peran guru pendidikan agama islam dalam mencegah radikalisme

advertisement
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DALAM MENCEGAH RADIKALISME ISLAM
DI SMA SEJAHTERA 0I DEPOK
Rd. Arif Mulyadi
Dosen dan Ketua LP3M di STAI Madinatul Ilmi Depok
[email protected]
Lativa Novidasari
Pengajar di SD Cakrabuana Depok
[email protected]
ABSTRAK
Fakta-fakta menunjukkan bahwa ideologi radikal atau paham radikalisme
telah berkembang demikian marak sehingga menembus batas-batas pendidikan
formal dan nonfomal. Sekolah-sekolah menengah di perkotaan khususnya SMA
merupakan target potensial yang disasar kaum radikalis melalui kegiatan
ekstrakurikuler khususnya rohani Islam atau kegiatan rohis. Melalui kegiatan
rohis tersebut, yang sering kali mentornya dari sesama siswa atau alumni,
kaum radikalis berusaha merekrut siswa-siswa sekolah untuk dijadikan
pengikut mereka. Tulisan ini berusaha mengungkapkan bagaimana peran guru
Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mencegah paham radikalisme Islam di
SMA Sejahtera 01 Depok.
Kata- kata kunci: radikalisme, rohis, guru PAI.
PENDAHULUAN
Fenomena radikalisme Islam yang sering terjadi di beberapa
negara, terutama negara Timur Tengah bukanlah fenomena yang
baru dalam sejarah Islam. Banyak sekali faktor yang melatarbelakangi
munculnya fenomena tersebut, di antaranya adalah faktor budaya,
teologi, sosial ekonomi dan politik.
Sepertinya dari faktor teologi itulah muncul gerakan Islam
radikal pertama yang ditampilkan oleh kaum Khawarij, yaitu kaum
yang membangkang perintah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan
melakukan pemberontakan terhadap kepemimpinannya (Gulpaygani
2014, 340). Pembelotan ini pada akhirnya menjadi preseden buruk
pada perkembangan Islam kemudian.
Di Indonesia juga terjadi hal yang demikian meskipun kita
tidak boleh menyamakan antara kaum Khawarij dengan sekelompok
orang yang mengadakan pemberontakan terhadap suatu sistem yang
memang sudah ditetapkan oleh pemerintah yang sah karena mereka
mempunyai latar belakang yang bisa dikatakan berbeda.
Sebagaimana yang dilakukan oleh Kartosuwiryo yang dahulunya
menjadi teman Soekarno dalam melakukan perjuangan tetapi kemudian
Kartosuwiryo memisahkan diri dari Soekarno karena, beberapa alasan
di antaranya perbedaan pendapat tentang hukum yang digunakan di
Indonesia (Effendy dan Hadi 2007, 3).
Kemudian Kartosuwiryo dan pengikutnya berusaha membentuk
sebuah kelompok organisasi seperti Hizbut Tahrir, Kesatuan Aksi
Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikhwanul Muslimin, Partai
Keadilan Sejahtera (PKS), dan lain-lain. Mereka adalah kelompok
Islam garis keras yang ingin menjadikan syariat Islam sebagai hukum
di Indonesia. Mereka mendakwahkan maksud dan tujuannya kepada
masyarakat sekitar untuk mendukung keinginannya dalam mewujudkan
pemerintahan Islam di Indonesia (Effendy dan Hadi 2007, 3).
Dalam mendakwahkan maksud dan tujuannya mereka
menawarkan ideologi-ideologi mereka dengan menggunakan cara
kekerasan dan menampilkan aksi-aksi yang dapat merugikan banyak
orang. Akan tetapi selain itu, mereka juga menggunakan cara yang
halus bahkan hampir tidak kelihatan, yaitu dengan masuk ke dalam
lembaga-lembaga pendidikan, baik lembaga formal maupun nonformal
(Rokhmad 2012, 10).
50
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
Meskipun di dalam suatu lembaga pendidikan semua komponennya
telah diatur oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
dan Kementerian Agama (Kemenag), dalam hal ini adalah kurikulum
yang sudah dipastikan tidak mengandung unsur radikalisme Islam, tetapi
menurut Azyumardi Azra di dalam situs Republika Online, ternyata
pendidikan dan pembelajaran juga melibatkan hidden curriculum. Rohani
Islam (rohis) dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) merupakan salah
satu dari hidden curriculum yang sering ada di dalam lembaga pendidikan
(Azra 2015).
Adapun rohis dan beberapa kegiatan ekstrakuler lainnya seperti
halaqah atau mabit diadakan di sekolah dengan dalih untuk membentuk
individu-individu yang lebih agamis dikarenakan kurangnya jam
pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas. Awalnya kegiatan tersebut
memang di dasari dengan niat dan tujuan yang baik namun seiring
dengan berjalannya waktu kegiatan-kegiatan tersebut dijadikan sebagai
salah satu sumber yang paling efektif untuk menyebarkan paham
radikalisme di kalangan pelajar yang kemudian memicu peserta didik
untuk tidak toleran terhadap pihak lain (Rokhmad 2012, 3).
Momen dawrah, halaqah, mabit, dan juga rohis merupakan sasaran
empuk bagi mereka untuk menyebarkan benih-benih radikalisme.
Hal ini dikarenakan kegiatan tersebut terutama kegiatan rohis yang
ada di sebuah sekolah terkadang tidak diawasi langsung oleh gurugurunya, melainkan diserahkan langsung kepada alumi-alumni tersebut
yang sudah dianggap mumpuni dalam masalah ilmu yang berkaitan
dengan Islam, tanpa mereka ketahui di manakah para alumni tersebut
mendapatkan ilmu tentang Islam.
Di sini peran guru sangat penting dalam mencegah radikalisme
Islam di sekolah karena guru merupakan salah satu dari komponen
pendidikan yang mampu memberikan pengaruh terhadap pola pikir
siswa-siswinya, terutama sekali guru Pendidikan Agama Islam (PAI), yang
dipandang sebagai sosok yang sangat moderat dalam menyampaikan
ajaran Agama Islam di sekolah. Pasalnya, dalam Permendikbud atau
silabus yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang kemudian dijadikan
acuan dasar bagi Guru Pendidikan Agama Islam, materi pengajaran
tidak mengandung unsur radikalisme.
Guru PAI dituntut untuk dapat menciptakan iklim keagaman
yang sehat di sekolah agar peserta didik SMA terhindar dari paham
radikalisme Islam. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
51
PAI adalah dengan melakukan praktik deradikalisasi pendidikan Islam
melalui pengintegrasian nilai-nilai pendidikan antiradikalisme pada
pembelajaran PAI di SMA.
Tulisan ini merupakan hasil penelitian ilmiah tentang bagaimanakah
peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam mencegah radikalisme Islam
di sekolah yang objek penelitiannya adalah SMA Sejahtera 01 Depok Jl.
Anyelir Raya, yang memiliki kegiatan Kerohanian Islam (rohis) yang
sudah terindikasi sebagai salah satu cara yang digunakan oleh kelompok
umat Islam tertentu untuk meyebarkan paham radikalisme.
PEMBAHASAN
A.
Guru Pendidikan Agama Islam
1.Guru
Dalam UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan
bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, menilai dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini, pendidikan formal,
pendidikan dasar dan pendidikan menengah (UU RI 2006, 2).
Menurut Ali Rohmadi guru merupakan tenaga profesional yang
langsung melaksanakan proses pendidikan lapangan secara langsung.
Jadi, gurulah yang menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan
(Rohmadi 2004, 40). Adapun menurut Zamroni, guru adalah kreator
proses belajar mengajar dan ia adalah orang yang akan mengembangkan
suasana bebas bagi peserta didik untuk mengkaji apa yang menarik
minatnya, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batasbatas norma-norma yang ditegakkan secara konsisten (Zamroni 2001,
74-75).
Dalam literatur kependidikan Islam, seorang guru bisa disebut
dengan berbagai macam sebutan seperti sebagai ustadz, mu’allim,
murabbi, mursyid, mudarris dan mu’addib. Kata-kata ustadz, biasa
digunakan oleh profesor. Hal ini mengandung makna bahwa seorang
guru dituntut komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban
tugasnya. Kata mu’allim berasal dari kata ‘ilm yang berarti menangkap
hakikat sesuatu yang mengandung makna bahwa seorang guru
dituntut untuk mampu menjelaskan hakikat ilmu pengetahuan yang
52
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
diajarkannya, serta menjelaskan dimensi teoritis dan praktis, serta
berusaha membangkitkan peserta didik untuk mengamalkannya. Kata
murabbi, berasal dari kata dasar rabb. Tuhan sebagai Rabb al-‘âlamîn
dan Rabb al-nâs yang menciptakan, mengatur, dan memelihara alam
seisinya termasuk manusia. Manusia sebagai khalifahnya diberi tugas
untuk menumbuhkembangkan kreativitas agar mampu mengkreasi,
mengatur, memelihara alam seisinya.
Dilihat dari pengertian ini tugas guru adalah mendidik dan
menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, sekaligus mengatur
dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka
bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.
Kata mursyid biasa digunakan untuk guru dalam thariqah
(tasawuf). Ini maknanya bahwa seorang mursyid (guru) yang berusaha
menularkan penghayatan akhlak dan atau kepribadiannya kepada
peserta didiknya, baik berupa etos ibadahnya, etos kerjanya, etos
belajarnya, maupun dedikasinya yang serba lillâhi ta’âla (karena
mengharap rida Allah semata).
Kata
berasal dari kata (baca dari kanan)
”, yang berarti terhapus, hilang bekasnya, menghapus, menjadi usang,
melatih dan mempelajari. Dilihat dari pengertian ini, tugas guru
adalah berusaha mencerdaskan, menghilangkan ketidaktahuan atau
memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan mereka
sesuai dengan bakat dan minat serta memiliki peran dan fungsi untuk
membangun peradaban yang berkualitas di masa depan (Muhaimin
2003, 209-213).
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
guru adalah seseorang yang mempunyai tenaga profesional untuk
mengembangkan potensi yang ada pada anak didik. Adapun sebutan
untuk guru tergantung pada objek yang dihadapinya.
2.
Pendidikan Agama Islam
Di dalam GBPP PAI di sekolah umum, di elaskan bahwa Pendidikan
Agama Islam adalah usaha yang dilakukan secra sadar untuk menyiapkan
siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan
agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau latihan
dengan memerhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam
hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk
mewujudkan persatuan nasional (Muhaimain 2008, 75-76).
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
53
Menurut Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Islam adalah suatu
usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa
dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh, lalu menghayati
tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan
Islam sebagai pandangan hidup (Daradjat 2011, 86).
