4064

advertisement
PENGELOLAAN KEKURANGAN VOLUME CAIRAN PADA ANAK G
DENGAN GASTROENTERITIS DI RUANG ANGGREK
RSUD AMBARAWA
Yudi Supriyanto 1, Ana Puji Astuti 2, Siti Haryani 3
123
Akademi Keperawatan Ngudi Waluyo Ungaran
[email protected]
ABSTRAK
Kekurangan volume cairan adalah kurangnya kebutuhan cairan pada tubuh.
Pemberian Oralit dan larutan gula garam adalah salah satu manajemen penanganan
untuk pasien kekurangan volume cairan yang bertujuan untuk mencegah dehidrasi
serta menggantikan cairan elektrolit yang hilang sehingga cairan yang ada dalam
tubuh dapat seimbang dan tidak terjadi kekurangan cairan. Tujuan penulisan ini
bertujuan untuk mengetahui pengelolaan kekurangan volume cairan pada pasien
dengan gastroenteritis di RSUD Ambarawa.
Metode yang digunakan adalah dengan cara pemberian oralit. Pengelolaan ini
dilakukan selama 3 hari pada anak G. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan teknik allowanamnesa, pemeriksaan fisik, observasi, dan pemeriksaan
penunjang.
Hasil pengelolaan didapatkan kekurangan cairan atau dehidrasi pada anak G
tidak mengalami peningkatan serta tidak terjadi komplikasi dan dapat teratasi.
Saran bagi perawat di rumah sakit agar tidak hanya menerapkan terapi sesuai
petunjuk namun juga libatkan keluarga dalam perawatan pasien.
Kata kunci: Kurang volume cairan
kesehatan telah dilakukan perubahan
PENDAHULUAN
Kesehatan
komponen
merupakan
utama
dalam
cara pandang (mindset) dari paradigma
Index
sakit menuju paradigma sehat sejalan
Pembangunan Manusia (IPM) yang
dengan
dapat mendukung terciptanya SDM
(Kemenkes RI, 2011)
yang sehat, cerdas, terampil dan ahli
menuju
keberhasilan
Visi
Indonesia
Kesehatan
pembangunan
yang
Sehat.
baik
atau
kesejahteraan adalah suatu kondisi
kesehatan. Pembangunan kesehatan
dimana
merupakan
dasar
penyakit. Membuat definisi kesehatan
untuk
yang baik tidaklah mudah karena
salah
satu
hak
masyarakat
yaitu
memperoleh
pelayanan
Dalam
pelaksanaan
hak
kesehatan.
setiap
pembangunan
tidak
orang
hanya
bebas
mempunyai
dari
konsep
kesehatan sendiri. Sehat bukanlah
1
2
suatu pengeahuan ilmiah yang dapat
berbagai
diperoleh atau suatu benda, suatu
kesehatan terutama dokter dan bidan
bagian tubuh, atau suatu fungsi tubuh
sangat sedikit sementara epidemik
seperti pendengaran, penglihata, atau
terjadi dibanyak tempat dan tidak ada
pernafasan.
Sehat
kontrol. (Supartini, 2012)
keadaan
dimana
adalah
suatu
seseorang
pihak.
Jumlah
tenaga
Masalah yang terjadi
mendefinisikannya sesuai dengan nilai
masyarakat
yang ada pada dirinya. (Potter & Perry,
keresahan terutama apabila terjadi
2005)
kejadian
Sakit adalah suatu keadaan
dimana
fungsi
fisik,
sering
pada
luar
gastroenteritis
menimbulkan
biasasaat
atau
ini
sering
yaitu
disebut
emosional,
dengan diare. Hal ini karena mayoritas
intelektual, sosial, perkembangan, atau
penderita ialah anak berusia dibawah
spiritual seseorang berkurang atau
lima tahun atau terjadi
terganggu bila dibandingkan dengan
kasus/tahun.
