NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19

advertisement
NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19
Senin, 13 Maret 2006 20:17
AGENDA
1. Tanggal : 11-13 April 2006
2. Tempat : Jakarta, Indonesia
Konferensi Interpol Kawasan Asia merupakan pertemuan dua tahunan negara-negara anggota
ICPO-Interpol untuk wilayah Asia yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dan
koordinasi kepolisian antar negara di Asia dalam memerangi segala bentuk kejahatan dan
mengembangkan kebijakan-kebijakan pencegahan, penegakan hukum dan aspek kerjasama
operasional dalam menanggulangi kejahatan internasional/ transnasional. Konferensi
ICPO-Interpol Wilayah Asia ke-19 diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 11-13 April 2006,
yang dihadiri oleh 35 negara yang terdiri dari 160 peserta, 8 pengamat, 2 perwakilan Organisasi
Internasional, dan 48 staf Sekretariat Jenderal ICPO-Interpol. Pertemuan ini merupakan tindak
lanjut dari hasil kesepakatan Konferensi ICPO-Interpol Wilayah Asia ke-18 tahun 2004 di
Philipina. Konferensi Interpol Wilayah Asia ke-19 secara resmi dibuka oleh Presiden RI, Susilo
Bambang Yodhoyono pada tanggal 11 April 2006, yang dalam sambutannya menekankan
beberapa hal penting berkaitan dengan peningkatan kerjasama ICPO-Interpol sebagai berikut:
1. Pemberantasan korupsi
Memerangi korupsi adalah upaya jangka panjang yang memerlukan perbaikan struktur
dan budaya, dan juga memerlukan pendekatan dari tingkat atas kebawah secara menyeluruh
dan kampanye yang berkelanjutan. Apabila pada tingkat atas lemah dalam memerangi korupsi,
maka pada system lainnya akan kehilangan kepercayaan dalam upaya pemberantasan korupsi.
Isu korupsi juga biasanya terkait dengan kejahatan money laundering, untuk itu dihimbau agar
kepolisian di Asia dapat memerangi korupsi dan money laundering. Para koruptor harus
menyadari bahwa tidak suatu tempat dimanapun yang aman untuk menyembunyikan hasil
kejahatan mereka.
2. Meningkatkan kerjasama kepolisian dalam memerangi narkotika
Hasil Laporan PBB mengemukakan bahwa terdapat 200 juta orang atau 5% penduduk
dunia berusia 15-64 tahun telah mengkonsumsi obat-obat terlarang paling sedikit sekali dalam
12 bulan terakhir. Sementara itu UNODC memperkirakan bahwa perdagangan gelap narkoba
mencapai US$ 321 milliar. Angka ini secara jelas menunjukkan bahwa ini jauh lebih besar dari
penghasilan kotor (GDP) Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, Polri telah berhasil
mengungkap jaringan narkotika internasional yang mengoperasikan pabrik terbesar narkotik di
kawasan ini. Keberhasilan ini berkat kerjasama antara Polri dan Intepol.
3. Upaya memerangi terorisme dalam jangka panjang
Memerangi terorisme bukanlah hal baru, namun yang lebih baru adalah bagaimana
1 / 11
NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19
Senin, 13 Maret 2006 20:17
memerangi generasi kelompok terrorist yang lebih modern saat ini, sehingga mengharuskan
kepada seluruh penegak hukum untuk selalu menyesuaikan taktik dan metode. Polri secara
meyakinkan telah berhasil menangkap para pelaku bom Bali, bom Marriot, dan bom Kuningan,
namun ancaman-ancaman tersebut tidak akan pernah berhenti. Terorisme tetap menjadi
masalah nasional, regional dan internasional, oleh karena itu perlu untuk mengembangkan
kerjasama secara terus menerus antara para lembaga penegakan hukum dari berbagai negara.
4. Aktif memerangi berbagai bentuk kejahatan transnasional lainnya, seperti:
pembalakan liar, pencurian ikan, penambangan liar, penyelundupan manusia, kejahatan
terorganisir, kejahatan cyber, dan lain-lain. Untuk memerangi kejahatan yang memiliki sifat
lintas negara, menggunakan metode jaringan dan hubungan lintas negara, perlu
mengintensifkan kerjasama lembaga kepolisian dan penegak hukum antar negara termasuk
pertukaran informasi dan intelijen. Disamping itu, juga perlu dilakukan tindakan pencegahan
berbagai bentuk kejahatan dengan mengembangkan aliansi, taktik terpadu di berbagai bidang.
