Pengaruh Ekonomi Makro Regional Tambang Emas Pongkor – PT

advertisement
Pengaruh Ekonomi Makro Regional
Tambang Emas Pongkor – PT Antam Jawa
Barat
dan Potensi Transformasi Pasca Tambang
Ukar W. Soelistijo
- Dosen Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, UNISBA.
- Dosen Pasca Sarjana Program Khusus Ekonomi Mineral , Fakultas Teknik
Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung.
- Ahli Peneliti Utama (Pensiun 2005), Puslitbang Teknologi Mineral dan
Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Email:
[email protected]
[email protected]
Sari
Pengembangan wilayah pasca tambang emas Pongkor Jawa Barat melalui program
pengembangan wilayah dan pengembangan masyarakat secara berkelanjutan dapat
melalui kegiatan antara lain sebagai kawasan andalan agroindustri, pariwisata, budaya
dll sekaligus sebagai unit pendidikan pelatihannya yang terkait. Hal itu sekaligus
merupakan embrio kutub pertumbuhan ekonomi strategis karena dekat dengan wilayah
Jabodetabek sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional. Secara jangka
panjang kondisi Pongkor tersebut dapat merupakan salah satu kutub pertumbuhan
ekonomi dan sekaligus dapat mengangkat konvergensi ekonomi Jawa Barat terhadap
ekonomi nasional, yang selama ini masih tertinggal.
Kata kunci: pasca tambang emas Pongkor, pengembangan wilayah.
Abstract
The post mining regional development of Pongkor gold mines West Java through
sustainable programs of regional and community developments could be carried out by
the activities such as growth poles of agro-industry, tourism, culture etc. including their
related education and training program. These matters could be utilized as the embryo of
strategic growth pole due to the nearby of one of the national economic growth center of
Jabodetabek as well. In the long term Pongkor could be functioned, all at once, as one of
the growth pole and also could function as the carrier of West Java economic
convergence toward the national economy, that in fact up to the present it is still lagged
behind.
Key words: Pongkor gold post-mining, regional development.
1
Permasalahannya adalah diperlukannya
sistem dan mekanisme tranformasi dari
bentuk UBPE dari PT Antam menjadi
wilayah pengembangan masyarakat (lihat
Gambar 1.1 dan 1.2) yang lebih populi
untuk menghadapi hari depan secara lebih
baik dalam segi ekonomi, sosial dan
budayanya sebagai bagian integral
Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Solusinya adalah bahwa proses dan
mekanisme penutupan dan program
transformasi pasca tambang adalah
menjadi tanggung jawab PT Antam sesuai
dengan peraturan perundangan yang ada
khususnya SK MENTAMBEN No
1211/1995. Dalam hal ini PT Antam telah
biasa melakukan penutupan tambang a.l.
UBP Bauksit di Bintan dan UB Pasir Besi
di Cilacap dan Kutoarjo. Kesemuanya
telah berjalan dengan mulus dan harmonis
bagi masyarakat setempat yang di
tinggalkannya.
Diharapkan dapat dihasilkan suatu konsep
solusi tuntas dan harmonis tentang
pemanfaatan bekas Tambang UBP Emas
Pongkor PTAnekaTambang pada pasca
penutupan tambang, 2015.
1. PENDAHULUAN
Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE)
Pongkor PT Antam mulai beroperasi
produksi sejak tahun 1991. Uniknya
adalah bahwa unit bisnis pertambangan
tersebut terletak di daerah hutan lindung
Cara atau teknik penambangannya adalah
tambang dalam dengan lubang ventilasi
khusus sehingga tidak mengganggu
wilayah hutan lindung tersebut. Produksi
mencapai 2 – 3 ton logam emas per tahun
atau sekitar 3 % dari produksi emas
nasional. Dari Pongkor dihasilkan
konsentrat
emas
dan
selanjutnya
konsentrat tersebut diolah di Unit Bisnis
Peleburan Emas Logam Mulia di Pulo
Gadung yang menghasilkan logam emas
murni 24 karat. Diperkirakan UBPE
Pongkor ini akan ditutup pada tahun 2014,
karena cadangan bijih emasnya telah akan
habis.
