariwisata.” 80 Hasil produksi dari “Industri pariwisata,”
yang berupa
barang-barang dan jasa-jasa (goods and service) disebut
“produk wisata,” yang berupa rangkaian dari berbagai jasa atau pelayanan
yang dihasilkan berbagai perusahaan seperti jasa : transportasi, akomodasi,
pelayanan makan-minum, jasa hiburan dan lain-lain yang ditawarkan oleh
masing-masing perusahaan secara terpisah. Dalam hal kesemua produk wisata
tersebut yang terpisah sama sekali namun
saling terkait dan saling
melengkapi sedemikian digabungkan dalam satu kesatuan maka produkproduk wisata tersebut dinamakan paket wisata (package tour). Secara ketat
istilah “paket wisata”
adalah suatu wisata yang disusun dengan biaya
tertentu,
dalamnya
dimana
pengangkutan,
di
menginap,
telah
termasuk
makam-minum,
biaya-biaya
hiburan,
untuk
menyaksikan
obyek/atraksi wisata dan lain-lain yang dibuat khusus untuk itu. Dalam dunia
kepariwisataan, perusahaan yang khusus mengatur dan menyelenggarakan
perjalanan dalam bentuk paket wisata disebut Biro Perjalanan Wisata.
Dengan demikian secara ringkas dapat dinyatakan bahwa dari aspek
ekonomi kepariwisataan dipandang sebagai “industri pariwisata” yang
menghasilkan “produk wisata” berupa barang-barang dan jasa-jasa (goods and
service) yang dibutuhkan wisatawan. Keseluruhan dari produk wisata tersebut
digabungkan dan dikemas dalam satu paket menjadi “paket wisata” (package
tour) oleh untuk dijual kepada wisatawan, oleh Biro Perjalanan Wisata dalam
bentuk Perjanjian Paket Wisata.
80
Oka A Yoeti, 1987. Op.cit. hal 140 -141. Apabila pembahasan mengenai kepariwisataan dari aspek ekonomi pada
akhirnya berujung pada perjanjian Paket Wisata, yang mewadahi pola
penyelenggaraan wisata, maka terbukalah suatu dimensi baru dalam
pembahasan kepariwisataan ini mengenai aspek hukum dari kegiatan wisata.
Kehadiran hukum dalam masyarakat di antaranya adalah untuk
mengintegrasikan dan mengkoordinasikan kepentingan-kepentingan orang
dalam
masyarakat.
Pengintegrasian
kepentingan
dimaksudkan
untuk
menghindari tabrakan kepentingan sedangkan pengkoordinasian kepentingan
dilakukan dengan cara mambatasi dan melindungi kepentingan tersebut.
Hukum melindungi kepentingan orang dengan cara mengatribusi dan
mendistribusi hak dan kewajiban setiap hubungan hukum yang terjadi dalam
masyarakat.
Perlindungan paling nyata oleh hukum terhadap setiap hubungan hukum
tertuang dalam Hukum Perjanjian, dimana hukum secara seksama mengatur
tentang bagaimana kepentingan-kepentingan orang dapat terselenggara dan
terpenuhi. Dalam Hukum Kodifikasi pada dasarnya semua hubungan hukum
yang terjadi dan populer dalam masyarakat ketika kodifikasi dibuat sebenarnya
telah diatur dalam Hukum Perdata khususnya Hukum Perjanjian.
Perjanjian-perjanjian yang telah diatur secara khusus dan diberi nama
tertentu, disebut perjanjian bernama (onbenoemde atau innominaat contracten),
adalah : Jual-beli, Tukar-menukar,
Sewa-menyewa, Perjanjian untuk
Melakukan Pekerjaan, Persekutuan, Hibah, Penitipan Barang, Pinjam Pakai,
Pinjam-meminjam, Bunga Tetap atau Bunga Abadi, Perjanjian Untunguntungan, Pemberian Kuasa, Penanggungan dan Perdamaian, sedangkan
Perjanjian Bernama yang diatur dalam KUHD antara lain Perjanjian
Pengangkutan.
Subekti mengatakan bahwa dengan dianutnya asas kebebasan
berkontrak (contacts vrijheid atau partij-autonomie) dalam Hukum Perjanjian
yang menetapkan bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian apa
saja, bebas untuk menentukan isi, luas dan bentuk perjanjian (Pasal 1338 ayat 1
KUH Perdata), maka setiap orang diperbolehkan membuat perjanjian yang
berupa dan berisi apa saja baik yang sudah diatur ataupun yang belum diatur
dalam undang-undang.81
Salah satu perjanjian yang dikenal dalam praktik yang tidak diatur
dalam undang-undang selain perjanjian in de kost, pemborongan pekerjaan
(menyediakan makanan) dan sewa-beli, adalah Perjanjian Paket Wisata, yang
di dalamnya berisi unsur-unsur pelayanan jasa tetapi terjalin menjadi satu
sedemikian rupa sehingga perjanjian yang demikian itu tak dapat dipisahpisahkan.
