STUDI AMDAL PENGOLAHAN LIMBAH MEDIS DENGAN

advertisement
STUDI AMDAL PENGOLAHAN LIMBAH MEDIS DENGAN INCINERATOR DI
KABUPATEN SIDOARJO
Mohammad Razifa*, dan Afry Rakhmadanyb,
a,b
Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS
*E-mail : [email protected]
Abstract
Studi AMDAL Pengolahan Limbah Medis dengan Incinerator ini dilakukan sebagai
persyaratan pengurusan izin lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Sosialisasi dan konsultasi publik telah dilaksanakan di Sidoarjo tanggal 26 Desember
2011. Dari hasil pelingkupan pada dokumen KA-ANDALtelah dihasilkan 38 dampak
potensial yang kemudian dievaluasi menjadi 5 dampak penting hipotetik berupa 4
dampak di tahap operasi yaitu penurunan kualitas udara, terbukanya kesempatan
kerja, peningkatan pendapatan, gangguan kesehatan masyarakat, dan 1 dampak di
tahap pasca operasi berupa kehilangan kesempatan kerja. Pada tanggal 1 Juni 2012
telah dilaksanakan Rapat Tim Teknis Pusat untuk membahas KA-ANDAL. Setelah
melalui tahap konsultasi yang cukup lama KA-ANDALini akhirnya disetujui dengan
Surat Rekomendasi tanggal 25 September 2013. Hasil kajian tim studi dalam dokumen
ANDALmerekomendasikan kegiatan ini layak lingkungan dengan kewajiban
pemrakarsa mengelola semua dampak penting hipotetik. Dalam dokumen RKL-RPL
selain mengelola 5 dampak penting hipotetik dikelola juga 4 dampak tidak penting yaitu
sikap dan persepsi masyarakat, timbulan limbah B3, penurunan kualitas air dan
gangguan kenyamanan lalu lintas. Sidang Tim Teknis untuk dokumen ANDAL dan
RKL-RPL ini telah dilaksanakan tanggal 9 Januari 2014 dan dilanjutkan dengan Sidang
Komisi AMDAL tanggal 10 Januari 2014. Masih diperlukan koreksi dokumen ANDAL
dan RKL-RPL oleh tim studi sebelum pemrakarsa dapat memperoleh Surat Kelayakan
Lingkungan dan Izin Lingkungan.
Kata kunci: Incinerator, Limbah Medis, Studi AMDAL
Abstract
Study of Environmental Impact Assessment (EIA) for medical waste using incinerator is
carried out as the requirements to the environmental permit from The Ministry of
Environment. Socialization and public consultation was held in Sidoarjo, 26 January
2011. From the result of scooping of Term Of Refference-Environmental Impact
Analysis (TOR-EIA) has generated 38 potential impacts which are then evaluated to 5
hypothetic important impacts. 4 impact at operation stage such as decrease in air
quality, recruitment of employees, income generation, public health risk, and 1 in postoperation stage : the loss of employment opportunities. On June 1st, 2012 had been
held a meeting by Technical Team to discuss TOR-EIA document. After going through
the consultation stage for quit a while, TOR-EIA document was finally approved with
letters of recommendation dated 25th September 2013. Result of the study team for
TOR-EIA document recommends that this activity deserves the environment with the
obligation of the initiator to manage all of the hypothetic important impacts.
In a document of Environmental Management Plan-Environmental Monitoring Plan
(EManP-EMonP) besides manage 5 hypothetic important impacts managed also 4
impact unimportant namely attitude and perception society, generation of hazardous
waste, decline of water quality and disorder comfort traffic. Meeting of technical team
for EIAn and EManP-EMonP documents has been implemented on January 9th 2014
and continued to meeting of the Environmental Impact Assessment Commision on
January 10th 2014. Still needed the correction for the EIAn and EManP-EMonP
documents by study team before the initiator can obtain the letters of environmental
feasibility and permit of environment.
Keywords: incinerator, medical waste, EIA study.