Maksud studi adalah melihat segi peranan
ekonomi UBPE Pongkor terhadap
ekonomi regional Jawa Barat selama ini,
yang
selanjutnya
dikaji
tentang
kemungkinan pemanfaatan wilayah pasca
tambang secara berkelanjutan dengan
berbagai prasarana dan sarana yang ada
yang
ditinggalkan
oleh
kegiatan
pertambangan tersebut bagi Jawa Barat,
Bogor
dan
khususnya
masyarakat
Pongkor.
Tujuan studi adalah agar wilayah eks
UBPE Pongkor tidak menjadi kota hantu
tetapi
masyarakatnya
tetap
dapat
menikmati wilayah tersebut dengan
kegiatan ekonomi baru nontambang emas,
dan diharapkan dapat lebih mandiri dalam
menghadapi hari depannya. Di sisi lain
lokasi eks tambang emas ini dengan
berbagai parasarana dan sarana yang telah
ada tidak lebih dari 150 km dari DKI
Jakarta, bahkan masih dalam wilayah
strategis Jabodetabek.
2. METODOLOGI
2.1 Model Input-Ouput
Dari Tabel I-O Jawa Barat tahun 2003 1,2)
peranan sektor pertambangan bagi PDRB
Provinsi Jawa Barat belumlah besar yaitu
sebesar 3% (tahun 2006, 9,6% tahun
2003). Sektor pertambangan di Jawa Barat
terdiri
dari
Pertambangan
Migas,
pertambangan logam yaitu emas dan
pertambangan bahan galian industri
(golongan C) atau bahan bukan logam
(UU No. 4 tahun 2009 tentang
Pertambangan
Minerba).
Sedangkan
sektor pertambangan emas memberikan
kontribusi sebesar 9,6 % dalam ekonomi
regional Jawa Barat. Dari Tabel I-O Jawa
Barat 1993 peranan pertambangan emas
terhadap ekonomi regional Jawa Barat
2
sebesar 3,8 %. Pada tahun 2006 kontribusi
sektor pertambangan logam emas dalam
PRDB Jawa Barat menurun menjadi
sebesar 3%. Penurunan kontribusi tersebut
disebabkan makin menurunnya jumlah
produksi emas sehingga tidak mampu
mengejar konribusi sektor yang lain yang
meningkat jumlah dan persentasenya.
2.2 Multiplier ekonomi
Guna mengetahui potensi dari sektorsektor penting untuk dikembangkan pada
pasca tambang emas Pongkor, dapat
dihitung tentang antara lain surplus multiplier
untuk memperkirakan investable surplus,
inestment multiplier untuk mengetahui dampak
investasi
terhadap
output,
employment
multiplier serta income multiplier untuk
mengetahui dampak kesempatan kerja dan
pendapatan yang akan dihasilkannya.
Tabel 2.1 Angka Pengganda Ekonomi (Economic multiplier)
Multiplier
Tipe I (Open)
Tipe II (Closed)
1. Outpur multiplier
OM I j = ∑ bij
i
OMIIj = ∑ b* ij
i
2. Income multiplier
IM I j = ∑ bij lTj
lTj
IM IIj = b*ij
lj
3. Employment multiplier
LMIj = ∑ lj bij
lj
LMIIj = b* T ij
lj
4. Value-added multiplier
VM Ij = ∑ vj bij
vj
VM IIj = ∑vj b*ij
vj
5. Investment multiplier
KM Ij = ∑ kjbij
kj
KM IIj =∑ kj b*ij
kj
Makro: ∆Y = 1
∆I
1-b
6. Tax multiplier
TM Ij = -∑ tj bij
tj
TM IIj = -∑tj b*ij
tj
Makro: ∆Y = -b
∆T 1-b
T=tax
7. Exchange earnings
multiplier
FEM Ij = ∑ rj bij
= bij rTj
8. Surplus multiplier
∏M Ij = ∑ vj bij / vj
kj bij
FE IIj = ∑ rj b*ij
= b*ij rTj
Keterangan
bij = open inversed
b*ij=closed inversed
b*ij ~ inversed cj
T = transposed
rj = E
∆ M (net M)
∏M IIj = ∑vj b*ij / vj
kj b*ij
Beberapa multiplier ekonomi yang dapat
dihitung dari Tabel I-O tersebut dapat
dilihat pada Tabel 2.1. Hasil hitumgannya
dapat dilihat pada Tabel 2.2.