Dalam ranah Hukum Perjanjian sebagaimana dikemukakan J.Satrio,
perjanjian yang demikian dimana di dalamnya mengandung unsur-unsur
perjanjian bernama, tetapi terjalin menjadi satu sedemikian rupa sehingga
perjanjian yang demikian itu tak dapat dipisah-pisahkan sebagai perjanjian
yang berdiri sendiri sendiri, disebut “Perjanjian Campuran.” Ciri dari
perjanjian campuran adalah yang mempunyai dua atau atau lebih perjanjian
bernama (onbenoemde atau innominaat contracten).82
81
82
Subekti, 1983, Op.cit. hal. 14.
Ibid. hal. 118.
Beberapa unsur perjanjian bernama yang terdapat dalam perjanjian
Paket Wisata adalah perjanjian pengangkutan (transportasi), perjanjian sewamenyewa kamar hotel (akomodasi), perjanjian jual-beli makanan dan
minuman, perjanjian untuk menikmati obyek wisata dan hiburan (entertaiment)
dan perjanjian pelayanan lain-lain. Menurut menurut M.A. Desky, Paket
Wisata minimal harus berisi dua pelayanan jasa saja,83 sehingga dalam
perjanjian Paket Wisata dapat hanya terdiri dari dua unsur perjanjian yaitu
paling tidak perjanjian pengangkutan dan perjanjian pelayanan untuk
menikmati obyek wisata.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah konstruksi hukum perjanjian
campuran seperti halnya perjanjian paket wisata yang demikian ?
Permasalahan tentang Konstruksi perjanjiian campuran akan dibahas dengan
mengemukakan teori-teori hukum yang dibuat oleh para penulis ketika
dihadapkan pada permasalahan mengenai peraturan hukum perjanjian bernama
manakah yang harus diterapkan pada perjanjian campuran, dalam uraian
berikut.
Di kemukakan oleh J. Satrio, ada tiga teori hukum mengenai cara
menerapkan peraturan-peraturan hukum perjanjian bernama pada perjanjian
campuran yaitu84 :
1) Teori Absorpsi
Menyatakan bahwa perjanjian campuran tersebut dilihat terlebih dulu
unsur mana perjanjian bernama yang paling menonjol, lalu diterapkan
83 M.A. Desky, Op.cit. hal 23. 84
J. Satrio, Hukum Perjanjian, Op.cit. hal 118-124.
peraturan perjanjian bernama yang paling menonjol (dominan) tersebut.
Keberatan terhadap teori ini adalah tidak patokan untuk memutuskan mana
yang dianggap paling pokok.
2) Teori Kombinasi atau Kumulasi
Menyatakan, unsur perjanjian-perjanjian bernama yang terjalin menjadi
satu dalam perjanjian campuran dipisah-pisahkan, kemudian untuk
masing-masing diterapkan ketentuan perjanjian yang cocok untuk tiap-tiap
unsur tersebut.
Menurut Hofman, teori ini tidak benar, karena undang-undang sendiri
tidak mengenal perjanjian campuran, paling-paling ketentuan-ketetntuan
perjanjian bernama diterapkan secara analogis.
3) Teori Suigeneris
Menyatakan, dalam perjanjian campuran, perjanjian-perjanjian bernama
yang terjalin menjadi satu tidaklah dapat dipisahkan, sehingga perjanjian
yang demikian dipandang sebagai perjanjian yang tersendiri, sebagai
perjanjian khusus yang mempunyai ciri tersendiri, sehingga peraturan
perjanjian bernama yang unsur-unsurnya muncul dalam perjanjian tersebut
diterapkan secara analogis.
Dari ketiga teori tersebut Teori Absorpsi menghasilkan konstruksi
hukum perjanjian campuran, adalah sama dengan konstruksi hukum perjanjian
bernama yang dominan. Namun karena adanya keberatan terhadap teori ini
yaitu tidak adanya patokan untuk memutuskan mana yang dianggap paling
pokok, maka teori ini tidak dipakai. Teori Kombinasi atau Kumulasi tidak
menghasilkan konstruksi hukum karena undang-undang memang tidak
mengenal perjanjian campuran. Sedangkan Teori Suigeneris mengarahkan
konstruksi hukum perjanjian campuran ke Perjanjian untuk Melakukan
Pekerjaan.
