KONSOLIDASI PERBANKAN NASIONAL MENUJU BEST PRACTICE 1 RINGKASAN EKSEKUTIF KONSOLIDASI PERBANKAN NASIONAL SEBAGAI SUATU KENISCAYAAN Proses konsolidasi perbankan berjalan lamban ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA KONSOLIDASI PERBANKAN (MERGER & AKUISISI) Terdapat beberapa kendala konsolidasi Muncul kasus-kasus fraud perbankan Cetak biru Arsitektur Perbankan Indonesia PENINGKATAN NILAI BAGI SEGENAP STAKEHOLDERS • SOUND BANKS • SOUND BANKING SYSTEM • FINANCIAL STABILITY PENYEMPURNAAN REGULASI DAN SUPERVISI Pelajaran dari krisis perbankan 2 LATAR BELAKANG …krisis perbankan… Krisis perbankan 1997-2000 telah menyadarkan perbankan nasional untuk konsolodasi Proses konsolidasi berjalan lamban … konsolidasi lamban… … belum ada sistem insentif… Beberapa penyebab sulitnya konsolidasi perbankan: Belum adanya sistem insentif Masih kuatnya ego pemilik Sulitnya menyatukan budaya kerja Core business yang terdeferensiasi …jumlah bank berkurang… Penurunan jumlah bank dari 240 bank menjadi 130 bank di tahun 2001-2007 karena ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan bisnis 3 LATAR BELAKANG (Lanj) …sulitnya pengawasan perbankan… …adanya benturan kepentingan… …lemahnya kontrol internal dan moralitas bankir… Jumlah bank yang banyak (130 bank) dengan ribuan kantor cabang di DN dan LN menyulitkan pengawasan secara intensif oleh bank sentral Konsentrasi atau dominasi kepemilikan bank oleh individu-individu sekaligus sebagai pengurus bank (langsung atau tidak langsung) berpotensi menimbulkan benturan kepentingan dan moral hazard dalam pengelolaan bank Kasus fraud di industri perbankan nasional dalam beberapa tahun terakhir mengindikasikan lemahnya kualitas kontrol internal dan kurang terpujinya moralitas sebagian pengurus bank serta kurang optimalnya pengawasan bank oleh bank sentral karena ketidakseimbangan jumlah bank dengan jumlah aparat pengawas bank 4 LATAR BELAKANG (Lanj) …rekomendasi BI… …cetak biru API… Bank Indonesia mengeluarkan rekomendasi untuk percepatan penyehatan perbankan dalam kurun waktu 5 – 10 tahun ke depan Bank Indonesia telah menyusun cetak biru Arsitektur Perbankan Indonesia (API) beserta visi, misi, dan arah yang ingin dicapai Visi API adalah mencapai suatu sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional 6 Pilar dalam API: 1. 2. …6 Pilar API… 3. 4. 5. 6. Menciptakan struktur perbankan domestik yang sehat dan kokoh Menciptakan sistem pengaturan & pengawasan bank yang efektif sesuai standar internasional Menciptakan industri perbankan yang kuat dan berdaya saing tinggi Menciptakan good corporate governance untuk memperkuat kondisi internal perbankan nasional Mewujudkan infrastruktur yang lengkap untuk terwujudnya industri perbankan yang sehat Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan konsumen jasa perbankan 5 KONDISI SAAT INI …muncul kesaran untuk konsolidasi… …konsolidasi didorong oleh kesadaran… …konsolidasi antara bank konvensional versus bank syariah… a. b. Bank Indonesia mendorong munculnya kesadaran kalangan perbankan untuk melakukan konsolidasi melalui merger dan akuisisi (M&A) Kalangan perbankan merespon positif himbauan atau desakan BI agar perbankan segera melakukan konsolidasi Konsolidasi melalui M&A seyogyanya dilakukan atas dasar inisiatif bank-bank dengan persetujuan pemegang saham pengendali (PSP) dan ijin dari BI Konsolidasi atau merger dapat dilakukan antara bank konvensional dengan bank syariah apabila bank hasil konsolodasiatau merger menjadi bank berdasarkan prinsip syariah atau bank konvensional namun memiliki unit atau kantor cabang syariah Akuisisi dapat dilakukan oleh perorangan atau badan hukum baik melalui