2.3 Forward linkages dan backward linkages
Keterkaitan HuIu dan Keterkaitan Hilir
Tingkat Propinsi dapat diutarakan sebagi
berikut.
Interaksi/ketergantungan Iintas sektor di
suatu propinsi yang diharapkan dapat
meningkatkan nilai tambah, dapat diukur
antara lain dengan keterkaitan hulu (ke
belakang/”backward
linkages’)
dan
keterkaitan hilir (ke depan/”forward
linkages’) (Thomas, V. B., 1982)3)
Keterkaitan hulu adalah ukuran untuk
melihat keterkaitan hulu suatu sektor dengan
sektor ekonomi lainnya di suatu wilayah
atau negara.
1/n i bij
3
j = ------------------(1/n2) i j.bij
sebagin dari rente ekonomi bisnisnya bagi
program pengembangan wilayah dan CD
tersebut (Gambar 2.1). Sebagai contoh dari
beberapa perusahaan tambang di Indonesia
dalam program tersebut dapat dilihat pada
Tabel 2.3.
Makin besar NGC maka akan makin besar
yang dinikmati bagi CD masyarakat
setempat dari perusahaan tersebut. PT
Antam memiliki angka NGC cukup besar
yaitu sekitar 17-20% di UBP Pasir Besi
Cilacap dan Kutoarjo dari hasil studi
penutupan tambang-tambang tersebut (Tabel
2.3). Hal ini perlu dilakukan juga dalam
program penutupan tambang emas Pongkor.
(1)
kriteria:
j> 1,
menyatakan bahwa investasi
pada sektor ke-j memberikan hasil (yield) di
atas rata-rata sektor-sektor keterkaitan
hulunya.
j= 1,
menyatakan bahwa investasi
pada sektor ke-j memberikan hasil (yield)
sama dengan rata-rata sektor-sektor
keterkaitan hulunya.
j<1,
menyatakan bahwa investasi
pada sektor ke-j memberikan hasil (yield)
lebih rendah daripada rata-rata sektor-sektor
keterkaitan hulunya.
Keterkaitan hilir adalah ukuran untuk
melihat sejauh mana suatu sektor
mempunyai keterkaitan hilir dengan sektor
lainnya.
1/n j bij
i = -------------------------(2)
(1/n2) i j bij
kriteria:
i > 1,
menyatakan bahwa sektor ke-i
mempunyai keterkaitan hilir yang tinggi
dengan sektor-sektor lain.
i = 1,
menyatakan bahwa sektor ke-i
mempunyai keterkaitan hilir setingkat
dengan sektor-sektor lain.
i <1,
menyatakan bahwa sektor ke-i
mempunyai keterkaitan hilir yang rendah
dengan sektor-sektor lain.
Beberapa indikator ekonomi dari ekonomi
Provinsi Jawa Barat tersebut dapat dilihat
pada Tabel 2.1. Hail hitungannya dapat
dilihat pada Tabel 2.2.
2.5 Konvergensi ekonomi Jawa Barat
terhadap ekonomi nasional
Ekspose konvergensi ekonomi regional
terhadap ekonomi nasional dalam bentuk
indeks pendapatan per kapita dapat dilihat
pada Gambar 2.2.(Soelistijo, UW, et al,
2003.5 )
Dari Gambar 2.2 dapat dilhat bahwa pada
kurun 1975-2000 indeks pendapatan per
kapita Jawa Barat masih berada di bawah
indeks per kapita nasional. Hal ini berarti
bahwa peranan sektor penting di wilayah
ini belum dapat mengangkat ekonominya
secara signifikan. Sektor-sektor penting
tersebut adalah Sektor industri pengolahan
nonmigas, sektor pertanian (pertanian,
peternakan, kehutanan dan perikanan)
serta sektor perdagangan – hotel dan
restoran.