Dari pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa Pendidikan
Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana untuk menyiapkan
siswa guna memahami ajaran Islam secara menyeluruh dengan cara
membina, mengasuh dan mengajar sebagai aktivitas asasi dan sebagai
profesi dalam masyarakat.
3.
Kode Etik Guru Pendidikan Agama Islam
Kode etik berfungsi untuk menjadi pedoman dalam menjalankan
tugas profesinya. Menurut Kelly Young, sebagaimana dikutip oleh
M. Nurdin, kode etik merupakan salah satu ciri persyaratan profesi,
yang memberikan arti penting dalam penentuan, pemertahanan,
peningkatan standar profesi. Kode etik menunjukkan bahwa tanggung
jawab dan kepercayaan dari masyarakat telah diterima oleh profesi
(Nurdin 2004, 127).
Secara harfiah kode artinya aturan dan etik artinya kesopanan,
atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan
suatu pekerjaaan. Jadi kode etik profesi diartikan sebagai tata susila
keprofesian (NK 1998, 183-184).
Adapun kode etik pendidik dalam Pendidikan Agama Islam dibagi
menjadi tiga yang pertama adalah syarat-syarat yang berhubungan
dengan dirinya, yang kedua berhubungan dengan pelajaran, dan yang
ketiga berhubungan dengan muridnya (Ramayulis 2010, 232).
a.
1)
2)
3)
54
Syarat-syarat guru yang berhubungan dengan dirinya
Hendaknya guru senantiasa insyaf akan pengawasan Allah
terhadapnya dalam segala perkataan dan perbuatan bahwa ia
memegang amanat ilmiah yang diberikan oleh Allah SWT.
Hendaknya guru memelihara kemuliaan ilmu. Salah satu bentuk
pemeliharaannya ialah tidak mengajarkan ilmunya terhadap
orang yang tidak berhak menerimanya yaitu orang-orang yang
menuntut ilmu hanya untuk kepentingan dunia semata.
Hendaknya guru bersifat zuhud. Artinya, mengambil dari rezeki
dunia hanya untuk sekadar memenuhi kebutuhan keluarganya
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
4)
5)
6)
7)
8)
9)
secara sederhana; tidak tamak terhadap kesenangan dunia,
sebagai seorang yang berilmu ia lebih tahu ketimbang orang
awam bahwa kesenangan itu tidak abadi.
Hendaknya guru tidak berorientasi duniawi dengan menjadikan
ilmunya sebagai alat untuk mencapai kedudukan, harta, prestise,
atau kebanggaan atas orang lain.
Hendaknya guru menjauhi mata pencaharian yang hina dalam
pandangan syara’ dan menjauhi situasi yang bisa mendatangkan
fitnah dan tidak melakukan sesuatu yang dapat menjatuhkan
harga di mata orang banyak sebagaimana Allah berfirman, Hai
orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik
baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah,
jika benar-benar kepadanya kamu menyembah (2:172).
Hendaknya guru memelihara syiar-syiar Islam seperti salat
berjamaah di masjid, mengucap salam, serta menjalankan amar
makruf nahi mungkar. Dalam melakukan semua itu hendaknya
ia bersabar dalam menghadapi cobaan dan celaan, sebagaimana
Allah firmankan, Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar
dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama
orang-orang yang sabar (2:153).
Guru hendaknya melakukan hal-hal yang disunahkan oleh
agama baik lisan maupun perbuatan, seperti membaca Alquran,
berzikir dan salat tengah malam. Hal ini sejalan dengan firman
Allah, Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi
dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan
(dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi
orang-orang yang ingat (11:114)
Guru hendaknya memlihara akhlak mulia dalam pergaulan
dengan orang orang banyak dan menghindarkan diri dari akhlak
yang buruk. Sebagai pewaris nabi sudah sepantasnya seorang
pendidik untuk memperlihatkan akhlak terpuji, sebagaimana
peran yang dimainkan oleh Rasulullah dalam menghadapi
umatnya (sebagai teladan).
Guru hendaknya selalu mengisi waktu-waktu luangnya dengan halhal yang bermanfaat seperti, beribadah, membaca dan menga­rang ini
berarti bahwa seorang pendidik harus selalu pandai me­man­faatkan
segala kondisi sehingga hari-harinya tidak ada yang terbuang.
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
55
10)
11)
Guru hendaknya selalu belajar dan merasa malu untuk menerima
ilmu yang lebih rendah darinya, baik secara kedudukan maupun
usiannya. Artinya seorang pendidik hendaknya selalu bersikap
terbuka terhadap masukan apa pun yang bersifat positif dan
darimana pun datangnya.
Guru hendaknya rajin meneliti, menyusun dan mengarang dengan
memerhatikan keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan.
b.
Syarat-syarat yang berhubungan dengan pelajaran (syarat-syarat
yang berhubungan dengan pedagogis didaktis, yaitu:
1) Sebelum keluar dari rumah untuk mengajar, hendaknya guru
bersuci dari hadas dan kotoran serta menggenakan pakaian yang
baik dengan niat mengagungkan syariat dan ilmu.
2)
Untuk keluar rumah guru hendaknya selalu berdoa agar tidak sesat
dan menyesatkan dan terus berzikir kepada Allah SWT hingga
sampai ke majelis pengajaran. Ini menegaskan bahwa sebelum
mengajarkan ilmunya, seorang guru sepantasnya untuk menyucikan
hati dan niatnya.
3) Hendaknya seorang guru mengambil tempat pada posisi yang
dapat dilihat oleh semua murid. Artinya ia harus berusaha
agar apa yang disampaikannya hendaklah diperkirakan dapat
dinikmati oleh seluruh siswanya dengan baik.
4) Sebelum memulai mengajar hendaknya, guru hendaknya
membaca sebagian dari ayat Alquran agar memperoleh berkah
dalam mengajar, kemudian membaca basmalah.
5)
Guru hendaknya mengajarkan bidang studi sesuai dengan hierarki
nilai kemuliaan dan kepentingannya yaitu tafsir Alquran, kemudian
hadis, ushuluddin, ushul fikih, dan seterusnya. Barangkali untuk
seorang guru pemegang mata pelajaran umum, hendaklah
mendasarkan materi pelajarannya sesuai dengan Alquran dan
Hadis, dan kalau perlu meninjau dari kaca mata Islam.
6) Hendaknya guru selalu mengatur volume suaranya agar tidak
terlalu keras, hingga membisingkan ruangan, tidak pula terlalu
rendah hingga tidak terdengar oleh murid atau siswa.
7) Hendaknya guru menjaga ketertiban majelis dengan mengarah­
kan pembahasan pada objek tertentu. Artinya dalam memberi­
kan materi pelajaran seorang guru memerhatikan tatacara
penyampaian yang baik sistematis, sehingga apa yang disampaikan
56
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
akan mudah dicerna oleh murid.
Guru hendaknya menegur murid-muridnya yang tidak menjaga
sopan santun dalam kelas, seperti menghina teman, tertawa keras,
tidur, berbicara dengan teman atau tidak menerima kebenaran.
Ini berarti bahwa seorang guru atau pendidik dituntut untuk
menanamkan dasar-dasar akhlak terpuji dan sopan santun baik
di dalam ruangan ataupun di luar ruangan.
9) Guru hendaknya bersikap bijak dalam melakukan pembahasan,
menyampaikan pelajaran dan menjawab pertanyaan. Apabila dia
ditanya tentang suatu yang tidak ia tahu hendaklah ia mengatakan
bahwa ia tidak tahu. Hal ini menegaskan bahwa seorang guru tidak
boleh pura-pura tahu. Sedangkan diri Rasulullah saja, tidak pernah
menjawab pertanyaan yang beliau tidak tahu dengan jawaban
yang diterka-terka tapi beliau hanya menjawab dengan la adriy
(saya tidak tahu). Sebab jika seseorang mencoba menjawab dalam
ketidaktahuannya ia akan dikategorikan sebagai orang yang sesat
dan menyesatkan.
10) Terhadap murid baru, guru hendaknya bersikap wajar dan
menciptakan suasana yang membuatnya merasa telah menjadi
bagian dari kesatuan teman-temannya.
11) Guru hendaknya menutup setiap akhir kegiatan belajar mengajar
dengan kata-kata Wallahu a’lam (Allah yang Maha Mengetahui)
yang menunjukan keikhlasan kepada Allah Swt. Hal ini bermaksud
agar setelah proses belajar mengajar berlangsung seorang guru
hendaklah menyerahkan kembali urusannya kepada Allah SWT.
12) Guru hendaknya tidak mengasuh mata pelajaran yang tidak
dikuasainya. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi pelecehan
ilmiah dan sebaliknya akan terjadi hal yang sifatnya memuliakan
ilmu dalam proses belajar mengajar.
8)
c.
1)
2)
Kode etik guru di tengah-tengah para muridnya
Guru hendaknya mengajar dengan niat mengharapkan rida Allah
menyebarkan ilmu, menghidupkan syara’, menegakkan kebenaran
dan melenyapkan kebatilan serta memelihara kemaslahatan umum.
Guru hendaknya tidak menolak untuk mengajar murid yang tidak
mempunyai niat tulus untuk belajar. Sebagian ulama memang
pernah berkata, “Kami pernah menuntut ilmu dengan tujuan
bukan karena Allah, sehingga guru menolak kecuali jika kami
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
57
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
B.
menuntut ilmu karena Allah”. Kata-kata itu hendaknya diartikan
bahwa pada akhirnya niat menuntut ilmu harus karena Allah.
Sebab kalau niat tulus ini disyaratkan pada awal penerimaan
murid, maka murid akan mengalami kesulitan.
Guru hendaknya mencintai muridnya seperti ia mencintai dirinya
sendiri. Artinya seorang hendaknya guru hendaknya menganggap
bahwa muridnya itu adalah bagian dari dirinya sendiri (bukan
orang lain).
Guru hendaknya memotivasi murid untuk menuntut ilmu seluas
mungkin. Sebagaimana pernah dianjurkan oleh Rasulullah dalam
sabdanya, “Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina”, Hadis ini
menyiratkan bahwa menuntut ilmu tidak ada batasanya, kapan
dan di manapun tempatnya.
Guru hendaknya menyampaikan pelajaran dengan bahsa yang
mudah dan berusaha agar muridnya memahami pelajaran.
Artinya seorang guru harus memahami kondisi murid-muridnya
dan mengetahui tingkat kemampuannya dalam tingkat berbahasa
Guru hendaknya melakukan evaluasi terhadap hasil belajar
mengajar yang dilakukannya. Hal ini dimaksudkan agar guru
selalu memerhatikan tingkat pemahaman siswanya dan pertam­
bahan keilmuan yang diperolehnya.