kondisi sebelumnya. (Potter & Perry,
merupakan
2005)
sembuh
40 juta
Sebenernya
penyakit
dengan
diare
yang
akan
sendirinya
(self
limited). Namun pada sisi lain, diare
Anak
makhluk
dapat menyebabkan kehilangan cairan
rentan dan tergantung yang selalu di
dalam jumlah banyak, yang akan
penuhi rasa ingin tahu, aktif, serta
memicu kondisi dehidrasi yang dapat
penuh harapan. Masa kanak-kanak
berujung pada kematian. (Wijoyo,
merupakan awal kehidupan untuk
2013)
masa-masa
merupakan
berikutnya.(Nursalam,
2013)
Istilah
gastroenteritis
di
gunakan secra luas untuk menguraikan
Untuk
memahami
pasien yang mengalami perkembangan
perkembangan keperawatan anak, kita
diare dan atau muntah akut. Istilah ini
diajak
mengacu
untuk
dapat
mempelajari
evolusi
pada
terdapat
proses
kesehatan anak dan keperawatan anak.
inflamasi dalam lambung dan usus.
Sebelum abad ke-19, kesehatan anak
Walaupun ada beberapa kasus tidak
kurang
selalu demikian (Sodikin, 2011).
mendapat
perhatian
dari
3
Diare adalah penyakit yang
terjadi
ketika
terjadi
transportasi
larutan
usus
akibat
perubahan
perpindahan air melalui membran usus
konsistensi feses selain dari frekuensi
berlangsung secara pasif dan hal ini
buang air besar. Seseorang dikatakan
ditentukan oleh aliran larutan secara
menderita diare bila feses lebih berair
aktif maupun pasif, terutama natrium,
dari biasanya, atau bila buang air besar
klorida, dan glukosa (Sodikin, 2011)
tiga kali atau lebih, atau buang air
Badan kesehatan dunia, World
besar yang berair tapi tidak berdarah
Health Organization, memperkirakan
dalam waktu 24 jam. (Profil Kes. Prov.
ada sekitar empat miliar kasus diare
Jawa Tengah, 2012)
akut setiap tahun dengan mortalitas 3-
Diare merupakan gejala yang
terjadi
kelainan
melibatkan
diatas, kasus diare bukanlah kasus
fungsi pencernaan, penyerapan dan
yang ringan, melainkan memerlukan
sekresi.
oleh
perhatian yang serius. Apabila angka
transportasi air dan elektrolit yang
itu diterapkan di Indonesia, setiap
abnormal dalam usus. Di seluruh dunia
tahun sekitar 100 juta episode diare
terdapat kurang lebih 500 juta anak
pada orang dewasa per tahun menurut
yang menderita diare setiap tahunnya,
rani tahun 2002. (Wijoyo, 2013)
Diare
yang
4 juta per tahun. Berdasarkan data
disebabkan
dan 20% dari seluruh kematian pada
anak
yang
berkembang
hidup
Adanya
di
negara
cukup
berhubungan
dengan
memudahkan
diare serta dehidrasi (Wong, 2008)
pemahaman
yang
penyakit
akan
tentang
mengatasi
seseorang
kondisi
tersebut,
untuk
baik
Penyebab utama kematian yang
dengan menggunakan obat maupun
disebabkan oleh diare adalah karena
tanpa obat. Diare akut merupakan
dehidrasi sebagai akibat kehilangan
masalah umum yang terjadi di seluruh
cairan dan elektrolit melalui feses.
dunia. (Wijoyo, 2013)
Penyebab
kematian
adalah
Di negara maju diperkirakan
disentri, kurang gizi, dan infeksi yang
jumlah insiden 0,5-2 episode/orang
serius seperti pneumonia. Dasar dari
tua/tahun,
semua
berkembang lebih dari itu. Sebagai
diare
lain
adalah
gangguan
sedangkan
di
negara
4
contoh, USA dengan penduduk sekitar
diare. Kurang lebih 80% kematian
200 juta diperkirakan 99 juta episode
yang berhubungan dengan diare terjadi
diare akut pada dewasa terjadi setiap
pada 2 tahun pertama kehidupan
tahunnya menurut manatsathit,dupont,
(Sodikin, 2011)
farthing dkk (Wijoyo, 2013)
Data Departement Kesehatan
Diare tidak lagi menempati
urutan
pertama
menyebutkan
bahwa
angka
penyebab
kesakitan diare di Indonesia saat ini
Hal
ini
adalah 230-330 per 1000 penduduk
mungkin disebabkan karena perbaikan
dengan semua golongan umur dan 1,6-
kesehatan lingkungan serta perorangan
2,2 episode diare setiap tahunnya
dan
karena
untuk golongan umur balita. Angka
oralit
kematian diare golongan umur balita
kematian
di
dari
RI,
Indonesia.