Konvergensi dapat diformulasikan sebagai
berikut.
Iit = Yit ;
(3)
Yit
dalam hal ini :
I = Indeks,
t = Tahun,
i = Propinsi,
Yit = PDB Nasional pada tahun ke t;
Yit = PDRB propinsi i pada tahun ke t.
2.4 Manfaat sosial neto (net social gain)
Peranan UBP Emas Pongkor dalam
melaksanakan
program pengembangan
wilayah termasuk CD selama ini perlu dikaji
melalui berbagai indikator a.l. NSG.4) Dari
sini diperoleh pula suatu koefisien atau net
gain coefficient yang dapat melihat seberapa
besar PT Antam telah berupaya secara
kuantitatif dan kualitatif menyumbangkan
4
Konvergensi ekonomi antar wilayah di AS
telah dikembangkan sejak tahun 1920-an,
nampaknya pada awal abad 21 ini telah
terdapat konvergensi ekonomi antar
negara bagian tersebut (Gambar 2.3).
memenuhi kebutuhan daerah Pongkor
setelah pasca tambang, dapat juga untuk
memenuhi
kebutuhan
wilayah
Jabodetabek.
3.3
Pengembangan
ekonomi
mutliregional/atarregional
Apabila
Pongkor
telah
berhasil
dikembangkan dalam proses transformasi
struktural, maka akan dapat dikembangkan
secara terpadu dalam kaitan multiregional
dengan a.l.
a. Lampung (Agroindustri) dan Sumatera
Bagian Selatan (Pusat Industri, PLTU
batubara,
Pencairan
batubara)
(Gambar 3.2).
Kalau
daerah
Pongkor
dalam
pengembangan sektor-sektor prospektif
tersebut dapat berhasil, maka perluasan
ekspor komoditi andalan atau unggulan
tersebut dapat diperluas ke wilayah
Lampung dan Sumatera Bagian Selatan
yang merupakan daerah agroindustri, pusat
industri sekaligus pusat PLTU Batubara
maupun undustri perluasannya di masa
datang.
Contoh lain bagaimana mengintegrasikan
program bersama dalam agroindustri
dengan misalnya Bengkulu yang produksi
udangnya yang dihasilkan pada hari ini
dan esoknya telah berada di Los Angeles
AS melalui bisnis Singapura.
b. Banten (Pariwisata: Jalur
Pelabuhanratu – Ujung Kulon).
Juga terdapat daerah tarikan komoditi dari
wilayah pariwisata Pelabhanratu-Ujung
Kulon.
c. Jabodetabek (Pariwisata, Agroindustri).
Jelaslah pusat pertumbuhan Jabodetabek
merupakn daerah tantang terhadap kutub
produksi Pongkor ini.
d. Program kegiatan sektor-sektor yang
lain nampaknya perlu diperhatikan untuk
sektor sekunder dan tersier yang
mempunyai nilai tambah lebih besar
daripada sektor primer, misalnya jasa
3. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
3.1 Peranan sektor pertambangan terhadap
ekonomi regional Jawa Barat
Peranan sektor pertambangan logam emas
dalam PDRB Jawa Barat telah menurun
dalam dekade ini dalam jumlah nilai
maupun persentase, sehingga tidak dapat
mengejar kontribusi sektor penting yang
lain yaitu sektor industri pengolahan dan
sektor pertanian (termasuk kehutanan,
peternakan dan perikanan). Proses seleksi
sektor penting yang dapat diunggulkan
pada pasca tambang dapat dilihat pada
Gambar 3.1. Nampaknya demikian juga
untuk sektor perdagangan dan hotel
restoran. Sektor ini menggambarkan sektor
pariwisata., karena dalam PDRB sektor ini
memang tidak terdapat secara spesifik.