1. Pendahuluan
Kegiatan rumah sakit yang sangat kompleks tidak saja memberikan dampak positif
bagi masyarakat sekitarnya, tetapi juga mungkin dampak negatif. Dampak negatif itu
berupa cemaran akibat proses kegiatan maupun limbah yang dibuang tanpa
pengelolaan yang benar. Pengelolaan limbah medis yang tidak baik akan memicu
resiko terjadinya kecelakaan kerja dan penularan penyakit dari pasien ke pekerja, dari
pasien ke pasien, dari pekerja ke pasien maupun dari dan kepada masyarakat
pengunjung rumah sakit (Mukono, 1997). Aktivitas selain rumah sakit seperti :
puskesmas, klinik, balai pengobatan, praktek dokter bersama, dan laboratorium
kesehatan juga akan menghasilkan sejumlah hasil samping berupa limbah, baik limbah
padat, cair, dan gas yang mengandung kuman patogen, zat-zat kimia serta alat-alat
kesehatan yang pada umumnya bersifat limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Adapun sarana pengolahan limbah B3 salah satunya adalah dengan menggunakan
insinerator. Insinerator atau pembakaran limbah padat dapat didefinisikan sebagai
pengubahan bentuk limbah padat menjadi fasa gas, cair, dan produk padat yang
terkonversi, dengan pelepasan energi panas. Insinerasi atau pembakaran limbah padat
tergolong sebagai salah satu teknik pengolahan limbah padat yang dapat mengurangi
volume hingga 85-95% (Tchobanoglous, 1993). Kelancaran proses pembakaran
tergantung dari sifat fisik dan sifat kimia limbah padat (Tsiliyannis, 2013).
Kegiatan penggunaan incinerator untuk pengolahan limbah medis di Indonesia,
khususnya di Jawa Timur saat ini masih relatif kurang, meskipun peraturan perundangundangan yang ada sudah cukup memadai. Limbah medis merupakan salah satu
limbah B3 yang tercantum dalam Tabel 2 Lampiran I Peraturan Pemerintah Nomor 85
Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dengan kode
D227. (Anonim, 2002). Suatu sistem pengelolaan limbah medis atau limbah bahan
berbahaya dan beracun yang tidak tepat, dapat menimbulkan dampak lingkungan.
Dalam upaya menekan dampak negatif seminimal mungkin dan meningkatkan dampak
positif semaksimal mungkin, maka pemrakarsa untuk pembangunan incinerator limbah
medis dalam awal pelaksanaannya telah melengkapi kegiatannya dengan menyusun
studi AMDAL sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Anonim 2012a)
bidang Pengelolaan Limbah B3 dengan incinerator. Sesuai dengan Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup (Anonim, 2013), maka jenis rencana usaha pengolahan
limbah B3 sebagai kegiatan utama (skala semua besaran), kewenangan penilaiannya
dilakukan oleh Komisi AMDAL Pusat.
Dokumen AMDAL yang akan disusun untuk dinilai oleh tim teknis dan tim komisi
AMDAL Pusat ini terdiri atas dokumen Kerangka Acuan ANDAL, ANDAL, RKL, dan
RPL (Anonim, 2012b) yang diharapkan akan berfungsi sebagai pedoman dalam
melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dari dampak yang terjadi akibat
kegiatan tersebut (Alshuwaikhat, 2005). Sosialisasi dan konsultasi publik
(O'Faircheallaigh, 2009 dan Hourdequin, et al. 2012) telah dilaksanakan di Sidoarjo
tanggal 26 Desember 2011 untuk memenuhi ketentuan dari Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup No 17 tahun 2012 (Anonim, 2012c). Pada tanggal 1 Juni 2012 telah
dilaksanakan Rapat Tim Teknis Pusat untuk membahas KA-ANDAL. Dari pelingkupan
dampak penting telah dihasilkan 38 dampak potensial yang dievaluasi menjadi 5
dampak penting hipotetik. Dari pelingkupan batas wilayah studi (Snell & Cowell, 2006)
juga telah dihasilkan peta batas wilayah studi pada Gambar 1.