Menurut
undang-undang
yang
dimaksud
dengan
“perjanjian
melakukan pekerjaan” adalah perjanjian dimana pihak yang satu mengikatkan
diri untuk melakukan kerja dengan imbalan suatu upah atau kontra prestasi
dari pihak lainnya. Di dalam sistematik KUH Perdata, “perjanjian melakukan
pekerjaan“ (verichten van arbeid) diatur dalam Bab VII A yang berjudul
“Tentang perjanjian-perjanjian untuk melakukan pekerjaan” (Overeenkomsten
tot het verrichten van arbeid), Pasal 1601 sampai dengan Pasal 1616.
Dalam Pasal 1601 KUH Perdata dinyatakan :
“Selainnya perjanjian-perjanjian untuk melakukan sementara jasajasa, yang diatur oleh ketentuan-ketentuan khusus untuk itu dan oleh
syarat-syarat yang diperjanjikan, dan jika itu tidak ada, oleh
kebiasaan, maka adalah dua macam perjanjian dengan mana pihak
yang satu mengikatkan dirinya untuk melakukan pekerjaan bagi
pihak yang lainnya dengan menerima upah : perjanjian perburuhan
dan pemborongan pekerjaan.”
Berdasarkan ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa undang-undang
membagi perjanjian untuk melakukan pekerjaan dalam tiga macam perjanjian,
yaitu :
a) Perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu;
b) Perjanjian kerja/perburuhan;
c) Perjanjian pemborongan-pekerjaan.
Dari ketiga jenis “Perjanjian untuk melakukan pekerjaan” tersebut, KUH
Perdata
yang
mengatur
Perjanjian
kerja/perburuhan
dan
Perjanjian
pemborongan-pekerjaan, sedangkan Perjanjian untuk melakukan jasa-jasa
tertentu oleh undang-undang tidak diatur lebih lanjut.
Menurut Subekti, tidak diaturnya “perjanjian untuk melakukan jasajasa tertentu” dalam Buku III KUH Perdata sebagai suatu bentuk “perjanjian
khusus” adalah didasarkan alasan bahwa “perjanjian untuk melakukan jasajasa tertentu” sudah diatur oleh ketentuan-ketentuan khusus untuk itu, yaitu
dalam perjanjian pemberian perintah (kuasa) dan oleh syarat-syarat yang
diperjanjikan oleh kebiasaan.85
Menurut Hartono Soerjopratiknjo, “perjanjian untuk melakukan
jasa-jasa tertentu” dibedakan menjadi dua yaitu : Perjanjian untuk melakukan
jasa-jasa tertentu yang menimbulkan perwakilan dan yang tidak menimbulkan
perwakilan. Perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu yang menimbulkan
perwakilan
diatur dalam
Buku III Bab XVI tentang Lastgeving atau
Perjanjian Pemberian Perintah yang mengandung kuasa.86
Sedangkan H.F.A. Vollmar menegaskan bahwa apabila “perjanjian
untuk melakukan pekerjaan,” tidak termasuk dalam pengertian “perjanjian
kerja/perburuhan,” ataupun tidak pula termasuk dalam pengertian “perjanjian
pemborongan,” maka itu adalah “perjanjian melakukan jasa-jasa tertentu.”87
Dengan demikian menurut penulis, pada hakikatnya yang dimaksud
85
Subekti, op.cit., hal. 57.
Hartono Soerjopratiknjo, 1982, Perwakilan Berdasarkan Kehendak, Seksi Notariat
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hal 42.
87
H.F.A. Vollmar, H.F.A. Volmar, 1984, Pengantar Studi Hukum Perdata, Jilid II
Cetakan I, Rajawali Pers, Jakarta. hal. 340.
86
dengan Perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu, adalah perjanjian yang
bukan “perjanjian kerja/perburuhan,” bukan “perjanjian pemborongan,” dan
bukan pula “perjanjian pemberian perintah (kuasa).
Dalam hal ini terdapat penjelasan dari penulis hukum yaitu :
a. Wirjono Prodjodikoro mengatakan bahwa “perjanjian untuk melakukan
jasa-jasa tertentu” adalah perjanjian untuk melakukan satu dua pekerjaan
tertentu (verrichten van enkele diensten).88
b. Subekti mengatakan bahwa “perjanjian untuk melakukan jasa-jasa
tertentu” adalah perjanjian dimana suatu pihak menghendaki dari pihak
lawannya dilakukannya suatu pekerjaan untuk mencapai sesuatu tujuan,
untuk mana ia bersedia membayar upah, sedang apa yang akan dilakukan
untuk mencapai tujuan tersebut sama sekali terserah kepada pihak lawan
itu.89
Dari kedua pendapat tersebut kiranya dapat dinyatakan bahwa yang
dimaksud dengan “perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu” adalah
perjanjian
dimana
suatu
pihak
menghendaki
dari
pihak
lawannya
dilakukannya beberapa pekerjaan tertentu untuk mencapai sesuatu tujuan,
untuk mana ia bersedia membayar upah, sedang apa yang akan dilakukan
untuk mencapai tujuan tersebut sama sekali terserah kepada pihak lawan itu.
