Uploaded by common.user151910

PROPOSAL WANDA[1][1]

advertisement
ANALISIS HALAL VALUE CHAIN PRODUK KLAPPERTAART PADA
CHRISTINE KLAPPERTAART MANADO
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Untuk Diseminarkan Dalam Sidang Proposal Skripsi Pada Program Studi
Ekonomi Syariah
Oleh :
Wanda Muno
20241056
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MANADO
1447 H/2025 M
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan Negara dengan populasi muslim terbesar di dunia yang
memiliki potensi sebagai sentrum Halal Value Chain (HVC) serta industri halal dunia.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia memiliki populasi umat
muslim di tahun 2024 sebesar 87,2% atau sebanyak 245.978.915 penduduk beragama
Islam ((BPS), 2024). Potensi industri halal akan terus mengalami peningkatan seiring
dengan pertumbuhan populasi muslim dunia yang di perkirakan akan meningkat 2,2
miliar jiwa di tahun 2030.1 sehingga memerlukan sistem industri yang kuat dan
terintegrasi, yang dikenal sebagai Halal Value Chain (HVC).
Rantai nilai halal (halal value chain) merupakan sebuah konsep yang
ditawarkan dalam sistem ekonomi Syariah. Halal Value chain adalah sebuah rantai
pasok halal yang mencakup beberapa sektor industri dari hulu sampai hilir, selain itu
dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang menghasilkan nilai tambah pada
setiap proses yang meliputi produksi, distribusi, dan pemasaran barang ataupun jasa
sampai ke tangan konsumen. Halal yang dimaksud disini adalah dari bahan yang
digunakan saat pembuatan produk, cara pengolahannya sudah sesuai dengan ketentuan
yang ada, dan pemasaran yang dilakukan. Sebagai negara dengan mayoritas
penduduknya beragama Islam masa sangat diperlukan penerapan halal value chain
untuk menjamin kualitas halal dari suatu produk. Produk menurut Kotler, produk
adalah apa saja yang ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, diperoleh, digunakan,
atau dikonsumsi yang dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen.
Pentingnya penerapan halal value chain bagi Indonesia adalah karena mayoritas
penduduk di negara Indonesia beragama Islam dan hal ini Indonesia bisa menjadi
1
Muhammad Fajrul Hakim and Sugianto Sugianto, ‘Studi Library Research: Penguatan Ekosistem
Halal Value Chain Di Indonesia Untuk Industri Halal Global’, Jurnal Penelitian Inovatif, 4.4 (2024), pp.
2227–38, doi:10.54082/jupin.787.
produsen halal dunia karena memiliki jumlah SDM yang banyak seharusnya bisa
menjadikan Indonesia sebagai pusat perkembangan ekonomi syariah didunia. Terbukti
dengan aktifnya Indonesia mengikuti pameran halal di negara lain dan menjalin
hubungan 3 kerjasama dengan negara-negara muslim, Indonesia dapat meningkatkan
ekspor barang halal ke negara muslim di dunia. Badan Penyelenggaran Jaminan Produk
Halal (BPJPH) saat ini sedang membangun kolaborasi lintas sector untuk memperkuat
penerapan jaminan produk halal. Menurut Muhammad Aqil Irham Kepala Badan
Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal menyampaikan, sesuai dengan amanat UU 33
tahun 2014 dan UU 6 tahun 2023 seluruh produk makanan, minuman, hasil sembelihan
dan jasa penyembelihan, bahan baku, dan tambahan pangan dan bahan penolong untuk
produk makanan dan minuman wajib bersertifikat halal pada 17 oktober 2024.
(Kementrian Agama Republik Indonesia, 2023)2
Selain itu Penguatan halal value chain (HVC) menjadi salah satu strategi
utama, terlebih pada sektor makanan dan minuman halal untuk mendororng Indonesia
menjadi pusat produk halal dunia. Namun Penguatan halal value chain (HVC) belum
berjalan dengan maksimal karena Industri halal Indonesia belum memiliki kemampuan
untuk menghasilkan produk makanan dan minuman halal yang berdaya saing tinggi
dan belum memiliki kemampuan untuk memasok kebutuhan halal global. Penerapan
teori halal value chain pada sektor makanan dan minuman halal belum mampu
mengatasi persaingan domestik dan global. Setiap proses pada rantai halal mulai dari
penyediaan bahan baku hingga layanan purna jual belum menghasilkan nilai tambah
yang maksimal.3
2
Maulida Azkhi Rahmawati, ‘Implementasi Halal Value Chain Pada Usaha Makanan Di Kota
Purwokerto (Studi Kasus Bakso Pekih Purwokerto)’, Skripsi Universitas Islam Negeri Prof. Kh.
Saifuddin Zuhri, 2024, p. 64.
3
Rudi Purnama and Rininta Nurrachmi, ‘Penguatan Halal Value Chain Pada Klaster Makanan Dan
Minuman Di Indonesia’, Journal of Islamic Economics, Finances and Accounting Studies, 3 (2).2 (2024),
pp. 222–46.
Salah satu produk makanan khas daerah yang menarik untuk di analisis
dalam konteks halal value chain adalah Klappertaart yang berbahan dasar kelapa
muda, mentega, tepung, gula, susu dan telur. Klappertaart adalah kue yang berasal
dari belanda yang di wariskan kepada masyarakat manado. Klappertaart sendiri
berasal dari bahasa Belanda “klapper” yang artinya kelapa dan “tart” yang artinya
kue. Pembuatan klappertaart ada 2 cara, yaitu dipanggang dan dikukus.
Klappertaart yang dipanggang akan menghasilkan tekstur seperti kue basah,
sedangkan klappertaart yang dikukus teksturnya lebih lembut dan mudah leleh. Di
antara berbagai produsen klappertaart, Christine klappertaart menjadi merek yang
paling dikenal di Sulawesi Utara bahkan di tingkat nasional.
Salah satu toko oleh-oleh yang menyediakan klappertaart adalah Christine
Klappertaart yang berada di Jalan B W Lapian Nomor 32A, Tikala Kumaraka,
Wenang, Kota Manado. Pemilik Christine Klappertaart, Elsje Crestine Sumangkut
mengatakan, ia memproduksi sendiri klappertaart yang dijajakan.“Kami menjual
klappertaart dengan harga Rp20 ribu-Rp235 ribu,” ujar Crestine, Minggu
(20/3/2022). Mengikuti perkembangan zaman, Crestine tak hanya menjajakan
klappertaart Manado original, tetapi juga varian rasa lain seperti cokelat, keju,
blueberry, nutella, matcha, dan lain-lain. Meski mudah ditemukan di daerah lain,
Crestine menyebut ada perbedaan klappertaart di Manado dan di daerah lain. Salah
satu yang mudah diidentifikasi adalah tekstur kelapa yang menjadi bahan dasar
klappertaart.“Misalnya saja dari tekstur kelapanya. Saya pernah ke Jawa dan
melihat kelapa yang di sana kalau buahnya sudah agak tebal teksturnya keras,
kalau di sini masih tetap lembut,” terang Crestine. Crestine menyebut toko oleholehnya ramai ketika ada kunjungan kerja instansi luar daerah maupun ketika
musim liburan.
Dalam sehari, Crestine bisa memproduksi 100-500 klappertaart dengan berbagai
ukuran dan varian rasa. Namun, Crestine mengatakan varian rasa original
klappertaart yang paling banyak dicari.