Guru hendaknya bersikap adil terhadap semua muridnya.
Guru hendaknya berusaha membantu memenuhi kemaslahatan
murid, baik dengan kedudukan ataupun hartanya. Apabila murid
sakit, hendaknya ia menjenguknya, dan apabila kehabisan bekal,
hendaknya ia membantunya. Hal ini menggambarkan bahwa
seorang guru dianjurkan memperlakukan muridnya dengan
baik, sebagaimana ia memperlakukan anaknya sendiri, dengan
penuh kasih sayang.
Guru hendaknya terus memantau perkembangan murid, baik
intelektual maupun akhlaknya. Murid yang saleh akan menjadi
tabungan bagi guru baik di dnunia maupun di akhirat.
Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan pendidikan ialah perubahan yang diharapkan pada subjek
didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tingkah laku
individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat
58
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
dan alam sekitarnya dimana individu itu hidup (Sudiyono 2009, 31).
Di dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional 2003, 12).
Tujuan terakhir pendidikan Islam adalah perwujudan penyerahan
mutlak kepada Allah, baik pada tingkat individu, masyarakat, maupun
kemanusiaan pada umumnya (Daradjat 2011, 94).
C.
Peran dan Tanggung Jawab Guru Pendidikan Agama
Islam
Tugas dan tanggung jawab guru sebenarnya bukan berakhir
hanya di sekolah saja, tetapi tugas guru bisa dimana saja mereka berada.
Peran (role) guru, menurut Tohirin, artinya semua perilaku yang harus
dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Guru
Pendidikan Agama Islam (PAI) mempunyai peran yang amat luas,
baik di sekolah, keluarga, dan di dalam masyarakat. Di sekolah guru
berperan sebagai perancang atau perencana, pengelola pengajaran
dan pengelola hasil pembelajaran siswa (Tohirin 2005, 165).
Peran guru di sekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai
orang dewasa, sebagai pengajar dan pendidik serta sebagai pegawai.
Namun yang paling utama adalah kedudukannya sebagai pengajar
dan pendidik. Berdasarkan kedudukannya sebagai guru, ia harus
menunjukkan perilaku yang baik, sehingga bisa dijadikan teladan oleh
siswanya.
Sedangkan di masyarakat guru sering dipandang sebagai tokoh
teladan bagi orang-orang sekitarnya. Pandangan pendapat atau buah
pikirannya sering menjadi ukuran atau pedoman bagi orang-orang
sekitarnya, karena guru dianggap telah memiliki pengetahuan lebih
luas dan lebih mendalam dalam berbagai hal keilmuan.
Meskipun anggapan ini terlalu berlebihan, kenyataannya banyak
guru yang dipilih sebagai ketua atau pengurus di berbagai perkumpulan
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
59
atau organisasi-organisai yang ada di masyarakat misalnya, organisasi
sosial, ekonomi, kesenian atau yang lainnya.
Hal itu terjadi karena guru dianggap oleh masyarakat sebagai
seseorang yang mempunyai pengalaman yang luas dan kecakapan
dalam memimpin suatu organisasi di desa tersebut.
Di dalam keluarga, masih menurut Tohirin, guru berperan
sebagai Family educator . Sedangkan di tengah-tengah masyarakat,
guru berperan sebagai social developer (Pembina masyarakat,
social motivator (pendorong masyarakat), social inovator (penemu
masyarakat), dan sebagai social agent (agen masyarakat) (Tohirin 2005,
165).
Tugas dan tanggung jawab tersebut merupakan tugas pokok
profesi guru, sebagai pengajar guru harus lebih menekankan kepada
tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. tanggung
jawab guru sebagai pembimbing memberikan bantuan kepada siswa
dalam memecahkan masalah, tanggung jawab sebagai administrator
kelas pada hakikatnya merupakan jalinan antara ketatalaksanaan
bidang pengajaran dan ketatalaksanaan pada umumnya.
Tanggung jawab mengembangkan kurikulum membawa
implikasi bahwa guru dituntut untuk selalu mencari gagasangagasan baru, penyempurnaan praktik pendidikan khususnya bidang
pengajaran, tanggung jawab mengembangkan profesi pada dasarnya
ialah tuntutan dan panggilan untuk selalu mencintai, menghargai,
menjaga dan meningkatkan tugas tanggung jawab profesinya dan yang
keenam adalah tanggung jawab dalam membina hubungan sekolah dan
masyarakat, yang itu artinya guru harus dapat berperan menempatkan
sekolah sebagai bagian integral dari masyarakat serta sekolah sebagai
pembaharu masyarakat.
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang baik adalah guru
yang dapat memainkan peran-peran di atas secara baik. Guru harus
senantiasa sadar akan kedudukannya selama dua puluh empat jam. Di
mana dan kapan saja, guru akan selalu dipandang sebagai guru yang
harus memperlihatkan perilaku yang dapat diteladani oleh khususnya
anak didik udan masyarakat luas (Tohirin 2005, 165).
Ketiga tugas guru tersebut merupakan tugas pokok profesi
guru. Guru sebagai pengajar lebih menekankan pada tugas dalam
merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Dalam tugas ini
guru dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis
60
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
mengajar, selain harus menguasai ilmu materi yang akan diajarkan.
Adapun guru sebagai pembimbing adalah guru diharapkan mampu
untuk membantu siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang
dihadapinya. Sedangkan tugas sebagai administrator kelas hakikatnya
merupakan jalinan ketatalaksanaan pada umumnya.
Sedangkan menurut Piet A. Sahertian dan Ida Aleida, menge­
mukakan bahwa tugas guru dikategorikan ke dalam tiga hal, yaitu:
tugas professional, tugas personal dan tugas sosial (Sahertian & Aleida
1990, 38).
D.
Teori-Teori Tentang Radikalisme Islam
Untuk memberikan istilah terhadap gerakan Islam, yang menolak
tatanan sosial yang sudah ada dan berusaha menerapkan suatu model
tatanan tersendiri yang berbasiskan nilai-nilai keagamaan, sampai
sekarang para pengamat Islam masih belum mendapatkan kesepakatan
tentang istilah tersebut.
Adapun isilah yang paling umum untuk memberikan label terhadap
paham gerakan Islam tersebut adalah fundamentalisme (Taher 1998, 6).
Oliver Roy menyebut gerakan Islam yang berorientasi pada pemberlakuan
syariat sebagai Islam Fundamentalis, yang ditunjukkan dengan gerakan
Ikhwanul Muslimin. Hizbuttahrir, Jamaah Islamiyah, dan Front Islamic
Salvation (FIS).
Namun istilah fundamentalis bagi Esposito terasa lebih provokatif
dan bahkan pejoratif sebagai gerakan yang pernah dilekatkan pada Kristen
sebagai kelompok literalis, statis dan ekstrem. Namun pada gilirannya
fundamentalisme sering merujuk kepada kehidupan masa lalu, bahkan
lebih jauh lagi fundamentalisme sering disamakan sebagai ekstremisme,
fanatisme politik, aktivisme politik, terorisme dan Anti Amerika. Karena
itu, John L. Esposito lebih memilih menggunakan istilah revivalisme Islam
atau aktivisme Islam yang memiliki akar tradisi Islam. Negarawan senior
Singapura, Lee Kuan Yew, menggunakan istilah gerakan militan Islam
ketika melihat militansi Islam secara global yang berasal dari Negara
Islam seperti Afganistan dan Pakistan. Komentar Lee ditujukan dengan
maraknya ormas Islam yang siap jihad ke Afganistan seperti FPI, Majelis
Mujahidin, dan PPMI. Istilah ini juga digunakan oleh Perdana Menteri
Malaysia, Mahathir Muhammad dengan menunjuk kelompok militan
Islam di Malaysia (PAS dan Mujahidin). (Taher 1998, 6)
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
61
Sedangkan Robert W. Hefner menggunakan istilah antiliberal.
Hefner secara jelas menunjuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
(DDII) sebagai kelompok Islam antiliberal. Kelompok ini tidak setuju
dengan apa yang dianggap sebagai bias liberal di lingkungan IAIN
maupun DEPAG. Muhammad Said al-Asmawi juga menggunakan istilah
ekstremisme yang telah menjadi gejala global: menyebar keseluruh
pelosok dunia di setiap negara timur tengah, di timur, Barat, Selatan dan
Utara. Disebutkan oleh Asymawi, bahwa faktor yang paling menonjol
dari kemunculan ekstremisme Islam adalah krisis kepercayaan kepada
lembaga-lembaga negara dan lembaga-lembaga politik (Zada 2002, 13).
E.
Pengertian Radikalisme
Adapun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
radikalisme berarti (1) paham atau aliran yang radikal dalam politik; (2)
paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan
sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; (3) sikap ekstrem
dalam aliran politik (Bahasa 2008, 1130).
Menurut Afif Muhammad, radikal berasal dari kata radic yang
berarti akar, dan radikal adalah “(sesuatu) yang bersifat mendasar atau
hingga ke akar-akarnya”. Label ini ini bisa dikenakan pada pemikiran
atau paham tertentu, sehingga muncul istilah “pemikiran yang radikal”
dan bisa pula “gerakan”. Berdasarkan itu, radikalisme diartikan
dengan paham atau aliran keras yang menginginkan perubahan atau
pembaruan sosial dan politik dengan cara keras atau drastis dan sikap
ekstrem suatu aliran politik. (Bakri 2004, 2)
Seorang tokoh agama terkemuka, KH. Hasyim Muzadi, yang
ditemui ketika mengisi seminar nasional tentang deradikalisasi agama
melalu peran mubalig di Jawa Tengah, mengatakan bahwa seseorang
boleh saja berpikir secara radikal (berpikir secara mendalam sampai ke
akar-akarnya) dan memang seharusnya seseorang seharusnya berpikir
secara radikal (Rokhmad 2012, 4).
Akan tetapi hasil pemikiran tersebut akan berbahaya jika sudah
menjadi isme yaitu mazhab atau ideologi, karena jika sudah menjadi
mazhab seseorang tersebut akan keras dalam memaksakan hasil
pemikirannya terhadap orang lain atau kelompok lain. Menurut
Rokhmad, inilah yang disebut dengan radikalisme (Rokhmad 2012, 4).
62
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
F.
Ciri-Ciri Radikalisme Islam
Lebih detail, Rubaidi menguraikan lima ciri gerakan radikalism
Islam. Pertama, menjadikan Islam sebagai ideologi final dalam
mengatur kehidupan individual dan juga politik ketatanegaraan.