Diharapkan kepada seluruh penegak hukum dapat melaksanakan tugas-tugas dalam melayani
dan melindungi masyarakat secara profesional, berdedikasi dan tidak terpengaruh politik. dan
paling utama adalah menyeret para koruptor, pengedar narkotik, teroris, pembalak liar,
penyelundupan manusia dan pelaku kejahatan lainnya ke penjara.
Pada acara Pembukaan tersebut, Presiden ICPO-Interpol, Mr Jackie Selebi, memberikan
sambutan bahwa konferensi ini dimaksudkan untuk saling berbagi ide-ide tentang upaya
memerangi kejahatan serius seperti terorisme, perdagangan manusia dan narkotik,
berdasarkan pengalaman setiap negara untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan operasi
kepolisian yang efektif sekaligus mendukung organisasi secara lebih relevan dalam memerangi
terorisme dan kejahatan transnasional lainnya. Ide ini merupakan inti dari organisasi interpol
yang memiliki semboyan ”bersama-sama memerangi kejahatan demi mewujudkan dunia yang
lebih aman”. Disamping itu, dalam beberapa tahun terakhir Sistem Global Komunikasi
Internasional I-24/7 telah terhubung keseluruh negara anggota Interpol di kawasan Asia dan
database interpol juga telah berkembang secara signifikan. Adapun tema konferensi kali ini
adalah ”Interpol mendukung tugas-tugas penegak hukum di baris terdepan”. Konferensi juga
akan membicarakan kejahatan-kejahatan serius lainnya seperti korupsi, karena Interpol
percaya bahwa korupsi yang terjadi dalam internal penegak hukum akan mengurangi atau
merendahkan kemampuan lembaga penegak hukum dalam menyelesaikan tugasnya dan
mengurangi efisiensi dalam pelayanan masyarakat yang adil, sehingga akan menjadi hambatan
utama dalam mengkampanyekan perang terhadap kejahatan transnasional dan terorisme.
Interpol telah mengembangkan standar global untuk memerangi korupsi di tubuh kepolisian dan
menghimbau negara-negara anggota untuk mengimplementasikannya, meskipun standar ini
tidak mengikat secara hukum namun efektif bagi kerjasama kepolisian internasional dalam
memerangi kejahatan internasional.
Sedangkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Sutanto, melaporkan tentang
kondisi dan rencana agenda konferensi yang akan membahas beberapa isu internasional,
2 / 11
NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19
Senin, 13 Maret 2006 20:17
antara lain terorisme, narkoba, uang palsu, perdagangan manusia, juga menyampaikan
outcome yang diharapkan dari konferensi ini. Secara khusus Indonesia telah mengajukan
korupsi sebagai salah satu isu utama. Disamping itu Indonesia akan berbagi pengalaman
mengenai keberhasilan dalamm : penangkapan salah satu tokoh teroris Dr Azhari dan
beberapa anggotanya di Batu Malang, Jawa Timur dan pengungkapan beberapa jaringan
sindikat internasional narkoba terbesar di Tangerang dan Bogor Jawa Barat. Keberhasilan
pengungkapan kasus-kasus tersebut tidak terlepas dari kontribusi dan peran kerjasama
internasional dan juga menunjukan pentingnya kerja sama kepolisian regional dan antar
departemen di tingkat nasional. Permasalahan lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah
ekspolitasi perempuan dan anak-anak sebagai obyek bisnis prostitusi oleh sindikat
internasional. Konferensi ini menjadi suatu momentum dan kesempatan yang sangat baik untuk
berbagi pengalaman terbaik dan menjadikannya pelajaran berharga dalam rangka peningkatan
peran kelembagaan serta strategi dalam penegakan hukum di negara masing-masing.
PRESENTASI
- Pidato/speech
HASIL/OUTCOME
SIDANG PLENO
1. Sidang Pleno Konferensi Interpol Wilayah Asia ke-19 dipimpin oleh 2 orang anggota
Executive Committee ICPO-Interpol wilayah Asia, yaitu Mr Hiroaki Takizawa dan Mr Georges
Boustany. Sidang pleno diawali dengan laporan Sekretaris Jenderal ICPO-Interpol, Mr Ronald
K Noble, yang menyampaikan hasil kegiatan yang menonjol yang telah dicapai oleh ICPO
antara lain:
