1 pengembangan komunikasi interpersonal dosen - E

advertisement
PENGEMBANGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DOSEN DALAM
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL) DI PERGURUAN TINGGI
Andika Hendra Mustaqim
Akademi Bahasa Asing BSI
Jl Pondok Labu, Fatmawati, Jakarta Selatan
Email: [email protected]
Blog: www.andikahendramustaqim.blogspot.com
www.nyongandikahendra.blogspot.com
Abstract
Contextual Teaching and Learning (CTL) is a education concept which focus on combining between subject of study
and social of life. The successfull of CTL must be supported by the lecturer. Without them, CTL is can done
effectively. Supporting the lecture on handling CTL, they must develope the interpersonal communication so the
activities in the class run smoothly. The aspects of emerging the competence of interpersonal communication, such
as interpersonal perception, self concept, interpersonal attraction, and interpersonal relationship. The lecture must
strenght to develope and implicate these elements on CTL.
Keywords: Interpersonal Communications, Context Teaching and Learning (CTL)
I. PENDAHULUAN
William Shakespeare mengungkapkan: ”No
man is lord of anything, though in and of him there
be much consisting, till he communicate his part to
other.” Paling tidak kita harus menguasai empat jenis
keterampilan dasar dalam komunikasi, yaitu menulis,
membaca (bahasa tulisan), mendengar, dan berbicara
(bahasa lisan). Hampir setiap saat kita menghabiskan
waktu untuk mengerjakan setidaknya salah satu dari
keempat hal itu. Oleh karena itu, kemampuan untuk
menguasai keterampilan dasar komunikasi dengan
baik mutlak kita perlukan demi efektifitas dan
keberhasilan kita.
Apalagi, tenaga pendidik terutama dosen
memerlukan kemampuan komunikasi yang diatas
rata-rata dibandingkan profesi lainnya. Kenapa?
Dosen bukan hanya menyampaikan pesan yang ada
di dalam dirinya semata. Tetapi dosen juga
memberikan pemahaman mengenai pesan yang
disampaikan dan memadukannya bukan saja dari
pemikiran pribadi tetapi juga teori dari buku dan
kontekstual di lingkungan masyarakat.
Untuk itu, dosen pun perlu mengembangkan
kemampuan komunikasi interpersonal dalam
berkomunikasi dengan mahasiswanya dalam proses
pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual
merupakan strategi pembelajaran yang sangat tepat
diterapkan di perguruan tinggi menawarkan program
akademi atau diploma 3 yang lebih mengutamakan
perkuliahan lebih aplikatif dan teori yang diajarkan
sesuai dengan tuntutan dunia kerja dan masyarakat.
Tujuan selanjutnya dengan peningkatan
kemampuan komunikasi intepersonal pada dosen
maka akan seiring dengan proses komunikasi yang
berjalan efektif antara pendidik dan mahasiswa. “In
every organization, the choice in teaching effective
communication is where you begin,” demikian
diungkapkan Ethan F. Becker dan Jon Wortmann
dalam buku berjudul “Mastering Communication At
Work How To Lead, Manage, And Influence”
(2009:216).
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Komunikasi
Komunikasi berasal dari kata communicare
yang berarti “membuat sama”. Menurut Effendy
(2003:9) istilah komunikasi (communication) berasal
dari kata latin communication, dan bersumber dari
kata communis yang berarti sama. Sama di sini
maksudnya adalah sama makna. Lebih mudahnyanya,
komunikasi merupakan proses penyampaikan pesan
atau makna dari komunikator kepada komunikan
menggunakan media.
Komunikasi tidak dapat dilepaskan dari
kehidupan manusia. Tak ada manusia yang hidup di
dunia ini tanpa berkomunikasi. Peranan komunikasi
yang tak dapat ditinggalkan menjadi manusia sering
tergantung dengan komunikasi. Jika komunikasi yang
dilakukan manusia mengalami kesalahan, maka yang
resiko yang dihadapi sangat berbahaya.
1
Fungsi komunikasi pada umumnya seperti
dikemukanan oleh William I. Gorden (dalam Deddy
Mulyana, 2005:5-30) mengkategorikan fungsi
komunikasi menjadi empat, yaitu:
1. Sebagai komunikasi sosial. Fungsi komunikasi
sebagai
komunikasi
sosial
setidaknya
mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting
untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi
diri, untuk kelangsungan hidup, untuk
memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan
dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi
yang bersifat menghibur, dan memupuk
hubungan hubungan orang lain. Dalam
komunikasi terdapat beberapa tujuan lainnya
seperti pembentukan konsep diri. Pertama,
konsep diri adalah pandangan kita mengenai diri
kita, dan itu hanya bisa kita peroleh lewat
informasi yang diberikan orang lain kepada kita.
Melalui komunikasi dengan orang lain kita
belajar bukan saja mengenai siapa kita, namun
juga bagaimana kita merasakan siapa
kita.Kemudian, komunikasi sebagai pernyataan
eksistensi diri. Orang berkomunikasi untuk
menunjukkan dirinya eksis. Inilah yang disebut
aktualisasi diri atau lebih tepat lagi pernyataan
eksistensi diri. Fungsi komunikasi sebagai
eksistensi diri terlihat jelas misalnya pada
penanya dalam sebuah seminar. Meskipun
mereka sudah diperingatkan moderator untuk
berbicara singkat dan langsung ke pokok
masalah, penanya atau komentator itu sering
berbicara panjang lebarm mengkuliahi hadirin,
dengan argumen-argumen yang terkadang tidak
relevan. Ketiga adalah untuk kelangsungan
hidup, memupuk hubungan, dan memperoleh
kebahagiaan. Sejak lahir, kita tidak dapat hidup
sendiri untuk mempertahankan hidup. Kita perlu
dan harus berkomunikasi dengan orang lain,
untuk memenuhi kebutuhan biologis kita seperti
makan dan minum, dan memnuhi kebutuhan
psikologis kita seperti sukses dan kebahagiaan.
2. Sebagai komunikasi ekspresif. Komunikasi
berfungsi untuk menyampaikan perasaanperasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan
tersebut terutama dikomunikasikan melalui
pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli,
rindu, simpati, gembira, sedih, takut, prihatin,
marah dan benci dapat disampaikan lewat katakata, namun bisa disampaikan secara lebih
ekpresif lewat perilaku nonverbal. Seorang ibu
menunjukkan kasih sayangnya dengan membelai
kepala anaknya. Orang dapat menyalurkan
kemarahannya dengan mengumpat, mengepalkan
tangan seraya melototkan matanya, mahasiswa
3.
4.
memprotes kebijakan penguasa negara atau
penguasa kampus dengan melakukan demontrasi.
Sebagai komunikasi ritual. Suatu komunitas
sering melakukan upacara-upacara berlainan
sepanjang tahun dan sepanjang hidup, yang
disebut para antropolog sebagai rites of passage,
mulai dari upacara kelahiran, sunatan, ulang
tahun, pertunangan, siraman, pernikahan, dan
lain-lain.
Sebagai komunikasi instrumental. Komunikasi
instrumental mempunyai beberapa tujuan umum,
yaitu: menginformasikan, mengajar, mendorong,
mengubah sikap, menggerakkan tindakan, dan
juga menghibur.
B. Strategi Pembelajaran Kontekstual
Menurut Sudirdja dan Siregar (2004:6),
strategi pembelajaran adalah upaya menciptakan
kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran
dapat
dipermudah
pencapaiannya.
