BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tuberculosis Tuberkulosis (TB

advertisement
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tuberculosis
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan
oleh “mycobacterium tuberkulosis”. Kuman tuberkulosis yang masuk
melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru, dimana ia akan
membentuk suatu sarang peneumonik, yang disebut sarang primer atau
efek primer. Sarang primer ini mungkin akan timbul dibagian mana saja
dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan
kelihatan peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis
lokal). Peradangan tersebut dikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening
di hilus (limfadenitis regional). Dari tuberkulosis primer ini akan muncul
bertahun-tahun kemudian tuberkulosis post-primer, biasanya pada usia 1540 tahun. Tuberkulosis post-primer mempunyai nama yang bermacammacam yaitu tuberkulosis bentuk dewasa,“localized tuberculosis”,
tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberkulosis inilah yang
terutama menjadi problem kesehatan rakyat, karena dapat menjadi sumber
penularan. Tuberkulosisi post-primer dimulai dengan sarang dini, yang
umumnya terletak segmen apikal dari lobus superior maupun lobus
inferior (Frandson, 1992).
Batuk yang merupakan salah satu gejala tuberkulosis paru, terjadi
karena kelainan patologik pada saluran pernapasan akibat kuman M.
tuberculosis. Kuman tersebut bersifat sangat aerobik, sehingga mudah
tumbuh di dalam paru, terlebih di daerah apeks karena pO2 alveolus paling
tinggi. Kelainan jaringan terjadi sebagai respons tubuh terhadap kuman.
Reaksi jaringan yang karakteristik ialah terbentuknya granuloma,
kumpulan padat sel makrofag. Respons awal pada jaringan yang belum
pernah terinfeksi ialah berupa serbukan sel radang, baik sel leukosit
“polimorfonukleus” (PMN) maupun sel fagosit “mononukleus”. Kuman
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
4
berpolimerasi dalam sel, dan akhirnya mematikan sel fagosit. Sementara
itu sel “mononukleus”bertambah banyak dan membentuk agregat. Kuman
berpoliferasi terus, dan sementara makrofag (yang berisi kuman) mati, sel
fagosit “mononukleus” masuk dalam jaringan dan menelan kuman yang
baru terlepas. Jadi terdapat pertukaran sel fagosit “mononukleus” yang
intensif dan berkesinambungan. Sel monosit semakin membesar, intinya
menjadi eksentrik, sitoplasma sel monosit bertambah banyak dan tampak
pucat, disebut sel epiteloid. Sel-sel tersebut berkelompok padat mirip sel
epitel tanpa jaringan diantaranya, namun tidak ada ikatan interseluler dan
bentuknya pun tidak sama dengan sel epitel. Sebagian sel epiteloid ini
membentuk sel datia berinti banyak, dan sebagian sel datia ini berbentuk
sel “datia Langhans”(inti terletak melingkar di tepi) dan sebagian berupa
sel “datia benda asing”(inti tersebar di sitoplasma) ( handayani, 2008).
Lama kelamaan granuloma ini dikelilingi oleh sel limfosit, sel
plasma, kapiler dan fibroblas. Dibagian tengah mulai terjadi nekrosis yang
disebut perkijauan, dan jaringan disekitarnya menjadi sembab dan jumlah
mikroba berkurang. Granuloma dapat mengalami beberapa perkembangan,
bila jumlah mikroba terus berkurang akan terbentuk sampai jaringan ikat
mengelilingi reaksi peradangan. Lama kelamaan akan terjai penimbunan
garam kalsium pada bahan perkijauan. Bila garam kalsium berbentuk
konsentrik maka disebut cincin “Liesegang”. Bila mikroba virulen atau
resistensi jaringan rendah, granuloma membesar, terbentuk pula
granuloma satelit yang dapat berpadu sehingga granuloma membesar. Sel
epiteloid dan makrofag menghasilkan protease dan hidrolase yang dapat
mencairkan bahan kaseosa. Pada sat ini granuloma mencair, kuman
tumbuh cepat dan terjadi perluasan penyakit (Frandson, 1992)
Reaksi jaringan yang terjadi berbeda antara individu yang belum
pernah terinfeksi dan yang sudah pernah terinfeksi. Pada individu yang
telah terinfeksi sebelumnya reaksi jaringan terjadi lebih cepat dan keras
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
5
dengan disertai nekrosis jaringan. Akan tetapi pertumbuhan kuman
tertahan dan penyebaran infeksi terhalang. Ini merupakan manifestasi
reaksi hipersensitiviti dan sekaligus imuniti (Frandson, 1992).