Karena yang dimaksud dengan perjanjian adalah perbuatan hukum
dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang
88
Wirjono Prodjodikoro, 1981, Hukum Perdata Tentang Persetujuan-Persetujuan
Tertentu, Sumur, Bandung, hal. 67.
89
Subekti, 1981, Aneka Perjanjian, Alumni Bandung, hal.70.
atau lebih, atau dimana kedua belah pihak saling mengikatkan diri,90 maka
dapat disimpulkan bahwa Konstruksi Hukum “perjanjian untuk melakukan
jasa-jasa tertentu” (verrichten van enkele diensten) dapat dirumuskan sebagai
berikut :
Perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu adalah perjanjian
dimana suatu pihak mengikatkan diri untuk melakukan beberapa
pekerjaan tertentu untuk mencapai sesuatu tujuan, dan pihak yang
lain untuk membayar upah yang telah dijanjikan.
Apabila pengertian tersebut dihubungkan dengan Perjanjian Paket Wisata
yang berisi kesepakatan tentang penyelenggaraan perjalanan wisata yang di
dalamnya berisi minimal dua pelayanan jasa atau lebih maka dapat
disimpulkan dapat lebih lanjut bahwa konstruksi perjanjian paket wisata dapat
dirumuskan :
Perjanjian Paket Wisata adalah perjanjian dimana Biro Perjalanan
Wisata mengikatkan diri untuk melakukan jasa-jasa atau pekerjaan
pengangkutan,akomodasi, makan/minum dan menikmati obyek/atraksi
wisata dalam rangka penyelenggaraan wisata, dan pihak yang lain
untuk membayar upah yang telah dijanjikan.
Perjanjian Paket Wisata sebagai spesies dari genus “perjanjian melakukan
jasa-jasa tertentu,” tidak diatur secara khusus dalam KUH Perdata, oleh karena
itu perjanjian tersebut tunduk pada Ketentuan Umum Buku III KUH Perdata
dan berdasarkan Teori Suigeneris tunduk pada peraturan perjanjian bernama
yang secara analogis.
90
J. Satrio, 1992. Op.cit hal. 20-23.
2. Tentang konstruksi hukum dari hubungan yang diadakan oleh
CV.Trista Alfa Wisata sebagai biro perjalanan wisata.
Sebelum membahas tentang konstruksi hukum dari hubungan yang
diadakan oleh CV.Trista Alfa Wisata sebagai biro perjalanan wisata, terlebih
dahulu dideskripsikan konstruksi hukum perjanjian Paket Wisata hasil dari
Pembahasan Umum, sebagai dasar hukum yang dijadikan sebagai hukum in
abstracto
mengenai
Perjanjian
Paket
Kunjungan
Industri
yang
diselenggarakan oleh CV.Trista Alfa Wisata.
Telah disimpulkan bahwa konstruksi hukum Perjanjian Paket Wisata
secara umum adalah sebagai berikut :
Perjanjian Paket Wisata adalah perjanjian dimana Biro Perjalanan
Wisata mengikatkan diri untuk melakukan jasa-jasa atau pekerjaan
pengangkutan,akomodasi, makan/minum dan menikmati obyek dan
atau atraksi wisata dalam rangka penyelenggaraan wisata, dan pihak
yang lain untuk membayar upah yang telah dijanjikan.
Dalam “perjanjian melakukan jasa-jasa tertentu,” pihak-pihaknya disebut
pemberi pekerjaan dan penerima pekerjaan, dalam hal Perjanjian Paket Wisata
maka pihak pemberi perjanjian adalah wisatawan dan pihak penerima
pekerjaan adalah Biro Perjalanan Wisata.
Dari data 1 dan 2 dapat dideskripsikan bahwa CV. Trista Alfa Wisata
adalah Biro Perjalanan Wisata, yaitu perusahaan atau badan usaha yang
merencanakan dan menyelenggarakan perjalanan wisata sebagaimana tertuang
dalam “Surat Perjanjian Paket Kunjungan Industri Jakarta antara SMK Bina
Teknologi Purwokerto dengan CV. Trista Alfa Wisata.
Dari data 2.1. dan 2.6 dapat dideskripsikan bahwa wisatawannya adalah
rombongan SMK Bina Teknologi Purwokerto, yang terdiri dari 310 siswasiswi dan 24 guru pendamping dan kegiatan wisata dilaksanakan selama tiga
malam dua hari mulai tanggal 25 sampai dengan 28 Juni 2008.
Dari data 2.3. dapat dideskripsikan bahwa Wisata Industri ini bertujuan
ke Jakarta dengan kunjungan ke obyek/atraksi wisata : satu tempat Kunjungan
Industri, Museum Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Taman Impian Jaya
Ancol, Dunia Fantasi, Taman Mini Indonesia Indah.
