ANALISIS HALAL VALUE CHAIN PRODUK KLAPPERTAART PADA CHRISTINE KLAPPERTAART MANADO PROPOSAL SKRIPSI Diajukan Untuk Diseminarkan Dalam Sidang Proposal Skripsi Pada Program Studi Ekonomi Syariah Oleh : Wanda Muno 20241056 FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MANADO 1447 H/2025 M A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara dengan populasi muslim terbesar di dunia yang memiliki potensi sebagai sentrum Halal Value Chain (HVC) serta industri halal dunia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia memiliki populasi umat muslim di tahun 2024 sebesar 87,2% atau sebanyak 245.978.915 penduduk beragama Islam ((BPS), 2024). Potensi industri halal akan terus mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan populasi muslim dunia yang di perkirakan akan meningkat 2,2 miliar jiwa di tahun 2030.1 sehingga memerlukan sistem industri yang kuat dan terintegrasi, yang dikenal sebagai Halal Value Chain (HVC). Rantai nilai halal (halal value chain) merupakan sebuah konsep yang ditawarkan dalam sistem ekonomi Syariah. Halal Value chain adalah sebuah rantai pasok halal yang mencakup beberapa sektor industri dari hulu sampai hilir, selain itu dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang menghasilkan nilai tambah pada setiap proses yang meliputi produksi, distribusi, dan pemasaran barang ataupun jasa sampai ke tangan konsumen. Halal yang dimaksud disini adalah dari bahan yang digunakan saat pembuatan produk, cara pengolahannya sudah sesuai dengan ketentuan yang ada, dan pemasaran yang dilakukan. Sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam masa sangat diperlukan penerapan halal value chain untuk menjamin kualitas halal dari suatu produk. Produk menurut Kotler, produk adalah apa saja yang ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, diperoleh, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen. Pentingnya penerapan halal value chain bagi Indonesia adalah karena mayoritas penduduk di negara Indonesia beragama Islam dan hal ini Indonesia bisa menjadi 1 Muhammad Fajrul Hakim and Sugianto Sugianto, ‘Studi Library Research: Penguatan Ekosistem Halal Value Chain Di Indonesia Untuk Industri Halal Global’, Jurnal Penelitian Inovatif, 4.4 (2024), pp. 2227–38, doi:10.54082/jupin.787. produsen halal dunia karena memiliki jumlah SDM yang banyak seharusnya bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat perkembangan ekonomi syariah didunia. Terbukti dengan aktifnya Indonesia mengikuti pameran halal di negara lain dan menjalin hubungan 3 kerjasama dengan negara-negara muslim, Indonesia dapat meningkatkan ekspor barang halal ke negara muslim di dunia. Badan Penyelenggaran Jaminan Produk Halal (BPJPH) saat ini sedang membangun kolaborasi lintas sector untuk memperkuat penerapan jaminan produk halal. Menurut Muhammad Aqil Irham Kepala Badan Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal menyampaikan, sesuai dengan amanat UU 33 tahun 2014 dan UU 6 tahun 2023 seluruh produk makanan, minuman, hasil sembelihan dan jasa penyembelihan, bahan baku, dan tambahan pangan dan bahan penolong untuk produk makanan dan minuman wajib bersertifikat halal pada 17 oktober 2024. (Kementrian Agama Republik Indonesia, 2023)2 Selain itu Penguatan halal value chain (HVC) menjadi salah satu strategi utama, terlebih pada sektor makanan dan minuman halal untuk mendororng Indonesia menjadi pusat produk halal dunia. Namun Penguatan halal value chain (HVC) belum berjalan dengan maksimal karena Industri halal Indonesia belum memiliki kemampuan untuk menghasilkan produk makanan dan minuman halal yang berdaya saing tinggi dan belum memiliki kemampuan untuk memasok kebutuhan halal global. Penerapan teori halal value chain pada sektor makanan dan minuman halal belum mampu mengatasi persaingan domestik dan global. Setiap proses pada rantai halal mulai dari penyediaan bahan baku hingga layanan purna jual belum menghasilkan nilai tambah yang maksimal.3 2 Maulida Azkhi Rahmawati, ‘Implementasi Halal Value Chain Pada Usaha Makanan Di Kota Purwokerto (Studi Kasus Bakso Pekih Purwokerto)’, Skripsi Universitas Islam Negeri Prof. Kh. Saifuddin Zuhri, 2024, p. 64. 3 Rudi Purnama and Rininta Nurrachmi, ‘Penguatan Halal Value Chain Pada Klaster Makanan Dan Minuman Di Indonesia’, Journal of Islamic Economics, Finances and Accounting Studies, 3 (2).2 (2024), pp. 222–46. Salah satu produk makanan khas daerah yang menarik untuk di analisis dalam konteks halal value chain adalah Klappertaart yang berbahan dasar kelapa muda, mentega, tepung, gula, susu dan telur. Klappertaart adalah kue yang berasal dari belanda yang di wariskan kepada masyarakat manado. Klappertaart sendiri berasal dari bahasa Belanda “klapper” yang artinya kelapa dan “tart” yang artinya kue. Pembuatan klappertaart ada 2 cara, yaitu dipanggang dan dikukus. Klappertaart yang dipanggang akan menghasilkan tekstur seperti kue basah, sedangkan klappertaart yang dikukus teksturnya lebih lembut dan mudah leleh. Di antara berbagai produsen klappertaart, Christine klappertaart menjadi merek yang paling dikenal di Sulawesi Utara bahkan di tingkat nasional. Salah satu toko oleh-oleh yang menyediakan klappertaart adalah Christine Klappertaart yang berada di Jalan B W Lapian Nomor 32A, Tikala Kumaraka, Wenang, Kota Manado. Pemilik Christine Klappertaart, Elsje Crestine Sumangkut mengatakan, ia memproduksi sendiri klappertaart yang dijajakan.“Kami menjual klappertaart dengan harga Rp20 ribu-Rp235 ribu,” ujar Crestine, Minggu (20/3/2022). Mengikuti perkembangan zaman, Crestine tak hanya menjajakan klappertaart Manado original, tetapi juga varian rasa lain seperti cokelat, keju, blueberry, nutella, matcha, dan lain-lain. Meski mudah ditemukan di daerah lain, Crestine menyebut ada perbedaan klappertaart di Manado dan di daerah lain. Salah satu yang mudah diidentifikasi adalah tekstur kelapa yang menjadi bahan dasar klappertaart.“Misalnya saja dari tekstur kelapanya. Saya pernah ke Jawa dan melihat kelapa yang di sana kalau buahnya sudah agak tebal teksturnya keras, kalau di sini masih tetap lembut,” terang Crestine. Crestine menyebut toko oleholehnya ramai ketika ada kunjungan kerja instansi luar daerah maupun ketika musim liburan. Dalam sehari, Crestine bisa memproduksi 100-500 klappertaart dengan berbagai ukuran dan varian rasa. Namun, Crestine mengatakan varian rasa original klappertaart yang paling banyak dicari. Bagi yang ingin membawanya sebagai oleh-oleh, tak perlu khawatir karena klappertaart dapat bertahan di luar mesin pendingin selama 24 jam. Sedangkan ketika disimpan di mesin pendingin, klappertaart bisa tahan hingga seminggu. 