HUKUM INTERNASIONAl

advertisement
Oleh : Nurul Hikmah
 Menurut
Mochtar Kusumaatmadja, Hukum
internasional (publik)  keseluruhan kaidah
dan asas hukum yang mengatur hubungan
atau persoalan yang melintasi batas negara.
 Hukum perdata internasional  keseluruhan
kaidah dan asas-asas hukum yang mengatur
hubungan perdata yang melintasi batas
negara
 International
law
 Public international law
 Law of nations
 Inter state law
 Transnational law  istilah ini digunakan
oleh pakar yang tidak setuju pada pembagian
hukum internasional public dan hukum
internasional perdata. Yaitu prinsip dan
kaidah yang mengatur hubungan hukum
antara subjek-subjek hukum dan bersifat
lintas batas negara.
 Sifatnya
koordinatif bukan sub-ordinatif
 Hubungan internasional yang diatur oleh
hukum internasional dilandasi oleh
persamaan kedudukan antar anggota
masyarakat bangsa-bangsa.
 Tidak ada badan supranasional ataupun
pemerintahan dunia (world government)
yang memiliki kewenangan membuat dan
memaksakan berlakunya aturan
internasional.
Organisasi
terbesar dengan
anggota hampir
200 negara
Mengurus masalah
politik, ekonomi,
keamanan &
hukum
Dipimpin oleh
SEKJEN
Memiliki
Mahkamah
Internasional
International Law
Commission (ILC)
bilateral
universal
multilateral
trilateral
regional
 Austin
:
- bukan hukum sesungguhnya
- menurutnya utk dikatakan sebagai hukum
harus memenuhi dua unsur :
> badan legislatif
> aturan yang dipaksakan
- positif morality
 Oppenheim
:
- menurutnya, really law memenuhi tiga
syarat: adanya aturan hukum, adanya
masyarakat internsional, adanya jaminan
pelaksanaan dari luar (external power).
- menurutnya hukum internasional adalah
hukum yang lemah (weak law)
 Para
pakar HI modern menyatakan bahwa
hukum internasional adalah hukum yang
sesungguhnya bukan sekedar positive
morality.
Bilamana HI merupakan kaidah moral 
tidak ada external power  kesadaran
subjek hukum.
 Dari
pendapat Dixon:
1. HI bnyk dipraktekkan oleh pejabat2 LN,
foreign offices, pengadilan nasional dan
organisasi internasional
2. negara2 yg melanggar HI dlm praktek tdk
mengatakan bhw mrk melanggar hukum krn
HI tdk mengikat mrk.
3. Mayoritas negara mematuhi HI
4. Adanya lembaga2 penyelesaian hukum sprt
arbritase dan berbagai pengadilan
internasional yg menggunakan argumentasi2
hukum dlm penyelesaian sengketa yg
ditanganinya
5. Dlm praktek HI dpt diterima kedalam hukum
nasional negara2. tidak ada satu negarapun
dlm membuat hukum nasionalnya tanpa
melihat kaidah HI yg ada.
HI meskipun mengalami perkembangan
namun masih etnosentris, berpihak pada
kepentingan negara-negara barat dan
negara-negara maju.
 Hukum bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak
tertentu sbg alat untuk mencapai suatu
kepentingan.

