aplikasi teori kognitif pada pembelajaran ipa

advertisement
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
APLIKASI TEORI KOGNITIF DAN MODEL PEMBELAJARAN
KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN IPA SD
Muh.Abduh Makka
Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan
A.
Pendahuluan
Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Sekolah Dasar (SD),
telah dilakukan pemerintah dengan tujuan untuk menyiapkan masa depan sumberdaya manusia
yanp berkualitas. Guru sebagai ujung tombak dalam rangka peningkatan mutu pendidikan perlu
menyesuaikan diri seiring dengan tuntutan masyarakat dan paradigma pendidikan masa kini.
Sebagai praktisi di kelas. guru sangat dituntut untuk menjalankan perannya antara lain
sebagai motivator, edukator, fasilitator, dan administrator.
Implementasi proses pembelajaran di kelas perlu diterapkan model pembelajaran yang
membuat siswa aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan dapat tercapai. Meskipun demikian,
hingga saat ini pemberdayaan penalaran siswa dalam pembclajaran IPA masih rendah
(Corebima. 1999:18). Kenyataan yang ditemukan dalam pelaksanaan proses pembelajaran
IPA maupun evaluasinya selama ini terbukti bahwa aspek penalaran tidak pcrnah dikelola
secara langsung, terencana atau terprogram. Hal ini berdampak pada lambannya perkembangan
intelektual siswa, artinya siswa tidak mampu berfikir kritis, bahkan malas untuk berfikir.
Akhirnya keadaan seperti ini dapat berpenganuh buruk terhadap hasil dan dampak belajar siswa.
Hasil penelitian Corebima, (2000) terbukti bahwa penalaran siswa SLTP terhadap mata
pelajaran biologi dapat berkembang melalui pertanyaan yang bersifat pemahaman, aplikasi,
dan sintesis senada dengan penelitian tersebut, Pudyarjo dalam Wasih, (1998: 27) menyatakan.
bahwa proses pembelajaran IPA di SD yang dipraktikkan selama ini tidak mampu
mengembangkan dan membentuk kemandirian. siswa. Proses pembelajaran mengarah kepada
sikap yang pasif, membuat siswa kurang percaya diri dan tidak dilatih berfikir kritis guna
mengembangkan penalarannya.
Indikator lain juga menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam
memahamim konsep IPA, antara lain nampak dalam kegiatan proses belajar mengajar
dimana siswa kurang perhatian dan rasa ingin tabu terhadap materi yang dipelajari
(Rahayu, 1999:79). Hal ini tercermin dari kenyataan bahwa selama dalam proses
pembelajaran. hampir tidak ada pertanyaan dari siswa. Segala sesuatu yang disampaikan
seolah-olah sudah merupakan fakta final, dan tidak ada yang perlu dikembangkan. Selain itu,
jika guru melontarkan pertanyaan kcpada siswa pada saat proses pcmbelajaran di kelas
1
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
sedang berlangsung, jawaban yang diberikan siswa seringkali tidak sesuai dengan yang
diharapkan oleh guru. Pembelajaran 1PA dengan model pembelajaran Konstruktivisme
merupakan salah satu alternatif model pembelajarn yang mernberi kesempatan kepada siswa
untuk mempereloh pengalaman belajar secara langsung.
B. Teori-teori Belajar Kognitif
1. Teori Belajar Piaget
Piaget merupakan salah satu pioner konstruktivis, ia berpendapat bahwa anak
membangun sendiri pengetahuannya dari pengalamannya sendiri dengan lingkungan.
Dalam pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan, perkembangan kognitif
sebagian besar bergantung kepada beberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif
berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator
dan buku sebagai informasi.
Piaget menjabarkan implikasi teori kognitif pada pendidikan yaitu: 1)
memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar
kepada hasilnya. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai
pada hasil tersebut. Pengalaman-pengalaman belajar yang sesuai dikembangkan dengan
memperhatikan tahap fungsi kognitif dan jika guru penuh perhatian terhadap pendekatan
yang digunakan siswa untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan
guru berada dalam posisi memberikan pengalaman yang dimaksud., 2) mengutamakan
peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar.