4 Dalam konteks Halal Value Chain, klappertaart sebagai produk khas Manado yang diproduksi oleh industri Christine Klappertaart belum memiliki jaminan halal secara transparan. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan daya saing produknya melalui penerapan halal value chain, yaitu sistem rantai nilai yang memastikan setiap tahap produksi dan distribusi sesuai dengan prinsip halal. Tanpa adanya analisis mendalam mengenai penerapan halal value chain pada produk klappertaart, dikhawatirkan terjadi ketidaksesuaian dengan aturan yang berlaku, potensi penolakan pasar, dan hilangnya peluang ekspor ke pasar global halal. Selain itu, penelitian ini memiliki urgensi akademik karena masih minimnya kajian terkait penerapan halal value chain pada produk pangan tradisional lokal, khususnya di sektor usaha mikro dan kecil. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan konsep halal value chain di Indonesia serta menjadi referensi bagi pelaku UMKM lainnya dalam mempersiapkan produk mereka menghadapi persaingan di pasar halal domestik dan internasional. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka peneliti mengangkat Judul ANALISIS HALAL VALUE CHAIN PRODUK KLAPPERTAART PADA CHRISTINE KLAPPERTAART untuk mengetahui 4 Savi, ‘Christine Klappertaart, Rekomendasi Oleh-Oleh Favorit Di Manado’, Sulsel.Idntimes.Com, 2022 <https://sulsel.idntimes.com/news/sulawesi-selatan/christine-klappertaart-rekomendasi-oleh-olehfavorit-di-manado-00-dgmbm-9lmtdh?page=all&utm_source=chatgpt.com>. bagaimana penyediaan bahan baku, proses produksi, distribusi serta penggunaan label halal pada kemasan. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka penulis mengidentifikasi beberapa permasalahan yang ada, yakni sebagai berikut: 1. Bagaimana kepastian status halal produk Klappertaart yang diproduksi oleh Christine Klappertaart, mengingat belum adanya label atau sertifikasi halal yang tertera pada kemasan? 2. Apakah bahan baku yang digunakan dalam pembuatan klappertaart, seperti susu, mentega, tepung, perisa, serta bahan tambahan lainnya, telah memenuhi standar kehalalan sesuai ketentuan Jaminan Produk Halal? 3. Bagaimana proses produksi yang dilakukan oleh Christine Klappertaart, dan sejauh mana proses tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip produksi halal termasuk kebersihan, pemisahan alat, dan pencegahan kontaminasi silang? C. Batasan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas terdapat masalah yang begitu luas, sehingga perlu adanya pembahasan masalah yang diteliti, maka penelitian dibatasi dengan kehalalan yang akan diteliti yaitu di Christine Klappertaart Jalan B W Lapian Nomor 32A, Tikala Kumaraka, Wenang, Kota Manado. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1. Bagaimana analisis kepastian status kehalalan produk pada Christine Klappertaart Manado di tengah kondisi produk yang belum memiliki label atau sertifikasi halal resmi pada kemasannya? 2. Bagaimana kesesuaian bahan baku utama dan bahan tambahan (seperti susu, mentega, tepung, dan perisa) yang digunakan dalam pembuatan Klappertaart dengan standar kehalalan menurut ketentuan Jaminan Produk Halal? 3. Bagaimana implementasi prinsip produksi halal pada Christine Klappertaart dalam menjaga aspek kebersihan, pemisahan peralatan, serta mitigasi risiko kontaminasi silang selama proses pengolahan? E. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk menganalisis kepastian status kehalalan produk klappertaart pada Christine Klappertaart Manado, khususnya dalam kondisi produk yang belum memiliki label atau sertifikasi halal resmi pada kemasannya. 2. Untuk menganalisis kesesuaian bahan baku utama dan bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan klappertaart, seperti susu, mentega, tepung, dan perisa, dengan standar kehalalan berdasarkan ketentuan Jaminan Produk Halal. 3. Untuk menganalisis implementasi prinsip produksi halal pada Christine Klappertaart, terutama dalam menjaga aspek kebersihan, pemisahan peralatan, serta mitigasi risiko kontaminasi silang selama proses pengolahan produk. F. Kegunaan Teoritis Adapun yang menjadi kegunaan penelitian ini dibagi dua yaitu manfaat berbentuk teoritis dan manfaat berbentuk praktis: 1. Kegunaan Teoritis a) Penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pengembangan teori ekonomi, khususnya dalam memahami bagaimana Analisis Halal Value Chain Produk Klappertaart pada Christine Klappertaart Jalan B W Lapian Nomor 32A, Tikala, Kumaraka, Wenang, Kota Manado. b) Penelitian ini dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan proses produksi dan pentingnya status halal pada kuliner. 2. Kegunaan Praktis a) Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menjadi bahan informasi, bacaan, sekaligus referensi untuk mata kuliah maupun penelitian selanjutnya bagi civitas akademik khususnya pada Institut Agama Islam Negeri Manado b) Bagi para mahasiswa IAIN Manado agar mereka dapat mengetahui bagaimana pentingnya Status Halal dari suatu makanan, tidak hanya karena termakan keFomoan dan tidak memperdulikan kehalalan suatu makanan. G. Devinisi Konseptual Berdasarkan Penelitian ini, definisi yang diteliti dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1. Analisis Analisis adalah aktifitas mengurai, membedakan, secara memilah sesuatu untuk digolongkan menurut kriteria tertentu kemudian dicari kaitannya serta ditafsirkan maknanya merupakan pengertian umum dari analisis.5 Penulis mengartikan analisis pada konteks ini sebagai Upaya menelaah penerapan rantai nilai halal pada produk klappertaart, kajian ini bertujuan untuk memahami kesesuaian alur penyediaan bahan baku, proses produksi hingga distribusi dengan prinsip syariah. 2. Halal Value Chain (Rantai Nilai Halal) Sistem ekonomi Syariah menawarkan sebuah konsep yang dikenal sebagai rantai nilai halal atau Halal Value Chain. Rantai pasok halal ini mencakup beberapa sektor industri dari hulu sampai hilir. Rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan nilai tambah pada setiap proses yang meliputi produksi, distribusi, serta pemasaran barang ataupun jasa sampai ke tangan konsumen.6 Aspek halal pada konteks ini meliputi bahan yang digunakan saat pembuatan produk, cara pengolahannya, serta metode pemasaran yang dilakukan. Penulis menggunakan konsep ini untuk mengukur jaminan kualitas halal pada setiap tahapan produksi di lokasi penelitian. 