mungkin
meningkatnya
pula
penggunaan
dalam penanganan diare akut oleh
adalah
masyarakat. Sampai saat ini, penyakit
laboratorium ilmu kesehatan anak
diare (gastroenteritis) masih menjadi
RSUD Dr.Soetomo pada tahun 1996 di
masalah
Indonesia
dapatkan 871 penderita diare yang
terutama pada anak-anak. Diare harus
dirawat dengan dehidrasi ringan 5%,
dibedakan dari inkontinensia fekalis
dehidrasi sedang 7,1% dan dehidrasi
dengan volume dan frekuensi feses
berat 23%. Tahun 2000 terdapat 1160
normal, pasase darah dan mukus, serta
penderita diare yang dirawat dengan
seringnya pasase sejumlah kecil feses
227 (19,56%) dehidrasi ringan,668
seperti
yang
pasien
(57,59%) dehidrasi sedang, 116 (10%),
dengan
sindrom
iritabel.
dehidrasi berat 35 (3,01%) penderita
Secara
kesehatan
terjadi
di
pada
defekasi
keseluruhan,
anak-anak
4
per
1000
yang meninggal
balita.
Di
karena dehidrasi.
mengalami diare rata-rata 3,3 episode
Diare, ISPA dan penyakit-penyakit
per tahun, akan tetapi pada beberapa
yang dapat dicegah dengan imunisasi
tempat dapat lebih dari 9 episode per
merupakan
tahun. Pada daerah dengan episode
kematian pada golongan umur balita.
diare yang tinggi, seorang balita dapat
Berbagai
menghabiskan 15% waktunya dengan
kejadian
tiga
penyebab
faktor
diare
utama
mempengaruhi
diantaranya
adalah
5
faktor lingkungan, gizi, kependudukan,
terendah adalah Kabupaten Cilacap
pendidikan, keadaan sosila ekonomi
(6,20%). (Profil Kes. Prov. Jawa
dan perilaku masyarakat (Soegijanto,
Tengah, 2012)
2002).
Jumlah
AKB di Provinsi Jawa Tengah
tahun
2012
sebesar
kelahiran hidup,
10,75/1.000
meningkat
kabupaten
kasus
semarang
diare
tahun
di
2010
mencapai 16.596 kasus dengan kasus
bila
diare balita sebesar 7.400 kasus.
2011
Penanganan kasus diare balita sebesar
sebesar 10,34/1.000kelahiran hidup.
100% artinya setiap kasus diare balita
Dibandingkan
target
yang
Goals
ditangani 100%.
dibandingkan dengan tahun
dengan
Millenium
Development
(MDGs) ke-4 tahun 2015 sebesar
datang
Jumlah
kesarana
kasus
diare
Kabupaten
di Provinsi Jawa Tengah tahun 2012
mencapai 19.260 kasus dengan kasus
sudah
telah
diare balita sebesar 8.081 kasus.
target. Angka kematian
Penanganan kasus diare balita sebesar
melampaui
bayi
tertinggi
Banjarnegara
baik
karena
adalah
Kota
2011
Kabupaten
100% artinya setiap kasus diare balita
sebesar 18,16/1.000
yang datang kesarana kesehatan sudah
kelahiran hidup, sedangkan terendah
adalah
tahun
di
17/1.000 kelahiran hidup maka AKB
cukup
Semarang
kesehatan
Surakarta
sebesar
dapat ditangani seluruhnya.