Dalam kelas, Piaget menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi (ready made
knowledge) anak didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan
dengan lingkungan, 3) memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal
kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh
dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung
pada kecepatan berbeda. Oleh karena itu guru harus melakukan upaya untuk mengatur
aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individu –individu ke dalam bentuk kelompokkelompok kecil siswa dari pada aktivitas dalam bentuk klasikal, 4) mengutamakan peran
siswauntuk saling berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan –gagasan tidak dapat
2
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarakan
secara langsung, perkembangannya dapat di simulasi.
2. Teori Belajar Vygotsky
Tokoh konstruktivis lain adalah Vigotsky. Sumbangan penting teori Vygotsky
adalah penekanan pada hakekatnya pembelajaran sosiokultural. Inti teori Vygotsky
adalah menekankan interaksi antara “internal” dan “eksternal” dari pembelajaran dan
penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, fungsi
kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya.
Vigotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas –
tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu berada dalam “zone of proximal
development” mereka. Zone of proximal development adalah jarak antara tingkat
perkembangan sesungguhnya ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah secara
sendiri dan tingkat kemampuan perkembangan potensial yang ditunjukkan dalam
kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya
yang lebih mampu.
Teori Vygotsky yang lain adalah “scaffolding”. Scaffolding adalah
memberikan kepada seseorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal
pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberinya kesempatan
kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah
ia mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk,
peringatan, dorongan menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan
siswa dapat mandiri.
Vygotsky menjabarkan implikasi utama teori pembelajaran yaitu 1)
menghendaki setting kelas kooperatif, sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling
memunculkan strategi - strategi pemecahan masalah yang efektif dalam masing-masing
zone of proximal development mereka; 2) Pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran
menekankan scaffolding. Jadi teori belajar Vigotsky adalah salah satu teori belajar social
sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif terjadi interaksi sosial
3
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
yaitu interaksi antara siswa dengan siswa antara siswa dengan guru dalam usaha
mengemukan konsep – konsep pemecahan masalah.
C. Model Pembelajaran Konstruktivisme
1. Proses Pembelajaran Berdasarkan Pandangan Konstruktivisme
Pandangan konstruktivisme mengenai pengetahuan dan bagaimana kita
menjadi tahu mengenai apa yang kita ketahui, berakar pada teori genetik Piaget. Piaget
mengemukakan bahwa ”setiap organisasi menyusun pengetahuan dengan jalan
menciptakan struktur dengan mental (struktur kognisi) dan menerapkannya dalam
pengalaman”. Piaget mendeduksi mengenai struktur mental tersebut berdasarkan
studinya terhadap siswa. Berdasarkan studi itu diketahui adanya suatu proses dalam diri
organisme
atau
individu
berinteraksi
dengan
lingkungan
sekitarnya
dan
mentransformasikannya ke dalam pikirannya dengan bantuan struktur mental (skemata)
siswa yang telah ada di dalam pikirannya untuk menjadi tahu tentang pengetahuan baru
tersebut(Suparmo, 1997 : 12).
Dahar. R.W. (1990) menyatakan bahwa perkembangan intelektual anak
didasarkan pada dua fungsi, yaitu fungsi organisasi dan adaptasi. Fungsi Organisasi
memberikan
kemampuan
kepada
siswa
untuk
mensistimatiskan
atau
mengorganisasikan proses-proses psikologis menjadi sistim-sistim yang teratur dan
berhubungan. Sedangkan adaptasi dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur mental yang sudah ada untuk
merespons terhadap informasi dari lingkungan. Sedangkan dalam proses akomadasi
seseorang memerlukan proses modifikasi dan struktur yang ada untuk tujuan yang
sama. Adaptasi merupakan keseimbangan antara asimilasi dan akomadasi.