3. Produk Klappertaart Klappertaart atau tart kelapa adalah jenis makanan yang dibuat dengan bahan dasar buah dan air kelapa. Kue ini banya dikenal diberbagai daerah di Indonesia, seperti Sulawesi utara, Jawa Timur, dan daerah-daerah pantai lainnya, dengan kekhasan masing-masing. Klappertaart di daerah-daerah tersebut memiliki perbedaan dalam hal bentuk, tekstur, cara pembuatan,serta nama atau sebutan. 7 H. Penelitian Terdahulu yang Relevan 1. Nadia fahrani (2024) ”Implementasi Halal Supply Chain Manajement pada Industri Pengolahan Makanan Petis Ikan Laut Putri Tunggal”. Persamaan 5 Roland Carolos, ‘UNIKOM_Roland Carolos_BAB 2’, 2015, pp. 12–27. Z A Majid, M F Shamsudin, and N A A Rahman, Halal Supply Chain Integrity: Concept, Constituents and Consequences (Taylor \& Francis, 2023) 7 L T Erwin, PACS: Klappertaart (Gramedia Pustaka Utama). 6 penelitian ini dengan penelitian penulis sama-sama menggunakan penelitian kualitatif, Kedua penelitian sama-sama meneliti konsep aliran produk halal dari hulu ke hilir. penelitian penulis menggunakan istilah Halal Value Chain (HVC) , sedangkan penelitian ini menggunakan istilah Halal Supply Chain Management (HSCM). Inti dari kedua penelitian ini adalah menjamin kehalalan produk mulai dari bahan baku hingga ke tangan konsumen. ketiga, kedua penelitian sama-sama meneliti industri skala menengah/kecil atau UMKM yang memproduksi makanan khas. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian saya pada Jenis Produk dan Lokasi Produk yang diteliti pada penelitian saya adalah Klappertaart (kue khas Manado berbahan dasar kelapa) yang berlokasi di Manado. sedangkan penelitian ini pada Petis Ikan Laut yang berlokasi di desa Pasean (Madura). Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa komitmen terhadap kehalalan produk sangat penting untuk meningkatkan daya saing di pasar. Sertifikasi halal tidak hanya berfungsi sebagai kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga sebagai strategi pemasaran yang efektif. Dengan adanya sertifikasi halal, Petis Ikan Laut Putri Tunggal dapat menarik lebih banyak konsumen, terutama di kalangan masyarakat Muslim yang semakin memperhatikan aspek kehalalan dalam konsumsi makanan. 2. Maulida Azkhi Rahmawati (2024) “Implementasi Halal Value Chain Pada Usaha Pada Usaha Makanan Di Kota purwakerto (Studi Kasus Bakso Pekih Purwakerto)”. Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya sama-sama mengangkat topik analisis Halal Value Chain (HVC) dalam industri makanan untuk memastikan jaminan produk halal dari penyediaan bahan baku hingga ke tangan konsumen, sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif , perbedaan penelitian ini dengan peneltian saya dari segi objek, lokasi, dan status penelitian. hasil dari penelitian menemukan bahwa Bakso Pekih, yang berdiri sejak tahun 1985, telah menerapkan kebijakan halal sebagai komitmen utama usaha. Pelaku usaha memastikan seluruh bahan yang digunakan disetujui dan bebas dari najis. Kebersihan fasilitas produksi menjadi prioritas, di mana peralatan dicuci sebelum dan sesudah digunakan untuk mencegah kontaminasi. Karyawan juga diwajibkan menjaga kebersihan diri (higiene) selama proses pengolahan berlangsung. hasil dari penelitian menemukan bahwa Bakso Pekih, yang berdiri sejak tahun 1985, telah menerapkan kebijakan halal sebagai komitmen utama usaha. Pelaku usaha memastikan seluruh bahan yang digunakan disetujui dan bebas dari najis. Kebersihan fasilitas produksi menjadi prioritas, di mana peralatan dicuci sebelum dan sesudah digunakan untuk mencegah kontaminasi. Karyawan juga diwajibkan menjaga kebersihan diri (higiene) selama proses pengolahan berlangsung.8 3. Siti Nur Hafifatul Hasanah (2025) “Analisis Halal Value Chain Pada Rumah Potong Unggas UD.Mandiri Di Gambiran – Banyuwangi.” Persamaan dari kedua penelitian ini adalah sama-sama menganalisis penerapan Halal Value Chain sebagai pendekatan untuk memastikan kehalalan produk dari hulu ke hilir, mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga distribusi, serta menekankan pentingnya kepatuhan terhadap prinsip halal untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. Perbedaan penelitian ini dan penelitian sebelumnya terletak pada fokus objek yang dikaji, penelitian ini lebih spesifik pada produk kuliner tradisional Manado, yaitu klappertaart, sedangkan penelitian terdahulu banyak membahas sektor rumah potong unggas, industri bakso, atau pariwisata halal. Selain itu, penelitian ini menyoroti isu unik berupa belum adanya label halal pada produk klappertaart, yang belum dibahas dalam penelitian terdahulu, serta mengkaji penerapan halal value chain pada UMKM pangan olahan berbasis kue, bukan pada daging atau jasa wisata seperti pada penelitian sebelumnya. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penerapan kebijakan halal pada Rumah Potong Unggas UD. Mandiri menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga kualitas dan kehalalan produk daging ayam, meskipun menghadapi tantangan seperti perpanjangan sertifikat halal yang terhambat oleh ketiadaan sertifikat JULEHA dan peningkatan komunikasi dengan sumber daya manusia. Analisis halal value chain pada RPU UD. Mandiri menunjukkan bahwa setiap tahap dalam proses dilaksanakan dengan prosedur yang ketat, mulai dari pengadaan ayam hidup melalui mitra terpercaya hingga proses penyembelihan yang diawasi, serta distribusi yang efisien ke pasar lokal dan regional. Dengan perhatian terhadap kepuasan pelanggan dan pengelolaan operasional yang ramah lingkungan, RPU UD. 8 Purnama and Nurrachmi, ‘Penguatan Halal Value Chain Pada Klaster Makanan Dan Minuman Di Indonesia’. Mandiri berupaya untuk terus memenuhi standar halal yang ditetapkan, meskipun masih perlu mengatasi beberapa tantangan yang ada.9 4. Erfina Sari (2021) “ Analisis Halal Value Chain Pada Proses Potong Ayam Di Rumah Potong UD. Ayam Segar Panyambungan”. Penelitian ini memiliki persamaan dengan penelitian terdahulu terkait Rumah Potong Ayam dan Rumah Potong Unggas, yaitu sama-sama menggunakan konsep Halal Value Chain untuk menganalisis penerapan kehalalan dari hulu hingga hilir serta menilai kepatuhan proses produksi terhadap standar syariah. Ketiga