Periode 1 ( Tahun 1962 ) - mata kuliah ubhara surabaya

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
Dewasa ini kegiatan Public Relations (Humas), merupakan kegiatan yang berkaitan dengan
fungsi dan peranannya dalam kehumasan baik di dalam lembaga pemerintah, swasta, organisasi
profit dan non profit tidak lepas dari etika kehumasan sebagai patokan atau pedoman atau ramburambu yang penting dan mendasar serta yang harus ditaati dan dipatuhi oleh setiap praktisi Public
Relations (humas). Yang dalam hal ini dituangkan dalam bentuk pasal-pasal yang formal dan
normatif yang berisikan kode perilaku dan kode etik sebagai pedoman moral yang mengikat bagi
setiap penyandang profesi humas (Public Relations) tersebut yang disebut Kode Etik Profesi
Humas.
Sebelum akan dibahas lebih lanjut tentang apa etika kehumasan maka terlebih dahulu
dijelaskan
tentang apa yang dimaksud Public Relations (humas) .Maka dalam hal ini yang
dimaksud dengan Humas (Public Relations) menurut Frank Jefkins adalah sesuatu yang merangkum
keseluruhan komunikasi yang terencana baik kedalam maupun keluar antara suatu organisasi
dengan semua khalayak dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada
saling pengertian. Dan Humas (PR) mempunyai perbedaan dengan iklan.
Uuntuk itu maka antara Public Relations (humas) dan Iklan tidaklah sama dimana mempunyai
perbedaan sebagai berikut :
a. Public Relations :
-
Bukanlah salah satu bentuk dari periklanan.
-
Menyangkut seluruh komunikasi yang berlangsung mulai perencanaan yang jelas untuk
mencapai tujuan spesifik.
-
Keberadaan Public Relations dilakukan oleh semua organisasi dan tidak dapat lepas.
-
Menyangkut keseluruhan komunikasi dari suatu organisasi. Menjadi kunci keberhasilan
dan keefektifan komunikasi dalam organisasi.
b. Iklan :
-
Terbatas pada pemasaran yang memasarkan serta menawarkan produk-produk atau jasa
yang dihasilkan suatu perusahaan atau instansi.
-
Tidak dilakukan oleh semua organisasi.
-
Hanya terbatas pada hal-hal berkaitan dengan promosi,produk atau jasa yang dihasilkan,
menyediakan pasokan dan hal-hal lain berhubungan dengan pemasaran dan pembelian
dalam suatu perusahaan atau instansi.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 1
Komunikasi dan manajemen menjadi dasar yang sangat fundamental dalam pekerjaan seorang
Public Relations (Humas) dan supaya suasana komunikasi efektif dapat tercipta didalam suatu
organisasi ada dengan syarat yang harus dipenuhi seorang Public Relations yaitu :
1. Komunikasi dan relasi.
2. Sifat yang rendah hati.
3. Cepat menyesuaikan diri.
4. Mampu menghadapi semua orang yang memiliki aneka ragam karakter dan latar belakang
budaya dengan baik.
5. Mampu bekomunikasi dengan baik ; menjelaskan dengan jernih, jelas, dan lugas secara lisan
maupun tertulis juga secara visual.
6. Pandai mengorganisir segala sesuatu.
7. Memiliki integritas personal baik dalam profesi maupun kehidupan pribadi.
8. Punya imajinasi yang kuat dalam penyampaian pesan kepada stakeholder.
9. Serba tahu; memiliki akses yang tinggi terhadap informasi (membaca, membuka internet,
berdiskusi dll).
Ada empat faktor penyebab kenapa Public Relations menjadi penting saat ini :
1. Perkembangan masyarakat yang sangat kompleks yang diikuti pertumbuhan dan
perkembangan organisasi bisnis yang semakin membesar.
2. Adanya dinamika yang cepat terjadi dilingkungan organisasi atau perusahaan yang dapat
menimbulkan perubahan-perubahan.
3. Terdapat peningkatan kesadaran dan keterbukaan didalam masyarakat untuk mengakses
informasi berakibat semakin terbuka dan transparan
4. Kesadaran masyarakat terhadap HAM semakin tinggi demokratisasi, persamaan hak dan
HAM serta perlindungan konsumen.
Selain faktor diatas ada faktor lain yang khusus yang menjadikan Public Relations profesi yang
urgen yaitu:
1. Relasi dan interaksi.
2. Masyarakat merupakan pihak eksternal yang sangat penting bagi suatu perusahaan atau
instansi.
3. Kesadaran masyarakat terhadap hak asasi membawa pengaruh terhadap kesadaran untuk
mempejuangkan hak mereka sebagai konsumen dan warga negara.
4. Pertumbuhan kehidupan modern yang semakin kompleks dari organisasi swasta dan
pemerintah yang berakibat kesulitan untuk menyampaikan pesan-pesan
5. Pesan yang terlalu banyak disampaikan melalui media iklan saat ini menjadi noise dalam
kehidupan masyarakat.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 2
6. Adanya peningkatan pertumbahan populasi berkaitan dengan spesialisasi dan mobilitas
pekerjaan berakibat diperlukan spesialisasi komunikasi.
Secara garis besar tujuan Public Relations (humas) menyangkut 3 (tiga) hal :
1. Reputasi dan citra. Dengan asumsi citra positif akan berkaitan dengan semakin tingginya
akses pubik terhadap output dari perusahaan.
2. Jembatan komunikasi organisasi dengan lingkungannya.
3. Mutual benefit relationship yaitu menjamin kepada publik bahwa perusahaan berada dalam
operasinya memiliki niat baik dalam berbisnis dengan wujud dalam tangung jawab sosial
dan diekspresikan melalui hubungan saling menguntungkan diantara perusahaan dan publik.
(Rini,2007)
Hal-hal yang sangat esensial dalam pekerjaan seorang Public Relations (humas) yaitu :
1. Komunikasi dan relasi. Menjadi rohnya Public Relations.
2. Goodwill ; itikad baik dalam berbisnis dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
3. Good business is good service ; pelayanan menjadi faktor penting dalam menentukan citra
perusahaan.
4. Good business is good relations ; dimana prinsip komunikasi dua arah bersifat timbal balik.
Sedangkan untuk tugas Pokok Public Relations, menurut Bertrad R.Canfield dalam buku etika
kehumasan Rosady Ruslan mengatakan bahwa unsur-unsur utama dalam peran Humas atau Public
Relations :
1. Pelayanan demi kepentingan umum (If should serve the public’s interest).
2. Menjaga komunikasi yang baik dan santun (Maintain good communication).
3. Bermoral dan berperilaku yang baik (Stress good moral and manners).
Latihan Soal :
1.
Jelaskan apa berbedaan humas dengan iklan menurut pengertian saudara?
2.
Sebutkan garis besar dan tujuan humas (PR) menjadi suatu yang penting?
3.
Hal-hal apa saja yang menjadi sangat esensial humas(PR)?
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 3
BAB II
SEJARAH KODE ETIK KEHUMASAN
I. Sejarah berdirinya Asosiasi Public Relations Internasional (IPRA)
1. Awal pertama dicetuskan di Belanda Maret 1950 oleh para praktisi PR/Humas dariberbagai
Negara (Inggris, Belanda, Perancis, Norwegia dan Amerika Serikat) pada acara The Royal
Netherlands Internasional Trade Fair.
2. Tanggal 1 Mei 1955 organisasi profesi International Public Relations Association (IPRA)
berdiri secara resmi.
3. Dalam sidang umum di Venice Mei 1961 diterbitkan 4 (empat) kode perilaku pokok yang
sekaligus merupakan standard atau piagam moral bagi perilaku professional humas sebagai
berikut:
a. integritas pribadi dan profesionalisme.
b. perilaku terhadap klien dan majikan.
c. perilaku terhadap media dan umum.
d. perilaku terhadap rekan seprofesi.
4. Untuk kode etik IPRA sudah beberapa kali diamendir yaitu melalui Kode Etik Athena ketika
berlangsung sidang umum IPRA di Athena Yunani tangal 12 Mei 1965.
5. Kode etik IPRA disempurnakan lagi pada konvensi IPRA di Teheran Iran 17 April 1968.
Dimana secara umum dan normatif memuat butir-butir Mukadimah dan terdiri dari 13 pasal.
Dimana secara garis besar mengatur hal-hal sebagai berikut :
a. Mengenai kode perilaku.
b. Merupakan kode moral
c. Menjunjung tinggi standard moral.
d. Memiliki kejujuran yang tinggi.
e. Mengatur secara etis mana yang boleh dan tidak boleh diperbuat oleh seorang
professional Public Relations atau Humas.
Selanjutnya November 1991 IPRA Council di Nairobi menetapkan “IPRA Nairobi Code
for Communication in Environment and Development“ yang isinya : antara lain berkaitan
dengan isu sentral dan tanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan hidup, pembangunan
ekonomi dan memperhatikan faktor pembangunan dan pengembangan sosial.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 4
2.
Sejarah Perkembangan Public Relations Di Indonesia.
Sejarah perkembangan Public Relations di Indonesia secara konsepsional terjadi pada
tahun 1950-an. Kala itu berdiri organisasi HUMAS pertama kali di perusahaan perminyakan
negara (Pertamina). Peranan divisi HUPMAS (Hubungan Pemerintah dan Masyarakat)
Pertamina ini sangat penting dalam upaya menjalin hubungan komunikasi timbal balik dengan
pihak klien, relasi bisnis, perusahaan swasta atau BUMN atau Asing dan masyarakat.
Kemudian pada tahun 1954, secara resmi HUMAS diterapkan pada jajaran kepolisian.
Dilanjutkan di berbagai instansi pemerintah dan perusahaan swasta pada tahun 1970-an.
Jika dikaitkan dengan state of being, dan sesuai dengan method of communication, maka
istilah Humas dapat dipertanggung jawabkan. Tetapi, jika kegiatan yang dilakukan oleh Kepala
Hubungan Masyarakat itu, hanya mengadakan hubungan dengan khalayak di luar organisasi,
misalnya menyebarkan press release ke massa media, mengundang wartawan untuk jumpa pers
atau wisata pers, maka istilah hubungan masyarakat tersebut tidaklah tepat apabila
dimaksudkan sebagai terjemahan dari public relations.
Dan menurut Rosady Ruslan, SH, MM. membagi perkembangan Public Relations di Indonesia
dalam 4 periode sebagai berikut :
Periode 1 ( Tahun 1962 )
Secara resmi pembentukan HUMAS di Indonesia lahir melalui Presidium Kabinet PM
Juanda, yang menginstruksikan agar setiap instansi pemerintah harus membentuk
bagian/divisi HUMAS. Dijelaskan pula garis besar tugas kehumasan dinas pemerintah
adalah : Tugas strategis yaitu ikut serta dalam proses pembuatan keputusan oleh
pimpinan hingga pelaksanaaannya. Dan tugas taktis yaitu memberikan informasi,
motivasi, pelaksanaaan komunikasi timbal balik dua arah supaya tercipta citra atas
lembaga atau institusi yang diwakilinya.
Periode 2 ( Tahun 1967 – 1971 )
Pada periode ini terbentuklah Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas). Tata kerja
badan ini antara lain ikut serta dalam berbagai kegiatan pemerintah dalam pembangunan,
khususnya di bidang penerangan dan kehumasan, serta melakukan pembinaan dan
pengembangan profesi kehumasan.
Tahun 1967, berdiri Koordinasi antar Humas Departemen atau Lembaga Negara yang
disingkat “Bakor” yang secara ex officio dipimpin oleh pimpinan pada setiap
departemen.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 5
Tahun 1970-1971, Bakor diubah menjadi Bako-humas (Badan Koordinasi Kehumasan
Pemerintah) yang diatur melalui SK Menpen No.31/Kep/Menpen/tahun 1971. Yang
menjelaskan sebagai institusi formal dalam lingkungan Departemen Penerangan RI.
Bakohumas tersebut beranggotakan Humas departemen, Lembaga Negara serta unit
usaha Negara atau BUMN. Kerjasama antara Humas departemen atau institusi tersebut
menitik beratkan pada pemantapan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dalam operasi
penerangan dan kehumasan.
Periode 3 ( Tahun 1972 – 1993 )
Periode ini ditandai dengan munculnya Public Relations kalangan profesional pada
lembaga swasta umum. Dengan indikator sebagai berikut:
a. Tanggal 15 desember 1972 didirikannya Perhimpunan Hubungan Masyarakat
Indonesia (Perhumas) sebagai wadah profesi HUMAS oleh kalangan praktisi swasta
dan pemerintah. Seperti wardiman Djojonegoro ( mantan mendikbud), Marah Joenoes
(mantan kahupmas Pertamina), dll.
Pada konvensi Nasional HUMAS di Bandung akhir tahun 1993 lahirlah Kode Etik
Kehumasan Indonesia (KEKI). Perhumas juga tercatat sebagai anggota International
Public Relations Association (IPRA) dan ASEAN Public Relations Organization
(FAPRO).
b. Tanggal 10 April 1987 di jakarta, terbentuklan suatu wadah profesi HUMAS lainnya
yang disebut dengan Asosiasi Perusahaan Public Relations (APPRI ). Tujuannya
adalah sebuah wadah profesi berbentuk organisasi perusahaan-perusahaaan public
relations yang independen (konsultan jasa kehumasan).
Periode 4 ( Tahun 1995 – sekarang )
Periode ini Public Relations berkembang di kalangan swasta bidang profesional khusus
(spesialisasi Public Relations atau HUMAS bidang industri pelayanan jasa). Dengan
indikator sebagai berikut:
a. Tanggal 27 November 1995 terbentuk Himpunan Humas Hotel Berbintang (H-3).
Himpunan ini diperuntukkan sebagai wadah organisasi profesi HUMAS bidang jasa
perhotelan, berkaitan erat dengan organisasi PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran
di Indonesia).
b. Tanggal 13 september 1996 diresmikannya Forum Komunikasi Antar Humas
Perbankan (FORKAMAS) oleh Gubernur BI Soedradjad Djiwandono. Forum ini
resmi bagi para pejabat HUMAS (Public Relations Officer), baik bank pemerintah
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 6
(HIMBARA), swasta (PERBANAS), dan asing yang beroperasi di bidang jasa
perbankan di Indonesia.
c. Keluarnya SK BAPEPAM No.63/1996, tentang wajibnya pihak emiten (perusahaan
yang go publik) di Pasar Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya memiliki
lembaga Corporate Secretary.
d. Berdirinya PRSI (Pulic Relations Society of Indonesia) pada tanggal 11 november
2003 di Jakarta. ini menyerupai PRSA (Public Relations Society of Amerika), sebuah
organisasi profesional yang bergengsi dan berpengaruh serta mampu memberikan
sertifikasi akreditasi Public Relations Profesional (APR) di Amerika yang diakui
secara internasional.
PRSI atau Masyarakat Public Relations Indonesia (MAPRI) pertama kali dipimpin oleh
August Parengkuan seorang wartawan senior harian Kompas dan mantan ketua
Perhumas-Indonesia. Tujuan organisasi ini adalah meningkatkan kesadaran, kepedulian,
kebersamaan, pemberdayaan serta pastisipasi para anggotanya untuk berkiprah sebagai
Public Relations professional dalam aktivitas secara nasional maupun internasional.
sumber gambar : catatanprnotes.blogspot.com/7/01/10
Untuk di Indonesia sejak tahun 1967 terbentuk Badan Koordinasi antar Humas Departemen
dan Lembaga Negara (Bakohumas). Dan sesuai SK.Menpen nomor : 31 tahun 1971 melalui
Bakomumas dikoordinasikan oleh Menteri Penerangan R.I. (sekarang Menteri Negara Komunikasi
dan Informasi) yang tertuang dalam tugas dan fungsi Bakomumas.
Sedangkan dalam SK.Menteri Negara Komunkasi dan Informasi (Kominfo) nomor
03A/SK/Meneg/I/2002 tanggal 18 januari 2002 sebagai pengganti SK.Menpen nomor : 31 tahun
1971 adalah tentang tugas dan kedudukan Bakohumas.
Dan untuk Kode Etik Humas khusus dilembaga pemerintahan mengacu pada Keputusan
Menteri Komunkasi dan Informatika Nomor. 371/KEP/M.KOMINFO/8/2007 tanggal 28 Agustus
2007.
Dari kode etik tersebut diatas sangat simple, mudah diratifikasi atau diadopsi kedalam kode etik
Humas atau Public Relations dimasing-masing Negara anggota IPRA yang merupakan “Piagam
Moral” dan pedoman atau rambu-rambu :
1. Bagi PRO (Public Relations Officer) by Profession adalah merupakan acuan yang ditujukan
kepada subyeknya (orang) sebagai penyandang professional Humas atau Public Relations
yang seharusnya memiliki integritas pribadi dan tanggung jawab professional.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 7
2. Bagi Public Relations by Function ditujukan pada “prosesnya” Humas sebagai lembaga
dalam berbagai hal (pengambilan keputusan,tanggung jawab social, kegiatan komunikasi,
publikasi dan promosi). Serta selain itu mampu menciptakan, menjaga citra positif melalui
pembinaan hubungan dan kemauan baik dengan berbagai pihak sebagai publiknya.
Latihan Soal.
1. Jelaskan sejarah kehumasan dunia dari tahap ketahap!
2. Uraikan bagaimana kelahiran humas di Indonesia!
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 8
BAB III
ETIKA, MORAL, HUKUM, ETIKET
ETIKA
Pengertian etika
1.
Muhamad Mufid dalam buku etika dan filsafat komunikasi (2009;173--) mengatakan secara
etimologi (bahasa) berasal dari kata bahasa Yunani: “ETHOS” yang berarti dalam bentuk
tunggal mempunyai arti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang , kebiasaan,
adat, akhlak, perasaan, cara berpikir sedang dalam bentuk jamak ,: “TA ETHA” berarti adat
kebiasaan.
2.
Dalam istilah filsafat berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan/tentang adat kebiasaan.
3.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah tentang ilmu pengetahuan tentang asas-asas
akhlak.
Maka Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai atau norma yang jadi pegangan bagi seseorang
atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Dan dewasa ini istilah etika mulai
digunakan dengan bergantian dengan filsafat moral dikarenakan didalam filsafat moral
mengkaji pula prinsip-prinsip etika.
4.
Kata etika sering disebut dengan istilah etik, atau ethics dalam bahasa Inggris yang
mengandung banyak pengertian. Dari segietimologi istilah etika berasal dari kata latin
“Ethicus” sedang dalam bahasa Yunani “Ethicos” yang berarti kebiasaan. Yang menurut
pengertian asli dikatakan baik itu apabila sesuai dengan masyarakat, kemudian lambat laun
pengertiannya berubah bahwa etika adalah suatu ilmu yang membicarakan masalah
perbuatan atau tingkah laku manusia mana yang dapat dinilai baik dan yang dapat dinilai
tidak baik.
5.
Etika disebut ilmu normatif yang dengan sendirinya berisi tentang ketentuan-ketentuan atau
norma-norma dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam sehari-hari.
6.
Etika merupakan cabang dari filsafat dimana mempelajari pandangan-pandangan dan
persoalan-persoalan yang berhubungan dengan masalah kesusilaan yang kadang-kadang
orang memakai dengan istilah filsafat etika, filsafat moral, filsafat susila. Maka secara
filosofis mempelajari kewajiban-kewajiban manusia dan hal-hal yang baik dan buruk;
menyelidiki tentang filsafat bidang moral ; membahas bagaimana manusia itu seharusnya
bertingkah laku benar, juga merupakan filsafat praktis manusia. Sedang etika ditinjau dari
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 9
cabang aksiologi yaitu ilmu tentang nilai dengan titik berat pada pencarian salah dan benar
atau dalam pengertian lain moral dan immoral.
7. Menurut Magnis Suseno (1998) dan Sony Keraf (1991) dalam buku business etichs Erni
Ernawan bahwa memahami etika perlu juga membedakan dengan moralitas.
Moralitas : suatu system nilai tentang bagaimana seseorang harus berperilaku sebagai
manusia. Sistim ini terkandung dalam ajaran, dan moralitas memberi manusia
aturan/petunjuk bagaimana menghindari perilaku-perilau yang tidak baik.
Sedang etika sendiri dalam hal ini berbicara mengenai nilai dan norma yang menentukan
perilaku manusia dalam hidupnya.
Moral dan etika mempunyai fungsi yang sama yaitu memberi orientasi bagaimana & kemana
harus melangkah dalam hidup ini, tetapi ada perbedaan bahwa moralitas langsung
menunjukkan inilah caranya untuk melangkah dan etika mempersoalkan apakah harus
melangkah dengan cara ini? Atau dengan kata lain moralitas : suatu pranata sedang etika :
sikap kritis setiap pribadi/kelompok masyarakat dalam merealisasikan moralitas.