B. Regimen Pengobatan Tuberculosis
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase intensif (2-3 bulan)
dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri atas
paduan obat utama dan tambahan.
1.
Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Obat yang di pakai :
a. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah :
Rifampisin, INH, Pirazinamid, Streptomisin, Etambutol
b. Kombinasi dosis tetap (fixed dose combination) kombinasi dosis tetap
ini terdiri atas :
 Empat obat anti tuberkulosis dalam satu tablet, yaitu rifampisin 150
mg, isoniasid 75 mg, pirazinamid 400 mg dan etambutol 275 mg
dan,
 Tiga obat anti tuberkulosis dalam satu tablet, yaitu rifampisin 150
mg, isoniazid 75 mg dan pirazinamid 400 mg.
c. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)
Kanamisin, kuinolon, obat lain masih dalam penelitian ; makrolid,
amoksilin + asam klavulana, derivat rifampisin dan INH
Obat yang digunakan untuk TBC di golongkan atas dua kelompok
yaitu:
1. Obat
primer
:
INH
(isoniazid),
Rifampisin,
Etambutol,
Streptomisin, Pirazinamid.
Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang
masih dapat di tolerir, sebagian besar penderita dapat di sembuhkan
dengan obat ̵ obat ini.
2. Obat
skunder
:
Exionamid,
Paraaminosalisilat,
Sikloserin,
Amikasin, Kapreomsin dan Kanamisin.
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
6
Tabel 1. Dosis obat antituberkulosis
Obat
Isoniazid
Dosis harian
Dosis 2x/minggu
Dosis 3x/minggu
(mg/kgbb/hari)
(mg/kgbb/hari)
(mg/kgbb/hari)
4 ̵ 6 mg (maks 300 mg)
15-40 mg
(maks900 mg)
Rifampisin
15-40 mg
(maks 900 mg)
8-12mg
10-20 mg
15-20 mg
(maks 600 mg)
(maks600 mg)
(maks600 mg)
Pirazinamid
20-30 mg (maks2 g)
50-70 mg (maks4 g)
15-30 mg (maks3 g)
Etambutol
15-20mg (maks2,5 g)
50 mg (maks2,5 g)
15-25 mg (maks2,5 g)
Streptomisin
12-18 mg (maks1 g)
25-40mg(maks1,5g)
25-40 mg (maks1,5 g)
C. Jenisobat anti tuberkulosis
1. Rifampisin
Antibiotik ini adalah derivat semisintetis dari rifampisin B
yang dihasilkan oleh “streptomyces mediterranei”. Rifampisin
bersifat bakterisid luas terhadap fase pertumbuhan M. tuberkulosae
dan M. leprae, baik yang berbeda di luar maupun di dalam sel.
Obat ini mematikan kuman yang dormant selama fase pembelahan
yang singkat. Maka, obat ini sangat penting untuk membasmi
semua
basil
guna
mencegah
kambuhnya
TB
(Tjay dan
Rahardja,2007)
Rifampisin juga aktif terhadap kuman gram-positif dan
kuman gram-negatif. Mekanisme kerjanya berdasarkan peringatan
spesifik dari suatu enzim bakteri RNA-polymerase, sehingga
sintesa RNA terganggu (Tjay dan Rahardja,2007)
Resorpsi rifampisin di usus sangat tinggi, distribusi ke
jaringan dan cairan tubuh juga baik. Plasma t½ berkisar antara 1,5
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
7
sampai 5 jam dan meningkat bila ada gangguan fungsi hati. Di lain
pihak, masa paruh ini akan turun pada pasien yang bersamaan
waktu menggunakan isoniazid. Dalam hati terjadi desasetilasi
dengan
terbentuknya
metabolit-metabolit
dengan
kegiatan
antibakteril. Ekskresi rifampisin melalui empedu(Tjay dan
Rahardja, 2007).