Kedua, nilai-nilai Islam yang dianut mengadopsi sumbernya—di Timur
Tengah—secara apa adanya tanpa mempertimbangkan perkembangan
sosial dan politik ketika Alquran dan Hadis hadir di muka bumi ini,
dengan realitas lokal kekinian. Ketiga, karena perhatian lebih terfokus
pada teks Alquran dan Hadis, maka purifikasi ini sangat berhatihati untuk menerima segala budaya non-asal Islam (budaya Timur
Tengah) termasuk berhati-hati menerima tradisi lokal karena khawatir
mencampuri Islam dengan bidah. Keempat, menolak ideologi nonTimur Tengah termasuk ideologi Barat, seperti demokrasi, sekularisme
dan liberalisasi. Sekali lagi, segala peraturan yang ditetapkan harus
merujuk pada Alquran dan Hadis. Kelima, gerakan kelompok ini sering
berseberangan dengan masyarakat luas termasuk pemerintah. Karena
itu, terkadang terjadi gesekan ideologis bahkan fisik dengan kelompok
lain, termasuk pemerintah (Rubaidi 2010, 63).
G.
Akar Radikalisme Islam di Indonesia
Lahirnya Islam radikal dapat dilacak dengan munculnya Darul
Islam di beberapa kota dan ditambah lagi dengan anggota partai politik
Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) yang kerap membangun
jaringan transnasional dengan beberapa gerakan di Timur Tengah.
Gerakan yang dimaksud beragam, misalnya Wahabi di Arab Saudi dan
Ikhwanul Muslimin di Mesir. Di kemudian hari muncul Hizbut-Tahrir
dari Yordania.
Darul Islam membangun fragmen kelompoknya dengan
kekuatan militer. Beberapa pemberontakan lahir di Sulawesi Selatan
(Kahar Muzakkar), Kalimantan Selatan (Ibnu Hajar), Jawa Barat
(Kartosuwiryo), dan Aceh (Daud Beureueh). Dengan kekuatan ini,
Darul Islam melancarkan pemberontakan kepada pemerintah RI
secara terbuka, kendati kemudian dapat diberangus oleh rezim politik
ketika itu. Adapun Masyumi membawa gagasan Islam dalam kerangka
kenegaraan di parlemen dan berhasil menempati posisi kedua di
Pemilu 1955 (Umar 2010, 173).
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
63
Kata-kata Darul Islam di Indonesia digunakan untuk menyatakan
gerakan-gerakan sesudah 1945 yang berusaha dengan kekerasan
untuk merealisasikan cita-cita negara Islam Indonesia. Lebih spesifik
Darul Islam adalah nama yang diberikan kepada sebuah gerakan
pemberontakan Islam di Jawa Barat, yang menentang legitimasi dan
otoritas Republik Indonesia yang baru merdeka antara tahun 19481962 yang dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (19051962) untuk memaksakan terbentuknya Negara Islam Indonesia (NII)
dibantu dengan kekuatan militer Darul Islam yang dikenal dengan
Tentara Islam Indonesia (TII) yang berbasis di dataran tinggi Jawa Barat.
Benih ide berdirinya Darul Islam sendiri sebenarnya sudah
tampak sejak Kartosoewirjo duduk di kursi Partai Syarikat Islam
Indonesia (PSII). Selanjutnya untuk melaksanakan niatnya ia tidak
bergerak sendiri tetapi ia berhubungan dengan pemberontak Islam
di Aceh yang dipimpin oleh Daud Beureuh dan di Sulawesi selatan
dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Dengan kekuatan ini, Darul Islam
melancarkan pemberontakan kepada pemerintah RI secara terbuka,
kendati kemudian dapat diberangus oleh rezim politik ketika itu.
Adapun Masyumi membawa gagasan Islam dalam kerangka kenegaraan
di parlemen dan berhasil menempati posisi kedua di Pemilu 1955.
H. Keterkaitan Gerakan Islam Garis Keras Gerakan
Transnasional
Dalam hal ini ada dua pendapat: pertama, pendapat yang menga­
takan bahwa tidak ada keterkaitan antara radikalisme Islam yang
terjadi di Indonesia dengan Ikhwanul Muslimin yang ada di Mesir
atau gerakan Hizbut Tahrir yang ada di Yordania, tetapi mereka hanya
mempunyai keinginan sama yaitu ingin mewujudkan syariat Islam di
dalam negara (Umar 2010, 173); kedua, pendapat yang mengatakan
bahwa ada keterkaitan antara gerakan Ikhwanul Muslimin yang ada
di Mesir. Pada tahun 1970 saat Indonesia mengalami kesulitan utuk
memberikan biaya terhadap mahasiswa yang ingin belajar di luar
negeri, Wahabi melalui DII (Darul Islam Indonesia) menyediakan dana
yang lumayan besar untuk mereka.
Kebanyakan alumni tersebut kemudian menjadi agen penyebar
paham transnasional dari Timur Tengah ke Indonesia. Tidak berhenti
di situ dengan dukungan Wahabi pula DII mendirikan LIPIA yang
64
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
kemudian alumninya memainkan peran yang berpengaruh sebagai
agen Salafi (Wahabi) dan tarbiyah (Ikhwanul Muslimin).
DII pula meletakkan dasar gerakan dakwahnya di kampuskampus. Masih dengan dukungan dana Wahabi DII juga mengambil
peran penting dalam menerjemahkan buku-buku dan gagasan tokohtokoh pembaharu transnasional seperti Hasan al-Banna, al-Maududi
dan Yusuf Qaradhawi. Penerbitan Majalah Sabili yang (dulu) sampai
100.000 eksemplar diduga tidak lepas dari campur tangan Wahabi.
Selain DII setelah tumbangnya Orde Baru di Indonesia muncul
beberapa gerakan Islam yang begitu banyak di antaranya, adalah
FPI (Front Pembela Islam), Laskar Jihad, Jamaah Islamiyah, FKASWJ
(Forum Komunikasi Ahlu Sunnah wal Jamaah) , MMI (Majelis Mujahidin
Indonesia), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) FUI (Forum Umat Islam),
PKS (Partai Keadilan Sejahtera), KPPSI (Komiter Persiapan Penerapan
Syariat Islam).
Mereka menampakkan diri secara terbuka di Indonesia. Hingga
saat ini gerakan kelompok-kelompok garis keras sudah meyebar seperti
kanker yang menyebar ke seluruh tubuh bangsa. Mereka menyusup
mulai dari istana sampai ke pegunungan. Adapun pola penyusupannya
pun sangat beragam seperti hal-hal financial, sampai hal-hal yang tidak
terpikirkan seperti pembersihan gratis di masjid bahkan dengan pola
akademis dengan berbagai pengetahuan.
Penyerobotan masjid merupakan salah satu cara yang
digunakan oleh gerakan Islam garis keras. Penyusupan dengan pola
akademis lazim dilakukan kepada dewan penyantun, pemimpin
kampus pengurus senat mahasiswa dan lain-lain bahkan mereka juga
mendirikan sekolah-sekolah tersendiri di antaranya adalah Sekolah
Islam Terpadu. Dari situ jelas bahwa kelompok Islam garis keras ingin
menguasai dunia pendidikan dan masa depan Indonesia dengan
pandangan Wahabi, Hizbut Tahrir maupun Ikhwanul Muslimin (Wahid
2009, 95-99).
I.
Penyebaran Radikalisme Islam Melalui Lembaga
Pendidikan SMA
Sebuah riset yang dilakukan Center for Religious and CrossCultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada dan Lembaga Kajian
Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta dalam Politik Ruang Publik Sekolah,
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
65
melaporkan bahwa di Yogyakarta terdapat beberapa sekolah menengah
atas (SMA) yang memiliki kecenderungan keras (radikal) dalam
memahami keagamaan yang selama ini dianut (Azekiyah dll 2011).
Radikalisme yang mereka anut terjadi karena peran para mentor
yakni para alumni SMA tersebut dalam memberikan pemahaman
tentang keislaman kepada para siswa SMA tersebut. Mereka adalah
kaum muda (youth) yang rata-rata berumur 18-19 tahun.
Mereka melakukan aktivitas keislaman di sekolah dengan
mendominasi ruang publik seperti menjadi pengurus OSIS (Organisasi
Siswa Intra Sekolah), sebuah organisasi resmi milik sekolah menengah
atas serta mendominasi kegiatan keislaman dalam organisasi.
Unit Kerohanian Islam (Rohis) yang sejak tahun 1990 menjalar di
mana-mana, hampir di setiap sekolah negeri yang ada di Yogyakarta,
termasuk sekolah-sekolah unggulan bahkan sekolah berstandar
internasional. Mereka menegosiasikan kepentingan keislamannya
dengan melawan struktur yang dilakukan melalui agensi-agensi yang
dirawat melalui jaringan alumni sekolah tersebut (Azekiyah dll 2011).
Dari hal di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa jika modal
sosial tersebut terus berlangsung dan terpupuk dalam arena yang
sama, akan terjadi kecenderungan untuk menjadi radikal. Karenanya,
perlu mendapatkan perhatian oleh banyak pihak agar siswa-siswa SMA
tidak lebih banyak dikenalkan dan direcoki dengan paham keagamaan
yang disinyalir radikal. Aktivitas ekstrakurikuler semacam pengajian,
pelatihan dan kelompok studi tentu saja sangat baik untuk mendukung
kreativitas para siswa (Qodir 2013, 95-99). Akan tetapi, memberikan
pengawasan atau pendampingan yang memadai agar mereka tetap santun
dan damai sebagai tugas sekolah dan negara tidak bisa dikesampingkan.
HASIL PENELITIAN
Setelah mengumpulkan data dari hasil penelitian, peneliti men­
dapat­kan data berikut analisisnya sebagai berikut.
A.
Analisis tentang Guru Pendidikan Agama Islam di
SMA Sejahtera 01 Depok
Jika melihat latar belakang dari temuan penelitian Guru Pendidikan
Agama Islam di SMA Sejahtera 01 Depok Imran Rosyadi, MM adalah tenaga
66
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
pendidik yang sudah mumpuni di SMA Sejahtera 01 Depok, baik jika dilihat
dari segi keilmuannya mapun dari gelar-gelar yang sudah beliau peroleh.
Imran Rosyadi juga tidak menyetujui adanya radikalisme dalam
Islam. Dengan begitu guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang ada di SMA
Sejahtera 01 Depok dapat dijadikan sebagai salah satu dari komponen PAI
yang dapat mencegah radikalisme Islam. Pasalnya, jika beliau menyetujui
radikalisme Islam, kemungkinan guru tersebutlah yang juga ikut
mengarahkan pemikiran siswa ke dalam radikalisme Islam.