ALIRAN ETIKA (UKURAN BAIK)
Menurut Prof.I.R.Poedjawijatna bahwa aliran etika :
1. Hedonisme.
Bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang mengandung kenikmatan dan perasaan
puas. Rasa puas sama dengan bahagia, mencari kepuasan sekarang ini masih merupakan
salah satu faktor yang mendorong manusia untuk bertindak.
2. Ulititarisme.
Dikatakan tindakan baik adalah tindakan yang berguna untuk mencapai tujuan
(utilis=berguna). Yang didalam politik : apa saja, fitnah, khianat, kekerasan dan paksaan
boleh (baik) asal berguna untuk mencapai tujuan.
3. Vitalisme
Tindakan yang baik adalah tindakan mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia dimana
manusia yang berkuasa itulah manusia yang baik.
4. Sosialisme.
Tindakan baik adalah tindakan yang ditentukan oleh masyarakat. Apa yang lazim dianggap
baik oleh masyarakat tertentu itu baik. Ini disebut ukuran sosialistis dalam etika atau tidak
umum.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 10
5. Religiosme.
Tindakan baik adalah yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tugas theology yang
menentukan mana yang menjadi kehendak Tuhan. Yang baik adalah ukuran yang umum dan
obyektif.
6. Humanisme.
Tindakan yang baik adalah tindakan yang sesuai dengan kodrat manusia yaitu kemanusiaan
yang sesuai dengan derajat manusia, jadi tidak mengurangi atau menentang kemanusiaan.
Dalam hal ini harus memperhatikan tinjauan obyektif dan subyektif.
Contoh : minum sampai kenyang atau puas hingga sakit, ini sengaja mengurangi derajat
kemanusiaannya.
Dari nomor 1-6 dapat disebut dengan kebaikan kodrati karena diadakan dalam persesuaian dengan
kodratnya. Sedangkan kebaikan berdasarkan wahyu disebut kebaikan adi-kodrati.
Etika “MINUS”, ”NOL”, DAN “PLUS”
Algernon D.Black, Etika, Cipta Loka Caraka,1999:45-47.
A. Etika Minus.
Perintah dan ajaran etika pada umumnya berawal dengan “ jangan”.
Tiga perintah “jangan” yang sangat penting adalah :
a. Jangan membunuh!
b. Jangan mencuri!
c. Jangan bersaksi dusta!
Akan tetapi tidak ada seorang pun yang ingin selalu diatur dengan “JANGAN BEGINI
JANGAN BEGITU”. Jika dapat dicegah orang membunuh, mencuri, bersaksi dusta maka
semua orang akan merasa lebih aman, masyarakat dan bangsa akan lebih sentausa dan
bahagia.
B. Etika Nol.
Ada orang yang mengambil jalan tengah, tidak berbuat jahat, tetapi tidak pula berbuat baik.
Mereka mengartikan “BAIK” sebagai ” tidak berbuat jahat”.
Ada orang yang mengatakan : ”Aku tak mau merugikan siapapun”. Itu sudah baik, bukan?.
Persoalannya apakah hal itu mungkin? Seandainya mungkin hidup tanpa merugikan orang
lain?.
Dengan contoh apabila kita melihat seseorang dalam bis telah dirampas tasnya. Adakah kita
berpikir bahwa insiden tersebut sebaiknya kita didiamkan tanpa membantu karena tidak mau
terlibat serta berpikir bahwa itu bukan urusan kita sebab itu yang paling aman!.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 11
C. Etika Plus.
Bangsa Mesir kuno sudah mengerti bahwa belumlah cukup hanya mengatakan tak pernah
berbuat jahat. Lebih dari empat ribu tahun yang lalu mereka berpandangan bahwa orang
pada hari kiamat harus berkata bahwa telah banyak berbuat baik. Contoh cintailah sesamamu
seperti kamu mencintai dirimu sendiri, pelihara anak yatim, janda, orang miskin (seperti
Bunda Theresia).
Sistimatika Etika
Secara umum dan dari sudut pandang yang lain menurut A. Sony Keraf (1993:41) bahwa etika
dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Etika Umum merupakan prinsip-prinsip moral yang mengacu pada prinsip moral dasar
manusia sebagai pegangan dalam bertindak dan tolak ukur atau pedoman untuk menilai baik
atau buruknya suatu tindakan yang dilakukan seseorang atau kelompok orang. (Iptek,
doktrin, ajaran, prinsip-prinsip, teori-teori umum)
2. Etika Khusus penerapan prinsip-prinsip moral dasar bidang khusus; bagaimana mengambil
keputusan dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari pada proses dan fungsional dari suatu
organisasi atau sebagai seorang professional bertindak etis berlandaskan pada teori-teori
etika dan prinsip moral dasar.
Dalam etika khusus dibagi dua bagian yaitu :
a. Etika individual ; menyangkut kewajiban dan perilaku manusia terhadap dirinya sendiri
untuk mencapai kesucian kehidupan pribadi, kebersihan hati nurani dan berakhlak luhur.
(subjeknya atau perorangan)
b. Etika sosial mengenai kewajiban, sikap dan perilaku sebagai anggota masyarakat
berkaitan dengan nilai-nilai sopan santun, tata karma, saling menghormati. (sikap
terhadap sesama, etika keluarga, etika politik, etika bisnis, etika kehumasan, etika
profesi)
Macam-macam etika.
Etika dapat dibedakan dalam tiga (3) macam :
1. Etika sebagai ilmu merupakan kumpulan tentang kebajikan, penilaian dari perbuatan
seseorang.
2. Etika dalam arti perbuatan : kebajikan.
3. Etika sebagai filsafat mempelajari pandangan-pandangan, persoalan-persoalan yang
berhubungan dengan masalah kesusilaan.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 12
Ada beberapa istilah dalam hal etika yaitu :
1. Descriptive ethics : gambaran atau lukisan tentang etika.
2. Normative ethics : norma-norma tertentu tentang etika agar seseorang dapat dikatakan
bermoral.
3. Philosophy ethics : menyelidiki kebenaran.
Peran etika
Etika memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia diantaranya sebagai berikut :
1. Mendorong dan mengajak setiap individu untuk bersikap kritis dan rasional dalam
mengambil keputusan berdasarkan pendapatnya sendiri yang dapat dipertanggung jawabkan
(bersifat otonom).
2. Mengarahkan masyarakat berkembang menjadi masyarakat yang tertib, teratur, damai dan
sejahtera dengan menaati norma-norma yang berlaku demi mencapai ketertiban dan
kesejateraan sosial. Keadaan ini disebut justitia legalis atau justitia generalis : keadilan yang
menuntut ketaatan setiap orang terhadap semua kaidah hukum dan kaidah sosial demi
ketertiban dan kesejahteraan masyarakat. (Rismawaty, 2009)
Dalam masyarakat tradisional berbeda dengan kehidupan masyarakat modern dimana nilai
dan norma yang ada dalam etika modern mengalami perkembangan dari nilai implicit kenilai
eksplisit yang menjadi sangat kompleks sebagai akibat perkembangan jaman maka dibutuhkan
suatu pemikiran baru untuk menentukan aturan dalam kondisi kehidupan modern ini.
Situasi etis ini yang terjadi dalam kehidupan masyarakat modern ditandai dengan 3 (tiga) ciri yang
menonjol yaitu :
1. Adanya pluralisme moral ; masyarakat yang berbeda serta nilai dan norma yang berbeda.
2. Kehidupan yang sangat kompleks dalam kehidupan masyarakat modern membawa pengaruh
terhadap timbulnya banyak masalah etis baru. Contoh : proses cloning, manipulasi gen-gen
manusia.
3. Muncul kepedulian etis yang bersifat universal dengan munculnya globalisasi moral. (HAM)
(Rini,2007)
ETIK dan ETIS
Dalam praktek kehidupan sehari-hari ada istilah yang tidak dapat lepas dari pembicaraan tentang
etika yaitu etik, etis.
Tindakan etik ; tindakan untuk melakukan etika. Sedang sifat tentang pelaksanaan etik tersebut
diberi istilah bahwa tindakan etik bersifat etis.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 13
Contoh : ketika kita sedang antri diruang tunggu praktek dokter hanya ada satu kursi tunggu yang
kosong dan kita segera untuk menempati kursi tersebut. Saat lama menunggu perasaan bosan
menunggu antrian muncul dan kemudian kita melihat tiba-tiba ada seorang ibu membawa anaknya
sedang sakit namun tidak ada kursi tunggu yang kosong. Namun salah satu dari pasien yang
menunggu tadi kemudian berdiri mempersilakan ibu tadi untuk duduk dikursinya.
Maka dari ilustrasi cerita diatas dapat dijelaskan bahwa perbuatan memberi tempat duduk kepada
ibu tadi adalah tindakan etik, sedangkan cara pasien tersebut memberikan tempat duduk/kursi
disebut tindakan etis.
Pengertian Moral
1. Kata moral berasal dari bahasa latin MOS (jamak : Mores) berarti kebiasaan atau adat.
Secara etimologi memiliki arti nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan
seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Maka apabila seeorang
dikatakan tidak bermoral berarti perbuatan orang tersebut dianggap melanggar nilai-nilai
atau norma-norma etis yang berlaku dalam kehidupan suatu masyarakat atau suatu
komunitas.
Dari kata sifat moral mengandung makna signifikan dengan suatu tindakan dan tingkah laku
yang baik dan buruk. Contoh perhatian dan uluran tangan kita terhadap saudara-saudara kita
yang sedang mengalami bencana Lapindo merupakan bantuan moral terhadap sesama yang
sedang menderita dan dapat meringankan penderitaannya.
Sedangkan sebagai kata benda kata moral mempunyai arti norma-norma tingkah laku yang
baik atau buruk dalam kehidupan suatu masyarakat. Contoh : apakah memperkosa anak
kandung sendiri merupakan tindakan yang tidak bermoral.
2. Kamus Bahasa Indonesia edisi kedua, kata moral berarti ajaran tentang yang baik dan buruk
yang diterima umum sehubungan dengan perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya.
3. Dagobert D.Runes, Dictionary Of Philosophy, 1977:202:
Moral : istilah ini kadang-kadang dipergunakan sebagai kata yang sama artinya dengan etika.
Lebih sering istila moral dipergunakan untuk menunjukkan kode, tingkah laku, dan adat atau
kebiasaan dari individu-individu atau kelompok, disini moral sama artinya dengan kata
Yunani “ethos” dan kata Latin “Mores”.
4. Drs.Wahyudi Kumorotomo, Etika Administrasi Negara, 1994:8.
De Vos bahkan secara eksplisit mengatakan bahwa etika ; ilmu pengetahuan tentang
kesusilaan atau moral. Sedang moral : hal-hal yang mendorong manusia untuk melakukan
tindakan-tindakan yang baik sebagai kewajiban atau norma. Moral juga diartikan sebagai
sarana untuk mengukur benar-tidaknya tindakan manusia. Atau
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 14
Moral berasal dari bahasa Latin : mos (jamak: mores) yang artinya : cara hidup atau
kebiasaan.
5. Drs.A.W.Widjaja, Etika Administrasi Negara, 1994:59;
Chester I. Barnard mengatakan bahwa moral adalah kekuatan-kekuatan pribadi yang bersifat
umum dan stabil dalam individu yang mencegah, mengawasi, atau merubah keinginankeinginan khusus yang langsung tetapi yang tidak stabil dan untuk mendorong mereka
memiliki kecenderungan-kecenderungan yang stabil itu.
6. John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, 1982;385; moral –ahklak.
7. E. Pino dan T. Wittermans, Kamus Inggris-Indonesia,1980,279; Morals-adat kebiasaan,
kesusilaan.
Pengertian Amoral dan Immoral
1. K. Bertens, Etika, 1993;7-8 mengatakan mengenai istilah antara amoral dan immoral dalam
bahasa Indonesia mengalami kesulitan. Oleh Concise Oxford Dictionary kata amoral
diterangkan ‘unconcerned with,out of the sphere of moral, non moral’. Jadi kata Inggris
amoral berarti tidak berhubungan dengan konteks moral, diluar suasana etis, non moral.
Sedangkan immoral dijelaskan sebagai opposed to morality, morally evil yang berarti
bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk tidak etis.
2. Menurut Dr. W. Poespoprodjo, L. Ph. S. S., Filsafat Moral, 1986;102; kata amoral, nonmoral
berarti bahwa tidak mempunyai hubungan dengan moral tidak mempunyai arti moral. Istilah
immoral artinya moral buruk (buruk secara moral).
Salah dan Dosa
Salah adalah tindakan yang obyektif melawan norma yang berlaku, bersifat obyektif, menyangkut
norma.
Orang yang menyadari kesalahan layak untuk menyesali kesalahan itu tetapi tak perlu bertobat,
walaupun pertobatan memuat penyesalan namun tidak setiap kesalahan menuntut pertobatan.
Dosa adalah tindakan yang dengan sengaja dilakukan walaupun secara subyektif diketahui sebagai
tindakan yang tidak baik dan menyangkut keyakinan hati nurani. Berhubungan dengan dosa orang
seringkali membedakan antara dosa berat dan dosa ringan yakni kalau dosa berat dilakukan dengan
sengaja padahal sungguh mengetahui bahwa yang dilakukan merupakan suatu kesalahan berat,
pelakunya juga tahu dan mau melakukan kesalahan itu. Untuk dosa ringan adalah menyangkut
perkara ringan (jengkel, kurang berbicara halus dsb).
Kita layak bertobat apabila telah berdosa dan ingin memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan
maupun dengan sesama, penyesalan dapat merupakan kekecewaan karena suatu kesalahan obyektif
semata-mata, yang sama sekali tidak disengaja, sedang pertobatan lebih merupakan seluruh proses
perbaikan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. (Moekijat,1995,51-52)
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 15
Sebagai contoh tindakan salah namun kiranya tidak dapat disebut dosa yakni bila anak kecil
mengatakan 1+1=10 ini berarti salah tapi tidak berdosa bila yakin jawabannya itu sudah betul
karena tidak sengaja melakukan kesalahan atau bahkan tidak tahu bahwa tealah berbuat salah
Sedangkan untuk dosa yang mungkin secara obyektif tidak berarti tindakan salah semisal jika
seseorang anak sekolah ditegur oleh gurunya tetapi tidak berusaha untuk melakukan sesuatu yang
merugikan gurunya dan tetap sopan padanya Karena tahu tidak boleh menyimpan dendam namun
masih sengaja menyimpan dendam dalam hatinya maka dapat berdosa walaupun tidak bertindak
salah secara obyektif terhadap gurunya.
Moral dan Agama
Agama mempunyai hubungan erat dengan moral yang disebut Teologi Moral.
Teologi sendiri adalah refleksi kritis dan sistematis yang dilakukan oleh penganut tertentu tentang
agamanya (refleksi iman).
Ajaran moral dalam hal ini meliputi :
1. Macam-macam peraturan yang agak mendetail. Sebagai contoh tata cara puasa, beribadah.
2. Peraturan etis yang bersifat lebih umum yang bukan hanya berlaku untuk satu agama saja
namun menjadi kepentingan agama secara umum dengan contoh jangan membunuh, jangan
berzinah, jangan berbohong merupakan larangan yang digunakan oleh agama apa saja.
Perbedaan moral agama dan filsafat moral yaitu :
Moral agama :
a. Berbicara tentang nilai dan norma biasanya dilakukan melalui khotbah.
b. Kesalahan moral dianggap dosa.
Moral filsafat :
a. Berbicara tentang nilai dan norma melalui argumentasi sehingga baik atau buruk suatu
tindakan.
b. Kesalahan moral adalah pelanggaran etis yang harus dipatuhi.
Moral, Agama, Hati nurani
Bicara tentang etika tidak lepas dari masalah moral dan hati nurani sebagaimana dikatakan K.
Bertens dalam Rini Damarstuti etika sendiri merupakan ilmu yang tidak lepas dari moral. Etika
merupakan ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan
moralitas.
HATI NURANI
Apabila terjadi suatu pelanggaran dalam hal moral tidak dapat dipaksakan dengan berdasarkan UU
maupun hukum tetapi berdasar pada hati nurani.
Immanuel Kant memberikan gambaran tentang hubungan antara moral dengan hati nurani bahwa
tidak ada manusia sama sekali tidak memilki rasa moral, sebab jika seseorang benar-benar tidak
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 16
memiliki perasaan maka secara moral seorang manusia ini sudah mati sehingga kemanusiaannya
akan berubah menjadi kebinatangan.
Hati nurani merupakan penghayatan tentang apa yang baik atau apa yang buruk yang berhubungan
dengan tingkah laku konkret kita. Hati nurani ini yang memerintah atau melarang kita untuk
melakukan sesuatu kini dan disini.
Untuk mempermudah memahami hati nurani dapat ditinjau dalam pandangan Sigmund Freud
tentang struktur kepribadian. Yang mana dalam pandangannya perbuatan manusia dipengaruhi oleh
pertimbangan naluri atau nafsu yang akan menjelma menjadi kehendak, yang diuraikan
mendasarkan tiga unsur kepribadian yaitu :
1. ID yaitu digunakan untuk menunjukkan ketaksadaran. Merupakan lapisan paling dasar dan
dianggap sebagai fundamental dalam susunan psikis seorang manusia, meliputi segala
sesuatu yang bersifat impersonal atau anonim, tidak sengaja dan disadari dalam daya-daya
mendasar yang menguasai kehidupan manusia, dapat dipahami dari sifat manusia yang
dipengaruhi daya sadar yang dikendalikan oleh nafsu. Dan nafsu ini yang menggerakkan
manusia hingga merasa senang dan puas.
ID bagian kepribadian manusia yang menyimpan dorongan-dorongan biologis sering disebut
sebagai tabiat hewani manusia. Pusatnya adalah instink. Instink ada dua yaitu:
a. Libido merupakan instink reproduktif yang menyediakan energy dasar untuk kegiatankegiatan yang bersifat konstruktif atau instink kehidupan (eros) karena mendatangkan
kebaikan dalam kehidupan ini. Selain itu juga segala sesuatu yang mendatangkan
kenikmatan, termasuk cinta kasih baik sesama maupun untuk diri sendiri.
b. Thanatos merupakan instink destruktif dan agresif disebut instink kematian karena
membawa akibat negative dalam kehidupan manusia.
Pemahaman ini sering dipahami bergerak pada prinsip kesenangan dan ingin segera
memenuhi kebutuhannya sendiri, bersifat egois,tidak bermoral dan tidak mau tahu kenyataan
yang ada.
2. Ego mulai berkembang dari dalam diri ID setelah melakukan kontak dengan dunia luar,
aktivitasnya bias sadar, prasadar maupun tak sadar, namun sebagian besar bersifat sadar.
Fungsinya untuk menjembatani tuntutan ID dengan realitas didunia luar, bertindak sebagai
mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik dan kemantangan
ego dalam menimbang keputusan melahirkan tindakan manusia seperti berbuat baik.
Peran ego sangat besar untuk memampukan manusia menundukkan hasrat hewaninya
dengan bertindak rasional sesuai akal budinya. Dan lebih berperan dalam tataran akal
sehingga bertindak rasional ketika menghadapi satu situasi yang tidak menuntungkan.
Contoh kasus :
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 17
Abim adalah seorang mahasiswa yang saat itu sedang dimarahi oleh dosennya dimuka
umum. Maka dari kasus tersebut kalau Abim menuruti ID (nafsu) dia akan membalas namun
dalam hal ini egonya berperan dengan menggunakan akal dan pikirannya untuk tidak
membalas karena ego memperingatkan bahwa dosen anda akan memberikan nilaik jelek
yang membuat Abim tidak akan lulus.
3. Super ego merupakan kekuatan dorongan menuju kepada kemantangan nilai, mempunyai
susunan psikologis yang lebih bersifat kompleks, instansi yang melepaskan diri dari ego
dalam bentuk observasi diri, kritik diri, larangan, tindakan refleski lainnya. Juga polisi
kepribadian yang mewakili ideal dan sering disebut hati nurani (conscience) merupakan
internalisasi dari norma-norma yang dianut suatu masayarakat serta kebudayaannya. Dan
menyatakan diri dalam konflik ego yang dirasakan dalam emosi (rasa bersalah, menyesal,
malu, sungkan) dimana alam sadar tidak sadar mendasarkan nilai luhur yang sering disebut
Hati nurani.
Hati nurani dan super ego dalam hal ini tidak dapat disamakan dimana :
1. Hati nurani digunakan dalam konteks etis.
2. Aktivitas hati nurani berada dalam kondisi sadar.
Sedang superego berperan :
1. dalam konteks psikoanalitis .
2. aktivitas superego berada pada tataran ketidaksadaran.