1. Interpol pada saat ini sudah memiliki System Komunikasi global yang disebut I-24/7.
Semua Negara anggota ICPO wilayah Asia yang jumlahnya 48 negara sudah terhubung
dengan system komunikasi tersebut. Bahkan Afganistan, Bhutan, Tajikistan, dan Turkmenistan
yang baru 2 tahun menjadi anggota ICPO sudah terhubung dengan system komunikasi ini. Ada
beberapa database dapat diakses melalui system komunikasi ini, yaitu:
- Database tentang dokumen perjalanan curian atau palsu yang telah mencapai lebih 10,6
juta data. Yang cukup menggembirakan bahwa Asia mengalami peningkatan 438 % dari tahun
2004 – 2006 dalam kontribusi terhadap database ini. Sebagai informasi bahwa kurang lebih
20.000 petugas penegak hukum di Swiss, baik yang dilapangan maupun yang ditugaskan
diperbatasan dan di Kedutaan Besar telah memanfaatkan database ICPO tentang dokumen
perjalanan curian/palsu, dimana dari hasil pengecekan pasport telah ditemukan lebih 100
pasport/dokumen perjalanan curian.
- Database DNA, yang telah mencapai + 57.000 data yang tersimpan dalam database ini,
3 / 11
NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19
Senin, 13 Maret 2006 20:17
dan baru 36 negara yang aktif menginput dan mengakses database tersebut.
- Sampai saat ini Setjen ICPO-Interpol telah mengerahkan 14 Incident Response Team ke
wilayah Asia atas permintaan negara-negara anggota Asia dalam membantu investigasi
terhadap kejahatan serius dan bencana alam.
- Kerjasama ICPO-Interpol dengan PBB semakin meningkat. Tahun ini telah diterbitkan
Notice khusus oleh ICPOInterpol bekerjasama dengan PBB guna pencarian pelaku kejahatan
serius termasuk teroris.
- Penempatan petugas atas biaya negara pengirim di Set Jen ICPO dan Kantor Cabang
ICPO di Bangkok semakin meningkat. Pada tahun 2000 jumlah petugas yang ditempatkan di
Bangkok hanya 8 orang dan sekarang sudah menjadi 17 orang (semuanya atas biaya negara
pengirim). Dalam waktu dekat akan dibentuk Biro Sub-Regional ICPO yang baru untuk
wilayah Afrika tengah dan Kantor Sekretariatnya di Kamerun.
- Untuk mewujudkan program anti-korupsi yang telah disampaikan baik oleh Kapolri dan
Presiden ICPO-Interpol maupun oleh Presiden RI, maka saat ini ICPO-Interpol sedang
mengembangkan kerjasama dengan pemerintah Austria untuk membangun Akademi
Anti-Corruption di Wina, Austria. Akademi ini dimaksudkan untuk:
- Menyediakan pendidikan dan pelatihan anti korupsi serta menyediakan bantuan teknis,
- Membantu negara-negara anggota untuk mengimplementasikan Konvensi PBB tentang
Korupsi, dan
- Menyelenggarakan penelitian masalah anti korupsi.
- Untuk memerangi dan mengantisipasi kegiatan para pelaku teroris yang menggunakan
virus atau bakteri dalam melaksanakan aktivitasnya maka ICPO Interpol telah memiliki Unit
Bio-Terrorism. Unit ini telah melaksanakan beberapa Workshop, yang terakhir dilaksanakan di
Singapura untuk wilayah Asia dan pada bulan Juli 2006 diselenggarakan di Chili dan Timur
Tengah. Unit ini telah membentuk Pusat Sumber Pencegahan Bioterroris (Bioterrorism
Prevention Resource Center) dan sudah dapat diakses di Website Interpol. Tahun ini juga akan
diluncurkan Buku Panduan tentang ”Bioterrorism Pre-planning and Response”.
- ICPO Interpol telah membentuk ISAP-Interpol Strategic Advisory Panel (Panel Penasehat
Strategis Interpol) yang terdiri dari para ahli dibidang penegakan hukum dari berbagai wilayah
didunia yang bertujuan untuk memberikan masukan/nasehat berkaitan dengan kerjasama
internasional kepolisian guna mengidentifikasi bidang kerjasama yang perlu dikembangkan.
Para anggota ISAP yang berasal dari wilayah Asia yaitu mantan Kepala Kepolisian Hong Kong ,
Mr Tsang Yam Pul dan Presiden Universitas Naif Arab bidang Pengetahuan Keamanan
(NAASS), Prof Abdul Aziz Sagr Al-Ghamdi.