Bagi yang ingin membawanya sebagai oleh-oleh, tak perlu khawatir karena
klappertaart dapat bertahan di luar mesin pendingin selama 24 jam. Sedangkan
ketika disimpan di mesin pendingin, klappertaart bisa tahan hingga seminggu. 4
Dalam konteks Halal Value Chain, klappertaart sebagai produk khas Manado
yang diproduksi oleh industri Christine Klappertaart belum memiliki jaminan halal
secara transparan. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku usaha lokal
untuk meningkatkan daya saing produknya melalui penerapan halal value chain, yaitu
sistem rantai nilai yang memastikan setiap tahap produksi dan distribusi sesuai dengan
prinsip halal. Tanpa adanya analisis mendalam mengenai penerapan halal value chain
pada produk klappertaart, dikhawatirkan terjadi ketidaksesuaian dengan aturan yang
berlaku, potensi penolakan pasar, dan hilangnya peluang ekspor ke pasar global halal.
Selain itu, penelitian ini memiliki urgensi akademik karena masih minimnya
kajian terkait penerapan halal value chain pada produk pangan tradisional lokal,
khususnya di sektor usaha mikro dan kecil. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi bagi pengembangan konsep halal value chain di Indonesia serta
menjadi referensi bagi pelaku UMKM lainnya dalam mempersiapkan produk mereka
menghadapi persaingan di pasar halal domestik dan internasional.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka peneliti
mengangkat
Judul
ANALISIS
HALAL
VALUE
CHAIN
PRODUK
KLAPPERTAART PADA CHRISTINE KLAPPERTAART untuk mengetahui
4
Savi, ‘Christine Klappertaart, Rekomendasi Oleh-Oleh Favorit Di Manado’, Sulsel.Idntimes.Com, 2022
<https://sulsel.idntimes.com/news/sulawesi-selatan/christine-klappertaart-rekomendasi-oleh-olehfavorit-di-manado-00-dgmbm-9lmtdh?page=all&utm_source=chatgpt.com>.
bagaimana penyediaan bahan baku, proses produksi, distribusi serta penggunaan
label halal pada kemasan.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka penulis
mengidentifikasi beberapa permasalahan yang ada, yakni sebagai berikut:
1. Bagaimana kepastian status halal produk Klappertaart yang diproduksi oleh
Christine Klappertaart, mengingat belum adanya label atau sertifikasi halal
yang tertera pada kemasan?
2. Apakah bahan baku yang digunakan dalam pembuatan klappertaart, seperti
susu, mentega, tepung, perisa, serta bahan tambahan lainnya, telah memenuhi
standar kehalalan sesuai ketentuan Jaminan Produk Halal?
3. Bagaimana proses produksi yang dilakukan oleh Christine Klappertaart, dan
sejauh mana proses tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip produksi halal
termasuk kebersihan, pemisahan alat, dan pencegahan kontaminasi silang?
C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas terdapat
masalah yang begitu luas, sehingga perlu adanya pembahasan masalah yang
diteliti, maka penelitian dibatasi dengan kehalalan yang akan diteliti yaitu di
Christine Klappertaart Jalan B W Lapian Nomor 32A, Tikala Kumaraka,
Wenang, Kota Manado.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini yaitu:
1. Bagaimana analisis kepastian status kehalalan produk pada
Christine Klappertaart Manado di tengah kondisi produk yang
belum memiliki label atau sertifikasi halal resmi pada
kemasannya?
2. Bagaimana kesesuaian bahan baku utama dan bahan tambahan
(seperti susu, mentega, tepung, dan perisa) yang digunakan
dalam pembuatan Klappertaart dengan standar kehalalan
menurut ketentuan Jaminan Produk Halal?
3. Bagaimana implementasi prinsip produksi halal pada Christine
Klappertaart dalam menjaga aspek kebersihan, pemisahan
peralatan, serta mitigasi risiko kontaminasi silang selama proses
pengolahan?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis kepastian status kehalalan produk klappertaart
pada Christine Klappertaart Manado, khususnya dalam kondisi
produk yang belum memiliki label atau sertifikasi halal resmi pada
kemasannya.
2. Untuk menganalisis kesesuaian bahan baku utama dan bahan
tambahan yang digunakan dalam pembuatan klappertaart, seperti
susu, mentega, tepung, dan perisa, dengan standar kehalalan
berdasarkan ketentuan Jaminan Produk Halal.
3. Untuk menganalisis implementasi prinsip produksi halal pada
Christine Klappertaart, terutama dalam menjaga aspek kebersihan,
pemisahan peralatan, serta mitigasi risiko kontaminasi silang selama
proses pengolahan produk.
F. Kegunaan Teoritis
Adapun yang menjadi kegunaan penelitian ini dibagi dua yaitu
manfaat berbentuk teoritis dan manfaat berbentuk praktis:
1. Kegunaan Teoritis
a) Penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pengembangan
teori ekonomi, khususnya dalam memahami bagaimana Analisis
Halal Value Chain Produk Klappertaart pada Christine
Klappertaart Jalan B W Lapian Nomor 32A, Tikala, Kumaraka,
Wenang, Kota Manado.
b) Penelitian
ini
dapat
menjadi
referensi
bagi
penelitian
selanjutnya yang berkaitan dengan proses produksi dan
pentingnya status halal pada kuliner.
2. Kegunaan Praktis
a) Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menjadi bahan
informasi, bacaan, sekaligus referensi untuk mata kuliah
maupun
penelitian
selanjutnya
bagi
civitas
akademik
khususnya pada Institut Agama Islam Negeri Manado
b) Bagi para mahasiswa IAIN Manado agar mereka dapat
mengetahui bagaimana pentingnya Status Halal dari suatu
makanan, tidak hanya karena termakan keFomoan dan tidak
memperdulikan kehalalan suatu makanan.
G. Devinisi Konseptual
Berdasarkan Penelitian ini, definisi yang diteliti dapat diklasifikasikan
menjadi dua yaitu:
1. Analisis
Analisis adalah aktifitas mengurai, membedakan, secara memilah
sesuatu untuk digolongkan menurut kriteria tertentu kemudian dicari
kaitannya serta ditafsirkan maknanya merupakan pengertian umum dari
analisis.5 Penulis mengartikan analisis pada konteks ini sebagai Upaya
menelaah penerapan rantai nilai halal pada produk klappertaart, kajian ini
bertujuan untuk memahami kesesuaian alur penyediaan bahan baku, proses
produksi hingga distribusi dengan prinsip syariah.
2. Halal Value Chain (Rantai Nilai Halal)
Sistem ekonomi Syariah menawarkan sebuah konsep yang dikenal
sebagai rantai nilai halal atau Halal Value Chain. Rantai pasok halal ini
mencakup beberapa sektor industri dari hulu sampai hilir. Rangkaian kegiatan
tersebut menghasilkan nilai tambah pada setiap proses yang meliputi produksi,
distribusi, serta pemasaran barang ataupun jasa sampai ke tangan konsumen.6
Aspek halal pada konteks ini meliputi bahan yang digunakan saat pembuatan
produk, cara pengolahannya, serta metode pemasaran yang dilakukan. Penulis
menggunakan konsep ini untuk mengukur jaminan kualitas halal pada setiap
tahapan produksi di lokasi penelitian.