Maka hati nurani dan super ego memiliki hubungan sangat erat dimana superego merupakan dasar
psikologis dari hati nurani. (Rini D)
Etika berhubungan dengan hukum
Dapat digambarkan dengan diagram Venn (Trevinu & Nelson,1995)
Ethics
Ethics & Law
Law
Dalam diagram tersebut dapat dijelaskan bahawa hukum adalah refeleksi minimum norma sosial
dan standard dari sifat bisnis secara umum kebanyakan orang percaya bahwa sifat mematuhi hukum
adalah juga sifat beretika namum banyak standart sifat didalam sosial yang tidak tertuliskan dalam
hukum.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 18
Perbedaan etika dan hukum (Rosady Ruslan)
Bidang
1. Etika
Sifat
Tujuan
Sanksi
Baik atau buruk (nilai
Mengatur perilaku
Tidak ada
universal)
Berakhlak baik
A’Moral
Tata karma
Tidak ada
Pergaulan formal
Tidak sopan
Etik a internal profesi
Tata tertib
Teguran
(self-imposed)
Memelihara perilaku
lisan/tertulis
professional PR.
Skorsing
Moral
2. Etiket
3. Kode etik
Sopan santun
Pemecatan
4. Disiplin
Pengaturan umum
Ketertiban individual
Teguran lisan atau
& organisasi
tertulis
Skorsing
Pemecatan
Pembubaran
Pelarangan
5. Hukum
Hukum publik
Menjaga ketertiban
Hokum perdata
keadilan umum
Hokum pidana
Etika dan Etiket
Persamaan dan perbedaan etika dan etiket.
Etika berasal dari bahasa latin (ETHICS) berarti filsafat moral & merupakan cara hidup benar
dilihat darisudut budaya, susila & agama.
Etiket berasal dari bahasa Perancis berarti tata cara pergaulan yang baik antara semua manusia
(sopan santun).
Maka persamaan keduanya :
1. Obyek sama : perilaku manusia.
2. Mengatur perilaku manusia normative (mengatakan apa yang harus dilakukan/tidak boleh
dilakukan)
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 19
Perbedaannya
ETIKA
ETIKET
1. Tidak terbatas pada cara dilakukan
1. Menyangkut cara untuk
suatu perbuatan atau pilihan (boleh
melakukan perbuatan harus
atau tidak).
dilakukan manusia atau
menunjukkkan cara yang tepat.
2. Berlaku dimana saja dan kapan saja
2. Hanya berlaku dalam pergaulan
meskipun tidak ada saksi.
pada suatu kelompok.
3. Bersifat absolute : prinsip tidak dapat
dilawan dan harus dilakukan.
4. Menyangkut manusia dari segi
rohaninya, seseorang bersikap etis:
3. Bersifat relatif : berhubungan
dengan suatu kebudayaan.
4. Memandang manusia dari segi
lahiriahnya saja.
orang yang sungguh-sungguh baik,
nilai moralnya sudah
terinternalisasikan dalam hati
nuraninya.
Latihan soal
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 20
BAB IV
ETIKA PROFESI, KODE ETIK
Etika dalam Public Relations
Menurut Soekotjo, 1993 dalam buku dasar-dasar Public Relations. Soleh Soemirat mengatakan:
Telah kita ketahui ciri hakiki manusia bukanlah dalam pengertian wujud manusia (human being)
melainkan proses rohaniah yang tertuju kepada kebahagiaan yang menyangkut watak, sifat,
perangai, kepribadian, tingkah laku dll serta aspek-aspek yang menyangkut kejiwaan yang terdapat
dalam diri manusia.
Dalam hubungannya dengan kegiatan manajemen sikap etislah yang harus ditunjukkan seorang
humas dalam profesinya sehari-hari maka harus menguasai etika yang umum dan tidak umum
antara lain sebagai berikut.:
1. Good communication for internal and external public.
2. Memberikan kepada bawahan atau karyawan adanya sense of belonging & sense of wanted
pada perusahaannya (merasa diakui atau dibutuhkan).
3. Tidak terlepas dari faktor kejujuran sebagai landasan utamanya.
4. Etika sehari-hari dalam berkomunikasi atau berinteraksi harus tetap dijaga.
5. Menyampaikan informasi penting pada anggota atau kelompok yang berkepentingan.
6. Menghormati prinsip-prinsip rasa hormat terhadap nilai-nilai manusia.
7. Menguasai tehnik-tehnik cara penanggulangan kasus-kasus sehingga dapat memberikan
keputusan dan pertimbangan secara bijaksana.
8. Mengenal batas-batas berdasarkan pada moralitas dalam profesinya.
9. Penuh dedikasi dalam profesinya.
10. Menaati kode etik humas.
Maka pemahaman tentang etika sangat penting karena menyangkut penampilan (profile) dalam
rangka menciptakan & membina citra (image) organisasi yang diwakilinya.
Citra dan Penampilan menurut G. Sach :
Citra : pengetahuan mengenai kita & sikap-sikap terhadap kita yang mempunyai kelompokkelompok kepentingan yang berbeda.
Penampilan : pengetahuan mengenai suatu sikap terhadap kita yang kita inginkan mempunyai
ragam kelompok kepentingan.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 21
Pengertian Profesi
1. Berasal dari bahas latin “Professues” : suatu kegiatan atau pekerjaan yang semula
dihubungkan dengan sumpah dan janji bersifat religious (Risnawaty, 2008, 57)
2. St. Maria Assumta R. OSF, dalam hal ini secara sistimatis digambarkan sbb:
Etika profesi :
Norma-norma, nilai, kaidah, ukuran diterima dan ditaati kelompok tertentu.
Berupa peraturan, tatanan yang ditaati, dilaksanakan oleh pribadi-pribadi
yang memiliki profesi terkait karena hal tersebut melekat pada jabatannya
yang mengendap dan bersifat normatif.
Memberi arah, petunjuk untuk membentuk kepribadian seseorang sesuai
dengan profesinya sehingga menjadi pribadi yang mantap.
Menjiwai seseorang dalam melaksanakan tugasnya sehingga mampu
menyelesaikan tugasnya dengan seksama, hasil kerjanya memuaskan publik
yang dilayaninya.
Mereka yang membentuk suatu profesi disatukan oleh cita-cita dan nilai bersama dikarenakan latar
belakang pendidikan yang sama, sama-sama memiliki keahlian yang tertutup bagi orang lain
sehingga profesi menjadi suatu kelompok yangmerupakan kekuasaan tersendiri sehingga suit
ditembus dan dengan kode etik segi negatif dapat diimbangi karena setiap klien mempunyai
kepastian bahwa kepentingan terjamin.
Menurut Rini Damarsturi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ada suatu profesi yang ditekuni
seseorang
ketika
bekerja, hal ini dapat dipahami karena profesi yang dimiliki seseorang
merupakan bagian dari pekerjaan hal ini dapat digambarkan dalam diagram Venn hubungan
pekerjaan dan profesi (91,2007) dengan gambar sebagai berikut :
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 22
Profesi
Pekerjaan
Dalam diagram tersebut dijelaskan dapat dilihat bahwa profesi merupakan bagian dari pekerjaan
karena profesi membutuhkan keahlian tersendiri, sebagai contoh : PRT (pembantu rumah tangga)
adalah pekerjaan bukan profesi karena pekerjaan PRT dapat dikerjakan oleh siapapun dengan latar
belakang pendidikan manapun sedangkan baby sister adalah profesi karena membutuhkan keahlian
khusus yang didapat dari pendidikan secara khusus?.
Kode Etik : Maria Assumpta
Kode Etik
Aturan susila, sikap baik atau pantas yang diterapkan bersama dalam
suatu kelompok orang dan ditaati bersama. Yang bergabung dalam
organisasi atau profesi tersebut.
Atas kesepakatan
bersama
Mempunyai nilai guna dalam pelayanannya bagi publik atau
masyarakat, kerja sama meningkat.
Nilai-nilai sebagai faktor pendukung :
-
Nilai kepemimpinan umum.
-
Nilai kejujuran, keterbukaan, kebaikan.
-
Nilai kesejahteraan.
-
Nilai kesopanan, kaya
-
Nilai diskusi, mampu _______, daya piker sehat.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 23
Kode etik sendiri pertama kali dibuat dalam bidang kedokteran dinamakan “Sumpah Hippokrates”.
Hippokrates : dokter Yunani Kuno yang digelari “Bapak Ilmu Kedokteran”.
Kode etik dibuat untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok tertentu dalam masyarakat
melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh kelompok tersebut. Kode
etik profesi dibuat tertulis & tersusun secara teratur, rapi, lengkap dalam bahasa yang baik sehingga
menarik perhatian & menyenangkan pembacanya. Namun sewaktu-waktu harus dinilai kembali &
jika perlu direvisi atau disesuaikan dengan zaman dan mampu mengadaptasi permasalahan yang
ada.
Pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh anggota profsi terjadi diantaranya karena :
1. Kurang jaminan kesejahteraan.
2. Kurang pengetahuan & pemahaman seorang professional mengenai substansi dari kode etik
profesi ybs.
3. Mengandung idealisme.
4. Tidak ada pengaturan tentang sanksi yang tegas.
Kode etik akan berhasil dan berfungsi jika :
1. Dibuat oleh profesi yang bersangkutan.
2. Meminimalkan budaya spirit of the corp atau semangat untuk membela corpnya (budaya
skeptis atau kecenderungan untuk berperilaku acuh karena ketidak percayaannya terhadap
sistim peradilan)
3. Pelaksanaannya harus diawasi secara terus menerus.
4. Dibuat UU.
Tujuan dibuat kode etik adalah untuk menjunjung martabat profesi atau memelihara kesejahteraan
para anggotannya dengan mengadakan larangan-larangan untuk melakukan perbuatan-perbuatannya
yang akan merugikan kesejahteraan material para anggotanya.
Maksud kandungan dalam pembentukan kode etik :
1. Menjaga dan meningkatkan kualitas moral.
2. Menjaga dan meningkatkan kualitas keterampilan teknis.
3. Melindungi kesejahteraan materiil dari para pengemban profesi.
Manfaat kode etik (Robert D.Khon) :
1. Menjadi tempat perlindungan para anggota manakala berhadapan dengan persaingan yang
tidak sehat dan tidak jujur.
2. Menjamin rasa solidaritas dan kolegalitas antar anggota untuk saling menghormati.
3. Dapat membantu anggotanya jika menghadapi dilema-dilema etik dalam pekerjaannya.
4. Mengkokohkan ikatan persaudaraan diantara anggota terutama bila menghadapi campur
tangan dari pihak lain.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 24
5. Menuntut anggotanya mesti memiliki kualitas pengetahuan.
6. Mewajibkan anggotanya untuk mendahulukan pelayanan kepada masyarakat.
Fungsi kode etik profesi :
1. Menguatkan kepercayaan masyarakat terhadap suatu profesi.
2. Sarana control sosial.
3. Pengembangan patokan yang lebih tinggi.
4. Pencegah kesalahan pahaman dan konflik.
Prinsip-prinsip etika profesi :
1. Sikap baik.
2. Tanggung jawab.
3. Kejujuran.
4. Keadilan.
5. Hormat pada diri sendiri.
6. Kesetiaan.
PROFESIONAL
Profesional adalah orang yang menyandang suatu profesi tertentu; tahu akan keahlian dan
ketrampilannya; menggunakan seluruh waktunya untuk pekerjaannya, hidup serta bangga terhadap
pekerjaannya dan harus peka terhadap kepentingan masyarakat secara umum dan profesional itu
sendiri (Erni R.E,2007,120).
Jenis-jenis profesi
Jenis profesi dibedakan :
a. Profesi khusus ; untuk mendapatkan penghasilan tanpa mengabaikan tanggung jawab &
hormat terhadap hak-hak orang lain.
Missal: akuntan, ahli hukum, dokter, guru, humas, jasa konsultan, tehnik.
b. Profesi luhur ; professional yang melaksanakan profesinya tidak lagi untuk mendapatkan
nafkah sebagai tujuan utamanya, ulama, guru, sosial, budaya & seni.
Ciri-ciri professional :
1. Mempunyai skill.
2. Mempunyai kode etik.
3. Memiliki tanggung jawab profesi (responsibility) & integritas probadi yang tinggi.
4. Memiliki jiwa pengabdian kepada public/masyarakat & dengan penuh dedikasi profesi
humas yang disandangnya.
5. Otonomisasi organisasi professional.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 25
6. Menjadi anggota salah satu organisasi profesi sebagai wadah menjaga ekstitensinya
mempertahankan kehormatan dan menertibkan perilaku standart profesi sebagai tolak ukur
agar tidak dilanggar.
Dalam melaksanakan profesi terdapat kaidah-kaidah pokok yaitu :
1. Profesi harus dipandang sebagai suatu pelayanan dengan mengutamakan sifat tanpa pamrih.
2. Pelayanan professional dalam mendahulukan kepentingan klien yang memotovasi semua
sikap dan tindakan.
3. Pengembangan profesiharus selalu beorientasi pada masyarakat secara keseluruhan.
4. Pengembangan profesi harus menumbuhkan semangat solidaritas antar sesama rekan
seprofesi.
Kode etik profesi humas
Menurut Howard Stephenson kegiatan humas atau Public Relations merupakan profesi secara
praktis memiliki seni ketrampilan atau pelayanan tertentu yang berlandaskan latihan, kemampuan
dan pengetahuan serta diakui sesuai dengan standard etikanya.
Pemahaman pegertian kode etik, etik profesi dan etika kehumasan serta aspek-aspek hukum dalam
kegiatan komunikasi sangat penting bagi praktisi atau professional humas atau Public Relations
dalam menciptakan citra bagi dirinya maupun citra bagi lembaga atau organisasi yang diwakilinya.
Menurut G. Sachs terdapat tiga konsep penting dalam etika kehumasan yaitu :
1. Citra adalah pengetahuan mengenai kita dan sikap terhadap kita yang mempunyai kelompokkelompok dalam kepentingan yang saling berbeda.
2. Penampilan merupakan pengetahuan mengenai suatu sikap terhadap yang kita inginkan
untuk memiliki kelompok kepentingan kita yang beragam.
3. Etika merupakan cabang dari ilmu filsafat merupakan filsafat moral atau pemikiran filosofis
tentang moralitas, biasanya selalu berkaitan dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.
Kualifikasi Profesi Humas
Charles W.Pine mengemukakan persyaratan atau kualifiaski tertentu professional humas sebagai
berikut :
1. Mampu mengekspresikan pendiriannya dan mengetahui kapan harus mendengar.
2. Menjadi pengamat yang baik, mampu mempelajari keadaan, situasi dan kondisi tertentu,
memiliki daya ingatan baik, sistematis, kritis.
3. Penilaian baik untuk menghargai martabat manusia dan mengakui hak-hak setiap pribadi.
4. Mempunyai keberanian, integritas pribadi yang tinggi, mampu berpikir secara konseptual
dan sistematis.
5. Kedispilan kerja serta melaksanakan tugas secara terperinci, kinerja, semangat, dan etos
kerja tinggi.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 26
6. Kemampuan intelektualitas yang dinamis, kualitas pertimbangan pemikita baik, memiliki
jiwa kepemimpinan.
7. Kaya gagasan baru, kreatif, inovatif.
8. Mampu berpikir rasional, efektif, efisien dalam keadaan darurat dan bisa mengambil
keputusan cepat, profesional sekaligus proporsional.
9. Mampu menginterpretasikan berbagai informasi secara sistematis, menemukan dan
mengidentifikasi fakta yang ada dan solusi pemecahan masalah tepat.
10. Mampu memahami ilmu psikologis, filsafat, kebudayaan, sosial dan politik, hukum,
ekonomi untuk menghadapi, mengantisipasi suatu kejadian sedang berkembang dimasa
mendatang.
11. Dapat mengorganisasi dirinya sendiri dan pihak lain.
12. Tidak senantiasa setuju atau mendukung pimpinan dan harus memiliki keberanian untuk
mengajukan keberatan atas keinginan pimpinan jika tidak mendukung dari hasilnya.
13. Memiliki penyusunan prioritas utama strategi perencanaan dan program kerja, memperbaiki
dan saling melengkapi prioritas lainnya yang dianggap perlu sebagai pendukung.
14. Menyadari dirinya adalah seorang guru dan bukan seorang pelopor dibidangnya.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 27
BAB V
SIKAP, PERILAKU, KEPRIBADIAN
Sikap dan perilaku merupakan bagian penting dalam etiket pelayanan karena menunjukkan
kepribadian seseorang dan citra perusahaan.
1. Sikap : tindakan, perbuatan, perilaku dalam kamus ilmiah populer lengkap Pius Abdillah P.
2. Sikap menurut Baron dan Byrne (1984:126) dan Myers (1983:35) dalam buku psikologi
sosial B.Walgito memberikan batasan pengertian sikap telah mengandung komponen
kognitif (beliefs), komponen afektif (feelings) dan komponen konatif (behavior tendencies).
Demikian juga Gerungan (1966:151) memberikan batasan attitude dapat diterjemahkan
dengan kata sikap terhadap objek tertentu yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap
perasaan tetapi sikap mana disertai oleh kecenderungan bertindak sesuai dengan sikap
terhadap objek tadi. Jadi attitude itu lebih tepat diterjemahkan dengan sikap dan kesediaan
bereaksi terhadap sesuatu hal.
3. Sikap menurut John Suprihanto, dkk (2003.37-38) mengatakan pernyataan yang bersifat
menilai (evaluative) atau menunjukkan rasa suka-tidak suka seseorang kepada suatu objek
atau kejadian. Sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh kriteria penilaiannya, kriteria
tersebut terbentuk (diperoleh) melalui suatu proses interaksi sosial.
4. Menurut Drs. Indriyo Gitosudarmo, M. Con (Hons) mengatakan sikap adalah keteraturan,
perasaan, dan pikiran seseorang dan kecenderungan bertindak terhadap aspek lingkungannya
(2000.23024).
Jenis-jenis Sikap
1. Job satisfaction adalah kerja individu merupakan suatu ukuran umum dari sikap individu
tersebut terhadap pekerjaannya.
2. Job involvement adalah keterlibatan individu terhadap suatu pekerjaan akan ditunjukkan
oleh partisipasi dan pengaruhnya terhadap pekerjaan tersebut.
3. Organizational commitment adalah dicerminkan oleh loyalitas dan tingginya rasa
keterlibatan individu terhadap organisasi tempat kerja.
Komponen membentuk struktur sikap :
1. Komponen kognitif (perseptual) : berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan
yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 28
atau persepsi, keyakinan dan pendapat orang, berkaitan dengan proses berpikir yang
menekankan pada rasinalitas dan logika : evaluatif (bentuk kesan baik atau tidak).
2. Komponen afektif (emosional) : berhubungan dengan rasa senang merupakan hal positif atau
tidak senang merupakan hal negatif terhadap objek sikap atau emosional atau perasaan
seseorang dipelajari dari orang tua, teman, guru dan lingkungannya.
3. Komponen konatif (perilaku atau action component) : berhubungan dengan kecenderungan
bertindak serhadap objek sikap, menunjukkan intensitas sikap yaitu besar kecilnya
kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap atau merupakan
kecenderungan seseorang dalam bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap lingkungannya
(sopan, ramah, bermusuhan, menentang, melaksanakan dengan baik dsb).
Sedangkan pengertian perilaku dalam kamus lengkap bahasa Indonesia Drs.Kamisa diidentikkan
dengan sikap berarti perebutan, cara berdiri, gerak (1997.498)
Faktor mempengaruhi perilaku Public Relations atau Humas
Perilaku Humas atau Public Relations dapat dilihat bila menghadapi problem yang cukup berat,
apakah yang bersangkutan berperilaku dewasa, sabar dan tabah, berpikir tenang, mampu mencari
jalan keluarnya dengan baik atau sebaliknya daya juang lemah, panik, kalang kabut dan selalu
berpikir kerdil dan tidak memiliki kemampuan memecahkan persoalan yang dihadapi dengan baik.
Garis besar perwujudan perilaku seseorang dalam menghadapi persoalan ditentukan oleh berbagai
faktor yang dapat dilihat dari rumus :
P = f (O + L )
Artinya
P : perilaku
f : fungsi
O: hal yang berkaitan dengan faktor internal.
L: hal yang berkaitan dengan faktor eksternal lingkungan.
Mengukur hubungan antara sikap dan perilaku.
Dikatakan bahwa sikan akan mempengaruhi perilaku individu (secara tidak langsung), dan dari
hasil uji coba penelitian ternyata sikap tidak berhubungan dengan perilaku (sangat kecil sekali
hubungannya).
Hubungan sikap dan perilaku menjadi lebih nyata jika dimasukkan moderating variables yaitu
mendefinisikan sikap dan perilaku secara lebih spesifik, mempertimbangkan aspek tekanan sosial
dan pengalaman individu.
Menurut beberapa ahli sosiologi berusaha menyusun skenario yang berlawanan yaitu perilaku akan
mempengaruhi sikap seseorang disebut Teori Self-perception theory yaitu sikap seseorang timbul
setelah suatu perilaku atau peristiwa terjadi.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 29
Kepribadian :
1. Menurut Prof.DR.Searmayanti dalam buku Pengembangan Kepribadian Pegawai, :
-
sebagai identitas seseorang sehingga banyak menyangkut masalah watak, sifat atau
karakter yang tercermin nyata dalam perbuatan serta tindakan seseorang.