Sektor pariwisata digambarkan terutama
oleh sektor hotel dan restoran yang
mempunyai surplus multiplier sebesar
3,33, income multiplier 1,36 dan
employment multiplier 1,21 yang cukup
besar untuk dapat dikembangkan di daerah
Pongkor. (Tabel 2.2) Dengan demikian
diharapkan dapat menghasilkan penciptaan
kesempatan kerja dan pendapatan yang
prospektif. Sektor terpilih sekaligus dapat
menggantikan terhadap output tambang
emas setlah pasca tambang kelak bagi
Jawa Barat dan sekitarnya.
Keterkaitan hulu dan hilir untuk sektor
pariwisata
kiranyacukup
dapat
memberikan tarikan/dorongan (pushing)
terhadap sektor lain.
3.2 Dukungan sektor-sektor penting bagi
ekonomi regional Jawa Barat
Untuk sektor peternakan dan perikanan
dapat dikembangkan dengan baik di
daerah Pongkor di samping untuk
5
angkutan darat dan udara serta barngkali
sungai.
analisis dan rencana program pasca
tambang yaitu proses dan mekanisme
tarnsformasi struktural dari ekonomi
tambang ke ekonomi nontambang emas
secara jelas, terencana dan terawasi
pelaksanaannya sesuai dengan peraturan
yang berlaku.
c. Upaya pengembangan wilayah Pongkor
ini perlu dilihat pula prospek pendanaan
luar negeri di samping dari dalam negeri,
karena lokasinya yang amat strategis itu.
4. SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Pengembangan wilayah Pongkor sebagai
pusat pengembangan masyarakat pasca
tambang emas Pongkor dalam bentuk a.l.:
- Arena wisata.
Pengembangan wilayah Pongkor dengan
inti program pengembangan masyarakat
pasca tambang emas Pongkor akan
merupakan kutub pertumbuhan yang
menjanjikan baik secara ekonomi maupun
sosial budaya yang dapat dimanfaatkan
untuk menciptakan job dan income bagi
masyarakat setempat khususnya ataupun
bagi Jawa Barat umumnya.
- Pusat agroindustri: ternak ikan dll.
Sebagai pusat agroindustri a.l. perikanan
dan peternakan maka pengawetan dan
pengalengannya dapat merupakan nilai
tambah yang besar bagi berbagai segi.
-Pusat budaya seperti Saung Angklung
Ujo, Tari Barong/Kecak di Bali atau
Polynesian Center di Hawaii pendukung
objek wisata.
Program-program tersebut perlu diikuti
dengan program kediklatan dan jasa lain
yang menunjang dan terkait.
4.2 Saran
a. Sektor terpilih yang akan dikembangkan
di wilayah Pongkor hendaknya akan
menghasilkan suatu surplus, di mana
surplus ini akan terdiri dari sumber dana
untuk direinvestasikan (earmark funds)
dan juga merupakan sumber dari suatu
flexible funds untuk program-program atas
dasar
kebijakan-kebijakan strategis
tertentu.
b. PT Antam perlu melakukan penyusunan
dokumen penutupan tambang emas
Pongkor yang di dalamnya dimuat tentang
- “.....Dan janganlah engkau berbuat bencana
di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang berbuat bencana.” (Q.S. 28 Al
Qashash ayat 71).
“Itulah
negeri
akhirat,
Kami
menyediakannya bagi orang-orang tidak
menyombongkan diri dan tidak berbuat
kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik
adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
(Q.S. 28 Al Qashash, ayat 83).
PUSTAKA
1. Badan Pusat Statistk Propinsi Jawa Barat–
Badan Perencanaan Daerah Propinsi Jawa
Barat, 2003, “Tabel Input-Output Jawa Barat
2003.”
2. Badan Pusat Statistk Propinsi Jawa Barat,
2007, ”Jawa Barat Dalam Angka – Jawa
Barat in Figures 2003.”
3. Thomas, V. B., 1982. ”Input-Output
Analysis in Developing Countries,” John
Wiley & Sons Ltd, New York.
