BAB I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Mitos dalam

advertisement
BAB I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Mitos dalam tesis ini,mengacu pada mitologi Roland Barthes yang biasa
diartikan sebagai sebuah ‘ideologi’. Ideologi tersebut ada, karena diciptakan
sehingga menjadi sebuah wacana yang terstruktur dan menjadi sebuah ideologi
bagi masyarakat yang tak terbantahkan (Barthes, 2004:151). Dalam buku tersebut
juga dijelaskan bahwa mitos adalah alat komunikasi atau pesan, mitos itu sendiri
merupakan cara pemaknaan sebuah bentuk. Manusia-lah yang mengubah realitas
menjadi wacana dan sejarah ini mengatur hidup matinya bahasa mitos.
Pengertian mitos disini, bukanlah sesuatu yang megacu pada pengertian –
pengertian yang biasanya dipakai untuk mendeskripsikan cerita-cerita tradisional,
narasi atau cerita yang dibentuk dari kelampauan dan dipercayai masyarakat luas
sebagai bentuk-bentuk takhayul, atau cerita mistis. Mitos yang disebutkan Roland
Barthes adalah berkaitan dengan bahasa dan wacana. pada dasarnya, setiap
wacana bisa menjadi mitos. Menurut Fairclough, wacana bermula dari sebuah
teks, suatu teks yang diciptakan oleh ideologi tentu ingin disampaikan menjadi
sebuah wacana1. masih mengacu pada Barthes, bahasa bisa menstransfer
pengetahuan maupun ideologi kepada masyarakat banyak. Namun, disini, bahasa
dianggap telah gagal memberikan transfer makna pada masyarakat sehingga apa
1
.Fairclough, Norman. 2001. Language and Power, Second Edition. England: Longman
1
yang menjadi realitas tersebut tidak bisa dijelaskan oleh bahasa. Bahasa tersebut
kemudian menjadi wacana yang tersebar semakin meluas.
Mitos kemudian menjadi sesuatu yang problematik dikarenakan cara
bahasa dalam mendefinisikan suatu fenomena tidak bisa secara menyeluruh,
sehingga dibuatlah generelasi yang bisa mewakili suatu fenomena tersebut.
Seperti misal, karena tidak bisa membuat penjelasan secara terperinci mengenai
makna kecantikan, maka teks dan bahasa membuat wacana kecantikan menjadi
general. Perempuan cantik diibaratkan; putih, langsing, tinggi dan berambut
panjang. Makna kecantikan ini mungkin adalah gambaran cantik ala kapitalis
untuk menjual produk-produk mereka, akan tetapi wacana ini mulai berkembang
menjadi mitos yang dipercayai oleh banyak wanita dan bahkan oleh pria
sekalipun. Kemudian perempuan yang cantik itu juga diharuskan untuk menjaga
keperawanan agar tidk dikatakan sebagai perempuan nakal, atau anggapan negatif
lainnya.
Lewat teksdan bahasa dalam baliho-baliho iklan, televisi, media internet,
perempuan dijejalkan keyakinan untuk menjadi perempuan sepenuhnya. Film dan
sinetron mengajarkan pemirsa mengenai jiwa perempuan yang rapuh dan lemah
lembut, berbakti pada suami dan lain sebagainya. Para laki-lakipun tidak kalah
dalam menyuburkan mitos tersbut, mereka menanamkan kriteria-kriteria cantik
tersebut untuk memaknai perempuan yang cantik dan tidak cantik.
Mitos menjadi kajian utama dalam tesis ini karena dengan adanya
generalisasi bahasa, timbul sebuah keyakinan baru kemudian membuat manusia
2
menjadi bingung menghadapi mana yang sebenarnya realitas dan mana yang
hanya kepalsuan. Masyarakat dihadapkan pada kebenaran semu bahwa perempuan
yang masih perawan adalah yang mendapat label suci, perempuan baik-baik dan
bermoral.
Keperawanan merupakan isu yang secara langsung berhubungan dengan
perempuan baik secara moral, sosial, dan fisik (Abdullah, 2001). Keperawanan
yang dibentuk oleh konstruksi sosial ditandai dengan harapan masih utuhnya
selaput dara dari hubungan seksual dan terlindunginya vagina dari penetrasi benda
tumpul.
Keperawanan telah membuat perempuan mengalami berbagai macam
pemikiran rumit dalam menghadapi konstruksi tersebut. Keperawanan perempuan
dimitoskan sebagai tolok ukur dari perilaku yang santun dan setia. Perempuan
yang masih perawan dan menjaga keperawanannya sampai pasangan sah nya yang
berhak atas dirinya, menyimpan konstruksi maknayakni jaminan kehidupan
rumah tangga yang bagus. Akhirnya menjaga keperawanan juga berelasi dengan
kehormatan dan martabat.