B.
Analisis Bentuk Radikalisme Islam di SMA Sejahtera
01 Depok
Masalah radikalisme Islam yang terjadi di sekolah merupakan
masalah yang sangat menarik jika dikaji karena masuknya paham
tersebut sangat jarang diketahui oleh komponen-komponen pendidikan
yang ada di sekolah.
Bahkan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diharapkan
menjadi pelopor utama dalam mencegah radikalisme Islam tidak
menyadari bahwa radikalisme Islam berhasil masuk di sekolah dan
berhasil dalam memengaruhi atau mengarahkan pemikiran sebagian
siswanya. Hal ini disebabkan kecakapan sebagian kaum muslimin
dalam mengemas radikalisme Islam supaya tidak ada pihak sekolah
yang menyadari keberadaan radikalisme Islam di sekolah. Berdasarkan
hasil observasi dan wawancara yang dilakukan, peneliti dapat
menyimpulkan bahwa radikalisme Islam masuk di sekolah melalui
kegiatan ekstrakurikuler kerohanian Islam (rohis).
Miris sekali kegiatan ekstrakurikuler yang dianggap mampu
menambah wawasan keagamaan siswa telah disusupi oleh paham
radikal Islam. Akan tetapi, jarang sekali komponen-komponen sekolah
yang menyadari karena [kegiatan] ekstrakurikuler rohis selalu
menampilkan kegiatan-kegiatan yang tampak bagus dan bermanfaat
dari luarnya. Bahkan siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler
tidak menyadari bahwa dia sedang berada dalam lingkaran radikalisme
Islam. Boleh jadi jika siswa yang mengikuti rohis mengetahui bahwa
dirinya sedang dijadikan alat untuk mendukung tegaknya pemerintahan
Islam di Indonesia, dia akan mengundurkan diri sebagai anggota rohis.
Kegiatan ekstrakurikuler rohis memang sengaja dibuat sangat
menarik dibandingkan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler lainnya yang
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
67
ada di sekolah. Selain dapat menambah wawasan keagamaan isi dari
program-progam kegiatan rohis juga sangat menarik seperti tafakur
alam, yaitu pergi jalan-jalan ke alam bebas ke curug (air terjun) misalnya.
Selain memikirkan ciptaan Tuhan dan mendapatkan pahala
mereka juga dapat refreshing bersama teman-temannya yang mengikuti
kegiatan rohis di sekolah, mabit (malam bina takwa) riyadhah, dan
sebagai pelopor penyelenggara kegiatan-kegiatan PHBI (Peringatan
Hari Besar Islam) di sekolah.
Namun karena terbatasnya waktu dan kesempatan, peneliti
hanya dapat menemukan penanaman radikalisme Islam melalui tiga
kegiatan yang dilakukan di dalam sekolah maupun di luar sekolah.
Kegiatan tersebut adalah sebagai berikut.
1.Mentoring
Dari kegiatan mentoring yang merupakan salah satu program
rohis dapat dianalisis bahwasanya kegiatan mentoring merupakan
langkah awal yang digunakan oleh sebagian kaum muslimin yang
menginginkan tegaknya Khilafah Islam di Indonesia (Ghoffar 2016).
Meskipun materi yang disampaikan masih belum terlalu menjurus
kepada unsur-unsur radikalisme Islam, dari kegiatan mentoring
mereka diarahkan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan lain setelah
kegiatan rohis di sekolah.
Begitu juga dengan mentornya, menurut Nazrah, salah satu
mentor putri mengatakan bahwasanya untuk menjadi mentor tidaklah
mudah. Seorang yang ingin menjadi mentor harus memenuhi beberapa
kriteria di antaranya adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
Merupakan alumni Sejahtera yang sedang mengikuti liqa’
diluar sekolah.
Mampu berkomitmen.
Memiliki wawasasan Islam yang luas yang sesuai dengan
Alquran dan Sunnah Rasulullah yang luas. (Nazah 2016)
Meskipun tidak ada pedoman dalam menyampaikan materimateri mentoring, menurut ketua rohis Muhammad Fajar, materimateri yang biasa disampaikan di antaranya sebagai berikut:
a)Makna Lâ ilâha illallâh
68
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
b)
c)
d)
Makna syahadatain
Sirah Nabawiyah
Sirah shahabat
Dari materi-materi yang biasa disampaikan dapat disimpulkan
bahwa tauhid, sejarah Nabi Muhammad, dan sahabat merupakan nilai
penting yang harus ditanamkan di benak siswa. Dua kategori materi
ini merupakan langkah awal yang digunakan oleh sebagian kaum
muslimin yang menginginkan tegaknya Khilafah Islamiyah.
Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh ulama mereka
di dalam website yang telah direferensikan oleh mantan ketua rohis.
Abdul Hakim Amir Abdat mengatakan bahwa untuk menegakkan
Daulah Islamiyah yang pertama adalah menanamkan tauhid dan yang
kedua adalah mengikuti sunah Nabi Muhammad atas manhaj Sahabat.
Menurut Abdat, sebelum membentuk Daulah Islamiyyah, mereka
mengajarkan ilmu tauhid dan memerintahkan seseorang supaya
berjalan di atas manhaj sahabat yang merupakan kunci kesuksesan
dalam menegakkan Daulah Islamiyah. Para anggota rohis dari
kalangan SMA memang sengaja diajak untuk berorganisasi suapaya
mereka mudah untuk dikoordinasikan, jika pada suatu saat mereka
dibutuhkan. (Kebaikan yang tidak dikoordinasikan akan dikalahkan
dengan kebatilan yang dikoordinasikan dengan baik).
2.
Ceris (Cerita Islam)
Menurut observasi yang peneliti dapatkan di lapangan ceris (cerita
Islam) juga merupakan sarana yang digunakan untuk mengingatkan
betapa pentingnya hukum Islam dalam suatu negara.
Kesempatan para mentor untuk memasukkan unsur radikalisme
Islam semakin besar karena di dalam momen itu peserta rohis dapat
menemukan sendiri permasalahan-permasalahan umat Islam yang
ada di Indonesia seperti konflik yang berkepanjangan antara Sunni
dan Syi’ah, NU dan Muhammadiyah permasalahan ummat Islam yang
cukup kompleks namun tidak pernah mendapat solusi dari pemerintah.
Keinginan untuk menegakkan syariat Islam dari siswa lebih
besar karena mereka sendiri yang mengemukakan permasalahanpermasalahannya sendiri kemudian dia sendiri yang menyimpulkannya
sesuai dengan materi-materi yang pernah ia dapat di dalam kegiatan
mentoring.
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
69
Selain kegiatan mentoring dan ceris ada juga kegiatan namanya
JRF (Jasmani Rohani Fikriah). Sesuai dengan observasi yang peneliti
dapatkan JRF digunakan untuk mengikat hubungan emosionalnya
antara mentor dan anggota rohis.
Melalui kegiatan tersebut para mentor dapat mengetahui
perkembangan spiritual anggota rohis. Ketika kondisi spritualnya
menurun para mentor pasti memberikan wejangan-wejangan supaya
meningkatkan ibadahnya terhadap Allah Swt.1
Selain kondisi spiritualnya para mentor juga mengetahui kondisi
jasmani dan fikriah atau perasaan anggota rohis yang dirasakan
pada dirinya. Dari sini sebenarnya timbul permasalahan untuk apa
para mentor mengetahui kondisi fikriah dan jasmaninya. Alasan
yang dikemukakan oleh mereka adalah selain untuk memotivasi, kita
mengetahui juga bagaimana kondisi sesama anggota rohis sehingga
dari sini akan timbul rasa kepedulian terhadap sesama.
Kegiatan tersebut memang tampak mulia sekali tetapi dari
kegiatan tersebut juga dapat menimbulkan pertanyaan di antaranya
adalah, untuk apakah para mentor mengetahui kondisi peserta rohis
terlebih lagi mengetahui hubungan personal antara seorang hamba
dengan Tuhannya? Untuk apakah seorang mentor menanyakan kondisi
fisik seseorang? Tidak cukupkah bagi seorang mentor mengetahui dari
tindakan anggota rohis saja karena kalau fisik seseorang bermasalah
atau terganggu maka hal itu akan berpengaruh dengan tindakannya
atau sikapnya.
Begitu pula dengan kondisi fisik. Perlukah seseorang menanyakan
kepada orang lain apa yang sedang dipikirkan? Padahal tidak semua
yang dipikirkan oleh seseorang boleh diketahui oleh orang lain. Jika
bukan untuk mengikat hubungan emosional antara mentor dan anggota
rohis, seorang mentor tidak akan melakukan hal yang semacam itu
karena dengan mengikat emosional siswa, dengan mudah seseorang
mengarahkan seseorang ke arah yang dia kehendaki.
Kondisi tersebut memang sengaja dimanfaatkan oleh sebagian kaum
radikalis Islam. Hal ini sudah diungkapkan oleh Komaruddin Hidayat
melalui tulisannya mengenai ciri-ciri radikalisme Islam yaitu salah
satunya adalah mengikat emosional anggota rohis dengan mentornya.
1
70
Buku kecil Catatan observasi rohis putri di lapangan.
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
3.
Liqa’
Liqa’ artinya bertemu. Liqa’ dalam penelitian ini adalah
pertemuan rutin yang dilakukan oleh beberapa orang dengan satu
murabbi dengan waktu dan tempat yang sudah diatur dan direncanakan.
Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari kegiatan rohis di sekolah.
Sebagaimana kegiatan rohis di sekolah, liqa’ dijadikan sebuah wadah
untuk mempelajari Islam secara kafah menurut pandangan mereka.2
Di dalam liqa’ masih terbagi lagi menjadi beberapa tingkatan
semakin tinggi tingkatan liqa’nya semakin tinggi pula tingkat pelajaran
Islam yang kafaah. Pelan tapi pasti itulah yang dilakukan mereka
dalam merekrut para kalangan muda yang berilmu ke dalam lingkaran
mereka untuk mendukung cita-citanya dalam mewujudkan tujuan
mereka yaitu ingin menegakkan syariat Islam di negara Indonesia atau
mereka lebih suka disebut dengan menegakkan sistem khilafah yang
pernah membuahkan hasil yang sangat bagus saat diterapkan pada
zaman sahabat atau salaf al-shalih.3
Karena itu, supaya tetap bisa eksis mereka tidak menampakkan
keyakinannya di depan orang-orang awam. Hal ini dilakukan supaya
mereka dapat leluasa merekrut siswa-siswi yang berada di sekolah
yang sudah ditampung melalui rohis.
