Key Issu Metode Penelitian Kualitatif

advertisement
“Key Issue” pada Metode Penelitian Kualitatif1
Makalah ini lebih tepat berupa jawaban “soal ujian” yang diberikan Fikom
Universitas Mercubuana kepada penulis perihal masalah pada penelitian
kualitatif yang disebutnya sebagai “Key Issue” Metode Penelitian Kualitatif, yang
diakui sering menimbulkan perbedaan pemahaman.
Saya tidak tahu apakah jawaban ini akan menambah pemahaman atau
meningkatkan kebingungan, mengingat format penelitian pada metode
penelitian kualitatif yang beragam (menurut yang saya pahami) menunjukkan
adanya suatu “format baku”, yaitu “tidak baku”. Jika paradigma positivistik, atau
kuantitatif menuntut hasil penelitian yang objektif dan menganggap kualitatif
tidak objektif, maka bagi saya “semakin subjektif penelitian kualitatif, maka akan
semakin objektif hasil penelitian itu”. Juga jika yang akan diuraikan pada
makalah ini dianggap terlalu “subjektif” dari perspektif saya sendiri, maka pada
hakekatnya saya sedang membangun hasil yang objektif (dari penulis sendiri).
Ini bisa lebih membingungkan, dan virus “bingung” ini akan menular pada
peserta lokakarya, sehingga secara simultan “kejelasan” akan tercapai (paling
kejelasan atas bingungnya).
Berdasarkan TOR yang diajukan, ‘key issue” tersebut adalah:
1. Obyek/kondisi seperti apa dapat
pedomanya/rambu-rambunya apa?
digunakan
metode
kualitatif,
2. Posisi teori (kegunaan) dalam penelitian kualitatif, apakah konsep utama
riset penelitian kualitatif (untuk memahami setting riset) harus dari
pendekatan subyektif (Fenomenologi – definisi sosial) ?
3. Apa unsur-unsur penelitian kualitatif (dari latar belakang-kesimpulan) yang
dan bagaimana menempatkan masing-masing unsur, khususnya di Bab III
Metodologi Penelitian ?
4. Apa pengertian fokus penelitian, dan bagaimana menempatkan fokus dalam
format penelitian ?
5. Kalau penelitian kuantitatif dasar kuesioner dari variabel-dimensi-indikator
penelitian, kalau penelitian kualitatif dasarnya apa, untuk wawancara dengan
key informan?
6. Bagaimana melakukan audit komunikasi (efektifitas program komunikasi)
dengan metode kualitatif (studi kasus atau lainnya) ?
1
Disampaikan pada Lokakarya Metode Penelitian Kualitatif di Fikom UMB 24 Januari 2008
1
7. Metode Penelitian kualitatif yang sering digunakan oleh mahasiswa, yaitu :
a. Case study (studi kasus)
b. Analisis Framing
c. Analisis Wacana
d. Analisis Semiotik
e. Dsb (beberapa mengarah pada ethnometodologi dan fenomenologi).
Problematika-permasalahan
dan tujuan penelitian lazimnya akan
menentukan metode dan “menempatkan unsur-unsur penelitian sehingga
tersusun format penelitian”. Karena tidak adanya format kualitatif yang
sistematis seperti di metode kuantitatif, case-case pada lampiran ini kami
pandang sudah baik dengan kekuranganya, untuk itu mohon diberi
tanggapan, apa yang seharusnya dilakukan supaya penelitian ini lebih
kualitas. Hal ini khususnya format atau alur penelitian, khususnya kesesuaian
antara : Masalah, tujuan penelitian, Sifat dan metode, key informan, fokus
penelitian, tekhnik pengumpulan data, tekhnik analisa data kualitatif dan
pembahasan-kesimpulan. (terangkum dalam lampiran 1.1 – 1.4)
Isu Pertama:
Kondisi “objektif” apa yang dapat menggunakan metode kualitatif?
Pertama saya menganggap perlu menyamakan makna (dengan peserta
lokakarya) antara kualitatif sebagai paradigma atau metode dan sifat data.
Menurut Servaes (1993) paradigma merupakan “frame of meaning”. Menurut
Guba (1994) paradigma adalah “a set of basic beliefs (or metaphysics) that deals
with ultimates or first principles... a word of view that defines, for its holder, the
nature of world”. Singkatnya, paradigma merupakan “sudut pandang” atau
“kerangka makna” yang berisi landasan filosofis (ontologis, epistemologis dan
aksiologis) terhadap suatu realitas. Misalnya paradigma kualitatif memandang
bahwa realitas itu dikonstruksi secara sosial, yakni berdasarkan kesepakatan
(lihat Berger & Luckmann, 1966). Sedangkan metode adalah implementasi
operasional dari epistemologis. Dalam tradisi peneltian kualitatif, seringkali
kedua hal tersebut tidak dibedakan secara tegas dan hanya disebut sebagai
Metode Penelitian Kualitatif.
Jadi jika disebut Metode Penelitian (Riset) Kualitatif, sebenarnya mencakup
sebuah cara pandang atau pemaknaan terhadap realitas yang dikonstruksi secara
sosial berdasarkan kesepakatan subjektif. Oleh karenanya “objektivitas” hasil
riset kualitatif bergantung pada nilai subjektivitas orang yang mengkonstruksi
realitas.
Berbeda dengan kualitatif sebagai sifat data. Seringkali disebut data kualitatif,
yang hakekatnya berisi uraian, narasi atau deskripsi yang hampir terhindar dari
jumlah-kali-bagi, frekuensi atau persentase. Sebagai sebuah bandingan dengan
data kuantitatif yang menunjukkan data statistik jumlah, persen atau frekuensi.
2
Dalam Metode Penelitian Kualitatif, sifat data kuantitatif tidak “diharamkan”.
Begitu juga Metode Kuantitatif tidak melarang data kualitatif (bahkan kalau
menurut saya memang seharusnya ada, jika tidak, maka penelitian kuantitatif ini
“kurang bermakna”).
Penelitian yang baik, bukan karena membandingkan penggunaan metode
kualitatif atau metode kuantitatif, melainkan metode yang relevan dengan tema
dan “istiqamah” (konsisten, ajeg) dengan paradigmanya.
Sebaiknya, ketika akan melakukan penelitian bukan berpikir metode apa yang
akan dipakai, melainkan “apa tema penelitiannya”? Hal kedua (dan ini yang
terpenting) apa saja keinginan peneliti dengan tema itu?
Tema bisa muncul karena pengamatan empirik, atau studi literatur. Saya
menganggap penting untuk tidak memulai dengan “apa masalah penelitian ini?”.
Oleh karena “mencari masalah penelitian, seringkali menjadi masalah”
(sebaiknya ke Pegadaian saja agar dapat “menyelesaikan masalah tanpa
masalah). Makna paradigmatik masalah dalam penelitian kualitatif bukan
terbatas adanya “kesenjangan antara harapan dan kenyataan”, melainkan bisa
lebih luas pada keunikan fenomena, peristiwa langka, spektakuler, jarang/belum
pernah ada yang meneliti atau banyak yang melakukan penelitian tetapi dari
sudut pandang berbeda. Singkatnya, semua objek atau subjek yang memiliki
makna yang menarik untuk dikaji lebih jauh.
Isu Kedua:
Apa kegunaan teori bagi penelitian kualitatif?
