The impact participations of brand communities on

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 State Of The Art
Penelitian ini didasari atas beberapa penelitian sebelumnya. Penelitian
terdahulu berfungsi sebagai salah acuan yang digunakan dalam mengkaji penelitian.
Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji riset jurnal nasional maupun internasional
berkaitan dengan penelitian yang dilakukan yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu (State Of The Art)
Nama Peneliti
dan Tahun
Judul Penelitian
Hasil Penelitian
Penelitian
Maanfaat
Penelitian
Selda Basaran
Brand
Brand Community
Brand is an
Alagoz (2011)
Communities in
have positive
important actor
the Axis of
significant with
in consumption
Socializing
Volkswagen Beetle
behavior and
Customers:
Owners. Brand com-
both
Sample of
munity is the brand
consumption and
Volkswagen
communication
brand are not
Beetle Owners,
channels that ever
only economic
Turkey.
socializing customers
facts. Brand
consider them as a
communities is
tool of self
mportant which
expression. Beside
are created by its
this, it also provides
customers and
a multiple
enthusiasts are
relationship network
one of the
between the brand
important steps.
and customers.
Persamaan: Persamaan pendekatan penelitian ini, yaitu menngunakan pendekatan
kuantitatif, serta metodelogi yang digunakan menggunakan metode survey.
Perbedaan: Penelitian ini difokuskan brand community dapat dijadikan saluran
5
6
komunikasi untuk mengekpsresikan,mengidentifikasi dan menjalin hubungan
antara brand dan customer. Sedangkan penelitian yang dilakukan
ingin
mengetahui pengaruh brand community terhadap loyalitas konsumen.
M.Emir
Isnafi (2013)
Reza Pengaruh Brand
Hasilnya menunjukan Untuk
Community
bahwa Brand
mengetahui
terhadap loyalitas
Community
pentingnya
konsumen ( Studi
berpengaruh positif
Brand
kasus komunitas
dan signifikan
Communityyang
indosat Jakarta
terhadap loyalitas
memiliki
Selatan).
konsumen anggota
pengaruh positif
Komunitas Indosat.
terhadap
loyalitas
konsumen
anggota indosat.
Persamaan: Penelitian ini meneliti tentang loyalitas konsumen suatu brand dalam
sebuah komunitas. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu dengan
menggunakan pendekatan kuantitatif.
Perbedaan: Perbedaan penelitian ini terdapat pada komunitas yang dijadikan objek
penelitian.
Indri Riany
Pengaruh Brand
Hasilnya
Mengetahui
(2013)
Community
menunjukkan bahwa
bahwa
Identification
merek memberikan
pentingnya
Terhadap Brand
efek positif dan
Brand
Loyalty dan Brand signifikan bagi
Community
Evangelism,dan
masyarakat dan
dalam
Community
mempengaruhi
mengidentifikasi
Evangelism
loyalitas masyarakat
komunitas merek
dengan mediasi
sebagai konsumen
di masyarakat.
Brand Affect dan
Community
Loyalty pada
Djarum Black Car
7
Community di
Surabaya
Persamaan: Persamaan penelitian ini yaitu pendekatan penelitian dengan
pendekatan kuantitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan dengan cara
menyebarkan kuisioner yang diukur dengan skala likert pada tabulasi angket.
Perbedaan: Dalam penelitian ini menidentifikasi brand community dengan mediasi
brand affect. Sedangkan penelitian yang dilakukan ingin mengetahui pengaruh
brand community yang mencakup unsur dari brand community itu sendiri yaitu
Conscious of Kinds, Rituals and traditions, Responsibility dan Dynamics of
Collectivity.
I Gede Nandya
Komunitas Merek
Hasilnya
Mengetahui
Oktora Panasea
terhadap Loyalitas
menunjukan bahwa
bahwa komunitas
(2013)
di Kota Denpasar.
kepuasan memediasi
merek dapat
Pengguna Motor
dampak dari loyalitas
mempengaruhi
Harley Davidson
merek di masyarakat
loyalitas
pengguna harley-
konsumen pada
davidson di denpasar. suatu Brand
Hal ini menunjukkan
bahwa kepuasan
adalah satu bagian
penting untuk merek
masyarakat
menyadari bahwa
kesetiaan pada
merek.
Persamaan: Dalam penelitian ini kepuasan menjadi suatu bagian penting bagi
suatu merek yang dirasakan oleh anggota dari Harley Davidson di Denpasar.
Pendekatan penelitian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif
Perbedaan: Dalam penelitian ini difokuskan pada mediasi yang dilakukan untuk
8
meningkatkan loyalitas konsumen.