Strategi
mencerminkan keharusan untuk mempermudah
tujuan pembelajaran. Tanpa strategi, maka
pembelajaran tidak akan terarah dan tidak mencapai
target yang telah ditentukan.
Miarso (2004:530) berpandangan bahwa
strategi pembelajaran merupakan pendekatan yang
menyeluruh dalam sebuah sistem pembelajaran
dalam bentuk pedoman dan kerangka kegiatan untuk
mencapai tujuan umum pembelajaran. Miarso
menekankan
bahwa
strategi
mencerminkan
pendekatan mencapai tujuan pembelajaran.
Sementara itu, Kunandar (2007: 271) dalam
bukunya
berjudul
“Guru
Profesional”
mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual
(CTL) merupakan konsep belajar yang beranggapan
bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan
diciptakan secara alamiah, artinya belajar akan lebih
bermakna jika anak “bekerja” dan “mengalami”
sendiri apa yang dipelajarinya, bukan sekedar
mengetahuinya. Dengan demikian, CTL menekan
siswa bukan hanya sekedar memahami materi
perkuliahan, tetapi juga mengalami dengan cara
mempelajarinya. Dalam proses CTL bukan hanya
berfokus kepada hasil, tetapi lebih mengutamakan
proses pembelajaran.
Selanjutnya
Sanjaya
(2005:115)
memberikan penjelasan perbedaan CTL dengan
pembelajaran konvensional, antara lain:
(1) CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar,
artinya siswa perperan aktif dalam setiap proses
pembelajaran dengan cara menemukan dan
menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan
dalam pembelajaran konvensional siswa
ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan
sebagai penerima informasi secara pasif.
2
(2) Dalam pembelajaran CTL siswa belajar melalui
kegiatan kelompok, seperti kerja kelompok,
berdiskusi, saling menerima, dan memberi.
Sedangkan, dalam pembelajaran konvensional
siswa lebih banyak belajar secara individual
dengan menerima, mencatat, dan menghafal
materi pelajaran.
(3) Dalam CTL pembelajaran dikaitkan dengan
kehidupan nyata secara riil; sedangkan dalam
pembelajaran
konvensional
pembelajaran
bersifat teoretis dan abstrak.
(4) Dalam CTL, kemampuan didasarkan atas
pengalaman, sedangkan dalam pembelajaran
konvensional kemampuan diperoleh melalui
latihan-latihan.
(5) Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui
CTL adalah kepuasan diri; sedangkan dalam
pembelajaran konvensional tujuan akhir adalah
nilai dan angka.
(6) Dalam CTL, tindakan atau perilaku dibangun
atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu
tidak melakukan perilaku tertentu karena ia
menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan
tidak
bermanfaat;
sedangkan
dalam
pembelajaran konvensional tindakan atau
perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar
dirinya, misalnya individu tidak melakukan
sesuatu disebabkan takut hukuman, atau sakadar
untuk memperoleh angka atau nilai dari guru.
(7) Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap
individu selalu berkembang sesuai dengan
pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu
setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam
memaknai
hakikat
pengetahuan
yang
dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional,
hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang
dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena
pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain.
(8) Dalam pembelajaran CTL, siswa bertanggung
jawab dalam memonitor dan mengembangkan
pembelajaran mereka masing-masing; sedangkan
dalam pembelajaran konvensional guru adalah
penentu jalannya proses pembelajaran.
(9) Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bisa
terjadi di mana saja dalam konteks dan setting
yang berbeda sesuai dengan kebutuhan;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional
pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas.
(10) Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah
seluruh aspek perkembangan siswa, maka dalam
CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan
berbagai cara misalnya dengan evaluasi proses,
hasil karya siswa, penampilan, rekaman,
observasi, wawancara, dan lain sebagainya;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional
keberhasilan pembelajaran
diukur dari tes.
biasanya
hanya
C. Hakikat Komunikasi Interpersonal
Komunikasi
interpersonal
adalah
komunikasi antara orang-orang secara tatap muka,
yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap
reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal
atau nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah
komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri,
dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan
sebagainya (Mulyana, 2000: 73)
Komunikasi
interpersonal
merupakan
komunikasi yang membutuhkan respon cepat dari
komunikan sehingga komunikator pun harus
memberikan pesan yang jelas. Untuk itu, ambiguitas
harus dihilangkan dalam penyampaian makna
tersebut.
Komunikasi interpersonal adalah “interaksi
tatap muka antar dua atau beberapa orang, di mana
pengirim dapat menyampaikan pesan secara
langsung, dan penerima pesan dapat menerima dan
menanggapi secara langsung pula” (Hardjana,
2003:85). Kebanyakan komunikasi interpersonal
berbentuk verbal disertai ungkapan-ungkapan
nonverbal dan dilakukan secara lisan. Cara tertulis
diambil sejauh diperlukan, misalnya dalam bentuk
memo, surat atau catatan. Komunikasi interpersonal
bukan hanya tatap muka semata. Kini, teknologi telah
berkembang pesat, percakapan melalui internet dan
jejaring sosial juga termasuk dalam komunikasi
interpersonal.
Dalam buku Inter-Personal Skills, Astrid
French dalam Elfiky (2009:83) mengatakan,
“kecakapan interpersonal adalah segala sesuatu yang
kita gunakan ketika kita berkomunikasi langsung
dengan orang lain.” Pada kenyataannya, apapun yang
kita katakan dan lakukan, meninggalkan kesan serta
pengaruh pada diri seseorang. Singkatnya, pesanpesan yang kita komunikasikan bisa saja membantu
atau menghambat sebuah hubungan.
III. METODE PENELITIAN
Penulis menggunakan dua pendekatan
penelitian, yakni studi literatur dan pengambilan
kesimpulan.
1. Studi Literatur
Studi literatur dilakukan dengan membaca buku
literatur tentang krisis ekonomi dan Otoritas
Jasa Keuangan. Selain itu juga melakukan
pencarian data di Internet tentang, rencana
pelaksanaan Otoritas Jasa Keuangan.
2. Pengambilan Kesimpulan
3
Setelah proses analisa telah selesai dilakukan,
maka dilakukan pengambilan kesimpulan dengan
cara menarik kesimpulan dari analisa data
literatur dilakukan sebelumnya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengembangan Komunikasi Interpersonal
Menurut
Rakhmat
(2007:80)
mengemukakan
faktor-faktor
yang
dapat
menyebabkan komunikasi interpersonal terdiri dari
(1) persepsi interpersonal, (2) konsep diri, (3) atraksi
interpersonal, dan (4) hubungan interpersonal.
1. Persepsi Interpersonal.
Yang perlu diketahui lebih dahulu adalah
adanya perbedaan antara persepsi objek dengan
persepsi interpersonal. Menurut Rakhmat (2007:8182), ada empat perbedaan antara persepsi objek
dengan persepsi interpersonal. Pertama, pada persepsi
objek, stimulus ditangkap oleh alat indera kita
melalui benda-benda fisik; gelombang, cahaya,
gelombang suara, temperature, dan sebagainya; pada
persepsi interpersonal, stimulus mungkin sampai
kepada kita melalui lambang-lambang verbal atau
grafis yang disampaikan pihak ketiga. Kedua, bila
kita menanggapi objek, kita hanya menanggapi sifatsifat luar obyek itu; kita tidak meneliti sifat-sifat
batiniyah obyek itu. Ketiga, ketika kita mempersepsi
objek, objek tidak bereaksi kepada kita; kita pun
tidak memberikan reaksi emosional padanya.