Keperawanan perempuan selalu diibaratkan sebagai mahkota berharga,
harta berharga satu-satunya, mutiara, kesucian dan berbagai istilah lain yang
bersifat konotasi positif serta pengagungan perempuan yang masih perawan. Oleh
karenanya, apabila perempuan yang belum menikah tidak menunjukkan tandatanda perawan, maka semua istilah yang berkonotasi negatif seolah-olah diberikan
padanya.
3
Meskipun ada beberapa pihak yang menyatakan bahwa perempuan yang
baik tidak bisa diukur hanya karena dia masih perawan atau sudah tidak perawan
lagi, tetapi banyak juga yang mengklaim bahwa perempuan yang sudah tidak
perawan sebelum menikah tidak pantas apabila mendapatkan laki-laki yang baik.
Perawan adalah sebuah cara untuk perempuan agar mereka mengendalikan
aktivitas seks mereka terbatas hanya setelah mereka menikah.
Oleh karena itu apabila perempuan sudah tidak perawan lagi, asumsi
masyarakat yang muncul adalah bahwa perempuan tersebut tidak menjunjung
moral, tidak berpendidikan (meskipun ia adalah seorang pelajar), amoral dan
berbagai prasangka negatif yang lain. Wanita tersebut menjadi sangat salah karena
ia merasakan pengalaman seksual sebelum ia menikah (Lyons and Lyons 2011,
13:142). pada akhirnya ia mendapat klaim negatif karena tubuhnya dinikmati oleh
orang yang bukan pasangan sah secara hukum.
Tekanan sosial yang dialami perempuan pada akhirnya adalah ia harus
menjaga keperawanannya jika tidak ingin dicela oleh masyarakat, tidak
direndahkan oleh perempuan atau laki-laki lain dan dikenal sebagai perempuan
terhormat yang bisa menjaga amanah dari Tuhan. Dalam pola kebudayaan Arab
misalnya, perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatan berupa keperawanan,
itu artinya ia telah secara langsung membuat keluarganya menjadi tidak terhormat
pula(Sadawi, 2001:48-49). Indonesia juga mempunyai penilaian yang sama
negatifnya mengenai perempuan yang sudah tidak perawan.
4
Dari beberapa agama, kebudayaan Islamadalah yang paling kentara dalam
proses kontrol perempuan dalam menjaga keperawanan, dengan cara menjauhi
hal-hal yang berpotensi merusak keperawanan. Dalam (QS al-Isra’/17:32)
dijelaskan bahwa mendekati zina adalah dilarang. Ayat tersebut memang tidak
dikhususkan untuk perempuan tetapi entah mengapa perempuan selalu menjadi
objek untuk dikontrol. Mereka diwajibkan mengenakan hijab untuk menutup
tubuh mereka. Perempuan tidak diperkenankan untuk berpergian tanpa
pendamping dan segala bentuk represi untuk meciptakan perempuan sebagai
makhluk yang dibentuk oleh agama.
“Wanita dilarang bepergian kecuali apabila ditemani oleh mahramnya
yang menjaganya dari gangguan orang-orang jahat dan orang-orang
fasik. Telah diriwayatkan hadits-hadits shohih yang melarang wanita
bepergian tanpa mahrom, di antaranya yang diriwayatkan oleh Ibnu
Umar rodhiyallahu ‘anhubahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallambersabda yang artinya,”Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk
bepergian selama tiga hari kecuali bersama mahromnya.”(QS alIsra’/17:32).
Mungkin sebuah kalimat tersebut tidak ada kaitannya dengan isu
keperawanan, tetapi di dalam sepenggal kalimat tersebut mengindikasikan bahwa
perempuan harus mengalami penjagaan yang ketat saat ia berada diluar teritori.
Tidak ada kemungkinan lain dari adanya penjagaan tersebut, kecuali supaya
perempuan tidak mengalami hal-hal yang negatif, mulai dari hal yang kecil seperti
mendapat siulan dari laki-laki atau gangguan lisan hingga perlakuan secara fisik
dan yang terburuknya adalah pemerkosaan yang mengakibatkan hilangnya
keperawanan.
5
Dari berbagai macam represi yang timbul dari intrepetasi dari beberapa
ayat dalam Al-Quran, diciptakanlah beberapa mitos agar perempuan tidak merasa
nyaman apabila melanggar berbagai represi yang datang dari pengetahuan agama.