Louis v. Casalo
(2007)
Hasilnya
Mengetahui
The impact
menunjukkan bahwa
bahwa partisipasi
participations of
ikut berpartisipasi
anggota
brand communities dalam komunitas
on consumer trust merek memberikan
dalam
Brand
Community
and loyalty: The
efek positif dan
memiliki
case of free
signifikan terhadap
pengaruh
software
loyalitas konsumen
terhadap
dalam penggunaan
loyalitas
software gratis
konsumen
pengguna
software gratis
Persamaan: Persamaan dalam penelitian ini terletak pada tujuan peneliatian yaitu
ingin mengetahui loyalitas konsumen.
Perbedaan: Dalam penelitian ini partisipasi dalam mengikuti komunitas merek
memberikan kepercayaan dan loyalitas konsumen.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Komunikasi
Komunikasi adalah proses sosial dimana individu-individu menggunakan
simbol-simbol untuk menciptakan dan menginterprestasikan makna dalam
lingkungan mereka (West & Turner, 2008).
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal dari
bahasa Latin communis yang berarti “sama,”communico,communicatio, atau
communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama
(communis) paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan
akar dari kata-kata latin lainnya. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran,
makna atau pesan dianut secara sama (Mulyana, 2005).
Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa komunikasi merupakan suatu
proses penyampaian pesan berupa informasi yang di sampaikan untuk
menginterpretasikan lambing atau simbol dan informasi menjadi makna yang
sama dalam pesan tersebut.
9
2.3 Landasan Konseptual
2.3.1 Brand Community
Komunitas yang terbentuk dari sebuah merek disebut komunitas merek (brand
community). Definisi Brand Community yang dikutip dalam The social influence of
brand community (Dholakia & Algesheimer, 2005) yang memberikan pengertian
mendasar mengenai brand community.
“Brand Community is a specialized, non-geographically bound community,
based on a structured set of social relations among admirers of a brand”.
Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa brand community tidak terikat
dalam wilayah geografis secara khusus. Para anggota dalam brand community
berbagi, bertukar pikiran mengenai pengalaman dari sebuah brand dapat terjalin
dengan adanya interaksi sosial yang terjalin antar pengagum merek yang sama.
M. Dholakia dan René Algesheimer memberi pengertian yang lebih lanjut
mengenai brand community. “Brand community is a collective of consumers
organized around oneparticular brand, which is sustained through repeated online
and/or offline social interactions and communication amongst its members who
possess aconsciousness of kind, feel moral responsibility toward one another, and
embrace and propagate the collective’s rituals and traditions.”(Dholakia &
Algesheimer, 2005).
Dari definisi Dhlokia & Algesheimer dapat disimpulkan bahwa Kunci dari
komunitas merek adalah adanya rasa kesamaan dalam suatu produk (merek), adanya
interaksi sosial, dan keinginan untuk saling berbagi.
Komunitas merek mempunyai karakter yang sama seperti komunitas
tradisional yang ada dalam masyarakat. Ada tiga karakteristik yang dimiliki oleh
komunitas merek, yaitu consciousness of kind (kesadaran akan kebaikan), rituals and
traditions (ritual dan tradisi), moral of responsibility (tanggung jawab moral), dan
dynamics of collectivity (Dholakia & Algesheimer, 2005).
a. Consciousness of Kind
Di dalam brand community, para anggota merasakan adanya hubungan yang
penting dengan merek, namun mereka merasakan hubungan yang lebih kuat antara
satu anggota dengan yang lain dan juga perasaan berbeda atau memisahkandiri dari
mereka yang bukan anggota (Dholakia & Algesheimer, 2005). Mereka merasa
berbeda atau spesial dibanding pengguna merek lain.
10
“Consciousness of kind muncul dalam dua aspek, yaitu legitimacy dan
oppositional brand loyalty.Legitimacy is a process whereby members of the
community differentiatebetween true members of the community and those who are
not, or who occupy a more marginal space.” (Dholakia & Algesheimer, 2005).
Setiap orang yang bergabung dengan komunitas mereka memiliki alasannya
masing-masing. Berangkat dari alasan tersebut, mereka membangun ikatan terhadap
merek di dalam brand community. Alasan yang salah biasanya ditunjukkan dengan
gagalnya mengapresiasi secara penuh budaya, sejarah, ritual, tradisi, dan simbol
dalam komunitas.
b. Rituals and Traditions (Ritual dan Tradisi)
Ritual dan tradisi mewakili proses sosial yang penting di mana makna dari
komunitas direproduksi dan disampaikan di dalam dan di luar komunitas. Ritual dan
tradisi ini umumnya berpusat pada berbagi pengalaman konsumsi anggota komunitas
dengan merek. Fungsi ritual dan tradisi bagi komunitas merek adalah menjaga
budaya dalam komunitas (Dholakia & Algesheimer, 2005). Berdasarkan definisi
diatas dapat disimpulkan bahwa ritual dan tradisi yang dilakukan terus menerus akan
menjadi identitas bagi komunitas tersebut.
c. Moral Responsibility (Tanggung Jawab Moral)
Tanggung jawab moral menciptakan tindakan kelompok dan juga mendorong
terciptanya ikatan pada kelompok. Tanggung jawab moral ini memfokuskan pada
komitmen sosial yang bersinggungan setiap hari.
