metafora bercitra hewan dalam peribahasa - fkip ummy

advertisement
METAFORA BERCITRA HEWAN DALAM PERIBAHASA BAHASA INDONESIA
PADA “BUKU PERIBAHASA” KARYA K. ST. PAMUNTJAK
(SUATU KAJIAN SEMANTI
RETTI SEPTRISNA
ABSTRAK
Maxim has the power ( the power to educate, move the soul, forming attitudes, character, and human
characters ) to obtain the disclosed and reflected in itself, and has the power as a social control. Maxim has a
typical structure relating to the constituent elements or shape. The purpose of this study was to determine
and describe 1 ) the form of metaphor bercitra animals in Indonesia in the Book of Proverbs proverbs K.
Work St. Pamuntjak, 2 ) the meaning and changes of meaning bercitra animal metaphors in proverbs in the
Book of Proverbs Karya Indonesia K. St. Pamuntjak, 3 ) factors that cause changes in the meaning of the
metaphor bercitra animals in Indonesian proverbs in the Book of Proverbs Work K. St. Pamuntjak. This
research is descriptive qualitative research method. This research was conducted by analyzing the imaged
animal metaphors contained in the Book of Proverbs Work K. St. Pamuntjak. The results showed that 1 )
based on lingual forms, animal metaphors that exist in the form of phrases, and sentences kalusa. Animal
metaphors in the form of numbered phrases is 129 proverb, in the form of a clause amounted to 61 proverb,
and in the form of sentences totaling 285 proverb. 2 ) based on the significance and meaning of change
animals bercitra metaphor that likened describe human behavior in animals. Animals are referred to in the
proverb is an animal that is close to people's lives. Behavior and human nature is like the same as animal
behavior. 3 ) based on the description and analysis of the data factors change the meaning of the language in
the Indonesian region amounted to 41 factors change proverb, meaning changes due to changes in the
environment totaled 14 factors proverb, meaning changes due to the exchange of sensory responses totaled
195 proverbs change factors, the combined result of changes in the meaning of the word totaled 94 factors
proverbs changes, due to changes in the meaning of the language user responses totaled 123 proverbs change
factors, changes the meaning of the language in the Indonesian region totaled 9 factors change proverb.
ditelaah
A. PENDAHULUAN
Peribahasa memiliki kekuatan (daya
untuk
mendidik,
membentuk
sikap,
menggerakkan
watak,
dan
jiwa,
lebih
lanjut
karena
peribahasa
memiliki peran dan posisi penting dalam
mengendalikan
individu-individu
maupun
karakter
masyarakat dalam bertingkah laku, berwatak,
manusia) untuk memperoleh yang tersingkap
berwatak, bertabiat, dan berkarakter dalam
dan terpancar dalam dirinya sendiri, dan
kehidupan sehari-hari.
memiliki kekuatan sebagai kontrol sosial.
Peribahasa
memiliki
struktur
khas
Metafora
dibentuk
berdasarkan
yang
perbandingan atau persamaan. Peribahasa
berhubungan dengan unsur-unsur ataupun
mengandung perbandingan dan persamaan
konstituen membentuknya. Masalah-masalah
untuk
yang berkaitan dengan peribahasa perlu untuk
pembaca.
menyampaikan
Metafora
maksud
dalam
kepada
peribahasa
bertujuan untuk membandinurlgkan sesuatu
kata-kata berkias yang menyatakan sindiran
dengan sesuatu hal yang lain. Unsur-unsur
untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya
yang membangun metafora disusun dari
terhadap pendengar atau pembaca”. Majas
beberapa identitas simbol, di antaranya berupa
sindirian terbagi atas: ironi, sinisme, sarkasme.
kelas kata, seperti nomina, adjektifa, dan
Majas Penegasan ialah kata-kata berkias yang
verba. Simbol lingual metaforanya dapat
menyatakan penegasan untuk meningkatkan
berupa
sesuatu
things),
seseorang
kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar
periode
(periods),
atau pembaca”. Majas penegasan terdiri atas:
wilayah (areas), kualitas (quality), disposisi
pleonasme, repetisi, paralelisme, tautologi,
(dispositions), hubungan (relations) dan lain-
klimaks, antiklimaks, retorik.
