Hukum dan Masyarakat

advertisement
JURNAL HUKUM DAN MASYARAKAT
ISSN 1693-2889
Volume 14 Nomor 2
April 2015
SEMANGAT OTONOMI KHUSUS DAN SISTEM FEDERAL DALAM
MEMPERTAHANKAN NKRI
Frans Reumi1
ABSTRAK
Penerapan desentralisasi mengandung prinsip sistem federal (federal
arrangements) merupakan solusi yang tepat untuk menyelenggarakan
pemerintahan negara Indonesia ialah negara kesatuan (unitary state) yang
berbentuk Republik dengan kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik
masyarakat yang majemuk (multikultural), serta kondisi geografis yang terdiri
atas ribuan pulau sebagai pelaksanaan prinsip persatuan dalam keanekaragaman
(unity in diversity) dalam rangka menjaga keutuhan negara (sovereigity) dan
pemerataan kesejahteraan (prospherity).Negara Kesatuan RI yang menerapkan
prinsip sistem federal, dapat ditemukan dalam UUD NRI 1945 dan dijabarkan
pada beberapa materi muatan desentralisasi dalam UUNo. 22 Tahun 1999, UU
No. 32 Tahun 2004,dan diubah dengan UU No. 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah, diterapkannya prinsip penyerahan sisa atau residu
kewenangan (the reserve of powers) kepada Daerah dan sistem pemilihan
langsung Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Sedangkan desentralisasi
yang mengarah ke sistem federal berpengaruh positif dan negatif terhadap
pelaksanaan fungsi dan tujuan negara, tercantum dalam pelaksanaan semangat
UUOtonomi Khusus di Indonesia,yang mencerminkan sistem federal sebagai
upaya mempertahankan NKRI dalam kehidupan berbangsa dannegara.
Kata Kunci : Desentralisasi, Otonomi Khusus, Sistem Federal, NKRI .
II.Pendahuluan
Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 setelah diamandemen (selanjutnya disebut UUD NRI 1945) tertulis
secara tegas “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan
yang berbentuk
Republik”.Sedangkan pada ayat (3) UUD NRI 1945 tertulis “Negara Indonesia
adalah negara hukum”.Artinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (selanjutnya
disebut NKRI) sebagainegara hukum (rechsstaat), tidak atas kekuasaan belaka
(machtsstaat), demikian pula didalam UUD lain yang pernah berlaku yaitu
Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS) danUndang-Undang Dasar
Sementara (UUDS) 1950 dinyatakan dengan tegas bahwa negara Indonesia adalah
1
Dosen dan Peneliti Utama Pada Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih Jayapura
Papua, Januari 2016.
Hukum dan Masyarakat 2015
negara hukum.2 Dari hakikat prinsip yang dimuat dalam hukum dasar tersebut
mengandung makna bahwa kekuasaan tertinggi di dalam negara Indonesia adalah
hukum yang dibuat oleh rakyat dan/atau melalui wakil-wakilnya di Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari pusat sampai daerah dalam
bentuk kodifikasi hukum dan berlaku unifikasi hukum dengan viksi hukum dalam
politik hukum ketatanegaraan Indonesia.
Indonesia sebagai negara kesatuan yang menerapkan beberapa prinsip
sistem federal (an unitary state with some federal arrangement) menjadi dasar
penyelenggaraan desentralisasi pada otonomi daerah dan otonomi khusus di
Indonesia menjadi cair terhadap sentralisasi setelah era orde reformasi tahun 1998.
Awal sistem desentralisasi dapat ditemukan dalamorde reformasi tahun 1998
dalam beberapa materi kebijakan desentralisasiyaitu dalam UU No. 22 Tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang penggantinya yaitu UU No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kemudian diubah dengan UndangUndang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Misalnya :
diterapkannya prinsip penyerahan sisa (residu) kewenangan (the reserve of
powers) kepada Daerah dan sistem pemilihan langsung Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah.Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan pemerintahan baik pusat
maupun daerah diharuskan (wajib) sesuai dengan amanat UUD NRI Tahun 1945
sebagai hukumm dasar tertinggi.Isu otonomi daerah dalam penyelenggaraan
pemerintahan daerah akhir-akhir ini, antara lain dengan muncul perdebatan
mengenai penyelenggaraan desentralisasi di beberapa daerah yang mendapat
otonomi khusus di Indonesia. Misalnya Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY), Peraturan Daerah (Perda) bermasalah dan/atau diskriminasi,
konflik pemilihan kepala daerah (Pilkada), masalah pengelolaan batas wilayah
daerah, pemekaran daerah, dan isu tuntutan otonomi khusus di beberapa daerah
pasca pemberian Otonomi Khusus terhadap Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
(NAD), Provinsi Papua, dan Provinsi Papua Barat. Adanya kesemua isu tersebut
berawal dari masalah besar kecilnya pembagian kewenangan Pusat kepada Daerah
dalam upaya penyelenggaraan otonomi daerah yang diharapkan kepada sistem
2
Ahmad Muliadi, Politik Hukum, Akademia Permata, Padang, 2013, hlm.21
101
Hukum dan Masyarakat 2015
pemerintahan NKRI yang berbentuk suatu Negara Kesatuan (a unitary state)
dewasa ini.Adanya ketidak seimbangan dan ketidakmerataan pembangunan telah
menjadi isu penting dalam setiap periode penyelenggaraan pemerintahan Negara
Republik Indonesia sejak masa awal kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai dengan
awal orde reformasi tahun 1998 dan memasuki tahun 2000-an di era globalisasi
berada dalam otoritas masing-masing rezim yaitu rezim orde lama, rezim orde
baru,
dan
rezim
orde
reformsi.
Ketidakmerataan
pembangunan
telah
menumbuhkan perasaan tidak adil bagi masyarakat Indonesia yang multikultural di
berbagai daerah.
Perkembangan politik hukum ketatanegaraan dengan momentum
jatuhnya pemerintahan Orde Baru Tahun 1998, dimanfaatkan oleh gerakan
reformasi dibeberapa daerah untuk menggulirkan berbagai tuntutan, mulai dari
permintaan otonomi yang lebih luas, penerapan sistem federal, hingga tuntutan
untuk memisahkan diri dari NKRI. Misalnya : tuntutan beberapa daerah yang
bergulir pada gerakan reformasi, seperti ungkapanTrabani Rabmengungkapkan
Provinsi Irian (sekarang Papua), Daerah Istimewa Aceh, dan Riaumenuntut
memisahkan diri dari NKRI sedangkan Provinsi Kalimantan Timur menuntut
penerapan sistem federal.3Setelah Pemerintah dan DPR RI kemudian merespon
dengan membentuk beberapa Undang-Undang seperti UU No. 22 Tahun 1999
tentang Pemerintah Daerah menggantikan UU sebelumnya yaitu UU No. 5 Tahun
1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. UU No. 22 Tahun 1999 telah
membuka cakrawala baru dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah di Indonesia
dan
menggeser
cara
pandang
Sentralistismenjadi
Desentralistisdengan
memberikan kewenangan yang luas, nyata, dan bertanggung jawab kepada daerah.
UU No. 22 Tahun 1999 mendefenisikan desentralisasi sebagai “penyerahan
wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom dalam kerangka
NKRI.” UU No. 22 Tahun 1999 dianggap lebih sebagai strategi Pemerintah untuk
3
Trabani Rab, 2002, “Kemerdekaan, Otonomi, atau Negara Federal : Suara Rakyat
Daerah”, dalam : Ikrar Nusa Bhakti dan Irine H. Gayatri (eds), Kontroversi Negara Federal :
Mencari Bentuk Negara Ideal Indonesia Masa Depan, Mizan Media utama,Bandung, hlm. 175.
102
Hukum dan Masyarakat 2015
mengatasi masalah dan isu-isu disintegrasi di Indonesia dalam era gerakan
reformasi. Hal ini diperkuat dengan pemberian Otonomi Khusus bagi Provinsi
Timor Timur sebagaimana termuat dalam Pasal 118 ayat 1 UU No. 22 Tahun 1999.
Walaupun telah mendapatkan status Otsus Provinsi Timor Timur berhasil
melepaskan diri dari NKRI melalui referendum pada tahun 1999. Menyikapi
semakin meningkat tuntutan dan gerakan di berbagai daerah kemudian Pemerintah
memberikan status otonomi khusus terhadap dua wilayah yang potensi
disintegrasinya cukup tinggi yaitu Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang ditetapkan
UU No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (selanjutnya disebut Otsus NAD) sebelum berlakunya UU No. 11
Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, menyusul kemudian Provinsi Irian Jaya
(Papua) diberikan Otonomi Khusus lewat UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus bagi Provinsi Papuadan UU No. 35 Tahun 2008bagi Provinsi Papua Barat
(selanjutnya disebut Otsus Papua dan Papua Barat).Bagi Otsus Papua memberi
kewenangan khusus yang lebih luas kepada Papua dan Papua Barat dibandingkan
dengan kewenangan yang dimiliki daerah lainnya antara lain :
a. Kewenangan membentuk Majelis Rakyat Papua (MRP) yang mempunyai
tugas dan wewenang antara lain : memberikan pertimbangan dan
persetujuan terhadap bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang
diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) dan memberikan
pertimbangan dan persetujuan terhadap Rancangan Peraturan Daerah
Khusus yang diajukan oleh DPRP bersama-sama dengan Gubernur.
b. Kewenangan membentuk Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Papua dan
Peraturan Daerah Provinsi Papua (Perdasi) dalam rangka pelaksanaan
Undang-Undang Otonomi Khusus Provinsi Papua.