Dosis: oral 1 dd 450-600 mg sekaligus pagi hari sebelum
makan, selalu diberikan dalam kombinasi dengan isoniazid 300 mg
dan untuk 2 bulan pertama di tambah pula dengan 1,5-2 g
pirazinamid setiap hari (Tjay dan Rahardja, 2007).
Untuk dewasa dan anak yang beranjak dewasa 600 mg satu
kali sehari, atau 600 mg 2 – 3 kali seminggu. Rifampisin harus
diberikan bersama denganobat anti tuberkulosis lain. Bayi dan
anak anak, dosis diberikan dokter / tenaga kesehatan lain
berdasarkan
atas
berat
badan
yang
diberikan
satu
kali
seharimaupun 2-3 kali seminggu. Biasanya diberikan 7,5 – 15 mg
per kg berat badan.Anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia adalah
75 mg untuk anak < 10 kg, 150 mguntuk 10 – 20 kg, dan 300 mg
untuk 20 -33 kg (Depkes RI, 2005)
Kerja obat: ersifat bakterisid, dapat membunuh kuman
semi-dormant yangtidak dapat dibunuh oleh isoniazid. Mekanisme
kerja, Berdasarkan perintangan spesifik dari suatu enzim bakteri
Ribose Nukleotida Acid (RNA)-polimerase sehingga sintesis RNA
terganggu (menghambat proses transkripsi yang berakibat matinya
sel). (Depkes RI, 2005)
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
8
2. Isoniazid
Derivat asam isonikotianat berkhasiat tuberkulostatis
paling kuat terhadap M. Tuberkuloceae dan bersifat bakterisid
terhadap basil yang sedang tumbuh pesat. Aktif terhadap kuman
yang berada intraseluler dalam makrofag maupun di luar sel
(ekstraseluler). Mekanisme kerjanya berdasarkan terganggunya
sintesa mycolic acid, yang diperlukan untuk membangun dinding
bakteri. Isoniazid masih tetap merupakan obat kemoterapi
terpenting terhadap berbagai tipe tuberkulosa dan selalu dalam
bentuk terapi dengan riampisin dan pirazinamid (Tjay dan
Rahardja,2007)
Resorbsi isoniazid dari usus sangat cepat, difusi ke dalam
jaringan dan cairan tubuh baik sekali, bahkan menembus jaringan
yang sudah mengeras. Penetrasi yang cepat ini sangat penting
dalam pengobatan tuberkulosis meningitis. Di dalam hati, isoniazid
diasetilasi oleh enzim asetil transferase menjadi metabolit inaktif.
Plasma t½ antara 1 dan 4 jam tergantung pada keceatan asetilasi.
Ekskresi isoniazid melalui ginjal (TjaydanRahardja, 2007).
Dosis: oral/i.m dewasa dan anak-anak 1dd 4-8 mg/kg/hari
sehari atau 1 dd 300-400 mg, atau sebagai single dose bersama
rifampisin, pagi hari a.c. atau sesudah makan bila terjadi gangguan
lambung (Tjay dan Rahardja, 2007).