Keempat, objek relatif tetap, sedangkan manusia
berubah-ubah.
Sebagai pendidik, menurut penulis, harus
pandai memainkan persepsi untuk memberikan opini
sehingga mempengaruhi pikiran mahasiswa serta
menciptakan
atmosfir
untuk
mendukung
pembelajaran. Persepsi pendidik yang tepat akan
menjadi modal utama untuk membangun kelancaran
dalam proses pembelajaran di kelas. Tidak boleh
ketinggalan dalam memberikan persepsi jangan
sampai berlebihan dalam hal membangun emosional
karena bisa berakibat kekecewaan.
Selanjutnya, ada faktor-faktor situasional
yang mempengaruhi persepsi interpersonal yakni
deskripsi verbal, petunjuk prosemik, petunjuk
kinesik, petunjuk wajah, petunjuk paralinguistik, dan
petunjuk artifaktual. Deskripsi Verbal sendiri dalam
pandangan Solomon E. Asch, bahwa kata yang
disebutkan pertama akan mengarahkan penilaian
selanjutnya dan dikenal dengan primacy effect.
Sedangkan, proksemik adalah studi tentang
penggunaan jarak daam menyamaikan pesan; istilah
ini dilahirkan oleh antroplog interkultural Eward T.
Hall. Hall membagi jarak ke dalam empat corak;
jarak publik, jarak sosial, jarak personal, dan jarak
akrab. Kalau petunjuk kinesik adalah persepsi yang
didasarkan kepada gerakan orang lain yang
ditunjukkan kepada kita. Nah, petunjuk Wajah
sendiri dianggap menjadi elemen terpenting dalam
perasaan persona stimuli. Kenapa? Petunjuk wajah
dapat mengungkapkan emosi, tidak semua orang
mempersepsi emosi itu dengan cermat. Selanjutnya
adalah paralinguistik ialah cara orang mengucapkan
lambang-lambang verbal yakni tinggi-rendahnya
suara, tempo bicara, gaya verbal (dialek), dan
interaksi (perilaku ketika melakukan komunikasi atau
obrolan). Sedangkan, Petunjuk artifaktual meliputi
segala macam penampilan (appearance) sejak
potongan tubuh, kosmetik yang dipakai, baju,
pangkat, badge, dan atribut-atribut lainnya (Rakhmat,
2007:82-89)
Tak dapat dipungkiri, menurut penulis,
seorang dosen ketika berbicara di depan kelas harus
mengatur mimik wajah dan ekspresi tubuh lainnya
untuk menarik perhatian dari mahasiswa. Seorang
dosen bukan hanya sekedar berbicara saja, tetapi
harus menghibur anak didik dengan gerak tubuh.
Selain itu, menurut Rakhmat (2007: 89-91),
persepsi interpersonal juga dipengaruhi oleh faktofaktor personal seperti pengalaman, motivasi, dan
kepribadian. Dalam hal pengalaman, hal itu tidak
selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman kita
bertambah juga melalui rangkaian peristiwa yang
pernah kita hadapi. Kalau motivasi yang membantu
dalam proses konstruktif yang banyak mewarnai
persepsi interpersonal juga sangat banyak melibatkan
unsur-unsur motivasi. Sedangkan, kepribadian
dimana dalam psikoanalisis dikenal proyeksi, sebagai
salah satu cara pertahanan ego. Proyeksi adalah
mengeksternalisasikan pengalaman subjektif secara
tidak sadar.
Memang, pengalaman menjadi latarbelakang
manusia untuk berpikir, menurut penulis, pengalaman
juga mampu membantu para pendidik sebagai
pemahaman. Kalau motivasi yang paling tepat adalah
yang datang dari sendiri. Sedangkan motivasi yang
datang orang lain itu hanya dijadikan pendukung
saja. Nah, kepribadian seorang pendidik juga harus
diutamakan.
Setelah itu, bergabungnya faktor personal
dan situasional maka akan mengarah pada proses
persepsi interpersonal. Nah, proses tersebut terdapat
stereotyping, yakni menjelaskan terjadinya primacy
effect dan halo effect. Primacy effect secara sederhana
menunjukkan
bahwa
kesan
pertama
amat
menentukan; karena kesan itulah yang menentukan
kategori. Begitu pula, halo effect. Persona stimuli
yang sudah kita senangi telah mempunyai kategori
tertentu yang positif, dan pada kategori itu sudah
disimpan semua sifat yang baik. (Rakhmat, 2007:92)
4
Lebih jauh mengenai proses persepsi
interpersonal juga terdapat, implicit personality
theory ialah memberikan kategori berarti membuat
konsepsi tentang sifat-sifat apa yang berkaitan
dengan sifat-sifat apa. Konsepsi ini merupakan teori
yang dipergunakan orang ketika membuat kesan
tentang orang lain. (Rakhmat, 2007:93)
Kemudian, menurut Baron dan Byrne,
(1979:56) dalam Rakhmat (2007:93), atribusi adalah
proses menyimpulkan motif, maksud, dan
karakteristik orang lain dengan melihat pada
perilakunya yang tampak. Sekarang bagaimana kita
dapat menyimpulkan bahwa persona stimuli jujur
atau munafik (atribusi kejujuran-attribution of
honesty)? Menurut Robert A. Baron dan Donn Byrne
(1979:70-71) dalam Rakhmat (2007:95), kita akan
memperhatikan dua hal: (1) sejauh mana pernyataan
orang itu menyimpang dari pendapat yang popular
dan diterima orang, (2) sejauh mana orang itu
memperoleh keuntungan dari kita dengan pernyataan
itu.
Setelah itu, proses pengelolaan pesan.
Peralatan lengkap yang kita gunakan untuk
menampilkan diri ini disebut front. Front terdiri dari
panggung (setting), penampilan (appearance), dan
gaya bertingkah laku (manner). Panggung adalah
rangkaian peralatan ruang dan benda yang kita
gunakan. Penampilan berarti menggunakan petunjuk
artifaktual. Gaya bertingkah laku menunjukkan cara
kita berjalan, duduk, berbicara, memandang, dan
sebagainya. (Rakhmat:2007:96)
Dalam komunikasi interpersonal adalah
ketika para pendidik itu menampilkan proses
komunikasinya di depan anak didiknya. Pertama,
panggung, para pendidik harus benar-benar
menyiapkan kelas sebagai panggung bagi aksi
komunikasi interpersonalnya. Kelas harus ditata dan
dikuasi seseuai dengan keinginan dosen. Minimal,
mulai penyejuk udara dan perlengkapan pendukung
lainnya harus siap mendukung penampilan sang
pendidik. Kedua adalah penampilan. Penampilan di
sini bukan hanya pakaian semata, tetap ada sesuatu
yang keunikan dari apa yang melekat pada tubuh kita
yang menarik perhatian, misalnya memakai topi dan
gaya rambut seperti anak didik. Kemudian, gaya
tingkah laku adalah bagaimana para pendidik
membawa diri dalam pembelajara, mulai dari gaya
berbicara, lelucon yang diberikan untuk mencairkan
suasana, dan memoderisasi diskusi.