Beberapa literatur metode penelitian (lihat Mulyana, 2007; Hidayat, 2003;
Nasution, 1988; Moleong, 1999; Creswell, 2002, Lindloft, 1995), menyebutkan
bahwa metode penelitian kualitatif lebih bersifat induktif. Artinya langkah
penelitian yang harus didahulukan adalah data berdasarkan fakta, gejala,
fenomena, realitas yang menjadi tema, kemudian diolah, diproses, sehingga akhir
penelitian dapat menjadi proposisi, model atau bahkan teori.
Hampir semua disepakati bahwa teori pada penelitian kualitatif bukan untuk
diuji keabsahan, kebenaran (kesalahannya), melainkan sebagai “guidance” atau
“petunjuk jalan” saja.
Penelusuran literatur (baik berupa teori atau hasil penelitian terdahulu) dapat
dimanfaatkan oleh peneliti kualitatif sebagai bahan rujukan untuk menjelaskan
realitas yang diteliti menurut orang lain yang sudah melakukannya terlebih
dahulu. Selain itu, jika memungkinkan ditemukan sesuatu yang unik, spesifik
dan belum pernah dibahas pada teori atau penelitian sebelumnya. Jika terdapat
kejadian serupa dan teori dapat membantu menjelaskannya, maka hakekatnya
bukan merupakan pengujian teori, melainkan adanya kesamaan (atau
kemungkinan perbedaan) dengan teori yang dirujuk. Yin (1996) mengemukakan
3
bahwa teori atau penelusuran literatur bagi peneliti pemula dianggap sebagai
jawaban tentang apa yang diketahui atas suatu topik; akan tetapi bagi peneliti
berpengalaman rujukan itu digunakan untuk dikembangkan lagi pertanyaanpertanyaan yang lebih tajam dan bermakna atas suatu topik.
Secara ekstrim menurut saya Kerangka Teoretis pada penelitian kualitatif bisa
tidak diperlukan (sebagai contoh pada penelitian Grounded Theory). Lebih
sesuai menjelaskan Kerangka Konseptual atau seringkali disebutkan Definisi
Istilah (sementara) yang dibuat peneliti. Kalaupun mesti dicantumkan Kerangka
Pemikiran, menurut saya apa yang diuraikan pada Kerangka Pemikiran ini
berupa langkah-langkah berpikir (alur berpikir) peneliti dalam melaksanakan
penelitian (termasuk pemanfaatan teori atau literatur penelitian terdahulu).
Untuk membedakannya dengan penelitian (metode) kuantitatif, maka sebaiknya
dalam Kerangka Pemikiran tidak dimulai dengan teori, melainkan dimulai
dengan fenomena atau tema. Teori dicantumkan untuk menjelaskan fenomena
dalam salah satu langkah penelitan itu.
Isu ketiga
Apa unsur-unsur pada penelitian kualitatif?
Paradigma kualitatif memiliki banyak pendekatan, varian, strategi atau tradisi
untuk menjelaskan apa saja yang diperlukan dalam setiap pendekatan tadi (lihat
Kuswarno, 2007). Seperti telah dikemukakan, bahwa penelitian kualitatif
memiliki “standar yang baku”, yaitu “tidak baku”. Walaupun demikian untuk
sebagai acuan dapat dikemukakan salah satu contoh yang dikemukakan Creswell
(1998) yang menyebutkan ada 5 tradisi untuk penelitian kualitatif.
Pendekatan
Penulisan
Struktur
Penelitian
Biografi





Pengantar
(masalah,
pertanyaan)
Prosedur
riset
(biografi,
pentingnya
individu,
pengumpula
n data, hasil
analisis
Laporan
pengalaman
objektif
Individu
menyusun
teori
hidupnya
Segmen
naratif yang
diketahuipola-pola
makna yang
Fenomenologi
 Pengantar
(masalah,
pertanyaan)
 Prosedur
riset
(fenomenolog
i dan asumsi
filosofis,
pengumpulan
data, analisis,
hasil)
 Pertanyaan
Penting
 Makna
pernyataan
 Tema-tema
makna
 Gambaran
seluasluasnya
tentang
fenomena






Grounded
Theory
Pengantar
(masalah,
pertanyaan)
Prosedur riset
(grounded
theory,
pengumpulan
data, analisis,
hasil)
Open coding
Axial coding
Selective
coding dan
proposisi
teoretis dan
model
Pembahasan
teori dan
membanding
kannya
dengan
literatur yang
ada
Etnografi
Studi Kasus
 Pengantar
(masalah,
pertanyaan)
 Prosedur riset
(etnografi,
pengumpulan
data, analisis,
hasil)
 Deskripsi
budaya
 Analisis tematema budaya
 Interpretasi,
pelajaran yang
didapat,
pertanyaan
yang
ditimbulkan
 Entry vignette
 Pengantar
(masalah,
pertanyaan,
pengumpulan
data, analisis,
hasil)
 Gambaran
kasus dan
kandungannya
 Pengembanga
n isu
 Detil tentang
isu pilihan
 Pernyataan
 Closing
vignette
4

diketahui
(events,
proses,
epifani,
tema)
Ikhtisar
Dalam format sederhana, penelitian kualitatif (apapun pendekatannya) memiliki
tiga hal penting, yaitu Pendahuluan, Isi dan Penutup. Jika format berikut dapat
dianggap subjektif apa yang saya pikirkan, maka sebenarnya saya sedang
mencoba membuat tradisi (terpengaruh istilah Cresswell) tentang Format
Laporan Penelitian Kualitatif untuk skripsi, tesis atau disertasi.
Dimensi
Pendahuluan
Komponen
Latar Belakang
Fokus Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat
Penelitian
Kajian Penelitian
Terdahulu
Kerangka
Pemikiran
Penempatan Uraian
Bab Pendahuluan
Paradigma
Penelitian
Prosedur
Penelitian
Bab Metode Penelitian

Hasil Penelitian
Bab Hasil Penelitian

Pembahasan
Bab Pembahasan


Simpulan
Saran
Bab Penutup






Isi


Penutup
Bab Kajian Penelitian
Terdahulu dan Kerangka
Pemikiran
Isu keempat:
Apa pengertian fokus penelitian dan bagaimana penempatannya?
Merujuk format yang saya ajukan, fokus penelitian ditempatkan pada Bab
Pendahuluan. Dalam tradisi penelitian kuantitatif fokus penelitian ini disebut
sebagai identifikasi masalah. Sesuai dengan namanya, fokus menunjukkan hal
yang lebih rinci, spesifik. Penajaman penelitian yang akan dilakukan dijelaskan
5
setelah latar belakang, atau setelah menjelaskan apa dan mengapa penelitian ini
perlu dilakukan? Fokus penelitian merinci tema pokok (atau dalam kuantitatif
disebut sebagai “masalah”), menjadi tema-tema yang lebih detil. Saya tidak
terlalu mempersoalkan apakah fokus ini harus dalam kalimat pertanyaan atau
pernyataan. Akan tetapi jika dibuat dalam kalimat tanya, maka harus sempurna
dengan diakhiri tanda tanya.
Isu kelima:
Apa dasar untuk wawancara dengan key informan?