pembelian saham bank secara langsung maupun melalui bursa yang mengakibatkan beralihnya pengendalian bank, yaitu bila kepemilikan saham: Menjadi sebesar 25% atau lebih dari modal disetor bank; atau Kurang dari 25% dari modal disetor bank namun menentukan baik secara langsung maupun tidak langsung pengelolaan dan/atau kebijaksanaan bank 6 KEBIJAKAN BANK INDONESIA Arsitektur Perbankan Indonesia (API) Sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional Sistem Pengawasan yang Independen dan Efektif Struktur Perbankan yang Sehat Sistem Pengaturan yang Efektif Pilar 1 Pilar 2 Infrastruktur Pendukung yang Mencukupi Industri Perbankan yang Kuat Pilar 3 Pilar 4 Perlindungan Konsumen Pilar 5 Pilar 6 7 KEBIJAKAN BANK INDONESIA (Lanj) Permodalan Jml bank Rp triliun …terdapat stratifikasi bank sesuai API… …struktur bank didominasi bank skala nasional (bank fokus)… Bank Internasional Internasiona 2-3 l 50 3- 5 Bank Nasional 10 …konsolidasi ditujukan bagi semua bank dalam setiap strata… Daerah Korporasi Ritel Lainnya 30 - 50 0.1 BPR Bank dengan kegiatan usaha terbatas 8 URGENSI ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA (API) …struktur perbankan sehat & kuat… …peran pembangunan ekonomi nasional… …mendorong good corporate governance… …best international practises… Menciptakan struktur perbankan nasional yang sehat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Mendorong pembangunan ekonomi nasional yang berkesinambungan Menciptakan industri perbankan yang kuat dan berdaya saing tinggi serta memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai risiko Menciptakan good corporate governance dalam rangka memperkuat kondisi internal perbankan nasional Menciptakan sistem pengaturan dan pengawasan bank yang efektif dan mengacu pada standar internasional (B.I.S) Menciptakan infrastruktur perbankan yang lengkap untuk mendukung terciptanya industri perbankan yang sehat dan kuat (sound banking industry ) Menciptakan pemberdayaan dan perlindungan konsumen pengguna jasa perbankan *) Berdasarkan 6 Pilar API dan lebih ditujukan bagi perbankan nasional secara umum 9 SINGLE PRESENCE POLICY (SPP) Rencana penerapan kebijakan Single Presence Policy (SPP) pada 2008 Setiap pihak hanya dapat menjadi pemegang saham pengendali (PSP) pada hanya 1 bank umum. Sasaran SPP Mempercepat konsolidasi perbankan sesuai Aristektur Perbankan Indonesia (API). Meningkatkan efektivitas pengawasan perbankan oleh BI. Memudahkan pelaksanaan proses pemeliharaan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK). Meningkatkan level supervisory review dan risk management dalam rangka Basel II compliance. Pengecualian penerapan kebijakan ini berlaku pada pemegang saham pengendali yang mempunyai prinsip kegiatan usaha yang berbeda yaitu konvensional dan syariah 10 PEMEGANG SAHAM PENGENDALI Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No 5/25/2003 tentang penilaian kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) disebutkan : Pemegang saham pengendali adalah badan hukum perseorangan dan atau kelompok usaha yang memiliki saham bank minimal 25%, mempunyai hak suara atau opsi, menjalankan manajemen, dan mempengaruhi kebijakan bank. Pihak yang memiliki saham bank kurang dari 25% dapat juga dikategorikan sebagai pemegang saham pengendali jika yang bersangkutan dapat dibuktikan telah melakukan pengendalian bank secara langsung maupun tidak langsung. 11 3 OPSI SINGLE PRESENCE POLICY Pemegang Saham Pengendali (PSP) yang telah mengendalikan lebih dari 1 bank di Indonesia diberikan 3 opsi sebagai berikut : Mengurangi porsi kepemilikannya pada bank lain sehingga hanya menjadi pemegang saham pengendali pada satu bank. Melakukan merger atau konsolidasi terhadap bankbank yang dikendalikan. Membentuk perusahaan induk atau holding company. 