(person),
ide
(the
(ideas),
lain. Majas atau Gaya Bahasa adalah bahasa
Penelitian yang akan peneliti lakukan
kias yang dipergunakan untuk menimbulkan
adalah gaya bahasa perbandingan yang salah
kesan imajinatif atau menciptakan efek-efek
satunya adalah metafora bercitra hewan.
tertentu bagi pembaca.
Peneliti melihat banyak peribahasa Indonesia
jenis-jenis majas dapat dikelompokkan
yang menggunakan metafora bercitra hewan
majas
sebagai bentuk kiasan. Metafora bercitra
yaitu
sindiran,
dan
perbandingan,
Majas
hewan, biasanya digunakan oleh pemakai
Perbandingan ialah kata-kata berkias yang
bahasa untuk menggambarkan satu kondisi
menyatakan
untuk
atau kenyataan di alam sesuai pengalaman
meningkatkan kesan dan pengaruh terhadap
pemakai bahasa. Metafora dengan unsur
pembaca”. Majas Perbandingan terdiri atas:
binatang juga dikenakan pada manusia dengan
asosiasi
metafora,
citra humor, ironi, peyoratif, atau citra
personifikasi, alegori, metonimia, sinekdok,
konotasi. Dalam metafora bercitra hewan
dan simile. Majas Pertentangan adalah “Kata-
diungkapkan
kata berkias yang menyatakan pertentangan
dengan
dengan
oleh
misalnya dengan anjing, babi, kerbau, singa,
pembicara atau penulis dengan maksud untuk
buaya, dan lain-lain sehingga dalam bahasa
memperhebat atau meningkatkan kesan dan
Indonesia
pengaruhnya
Majas
kerbau dicocok hidung”, ungkapan “buaya
Pertentangan terdiri atas: antitesis, paradoks,
darat”, dan ungkapan makian ”anjing, lu”, dan
hiperbola, dan litotes. Majas sindiran ialah
seterusnya.
atau
majas
pertentangan,
penegasan.
perbandingan
perumpamaan,
dimaksudkan
kepada
sebenarnya
pembaca”.
bahwa
sejumlah
tak
manusia
terbatas
disamakan
binatang
mengenal peribahasa “Seperti
Penggunaan peribahasa yang memiliki
faktor penyebab perubahan makna metafora
daya untuk mendidik, menggerakkan jiwa,
bercitra hewan dalam peribahasa bahasa
membentuk
Indonesia.
sikap,
watak,
dan
karakter
manusia sudah sangat jarang digunakan oleh
Permasalahan dalam penelitian yang
masyarakat. Demikian juga halnya dengan
akan peneliti lakukan yaitu peribahasa yang
penggunaan metafora bercitra hewan dalam
unik, baik dalam hal bentuk, makna, maupun
peribahasa. Penggunaan metafora bercitra
penggunaannya. Penelitian ini dimaksudkan
hewan dalam peribahasa bahasa Indonesia
untuk mengetahui bentuk peribahasa yang
mulai mengalami kemunduran seiring dengan
menggunakan metafora bercitra hewan, makna
adanya perubahan sosial budaya masyarakat.
yang ingin disampaikan melalui metafora
Masyarakat kurang memahami makna yang
bercitra hewan tersebut, faktor perubahan
terkandung di dalam peribahasa. Kondisi
makna, serta peranan nama hewan yang
tersebut sangat mengkhawatirkan karena akan
terdapat dalam peribahasa bahasa Indonesia
mengikis pengetahuan masyarakat tentang
yang menggunakan metafora bercitra hewan
peribahasa. Oleh karena itu, penelitian tentang
pada Buku Peribahasa karya K. St Pamuntjak,
metafora bercitra hewan dalam peribahasa
dkk.
bahasa
Indonesia
sangat
penting
untuk
dilakukan.
Kajian tentang makna yang terdapat
dalam peribahasa disebut kajian semantik.
Buku Peribahasa karangan K. St.
Semantik merupakan salah satu bagian dari
Pamuntjak N. St. Iskandar dan A. Dt
ilmu bahasa, yang mengkaji tentang makna
Madjoindo
merupakan
kata. Semula ilmu ini kurang mendapatkan
peribahasa.