Pengubah
konsep
Sarana
Intervensi
urusan
domestik
Alat penekan
Oleh: Nurul Hikmah
 Dalam
HI ada 2 pasal yg mencantumkan sec
tertulis sumber hukum dlm arti formil :
1. konvensi Den Haag XII tgl 18 okt 1907
 mendirikan Makamah Internsn Perampasan
kapal di laut (Internasional Prize Court).
2. pasal 38 Piagam Mahkamah Internasnl
Permanen tgl 16 des 1920 yg kmd diterima
berlakunya piagam PBB tgl 26 jun 1945
Pasal 38 ayat 1 : dlm mengadili perkara
yg diajukan, Mahkamah Internasional
akn mempergunakan:
Perjanjian
Internasional
(treaty)
Kebiasaan
Internasional
(Internasional
Custom)
Prinsip Hukum
Umum
(General
Principles of
Law)
Sumber
hukum
tambahan
Keputusan
badan
organisasi dan
lembaga
internasional
 Menurut
Konvensi wina Pasal 2 1969,
Perjanjian Internasional (treaty) didefinisikan
sebagai:
“Suatu Persetujuan yang dibuat antara
negara dalam bentuk tertulis, dan diatur
oleh hukum internasional, apakah terdiri dari
satu instrumen atau lebih dan apapun nama
yang diberikan.”
 Konvensi
Wina 1969  dapat digunakan trhdp
sengketa mengenai perjanjian yg dibentuk
negara dg negara dan bentuknya tertulis.
 Konvensi
Wina 1986  utk sengketa yg
pihaknya bukan negara melainkan organisasi
internasional.
 Men.
Dixon: hukum yang berkembang dari
praktek/ kebiasaan negara-negara.
 Merupakan
 HI
sumber hukum tertua dalam HI
tumbuh dan berkembang melalui
kebiasaan negara-negara.
 Hukum
kebiasaan internasional berbeda
dengan hukum adat istidat (usage) atau
kesopanan internasional (international
community) ataupun persahabatan
(friendship)
 Praktek
negara-negara yang tidak diterima
sebagai hukum kebiasaan mrp kesopanan
internasional
1.
Memenuhi dua unsur hukum kebiasaan
intenasional secara kumulatif
a. Unsur faktual  adanya praktek umum
negara, berulang-ulang dan dlm jangka
waktu lama
b. Unsur psikologis  bersifat abstrak dan
subjektif
2. Perubahan hukum kebiasaan internasional
 Suatu hukum kebiasaan baru (new
customary law) dapat menggantikan hukum
kebiasaan lama  bila ada praktik negara
yang bertentangan dg hukum kebiasaan yg
sudah ada  di dukung oleh opinio jurist
3. Hubungan antara hukum kebiasaan dengan
perjanjian internasional
Oleh: Nurul Hikmah
HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM
NASIONAL
HI-HN MERUPAKAN SATU KESATUAN
HUKUM/TERPISAH SATU SAMA LAIN?
Aliran
monisme
• Aliran monisme primat HI
• Aliran monisme primat
HN
Aliran
Dualisme
• Dua sistem hukum yg
berbeda antara satu dg yg
lain.
MEN. ALIRAN MONISME:

HI dan HN merupakan dua kesatuan hukum dari
satu sistem hukum yg lebih besar yaitu hukum
pada umumnya.

Kemungkinan terjadinya konflik antar keduanya
sangat besar sekali karena terletak dalam satu
sistem hukum

Muncul persoalan hirarki antara HN-HI yg
melahirkan beberapa sudut pandang yang
berbeda
PANDANGAN MONISME DG PRIMAT HN:

Aliran ini pernah kuat di Jerman dg nama
madzhab Bonn yg diikuti oleh Max Wenzel

HI merupakan lanjutan HN

Pd hakikatnya HI bersumber pd HN oleh karena
itu HN kedudukannya lebih tinggi dr pd HI
PANDANGAN MONISME DG PRIMAT HI:

HN bersumber pada HI  men. Pandangannya
mrp suatu perangkat ketentuan hukum yang
hirarkis lebih tinggi

Kekuatan mengikatnya HI thdp HN berdasarkan
suatu pendelegasian wewenang dari HI

Paham ini dikembangkan oleh madzhab Vienna
dan didukung oleh aliran yg berpengaruh di
Perancis

Kelemahan-kelemahan:
1. ada pandangan bhw HN bergantung pd HI.
Hal itu bertentangan dg sejarah bhw HN telah
ada sebelum adanya HI
2. wewenang suatu negara sepenuhnya adalah
wewenang HN

Kesimpulan : pada hakikatnya HI mrp suatu
perangkat hukum yg mengatur kehidupan
antar negara dan tunduknya negara pd HI mrp
persoalan hubungan subordinasi dalam arti
struktural organis.
ALIRAN DUALISME
Pernah berpengaruh di Jerman dan Italia
 Pemuka aliran ini: Triepel dan Anzilotti
 Aliran ini mengemukakan bhw antara HI-HN mrp
dua sistem hukum yg berbeda, perbedaanny pada:
-sumber
-subjek
-HN memiliki integritas yg lebih sempurna
dibandingkan dg HI

PRAKTEK HN DI DEPAN PENGADILAN
INTERNASIONAL:

Suatu negara tidak dapat menggunakan HN
nya yg bertentangan dg HI sbg alasan utk
menjustifikasi pelanggaran HI yg dilakukan
pada pihak lain

Suatu negara tidak dapat menggunakan alasan
ketiadaan HN-nya utk menjustifikasi
pelanggaran HI yg dilakukan pada pihak lain

Tanggung jawab internasional timbul hanya ketika
negara gagal utk memenuhi kewajiban
internasional

HN dpt diajukan di Pengadilan Internasional
apabila tidak bertentangan dg HI  teori
oposabilitas

HN dpt diajukan di Pengadilan Internasional sbg
bukti adanya praktek hukum kebiasaan
internasional

Pengadilan Internasional dpt memberikan
putusan bahwa suatu HN tdk cukup memenuhi
kewajiban HI. Demikian pula pengadilan
internasional tidak berhak menyatakan bahwa
HN mrp negara valid atau invalid krn
menyangkut urusan domestik negara yg
bersangkutan.
HUKUM INTERNASIONAL DI DEPAN PENGADILAN
NASIONAL