Selain perilaku perempuan yang mendapat kontrol dari ajaran agama,
perempuan juga mendapat kontrol secara fashion. Para laki-laki akan ketakutan
jika perempuan yang ia lihat akan mengundang pikiran mesum bagi mereka,
sehingga perempuan dipaksa untuk melonggarkan bajunya, menutupi rambut dan
dadanya dengan kain yang berbentuk jilbab, hijab burka dan sejenisnya. Semua
itu adalah termasuk upaya agar perempuan tetap menjaga kehormatannya.
Kehormatan yang dimaksud adalah termasuk keperawanannya.
Dari salah Kompas.com2 terdapat sebuah rubik tentang kesehatan yang
berkaitan dengan keperawanan. Salah satu kasusnya ada seorang wanita yang
berkonsultasi, dan seorang dokter memberi sebuah
tanggapan. Perempuan
tersebut menceritakan ketakutannya karena perempuan tersebut pernah melakukan
hubungan seksual sebelum menikah. Sampai dia melakukan aborsi. Perempuan
tersebut begitu dihantui ketakutan,apakah masih ada laki-laki yang akan mau
untuk menerima keberadaannya, mau menerima dia apa adanya.
Sang dokter yang juga psikolog menyatakan bahwa itu tidak perlu
dipikirkan, tetapi dokter tersebut juga tidak luput memberikan penjelasan tentang
nilai moral bangsa ketimuran yang memang tidak bisa menerima sikap-sikap
tersebut. Dokter tersebut berusaha untuk bersikap netral, tetapi tidak bisa
2
. Dr.Andri, SpKJ.Dihantui Rasa takut Karena Tak Perawan. Kamis 1 Maret 2012. 10:19 WIB.
http://health.kompas.com/read/2012/03/01/10190535/Dihantui.Rasa.Takut.karena.Tak.Perawan).
6
dipungkiri juga bahwa apa yang perempuan tersebut lakukan sungguh sangat
disayangkan .
Permasalahan tidak hanya sampai disitu, beberapa komentar yang
diposting didalam artikel tersebut,mereka banyak yang tidak suka, mereka
berkomentar kasar dan menilai perempuan tersebut dengan tidak baik. Ada juga
yang berkomentar bahwa perempuan tersebut juga tidak berhak untuk menyesal
apabila jodohnya kelak juga mempunyai perilaku yang buruk sebagai karma atas
apa yang perempuan itu lakukan.
Artikel lain yang juga merupakan rubrik konsultasi seputar keperawanan
adalah ketakutan perempuan karena dibayang-banyangi malam pertama yang
mereka yakini harus berdarah. Satu perempuan tersebut harus dengan cermat
mengingat-ingat apakah pengalaman hidupnya pernah mengalami jatuh atau
terbentur sehingga menyebabkan selaput dara robek. Hanya untuk memastikan
bahwa malam pertamanya aman.
Untuk melegitimasi keperawanan tersebut, maka dibentuklah tanda-tanda
supaya keperawanan tersebut dipercayai bisa diidentifikasi secara fisik. Oleh
karena itu muncullah beberapa anggapan bahwa perempuan yang tidak perawan
bisa dikenali secara fisik. Ini semakin membuat perempuan khawatir apakah
tubuhnya sendiri yang akan mengatakan bahwa ia sudah tidak perawan. Atau
kekhawatiran bahwa si tubuh akan mengkhianatinya dengan menunjukkan tandatanda bahwa perempuan yang sejatinya masih perawan tersebut ditunjukkan
sebagai tidak perawan lagi. Seperti tidak keluarnya darah perawan di malam
7
pertama, atau longgarnya mulut vagina, payudara atau pantat yang kendur, dan
lain sebagainya.
Namun, yang paling sering diharapkan pada malam pertama adalah vagina
akan mengeluarkan darah sebagai tanda perempuan yang dinikahi masih perawan.
Salah satu Penilaian secara fisiologis tersebut juga sempat digunakan oleh seorang
Bupati Garut yang menggunakan alasan tersebut untuk melegitimasi bahwa
istrinya tidak perawan. Darah yang diharapkan, tidak jatuh ke sprei pengantin,
Sehingga pantas bagi istrinya untuk diceraikan.
Beberapa hal diatas hanyalah mitos-mitos yang tidak lain digunakan untuk
mengontrol perempuan. Kenyataannya moralitas tidak bisa diukur dengan
pengalaman seksual atau intensitas seksual sebelum menikah. Menurut Dr Budi
ML, SpOG, dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Jatisampurna, Kenyataannya, bentuk
fisik tidak akan pernah mengungkapkan bahwa perempuan tersebut sudah tidak
perawan atau sebaiknya masih perawan. Kenyataannya selaput dara tidak perlu
harus berdarah untuk membuktikan bahwa seorang perempuan masih perawan 3.