Dikemukakan oleh Oka A Yoeti, bahwa yang disebut dengan Wisata
Industri (Industrial Tourism), yaitu jenis perjalanan wisata yang dilakukan oleh
rombongan pelajar atau mahasiswa atau orang awam ke suatu kompleks atau
daerah perindustrian, dimana terdapat pabrik-pabrik atau bengkel-bengkel
besar dengan maksud dan tujuan untuk mengadakan peninjauan atau
penelitian.91
Berdasarkan data-data tersebut setelah dihubungkan dengan pengertian
Perjanjian Paket Wisata serta pengertian Wisata Industri maka dapat
dinyatakan bahwa :
a. Subyek Perjanjian (Pihak-pihak dalam perjanjian)
1) Pihak pemberi pekerjaan adalah SMK Bina Teknologi Purwokerto.
2) Pihak penerima pekerjaan adalah CV. Trista Alfa Wisata.
91
Oka A Yoeti, 1987. Op.cit. hal 116.
b. Obyek Perjanjian (Jenis pekerjaan)
Menyelenggarakan perjalanan Wisata Industri. Tujuan Jakarta dengan
maksud untuk meninjau atau melakukan penelitian di satu tempat
Kunjungan Industri dan untuk menikmati obyek/atraksi wisata : Museum
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Taman Impian Jaya Ancol, Dunia
Fantasi, Taman Mini Indonesia Indah.
Selanjutnya dari data-data berikut ini dapat dinyatakan beberapa hal :
1. Data 2.4. dan 2.5. dapat dideskripsikan bahwa fasilitas jasa yang
disediakan meliputi : Transportasi : Armada yang digunakan adalah empat
unit Bus Pariwisata TRISTAR dan dua unit Bus Pariwisata “Selera Masa”
air condisioner, tape, video compact disc, televisi, dengan tempat duduk
lima puluh sembilan tiap bus; Akomodasi : tidak ada; Makan sebanyak
empat kali prasmanan dan dua kali lunch box; Tiket obyek wisata dan
biaya parkir di tempat obyek wisata; Tour leader satu orang dalam setiap
bus; Asuransi Jiwa untuk setiap orang; Dokumentasi dalam bentuk VCD
hasil rekaman kegiatan sebanyak satu keping untuk group.
2. Dari data 2.6. dapat dideskripsikan bahwa biaya tour disepakati oleh kedua
pihak adalah Rp. 406.000,- (empat ratus enam ribu rupiah) per orang untuk
jumlah peserta sebanyak 310 siswa/ siswi dan 24 guru pendamping.
3. Dari data 2.7. dapat dideskripsikan bahwa mekanisme pembayaran
dilakukan tiga tahap yaitu pertama sebesar 30 % dari total nilai kontrak di
bayar pada saat penandatangan perjanjian, kedua, 60 % dari total nilai
kontrak, pelunasan sebesar 10 % dari totoal nilai kontrak dilakukan satu
hari setelah pelaksanaan.
Berdasarkan data-data tersebut dapat dinyatakan bahwa substansi
dari pekerjaan yang harus dilakukan oleh pihak penerima pekerjaan adalah :
1) Melakukan pengangkutan dengan menggunakan empat unit Bus Pariwisata
TRISTAR dan dua unit Bus Pariwisata “Selera Masa” dengan perlengkapan
air condisioner, tape, video compact disc, televisi, dengan tempat duduk
lima puluh sembilan tiap bus.
2) Memberi makan sebanyak empat kali prasmanan dan dua kali lunch box.
3) Memberi Tiket obyek wisata dan biaya parkir di tempat obyek wisata.
4) Menyertakan satu orang Tour leader dalam setiap bus.
5) Membayar premi Asuransi Jiwa untuk setiap orang.
6) Memberi Dokumentasi dalam bentuk VCD hasil rekaman kegiatan
sebanyak satu keping untuk group.
Atas pelayanan jasa-jasa dari penerima pekerjaan, pemberi pekerjaan
dikenakan
biaya
berdasarkan
perhitungan
penjumlahan
satuan
biaya
perorangan yaitu : 334 x Rp. 406.000,- = Rp. 135.604.000,- yang dibayar tiga
kali yaitu tahap pertama tanggal 23 Juni 2008 sebesar 30 % x Rp.
135.604.000,- = Rp. 40.681.200,- kedua tanggal 4 April 2008 sebesar Rp. 60 %
x Rp. 135.604.000,- = Rp. 81.362.400,- dan pada tanggal 29 Juni sebesar 10 %
x Rp. 135.604.000,- = Rp. 13.560.400,Dalam kaitannya dengan perihal “perjanjian,” J. Satrio mengemukakan
beberapa pernyataan bahwa :
1) Perjanjian adalah perbuatan hukum dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih, atau dimana kedua
belah pihak saling mengikatkan diri.92
2) Perjanjian
menimbulkan dan berisi ketentuan-ketentuan hak dan
kewajiban yang disebut perikatan, dan satu perjanjian menimbulkan
banyak perikatan.