3. Produk Klappertaart
Klappertaart atau tart kelapa adalah jenis makanan yang dibuat
dengan bahan dasar buah dan air kelapa. Kue ini banya dikenal
diberbagai daerah di Indonesia, seperti Sulawesi utara, Jawa Timur,
dan daerah-daerah pantai lainnya, dengan kekhasan masing-masing.
Klappertaart di daerah-daerah tersebut memiliki perbedaan dalam
hal bentuk, tekstur, cara pembuatan,serta nama atau sebutan. 7
H. Penelitian Terdahulu yang Relevan
1. Nadia fahrani (2024) ”Implementasi Halal Supply Chain Manajement pada
Industri Pengolahan Makanan Petis Ikan Laut Putri Tunggal”. Persamaan
5
Roland Carolos, ‘UNIKOM_Roland Carolos_BAB 2’, 2015, pp. 12–27.
Z A Majid, M F Shamsudin, and N A A Rahman, Halal Supply Chain Integrity: Concept, Constituents
and Consequences (Taylor \& Francis, 2023)
7
L T Erwin, PACS: Klappertaart (Gramedia Pustaka Utama).
6
penelitian ini dengan penelitian penulis sama-sama menggunakan
penelitian kualitatif, Kedua penelitian sama-sama meneliti konsep aliran
produk halal dari hulu ke hilir. penelitian penulis menggunakan istilah Halal
Value Chain (HVC) , sedangkan penelitian ini menggunakan istilah Halal
Supply Chain Management (HSCM). Inti dari kedua penelitian ini adalah
menjamin kehalalan produk mulai dari bahan baku hingga ke tangan
konsumen. ketiga, kedua penelitian sama-sama meneliti industri skala
menengah/kecil atau UMKM yang memproduksi makanan khas. Perbedaan
penelitian ini dengan penelitian saya pada Jenis Produk dan Lokasi Produk
yang diteliti pada penelitian saya adalah Klappertaart (kue khas Manado
berbahan dasar kelapa) yang berlokasi di Manado. sedangkan penelitian ini
pada Petis Ikan Laut yang berlokasi di desa Pasean (Madura). Hasil
penelitian ini mengungkapkan bahwa komitmen terhadap kehalalan produk
sangat penting untuk meningkatkan daya saing di pasar. Sertifikasi halal
tidak hanya berfungsi sebagai kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga
sebagai strategi pemasaran yang efektif. Dengan adanya sertifikasi halal,
Petis Ikan Laut Putri Tunggal dapat menarik lebih banyak konsumen,
terutama di kalangan masyarakat Muslim yang semakin memperhatikan
aspek kehalalan dalam konsumsi makanan.
2. Maulida Azkhi Rahmawati (2024) “Implementasi Halal Value Chain Pada
Usaha Pada Usaha Makanan Di Kota purwakerto (Studi Kasus Bakso Pekih
Purwakerto)”. Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya sama-sama
mengangkat topik analisis Halal Value Chain (HVC) dalam industri
makanan untuk memastikan jaminan produk halal dari penyediaan bahan
baku hingga ke tangan konsumen, sama-sama menggunakan metode
penelitian kualitatif , perbedaan penelitian ini dengan peneltian saya dari
segi objek, lokasi, dan status penelitian. hasil dari penelitian menemukan
bahwa Bakso Pekih, yang berdiri sejak tahun 1985, telah menerapkan
kebijakan halal sebagai komitmen utama usaha. Pelaku usaha memastikan
seluruh bahan yang digunakan disetujui dan bebas dari najis. Kebersihan
fasilitas produksi menjadi prioritas, di mana peralatan dicuci sebelum dan
sesudah digunakan untuk mencegah kontaminasi. Karyawan juga
diwajibkan menjaga kebersihan diri (higiene) selama proses
pengolahan berlangsung. hasil dari penelitian menemukan bahwa Bakso
Pekih, yang berdiri sejak tahun 1985, telah menerapkan kebijakan halal
sebagai komitmen utama usaha. Pelaku usaha memastikan seluruh bahan
yang digunakan disetujui dan bebas dari najis. Kebersihan fasilitas produksi
menjadi prioritas, di mana peralatan dicuci sebelum dan sesudah digunakan
untuk mencegah kontaminasi. Karyawan juga diwajibkan menjaga
kebersihan diri (higiene) selama proses pengolahan berlangsung.8
3. Siti Nur Hafifatul Hasanah (2025) “Analisis Halal Value Chain Pada
Rumah Potong Unggas UD.Mandiri Di Gambiran – Banyuwangi.”
Persamaan dari kedua penelitian ini adalah sama-sama menganalisis
penerapan Halal Value Chain sebagai pendekatan untuk memastikan
kehalalan produk dari hulu ke hilir, mulai dari bahan baku, proses produksi,
hingga distribusi, serta menekankan pentingnya kepatuhan terhadap prinsip
halal untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. Perbedaan penelitian ini
dan penelitian sebelumnya terletak pada fokus objek yang dikaji, penelitian
ini lebih spesifik pada produk kuliner tradisional Manado, yaitu
klappertaart, sedangkan penelitian terdahulu banyak membahas sektor
rumah potong unggas, industri bakso, atau pariwisata halal. Selain itu,
penelitian ini menyoroti isu unik berupa belum adanya label halal pada
produk klappertaart, yang belum dibahas dalam penelitian terdahulu, serta
mengkaji penerapan halal value chain pada UMKM pangan olahan berbasis
kue, bukan pada daging atau jasa wisata seperti pada penelitian sebelumnya.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penerapan kebijakan halal pada
Rumah Potong Unggas UD. Mandiri menunjukkan komitmen yang kuat
dalam menjaga kualitas dan kehalalan produk daging ayam, meskipun
menghadapi tantangan seperti perpanjangan sertifikat halal yang terhambat
oleh ketiadaan sertifikat JULEHA dan peningkatan komunikasi dengan
sumber daya manusia. Analisis halal value chain pada RPU UD. Mandiri
menunjukkan bahwa setiap tahap dalam proses dilaksanakan dengan
prosedur yang ketat, mulai dari pengadaan ayam hidup melalui mitra
terpercaya hingga proses penyembelihan yang diawasi, serta distribusi yang
efisien ke pasar lokal dan regional. Dengan perhatian terhadap kepuasan
pelanggan dan pengelolaan operasional yang ramah lingkungan, RPU UD.
8
Purnama and Nurrachmi, ‘Penguatan Halal Value Chain Pada Klaster Makanan Dan Minuman Di
Indonesia’.