Perkembangan kognitif bukan merupakan akomodasi dari bagian informasi
yang terpisah, namun lebih merupakan pengkonstruksian oleh siswa untuk memahami
lingkungan mereka. Guru sebaiknya menyediakan diri sebagai model dalam cara
menyelesaikan masalah bersama siswa. Guru hadir sebagai nara sumber dan bukan
menjadi penguasa yang memaksakan jawaban benar, biarkan siswa bebas membangun
pemahaman mereka sendiri. Guru mengamati pembelajar selama beraktifitas dan
mendengarkan secara seksama atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari siswa.
Menurut pandangan konstruktivisme proses belajar didasarkan pada suatu anggapan
4
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
bahwa pembelajar membangun atau mengkonstruksi sendiri pengalaman/pengetahuan
dan memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah (Dahar. R.W ; 1990: 160).
Esensi dari teori Konstruktivis adalah ide-ide atau gagasan harus siswa sendiri
yang diamati, ditemukan sendiri oleh siswa dan ditransformasikan serta diinterpretasikan
sendiri suatu informasi kompleks jika mereka diharuskan menjadikan informasi itu sebagai
miliknya. Konstruktivisme adalah suatu pendapat yang menyatakan bahwa perkembangan
kognitif merupakan suatu proses pembelajar secara aktif membangun sistem arti dan
pemahaman terhadap realita melalui pengamatan dan interaksi mereka. Menurut pandangan
konstruktivisme pembelajar secara aktif membangun pengetahuan secara terus menerus
mengasimilasi dan mengakomodasi informasi baru. Dengan perkataan lain konstruktivisme
adalah teori perkembangan kognitif yang menekankan kepada pembelajar dalam membangun
tentang pemahaman mereka menganai realita.
Dahar. R.W (1990) menyatakan bahwa implikasi pandangan konstruktivisme dalam
pembelajaran yaitu pertama, dalam mengajar guru harus memperhatikan pengetahuan awal
siswa yang dibawah dari luar sekolah. Kedua, mengajar bukan berati meneruskan gagasan/ide
guru kepada siswa, melainkan merupakan suatu proses untuk mengubah gagasan/ide siswa
yang sudah dimilikinya yang mungkin salah. Ausebel (1990 : 6) menyatakan bahwa jika
pengajaran tidak mengindahkan gagasan / ide yang dibawa siswa maka akan membuat
miskonsepsi-miskonsepsi anak semakin kompleks dan stabil.
Tasker (Wayan Sadi'a, 1992 : 30) mengemukakan pandangan konstruktivisme
dengan beberapa penekanan, Pertama, konstruktivisme menekankan peran aktif siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua, pentingnya membuat kaitan (sibernitik)
antara ide-ide oleh pembelajar dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga,
konstruktivisme mengaitkan antara gagasan oleh pembelajar dengan informasi baru di kelas.
Driver & Bell (1997) mengemukakan beberapa prinsip dasar dari pembelajaran
berdasarkan pendangan konstruktivisme. Pertama, hasil belajar sangat bergantung pada
lingkungan belajar dan pengetahuan yang sudah ada dimiliki oleh pembelajar. Kedua, belajar
merupakan pembentukan makna (meaning) dengan cara membangun atau mengkonstruksi
hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki oleh pembelajar dan pengetahuan yang
sedang dipelajari. Ketiga, proses ini berlangsung secara terus-menerus dan aktif. Keempat,
belajar juga menyangkut kesedian pembelajar untuk menerima pengetahuan yang sedang
5
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
dipelajari, sehingga pembelajar bertanggung jawab tentang belajarnya, dan Kelima,
pengalaman belajar dan kemampuan berbahasa berpengaruh pada pola "meaning" yang
dikonstruksi.
Menurut pandangan/perspektif konstruktivisme, bahwa pengetahuan berasal dari
aktivitas pembelajar yang ditampilkan pada objek-objek. Misalnya, jika seseorang memikirkan
sebuah rumah, maka dalam pemikirannya dibangunlah tentang konsep rumah. Penganut
konstrutivisme percaya bahwa pengetahuan bukanlah tidak terwujud, tetapi berhubungan erat
dengan tindakan dan pengalaman kita. Bahwa pengetahuan itu selalu bersifat konstektual dan
tidak pernah terpisahkan dari subjek yang memiliki pengetahuan yang bersangkutan.