2. Konsep Diri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep
diri antara lain orang lain dan kelompok rujukan
(Rakhmat:2007:100-104). Dalam konteks para
pendidik, konsep diri tidak dapat dilepaskan.
Memang dasarnya konsep diri mengacu kepada orang
lain, misalnya tokoh-tokoh pendidikan atau idola dari
para dosen tersebut itu yang akan mempengaruhi
konsep diri. Kemudian, mengenai kelompok rujukan
lebih mengacu kepada organisasi dosen atau
komunitas dimana dia berbagai dan mengembangkan
konsep diri.
Konsep diri mempengaruhi komunikasi
interpersonal dengan nubuat yang dipenuhi sendiri,
membuka diri, percaya diri, dan selektivitas
(Rakhmat: 2007:100-104). Menurut penulis, sangat
jelas bahwa para pendidik harus bersikap sesuai
dengan konsep dirinya. Semua yang dilakukan
merupakan cerminan konsep diri. Kemudian,
mengenai membuka diri, bagaimana pendidik itu
menghadapi kehidupan yang sehatrusnya bersikap
terbuka dan menerima pengetahuan dan pengalaman
yang dirasa baik. Sedangkan percaya diri menjadi ruh
konsep diri karena mempengaruhi sikap dan perilaku
kita dalam berkomunikasi. Percaya diri harus
dipupuk terus karena sebandingkan dengan jam
terbang. Seorang dosen untuk mengembangkan
konsep diri dapat melakukan seleksi terhadap hal-hal
yang dianggap negatif, dan menerapkan hal-hal
positif. Adanya penggabungan tersebut akan
mengerucut kepada konsep diri seorang pendidik itu.
Jangan malu untuk berbeda.
3. Atraksi Interpersonal.
Menurut Rakhmat (2007:111-113), faktorfaktor personal yang mempengaruhi atraksi
interpersonal meliputi kesamaan karakteristik
personal, tekanan emosional, harga diri yang rendah,
dan isolasi sosial. Secara singkat, dalam kesamaan
karakteristik personal ditinjau dari Teori Cognitive
Consistency (Fritz Heider) menyebutkan bahwa
orang akan mencari, berusaha mencapai konsistensi
dalam sikap dan perilakunya, kita cenderung
menyukai orang, kita ingin mereka memilih sikap
yang sama dengan kita, dan jika kita menyukai orang,
kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan
kita hal ini supaya seluruh unsur kognitif kita
konsisten.
Seorang pendidikan
harus
memiliki
karakteristik yang menonjol, tentunya kharakteristik
yang positif. Karakteristik pendidik yang harus
dipertahankan adalah disiplin dan kreativitas dalam
mengajar. Kalau tekanan emosional lebih berkaitan
dengan mood atau situasi hati pendidik. Ini
merupakan hal yang wajar karena pendidik juga
manusia biasa yang menghadapi berbagai persoalan
kehidupan. Mengenai harga diri yang rendah dan
isolasi sosial tidak berpengaruh banyak kepada
pendidik.
5
Belum cukup faktor personal semata, tetapi
atraksi sosial juga didukung faktor-faktor situasional
yang meliputi daya tarik fisik, ganjaran, familiarity,
kedekatan, dan kemampuan. (Rakhmat:2007:114117). Daya tarik fisik, dalam penelitian Dion,
Berscheid dan Alster menyimpulkan penilaian pada
orang-orang yang memiliki wajah yang cantik
mereka cenderung menilai akan lebih berhasil dalam
hidupnya dan dianggap memiliki sifat-sifat yang
baik. Kemudian, Ganjaran dimana kita menyenangi
orang yang memberikan ganjaran kepada kita berupa
bantuan, dorongan moral, pujian atau hal-hal yang
meningkatkan harga diri kita. Kalau, familiarity
yakni sering kita lihat atau sudah kita kenal dengan
baik. Orang cenderung tertarik dengan orang yang
sudah akrab dengan mereka. Selanjutnya adalah
kemampuan dengan banyak orang cenderung
menyenangi orang lain yang memiliki kemampuan
lebih tinggi dibandingkan dirinya. Kemudian,
Kedekatan Proximity, dimana orang cenderung
menyenangi mereka yang tempat tinggalnya
berdekatan, persahabatan akan lebih mudah tumbuh
diantara tetangga yang saling berdekatan (Whyte,
1956).
Hal terpenting tersebut, menurut penulis
adalah ganjaran. Dosen mendapatkan ganjaran
berupa dosen akan mampu meningkatkan prestasi. Di
sisi lain, dosen juga harus memberikan ganjaran
kepada mahasiswa untuk mendorong mereka untuk
terus berprestasi. Unsur kedua yang penting adalah
kemampuan. Dengan semangat para pendidik untuk
terus berinovasi dalam meningkatkan kemampuan
mengajar dan mengembangkan kreativitas dalam
mendidik mahasiswa. Apa yang disampaikan dosen
bukan hanya materi ilmu pengetahuan semata, tetapi
juga bagaimana cara menyampaikan ilmu
pengetahuan.
4. Hubungan Interpersonal.
Menurut Arnold W. Goldstein (1975) dalam
(Rakhmat, 2007:120) hubungan interpersonal ada
tiga yaitu: (1) makin baik hubungan interpersonal
seseorang maka semakin terbuka individu
mengungkapkan perasaannya; (2) makin baik
hubungan interpersonal seseorang maka semakin
cenderung individu meneliti perasaannya secara
mendalam beserta penolongnya (psikolog); (3) makin
baik hubungan interpersonal seseorang maka makin
cenderung individu mendengarkan dengan penuh
perhatian dan bertindak atas nasehat penolongnya.
Menurut Rahkmat (2007:129-133), ada beberapa
yang menumbuhkan hubungan
interpersonal dalam komunikasi interpersonal
meliputi percaya (trust), sikap sportif, dan sikap
terbuka.
Percaya (trust). Secara ilmiah, “percaya”
didefinisikan sebagai “mengandalkan perilaku
orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki,
yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi
yang penuh resiko” (Griffin, 1967:224-234).
Dengan adanya percaya dapat meningkatkan
komunikasi interpersonal karena membuka
saluran komunikasi, memperjelas pengiriman
dan penerimaan informasi, serta memperluas
peluang komunikan untuk mencapai maksud
tertentu.
b. Sikap suportif. Sikap suportif adalah adalah
sikap yang mengurangi sikap defensif dalam
komunikasi seseorang bersikap defensif apabila
tidak menerima, tidak jujur, tidak empatis.
Dengan sikap defensif komunikasi interpersonal
akan gagal.
c. Sikap terbuka (open mindedness). Sikap terbuka
amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan
komunikasi interpersonal yang efektif. Lawan
dari sikap terbuka adalah dogmatisme, sehingga
untuk memehami sikap terbuka, kita harus
mengidentifikasi lebih dahulu kharakteristik
orang dogmatis.
Tujuan utama komunikasi personal adalah
hubungan interpersonal. Menurut penulis, hubungan
interpersonal menjadi titik klimak dalam proses
pembelajaran. Kenapa? Jika sudah adanya
kepercayaan, sikap saling mendukung, dan sikap
keterbukaan maka proses pembelajaran dapat
dikatakan sukses. Semuanya saling mendukung satu
sama lain.
