Pengukuhan Guru Besar UA, Kado Awal Tahun untuk Masyarakat

advertisement
Pengukuhan Guru Besar UA, Kado Awal Tahun untuk Masyarakat
Kantor Manajemen – Warta Unair
Awal tahun 2014 ini, Universitas Airlangga (UA) kembali mengukuhkan Guru Besar yang ke 414,
415 dan 416. Mereka adalah Prof. Dr. Jusak Nugraha dr., M.S., Sp.P.PK(K) sebagai Guru Besar dalam
bidang ilmu Patologi Klinik, Prof. Dr. Nursalam, M. Nurs (Hons) sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu
Keperawatan dan Prof. Djoko Santoso, dr, PhD, SpPD, KGH, FINASIM sebagai Guru Besar dalam Bidang
Ilmu Penyakit dalam. Pengukuhan tersebut dilaksanakan pada Sabtu (18/1) di Aula Garuda Mukti, Kantor
Manajemen UA.
Prof. Dr. Jusak Nugraha dr., M.S., Sp.P.PK(K) sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Patologi
Klinik menjelaskan tentang vaksin terapautik untuk mengeliminasi tuberkolosis (TB). TB merupakan
masalah kesehatan yang menduduki peringkat ke lima di Indonesia. Namun, sampai saat ini TB hanya
memiliki satu vaksin saja, Bacillus Calmette Guerin (BCG).
“Vaksin BCG yang berusia 90 tahun ini kurang dapat melindungi orang dewasa. Vaksin BCG tidak
dapat digunakan untuk mencegah reaktivasi TB laten. Karena sebenarnya hampir setiap orang
menyimpan virus TB dalam tubuhnya, atau TB laten. Saat kekebalan tubuh menurun, virus ini akan
muncul ke permukaan,” ujar pria kelahiran 14 Februari 1956 yang juga memiliki sekolah musik ini.
Salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh yakni dengan vaksin terapeutik TB. Vaksin
ini nantinya diberikan sebagai tambahan pada obat anti-tuberkolosis untuk membangkitkan respon
imun host yang akan menyerang antigen TB bentuk dormant pada TB laten. UA saat ini juga sedang
bekerja sama dalam Konsorsium Riset Vaksin TB untuk menghasilkan vaksin TB baru yang berbentuk
vaksin terapeutik.
Masih dalam bidang kesehatan, Prof. Dr. Nursalam, M. Nurs (Hons) menjelaskan tentang Caring
sebagai dasar peningkatan mutu pelayanan keperawatan dan keselamatan pasien dalam orasi
ilmiahnya. Beliau merupakan guru besar UA yang ke-415 dan ke-123 sejak UA menjadi Badan Hukum.
Beliau juga merupakan Guru Besar yang pertama pada bidang Keperawatan di Universitas Airlangga,
Guru Besar bidang Ilmu Keperawatan ke-4 se-Indonesia.
Menurut beliau dunia keperawatan merupakan ujung tombak pelayanan di rumah sakit. Selama
24 jam, ners memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Namun, peran ners sering menjadi
sorotan negatif dari masyarakat. Padahal ners bertanggungjawab untuk meminimalkan resiko cedera
pada pasien. Untuk itu diperlukan sistem baru yang dapat memaksimalkan peran ners dalam
mengurangi potensi cedera pada pasien. Caring merupakan kunci utama dalam sistem tersebut.
“Caring merupakan kekuatan dalam meningkatkan mutu dan pelayanan ners dalam masyarakat.
Implikasi pelayanan keperawatan dapat dijawab dengan memahami dan melaksanakan peran caring
ners di masa depan,” jelas profesor yang juga pengurus Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia.
Sementara itu, Guru Besar UA yang ke-416, Prof. Djoko Santoso, dr, PhD, SpPD, KGH, FINASIM
menjelaskan tentang perkembangan penyakit ginjal kronis yang banyak dialami masyarakat. Selama ini,
penanganan penyakit ginjal kronis hanya berfokus pada penggunaan teknologi canggih saja. Sementara,
penanganan yang bersifat preventif hanya menjadi aktivitas sampingan.
“Penanganan ginjal kronis selama ini hanya berkonsentrasi pada penggunaan teknologi canggih,
banyak pendanaan masyarakat yang terkuras habis. Sekali cuci darah saja bisa habis berapa, padahal
sebulan bisa sampai 8 kali cuci darah,” jelas beliau.
Untuk itu, kita membutuhkan strategi baru yang lebih tepat. Strategi tersebut harus bisa
menurunkan peluang terjadinya gagal ginjal kronis. Terjadinya gagal ginjal kronis bukan sekedar faktor
medis semata, melainkan juga cerminan kegagalan penyesuaian terhadap lingkungan bio-sosioekonomi. “Sebenarnya penyakit apa saja bisa disebabkan oleh lingkungan yang tidak baik. Kalau
lingkungan sekitar kita amburadul, kita bisa terkena penyakit apa saja, termasuk ginjal,” imbuh profesor
kelahiran Jombang, 26 April 1961.
Pembenahan lingkungan menjadi lebih baik tentu perlu kerja sama dengan berbagai pihak. Baik
pemerintah maupun masyarakat umum. “Arah kebijakan kedokteran yang sekarang ini terlalu berat ke
pengobatan, sebaiknya ‘hijrah’ ke sisi pencegahan,” ujar beliau.
Selain ketiga guru besar tersebut, UA juga akan mengukuhkan tiga guru besar lainnya pada
Sabtu, (25/1) UA juga akan kembali mengukuhkan guru besar. Semoga para guru besar yang dikukuhkan
di awal tahun 2014 ini dapat bermanfaat untuk masyarakat. (est)
Download