Apabila data-data tersebut dan dihubungkan dengan pernyataan J. Satrio
mengenai pengertian dan isi perjanjian, maka dapat dinyatakan bahwa :
1. CV. Trista Alfa Wisata pihak penerima pekerjaan mengikatkan diri untuk
melakukan pekerjaan menyelenggarakan perjalanan Wisata Industri.
2. SMK Bina Teknologi Purwokerto pihak pemberi pekerjaan mengikatkan
diri untuk membayar upah.
Berdasarkan kesepakatan tersebut terjadilah Perjanjian Paket Wisata Industri
antara CV. Trista Alfa Wisata dengan SMK Bina Teknologi Purwokerto, dan
dengan lahirnya perjanjian tersebut menimbulkan akibat hukum lahirnya
perikatan yaitu hubungan hak dan kewajiban diantara para pihak.
Dari keseluruhan uraian tersebut maka dapat disimpulkan hal-hal
sebagai berikut :
1) Konstruksi hukum
Konstruksi dari hubungan yang diadakan oleh CV.Trista Alfa Wisata
dengan SMK Bina Teknologi Purwokerto adalah berupa Perjanjian Paket
Wisata Industri. Dengan lahirnya Perjanjian Paket Wisata Industri tersebut
92
J. Satrio, 1992. Op.cit hal. 20-23.
menimbulkan akibat hukum berupa lahirnya seperangkat perikatan yang
berisi hak dan kewajiban diantara kedua belah pihak.
2) Hak dan Kewajiban para pihak
a. Seperangkat kewajiban pokok pada penerima pekerjaan yaitu meliputi:
1. Melakukan pengangkutan dengan menggunakan empat unit Bus
Pariwisata TRISTAR dan dua unit Bus Pariwisata “Selera Masa”
dengan perlengkapan air condisioner, tape, video compact disc,
televisi, dengan tempat duduk lima puluh sembilan tiap bus;
Memberi makan sebanyak empat kali prasmanan dan dua kali lunch
box.
2. Memberi Tiket obyek wisata dan biaya parkir di tempat obyek
wisata.
3. Menyertakan satu orang Tour leader dalam setiap bus.
4. Membayar premi Asuransi Jiwa untuk setiap orang.
5. Memberi Dokumentasi dalam bentuk VCD hasil rekaman kegiatan
sebanyak satu keping untuk group.
b. Satu kewajiban pokok pada pemberi pekerjaan yaitu membayar upah
pekerjaan sebesar = Rp. 135.604.000,- secara bertahap yaitu tahap
pertama (30 %) = Rp. 40.681.200,- kedua (60 %) = Rp. 81.362.400,dan ketiga (10 %) = Rp. 13.560.400,Sehubungan dengan perumusan perjanjian J.Satrio mengatakan bahwa
suatu perumusan perjanjian selalu menonjolkkan ciri-ciri khas yang terkandung
dalam apa yang hendak dirumuskan dan perumusan perjanjian selalu
menonjolkan isi prestasi pokok dari salah satu atau kedua belah pihak; seperti
pada perjanjian jual-beli, pasti menyebutkan pihak satu berkewajiban
membayar sejumlah uang dan kontra prestasi yang lain menyerahkan barang.93
Apabila pernyataan tersebut dihubungkan dengan perumusan Perjanjian
Paket Wisata khusunya Perjanjian Paket Wisata Industri sebagai telah
dideskripsikan, maka mengingat bahwa perjanjian tersebut adalah merupakan
perjanjian campuran, maka ciri-ciri khas yang terkandung dalam perjanjian
Perjanjian Paket Wisata Industri ini adalah ditonjolkannya seperangkat prestasi
melakukan pekerjaan pada pihak yang satu sedangkan dan satu kontra prestasi
yang lain yaitu membayar upah.
3. Tentang tanggung jawab hukum Biro Perjalanan Wisata di CV.Trista
Alfa Wisata Purwokerto apabila terjadi wanprestasi
Untuk membahas tentang tanggungjawab pihak yang wanprestasi, maka
pertama akan dibahas mengenai pengertian dan bentuk-bentuk wanprestasi
menurut KUH Perdata dan Doktrin Hukum Perdata.
Perjanjian obligator senantiasa terdapat kewajiban yang harus dipenuhi
oleh salah satu pihak dan kewajiban tersebut merupakan hak yang
pemenuhannya dapat dituntut oleh pihak yang lain.