12 PRO & KONTRA No. 1. Opsi Mengurangi porsi kepemilikan pada bank lain Pros - Lebih mudah dari segi pengawasan oleh BI - Dominasi asing atas perbankan di Indonesia dapat dikurangi Cons - Pemerintah tidak mempunyai kontrol lagi atas bank BUMN - Berkurangnya pendapatan pemerintah dari dividen bank BUMN - Dapat mengurangi minat investor asing masuk ke Indonesia 2. Merger - Lebih mudah dari segi pengawasan oleh BI - Muncul bank yang kuat berskala internasional - Pemerintah masih tetap mendapat dividen - Perlunya usaha yang keras dan terarah untuk menyatukan bank-bank dgn segala perbedaan-nya - Menambah beban pemerin-tah dari sisi penambahan 13 pengangguran PRO & KONTRA (Lanj) No. 3. Opsi Membentuk bank holding company Opsi - Pros Pros Lebih mudah dari segi pengawasan oleh BI Cons Cons - Pemerintah tidak bisa secara langsung mengontrol - Berpengaruh thd harga saham bagi bank yang telah go-public - Pemerintah harus menyediakan dana yang cukup besar untuk proses “akuisisi” saham bank yang dikuasai karena harus melalui proses tender offer di pasar modal. Semakin besar dana yg harus disiapkan oleh pemerintah dgn naiknya harga saham akibat proses tender offer tersebut. 14 BANK BERKINERJA BAIK (BKB) Bank berkinerja baik (BKB) –mulai 2007 ini-- sebagai salah satu tahapan menuju Anchor Bank untuk akselerasi konsolidasi perbankan: KRITERIA BANK KINERJA BAIK (2007) Selama 3 (tiga) tahun terakhir: •Modal inti di atas Rp. 100 miliar •Sehat, dengan faktor manajemen tergolong baik •Rasio Kecukupan modal minimal 10% •Peringkat tata kelola yang baik 15 ANCHOR BANK Anchor Bank (bank jangkar) –mulai 2010-- sebagai salah satu strategi konsolidasi perbankan: KRITERIA BANK JANGKAR • Rasio kecukupan modal (CAR) minimal 12% dan rasio modal inti (Tier 1) minimum 6% • Ratio Return On Asset (ROA) minimal 1,5% • Pertumbuhan kredit riil minimum 22%, atau LDR minimal 50% • Rasio Kredit bermasalah (NPL) net dibawah 5% • Memiliki kemampuan menjadi konsolidator 16 KESIAPAN PERBANKAN NASIONAL Sebagian besar kalangan perbankan nasional merespon positif Single Presence Policy (SPP) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dalam kerangka mengakselerasi konsolidasi perbankan nasional. Secara umum para pemilik dan/atau pemegang saham pengendali pada lebih dari satu bank (baik bank swasta nasional maupun bank persero) beserta para pengurus bank tengah mempertimbangkan secara serius opsi-opsi yang tersedia dengan segala implikasinya. Beberapa pemilik dan/atau pemegang saham pengendali sudah melakukan penjajagan satu sama lain untuk kemungkinan terjadinya konsolidasi atau integrasi kepemilikan bank hanya pada satu bank. 17 KESIAPAN PERBANKAN NASIONAL (Lanj) Namun demikian mereka masih mengharapkan kejelasan terkait dengan hal-hal berikut ini: Adakah sistem insentif atau sweetener (misalnya kelonggaran pajak dan kemudahan lainnya) bagi bank-bank yang melakukan konsolidasi melalui salah satu opsi yang tersedia? Adakah sistem dis-insentif bagi bank-bank yang tidak mampu memenuhi ketentuan Bank Indonesia terkait dengan proses konsolidasi sesuai dengan cetak biru API sesuai tenggat waktu yang ada? (Menjadi Bank Berkinerja Baik di 2070 dan Bank Jangkar di 2010?) Adakah mekanisme exit policy yang elegan bagi bank-bank yang sama sekali tidak mampu memenuhi kriteria API berdasarkan opsi-opsi yang tersedia? Bagaimana konsistensi implementasi berbagai kebijakan terkait dengan konsolidasi perbankan nasional? 