Gambar 1 Peta Batas Wilayah Studi
Dari uraian rencana kegiatan telah diperoleh rencana total limbah medis yang akan
diolah dengan incinerator seperti diperlihatkan di neraca massa pengolahan limbah
medis pada Gambar 2.
Gambar 2 Rencana Neraca Massa Pengolahan Limbah Medis
Limbah medis direncanakan dibakar dengan incinerator tanpa mengganggu lingkungan
sekitarnya. Sistem incinerator yang dipakai menggunakan pengumpanan berkelanjutan
(Continuous). Dalam teknologi ini akan digunakan bantuan conveyor dan sensor
sehingga semua proses berjalan otomatis dan berkelanjutan melalui 5 tahapan. Emisi
dari Incinerator akan dikurangi dampaknya memakai wet scrubber dengan semprotan
spray. Spray yang disemprotkan ke dalam cerobong akan melarutkan emisi gas
menjadi larutan dan turun kedalam bak penampungan di bagian bawah. Air limbah dari
wet scrubber ini akan diolah dengan IPAL memakai sistem kombinasi aerobik dan
anaerobik biofilter (Sasse, 1998) dan setelah itu efluent IPAL ini diolah lagi menjadi air
bersih yang memenuhi persyaratan kualitas untuk dipakai kembali untuk keperluan wet
scrubber (sehingga akan menjadi sistem tertutup). Dengan demikian tidak ada air
limbah yang dibuang ke media lingkungan atau badan air. Gambar rencana incinerator
yang dilengkapi IPAL ini diperlihatkan di Gambar 3. Selain menerima air limbah dari
wet scrubber IPAL juga menerima air limbah dari toilet kantor dan air bekas wastafel
dan shower pembersih diri karyawan. Neraca air diperlihatkan pada Gambar 4
Gambar 3. Rencana Incinerator yang dilengkapi IPAL
Gambar 4 Rencana Neraca Air Pengolahan Limbah Medis
2. Metode
Metode dalam studi AMDAL umumnya mencakup metode pengumpulan dan
analisis data, metode prakiraan dampak penting, metode evaluasi dampak penting
dan metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Metode pengumpulan dan
analisis data dilakukan dengan menelaah, mengamati, dan mengukur rona
lingkungan awal yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting dari
kegiatan proyek, serta menelaah komponen kegiatan sebagai sumber dampak.
Metode Prakiraan Dampak Penting umumnya mencakup metode prakiraan besarnya
dampak dan metode penentuan sifat penting dampak. Prakiraan besaran dampak
(magnitude), dilakukan baik memakai metode formal maupun metode non formal
(Canter, 1979). Besarnya perubahan kualitas lingkungan karena kegiatan proyek bisa
dinyatakan dengan skala nilai tertentu. Nilai tersebut menjadi skala tingkat kualitas.
Adapun skala nilai yang dipakai yakni : 1 berarti nilai dampak sangat kecil, 2. berarti
nilai dampak kecil, 3. berarti nilai dampak sedang, 4. berarti nilai dampak besar, 5.
berarti nilai dampak sangat besar. Dalam menilai besaran dampak lingkungan bisa
dipilih dari empat (4) pendekatan, yakni : (1) Model matematik, (2) Penilaian para ahli,
(3) Pendekatan analogi, dan (4) Penggunaan standar baku mutu (Anonim, 2012b).
Menurut Permen LH No. 16 Tahun 2012 (Anonim, 2012b), evaluasi dampak yang
bersifat holistik adalah telaahan secara totalitas terhadap beragam dampak penting
hipotetik lingkungan hidup, dengan sumber usaha dan/atau kegiatan penyebab
dampak. Beragam komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting tersebut
(baik positif maupun negatif) ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan
saling pengaruh-mempengaruhi, sehingga diketahui sejauh mana perimbangan
dampak penting yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif.