-
pola menyeluruh semua kemampuan, perilaku, perbuatan serta kebiasaan seseorang baik
dari segi jasmani, mental, rohani, maupun emosi terwujud menjadi tingkah laku dalam
usaha menjadi manusia sesuai dengan apa yang dikehendaki.
-
Terdiri dari berbagai sifat atau aspek yang jelas akan tetap dimiliki seseorang walaupun
diantara sifat tersebut tidak berfungsi secara normal bersumber kepada diri pribadi
(individu) yang tidak berdiri sendiri namun bisa juga dipengaruhi faktor lain (misal:
lingkungan).
2. Kepribadian menurut Erich Fromm dalam buku Prof. Dr. H. Buchari Alma adalah
merupakan keseluruhan kualitas psikis yang diwarisi atau diperoleh yang khas pada
seseorang yang membuatnya unik.
3. Sutan Takdir Alisyahbana membedakan pengertian personaliti dengan pengertian individu
dan person.
Perkataan individu berasal dari bahasa latin Atomon yang berarti indivisible entity, the
living organism neutrally as a unit. (individu merupakan hal yang hidup suatu organism
yang bulat dan utuh sebagai suatu kesatuan. Untuk Person berasal dari persona yaitu a
theatrical mask atau merupakan topeng seperti orang main dipanggung. Jadi person; person
behind the mask = orang yang dibelakang topeng.
Kesimpulan rumusan personality : personality is the total of human mind.
Mind diartikan sebagai keseluruhan karakteristik dari diri seseorang bisa berbentuk pikiran,
perasaan, kata hati, berupa temperamen, watak (karakter).
Menurut Ny. M.A.S. Teko mengatakan kepribadian adalah integrasi sikap atau sifat warisan
maupun yang didapatkan dari lingkungan sehingga menimbulkan kesan pada orang lain.
1. Kepribadian menurut pengertian sehari-hari.
Kata personality dalambahasa inggris sedang bahasa kata latin ; persona. Yang mulanya kata
persona menunjuk kepada topeng yang biasa digunakan oleh para pemain sandiwara di
zaman Romawi dalam memainkan peranan-peranannya sesuai dengan topeng yang
dikenakannya.
Dalam kehidupan sehari-hari bisa kita menjumpai pengertian kepribadian semacam ini
dalam ungkapan atau sebutan “Hafizh berkepribadian hero atau Ani berkepribadian ibu
sejati”.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 30
Diartikan juga apabila dihubung-hubungkan dengan ciri-ciri tertentu yang menonjol pada
diri individu sebagai contoh orang pemalu disebut dengan atribut kepribadian pemalu, orang
pemarah : kepribadian pemarah, orang plin-plan : tidak berkepribadian.
Dari
gambaran diatas kepribadian menunjukkan pada bagaimana idividu tampil dan
menimbulkan kesan bagi individu-individu lain. Mudah dimengerti dan mudah digunakan
namun masih lemah dan tidak bisa menerangkan arti yang sesungguhnya hanya terbatas pada
cirri-ciri yang dapat diamati mengabaikan kemungkinan bias berubah tergantung pada situasi
keliling dan sifatnya evaluative (menilai).
2. Kepribadian menurut psikologi.
Diambil dari beberapa teoris kepribadian terkemuka yaitu :
a. George Kelly memandang kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam
mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya.
b. Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri
individu yang membimbing dan member arah kepada seluruh tingkah laku individu yang
bersangkutan. Kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari system psikofisik
(“jiwa dan raga”) individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara
khas.
c. Sigmun Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga
system yakni ID, EGO, SUPEREGO.
ASPEK KEPRIBADIAN
Menurut Melania H ada 10 aspek kepribadian sebagai standart mengetahui dan mengembangkan
kepribadian seseorang :
1. Sikap atau sifat individu
-
Mau mawas diri
-
Gunakan imajinasi untuk mengatasi kebiasaan dan kecenderungan yang tidak diinginkan.
-
Citra diri berada dalam genggaman.
2. Pengetahuan
-
Wawasan luas
-
Memiliki keinginan untuk belajar atau membaca
-
Cari informasi dari enskiklopedi, perpustakaan, museum.
-
Hadiri forum seminar.
3. Ketrampilan
-
Menguasai ketrampilan harian bersifat feminism atau maskulin.
-
Ketrampilan professional : berbicara, tatawicara, gunakan kata yang tepat.
4. Kecerdasan
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 31
-
Tidak tergantung tinggi rendahnya pendidikan.
-
Mental kuat, cambuk diri, bersikap tegas tiap hari, gunakan system waktu belajar sendiri.
5. Kesehatan
-
Makan-tidur cukup
-
Olahraga
-
Pikiran tenang
-
Kesibukan atau hobby
6. Penampilan
-
Busana baik, bersih, rapi, serasi
-
Bersikap wajar, tidak over akting, feminism atau maskulin
-
Ekspresi mengundang persahabatan
-
Eye contanct mantap.
7. Sikap terhadap orang lain
-
Mengakui martabat orang lain
-
Tenggang rasa, menghargai, tidak mementingkan dri sendiri
-
Tidak meremehkan orang lain, sikap negatif dihindari
-
Toleransi, dapat dipercaya
8. Pengendalian diri atau emosi
-
Tidak cepat terpengaruh
-
Tidak curiga, ketakutan, pesimisme, rendah diri, iri hati, dengki
-
Pengendalian diri fisik atau psyikis
9. Nilai atau keyakinan
-
Menentukan arah hidup, cita-cita
-
Memiliki keberanian secara fisik atau psikis
-
Tidak takut menyongsong hari depan
10. Peranan atau kedudukan
-
Banyak berperan
-
Berusaha secara sehat memperoleh peranan dan kedudukan
-
Formal atau non formal
Membentuk kepribadian
Murray (hal.8, kepribadian dan etika profesi) mengklasifikasikan kebutuhan-kebutuhan atas dasar
perasaan, kehendak, dan tujuan.
Adapun tipe kebutuhan sebagai berikut :
1. Kebutuhan primer dan sekunder.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 32
Kebutuhan primer meliputi peristiwa-peristiwa organik, khas tertuju pada kepuasan badan
(udara, air, makan, seks). Untuk kebutuhan sekunder kebutuhan untuk menemukan,
konstruksi, kecakapan, pengenalan, otonomi dan membedakan.
2. Kebutuhan teraga (over needs) dan tak teraga (covert needs).
Kebutuhan teraga terdapat didalam motor behavior, dan tak teraga didalam fantasia tau
mimpi adalah hasil daripada perkembangan super ego.
3. Focal needs dan diffuse needs.
Kebutuhan yang terdapat pada lingkungan tertentu, ada pula yang begitu umum sehingga ada
didalam hamper setiap lingkungan. Bila seseorang akan mengubah suatu objek maka sering
mengalami fiksasi (kebutuhan terbentuk pada objek yang tidak tepat).
4. Proactive needs dan re-active needs.
Effect needs adalah kebutuhan yang ditujukan pada keinginan. Proses activity dan modal
needs cenderung untuk membentuk tindakan tertentu, prosesnya tindakan-tindakan yang
dibawa lahir (melihat, mendengar, bercakap, berpikir dll). Untuk model needs termasuk
pengerjaan sesuatu dengan suatu tingkatan kualitas yang sangat baik seperti pola-pola musik,
keindahan badan dan sebagainya.
5. Proses activit, modal needs, dan effect needs.
Proactive needs sebagian besar ditentukan dari dalam.seorang akan bergerak secara spontan
jika dorongan timbul dari dalam. Reactive needs diartikan sebagai akibat dari peristiwaperisiwa yang terjadi dalam lingkungan keduanya berinteraksi.
TEMPERAMEN
Istilah temperamen menunjukkan cara bereaksi atau bertingkah laku yang bersifat tetap dan berbeda
dengan watak.
Hippocrates membedakan 4 macam dalam tulisan Erich Fromm,1975 yaitu :
1. Choleric ; secara simbolik = choleric = api panas, cepat dan kuat = easily angered =
gampang marah.
2. Sanguine ; = udara, panas dan lembab, cepat dan lemah dalam istilah lain-over estimed =
terlalu optimis.
3. Melancholic; disimbolkan dengan bumi, dingin, kering, lemah, kuat, pendiam. Jadi kuat
dalam kelemahannya yang bersifat pendiam (depressed).
4. Phlegmatic ; simbolnya air, dingin, lembab dan lemah (too slow).
Temperamen ini menunjukkan cara bereaksi yang bersifat tetap dan tidak berubah namum jika
diimbangi watak yaitu suatu pola tingkah laku yang khas yang terdapat pada seseorang.
WATAK
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 33
Menurut ahli psikologi behavioristik sifat-sifat watak dapat disamakan dengan sifat tingkah laku.
Sedang menurut socio-psikologis manusia selalu berhubungan dengan sesamanya, berhubungan
dengan alam dan berhubungan dengan dirinya sendiri.
Cara manusia berhubungan ini bermacam-macam senang, marah, kasihan, benci, sayang, cinta,
bekerja sama,bersaing dan sebagainya dan dengan segala cara berusaha menyesuaikan diri,
mencoba berorientasi dengan sesama, alam bahkan diri sendiri maka dikatakan bahwa inti dari
watak ialah orientasi.
Sikap dan perilaku setiap karyawan :
1. Jujur dalam bertindak dan bersikap.
2. Rajin, tepat waktu dan tidak pemalas.
3. Selalu murah senyum.
4. Ramah.
5. Sopan santun tutur kata dan hormat.
6. Simpati.
7. Fleksibel.
8. Serius.
9. Memiliki rasa tanggung jawab.
10. Rasa memiliki perusahaan.
11. Suka menolong pelanggan.
Penampilan Karyawan :
-
Cara berpakaian dan perilakunya dalam melayani pelanggan.
-
Secara umum penampilan prima yang ditampilkan baik fisik maupun non fisik :
a. wajar.
b. cara berpakaian.
c. selalu mengucapkan salam.
d. selalu bersikap optimis.
e. berperilaku ysng baik.
f. dalam melayani tamu lemah lembut dan sopan santun.
g. selalu memberikan perhatian.
h. suka membantu.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 34
BAB VI
ETIKA BUDI PEKERTI
Pengertian Budi Pekerti
1. Vijaya Kumor dalam buku etika budi pekerti pergaulan sehari-hari mengatakan tradisi
masyarakat berdasarkan kesopanan, kebaikan, keramah tamahan yang telah diturunkan
kepada kita dalambentuk etika. Dan kita harus benar-benar berpegang pada norma-norma
serta menghargai perubahan waktu dan gaya dalam lingkungan yang dinamis. (th.2008,5)
2. Menurut R.Joko Soetrisno dalam buku Jangan Salahkan Aku!!! Mengatakan budi pekerti
adalah kehidupan berdasarkan nilai-nilai moral, hukum, tata tertib dan sopan santun yang
baik. Orang yang berbudi pekerti luhur akan percaya kepada hokum karma-pala,hukum adat
dan hukum nasional sehingga kita akan selalu ingat hubungan antara manusia dengan YME,
hubungan manusia dengan sesame dan hubungan manusia dengan lingkungan. (2010, 135136)
Etika Budi Pekerti :
1. Etika dirumah :
-
pelajaran etika dimulai pada usia dini dirumah dimana anak-anak disiapkan untuk
menghadapi dunia dan harus bisa dibuat menyadari hal yang terdengar lucu dirumah
mungkin kurang diterima ditempat lain.
-
dasar-dasar etika dirumah: berlaku baik & sopan, memperlakukan setiap orang dengan
sopan & hormat.
2. Etika makan :
-
tata cara makan yang baik menunjukkan karakter pelakunya dan mencerminkan keadaan
lingkungan yangmembesarkannya.
3. Etika bisnis (etika ditempat kerja) :
-
sangat penting untuk mengetahui bagaimana cara bertutur, berpakaian, dan bereaksi
dalam berbagai macam situasi.
4. Mengatakan hal yang benar :
-
Orang terdidik diharapkan bisa mengatakan suatu hal yang tepat dan hanya berbicara
pada waktu yangtepat.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 35
-
memberikan kritik :
-
melibatkan orang lain dengan kata “KAMI” sebagai kata ganti ‘SAYA”.
-
hindari kata “ tetapi”.
Contoh : Sambutan anda disampaikan sangat bagus, tetapi ---“ maka lebih baik bila
disampaikan.” Sambutan anda sangat bagus lain kali saya sarankan untuk memasukkan
juga ----“.
-
haluskan dampak dari kritik anda dengan diawali oleh pujian.
Contoh: anda orang yang amat santun, OKI saya terkejut ketika anda meninggikan nada
bicara saat menghadapi mereka.
-
menerima kritik :
-
jika benar terimalah dengan sopan dan jelaskan bahwa akan diselesaikan.
-
jika tidak benar jangan kehilangan kendali, akhiri diskusi dengan mengatakan : Mari kita
bicarakan hal ini ketika kita berdua sudah lebih tenang atau marilah kita berkumpul pada
suatu waktu dan menyelesaikan hal ini.
-
jika mengkritik dengan tajam dihadapan orang lain :
-
Tataplah mata sipengkritik dengan tajam untuk sesaat sehingga membuat dia “ Terdiam”
/katakan sesuatu : Silakan katakan pandangan anda secara pribadi.
-
jika melakukan kesalahan hal terbaik minta maaf dan katakanlah :
“Saya tidak bermaksud untuk ------ dan saya minta maaf karena telah menyinggung anda.
-
Menghadapi situasi yang memalukan;
-
jika mengalami pelecehan seksual :
(dengan cara langsung diselesaikan dengan cara menyinggun egonya):
“SAYA YAKIN ANDA TIDAK BERPIKIR HAL TADI MENARIK SECARA
SEKSUAL MALAHAN HAL TADI MERUPAKAN HAL YANG SANGAT
MENGGELIKAN”.
-
Jangan pernah menanyakan hal yang tidak perlu :
-
BERAPA PENGHASILANMU ATAU BAYARANMU!
-
MENGAPA ANDA TIDAK PUNYA ANAK!
-
APAKAH KALIAN TIDUR BERSAMA!
“JIKA TIDAK BISA DIHINDARI; JAWAB “MENGAPA ANDA MENANYAKAN
HAL ITU ?.
-
jika tidak suka dengan lelucon yang vulgar dapat mengundurkan diri secara perlahanlahan sambil mengatakan; “SAYA PIKIR SAYA TIDAK INGIN MENDENGARKAN
HAL INI”.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 36
-
Miliki konsep diri yang baik dan rasa hormat pada orang lain. Ini akan membantu anda
menerima kritikan tanpa rasa benci dan mengatasi konflik menjadi terintimidasi oleh
kritik tersebut.
Budi pekerti adalah tanggung jawab orang tua, sekolah dan masyarakat dan memerlukan
keteladanan.
Tolak ukur seseorang baik atau tidak baik dapat diukur dengan alat bantu :
1. Mirage : bersifat fisik-jasmaniah.
2. Mirasa : jalan pikiran termasuk cara bicara.
3. Mirama: hal-hal yang mengandung unsur gerak (cara berjalan, duduk, makan tertawa yang
kesemuanya menggambarkan watak dan kecenderungan perilaku).
Seorang terpuji atau tercela dapat berasal-usul dari hasil apa yang dilakukan, diucapkan, dan
apa yang dipikirkan.
Kedisplinan merupakan syarat mutlak untuk mencapai impian atau melaksanakan misi, juga
merupakan sikap mental untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan pada saat yang tepat
dan benar-benar menhargai waktu.
Pendidikan disiplin bertujuan untuk membentuk manusia dengan cirri-ciri terutama untuk
meningkatkan kualitas mental dan moral.
Manusia bersifat khilaf maka pendidikan budi pekerti dan disiplin harus dilaksanakan
berkelanjutan, tidak terlalu otoriter, tetapi moderat autotatif (fleksibel) namun perlu tegas karean
pendidikan tanpa disiplin akan menghasilkan manusia manja (Joko S,136).
CARA BERPAKAIAN, CARA BERBICARA, CARA BERTANYA.
CARA BERPAKAIAN
Faktor-faktor yang saling mendukung agar dapat serasi dan sepakat :
1. warna yang dikenakan.
2. model yang digunakan.
3. keserasian antara celana atau rok dan baju.
4. cara menggunakan pakaian.
5. aksesori yang melekat.
CARA BERBICARA
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 37
Dalam praktik ada beberapa tahap berbicara :
1. berbicara saat pelanggaan dating dan mengemukakan persoalan (pembuka).
2. selama berbicara dengan pelanggan.
3. pada saat mengakihiri pembicaran (penutup).
Etika bicara secara umum :
1. biarkan pelanggan bicara lebih dulu.
2. jangan sekali-kali memotong pembicaraan.
3. pada saat pelanggan bicara karyawan menyimpak.
4. tanggapi isinya.
5. bersikaplah jangan terlalu kaku.
6. jangan bersikap kasar dan mengadili nasabah.
7. hargai dan jangan berprasangka buruk.
8. fokus pembicaraan pada pokok persoalan.
CARA BERTANYA (bahasa, nada dan kalimat menyenangkan).
Beberapa jenis pertanyaan yang diajukan pada pelanggan :
1. pertanyaan pembuka.
2. pertanyaan tentang ketidakjelasan pelanggan.
3. pertanyaan basa basi atau selingan.
4. pertanyaan penutup (menugaskan kembali).
Cara bertanya yang baik dalam praktek :
1. sikap bertanya.
2. pilih waktu bertanya yang tepat.
3. berusaha mengenali pelanggan.
4. minta izin sebelum bertanya.
5. gunakan bahasa yang baik.
6. hindarkan pertanyaan yang tendesius (tidak jelas, sulit dipahami atau dimengerti,
memojokkan)
7. ciptakan suasana yang kondusif.
8. berikan alas an yang tepat.
9. jangan bertanya dengan nada mengancam atau memojokkan.
GERAK-GERIK
Pergerakan seluruh anggota badan dalam melayani pelanggan.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 38
-
Ditujukan melalui :
1. mimic wajah.
2. gerakan anggota tubuh.
3. gerakan kepal,tangan dan kaki.
4. gerakan mulut.
5. gerakan hidung.
6. cara duduk maupun berjalan.
Gerak gerik dalam suatu etiket :
1. raut muka.
2. mata.
3. senyum.
4. gerakan tangan dan kaki.
5. cara berjalan, duduk dan berdiri.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 39
BAB VII
ETIKA PELAYANAN
PELAYANAN : sebagai tindakan atau perbuatan seseorang atau organisasi untuk memberikan
kepuasan kepada pelanggan atau nasabah (Kasmir,SE.MM, hal.26)
Faktor utama dari pelayanan : kesiapan sumber daya manusia melayani pelanggan atau calon
pelanggan.
Dalam praktik pelayanan utama lebih banyak diberikan pada karyawan yang langsung menangani
atau berhubungan langsung dengan pelanggan seperti customer service, kasir atau teller, Public
Relations, pramuniaga, satpam atau kasir, operator telepon maka harus direkrut dengan standart
kulaitas tertentu karena sebagai ujung tombaknya.
Ciri pelayanan yang baik untuk memberikan kepuasan pelanggan :
1. Memiliki karyawan yang professional.
2. Tersedia sarana dan prasarana yang baik.
3. Tersedia ragam produk yang diinginkan.
4. Bertanggungjawab pada setiap pelanggan dari awal-akhir.
5. Mampu berkomunikasi secara jelas.
6. Mampu melayani secara cepat dan tepat.
7. Memberikan jaminan kerahasiaan setiap jelas.
8. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik tentang produk yang dijual dan
pengetahuan umum lainnya.
9. Mampu memberikan kepercayaan kepada masalah.
Dasar-dasar etika pelayanan yang harus dijalankan setiap karyawan:
1. Ingin membantu setiap keinginan dan kebutuhan pelanggan.
2. Selalu memberikan perhatian terhadap permasalahan yang dihadapi pelanggan.
3. Sopan dan ramah dalam melayani.
4. Memiliki rasa toleransi yang tinggi.
5. Menjaga persaan pelanggan.
6. Dapat menahan emosi.
7. Menyenangkan orang lain.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 40
Seorang humas (Public Relations) harus juga mengetahui berbagai jenis-jenis publik yang sangat
berguna untuk mengetahui siapa publik yang dihadapi nanti.
Pengertian Publik
Publik adalah sekelompok orang yang memiliki kepentingan yang sama terhadap perusahaan
(organisasi) saling memahami signifikansi masing-masing dan membuat rancangan untuk mencapai
kepentingan tersebut (Suryadi, 2007, 1) dan bersifat heterogen meskipun karakteristik dan
kepentingan mereka relatif sama.