18 MODEL KONSOLIDASI PERBANKAN TERDAPAT 2 (DUA) STRATEGI KONSOLIDASI BANK MELALUI KONSEP PERTUMBUHAN …pertumbuhan organik … …pertumbuhan non organik… Bertumpu pada perkembangan kinerja bank secara natural dengan konsekuensi dibutuhkan waktu yang lama untuk merilis konsolidasi sesuai API. Tidak hanya bertumpu pada perkembangan kinerja bank secara natural, melainkan bertumpu pada langkah-langkah strategis seperti merger, akuisisi dan aliansi strategis. Konsep bank jangkar hanya merupakan salah model untuk mengakselerasi konsolidasi perbankan nasional 19 MODEL KONSOLIDASI PERBANKAN (Lanj) …merger … …akuisisi… ..bank jangkar.. Merger adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan perseroan lain yang telah ada dan selanjutnya perseroan yang menggabungkan diri menjadi bubar (definisi merger menurut peraturan pemerintah) Akuisisi yaitu suatu penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan pengakuisisi memperoleh kendali atas aktiva netto dan operasi perusahaan yang diakuisisi dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban atau mengeluarkan saham Bank jangkar akan mengakuisisi bank-bank lainnya baik dalam stratanya maupun di luar stratanya 20 TEKNIS KONSOLIDASI PERBANKAN (Common Practice) Secara teknis konsolidasi perbankan dapat dilakukan melalui 2 (dua) pola, yaitu: 1. MERGER 2. AKUISISI SINERGI 1+1>2 Apapun pola yang diambil, konsolidasi bank harus memberikan value, benefits dan keuntungan maksimal bagi seluruh stakeholders: 1. 2. 3. 4. 5. Bagi perbankan nasional: Menciptakan profil perbankan nasional dengan portofolio yang optimal serta kondisi keuangan yang sehat & stabil sehingga memiliki risk taking capacity lebih besar dengan daya saing makin kuat di pasar domestik & internasional Bagi nasabah: Memberikan value proposition terbaik dengan menawarkan produk/jasa perankan lebih lengkap, efisien & kompetitif Bagi Manajemen & karyawan: Menawarkan peluang/kesempatan kerja yang lebih baik Bagi Pemegang saham: Menciptakan nilai secara berkesinambungan dari sinergi yang tercipta Bagi Pemerintah & Bank Indonesia: Terciptanya sistem perbankan yang sehat & kuat untuk memberi kontribusi optimal bagi pembangunan 21 nasional MANFAAT KONSOLIDASI PERBANKAN 1. Peningkatan future earnings, karena: Perluasan pangsa pasar Peningkatan profit margin Peningkatan rasio price to book value (PBV) Mendorong terjadinya cross selling Akulturasi budaya kerja yang lebih pro pasar dan profesional 2. Penurunan biaya, karena: Economic of scale Peningkatan efisiensi operasional Perbaikan rasio cost to income ratio (CIR) 3. Penurunan tingkat risiko, karena: Penyempurnaan risk management system Peningkatan risk awareness & risk culture Bank yang kuat & berkinerja baik karena memiliki kemampuan mengantisipasi risiko dan daya saing yang tinggi *) Dari perspekktif pelaku industri perbankan 22 IMPLIKASI KONSOLIDASI PERBANKAN Terhadap peta perbankan nasional: Akan terjadi konsolidasi (melalui merger atau akuisisi) yang sifatnya alamiah (market driven), semi paksaan (semi-heavy handed), dan paksaan (high regulated driven atau fully heavy-handed driven). Jumlah bank akan berkurang, paling tidak jumlahnya mendekati cetak biru sesuai dengan skala banknya. Bank-bank akan melakukan revisit business strategy dengan lebih fokus kepada satu bisnis (core business) andalan. Persaingan antarbank menjadi lebih terbuka dan sehat dimana proses merger atau akuisisi menjadi peristiwa yang biasa di industri perbankan nasional. Peran teknologi informasi akan semakin dominan menggantikan peran sumber daya manusia yang low skill sehingga terjadi pengurangan jumlah tenaga kerja di industri perbankan secara alamiah melalui migrasi profesi maupun turunnya permintaan. 