Hal ini dapat di ketahui dari hasil wawancara dengan Raihan
Muhammad Goffar yang mengatakan, “Kita tidak diharuskan
menyampaikan kepada orang-orang tentang apa yang kita yakini sekiranya
akan menimbulkan perse­lisihan di kalangan kaum muslimin umumnya.
Misalnya kegiatan maulid sebenarnya ‘kan tidak ada di dalam Islam
tapi kita tidak akan memaksakan keyakinan kita di lingkungan sekolah.
Karena kebanyakan mereka masih belum tahu yang sebenarnya. Maka
kita, terlebih saya, ketika masih menjadi ketua rohis tetap mengadakan
maulid Nabi Muhammad di lingkungan sekolah.”
Selain itu mereka juga sangat tertutup. Mereka tidak ingin
kegiatannya diketahui oleh selain anggotanya. Seandainya kegiatankegiatan tersebut tidak ada motif lain selain untuk mempelajari agama
Islam dengan baik mungkin mereka akan sangat terbuka saat peneliti
ingin mengikuti kegiatan liqa’.
2
3
Transkrip wawancara dengan mantan ketua rohis.
Transkrip wawancaea dengan Luluk, mentor rohis putri.
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
71
Nazrah mengatakan untuk mengikuti liqa’ harus ada izin dari
murabbi-nya. Menurutnya, saat ia menyakan kepada murabbinya,
murabbinya tidak mengizinkan orang lain selain anggota rohis untuk
dapat mengikuti liqa’.4
Kegiatan liqa’ merupakan salah satu kegiatan lanjutan dari
kegiatan rohis di sekolah yang sangat efektif untuk menyebarkan
radikalisme Islam di kalangan pemuda baik dari kalangan SMA bahkan
mahasiswa. Karenanya sangat tidak heran jika radikalisme Islam
berkembang sangat pesat di Indonesia karena setiap tahun anggota
mereka selalu bertambah.
Anggota-anggota yang direkrut oleh mereka adalah para pemuda
dari kalangan pelajar yang memang sudah diarahkan secara perlahanlahan oleh kegiatan rohani Islam di sekolah, sehingga mudah sekali bagi
sebagian kaum muslimin yang menghendaki tegaknya hukum Allah
di negara Indonesia untuk melakukan brainwashing terhadap para
pelajar SMA mengingat mereka masih berusia sekitar 21 tahun, masa
peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan
orang dewasa.
Peserta didik SMA berada pada tahap ketiga, yaitu tahap
kepercayaan sintetik-konvensional sebagaimana teori yang telah
diungkapkan oleh James W. Fowler dalam bukunya yang berjudul Stages
of Faith yang dikutip oleh Desminta menyatakan bahwa pada tahapan
ini peserta didik SMA patuh terhadap pendapat dan kepercayaan orang
lain (Desmita 200, 37). Pada tahap ini peserta didik SMA cenderung
ingin mempelajari sistem kepercayaannya dari orang lain di sekitarnya
dan menerima sistem kepercayaan tersebut tanpa diikuti dengan sikap
kritis dalam meyakininya.
Kegiatan liqa’ tidak mengenal usia. Jika sudah menjadi anggota
liqa’ meskipun siswa tersebut sudah berstatus mahasiswa, kegiatan
tersebut masih terus berlanjut. Semakin lama mereka mengikuti liqa’
maka semakin tinggi level liqa’nya. Jika sudah demikian mereka juga
semakin mengetahui Islam yang kafah. Konsekuensi dari mengetahui
mereka pasti akan berbuat seperti apa sudah diketahui.
Barangkali inilah yang menjadi alasan sebagian kaum muslimin
yang ingin menanamkan radikalisme Islam di dalam otak siswa.
Oleh karena itu mereka segera menyusun sistem yang sangat bagus
4
72
Transkrip wawancara.
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
untuk mewujudkan cita-citanya dalam mewujudkan negara Islam di
Indonesia.
Demikian pula tidak mengherankan jika seorang yang terlibat
pelaku teroris adalah seorang pelajar yang mengenyam pendidikan
tinggi, karena radikalisme Islam merupakan langkah awal untuk
menuju aksi teror.
4.Baiat
Baiat merupakan modal utama yang digunakan untuk mengikat
kese­
tiaan siswa dalam mengikuti tahapan-tahapan kegiatan di luar
kegiatan sekolah. Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari rohis yang
ada di sekolah seperti liqa’ KPMD (Kesatuan Pelajar Muslim Depok) Rohis,
dan Halaqah.
Paling tidak baiat telah berhasil membuat siswa mengikuti secara
rutin kegiatan-kegiatan yang telah diagendakan. Meskipun enggan
menye­butkan kepada siapa para siswa yang sedang mengikuti kegiatan
di luar sekolah melakukan baiat, bisa dipastikan jika seseorang sudah
dibaiat untuk setia terhadap pemimpinnya secara otomatis dia akan
selalu taat dan patuh terhadap apa yang diperintahkan oleh pimpinan
mereka.
Salah satu sikap yang merupakan konsekuensi dari setia terhadap
pemimpin adalah taat. Hal ini bisa dicontohkan oleh sikap siswa yang
mengikuti kegiatan lanjutan rohis di luar sekolah mereka tampak solid
sekali. Jika mereka melihat anggota atau teman liqa’-nya sering tidak
hadir dalam liqa’, mereka akan mendatangi teman tersebut untuk
ditanya mengapa tidak pernah liqa’?
Mereka (baik yang berstatus siswa atau alumni) akan membantu
memecahkan permasalahan jika salah satu anggotanya benar-benar
mem­
punyai masalah yang menghalanginya untuk liqa’.5 Misalnya
masalah ekonomi yang kerap menghalanginya untuk tidak bisa
mengikuti liqa’.
Hal ini terbukti bahwa efek dari baiat sangatlah besar. Ia benarbenar menanamkan kesetiaan untuk taat kepada pemimpin. Salah
satu bentuk atau ekspresi ketaaatan atau kesetiaan para siswa yang
mengikuti kelan­jutan program rohis di sekolah adalah dengan rutin
5
Transkrip Wawancara dengan Raihan Muhammad Goffar.
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
73
menghadiri kegiatan-kegitan yang memang telah diagendakan.
Dengan begitu, para pemuda sudah berhasil dikuasainya. Para
penye­bar radikalisme Islam juga dengan leluasa memberikan materimateri yang mengandung radikalisme Islam tanpa rasa ragu dan
khawatir. Setelah ideologi mereka terbentuk dengan kuat dan didukung
dengan keinginan yang sama yaitu ingin menegakkan khilafah Islam
maka mereka akan bersatu padu melawan pemerintah yang sudah ada
demi menegakkan sistem khilafah.
5.
Website (Keterkaitan atara satu Website dengan WebsiteWebsite yang Direferensikan oleh Mantan Ketua Rohani Islam)
Website merupakan salah satu media sosial yang dapat
memengaruhi ideologi seseorang jika dijadikan sumber bacaan bagi
seseorang, seperti baru-baru ini yang sedang ramai diperbincangkan
oleh media, baik media cetak maupun media online tentang pemblokiran
22 situs yang dianggap sebagai salah satu sarana yang digunakan oleh
sebagian orang yang mengatasnamakan Islam untuk kepentingan
Website mereka. Meskipun pada akhirnya Website tersebut diaktifkan
kembali oleh Kemenkoinfo, citra buruk mereka masih dapat dilihat
dari bagaimana isi Website tersebut memposting ulasan-ulasan materi
tentang Islam yang sangat sempit pemahamannya dengan dalil bahwa
yang dilakukan oleh mereka sesuai dengan apa yang dilakukan oleh
Rasulullah Saw.
Dari dua puluh dua situs yang akan diblokir oleh pemerintah
terdapat dua situs yang direferensikan oleh Raihan Muhammad Goffar
untuk dijadikan sebagai sumber bacaan. Website tersebut ialah Website
muslim dan eramuslim.com. Selain kedua Website tersebut masih ada
sepuluh website lagi yang direferensikan oleh Raihan Muhammad
Goffar untuk dijadikan sumber bacaan sebagaimana kedua Website
tersebut.
Dari kesepuluh website tersebut (selain muslim dan eramuslim),
namanya memang berbeda-beda. Ada www.yufid.com, rumaysho.com,
badaronline.com, kajian.net, tanyajawabsyariah.com, konsultasisyariah.
com dan lain-lain, sekalipun sebenarnya isinya tak jauh berbeda
dengan website muslim dan eramuslim.com yang mengacu pada unsur
radikalisme Islam.
Meskipun mereka terkesan memerangi kelompok radikal, tanpa
disangka dan diduga ada satu website yang di antara kesepuluh website
74
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
tersebut, (selain website muslim dan era muslim) menyetujui tindakan
yang dilakukan oleh ISIS. Artikel tersebut berada di dalam website
konsultasisyariah.com
Begitu juga dengan website-website lain yang saling berkaitan
dalam mengajarkan radikalisme Islam dengan mengtasnamakan Islam
padahal mereka mempunyai kepentingan tersendiri. Seperti website
www.yufid.com misalnya yang mungkin pada saat ini tidak diblokir oleh
pemerintah tetapi jika kita mengakses informasi maka nanti website
www.muslim.com akan muncul dalam rangka menjawab informasi
yang kita cari dalam kategori yang sudah disediakan di dalam website
yufid.com.
Informasi-informasi yang dipostingkan juga kebanyakan sama
misalnya sama-sama mereferensikan untuk membuka sepuluh website
sebagaimana yang telah disebutkan di atas dengan memasukkannya
menjadi sepuluh website top Islami misalnya website rumaysho.com.
Dalam isi website misalnya mereka membuat kategori-kategori
yang sama seperti kategori Manhaj, Aqidah, Tafsir al-Quran, Akhlak,
Tokoh teladan dan lain-lain dengan informasi yang tidak jauh berbeda.
Bahkan peneliti informasi yang sama, pendistribusian yang sama dan
lain-lain.
Selain melaui tulisan mereka menyebarkan ceramah-ceramah
agama melalui audio-audio yang mereka unggah pada beberapa
website dari sepuluh website tersebut, di antaranya adalah yufid.com
dan kajiannet.com. Di dalam website tersebut banyak sekali kumpulan
ceramah agama yang disampaikan oleh beberapa ulama mereka
tentang berbagai macam permasalahan dalam kehidupan.
Di dalam salah satu ceramah dari ulama mereka terdapat dialog
yang menarik dengan durasi kurang lebih satu jam mengenai Daulah
Islamiyah yang pada intinya mereka menyetujui berdirinya Daulah
Islamiyah meskipun dalam dialognya mereka tidak menyetujui tindakantindakan kekerasan.