penelitian ini juga menekankan pentingnya verifikasi bahan baku, alur proses produksi, dan pengendalian risiko kontaminasi terhadap unsur non-halal. Perbedaan dari penelitian ini berfokus pada produk pangan olahan berbasis kue yaitu klappertaart yang diproduksi UMKM Christine Klappertaart, sedangkan penelitian sebelumnya mengkaji sektor daging ayam yang memiliki titik kritis halal lebih tinggi seperti penyembelihan, penanganan darah, dan proses karkas. Selain itu, penelitian ini menyoroti isu ketiadaan label halal dan verifikasi bahan tambahan pangan pada produk klappertaart, sementara penelitian terdahulu lebih menekankan pengawasan proses penyembelihan, kebersihan fasilitas, dan rantai pasok ayam. Dengan demikian, meskipun sama-sama menelaah Halal Value Chain, objek, konteks risiko halal, dan fokus analisis penelitian ini memiliki perbedaan yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis halal ValueChain pada proses potong ayam di rumah potong UD. Ayam segar Panyabungan sudah memenuhi dari lima aktivitas utama rantai nilai halal yaitu logistik masuk, akativitas operasi, logistik keluar, pemasaran dan penjualan, serta pelayanan. Kemudian rumah potong UD. Ayam segar Panyabungan ini juga sudah memenuhi kegiatan pendukung dari halal Value-Chain yaitu infrastruktur, manajemen SDM, pengembangan teknologi dan pengembangan sumber daya (pembelian). Rumah potong UD. Ayam segar Panyabungan juga belum memiliki sertifikat halal yang dikelurkan pihak MUI, dikarenakan kurangnya pemahaman tentang prosedur pembuatan sertifikat.10 5. Emi Mawarsari (2022) “ Penguatan Halal Value Chain Pada Komoditas Daging Ayam Di Peternakan Desa Tlahab Kidul, Kecamatan Karangreja, 9 U D Mandiri and D I Gambiran, Analisis Halal Value Chain Pada Rumah Potong Unggas, 2025. Erfina Sari, ‘ANALISIS HALAL VALUE-CHAIN PADA PROSES POTONG AYAM DI RUMAH’, 2021. 10 Kabupaten Purbalingga”. Persamaan dari kedua peneliti ini yaitu terletak pada fokus analisis terhadap alur bahan baku, proses produksi, distribusi, serta kepatuhan terhadap prinsip syariah sebagai bentuk jaminan halal. perbedaan dari keduanya terlihat pada jenis produk yang diteliti—mulai dari daging ayam, abon lele, bakso, hingga klappertaart—yang menyebabkan perbedaan alur rantai nilai, risiko kontaminasi, dan standar kehalalannya, kemudian lokasi penelitian yang bervariasi sehingga memengaruhi praktik industri, serta isu utama yang dianalisis, seperti proses penyembelihan pada penelitian daging ayam atau ketiadaan label halal pada produk klappertaart. Dengan demikian, meskipun seluruh penelitian membahas konsep yang sama, masing-masing menawarkan fokus analisis yang berbeda sesuai karakteristik produk dan konteks industrinya. Hasil penelitian menunjukan bahwa alur rantai nilai pada peternakan ayam Desa Thalab Kidul melibatkan beberapa pihak yaitu pemasok, peternakan, pedagang kecil, dan masyarakat sebagai konsumen akhir. Kemudian dalam seluruh aktifikas yang dilakukan dari logistic masuk hingga produk sampai ke tangan konsumen sudah memeprhatikan nilai-nilai Islam. Namun dalam upaya menjamin kehalalan peternakan ini belum mendaftarkan produknya untuk mendapat sertifikasi halal. 11 6. Fitri Maghfira (2022) “Halal Agriculture Sebagai Tawaran Produk Baru Menuju Optimalsasi Value Chain Industri Halal”. Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya landasan teoritis yang serupa karena sama-sama menggunakan kerangka Halal Value Chain (HVC) sebagai pisau analisis utama untuk membedah ekosistem ekonomi Syariah. Pendekatan yang digunakan oleh kedua penulis juga bersifat kualitatif, dimana focus utamanya adalah menggali pemahaman mendalam mengenai objek studi masing-masing dari pada sekedar pengolahan angka statistic. Kesamaan lain terlihat pada semangat mengangkat potensi komoditas local daerah, penelitian ini yakni Kopi Gayo dari Aceh dan penelitian saya kue klappertart dari Manado, sebagai upaya penguatan industry halal nasional. Perbedaan penelitian ini dan penelitian saya mengenai klappertart menitikberatkan pada aspek produk fisik atau manufaktur makanan, 11 EMI MAWARSARI, ‘PENGUATAN HALAL VALUE CHAIN PADA KOMODITAS DAGING AYAM DI PETERNAKAN DESA TLAHAB KIDUL, KECAMATAN KARANGREJA, KABUPATEN PURBALINGGA SKRIPSI’, 2022. khususnya menyoroti tranparansi bahan baku dan proses produksi yang belum memiliki label halal resmi. Sebaliknya, penelitian mengenai Halal Agriculture befokus pada aspek keuangan atau jasa perbangkan Syariah, dengan masalah utama berupa minimnya akses pembiayaan bagi petani kopi akibat persepsi risiko tinggi pada sector pertanian. hasil penelitian ini mengidentifikasi bahwa pembiayaan sektor pertanian di perbankan syariah masih kurang berkembang dan belum optimal.Penyebab utamanya adalah persepsi risiko yang tinggi pada sektor pertanian (seperti gagal panen dan fluktuasi harga) serta tingginya Non-Performing Financing (NPF), yang membuat bank enggan menyalurkan dana. Petani kopi di Aceh (Gayo) menghadapi kendala akses modal terbatas dan penurunan harga jual, terutama saat terjadi krisis seperti pandemi.12 7. Virgo Gusrian1, Poppy Nurmayanti, Mayla Khoiriyah (2024) “Pengaruh Halal Value Chain Dan Orientasi Kewirausahaan Terhadap Kinerja UMKM Makanan Dan Minuman.” Persamaan dari penelitian terdahulu dan penelitian saya sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif dalam menganalisis penerapan Halal Value Chain (HVC) sebagai upaya memastikan kehalalan produk dari hulu hingga hilir, serta menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap prinsip syariah untuk meningkatkan kepercayaan dan daya saing produk, Perbedaannya terletak pada objek penelitian, lokasi, serta isu utama yang dikaji, di mana penelitian saya berfokus pada produk klappertaart khas Manado yang belum memiliki label halal, sementara penelitian terdahulu membahas UMKM makanan dan minuman dengan titik kritis halal dan permasalahan industri yang berbeda. Hasil penelitian ini diperkuat dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Setyawati (2013) yang juga menyatakan Orientasi kewirausahan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja UMKM. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa orientasi kewirausahaan tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja UMKM disebabkan faktor-faktor kontekstual, seperti kondisi ekonomi, budaya, dan infrastruktur bisnis di daerah penelitian, juga dapat memengaruhi hubungan antara orientasi kewirausahaan dan kinerja UMKM. Seperti, kondisi ekonomi lokal yang kurang stabil atau kurangnya dukungan infrastruktur bisnis dapat 12 Iain Lhokseumawe and Fakultas Ekonomi, ‘HALAL AGRICULTURE SEBAGAI TAWARAN PRODUK BARU MENUJU OPTIMALISASI VALUE CHAIN INDUSTRI HALAL’, 4 (2022), pp. 91–100. menghambat kemampuan UMKM untuk menerapkan strategi kewirausahaan yang efektif.13 8. Zakiyah, Iman Setya Budi, Parman Komarudin, Abdul Wahab (2023) “Analisis Halal Value Chain Pada Pengembangan Produk Wisata Halal Makam Habib Basirih Di Kota Banjarmasin.” Persamaan dari kedua penelitian ini yaitu sama-sama menunjukkan bahwa penerapan Halal Value Chain belum optimal, terutama pada aspek verifikasi kehalalan yang masih lemah dan belum didukung sepenuhnya oleh sertifikasi halal yang diperlukan. Perbedaan dari kedua penilitian ini terletak pada konteks dan titik kritis halal, di mana penelitian wisata halal menyoroti kurangnya sertifikasi pada akomodasi dan kuliner sebagai bagian dari layanan wisata, sedangkan penelitian klappertaart berfokus pada kehalalan bahan baku, proses produksi, dan distribusi produk pangan olahan khas Manado yang diproduksi UMKM, sehingga tantangan, alur nilai, serta bentuk intervensi halal yang dibutuhkan pada kedua objek tersebut berbeda. Hasil penelitian menunjukan bahwa halal value chain pada pengembangan produk wisata halal makam Habib Basirih di kota Banjarmasin mesih perlu pembenahan khususnya pada aspek akomodasi dan kuliner yang belum memiliki sertifikat halal.14 9. Kholifatul Husna Asri dan Amin Ilyas (2022) “Penguatan Ekosistem Halal Value Chain sebagai Pengembangan Industri Halal Menuju Era 5.0.” Persamaan dari penelitian sebelumnya dengan penelitian saya adalah keduanya sama-sama menunjukkan bahwa penguatan halal value chain merupakan kunci untuk meningkatkan daya saing, memenuhi permintaan 13 Virgo Gusrian and others, ‘CURRENT Jurnal Kajian Akuntansi Dan Bisnis Terkini’, 5.1 (2024), pp. 150–65. 14 Abdul Wahab, ‘ANALISIS HALAL VALUE CHAIN PADA PENGEMBANGAN PRODUK WISATA HALAL MAKAM HABIB BASIRIH DI KOTA BANJARMASIN’, 9 (2023), pp. 123–38. pasar halal, dan memberikan nilai tambah ekonomi, baik pada tingkat industri besar maupun UMKM. Perbedaannya terletak pada ruang lingkup dan tingkat analisis, di mana penelitian ekonomi syariah dan industri halal membahas HVC pada level makro, yaitu penguatan ekosistem industri halal secara nasional agar mampu menguasai pasar global, sementara analisis HVC pada klappertaart berfokus pada level mikro, yaitu penerapan prinsip halal pada bahan baku, proses produksi, hingga distribusi di satu UMKM tertentu, sehingga langkah penguatan HVC yang dibutuhkan berbeda sesuai skala dan kompleksitas industrinya. hasil penelitian bahwa ekonomi syariah dan industri halal merupakan sektor yang memiliki kesempatan, peluang dan berkontribusi pada nilai tambah perekonomian melalui pemenuhan permintaan pasar. Dalam mendukung perkembangan ekonomi syariah salah satu upayanya melalui penguatan ekosistem halal value chain yang dalamnya mencakup sejumlah industri yang berkaitan dengan keperluan produk dan jasa halal. Ekosistem industri halal harus lebih dikuatkan dan dikembangkan agar mampu menguasai potensi pasar global.15 10. Novika Daniati (2023) “ Peranan Perusahaan Logistik Dalam Memperkuat Rantai Nilai Halal di Provinsi Sumatera Utara (Studi Kasus JNE Cabang Padangsidimpuan).” Persamaan antara penelitian sebelumnya mengenai JNE Cabang Padangsidimpuan yang belum menerapkan logistik halal dengan analisis halal value chain pada produk klappertaart adalah keduanya sama-sama menunjukkan bahwa aspek halal dalam rantai nilai belum berjalan optimal karena belum terpenuhinya kebutuhan pasar atau belum adanya penerapan prinsip halal secara menyeluruh pada alur prosesnya. Perbedaan keduanya terletak pada ruang lingkup dan titik kritis halal, di 15 Sharia Economics Journal, ‘Penguatan Ekosistem Halal Value Chain Sebagai Pengembangan Industri Halal Menuju Era 5.0’, 01.01 (2022), pp. 37–47. mana kasus JNE berhubungan dengan ketiadaan permintaan serta belum adanya implementasi logistik halal pada sektor jasa pengiriman, sedangkan analisis halal value chain klappertaart berfokus pada bahan baku, proses produksi, dan distribusi produk pangan yang memerlukan kepastian halal, sehingga permasalahan, tanggung jawab, dan bentuk penerapan HVC pada kedua objek tersebut berbeda sesuai karakter industrinya. Hasil Penelitian ini dapat menunjukan bahwa JNE Cabang Padangsidimpuan belum adanya peranan logistik halal. Karena permint aan pasar untuk menjadi perusahaan logistik halal untuk wilayah Padangsidimpuan belum ada.16 11. Desy Arum Sunarta, Riski Apriliani (dkk). (2025) “Halal Certification and Value Addition For MSME Products: A Literature Review On Government Initiatives And Regulatory Frameworks.” Persamaan dari Penelitian peran sertifikasi halal terhadap pengembangan UMKM memiliki persamaan dengan penelitian saya tentang Analisis Halal Value Chain Produk Klappertaart, yaitu sama-sama menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap prinsip halal sebagai faktor yang meningkatkan nilai produk, kepercayaan konsumen, serta daya saing usaha, sekaligus menekankan perlunya dukungan kelembagaan dan kebijakan untuk memperkuat industri halal. Perbedaan dari kedua penelitian ini yang pertama berfokus pada sertifikasi halal sebagai instrumen multidimensional dalam konteks makro— mengulas regulasi nasional, kebijakan pemerintah, dan dampaknya terhadap UMKM secara umum. sedangkan penelitian saya berfokus pada analisis mendalam rantai nilai halal pada satu produk spesifik, yaitu klappertaart, dengan menilai tahapan penyediaan bahan baku, proses produksi, distribusi, hingga pelabelan pada level UMKM tertentu. Selain 16 Danianti Novika, PERANAN PERUSAHAAN LOGISTIK DALAM MEMPERKUAT RANTAI NILAI HALAL DI PROVINSI SUMATERA UTARA (Studi Kasus JNE Cabang Padangsidimpuan), 2023. itu, penelitian terdahulu menyoroti isu sistemik seperti kompleksitas prosedur, kapasitas UMKM, dan peran infrastruktur digital, sementara penelitian saya lebih menekankan titik kritis halal pada produk pangan olahan serta tantangan praktis di lapangan terkait belum adanya label halal pada produk Christine Klappertaart. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan kepatuhan religius dengan pemberdayaan ekonomi dan dukungan kelembagaan. komprehensif tentang Penelitian sertifikasi ini memberikan halal sebagai pemahaman instrumen multidimensional—bukan hanya untuk memberikan jaminan kepada konsumen, tetapi juga bagi pengembangan UMKM dan perluasan pasar. Dengan mensintesis bukti empiris dan perspektif regulasi, penelitian ini memperkaya diskursus mengenai instrumen ekonomi Islam dan kebijakan industri halal. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang, perbandingan kebijakan regional, serta peran infrastruktur digital dan keuangan syariah dalam meningkatkan aksesibilitas sertifikasi halal bagi pelaku UMKM.17 12. Dwi Agustina dan Andi Cakravastia (2023) “A Review Of Halal Supply Chain Research: Sustainability And Operations Research Perpective.” Kedua penelitian sama-sama berangkat dari pentingnya menjamin kehalalan produk melalui analisis alur dari hulu ke hilir, serta menekankan bahwa rantai nilai halal harus memastikan tidak adanya kontaminasi dan seluruh proses mengikuti prinsip syariah. Penelitian A Review of Halal Supply Chain Research berfokus pada tinjauan literatur internasional yang luas dengan pendekatan konseptual dan metodologis, menyoroti minimnya studi halal supply chain yang menggunakan operations research serta 17 Desy Arum Sunarta and others, ‘Halal Certification and Value Addition for MSME Products : A Literature Review on Government Initiatives and Regulatory Frameworks’, 2.2 (2025), pp. 104–15. kurangnya perhatian pada aspek keberlanjutan dalam industri halal secara global. Sebaliknya, penelitian saya bersifat studi kasus lapangan yang spesifik pada produk klappertaart di UMKM Christine Klappertaart Manado, dengan fokus pada implementasi nyata Halal Value Chain mencakup bahan baku, produksi, distribusi, serta ketiadaan label halal yang berpotensi menjadi isu utama bagi konsumen dan pasar halal. Perbedaannya yaitu penelitian pertama bersifat makro dan teoritis, sementara penelitian saya bersifat mikro, aplikatif, dan menyoroti masalah praktis pada produk pangan tradisional yang belum tersertifikasi halal. Berdasarkan hasil tinjauan, penelitian rantai pasok halal menunjukkan tren peningkatan sejak tahun 2011. Sebagian besar publikasi berasal dari Malaysia, sementara Indonesia berada di posisi kedua meskipun merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Mayoritas penelitian berfokus pada keseluruhan rantai pasok dan pada level pengambilan keputusan strategis. Penelitian pada level operasional masih sangat terbatas. Kebanyakan studi juga berfokus pada sektor makanan dan minuman. Hanya sedikit penelitian yang mempertimbangkan isu keberlanjutan dalam rantai pasok halal. Tinjauan ini juga menemukan adanya keseimbangan antara penggunaan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dalam penelitian rantai pasok halal. Namun, pendekatan kecerdasan buatan (AI) belum diterapkan dalam bidang ini. Berdasarkan temuan tersebut, diperlukan lebih banyak penelitian mengenai rantai pasok halal yang dikaitkan dengan keberlanjutan dengan menggunakan metodologi OR/AI. 13. Abdullah Alourani dan Shahnawaz Khan (2025) “ Halal Food Traceability System Using AI And Blockchsin.” Kedua penelitian sama-sama berfokus pada upaya menjaga keaslian dan keutuhan halal sepanjang proses produksi hingga distribusi, serta menekankan pentingnya membangun kepercayaan konsumen melalui rantai nilai halal yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian sistem traceability berbasis blockchain–AI menghasilkan temuan bahwa teknologi digital mampu memberikan keterlacakan real-time dan catatan yang tidak dapat diubah, sehingga efektif meningkatkan autentikasi halal dan menarik minat implementasi di dunia nyata. Sebaliknya, penelitian saya tentang halal value chain produk klappertaart bersifat lebih praktis dan kontekstual karena mengkaji kondisi nyata pada UMKM, mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga distribusi, dan menemukan adanya kekurangan pada pemenuhan standar halal, seperti belum adanya sertifikasi halal dan potensi risiko kontaminasi sepanjang rantai nilai. Dengan demikian, perbedaanya yaitu penelitian pertama menawarkan solusi teknologi sebagai inovasi masa depan, sedangkan penelitian saya mengungkap kondisi faktual dan kebutuhan perbaikan pada rantai nilai klappertaart, tetapi keduanya samasama memberikan kontribusi terhadap peningkatan integritas halal produk pangan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa solusi yang dikembangkan cukup efektif dan para penguji menyatakan minat untuk mengimplementasikannya di dunia nyata. Dengan demikian, temuan ini berkontribusi pada pengetahuan mengenai adopsi teknologi dengan mengkaji penerapan sistem yang diusulkan dalam rantai pasok makanan halal serta memberikan wawasan tentang potensi manfaat adopsi digital di bidang ini. 14. Albertty Indriansyah, Mohammad Iqbal Irfany, Marco Tieman (2024) “Halal Procurement Strategy In The Food Industry In Indonesia.” Kedua penelitian memiliki persamaan dalam fokusnya untuk memperkuat jaminan halal pada produk makanan melalui pengelolaan rantai nilai yang lebih baik, khususnya pada aspek ketersediaan bahan baku halal, kesinambungan pasokan, serta pentingnya identifikasi faktor yang dapat memengaruhi kehalalan produk. Penelitian tentang halal procurement menekankan analisis strategis pada tingkat makro melalui ANP dan SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengadaan halal secara nasional, termasuk isu kompetisi global dan kurangnya komoditas bernilai tambah. Sebaliknya, penelitian saya bersifat lebih mikro dan aplikatif karena berfokus pada rantai nilai halal produk klappertaart secara spesifik—mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga distribusi—serta mengidentifikasi persoalan praktis seperti belum adanya sertifikasi halal, potensi kontaminasi, dan pengelolaan proses produksi di tingkat UMKM. Dengan demikian, perbedaanya yaitu penelitian pertama memberikan gambaran strategis nasional mengenai pengadaan halal, sementara penelitian saya menelaah implementasi nyata halal value chain pada satu produk spesifik, tetapi keduanya sama-sama bertujuan memperkuat integritas halal dalam industri makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kekuatan merupakan prioritas utama dalam memajukan pengadaan halal pada sektor makanan di Indonesia. Secara khusus, faktor-faktor yang paling berpengaruh meliputi ketersediaan bahan baku, kurangnya komoditas bernilai tambah, jaminan pasokan bahan baku yang berkelanjutan, serta keberadaan banyak pesaing global—yang masing-masing berperan sebagai kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat) bagi industri makanan halal. 