Buku Peribahasa
buku
kumpulan
adalah
perhatian dari para pakar bahasa, karena
terbitan Balai Pustaka. Peneliti menggunakan
keberadaan dari semantik itu sendiri yang
Buku Peribahasa karya K. St Pamuntjak, dkk.
bersifat atbitrer. Sifat arbitrer dalam bahasa ini
karena
ini
diartikan bahwa tidak ada hubungan spesifik
dijelaskan secara rinci peribahasa berdasarkan
antara deretan fonem pembentuk kata dengan
kelompok-kelompok kata yang terdapat di
maknanya.
dalamnya. Selain itu, makna yang terkandung
hubungan langsung antara yang diartikan
di dalam peribahasa juga dijelaskan secara
dengan
jelas. Penelitian ini menganalisis tentang
linguistik terdiri atas unsur bunyi dan unsur
bentuk, makna dan perubahan makna, dan
makna. Kedua unsur tersebut merupakan unsur
buku
kumpulan
ini
peribahasa
Dengan
yang
demikian,
mengartikan.
tidak
Setiap
ada
tanda
dalam bahasa yang biasanya merujuk kepada
Indonesia dalam Buku Peribahasa Karya K.
sesuatu referen yang merupakan unsur luar
St. Pamuntjak
bahasa.
3. Faktor penyebab perubahan makna pada
Berdasarkan uraian di atas, peneliti
penting untuk melakukan penelitian tentang
metafora bercitra hewan dalam peribahasa
Indonesia dengan judul “Metafora bercitra
hewan dalam Peribahasa Indonesia pada Buku
Peribahasa Karya K. St. Pamuntjak”
Berdasarkan uraian latar belakang
masalah
dalam
penelitian
maka
peneliti
mengidentifikasi masalah dari penelitian ini
1. Peribahasa Indonesia saat ini sudah jarang
2. Masyarakat kurang memahami makna
kurang
menghargai
Indonesia
dalam
dalam
Buku
Berdasarkan fokusan masalah di atas, maka
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apa saja bentuk metafora bercitra hewan
dalam peribahasa Indonesia dalam Buku
Peribahasa Karya K. St. Pamuntjak?
metafora
bercitra
4. Berkurangnya pengggunaan peribahasa
mengurangi
pembendaharaan
peribahasa dalam bahasa Indonesia.
Berdasarkan identifikasi masalah di
atas, fokus masalah dalam penelitian ini
Indonesia
dalam
dalam
Buku
Peribahasa Karya K. St. Pamuntjak?
faktor
penyebab
perubahan
makna pada metafora bercitra hewan
Peribahasa Karya K. St. Pamuntjak?
Tujuan dari penelitian diuraikan seperti di
bawah ini dengan maksud untuk mengetahui
dan mendeskripsikan hal-hal berikut:
1. Bentuk metafora bercitra hewan dalam
peribahasa
sebagai berikut:
1. Bentuk metafora bercitra hewan dalam
Indonesia
dalam
Buku
Peribahasa Karya K. St. Pamuntjak
2. Makna dan perubahan makna metafora
hewan
hewan
dalam peribahasa Indonesia dalam Buku
peribahasa yang ada
bercitra
hewan
Peribahasa Karya K. St. Pamuntjak.
3. Apakah
yang terkandung dalam peribahasa
peribahasa
peribahasa
peribahasa
digunakan oleh masyarakat
akan
bercitra
2. Apakah makna dan perubahan makna
sebagai berikut.
3. Masyarakat
metafora
dalam
peribahasa
Indonesia
dalam
Buku
Peribahasa Karya K. St. Pamuntjak.
2. Makna dan perubahan makna metafora
bercitra
hewan
dalam
peribahasa
Indonesia dalam Buku Peribahasa Karya K.
St. Pamuntjak.
3. Faktor penyebab perubahan makna pada
metafora
bercitra
peribahasa
hewan
Indonesia
dalam
adalah akumulasi data dasar dalam cara
Buku
deskriptif semata-mata tidak perlu mencari
dalam
atau
Peribahasa Karya K. St. Pamuntjak.
Hasil
penelitian
ini
diharapkan
dapat
peneliti.