Status dan perlakuan terhadap HI berbedabeda dalam praktek antara satu negara dg yg
lain. Mayoritas negara memiliki konstitusi
tertulis atau document sbg ketentuan yg
fundamental bgmn HI di depan pengadilan
nasional
ADA DUA PRAKTEK YG DIIKUTI OLEH BANYAK
NEGARA:
Doctrine of
incorporation
Doctrine of
transformation
• HI berlaku otomatis mjd bagian
HN tanpa adopsi sebelumnya
• Perjanjian yg sdh diratifikasi akn
mengikat lgsg pd warga negara
• HI menjadi HN setelah
diimplementasikan dlm HN lebih
dahulu
EKSISTENSI HI TERHADAP HN:
1. HI akan lebih efektif bila ditransformasikan ke
dalam HN
2. HI akan menjembatani HN ketika tidak dapat
diterapkan di wilayah negara lain
3. HI akan mengharmonisasikan perbedaanperbedaan dalam HN
4. HI banyak tumbuh dari praktek HN negaranegara
5. Prescription Jurisdiction  negara memiliki
kewenangan membuat aturan perundang2an
dlm HN-ny namun tidak bisa lepas dari aturan HI
WILAYAH
Oleh: Nurul Hikmah


Wilayah merupakan atribut yg sangat penting
bagi eksistensi suatu negara.
Negara memiliki hak-hak untuk melaksanakan
kedaulatan atas orang, benda juga peristiwa
atau perbuatan hukum yang terjadi di
wilayahnya.

Negara wajib mengatur wilayahnya sendiri. Di
atas wilayahnya, negara wajib untuk tidak
menggunakan tindakan-tindakan yang
merugikan negara lain serta tidak
membahayakan perdamaian dan keamanan
internasional (pasal 7 Draft Deklarasi PBB
tentang hak-hak dan kewajiban negara 1949).
UU NO.43 TH. 2008 MENGATUR
WILAYAH NEGARA INDONESIA DG
TUJUAN:
Menjamin
keutuhan
wilayah
negara,
kedaulatan negara dan ketertiban di kawasan
perbatasan demi kepentingan kesejahteraan
segenap bangsa
2. Menegakkan kedaulatan dan hak-hak
berdaulat
3. Mengatur pengelolaan dan pemanfaatan
wilayah negara dan kawasan perbatasan,
termasuk pengawasan batas-batasnya.
1.

UU No. 43 menetapkan bahwa wilayah negara
Indonesia meliputi wilayah darat, wilayah
perairan, dasar laut dan tanah di bawahnya
serta ruang udara di atasnya termasuk wilayah
sumber kekayaan yang terkandung di dalamnya.
Daratan suatu
negara terdiri
dari:
Darat (bagian
wilayah yang
kering)
Sungai
Perairan
daratan
Danau
DARATAN SUATU NEGARA
Merupakan daratan awal suatu negara atau
wilayah tambahan negara tersebut
 Luas daratan awal ditentukan oleh tindakan
atau pernyataan sepihak suatu negara ketika
memproklamirkan kemerdekaannya
 Atau ditentukan oleh perkembangan setelah
negara itu terbentuk sbgmn terjadi pada Israel
dan Polandia yg wilayah daratan awalnya belum
pasti saat merdeka.



Perjanjian internasional pada umumnya di buat
oleh negara untuk mengatur masalah
perbatasan wilayahnya di darat.
Indonesia memiliki perbatasan wilayah darat dg
tiga negara, yaitu Malaysia, Timor Leste dan
Papua Nugini.
Disamping daratan awal,
dalam Hukum
Internasional dikenal
adanya wilayah tambahan
yang berdasarkan teoriteori hukum internasional
klasik yg dapat diperoleh
suatu negara dg cara-cara
berikut :
1. OKUPASI ATAU PENDUDUKAN


Merupakan perolehan atau penegakan
kedaulatan atas wilayah yang terra nulius
Yaitu wilayah yang sebelumya belum pernah
diletakkan di bawah kedaulatan suatu negara.
Unsur-unsur yg harus terpenuhi
oleh tindakan okupasi:
Adanya
penemuan
terhadap
wilayah terra
nulius
Adanya
kehendak dari
Harus di
wujudkan dalam
negara yg
menemukan
tindakantindakan yg
wilayah baru
utk ditempatkan efektif (prinsip
di bawah
efektivitas)
kedaulatannya



Unsur penemuan  unsur objektif.
Unsur kehendak yang diwujudkan dengan
tidakan-tindakan nyata  unsur subjektif.
Terpenuhinya unsur penemuan merupakan
unsur pendahuluan bagi keabsahan tindakan
(enchoate title ).

