T1_292009360_BAB II

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Belajar
Menurut Morgan et.al (dalam Rifa’i dan Anni 2009) menyatakan
bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif permanen, yang
terjadi karena hasil dari praktik atau pengalaman. Dalam teori behavioristik,
belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi
antara stimulus dan respon. Menurut teori ini yang terpenting dalam belajar
adalah masukan (input) yang berupa stimulus dan keluaran (output) yang
berupa respon. Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan,
kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi
manusia. Oleh karena itu dengan menguasai prinsip-prinsip dasar tentang
belajar, seseorang mampu memahami bahwa aktivitas belajar itu memegang
peranan penting dalam proses psikologis.
Slameto (2003) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. Selanjutnya Skinner (1958), belajar adalah merupakan suatu
proses atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
Kemudian Hintzman dalam Muhibbinsyah (2010) dalam bukunya the
psychology of learning and memory berpendapat leraning is a change in
organism due to experience which can affact the organism’s behavior. Artinya
belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia
atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat memenuhi tingkah laku
organisme tersebut.
Dari beberapa pengertian belajar di atas, maka peneliti menyimpulkan
bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang kearah
7
8
yang positif baik menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor sebagai
hasil proses latihan dan pengalaman yang didapat dari lingkungan.
2.1.2 Prinsip - prinsip belajar
Gagne membagi prinsip belajar ke dalam dua kategori yaitu prinsip
belajar internal dan prinsip belajar eksternal. Prinsip belajar internal tersebut
adalah keterdekatan, pengulangan, dan penguatan. Sedangkan prinsip
eksternalnya adalah informasi faktual, kemahiran intelektual dan strategi.
Sedangkan Davies (1991) mengingatkan beberapa hal yang dapat menjadikan
kerangka dasar bagi penerapan prinsip-prinsip belajar dalam proses
pembelajaran yaitu :
a.
Hal apapun yang dipelajari murid, maka ia harus mempelajarinya
sendiri. Tidak seorangpun yang dapat melakukan kegiatan belajar
tersebut untuknya.
b.
Setiap murid belajar menurut tempo (kecepatannya) sendiri dan untuk
setiap kelompok umur, terdapat variasi dalam kecepatan belajar.
c.
Seorang murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera
diberikan penguatan (reinforcement).
d.
Penguasaan secara penuh dari setiap langkah-langkah pembelajaran,
memungkinkan murid belajar secara lebih berarti.
e.
Apabila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri,
maka ia akan lebih termotivasi untuk belajar dan ia akan belajar dan
mengingat dengan baik.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, maka peneliti menyimpulkan
bahwa prinsip belajar adalah mengarahkan guru pada hal - hal yang harus
dilakukan dalam pembelajaran yang terarah dan terorganisir, agar potensi yang
dimiliki siswa dapat meningkat secara komprehensif serta keaktifan siswa
dalam pembelajaran menjadi meningkat.
9
2.1.3 Aktivitas Belajar
Anitah (2008) menyatakan bahwa proses belajar merupakan rangkaian
aktivitas siswa melalui pengalaman belajar (learning experience) untuk
membentuk perilaku siswa. Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar
merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk
belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri
perilaku seperti, sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau
mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang
diberi tugas belajar dan lain sebagainya.
Menurut Diendrich dalam (Sardiman, 2011) menggolongkan aktivitas
sebagai berikut: 1) Visual activities, misalnya:
gambar, demonstrasi, percobaan.
membaca, memperhatikan
2). Oral activities, misalnya: bertanya,
memberikan saran, mengeluarkan pendapat dan diskusi.
activities, misalnya:
3). Listening
mendengarkan uraian, diskusi dalam kelompok.
4).
Writing activities, misalnya: menulis laporan, menyalin hasil laporan. 5).
Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, dan membuat
diagram. 6). Motor activities, misalnya: melakukan percobaan, 7). Mental
activities, misalnya:
mengingat, menganalisis, mengambil keputusan,
memecahkan permasalahan 8). Emotional activities, misalnya: Berani dalam
mengeluarkan pendapat.
Trinandita (1984) menyatakan bahwa hal yang paling mendasar yang
dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa. Keaktifan siswa
dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara
guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan
mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing –
masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin.
Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya
pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.
10
Dari pendapat para ahli di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa
aktivitas siswa yang terjadi selama proses pembelajaran harus menyebabkan
interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun antar siswa sendiri.