Sedangkan menurut Devito (1997:259-264)
menyebutkan efektivitas komunikasi interpersonal
dimulai dengan lima kualitas umum yang
dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness),
empati
(empathy),
sikap
mendukung
(supportiveness), sikap positif (positiveness), dan
kesetaraan (equality). Keterbukaan bakal terjadi jika
komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka
kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Aspek
keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan
komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap
stimulus yang datang. Kemudian, empati dalam
pandangan Henry Backrack (1976) menyebutkan
empati sebagai ”kemampuan seseorang untuk
„mengetahui‟ apa yang sedang dialami orang lain
pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang
lain itu, melalui kacamata orang lain itu.” Kalau,
sikap mendukung (supportiveness) dengan catatan
memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap
(1) deskriptif, bukan evaluatif, (2) spontan, bukan
strategic, dan (3) provisional (syarat), bukan sangat
yakin. Selanjutnya, sikap positif, dengan (1)
menyatakan sikap positif dan (2) secara positif
a.
6
mendorong orang yang menjadi teman kita
berinteraksi. Sedangkan, kesetaraan dimana dalam
setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan.
Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi
interpersonal akan lebih efektif bila suasananya
setara.
Sementara itu, menurut Ron Ludlow &
Fergus Panton, ada hambatan-hambatan yang
menyebabkan komunikasi tidak efektif yaitu adalah
(1992:10-11):
1. Status effect. Adanya perbedaan pengaruh status
sosial yang dimiliki setiap manusia. Misalnya
karyawan dengan status sosial yang lebih rendah
harus tunduk dan patuh apapun perintah yang
diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak
dapat atau takut mengemukakan aspirasinya atau
pendapatnya.
2. Semantic
Problems.
Faktor
semantik
menyangkut
bahasa
yang
dipergunakan
komunikator sebagai alat untuk menyalurkan
pikiran dan perasaanya kepada komunikan. Demi
kelancaran komunikasi seorang komunikator
harus benar-benar memperhatikan gangguan
sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau
kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan
salah pengertian (misunderstanding) atau
penafsiran (misinterpretation) yang pada
gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi
(miscommunication).
Misalnya
kesalahan
pengucapan bahasa dan salah penafsiran seperti
contoh: pengucapan demonstrasi menjadi
demokrasi, kedelai menjadi keledai dan lain-lain.
3. Perceptual distorsion. Perceptual distorsion
dapat disebabkan karena perbedaan cara
pandangan yang sempit pada diri sendiri dan
perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti
yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam
komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan
wawasan atau cara pandang antara satu dengan
yang lainnya.
4. Cultural Differences. Hambatan yang terjadi
karena
disebabkan
adanya
perbedaan
kebudayaan, agama dan lingkungan sosial.
Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku,
ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada
beberapa kata-kata yang memiliki arti berbeda di
tiap suku. Seperti contoh: kata “jangan” dalam
bahasa Indonesia artinya tidak boleh, tetapi
orang suku jawa mengartikan kata tersebut suatu
jenis makanan berupa sup.
5. Physical Distractions. Hambatan ini disebabkan
oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses
berlangsungnya komunikasi. Contohnya: suara
riuh orang-orang atau kebisingan, suara hujan
atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.
6.
Poor choice of communication channels. Adalah
gangguan yang disebabkan pada media yang
dipergunakan dalam melancarkan komunikasi.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya
sambungan telephone yang terputus-putus, suara
radio yang hilang dan muncul, gambar yang
kabur pada pesawat televisi, huruf ketikan yang
buram pada surat sehingga informasi tidak dapat
ditangkap dan dimengerti dengan jelas.
7. No Feed back. Hambatan tersebut adalah seorang
sender mengirimkan pesan kepada receiver tetapi
tidak adanya respon dan tanggapan dari receiver
maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah
yang sia-sia. Seperti contoh: Seorang manajer
menerangkan suatu gagasan yang ditujukan
kepada para karyawan, dalam penerapan gagasan
tersebut para karyawan tidak memberikan
tanggapan atau respon dengan kata lain tidak
peduli dengan gagasan seorang manajer.
Menurut Stephen P. Robbin (2008:408)
bahwa hambatan terbagi dalam; Penyaringan,
Persepsi Selektif, Informasi Berlebih, Emosi, Bahasa,
Kegelisahan Komunikasi. Penyaringan mengarah
kepada pengirim yang memanipulasi informasi
sedemikian rupa sehingga akan tampak lebih
menguntungkan di mata si penerima. Persepsi
selektif, konsep ini muncul karena penerima dalam
proses komunikasi secara selektif melihat dan
mendengar berdasarkan kebutuhan, motivasi,
pengalaman, latarbelakang, dan karakteristik,
personal lainnya. Informasi berlebih, batas setiap
individu dalam mengolah data terbatas dalam
kapasitas tertentu. Emosi adalah perasaan penerima
pesan pada saat menerima komunikasi yang akan
mempengaruhi cara dia menginterpretasikan. Bahasa,
kata-kata bisa memiliki arti yang berbeda bagi orang
yang berbeda pula. Kegelisahan Komunikasi
merupakan hambatan terbesar terhadap komunikasi
yang efektif. Orang yang menderita kegelisahan
komunikasi mengalami ketegangan dan kecemasan
yang tidak pada tempatnya dalam komunikasi lisan,
tulisan, atau keduanya.
B. Strategi Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Johnson (2010:67) mengemukakan sistem
CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan
menolong para siswa melihat makna di dalam materi
akademik yang mereka pelajari dengan cara
menghubungkan subjek-subjek akademik dengan
konteks dalam kehidupan kesehatrian mereka, yaitu
dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya
mereka. Untuk mencapai tujuan ini, sistem tersebut
meliputi delapan komponen sebagai berikut:
membuat keterkaitan-kterakitan yang bermakna,
melaukan pekerjaan yang berarti, melakukan
7
pembelajaran yang diatur sendiri, melakukan
kerjasama, berpikir kritis dan kreatif, membantu
individu untuk tumbuh dan berkembang, mencapai
standar yang tinggi, dan menggunaan penilaian
autentik.
Dalam konsep CTL, menurut penulis,
menganggap institusi pendidikan tidaklah sebagai
ranah suci, melainkan sebagai ranah publik yang
menggodok berbagai persoalan kehidupan untuk
dianalisis dan dikritisi kemudian memberikan sebuah
solusi. Konsep ini telah sukses dilaksanakan di
Amerika Serikat. CTL membiasakan anak didik
untuk terus berpikir kreatif dan kritis terhadap segala
permasalahan. Dengan demikian, anak didik pun siap
setelah lulus kuliah dan memasuki dunia kerja.