Public Affairs (urusan umum) definisinya :
1. Public affairs merupakan satu fungsi yang terdapat pada perusahaan-perusahaan di Inggris.
2. Pandangan praktisi secara sederhana hanya memandang setara dengan hubungan pemerintah
atau hanya melobi semata.
3. Praktisi lain memandang dalam kacamata yang lebih luas dan membuat delapan kegiatan
terpisah mencakup masalah manajemen, hubungan dengan pemerintah, komunikasi dengan
masyarakat, hubungan dengan investor, hubungan dengan media, publikasi, komunikasi
dengan karyawan, promosi perusahaan.
4. Menurut PRSA adalah satu area kegiatan tertentu dalam ruang lingkup Public Relations
yang berkenaan dengan hubungan yang terlibat dalam pengembangan kebijakan publik,
Undang-undang dan peraturan yang dapat mempengaruhi
organisasi, kepentingan
organisasi, operasional organisasi.
Lobbying (melobi)
Menurut Kotler dalam buku Drs. Suryadi adalah kegiatan yang berhubungan dengan legislatif
dan pejabat pemerintah dalam mempromosikan atau menolak UU atau peraturan.
Perbedaan publik, pasar, audien.
Publik
Pasar
1. Tidak jauh beda dengan
keluarga.
1. Tidak
jauh
Audien
beda
dengan sahabat.
1. Hanya mengacu pada oang
yang memberikan perhatian
kepada
media
komunikasi
tertentu dan menerima pesan
lewat media tersebut.
2. Mereka
memillih.
ada,
tidak
2. Mereka memilih dulu.
2. Hubungan
(hanya
bersifat
pada
kurun
singkat
waktu
tertentu)
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 41
3. Bersifat
mengesalkan,
penolong,
3. Ditentukan berdasrkan
bersahaja
persamaan nilai dan
dari orang yang tidak memiliki
kepentingan
kepentingan yang sama selain
atau tidak.
3. Bersifat
yang
dimiliki.
agregat
(kumpulan
dengan pemakai dari media
komunikasi tertentu.
4. Perusahaan
dituntut
untuk berhadapan.
4. Dikembangkan dengan
pertimbangan
peluang
4. Audien dengan media sangat
adanya
bisnis
berspesialisasi
erat
atau
hubungannya dengan public
dukungan
dan
perusahaan.
partisipasi
secara
ekonomi.
5. Hadir karena interaksi
dan hubungan mereka
5. Suatu
segmen
dari
5. Bukan merupakan bagian yang
populasi tertentu.
dengan perusahaan.
penting
mengembangkan
dalam
strategi
komunikasi.
(Sumber : Suryadi,4-6).
Karakteristik Publik
Dalam hal ini ada 5 macam karakteristik publik adalah :
1. Publik yang dapat dibedakan adalah merupakan kelompok orang yang dapat dikenal
meskipun tidak penting untuk mengenal kelompok formal.
Sebagai contoh sebuah perusahaan yang mau menjual produk baru yang mahal dan lebih
memfokuskan pada orang-orang yang berpenghasilan diatas 5 juta maka yang hanya
mempunyai hari-hari istimewa ( ultah, kelulusan, perkawinan dll).
2. Publik bersifat heterogen : memiliki perlakuan dan simbol yang sama, mereka bisa saja tidak
mengenal satu sama lain namun memiliki alasan kuat untuk memperlakukan sebagai sebuah
kelompok.
3. Publik merupakan bagian yang penting bagi perusahaan atau lembaga atau institusi anda.
4. Publik bersifat luas (contoh: upaya melobi terhadap anggota parlemen).
5. Publik yang dapat diraih.
Kelompok Publik
Kelompok Publik terdapat empat kelompok yaitu :
1. Konsumen adalah publik yang menerima produk atau jasa dari perusahaan tetentu.
-
Regular atau tertentu.
-
Saat ini atau calon atau eks.
-
Pesaing atau loyal.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 42
-
Usia, suku, potensi belanja atau variable lain.
-
Anggota atau konsumen biasa.
-
Konsumen kedua.
-
Konsumen bayangan (shadow constituances) yakni mereka yang kemungkinan tidak
memiliki hubungan langsung dengan produk atau jasa sebuah perusahaan.
2. Produsen adalah publik yang memberikan input dapat kepada perusahaan.
-
Karyawan.
-
Veteran atau baru.
-
Manajerial (atas atau menengah).
-
Non manajerial : supervisor atau staff atau produksi atau pemeliharaan.
-
Manajemen atau gabungan.
-
Keluarga atau pensiunan.
-
Investor atau pemegang saham.
-
Donator atau yayasan atau pemberi hibah.
-
Saat ini atau calon atau eks.
3. Perancang (enablers) yakni publik yang heterogen dalam pengaturan melalui seting norma
atau standar bagi perusahaan, pemimpin tertentu yang memiliki pengaruh besar terhadap
konsumen dan kelompok yang memiliki kontribusi keberhasilan perusahaan.
-
Pemimpin komunitas
-
Organisasi-oranisasi jasa atau professional atau pemuka agama atau sosial atau
konsultan.
-
Budaya atau parpol atau lingkungan atau aktivis.
-
Asossiasi industry atau dinas atau lembaga akreditasi.
-
Tenaga ahli professional/konsultan atau analisis.
-
Lembaga pemerintah
-
Diplomat atau konsulat.
-
Angkatan atau sipil.
-
Media.
-
Perdaganagan atau advokasi atau akademisi.
4. Pembatas (limiters).
-
Pesaing, lawan, aktivis, dan kekuatan lain.
Sedangkan untuk kategori lain dibedakan :
1. Non-publik : mereka yang tidak mempengaruhi atau terpengaruh oleh organisasi. (pengecer
di Sidoarjo tidak punya pengaruh dan tidak dipengaruhi publik yang ada di Surabaya).
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 43
2. Publik laten : kelompok yang menghadapi masalah tertentu sebagai akibat tindakan
perusahaan, namun tidak mengetahui akibat tersebut sebagai produk perusahaan. (perluasan
perusahaan dapat bedampak kemacetan jalur lalu lintas namun pemerintah lokal tidak
menyadari.
3. Publik sadar : mereka yang mengetahui bahwa terdapat masalah (perluasan perusahaan
diketahui pemda setempat dari berita surat kabar)
4. Publik apatis (apathetic publik) publik pada dasarnya tidak peduli dengan seluruh
permasalahaan public namun harus menjadi perhatian praktisi Public Relations karena
alasannya tertarik dengan issue tertentu.
5. Publik aktif : kelompok melakukan sesuatau terhadap masalah tertentu. (contoh pemblokiran
jaringan bisnis)
Untuk publik aktif dapat dikelompokkkan lagi menjadi 3 kategori :
a. Publik seluruh masalah (all-isue publik) : publik yang aktif dalam seluruh masalah yang
mempengaruhi organisasi.
b. Publik satu masalah (single-isue publics) : mereka yang aktif dalam satu masalah atau
seluruh masalah kecil. (kampanye bebas asap kendaraan ) hal ini dilakukan dekan .
c. Publik isu hangat (Hot-issue publics) : mereka yang terlhat dalam satu masalah tertentu
dan memperoleh dukungan dari masyarakat. (kelompok Greenpeace)
Larangan dalam etiket pelayanan :
1. Dilarang berpakaian sembarangan.
2. Dilarang makan,minun,merokok/mengunyah sesuatu saat melayani.
3. Dilarang berbincsng /bercanda dengan karyawan yang lain ketika melayani.
4. Dilarang menampakkan wajah cemberut, memelas/sedih dihadapan pelanggan.
Bekal karyawan dalam memberikan pelayanan yang paling optimal :
1. Sikap dan perilaku.
2. Penampilan.
3. Cara berpakaian.
4. Cara berbicara.
5. Cara bertanya.
6. Gerak gerik.
Pemahaman sifat-sifat pelanggan atau nasabah
Dalam melayani pelanggan atau nasabah sebaiknya juga harus mampu memahami dan mengerti
akan sifat masing-masing pelanggan.
Sifat-sifat pelanggan : tingkah laku, kebiasaan atau tata cara yang ditunjukkan pada saat
berhubungan dengan orang lain.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 44
Sifat-sifat pelanggan yang harus dikenal:
1. Dianggap sebagai raja.
2. Dipenuhi keinginan dan kebutuhannya.
3. Tidak mau didebat dan disinggung.
4. Diperhatikan.
5. Senang dipuji atau disanjung.
6. Merupakan sumber pendapatan perusahaan.
Pelanggan atau nasabah kabur
Pelanggan atau nasabah kabur : pelanggan atau nasabah pergi meninggalkan perusahaan atau tidak
menggunakan lagi produk yang ditawarkan baik untuk sementara waktu atau selamanya.
Penyebab pelanggan kabur :
1. Pelayanan tidak memuaskan.
2. Produk tidak baik.
3. Ingkar janji & tidak tepat waktu.
4. Biaya relatif mahal.
Cara membuatnya agar berurusan dengan perusahaan atau lembaga :
1. Karyawan harus menarik (penampilan, gaya bicara, gerak gerik sehingga tidak bosan).
2. Cepat tanggap terhadap keinginan dan mengerjakan atau melayani nasabah.
3. Ruang tunggu tenang dan nyaman.
4. Brosur tersedia lengkap.
5. Keragaman dan kelengkapan produk atau jasa yang ditawarkan.
Sikap melayani pelanggan:
Adalah cara kita melayani pelanggan mulai awal hingga akhir.
Lebih dulu harus tahu jenis-jenis pelanggan dalam 3 kelompok :
1. Pelanggan baru ; baru 1x datang, hanya sekedar cari informasi/sudah mau melakukan
transasksi.
2. Pelanggan biasa (sekunder) : sudah pernah berhubungan namun tidak rutin, kedatangannya
hanya untuk melakukan transaksi, frekuensi tidak terlalu sering.
3. Pelanggan utama (primer) : sering berhubungan,loyalitas tidak diragukan lagi.
Cara berhubungan dengan pelanggan ada 2 jenis :
1. Langsung
berhadapan
2. Tidak langsung
telepon,faximile,surat,email.
Sikap yang harus diperhatikan :
1. Beri kesempatan berbicara lebih awal.
2. Dengarkan baik-baik saat bicara.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 45
3. Jangan menyela pembicaraan.
4. Ajukan pertanyaan setelah selesai bicara.
5. Jangan marah dan mudah tersinggung.
6. Jangan mendebat.
7. Jaga sikap sopan, ramah, selalu berlaku tenang.
8. Jangan menangani hal-hal yang bukan merupakan pekerjaan.
9. Tunjukkan sikap perhatian dan ingin membantu.
ETIKET PELAYANAN
Arti sempit sering disebut etika berarti tata cara berhubungan dengan manusia lainnya.
Dari sejarah asal mula kata etiket bahasa Perancis : ETIQUETTE : Kartu Undangan.
Ketentuan yang diatur dalam etiket secara umum :
1. Sikap perilaku.
2. Penampilan.
3. Cara berpakaian.
4. Cara berbicara.
5. Gerak-gerik
6. Cara bertanya.
Prinsip-prinsip dasar bagi para profesional dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Selalu berpikir, berperasaan, dan bertingkah laku positif.
2. Memiliki sikap yang profesional.
3. Tidak egosentris.
4. Bias menjaga rahasia.
5. Penuh pertimbangan dan senstitif.
6. Selalu menepati waktu.
7. Selalu menjaga sopan santun.
Landasan etiket
Landasan etiket sebagai berikut:
a. Baik dan benar disandang.
Hal ini yang dimaksud adalah ketika seseorang melakukan sesuatu dimana tingkah lakunya
berdasarkan kepada aturan maka orang tersebut telah melakukan yang seharusnya dilakukan
dan dinilai baik dan benar.
b. Baik dan benar dipandang.
Ketika seseorang melakukan sesuatu dimana tingkah lakunya berdasarkan kepada aturan
maka orang akan melakukan yang seharusnya dilakukan berdasarkan aturan sehingga akan
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 46
dinilai baik dan benar dilihat dari mata orang lain yang menilainya atau membentuk image
terhadap dirinya sehingga orang lain yang melihatnya akan menyukai dan menyenangkan.
c. Baik dan benar didengar.
Ketika seseorang berbicara yang seharusnya dibicarakan dan sesuai dengan aturan yang
mengatur sehingga akan dinilai baik dan benar oleh orang lain yang menilainya.
Beberapa landasan etiket yang perlu diperhatikan :
1. Berpikir positif dan berjiwa besar.
2. Pengendalian emosi.
3. Menjaga agar penampilan tetap rapi dan menarik.
4. Toleransi dan intropeksi.
5. Dapat menjadi pendengar yang baik.
6. Memiliki respect terhadap orang lain.
7. Tidak menyalahgunakan kelebihan yang dimiliki.
8. Berbicara dengan baik.
9. Pergunakan volume suara yang rendah dan dalam sikap yang terjaga.
Secara umum etiket pelayanan yang dapat diberikan a.l.:
1. Mengucapkan salam.
2. Mempersilakan tamu.
3. Bertanya tentang keperluannya.
4. Bila ingin menyuruh mulailah dengan kata-kata maaf.
5. Mengucapkan terima kasih pada saat urusan selesai.
Tujuan etiket yang selalu ingin dicapai setiap tempat (perusahaan/lembaga):
1. Untuk persahabatan & pergaulan.
2. Menyenangkan orang lain.
3. Membujuk.
4. Mempertahankan.
5. Membina & menjaga hubungan.
6. Berusaha menarik pelanggan atau nasabah.
Manfaat etiket :
-
Percaya diri.
-
Dihormati.
-
Duhargai.
-
Disegani.
-
Disenangi.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 47
Larangan dalam etiket pelayanan : perbuatan yang dilarang dalam melayani pelanggan dari awalakhir pelayanan.
Secara umum larangannya :
1. Dilarang berpakaian sembarangan.
2. Dilarang melayani pelanggaan atau tamu sambil makan.
3. dilarang melayani sambil ngobrol atau bercanda.
4. Dilarang menampakkan wajah yang tidak menyenangkan.
5. Dilarang berdebat atau menyanggah.
6. Dilarang meninggalkan nasabah terlalu lama.
7. Dilarang berbicara terlalu keras atau lemah.
8. Dilarang keras meminta imbalan atau janji-janji.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 48
BAB VIII
ETIKA CUSTOMER SERVICE
Digunakan secara khusus untuk dunia perbankan namun dewasa ini tuntutan perkembangan dan
perubahan social dalam masyaraakat menyebabkan perlu juga dipelajari pada bidang lain juga.
Peranan Customer Service :
1. Mempertahankan pelanggan atau nasabah lama agar tetap setia dengan menambah jumlah
transaksinya.
2. Berusaha mendapat pelanggan baru.
Fungsi Customer Service dalam praktek sebagai :
1. Recepsionis.
2. Deskman : melayani berbagai macam aplikasi yang diajukan pelanggan atau nasabah atau
calon nasabah dengan memberi arahan dan petunjuk cara pengisian serta prosedurnya.
3. Salesmen : menjual produk sekaligus pelaksana cross selling (menawarkan produk).
4. Customer relation officer (CRO) : membina hubungan baik pada seluruh nasabah agar tidak
lari bila tempat tsb ada masalah (lewat telepon atau secara langsung).
5. Komunikator : penyambung lidah kepada pelanggan nasabah.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang Customer Service:
1. Fisik.
2. Mental.
3. Kepribadian.
4. Sosial.
Para pejabat humas dalam hal etika dan etiket dalam menjalankan tugasnya sehari-hari sangat
penting sebab penampilannya sangat penting.
Humas diibaratkan cermin dan bertugas memelihara dan bertanggung jawab atas kebersihan cermin
dari pejabat beserta staf humas dengan cara senantiasa menjaga etika (beradab) dan etiket dalam
pergaulan hidup sehari-hari dengan publik internal maupun ekternal.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 49
BAB IX
ELECTRONIC PUBLIC RELATIONS (E-PR)
Dalam melaksanakan aktivitas atau kegiatan humas seorang Public Relations atau Humas
dituntut untuk mengikuti perkembangan tehnologi komunikasi dan informasi yang secara khusus
internal maupun media lain.
Dengan hadirnya internet Public Relations harus dapat merespon dengan cepat dari setiap
perubahan informasi yang up-to-date sesuai dengan kebutuhan pada perkembangan zaman.
Perkembangan tehnologi serta situasi dan kodisi masyarakat yang terus berubah melahirkan
suatu pendekatan baru dalam pekerjaan Public Relations yang disebut E-PR (electronic Public
Relations).
Menurut Rini Damarstuti E-PR merupakan cara yang dilakukan Public Relations untukmenjalin
hubungan dengan khalayaknya dengan menggunakan media internet.
E-PR adalah penerapan dari perangkat ICT (information and communication technologi) yang
digunakan untuk mengerjakan tugas ke-PR-an. Dengan tujuannya mempercepat penyampaian
infomasi dan untuk memberikan respon yang cepat terhadap permasalahan yang muncul. Di
Indonesia terkenal dengan istilah Cyber Public Relations atau Online Public Relations dengan fokus
utama membidik media online dan mengadakan kerjasama dengan mereka untuk menyampaikan
pesan-pesan Public Relations (144,2007).
Istilah E-PR yakni :
1. E ialah elektronik pada kata e-mail maupun e-commerse mencakup seluruh aspek internet
meliputi sistim e-mail (www/wordwide web).
2. P adalah publik bukan hanya mengacu pada public atau audien tapi lebih pada konsumen.
3. R adalah relation (hubungan) adalah hubungan yang harus dijalin dan dijaga antara pasar dan
perusahaan atau institusi tempat Public Relations berada merupakan kunci keberhasilan
dalam dunia internet.
Kelebihan dalam menggunakan internet yaitu :
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 50
1. Jangkuan luas.
2. Informasi dapat diakses 24 jam sehari, 7 hari satu minggu dan 365 hari dalam 1 tahun.
3. Interaktif.
4. Respon cepat.
5. Banyak tersedia informasi.
6. Informasi selalu up todate dan actual.
7. Materi mudah diupdate.
8. Biaya murah.
9. Kontak dengan media lebih mudah dilakukan.
Sedangkan hal yang dapat dilakukan Public Relations lewat media intenet :
1. Publikasi (harga, produk, jasa yang dihasilkan).
2. Media relations.
3. Mencari informasi yang up to date.
Kegiatan E-Public Relations :
1. Onelife adalah aktivitas yang perlu terkonksi dengan jaringan internet.
2. Offline adalah aktivitas yang tidak perlu terkoneksi dengan jaringan internet. (telepon, surat,
fax, majalah internet)
E. untuk everything ( segalanya).
Huruf “e” juga bias berarti everything atau segalanya karena didasarkan pada kenyataan bahwa
apapun yang dilakukan dalam internet umumnya merupakan kegiatan humas atau Public Relations
yang secara otomatis merupakan bagian dari media dan aktif didalamnya. Hal ini yang
membedakan dengan media lain karena dengan membaca situs anda akan dapat melihat segala
sesuatu yang dimuat didalamnya akan membantu membangun reputasi seorang humas atau Public
Relations.
Fokus utama E-PR
Fokus utama Public Relations konvensioanl adalah membangun citra positif dari perusahaan atau
institusi yang diwakili Public Relations, hanya saja perbedaan antara Public Relations konvensional
dengan E-PR adalah dalam penggunaan media.
Public Relations konvensional membangun citra positif perusahaan atau institusi tempat bekerja
dengan menggunakan media elektronik (TV, radio).
E-PR membangun citra positif dengan menggunakan media internet.
Beberapa cara Public Relations yang dilakukan dalam membangun relasi dengan khalayak dengan
menggunakan media internet :
1. One-to-one communication (face to face) e-mail, chat.
2. One-to-many communication (lebih dari satu komunikasi) ; mailing list, memograp.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 51
3. Mass communication (khalayak lebih besar); layanan informasi (information service), www,
e-newsletters layanan jaringan internet, media relations.
Strategi e-PR (etika PR).
Tujuan dari e-PR telah ditentukan pada dasarnya merupakan titik awal dimana akan berdiri yang
memuat cara bagaimana akan tiba pada tujuan.
Tujuan e-PR yang dibuat hanya memuat hal-hal yang berkenaan dengan web anda sedangkan
strategi online yang dibuat harus memuat hal-hal lain yang terdapat dalam web seperti e-mail dan
kelompok diskusi.
Untuk itu langkah-langkahhnya sebagai berikut :
-
Memiliki sebuah tujuan.
-
Melakukan penelitian untuk mengetahui metode online apa yang sesuai dengan kegiatan
bisnis dan audien.
-
Buat sebuah rencana berdasarkan tujuan dan penelitian.
-
Pastikan memiliki semua sumberdaya yang diperlukan (SDM).
Menentukan target audien
Dalam dunia internet orang memiliki pilihan variatif dibandingkan dengan media lain dan infomasi
yang disajikan dikmas sedemikan rupa sehingga memberikan isi yang variatif. Komunikasi online
tersebut harus menghubungkan orang disamping menyampaikan pesan.