23 IMPLIKASI KONSOLIDASI PERBANKAN (Lanj) Terhadap fungsi intermediasi bagi sektor riil: Fungsi intermediasi perbankan akan berjalan lebih optimal. Sektor riil lebih mudah melakukan akses kepada bank-bank karena terjadi spesialisasi pengelolaan bisnis bank sesuai dengan skala bank maupun core business-nya Kegairahan sektor riil akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dengan segala dampak penggandanya (multiplier effects). 24 PENGALAMAN EMPIRIS A. CONTOH KASUS MERGER YANG SINERGIS DI MALAYSIA BANK MALAYSIA BERHAD (BMB) BANK OF COMMERCE Bank Milik Pemerintah (BOC) Bank Milik Swasta BANK BUMIPUTRA COMMERCE Bank untuk Semua orang Malaysia Merger dua budaya kerja yg berbeda: • Bank pemerintah dgn bank swasta • Pasar memberikan reaksi positif Bank gabungan (BCB) kini menjadi bank terkemuka: • Bank kedua terbesar dari sisi aset • Bank dengan model operasi back-office yang inovatif== • Autonomous business units yang sangat fokus pada pelayanan setiap segmen Melanjutkan strategi pertumbuhan yang cepat, termasuk akuisisi regional (Bank Niaga dari Indonesia) 25 PENGALAMAN EMPIRIS (Lanj) B. CONTOH KASUS MERGER DI KANADA ROYAL BANK OF CANADA BANK OF MONTREAL Peringkat 3 Peringkat 1 CANADIAN IMPERIAL BANK OF COMMERCIAL Peringkat 2 TORONTO DOMINION BANK Peringkat 5 MERGER ANTARBANK DI ATAS DITOLAK OLEH OTORITAS MONETER KANADA KARENA BERPOTENSI TERCIPTANYA OLIGOPOLISTIS YANG TIDAK KONDUSIF BAGI TERCIPTANYA PERSAINGAN SEHAT DI INDUSTRI PERBANKAN KANADA Dua bank pascamerger di atas bersama dengan Bank Scotia (peringkat 5) akan menjadi 3 bank terbesar yang mengontrol 70% aset perbankan di Kanada PASAR OLIGOPOLISTIS 26 KEMUNGKINAN KONSOLIDASI PERBANKAN INDONESIA Wacana M&A di bank-bank BUMN yang menghasilkan bank pasca M&A dengan penguasaan pangsa pasar dari sisi aset melebihi 50% perlu dipikirkan, karena: Boleh jadi M&A antarbank BUMN berpotensi menciptakan pasar oligopolistis. Boleh jadi M&A antarbank BUMN justru akan membahayakan posisi bank pasca M&A dari sisi risiko sistemik. Merger antarbank BUMN atau antara Bank BUMN dengan bank swasta skala besar yang menghasilkan bank pascamerger dengan penguasaan pangsa aset di bawah 20% secara nasional, akan menciptakan sinergi bisnis & tidak ada risiko sistemik: merupakan merger ideal yang perlu didorong. 27 BEBERAPA KENDALA MERGER KONTROVERSI MERGER ANTARBANK BUMN Banyak pemilik Banyak pihak (pemangku kepentingan) merasa memiliki bank BUMN Penuh curiga & prasangka Pengelolaan bank BUMN di masa lalu dipandang dengan penuh kecurigaan Tidak transparan Proses perbaikan/restrukturisasi bank BUMN dinilai tidak transparan Keputusan tidak jelas Proses pengambilan keputusan yang dinilai tidak jelas dan dipandang dengan penuh kecurigaan Resistensi yang naif Konsolidasi melalui M&A secara alamiah baru merupakan wacana dan akan dimulai sehingga banyak menimbulkan resistensi (penolakan, penentangan, protes) Problem budaya kerja Duplikasi sumber daya Pemahaman tentang proses percampuran budaya kerja yang sul disatukan Pemahaman akan terjadi duplikasi atau redundansi sumber daya sehingga terjadi inefisiensi operasional, organisasi menjadi tidak efektif dan kemungkinan kanibalisme 28 produk/jasa perbankan UPAYA MENDORONG KONSOLIDASI …perlu sistem insentif… …tercipta distribusi kepemilikan yang luas… …good corporate governance, market discipline & fair competition… Diperlukan sistem insentif untuk mendorong konsolidasi perbankan Sistem insentif harus dibicarakan antara perbankan, BI, dan pemerintah (Depkeu) misalnya dalam hal perlakuan pajak & pemenuhan rasio-rasio tingkat kesehatan bank (CAR, NPL, LDR, BOPO, ROA, ROI, ROE) Konsolidasi perbankan hendaknya mempertimbangkan batas kepemilikan asing sehingga tercipta