Topik ini menjadi pilihan dalam proyek penulisan ini dikarenakan
keinginan yang besar untuk mengetahui apakah eksistensi mitos tersebut masih
lekat dalam pemikiran masyarakat, khususnya masyarakat Yogyakarta dengan
berbagai macam strata pendidikan dan latar belakang budaya yang lebih maju
sekarang ini. Serta untuk melihat sejauh mana perempuan terpengaruh atau
mungkin terbelenggu oleh mitos-mitos tersebut.
3
. Kompas.Com. 2010. Selaput Dara Bukan Urusan Virginitas. Sabtu, 3 Juli. 10:24 WIB.
http://health.kompas.com/read/2010/07/03/10244121/Selaput.Dara.Bukan.Ukuran.Virginitas
8
Dalam era global sekarang ini, sepertinya Mitos Keperawanan masih
menjadi sebuah acuan penting bagi masyarakat Timur untuk mendefinisikan
norma baik dan buruk. Sedangkan perilaku remaja sekarang ini lebih liberal dalam
melakukan relasi dengan lawan jenis, dan mulai berani untuk lebih ekspresif
dalam mengungkapkan perilaku cinta4.
Perilaku seksual sebelum menikah seharusnya adalah menjadi konsentrasi
wilayah kesehatan masyarakat karena akan berhubungan langsung dengan
kesehatan seksual, penyakit kelamin menular dan aborsi. Perilaku seksual
sebelum menikah seharusnya tidak bisa mempengaruhi moralitas perempuan.
Karena ke-khawatiran perempuan pada mitos tersebut, maka banyak cara
yang dilakukan agar mereka terlihat masih perawan, tanpa harus menghindari
kegiatan seksual sebelum menikah. Douglas dan Davis menyebutkan ada tiga cara
yakni dengan tidak melakukan penetrasi, memastikan bahwa pasangan seksual
sebelum menikah adalah seorang yang akan menjadi pasangan sah nya, atau untuk
menunjukkan keperawanan dengan darah adalah dengan menggores bibir vagina
dengan kuku sendiri sewaktu penetrasi, ada juga yang menyiapkan darah
sebelumnya. Cara yang ketiga adalah dengan melakukan operasi peremajaan
selaput dara (Zhuckerman, Manning and Phil, 2005:185).
Di Yogyakarta, salah satu rumah sakit swasta Happy Land sudah
menyediakan program layanan untuk operasi peremajaan selaput dara5. Dengan
4
. Utomo, Iwu. Sexual attitudes and behaviour of middle-class young people in Jakarta. 1998.
https://digitalcollections.anu.edu.au/handle/1885/9114).
5
. vaginal rejuvenation happy land, 2010 . 2
Novemberhttp://rshappyland.blogspot.com/2010/11/laser-vaginal-rejuvenation-lvr-di-rs.html
9
operasi tersebut, selaput dara akan dijahit dan dipasang kembali di tempat
sebelum terjadinya perobekan, tetapi informasi layanan ini belum terlalu marak
karena selain tidak disebarkan lewat media iklan yang besar, program ini juga
menuntut biaya yang tidak murah.
Yogyakarta yang terkenal sebagai kota pendidikan, memiliki banyak
Universitas, tempat di mana para remaja dan dewasa berkumpul untuk belajar ke
jenjang Universitas. Banyak para akademisi berangkat merantau dari kampung
halaman untuk belajar, mereka jauh dari orang tua, melakukan aktifitas terpisah
sama sekali dengan orang tua. Kondisi seperti ini tentu memberikan kebebasan
pagi remaja dan dewasa untuk melakukan interaksi sosial maupun interaksi
seksual.
Ada sebuah tulisan sekitar tahun 2006, yang pernah membahas tentang
reputasi mahasiswi Yogyakarta yang oleh penulis diklaim mayoritas sudah tidak
perawan. Dengan klaim yang disertai dengan kutipan wawancara dengan beberapa
mahasiswa tersebut membuat penulis kemudian melegitimasi bahwa Yogyakarta
sebagai kota pelajar adalah tidak lain merupakan kota Pelacur. Lagi-lagi
perempuan mendapatkan konotasi negatif disini. Perempuan yang bersekolah di
Yogyakarta seolah mencitrakan perempuan nakal yang mempunyai pergaulan
bebas dan telah mengalami pengalaman seksual sebelum menikah. Artikel
10
BKKBN mencantumkan bahwa prosentase tersebut bisa mencapai angka 99
persen6.