Tindakan-tindakan efektif dalam okupasi
tampak dari beberapa putusan pengadilan
Internasional seperti Palman Case, Clipperton
Island Case Eastern Greenland Case, juga
Sipadan Ligitan.
Bagaimana kriteria tindakantindakan dalam pelaksanaan
prinsip evektifitas ?



Tindakan efektivitas dalam klaim okupasi
adalah tindakan administrasi bukan tindakan
kekerasan.
Okupasi berasal dari bahasa Romawi Occupatio
yang artinya administrasi.
Bukan okupasi dari kata Occupation (bahasa
Inggris) yang mengandung arti pendudukan
yang di dalamanya ada unsur kekerasan militer.
Besar kecilnya
pulau
Jauh tidaknya
pulau yg
diklaim
Sulit tidaknya
medan yg hrs
ditempuh
Tindakan yg
dilakukan
negara utk
mengklaim
hak okupasi:
Banyak
tidaknya
kekayaan alam
di pulau tsb.
2. ANEKSASI ATAU PENAKLUKAN


 penggabungan suatu wilayah negara lain dg
kekerasan atau paksaan ke dalam wilayah
negara yg mengaksesasi.
Syarat atau unsur terjadinya perolehan wilayah
dg aneksasi  wilayah benar-benar telah
ditaklukkan serta adanya pernyataan kehendak
secara formal oleh negara penakluk utk
menganeksasinya.
ANEKSASI MRP TINDAKAN YG BERTENTANGAN
DG HI. HAL INI DI SEBUTKAN OLEH:


Kellog Briand Pact 1928  yg melarang peran
sebagai instrumen kebijakan suatu negara.
Pasal 2 (4) Piagam PBB  melarang tindakan
mengancam / menggunakan kekerasan terhadap
integritas wilayah atau kemerdekaan politik
negara lain

Deklarasi prinsip-prinsip HI tentang
hubungan baik dan kerjasama antar negara
1974  wilayah suatu negara tidak bisa
dijadikan objek perolehan oleh negara lain dg
cara ancaman / penggunaan kekuatan.
3. AKRESI


Merupakan cara perolehan wilayah baru dg
proses alam (geografis) terhadap wilayah yg
sudah ada di bawah kedaulatan suatu negara.
Proses atau kejadian alam terjadi perlahanlahan, bertahap seperti endapan-endapan
lumpur yg membentuk daratan, ataupun
mendadak seperti pemindahan tanah.

Perolehan wilayah atas alas hak akresi tidak
memerlukan tindaan resmi atau formal seperti
pernyataan resmi dari negara yg bersangkutan.
4. PRESKRIPSI

 perolehan wilayah oleh suatu negara akibat
pelaksanaan secara damai kedaulatan de facto
dalam jangka waktu yang lama atas wilayah yg
sebenarnya de jure masuk wilayah negara lain.
BEBERAPA SYARAT PRESKRIPSI MEN.
FAUCHILLE & JOHNSON YG DIKUTIP OLEH IAN
BROWNLIE SBB:



Kepemilikan harus memperlihatkan suatu
kewenangan / kekuasaan negara dan wilayah
tsb, tidak ada negara lain yg mengklaimnya.
Kepemilikan hrs berlangsung secara terus
menerus dan damai, juga tdk ada negara lain yg
mengklaimnya.
Kepemilikan hrs bersifat publik  hrs
diumumkan dan diketahui oleh pihak lain.
5. CESSIE



 cara perolehan tambahan wilayah melalui
proses peralihan hak dari suatu negaraa ke
negara lain.
Cessie dapat dilakukan dg sukarela maupun dg
kekerasan
Pada umumnya kekerasan dilakukan akibat
kalah perang. Pihak yg kalah dipaksa untuk
menyerahkan sebagian wilayahnya kepada pihak
pemenang melalui perjanjian Internasional.
CESSIE DAPAT DILAKUKAN DG CARA:




Jual beli  penjualan Alaska oleh Rusia pada AS th
1867. Denmark menjual bbrp daerahnya di West
Indies pd Amerika pd th 1916.
Tukar menukar  penukaran Helgoland dg Zanzibar
oleh Jerman dan Inggris tahun 1890.
Penyewaan  penyewaan oleh Cina pada Inggris
selama 99 th (1898-1997)
Penyerahan  penyerahan Elsace-Lorraine pada
1871 oleh Perancis pada Jerman akibat kalah perang
yg kmd dikembalikan pd th 1919.