Mereka mengatakan bahwasanya demokrasi itu bukan dari Allah
dan sangat bertentangan dengan hukum Allah. Sistem demokrasi juga
disebut dengan sistem Yahudi. Di dalam dialog itu juga masih banyak
pernyataan dari Abdul Hakim Abdat yang mengecam sistem demokrasi.
Dengan demikian sudah jelas sekali bahwasanya media-media
yang direferensikan oleh para mentor rohis sangat mengandung unsur
radikalisme dalam Islam. Meskipun belum tentu siswa yang mengikuti
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
75
rohis mendengarkan auidio tersebut tetapi paling tidak jika ada
informasi yang dibutuhkan mereka akan mencari di dalam websitewebsite yang sudah direferensikan oleh para mentor mereka.
Dengan mengakses informasi-informasi, peluang untuk menjadi
radikalisme Islam semakin besar. Ada kemungkinan mereka juga
akan mereferensikan website tersebut kepada orang lain, di luar
kelompoknya. sebagaimana yang dilakukan oleh mantan ketua rohis
yang mereferensikan website tersebut kepada peneliti saat peneliti
melakukan wawancara dengannya.
C.
Peran guru Pendidikan Agama Islam
dalam mencegah radikalisme Islam di sekolah
Ternyata Guru Pendidikan Agama Islam yang ada di sekolah SMA
Sejahtera 01 Depok masih belum menyadari bahwa radikalisme Islam
yang keberadaaannya sering membuat orang resah kini berhasil masuk
kesekolah melalui kegiatanan rohani Islam di sekolah.
Mereka mengatakan, radikalisme Islam tidak mungkin terjadi di
sekolah karena guru PAI di sini tidak mungkin mengajarkan radikalisme
Islam. Kalaupun ada mereka membawanya dari luar kemudian.
Anggapan yang demikian mungkin sah-sah saja karena guru PAI merasa
bahwa dirinya tidak mengajarkan radikalisme Islam terhadap siswasiswinya di sekolah.
Faktor-faktor yang dijelaskan oleh guru PAI tentang radikalisme
yang menyebar di sekolah juga bisa diterima karena memang pada
kenyataannya radikalisme Islam dapat menjangkiti siapa saja. Faktor
radikalisme Islam yang dapat dijelaskan oleh guru PAI di antaranya
adalah sebagai berikut: sempitnya pengetahuan, terbatasnya sumber
bacaan yang dijadikan referensi, faktor lingkungan, faktor pergaulan
dan faktor tempat belajar agama siswa di luar sekolah.
Meskipun pihak sekolah terutama guru Pendidikan Agama Islam
belum mengetahui bahwasanya radikalisme Islam telah berhasil
masuk di sekolah melalui kegiatan rohis, guru Pendidikan Agama Islam
menyadari bahwasanya melakukan pencegahan terhadap terhadap
radikalisme Islam sangatlah penting karena kita tidak mengetahui
bagaimana kehidupan siswa di luar sekolah.
Paling tidak jika guru PAI mengambil peran dalam mencegah
radikalisme Islam, siswa mempunyai bekal pengetahuan sehingga jika
76
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
suatu saat ia dipengaruhi oleh sebagian kaum muslimin garis keras, ia
tidak akan mudah dipengaruhi.
Dalam hal ini peran guru Pendidikan Agama Islam dalam
mencegah radikalisme Islam di SMA Sejahtera adalah sebagai berikut:
1.
Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Teladan Bagi Siswa
Guru adalah sosok yang seharusnya dapat dijadikan idola oleh
siswa-siswinya karena sangat sayang jika seorang siswa mengidolakan
seseorang yang dapat merusak kepribadiannya. Karena konsekuensi
dari mengidolakan seseorang, ia akan meneladani tindak tanduknya.
Untuk meminimalisasi terjadinya kesalahan dalam memilih idola
sudah seharusnya guru menjadi sosok yang dapat dijadikan idola oleh
siswa-siswinya. Selama ini idola yang dicari oleh para remaja dilihat
berdasarkan, ketampanan atau kecantikan, kekayaan, dll.
Seorang guru dapat menampilkan akhlak-akhlak mulia
sebagaimana yang ditampilkan oleh bapak Imran Rosyadi. Beliau
selalu menampilkan akhlak mulia seperti menjaga pandangannya
ketika saat di depan nonmuhrim di depan guru perempuan misalnya.
Karena menundukkan pandangan bukan berarti memalingkan
muka. Bahkan beliau sangat menyimak pembicaraan jika beliau
melakukan pembicaraan dengan guru perempuan tetapi ia tidak
memberlakukannya di hadapan siswanya.
Saat pembelajaran di kelas beliau juga menampilkan akhlakakhlak yang sangat terpuji seperti beliau sabar dalam menghadapi siswasiswinya, tidak mudah marah, ramah, tegas tetapi tidak pernah membuat
para siswa menjadi takut juga tidak membuat siswa menjadi ngelunjak.
Meskipun guru PAI tidak menampilkan seperti yang ditampilkan
oleh kebanyakan orang yang dijadikan idola tetapi akhlak terpuji yang
ditampilkan oleh seorang guru PAI dapat diterima oleh setiap orang karena
nilainya yang universal sehingga lama kelamaan siswa akan meneladani
sikap baik yang ditampilkan oleh guru PAI karena pada dasarnya setiap
manusia akan menerima kebaikan meskipun hatinya menolak.
2.
Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Pembimbing
Seorang Guru PAI yang berada di jenjang SMA harus mampu
membimbing siswa siswinya menuju sesuatu yang baik. Karena dari
segi usia mereka masih berada berada pada masa remaja (12-21 tahun)
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
77
yang merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak
dan masa kehidupan orang dewasa. Itulah sebabnya para peserta
didik SMA pada masa ini banyak melakukan berbagai aktivitas untuk
menemukan jati dirinya (ego identity).
Sebagaimana yang telah dikatakan oleh dalam buku yang dikutip
oleh Desita yang mengungkapkan bahwa pada tahap kepercayaan
sintetik konvensional peserta didik SMA dapat dengan mudah didoktrin
termasuk dengan doktrin-doktrin yang bertentangan dengan nilainilai agama yang dipercayainya sehingga hal itu dapat membahayakan
dirinya. Itulah sebab mengapa para peserta didik SMA sering dijadikan
sebagai target rekruitmen anggota teroris. Jika ia telah tergabung
dalam kelompok radikal, kelompok radikal tersebut akan dengan
mudah memengaruhi cara peserta didik SMA dalam beragama. Jadi di
satu sisi pada tahap kepercayaan sintetik-konvensional, perkembangan
keagamaan peserta didik SMA dapat diarahkan dengan baik jika
mereka bergabung dengan kelompok keagamaan yang membangun
iklim beragama secara sehat.
Kemudian di sisi lain perkembangan keagamaan peserta didik SMA
bisa menjadi buruk jika mereka bergabung dengan kelompok radikal
dan hal itu dapat membahayakannya. Itulah problem perkembangan
keagamaan peserta didik SMA saat ini yang harus benar-benar
diperhatikan oleh berbagai pihak, khususnya guru Pendidikan Agama
Islam (PAI) di SMA.
Oleh karena itu peran seorang guru PAI sangat dibutuhkan untuk
menciptakan pandangan tentang Islam yang moderat, Islam yang
damai terhadap pemikiran siswa dengan cara membimbingnya karena
mengingat tahapan siswa yang dihadapinya masih berada di dalam
tahap kepercayaan sintetik konvensional.
Bagi seorang guru, terutama sekali guru Pendidikan Agama Islam
ia mempunyai banyak kesempatan jika ingin meluruskan pandanganpandangan siswa yang salah , karena guru lebih mempunyai banyak
waktu untuk bertemu dengan siswa setiap hari.
Mungkin guru Pendidikan Agama Islam bisa memanggilnya secara
pribadi di waktu istirahat jika ia mendapati sikap siswa yang terindikasi
ke dalam radikalisme Islam Atau meskipun guru PAI tidak mendapati
sikap radikal ia dapat melakukan pencegahan sebelum semuanya terjadi
karena radikalisme Islam sangat berpotensi terjadi di kalangan pemuda.
Sesuai dengan hasil wawancara dengan guru Pendidikan Agama
78
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
Islam banyak sekali faktor yang menyebabkan siswa terindikasi ke
dalam radikalisme Islam. Begitu pula caranya sebenarnya juga banyak
dan sangat mudah sebagaimana mudahnya radikalisme Islam masuk
ke dalam pemikiran siswa.
Untuk mencegahnya guru tidak hanya melarang saja supaya
siswa jangan sampai terpengaruhi oleh radikalisme Islam. Akan tetapi
guru menjelaskan bahwa Islam itu toleran, Islam itu agama yang damai
tanpa kekerasan, demikian dilakukan supaya siswa terbiasa bepikir
kritis, dan supaya siswa tidak mudah terpengaruhi doktrin-doktrin
yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin untuk menanamkan
radikalisme Islam di dalam benak siswa.
Meskipun bukan guru mata Pendidikan Kewarganegaraan (PKN)
guru PAI juga berhak menganjurkan untuk menghargai dan menghormat
sistem demokrasi yang ada yang sudah dibentuk di Indonesia, karena
sistem tersebut sudah bagus, jadi tidak perlu diubah sebagaimana
yang [ingin] dilakukan oleh segelintir dari kaum muslimin yang
ingin mengubah sistem yang sudah mapan dengan menggantikannya
dengan sistem yang Islami dalam pandangan mereka. Karena pada
dasarnya di dalam Islam juga terdapat anjuran untuk mencintai
negerinya masing-masing dan konsekuensi dari mencintai adalah
mematuhi terhadap segala sesuatu yang sudah ditetapkan oleh negeri
tersebut selama aturan-aturan yang ditetapkannya tetap pada koridor
Islam, dan menghidari kerusakan–kerusakan yang dapat merugikan
terhadap sesama makhluk Tuhan, terlebih lagi sesama kaum muslimin
sebagaimana terhadap hadis yang mengatakan bahwa hubbul wathani
minal imân, mencintai negeri adalah sebagian dari iman.
Arahan atau bimbingan yang diberikan oleh guru PAI akan
membuka wawasan Islam siswa tentang bagaimana Islam agama yang
sangat menganjurkan perdamaian dan keselamatan, untuk bertoleransi
terhadap hal-hal yang berbeda. Bimbingan dan pengetahuan yang
semacam ini sangat berguna untuk memberi bekal terhadap siswa buat
masa depannya dan meluruskan pemikirannya terhadap agama Islam,
serta menampilkan ajaran-ajaran agama Islam yang damai.