Berlakunya UU No. 32 Tahun 2004 yang diubah dengan UU No. 23
Tahun 2014 dengan menerapkan kebijakan desentralisasi di Indonesia yang
mengarah ke sistem federaljuga tercermin pada pemilihan sistem kepala daerah
dan wakil kepala daerah yang diatur oleh kedua UU tersebut. Menanggapi tentang
mekanisme
pemilihan
kepala
daerah
(Pilkada)
menurut
Joko
J.
Prihatmokomenyebutkan bahwa sistem pilkada secara langsung ini lazim
103
Hukum dan Masyarakat 2015
digunakan di negara-negara yang menganut sistem federasi atau federal murni,
antara lain di negara Amerika Serikat, Australia, dan Kanada. Tanggapan kritis
lainnya oleh Ramlan Surbakti yang mengistilahkan pilkada langsung ini
merupakan contoh yang paling kongkret untuk menjelaskan pandangan kebijakan
desentralisasi di Indonesia menerapkan sistemfederal arrangements.Semangat
desentralisasi yang mengandung federal arrangements merupakan sementara cara
yang
tepat
dilakukan
menyelenggarakan
oleh
pemerintahan
Pemerintah
Republik
Indonesia
untuk
yang
demokratis,
dalam
rangka
mempertahankan keutuhan NKRI dan mewujudkan pemerataan pembangunan dan
kesejahteraan rakyat yang sesuai amanat UUD NRI 1945. Perbedaan pemahaman
dan timbulnya berbagai konflik kepentingan antara Pemerintah dengan
Pemerintah Daerah, antar Pemerintah Daerah dan masyarakat merupakan proses
adaptasi dalam proses demokrasi di Indonesia.
Desentralisasi yang menerapkan prinsip-prinsip sistem federal juga
tersirat dalam beberapa materi UU Otsus yang dipayungi oleh UU No. 22 Tahun
1999 dan UU No. 32 Tahun 2004, kini UU No. 23 Tahun 2014 implementasinya
misalnya dalam UU No.18 Tahun 2001 tentang Otsus Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) NAD sebagai fokus pada “lembaga yudikatif”untuk
menyusun jenjang pemerintahan sendiri dan membentuk Qanun, yaitu Peraturan
Daerah Provinsi NAD yang dapat menyampingkan peraturan perundangundangan yang lain dengan mengikuti asas lex specialis derogat legi
generalis.Kewenangan lainnya Provinsi NAD melaksanakan peradilan Syariat
Islam yang dilakukan oleh Mahkamah Syariyah. Mahkamah Syariyah Provinsi
Naggroe Aceh Darussalam adalah lembaga peradilan yang bebas dari pengaruh
dari pihak manapun dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang
berlaku untuk pemeluk agama Islam. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001
tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, dengan fokus pada “lembaga
legislatif” untuk membentuk Peraturan Daerah Khusus (Perdasus), yaitu Peraturan
Daerah Provinsi Papua dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Otonomi
Khusus Provinsi Papua. Kewenangan lain membentuk Majelis Rakyat Papua
(MRP) yang mempunyai tugas dan wewenang antara lain : memberikan
104
Hukum dan Masyarakat 2015
pertimbangan dan persetujuan terhadap bakal calon Gubernur dan Wakil
Gubernur yang diusulkan oleh DPRP; memberikan pertimbangan dan persetujuan
terhadap calon anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
utusan daerah Provinsi Papua yang diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat
Papua (DPRP); dan memberikan pertimbangan dan persetujuan terhadap
Rancangan Perdasus yang diajukan oleh DPRP bersama-sama dengan Gubernur.
Kemudian materi kedua UU Otonomi Khusus yaitu UU No. 18 Tahun 2001 dan
UU No. 21 Tahun 2001 memiliki kesamaan ciri dengan sistem Negara federal
sebagaimana tercermin pada negara-negara yang menganut sistem federal antara
lain Amerika Serikat, India, dan Australia.
A. BENTUK NEGERA
1. Negara Kesatuan dan Negara Federal
Operasionalisasi konsep yuridis formal negara hukum Indonesia itu
harus dimanifestasikan dalam kegiatan pembentukan hukum, penerapan,
pelayanan hukum, penegakan hukum, dan pengembangan hukum di
Indonesia. Semua negara yang dikenal di masa kini didirikan me njadi
bentuknya sekarang melalui proses integrasi atau penggabungan
bersama.Berangkat dari pemahaman regeringsvorm yang diterjemahkan
sebagai bentuk pemerintahan dan staatvorm yang diartikan sebagai
bentuk negara
Sri Soemantri Martosoewignyomengatakan bentuk
negara meliputi negara serikat dan negara kesatuan. 4Hendra Nurtjahjo
mengatakan susunan negara ada yang berbentuk serikat dan ada juga
susunan negara yang berbentuk kesatuan. 5 Menurut Soehino, negara
ditinjau dari segi susunannya akan menghasilkan dua k emungkinan
bentuk susunan negara, yaitu: 1) negara yang bersusunan tunggal, yang
disebut negara kesatuan, dan 2) negara yang bersusunan jamak, yang
disebut negara federasi. 6Ditinjau dari pendapat para pakar, terdapat
4
Martosoewigno, Sri Soemantri, “Bentuk Negara dan Implementasinya Berdasarkan UUD 1945”,
dalam Padmo Wahjono (ed), Masalah Ketatanegaraan Indonesia Dewasa ini, Ghalia Indonesia, Jakarta,
1984, hlm, 40
5
Nurtjahjo, Hendra, Ilmu Negara-Pengembangan Teori Bernegara dan Suplemen, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2005, hlm. 43-45.
6
Soehino, Ilmu Negara, Liberty, Yogyakarta, 2004, hlm, 224
105
Hukum dan Masyarakat 2015
perbedaan peristilahan yang sudah umum untuk maksud yang sama, ada
yang menyebutkan bentuk negara, namun ada juga yang mengistilahkan
susunan negara. Demikian pula ada yang menyebut negara serikat,
namun ada pula yang mengistilahkannya
sebagai negara federasi.
Namun perbedaan istilah di atas, tentang bentuk negara dan susunan
negara memiliki maksud yang sama, sehingga tidak mempermasalahkan
terminology tersebut. Namun untuk menyelaraskan dengan obyek
formal yang menjadi dasar normatif penulisan ini yaitu UUD NRI 1945
dan Pasal 1 ayat (1) yang menentukan “Negara Indonesia ialah Negara
Kesatuan yang berbentuk Republik”, memberi pemahaman bentuk
negara adalah berbentuk republik, maka tulisan ini menggunakan istilah
bentuk negara. Selaras dengan urgensi desentralisasi yang mengarah ke
sistem federal dan pengaruhnya terhadap pelaksanaan fungsi Negara
yang memuat istilah federal. Dengan demikian maka: a) bentuk susunan
negara meliputi negara kesatuan dan negara federasi, b) bentuk
pemerintahan negara meliputi pemerintahan republik dan pemerintahan
monarki. Sistem federal sedikitnya dilandasi oleh 5 prinsip biasanya
terlihat pada ciri-ciri negara kesatuan dan negara federal sebagai
berikut :
a) Sistem penyerahan sisa atau residu kekuasaan (reserve of powers)
kepada negara-negara bagian.
b) Penerapan sistem subsidiaritas dalam hubungan pemerintahan
negara federal dan negara-negara bagian.
c) Hubungan kontraktual atau kesepakatan (contractual linkage) antar
negara-negara
bagian
dan
negara
federal
dalam
pembagian
kekuasaan (power sharing) dilandasi oleh kaidah pengaturan diri
sendiri (self rule) dan pengaturan pembagian nilai (shared rule),
d) Pengakuan terhadap pluralisme (pluralism),
e)
Prinsip unity in diversity (persatuan dalam keanekaragaman ).