Metode rencana pengelolaan lingkungan memakai 3 pendekatan, yakni : pendekatan
teknologi, pendekatan sosial ekonomi, dan pendekatan institusi. Sedangkan metode
pemantauan mencakup juga penentuan lokasi pemantauan, dan frekuensi
pemantauan. Metode pemantauan bisa dilakukan dengan pengamatan dan survei
lapangan (Green, 1979).
3. Hasil dan Pembahasan
A. Prakiraan dampak Penting
Berikut ini ditampilkan contoh prakiraan besar dampak dan penentuan sifat penting
dampak untuk dampak penurunan kualitas udara akibat pengoperasian incinerator.
Kondisi Sebelum Proyek :
Kondisi lingkungan awal sebelum adanya kegiatan ini diketahui melalui sampling
kualitas udara ambien yang dilakukan di dalam dan luar rencana Pengolahan Limbah
Medis dengan Incinerator yaitu untuk parameter CO sebesar < 0,1ppm dan debu
sebesar 0,045 mg/m3. Nilai tersebut menunjukkan bahwa dampak ini termasuk dalam
skala kondisi lingkungan yang masih baik (4).
Kondisi Masa Depan Tanpa Proyek:
Kondisi lingkungan dengan dampak ini di masa mendatang tanpa adanya proyek
diprakirakan masih tetap baik (4) dengan parameter CO sebesar ± 0,1 ppm dan debu
sebesar 0,5 mg/m3, asumsi ada pertambahan sedikit dari dampak yang dihasilkan
melalui aktivitas industri sekitar.
Kondisi Masa Depan Dengan Proyek :
Berdasarkan Gambar 5. didapatkan bahwa konsentrasi tertinggi masing-masing
parameter terjadi pada jarak 0,1 km atau 100 m dari sumber emisi incenerator, dimana
konsentrasi Debu, SOx, NOx, CO, dan Hidrokarbon masing-masing sebesar 1,324847
µg/m3, 6,624236 µg/m3, 7,949083 µg/m3, 2,649694 µg/m3 dan 0,927393 µg/m3.
MODEL DISPERSI DENGAN EMISI SESUAI BAKU MUTU
INCENERATOR
C (ug/m³)
10
Debu
5
SOx
0
-5
0
0,2
0,4
0,6
X (km)
0,8
1
NOx
1,2
CO
Gambar 5. Grafik Dispersi Polutan Dengan Kondisi Emisi Incenerator
Konsentrasi parameter tersebut semuanya masih dibawah Baku Mutu Ambien
(Anonim, 2009). Kondisi masa depan ini diambil dari hasil simulasi dispersi polutan
diatas ditambah dengan kondisi sebelum proyek, maka termasuk dalam kondisi
lingkungan sedang (3). Dengan demikian besar skala dampak adalah 4-3 = 1 (skala
besar dampak kecil) berdasarkan Tabel 1, Tabel 2, dan Tabel 3.
Tabel 1 Perkiraan Besaran Dampak Penurunan Kualitas Udara
Skala Besar Dampak
2
3
Sedang
Besar
Skala Kondisi Lingkungan
4
3
2
Baik
Sedang
Jelek
Jumlah debu
Jumlah debu
Jumlah debu
0.016-0.05
0.06-0.23
0.24-0.30
3
3
3
mg/Nm
mg/Nm
mg/Nm
0
Sangat Kecil
1
Kecil
5
Sangat Baik
Jumlah debu 03
0.015 mg/Nm
4
Sangat Besar
1
Sangat Jelek
Jumlah debu
3
>0.30 mg/Nm
Tabel 2 Perkiraan Sifat Penting Dampak Penurunan Kualitas Udara
Kriteria
Sifat
Penting
Dampak
Deskripsi
Luas persebaran
dampak
Masyarakat sekitar daerah proyek yaitu desa kletek,
dengan jumlah penduduk yang terkena dampak 2000
orang dalam batas ekologis dari 6844 orang.