Pada cessie beralih semua hak-hak berdaulat yg
terkandung dlm wilayah yg diserahkan. Dan
suatu negara yg melakukan penyerahan wilayah
tidak dpt mengalihkan lebih dr pd wilayah di
mana ia telah melaksanakan kedaulatannya.
6. REFERENDUM


Cara ini mrp cara perolehan tambahan wilayah
yang modern.
Referendum (pemungutan suara) mrp
implementasi atau tindak lanjut dari keberadaan
hak menentukan nasib sendiri (self
determination right) dalam HI.


Proses referendum yg sah dilakukan secara
langsung one man one vote dg dipantau lembaga
internasional yg sah.
Proses jajag pendapat yg dilakukan oleh Timor
timur 1999 untuk memintai pendapat rakyat
apakah mau merdeka ataukah tetap berintegrasi
dg Indonesia? Kasusnya dikawal oleh UNTAET.
Oleh: Nurul Hikmah
 Wilayah
laut adalah laut beserta tanah yg
ada di bawahnya.
 Tanah di bawah laut terdiri dari dasar laut &
tanah di bawah dasar laut
 Wilayah laut terbagi atas wilayah yg dikuasai
oleh negara (negara pantai) dg laut yg tdk
dikuasai oleh negara.
 Konvensi PBB tentang hukum laut 1982
(UNCLOS 1982) melahirkan delapan zonasi
pengaturan (regime) hukum laut, yaitu:
 Perairan
yg berada pada sisi darat (dalam)
dari garis pangkal yg dipakai utk menetapkan
laut teritorial suatu negara.
 Di kawasan ini negara memiliki kedaulatan
mutlak seperti kedaulatan negara di daratan
tanpa adanya pembatasan oleh HI dlm
bentuk kwjbn utk memberikan jaminan hak
lintas damai bg kapal asing
 Pada prinsipnya tidak ada hak lintas damai di
kawasan ini, kecuali kawasan perairan
pedalaman yg terbentuk krn penarikan garis
dasar lurus.
 Batas
terluar dari perairan pedalaman bg
suatu negara pantai biasa adlh garis pangkal.
 Sedangkan
bagi negara kepulauan berlaku
suatu ketentuan khusus bhw perairan
pedalaman dpt ditetapkan dg menarik suatu
grs penutup pd mulut sungai, teluk,
pelabuhan yg berada pd perairan
kepulauannya.
 Laut
yg terletak pada sisi luar dari garis
pangkal dan tidak melebihi dari 12 mil laut.
 Di kawasan ini kedaulatan negara penuh
trmsk atas ruang udara di atasnya.
 Hak lintas damai diakui bagi kapal-kapal
asing yg melintas
 Hak lintas damai adalah menurut konvensi
Hukum Laut 1982  hak untuk melintas
secepat-cepatnya tanpa berhenti dan
bersifat damai tidak mengganggu keamanan
dan ketertiban negara pantai.
Tidak menggunakan
kekerasan yg
melanggar integritas
wilayah
Tidak melakukan
kegiatan penangkapan
ikan
Kegiatan penelitian
Tidak melakukan
latihan militer tanpa
seizin negara pantai
Tdk melakukan
aktifitas yg
menimbulkan
pencemaran
Kegiatan yg
mengganggu sistem
komunikasi
Tidak melakukan
kegiatan yg melanggar
keamanan ketertiban
negara pantai
Tidak melakukan
bongkar muat
komoditas,
penumpang, mata
uang yg melanggar
aturan customs, fiscal
& immigration
Kapal-kapal selam hrs
tampak dari
permukaan serta
menunjukkan bendera
negaranya
Tidak melakukan
tindakan propaganda
melanggar keamanan
ketertiban negara
pantai
Tidak melakukan
peluncuran dan
pendaratan dari atas
kapal tms kapal
militer
 Selama
kurang lebih setengah abad lebar laut
teritorial mjd objek pertentangan antara
negara, dg variasi tuntutan antara 3 sampai
dg 200 mil laut.
 Batas
terluar laut teritorial akan disesuaikan
dg lebar laut teritorial yg dipilih oleh
masing2 negara.
 Adanya
perubahan lebar laut teritorial dari 3
mjd 12 mil sbgian besar dari selat yg biasa
digunakan utk pelayaran internasional
berubah statusnya mjd bagian laut teritorial
bahkan ada yg mjd bag dari perairan
pedalaman.
 Di
luar laut teritorial, suatu jalur / zona yg
berbatasan dgnya disebut jalur / zona
tambahan.
 Laut
yg terletak pada sisi luar dari garis
pangkal dan tidak melebihi batas 24 mil laut
dari garis pangkal.
 Negara
pantai dpt melaksanakan pengawasan
yg diperlukan utk mencegah pelanggaran
peraturan perundang-undangannya di bidang
bea cukai, fiskal, imigrasi dan perikanan.
 Meliputi
dasar laut dan tanah di bawahnya
(seabed and subsoil) dari area di bawah
permukaan laut yg terletak di luar laut
teritorial – hingga jarak 200 mil laut dari
garis pangkal dari mana lebar laut teritorial
diukur.
 Negara
pantai mpy hak-hak berdaulat utk
melakukan kegiatan2 eksplorasi dan
eksploitasi dari kekayaan alam yg terkandung
di dalamnya.
 Batas
terluar ZEE tidak boleh melebihi 200
mil laut, diukur dr garis pangkal yg sama yg
dipakai utk mengukur lebar laut teritorial.
 Di
zona ini negara memiliki hak-hak
berdaulat yg eksklusif utk keperluan
eksplorasi dan eksploitasi sumber kekayaan
alam serta yurisdiksi terhadap:
- pembuatan dan pemakaian pulau buatan,
instalasi dan bangunan
- riset imiah kelautan
- perlindungan & pelestarian lingkungan laut.
 Pasal
55 konvensi hukum laut 1982
menetapkan bhw pd suatu jalur laut yg
terletak di luar dan berdampingan dg laut
teritorialnya yg dinamakan zona ekonomi
eksklusif, suatu negara mpy hak2 berdaulat
dan yurisdiksi khusus utk memanfaatkan
kekayaan alam yg berada pd jalur tsb tms pd
dasar laut dan tanah dibawahnya.
 Setiap
neg pantai memiliki hak2 berdaulat
utk eksplorasi dan eksploitasi, konservasi dan
pengelolaan sumber daya alam baik hayati
maupun non hayati yg terkandung dlm zona
ekonomi eksklusif yg terletak di luar dan
berbatasan dg laut teritorial.
 Di
ZEE negara2 lain tetap memiliki kebebasan
utk berlayar dan terbang di atasnya, serta
utk memasang kabel dan pipa di dasar
lautnya.