Dalam pembelajaran kontekstual tugas
dosen adalah memfasilitasi mahasiswa dalam
menemukan sesuatu yang baru (pengetahuan dan
ketrampilan) melalui pembelajaran sendiri bukan apa
kata guru atau dosen (Kunandar, 2007:271). Siswa
benar-benar mengalami dan menemukan sendiri apa
yang dipelajari sebagai hasil rekonstruksi sendiri
sehingga siswa lebih produktif dan inovatif. Menurut
Natawidjaja (1985) dalam Kunandar (2007:272),
pembelajaran kontekstual atau lazim disebut CTL
akan mendorong ke arah belajar aktif yakni sistem
belajar mengajar yang menekankan keaktivan siswa
secara fisik, mental, intelektual dan emosional guna
memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan
antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Menurut penulis, dalam CTL merupakan
strategi pembelajaran yang paling oyektif dan
aplikatif. Kenapa demikian? Obyektif karena
pembelajaran ini lebih menekankan kepada konteks
sosial sehingga mengacu kepada fakta dan peristiwa
yang ada di dalam masyarakat, itu kalau berkaitan
dengan pelajaran sosial. Sedangkan, untuk pelajaran
berkaitan dengan teknik dan sains, juga dapat
mengaitkan fenomena alam atau kejadian di sekitar
serta perusahaan-perusahaan untuk dijadikan bahan
pengembangan materi. Jadi, semuanya sangat
obyektif dan tidak hanya bermain pada wacana
semata. Mengenai aplikatif, semua pembahasan
dalam materi CTL berbasis pada aplikasi. Semuanya
dapat diterapkan di masyarakat, mulai dari hal yang
abstrak hingga realitas. Ini menjadikan mahasiswa
lebih sadar bahwa kehidupan ini sangatlah praktis
dan bisa dicarikan solusinya karena terbiasa analisis
dan kritis.
Lebih lanjut, dalam CTL, menurut penulis,
dosen bukan lagi sebagai sumber ilmu, guru hanya
sebagai moderator. Meski sebagai moderator, dosen
juga memiliki peran dalam mengarahkan anak didik
dengan konsep dan teori yang benar. Dosen bukan
lagi sebagai pusat bagi mahasiswa, dosen lebih
bersifat mengantarkan mahasiswa masuk ke ranah
diskusi dalam struktur yang teratur. Dengan demikian
dosen memiliki peranan lebih besar, karena sebagai
sutradara yang mengatur dan bertanggungjawab
dalam proses CTL.
Menurut Johnson (2010:65) dan Kunandar
(2007:274-275) mengemukakan delapan komponen
dalam sistem CTL sebagai berikut:
1. Melakukan hubungan yang bermakna (making
meaningful connections). Artinya siswa dapat
mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar
secara aktif dalam mengembangkan minatnya
secar individual, orang yang dapat bekerja
sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang
yang dapat belajar sambil berbuat (learning by
doing) (Kunandar, 2007:274). Sedangkan
menurut Johnson (2010:100-147), hal terpenting
dalam CTL yakni mengaitkan dengan ruang
kelas, menambah dan menyisipkan mata
pelajaran yang berbeda, mata pelajaran yang
saling berhubungan, mata pelajaran terpadu,
menggabungkan sekolah dan pekerjaan, dan
kuliah kerja nyata (praktek lapangan)
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan
artinya siswa membuat hubungan-hubungan di
antara kampus dengan berbagai konteks yang
ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis
dan sebagai anggota masyarakat (Kunandar,
2007: 275).
3. Belajar yang diatur sendiri (Kunandar, 2007:
275). CTL, dalam pandangan Johnson
(2010:175), menuntut pembelajaran mandiri
untuk mengembangkan pengetahuan dan
keahlian yang tidak dapat mereka kembangkan
hanya dari belajar dan menjawab pertanyaanpertanyaan faktual mengenai topik yang sempit.
4. Bekerjasama artinya siswa dapat bekerja sama,
guru atau dosen membantu anak didik untuk
bekerja secara efektif dalam kelompok
membantu mereka memahami bagaimana
mereka saling mempengaruhi dan saling
berkomunikasi (Kunandar, 2007: 275).
5. Berpikir kritis dan kreatif. Artinya anak didik
diajak untuk berpikir lebih tinggi secara kreatif
dan kritis sehingga dapat menganalisis, membuat
sintesis, memecahkan masalah, membuat
keputusan dan menggunakan logika serta buktibukti (Kunandar, 2007: 275). Johnson
(2010:192-199) memberikan delapan langkah
dalam langkah-langkah berpikir kritis yakni (1)
apa sebenarnya isu, masalah, keputusan atau
kegiatan yang sedang dipertimbangkan, (2) apa
sudut pandangnya? (3) apa alasan yang
diajukan? (4) asumsi-asumsi apa saja yang
dibuat? (5) apakah bahasanya jelas? (6) apakah
8
alasan didasarkan pada bukti-bukti yang
menyakinkan? (7) kesimpulan apa yang
ditawarkan
(8)
apakah
implikasi
dari
kesimpulan-kesimpulan yang telah diambil.
Mengenai kreativitas, Johnson (2010:215)
menyatakan, berpikir kreaitif membutuhkan
ketekunan, disiplin diri dan perhatian penuh,
meliputi aktivitas mental seperti (1) mengajukan
pertanyaan, (2) mempertimbangkan informasi
baru dan ide yang tidak lazim dengan pikiran
terbuka, (3) membangun keterkaitan, khususnya
di antara hal-hal yang berbeda, (4)
menghubungkan-hubungkan berbagai hal yang
bebas, (5) menerapkan imajinasi pada setiap
situasi untuk menghasilkan hal baru dan berbeda,
dan (6) mendengarkan intuisi.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi anak didik
sehingga memiliki harapan-harapan yang tinggi,
memotivasi, dan memperkuat diri karena mereka
tidak akan berhasil tanpa dukungan orang
dewasa (Kunandar, 2007:275).
7. Mencapi
standar
yang
tinggi
dengan
mengidentifikasi tujuan dan memotivasi anak
didik untuk mencapainya (Kunandar, 2007:275).
Untuk mencapai standar yang tinggi, menurut
Johnson (2010: 265), para pendidikan memiliki
pemahaman yang unggul dibidangnya dan
mengadopsi standar dari luar agar memiliki
keuntungan
karena
dapat
menempatkan
pandangan pribadi mereka dalam konteks yang
lebih luas.
8. Mengunakan penelian autentitik (Kunandar,
2007:275). Johnson (2010:291-299), penilian
otentik dapat berupa portofolio, proyek, dan
pertunjukan.
Menurut penulis, dari komponen utama CTL
itu mengarah pembelajaran yang bertujuan untuk
membentuk rasa keingintahuan mendalam pada diri
mahasiswa. Tanggungjawab tersebut terletak di
tangan dosen. Dosen harus berusaha keras memacu
dan memicu mahasiswa untuk memiliki rasa
keingintahuan yang luas. Caranya? Dosen dapat saja
mengajukan pertanyaan, memberikan motrivasi,
bermain retorika, serta mengemukakan argumen yang
menantang kepada mahasiswa. Dengan demikian,
mahasiswa pun tertantangan untuk mengutamakan
opini mereka dan terus berkeinginan untuk belajar
dan belajar.
Jonhson (2010:68-89) mengemukakan tiga
prinsip ilmiah dalam CTL:
1. Prinsip Ketergantungan. Prinsip ini mengajak
para pendidik ilmiah mengenali keterkaitan
mereka dengan pendidik lainnya, dengan siswasiswa mereka, dengan masyarakat, dengan bumi.
Prinsip ini mendesak bahwa sekolah adalah
sebuah sistem kehidupan, dan bahwa bagianbagian dari sistem itu–para siswa, para guru,
koki, tukang kebun, tukang sapu, pegawai
administrasi, sekretaris, sopir bus, orang tua dan
teman-teman masyarakat–berada di dalam
sebuah jaringan hubungan yang menciptakan
lingkungan belajar.