Wilayah persebaran akan meliputi 1 desa, yaitu Desa
Kletek
Lamanya dampak
berlangsung
Dampak akan berlangsung selama kegiatan operasi CV
Rojo Koyo berlangsung
Intensitas dampak
Konsentrasi parameter tersebut
dibawah Baku Mutu Ambien
Komponen lingkungan
lain yang terkena
dampak
Komponen lain yang terkena dampak adalah gangguan
kesehatan masyarakat
Sifat kumulatif dampak
Dampak tidak bersifat kumulatif dan berlangsung lama
-P
Berbalik tidaknya
dampak
Dampak tidak berbalik dengan intensitas tinggi
sehingga memiliki efek majemuk terhadap lingkungan
lainnya.
-P
Jumlah manusia
terkena dampak
yang
semuanya
masih
-P
-TP
-P
-TP
-TP
Tabel 3. Batasan Penting/Tidak Penting Dampak Penurunan Kualitas Udara
NO
Kriteria
TIDAK PENTING
PENTING
1.
Jumlah Manusia
Terkena Yang
Akan Terkena
Dampak
Jumlah manusia yang akan
terkena
dampak
penurunan
kualitas udara berkisar antara 2130%
Jumlah manusia yang terkena
dampak penurunan kualitas
udara lebih dari 30 %
2.
Luas wilayah
persebaran
dampak
Wilayah persebaran dampak lebih
kecil dari wilayah Kabupaten
Wilayah persebaran dampak
melampaui wilayah kabupaten.
3.
Lamanya Dampak
Berlangsung
Dampak berlangsung lama tetapi
tidak melebihi masa konstruksi
Dampak berlangsung sampai
dengan tahap operasi
4.
Intensitas Dampak
5.
Banyaknya
Komponen
Lingkungan
Lainnya Yang
Akan Terkena
Dampak
Satu
komponen
lainnya
6.
Sifat Kumulatif
Dampak
Penurunan kualitas udara bersifat
tidak kumulatif, waktu tidak terlalu
lama pada wilayah yang tidak luas
Penurunan
kualitas
udara
bersifat tidak kumulatif, waktu
relatif lama dengan wilayah
persebaran yang luas
7.
Berbalik Atau
Tidak Berbaliknya
Dampak
Penurunan kualitas udara tidak
berbalik dengan intensitas rendah,
tidak memiliki efek majemuk
terhadap lingkungan lainnya.
Penurunan kualitas udara tidak
berbalik
dengan
intensitas
tinggi sehingga memiliki efek
majemuk terhadap lingkungan
lainnya.
-
SO2
NOx
CO
Debu
< 0,100 ppm
< 0,05 ppm
< 20 ppm
3
< 0.26 mg/m
lingkungan
-
SO2
NOx
CO
Debu
> 0,100 ppm
> 0,05 ppm
> 20 ppm
3
> 0.26 mg/m
Lebih dari satu
lingkungan lainnya
komponen
Dengan demikian dampak penurunan kualitas udara dari kegiatan pengoperasian
incinerator tahap operasi dikategorikan sebagai dampak negatif penting (-P).
B. Evaluasi Dampak Penting
Evaluasi dampak penting secara holistik dimaksudkan untuk menelaah segenap
dampak penting yang timbul dari Rencana Kegiatan Pengolahan Limbah Medis
Dengan Incinerator. Pemahaman secara menyeluruh terhadap dampak penting ini
akan memberikan kemudahan bagi penyusunan arahan pengelolaan lingkungan dan
sekaligus landasan bagi penilaian kelayakan kegiatan ditinjau dari aspek lingkungan.
Pada tahap operasi, dampak penting yang muncul adalah (1) terbukanya kesempatan
kerja; (2) peningkatan pendapatan yang bersumber dari kegiatan mobilisasi tenaga
kerja dan (3) penurunan kualitas udara ; (4) gangguan kesehatan masayarakat yang
bersumber dari kegiatan pengoperasian incinerator. Pada tahap pasca operasi,
dampak penting yang muncul adalah (5) kehilangan kesempatan kerja (pekerjaan)
yang bersumber dari kegiatan penanganan tenaga kerja. Dari hasil prakiraan dampak
telah dilakukan telaah holistik dengan deskripsi menggunakan bagan alir untuk menilai
perimbangan dampak positif dan negatif. Dari hasil penilaian dampak positif lebih
dominan dibandingkan dampak negatif.