Jumlah perkiraan kasus diare di
5,33/1.000 kelahiran hidup. (Profil
Kabupaten
Kes. Prov. Jawa Tengah, 2012)
39.943 dengan kasus diare yang
Cakupan
penemuan
dan
ditangani
Semarang
sebesar
tahun
20.591
2012
kasus
penanganan diare di Provinsi Jawa
(51,55%). Sedangkan pada kasus diare
Tengah tahun 2012 sebesar 42,66%,
pada balita sebesar 7.821 kasus dengan
lebih rendah dibanding tahun
2011
kasus yang ditangani sebanyak 7.821.
(57,9). Pada tingkat kabupaten/kota,
Penanganan kasus diare balita sebesar
diketahui bahwa cakupan penemuan
100% artinya setiap kasus diare balita
dan penanganan diare tertinggi adalah
yang datang ke sarana kesehatan sudah
Kabupaten
dapat ditangani seluruhnya.
Klaten
(93,33%) dan
6
tindakan yang dilakukan dan evaluasi
METODE PENGELOLAAN
Metode yang digunakan adalah
memberikan
pengelolaan
memberikan
cairan.
berupa
dari
hasil
yang
dicapai
setelah
dilakukan implementasi.
Pengelolaan
Penulis
memprioritaskan
intoleran aktivitas dilakukan selama 3
masalah ini sebagai masalah pertama
hari pada Tn.M teknik pengumpulan
karena menurut hirarki kebutuhan
data dilakukan dengan menggunakan
manusia menurut Maslow termasuk
teknik wawancara, pemeriksaan fisik,
kebutuhan
observasi dan pemeriksaan penunjang
merupakan kebutuhan fisiologis kedua
setelah
fisiologis.
oksigen.
Tubuh
Cairan
manusia
membutuhkan keseimbangan antara
HASIL PENGELOLAAN
Hasil pengelolaan didapatkan
pemasukan dan pengeluaran cairan.
masalah kekurangan volume cairan ,
Karena jika tidak terpenuhi kebutuhan
pasien masih belum teratasi. Klien
cairan
masih terbaring lemas di bed dan
dehidrasi berat bahkan menyebabkan
hanya di gendong oleh nenek klien
kematian.(Perry & Potter, 2005).
individu
bisa
mengalami
Diagnosa ini penulis tegakkan
PEMBAHASAN DAN
karena didukung dengan data subjektif
KESIMPULAN
ditemukan data bahwa keluarga pasien
Dalam bab ini penulis akan
membahas
tentang
mengatakan,”
klien
dibawa
oleh
pengelolaan
keluarga ke RSUD Ambarawa dengan
kekurangan volume cairan pada An. G
keluhan muntah dan BAB cair dengan
umur 8 bulan 13 hari dengan diagnosa
frekuensi 10x/hari.” Jika pasien jika
medis GE, di ruang Anggrek RSUD
klien mengalami muntah dan BAB cair
Ambarawa pada tanggal 20 Maret
output
2014.
menyebabkan
Pembahasan
pengertian
dari
ini
berlebih
dan
akan
dehidrasi,
sedangkan
masalah
data objektif yang meliputi selama
diagnosa keperawatan diuraikan secara
sakit klien BAB 10x/ hari karakteristik
pathofisiologi, akibat yang terjadi bila
cair 100 ml tidak berampas dan tidak
masalah
berlendir tidak ada darah BAK 4x/ hari
tidak
prioritas
mencakup
akan
teratasi,
rasional
7
@100 ml. Klien muntah 4x @20 ml
melakukan injeksi Cefotaxime 1 x 150
/hari sedangkan sebelum sakit, klien
memasukan metromedazol 100 ml.