- Delegasi Indonesia terpilih sebagai salah satu anggota Ad-Hoc Committee yang
membahas draft Rekomendasi Konferensi dan business plan 2006-2007 untuk wilayah Asia.
- Pengesahan hasil Notulen Konferensi Interpol Wilayah Asia ke-18 tahun 2004 di Pilipina
yang pada intinya menguraikan sejumlah rekomendasi penting yaitu : pelayanan NCB dan
pengembangan ICGS I-24/7, database, dukungan operasional, sintetik drug, terorisme,
4 / 11
NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19
Senin, 13 Maret 2006 20:17
perdagangan manusia dan pemberdayaan red notice terhadap pencarian pelaku terorisme.
- Pembahasan tentang Perspektif Masa depan tentang ekspansi penggunaan system
komunikasi global I-24/7. Ada 3 pemapar yang membahas masalah ini yaitu:
1. Paparan oleh Mr Alexander Gridchin, Assistant Director for I-24/7 Co-ordination, ICPO
Interpol. Dalam paparannya menguraikan tentang kondisi dan manfaat System Komunikasi
I-24/7, dimana sampai saat ini sudah 180 negara dari 184 negara anggota telah terhubung
dengan I-24/7. Negara-negara anggota yang belum terhubung adalah 4 negara wilayah Afrika
yaitu Republik Afrika Tengah, Guinea Bissau, Somalia, dan Sudan, namun dalam waktu dekat
akan segera terhubungkan dengan system komunikasi ini.
I-24/7 tidak hanya digunakan oleh NCB namun institusi penegak hukum terkait lainnya
perlu juga terhubung dengan sistem ini dengan tujuan agar dapat:
1. Melakukan pertukaran informasi secara aman dan cepat
2. Memberikan pelayanan yang lebih baik.
3. Meningkatkan kerjasama internasional kepolisian
4. Mengoptimalkan manfaat kerjasama yang ada. Perluasan penggunaan I-24/7 oleh
instansi diharapkan:
1. Agar pemanfaatan system komunikasi ini oleh lembaga-lembaga penegak hukum tetap
dibawah koordinasi NCB sebagai lembaga yang memiliki kewenangan.
2. Lembaga-lembaga penegak hukum harus mengikuti aturan sebagaimana yang berlaku di
NCB.
3. Dalam perluasan sistem ini, negara-negara anggota hendaknya memperbaiki sistem
pengamanan informasi dan meningkatkan upaya-upaya agar berhasil dalam mengungkap
kasus kejahatan. (4) Dengan memperluas koneksi ke institusi lain, NCB diharapkan juga akan
memperbaiki atau memperkuat peranannya di level nasional.
Manfaat dari perluasan I-24/7 ini antara lain untuk:
1. Meningkatkan kemampuan pengecekan informasi.
2. Meningkatkan hasil pelacakan.
3. Mengurangi waktu pengecekan dan pertukaran informasi.
4. Menurunkan biaya komunikasi.
5. mengurangi kesalahan dalam pengecekan.
6. Meningkatkan kemampuan operasional misalnya pengecekan kendaraan curian atau
yang mencurigakan.
7. Paparan oleh Mr Ali A Al-Obaishi, Kepala NCB Interpol Saudi Arabia.
Pada garis besarnya menguraikan tentang manfaat yang telah diperoleh dari system
komunikasi I-24/7. Kepolisian Arab Saudi telah berhasil melakukan penangkapan tersangka
terrorist dari informasi via I-24/7.
8. Paparan oleh Mr Merey Makulzhan, National Security Officer, Liaison Officer, NCB
Astana, Kazakhstan yang menyampaikan manfaat I-24/7.
5 / 11
NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19
Senin, 13 Maret 2006 20:17
Dijelaskan bahwa Kazakhstan menjadi anggota ICPO-Interpol sejak 1992 dan memiliki NCB
satu tahun kemudian yaitu 1993. NCB Kazakhstan telah memasang system komunikasi I-24/7
di tiga bandara internasional yaitu Astana, Almaty dan Akrau guna melacak buronan Negara
lain, orang hilang dan ancaman serangan terorisme. Pada bulan Oktober 2005 bandara Almaty
mendeteksi masuknya seorang anggota teroris Kurdi a.n. Kaplan Yusuf, WN Turki meskipun
menggunakan paspor lain a.n. Aigun Baba. Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari
kecepatan pertukaran informasi melalui I-24/7. Pada bulan Januari 2007, UNODC bersama 5
negara Asia Tengah ditambah Rusia dan Azerbaijan telah membentuk Central Asian Regional
Information and Coordination Center (CARICC) yang ditempatkan di Bandara Almaty, dimana
wadah ini terhubung dengan I-24/7.