Tidak dapat diletakkan di bawah kedaulatan yg
dikuasai oleh suatu negara manapun

Kawasan laut lepas berlaku sbg prinsip
kebebasan dalam batas-batas HI. Di laut lepas,
setiap negara biak neg pantai/neg tdk berpantai
dpt menikmati kebebasan2 di laut lepas
(freedom of the high seas)

Seperti kebebasan berlayar, penerbangan,
memasang kabel dan pipa, pembuatan pulau
buatan, kebebasan menangkap ikan dan
penelitian ilmiah.
 Kebebasan
utk menangkap ikan di bag laut
lepas dihapuskan sampai dg batas 200 mil
laut dr garis pangkal yg skrg diberi status sbg
zona ekonom eksklusif.
kawasan dasar laut yang tidak terletak di
dalam yurisdiksi negara manapun.

 Satu
kemajuan yang sangat berarti di peroleh
oleh negara-negara berkembang di kawasan
ini karena diakuinya prinsip warisan bersama
umat manusia (common heritage of mankind)
serta terbentuknya badan otorita hukum laut
internasional sbg tindak lanjutnya
Oleh: Nurul Hikmah
 Subjek-subjek
HI seharusnya memiliki
kecakapan-kecakapan hukum
internasional utama untuk mewujudkan
kepribadian hukum internasionalnya
 1. mampu
menuntut hak-haknya didepan
pengadilan internasional (dan nasional)
 2. menjadi
subjek dari beberapa atau
semua kewajiban yg diberikan oleh HI
 3. mampu
membuat perjanjian internasional
yg sah dan mengikat dlm HI
 4. menikmati
imunitas dari yurisdiksi
pengadilan domestik
subjek HI dlm arti yg klasik dan telah
ada sejak lahirnya HI

 Hingga
skrg msh ada anggapan bhw HI
pd hakikatnya adlh hukum antarnegara.
 1)
a defined territory
 2) a permanent population
 3) government
 4) capacity to enter into relations with
other states
 Suatu
wilayah yg pasti (fixed teritory)
mrp persyaratan mendasar.
 Tidak ada persyaratan dlm HI bahwa
semua perbatasan sdh final dan tdk
memiliki sengketa perbatasan lg dg
negara-negara tetangga baik pd wkt
memproklamirkan diri sbg negara baru.
 HI tdk mensyaratkan batas minimum
maupun maksimum wilyh negara.
 Negara
tdk akn exist tanpa pnddk.
 Tidak ada persyaratan jumlah minimum
penduduk yg hrs dimiliki suatu negara
 HI tdk mensyaratkan penduduknya hrs
homogeneus.
 Persyaratan utk permanent population
dimaksudkan utk stable community
 Kriterianya  merujuk pd kelompok
individu yg hidup di wilayah negara ttt.
pemerintah yg berdaulat, mampu
menguasai organ2 pemerintahan sec
efektif, memelihara ketertiban dan
stabiitas dlm negeri.