Gambar 6 Dampak-Dampak Lingkungan yang Tercantum Dalam RKL-RPL
Pada Gambar 6 diatas, menurut Permen LH No. 16 Tahun 2012 (Anonim, 2012b),
selain dampak penting hipotetik hasil pelingkupan pada KA-ANDALyang harus dikelola
dan dipantau dalam RKL-RPL, ada juga dampak tidak penting hipotetik yang dapat
dimasukkan dalam RKL-RPL untuk dikelola dan dipantau juga. Dalam dokumen RKLRPL Pengolahan Limbah Medis dengan Insinerator ini ,selain mengelola 5 dampak
penting hipotetik dikelola juga 4 dampak tidak penting yaitu sikap dan persepsi
masyarakat, timbulan limbah B3, penurunan kualitas air dan gangguan kenyamanan
lalu lintas. Diharapkan RKL-dan RPL yang disusun ini akan effektif untuk dilaksanakan
(Pölönen, et al, 2011).
Sidang Tim Teknis untuk membahas dokumen ANDAL dan RKL-RPL ini telah
dilaksanakan tanggal 9 Januari 2014 dan dilanjutkan dengan Sidang Komisi AMDAL
tanggal 10 Januari 2014. Masih diperlukan koreksi dokumen ANDAL dan RKL-RPL
oleh tim studi Amdal sebelum pemrakarsa dapat memperoleh Surat Kelayakan
Lingkungan dan Izin Lingkungan (Pischke & Cashmore, 2006). Agar proses perijinan
ini bisa lancar diperlukan kerjasama yang baik antara tim studi Amdal dengan
Kementerian Lingkungan Hidup (Morrison & Bailey, 2009).
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil evaluasi dampak dan arahan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup, tim studi AMDAL merekomendasikan :
1. Bahwa rencana kegiatan ini memiliki dampak besar dan penting namun dapat
dikelola sesuai dengan arahan pengelolaan.
2. Dengan dikelolanya semua dampak besar dan penting maka dapat disimpulkan
bahwa rencana kegiatan lingkungan ini layak lingkungan.
3. Kelayakan lingkungan ini diberikan dengan persyaratan sebagai berikut:
a) Pemrakarsa sanggup melaksanakan semua yang tercantum di dalam RKL dan
RPL baik secara institusi, finansial, maupun teknologi yang telah disepakati.
b) Rencana tata ruang sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan
c) Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak mengganggu nilai-nilai social atau
pandangan masyarakat (etnic view)
d) Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak mempengaruhi dan/atau menganggu
entitas ekologis yang merupakan
 Entitas dan/atau spesies kunci (key species)
 Memiliki nilai penting secara ekologis (ecological importance)
 Memiliki nilai penting secara ekonomi (economic importance)
 Memiliki nilai penting secara ilmiah (scientific importance)
e) Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak menimbulkan gangguan terhadap usaha
dan/atau kegiatan yang telah berada di sekitar rencana lokasi usaha dan/atau
kegiatan
f) Tidak dilampauinya daya dukung dan daya tamping lingkungan hidup dari lokasi
rencana usaha dan/atau kegiatan.
g) Pemrakarsa menyusun laporan pemantauan pelaksanaan RKL, RPL minimal 6
bulan sekali sesuai dengan KepMenLH No. 45 Tahun 2005.
Berdasarkan rencana kegiatan yang telah telah dipaparkan pada Bab 1ANDAL dan
Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dipaparkan pada Bab 2 RKL-RPL,
beserta saran dan masukan pada Rapat Tim Teknis dan Komisi AMDAL maka
Pengolahan Limbah Medis dengan Incinerator di Kabupaten Sidoarjo ini membutuhkan
beberapa Izin Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), yaitu:
1. Izin Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3) dengan thermal
2. Izin pengangkutan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3)
3. Izin penyimpanan sementara Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3)
4. Izin Pengoperasian IPAL
5. Ucapan terima kasih
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Ketua dan Semua Anggota Tim Studi
AMDAL ini atas kerjasama dalam penyusunan dokumen AMDAL. Ucapan terima kasih
juga kepada pemrakarsa yang telah membiayai studi AMDAL ini.