Kegiatan-kegiatan tersebut terdiri dari bertanya, mengajukan pendapat,
mengerjakan tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama
dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
2.1.4 Hasil belajar
Menurut Nasution (1996) hasil belajar adalah kesempurnaan yang dicapai
seseorang dalam berpikir, merasa dan berbuat. Selain itu menurut Oemar
Hamalik (2001) hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi
perubahan tingkah laku pada orang tersebut. Selanjutnya menurut Horward
Kingsley membagi tiga macam hasil belajar yakni, keterampilan dan
kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita. Kemudian Gagne
membagi lima kategori hasil belajar yakni, informasi verbal, keterampilan
intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motoris. Menurut Anni
(2007) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang
diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Oleh karena itu,
hasil belajar dapat dilihat dari sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
dimiliki oleh pembelajar setelah mengalami proses belajar. Sedangkan Bloom
(dalam Anni, 2007) mengemukakan bahwa belajar dibagi menjadi tiga
taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu ranah kognitif, ranah
afektif, dan ranah psikomotorik.
Dari pendapat para ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa hasil belajar
merupakan perubahan pola dari tindakan, nilai, sikap apresiasi dan
keterampilan sebagai hasil pengalaman kegiatan belajar. Kegiatan belajar
tersebut melibatkan tiga ranah yang melibatkan pemikiran, sikap serta
keterampilan siswa.
11
2.2 IPA dan Pengajarannya
IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh tidak
hanya produk saja, akan tetapi juga mencakup pengetahaun seperti
keterampilan keingintahuan, keteguhan hati, dan juga keterampilan dalam hal
melakukan penyelidikan ilmiah. Para ilmuwan IPA dalam mempelajari gejala
alam, menggunakan proses dan sikap ilmiah. Proses ilmiah yang dimaksud
misalnya melalui pengamatan, eksperimen, dan analisis yang bersifat rasional.
Sedangkan sikap ilmiah misalnya objektif dan jujur dalam mengumpulkan
data yang diperoleh. Kamdi (2010) mengemukakan bahwa dengan
menggunakan proses dan sikap ilmiah itu saintis memperoleh penemuanpenemuan atau produk yang berupa fakta, konsep, prinsip, dan teori. IPA
sebagai produk atau isi mencakup fakta, konsep, prinsip, hukum - hukum, dan
teori sains.
1) Fakta dalam IPA adalah pertanyaan - pertanyaan tentang benda yang
benar ada, atau peristiwa yang betul terjadi dan sulit dikonfirmasi secara
obyektif. Contoh
atom hydrogen mempunyai satu elektron, merkuri
adalah planet terdekat dengan matahari, ular termasuk golongan reptilia.
2) Konsep IPA adalah suatu ide yang mempersatukan fakta - fakta IPA.
Konsep
merupakan
penghubung
antara
fakta-fakta
yang
ada
hubunganya. Contoh semua zat tersusun atas partikel - partikel, benda benda hidup dipengaruhi oleh lingkungan, materi akan berubah tingkat
wujudnya bila menyerap atau melepaskan energi.
3) Prinsip IPA adalah generalisasi tentang hubungan diantara konsep konsep IPA. Contoh udara yang panas dapat menimbulkan pemuaian,
adalah prinsip yang menghubungkan konsep-konsep udara, panas dan
pemuaian.
4) Hukum alam adalah prinsip - prinsip yang sudah diterima meskipun juga
bersifat relatif tetapi karena mengalami pengujian - pengujian yang lebih
12
keras daripada prinsip, maka hukum alam bersifat lebih kekal. Teori
ilmiah merupakan kerangka yang lebih luas dari fakta - fakta, konsep konsep, dan prinsip - prinsip yang saling berhubungan. Teori ilmiah
membantu kita memahami, memprediksi dan kadang mengendalikan
berbagai gejala alam. Contoh teori meteorologi membantu para ilmuwan
untuk memahami mengapa dan bagaimana kabut dan awan terbentuk
(Srini, 2001).