Hasil
penelitian
ini
diharapkan dapat menambah wawasan
peneliti
mengenai
peribahasa
dalam
bahasa Indonesia
2. Bagi
menerangkan
hipotesis,
hubungan,
membuat
menguji,
ramalan,
atau
mendapatkan makna dan implikasi, walaupun
bermamfaat :
1. Bagi
kejadian. Dalam arti, penelitian deskriptif
pembaca,
diharapkan
hasil
dapat
menambah
penelitian
bermanfaat
wawasan
ini
untuk
mengenai
peribahasa dalam bahasa Indonesia
3. Bagi guru Bahasa dan Sastra Indonesia,
penelitian yang bertujuan untuk menemukan
hal-hal tersebut dapat mencakup juga metodemetode deskriptif. Data dalam penelitian ini
adalah bentuk lingual metafora bercitra hewan
dalam peribahasa Indonesia yang terdapat
dalam Buku Peribahasa karangan K. St.
Pamuntjak N. St. Iskandar dan A. Dt
Madjoindo penerbit Balai Pustaka tahun 2004.
Data yang ditemukan selanjutnya akan dicatat
pada tabel. Dalam tabel tersebut dicatat bentuk
dapat dijadikan sebagai penunjang bahan
metafora
pembelajaran bahasa Indonesia
perubahan
bercitra
makna,
hewan,
dan
makna
faktor
dan
penyebab
diharapkan
perubahan makna dalam peribahasa Indonesia.
dapat digunakan sebagai dasar atau
Sumber data dalam penelitian ini adalah
referensi dalam melakukan penelitian
sumber data tulis yaitu Buku Peribahasa
sejenis
karangan K. St. Pamuntjak N. St. Iskandar dan
4. Bagi
peneliti
atau
selanjutnya,
penelitian
selanjutnya
A. Dt Madjoindo penerbit Balai Pustaka tahun
dibidang ilmu linguistik.
2004. Jadi, peneliti akan meneliti metafora
bercitra hewan yang terdapat dalam Buku
B. METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian
kualitatif
dengan
menggunakan
metode
metode deskriptif. Secara harfiah, penelitian
deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan
untuk
membuat
mengenai
penyandraan
situasi-situasi
atau
(deskripsi)
kejadian-
Peribahasa karangan K. St. Pamuntjak N. St.
Iskandar dan A. Dt Madjoindo penerbit Balai
Pustaka tahun 2004.
Menurut Sugiyono
(2009:305), menyatakan bahwa instrumen
utama dalam penelitian kualitatif adalah
peneliti itu sendiri yang berfungsi menetapkan
fokus penelitian, memilih informan sebagai
sumber data, melakukan pengumpulan data,
dan menilai kualitas data, analisis data,
menafsirkan data dan membuat kesimpulan
atas temuannya. Berdasarkan pendapat dari
ahli di atas, instrumen utama dalam penelitian
ini adalah peneliti sendiri. Peneliti juga
menggunakan
instrumen
penunjang
yaitu
catatan dan tabel. Catatan berisi kumpulan
peribahasa
Indonesia
yang
menggunakan
metafora bercitra hewan yang ada dalam Buku
Peribahasa karangan K. St. Pamuntjak N. St.
Iskandar dan A. Dt Madjoindo penerbit Balai
Pustaka tahun 2004. Dari hasil pencatatan data
kemudian
dimasukkan
ke
dalam
tabel.
Berikut ini tabel pengumpulan data yang akan
digunakan dalam penelitian :
No
Periba
hasa
Bentuk
F K Kl
Makna/
Faktor Penyebab
Peruba- Perubahan Makna
han
1 2
3 4 5 6
Makna
3 = Perubahan Makna Akibat Pertukaran
Tanggapan Indera
4 = Perubahan Makna Akibat Gabungan
Kata
5 = Perubahan Makna Akibat Tanggapan
Pemakai Bahasa
6 = Perubahan Makna Akibat Asosiasi
Menurut
Sugiyono
(2009:308),
teknik
pengumpulan data merupakan langkah yang
ditempuh oleh peneliti untuk mendapatkan
data dalam penelitian. Tanpa mengetahui
teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak
akan mendapatkan data yang memenuhi
standar
data
yang
ditetapkan.
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah
dengan teknik studi dokumentasi, observasi,
teknik pengelompokkan dan teknik catat.