Untuk pencegahan, dewasa 300 mg satu kali sehari, anak
anak 10 mgper berat badan sampai 300 mg, satu kali sehari. Untuk
pengobatan TB bagiorang dewasa sesuai dengan petunjuk dokter /
petugas kesehatan lainnya.Umumnya dipakai bersama dengan obat
anti tuberkulosis lainnya. Dalam kombinasi biasa dipakai 300 mg
satu kali sehari, atau 15 mg per kg berat badan sampai dengan 900
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
9
mg, kadang kadang 2 kali atau 3 kali seminggu. Untuk anak
dengan dosis 10 20 mg per kg berat badan. Atau 20 – 40 mg per
kg berat badansampai 900 mg, 2 atau 3 kali seminggu (Depkes
RI,2005)
Kerja obat; bersifat bakterisid, dapat membunuh 90%
populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Efektif
terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif, yaitu kuman yang
sedang berkembang. Mekanisme kerja berdasarkan terganggunya
sintesa mycolic acid, yang diperlukan untuk membangun dinding
bakteri (Depkes RI, 2005)
3. Pirazinamid
Analogon pirazindari nikotinamida ini bekerja sebagai
bakterisida (pada suasana asam ; pH 5-6) atau bakteriostatis,
tergantung pada pH dan kadarya di dalam darah. Spektrum
kerjanya sangat sempit dan hanya meliputi M. tb. mekanisme
kerjanya berdasarkan pengubahannya menjadi asam pirazinamid
oleh enzim pyrazinamid yang berasal dari basil TBC. Begitu pH
dalam makrofag diturunkan, maka kuman yang berada di sarang
infeksi yang menjadi asam akan mati. Khasiatnya di perkuat oleh
INH. Obat ini khusus digunakan pada fase intensif; pada fase
pemeliharaan hanya bila terdapat multiresistensi (Tjay dan
Rahardja, 2007).
Dosis; dewasa dan anak sebanyak 15 – 30 mg per kg berat
badan, satu kali sehari. Atau 50 – 70 mg per kg berat badan 2 – 3
kali seminggu. Obat ini dipakai bersamaan dengan obat anti
tuberkulosis lainnya (Depkes RI, 2005
4. Etambutol
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
10
Dosis; untuk dewasa dan anak berumur diatas 13 tahun, 15
-25 mg mg per kg berat badan, satu kali sehari. Untuk pengobatan
awal diberikan 15 mg / kg berat badan, dan pengobatan lanjutan 25
mg per kg berat badan. Kadang kadang dokter juga memberikan 50
mg per kg berat badan sampai total 2,5 gram dua kali seminggu.
Obat ini harus diberikan bersama dengan obat anti tuberkulosis
lainnya. Tidak diberikan untuk anak dibawah 13 tahun dan bayi
(Depkes RI, 2005)
Kerja obat; bersifat bakteriostatik, dengan menekan
pertumbuhan kuman TB yang telah resisten terhadap Isoniazid dan
streptomisin. Mekanisme kerja, berdasarkan penghambatan sintesa
RNA pada kuman yang sedang membelah, juga menghindarkan
terbentuknya mycolic acid pada dinding sel (Depkes RI, 2005)
D. Peran sistem imun terhadap terapi TB
Pertumbuhan “Mycobakterium tuberculosis” sendiri dipengaruhi
oleh aktifitas leukosit, komplemen dan antibodi. Antibodi adalah protein
yang bersirkulasi yang diproduksi sebagai respon akibat adanya paparan
antigen. Sedangkan komplemen adalah protein dalam serum yang normal
bersifat inaktif, komplemen ini akan aktif hanya pada kondisi yang
memediasi fungsi efektor komplemen. Struktur utama antibodi dan
komplemen adalah protein yang bisa didapatkan melalui nutrisi yanng
baik. Telah diketahui secara luas bahwa malnutrisi berhubungan dengan
fungsi imun dan meningkatkan kerentanan terhadap terjadinya infeksi,
termasuk infeksi TB.Secara spesifik malnutrisi dapat menyebabkan
gangguan yang signifikan dari beberapa mekanisme penting proteksi imun
meliputi gangguan fungsi CMI (Cellular Mediated Imunity), gangguan
fungsi sel fagosit, penurunan konsentrasi dan fungsi antibodi, penurunan
produksi sitokin (IFN-γ dn TNF-α), dan bahan-bahan mikrobakterisidal
lainnya. Kombinasi gangguan imun tersebut dapat menyebabkan
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
11
perkembangan TB menjadi lebih aktif, yang akan memperburuk kondisi
pasien TB (Aditama, 2006; Jeong et al., 2008).