Pihak yang berhak
menuntut disebut pihak berpiutang atau kreditur dan pihak yang wajib
memenuhi tuntutan disebut sebagai pihak berutang atau debitur, sedang apa
yang menjadi hak dari kreditur dan kewajiban bagi debitur dinamakan prestasi.
93
J. Satrio, 1996, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Pribadi Penanggungan
(Borgtocht) dan Perikatan tanggung Menanggung, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 11.
Berdasarkan Pasal 1234 KUH Perdata, prestasi dalam perjanjian
dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : memberikan sesuatu, melakukan suatu
perbuatan dan tidak melakukan suatu perbuatan.
Jika seorang debitur telah melaksanakan
kewajibannya dengan
sempurna, tepat sesuai dengan apa yang diperjanjikan oleh kedua belah pihak,
maka dikatakan bahwa debitur telah menunaikan prestasi atau berprestasi.
Sebaliknya jika debitur tidak memenuhi kewajibannya dengan sempurna tepat
sesuai dengan apa yang diperjanjikan oleh kedua belah pihak, menurut hukum
debitur tersebut dikatakan wanprestasi atau cidera janji.
J. Satrio menjelaskan ada tiga kemungkinan bentuk-bentuk tindakan
wanprestasi yaitu jika : debitur sama sekali tidak berprestasi; debitur keliru
berprestasi atau debitur terlambat berprestasi.
94
Wanprestasi ini ada kalau
debitur tidak dapat membuktikan bahwa tidak terlaksananya prestasi
sebagaimana yang diperjanjikan adalah diluar kesalahannya, jadi wanprestasi
itu terjadi karena debitur mempunyai kesalahan.95
Subekti menyatakan, apabila terjadi wanprestasi, maka kreditur
mempunyai beberapa pilihan atas berbagai macam kemungkinan tuntutan.
Kemungkinan pilihan tersebut adalah berupa tuntutan pemenuhan perjanjian
meliputi : pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi; ganti rugi saja; pembatalan
perjanjian; pembatalan perjanjian disertai ganti rugi. 96
Bahwa yang dimaksud dengan tanggungjawab dalam wanprestasi
adalah tentang apa yang dapat dituntut terhadap seorang debitur yang telah
94
J. Satrio, 1993, op.cit., hal. 122.
A. Qirom Syamsudin Meliala,op.cit, hal. 26.
96
Subekti, op.cit., hal. 53. 95
berada dalam keadaan wanprestasi. Berdasarkan pengertian tersebut apabila
dihubungkan dengan
beberapa kemungkinan pilihan tuntutan sebagaimana
disebut, maka dapat dinyatakan bahwa tanggungjawab seorang debitur bila
telah berada dalam keadaan wanprestasi adalah : 1) Tetap melaksanakan
pemenuhan perjanjian; 2) Tetap melaksanakan pemenuhan perjanjian disertai
ganti rugi; 3) Membayar ganti rugi saja; 4) Pembatalan perjanjian; atau 5)
Pembatalan perjanjian disertai ganti rugi.
Apabila jenis-jenis tanggungjawab debitur dalam hal wanprestasi
tersebut dihubungkan dengan Perjanjian Paket Wisata Industri antara oleh
CV.Trista Alfa Wisata dengan SMK Bina Teknologi Purwokerto, dengan
didasarkan atas ada seperangkat kewajiban pada CV.Trista Alfa Wisata sebagai
pihak penerima pekerjaan, maka dapat dinyatakan bahwa ada beberapa
kemungkinan bentuk tanggungjawabnya, yaitu :
1) Tetap menyelenggarakan perjalanan wisata tanpa atau dibebani ganti rugi.
2) Pembatalan perjanjian tanpa atau dengan dibebani ganti rugi.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
1. Secara teoritis konstruksi hukum dari hubungan yang diadakan oleh
CV.Trista Alfa Wisata sebagai Biro Perjalanan Wisata adalah termasuk dalam
genus “perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu” (verrichten van enkele
diensten) dengan species Perjanjian Paket Wisata yang perumusannya :
“Perjanjian Paket Wisata dimana Biro Perjalanan Wisata mengikatkan
diri untuk melakukan jasa-jasa atau pekerjaan pengangkutan, akomodasi,
makan/minum dan menikmati obyek dan atau atraksi wisata dalam rangka
penyelenggaraan wisata, dan pihak yang lain untuk membayar upah yang
telah dijanjikan.”
2. Hak dan kewajiban para dapat dirinci sebagai berikut :
a. Kewajiban pokok Biro Perjalanan Wisata CV.Trista Alfa Wisata sebagai
penerima pekerjaan adalah melakukan seperangkat pelayanan jasa-jasa
pengangkutan, akomodasi, makan/minum dan menikmati obyek/atraksi
wisata dalam rangka penyelenggaraan wisata.
b. Kewajiban SMK Bina Teknologi Purwokerto sebagai pemberi pekerjaan
adalah membayar upah.
