lebih lanjut klik berikut - BPPV Regional III Bandar Lampung

advertisement
SAPI SUMBA ONGOLE
MEMILIKI DAYA TARIK ISTIMEWA
Sapi lokal untuk bahan penggemukan semakin langka, setelah sapi PO, simetal,
limousine sekarang banyak feedlot mencari bakalan dari jenis sapi Bali, sapi Madura, sapi
kupang, dan sapi Sumba Ongole. Sapi Sumba Ongole ( SO ) adalah sapi ongole asli Indonesia
berasal dari Sumba, Nusa Tenggara Timur dengan perawakan seperti sapi ongole ( jawa ), warna
asli putih, memiliki rangka dan perfoma produksi yang lebih baik dari sapi ongole. Frame yang
tinggi panjang, bertanduk, perototan dan pertulangan kuat. Di daerah asalnya sapi ini diperlihara
dalam lahan penggembalaan ( ranch ) dengan panasnya sinar matahari di area ribuan hektar,
pemilik sapi biasanya memiliki ratusan ekor sapi dan menandai sapinya dengan sobekan di
telinga atau dengan cap bakar di paha.
Kelebihan pemeliharaan system ranch di sana adalah mendukung pembentukan rangka
yang panjang karena sapi bisa exercise dengan cukup, mendapatkan vitamin D cukup dari sinar
matahari, dan mendapatkan sebagian mineral ( Ca ) dari tanah atau bebatuan di sekitar ranch.
Kelemahan dari system ranch adalah tingginya kejadian inbreeding, recording reproduksi dan
produksi relative susah, susahnya kontrol penyakit parasiter ( cacing ), sapi kecil akan selalu
kalah dalam kompetisi perebutan pakan. Pada musim kemarau, ranch akan sangat kekurangan
air, akibat dari asupan air yang rendah akan terjadi kekurangan rumput, rendahnya perfoma
reproduksi dan produksi, meningkatnya kematian pedet karena susu induk yang kurang
mencukupi. Kurangnya rumput dan air pada musim kemarau menyebabkan menurunya kondisi
fisik sapi sehingga kejadian penyakit meningkat seperti demam tiga hari ( Bovine Epiferal Fever
), kekurusan ( skinny ) dan weakness ( kelemahan ). Saat musim kemarau terjadi peningkatan
kejadian masuknya benda asing ( kain, plastik, kayu, lidi, paku, kawat ) ke dalam tubuh sapi
yang dapat mengganggu fungsi alat pencernakan, jantung, paru paru dan system organ lain.
Penggemukan SO
Mobilisasi sapi Sumba Ongole dari Sumba ke Jawa untuk tujuan penggemukan sudah
berjalan lebih dari 20 tahun yang lalu. Sapi dibawa melaui kapal laut melewati pelabuhan di
Surabaya, dan dibawa ke Jawa, di Jawa Barat penampungan sementara sapi banyak dilakukan di
Tambun, Bekasi sebelum dibawa ke feedlot masing masing antara lain di Subang, Bandung,
Sukabumi, Bogor, atau Banten. Para pengusaha penggemukan memilih sapi SO untuk
penggemukan karena memiliki beberapa keuntungan seperti: sapi SO mudah beradaptasi dengan
pakan penggemukan dengan system koloni, sapi dalam koloni baru dalam pen akan cepat
mengenal kawan dalam satu koloni, tidak banyak terjadi perkelahian antar sapi ( hanya 1-2 hari
). Tahap awal penggemukan dimulai dari penimbangan masing masing sapi untuk menentukan
grade berdasarkan berat badan, pen, dan target pakan. Pemberian multi vitamin dan obat cacing
sangat membantu meningkatkan kecernaan pakan yang dikonversi menjadi daging. Fase pakan
dibedakan menjadi 3 yaitu starter ( DOF 1 – 10 ), grower ( 11-60 hari ), dan Finisher ( 60 hari –
waktu jual ). Persentase hijauan tinggi pada saat starter dan akan terus dikurangi sampai finisher /
waktu jual, pakan konsentrat diberikan sebaliknya yaitu dari sedikit dan menigkat secara
bertahap.
Pada awal 2008, sapi yang dikelola di feedlot mempunyai rangka yang panjang panjang
dan bobot badan awal 400 – 600 kg ( masuk dalam kelas Heavy – ekstra heavy ). Kecilnya angka
penyusutan karena transportasi ( < 2% ) dan average feed intake yang selalu meningkat dari hari
ke hari ( 2,3 % - 2,6 % dry matter intake ) menghasilkan perfoma yang luar biasa. Dalam jangka
waktu pemeliharaan ( Days On Feed ) 90 hari SO jantan, akan didapatkan kenaikan berat badan
1.6 – 2.0 kg / ekor/ hari, dan rata rata karkas yang dihasilkan di atas 52.5%. Para jagal dan
penjual daging sangat menyukai hasil panen penggemukan SO karena selain % karkas tinggi
juga tekstur daging yang padat, sedikit atau tanpa lemak dan kematangan daging ( berwarna
merah ) yang sangat pas untuk produksi bakso. Pada 2008 harga sapi SO jantan masih berkisar
Rp. 22.500 – Rp. 23.000 dan indukan ( cow ) Rp. 18.000 – Rp. 19.000 /kg berat badan hidup.