Menurut Sugiyono (2009:335), teknik
analisis data adalah proses mencari dan
menyusun
secara
sistematis
data
yang
1
diperoleh dari hasil pengumpulan data dengan
2
cara mengorganisasikan data ke dalam unitKeterangan:
unit, melakukan sistesa, menyusun ke dalam
F = frase
pola, memilih data yang dibutuhkan, dan
K = Klausa
membuat kesimpulan sehingga dapat dipahami
KL = kalimat
oleh pembaca.
1 = Perubahan Makna dari Bahasa Daerah
ke dalam Bahasa Indonesia
2 = Perubahan Makna Akibat Lingkungan
Menurut Moleong (2009: 178), bahwa
teknik keabsahan data dilakukan dengan
tringulasi.
Teknik
keabsahan
data
yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik
biasa dipelihara untuk menjaga rumah
tringulasi dan pengecekan teman sejawat.
dan berburu (Depdiknas, 2010: 71).
Selain itu, metafora bercitra anjing
juga
negatif
sehingga
penggunaannya
dapat
berdampak
kasar
berkonotasi
a. Deskripsi dan Analisis Data
bagi
pendengar.
pertukaran tanggapan indera.
K. St. Pamuntjak. Data tersebut disusun
2. Metafora
bercitra
hewan
yang
Bereferensi Ayam
Dalam Buku Peribahasa Karya K.
terkumpul sebanyak 476 peribahasa yang
St. Pamuntjak, ditemukan 39 peribahasa
memiliki metafora bercitra hewan.
bercitra
pada
(001) adalah perubahan makna akibat
Indonesia berdasarkan Buku Peribahasa Karya
hasilnya akurat dan apa adanya. Data yang
terlihat
penyebab perubahan makna peribahasa
bercitra hewan dalam peribahasa bahasa
menggunakan analisis dan kartu data agar
buruk
beberapa peribahasa berikut ini. Faktor
Deskripsi dan analisis data metafora
hewan
yang
metafora bercitra ayam. Metafora bercitra
ayam memiliki 30 pandangan positif dan
Bereferensi Anjing
Dalam Buku Peribahasa Karya K.
St. Pamuntjak, ditemukan 32 peribahasa
metafora bercitra anjing. Metafora bercitra
anjing memiliki 1 data positif dan 31 data
negatif. Penggunaan metafora bercitra
anjing memiliki pandangan positif terlihat
pada peribahasa berikut ini.
peribahasa
19
pandangan
negatif.
Penggunaan
metafora bercitra ayam yang memiliki
pandangan positif terlihat pada peribahasa
berikut ini.
a. Seperti ayam patuk anaknya (033)
Bentuk
adalah
kalimat.
peribahasa
Maknanya
di
atas
adalah
seorang ibu yang menghukum anaknya
a. Anjing galak babi berani (001)
Bentuk
pandangan
Penggunaan metafora bercitra anjing
C. HASIL PENELITIAN
1. Metafora
memiliki
di
atas
adalah klausa. Makna metafora bercitra
anjing pada peribahasa di atas adalah
sama-sama memiliki kekuatan. Anjing
merupakan hewan menyusui
yang
bukan untuk menganiaya anak tetapi
untuk memperbaiki perilaku anak.
Perubahan makna metafora bercitra
ayam
dalam
peribahasa
(033)
mengibaratkan seorang ibu tentu tidak
akan menyakiti anaknya. Ayam yang
mematuk
sampai
peribahasa yang memiliki metafora bercitra
melukai anaknya sendiri. Demikian
hewan. Penggunaan Metafora bercitra yang
juga seorang ibu. Faktor penyebab
paling banyak digunakan dalam perihasa
perubahan makna pada peribahasa di
bahasa Indonesia adalah metafora bercitra
atas adalah perubahan makna akibat
ayam
pertukaran tanggapan indera.
Sementara itu, penggunaan metafora bercitra
3. Metafora
anaknya
bercitra
tidak
Data yang terkumpul sebanyak 476
hewan
yang
yang
berjumlah
39
peribahasa.
yang paling sedikit adalah metafora bercitra
belanak, capung, cenderawasih, kungkang,
Bereferensi Babi
Peribahasa Indonesia dalam Buku
lalat, lintah, mencit yang masing-masing
Peribahasa Karya K. St. Pamuntjak yang
hanya terdapat dalam satu peribahasa. Adapun
memiliki metafora bercitra babi berjumlah
data yang akan dianalisis sesuai dengan
2 peribahasa. Metafora bercitra badak
rumusan masalah berjumlah 476 data.
dalam Buku Peribahasa Karya K. St.