15. Erlangga Bayu Setyawan dan Nia Novitasari (2023) “Factors Influencing Readiness Towards Halal Logistics Among Food And Beverages Industry In The Of Era E-Commerce In Indonesia.” Persamaan dari kedua penelitian ini terletak pada fokusnya menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi terjaganya kehalalan produk makanan dari hulu hingga hilir, serta samasama menekankan pentingnya kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi standar halal, baik melalui ketersediaan sumber daya maupun penerapan prosedur yang sesuai syariah. Penelitian mengenai kesiapan logistik halal menggunakan pendekatan kuantitatif dengan structural equation modeling untuk menguji 13 faktor kunci seperti pelatihan personel, kapabilitas inovatif, dan kinerja pemasaran pada industri makanan dan minuman dalam skala kota-kota besar, sehingga berorientasi pada pemetaan kesiapan industri secara luas. Sementara itu, Penelitian saya bersifat lebih mikro dan mendalam karena berfokus secara spesifik pada rantai nilai halal produk klappertaart—meliputi bahan baku, proses produksi, pengolahan, pengemasan, dan distribusi—serta mengidentifikasi masalah praktis seperti belum adanya sertifikasi halal, potensi kontaminasi, dan kelemahan dalam pengelolaan value chain pada level UMKM. Dengan demikian, perbedaannya yaitu penelitian pertama memberikan gambaran makro tentang faktor struktural kesiapan industri halal, sedangkan penelitian saya menelaah implementasi nyata dan perbaikan yang dibutuhkan pada satu produk spesifik, tetapi keduanya sama-sama bertujuan memperkuat integritas halal pada sektor pangan. Hasil model struktural mengungkap arah hubungan antar faktor kunci tersebut, dan menunjukkan bahwa ketersediaan sumber daya, pelatihan dan personel, serta kapabilitas inovatif merupakan faktor paling penting dalam kesiapan rantai pasok halal. Penelitian selanjutnya dapat berfokus pada sektor industri lain, seperti fesyen dan pariwisata, sebagaimana tercantum dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019–2024. I. Kajian Teori 1. Teori Halal Kata halal berasal dari akar kata yang berarti “lepas” atau “tidak terikat”. Dengan kata lain sesuatu yang halal yaitu sesuatu yang terlepas dari ikatan bahaya duniawi dan ukhrawi, karena itu kata halal juga berarti “boleh”. Menurut Bahasa hukum, kata ini mencakup sesuatu yang dibolehkan agama. Kebolehan tersebut dapat bersifat sunnah (anjuran untuk dilakukan), makruh (anjuran untuk ditinggalkan) maupun mubah (netral/boleh-boleh saja). Dengan demikian, mungkin saja ada sesuatu yang halal (boleh), tetapi tidak dianjurkan, sehingga hukumnya menjadi makruh.18 2. Teori Value Chain Rantai Nilai Porter menggambarkan proses yang terkait dengan suatu produk, yaitu desain, produksi,pengiriman, dan pasar. Cara proses ini dijalankan mencerminkan strategi dan visi perusahaan. Perusahaan yang bersaing di pasar yang sama cenderung memiliki rantai nilai yang serupa. 19 3. Value Chain a. Pengertian Value Chain Value chain atau rantai nilai adalah keseluruhan aktifitas yang diperlukan untuk membawa produk/jasa dari titik awal, melalui berbagai tahap produksi (melibatkan berbagai kegiatan transformasi secara fisik dan berbagai input jasa), kemudian menyampaikan produk/jasa tersebut kepada konsumen akhir. Value chain yang sederhana terjadi dalam perusahaan meliputi kegiatan desain, produksi dan pemasaran. Sedangkan value chain yang kompleks melibatkan kegiatan tersebut yang terjadi antar perusahaan 18 M Dr. Ir. Heny Nuraini, Memilih & Membuat Jajanan Anak Yang Sehat & Halal (QultumMedia, 2007) <https://books.google.co.id/books?id=uM6_1gj75-8C>. 19 A L Bischoff, Porter’s Value Chain and the REA Analysis as an Accounting Information System (GRIN Verlag, 2011) <https://books.google.co.id/books?id=U_CvdZ3qiMEC>. satu dengan perusahaan lain sehingga terjadi transformsi input menjadi output.20 b. Indikator Value Chain Indikator value chain memiliki aktivitas utama atau primer adalah aktivitas yang terlibat dalam penciptaan fisik produk, penjualan dan distribusinya ke para pembeli dan layanan penjualan. Potensi pendukung agar pencipta nilai aktivitas primer terdiri dari : 1. Logistik ke dalam (Inbound Logistic ) Logistik ke dalam (Inbound Logistic) merupakan suatu kegiatan yang berhubungan atau berkaitan dengan penanganan material pergudangan dengan pengendalian persediaan bahan baku, digunakan untuk penyimpanan, penerimaan dan pengeluaran input untuk produksi. Dalam hal ini efisiensi dalam penentuan jumlah bahan baku mengakibatkan berkurangnya kemubadzir. Selain itu memastikan kehalalan produk juga merupakan pokok dalam menentukan sumber bahan baku produksi. 2. Operasi (Operation) Operasi (Operation) merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mengkonversi input yang disediakan oleh logistik masuk kedalam bentuk produk akhir. Adapun yang termasuk didalamnya adalah penggunaan mesin, pengemasan, perakitan mesin dan alat, dan pemeliharaan peralatan. Dalam proses operasi harus menjaga kesucian mesin atau alat penunjang proses produksi agar tidak tercampur dengan barang tidak suci. 20 Agus Arwani, Nurul Khikmah, and Kharisma Fadlilah, ‘ANALISIS VALUE CHAIN DALAM RANGKA PENINGKATAN LABA Agus Arwani, Nurul Khikmah, Kharisma Fadlilah Jurusan Akuntansi Syariah, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, IAIN Pekalongan’, pp. 4–5. 3. Logistik keluar (Outbound Logistic) Outbound Logistic (Logistik keluar) merupakan kegiatan atau aktivitas aktivitas yang melibatkan atau berhubungan langsung dengan pengumpulan, penyimpanan dan pendistribusian secara fisik produk ke konsumen akhir. Pendistribusian dan penyimpanan yang dilakukan harus selalu menjaga kesucian dalam prosesnya. 