 Pengertian
bedaulat tdk dpt ditafsirkan
bhw pemerintah yg bersangkutan tdk
pernah diintervensi pihak manapun dlm
menentukan kebijakan.
 Suatu
negara dikatakan merdeka jika
wilayahnya tdk berada dibawah otoritas
berdaulat yg sah dr neg lain.
 kemampuan utk melakukan hub dg neg
lain adlh kemampuan dlm pengertian
yuridis baik berdasarkan hukum nasional
maupun internsnl bukan kemampuan sec
fisik.
fx
 1)
Negara Kesatuan
 2) Negara Federasi
 3) Negara Konfederasi
 4) Negara Persemakmuran
(Commonwealth Nations)
 5) Negara Mikro
 6) Negara netral ( Netralized State)
 7) Negara Protektorat
 8) Condominium
 9) Wilayah Perwalian (trust)
 Mrp
peninggalan atau kelanjutan sejarah
jaman dahulu ktk paus bukan hanyan mrp
kepala gereja Roma ttp memiliki kekuasaan
duniawi.
 Suatu
subjek hukum yg keduduakannya
sejajar dg negara.
 disebut
sbg suatu entitas yg bernama
“Order of the Knights of Malta”. Entitas ini
diakui sbg subjek HI oleh bbrp negara sj.
 Hingga
skrg tahta suci mpy perwakilan
diplomatik d bnyk ibu kota terpenting di
dunia yg sejajar kedudukannya dg wakil
diplomatik neg2 lain.
 Hal
ini tjd stlh diadakan perjanjian antara
Italia dan Tahta Suci pd tgl 11 febr 1929
yg mengembalikan sebidang tanah di
Roma kpd Tahta Suci dan memungkinkan
didirikannya vatikan.
 Orgnss
ini sbg suatu subjek hukum yg
lahir krn sejarah namun kedudukannya
diperkuat dlm perjanjian
 konvensi palang merah skrg mjd
konvensi Jenewa th 1949 ttg Perlindungan
Korban Perang
 Hingga kini PMI diakui sbg organisasi
internasional yg memiliki kddkn sbg
subjek HI wlpn dg ruang lingkup yg sngt
trbts.
 Kedudukan
Orgnss Intrnsnl sbg subjek
HI tdk diragukn lg mskpn pd mulanya
blm ada kepastian mengenai ha ini.
 Orgnss
Intrnsnl sprti PBB dan ILO mpy
hak dan kwjbn yg ditetapkan dlm
konvensi2 intensnl yg mrp semacam
anggaran dasarnya.