Berdasarkan prinsip dasar konstruktivis terlihat bahwa pembelajar (leaner) adalah
seseorang yang melakukan proses aktif untuk membentuk pengetahuannya. Dengan demikian
guru hendaknya berperan untuk menyediakan suatu kondisi atau suasana belajar yang dapat
membantu berlangsungnya proses aktif yang mengkonstruksi pengetahuan pada diri siswa.
Pendapat von Glaserfeld 1997, bahwa jika guru bermaksud untuk mentransper pengetahuan,
konsep, ide-ide dan pengertiannya kepada siswa, pemindahan itu harus diinterpretasikan dan
dikonstruksi oleh pembelajar dengan pengalaman mereka yang sudah dimilikinya.
Dari uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran
menurut pandangan konstruktivisme, Guru perlu mengidentifikasi secara dini pengetahuan awal
siswa. Hal ini bertujuan agar bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan oleh guru dapat
disesuaikan dengan karakteristik siswa. Karena secara umum, siswa mempunyai rasa ingin tahu
yang berlebih bila memiliki hal-hal yang bersifat baru dan menantang untuk dicoba. Guru tidak
perlu berintervensi terlampau mendalam pada topik pembelajaran yang sedang dibahas, akan
tetapi hanya sebatas sebagai fasilitator dan mediator yang dapat membuat siswa agar lebih aktif
untuk menggali, mencari pengalaman dan pengetahuan baru tersebut.
Adapun selanjutnya bagaimana proses assimilasi dan akomodasi pengetahuan itu
terjadi menurut pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran dapat dijelaskan dengan
model interaksi Piaget. Alur proses memperoleh pengalaman/pengatahuan dalam mengadaptasi
lingkungan, seseorang (pembelajar) berusaha untuk mencapai struktur kognitif atau skemata
yang stabil. Stabil dalam arti terjadi kesetimbangan antara assimilasi dan akomodasi yang oleh
Piaget dinamakan ekuilibrasi. Secara garis besar proses ekuilibrasi dapat dijelaskan melalui.
6
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
langkah-langkah proses terjadinya perolehan pengetahuan dalam struktur kognisi siswa
menurut pandangan konstruktivisme ini dapat ditunjukkan dengan bagan skema 11.1 di bawah
ini:
PEMGALAMAN BARU
STRUKTUR KOGNITIF
KONSEP AWAL
COCOK
TIDAK COCOK
TIDAK SEIMBANG
(DISEKUILEBRASI)
AKOMODASI
ADAFTASI
ASIMILASI
COCOK
JALAN BUNTU
(TAK MENGERTI)
KESEIMBANGAN
ALTERNATIF
STRATEGI LAIN
PENGUATAN
MENGERTI
Bagan I. Skema Proses Konstrusi Pengetahuan
Berdasarkan bagan skema di atas dapat dijelaskan bahwa proses belajar
menurut pandangan konstruktivisme dimulai dari hal baru (pengalaman baru),
kemudian berdasarkan dari pengalaman baru itu anak mengingat pengetahuan awal yang
7
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
ada di dalam memori (otaknya). Bila pengalaman baru itu cocok menurut struktur kognisinya
yang dimilikinya maka terjadi asimilasi konsep sehingga pada akhirnya terjadi penguatan
konsep pada diri anak tersebut. Namun apabila pengalaman baru tersebut tidak cocok
menurut struktur kognisisnya maka akan terjadi ketidak seimbangan (disekuilibrasi).
Selanjutnya akan terjadi dua kemungkinan : Pertama, menemui jalan buntu sehingga anak
menjadi tidak mengerti, maka dalam proses pembelajaran dicari alternatif strategi lain.