Dalam sebuah film yang berjudul “Perempuan Punya Cerita”, rilis tahun
2008 lalu7,
juga disinggung mengenai aktifitas seksual para pelajar sekolah
menengah yang mulai bebas dan tidak malu untuk mengakui bahwa perempuan
tersebut sudah tidak perawan. tetapi kemudian perempuan-perempuan pelajar
SMA yang tidak perawan lagi tersebut tidak diperlakukan baik oleh sekumpulan
laki-laki.
Perempuan tersebut ditertawakan dan diabaikan. meskipun salah satu dari
genk perempuan tersebut diketahui telah hamil, genk laki-laki yang dicurigai
menjadi penyabab kasus tersebut hanya menanggapinya secara enteng. Saat
pemeran utama perempuan dicurigai akan melakukan hubungan seksual pertama
kalinya dengan pacar barunya, sekumpulan genk laki-laki itu mengeluarkan
komentar bahwa ternyata perempuan tersebut selama ini mereka telah salah
menilai sang perempuan tersebut sebagai perempuan yang bermoral, “ ternyata
6
. Mahasiswi Yogyakarta Rata-rata Tidak Perawan.
http://ceria.bkkbn.go.id/ceria/referensi/artikel/detail/648
7
. Perempuan Punya Cerita merupakan kumpulan empat film pendek yang dikemas dalam sebuah
film yang disutradarai oleh empat sutradara dan dua penulis. Segmen pertama berjudul Cerita
Pulau dan segmen ke dua Cerita Yogyakarta ditulis oleh Vivian Idris dan disutradarai oleh
Fatimah Rony dan Upi Avianto untuk cerita ke dua. Segmen ke-tiga berjudul Cerita Cibinong
ditulis oleh Melissa Karim dan disutradarai oleh Nia Dinata. Segmen ke-empat berjudul Cerita
Jakarta ditulis oleh Melissa Karim dan disutradarai oleh Lasja Fauzia Susatyo.
11
hanya pura-pura suci”. Perempuan selalu mendapatkan kontrol, mendapatkan
pengawasan dan diberi label secara moral mengenai perilaku seksual mereka.
1.2. Rumusan Masalah
Tesis ini akan mencoba meneliti tentang perempuan dan mitos-mitos yang
melingkupi keperawanan. Agama dan budaya mengkonstruksi mitos keperawanan
terhadap perempuan. Meskipun demikian perempuan tidak begitu saja menerima
dan mengikuti konstruksi tersebut. Ada bermacam-macam respon dari perempuan
mengenai konstruksi tersebut, ada yang terhegemoni, adapula yang bernegosiasi
atau bahkan ada yang resisten menghadapi mitos tersebut.
Di era sekarang ini, dengan meningkatnya aktivitas perempuan di area
publik, pendidikan yang makin tinggi, dan makin banyak perempuan yang
menguasai dirinya. Ternyata mitos tentang keperawanan masih saja mempunyai
ruang gerak dalam mengontrol perempuan. sehingga mitos tersebut masih saja
menjadi masalah yang harus selalu dibawa dalam kesadaran perempuan meskipun
mereka telah memiliki pola pergaualan publik.
Untuk melihat persoalan diatas secara terarah, maka dirumuskan beberapa
pertanyaan penelitian sebagai berikut.
1. Bagaimana upaya perempuan untuk merespon mitos keperawanan atas
dirinya? Bagaimanakah cara perempuan menunjukkan resistensi terhadap
konstruksi budaya dan agama tersebut?
12
2. Apakah dampak yang dirasakan perempuan mengenai mitos tentang
keperawanan? Apa respon mereka terhadap tubuh yang menjadi
kepemilikan di dalam pemaknaan agama dan budaya?
3. Apakah latar belakang agama berpengaruh dengan model resistensi
terhadap mitos keperawanan?
1.3. Tujuan Penelitian
Ingin mengetahui macam-macam resistensi perempuan terkait dengan
Mitos Keperawanan. Sejauh mana mereka bisa bertahan dengan konstruksi
budaya dan agama yang sampai sekarang masih selalu mengambil alih kontrol
perempuan atas tubuhnya.
Penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana perempuan memaknai
tubuh mereka yang berada dalam pemaknaan-pemaknaan sosial secara umum.