Yang menjadi dasar untuk melakukan penelitian kualitatif adalah tema, yang
kemudian dirinci di dalam fokus untuk mencapai tujuan yang diinginkan
peneliti. Guna mencapai tujuan, maka perlu diuraikan dalam sejumlah
pertanyaan. Yin (1996) menyebutkan contoh dalam studi kasus bentuk
pertanyaan penelitian berkisar pada “bagaimana” dan “mengapa”.
Seperti telah disebutkan pula bahwa peneliti yang berpengalaman akan
menggunakan penelitian terdahulu atau rujukan teori untuk melengkapi kembali
pertanyaan yang telah digunakan dengan pertanyaan lebih lengkap dan tajam.
Oleh karena penelitian kualitiatif bersifat induktif, maka format pertanyaan lebih
terbuka, cenderung tidak terstruktur dan mendalam. Biasanya peneliti tidak
dianjurkan membuat pertanyaan yang bersifat menggiring informan menjawab
pilihan jawaban, misalnya melalui kuesioner untuk menjawab “ya” atau “tidak”.
Jika diibaratkan sebuah pertanyaan ujian, maka format pertanyaan berupa essay.
Akan tetapi, cara mengajukan pertanyaan dianjurkan lebih bersifat informal,
guna memperoleh kedalaman informasi.
Isu keenam:
Bagaimana melakukan audit komunikasi (efektifitas program
komunikasi) dengan metode kualitatif (studi kasus atau lainnya) ?
Sesuai dengan namanya, efektivitas komunikasi artinya komunikasi
menimbulkan efek yang diharapkan dan model komunikasi bersifat linier,
positivistik. Jadi paradigmanya objektif (kuantitatif). Begitu juga melakukan
audit komunikasi, artinya menyesuaikan standar yang baku dengan fakta yang
ada, paradigmanya objektif behavioristik, atau paling tidak paradigma
strukturalis atau sistemik (lihat Pace & Faules, 1998).
Namun demikian, melakukan audit komunikasi dapat pula dengan paradigma
kualitatif, bukan membandingkan realitas dengan standar baku, melainkan lebih
berorientasi pada apa yang dirasakan, dipikirkan, dinilai pelaku komunikasi
(biasanya komunikasi organisasi) terhadap proses komunikasi yang dijalankan
(termasuk simbol, atribut, lambang, logo, iklim komunikasi dsb). Pendekatan ini
6
bersifat konstruktivis, misalnya melalui pendekatan fenomenologi atau interaksi
simbolik.
Jika tujuan penelitian untuk membuat suatu perubahan, penelitian audit
komunikasi bisa dilakukan melalui pendekatan subjektif kritis (kualitatif dengan
paradigma kritis), misalnya melalui “action research”. Hakekatnya adalah
peneliti bersama-sama informan melakukan penilaian dan menyusun tindakan
bersama atas penilaian itu, berdasarkan kebutuhan dan interaksi yang dibangun
selama masa penelitian berlangsung.
Isu ketujuh:
Komentar terhadap beberapa draft laporan penelitian kualitatif.
Disampaikan pada saat diskusi.
Referensi
Berger, Peter., & Thomas Luckmann, 1975, The Social Construction of Reality, A
Treatise in the Sociology of Knowledge, Penguin Books, Australia.
Creswell, John W., 1998, Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among
Five Traditions, Sage Publications Inc. USA.
Guba, Egon dan Yvonna Lincoln, 1994, Competing Paradigms in Qualitative Research,
Sage Publications: Tahousand Oaks, London, New Delhi.
Lindlof, Thomas R., 1995, Qualitative Communication Research Methods, Sage
Publications, California USA Lindlof
Kuswarno, Engkus, Perubahan Paradigma Penelitian Komunikasi, dalam Metode
Penelitian Komunikasi, Deddy Mulyana dan Solatun (eds), 2007, Rosda Bandung
Mulyana, Deddy., Solatun (eds), Metode Penelitian Komunikasi, 2007, Rosda, Bandung
Moleong, Lexy J.. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya., halaman 9.
Nasution, 1996, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Tarsito Bandung, cetakan
kedua.
Pace, R Wayne & Don F. Faules, 1993, Komunikasi Organisasi, terj, Deddy Mulyana,
Engkus Kuswarno, Gembirasari, Remaja Rosdakarya, Bandung
Servaes, Jan, Tinjauan Tentang Paradigma Komunikasi dan Pembangunan, Jurnal
Komunikasi Audientia, Vol.1, No.2 April-Juni 1993, halaman 77-105.
Yin, Robert K, 1996, Studi Kasus (Desain dan Metode), PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
7
Lampiran 1.1 : Case study
Judul :
STRATEGI KREATIF IKLAN COCA-COLA Versi “Kabayan dan
Penyanyi Dangdut “
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Bisnis periklanan menjadi hal yang penting bagi suatu perusahaan
Iklan minuman ringan yang bermunculan belakangan ini diberbagai media,
.......
Iklan Coca-cola versi iklan televisi “kabayan dn penyanyi dangdut”.....
Agar produknya diketahui PT.Coca-cola Indonesia mengiklankan
produknya
Salah satu alternatif yang di tempuh untuk menghasilkan iklan yang menarik
adalah dengan menciptakan suatu strategi dalam pembentukkan konsep
kreatif iklan.
1.2.
Rumusan Masalah
……Coca-cola membuat suatu strategi kreatif yang mampu bersaing dengan
menciptakan brand awarenessnya, sehingga dalam penelitian ini akan
dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut : bagaimana strategi kreatif
iklan Coca-cola versi “Kabayan dan Penyanyi dangdut” .
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi kreatif pada iklan Cocacola versi “Kabayan dan Penyanyi dangdut”.
1.4.
Signifikansi Penelitian
Adapun signifikansi penelitian ini sebagai berikut :
1. Signifikansi Akademis
2.
Signifikansi Praktis
BAB II KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Periklanan Sebagai Suatu Aktivitas Komunikasi
Proses penyampaian pesan ini melalui beberapa tahap sesuai dengan model
komunikasi dari Lasswell yaitu who (komunikator), says what (pesan), in which
channel (media), to whom (komunikan), dan with what effect (efek komunikasi)
8
2.2.
Strategi Kreatif Periklanan
Strategi periklanan yang baik bergantung pada perencanaan pemasaran
yang cermat. Perencanaan pemasaran (marketing plan) mereflesikan tujuan
perusahaan yang akan beriklan yang pada prinsipnya memuat 4 hal, yaitu :
1. Situation Analysis,
2. Marketing Objectives,
3. Marketing Strategy, tentang pemilihan target market serta menentukan
marketing mix (4 P : Product/produk, Price/harga, Place/distribusi, dan
Promotion/promosi).
4. Program-program Kegiatan (Action Programs),
Aspek penggunaan kreatif merupakan salah satu hal yang sangat penting
Ada beberapa dasar strategi pengembangan kreatif menurut Sandra Moriarty,
yaitu :
a. Strategi Unique Selling Proposition (USP)
b. Strategi Pembentukan Citra (Image Strategy)
c. Strategi Drama (Inheren Drama)
d. Startegi oisitioning
2.3.
Strategi Pesan
… syarat iklan kreatif :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Iklan harus dapat menarik perhatian pemirsanya.
Iklan yang dibuat diusahakan sesederhana agar jelas.
Iklan harus komunikatif.
Iklan harus memiliki energi untuk merek.
Eksekusinya baik.
Dapat mereflesikan budaya merek.