Meskipun humas atau PR sebenarnya terdapat beberapa audien yang berbeda yang dapat
mempengaruhi bisnis online (kebalikan dari public secara umum) audien tersebut meliputi :
-
Konsumen, calon konsumen, konsumen lain, investor, peasing, organisasi perdagangan,
jurnalis, kalangan industry, moderator diskusi kelompok, karyawan, regulator online,
pemasang iklan onlin, LSM, perusahaan yang terhubung ke dan dari website.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 52
BAB X
ETIKA HUMAS PEMERINTAH
Humas Pemerintah
Humas pemerintah mempunyai fungsi dan tugas yaitu tidak ada sesuatu yang diperjual belikan atau
transasksi terjadi baik berupa produk barang maupun jasa pelayanan yang ditawarkan kepada pihak
yang membutuhkan secara komersial. Walaupun juga ada yang melakukan kegiatan kampanye
publikasi, promosi pemasaran dan periklanan tetapi lebih ditekankan pada bentuk public services
atau public utilities demi kepentingan pelayanan umum. Melalui unit atau program kerjanya dapat
melaksanakan penyampaian informasi pembangunan, penjelasan mengenai kebijaksanaan atau
tindakan-tindakan tertentu serta kegiatan-kegiatan dalam melaksanakan kewajiban atau tugas
kepemerintahan.
John D. Millet dalam buku Management in Public Services the quest for effective performance
mengatakan peran Humas atau Public Relations dinas instasi atau lembaga kepemerintahan dalam
melaksanakan tugas atau kewajiban utamanya yaitu :
1. Mengamati dan mempelajari keinginan-keinginan dan aspirasi yang terdapat dalam
masyarakat (learning about public desires and aspiration).
2. Kegiatan untuk memberikan nasihat atau sumbang saran dalam menanggapi apa yang
sebaliknya dapat dilakukan instansi atau lembaga pemerintah seperti yang dikehendaki oleh
pihak publiknya (advising the public about what is should desire).
3. Kemampuan untuk mengusahakan terciptanya hubungan memuaskan antara public dengan
para pejabat pemerintahan (ensuring satisfactory contanct between public and government
official).
4. Memberikan penerangan dan informasi tentang apa yang telah diupayakan oleh suatu
lembaga atau instansi pemerintahan yang bersangkutan (informing and about what agency is
doing).
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 53
Sedangkan menurut Dimock dan Koening tugas dan kewajiban humas lembaga pemerintahan yaitu:
1. Berupaya memberikan penerangan atau informasi kepada masyarakat tentang pelayanan
masyarakat, kebijaksanaan, tujuan yang akan dicapai oleh pihak pemerintah dalam
melaksanakan program kerja pembangunan.
2. Mampu menanamkan keyakinan dan kepercayaan serta menjagak masyarakat dalam
partisipasinya untuk melaksanakan program pembangunan diberbagai bidang dan menjaga
stabilitas keamanan dan ketertiban nasional.
3. Keterbukaan dan kejujuran dalam memberikan pelayanan serta pengabdian dari aparatur
pemerintah yang perlu dijaga atau dipertahankan dalam melaksanakan tugas dan kewajiban
masing-masing secara konsisten dan professional.
Keberadaan dan Fungsi Humas Pemeritah
Keberadaan humas pemerintah merupakan keharusan baik secara fungsional maupun operasional
mampu bertindak sebagai public information, public affair dan public communication dalam upaya
penyebar-luasan atau memublikasikan kegiatan dan program kerja pembangunan baik ditujukan
kepada public internal maupun public eksternal.
Peranan humas pemerintah merupakan bagian dari suatu alat atau saluran instansi pemerintah yaitu
untuk memperlancar proses interaktif positif dan menyebarluaskan informasi mengenai publikasi
pembangunan nasional atau daerah dan propinsi melalui kerjasama dengan pihak media massa atau
pers.
Tugas pokok dan kewajiban humas atau Public Relations adalah bertindak sebagai komunikator
(nara sumber) untuk membantu keberhasilan dalam melaksanakan program pembangunan
pemerintah, memiliki kemampuan membangun hubungan yang positif, konsep kerja yang terencana
baik, mampu menciptakan citra baik bagi lembaga, membangun opini publik yang positif.
Fungsi pokok humas pemerintah :
1. Mengamankan kebijaksanaan dan program pemerintah.
2. Memberikan
pelayanan,
meyebarluaskan
pesan-pesan
dan
informasi
mengenai
kebijaksanaan, mampu mensosialisasikan program-program pembangunan baik secara
nasional maupun daerah kepada masyarakat.
3. Menjadi komunikator sekaligus mediator proaktif dalam menyembatani kepentingan instansi
pemerintah disatu pihak dan menampung aspirasi atau opini publik dan memperhatikan
keinginan-keinginan masyarakat dilain pihak.
4. Berperan serta aktif dalam menciptakan iklim yang kondusif dan dinamis demi
mengamankan stabilitas dan program pembangunan baik jangka pendek maupun jangka
panjang. (Ruslan.101-102)
Etika Humas Pemerintah
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 54
Melalui SK Menpen no.31/1971 melalui Bakohumas (Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintah)
maka tugas dan fungsi Bakohumas :
1. Membantu Menteri Negara Komunikasi dan Informasi dalam menetapkan kebijaksanaan
pembinaan hubungan yang lancar dan harmonis antara masyarakat dan pemerintah.
2. Mengadakan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan kerjasama antar humas departemen dan
lembaga pemerintah atau negara.
3. Merencanakan
dan
melaksanakan
kegiatan-kegiatan
kehumasan
sesuai
dengan
kebijaksanaan pemerintah.
Sikap kepribadian humas pemerintah sesuai Code D’Honner (Kode Kehormatan):
1. Juru penerang yakin akan kebenaran Negara Pancasila.
2. Juru penerang setia dan ulus ikhlas melaksanakan politik pemerintah.
3. Juru penerang militant didalam jiwanya, pikiran dan perbuatan, berdisiplin tinggi (militer)
apa saja perintah harus dilaksanakan.
4. Juru penerang jujur dalam perkataan dan perbuatan.
5. Juru penerang harus bijaksana dalam pergaulan hidupnya dan menjadi contoh dan teladan
bagi sekelilingnya.
6. Juru penerang bijaksana dalam pergaulan hidupnya.
7. Juru penerang adalah patriot sejati-semua profesi.
TRI PRASETIA PENERANGAN
1. Juru penerang adalah pendukung cita-cita negara.
2. Juru penerang adalah penggerak rakyat melaksanakan cita-cita negara.
3. Juru penerang adalah pembimbing opini publik.
Public Relations (humas) sebuah lembaga atau organisasi non pemerintah dan non profit
orientasinya terdapat pada bidang-bidang atau profesi tertentu :
1. Bidang pelayanan penasihet hokum, konsultasi hukum dan pembelaan hukum sebagai upaya
pengabdian terhadap masyarakat yang memerlukan pendamping bagi kliennya ketika
berperkara hukum dipengaduan.
2. Bidang pelayanan keagamaan dan rohani, ceramah, khotbah, dan dakwah nilai-nilai
keagamaan dimesjid, gereja, dan pusat keagamaan lainnya untuk menuntun ajaran agama
dan peribadatan bagi umatnya masing-masing.
3. Bidang seni dan budaya pop-modern serta tradisional dibeberapa pusat pengembangan
kesenian dan kebudayaan.
4. Lembaga yayasan bidang pelayanan pendidikan dan pelatihan ketrampilan dan profesi
lainnya baik dipusat pelatihan dan pendidikan milik swasta maupun pemerintah.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 55
5. Bidang profesi pelayanan kesehatan dan para medik serta kedokteran diberbagai lembaga
rumah sakit, poliklinik dan puskesmas.
6. Bidang profesi pelayanan sosial lainnya, pusat rehabilitasi penyembuhan narkoba serta
pengidap penyakit HIV atau AIDS, perawatan orang jompo, yatim piatu, pusat layanan
sosial lainnya.
7. Organisasi non profit dilembaga BUMN atau BHMN baik bergerak dibidang produksi
strategis maupun pelayanan jasa umum dan kepentingan umum terdapat dipemerintah, TNI,
Polri dan sebagainya.
8. Bidang profesi organisasi politik yang mewakili anggota partai dan legislatif di DPR dan
MPR.
9. Bidang profesi organisasi LSM, YKLI, LBH, ICW, lembaga pemantau, pelaksanaan pemilu,
organisasi nonprofit dan sebagainya.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 56
BAB XI
AUDIT ETIKA PUBLIC RELATIONS
Audit etika menurtut Patricia J. Parsons dalam buku Etika Public Relations mengatakan bahwa
didalam Public Relations atau HUMAS terletak pada tanggung jawab sosial sudah berlangsung
dalam beberapa tahun karena itu berkaitan erat dengan citra, reputasi dan hubungan antara
organisasi dengan khalayak maka perlu sekali mendapat perhatian dari para praktisi Public
Relations sebagai wujud tanggung jawab sosial yang dapat digambarkan dalam tiga (3) level yaitu:
1. Pada level pertama : ketaatan minimal pada peraturan (minimal legal compliance).
2. Pada level kedua : enlightened self-interest. Dimana pada titik inilah biasanya Public
Relations mulai perannya, kebaikan organisasi seringkali dijadikan alat, dimana hal ini
merupakan
bagian
strategi
Public
Relations
untuk
menunjukkan
keunggulannya
dibandingkan competitor.
3. Pada level tertinggi atau level etika : organisasi melakuan hal-hal yang baik karena
berkeyakinan atas pentingnya untuk bertanggung jawab dalam kontribusi pada masyarakat
terlepas dari tanggung jawab organisasi untuk berkiprah dimasyarakat.
Audit etika secara mendasar sama tetapi agak sedikit berbeda yaitu audit etika mencakup evaluasi
atas program organisasi secara spesifik termasuk etika perilaku dan bagaimana para karyawan
mematuhinya. Dan dalam tanggung jawab sosisal audit etika mencakup masing-masing dalam
beberapa level yang berbeda.
Menurut Frank Navran penulis media online untuk Ethics Reseource Centre terdapat tiga (3) jenis
audit etika yaitu :
1. Compliance Audit.
Dimana hampir sama dengan level pertama dari tanggung jawab sosial dimana seorang
auditor akan melihat bagaimana program etika suatu organisasi, kebijakan dan bagaimana
kebijakan itu diimplementasikan serta ketaatan pada peraturan hukum, kebijakan perusahaan
dan norma-norma.
2. Audit Kultur.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 57
Dalam hal ini adalah penilaian kultur perusahaan tentang apa yang dirasakan karyawan
mengenai standard etika pada organisasi tempet bekerja kemudian disimpulkan dengan
analisis kultur.
3. Analisis Sistem.
Paling komprehensif yang mencakup ketaatan pada peraturan dan kultur yang kemudian
menilai secara komprehensif integrasi etika pada keseluruhan fungsi organisasi.
Komponen dalam audit etika.
Komponen audit etika dalam hal ini tidakdapat diterapkan secara universal. Karena ada beberapa
aspek dalam perusahaan yang akan dinilai dengan cukup ketat.
Dibawah ini ada beberapa komponen utama audit etika sebagai berikut :
1. Misi, nilai, filosofi organisasi dan penilaian bagaimana hal tersebut diterapkan pada
pengambilan keputusan sehari-hari pada semua level dan fungsi.
2. Bagaimana kebijakan perusahaan mengatur mulai dari permasalahan berkencan ketika
bekerja sampai pembongkar rahasia perusahaan (dan isu-isu lain yang sempat dibahas
sebelumnya dalam organisasi) serta bagaimana kebijakan diaplikasikan secara adil dan
objektif.
3. Tidak adanya kebijakan mengenai isu-isu.
4. Penilaian terhadap perilaku selama ini, baik secara pribadi maupun perilaku pada khalayak
umum dan akan dinilai dengan menggunakan sumber internal dan eksternal.
5. Seberapa etis model kepemimpinan dalam organisasi dinilai oleh khalayak internal dan
eksternal.
6. Pelatihan etika dan pengembangan dalam organisasi apakah ada atau tidak ada dan nilainilainya.
7. Input dari diskusi dengan pihal manajemen dan non manajemen untuk menilai etika perilaku
dan persepsi mereka tentang etika perilaku.
Penyampaian Kebenaran Sebagai Sebuah Prinsip perilaku.
Penyampaian kebenaran merupakan sebuah isu etis mendasar sehingga menjadi sebuah prinsip
dasar dari perilaku. Dan prinsip etis penyampaian kebenaran adalah salah satu asumsi mendasar
tentang brperilaku etis dam merupakan salah satu dari sekian banyak prinsip mendasar. Prinsipprinsip penting lain dalam PR kebaikan, kemurah-hatian, kerahasiaan dan keadilan
Pilar-pilar Public Relations :
1. Kejujuran (untuk mengatakan kebenaran).
2. Kebaikan (untuk tidak membahayakan ).
3. Kemurah-hatian (untuk melakukan hal-hal yang baik ).
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 58
4. Kerahasiaan (untuk menghormati kerahasiaan priadi ).
5. Keadilan (untuk bersikap adil dan bertanggung jawab secara sosial).
Tahapan perkembangan moral Kohlberg (alasan untuk melakukan apa yang benar) :
Tingkat I : Tingkat pre-contentional.
-
Tahap 1 : ...... untuk menghindari hukuman.
-
Tahap 2 : ...... untuk mencukupi kebutuhan sendiri.
Tingkat II : Tingkat contentional.
-
Tahap 3 : ...... untuk menjadi orang baik dimata sendiri dan dimata orang lain.
-
Tahap 4: ....... untuk memenuhi tuas yang telah disetujui agar sistem berjalan.
Tingkat III : Tingkat Post-contentional.
-
Tahap 5 : ..... untuk memenuhi kontrak sosial atau melakukan hal-hal yang memiliki tingkat
kemanfaatan tinggi.
-
Tahap 6 : ....... untuk mengikuti prinsip-prinsip etis universal yang dipilih sendiri.
Moralitas dan tingkat kompetensi
Dalam hal ini ujilah perilaku Public Relations sebagai seorang person atau individu :
1. Apakah selalu mengucapakan tolong dan terima kasih bahkan ketika orang lain hanya
melakukan hal-hal yang sudah menjadi tugasnya?.
2. Apakah selalu berhati-hati dalam memberitahu terutama ketika seseorang melakukan sesuatu
untuk anda? Jika kita tidak dapat mengatakannya saat itu, apakah ingat untuk mengatakan
kemudian?
3. Apakah selalu mengontrol temperamen.?
4. Apakah dapat menahan diri untuk tidak mengucapkan hal-hal yang berbau perbedaaan jenis
kelamin atau membuat lelucon seks?.
5. Apakah dapat menahan diri untuk tidak menggunakan bahasa kasar atau kotor bahkan ketika
dalam tekanan dan dalam e-mail bisnis?.
6. Apakah selalu mencari privasi untuk membicarakan hal-hal yang tidak menyenangkan?.
7. Apakah memperlakukan orang lain dengan tingkat formalitas yang diharapkan dapat
diterima dari orang lain ?.
Sebagai seorang Public Relations perlu memikirkan kembali keputusan sebelubertindak maka ada
beberapa hal yang dapat digunakan para praktisi Public Relations dalam pembuatan keputusan.
Model keputusan etika : praktik terbaik Public Relations (humas),
1. Kumpulkan formasi yang terkait.
2. Definisikan permasalahan secara jelas.
3. Identifikasikan nilai-nilai pribadi.
4. Terapkan prinsip-prinsip pembuatan keputusan yang etis.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 59
5. Analisa loyalitas kita.
6. Buat keputusan.
7. Kritisi kembali keputusan kita.
8. Ambil tindakan.
BAB XII
KODE ETIK PUBLIC RELATIONS INTERNASIONAL TAHUN 1988
Kode etik tahun 1988 mengantikan kode etik yang telah dipakai sejak tahun1950 dan melalui
beberapa kali revisi dari tahun 1954, 1959, 1963, 1977, 1983.
DEKLARASI PRINSIP, KODE ETIK.
Deklarasi prinsip pada anggota komunitas Public Relations Amerika yaitu meletakkan prinsipprinsip dasar profesionalisme atas nilai fundamental dan perasaan senasib diantara mereka,
kepemilikan kebebasan, HAM dalam berbicara berkumpul mengeluarkan pendapat.
Dalam upaya melayani kepentingan klien dan karyawan kami mengabdikan diri sendiri pada
pembangunan komunikasi yang lebih baik, pemahaman dan kerjasama diantara individu yang
beragam, kelompok dan kelembagaan kemasyarakatn dan pengakuan bahwa setiap karyawan
memiliki kesempatan yang sama dalam kepemilikan Public Relations.
Kode Etik Standar Profesional Praktik Public Relations
Aturan tersebut diadopsi oleh komunitas Public Relations Amerika dalam mempromosikan dan
mempertahankan standard pelayanan umum dan kode etik diantara sesama anggota.
1. Setiap anggota harus melakukan profesi mereka sesuai dengan kepentingan masyarakat
umum.
2. Setiap anggota harus memberikan contoh kejujuran dan integritas yang tinggi dalam
melaksanakan peran ganda terhadap klien dan karyawan dan terhadap proses demokratisasi.
3. Setiap anggota harus berlaku adil terhadap masyarakat dengan klien dan karyawan lama atau
baru dan dengan sesame praktisi menghargai kebebasan mengeluarkan pikiran dan pendapat.
4. Setiap anggota harus memegang teguh standard akurasi dan kebenaran yang tinggi
menghindari klaim yang berlebihan atau perbandingan yang tidak adil dan memberikan
penghargaan atas ide dan hasil penemuan orang lain.
5. Setiap anggota harus menghindari menyebarkan informasi yang salah atau tidak benar dan
harus segera mengambil tindakan secara cepat jika kesalahan tersebut dilakukan.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 60
6. Setiap anggota harus menghindari keterikatan dengan praktik-praktik yang bertujuan untuk
melakukan korupsi terhadap integritas sarana komunikasi atau dalam proses kepemilikannya.
7. Setiap anggota harus bersedia mengidentifikasi nama klien atau karyawan pada saat kegiatan
komunikasi tersebut dilakukan.
8. Setiap anggota harus menghindari penyalahgunaan profesionalisme individu atau organisasi
melayani atau membuka kembali suatu penyebab yang telah diumumkan tau menyatakan diri
sebagai pihak yang independen atau biasa, padahal pada kenyataannya ia bertindak atas
dasar untuk kepentingan pihak lain atau menyembunyikan kepentingan pribadi.
9. Setiap anggota harus menghindari pernyatan yang memberikan jaminan bahwa ia mampu
menyelesaikan persoalan tertentu diluar control langsung anggota.
10. Setiap anggota harus menghindari terjadinya konflik atau persaingan kepentingan tanpa
adanya kepedulian terhadap pesoalan tersebut dinyatakan setelah segala fakta dikemukakan.
11. Setiap angota harus menghindari menempatkan diri sendiri atas dasar kepentingan
pribadinya dimana tindakan tersebut bias menimbulkan konflik dengan kepentingan anggota,
klien atau pihak-pihak lain tanpa ada penjelasan menyeluruh tentang tindakan tersebut.
12. Setiap anggota harus menghindari untuk menerima bayaran, komisi, hadiah, atau bentukbentuk lain dari siapa saja kecuali dari klien atau karyawan sebagai balas jasa atas pelayanan
yang diberikan tanpa ada pernyataan meminta pemberian tersebut dan harus berdasarkan
penjelasan menyeluruh atas pemberian tersebut.
13. Setiap anggota harus menjaga dengan seksama kredibilitas dan hak privasi klien atau
karyawan sekarang, dulu, atau prospektus klien atau karyawan.
14. Setiap anggota harus menghindari segala tindakan yang dapat merusak reputasi
profesionalisme atau kegiatan praktisi lainnya yang dilakukan secara sengaja.
15. Jika sesorang anggota mengetahui bahwa anggota lain terbukti bersalah melakukan praktik
yang tidak etis, illegal atau tidak jujur meliputi penyalah gunaan kode etik maka ia
berkewajiban untuk memberikan informasi tersebut secapatnya kepada pihak yang memiliki
kekuasaan dalam komunitas sehingga bias diambil tindakan yang diperlukan sesuai dengan
prosedur sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang pasal XII.
16. Seorang anggota yang dinyatakan sebagai saksi dalam pelaksanaan kode etik ini
berkewajiban untuk hadir terkecuali jika ia menolak karena alas an yang diterima oleh rapat
panel jaksa.
17. Setiap anggota berkewajiban secepat mungkin melepaskan hubungan dengan organisasi apa
saja jika hubungan tersebut ternyata bertentangan dengan kode etik.
Penjelasan Kode Etik
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 61
Pasal 1, berbunyi “Seorang anggota berkewajiban untuk menjalankan profesinya sesuai dengan
kepentingan umum.