Kedua, terjadi adaptasi dan modifikasi pengalaman yang telah dimilikimya, melalui
akomodasi sehingga terjadi kecocokan, lebih lanjut akan terjadi keseimbangan (ekuilibrasi)
dan pada akhirnya pembelajar menjadi mengerti mengenai suatu konsep yang sedang
dipelajari.
Dari uraian di atas, maka dalam pembelajaran yang mengacu pada pandangan
konstruktivisme hendaknya menekankan pada langkah-langkah berikut. Pertama guru
sebaiknya memilih pengalaman belajar yang mendukung konsep yang akan dipelajari siswa.
Kedua, siswa menyusun pengertian pribadinya terhadap pengalaman belajar tersebut,
sehingga pengetahuan yang disusun itu harus bermakna bagi siswa itu sendiri. Ketiga,
pengetahuan yang telah dikonstruksi oleh siswa itu sendiri itu dievaluasi melalui diskusi,
masing-masing siswa mengemukakan pendapatnya dan guru berperan sebagai fasilitator dan
mediator yang kreatif. Keempat, masing-masing siswa mengkonstruksi kembali tentang
pengertiannya dengan dikaitkan pengalaman aslinya. Konstruksi pengetahuan yang sesuai
dengan kriteria, akan diterima secara ilmiah, sedangkan yang tidak sesuai (cocok) akan
dimodifikasi, adaptasi melalui akomodasi sampai diterima secara ilmiah.
2. Model Pembelajaran Generatif (Konstruktivisme) (Aliran Osborn R
& Wittrock 1989 : 14)
Teori belajar generatif merupakan suatu penjelasan mengenai gambaran seseorang
siswa membangun pengetahuan/pengalaman baru dalam pikirannya, seperti membangun ide
mengenai suatu fenomena alam atau membangun arti untuk suatu istilah. Dalam membangun
strategi untuk sampai pada suatu penjelasan tentang pertanyaan bagaimana dan mengapa
Intisari dari belajar generatif adalah bahwa otak tidak menerima informasi dengan pasif,
melainkan justru dengan aktif. Mengkonstruk suatu interpretasi dan informasi itu untuk
selanjutnya dapat membuat kesimpulan. Jadi, otak bukanlah sesuatu yang "blank state" yang
8
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
dengan pasif belajar dan mencatat nformasi yang datang (Wittrock, 1980 dalam Osborn R &
Wittrock, 1989).
"Osbor R & Wittrock" menjelaskan bagaimana pengolahan input indera dalam
otak dengan proses berikut ini.
a. Ide yang ada di pikiran siswa mempengaruhi dalam pengarahan indera
b. Ide yang ada dalam pikiran siswa menentukan pemasukan indera mana yang akan
diperhatikan dan mana yang tidak
c.
Pemasukan
indera
yang
diperhatikan
siswa
belum
mempunyai
arti
d. Siswa membangun hubungan-hubungan antara pemasukan indera yang diperhatikannya
dengan ingatan yang ada di pikirannya itu.
e. Siswa menggunakan hubungan tersebut dan pemasukan indera untuk membangun arti
pada pemasukan itu.
f. Kadang-kadang siswa menguji arti yang dibangun dengan keterangan lain yang disimpan
dalam otak (memory)
g. Mungkin siswa menyimpan arti yang dibangun di dalam ingatan
h. Karena otak (memory) siswa begitu berperan dalam menyerap dan mengartikan informasi,
maka siswa sendiri adalah penanggung jawab utama dalam belajar.Proses pembentukan
pengetahuan
atau
pengalaman
baru
menurut
model
belajaran
Generatif
(Konstruktivisme)ersebut di atas, disajikan dalam gambar seperti berikut ini :
9
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
1. otak mengatur dan
mengarahkan indra atau
sensoris
3. masukkan sensori
belum mempunyai arti
atau makna
2. otak menentukan data
sensoris mana yang
diperhatikan dan dipilih
4. pembelajar membangun
hubungan antar data sensori
baru dan isi otak (memory)
5. hubungan yang digunakan
untuk memberi makna terhadap
data sensori baru
6. pengujian makna yang
dibangun terhadap isi otak
(memory)
7. makna yang dibangun oleh
pembelajar disimpan diotak
melalui proses asimilasi
akomodasi
Bagan II.