Iklan harus memperkokoh mereknya.
Mendorong khalayak agar mau melakukan aksinya setelah melihat
iklannya
Berikut ini merupakan tiga daya tarik yang terdapat dalam strategi pesan, yaitu :
1. Daya tarik rasional (informational appeals)
2. Daya tarik emosional (emotional appeals)
3. Daya tarik citra (image appeals)
2.4.
Televisi Sebagai Media Periklanan
Elemen dalam iklan televisi tersebut adalah :
1. Video,
4. Props,
2. Audio,
5. Setting,.
3. Talent,
6. Lighting
2.5.
7. Graphic,.
8. Pacing,
Definisi Konsep
Strategi adalah..............
Strategi Kreatif.......
9
BAB III METODELOGI PENELITIAN
3.1.
Sifat PenelitianPenelitian ini bentuknya adalah deskriptif.
3.2.
Metode PenelitianMetode dalam penelitian ini adalah studi kasus....
3.3.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam melakukan keperluan penelitian ini, penulis menggunakan dua macam
data yaitu data primer dan data sekunder.
1. Data primer, mengumpulkan informasi dengan melakukan wawancara
mendalam mengenai strategi kreatif, informasi yang dimaksudkan adalah
segala informasi seperti pengembangan kreatif yang dilakukan oleh Biro iklan
McCann Erickson yang bersangkutan dan pihak dari Marketing Manager PT.
Coca-cola Indonesia.
2. Data sekunder, data-data yang dijadikan pelengkap guna melancarkan proses
penelitian, seperti studi pustaka, buku-buku, majalah, surat kabar, dan
internet.
3.4.
Key Informan
Nara sumber yang berkompetensi dalam penelitian ini adalah :
1. Copywriter McCann Erickson, Mr. Khadafi
2. Account Executive McCann Erickson, Ibu Reny Agustia
3. Marketing Manager PT.Coca-cola Indonesia, Adhita Idris
3.5.
Fokus Penelitian
Untuk memperjelas arah penelitian dari proses strategi kreatif iklan Cocacola di televisi, maka fokus penelitian didasarkan pada strategi kreatif pembuatan
iklan televisi tersebut yang konsepnya didapat dari biro iklan selaku pembuat
iklan tersebut. Strategi kreatif dilihat dari analisis situasi, Creative Brief,
pendekatan kreatif,dan daya tarik pesan.
3.6.
Teknik Analisis Data
Dalam mencapai tujuan penelitian, maka teknik yang digunakan adalah
mendeskripsikan dan menganalisa data yang diperoleh secara kualitatif. Analisis
deskriptif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa penelitian ini tidak
mencari atau menjelaskan hubungan dengan metode ini, diartikan hanya
memaparkan variabel satu demi satu. Dengan kata lain, penulis hanya
memaparkan kondisi apa adanya melalui wawancara mendalam dengan
beberapa narasumber yang dipilih. Pemaparan tersebut mulai dari tahapantahapan dalam proses strategi kreatif yaitu tahapan informasi yang berupa
keterangan dari klien mengenai produk minuman coca-cola yang terangkum
dalam Communication Brief, lalu brief dari klien akan dirumuskan dengan
menetapkan pendekatan kreatif, yang meliputi strategi pesan, pendekatan dalam
mensosialisasikan slogan baru, dan strategi visual sampai pada bagaimana cara
mengatakan pesan itu melalui eksekusi iklannya yang dikerjakan biro iklan
McCann Erickson yaitu media televisi.
10
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Analisis Situasi
a Latar Belakang
b.
Kondisi Pasar c. Product Evaluation
4.1.2. Creative Brief
e.
Tujuan
Periklanan
g.
Pesaing
(advertising objective)
d.
Positioning
f.
Target Sasaran
4.1.3. Strategi Kreatif
4.1.3.1. Big Idea
4.1.3.2. Pendekatan Kreatif
4.1.3.3. Struktur Pesan
4.1.3.5. Eksekusi Pesan
Iklan Coca-cola yang menggunakan iklan lokal ada dua versi yaitu
“kabayan dan penyanyi dangdut”.
1. Iklan coca-cola versi “kabayan”.
Kabayan berada di terminal, kabayan merasa sangat kehausan dan
kegerahan, lalu kabayan melihat sebuah warung untuk membeli
minuman. Kabayan menghampiri penjual minuman tersebut dan
mengatakan
“ …minta yang segarnya mantap (dengan logat sunda)…”,
kemudian sipenjual warung tersebut memberikan minuman lain dengan
memfokuskan pada minuman pesaingnya ( the botol sosro), kabayan
terkihat marah dengan mengeluarkan jurus silatnya dan mengatakan
“… orang desa juga tahu, yang segarnya mantap itu ocacola…”, sipenjual menyetujuinya, lalu kabayan menanyakan haraga pada
si penjual ”…sabaraha hargana..?”
si penjual menjawab
“…Rp.1500.,..”, kabayan kembali marah dengan mengeluarkan jurus
silatnya, “…ngak kapok euy (bicara pada ayam jagonya), dan
langsung bicara “.(sambil mengeluarkan jurus silatnya)
Rp.1300.,.”, si penjual pun ketakutan dan mengiyakan si kabayan
“ampun…iiiya Rp.1300., “ tah...kitu atuh..”. kabayan langsung
membuka tutup botol tersebut dan segera meminumnya, setelah itu
kabayan menjadi segar kembali dan menyapa semua orang yang ada
dengan senyuman. “…hai… how are you ( logat sunda)….??//!!!”
2. Iklan versi “penyanyi dangdut”
Siang hari, seorang wanita membeli minuman pada sipenjual warung.
“…minta yang segarnya mantap bang? “ sipenjual memberikan
minuman lain (dengan menfokuskan minuman lain tersebut sebagai
pesaing) lalu kabayan melihat dan langsung mendekat pada sipenjual
“..apaan tuh!! Cuma Coca-cola segarnya mantap” siwanita pun
menjawab “..Coca-cola mantap..” lalu si penyanyi dangdut mulai
mendendangkan lagu milik A.rafiq ‘lirikan matamu’ dengan versi Cocacola.
11
4.1.4. Strategi Pesan
4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisa dan kesimpulan penulis menerangkan gambaran
dari strategi kreatifnya yang terbagi menjadi beberapa elemen.
CREATIVE BRIEF
PERUMUSAN BIG
IDEA
PERUMUSAN
PENDEKATAN
KREATIF
PERUMUSAN
STRUKTUR PESAN
EKSEKUSI KREATIF
Gambar 1. Bagan Strategi Kreatif Iklan Coca-cola
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Komentar:
Studi kasus membutuhkan jawaban “bagaimana dan atau mengapa”
untuk peristiwa kontemporer. Bisa masuk pada paradigma
konstruktivis-interpretif.
Laporan penelitian di atas hasilnya seperti mengembalikan pada teori
yang sudah baku, bukan menjawab “bagaimana atau mengapa” dari
sudut pandang informan.
12
Lampiran
1.2 : Analisis Framing
Judul :
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Histori media massa
Media massa dalam konteks sosial
Nilai berita  efek pada individumasyarakat
Alasan pemilihan obyek riset
Deskripsi singkat isi media
Mengapa framing digunakan
1.2. Pokok Permasalahan
Rusan masalah : bagaimana konstruksi realitas majalah Edisi Koleksi
Angkasa mengenai pemberitaan Perang Hizbullah-Israel pada bulan JuliAgustus 2006 ?