Maksud dari kepentingan umum adalah penghormatan dan pelaksanaan hak yang dijamin oleh
Konstitusi Amerika Serikat.
Pasal 6, berbunyi” Seorang anggota harus menghindari kerikatan dengan segala praktik yang
bertujuan untukmelakukan korupsi terhadap integritas sarana komunikasi atau dalam proses
kepemilikannya. :
1. Praktek-praktek yang dilarang adalah segala tindakan yang cenderung menggantikan
keterwakilan media atau pemerintah yang bukan merupakan kewajiban anggota, atau
anggota klien atau karyawan yang dapat menimbulkan pertentangan dengan kewajiban
mereka terhadap media atau pemerintah seperti ;
a. Pemberian hadiah tertentu dengan nilai diluar kebiasaan umum.
b. Bentuk pembayaran atau komisi lain bagi anggota media sebagai upaya agar memperoleh
perlakuan khusus atau untukmenjamin bisa dipublikasikan dalam media.
c. Upah atau biaya yang diberikan kepada karyawan media atau pemanfaatan karyawan
tersebut jika dibayar oleh klien atau karyawan dimana proses tersebut sebelumnya tidak
diketahui atau diterima secara terbuka oleh karyawan media yang bersangkutan.
d. Memberikan wisata bagi perwakian media yang tidak berhubungan dengan legitimasi
signifikansi berita.
e. Penggunaan sebuah investasi atau pinjaman atau komitmen promosi oleh seorang
anggota yang dibuat oleh anggota atau oleh klien anggota atau karyawan bertujuan untuk
memperoleh perlakuan khusus atau jaminan liputan dalam media.
2. Pasal ini tidak melarang media untuk mengundang media atau perwakilan pemerintah untuk
menghadiri acara makan-makan, pesta cocktail atau dalam kegiatan fungsi berita dan even
tertentu yang merupakan bagaian dari kegiatan pertukaran informasi atau pendapat atau
pemantapan saling pengertian yang merupakan bagiandarifungsi media. Juga tidak melarang
even pers atau tur yang jujur dimana perwakilan media atau pemerintah diberikan
kesempatan menyaksikan langsung produk, proses, even tertentu yang bermanfaat dengan
memiliki sebuah kepentingan yang sah, juga dapat dipakai sebagai ukuran penilaian adalah
kebiasaan atau sifat ramah tamah yang wajar.
3. Tidak melarang memberikan atau meminjamkan produk atau jasa yang masuk akal kepada
perwakilan media atau pemerintah yan memiliki kepentingan yang sah terhadap produk atau
jasa.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 62
4. Mengijinkan untuk menawarkan penghargaan atau diskon tertentu kepada media (missal
penulis wisata) jika tingkat penghargaan atau diskon merupakan kegiatan bisnis dan berlaku
juga untuk penulis lain.
Pasal 9 : “Seorang anggota harus menghindari pernyatan yang memberikan jaminan bahwa ia
mampu menyelesaikan persoalan tertentu diluar control langsung anggota.
Melarang seorang klien atau karyawan melakukan tindakan penyalahgunaan profesionalisme yang
dapat dilakukan dalam kegiatan Public Relations. Namun tidak dilarang untuk memberikan jaminan
untuk memberikan kualitas atau layanan yang lebih baik.
Pasal 13 : “Setiap anggota harus menjaga dengan seksama kredibilitas dan hak privasi kilen atau
karyawan sekarang, dulu atau prospectus klien atau karyawan. :
1. Tidak melarang seorang anggota yang memiliki pengetahuan tentang kegiatan klien atau
karyawan yang dianggap illegal untuk tidak memberitahukan kepada otoritas yang
berwenang karena keyakinannya bahwa hal tersebut memerluka legilitas.
2. Komunikasi antara seorang praktisi dan klien atau karyawan dianggap rahasia, meskipun
komunikasi tersebut bukan merupak hak istimewa dalam siding pengadilan.
3. Menurut Undang-Undang Hak Cipta Amerika Serikat hak cipta dalam pekerjaan tertentu
dimiliki oleh seseorang atau beberapa pengarang.
Pasal 14 : dalam hal ini sebagai berikut :
1. Tidak melarang berbagai bentuk pengajuan permohonan. Tetapi apabila daftar tersebut
diajukan oleh konsumen tidak sesuai, memiliki referensi yang merefleksikan keberadaan
kualitas saat itu maka keberatan atas pengajuan bisa dilakukan.
2. Dalam hal ini berlaku terhadap pernyataan, salah atau benar serta tindakan yang dibuat atau
ditanda tangani dengan maksud jahat dan dengan tujuan tertentu untuk merusak reputasi atau
praktek anggota lain. Dan tidak melarang evaluasi atau review terhadap karyawan yang
jujur, yang dibuat tanpa adanya tujuan jahat dan sebagai bagian dari praktek bisnis biasa
meskipun bias menimbulkan dampak yang merugikan.
Penjelasan Kode Etik Terhadap Politik Public Realations
Pembukaan
Dalam praktek politik Public Relations seorang anggota PRSA harus memiliki kemampuan
professional untuk menempatkan karyawan atau klien jauh dari nilai-nilai hubungan politik dan
anggota dapat melayani majikan atau klien tanpa harus memiliki atribut yang diperlukan seperti
karakteristik, reputasi, kepercayaan yang dimilki oleh yang dilayani. Dengan demikian jelas bahwa
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 63
seorang anggota bisa mimilih kepentingan-kepentingan yang sesuai dengan filisofi politik yang
dianggap sesuai.
Definisi Politik Public Relations sebagai setiap wilayah Public Relations berhubungan dengan :
a. Organisasi politik konseling,komite, kandidat (potensial) sebagai pegawai negeri dan
kelompok yang dibentuk dengan tujuan utama mempengaruhi voting dalam kasus pemilihan
tertentu.
b. Pemilik konseling dari pegawai negeri.
c. Manajemen, direktur, sebuah kampanye politik yang mendukung atau melawan seorang
kandidat pejabat politik atau yang mendukung atau melawan sebuah isu yang ditentukan
dengan cara persetujuan voting atau penolakan.
d. Praktek Public Relations atas nama seorang klien atau karyawan dalam kaitannya dengan
hubungan yang dimiliki oelh klien atau majikan dengan setiap kandidat atau pejabat
pemerintah dengan tujuan utama mempengaruhi UU atau peraturan pemerintah atau
perlakuan dari seorang klien atau karyawan tidak menjadi masalah anggota tersebut
termasuk seorang pelobi terkenal atau tidak.
e. Badan konseling, pemerintah atau bagian badan tersebut baik domestic atau asing.
Aturan
1. Merupakan tanggung jawab anggota melakukan praktek PR, untuk memahami berbagai
status, local, negara dan federal yang memberlakukan kegitan dan menunjang secara penuh,
meliputi berbagai hokum local, Negara dan federal, keputusan siding, dan interpretasi
pejabat yang memiliki kewenangan dalam pelobian, konstribusi politik,kampanye,
pemilihan, fitnah (pencemaran nama baik) dan lainnya dalam menjalankan tanggung jawab
dipandang perlu berkewajiban untuk melakukan konseling yang diperlukan.
2. Merupakan tanggung jawab anggota untuk tunduk kepada Kode Etik Standar Profesiona
PRSA.
3. Setiap anggota harus memperlakukan klien atau karyawan dalam cara-cara yang pantas.
Anggota berkewjiban untuk bertindak sesuai dengan kepentingan umum dan menjunjung
kebenaran dan akurasi dan menerima standardisasi dengan sebaik-baiknya.
4. Setiap anggota berkewajiban untuk tidak mengeluarkan materi atau iklan apa saja atau
publikasi informasi apa saja atau berpartisipasi dalam persiapan atau menggunakan materi
tersebut dan tidak ditanda tangani oleh orang yang berhak atau tidak benar, menyesatkan,
tidak termasuk sebagai sumber dan berkewajiban untuk menjaga, tidak menyebarkan
material tersebut.
5. Setiap anggota berkewajiban terhadap klien untuk menghentikan pemebrian upah diluar
biaya yang diperlukan sebagai akibat dari hubungan yang terjadi seperti misalnya komisi
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 64
dalam promosi lewat media, percetakan dan semacamnya dan harus menhindari pembayaran
tanpa keinginan dari klien.
6. Setiap anggota berkewajiban tidak memanfaatkan posisi yang dimiliknya sehingga
mendorong adanya pekerjaan tambahan dikemudian hari atau kompensasi tertentu.
7. Setiap anggota berkewajiban sukarela untuk menutup identitas majikan atau klien lain
dengan siapa saat ini mereka berasosiasi dan dimana kepentingan bisa dipengaruhi oleh
kehadiran politik baik disukai atau tidakdisukai.
8. Setiap anggota berkewjiban untuk menjunjung tinggi kerahasiaan informasi yang
berhubungan dengan karyawan atau klien lama baik saat ini,masa depan bahkan setelah
hubungan berakhir menghindari asosiasi dimasa depan dimana inormasi bisa memberikan
keuntungan tertentu dariklien lama.
9. Setiap anggota berkewajiban untuk tidak menerima hadiah berbentuk uang atau barangbarang yang bernilai dimana dapat mempengaruhi pengambilan keputusan yang dibuat voter
atau pemilih,legislative, atau pejaat pemerintah dalam urusan kenegaraan.
10. Tidak ada satu aturan dalam kode etik yang melarang setiap anggota untuk memberikan
kontribusi legal terhadap kandidat, partai, atau isu-isu penting lainnya.
11. Setiap anggota harus menghindari menyebarkan informasi yang salah atau menyesatkan
yang disampaikan langsung kepada seorang pihak ketiga ditujukan untuk mengancurkan
reputasi public karena perbedaan tujuan.
Penjelalasan Kode Etik Terhadap Keuangan Public Relation
1. Setiap anggota jika diperlukan berkewajiban untuk memperoleh konseling hukum yang
berkenaan dengan masalah keuangan Public Relations.
2. Setiap anggota harus menjunjung tinggi kebijakan umum dalam membuat penjelasan
informasi dan secara teratur memberikan penjelasan informasi yang berkenaan dengan status
perusahaan untuk kepentingan klien atau majikan.
3. Setiap anggota berkewajiban untuk menyebarkan informasi terbaru secara cepat sehingga
bisa menghindari penyalahgunaan informasi oleh pihak ketiga atau pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab.
4. Setiap anggota berkewajiban untuk tidak menyebarkan informasi yang sifatnya rahasia yang
bisa merugikan validitas tujuan atau kepentingan perusahaan dimana penyebaran informasi
tidak sesuai dengan hukum.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 65
5. Selama periode pendaftaran setiap anggota harus menghindari kerikatan dengan kegiatan
yang dirancang sebagai prasyarat pemasaran saham perusahaan.
6. Jika anggota merasa ragu bahwa proyeksi yang dibuat tidak didukung oleh data yang cukup
maka harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan.
7. Jika seorang bertindak atas nama klien maka harus bertindak cepat untuk melakukan
perbaikan terhadap berita yang salah atau menyesatkan berkenaan dengan kepemilikan
saham atau bisnis klien atau karyawan.
8. Setiap anggota harus menghindari penyebaran material yang dirancang atau ditulis
sedemikian rupa maka harus mencantumkan sumber informasi dalam bentuk laporan dan
dibuat dalam sebuah posisi yang mencolok pada bagian materi informasi dalam ekstistensi
hubungan antara yang mengeluarkan informasi tersebut dengan klien atau karyawan.
9. Setiap anggota harus menghindari pemanfaatan berbagai informasi untuk kepentingan
pribadi.
10. Setiap anggota berkewajiban untuk tidak menerima kompensasi yang bisa menempatkan
dirinya pada situasi konflik dengan tugasnya terhadap seorang klien, karyawan atau publik
yang menanamkan investasi.
11. Setiap anggota berkewajiban untuk berupaya menjaga integritas sarana komunikasi publik.
12. Dalam setiap tindakan setiap anggota harus selalu berada di bawah pinsip kode etik standard
professional praktek public relations deklarasi PRSA.
ASOSIASI PERUSAHAAN PUBLIC RELATIONS INDONESIA (APPRI)
Keterangan Singkat Tentang Organisasi APPRI
Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) yang dibentuk pada 10 April 1987, di
Jakarta dan merupakan sebuah organisasi yang berbentuk asosiasi dari perusahaan-perusahaan
public relations nasional yang independen.
Misi utama APPRI adalah ingin mendamar-baktikan kemampuannya pada bangsa dan negara,
khususnya dalam profesionalme dibidang Public Relations.
Keluar, ingin menanamkan makna kegiatan Public Relations dalam arti bagaimana memberikan
kemampuan dalam pengelolaan progam komunikasi yang berkaitan dengan penciptaan,
pengembangan, dan pembinaan citra.
Kedalam, melakukan koordinasi, peningkatan profesi, dan menjaga dinamika usaha melalui kerja
sama dan persaingan yang sehat.
TUJUAN APPRI
Untuk melaksanakan misi utamanya, APPRI mempunyai beberapa tujuan yaitu sebagai berikut:
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 66
1. Menghimpun, membina, dan mengarahkan potensi perusahaan Public Relations nasional agar
secara aktif, positif, dan kreatif turut serta dalam usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan
makmur berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
2. Mewujudkan fungsi public relations yang sehat, jujur, dan bertanggung jawab sesuai dengan
kode praktik dan kode etik yang lazim berlaku secara nasional dan internasional.
3. Mengembangkan dan memajukan kepentingan asosiasi dengan memberikan kesempatan kepada
para anggota untuk konsultasi dan kerja sama serta memberikan saran bagi pemerintah, badanbadan kemasyarakatan, asosiasi yang mewakili dunia industri dan perdagangan, serta badanbadan lain untuk konsultasi dengan APPRI sebagai suatu lembaga.
4. Memberi informasi kepada klien, bahwa anggota APPRI mematuhi syarat untuk memberikan
nasihat dalam Public Relations dan akan bertindak untuk klien menurut kemampuan
profesionalnya.
5. Merupakan sarana untuk para anggotanya dalam soal-soal kepentingan usaha dan profesi dan
menjadi forum koordinasi praktik Public Relations.
6. Merupakan medium bagi masyarakat umum untuk mengetahui mengenai pengalaman dan
kualifikasi para anggotanya.
7. Membantu mengembangkan kepercayaan umum atas jasa Public Relations.
KEANGGOTAAN
Sebagai bentuk asosiasi perusahaan, keanggotaan APPRI adalah perusahaan-perusahaan Public
Relations yang didirikan berdasarkan Hukum Negara Republik Indonesia dan sepenuhnya dimiliki oleh
warga negara Indonesia yang mempunyai kualifikasi sebagai praktisi Public Relations professional.
KEGIATAN
Di dalam melaksanakan tujuannya, APPRI menyelenggarakan kegiatan-kegiatan, baik yang
bersifat kedalam organisasi maupun ke masyarakat luas. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi, antara
lain:
1. Membentuk dan melaksanakan prinsip-prinsip kegiatan dan kode etik dalam profesi Public
Relations.
2. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan peningkatan profesi anggotanya melalui seminar,
lokakarya, diskusi, pendidikan, kunjungan, dan sejenisnya.
3. Melakukan penelitian, menghimpun, dan menganalisa perkembangan dunia usaha umumnya dan
aktivitas usaha Public Relations khususnya, dalam upaya pembinaan dan pengembangan
kegiatan usaha anggotanya.
4. Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, seperti dunia usaha, lembaga pendidikan,
instuisi dan organisasi lainnya, serta masyarakat luas umumnya, dalam rangka perluasan
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 67
kegiatan usaha anggotanya maupun penyebarluasan profesi Public Relations dan pengabdian
pada masyarakat.
KODE ETIK PROFESI APPRI
Kode Etik Profesi Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI)
Pasal 1
Norma-norma Perilaku Profesional
Dalam menjalankan kegiatan profesionalnya, seorang anggota wajib menghargai kepentingan
umum dan menjaga harga diri setiap anggota masyarakat. Menjadi tanggung jawab pribadinya
untuk bersikap adil dan jujur terhadap klien, baik yang mantan maupun yang sekarang, dan terhadap
sesama anggota asosiasi, anggota media komunikasi, serta masyarakat luas.
Pasal 2
Penyebarluasan Informasi
Seorang anggota tidak akan menyebarluaskan, secara sengaja dan tidak sengaja dan tidak
bertanggung jawab, informasi yang palsu atau menyesatkan, dan sebaliknya justru akan berusaha
sekeras mungkin untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Ia berkewajiban untuk menjaga integritas
dan ketepatan informasi.
Pasal 3
Media Komunikasi
Seorang anggotanya tidak akan melaksanakan kegiatan yang dapat merugikan integritas media
komunikasi.
Pasal 4
Kepentingan yang Tersembunyi
Seorang anggotanya tidak akan melibatkan dirinya dalam kegiatan apa pun yang secara sengaja
bermaksud memecah belah atau menyesatkan, dengan cara seolah-olah ingin memajukan suatu
kepentingan tertentu padahal sebaliknya justru ingin memajukan kepentingan tersembunyi. Seorang
anggota berkewajiban untuk menjaga agar kepentingan sejati organisasi yang menjadi mitra
kerjanya benar-benar terlaksana secara balik.
Pasal 5
Informasi Rahasia
Seorang anggota (kecuali apabila diperintahkan oleh aparat hukum yang berwenang) tidak akan
menyampaikan atau memanfaatkan informasi yang diberikan kepadanya, atau yang diperolehnya,
secara pribadi dan atas dasar kepercayaan, atau yang bersifat rahasia dari kliennya, baik dimasa
lalu, kini, atau masa depan, demi untuk memperoleh keuntungan pribadi atau untuk keuntungan lain
tanpa persetujuan jelas dari yang bersangkutan.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 68
Pasal 6
Pertentangan Kepentingan
Seorang anggota tidak mewakili kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan atau yang
saling bersaing, tanpa persetujuan jelas dari pihak-pihak yang bersangkutan dengan terlebih dahulu
mengemukakan fakta-fakta yang terkait.
Pasal 7
Sumber-sumber Pembayaran
Dalam memberikan jasa pelayanan kepada kliennya, seorang anggota tidak akan menerima
pembayaran, baik tunai atau dalam bentuk lain, yang diberikan sehubungan dengan jasa-jasa
tersebut dari sumber mana pun, tanpa persetujuan jelas dari kliennya.
Pasal 8
Memberitahukan Kepentingan Keuangan
Seorang anggota, yang mempunyai kepentingan keuangan dalam suatu organisasi, tidak akan
menyarankan klien atau majikannya untuk memakai organisasi tersebut atau memanfaatkan jasajasa organisasi tersebut, tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepentingan keuangan pribadinya
yang terdapat dalam organisasi tersebut.
Pasal 9
Pembayaran Berdasarkan Hasil Kerja
Seorang anggota tidak akan mengadakan negosiasi atau menyetujui persyaratan-persyaratan dengan
calon majikan atau calon klien, berdasarkan pembayaran yang tergantung pada hasil pekerjaan PR
tertentu di masa depan.
Pasal 10
Menumpang-tindih Pekerjaan Anggota Lain
Seorang anggota yang mencari pekerjaan atau kegiatan baru dengan cara mendekati langsung atau
secara pribadi, calon majikan atau calon langganan yang potensial, akan mengambil langkahlangkah yang diperlukan untuk mengetahui apakah pekerjaan atau kegiatan tersebut sudah
dilaksanakan oleh anggota lain. Apabila demikian, maka menjadi kewajibannya untuk
memberitahukan anggota tersebut mengenai usaha dan pendekatan yang dilakukannya terhadap
klien tersebut. (Sebagian atau seluruh pasal ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menghalangi
anggota mengiklankan jasa-jasanya secara umum)
Pasal 11
Imbalan Kepada Karyawan Kantor-kantor Umum
Seorang anggota tidak akan menawarkan atau memberikan imbalan apa pun, dengan tujuan untuk
memajukan kepentingan pribadinya (atau kepentingan klien), kepada orang yang menduduki suatu
jabatan umum, apabila hal tersebut tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat luas.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 69
Pasal 12
Mengkaryakan Anggota Parlemen
Seorang anggota mempekerjakan seorang anggota Parlemen, baik sebagai konsultan maupun
pelaksana akan memberitahukan kepada Ketua Asosiasi tentang hal tersebut maupun jenis
pekerjaan yang bersangkutan. Ketua Asosiasi akan mencatat hal tersebut. Seorang anggota asosiasi
yang kebetulan juga menjadi anggota Parlemen, wajib memberitahukan atau memberikan peluang
agar terungkap, kepada Ketua semua keterangan apa pun mengenai dirinya.
Pasal 13
Mencemarkan Anggota-anggota Lain
Seorang anggota tidak akan dengan itikad buruk mencemarkan nama baik atau praktik professional
anggota lain.