Proses pembentukan pengetahuan menurut model belajar Generatif
(Konstruktivisme) Aliran Osborn R & Wittrock, 1989 : 14
Ada beberapa hal yang mendapat perhatian khusus dalam model pembelajaran
Generatif (Konstruktivisme), yaitu motivasi, perhatian, konsepsi awal dan pengalaman
belajar. Menurut Osborn R & Wittrock, 1989. Motivasi, serta peratian siswa merupakan hal
yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajarnya. Perhatian sebelumnya oleh
Tasker (1982, dalam Osborn R & Wittrock, 1984) menemukan beberapa hal yang
menyebabkan hasil belajar IPA masih belum apa yang diharapkan.
Diantaranya karena siswa sering menunjukkan minat dan perhatian yang rendah
dalam pembelajaran IPA serta menganggap pelajarannya sebagai sesuatu kejadian yang
terisolir dari pengalaman hidupnya. Kemudian Symington 1985, juga mengemukakan bahwa
setelah pembelajaran ternyata guru sering mengalami kesulitan mengubah konsepsi awal
siswa sebab siswa tidak termotivasi untuk mengubah konsepsinya. Hal itu dikarenakan siswa
10
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
yang dapat memberikan penjelasan terhadap sesuatu fenomena sehari-hari akan cenderung
tidak tertarik pada penjelasan lain.
Adapun langkah-langkah dalam model pembelajaran Generatif yang diusulkan oleh
Osborn R & Wittrock (1989), terdiri dari lima tahapan atau lima langkah yang akan
dijelaskan pada penerapan (implementasi) model pembelajaran konstruktivisme dalam topik
tumbuhan hijau melalui kegiatan praktikum cara tumbuhan hijau membat makanan dengan
kegiatan di laboratorium atau kegiatan di kelas.
D. Implementasi Model Pembelajarn Konstruktivisme dalam Mata Pelajaran IPA SD
1. Pengertian Model pembelajaran
Siswa pada umumnya sulit memikirkan sesuatu dengan merenung sesuatu hal
dalam pikirannya. Oleh karenanya, agar siswa dapat memikirkan sesuatu dengan benar dan
lancar diperlukan alat bantu untuk memikirkan atau merenung sesuatu itu. Salah satu alat
bantu itu adalah model. Menurut pendapat Hesse (1961), suatu model merupakan suatu
hukum faktual, jika model itu menampilkan suatu analogi positif, bukan analogi yang
negatif, dalam seluruh hal dari hal model itu yang dapat diuji, dan jika model itu memiliki
materi yang berlebihan, pada dasarnya materi itu dapat diuji atau dapat diukur
kebenarannya.Suatu model dapat menggambarkan suatu gambaran tertentu dari bendabenda yang dipermasalahkan atau dipersoalkan dan digunakan untuk memprediksi sesuatu
yang sesuai dengan model itu. Contohnya tumbuhan berhijau daun dapat menghasilkan zat
teung atau fungsi pembuluh kayu pada tumbuhan hijau atau tumbuhan hijau menghasilkan
oksigen pada saat fotosintesis.
Dalam model pembelajaran ini digunakan langkah-langkah prosedural dalam
mengerjakan suatu kegiatan eksperimen di laboratorium yang cocok atau sesuai dengan
model yang akan dipergunakan. Misalnya model Konstruktivisme.
Pada lembar kegiatan ini, penulis akan mencoba menguraikan model pembelajaran
dengan beberapa kegiatan yang berlangsung di laboratorium atau baik itu secara
berdemonstrasi atau dengan melakukan kegiatan bereksperimen.
E. Kesimpulan
11
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203

Model Pembelajaran Konstruktivisme merupakan model pembelajaran yang berangkat
dari pengetahuan awal siswa-siswi yang ada di dalam memorinya, yang diperoleh dari
pengalam dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya. Pengetahuan atau pengalaman
baru tidak bisa ditransper atau dicopy dari seorang guru kepada siswa secara utuh,
melainkan siswa itu sendiri yang harus aktif membangun pengetahuannya.