Pada penderita dengan daya tahan tubuh yang buruk, respons imun
tidak dapat menghentikan multiplikasi kuman sehingga akan menjadi sakit
pada beberapa bulan kemudian. Sehingga kompleks primer akan
mengalami salah satu hal sebagai berikut yaitu: Penderita akan sembuh
dengan tidak meninggalkan cacat (restirutionad integrum), sembuh dengan
meninggalkan bekas (seperti sarangGhon, fibrotik, perkapuran),menyebar
dengan cara perkontinuitatum ke jaringan sekitarnya, penyebaran
bronkogen ke paru bersangkutan atau paru sebelahnya, penyebaran secara
hematogen dan limfogen ke organ lain seperti tuberkulosis milier,
meningitis, ke tulang, ginjal, genetalia (Izzati seravina A, 2011).
Dalam ilmu kedokteran, imunitas pada mulanya berarti resisten
relative terhadap suatu mikroorganisme. Resisten terbentuk berdasarkan
respon imunologik. Selain membentuk resistensi terhadap suatu infeksi,
respon imun juga dapat mengakibatkan terjadinya berbagai penyakit. Oleh
karena itu pada masa sekarang arti respon imun sudah lebih luas, yang
pada dasarnya mencakup pengobatan maupun pencegahan suatu penyakit
pengaruh faktor atau zat asing yang berasal dari luar tubuh. Efektivitas
sistem imun dapat menurun karena berbagai faktor, diantaranya karena
usia atau penyakit. Proses fagositosis merupakan salah satu mekanisme
pertahanan tubuh (imun) non-spesifik dalam menghadapi serangan
berbagai benda asing, termasuk mikroorganisme. Sel utama yang berperan
dalam fagositosis (disebutsel fagosit) adalah sel mononuklear (monosit
dan makrofag) dan sel polimorfonuklear atau granulosit (terutama
netrofil). Proses fagositosis yang efektif pada invasi mikroorganisme dini
dapat mencegah timbulnya penyakit. Secara keseluruhan, penghancuran
mikroorganisme dalam proses pertahanan tubuh terjadi dalam beberapa
tahap, yaitu kemotaksis (gerakan sel fagosit ke tempat infeksi
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
12
mikroorganisme), kemudian sel fagosit mengikat/memakannya melalui
reseptor non spesifik. Bila mikroorganisme sudah berada dalam sel,
lisosom akan bergabung dengan fagosom membentuk fagolisosom dan
selanjutnya
mikroorganisme
dapat
dibunuh
dengan
mekanisme
mikrobisidal (Izzati seravina A, 2011)
Makrofag sebagai sel pertahanan dapat melakukan aktivitasnya
dengan berbagaicara yaitu fagositosis dan destruksi mikroorganisme,
kemotaksis, sebagai sel penyaji antigen, mengsekresi enzim dan substansi
biologis yang lain serta mengontrol pertumbuhan sel tumor (Farida
JR,2005).
Aktivasi
makrofag
merupakan
fenomena
yang
kompleks.
Makrofag yang teraktivasi menunjukan peningkatan kemampuan untuk
membunuh beberapa jenis mikroorganisme, tetapitidak berlaku bagi sel
sasaran yang lain (Kresno, 2001).
Makrofag alveoli yang berasal dari sum-sum tulang yang terbentuk
melalui beberapa stadium dimulai dari monoblast, promonosit dan
akhirnya membentuk monosit. Monosit akan memasuki sirkulasi darah
dan setelah mencapai kapiler alveoli sebagian akan bermigrasi ke dalam
rongga alveoli dan selanjutnya berfungsi sebagai makrofag alveoli yang
akan memulai responimun (Farida JR,2005).
Makrofag berperan penting pada respon imun bersama-sama
dengan APC (Antigen Presenting Cell) yang lain akan memproses dan
menampilkan antigen kepada sel T sehingga menimbulkan respon imun.