Pasal 14
Instruksi atau Perintah Pihak-pihak Lain
Seorang anggota yang secara sadar mengakibatkan atau memperbolehkan orang atau organisasi lain
untuk bertindak sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan kode etik ini, atau turut secara
pribadi ambil bagian dalam kegiatan semacam itu, akan dianggap telah melanggar kode ini.
Pasal 15
Nama Baik profesi
Seorang anggota tidak akan berprilaku sedemikian rupa sehingga merugikan nama baik asosiasi,
atau profesi Public Relations.
Pasal 16
Menjunjung Tinggi Kode Etik
Seorang anggota wajib menjunjung tinggi Kode Etik ini, dan wajib bekerja sama dengan anggota
lain dalam menjunjung tinggi Kode Etik, serta dalam melaksanakan keputusan-keputusan tentang
hal apa pun yang timbul sebagai akibat dari diterapkannya keputusan tersebut. Apabila seorang
anggota mempunyai alasan untuk berprasangka bahwa seorang lain terlibat dalam kegiatan-kegiatan
yang dapat merusak Kode Etik ini, maka ia berkewajiban untuk memberitahukan hal tersebut
kepada asosiasi. Semua anggota wajib mendukung asosiasi dalam menerapkan dan melaksanakan
Kode Etik ini, dan asosiasi wajib mendukung setiap anggota yang menetapkan dan melaksanakan
Kode Etik ini.
Pasal 17
Profesi Lain
Dalam bertindak untuk seorang klien atau majikan yang tergabung dalam suatu profesi, seorang
anggota akan menghargai Kode Etik dari profesi tersebut dan secara sadar tidak akan turut dalam
kegiatan apa pun yang dapat mencemarkan Kode Etik ini.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 70
KODE ETIK PERHUMASAN INDONESIA
(Disahkan dalam Konvensi Nasional Humas 1993, di Bandung)
Dijiwai oleh Pancasila maupun Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan tata kehidupan
nasional. Diilhami oleh Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai landasan tata kehidupan
internasional. Dilandasi oleh Deklarasi ASEAN (8 Agustus 1967) sebagai pemersatu bangsa-bangsa
Asia Tenggara. Dan dipedomani oleh cita-cita, keinginan, dan tekad untuk mengamalkan sikap dan
perilaku kehumasan secara professional.
Kami para anggota Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) sepakat
untuk mematuhi Kode Etik Kehumasan Indonesia, dan bila terdapat bukti-bukti bahwa di antara
kami dalam menjalankan profesi kehumasan ternyata ada yang melanggarnya, maka hal itu sudah
tentu mengakibatkan diberlakukannyatindak organisasi terhadap pelanggarnya.
PASAL I
Komitmen Pribadi
Anggota PERHUMAS harus :
a. Memiliki dan menerapkan standar moral serta reputasi setinggi mungkin dalam menjalankan
profesi kehumasan.
b. Berperan secara nyata dan sungguh-sungguh dalam upaya memasyarakatkan kepentingan
Indonesia.
c. Menumbuhkan dan mengembangkan hubungan antara warga negara Indonesia yang serasi dan
selaras demi terwujudnya persatuan bangsa.
PASAL II
Perilaku Terhadap Klien atau Atasan
Anggota PERHUMAS harus :
a. Berlaku jujur dalam hubungan dengan klien atau atasan.
b. Tidak mewakili dua atau beberapa kepentingan yang berbeda atau yang bersaingan tanpa
persetujuan semua pihak yang terkait.
c. Menjamin rahasia serta kepercayaan yang diberikan oleh klien atau atasan, maupun yang pernah
diberikan oleh mantan klien atau mantan atasan.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 71
d. Tidak melakukan tindak atau mengeluarkan ucapan yang cenderung merendahkan martabat,
klien atau atasan, maupun mantan klien atau mantan atasan.
e. Dalam memberikan jasa-jasa kepada klien atau atasan, tidak akan menerima pembayaran,
komisi, atau imbalan dari pihak manapun selain dari klien atau atasannya yang telah
memperoleh penjelasan lengkap.
f. Tidak akan menyarankan kepada calon klien atau calon atasan bahwa pembayaran atau imbalan
jasa-jasanya harus didasarkan kepada hasil-hasil tertentu, atau tidak akan menyetujui perjanjian
apapun yang mengarah kepada hal serupa.
PASAL III
Perilaku Terhadap Masyarakat dan Media Massa
Anggota PERHUMAS harus
a. Menjalankan kegiatan profesi kehumasan dengan memperhatikan kepentingan masyarakat serta
harga diri anggota masyarakat.
b. Tidak melibatkan diri dalam tindak untuk memanipulasi integritas sarana maupun jalur
komunikasi massa.
c. Tidak menyebarluaskan informasi yang tidak benar atau yang menyesatkan sehingga dapat
menodai profesi kehumasan.
d. Senantiasa membantu menyebarluaskan informasi maupun pengumpulan pendapat untuk
kepentingan Indonesia.
PASAL IV
Perilaku Terhadap Sejawat
Praktisi Kehumasan Indonesia harus
a. Tidak dengan sengaja dan mencemarkan reputasi atau tindakan professional sejawatnya.
Namun, bila ada sejawat yang bersalah karena melakukan tindakan yang tidak etis, yang
melanggar hukum, atau yang tidak jujur, termasuk melanggar Kode Etik Kehumasan Indonesia,
maka bukti-bukti wajib disampaikan kepada Dewan Kehormatan PERHUMAS.
b. Tidak menawarkan diri atau mendesak klien atau atasan untuk menggantikan kedudukan
sejawatnya.
c. Membantu dan bekerja sama dengan sejawat diseluruh Indonesia untuk menjunjung tinggi dan
mematuhi Kode Etik Kehumasan Indonesia ini.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 72
KEPUTUSAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
NOMOR : 371/KEP/M.KOMINFO/8/2007
Tentang
KODE ETIK HUMAS PEMERINTAHAN
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA,
Menimbang : 1. Bahwa memperhatikan perkembangan dan tuntutan masyarakat dalam era
transparansi, globalisasi, demokratisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, maka praktisi Hubungan Masyarakat, khususnya Hubungan
Masyarakat di lingkungan pemerintahan dalam pelayanan informasi publik, perlu
melakukan reposisi dan peningkatan peran dan fungsinya;
2. Bahwa untuk melakukan reposisi dan meningkatkan peran dan fungsi tersebut,
praktisi Hubungan Masyarakat di lingkungan pemerintahan, disamping memiliki
dan berkemampuan dalam pengelolaan bidang kehumasan, dituntut juga adanya
kepekaan dalam pelaksanaan tugasnya berdasarkan prinsip-prinsip batasan
moral, budaya dan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat;
3. Bahwa Kode Etik Insan Kehumasan Pemerintah yang disepakati oleh peserta
Pertemuan Tahunan Bakohumas 2003/Konvensi Kehumasan Pemerintah Tingkat
Nasional, tertanggal 18 September 2003 dinilai perlu dilengkapi sehingga dapat
menampung berbagai perkembangan yang terjadi, khususnya di bidang
kehumasan pemerintah;
4. Bahwa sebagaimana dimaksud pada butir 1 dan 2 diatas perlu ditetapkan Kode
Etik Humas Pemerintahan sebagai landasan moral atau etika profesi dan
menjadipedoman operasional dalam menegakkan integritas dan profesionalitas
praktis Humas Pemerintahan.
Mengingat :
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 73
1. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di
Muka Umum;
2. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia;
3. Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tengan Pers;
4. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2002 tentang Penyiaran;
Menimbang : 1. Keputusan
Menteri
Komunikasi
100/KEP/M.KOMINFO/11/2005
tentang
dan
Badan
Informatika
Koordinasi
Nomor
Kehumasan
Pemerintah;
2. Keputusan
Menteri
Komunikasi
103/KEP/M.KOMINFO/11/2005
tentang
dan
Informatika
Pengurus
Badan
Nomor
:
Koordinasi
Kehumasan Pemerintah;
3. Hasil Loka karya Regional Bakohumas tentang Pedoman Umum Humas
Pemerintah, Standar Kompetensi dan Kode Etik Humas Pemerintah di Medan
untuk wilayah Indonesia Bagian Barat, Banjarmasin untuk wilayah Indonesia
Bagian Tengah dan Manado untuk wilayah Indonesia Bagian Timur pada bulan
Mei s/d Juli 2007.
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Pertama :
Kode Etik Humas Pemerintah sebagaimana terlampir.
Kedua :
Kode Etik Insan Kehumasan Pemerintah yang ditandatangani oleh peserta
Pertemuan Tahunan Bakohumas 2003 atau Konvensi Kehumasan Pemerintah
Tingkat Nasional, tertanggal 18 September 2003 dinyatakan tidak berlaku lagi.
Ketiga :
Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.
Ditetapkan di : Jakarta
pada tanggal : 28 Agustus 2007.
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
ttd
MOHAMMAD NUH
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 74
KODE ETIK HUMAS PEMERINTAHAN
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Etika adalah nilai-nilai moral yang mengikat dalam berucap, bersikap dan berperilaku dalam
pelaksanaan tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawab.
2. Kode Etik Humas Pemerintahan adalah pedoman bersikap, berperilaku, bertindak dan berucap
para praktisi humas pemerintah.
3. Profesi adalah pekerjaan yang menuntut keahlian dan keterampilan dalam pelayanan tertentu
berdasarkan latihan, pengetahuan dan kemampuan yang diakui sesuai dengan standar
kompetensinya.
4. Hubungan masyarakat pemerintah untuk selanjutnya disebut humas pemerintah adalah aktivitas
lembaga dan atau individu, yang melakukan fungsi manajemen dalam bidang komunikasi dan
informasi kepada publik pemangku kepentingan (stakeholders) dan sebaliknya.
5. Pemerintah pusat dan atau pemerintah daerah sebagaimana dimaksud Pasal 1 ayat (4) adalah :
a. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang
memegang kekuasaan pemerintahan NKRI sebagaimana dimaksud dalam UUD Negara RI
Tahun 1945.
b. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, dan atau walikota, serta perangkat daerah
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
6. Humas Pemerintahan adalah segenap tindakan yang dilakukan oleh suatu instansi atau
perusahaan dalam usaha membina hubungan yang harmonis dengan khalayak internal dan
ekstenal dan membina martabat instansi atau pemerintahan dalam pandangan khalayak internal
dan eksternal guna memperoleh pengertian, kepercayaan, kerjasama, dan dukungan dari
khalayak internal dan eksternal dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya.
7. Lembaga humas pemerintah adalah unit organisasi dalam suatu lembaga pemerintahan yang
melakukan fungsi manajemen bidang komunikasi dan informasi.
8. Humas Pemerintahan sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 ayat (6) meliputi :
a. Humas yang berada pada lembaga atau instansi pemerintah baik pusat maupun daerah
seluruh NKRI.
b. Humas yang berada di lingkungan BUMN dan BUMD.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 75
9. Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintahan selanjutnya disebut Bakohumas Pusat. Bakohumas
Pusat adalah organisasi profesi humas pemerintah yang anggotanya Instansi Pemerintah, baik
Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, Lembaga- Lembaga Negara, maupun
BUMN.
10. Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintahan Daerah selanjutnya disebut Bakohumasda.
Bakohumasda adalah organisasi profesi humaspemerintah yang anggotanya Pemerintah Daerah
baik tingkat Provinsi, Kabupaten, Kota, BUMD maupun instansi vertikal.
11. Badan Kehormatan Bakohumas atau Bakohumasda adalah Badan yang bertugas mengawasi
penerapan Kode Etik Humas Pemerintahan dan menetapkan sanksi atas pelanggaran yang
dilakukan anggotanya.
12. Keanggotaan Bakohumas Pusat atau Bakohumasda meliputi semua unit Humas yang berada di
Instansi Pemerintah.
13. Instansi pemerintah adalah departemen, kementrian Negara, sekretariat lembaga tinggi negara
dan lembaga negara, lembaga pemerintah non departemen, pemerintah daerah, organisasi
perangkat daerah dan Badan Usaha Milik Negara atau Daerah maupun instansi vertikal.
BAB II
KOMITMEN PRIBADI
Pasal 2
Anggota Humas Pemerintahan menjunjung tinggi Kehormatan sebagai Pegawai Instansi
Pemerintah, baik Depatemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, Lembaga-Lembaga Negara,
BUMN, maupun BUMD.
Pasal 3
Anggota Humas Pemerintahan mengutamakan kompetensi, obyektivitas, kejujuran, serta
menjunjung tinggi integritas dan norma-norma keahlian serta menyadari konsekuensi tindakannya.
Pasal 4
Anggota Humas Pemerintahan memegang teguh rahasia negara, sumpah jabatan, serta wajib
mempertimbangkan dan mengindahkan etika yang berlaku agar sikap dan perilakunya dapat
memberikan citra yang positip bagi pemerintahan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Pasal 5
Anggota Humas Pemerintahan menyampaikan informasi publik yang benar dan akurat serta
membentuk citra Humas Pemerintahan yang positip di masyarakat.
Pasal 6
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 76
Anggota Humas Pemerintahan menghargai, menghormati, dan membina solidaritas serta nama baik
rekan seprofesi.
Pasal 7
Anggota Humas Pemerintahan akan berusaha meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk
mewujudkan efisiensi dan efektivitas kerja serta memajukan profesi Humas Pemerintahan di
Indonesia.
BAB III
HUBUNGAN KE DALAM
Pasal 8
Anggota Humas Pemerintahan loyal terhadap kepentingan organisasi atau
instansinya, bukan
kepada kepentingan perorangan atau golongan.
Pasal 9
Anggota Humas Pemerintahan wajib:
1. Menjalin komunikasi kepada semua pegawai di organisasi atau instansinya agar tercapai
iklim organisasi yang mendukung peningkatan kompetensi organisasi.
2. Mengingatkan rekan seprofesinya yang melakukan tindakan di luar batas kompetensi dan
kewenangannya dalam mencegah terjadinya pelanggaran Kode Etik Humas Pemerintahan.
Pasal 10
Anggota Humas Pemerintahan tunduk, mematuhi dan menghormati Kode Etik Humas
Pemerintahan sesuai perundangan yang berlaku.
BAB IV
HUBUNGAN KE LUAR
Pasal 11
Anggota Humas Pemerintahan wajib menyediakan dan memberikan informasi publik yang benar
dan akurat kepada masyarakat, media massa, dan insan pers sesuai dengan tugas dan fungsí
organisasi atau institusinya sesuai dengan perundangan yang berlaku.
Pasal 12
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 77
Anggota Humas Pemerintahan tidak diperkenankan melakukan penekanan terhadap media massa
dan insan pers serta mencegah pemberian barang dan jasa kepada media massa dan insan pers
dengan dalih kepentingan publikasi (publisitas) pribadi atau golongan atau organisasi atau
instansinya.
Pasal 13
Anggota Humas Pemerintahan menghargai, menghormati, dan membina hubungan baik dengan
profesi lainnya.
BAB V
HUBUNGAN SESAMA PROFESI
Pasal 14
Anggota Humas Pemerintahan wajib bertukar informasi dan membantu memperlancar arus
informasi dengan sesama anggota.
Pasal 15
Anggota Humas Pemerintahan bersedia mendukung pelaksanaan tugas sesama anggota.
Pasal 16
Anggota Humas Pemerintahan tidak dibenarkan mendiskreditkan sesama anggota
BAB VI
BADAN KEHORMATAN
Pasal 17
Badan Kehormatan di bentuk dan dipilih oleh Badan Koordinasi Humas Pemerintahan (Bakohumas
Pusat atau Bakohumasda) sebanyak 9 orang dengan masa bakti selama 3 (tiga) tahun dan dapat
dipilih kembali.
Pasal 18
Bakohumas Pusat membentuk Formatur Pengurus Badan Kehormatan dalam pertemuan tahunan
dan meminta persetujuan anggota untuk ditetapkan sebagai anggota Badan Kehormatan
Bakohumas.
Pasal 19
Formatur Badan Kehormatan yang diusulkan Bakohumas Pusat terdiri dari Departemen, Lembaga
Pemerintah Non Departemen, Lembaga- Lembaga Negara, BUMN, dan Perguruan Tinggi.
Pasal 20
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 78
Bakohumas Daerah membentuk Formatur Pengurus Badan Kehormatan dalam Pertemuan Tahunan
dan meminta persetujuan anggota untuk ditetapkan sebagai anggota Badan Kehormatan
Bakohumasda.
Pasal 21
Formatur Badan Kehormatan yang diusulkan Bakohumasda terdiri dari Provinsi atau Kabupaten
atau Kota, BUMD, dan Perguruan Tinggi
Pasal 22
Badan Kehormatan Bakohumas Pusat dan Badan Kehormatan Bakohumasda terdiri dari Ketua,
Wakil Ketua dan Anggota. Ketua dan Wakil Ketua dipilih oleh anggota Badan Kehormatan.
Pasal 23
Badan Kehormatan melaksanakan pemantauan, evaluasi, dan penilaian terhadap kinerja anggota
sesuai dengan laporan satuan kerja induknya berdasarkan standar operasional prosedur (SOP)
profesi Humas Pemerintahan.
Pasal 24
Badan Kehormatan melalui musyawarah berwenang memberikan penghargaan kepada anggota
yang berprestasi dalam menjalankan profesinya dan mematuhi Kode Etik Humas Pemerintahan.
BAB VII
SANKSI
Pasal 25
Badan Kehormatan Pusat melalui musyawarah berwenang mengusulkan kepada Ketua Bakohumas
untuk mengusulkan sanksi administratif bagi anggota yang melanggar Kode Etik Humas
Pemerintahan.
Pasal 26
Badan Kehormatan Daerah melalui musyawarah berwenang mengusulkan kepada Ketua
Bakohumasda untuk pemberian sanksi administratif bagi anggota yang melanggar Kode Etik
Humas Pemerintahan. Selanjutnya Ketua Bakohumasda meneruskan kepada Ketua Bakohumas
Pusat
Pasal 27
Ketua Bakohumas Pusat menyampaikan hasil keputusan Ketua Badan Kehormatan Pusat dan Ketua
Bakohumasda berupa sanksi administratif kepada atasan pelaku pelanggaran.
Pasal 28
Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pasal 27 terdiri dari:
1. Teguran lisan.
2. Teguran tertulis.
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 79
Pasal 29
Anggota Bakohumas yang didakwa melanggar Kode Etik Humas Pemerintahan:
1. Memiliki hak jawab dalam proses penyelesaian perkaranya.
2. Berhak mendapatkan pemulihan nama baik dan hak-haknya seperti semula bila terbukti tidak
bersalah.
DAFTAR PUSTAKA
Alma Buchari.Prof,Dr.H.,2009, Kewirausahaan, Alfabeta, Bandung, edisi revisi.
Barata Atep Adya,2004,Dasar-Dasar Pelayanan prima,Elex Media Komputindo,Jakarta.
Erni R.Ernawan,DR,SE,MM, 2007, Business Ethics, Alfabeta, Bandung.
Frans Magnis Suseno DR,1987, Etika Dasar Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral,
Kanasius,Yogyakarta.
Farozin Muh Drs.M.Pd.H,Kartika Nur F,S.Psi,2004, Pemahaman Tingkah Laku, Rineka
Cipta, Jakarta.
D
Gitosudarmo
Indriyo,Drs.M.Con(Hous),dkk.
2000,
Perilaku
Keorganisasian,
BPFE,
Yogyakarta.
Indriati Etty,2010, “Jangan Salahkan Aku !!!”, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Kamisa,Drs,1997, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Kartika, Surabaya.
Maria
Assumpta
Rumanti,Sr,OSF,2004,
Dasar-dasar
Public
Relation,
Grafindo,
Jakarta,2004.
Moekijat, 1995, Asas-asas Etika,Maudar Maju.
Muchlas Makmur,2008, Perilaku Organisasi,Gajah Mada University Press.
Parsons J Patricia,2007, Etika Public Relations Panduan PraktekTerbaik,Erlangga.
Rismawaty, 2008, Kepribadian &Etika Profesi, Graha Ilmu,Yogyakarta.
Rosay Ruslan,SH.MM, 2004, Etika Kehumasan, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Soemirat Soleh,Drs.MSi,Elvinaro A,Drs.MSi,2005, Dasar-Dasar Public Relations,Remaja
Rosdakarya,Bandung.
Suryadi,Drs, 2007, Strategi Mengelola Public Relations Organisasi,EDSA Mahkota,Jakarta.
Suprihanto John.dkk,2003, Perilaku Organisasi, Badan Penerbitan STIE YKPN, Yogyakarta.
Vijaya Kumor, 2008, Etika pergaulansehari-hari,Nuansa,Bandung.
Onong U, Effendy. 1993. Human Relations dan Public Relationas. manda Maju, dan Ruslan
Rosady. 1998. Manajemen PR & Media Komunikasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
catatanprnotes.blogspot.com/7/01/10
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 80
Dra.Tri Prasetijowati.MSi.
Page 81
Download