Kenapa perempuan yang belum menikah kebanyakan selalu menjadi takut dengan
label ’Tidak Perawan’. Bagaimana perempuan bertahan dengan penilaianpenilaian dari sosial dan agama. Sehingga pada nantinya bisa mendapatkan
jawaban bagaimana dan sebesar apa pola resistensi perempuan dalam merespon
konstruksi mitos tersebut. Bagaimana peran agama dalam upaya memfasilitasi
perempuan menjadi makhluk yang mempunyai agama sendiri dan dilindungi
agama bukan menjadi pihak yang memiliki agama dengan perantara laki-laki
(Marsha Aileen Hewitt dalam Carl Olson.2003: 506).
13
1.4.
Landasan Teori
Tubuh menjadi sebuah kajian yang menarik untuk kaji lebih mendalam.
Tubuh yang merupakan struktur anatomi biologis, telah diberikan muatan-muatan
sosiokultural sehingga yang biologis tadi juga menampung nilai-nilai sosial. Studi
tentang tubuh telah di bangkitkan kembali oleh seorang akademisi yakni Foucault.
Ia menyatakan bahwa pada awal perkembangan rezim medis, tubuh telah
digunakan untuk legitimasi kekuasaan oleh penguasa ilmu pengetahuan maupun
pemerintahan (Foucault:1990).
Tubuh mengalami sejumlah perlakuan yang mengontrolnya secara sosial.
Munculnya studi mengenai tubuh juga oleh Shilling, 1993 dianggap menjadi
tanda bahwa kesadaran masyarakat akan tubuh biologis mereka mulai melamah,
karena tubuh biologis telah diberikan muatan nilai-nilai sosial (Abdullah
2001:67).
Tubuh dimiliki setiap manusia, tetapi di dalam banyak kasus, tubuh
perempuan lebih rentan untuk mengalami kontrol dan pendisiplinan. Tubuh
perempuan yang mempunyai bentuk fisiologis sedikit berbeda dengan laki-laki
diberikan makna kultural yang sangat berbeda, atau malah justru menjadi obyek
yang dikuasai (Abdullah, 2001;49-50).
Dalam proses eksternalisasi, manusia memberi arti dan interpretasi
terhadap perbedaan biologis laki-laki dan perempuan yang kemudian
melahirkan suatu struktur yang bias gender dengan pembagian-pembagian
hak dan kewajiban secara seksual. Hal ini kemudian menjadi realitas
obyektif yang memiliki daya paksa terhadap manusia yang semula
menciptakannya. Demikian pula kemudian, kata Peter Berger (1991:19),
14
setiap orang diperkenalkan pada makna-makna budaya, belajar ikut serta
dalam tugas-tugas yang sudah ditetapkan dan menerima peran-peran selain
menerima
identitas-identitas
yang
membentuk
struktur
sosialnya
(Abdullah, 2001:50)
Studi tentang perempuan dan relasi gender merupakan sebuah proses sosio
kultur yang dibentuk oleh masyarakat (Moore, 1988,1994 : 10 dalam Abdullah,
2006: 242). Padahal masyarakat sendiri adalah bentukan dari manusia yang selalu
ingin mengetahui makna melalui proses dialektika (Berger dan Luckmann, 1991:
3 5). Kemudian dalam proses sosio kultural tersebut perempuan disebutkan
mengalami ketidakadilan gender seperti stereotip, marjinalisasi, subordinasi,
diskriminasi sampai pada kekerasan dengan berbagai mitos yang melingkupinya.
Perempuan yang mengalami ketidakadilan tersebut membutuhkan pengakuan
eksistensi yang sama dengan laki-laki (Abdullah, 2006:246). Meskipun agama
memberikan martabat yang sama antara laki-laki dan perempuan, tetapi pada
akhirnya dalam ranah sosial, perempuan memiliki agama dengan perantara dan
kontrol laki-laki (Nurjannah Ismail :315).
Seperti dalam tulisan Marsha Aileen Hewitt “ Do Women Really Need a
“God/es” to Save Them? “An Inquiry to Devine Feminine”.bahwa agama itu
dimiliki oleh laki-laki. Adam menjadi manusia pertama yang diceritakan bahwa ia
adalah laki-laki, kemudian perempuan baru diciptakan beberapa saat setelah adam
menjadi manusia yang resmi menjadi penghuni surga. Kemudian diciptakanlah
hawa sebagai respon dari kebutuhan Adam mengenai pasangan hidup. Dalam
Penciptaan perempuan (QS.4:1) Hawa dicipta dari nafs wahidah yang di
15
artikanadalah tulangrusuk Adam.Dari QS. Al-Hujurat: 13, Islam memandang laki
dan perempuan sebagai makhluk yang setara.