Mandiri berupaya untuk terus memenuhi standar halal yang ditetapkan,
meskipun masih perlu mengatasi beberapa tantangan yang ada.9
4. Erfina Sari (2021) “ Analisis Halal Value Chain Pada Proses Potong Ayam
Di Rumah Potong UD. Ayam Segar Panyambungan”. Penelitian ini
memiliki persamaan dengan penelitian terdahulu terkait Rumah Potong
Ayam dan Rumah Potong Unggas, yaitu sama-sama menggunakan konsep
Halal Value Chain untuk menganalisis penerapan kehalalan dari hulu
hingga hilir serta menilai kepatuhan proses produksi terhadap standar
syariah. Ketiga penelitian ini juga menekankan pentingnya verifikasi bahan
baku, alur proses produksi, dan pengendalian risiko kontaminasi terhadap
unsur non-halal. Perbedaan dari penelitian ini berfokus pada produk pangan
olahan berbasis kue yaitu klappertaart yang diproduksi UMKM Christine
Klappertaart, sedangkan penelitian sebelumnya mengkaji sektor daging
ayam yang memiliki titik kritis halal lebih tinggi seperti penyembelihan,
penanganan darah, dan proses karkas. Selain itu, penelitian ini menyoroti
isu ketiadaan label halal dan verifikasi bahan tambahan pangan pada produk
klappertaart, sementara penelitian terdahulu lebih menekankan pengawasan
proses penyembelihan, kebersihan fasilitas, dan rantai pasok ayam. Dengan
demikian, meskipun sama-sama menelaah Halal Value Chain, objek,
konteks risiko halal, dan fokus analisis penelitian ini memiliki perbedaan
yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis halal ValueChain pada proses potong ayam di rumah potong UD. Ayam segar
Panyabungan sudah memenuhi dari lima aktivitas utama rantai nilai halal
yaitu logistik masuk, akativitas operasi, logistik keluar, pemasaran dan
penjualan, serta pelayanan. Kemudian rumah potong UD. Ayam segar
Panyabungan ini juga sudah memenuhi kegiatan pendukung dari halal
Value-Chain yaitu infrastruktur, manajemen SDM, pengembangan
teknologi dan pengembangan sumber daya (pembelian). Rumah potong
UD. Ayam segar Panyabungan juga belum memiliki sertifikat halal yang
dikelurkan pihak MUI, dikarenakan kurangnya pemahaman tentang
prosedur pembuatan sertifikat.10
5. Emi Mawarsari (2022) “ Penguatan Halal Value Chain Pada Komoditas
Daging Ayam Di Peternakan Desa Tlahab Kidul, Kecamatan Karangreja,
9
U D Mandiri and D I Gambiran, Analisis Halal Value Chain Pada Rumah Potong Unggas, 2025.
Erfina Sari, ‘ANALISIS HALAL VALUE-CHAIN PADA PROSES POTONG AYAM DI RUMAH’, 2021.
10
Kabupaten Purbalingga”. Persamaan dari kedua peneliti ini yaitu terletak
pada fokus analisis terhadap alur bahan baku, proses produksi, distribusi,
serta kepatuhan terhadap prinsip syariah sebagai bentuk jaminan halal.
perbedaan dari keduanya terlihat pada jenis produk yang diteliti—mulai
dari daging ayam, abon lele, bakso, hingga klappertaart—yang
menyebabkan perbedaan alur rantai nilai, risiko kontaminasi, dan standar
kehalalannya, kemudian lokasi penelitian yang bervariasi sehingga
memengaruhi praktik industri, serta isu utama yang dianalisis, seperti
proses penyembelihan pada penelitian daging ayam atau ketiadaan label
halal pada produk klappertaart. Dengan demikian, meskipun seluruh
penelitian membahas konsep yang sama, masing-masing menawarkan
fokus analisis yang berbeda sesuai karakteristik produk dan konteks
industrinya. Hasil penelitian menunjukan bahwa alur rantai nilai pada
peternakan ayam Desa Thalab Kidul melibatkan beberapa pihak yaitu
pemasok, peternakan, pedagang kecil, dan masyarakat sebagai konsumen
akhir. Kemudian dalam seluruh aktifikas yang dilakukan dari logistic
masuk hingga produk sampai ke tangan konsumen sudah memeprhatikan
nilai-nilai Islam. Namun dalam upaya menjamin kehalalan peternakan ini
belum mendaftarkan produknya untuk mendapat sertifikasi halal. 11
6. Fitri Maghfira (2022) “Halal Agriculture Sebagai Tawaran Produk Baru
Menuju Optimalsasi Value Chain Industri Halal”. Persamaan penelitian ini
dengan penelitian saya landasan teoritis yang serupa karena sama-sama
menggunakan kerangka Halal Value Chain (HVC) sebagai pisau analisis
utama untuk membedah ekosistem ekonomi Syariah. Pendekatan yang
digunakan oleh kedua penulis juga bersifat kualitatif, dimana focus
utamanya adalah menggali pemahaman mendalam mengenai objek studi
masing-masing dari pada sekedar pengolahan angka statistic. Kesamaan
lain terlihat pada semangat mengangkat potensi komoditas local daerah,
penelitian ini yakni Kopi Gayo dari Aceh dan penelitian saya kue
klappertart dari Manado, sebagai upaya penguatan industry halal nasional.
Perbedaan penelitian ini dan penelitian saya mengenai klappertart
menitikberatkan pada aspek produk fisik atau manufaktur makanan,
11
EMI MAWARSARI, ‘PENGUATAN HALAL VALUE CHAIN PADA KOMODITAS DAGING AYAM DI
PETERNAKAN DESA TLAHAB KIDUL, KECAMATAN KARANGREJA, KABUPATEN PURBALINGGA SKRIPSI’,
2022.
khususnya menyoroti tranparansi bahan baku dan proses produksi yang
belum memiliki label halal resmi. Sebaliknya, penelitian mengenai Halal
Agriculture befokus pada aspek keuangan atau jasa perbangkan Syariah,
dengan masalah utama berupa minimnya akses pembiayaan bagi petani
kopi akibat persepsi risiko tinggi pada sector pertanian. hasil penelitian ini
mengidentifikasi bahwa pembiayaan sektor pertanian di perbankan syariah
masih kurang berkembang dan belum optimal.Penyebab utamanya adalah
persepsi risiko yang tinggi pada sektor pertanian (seperti gagal panen dan
fluktuasi harga) serta tingginya Non-Performing Financing (NPF), yang
membuat bank enggan menyalurkan dana. Petani kopi di Aceh (Gayo)
menghadapi kendala akses modal terbatas dan penurunan harga jual,
terutama saat terjadi krisis seperti pandemi.12
7. Virgo Gusrian1, Poppy Nurmayanti, Mayla Khoiriyah (2024) “Pengaruh
Halal Value Chain Dan Orientasi Kewirausahaan Terhadap Kinerja
UMKM Makanan Dan Minuman.” Persamaan dari penelitian terdahulu dan
penelitian saya sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif dalam
menganalisis penerapan Halal Value Chain (HVC) sebagai upaya
memastikan kehalalan produk dari hulu hingga hilir, serta menyoroti
pentingnya kepatuhan terhadap prinsip syariah untuk meningkatkan
kepercayaan dan daya saing produk, Perbedaannya terletak pada objek
penelitian, lokasi, serta isu utama yang dikaji, di mana penelitian saya
berfokus pada produk klappertaart khas Manado yang belum memiliki label
halal, sementara penelitian terdahulu membahas UMKM makanan dan
minuman dengan titik kritis halal dan permasalahan industri yang berbeda.