9. Pembahasan tentang Pengembangan baru pertukaran informasi kepolisian. Ada 4
pembicara yang membahas masalah ini, yaitu:
1. Mr Alain Barbier Assistant Director, Forensic Support & Specialized Technical Databases,
ICPO-Interpol mengemukakan bahwa fungsi utama Interpol adalah menyediakan jaringan
komunikasi Global, memberikan pelayanan database, dan memberikan dukungan operasional.
Guna mengoptimalkan ketiga fungsi tersebut Interpol menggunakan 5 prinsip yaitu :
1. Committed, dilaksanakan oleh seluruh anggota Interpol (kejahatan transnasional,
ancaman internasional dan kerjasama internasional)
2. Connected, telah terkoneksi oleh 180 negara anggota (jaringan I-24/7 ke seluruh sistem
informasi kepolisian negara-negara anggota)
3. Consulting, dalam rangka memberikan solusi terpadu (prosedur nasional, informasi
penting kepolisian dalam level nasional, regional dan internasional, serta fungsi kepolisian
secara umum)
4. Communicating, menyapaikan informasi penting (informasi penting kepolisian ke Interpol;
tukar menukar informasi : penangkapan pelaku kejahatan, melokalisir seseorang,
mengidentifikasi orang hilang, dokumen hilang/dicuri, kendaraan hilang; pertukaran data
forensic : sidik jari, DNA).
5. Cooperating, untuk melindungi masyarakat (lembaga kepolisian nasional, lembaga
penegak hukum, forum regional/ASEANAPOL, EUROPOL, forum internasional lainnya)
6. Ms Ivanka Spadina, Interpol SLTD Project Manager Forensic Support & Specialized
Technical Databases Sub-Directorate,ICPO Interpol mengemukakan tentang manfaat system
komunikasi I-24/7, dicontohkan bahwa Swiss memiliki mekanisme yang terintegrasi dalam
menangani kasus dokumen hilang/dicuri yaitu pengawasan di perbatasan, investigasi kasus
dan analisis guna mengungkap jaringan. Untuk merealisasikan upaya tersebut, didukung
dengan FIND (Fixed Interpol Network Data) dan MIND (Mobile Interpol Network Data). Sejak 13
Desember 2005, database penegak hukum Swiss telah terhubung dengan database ICPO dan
kurang lebih 20.000 petugas (polisi federal, kedutaan besar, konsulat) yang memanfaatkan
database ICPO ini. Dari tanggal 13 Des 2005 s/d 28 Feb 2006, Swiss berhasil melacak
dokumen hilang/dicuri sebanyak 744.588 dan menangkap 278 pelaku.
7. Mr Shui Jiang, Deputy Director of Division, NCB Beijing, China mengemukakan bahwa
NCB China secara structural langsung berada di bawah Kementerian Keamanan Umum
(MPS-Ministry Public Security) dan terpisah dengan CID. NCB Cina akan memperluas akses
6 / 11
NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19
Senin, 13 Maret 2006 20:17
I-24/7 bagi institusi pengawasan perbatasan/Imigrasi, Bea Cukai, dan LO Cina yang
ditempatkan di negara-negara lain. Perluasan I-24/7 ditujukan bagi : 1,7 juta polisi, 660.000
jaringan komputer, 140.000 penyidik dan beberapa lembaga penegak hukum lainnya. Saat ini
NCB Cina sedang mengembangkan proyek MIND (Mobile Interpol Network Data) guna
mengimplementasikan Resolusi no AG-2005-RES-04 yang disahkan pada Sidang Umum
ke-74. Proyek ini merupakan salah satu persiapan Cina dalam menyelenggarakan Olimpiade
2008 yang diperkirakan 1 juta orang asing akan masuk ke Cina.
8. Mr Werner Schuller, Head Identification Services & Interpol DNA Projects Manager
Forensic Support & Specialized Technical Databases Sub-Directorate, ICPO Interpol,
menyampaikan bahwa database forensik ICPO Interpol meliputi : sidik jari dan DNA. Pelayanan
sidik jari Interpol meliputi : pelacakan sidik jari laten, pelacakan 10 sidik jari, pelacakan sidik jari
tunggal, pelayanan 24 jam, bantuan sidk jari dalam mendukung DVI atau investigasi forensic,
dan sebagai pintu gerbang AFIS. Dalam Database sidik jari Interpol terdapat lebih kurang 2 %
sidik jari yang dikiirimkan oleh negara Asia.