2. Otonomi Daerah
106
Hukum dan Masyarakat 2015
Istilah Otonomi Daerah dan Desentralisasi sebenarnya mempunyai
pengertian yang berbeda. Istilah otonomi lebih cenderung berada dalam
aspek
politik-kekuasaan
negara
(political
aspect),
sedangkan
desentralisasi lebih cenderung berada dalam aspek administrasi negara
(administrative aspect). Sebaliknya jika dilihat dari sharing of power
(pembagian kekuasaan) kedua istilah tersebut mempunyai keterkaitan
yang erat, dan tidak dapat dipisahkan. Artinya, jika berbicara mengenai
otonomi daerah, tentu akan menyangkut pula pada pembicaraan
seberapa
besar
wewenang
untuk
menyelenggarakan
urusan
pemerintahan yang telah diberikan sebagai wewenang dan/atau urusan
kewenangan
daerah,
demikian
pula
sebaliknya. 7Syariff
Saleh
mengatakan otonomi itu sebagai hak mengatur dan memerintah daerah
sendiri. Atas inisiatif dan kemauan sendiri, di mana hak tersebut
diperoleh dari
Pemerintah Pusat. 8Wayong mengemukakan bahwa
otonomi daerah itu adalah kebebasan untuk memelihara dan memajukan
kepentingan khusus daerah, dengan keuangan sendiri, menentukan
hukum sendiri dan berpemerintahan sendiri. 9Sugeng Istanto menyatakan
bahwa otonomi diartikan sebagai hak atau wewenang untuk mengatur
dan mengurus rumah tangga daerah.Berangkat dari hal tersebut maka
inti pelaksanaan otonomi daerah adalah terdapatnya keleluasaan
pemerintah daerah (discretionary power) untuk menyelenggarakan
pemerintahan sendiri atas dasar prakarsa, kreativitas dan peran serta
aktif masyarakat dalam rangka dan memajukan daerahnya. 10Di sini
masyarakat tidak saja dapat menentukan nasibnya sendiri melalui
pemberdayaan masyarakat, melainkan yang utama adalah berupaya
untuk memperbaiki nasibnya sendiri.
7
Surianingrat, Bayu, Desentralisasi dan Dekonsentrasi Pemerintahan di Indonesia Suatu Analisis,
Dewaruci Press, Jakarta, 1981, hlm, 24
8
Saleh, Syariff, Otonomi dan Daerah Otonom, Endang, Jakarta, 1953, hlm31
9
Wayong J. , Asas dan Tujuan Pemerintahan Daerah, Djambatan, Jakarta,
10
Wijaya, H.A.W, Percontohan Otonomi Daerah di Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta, 1998, hlm,
36
107
Hukum dan Masyarakat 2015
3. Desentralisasi
Pengertian desentralisasi tidak ada yang tunggal, banyak
definisi yang dikemukakan oleh para pakar mengenai desentralisasi.
Menurut David K Hart banyaknya definisi tentang desentralisasi ini
disebabkan karena ada beberapa disiplin ilmu dan teori yang
memberikan perhatian terhadap desentralisasi antara lain seperti ilmu
administrasi negara, Ilmu politik, dan teori administrasi. Istilah
desentralisasi berasal dari bahasa Latin yang berarti “de” adalah lepas
dari “centrum” adalah pusat, sehingga bisa diartikan melepaskan dari
pusat. Dari sudut ketatanegaraan yang dimaksud dinalisasi ialah
penyerahan kekuasaan pemerintah dari pusat kepada daerah -daerah
yang mengurus rumah tangganya sendiri (daerah otonom). Pengertian
ini hampir sama dengan pendapat Amrah Muslimin yang menyebutkan
desentralisasi ialah pelimpahan kewenangan pada badan -badan dan
golongan-golongan dalam masyarakat dalam daerah tertentu untuk
mengurus rumah tangganya sendiri.Amrah Muslimin mengemukakan 3
(tiga) macam desentralisasi, 11yaitu :
1) Desentralisasi politik, sebagai pengakuan adanya hak mengurus
kepentingan rumah tangga sendiri pada badan -badan politik di
daerah-daerah yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah
tertentu;
2) Desentralisasi fungsional, sebagai pengakuan adanya hak pada
golongan-golongan yang mengurus satu macam atau golongan
kepentingan dalam masyarakat, baik serikat atau tidak pada suatu
daerah tertentu, umpamanya subak di Bali;
3) Desentralisasi kebudayaan, yang mengakui adanya hak pada
golongan
kecil,
masyarakat
untuk
menyelenggarakan
kebudayaannya sendiri (antara lain pendidikan dan agama). 12
Di dalam kepustakaan dikenal ada dua macam desentralisasi yaitu :
11
12
Muslimin Amrah, Ikhtisar Perkembangan Otonomi Daerah 1903-1958, Djambatan, Jakarta
Ibid, hlm, 15
108
Hukum dan Masyarakat 2015
1) Desentralisasi
jabatan
(ambtelijke
decentralisatie),
yaitu
pemencaran kekuasaan dari atasan kepada bawahan sehubungan
dengan kepegawaian atau jabatan (ambt) dengan maksud untuk
meningkatkan kelancaran kerja.
2) Desentralisasi kenegaraan (staatkundige
decentralisatie) yaitu
penyerahan kekuasaan untuk mengatur daerah dalam lingkungannya
sebagai usaha mewujudkan asas demokrasi dalam pemerintahan
negara.
Menurut Andi Mustani Pide, desentralisasi pada dasarnya adalah
penyerahan kekuasaan atau wewenang di bidang tertentu secara vertikal
dari institusi atau lembaga atau pejabat yang lebih tinggi kepada
institusi atau lembaga atau fungsionaris bawahannya sehingga yang
diserahi atau dilimpahi kekuasaan wewenang tertentu itu berhak
bertindak
atas
nama
sendiri
dalam
urusa n
tertentu
têrsebut. 13Desentralisasi di negara kesatuan berarti adanya penyerahan
kekuasaan dari pemerintah pusat sebagai badan publik nasional kepada
pemerintah daerah sebagai badan publik lokal. Pada desentralisasi
terjadi distribusi kekuasaan antara peme rintah pusat dengan pemerintah
daerah. Distribusi kekuasaan tersebut dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu
distribusi
kekuasaan
berdasarkan
wilayah
atau
distribusi
kekuasaan berdasarkan fungsi-fungsi tertentu pemerintahan.Dengan
demikian
kekuasaan
pemerintahan
lokal
mempunyai
dua
jenis
kekuasaan, yaitu kekuasaan desentralisasi atau otonomi dan kekuasaan
tugas
pembantuan
(medebewind).Benyamin
Hoessein
dan
Syarif
Hidayat menyebutkan beberapa tujuan, dan alasan negara -negara
berkembang menerapkan kebijakan desentralisasi. Berkaitan dengan
tujuan desentralisasi, ada enam tujuan negara -negara berkembang
menerapkan kebijakan desentralisasi yaitu: 1) untuk pendidikan politik,
2) untuk latihan kepemimpinan politik, 3) untuk memelihara stabilitas
13
Pide Andi Mustari, Otonomi Daerah dan Kepala Daerah Memasuki Abad XXI, Gaya Media
Pratama, Jakarta, hlm 33-34
109
Hukum dan Masyarakat 2015
politik, 4) untuk mencegah konsentrasi kekuasaan di Pusat, 5) untuk
memperkuat akuntabilitas publik, dan 6) untuk meningkatkan kepekaan
elit
terhadap
kebutuhan
masyarakat.
Berkaitan
dengan
alasan
desentralisasi, ada empat alasan penerapan kebijakndesentra1isasiyaitu:
1)
untuk
menciptakan
efisiensi
penyelenggaraan
administrasi
pemerintahan, 2) untuk memperluas otonomi daerah, 3) untuk beberapa
kasus sebagai strategi untuk mengatasi instabilitas politik, dan 4) untuk
meningkatkan
keputusan
partisipasi
dan
daerah.Berdasarkan
masyarakat
untuk
dalam
mempercepat
alasan-alasan
proses
proses
tersebut.
pengambilan
pembangunan
Bayu
Surianingrat
mengatakan desentralisasi umumnya menyangkut 2 (dua) hal, yaitu
desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional:
1) desentralisasi
teritorial
(territorial
decentralization),
yaitu
penyerahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri (autonomie). Batas pengaturan tersebut adalah
daerah;
2) desentralisasi
fungsional
(functionale
decentralisatie),
yaitu
pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus fungsi
tertentu.
Walaupun
desentralisasi
menjadi
landasan
penyelenggaraan
pemerintahan daerah, namun pelaksanaan desentralisasi masih saja
menemukan kendala. Berkaitan dengan kendala desentralisasi, ada dua
kendala penerapan desentralisasi yaitu: 1) berkaitan dengan skala
besaran wilayah operasi pemerintah daerah yang mengakibatkan
penyelenggaraan pemerintah daerah menjadi kurang efektif utamanya
dalam menangani berbagai persoalan sosial dan ekonomi , dan 2)
adanya ketidaktulusan di kalangan pemerintah pusat dan pemerintah
daerah untuk mendudukkan partisipasi masyarakat sebagai elemen
penting dalam proses pengambilan keputusan.
B. Pembahasan
1. Desentralisasi Mencerminkan Sistem Federal
110
Hukum dan Masyarakat 2015
Secara normatif dalam teori pemerintahan, dikenal ada dua model
formasi negara, diantaranya negara federal dan negara kesatuan. Secara
etimologis, kata federal berasal dari bahasa latin feodus, artinya liga.