1. Bentuk Metafora bercitra hewan dalam
Pamuntjak memiliki pandangan negatif hal
Peribahasa Bahasa Indonesia
tersebut terlihat dari peribahasa berikut ini.
a. Jangan bagai babi merasa gulai (072)
Bentuk metafora bercitra ini
adalah
berupa
kalimat,
maknanya
Peribahasa yang tercantum pada
data tidak dipilih langsung begitu saja,
tetapi mencermati satu persatu peribahasa
tersebut. Bentuk pada peribahasa bahasa
adalah Tiada patut orang yang hina
Indonesia
bangsa itu hendak setara atau berjodoh
bercitra yang berbentuk kata, frase, dan
dengan orang bangsawan. Perubahan
kalimat.
(072)
menggambarkan
data
metafora
Metafora bercitra hewan dalam
makna metafora bercitra babi pada
peribahasa
ditemukan
peribahasa bahasa Indonesia dari 476 data
sebagai manusia yang hina hendak
yang
berjodoh dengan orang yang memiliki
peribahasa,
kedudukan
Faktor
berjumlah
penyebab perubahan makna adalah
berbentuk
kalimat
perubahan makna dari bahasa daerah
peribahasa.
Metafora
ke dalam bahasa indonesia.
berbentuk kalimat lebih banyak dari pada
b. Pembahasan
yang
tinggi.
berbentuk
frase
yang
62
terdapat
berbentuk
peribahasa,
129
klausa
dan
yang
berjumlah
285
bercitra
hewan
metafora bercitra hewan berbentuk kata
dan klausa karena, dalam sebuah ungkapan
atau peribahasa kata-kata yang digunakan
lebih lengkap. Lebih banyak menggunakan
3. Faktor
Penyebab
Perubahan
Makna
Hewan
dalam
S.P.O.K dan banyak menggunakan tanda
Metafora
titik
Peribahasa Bahasa Indonesia
di
akhir
kalimat
pada
“buku
peribahasa” karya K. St. Pamuntjak, dkk.
Bercitra
Berdasarkan deskripsi dan analisis
2. Makna dan Perubahan makna Metafora
data faktor penyebab perubahan makna
bercitra hewan dalam Peribahasa Bahasa
dari beberapa ahli, peneliti simpulkan
Indonesia
bahwa penyebab terjadinya perubahan
Makna adalah maksud atau arti
yang ingin disampaikan oleh seseorang.
Perubahan
makna
adalah
pergantian
makna yaitu sebagai berikut:
1) Perubahan Makna dari Bahasa Daerah
ke dalam Bahasa Indonesia
rujukan yang berbeda dengan rujukan
Bahasa
yang
berkembang
semula, manusia sebagai pemakai bahasa
sejalan dengan bahasa Indonesia selain
menginginkannya,
bahasa daerah, terdapat pula bahasa
pembicara
membutuhkan kata, membutuhkan kalimat
asing.
untuk berkomunikasi, membutuhkan kata-
terdapat 41 peribahasa bercitra hewan
kata baru dan juga makna sebuah kata
yang
tidak
secara
adalah perubahan makna dari bahasa
sinkronis makna kata tidak berubah dan
daerah ke dalam bahasa Indonesia.
secara diakronis ada kemungkinan dapat
Salah satu contoh peribahasanya adalah
berubah.
umpama anjing makan muntahnya.
akan
berubah,
artinya
Berdasarkan deskripsi dan analisis
data, makna peribahasa dalam
Berdasarkan
faktor
deskripsi
perubahan
data
maknanya
Maknanya adalah orang yang tamak.