ICPO-Interpol saat ini membentuk “DNA MEG” (Interpol DNA Monitoring Expert Group) yang
terdiri dari perwakilan dari Eropa : Austria, Belgia, Perancis, Norwegia, Inggris ; Amerika Utara
: USA ; Asia : China, India ; Afrika Selatan ; dan Australia.
DNA MEG bertugas untuk:
1.
2.
3.
4.
5.
Menyusun standar global untuk profile DNA lintas batas
Mempromosikan manfaat DNA kepada Negara-negara anggota Interpol
Menyusun panduan praktis
Dukungan dan pelatihan regional
Pelayanan profil dan database DNA.
6. Pembahasan tentang Kerjasama internasional kepolisian dalam memerangi terrorisme.
Ada 3 pembicara dalam membahas topik ini yaitu:
1. Mr Rycko Amezda Dahniel, Senior Superintendent, Special Detachment 88, Indonesian
National Police mengemukakan bahwa pelaku kejahatan terorisme di Indonesia dapat dibagi
menjadi tiga yaitu kelompok-kelompok dengan motif individu, GAM dan Jamaah Islamiyah.
Sasaran para teroris antara lain sarana ibadah, fasilitas milik asing, public area, hotel dan
fasilitas lainnya yang diduga terkait dengan milik USA. Keberhasilan aparat penegak hukum di
Indonesia dalam mengungkap kasus bom Bali dan membawa pelakunya kemeja hijau
membawa dampak positif yaitu: meningkatnya kesadaran masyarakat akan ancaman terorisme
di Indonesia, pulihnya kepercayaan masyarakat internasional kepada Indonesia, mengalirnya
bantuan asing untuk pemulihan Bali dan bantuan internasional untuk peningkatan kapabilitas
penegak hukum di Indonesia.
2. Mr Rajendra Bahadur Sing, Additional Inspector General of Police (AIGP), Nepal
7 / 11
NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19
Senin, 13 Maret 2006 20:17
menyampaikan bahwa terorisme di Nepal berkembang sejak 1996 melalui kelompok Nepal
Communist Party (Maoist) yang bertujuan untuk menggulingkan sistem monarki dan demokrasi
multipartai dan menggantikannya dengan tata masyarakat baru di bawah kepemimpinan
proletar. Untuk mewujudkan hal tersebut mereka menggunakan cara-cara kekerasan, dimana
dalam beberapa tahun terakhir ini lebih dari 12.000 jiwa telah hilang dan lainnya kehilangan
keluarga, harta benda dan mengungsi. Banyak sarana public yang hancur dan lebih 1400 polisi
dan ratusan aparat penegak hukum gugur akibat serangan kelompok terorisme Nepal.
Kelompok teroris Nepal juga menjalin hubungan dengan kelompok sayap kiri di berbagai
Negara Asia, Eropa, Amerika Selatan, USA dan Afrika guna mendapatkan dukungan dan
bantuan dalam menjalankan perang rakyat. Pada tahun 2001 mereka membentuk Coordinating
Committee of the Maoist party’s and Organisation of South Asia (CCOMPOSA) yang berperan
untuk mengkoordinasikan kegiatan kelompok-kelompok teroris di Asia Selatan. Strategi yang
dilaksanakan pemerintah Nepal dalam memerangi terorisme yaitu: melaksanakan Operasi
Gabungan dengan melibatkan seluruh institusi kemanan mulai dari pelatihan, pengamanan
bersama dan operasi intelijen, mengembangkan program pembangunan dan kemanan terpadu,
meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat, melakukan perlucutan senjata dan
membangun pusat-pusat rehabilitasi.