Jadi pada hakekatnya IPA terdiri dari tiga komponen, yaitu sikap ilmiah,
proses ilmiah, dan produk ilmiah. Hal ini berarti bahwa IPA tidak hanya terdiri
atas kumpulan pengetahuan atau berbagai macam fakta yang dihafal,
melainkan IPA bersumber dari berbagai komponen yang membentuknya. IPA
juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dalam
mempelajari gejala - gejala alam yang belum dapat direnungkan. IPA
menggunakan apa yang telah diketahui sebagai batu loncatan untuk
memahami apa yang belum diketahui. Suatu masalah IPA yang telah
dirumuskan dan kemudian berhasil dipecahkan akan memungkinkan IPA
untuk berkembang secara dinamis.
Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa pembelajaran IPA lebih
menekankan pada pendekatan keterampilan proses. Siswa dituntun untuk
menemukan fakta - fakta, membangun konsep, teori dan sikap ilmiah. Siswa
dapat berpengaruh positif terhadap kualitas maupun produk pendidikan.
Muchtar dkk (2004) menjelaskan bahwa prinsip - prinsip pembelajaran dalam
mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di sekolah dasar sebagai berikut :
a) Materi pembelajaran di susun berdasarkan penyesuaian terhadap
kurikulum berbasis kompetensi (KBM) dan memiliki keterbacaan tinggi
agar siswa tidak bosan dalam membacanya.
b) Pemberian Ilustrasi, dimaksudkan untuk memberikan penjelasan kepada
siswa dengan mempergunakan contoh - contoh gambar dari setiap materi
13
belajar dan untuk manarik minat siswa terhadap mata pelajaran ilmu
pengetahuan alam.
c) Aktivitas kegiatan merupakan penerapan percobaan-percobaan yang
dilakukan siswa baik individu maupun kelompok yang bertujuan agar
siswa memiliki pengalaman nyata dalam memahami suatu materi pelajaran
yang diberikan.
d) Aktivitas tugas, pemberian tugas baik individu maupun kelompok
dimaksudkan agar siswa aktif dan dapat memecahkan masalah yang
ditemukan.
Berdasarkan uraian di atas, maka pembelajaran IPA
diorientasikan
pada
tercapainya
tujuan
pembelajaran.
kelas V SD/MI
Melalui
model
pembelajaran Goup Investigation (GI) diharapkan adanya peningkatan keaktifan
dan hasil belajar IPA kelas V SDN Salatiga 03.
2.2 Model Pembelajaran Group Investigation (GI)
Menurut Depdiknas (2007) pada pembelajaran ini guru seyogyanya
mengarahkan, membantu para siswa menemukan informasi, dan berperan
sebagai salah satu sumber belajar, yang mampu menciptakan lingkungan sosial
yang dicirikan oleh lingkungan demokrasi dalam proses ilmiah. Menurut
Winataputra (1992) sifat demokrasi dalam kooperatif tipe GI ditandai oleh
keputusan - keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh
pengalaman kelompok dalam kontek masalah yang menjadi titik sentral kegiatan
belajar. Guru dan murid memiliki status yang sama dihadapan masalah yang
dipecahkan namun dengan peranan yang berbeda. Jadi tanggung jawab utama
guru adalah memotivasi siswa untuk bekerja secara kooperatif dan memikirkan
masalah sosial yang berlangsung dalam pembelajaran, serta guru membantu
siswa mempersiapkan sarana pendukung. Sarana pendukung yang dipergunakan
untuk melaksanakan model ini adalah segala sesuatu yang dibutuhan siswa untuk
14
dapat menggali berbagai informasi yang sesuai serta dapat menyelesaikan
permasalahan yang ada.
Ibrahim dkk (2000) menyatakan dalam pembelajaran model Group
Investigation (GI), yaitu guru membagi kelas menjadi kelompok - kelompok
dengan anggota 5 atau 6 siswa heterogen dengan mempertimbangkan keakraban
dan minat yang sama dalam topik tertentu. Siswa memilih sendiri topik yang
akan dipelajari, dan kelompok merumuskan penyelidikan dan menyepakati
pembagian kerja untuk menangani konsep - konsep penyelidikan yang telah
dirumuskan. Dalam diskusi kelas ini diutamakan keterlibatan pertukaran
pemikiran para siswa. Menurut Slavin (Asthika, 2005) mengemukakan tahapan tahapan dalam menerapkan model pembelajaran
group investigation adalah
sebagai berikut :
a. Tahap Pengelompokan (Grouping)
Yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta
membentuk kelompok investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai 5
orang. Pada tahap ini: 1) siswa mengamati sumber, memilih topik, dan
menentukan kategori-kategori topik permasalahan, 2) siswa bergabung pada
kelompok-kelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik
untuk diselidiki, 3) guru membatasi jumlah anggota masing-masing kelompok
antara 4 sampai 5 orang berdasarkan keterampilan dan keheterogenan.
b. Tahap Perencanaan (Planning)
Pada tahap ini siswa bersama-sama merencanakan tentang 1) Apa yang
mereka pelajari, 2) bagaimana mereka belajar, 3) siapa dan melakukan apa, dan
4) untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut.