4. Pemasaran dan Penjualan (Marketing and Sales) Pemasaran dan Penjualan (Marketing and Sales) merupakan kegiatan aktivitas-aktivitas yang dapat memberi saran dan masukan untuk konsumen atau pelanggan untuk membeli produk dan untuk menyakinkan konsumen agar datang lagi. Dalam Teknik penjualan menjaga menggunakan akad akad yang jelas dan sesuai dengan syariat islam, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan saat bertransaksi atau melakukan akad. 5. Pelayanan (Service) Pelayanan (Service) merupakan kegiatan atau aktivitas-aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan atau memelihara nilai suatu produk. Perusahaan akan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pelayanan termasuk instansi, pelatihan dan penyesuaian. Dalam hal ini pelayanan dilakukan sesuai syariah, seperti seragam, tata bahasa, tersedianya sarana beribadah. c. Aktivitas Pendukung atau Sekunder Aktivitas pendukung atau sekunder merupakan aktivitas yang dapat membantu perusahaan secara keseluruhan melalui menyediakan infrastruktur atau memungkinkan yang input aktivitas-aktivitas utama dilakukan secara berkelanjutan. Potensi yang dapat mennciptakan nilai pada aktivitas sekunder yaitu: 1. Pembelian/pengadaan (Procurement) Procurement merupakan kegiatan atau aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk membeli input-input yang diperlukan untuk dapat memproduksi produk perusahaan, yang dimaksud dalam input-input pembelian meliputi item-item yang akan dikonsumsi penuh sepanjang proses produksi dan juga aktivitas tetap seperti mesin, peralatan laboratorium, peralatan kantor dan bangunan. Pengadaan yang dimaksudkan juga harus memastikan pembeliannya sudah sesuai dengan syariat. 2. Pengembangan teknologi (Technological development) Technological development merupakan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan produk perusahaan serta proses yang dapat digunakan seperti peralatan proses, desain riset, prosedur pemberian servis. 3. Manajemen sumberdaya manusia (Human resource management) Human resource management merupakan kegiatan atau aktivitas yang melibatkan rekruitmen tenaga kerja baru, pelatihan untuk karyawan, pengembangan dan pemeberian kompensasi kepada seluruh karyawan. Adanya waktu istirahat di waktu sholat, ketepatan dalam pemberian upah, serta adanya kompensasi. 4. Infrastruktur Perusahaan (Firm Infrastructure) Firm Infrastructure merupakan kegiatan atau aktivitas seperti manajemen umum, perencanaan keuangan, akutansi, hukum, ralasi pemerintah, yang sangat diperlukan untuk dapat mendukung kerja seluruh value chain melalui infrastruktur ini. Dalam infrastruktur Perusahaan harus berpatokan pada hukum yang berlaku di negara dan tidak melanggar hukum baik secara legalitas negara atau secara hukum syariah.21 4. Halal Value Chain Manajemen rantai pasok halal (Halal Value Chain) adalah keselurahan kegiatan entitas yang terlibat dalam proses disepanjang rantai pasok dari hulu ke hilir menerapkan konsep yang sesuai syariat Islam, dimulai dari pemilihan pemasok, proses produksi, penyimpanan, sampai dengan distribusi agar terhindar dari kontaminasi yang non halal.22 Halal value chain merupakan upaya terintegrasi dalam industri yang mencakup seluruh rangkaian aktivitas mulai dari input, produksi, distribusi, pemasaran, hingga konsumsi. Proses ini memastikan bahwa setiap tahapan dalam menghasilkan produk halal mematuhi standar syariah. Dalam menghasilkan produk halal, perhatian utama adalah pada pemilihan dan pengelolaan bahan baku. Bahan baku harus bebas dari unsur haram (terlarang) dan najis (kotor), dan proses pengolahan harus dilakukan dengan teknologi yang tidak menyebabkan kontaminasi silang dengan bahan haram. a. Indikator Halal Value Chain Indikator Halal value chain Penerapan halal value chain merupakan upaya untuk memastikan bahwa setiap tahap dalam proses produksi, distribusi, dan pemasaran produk mematuhi prinsip-prinsip syariah. Setiap langkah dalam rantai pasok, mulai dari pemilihan bahan baku yang halal hingga pemasaran yang jujur dan transparan, sangat penting untuk menjaga 21 Dalam Establishing and Halal Value, ‘Analisis Value Chain Pada Restoran Halal Dalam Estabilishing Halal Value Chain’, 09.2018 (2024). 22 S.E.M.E. Dr. Ismail, M A Prof. Dr. Andri Soemitra, and M A Dr. Zuhrinal M. Nawawi, INDUSTRI KREATIF KULINER HALAL: Model Dan Strategi Pengembangan Dalam Bingkai Maqashid Syariah (Merdeka Kreasi Group, 2024) <https://books.google.co.id/books?id=LFM4EQAAQBAJ>. integritas dan kualitas produk. Adapun indikator halal value chain adalah sebagai berikut; 1. Bahan Baku Bahan baku adalah komponen awal dalam rantai pasok halal yang sangat penting. Bahan baku yang digunakan harus bebas dari kontaminasi bahan haram, seperti alkohol, babi, atau bahan yang dilarang dalam Islam. Pemilihan bahan baku harus dilakukan dengan cermat untuk memastikan produk akhir tetap halal. Selain itu, bahan baku juga harus memenuhi standar kebersihan dan kesehatan, agar tidak hanya halal, tetapi juga aman untuk dikonsumsi. 2. Proses Produksi Proses produksi tahapan penting merupakan untuk memastikan kehalalan produk. Selama proses ini, bahan baku harus diolah dengan cara yang sesuai dengan syariah, menjaga agar tidak ada kontaminasi silang antara bahan halal dan non-halal. Proses produksi juga harus menjaga kebersihan dan sanitasi, serta memastikan bahan tambahan seperti pewarna atau pengawet yang digunakan adalah halal dan terverifikasi kehalalannya. 3. Distribusi Distribusi melibakan semua langkah untuk mengirimkan produk dari produsen ke konsumen. Pada tahap ini, pengemasan yang tepat diperlukan untuk melindungi produk halal dari kontaminasi bahan non-halal. Selain itu, proses transportasi dan penyimpanan produk harus dijaga kebersihannya, dengan pemisahan yang jelas antara produk halal dan non-halal agar tidak terjadi pencemaran silang. 4. Pemasaran Produk Pemasaran produk halal harus dilakukan dengan jujur, transparan, dan sesuai syariah. Informasi yang diberikan harus akurat tanpa klaim palsu, terutama terkait sertifikasi halal. Label halal harus sesuai dengan standar yang berlaku. Selain itu, penting untuk menjelaskan kehalalan bahan, proses produksi, pengemasan, dan distribusi produk. Tujuan pemasaran adalah mengedukasi konsumen agar memilih produk yang sesuai dengan ajaran Islam dan menjaga kepercayaan konsumen.23 J. Metode Penelitian 1. Tempat dan waktu Penelitian Tempat dimana peneliti melakukan penelitian yaitu di Christine klappertaart Jalan B W Lapian Nomor 32A, Tikala Kumaraka, Wenang, Kota Manado. Waktu penelitian yang akan dilakukan yaitu selama dua bulan, yakni bulan oktober dan november tahun 2025. 2. Rancangan Penelitian 23 Nurul Marifat and Hartas Hasbi, ‘Analisis Implementasi Halal Value Chain Pada Produk Home Industri Perspektif Ekonomi Syariah (Pada UMKM Di Kabupaten Bone)’, Ikraith-Ekonomika, 8.2 (2025), pp. 1–18.