Hasil penelitian ini diperkuat dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh
Setyawati (2013) yang juga menyatakan Orientasi kewirausahan tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja UMKM. Penelitian yang
dilakukan menunjukkan bahwa orientasi kewirausahaan tidak memiliki
dampak yang signifikan terhadap kinerja UMKM disebabkan faktor-faktor
kontekstual, seperti kondisi ekonomi, budaya, dan infrastruktur bisnis di
daerah penelitian, juga dapat memengaruhi hubungan antara orientasi
kewirausahaan dan kinerja UMKM. Seperti, kondisi ekonomi lokal yang
kurang stabil atau kurangnya dukungan infrastruktur bisnis dapat
12
Iain Lhokseumawe and Fakultas Ekonomi, ‘HALAL AGRICULTURE SEBAGAI TAWARAN PRODUK
BARU MENUJU OPTIMALISASI VALUE CHAIN INDUSTRI HALAL’, 4 (2022), pp. 91–100.
menghambat kemampuan UMKM untuk menerapkan strategi
kewirausahaan yang efektif.13
8. Zakiyah, Iman Setya Budi, Parman Komarudin, Abdul Wahab (2023)
“Analisis Halal Value Chain Pada Pengembangan Produk Wisata Halal
Makam Habib Basirih Di Kota Banjarmasin.” Persamaan dari kedua
penelitian ini yaitu sama-sama menunjukkan bahwa penerapan Halal Value
Chain belum optimal, terutama pada aspek verifikasi kehalalan yang masih
lemah dan belum didukung sepenuhnya oleh sertifikasi halal yang
diperlukan. Perbedaan dari kedua penilitian ini terletak pada konteks dan
titik kritis halal, di mana penelitian wisata halal menyoroti kurangnya
sertifikasi pada akomodasi dan kuliner sebagai bagian dari layanan wisata,
sedangkan penelitian klappertaart berfokus pada kehalalan bahan baku,
proses produksi, dan distribusi produk pangan olahan khas Manado yang
diproduksi UMKM, sehingga tantangan, alur nilai, serta bentuk intervensi
halal yang dibutuhkan pada kedua objek tersebut berbeda. Hasil penelitian
menunjukan bahwa halal value chain pada pengembangan produk wisata
halal makam Habib Basirih di kota Banjarmasin mesih perlu pembenahan
khususnya pada aspek akomodasi dan kuliner yang belum memiliki
sertifikat halal.14
9. Kholifatul Husna Asri dan Amin Ilyas (2022) “Penguatan Ekosistem Halal
Value Chain sebagai Pengembangan Industri Halal Menuju Era 5.0.”
Persamaan dari penelitian sebelumnya dengan penelitian saya adalah
keduanya sama-sama menunjukkan bahwa penguatan halal value chain
merupakan kunci untuk meningkatkan daya saing, memenuhi permintaan
13
Virgo Gusrian and others, ‘CURRENT Jurnal Kajian Akuntansi Dan Bisnis Terkini’, 5.1 (2024), pp.
150–65.
14
Abdul Wahab, ‘ANALISIS HALAL VALUE CHAIN PADA PENGEMBANGAN PRODUK WISATA HALAL
MAKAM HABIB BASIRIH DI KOTA BANJARMASIN’, 9 (2023), pp. 123–38.
pasar halal, dan memberikan nilai tambah ekonomi, baik pada tingkat
industri besar maupun UMKM. Perbedaannya terletak pada ruang lingkup
dan tingkat analisis, di mana penelitian ekonomi syariah dan industri halal
membahas HVC pada level makro, yaitu penguatan ekosistem industri halal
secara nasional agar mampu menguasai pasar global, sementara analisis
HVC pada klappertaart berfokus pada level mikro, yaitu penerapan prinsip
halal pada bahan baku, proses produksi, hingga distribusi di satu UMKM
tertentu, sehingga langkah penguatan HVC yang dibutuhkan berbeda sesuai
skala dan kompleksitas industrinya. hasil penelitian bahwa ekonomi syariah
dan industri halal merupakan sektor yang memiliki kesempatan, peluang
dan berkontribusi pada nilai tambah perekonomian melalui pemenuhan
permintaan pasar. Dalam mendukung perkembangan ekonomi syariah salah
satu upayanya melalui penguatan ekosistem halal value chain yang
dalamnya mencakup sejumlah industri yang berkaitan dengan keperluan
produk dan jasa halal. Ekosistem industri halal harus lebih dikuatkan dan
dikembangkan agar mampu menguasai potensi pasar global.15
10. Novika Daniati (2023) “ Peranan Perusahaan Logistik Dalam Memperkuat
Rantai Nilai Halal di Provinsi Sumatera Utara (Studi Kasus JNE Cabang
Padangsidimpuan).” Persamaan antara penelitian sebelumnya mengenai
JNE Cabang Padangsidimpuan yang belum menerapkan logistik halal
dengan analisis halal value chain pada produk klappertaart adalah keduanya
sama-sama menunjukkan bahwa aspek halal dalam rantai nilai belum
berjalan optimal karena belum terpenuhinya kebutuhan pasar atau belum
adanya penerapan prinsip halal secara menyeluruh pada alur prosesnya.
Perbedaan keduanya terletak pada ruang lingkup dan titik kritis halal, di
15
Sharia Economics Journal, ‘Penguatan Ekosistem Halal Value Chain Sebagai Pengembangan Industri
Halal Menuju Era 5.0’, 01.01 (2022), pp. 37–47.
mana kasus JNE berhubungan dengan ketiadaan permintaan serta belum
adanya implementasi logistik halal pada sektor jasa pengiriman, sedangkan
analisis halal value chain klappertaart berfokus pada bahan baku, proses
produksi, dan distribusi produk pangan yang memerlukan kepastian halal,
sehingga permasalahan, tanggung jawab, dan bentuk penerapan HVC pada
kedua objek tersebut berbeda sesuai karakter industrinya. Hasil Penelitian
ini dapat menunjukan bahwa JNE Cabang Padangsidimpuan belum adanya
peranan logistik halal. Karena permint aan pasar untuk menjadi perusahaan
logistik halal untuk wilayah Padangsidimpuan belum ada.16
11. Desy Arum Sunarta, Riski Apriliani (dkk). (2025) “Halal Certification and
Value Addition For MSME Products: A Literature Review On Government
Initiatives And Regulatory Frameworks.” Persamaan dari Penelitian peran
sertifikasi halal terhadap pengembangan UMKM memiliki persamaan
dengan penelitian saya tentang Analisis Halal Value Chain Produk
Klappertaart, yaitu sama-sama menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap
prinsip halal sebagai faktor yang meningkatkan nilai produk, kepercayaan
konsumen, serta daya saing usaha, sekaligus menekankan perlunya
dukungan kelembagaan dan kebijakan untuk memperkuat industri halal.
Perbedaan dari kedua penelitian ini yang pertama berfokus pada sertifikasi
halal sebagai instrumen multidimensional dalam konteks makro—
mengulas regulasi nasional, kebijakan pemerintah, dan dampaknya
terhadap UMKM secara umum. sedangkan penelitian saya berfokus pada
analisis mendalam rantai nilai halal pada satu produk spesifik, yaitu
klappertaart, dengan menilai tahapan penyediaan bahan baku, proses
produksi, distribusi, hingga pelabelan pada level UMKM tertentu. Selain
16
Danianti Novika, PERANAN PERUSAHAAN LOGISTIK DALAM MEMPERKUAT RANTAI NILAI HALAL DI
PROVINSI SUMATERA UTARA (Studi Kasus JNE Cabang Padangsidimpuan), 2023.
itu, penelitian terdahulu menyoroti isu sistemik seperti kompleksitas
prosedur, kapasitas UMKM, dan peran infrastruktur digital, sementara
penelitian saya lebih menekankan titik kritis halal pada produk pangan
olahan serta tantangan praktis di lapangan terkait belum adanya label halal
pada produk Christine Klappertaart. Temuan ini menegaskan pentingnya
mengintegrasikan kepatuhan religius dengan pemberdayaan ekonomi dan
dukungan
kelembagaan.
komprehensif
tentang
Penelitian
sertifikasi
ini
memberikan
halal
sebagai
pemahaman
instrumen
multidimensional—bukan hanya untuk memberikan jaminan kepada
konsumen, tetapi juga bagi pengembangan UMKM dan perluasan pasar.