BAB kurang lebih 2x/hari dengan
Mengganti cairan infus rasionalnya
karateristik lembek warna kuning dan
bertujuan
bau khas feses tidak ada lender dan
mengganti kehilangan cairan. Pada
tidak ada darah, klien BAK 6-8x/ hari
jam 19.10 WIB mengukur suhu tubuh
@100 ml. Jadi dapat disimpulkan dari
pasien,
data subyektif dan obyektif pada data
bertujuan
diatas bahwa klien kehilangan cairan
tubuh pasien dan pada teori Nursalam
berlebih. Kehilangan cairan berlebih
(2005), rasionalnya untuk mengetahui
adalah penurunan cairan intravaskuler,
adanya
interstisial, atau intra selular mengacu
menurut
pada dehidrasi, golongan cairan saja
untuk mengganti cairan yang hilang
tanpa perubahan pada natrium. (Nanda
karena dehidrasi dan juga cairan yang
2011)
hilang akibat dehidrasi tidak dapat
Rencana tindakan keperawatan
untuk
rehidrasi
menurut
penulis
untuk
mengetahui
peningkatan
penulis
adalah
suhu
adalah
dan
suhu
tubuh.
bertujuan
diatasi hanya dengan minum air.
pada hari Kamis, tanggal 20 Maret
Implementasi hari Jumat 21
2014, jam 13.00 WIB pada masalah ini
Maret
adalah kaji KU dan TTV, monitor
mengobservasi
intake dan output cairan, kaji balance
cairan dan menghitung balance cairan
cairan
selama 24 jam dari hari pertama.
selama
1
hari.
berikan
2014
jam
intake
07.05
WIB
dan
output
penyuluhan/pendidikan kesehatan pada
Menurut
penulis
keluarga tentang kebutuhan cairan,
mencatat
dan
kolaborasi dalam pemberian cairan
perkembangan ciran yang masuk dan
yang tepat untuk anak dan cara
cairan yang keluar. Menurut (Wong,
pemberian yang menarik. kaji TTV
2009) keseimbangan cairan merupakan
terutama pada suhu.
aspek
yang
adalah
untuk
menghitung
setiap
sangat
penting
dari
Implementasi yang dilakukan
keseimbangan cairan karena terkait
pada hari kamis tanggal 20 Maret
erat dengan sistem lain. Hari Jum’at 21
2014,
Maret
jam
22.00
WIB
adalah
2014
Jam
08.00
wib
8
mengkolaborasikan dalam pemberian
menjawab benar berkisar pada rentang
cairan yang tepat untuk anak/klien.
80-100%,
Menurut penulis pemberian cairan
menjawab benar berkisar pada rentang
yang
untuk
65-79%, dan pengetahuan dikatakan
mengganti cairan-cairan yang telah
kurang bila persentase nilai kurang
dikeluarkan.
wib
dari 65%. Menurut Hidayat (2005)
kesehatan
status sosial ekonomi juga dapat
tepat
di
Jam
memberikan
tentang
gunakan
11.00
pendidikan
cara
penanganan
dan
dikatakan
mempengaruhi
cukup
pertumbuhan
bila
dan
pencegahan
diare
&
dehidrasi.
perkembangan anak. Jam 21.00 wib
Memberikan
pendidikan
kesehatan
mengobservasi
intake
dan
output
tentang kebutuhan cairan pada angka
cairan. Jam 21.30 wib mengkolaborasi
usia 8 bulan, dan cara menyajikan.
dengan tim medis untuk pemberian
Pendidikan
merupakan
obat anti diare. Jam 11.00 wib
proses belajar, dalam hal ini berarti
mengobservasi keadaan umum. Hari
terjadi
atau
Sabtu 22 Maret 2014 jam 07.00 wib
perubahan kearah yang lebih tahu dan
mengobservasi TTV suhu; 36,1o C.
lebih
Jam 07.40 wib observasi keadaan
kesehatan
proses
baik
perkembangan
pada
Sedangkan
diri
tujuan
individu.
pendidikan
kesehatan menurut WHO (1954) yang
dikutip
oleh
Notoatmojo
(2004),
umum.