Terdapat kemungkinan beberapa bentuk tanggungjawab Biro Perjalanan
Wisata CV.Trista Alfa Wisata apabila melakukan wanprestasi yaitu : tetap
menyelenggarakan perjalanan wisata tanpa atau dibebani ganti rugi serta
pembatalan perjanjian tanpa atau dengan dibebani ganti rugi.
B. Saran
Format perjanjian paket wisata pada Biro Perjalanan Wisata CV.Trista Alfa
Wisata sebaiknya disempurnakan agar tidak berupa pernyataan penawaran
(aanbod), melainkan berupa rincian hak dan kewajiban para pihak. agar lebih
jelas dan mudah dipahami lawan pihak (wisatawan).
DAFTAR PUSTAKA
A. Literatur
Desky, M.A, 2001. Pengantar Bisnis Biro Perjalanan. Jogjakarta : Adi Cita.
HS, Salim. 2003. Perkembangan Hukum Kontrak innominaat di Indonesia.
Jakarta : Sinar Grafika.
Meliala, Qirom Syamsudin, A. 1985. Pokok-pokok Hukum Perjanjian Beserta
Perkembangannya.Yogyakarta : Liberty.
Mertokusumo, Sudikno. 1986. Mengenal Hukum (Suatu Pengantar). Liberty :
Yogyakarta.
Patrik, Purwakhid. 1982. Asas Iktikad Baik dan Kepatutan dalam Perjanjian,
Semarang : Fakultas Hukum Universitas Diponegoro.
Pitana, Gede, I dan Putu G Gayatri. 2004. Sosiologi Pariwisata.
Andi:Yogyakarta.
Prodjodikoro, Wirjono. 1981. Hukum Perdata Tentang Persetujuan-Persetujuan
Tertentu. Bandung : Sumur.
Purwosutjipto, HMN. 1991. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia 3,
Cetakan keempat Jakarta : Djambatan.
Ronny Hanity Soemitro, 1987. Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri,
Jakarta : Ghalia Indonesia.
Satrio, J. 1992. Hukum Perjanjian.Bandung : . PT. Citra Aditya Bakti.
-----------1995. Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian Buku I,
Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
Soerjopratiknjo, Hartono. 1982. Perwakilan Berdasarkan Kehendak. Yogyakarta:
Seksi Notariat Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji. 1985. Penelitian Hukum Normatif. Jakarta:
CV. Rajawali.
Soekanto, Soerjono. 1983 Penegakan Hukum, Bandung : Bina Cipta.
------------------------ 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta : Universitas
Indonesia.
Subekti, 1983. Hukum Perjanjian. Jakarta : PT. Internusa.
---------, 1981. Aneka Perjanjian. Bandung : Alumni Bandung.
Suwantoro, Gamal. 2004. Dasar-dasar Pariwisata, Andi : Yogyakarta.
Volmar, H.F.A. 1984, Pengantar Studi Hukum Perdata, Jilid II Cetakan I,
Jakarta:Rajawali Pers.
Yoeti, Oka A, 2006. Ilmu Pariwisata, Sejarah, Perkembangan dan Prospeknya,
Jakarta : PT. Perca.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐1987, Pengantar Ilmu Pariwisata, Bandung : Angkasa.
B. Peraturan Perundang-undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan
Kepariwisaataan.
C. Internet
http: //www.google.co.id/search=kepariwisataanIndonesia.Dari Internet, diakses
tanggal 17 Desember 2011.
http://fielduphly.multiply.com/journal/item/6.Diakses tanggal15 Desember 2011.
http://www.thegrizaonline.com/ Diakses tanggal 17 Desember 2011.Diakses
tanggal 17 Desember 2011.
http://raymondfrans63.wordpress.com/2011/10/13/dasar-dasar-pariwisata/
Diakses tanggal 17 Desember 2011.
File://localhost/K:/viever.php%2011.htm. Diakses tanggal 27 Desember 2011.
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/Diakses tanggal 27 Desember 2011.
http://raymondfrans63.wordpreess.com/biro-perjalanan-wisata
aktvitasnya/.Diakses tanggal 17 Desember 2011.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/pariwisata-arwina.pdf/. Diakses tanggal 20
Desember 2011.
http://www.hosting24.com/. Diakses tanggal 17 Desember 2011.
http:// www.google.co.id//pengertian pariwisata secara umum dan source//,
Diakses yanggal 15 Desember 2011.
http: //www.google.co.id/search=kepariwisataanIndonesia/.Dari Internet, diakses
tanggal 17 Desember 2011.
D. Sumber Lain
Company Profile CV. Trista Alfa Wisata
====================
Download