Liga negara-negara kota yang otonom pada zaman Yunani Kuno dapat
dipandang sebagai negara federal yang mula-mula ada. Bentuk model
pemerintahan federal berasal dari pengalaman konstitusional Amerika
Serikat. Menurut Sri Soemantri Martosoewignyo, berangkat dari
pemahaman
regeringsvorm
yang
diterjemahkan
sebagai
bentuk
pemerintahan dan staatsvorm yang diartikan sebagai bentuk negara,
yang dapat dibagi menjadi negara serikat dan negara kesatuan.
Sedangkan Hendra Nurtjahjo, mengatakan bahwa susunan negara ada
yang berbentuk serikat dan ada juga susunan negara yang berbentuk
kesatuan. Menurut Soehino bahwa negara ditinjau dari segi susunannya
akan menghasilkan dua kemungkinan bentuk susunan negara, yaitu
negara yang bersusunan tunggal, yang disebut negara kesatuan dan
negara yang bersusunan jamak, yang disebut negara federal.
Beberapa segi positif dari konsep negara federal antara lain:
Pertama,Federalisasi merupakan strategi yang paling tepat untuk
membuka kekuasaan yang pada masa lalu amat tertutup. Masyarakat
pada umumnya mendambakan keterbukaan, banyak mekanisme dan
lembaga demokrasi yang dikembangkan dalam rangka membuka
kekuasaan itu. Contohnya adalah perwakilan politik.Kedua,Federalisme
dipandang sebagai usaha menyeimbangkan kekuatan budaya daerah,
suku atau etnis yang ada dalam suatu negara.Ketiga,Di dalam sistem
federal
ada
unsur-unsur
yang
dapat
membantu
menghindari
kecenderungan ke arah intensifikasi ketimpangan ekonomi dan konflik konflik politik dan budaya yang menyertai.Keempat,Sebagai pilihan
alternatif untuk menyelesaikan masalah disintegrasi bangsa.Pendapat
Sri Soemantri mengatakan bahwa di samping ada segi positif
pelaksanaan negara federal, juga ada sisi negatifnya atau kelemahan
111
Hukum dan Masyarakat 2015
mendasar dari sistem negara federal, yaitu memberikan kesempatan
kepada semua Provinsi sebagai daerah otonom untuk menikmati hasil
sumber daya alam daerahnya tanpa perlindungan undang-undang
perimbangan keuangan. Dalam kondisi yang demikian, justru akan
menimbulkan kecemburuan dan kesenjangan antara daerah yang kaya
hasil bumi dengan daerah yang kering atau miskin. Jadi dalam
pelaksanaannya, ternyata sistem negara federal juga harus dilihat
sebagai sistem yang tidak sempurna dalam berbagai penyelesaian
permasalahan yang di hadapi negara.Konsep negara kesatuan menurut
C.F. Strong, dapat disebut negara unitaris atau eenheidstaat. Negara ini
ditinjau dari segi susunannya bersifat tunggal, maksudnya negara
kesatuan itu adalah negara yang tidak tersusun dari berbagai negara,
melainkan hanya terdiri atas satu negara, sehingga tidak ada negara di
dalam negara. Adapun perkembangan desentralisasi di Indonesia secara
historis khususnya melalui lahirnya Undang-Undang No. 22 Tahun
1999 dan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 diubah dengan UU No.
23
Tahun
2014,
tersirat
bahwa
selain
untuk
memperbaiki
penyelenggaraan otonomi daerah, pembentukan ketiga undang-undang
tersebut juga menjadi strategi bagi pemerintah untuk mencegah atau
meredam berbagai gerakan dan tuntutan di daerah yang bermotif sosial,
ekonomi maupun politik yang berujung pada potensi disintegrasi.
Peningkatan derajat desentralisasi menurut para pakar sebagai wujud
pergeseran dari sistem negara kesatuan kepada negara federal. Hal ini
sejalan dengan pendapatJimly Asshiddiqie, yang menyebutkan bahwa
negara Indonesia adalah negara yang berbentuk negara kesatuan
(unitary state) dimana kekuasaan berada di pemerintah pusat, namun
kewenangan
batasannya
(authority)
dalam
pemerintah
Undang-Undang
pusat
Dasar
ditentukan
dan
batasan-
Undang-Undang.
Kewenangan yang tidak disebutkan dalam undang-undang dasar dan
undang-undang ditentukan sebagai kewenangan yang dimiliki oleh
pemerintah daerah sebagai sisa atau residu kewenangan (reserve of
112
Hukum dan Masyarakat 2015
powers). Dengan pengaturan-pengaturan konstitusional yang demikian
itu, berarti NKRI diselenggarakan dengan federal arrangements atau
pengaturan dengan beberapa prinsip federal.Dwi Andayani, dalam
disertasinya menyimpulkan telah terjadi metamorfosa dan negara
kesatuan ke negara federal. Metamorfosa itu semakin kuat dengan
diberikannya
status
otonomi
khusus
bagi
Provinsi
Aceh
Darusalam,Papua dan Papua Barat berdasarkan UU No. 18 Tahun 2001
(UU No. 11 Tahun 2006),UU No. 21 Tahun 2001dan UU No. 35 Tahun
2008.Menurut Ryaas Rasyid mengatakan bahwa NKRI cenderung
mengarah pada federalism, hanya saja pemerintah tidak secara terangterangan atau malu menggunakan istilah negara bagian itu, pemberian
otonomi khusus Aceh, Papua dan Papua Barat secara langsung maupun
tidak langsung sudah mengarahkan NKRI menuju ke pembentukan
negara bagian. Lebih lanjut, Ryaas Rasyid juga mengatakan bahwa
kecenderungan itu semakin menguat dengan adanya MoU Helsinki
untuk Aceh walau tidak disebutkan secara terang-terangan. Misalnya
Perbandingan UU No. 32 Tahun 2004 dengan Ciri-Ciri Negara Federal
yaitu 1) Pemberian otonomi yang seluas-luasnya, 2) Penyerahan Sisa atau
Residu Kewenangan kepada Pemerintah Daerah, 3) Pemberian urusan
pemerintah kepada pemerintah daerah yang bersifat subsidiaritas,... 4)
Pemberian Status Otonomi khusus Pasal 225 dan Pasal 226 serta Pasal 399
UU No.23 Tahun2014. Sedangkan dalam sistem federal Hans Kelsen,
mengatakan perbedaan negara federal dengan negara kesatuan ditentukan
oleh derajat desentralisasinya dan perbedaan antara satu negara kesatuan
yang
hanyalah
pada
derajat
desentralisasinya
(the
degree
of
decentralization). Jadi prinsip pembagian urusan pemerintahan seluasluasnya tersebut menggambarkan desentralisasi mengarah ke sistem negara
federal.
2.Semangat Dua UU Otonomi Khusus dengan Ciri-Ciri Negara Federal
113
Hukum dan Masyarakat 2015
UU No. 22 Tahun 1999, UU No. 32 Tahun 2004 dan UU No. 23
Tahun 2014 yang mengatur tentang pemberian status otonomi khusus di
Indonesia, di mana pasal-pasal yang mengatur otonomi khusus dalam UU
No. 22 Tahun 1999 meliputi Pasal 118 ayat (1) dan (2). Selain itu, UU
No. 32 Tahun 2004 yang mengatur tentang pemberian status otonomi
khusus adalah Pasal 2 ayat (8), Pasal 225, Pasal 226 ayat (1) dan
penjelasan Pasal 226 ayat (1) sesuai dengan penjelasan Pasa) 226 ayat (1)
tersebut, dan Pasal 399 UU No. 23 Tahun 2014. Implementasi otonomi
khusus diatur dengan UU No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus
bagi Provinsi Naggroe Aceh Darussalam dan UU No. 21 Tahun 2001
tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.
1) Semangat UU No. 18 Tahun 2001 Dengan Ciri-Ciri NegaraFederal
Dalam UU No. 18 Tahun 2001, menempatkan titik berat otonomi
khusus pada Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang pelaksanaannya
diletakkan pada daerah kabupaten dan kota atau nama lain secara
proporsional, diatur dalam peraturan daerah yang disebut Qanun.
Muatan materi UU No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang menunjukkan adanya
kesamaan dengan sistem pembagian urusan pemerintahan di negara
federal, adalah :
Tabel : 1UU No. 18 Tahun 2001 dengan Ciri-Ciri Negara Federal
No
1
Materi UU No. 18
Tahun 2001
Kewenangan membentuk lembaga
peradilan yang bebas dan pengaruh
pihak manapun, undang-undang ini
memberikan
kesenangan
kepada
Pemerintah Provinsi NAD untuk
membentuk lembaga peradilan yang
bebas dan pengaruh pihak manapun.