distribusi kepemilikan untuk memperkuat implementasi prinsip good corporate governance, market discipline& fair competition sekaligus untuk keperluan penciptaan stabilitas moneter & finansial (nilai tukar rupiah, suku bunga, laju inflasi) 29 UPAYA MENDORONG KONSOLIDASI (Lanj) …dilanjutkan dengan privatisasi… …bergantung pada goal setting… …tren ke depan adalah mengakuisisi atau diakuisisi… …tetap waspada dengan potensi pasar oligopolistis… Konsolidasi perbankan nasional harus diikuti dengan privatisasi (IPO dan IPO Lanjutan) Konsolidasi perbankan dikembalikan kepada visi, misi dan arah yang ingin dicapai (goal setting) bank dalam jangka panjang agar tercipta stratifikasi bank secara alamiah/natural Sejalan dengan konsolodasi perbankan, diperlukan sertifikasi bankir Indonesia untuk mendorong terciptanya bank-bank sehat dan sistem perbankan yang sehat pula The name of the game in the future is banking consolidation (M &A) intinya: mengakuisisi atau diakuisisi Konsolidasi perbankan akan menciptakan sustainable value creation bagi seluruh stakeholders Konsolidasi perbankan perlu didorong dengan tetap mempertimbangkan kemungkinan terjadinya pasar oligopolistis di kemudian hari yang justru bertolak belakang dengan tujuan dari cetak biru API. 30 KESIMPULAN: BEBERAPA CATATAN KRITIS (1) Kontroversi merger antarbank nasional, khususnya antarbank BUMN, tidak akan terjadi apabila mempertimbangkan aspek-aspek berikut ini: …kontroversi harus dikendalikan dengan berbagai pertimbangan yang rasional… Menciptakan nilai bagi seluruh stakeholders melalui sinergi yang seluas-luasnya (1 + 1 > 2) sehingga tidak timbul resistensi Meningkatkan kualitas bank pascamerger (SDM, teknologi, jaringan, budaya kerja, produk/jasa perbankan, Proses konsolidasi (M&A) didorong oleh inisiatif & kesadaran pemilik dan pemegang saham serta memperoleh sambutan/ respon positif dari jajaran manajemen & karyawan Tidak mengarah pada terjadinya pasar oligopolistis & penguasaan pangsa pasar dari sisi aset sehingga membahayakan posisi bank pascamerger apabila terjadi risiko sistemik (untuk masalah ini masih perlu didiskusikan lebih lanjut oleh pihak-pihak terkait) 31 KESIMPULAN: BEBERAPA CATATAN KRITIS (2) Seluruh pihak yang berkepentingan harus memberikan dukungan nyata kepada inisiatif strategis bank-bank untuk melakukan konsolidasi, karena: …perlu dukungan nyata dari semua stakeholders … Konsolidasi perbankan bertujuan untuk menciptakan sistem perbankan yang sehat & sistem keuangan yang kuat dengan dukungan bank-bank yang sehat. Konsolidasi perbankan akan memperkuat posisi daya saing perbankan Indonesia di pasar keuangan internasional. Pada akhirnya konsolidasi perbankan akan memberikan manfaat yang luas kepada seluruh stakeholders: otoritas moneter dan regulator, pemerintah, dan masyarakat luas. 32 KESIMPULAN: BEBERAPA CATATAN KRITIS (3) …problematik dan kompleksitas proses konsolidasi … Melalui SPP, Bank Indonesia berharap proses konsolidasi perbankan dapat dipercepat untuk mendukung cetak biru API. Hingga saat ini kalangan pemilik dan/atau PSP pada lebih dari satu bank beserta para pengurus bank tengah mempertimbangkan opsi-opsi yang bakal diambil dengan segala konsekuensinya. Khusus untuk Bank BUMN, disamping faktor timing, maka apapun opsi yang akan dipilih tampaknya prosesnya tidak semudah pada bank-bank non persero mengingat ada “proses politik” yang harus ditempuh yang sifatnya mutlak. Opsi pembentukan holding company merupakan opsi paling rumit antara lain karena pemerintah harus menyediakan dana besar untuk “mengakuisisi” sahamnya di bank-bank BUMN serta harus dilihat segi hukum mengenai status holding company. 33 PENUTUP 34