15
c. Tahap Penyelidikan (Investigation)
Tahap Investigation, yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi siswa.
Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan sebagai berikut, 1) siswa
mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulkan terkait
dengan permasalahan-permasalahan yang diselidiki. 2) masing-masing
anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok. 3)
siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan
pendapat. Misalnya 1) siswa menemukan cara-cara pembuktian sifat – sifat
cahaya, 2) siswa mencoba cara-cara yang ditemukan dari hasil pengumuplan
informasi terkait dengan topik bahasan yang diselidiki. 3) siswa berdiskusi,
mengklarifikasi tiap cara atau langkah dalam pemecahan masalah tentang
topik bahasan yang diselidiki.
d. Tahap Pengorganisasian (Organizing)
Yaitu tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan siswa sebagai
berikut, 1). Anggota kelompok menentukan pesan-pesan penting dalam
proteknya masing-masing, 2). Anggota kelompok merencanakan apa yang
akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya, 3) wakil dari
masing-masing kelompok membentuk panitia diskusi kelas dalam presentasi
investigasi.
e. Tahap Presentasi (Presenting)
Tahap presenting yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan
pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut, (1). Penyajian
kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi bentuk penyajian.
(2). Kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif sebagai
pendengar. (3). Pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan
pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang disajikan. Misalnya 1) siswa
16
yang bertugas untuk mewakili kelompok menyajikan hasil atau simpulan dari
investigasi yang telah dilaksanakan. 2) siswa yang tidak sebagai penyaji,
mengajukan pertanyaan, saran tentang topik yang disajikan. 3) siswa mencatat
topik yang disajikan oleh penyaji.
f. Tahap evaluasi (evaluating)
Pada tahap evaluating atau penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa.
Pada tahap ini kegiatan guru atau siswa dalam pembelajaran adalah sebagai
berikut, 1) siswa menggabungkan masukan-masukan tentang topiknya,
pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang pengalaman-pengalaman
efektifnya. 2) guru dan siswa mengkolaborasi, mengevaluasi tentang
pembelajaran yang telah dilaksanakan. 3) penilaian hasil belajar haruslah
mengevaluasi tingkat pemahaman siswa. Misalnya, 1) siswa merangkum dan
mencatat setiap topik yang disajikan. 2) siswa menggabungkan tiap topik yang
diinvestigasi dalam kelompoknya dan kelompok yang lain. 3) guru
mengevaluasi dengan memberikan tes uraian pada akhir siklus.
2.3.1 Kelebihan Model pembelajaran Group Investigation (GI)
Setiawan
(2006)
mendeskripsikan
beberapa
kelebihan
pembelajaran Group Investigation (GI) yaitu sebagai berikut :
1) Secara Pribadi
a)
Dalam proses belajar siswa dapat bekerja secara bebas.
b)
Memberi semangat untuk berinisiatif, kreatif, dan aktif.
c)
Rasa percaya diri dapat lebih meningkat.
d)
Dapat belajar untuk memecahkan dan menangani suatu
masalah.
dari
model
17
2) Secara Sosial
a) Meningkatkan belajar bekerjasama.
b) Belajar berkomunikasi baik dengan teman sendiri maupun
guru.
c) Belajar berkomunikasi yang baik secara sistematis.
d) Belajar menghargai pendapat orang lain.
e) Meningkatkan partisipasi dalam membuat suatu keputusan.
3) Secara Akademis
a) Siswa terlatih untuk mempertanggung jawabkan jawaban yang
diberikan.
b) Bekerja secara sistematis.
c) Mengembangkan dan melatih keterampilan ilmu IPA dalam
berbagai bidang.
d) Merencanakan dan mengorganisasikan pekerjaannya.
e) Mengecek kebenaran jawaban yang mereka buat.