Ketentuan ini menunjukkan bahwa
Provinsi NAD memiliki kewenangan
yang sama dan sebenarnya merupakan
Argumentasi Federalisme
Dengan demikian kewenangan yang
dimiliki oleh Provinsi NAD tersebut
dapat dikatakan adalah kewenangan
suatu
negara
atau
merupakan
kewenangan dalam negara federal. Hal
ini merupakan suatu indikasi adanya
suatu negara dalam negara.
114
Hukum dan Masyarakat 2015
2
3
kewenangan Pemerintah Pusat yaitu
kewenangan di bidang yustisi atau
peradilan sebagaimana diatur dalam
Pasal 10 Ayat (3) UU No. 32 Tahun
2004. Adapun pasal-pasal di dalam UU
No. 18 Tahun 2001 yang menyatakan
tentang kewenangan Provinsi NAD
untuk membentuk lembaga peradilan
sendiri tersebut adalah salah satunya
Pasal 25 Ayat (1) „Peradilan syaniat
Islam di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam sebagai bagian dari sistem
peradilan nasional dilakukan oleh
Mahkamah Syari‟ah yang bebas dan
pengaruh pihak manapun‟. Pasal ini
ditindaklanjuti oleh Pasal 25 Ayat
Kewenangan
untuk
menentukan
bendera Daerah, undang-undang ini
memberikan
kewenangan
kepada
Pemerintah Daerah Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam untuk menentukan
bendera daerah. Pasal-pasal dalam
undang-undang ini yang menyebutkan
tentang pemberian kewenangan untuk
menentukan lambang atau panji daerah
adalah Pasal 18 Ayat (1) „Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam dapat
menentukan lambang daerah, yang
didalamnya termasuk alam atau panji
kemegahan,
yang
mencerminkan
keistimewaan dan kekhususan Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam‟; Pasal 8
Ayat (2) „Lambang Daerah, yang
didalamnya
termasuk
dalam
sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
bukan merupakan simbol kedaulatan
dan tidak diperlakukan sebagai bendera
kedaulatan di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam‟.
Kewenangan memiliki jumlah anggota
legislatif daerah yang berbeda, undangundang ini menyebutkan jumlah
anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam paling banyak 125%
(seratus dua puluh lima persen) dari
Ketentuan
ini
walaupun
tidak
mencerminkan kesamaan yang utuh
dengan bendera yang dimiliki negara
bagian dalam negara federal yang
menunjukkan
sovereignty
atau
kedaulatannya, namun paling tidak
menyiratkan prinsip kewenangan
negara bagian di negara federal dalam
menampilkan
simbol-simbol
kedaulatan.
Kewenangan jumlah legislative yang
berbeda ini menyerupai kewenangan
penetapan jumlah anggota legislative
negara bagman di negara federal yang
berbeda-beda antara masing-masing
negara bagian.
115
Hukum dan Masyarakat 2015
4
5
yang ditetapkan undang-undang.
Pasal yang mengatur tentang jumlah
legislatif di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam adalah Pasal 9 Ayat (7)
„Jumlah anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam paling banyak 125%
(seratus dua puluh lima persen) dari
yang ditetapkan undang-undang.
Kewenangan untuk menyusun jenjang
pemerintahan sendiri, undang-undang
ini memberikan kewenangan kepada
Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam untuk menyusun jenjang
pemerintahan sendiri. Pasal-pasal dalam
undang-undang ini yang menyebutkan
kewenangan
kepada
Pemerintah
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
untuk menyusun jenjang pemerintahan
sendiri meliputi Pasal 2 Ayat (1)
„Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam
dibagi
dalam
Kabupaten/Sagoe atau nama lain dan
Kota/Banda atau nama lain sebagai
daerah
otonom‟;
untuk
lebih
menjelaskan pasal di atas lihat juga
Pasal 2 Ayat (2), (3), (4), (5) dan Ayat
(6).
Kewenangan membentuk peraturan
daerah yang dapat menyampingkan
peraturan perundang-undangan yang
lain, undang-undang ini mengatur
bahwa
Provinsi
NAD memiliki
kewenangan membentuk Qanun yaitu
peraturan
daerah
yang
dapat
mengenyampingkan
peraturan
perundang-undangan yang lain dengan
mengikuti asas „lex specialis derogaat
legi generalis‟.
Pasal-pasal dalam UU No. 18 Tahun
2001 yang menyebutkan kewenangan
kepada Pemerintah NAD untuk
membentuk Qanun adalah : Pasal 1
Angka 8 „Qanun Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam adalah Peraturan
Daerah sebagai pelaksanaan undang-
Kewenangan seperti ini menyerupai
kewenangan negara bagian untuk
menata jenjang pemerintahan negara
bagian. Untuk menggambarkan bahwa
kondisi ini mencerminkan kesamaan
ciri dengan sistem negara federal,
dengan mengutip pendapat R.
Kranenburg, yang mengatakan bahwa
dalam negara serikat, negara-negara
bagian
memiliki
kewenangan
mengatur sendiri bentuk organisasi
negaranya, meskipun masih harus
dalam batas-batas yang ditentukan
dalam konstitusi federalnya.
Kewenangan yang dimiliki Provinsi
NAD ini menyiratkan kesamaan
dengan kewenangan dengan negaranegara bagian untuk membentuk
konstitusi sendiri.
Kesamaan ini dapat dijelaskan dengan
mengacu
kepada
pendapat
R.
Kranenburg, yang mengatakan bahwa
dalam negara serikat, negara-negara
bagiannya mempunyai wewenang
untuk membuat konstitusi sendiri
(pouvoir constituent), meskipun masih
harus
dalam
batas-batas
yang
ditentukan
dalam
konstitusi
federalnya.
116
Hukum dan Masyarakat 2015
6
undang di wilayah Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam dalam rangka
penyelenggaraan otonomi khusus‟.
selanjutnya hal tersebut dijelaskan
dalam Penjelasan Umum undangundang tersebut.
Kewenangan khusus tentang kepolisian
daerah,
undang-undang
tersebut
mengatur tugas fungsional kepolisian di
bidang ketertiban dan ketentraman
masyarakat diatur lebih lanjut dengan
Qanun Provinsi NAD.
Pasal-pasal
dalam
undang-undang
tersebut yang mengatur tentang
penyelenggaraan kepolisian daerah di
Provinsi NAD meliputi Pasal 21 Ayat
(4), (5), dan (6) Hal lain terkait
keberadaan Provinsi NAD selain
beberapa muatan materi di dalam UU
No. 1 8 Tahun 2001 yang memperkuat
pandangan
bahwa
penyerahan
kewenangan atau pembagian urusan
pemerintahan di Indonesia dinilai telah
mengarah ke sistem federal juga
substansi MoU antara Pemerintah NKRI
dengan GAM di Helsinki, Finlandia
memberikan ruang yang sangat besar
bagi pemerintah daerah Provinsi NAD
diantaranya beberapa isi dari MoU
Helsinki yang mencerminkan kesan
tersebut, antara lain:
a. Keputusan-keputusan
Dewan
Perwakilan
Rakyat
Republik
Indonesia yang terkait dengan Aceh
akan
dilaksanakan
dengan
konsultasi dan persetujuan legislatif
Aceh;
b. Kebijakan-kebijakan administratif
yang diambil oleh Pemerintah
Indonesia berkaitan dengan Aceh
akan
dilaksanakan
dengan
konsultasi dan persetujuan Kepala
Pemerintah Aceh;
c. Aceh
memiliki
hak
untuk
menggunakan
simbol-simbol
wilayah termasuk bendera, lambang
Ketenituan
ini
menunjukkan
perbedaan dengan sistem koordinasi
Kepolisian Nasional yang selama ini
bersifat terpusat baik dalam tugas
struktural
maupun
fungsional.
Demikian pula dengan beberapa
pengaturan
lainnya
terkait
penyelenggaraan kepolisian daerah di
Provinsi
NAD.
Mekanisme
penyelenggaraan kepolisian di tingkat
daerah sebagaimana diatur dalam UU
No. 18 Tahun 2000 ini menyiratkan
kesamaan denigani sistem pengaturan
penyelenggaraan kepolisian di negara
bagian pada negara federal yang
memiliki
kewenangan-kewenangan
tertentu dalam penyelenggaraan tugas
fungsional
kepolisian.
Demikian
halnya
dengan
MoU
antara
Pemerintah NKRI dengan GAM yang
ditandatangani pada tanggal 1 5
Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.