Individu sdh lama dianggap sbbg subjek HI, antara
lain trdpt:
a. Perjanjian Versailles th 1919 yg mengakhiri perang
dunia I antara Jerman dg Inggris dan Perancis yg
didlmny trdpt pasal-pasal yg memungknkan individu
mengajukan perkara ke Mahkamah Arbitrase
Internasional.
b. perjanjian antara Jerman & Polandia th 1922
mengenai Upper Silesia.
c. Keputusan Mahkamah Internasional Permanen dlm
perkara yg menyangkut pegawai kereta api Danzig
d. Keptsn organisasiregional dan transnasional sprt
PBB, ILO dll.
 Berdsrkan
peradilan Nurenberg dan
Tokyo 1946, individu dpt dianggap lgsg
bertanggungjwb sbg individu bg
kejahatan terhadap perdamaian,
kejahatan perang dan kejahatan trhdp
perikemanusiaan.
 Pemberontak
men. hukum perang dpt
memperoleh kedudukan dan hak sbg
pihak yg bersengketa (belligerent) dlm
bbrp keadaan ttt.
PENGAKUAN INTERNASIONAL
 Munculnya teori “pengakuan” memberikan
dorongan kpd bangsa2 terjajah utk
memperjuangkan haknya
 Eksistensi suatu negara berkenaan dg
kemampuannya utk menyelenggarakan
hubungan internasional meskipun kepastian
batas wilayah blm ditentukan.
 Pengakuan thdp neg baru adlh suatu
pernyataan/sikap dr suatu pihak utkn
mengakui eksistensi entitas politik baru sbg
neg baru, subjek HI dg hak2 dan kwjbn,
dimana dg pengakuan berarti bhw pihak yg
mengakui bersedia mlkkn hub dg pihak yg
diakui.
 Men. J.G. Starke dlm bukunya terdapat dua teori
mengenai hakikat dan fungsi dari “pengakuan”
1. teori konstitutif : hanya tindakan pengakuan
yg menciptakan status kenegaraan atau
melengkapi pemerintah baru dg otoritasnya di
lingkungan internasional
2. teori deklaratif : status kenegaraan tdk
tergantung pd pengakuan semata, pengakuan
hny pengumuman resmi semata trhdp fakta yg
ada
Sarjana HI lain berpendapat bhw:
“Pengakuan harus dilihat sifatnya, apakah
bersifat membentuk  menganggap
pengakuan mrp unsur penting berkenaan dg
status negara dlm pergaulan internasional
Atau bersifat menyatakan  hny
mempertegas existensi negara tsb dlm
pergaulan internasional.
Bantahan trhdp kedua teori tsb.
 Teori konstitutif : mslh pengakuan bkn mrp
kewajiban, tdk adanya ketentuan yg
mengatur jumlah min. Negara yg mmbri
pengakuan.
 Teori deklaratif : pengakuan hny bersifat
formalitas. Existensi negara tdk ditentukan
oleh ada/tdknya pengakuan dr neg lain.
Contoh: negara Transkey di Afrika bag selatan
 Kedua teori tsb bnyk mengandung
kelemahan praktis terutama dlm kaitannya
antara neg baru dg neg yg menolak memberi
pengakuan  teori jalan tengah
 Teori jalan tengah hendaknya membedakan
antara negara sbg pribadi internasioanal pd
satu pihak dan kemampuan negara sbg
pribadi internasional dlm melaksanakan hak
dan kewajiban internasional.
Praktek negara dlm memberi
“pengakuan”
Dilakukan sec tegas (express
recognition)
Sec diam-diam atau tersirat
(implied recognition)
Sec bersyarat
Secara kolektif
Pengakuan sec. tegas
 Adanya pengakuan lewat public statement,
perjanjian bilateral, nota diplomatik atau
pembukaan kedutaan besar di suatu negara
Pengakuan sec diam-diam
  didasarkan tindakan pihak yg
bersangkutan, shg terdpt “niat” utk memberi
pengakuan
Pengakuan bersyarat
 Adanya kwjbn yg hrs dipenuhi oleh negara yg
diakui
 Akibatnya: apabila kwjbn tdk dipenuhi tdk
akn menghapus pengakuan ttp kemungkinan
neg yg mengakui memutuskn hub diplomatik
sbg sanksi
Pengakuan sec. kolektif
  pemberian pengakuan yg diberikan
sekelompok neg kpd satu neg.
 Contoh:
- Liga Arab memberi pengakuan thdp
kemerdekaan RI th. 1947
- masyrkt Eropa (kongres Belrin) mengakui
Bulgaria
Konskuensi adanya pengakuan
 Status negara yg diakui sec. de jure mpy hak
penuh dlm keanggotaan di masyarakat
internasional. Shg neg tsb dpt menjalin
hubungan diplomatik dg neg lain.
 Sejak pengakuan diberikan, kedua belah
pihak memikul beban hak dan kewajiban huk
internasional.
Pengakuan thdp pemerintah
baru
  suatu sikap, pernyataan ata kebijakan utk
menerima suatu pemerintah sbg wakil yg sah
dari suatu negara dan pihak yg mengakui siap
melakukan hub internasional dgnya.
 Teori-teori yg menjelaskan pengakuan thdp
pemerintah baru:
1. Teori legitimasi
(Oppenheim)
 Pengakuan hny suatu formalitas atau
kesopanan dlm hub internasional
 Teori ini bs diterapkan dlm kasus pergantian
pemerintah yg konstitusional
 Di dlm praktek, teori ini tdk bs diterapkan dg
mudah ktk pergantian yg trjd sec
inkonstitusional, shg pemerintah yg baru
sering mengalami kesulitan manakala neg
neg lain menolak utk mengetahui
eksistensinya
2. Teori Defacstoism
 Banyaknya kudeta yg trjd di negara2
khususnya kwsn Amerika Latin, Afrika dan
Asia, Thomas Jefferson mencoba utk
memberikan penilaian yg obyektif thdp
kriteria pemerintah yg lahir sec
inkonstitusional utk layak diakui.
 Parameternya:
- menguasai sec efektif organ2 pemerintahan
yg ada
- mendpt dukungan dr rakyat
3. Teori Legitimasi
Konstitutif
 Men. Tobar  ktk trjd pergantian pemerintah
sec inkonstitusional sebaiknya pengakuan
diberikan stlh pemerintah baru mndpt
legitimasi konstitusional dlm huk Nas Neg
stmpt.
4. Teori Stimson
 Men Stimson: pengakuan tdk perlu diberikan
trhdp pemerinth baru yg lahir dr kudeta
 Teori ini mencegah tjd nya kudeta suatu
negara krn akn menimbulkan ketidakadilan
pemerintah yg berkuasa yg memiliki sifat
otoriter, kejam dan membuat rakyat
menderita.
 Tdk ada cara demokratis yg dpt digunakan
rakyat utk menggulingkan rezim otoriter tsb
kecuali dg kudeta.
Download