2. Prinsip Diferensiasi. Prinsip ini menyumbangkan
kreativitas indah yang berdetak di seluruh alam
semesta dan menunju keragaman yang tak
terbatas, dan hal itu menjelaskan kecenderungan
entitas-entitas yang berbeda untuk bekerja sama
dalam bentuk yang disebut dengan simbiosis.
Jika para pendidikan percaya dengan para
ilmuwan modern bahwa prinsip diferensiasi yang
dinamis itu meliputi dan memengaruhi bumi dan
semua sistem kehidupan, maka mereka pasti
ingin mengajar sesuai dengan prinsip karena
prinsip tersebut menuju kreativitas, keunikan,
keragaman, dan kerjasama.
3. Prinsip Pengaturan-Diri. Prinsip ini meminta
para pendidik untuk mendorong setiap siswa
untuk mengeluarkan seluruh potensinya yakni
menolong siswa agar mencapai keunggulan
akademik, memperoleh ketrampilan karie dan
mengembangkan
karakter
dengan
menghubungkan
tugas
sekolah
dengan
pengalaman serta pengetahuan pribadinya, di
mana ketika siswa menghubungkan materi
akademik dengan konteks keadaan pribadi
mereka, mereka terlibat dalam kegiatan yang
mengandung prinsip pengaturan diri.
Dengan demikian, proses CTL membentuk
kesadaran diri mahasiswa untuk terus belajar dan
belajar. Menurut penulis, kesadaran ini harus
dibentuk sehingga mahasiswa belajar bukan karena
akan menghadapi ujian atau hanya mengejar nilainilain yang bagus. Tetapi, mahasiswa ditata
sedemikian bahwa belajar itu harus terus
dipertahankan karena selama hidup mereka karena
ilmu itu sangat berguna sebagai alat untuk
menyelesaikan
permasalahan
kepada
semua
permasalahan. Hanya saja, untuk membangun
kesadaran tersebut memerlukan waktu yang lama dan
tidak mudah. Tetapi, seorang dosen dalam CTL
berkewajiban untuk menumbuhkan kesadaran diri.
Caranya? Dengan menantang mahasiswa untuk terus
bermanfaat bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga
masyarakat dan lingkungan sekitar.
Selanjutnya adalah strategi CTL yang telah
ditetapkan Kementerian Pendidikan Nasional seperti
dikutip dari Kunandar (2007:283-293):
1. Konstruktivisme (Constructivism). Menekankan
bahwa pembelajaran tidak semata sekedar
menghafal, mengingat pengetahuan. Akan tetapi
9
merupakan suatu proses belajar mengajar dimana
siswa sendiri aktif secara mental membangun
pengetahuannya, yang didasari oleh struktur
pengetahuan yang dimilikinya.
2. Menemukan (Inquiry). Menemukan merupakan
bagian inti dari aktivitas pembelajaran berbasis
kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang
diperoleh siswa bukan dari hasil mengingat
fakta-fakta melainkan dari hasil menemukan
sendiri.
Kegiatan
menemukan
(inquiry)
merupakan sebuah siklus yang terdiri dari
observasi (observation), bertanya (questioning),
Mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan
data (data gathering), dan penyimpulan
(conclusion).
3. Bertanya (Questioning). Bertanya adalah strategi
utama pembelajaran berbasis kontekstual.
Bertanya bermanfaat untuk:
a. Menggali informasi
b. Menggali pemahaman siswa
c. Membangkitkan daya respon siswa
d. Mengetahui sampai sejauh mana keinginan dan
minat siswa
e. Memfokuskan perhatian pada sesuatu yang
dikehendaki guru
f. Membangkitkan lebih luas lagi pertanyaan dari
siswa, dalam rangka menyegarkan kembali
Pengetahuan siswa.
4. Masyarakat belajar (Learning Community).
Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil
pembelajaran didapat dari hasil kerja sama
dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari
“sharing” antar teman, antar kelompok, dan
antar yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat
belajar akan berjalan baik jika terjadi komunikasi
dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat
aktif dalam komunikasi pembelajaran saling
belajar.
5. Pemodelan (Modeling). Membahasakan yang
ada dalam pemikiran adalah salah satu bentuk
dari pemodelan. Jelasnya pemodelan adalah
membahasakan
yang
dipikirkan,
memdemonstrasi bagaimana guru menghendaki
siswanya untuk belajar dan melakukan sesuatu.
Dalam pembelajaran kontekstual, Guru bukan
satu-satunya model. Model dapat dirancang
dengan melibatkan siswa atau bisa juga
mendatangkan dari luar.
6. Refleksi (Reflection). Refleksi merupakan cara
berpikir atu merespon tentang apa yang baru
dipelajari. Berpikir ke belakang tentang apa yang
sudah
dilakukan
dimasa
lalu.
Pengejawantahannya dalam pembelajaran adalah
guru menyiapkan waktu sejenak agar siswa dapat
melakukan refleksi yang berupa pernyataan
langsung tentang apa yang sudah diperoleh pada
hari itu.
7. Penilaian
yang
sebenarnya
(Authentic
Assessment).
Penilaian
adalah
proses
pengumpulan berbagai data yang dapat memberi
gambaran mengenai perkembangan belajar
siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL,
gambaran perkembangan belajar siswa perlu
diketahui guru, agar siswa dapat memastikan
bahwa siswa mengalami pembelajaran yang
benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian
tugas yang relevan dan kontekstual. Evaluasi
dilakukan terhadap proses maupun hasil.
Dengan demikian, kampus sebagai institusi
pendidikan harus benar-benar menerapkan tri dharma
perguruan tinggi yakni pendidikan, penelitian dan
pengabdian. Menurut penulis, itu tidak hanya sebagai
semboyan semata. Tetapi benar-benar dipraktekkan
sebagai ritual semata, tetapi harus diterapkan sebagai
bentuk strategi untuk menempatkan institusi
pendidikan sebagai agen perubahan di masyarakat,
bukan sebagai agen penonton saja.
C. Hubungan Komunikasi Inter-personal Dosen
dengan CTL
Dalam CTL tidak dapat dilepaskan dari
kemampuan komunikasi interpersonal dosen. Ini
tidak lepas karena komunikasi interpersonal memiliki
beberaapa tujuan. Di sini akan dipaparkan 6 tujuan,
antara lain (Muhammad:2004, 165-168 ):
a. Menemukan
Diri
Sendiri.
Komunikasi
interpersonal memberikan kesempatan kepada
kita untuk berbicara tentang apa yang kita sukai,
atau mengenai diri kita.
b. Menemukan Dunia Luar. Hanya komunikasi
interpersonal menjadikan kita dapat memahami
lebih banyak tentang diri kita dan orang lain
yang berkomunikasi dengan kita.
c. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang
Penuh Arti. Salah satu keinginan orang yang
paling besar adalah membentuk dan memelihara
hubungan dengan orang lain.
d. Berubah Sikap Dan Tingkah Laku. Banyak
waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap
dan tingkah laku orang lain dengan pertemuan
interpersonal. Kita boleh menginginkan mereka
memilih cara tertentu, misalnya mencoba diet
yang baru, membeli barang tertentu, melihat
film, menulis membaca buku, memasuki bidang
tertentu dan percaya bahwa sesuatu itu benar
atau salah.
e. Untuk Bermain Dan Kesenangan. Bermain
mencakup semua aktivitas yang mempunyai
tujuan utama adalah mencari kesenangan.
f. Untuk Membantu. Ahli-ahli kejiwaan, ahli
psikologi klinis dan terapi menggunakkan
10
komunikasi interpersonal dalam kegiatan
profesional mereka untuk mengarahkan kliennya.