Pada proses fagositosis dan imun srekognisi akan melibatkan beberapa
reseptor yang terdapat pada permukaan makrofag dan dinding sel bakteri
diantaranya adalah reseptor komplemen, reseptor mannosa dan scavenger
reseptor. Pada dinding bakteri yang terlibat adalah lipoprotein M.
tuberculosis, Lipo Arabino Mannan (LAM). Ikatan dengan Toll-like
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
13
reseptor (TLRs) pada imun rekognisi dapat terjadi pada permukaan sel
atau pada fagosom (Crevel. et al,2002).
Setelah terjadi kontak dengan bakteri maka membran sel makrofag
akan mengadakan invaginasi kemudian membentuk vakuola yang akan
menyelimuti seluruh kuman. Vakuola akan membentuk fagolisosom
setelah mengadakan fusi dengan lisosom yang mengandung enzim
hidrofilik yang aktif pada suasana asam. Akibatnya sel-sel bakteri akan
dicerna di dalam vakuola dan debris yang terbentuk akan disekresi secara
eksositosis. Pada infeksi tuberkulosis bakteri ini tidak selalu dapat dicerna
oleh makrofag, bahkan bakteri dapat bermultiplikasi setelah beradaptasi
secara biokimiawi dan biofisika dengan lingkungan yang ada dalam
fagolisosom. Sebagian bakteri akan mati dan sisanya akan bermultiplikasi
kembali sampai mencapai jumlah yang besar (Farida JR,2005)
Leukosit memiliki bentuk khas, nukleus, sitoplasma dan organel,
semua bersifat mampu bergerak pada keadaan tertentu. Eritrosit bersifat
pasif sedangkan leukosit mampu keluar dari pembuluh darah menuju
jaringan dalam menjalankan fungsinya. Jumlah seluruh leukosit jauh
dibawah eritrosit, dan bervariasi tergantung jenis hewannya (Anonim,
2009)
Masa hidup sel darah putih pada hewan domestik sangat bervariasi
mulai dari beberapa jam untuk granulosit, bulanan untuk monosit bahan
tahunan untuk limfosit (Frandson, 1992).
Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan tubuh.
Leukosit ini sebagian dibentuk di sumsum tulang dan sebagian lagi di
jaringan limfe. Setelah dibentuk sel-sel ini diangkut dalam darah menuju
berbagai bagian tubuh. Kebanyakan sel darah putih ditranspor secara
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
14
khusus ke daerah yang terinfeksi dan mengalami peradangan serius
(Guyton, 1983).
Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih mempunyai
granula spesifik (granulosit), yang dalam keadaan hidup berupa tetesan
setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang
bervariasi. Dan yang tidak mempunyai granula, sitoplasmanya homogen
dengan inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Granula dianggap spesifik bila
secara tetap terdapat dalam jenis leukosit tertentu dan pada sebagian besar
precusor prazatnya. Leukosit mempunyai pertahanan seluler dan humoral
organisme terhadap zat-zat asing, dapat melakuan gerakan amuboid dan
melalui proses diapedesis. Leukosit juga dapat meninggalkan kapiler
dengan menerobos antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan
penyambung. Bila memeriksa variasi fisiologi dan patologi sel-sel darah
tidak hanya persentase tetapi juga jumlah absolut masing-masing jenis per
unit volume darah harus diambil (Efendi, 2003)
Ada enam macam sel darah putih yang secara normal di temukan dalam
darah yaitu netrofil polimorfonuklir, esinofil polimorfonuklir, basofil
polimorfonuklir, monosit, limfosit, dan kadang-kadang sel plasma. Selain
itu terdapat sejumlah besar trombosit, yang merupakan pecahan dari tipe
ketujuh sel darah putih yang dijumpai dalam sumsum tulang yaitu
megakariosit. Sel-sel polimorfonuklir seluruhnya mempunyai gambaran
granular sehingga disebut granulosit. Granulosit dan monosit melindungi
tubuh terhadap organisme penyerang terutama dengan cara mencernanya
yaitu melalui fagositosis. Fungsi pertama sel limfosit dan sel-sel plasma
berhubungan
dengan
sistem
imun.