4. Pearson,S.R,
et
al.,1974.”Commodity
Exports
and
African
Economic
Development,” Lerxington Books, pp 1-10.
5. Soelistijo, Ukar W., 2003, “Ekonomi
Regional dan Model Penerapannya:
Pengembangan Sumber Daya Mineral dan
Energi Dalam Rangka Otonomi Daerah di
Indonesia,” Puslitbang teknologi Mineral
dan Batubara, Balitbang ESDM, DESDM.
6
Gambar 1.0
Proses Pengembangan Wilayah (Regional Development)
Sumberdaya alam
-Terbarukan
-Tak terbarukan
Tata ruang
Fisik
(Ecosystem)
Sumberdaya
manusia
daya buatan/penunjang
a.l.: modal, teknologi,prasarana,informasi,kebijakan,
kelembagaan
dll.
Pengembangan
Wilayah
Terpadu
Non
fisik
(Social
System)
-Sumber
Misi
pemerataan
Prasarana/Sarana
Limgk. Hidup Fisik
Mendukung keterkaitan ekonomi antarsektor/antardaerah
Mendukung pembangunan
daerah: penciptaam job dan
income, konvergensi ekonomi antardaerah, swadaya
usaha (modernisasi,
kemandirian,mobilitas)
Lingkungan sosial/ekonomi /
pengembangan msyarakat
Memenuhi misi pemerintah pusat/daerah
Gambar 1.1 Proses Pengembangan Wilayah (Regional Development)
7
Gambar 1.2 Pola Pikir Tentang Kaitan Pengembangan Wilayah dan Pengembangan
Masyarakat Sekitar Wilayah Usaha Pertambangan
Net Social Gains (NSG
•
•
•
NSG dari suatu kegiatan ekspor sebagai nilai total dari komoditi
minus nilai dari komoditi intermedier dan
faktor sebagai input plus "net external effects".
•
•
NSGj = (uj - mj - rj) vj -  fsj vs
 Ej
NGC = NSG/Total Output/Revenue
•
•
•
•
•
•
•
u = nilai pendapatan ekspor;
m = nilai komoditi diimpor untuk proses produksi;
r = nilai repatriasi;
v j= shadow price dari foreign exchane;
vs = shadow price faktor ke-s;
f = jumlah komoditi untuk proses;
E =net external effects.
Gambar 2.1 Net Social Gain (Manfaat Sosial Neto)
Index PDB Perkapita Nasional dan PDRB Perkapita Propinsi
1000
Nasio nal
Nanggro e A ceh Darusalam
Sumatera Utara
Kaltim
Sumatera B arat
Riau
Jambi
DKI
Sumatera Selatan
Kepri
B engkulu
Lampung
B angka B elitung
Riau
Kepulauan Riau
DKI Jakarta
Jawa B arat
Jawa Tengah
Bali
DI Yo gyakarta
Jawa Timur
100
Babel
B anten
Kalimantan B arat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Go ro ntalo
Sulawesi B arat
B ali
NTB
NTT
Jabar
M aluku
M aluku Utara
P apua
P apua B arat
8
20
07
20
05
20
03
20
01
19
99
19
97
19
95
19
93
19
91
19
89
19
87
19
85
19
83
19
81
19
79
19
77
10
19
75
Index
NAD
Gambar 2.2 Indeks PDB Per Kapita Nasional dan Propinsi di Indonesia, 1975-2007
Gambar 2.3 Tren Indek Produk Domestik Bruto Per Kapita di AS, 1929-2010
Table 2.2 Beberapa Indikator Ekonomi Provinsi Jawa Barat
Indikator
ekonomi
Sektor
Pertambangan Logam
Emas
1993
2003
2006
3,0
1993
2003
2006
Sektor Penting
Sektor Pertanian
(+Kehutanan,Peternakan,
Perikanan)
1993
2003
2006
35,6
58,1
47
12,7
7,3
Sektor Industri
Pengolahan
Sektor
Hotel & restoran
1993
2003
2006
1993
2003
200
6
6,7
9,7
17
7,4
3,7
3,0
1. Kontribu3,8
si pada PDRB
Jawa Barat (%)
9,6
2.