Meskipun dalam beberapa hal terdapat beberapa teks yang diterjemahkan
dengan menomorduakan posisi perempuan. Bias gender dalam teks Al-Quran
bukan merupakan ide Tuhan untuk lebih mengunggulkan laki-laki dan sebaliknya
(Nurjannah Ismail.2003). Karena teks yang menjadi bias pada dasarnya tidak bisa
lepas dari proses intrepetasi laki-laki dalam menterjemahkan teks-teks tersebut.
Muslim
laki-laki
digambarkan
sebagai
sosok
yang
brutal
dan
mengagungkan agamanya sedangkan perempuan adalah hanya sebagai pemuas
kebutuhan seks bagi laki-laki (Christel Manning dan Phil Zuckerman, 2005 : 180).
Studi mengenai gender sudah berlangsung sejak lama, setelah masa
Victoria perempuan
mencoba lebih terbuka dan berani menghadapi proses
subordinasi kultur laki-laki. Perempuan sudah muncul banyak kesadaran
mengenai tubuh mereka. Proses bergesernya perempuan dari ruang domestik
menuju ruang publik tentu mempengaruhi cara pandang perempuan. Perempuan
dimaknai negatif secara perilaku seksual. Perempuan muslim selalu diasumsikan
bahwa mereka akan tetap menjaga keperawanan meskipun telah ‘melanggar’
batas-batas domestik (Christel Manning dan Phil Zuckerman, 2005 : 185).
Tuntutan yang sama ketika perempuan harus tetap bisa menangani wilayah
domestik setelah mereka pulang dari area publik (Naomi Wolf, 1997).
Pada masa sekarang ini tentu saja perempuan masih banyak yang
membutuhkan ‘legal virginity’ (Christel Manning dan Phil Zuckerman, 2005 :
185). Ini dibuktikan dengan adanya upaya untuk membuat keadaan yang sudah
16
tidak virgin tampak seperti masih virgin. Supaya perempuan yang sudah tidak
perawan tersebut terlihat dan dipercayai masih perawan. Seperti tidak menyetujui
dengan kegiatan sexual intercourse, berbicara seolah belum pernah melakukan
hubungan seksual sampai pada tingkat ekstrim dengan menyimpan setetes darah
untuk dicipratkan pada seprei saat hubungan seksual di malam pertama (Nawal L.
Sadawi,2001:54-55).
Penelitian ini akan mengambil lokasi di Yogyakarta karena dirasa akan
representatif dengan topik yang diangkat. Yogyakarta adalah tempat bertemunya
banyak masyarakat dengan latar belakang yang berbeda. Masyarakat yang
didominasi oleh pelajar memberikan kemungkinan bahwa relasi yang terbentuk
juga melibatkan relasi seksual. Yogyakarta menjadi kajian yang menarik karena
mayoritas masyarakatnya adalah muslim dan perempuan berhijab bisa ditemui di
setiap sudut kota. Ini akan memberikan banyak data mengenai pola relasi seksual
perempuan muslim yang secara kepercayaan maupun yang mengenakan simbolsimbol agama (hijab).
Islam mempunyai hukum yang ketat bagi mereka yang melakukan
perilaku seks sebelum menikah, bahkan perilaku mendekati seks sudah
mendapatkan larangan yang kuat, seperti yang tercantum dalam surat 24:2-3,dari
ayat tersebut, Tuhan tidak bisa secara langsung menghukum orang-orang yang
telibat pada praktik-praktik yang disebut zina tersebut. Tetapi, kontrol sosial dan
negara yang membuat hukuman itu menjadi nyata. Ini yang disebut Foucault
dengan rule of double conditioning. Bahwasanya kontrol disiplin tersebar dari
17
yang makro yakni Negara serta dari kontrol mikro yakni masyarakat dan keluarga
(Seno Joko Suyono,2002:477).
Sejak kecil keluarga selalu memberikan pengetahuan yang disegel
mengenai isu seksualitas. Keluarga memberikan pengetahuan mengenai bahaya
kesehatan dari relasi lawan jenis yang mempunyai kecenderungan untuk
beraktifitas seks. Seks dianggap tabu dalam keluarga,pada saat seorang remaja
pergi dari rumah untuk belajar di kota lain, pengetahuan tentang seks-pun sama
terbatasnya karena negara memberikan peraturan tegas mengenai berzina. Pada
saat bulan Ramadhan, aktifitas razia di beberapa tempat yang dianggap mesum
ditingkatkan untuk mendisiplinkan pasangan yang berbuat zina.