MoU tersebut merupakan landasan
normatif bagi pembentukan RUU
tentang Pemerintahan Aceh. Muatan
materi di dalam MoU tersebut
memberikan kesan sebagai proses
pembentukan Negara Bagian Aceh
(ciri negara federal) di wilayah
teritorial Negara Kesatuan Republik
Indonesia
dengan
berbagai
keistimewaan yang diberikan kepada
Provinsi
NAD
dalam
Nota
Kesepakatan (MoU) antara Pemerintah
NKRI dan GAM. Kesan luasnya
kewenangan yang dimiliki oleh
Provinsi NAD tersebut di atas,
semakin diperkuat dengan penggunaan
beberapa istilah yang tidak lazim dan
tidak sesuai dengan peristilahan
117
Hukum dan Masyarakat 2015
dan himne;
sebagaimana diatur dalam peraturan
d. Qanun Aceh akan disusun kembali perundang-undangan
Nasional.
untuk Aceh dengan menghormati Sebagaimana telah dikutip di bagian
tradisi sejarah dan adat istiadat latar belakang penelitian ini , YusriI
rakyat Aceh serta mencerminkan Ihza
Mahendra
mengungkapkan
kebutuhan hukum terkini Aceh;
bahwa beberapa istilah di dalam MoU
e. Aceh berhak untuk menetapkan Helsinki yang tidak lazim digunakan
tingkat suku bunga berbeda dengan dalam sistem perundang-undangan
yang ditetapkan oleh Bank Sentral Nasional.
Contohnya
istilah
Republik
Indonesia
(Bank “Pemerintah Aceh” yang digunakan
Indonesia);
dalam MoU Helsinki tidak sesuai
f. Aceh berhak menetapkan dan dengan UU No. 32 Tahun 2004 dan
memungut pajak daerah untuk UUD 1945, yang seharusnya istilah
membiayai
kegiatan-kegiatan yang digunakan adalah Pemerintah
internal yang resmi;
Provinsi.
g. Aceh akan menikmati akses
langsung dan tanpa hambatan ke
negara-negara asing, melalui laut
dan udara;
h. Legislatif Aceh akan merumuskan
kembali ketentuan hukum bagi Aceh
berdasarkan
prinsip-prinsip
universal hak asasi manusia
sebagaimana
tercantum
dalam
Kovenan Internasional Perserikatan
Bangsa-Bangsa mengenai hak-hak
sipil, politk dan mengenai hak-hak
ekonomi serta sosial dan budaya.
Setelah berlaku UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh,
yang telah mencerminkan satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus
atau istimewa terkait dengan salah satu karakter khas sejarah perjuangan
masyarakat Aceh yang memiliki ketahanan daya juang tinggi. Artinya daya
juang tersebut bersumber dari pandangan hidup yang berlandaskan “syai‟at
Islam” yang kuat dalam NKRI.
2) Semangat UU No. 21 Tahun 2001 dengan Ciri-Ciri Sistem Federal
UU No. 21 Tahun 2001 memberikan kewenangan khusus dan lebih
luas kepada Provinsi Papua, sebagaimana dilandasi oleh beberapa ketentuan
di dalam konsideran menimbang UU No. 21 Tahun 2001 yang menyebutkan
dalam Konsideran Menimbang Huruf c, yaitu bahwa sistem pemerintahan
118
Hukum dan Masyarakat 2015
Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut UUD 1945 mengakui dan
menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau
bersifat
istimewa
yang
diatur
dalam
undang-undang.
Selanjutnya,
Konsideran Menimbang Huruf d, yaitu bahwa integrasi bangsa dalam Wadah
NKRI harus tetap dipertahankan dengan menghargai kesetaraan dan
keragaman kehidupan sosial budaya masyarakat Papua, melalui penetapan
daerah otonomi khusus. Lalu huruf f, g, h, dan I, yang Selanjutnya beberapa
muatan materi UU No. 21 Tahun 2001, yang menunjukkan adanya kesamaan
dengan sistem pembagian urusan pemerintahan di negara federal, adalah :
Tabel : 2 Perbandingan UU No. 21 Tahun 2001 Dengan Ciri-Ciri Negara
Federal
No
Materi UU No. 21 Tahun 2001
1 Kewenangan memiliki bendera
daerah,
undang-undang
ini
memberikan kewenangan kepada
Pemerintah Papua untuk memiliki
bendera daerah. Ketentuan ini
memiliki kesamaan dengan UU
No. 18 Tahun 2001 tentang
Otonomi Khusus bagi Provinsi
NAD yang juga memberikan
kewenangan yang sama kepada
provinsi NAD.
Pasal di dalam UU No. 21 Tahun
2001 yang menyebutkan tentang
kewenangan Provinsi Papua untuk
memiliki bendera daerah adalah:
Pasal 2 Ayat (2) „Provinsi Papua
dapat memiliki lambang daerah
sebagai panji kebesaran dan
simbol kultural bagi kemegahan
jati diri orang Papua dalam bentuk
bendera daerah dan lagu daerah
yang tidak diposisikan sebagai
simbol kedaulatan‟.
2 Penyerahan sisa kewenangan
kepada
pemerintah
daerah,
undang-undang tersebut mengatur
bahwa
kewenangan
Provinsi
Papua mencakup kewenangan
Argumentasi Federalisme
Kewenangan untuk memiliki bendera
Daerah ini walaupun tidak secara utuh
menyerupai kewenangan negara-negara
bagian memiliki bendera negaranya di
negara federal sebagai simbol-simbol
kedaulatannya namun paling tidak
menyiratkan prinsip federal tersebut.
Ketentuan ini selaras dengan ketentuan
tentang sistem pembagian urusan
pemerintahan yang diatur UU No. 32
Tahun 2004 yang mencerminkan
kesamaan dengan sistem penyerahan
119
Hukum dan Masyarakat 2015
3
dalam
seluruh
bidang
pemerintahan,
kecuali
kewenangan yang menjadi milik
Pemerintah Pusat yang telah
ditetapkan berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
Pasal-pasal dalam undang-undang
ini yang menyebutkan tentang
sistem
pembagian
urusan
pemerintahan untuk Provinsi
Papua ini adalah Pasal 4 Ayat
„Kewenangan Provinsi Papua
mencakup kewenangan dalam
seluruh bidang pemerintahan,
Papua ini adalah: PasaL 4 Ayat
„Kewenangan Provinsi Papua
mencakup kewenangan dalam
seluruh bidang pemerintahan,
kecuali kewenangan bidang politik
luar negeri, pertahanan keamanan,
moneter dan fiskal, agama, dan
peradilan
serta
kewenangan
tertentu di bidang lain yang
ditetapkan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan‟; Pasal 4
Ayat (2) „selain kewenangan
sebagaimana dimaksud pada Ayat
(1), dalam rangka pelaksanaan
otonomi khusus, Provinsi Papua
diberi
kewenangan
khusus
berdasarkan undang-undang ini.
Kewenangan membentuk lembaga
representasi rakyat, berdasarkan
undang-undang ini Majelis Rakyat
Papua (MRP) mempunyai tugas
dan wewenang antara lain,
memberikan pertimbangan dan
persetujuan terhadap bakal calon
Gubernur dan Wakil Gubernur
yang diusulkan oteh Dewan
Perwakilan Rakyat Papua (DPRP),
memberikan pertimbangan dan
persetujuan
terhadap
calon
anggota Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia utusan
daerah Provinsi Papua yang
sisa kewenangan atau kekuasaan
(reserve of powers) di Negara Federal,
sebagimana telah diuraikan di atas.
Ketentuan ini menunjukan bahwa sisa
atau
residu
kewenangan
penyelenggaraan pemerintahan daerah
diserahkan kepada Provinsi Papua.
Kewenangan MRP sebagai representasi
kepentingan rakyat Papua sedikitnya
menyiratkan kesamaan dengan sistem
lembaga representasi rakyat di negara
federal atau di negara Amerika Serikat
yang dikenal sebagai hause of
representatives.
120
Hukum dan Masyarakat 2015
4
5
diusulkan oleh DPRP, dan
memberikan pertimbangan dan
persetujuan terhadap Rancangan
Perdasus yang diajukan oleh
DPRP bersama-sama dengan
Gubernur.
Tugas dan wewenang MRP
tersebut menunjukan bahwa MRP
adalah
lembaga
pemberi
pertimbangan yang mempengaruhi
pembuatan keputusan-keputusan
eksekutif (Pemerintah Provinsi
Papua) dan legislatif (DPRP).
Pasal-pasal dalam undang-undang
ini yang mengatur tentang
keberadaan MRP adalah Pasal 1
Huruf g, Pasal 5 Ayat (2), Pasal 19
Ayat (1), (2), (3), (4), Pasal 20
Ayat (1), (2), Pasal 21 Ayat (1),
(2), Pasal 22 Ayat (1), (2).
Kewenangan memiliki jumlah
anggota legislatif daerah yang
berbeda,
undang-undang
menyebutkan bahwa kekuasaan
legislatif
Provinsi
Papua
dilaksanakan
oleh
Dewan
Perwakilan Papua (DPRP) yang
berjumlah 1,25 (satu seperempat)
kali
dari
jumlah
DPRD
sebagaimana
ditetapkan oleh
peraturan
perundang-undangan.
Pasal dalam undang-undang ini
yang mengatur tentang jumlah
anggota legislatif di Provinsi
Papua adalah Pasal 6 Ayat (4)
„Jumlah anggota DPRP adalah
1,25 (satu seperempat) kali dari
jumlah anggota DPRD Provinsi
Papua sebagaimana diatur dalam
peraturan perundang-undangan‟.