Model Pembelajaran Konstruktivisme menekankan pada aktifitas dan kreatifitas siswa
untuk membangun atau menyusun pengetahuan atau pengalaman yang baru, dengan
merujuk kepada pengetahuan awal siswa yang sudah dimilikinya. Kemudian siswa di
dalam memorinya menghubung-hubungkan antara pengetahuan atau pengalaman baru
apakah cocok atau tidak, jika cocokakan terjadi penguatan di dalam memori/pikiran
siswa tersebut. Dan bila terjadi ketidak cocokan antara pengetahuan atau pengalaman
baru dengan apa yang ada di dalam pikiranya mengalami akomodasi, adaptasi, cocok,
keseimbangan/ekuilibrasi, dan akhirnya mengerti.

Model Pembelajaran Konstruktivisme menekankan gagasan-gagasan berasal dari siswa
itu sendiri dalam setiap topik/pokok bahasan, sedangkan guru dituntut harus
mempersiapkan dan mengembangkan pengetahuan yang berhubungan dengan pokok
bahasan yang akan disampaikan kepada siswa dengan cara memberikan atau mengajukan
pertanyaan-ertanyaan yang berhubungan dengan bahan yang disajiakan sehingga peranan
guru di dalam penerapan model
pembelajaran konstruktivisme ini adalah sebagai
fasilitator dan mediator.

Menurut pandangan /perspektif konstruktivisme, bahwa pengetahuan berasal dari
aktivitas pembelajar yang ditampilkan pada obyek-obyek.

Berdasarkan prinsip dasar konstruktivisme terlihat bahwa pembelajar (lianer) adalah
suatu proses aktif yang dilakukan untuk induksi yang sedang belajar untuk membentuk
pengetahuan sendiri, sehingga guru berperan untuk menyediakan suatu kondisi atau
suasana belajar yang dapat membantu berlangsungnya proses konstruksi pengetahuan
pada diri siswa. Secara umum siswa mempunyai rasa ingin tahu yang berlebih
bilamemiliki hal-hal yag bersifat baru dan menantang untuk dicoba atau mecoba-coba
dengan kelompoknya. Guru tidak perlu berintervensi terlampau mendalam pada topic
pembelajaran yang sedang dipelajari atau dibahas.
DAFTAR PUSTAKA
12
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&catid=42:widyaiswara&Itemid=203
Corebima, A.D. 1999. Proses dan Hasil Pembelajaran MIPA di SD,SLTP, dan SMU:
Perkembangan Penalaran Siswa Tidak Dikelola Secara Terencana . Proceding
Seminar in Quality Improvement or Mathematics and Science Education in Indonesia
(JICA) Bandung.
Corebima, A.D.2000. Pemberdayaan Penalaran pada PBM Biologi SMP untuk Menunjang
Perkembangan Penalaran Formal Mahasiswa di jenjang Perguruan Tinggi. Malang:
Lembaga Penelitian UM.
Dahar.R.W.(1990). Teori-teori Belajar. Jakarta, Erlangga.
Lunden M & Wittrock MC, 1981. The Teacheng ol reading Comprehanstion According to
the model ol generative learning, Reading Research.
Osborne R I, & Wittrock. MC, 1993. Learning in Science a generative process, Science
Education 67. (4) 489-508
---------. 1986. The Generative Learning Model and its Implication for Science Education.
Student in ShienceEducation. 12, 59-89.
Piaget, J. (2000).”Commentary on Vygotsky”. New Ideas in Psikologi, 18. 241-259
Rahayu, SI. 1999. Peningkatan Mutu Pendidikan Sains. JMS. 4 (1): 25-30
Suparmo. P, 1996. Konstruktivisme dan dampaknya terhadap Pendidikan. Artikel pada
harian Kompas Edisi Selasa 19 Nopember 1997.
---------. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan Jakarta, Erlangga
13
Download