6. Daftar Pustaka
Alshuwaikhat, H. M. (2005). “Strategic environmental assessment can help solve
environmental impact assessment failures in developing countries”.
Environmental Impact Assessment Review, 25(4), 307-317. doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.eiar.2004.09.003
Anonim (2002); “Himpunan Peraturan Perundang-undangan di Bidang Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Pengendalian Dampak Lingkungan di Era Otonomi
Daerah”. Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Jakarta
Anonim (2009); “Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 10 Tahun 2009 tentang Baku
Mutu Ambien” Badan Lingkungan Hidup Propinsi Jawa Timur, Surabaya.
Anonim (2012a); “Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2012 tentang
Jenis Rencana Usaha dan atau Kegiatan yang Wajib Memiliki AMDAL,
Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Jakarta
Anonim (2012b); “Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 tahun 2012
tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup” Kementerian
Negara Lingkungan Hidup, Jakarta
Anonim (2012c); “Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 tahun 2012
tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL dan Izin
Lingkungan” Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Jakarta
Anonim (2013); “Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 8 tahun 2013
tentang Tata Laksana Penilaian dan Pemeriksaan Dokumen Lingkungan Hidup
serta Penerbitan Izin Lingkungan” Kementerian Negara Lingkungan Hidup,
Jakarta
Canter, L. W. And Loren G.H. (1979). “Handbook of Variable for Environmental Impact
Assessment”; Ann Arbor Science, Michigan, USA.
Green, R. H. (1979); “Sampling Design and Statistical Methods for Environmental
Biologists”; John Wiley and Sons; New York; 527 pp.
Hourdequin, M., Landres, P., Hanson, M. J., & Craig, D. R. (2012); “Ethical implications
of democratic theory for U.S. public participation in environmental impact
assessment”. Environmental Impact Assessment Review, 35(0), 37-44. doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.eiar.2012.02.001
Morrison-Saunders, A., & Bailey, M. (2009); “Appraising the role of relationships
between regulators and consultants for effective EIA”,. Environmental Impact
Assessment
Review,
29(5),
284-294.
doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.eiar.2009.01.006
Mukono, H.J. (1997); “Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan
Saluran Pernafasan”; Airlangga University Press.
O'Faircheallaigh, C. (2009); “Public participation and environmental impact
assessment: Purposes, implications, and lessons for public policy making”.
Environmental
Impact
Assessment
Review,
30(1),
19-27.
doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.eiar.2009.05.001
Pischke, F., & Cashmore, M. (2006); “Decision-oriented environmental assessment:
An empirical study of its theory and methods”, Environmental Impact
Assessment
Review,
26(7),
643-662.
doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.eiar.2006.06.004
Pölönen, I., Hokkanen, P., & Jalava, K. (2011); “The effectiveness of the Finnish EIA
system — What works, what doesn't, and what could be improved?”,
Environmental Impact Assessment Review, 31(2), 120-128. doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.eiar.2010.06.003
Sasse, L. (1998); “Decentralised Wastewater Treatment in Developing Countries”,
BORDA (Bremen Overseas Research and Development Association),
Germany.
Snell, T., & Cowell, R. (2006); “Scoping in environmental impact assessment:
Balancing precaution and efficiency?” Environmental Impact Assessment
Review, 26(4), 359-376. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.eiar.2005.06.003
Tchobanoglous G., Theises H. and Virgil S.,(1993); Integrated Solid Waste
Management, Mc.Graw Hill Publishing Company, New York.
Tsiliyannis,C.A, (2013); “Hazardous Waste Incinerators under Waste Uncertainty :
balancing and throughput maximization via heat recuperation”, Elsevier, Waste
Management Volume 33-9, pp 1800- 1824.
Download