Dengan mensintesis bukti empiris dan perspektif regulasi, penelitian ini
memperkaya diskursus mengenai instrumen ekonomi Islam dan kebijakan
industri halal. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi
dampak jangka panjang, perbandingan kebijakan regional, serta peran
infrastruktur
digital
dan
keuangan
syariah
dalam
meningkatkan
aksesibilitas sertifikasi halal bagi pelaku UMKM.17
12. Dwi Agustina dan Andi Cakravastia (2023) “A Review Of Halal Supply
Chain Research: Sustainability And Operations Research Perpective.”
Kedua penelitian sama-sama berangkat dari pentingnya menjamin
kehalalan produk melalui analisis alur dari hulu ke hilir, serta menekankan
bahwa rantai nilai halal harus memastikan tidak adanya kontaminasi dan
seluruh proses mengikuti prinsip syariah. Penelitian A Review of Halal
Supply Chain Research berfokus pada tinjauan literatur internasional yang
luas dengan pendekatan konseptual dan metodologis, menyoroti minimnya
studi halal supply chain yang menggunakan operations research serta
17
Desy Arum Sunarta and others, ‘Halal Certification and Value Addition for MSME Products : A
Literature Review on Government Initiatives and Regulatory Frameworks’, 2.2 (2025), pp. 104–15.
kurangnya perhatian pada aspek keberlanjutan dalam industri halal secara
global. Sebaliknya, penelitian saya bersifat studi kasus lapangan yang
spesifik pada produk klappertaart di UMKM Christine Klappertaart
Manado, dengan fokus pada implementasi nyata Halal Value Chain
mencakup bahan baku, produksi, distribusi, serta ketiadaan label halal yang
berpotensi menjadi isu utama bagi konsumen dan pasar halal. Perbedaannya
yaitu penelitian pertama bersifat makro dan teoritis, sementara penelitian
saya bersifat mikro, aplikatif, dan menyoroti masalah praktis pada produk
pangan tradisional yang belum tersertifikasi halal. Berdasarkan hasil tinjauan,
penelitian rantai pasok halal menunjukkan tren peningkatan sejak tahun 2011.
Sebagian besar publikasi berasal dari Malaysia, sementara Indonesia berada
di posisi kedua meskipun merupakan negara dengan populasi Muslim
terbesar di dunia. Mayoritas penelitian berfokus pada keseluruhan rantai
pasok dan pada level pengambilan keputusan strategis. Penelitian pada level
operasional masih sangat terbatas. Kebanyakan studi juga berfokus pada
sektor
makanan
dan
minuman.
Hanya
sedikit
penelitian
yang
mempertimbangkan isu keberlanjutan dalam rantai pasok halal. Tinjauan
ini juga menemukan adanya keseimbangan antara penggunaan pendekatan
kuantitatif dan kualitatif dalam penelitian rantai pasok halal. Namun,
pendekatan kecerdasan buatan (AI) belum diterapkan dalam bidang ini.
Berdasarkan temuan tersebut, diperlukan lebih banyak penelitian mengenai
rantai pasok halal yang dikaitkan dengan keberlanjutan dengan
menggunakan metodologi OR/AI.
13. Abdullah Alourani dan Shahnawaz Khan (2025) “ Halal Food Traceability
System Using AI And Blockchsin.” Kedua penelitian sama-sama berfokus
pada upaya menjaga keaslian dan keutuhan halal sepanjang proses produksi
hingga distribusi, serta menekankan pentingnya membangun kepercayaan
konsumen melalui rantai nilai halal yang transparan dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Penelitian
sistem
traceability
berbasis
blockchain–AI menghasilkan temuan bahwa teknologi digital mampu
memberikan keterlacakan real-time dan catatan yang tidak dapat diubah,
sehingga efektif meningkatkan autentikasi halal dan menarik minat
implementasi di dunia nyata. Sebaliknya, penelitian saya tentang halal value
chain produk klappertaart bersifat lebih praktis dan kontekstual karena
mengkaji kondisi nyata pada UMKM, mulai dari bahan baku, proses
produksi, hingga distribusi, dan menemukan adanya kekurangan pada
pemenuhan standar halal, seperti belum adanya sertifikasi halal dan potensi
risiko kontaminasi sepanjang rantai nilai. Dengan demikian, perbedaanya
yaitu penelitian pertama menawarkan solusi teknologi sebagai inovasi masa
depan, sedangkan penelitian saya mengungkap kondisi faktual dan
kebutuhan perbaikan pada rantai nilai klappertaart, tetapi keduanya samasama memberikan kontribusi terhadap peningkatan integritas halal produk
pangan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa solusi yang dikembangkan
cukup
efektif
dan
para
penguji
menyatakan
minat
untuk
mengimplementasikannya di dunia nyata. Dengan demikian, temuan ini
berkontribusi pada pengetahuan mengenai adopsi teknologi dengan
mengkaji penerapan sistem yang diusulkan dalam rantai pasok makanan
halal serta memberikan wawasan tentang potensi manfaat adopsi digital di
bidang ini.
14. Albertty Indriansyah, Mohammad Iqbal Irfany, Marco Tieman (2024)
“Halal Procurement Strategy In The Food Industry In Indonesia.” Kedua
penelitian memiliki persamaan dalam fokusnya untuk memperkuat jaminan
halal pada produk makanan melalui pengelolaan rantai nilai yang lebih baik,
khususnya pada aspek ketersediaan bahan baku halal, kesinambungan
pasokan, serta pentingnya identifikasi faktor yang dapat memengaruhi
kehalalan produk. Penelitian tentang halal procurement menekankan
analisis strategis pada tingkat makro melalui ANP dan SWOT untuk
memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengadaan
halal secara nasional, termasuk isu kompetisi global dan kurangnya
komoditas bernilai tambah. Sebaliknya, penelitian saya bersifat lebih mikro
dan aplikatif karena berfokus pada rantai nilai halal produk klappertaart
secara spesifik—mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga
distribusi—serta mengidentifikasi persoalan praktis seperti belum adanya
sertifikasi halal, potensi kontaminasi, dan pengelolaan proses produksi di
tingkat UMKM. Dengan demikian, perbedaanya yaitu penelitian pertama
memberikan gambaran strategis nasional mengenai pengadaan halal,
sementara penelitian saya menelaah implementasi nyata halal value chain
pada satu produk spesifik, tetapi keduanya sama-sama bertujuan
memperkuat integritas halal dalam industri makanan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa faktor kekuatan merupakan prioritas utama dalam
memajukan pengadaan halal pada sektor makanan di Indonesia. Secara
khusus, faktor-faktor yang paling berpengaruh meliputi ketersediaan bahan
baku, kurangnya komoditas bernilai tambah, jaminan pasokan bahan baku
yang berkelanjutan, serta keberadaan banyak pesaing global—yang
masing-masing
berperan
sebagai
kekuatan
(strength),
kelemahan
(weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat) bagi industri
makanan halal.