1.3. Tujuan Penelitian
untuk mengetahui konstruksi realitas majalah Edisi Koleksi Angkasa
mengenai pemberitaan Perang Hizbullah-Israel pada bulan Juli-Agustus
2006.
1.4. Signifikansi
1.4.1. Signifikansi Akademis
1.4.2. Signifikansi Praktis
BAB II KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Pengertian Media Massapengertian dan Karakteristik
2.2. Fungsi Media Massa
Media massa di masyarakat memiliki empat fungsi(Wilbur Schramm:
sebagai penjaga, forum, dan guru)
Charles Wrightsumber hiburan
Onong Uchjana Effendifungsi pers
Hubungan media massadengan institusi pengetahuan lainnya,
2.3. Pengertian Berita
Pengertian berita
Nilai beritaSignificance (penting), Magnitude (besar), Timeliness
(waktu), Proximity (kedekatan), Prominence (tenar), Human Interest
(manusiawi),
unsur lainSeks, Unique (sensasional), Conflict (konflik), Kontroversi
2.4. Konstruksi Media Terhadap Realitas
Peter L. Berger. Menurutnya, realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah,
tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan.......
Ann N. Criglerpandangan efek media dan pendekatan konstruksionis.
13
8
John Fiske  pendekatan proses dan pendekatan semiotik.
Pendekatan konstruksionis mempunyai penilaian sendiri bagaimana
media,
wartawan, dan berita dilihat.
2.5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Media Massa
Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, mengidentifikasi ada lima
faktor yang mempengaruhi kebijakan media,
2.6. Pendekatan Framing
2.6.1. Pengertian Framing
Menurut Todd Gitlin, frame media adalah bagian yang pasti hadir dalam
praktik jurnalistik..........
2.6.2. Efek Framing
2.7. Pengertian Majalah
BAB III METODOLOGI
3.1. Sifat Penelitian deskriptif (kualitatif)
3.2. Metode Penelitian Metode yang digunakan adalah analisis framing....
3.3. Teknik Pengumpulan Data
3.3.1. Data Primer
Data primer, yang diperoleh penulis dari majalah Edisi Koleksi Angkasa
XXXVI : Perang Hizbullah-Israel, terbit pada bulan November 2006.
3.3.2. Data Sekunder
Data sekunder, data pendukung penulis dari bacaan-bacaan yang
digunakan
untuk melengkapi data yang dibutuhkan dalam melakukan penelitian.
3.4. Unit Analisis
Unit analisis dalam penelitian ini adalah meneliti teks dan gambar dalam
artikel yang termuat dalam Edisi Koleksi Angkasa XXXVI : Perang
Hizbullah – Israel.
3.5. Fokus Penelitian
Fokus penelitian yang akan dibahas oleh peneliti adalah artikel yang
dimuat oleh majalah Edisi Koleksi Angkasa XXXVI : Perang Hizbullah –
Israel, yang terbit pada bulan November 2006.
3.6. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian menggunakan formula Robert N. Entman.
Konsep framing, oleh Robert N. Entman. Yaitu;
Define problems(Pendefinisian Masalah)
Make moral judgement(Buat keputusan moral)
Treatment recommendation(Menekankanpenyelesaian).
8
9
BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Perusahaan
Angkasa terbit pada tahun 1950, awal mulanya merupakan majalah
internal dari anggota TNI AU. Baru pada November 1989, dari kelompok
Penerbit Gramedia bekerjasama dengan Dispen (Dinas Penerangan) TNI
AU, menerbitkan majalah Angkasa untuk dijual secara umum. ......dsb
4.2. Analisis Data
4.2.1. Frame Perang Hizbullah-Israe l
4.2.1.1. Define Problem (Pendefinisian Masalah)
4.2.1.2. Diagnose Causes (Memperkirakan Penyebab Masalah)
4.2.1.3. Make Moral Judgement (Membuat Pilihan Moral)
4.2.1.4.
Treatment
Recommendation
(Menekankan
Penyelesaian)
4.3. PEMBAHASAN
N. Entman :
1. Define Problem (Pendefinisian Masalah)
2. Diagnose Causes (Memperkirakan Penyebab Masalah)
3. Make Moral Judgement (Membuat Pilihan Moral)
4. Treatment Recommendation (Menekankan Penyelesaian)
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Tujuan penelitian ini seperti yang dituliskan di atas yaitu untuk mengetahui
konstruksi realitas majalah Edisi Koleksi Angkasa mengenai pemberitaan Perang
Hizbullah-Israel pada 12 Juli- 14 Agustus 2006. Maka hasil dari analisa yang
sudah dilakukan dan bisa ditarik kesimpulan adalah majalah ini membawa isu
mengenai pemberitaan perang yang terjadi di Libanon itu lebih menekankan
pembahasan pada aspek militer. ......dst
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Fokus hendaknya lebih “terfokus” (misalnya mengikuti formula Entman), maka
pada hasil, analisis dan pembahasan berdasarkan fokus tadi.
Analisis framing juga masuk pada paradigma konstruktivis-interpretif
9
10
Lampiran
1.3 : Analisis Semiotik
Judul :
KESETARAAN GENDER DALAM IKLAN SOFTEX
ANALISIS SEMIOTIKA IKLAN SOFTEX VERSI ANDRA ASMASOEBRATA,
ESTHER J. JUSUF DAN IRENE K. SUKANDAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pengaruh kuat iklan terhadap target audiens berkaitan erat dengan tiga fungsi
utama iklan menurut perspektif fungsionalisme sebagaimana dikemukakan Jorge
Reina Schement iklan mempunyai fungsi: alat identifikasi, informasi dan
persuasi sebuah produk,......... Strategi pencitraan (imagology) melalui berbagai
tanda berikut makna dalam sebuah iklan berhubungan erat dengan pemenuhan
kepuasan target audiens.
Piliang mengutip pernyataan seorang peneliti yang mempelajari sepak terjang
The Body Shop mengatakan bahwa : Upaya serupa dilakukan juga oleh Dove
yang sukses dengan Real Beauty Campaign dan Self Esteem Campaign. Ide
kreatif iklan yang keluar dari arus utama iklan pada umumnya pun dapat dilihat
dalam iklan televisi (TVC) Softex ‘Karena wanita ingin dimengerti’.
Iklan televisi (TVC) Softex ‘Karena wanita ingin dimengerti’ versi Andra
Asmasoebrata, Esther J Jusuf, dan Irene K. Sukandar, menawarkan tema seputar
perempuan yang keluar dari mainstream iklan pembalut kebanyakan. Iklan ini
menggambarkan secara simbolis perjalanan panjang tiga perempuan yang
masingmasing berprofesi sebagai pembalap, penerbang dan pecatur dalam
mewujudkan mimpinya. Tiga bidang profesi yang selama ini banyak diklaim
masyarakat sebagai milik kaum Adam.
Ketertarikan penulis terhadap iklan televisi (TVC) Softex berdasarkan berbagai
data yang disebutkan di atas membawa penulis ingin mengkaji secara mendalam
berbagai kemungkinan mengenai penggunaan tanda berikut makna yang
berkaitan dengan posisi gender perempuan dalam iklan tersebut. Apa maksud
dan tujuan PT. Softex Indonesia ketika menggulirkan iklan tersebut ?.