Evaluasi pada hari Jum’at 18
Maret 2014 jam 07.00 wib data
tujuan pendidikan kesehatan adalah
subjektif
untuk meningkatkan status kesehatan
anaknya masih diare tapi sudah ada
serta membantu pasien dan keluarga
ampasnya,frekuensi
untuk mengatasi masalah kesehatan.
objektif 6x/7 jam BAB cair dengan
Didalam proses pendidikan kesehatan
ampas, ubun – ubun cekung, dan mata
menurut Hidayat (2005) berhasil jika
cekung.
pengetahuan
sebagian.
diberikan
seseorang
pendidikan
setelah
ayah
klien
Analisa
Monitor
6x
mengatakan
dan
data
masalah
tertasi
TTV,
ajurkan
kesehatan
minum obat yang rutin, anjurkan
apabila pengetahuan seseorang tentang
minum air yang banyak. Evaluasi pada
sesuatu hal dikatakan baik bila nilai
hari Jum’at 21 Maret 2014 jam 14.00
9
wib
data
subjektif
nenek
klien
Hidayat, Aziz A. 2008. Pengantar
cucunya
sudah
BAB
Ilmu
mengatakan
dengan
frekuensi
6x
sudah
ada
Keperawatan
Anak.
Jakarta:
Salemba Medika.
ampasnya dan data objektif 6x/7
International.Nanda. 2011. Diagnosis
jam,ubun – ubun cekung tidak ada,
keperawatan definisi dan klasifikasi
turgor kulit kembali normal, mata
2009 2011. Jakarta: EGC
tidak ada lipatan. masalah teratasi
Kemenkes
sebagian.
intervensi,
Kesehatan Indonesia. Jakarta
menambah
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak
Lanjut
menganjurkan
untuk
balance cairan, pantau balance cairan.
Faktor
masalah
yang
tersebut
mendukung
dapat
RI.,
2011.
Profil
Sakit, Edisi 2. Jakarta: EGC.
Nursalam.
Dr.
2013.
Asuhan
teratasi
Keperawatan Bayi dan Anak Untuk
sebagian adalah keluarga pasien mau
Perawat dan Bidan. Jakarta : Salemba
diajak
Medika.
bekerjasama
dalam
setiap
tindakan keperawatan yang dilakukan
Potter,
penulis
Keperawatan, Volume 1. Jakarta: EGC
sedangkan
penghambatnya
adalah
faktor
tidak
Perry.
.
2005,
2006.
Fundamental
Fundamental
dilakukannya pemeriksaan penunjang
Keperawatan,
lanjutan yang sesuai oleh pihak rumah
EGC.
sakit untuk mengetahui perkembangan
Riyadi,
kondisi klien, dan keterbatasan waktu
Keperawatan
dalam memberikan perawatan.
Jakarta: CV Nuha Medika
RSUD.
Volume 2. Jakarta:
Sujono.
2010.
Pada
Anak
Ambarawa.
2010.
DAFTAR FUSTAKA
Medik RSUD. Ambarawa.
Carpenito, Lynda Juall. 2007. Buku
Soegijanto,
Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta:
Penyakit
EGC.
Penatalaksanaan.
Dinas
kesehatan.
kesehatan.Semarang
2012.
Profil
Soegeng.
Anak
Asuahan
Sakit.
Rekam
2002.
Ilmu
Diagnosa
dan
Jakarta:Salemba
Medika
Sodikin. 2011. asuhan keperawatan
anak gangguan sistem gastrointestinal
10
dan hepatobilier. Jakarta: Salemba
Medika
Suharyono.dr. Dr. Prof. 2013. Diare
Akut Klinik Dan Laborat. Rineka Cipta
Supartini, Yupi. 2004. Buku Ajar
Konsep Dasar Keperawatan Anak.
Jakarta: EGC.
Suriadi & Yuliani 2010. Asuhan
Keperawatan Pada Anak. Edisi II
jakarta: Sagung Seto
Wijoyo,yosef.2013.
Diare
pahami
penyakit dan obatnya.Citra Aji Parama
Wijayaningsih
S.Kep.,Ners.
Kartika
2013.
Sari,
Asuhan
Keperawatan Anak. Jakarta. Trans Info
Media.
Wong, Donna L. 2004. Pedoman
Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta:
EGC.
.
2008.
Pedoman
Klinis
Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.
Download