15. Erlangga Bayu Setyawan dan Nia Novitasari (2023) “Factors Influencing
Readiness Towards Halal Logistics Among Food And Beverages Industry
In The Of Era E-Commerce In Indonesia.” Persamaan dari kedua penelitian
ini terletak pada fokusnya menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi
terjaganya kehalalan produk makanan dari hulu hingga hilir, serta samasama menekankan pentingnya kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi
standar halal, baik melalui ketersediaan sumber daya maupun penerapan
prosedur yang sesuai syariah. Penelitian mengenai kesiapan logistik halal
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan structural equation modeling
untuk menguji 13 faktor kunci seperti pelatihan personel, kapabilitas
inovatif, dan kinerja pemasaran pada industri makanan dan minuman dalam
skala kota-kota besar, sehingga berorientasi pada pemetaan kesiapan
industri secara luas. Sementara itu, Penelitian saya bersifat lebih mikro dan
mendalam karena berfokus secara spesifik pada rantai nilai halal produk
klappertaart—meliputi
bahan
baku,
proses
produksi,
pengolahan,
pengemasan, dan distribusi—serta mengidentifikasi masalah praktis seperti
belum adanya sertifikasi halal, potensi kontaminasi, dan kelemahan dalam
pengelolaan value chain pada level UMKM. Dengan demikian,
perbedaannya yaitu penelitian pertama memberikan gambaran makro
tentang faktor struktural kesiapan industri halal, sedangkan penelitian saya
menelaah implementasi nyata dan perbaikan yang dibutuhkan pada satu
produk spesifik, tetapi keduanya sama-sama bertujuan memperkuat
integritas halal pada sektor pangan. Hasil model struktural mengungkap
arah hubungan antar faktor kunci tersebut, dan menunjukkan bahwa
ketersediaan sumber daya, pelatihan dan personel, serta kapabilitas inovatif
merupakan faktor paling penting dalam kesiapan rantai pasok halal.
Penelitian selanjutnya dapat berfokus pada sektor industri lain, seperti
fesyen dan pariwisata, sebagaimana tercantum dalam Masterplan Ekonomi
Syariah Indonesia 2019–2024.
I. Kajian Teori
1. Teori Halal
Kata halal berasal dari akar kata yang berarti “lepas” atau “tidak
terikat”. Dengan kata lain sesuatu yang halal yaitu sesuatu yang
terlepas dari ikatan bahaya duniawi dan ukhrawi, karena itu kata
halal juga berarti “boleh”. Menurut Bahasa hukum, kata ini
mencakup sesuatu yang dibolehkan agama. Kebolehan tersebut
dapat bersifat sunnah (anjuran untuk dilakukan), makruh (anjuran
untuk ditinggalkan) maupun mubah (netral/boleh-boleh saja).
Dengan demikian, mungkin saja ada sesuatu yang halal (boleh),
tetapi tidak dianjurkan, sehingga hukumnya menjadi makruh.18
2. Teori Value Chain
Rantai Nilai Porter menggambarkan proses yang terkait dengan
suatu produk, yaitu desain, produksi,pengiriman, dan pasar. Cara
proses ini dijalankan mencerminkan strategi dan visi perusahaan.
Perusahaan yang bersaing di pasar yang sama cenderung memiliki
rantai nilai yang serupa. 19
3. Value Chain
a. Pengertian Value Chain
Value chain atau rantai nilai adalah keseluruhan aktifitas yang
diperlukan untuk membawa produk/jasa dari titik awal, melalui berbagai
tahap produksi (melibatkan berbagai kegiatan transformasi secara fisik dan
berbagai input jasa), kemudian menyampaikan produk/jasa tersebut kepada
konsumen akhir. Value chain yang sederhana terjadi dalam perusahaan
meliputi kegiatan desain, produksi dan pemasaran. Sedangkan value chain
yang kompleks melibatkan kegiatan tersebut yang terjadi antar perusahaan
18
M Dr. Ir. Heny Nuraini, Memilih & Membuat Jajanan Anak Yang Sehat & Halal (QultumMedia,
2007) <https://books.google.co.id/books?id=uM6_1gj75-8C>.
19
A L Bischoff, Porter’s Value Chain and the REA Analysis as an Accounting Information System (GRIN
Verlag, 2011) <https://books.google.co.id/books?id=U_CvdZ3qiMEC>.
satu dengan perusahaan lain sehingga terjadi transformsi input menjadi
output.20
b. Indikator Value Chain
Indikator value chain memiliki aktivitas utama atau primer adalah
aktivitas yang terlibat dalam penciptaan fisik produk, penjualan dan
distribusinya ke para pembeli dan layanan penjualan. Potensi pendukung
agar pencipta nilai aktivitas primer terdiri dari :
1. Logistik ke dalam (Inbound Logistic )
Logistik ke dalam (Inbound Logistic) merupakan suatu kegiatan
yang berhubungan atau berkaitan dengan penanganan material
pergudangan dengan pengendalian persediaan bahan baku, digunakan
untuk penyimpanan, penerimaan dan pengeluaran input untuk produksi.
Dalam hal ini efisiensi dalam penentuan jumlah bahan baku
mengakibatkan berkurangnya kemubadzir. Selain itu memastikan
kehalalan produk juga merupakan pokok dalam menentukan sumber
bahan baku produksi.
2. Operasi (Operation)
Operasi (Operation) merupakan kegiatan yang sangat penting
untuk mengkonversi input yang disediakan oleh logistik masuk kedalam
bentuk produk akhir. Adapun yang termasuk didalamnya adalah
penggunaan mesin, pengemasan, perakitan mesin dan alat, dan
pemeliharaan peralatan. Dalam proses operasi harus menjaga kesucian
mesin atau alat penunjang proses produksi agar tidak tercampur dengan
barang tidak suci.
20
Agus Arwani, Nurul Khikmah, and Kharisma Fadlilah, ‘ANALISIS VALUE CHAIN DALAM RANGKA
PENINGKATAN LABA Agus Arwani, Nurul Khikmah, Kharisma Fadlilah Jurusan Akuntansi Syariah,
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, IAIN Pekalongan’, pp. 4–5.
3. Logistik keluar (Outbound Logistic)
Outbound Logistic (Logistik keluar) merupakan kegiatan atau
aktivitas aktivitas yang melibatkan atau berhubungan langsung dengan
pengumpulan, penyimpanan dan pendistribusian secara fisik produk ke
konsumen akhir. Pendistribusian dan penyimpanan yang dilakukan
harus selalu menjaga kesucian dalam prosesnya.
4. Pemasaran dan Penjualan (Marketing and Sales)
Pemasaran dan Penjualan (Marketing and Sales) merupakan
kegiatan aktivitas-aktivitas yang dapat memberi saran dan masukan
untuk konsumen atau pelanggan untuk membeli produk dan untuk
menyakinkan konsumen agar datang lagi. Dalam Teknik penjualan
menjaga menggunakan akad akad yang jelas dan sesuai dengan syariat
islam, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan saat bertransaksi atau
melakukan akad.