1.2. Perumusan Masalah
Pokok permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. Bagaimana pengiklan menggunakan tanda-tanda yang berkaitan dengan posisi
gender perempuan dalam iklan televisi (TVC) Softex ‘Karena Wanita Ingin
Dimengerti’versi Andra Asmasoebrata, Esther J Jusuf, dan Irene K.
Sukandar?
b. Makna apa yang terbentuk melalui tanda-tanda audio visual pada iklan televisi
(TVC) Softex ‘Karena Wanita Ingin Dimengerti’versi Andra Asmasoebrata,
Esther J Jusuf, dan Irene K. Sukandar ?
c. Ideologi apa yang dibawa oleh pengiklan di dalam iklan tersebut?
10
11
1.3. Tujuan Penelitian
a. Mengetahui tanda-tanda yang berkaitan dengan posisi gender perempuan di
dalam iklan televisi (TVC) Softex.
b. Menemukan makna yang terbentuk melalui tanda-tanda yang digunakan
dalam iklan televisi (TVC) Softex.
c. Mengetahui ideologi yang dibawa oleh pengiklan dalam iklan televisi (TVC)
Softex.
1.4. Signifikansi Penelitian
1.4.1. Signifikansi Akademis
1.4.2. Signifikansi Praktis
1.4.3. Signifikansi Sosial
BAB II KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Komunikasi Sebagai Proses Pertukaran Tanda dan Makna
Komunikasi sebagai sebuah paket isyarat dirumuskan Pittenger, Hocket dan
Daheny sebagai “Perilaku komunikasi baik melibatkan pesan verbal, isyarat
tubuh, atau kombinasi dari keduanya biasanya terjadi di dalam ‘paket’”.1)
Raymond S. Ross menyebutkan (komunikasi intensional) sebagai “Suatu proses
menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa hingga
membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang
serupa dengan yang dimaksudkan komunikator”.
Proses produksi dan pemanfaatan tanda oleh seseorang dalam interaksinya
dengan manusia lain dijelaskan Umberto Eco sebagai tahapan-tahapan berikut :
(1) tahap recognition, yaitu tahap di mana seseorang mengidentifikasikan atau
mengamati objek suatu kejadian sebagai suatu ekspresi dari pernyataan atau
keberadaan suatu lambang, (2) tahap ostension, pada tahap ini seseorang
menggunakan suatu objek untuk mewakili suatu pernyataan, (3) tahap replica,
berupa penggunaan tanda-tanda lainnya yang melambangkan sesuatu,. (4) tahap
invention yaitu menemukan cara baru untuk mengorganisasikan stimuli-stimuli
menjadi sebuah lambang. 8)
Teori tentang kode di dalam semiotik dimunculkan Roland Barthes yang
menyebutkan di dalam sebuah teks setidak-tidaknya beroperasi lima kode pokok
(five major code) .......... lima kisi-kisi kode tersebut adalah :
1. Kode hermeneutik (hermeneutic code)
4. Kode Proairetik (proairetic code)
2. Kode semik (code of semes)
5. Kode kultural (cultural code)
3. Kode simbolik (symbolic code)
2.2. Iklan sebagai susunan tanda-tanda
Saussure menjelaskan “tanda sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari
dua bidang, yaitu bidang penanda (signifier) untuk menjelaskan ‘bentuk’ atau
‘ekspresi’; dan bidang petanda (signified), untuk menjelaskan ‘konsep’ atau
‘makna’”.
11
12
Menurut Berger dalam perspektif semotika periklanan, “penanda (signifier) di
dalam sebuah iklan dilihat sebagai sebuah elemen tanda atau signeme, yaitu
sebuah tanda dasar yang tidak dapat diturunkan lagi.”20) Berbagai tanda di
dalam struktur teks iklan tersusun atas signeme-signeme. Sebagai contoh
misalnya ikonik berupa gambar seorang ibu tua yang tersusun dari beberapa
satuan tanda (signeme) seperti rambut, warna rambut, tatanan rambut, raut
muka, gerak tubuh, model pakaian yang dikenakan, termasuk warna dan tulisan
yang terdapat pada ikonik tersebut. Berbagai Penanda + Petanda = Tanda
“Iklanmempunyai tingkatan-tingkatan makna yang kompleks, mulai dari makna
eksplisit, yaitu makna berdasarkan apa yang tampak (denotative), serta makna
yang lebih mendalam, yang berkaitan dengan pemahaman-pemahaman ideologi
dan kultural (connotative)”.
2.2.1. Tanda dalam iklan televisi
Metz seperti dikutip Winfried Nöth, menyatakan bahwa gambar bergerak
merupakan pluralitas kode-kode sinematografi dan totalitas seluruh kode
tersebut adalah bahasa sinematografi. Ia menyatakan “the specifically
cinematographic means of codification, such as camera movement or montage,
is only one of several sources of filmic codification.”
Joseph V. Mascelli mengungkapkan “terdapat lima unsur penting dalam
sinematografi yang dikenal dengan 5C, yaitu camera angles, continuity, cutting,
close up dan composition”.
Mascelli menyebutkan tiga jenis sudut pandang kamera yaitu :
1) Obyektif,; 2) Subyektif, 3) Point of view,
Menurut Jacci Howard Bear. makna warna dibagi dalam empat kelompok:
1. Cool Color Meanings (calming): Blue, Green, Turquoise, Silver
2. Warm color meaning (exciting) : Red, Pink, Yellow, Gold, Orange
3. Mixed Cool/ Warm color meaning : Purple, Lavender, Green Turquoise
4. Neutral color meaning (unifying) : Brown, Beige, Ivory, Gray, Black, White
.
2.2.2. Perempuan sebagai tanda dalam iklan
.......“Sebagai sebuah elemen di dalam media (iklan, film, musik) tubuh
mempunyai ‘nilai’ tertentu sebagai ‘alat tukar’: Pertama, nilai diferensiasi
(differentiation), di mana sebatang tubuh yang telah mempunyai ‘makna’ di
dalam sebuah masyarakat (seksualitas, erotika, status, prestise) dipindahkan ke
dalam sistem sebuah tontonan (lawak, musik, film, sinetron, iklan) sehingga
membedakannya (diferensi) dari tontonan lain, yang menggunakan tubuh
lain.Kedua, nilai penanda (signifier) sebuah tontonan termasuk iklan pada
awalnya tidak memiliki makna tertentu, diberikan nilai oleh orang yang sudah
memiliki makna dan nilai tersebut di dalam masyarakat, yang di dalam semiotik
disebut peminjaman tanda (the borrowing sign)”.
12
13
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Paradigma Penelitian
......Berdasarkan latar belakang tersebut penulis memutuskan paradigma kritis
sebagai paradigma penelitian. Melalui paradigma yang dipilih selanjutnya
peneliti
dapat “merumuskan apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan yang mesti
dijawab, bagaimana seharusnya menjawabnya serta aturan-aturan yang harus
diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka
menjawab persoalan-persoalan tersebut.”....
3.2. Tipe Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif..........
3.3. Metode Penelitian
...........dalam penelitian ini adalah metode semiotika. “Metode semiotika pada
dasarnya bersifat kualitatif-interpretatif (interpretation), yaitu sebuah metode
yang memfokuskan dirinya pada “tanda” dan “teks” sebagai obyek kajian, serta
bagaimana peneliti “menafsirkan” dan “memahami kode” (decoding) di balik
tanda dan teks tersebut”.