Pengganda
pendapatan
3.
Pengganda
tenaga kerja
4.
Pengganda
investasi
5.
Pengganda
surplus
5,46
1,97
1,73
1,58
1,31
1,74
1,09
1,09
1,83
1,36
1,20
1,20
2,25
1,97
1,24
1,17
1,18
1,28
1,74
1,21
1,15
1,20
1,91
1,93
1,63
1,86
1,23
1,70
1,43
1,32
5,22
1,60
2,98
2,49
5,22
5,43
2,47
2,14
2,79
3,33
6. Keterkaitan hulu
7. Kerkaitan hilir
0,87
0,71
0,80
0,80
1,36
1,93
1,26
1,18
0,88
1,04
0,83
0,82
0,74
2,34
0,89
1,45
1,14
0,79
0,84
0,81
9
12
Sektor
Perdagangan
Tabel 2.3 NSG dan NGC Beberaopa Perusahaan Pertambangan di Indonesia
Nama Perusahaan
Lokasi
NSG
(Miliar Rp.)
Koefisien
Tahun
1. PT. Inco (Nikel)
Soroako, Kab. Luwu, Prop.
Sulawesi Selatan
7,15
0,0128
(1,28%)
1989
2. PT. Antam (Nikel)
P. Gebe, Kab. Halmahera, Prop.
Maluku
4,96
0,0459
(4,59%)
1990
3. PT. Antam (Nikel)
Pomalaa, Kab. Kolaka, Prop.
Sulawesi Tenggara
4,46
0,0421
(4,21%)
1990
4. PT. Freeport (Tembaga-Emas)
Kab. Fakfak, Prop. Irian Jaya
19,86
0,0083
(0,83%)
1990
5. PT. Semen Padang (Dep
Tambang)
Indarung, Kod. Padang, Prop.
Sumatera Barat
2,99
0,1757
(17,57%)
1991
6. PT. Polowijo Gosari (Pupuk
dolomit)
Kab. Gresik, Prop. Jawa Timur
13,29
0,6162
(61,62%)
1996
7. PT. Antam (Emas)
Pongkor, Kab. Bogor, Prop. Jawa
Barat
4,36
-
1999
8. PT. Tambang Batubara Bukit
Asam
Unit Produksi Tanjung Enim
71,23
41,09
39,20
5,00
0,0431 ($,31%)
0,0322 (3,22%)
0,0322 (3,22%)
0,0794(7,94%)
1999
1998
1991
1989
9 PT. Antam (Pasir Besi
Cilacap)
Cilacap
3,53
4,91
0,1756
(17,56%)
0,2245
(22,46%)
1999
2002
(2005
tutup)
Sumber
: Puslitbang Teknologi Mineral (PPTM)
Keterangan : Batasan daerah adalah tingkat propinsi, kecuali untuk PTBA tahun 1997-1999, adalah tingkat
Kabupaten Muara Enim dan Lahat.
Sektor Terpilih
- Multireg linkages
-Pusat Pertumbuhan
Lain Terdekat
- Transformasi sosekbud
Berkelanjutan dan Partisipatip
- Mandiri
A.l.
- Job & Income
- Multiplier (Income,
Employment,Surplus)
- B & F Linkages
- Kutub Pertumbuhan
Kriteria Seleksi
Sektor Penting/
Unggulan
Kondisi wilayah
UBP Emas Pongkor
- Konsep Bangwil
(Bangmas/ CD)
Gambar 3.1 Roadmap/Pola Pikir Seleksi Sektor
10
Agroindustri
KP
Pongkor
Krakatau
DKI
Jakarta
Jati
Luh
ur
Uj. Kulon
Kebun Teh
Tm.Safari
Gambar 3.2 Interaksi Kegiatan Ekonomi Multi/Antarregional
Kawasan Pengembangan (KP) Pongkor – Banten – Jabodetabek – Lampung/Sumatera
Bagian Selatan
11
Download