Kewenangan
membentuk
peraturan daerah yang bersifat
khusus,
undang-undang
ini
memberikan kewenangan kepada
Provinsi Papua untuk membentuk
Peraturan
Daerah
Khusus
Kewenangan jumlah legislatif yang
berbeda ini menyerupai kewenangan
penetapan jumlah anggota legislatif
negara bagian di negara federal yang
berbeda-beda antara masing-masing
negara bagian.
Kewenangan
ini
menyiratkan
kesamaan ciri dengan kewenangan
negara bagian dalam menyusun
peraturan perundang-undangannya di
negara federal, sebagaimana pendapat
R. Kranenburg, yang mengatakan
121
Hukum dan Masyarakat 2015
(Perdasus), yaitu Peraturan Daerah
Provinsi Papua daam rangka
pelaksanaan
undang-undang
otonomi khusus Provinsi Papua.
Pasal-pasal tersebut diantaranya
Pasal 1 Huruf I, Pasal 1 Huruf j
bahwa dalam negara serikat, negaranegara
bagiannya
mempunyai
wewenang untuk membuat konstitusi
meskipun masih harus dalam batasbatas yang ditentukan dalam konstitusi
federalnya.
2. Analisis Berlakunya Sistem Federal Arrangements dalam Sistem
PEMDA
Kebijakan
desentralisasi
yang
mengarah
ke
sistem
federal
berpengaruh positif dan negatif terhadap pelaksanaan fungsi negara.
Pengaruh positif kebijakan desentralisasi yang mengarah ke sistem federal
terhadap pelaksanaan fungsi negara terjadi peningkatan demokrasi dalam
penyelenggaraan pemerintahan, yang ditunjukkan dengan:
1) Pemberian
kewenangan
yang
luas
kepada
daerah
untuk
menyelenggarakan otonomi daerah;
2) Menguatnya legitimasi kepala daerah dan wakil kepala daerah di mata
rakyat;
3) Pelaksanaan fungsi negara yang menjalankan prinsip check and
balances;
4) Adanya
pengakuan
terhadap
keanekaragaman
dalam
kehidupan
berbangsa dan bernegara;
5) Meningkatnya kemandirian daerah dalam membangun wilayahnya dan
mengelola rumah tangganya;
6) Meredanya tuntutan dan gerakan di daerah terhadap pemerintahan
pusat.
Adapun pengaruh negatif kebijakan desentralisasi yang mengarah ke
sistem federal terhadap pelaksanaan fungsi negara adalah dengan
terjadinya beberapa hal yang tidak sejalan terhadap UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 ditunjukkan dengan:
122
Hukum dan Masyarakat 2015
1) Meningkatnya ego pemerintahan daerah akibat perbedaan pemahaman
terhadap pemberian kewenangan yang luas, sehingga terjadinya konflik
kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
2) Meningkatnya konflik di daerah yang berujung kepada konflik fisik
yang mengakibatkan korban jiwa;
3) Menguatnya eksklusivisme daerah atau sifat kedaerahan, bahkan
primordialisme;
4) Lahirnya perda-perda bermasalah seperti perda retribusi dan pajak yang
memberatkan masyarakat dan perda bernuansa syari‟ah yang berpotensi
konflik horizontal;
5) Timbulnya sifat penguasaan yang berlebihan terhadap wilayah dan
sumber daya alam yang seharusnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyatnya;
6) Adanya kebijakan desentralisasi legislatif dan yudikatif (badan
peradilan) yang mengarah ke sistem federal dalam undang-undang
Otonomi Khusus;
7) Merebaknya tuntutan di beberapa daerah untuk memperoleh status
otonomi khusu seperti yang diberikan kepada Provinsi NAD, Papua dan
Papua Barat.
Derajat desentralisasi yang besar serta dilandasi prinsip otonomi
seluas-luasnya di dalam UU No. 22 Tahun 1999, UU No. 32 Tahun 2004,
UU No. 23 Tahun 2014, UU No. 18 Tahun 2001 dan UU No. 21 Tahun
2001 menunjukkan adanya proses demokratisasi dalam penyelenggaraan
pemerintah daerah di Indonesia yang mengandung karakter prinsip
federal arrangements, serta beberapa variable teori demokrasi yang
tercermin dalam prinsip-prinsip desentralisasi dalam undang-undang di
atas antara lain:
1) Mengakui adanya keanekaragaman (diversity) dalam masyarakat;
2) Adanya pemilihan umum yang Luber, Jurdil secara berkala dan
berkesinambungan;
123
Hukum dan Masyarakat 2015
3) Adanya partisipasi politik yang luas dan otonom;
4) Terwujudnya mekanisme checks and balance di antara lembaga negara.
Prinsip sistem federal tercermin dalam semangat materi muatan UU No.
21 Tahun 2001 yang menunjukan adanya kesamaan dengan sistem pembagian
urusan pemerintahan di negara federal adalah :
1) Kewenangan memiliki bendera daerah, dalam Pasal 2 ayat (2).
2) Penyerahan
sisa
kewenangan
kepada
pemerintahan
daerah
selain
kewenangan pemerintah (bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan,
moneter dan fiskal, agama, dan peradilan, serta kewenangan tertentu
dibidang lain yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan),
dalam Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2).
3) Kewenangan membentuk lembaga representasi rakyat, dalam Pasal 1 huruf
g, Pasal 5 ayat (2), Pasal 19 ayat (1) dan ayat (2), dan ayat (4), Pasal 20 ayat
(1) dan ayat (2), Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 22 ayat (2).
4) Kewenangan memilih jumlah anggoa legislatif daerah, dalam Pasal 6 ayat 4.
5) Kewenangan membentuk Peraturan Daerah Khusus dalam Otsus Papua,
dalam Pasal 1 huruf I dan huruf J.
Pada dasarnya dari sisi politik ketatanegaraan ada dua alasan mengapa
kebijakan desentralisasi di dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 dan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, dan UU No. 23 Tahun 2014, serta UU
Otonomi Khusus di Indonesia mengarah ke sistem federal, antara lain :
Pertama,ketiga
undang-undang
tersebut
merupakan
upaya
untuk
mempertahankan keutuhan NKRI dari sejarah pembentukannya.Kedua, untuk
mewujudkan pemerataan pembangunan dan mencapai kesejahteraan rakyat.
Kebijakan desentralisasi yang mengarah ke sistem federa berpengaruh
positif dan negatif terhadap pelaksanaan fungsi negara.
a.
Pengaruh positif kebijakan desentralisasi yang mengarah ke sistem
federal terhadap pelaksanaan fungsi negara terjadi peningkatan dalam
penyelenggaraan pemerintahan, yang ditunjukkan dengan:
124
Hukum dan Masyarakat 2015
1) Pemberian
kewenangan
yang
luas
kepada
Daerah
untuk
menyelenggarakan otonomi daerah;
2) Menguatnya legitimasi Kepala daerah dan Wakil Kepala di mata rakyat;
3) Pelaksanaan fungsi negara yang menjalankan prinsip check and balances;
4) Adanya pengakuan terhadap keanekaragaman dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara;
5) meningkatnya kemandirian Daerah dalam membangun wilayahnya dan
mengelolah rumah tangganya;
6) Meredanya tuntuntan dan gerakan di Daerah terhadap Pusat.
b.Pengaruh negatif kebijakan desentralisasi yang mengarah ke sistem federal
terhadap pelaksanaan fungsi dan tujuan negara adalah terjadi beberapa hal
yang tidak sejalan terhadap UUD NRI 1945, yang ditunjukkan dengan :
1) Meningkatnya ego Pemerintah Daerah akibat perbedaan pemahaman
terhadap pemberian kewenangan yang luas, sehingga terjadinya konflik
kewenagan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
2) Menguatnya
ekslusivisme
Daerah atau sifat
kedaerahan, bahkan
primordialisme
3) Lahirnya perda-perda bermasalah seperti perda retribusi dan pajak yang
memberatkan masyarakat dan perda bernuansa Syariah Islam yang
berpotensi konflik horizontal
4) Timbulnya sifat penguasaan yang berlebihan terhadap wilayah dan sumber
daya alam yang seharusnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besarnya
5) Adanya kebijakan desentralisasi legislatif dan yudikatif (badan peradilan)
yang mengarah ke sistem federal dalam Undang-Undang Otonomi Khusus.
6) Kebijakan tuntutan di beberapa daerah untuk memperoleh suatu otonomi
khusus seperti yang diberikan kepada Provinsi NAD dan Provinsi Papua.