3. Pembahasan Proyek Interpol tentang Counter Terrorrisme. Ada 2 pembicara yang
membahas masalah ini, yaitu:
1. Ms Jennifer Hurst Assistant Director, Public Safety and Terrorism, ICPO Interpol
menyampaikan tentang Proyek Pacific/Kalkan, dimana pada September 2002, ICPO Interpol
telah membentuk FTF-Fusion Task Force (Satgas Gabungan) yang bertujuan untuk
mengidentifikasi anggota organisasi kejahatan yang terlibat dalam berbagai kegiatan terorisme
dan juga menciptakan sistem panduan/indeks. Dalam memerangi terorisme, Interpol melakukan
upaya-upaya yaitu: melaksanakan proyek-proyek regional, membentuk Fusion Task Force,
meningkatkan pertukaran informasi, memberikan dukungan dan bantuan kepada
negara-negara anggota dan proactive liaison officer. Keberhasilan yang telah dicapai dari
proyek yang diluncurkan adalah bahwa pada September 2003 dilaksanakan Proyek Kawasan
Pasifik yang melibatkan 24 negara, dimana 4 (empat) tersangka berhasil ditangkap
berdasarkan notice yang diterbitkan Interpol, dan pada Maret 2004 dilaksanakan Proyek Kalkan
untuk akwasan Asia Tengah. 60 negara terlibat dalam kegiatan ini. 1087 terorist terdatakan
setelah proyek Kalkan berlangsung dan 1181 notice dan diffusion diterbitkan. Hasil nyata dari
kegiatan ini, 51 terorist berhasil ditangkap.
2. Mr Rajesh Ranjan, Assistant Director, Financial and High-Tech Crime, ICPO Interpol
menjelaskan tentang Sistem Pencarian Otomatis Pencucian Uang Interpol, IMLASS – Interpol
Strategy on Targeting Funding (Strategi Interpol tentang Pendanaan sasaran), dimana dalam
menangani transaksi yang mencurigakan (STR-suspicious transactions reports) ada tiga
institusi yang saling terkait yaitu:
1. Lembaga PPATK tanpa perwakilan lembaga penegakan hukum.
2. Lembaga PPATK dengan lembaga Penegakan hukum dan Unit Anti Money Laundering,
3. Database Kejahatan Internasional.
8 / 11
NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19
Senin, 13 Maret 2006 20:17
Permasalahan yang timbul dalam menangani transaksi keuangan yang mencurigakan antara
lain :
1. Pengecekan bialteral (dua negara) seringkali kehilangan jejak
2. Tidak ada rekaman data/transaksi
3. Transaksi keuangan yang mencurigakan tidak dianalisis dengan benar atau bahkan
dikesampingkan.
Guna mendukung pemberantasan money laundering, Interpol didukung dengan ASF dan ICIS
untuk pelacakan. ASF memuat data tentang detail identitas tersangka dan DPO, kendaraan
curian, benda purbakala/bersejarah curian, dokumen hilang/dicuri. Sedangkan ICIS memuat
data tentang tersangka dan jaringannya, perusahaan, alamat, nomor telepon, nomor rekening,
ringkasan kasus dan links (keterkaitan) satu kasus dengan kasus lainnya.
4. Pembahasan tentang Bom Bunuh diri: suatu Perspektif professional. Ada 2 pembicara
yang membahas masalah ini, yaitu:
1. Mr Asoka Wijetilleka Deputy Inspector General of Police-CID, Kepala NCB Colombo, Sri
Lanka. Dalam uraiannya mengemukakan bahwa terorisme di Sri Lanka didalangi oleh kelompok
Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE). LTTE telah mengembangkan peralatan modern
dalam melakukan aksi bom bunuh diri. Mereka memiliki satuan Black Sea Tiger yang
beroperasi di lautan dengan sasaran kapal-kapal AL Sri Lanka. LTTE merekrut pelaku bom
bunuh diri dari kaum wanita sejak 1991 yang mana berhasil menyerang mantan PM India Rajiv
Gandhi mengakibatkan Perdana Menteri tersebut tewas. Bom bunuh diri merupakan metode
yang digunakan teroris untuk menghancurkan lawan. Pelaku bom bunuh diri telah terlatih
dengan baik dan memiliki motivasi yang kuat. Sasaran mereka adalah : para pemimpin
nasional, pemimpin politik Tamil, pemimpin Sinhalese, pejabat polisid an militer, dan para
informan. Tradisi agama Hindu seperti berjalan di atas api, tidur di atas paku, dll telah
bermanfaat bagi kader-kader LTTE dalam melakukan aksi bom bunuh diri.
Upaya yang telah dilakukan untuk mencegah terulangnya bom bunuh diri antara lain:
1. Meningkatkan kesadaran masyarakan terhadap penyimpangan gagasan para pelaku
bom bunuh diri.