3.4. Unit Analisis
Unit analisis dalam penelitian ini adalah tanda-tanda termasuk satuan terkecil
(signeme) yang ada pada tiga struktur teks iklan televisi Softex.
signifier-signifier dalam analisa iklan ini meliputi gambar (visual), warna, suara
(audio : music dan sound effect), tulisan (title, sub title, caption), yang terdapat
pada teks iklan tersebut serta durasi iklan.
3.5. Definisi Konsep
Dalam penelitian ini konsep kesetaraan gender adalah konstruksi yang seimbang
dalam pembagian peran antara perempuan dan laki-laki di dalam berbagai
bidang kehidupan.
3.6. Teknik Pengumpulan Data
Data primer dalam penelitian ini meliputi semua aspek tanda dan satuan tanda
(signeme) yang terdapat pada ketiga iklan televisi yang akan diteliti. ... Data yang
didapat berupa rekaman tiga versi iklan televisi Softex yang ditayangkan selama
Agustus 2006 di Metro TV bertepatan dengan 30 tahun
3.7. Analisis Data
Dalam proses analisis akan dipilih beberapa frame dari story line yang
menggunakan berbagai tanda yang berkaitan dengan posisi gender perempuan
dalam iklan, selanjutnya analisis dibuat dengan meminjam model analisis
Barthes. Seperti dikutip Alex Sobur dari Cobley dan Jansz yang mengatakan :
“Barthes menganalisis iklan berdasarkan pesan yang dibawanya, yaitu (1) Pesan
linguistik berupa semua kata dan kalimat di dalam iklan; (2) pesan ikonik yang
terkodekan berupa konotasi yang muncul dalam foto iklan, yang dapat berfungsi
jika dikaitkan dengan sistem tanda yang lebih luas dalam masyarakat dan (3)
pesan ikonik tak terkodekan yaitu denotasi dalam foto iklan”.
13
14
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil penelitian
4.1.1. Analisis iklan Softex versi Andra Asmasoebrata
4.1.1.1.Story line iklan Softex versi Andra Asmasoebrata (dur : 30”)
4.1.1.2. Interpretasi iklan Softex versi Andra Asmasoebrata
Pesan Linguistik :
Pesan Ikonik Terkodekan :
Pesan Ikonik Terkodekan :
Pesan Ikonik Tak Terkodekan :
4.1.2. Analisis iklan Softex versi Esther J. Jusuf
4.1.2.1. Story line iklan Softex versi Esther J. Jusuf (dur : 15”)
4.1.2.2. Interpretasi iklan Softex versi Esther J. Jusuf
Pesan Linguistik :
Signifier Signified
Signifier Signified
Pesan Linguistik :
Pesan Ikonik Terkodekan :
Signifier Signified
Signifier Signified
Pesan Ikonik Terkodekan :
Pesan Linguistik :
Signifier Signified
Signifier Signified
Pesan Ikonik Tak Terkodekan :
Pesan Ikonik Terkodekan :
4.1.3. Analisis level pertama iklan Softex versi Irene K. Sukandar
4.1.3.1. Story line iklan Softex versi Irene K. Sukandar (dur : 15”)
4.1.3.2. Interpretasi iklan Softex versi Irene K. Sukandar
Pesan Linguistik :
Pesan Linguistik :
Signifier Signified
Signifier Signified
Pesan Ikonik Terkodekan :
Pesan Ikonik Terkodekan :
Signifier Signified
Signifier Signified
Pesan Linguistik :
Pesan
Ikonik
Tak
Signifier Signified
Terkodekan :
Pesan Ikonik Terkodekan :
Mitos Ideologi
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Pertama, tampilan endorser yang semuanya adalah perempuan berusia
muda dilihat secara fisik (rambut, wajah, struktur tubuh : dada, pinggang,
pinggul) memunculkan kesan femininitas.
Kedua, perilaku ketiganya yang dilihat dari ekspresi , pose dan pakaian
yang dikenakan mengesankan femininitas maupun maskulinitas.
Ketiga, aktivitas ketiga perempuan dalam iklan yang berkaitan erat dengan
profesi ketiganya lekat dengan kesan maskulinitas. Pembalap dan
penerbang dituntut memiliki keberanian, kecepatan, ketepatan, strategi dan
penguasaan diri yang baik. Pecatur identik dengan rasionalitas tinggi,
strategi dan kemampuan mengelola emosi dengan baik. ........
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Komentar:
Semiotika masuk pada paradigma subjektivis-kritis
14
15
Lampiran
1.4 : Analisis Wacana
ANALISIS WACANA TAYANGAN INFOTAINMENT
KASAK KUSUK INVESTIGASI DI STASIUN TELEVISI SCTV
EPISODE APRIL 2007
1.1. Latar Belakang Masalah
Saat ini banyak bermunculan program infotainment di televisi dengan
sudut penyajian yang bermacam-macam .............
Di tahun 2005 tidak ada program infotainment di SCTV yang melampaui
rating 4, paling tinggi hanya pada rating 3.6 yang diperoleh program
infotainmen Otista .............
Belum lama ini bulan April 2007 kita disajikan kasus perseteruan rumah
tangga Ahmad Dani. Dalam liputannya media menyajikan apa yang
Penetapan program infotainment Kasak Kusuk Investigasi sebagai
obyek penelitian ini dikarenakan program infotainment Kasak Kusuk ..........
Penetapan program Kasak Kusuk Invetigasi sebagai obyek
penelitian karena menurut pandangan penulis program Kasak Kusuk
Invetigasi menyajikan informasi cukup lengkap artinya program ini
mencoba menyajikan pemberitaan dengan nara sumber kedua belah pihak
yang bersengketa, serta menyajikan kronologis isu yang diangkat
berdasarkan data-data faktual...............
1.2. Perumusan Masalah
Bagaimana program infotainment Kasak Kusuk Invetigasi
mengkonstruksikan pemberitaan mengenai konflik rumah tangga pasangan
artis Ahmad Dani dan Maia Ahmad?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji mengenai
konstruksi program infotainment Kasak Kusuk Invetigasi mengenai konflik
rumah tangga pasangan artis Ahmad Dani dan Maia Ahmad yang
ditayangkan stasiun televisi SCTV pada tanggal 28 April 2007.
1.4. Signifikansi Penelitian
1.4.1. Signifikansi Akademis
1.4.2. Signifikansi Praktis
BAB II KERANGKA TEORI
2.1. Televisi Sebagai Saluran Media Massa
2.1.1 Televisi.
2.1.2 Karakteristik Televisi
2.1.3. Televisi sebagai Sarana Komunikasi
2.1.4 Fungsi Televisi Sebagai Media Massa
2.1.5 Kekuatan dan Kelemahan Televisi
2.2 Infotainment
2.2.1 Sejarah Tayangan Infotainment
15
16
2.3 Jurnalistik Infotainment dan Kepentingan Publik
2.4 Prospek Infotainment
2.5 Proses Produksi Tayangan Infotainment
2.6 Organisasi Proses Produksi Infotainment
2.7 Berita
Dalam kegiatan media massa, berita merupakan komoditi utama.