Fungsi utama komunikasi interpersonal
dalam pembelajaran di kampus adalah membantu
dosen untuk memperlancar penyampaian materi dan
menghidupkan suasana kelas. Dosen adalah tetap
menjadi fokus utama dalam pembelajaran, sehingga
perlu memiliki komunikasi interpersonal yang dapat
diandalkan.
Menurut penulis, jelas sekali bahwa CTL
menuntut dosen untuk mampu melibatkan siswa
bukan hanya belajar tetapi juga mengajak mereka
untuk menyusun materi pembelajaran berdasarkan
pengalaman kehidupan mereka. Dalam ini,
kemampuan komunikasi interpersonal dosen untuk
menghipnotis mahasiswa agar dapat belajar lebih
kreatif dan mencari sesuatu yang baru dalam proses
pembelajaran.
CTL juga mendorong mahasiswa untuk
menganalisis dan mengkritis hal-hal kehidupan.
Dalam hal ini, penulis menganggap bahwa
kemampuan komunikasi interpersonal dosen diasah
agar dapat mampu menciptakan suasana yang saling
asosiatif dan produktif di tengah banyaknya gagasan
dan penemuan mahasiswa. Diperlukan kemampuan
komunikasi yang mampu mengayomi semua suara di
kalangan mahasiswa yang ingin memberikan
pendapatnya.
Syarat mutlak seorang dosen adalah bukan
hanya mengajak untuk belajar bersama, tetap
meminta para siswa mengaplikasikan semua materi
yang telah dipelajari di kelas ke dalam kehidupan.
Misalnya, mendiskusikan mengenai desain iklan dan
mengaitkan dengan desain produk iklan yang
bertebaran di televisi dan majalah. Kemudian,
mahasiswa pun dituntut membuat desain yang
menarik sesuai dengan selera pasar. Hanya saja,
dalam CTL, menurut penulis, peranan dosen adalah
bagaimana mengkomunikasikan dengan baik bahwa
ilmu yang ada di dalam masyarakat itu bukan sebagai
patokan utama, tetapi itu hanya menjadi pengetahuan.
Melainkan, dosen harus memberikan tangan untuk
menghasilkan karya yang mampu berbeda dengan
produk yang telah ada di masyarakat.
Peranan komunikasi interpersonal dalam
pembelajaran, menurut penulis, juga harus
mengeksplorasi mental dosen dan siswa untuk terus
berpikir ke depan. Menciptakan sesuatu yang baru,
dan menganggap masa adalah sebagai sejarah. Itu
semua harus dilakukan dengan mengoptimalkan
mental yakni keberanian dalam berkomunikasi antara
guru dan mahasiswa. Jangan sampai terjadi
kebuntuan dalam berkomunikasi. Itu semua dapat
dicapai dengan salah satu cara yakni komunikasi dua
arah yang berjalan tanpa henti untuk mencapai
sebuah titik temu. Tentunya, komunikasi tersebut
harus berdasarkan kepada pakemnya yakni kurikulum
dan tujuan pembelajaran.
Selama proses CTL di kelas tak dapat
dilepaskan dari komunikasi. Gaya komunikasi yang
dilakukan oleh dosen di depan mahasiswa juga tidak
akan dilupakan sepanjang hayat mereka. Itu bahkan
menjadi panduan mereka. Untuk itu, gaya
komunikasi interpersonal dosen harus terus
dikembangkan agar mahasiswa pun mencontohkan
hal baik, bukannya jelek dari segi komunikasi para
pendidiknya. Pasalnya, komunikasi interpersonal
dosen itu menjadi karakter dan doktin yang akan
tertanam di alam bawah sadar mahasiswa karena
proses interaksi berlangsung terus menerus.
Dalam proses CTL, proses komunikasi yang
dilakukan oleh para pendidikan seyogyanya
menempatkan mahasiswa bukan sebagai obyek,
melainkan sebagai subyek. Komunikasi dengan
mahasiswa pun dilakukan dalam proses sejajar dan
tidak ada tingkatan atau pun struktural di dalam kelas
Kedua belah pihak, baik dosen dan mahasiswa
merupakan berstatus pembelajar. Mahasiswa juga
sebagai manusia merdeka yang selalu memiliki
keunikan dan kebaruan dalam berpendapat.
Dalam proses komunikasi dalam CTL,
dosen juga dapat menerapkan pendekatan deduktif.
Bagaimana caranya? Pembelajaran dimulai dengan
mengungkapkan aturan, prinsip umum diikuti dengan
contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum
itu kedalam keadaan khusus. Model ini sebenar
terlalu konvensional karena tidak memicu keinginan
tahuan mahasiswa. Pasalnya, pendekatan ini
dibermula dari teori kemudian ke praktek.
Nah, pendekatan modern menggunakan
sistem induktif dimana, langkah-langkah yang dapat
digunakan dalam pendekatan induktif adalah: (1)
memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan
dengan pendekatan induktif; (2) menyajikan contoh
khusus konsep, prinsip atau aturan itu yang
memungkinkan siswa memperkirakan (hipotesis)
sifat umum yang terkandung dalam contoh itu; (3)
disajikan bukti yang berupa contoh tambahan untuk
menunjang atau menyangkal perkiraan itu; dan (4)
disusun pernyataan mengenai sifat umum yang telah
terbukti berdasarkan langkah-langkah yang terdahulu.
Dengan pendekatan induktif akan memicu mahasiswa
untuk terus berpikir dan beranologi untuk
menghasilkan suatu hal yang memiliki hakekat dan
sulit untuk lupa karena terlalu rapi disimpan di dalam
otak.
IV. KESIMPULAN
11
CTL merupakan konsep pembelajaran yang
menekankan pada keterkaitan antara materi
perkuliahan dengan dunia kehidupan peserta didik
secara nyata. Tujuannya agar mahasiswa mampu
mengaitkan dan menerapkan ilmu di dunia kerja
nantinya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, maka
sangat perlu dosen meningkatkan kemampuan dalam
hal komunikasi personal. Pengembangan komunikasi
personal menjadi jaminan seorang dosen untuk
mampu mengembangkan kompetisi pedagogiknya di
depan mahasiswa.
Kunandar. 2007. Guru Profesional: Implementasi
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) dan Persiapan Menghadapai
Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajagrafindo
Persada.
DAFTAR PUSTAKA
Sendjaja,Sasa Djuarsa. 1994. Pengantar Komunikasi.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Hartley, Peter. 1993. Interpersonal communication.
New York: Routledge
Johnson, Eliane B. 2010. Contextual Teaching and
Learning. (Terj. Ibnu Setiawan). Bandung:
Kaifa Learning.
Littlejohn, Stephen W. 2001. Theories of Human
Communication.
USA:
Wadsworth
Publishing.
Rakhmat, J. 2007. Psikologi komunikasi. Edisi
Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sanjaya,
Wina. 2005. Pembelajaran Dalam
Implementasi
Kurikulum
Berbasis
Kompetensi. Bandung: Fajar Interpratama
Offset.
Wills, Wesley R. 1986. Make Your Teaching Count!.
Illinois: Victor Books.
12
Download