Pada saat itu harga karkas masih sekitar Rp. 45.000,00, sehingga apabila sapi berat 400 kg ( 400
X Rp. 22.500 = Rp.9.000.000,00 ) dipotong mendapatkan 53% karkas ( 212 kg ) seharga Rp.
9.540.000,00 artinya ada keuntungan Rp. 540.000,00 / ekor bagi jagal.
Akhir akhir ini, sapi bakalan yang datang dari Sumba relative lebih kecil kecil ( 250 kg )
dan kondisi badan yang kurang ideal. Sapi dengan berat 250 – 300 kg ini termasuk dalam
kategori light – ekstra light, membutuhkan waktu pemeliharaan yang lebih lama yaitu di atas
120 hari. Kenaikan berat badan yang dihasilkan lebih rendah hanya sekitar 1.0 – 1.1 kg/ekor/hari,
begitu juga karkas yang didapatkan hanya 50% saja. Makin rendahnya grade sapi bakalan yang
masuk ke kandang penggemukan mengindikasikan telah terkurasnya sapi bakalan dengan bobot
besar, meningkatnya kejadian inbreeding, atau populasi ternak tidak diimbangangi jumlah pakan
yang tersedia terlebih pada musim kemarau.
Kondisi awal sapi SO bakalan masih kurus
Sapi SO hasil penggemukan siap potong
Pengembang biakan SO ( Breeding )
Semakin menurunnya kualitas sapi SO dan makin tingginya kebutuhan sapi lokal untuk
bakalan penggemukan, menuntut pengusaha ternak untuk mengembangbiakan sapi SO dengan
system intensif melalui perbaikan managemen pemeliharaan, perkawinan, pakan dan budidaya.
Pengembangbiakan sapi SO secara intensif ditujukan untuk pemurnian dan masih menggunakan
perkawinan alami. Sapi SO memiliki perfoma reproduksi yang sangat baik, hasil budidaya yang
kami dapatkan kebuntingan > 90 % dengan rataan perkawinan 1-2 kali, mas produktif sampai 10
tahun, jarak antar kelahiran 12 – 13 bulan. Dalam perkembangan transfer embrio, sapi SO
berreaksi sangat memuaskan terhadap superovulasi pada produksi embrio seperti yang pernah
kami lakukan menghasilkan 20 buah embrio fertile kualitas excellent. Perfoma keturunan yang
dihasilkan meliputi pertumbuhan yang lebih cepat, pada keturunan betina akan mencapai masa
pubertas pada umur 13 bulan dengan berat badan 280 kg, dan berat badan indukan bisa mencapai
500kg. Pada beberapa pengamatan pemeliharaan, sapi SO tingkat reproduksinya sangat jelek di
daerah yang dingin di dataran tinggi.
Pemberian pakan untuk breeding tidak membutuhkan pakan dengan kualitas terbaik. Hal
ini selain untuk memperkecil biaya untuk produksi pedet juga karena sapi SO memiliki
kecernaan yang baik terhadap pakan yang diberikan. Pakan untuk pemeliharaan sapi breeding
yang kami berikan meliputi konsentrat 1- 3 kg ( protein kasar 10-11 %, TDN 65% ) dan rumput
lapangan atau jerami fermentasi dengan sedikit supplement vitamin E dan Selenium sudah sangat
mencukupi.
Kondisi induk dan pedet yang telah bunting
Dari ranch di Sumba
Pedet hasil breeding dengan pola intensif
Jerami fermentasi sebagai pakan breeding
Dara siap kawin umur 13 bulan berat 280 kg
Dalam dialognya di media electronic beberapa waktu yang lalu, Dirjen Peternakan dan
Kesehatan Hewan, Sekda NTT, KTNA, dan para ahli peternakan dan pertanian berkomitmen
penuh untuk memajukan pengembangan sapi Sumba Ongole. Dalam penjelasannya, Dirjen
Peternakan dan Kesehatan Hewan mengatakan akan mengkombinasikan manajemen
pemeliharaan dan bionutrisi untuk mengdapatkan hasil optimal, sementara factor kekeringan
pada musim kemarau yang bisa membuat kematian pedet hingga 60% akan ditanggulangi dengan
pembuatan sarana dan prasarana sumber air. Balai Inseminasi Buatan di daerah atau milik
kementrian pusat juga sudah waktunya untuk memproduksi semen beku SO sehingga akan cepat
menyebar luas ke seluruh pesosok Indonesia. Semoga kerja keras yang sinergis mampu
mengangkat Sumba Ongole menjadi problem solving bagi ketergantungan Import. Amieen..
Drh. Joko Susilo
Medis Veteriner Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner Regional III Lampung
Direktorat Kesehatan Hewan, Dirjennak Keswan
Kementrian Pertanian RI
Download