2.3.2 Kelemahan Model pembelajaran Group Investigation (GI)
Model Pembelajaran Group Investigation selain memiliki kelebihan juga
terdapat beberapa kelemahan, diantaranya sebagai berikut :
a) Sedikitnya materi yang tersampaikan pada satu kali pertemuan
b) Sulitnya memberikan penilaian secara personal.
c) Tidak
semua
topik
cocok
dengan
model
pembelajaran
GI,
modelpembelajaran GI cocok untuk diterapkan pada suatu topik yang
menuntut siswa untuk memahami suatu bahasan dari pengalaman
yang dialami sendiri.
d) Diskusi kelompok biasanya berjalan kurang efektif.
e) Siswa yang tidak tuntas memahami materi prasyarat akan mengalami.
18
Berdasarkan pemaparan mengenai model pembelajaran GI tersebut, jelas
bahwa model pembelajaran GI mendorong siswa untuk belajar lebih aktif dan
lebih bermakna. Artinya siswa dituntut selalu berfikir tentang suatu persoalan
dan mencari sendiri secara penyelesaiannya. Dengan demikian siswa akan
lebih terlatih untuk selalu menggunakan keterampilan pengetahuannya,
sehingga pengetahuan dan pengalaman belajar siswa akan tertanam untuk
jangka waktu yang cukup lama (Setiawan, 2006).
2.4 Teori Belajar yang Mendasari model pembelajaran group Investigation (GI).
2.4.1 Teori Kognitif
Teori kognitif berpendapat bahwa manusia membangun kemampuan
kognitifnya melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap
lingkungan. Prinsip kognitif banyak dipakai dalam dunia pendidikan,
khususnya terlihat pada perancangan suatu sistem intruksional. Prinsip-prinsip
tersebut anatar lain :
1. Seseorang yang belajar akan lebih mampu mengingat dan memahami
sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika
tertentu.
2. Penyusunan materi pelajaran harus dari sederhana ke kompleks.
3. Belajar dengan memahami akan jauh lebih baik daripada hanya dengan
menghafal.
Piaget berpendapat bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahapan
perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Tahapan tersebut dibagi menjadi
empat tahap, yaitu tahap sensori motor, tahap pra operasioal, konkrit dan
abstrak.
19
2.4.2 Teori Kontruktivisme
Menurut Thobroni (2011), teori kontruktivisme memberikan keaktifan
terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan
dan
teknologi.
Adapun
karakteristik
atau
ciri
pembelajaran
secara
konstruktivisme adalah sebagai berikut :
a. Memberi peluang kepada pembelajar untuk membina pengetahuan baru
melalui keterlibatannya dalam dunia yang sebenarnya.
b. Mendorong ide - ide pembelajar sebagai panduan merancang pengetahuan
c. Mendukung pembelajaran secara kooperatif
d. Mendorong dan menerima usaha dan hasil yang diperoleh pembelajar
e. Mendorong pembelajar mau bertanya dan berdialog dengan guru
f. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting
dengan hasil pembelajaran
g. Mendorong proses inkuiri pembelajar melalui kajian dan eksperimen
2.5 Pembelajaran IPA dengan menggunakan model Group Investigation (GI)
Pembelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajarann Group
Investigation (GI) yaitu guru memilih materi yang sesuai untuk diajarkan
dengan menggunakan model pembelajaran GI. Misalnya pada materi IPA
kelas V mengenai sifat – sifat cahaya. Alasannya dengan mempelajari materi
ini siswa secara berkelompok dapat melakukan percobaan terhadap sifat – sifat
cahaya seperti cahaya merambat lurus, cahaya dapat menembus benda bening,
cahaya dapat dipantulkan dan cahaya dapat dibiaskan. Sumber atau bahan bisa
digunakan berupa benda asli, seperti cahaya matahari, cahaya listrik, cahaya
api, lampu senter, dan lain-lain sesuai dengan percobaan yang dilakukan. Hal
ini kemudian didiskusikan dengan anggota kelompok tentang hasil percobaan
tersebut.