Buku
Faktor perubahan metafora bercitra
Peribahasa Karya K. St. Pamuntjak
anjing menggambarkan seseorang yang
merupakan
maksud
ingin
tamak dengan sesuatu bentuk apapun.
disampaikan
oleh
yang
2) Perubahan Makna Akibat Lingkungan
mengibaratkan
hewan
yang
seseorang
sebagai
sifat
Lingkungan masyarakat dapat
manusia. Perubahan makna yang terjadi
meyebabkan perubahan makna suatu
yaitu perilaku hewan diibaratkan sebagai
kata. Kata yang dipakai di dalam
perilaku manusia.
lingkungan tertentu belum tentu sama
maknanya dengan kata yang dipakai di
Salah satu contoh peribahasanya adalah
lingkungan lain. Berdasarkan deskripsi
anjing galak, babi berani. Maknanya
data terdapat 14 (2,94%) peribahasa
adalah sama-sama memiliki kekuatan.
bercitra hewan yang faktor perubahan
Faktor
maknanya adalah perubahan makna
bercitra
akibat
manusia yang memiliki kekuatan sama
lingkungan.
Salah
satu
contohnya adalah anjing diberi makan
nasi, tidak akan kenyang. Maknanya
adalah sia-sia memberi nasehat yang
baik
kepada
orang
jahat.
perubahan
makna
anjing
metafora
menggambarkan
kuat.
4) Perubahan Makna Akibat Gabungan
Kata
Faktor
Perubahan makna dapat terjadi
perubahan metafora bercitra anjing
sebagai
menggambarkan percuma memberikan
Berdasarkan deskripsi data terdapat 94
nasehat berbentuk apapun kepada orang
peribahasa bercitra hewan yang faktor
yang jahat.
perubahan maknanya adalah perubahan
3) Perubahan Makna Akibat Pertukaran
akibat
Sinestesi adalah istilah yang
kata.
makna akibat gabungan kata. Salah satu
peribahasanya
Tanggapan Indera
gabungan
anjing
adalah
tersepit.
melepaskan
Maknanya
adalah
digunakan untuk perubahan makna
menolong orang yang tiada tahu balas
akibat pertukaran indera (sinestesi/sun
budi. Faktor perubahan makna metafora
= sama dimakna akibat pertukaran
bercitra
tanggapan
manusia yang tidak tahu balas kasih.
indera).
Kata
sinestesi
berasal dari kata Yunani sun (sama)
ditambah
Pertukaran
aisthetikos
menggambarkan
5) Perubahan Makna Akibat Tanggapan
Pemakai Bahasa
yang
dimaksud,
indera
pendengar
perubahan akibat tanggapan pemakai
dengan indera penglihat, indera perasa
bahasa. Perubahan tersebut cenderung
dengan indera penglihat. Berdasarkan
ke hal-hal yang menyenangkan atau ke
deskripsi data terdapat 195 peribahasa
ha-hal
bercitra hewan yang faktor perubahan
menyenangkan. Kata yang cenderung
maknanya adalah perubahan makna
maknanya ke arah yang baik disebut
akibat pertukaran tanggapan indera.
ameloratif, sedangkan yang cenderung
misalnya
indera
(nampak).
anjing
antara
Makna
yang
kata
dapat
sebaliknya,
mengali
tidak
ke hal-hal yang tidak menyenangkan
menggambarkan seseorang yang tidak
(negatif)
mempedulikan berbagai rintangan yang
disebut
peyoratif.
Berdasarkan deskripsi data terdapat 123
akan dilaluinya.
peribahasa bercitra hewan yang faktor
perubahan maknanya adalah perubahan
makna
akibat
pemakai
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
contoh
penulis lakukan, maka dapat disimpulkan
peribahasanya adalah bagai disalak
bahwa berdasarkan bentuk lingual, metafora
anjing bertuah. Maknanya adalah anak
hewan yang ada yang berupa frase, klausa dan
yang tidak dapat ditolak permintaan
kalimat. Berdasarkan makna dan perubahan
atau kehendaknya. Faktor perubahan
makna
makna
menggambarkan
bahasa.
tanggapan
D. SIMPULAN
Salah
metafora
menggambarkan
satu
bercitra
seseorang
anjing
manusia
yang harus dituruti permintaannya.
metafora
diibaratkan
bercitra
perilaku
pada
hewan
manusia
yang
Hewan
yang
hewan.
dimaksud dalam peribahasa tersebut adalah
hewan
6) Perubahan Makna Akibat Asosiasi
yang
dekat
dengan
kehidupan
Asosiasi adalah hubungan antara
masyarakat. Perilaku dan tabiat manusia
makna asli (makna di dalam lingkungan
diibaratkan sama dengan perilaku hewan.