Hubungan seks pra menikah merupakan hubungan yang melibatkan
pasangan.Laki-laki bukanlahsatu-satunya pihak yang mempunyai kebutuhan
seksual, perempuan juga mempunyai kebutuhan yang sama untuk mendapatkan
pengalaman seksual sebelum menikah. Dan kebutuhan seksual perempuan, serta
kaitannnya dengan tubuh biologis perempuan seharusnya tidak dilibatkan dalam
penilaian secara kultural. Namun, perempuan biasanya akan mendapatkan
pemaknaan negatif apabila tampil dalam masyarakat dengan mengenakan
identitas ‘tidak perawan’ sebelum ia menikah.
Dawyer menjelaskan bahwa tubuh dan moralitas perempuan adalah sebuah
kesatuan, keduanya berhubungan satu dengan yang lain. Tubuh dan moralitas
perempuan secara bawaan dianggap menjadi common cause atau entitas yang
mengundang banyak konflik. Sehingga tubuh dan moralitas tersebut perlu
dikontrol dan didisiplinkan (Udasmoro, 2009:104).
18
Dalam konstruksi mitos dan pendisiplinan aktifitas seksual perempuan
tersebut, tentu perempuanmelakukan berbagai resistensi. Seperti yang dikatakan
Foucault bahwa :Where there is power, there is resistances. There are inscribed in
the power as an irreducible opposite. They can only exist in the strategy field of
power relation (Seno Joko Suyono,2002: 481).
Resistensi kemudian akan terus berlangsung selama kekuasaan masih
berlangsung. Resistensi tidak harus berupa revolusi seperti pendapat Marxis
mengenai resistensi dengan cara pembebasan dari rezim kekuasaan. Mengingat
pendapat Foucault yang menyatakan bahwa kekuasaan ada di mana-mana maka,
penulis sepakat bahwa proses resistensi para perempuan juga akan terus
berlangsung karena merespon mengenai kekuasaan yang ditujukan pada mereka.
1.5.Metode
Untuk memahami fokus kajian mengenai perempuan dan mitos
keperawanan, maka penelitian ini akan menggunakan pendekatan kritis untuk
mengetahui sudut pandang mengenai pola resistensi yang kreatif ataupun yang
meniru. Resistensi tersebut dihadapkan pada sistem kekuasaan yang melibatkan
gender dan doktrin agama. Tetapi tidak tertutup kemungkinan pula bahwa
pendekatan Gramsci juga dibutuhkan karena ini akan membuka kesempatan untuk
penemuan lain selain relasi kekuasaan yang berujung pada pola resistensi.
Masyarakat bisa jadi juga ikut terhegemoni dengan adanya Mitos keperawanan
tersebut.
19
Dalam penelitian ini akan memilih informan yakni mahasiswa perempuan.
Mahasiswa perempuan dipilih karena mereka adalah pihak-pihak yang menjadi
objek mitos ataupun menyebarkan dan menyuburkan ideologi terhadap mitos itu
sendiri. Usia mahasiswa menjadi batasan pemilihan informan karena tingkatan
usia mahasiswa adalah tergolong usia dewasa dan mandiri untuk menentukan
pilihan hidup. Sedangkan beberapa universitas yang menjadi lokasi penelitian
adalah beberapa universitas di Yogyakarta seperti UGM dan UNY, IAIN.
Pemilihan informan selain mempertimbangkan latar belakang keyakinan dan
pendidikan agama, juga akan mempertimbangkan latar belakang budaya dari
informan.
Penelitian ini bersifat kualitatif. Teknik yang dipakai dalam pengumpulan
data adalah observasi, wawancara mendalam (indepth interview), wawancara
bebas, serta studi literatur. Wawancara mendalam dipakai untuk mengetahui
pendapat, pandangan, dan tanggapan informan, mengenai hal-hal yang
menyangkut materi penelitian. Metode wawancara lebih memfokuskan pada tema
dan bukan metode wawancara yang terstruktur (seperti kuesioner atau angket)
tetapi tetap terfokus pada topik. Wawancara mendalam dimaksudkan untuk
menggali informasi jauh dari yang ‘surface’. Selain wawancara mendalam,
dipakai juga metode wawancara bebas, di mana wawancara dilakukan secara
spontan melalui obrolan ringan yang bisa ditanggapi oleh berbagai pihak.
Sehingga akan secara tersirat memunculkan sudut pandang mereka mengenai
topik yang sedang dibicarakan.
20
Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini menitikberatkan pada
pendekatan intepretif seperti yang dikemukakan oleh Geertz, tidak merupakan
sebuah ilmu eksperimental untuk mencari hukum, melainkan sebuah ilmu yang
bersifat interpretif untuk mencari makna (Salehati, 2009: 25). Dengan demikian
Analisis Intrepetif tersebut akan bisa menjelaskan secara deskriptif mengenai
penulisan penelitian ini.
21
Download