C. Penutup
Negara Republik Indonesia merupakan sebuah negara kesatuan yang
menerapkan prinsip sistem federal (an unitary state with some federal
arrangements. Kebijakan desentralisasi yang mengandung federal arrangements
125
Hukum dan Masyarakat 2015
merupakan cara yang tepat dilakukan oleh pemerintahan yang demokratis, dalam
rangka
mempertahankan
keutuhan NKRI
dan
mewujudkan
pemerataan
pembangunan dan kesejahteraan rakyat sesuai amanat UUD NRI 1945. Perbedaan
pemahaman dan timbulnya berbagai konflik kepentingan antara Pemerintah
dengan Pemerintah Daerah, antar Pemerintah daerah, antara Pemerintah Daerah
dan masyarakat merupakan proses adaptasi dalam proses demokrasi di suatu
negara terutama negara berkembang.Dari uraian di atas, maka paduan
implementasi sistem federal arrangements dalam sistem pemerintahn daerah
di Indonesia sebagai cara atau upaya untuk mempertahankan keutuhan NKRI
dan
mewujudkan
pemerataan
pembangunan
serta
kesejahteraan
rakyat.Pengaturan desentralisasi dalam peraturan perundang-undangan sebagai
wujud objektif semangat otonomi khusus dalam penyerahan wewenang
pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus urusan pemerintahann dalam sistem NKRI, sebagaimana tercantum
dalam Pasal 225 dan Pasal 226 UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah kepada Otonomi Daerah dan Otonomi Khusus sebagai bentuk
pendelegasian pengaturan kewenangan kecuali enam (6) kewenangan pemerintah
pusat dalam Pasal 10 ayat (3) UU No. 32 Tahun 2004 dan Pasal yang sama ayat
yang berbeda diubah dalam Pasal 10 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan. Sedangkan desentralisasi dalam UU No. 23 Tahun 2014 sebagai
kebijakan penyerahan Urusan Pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada daerah
otonom berdasarakan Asas Otonom, pengaturannya dalam 399 sebagai bentuk
pendelegasian dalam UU No. 23 Tahun 2014, dengan komitmen Indonesia
sebagai negara hukum konsisten dalam penyelenggaraan pemerintahan, harus
dipertahankan bentuk Negara Kesatuan. Kebijakan desentralisasi yang mengarah
ke sistem federa berpengaruh positif dan negatif terhadap pelaksanaan fungsi dan
tujuan negara, tercantum dalam pelaksanaan semangat UU Otonomi Khusus
Khusus Aceh (UU Pemerintahan Aceh), UU Otonomi Khusus Bagi Provinsi
Papua
dan
Papua
Barat
mengarah
ke-sistem
federal
sebagai
upaya
mempertahankan NKRI.
126
Hukum dan Masyarakat 2015
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Rozali,2000, Pelaksanaan Otonomi Luas dan Isu Federalisme
Sebagai Suatu Alternatif, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Ahmad, Syed A.S.,2000, “Konsep Federalisme”, dalam: St. Sularto dan T.
Jacob Koekerits (eds.), Federalisme Untuk Indonesia, Kompas,
Jakarta.
Asshiddiqie, Jimly,2004, Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran
Kekuasaan dalam UUD 1945, Ni‟matul Huda (ed.), FH UII
Press, Yogyakarta.
Attamimi, A. Hamid S., 1990, Peranan Keputusan Presiden Republik
Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara,
Disertasi, Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta.
Bennett, Walter Hartwell, 1964, American Theories of Federalism,
University of Alabama Press, Alabama.
Budiardjo, Miriam,, 2005, Dasar-dasar Ilmu Politik, PT.Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Budisetyowati, Dwi Andayani, 2004, Keberadaan Otonomi Daerah di
Negara Kesatuan Republik Indonesia, Disertasi, Pascasarjana
Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Dam, Syamsumar, 2000, “Pengalaman Negara-negara ASEAN dalam
Federal-isme”, dalam:St.Sularto dan T.Jacob Koekarits (eds.),
Federalisme Untuk Indonesia, Kompas Jakarta.
Dhakidae, Daniel, 2000, Federalisme Mungkinkah bagi Indonesia ?, dalam :
St. Sularto dan Jakob Koekerits (eds.), Federalisme untuk
Indonesia, Kompas, Jakarta.
Duchacek, Ivo, 1970, Comparative Federalism : The Territorial Dimension
of Politics, Holt, Rinehart and Winston, New York.
Edie Toet Hendratno, Negara Kesatuan, Desentralisasi, dan
Federalisme, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009.
Hadjon, Philipus M., 1987, Lembaga Terttinggi dan Lembaga-lembaga
Tinggi Negara Menurut Undang-Undang Dasar 1945 : Suatu
Analisisa Hukum dan Kenegaraan, Biru Ilmu, Surabaya.
Hidayat, Syarif, 2005, “Desentralisasi dan Otonomi Daerah Masa Orde
Baru (1966-1998)”, dalam: Anhar Gonggong (ed.), Pasang
Surut Otonomi Daerah-Sketsa Perjalanan 100 Tahun, Institute
for Local Development dan Yayasan Tifa, Jakarta.
King, Preston, 1982, Federalism dan Federation, Johns Hopkins University
Press, Baltimore.
Knight, Maurice, 2001, Desentralisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir di
Amerika Serikat : Contoh bagi Indonesia, Program
Pengelolaan Sumber Daya Alam (NRM) USAID-BAPPENAS
dan USAID-CRC/URI, Coastal Resources Center, University of
Rhode Island, Narrgansett, Rhode Island,USA.
Kusumaatmadja, Mochtar, (tanpa tahun),Fungsi dan Perkembangan Hukum
Dalam Pembangunan Nasional, Binacipta, Bandung.
127
Hukum dan Masyarakat 2015
Latif,
Abdul, 2006, Fungsi Mahkamah Konstitusi dalam Upaya
Mewujudkan Negara Hukum Demokrasi Manurut UUD 1945,
Disertasi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Manan, Bagir, 1993, Perjalanan Historis Pasal 18 UUD 1945 (Perumusan
dan Undang-Undang Pelaksanaannya), Unsika, Karawang.
………………, 1994, Hubungan antara Pusat dan Daerah Menurut
Undang-Undang Dasar 1945, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Prasojo, Eko, 2003, “Problem dan Perspektif Desentralisasi Politik di
Indonesia”, dalam : Indra J. Pilliang dkk. (eds.), Otonomi
Daerah: Evaluasi dan Proyeksi, Divisi Kajian Demokrasi Lokal,
Yayasan Harkat Bangsa.
………………., 2005, Federalisme dan Negara Federal-Sebuah Pengantar,
Departemen Ilmu Aministrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Indonesia, Depok.
……………….., 2006, Konstruksi Ulang Hubungan Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah di Indonesia: antara Sentripetalisme dan
Sentrifugalisme, Pidato Pada Upacara Pengukuhan sebagai Guru
Besar Tetap FISIP Universitas Indonesia, 13 September 2006,
Depok.
…………………,
Ridwan M., I., dan Kurniawan, T., 2006,
Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah : antara Model
Demokrasi Lokal dan Efisiensi Struktural, Departemen Ilmu
Administrasi FISIP-UI, Depok.
Pratikno, 2003, “Desentralisasi : Pilihan yang Tidak Pernah Final”, dalam
: Abdul Gaffar Karim (ed.), Kompleksitas Persoalan Otonomi
Daerah di Indonesia, Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP
Universitas Gadjah Mada, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Prihatmoko, Joko J., 2005, Pemilihan Kepala Daerah Langsung : Filsofi,
Sistem dan Problema Penerapan di Indonesia, Penerbit Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
Rab, Tabrani, 2002, “Kemerdekaan, Otonomi, atau Negara Federal: Suara
Rakyat Daerah”, dalam: Ikrar Nusa Bhakti dan Irine H. Gayatri
(eds.), Kontroversi Negara Federal: Mencari Bentuk Negara
Ideal Indonesia Masa Depan, Mizan Media Utama, Bandung.
Smith, Brian C., 1967, Field Administration : An Aspect of Decentralization,
Routledge and Kegal Paul, London.
……………….., 1985, Decentralization : The Territorial Dimension of
State, George Allen & Unwin, London.
Soehino, 1993, Hukum Tata Negara Sistem Pemerintahan Negara, Liberty,
Yogyakarta.
Sularto, St. dan Koekerits, Jakob (eds.), 2000, Federalisme untuk Indonesia,
Kompas, Jakarta.
Sumaryadi, Nyoman, 2005, Efektifitas Implementasi Kebijakan Otonomi
Daerah, Citra Utama, Depok.
Suny, Ismail, 1977, Pergeseran Kekuasaan Eksekutif, Aksara Baru, Jakarta.
128
Hukum dan Masyarakat 2015
Syaukani, Gafar, A., dan Rasyid, R.,2004, Otonomi Daerah dalam Negara
Kesatuan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Utrecht, E.,1986, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia,
Pustaka Tinta Mas, Surabaya.
Wasistiono, Sadu, 2005, “Desentraliasai dan Otonomi Daerah Masa
Reformasi (1999-2004)”, dalam : Anhar Gonggong (ed.),
Pasang Surut Otonomi Daerah-Sketsa Perjalanan 100 Tahun,
Institute for Local Development, Jakarta
129
Download