20
2.6 Penelitian yang Relevan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh Apriliana,
Nining Ramadani (2011) dengan judul Penerapan Model Pembelajaran
Investigasi Kelompok (Group Investigation) Untuk Meningkatkan Pelajaran
IPA pada Siswa Kelas V SDN Soso 03 Kecamatan Gandusari Kabupaten
Blitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perolehan pada siklus I rata-rata
penerapan model pembelajaran GI diperoleh 76%. Pada siklus II
meningkat menjadi 83,6% kenaikan dari siklus I ke siklus II pada
penerapan pembelajaran IPA dengan model GI sebesar 7,6%. Aktivitas pada
siklus I rata-rata klasikal yang didapat yaitu 53,5 aktivitas siswa meningkat
pada siklus II yang mendapatkan rata-rata klasikal 70,5. Rata-rata hasil belajar
siswa pada siklus I meningkat, dari rata-rata 57,5 menjadi 70,5 pada
siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan pembelajaran
IPA secara bertahap pada siswa kelas V SDN Soso 03 Kec. Gandusari Kab.
Blitar dengan menggunakan model pembelajaran Group Investigation (GI).
Selain itu, Achmad Taufiq (2011) melalukan penelitian di Sekolah Dasar
Negeri Klampok 03 Singosari Malang, dengan judul PENINGKATAN
PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS IV MELALUI PENERAPAN
MODEL KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION di SDN KLAMPOK 03
SINGOSARI KABUPATEN MALANG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penggunaan model pembelajaran kooperatif group investigation (GI) untuk
pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Klampok 03 Singosari dengan standar
kompetensi. Memahami berbagai bentuk energi dan cara penggunaannya
dalam kehidupan sehari-hari dapat dilaksanakan dengan efektif. Keaktifan
siswa meningkat dari 53,33 pada awal siklus I menjadi 63,17 pada akhir siklus
II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 55,75 dan ketuntasan kelas
39,02% sebelum tindakan menjadi rata-rata 67,05 dan ketuntasan kelas
mencapai 65% pada akhir siklus II.
21
Dari beberapa kajian tentang penelitian tindakan kelas di atas, bisa
dijadikan acuan peneliti dalam memilih model pembelajaran dalam mengatasi
permasalahan pembelajaran khususnya pelajaran IPA. Dengan acuan yang
sudah didapat dari peneliti-peneliti sebelumnya dan melihat permasalahan
yang berada di lapangan, maka peneliti dalam penelitian tindakan kelas
khususnya mata pelajaran IPA ini mengambil judul
Penerapan Model
Pembelajaran Group Investigation (GI) Untuk Meningkatkan Keaktifan dan
Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPA Kelas V Sekolah Dasar Negeri
Salatiga 03 Tahun Ajaran 2012 / 2013.
2.7 Kerangka Berfikir
Bertolak dari pemikiran bahwa membawa siswa aktif dalam pembelajaran
akan memudahkan siswa menerima konsep yang harus dikuasainya secara
otomatis. Langkah membawa siswa aktif dalam belajar merupakan suatu
langkah yang efektif untuk menyampaikan suatu materi ajar, terutama pada
materi ajar cahaya dan sifatnya yang selama ini masih dirasakan belum cukup
baik, walaupun guru sudah menggunakan dan mengkolaborasikan beberapa
model pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas selama ini.
Dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation (GI) diharapkan
dapat mengatasi permasalahan tersebut. Kondisi akhir yang diharapkan adalah
meningkatnya keaktifan dan hasil belajar siswa. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat seperti bagan dibawah ini.
22
Hasil Akhir
Tindakan
Kondisi Awal
Guru :
Mengajar dengan
model
konvensional
Penerapan model
pembelajaran
group
investigation (GI)
Siswa :
Siklus 1 :
Menerapkan
model
pembelajaran GI
materi ajar cahaya
dan sifatnya
Keaktifan dan
hasil belajar
siswa rendah
Mengevaluasi kegiatan
pembelajaran pada siklus 1.
Mempersiapkan bahan yang
diperlukan siklus ke II
Melalui
penerapan
model
pembelajaran
group
investigation
(GI), diharapkan
dapat
meningkatkan
keaktifan dan
hasil belajar
siswa
khususnya pada
Siklus
:
mata II
pelajaran
Menerapkan model
IPA.
pembelajaran GI materi
ajar cahaya dan sifatnya
dengan maksimal.
Gambar 2.1
Skema kerangka berfikir
2.8 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian landasan teori dan kerangka berfikir diatas, maka hipótesis
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Melalui penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI), maka
dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 03
Salatiga pada mata pelajaran IPA tentang cahaya dan sifatnya semester II
tahun ajaran 2012 / 2013.
2. Dengan penggunaan model pembelajaran Group Investigation ( GI ), maka
hasil belajar IPA kelas V di Sekolah Dasar Negeri Salatiga 03 akan
meningkat.
Download