5. Pelayanan (Service)
Pelayanan (Service) merupakan kegiatan atau aktivitas-aktivitas
yang dirancang untuk meningkatkan atau memelihara nilai suatu
produk. Perusahaan akan melakukan aktivitas yang berhubungan
dengan pelayanan termasuk instansi, pelatihan dan penyesuaian. Dalam
hal ini pelayanan dilakukan sesuai syariah, seperti seragam, tata bahasa,
tersedianya sarana beribadah.
c. Aktivitas Pendukung atau Sekunder
Aktivitas pendukung atau sekunder merupakan aktivitas yang
dapat membantu perusahaan secara keseluruhan melalui menyediakan
infrastruktur atau memungkinkan yang input aktivitas-aktivitas utama
dilakukan secara berkelanjutan. Potensi yang dapat mennciptakan nilai
pada aktivitas sekunder yaitu:
1. Pembelian/pengadaan (Procurement)
Procurement merupakan kegiatan atau aktivitas-aktivitas yang
dilakukan untuk membeli input-input yang diperlukan untuk dapat
memproduksi produk perusahaan, yang dimaksud dalam input-input
pembelian meliputi item-item yang akan dikonsumsi penuh sepanjang
proses produksi dan juga aktivitas tetap seperti mesin, peralatan
laboratorium, peralatan kantor dan bangunan. Pengadaan yang
dimaksudkan juga harus memastikan pembeliannya sudah sesuai
dengan syariat.
2. Pengembangan teknologi (Technological development)
Technological development merupakan kegiatan atau aktivitas
yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan produk perusahaan
serta proses yang dapat digunakan seperti peralatan proses, desain riset,
prosedur pemberian servis.
3. Manajemen sumberdaya manusia (Human resource management)
Human resource management merupakan kegiatan atau
aktivitas yang melibatkan rekruitmen tenaga kerja baru, pelatihan
untuk karyawan, pengembangan dan pemeberian kompensasi kepada
seluruh karyawan. Adanya waktu istirahat di waktu sholat, ketepatan
dalam pemberian upah, serta adanya kompensasi.
4. Infrastruktur Perusahaan (Firm Infrastructure)
Firm Infrastructure merupakan kegiatan atau aktivitas seperti
manajemen umum, perencanaan keuangan, akutansi, hukum, ralasi
pemerintah, yang sangat diperlukan untuk dapat mendukung kerja
seluruh value chain melalui infrastruktur ini. Dalam infrastruktur
Perusahaan harus berpatokan pada hukum yang berlaku di negara dan
tidak melanggar hukum baik secara legalitas negara atau secara hukum
syariah.21
4.
Halal Value Chain
Manajemen rantai pasok halal (Halal Value Chain) adalah keselurahan
kegiatan entitas yang terlibat dalam proses disepanjang rantai pasok dari
hulu ke hilir menerapkan konsep yang sesuai syariat Islam, dimulai dari
pemilihan pemasok, proses produksi, penyimpanan, sampai dengan
distribusi agar terhindar dari kontaminasi yang non halal.22
Halal value chain merupakan upaya terintegrasi dalam industri yang
mencakup seluruh rangkaian aktivitas mulai dari input, produksi, distribusi,
pemasaran, hingga konsumsi. Proses ini memastikan bahwa setiap tahapan
dalam menghasilkan produk halal mematuhi standar syariah. Dalam
menghasilkan produk halal, perhatian utama adalah pada pemilihan dan
pengelolaan bahan baku. Bahan baku harus bebas dari unsur haram
(terlarang) dan najis (kotor), dan proses pengolahan harus dilakukan dengan
teknologi yang tidak menyebabkan kontaminasi silang dengan bahan
haram.
a. Indikator Halal Value Chain
Indikator Halal value chain Penerapan halal value chain merupakan
upaya untuk memastikan bahwa setiap tahap dalam proses produksi,
distribusi, dan pemasaran produk mematuhi prinsip-prinsip syariah. Setiap
langkah dalam rantai pasok, mulai dari pemilihan bahan baku yang halal
hingga pemasaran yang jujur dan transparan, sangat penting untuk menjaga
21
Dalam Establishing and Halal Value, ‘Analisis Value Chain Pada Restoran Halal Dalam Estabilishing
Halal Value Chain’, 09.2018 (2024).
22
S.E.M.E. Dr. Ismail, M A Prof. Dr. Andri Soemitra, and M A Dr. Zuhrinal M. Nawawi, INDUSTRI
KREATIF KULINER HALAL: Model Dan Strategi Pengembangan Dalam Bingkai Maqashid Syariah
(Merdeka Kreasi Group, 2024) <https://books.google.co.id/books?id=LFM4EQAAQBAJ>.
integritas dan kualitas produk. Adapun indikator halal value chain adalah
sebagai berikut;
1. Bahan Baku
Bahan baku adalah komponen awal dalam rantai pasok halal yang
sangat penting. Bahan baku yang digunakan harus bebas dari kontaminasi
bahan haram, seperti alkohol, babi, atau bahan yang dilarang dalam Islam.
Pemilihan bahan baku harus dilakukan dengan cermat untuk memastikan
produk akhir tetap halal. Selain itu, bahan baku juga harus memenuhi
standar kebersihan dan kesehatan, agar tidak hanya halal, tetapi juga aman
untuk dikonsumsi.
2. Proses Produksi
Proses produksi tahapan penting merupakan untuk memastikan
kehalalan produk. Selama proses ini, bahan baku harus diolah dengan cara
yang sesuai dengan syariah, menjaga agar tidak ada kontaminasi silang
antara bahan halal dan non-halal. Proses produksi juga harus menjaga
kebersihan dan sanitasi, serta memastikan bahan tambahan seperti pewarna
atau pengawet yang digunakan adalah halal dan terverifikasi kehalalannya.
3. Distribusi
Distribusi melibakan semua langkah untuk mengirimkan produk dari
produsen ke konsumen. Pada tahap ini, pengemasan yang tepat diperlukan
untuk melindungi produk halal dari kontaminasi bahan non-halal. Selain itu,
proses transportasi dan penyimpanan produk harus dijaga kebersihannya,
dengan pemisahan yang jelas antara produk halal dan non-halal agar tidak
terjadi pencemaran silang.
4. Pemasaran Produk
Pemasaran produk halal harus dilakukan dengan jujur, transparan, dan
sesuai syariah. Informasi yang diberikan harus akurat tanpa klaim palsu,
terutama terkait sertifikasi halal. Label halal harus sesuai dengan standar
yang berlaku. Selain itu, penting untuk menjelaskan kehalalan bahan,
proses produksi, pengemasan, dan distribusi produk. Tujuan pemasaran
adalah mengedukasi konsumen agar memilih produk yang sesuai dengan
ajaran Islam dan menjaga kepercayaan konsumen.23
J. Metode Penelitian
1. Tempat dan waktu Penelitian
Tempat dimana peneliti melakukan penelitian yaitu di Christine
klappertaart Jalan B W Lapian Nomor 32A, Tikala Kumaraka, Wenang,
Kota Manado. Waktu penelitian yang akan dilakukan yaitu selama dua
bulan, yakni bulan oktober dan november tahun 2025.
2. Rancangan Penelitian
23
Nurul Marifat and Hartas Hasbi, ‘Analisis Implementasi Halal Value Chain Pada Produk Home
Industri Perspektif Ekonomi Syariah (Pada UMKM Di Kabupaten Bone)’, Ikraith-Ekonomika, 8.2
(2025), pp. 1–18.
Download