3.
Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Pengintegrasi MateriMateri ke dalam Nilai-Nilai Antiradikal
Guru merupakan kunci awal sukses tidaknya pembelajaran,
tergantung terhadap seorang guru. Bahkan melalui mata pelajaran
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
79
Pendidikan Agama Islam guru mampu menjadikan siswa menjadi
radikal dalam memahami Islam sekaligus guru juga mampu mencegah
radikalisme Islam melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Sebelum menganalisis tentang Guru PAI sebagai pengintegrasi
materi-materi ke dalam nilai-nilai antiradikal, di sini peneliti perlu
memberikan penekanan sekali lagi bahwa guru Pendidikan Agama
Islam yang ada di SMA Sejahtera 01 Depok tidak menyetujui adanya
radikalisme Islam. Oleh karena itu guru Pendidikan Agama Islam
Bapak Imran Rosyadi berusaha semampu beliau untuk memasukkan
sebagian materi-materi yang ada di dalam mata pelajaran PAI ke dalam
nilai-nilai pendidikan antiradical. Untuk merealisasikannya, guru PAI di
SMA dapat mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan antiradikalisme ke
dalam pembelajaran PAI di SMA. Nilai-nilai pendidikan antiradikalisme
tersebut dapat diadopsi dari kurikulum karakter di Negara Bagian
Georgia berikut ini:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
80
Citizenship, yaitu kualitas pribadi seseorang terkait hak-hak dan
kewajibannya sebagai warga negara dan warga bangsa. Misalnya
hak dan kewajiban dalam memanfaatkan dan mengembangkan
kemajuan IPTEK dengan prinsip kemaslahatan bangsa dan
negara.
Compassion, yaitu peduli terhadap penderitaan atau kesedihan
orang lain serta mampu menanggapi perasaan dan kebutuhan
mereka.
Courtesy, yaitu berperilaku santun dan berbudi bahasa halus
sebagai perwujudan rasa hormatnya terhadap orang lain.
Fairness, yaitu perilaku adil, bebas dari favoritisme maupun
fanatisme golongan.
Moderation, yaitu menjauhi pandangan dan tindakan yang
radikal dan ekstrem yang tidak rasional.
Respect for other, yaitu menghargai hak-hak dan kewajiban orang
lain.
Respect for the Creator, menghargai segala karunia yang diberikan
oleh Tuhan Sang Maha Pencipta dan merasa berkewajiban untuk
selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala laranganNya serta senantiasa bersyukur kepada-Nya.
Self control, yaitu mampu mengendalikan diri melalui keterlibatan
emosi dan tindakan seseorang.
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
i.
Tolerance, yaitu dapat menerima penyimpangan dari hal yang
dipercayai atau praktik-praktik yang berbeda dengan yang
dilakukan atau dapat menerima hal-hal yang berseberangan
dengan apa-apa yang telah menjadi kepercayaan diri.
Guru Pendidikan Agama Islam yang ada di SMA Sejahtera 01
Depok yaitu bapak Imran Rosyadi, MM selalu memasukkan nilainilai pendidikan antiradikalisme ke dalam penyampaian materi
meskipun beliau tidak mengetahui secara pasti bahwasanya ternyata
ada kurikulum berkarakter antiradikal di Negara Bagian Georgia yang
sangat efektif jika diterapkan untuk mencegah radikalisme Islam di
sekolah (Sarmani & Hariyanto 2011, 54).
Untuk memasukkan nilai-nilai antiradikal ke dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam sebenarnya guru tidak dituntut untuk
mengetahui terlebih dahulu bahwasanya telah terdapat kurikulum
berbasis antiradikal di beberapa negara. Pada dasarnya guru PAI
pasti mengetahui nilai-nilai pendidikan yang dapat digunakan untuk
mencegah radikalisme Islam di sekolah karena nilai-nilai pendidikan
antiradikalisme dapat dipahami oleh siapa saja. Sehingga tanpa
mengetahui kurikulum tersebut guru PAI tetap dapat melakukan
pencegahan radikalisme Islam di sekolah melalui materi-materi PAI.
Banyak sekali materi Pendidikan Agama Islam yang dapat
diintegrasikan ke dalam nilai-nilai pendidikan antiradikal, baik materi
yang ada di kelas X, XI maupun XII karena pada dasarnya tujuan PAI
sangat mulia, sehingga jika mata pelajaran PAI dilaksanakan sesuai
prosedurnya dari pemerintah maka bisa dipastikan bahwa materimateri yang ada di dalam Pendidikan Agama Islam dapat mencegah
radikalisme Islam.
Meskipun materi Pendidikan Agama Islam telah dirancang dengan
sedemikian rupa sehingga materi tersebut dapat digunakan untuk
mencegah radikalisme Islam, tetapi jika guru Pendidikan Agama Islam
mendukung radikalisme Islam, materi-materi tersebut tidak dapat
mencegah radikalisme bahkan malah menimbulkan radikalisme Islam
melalui materi PAI.
Karena betapapun bagusnya suatu sistem atau materi tergantung
pada bagaimana guru mengolah materi sebelum disampaikan terhadap
siswa ketika proses pembelajaran di kelas berlangsung.
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
81
KESIMPULAN
Dari hasil pemaparan data dan temuan yang didapatkan di
lapangan maka dapat disimpulkan bahwa sekalipun Guru Pendidikan
Agama Islam (PAI) SMA Sejahtera 01 Depok tidak mengetahui bahwa
radikalisme Islam telah berhasil masuk di sekolah—seperti melalui
kegiatan Rohani Islam (rohis)—mereka tetap berusaha untuk mencegah
radikalisme Islam di sekolah dengan cara mengoptimalkan diri sebagai
teladan bagi siswa, pembimbing, dan pengintegrasi materi-materi PAI ke
dalam nilai-nilai antiradikal.
Peneliti menyarankan agar (1) pemerintah menetapkan
kurikulum atau panduan mengajar terhadap kegiatan mentoring
dalam kegiatan ekstrakurikuler rohis sehingga dapat meminimalisasi
berkembangnya radikalisme Islam terutama di lingkungan sekolah;
(2) pihak sekolah terutama guru PAI lebih memerhatikan kegiatankegiatan keagamaan yang dikelola oleh siswa sendiri; (3) sekolah terus
mengembangkan budaya positif yang berkaitan dengan akhlak siswa,
karena siswa yang cerdas saja tidak cukup tanpa memiliki akhlak yang
mulia serta sering mengadakan seminar-seminar tentang Islam yang
moderat untuk para siswanya agar wawasan siswa lebih luas sehingga
siswa mampu berpikir kritis dan tidak mudah didoktrin oleh orang
lain; (4) perpustakaan sekolah memiliki koleksi buku-buku pendidikan
lain selain buku paket sebagai penunjang mata pelajaran dari sekolah
dan juga sebagai pengetahuan baru bagi siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Azekiyah dll. Politik Ruang Publik Sekolah. Yogyakarta: LKiS & CRCS, 2011.
Bakri, Syamsul. ““Islam dan Wacana Radikalisme Agama Kontemporer”.”
Dinika 3 (2004): 2.
Daradjat, Zakiah. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
Desmita. Psikologi Perkembangan Peserta Didik: Panduan Orang Tua
dan Guru dalam Memahami Psikologi Anak Usia SD, SMP, dan
SMA. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009.
Ghoffar, Raihan Muhammad, wawancara oleh Latifah. “Kegiatan
Mentoring” (2015).
82
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
Gulpaygani, Ali Rabbani. Kalam Islam: Kajian Teologis dan Isu-Isu
Kemazhaban. 1. Dialih bahasakan oleh Muhammad Jawad
Bafaqih. Jakarta: Nur Al-Huda, 2014.
Hadi, Bachtiar Effendy dan Soetrisno. Agama dan Radikalisme di
Indonesia. Jakarta Timur: Nuqtah, 2007.
Muchlas Sarmani & Hariyanto. Konsep dan Model Pendidikan Karakter.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011.
Muhaimain. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan
Agama Islam di Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.
Muhaimin. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya: Pusat
Studi Agama, Politik, dan Masyarakat (PSAPM), 2003.
NK, Roestiyah. Masalah Ilmu Keguruan. Jakarta: Bina Aksara, 1998.
Nurdin. Kiat Menjadi Guru Profesional. Jakarta: Primashophie, 2004.
Piet A. Sahertian & Ida Aleida. Supervisi Pendidikan Islam Dalam Rangka
Insevice Educatio. Jakarta: Rineka Cipta, 1990.
Pusat Bahasa Depdiknas. Kamus Besar Bahasa Indonesia. IV. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Qodir, Zuly. Perspektif Sosiologi tentang Radikalisasi Agama Kaum
Muda. Jakarta: MAARIF Institute for Culture and Humanity, 2013.
Ramayulis. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia,
2010.
Rohmadi, Ali. Kapita Selekta Pendidikan. Jakarta: Bina Ilmu, 2004.
Rokhmad, Abu. “Radikalisme Islam dan Upaya Deradikalisasi Paham
Radikal.” Jurnal Kependidikan Walisongo 20 (2012): 10.
Rubaidi, A. Nahdlatul Ulama dan Masa Depan Moderatisme Islam di
Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka, 2010.
Sudiyono. Ilmu Pendidikan Islam. Vol. 1. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009.
Taher, Tarmizi. ““Anatomi Radikalisme Keagamaan dalam Sejarah
Islam”.” Dalam Radikalisme Agama, oleh Bahtiar Effendy &
Hendro Prasetyo, 6. Jakarta : PPIM-IAIN, 1998.
Tohirin. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 2005.
safina
Volume 2/Nomor 1/ 2017
83
Umar, Ahmad Rizky Mardhatillah. ““Melacak Akar Radikalisme Islam
di Indonesia”.” Jurnal Ilmu Sosial Ilmu Politik, 2010: 173.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Media Wacana
Press, 2003.
Undang-Undang RI No.14 Tahun 2005. Tentang Guru dan Dosen.
Bandung: Citra Umbara, 2006.
Wahid, Abdurrahman. Ilusi Negara Islam. Jakarta: The Wahid Institute,
2009.
Zada, Khamami. Islam Radikal. Jakarta Selatan: Teraju, 2002.
Zamroni. Paradigma Pendidikan Islam. Yogyakarta: Bayu Inda Grafika,
2001.
Wawancara: Nazah, wawancara oleh Latifah. “Mentoring” (2016).
84
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Islam di SMA Sejahtera 01 Depok
Download