Fungsi
trombosit
terutama
mengaktifkan mekanisme pembekuan darah. Pada manusia dewasa dapat
dijumpai sekitar 7000 sel darah putih per mikroliter darah. Presentase
normal dari sel darah putih yaitu netrofil polimorfonuklir 62%, eosinofil
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
15
polimorfonuklir 2,3%, basofil polimorfonuklir 0,4%, monosit 5,3%, dan
limfosit 30%. (Guyton, 1983)
Makrofag terutama berasal dari sel precusor dari sumsum tulang,
dari promonosit yang akan membelah menghasilkan monosit yang beredar
dalam darah. Pada tahap kedua monosit bermigrasi kedalam jaringan ikat
tempat mereka menjadi matang dan inilah yang disebut makrofag. Di
dalam jaringan makrofag dapat berpoliferasi secara lokal menghasilkan sel
sejenis lebih banyak (Effendi, 2003)
Sel-sel sistem makrofag terdapat pada :
1. Jaringan ikat Inggar berupa macrofag atau histiosit.
2. Di dalam darah berupa monosit.
3. Di dalam hati melapisi sinusoid dikenal sebagai sel kupffer.
4. Makrofag perivaskuler sinusod limpa, limfonodus, dan sumsum
tulang.
5. Pada susunan syaraf pusat berupa mikroglia yang berasal dari
mesoderm.
(Effendi, 2003)
E. Pengaruh obat ̵ obat TB terhadap sistem imun
OAT telah diketahui dapat menimbulkan berbagai macam efek
kelainan hematologis. Pada penderita tuberculosis yang akan mendapat
OAT, sebaiknya dilakukan pemeriksaan hematologi awal sebagai data
dasar. Pada pemberian OAT sebaiknya dilakukan pemantauan hematologis
untuk mendeteksi adanya efek samping tersebut.
Obat isoniazid, rifampisin dapat menimbulkan kelainan yaitu
lekopeni yang merupakan gangguan penurunan jumlah leukosit dibawah
4000/mm³. Pada umumnya lekopeni disebabkan karena penurunan jumlah
setrofil (netropeni). Pada lekopeni berat, penurunan jumlah netrofil dapat
disertai penurunan limfosit dan monosit. Kemudian pirazinamid dapat
menyebabkan anemi sideroblastik.
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
16
F. Staphylococus aureus
Sistematika bakteri Staphylococus aureus adalah sebagai berikut:
Kingdom : Eubacteria
Phylum
: frimiculates
Kelas
: Bacilli
Ordo
: Bacillalis
Familia : Staphylococcaceae
Genus
: Staphylococcus
Spesies
: Staphylococus aureus (Jawetz, 1986)
Staphylococus aureus berperan sebagai antigen yang akan di
infeksikan dalam tubuh mencit secara intraperitoneal. Ketika suatu antigen
terpapar dalam tubuh maka sistem imun tubuh akan memberikan respon
pertahanan tubuh baik secara seluler maupun humoral.
Staphylococus aureus dapat digunakan sebagai perespon imun
karena sifatnya yang dapat hidup di makrofag serta kemampuannya untuk
memproduksi enzim koagulase yang berfungsi untuk menggumpalkan
fibrinogen dalam plasma darah manusia sehingga Staphylococus aureus
terlindung dari fagositosis dan dapat terhindar dari mekanisme bakterisidal
makrofag.
Letak protein A ada pada dinding sel Staphylococus aureus juga
dapat mengganggu sistem imun inang dengan mengikat antibodi
imunoglobulin (IgG). Kehadiran mediator eksogen dibutuhkan untuk
membantu aktivasi makrofag agar bekerja maksimal untuk memfagositosis
Staphylococus aureus yang mempunyai mekanisme pertahanan terhadap
fagosistosis (Madigan. Mt. Et al., 2008)
Efek Pemberian Obat..., Dewi Sriwahyuni, Fakultas Farmasi, UMP, 2016
Download