30
Berikut disampaikan beberapa pengertian mengenai berita :
1. Menurut Dean M. Lyle Spencer ...........
2. Menurut Mitchel V. Charnley ................
Suatu berita dapat diterima/diminati oleh masyarakat tergantung
dari beberapa pertimbangan berikut:
1. Timeliness (tepat waktu)
2. Proximity (Kedekatan)
3. Prominence (Menyangkut orang terkenal)
4. Consequence (Pengaruh/akibat dari berita yang disampaikan)
5. Conflict (Memiliki bagian dari konflik kehidupan)
6. Development 7. Disaster & Crimes (Mengandung bencana dan
kriminal)
8. Weather (Mengenai cuaca)
9. Sport (Mengenai olah raga)
10. Human Interest (Hal-hal yang dapat membangkitkan emosi)
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif .........
3.2. Metode Penelitian
Penelitian ini, menggunakan metode analisis wacana terhadap
pesan yang sebarkan. ..........
3.3 Unit Analisis
Obyek penelitian ini adalah program infotainment Kasak Kusuk
Investigasi di SCTV. Sedangkan unit analisis pada penelitian ini adalah
naskah berita mengenai “konflik rumah tangga Ahmad Dani dan Maia
Ahmad” yang terdapat pada program infotainment Kasak Kusuk
Investigasi, yang ditayangkan pada tanggal 28 April 2007 jam 15.30 WIB
........................
3.4 Metode Analisis
Analisis wacana secara sederhana dapat digambarkan sebagai
analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok
atau apapun) diinformasikan oleh media melalui penggunaan bahasa.
Analisis wacana suatu metode analisis yang ditujukan untuk mengetahui
prinsip-prinsip yang digunakan oleh komunikator dari perspektif mereka.
Di sini realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu.
Peristiwa dipahami dengan bentukan tertentu.
Metode analisis ...... model yang dipakai oleh Teun A. Van Dijk. ...............
16
17
3.5 Fokus Pengamatan
Dalam penelitian ini fokus pengamatan berdasarkan elemen
wacana menurut van Dijk yang masing-masing elemen pengamatan atas
wacana tersaji berikut ini :
Tabel 3
Elemen Wacana Van Dijk
Struktur
Unit Yang
Elemen
Wacana
Diamati
Struktur Makro
Tematik
Topik
Super Struktur
Skematik
Skema
Struktur Mikro
Sematik
Latar, Detail, Maksud, Pra Anggapan,
Nominalisasi
Struktur Mikro
Sintaksis
Bentuk kalimat, Koherensi, Kata Ganti
Struktur Mikro
Stilistik
Leksikon
Struktur Mikro
Retoris
Grasfis, Metafora, Ekspresi
Untuk memperoleh gambara ihwal elemen-elemet struktur wacara di atas
berikut penjelasan singkat :
1. Tematik
3. Sematik
5. Stilistik
2. Skematik
4. Sintaksis
6. Retoris
3.6 Tehnik Pengumpulan Data
3.6.1 Data Primer yaitu data peneliti yang diperoleh dari pemberitaan
tanggal 28 April 2007 dengan menganalisis pemberitaan yang
disampaikan dalam program infotainment tersebut.
3.6.2 Data Sekunder yaitu data penelitian yang diperoleh melalui
pengumpulan informasi dari berbagai bentuk cetakan baik buku,
majalah, karya tulis ilmiah dan bentuk ..........
3.7 Tehnik Analisa Data
Dalam penelitian tehnik analisis mengunakan analisis wacana,
dimana dalam analisis wacana penulis berupaya untuk memahami makna
tuturan dalam konteks, teks dan situasi. Karena analisis wacana lebih
menekankan pada bagaimana (how) dari pesan atau teks komunikasi.
Melalui analisis wacana bukan hanya mengetahui bagaimana isi teks berita,
tetapi juga bagaimana pesan yang disampaikan lewat kata, frase, kalimat,
metafora macam apa suatu berita disampaikan serta dengan melihat
bagaimana bangunan struktur kebahasaan tersebut, dan analisis wacara
lebih bisa melihat makna tersebunyi dari suatu teks.
17
18
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Sejarah Singkat Kasak Kusuk Investigasi
4.1.1 Profil Kasak Kusuk Investigasi
4.1.2. Kosep dan Isi Kasak Kusuk Investigasi
4.1.3 Share dan Rating Kasak Kusuk Investigasi
4.2 Analisis Wacana Van Dijk pada Kasak Kusuk Investigas 28 April
Tabel 4
Analisis wacana
Unit
yang
Elemen
Penjabaran
diamati
Tematik
Topik
Konflik rumah tangga Ahamad Dani dan Maia
Ahmad
Skematik Skema Judul
“Suara Hati Ahmad Dhani di Balik Tangis Sang
Istri“
Dhani melayangkan sepucuk surat terbuka, dari sini tersirat jelas
.........
Sinopsis “Ahmad
hati Dhani robek terbuka akibat ulah istrinya Maia Ahmad”.
“Dari lembaran itu pula Dhani ingin mengklarifikasi dibalik sikapnya yang
keras, sewenang-wenang, dan arogan terhadap Maia sebagaimana yang
selama ini terkesan”.
”Sayangnya ricuh Dhani dengan istrinya telah mencapai titik kulminasi
tertinggi”.
”Akankah pertikaian bermuara di meja pengadilan agama”
Ulasan
Dst
sampai
retoris
Isi surat terbuka Dhani :
“…betapa tertekannya perasaaan saya sebagai laki-laki dan kepala rumah
tangga, serta suami yang mencoba bersikap tegas atas perlakuan istri“. “Dia
selalu mencitrakan diri, sebagai layaknya wanita tanpa dosa dan dengan
gampangnya melemparkan opini publik seakan-akan semua itu muncul
begitu saja tanpa ada sebab musabab…….“
Pernyataan Syamsul Huda (jubir Ahmad Dhani) membacakan suarat
terbuka:
“…telah sampai pada puncaknya setelah saya mendapat secara runtut
transkip percakapan mobile phone antara dia dan selingkuhannya tersebut,
termasuk pengakuannya via telephone dengan
..................... dst
4.3 Analisis
Secara tematik Kasak Kusuk Investigasi mengangkat topik seputar
konflik rumah tangga Ahmad Dani dan Maia Ahmad. Tema ini menjadi
sebuah bentuk berita yang menonjolkan sisi “perceraian rumah tangga”
yang didukung oleh sinopsis dari materi infotainment yang disajikan, dan
penyajian ulasan dalam upaya mendukung kemenarikan, penguat argumen,
dan pada akhir penayangan Kasak Kusuk Investigasi memberikan penutup.
.....................
4.4 Pembahasan
18
19
Berdasarkan hasil penganalisaan atas wacana yang diangkat oleh
program infotainment Kasak Kusuk Investigasi terlihat jelas bahwa
program infotainment Kasak Kusuk Investigasi tidak menyebarkan gosip
artinya dalam menyajikan informasi program infotainment Kasak Kusuk
Investigasi menyajikan informasi yang telah mengandung usur kebenaran
dan
keterbaruan.
......................................
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
..................
5.2 Saran
.......................
DAFTAR PUSTAKA
Komentar:
Analisis Wacana termasuk pada subjektivis-kritis. Analisis Van Dijk mengandung
tiga hal analisis teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Pada laporan penelitiian ini
belum terungkap.
19
Download