2. Memotong jalur-jalur pendanaan untuk kegiatan terorisme.
3. Meningkatkan kemampuan unit anti-teror.
4. Meningkatkan kerjasama diantara lembaga penegak hukum
5. Melakukan riset atas kasus bom bunuh diri dengan melibatkan negara donor.
6. Meningkatkan kerjasama interansional antar lembaga penegak hukum.
9 / 11
NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19
Senin, 13 Maret 2006 20:17
7. Mr Tariq Parvez, Director General Federal Investigation Agency, Kepala NCB Islamabad,
Pakistan, menjelaskan bahwa Kasus pertama bom bunuh diri muncul di Pakistan pada tanggal
17 MAret 2002. Sejak kasus tersebut telah terjadi 18 kasus bom bunuh diri dengan melibatkan
18 pelaku, dengan rincian 10 kasus berlatar belakang perbedaan sekte dan 8 kasus dengan
latar belakang politik. Akibat bom bunuh diri, 293 tewas, 689 terluka. Modus operandi dari
pelaku yaitu : menyembunyikan bom dalam jaket, meletakkan bom dalam kendaraan, menaruh
bom dalam kopor, menggunakan granat,
8. Pembahasan mengenai Peran Pusat Komando dan Kordinasi (Command and
Coordination Centre) serta Incident Response Team: “dukungan segera, tanggapan segera
(Immediate Support, Immediate Response)”. Ada 2 pemapar yang menyampaikan masalah ini,
yaitu:
1. Mr Chris Eaton, Assistant Director, Command and Coordination Centre, ICPO Interpol,
menjelaskan tentang kegunaan secara fundamental Command and Coordination Center (CCC)
bahwa wadah ini dapat dihubungi secara langsung, memonitoring segala peristiwa yang
menonjol menimpa negara anggota, petugasnya menggunakan multi-bahasa, mengkordinir
bantuan penyidikan terhadap negara yang mengalami bencana kejahatan, krisis, melakukan
kerjasama internasional dengan negara lain serta memfasilitasi negara anggota dengan
“Incident Response Team” (IRT) bagi yang memerlukan. CCC dalam kegiatannya
memprioritaskan empat hal pelayanan yaitu memberikan respon dengan cepat, monitoring dan
koordinasi, memfasilitasi dalam tukar menukar informasi serta memberikan dukungan dan
fasilitas lainnya. Incident Response Team (IRT) terdiri dari 98 orang yang berasal dari Setjen
ICPO-Interpol, SRB Abidjan, SRB Buenos Aires, SRB Harare, Lobang, SRB Nairobi, Interpol
UN Office, NCB Roseau (Dominika), NCB London dan NCb Riga (Latvia)
Tindakan yang dilakukan IRT :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Fokus pada keputusan-keputusan Setjen
Mengirimkan peralatan komunikasi, pelayanan data
Mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi
Membentuk focal pint internasional
Intensitas tinggi dengan sumber daya yang terbatas
Mengevaluasi dan menindaklanjuti setiap informasi atau hasil kegiatan.
7. Mr Afzal Nurmatov, Chief Superintendent, NCB Tashkent, Uzbekistan, menjelaskan
bahwa manfaat yang diperoleh dari IRT sangat berarti bagi negaranya karena team tersebut
telah membantu dan memfasilitasi dalam pengungkapan kasus terorisme yang dilakukan oleh
kelompok radikaldi Uzbekistan. Pasca serangan bom di Bukhara dan Tashkent, IRT yang terdiri
dari para ekspert Anti-Teroris telah memainkan peranan yang signifikan di Uzbekistan. Dalam
kasus bom Bukhara yang mengakibatkan 9 polisi dan 6 masyarakat sipil tewas, 28 polisi dan 18
sipil luka berat dan 32 teroris tewas. IRT bersama-sama NCB setempat melakukan investigasi
terhadap bahan peledak yang digunakan pelaku. Hasil investigasi tersebut dikirimkan ke Setjen
10 / 11
NCB Interpol Indonesia - Konferensi Interpol Kawasan Asia ke-19
Senin, 13 Maret 2006 20:17
ICPO untuk mengungkap modus operandi. Meskipun IRT telah kembali ke Setjen namun
mereka tetap memberikan bantuan untuk melacak pelaku dan menyebarluaskan informasi
terkait ke NCB-NCB lainnya. Pada tanggal 30 Juli 2004, kembali terjadi ledak bom di Tashkent
yang menewaskan 3 polisi, 2 petugas keamanan dan 3 teroris terbunuh. Berdasarkan hasil
kerja dua IRT di atas, telah diterbitkan 9 red notice, 530 blue notice dan sedang
mempersiapkan daftar nama 235 orang terkait dengan kelompok teroris yang diduga berada di
Afganistan dan Pakistan.
REPORT (LAPORAN)
- Galeri Foto
11 / 11
Download