“Moral responsibility is a sense of duty to the community as whole, and to
individual members of the community” (Dholakia & Algesheimer, 2005).
Dalam definisi tanggung jawab moral dapat disimpulkan bahwa anggota dalam
komunitas merek memiliki tanggung jawab moral sebagai bagian dari komunitas
tersebut. Anggota komunitas merek tidak selalu dipaksa untuk taat pada aturan, tetapi
memiliki kesadaran untuk menjaga komunitas.
d. Dynamics of The Collectivity (Dinamika Kolektivitas)
Konsep yang dikemukakan oleh Dholakia dan Algesheimer ini ingin
menunjukkan bahwa hubungan sosial yang terjadi dalam komunitas merek bersifat
dinamis dan aktif, tidak statis. Anggota komunitas secara aktif terlibat dalam
komunitas atau bahkan diluar dari komunitas. Artinya, anggota tidak hanya pasif
11
menerima arahan dari komunitas begitu saja. Dinamika dalam komunitas akan
membentuk dan menyusun komunitas terus menerus. Brand community dibedakan
menjadi dua kelompok, brand community berbasis jaringan dan berbasis kelompok
kecil dan brand community yang dibangun oleh perusahaan dan yang dibangun oleh
konsumen yang antusias (Dholakia & Algesheimer, 2005).
2.3.2 Loyalitas Konsumen
Perilaku setelah pembelian suatu produk ditentukan oleh kepuasan atau
ketidakpuasan akan suatu produk sebagai akhir dari proses penjualan. Salah
satu sikap positif konsumen dapat ditunjukan melalui sikap setia kepada suatu
produk. Kesetiaan merupakan suatu hal yang timbul tanpa adanya paksaan
tetapi timbul dengan sendirinya. Loyalitas pembentukan sikap dan pola
perilaku seorang konsumen terhadap pembelian dan penggunaan produk
merupakan pengalaman sebelumnya (Griffin, 2005).
Komitmen yang di pegang secara mendalam untuk membeli atau
mendukung kembali produk atau jasa yang disukai di masa depan meski
pengaruh situasi pemasaran menyebabkan pelanggan beralih (Kotler, 2009).
Loyalitas konsumen adalah keputusan konsumen untuk setia atau loyal
terhadap satu merek atau produk yang memenuhi kebutuhannya dan sesuai
dengan apa yang mereka inginkan dalam jangka waktu yang panjang
dibandingkan membeli produk baru (Griffin, 2009):
1. Pelanggan pertama kali
Merupakan orang yang telah menggunakanproduk sebanyak
satu kali setelah produk di pasarkan. Orang tersebust dapat
menjadi pelanggan setia merek tersebut atau pelanggan setia
dari kompetitor.
2. Pelanggan Berulang
Merupakan orang yang telah membeli produk sebanyak dua
kali atau lebih. Produk yang dibeli oleh konsumen ini bisa
produk dari satu merek yang sama atau produk yang berbeda
dari satu merek yang sama.
12
3. Klien
Klien membeli apapun produk yang dikeluarkan perusahaan
dan dilakukan secara terus menerus secara teratur dalam
jangka waktu yang lama. Pelanggan tersebut merupakan
pelanggan yang loyal terhadap merek tertentu dan tidak mudah
dipengaruhi oleh kompetitor.
4.
Penganjur
Seperti Klien, penganjur adalah orang yang membeli dan
menggunakan produk apapun yang dijual secara teratur tetapi
penganjur bukan hanya membeli produk melainkan juga
mempromosikan dan mendorong orang lain untuk membeli
produk yang sama.
2.4 Kerangka Pemikiran
Brand Community(X)
Loyalitas Konsumen (Y)
a. Conscious Of Kind
a. Pelanggan pertama
b. Rituals and Tradition
kali
c. Moral Responsibility
d. Dynamics
Of
b. Pelanggan berulang
the
Collectivivity
(Sumber: Dholakia & Algesheimer, 2005)
c. Klien
d. Penganjur
(Sumber: Griffin, 2009)
Gambar 2.2 Kerangka pemikiran
Brand community(X) instrumen untuk menguatkan komunitas dalam persaingan
industri dipergunakan untuk membedakan pengguna satu merek dengan merek
yang lain. Hubungan antara pelanggan dengan merek yang digunakan, komunitas
merek itu sendiri.
Loyalitas konsumen(Y) loyalitas pembentukan sikap dan pola perilaku seorang
konsumen terhadap pembelian dan penggunaan produk. Komitmen yang di
pegang secara mendalam untuk membeli atau mendukung kembali produk atau
jasa yang disukai.
Download