tempat
yang
Berdasarkan deskripsi dan analisis data faktor
bersangkutan) dengan makna yang baru
perubahan makna dari bahasa daerah ke dalam
(makna di dalam lingkungan kata itu
bahasa Indonesia berjumlah
dipindahkan
perubahan
tumbuh semula kata
ke
dalam
pemakaian
peribahasa,
perubahan
akibat
terdapat 9 peribahasa bercitra hewan
perubahan
yang
maknanya
akibat pertukaran tanggapan indera berjumlah
adalah perubahan makna dari bahasa
195 faktor perubahan peribahasa, perubahan
daerah ke dalam bahasa Indonesia.
makna akibat gabungan kata berjumlah 94
Salah satu contoh peribahasanya adalah
faktor
anjing
berlalu.
makna akibat tanggapan pemakai bahasa
Maknanya adalah tiada mengacukan
berjumlah 123 faktor perubahan peribahasa,
rintangan, jalan terus. Faktor perubahan
perubahan makna dari bahasa daerah ke dalam
makna
perubahan
menyalak,
metafora
khalifah
bercitra
anjing
berjumlah
makna
bahasa). Berdasarkan deskripsi data
faktor
lingkungan
41 faktor
peribahasa,
perubahan
14
faktor
perubahan
makna
peribahasa,
perubahan
bahasa
Indonesia
berjumlah
9
faktor
perubahan peribahasa.
Kridalaksana, H. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta:
Gramedia Pustaka.
Moleong J. Lexy. 2009. Metodologi Penelitian
E. DAFTAR RUJUKAN
Amandha. 2012. Analisis Gaya Bahasa Retoris
dalam Novel Jurang Keadilan Karya Pipiet
Senja. Solok: Ummy.
Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
Ngafenan, Mohamad. 1985. Istilah Tatabahasa
Aminuddin. 1998. Semantik: Pengantar Studi
Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru
Indonesia. Klaten: PT Intan.
Nida, Eugene A, 1975. Exploring Semantis
Anroza. 2011. Pemakaian Gaya Bahasa Sindiran
Structures. Munchen : Welhem Fink Verlag
dalam Rubrik Tajuk Rencana pada Harian
Palmer.1981.
Umum Singgalang Edisi Mei-Juni 2011.
University Press.
Solok: Ummy.
Pamuntjak, K.St, dkk. 2004. Peribahasa. Jakarta:
Azima. 2012. Gaya Bahasa pada Acara Itens
Semantics.
Sydney:Cambridge
Balai Pustaka
pada Stadium Televisi Rajawali Citra
Parera, Djos Daniel. 2004. Teori Semantik.
Indonesia (RCTI). Solok: Ummy.
Jakarta: Erlangga.
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa
Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Pastika, I Wayan. 2005. ”Linguistik Kebudayaan:
Konsep dan Model. Dalam
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus
Vol. 12. Maret 2005. Denpasar: Program
Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi
Magister
ke Empat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Udayana
Utama
Pateda,
Djajasudarma, F. 2008. Semantik 1 Pengantar ke
Arah Ilmu Makna. Bandung: PT. Refika
Aditama.
(S2)
Mansoer.
Linguistik,
2001.
Semantik
Universitas
Leksikal.
Jakarta: Rineka Cipta.
Prasetyo, Budi. 2011. “Peningkatan Pembelajaran
Menulis Puisi dengan Strategi Pikir Plus”.
Djamaris, Edwar. 1985. Sastra Tradisional:
Sastra
Linguistika.
Indonesia
Lama
pada
tahap
Permulaan. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
Keraf, Gorys. 2000. Diksi dan Gaya Bahasa.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Jurnal pendidikan Inovatif, volume 2, No.2,
Maret 2007
Ramlan, M. 1983. Ilmu Bahasa Indonesia :
Sintaksis. Yogyakarta : Karyono
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan
(Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D). Bandung: Alfabeta
Tarigan,
H.G.
1985.
Pengajaran
Semantik.
Bandung: Angkasa.
Ullman, Sthepen. 2007. Pengantar Semantik.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Wahab, Abdul. 1986. Isu Linguistik. Surabaya :
Airlangga University Press.
Waluyo, Herman J. 1991. Teori dan Apresiasi
Puisi. Jakarta: Erlangga.
Download